Tentang kabbalah

15

Pertanyaan:

beberapa waktu yang lalu, saya diajak oleh teman protestan saya untuk menghadiri kebaktiannya. kotbah kali itu adalah tentang (kalau tidak salah) kabbalah.

yang menarik perhatian saya adalah (sekali lagi, kalau tidak salah) kabalah ini dibuat oleh salomo. karena salomo adalah tokoh alkitab. apakah kabalah ini ada didalam Gereja Katolik?

Jawaban:

Shalom Alexander,

1. Kabbalah, apakah itu?

Belakangan ini memang dikabarkan banyak para selebriti di Amerika ramai- ramai mempelajari Kabbalah. Kabbalah berasal dari tradisi agama Yahudi. Memang kata ‘kabbalah’ ini berarti ‘tradisi’/ ‘yang diterima’. Pada abad ke- 13, tradisi ini dituliskan, dalam Sefer ha Zohar (the Book of Enlightenment), dan sejak itu ‘kabbalah’ bagi sebagian orang mengacu kepada rahasia kodrat ilahi, kosmos dan jiwa manusia, secara khusus jiwa seorang Yahudi.

Namun dewasa ini, pengetahuan populer tentang kabbalah tidaklah (sedikit sekali) mengacu kepada makna asli tradisi Yahudi, melainkan hanya mencerminkan kebutuhan para pencari hal- hal spiritual. Dalam salah satu situs Kabbalah, the Bnei Baruch World Center for Kabbalah dikatakan, “Today, many well-known celebrities have popularized a New Age pop-psychology distortion of Kabbalah that has more in common with the writings of Deepak Chopra than with any authentic Jewish source.”Kepopularitasan kabbalah dewasa ini menurut Prof Hava Tirosh- Samuelson[1], merupakan interpretasi ulang dari mistik Yahudi dan kesalahan interpretasi dari tradisi Yahudi. Rabbi David Fine dari kongregasi Beth Israel Abraham & Voliner juga mengatakan bahwa pandangan populer tentang kabbalah tidak ada hubungannya dengan Kabbalah yang asli.

Tak mengherankan, bagi Elliot Wolfson, seorang profesor dalam bidang studi Ibrani dan Yahudi di New York University dan ahli Kabbalah, mengatakan bahwa apa yang diajarkan sekarang, bukanlah tradisi tetapi teori distorsi, “pop version that is far more a form of New Age occult astrology and magic than a genuine expression of Kabbalah.”

2. Tanggapan Gereja Katolik

Melihat prinsip pengajarannya dewasa ini yang mengarah kepada praktek New Age, maka kabbalah ini tidak sesuai ajaran Gereja Katolik. Dari informasi yang saya peroleh, kabbalah yang dikenal sekarang ini umumnya berasal dari tulisan di abad pertengahan, jadi bukan dari jaman Salomo. Jika kita membaca informasi mengenai Kabbalah ini dari beberapa orang ahlinya, maka kita menemukan beberapa jenis interpretasi, sehingga memang tidak diketahui versi mana yang benar. Karena kabbalah ini ditulis berdasarkan tradisi Yahudi yang pada kenyataannya menolak Kristus sebagai Allah Putera, maka sesungguhnya prinsip kabbalah ini tidak sesuai dengan ajaran Kristiani.

Beberapa prinsip pengajarannya tidak sesuai dengan ajaran Kristus dan Gereja Katolik, contohnya seperti reinkarnasi, astrologi, beberapa campuran ajaran gnosticism, dan juga prinsip peningkatan hal spiritual dengan kekayaan jasmani, (serupa prinsip teologi kemakmuran). Pandangan- pandangan ini menggeserkan peran Yesus sebagai satu- satunya jalan kepada Bapa (Yoh 14:6) dengan memperkenalkan tokoh- tokoh penyelamat dan kekuatan alam lainnya. Pandangan ini juga mengesampingkan makna pengorbanan Kristus di kayu salib, yang merupakan inti ajaran Kristiani.

Semoga kita dapat menjadi lebih waspada dengan segala ajaran baru yang bermunculan di sekitar kita, dan tetap teguh berpegang ajaran Magisterium Gereja Katolik.

Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
Ingrid Listiati- katolisitas.org


CATATAN KAKI:
  1. Prof. Hava Tirosh- Samuelson, seorang ahli tentang hubungan antara filosofi dan kabbalah dari Arizona State University []
Share.

About Author

Ingrid Listiati telah menyelesaikan program studi S2 di bidang teologi di Universitas Ave Maria - Institute for Pastoral Theology, Amerika Serikat.

15 Comments

  1. Linda Maria on

    Shalom Tim,

    Saya ingin bertanya, apakah orang Katolik boleh mengamalkan apa yang disebut sebagai Kabbalah? Pernah ada seorang teman saya memperkenalkan Kabbalah dan menurutnya ia adalah dari Judaism dan banyak terambil dari kitab perjanjian lama.Mohon pencerahannya.

    Linda M

    [Dari Katolisitas: Silakan membaca terlebih dahulu ulasan di atas, silakan klik. Untuk selanjutnya, jika ada pertanyaan tentang topik tertentu, silakan gunakan fasilitas pencarian, di sisi kanan homepage. Ketik kata kuncinya lalu enter.]

  2. Shalom,

    Bagi orang percaya, kita sudah tiba dibagian paling ujung dari penghujung akhir zaman. Sudah banyak firman Tuhan yang digenapi, seperti ilmu pengetahuan yang bertambah-tambah dengan luar biasa, bencana, bangsa melawan bangsa termasuk juga tentunya agama new age.

    Bahwa Yesus sampai hari ini masih belum datang untuk kedua kali bukan berarti bahwa firman mengenai KedatanganNYA cuma omong kosong. Tuhan Yesus pasti datang untuk menjemput mempelaiNYA di awan-awan yang permai.
    Saya percaya bahwa waktu ini yang masih disediakan Tuhan semata-mata adalah kasih karunia Tuhan supaya orang yang belum percaya masih mempunyai kesempatan.

    Dalam hal kabbala (terus terang saya baru pernah mendengar kata ini karena saya belum pernah menemukan kata ini dalam Alkitab), Tuhan mengijinkan pemuridan terjadi melalui selebritas terkenal sehingga apabila seorang selebritas berubah menjadi “religius” dan “mencari Tuhan”, maka masyarakat akan menganggap bahwa Tuhan yang mereka cari adalah Yesus sebagai Juru Selamat yang kita kenal. Tetapi, Alkitab mengatakan bahwa pada hari penghakiman, Tuhan akan memilah domba dari kambing dan kita yang menentukan kita mau menjadi apa.

    Harapan saya adalah jangan sampai ajaran-ajaran yang kita dengar atau baca menggoyahkan iman percaya kita. Alkitab adalah YA dan AMIN. Yesus berkata bahwa tidak ada seorangpun sampai kepada Bapa tanpa melalui AKU. Tuhan Yesus memberkati.

    • Shalom Andre,

      Walau nampaknya hal kabbalah ini ‘menarik’ para selebriti untuk menjadi religius, tetapi sebenarnya ini bukan ajaran Kristiani, dan tidak mengarah kepada pemuridan seperti yang diajarkan oleh Tuhan Yesus, melainkan cenderung kepada ajaran- ajaran NAM (New Age Movemnet). Olah sebab itu, sebenarnya ini bukan hal yang baik yang patut disyukuri, tetapi sebagai hal yang memprihatinkan dan patut kita doakan. Semoga saja, kerinduan mereka untuk hal- hal rohani akhirnya akan membawa mereka sampai kepada Kristus.

      Jadi benar, mari kita berpegang kepada ajaran Kristus, seperti yang ada di dalam Kitab Suci, dan yang diajarkan oleh Gereja Katolik.

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      Ingrid Listiati- katolisitas.org

      • Shalom Ingrid;

        Terima kasih untuk response nya dan mohon maaf apabila terjadi kekeliruan tafsir.

        Tulisan saya bahwa “Tuhan mengijinkan pemuridan terjadi melalui …..” tidak dimaksudkan sebagai sikap bahwa kabbala adalah sesuai dengan ajaran Kristen (apabila itu tidak tercantum dalam Alkitab maka itu pasti bukan berasal dari Tuhan).
        Yang saya maksud adalah bahwa segala sesuatu yang terjadi dalam hidup setiap manusia adalah atas seijin Tuhan walaupun itu pekerjaan iblis (seperti waktu iblis minta ijin pada Tuhan untuk mencobai Ayub dan Tuhan mengijinkan asalkan iblis tidak mengambil jiwanya).

        Kiranya Damai Sejahtera yang dari Surga menyertai kita semua. Tuhan Yesus memberkati.

        Andre.

  3. Felix Sugiharto on

    Shalom bu Ingrid.

    Saya agak bingung dengan agama orang Yahudi…
    Saya bermaksud menanyakan agama orang Yahudi ada berapa aliran?
    kemudian kaum Yahudi yang menggunakan kitab suci berbahasa Ibrani apakah termasuk satu aliran dengan keKristenan?
    Terima kasih atas ulasannya.

    Salam sejahtera
    Felix S

    • Shalom Felix,

      Terus terang saya tidak mendalami Judaism. Namun jika kita mempelajari sejarah, kita ketahui bahwa pada jaman Yesus terdapat sedikitnya 4 kelompok besar kaum Yahudi: 1) Farisi, yang mempercayai kebangkitan orang mati; 2) Saduki, yang tidak mempercayai kebangkitan orang mati, 3) Essenes, yang menerapkan gaya hidup seperti pertapa/ pendoa, seperti Yohanes Pembaptis; 4) Zealot, seperti asal salah satu rasul Yesus yang bernama Simon (Mat 10:4; Luk 6:15).
      Sekarang ini yang masih ada adalah golongan Farisi, dan kini bertumbuhan banyak aliran Judaism, jika anda klik di situs- situ Yahudi; mereka membaginya menjadi golongan orthodox, konservatif, dan liberal, dan bermacam aliran lainnya, yang tidak perlu disebut di sini.
      Intinya kaum Yahudi ini tidak sama dengan aliran keKristenan/ Protestantism, justru karena agama Yahudi ini tidak mempercayai Kristus sebagai Mesias dan Allah Putera. Inilah yang membedakan ajaran agama Yahudi dengan ajaran Kristiani.

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      Ingrid Listiati- katolisitas.org

      • Felix Sugiharto on

        Shalom bu Ingrid.

        Terima kasih penjelasannya yang singkat dan bahan ini yang ingin saya ketahui sebagai parameter saya tentang sebuah kelompok…
        .
        terus terang bu, saya agak didesak oleh seorang teman yang kata-nya mengenal seorang keturunan Yahudi (bisa berbahasa Indo). teman baik saya ini seorang Kristen (aliran Injili), tapi berhubung bertetanga dengan keturunan Yahudi ini sehinga berninat memperkenalkan pada saya… dimana dikatakannya bahwa semua alkitab dalam bahasa indo adalah tidak sesuai dengan alkitab yang dipakainya dan berbahasa Ibrani.
        .
        Tapi saya sudah cukup dengan infomasi yang sangat berharga dari ibu dan terima kasih.

        In Christ
        Felix Sugiharto

  4. Alexander Pontoh on

    berarti gereja teman saya aneh banget. kabbalah yang berasal dari orang yahudi yang menolak kristus, dikotbahin di mimbar gereja. saya jadi heran dengan gereja protestan teman saya, katanya we believe totaly in bible, tetapi di alkitab tidak ada ttg kabbalah. sudah di alkitab tidak ada ttg kabbalah, diangkat ke mimbar pula.

    jika prinsip kabbalah ini berdasarkan tradisi Yahudi yang pada kenyataannya menolak Kristus sebagai Allah Putera. bukankah api penyucian juga berakar dari tradisi yahudi? (@_@)

    • Shalom Alexander,
      Prinsip kabbalah berdasarkan tradisi oral Yahudi, jadi tidak tertulis dalam Kitab Suci; sedangkan prinsip ajaran tentang Api Penyucian yang jelas ada dalam kitab 2 Makabe 12:38-45, walaupun sama- sama dari tradisi Yahudi, namun ajaran ini tertulis dan termasuk dalam kanon kitab Perjanjian Lama yang dikenal sebagai Septuaginta. Maka, tradisi mendoakan jiwa orang yang sudah meninggal itu sudah menjadi tradisi Yahudi, dan bahkan merupakan tradisi Yahudi sampai jaman Yesus dan Para rasul, sebab mereka memegang kitab Septuaginta sebagai Kitab Suci mereka pada saat itu (yang memang masih terdiri dari kitab-kitab Perjanjian Lama).
      Jika anda klik saja di internet, anda akan mengetahui bahwa hal kabbalah yang populer sekarang ini masih menjadi kontroversi bahkan di kalangan para rabi Yahudi, karena mereka menganggap yang diajarkan tentang kabbalah dewasa ini adalah ajaran yang tidak sesuai dengan tradisi mereka. Hal ini tidak terjadi dalam hal doktrin Api Penyucian, yang tetap dipegang teguh oleh Gereja Katolik, sejak jaman para rasul sampai sekarang.

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      Ingrid Listiati- katolisitas.org

      • Alexander Pontoh on

        bicara tradisi….

        mengapa kita harus menerima tradisi yahudi? apa sekedar karena itu dari agama yang kita anut?

        kemudian, kenapa yang tertulis kita terima, sedang yang oral tidak kita terima?

        • Shalom Alexander,
          Ajaran Kristiani mencakup sejarah keselamatan umat manusia, yang telah dimulai sejak zaman Penciptaan sampai akhir jaman nanti. Jaman penciptaan itu dilanjutkan dengan jaman patriarkh dan para nabi, yang memang berasal dari bangsa Yahudi. Allah memang memilih bangsa Yahudi sebagai bangsa pilihan yang dari padanya Yesus akan dilahirkan sebagai manusia. Oleh karena itu, tradisi Yahudi berhubungan erat dengan tradisi Kristiani. Hubungan ini terlihat juga dalam Kitab Suci, bagaimana tradisi Yahudi tertentu kemudian diangkat menjadi Tradisi Kristiani, seperti peristiwa Paska dan sunat dalam PL diberi makna yang baru dengan Paska Kristus dan Pembaptisan di PB, dan masih banyak contoh- contoh serupa ini, yang sudah pernah kita bahas dalam diskusi hubungan PL dengan PB. Maka, Gereja Katolik menerima tradisi Yahudi, sepanjang itu tertulis dalam Kitab Suci, sehingga kita dapat yakin hal itu merupakan sesuatu yang diinspirasikan oleh Roh Kudus. Termasuk di sini adalah tradisi mendoakan jiwa orang- orang yang sudah meninggal, yang secara khusus tertulis dalam kitab 2 Makabe 12: 38-45.

          Namun tradisi Yahudi yang tidak tertulis, tidak diterima oleh Gereja, justru karena tidak berasal dari otoritas dari Allah, sehingga kelompok- kelompok tertentu di kalangan kaum Yahudi sendiri dapat menentukan sesuatu yang berbeda dan bertentangan tentang sesuatu hal. Ini berkaitan dengan kuasa ‘mengikat dan melepaskan’ seperti yang disebutkan oleh Flavius Josephus, seorang ahli sejarah di abad ke -1. Umat Yahudi pada saat itu memahami istilah “mengikat dan melepaskan” sebagai otoritas untuk mengatur, yang mengikat atau melepaskan masyarakat dari suatu kewajiban, untuk menghukum atau untuk mengampuni, dan untuk menentukan sesuatu sebagai sesuatu yang sah atau tidak sah, boleh atau tidak boleh dilakukan. Kuasa ‘mengikat dan melepaskan’ ini diberikan oleh Ratu Alexandra (76-67 BC) kepada kaum Farisi. Kuasa inilah yang sering menjadi pertentangan antara para Rabi golongan Shamma dan Hillel, pada jaman Yesus, karena yang diikat oleh golongan yang satu dilepaskan oleh yang lain, demikian sebaliknya. Di sini Josephus tidak meragukan bahwa maksud ungkapan ‘mengikat dan melepaskan’ itu berkaitan dengan otoritas (lihat Stanley L. Jaki, The Keys of the Kingdom (Chicago: Franciscan Herald Press, 1986), p.43). Maka Yesus mengakhiri kesimpangsiuran ini dengan memberikan otoritas yang benar kepada Petrus, yang dipercayakan untuk memimpin Gereja-Nya.

          Maka, kita menerima tradisi Yahudi yang tertulis, karena itu menjadi bagian dari Kitab Suci Perjanjian Lama (yaitu Septuagint), namun kita tidak menerima tradisi Yahudi yang tidak tertulis, justru karena tidak adanya otoritas dari Allah tentang hal itu. Di beberapa kesempatan bahkan Yesus mengecam tradisi tambahan tersebut sebagai sesuatu yang berasal dari manusia, yang melalaikan hukum kasih (lih. Mat 23). Hal ini tidak sama dengan Tradisi para Rasul, justru karena Yesus menjamin otoritasnya, sebab Ia telah memberikan kuasa “mengikat dan melepaskan” secara khusus kepada Rasul Petrus dan para penerusnya (Mat 16:18-19), dan juga kepada para rasul lainnya (Mat 18:18). Inilah sebabnya maka Rasul Paulus berbicara dengan otoritas dari Tuhan, sewaktu mengatakan bahwa umat beriman harus berpegang pada ajaran para rasul, baik yang disampaikan lisan maupun yang tertulis (lih. 2 Tes 2:15).

          Demikian keterangan saya, semoga berguna.

          Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
          Ingrid Listiati- katolisitas.org

          • Alexander Pontoh on

            Setelah saya baca berulang-ulang, saya mulai menangkap maksud dari penjelasan Bu Inggrid. tapi ada beberapa pertanyaan yang masih muncul sewaktu saya berusaha menangkap maksud Bu Inggrid. Sekiranya Bu Inggrid berkenan menjawabnya. Terima Kasih.

            Apakah maksud Bu Inggrid adalah :
            tradisi tentang api penyucian atau tradisi mendoakan jiwa orang- orang yang sudah meninggal adalah tradisi yang berasal dari Allah

            Tulisan Bu Inggrid :
            Maka, Gereja Katolik menerima tradisi Yahudi, sepanjang itu tertulis dalam Kitab Suci, sehingga kita dapat yakin hal itu merupakan sesuatu yang diinspirasikan oleh Roh Kudus.
            Pertanyaan saya :
            Apakah hanya dengan tertulis dalam Kitab Suci, kemudian kita yakin hal itu merupakan sesuatu yang diinspirasikan oleh Roh Kudus?

            Tulisan Bu Inggrid :
            Namun kita tidak menerima tradisi Yahudi yang tidak tertulis, justru karena tidak adanya otoritas dari Allah tentang hal itu.
            Pertanyaan saya :
            Apakah otoritas Allah adalah karena itu tertulis didalam Kitab Suci?

            • Shalom Alexander,

              1. Ya segala yang tertulis dalam Kitab suci itu dituliskan atas inspirasi Roh Kudus. Hal itu kita ketahui dari Kitab Suci sendiri:

              Segala tulisan yang diilhamkan Allah memang bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran. (2 Tim 3:16)

              2. Maka benar jika suatu ajaran tertulis dalam Kitab Suci, maka ajaran itu berasal dari Allah, karena dituliskan atas inspirasi Roh Kudus. Nah, tentang otoritas untuk meng-interpretasikannya itu ada di tangan Magisterium Gereja Katolik (Wewenang mengajar Gereja), yang dipimpin oleh Bapa Paus yang adalah penerus Rasul Petrus, yang didukung oleh para uskup dalam persekutuan dengannya. Sebab, hanya kepada para rasul, secara khusus kepada rasul Petrus, Tuhan Yesus berjanji untuk memberi kuasa untuk “mengikat dan melepaskan” (lih. Mat 16:18-19, Mat 18:18) yang artinya adalah untuk menentukan suatu ajaran itu mengikat atau tidak, dalam hal iman dan moral.

              Oleh sebab itu, Magisterium mendapat kuasa/ otoritas dari Kristus sendiri untuk melestarikan ajaran Kristus, baik yang tertulis dalam Kitab Suci, maupun yang lisan dalam Tradisi Suci. Nah, tradisi Yahudi tidak mempunyai otoritas dari Kristus, justru karena tidak ada kuasa “mengikat dan melepaskan” yang diberikan oleh Kristus kepada para pengajar Yahudi itu. Maka tak heran, sampai sekarang interpretasi tentang kabbalah itupun beraneka ragam, dan bahkan dapat dikatakan bertentangan. Hal ini tidak terjadi pada Tradisi Suci para rasul dalam Gereja Katolik yang tetap sama sejak awal mula, dan penjabarannya hanya untuk menjelaskan apa yang sudah ada sejak jemaat perdana.

              Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
              Ingrid Listiati- katolisitas.org

    • Felix Sugiharto on

      Shalom Alexander..

      ikutan komentar sedikit ya…
      Beginilah zaman sekarang, banyak gereja-gereja mengadakan seminar dan khotbah yang judulnya menarik perhatian, pengkhotbahnya bebicara tentang PL seperti dongeng, terus menjabarkan dengan ayat-ayat di alkitab, beberapa ayat itu menyampaikan pendapat secara pribadi untuk meneguhkan bahan yang di khotbahkan, sehingga umat (pendengar) manangkap seolah-olah merupakan ajaran Tuhan… begitu khotbah di sampaikan, ditegaskan bahwa ini merupaka wahyu yang diterima karna mendapat urapan dari Roh Kudus..

      beginilah sebuah ibadah yang disampaikan secara publik sehingga tertanam bagi setiap pendengarnya seolah-olah telah memperoleh penambahan iman.. sebab ‘ga mungkin donk Roh Kudus berbohong’ dan ‘para pembicara bukankah sudah di urapi oleh Roh Kudus’. akan tetapi siapa mengetahui bahwa apakah “Kebenaran” firman itu telah disampaikan dengan benar, apakah juga sesuai dengan keinginan dan misi penyelamatan oleh Kristus 2000 tahun yang lalu ? (Ini perlu kita kaji kembali semuanya).

      Kesimpulannya, khotbah2 dengan judul yang indah, penyampaian yang manarik, ayat2 yang di paparkan saat khotbah.. semuanya harus di uji kembali apakah benar2 sesuai dengan suara hati (= suara Tuhan) yang muncul saat mendengarkan tadi… Roh Kudus yang berdiam dalam diri kita akan memberikan tanda-Nya.
      maka anda telah berbuat benar, dengan menanya… berarti suara hati anda telah berbicara untuk menguji sebuah “Kebenaran” yang disampaikan..

      semoga anda makin dekat dengan Tuhan, makin memahami sebuah makna Kebenaran illahi.

      Tuhan memberkati.

  5. Alexander Pontoh on

    beberapa waktu yang lalu, saya diajak oleh teman protestan saya untuk menghadiri kebaktiannya. kotbah kali itu adalah tentang (kalau tidak salah) kabbalah.

    yang menarik perhatian saya adalah (sekali lagi, kalau tidak salah) kabalah ini dibuat oleh salomo. karena salomo adalah tokoh alkitab. apakah kabalah ini ada didalam Gereja Katolik?
    Alexander

    [Dari Katolisitas: pertanyaan ini sudah dijawab di atas, silakan klik]