Tentang kitab-kitab Deuterokanonika

20

[Dari Admin Katolisitas: Pertanyaan dari Sary ini kami bagi menjadi dua bagian, bagian pertama (no 1-6) dan bagian kedua (no 7 dan 8). Berikut ini adalah pertanyaan dan jawaban bagian pertama, yaitu tentang kitab-kitab Deuterokanonika. Sedangkan bagian kedua akan kami jawab di artikel terpisah]

Pertanyaan:

Shalom, Ibu Inggrid dan Pak Steve

Beberapa hari yang lalu saya mendapatkan tantangan iman dari seorang pengajar teologi dan filsafat Kristen. Beliau menyatakan bahwa agama yang memakai alkitab Deuterokanonika adalah agama yang sesat. (dan itu juga berarti bahwa beliau menuduh bahwa Gereja Katolik adalah sesat). Ada beberapa hal yang ingin saya tanyakan sehubungan dengan hal ini:
1. Mengapa Deuterokanonika tidak dijadikan satu dalam bagian kitab Perjanjian Lama, namun dipisahkan menjadi kitab Deuterokanonika itu sendiri? Saya mendengar bahwa dalam cetakan Inggris Deuterokanonika tidak dipisahkan dan menjadi satu dalam kitab PL dan urutannya pun berbeda. Apakah benar? Apabila benar, mengapa dalam cetakan Indonesia kitab Deuterokanonika itu dipisahkan?
2. Sebenarnya apakah arti kata Deuterokanonika itu dan apa sajakah syarat dan ketentuan yang ditentukan oleh Bapa dan Gereja awal sehingga diputuskan bahwa Deuterokanonika masuk ke dalam bagian Alkitab?
3. Apakah dasar yang dipakai oleh Marthin Luther sehingga ia membuang kitab-kitab Deuterokanonika dari Perjanjian Lama?
4. Saya membaca beberapa bagian dalam kitab Deuterokanonika. Dalam kitab tersebut pada akhir pasal dituliskan catatan kaki yang menunjukkan hubungan antara ayat dalam Deuterokanonika dengan ayat-ayat dalam Perjanjian Lama dan juga Perjanjian Baru. Pertanyaan saya, apakah catatan kaki ayat-ayat tersebut itu ditulis untuk menjelaskan ayat dalam PL/ PB ataukah adanya catatan kaki di Deuterokanonika itu menunjukkan bahwa penulisan PL atau PB itu juga mengutip ayat-ayat dari Deuterokanonika?
5. Saya juga telah membaca beberapa kutipan mengenai penggunaan ayat Deuterokanonika dalam PL/PB seperti yang tersedia di website Bapak/ Ibu. Pertanyaan saya, apakah pengutipan itu diambil dari kitab Deuterokanonika saja ataukah ada juga yang diambil dari kitab lain?
Contoh : Matt. 2:16 – Herod’s decree of slaying innocent children was prophesied in Wis. 11:7 – slaying the holy innocents.
Matt. 6:19-20 – Jesus’ statement about laying up for yourselves treasure in heaven follows Sirach 29:11 – lay up your treasure.
6. Saya juga membaca mengenai orang-orang protestan yang tidak mengakui Deuterokanonika karena orang-orang Yahudi sendiri menolak kitab tersebut. Mohon penjelasannya secara rinci siapakah yang dimaksud dengan Yahudi itu.

Sary

Jawaban:

Shalom Sary,

Sebenarnya pertanyaan- pertanyaan anda banyak yang terjawab melalui artikel Perkenalan dengan Kitab Suci (bagian ke-2), silakan klik.

1. Kitab Deuterokanonika memang merupakan satu kesatuan dengan Kitab Perjanjian Lama

Kitab Deuterokanonika memang merupakan satu kesatuan dengan Kitab Perjanjian Lama (yang terdiri dari 46 kitab). Dalam edisi Vulgate (kitab Suci yang ditulis berdasarkan Septuagint, yaitu yang memuat kitab Perjanjian Lama yang diterjemahkan ke dalam bahasa Yunani pada tahun 250- 125 BC) Kitab Deuterokanonika termasuk di dalamnya, inilah yang dipakai oleh Gereja Katolik sampai sekarang. Maka benar bahwa di dalam Alkitab Katolik versi bahasa Inggris, memang kitab Deuterokanonika ini disatukan di dalam Perjanjian Lama. Jika di versi bahasa Indonesia dipisahkan, saya rasa itu kemungkinan karena pertimbangan kemudahan percetakan, dengan menggunakan dasar versi yang sudah ada dan diterima secara umum oleh semua umat Kristen di Indonesia.

2. Deuterokanonika adalah istilah yang dipakai setelah abad ke 16

Deuterokanonika adalah istilah yang dipakai setelah abad ke 16, yang artinya adalah yang termasuk dalam kanon kedua. Istilah ini dipakai untuk membedakan dengan kitab-kitab Perjanjian Lama lainnya yang diterima oleh gereja Protestan, yang disebut sebagai proto-canon. Namun sebenarnya Kitab Deuterokanonika ini telah termasuk dalam kanon Septuaginta, yaitu Kitab Suci yang dipergunakan oleh Yesus dan para Rasul. Dengan berpegang pada Tradisi Para Rasul,  Magisterium Gereja Katolik memasukkan kitab Deuterokanonika dalam kanon Kitab Suci, seperti yang telah ditetapkan oleh Paus Damasus I (382) dan kemudian oleh Konsili Hippo (393) dan Konsili Carthage (397). Kita percaya mereka diinspirasikan oleh Roh Kudus untuk menentukan keotentikan kitab-kitab ini, berdasarkan ajaran- ajaran yang terkandung di dalamnya. Kitab- kitab Deuterokanonika ini, bersamaan dengan kitab-kitab lainnya dalam PL dan PB, dikutip oleh para Bapa Gereja di abad- abad awal untuk pengajaran iman, dan prinsip- prinsip pengajaran pada kitab Deoterokanonika ini berada dalam kesatuan dengan PL dan PB.

3. Martin Luther tidak membuang Kitab- kitab Deuterokanonika

Sebenarnya, Martin Luther tidak membuang Kitab- kitab Deuterokanonika. Luther memasukkan kitab-kitab Deuterokanonika itu di dalam terjemahan kitab suci-nya yang pertama dalam bahasa Jerman. Kitab Deuterokanonika juga terdapat di dalam edisi pertama dari King James version (1611) dan cetakan Kitab Suci pertama yang disebut sebagai Guttenberg Bible (yang dicetak satu abad sebelum Konsili Trente 1546. Kenyataannya, kitab-kitab Deuterokanonika ini termasuk di dalam hampir semua Kitab Suci sampai Komite Edinburg dari the British Foreign Bible Society memotongnya pada tahun 1825. Sampai sebelum saat itu, setidaknya kitab Deuterokanonika masih termasuk dalam appendix dalam Alkitab Protestan. Maka secara historis dapat dibuktikan, bahwa bukan Gereja Katolik yang menambahkan kitab Deuterokanonika, namun gereja Protestan yang membuangnya.

Namun demikian memang diketahui bahwa Luther cenderung menilai kitab-kitab dalam Kitab suci seturut dengan penilaiannya sendiri. Misalnya, ia melihat kitab Ibrani, Yakobus, Yudas dan Wahyu sebagai kitab-kitab yang lebih rendah dibandingkan dengan kitab-kitab yang lain. Demikian juga dalam debatnya dengan Johannes Eck (1519) tentang Api Penyucian, maka ia merendahkan bukti yang diajukan oleh Eck yaitu kitab 2 Makabe 12, dengan merendahkan kitab-kitab Deuterokanonika secara keseluruhan. Ia juga mengatakan bahwa ketujuh kitab dalam Deuterokanonika tidak dikutip secara langsung di dalam PB. Namun jika ini acuannya, maka ada kitab-kitab yang lain dalam PL yang juga tidak dikutip dalam PB, seperti contohnya kitab Ezra, Nehemia, Ester, Pengkhotbah dan Kidung Agung, tetapi apakah kita akan membuang semua kitab-kitab itu? Tentu tidak bukan. Lagipula meskipun tidak ada kutipan langsung, namun ada banyak kutipan dalam PB yang mengacu pada apa yang tertulis dalam kitab Deuterokanonika. Contohnya, Ibr 11:35 tentang “Ibu-ibu yang menerima kembali orang-orangnya yang telah mati, sebab telah dibangkitkan. Beberapa disiksa dan tidak mau menerima pembebasan supaya mereka beroleh kebangkitan yang lebih baik….” ini mengacu kepada kisah seorang ibu yang menyerahkan ketujuh anak- anaknya dan akhirnya dirinya sendiri untuk disiksa, demi mempertahankan ketaatan mereka kepada hukum Taurat, seperti dikisahkan dalam kitab 2 Makabe 7. Kisah ini tidak ada di dalam kitab- kitab PL lainnya. Atau ayat 1 Korintus 2:10-11 yang mengajarkan bahwa manusia tidak dapat menyelami hal-hal yang tersembunyi dalam diri Allah yang telah ditulis dalam Yudith 8:14.

4. Catatan kaki yang terdapat pada kitab Deuterokanonika itu mengacu kepada ayat-ayat lain di dalam Alkitab

Catatan kaki yang terdapat pada kitab Deuterokanonika itu mengacu kepada ayat-ayat lain di dalam Alkitab yang mengisahkan hal yang sama/ serupa. Adanya kaitan ayat- ayat ini membuktikan bahwa kitab- kitab Deuterokanonika bukanlah kitab-kitab yang berdiri sendiri, melainkan merupakan kesatuan dengan kitab-kitab lainnya baik yang ada di PL maupun PB. Bahwa ada rujukan ke PL artinya ayat- ayat dalam kitab- kitab Deuterokanonika tersebut tersebut mengajarkan hal yang sama/ serupa dengan kitab- kitab PL lainnya, dan bahwa ada rujukan ke PB artinya pengajaran pada ayat- ayat kitab-kitab Deuterokanonika tersebut juga dikutip oleh para pengarang kitab- kitab PB, meskipun secara tidak langsung; atau prinsip pengajarannya diambil dan diajarkan kembali dalam PB.

Pada Alkitab The Jerusalem Bible, 1966, terbitan Dayton, Longman & Todd, Ltd dan Double Day,  tercantum cukup banyak catatan pada ayat- ayat Kitab Deuterokanonika yang mengacu kepada ayat- ayat kitab-kitab lainnya di PL dan PB. Semua ini sungguh menjadi bukti yang kuat bahwa kitab-kitab Deuterokanonika ini sama-sama diinspirasikan oleh Roh Kudus, sama seperti kitab-kitab lainnya dalam PL dan PB.

5. PB memang mengambil banyak referensi kepada pengajaran di PL, termasuk kitab Deuterokanonika

Jika diperhatikan maka kita ketahui bahwa ayat- ayat di PB memang mengambil banyak referensi kepada pengajaran di PL, termasuk kita Deuterokanonika. Ada yang dikutip sama persis, atau ada juga yang kemudian diperjelas ataupun disempurnakan. Dalam konteks inilah kita melihat nubuat pembunuhan kanak- kanak pada Keb 11:7, yang kemudian diperjelas dalam Mat 2:16 tentang pembunuhan bayi-bayi dan kanak-kanak di bawah umur 2 tahun pada jaman kaisar Herodes. Sedangkan contoh yang lain pada Mat 6:19-20 yang mengajarkan agar kita tidak menaruh perhatian kepada mengumpulkan harta dunia yang bermakna kosong, melainkan kepada harta surgawi, itu secara prinsip telah diajarkan dalam PL, yaitu Sir 29:8-12, Ayb 22:24-26; Mzm 62:10, Tob 4:9, selain juga diajarkan di PB, yaitu Yak 5:2-3, ataupun di ayat paralelnya pada Injil Lukas 12:33-34.

Contoh- contoh semacam ini banyak sekali. Maka, jika anda tertarik mempelajarinya, saya menganjurkan anda membeli buku the Jerusalem Bible, dan anda dapat melihatnya dengan lebih detail.

6. Alasan tidak menerima kitab-kitab Deuterokanonika karena orang-orang Yahudi sendiri menolak kitab-kitab tersebut adalah alasan yang sangat ‘absurd‘/ tidak masuk akal.

Sebenarnya alasan tidak menerima kitab-kitab Deuterokanonika karena orang-orang Yahudi sendiri menolak kitab-kitab tersebut adalah alasan yang sangat ‘absurd‘/ tidak masuk akal. Yang dimaksud di sini mungkin adalah bahwa kanon Ibrani yang ditetapkan oleh para rabi Yahudi dalam konsili Javneh/ Jamnia sekitar tahun 100,  hanya memuat 39 kitab PL, sedangkan Gereja Katolik berpegang pada Septuagint yang memuat 46 kitab (termasuk Deuterokanonika). Para rabi itu adalah orang -orang yang menolak Kristus, mereka tidak percaya kepada Kristus bahkan sampai saat ini. Bagaimanakah mereka dapat menentukan bagi Gereja, mana kitab yang diinspirasikan oleh Roh Kudus, dan mana yang tidak? Mereka (para rabi itu) menolak Kristus (kalau tidak menolak, mereka sudah jadi umat Kristiani), lalu bagaimana sekarang kita dapat mengatakan bahwa para rabi itu dipenuhi Roh Kudus untuk menentukan kanon Kitab Suci bagi Gereja?

Lagipula, jika kita mau secara obyektif melihat, selayaknya kita melihat pada penjelasan para pengarang Protestan yang bernama Gleason Archer dan G.C. Chirichigno membuat daftar yang menyatakan bahwa Perjanjian Baru mengutip Septuagint sebanyak 340 kali, dan hanya mengutip kanon Ibrani sebanyak 33 kali.[1] Dengan demikian, kita ketahui bahwa dalam Perjanjian Baru, terjemahan Septuagint dikutip sebanyak lebih dari 90%. Jangan lupa, seluruh kitab Perjanjian Baru ditulis dalam bahasa Yunani. Dan kitab-kitab yang tertulis dalam bahasa Yunani inilah yang ditolak oleh para Rabi Yahudi. Tetapi apakah kitab-kitab PL yang tertulis dalam bahasa Yunani ini berarti tidak diinspirasikan oleh Roh Kudus? Tentu tidak bukan. Meskipun ditulis bukan dalam bahasa Ibrani, kitab-kitab tersebut tetap orisinil dan asli, sebab memang pada saat itu bahasa yang umum digunakan adalah bahasa Yunani.

Demikian yang dapat saya tuliskan untuk pertanyaan anda no 1 sampai 6. Jawaban no.7 dan 8-nya menyusul, karena topiknya juga berbeda dengan yang telah disampaikan di atas.

Kalau ada yang menuduh Gereja Katolik itu sesat, janganlah sampai membuat kita marah atau membalas. Janganlah kita menghakimi mereka ataupun mengatakan hal-hal yang negatif tentang mereka, sebab bisa jadi memang mereka mengatakan demikian karena mereka diajarkan demikian oleh para pengajar mereka (mereka tahu-nya demikian). Maka yang terpenting, menurut hemat saya, adalah kita sebagai orang Katolik mempelajari iman kita agar kita dapat menemukan kebenaran. Jadi, kalau ada orang yang bertanya pada kita, kita tahu bagaimana harus memberikan pertanggungjawaban iman kita. Biar bagaimanapun Kebenaran itu akan kelihatan dengan sendirinya, dan membuktikan bahwa Gereja Katolik, yang setia berpegang kepadanya, tidak sesat seperti yang dituduhkan.

Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
Ingrid Listiati- www.katolisitas.org


CATATAN KAKI:
  1. Gleason Archer dan G. C. Chirichigno, Old Testament Quotations in the New Testament: A Complete Survey (Chicago, IL: Moody Press, 1983), xxv-xxxii. []
Share.

About Author

Ingrid Listiati telah menyelesaikan program studi S2 di bidang teologi di Universitas Ave Maria - Institute for Pastoral Theology, Amerika Serikat.

20 Comments

  1. Dear Katolisitas
    Beberapa waktu lalu saya mendapati sebuah forum diskusi yang membahas soal –Deutrokanika-, “puji Tuhan” beberapa hal dapat saya temukan penjelasan melalui katolisitas.org, namun ada beberapa hal yang masih membuat saya “penasaran” dan butuh penjelasan, berikut coba saya sajikan hal2 tersebut :
    ‘Tanggapan mengenai Deutrokanonik bagi kaum protestan’
    Gereja Protestan tidak menerima kitab-kitab Apokrip ke dalam kanon karena beberapa alasan yang sangat esensial:

    1). Perjanjian Lama bahasa Ibrani tidak memasukkan kitab-kitab apokrip itu ke dalam kanon. Ada 39 kitab dalam kanon Ibrani yang terdiri atas 5 kitab-kitab Taurat (torah), 21 kitab nabi-nabi (NEVI’IM), dan 13 kitab tulisan-tulisan (KETUVIM). Kita dilarang menambahi atau mengurangi kitab-kitab yang telah ditetapkan.
    2) Tuhan Yesus tidak pernah mengakui otoritas atau pengilhaman kitab-kitab apokrip itu. Yesus tidak pernah pernah mengutip baik langsung maupun tidak langsung dari kitab-kitab apokrip, walaupun kitab-kitab itu sudah beredar pada zaman Yesus
    3). Kitab-kitab apokrip mengandung kesalahan, di antaranya:
    a. Tidak mengaku pengilhaman ilahi:
    * 2 Makabe 2:23
    LAI TB, Semuanya itu telah diuraikan oleh Yason dari Kirene dalam lima buku lima buah. Kami ini hendak berusaha mengikhtisarkan semuanya dalam satu jilid saja.
    * 2 Makabe 15:37b-38,
    15:37b LAI TB, Maka aku sendiripun mau mengakhiri kisah ini.
    15:38 Jika susunannya baik lagi tepat, maka itulah yang kukehendaki. Tetapi jika susunannya hanya sedang-sedang dan setengah-setengah saja, maka hanya itulah yang mungkin bagiku.
    Kutipan di atas menentang kebenaran bahwa Alkitab diilhamkan oleh Allah, bukan oleh manusia serta tidak ada nubuat atau kitab yang dihasilkan oleh pikiran manusia.
    * 2 Timotius 3:16
    LAI TB, Segala tulisan yang diilhamkan Allah memang bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran.

    b. Kesalahan sejarah
    Kitab Tobit 14:15 salah menyatakan bahwa Nebukadnezar dan Ahasyweros menaklukkan Niniwe. Namun sejarah mencatat bahwa Nebopolasar dan Cyaxares-lah yang terlibat di dalamnya. Demikian pula dalam Tobit 1:1 menunjukkan adanya ketidaktahuan tentang sejarah; Barukh 1:8 berkontradiksi dengan Ezra 1:7 yang benar berdasarkan sejarah.

    c. Kesalahan doktrin
    Ada banyak kesalahan doktrin yang dapat ditemukan dalam kitab-kitab apokrip, diantaranya adalah :
    1. Membenarkan bunuh diri:

    * 2 Makabe 14:41-46
    LAI TB, 14:41 Ketika pasukan itu sudah siap untuk merebut menara itu dan sudah meretas pintu masuk dan menyuruh untuk memasang api buat menyalakan pintu-pintu, maka Razis yang rapat terkepung menikam dirinya dengan pedang.
    14:42 Ia lebih suka mati secara muliawan dari pada jatuh di tangan orang-orang berdosa itu dan diperlakukan oleh mereka secara tak layak bagi keluhuran budinya.
    14:43 Tetapi tikaman itu kurang kena, oleh karena ia berbuat tergesa-gesa karena perjuangan itu dan oleh sebab pasukan prajurit itu sudah berduyun-duyun di dalam pintu gerbang. Maka dari itu dengan berani larilah ia naik ke atas tembok lalu secara jantan menjatuhkan diri ke atas orang banyak itu.
    14:44 Tetapi orang-orang itu cepat-cepat mundur, sehingga ada tempat kosong di tengah. Maka Razis jatuh di tempat yang kosong itu.
    14:45 Tetapi ia masih hidup juga. Maka dengan geramnya yang berapi-api bangkitlah ia, meskipun darahnya bercucuran dan luka-lukanya nyeri. Lalu ia lari menerobos orang banyak itu lalu berdiri di atas sebuah batu karang yang tinggi.
    14:46 Meskipun darahnya hampir keluar semuanya, namun ia menarik isi perutnya ke luar, mengambilnya dengan kedua tangannya, lalu dilemparkannya ke atas orang banyak itu. Dalam pada itu berserulah ia kepada Penguasa hidup dan nyawa, semoga Ia kelak memberikannya kembali kepadanya. Demikian Razis berpulang

    Alkitab tidak pernah menyetujui atau menghalalkan bunuh diri. Bunuh diri bertentangan dengan firman yang keenam (Keluaran 20:13), “Jangan membunuh”. Tidak ada seorang pun yang berhak mengambil nyawanya sendiri. Allahlah yang berhak atas hidup manusia sebab Dialah yang menciptakannya.
    2. Menyetujui doa untuk orang mati.

    * 2 Makabe 12:41-45
    LAI TB, 12:41 Lalu semua memuliakan tindakan Tuhan, Hakim yang adil, yang menyatakan apa yang tersembunyi.
    12:42 Merekapun lalu mohon dan minta, semoga dosa yang telah dilakukan itu dihapus semuanya. Tetapi Yudas yang berbudi luhur memperingatkan khalayak ramai, supaya memelihara diri tanpa dosa, justru oleh karena telah mereka saksikan dengan mata kepala sendiri apa yang sudah terjadi oleh sebab dosa orang-orang yang gugur itu.
    12:43 Kemudian dikumpulkannya uang di tengah-tengah pasukan. Lebih kurang dua ribu dirham perak dikirimkannya ke Yerusalem untuk mempersembahkan korban penghapus dosa. Ini sungguh suatu perbuatan yang sangat baik dan tepat, oleh karena Yudas memikirkan kebangkitan.
    12:44 Sebab jika tidak menaruh harapan bahwa orang-orang yang gugur itu akan bangkit, niscaya percuma dan hampalah mendoakan orang-orang mati.
    12:45 Lagipula Yudas ingat bahwa tersedialah pahala yang amat indah bagi sekalian orang yang meninggal dengan saleh. Ini sungguh suatu pikiran yang mursid dan saleh. Dari sebab itu maka disuruhnyalah mengadakan korban penebus salah untuk semua orang yang sudah mati itu, supaya mereka dilepaskan dari dosa mereka

    3. Membenarkan kekejaman terhadap budak-budak.
    * Sirakh 33:26-28
    33:26 LAI TB, Suruhlah budakmu bekerja, maka kaudapat istirahat; kalau tangannya kaubiarkan bermalas, niscaya ia mencari kemerdekaan.
    33:27 Kuk dan kekang membungkukkan tengkuk, dan aniaya dan siksa adalah serasi dengan hamba yang jahat.
    33:28 Bebankanlah pekerjaan kepada budakmu, sehingga ia tidak menganggur, sebab pengangguran mengajar banyak kejahatan.

    4. Mengajarkan pra-eksistensi jiwa.
    * Kebijaksanaan Salomo 8:19-20
    8:19 LAI TB, Memang aku seorang pemuda yang baik budi pekertinya, dan aku mendapat jiwa yang baik;
    8:20 atau sebaliknya: oleh karena aku ini baik, maka aku masuk ke dalam tubuh yang tak bercela.

    Mohon Penjelasan danTanggapan mengenai hal2 diatas, mohon maaf sekiranya ada hal diatas yang sudah pernah di bahas dalam site ini, namun mungkin saya belum sempat membacanya hingga terkesan menjadi topik yang berulang2.
    Terima kasih. Salam Damai Dalam Kasih Kristus

    • Shalom Arteta,

      Umat Protestan menyebut kitab- kitab Deuterokanonika sebagai kitab- kitab apokrif, namun istilah tersebut sesungguhnya tidak tepat. Sebab apokrif mempunyai arti bahwa seolah- olah kitab- kitab tersebut tidak terilhami Roh Kudus, sedangkan jika kita mempelajari asal usul Kitab Suci, maka kita mengetahui tidak demikian faktanya. Sejak saat Kitab Suci dikanonisasikan oleh Magisterium Gereja Katolik, Perjanjian Lama sudah memuat Kitab- kitab Deuterokanonika (seluruhnya ada 46 kitab). Silakan anda membacanya di sini, silakan klik.

      1. Perjanjian Lama bahasa Ibrani tidak memasukkan kitab- kitab Deuterokanonika?

      Sebenarnya alasan tidak menerima kitab-kitab Deuterokanonika karena orang-orang Yahudi sendiri menolak kitab-kitab tersebut adalah alasan yang sangat ‘absurd‘/ tidak masuk akal. Kanon Perjanjian Lama bahasa Ibrani ditetapkan oleh para rabi Yahudi dalam konsili Javneh/ Jamnia sekitar tahun 100. Kanon tersebut hanya memuat 39 kitab Perjanjian Lama, dan menolak semua kitab Perjanjian Baru. Sedangkan Gereja Katolik berpegang pada Septuagint yang memuat 46 kitab (termasuk Deuterokanonika). Para rabi itu adalah orang -orang yang menolak Kristus, mereka tidak percaya kepada Kristus bahkan sampai saat ini. Bagaimanakah mereka dapat menentukan bagi Gereja, mana kitab yang diinspirasikan oleh Roh Kudus, dan mana yang tidak? Mereka (para rabi itu) menolak Kristus (kalau tidak menolak, mereka sudah jadi umat Kristiani), lalu bagaimana sekarang kita dapat mengatakan bahwa para rabi itu dipenuhi Roh Kudus untuk menentukan kanon Kitab Suci bagi Gereja?

      Lagipula, jika kita mau secara obyektif melihat, selayaknya kita melihat pada penjelasan para pengarang Protestan yang bernama Gleason Archer dan G.C. Chirichigno membuat daftar yang menyatakan bahwa Perjanjian Baru mengutip Septuagint sebanyak 340 kali, dan hanya mengutip kanon Ibrani sebanyak 33 kali. (Gleason Archer dan G. C. Chirichigno, Old Testament Quotations in the New Testament: A Complete Survey (Chicago, IL: Moody Press, 1983), xxv-xxxii). Dengan demikian, kita ketahui bahwa dalam Perjanjian Baru, terjemahan Septuagint dikutip sebanyak lebih dari 90%. Jangan lupa, seluruh kitab Perjanjian Baru ditulis dalam bahasa Yunani. Dan kitab-kitab yang tertulis dalam bahasa Yunani inilah yang ditolak oleh para Rabi Yahudi. Tetapi apakah kitab-kitab PL yang tertulis dalam bahasa Yunani ini berarti tidak diinspirasikan oleh Roh Kudus? Tentu tidak bukan. Meskipun ditulis bukan dalam bahasa Ibrani, kitab-kitab tersebut tetap orisinil dan asli, sebab memang pada saat itu bahasa yang umum digunakan adalah bahasa Yunani.

      Silakan anda membaca lebih lanjut di artikel tentang asal usul Kitab Suci, di sini, silakan klik.

      2. Tuhan Yesus tidak pernah mengakui otoritas kitab- kitab Deuterokanonika?

      Jika diperhatikan maka kita ketahui bahwa ayat- ayat di Perjanjian Baru yang banyak memuat ajaran- ajaran Yesus kepada para murid-Nya, memang mengambil banyak referensi dari pengajaran di Perjanjian Lama, termasuk kitab- kitab Deuterokanonika. Ada yang dikutip sama persis, atau ada juga yang kemudian diperjelas ataupun disempurnakan. Contohnya, saat Yesus mengajarkan doa Bapa Kami, Ia mengajarkan agar kita mengampuni orang yang bersalah kepada kita (Mat 5:23-34; 6:12-15), dan hal ini merupakan ajaran yang sudah diajarkan oleh Kitab Sirakh (Si 28:1-2). Dengan demikian, Kristus mengakui otoritas kitab Sirakh. Sedangkan contoh yang lain pada Mat 6:19-20 (Lukas 12:33-34) yang mengajarkan agar kita tidak menaruh perhatian kepada mengumpulkan harta dunia yang bermakna kosong, melainkan kepada harta surgawi, itu secara prinsip telah diajarkan dalam PL termasuk Kitab Deuterokanonika yaitu Ayb 22:24-26; Mzm 62:10, Sir 29:8-12, Tob 4:9.

      Contoh- contoh semacam ini banyak sekali. Maka, jika anda tertarik mempelajarinya, saya menganjurkan anda membeli buku the Jerusalem Bible, dan anda dapat melihatnya dengan lebih detail. Anda akan melihat bahwa pengajaran yang disampaikan dalam Kitab- kitab Deuterokanonika, seperti halnya kitab PL lainnya, banyak yang menjadi acuan bagi kitab- Kitab PB.

      Di atas semua itu, Kitab Suci yang dipergunakan oleh Yesus dan para rasul itu adalah kitab suci Septuagint, yang ditulis antara abad 3-2 sebelum Masehi, dan kitab Septuagint tersebut memuat kitab- kitab Deuterokanonika.

      3. Kitab- kitab Deuterokanonika mengandung kesalahan?

      a. Tidak mengakui pengilhaman ilahi?
      Mereka yang menentang kitab- kitab Deuterokanonika mengutip ayat 2 Mak 2:23 dan 2 Mak 15:37-38, sebagai dasar pandangan mereka bahwa kitab- kitab tersebut tidak diilhami oleh Allah. Mari kita membaca ayat- ayat tersebut:

      2 Mak 2:23:
      “Semuanya itu telah diuraikan oleh Yason dari Kirene dalam buku lima buah. Kami hendak berusaha mengikhtisarkan semuanya dalam satu jilid saja.”

      Kata “semuanya itu” mengacu kepada ayat-ayat sebelumnya, yaitu, semua kisah tentang Yudas Makabe dan saudara- saudaranya, tentang pentahiran Bait Suci, peperangan melawan Raja Antiokhus Epifanes, penampakan- penampakan dari sorga, dst, yang diuraikan oleh Yason dalam lima buku. Maka di sini, justru penulis kitab Makabe meringkasnya atas ilham Roh Kudus. Sebab justru karya Yason (yang panjang tertuang dalam 5 kitab itu) yang tidak diinspirasikan oleh Roh Kudus, sedangkan apa yang tertulis dalam kitab Makabe ini malah adalah yang ditulis atas bimbingan Roh Kudus, sehingga hanya menyampaikan apa yang sesuai dengan maksud dan kehendak Roh Kudus, Sang Pengarang Kitab Suci (disarikan dari A Catholic Commentary on Holy Scripture, ed. Dom Orchard, p. 719).

      2 Mak 15:37-38
      “Maka aku sendiripun mau mengakhiri kisah ini. Jika susunannya baik lagi tepat, maka itulah yang kukehendaki. Tetapi jika susunannya hanya sedang- sedang dan setengah- setengah saja, maka hanya itulah yang mungkin bagiku.”

      Ayat ini tidak dikatakan dalam kaitannya dengan kebenaran kisah yang disampaikan, tetapi berkaitan dengan gaya penulisan, di mana menurut sang penulis kitab itu sendiri, tidak selalu paling akurat. Ungkapan serupa ini juga dikatakan oleh Rasul Paulus, “Jikalau aku kurang paham dalam berkata- kata, tidaklah demikian dalam hal pengetahuan …..” (2 Kor 11:6). Memang gaya penulisan dalam kitab- kitab suci melibatkan kemampuan ataupun pilihan sang penulis kitab tersebut, namunn hal isi dan kebenaran kitabnya merupakan inspirasi dari Roh Kudus. Sebab inspirasi Roh Kudus tidak meniadakan keterlibatan kodrati dari orang- orang yang menuliskannya.

      Dengan demikian, ayat- ayat tersebut tidak menentang ayat 2 Tim 3:16 yang mengatakan, “Segala tulisan yang diilhamkan Allah memang bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran.” Sebab memang semua ayat di dalam Kitab Suci diilhamkan Allah, namun pada saat dituliskan, itu melibatkan kemampuan dan akal budi sang penulis kitab.

      b. Kesalahan sejarah?

      [Untuk data sejarah saya mengacu kepada buku karangan John. H Walton, Chronological and Background Charts of the Old Testament, (Grand Rapids, Michigan: Zondervan), 1994, p. 65- 69]. Berikut ini saya menanggapi pertanyaan anda:

      - Kitab Tobit

      Di awal kitab Tobit, disebutkan bahwa kisah Tobit ditulis pada jaman Raja Salmaneser (Tob 1:2, LAI), raja Asyur. Jika dicocokkan dengan data sejarah, maka ini adalah Raja Salmaneser V (728/7- 722 BC). Di akhir kitab Tobit, dikatakan bahwa Tobia wafat di usia 117 tahun, dan sebelum meninggalnya terjadi kehancuran kota Niniwe, ke tangan raja Siaksares, Raja Media (Tob 14:14-15, LAI). Jika dicocokkan dengan data sejarah Niniwe hancur pada sekitar tahun 612 BC, dan jatuh ke tangan raja Media dan Neo-Babilonia. Nah, pada tahun 612 BC, Raja Media yang berkuasa adalah Raja Cyaxares/Siaksares (625- 585 BC) dan Raja Neo- Babilonia adalah Nebopolassar (625- 605 BC).

      Dari data tersebut, tidak ada yang keliru. Silakan anda tanyakan dari mana sumbernya yang menyatakan bahwa Tob 14:15 salah menyatakan bahwa Nebukadnezar dan Ahasyweros menaklukkan Niniwe, karena di Kitab Suci yang saya miliki dari LAI, tertulis dalam Tob 14:15 adalah Raja Siaksares/ Cyaxares, dan ini cocok dengan data sejarah.

      - Kitab Barukh

      Anda bertanya, apakah Barukh 1:8 berkontradiksi dengan Ezra 1:7. Mari kita melihat ayat- ayat tersebut:

      Bar 1:8-9
      “Pada tanggal sepuluh bulan Siwan Barukh menerima perkakas dari rumah Tuhan yang telah dirampas dari Bait Allah, untuk dikembalikan ke negeri Yehuda, sesudah Nebukadnezar, raja Babel, membuang Yekhonya, para pemimpin, pandai besi, para pemuka rakyat serta negeri dari Yerusalem dan membawa mereka ke negeri Babel.”

      Ezr 1:7
      “Pula raja Koresh menyuruh mengeluarkan perlengkapan rumah Tuhan yang diangkut Nebukadnezar dari Yerusalem dan yang ditaruhnya di dalam kuil allahnya.”

      Jika diteliti, kedua ayat ini tidaklah bertentangan. Karena memang sejarah mencatat bahwa Raja yang merusak Bait Allah dan merampas perkakas- perkakasnya adalah Raja Nebukadnezar, dan ini tertulis di kitab Barukh maupun Ezra. Hanya saja, kitab Barukh tidak menyebutkan dari siapa Barukh menerima perkakas dari rumah Tuhan yang telah dirampas itu. Kitab Ezra menuliskannya dengan lebih lengkap, yaitu Raja Koresh/ Cyrus the Great (600/ 576- 530 BC), Raja Persia yang menaklukkan kerajaan Neo- Babilonia.
      Dengan demikian, tidak benar bahwa Bar 1:8-9 berkontradiksi dengan Ezr 1:7, dan tidak benar pula bahwa ada kesalahan sejarah di sini.

      c. Kesalahan doktrin?

      - Mengajarkan bunuh diri?

      2 Mak 14:39-46 memang menjabarkan tentang bagaimana Razis wafat, yaitu dengan bunuh diri. Namun sebenarnya kisah tersebut tidak bermaksud untuk mengajarkan bunuh diri, melainkan untuk menjelaskan tentang bagaimana karakter Razis yang tidak ingin mati di tangan musuh. Hal serupa terjadi pada Raja Saul, yang juga mati karena bunuh diri, yaitu dengan menjatuhkan dirinya di atas pedang seorang pembawa senjatanya (lih. 1 Sam 31:4). Kisah Raja Saul yang bunuh diri itu tertulis di kitab 1 Samuel, dan tidak ada orang yang mempertanyakan apakah kitab tersebut diinspirasikan oleh Roh Kudus atau tidak, karena memuat kisah tersebut. Kitab 1 Samuel termasuk dalam kanon Kitab Suci Perjanjian Lama, dan tidak ada yang meragukannya.

      - Mengajarkan mendoakan orang- orang yang meninggal?

      2 Mak 12:41-45 memang mengajarkan bagaimana Yudas Makabe mempersembahkan korban penebus dosa di Bait Allah untuk mendoakan jiwa-jiwa saudara- saudara sebangsanya yang wafat di dalam pertempuran. Hal mendoakan jiwa-jiwa orang yang sudah meninggal ini tidak hanya diajarkan di kitab Makabe dalam PL. Rasul Paulus juga mendoakan sahabatnya, Onesiforus yang sudah meninggal dunia, seperti pernah dibahas di sini, silakan klik.

      Pengajaran tentang mendoakan jiwa- jiwa orang yang sudah meninggal berkaitan erat dengan doktrin tentang Api Penyucian, dan dasar- dasar ajaran tentang Api Penyucian sudah pernah dibahas di sini, silakan klik.

      - Membenarkan kekejaman terhadap budak?

      Pandangan ini keliru, sebab ayat- ayat yang dikutip tidak lengkap. Sesungguhnya yang diajarkan oleh Kitab Sirakh adalah pengajaran tentang bagaimana memperlakukan hamba dengan adil. Hamba yang jahat boleh dihukum (Sir 33:27,29), sedang hamba yang baik harus diperlakukan sebagai saudara (lih. Sir 33:32). Di atas semua itu, semua perlakuan tidak boleh melampaui batas dan perlakuan terhadap mereka harus didasari pertimbangan (lih. Sir 33:30).

      Hal perbudakan memang tidak terlepas dari kondisi masyarakat pada saat itu. Perbudakan memang tidak sesuai dengan ajaran Kristiani, namun bahkan sampai jaman PB sistem perbudakan dalam masyarakat masih ada. Rasul Paulus-pun tidak serta merta menghapuskan perbudakan. Ia masih mengajarkan tentang bagaimana seharusnya sikap majikan dan hamba dalam surat- suratnya kepada jemaat (lih. Kol 4:1; Ef 6:9; Film 1:10-17). Baru kemudian setelah pesan Injil diterapkan secara lebih meluas di dunia, sistem perbudakan dapat dihapuskan. Selanjutnya tentang perbudakan dan bagaimana Gereja turut berperan serta menghapuskan perbudakan di dunia ini, sudah pernah dibahas di sini, silakan klik.

      - Membenarkan pre-eksistensi jiwa?

      Keb 8:19-20 mengatakan, “Memang aku seorang pemuda yang baik budi pekertinya, dan aku mendapat jiwa yang baik; atau sebaliknya oleh karena aku ini baik, maka aku masuk ke dalam tubuh yang tak bercela.” St. Agustinus menjelaskan makna ayat- ayat ini dalam Contra Jul. iv.3, bahwa beberapa orang dilahirkan dengan sikap batin yang lebih baik untuk belajar, jika dibandingkan dengan orang- orang lain. Jadi ini tidak untuk dijadikan dasar bagi pre-eksistensi jiwa. Ayat ini hanya mau menyatakan bahwa ia [sang penulis] tidak hanya diberkati dengan jiwa yang baik, tetapi juga dengan tubuh yang tak bercela. Oleh karena itu, penulis ingin menyampaikan bahwa tidak ada pre-eksistensi tubuh, sama seperti tidak ada pre- eksistensi jiwa.

      Demikianlah yang dapat saya sampaikan untuk menanggapi pertanyaan anda. Semoga berguna. Untuk selanjutnya, jika ada topik yang ingin anda ketahui, silakan gunakan fasilitas pencarian di sudut kanan atas homepage. Silakan ketik kata kuncinya, lalu enter, dan semoga anda sudah menemukan beberapa artikel terkait. Jika belum ada, silakan bertanya kepada kami, kami akan mengusahakan untuk menjawabnya.

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      Ingrid Listiati- katolisitas.org

  2. endro wibowo on

    salam pak stef, bu inggrid, dan romo wanta….

    saya ingin bertanya mengenai apakah:
    septuaginta = tanakh ibrani (kitab protestan) + deuterokanonika.
    apakah benar demikian?

    bagaiman dengan kitab berikut:
    Εσδρας Α – ESDRAS ALPHA, 1 Esdras
    Ψαλμοι – PSALMOI, Mazmur , 24b. Ψαλμός ΡΝΑ – PSALMOS 151

    jika kitab septuaginta tersebut tidak masuk dalam kitab PL katolik, maka bisakah disebut PL katolik = setuaginta dikurangi beberapa kitab (tersebut diatas)?

    terimakasih katolisitas.. Tuhan Memberkati..

    • Shalom Endro,

      Kanon Kitab Suci yang kita peroleh sekarang adalah berdasarkan kanon yang ditetapkan oleh Magisterium Gereja Katolik sejak abad ke-4, yang urutannya dapat anda baca di jawaban ini, silakan klik.

      Maka benar, terdapat perbedaan antara jumlah kitab- kitab yang ada dalam Septuaginta dan kitab- kitab yang termasuk dalam kanon Kitab Suci yang ditetapkan oleh Magisterium Gereja Katolik. Kanon Kitab Suci Perjanjian Lama yang kita pegang sekarang tidak sama persis dengan Septuagint, sebab ada beberapa kitab yang ada dalam Septuagint yang tidak termasuk di dalam kanon PL, yaitu:

      1. Kitab Esdras

      Terdapat perbedaan cara pengelompokan kitab Esdras, yang tabelnya dapat dilihat pada link wikipedia, silakan klik.

      Secara umum Kitab Esdras diasosiasikan dengan Kitab Ezra. Kitab Esdras ini terbagi menjadi empat bagian, namun cara penamaan bagian- bagiannya tidak sama. 1 Esdras menurut Vulgate adalah kitab Ezra, 2 Esdras menurut Vulgate adalah kitab Nehemia, sedangkan 3 dan 4 Esdras menurut Vulgate disebut sebagai 1 dan 2 Esdras, yang tidak diterima sebagai kitab kanonikal bagi oleh Gereja Katolik maupun gereja Protestan.

      2. Mazmur 151

      Judul yang diberikan kepada Mazmur 151 dalam Septuagint mengakibatkan Mazmur 151 tersebut dikatagorikan sebagai “supernumerary” atau tambahan, sehingga tidak dimasukkan dalam kanon Kitab Suci. Dikatakan di sana bahwa, “Mazmur ini disusun oleh Daud dan ada di luar bilangan. Ketika ia mengalahkan Goliath di dalam satu pertempuran.” Namun demikian, dalam beberapa Kitab suci Katolik, Mazmur 151 ini disertakan sebagai Appendix.

      3. 3 dan 4 Makabe

      Silakan membaca di sini, silakan klik, untuk mengetahui secara garis besar isi kitab 3 dan 4 Makabe, dan mengapa kitab- kitab tersebut tidak termasuk dalam kanon Kitab Suci yang ditentukan oleh Magisterium Gereja Katolik.

      4. Kitab Ode

      Kitab ini termasuk sebagai tambahan Mazmur dalam Septuagint, menurut Codex Alexandrinus di abad ke-5. Kitab Ode ini termasuk dalam Kitab Suci gereja Orthodox, namun tidak termasuk dalam kanon yang pertama kali ditentukan oleh Magisterium Gereja Katolik pada abad ke- 4.

      Selain dari kitab- kitab di atas, kanon PL yang ditentukan oleh Magisterium sesuai dengan yang ada dalam Septuagint (yang disusun sejak abad ke-3 sampai abad ke-2 sebelum masehi). Demikianlah kita mengetahui bahwa Magisterium Gereja Katolik dengan setia menjaga dan melestarikan pusaka iman dalam Kitab Perjanjian Lama (secara keseluruhannya, termasuk kitab- kitab Deuterokanonika), yang telah dijunjung tinggi oleh umat beriman sejak masa sebelum kelahiran Kristus.

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      Ingrid Listiati- katolisitas.org

  3. Shalom
    Mengapa alkitab Katholik & Kristen itu beda. Alkitab Katholik ada bagian Deuterokanonika, sdgkan alkitab Kristen tdk memasukkan bagian tsb. Tolong bantu jelaskan, apa keunggulan Deuterokanonika bagi Katholik? Mengapa umat Kristen mengatakan isi dr Deuterokanonika telah terwakili di Perjanjian Lama sehingga tdk perlu ditambahkan. Terimakasih, Tuhan memberkati.

    Salam Dalam Kasih Tuhan;
    Natalie

    • Shalom NataLie,
      Tentang Kitab- kitab Deuterokanonika, sudah pernah dibahas di sini, silakan klik. Sedangkan tentang pertanyaan apakah Kitab Deuterokanonika tidak termasuk dalam Kitab Suci, sudah dijawab di sini, silakan klik.
      Gereja Katolik tidak pernah menambah-nambah Kitab Suci, sebab memang ejak awal kanon PL yang ditetapkan (dalam Septuaginta) kitab- kitab Deuterokanonika sudah termasuk di dalamnya. Maka yang benar adalah adanya pengurangan yang dimulai oleh pihak pendiri gereja Protestan, yang akhirnya diturunkan kepada generasi-generasi berikut dalam bermacam denominasi.
      Silakan anda membaca kedua link tersebut di atas, dan silakan bertanya kembali di bawah artikel tersebut, jika masih ada yang belum jelas.
      Jika ada topik lain yang ingin anda ketahui, silakan gunakan fasilitas pencarian di situs ini, di pojok kanan atas.

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      Ingrid Listiati- katolisitas.org

  4. Kitab Suci Agama kok gak baku-baku to bu Ingrid, rasanya kita kok jauh ketinggalan dregan Islam yang sejak lama sudah tidak mempersoalkan lagi AlKitabnya ?

    • Shalom Paijo,

      Terima kasih atas komentarnya. Mungkin perlu dimengerti bahwa bakunya Kitab Suci agama Katolik bukanlah hal yang diperdebatkan, karena telah ditetapkan dalam beberapa konsili. Kalau agama Protestant tidak mengakui kitab-kitab deuterokanonika, hal tersebut tidaklah mempengaruhi kitab-kitab yang telah dibakukan oleh Gereja Katolik. Berikut ini adalah perkembangan dari pembakuan Alkitab (maaf, masih dalam bahasa Inggris):

      a) Dekrit dari Paus St. Damasus I, Konsili di Rome, tahun 382.

      It is likewise decreed: Now, indeed, we must treat of the divine Scriptures: what the universal Catholic Church accepts and what she must shun.
      The list of the Old Testament begins: Genesis, one book; Exodus, one book: Leviticus, one book; Numbers, one book; Deuteronomy, one book; Jesus Nave, one book; of Judges, one book; Ruth, one book; of Kings, four books; Paralipomenon, two books; One Hundred and Fifty Psalms, one book; of Solomon, three books: Proverbs, one book; Ecclesiastes, one book; Canticle of Canticles, one book; likewise, Wisdom, one book; Ecclesiasticus (Sirach), one book; Likewise, the list of the Prophets: Isaiah, one book; Jeremias, one book; along with Cinoth, that is, his Lamentations; Ezechiel, one book; Daniel, one book; Osee, one book; Amos, one book; Micheas, one book; Joel, one book; Abdias, one book; Jonas, one book; Nahum, one book; Habacuc, one book; Sophonias, one book; Aggeus, one book; Zacharias, one book; Malachias, one book. Likewise, the list of histories: Job, one book; Tobias, one book; Esdras, two books; Esther, one book; Judith, one book; of Maccabees, two books.
      Likewise, the list of the Scriptures of the New and Eternal Testament, which the holy and Catholic Church receives: of the Gospels, one book according to Matthew, one book according to Mark, one book according to Luke, one book according to John. The Epistles of the Apostle Paul, fourteen in number: one to the Romans, two to the Corinthians, one to the Ephesians, two to the Thessalonians, one to the Galatians, one to the Philippians, one to the Colossians, two to Timothy, one to Titus one to Philemon, one to the Hebrews. Likewise, one book of the Apocalypse of John. And the Acts of the Apostles, one book. Likewise, the canonical Epistles, seven in number: of the Apostle Peter, two Epistles; of the Apostle James, one Epistle; of the Apostle John, one Epistle; of the other John, a Presbyter, two Epistles; of the Apostle Jude the Zealot, one Epistle. Thus concludes the canon of the New Testament.
      Likewise it is decreed: After the announcement of all of these prophetic and evangelic or as well as apostolic writings which we have listed above as Scriptures, on which, by the grace of God, the Catholic Church is founded, we have considered that it ought to be announced that although all the Catholic Churches spread abroad through the world comprise but one bridal chamber of Christ, nevertheless, the holy Roman Church has been placed at the forefront not by the conciliar decisions of other Churches, but has received the primacy by the evangelic voice of our Lord and Savior, who says: “You are Peter, and upon this rock I will build My Church, and the gates of hell will not prevail against it; and I will give to you the keys of the kingdom of heaven, and whatever you shall have bound on earth will be bound in heaven, and whatever you shall have loosed on earth shall be loosed in heaven.

      b) Konsili Hippo, tahun 393 mengkonfirmasikan kanon yang telah ditetapkan oleh Paus Damasus I.

      It has been decided that besides the canonical Scriptures nothing be read in church under the name of divine Scripture.
      But the canonical Scriptures are as follows: Genesis, Exodus, Leviticus, Numbers, Deuteronomy, Joshua the Son of Nun, Judges, Ruth, the Kings, four books, the Chronicles, two books, Job, the Psalter, the five books of Solomon (included Wisdom and Ecclesiastes (Sirach)), the twelve books of the Prophets, Isaiah, Jeremiah, Daniel, Ezekiel, Tobit, Judith, Esther, Ezra, two books, Maccabees, two books.

      (canon 36 A.D. 393).

      c) Konsili Carthage III, tahun 397 memberikan konfirmasi kembali tentang kanon yang telah ditetapkan oleh Paus Damasus I. Berikut ini adalah kanonnya:

      It has been decided that nothing except the canonical Scriptures should be read in the Church under the name of the divine Scriptures. But the canonical Scriptures are: Genesis, Exodus, Leviticus, Numbers, Deuteronomy, Joshua, Judges, Ruth, four books of Kings, Paralipomenon, two books, Job, the Psalter of David, five books of Solomon (Proverbs, Ecclesiastes, Song of Songs, Wisdom, Sirach), twelve books of the Prophets, Isaiah, Jeremiah, Daniel, Ezekiel, Tobit, Judith, Esther, two books of Esdras, two books of the Maccabees.” (canon 47).

      d) Konsili Carthage IV, tahun 419, kembali mengkonfirmasikan kanon-kanon yang telah ditetapkan di konsili-konsili sebelumnya. Inilah keputusan dari konsili ini:

      That nothing be read in church besides the Canonical Scripture. ITEM, that besides the Canonical Scriptures nothing be read in church under the name of divine Scripture. But the Canonical Scriptures are as follows: * Genesis * Exodus * Leviticus * Numbers * Deuteronomy * Joshua the Son of Nun * The Judges * Ruth * The Kings (4 books) * The Chronicles (2 books) * Job * The Psalter * The Five books of Solomon (includes Wisdom and Sirach) * The Twelve Books of the Prophets * Isaiah * Jeremiah * Ezechiel * Daniel * Tobit * Judith * Esther * Ezra (2 books) * Maccabees (2books).
      The New Testament: * The Gospels (4 books) * The Acts of the Apostles (1 book) * The Epistles of Paul (14) * The Epistles of Peter, the Apostle (2) * The Epistles of John the Apostle (3) * The Epistles of James the Apostle (1) * The Epistle of Jude the Apostle (1) * The Revelation of John (1 book).
      Let this be sent to our brother and fellow bishop, [Pope] Boniface, and to the other bishops of those parts, that they may confirm this canon, for these are the things which we have received from our fathers to be read in church.
      ” CANON XXIV. (Greek xxvii.)

      e) Konsili Frorence atau Basel, tahun 1431-1445, adalah konsili yang mengkonfirmasikan kembali kitab-kitab yang menjadi bagian dari PL dan PB.

      We, therefore, to whom the Lord gave the task of feeding Christ’s sheep’, had abbot Andrew carefully examined by some outstanding men of this sacred council on the articles of the faith, the sacraments of the church and certain other matters pertaining to salvation. At length, after an exposition of the catholic faith to the abbot, as far as this seemed to be necessary, and his humble acceptance of it, we have delivered in the name of the Lord in this solemn session, with the approval of this sacred ecumenical council of Florence, the following true and necessary doctrine. Most firmly it believes, professes and preaches that the one true God, Father, Son and holy Spirit, is the creator of all things that are, visible and invisible, who, when he willed it, made from his own goodness all creatures, both spiritual and corporeal, good indeed because they are made by the supreme good, but mutable because they are made from nothing, and it asserts that there is no nature of evil because every nature, in so far as it is a nature, is good. It professes that one and the same God is the author of the old and the new Testament — that is, the law and the prophets, and the gospel — since the saints of both testaments spoke under the inspiration of the same Spirit.
      It accepts and venerates their books, whose titles are as follows. Five books of Moses, namely Genesis, Exodus, Leviticus, Numbers, Deuteronomy; Joshua, Judges, Ruth, four books of Kings, two of Paralipomenon, Esdras, Nehemiah, Tobit, Judith, Esther, Job, Psalms of David, Proverbs, Ecclesiastes, Song of Songs, Wisdom, Ecclesiasticus, Isaiah, Jeremiah, Baruch, Ezechiel, Daniel; the twelve minor prophets, namely Hosea, Joel, Amos, Obadiah, Jonah, Micah, Nahum, Habakuk, Zephaniah, Haggai, Zechariah, Malachi; two books of the Maccabees; the four gospels of Matthew, Mark, Luke and John; fourteen letters of Paul, to the Romans, two to the Corinthians, to the Galatians, to the Ephesians, to the Philippians, two to the Thessalonians, to the Colossians, two to Timothy, to Titus, to Philemon, to the Hebrews; two letters of Peter, three of John, one of James, one of Jude; Acts of the Apostles; Apocalypse of John.
      ” (SESSION 11 4 February 1442)

      f) Konsili Trente, tahun 1546-1565.

      And it has thought it meet that a list of the sacred books be inserted in this decree, lest a doubt may arise in any one’s mind, which are the books that are received by this Synod. They are as set down here below: of the Old Testament: the five books of Moses, to wit, Genesis, Exodus, Leviticus, Numbers, Deuteronomy; Josue, Judges, Ruth, four books of Kings, two of Paralipomenon, the first book of Esdras, and the second which is entitled Nehemias; Tobias, Judith, Esther, Job, the Davidical Psalter, consisting of a hundred and fifty psalms; the Proverbs, Ecclesiastes, the Canticle of Canticles, Wisdom, Ecclesiasticus, Isaias, Jeremias, with Baruch; Ezechiel, Daniel; the twelve minor prophets, to wit, Osee, Joel, Amos, Abdias, Jonas, Micheas, Nahum, Habacuc, Sophonias, Aggaeus, Zacharias, Malachias; two books of the Machabees, the first and the second.

      Of the New Testament: the four Gospels, according to Matthew, Mark, Luke, and John; the Acts of the Apostles written by Luke the Evangelist; fourteen epistles of Paul the apostle, (one) to the Romans, two to the Corinthians, (one) to the Galatians, to the Ephesians, to the Philippians, to the Colossians, two to the Thessalonians, two to Timothy, (one) to Titus, to Philemon, to the Hebrews; two of Peter the apostle, three of John the apostle, one of the apostle James, one of Jude the apostle, and the Apocalypse of John the apostle. But if any one receive not, as sacred and canonical, the said books entire with all their parts, as they have been used to be read in the Catholic Church, and as they are contained in the old Latin vulgate edition; and knowingly and deliberately contemn the traditions aforesaid; let him be anathema.” (Session 4, concerning the canonical Scriptures).

      Dengan demikian, dalam Gereja Katolik, tidak ada yang mempertanyakan apa yang menjadi bagian dari Alkitab, dimana terdiri dari 46 kitab Perjanjian Lama dan 27 kitab Perjanjian Baru, sehingga ada 73 kitab dalam seluruh Alkitab.

      Sebagai tambahan, Kitab Suci agama Islam adalah diberikan dalam kurun waktu satu generasi, yang kemudian pada jaman Utsman Bin Affan terjadi standarisasi. Namun Alkitab dalam agama Katolik adalah diturunkan dalam waktu 2,000 tahun atau lebih dari 20 generasi. Oleh sebab itulah, melalui konsili-konsili, Gereja Katolik dengan inspirasi dari Roh Kudus, menentukan kitab-kitab mana yang menjadi bagian dari Alkitab. Semoga uraian singkat di atas dapat memberikan kejelasan akan kebakuan Alkitab.

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      stef – http://www.katolisitas.org

      • Bapak Stepanus Tay dan Ibu Inggrit yang kami hormati, terima kasih atas balasannya, yang semuanya menambah cakrawala kami tentang Al-Kitab. Dan ada lagi yang aku ingin tanyakan, “ketika aku baca Al-Kitab yang terdaftar dalam Sabda Web, disana ada beberapa Al-Kitab yang ayat-ayatnya kosong (empty) mis; AlKitab Melayu Baba Mat 18:11sedang di Al-Kitab lain ayat-ayatnya lengkap. Itu bagaimana, mohon penjelasan?

        • Shalom Manis,
          Terima kasih atas pertanyaannya. Tentang Mt 18:11 yang mungkin dituliskan [kosong] atau kadang ditulis dalam tanda kurung [ ] (Edisi LAI dan LBI), maka ingin ditunjukkan bahwa ada beberapa ayat yang berasal dari perbedaan manuskrip, dimana di beberapa manuskrip Yunani, ayat ini tidak ada. Namun, hal ini tidak merubah kenyataan bahwa Yesus pernah mengatakan “Karena Anak Manusia datang untuk menyelamatkan yang hilang.” (Mt 18:11), seperti yang terlihat dari beberapa ayat di Alkitab yang memuat arti yang sama, seperti: Mt 9:12-13, Mt 10:6, Mt 15:24; Lk 9:56, Lk 15:24, Lk 15:32, Lk 19:10; Yoh 3:17, Yoh 10:10; Yoh 12:47. Semoga dapat memperjelas.

          Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
          stef – http://www.katolisitas.org

    • Shalom Manis,

      Sepanjang pengetahuan saya, dalam Alkitab LAI yang diterima dan diakui oleh LBI dan Konferensi Waligereja Indonesia (KWI) memang menyertakan kitab Deuterokanonika, namun penempatannya diletakkan sesudah kitab Maleakhi. Sehingga ada kitab- kitab seperti Tambahan Ester, tambahan Daniel, Barukh dan surat Yeremia yang disertakan terpisah kitab Ester, Daniel dan Yeremia. Padahal seharusnya jika mengikuti Vulgate, kitab-kitab yang disebut sebagai ‘tambahan’ itu tergabung semuanya dalam kitab yang bersangkutan, sehingga bukan ‘tambahan’. Dalam kitab-kitab terbitan LAI yang mencakup Deuterokanonika tersebut, memang kitab-kitab Deuterokanonika di letakkan antara Maleakhi (PL) dan Injil Matius (PB). Namun sebenarnya urutan yang benar PL (dengan Deuterokanonika yang tergabung di dalamnya) itu adalah: Kejadian, Keluaran, Imamat, Bilangan, Ulangan, Yoshua, Hakim-hakim, Ruth, 1 Samuel, 2 Samuel, 1 Raja-raja, 2 Raja-raja, 1 Tawarikh, 2 Tawarikh, Ezra, Nehemia, Tobit, Yudit, Ester, Ayub, Mazmur, Amsal, Pengkhotbah, Kidung Agung, Kebijaksanaan Salomo, Sirakh, Yesaya, Yeremia, Ratapan, Barukh, Yehezkiel, Daniel, Hosea, Yoel, Amos, Obadiah, Yunus, Mikha, Nahum, Habakkuk, Zefanaya, Hagai, Zakaria, Maleakhi, 1 Makabe, 2 Makabe (yang dicetak biru adalah kitab-kitab Deuterokanonika).

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      Ingrid Listiati- http://www.katolisitas.org

      • Terima kasih atas jawabannya Bu, tetapi dalam terbitan LAI 1995 kitab-kitab Deuterokanonika tidak ditampilkan lagi, alasannya apa ya Bu ?

        • Shalom Manis,
          Jika kitab LAI yang anda punyai tidak ada tulisan Deuterokanonika-nya , maka artinya bahwa Alkitab itu yang umum dipakai oleh gereja Protestan, di mana memang mereka tidak memasukkan kitab-kitab Deuterokanonika. Tetapi kalau kitab LAI tersebut ada tulisan Deuterokanonika- nya (lihat di bagian ketebalan buku, maupun lembaran awal buku, biasanya dapat anda baca di sana), maka artinya itu adalah Alkitab lengkap yang umum dipakai oleh Gereja Katolik. Di lembar pertama Alkitab ini, di samping ada logo LIA, tertera juga logo Lembagai Bibilika Indonesia (LBI), dan tulisan: Terjemahan ini diterima dan diakui oleh Konpeensi Waligereja Indonesia.
          Jadi kalau anda beli yang ada tulisan Deuterokanonika, ya pasti kitab-kitab Deuterokanonika-nya ada di dalamnya, sedangkan jika tidak ada tulisan Deuterokanonika, maka kitab-kitab itu tidak ada di sana. Alasannya, karena Gereja Katolik mempertahankan kitab-kitab yang ada sejak awal ditentukannya kanon Kitab Suci, sedangkan gereja Protestan tidak memasukkan sebagian dari kitab-kitab itu, yang dikenal dengan Deuterokanonika. Lebih lanjut tentang hal ini, silakan anda baca di artikel ini, silakan klik.

          Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
          Ingrid Listiati- http://www.katolisitas.org

  5. terimakasih sekali untuk jawabannya Ibu..
    hal itu sangat membantu pertumbuhan iman saya..
    saya tunggu jawaban berikutnya..

    Tuhan memberkati… ^^

  6. dear pengasuh katolisitas.org

    Sepengetahuan saya, Alkitab yang kebanyakan umat Katolik gunakan adalah Alkitab ekumenis yang merupakan kerjasama antara LAI dan LBI. Dahulu, pihak Katolik ingin menerjemahkan Alkitab sendiri versi Katolik, namun karena melihat dan menimbang bahwa pihak Protestan melalui LAI sedang berproses menerjemahkan Alkitab, maka pihak Katolik menyerahkan penerjemahannya itu pada LAI. Maka: 1) apa boleh dikatakan bahwa Alkitab terbitan LAI yang jamak digunakan tersebut adalah terjemahan Protestan, sehingga implikasinya kitab Deuterokanonika diletakkan dan dikumpulkan tersendiri. Kemudian, 2) apakah pihak Katolik tidak berencana menerbitkan Alkitabnya sendiri, berhubung masih ada terjemahan dan sumber terjemahan yang kurang klop menurut iman Katolik, misal ketika Gabriel menyapa Maria, dikatakan “salam engkau yang dikaruniai”, bukankah tepatnya: “salam engkau yang kepenuhan rahmat.”

    Mohon penjelasannya. Situs Katolisitas.org sangat membantu saya lebih memahami iman Katolik. Saya berdoa agar karya para pengasuh katolisitas.org ini dapat membawa umat Katolik pada pemahaman iman yang benar dan bertanggungjawab. Terima kasih.

    • Flo Yth

      Sejauh yang saya tahu ketika bersama rekan sekretaris LBI dalam rapat-rapat bersama terjemahan dilakukan oleh pihak katolik bukan LAI sedangkan pencetakan bersama benar namun teks dikerjakan bersama. Sekarang ada Alkitab yang font hurufnya besar dan telah dikoreksi oleh LBI juga ada PB khusus keluaran LBI harga murah untuk umat terjangkau dan mudah dibawa kemana-mana anda bisa mencarinya di kantor LBI jalan Saharjo Jakarta. Pihak katolik tidak menerbitkan sendiri karena semangat yang dibangun ekumene (hal ini pernah saya tanyakan). Tidak banyak beda soal terjemahan karena LBI LAI selalu kerjasama dalam hal ini. Buktinya dalam Alkitab ada Deuterokanika yang merupakan terjemahan Katolik (LBI).

      salam
      Rm Wanta

      • Romo Wanta ,
        Saya sedikit bingung dengan penjelasan Romo tentang Katolik tidak menerbitkan sendiri alkitab karena semangat ekumene.
        Seperti kita ketahui bersama kanonisasi alkitab dikerjakan oleh gereja perdana yang nota bene adalah Gereja Katolik. Sementara menurut saya terjemahan Katolik lebih mendekati kebenaran aslinya: contoh kata Bapa, Anak, Roh Kudus (versi LAI-Protestan) dan Bapa, Putera, Roh Kudus (LBI-Katolik) Sudah sangat kelihatan perbedaannya. Anak bisa anak putra atau anak putri(untung kita tahu Yesus itu laki2), sedangkan versi Katolik SANGAT JELAS -putera adalah anak laki laki. Ini hanya contoh sederhana dari perbedaan terjemahan….Bagaimana dengan bagian bagian yang lain dalam Alkitab yang berbeda terjemahan?(Seperti kalimat dalam doa Bapa Kami?-Ini sangat mudah dijadikan dasar untuk menjatuhkan iman Katolik buat umat awam yang tidak mengerti latar belakangnya; bukankah umat terdiri dari berbagai latar belakang pengetahuan yang berbeda. Tidak semua umat mengerti sejarah gereja…….)Apakah ini tidak menimbulkan kebingungan sendiri dalam jemaat Katolik sendiri? Kenapa kita dituduh tidak memberikan posisi tersendiri terhadap alkitab, sementara kita tahu alkitab dihasilkan oleh Gereja katolik?Kenapa Katolik harus mengorbankan salah satu dasar iman dan kebenaran yang tertulis dalam Alkitab (disamping Tradisi Suci dan kuasa mengajar Gereja) hanya untuk semangat ekumene?Saya kira pendapat ini sangat keliru….kita akan melihat umat Katolik sendiri kebingungan kalau dihadapkan dengan alkitab, dan karena tidak mengerti dan akhirnya pindah ke Protestan gara2 dihadapkan dengan Alkitab versi protestan…….??? Mudah2 an ini menjadi pertimbangan buat LEMBAGA BIBLIKA INDONESIA (LBI) untuk lebih berperan aktif dalam mengadakan alkitab dalam versi Katolik…Sebab selama ini gaungnya LBI tidak pernah terdengar ..sampai saya sempat bertanya: masih exis-kah LBI ini? Saya rasa ini SANGAT MENDESAK….Terus terang saya sedih melihat orang2 yang kehilangan iman Katolik hanya karena ketidak tahuan begitu diserang orang Protestan dari Alkitab dan sepertinya tidak ada usaha Hierarki yang jelas untuk tidak membiarkan hal itu terjadi, sementara di web ini kita memperjuangkan iman Katolik dengan gigih dengan penjelasan Sdr Steff, Inggrid,dan Romo sendiri.

        Pertanyaan saya: apakah hanya karena semangat ekumene kita menutupi hal hal yang seharusnya prinsip dan jelas sehingga menjadi kabur….?Mudah mudahan Gereja Katolik bisa melihat hal ini dengan jeli dan cermat……. Kita harus CERDIK seperti ular dan TULUS seperti merpati…..
        Salam Damai Kristus,Johanes

        • Johanes Yth.

          Terimakasih masukannya yang bagus, LBI dan LAI sudah lama bekerja sama dan masih eksis, seperti bekerja bersama untuk memperbaiki teks dan penerbitan Alkitab. LBI tidak membuat cetak dan terbit sendiri karena kerjasama ini penting sebagai usaha ekumene yang dianjurkan oleh ajaran Gereja juga Bapa Suci sedikit beralih ke tema lain beberpa hari lalu Bapa Suci telah Konstitusi Apostolik yang baru dengan judul Anglicanorum coetibus sebuah usaha bunda Gereja menerima kembali Gereja Anglikan ke pangkuan Gereja Katolik (perlu dibaca konstitusi tsb). Semangat itulah kiranya yang mau ditampilkan oleh LBI untuk tidak mencetak sendiri sebab kalau cetak sendiri pada hal lebih banyak kesamaan kecuali tambahan Deuterokanonika juga diterima Gereja Protestan mengapa dengan susah payah dan dana besar lebih lagi memisahkan diri dengan LAI untuk mencetak dan menerbitkan sendiri?, Kalau teks yang anda katakan itu LBI tentu pasti mengoreksinya sesuai dengan iman Gereja Katolik. Soal pendalaman iman katolik benar harus digalakkan semangat anda saya hargai kalau boleh kita bisa bertemu diskusi dan bisa usulan anda disampaikan ke LBI coba cari webnya dan bisa email langsung ke LBI. Sekarang ini kami ada tim pendalaman iman katolik lintas komisi di KWI usulan anda sangat kami butuhkan sekali lagi jika berkenan bisa bertemu dengan saudara Rm Surip Ofm Cap ketua LBI dan Delegatus KS Mgr I Suharyo Uskup Koajutor KAJ. Soal kebingungan akan ditanggapi dalam katekese Gereja Katolik ada kompendium yang baru bisa dibaca, dan pembinaan iman katolik sejak dini sedang digalakkan oleh Komkat dan KKI. Semoga tidak tambah bingung lagi ya. Di sela-sela kesibukan saya, saya coba memberi penjelasan ini. Berkat Tuhan

          salam
          Rm wanta

  7. Saya ingin menambahkan: Alkitab dalam Bahasa Indonesia (edisi Pastoral Katolik) ada yang kitab-kitab Deuterokanonikanya digabung menjadi satu di Perjanjian Lama. Tidak berada di tengah-tengah. Dahulu diterbitkan oleh Penerbit Obor.

Add Comment Register



Leave A Reply