Bertumbuh dan memperbaharui diri secara spiritual

24

Alergi kekudusan

Sadar atau tidak, kita ini hidup di zaman yang seolah anti terhadap kekudusan. Jangankan melakukannya, membicarakannya saja sudah dianggap aneh. Contohnya saja, mari kita bertanya kepada diri kita masing- masing, apakah umum bagi kita mendengar percakapan tentang kekudusan di rumah kita, saat kita berkumpul bersama- sama dengan keluarga?

Namun demikian, sesungguhnya banyak orang menginginkan kekudusan itu. Kami di katolisitas.org menerima cukup banyak pesan dan komentar dari para pembaca yang mengungkapkan kerinduan untuk mengenal lebih dalam pengajaran Gereja Katolik, dan untuk mencari kebenaran dan bertumbuh secara rohani. Kami menerima banyak pertanyaan tentang bagaimana caranya bertumbuh secara rohani. Walaupun pertanyaannya terdengar begitu sederhana, namun jawaban yang dibutuhkan sebenarnya cukup panjang. Kami yakin, kerinduan untuk bertumbuh dalam iman adalah kerinduan kita semua, yang sering terlintas di dalam pikiran kita. Namun, mungkin kita menjadi bingung untuk memulai dari mana. Ada juga pembaca yang melontarkan ide-ide yang nampak revolusioner untuk memperbaharui Gereja dan diri sendiri secara lebih dramatis, namun ada juga sebagian yang berfikir semuanya sudah cukup. Di dalam tulisan ini akan diulas, bagaimana sebenarnya pertumbuhan dan pembaharuan rohani yang harus kita usahakan dan lakukan; karena tanpa itu, kita dengan mudah terseret ke dalam arus dunia yang bertentangan dengan nilai-nilai kehidupan kristiani.

Apakah pertumbuhan dan pembaharuan?

Pertumbuhan adalah suatu proses, yang akan berakhir pada saat seseorang mencapai tujuan. Dalam kehidupan rohani, pertumbuhan adalah suatu proses untuk menjalani kehidupan rohani untuk mencapai tujuan, yaitu persekutuan dengan Allah. Karena persekutuan dengan Allah adalah kekudusan, maka pertumbuhan secara rohani senantiasa berkaitan dengan hidup kudus, bahkan kekudusan adalah tujuan dan buah dari pertumbuhan. Selanjutnya, pembaharuan juga mempunyai tujuan yang sama, yaitu kekudusan. Pembaharuan ataupun pertumbuhan bukanlah sesuatu yang berarti perombakan total sesuatu yang sudah ada, melainkan suatu proses perubahan menuju sesuatu yang lebih baik. Oleh karena itu, sebenarnya pertumbuhan dan pembaharuan adalah sama saja, dan proses-nya itu sendiri merupakan perjuangan untuk hidup kudus. Dengan demikian, kita tidak dapat memisahkan pembaharuan dan pertumbuhan rohani dengan kekudusan.

Apakah kekudusan itu?

1. Kekudusan adalah ciri khas Tuhan

Kekudusan adalah salah satu dari sifat utama Tuhan yang menjadi ciri khas-Nya. Kekudusan adalah kasih Allah yang sempurna, sehingga kekudusan dan kasih adalah sesuatu yang tidak terpisahkan, sebab Tuhan adalah Kudus (Im 19:2, Lk 1: 49, 1Pet 1:15) dan Kasih (1Yoh 4: 10,16).

2. Kekudusan adalah kehendak Allah bagi semua orang

Kekudusan adalah kehendak Allah untuk kita semua (1Tes 4:3, Ef 1:4; 1Pet 1:16) walaupun kita mempunyai jalan dan status kehidupan yang berbeda-beda. Kita semua, dipanggil untuk hidup kudus dengan menerapkan kasih kepada Tuhan dan sesama (Mat 22:37-39; Mrk 12:30-31), sehingga kita mencapai kepenuhan hidup Kristiani.[1]

Konsili Vatikan II, di dalam dokumennya tentang Gereja (Lumen Gentium) menyerukan panggilan kekudusan untuk semua orang yang berkehendak baik:

“…Para pengikut Kristus dipanggil oleh Allah bukan berdasarkan perbuatan mereka, melainkan berdasarkan rencana dan rahmat-Nya. Mereka dibenarkan dalam tuhan Yesus, dan dalam babtis iman sungguh-sungguh dijadikan anak-anak Allah dan ikut serta dalam kodrat ilahi, maka sungguh menjadi suci. Maka dengan bantuan Allah mereka wajib mempertahankan dan mengembangkan dalam hidup mereka kesucian yang telah mereka terima. Oleh rasul mereka dinasehati, supaya hidup “sebagaimana layak bagi orang-orang kudus” (Ef 5:3); supaya “sebagai kaum pilihan Allah, sebagai orang-orang Kudus yang tercinta, mengenakan sikap belas kasihan, kemurahan, kerendahan hati, kelemah-lembutan dan kesabaran” (Kol 3:12); dan supaya menghasilkan buah-buah Roh yang membawa kepada kesucian (lih. Gal 5:22; Rom 6:22). Akan tetapi karena dalam banyak hal kita semua bersalah (lih. Yak 3:2), kita terus-menerus mebutuhkan belas kasihan Allah dan wajib berdoa setiap hari: “Dan ampunilah kesalahan kami” (Mat 6:12). Jadi bagi semua jelaslah, bahwa semua orang kristiani, bagaimanapun status atau corak hidup mereka, dipanggil untuk mencapai kepenuhan hidup kristiani dan kesempurnaan cinta kasih…” (LG, 40)

3. Kekudusan adalah persekutuan dengan Tuhan dan sesama dalam kasih

Persatuan atau persekutuan dengan Tuhan adalah inti dari kekudusan,[2] sebab Tuhan Allah Tritunggal sendiri adalah contoh dari persekutuan kasih antara Allah Bapa, Putera dan Roh Kudus. Ia yang telah memanggil semua manusia kepada kekudusan, telah juga menanamkan kemampuan pada kita untuk mengasihi dan hidup di dalam persekutuan.[3] Maka kekudusan adalah persekutuan dengan Allah dan sesama dalam kasih, dan dengan mengasihi inilah kita dapat menjadikan hidup kita berarti dan bahagia, sebab sejak semula memang untuk Allah menciptakan kita agar kita beroleh kebahagiaan.

Jadi, manusia yang diciptakan menurut gambaran Allah, baik itu para religius maupun kaum awam, yang menikah ataupun lajang, tua ataupun muda, semua dipanggil kepada kesempurnaan kasih yang disebut kekudusan ini.[4]. Kekudusan ini diperoleh melalui pemenuhan hukum yang terutama, yaitu mengasihi Tuhan dan sesama (lih. Mrk 12:30-31).[5] yang dicapai dengan mengikuti jejak Tuhan sesuai dengan karunia yang diberikan kepada tiap-tiap orang untuk memberi kemuliaan bagi Tuhan dan pelayanan kepada sesama.[6] Mengapa? Sebab jika kita mengasihi Tuhan, kita didorong untuk mengasihi sesama, karena kita melihat Kristus di dalam sesama kita terutama yang lemah dan membutuhkan pertolongan (lih. Mat 25:40). Kasih kepada Tuhan dan sesama inilah yang menunjukkan bahwa kita adalah pengikut Kristus.[7] Persekutuan yang erat dengan Tuhan juga mendorong kita menjadikan kehendak Tuhan sebagai kehendak kita sendiri, pikiran Tuhan sebagai pikiran kita sendiri. Dan karena Tuhan menghendaki segala sesuatu utuh dan sempurna, maka persekutuan dengan-Nya  juga membawa kita kepada persekutuan dengan sesama dan keutuhan diri sendiri.

4. Kekudusan itu dimulai dari hal- hal kecil dan sederhana

Dalam hal ini janganlah kita berpikir bahwa kekudusan adalah sesuatu yang terlalu tinggi yang tidak dapat diraih. Sebab, menurut Santa Teresia Kanak-kanak Yesus, kekudusan berawal dari hal-hal kecil dan sederhana yang dilakukan dengan motif kasih yang besar kepada Tuhan, karena “perbuatan kasih adalah jalan utama yang memimpin kita kepada Tuhan.”[8].  Contohnya, kita dapat bangun tidur lebih awal 10 menit untuk berdoa, kita dapat menyapa anggota keluarga, tetangga atau Pak Satpam dengan tersenyum, atau membantu membuang sampah pada tempatnya di rumah atau di tempat kerja. Singkatnya, dalam keseharian kita, kita menyadari akan kehadiran Tuhan, sehingga kita berusaha untuk menyenangkan hati-Nya dengan setiap perkataan dan perbuatan kita. Dimulai dari hal-hal kecil inilah, kemudian kita dibentuk oleh Kristus untuk menjadi semakin serupa dengan-Nya, yaitu mengikuti kerendahan hati-Nya dengan memikul salib kita sehari-hari, supaya kita dapat turut serta dalam kemuliaan-Nya (1 Pet 4: 13, LG 41).

5. Kekudusan itu adalah rahmat yang kita peroleh dari Kristus contoh dan sumber kekudusan

Walaupun kita dapat berusaha untuk mengejar kekudusan, namun tidak berarti bahwa kekudusan itu dapat diperoleh dari kekuatan kita sendiri. Sebab kekudusan itu sesungguhnya adalah rahmat Tuhan. Tuhan telah memberikan teladan kesempurnaan kasih dengan memberikan diri-Nya sendiri melalui Yesus Kristus Putera-Nya kepada kita (1Yoh 4:10). Di dalam Kristus, Tuhan memberitahukan kepada kita kesempurnaan kasih-Nya, yaitu kekudusan. Maka terdorong oleh Roh Kudus, dan dikuatkan oleh rahmat Tuhan yang kita terima pada saat Pembaptisan, kita dipanggil oleh Tuhan untuk mengikuti teladan-Nya, dengan memberikan diri kita kepada orang lain.

Maka kita tidak dapat mengandalkan kemampuan kita sendiri untuk mencapai kekudusan; sebab kita baru bisa menjadi kudus, jika kita menerima rahmat Allah dan bekerjasama dengannya. Gereja memberikan rahmat pengudusan Allah itu melalui sakramen-sakramennya;[9] terutama sakramen Ekaristi dan sakramen Tobat.

Kristus, Sumber segala kekudusan, memanggil kita untuk mengambil bagian di dalam misteri KeselamatanNya, yaitu salib dan kebangkitanNya (1Pet 4:13). Dengan mengambil bagian dalam misteri Paska Kristus ini, yang dihadirkan oleh GerejaNya terutama di dalam sakramen Ekaristi,[10]  kita dikuduskan oleh Allah dan kasihNya menjadi sempurna di dalam kita. Di dalam Kristus inilah, kita dapat mentaati Bapa dan menyembahNya di dalam Roh dan kebenaran (lih. Yoh 4:23-24).

Mengapa harus bertumbuh?

Setiap orang mungkin pernah mencoba untuk berlari di atas mesin lari atau treadmill. Hidup kita di dunia ini adalah seperti treadmill, yang berjalan terus dan tidak berhenti. Sayangnya hidup di dunia ini cenderung berjalan berlawanan arah dengan nilai-nilai kekristenan. Inilah sebabnya Pasul Yohanes mengingatkan kita, “15 Janganlah kamu mengasihi dunia dan apa yang ada di dalamnya. Jikalau orang mengasihi dunia, maka kasih akan Bapa tidak ada di dalam orang itu. 16 Sebab semua yang ada di dalam dunia, yaitu keinginan daging dan keinginan mata serta keangkuhan hidup, bukanlah berasal dari Bapa, melainkan dari dunia” (1 Yoh 2:15-16). Untuk dapat bertahan di dalam hiruk pikuk dunia ini yang menawarkan berbagai kenikmatan daging, kesenangan mata dan keangkuhan hidup, kita perlu berlari melawan arus tersebut yang semakin kencang. Ini berarti di dalam kehidupan rohani, kita harus memperbaharui kehidupan rohani kita dan terus bertumbuh, sehingga kita mempunyai kekuatan untuk berlari tanpa henti sampai ke tempat tujuan, yaitu persatuan dengan Tuhan selamanya di Sorga (lih. 1 Kor 9:24). Oleh karena itu, untuk terus hidup sesuai dengan perintah Tuhan, pertumbuhan bukanlah suatu pilihan, namun suatu keharusan. Sebagaimana kita akan jatuh kalau kita diam pada mesin treadmill, demikianlah, kitapun akan jatuh kalau kita tidak bertumbuh secara rohani di tengah-tengah kehidupan ini – yang berlawan dengan nilai-nilai kekristenan. Jika ini terjadi maka akibat sungguh fatal: yaitu kehilangan keselamatan kekal. Betapa seriusnya keharusan kita untuk terus bertumbuh dan tak boleh berhenti.

G.K. Chesterton mengungkapkannya dengan begitu indah dan sederhana, “A dead thing can go with the stream, but only a living thing can go against it.”[11] Orang yang bertumbuh dan memperbaharui diri menandakan bahwa dirinya adalah seseorang yang hidup, yang mampu untuk melawan arus dunia. Orang yang senantiasa berjalan sejalan dengan arus ini adalah orang-orang yang pada dasarnya mati.  Sebagai orang yang hidup, apalagi hidup di dalam Kristus – kita harus terus bertumbuh dan memperbaharui diri untuk menjadi semakin serupa dengan Kristus walaupun untuk itu kita harus berjuang melawan arus.

Tujuan dari pembaharuan dan pertumbuhan

Pembaharuan adalah pertumbuhan dalam kekudusan dan merupakan karunia dari Allah.[12] Pembaharuan maupun pertumbuhan secara rohani adalah suatu proses untuk mencapai tujuan akhir, yaitu persatuan dengan Allah. Kalau persatuan dengan Allah hanya dapat dicapai dengan kekudusan (lih. Mt 5:48), maka pembaharuan dan pertumbuhan dalam kehidupan kita juga hanya dicapai dengan hidup kudus.

Dan inilah sebenarnya yang menjadi dasar dari semua inisiatif Allah di dalam Perjanjian Lama yang terpenuhi dalam Perjanjian Baru. Nabi Yeremiah mengatakan

31 Sesungguhnya, akan datang waktunya, demikianlah firman TUHAN, Aku akan mengadakan perjanjian baru dengan kaum Israel dan kaum Yehuda, 32 bukan seperti perjanjian yang telah Kuadakan dengan nenek moyang mereka pada waktu Aku memegang tangan mereka untuk membawa mereka keluar dari tanah Mesir; perjanjian-Ku itu telah mereka ingkari, meskipun Aku menjadi tuan yang berkuasa atas mereka, demikianlah firman TUHAN. 33 Tetapi beginilah perjanjian yang Kuadakan dengan kaum Israel sesudah waktu itu, demikianlah firman TUHAN: Aku akan menaruh Taurat-Ku dalam batin mereka dan menuliskannya dalam hati mereka; maka Aku akan menjadi Allah mereka dan mereka akan menjadi umat-Ku. 34 Dan tidak usah lagi orang mengajar sesamanya atau mengajar saudaranya dengan mengatakan: Kenallah TUHAN! Sebab mereka semua, besar kecil, akan mengenal Aku, demikianlah firman TUHAN, sebab Aku akan mengampuni kesalahan mereka dan tidak lagi mengingat dosa mereka.” (Yer 31:31-34).

Semua janji Tuhan ini terpenuhi karena Tuhan Yesus menjadikan Diri-Nya Korban Perjanjian Baru. yang menggenapi janji Tuhan dalam Perjanjian Lama. Melalui pengorbanan Kristuslah, manusia memperoleh pengampunan dosa dan menerima Roh Kudus sebagai sumber kekudusan. Roh Kudus inilah yang memperbaharui hati manusia menjadi baru (lih. Mzm 51:10). Oleh sebab itu, Tuhan sendirilah yang menjadi sumber dari pembaharuan maupun pertumbuhan. Tuhan memberikan kepada kita hati yang rindu untuk bersekutu dengan-Nya dan pada saat yang sama, Tuhan juga memberikan jalan dan caranya, yaitu di dalam Yesus Kristus.[13]

Cara untuk bertumbuh

Setelah kita melihat bahwa pertumbuhan dan pembaharuan rohani adalah suatu karunia dari Allah, maka untuk bertumbuh, kita harus bergantung pada rahmat Allah dan segala sesuatu yang membuat rahmat Allah dapat mengalir di dalam kehidupan kita. Hal-hal yang membuat kita dapat bertumbuh secara rohani adalah: 1) Kitab Suci, 2) doa, 3) sakramen-sakramen, 4) Gereja, 5) belajar. Mari sekarang kita melihat satu-persatu tentang kelima hal ini.

1. Kitab Suci

Kitab Suci adalah Sabda Allah sendiri yang dinyatakan dalam bahasa manusia. Di dalamnya, kita mengetahui rencana keselamatan Allah, kasih Allah, keadilan Allah, hubungan antara manusia dan Allah dan bagaimana untuk hidup sesuai dengan rencana Allah. Begitu pentingnya membaca Kitab Suci dalam kehidupan  rohani kita, sehingga St. Jerome/ Hieronimus mengatakan, “For ignorance of Scripture is ignorance of Christ“- terjemahannya: “Sebab pengabaian terhadap Kitab Suci adalah pengabaian terhadap Kristus”.[14].

Oleh karena itu, Gereja telah menentukan dibacakannya secara garis besar keseluruhan Kitab Suci kepada umatnya dalam penanggalan liturgi yang berlaku dari tahun ke tahun. Gereja Katolik mempunyai kalendar liturgi yang terdiri dari tahun A, B, C untuk bacaan Mingguan; dan juga tahun I dan II, untuk bacaan harian. Kalau kita setia mengikuti bacaan Misa hari Minggu dan bacaan harian, maka dalam tiga tahun, kita seharusnya telah membaca hampir seluruh isi Kitab Suci secara garis besar. Begitu inginnya Gereja untuk mendukung umatnya untuk membaca Kitab Suci secara teratur, sampai Gereja memberikan indulgensi kepada orang yang membaca dan merenungkan Sabda Tuhan selama setengah jam setiap hari.

2. Doa

Doa adalah nafas dari kehidupan rohani kita. Sama seperti kita tidak dapat hidup tanpa nafas, maka tanpa doa, kita tidak mungkin dapat bertumbuh. Doa seharusnya menjadi suatu cara untuk hidup kudus. Namun, lebih dari sekedar cara, doa sesungguhnya adalah suatu tujuan, karena di dalam doa kita mengambil bagian dalam kehidupan Tuhan. Kalau Sorga adalah persatuan abadi dengan Tuhan, maka doa adalah suatu pandangan ke Sorga. Tidaklah heran, kalau St. Teresia Kanak-kanak Yesus mengatakan, “Bagiku doa adalah ayunan hati, satu pandangan sederhana ke Surga, satu seruan syukur dan cinta kasih di tengah percobaan dan di tengah kegembiraan”[15].

3. Sakramen-sakramen

Memang ada berbagai cara untuk menerima rahmat Tuhan, namun sakramen adalah cara yang diberikan oleh Kristus lewat Gereja-Nya, agar rahmat Tuhan mengalir kepada umat-Nya. Katekismus Gereja Katolik mengatakan bahwa sakramen-sakramen Gereja merupakan tanda yang kelihatan dari rahasia/ misteri Kristus -yang tak kelihatan- yang bekerja di dalam Gereja-Nya oleh kuasa Roh Kudus[16], sehingga misteri Kristus dapat dihadirkan kembali saat ini dan memberikan buah- buahnya.  Betapa nyatanya ‘rahasia’ ini diungkapkan di dalam sakramen-sakramen Gereja, terutama di dalam Ekaristi Sungguh disayangkan kalau umat Katolik yang ingin bertumbuh mencoba dengan berbagai cara – termasuk mungkin pergi ke gereja-gereja non-Katolik – namun, melupakan apa yang sebenarnya telah diberikan oleh Kristus sendiri, yaitu sakramen, yang merupakan saluran rahmat Allah.

4. Gereja

Kalau ketujuh sakramen yang kita kenal mengungkapkan misteri Kristus dan memberikan rahmat sesuai dengan karakter dan tujuan dari sakramen tersebut, maka Gereja adalah misteri terbesar dari Kristus sendiri, sehingga Gereja menjadi sakramen keselamatan, yang menjadi tanda rahmat Allah dan sarana yang mempersatukan Allah dan manusia.[17] Kita sebagai umat Katolik sudah seharusnya bersyukur bahwa kita dipersatukan oleh Tuhan di dalam Gereja-Nya, yang mempunyai empat tanda: satu, kudus, katolik dan apostolik. Di dalam persekutuan Gereja inilah kita bersama-sama bertumbuh untuk memperoleh keselamatan. Bahkan St. Jerome (Hieronimus), St. Thomas Aquinas, St. Petrus Kanisius, St. Robert Bellarminus mengatakan bahwa Gereja adalah seperti perahu Nabi Nuh, di mana di dalamnya, orang mendapatkan keselamatan. Di dalam perahu keselamatan inilah seharusnya kita semua yang termasuk di dalamnya mengambil bagian dalam karya keselamatan Allah. Pada waktu kita lemah, kita dapat menimba kekuatan dari komunitas- komunitas gerejawi, namun sebaliknya kita dapat memberi bantuan kepada yang lemah (lih Gal 6:2).

Gereja yang menjadi pilar dan dasar kebenaran (lih 1 Tim 3:15), merupakan tempat bagi kita untuk bertumbuh dalam kebenaran dan kasih. Kepenuhan kebenaran di dalam Gereja yang dinyatakan lewat doktrin dan dogma, membebaskan kita, karena kebenaran memerdekakan kita (lih. Yoh 8:32). Doktrin dan dogma seharusnya bukan dipandang sebagai suatu hal yang membatasi kebebasan kita, namun seharusnya menjadi pegangan bagi kita untuk bertumbuh dalam kekudusan. Kita juga harus bersyukur atas anugerah para gembala kawanan umat Allah yaitu Paus, para uskup, para imam, sebab Roh Kudus bekerja melalui mereka. Melalui merekalah, maka persatuan umat Allah dapat terjaga dan konsistensi doktrin dan dogma dapat diwariskan dari satu generasi ke generasi dengan murni.

5. Belajar

Hal lain yang harus dilakukan untuk bertumbuh adalah belajar. Sama seperti seseorang yang ingin menjadi seorang arsitek, yang harus belajar begitu banyak hal, seperti matematika, mekanika teknik, menggambar, dan lain lain. Kalau di dalam kehidupan sehari-hari seseorang yang ingin mengetahui sesuatu harus belajar dan mencari, demikian juga dengan kehidupan rohani kita. Kita dapat belajar begitu banyak dari kakak kelas kita – yaitu para kudus, dari diktat/catatan kuliah – yaitu doktrin dan dogma, dari kuliah kerja nyata – yaitu hidup kudus, dari Yesus, Maria, dan seluruh jajaran para kudus.

Apakah buah-buah dari pertumbuhan dan pembaharuan?

Karena pertumbuhan dan pembaharuan tak terpisahkan dengan kekudusan, maka buah-buah dari pertumbuhan dan pembaharuan adalah buah-buah kekudusan. Dan buah-buah ini bukan hanya terlihat di Gereja, namun juga di dalam kehidupan sehari-hari, karena kekudusan berpengaruh terhadap seluruh sendi kehidupan. Berikut ini adalah buah-buah dari kekudusan yang ide besarnya disarikan dari buku In His Image.[18]

1. Kesadaran yang lebih tinggi akan kehadiran Tuhan

Karena kekudusan adalah persatuan yang sempurna dengan Tuhan, maka buah dari pembaharuan adalah bertumbuhnya kesadaran akan siapa Tuhan, kasih-Nya, kehadiran-Nya, kebijaksanaan-Nya, dan kebenaran-Nya. Dengan kesadaran inilah, seseorang dapat melihat kehadiran dan karya Tuhan dalam berbagai kesempatan, seperti: dalam berbagai ciptaan Tuhan, dalam pekerjaan sehari-hari, dalam diri teman-teman dan keluarga, dalam diri orang-orang yang miskin, juga dalam pencobaan dan penderitaan.

2. Kepekaan yang lebih tinggi akan panggilan hidup dan identitas diri

Karena kekudusan adalah berbagi kehidupan dengan Tuhan, maka seorang yang bertumbuh dalam kekudusan akan berjuang untuk menerapkan prinsip ajaran Tuhan dalam kehidupan-Nya. Ia akan menempatkan apa yang diinginkan oleh Tuhan dalam kehidupannya di atas kepentingan atau keinginan pribadi. Dengan mengenal Tuhan lebih dalam, maka seseorang dapat mengenal diri sendiri lebih dalam lagi, yang pada akhirnya seseorang mempunyai kepekaan akan panggilan hidupnya. Dan panggilan hidupnya sebagai seorang Kristen adalah berpartisipasi dalam tiga misi Kristus, yang terdiri dari nabi, imam dan raja.[19]

a) Identitas sebagai Nabi: mengasihi kebenaran

Seseorang yang bertumbuh di dalam kekudusan akan semakin terpanggil untuk mencari/ mempelajari kebenaran Kristus, berjuang untuk melaksanakannya dan akhirnya juga mengambil bagian dalam tugas perutusan Kristus untuk mewartakan kebenaran tersebut. Ia akan mengasihi kebenaran di atas kepentingannya sendiri. Kebenaran yang dinyatakan dalam doktrin dan dogma Gereja menjadi panduan hidupnya, kebenaran Sabda Allah menjadi pelita dalam hidupnya, dan keinginan untuk meniru kehidupan para kudus mewarnai kehidupannya. Ia akan menjadi begitu antusias dalam mewartakan iman.

b) Identitas sebagai imam: mengasihi Tuhan dan sesama

Persatuan yang begitu erat dengan Kristus membuat seseorang menyadari bahwa Kristus mengorbankan diri-Nya demi kasih-Nya kepada Bapa dan manusia. Setiap murid Kristus juga dipanggil untuk meniru jejak Kristus, yaitu untuk mengasihi Tuhan dengan segenap hati, pikiran dan kekuatan; dan mengasihi sesama atas dasar kasih kepada Tuhan. Kehidupan seorang murid Kristus diwarnai dengan cara pandang dari Allah. Dia tidak terlalu kuatir tentang apa yang dikatakan oleh teman-teman, namun lebih kuatir tentang apa yang dikatakan oleh St. Matius, St. Markus, St. Lukas, St. Yohanes, St. Paulus, St. Petrus, dan terutama adalah Bunda Maria dan Tuhan Yesus.

c) Identitas sebagai raja: melayani sesama

Karena salah satu misi Kristus adalah untuk memperbaharui muka bumi, maka setiap murid Kristus juga dipanggil untuk melakukan karya ini, yaitu dengan melayani sesama- terutama yang menderita, miskin, dan yang membutuhkan pertolongan. Salah satu tanda dari kedewasaan kasih adalah memberikan talenta untuk membangun Gereja dari dalam dan dengan demikian melayani sesamanya di dalam kehidupan sebagai sesama murid Kristus.

3. Pertobatan

Salah satu buah yang menonjol dari pertumbuhan dan pembaharuan adalah pertobatan. Semakin seseorang mempunyai hubungan yang erat dengan Tuhan, maka ia akan menyadari akan kelemahan, kekurangan dan dosa-dosa yang dilakukannya. Ia akan menyadari dosa-dosanya sendiri, namun pada saat yang sama menyadari akan kebesaran dan kerahiman Tuhan yang mengampuninya; dan hal ini membuatnya menjadi rendah hati. Seseorang akan mengalami pertobatan yang terus menerus jika ia senantiasa menempatkan Tuhan dan kebenaran-Nya di atas kepentingan dan pendapat pribadi.

4. Kehidupan sakramental

Persatuan yang begitu erat dengan Allah, menyadarkan seseorang yang telah diperbaharui bahwa dia membutuhkan rahmat Allah untuk menjalankan kehidupan ini sesuai dengan perintah-perintah Allah. Karena Kristus sendiri yang memberikan sakramen-sakramen kepada umat-Nya dan menjamin rahmat-Nya mengalir, maka orang yang diperbaharui akan menyadari bahwa sakramen-sakramen, terutama Sakramen Ekaristi dan Sakramen Tobat merupakan sarana baginya untuk memperoleh rahmat kekuatan dan pertumbuhan rohani. St. Thomas Aquinas memberikan argument of fittingness tentang ketujuh sakramen:

“Ada tujuh sakramen dari hukum yang baru…. Lima yang pertama diberikan untuk kesempurnaan kehidupan batin rohani dari seseorang; dua yang terakhir diberikan untuk mengatur dan menumbuhkan Gereja secara keseluruhan. Dengan Sakramen Baptisan, kita lahir lagi secara rohani dan dengan Sakramen Penguatan kita bertumbuh di dalam rahmat dan dikuatkan dalam iman. Dengan dilahirkan kembali dan dikuatkan, kita dipelihara dengan makanan Ilahi dari Sakramen Ekaristi. Jika karena dosa, kita menjadi sakit di dalam jiwa, kita disembuhkan secara rohani dengan Sakramen Tobat; kita juga disembuhkan di dalam roh dan tubuh sejauh itu baik untuk jiwa dengan Sakramen Pengurapan Orang Sakit. Melalui Sakramen Imamat, Gereja diatur dan menerima pertumbuhan secara rohani; melalui Sakramen Perkawinan, dia [Gereja] menerima pertumbuhan badani.”[20]

5. Keinginan untuk kekudusan dan doa

Seseorang yang diperbaharui dan bertumbuh secara rohani akan menyadari dan mempunyai kepekaan akan kasih Allah. Kasih Allah inilah yang menjadi motivasi untuk membalas kasih-Nya dengan kembali mengasihi Allah dan menjalankan semua perintah-Nya (lih. Yoh 14:15). Dan hubungan kasih ini terbina, terpupuk dan menjadi suatu dialog di dalam doa. Oleh karena itu, doa bukan lagi menjadi suatu rutinitas, namun menjadi suatu kebutuhan. Doa ini juga yang menjadi kekuatan untuk bertumbuh dalam kekudusan.

6. Menyadari perlunya belajar

Seseorang yang telah diperbaharui dan terus bertumbuh dalam mengasihi Kristus. Semakin seseorang mengasihi, semakin dia ingin tahu segala sesuatu yang berhubungan dengan Yang dikasihi, yaitu Kristus. Sebab seseorang tidak dapat mengasihi apa yang tidak dikenalnya, namun sebaliknya setelah mengenalnya, maka dengan kasih ia akan semakin ingin mengenal yang dikasihinya dengan lebih lagi. Orang tersebut akan mempelajari Kitab Suci dengan sungguh-sungguh. Kitab Suci dan Katekismus Gereja Katolik adalah buku yang perlu dibaca untuk mengerti rencana Allah secara keseluruhan.

7. Perspektif kehidupan yang berbeda

Seseorang yang telah diperbaharui akan melihat kehidupan dengan cara yang berbeda. Kehidupan yang hiruk pikuk tidak membuatnya kehilangan fokus akan tujuan paling akhir dalam kehidupannya, yaitu persatuan dengan Tuhan di Surga. Dia telah mendefinisikan kebahagiaannya dengan mereferensikannya kepada Tuhan. Dengan demikian, orang yang telah diperbaharui tidak gentar dalam menghadapi kesulitan hidup, karena percaya akan belas kasih Tuhan dan mengerti bahwa kesulitan yang dialaminya bersifat sementara. Dia mengerti bahwa semua yang ada di dunia ini – harta, kekayaan, kehormatan, kekuasaan – hanyalah bersifat sementara, dan dia menaruh pengharapan yang besar akan kesempurnaan untuk selamanya di dalam Kerajaan Allah (lih. 1 Kor 13:12). Ia akan menyadari bahwa segala yang ada padanya sesungguhnya adalah pemberian Tuhan dan harus digunakan kembali untuk memuliakan nama-Nya.

8. Kepekaan akan komunitas

Kesadaran untuk mengasihi Tuhan dan sesama sebagai esensi dari kekudusan, membuat seseorang menjadi peka bahwa perjalanan yang harus dijalani di dunia menuju ke Sorga bukanlah perjalanan ‘sendirian’ atau hanya antara aku dengan Yesus, namun bersama-sama juga dengan saudara-saudari seiman. Kesadaran akan talenta dan keterbatasan diri mendorong seseorang untuk melibatkan diri dalam komunitas, sehingga dapat saling berbagi dan menguatkan. Di dalam persatuan iman dalam komunitas inilah, seseorang dapat terus bertumbuh, karena mempunyai nilai-nilai yang sama, iman yang sama, kebenaran yang sama, Gereja yang sama, dan Yesus yang sama.

Undangan untuk bersama-sama bertumbuh dan diperbaharui

Setelah kita mengetahui pengertian pertumbuhan atau pembaharuan, alasan, tujuan, cara, dan pernyataanya, maka yang harus kita lakukan adalah untuk berusaha terus bertumbuh secara rohani. Kemunduran kehidupan rohani akan membahayakan keselamatan kita karena dapat membuat kita terseret dalam arus dunia ini, yang berlawanan dengan nilai-nilai kekristenan. Tidak ada cara lain untuk bertumbuh secara rohani kecuali dengan terus berjuang setiap hari. Mari kita mengingat apa yang dikatakan oleh rasul Paulus “…aku melupakan apa yang telah di belakangku dan mengarahkan diri kepada apa yang di hadapanku, dan berlari-lari kepada tujuan untuk memperoleh hadiah, yaitu panggilan sorgawi dari Allah dalam Kristus Yesus.” (Fil 3:13-14).

Maka mari, janganlah takut untuk bertumbuh; dan jangan takut untuk hidup kudus. Sebab jika surga-lah tujuan kita, maka kita tidak mempunyai jalan lain untuk menuju ke sana, selain berjuang untuk hidup lebih kudus hari lepas hari, tentu dengan bantuan rahmat Tuhan.


CATATAN KAKI:
  1. Lihat Lumen Gentium (LG) 40, juga LG 42, “Maka semua orang beriman kristiani diajak dan memang wajib mengejar kesucian dan kesempurnaan status hidup mereka.” []
  2. Lihat Joseph Cardinal Ratzinger, Called to Communion, (Ignatius Press, San Francisco, 1996), p.33, “The ultimate goal…is perfect unity- it is “unification” with the Son, which at the same time makes it possible to enter into the living unity of God Himself so that God might be all in all (1Cor 15:28).” []
  3. Lihat Katekismus Gereja Katolik (KGK), 2331. “Allah itu cinta kasih. Dalam diri-Nya Ia menghayati misteri persekutuan cinta kasih antar pribadi (dalam hal ini Pribadi Allah Bapa, Putera dan Roh Kudus). Seraya menciptakan umat manusia menurut citra-Nya sendiri… Allah mengukirkan panggilan dalam kodrat manusia pria dan wanita, dan karena itu juga kemampuan serta tanggung jawab untuk hidup dalam cinta dan dalam persekutuan.” []
  4. Lihat LG 39, “Jadi bagi semua jelaslah, bahwa semua orang kristiani, bagaimanapun status atau corak hidup mereka, dipanggil untuk mencapai kepenuhan hidup kristiani dan kesempurnaan cinta kasih.” []
  5. Lihat LG 40, “Kamu harus sempurna, seperti Bapamu yang di sorga sempurna adanya” (Mat 5:48). Sebab kepada semua diutus-Nya Roh Kudus, … supaya mengasihi Allah dengan segenap hati, dengan segenap jiwa, dengan segenap akal budi dan dengan segenap tenaga mereka (lih. Mrk 12:30), dan saling mencintai seperti Kristus telah mencintai mereka (lih. Yoh 13:34; 15:12). []
  6. Lihat LG 40, “Untuk memperoleh kesempurnaan itu hendaklah kaum beriman mengerahkan tenaga yang mereka terima menurut ukuran yang dikurniakan oleh Kristus, supaya dengan mengikuti jejak-Nya dan menyerupai citra-Nya, dengan melaksanakan kehendak Bapa dalam segalanya, mereka dengan segenap jiwa membaktikan diri kepada kemuliaan Allah dan pengabdian terhadap sesama.” []
  7. Lihat LG 42, “Maka cinta kasih akan Allah maupun akan sesama merupakan ciri murid Kristus yang sejati.” []
  8. St. Therese of Lisieux, The Story of a Soul, The Autobiography of St. Therese of Lisieux, translated by John Clark, O.C.D., (ICS Publications, Washington DC., Third Edition 1996), p. 194 []
  9. lih. KGK 1123: Sakramen-sakramen dimaksudkan untuk menguduskan manusia, membangun Tubuh Kristus, dan akhirnya mempersembahkan ibadat kepada Allah. Tetapi sebagai tanda, Sakramen juga dimaksudkan untuk mendidik. Sakramen tidak hanya mengandaikan iman, melainkan juga memupuk, meneguhkan dan mengungkapkannya dengan kata-kata dan tindakan. Maka juga disebut Sakramen iman” (Sacrosanctum Concilium 59). []
  10. Lihat KGK 1085, “Di dalam liturgi Gereja, Kristus menyatakan dan melaksanakan misteri Paska-Nya…” dan 1088, “Ia (Kristus) hadir dalam kurban misa baik dalam pribadi pelayan (imam yang mempersembahkan misa)… maupun terutama dalam rupa Ekaristi.” []
  11. G.K. Chesterton, Everlasting Man, 1925 []
  12. Douglas G. Bushman, S.T.L., In His Image: Faith enrichment for adult catholics, A program of renewal through education, An overview (San Francisco: Ignatius Press, 1989), 2 []
  13. Ibid, 3 []
  14. St. Jerome, Commentary on Isaiah, Prol. PL 24,17 []
  15. Lih. KGK, 2558-2559 []
  16. KGK, 774 []
  17. Lih KGK 775, Lumen Gentium 1 []
  18. ibid, 3-4 []
  19. lih. KGK 784-786 []
  20. DS 1311; D 695; Christian Faith 1306. Text Magisterium ini dapat dikaitkan dengan pembahasan St. Thomas “On the Articles of Faith and the Sacraments of the Church.” Lihat juga ST, III, q. 65, a. 1. []
Share.

About Author

Stefanus Tay telah menyelesaikan program studi S2 di bidang teologi di Universitas Ave Maria - Institute for Pastoral Theology, Amerika Serikat.

24 Comments

  1. Shalom katolisitas
    Tuhan b’serta anda smua

    Saya m’punyai 1 kmusykilan. Rakan2 sya yg non-kristen sering m’bandingkan alkitab dgn kitab suci mereka. Mereka m’klaim bhwa kitab suci mereka lengkap dngan sgala ajaran tntang tata-cara kehidupan – spt makan, tidur, ke tandas, b’jalan, b’riadah & sbagainya. Malah agama mereka adalah ‘the way of life’…

    Dengan rendah hati sya ingin b’tanya, adakah alkitab jg m’punyai fungsi spt ini? & adakah ajaran katolik bleh dkategori’n “the way of life”, scara fizikal, dlam m’lalui hidup2 shari2..? Adakah pnerangan ttang p’soalan ini djelas’n dlam alkitab?

    Mohon ptunjuk. Thanx in advance…

    God bless

    • Shalom John,

      Kitab Suci bukanlah kitab yang memuat cara makan, tidur, dll. Untuk cara tidur, makan, dll biarlah buku-buku ilmu pengetahuan yang menceritakannya secara lebih detail dan lebih baik. Kitab Suci adalah Kitab yang memuat segala sesuatu sehingga manusia dapat masuk ke dalam Kerajaan Sorga. Yang dimuat di dalam Kitab Suci adalah apa yang harus kita imani (iman akan Tritunggal Maha Kudus, Kristus adalah Tuhan, dll); prinsip-prinsip tentang bagaimana kita menjalankan iman kita dalam kehidupan kita sehari-hari (seperti prinsip cinta kasih, moralitas, dll); prinsip bagaimana merayakan iman yang kita percayai (Perjamuan Terakhir); prinsip-prinsip doa. Dengan demikian, Kitab Suci yang kita percayai sebenarnya telah memuat semua hal yang diperlukan untuk menuntun manusia kepada keselamatan. Agama Kristen bukanlah agama buku, namun agama yang mengikuti kebenaran, di mana kebenaran ini telah mengambil sebuah Pribadi, yaitu Yesus Kristus – yang adalah Jalan, Kebenaran dan Hidup (lih. Yoh 14:6).

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      stef – katolisitas.org

    • Shalom Gabriel,

      Silakan membaca terlebih dahulu artikel ini: Hidup yang diubahkan Kristus melalui Ekaristi, silakan klik.

      Bagi umat Katolik, transformasi dalam Kristus diperoleh pertama-tama melalui sakramen Ekaristi, di mana kita menerima Kristus sendiri. Kita menyambut Ekaristi, karena memang itulah cara yang dikehendaki Kristus agar kita mengenang-Nya dan agar kita dapat bersatu dengan-Nya, dan diubah untuk menjadi semakin serupa dengan Dia. Dan ‘diubah untuk menjadi serupa dengan Kristus’ inilah yang sering juga disebut ‘transformasi dalam Kristus’. Jika Kristus hidup di dalam kita maka kita akan mempunyai pikiran dan kehendak yang sejalan dengan pikiran dan kehendak Kristus; dan kita akan terdorong untuk semakin mengasihi Tuhan dan sesama.

      Silakan juga membaca artikel-artikel berikut (silakan klik di judul berikut):

      Ekaristi adalah Komuni kudus
      Mengapa kita makan dan minum Tubuh dan Darah Tuhan Yesus

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      Ingrid Listiati- katolisitas.org

  2. Thomas Soeharto 7 Maret 1950 on

    Salam damai dalam Kristus, saya pendatang baru ,sejak 2 bulan yang lalu saya menemukan “Katolisita.org” ini dan masih menemukan dan menyadari betapa kaya, lengkap, tegas dan autentiknya iman Katolik kita ini, sehingga untuk menjalankan hidup dengan ke “universal” an Katolik itu sudah ada dan updated dari jaman ke jaman.
    Walau saya seorang Katolik dari bayi,dan dari keluarga Katolik yang kental, baru sekarang saya sadar bahwa saya terjebak oleh penghayatan “universal” yang “salah”, lebih tepat “prulal”,setelah saya banyak membaca-baca rubrik2 di Katolisitas ini.Selama hidup-dewasa ini saya menganggap bahwa hidup sebagai orang Katolik adalah : – Jalankan “10 Perintah Allah” dengan baik dan jujur dan sesuai inti dari ajaran Kristus, yaitu “2 Hukum Kasih” selesailah sudah. Tetapi dalam refleksi diri akhir2 ini, setelah menjelajahi Katolisitas ini (baca : renungan2nya, sharing2nya,dokumen2, sejarah Gereja Katolik maupun Kitab Suci Katolik) sangat bangga dan sudah benar sekali saya mengiman Katolik ini, walau dapat dari “warisan” orang tua.Membaca Kitab Suci adalah jarang / hampir tidak pernah, (jaman saya kecil, awam masih dilarang membaca Kitab Suci,hanya awam katekise yang boleh membaca) jadi saya hanya tahu di Kitab Suci ada mengatakan ini….ini…itu benar, jangan ditanya Injil / surat siapa, ayat berapa pasti tidak hafal. Berdoa, memang saya orang yang “mau gampang”,(jujurnya malas) jadi buat saya berdoa / “sembah”yang, ya… Mulai tanda salib Demi nama Bapak, dan Putra dan Roh Kudus,(Trinitas saya sangat mengimani) kemudian doa “Bapa Kami” : Sembahlah yang Maha itu dengan Memuliakan,Mohon karunia Surgawi di bumi ini, serta rezeki hari ini dan ampuni segala dosa saya, “asalkan” saya juga mengampuni yang bersalah kepada saya, (pengertian dari sejak kecil sampai tua ini) dan jauhkan saya dari cobaan. Se simpel itulah saya lakukan. Doa Bapa Kami ini, berlaku untuk ujub apa saja,kalau mau dikabul ya.. implementasikanlah “pernyataan” Bapa Kami itu. Kalau perlu lakukan berulang kali dalam satu hari ( 100 x, 500x ……selama masih ada rasa belum puas).Jadi DOA itu lebih kepada “Janji”, dari pada “permohonan”.
    Tapi saya sekarang merasa sangat “kurang dewasa”, apalagi setelah tahu St.Thomas Aquino adalah seorang “pemikir Gereja Katolik” yang karya pikirnya (Summa Theological nya) banyak dipakai mengilhami hukum2 Gereja Katolik maupun filsafat2 dunia umum pada jamannya.(St.Thomas Aquino adalah pelindung Permandian saya….) Tentang “doa Rosario” , buat saya adalah cara untuk “mendekatkan diri dengan Tuhan” saat merasa jauh dari Nya, karena disitu sangat lengkap, dari Syahadat ( mengaku masih beriman), Bapa Kami (memohon dengan janji),Salam Maria (Perantara “terdekat”kepada Tuhan),Kisah2 (untuk refleksi diri kita) dan Tanda Salib,awal dan akhir (keyakinan akan Trinitas). Tentang “Pelayanan” itu sudah “dipanggilnya” para biarawan / wati, jadi awam berkarya disisi duniawi saja dengan bekal “Hukum Kasih” tadi, ternyata ada awam berkarya seperti “Katolisitas” ini.
    Bapak Stef / Ibu Inggrid / Ibu Uti Jiwandono, saya ingin mulai menambah isi jiwa saya ini dengan ” keingin mengetahui “dasar / filosoifi” Katolik, ….apa itu isi Summa Theoligical nya St.Thomas Aquino, dimana saya dapat membacanya? Apa ada yang dalam bahasa Indonesia?
    Terima kasih sebelumnya, selamat berkarya dan Tuhan memberkati selalu para Pengelola dan Pembimbing Katolisitas. Salam : Thomas Soeharto

    • Shalom Bp. Thomas Soeharto,

      Terima kasih atas sharing Anda. Adalah baik jika Tuhan mendorong kita untuk semakin mengasihi Dia dan Gereja-Nya. Itu adalah perjuangan kita semua sampai saat kita dipanggil pulang ke rumah Tuhan.

      Mengenai Summa Theologica, dapat dibaca online -dalam bahasa Inggris- di sini, silakan klik. Di link itu ada lengkap semua teks Summa Theologica yang ditulis St. Thomas Aquinas, terdiri dari bagian pertama/Prima, Prima Secundae, Secunda secundae, Tertia, dan tambahan/ Supplementum Tertia. Silakan klik di bagian-bagian itu, lalu nanti masuk ke link berikutnya yang memuat pembagian bab-bab tersebut dengan sub-sub bab, lalu jika diklik di sub judul/ bab tersebut, lalu dapat dibaca teks Summa tentang topik yang dimaksud.

      Menurut pengetahuan saya, Summa Theologica belum diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia.

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      Ingrid Listiati- katolisitas.org

  3. Lucius @ Lacius Dalius on

    Apakah erti dan kenapa umat katolik harus membina iman tanpa henti? Bagaimana pula cara untuk membina iman itu tanpa henti? Minta penjelasan. Terima kasih

    • Shalom Lucius,

      Terima kasih atas pertanyaannya tentang pembinaan iman. Prinsip dari pembinaan adalah mengetahui dan mengasihi iman Katolik. Kita tidak dapat mengasihi sesuatu yang kita tidak tahu. Oleh karena itu, untuk mengasihi iman Katolik maka kita harus mengetahuinya. Dan pengetahuan ini kita dapatkan dari orang tua kita ketika kita masih kecil. Semakin kita tahu iman Katolik yang kita yakini sebagai suatu kebenaran, maka kita akan mengasihi iman Katolik. Dan karena kita mengasihi, maka kita semakin ingin mengetahui lebih dalam lagi. Pengetahuan ini dapat kita peroleh dengan terus bertekun dalam mendalami Sabda Tuhan (Alkitab), dibantu dengan apa yang ditulis oleh Bapa Gereja maupun Magisterium Gereja, sehingga kita memperoleh pengetahuan kebenaran secara lebih menyeluruh. Karena iman kita berakar pada Kristus dan Kristus adalah Kepala dari Gereja, maka iman kita tidak dapat terlepas dari Gereja. Jadi, kita harus bertumbuh dalam iman dengan semakin menjadi bagian dari Gereja, serta berpartisipasi dalam derap langkah Gereja.

      Kita juga dapat membina iman dengan semakin bertumbuh dalam sakramen-sakramen, terutama Sakramen Ekaristi (kita menerima Kristus, Sang Sabda, dan dalam Liturgi Sabda kita dapat menimba Sabda Tuhan), dan juga Sakramen Tobat (pastor dapat memberikan arahan sehingga kita dapat bertumbuh secara spiritual). Pertumbuhan iman juga kita dapatkan dengan pelayanan, sehingga kita dapat menerapkan iman yang kita percayai dan pada saat bersamaan bertumbuh dalam komunitas. Yang tidak kalah pentingnya adalah doa pribadi, yang memungkinkan kita untuk bertemu dengan Sang Pemberi Iman, yaitu Kristus sendiri. Bersama dengan para rasul, kita mohon setiap hari kepada Yesus dengan mengatakan “tambahkanlah iman kami” (Lk 17:5). Semoga dapat membantu.

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      stef – katolisitas.org

  4. Salam damai sejahtera

    Dear pengasuh katolisitas

    Ada lima hal yang mendasar untuk bertumbuh dalam tabiat Kristus (sebab orang yang lahir baru sudah mempunyai benih tabiat baru seperti Kristus).
    Saya ingin membagikannya bagi semua pembaca katolisitas.

    PERUBAHAN TABIAT ORANG BERIMAN

    Kolose 3 : 9 – 10 = Jangan seorang bercakap bohong kepada yang lain, sedang kamu sudah menanggalkan perangai yang lama itu dengan segala kelakuannya dan bertabiatkan perangai yang baharu, yang lagi dibaharui sehingga datang kepada makrifat menurut teladan Allah yang menjadikan dia

    Ada beberapa banyak orang beriman yang hanya mengalami perubahan tabiat pada permulaan pertobatannya lalu sesudah itu tidak ada kemajuan atau perubahan yang berarti.
    Target kita adalah berubah sampai menjadi seperti Kristus.
    Kita harus mengerti apa yang menghambat pertumbuhan supaya pertumbuhan kita bisa berlangsung terus sampai mencapai sasaran atau target yaitu seperti Yesus

    I. SALAH MENGERTI
    Banyak orang tidak mengalami kemajuan dalam pertumbuhan tabiatnya, sebab tidak mengerti harus berubah menjadi tabiat yang bagaimana, mana yang baik,maka ia tidak berbuah.
    Yang dianggap baik itu tergantung dari “menurut siapa” ?
    Apakah menurut pendapat orang banyak atau pendapat “orang2 baik” atau “orang2 yang terkenal”, tetapi ukuran kita hanyalah satu yaitu menurut ukuran Firman Tuhan.
    Ukuran manusia itu relatif, tergantung dari sekitarnya, dari zamannya, dari kebudayaannya, dari sikonnya dsb.
    Tetapi ukuran Tuhan itu tidak tergantung dari semuanya sebab ukuran Firman Tuhan itu kekal, tidak berubah, menjadi seperti Kristus.
    Model baju boleh berubah, juga cara hidup, tetapi tabiat orang beriman tetap sama dengan Firman Tuhan, dimana saja, kapan saja, tetap sama sampai kekal.
    Jadi kita harus mengerti tabiat yang baik”menurut siapa”?
    Ukuran tabiat yang baik itu tidak sama untuk setiap golongan orang atau budaya atau zaman.
    Tabiat yang baik menurut Firman Tuhan itulah yang sah dihadapan Tuhan dan satu kali kelak semua orang akan diadili menurut ukuran Firman Tuhan, inilah ukuran kebenaran yang kekal.
    Sebab itu kita perlu belajar Firman Tuhan baik2 sampai mengerti supaya kita tahu ke arah mana kita harus berubah yaitu yang dianggap baik oleh Tuhan, bukan oleh manusia.
    Mengerti kebenaran Firman Tuhan itu mutlak perlu untuk pertumbuhan tabiat.
    Kalau kita makin mengerti, itu berarti Rohkudus bekerja di dalam hati kita, sebab tanpa Rohkudus kita tidak bisa mengerti kebenaran Allah.
    Bisa mengerti kebenaran Allah itu suatu pemberian Allah, suatu karunia ilahi.
    Kalau Rohkudus sudah memberi kita karunia untuk mengerti, maka Rohkudus tidak akan berhenti setengah jalan, tetapi Ia juga akan memberi kekuatan untuk bisa menjalaninya.
    Sebab itu bisa mengerti Firman Tuhan, mengerti sifat2 yang seperti Kristus itu sangat penting.
    Sampai dimana kita mengerti, sampai di situ kita bisa berubah (kalau mau) dengan pertolongan Rohkudus, sampai disitu kemenangan kita atas tabiat yang lama ini.
    Firman Tuhan itu makanan bagi jiwa, sebab itu sampai dimana kita bisa makan (mendapat pengertian) dari Firman Tuhan, sampai disitu juga kemenangan dan perubahan kita, sampai disitu juga tabiat hidup kita berubah seperti Kristus.

    Bertingkat !
    Perubahan atau perkembangan setiap tabiat dalam kita itu bisa diukur dari beberapa segi yaitu :
    1. Kwalitas atau macamnya.
    Setiap tabiat baru yang kita pakai itu kwalitasnya harus seperti Kristus sebab “orang baru” itu “buatan Allah”, misalnya kasih, kebaikan, sabar, setia dll, bukan kwalitas dunia atau manusiawi, tetapi kwalitas ilahi
    2. Kadarnya.
    Kadarnya harus terus meningkat dari 5% seperti Kristus, naik menjadi 10% dan tumbuh terus sehingga menjadi 100% seperti Kristus.
    Misalnya orang cinta seperti Kristus, kalau sudah sampai puncaknya, ia rela mati, menyerahkan nyawanya bagi orang yang dicintainya.
    Kesetiaan itu diukur sampai mati.
    Jadi bukan hanya kwalitas atau macamnya, tetapi juga ukurannya, sampai kadar setiap tabiat itu 100% seperti Kristus.
    3. Kombinasi.
    Semua sifat Kristus itu saling bersangkut paut satu sama lain sehingga kombinasi dari semua sifat2 itu menghasilkan warna seperti Kristus.
    Kalau hanya pintar itu belum tentu seperti Kristus.
    Harus ada tabiat2 yang lain juga.
    Kalau hanya mempunyai kuasa dan bisa berbuat mujizat itu belum tentu seperti Kristus.
    Penuh hikmat tetapi tidak tulus, tidak jujur itu bukan seperti Kristus, tetapi seperti Lucifer.
    Penuh kuasa dan mujizat tetapi tidak rendah hati, itu bukan seperti Kristus, tetapi seperti iblis.
    Jadi harus ada kombinasi antara semua sifat2 Kristus, bahkan terikat erat satu sama lain.
    Jadi setiap tabiat yang baik itu : Kwalitasnya seperti Kristus, Kadarnya terus meningkat seperti Kristus dan selalu terkombinasi dengan semua tabiat2 baru lainnya.
    Dengan demikian kita bisa mengerti , tidak mungkin seorang bisa menjadi baik di hadapan Tuhan, mempunyai tabiat yang tumbuh dengan indah kalau tidak mengerti Firman Tuhan dan penuh dengan Rohkudus.
    Pertumbuhan tabiat ini sejalan dengan pertumbuhan pengertian kita dalam Firman Tuhan dan berjalan dalam Roh.

    II. PIKUL SALIB.
    Kita diberi tubuh daging yang terus menerus condong kepada dosa.
    Sebab itu kalau daging tidak disalibkan, maka tabiat daging akan terus dominan dan menonjol keluar dan tabiat baru tidak bisa tumbuh, selalu terhambat oleh daging.
    Kalau mau tumbuh , mutlak harus mematikan daging.
    Kalau daging mati, maka tabiat baru bisa tumbuh dengan bebas.
    Sebab itu Tuhan Yesus mengatakan syarat ini dengan jelas, tegas dalam :

    Lukas 9 : 23 = Maka kataNya kepada sekalian orang, “Jikalau barang siapa hendak mengikut Aku, haruslah ia menyangkali dirinya serta menanggung salibnya setiap hari, lalu mengikut Aku.

    Ada orang yang yakin tidak perlu pikul salib lagi (sebab Tuhan Yesus sudah disalib bagi kita), ia mempunyai pengertian yang keliru, sehingga tabiatnya sulit berubah.
    Tanpa mau pikul salib dengan sukacita, tidak akan ada kemajuan dalam pertumbuhan tabiat yang seperti Kristus, juga dalam segala segi hidup rohani lainnya.

    III. KURANG KEKUATAN
    Kadang2 orang sudah mengerti tetapi tidak sanggup menjalaninya sebab roh berkehendak, tetapi tubuh lemah, lalu kalah dan jatuh dalam dosa, dalam tabiat lama.
    Ini disebabkan kurang kuasa Rohkudus, kurang bertekun dalam doa.
    Bertekun berdoa membuat kita kuat oleh kuasa Allah.
    Sebab itu orang yang bertekun berdoa dalam Roh dan kebenaran dan mengerti kebenaran Firman Tuhan akan makin cepat berubah seperti Kristus.
    Kita ini manusia yang lemah, tidak mungkin bisa hidup sesuai Firman Tuhan kalau tidak ditolong oleh Tuhan.
    Memang Tuhan sudah menyediakan semua fasilitas yang diperlukan, cukup bahkan limpah, asal kita mau memakai.
    Tuhan menyediakan kekuatan cukup untuk bisa menjalani hidup seperti Firman Tuhan.
    Terimalah kekuatan dari Tuhan ini dengan tekun berdoa.
    Tentu kita harus memelihara diri untuk tetap hidup benar dihadapan Allah (tidak hidup dalam dosa) sehingga selalu dipihak Allah (fasilitas itu hanya tersedia untuk orang2 yang ada di pihak Allah).

    IV. M A U
    Kadang2 ini tampaknya seperti soal kecil, tetapi sangat penting.
    Ini yang terutama dituntut Allah dari pihak manusia.
    Kalau manusia itu lemah, tidak mempunyai kuasa dan hikmat itu memang keadaan manusia yang condong kepada dosa dan kedagingan.
    Tetapi sebagai mahluk bebas kita mempunyai kemauan atau kehendak untuk bisa memilih.
    Kita harus mau berubah menjadi seperti Kristus, itu yang diminta oleh Tuhan dari kita.
    Kita harus mempunyai kemauan yang stabil untuk mau menjadi seperti Kristus.
    Kalau kita sungguh2 mau , tetapi “tidak bisa” maka Allah akan menolong kita sehingga menjadi “bisa”. Setiap orang beriman yang mau berubah menjadi seperti Kristus, pasti bisa sebab memang itu yang dikehendaki Allah dan Dia akan menolong kita untuk berubah menjadi seperti Kristus.
    Kita tidak perlu kuatir tidak sanggup, asal kita mau; Dia akan memberi kekuatan itu pada kita !
    Itu urusan Allah, Dia Maha sanggup
    Disini juga tampak bahaya pekerjaan iblis, yaitu menipu dan menyesatkan.
    Contohnya dalam kasus kejatuhan Hawa.
    Sebab Hawa kena tipu , lalu ia ingin akan buah yang dilarang oleh Tuhan, maka ia tidak mau lagi mentaati Firman Tuhan, tetapi mau menuruti kata2 iblis, maka ia jatuh.
    Sebab itu jagalah kemauan kita supaya tetap mau taat kepada Tuhan .
    Kita mempunyai kemauan bebas, bisa memilih menurut kehendak kita sendiri , sebab itu harus selalu ber-jaga2 supaya jangan sampai ditipu dan disesatkan oleh iblis.
    Tetap tinggal dalam pimpinan Rohkudus dan tumbuh dalam pengertian Firman Tuhan, supaya kita bisa jelas melihat tipu daya iblis dan tidak disesatkan olehnya.

    V. PERCAYA
    Kita harus percaya bahwa setiap tabiat kita bisa berubah menjadi seperti Kristus, percaya bahwa Allah sudah melahirkan kembali dengan tabiat yang baru, dan itu bisa ditumbuhkan sampai ukuran penuh seperti Kristus.
    Yang percaya akan mengalami sesuai dengan imannya, yang tidak percaya tidak akan mengalami perubahan apa2.
    Bukankah kita sudah percaya ?
    Ya, tetapi kita harus terus percaya akan setiap kebenaran Firman Tuhan, jangan sampai ada satu macam kebenaran Firman Tuhan yang kita tidak bisa percaya sebab ditipu oleh setan, oleh pikiran sendiri atau oleh fakta2 yang penuh disekitar kita.
    Kita harus sungguh2 percaya akan setiap kebenaran Firman Tuhan.
    Juga Petrus yang sudah berjalan di atas air dengan iman, tetapi kemudian ia meragukannya dengan akalnya, sebab itu ia tenggelam.
    Percayalah akan Firman Tuhan, bahwa tabiat seperti Kristus itu yang terbaik dan diperkenan Allah dan setiap orang yang dilahirkan baru mempunyai benih dari semua tabiat Kristus dan kalau itu ditumbuhkan akan menjadi seperti Kristus.
    Iblis membuat Firman Tuhan jadi terbalik, sehingga Hawa tidak lagi yakin bahwa larangan Allah itu betul, selamat dan terbaik.
    Sesudah tertipu Hawa yakin bahwa larangan Firman Tuhan itu sakit, menderita, tidak enak dan saran iblis itu yang betul2 baik.
    Sebab itu ia ingin yang lebih baik dan jatuh dalam dosa.
    Banyak orang berfikir suci itu betul dan perlu, tetapi tidak enak, sakit dan menderita, sebab itu pergumulannya untuk hidup suci menjadi berat (sebab ingin perkara2 dosa dan daging) sehingga jatuh dalam dosa dan tidak bisa taat , sebab lebih percaya pada dusta iblis daripada Firman Tuhan.
    Oleh karena itu kita perlu tekun dalam kepenuhan dan pimpinan Rohkudus, sehingga mata ini celik dan bisa percaya, yakin bahwa kesucian itu indah dan tidak berat, lalu bisa taat dengan sukacita, dengan pertolongan Rohkudus, tidak sampai ditipu dan disesatkan iblis.

    BERTUMBUH DALAM TABIAT SEPERTI KRISTUS
    Lima hal di atas itu adalah dasar untuk bertumbuh dalam tabiat Kristus (sebab orang yang lahir baru sudah mempunyai benih tabiat baru seperti Kristus), tetapi ukuran benih ini masih harus ditumbuhkan terus sampai ukuran dewasa).
    Tumbuh artinya meningkat terus menerus sedikit demi sedikit sampai akhirnya mencapai ukuran penuh, seperti Kristus.
    Tumbuh dalam pengertian Firman Tuhan.
    Ada banyak kebenaran2 yang terkait dengan setiap tabiat, yang berhubungan satu sama lain .
    Misalnya untuk mempunyai pengertian dan pendirian yang sehat dan betul tentang uang lalu menghasilkan tabiat tentang uang seperti Kristus, kita perlu belajar dari seluruh Alkitab.
    Ini tidak bisa sekaligus, tetapi bertumbuh, sehingga tabiat kita tentang uang menjadi sempurna karena mengerti kebenaran tentang uang seperti yang ada dalam diri Ibrahim, Yakub, Daud, Yusuf dll.
    Begitu juga tentang penyerahan, tentang sombong dan rendah hati, tentang perzinahan, benci, iri, jujur dsb.
    Kita bisa membagi untuk setiap tabiat dalam dua bagian yaitu :

    A. Yang sudah diketahui, ini yang harus kita lakukan .
    Apalagi kalau kita tahu ada banyak pelanggaran dalam tabiat itu, misalnya tentang marah, benci, sombong dll.
    Kalau sudah taHu, berusahalah berubah dengan berdoa, belajar Firman Tuhan tentang hal itu , pakai semua fasilitas Allah.
    Jangan biarkan tabiat yang salah merajalela terus dalam hidup kita setiap hari.
    Tuhan sanggup menolong kita menanggalkan tabiat yang lama dan memakai tabiat yang baru yang seperti Kristus.
    Tuhan sanggup menolong kita asal kita mau.
    Kalau ada tipu daya iblis atau pengertian yang keliru, minta nasehat saudara seiman dan terus berusaha, pasti bisa sebab adalah kehendak Tuhan bagi kita untuk hidup dengan tabiat baru seperti Kristus, bukan kehendak Tuhan untuk menjadi hamba dosa dalam tabiat daging, tabiat lama.
    Kita sudah merdeka, pasti bisa, sebab itu adalah kehendak Allah Yang Maha Kuasa, asal kita mau diolah

    B. Yang belum diketahui / belum jelas.
    Orang itu tidak bisa berubah kepada yang belum diketahui.
    Sebab itu perlu terus belajar Firman Tuhan sehingga bagian2 hidup kita yang masih gelap bisa diterangi ! Tetapi setiap tabiat yang salah yang sudah kita ketahui, harus dibuang,ditanggalkan dengan pertolongan Rohkudus sampai tuntas.
    Tumbuh dalam pimpinan Roh.
    Orang yang makin mahir hidup dipimpin Roh akan makin berubah tabiatnya, makin seperti Kristus. Rohkudus itu hidup, Penolong pribadi yang selalu ada dan selalu bicara, asal kita mau mendengar dan mau taat dipimpin Roh.
    Dia tahu mana2 kekurangan kita dan bagaimana mengolah atau memproses kita secara pribadi. Rohkudus adalah Allah Yang Maha Tahu, Maha Kuasa, Kasih, Maha Baik, pasti Ia mengerti bagaimana memproses kita dengan efektif sesuai dengan ukuran kita.
    Sebab itu kita perlu belajar tekun berdoa dalam Roh dan terus taat pada pimpinanNya, terus ada dalam pengolahanNya, maka pasti tabiat kita akan terus bertumbuh makin seperti Kristus.

    Kematangan tabiat setiap orang tidak sama.
    Ada yang matang lebih dahulu dalam hal uang, yang lain dalam kerendahan hati, yang lain dalam kasih antara suami – istri dst.
    Yang kuat menolong yang lemah dalam segi2 hidup (tabiat) yang ia sendiri sudah matang.
    Ini berlaku baik dalam hal2 jasmani juga dalam hal2 rohani.
    Kita perlu saling menasehati, saling mendidik.
    Jangan sakit hati atau malu atau tersinggung kalau dinasehati atau diajari, sebab itu berarti sombong. Orang sombong tidak mau ditunjukkan kesalahan atau kekurangannya, tidak suka dinasehati apalagi dididik.
    Orang yang tidak bisa dinasehati itu tanda bahwa hatinya keras dalam dosanya, orang ini akan cepat binasa.
    Tetapi orang yang bisa dinasehati dan mau berubah, akan lepas dari segala kegagalan dan celaka, suksesnya bertambah dan tabiatnya akan tumbuh makin indah dan mulia seperti Kristus.

    Diagnosa itu mahal, sebab seringkali orang tidak sadar akan kekurangannya sendiri.
    Sebab itu dengan kasih dan kesucian, termasuk rendah hati, kita perlu saling menasehati dan saling menguatkan.
    Bukan hanya suami – istri (ini sangat berfaedah, sangat efektif) tetapi juga dalam persekutuan tubuh Kristus.
    Berubahlah jangan keras hati, itu celaka.
    Jangan sombong melihat satu atau dua tabiat orang lain yang jelek, itu tanggung jawabnya sendiri dan satu kali ada akibatnya.
    Ingat kematangan tabiat masing2 tidak sama cepatnya .
    Jangan melihat kekurangan tabiat orang lain; bisa melihat tabiat sendiri yang belum matang, itu besar faedahnya.
    Minta tolong pada Tuhan Yesus dan saling menolong satu sama lain dengan nasehat dan doa, maka semua sama2 tumbuh dan menjadi indah.
    Tuhan memberkati dan menumbuhkan kita semua, amien.

    M A C : 8.March.2010

    • Shalom Machmud,

      Terima kasih atas sharingnya tentang bagaimana kita bertumbuh di dalam Kristus. Yang disampaikan bahwa kita harus berubah seperti Kristus adalah benar, karena untuk itulah Kristus datang, yaitu memberikan kita Roh Kudus, sehingga kita mampu untuk mengikuti Kristus. Berikut ini adalah tanggapan singkat tentang tulisan Machmud:

      1) Merubah tabiat dengan ukuran Firman Tuhan. Tentu saja hal ini benar, karena “Segala tulisan yang diilhamkan Allah memang bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran” (2 Tim 3:16). Yang menjadi masalah bukanlah Firman Tuhannya, karena Firman Tuhan adalah kekal dan tak berubah. Yang menjadi masalah adalah diri kita dalam mengerti kebenaran Firman Tuhan. Ini juga ditegaskan oleh rasul Petrus, di mana dia mengatakan “Hal itu dibuatnya dalam semua suratnya, apabila ia berbicara tentang perkara-perkara ini. Dalam surat-suratnya itu ada hal-hal yang sukar difahami, sehingga orang-orang yang tidak memahaminya dan yang tidak teguh imannya, memutarbalikkannya menjadi kebinasaan mereka sendiri, sama seperti yang juga mereka buat dengan tulisan-tulisan yang lain.” (2 Pet 3:16)

      a) Dengan demikian, dengan rendah hati, kita menyadari keterbatasan kita, sehingga kita juga perlu mendengar apa yang dikatakan oleh jemaat perdana. Dan bagi umat Katolik, kita perlu mendengar dan melaksanakan apa yang dikatakan oleh Gereja. Saya mengambil contoh, seperti kasus kontrasepsi. Semua gereja – baik Gereja Katolik, Ortodoks, Protestan, dll – sebelum tahun 1930 menyetujui bahwa kontrasepsi adalah berdosa. Namun perlahan-lahan setelah satu demi satu, banyak gereja mulai mengatakan bahwa kontrasepsi tidak berdosa, sampai hanya Gereja Katolik-lah yang tetap menyatakan bahwa kontrasepsi adalah berdosa. Dalam kasus seperti ini, dari manakah umat tahu tentang kebenaran ini? Semua gereja mendasarkan pengertiannya dalam Firman Tuhan.

      b) Kita harus menyadari bahwa ada kebenaran-kebenaran yang diambil dari kebenaran yang lain. Kita tidak menemukan secara eksplisit (kata demi kata) di dalam Alkitab bahwa kontrasepsi dilarang oleh Tuhan, namun kebenaran ini terlihat dari bebeberapa kebenaran yang lain, seperti: tujuan penciptaan, kasih antara suami istri yang saling memberi, partisipasi manusia dalam penciptaan, dll. Contoh yang lain adalah: apakah benar bahwa Yesus sendiri hadir secara nyata (tubuh, jiwa dan ke-Allahan-Nya) dalam setiap Sakramen Ekaristi?, Apakah Yesus mendirikan Gereja Katolik?, dll. Mengapa dengan Alkitab yang sama, namun beberapa gereja mempunyai interpretasi yang berbeda-beda? Manakah yang harus dipegang sebagai suatu kebenaran?

      c) Dengan demikian, kalau kita mau benar-benar bertumbuh di dalam Kristus, kita juga harus mendengarkan Gereja. Dan bagi umat Katolik, kita harus mendengarkan Magisterium Gereja Katolik, sehingga kebenaran dapat menjadi sesuatu yang bersifat obyektif dan tidak subyektif. Kebenaran tidak tergantung dari masing-masing pribadi, karena kebenaran adalah sesuatu yang bersifat obyektif.

      d) Tentang sikap-sikap yang harus dicapai, dapat disarikan sebagai mengasihi Tuhan dengan segenap hati, segenap jiwa, segenap akal budi dan segenap kekuatan, serta mengasihi sesama seperti dirimu sendiri. Dan kalau mau disarikan lagi dalam satu kata, kita mendapatkan kata “kekudusan”, yaitu mengasihi Allah dan mengasihi sesama atas dasar kasih kita kepada Allah.

      2) Point ke-2 bagus, karena untuk mengikuti Tuhan, kita memang harus memikul salib kita. Yang penting adalah memikul salib kita bersama Yesus, sehingga kita dapat memikulnya dengan sukacita.

      3) Untuk menjalankan hal-hal di atas, kita memerlukan rahmat Tuhan. Gerbang dari rahmat ini adalah Sakramen Baptis, di mana kita harus memupuknya dengan doa pribadi, Firman Tuhan, berakar pada Sakramen – terutama Sakramen Ekaristi dan Sakramen Tobat, komunitas umat beriman.

      4 & 5) Tentang Mau dan percaya: St. Thomas Aquinas ketika ditanya “bagaimana untuk menjadi seorang santa-santo?” Dia menjawab “will it / menginginkannya“. Namun, untuk menginginkan hidup kudus, kita juga membutuhkan rahmat Tuhan, terutama untuk mempertahankan kemauan ini dan melakukannya secara konsisten. Dan tentu saja kita harus percaya, bahwa apa yang diperintahkan oleh Yesus (kekudusan) adalah perintah yang mungkin dilakukan, karena Roh Kristus sendiri yang memampukan umat Allah untuk hidup kudus, seperti yang telah ditunjukkan oleh para santa-santo sepanjang sejarah Gereja.

      Tentang hal-hal lain, tentang bertumbuh dalam tabiat seperti Kristus, sebenarnya dapat disarikan dalam “kerendahan hati”. Kerendahan hati ini merupakan ibu dari segala kebajikan yang melawan kesombongan, yang merupakan ibu dari segala dosa. Tentang kerendahan hati dapat di baca di sini (silakan klik). Hanya dengan kerendahan hati, seseorang dapat bertumbuh dalam kekudusan.

      Itulah tanggapan yang dapat saya berikan terhadap artikel yang dibuat Machmud. Tentang pertumbuhan, Machmud dapat melihat di artikel ini (silakan klik) dan juga beberapa program pertumbuhan di sini (silakan klik).

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      stef – http://www.katolisitas.org

    • Dear Bung Machmud,
      Thanks anda sharing pengetahuan dan pengalaman hidup. Anda sudah menjalankan semangat oikumene dengan baik.
      Kami doakan anda senantiasa diberkati dan dilindungi Bapa di Surga dalam pergumulanmu mencari kebenaran ilahi dengan hati yang jujur.
      Perkenankan kami berpendapat sebagai berikut: kita perlu mempelajari sejarah gereja secara objektif. Kita mengetahui banyak kesalahan yang dilakukan oleh oknum yang mengaku diri sebagai pengikut Kristus. Namun, kesalahan oknum tidak dapat dijadikan alasan memisahkan diri dari gereja yang satu kudus,katolik dan apostolik.
      Kita tidak mengalami situasi abad ke 16, tetapi kita merasakan dampak dari perpecahan gereja katolik. Bukan maunya kita terpecah atau saling memisahkan diri, tetapi kita terlanjur berada dalam sikon tertentu yang menyebabkan kita berada di lingkungan katolik atau protestan atau bahkan agama lain. Hal itu membuat persepsi kita dibangun dengan paham-paham lingkungan hidup kita. Kalau lingkungan kita terlanjur memiliki paham yang salah, kita pun ngotot mempertahankan paham yang salah tersebut. Sangat manusiawi.
      Namun, sebagai pribadi yang berupaya mencari kebenaran dalam bimbingan Roh Kudus, layaklah kita senantiasa membuka diri untuk lebih menangkap kebenaran dari hari ke hari. Kita tidak mampu menangkap kebenaran sekaligus, perlu waktu dan rahmat ilahi.
      Ternyata banyak orang ekstrim anti dan sangat benci katolik akhirnya kembali ke panggilan pangkuan Bunda Gereja. Contoh : Scott Hahn dan Kimberley Han, David B Curie, Peter Kreeft.
      Bacalah buku-buku karangan beliau antaranya : Rome sweet Home, Mengapa aku berpindah ke Katolik dan lain-lain. silakan cari karangan 2 mereka lewat search google.Syalom

  5. Dear Machmud….

    Dari pernyataan anda, anda bukan seorang Katolik, setelah anda menyimak dan membaca semua artikel di web ini, tidak kah anda melihat betapa kaya nya iman Katolik ini….semua pengajaran tersusun dengan rapih dan dapat langsung ditelusuri urutannya sampai gereja perdana….Semuanya alkitabiah….Tidakkah roh anda terketuk untuk bersatu kembali dengan kesatuan seluruh kepenuhan kebenaran dalam jemaat yang didirikan oleh Tuhan Yesus sendiri yaitu GerejaNya yang bercirikan satu,kudus,katolik dan apostolik sesuai dengan pengakuan iman rasuli?

    Semua pertanyaan kita pun terjawab dengan baik dan benar oleh sdr Stef dan Inggrid (thanks God for these chosen diciples…). Ini baru jawaban dari awam Katolik saja (sdr Steff dan Inggrid), belum secara detail dijawab dari perumus2 ajaran iman yang benar yaitu magisterium gereja…..Bisakah kita bayangkan betapa dalam dan luasnya pengajaran iman di Gereja ini?

    O…alangkah indahnya rumah Mu ini ya Tuhan…Sungguh Engkaulah yang merancangnya…..sehingga Engkau pun berjanji padanya bahwa alam maut tidak akan menguasainya dan Engkau sendiri akan menyertainya sampai kepada kesudahan jaman…….Terimakasih Tuhan………Aku mau diam di rumahMu ini sepanjang hidupku dan memuji Engkau di dalamnya.(johanes)

    • Salam damai sejahtera

      Dear Johanes

      Terima kasih atas perhatian Yohanes kepada saya, tapi mohon maaf saya tidak bisa menuruti ajakan anda yang begitu mulia untuk menjadi seorang Katolik.
      Tuhan Yesus memanggil saya tidak di dalam Gereja Katolik, dan saya harus setia pada panggilan Tuhan.
      Saya tahu dan mengerti bahwa gereja Katolik begitu indah memberikan pengajaran bagi umatnya, tapi sayang saya bukan terpanggil didalam gereja Katolik.
      Jika saya tidak setia pada yang memanggil saya, bukankah itu berarti saya mendukakan hatiNya, kalau didalam perkara yang kecil saja saya sudah tidak bisa setia bagaimana Dia akan mempercayakan pada saya perkara yang besar ?
      Iman dan percaya saya tidak akan goyah dengan kasih yang mula2 yang diberikan Tuhan Yesus kepada saya.
      Biarlah saya tetap disini dan sebagai saudara seiman (walaupun tidak sama) marilah kita saling mendoakan satu sama lain supaya kita tidak jatuh dalam mengiring Tuhan kita .
      Apa yang tidak pernah didengar oleh telinga, apa yang tidak pernah dilihat oleh mata dan apa yang tidak pernah timbul dalam hati itulah yang disediakan oleh Allah bagi orang2 yang mengasihi Dia.
      Inilah janji Tuhan yang diberikan pada saya. Jadi sekali lagi saya mohon untuk dimaafkan.

      Salam
      mac

      • Shalom Machmud dan Yohanes,
        Machmud, kami juga meyakini bahwa panggilan menjadi anggota Gereja Katolik datang dari Tuhan Yesus sendiri, jadi bukan dari sesama umat Katolik. Sebagai umat Katolik kami hanya menyampaikan kebenaran yang kami yakini ada di dalam Gereja Katolik dan selanjutnya, memang tergantung dari yang mendengarkannya, dan kami tidak memaksa, sebab Tuhan Yesus juga tidak memaksa.
        Jadi jika anda tidak merasa terpanggil, tidak apa- apa, tidak perlu memohon maaf kepada kami. Mari kita memohon kepada Tuhan Yesus agar Roh Kudus-Nya membimbing kita kepada seluruh Kebenaran seperti yang dijanjikan-Nya.

        Yohanes, saya memahami maksud baik anda, dan memang demikianlah juga yang menjadi kerinduan saya, agar setiap orang yang dengan tulus mencari Tuhan dan kebenaran-Nya akan menemukan-Nya di dalam Gereja yang didirikan-Nya di atas Rasul Petrus, yaitu Gereja Katolik. Namun kita tidak dapat memaksakan keyakinan kita. Mari kita biarkan Roh Kudus sendiri bekerja di dalam diri kita masing-masing, dan kita serahkan segalanya ke dalam tangan Tuhan. Pastilah Ia yang paling mengetahui segala yang terbaik bagi semua orang akan juga menuntun setiap dari kita untuk menanggapi panggilan-Nya.

        Mari kita menutup diskusi ini dengan saling menghormati dan menghargai keputusan dan pandangan masing-masing dengan mempercayakan segala sesuatunya kepada pimpinan Allah. Roda kehidupan kita terus berjalan, dan pasti Tuhan akan menyatakan kehendak-Nya pada waktunya.

        Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
        Ingrid Listiati- http://www.katolisitas.org

      • Dear Machmud,

        Berbicara tentang kesetiaan sebenarnya ini adalah suatu cambuk buat kalangan Protestan. Kalau kita bisa mengembalikan waktu, mestinya kita akan bertanya kepada Martin Luther dan kawan2 …Apakah arti kesetiaan dan lebih dalam lagi…”ketaatan”?

        [dari katolisitas: mereka akan memberikan argumentasi bahwa Martin Luther setia terhadap Alkitab dan taat terhadap Firman Allah]

    • Shalom Asih,
      Pertanyaan anda sederhana, tetapi jawabannya tidak sederhana. Sebab yang pertama-tama, jika kita ingin membantu pertumbuhan iman orang lain, kita sendiri harus bertumbuh juga. Prinsipnya, jika kita ingin membagikan sesuatu, kita sendiri harus terlebih dahulu mempunyai ‘sesuatu’ itu, sebab kita tidak bisa membagikan sesuatu yang kita sendiri tidak punya.

      1. Maka prinsip yang pertama adalah: anda (dan saya juga) harus bertumbuh dalam iman Katolik. Artinya, seperti yang telah dijabarkan dalam artikel di atas, kita sendiri harus berakar dalam doa, membaca dan merenungkan Sabda Tuhan (Kitab Suci), memperoleh sakramen-sakramen terutama Ekaristi dan Tobat, bertumbuh dalam komunitas Gereja dan terus mempelajari iman Katolik, entah dari buku-buku atau media yang lainnya. Secara rohani juga sebaiknya kita mempunyai seorang Romo pembimbing rohani di mana kita dapat mengaku dosa secara teratur, misalnya sebulan sekali. Ini penting dalam pertumbuhan iman, terutama dalam menghilangkan akar kebiasaan-kebiasaan buruk dan dosa-dosa yang sering kita lakukan.
      2. Sesudah kita sendiri bertumbuh, atau setidaknya saat kita sendiri sudah melakukannya hal- hal di atas, maka semoga kita dapat menunjukkan dengan perkataan dan perbuatan, apa yang sekiranya dibutuhkan untuk menumbuhkan iman saudara/i kita.
      – Kita dapat memberi penghiburan, jika mereka kesusahan, misalnya dengan memberikan perhatian-perhatian sederhana, dan dapat pula disertai dengan ayat-ayat dari Kitab Suci. Perhatian dapat ditunjukkan lewat telepon, sms atau surat, atau jika mungkin, bertemu.
      – Kita dapat mengajak mereka untuk bergabung dalam kegiatan komunitas Gereja di paroki sesuai dengan bakat/ minat saudara/i kita. Misalnya jika ia senang menyanyi, ajaklah ikut koor gereja, atau jika ia menyukai doa rosario dan melakukan kunjungan/ pelayanan ajaklah ikut Legio Mariae; atau jika ia senang mengikuti kegiatan pasangan suami istri, ajaklah ikut ME (Marriage Encounter) atau CFC (Couples for Christ) di paroki anda; dan masih banyak contoh lain-nya.
      – Jadilah baginya pendengar yang baik: jangan terlalu menggurui. Dengarkan terlebih dahulu apa yang menjadi keinginannya, beban hidupnya, dst. Setelah anda lebih mengenalnya dan kebutuhan rohaninya, baru anda dapat lebih baik memperkenalkan Kristus kepadanya dengan cara yang lebih sesuai dengan kebutuhannya.
      – Bawalah mereka di dalam doa-doa pribadi anda, entah di pagi hari atau sore hari, atau bahkan di sepanjang hari, saat sebelum dan sesudah makan, atau bahkan dalam pikiran anda saat anda berdoa singkat di sepanjang hari itu. Anda dapat mendoakan bagi pertobatan maupun pertumbuhan saudara/i kita, dan ini dapat pula diikuti dengan berpuasa ataupun berpantang. Maka pantang dan puasa kita bukan saja untuk melatih kita menahan diri, tetapi juga untuk melatih kita sedikit berkorban demi mendoakan orang lain.
      – Jika anda sudah saling mengenal dengan orang yang anda doakan, anda dapat saling membagikan pengalaman hidup sehari-hari; atau anda dapat pula membagikan buku- buku rohani yang bagus, yang sudah membantu anda untuk bertumbuh di dalam iman. Dengan demikian, harapannya orang itupun akan mengalami hal yang sama. Jika memungkinkan, janganlah ragu untuk membagikan kisah pengalaman rohani anda.
      – Jika anda mengetahui kebutuhan/ kesulitan orang tersebut, dan anda dapat membantunya, janganlah segan-segan membantunya dalam perbuatan nyata.

      Demikian yang bisa saya sampaikan untuk pertanyaan anda. Tidak mudah memang, sebab ini menyangkut perubahan dan pertumbuhan rohani diri kita sendiri juga.

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      Ingrid Listiati- http://www.katolisitas.org

  6. salam damai semuanya..
    bagaimana cara kita untuk meningkatkan iman kita sebagai seorang katholik sejati. yang selalu di hadapin dengan cobaan yang byk n berat. mohon bimbingannya.thks.

    • Shalom Falensya,
      Saya memindahkan pertanyaan anda ke bawah artikel ini karena kelihatan lebih berhubungan. Saya rasa artikel di atas sudah menjawab pertanyaan anda, silakan klik di sini untuk memulai membacanya dari atas. Secara singkat untuk meningkatkan iman dan bertumbuh di dalam iman, kita harus lebih rajin beroda, membaca dan merenungkan Kitab Suci, menerima Sakramen-sakramen terutama Ekaristi dan sakramen Tobat, bertumbuh di dalam Gereja, dan harus terus mempelajari iman kita.
      Dengan demikian kita melakukan perlengkapan rohani (lih. Ef 6:10-20) sehingga kita dikuatkan oleh Allah sendiri untuk menghadapi ujian hidup ini.
      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      Ingrid Listiati- http://www.katolisitas.org

        • Shalom Machmud,

          Bagi umat Katolik, mempelajari iman merupakan proses seumur hidup yang tidak ada habisnya, karena begitu banyaknya sumber yang bisa dipelajari.

          1. Kitab Suci
          Tentu yang pertama-tama kita mempelajari iman kita dengan mempelajari Kitab Suci. Kita bisa merenungkan ayat-ayat Kitab Suci setiap hari berdasarkan bacaan harian yang ditentukan oleh Kalender Gereja, seperti yang juga kami tuliskan di sini, silakan klik, atau dari Ibadat Harian, ataupun merenungkan sendiri ayat-ayat tertentu. Atau, kita bisa membaca Alkitab dari halaman pertama sampai terakhir dengan mulai membacanya beberapa bab sehari. Biasanya jika demikian, kita memulai dari kitab Injil, disusul Perjanjian Baru terlebih dahulu, dan baru kemudian Perjanjian Lama. Tetapi ini juga bukan patokan, sebab dapat pula seseorang membaca dengan urutan yang berbeda.

          Di atas semua itu, yang terpenting bukan hanya sekedar membaca, ataupun menghafalkannya, (walaupun kalau bisa hafal tentu baik) tetapi meresapkannya, dan melakukannya.

          2. Katekismus Gereja Katolik
          Setelah Kitab Suci, kita dapat mempelajari Katekismus Gereja Katolik, yang dituliskan berdasarkan Alkitab. Di setiap halamannya terdapat ayat-ayat Alkitab yang dihubungkan dengan pengajaran yang berkaitan dengan iman dan moral. Menurut saya pribadi, Katekismus Gereja Katolik merupakan dokumen yang sangat penting untuk memahami iman Kristiani. Katekismus terbagi menjadi 4 bagian besar yaitu: 1) Penjelasan tentang makna iman Kristiani seperti yang terdapat dalam Syahadat para rasul; 2) Perayaan misteri Kristiani dalam sakramen- sakramen; 3) Penjelasan tentang Hidup di dalam Kristus; 4) Penjelasan tentang Doa.

          3. Dokumen Magisterium Gereja
          Secara khusus Dokumen Konsili Vatikan II seperti yang ada di sini, silakan klik, terutama: 1) Dei Verbum (Konstitusi Dogmatis tentang Wahyu Ilahi, 2) Lumen Gentium (Konstitusi Dogmatis tentang Gereja) 3) Sacrosanctum Concilium (Konstitusi tentang Liturgi Suci); 4) Gaudium et Spes (Konstitusi Pastoral tentang Gereja dalam Dunia Modern).

          Kita dapat pula membaca surat-surat ensiklikal dan wejangan apostolik dari Bapa Paus, yang biasanya sarat dengan acuan ayat-ayat Alkitab, yang dijelaskan dalam kaitannya dengan topik yang sedang dibahas. Jumlah tulisan-tulisan ini sangat banyak. Paus Yohanes Paulus II sendiri menuliskan sekitar kurang lebih 60- an dokumen pengajaran yang menurut saya pribadi, sangat indah dan mendalam. Paus Benediktus XVI sejauh ini menuliskan 3 buah surat ensiklik: Tuhan itu Kasih (Deus Caritas est), Di dalam Pengharapan kita diselamatkan (Spe Salvi), dan Di dalam Kasih dan Kebenaran (Caritas in veritate)

          4. Tulisan para Bapa Gereja dan Para Kudus
          Yang cukup membantu menjelaskan iman Katolik misalnya adalah ajaran dari St. Thomas Aquinas dalam Summa Theologica, dan St. Agustinus, dalam banyak karya-karyanya (yang bahkan jumlah nya lebih banyak/ tebal dari kitab suci).

          Kita juga dapat mempelajari riwayat hidup para orang kudus, yang sungguh membuka wawasan kita dan kita dapat belajar dari teladan hidup mereka, bagaimana caranya mengasihi Tuhan dan sesama, sampai pada titik yang sangat heroik, demi kasih kita kepada Kristus. Dengan demikian kita dapat melihat dengan jujur bahwasanya kita itu masih belum apa-apa, masih perlu belajar dan berjuang keras untuk hidup kudus.

          5. Buku- buku rohani Katolik

          Saya banyak belajar iman Katolik juga dari mereka yang benar-benar telah mendalami iman Katolik. Saya menyukai membaca tulisan Paus Benediktus XVI misalnya buku Jesus of Nazareth (yang ditulisnya bukan kapasitasnya sebagai Paus tetapi sebagai peneliti Alkitab); atau buku Theology of the Body (karangan Paus Yohanes Paulus II) beserta penjelasannya yang dituliskan oleh Christopher West.

          Kalau mau sedikit yang lebih ringan, saya menyukai buku-buku karangan Scott Hahn, seperti Rome Sweet Home, The Lamb Supper, Hail Holy Queen, The Father who Keeps His promises, dst. Atau buku yang diedit oleh Patrick Madrid, Surprised by Truth 1 & 2. Dan buku-buku Apologetik lainnya, seperti yang dikarang oleh Fr. Frank Chacon dan Jim Burnham.

          6. Melalui EWTN (Eternal World Television Network) maupun sarana media Katolik lainnya.

          Saya menyukai EWTN, terutama program pengajaran dari Mother Angelica, dan siaran Journey Home yang memuat kesaksian banyak orang yang bergabung ke dalam Gereja Katolik, entah memang karena dulunya Katolik tetapi pernah meninggalkan iman Katolik, atau yang dari non- Katolik menjadi Katolik.

          7. Membina persahabatan dengan mereka yang telah sungguh-sungguh mendalami dan menjalani iman Katolik.

          Saya rasa ini sangat penting, karena dengan bersahabat dengan mereka yang sungguh-sungguh telah dan sedang terus bertumbuh di dalam iman, maka kita dapat termotivasi untuk mengikuti teladan hidup mereka. Kita dapat pula menanyakan dan berdiskusi mengenai hal iman kepada mereka.

          8. Mempunyai pembimbing rohani

          Pembimbing rohani ini maksudnya adalah imam, yang kepadanya saya mengaku dosa (dalam sakramen Pengakuan Dosa), dan yang kepadanya saya mendiskusikan jika ada pertanyaan yang penting dalam hal iman ataupun masalah/ keputusan penting yang harus diambil dalam hidup saya.

          9. Mengambil pendidikan formal dalam hal iman Katolik, atau mengikuti program katekese umat di paroki atau di tempat lainnya.

          Memang tak semua orang memperoleh kesempatan, namun jika bisa saya pikir adalah baik jika untuk mempelajari iman, kita mengikuti program pendidikan formal tentang iman; ataupun mengikuti program katekese/ pendidikan iman Katolik di paroki. Jika dipandang baik, silakan pula mengikuti rubrik pertumbuhan dan pembaharuan rohani di situs ini, silakan klik. Semua ini akan sangat membantu dalam proses pembelajaran iman.

          10. Berdoa, dan menyambut Sakramen terutama Ekaristi dan sakramen Tobat.

          Di atas semua itu, langkah yang tak boleh dilupakan dalam proses pembelajaran dan penerapan iman adalah doa dan sakramen, sebab di sanalah Tuhan Yesus sendiri hadir dan memampukan kita untuk memahami iman kita dengan lebih baik dan menerapkannya. Tentang mangapa Ekaristi menjadi sumber dan puncak kehidupan Kristiani, silakan klik di sini.

          Selanjutnya, hal penerapan iman dalam kehidupan sehari-hari memang merupakan tantangan. Maka diperlukan juga sikap keterbukaan dan kerendahan hati untuk menerima pengajaran dalam hal iman, dan untuk selalu memperbaiki diri menuju kebaikan. Menurut saya, kekerasan hati yang menganggap bahwa pengertian sendiri sudah pasti benar, tanpa mau mempelajari pengajaran yang disampaikan oleh sumber-sumber di atas adalah suatu bentuk kesombongan. Demikian pula menganggap bahwa ‘Roh Kudus ada pada saya, dan orang lain tidak punya Roh Kudus’ itu juga bukan sikap kerendahan hati yang diperlukan untuk pemahaman iman. Sikap demikian malah bisa membuat orang terjatuh dalam perangkap ‘sombong rohani’, sesuatu yang bahkan menjadi bukti bahwa kita tidak sungguh-sungguh memahami iman Kristiani. [Maka ajakan untuk mempelajari iman dan menerapkannya ini tidak hanya untuk Machmud, tetapi untuk kita semua yang mau bertumbuh, temasuk saya sendiri]. Sebab inti iman Kristiani adalah kasih (atau kata lainnya adalah kekudusan), dan dasar dari kasih ini adalah kerendahan hati. Silakan membaca mengenai kerendahan hati sebagai dasar dan jalan menuju kekudusan, silakan klik. Dan tentang kekudusan, silakan klik.

          Demikian yang sedikit dapat saya tuliskan tentang pertanyaan anda. Semoga ada manfaatnya bagi anda, dan bagi kita semua.

          Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
          Ingrid Listiati- http://www.katolisitas.org

          • Salam damai sejahtera

            Dear Ingrid,

            Terima kasih atas uraiannya tentang : caranya mempelajari iman dan menjalani kehidupan ini setiap harinya, menurut pengajaran Gereja Katolik.

            Tetapi saya bukan orang Katolik, jadi saya tidak mempelajari pengajaran Gereja Katolik.
            Saya hanya ingin mengetahuinya saja pengajaran Gereja Katolik.
            Semua tulisan yang saya tuliskan di situs ini hanyalah untuk menyampaikan pendapat saya pribadi dan saya tidak pernah berpendapat bahwa tulisan saya pasti benar.
            Maksud saya dengan menyampaikan tulisan tsb saya berharap Ingrid mau menolong mengingatkan saya jika ada tulisan saya yang melenceng dari Alkitab, tetapi saya tidak mungkin harus menulis seperti yang diajarkan oleh Gereja Katolik, sebab saya tidak pernah belajar tentang itu.
            Dan point yang terpenting saya tidak pernah menganggap orang lain tidak dipenuhi oleh Rohkudus.
            Hanya saja perlu diingat bahwa saya tidak bisa menulis tentang Alkitab jika saya tidak dibimbing oleh Rohkudus, sebab saya ini tidak tahu apa2.
            Sebab oleh dorongan Rohkudus saya tuliskan apa yang sudah disampaikan pada saya.
            Apakah karena itu saya dianggap punya kesombongan rohani ?
            Apakah saya tidak boleh menyampaikan bahwa semua yang saya terima itu adalah anugerah Allah ?
            Semoga Ingrid dan Stef bisa memaklumi keadaan saya yang sebenarnya.

            Setelah saya mempelajari, mendalami dan merenungkan Alkitab, serta membaca tulisan2 di situs ini , saya menemukan cara untuk menjalani kehidupan ini sesuai kehendak Tuhan.

            Tolong jangan tulisan dibawah ini dianggap sebagai kesombongan rohani :

            HARI INI
            Ukuran atau takaran hidup kita setiap kali adalah satu hari
            (Mat 6 : 34 = Sebab itu janganlah kamu kuatir akan hari besok, karena hari besok mempunyai kesusahannya sendiri. Kesusahan sehari cukuplah untuk sehari)

            Sebab itu kita harus memperhatikan hidup rohani dan jasmani hari ini, setiap hari.
            Jangan menunda sampai besok !
            Kemarin2 kita sudah percaya pada Tuhan Yesus dan sudah beroleh selamat.
            Hari ini kita tetap selamat, kecuali yang belum bertaubat.
            Orang yang belum bertaubat, baginya hari ini adalah hari keselamatan
            (2Kor 6 : 1-2 = Sebagai teman-teman sekerja, kami menasihatkan kamu, supaya kamu jangan membuat menjadi sia-sia kasih karunia Allah, yang telah kamu terima. Sebab Allah berfirman: “Pada waktu Aku berkenan, Aku akan mendengarkan engkau, dan pada hari Aku menyelamatkan, Aku akan menolong engkau.” Sesungguhnya, waktu ini adalah waktu perkenanan itu; sesungguhnya, hari ini adalah hari penyelamatan itu.)

            Jangan tunda, esok belum tentu ada kesempatan dan hati menjadi makin keras, makin sukar, makin berat.
            Juga yang berjalan salah atau berbuat dosa, hari ini bertaubatlah, jangan menunda, sebab itu berarti keras hati
            (Ibr 3 : 15 = Tetapi apabila pernah dikatakan: “Pada hari ini, jika kamu mendengar suara-Nya, janganlah keraskan hatimu seperti dalam kegeraman)

            Hari ini kita tetap hidup suci di hadapan Allah.
            Hari ini kita berjalan dengan Allah dalam kesucian
            (Kej 6 : 9 = dan Nuh itu hidup bergaul dengan Allah Kej17 : 1 = hiduplah di hadapan-Ku dengan tidak bercela & 1 Raj 17 : 1= Lalu berkatalah Elia, orang Tisbe, dari Tisbe-Gilead, kepada Ahab: “Demi Tuhan yang hidup, Allah Israel, yang kulayani, sesungguhnya tidak akan ada embun atau hujan pada tahun-tahun ini, kecuali kalau kukatakan)

            Tiap hari kita selamat di dalam Tuhan dan se-waktu2 kita tidak takut menghadap Tuhan (Amos 4 : 12 = maka bersiaplah untuk bertemu dengan Allahmu, hai Israel!)

            Hari ini kita kuat di dalam Tuhan, tidak mungkin jatuh, sebab kita berjalan dengan Tuhan (Zak 4 : 6 = Maka berbicaralah ia, katanya: “Inilah firman TUHAN kepada Zerubabel bunyinya: Bukan dengan keperkasaan dan bukan dengan kekuatan, melainkan dengan roh-Ku, firman TUHAN semesta alam. & Gal 5 : 16 = Maksudku ialah: hiduplah oleh Roh, maka kamu tidak akan menuruti keinginan daging.)

            Hari ini adalah milik kita, esok belum tentu milik kita
            (Amos 7 : 1-2 = Inilah yang diperlihatkan Tuhan ALLAH kepadaku: Tampak Ia membentuk kawanan belalang, pada waktu rumput akhir mulai tumbuh, yaitu rumput akhir sesudah yang dipotong bagi raja. 7:2 Ketika belalang mulai menghabisi tumbuh-tumbuhan di tanah, berkatalah aku: “Tuhan ALLAH, berikanlah kiranya pengampunan! Bagaimanakah Yakub dapat bertahan? Bukankah ia kecil?),
            kita tidak tahu tentang hari esok
            (Yak 4 : 13-15 = Jadi sekarang, hai kamu yang berkata: “Hari ini atau besok kami berangkat ke kota anu, dan di sana kami akan tinggal setahun dan berdagang serta mendapat untung”,4:14 sedang kamu tidak tahu apa yang akan terjadi besok. Apakah arti hidupmu? Hidupmu itu sama seperti uap yang sebentar saja kelihatan lalu lenyap. 4:15 Sebenarnya kamu harus berkata: “Jika Tuhan menghendakinya, kami akan hidup dan berbuat ini dan itu.”).

            Tetapi hari ini Tuhan berikan kepada kita, kita harus menerimanya dengan betul.
            Dengan Tuhan hari ini kita pasti menang.
            Setiap hari bukan saja kita hidup benar, tetapi juga taat melakukan kehendak Bapa
            (Mat 7 : 21 = Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan! akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga, melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di sorga.)

            Belajar saling mengasihi satu sama lain tanpa mau terhalang oleh hal2 yang sia2.
            Belajar sebagai anggota tubuh Kristus untuk saling menguatkan, baik dengan kata2, juga dengan perbuatan kasih, dengan nasehat2 atau dengan doa syafaat, saling mendoakan satu sama lain
            (Ef 6 : 18 = dalam segala doa dan permohonan. Berdoalah setiap waktu di dalam Roh dan berjaga-jagalah di dalam doamu itu dengan permohonan yang tak putus-putusnya untuk segala orang Kudus )
            Setiap ada kesempatan kita pakai untuk saling menguatkan dan setiap hari kita saling mendoakan satu sama lain.

            BAGAIMANA MEMULAI HARI INI.
            Kita memulai hari ini dengan memperhatikan mezbah kita yaitu dengan memberi lagi kayu yang baru
            (Im 6 : 12 = Api yang di atas mezbah itu harus dijaga supaya terus menyala, jangan dibiarkan padam. Tiap-tiap pagi imam harus menaruh kayu di atas mezbah, mengatur korban bakaran di atasnya dan membakar segala lemak korban keselamatan di sana.)
            Kayu atau daging ini dipersembahkan lagi diatas mezbah.
            Setiap hari kita harus mengambil keputusan untuk lagi memelihara hari ini dengan hidup diatas mezbah, atas jalan salib yang penuh derita dan korban karena Kristus.
            Ini harus menjadi keputusan setiap hari, setiap kali penyerahan yang baru, bukan rutin pada waktu kita hendak memulai “hari ini “ lagi.
            Setiap pagi DIA akan membuka hubungan untuk mendengarkan permintaan doa semua anak2Nya, jangan ragu2
            (Maz 5 : 4 = TUHAN, pada waktu pagi Engkau mendengar seruanku, pada waktu pagi aku mengatur persembahan bagi-Mu, dan aku menunggu-nunggu.)

            BAGAIMANA MENGAKHIRI HARI INI .
            Tiap malam kita harus menghadap Tuhan sebelum tidur dalam keadaan beres
            (Maz 4 : 9 = Dengan tenteram aku mau membaringkan diri, lalu segera tidur, sebab hanya Engkaulah, ya TUHAN, yang membiarkan aku diam dengan aman.)

            yaitu :
            a. Tetap tinggal di dalam kesucian dengan anugerah Tuhan.
            b. Sudah melakukan semua kehendak Bapa yang dianugerahkanNya kepada kita.
            Mungkin persoalan kita belum beres, tetapi kita sudah melakukan bagian kita untuk hari ini dan selanjutnya masih di dalam tangan Tuhan.
            Besok lagi menjadi “hari ini” dan kita kerjakan lagi tugas kita hari ini.
            Jangan kuatir akan hasilnya, akan hari esok, semua di dalam tangan Tuhan.
            Dalam setiap problem itu ada bagian kita dan ada bagian Tuhan, masing2 harus menyelesaikan bagiannya sendiri.
            Kalau kita sudah mentaati bagian kita, Allah pasti akan menyelesaikan bagianNya dan itu berarti kemenangan.
            Kita taat maka kita akan menang.
            Kita hanya percaya dan menyerah, maka Rohkudus yang akan bekerja di dalam kita dan kita menang.
            Dengan demikian kita tidak hidup sia2 hari ini, melainkan menang dan ber-buah2
            Demikianlah setiap malam kita tidur dengan nyenyak dan sentosa, sebab kita ada di dalam tangan Tuhan yang Maha Kuasa.
            Besok akan lagi menjadi hari ini dan seperti hari ini kita menang dengan Tuhan, maka besokpun kita pasti akan menang lagi seperti hari ini.
            Demikianlah kita hidup setiap kali satu hari ber-sama2 dengan Tuhan, sampai akhirnya kita tiba pada hari yang terakhir, lalu kembali kepada Tuhan di dalam KerajaanNya.

            Inilah kehendak Tuhan bagi kita untuk hari ini, kita harus taat dan setiawan hari ini dan setiap hari berikutnya sampai habis jatah waktu kita dari Tuhan.
            Dalam Perjanjian Lama setiap hari ke-7 itu penting artinya, yaitu ada hari sabat.
            Dalam Perjanjian Baru ini tidak lagi berarti secara jasmani, tetapi secara rohani
            (Ibr 4 : 10-11 = Sebab barangsiapa telah masuk ke tempat perhentian-Nya, ia sendiri telah berhenti dari segala pekerjaannya, sama seperti Allah berhenti dari pekerjaan-Nya. 4:11. Karena itu baiklah kita berusaha untuk masuk ke dalam perhentian itu, supaya jangan seorangpun jatuh karena mengikuti contoh ketidaktaatan itu juga.)
            yaitu pengurapan Rohkudus yang memberi perhentian dalam jiwa setiap hari .

            Untuk mengukur waktu , dipakai “saat kelahiran baru” sebagai patokan umur rohani kita
            Setiap akhir tahun kita menghitung segala yang sudah kita dapatkan selama satu tahun ini, jangan sampai tidak ada pertumbuhan rohani sehingga yang ada hanya kerusakan dan kemerosotan rohani.
            Periksalah diri sepanjang penyembahan, lihat kembali buku catatan harian supaya kita boleh mengambil pelajaran yang terbaik dari riwayat hidup kita yang lalu..
            Ukuran hidup kita adalah satu hari, jangan sampai hidup sia2 satu hari, maka kita juga tidak akan hidup sia2 dalam satu tahun.
            Setiap hari kita harus melakukan kehendak Bapa, maka setiap hari kita akan menambahi pahala kita sampai kekal.
            Tidak semua orang bisa menilai dengan betul, tanpa pengertian rohani yang cukup kita sukar menilai dengan tepat.
            Kita dapat mengerti hanya dengan pertolongan Rohkudus.

            Salam
            mac

            • Shalom Machmud,

              Pertama- tama, mohon diketahui ya, bahwa yang saya tuliskan di jawaban tersebut bukan saja untuk anda, tetapi untuk para pembaca lainnya yang mempunyai pertanyaan seperti anda, dan sebenarnya juga peringatan terhadap saya sendiri yang menjawabnya. Maka saya juga sudah menambahkan pada jawaban surat saya itu dalam tanda kurung: [Maka ajakan untuk mempelajari iman dan menerapkannya ini tidak hanya untuk Machmud, tetapi untuk kita semua yang mau bertumbuh, temasuk saya sendiri].

              Yang anda tuliskan dalam renungan anda setiap harinya itu sangat baik. Puji Tuhan. Bersyukurlah kepada Tuhan yang telah menggerakkan dan membuka hati anda, sehingga anda dapat memperoleh pengertian dan kerinduan yang mendalam untuk hidup seturut kehendak Tuhan tiap-tiap hari, dan bertumbuh dalam kekudusan. Saya katakan demikian, terutama jika anda tidak mempunyai latar belakang Kristen sama sekali, dan anda mempelajarinya sendiri dari Alkitab. Saya percaya, Roh Kudus- lah yang menggerakkan anda, dan semua orang yang dengan tulus mencari Tuhan. Sebab seperti firman Tuhan dalam Injil hari ini, “Mintalah, maka akan diberikan kepadamu; carilah, maka kamu akan mendapat; ketoklah, maka pintu akan dibukakan bagimu…. Jadi jika kamu yang jahat tahu memberi pemberian yang baik kepada anak-anak-mu, apalagi Bapamu yang di sorga! Ia akan memberikan Roh Kudus kepada mereka yang meminta kepada-Nya.” (Luk 11:9-13)

              Ajakan untuk bersikap rendah hati yang saya tuliskan itu sebenarnya ditujukan untuk semua orang, bukan hanya kepada anda. Kerendahan hati di sini artinya antara lain adalah menyadari bahwa diri kita adalah mahluk yang lemah/ berdosa sedangkan Allah adalah Yang Maha segalanya. Dengan demikian, sikap kerendahan hati adalah sikap yang mengakui bahwa segala yang baik yang ada pada diri kita adalah pemberian Tuhan, sedangkan yang buruk adalah karena kelemahan diri kita sendiri. Maka jika anda menyampaikan bahwa segala yang baik dalam diri anda adalah anugerah Allah, maka sungguh tepatlah pernyataan anda itu! Namun selanjutnya, kita tetap harus menyadari bahwa biar bagaimanapun (walau sudah bertumbuh sekalipun), tetap kita dapat jatuh dalam dosa, dan justru kesadaran inilah yang membuat kita senantiasa berjaga-jaga dan selalu dalam keadaan “mengerjakan keselamatan kita dengan takut dan gentar” (Flp 2:12) seperti yang diajarkan oleh Rasul Paulus. Maksudnya adalah supaya kita berjuang agar apa yang kita imani itu benar-benar tercermin di dalam perbuatan kita, dan agar kita tidak menjadi batu sandungan bagi orang lain.

              Sepanjang pengamatan saya, banyak orang yang sudah “lahir baru”, memang memiliki semangat berapi-api untuk mempelajari imannya. Hal ini tentu sangat baik, hanya saja ada kecenderungan bahwa dalam mempelajari iman itu, jika ada perbedaan interpretasi, lalu tiap-tiap orang berkeras dengan pandangannya, sebab merasa Roh Kudus sudah ada dan bekerja di dalam dirinya. Padahal, walaupun Roh Kudus yang Maha segalanya itu ada di dalam diri seseorang, namun jangan lupa bahwa “wadah”nya yaitu orangnya adalah manusia yang terbatas dalam banyak hal sehingga, inspirasi datang dari Roh Kudus, namun pemahaman kita terhadap inspirasi itu masih tetap dapat keliru.

              Inilah sebenarnya, yang perlu kita renungkan bersama. Sebab Roh Kudus yang ada pada kita, itu juga sudah ada pada para penulis Kitab Suci dan para Bapa Gereja yang jauh lebih kudus daripada kita, yang mempelajari Alkitab itu bahkan dari bahasa aslinya, yang memperoleh pengajaran dari para Rasul, dan yang merenungkannya siang dan malam. Maka, saya sebagai umat Katolik memang mengajak siapapun yang ingin bertumbuh imannya untuk juga mempelajari iman Kristiani, dengan pengertian yang disampaikan oleh para rasul, yang dijaga kemurniannya dalam Gereja Katolik. Ini memang memerlukan sifat kerendahan hati, sebab bukannya tidak mungkin pemahaman awal kita, bisa saja, berbeda dengan pengajaran para Bapa Gereja tersebut. Namun jika kita mau merenungkannya dan membawanya di dalam doa, saya percaya ada saatnya Roh Kudus akan membukakan bagi kita kebenaran itu, sebab Roh Kudus yang menerangi para Rasul dan Bapa Gereja itu adalah juga Roh Kudus yang sama yang menerangi kita. Jika seseorang (bahkan orang Katolik) mengacuhkan pengajaran Magisterium yang berasal dari para rasul dan Bapa Gereja, karena berpegang pada pengertiannya sendiri, maka menurut saya pribadi, ia belum sungguh-sungguh menerapkan prinsip sikap kerendahan hati, yang berdasarkan kebenaran. Sebab secara obyektif, orang yang mencari kebenaran harusnya mendengarkan dari pihak yang dapat dipercaya, dan siapakah yang lebih dapat dipercaya dalam hal ini, diri kita sendiri, atau pengajaran para rasul dan para Bapa Gereja, jika Roh Kudus-Nya sama?

              Maka, memang di dalam pemahaman iman Katolik ada banyak sumber yang selayaknya dipelajari, bukan hanya Kitab Suci. Sebab Gereja Katolik mengajarkan bahwa Kitab Suci harus dibaca dan diinterpretasikan dalam terang Roh Kudus yang sama yang oleh-Nya kitab itu dituliskan (lihat KGK 111) sehingga dalam hal ini pemahaman akan maksud penulisan kitab tersebut oleh sang penulisnya, menjadi sangat penting. Nah untuk itu, maka Gereja Katolik mengajarkan, bahwa kita harus 1) memperhatikan keseluruhan makna kitab suci (artinnya ayat tertentu tidak boleh dilepaskan dari konteksnya); 2) membaca KS dalam terang Tradisi Suci; 3) memperhatikan analogi iman, dalam rencana keselamatan (lihat KGK 112-114)

              Apa yang Machmud tuliskan tentang renungan tiap-tiap hari itu mempunyai kemiripan dengan doa Ibadat Harian bagi umat Katolik. Pada tiap-tiap pagi, dalam Ibadat Harian, kami membuka doa dengan doa Mazmur 95 yang dikutip oleh Rasul Paulus dalam Ibr 3:15, yang Machmud tuliskan, atau Mazmur 100, 67 atau 24. Selanjutnya kami membaca beberapa kitab Mazmur yang berganti-ganti setiap harinya. Doa pagi bagi umat Katolik intinya adalah doa ucapan syukur dan penyerahan/ persembahan diri kepada Tuhan, yang mencakup segala pikiran, perkataan dan perbuatan kita sepanjang hari itu.

              Lalu ajakan Machmud untuk berdoa sepanjang waktu, itu merupakan sesuatu yang baik. Namun, niat untuk berdoa yang tiada putus ini juga harus dibarengi dengan kerendahan hati untuk menerima kesalahan, jika ternyata apa yang kita lakukan hari itu tidak sesuai dengan apa yang kita doakan. Misalnya, jika ternyata kita kurang sabar, jika kita kurang peduli dengan kebutuhan orang-orang sekitar, jika kita berkata kasar, menghakimi orang lain atau berpuas diri dalam arti negatif. Maka sedikit komentar saya adalah pada pernyataan yang anda tulis, “Hari ini kita kuat di dalam Tuhan, tidak mungkin jatuh, sebab kita berjalan dengan Tuhan.” Penyataan ini lebih merupakan pengharapan: Seandainya kita dapat melakukan segala sesuatunya dengan baik dengan kekuatan yang dari Tuhan, maka, pujilah Tuhan. Namun kita harus menerima dengan rendah hati bahwa di banyak kesempatan, kita jatuh, atau tepatnya kita masih dapat berdosa. Rasul Yohanes berkata, “Jika kita berkata, bahwa kita tidak berdosa, maka kita menipu diri kita sendiri dan kebenaran tidak ada di dalam kita.” (1 Yoh 1:8). Atau Rasul Paulus mengingatkan, “Sebab itu siapa yang menyangka, bahwa ia teguh berdiri, hati-hatilah supaya ia jangan jatuh!” (1 Kor 10:12). Dengan demikian kita harus mempunyai kerendahan hati untuk menerima, bahwa meskipun dengan sekuat tenaga kita berjuang untuk hidup kudus dan berjalan bersama Tuhan, namun karena kelemahan kita sebagai manusia, kita masih tetap bisa jatuh. Namun kabar baiknya adalah, Tuhan akan membantu kita bangkit dari kesalahan dan berjalan bersama-Nya lagi, asalkan kita mau bertobat dan kembali kepada-Nya.

              Maka doa penyerahan di malam hari, seharusnya juga didahului dengan “pemeriksaan batin”. Maksudnya adalah kita melihat dengan jujur ke dalam hati kita, apakah ada sesuatu yang kita perbuat hari itu, yang tidak cocok dengan iman kita. Apakah ada yang sesungguhnya bisa diperbaiki di lain kesempatan. Apa ada orang yang kita sakiti hatinya hari itu. Bagaimana perkataan kita hari itu? Adakah kita mengeluarkan kata yang sia-sia? Adakah kita mengeluh? Adakah kita cukup bersyukur dan bersuka cita? Apakah kita sudah menjadi saksi Kristus yang baik bagi keluarga dan orang-orang yang kita jumpai hari itu? dst. Jika kita benar dipenuhi Roh Kudus, maka Roh Kudus itu akan menunjukkan pada kita segala kesalahan kita, sebab tugas Roh Kudus yang utama adalah “menginsyafkan kita dari dosa.” (Yoh 16:8) Selanjutnya, jika Roh Kudus menyatakan kesalahan kita, kita harus mohon ampun kepada Tuhan, dan bagi umat Katolik, terutama jika kesalahan itu besar, maka kita harus mengaku dosa dalam sakramen Pengakuan Dosa. Jika hal ini dilakukan secara teratur, maka rahmat Tuhan akan mengalir untuk memampukan kita meninggalkan kebiasaan buruk, memperbaiki diri dan bertumbuh dalam kekudusan.

              Demikianlah Machmud, apa yang dapat saya sampaikan mengenai pertanyaan dan pernyataan anda. Saya memahami bahwa anda bukan Katolik, maka memang tidak ada keharusan bagi anda untuk mengikutinya. Saya hanya berharap bahwa apa yang saya tuliskan sedikitnya dapat menjadi masukan bagi anda. Sedangkan bagi pembaca yang lain yang Katolik, dan juga bagi saya sendiri, tulisan di atas mengingatkan kita akan bagaimana kita dapat bertumbuh di dalam iman Katolik.

              Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
              Ingrid Listiati- http://www.katolisitas.org

Add Comment Register



Leave A Reply