Apakah jemaat perdana percaya akan persekutuan para kudus?

66

Pertanyaan:

Memang agak susah untuk dimengerti…, tapi bagi saya gereja harus kembali kpada dasar2 alkitab dan bukan tradisi2 yang dibuat oleh manusia. sering gereja berlebihan memperlakukan orang2 kudus, memnganggap mereka seperti “dewa”, hal ini dipengaruhi oleh tradisi masyarakat roma seblm kristen yaitu pengkultusan individu. Yesus kristus sudah cukup. orang kristen tdk perlu minta bantuan kepada org2 kudus yang lama meni nggal. tidak ada hub org hidup dan mati. oleh sebab itu semasih didunia Yesus mengutus RohNya yaitu Roh kudus untuk menolong manusia. Gereja harus menulis kembali doktrin2 yang sebenarnya hanya tradisi dan pengalaman. pengalaman tidak bisa dijadikan doktrin atau ajaran. setiap orang mengalami dengan berbeda.
Yesus adalah satu2nya Tuhan, imam, nabi, sahabat kita. Ialah yang menjadi juru safaat kita baca di Yoh 17. sekian, slm kenal Tuhan Yesus memberkati

Salam – Efaproditus

Jawaban:

Shalom Efaproditus,

Terima kasih atas tanggapannya. Berikut ini adalah tanggapan saya akan komentar efaproditus:

1)Efaproditus mengatakan “Memang agak susah untuk dimengerti…, tapi bagi saya gereja harus kembali kpada dasar2 alkitab dan bukan tradisi2 yang dibuat oleh manusia.

a) Memang Gereja Katolik mendasarkan pengajaran-Nya pada Kitab Suci dan Tradisi Suci, yang dijaga kemurniaannya lewat Magisterium Gereja. Dan prinsip ini adalah sesuai dengan apa yang dikatakan di dalam Alkitab (silakan melihat link ini untuk pembahasan tentang topik ini – silakan klik). Hanya mendasarkan pada Alkitab adalah tidak alkitabiah. Silakan melihat artikel ini (silakan klik). Saudara/i dari denominasi lain banyak yang salah paham terhadap pengajaran Gereja Katolik, sehingga mengatakan bahwa dogma/doktrin dari Gereja Katolik adalah hanya buatan manusia. Kitab Suci dan Tradisi Suci bersumber dari Kristus (Sang Sabda) yang sama, sehingga tidak mungkin bertentangan.
Ingatlah bahwa Alkitab terbentuk dari kanon yang ditetapkan oleh Magisterium Gereja dalam Tradisi Suci. Di Kitab Suci sendiri tertulis, bahwa yang menjadi tiang penopang dan dasar kebenaran adalah Gereja (jemaat) (lih. 1 Tim 3:15); maka kita tidak boleh mengecilkan peran Gereja seolah-olah Gereja ada di bawah Kitab Suci. Kita justru harus melihatnya sebagai yang utama, karena fakta menunjukkan bahwa Kitab Suci terbentuk karena Gereja. Sebelum terbentuk kanon Kitab Suci (dari abad 1-4), Gereja sudah ada, dan itu suatu bukti bahwa agama Kristiani bukan agama yang tergantung semata-mata pada buku/ kitab, tetapi justru kepada iman yang hidup di dalam jemaat (Gereja). Iman yang hidup di dalam Gereja terlihat dari Tradisi Suci. Kitab Suci memang menjadi pedoman bagi anggota Gereja untuk memberikan pengajaran, menyatakan kesalahan, memperbaiki kelakuan, dan mendidik orang dalam kebenaran (2 Tim 3:16), namun hal ini tidak dapat dipisahkan dari Tradisi Suci.

Maka, kalau dilihat, dogma dari Gereja Katolik mempunyai dasar perkembangan yang konsisten yang dapat ditelusuri dari Kitab Suci, dan Tradisi Suci yang berdasarkan iman jemaat perdana, tulisan dari Bapa Gereja dan konsili-konsili:

a) Kalau memang sesederhana seperti yang dikatakan Efaproditus, bahwa seharusnya gereja harus kembali kepada Alkitab dan dengan asumsi bahwa Gereja Katolik mengajarkan doktrin yang dibuat oleh manusia, maka saya ingin bertanya:

1) Anggaplah bahwa yang dikatakan oleh Efaproditus adalah benar bahwa Gereja Katolik telah tersesat dan tidak mendasarkan ajarannya pada Alkitab. Pertanyaannya adalah, mengapa Gereja Katolik mempunyai dogma yang tidak berubah dari awal sampai saat ini, dengan jemaat lebih dari 1 Milyar, dan mempunyai karakter satu, kudus, katolik dan apostolik?

2) Anggaplah apa yang dikatakan oleh Efaproditus adalah benar, yaitu bahwa gereja-gereja mulai dari Martin Luther benar-benar kembali kepada Kitab Suci. Seharusnya setelah kembali ke dasar Kitab Suci, maka tidak terjadi perpecahan antar gereja. Namun yang terjadi adalah perpecahan terjadi di mana-mana, sehingga ada 28,000 denominasi sampai saat ini. Mengapa hanya berdasarkan Alkitab menimbulkan begitu banyak perpecahan?

Dari hal di atas, kita dapat belajar bahwa dengan dasar Kitab Suci saja, maka gereja-gereja bukannya bersatu padu, malah tercerai berai. Hal ini disebabkan semua orang dapat menginterpretasikan sendiri-sendiri akan makna Kitab Suci. Bukankah perpecahan ini berlawanan dengan apa yang dikatakan oleh Yesus sendiri di Yohanes 17?

2) Efaproditus mengatakan “sering gereja berlebihan memperlakukan orang2 kudus, memnganggap mereka seperti “dewa”, hal ini dipengaruhi oleh tradisi masyarakat roma seblm kristen yaitu pengkultusan individu.” Untuk menjawab hal ini, mari sekarang kita melihat apa yang dikatakan oleh jemaat perdana (catatan: mereka ini adalah orang-orang yang telah menjadi Kristen).

  • St. Klemens dari Aleksandria (150-215)

“Dengan cara ini, ia [seorang Kristen sejati]selalu murni dalam doa. Ia juga berdoa dalam kumpulan para malaikat, sebagai seorang berada di tingkatan malaikat, dan ia tak pernah beranjak dari perlindungan mereka; dan meskipun ia berdoa sendirian, ia telah berada di dalam paduan suara para kudus yang berdiri dengannya [dalam doa]” (St. Clement of Alexandria, The Stromata (Book VII), Miscellanies 7:12 [A.D. 208]).

  • Origen  (185-254)

“Tetapi bukan Sang Imam Agung [Kristus] sendiri yang berdoa untuk mereka yang berdoa dengan tulus, tetapi juga para malaikat … demikian juga jiwa-jiwa para orang kudus yang telah meninggal dunia” (Origen, De Principiis (Book IV), Prayer 11 [A.D. 233]).

  • St. Siprianus dari Karthago (200-270)

“Mari kita mengingat satu sama lain dalam harmoni dan kesatuan suara. Mari kita, di kedua belah pihak [yang terpisah kematian]selalu berdoa bagi satu sama lain. Mari mengangkat beban-beban dan kesedihan dengan dengan saling mengasihi, sehingga jika salah seorang dari kita, dengan pergerakan perlindungan ilahi, telah pergi terlebih dahulu [wafat], kasih kita dapat terus berlanjut dalam hadirat Tuhan, dan doa-doa kita bagi saudara-saudari kita tidak berhenti dalam hadirat belas kasihan Allah Bapa” (St. Cyprian of Carthage, Epistle 7, Letters 56[60]:5 [A.D. 253]).

  • St. Efraim dari Syria (306-373)

“Kalian, para martir yang berjaya, yang bertahan dalam penganiayaan dengan suka cita demi Tuhan dan Sang Penyelamat, kalian yang mempunyai keberanian berbicara di hadapan Tuhan sendiri, kalian para orang kudus, berdoa syafaat-lah untuk kami, orang-orang yang lemah dan berdosa, sehingga rahmat Kristus dapat turun atas kami dan menerangi hati kami semua, sehingga kami dapat mengasihi Dia.” (St. Ephraim the Syrian, Commentary on Mark, The Nisibene Hymns, [A.D. 370]).

  • St. Basilius Agung (329-379)

“Atas perintah Putera Tunggal-Mu, kami berkomunikasi dengan kenangan para orang kudus-Mu …. oleh doa-doa dan permohonan mereka, berbelas kasihanlah kepada kami semua, dan bebaskanlah kami demi nama-Mu yang kudus.” (St. Basil the Great, Letter 243,  Liturgy of St. Basil, [A.D. 373]).

  • St. Gregorius dari Nisa (325-386)

“[Efraim], engkau yang berdiri di hadapan altar ilahi [di Surga]… ingatlah kami semua, mohonkanlah bagi kami pengampunan dosa-dosa, dan penggenapan janji Kerajaan kekal” (St. Gregory of Nyssa, On the Baptism of Christ,  Sermon on Ephraim the Syrian [A.D. 380]).

  • St. Gregorius dari Nazianza (325-389)

“Ya, saya diyakinkan bahwa doa syafaat [ayah saya]sekarang lebih berguna daripada pengajarannya di hari-hari terdahulu, sebab kini ia lebih dekat kepada Tuhan, bahwa ia telah menanggalkan keterbatasan tubuhnya, dan membebaskan pikirannya dari tanah liat yang dulu mengaburkannya, dan kini mengadakan pembicaraan yang terus terang dengan keterus-terangan pikiran yang utama dan murni …” (St. Gregory Nazianzen, Oration 18:4)

“Semoga engkau [Siprianus], dari atas memandang ke bawah dengan belas kasih kepada kami, dan membimbing perkataan dan hidup kami; dan menggembalakan kawanan yang kudus ini …. menyenangkan Allah Trinitas yang kudus, yang di hadapan-Nya engkau berdiri.” (St. Gregory Nazianzen, Oration 17, 24)

  • St. Yohanes Krisostomus (347-407 AD)

“Ketika kamu merasa bahwa Tuhan menyesahmu, jangan berlari kepada musuh-musuh-Nya …. tetapi kepada sahabat-sahabat-Nya, para martir, para orang kudus, dan mereka yang menyenangkan hati-Nya dan yang mempunyai kuasa yang besar [di dalam Tuhan].” (St. John Chrysostom, Orations 8:6, Homily 8 on Romans [A.D. 396])

“Ia yang mengenakan pakaian ungu [yaitu, seorang bangsawan] …. berdiri mengemis kepada para orang kudus untuk menjadi pelindungnya di hadapan Tuhan, dan ia yang memakai mahkota mengemis kepada sang pembuat tenda [Rasul Paulus] dan sang nelayan [Rasul Petrus] sebagai pelindungnya, meskipun mereka telah wafat.” (St. John Chrysostom, Homilies 26 on Second Corinthians  [A.D. 392]).

  • St. Hieronimus, (347-420)

“Engkau mengatakan di alam bukumu bahwa ketika kita hidup kita dapat saling mendoakan, tetapi setelahnya ketika kita telah mati, tak ada doa seorangpun yang dapat didengar …. Tetapi jika para Rasul dan martir ketika masih tinggal di dalam tubuh dapat mendoakan orang lain, pada saat di mana mereka masih dapat memikirkan diri mereka sendiri, berapa lebih banyak-kah yang dapat mereka lakukan setelah mereka menerima mahkota, kemenangan dan kejayaan?” (St. Jerome, Against Vigilantius 6 [A.D. 406]).

  • St. Agustinus dari Hippo (354-430)

“Sebuah bangsa Kristen merayakan bersama dalam perayaan religius, kenangan para martir, baik untuk menekankan teladan mereka agar diikuti, maupun agar bangsa itu dapat mengambil bagian dalam jasa-jasa mereka dan dibantu oleh doa-doa mereka.” (St. Augustine of Hippo,  The City of God (Book VIII), Against Faustus the Manichean [A.D. 400]).)

“Juga, jiwa-jiwa orang beriman yang telah wafat tidak terpisah dari Gereja, yang bahkan sekarang adalah Kerajaan Kristus. Jika tidak demikian, tidak akan ada kenangan akan mereka di altar Tuhan dalam komunikasi Tubuh Kristus.” (St. Augustine of Hippo, The City of God (Book XX), 9:2 [A.D. 419]).

“Di altar Tuhan kita tidak mengenang para martir dengan cara yang sama dengan yang kita lakukan terhadap mereka yang telah meninggal untuk mendoakan mereka, melainkan agar mereka [para martir itu]mendoakan kita sehingga kita dapat mengikuti jejak kaki mereka.” (St. Augustine of Hippo, Tractate/ Homilies on John, 84 (John 15:13) [A.D. 416]).

Dari beberapa tulisan dari jemaat awal, yang nota bene adalah Kristen, maka kita melihat bahwa mereka percaya bahwa para kudus, walaupun telah meninggal dunia, namun mereka masih hidup dan membentuk persatuan para kudus di Sorga. Kalau kita percaya bahwa Kristus menjadi Pengantara kita dan terus mendoakan kita, maka akan sulit dibayangkan bahwa orang-orang kudus di Sorga hanya berpangku tangan dan tidak melakukan apapun. Kalau di Sorga, kasih mereka menjadi sempurna, apakah melihat Kristus terus bekerja dan kemudian para kudus hanya menikmati kebahagiaan sorgawi merupakan manifestasi dari kasih yang sempurna? Sampai kedatangan Kristus yang kedua, para kudus di Sorga akan terus berdoa bagi umat Allah di dunia dan di Api Penyucian.

3) Efaproditus mengatakan “Yesus kristus sudah cukup. orang kristen tdk perlu minta bantuan kepada org2 kudus yang lama meninggal. tidak ada hub org hidup dan mati. oleh sebab itu semasih didunia Yesus mengutus RohNya yaitu Roh kudus untuk menolong manusia.

a) Inilah yang menjadi perbedaan antara apa yang dipercaya oleh Gereja Katolik dengan gereja non-Katolik. Gereja Katolik percaya bahwa mereka yang telah meninggal dunia, tetap hidup, karena mereka tetap hidup di dalam Kristus. Surat kepada jemaat di Roma menegaskan ““38 Sebab aku yakin, bahwa baik maut, maupun hidup, baik malaikat-malaikat, maupun pemerintah-pemerintah, baik yang ada sekarang, maupun yang akan datang, 39 atau kuasa-kuasa, baik yang di atas, maupun yang di bawah, ataupun sesuatu makhluk lain, tidak akan dapat memisahkan kita dari kasih Allah, yang ada dalam Kristus Yesus, Tuhan kita.” (Rm 8:38-39)

b) Bukankah ayat di atas mengatakan bahwa maut maupun hidup tidak dapat memisahkan kita dari kasih Allah? Oleh karena itu, Gereja Katolik percaya bahwa ikatan kasih ini – para kudus di Sorga dan manusia di bumi dan di Api Penyucian – adalah kekal, karena diikat oleh kasih Kristus.

4) Efaproditus mengatakan “Gereja harus menulis kembali doktrin2 yang sebenarnya hanya tradisi dan pengalaman. pengalaman tidak bisa dijadikan doktrin atau ajaran. setiap orang mengalami dengan berbeda.

a) Semoga uraian di atas dapat membuktikan bahwa pengajaran tentang persatuan para kudus bukanlah pengajaran manusia semata, namun berakar pada Alkitab dan Tradisi Suci. Mungkin sudah saatnya kita bersama-sama meneliti satu persatu doktrin yang kekristenan yang kita kenal, misalkan mulai dari “persatuan para kudus“. Bagaimana kita tahu bahwa suatu doktrin berasal dari manusia? Kalau tidak ada perkembangan doktrin (development of doctrine) dari jemaat awal sampai saat ini atau dari yang ada menjadi tidak ada atau sebaliknya, maka kita perlu mempertanyakan doktrin tersebut. Kalau kita melihat bahwa jemaat awal percaya akan hal ini, seperti yang saya paparkan di atas – dengan tulisan para Bapa Gereja – dan kemudian tiba-tiba mulai abad 16, kita tidak mempercayainya lagi, maka ini berarti tidak ada perkembangan doktrin. Perkembangan doktrin bukanlah dari sesuatu yang tidak ada menjadi tiba-tiba ada, atau sesuatu yang ada menjadi tiba-tiba tidak ada, namun sesuatu yang berkembang terus menerus, diperjelas dan diapplikasikan secara lebih mendalam, seperti perkembangan pohon dari kecil menjadi besar.

b) Oleh karena itu, pernyataan bahwa Gereja harus menuliskan kembali doktrin-doktrin yang sebenarnya hanya tradisi dan pengalaman adalah tidak tepat. Pertama, kalau menuliskan kembali adalah untuk memperjelas suatu doktrin, maka itu dapat dibenarkan, karena ini adalah seperti perumpamaan pohon yang kecil menjadi pohon yang besar. Namun kalau “menuliskan kembali” adalah menghilangkan dari yang tadinya ada atau menambahkan dari yang tadinya tidak ada, maka ini adalah sesuatu yang salah. Bayangkan kalau “menuliskan kembali” dalam pengertian yang ke dua ini berlangsung terus-menerus, maka setiap generasi akan dengan bebas menghapuskan atau menambahkan doktrin, walaupun semua generasi menyatakan bahwa semuanya bersumber pada Kitab Suci. Kalau hal ini terus-menerus terjadi, maka pada akhirnya tidak ada lagi yang tahu secara persis perkembangan dari suatu doktrin.

c) Gereja Katolik tidak pernah menuliskan doktrin atau pengajaran berdasarkan pengalaman. Kalau penulisan suatu doktrin berdasarkan pengalaman, maka akan berubah dari generasi ke generasi, karena pengalaman setiap generasi berubah. Mungkin Efaproditus dapat memberikan contoh, doktrin mana dari Gereja Katolik yang berdasarkan pengalaman?

5) Akhirnya Efaproditus mengatakan “Yesus adalah satu2nya Tuhan, imam, nabi, sahabat kita. Ialah yang menjadi juru safaat kita baca di Yoh 17. sekian, slm kenal Tuhan Yesus memberkati.

a) Tentu saja saya setuju dengan pernyataan di atas. Yang membuat perbedaan kita adalah satu-satunya pengantara tidak berarti melarang umat beriman untuk turut serta berpartisipasi dalam karya Kristus. Kita melihat bahwa walaupun Yesus pengantara kita, kita juga masih meminta tolong teman-teman kita, penatua jemaat, pendeta, pastor, untuk mendoakan kita kalau kita mempunyai masalah. Atau contoh yang lain, walaupun Efaproditus mengatakan bahwa Yesus adalah satu-satunya imam, nabi, dan sahabat kita, namun rasul Petrus mengatakan “Tetapi kamulah bangsa yang terpilih, imamat yang rajani, bangsa yang kudus, umat kepunyaan Allah sendiri..” (1 Pet 2:9).

Semoga penjelasan ini dapat membantu untuk menghilangkan kesalahpahaman dari Efaproditus akan pengajaran dari Gereja Katolik tentang persekutuan para kudus.

Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
stef – www.katolisitas.org

Share.

About Author

Stefanus Tay telah menyelesaikan program studi S2 di bidang teologi di Universitas Ave Maria - Institute for Pastoral Theology, Amerika Serikat.

66 Comments

  1. michael heriyanto on

    Pak saya adalah seorang kristen protestan yang ingin menjadi katolik.. tetapi dalam prinsip orang kudus dan bunda maria saya masih kurang paham… kenapa kita harus meminta bantuan kepada bunda maria/ orang kudus agar mendoakan kita kepada Tuhan? Apakah mereka dapat mendengar apa yang kita doakan didalam hati kita? Dan jika dihubungkan dengan 1 korintus 3:9 bahwa kita adalah kawan sekerja Tuhan.. saya rasa kl dibaca dalam konteks keseluruhan dari pasal 3: 1-9, kata kawan sekerja Tuhan diartikan sebagai kawan sekerja Tuhan dalam memberitakan injil dan menjadikan seluruh bangsa muridnya… jadi tidak disebutkan bahwa kawan sekerja yg ada disurga mendoakan kita kepada Tuhan.. karena kita tidak tahu yang terjadi di surga. Selain kita akan bersama-sama dengan Kristus Tuhan kita dan malaikatnya. Mohon pencerahannya dan terima kasih

    • Shalom Michael Heriyanto,

      Terima kasih atas komentar Anda. Memang konsep tentang orang kudus dan Bunda Maria sering sulit dimengerti bagi umat Kristen non-Katolik yang ingin mengerti iman Katolik. Namun kita dapat mendiskusikan hal ini. Pertama, silakan membaca tanya jawab ini – silakan klik juga diskusi ini – silakan klik dan klik ini. Contoh diskusi yang cukup panjang tentang hal ini adalah ini – silakan klik. Saya pikir beberapa diskusi tersebut telah mewakili hampir semua keberatan-keberatan yang diajukan. Kalau sampai belum ada yang terjawab setelah membaca diskusi tersebut, maka silakan bertanya lebih lanjut.

      Tentang 1Kor 3:9 – kawan sekerja Allah. Memang kita dapat mengartikan bahwa kawan sekerja Allah dapat dimengerti sebagai partisipasi dalam pewartaan Kristus. Pertanyaannya adalah sampai kapan umat Allah dapat menjadi kawan sekerja Kristus? Jawabannya adalah selama Kristus masih bekerja, maka kawan sekerja Allah juga turut bekerja. Kalau Kristus masih terus menjadi pengantara kita, maka umat Allah – baik yang berada di dunia maupun di Surga – akan terus saling mendukung menjadi kawan sekerja Allah. Itulah sebabnya, kalau ada 1 orang bertobat, maka seluruh isi Surga bersorak-sorai (lih. Luk 15:7).

      Silakan memberikan argumentasi lebih lanjut atau pertanyaan lagi sehubungan dengan hal ini, jika masih ada ganjalan. Semoga dapat membantu.

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      stef – katolisitas.org

  2. saya saluut banget dengan pasangan suami istri Pak Stef dan Bu Ingrid yang banyak menjawab banyak pertanyaan dengan sangat sabar, argumentasinya jg benar2 berkualitas tidak ngawur seperti kata Okta, biasanya orang yang belajar sesuatu msh separo 2 akan merasa lebih mengerti drpd orang lain, padahal masih dangkal….. berlajarlah darimanapun jangan menutup hati untuk belajar apa saja…… terima kasih banyak utk pak Stef dan Ibu Ingrid, semoga selalu dipenuhi oleh Roh Kudus, dan sy sangat percaya anda berdua menjawab semua pertanyaan karena anda berdua sangat mencintai Tuhan Yesus, sabaar ya…… Tuhan selalu menyertai dan memberkati Mu kami selalu berdoa, di belakang bapak banyak yang selalu mendukung dan mendoakan. Gereja Katolik kuat sepanjang masa dan akan selalu satu tidak akan terpecah-pecah karena selalu taat tidak sedikit-sedikit protes…… Gbu

    [dari katolisitas: Terima kasih atas dukungannya terhadap karya kerasulan ini. Mohon doanya ya.]

    • terima kasih pak stef & bu inggrid atas semua infonya serta berbagi pengetahuan. dengan ini maka pengetahuan saya semakin bertambah & iman akan kekatolikan saya semakin diperteguh.
      berkat Yesus selalu menyertai anda berdua & keluarga.

Add Comment Register



Leave A Reply