Kristus berkata kepada Petrus “Di atas batu karang ini saya akan dirikan GerejaKu”, dan “Dia akan selalu beserta kita/GerejaNya sampai akhir” (Mat 16:18) Pertanyaan saya apakah yang diajarkan oleh rasul Petrus sama dengan yang diajarkan oleh gereja Katholik saat ini? Jika ya… berarti penghapusan dosa melalui surat penghapus dosa juga diajarkan oleh rasul Petrus? Jika ya… berarti rasul Petrus tidak konsisten dengan ajarannya mengenai keselamatan. Saya rasa tidak. Mungkin sdr Maria harus membaca ayat ini dengan seksama. Kenapa Tuhan Yesus menyebutkan memberikan nama Petrus kepada Simon? Apakah dia karena dia akan mendirikan gereja? TIDAK melainkan karena pengakuannya bahwa Yesus adalah Mesias, Anak Allah yang hidup!”. Jika Simon tidak mempunyai pengakuan ini tentu dia tidak akan mendapatkan nama Petrus. Tuhan mungkin akan memberikan nama ini kepada Yohanes atau rasul yang lain yang memberikan pengakuan tsb. Jadi menurut saya, jemaat yang dibangun di atas batu karang dalam ayat tsb adalah jemaat yang didirikan di atas dasar pengakuan Yesus sebagai Mesias, Anak Allah yang hidup. Perhatikan juga pada ayat2 berikutnya, yaitu pada ayat 23 dimana Yesus menyebut dia sebagai iblis. Jika kembali kepada pengertian sdr. Maria, bagaimana mungkin Yesus mendirikan jemaatNya di atas iblis?! Apakah semua persatuan berasal dari Allah, kita lihat agama-agama lain seperti Islam, Budha, Hindu.. mereka juga memiliki ajaran yang sama. Apakah kemudian anda mengatakan itu dari Allah? Persatuan memang penting karena itu tujuan akhir dari gereja Tuhan yaitu pembentukan tubuh Kristus tetapi itu bukan oleh Katholik, bukan oleh Protestan tetapi semata-mata pekerjaan Firman Allah dan Roh Kudus. Gereja memang harus dibangun di atas dasar batu karang, yaitu batu karang rohani yang adalah Kristus (I Kor 10:4)
Salam – Samuel.
Shalom Samuel,
Berikut ini adalah jawaban saya untuk point K.
I. Ajaran Kristus, Rasul Petrus, dan Gereja Katolik.
Samuel mempertanyakan apakah ajaran Gereja Katolik yang ada sekarang adalah sama seperti yang diajarkan oleh Rasul Petrus yang menerima mandat dari Kristus, dimana di atas Rasul Petrus, Kristus mendirikan Gereja-Nya.
Cardinal Newman, dalam bukunya “The Development of Christian Doctrines”, meneliti bahwa Gereja yang mempunyai pengajaran yang benar adalah Gereja yang perkembangan ajarannya dapat ditelusuri sampai kepada jaman awal kekristenan, yang bersumber pada Yesus sendiri. Ini berarti harus ada konsistensi dalam pengajaran, sama seperti perkembangan pohon kecil ke pohon yang besar. Yang dimaksudkan dari kecil ke besar adalah ajaran yang sama, namun perkembangannya hanya untuk memperjelas pengertian bukan mengubah ajaran. Hal inilah yang ditemukan oleh Kardinal Newmann dalam Gereja Katolik, sehingga untuk menempatkan kebenaran di atas segalanya, dia berpindah dari Anglikan ke Gereja Katolik.
Mari kita melihat apa yang dikatakan oleh Martin Luther dan John Calvin dan para pendiri denominasi Kristen tentang keperawanan Maria:
Dan selanjutnya Tuhan kita Yesus Kristus dikatakan sebagai yang sulung. Hal ini bukan berarti bahwa ada anak yang kedua dan ketiga, tetapi karena penulis Injil ingin menyampaikan hak-hak yang lebih tinggi (precedence). Alkitab menyebutkan hal ’sulung’ (firstborn), baik ada atau tidaknya anak yang kedua.”[14] John Calvin bahkan mengecam Helvidius, yang mengatakan bahwa Maria mempunyai banyak anak.[15]
Untuk topik Maria tetap perawan, silakan membaca artikel lengkapnya disini (silakan klik).
Hal inilah yang menjadi perhatian Cardinal Newman. Suatu ajaran tidak dapat berubah dari ada menjadi tidak ada, atau sebaliknya. Namun doktrin yang benar adalah hanya memperjelas, bukan membuat sesuatu yang baru. Dalam teologi, kita tidak dapat membuat suatu inovasi yang baru, namun bersumber pada teologi sebelumnya, sehingga dari pohon kecil menjadi pohon yang besar, dan bukan menjadi pohon yang berbeda sama sekali dan keluar dari pohon yang ada.
II. Petrus, sang batu karang.
Samuel mengatakan bahwa di Mat 16:18, Batu karang mengacu kepada pengakuan Petrus. Dan lebih lanjut dikatakan bahwa Yesus memberikan nama Petrus, karena Petrus mengaku bahwa Yesus adalah Tuhan. Mari kita melihat tentang hal ini, dimana ayat ini juga merupakan dasar dari kepausan dan salah satunya dari ayat ini, Gereja Katolik mengatakan bahwa Yesus membangun Gereja Katolik. Nanti kalau ada waktu, maka saya akan menulis tentang hal ini secara tersendiri.
LAI: “Dan Akupun berkata kepadamu: Engkau adalah Petrus dan di atas batu karang ini Aku akan mendirikan jemaat-Ku dan alam maut tidak akan menguasainya.”
NASB: “I also say to you that you are Peter, and upon this rock I will build My church; and the gates of Hades will not overpower it.
RSV: And I tell you, you are Peter, and on this rock I will build my church, and the powers of death shall not prevail against it.
Jadi kata Petra tidak dapat digunakan untuk menggantikan nama Petrus, karena kalau demikian sama saja dengan memakai nama Michelle untuk Michael atau Fransiska untuk Fransiskus.
Namun pada jaman Yesus, bahasa yang dipakai adalah bahasa Aram, sehingga menjadi “Dan Akupun berkata kepadamu: Engkau adalah Kefas dan di atas Kefas ini Aku akan mendirikan jemaat-Ku dan alam maut tidak akan menguasainya.” Yesus memberikan nama Kefas (Petrus) kepada Simon jauh sebelum pengakuan ini, yaitu pada waktu Yesus bertemu dengan Petrus, dimana Yesus berkata “Engkau Simon, anak Yohanes, engkau akan dinamakan Kefas (artinya: Petrus).” (Yoh 1:42).
Yesus berkata kepada Petrus: engkau adalah Petrus dan di atas pengakuanmu aku akan mendirikan Gereja-Ku…
Dua kalimat tersebut tidak berhubungan. Dan kalau kita melihat dari bahasa Greek, dikatakan “Engkau adalah Petrus, dan (memakai “kai“) di “taute” (this very) batu karang ini, Aku akan mendirikan Gereja-Ku”. Kai (dan) mengindikasikan bahwa kata benda yang dipakai harus merujuk kepada kata benda sebelumnya.
“Be it known to you, my lord, that Simon [Peter],
who, for the sake of the true faith, and the most sure foundation of his doctrine, was set apart to be the foundation of the Church, and for this end was by Jesus himself, with his truthful mouth, named Peter, the first fruits of our Lord, the first of the apostles; to whom first the Father revealed the Son; whom the Christ, with good reason, blessed; the called,
and elect” (Letter of Clement to James 2 [A.D. 221]).
St. Jerome mengatakan “‘But,’ you [Jovinian] will say, ‘it was on Peter that the Church was founded’ [Matt. 16:18]. Well . . . one among the twelve is chosen to be their head in order to remove any occasion for division“(Against Jovinian 1:26 [A.D. 393]).
Dan masih begitu banyak kutipan dari Bapa Gereja yang lain, yang mempertegas posisi ini.
Yesus sang Gembala yang Baik mempercayakan domba-dombaNya kepada Petrus dan mempercayakan tugas untuk meneguhkan iman para rasul yang lain, agar iman Gereja jangan sampai sesat (Luk 22:3-32). Petruslah yang kemudian menjadi pemimpin para rasul setelah hari Pentakosta, mengabarkan Injil, membuat keputusan dan pengarahan (Kis 2:1-41, 15:7-12). Para penerus Rasul Petrus ini dikenal sebagai uskup Roma, yang dipanggil sebagai ‘Paus’ yang artinya Papa/ Bapa.
Jelaslah bahwa secara struktural, Paus (penerus Rasul Petrus)
memegang kepemimpinan tertinggi, diikuti oleh para uskup (penerus para rasul lainnya) di dalam persekutuan dengan Paus. Para uskup ini dibantu oleh para imam dan diakon. Dalam hal ini, para Paus memegang kuasa Rasul Petrus, yang menerima perintah dari Yesus sendiri, dan karenanya tidak mungkin sesat. Perlu diketahui, bahwa kepemimpinan Paus -dan para uskup di dalam persekutuan dengannya- yang tidak mungkin sesat (‘infallible’) ini- hanya berlaku di dalam hal pengajaran iman dan moral.[7]
Hal ini sungguh membuktikan kemurnian pengajaran Gereja, karena ajarannya bukan merupakan hasil demokrasi manusia, melainkan diturunkan dari Yesus sendiri, dan Bapa Paus tidak punya kuasa untuk mengubahnya.
III. Kenapa Yesus menghardik Petrus dengan sebutan Setan (Mat 16:23)?
Disini Petrus berbicara kepada Yesus secara pribadi dan sungguh berbeda dengan pernyataan Petrus yang dibuat secara terbuka di ayat 15-16 “Lalu Yesus bertanya kepada mereka: “Tetapi apa katamu, siapakah Aku ini?”
Mat 16:16 Maka jawab Simon Petrus: “Engkau adalah Mesias, Anak Allah yang hidup!” .
Dan Gereja Katolik tidak mengajarkan bahwa semua yang dikatakan oleh Petrus dan penerusnya, para Paus tidak mungkin salah (infallible). Infallibility atau tidak mungkin salah bagi Paus harus memenuhi syarat sebagai berikut: 1) Seorang Paus berbicara di atas kursi Petrus, atau dalam kapasitasnya sebagai seorang Paus. Jadi kalau seorang Paus berbicara dalam kapasitas pribadi, dia tidak berbicara ex cathedra. 2) Kalau Paus berbicara dalam masalah iman dan moral. Jadi seorang Paus dapat salah kalau dia berbicara tentang science, art, dll. 3) Kalau Paus memberikan doktrin yang berlaku universal atau untuk umat Katolik di seluruh dunia.
Untuk keterangan lebih lanjut tentang hal ini, silakan membaca jawaban ini (silakan klik).
Demikian jawaban yang dapat saya berikan untuk point K. Semoga kita sama-sama belajar bahwa Kristus memilih orang-orang yang sesuai dengan kebijaksanaan-Nya. Petrus memang lemah, namun dia dipilih oleh Kristus secara khusus untuk menjadi Paus pertama untuk menggembalakan domba-domba-Nya.
Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
stef – www.katolisitas.org