Tentang tingkatan Pengajaran Magisterium

Pertanyaan:

Terima kasih atas penjelasannya.

Jadi infallible melekat ke ajaran-ajaran paus, bukan pada pribadi paus ya…
Dari yang mutlak infallible adalah yang disampaikan ex-cathedra, lalu
“Berikutnya memang ada tingkatan di bawahnya” , apakah maksud tingkatan ini adalah kadar infallible-nya atau kemungkinan tingkat kesalahan yg berbeda-beda? Bagaimanakah hirarki lengkap dari yg mutlak infalible sampai dengan yg paling kurang infallible? Kalau dokumen konsili dan ensiklik tingkatnya tinggi mana?

Sebagai awam Katolik, bisakah kita mendapatkan daftar lengkap dokumen yg mengandung ajaran infallible itu apa saja, dan dokumen mana yang tidak/kurang infallible? Bukankah sebaiknya daftar lengkap ajaran-ajaran infallible tersedia lengkap di paroki-paroki. Misalnya bila umat dilarang menggunakan kontrasepsi, hal itu ajaran infallible atau setengah infallible atau belum infallible?

Salam, Fxe

Jawaban:

Shalom Fxe,
Sebagai umat Katolik, kita percaya bahwa Tuhan-lah memberikan wewenang kepada Magisterium untuk mengajarkan kepada kita interpretation yang otentik tentang Sabda Allah (lih. KGK 85). Magisterium menerapkan otoritas yang dipercayakan kepadanya dari Kristus ketika ia menentukan dogma (KGK 88). Dalam hal pengajaran definitif tentang iman dan moral, maka Magisterium diberi kuasa untuk tidak mungkin salah (infallibility), seperti yang dinyatakan dalam Lumen Gentium

Perlu kita ketahui di sini terdapat tingkatan dalam pengajaran dari Magisterium ini, berdasarkan yang disebutkan dalam Apostolic Letter Motu Proprio “Ad tuendam fidem” oleh Paus Yohanes Paulus II:
1.    Credenda (kan. 750, 1) artinya, ‘to be believed’.
Berupa: Sabda Allah (dalam hal ini penentuan kanon Alkitab), deposit iman (deposit of faith), dogma, artikel iman
Tanggapan yang disyaratkan: harus dipercaya dengan iman (catholic and theological faith).
2.    Tenenda (kan 750, 2) artinya, ‘to be held’
Berupa: semua yang dinyatakan secara definitif tentang iman dan moral (termasuk hal-hal yang ditentukan untuk melindungi dan menjaga penerapan hal-hal credenda)
Tanggapan yang disyaratkan: harus dipegang dengan teguh dan dipertahankan; dan tidak boleh ditolak.
3.    Obsequium terhadap pengajaran Bapa Paus dan kolese para Uskup (kan. 752).
Berupa: Doktrin tentang iman dan moral yang dinyatakan oleh Paus dan kolese Uskup ketika melaksanakan wewenang mengajar.
Tanggapan yang disyaratkan: ketaatan religius dari akal budi dan kehendak bebas dan menghindari hal-hal yang tidak sejalan dengan hal itu.
4.    Obsequium terhadap otoritas dari para uskup (kan. 753).
Berupa: Pengajaran otentik dari seorang uskup atau beberapa uskup.
Tanggapan yang disyaratkan: ketaatan religius dari akal budi kepada otoritas.
5.    Servandi (kan. 754)
Berupa: Konstitusi/ dekrit dari Paus/ uskup yang menyatakan pengajaran atau yang menolak pengajaran yang salah.
Tanggapan yang disyaratkan: Obligasi untuk melaksanakannya.

Menurut Ad tuendam fidem, yang kemudian diperjelas oleh Professio Fidei, yang dikeluarkan oleh CDF (Congregation for the Doctrine of Faith), yang menyebutkan:

Pengajaran yang termasuk dalam categori Credenda adalah semua artikel yang ada dalam Credo/ Aku percaya, doktrin Kristologis, Dogma tentang Maria, doktrin tentang pendirian Sakramen- sakramen oleh Kristus dan penyampaian rahmat Allah melalui sakramen, doktrin tentang kehadiran Yesus yang nyata dalam Ekaristi, tentang hakekat kurban dalam Ekaristi, tentang Gereja yang didirikan oleh Kristus, doktrin tentang keutamaan dan infalibilitas (tidak dapat sesat) dari Bapa Paus, doktrin tentang dosa asal, doktrin tentang jiwa yang immortal (kekal) dan spiritual dan penghakiman yang terjadi sesaat setelah kematian, doktrin bahwa tak ada kesalahan dalam Alkitab, doktrin tentang keseriusan kesalahan moral tentang hal pembunuhan seorang manusia yang tek bersalah (innocent) secara langsung dan dengan sengaja.

Pengajaran yang termasuk dalam categori Tenenda misalnya adalah doktrin tentang infallibilitas Bapa Paus, sebelum hal itu dinyatakan secara definitif dalam Konsili Vatikan I. Sebab sebelum dinyatakan sebagai Credenda dalam Konsili Vatikan I, ajaran ini telah disebutkan secara definitif. Konsili Vatikan I bukanlah saat pertama untuk menyatakannya secara definitive, tetapi pada Konsili Vatikan I hal tersebut dinyatakan sebagai kebenaran ilahi/ ‘a divinely revealed truth’.
Proses yang sama ada pada doktrin tentang ordinasi imam yang terbatas hanya untuk kaum pria. Hal yang sama adalah doktrin yang menolak euthanasia yang diajarkan dalam surat ensiklikal Evangelium Vitae. Demikian pula doktrin yang menolak prostitusi dan percabulan.

Tingkatan berikutnya adalah doktrin yang dinyatakan oleh pihak Magisterium secara otentik, tetapi dinyatakan tidak secara definitif, hal ini adalah tingkat ketiga, yaitu “obsequium”.

Lebih lanjut tentang ini, berikut adalah keterangan yang kami terima dari Dr. Lawrence Feingold, yang adalah pembimbing Teologis website Katolisitas ini. [Berikut ini saya sertakan teksnya dalam bahasa Inggris]

With regard to the question about infallible teachings, it is important that these can be of two kinds: those which must be “firmly believed,” and those which must be “firmly held.” The former are said to be “credenda” and the latter “tenenda.” Both kinds of teachings are infallible. A very common error is to limit infallible teachings to those which are said to be “credenda.”
The teachings which are to be “firmly believed,” are dogmas of faith, and correspond to the first level of assent, as explained in the doctrinal commentary (by Ratzinger, then Prefect of the CDF) on the Motu proprio, Ad tuendam fidem, of John Paul II.
However, the teachings which require the second level of assent are also infallible, and must be “firmly held.” These teachings are said to be “tenenda” (to be held).
The doctrinal commentary on Ad tuendam fidem says the following about the second level of assent:

The second proposition of the Professio fidei states: “I also firmly accept and hold each and everything definitively proposed by the Church regarding teaching on faith and morals.” The object taught by this formula includes all those teachings belonging to the dogmatic or moral area, which are necessary for faithfully keeping and expounding the deposit of faith, even if they have not been proposed by the Magisterium of the Church as formally revealed.

Such doctrines can be defined solemnly by the Roman Pontiff when he speaks ‘ex cathedra’ or by the College of Bishops gathered in council, or they can be taught infallibly by the ordinary and universal Magisterium of the Church as a “sententia definitive tenenda“. Every believer, therefore, is required to give firm and definitive assent to these truths, based on faith in the Holy Spirit’s assistance to the Church’s Magisterium, and on the Catholic doctrine of the infallibility of the Magisterium in these matters. Whoever denies these truths would be in a position of rejecting a truth of Catholic doctrine16 and would therefore no longer be in full communion with the Catholic Church.

The truths belonging to this second paragraph [Tenenda] can be of various natures, thus giving different qualities to their relationship with revelation. There are truths which are necessarily connected with revelation by virtue of an historical relationship; while other truths evince a logical connection that expresses a stage in the maturation of understanding of revelation which the Church is called to undertake. The fact that these doctrines may not be proposed as formally revealed, insofar as they add to the data of faith elements that are not revealed or which are not yet expressly recognized as such, in no way diminishes their definitive character, which is required at least by their intrinsic connection with revealed truth. Moreover, it cannot be excluded that at a certain point in dogmatic development, the understanding of the realities and the words of the deposit of faith can progress in the life of the Church, and the Magisterium may proclaim some of these doctrines as also dogmas of divine and catholic faith.

With regard to the nature of the assent owed to the truths set forth by the Church as divinely revealed (those of the first paragraph/ Credenda) or to be held definitively (those of the second paragraph/ Tenenda), it is important to emphasize that there is no difference with respect to the full and irrevocable character of the assent which is owed to these teachings. The difference concerns the supernatural virtue of faith: in the case of truths of the first paragraph, the assent is based directly on faith in the authority of the Word of God (doctrines de fide credenda); in the case of the truths of the second paragraph, the assent is based on faith in the Holy Spirit’s assistance to the Magisterium and on the Catholic doctrine of the infallibility of the Magisterium (doctrines de fide tenenda).

The Magisterium of the Church, however, teaches a doctrine to be believed as divinely revealed (first paragraph) or to be held definitively (second paragraph) with an act which is either defining or non-defining. In the case of a defining act, a truth is solemnly defined by an “ex cathedra” pronouncement by the Roman Pontiff or by the action of an ecumenical council. In the case of a non-defining act, a doctrine is taught infallibly by the ordinary and universal Magisterium of the Bishops dispersed throughout the world who are in communion with the Successor of Peter. Such a doctrine can be confirmed or reaffirmed by the Roman Pontiff, even without recourse to a solemn definition, by declaring explicitly that it belongs to the teaching of the ordinary and universal Magisterium as a truth that is divinely revealed (first paragraph) or as a truth of Catholic doctrine (second paragraph). Consequently, when there has not been a judgment on a doctrine in the solemn form of a definition, but this doctrine, belonging to the inheritance of the depositum fidei, is taught by the ordinary and universal Magisterium, which necessarily includes the Pope, such a doctrine is to be understood as having been set forth infallibly. The declaration of confirmation or reaffirmation by the Roman Pontiff in this case is not a new dogmatic definition, but a formal attestation of a truth already possessed and infallibly transmitted by the Church.

With regard to the category of “obsequium,” this refers to the ordinary teachings of the Magisterium, to which we have to give “religious submission of mind and will.” These teachings are not infallible, but the faithful must still give them an interior assent, even though it is theoretically possible that they could be changed or refined in the future.
With regard to the assent required by Humanae vitae, this is a difficult and controverted question. I would say that the fundamental moral norm taught by HV is infallible in virtue of the universal ordinary Magisterium (see LG25), by which the Church constantly taught that every use of the marital act had to remain intrinsically open to life. This infallibility does not apply to the entire encyclical, but only to the absolute moral norm formulated in n. 11:
The Church, nevertheless, in urging men to the observance of the precepts of the natural law, which it interprets by its constant doctrine, teaches that each and every marital act must of necessity retain its intrinsic relationship to the procreation of human life.
Likewise in n. 12:
This particular doctrine, often expounded by the magisterium of the Church, is based on the inseparable connection, established by God, which man on his own initiative may not break, between the unitive significance and the procreative significance which are both inherent to the marriage act.

With regard to your question about the bishops of Indonesia, the same was true in many other episcopal conferences. However, the way a group of bishops present the issue does not affect the binding value of a teaching that has already been taught infallibly or authoritatively by the universal Church. One should always seek to give the most benevolent reading to such statements.
Furthermore, even if the teaching of HV is not infallible, it still requires religious submission of mind and will, and thus one could not tell couples simply to “follow their consciences.” The faithful have the obligation to form their consciences by giving their assent to the teachings of the Magisterium. Therefore, whether or not HV is infallible, the faithful still have a grave obligation to follow the teaching of HV, and to receive it in the spirit indicated by Christ’s words to His Apostles: “He who hears you, hears Me” (Lk 10:16).
In Veritatis splendor, John Paul II discusses the error of “creative conscience,” by which one puts one’s personal conscience above the authoritative moral teachings of the Church.

Jadi kesimpulannya, pengajaran yang ditetapkan secara definitif, baik itu Credenda ataupun Tenenda, keduanya adalah infallible (tidak mungkin sesat), dan karenanya kita sebagai umat Katolik harus menaatinya. Jadi tidak ada istilah infallible atau setengah infallible, sebab begitu hal iman dan moral diajarkan secara definitif oleh Magisterium, maka itu adalah infallible. Dalam kaitannya dengan Humanae Vitae, memang yang terpenting adalah bahwa secara prinsip, Magisterium Gereja mengajarkan bahwa hubungan suami istri harus terbuka bagi kemungkinan kelahiran anak- anak, dan sesungguhnya kita sebagai umat beriman tak berhak untuk memisahkan unitive act dan pro-creative act dalam hubungan suami istri. Maka seharusnya hati nurani kita selayaknya mengikuti apa yang diajarkan oleh Magisterium ini.
Demikianlah, semoga keterangan di atas dapat menjawab pertanyaan anda.

Salam kasih dalam Kristus Yesus,
Ingrid Listiati- www.katolisitas.org

Beberapa artikel yang berhubungan:

Beberapa artikel di kategori yang sama:

9 Komentar to Tentang tingkatan Pengajaran Magisterium

  1. Shalom, Pak Stefanus dan Bu Ingrid.

    Saya sudah baca http://katolisitas.org/2009/07/15/dogma-impikasinya-dan-daftar-dogma/
    Apakah daftar dogma tersebut sudah lengkap untuk tahun 2009? Daftar dogma menurut Dr. Ludwig Ott dalam bukunya “Fundamentals of Catholic Dogma” (I. The Unity and Trinity of God, II. God the Creator, III. God the Redeemer, IV. The Mother of the Redeemer, V. God the Sanctifier, VI. The Catholic Church, VII. The Communion of Saints, VIII. The Sacraments, IX. Baptism, X. Confirmation, XI. Holy Eucharist, XII. Penance, XIII. Holy Orders, XIV. Matrimony, XV. Anointing of the sick, XVI. The Last Things) referensinya apa? Apakah Dr. Ludwig Ott memperoleh daftar dogma tersebut dari sumber resmi Tahta Suci Vatikan, atau hasil kesimpulan dirinya sendiri?

    Saya sudah baca http://katolisitas.org/2009/01/14/perkenalan-dengan-kitab-suci-bagian-1 .
    Contoh Tradisi Suci, misalnya adalah:
    1. pengajaran tentang Credo (Aku Percaya),
    2. Doktrin tentang Kristus (Kristologi) dan
    3. Maria (Mariologi),
    4. Doktrin tentang pendirian Sakramen- sakramen oleh Kristus dan rahmat yang dikaruniakan melalui sakramen tersebut,
    5. Doktrin mengenai kehadiran Kristus yang nyata di dalam Ekaristi, dan perayaan Ekaristi sebagai kurban,
    6. doktrin bahwa Gereja didirikan atas kehendak Kristus,
    7. doktrin tentang peran utama Bapa Paus dan pengajarannya yang tidak mungkin salah (the primacy and infallibility of the Pope),
    8. doktrin tentang Dosa Asal,
    9. doktrin tentang jiwa spiritual yang abadi dan atas penghakiman segera setelah kematian, dst.
    10. melalui Tradisi Sucilah kita memperoleh kanon Kitab- kitab Suci,

    Boleh saya minta daftar Tradisi Suci yang lengkap? Kalau ada, ya terima kasih. Kalau nggak ada juga nggak apa-apa sih.

    Sepertinya ajaran Magisterium dan ajaran Tradisi Suci tidak ada bedanya deh. Maaf merepotkan Anda. Saya jadi bingung menjelaskan 2 dari 3 landasan iman Katolik (Alkitab, Magisterium, dan Tradisi). Alkitab paling gampang dibedakan dari Magisterium dan Tradisi. Apa perbedaan pokok ajaran Magiterium dengan ajaran Tradisi Suci supaya saya bisa langsung membedakan keduanya? Atau Tradisi Suci sudah pasti termasuk ajaran Magisterium? Sementara ajaran Magisterium belum tentu Tradisi Suci? Maaf saya jadi bingung membedakannya. Terima kasih atas jawaban Anda.

    • Shalom Andreas,

      Menurut pengetahuan saya, daftar dogma dari Dr. Ludwig Ott itu sudah sangat akurat dan lengkap karena sudah mencakup dogma yang terakhir tentang Bunda Maria diangkat ke surga oleh Paus Pius XII tahun 1950. Dr. Ludwig Ott bukannya menyatakan sendiri pendapatnya ataupun menarik kesimpulan sendiri atas pengajaran Magisterium Gereja. Ia hanya mengumpulkannya dan memisah-misahkannya menjadi bagian-bagian sehingga lebih sistematis.

      Point-point yang disebutkan dalam daftar Dogma itu adalah yang disebut "De Fide", dan itu memang adalah pengajaran Magisterium Gereja Katolik, yang harus diterima dengan iman Katolik oleh umat Katolik. (Artinya jika kita tidak mempercayainya, sebenarnya kita tidak sungguh-sungguh Katolik). Semua dari yang dikumpulkannya itu ada sumbernya, jika anda mempunyai buku lengkapnya, dari setiap point "De Fide" itu ada penjelasannya dan sumbernya dari mana. Silakan jika anda berkesempatan untuk membeli bukunya, terbitan TAN Books and Publishers. Inc, Rockford, Illinois 61105, USA.

      Tradisi Suci bersama-sama dengan Kitab Suci merupakan "deposit of faith"/ sumber pengajaran Gereja Katolik. Definisi Tradisi Suci, dan kaitannya dengan Kitab Suci, menurut Katekismus adalah:

      KGK 81 "Kitab Suci adalah pembicaraan Allah sejauh itu termaktub dengan ilham Roh ilahi"."Oleh Tradisi Suci Sabda Allah, yang oleh Kristus Tuhan dan Roh Kudus dipercayakan kepada para Rasul, disalurkan seutuhnya kepada para pengganti mereka, supaya mereka ini dalam terang Roh kebenaran dengan pewartaan mereka, memelihara, menjelaskan, dan menyebarkannya dengan setia" (Dei Verbum 9).

      KGK 82 "Dengan demikian maka Gereja", yang dipercayakan untuk meneruskan dan menjelaskan wahyu, "menimba kepastiannya tentang segala sesuatu yang diwahyukan bukan hanya melalui Kitab Suci. Maka dari itu keduanya [baik tradisi maupun Kitab Suci] harus diterima dan dihormati dengan cita rasa kesalehan dan hormat yang sama" (Dei Verbum 9).

      Maka memang Tradisi suci itu luas sekali jangkauannya, termasuk Dogma dan Kitab Suci. Karena Kitab Suci sendiri lahir dari Tradisi Suci, karena kanon Kitab Suci ditetapkan oleh Tradisi Suci, yaitu melalui Konsili para uskup Gereja Katolik yang adalah pengganti para rasul. Maka yang saya tuliskan dalam artikel tersebut (dan yang anda kutip, point 1-9, adalah contoh-contohnya, seperti yang ditulis oleh CDF (Congregatiom for the Doctrine of the Faith) dalam dokumen Professio Fidei, untuk menjelaskan Surat Apostolik -Motu Proprio dari Paus Yohanes Paulus II, yang berjudul, Ad Tuendam Fidem.

      Maka kalau anda tanya daftar Tradisi Suci yang lengkap, itu banyak sekali, sebab itu mencakup daftar Dogma, hasil-hasil Konsili, Katekismus, dan tulisan-tulisan para Bapa Gereja yang berkaitan dengan point-point "De-Fide" tersebut. Beda sederhana antara Magisterium dan Tradisi Suci adalah: Magisterium adalah "orang- orangnya", sedangkan Tradisi Suci adalah "ajaran- ajarannya." Peran Magisterium ini sangat dekat dengan Tradisi Suci dan Kitab Suci. Magisterium tidak berada di atas Sabda Allah; namun mereka-lah yang mempunyai tugas untuk memberi interpretasi yang otentik tentang Sabda Allah ini, baik yang tertulis dalam Kitab Suci, maupun yang dalam bentuk Tradisi suci. (lihat KGK 85-86). Magisterium ini adalah Paus dan para uskup yang dalam kesatuan dengannya.

      Maka ajaran Magisterium yang definitif, dan yang berhubungan dengan moral dan iman, memang adalah Tradisi Suci. Tetapi kalau ajaran itu tidak berupa sesuatu yang definif, dan tidak bersangkutan dengan iman dan moral, itu bukan Tradisi Suci. Sebagai contoh: Paus Benediktus XVI adalah seorang musikus dan pemain piano yang handal. Maka jika ia berbicara tentang musik bahkan musik gereja, itu bukan Tradisi Suci. Namun jika ia berbicara dalam kapasitasnya sebagai Paus (dan karenanya sebagai penerus Rasul Petrus), dan secara definitif mengajarkan hal iman dan moral, maka ajarannya adalah Tradisi Suci.

      Semoga uraian di atas dapat membantu.

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      Ingrid Listiati- http://www.katolisitas.org

  2. Hai Pak Stef dan Bu Ingrid. Saya mau tanya apa saja yang bisa masuk Tradisi Suci Gereja. Apa saja deskripsi Tradisi Suci? Bagaimana cara memprosesnya? Apakah melalui konsili? Kalau dikatakan bahwa yang dimaksud dengan Tradisi adalah dogma, bukankah dogma itu tertulis? Sebenarnya Tradisi Suci Gereja itu tertulis atau tidak? Kalau Tradisi tidak lekas-lekas ditulis, bagaimana cara meneruskannya? Karena ingatan/memori manusia tentu tidak sempurna.

    Apakah ajaran seorang Santo atau Santa bisa dikatakan magisterium atau tradisi? Padahal mereka bukan Uskup maupun Paus. Dan saya percaya Santo-Santa bisa salah dalam mengajar.

    Terima kasih banyak lho.

    • Shalom Andreas,

      Mengenai pengertian Tradisi Suci dalam kaitannya dengan Kitab Suci, sudah pernah dibahas di sini, silakan klik. Intinya, menurut ajaran Gereja Katolik, Tradisi Suci dan Kitab Suci merupakan satu kesatuan Wahyu Ilahi yang diumumkan kepada bangsa pilihan-Nya.

      Wahyu umum/publik ini[2] bermula dari wahyu yang diberikan kepada para nabi, dan berakhir dengan wafatnya rasul Kristus yang terakhir.[3] Wahyu publik ini terdiri dari dua jenis, yang tergantung dari cara penyampaiannya; yaitu Kitab Suci (tertulis) dan Tradisi Suci (lisan).[4] Maka kita ketahui ketiga hal ini:

      1) Kitab Suci adalah Wahyu ilahi yang disampaikan secara tertulis di bawah inspirasi Roh Kudus.[5] Inilah definisi dari Kitab Suci.

      2) Tradisi Suci adalah Wahyu ilahi yang tidak tertulis, namun yang diturunkan oleh para rasul sejak awal oleh inspirasi Roh Kudus, sesuai dengan yang mereka terima dari Yesus dan yang kemudian diturunkan kepada para penerus mereka.[6]

      3) Baik Kitab Suci maupun Tradisi Suci berasal dari sumber yang sama, sehingga harus dihormati dengan penghormatan yang sama.[7]

      Maka dari definisinya, Tradisi Suci memang merupakan ajaran yang disampaikan oleh Kristus ataupun oleh para Rasul yang tidak tertulis/ lisan; namun kemudian penurunannya dituliskan, entah dari Bapa Gereja, ataupun melalui Konsili-konsili. Pendefinisian secara jelas dan tertulis tentang suatu ajaran iman dan moral yang mensyaratkan iman yang total/ katolik dari umat beriman dikenal dengan sebutan Dogma.

      Tentang daftar Dogma sendiri sudah pernah dituliskan di jawaban ini, silakan klik.
      Jadi Tradisi Suci Gereja yang diturunkan kepada Gereja sekarang itu sudah tertulis; dan bukannya ajaran dari mulut ke mulut saja.

      Selanjutnya, tidak semua ajaran Santo dan Santa dapat dikatakan sebagai ajaran Magisterium ataupun Tradisi Suci. Walaupun demikian, Magisterium dapat mengutip pengajaran dari Santo ataupun Santa tertentu pada saat menjelaskan/mendefinisikan ajaran iman dan moral. Lebih lanjut tentang Magisterium dapat dibaca di sini, silakan klik.

      Maka benar anggapan anda, seorang Santo atau Santa, karena keterbatasan mereka tetap dapat salah mengajar, namun tidak demikian dengan Magisterium. Karena Magisterium yang dikepalai oleh Bapa Paus telah diberi karunia infalibilitas/ infallibility oleh Tuhan Yesus, sehingga apa yang mereka ajarkan secara definitif dalam hal moral dan iman, tidak dapat salah/ sesat. Ini disebabkan terutama oleh janji Kristus sendiri kepada Petrus untuk mempercayakan Gereja-Nya ke dalam tangan Petrus dan maut tidak akan menguasainya. (lih. Mat 16:18); dan bahwa apa yang diikat oleh Petrus [dan para pernerusnya] akan terikat di surga, dan apa yang dilepaskan olehnya akan terlepas di surga (lih. Mat 16:19).

      Mari kira syukuri rahmat yang Tuhan berikan kepada kita, yang tidak saja melalui Kitab Suci, tetapi juga Tradisi Suci dan Magisterium.

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      Ingrid Listiati- http://www.katolisitas.org

  3. Sebelumnya, maaf kalau pertanyaan saya kurang relevan dgn topik ini.
    Saya ada beberapa pertanyaan dan ingin penjelasan dari Ibu:

    1. Apakah yg dimaksud dgn “hierarchy of truths” dalam ajaran GK (UR no.11) ,
    bisakah ibu men-share diagram/chart dari hierarchy ini?

    2. Apakah ada hubungan antara hierarchy ini dgn status Credenda dan Tenenda,
    apakah dengan mengetahui posisi sebuah ajaran dalam hierarchy tsb, kita juga bisa mengetahui
    statusnya: Credenda/Tenenda/ atau lainnya?

    3. Apakah dengan adanya hierarchy ini – meskipun semua ajaran adalah BENAR – berarti:
    ada ajaran yg harus langsung di-imani oleh umat tanpa bertanya / sikap kritis,
    dan di lain pihak ada ajaran yg (walaupun benar!) merupakan iluminasi dari kebenaran sebelumnya,
    sehingga disini dibutuhkan “conscience” / kesadaran dari pihak umat untuk dapat menerima ajaran tersebut? Sehingga selama conscience seorang umat masih belum “sampai”, maka ajaran itu tidak mengikatnya demi keselamatan dirinya? Apakah contoh ajaran seperti itu? Sehingga dalam dialog dgn orang Kristen non-Katolik kita bisa berpegang pada axiom:
    “the bond of faith that unites Christians is greater than the things that divide them”?

    Semoga Anda berkenan memberi penjelasan.
    Dan saya sangat berterima-kasih, sejak saya membaca Katolistas, banyak hal baru yang saya dapatkan. Dan semuanya telah lebih meneguhkan iman saya, walaupun beberapa saya masih belum mengerti.
    Semoga Tuhan selalu memberkati Team Katolisitas dan keluarga. Amen.

    • Shalom Fxe,

      Saya ingin mengacu kepada tulisan dari Prof. Douglas Bushman, STL yang adalah mantan dosen saya, yang tulisannya tentang Hierachy of Truth dimuat di situs Ignatius Insight, silakan klik di sini.

      Terminologi "hiearchy of truths" ini sering disalah artikan seolah-olah kebenaran iman bisa dinegosiasikan, atau seolah ada kebenaran yang kurang benar jika dibandingkan dengan kebenaran yang lain. Padahal, maksudnya bukan demikian! "Hierarchy of truths" sebenarnya hanya merupakan prinsip pengaturan tentang misteri iman berdasarkan cara yang bervariasi yang menunjukkan hubungan satu kebenaran dengan kebenaran lainnya dengan iman dasar Kristiani, seperti yang dirangkum dalam Credo/ Syahadat Aku Percaya.

      Maka pada Unitatis Redintegratio 11 dikatakan demikian, "When comparing doctrines with one another, they [theologians] should remember that in Catholic doctrine there exists a ‘hierarchy’ of truths, since they vary in their relation to the fundamental Christian faith." Ini memang benar, seperti yang anda katakan, bahwa rumusnya adalah ikatan iman yang mempersatukan umat Kristen adalah lebih besar daripada hal-hal yang memisahkan mereka.

      Maka Gereja mengakui bahwa jalan yang mempersatukan segala perbedaan ajaran dengan saudara/i kita yang Protestan, adalah iman itu sendiri, yang didasari oleh kebenaran yang hakiki tentang Tuhan dan Kristus. Sehingga, pengertian "hierarchy of truths" ini adalah bahwa beberapa kebenaran didasari oleh kebenaran yang lain dalam prioritas yang lebih tinggi, dan diterangi oleh kebenaran yang lebih tinggi tersebut. Dalam katekese prinsip ini juga harus ditekankan.

      Maka kebenaran-kebenaran ini dapat dikategorikan dalam 4 kelompok besar:

      1) Misteri Tuhan Allah Bapa, Allah Putera dan Allah Roh Kudus, sebagai Tuhan Pencipta segalanya.
      2) Misteri Kristus, Sabda Allah yang menjelama menjadi manusia, lahir dari Perawan Maria, yang sengsara, wafat dan bangkit untuk keselamatan kita,
      3) Misteri Roh Kudus yang hadir di dalam Gereja, menguduskan dan membimbingnya sampai pada kedatangan Yesus yang kedua, Penyelamat dan Hakim kita.
      4) Misteri Gereja, yang adalah Tubuh Mistik Kristus, yang di dalamnya Bunda Maria memegang peran yang istimewa. (
      General Catechetical Directory, no. 43)

      Maka jelaslah, seperti perkataan dari Cardinal Schonborn, bahwa Hierarchy of Truth ini tidak bermaksud a principle of subtraction,’ sepertinya iman itu hanya terdiri dari beberapa hal yang esensial dan hal-hal lain yang kurang esensial/ kurang penting. "The ‘hierarchy of truth . . . is a principle of organic structure.’ It should not be confused with the degrees of certainty; it simply means that the different truths of faith are ‘organized’ around a center" " (Introduction to the Catechism of the Catholic Church, p. 42).

      Dengan prinsip ini maka KGK 234 mengidentifikasikan bahwa Trinitas adalah Misteri sentral dari iman Kristiani dan "sumber dari semua misteri iman yang lain, sebagai terang yang menerangi mereka [misteri- misteri iman yang lain tersebut]. Akhirnya, dalam General Directory for Catechesis (GDC) 115 dikatakan, "Semua aspek dan dimensi dari pesan Kristiani mengambil bagian di dalam sistem hirarki ini." Selanjutnya disebutkan bahwa Sejarah keselamatan yang berpusat pada Kristus, Struktur Trinitarian pada Credo, sentralitas pada misteri Paska Kristus, dan karena itu Ekaristi dalam sistem sakramental, keutamaan perintah Tuhan untuk mengasihi Tuhan dan sesama dalam ajaran moral Kristiani, Doa Bapa Kami sebagai "rangkuman Injil" dan rangkuman semua permohonan. Menurut Paus Yohanes Paulus II, "Kebenaran bahwa Tuhan adalah Kasih merupakan puncak dari semua yang telah diwahyukan…. Kebenaran ini menerangi seluruh isi dari Wahyu Ilahi" (General Audience, Oct 2, 1985). Jadi inti dari semua kebenaran itu adalah: Tuhan adalah kasih (1 Yoh 4:8) dan kasih ini dinyatakan secara penuh di dalam Yesus Kristus.

      2. Credenda, Tenenda, Obsequium dan Servandi menyatakan ajaran Gereja Katolik, yang menunjukkan tingkatannya dan respon yang harus diberikan oleh umat Katolik terhadap ajaran itu. Credenda dan Tenenda adalah pengajaran yang menyangkut iman dan moral, sedangkan Obsequium dan Servandi dapat merupakan sesuatu yang tidak doktrinal.

      Maka dari definisi point 1, hierarchy of truths ang dimaksud lebih ke arah Credenda, dan Tenenda. Contoh ajaran Credenda dan Tenenda telah saya sebutkan pada artikel di atas, berdasarkan Professio Fidei, yang dikeluarkan oleh CDF (Congregation for the Doctrine of Faith) , silakan membaca kembali di artikel di atas, silakan klik. Adapun dasar pengajaran pada katagori Credenda adalah ajaran yang terdapat dalam Credo, sedangkan Tenenda, adalah yang berdasarkan kebenaran pada Credenda, demi menjaga dan menguraikan ajaran yang terdapat dalam Credenda dengan setia.

      3. Maka pernyataan anda benar, bahwa semua ajaran yang disampaikan baik dalam bentuk Credenda maupun Tenenda, merupakan kebenaran. Walaupun sesuai dengan tingkatannya, maka Credenda mensyaratkan iman yang ilahi dan Katolik, artinya tanpa mempercayai hal itu sesungguhnya seseorang tidak dapat dikatakan sebagai umat Katolik; sebab yang terdapat dalam Credenda adalah bersangkutan dengan Credo. Sedangkan pada Tenenda, yang disyaratkan adalah kita menerimanya, mempertahankannya dan tidak menolaknya.

      Nah, memang baik pada Credenda maupun Tenenda, diperlukan pengertian yang mendalam terhadap pengajaran yang disampaikan. Dalam hal ini, maksudnya, adalah kita mempunyai tugas dan tanggungjawab untuk membentuk/ menyesuaikan hati nurani (conscience) kita, dengan kebenaran yang diajarkan oleh Gereja. Maka, kita tidak selalu dapat mengatakan bahwa hati nurani kitalah yang paling berhak memutuskan sesuatu, sebab jika demikian kita menempatkan hati nurani di atas kebenaran yang diajarkan Gereja. Jika pada waktu yang lalu oleh satu dan lain hal, kita tidak mengetahui akan sesuatu, oleh kondisi yang tak terhindarkan, misal, karena kita benar-benar tidak mungkin tahu, tidak ada yang memberi tahu, atau sudah mencari tahu tetapi tidak menemukan, dst, maka itu dapat dikatakan ‘invincible ignorance.’ (ketidaktahuan yang tidak terhindarkan). Namun harus pula diterima, bahwa seringkali kita tidak tahu, karena kita sendiri yang tidak mau tahu, kita sendiri tidak berusaha untuk mengetahui, atau meskipun sudah tahu, tetap berkeras memegang pandangan kita sendiri. Nah dalam hal ini, maka kita tidak dapat dikatakan mempunyai invincible ignorance‘, namun ‘culpable ignorance‘ (ketidaktahuan karena kesalahan sendiri).

      Maka axiom, "the bond of faith that unites Christians ia greater than the things that divide them" itu pertama- tama adalah karena sebagai umat Kristiani kita bersatu dalam pengakuan iman tentang Allah Trinitas, dan akan Kristus; yaitu Allah yang adalah Kasih menyatakan kasih-Nya yang sempurna di dalam Kristus Yesus. Kebenaran ini menempati tingkatan tertinggi dalam hirarki kebenaran -kebenaran lainnya. Bahwa terjadi perbedaan dalam pemahaman pada kebenaran-kebenaran pada tingkatan di bawahnya, menjadi suatu permenungan bagi kita semua. Tentu bagi kita umat Katolik, kita mempercayai pengajaran yang disampaikan oleh Magisterium Gereja Katolik. Dalam hal inipun kita masih perlu untuk terus mendalaminya untuk semakin memahaminya, sehingga hati nurani kita terbentuk oleh kebenaran-kebenaran ini. Namun terhadap umat yang non-Katolik, memang kita tidak dapat memaksakannya. Yang dapat kita lakukan adalah kita menyampaikan kebenaran yang kita yakini, dan kemudian kita serahkan kepada hati nurani mereka sendiri untuk memutuskannya. Semoga oleh terang Roh Kudus, yang adalah Roh Kebenaran, mereka-pun akhirnya dapat sampai kepada kepenuhan Kebenaran itu, sehingga tidak ada lagi yang memisahkan kita.

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      Ingrid Listiati- http://www.katolisitas.org

  4. Shalom Pak Stef dan Bu Ingrid,
    saya mau tanya apakah ada upaya dari Gereja untuk membukukan / menuliskan Tradisi (bukan tradisi – “t” kecil)yang ada di Gereja Katolik? Jika tidak ada, apa alasannya? Apakah dasarnya Yoh 21:25 (jika semuanya itu harus ditulis agaknya dunia ini tidak dapat memuat semua kitab)? 2000 tahun jika memang ada niat untuk menuliskan semua Tradisi itu pasti akan terlaksana juga sebenarnya.
    Saya menanyakan hal tersebut karena banyak sekali saudara kita dari Protestan yang tidak bisa menerima Tradisi itu yang katanya bisa saja salah karena tidak tertulis. Atau bias, atau lama kelamaan dari generasi ke generasi berikutnya akan terjadi kekeliruan (tidak sama lagi dengan Tradisi pada awalnya) karena tidak tertulis. Jika sudah tertulis tentunya bisa lebih menjawab sanggahan dari orang Protestan bahwa semua itu bukan karangan atas interpretasi dari Paus / Uskup / Imam saja atau bukan buatan manusia seperti tuduhan mereka.
    Terima kasih. Tuhan memberkati.
    Chandra

    • Shalom Chandra,
      Sebenarnya terdapat pengertian yang harus diluruskan di sini. Sebab, Tradisi Suci dikatakan tidak tertulis adalah dalam hubungannya dengan sumber utamanya yaitu Kristus dan para rasul, sedangkan setelah menjadi pengajaran Gereja Katolik, maka sebenarnya semua diturunkan secara tertulis, entah dalam bentuk pengajaran Bapa Paus dalam surat-suratnya, dalam Dogma, Konsili ataupun dokumen Gereja lainnya.  Jadi Tradisi Suci yang disampaikan secara lisan oleh para rasul sebenarnya adalah pesan Injil yang diturunkan secara tidak tertulis, sedangkan Alkitab adalah pesan Injil yang bersumber pada para rasul dan disampaikan secara tertulis. Maka karena sumbernya sama, maka Gereja Katolik menghormati keduanya, Tradisi Suci maupun Kitab Suci. Katekismus mengajarkannya demikian:
      KGK 76     Sesuai dengan kehendak Allah terjadilah pengalihan Injil atas dua cara:    
      * – secara lisan "oleh para Rasul, yang dalam pewartaan lisan, dengan teladan serta penetapan-penetapan meneruskan entah apa yang mereka terima dari mulut, pergaulan, dan karya Kristus sendiri, entah apa yang atas dorongan Roh Kudus telah mereka pelajari";
      * – secara tertulis "oleh para Rasul dan tokoh-tokoh rasuli, yang atas ilham Roh Kudus itu juga membukukan amanat keselamatan" (Dei Verbum 7).
      KGK 81    Oleh Tradisi Suci, Sabda Allah, yang oleh Kristus Tuhan dan Roh Kudus dipercayakan kepada para Rasul, disalurkan seutuhnya kepada para pengganti mereka, supaya mereka ini dalam terang Roh kebenaran dengan pewartaan [tidak tertulis] mereka, memelihara, menjelaskan, dan menyebarkannya dengan setia" (Dei Verbum 9).

      Jadi, Tradisi Suci ini juga adalah Sabda Allah yang dipercayakan kepada para Rasul dan kepada para pengganti mereka. Jika kita percaya bahwa Roh Kudus mengilhami penulisan Kitab Suci, kita juga selayaknya percaya bahwa pengalihan Tradisi Suci ini juga terjadi di bawah bimbingan Roh Kudus. Tradisi Suci yang diajarkan oleh Magisterium memang memiliki tingkatan-tingkatan, seperti yang telah diuraikan dalam artikel di atas, namun semua pengajaran itu merupakan pengajaran tertulis. Dan jika kita membacanya, itu sama sekali bukan merupakan ajaran yang timbul dari pemikiran Bapa Paus pribadi, tanpa dilengkapi dengan dasar-dasarnya. Bahkan kalau kita membaca, semua dokumen-dokumen itu mengambil dasar dari Kitab Suci, dan tulisan para Bapa Gereja, yang kita yakini dibimbing oleh Roh Kudus. (Sebagai contohnya, adalah Dokumen Vatikan II. Lihatlah berapa banyak kutipan Alkitab dan tulisan para Bapa Gereja di dalamnya!) Justru karena dibimbing oleh Roh Kudus ini, maka Bapa Paus (dan para uskup dalam persekutuan dengannya) tidak berkuasa mengubahnya sesuai dengan kehendak pribadinya. Dan mereka ini yang tergabung dalam Magisterium hanya menuliskan butir pengajaran yang sudah berakar dalam kehidupan Gereja sejak awal, dan tidak ‘sembarang’ menciptakan doktrin baru yang tidak berkaitan atau bertentangan dengan pengajaran para Bapa Gereja. Dengan demikian, maka kemurnian pengajaran Gereja yang berasal dari Kristus dan para rasul dapat terjaga.

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      Ingrid Listiati, http://www.katolisitas.org

  5. Terima kasih atas penjelasannya.
    Jadi infallible melekat ke ajaran-ajaran paus, bukan pada pribadi paus ya…
    Dari yang mutlak infallible adalah yang disampaikan ex-cathedra, lalu
    “Berikutnya memang ada tingkatan di bawahnya” , apakah maksud tingkatan ini adalah kadar infallible-nya atau kemungkinan tingkat kesalahan yg berbeda-beda? Bagaimanakah hirarki lengkap dari yg mutlak infalible sampai dengan yg paling kurang infallible? Kalau dokumen konsili dan ensiklik tingkatnya tinggi mana?
    Sebagai awam Katolik, bisakah kita mendapatkan daftar lengkap dokumen yg mengandung ajaran infallible itu apa saja, dan dokumen mana yang tidak/kurang infallible? Bukankah sebaiknya daftar lengkap ajaran-ajaran infallible tersedia lengkap di paroki-paroki. Misalnya bila umat dilarang menggunakan kontrasepsi, hal itu ajaran infallible atau setengah infallible atau belum infallible?
    [Dari Katolisitas: Pertanyaan ini sudah dijawab oleh Ingrid di atas]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

CONNECT WITH US: