Pertanyaan sdr/i Protestan tentang ajaran Katolik mengenai Bunda Maria

66

[Dari Admin Katolisitas: Berikut ini adalah pertanyaan dari Ben, yang mengutip beberapa sumber yang mempertanyakan ajaran tentang Bunda Maria].

Pertanyaan:

romo, pak stef bu nggrid saya menemukan di forum 1) http://www.ekaristi.org/forum/viewtopic.php?p=57089 dan 2) http://www.ekaristi.org/forum/viewtopic.php?t=78&start=0, gereja protestan mempermasalahkan Bunda Maria, dan di forum itu jawabannya belum ada yang pas, mohon bantuan romo, pak stef dan bu inggrid, berikut kutipannya, agak panjang maaf ya
1) http://www.ekaristi.org/forum/viewtopic.php?p=57089
Hi rekan-rekan Katolik!

Saya umat Protestan biasa, bukan teolog atau pendeta. Saat ini studi di Melbourne, Australia. Berikut pemikiran pribadi saya tentang Maria.

MARIA
(dalam perspektif Protestan)

Nathaniel Nugroho

“Ujilah segala sesuatu dan peganglah yang baik” (1 Tesalonika 5:21)

Peran Maria yang sangat sentral dalam transmisi sejarah keselamatan lewat Tuhan Yesus, memberikan tempat yang layak baginya untuk mendapatkan anugerah pujian dan penghormatan tersendiri dalam nurani Kristiani.

Namun rasa hormat terhadap Maria tidaklah pantas untuk diberikan secara berlebihan. Penghormatan kepada Maria tidak boleh mengarah pada devosi. Maria hanya ciptaan. Segala sesuatu diciptakan oleh Kristus, untuk Kristus dan di dalam Dia (Kol 1:16). Dengan demikian, Maria tidak lebih tinggi daripada Yesus dan tidak layak untuk disetarakan sebagai sumber rahmat. Sebagai konsekuensi imani, Maria bukan objek doa. Kita tidak sewajarnya berdoa kepada Maria, memintanya untuk mendoakan kita, melakukan ritual-ritual tertantu, atau bentuk-bentuk devosi apapun. Penghormatan adalah penghormatan dan devosi cukuplah devosi, hanya kepada Tuhan, Allah Abraham, Ishak, Yakub yang mengutus Kristus ke dunia dan yang telah berfirman: “Aku tidak akan membagi kemuliaanKu kepada yang lain” (Yes 42:8). Tidak ada tempat bagi Maria dalam wilayah devosi Gereja, sekalipun diminta mendoakan kita.

ROMANISME: Dari Mariologi ke Mariolatry
Adalah Romanisme Katolik, yang melahirkan rupa-rupa ajaran tambahan tentang superioritas Maria dalam keselamatan. Ia ditetapkan telah terbebas dari segala dosa asal (Paus Pius IX, 1854; Ratzinger, 1994), tetap tidak berdosa sepanjang hidupnya (Ratzinger, Catechism 411) dan tetap perawan selamanya setelah kelahiran Yesus (Ratzinger, Catechism 499-500). Berbagai studi yang telah dilakukan oleh Protestan terhadap kajian-kajian Mariologi menunjukkan, bahwa ajaran-ajaran ini telah mengarah pada ‘Mariolatry’, pemujaan Maria yang dilakukan di luar batas-batas kewajaran Alkitabiah.

Berikut beberapa dokumen Gereja Katolik menyangkut Maria.

“Mary has by grace been exalted above all angels and men to a place second only to her Son, as the most holy mother of God who was involved in the mysteries of Christ: she is rightly honored by a special cult in the Church.” – Second Vatican Council, “Dogmatic Constitution on the Church”, no. 66

“This motherhood of Mary in the order of grace continues uninterruptedly from the consent which she loyally gave at the Annunciation and which she sustained without wavering beneath the cross, until the eternal fulfillment of all the elect. Taken up to heaven she did not lay aside this saving office but by her manifold intercession continues to bring us the gifts of eternal salvation….Therefore the Blessed Virgin is invoked in the Church under the titles of Advocate, Helper, Benefactress, and Mediatrix.” – Catechism of the Catholic Church (969)

“Mary suffered and, as it were, nearly died with her suffering Son; for the salvation of mankind she renounced her mother’s rights and, as far as it depended on her, offered her Son to placate divine justice; so we may well say that she with Christ redeemed mankind.” – Pope Benedict XV, Inter Sodalicia

“Mary’s suffering [at Calvary], beside the suffering of Jesus, reached an intensity which can hardly be imagined from a human point of view but which was mysteriously and supernaturally fruitful for the Redemption of the world.” – Pope John Paul II, Salvifici Doloris, no. 25

“O Virgin most holy, none abounds in the knowledge of God except through thee; none, O Mother of God, obtains salvation except through thee, none receives a gift from the throne of mercy except through thee.” – Pope Leo XIII, Adiutricem Populi

“Enraptured by the splendor of your heavenly beauty and impelled by the anxieties of the world, we cast ourselves into your arms, Oh Immaculate Mother of Jesus and our Mother….we adore and praise the peerless richness of the sublime gifts with which God has filled you above every other mere creature, from the moment of conception until the day on which after your assumption into heaven. He crowned you Queen of the Universe. Oh crystal fountain of faith, bathe our hearts with your heavenly perfume. Oh Conqueress of evil and death, inspire in us a deep horror of sin which makes the soul detestable to God and the slave of hell. Oh well-beloved of God, hear the ardent cries which rise up from every heart in this year dedicated to you. Then tenderly, Oh Mary, cover our aching wound; convert the wicked, dry the tears of the afflicted and the oppressed. Comfort the poor and humble. Quench hatred, sweeten harshness, safeguard the flower of purity and protect the Holy Church. In your name resounding harmoniously in heaven, may they recognize that all are brothers…Receive, Oh sweet Mother our humble supplications and above all, obtain for us that on that day, happy with you, we may repeat before your throne that hymn which is sung today around your altars. You are beautiful Oh Mary. You are Glory Oh Mary. You are the joy, you are the Honor of our people.” – Pope Pius XII, celebration of the Marian Year in Rome, 1950 (cited in Robert Zins, Romanism [Huntsville, Alabama: White Horse Publications, 1995], pp. 162-163)

“Mary is all powerful with her divine Son who grants all graces to mankind through her” – Pope Benedict XV, Fausto Appetente Dei

“With a still more ardent zeal for piety, religion and love, let them continue to venerate, invoke and pray to the most Blessed Virgin Mary, Mother of God, conceived without original sin. Let them fly with utter confidence to this most sweet Mother of mercy and grace in all dangers, difficulties, needs, doubts and fears. Under her guidance, under her patronage, under her kindness and protection, nothing is to be feared; nothing is hopeless. Because, while bearing toward us a truly motherly affection and having in her care the work of our salvation, she is solicitous about the whole human race.” – Pope Pius IX, Ineffabilis Deus

Rupa-rupa ajaran ini tentu harus dipertanggungjawabkan secara moral dan Alkitabiah sebagai landasan iman umat Kristiani. Memang, otoritas Gereja Katolik selalu berpendapat bahwa, tidak perlu semua praktek dan ajaran harus ada dalam Alkitab, karena ada Tradisi Suci (Katolik biasanya akan mengemukakan Yoh 21:25, 2 Tes 2:15 sebagai argumen). Pendapat demikian boleh-boleh saja dan sah-sah saja, namun harus diingat, tradisi yang diwariskan itu pun tidak boleh bertentangan dengan kitab suci. Tradisi-tradisi tersebut harus dapat dipertanggungjawabkan validitasnya secara moral, sumber-sumber dan asalnya, dan tidak boleh bertentangan dengan Alkitab sebagai basis kebenaran. Adat-istiadat bisa salah. Tuhan Yesus sendiri mengingatkan, bahwa adat-istiadat (tak terkecuali kebiasaan) dapat menyesatkan:

“Dengan demikian firman Allah kamu nyatakan tidak berlaku demi adat-istiadatmu sendiri” (Mat 15:6).

Memelihara kebiasaan (tradisi), walaupun berbaju Gereja, tidak selalu dapat dibenarkan. Umat Protestan tidak mempersoalkan praktek transmisi adat-istiadat Gerejawi, kebiasaan dan tradisi, sejauh dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya secara Alkitabiah sebagai basis keimanan. Tradisi yang mengandung nilai-nilai yang bertentangan secara diametral dengan kitab suci, wajib dan harus kita tolak!

Dalam paper berikut akan kami paparkan dan telaah sejumlah doktrin buatan Gereja Katolik yang, menurut hemat kami, kurang memiliki basis kebenaran Alkitabiah yang dapat dipertanggungjawabkan. Akan kami tunjukkan nanti, bahwa bukan Protestan yang menolak atau menentang Katolisisme dan Mariolatry-nya, akan tetapi Alkitab itu sendiri.

IMMACULATE CONCEPTION?
Menurut Roma, Maria dibebaskan oleh dosa asal seumur hidupnya, sebagai rahmat perkandungannya atas Tuhan Yesus. Berikut beberapa dokumen yang memuat ajaran Katolisisme.

Kardinal Joseph Ratzinger (1994) sebelum menjadi Paus menuliskan dalam katekismusnya “The New Catechism of the Catholic Church” (selanjutnya kami singkat Catechism) bahwa Maria dibebaskan dari dosa asal:

Mary… was redeemed from the moment of her conception… preserved immune from all stain of original sin.
-Catechism 491

Mary remained free of every personal sin her whole life long.
-Catechism 493

Secara resmi, doktrin Immaculate Conception atau Maria Dikandung Tanpa Dosa ini telah ditetapkan melalui konstitusi dogmatis oleh Paus Pius IX, ini pun baru pada akhir abad ke-19. Bunyinya adalah sebagai berikut:

Sesungguhnya, kebingungan atas dogma SP Maria Dikandung Tanpa Noda Dosa (= Immaculata) bukanlah hal yang jarang terjadi. Sebagian orang secara salah beranggapan bahwa dogma tersebut berhubungan dengan Bunda Maria yang mengandung Kristus dari kuasa Roh Kudus. Sesungguhnya, dogma SP Maria Dikandung Tanpa Noda Dosa adalah keyakinan “… bahwa perawan tersuci Maria sejak saat pertama perkandungannya oleh rahmat yang luar biasa dan oleh pilihan Allah yang mahakuasa karena pahala Yesus Kristus, Penebus umat manusia, telah dibebaskan dari segala noda dosa asal” (Ineffabilis Deus, Paus Pius IX, 8 Desember 1854, terjemahan).

Namun, penetapan doktrin tersebut bukan tanpa kontroversi. Pembahasan tentang doktrin Maria tanpa dosa telah menimbulkan pergumulan dalam sejarah. Grolier Academic Encyclopedia, 1991, Vol. 13 hal. 184 menyebutkan, bahwa diskursus ini telah menimbulkan perselisihan selama abad pertengahan:

The doctrine of Mary’s immaculate conception was a matter of dispute throughout middle ages. In 1854, however, Pope Pius IX declared that Mary was freed from original sin by a special act of grace the moment she was conceived in the womb of Saint Anne (Tradition names Saint Anne and Saint Joachim as Mary’s parents).

Walaupun Grolier tidak menyebutkan secara pasti penyebabnya, namun hipotesa yang mungkin muncul adalah ketiadaannya basis Alkitabiah dari doktrin tersebut. Kenyataan bahwa ‘immaculate conception’ dicetuskan oleh Paus Pius IX pada tahun 1854 semakin menunjukkan, bahwa doktrin tersebut hanyalah rekaan atau ciptaan Paus semata.

Uniknya, penentang doktrin Maria tak berdosa ini berasal dari dalam lingkungan Gereja (Katolik) sendiri. Tidak semua teolog Gerejawi menerima doktrin ini secara absah. St. Thomas Aquinas (1224-1274), seorang santo dan teolog Gereja yang ternama, menolak doktrin ini.

The doctrine (Immaculate Conception) as defined was debated by theologians during the Middle Ages and was rejected by St. Thomas Aquinas (Grolier Academic Encyclopedia, 1991, Vol. 11, hal. 54).

Adalah cukup mengejutkan, bahwa Thomas Aquinas menolak (rejected) doktrin immaculate Maria ini! Beliau adalah seorang teolog Kristen yang sangat kredibel dan berpengaruh dalam sejarah Kekristenan. Ia sudah masuk biara Benediktin sejak berusia 5 tahun. Beberapa karyanya seperti Summa Theologiae (1267-73) menjadi referensi bagi perkembangan ajaran dogmatik Gereja Katolik. Ia hadir sendiri dalam Konsili Lyon tahun 1274, dikanonisasikan oleh Gereja pada tahun 1323 dan dianugerahi gelar Doctor of the Church pada tahun 1567. Melihat kredibilitasnya tersebut, penolakan Aquinas (yang notabene seorang santo menurut Gereja Katolik) secara khusus terhadap doktrin Immaculate Conception merupakan suatu representasi yang patut dicatat.

Selain itu, bagaimana mungkin, seorang yang telah dinobatkan sendiri sebagai santo oleh Gereja Katolik, menolak doktrin Immaculate Conception Maria yang disahkan melalui sebuah konstitusi dogmatis pada 1854? Ini tidak masuk akal. Perhatikan pendapat Romo Pidyarto Gunawan, O. Carm tentang konsekuensi dari menolak putusan dogmatis semacam ini:

Ajaran Gereja yang dimuat dalam suatu konstitusi dogmatis (misalnya ajaran Konsili Vatikan II tentang Gereja, Lumen Gentium) mempunyai bobot dogmatis yang mengikat: kalau orang mau disebut Katolik, harus menerima ajaran ini (Gunawan 2000:110).

Dengan opini tersebut, secara tidak langsung kita dapat menilai bahwa orang yang menolak keputusan dogmatis Gereja (Katolik) dapat secara normatif dianggap bukan lagi seorang Katolik. Bagaimana dengan St. Thomas Aquinas, seorang santo yang menolak dogma Maria Immaculata, apakah dengan demikian dapat dianggap tidak lagi seorang Katolik karena penolakannya tersebut? Ini tidak masuk akal dan merupakan kesalahan historis yang fatal! Paus Pius IX pasti kurang teliti dalam mempertimbangkan keputusan doktrinal tersebut.

Terlepas dari berbagai kontroversi tersebut, kita perlu menguji apakah ketidakberdosaan Maria tersebut memang benar-benar dapat dipertanggungjawabkan secara Alkitabiah.

Apakah Maria berdosa?
Mari kita perhatikan teks “Magnificat” dalam Luk 1:46-49 berikut:

Lalu kata Maria:
“Jiwaku memuliakan Tuhan,
dan hatiku bergembira karena Allah, Juruselamatku,
sebab Ia telah memperhatikan
kerendahan hambaNya.
Sesungguhnya, mulai dari sekarang
segala keturunan akan menyebut
aku berbahagia,
karena Yang Mahakuasa telah
melakukan perbuatan-perbuatan
besar kepadaku dan namaNya
adalah kudus.”

Dalam teks diatas Maria menyebut Tuhan, Allah, sebagai Juruselamatnya. Dalam terjemahan Inggris (Gideon International 1999/2001) digunakan kata ‘Savior’ yang berarti penyelamat untuk menunjukkan kebutuhan Maria akan pelepasan dari Allah. Hal ini menunjukkan, bahwa Maria adalah mahluk yang sama yang membutuhkan keselamatan. Ia masih berdosa. Kalimat-kalimat dalam nyanyian tersebut juga tidak menunjukkan adanya sukacita atas pembebasan dari dosa, tetapi atas rahmat Allah yang mengaruniakan dirinya keterpilihan sebagai ibu manusiawi Juruselamat kita, Tuhan Yesus Kristus. Adakah nyanyian tersebut menunjukkan keterlepasan Maria dari dosa asal yang mungkin telah terjadi? Tidak ada bukti yang menguatkan dari bacaan sebelumnya. Tidak ada satu ayatpun dalam Alkitab yang mendukung atau mengindikasikan bahwa Maria telah dilepaskan dari dosa asal.

Alkitab berkata:

Sesungguhnya , di bumi tidak ada orang yang saleh: yang berbuat baik dan tak pernah berbuat dosa! (Pengkhotbah 7:20)

“Semua orang telah bebuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah” (Roma 3:23).

Tidak ada seorang pun, selain Kristus di dunia (Yoh 8:46; 2 Kor 5:21; Ibr 4:15), yang tidak berbuat dosa. Dalam konteks inilah penghormatan terhadap Maria tersebut seharusnya diletakkan sebagai koridor iman.

Doktrin Katolik ini sangat lemah, dan bahkan bertentangan dengan Alkitab sebagai standar kebenaran. Sebagaimana dikemukakan diatas, doktrin ini menimbulkan keraguan secara histories bahkan di kalangan Katolik. Dengan demikian, doktrin ini harus dipertimbangkan kembali untuk dipegang sebagai acuan iman.

PENGANGKATAN MARIA KE SURGA
Doktrin Maria Assumpta (Maria terangkat ke surga) mengajarkan bahwa Bunda Maria terangkat ke surga dalam kemuliaan secara sempurna setelah wafatnya. Ajaran ini diteguhkan sebagai dogma pada tahun 1950 oleh Paus Pius XII.

Tentang pengangkatan Maria ini, Pidyarto Gunawan, O. Carm (2000), rohaniwan Katolik, menggambarkan:

Maria diangkat ke surga dengan badan dan jiwanya (hal.103).

Denzinger dan Schonmetzer (1976):

Pada akhir hidupnya di dunia ini, Maria diangkat ke surga dengan jiwa dan raganya, masuk ke dalam kemuliaan abadi.

Gunawan (2000) mengemukakan alasan penetapan doktrin tersebut sebagai berikut.

Ajaran tersebut berdasarkan penalaran teologis berikut ini. Dalam Perjanjian Baru (PB) jelas sekali diwartakan bagaimana Maria berjasa dalam pelaksanaan karya keselamatan. Maria erat sekali dikaitkan dengan seluruh hidup dan karya Yesus, PuteraNya. Maka dari itu, tentunya sudah sejak sekarang Maria bersatu dengan Puteranya yang sudah mulia dengan badan dan jiwanya di surga. Jadi seperti Yesus, Maria pun sudah berada di surga dengan badan yang dimuliakan. Ini tentu saja suatu anugerah khusus bagi Maria. Sebab apa yang sudah dialami Maria baru akan dinikmati oleh manusia-manusia benar lainnya sesudah pengadilan terakhir (hal. 105).

Ini rancu. Jika Maria diangkat ke surga atas hak keistimewaan oleh karena jasanya yang besar dalam karya keselamatan Yesus, lalu bagaimana dengan tokoh berjasa yang lain? Mengapa St. Yosef, Yohanes Pembaptis, atau bahkan Yudas Iskariot tidak mengalaminya? Alasan ini sangat lemah.

Kedua. Biasanya, teolog-teolog Katolik akan berargumen bahwa hal itu adalah sebuah karunia. Tetapi bukan itu persoalannya. Memang karunia Allah boleh saja terjadi, tetapi “Bawalah dua atau tiga orang saksi, supaya perkara tersebut tidak disangsikan” (Mat 18:16) seperti imbauan Tuhan Yesus, jauh lebih penting. Bahwa penalaran teologis (bukan fakta) yang menjadi dasar munculnya doktrin ini sebagaimana diungkapkan oleh Gunawan (2000) diatas, semakin memperkuat kesan adanya spekulasi teologis dalam kalangan Gereja Katolik atas kebenaran faktual doktrin Maria ini. Dengan kata lain, doktrin ini adalah hasil ciptaan belaka.

Paus Pius XII bahkan tidak dapat mengkonfirmasikan kebenaran faktual pengangkatan Maria ke surga ini. Pius XII berspekulasi, bahwa Maria ‘mungkin’ (might be) telah diangkat tubuh dan jiwanya ke surga. Dalam konstitusi apostolic Munificentissimus Deus, 1 November 1950, Pius XII menyatakan:

26. “Hence the revered Mother of God, from all eternity joined in a hidden way with Jesus Christ in one and the same decree of predestination, immaculate in her conception, a most perfect virgin in her divine motherhood, the noble associate of the divine Redeemer who has won a complete triumph over sin and its consequences, finally obtained, as the supreme culmination of her privileges that she should be preserved free from the corruption ot the tomb and that, like her own Son, having overcome death, she might be taken up body and soul to the glory of heaven where, as Queen, she sits in splendor at the right hand of her Son, the immortal King of the Ages.”

Hal ini menunjukkan bahwa Paus Pius XII tidak dapat memastikan kebenaran kenaikan tersebut! Semua hanya spekulasi.

Lebih jauh, penetapan doktrin ini bukan tanpa kontroversi dari kalangan Katolik sendiri. Para paus saling menyalahkan perihal kelayakan ajaran ini. Tahun 495, Paus Gelasius menyatakan ajaran Maria terangkat ke surga sebagai sesat. Hal ini ditegaskan kembali oleh Paus Hormisdas pada abad ke-6 yang juga menyatakannya sesat. Hal ini menunjukkan, bahwa pada masa awal Gereja, doktrin Maria Terangkat ke Surga memang sudah tidak memiliki dasar yang kuat. Doktrin ini setara dengan kesesatan. Barulah kemudian Paus Pius XII yang menetapkannya sebagai ajaran sah Roma pada tahun 1950 (William Webster, “The Church of Rome at the Bar of History”, hal. 81-85).

Kenyataan sejarah tersebut menunjukkan bahwa doktrin pengangkatan Maria tidak memiliki landasan sejarah yang kuat, apalagi Alkitabiah. Tantangan terbesar yang harus dibuktikan oleh Roma adalah adanya jejak faktual peristiwa tersebut, baik dari segi historis maupun Alkitab, yang memang tidak ada.

Alkitab mencatat semua nama tokoh yang diangkat oleh Allah ke surga: Henokh (Kej 5:22-24), Elia (2 Raj 2:1-11) dan Yesus sendiri (Luk 24:50-53). Rasanya janggal, jika setidaknya sampai abad ke-2, tidak ada catatan dari para rasul termasuk Rasul Paulus, atau Bapa-Bapa Gereja, tentang peristiwa kenaikan ini. Padahal, Maria adalah figur sentral yang tentunya sangat kita hormati.

Selanjutnya Gunawan (2000:104) menyebutkan, bahwa basis kebenaran faktual pengangkatan Maria tersebut TIDAK TERDAPAT dalam kitab suci. Lalu, dari mana sumber inspirasi penetapan dogma tersebut mungkin berasal? Grolier Academic Encyclopedia, 1991, Vol. 13 hal. 184 menyebutkan, bahwa ide tersebut berasal dari kitab-kitab apokrif!

The doctrine of Mary’s bodily assumption into heaven can be traced to apocryphal documents dating from the 4th century, but this doctrine was not officially formulated and defined for Roman Catholics until 1950.

Ya, dokumen-dokumen apokrif, surat-surat yang kurang dapat dipertanggungjawabkan kewibawaannya, dimungkinkan menjadi sumber inspirasi doktrin tersebut. Hal itu menunjukkan, bahwa konsep pengangkatan Maria (bodily assumption) ke surga tidak memiliki landasan Alkitabiah yang valid. Doktrin ini bahkan, berasal dari kitab-kitab apokrif, yang secara otomatis telah ditolak oleh Gereja setelah Alkitab dikodifikasikan secara final dalam Konsili Kartago tahun 397. Hampir semua bapa Gereja menolak penempatan kitab-kitab apokrif dalam kanon, kecuali Agustinus. Beliaupun memberi catatan, kitab-kitab tersebut dapat diterima, namun TIDAK SEPENUHNYA BERWIBAWA.

Para bapa Gereja menerima 39 kitab dari Perjanjian Lama. Kecuali satu yaitu Agustinus yang juga menerima buku-buku apokrif (buku-buku tambahan yang ditaruh di antara Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru dalam beberapa terbitan Alkitab). Tetapi ia mengakui bahwa buku-buku Apokrif tidak sepenuhnya berwibawa (Ryrie, 1991, hal. 140).

Menerima sumber dari kitab-kitab tersebut berarti membuka diri terhadap informasi-informasi yang tidak valid, tidak autoritatif dan tidak berwibawa. Kitab-kitab tersebut tidak layak dijadikan acuan.

Adalah Romanisme, yang kemudian memberi tempat bagi kitab-kitab Apokrif tersebut:

Buku-buku Apokrif tidaklah diakui secara resmi sebagai bagian dari kanon sampai Konsili Trente (1546) dan hanya oleh Gereja Roma Katolik (Ryrie, Vol. 1, hal. 140)

Perihal kenaikan Maria ini, bagaimana komentar Injil?
Tuhan Yesus sendiri bersabda:

“Tidak ada seorang pun yang naik ke sorga, selain dari pada Dia yang telah turun dari sorga, yaitu Anak Manusia” (Yoh 3:13).

MARIA TETAP PERAWAN (SEMPER VIRGO)?
Ajaran bahwa Maria adalah tetap perawan setelah kelahiran Yesus muncul dalam keputusan Konsili Lateran tahun 649 dan Konsili Vatikan II (Lumen Gentium No. 53 dan 63).

Mengenai ini, umat Protestan tidak keberatan dengan keadaan Maria yang adalah perawan sebelum kelahiran Yesus. Hal ini menunjukkan kesuciannya.

Namun ajaran Katolik Roma bahwa Maria senantiasa perawan setelah kelahiran Yesus perlu mendapat perhatian khusus. Roma secara berlebihan menyebut Maria sebagai “the all-holy ever-virgin Mother of God” (Catechism of The Catholic Church, 721), yang berarti selalu perawan.

Apa tujuan doktrin ini? Apa guna/relevansi nya bagi keselamatan?
Tidak jelas. Muncul hipotesa, bahwa Roma Katolik sebenarnya ingin menyiratkan keunggulan hidup perawan (selibat) sebagai pilihan yang lebih mulia daripada pernikahan. Hal ini didukung oleh kenyataan bahwa Gereja Katolik mengutuk setiap pemikiran yang menyatakan bahwa hidup selibat tidak lebih baik daripada pernikahan:

“If any one saith, that the marriage state is to be placed above the state of virginity, or of celibacy, and that it is not better and more blessed to remain in virginity, or in celibacy, than to be united in matrimony; let him be anathema” (Council of Trent, session 24, Canons On The Sacrament Of Matrimony, canon 10).

BERDOA KEPADA MARIA?
Pendapat John N. McCormick, C. SS. R. dan Joseph E. Ritter (Uskup Agung St. Louis, AS) dalam Why Catholics Pray to the Blessed Virgin Mary (1960) menarik untuk disimak:

Rosario yang didaraskan umat Katolik merupakan ungkapan kepercayaan mereka terhadap kedua kebenaran di atas. Umat Katolik yakin bahwa jika Maria berbicara kepada Putra Ilahi-nya bagi mereka, tak perlu diragukan lagi mereka pasti akan menerima jawab atas doa-doa mereka.

Jadi, Maria dipandang sebagai intermediator bagi doa-doa manusia. Paham ini diperkenalkan pertama kali oleh St. Andreas dari Kreta (wafat tahun 740) dan diinkorporasikan ke dalam Gereja dengan memberi gelar kapada Maria sebagai ‘Mediatrix’ (pengantara). Denzinger dan Schonmetzer (1976) menyebut Maria sebagai “pengantara dalam arti relatif”. Rupanya, ada semacam pengantara primer dan pengantara sekunder dalam Gereja Katolik (doktrin tentang derajat pemujaan Latria, Hyperdulia, dan lain sebagainya).

Paus Benediktus XVI, dalam surat ensiklik pertama di masa kepausannya, “Deus Caritas Est”, menyebut Maria sebagai orang kudus yang berperan paling jelas setelah kematian mereka:

The lives of the saints are not limited to their earthly biographies but also include their being and working in God after death. In the saints one thing becomes clear: those who draw near to God do not withdraw from men, but rather become truly close to them. In no one do we see this more clearly than in Mary (Roma, 25 Desember 2005)

Jadi jelas, keyakinan paham Roma bahwa orang-orang kudus dapat menjadi perantara doa menjadi dasar pemikiran bagi peran Maria sebagai intersessor bagi Gereja.

Tentang pengantaraan Maria ini, cukup sudah Alkitab berbicara:

Karena Allah itu esa dan esa pula Dia yang menjadi pengantara antara Allah dan manusia, yaitu manusia Kristus Yesus (1 Tim 2:5).

Pengantara kita umat Kristiani hanya satu, Tuhan Yesus sendiri! Tuhan Yesus dapat menjadi pengantara karena Dia ilahi sekaligus manusiawi.

Akhirnya, saya melihat, melalui Konsili Vatikan II, ada semacam kemauan dari Gereja Katolik, untuk secara rendah hati mengakui bahwa Maria memiliki ketergantungan terhadap Yesus, Puteranya. Grolier Academic Encyclopedia, 1991, Vol. 13 hal. 185:

The Second Vatican Council (1962-1965) included a chapter on Mary in the constitution of the Church that emphasizes Mary’s complete dependence on her son.

PENDAPAT LUTHER TENTANG MARIA
Martin Luther, tokoh reformator Gereja pada abad ke-16 berpendapat bahwa Maria ibunda Yesus, adalah wanita biasa sebagaimana layaknya seorang ibu yang lain. Perhatian kita seharusnya lebih mengarah kepada Anak-Nya, Tuhan Yesus Kristus. Dalam berbagai tulisannya yang telah dirangkum kembali dalam “Works of Luther” (terjemahan dari “Werke” dalam bahasa Jerman) , Vol. 22, Luther menulis:

“[...] since His mother, Mary, the virgin, was known to be a plain carpenter’s wife, no more respect was shown to her than to any ordinary woman. [...] For the greater the men of God and the larger the measure of the Spirit in them, the greater the diligence and attention they devote to the Son rather than to the mother.”

Luther kurang meyakini perlunya doktrin Maria tetap perawan (semper virgo) setelah kelahiran Yesus. Baginya, doktrin tersebut tidak membawa implikasi apapun terhadap keselamatan.

Luther kurang meyakini kebenaran doktrin pengangkatan Maria ke surga (Assumption of Mary). Baginya, doktrin tersebut kurang memiliki basis kebenaran faktual. Tidak ada informasi tentang hari-hari akhir Maria menjelang kematiannya.

“we have no knowledge of the death of Mary, the mother of Christ. Sarah alone has this glory, that the definite number of her years, the time of her death, and the place of her burial are described. Therefore this is great praise and very sure proof that she was precious in the eyes of God.” (Martin Luther, Luther’s Works, 4:189).

PENGARUH KITAB-KITAB APOKRIF
Kitab-kitab apokrif banyak berpengaruh terhadap berbagai doktrin pengultusan Maria. Beberapa apokrif yang sering disebut antara lain:
1. Protevangelium of James atau Infancy James (Dongeng Yakobus Kecil)
2. Injil-injil Maria
3. Kisah Kenaikan Maria (The Assumption of the Virgin)
4. Wahyu kepada Maria (the Revelation of Mary)

Brian Moynahan, pakar sejarah Kristiani Inggris dalam bukunya The Faith: A History of Christianity (2002) mencatat, pengultusan Sang Perawan untuk pertama kalinya muncul pada tahun 150, melalui kitab apokrif yang disebut Protevangel Yakobus (Protevangelium of James). Dalam kitab ini Maria digambarkan kudus, selalu perawan, dan ibunya Anna berjumpa dengan malaikat sebelum kelahirannya.

Moynahan menukilkan secuplik kisah dari apokrif Protevangelium tersebut. Bidan yang meragukan keajaiban Maria yang lahir kemudian mengalami musibah. Berikut kutipan ‘injil’ tersebut dimana sang bidan dikisahkan berteriak mendapat hukuman:

“I have put the living God on trial. Look! My hand is disappearing! It’s being consumed by the flames…” (Infancy James 20:2, disadur kembali oleh Miller, R. J., h. 393.)

Moynahan (2002) melaporkan tentang ‘saudara-saudara Yesus’ dari kitab yang sama:

The problem of the “sisters” and “brothers” of Jesus is solved by making Joseph an elderly widower who already has children when he marries Mary (hal. 48).

Jadi, dikisahkan bahwa Yosef (Yusuf) telah memiliki anak sebelum menikahi Maria. Anak-anak inilah yang kemudian disebut sebagai ‘saudara-saudara Yesus’ tersebut.

Apokrif kedua, Kisah Kenaikan Perawan (The Assumption of the Virgin), mengisahkan bahwa Kristus yang telah bangkit mengabarkan tentang kematian Maria yang akan datang segera dan transformasinya ke surga. Pada abad ke-4, banyak beredar kisah-kisah penyembuhan yang dilakukan oleh Maria. Beberapa menganggapnya bida’ah, sementara yang lain meyakininya benar (Moynahan 2002).

Bahkan, Maria dikabarkan juga menerima wahyunya sendiri. Ibarat Rasul Yohanes, Maria konon menerima wahyu yang dituangkan dalam kitab Revelation of Mary (Wahyu kepada Maria). Dalam kitab ini dikisahkan Maria menjadi perantara doa orang-orang yang terkutuk, yang tetap berbaring di rumah di hari Minggu dan tidak bangkit berdiri ketika pelayan jemaat datang (Moynahan 2002).

Lihat bahwa kisah-kisah apokrif diberi tempat oleh Roma Katolik sampai dengan Konsili Trente:

Buku-buku Apokrif tidaklah diakui secara resmi sebagai bagian dari kanon sampai Konsili Trente (1546) dan hanya oleh Gereja Roma Katolik (Ryrie, Vol. 1, hal. 140)

Kisah-kisah apokrif tersebut mirip dengan doktrin-doktrin ciptaan Paus Roma pada abad-abad sekarang. Kenaikan Maria ke surga, keterbebasannya dari dosa, ke-tetapperawan-an nya sepanjang masa, dan lain sebagainya, semuanya ada dalam apokrif.

Inilah bahayanya tradisi. Bila ajaran banyak dipengaruhi oleh dongeng-dongeng yang tidak jelas kebenarannya, Tanpa sadar, Romanisme tidak dapat lagi membedakan mana tradisi yang berbasis kebenaran dan mana yang tidak layak dijadikan pijakan iman, termasuk doktrin Maria.

MARIA DAN ALLAH TRITUNGGAL
Adalah Paus Pius XII (Ad Caeli Reginam, 11 Oktober 1954) yang berpendapat bahwa Maria mempunyai posisi hypostasis (‘hypostatic union’) dalam Trinitas:

“Mary is indeed worthy to receive honour and might and glory. She is exalted to hypostatic union with the Blessed Trinity.”. she is a Queen, since she bore a son who, at the very moment of His conception, because of the hypostatic union of the human nature with the Word, was also as man King and Lord of all things

Saya pribadi risih sekali membacanya.

Dalam pesannya melalui radio pada upacara ‘coronation of the statue of Our Lady of Fatima’, 13 Mei 1946, Pius XII berkata:

“. . . the glorious Virgin, entering triumphantly into heaven, was elevated above the hierarchies of the blessed and angelic choirs to the throne of the most Holy Trinity who, placing on her brow a triple diadem of glory, presented her to the heavenly court seated at the right hand of the immortal King of the ages and crowned ‘Queen of the Universe.’ ” (http://ourmotherofmercy.org/devoteesofmary/discus/questions/popeqnshp.html)

Maria disejajarkan dengan Trinitas!

Pius XII. Apostolic Constitution Munificentissimus Deus, November 1, 1950:

“Hence the revered Mother of God, from all eternity joined in a hidden way with Jesus Christ in one and the same decree of predestination, immaculate in her conception, a most perfect virgin in her divine motherhood, the noble associate of the divine Redeemer who has won a complete triumph over sin and its consequences, finally obtained, as the supreme culmination of her privileges that she should be preserved free from the corruption ot the tomb and that, like her own Son, having overcome death, she might be taken up body and soul to the glory of heaven where, as Queen, she sits in splendor at the right hand of her Son, the immortal King of the Ages.”

Perhatikan apa yang dimaksud dengan ‘hypostatic union’ menurut O’Collins, SJ dan Farrugia SJ (1996):

Kesatuan antara ke-Allah-an dan kemanusiaan yang penuh dalam satu pribadi (ilahi) Yesus Kristus, yang terjadi ketika ‘Sabda menjadi daging’

Jadi, Gereja Katolik menyejajarkan Maria dengan Trinitas! Ibarat Kristus, Maria dipandang memiliki kodrat hipostatis. Sebagai orang Kristiani, iman saya sangat terusik dan risau membaca pernyataan Paus tersebut.

Alkitab mengajarkan kepada kita kesempurnaan pengenalan akan Allah Bapa, Putra dan Roh Kudus yang mengaruniakan keselamatan kepada kita. Tuhan Yesus sendiri befirman untuk membaptiskan setiap orang yang percaya kepadaNya:

“…dalam nama Bapa, dan Anak, dan Roh Kudus” (Mat 28:19)

Itulah Tritunggal (Trinity) atau Trinitas yang benar. Mengikutsertakan Maria ke dalam nya sama dengan menyejajarkannya dengan Allah Tritunggal dan menganggapnya sebagai Tuhan! Saya menilai, doktrin ciptaan Paus Pius XII tersebut telah membuat Trinity menjadi Quaternity!

Lagi, Maria dianugerahi kekuasaan tertinggi di surga (highest summit of power).

Paus Leo XIII. Encyclical Supremi Apostolatus, September 1, 1883:

“We consider that there can be no surer and more efficacious means to this end than by obtaining through devotion and piety the favor of the Virgin Mary, the Mother of God, the guardian of our peace and the minister to us of heavenly grace, who is placed on the highest summit of power and glory in heaven, in order that she may bestow the help of her patronage on men who through so many labors and dangers are striving to reach that eternal city.”

Bahwa Maria diberi atau dianugerahi oleh Yang Lebih Tinggi, tentu bukan masalah karena ini menunjukkan subordinasi. Tetapi dianugerahi kekuasaan (power) dan kemuliaan (glory) yang TERTINGGI? Ingat firman Allah:

“Aku tidak akan membagi kemuliaanKu kepada yang lain” (Yes 42:8)

Majalah Katolik Fatima Crusader (edisi Winter, 1994) menulis bahwa gadis Maria (Madonna) berbagi kekuasaan dengan Allah, dan memasukkannya sebagai salah satu dari Trinitas!

“Madonna has a share in the royalty of God.” She is quoted there as having said – as to where, when and to whom, your guess is as good as mine: “I am she who is in the Divine Trinity.

Kardinal Alphonsus de Liguori (1931) bahkan menyebutkan, bahwa segala sesuatu tunduk kepada Maria, termasuk Allah!

“all things, even God, obey the commands of Mary” [The Glories of Mary, Vol. 1, p. 265].

MARIA – RATU SURGA?

Romanisme menciptakan gelar Ratu Surga (Queen of Heaven) bagi Maria. Dikatakan bahwa Allah meninggikan dia sebagai Ratu Surga dan bumi (”Catechism” 966). Maria layak dipuja dengan devosi khusus (”Catechism” 971, 2675).

Benarkah demikian?
Kitab Wahyu menceritakan suasana surga dalam penglihatan Yohanes (Wahyu 4-5).
Perhatikan ayat-ayat berikut:
Allah bersemayam diatas takhta di tengah lingkaran (Why 4:2),
dikelilingi oleh 24 tua-tua (Why 4:4),
dan keempat binatang (Why 4:6),
serta para malaikat mengelilingi dan menyanyikan puji-pujian.
Di tengah lingkaran itulah, di hadapan takhta Allah, berdiri Anak Domba (Why 5:6)

Di manakah posisi Maria dalam takhta surga tersebut, jika memang ia adalah Ratu Surga yang memiliki posisi signifikan? Tidak ada. Alkitab tidak melukiskannya samasekali.

Siapakah yang layak ditinggikan menurut Kitab Wahyu tersebut? Perhatikan ayat berikut:

“Bagi Dia yang duduk di atas takhta dan bagi Anak Domba, adalah puji-pujian dan hormat dan kemuliaan dan kuasa sampai selama-lamanya!” (Why 5:13)

Bukan Maria.

BEBERAPA FAKTA
Mary Ann Collins (2006), mantan biarawati yang beralih memeluk Protestan, melaporkan hukuman inkuisisi terakhir yang terjadi di Spanyol pada tahun 1826. Seorang kepala sekolah digantung karena mengganti kalimat “Salam Maria” (Salam Maria) dalam sebuah acara doa dengan “Terpujilah Allah” (Praise be to God).
(http://www.catholicconcerns.com/MaryWorship.html#Devotion)

Kedua penulis berikut adalah mantan Katolik yang telah meninggalkan keyakinannya dengan baik. Mereka tetap menghormati Gereja Roma. Bukunya berisi tentang kontradiksi ajaran-ajaran Katolisisme dengan Alkitab, layak dijadikan referensi:
(1) James G. McCarthy . “The Gospel According to Rome: Comparing Catholic Tradition and the Word of God,”.
(2) William Webster . “The Church of Rome at the Bar of History”.

2) http://www.ekaristi.org/forum/viewtopic.php?t=78&start=0
AJARAN MENGENAI MARIA (MARIOLOGI)

Di dalam sejarah, penghormatan umat Kristen terhadap Maria sebagai ibu Yesus adalah wajar dan sepatutnya, tetapi bagi umat Katolik Roma tidak demikian. Mereka mengangkat kedudukan Maria bahkan setara dengan Tuhan Yesus. Dari jajaran orang-orang suci, Maria, ibu Yesus menempati kedudukan yang paling utama bahkan sentral. Semula ibadat mengenai Maria timbul dari penghormatan sebagai ibu Yesus yang melahirkan Yesus, tetapi berkembang ajaran-ajaran yang makin meluas yang tidak dijumpai datanya dari Alkitab, tetapi dari tradisi.

“Sebutan ‘Bunda Allah’ dan ‘Perawan’ sangat erat berhubungan satu dengan yang lain. Kedua sebutan itu mengungkapkan keluhuran Yesus, sekaligus kesucian Maria. Maka di samping kedua gelar tersebut Gereja juga menyatakan bahwa Maria secara total bebas dari dosa dan karena itu juga dari kehancuran maut. Ada empat dogma atau pernyataan iman Gereja yang menyangkut Maria.

(1) Maria adalah Bunda Allah.

(2) Maria adalah Perawan.

(3) Maria terkandung tanpa dosa.

(4) Maria diangkat ke surga dengan jiwa dan badannya.

…keempat kebenaran itu berkaitan, yang satu tidak lengkap tanpa yang lain”. (ibid. hal. 231).

A. Maria menggantikan atau menggeser tempat Allah / Yesus.

1. Maria dijadikan obyek doa.

Orang Katolik menganggap bahwa dengan berdoa kepada Maria, doa mereka lebih manjur untuk dikabulkan daripada kalau mereka berdoa kepada Allah / Yesus. Alasannya adalah Maria melahirkan Yesus. Karena Yesus adalah Putra Allah maka Maria disebut Bunda Allah.

Orang Katolik memang berdoa kepada Maria terbukti dari doa Salam Maria:

“Salam Maria penuh rahmat

Tuhan sertamu

Terpujilah engkau di antara wanita

dan terpujilah buah tubuhmu Yesus

Santa Maria Bunda Allah

Doakanlah kami yang berdosa ini

Sekarang dan waktu kami mati.

Amin.”

“Bunda Maria, hatimu selalu tertuju pada Allah. Oleh karenanya engkau selalu bisa mengalahkan bujuk rayu setan. Dampingilah ya Bunda, supaya hati kami pun selalu tertuju kepada Allah. Kami ingin selalu waspada terhadap godaan setan dan menjauhinya. Kami ingin memelihara hati kami supaya tetap bersih.

Tak lupa juga, ya Bunda, doakanlah kakek-nenek dan saudara-saudari kami yang telah dipanggil Tuhan, supaya mereka mendapatkan kebahagiaan kekal. Antarlah mereka kepada Tuhan Yesus Putramu. Dan jangan lupa jemputlah kami semua pada saat kematian kami nanti. Hantarlah pula kami menuju Yesus Putramu.

Bunda, doamu adalah harapan kami. Doa yang engkau lambungkan untuk kami tentu menjadi kesukaan Tuhan Yesus. Tuhan Yesus pasti mengabulkannya. (Fx. Wibowo Ardhi, Mari Berdoa Salam Maria, Kanisius, hal. 45-46).

“Santa Maria, Bunda Allah, doakanlah kami yang berdosa ini, sekarang dan waktu kami mati. Amin.” (ibid. hal. 233).

“Maria tidak hanya merupakan pola utama dan teladan yang menunjukkan keadaan yang kita cita-citakan bagi kita, dengan meneladan iman, harapan dan kasihnya, tetapi ia juga aktif mendoakan kita supaya Roh Kudus diarahkan berlimpahan pada kita.” (George A. Maloney SJ, Maria Rahim Allah, Kanisius, hal. 147).

Sanggahan kristen:

a. Kitab Suci tidak pernah mengajar kita untuk berdoa kepada Maria. Rasul-rasul juga tidak pernah berdoa / meminta apapun kepada Maria. Doa hanya boleh ditujukan kepada Allah.

b. Maria harus menjadi Allah yang maha tahu untuk bisa mendengar doa-doa orang Katolik yang begitu banyak. Dan ia harus menjadi Allah yang maha kuasa untuk bisa mengabulkan doa-doa itu.

c. Kalaupun ada doa kepada Maria yang dikabulkan, pengabulan doa itu pasti datang dari setan. Setan bisa mengabulkan doa yang salah, supaya manusia terus berdoa dengan cara yang salah itu. Jangan lupa bahwa juga ada banyak orang berdoa kepada patung berhala dan mendapatkan pengabulan doa! Jadi, ada pengabulan doa, tidak berarti bahwa doa itu benar!

2. Maria dianggap sebagai perantara antara Allah dan Manusia.

Bahwa Katolik Roma memang mempercayai hal ini terbukti dari: [= Dan ia (Maria) betul-betul merupakan perantara perdamaian antara orang-orang berdosa dan Allah. Orang-orang berdosa menerima pengampunan oleh ... Maria saja] – ‘The Glories of Mary’, hal 82-83.

Sanggahan Kristen:

a. 1Tim 2:5 dan 1Yoh 2:1-2, menunjukkan bahwa Tuhan Yesus adalah satu-satunya perantara antara Allah dan manusia. Karena itu jelas bahwa Maria bukanlah perantara! Kalau Maria adalah perantara, maka kedua ayat tersebut adalah salah!

b. Hanya Yesus yang bisa menjadi perantara antara Allah dan manusia, karena Dialah satu-satunya Pribadi yang adalah sungguh-sungguh Allah dan sungguh-sunggguh manusia.

c. Seorang pengantara harus mempunyai kurban. Yesus mengurbankan nyawa-Nya, sehingga Ia bisa menjadi perantara / Imam Besar (Ibr 9:11-15). Sebaliknya, Maria tidak punya kurban apapun.

d. Kalau karena Yesus datang kepada kita melalui Maria, maka kita harus datang kepada Yesus melalui Maria, maka argumentasi ini bisa dilanjutkan sebagai berikut: karena Maria datang kepada kita melalui orang tuanya, kita pun harus datang kepada Maria melalui orang tua Maria. Dan karena orang tua Maria datang kepada kita melalui kakek dan nenek Maria, kita pun harus datang kepada orang tua Maria melalui kakek dan nenek Maria. Kalau ini diteruskan maka akhirnya untuk datang kepada Yesus kita harus melalui Adam dan Hawa! Ini adalah suatu konsekwensi yang pasti tidak akan diterima oleh orang Katolik sekalipun!

3. Maria dianggap sebagai pintu gerbang ke surga / jalan keselamatan, bahkan sebagai satu-satunya pintu gerbang ke surga / jalan keselamatan.

Perhatikan kutipan-kutipan di bawah ini:

(= Maria disebut … pintu gerbang surga karena tidak seorang pun bisa memasuki kerajaan yang mulia itu tanpa melewati dia) – ‘The Glories of Mary’, hal 160.

(= jalan keselamatan tidak terbuka bagi siapapun selain melalui Maria. … Keselamatan kita ada dalam tangan Maria … Ia yang dilindungi oleh Maria akan selamat, ia yang tidak dilindungi oleh Maria akan terhilang) – ‘The Glories of Mary’, hal 169-170.

Sanggahan Kristen:

a. Yoh 10:1,7,9 Yoh 14:6 Kis 4:12 menunjukkan bahwa Yesus adalah satu-satunya jalan ke surga / jalan keselamatan. Kalau Maria adalah jalan keselamatan, apalagi kalau Maria adalah satu-satunya jalan keselamatan, maka ketiga ayat tersebut di atas adalah salah!

b. Kalau memang Maria adalah pintu gerbang ke surga / jalan keselamatan, untuk apa Yesus harus datang ke dunia dan mati di salib? Bandingkan dengan Gal 2:21 yang menyatakan bahwa seandainya ada jalan keselamatan melalui ketaatan pada hukum Taurat, maka kematian Kristus adalah sia-sia! Analoginya, seandainya melalui Maria orang berdosa bisa mendapatkan keselamatan, maka kedatangan dan kematian Kristus juga sia-sia!

4. Maria dianggap mempunyai kuasa di bumi dan di surga.

Ajaran ini terlihat dari kutipan di bawah ini:

(= segala kuasa diberikan kepadamu di surga dan di bumi sehingga terhadap perintah Maria semua taat – bahkan Allah … dan demikianlah … Allah telah meletakkan seluruh Gereja di bawah kekuasaan Maria) – ‘The Glories of Mary’, hal 180-181.

Sanggahan Kristen:

a. Kuasa di surga dan di bumi hanya diberikan kepada Tuhan Yesus (Mat 28:18), bukan kepada Maria! b. Dengan pemberian kuasa semacam itu kepada Maria akan menjadikan Maria sebagai Allah!

5. Maria dijadikan obyek penyembahan.

“Bunda Maria berjanji mau membantu kita berdoa, tetapi ia juga mengharapkan supaya kita memohon kepadanya. Bunda Maria akan lebih mudah dalam membantu kita menjadi murid Yesus yang baik, bila kita sungguh-sungguh berniat mau menjadi baik” (Fx. Wibowo Ardhi, Mari Berdoa Salam Maria, Kanisius, hal. 43).

Secara resmi Gereja Katolik Roma menyangkal menyembah Maria dan membedakan 3 macam penyembahan:

a. LATRIA: Ini adalah penyembahan yang tertinggi, dan ini hanya ditujukan kepada Allah.

b. DULIA: Ini adalah pemujaan terhadap malaikat / orang-orang suci.

c. HYPER-DULIA: Ini adalah pemujaan yang lebih tinggi dari DULIA, dan ini ditujukan kepada Maria.

Tetapi dalam prakteknya, orang-orang awam Katolik Roma tidak tahu apa-apa tentang hal ini.

Sanggahan Kristen:

a. Kitab Suci tidak pernah mengajarkan adanya 3 macam penyembahan seperti yang diajarkan oleh Gereja Katolik itu. Jadi disini lagi-lagi terlihat adanya ajaran Katolik Roma yang sama sekali tidak punya dasar Kitab Suci!

b. Sekalipun mereka tidak menamakan ‘penyembahan’, tetapi mereka berdoa kepada Maria, berlutut di bawah patung Maria, menyanyi memuji Maria. Semua itu jelas tidak bisa disebut sebagai penghormatan, tetapi harus dianggap sebagai penyembahan.

c. Kitab Suci jelas melarang penyembahan pada manusia maupun malaikat (Mat 4:10 Kis 10:25,26 Kis 12:20-23, Kis. 14:14,15 Why. 19:10 Why. 22:8,9). Perhatikan bahwa dalam Kis 10:25-26, Kornelius jelas bukan menyembah Petrus karena menganggapnya sebagai Allah! Ia menyembah Petrus sebagai penghormatan kepada Petrus sebagai rasul Tuhan. Tetapi, Petrus tetap menolak sembah itu, karena sebagai manusia biasa ia tidak layak menerima sembah, dan sembah hanya boleh diberikan kepada Allah! Demikian juga dalam Why. 19:10 dan Why. 22:8-9, pada waktu rasul Yohanes menyembah malaikat, rasanya tidak mungkin ia menyembah malaikat itu karena menganggapnya sebagai Allah. Mungkin ia menyembahnya hanya sebagai pernghormatan, atau sekedar karena takutnya melihat malaikat, tetapi malaikat menolak sembah dan mengalihkannya kepada Allah!

d. Kitab Suci melarang kita yang masih hidup untuk mengadakan kontak dengan orang yang sudah mati (Ul 18:9-12 Im 20:6 Yes 8:19-20). Sekalipun Maria adalah ibu Yesus, tetapi ia tetap sudah mati, sehingga kita tidak boleh berdoa ataupun mengadakan kontak dengan dia. Ini tidak berbeda dengan orang-orang yang mengadakan kontak dengan orang yang sudah mati dengan menggunakan jai-langkung, permainan cucing, dsb.

B. Maria dianggap sebagai perawan yang abadi

Orang Katolik Roma bukan hanya mengakui bahwa Maria adalah seorang perawan pada waktu mengandung dan melahirkan Kristus, tetapi juga bahwa keperawanan Maria bersifat abadi. Dengan kata lain, setelah kelahiran Yesus pun Yusuf, suami Maria, tetap tidak pernah berhubungan sex dengan Maria.

“Dalam dirimu, ya Perawan tak bernoda,

batas-batas alam terlangkahi,

melahirkan, namun tetap perawan.

Kematian menjadi jaminan hidup.

Sesudah melahirkan, engkau tetap perawan,

sesudah mati engkau tetap hidup.

Ya, pengandung Allah.

Engkau menyelamatkan kami, warisanmu,

Tak henti-hentinya!”

(George A. Maloney SJ, Maria Rahim Allah, Kanisius, hal. 156).

Sanggahan Kristen:

a. Dalam Mat 1:24-25 dikatakan bahwa Yusuf tidak bersetubuh dengan Maria sampai Yesus lahir. Sekarang pikirkan sendiri bagaimana saudara menggunakan kata ’sampai’. Kalau misalnya dikatakan bahwa kita libur sampai tanggal 1 Januari, maka bukankah itu berarti bahwa setelah itu kita tidak lagi libur? Jadi, kalau dikatakan bahwa Yusuf tidak bersetubuh dengan Maria sampai Yesus lahir, ini berarti bahwa sesudah kelahiran Yesus mereka hidup sebagai suami istri biasa / bersetubuh.

b. Tidak ada perlunya / gunanya mempertahankan keperawanan Maria setelah Yesus lahir. Kristus memang harus lahir dari seorang perawan untuk menggenapi Yes 7:14 dan supaya Yesus bisa lahir tanpa dosa. Tetapi setelah Yesus lahir, keperawanan Maria itu tidak lagi perlu dipertahankan.

C. Immaculate Conception / Lahir dan hidup tanpa dosa (1854):

Doktrin Immaculate Conception ini artinya:

Maria dikandung dan lahir tanpa dosa asal.

Maria juga tidak berbuat dosa dalam sepanjang hidupnya.

Maria bahkan dianggap sebagai ‘tidak bisa berbuat dosa’ (NON POSSE PECCARE (= not possible to sin).

Doktrin ini dikeluarkan oleh Paus Pius IX tanggal 8 Desember 1854.

Sanggahan Kristen:

1. Alkitab berkata bahwa sejak kejatuhan Adam ke dalam dosa semua manusia dikandung dan lahir dalam dosa dan bahkan berbuat dosa (Ayb 25:4 Mzm 51:7 Mzm 58:4 Pkh 7:20 Rm 3:10-12,23 Rm 5:12,19). Yang dikecualikan hanyalah Tuhan Yesus sendiri (2Kor 5:21 Ibr 4:15). Karena itu haruslah disimpulkan bahwa Maria adalah manusia berdosa seperti kita.

2. Dalam Luk 1:46-47, Maria menyebut Allah sebagai Juruselamatnya. Mengapa Maria membutuhkan Juruselamat kalau ia memang sama sekali tidak berdosa?

3. Dalam Luk 2:22-24, Maria mempersembahkan korban penghapus dosa (bdk. Im 12:1-8). Sekalipun kenajisan / ketidak-tahiran karena melahirkan anak itu bukanlah suatu dosa moral, tetapi bagaimanapun tidak tahir / najis sangat kontras dengan suci / tidak berdosa!

4. Mengapa Maria harus mati (catatan: orang Katolik Roma pun percaya bahwa Maria mengalami kematian) kalau ia tidak berdosa? Kematian adalah upah dosa (Kej 2:16-17 Kej 3:19 Rm 5:12 Rm 6:23). Kristus memang juga mati meskipun Ia tidak berdosa, tetapi Ia mati untuk menebus dosa umat manusia. Bagaimana dengan Maria?

5. Tuhan Yesus suci karena Maria mengandung dari Roh Kudus, tetapi Maria dikandung oleh seorang perempuan yang mengandung dari laki-laki biasa. Bagaimana mungkin ia dikandung tanpa dosa dan dilahirkan tanpa dosa pula? Bandingkan dengan ayat-ayat Ayub 25:4, Ro 3:23, Ro 5:12, Ro 5:19a. Kalau Maria dikandung dan lahir tanpa dosa, maka semua ayat-ayat di atas ini adalah salah!

6. Orang Katolik Roma menekankan kesucian Maria karena mereka berpendapat bahwa kalau Yesus itu suci, maka Maria, yang melahirkan-Nya, juga harus suci. Tetapi doktrin ini mempunyai konsekwensi logis sebagai berikut: kalau karena Yesus itu suci maka Maria harus suci, maka karena Maria suci kedua orang tua Maria harus suci. Dan kalau kedua orang tua Maria suci, maka keempat kakek nenek Maria harus suci. Kalau ini diteruskan maka akan menunjukkan bahwa Adam dan Hawa pun harus suci! Ini adalah konsekwensi logis yang orang Katolik Roma pun tidak akan mau menerimanya!

7. Doktrin Immaculate Conception ini baru muncul pada tanggal 8 Desember 1854. Mengapa dibutuhkan 18 abad untuk menemukan doktrin ini? Jelas karena memang tidak pernah ada dalam Kitab Suci!

D. Assumption of Mary (1950)

Doktrin tentang The Assumption of Mary (= Kenaikan Maria ke surga secara jasmani) dikeluarkan oleh Paus Pius XII dengan embel-embel ‘EX CATHEDRA’ (=dari kursinya) pada tanggal 1 Nopember 1950. Di surga Maria menduduki tempat yang lebih tinggi dari para orang suci atau penghulu malaikat. Ia dinobatkan sebagai Ratu Surga oleh Allah Bapa sendiri dan ia diberi tahta di sebelah kanan Anaknya.

“Bunda Maria diangkat ke surga dengan seluruh jiwa raganya oleh Allah” (Fx. Wibowo Ardhi, Mari Berdoa Salam Maria, Kanisius, hal. 39).

Sanggahan Kristen:

1. Doktrin ini baru muncul tanggal 1 Nopember 1950. Mengapa dibutuhkan waktu 19 abad untuk menemukan doktrin ini? Jelas karena tidak pernah ada dalam Kitab Suci!

2. Perlu dipertanyakan pertanyaan ini: dengan tubuh apa Maria bangkit dan masuk ke surga? Sampai saat ini hanya Kristus yang mempunyai tubuh kebangkitan. Semua manusia akan menggunakan tubuh ke-bangkitan pada saat Kristus datang kali kedua (Yoh 5:28-29 1Kor 15:20-23,50-55 1Tes 4:13-17)!

Dari ajaran-ajaran mengenai Maria tersebut di atas tradisi makin lama semakin berkembang, sehingga makin sukar membedakan mana ajaran Alkitab dan mana ajaran tradisi gereja.

Pesan Penutup:

Kalau Katolik Roma mengambil pandangan extrim kiri dengan memuliakan Maria lebih dari seharusnya, janganlah orang Kristen Protestan lalu mengambil pandangan yang extrim kanan dengan menghina atau merendahkan Maria. Maria tetap adalah orang beriman yang saleh, yang rela dipakai Tuhan sebagai alat-Nya untuk melahirkan Kristus!

Kalau ada mujizat-mujizat yang berhubungan dengan Maria dan mendukung pandangan Katolik Roma tentang Maria (misalnya Maria menampakkan diri dan mengaku sebagai Perawan tanpa dosa), maka sadarilah bahwa mujizat yang bertentangan dengan Kitab Suci itu pasti datang dari setan! Kitab Suci mengatakan bahwa Iblis bisa menyamar sebagai malaikat terang (2Kor 11:14), dan karena itu tidak terlalu mengherankan kalau ia bisa menyamar sebagai Maria atau bahkan Yesus sendiri.

Oleh: Budi Asali

http://www.geocities.com/reformed_movement/

Salam, Ben

Jawaban:

Shalom Benedict,

Berhubungan dengan panjangnya pertanyaan yang diajukan, kami mencoba menjawabnya dengan membagikan beberapa topic.

Pertama -tama, dari pendapat tersebut, saudara/i kita yang Protestan mempertanyakan tentang mengapa Gereja Katolik menempatkan Bunda Maria di tempat istimewa, jika dibandingkan dengan para orang kudus lainnya. Sebab bagi mereka Bunda Maria sama dengan tokoh di Alkitab yang lainnya. Hal ini pernah saya jawab di sini (silakan klik). Beberapa kutipan pengajaran dari para Bapa Paus dan Konsili Vatikan II tentang Bunda Maria disertakan, namun sayangnya, saudara/i kita yang Protestan tidak mengakui otoritas Bapa Paus, dan juga tulisan para Bapa Gereja. Sedangkan Gereja Katolik memperoleh pengajaran tentang keistimewaan Bunda Maria melalui pengajaran yang memang sudah dituliskan sejak abad- abad awal oleh para Bapa Gereja. Figur Bunda Maria memang tidak dominan dijabarkan dalam Alkitab, karena memang fokus Alkitab adalah Yesus sendiri.

Kedua, saudara-saudari kita yang Protestan menganggap bahwa pengajaran Bapa Paus tersebut sebagai ‘adat istiadat’ yang berasal dari manusia, dengan mengutip Mat 15:6. Tentu saja, menurut Gereja Katolik tidaklah demikian, sebab konteks yang disampaikan dalam Mat 15:6 adalah peraturan yang dibuat oleh manusia yang malah bertentangan dengan perintah Allah (untuk menghormati orang tua), sedangkan pengajaran tentang Bunda Maria oleh pihak Magisterium Gereja itu malah berdasarkan perintah Allah untuk menghormati orang tua (dalam hal ini ibu); dan Magisterium yang mengajarkan adalah juga penerus para rasul yang diberikan kuasa oleh Kristus untuk ‘mengikat atau melepaskan’ (Mat 16:19) dalam hal pengajaran tentang iman dan moral.

Ketiga, dari pengajaran para Bapa Paus ini, yang tidak dapat mereka terima adalah Immaculate Conception (Maria dikandung tanpa noda) dan Asumption of Mary (Maria diangkat ke surga, sebab menurut mereka hal ini tidak Alkitabiah. Memang, perkataan ‘Asumption of Mary’ atau ‘Immaculate Conception’ tidak ditemukan di dalam Alkitab, sama seperti perkataan “Trinity” ataupun “Bible” tidak ada dalam Alkitab. Namun prinsipnya ada diajarkan di dalam Alkitab. Saya pernah menuliskan artikel tentang Maria dikandung tanpa noda (silakan klik) dan tentang Bunda Maria diangkat ke surga (silakan klik).Umat Katolik percaya bahwa yang paling berwewenang menginterpretasikan Alkitab adalah para rasul dan para penerus mereka yang kita sebut sebagai Magisterium. Kepada Magisterium-lah kita percaya, Tuhan Yesus telah memberikan wewenang untuk menginterpretasikan Alkitab, sesuai dengan kuasa yang diberikan kepada para murid-Nya.

Secara khusus, saya ingin menanggapi tentang kutipan yang diambil dari tulisan Pius XII. Apostolic Constitution Munificentissimus Deus, November 1, 1950:

“Hence the revered Mother of God, from all eternity joined in a hidden way with Jesus Christ in one and the same decree of predestination, immaculate in her conception, a most perfect virgin in her divine motherhood, the noble associate of the divine Redeemer who has won a complete triumph over sin and its consequences, finally obtained, as the supreme culmination of her privileges that she should be preserved free from the corruption of the tomb and that, like her own Son, having overcome death, she might be taken up body and soul to the glory of heaven where, as Queen, she sits in splendor at the right hand of her Son, the immortal King of the Ages.”

Saudara kita yang mengutip perikop ini mengatakan karena perkataan ‘might be’ tersebut, maka disimpulkan bahwa Bapa Paus Pius XII hanya berspekulasi bahwa Bunda Maria hanya ‘mungkin’ di angkat ke surga. Saya ingin melihatnya secara objektif saja, sebab konteks kalimat tersebut, sebenarnya bukan demikian. Maksudnya ‘might be’ di sini adalah, ‘supaya ia dapat’/ so that it is possible for her to be.‘Might’ di sini sama artinya seperti yang disebut dalam Jn 1:7, “that through Him [Jesus] all men might believe.” / “Ia [Yohanes] sebagai saksi untuk memberi kesaksian tentang terang itu, supaya oleh Dia semua orang menjadi percaya.” (Yoh 1:7). Atau, 1Pet 2:24, “so that we might die to sins and live…”/ “Ia telah memikul dosa kita di dalam tubuh-Nya di kayu salib, supaya kita, yang telah mati terhadap dosa, hidup untuk kebenaran (1 Ptr 2:24). Atau 1 Jn 3:5, “so that He [Jesus] might take away our sins”/ “bahwa Ia telah menyatakan diri-Nya, supaya Ia menghapus segala dosa…”(1 Yoh 3:5). Dan masih ada banyak lagi ayat dalam Alkitab yang memakai kata ‘might’, tapi maksudnya bukan ‘mungkin’ tetapi ‘supaya sesuatu terjadi’ akibat dari pernyataan sebelumnya.

Keempat, ada yang mempertanyakan bagaimana St. Thomas Aquinas yang dinobatkan menjadi Santo dam Doktor/ Pujangga Gereja-pun tidak sepaham dalam hal doktrin Immaculate Conception ini. Maka menurut mereka, ini suatu tanda bahwa dokrtin ini tidak mempunyai dasar yang kuat.

Dalam bukunya Summa Theologica III, q. 27, a. 2, yang dipermasalahkan oleh St. Thomas adalah:

1) apakah Bunda Maria dikuduskan sebelum ‘animation’/ conception. Maka, nampaknya, diskusi di sini adalah mengenai kapankah tepatnya Bunda Maria dijadikan tidak bernoda sejak di dalam kandungan oleh Allah? Karena St. Thomas Aquinas tidak meragukan bahwa oleh rahmat Allah yang khusus diberikan kepada Bunda Maria, maka sejak dalam kandungan Maria dikuduskan oleh Allah. Silakan membaca lebih lanjut mengenai hal ini dalam Summa Theologica, III, q. 27, dari a. 1 sampai 6 (silakan klik)
2) St. Thomas melihat bahwa karena Yesus adalah Juru Selamat semua orang, maka selayaknya Bunda Maria juga menerima warisan dosa asal ini, seperti manusia yang lainnya.  Namun pada diskusi selanjutnya, St. Thomas mengajarkan bahwa oleh rahmat pengudusan Allah Bunda Maria segera disucikan dari segala dosa sejak dari kandungan, sehingga ia kemudian terbebas dari dosa asal maupun dosa pribadi/ dosa aktual (lihat artikel 3 dan 4). Maka dari sini kita melihat kesulitan/ keberatan St. Thomas berpusat pada pertanyaan, bagaimana mungkin Bunda Maria tidak berdosa (menerima dosa asal), sebab jika demikian ia tidak membutuhkan Yesus sebagai Juru selamatnya. Padahal, sebenarnya, dengan memegang logika berpikir St. Thomas, bahwa Tuhan tak terikat oleh ruang dan waktu, dan Tuhan memang menyediakan rahmat khusus kepada Maria sehubungan dengan perannya sebagai Bunda Allah, maka Tuhan dapat memberikan rahmat khusus kepada Maria agar ia terbebas dari dosa asal sejak conception; dan dengan demikian Maria malah lebih lagi memerlukan Yesus sebagai Juru Selamatnya. Sebab hal ‘dibebaskan dari dosa asal sejak di dalam kandungan’ tidak mungkin terjadi tanpa jasa Kristus yang menyelamatkannya dan menguduskannya. Don Scotus (1308) adalah teolog yang pertama yang mengajarkan demikian, dan Gereja Katolik memegang ajarannya untuk mengkoreksi dan menyempurnakan pengajaran St. Thomas.

Maka, Bunda Maria sangat membutuhkan Yesus sebagai Juru Selamat-nya, sebab justru hanya karena kuasa Kristuslah maka Bunda Maria dapat dikandung tanpa noda sejak conception dan dibebaskan dari dosa seumur hidupnya. Jadi hal ‘tidak berdosa’ ini bukan disebabkan karena kekuatannya sendiri, tetapi karena rahmat Allah. Pengudusan Maria ini terjadi bukan sebelum conception dan juga bukan sesudah conception, tetapi pada saat conception. Keistimewaan ini memang hanya diberikan kepada Bunda Maria, dan hal ini diberikan secara antisipatif (sebelum Yesus wafat dan bangkit dari kematian-Nya) karena sebagai Allah, kuasa Kristus tidak terbatas oleh waktu dan tempat, dan Ia dapat memberikan kuasa-Nya sesuai dengan kehendak-Nya. Rahmat pengudusan pada saat conception ini tidak bertentangan dengan pengajaran St. Thomas pada ST III, q. 27, a. 2 tersebut, yang memang mengatakan bahwa Allah menguduskan tabernakel-Nya, yaitu Bunda Maria yang [akan]mengandung-Nya, yaitu pada saat terbentuknya tubuh dan jiwa Maria, sang tabernakel/ tabut Perjanjian Baru.

Diperlukan keterbukaan hati untuk melihat bahwa memang hanya kepada Bunda Maria lah satu-satunya kesempatan diberikan, bahwa seorang ciptaan dapat melahirkan Pencipta-Nya (yaitu Firman yang menjadi manusia). Tokoh Alkitab yang lainnya tak ada yang dapat memiliki kesempatan untuk melahirkan Kristus. Maka Maria disebut sebagai Tabut Perjanjian Baru, yang membawa di dalam tubuhnya, Kristus sendiri, sebagai tanda dari Perjanjian Baru. Jika Allah begitu spesifik pada saat menentukan persyaratan tabut Perjanjian Lama (lih. Kel 25-31), dengan menentukan ukurannya (dengan angka-angka yang sangat detail), bahannya, bentuknya, warnanya, bahkan senimannya,  ‘hanya’ untuk menjadikan tabut itu tempat menyimpan Kitab Taurat Musa, tongkat Harun dan roti manna, sebagai lambang Perjanjian Lama; betapa kita selayaknya menerima, betapa Allah juga akan mensyaratkan kesempurnaan dari Tabut Perjanjian Baru yang akan mengandung Putera-Nya sendiri! Ia yang adalah pemenuhan hukum Taurat Musa, dan Ia yang adalah Sang Imam Agung dan Sang Roti Hidup. Justru karena kekhususan peran Maria inilah maka memang ia tidak termasuk dalam ayat yang mengatakan bahwa ‘semua orang berdosa dan kehilangan kemuliaan Allah’ (Rom 3:23). Ini bukannya mengatakan bahwa keistimewaan Maria membatalkan ayat-ayat Alkitab di atas. Sebab memang konteks ayat-ayat tersebut adalah untuk menunjukkan kontras akan umat manusia yang secara umum baik bangsa Yahudi maupun bangsa –bangsa lain jatuh dalam dosa, dan hanya dapat dibenarkan jika percaya kepada Yesus. Maka dalam ayat Rom 3:23 ini gaya bahasa yang dipergunakan adalah hiperbolisme. (Lebih lanjut tentang cara-cara Gereja Katolik menginterpretasikan ayat Alkitab, silakan klik di sini). Maka ‘Semua orang’ pada Rom 3:23 memang tidak termasuk kondisi khusus Bunda Maria [dan juga Yesus, sebab Yesus juga adalah sungguh-sungguh manusia, di samping sungguh-sungguh Allah]. Inilah prinsip interpretasi yang dipegang oleh Gereja Katolik.

Saya ingin pula mengutip akan ketaatan St. Thomas Aquinas kepada Magisterium Gereja Katolik, sebab ia menyerahkan keputusan kepada Gereja untuk menyikapi semua ajaran yang dituliskannya. Kutipan perkataannya sesaat sebelum wafatnya, ketika ia menerima Sakramen Perminyakan suci, dan ketika Viaticum suci diberikan kepadanya, ia mengatakan sebagai berikut:

If in this world there be any knowledge of this sacrament stronger than that of faith, I wish now to use it in affirming that I firmly believe and know as certain that Jesus Christ, True God and True Man, Son of God and Son of the Virgin Mary, is in this Sacrament . . . I receive Thee, the price of my redemption, for Whose love I have watched, studied, and laboured. Thee have I preached; Thee have I taught. Never have I said anything against Thee: if anything was not well said, that is to be attributed to my ignorance. Neither do I wish to be obstinate in my opinions, but if I have written anything erroneous concerning this sacrament or other matters, I submit all to the judgment and correction of the Holy Roman Church, in whose obedience I now pass from this life.

Kelima,  saudara/i kita yang Protestan mempertanyakan bagaimana Bunda Maria juga dikatakan sebagai perantara doa-doa umat beriman, sedangkan di Alkitab dikatakan kita hanya memiliki Pengantara yang satu-satunya, yaitu Kristus (1 Tim 2:5). Di sini memang perlu diterima bahwa terdapat pemahaman yang berbeda tentang pengertian arti “pengantaraan/ mediation” menurut Gereja Katolik dan Protestan. Menurut gereja Protestan, pengantaraan ini terbatas/eksklusif diberikan hanya kepada Yesus, sedangkan, menurut Gereja Katolik, Pengantaraan Yesus ini melibatkan anggota-anggota Tubuh-Nya yang lain, yaitu para kudus-Nya, dan secara khusus adalah Bunda Maria. Namun pengantaraan dari para kudus tersebut hanya mungkin terjadi karena Pengantaraan Kristus, jadi memang tidak pernah terlepas dari Kristus sang Kepala (lih. 1 Kor 12). Ini membawa implikasi yang sangat besar, dalam pengertian kita jika kita berdoa dengan melibatkan para kudus dan Bunda Maria. Kita berdoa memohon agar mereka mendoakan kita, sama seperti kita memohon kepada Pastor atau Pendeta mendoakan kita. Pada akhirnya, yang mengabulkan doa kita hanya Tuhan saja. Namun besarlah peran mereka (para kudus) tersebut, karena mereka orang-orang yang telah dibenarkan Allah dan telah bersatu dengan Allah di surga.

Permasalahannya, umat Protestan menganggap bahwa mereka yang sudah mati tidak bisa mendoakan kita/ berdoa syafaat bagi kita. Sedangkan bagi kita orang Katolik, mereka yang telah mendahului kita dan bersatu dengan Tuhan di surga adalah orang-orang yang ‘hidup’, dan bahkan lebih ‘dekat bersatu dengan Tuhan’ daripada kita yang masih berziarah di dunia ini. Sangatlah berbeda konteksnya dengan pengajaran pada kitab Perjanjian Lama dalam Ul 18:9-12 Im 20:6 Yes 8:19-20, dimana Tuhan memang melarang umat Israel memanggil arwah/ meminta petunjuk arwah. Jika kita memohon para kudus untuk medoakan kita, kita tidak memanggil arwah orang mati. Juga, tidak seperti dalam kisah PL, kita tidak menjadikan mereka ‘saingan’ Tuhan. Juga, karena kita mengetahui bahwa para kudus itu tidak ‘mati’ dalam arti binasa, karena mereka sudah memasuki kehidupan kekal di surga, maka mereka sebenarnya dalam arti keilahian lebih ‘hidup’ dari pada kita. Karena itu, maka kita dapat memohon kepada mereka untuk turut mendoakan kita, walaupun tetap kita yakini bahwa yang akhirnya mengabulkan doa kita hanyalah Tuhan saja. Prinsipnya, jika kita mengaku bahwa kita ini sahabat Kristus, maka“friends of Christ are also friends of mine.” Mereka yang telah berada di surga telah diangkat menjadi sahabat/ saudara/i Kristus dalam arti yang lebih penuh, karena mereka telah memasuki keabadian bersama Kristus. Dan dengan pengertian inilah maka kita menghormati mereka, tanpa mengurangi hormat yang kita berikan kepada Kristus.

Ke-enam, umat Protestan menganggap bahwa pembedaan cara penyembahan Latria (penyembahan hanya kepada Tuhan) dan Dulia (penyembahan kepada orang-orang kudus/ malaikat) adalah karangan Gereja Katolik dan tidak ada dalam Alkitab. Saya rasa, mungkin ada baiknya kita lihat, bahwa sebenaranya ada, walaupun memang perkataan ‘latria’ dan ‘dulia’ tersebut tidak secara literal disebutkan dalam Alkitab [sama dengan perkataan ‘Trinitas’ juga tidak ada secara literal ada dalam Alkitab]. Silakan lihat jawaban ini (silakan klik). Perbedaannya terletak di sini, bahwa umat Protestan menganggap bahwa nyanyian dan doa yang melibatkan Maria, dianggap sebagai ‘penyembahan’, sedangkan bagi umat Katolik, hal ini bukanlah penyembahan, tetapi penghormatan. Seperti jika kita menyanyikan lagu kebangsaan, itu juga tak berarti kita menyembah negara/ bangsa, tapi hanya menghormatinya.

Ke-tujuh, umat Protestan mempertanyakan tentang keperawanan Maria, dan bagi mereka, tidak mungkin Maria tetap perawan pada saat dan setelah melahirkan Yesus, atau tepatnya tidak penting, apakah Bunda Maria tetap perawan atau tidak sesudah melahirkan Yesus. Silakan membacanya dalam artikel Bunda Maria, tetap perawan, mungkinkah? (silakan klik) Hal keperawanan Maria ini juga diakui oleh para pendiri Gereja Protestan, yaitu Martin Luther, John Calvin, Zwingli dan John Wesley.

Sebenarnya, jika kita percaya bahwa bagi Allah tiada yang mustahil, tidak sulit untuk menerima hal ini. Selanjutnya, diperlukan juga kaca mata iman untuk melihat, bahwa adalah sangat ‘fitting’ bahwa Allah Sang ‘Incorruptible’ tidak akan lahir ke dunia dengan mengoyakkan keperawanan (to corrupt her virginity) bunda yang melahirkan-Nya. Sama seperti pada setelah kebangkitan-Nya, tubuh-Nya dapat masuk ke dalam ruangan tanpa merusak pintu, demikian juga tubuh-Nya lahir ke dunia tanpa merusak keperawanan Bunda Maria. Demikianlah interpretasi Para Bapa Gereja, secara khusus, St. Bernardus dari Siena. Keperawanan Maria ini tidak untuk dimaksudkan untuk merendahkan kehidupan pernikahan. Hal keperawanan Maria selamanya ini lebih terarah kepada kenyataan peran Maria sbagai Tabut Perjanjian Suci yang tidak mungkin ditempati oleh siapapun kecuali oleh sang Putera Allah sendiri. Maka hal keperawanan Maria ini sesungguhnya berhubungan dengan penghormatan kepada Kristus yang dikandungnya.

Ke-delapan, umat Protestan beranggapan bahwa umat Katolik mensejajarkan Maria dengan Allah Trinitas. Kutipan yang diambil oleh teman anda itu katanya diambil dari perkataan Bapa Paus Pius XII, (Ad Caeli Reginam, 11 Oktober 1954):

“Mary is indeed worthy to receive honour and might and glory. She is exalted to hypostatic union with the Blessed Trinity.” She is a Queen, since she bore a son who, at the very moment of His conception, because of the hypostatic union of the human nature with the Word, was also as man King and Lord of all things.

Berikut ini saya sertakan kutipan langsung dari surat ensiklikal tersebut (silakan klik), agar anda dapat membacanya, sebab saya tidak menemukan kutipan di atas dalam surat ensiklik tersebut. Jika saya kurang teliti membacanya mohon koreksi, dan tolong sertakan juga mengutipnya paragraph nomor berapa. Secara umum dokumen tersebut menjabarkan Bunda Maria sebagai Ratu Surga, yang diperolehnya bukan saja dari perannya sebagai Ibu yang melahirkan Tuhan Yesus, melainkan juga perannya sebagai Hawa yang baru, yang bekerja sama dengan Adam yang baru (Yesus) untuk mendatangkan keselamatan bagi dunia. Para Bapa Gereja yang mengajarkan tentang Maria sebagai Hawa yang baru (the new Eve) ini adalah:

  • Justin (Dialogue with Trypho 100),
  • Irenaeus (Against Heresies III.22.4),
  • Tertullian (On the Flesh of Christ 17),
  • Julius Firmicus Maternus (De errore profan. relig xxvi),
  • Cyril of Jerusalem (Catecheses 12.29),
  • Epiphanius (Hæres., lxxviii, 18),
  • Theodotus of Ancyra (Or. in S. Deip n. 11), and
  • Sedulius (Carmen paschale, II, 28).

Pada akhirnya, memang kita harus menerima, bahwa tidak mudah menyakinkan seseorang yang non- Katolik untuk menerima pengajaran tentang Bunda Maria ini. Kita sebagai umat Katolik hanya dapat mendoakan mereka, dan memohon pada Tuhan Yesus untuk menyatakan kebenaran ini, jika ini sesuai dengan kehendak-Nya. Menarik jika kita simak, pengalaman Scott Hahn, seorang pendeta Presbytarian dengan istrinya Kimberly Hahn, yang akhirnya menjadi Katolik, setelah sungguh-sungguh mempelajari Alkitab dan sejarah Gereja. Dalam buku yang memuat kesaksian iman mereka, Rome Sweet Home, (Ignatius Press, San Francisco, 1993, p. 143 ff.- Buku ini sudah diterjemahkan dalam bahasa Indonesia) Scott dan Kimberly Hahn juga mengalami pergumulan yang sangat tentang bagaimana menerima pengajaran tentang Bunda Maria ini, disebabkan oleh latar belakang mereka yang sangat menentang hal ini. Namun, rahmat Allah sendiri yang menuntun mereka untuk membuka hati dan menerima pengajaran tentang Bunda Maria yang disampaikan oleh Dr. Miravalle, seorang  pakar Mariologist yang secara garis besar adalah sebagai berikut:

  1. Maria bukanlah ditempatkan sebagai ‘dewi’/ goddest yang disembah, sebab penyembahan kita hanya ditujukan kepada Allah. Kita hanya menghormati Maria.
  2. Maria diciptakan secara istimewa sebagai ibu yang melahirkan Kristus, dan pengalaman ini tidak pernah diberikan dan tidak akan pernah diberikan kepada ibu manapun.
  3. Maria bersuka ria karena Kristus Juruselamatnya, seperti yang dikatakannya dalam Kidung Magnificat, sebab Ktristus menyelamatkannya dari dosa asal pada saat ia terbentuk dalam kandungan ibunya.
  4. Maria dikatakan sebagai Ratu surga, bukan karena ia ‘menikah’ dengan Allah, tetapi karena ia menjadi Ibu Yesus. Sama seperti Raja Salomo, anak Raja Daud yang memuliakan ibunya Betsheba, sebagai “Queen Mother”, demikian pula Yesus memuliakan ibu-Nya di sisi kanan-Nya di surga.
  5. Tugas/ misi Maria adalah untuk membawa banyak orang kepada Yesus, dengan mengatakan, “Apa yang dikatakan Yesus kepadamu, buatlah itu” (Yoh 2: 5).

Maria adalah karya agung Allah, ‘a masterpiece’. A masterpiece tidak akan ‘mengumpulkan’ pujian bagi dirinya sendiri, tetapi mengarahkan pujian tersebut kepada siapa yang menciptakannya.

Suatu pengalaman iman yang hanya dapat dialami, ketimbang didiskusikan, terjadi dalam hidup Scott dan Kimberly Hahn. (Scott Hahn adalah bekas seorang pendeta Presbyterian yang kemudian menjadi Katolik setelah mempelajari Alkitab dan tulisan para Bapa Gereja). Pengalaman berdoa Salam Maria, malah membawa mereka untuk lebih dekat kepada Yesus, sesuatu yang tak pernah mereka sangka dari semula. Inilah suatu kebenaran yang bicara lebih lantang dari pada tuduhan negatif tentang devosi kepada Bunda Maria, bahkan yang mengatakan bahwa mukjizat yang diperoleh melalui devosi kepada Bunda Maria itu berasal dari setan, seperti yang dituduhkan oleh tulisan teman Ben itu. Bagaimana mungkin setan malah membawa seseorang kepada pertobatan untuk lebih dekat kepada Tuhan Yesus? Lihatlah bahwa pengalaman Scott Hahn ini tidak terjadi satu atau dua orang saja, tetapi ini terjadi pada banyak orang. Banyaknya mukjizat yang terjadi di Lourdes ataupun di tempat-tempat ziarah penghormatan kepada Bunda Maria, tidaklah berupa mukjizat kesembuhan fisik semata, [walaupun memang beberapa mukjizat bahkan mendapat konfirmasi dari pihak medis, karena tidak dapat lagi dijelaskan secara medis]; sebab kelanjutannya adalah pertobatan secara rohani.

Sebenarnya, sebagai orang Katolik, kita menghormati Bunda Maria, karena Tuhan Yesus terlebih dahulu menghormatinya, maka kita hanya mengikuti teladan- Nya. Kita menghormati Maria, tanpa mengurangi penghormatan kita kepada Allah. Kita mengasihi Bunda Maria dan menerimanya sebagai Bunda kita juga, sebab itulah yang menjadi salah satu pesan Yesus yang terakhir sebelum wafat-Nya kepada murid-murid-Nya (lih. Yoh. 19: 27). Maka, dengan menghormati Maria, sebenarnya kita juga menghormati Allah, sebab kita menghormati dia yang dikaruniakan-Nya kepada kita untuk menjadi Ibu kita, yang akan menghantar kita untuk lebih dekat kepada Allah, dengan doa-doa-nya.

Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
Ingrid Listiati- www.katolisitas.org

PS: Tanggapan tentang kutipan buku The Glories of Mary, belum dapat saya tuliskan, karena saya belum membaca bukunya.  Akan saya sertakan jika saya sudah membacanya.

Share.

About Author

Ingrid Listiati telah menyelesaikan program studi S2 di bidang teologi di Universitas Ave Maria - Institute for Pastoral Theology, Amerika Serikat.

66 Comments

  1. Saya telah membaca tulisan2 ibu Inggrid dan Pak Stefanus Tay yang menarik dan panjang, Kesimpulan saya tidak ribet, ibu dan bapak berdua akan terus membela mati2an doktrin Katolik apapun itu dan akan selalu mencari cara mencounter setiap ‘serangan’. Saya memaklumi karena itu juga yang akan dilakukan penganut agama lain ketika di’serang’ kepercayaannya. Bagaimanapun, ada ego-religious secara psiko-spiritual yang terserang dalam diri dan melahirkan reflect of self-defense mechanism.

    Namun begitu, saya hanya berpesan sebagai sesama hamba Tuhan, MARI KEMBALI KEPADA ALKITAB, FIRMAN HIDUP. Biarlah Roh Kudus menuntun kita untuk Berani menyatakan yang benar sesuai dengan Firman yang tak tergoyahkan dan berani Mengaku salah ketika itu memang bertentangan dengan FirmanNya. Pandanglah hanya kepada Bapa Surgawi di dalam Yesus Kristus sang Penebus! Tidak ada yang lain. Betapa indahnya ketika kita hanya memandang kepada DIA Saja dan karya salibNYa. GOD AND GOD ALONE.

    Saya mengasihi saudara/i Katolik saya.

    Syalom,
    IN CHRIST.

    [Dari Katolisitas: Terima kasih, Anda telah mengingatkan kami untuk selalu kembali kepada Sang Firman yang hidup (Kristus), untuk menyatakan kebenaran. Itu juga yang selalu kami usahakan dalam karya kerasulan ini. Namun kami memang tidak dapat mengabaikan bahwa Sang Firman yang hidup itu menyatakan ajaran-Nya tidak hanya melalui Kitab Suci, namun juga melalui Tradisi Suci dan Magisterium. Mungkin menurut Anda ini adalah "self defense mechanism", namun bagi kami ini adalah kepenuhan kebenaran yang perlu diwartakan, sebagaimana dikehendaki oleh Tuhan Yesus sendiri, ketika memerintahkan para murid untuk mewartakan "segala sesuatu yang Kuperintahkan kepadamu" (Mat 28:20). Kami juga mengasihi saudara-saudari kami yang Kristen non- Katolik. Semoga dari dialog yang dilakukan atas dasar kasih, dapat tercipta saling pengertian di antara kita.]

    • Sebenarnya, kenapa gereja Katolik sekarang (atau katolikism) begitu menganggap penting Maria ibu Yesus tetap sebagai perawan? Memangnya kalau sudah tidak perawan, mempunyai anak-anak lagi, merupakan sesuatu yang hina, berdosa, dan mengurangi peranan Maria dalam karya keselamatan? Tentu ada hal yang jauh lebih dari sekedar “keperawanan Maria”. Ada kepentingan teologis lain dalam teologi katolik. Misalnya, untuk menjadi pembeda dengan Protestanism? Menjaga doktrin tentang purgatory? Atau apa? Contoh yang saya sebutkan hanyalah kemungkinan. Para teolog dan umat Katolik yang lebih tahu. Terimakasih.

      • Shalom Yanti,

        Gereja Katolik menganggap penting keperawanan Maria, karena itu adalah kebenaran. Semua hal yang benar, indah dan baik senantiasa dipandang penting oleh Gereja Katolik, dan sudah seharusnya dipandang penting oleh seluruh umat beriman. Itulah sebabnya, pendiri Gereja Protestan – Martin Luther – dan Calvinis – John Calvin -  juga mempercayai keperawanan Maria. Gereja Katolik tidak perlu membuat hal yang berbeda dengan gereja-gereja non-Katolik, karena Gereja Katolik ada terlebih dahulu dari semua gereja-gereja lain. Sebagai gambaran, dogma keperawanan Maria diberikan pada sinode Lateran tahun 649, jauh sebelum Martin Luther memisahkan diri dari Gereja Katolik. Dan kalau kita membaca tulisan dari para Bapa Gereja, maka pengajaran tentang keperawanan Maria telah diajarkan mulai abad ke-2. Silakan membaca artikel ini – silakan klik.

        Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
        stef – katolisitas.org

  2. Shalom… Saudara2 ku yang terkasih dalam Tuhan Yesus Kristus.

    Salam damai

    inilah point utama, mengapa saya memutuskan untuk meninggalkan Gereja Katolik… Walaupun keluarga saya dan leluhur saya adalah guru-guru agama Katolik yang membawa masuk Injil ke tanah Papua, saya harus membuat keputusan untuk memfokuskan penyembahan saya hanya pada Tuhan Yesus Kristus , Juru Selamat manusia satu-satunya… Saya lelah meminta perantara bunda Maria dan para Santo/Santa yg jumlahnya ratusan itu… ,, seolah-olah Tuhan Yesus itu begitu jauh…. Begitu angkuh… dan begitu sibuk untuk memperhatikan anak-anakNya..

    Pesan saya simpel saja, jangan memikirkan hal2 yg masih sebatas wacana dan teori yg berbelit2 yang akhirnya malah mengaburkan Kuasa dan Pribadi Tuhan Yesus itu sendiri karena itulah tujuan dari si iblis…….. bapa segala pendusta dan tipu muslihat

    Terima kasih
    Tuhan Yesus Menberkati

    • Shalom Tony,

      Terima kasih atas komentar Anda. Memang sebagian umat Katolik berpindah ke gereja-gereja lain. Namun, menjadi satu fakta, bahwa ada umat Kristen non-Katolik yang juga berpindah ke Gereja Katolik – bahkan ada cukup banyak pendeta di Amerika Serikat yang berpindah ke Gereja Katolik. Anda dapat mendengarkan kesaksian mereka di sini – silakan klik. Lihat juga diskusi orang-orang yang ingin pulang ke Gereja Katolik di sini – silakan klik. Katolisitas juga telah cukup banyak berdiskusi dengan umat Katolik yang telah berpindah ke gereja lain. Mungkin Anda dapat membaca diskusi ini – silakan klik, yang memaparkan beberapa orang yang mengambil langkah seperti Anda. Semoga diskusi ini dapat membantu Anda, untuk melihat bahwa sebenarnya menjadi tantangan bagi seluruh umat Allah untuk benar-benar mendalami imannya. Pertanyaannya adalah, apakah sebelum Anda berpindah ke gereja lain, Anda telah benar-benar mencoba mengerti apa yang sebenarnya diajarkan oleh Gereja Katolik? Jika Anda ingin benar-benar berdiskusi tentang iman Katolik, maka dengan senang hati saya akan mencoba menjawab pertanyaan-pertanyaan Anda semampu saya.

      Sebenarnya kalau kita sungguh mengerti iman Katolik, maka tidak mungkin kita berpindah ke gereja lain. Sebagai contoh, tidaklah benar bahwa di dalam Gereja Katolik Yesus terlihat begitu jauh, angkuh karena adanya santa-santo dan Bunda Maria, karena para santa/santo dan Bunda Maria justru akan membawa kita semakin dekat dengan Yesus. Maria berkata “Apa yang dikatakan kepadamu, buatlah itu!” (Yoh 2:5). Untuk membuktikan kasih Yesus dengan sehabis-habisnya kepada umat-Nya, Dia tidak hanya menyerahkan nyawa-Nya, namun juga memberikan ibu-Nya kepada umat Allah – yang diwakili oleh murid yang dikasihi-Nya, Yohanes. Jadi, kalau kita sungguh menghargai tanda kasih Kristus, sudah seharusnya kita melakukan apa yang dilakukan oleh murid yang dikasihi Yesus, yaitu: Menerima Maria di rumah hati kita. Itulah yang dilakukan oleh santa/santo, sehingga mereka dapat mengasihi Kristus dengan luar biasa, karena mereka mengikuti apa yang dikatakan oleh Maria, yaitu senantiasa melakukan kehendak Yesus. Para santa/santo ini bukanlah saingan Yesus, namun, kakak kelas kita di dalam iman, yang telah lulus ujian di dunia ini dengan sempurna. Jadi, para santa-santo dapat memberikan inspirasi kepada kita untuk mengasihi Yesus dengan sungguh lagi. Cobalah Anda membaca salah satu santa/santo, sebagai contoh, bacalah riwayat Bunda Teresa dari Kalkuta. Kemudian, kita coba renungkan, apakah kita dapat melakukan perbuatan kasih seperti yang dilakukan olehnya? Darimana sumber kekuatan untuk melayani sesama? Semoga kita semua diberikan terang Roh Kudus, sehingga kita semua dapat menempatkan kebenaran di atas segalanya.

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      stef – katolisitas.org

      • salam Bapak Stefannus Tay

        saya salut atas penjelasan Bapak berdasarkan logika, sejarah, kitab suci dan hukum gereja katolik kita,

        namun ada ganjalan di hati saya bahwa apakah selama ini jawaban Bapak sudah DIKONFIRMASI dengan “ROH KUDUS” dengan kebenaran yang dimaksud Bapak ini ???

        terimakasih
        salam damai & kasih
        rusli

        [dari katolisitas: Coba Anda jelaskan dengan lebih terperinci, jawaban seperti apakah yang dikonfirmasi dengan Roh Kudus?]

      • Proficiat Bp. Stefanus Tay yang dengan tekun, penuh hikmat, sabar dan rendah hati dalam takut akan Allah (suatu tanda penyertaan Roh Kudus) telah menjawab berbagai pertanyaan saudara-saudari dari Komunitas Protestan. Bapak telah menunjukkan diri sebagai pengikut Kristus sejati, milik kepunyaan Kristus yang istimewa karena tidak menolak Dia. (Bdk Yoh 1:11) Sebab bapak telah dengan sukacita melakukan atau sedikitnya mencoba melakukan perintahNya dan wasiatNya, terutama saat Yesus menitipkan Maria sebagai bunda bagi Yohanes, bapak memaknakannya sebagai wasiat terhadap Bapak sebagai pengikut Kristus juga.

        Saya senang melihat lukisan Pemahkotaan Maria oleh Ruben (bisa lihat di Wikipedia tentang Ratu Surga). Lukisan ini menunjukan pemahkotaan Maria oleh Yesus dan (sosok) Allah Bapa. Mahkotanya menyatu dengan merpati lambang Roh Kudus. Saya jadi ingat bukankah Malaikat Allah juga katakan: ‘Roh Kudus akan turun atasmu dan Kuasa Allah yang Mahatinggi akan menaungi Engkau.’ (bdk Luk 1:35). Imaginasi (/daya pikir) yang adalah bagian dari tiga daya jiwa bersama ingatan dan kehendak rupanya juga diperlukan dalam iman. Gelar Maria Ratu, yang Paus Pius XII tetapkan dengan juga upacara simbolik memasang mahkota pada lukisan Maria menjadi menarik. Mahkota adalah lambang kuasa, kiranya setara dengan Kuasa Allah yang menaungi Maria. Maka sekali lagi, pemberian gelar Ratu Surga sama sekali tidak bertentangan dengan Injil Tuhan sebaliknya suatu hasil refleksi mendalam atas Injil itu yang diungkapkan dengan sepenuh hati dan jiwa dan seluruh raga kemanusiawian untuk memuliakan Allah dan Kristus yang mewahyukanNya. Ketidakmampuan menghayati gelar Maria dan mengamini dogma Gereja menurut saya hanya membuktikan penyerahan diri pada keterbasan cara pandang dan cara pikir yang mengabaikan kemungkinan daya kreatif jiwa mengungkapkan iman. Dogma dan gelar Maria serta kanonisasi santo/santa adalah cara cerdas Gereja mengajarkan Allah Yang Mahakuasa kepada saya dan banyak orang sederhana lain yang tidak sebodoh saya. Terimakasih Katolisitas.

        Tentang berdoa kepada Maria. Mungkin ini istilah yang memang membingungkan jemaat Protestan yang tidak pernah atau belum sungguh-sungguh terlibat dalam dinamika Gereja yang Satu, Kudus, Katolik dan Apostolik. Ibadah, pujian, doa dan sembah Gereja hanyalah BAGI ALLAH BAPA, DENGAN PERANTARAAN & DALAM YESUS KRISTUS DAN DALAM ROH KUDUS – BERSAMA MARIA DAN PARA KUDUS. Jadi untuk saudara-saudari dari Komunitas Protestan, harap maklum jika saya dan rekan umat saya katakan berdoa pada Maria dan para kudus itu maksudnya kami mengundang mereka berdoa bersama kami. (bdk Mat 18:20 & Yoh 11:25-26). Dan saya percaya Maria sungguh orang yang percaya kepada Kristus mendahului para rasul dan santo/santa yang juga percaya kepada Kristus. Karena itu, Mereka tetap HIDUP, dan pasti bukan hidup yang egois muliakan Tuhan sendirian tanpa peduli kerabatnya yang susah di dunia atau hidup seperti orang kena stroke di rumah sakit…

        Semoga semakin besar Kemuliaan Allah dengan bersatunya saudara-saudari yang percaya pada Yesus dalam Gereja Kristus yang Satu, Kudus, Katolik dan Apostolik sehingga bermaknalah syahadat iman/pengakuan rasuli yang kita ucapkan bersama.

        Semoga

  3. Ivo Lefteuw on

    Orang protestan sibuk bicara tentang “Devosi” yg mereka tidak punya n tidak mengerti apa arti n tujuan/manfaatnya.
    [..... dari Katolisitas: kami edit]
    Agama Katholik merupakan kumpulan orang-orang Kristen [sejak Gereja] perdana di dlm sejarah keKristenan (sejak tahun 33 A.D.).
    Jangan sampai salah dimengerti tentang posisi Bunda Maria dalam iman Katholik. Bunda Maria bukan “disembah” melainkan “dihormati/dipuja secara khusus”.
    Saya sendiri bingung, kenapa orang Protestan merasa kami orang Katholik menempatkan Bunda Maria lebih tinggi dari Yesus, sedangkan kami menyadari bahwa hal itu tidak pernah terjadi dalam praktek iman keKatholikan kami…
    [Dari Katolisitas:.... diedit] Devosi bukan doa utama Katholik, melainkan [bagi kami penyembahan/ doa yang utama adalah] Perayaan Ekaristi Kudus/Misa Kudus, sesuai perintah Yesus sesaat sebelum didera: “Lakukanlah ini (perjamuan kudus) untuk mengenangkan Daku!”
    So, prioritas utama kami adalah Allah Tri-Tunggal, Bunda Maria hanya menjadi perantara dalam doa-doa kami, dan bukan tujuan akhir doa kami.[Dari Katolisitas:.... diedit]

  4. Dear Katolisitas.org
    saya ingin menyarankan Tempat untuk menjadi media pengumuman bahwa permohonan anda telah dikabulkan (Melalui Do’a Novena 3 salam maria), sebagai tanda terima kasih dan penghormatan kepada Bunda Maria yang tersuci.
    maaf jika out of topic, saya juga gak tau harus Coment di mana.
    tapi Jika sudah ada tolong beritahukan……

    [Dari Katolisitas: Silakan menggunakan rubrik Pojok Doa, jika Anda ingin mengucapkan doa syukur atas terkabulnya permohonan melalui Novena Tiga Salam Maria.]

  5. Saya umat katolik, saya sedih jika mendengar orang yang menjelek-jelekkan Bunda Maria padahal menurut pengalamanku kalau aku lagi sedih banget.. aku langsung berdoa pada Bunda Maria sambil menangis ( seperti curhat sama ortu kita ) setelah itu hatiku terasa plong dan lega.

    [Dari Katolisitas: Mari kita mendoakan mereka yang telah berpandangan negatif tentang penghormatan kepada Bunda Maria. Tugas kita sebagai umat Katolik adalah menyampaikan ajaran iman Katolik kepada mereka yang mempertanyakannya, sedangkan hal apakah mereka mau menerimanya atau tidak, sudah bukan merupakan bagian kita lagi. Biarlah Roh Kudus yang bekerja di dalam hati nurani mereka. Semoga mereka dapat melihat bahwa sesungguhnya Gereja Katolik memiliki dasar yang kuat, oleh karena yang pertama-tama menghormati Bunda Maria adalah Tuhan sendiri, dengan memilihnya untuk menjadi ibu-Nya; dan oleh Karena Tuhan Yesus memberikan Bunda Maria untuk menjadi ibu kita juga.]

  6. Yth Bu Ingrid,

    Di dokumen mana dapat saya temukan statement St T.Aquinas yg ibu kutip:

    “Saya ingin pula mengutip akan ketaatan St. Thomas Aquinas kepada Magisterium Gereja Katolik, sebab ia menyerahkan keputusan kepada Gereja untuk menyikapi semua ajaran yang dituliskannya. Kutipan perkataannya sesaat sebelum wafatnya, ketika ia menerima Sakramen Perminyakan suci, dan ketika Viaticum suci diberikan kepadanya, ia mengatakan sebagai berikut:

    If in this world there be any knowledge of this sacrament stronger than that of faith, I wish now to use it in affirming that I firmly believe and know as certain that Jesus Christ, True God and True Man, Son of God and Son of the Virgin Mary, is in this Sacrament . . . I receive Thee, the price of my redemption, for Whose love I have watched, studied, and laboured. Thee have I preached; Thee have I taught. Never have I said anything against Thee: if anything was not well said, that is to be attributed to my ignorance. Neither do I wish to be obstinate in my opinions, but if I have written anything erroneous concerning this sacrament or other matters, I submit all to the judgment and correction of the Holy Roman Church, in whose obedience I now pass from this life.”

    Terima kasih n GBU
    Geraldus

    • Shalom Geraldus,

      Saya menerjemahkannya dari situs New Advent Encyclopedia, klik di sini. Kutipan perkataan dari St. Thomas Aquinas tersebut relatif cukup dikenal dan dikutip di banyak pembicaraan tentang ketaatan St. Thomas. Di situs EWTN (klik di sini), dikatakan bahwa kutipan tersebut diambil dari buku karangan Prummer. Walau saya sendiri tidak mempunyai buku itu, namun kemungkinan buku yang dimaksud adalah:

      Manuale Theologiae Moralis Secundum Principia S. Thomae Aquinatis. Volume I
      S. Thomae Aquinatis (Saint Thomas Aquinas), Dominicus M. Prummer O. Pr, (Friburgi Brisgoviae: Herder & Co., 1931). p.45.

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      Ingrid Listiati- katolisitas.org

       

  7. Shallom Tim Katolisitas,

    Sebagai seorang Kristen Protestan saya heran, mengapa penulis mencantumkan kata-2 “Sanggahan kristen:” dalam tulisannya, mengesankan seolah alasan yang diberikan merepresentasikan keseluruhan umat Kristen Protestan.
    Di sisi lain, saya juga heran membaca kata-2 “saudara/i kita yang Protestan” atau “umat Protestan” dalam jawaban dari tim Katolisitas, yang dengan demikian seolah-2 mendukung kesan bahwa sanggahan-2 tersebut mewakili seluruh umat Kristen Protestan.

    Demi membangun diskusi yang sehat, sebaiknya kita sadari dulu bahwa ajaran-2 dalam gereja-2 di luar Gereja Katolik sangat beragam. Karena itu, setiap pendapat yang timbul tidak dapat begitu saja dianggap mewakili seluruh Gereja Kristen Protestan dan umatnya.
    (Sedikit catatan, saya hanya umat biasa yang tidak secara khusus mempelajari teologi, namun diajarkan oleh Gereja saya untuk senantiasa secara pribadi meneliti dan menguji iman dan setiap ajaran yang diterima)

    Sebagai contoh,

    Gereja-2 Kristen Protestan memang menolak untuk mengakui otoritas dan infallibilitas Paus. Namun penolakan ini pun beragam bentuk dan alasannya.
    Ada yang menganggap Paus sebagai sosok antikristus, dan ajaran Gereja Katolik Roma sebagai anatema dari Injil Yesus Kristus.
    Ada pula yang penolakannya berdasarkan penolakan terhadap doktrin keutamaan Petrus dan/atau doktrin suksesi apostolik, dan tidak beranjak lebih jauh, apalagi sampai memberikan label antikristus kepada pemimpin Gereja Katolik Roma.
    Apalagi jika turun ke level umat, pandangan ini menjadi lebih beragam. Keluarga saya, misalnya, memiliki kebiasaan untuk menonton siaran langsung misa natal dan paskah dari Vatikan untuk mendengar dan mencermati apa yang dikatakan oleh Paus. Selain itu kami juga dibiasakan untuk membaca buku-2 terjemahan Konstitusi Apostolik dan surat-surat Ensiklik kepausan.

    Tim Katolisitas juga mengatakan bahwa “Protestan tidak mengakui otoritas … tulisan para Bapa Gereja.”
    Hal ini tidak sepenuhnya benar. Jika ini sepenuhnya benar, maka gereja-2 Protestan tidak akan memiliki pengakuan iman (syahadat).
    Sebagai contoh, Gereja saya mengamini dan menyatakan pengakuan Iman kami dengan rumusan Symbolum Apostolicum (Syahadat Para Rasul) dan Symbolum Nicaeno-Constantinopolitan (Syahadat Nikea-Konstantinopel). Selain itu kami juga mengakui Pengakuan Iman Athanasius dan beberapa pengakuan lainnya. Jika gereja saya, yang adalah Gereja Protestan, tidak mengakui otoritas tulisan para Bapa Gereja, maka tidak mungkin gereja kami mengamini pernyataan-2 Iman tersebut.
    Selain itu, Gereja saya (tidak usah disebut namanya) menyatakan dalam artikel mengenai pemahaman iman, bahwa:
    “… merumuskan Pemahaman Imannya berdasarkan : Firman Allah, tradisi gereja dan pengakuan-pengakuan iman ekumenis;”

    Mengenai Santa Perawan Maria

    Ajaran gereja-2 Protestan mengenai Santa Perawan Maria pun beragam.
    Ada yang menolak keseluruhan doktrin Gereja Katolik mengenai Santa Perawan Maria, termasuk menolak sebutan Maria sebagai Bunda Allah.
    Ada yang menerima doktrin Semper Virgo Bunda Maria.
    Ada yang menganggap doktrin Immaculate Conception tidak relevan (biasanya gereja Calvinist). Catatan, tidak relevan adalah tidak sama dengan menolak. Gereja Katolik Orthodox pun, dengan alasan berbeda, menganggap doktrin ini tidak relevan.
    Mengenai Pengangkatan Maria ke Surga, tidak banyak dibicarakan dalam gereja-2 Protestan karena dianggap tidak berpengaruh terhadap berita Keselamatan.

    Walaupun ajaran gereja-2 Protestan terhadap Bunda Maria sangat beragam, namun saya yakin bahwa semua aliran dalam Gereja Kristen Protestan menolak apa yang populer dikenal sebagai The Fifth Marian Dogma.
    Pandangan yang menganggap Maria sebagai Co-Redemptrix, Mediatrix of All Graces and Advocate ini, sulit diterima oleh gereja-2 Kristen Protestan aliran manapun.

    Sebenarnya (minimnya) pengajaran gereja-2 Protestan mengenai Bunda Maria harus dilihat sebagai reaksi keras terhadap begitu banyaknya perhatian yang diberikan Gereja Katolik Roma terhadap Santa Perawan Maria. Dalam pandangan para Bapa Gereja Reformis, perhatian yang sangat banyak kepada Maria ini dapat mengurangi perhatian umat kepada Yesus Kristus, dan karenanya berbahaya.
    Inilah kekhawatiran utama gereja-2 Kristen Protestan, dan alasan untuk begitu besarnya penolakan (bahkan terkadang sampai pada tahap tidak masuk akal dan patut ditertawakan) terhadap doktrin-2 Gereja Katolik seputar Santa Perawan Maria.
    Dengan kata lain, inti dari penolakan gereja-2 Protestan untuk melakukan penghormatan terhadap Santa Perawan Maria (dan para orang Kudus lainnya) hendaknya dilihat sebagai usaha untuk menempatkan Yesus Kristus sebagai titik sentral dari Keselamatan.

    Bagi saya pribadi, perdebatan yang berlebihan seputar Santa Perawan Maria apalagi jika sampai mengambil panggung utama, adalah tidak menguntungkan dalam dialog menuju Keesaan Gereja.

    • Shalom Yoshi,

      Terima kasih atas komentar Anda. Hal yang perlu disadari adalah katolisitas.org memang situs yang bernafaskan Katolik. Ada begitu banyak pertanyaan yang masuk, baik dari umat Katolik maupun dari umat Kristen non-Katolik, termasuk tentang Maria. Diskusi tentang Maria bukanlah yang utama di dalam situs katolisitas, karena ada begitu banyak topik dialog dan artikel yang lain selain Maria. Anda dapat melihat arsip katolisitas di sini – silakan klik.

      Menjawab pertanyaan Anda, sesungguhnya kalau Anda membaca dengan teliti, maka Anda dapat menyimpulkan bahwa perkataan “Sanggahan Kristen” bukanlah jawaban dari Katolisitas, namun merupakan tulisan dari umat Kristen non-Katolik, yang tentu saja kami yakini tidak mewakili semua pendapat Kristen non-Katolik, namun perlu disadari bahwa memang hal tersebut juga menjadi pendapat umum umat Kristen Protestant – walaupun tentu saja ada beberapa perkecualian. Menjadi satu kenyataan, bahwa memang umat Protestan menolak keutamaan Paus dan hal ini tidak perlu disembunyikan dan kita bersama-sama dapat menyadarinya. Menjadi satu hal yang sungguh baik, kalau Anda mau untuk membaca beberapa tulisan dari para Paus. Semoga tulisan-tulisan tersebut dapat memberikan inspirasi.

      Tentang tiga dasar kebenaran yang Anda sebutkan “Firman Allah, tradisi gereja dan pengakuan-pengakuan iman ekumenis” adalah sungguh baik. Saya tidak tahu apakah Anda berniat untuk berdiskusi tentang hal ini atau tidak. Sebagai contoh, Tradisi Gereja menyebutkan tentang keutamaan Rasul Petrus. Silakan melihat artikel Keutamaan Petrus bagian 1-5. Bagian pertama ada di sini – silakan klik.

      Mungkin ada benarnya bahwa minimnya pengajaran Bunda Maria di kalangan umat Protestan adalah karena penolakan ajaran dari Gereja Katolik. Namun, menurut saya, menjadi lebih baik kalau kita memang menghormati Bunda Maria karena Tuhan yang memilihnya dan posisinya dalam karya keselamatan Allah. Jadi, umat Protestan tetap dapat menghormati Maria, tanpa perlu takut untuk dihubungkan dengan Gereja Katolik. Dengan menghormati Bunda Maria, sebenarnya Gereja Katolik tidak menyingkirkan Yesus, bahkan penghormatan terhadap Bunda Maria memberikan kejelasan tentang karya keselamatan Allah dan menjadikan Yesus sebagai pusat dari seluruh iman Katolik. Akhirnya, kalau Anda ingin berdiskusi lebih mendalam, mungkin ada baiknya untuk memilih satu topik, sehingga kita dapat mendiskusikannya secara lebih terstruktur dan mendalam.

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      stef – katolisitas.org

      • Shallom Stef dan tim Katolisitas,

        Yupp, saya menyadari betul bahwa perkataan “Sanggahan Kristen:” dalam tulisan di atas tidak berasal dari tim Katolisitas, sehingga dalam tanggapan saya memisahkannya dari paragraf berikutnya.

        Poin utama dalam tanggapan saya sebelumnya adalah untuk menjelaskan posisi bahwa HENDAKNYA TIDAK MEMUKUL RATA dengan menganggap bahwa semua aliran dalam Kristen Protestan menolak semua doktrin mengenai Maria. Seperti kesan yang timbul setelah membaca pertanyaan-2 dari si penanya (begitu juga jawaban dari tim Katolisitas). Sebagai gambaran kasar saja (supaya tulisan ini tidak berubah menjadi tulisan tentang sejarah Protestanisme), sebaiknya dibedakan antara gereja-2 Kristen Protestan yang liturgis dengan yang non-liturgis.
        Gereja-2 Protestan Liturgis, biasanya memiliki keterkaitan kuat dengan tradisi-2 dari gerakan Reformasi Protestan awal. Gereja-2 dalam kelompok ini biasanya beraliran Lutheran, Reformed, Episcopal, Presbyterian, dan Methodist.
        Denominasi-2 non-liturgis, biasanya bersumber dari tradisi Baptis, Evangelical, Pentakosta, dan Karismatik. Kelompok ini yang biasanya melakukan penolakan (hampir) total terhadap doktrin Gereja Katolik Roma.
        [dari katolisitas: Memang terlalu banyak denominasi yang ada, sehingga pada akhirnya sulit untuk melihat pengajaran yang mereka percaya. Namun, tentu saja kami mengetahui perbedaan-perbedaan pokok di antara denominasi-denominasi tersebut. Namun demikian, satu denominasi yang berakar dalam liturgi juga sulit diketahui apa yang sebenarnya mereka percaya, sebagai contoh: di Amerika, Lutheran dibagi menjadi 3: Wisconsin Synod, Missouri Synod, dan Evangelical Lutheran Church.]

        Selanjutnya,
        Mengenai keutamaan Rasul Petrus dan doktrin-2 lain, sebaiknya kita diskusikan di bawah artikel yang sesuai topik.
        [dari katolisitas: Silakan bergabung dalam diskusi tersebut]

        tentang Santa Perawan Maria,

        Pertama-2, umat Kristen Protestan SEHARUSNYA mengetahui, mengerti dan menghargai langkah Gereja Katolik Roma pasca Konsili Vatikan II yang telah “merampingkan” ajaran mengenai Bunda Maria. Tidak banyak umat Protestan yang mengetahui bahwa selepas KV II, banyak sekali patung-patung Para Kudus (termasuk Santa Perawan Maria) yang penempatannya dalam gereja dipindah/digeser ke samping (bandingkan dengan langkah Calvin yang mengeluarkan patung-patung dari dalam gereja).
        [dari katolisitas: Tidak ada dalam dokumen Gereja yang menyatakan bahwa patung Maria dan para kudus harus ditaruh di samping atau dikeluarkan.]

        Tidak banyak juga umat Protestan yang mengetahui bahwa KV II dengan sengaja memilih (walaupun dengan suara mayoritas yang tipis) menempatkan pengajaran tentang Maria ke dalam Konstitusi Dogmatis tentang Gereja (Lumen Gentium), dan tidak menempatkannya dalam dokumen terpisah. Sebuah langkah yang dengan sadar menempatkan Maria sebagai bagian dan dalam kerangka Gereja secara keseluruhan. Sebuah langkah besar yang didasari semangat ekumenis.
        [dari katolisitas: Sedari awal, Gereja Katolik menyadari bahwa peran Maria senantiasa berhubungan dengan Kristus.]

        Saya tidak bisa berbicara banyak mengenai Mariologi, karena seperti yang sudah saya katakan sebelumnya, posisi Gereja-2 Protestan Liturgis sebenarnya tidak terlalu banyak berbeda dengan Gereja Katolik Roma. Perbedaan-2 yang ada pun tidak dianggap begitu signifikan sehingga harus mempengaruhi berita keselamatan, kecuali pandangan (syukurnya belum menjadi dogma resmi GRK) yang menganggap Bunda Maria sebagai Co-Redemptrix, Mediator of All Graces, and Advocate. [dari katolisitas: Silakan melihat artikel tentang co-redemptrix di sini - silakan klik]
        Sayangnya, pandangan Protestan yang mengemuka di dunia akhir-akhir ini adalah isu-isu yang dibawa oleh denominasi-2 non-liturgis.

        Jika ditanyakan kepada saya pribadi, bolehkah seorang Protestan menghormati dan menyampaikan pujian bagi Bunda Maria?
        Maka saya akan menjawab boleh, sepanjang pujian itu ditempatkan dalam kerangka Kristologi dan Keselamatan yang HANYA daripada-Nya. [dari katolisitas: Dan itulah yang dipercaya oleh Gereja Katolik]

        AMDG.

        • Bung Yoshi,

          Cukup bingung dengan konklusi anda, sembari mengatakan “posisi Gereja-2 Protestan Liturgis sebenarnya tidak terlalu banyak berbeda dengan Gereja Katolik Roma. Perbedaan-2 yang ada pun tidak dianggap begitu signifikan sehingga harus mempengaruhi berita keselamatan …..”. Sementara di jawaban 1, anda keberatan di sama ratakan, sembari menulis “semua kristen menolak The fifth Marian Dogma”, dan di jawaban ke 2, “Poin utama dalam tanggapan saya sebelumnya adalah untuk menjelaskan posisi bahwa HENDAKNYA TIDAK MEMUKUL RATA dengan menganggap bahwa semua aliran dalam Kristen Protestan menolak semua doktrin mengenai Maria” … bukankah anda sendiri menyimpulkan semua menolak ?? Jadi bingung ???? Perbedaan tidak signifikan, tetapi magisterium dihilangkan. Di satu sisi mengakui otoritas tulisan Bapa Gereja, tapi terbatas hanya pada “Pengakuan Iman” saja. Boleh tau ngga, semangat baca konstitusi apostolik dan surat ensiklik untuk apa ? Sebenarnya gereja Katholik sangat terbuka, anda silahkan datang pada salah satu misa, untuk melihat apa yg di lakukan daripada berprasangka macam macam. Apalagi kalau sudah pernah lihat misa langsung dari Vatikan, rasanya ngga ada perbedaan kecuali dalam bahasa. Setelah itu, anda bisa lihat begitu banyaknya yg berdevosi thd Bunda Maria. Dari sana anda bisa simpulkan tentang ketakutan anda thd “mengurangi perhatian umat kepada Yesus”. Ibadat Sabda dan Ekaristi, sudah pasti ditujukan kepada Yesus. Siapakah Bapa Gereja Reformis yg fobia thd Bunda Maria tsb, sementara Martin Luther pun mengakui Bunda Maria. Mohon juga dijelaskan ttg penolakan “sampai pd tahap tidak masuk akal dan patut ditertawakan”. Siapakah kita ini, yg mengakui lebih berakal sehingga patut mentertawakan, thd Bunda Allah ????. “Tidak Berbeda” tapi menolak ikut ajaran katholik, tidak terima juga dibilang sebaliknya ????…. Kalau perbedaan tidak terlalu banyak, bahkan tidak signifikan ….. silakan di coba ikut Misa, biar mengalami secara nyata, apakah benar asumsi ini, sekalian mungkin bisa membuang pretensi yg belum tentu benar, spt yg anda tuliskan.

  8. Orang Kristen (non Katholik) senengnya koq protes mulu….. selalu memandang Katolik dari sudut pandang negatif soal Bunda Maria. Apakah anda gak kebayang suatu saat nanti KALAU anda masuk Surga [.....edit] dan bertemu Bunda Maria yang sudah ada di Surga bersama Jesus ? Apakah anda gak malu bertemu dengan Bunda Maria ? [....edit]

    • iya, orang Kristen kenapa selalu ngerasa diri paling bener sih?
      padahal martin luther aja nyesel banget telah ngebuat gereja kristen protestan.. sesuai dengan namanya yang suka dan selalu protes.. inilah ciri-ciri dari orang kristen protestan..

      [dari Katolisitas: Sebenarnya, kalau diskusi didasari motif untuk mencari kebenaran, maka diskusi dapat menjadi proses pembelajaran bagi kita semua. Ada banyak juga umat Kristen non-Katolik yang menghormati Gereja Katolik dan bersungguh-sungguh bertumbuh dalam kasih.]

  9. Saya umat Katolik biasa, bukan teolog atau pendeta. Saat ini studi di Melbourne, Australia. Berikut pemikiran pribadi saya tentang Maria.

    1. saya sangat kagum atas tulisan orang ini, dia bukan teolog juga bukan pendeta, namun tulisannya terlalu menyakitkan, orang yang seperti ini, tidak perlu ditanggapi dengan sikap sopan, santun, sebab apa yang dia tulis, dia anggap, bahwa dia orang yang pintar luar biasa, bayangkan dia bisa menyalahkan Paus, menyalahkan ajaran Agama katolik, dengan membuka kitab ini kitab itu, majalah ini majalah itu hanya sekedar mau menunjukan kepintaran dia dengan menghina ajaran lain,

    2. Saya umat Katolik biasa, bukan teolog atau pastor. Saat ini sementara nganggur, orang tua saya tidak mampu menyekolahkan saya di Melbourne, Australia. Berikut tanggapan pribadi saya tentang pemikiran pribadi dia, tentang Bunda Maria.

    3. Pada suatu ketika, saya meliwati satu kompleks pertokoan, namun jalan dipertokoan itu terhalang karena dipenuhi dengan krans bunga, rupanya ada upacara penghormatan bawa dilokasi tersebut ada seorang ibu meninggal dunia, ternyata yang meninggal itu mamanya sang pendeta, yang rumah serta gerejanya disekitar lokasi itu, saya langsung berpikir, kenapaya mereka begitu menghormati ibu sang pendeta ya ? sedangkan ibu Tuhan mereka tidak mereka hormati.?

    4. sejak aku masih kanak-kanak aku sudah berdevosi dengan Bunda Maria, aku merasa bahwa Bunda Maria adalah ibuku, dalam doaku, aku selalu minta tolong pada Bunda Maria, agar Ia membantu saya dengan doa doa beliau, “………Santa Maria Bunda Allah, doakanlah kami yang berdosa ini, sekarang dan disaat aku mati ” kalau nanti aku mati, bukan hanya bunda Maria yang mendoakan aku, tentu orang tuaku, saudara, saudariku, tetanggaku, sahabat-sahabatku, mereka akan bersama sama mendoakan aku, tentunya rekan Protestan ini, sebelum ke Melbourne, juga mengatakan pada orang tuanya, “Ma, Pa, doain saya ya biar saya sukses” kok kawan kita ini boleh minta doa pada orang tuanya, namun kalau aku minta doa pada Mamanya Tuhan Yesus, nggak boleh. Kalau doaku dikabulkan oleh Tuhan Yesus melalui permintaan Bunda Maria, atau melalui bunda kandungku, kok itu dianggap perbuatan iblis ?, bisa tidak kita bayangkan betapa sakitnya hati Tuhan Yesus ibunya dianggap menyalurkan berkat Nya setan ?

    5. Suatu ketika keluarga jauh saya, seorang pendeta ibunya meninggal, saya berkunjung kerumah duka, sebagaimana biasanya kata kata penghiburan tercurahlah yang antara lain ” tapi saya bangga bahwa anda demikian tegar , tidak terlihat tanda tanda kesedihan, langsung dijawab ” siapa bilang saya tidak sedih,?, saya menangis namun didalam kamar, karena kami tidak boleh bersedih, orang yang sudah mati, ya sudah” Jadi kalian tidak punya pengharapan pada Yesus dalam kematian ?, namun segera saya minta maaf atas kata kata itu, karena tidak semestinya kata kata itu saya ucapkan, ketika itu begitu banyak pemuka gereja itu yang berkunjung sebagai tanda turut berduka, tapi semuanya sibuk dengan acara sendiri sendiri, sambil merokok dan minum kopi, timbul inisiatip saya untuk berdoa bagi sang mati, dan hal ini saya sampaikan pada pak pendeta, pak pendeta segera minta para pemuka untuk masuk aula, dan disana pak pendeta meminta saya mengadak, membawakan doa, setelah berdoa bersama sama, dan bernyanyi, tiba waktunya untuk homili, dalam homili, [Dari Katolisitas: mungkin maksud anda khotbah, bukan homili] saya bawakan tentang kematian, bahwa setelah kita mati, kita masih sangat membutuhkan doa, namun pernyataan saya itu langsung diinterupsi oleh seseorang yang mengatakan kisah Lazarus dengan Abraham, dan saya tanggapi bahwa Abraham adalah bapak bangsa, Abraham tidak diberi kekuasaan untuk menghubungkan orang mati dan yang hidup, namun Yesus, Tuhan Dia mempunyai hak untuk dapat menghubungi orang hidup dan mati, saya ceriterakan tentang Yesus menghidupkan Lazarus, saudara Maria dan Marta, Lazarus sudah beberapa hari meninggal, tentu jiwanya telah keluar dari tubuhnya, dan berkelana entah kemana, Yesus datang dan panggil Lazarus, eeee Lazarus hidup kembali,

    6.Orang Katolik, tidak pernah berdoa pada orang mati, namun mendoakan orng mati, itulah yang kami lakukan. kami tidak menyembah patung, kami menyembah Tuhan yang satu, namun Tuhan yang kami kenal adalah Tuhan Yang Esa, memiliki tiga Oknum [Dari Katolisitas: Tiga Pribadi], Yesus adalah sungguh Allah dan Sungguh Manusia.

    7, Kawan kalau kamu ingin memperdalam ilmumu tentang ajaran Katolik, mintalah tuntuna dari seorang Pastor, jangan ambil kesimpulan sendiri.

    8.Saya pernah baca satu buku, yang menulis ” Bahwa dulu agama Katolik adalah agama yang benar, tetapi sekarang sudah banyak yang dipalsukan, kami sampaikan banyak terima kasih atas pernyataan ini, tetapi yang pasti dalam gereja katolik masih terdapat begitu banyak tanda heran yang dilakukan Tuhan melalui gereja Katolik, karena kami sungguh mengikuti ajaran Yesus melalui Injil Nya, serta kepenuhan RohKudus, dan Bapa.

    9. Dalam Injil Yesus katakan ” Petrus diatas bukit batu itu, aku dirikan Gereja Ku”, “Petrus, gembalakanlah domba-domba ku” ” Aku akan menyertai kamu sampai akhir jaman”, Yesus tidak meminta si amir, sibadu, atau muridnya yang lain selain “Petrus” jadi sekali lagi bukan “Martin Luther”, kenapa kalian tidak mengikuti ajaran Tuhan, kok ikut “Martin Luther” apakah namanya ada di Injil ?, mari kawan, mari kita bersatu kembali. sebagimana yang diminta oleh Yesus, ingat kawan Agama Roma Katolik itu hanya ada satu, tahukah anda bahwa total Agama yang menyatakan dirinya pengikut Yesus, justru sudah lebih dari 359 model agama. begitu kawan hari minggu nanti kita ketemu di monash ya ? ada acara doa disana. sudah itu kita nonton bola bersam salam damai.

    • Yoseph Kadiaman on

      Dear Bravo lima

      Saya mengucapkan banyak terima kasih banyak atas tanggapan yang anda sampaikan ini.
      Terasa plong hati ini membaca tanggapan anda tersebut diatas.
      Semoga anda dipakai Tuhan Yesus untuk hal-hal yang lebih besar lagi.

      GOD loves you so much
      Yoseph K and family
      Jakarta Timur

    • Leo Made Suwardana on

      Bang Bravo,
      Saya juga umat Katolik biasa, orang Bali, bukan teolog, katekis, apalagi pendeta. Tapi bagi saya pribadi tanggapan anda luar biasa, tidak perlu panjang lebar tapi ‘in some way’ sangat menentramkan.
      Usul, kalau memang bisa studi ke luar negeri suatu saat nanti, sebaiknya belajar ke Roma ajah jangan ke Melbourne, biar tidak ketularan si abang Ben.

      Made
      Stasi Kristus Raja Abianbase, Paroki St. Theresia dari Kanak-Kanak Yesus, Tangeb

      [Dari Katolisitas: Ben adalah juga umat Katolik, ia hanya mengutip suatu artikel yang menyatakan keberatan dari salah satu umat Kristen non- Katolik, tentang Bunda Maria. Maka bukan Ben yang menuliskan keberatan tersebut. Jadi mari jangan berprasangka negatif terhadap orang lain, sebab nampaknya Ben juga bermaksud baik, ia hanya ingin mendapatkan jawaban dari pertanyaan yang mungkin mengganggunya selama ini.]

  10. Shalom Bu ingrid Listiati,
    ada yang saya ingin tanyakan:
    1. Apakah keselamatan Tuhan Yesus hanya dapat didapatkan dengan seseorang dengan mengikuti agama Katholik?
    2.Bagaimana bila seseorang telah dibaptis (menerima Yesus sebagai Juruselamat)bukan di dalam gereja Katholik, apakah dia berhak menerima komuni juga di gereja Katholik?

    Terima kasih.

    • Shalom Cio,

      1. Silakan anda membaca artikel ini, silakan klik. Jika ada yang belum jelas, silakan bertanya kembali di bawah artikel tersebut. Jika anda ingin mengetahui ajaran resmi Gereja Katolik tentang hal ini, silakan membaca deklarasi Dominus Iesus, yang sudah kami terjemahkan di sini, silakan klik, dan ringkasannya di sini, silakan klik.

      2. Orang yang sudah dibaptis di gereja Protestan tidak diperkenankan untuk menerima Komuni di Gereja Katolik, karena penghayatan mereka yang tidak sama tentang makna Komuni Kudus. Hal ini sudah pernah saya tuliskan di sini, silakan klik.

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      Ingrid Listiati- katolisitas.org

  11. Holo Ibu Inggrit , gimana kabarnya ni, aku kangen sama jawaban-jawaban ibu, Ibu Inggrit yang kami hormati, terima kasih atas balasannya, yang semuanya menambah cakrawala kami tentang Al-Kitab. Dan ada lagi yang aku ingin tanyakan, “ketika aku baca Al-Kitab yang terdaftar dalam Sabda Web / Sabda Org, disana ada beberapa Al-Kitab yang ayat-ayatnya kosong (empty) mis; AlKitab Melayu Baba Mat 18:11sedang di Al-Kitab lain ayat-ayatnya lengkap. Itu bagaimana kok bisa terjadi, mohon penjelasan?

Add Comment Register



Leave A Reply