Yesus Kristus, Allah yang menyatakan diri-Nya kepada manusia.Setelah kita melihat pembuktian tentang keberadaan Tuhan yang Satu, maka sekarang kita akan meneliti tentang Tuhan, seperti yang diimani oleh agama-agama yang percaya akan satu Tuhan, yaitu: Kristen, Islam, dan agama Yahudi adalah tiga agama yang percaya akan satu Tuhan. Yang paling membedakan antara kedua agama monotheism yang lain dengan Kristen adalah figur “Yesus”. Dapat dikatakan, bahwa agama Kristen bukanlah agama yang berdasarkan buku, namun berdasarkan sosok Pribadi, yaitu Yesus Kristus.
Untuk menjawab mengapa orang Kristen percaya kepada Yesus Tuhan, kita tidak bisa hanya mendasarkan argumen pada filosofi yang berdasarkan atas pemikiran manusia, sebab pikiran manusia itu terbatas sifatnya. Yesus, Tuhan yang dilahirkan sebagai manusia, tidak dapat diterangkan dengan pemikiran manusia semata, namun harus digabungkan dengan iman.[1] Filosofi dapat membantu untuk menerangkan bahwa iman itu adalah “hal yang sudah selayaknya”. Di sini kita dapat menggunakan “argument of fittingness“, maksudnya adalah untuk menunjukkan bahwa sesuatu yang dinyatakan oleh Tuhan adalah memang sudah seharusnya atau selayaknya terjadi.
Yesus Kristus hanya dapat dijelaskan dalam hubungan-Nya dengan Allah, yaitu Allah yang mempunyai tiga Pribadi. Allah adalah Pribadi yang Maha sempurna, sedangkan manusia disebut sempurna karena turut mengambil bagian di dalam kesempurnaan Allah. Kesempurnaan manusia disebabkan karena manusia adalah juga mahluk pribadi atau “personal being,” yang mempunyai kemampuan untuk mengasihi, memberikan dirinya kepada orang lain, dan juga mempunyai kemampuan untuk berkumpul dengan sesama. Kalau hal ini benar untuk manusia di tingkat kodrati, maka di tingkat adikodrati, juga ada kebenaran yang sama di dalam tingkatan yang paling sempurna. Dengan demikian, Tuhan tidak mungkin adalah Tuhan yang sendirian, namun “keluarga Tuhan”, di mana keberadaan-Nya, kasih-Nya, dan kemampuan-Nya untuk bersekutu dapat terwujud dengan sempurna.
Kasih tidak mungkin berdiri sendiri, sebab kasih selalu melibatkan dua pihak, yaitu pihak yang mengasihi dan pihak yang dikasihi. Sebagai contoh, kasih suami istri barulah lengkap jika suami-istri “saling” mengasihi. Karena Tuhan adalah kasih yang paling sempurna, maka tidak mungkin Ia tidak mempunyai seseorang yang dapat menjadi saluran kasih-Nya dan juga dapat membalas kasih-Nya dengan derajat yang sama. Jadi Tuhan itu harus satu, namun Ia bukan Tuhan yang terisolasi sendirian.
Orang mungkin berargumentasi, bahwa Tuhan bisa saja satu dan Ia dapat menyalurkan kasih-Nya dan menerima balasan kasih dari manusia. Namun, hal ini tidaklah mungkin; karena Tuhan tidak mungkin tergantung dari manusia yang kasihnya tidaklah berarti dibandingkan dengan kasih Tuhan. Dengan demikian, sangatlah logis, kalau Tuhan mempunyai “kehidupan di dalam diri-Nya/ interior life,” di mana Ia dapat memberikan cinta-Nya yang sempurna. Di dalam kehidupan di dalam Diri-Nya inilah ada Yesus Kristus, Allah Putera, yang mempunyai derajat kasih yang sama dengan Allah Bapa. Kegiatan dari Allah Bapa dan Allah Putera adalah mengasihi secara kekal, sempurna, dan tak terbatas, dan buah dari kasih timbal balik ini adalah Roh Kudus.[2] Dan dengan kematian Yesus di kayu salib, Allah menunjukkan akan adanya bukti kasih yang sempurna, yaitu pemberian diri kepada orang lain.[3]
Salah satu cara untuk membuktikan ke-Allahan Yesus adalah dengan meninjau empat pilihan pandangan sehingga akhirnya kita dapat menentukan pilihan secara logis. Ketiga pilihan pandangan ini disarikan dari pembuktian menurut C.S. Lewis dalam bukunya “Mere Christianity“,[4]. Maksud pembuktian ini adalah untuk memberikan penjelasan kepada orang-orang – termasuk yang bukan Kristen – yang mungkin berkata, “Saya percaya kepada Yesus hanya sebagai nabi, atau orang yang yang baik, atau sebagai guru moral yang besar, namun saya tidak mau mempercayai Yesus sebagai Tuhan.” Padahal, percaya kepada Yesus tidak bisa setengah-setengah. Mari kita lihat penjabaran CS Lewis berikut ini, yang mungkin terjemahannya dalam bahasa Indonesia terdengar kasar, namun penjabaran ini dibuat agar kita dapat memilih pilihan pandangan yang paling logis: bahwa Yesus adalah sungguh-sungguh Tuhan.
Di dalam sejarah manusia, tidak ada manusia yang pernah mengaku dirinya sebagai Tuhan dan juga mempunyai kemampuan dan kuasa Tuhan. Para nabi dari berbagai agama tidak pernah mengaku bahwa mereka adalah satu (hypostatic union) dengan Tuhan seperti yang dikatakan dan ditunjukkan oleh Yesus sendiri.
Juga dapat dibuktikan bahwa di masa hidupnya, Yesus melakukan sesuatu yang hanya dapat dilakukan oleh Tuhan, sebagai contoh: 1) Yesus mengampuni dosa manusia, seperti yang ditunjukkan dalam cerita penyembuhan orang yang lumpuh (Mat 9:2-8), 2) Yesus menempatkan diri sebagai Pemberi dan Penentu hukum moral, seperti yang ditunjukkan dalam khotbah di bukit (Mat 5:27-28), 3) Yesus juga memberikan peneguhan bahwa Ia dan Allah adalah satu (Yoh 10:30), 4) Yesus juga mengatakan bahwa segala kuasa di bumi dan di surga diberikan kepada-Nya (Mat 28:18); 5) Yesus melakukan banyak mukjizat, dan mukjizat yang terbesar adalah Ia dapat bangkit dari mati (Kis 10:41; 2 Tim 2:8).
Pilihan ini terdengar ngawur, tetapi C.S Lewis menggunakan istilah demikian untuk menggambarkan keadaan yang bertolak belakang dengan pilihan yang pertama. Kalau yang dikatakan Yesus tidak benar, maka pilihannya adalah Ia tidak waras. Namun di dalam Kitab Suci tidak pernah ada yang mengindikasikan bahwa Yesus adalah seseorang yang tidak dapat menggunakan akal sehat. Adalah sangat tidak mungkin, kalau para rasul, para santa dan santo mau mengorbankan nyawa mereka untuk seseorang yang tidak waras. Jadi pilihan ini sebetulnya sangatlah tidak mungkin.
Kalau Dia mengaku bahwa diri-Nya adalah Tuhan – padahal bukan – maka dapat disimpulkan bahwa Dia adalah seseorang yang jahat. Namun untuk mengambil kesimpulan bahwa Yesus adalah seorang yang jahat juga adalah tidak mungkin, karena semua yang dilakukan Kristus adalah hal- hal yang baik, dan ajaran moral yang disampaikan kepada manusia adalah begitu sempurna dan tidak ada duanya dibandingkan dengan ajaran agama manapun. Mahatma Gandhi-pun begitu mengagumi Yesus, terutama ajaran-Nya tentang khotbah di bukit. Jadi pilihan ini juga tidak mungkin.
Ada beberapa pandangan dari agama lain yang mengatakan bahwa Yesus dijadikan Tuhan oleh manusia – yaitu oleh para murid dan pengikut-Nya dan juga pada zaman Konstantinopel, di Konsili Niceae (325). Pandangan ini sesungguhnya merupakan pandangan di abad- abad ini, yang bermaksud memisahkan antara Yesus menurut sejarah (Jesus of History) dan Kristus menurut iman (Christ of faith), seolah keduanya tidak sama. Namun pernyataan ini sangatlah tidak mendasar, sebab tidak sesuai dengan pernyataan para murid Kristus yang menjadi para saksi langsung akan kehidupan Kristus, penderitaan, wafat, kebangkitan dan kenaikan-Nya ke surga. Padahal adalah lebih logis jika kita mempercayai kesaksian mereka yang hidup pada zaman Kristus; daripada perkiraan mereka yang hidup berabad- abad sesudah zaman Yesus. Pernyataan para murid, termasuk St. Paulus, dibuat sekitar beberapa tahun setelah Yesus wafat, sehingga dapatlah diyakini kebenarannya. [Bayangkan kalau misalkan ada banyak tulisan bahwa di Jakarta tidak pernah terjadi banjir. Dan berita ini terus diberitakan di dalam koran, televisi, dll. Tentu saja ini berita yang tidak benar, dan orang-orang yang mengalami kebanjiran akan protes dan membuat surat pernyataan, demo, yang menyatakan bahwa pemberitaan itu tidak benar]. Nyatanya, pernyataan bahwa Yesus adalah Tuhan, yang disaksikan oleh banyak orang – yang mengalami kehidupan Yesus – tidak mengundang protes atau tulisan yang menyanggahnya pada masa itu. Sejarah tidak menemukan tulisan asli abad awal yang menyanggah tentang kebangkitan Kristus. Jadi, kesimpulannya: Yesus sungguh bangkit; dan kebangkitan-Nya adalah sesuatu yang nyata dan bukan karangan para murid-Nya. Jadi kemungkinan bahwa Yesus adalah kebohongan belaka, juga sangatlah tidak mungkin.
Kalau pilihan yang ke- 2,3, dan 4 adalah tidak mungkin, maka hanya pilihan yang pertama saja yang mungkin, yaitu “Yesus adalah sungguh Tuhan Allah yang menjelma menjadi manusia.”
Pembuktian yang indah tentang ke-Tuhan-an Yesus ditulis juga di dalam buku autobiografi Eugenio Zolli, kepala rabi Yahudi pada masa Perang Dunia ke-2. Zolli kemudian menjadi Katolik pada tahun 1945. Di Polandia, dia sering mengunjungi rumah teman sekolahnya yang bernama Stanislaus, yang beragama Katolik. Di dinding rumah itu tergantung salib kayu yang sederhana. Eugenio mengatakan dalam bukunya:
“Sering – aku tidak tahu kenapa – aku akan menatap salib itu dan memandang cukup lama pada “seseorang” yang tergantung di salib itu. Sejujurnya, permenungan ini selalu diikuti oleh gejolak di dalam jiwaku.
Mengapa orang ini disalibkan? Aku bertanya kepada diriku sendiri. Apakah dia orang jahat? …. Mengapa banyak orang mengikuti dia, kalau dia jahat dan mengapa temanku dan ibunya yang juga mengikuti dia adalah orang-orang yang baik? Bagaimana bahwa Stanislaus dan ibunya begitu baik dan mereka menyembah dia yang disalibkan ini? Dia tidak mengeluh, dia tidak melawan. Di wajah-nya tidak ada ekspresi kebencian ataupun kemarahan….Tidak. Dia, Yesus, orang itu – sekarang menjadi “Dia” untukku dengan huruf besar “D.” Dia tidak jahat. Dia tidak mungkin jahat…. Satu hal yang kutahu dengan pasti: “Dia sungguh baik“.[5]
Di Kisah Para Rasul (Kis 5:26-42), Gamaliel, seorang ahli taurat yang sangat dihormati, menasehati orang banyak agar mempertimbangkan perbuatan terhadap pengikut Yesus (Petrus dan rasul-rasul lainnya). Sebab, di waktu yang lalu, setelah kematian Teudas yang mengaku sebagai orang yang istimewa, 400 pengikutnya tercerai berai dan kemudian lenyap. Jadi jika perbuatan para murid Kristus hanya berasal dari manusia, mereka pasti akan lenyap dengan sendirinya. Namun jika dari Allah, semua itu tidak dapat dilawan.
Kenyataan bahwa sampai sekarang, setelah 2000 tahun dari kejadian itu, para pengikut Kristus masih bertahan di dalam Gereja Katolik, membuktikan bahwa Yesus adalah Tuhan, dan ajaran-Nya adalah dari Allah.
Motif pertama adalah nubuat. Artinya kedatangan Kristus telah diberitakan sebelumnya yaitu beribu-ribu tahun sebelum kedatangan-Nya, melalui masa persiapan yang panjang.[6] Adalah sangat logis, kalau kedatangan Yesus untuk misi keselamatan seluruh umat manusia dipersiapkan dengan matang, dan dengan tanda-tanda, sehingga orang tidak sampai salah mengerti. Kita bisa mengambil contoh: Kalau beberapa orang di tingkat direktur pabrik mobil Toyota mengatakan bahwa 20 tahun lagi – semua produk mobil Toyota tidak akan menggunakan bensin, namun menggunakan tenaga surya, dapat bergerak dengan kecepatan 200 km/jam, dan ditambah dengan kemampuan yang lain – maka kita akan percaya, karena yang mengatakan adalah para pembuat mobil tersebut.
Kita dapat menerapkan prinsip ini kepada hal persiapan Yesus datang ke dunia ini, yang sudah diberitakan beribu-ribu tahun sebelumnya. Bahkan kitab Yesaya yang ditulis sekitar 700 tahun sebelum kedatangan Yesus Kristus, dapat secara persis menggambarkan tentang Kristus yang menderita (lih. Yes 53). Nabi Yesaya dapat menggambarkan secara persis apa yang akan dialami oleh Kristus, karena dia mendapatkan pengetahuan dari Tuhan sendiri. Bahwa di dalam sejarah, semua nubuat itu terpenuhi di dalam diri Yesus, menjadi bukti akan kebenaran bahwa yang dinubuatkan adalah benar, yaitu: Yesus sungguh- sungguh datang dari Allah dan Yesus adalah Allah.
Juga, Tuhan ingin memberitahukan kepada manusia tentang Mesias jauh-jauh hari sebelumnya, sehingga pada saat penggenapannya, manusia dapat mengenali Mesias yang dijanjikan. Inilah yang membedakan antara Yesus dengan tokoh-tokoh dalam agama yang lain. Tokoh-tokoh dalam agama lain tidak pernah dinubuatkan sebelumnya, namun Yesus telah dinubuatkan secara konsisten oleh para nabi dalam kurun waktu lebih dari 1500 tahun.
Motif ke-2 adalah mukjizat. Kita dapat melihat di dalam Alkitab, bahwa Yesus melakukan banyak sekali mukjizat, yang membuktikan bahwa Dia adalah sungguh Putera Allah, sekaligus juga yang memberikan konfirmasi akan kebenaran semua ajaran-Nya. Yesus menyembuhkan orang buta (Mat 9:27-31), orang bisu (Mat 9:32-35), orang tuli (Mk 7:31-37), orang lumpuh (Mat 9:1-8), bahkan membangkitkan orang mati (Yoh 11:1-46).
Yesus juga mengatakan, “ …. tetapi jikalau Aku melakukannya dan kamu tidak mau percaya kepada-Ku, percayalah akan pekerjaan-pekerjaan itu, supaya kamu boleh mengetahui dan mengerti, bahwa Bapa di dalam Aku dan Aku di dalam Bapa” (Yoh 10:37-38).
Di atas semua itu, mukjizat terpenting adalah kebangkitan Kristus (Mat 28:1-10; Mar 16:1-20; Luk 24:1-53; Yoh 20:1-29, 21:1-19; Kis 1:3; 1 Kor 15:17; 1 Kor 15:5-8). Mungkin ada banyak orang yang dapat melakukan mukjizat dan menyembuhkan penyakit-penyakit. Namun orang tersebut pada akhirnya wafat dan tidak dapat bangkit dengan kekuatan sendiri. Namun Yesus menunjukkan bahwa Ia mempunyai kuasa di atas segalanya, termasuk kematian. Hanya Tuhanlah yang dapat melakukan hal ini.
Keberadaan Gereja Katolik, Gereja yang didirikan oleh Yesus Kristus sendiri, menjadi bukti akan janji-Nya sebagai Allah untuk melindungi Gereja-Nya sampai akhir jaman (lih. Mat 16:18) di bawah kepemimpinan Rasul Petrus dan juga para penerusnya, yaitu para paus. Sudah begitu banyak percobaan yang dialami oleh Gereja Katolik, baik dari dalam maupun dari luar Gereja. Namun sesuai dengan janji Kristus, Gereja Katolik tetap bertahan dalam mengajarkan kebenaran yang penuh, dan ditandai dengan ciri-ciri: satu, kudus, katolik, dan apostolik. (lihat artikel: Gereja Tonggak Kebenaran dan Tanda Kasih Tuhan – Bagian 1 – silakan klik).
Dari semua pembuktian tersebut di atas, secara filosofis – yaitu dengan “argument of fittingness,” kita dapat menyimpulkan bahwa adalah sudah sepantasnya bahwa Yesus menjelma menjadi manusia untuk keselamatan seluruh umat manusia. Pembuktian “empat pilihan” membuat kita melihat bahwa kemungkinan yang paling logis adalah Yesus adalah sungguh Putera Allah. Kisah Eugenio Zolli membuktikan bahwa seseorang yang tadinya tidak mengenal Kristus, akan dapat mengenal dan menjadi pengikut Kristus, kalau ia melihat kesaksian hidup dari para pengikut Kristus, dalam hal ini adalah Stanislaus dan ibunya. Gamaliel semakin memperkuat argumen “motive of credibility“, karena fakta menunjukkan bahwa pengikut Kristus ada dan berkembang terus sampai saat ini, sehingga tidak mungkin Kristus dan ajaran-Nya hanya semata dari manusia. Pembuktian dari “motive of credibility” semakin meyakinkan kita bahwa Yesus adalah Putera Allah yang sudah dijanjikan, yang mampu melakukan mukjizat-mukjizat, dan keberadaan Gereja Katolik selama 2000 tahun menjadi tanda mukjizat yang terbesar setelah mukjizat kebangkitan Tuhan Yesus.
Semoga Tuhan sendiri menuntun mereka, yang belum mengenal dan percaya kepada Kristus dan yang sedang mencari kebenaran, agar dapat menemukan kebenaran itu sendiri, yaitu Kristus Yesus (lih. Yoh 14:6). Bagi yang sudah mengenal Kristus, mari kita mencontoh kehidupan para kudus, dan juga Stanislaus dan ibunya. Kekudusan akan membuat kita menjadi saksi Kristus yang hidup dan membawa orang untuk mengenal dan mengasihi Kristus.
Dan di dalam proses pencarian kebenaran untuk mengikuti Kristus, silakan membaca artikel: Mengapa kita memilih Gereja Katolik.
Kita memilih agama supaya pikiran, batin dan arah hidup kita dibantu oleh ritus-ritus serta ajaran-ajarannya. Namun, sayangnya banyak orang beragama merasa diri yg paling benar dan agama lain keliru. Ajaran-ajaran agama saling dipertentangkan. akibatnya agama dipolitisir oleh orang-orang tertentu. permusuhan dan pertikaian sengaja dibangkitkan dan korban berjatuhan.
[Dari Katolisitas: Hal ini memang patut disayangkan. Gereja Katolik tidak menolak apapun yang baik yang ada dalam agama lain, sebab Gereja mengakui adanya sinar kebenaran dalam agama-agama lain. Namun demikian, Gereja Katolik mengajarkan bahwa kepenuhan kebenaran ada dalam Gereja Katolik (lih. Konsili Vatikan II, Nostra Aetate 2, Unitatis Redintegratio 3)]
hidup beragama hanya sekedar kulit belaka, sekedar menjalankan ritus-ritu. Tak mengherankan, jika kita masih menyaksikan rumah-rumah ibadah penuh sesak namun setelah itu mereka mengangkat parang dan pedang. Kita saksikan orang-orang datang berdesak-desakan menuju pintu rumah Allah, namun hati mereka penuh rampasan untuk korupsi. Kita menonton deraian air mata di rumah-rumah ibadat, sekeluarnya dari sana mereka mencekik saudaranya sendiri.
Bertobatlah dan hiduplah dalam damai, AMIN.
[Dari Katolisitas: Ajakan untuk bertobat, adalah ajakan yang selalu relevan bagi semua orang, sebab sebagai manusia kita kerap terjatuh dalam kelemahan dan dosa. Terutama kepada kita yang percaya kepada Kristus, pertobatan ini selayaknya menjadi bagian dari kehidupan kita, agar kita dapat terus bertumbuh dalam iman, harapan dan kasih.]
Shaloom Pak Stef…..
Saya menemukan suatu kesaksian yang luar biasa dan menguatkan dari seorang moslem yang menerima dan mengimani YESUS sebagai TUHAN dan pembawa Damai. Namun yang saya tidak mengerti meskipun mereka dengan Iman telah mengakui TUHAN YESUS sebagai juruselamat namun mereka tidak tertarik untuk masuk ke dalam agama tertentu.
Apakah Iman seperti itu dibenarkan?
Dibawah ini saya sertakan link Video nya:
link to youtube.com
link to youtube.com
[Dari Katolisitas: Rahmat Tuhan bekerja dalam berbagai cara, namun umumnya, secara bertahap dalam hidup seseorang. Memang pada saat video itu dibuat, bisa saja orang-orang tersebut belum memutuskan bagaimana mereka akan mengikuti Yesus Kristus atau yang mereka kenal sebagai Isa Almasih. Namun jika mereka terus menerus mempelajari Kitab Suci dan terus merenungkan Sabda Tuhan dalam Injil, bukannya tidak mungkin bahwa mereka akan sampai mengikuti Kristus dalam Gereja-Nya, jika mereka mengetahui bahwa Gereja yang didirikan Kristus itu masih ada sampai sekarang. Biarlah Allah pada waktu-Nya, menyatakan sendiri kepada mereka melalui suara hati mereka, akan kehendak-Nya. Mereka telah menangkap kehendak Allah untuk percaya kepada Kristus (lih. Yoh 6:29, 40; 1 Yoh 5:1,5), dan jika Allah berkenan, maka suatu saat merekapun akan diarahkan untuk bergabung dengan Gereja yang didirikan-Nya di atas Rasul Petrus, dan yang disertai-Nya senantiasa sampai akhir zaman (lih. Mat 16:18; 28:19-20)]
Tentang Yesus itu Tuhan atau bukan, saya memepunyai argumentasni sbb:
1. Kita percaya bahwa Sabda Yesus sebagaimana tertulis di dalam Kitab Suci
adalah kebenaran.
2. Dalam Yohanes 13:13 disebutkan:” Kamu menyebut Aku Guru dan Tuhan dan
dan katamu tepat, sebab memang Akulah Guru dan Tuhan.
Demikianlah sedikit komentar saya.
Sdr Adong shalom.
Saya sangat memahami pikiran dan perasaan anda yang belum dapat menghayati pokok-pokok ajaran Gereja Katolik. Tapi saya yakin bahwa anda telah membaca beberapa artikel dalam site ini dan saya percaya bahwa pengetahuan tersebut tidak akan pernah hilang dari memory system anda. Saya berdoa untuk anda, Allah sendiri yang akan membimbing anda untuk memahami karya keselamatan yang telah dianugerahkan kepada kita melalui penderitaan, kematian dan kebangkitan Yesus Kristus. Amin Tuhan memberkati.
Trimakasih sdr frans telah menanggapi komentar saya,,
memang sy juga yakin bahwa Allah tuhan sy yg akan membimbing sy
Mohon maaf sblmnya mksh.
Trimakasih mas kris,
Sesuai dgn tulisan sy d atas ”sy berusaha mencari titik temu namun,,,inilah yg di katakan keimanan,,,tetap kembali kepada pribadi masing2” sy anggap dialog sy sdh selesai,,karna menurut pribadi sy, sy bertanya mendapat jwban untuk buka link,,namun dgn membuka link timbul pertanyaan yg sama,,,jd tdk ada selesainya,akhirnya sy kmbalikan ke pribadi masing2,, dlm blog ini sy menanyakan dan dr rekan katolisitas memberikan jwban yg tim tahu sehingga input dan outputnya jls.mohon maaf untuk pertanyaan mas kris silahkan buka blog yg kompeten di bidangnya dlm hal ini sy muslim.sy kira cukup sekian trimakasih
Ytk Adong.
Sebetulnya apa yg diminta oleh katolisitas sama sekali tidak keliru, karena memang pertanyaan seperti yang anda sampaikan itu sudah sangat sering terulang. Tentu saja bisa dimaklumi kalau anda belum tahu karena anda baru masuk. Namun permintaan untuk melihat link yang ditunjuk justru sudah membuktikan bahwa pertanyaan anda tetap dilayani dan bahkan dengan memberikan link itu anda malah diberi peluang untuk langsung dapat berargumentasi kalau anda mau, karena pertanyaan anda sudah terjawab di sana, karena dari diskusi-diskusi di bawah link-link tersebut sudah banyak sekali pengembangan pertanyaan dan jawaban-jawabannya.
Saya tak yakin bahwa setelah membaca link-link tsb pertanyaan anda masih sama, sebab akan menjadi sesuatu yg aneh kalau ada pertanyaan yang sama sudah dijawab di sana, tapi anda masih mempertanyakannya lagi. Lebih tepatnya adalah bahwa anda tidak mau membacanya, atau sudah membacanya dan menemukan bahwa iman kita sungguh berbeda. Namun walau pun berbeda, sebetulnya juga bukannya tidak dapat didiskusikan untuk menemukan kebenarannya, toh yang namanya iman, tetap musti bisa dipertanggungjawabkan secara rasional sampai pada tingkat tertentu.
Seperti halnya pertanyaan-pertanyaan anda itu bukan sesuatu yang tidak bisa dijawab, dan nyatanya sudah dijawab di link² tsb. Dan inti dari jawaban atas pertanyaan anda itu tetap tidak akan lari dari inti iman kristiani akan Allah Tritunggal dan iman akan Yesus yang sungguh Allah dan sungguh manusia.Dan akan masuk pula dalam pembahasan tentang hakikat/kodrat dan pribadi Allah Tritunggal itu yang berkaitan dengan pertanyaan anda tentang dzat itu. Dan itu juga sudah dijawab dalam link yang ditunjukkan.
Namun bila sudah sampai pada pilihan beriman, tak ada seorangpun yang akan memaksa. Itu adalah hak privat setiap orang. Saya kira titik temu kalau sudah soal pilihan iman memang di sana tempatnya. Kita hanya bisa saling menghormati. Dan tentu perbedaan iman tak boleh menghalangi kerjasama dalam hidup bermasyarakat. Karena tak mungkin orang yg bisa saling menghormati dalam hal iman, tidak bisa bekerjasama dalam hidup bermasyarakat. Hidup dalam damai sampai akhir hayat seperti yang anda harapkan.
Ini tambahan komentar dan tanggapan saya.
Semoga berkenan. Salam.
Makasih pak setiawan,,masih memberi tanggapan untuk sy,,
Memang sy dpt jawaban tp jawaban itu tdk sy yakini jd lebih baik dialog sy akhiri.
Mohon maaf sebelumnya,mksh
Yang membuat sy kurang paham kalau memang yesus tuhan kenapa ada kata2 eli,eli lamma sabakhtani,,, yg jd pertanyaan
1.jika yesus tuhan,,tuhan mana yg di panggil
2.kenapa untuk menunjukan kasihnya di kayu salib mesti mengeluh,,harusnya tdk ush teriak memanggil2 seolah2 di tinggalkan
3.siapa yg mencabut nyawa yesus
4.siapa yg menerima nyawa yesus
5.klo yesus itu tuhan dan manusia,,,tuhan apa yg dimaksud dan manusia apa yg di maksud
6.ada yg mengatakan yesus tuhan ada yg mengatakan di utus bapa,,sebenarnya mana yg benar,,,klo dua2nya benar tlg bedanya apa eksistensi utusan dengan eksistensi tuhan,,
7.apa nurani dan apa hawa nafsu itu
8.kenapa ada nabi,,kenapa tdk sekaligus yesus turun di awal dunia klo cm mengajarkan eksistensi dirinya
9.siapa yg bicara dgn musa smpai musa mndptkn 10 perintah tuhan
10.sy yakin 100% ajaran yesus benar tp sy kurang yakin yg meriwayatkan yesus benar,,,ini masalah keimanan bukan masalah banjir,,,iman hanya di rasa klo banjir di rasa dan d lihat,,,iman ini mau benar atau salah klo kita rasa benar maka rasanya benar
[dari katolisitas: Silakan membaca beberapa artikel ini: silakan klik. Dan juga beberapa link di artikel kristologi ini - silakan klik. Setelah Anda membaca beberapa link tersebut, silakan mengambil satu pertanyaan dan silakan memberikan argumentasi, sehingga kita dapat berdialog dengan baik.]
Sesuatu yg mempunyai sifat yg sama apakah dia memiliki dzat yg sama,,yesus mempunyai sifat yg sama dgn Allah,,apakah yesus bisa dikatakan mempunyai dzat yg sama dgn Allah,,,batu adalah dzat yg mempunyai sifat padat dan besipun adalah dzat yg mempunyai sifat padat,,,apakah batu dan besi bisa dikatakan sama,,,klo jawabanya iya,,,berarti sdh selesai dialog ini.
[dari katolisitas: Sayang sekali, dari beberapa dialog yang telah dilakukan Anda tidak mau membaca beberapa artikel yang terkait, yang telah membahas "hakekat/substansi" dan "pribadi", melainkan terus berfokus pada "sifat", "rasa", dan sesuatu yang tidak dipercayai oleh umat Katolik. Mohon untuk membaca terlebih dahulu link yang saya berikan. Kalau Anda belum membacanya, mohon maaf kami tidak dapat memasukkan komentar Anda lebih lanjut.]
Terima kasih atas jawabannya
Sy berusaha mencari titik temu namun,,,inilah yg di katakan keimanan,,,tetap kembali kepada pribadi masing2,,,semoga kita tetap hidup damai smpai akhir hayat,,karna setiap agama pasti mengajarkan kebajikan,,tinggal kita manusia mau melaksanakan atau tidak
Mohon maaf sebelumnya,,terima kasih.
[dari katolisitas: Terima kasih juga atas kunjungannya dan waktunya dalam memberikan argumentasi. Kami terbuka dengan dialog, namun minimal Anda dapat membaca terlebih dahulu link-link yang kami berikan, sehingga Anda dapat mengerti apa yang SEBENARNYA kami percaya. Dengan demikian, diskusi dapat berjalan dengan baik.]
Mas Adong,
Mungkin sebelumnya bisa didefinisikan dulu dengan lebih mendetail?? apa yang Anda maksud dengan dzat? apakah sama dengan istilah zat pada bahasa Indonesia? Apakah segala sesuatu terbentuk dari dzat? Karena istilah itu tidak umum dipakai dikalangan Kristiani. Mungkin bisa kita samakan dulu terminologi yang dipakai untuk memiminimalkan derau.
Karena Anda sedang merespon artikel di site ini, ada baiknya juga Anda membaca link2 yang diberikan oleh pengasuh site ini. Dengan demikian Anda mengerti semua yang kami maksudkan. Bukankah tidak pada tempatnya menyanggah sesuatu yang tidak Anda mengerti?
Salam
Shalom Adong,
Benar pendapat anda bahwa “semua kembali ke pribadi masing-masing”.
Menurut saya,seseorang/pribadi memutuskan untuk mempercayai atau tidak mempercayai sesuatu bergantung pada “niat hati” seseorang tersebut.
Jika niat hatinya ingin percaya pada sesuatu,informasi atau fakta secuil apapun akan membuatnya percaya/memperkuat kepercayaannya.
Tapi,jika emang udah nggak ada niat untuk percaya,ya fakta/bukti/informasi segudang juga penjelasan yang berbuih-buih sekalipun nggak bakal mempan,karena hati sudah menolak.
Dan itu memang udah menjadi ‘job desk’ nya Tuhan Yesus untuk merubah hati :)
Berkah Dalem
ini bukti bahwa yesus ajarannya sama dengan syech siti jenar yg mengaku tuhan. ajarannya berlandaskan wihdatul wujud yg dikenal dengan manunggaling kawula gusti
[dari katolisitas: Silakan memberikan argumentasi untuk menyanggah artikel di atas.]
Dear Katolisitas,
Izinkan saya menanggapi pak Tukimin.
Yesus Kristus Tuhan kami, tidak sama dan sangat jauh berbeda dan tidak bisa dibandingkan dengan siapapun di dunia ini, apalagi syech siti jenar…
Yesus Kristus pun tidak perlu mengaku-aku sebagai Tuhan untuk mendapat pengikut, untuk populer, atau untuk alasan apapun juga, seperti halnya tokoh-tokoh pendiri sekte sesat yang butuh pengakuan orang lain. Namun kalau memang Yesus mengaku sebagai Anak Allah dan Tuhan yang berkuasa,seperti yang tercatat dalam kitab suci kami dan juga semata-mata Yesus hanya bersaksi tentang kebenaran mengenai pribadiNya sendiri karena Yesus Kristus yang adalah Allah sendiri dan Dia tidak mungkin menyangkal diriNya sendiri apalagi berbohong.
Mudah-mudahan pak Tukimin mendapat secercah pencerahan melalui tanggapan saya yang singkat ini.
Terima kasih Tim Katolisitas. Tuhan Yesus memberkati.
Salam dalam kasih-Nya,
Stefan Purnama
Kepada yth, pengasuh katolisitas, dari pemaparan diatas ada beberapa hal yang saya tanyakan :
1. Tentang pernyataan keluarga tuhan yang bersekutu saya minta dalil injilnya walau pun bagai mana tentu iman harus betdasar pada firman tuhan.
2. Bukti kasih yesus yang rela mengorbankan dirinya bukan karena kemauan sendiri hal ini terbukti bahwa yesus menghindar dan minta dijaga oleh para muridnya, kalau memang itu atas kemauan yeusu tentu yesus yang menyerahkan diri secara suka reala untuk disalib, dan penyaliban tersebut karena sebab akibat yaitu yesus dianggap melanggar aturan raja yaitu menyebarkan ajaran baru dari sini jelaslah misi yesus bukan untuk mati menebus dosa melainkan menyampaikan injil atau firman tuhan. Dan terjadinya penyaliban bukan karena kemaun yesus.
3. Pernyataan sdr bahwa yesus mengaku sebagai tuhan boleh diberikan dalil injil yang menyatakan demikian
4. Tentang yesus yang bisa mengampuni orang, hal ini tentu bertentangan dengan penyaliban yg katanya satu satunya jalan untuk pengampunan toh yesus sebelum disalib saja sudah bisa mengampuni dosa
5. Yesus penentu hukum moral, tentunya semua nabi juga menyampaikan hukum hukum moral tapi tdk disebut tuhan.
6. Yoh 10.30: Aku dan Bapa satu itu berarti yesus sama dengan Allah bagai mana dengan firman tuhan yoh. 17:22,23 kalau demikian dimaknainya maka semua manusia adalah satu dan sama dengan Allah,
7.Mukjizat bangkit dari kubur bukti sebagai tuhan ?, bagai mana dengan kisah matius 27:52, banyak orang yang telah meninggal bangkit , jadi yang bisa bangkit dari kematian bukan hanya yesus.
8. Yesus dianggap tdk waras dengan mau mengorbankan dirinya yang kenyataanya bukan atas kemauan tapi karena ditangkap dan karena haukum sebab akibat dari perbuatanya yang melawan penguasa, tapi ada yang alebih mau lagi menjadi korban dengan tanpa dipaksa yaitu ishak ansk abrahamuang dengan suka rela untuk disembelih oleh ayahnya walau memang tidak jadi dan diganti oleh Allah namun secara batiniah ishak lebih berhak intuk menjadi tuhan karena dia tanpa paksaan .
9. Yesus tdk pernah menyatakan diri sebagai Allah , malah sebaliknya yesus menerangkan bahwa dia tidak kuasa tanpa Bapa yg disorga, kalau pun adan berikan bukti dalil injilnya.
10. Segala kisah dan cerita penyaliban, kebangkitan yang disampaikan oleh para muridnya sungguh meragukan karena pada saat kejadian semua murid nya kabur dan tdk berani mendekat, fan adh terbukti penghianatan yudas dan kemunafikan yaitu petrus, dann saat disuruh jaga pun merek malah tidur sehingga kesetiaan dan kebenarannya kejujurannya sangat diragukan.
Dari kesimpulan diatas jelaslah konsep dan teori yesus sebagai tuhan sangat tidak berdasar dan tidak ada dalil injil yang secara eksplisit menyebutkan yeusus adalah tuhan,kalau pun ada yang menyanggah silahkan saua tunggu disini.
Salam hormat
Kang iwan
Shalom Kang Iwan,
Terima kasih atas tanggapan Anda. Berikut ini adalah tanggapan yang dapat saya berikan:
1. Tentang Trinitas: Artikel tentang Trinitas dapat dilihat di sini – silakan klik dan ini – silakan klik. Kalau Anda mau mencari di arsip katolisitas, maka Anda dapat mengetik kata trinitas di pokok kanan atas, sehingga terlihat hasil pencarian ini – silakan klik.
2 & 8. Tentang kerelaan Kristus untuk menderita dan wafat di kayu salib: Secara sekilas, mungkin kita melihat bahwa kaum Yahudi dan penguasa Romawi memaksa Yesus untuk mati di kayu salib. Namun, kalau kita menelusuri Perjanjian Baru, maka kita akan melihat bahwa ada banyak ayat yang membuktikan bahwa Yesus secara sukarela memberikan Diri-Nya sebagai penebus dosa. Ditegaskan bahwa Tujuan Yesus datang ke dunia adalah untuk melayani dan memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang (lih. Mat 20:28; Mrk 10:45; bdk. 1Tim 2:6; Yes 53:10). Bagaimana Dia memberikan diri-Nya? Sebagai gembala yang baik, maka Dia rela memberikan nyawa bagi domba-domba-nya (lih. Yoh 10:11) dan hal ini dipenuhi-Nya dalam kematian-Nya di kayu salib. Yesus sendiri menegaskan bahwa tidak ada seorangpun yang dapat mengambil dari Yesus, namun Dia sendiri berkuasa memberikan menurut kehendak-Nya sendiri (lih. Yoh 10:18). Justru, karena Kristus yang adalah Allah, rela menderita dan mati, yang didasari oleh kasih-Nya kepada manusia dan Allah Bapa, maka penderitaan dan kematian-Nya mempunyai efek yang sungguh luar biasa, yaitu dapat menebus umat manusia.
Kalau kita hubungkan dengan Ishak, maka memang Ishak menjadi gambaran samar-samar dari Kristus. Dan menjadi satu kenyataan bahwa Ishak tidak dikorbankan, namun digantikan dengan domba jantan (lih. Kej 22:13), yang menjadi gambaran akan Kristus. Yohanes Pembaptis ketika melihat Yesus memberikan kesaksian “Lihatlah Anak domba Allah, yang menghapus dosa dunia.” (Yoh 1:29, 36)
3. Tentang Misi Kristus: Ada banyak orang mengatakan bahwa misi Yesus datang ke dunia ini hanya sebagai utusan Bapa (lih Yoh 20:21), melakukan kehendak Allah Bapa (lih. Yoh 6:38) dan menggenapi hukum (lih. Mat 5:17) serta mewartakan Injil (lih. Mrk 1:38). Namun, kalau kita membaca Kitab Suci secara keseluruhan, maka kita melihat bahwa misi yang diemban oleh Yesus adalah lebih daripada itu. Di dalam kehidupan-Nya, Kristus – yang adalah jalan, kebenaran dan hidup (lih. Yoh 14:6) – senantiasa memberitakan kebenaran (lih. Yoh 18:37), karena kebenaran akan memerdekakan manusia (lih. Yoh 8:32). Dia juga menjadi terang dunia sehingga siapa yang percaya kepada-Nya tidak berada dalam kegelapan (lih. Yoh 8:12; Yoh 9:39) melainkan mendapatkan hidup yang kekal (lih. Yoh 3:16-18; Yoh 10:10). Dia datang bukan untuk dilayani, namun untuk melayani, dan memanggil orang berdosa dan yang hilang, agar mereka bertobat (lih. Mat 9:13; Mrk 2:17; Luk 5:32; Luk 19:10) serta memperoleh keselamatan (lih. 1Tim 1:15). Keselamatan ini diperoleh dengan memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang (Mat 20:28; 1Yoh 4:10; Gal 4:4-5; 1Yoh 4:10) atau dengan kata lain, Dia rela untuk mati dan menghasilkan keselamatan bagi umat manusia (lih. Yoh 12:27; Yoh 12:47). Dengan penebusan-Nya, maka Kristus memberi kekuatan dan rahmat agar umat Allah dapat hidup dalam kekudusan (lih. Rm 8:3-4).
4 & 9. Klaim Yesus akan ke-Allahan-Nya: Tidak ada yang menyangkal bahwa Kitab Suci membuktikan bahwa Yesus adalah manusia, sehingga Gereja Katolik mengajarkan bahwa Yesus adalah sungguh manusia. Namun, Kitab Suci yang sama juga membuktikan bahwa Yesus adalah Tuhan, sehingga Gereja Katolik juga mengajarkan bahwa Kristus mempunyai kodrat Allah. Ke-Allahan-Nya dapat dibuktikan dengan kedatangan-Nya yang dinubuatkan oleh para nabi dari generasi ke generasi: Kelahiran-Nya (lih. Mik 5:2), kehidupan-Nya yang membuat banyak mukjizat (lih. Yes 29:18, 35:5-6, 61:1; bdk. Mat 11:5; Luk 4:18; Mat 15:30), penderitaan dan kematian-Nya (lih. Yes 42, 49, 50, 53). Yesus memberikan hukum dalam namanya sendiri, dengan berkata “Aku berkata kepadamu…” (lih. Mat 5-6), sehingga Dia dapat mengatakan kalau seseorang mau sempurna, maka dia harus mengikuti Yesus yang adalah Tuhan (lih. Mat 19:21). Hal ini juga ditunjang dengan begitu banyak mukjizat yang dilakukannya seperti: Yesus menghentikan badai (Mat 8: 26; Mrk 4:39-41), menyembuhkan penyakit (Mat 8:1-16, 9:18-38, 14:36, 15: 29-31), memperbanyak roti untuk ribuan orang (Mat 14: 13-20; Mrk 6:30-44; Luk 9: 10-17; Yoh 6:1-13), mengusir setan (Mat 8:28-34), dan membangkitkan orang mati (Luk 7:14; Yoh 11:39-44). Di atas semuanya itu, mukjizat-Nya yang terbesar adalah: Kebangkitan-Nya sendiri dari mati (Mat 28:9-10; Luk 24:5-7,34,36; Mrk 16:9; Yoh 20:11-29; 21:1-19). Beberapa hal yang tidak dapat disangkal bahwa Yesus sungguh Allah karena Yesus berkuasa untuk mengampuni dosa (lih. Mat 9:2-8; Mrk 2:3-12; Luk 5:24, Luk 7:48). Dia juga mengatakan bahwa Dia mampu memberikan hidup yang kekal (lih. Yoh 10:28) dan Yesus dan Bapa adalah satu (lih. Yoh 10:30). Karena klaim ke-Allahan inilah, maka Yesus hendak dibunuh dan dilempari batu oleh orang-orang Yahudi (lih. Yoh 10:33). Lebih lanjut, Yesus sendiri tidak menolak ketika Rasul Tomas mengatakan “Ya Tuhanku dan Allahku” (Yoh 20:28) dan tidak menolak ketika Dia disembah oleh para murid (lih. Mat 28:16-17). Dan akhirnya dalam Kitab Wahyu digambarkan bahwa Yesus bertahta dalam kemuliaan dan seluruh ciptaan menyembah-Nya (lih. Why 5:13-14). Akhirnya rasul Paulus menegaskan ke-Allahan Yesus dengan mengatakan “supaya dalam nama Yesus bertekuk lutut segala yang ada di langit dan yang ada di atas bumi dan yang ada di bawah bumi, dan segala lidah mengaku: Yesus Kristus adalah Tuhan…” (Flp 2:10-11).
4. Tentang Yesus yang mengampuni dosa: Sebelum kita membahas apakah pengampunan Yesus yang dilakukan sebelum Dia disalibkan bertentangan atau tidak dengan pengampunan yang mengalir dari Salib, kita harus menerima terlebih dahulu, bahwa Yesus mempunyai kuasa untuk mengampuni dosa, yang tidak dapat dilakukan oleh siapapun, kecuali Tuhan. Kita tidak melihat nabi-nabi atau siapapun mengampuni dosa dalam namanya sendiri. Karena Yesus adalah Tuhan, maka tentu saja Dia dapat mengampuni dosa siapapun, baik sebelum, pada waktu, maupun setelah kematian-Nya di kayu salib. Kita melihat bahwa Yesus dapat menjanjikan keselamatan pada orang yang disalib di samping kanan-Nya dan mengatakan “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya hari ini juga engkau akan ada bersama-sama dengan Aku di dalam Firdaus.” (Luk 23:43). Dan setelah kematian-Nya di kayu salib, maka rahmat pengampunan terus mengalir kepada umat-Nya, walaupun Yesus tidak lagi berada di dunia ini.
5. Yesus sebagai penentu hukum moral: Semua nabi memang menyampaikan hukum moral, namun mereka tidak mengatakan seperti yang dikatakan Yesus dengan penuh kuasa “Aku berkata kepadamu….” (lih Mat 5), yang menjadi manifestasi bahwa Kristus sendiri adalah pemberi hukum. Itulah sebabnya, sebagai pemberi hukum, Yesus juga mempunyai kuasa untuk mengadili manusia sesuai dengan perbuatannya (Mat 16:27), bahkan sampai perkataan yang sia- sia (Mat 12:36). Keputusan-Nya final dan akan dilaksanakan segera (Mat 25:46). Penghakiman ini mensyaratkan Hakim atas dunia yang mengatasi kodrat semua makhluk ciptaan Allah.
6. Tentang Aku dan Bapa adalah satu (Yoh 10:30): Persatuan antara Allah Bapa dan Allah Putera tidak dapat dibandingkan dengan Yoh 17:22-23, yang menuliskan “Dan Aku telah memberikan kepada mereka kemuliaan, yang Engkau berikan kepada-Ku, supaya mereka menjadi satu, sama seperti Kita adalah satu: Aku di dalam mereka dan Engkau di dalam Aku supaya mereka sempurna menjadi satu, agar dunia tahu, bahwa Engkau yang telah mengutus Aku dan bahwa Engkau mengasihi mereka, sama seperti Engkau mengasihi Aku.” Dalam Yoh 17:22-23 ini kita melihat keinginan Yesus, agar para muridnya sempurna dalam persatuan. Persatuan di antara para murid tentu saja sungguh berbeda dengan pernyataan Yesus yang mengatakan bahwa Dia dan Bapa adalah satu.
7. Yesus yang bangkit dari kubur: Kalau kita bandingkan dengan orang-orang yang telah meninggal bangkit di Mat 27:52, maka kita bisa merenungkan, mengapa mereka bangkit setelah kematian Kristus? (lih. ayat 53) Karena mereka tidak dapat bangkit dengan kekuatan sendiri, namun dibangkitkan oleh Kristus.
10. Kristus yang disalibkan: Sebenarnya menjadi argumentasi yang lemah, kalau kita meragukan kebenaran Kristus yang tersalib dengan argumentasi bahwa para murid kabur dan tidak berani mendekat, karena kita jangan melupakan bahwa Yohanes – yang disebut murid yang dikasihi-Nya dan salah satu penulis Injil berdiri di kaki salib bersama dengan Ibu Yesus. (lih. Yoh 19:25-26). Argumentasi yang mencoba menolak kebenaran Kitab Suci, karena Petrus, Yohanes dan Yakobus tertidur ketika diminta berjaga-jaga, menurut saya juga kurang mendasar, dan saya pikir tidak perlu ditanggapi lebih lanjut.
Semoga jawaban-jawaban tersebut dapat menjawab keberatan-keberatan yang Anda ajukan.
Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
stef – katolisitas.org
Mas Muji,
Selain karena penjelasan artikel diatas, alasan mendasar mengapa saya percaya Yesus itu Tuhan adalah karena Dia mengajarkan cinta kasih dengan nyata :).
Saya melihat semua tindakan yang Yesus lakukan itu, dasarnya Dia mau mengajarkan cinta kasih kepada semua umat manusia.
Contoh (sedikit aja):
~ saat Dia memberi makan 5 rb org dengan cuma 5 roti dan 2 ikan, Dia mau mengajarkan indahnya berbagi, dengan berbagi dengan orang lain, yang tidak mungkinpun jd mungkin, berkat kecilpun ga akan habis.
~ saat Dia membasuh kaki para rasul, Dia mau mengajarkan tentang ajaran kasih yaitu melayani orang lain.
~ saat Dia berdoa menjelang wafatnya, Dia mengajarkan indahnya memaafkan, bahkan sangat ekstrim memaafkan dan mengasihi orang2 yang sudah menyakitiNya, menyalibNya sampai wafat.
itu baru sedikit banget contohnya, ada buanyak banget contoh lainnya.
itu semua yang membuat saya semakin terpesona dan yakin akan Yesus, dan jelas iman dalam diri saya menyakini Yesus adalah Tuhan, Putra Allah yang hidup.
Ajaran cinta kasih yang dibawaNya sungguh dasyat. Ada yang bisa menyangkal bahwa ajaran cinta kasih itu tidak baik?
@Hilda,percaya bahwa Yesus adalah Tuhan,Putera Allah yang hidup hanya dengan melihat Cinta Kasih saja yang sempurna itu belum cukup.Alasan anda belum cukup kuat.Banyak nabi2 yg berbuat kasih,orang2 kudus salah satunya Ibu Teresa juga mempunyai kasih yang sempurna tetapi hal tsb tidak membuat mereka disebut Tuhan.
Anda harus melihat aspek2 lain dari ke Allahan Yesus misalnya kebangkitan Yesus,pernyataan dari Allah Bapa pada saat pembaptisan Yesus,mukjizat Yesus membangkitkan orang mati,dll.
Bila anda ditanya orang non Kristen mengenai KeAllahan Yesus lalu anda menjawab buktinya adalah Cinta Kasih,maka kemungkinan besar mereka masih akan ragu dan kurang percaya terhadap jawaban anda.
Demikian tanggapan dari saya.
dear Mas Tarsisius.
Sip. Makanya di awalnya saya tuliskan “Selain karena penjelasan artikel di atas …..” penjelasan artikel di atas kan sudah mencakup semua yang mas-nya tulis itu dan itu membuat saya makin percaya.
(artikel itu kan panjang buanget, ada orang yang dijelaskan panjang lebar, bukannya tambah paham, malah tambah bingung..hehehe.. makanya saya sharingkan alasan sederhana saya koq bisa saya percaya Yesus itu Tuhan)
orang lain boleh ragu, tapi untuk saya, alasan itu saja sudah sangat cukup :).
Syukur jk dengan tulisan saya saja orang lain bisa mengerti, klo toh belum percaya juga, tidak mengerti ataupun merasa itu tidak cukup, yah gpp.. biarkan setiap individu menikmati proses nya menemukan, mengenal dan mencintai Tuhan (bisa lewat saya, anda ataupun orang lain)
Tuhan berkati.
apa yang menyebabkan anda menganggap yesus adalah Tuhan??
apa karena dia anak tuhan???
[Dari Katolisitas: Silakan membaca beberapa artikel berikut ini:
Mengapa Orang Kristen Percaya bahwa Yesus itu Tuhan
Yesus Tuhan yang dinubuatkan oleh para Nabi
Kristus yang kita imani = Yesus menurut Sejarah
Yesus Sungguh Allah Sungguh Manusia
Aku Percaya akan Yesus Kristus, Putra Allah yang Tunggal]
@Muji,
kami tidak menganggap Yesus sebagai Tuhan tetapi mempercayai/mengakui bahwa Yesus sungguh Tuhan/Allah.
Tentu Anda tidak senang jika saya berkata pada Anda begini: “saya menganggap Anda manusia” (itu artinya saya tidak yakin bahwa Anda manusia).
Tentu Anda setuju jika saya katakan, “Saya yakin/mengakui bahwa Anda manusia”.
Mengapa kami yakin bahwa Yesus adalah Tuhan? silahkan dibaca link yang sudah ditunjukkan katolisitas.