Pacaran yang sehat, jalan menuju perkawinan bahagia

47

pacaranKetika itu saya masih duduk di bangku kuliah. Satu hari di malam Minggu, seorang teman laki-laki berkunjung ke tempat kos saya. Ia teman baik sejak SMA, tidak pernah ada hubungan istimewa di antara kami kecuali berteman baik. “Kok malam Minggu ke sini, apa kamu nggak apel?” tanya saya dalam nada bercanda. Ia menyahut dengan santai, “Supaya teman-teman se-kos tidak mengira aku jomblo. Walau memang kenyataannya begitu, tapi kan malu kalau ketahuan belum punya pacar. Jadi jangan diam di rumah kos kalau malam Minggu tiba, ke rumah siapa pun jadi deh, biar nggak kelihatan jomblo.” Walaupun merasa maklum, sebenarnya saya heran mendengar jawabannya itu.

Dua puluh tahun kemudian, dan pastinya dua puluh tahun sebelum hari itu, rasanya motivasi sebagian anak muda dalam berpacaran belum banyak berubah. Ketika baru-baru ini saya berbincang dengan keponakan saya yang sudah SMA, ia bercerita tentang motivasi teman-temannya yang sudah mempunyai pacar. Pacaran meningkatkan status sosial, katanya tampak lebih keren dan gaul bila sudah punya pacar. Walaupun kebutuhan akan pengakuan dan status pergaulan adalah bagian dari gejolak masa remaja, tetaplah sangat penting bagi kaum muda untuk mempunyai alasan dan sikap yang tepat dalam berpacaran.

Kaum muda Katolik adalah anak-anak Tuhan yang dipanggil untuk menjadi kudus dalam segala hal. Sebagaimana dinyatakanNya dalam 1 Petrus 1:14-16, “Hiduplah sebagai anak-anak yang taat dan jangan turuti hawa nafsu yang menguasai kamu pada waktu kebodohanmu, tetapi hendaklah kamu menjadi kudus di dalam seluruh hidupmu sama seperti Dia yang kudus, yang telah memanggil kamu, sebab ada tertulis: Kuduslah kamu, sebab Aku kudus” . Usia muda tidak harus tidak matang dalam iman, justru sedari muda kita belajar apa yang benar dan baik yang akan mengarahkan kita menjadi manusia dewasa yang seutuhnya, dalam kepenuhan kasih dan iman kepada Tuhan. Kita baca hal itu dalam 2 Tim 2:22, “Sebab itu jauhilah nafsu orang muda, kejarlah keadilan, kesetiaan, kasih dan damai bersama-sama dengan mereka yang berseru kepada Tuhan dengan hati yang murni."

Tuhan selalu tahu apa yang terbaik bagi kita dalam semua aspek hidup kita, termasuk dalam hal pergaulan. Di dalam Kitab Suci, Dia mengajarkan sikap-sikap yang baik dan terpuji menyangkut relasi kita dengan lawan jenis. Tuhan menghendaki demikian, sebenarnya pertama-tama demi kebahagiaan kita, karena Ia mengenal kita dengan sempurna sejak semula, dan karena Ia sangat mengasihi kita.

Apakah pacaran itu?

Pacaran itu indah, jatuh cinta itu selangit, berjuta rasanya, kata syair lagu. Ketika kita masih duduk di awal bangku sekolah dasar, bergandengan tangan dengan teman yang berlainan jenis tidak menimbulkan perasaan apa-apa kecuali rasa gembira sebagai teman bermain. Namun menginjak usia pra-remaja, di mana perkembangan fungsi tubuh dan hormonal mulai menjadi dominan, kebersamaan dengan teman lawan jenis menumbuhkan perasaan suka yang berbeda. Ketika dua insan berlainan jenis selalu ingin menghabiskan waktu bersama, merasa aman dan nyaman satu sama lain, berkegiatan bersama, baik lewat pertemuan secara fisik maupun lewat berbagai sarana alat komunikasi, dengan diikuti ketertarikan secara seksual dan romantisme, maka relasi di antara keduanya disebut berpacaran. Tuhan memang menciptakan manusia untuk saling mengasihi. Dalam pacaran, manusia mengenal bentuk saling mengasihi itu secara khusus dalam perasaan cinta kepada lawan jenis, dalam artian, ingin memberi, melindungi, dan mengasihi lawan jenis yang dicintai. Relasi ini bersifat eksklusif, artinya hanya melibatkan perasaan kedua orang yang terlibat di dalamnya. Dalam hubungan pacaran yang baik, harus ada unsur-unsur yang menjaga kelanggengannya dan memastikan tujuannya tercapai, di antaranya secara umum adalah kesetiaan, kejujuran, saling menghormati dan menghargai, tanggungjawab, dan komitmen.

Mengapa kita pacaran

Jika hanya mengikuti dorongan alami dari fungsi-fungsi hormonal tubuh, bisa-bisa manusia berpacaran dengan siapa saja yang ia suka dan kapan pun ia mau. Tetapi tentu tidak dapat demikian, karena manusia adalah mahluk berakal budi, ciptaan tertinggi yang dikaruniai hikmat untuk mengikuti norma-norma kebaikan dari hati nuraninya. Manusia diciptakan sesuai dengan gambaran Penciptanya, sehingga ia disebut sebagai citra Allah. Ia juga dipanggil untuk berpasangan dan beranak cucu melalui sebuah relasi yang disebut perkawinan kudus yang tak terceraikan.

Karena manusia mempunyai martabat paling tinggi sedemikian, dan dipercaya oleh Tuhan untuk mengelola alam ciptaan dengan akal budinya, maka setiap tindak tanduknya harus didasari oleh tujuan yang mulia dan alasan yang menjunjung tinggi martabat itu. Tidak terkecuali dalam berpacaran, yang merupakan langkah awal sebelum jenjang perkawinan. Motivasi yang benar dalam berpacaran mengarahkan muda mudi untuk berpacaran dengan sehat dan mencapai tujuannya yang benar dalam memuliakan martabatnya sebagai manusia sesuai dengan tugas dan panggilan Tuhan baginya. Sebaliknya, berpacaran sekedar untuk status, demi ego pribadi, demi memuaskan dorongan seksual semata , atau untuk sekedar bersenang-senang saja, justru berpotensi menimbulkan kesedihan, misalnya luka dalam hati, perbuatan dosa dan rasa bersalah, rusaknya hubungan baik, bahkan kehamilan di luar nikah, atau pernikahan dini yang terpaksa dijalani karena kehamilan di luar pernikahan itu dan bukan didasari oleh cinta yang sejati dengan pertimbangan kecocokan yang matang. Ujungnya adalah masalah, dan bukannya kebahagiaan. Bisa-bisa pacaran tidak lagi berjuta rasanya, tetapi berjuta masalahnya.

Pacaran yang sehat didasari oleh kasih yang tulus dan kebutuhan untuk menemukan pasangan hidup yang tepat, di mana kedua insan berusaha saling mengenal pribadi satu sama lain, mengembangkan cinta kasih sejati, untuk kemudian menikah membentuk keluarga yang dikuduskan dalam sakramen Gereja-Nya, Sakramen Perkawinan. Di dalamnya, Tuhan menghendaki pria dan wanita berketurunan dan membentuk keluarga yang saling mencintai, menghormati, dan melayani dalam kasih dan kesetiaan yang tulus hingga akhir hayat. Semangat kasih dan hormat kepada Tuhan mendasari semua bentuk ungkapan kasih di dalamnya. Kasih yang Tuhan maksudkan adalah kasih yang dituliskan St Paulus dalam 1 Kor 13: 4-7, yaitu sabar, murah hati, tidak cemburu, tidak memegahkan diri, tidak sombong, dan masih banyak lagi.

Keluarga adalah pilar paling dasar yang menopang sendi-sendi kehidupan bermasyarakat. Maka persiapan membentuk keluarga yang diawali dengan proses pacaran mempunyai makna dan tujuan yang sangat penting dan mulia, dan oleh karenanya harus disikapi dan dijalani dengan bijaksana, dengan senantiasa menerapkan apa yang baik yang dikehendaki Tuhan di dalam sebuah relasi berpacaran antara pria dan wanita. Itulah sebabnya, menjalani masa pacaran yang sehat dan sesuai dengan ajaran kasih Tuhan juga akan memberikan bekal berharga bagi kehidupan perkawinan yang bahagia dan langgeng.

Pacaran yang baik yang bagaimana?

Karena tujuannya adalah menemukan pasangan hidup yang tepat sebelum memasuki jenjang perkawinan dan membentuk keluarga yang bahagia, pacaran yang sehat melibatkan sebuah proses. Proses untuk saling mengenal dan mengerti satu sama lain, mengembangkan sikap saling menerima kelemahan dan kelebihan satu sama lain, latihan mengendalikan diri dan bertanggung jawab, latihan untuk berbagi, untuk mendahulukan kepentingan pihak lain dalam semangat saling melayani, latihan menikmati kebersamaan dan berbagi sukacita bersama. Dan tak kalah penting dari semuanya, latihan menjaga kemurnian. Karena “Allah memanggil kita bukan untuk melakukan apa yang cemar, melainkan apa yang kudus. “(1 Tes 4 :7)

Proses sedemikian itu memerlukan kematangan dan pada gilirannya juga akan mengembangkan kematangan dari dua insan yang berpacaran. Menjadi makin matang, bertangunggjawab, dan lebih tidak mementingkan diri sendiri adalah beberapa indikator yang baik dari sebuah pacaran yang sehat. Aspek-aspek yang dipelajari dalam sebuah proses saling mengenal itu misalnya seperti di bawah ini:

1. Belajar untuk mencintai
Dalam berpacaran yang baik, cinta yang menerima (eros) dikembangkan sedikit demi sedikit menjadi cinta yang memberi, dan tidak bersyarat (agape).[1] Cinta itu memberi. Sejak kecil, kita telah menerima cinta dan mengalami dicintai oleh orangtua dan saudara-saudara dalam keluarga. Semakin kita tumbuh besar, kita pun merespon cinta yang kita terima itu dengan tindakan dan perasaan mencintai yang sama. Semua itu sebenarnya adalah cinta Tuhan yang membara kepada kita. Namun cinta yang diajarkanNya adalah memberi tanpa syarat, yaitu dengan tulus demi kebaikan dan kepentingan pihak yang dicintai. Cinta yang sedemikian ini tidak diberikan hanya kalau pihak yang diberi melakukan hal-hal yang sesuai dengan yang kita mau, tetapi memberi karena cinta itu sendiri menggerakkan kita memberi karena mengasihi, menerima dan menghormati pacar kita apa adanya.

2. Belajar membedakan hak dan kewajiban
Karena sudah menjadi kekasih dan merasa saling memiliki, bukan berarti kita dapat berbuat apa saja dengan pacar kita dan menuntut pacar kita melakukan apa pun yang kita inginkan. Kadang-kadang atas nama cinta, kita terjebak dalam relasi yang saling menuntut dan bukannya saling memberi. Pemuda dan pemudi wajib untuk saling melindungi, selain secara fisik dan mental, juga terutama dalam hal menjaga kemurnian satu sama lain. Jika pemuda meminta pacarnya melakukan hubungan badan, itu bukan dalam rangka menuntut haknya, justru melanggar kewajibannya untuk menjaga kemurnian pacarnya. Jika pemudi memanfaatkan pacarnya untuk kesenangannya sendiri misalnya minta diantar ke manapun tanpa ingat waktu dan kesibukan sang pacar, minta dibelikan makanan atau benda yang mahal, maka semua itu bukan haknya untuk dipenuhi. Hak yang sehat untuk dipenuhi misalnya adalah hak untuk berdiskusi mengenai rencana masa depan (ingatlah bahwa perkawinan Katolik adalah tak terceraikan, perkawinan adalah untuk selamanya, sehingga sangat penting selama masa-masa belajar berkomitmen di masa pacaran, sepasang kekasih mengeksplor seluas-luasnya ketrampilan untuk saling memahami dan menerima satu sama lain, saling mengungkapkan harapan dan kebutuhan, di dalam konteks perencanaan masa depan berdua), kemudian hak untuk tetap saling mempunyai kebebasan dan waktu-waktu sendiri bersama keluarga atau teman baik, hak untuk tetap menjadi diri sendiri, hak untuk tetap mempunyai hobi masing-masing, dan hak untuk mempunyai waktu khusus bagi Tuhan. Hal semacam ini menjadikan pacaran mendewasakan kita, mari merenungkan lebih lanjut tentang hal ini, dalam 2 Pet 1 : 5-7, “Justru karena itu kamu harus dengan sungguh-sungguh berusaha untuk menambahkan kepada imanmu kebajikan, dan kepada kebajikan pengetahuan, dan kepada pengetahuan penguasaan diri, kepada penguasaan diri ketekunan, dan kepada ketekunan kesalehan, dan kepada kesalehan kasih akan saudara-saudara, dan kepada kasih akan saudara-saudara kasih akan semua orang."

3. Belajar menjadi realistis
Walaupun sedang dalam suasana asmara dan romantisme, pasangan yang berpacaran tetap tidak boleh melupakan realitas kehidupan, yang tidak selalu segalanya manis, romantis dan berbunga-bunga setiap waktu. Maka waktu-waktu berdua hendaknya jangan hanya dihabiskan dengan kegiatan yang sifatnya hanya bersenang-senang seperti rekreasi, makan di restoran, nonton bioskop, berjalan-jalan di pertokoan, atau berbelanja berdua saja. Sesekali luangkan waktu mengunjungi saudara atau teman yang sedang mengalami kesusahan atau sakit, memberikan perhatian kepada orang-orang yang kesepian atau sudah lanjut usia, dan beribadah bersama. Maka sangatlah baik jika pasangan adalah pemuda pemudi yang seiman dalam Kristus, karena kegiatan merayakan Misa berdua dan melakukan pelayanan kasih bersama teman-teman OMK menjadi lebih dimungkinkan.

Apa yang dikehendaki Tuhan dalam pacaran yang sehat

Hal kemurnian baik dalam kata-kata, pikiran, dan terutama tindakan, adalah hal yang sangat penting dalam berpacaran. Kurangnya rasa hormat, kasih dan takut kepada Tuhan serta kurangnya kesadaran untuk bertanggungjawab terhadap masa depan berdua rentan membawa muda mudi dalam dosa percabulan karena nafsu seksual yang tidak dikendalikan. Dalam 1 Tes 4 :3 kita membaca, “Karena inilah kehendak Allah: pengudusanmu, yaitu supaya kamu menjauhi percabulan”. Setiap relasi dan tindakan seksual yang dilakukan di luar hubungan perkawinan yang sah, adalah tindakan percabulan.

Dunia anak muda tidak terpisahkan dengan dunia cinta dan cerita romantisme masa muda, walau kisah cinta akan selalu dinikmati oleh semua kalangan dan usia. Percintaan dua anak manusia tidak habis-habisnya menjadi inspirasi dalam dunia seni, sastra, musik, hingga film. Sayangnya, tidak banyak film dan bacaan yang beredar di kalangan remaja, yang memberikan contoh yang sejalan dengan semangat kasih yang murni dalam berpacaran, sebagaimana dikehendaki Tuhan. Nilai-nilai duniawi yang laku untuk dijual memang nilai yang mengumbar kesenangan dan hawa nafsu, kepuasan diri dan kegembiraan sesaat. Jika kaum muda Katolik tidak dibekali dengan pemahaman akan nilai-nilai luhur dalam hubungan kasih dengan lawan jenis, maka kekosongan itu segera diisi oleh membanjirnya tawaran nilai dunia hiburan yang dekat dengan keseharian anak muda. Perasaan mengasihi yang tulus dan bertanggungjawab disempitkan dalam sekedar pernyataan seksual sebagai bentuk ungkapan cinta. Rambu-rambu yang penting untuk diajarkan di dalam berpacaran menjadi asing bagi kebanyakan anak muda. Berciuman, saling meraba, hingga akhirnya melakukan hubungan selayaknya suami istri menjadi kecenderungan yang mengaburkan nilai berpacaran sejati yang seharusnya dikembangkan. Alih-alih saling mengenal, belajar bertanggungjawab, belajar memberikan komitmen dan kesetiaan, belajar saling berkorban, dan berlatih mengendalikan diri, malahan banyak remaja justru jatuh dalam dosa percabulan. Padahal rentetan dosa percabulan itu mengakibatkan kerumitan dan penderitaan, misalnya tersiksa oleh perasaan bersalah, timbulnya sifat posesif dan egoisme, muncul perilaku kecanduan seks, terjadinya kehamilan di luar perkawinan, timbulnya penyakit kelamin dan penyakit alat reproduksi yang bisa berakibat fatal, hingga aborsi. Di sini kita melihat dengan jelas salah satu alasan kasih dan keselamatan di balik mengapa Tuhan memberikan ajaran, perintah, dan larangan di dalam relasi kasih antara dua anak manusia dalam berpacaran, yaitu dalam 1 Kor 6 :15, 18, “Tidak tahukah kamu, bahwa tubuhmu adalah anggota Kristus? Akan kuambilkah anggota Kristus untuk menyerahkannya kepada percabulan? Sekali-kali tidak! Jauhkanlah dirimu dari percabulan! Setiap dosa lain yang dilakukan manusia, terjadi di luar dirinya. Tetapi orang yang melakukan percabulan berdosa terhadap dirinya sendiri."

Menurut survey yang dilakukan Survei Komisi Perlindungan Anak pada 2010 terhadap 4.500 remaja di 12 kota besar seluruh Indonesia, ditemukan 93 persen remaja pernah berciuman, 62,7 persen pernah berhubungan badan, dan 21 persen remaja telah melakukan aborsi.[2] Kenyataan ini sangat memprihatinkan. Pihak orangtua, gereja, dan sekolah adalah pihak-pihak yang selayaknya setia memberikan pendidikan seks yang baik kepada orang muda secara rutin dan berkesinambungan. Kebutuhan ini mendesak dan memerlukan tindak lanjut yang konkrit. Tuhan meminta dengan jelas hal ini dalam Ams 22:6, “Didiklah orang muda menurut jalan yang patut baginya, maka pada masa tuanyapun ia tidak akan menyimpang dari pada jalan itu.”

Pasangan yang longgar dalam pengekangan diri terhadap godaan berhubungan seksual di masa pacaran, jika akhirnya berhasil memasuki bahtera rumah tangga, umumnya menjadi lebih rentan terhadap godaan perselingkuhan dan hubungan seksual di luar perkawinan. Bisa dimaklumi bila kaitan itu muncul, mengingat nilai-nilai luhur kemurnian sudah biasa untuk dilanggar selama masa pacaran. Kepercayaan satu sama lain juga bisa sangat berkurang, jika selama masa pacaran sudah biasa berhubungan selayaknya suami istri. Rasa saling percaya yang rendah amat tidak sehat dan tidak membangun di dalam sebuah perkawinan.

Untuk sejauh mungkin menghindari munculnya godaan percabulan yang umumnya sangat kuat membayangi hubungan pacaran muda mudi, kita lakukan kegiatan yang proaktif. Sebaiknya berkegiatan bersama di tempat yang ramai dan banyak teman. Jangan mencari tempat-tempat sepi dan tersembunyi untuk berduaan. Atau hindarilah hanya berdua di rumah dan tempat kos. Tempat yang tersembunyi dan tidak diketahui orang lain adalah tempat yang harus dihindari dalam kebersamaan dengan pacar kita. Melalui Kitab Suci, Tuhan mengingatkan kita supaya kita berhati-hati dengan kegiatan yang dilakukan secara sembunyi-sembunyi, ”Sebab barangsiapa berbuat jahat, membenci terang dan tidak datang kepada terang itu, supaya perbuatan-perbuatannya yang jahat itu tidak nampak, tetapi barangsiapa melakukan yang benar, ia datang kepada terang, supaya menjadi nyata, bahwa perbuatan-perbuatannya dilakukan dalam Allah." (Yoh 3: 20-21)

Juga sedapat mungkin hindarilah hiburan yang tidak sehat di dalam musik, buku, film, yang menyajikan sensualitas. Jika mungkin, carilah sebanyaknya kegiatan berdua dalam lingkup gereja, atau kegiatan pengembangan diri bersama untuk mempersiapkan masa depan, misalnya mengikuti pelatihan kerja atau kursus pengembangan diri berdua, ke perpustakaan berdua untuk belajar suatu ketrampilan yang bermanfaat, belajar memasak berdua, berkebun berdua, berolahraga bersama, saling mencoba kegiatan yang menjadi hobi satu sama lain, dan kegiatan positif lainnya. Kegiatan yang positif akan memanfaatkan energi masa muda yang berlimpah kepada penyaluran yang sehat. Selama kasih dan iman kita selalu dibentengi dengan doa-doa kepada Tuhan, sering merenungkan Sabda-Nya, dan orientasi kepada masa depan yang penuh di dalam Tuhan, niat kita akan selalu diteguhkanNya. Jika godaan untuk bermesraan secara seksual tetap datang juga, cobalah untuk berdoa berdua, datang kepada Tuhan dengan tulus, mohon kekuatan untuk bertahan dalam niat menjaga kemurnian hingga godaan itu lewat. Doa Rosario adalah doa yang ampuh untuk melawan kekuatan si jahat, bersama Bunda Maria yang selalu mendoakan kita, rahmat Tuhan akan memampukan kita bertahan dalam kemurnian dan sebagaimana rancangan-Nya yang indah dalam mengikuti Dia, damai sejahtera-Nya akan selalu memelihara kita (lih. Filipi 4: 6-7). Semakin baik juga jika kita memperkaya dan menguatkan motivasi kita dengan membaca kisah para kudus dalam menjaga kesucian hidupnya, misalnya kisah hidup St Agnes dan St Maria Gorreti, kita mohon perantaraan doa mereka untuk bertahan dalam semangat kemurnian. Bersama Kristus dan dalam Dia, kita bisa !

Maka berkaitan dengan usaha menjaga kemurnian itu, aspek lain yang sangat penting untuk menjadi pertimbangan dalam berpacaran adalah menemukan pacar yang seiman. Kitab Suci menyarankan hal ini di dalam 2 Kor 6: 14-15, ”Janganlah kamu merupakan pasangan yang tidak seimbang dengan orang-orang yang tak percaya. Sebab persamaan apakah terdapat antara kebenaran dan kedurhakaan? Atau bagaimanakah terang dapat bersatu dengan gelap? “ Persamaan apakah yang terdapat antara Kristus dan Belial? Apakah bagian bersama orang-orang percaya dengan orang-orang tak percaya?

Iman merupakan nilai-nilai dasar yang menopang hidup kita. Perbedaan dalam menghayati nilai-nilai hidup akan sangat menyulitkan pasangan muda mudi menjalani tantangan kehidupan. Karena sebagaimana telah dinyatakan di atas, hidup tidak selalu dan selamanya mudah terus dan manis selalu. Contohnya, dalam menghadapi berbagai godaan seksual yang telah disebutkan di atas, kekuatan niat dan doa dari dua orang yang berpacaran tentu lebih kuat dari niat satu orang saja, dan lebih kuat dari niat bersama tapi dengan pemahaman iman yang berbeda. Dalam berbagai persoalan hidup terutama dalam mengarungi bahtera rumah tangga kelak, iman yang sama membuat tantangan kehidupan bisa diatasi berdua dengan kekuatan yang lebih baik dan terpadu, serta kesamaan dalam memandang nilai-nilai iman dan kehidupan. Sebaliknya, iman yang berbeda, bahkan gereja yang berbeda, berpotensi menimbulkan masalah lain juga, misalnya dalam hal mendidik anak-anak, dalam melakukan penghayatan devosional sehari-hari, sampai relasi dengan keluarga besar. Maka sangat dianjurkan para OMK untuk bijaksana dan proaktif dalam memperluas pergaulan dengan teman-teman seiman dalam Gereja Katolik. Mengikuti aneka kegiatan mudika di gereja, di lingkungan tempat tinggal, maupun di sekolah dan di kampus dapat menjadi sarana yang baik untuk menemukan calon pasangan hidup dari kalangan yang seiman dalam Gereja Katolik. Jangan lupa berdoalah selalu agar Tuhan membimbing kita untuk menemukan pasangan hidup yang tepat dan pada waktu yang tepat, seturut kehendak-Nya.

Sekilas pengajaran iman Katolik mengenai seksualitas manusia oleh Beato Yohanes Paulus II

Dalam lima tahun pertama masa kepausannya, Beato Yohanes Paulus II, yaitu dalam 129 pertemuan audiensi umum setiap hari Rabu dari tahun 1979 hingga tahun 1984, telah mengajarkan kita keindahan rancangan Allah melalui tubuh manusia, rancangan yang agung sedari semula tentang seksualitas manusia, sebelum manusia jatuh ke dalam dosa.[3] Pengajaran itu diberinya judul “Man and Woman He Created Them” (Lelaki dan Perempuan Diciptakannya Mereka), judul yang dikutip dari Kejadian 1:27. Kumpulan pengajaran itu kemudian disatukan dalam sebuah dokumen yang dikenal luas sebagai “Teologi Tubuh” (Theology of the Body).

Tubuh manusia, baik dengan jenis kelamin lelaki maupun perempuan, adalah bagian tak terpisahkan dari keseluruhan pribadi manusia. Melalui tubuh dengan jenis kelamin inilah kita dipanggil untuk menjadi "pemberian/ gift" kepada orang lain, yang secara khusus dinyatakan dalam hubungan suami istri. Maka hubungan seks selalu mempunyai arti yang suci dan luhur, sebab berkaitan dengan maksud Allah menciptakan manusia untuk saling memberikan diri kepada pasangannya sehingga mereka dapat saling mencintai dan melengkapi secara utuh, yang memungkinkan mereka dapat turut mengambil bagian dalam karya penciptaan Allah. Saling memberikan diri ini sifatnya menunjang (terbuka bagi) kehidupan. Dan oleh karena kehidupan baru selalu berkaitan dengan tanggungjawab melestarikannya, maka hubungan suami istri tak dapat begitu saja dilakukan oleh pasangan yang tidak/ belum disatukan oleh Tuhan sebagai suami istri. Sebab kesatuan suami dan istri mengambil gambaran dari kesatuan Kristus sendiri dengan Gereja-Nya (lih. Ef 5:22-33), di mana dalam kesatuan inilah kita semua sebagai anggotanya memperoleh kelahiran baru dan kelestarian hidup ilahi.

Jika pasangan memisahkan seks dengan pribadi -yaitu dengan hanya mengutamakan keinginan daging, tanpa melibatkan keinginan untuk memberi dan menerima pasangan satu sama lain sebagai pribadi yang utuh (termasuk jiwa dan tubuh pasangan dengan potensi tubuh untuk mengambil bagian dalam karya penciptaan Allah), maka artinya pasangan tersebut tidak menghidupi/ mengartikan tubuh/ jenis kelaminnya sebagaimana dimaksudkan Allah sejak awal mula penciptaan, karena dimensi tubuh manusia secara fisik (antropologis) tidak dapat dipisahkan dari dimensi ilahi (teologis) yang dirancang oleh Penciptanya. Inilah kebenaran dari seksualitas manusia yang membawa pada hidup yang berbuah dan damai sejahtera bagi umat manusia. Pengetahuan dan penerapan akan kebenaran selalu bersifat membebaskan dan membahagiakan, sebagaimana Tuhan juga mengatakannya kepada kita, “..dan kamu akan mengetahui kebenaran, dan kebenaran itu akan memerdekakan kamu." (Yoh. 8:32)

Indahnya menunggu

Setelah memahami alasan yang tepat dan sehat mengapa kita berpacaran, dan menyadari berbagai latihan tanggungjawab dan kematangan yang sedemikian besar yang diperlukan dalam sebuah hubungan pacaran, maka kita menyadari bahwa kita tidak harus cepat-cepat punya pacar tanpa alasan yang tepat, dan karena pacaran mempunyai dampak yang besar dalam hidup kita, maka pacaran tidak untuk dilakukan dengan main-main. Punyailah prinsip dan berani tampil beda demi kematangan dan kebijaksanaan pribadi serta tanggungjawab kepada Tuhan, orangtua, serta diri kita sendiri.

Menunda untuk berpacaran sampai kita merasa siap untuk bertanggungjawab, tidak mengurangi kebebasan kita, justru memberi kita kebebasan yang lebih penuh di masa muda, sambil kita sendiri menjadi matang secara fisik, mental, dan spiritual. Dan kita justru terhindar dari rasa sakit dan luka hati yang tidak perlu karena hubungan pacar yang terlalu cepat berakhir karena dimulainya dengan dasar yang tidak kokoh. Berikut ini beberapa dasar yang memberikan keindahan menunda :

Masa remaja dan masa dewasa awal adalah masa yang penuh gejolak dan perubahan, baik secara fisik maupun mental. Berilah waktu kepada diri sendiri untuk menjadi lebih tenang dan stabil. Sambil mengenal diri sendiri dengan lebih baik, bergaullah seluas-luasnya dengan teman-teman yang baik. Mengenal diri sendiri dengan baik akan memampukan kita mengenal dan memahami orang lain dengan lebih baik juga.

Masa muda juga adalah masa-masa menuntut ilmu dalam kegiatan studi berbagai jenjang baik formal maupun informal. Kegiatan belajar memerlukan konsentrasi yang tinggi sebagai bagian persiapan masa depan yang baik. Di masa muda kita mulai belajar berdisiplin membagi waktu dan mengelola tugas-tugas dengan baik. Jika ketrampilan ini masih dipelajari, sementara sudah sambil membuat berbagai komitmen dalam berpacaran, maka kesempatan berharga untuk belajar dan mengembangkan diri tidak termanfaatkan dengan optimal.

Sambil menjalin persahabatan dengan banyak orang, termasuk dengan lawan jenis, kita belajar bergaul dengan berbagai karakter sesama manusia. Kelak, jika kita sudah siap secara mental untuk mengikatkan komitmen pada satu orang, kita bisa lebih menghargainya sebagai seorang sahabat yang baik untuk dikasihi dengan tulus, karena pada dasarnya perkawinan adalah juga penyatuan dari dua sahabat baik.

Pergaulan yang sehat mendewasakan kta, melatih kita untuk menyaring dengan bijaksana, pribadi yang sesuai dengan jati diri kita untuk menjadi pasangan hidup kita kelak. Tidak cepat-cepat memutuskan untuk pacaran dengan seseorang memberi kita kesempatan untuk menilai dengan objektif, bagaimana kepribadian teman kita, terutama imannya (apakah ia takut akan Tuhan dan menghormati hukum-hukum-Nya). Untuk mengevaluasi temperamennya dalam mengatasi konflik, tanggungjawabnya dalam tugas sehari-hari, dalam komunikasinya dengan orangtua dan keluarga, apakah ia orang yang dapat dipercaya, apakah ia tekun dan sabar, dan lain-lain. Lalu kira-kira bagaimana semua itu berpadu dengan karakter dan kepribadian kita sendiri. Kalau sudah cepat-cepat memutuskan pacaran, bisa jadi evaluasi kita sudah tidak terlalu objektif lagi.

Dan akhirnya tentang menunggu, kita telah mengerti sekarang, adalah sangat penting untuk menunda melakukan relasi seksual dengan pacar kita. Karena relasi seksual seperti berciuman, saling meraba, dan apalagi hubungan selayaknya suami istri, adalah hadiah Tuhan bagi manusia untuk dibuka pada saat yang tepat, yaitu setelah menjadi pasangan suami isteri yang sah yang dikuduskan oleh Sakramen Perkawinan di Gereja Katolik. Dengan mengingat selalu kasih Tuhan yang menginginkan segala yang terbaik dalam hidup kita, kita akan disibukkan oleh kegiatan saling mengenal secara sehat dan berkegiatan bersama-sama untuk memuliakan nama Tuhan yang begitu mengasihi kita. Jangan berikan waktu untuk yang lain, dan mengurbankan masa muda kita dan masa depan kita hanya untuk mencoba-coba kenikmatan sesaat yang melepaskan kita dari cinta kasih sejati yaitu cinta kasih Allah. Adalah indah untuk menunggu, dan menunda membuka hadiah Tuhan itu hingga hari pernikahan kita tiba. Mengikuti ajaran Tuhan, membuat pacaran menjadi semakin manis, sampai ke pernikahan kelak. Kata orang kesabaran itu pahit, tetapi buahnya manis. Dan pacaran makin terasa selangit, karena kita bahkan juga memperoleh hadiah pengendalian diri, yang menguatkan perjalanan hidup kita selanjutnya bersama pasangan yang kita cintai. Renungkanlah anjuran St Paulus yang membekali kita untuk membuka hadiah terindah Tuhan itu pada waktunya serta semangat dari kitab Mazmur, untuk menguatkan kita selalu:

Rm 12 : 1,2, “Karena itu, saudara-saudara, demi kemurahan Allah aku menasihatkan kamu, supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah: itu adalah ibadahmu yang sejati. Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna.

Ef 5 :8, “Memang dahulu kamu adalah kegelapan, tetapi sekarang kamu adalah terang di dalam Tuhan. Sebab itu hiduplah sebagai anak-anak terang”

Mazmur 119: 9,11, “Dengan apakah seorang muda mempertahankan kelakuannya bersih? Dengan menjaganya sesuai dengan firman-Mu. Dalam hatiku aku menyimpan janji-Mu, supaya aku jangan berdosa terhadap Engkau


CATATAN KAKI:
  1. http://katolisitas.org/6794/eros-philia-agape []
  2. http://www.republika.co.id/berita/gaya-hidup/info-sehat/11/07/19/lokv29-seks-di-usia-remaja-awas-risiko-kanker-serviks-meningkat []
  3. http://www.ewtn.com/library/papaldoc/jp2tb13a.htm []
Share.

About Author

Caecilia Triastuti (Triastuti) adalah seorang ibu rumah tangga yang sekarang berdomisili di Brisbane, Australia. Ia membantu di Katolisitas secara full-time terutama dalam mengkoordinasikan renungan dan kesaksian iman.

47 Comments

  1. stevaniansella on

    Salam Damai…
    Saya telah berpacaran dengan seorang cowok Pantekosta selama 3 tahun lebih. Kami menjalani proses pacaran dengan komitmen juga keseriusan meskipun saya belum mengenal keluarganya secara langsung. Dalam kehidupan beragama saya amati dia jarang ke gereja juga sepertinya tidak mengimani Tuhan Yesus dengan sungguh-sungguh karena yang saya tangkap dari cara dia berbicara tentang agama, dia berpikir nanti juga akan pindah menjadi Katolik jadi tidak pergi ke gerejanya tidak masalah. Dia sangat serius dengan saya, dia juga mengatakan jika nanti saat kita akan menikah dia akan pindah menjadi Katolik. Saya jadi bingung apakah keputusannya nanti itu benar atau salah, apakah saya salah juga? Bagaimana menurut Bapak?

    • Caecilia Triastuti on

      Shalom Stevaniansella,

      Saat ini karena kekasih Anda nampaknya sedang mengantisipasi untuk berpindah gereja sebagai salah satu wujud keseriusannya dengan Anda, maka sebenarnya Anda justru sedang mempunyai kesempatan yang luas dan baik untuk membawa kekasih Anda lebih dekat kepada Kristus melalui gereja-Nya, Gereja Katolik. Ajaklah dia mengikuti Misa Kudus setiap hari Minggu dan bahkan Misa harian, sambil menerangkan hal-hal yang ingin dan perlu diketahuinya di dalam Ekaristi. Perkenalkan doa-doa devosi kepada Bunda Maria dan para Kudus, untuk menguatkan iman kepada Tuhan. Baik juga membaca kisah-kisah para Kudus, mengajaknya mengenal ajaran-ajaran Bapa Gereja Katolik yang sangat membangun iman misalnya tulisan-tulisan Bapa Suci Fransiskus, keindahan pengajaran Bapa Paus Yohanes Paulus II dalam Teologi Tubuh (Theology of the Body), dan juga mengajaknya hadir dalam acara-acara OMK di Gereja Katolik.

      Idealnya motivasi menjadi Katolik adalah karena sungguh mengasihi Kristus dan keinginan untuk mengikuti seluruh ajaran-Nya. Namun memang sering motivasi ini tidak langsung ada tetapi didahului keinginan mengikuti Gereja pasangan. Mungkin ini yang ada pada pemikiran pasangan Anda. Namun tak apa, sebab jika Anda dapat memperkenalkan iman Anda dengan baik dan tanpa memaksa, mungkin pasangan Anda dapat menjadi lebih tertarik untuk mempelajarinya dan melaksanakannya.

      Di atas semuanya bawalah dalam doa-doa Anda agar Tuhan Tritunggal campur tangan di dalam setiap tahap pengenalannya kepada Gereja-Nya serta untuk menjaga hubungan kasih dan iman Anda berdua. Semoga Tuhan membuka jalannya bagi Anda jika memang pasangan Anda itu adalah jodoh Anda dan Anda berdua dapat semakin dipersatukan dalam satu iman, dan satu Gereja.

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      Triastuti dan Ingrid Listiati-katolisitas.org

  2. Dominikus Darmawan on

    Terima kasih atas artikel di atas terutama bagi yang membuatnya dan membuat pikiran saya menjadi terbuka sehingga menjadi dasar saya untuk masa depan..

  3. Antonius Adityo on

    Jujur, sebenarnya saya bingung mau memulainya dari mana.. Saya pernah melakukan pendekatan dengan seorang gadis (Kristen), saat itu bisa dibilang kami cukup dekat. Pada suatu saat, saya mengungkapkan isi hati saya ke gadis tersebut dan mengatakan bahwa telah memiliki seorang (pria) pacar, saya menerimanya hal tersebut. Bagi saya, bisa bertemu, kenal bahkan dekat dengannya sudah merupakan sebuah anugerah. Saya pernah mendapat kabar dan gadis itu mengatakan yang intinya bahwa hubungannya dengan parcarnya tersebut sedang tidak sehat. Ketika saya ingin berusaha lebih tahau, gadis tersebut tidak mau menceritakan lebih lagi, berusaha mengalihkan pembicaraan.

    Beberapa hal yang saya sukai/kagumi dari gadis tersebut merupak seorang yang tangguh, mandiri, berpendirian teguh, rajin, suka/sering ikut Pendalaman Alkitab, ibadah dan puasa sabat, ya selain itu juga dari segi penampilan fisiknya. Akan tetapi, hal itu yang saya rasa, sudah mulai hilang dari diri gadis tersebut. Yang saya ketahui sejak gadis tersebut kenal dengan seorang gadis lain (yang saya ketahui berpenampilan tomboy, muslim), kurang lebih sejak pertengahan tahun 2013 (sekitar bulan Juli), gadis yang itu sedikit berubah. Gadis tersebut sekarang lebih banyak jalan/bermainnya. Dan selain itu juga, saya rasa hubungan saya dengan gadis tersebut (walaupun sekedar teman) sedit mulai terasa berbeda, ada semcama keranggangan. Saya menceritakan kondisi tersebut dengan sahabat saya (muslim) yang kebetulah diberi anugerah ‘kemampuan’ lebih, sahabatnya mengatakan bahwa gadis tersebut sedang asik di dunianya. Saat itu saya berpikiran positif kalau gadis tersebut memang sedang aktif dalam bidang tulis-menulis.

    Akhir bulan Febuari/akhir bulan Maret ini, saya iseng mencoba buka akun email gadis tersebut dan ternyata dalam email tersebut ada balas-membalas email antara gadis tersebut dengan gadis yang satunya yang intinya bahwa sekarang mereka sudah berbeda orientasi seksualnya, menjadi penyuka sesama jenis (lesbian), yang intinya kecewa dengan dengan pacarnya (yang telah menyia-nyiakannya). Email tersebut dikirim akhir Deesember/awal Januari yang lalu, yang di dalam email tersebut mereka telah menjalani hubungan (yang salah) tersebut selama 5 bulanan, dengan demikian sejak gadis yang saya (sempat) sukai mengenal gadis tersebut. Jujur saya kaget, syok bahkan bisa dibilang kecewa. Kalau pun gadis tersebut bisa memperbaikin hubungannya dengan pacaranya ataupun menemukan pria lain, saya bisa menerimanya.

    Jujur saya bingung mau melakukan apa, saya memiliki keinginan untuk membantu gadis tersebut keluar dari hubungan (yang salah) tersebut. Saya sudah mengetahui hal tersebut akan tetapi kalau saya menyampaikannya secara langsung apa yang saya ketahui dengan gadis tersebut, saya takut akan tambah memperparah hubungan saya dengan gadis tersebut. Sekarang pun, saya masih sulit untuk menemuinya, saya terakhri bertemu dengannya pertengah Desember tahun 2013, itupun karena saya menghampirinya di suatu tempat, mungkin untuk janjian untuk bertemu,
    Saya sempat menceritakan apa yang saya ketahui tetang hal yang sedang terjadi dengan gadis tersebut dengan sahabat saya tersebut, sahabat saya mengatahakn bahwa hal itu hanya semntara, hanya pelampiasan kekecewaan (walaupun dengan cara yang menurut saya salah). Saya juga memohon bantuan doa seorang sahabat saya (muslim), yang sudah saya ceritakan tentang hal ini.
    Saat ini mungkin saya hanya bisa berdoa agar gadis tersebut bisa kembali menjadi normal, agar hubungan gadis tersebut dengan gadis yang satunya segera berakhir dan meraka dijauhkan/dipisahkan.
    Di sini saya juga memohon bantuan masukan dengan cara apa yang bisa saya lakukan agar gadis tersebut bisa kembali menjadi normal, mohon saran melalui doa bagaimana/apa yang bisa saya panjatkan. Saya juga memohon bantuan doanya kepada semuanya, kepada tim pendoa agar gadis tersebut kembali menjadi normal.

    • Shalom Antonius,

      Memang menjalin hubungan mempunyai banyak liku-liku. Saya tidak tahu bagaimana Anda dapat membaca email dari teman Anda. Namun, dalam hubungan yang baik, kita juga harus menghargai privacy orang tersebut, apalagi belum ada ikatan apapun dengan gadis tersebut.

      Hal kedua, kita jangan terlalu mempercayai penglihatan-penglihatan yang sesungguhnya belum tentu benar. Jadi, pada saat ini, bawalah senantiasa teman Anda di dalam doa. Dan pada saat yang bersamaan, Anda tetap dapat menjalin hubungan teman dengan gadis tersebut, dengan harapan, bahwa suatu saat gadis tersebut akan dapat menceritakan kesulitannya dan kekecewaannya. Dan semoga, gadis tersebut dapat juga belajar dari Anda untuk dapat mengasihi dengan tulus. Tantangan bagi Anda adalah untuk belajar menjadi sahabat yang baik. Namun, pada tahap awal, menurut saya, jangan mengharapkan hubungan yang terlalu serius dengan gadis tersebut. Hal lain yang dapat Anda lakukan adalah dengan mengajak gadis tersebut untuk bergabung dalam kelompok doa di dalam Gereja Katolik – kalau dia bersedia. Harapannya, Firman Tuhan dapat juga membantu dia untuk kembali ke jalan yang benar. Semoga apapun yang Anda lakukan dapat juga membantu teman Anda.

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      stef – katolisitas.org

      • GodFollower on

        Halo Bapak Stef dan Ibu Ingrid

        Saya ingin bertanya. Jadi di saat saya kecil (usia saya sekitar 6 tahun saat itu). Saya sedang bermain-main dengan adik saya dan seorang temannya (laki-laki) yang berusia 4 tahun. Lalu saya dan mereka sedang ber-acting layaknya sedang melaksanakan resepsi pernikahan. Kemudian yang ber-acting menjadi pengantin perempuan dan pengantin laki-lakinya adalah adik saya (perempuan) dan temannya (laki-laki). Kemudian saya menyuruh mereka untuk bergandengan tangan dan berciuman seperti sepasang suami istri yang baru saja melaksanakan resepsi pernikahan.

        Itu hal yang tiba-tiba teringat di benak saya saat membaca artikel ini. Walaupun hal tersebut sudah bertahun-tahun yang lalu. Namun saya takut jika ternyata hal yang saya lakukan saat kecil itu berdosa. Sebenarnya berdosakah saya saat kecil itu?
        mohon bimbingannya. Terima kasih.

        Salam kasih

        • Shalom Godfollower,

          Seseorang berdosa kalau melawan perintah Allah secara sadar. Dengan kata lain, seorang anak kecil sekitar 6 tahun belum dapat mengerti baik dan buruk. Oleh karena itu, apa yang dilakukan semasa umur tersebut tidak dapat dikategorikan sebagai dosa. Yang lebih penting saat ini adalah kehidupan sekarang dan ke depan, yaitu berusaha terus dengan bantuan rahmat Allah agar dapat terus bertumbuh dalam kekudusan.

          Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
          stef – katolisitas.org

  4. Salam sejahtera

    Akhir-akhir ini saya memiliki kebingungan dalam batin saya, saya memiliki pacar dan dia beragama Buddha, kami telah menjalin hubungan selama 1 tahun dari kelas 1 SMA dan sekarang saya dan dia telah duduk di kelas 2 SMA dan di kelas yang sama, sekitar 2 bulan yang lalu saya tiba-tiba mendapat pencerahan iman dan sejak itu saya bertobat dan sangat ingin menjadi hamba Kristus yang setia saya pun mulai sering berdoa yang sebelumnya tidak pernah saya lakukan. Yang ingin saya tanyakan begini sy tiba-tiba melihat sebuah situs Alkitab di mana katanya kita sebaiknya tdk berpacaran dengan orang yang berbeda imannya, tetapi saya menjalin hubungan yg agak lama dan dia sangat mengasihi saya begitupun dengan saya, tetapi saya juga sangat ingin mengikuti kehendak Kristus jadi yang saya ingin tanyakan haruskan saya memutuskan hubungan ini? Mohon bantuannya

    • Caecilia Triastuti on

      Shalom Catherine,

      kami turut mensyukuri pencerahan iman yang Catherine alami, yang menimbulkan kerinduan untuk bertobat, terpanggil menjadi hamba Kristus yang setia, serta untuk berdoa dengan lebih intensif kepada Tuhan. Pengalaman dipanggil dan disentuh oleh kasih Tuhan adalah pengalaman yang amat indah dan teramat berharga dalam hidup kita, khususnya di usia Anda yang masih belia. Kiranya Tuhan terus membimbing Anda untuk memelihara api kasih dan iman itu tetap menyala di dalam hati dan membawamu menjadi pewarta kasih setia dan Kabar Gembira Kristus yang penuh semangat dalam kehidupan masa muda Anda.

      Mengenai hubungan Anda saat ini dengan pacar yang beragama Budha, ada baiknya Anda bersikap tenang dan santai serta tidak terlalu menjadi beban pikiran. Anda masih sangat belia dan masa muda Anda masih amat panjang. Masa muda adalah saatnya kita membekali diri dengan ilmu dan ketrampilan sebanyak-banyaknya untuk menghadapi masa depan, dan sebuah masa yang sangat baik untuk bergaul secara terbuka dengan banyak orang, sehingga wawasan kita juga jadi lebih luas dan bijaksana untuk kelak menemukan teman hidup yang paling tepat yang akan bersama kita menjalani seluruh sisa hidup kita. Tentunya bersama seumur hidup memerlukan bekal yang serius, supaya kehidupan berdua bisa dijalani dengan ketenangan dan keharmonisan dalam segala hal, termasuk dan terutama juga dalam hal iman. Sebab iman adalah pilar yang paling mendasar dari keseluruhan pribadi seseorang, yang mempengaruhi semua pandangan, pilihan, dan keputusan-keputusan hidupnya. Oleh karena itu menemukan kekasih yang seiman adalah sangat baik dan sangat penting.

      Itu sebabnya pacaran beda agama memang dihalangi / tidak disarankan oleh Gereja, karena pertimbangan di atas dan karena akan sangat berpotensi melemahkan iman pihak yang Katolik. Akan sangat baik jika di usia belia ini Anda tidak tergesa mengikatkan diri / berkomitmen kepada seorang tertentu / pacar, termasuk mempertimbangkan kembali mengenai relasi kasih Anda dengan pacar beragama Budha tersebut. Luaskan lagi pergaulan Anda dengan mengikuti kegiatan OMK di gereja, menggabungkan diri dengan kelompok kategorial atau teritorial OMK, melibatkan diri secara aktif dalam kegiatan gerejawi. Apalagi Anda memang rindu untuk melayani Tuhan dengan lebih sungguh dan bertumbuh lebih kuat dalam penghayatan iman Katolik. Memperoleh pasangan yang seiman memungkinkan Anda bertumbuh semakin kokoh dalam iman Katolik.

      Atau silakan menggunakan kesempatan relasi kasih Anda dengan pacar Anda ini untuk mewartakan iman Katolik kepadanya, siapa tahu ia tertarik untuk menjadi Katolik karena kesaksian hidup Anda yang baik dan iman Anda yang teguh penuh kasih. Jika kemudian ia menjadi Katolik, maka Anda berdua dapat kemudian aktif terlibat dalam kegiatan gerejawi, dan dengan prinsip ajaran iman yang sama, semoga kalian berdua dapat sama-sama menjajagi, apakah memang Anda cocok satu sama lain.

      Jangan lupa mohon bimbingan Tuhan selalu, bawalah semua rasa perasaan serta semua kebutuhan Anda dengan terbuka dan rendah hati di hadapan Tuhan, Tuhan akan memimpin Anda menemukan pasangan hidup yang terbaik sesuai rencana-Nya yang sempurna bagi Anda dan waktu-Nya yang selalu tepat. Semoga masukan kami ini dapat membantu.

      Salam kasih dan doa dalam Kristus Tuhan,
      Triastuti & Ingrid Listiati – katolisitas.org

  5. Motivasinya hanya ingin menghabiskan waktu bersama. Namun betul itulah yang terjadi tidak pernah berhubungan badan dan juga tinggal bersama hanya waktu sebentar. Apakah dosa?

    [Dari Katolisitas: Pada prinsipnya janganlah kita bermain api. Silakan membaca artikel ini, silakan klik. Adalah lebih baik menghindari kesempatan-kesempatan yang dapat menyeret kepada dosa percabulan, daripada menyesalinya jika kelak hal itu sudah terjadi, walaupun sedari awalnya tidak direncanakan.]

  6. saya senang membaca cerita di atas dan mungkin dapat menjalani dan mempraktekkan cara yang baik untuk muasa mudah dalam berpacaran karena saya pertama kali jatuh cinta atau memiliki perasaan kepada lawan jenis pada saat saya masuk kuliah.

Add Comment Register



Leave A Reply