Home Blog Page 327

Love after the Wedding

4

love afer the wedding Berbicara tentang cinta setelah menikah, kita dihadapkan untuk berefleksi tentang kualitas cinta kita terhadap pasangan hidup kita. Sejauh mana kita menyadari pasang-surutnya cinta kita setelah menikah. Tidak jarang cinta kita terhadap pasangan seringkali berubah menjadi perasaan. Kita harus cepat menyadari bila hal ini terjadi untuk mencegah hal ini menjadi berkelanjutan. Soal perasaan, yang harus kita miliki adalah CINTA WALAUPUN dan bukan CINTA KARENA. Ketika kita memiliki cinta karena, kita akan kehilangan cinta itu jika alasan kita mencintainya sudah tidak lagi pasangan yang kita miliki. Misalnya kita mencintainya karena pasangan kita selalu mendengarkan masalah kita. Ketika pasangan kita sudah terlalu sibuk untuk itu, masihkah kita mencintainya? Kita harus tulus dan tidak mengharapkan apa-apa darinya. Boleh-boleh saja pasangan kita memiliki kelebihan yang kita sukai, tapi kita tidak ingin mengambil manfaat dari kelebihannya itu. Misalnya kita menyukai ketekunannya berdoa, tapi kita tidak berharap pasangan kita akan mendoakan kita di setiap doanya. Kita mencintainya walaupun pasangan kita berubah. Ingat, cinta itu KOMITMEN. Perasaan pasti akan pudar, tapi bila kita telah berkomitmen, hubungan kita akan langgeng.

Jangan lupa pula untuk melibatkan Tuhan dalam proses setelah menikah. Selalu tanyakan kepada Tuhan, bagaimana agar aku mampu memberikan hidupku bagi pasanganku? Apakah setelah menikah, cinta kita terhadap pasangan kita semakin bertambah atau mulai berkurang? Apakah kita lebih sering mengecewakan pasangan kita atau sebaliknya. Dan banyak pertanyaan refleksi yang bisa kita renungkan berkaitan dengan kualitas cinta kita setelah menikah? Proses pergumulan ini mungkin berlangsung lama, kita harus minta banyak petunjuk untuk mengerti kehendak Tuhan. Tapi percayalah, that is worth it. Tuhan tidak akan menyia-nyiakan kita.

Yang jelas, janganlah kita tertipu dengan gambaran cinta yang ditanamkan DUNIA. Karena dunia mengajarkan bahwa cinta itu adalah keromantisan, cinta tergila-gila sehingga dunia serasa milik berdua, cinta itu manis, cinta itu fisik. Dan pada akhirnya kita lupa bahwa kita tidak boleh mencari cinta DI LUAR ALLAH. Padahal cinta yang dewasa, cinta yang sejati adalah cinta kasih DI DALAM ALLAH. Menikah bukan sekedar makan malam yang romantis berdua, tetapi juga berdoa bersama, ke gereja bersama, saling mendoakan – bukan hanya untuk DIRI KITA, tapi terlebih untuk PASANGAN KITA. Kalaupun ada keromantisan, itu hanyalah bumbu yang tidak boleh kita utamakan. Utamakan intisari dari hubungan kita sendiri bersama pasangan!

Dalam berelasi dengan pasangan, haruslah seimbang antara relasi kita terhadap Tuhan dengan pasangan. Jangan letakkan pasangan kita di posisi tertentu yang menghalangi posisi Tuhan. Demikian juga jangan memberikan pembenaran diri atas nama Tuhan yang bisa melukai relasi kita dengan pasangan. Prioritas pertama kita, sampai kapan pun juga, tetap TUHAN, tapi tanpa KASIH kepada pasangan sebagai karunia Tuhan yang terindah bagi kita, semua itu menjadi sia-sia. Dan jadikanlah hubungan kita SEHAT. Kita dan pasangan saling membangun. Demikian juga bersama Tuhan. Hubungan yang ideal adalah sehat secara vertikal (antara kita dengan Allah) maupun sehat secara horizontal (antara kita dengan pasangan). Kalau salah satu hal di atas tidak seimbang, bisa jadi kita menjadi ’MARRIED SINGLE” artinya menikah tapi hidup sendiri- sendiri, padahal yang diinginkan Tuhan adalah agar kita menjadi ”COUPLE”/ pasangan yang satu hati dan satu roh. Dalam kesatuan ini, kita tidak menuntut dan tidak dituntut untuk menjadi ini atau itu, tetapi kita masing-masing mau berubah bila itu memang baik. Kita mau berubah bukan hanya untuk pasangan kita tapi pertama-tama untuk kemuliaan Tuhan. Sadarilah pula bahwa tidak ada manusia yang sempurna. Pasangan kita mungkin sekali sering menyakiti kita, tapi selalu berpikirlah positif bahwa pasangan kita tidak pernah bermaksud untuk melakukan itu, mungkin itu sesuatu yang di luar kemampuannya. Kita pun bisa melakukan hal yang sama. Keburukan kita dan pasangan kita pula yang membuktikan bahwa hanya Tuhan yang Maha Sempurna, karena itu kita membutuhkan Tuhan di setiap waktu.

Bagaimana bila hubungan kita tetap gagal? Percayalah bahwa Tuhan memiliki rencana yang indah untuk kita berdua. Pasti kita mendapatkan sesuatu dari hubungan tersebut, entah kita menjadi lebih memahami sesuatu atau mungkin menjadi lebih dewasa. Yang jelas, janganlah membiarkan masalah menjadi berlarut-larut antara kita dengan pasangan dengan alasan apapun, entah itu pekerjaan, mertua, karir, anak, seks, keuangan, dll. Bagaimanapun, pasangan kita adalah instrumen yang dipakai Allah untuk mengajar kita. Lagipula, kalau hubungan kita dengannya cukup sehat, kita tidak akan merasa terlalu sakit hati. Tetap doakanlah pasangan kita, agar pasangan kita semakin dekat dengan Allah yang pada akhirnya akan membantu relasi dengan kita sendiri..

Pertanyaan Sharing:

  1. Apakah cinta kita setelah menikah menjadi lebih bertumbuh atau malah sebaliknya? Ceritakan alasannya?
  2. Sharingkan pengalaman kita besama pasangan yang paling menghambat kualitas cinta kita setelah menikah? Dalam hal apa?
  3. Bagaimana relasi anda bersama pasangan, apakah sudah menjadi ”Couple” atau menjadi ”Married Single”?
  4. Sharingkan niat kita bersama pasangan untuk meningkatkan kualitas cinta kita setelah menikah?

Maria, Bunda Allah

29

Pendahuluan

Mungkin anda pernah mendengar komentar yang berkata, “Bunda Maria itu hanya manusia biasa seperti kita… Tuhan hanya ‘meminjam’ tubuhnya saja untuk melahirkan Yesus.” Benarkah? Sesungguhnya, tidak sesederhana itu. Sebab, semakin kita membaca dan merenungkan Kitab Suci dan tulisan dari para Bapa Gereja, kita akan semakin menyadari, bahwa meskipun Bunda Maria itu manusia ‘biasa’ sesungguhnya ia sangat istimewa. Ia tidak mungkin sama dengan kita, justru karena perannya sebagai Ibu Tuhan Yesus. Dibutuhkan kerendahan hati untuk mengakui, bahwa seberapapun dekatnya seseorang dengan Yesus, tidak ada yang melebihi kedekatan Bunda Maria dengan Yesus. Kenyataannya, semua gen sifat-sifat Yesus sebagai manusia diperoleh dari Bunda Maria. Maria mengandung Yesus, menyusui-Nya, membesarkan-Nya. Selama 30 tahun Maria hidup bersama Yesus yang menghormatinya sebagai Ibu-Nya. Bunda Maria mendampingi Yesus dengan setia sampai wafat-Nya di kayu salib. Di tengah derita-Nya di salib, Tuhan Yesus memikirkan nasib Bunda Maria yang akan ditinggalkan-Nya, sehingga Ia memasrahkan ibu-Nya itu kepada murid yang dikasihiNya. Selanjutnya, setelah kebangkitan dan kenaikan Yesus ke surga, Maria menyertai Gereja; sampai saat ia-pun diangkat ke surga hingga saat ini, ia menyertai kita semua. Tulisan berikut ini merupakan sekilas renungan tentang Maria sebagai Bunda Allah, yang mengambil sumber utama dari surat ensiklik Paus Yohanes Paulus II, Redemptoris Mater (Bunda Penyelamat) dan tulisan para Bapa Gereja.

Bunda Maria, Bunda Allah

Santo William pernah berkata, “Maria, dengan melahirkan Yesus Sang Penyelamat dan Kehidupan kita, membawa banyak orang kepada Keselamatan; dan dengan melahirkan Sang Hidup itu sendiri, ia memberikan kehidupan untuk banyak orang”. ((Liguori, St. Alphonsus, Hail Holy Queen! (Rockford, Illinois: Tan Books and Publishers, Inc., 1995), p. 21)) Maka, Bunda Maria sebagai Bunda Penyelamat menjalankankan peran yang istimewa di dalam rencana Keselamatan Allah. Memang benar jika dikatakan bahwa rencana keselamatan Allah merangkul semua orang (lih. I Tim 2:4), namun secara khusus Allah menyediakan tempat bagi Bunda Maria, yaitu seorang “perempuan” yang dijadikanNya sebagai Ibu Yesus Sang Putera Allah dan Sang Juru Selamat. ((Paus Yohanes Paulus, Surat Ensiklik, Redemptoris Mater, 7)) Rencana Allah ini telah dinubuatkan oleh para nabi,“Sesungguhnya, anak dara itu akan mengandung dan melahirkan seorang anak laki-laki dan mereka akan menamakan Dia Immanuel, yang berarti, “Allah menyertai kita.” (Mat 1:23). Hanya karena ketaatan Bunda Maria, maka kelahiran Yesus yang dinubuatkan oleh para nabi selama sekitar 2000 tahun terpenuhi. Hanya karena kesediaan Maria, maka Allah Putera menjelma menjadi manusia, dan Bunda Maria adalah ibu dari Sang Immanuel, “Allah yang beserta kita” tersebut. Dalam diri Maria digenapi rencana keselamatan Allah, “tetapi setelah genap waktunya, maka Allah mengutus Anak-Nya yang lahir dari seorang perempuan dan takluk kepada hukum Taurat.” (Gal 4:4). Dan, sungguh Allah Putera itulah yang dikandung oleh Bunda Maria, sesuai dengan Kabar Gembira dari malaikat, “….sebab anak yang akan kaulahirkan itu akan disebut kudus, anak Allah.” (Luk 1:35) Oleh karena itu, Elisabeth menyebut Bunda Maria sebagai “ibu Tuhanku.” (Luk 1:1-43) dan karena itu kita juga memanggil Maria sebagai Bunda Allah.
Tuhan, sebagai Allah Bapa yang Maha Pengasih mengiginkan agar setiap orang menjadi anak-Nya di dalam Kristus Putera-Nya, yang di dalam Roh Kudus-Nya dapat memanggil-Nya sebagai “Abba! Bapa!” (lih. Gal 4:6). Oleh karena itu, saat genaplah waktunya, Allah mengirimkan Putera-Nya, Yesus Kristus, melalui Bunda Maria yang diurapi oleh Roh Kudus. Pada saat Maria menjawab, “Terjadilah padaku menurut perkataanmu (Luk 1:38), terwujudlah karya Tuhan yang sangat ajaib: Allah yang tak terbatas oleh waktu, masuk ke dalam ruang waktu dan menjadi bagian dari sejarah umat manusia. Dengan demikian, sejarah manusia dikuduskan dan diisi dengan misteri Kristus. Penggenapan janji Allah ini menandai permulaan dari perjalanan Gereja, di mana Maria sebagai anggota pertamanya menjadi teladan bagi Gereja sebagai mempelai dan ibu, dengan menyatakan “ya” pada pemenuhan Perjanjian Baru. ((Cf. Ibid., 1))

Bunda Maria merupakan teladan kekudusan, ketaatan dan pengabdian

Alkitab mengatakan, “Sebab di dalam Dia (Kristus) Allah telah memilih kita sebelum dunia dijadikan, supaya kita kudus dan tak bercacat di hadapan-Nya.” (Ef 1:4). Bunda Maria adalah seseorang yang secara sempurna memenuhi ayat ini; sebab ia telah ditentukan Allah sejak semula menjadi Ibu Sang Putera Allah. Dan untuk mempersiapkannya sebagai Tabut Perjanjian Baru yang mengandung Sabda yang menjadi manusia, Allah membebaskan Bunda Maria dari dosa asal, oleh karena jasa Yesus yang menyelamatkan dunia. (lihat artikel: Bunda Maria dikandung tanpa noda, apa maksudnya?) Jadi, penghormatan kepada Bunda Maria bukanlah ‘rekayasa’ Gereja Katolik, sebab yang pertama-tama menghormati Maria adalah Tuhan sendiri. Kita menghormati Bunda Maria sebab kita mengikuti teladan Allah sendiri, sebab Tuhanlah yang terlebih dulu mempercayakan Diri-Nya kepada Bunda Maria. Karena itu Bunda Maria disebut sebagai “penuh rahmat” seperti yang dikatakan oleh Malaikat Gabriel. Di dalam Bunda Maria, Putera Allah yang mengatasi segalanya mengambil rupa tubuh sebagai manusia. Maria menanggapi rahmat ini dengan iman tak bersyarat, dan karenanya ia dikatakan sebagai yang terberkati. Ia menerima rahmat dan tugas mulia ini dengan memberikan diri seutuhnya kepada Tuhan. ((Cf. Ibid., 9, 10, 12, 39))

Dengan mempercayakan diri kepada Tuhan, baik pada saat menerima kabar gembira maupun seterusnya sepanjang hidupnya, Bunda Maria menyatakan ketaatan iman. Dengan mengatakan, “Terjadilah padaku menurut perkataanmu” (Luk 1:38) ia mengatakan hal yang sama dengan yang dikatakan oleh Yesus kepada Allah Bapa, “Aku datang; …untuk melakukan kehendak-Mu, ya Allah-Ku” (Ibr 10:7). Imannya mengingatkan kita pada iman Bapa Abraham. Sebab Perjanjian Lama dimulai oleh iman Abraham, dan Perjanjian Baru dimulai oleh iman Bunda Maria.

Ketaatan Maria tetap teguh sepanjang hidupnya: di dalam menjalani kehidupan yang sangat miskin pada saat kelahiran Yesus; di saat menjalani pengungsian ke Mesir, di sepanjang tahun-tahun kehidupan Yesus yang tersembunyi di Nazareth, sampai menyertai Yesus di bawah kaki salib-Nya, dan ikut menganggung sengsara Yesus Puteranya (lih. Yoh 19:25). Bunda Maria adalah seseorang yang ‘miskin di hadapan Allah’ dan karenanya ia memiliki Kerajaan Sorga (lih. Mat 5:3). Ia hidup sedemikian miskin, (sebab bahkan orang termiskin sekalipun umumnya tidak melahirkan di kandang hewan) namun ia menjalaninya dengan iman dan ketaatan. Ia mempersembahkan Yesus di Bait Allah dan kemudian membesarkan dan mendidik Yesus hingga dewasa. Karena ketaatannya dalam mendengarkan dan melaksanakan kehendak Allah, Bunda Maria dipuji oleh Yesus, ketika ia dan saudara-saudari Yesus datang menghampiri Yesus. Yesus berkata, “Inilah ibu-Ku dan saudara-saudara-Ku! Barangsiapa melakukan kehendak Allah, dialah saudara-Ku laki-laki, dialah saudara-Ku perempuan, dialah ibu-Ku.” (Mrk 3:34-35). ((Ayat ini sering dipakai untuk menyatakan bahwa Yesus mempunyai banyak saudara. Namun yang dimaksud di sini adalah saudara sepupu, bukan saudara kandung. Untuk keterangan selanjutnya silakan baca artikel : Bunda Maria Tetap Perawan: Mungkinkah?. Ayat ini juga sering disalah-artikan, seolah Yesus tidak mau mengakui ibu dan saudara-saudarinya, dengan ‘membuka tali persaudaraan’ kepada semua saja yang melakukan kehendak Allah. Untuk itu, ada baiknya kita melihat ayat ini dalam Alkitab bahasa Inggris, Yesus mengatakan, “Who are My mother and my brethren? …Here are my mother and my brethren! Whoever does the will of God is my brother, and sister and mother.” Lihatlah bahwa Yesus menyatakan saudara-saudarinya dalam bentuk jamak: ‘brethern’, sedangkan untuk ibu-Nya, hanya satu/ tunggal, sebab hanya Bunda Maria-lah ibu-Nya, yang menjadi teladan dalam melaksanakan kehendak Tuhan.))

Ketaatan Maria membawanya sampai ke gunung Golgotha. Di kaki salib inilah, Maria mengalami bagaimana kabar gembira malaikat Gabriel seolah ‘dijungkirbalikkan’: …bahwa anakNya akan menjadi besar…, dan kerajaan-Nya tidak akan berakhir (lih. Luk 1:32-33). Sedangkan yang terpampang di hadapan matanya adalah sebaliknya: Sang Putera dihina, disiksa sampai mati, seolah segalanya telah berakhir…. Namun demikian kita melihat, tidak ada ‘protes’ dan perlawanan keluar dari mulutnya. Di dalam iman Bunda Maria ‘menyimpan segala sesuatu di dalam hatinya’. Oleh karena itu, ia sungguh-sungguh bersatu dengan Kristus dan misteri suci-Nya yang menyangkut ‘pengosongan diri dan penghinaan diri’. Paus Yohanes Paulus II menyebutkan bahwa penderitaan Bunda Maria di kaki salib ini merupakan pengosongan ‘kenosis’ iman yang terdalam yang pernah terjadi di dalam sejarah manusia. Di kaki salib Kristus itulah, dipenuhi nubuat Simeon, “Dan suatu pedang akan menembus jiwamu sendiri.” (Luk 2:35). ((Cf. Ibid., 13, 14, 15, 16, 17, 18)) Adakah derita ibu yang lebih hebat daripada melihat anak satu-satunya disiksa dan dibunuh di depan matanya?

Ketaatan Bunda Maria yang sedemikian inilah yang dianggap sebagai ‘obat’ dari ketidaktaatan Hawa, seperti yang dikatakan oleh para Bapa Gereja, terutama Santo Irenaeus. Lumen Gentium mengutipnya dengan mengatakan, “Ikatan yang disebabkan oleh Hawa telah dilepaskan oleh ketaatan Bunda Maria…” ((Lihat Lumen Gentium, Dokumen Vatikan II, Konstitusi Dogmatik tentang Gereja, 56, mengutip St Irenaeus, Against Heretics, III, 22,4:PG 7, 959 A; Harvey, 2, 124.)) Sehingga dikatakan, “Kematian oleh Hawa, namun kehidupan oleh Maria.” ((Ibid., mengutip St. Jerome, St. Agustinus, St. Cyril dari Jerusalem, St. Yohanes Krisostomus, St. Yohanes Damaskus.)) Karena itu, Maria ditempatkan pada pusat pertentangan antara Iblis dan ‘keturunan perempuan ini’ (lih. Kej 3:15) ((Cf. Ibid., 11, 19)) sebab ia adalah sang ‘perempuan’ yang telah dibuat kudus tak bernoda oleh Allah; ia bebas dari dosa asal, sehingga bersama dengan Putera-Nya dapat diletakkan di dalam pertentangan total melawan dosa dan Iblis. Pertentangan ini mencapai puncaknya seperti yang tertulis dalam kitab Wahyu, “Seorang perempuan berselubungkan matahari…..melahirkan Anaknya laki-laki… yang akan menggembalakan semua bangsa…” (Why 12:1,5). Sang Putera akan mengalahkan naga itu, yaitu Iblis. Maka kita mengetahui, bahwa sang Putera adalah Yesus, dan sang Ibu adalah Bunda Maria. ((Hahn, Scott, Hail, Holy Queen, (Broadway, New York: Doubleday, 2001), p. 39))

Bunda Maria, Bunda kita

Hubungan yang erat antara Maria dan Yesus Puteranya juga dapat kita lihat dengan jelas pada kisah mukjizat pada pesta perkawinan di Kana, yaitu pada saat Bunda Maria mengambil peranan penting dalam perwujudan mukjizat Yesus yang pertama ini. Dengan berkata pada Yesus, “Mereka kehabisan anggur”, dan kepada para pelayan, “Apa yang dikatakan kepadamu, buatlah itu!”, Bunda Maria menempatkan diri sebagai pengantara, bukan sebagai orang asing, tetapi sebagai ibu. Pengantaraan Maria sama sekali tidak menghalangi atau mengurangi pengantaraan Yesus yang esa dan satu-satunya kepada Allah Bapa (lih. 1 Tim 2:5) melainkan semakin menunjukkan kuasa pengantaraan Yesus itu. Konsili Vatikan II mengajarkan bahwa pengantaraan Bunda Maria merupakan bagian dari pengantaraan Yesus yang unik dan satu-satunya itu, sebab pengantaraan Maria ada di bawah kuasa pengantaraan Yesus. ((Redemptoris Mater, 21, 22, 38, 40))

Dengan mengandung Yesus yang adalah Kepala dari Tubuh mistik Gereja, Bunda Maria juga mengandung kita umat beriman, karena kita semua adalah anggota Tubuh Kristus/ Gereja. Oleh karena itu St. Bernardus mengatakan bahwa Bunda Maria adalah “Leher dari Tubuh Mistik Kristus” ((Miravalle, Mark, STD, Introduction to Mary, (Santa Barbara: Queenship Publishing Company, 1993), 63, 76)) yang menghubungkan Yesus Sang Kepala dengan semua anggota Tubuh-Nya yaitu Gereja-Nya. Inilah sebabnya mengapa Bunda Maria yang hadir di dalam misteri Kristus sebagai ibu, juga menjadi ibu rohani bagi semua orang percaya.

Bunda Maria merupakan pemenuhan janji Tuhan yang telah disebutkan pada awal mula (lih. Kej 3:15) dan pada akhir jaman (Why 12:1-5). Ia hadir pada awal misi keselamatan Yesus (lih. Yoh 2:1-12) sampai pada akhirnya, saat ia berdiri di bawah kaki salib Yesus (lih. Yoh 19:25). Ia ada pada saat Sang Sabda menjelma menjadi manusia di dalam rahimnya, dan ia hadir pada saat kelahiran Gereja di hari Pentakosta. Dengan demikian ia telah menjadi contoh dalam perjalanan iman. Bunda Maria adalah seseorang yang pertama kali percaya akan janji Keselamatan, dan dengan imannya, ia menjadi teladan pertama sebagai saksi apostolik Gereja. ((Cf. Redemptoris Mater., 23, 24, 25, 26, 27,28)) Karena itu, Bunda Maria adalah juga Bunda Gereja.

Sejak awal Bunda Maria telah memberikan dirinya tanpa batas kepada Yesus Puteranya, dan ia berbuat yang sama terhadap Gereja, yang adalah ‘anak angkat’-nya. Setelah Kristus bangkit dan naik ke surga, Bunda Maria tetap memberikan dirinya sebagai pengantara semua anak-anak-nya kepada Tuhan. ((Cf. Ibid., 40)) St. Alphonsus Liguori mengatakannya dengan begitu indah, dengan mengutip kisah dari kitab 2 Sam 14:4-11. Seorang perempuan bijak dari Tekoa menghadap Raja Daud, “Tuanku, hambamu ini mempunyai dua orang anak laki-laki, dan malangnya hamba ini, salah seorang dari puteraku itu membunuh yang lain, sehingga hamba kehilangan seorang putera, dan keadilan menghendaki agar anakku yang lain itupun mendapat hukuman mati karena perbuatannya..…; kasihanilah hamba, dan janganlah hamba sampai kehilangan kedua puteraku.” Bunda Maria dapat berkata yang serupa, “Tuhanku, hamba mempunyai dua putera, Yesus dan manusia; manusia membunuh Puteraku Yesus di salib, dan kini, keadilanMu menuntut puteraku yang bersalah. O, Tuhan, Yesusku sudah wafat, kasihanilah hamba, sebab hamba sudah kehilangan seorang, mohon jangan biarkan hamba juga kehilangan anakku yang lain.” ((Liguori, St. Alphonsus, Hail Holy Queen! (Rockford, Illinois: Tan Books and Publishers, Inc., 1995), 45)) Dan seperti Raja Daud akhirnya berbelas kasihan kepada ibu dari Tekoa itu dan mengabulkan permohonannya, maka Tuhan-pun berbelas kasihan dan tidak menghukum para pendosa yang didoakan oleh Bunda Maria. Oleh pengantaraannya ini, maka Bunda Maria dikatakan sebagai Mediatrix.

Bunda Maria Teladan Gereja

Bunda Maria adalah teladan Gereja dalam hal iman, kasih dan persatuan yang sempurna dengan Kristus. Bunda Maria adalah contoh sempurna yang mencerminkan Kristus. Ia adalah contoh tetap bagi Gereja, sebab Gereja juga dipanggil untuk menjadi Ibu dan perawan, sebagai mempelai Kristus. (lihat artikel: Bunda Maria tetap perawan, mungkinkah?) Bunda Maria bekerjasama dalam kelahiran Gereja dan perkembangannya. Sekarang ini, pada saat digalakkannya gerakan Ekumenism di mana semua orang Kristen berjuang untuk mencapai persatuan, ketaatan Maria menjadi contoh yang paling sempurna. Dengan mempelajari dan merenungkan peran Bunda Maria dalam Gereja, semua umat Kristen akan dapat melakukan perkataan Yesus -seperti yang menjadi pesan Bunda Maria pada mukjizat di Kana. Dengan demikian, perkataan Yesus, “supaya mereka semua (umat Kristen) menjadi satu…”(Yoh 17:21), dapat terlaksana dengan dipimpin oleh Bunda Maria, yang menjadi ibu bagi semua pengikut Kristus. Sungguh benar, bahwa keibuan Maria adalah rahmat yang diberikan kepada setiap orang. Kristus Penyelamat kita mempercayakan Ibu-Nya sendiri kepada murid yang dikasihiNya. Murid itu mewakili semua umat manusia. Jadi artinya Kristus memberikan Ibu-Nya untuk menjadi ibu bagi kita semua ((Cf. Redemptoris Mater., 42, 44, 30, 45)) (lih. Yoh 19:26-27).

Mari kita renungkan, sudahkah kita ‘menerima’ Maria sebagai Ibu kita sendiri? Jika kita mau sungguh mengasihi Tuhan Yesus seperti Rasul Yohanes, bukankah kitapun perlu meniru teladannya untuk menerima Maria di dalam ‘rumah’ hati kita dan di dalam kehidupan kita?

Bunda Maria, Bunda Allah menurut Bapa Gereja

Para Bapa Gereja menghubungkan peran Maria sebagai Bunda Allah dengan perannya sebagai Hawa yang baru (the new Eve). Bunda Maria melahirkan Tuhan Yesus yang menyelamatkan manusia dari dosa yang diturunkan dari dosa Hawa. Karena dalam Pribadi Yesus, ke-Allahan dan kemanusiaan-Nya bersatu dengan sempurna, maka Bunda Maria dikatakan sebagai Bunda Yesus dan Bunda Allah, sebab, Yesus itu Allah.

1. St. Yustinus Martir (155) membandingkan Hawa dengan Bunda Maria. Hawa, manusia perempuan pertama terperdaya oleh Iblis yang kemudian membawa maut; sedangkan Maria percaya kepada pemberitaan malaikat Gabriel, dan karena itu ia mengandung Putera Allah yang membawa hidup. ((Lihat St. Yustinus Martir, Dialogue with Trypho the Jew, 155 AD, p.100))

2. St. Irenaeus (180): “Ikatan ketidaktaatan Hawa dilepaskan oleh ketaatan Maria. Apa yang terikat oleh ketidakpercayaan Hawa dilepaskan oleh iman Maria.” ((Lihat St. Irenaeus, Against Heresies, 189 AD, 3:22:24))

3. St. Gregorius Naziansa (390) menyatakan, barangsiapa tidak percaya bahwa Bunda Maria adalah Bunda Allah, maka ia adalah orang asing bagi Allah. Sebab Bunda Maria bukan semata-mata saluran, melainkan Kristus sungguh-sungguh terbentuk di dalam rahim Maria secara ilahi (karena tanpa campur tangan manusia) namun juga manusiawi (karena mengikuti hukum alam manusia). ((Lihat Robert Payesko, The Truth about Mary, Volume 2, (Queenship Publishing company, California, USA, 1996), p. 2-180.))

4. St. Ambrosius (397): “Kejahatan didatangkan oleh perempuan (Hawa), maka kebaikan juga harus didatangkan oleh Perempuan (Maria); sebab oleh karena Hawa kita jatuh, namun karena Maria kita berdiri; karena Hawa kita menjadi budak dosa, namun oleh Maria kita dibebaskan…. Hawa menyebabkan kita dihukum oleh buah pohon (pohon pengetahuan), sedangkan Maria membawa kepada kita pengampunan dengan rahmat dari Pohon yang lain (yaitu Salib Yesus), sebab Kristus tergantung di Pohon itu seperti Buahnya…” ((Diterjemahkan dari Virgin Wholly Marvelous, seperti dikutip oleh Robert Payesko, Ibid., p. 2-78.))

5. St. Agustinus (416): ”Kita dilahirkan ke dunia oleh karena Hawa, dan diangkat ke surga oleh karena Maria.” ((St. Agustinus, Sermon))

6. St. Cyril dari Alexandria (444): “Bunda Maria, Bunda Allah…, bait Allah yang kudus yang di dalamnya Tuhan sendiri dikandung… Sebab jika Tuhan Yesus adalah Allah, bagaimanakah mungkin Bunda Maria yang mengandung-Nya tidak disebut sebagai Bunda Allah?” ((Lihat St. Cyril dari Alexandria, Epistle ro the Monks of Egypt, I ))

7. Doktrin Maria sebagai Bunda Allah/ “Theotokos” dinyatakan Gereja melalui Konsili di Efesus (431) dan Konsili keempat di Chalcedon (451). Pengajaran ini diresmikan pada kedua Konsili tersebut, namun bukan berarti bahwa sebelum tahun 431, Bunda Maria belum disebut sebagai Bunda Allah, dan Gereja ‘baru’ menobatkan Maria sebagai Bunda Allah pada tahun 431. Kepercayaan Gereja akan peran Maria sebagai Bunda Allah dan Hawa yang baru sudah berakar sejak abad awal. Keberadaan Konsili Efesus yang mengajarkan “Theotokos” tersebut adalah untuk menolak pengajaran sesat dari Nestorius. Nestorius hanya mengakui Maria sebagai ibu kemanusiaan Yesus, tapi bukan ibu Yesus sebagai Tuhan, sebab menurut Nestorius yang dilahirkan oleh Maria adalah manusia yang di dalamnya Tuhan tinggal, dan bukan Tuhan sendiri yang sungguh menjelma menjadi manusia. ((Lihat William C. Placher, Readings in the History of Christian Theology, vol. 1, (Westminster John Knox Press, Kentucky, USA, 1988) p. 69-70: Nestorius mengenali Yesus yang lahir dari rahim Maria sebagai Bait Sang Sabda (a temple of the Logos) di mana Sang Sabda itu tinggal, dan bukannya Sang Sabda (the ‘Logos’) itu sendiri. Menurut Nestorius, Allah ada di dalam bayi Yesus, ada di dalam diri manusia yang tersalib di Kalvari, namun sang manusia itu bukan Tuhan sendiri. Jadi Nestorius gagal membedakan sifat keilahian dan kemanusiaan Yesus yang bersatu secara sempurna dalam Pribadi Yesus. Nestorius gagal melihat bahwa Maria adalah seorang Ibu dari seorang Pribadi manusia, yang kebetulan juga adalah Pribadi Allah. Jadi, Maria adalah ibu dari Yesus yang adalah Allah dan manusia, meskipun ia hanya melahirkan kemanusiaan Yesus.))

Jelaslah bahwa doktrin Maria Bunda Allah bukan untuk semata-mata menghormati Maria, tetapi terutama untuk menghormati Yesus, yang walaupun sungguh-sungguh manusia, namun juga sungguh-sungguh Allah. Gereja selalu mengimani Pribadi Yesus yang tunggal, yang merupakan persatuan sempurna antara keilahian dan kemanusiaan-Nya. Namun demikian, kita tidak mempercayai bahwa Maria memiliki keilahian seperti dewi. Pendapat yang demikian juga sesat. Jadi yang tepat adalah: Pribadi Ilahi Yesus yang telah ada di sepanjang segala waktu mempersatukan Diri-Nya dengan tubuh kemanusiaanNya di dalam rahim Maria. Untuk ini, Bunda Maria disebut sebagai Bunda Allah. Sama seperti kita mengatakan ibu Siti Habibah bukan saja sebagai ibunda Bapak Susilo Bambang Yudhoyono, tetapi juga sekaligus ibunda Bapak Presiden RI, sebab Bapak SBY adalah Bapak Presiden RI. Dengan analogi ini, maka Bunda Maria adalah Bunda Yesus dan Bunda Tuhan sebab Yesus adalah Tuhan kita.

Kesimpulan

Bunda Maria berdiri di pusat misteri Keselamatan, seperti dikatakan oleh Paus Yohanes Paulus II, “sebab menjadi keajaiban alam yang luar biasa, ia mengandung Pencipta-nya” –for to the wonderment of nature, she bore her Creator. Betapa istimewanya peran Bunda Maria dalam perwujudan rencana Keselamatan Allah kepada umat manusia, sebab ia dipercaya untuk mengandung, melahirkan, membesarkan dan mendampingi Kristus Sang Putera sampai kesudahan-Nya di salib Golgotha. Selanjutnya Bunda Maria hadir di sepanjang segala abad untuk membantu Gereja, dan semua umat Kristen, di dalam pergumulan antara kebaikan dan kejahatan, untuk memastikan agar mereka tidak terjatuh, dan jika mereka terjatuh, ia membantu mereka untuk bangkit kembali. ((Cf. Redemptoris Mater, 51,52.))

Humanae Vitae itu Benar!

67

Pendahuluan

Pada artikel “Indah dan Dalamnya Makna Sakramen Perkawinan Katolik” telah dijabarkan tentang dasar Alkitabiah dan beberapa tulisan para Bapa Gereja yang mendasari pengajaran Gereja tentang Sakramen Perkawinan. Selanjutnya, mari kita lihat surat ensiklik Paus Paulus VI yang paling terkenal: Humanae Vitae (HV) yang dikeluarkan tahun 1968, tentang Pengaturan Kelahiran yang berdasarkan atas keluhuran makna Sakramen Perkawinan. Kekurang-pahaman akan makna luhur Perkawinan dalam kaitannya dengan rencana Allah untuk tujuan akhir hidup manusia menyebabkan banyak orang menilai pengajaran Humanae vitae sebagai pengajaran yang sulit diterapkan. Namun jika dengan hati terbuka kita mau mendengarkan dan meresapkannya, kita akan bersyukur dan mengakui keindahan ajaran ini, yang ditujukan untuk kebahagiaan suami istri, yang dapat dialami di dunia ini sambil menantikan kepenuhannya di surga.

Makna luhur Sakramen Perkawinan sebagai latar belakang Humanae Vitae

Perkawinan memiliki arti luhur karena merupakan gambaran tujuan akhir hidup manusia yang adalah persatuan yang erat antara manusia dengan Tuhan dan sesama ((Lihat Lumen Gentium, Dokumen Vatikan II, Konstitusi Dogmatik tentang Gereja, 1)) Persatuan ini sungguh luhur dan tak terbayangkan oleh pemikiran kita. St. Yohanes Salib bahkan mengatakan, persatuan tersebut merupakan ‘perkawinan mistik’ dengan Allah. Kitab Suci sendiri menyatakan hal ini dengan Allah berkali-kali menyebutkan umat-Nya sebagai mempelai-Nya, yang diwujudkan dengan sempurna oleh Yesus yang telah menyerahkan diri kepada mempelai-Nya yaitu Gereja-Nya. Dengan melihat Yesus di kayu salib, kita melihat gambaran kasih Allah yang tak terbatas, yang sekaligus mengajarkan kepada kita jalan untuk mencapai kebahagiaan: yaitu dengan memberikan diri kita kepada Tuhan dan sesama. Dengan pemberian diri ini, kita mengambil bagian di dalam kasih Allah yang sejati, yang secara khusus terwujud di dalam hubungan suami istri. ((Juga dengan cara pandang demikian, kita semakin menghargai makna panggilan hidup membiara, karena kehidupan membiara merupakan gambaran pemberian diri yang total kepada Allah dan sesama.))

Oleh karena Sakramen Perkawinan adalah gambaran kasih Allah, maka kita dapat memahami betapa Allah menguduskan hubungan suami istri. Melalui hubungan ini manusia diingatkan bahwa tujuan akhir hidup manusia adalah keselamatan yang merupakan persatuan yang mendalam dengan Allah. Maka, hubungan suami istri yang merupakan ‘persiapan’ untuk persatuan yang sempurna dengan Allah itu merupakan tanda kehadiran Allah di dunia. Begitu dalamnya makna persatuan suami istri ini, sebab Allah hadir di dalamnya dengan Roh Kudus-Nya yang memberi hidup (lih. Yoh 6:63); dan sesuai dengan kehendakNya Ia dapat mengikutsertakan suami istri di dalam karya penciptaanNya mendatangkan suatu kehidupan baru. Maka hubungan suami istri menjadi cerminan kasih Allah yang total dan setia, atas misteri penciptaan dan keselamatan. Karena Allah-lah yang menjadi Sumber penciptaan dan keselamatan, maka sudah selayaknya manusia tunduk kepada kehendak Tuhan di dalam perwujudan hubungan suami istri, dan ya, termasuk di dalam pengaturan kelahiran, karena hal itu tidak terlepas dari hubungan tersebut.

Sekilas sejarah tentang Humanae Vitae

Gambaran kasih Allah dalam Perkawinan ini ternyata mendapat tantangan yang cukup besar dengan adanya penemuan alat-alat kontrasepsi, yang pada dasarnya ingin mengambil peran Allah dalam hal pengaturan kelahiran. Diperlukan kerendahan hati untuk mengakui, bahwa dengan mengambil kontrol ini, sesungguhnya manusia jaman sekarang bersikap seperti Adam dan Hawa, yang tidak mau mengikuti kehendak Tuhan, tetapi ingin mengikuti kehendak sendiri. Dengan demikian, manusia menolak salah satu karunia Allah yang terbesar dalam perkawinan, yaitu keikutsertaan mereka dalam misteri penciptaan kehidupan baru, yang dipercayakan Tuhan kepada mereka.

Sebenarnya sejak jaman abad awal sampai tahun 1930, semua Gereja baik non Katolik maupun Katolik selalu bersepakat bahwa kontrasepsi adalah perbuatan dosa. Namun pada tahun 1930, gereja Anglikan pertama kali menyetujui kontrasepsi. Dan gereja-gereja lain mulai mengubah posisi mereka, kecuali Gereja Katolik. Pada tahun yang sama Paus Pius XI mengeluarkan surat ensiklik Casti Connubii (=Tentang Perkawinan) yang pada prinsipnya menegaskan kembali pengajaran Gereja sejak awal, bahwa kontrasepsi adalah perbuatan yang salah. ((Casti Connubii menyatakan, “Tidak ada alasan betapapun besarnya, yang dapat dikemukakan yang melaluinya apapun yang pada dasarnya bertentangan dengan alam dapat sesuai dengan alam dan baik secara moral. Dengan demikian, karena hubungan suami istri ditujukan terutama oleh alam untuk menghasilkan keturunan, maka mereka yang dengan sengaja mengacaukan kekuatan dan maksud alam ini, berdosa melawan alam dan melakukan perbuatan yang memalukan dan pada dasarnya keji…. Pelaksanaan perkawinan yang sedemikian sehingga dengan sengaja mengacaukan kekuatan alam untuk mendatangkan kehidupan adalah suatu perbuatan yang menentang hukum Tuhan dan hukum alam, dan mereka yang terus menerus melakukan hal ini melakukan dosa yang berat.”)) Maka, seperti yang terlihat dalam survey, umat Katolik pada saat itu tetap berpegang pada pengajaran Gereja.

Keadaan berubah pada sekitar akhir tahun 1950-an sampai awal 60-an, saat pertama kali pil KB marak digunakan. Banyak orang berpikir, bahwa penggunaan pil ini kelihatannya secara moral dapat diterima, sebab tidak seperti alat KB lainnya, pil tidak memutuskan/ mengganggu hubungan seksual antara suami istri. Maka Paus Yohanes XXIII menunjuk enam orang Teolog yang bertugas untuk meneliti hal ini, untuk membantunya membuat keputusan. Setelah Paus Yohanes XXIII wafat, Paus Paulus VI melanjutkan tugas tersebut. Ia menambah jumlah anggota komite dengan melibatkan para ahli dari segala bidang terkait, termasuk beberapa pasangan suami istri. Mayoritas dari komite mengatakan bahwa Gereja harus mengubah ajarannya, dan hanya minoritas yang mengatakan bahwa Gereja tidak seharusnya mengubah, atau lebih tepatnya tidak dapat mengubah ajaran mengenai kontrasepsi, sebab hal itu berkaitan dengan hukum Tuhan. Apa yang dilarang oleh Tuhan tidak dapat diubah oleh seseorang, ataupun oleh Gereja.

Sebagian dari laporan kerja komite ini yang seharusnya hanya untuk diketahui oleh Paus Paulus VI- akhirnya bocor dan beredar ke kalangan luas. Mereka menyelesaikan laporan tersebut sekitar tahun 1967, yang tadinya diperkirakan akan dimasukkan oleh Paus ke dalam dokumen tentang pengajaran hal kontrasepsi. Pada saat itu banyak tulisan beredar, yang arahnya setuju dengan pemakaian kontrasepsi, sehingga berkembanglah harapan bahwa Gereja akan mengubah ajarannya. Maka, ketika Paus Paulus VI mengeluarkan surat ensiklik Humanae vitae pada bulan Juli 1968, yang isinya menentang pemakaian kontrasepsi, banyak orang tercengang, sebab hal itu sama sekali di luar dugaan!

Reaksi terkeras datang dari para Theolog seperti Fr. Robert Fuchs, Fr. Bernard Haering, Fr. Charles Curran, dan Fr. Karl Rahner. Sejak saat itu mulai banyak terdapat perbedaan-perbedaan pendapat antara para Teolog dengan ajaran Gereja dalam hal-hal seperti perceraian, masturbasi, homoseksualitas, dst. Namun demikian, Gereja tetap menegaskan kembali ajarannya sejak semula: bahwa praktek kontrasepsi adalah perbuatan dosa karena tidak sesuai dengan kehendak Tuhan, karena bertentangan dengan hakekat ‘pemberian diri (self-giving) yang total’ kepada pasangan. Terima kasih kepada Paus Yohanes Paulus II, yang kemudian secara jelas dan mendalam menjelaskan alasannya kenapa demikian, seperti yang dipaparkannya dalam Theology of the Body (=Teologi Tubuh). Sekilas mengenai Theology of the Body akan dibahas pada artikel terpisah.

Prinsip Pengajaran Humanae Vitae

Secara garis besar, Humanae Vitae (HV) menegaskan bahwa karena Perkawinan adalah institusi yang ditetapkan oleh Tuhan untuk mewujudkan rencana kasihNya, maka cara perwujudannya haruslah disesuaikan dengan kehendakNya. Tuhan berkehendak agar suami istri dapat saling membantu untuk mencapai kesempurnaan dan kebahagiaan, dan dapat bekerjasama dengan-Nya dalam mendatangkan kehidupan baru.

Gereja menyadari bahwa peran serta manusia dalam menurunkan kehidupan baru, merupakan sumber suka cita yang besar bagi suami istri, namun dapat juga disertai dengan kesulitan dan tantangan (HV 1). Misalnya, tantangan bagaimana menghidupi/ membesarkan keturunan, yang dalam skala negara akhirnya dapat menghasilkan kekuatiran apakah sumber alam dapat cukup mendukung manusia. Maka dalam hal ini negara ikut turun tangan mengatur kelahiran. Juga ada tuntutan lain, misalnya, para feminis, yang ingin membatasi jumlah anak atau tidak menginginkan anak, karena ingin mencapai jenjang karir yang sama dengan kaum pria. Di sini terlihat bahwa ada usaha untuk mengatur kelahiran berdasarkan akal dan kehendak manusia, dan ‘mencoret’ keterlibatan ritme biologis (HV 3), yang merupakan hukum alam yang sudah ditanamkan oleh Tuhan di dalam tubuh manusia. Singkatnya, manusia mau turut andil mengatur urusan penciptaan, bukannya bekerjasama dengan Tuhan Sang Pencipta.

Menyikapi hal ini, Paus mengingat mandat yang diberikan Kristus kepada Petrus dan para rasul sebelum Ia naik ke surga, yaitu untuk mengajar semua bangsa segala perintah-Nya (Yoh 21:15-17; Mat 28:18-20). Maka Paus selaku penerus Rasul Petrus, bertanggung jawab untuk mempertahankan kebenaran seluruh ajaran Tuhan, termasuk mengenai Perkawinan. Jika tidak demikian, berarti Paus melanggar perintah Yesus. Jadi, walaupun Paus mengakui kontribusi dari komite yang membuka wawasan akan kompleksitas masalah ini dan iapun berterimakasih kepada mereka, namun pada akhirnya, ia tetap mengumumkan kebenaran Tuhan tentang larangan kontrasepsi, berdasarkan atas mandat yang dipercayakan Kristus kepadanya (HV 6).

Untuk memahami pengaturan kelahiran, seseorang harus mempunyai gambaran yang total tentang manusia. Jadi, haruslah dilihat dimensi kerohanian dan kekekalan manusia, dan bukan hanya dimensi jasmani manusia di dunia (HV 7). Hubungan suami istri harus dilihat sebagai sesuatu yang luhur karena bersumber dari Allah Bapa. Bahkan oleh partisipasinya dalam penciptaan manusia baru, para suami di dunia dipanggil pula sebagai ‘bapa’. ((Justru panggilan ‘bapa’ ini mengandung tugas yang sangat penting untuk menghadirkan peran kebapakan (‘Fatherhood’) Tuhan di dunia. Dengan dasar ini, kita juga dapat lebih memahami peran yang dijalankan oleh para pastor, ‘romo’ dan Paus, yang juga menjadi ‘bapa rohani’ bagi kita.))

Allah menginginkan agar di dalam Perkawinan, suami dan istri saling memberikan diri secara total, agar mereka dapat saling menguduskan dan bekerjasama untuk mendatangkan kelahiran. Dengan demikian mereka dapat menjadi gambaran kasih Allah sendiri. Maka untuk kedua orang yang sudah dibaptis, Perkawinan merupakan sakramen tanda rahmat Allah, yang melambangkan persatuan Kristus dengan Gereja (HV 8).

Kasih antara suami istri dalam Perkawinan memiliki lima ciri, yaitu manusiawi (fisik dan spiritual), total, setia dan eksklusif/monogami, dan menghasilkan buah/ ‘fruitful‘ (HV 9). Kasih manusiawi suami istri yang dimaksud di sini tidak hanya berdasarkan naluri dan perasaan, tetapi atas perbuatan kehendak bebas yang ditujukan untuk terus bertahan di dalam suka duka sehingga suami istri dapat bertumbuh sempurna menjadi satu hati dan satu jiwa. Kasih semacam ini adalah total, yang tidak menahan sebagian, dan tidak melibatkan perhitungan untung rugi. Kasih ini tidak berdasarkan apa yang dapat ia terima dari pasangan, tetapi atas kebahagiaan untuk memperkaya pasangan dengan memberikan diri seutuhnya. Karena itu, kasih suami istri adalah kasih yang setia dan ekslusif, yaitu satu suami, satu istri. Tidak dapat dipungkiri, kesetiaan yang sedemikian dapat sulit diterapkan, namun selalu mungkin; luhur dan mulia, yang akhirnya menghantar pada kebahagiaan yang sejati. Yang terakhir, kasih suami istri harus ‘berbuah‘ (fruitful), yang artinya terbuka pada kelahiran anak-anak.

Penting di sini disebutkan juga bahwa suami istri perlu memahami pengertian Responsible Parenthood ((Responsible Parenthood yang dijabarkan di sini adalah menyangkut beberapa hal. Dalam hal biologis, berarti mengetahui dan menghormati fungsi-fungsi proses regenerasi ini, dengan mempelajari hukum biologis tubuh manusia untuk meneruskan keturunan. Dalam hal menyangkut naluri dan nafsu, responsible parenthood berarti penguasaan diri di mana akal dan kehendak dapat mengatasi dorongan nafsu. Dalam hal fisik, ekonomi, psikologi dan sosial, responsible parenthood ini dapat dinyatakan dengan kesediaan untuk menerima anak-anak yang dipercayakan Tuhan, atau dengan pengaturan yang alamiah untuk membatasi jumlah kelahiran jika itu sungguh diperlukan. Di atas semuanya itu, responsible parenthood melibatkan kesadaran akan ketentuan moral yang berasal dari Tuhan.)) yang pada prinsipnya melibatkan kesadaran akan ketentuan moral yang berasal dari Tuhan (HV 10). Jadi dalam hal meneruskan keturunan ini, pasangan tidak sepenuhnya mempunyai otonomi sesuai kehendak sendiri, melainkan mereka harus menyesuaikan diri dengan kehendak Tuhan. Ibaratnya, karena peran ‘pro-creation’ ini datang dari Tuhan, maka manusia yang menerima peran ini harus menggunakannya sesuai dengan kehendak Dia yang memberi.

Persatuan suami istri yang dapat mendatangkan kehidupan manusia dipandang Gereja sebagai sesuatu yang baik dan luhur, dan kesatuan ini tetap berlaku meskipun pasangan tidak dikaruniai keturunan, yang bukan disebabkan karena kesalahan mereka. Hal ini menunjukkan bahwa Tuhanlah yang berkuasa menentukan, dan bahwa tidak semua hubungan suami istri pasti menghasilkan keturunan. Dalam kebijaksanaan-Nya. Tuhan mengatur hukum alam dan ritme kesuburan yang membawa pemisahan pada kelahiran yang satu dengan yang lain (HV 11).

Dalam Perkawinan ini terdapat dua aspek yang tak terpisahkan, yaitu Union dan Procreation (HV 12), artinya, Perkawinan direncanakan Tuhan untuk mempersatukan suami dan istri, dan persatuan itu selayaknya harus terbuka bagi kelahiran kehidupan baru. Jadi, suami dan istri yang saling mengasihi dengan tulus harusnya bersedia untuk menjadi orang tua jika Tuhan mengaruniakan anak sebagai buah kasih mereka. Dalam hal ini, kesuburan dan anak harus dilihat sebagai berkat dari Tuhan (lih. Kej 1:28), dan bukannya kutuk yang harus dihilangkan.

Jika hubungan suami dan istri dilakukan demi memuaskan sebelah pihak, maka hal itu bukan merupakan tindakan kasih yang sejati. Juga tindakan yang mencegah sebagian atau seluruh bakal kehidupan baru merupakan tindakan yang bertentangan dengan kehendak Tuhan, termasuk di dalamnya sterilisasi ((Dewasa ini di Amerika Serikat, sterilisasi bahkan sudah semakin tidak populer, karena terlalu banyaknya kasus penunutan ke pihak produsen karena terlalu banyak menimbulkan efek samping.)) (HV 13, 14), karena hal tersebut menolak pro-creation dan menolak karunia Tuhan. Maka, yang diizinkan Gereja untuk mengatur kelahiran adalah perencanaan secara alamiah, yang melibatkan penguasaan diri dan pantang berkala dengan maksud mewujudkan kasih, perhatian dan kesetiaan timbal balik, sebagai bukti kasih sejati (HV 16). Namun demikian, Gereja tidak menganggap segala tindakan terapi sebagai ‘dosa’, dan pada kasus tertentu untuk menyembuhkan penyakit, Gereja memperbolehkan tindakan tersebut, asalkan tidak secara langsung dimaksudkan untuk mencelakakan janin (HV 15).

Cara KB alamiah bukanlah kontrasepsi, karena melalui cara ini suami dan istri mempergunakan kondisi alamiah dengan berpantang pada saat subur untuk menghindari kelahiran, dan bukannya merintangi kesuburan tubuh (HV 16). Walaupun ajaran ini sulit diterapkan, namun bukannya tidak mungkin; dan jika diterapkan, akan mendatangkan buah yang baik bagi suami istri dan komunitas. Kekerasan hati manusia untuk menolak ajaran ini hanya akan membuahkan kondisi negatif yang sudah ‘dinubuatkan’ oleh Paus Paulus VI, yaitu naiknya angka perceraian dan ketidaksetiaan dalam perkawinan, dan pemerosotan moral. Sebab dengan mental kontraseptif, sedikit demi sedikit suami cenderung menjadikan istri sebagai objek untuk pemuasan diri daripada menghormatinya sebagai pasangan yang terkasih. Lama kelamaan respek kepada istri akan hilang, dan suami akan menjadi kurang/ tidak peduli dengan kesehatan fisik dan mental istri (HV 17). Hal ini nyata sekali terjadi saat ini, misalnya saja di Amerika, dengan angka perceraian 50% pada pernikahan pertama, 67% pada pernikahan kedua, dan 74% pada pernikahan ketiga. ((Data diambil dari internet http://www.divorcerate.org/ menurut survey yang diadakan oleh Jennifer Baker dari the Forest Institute of Professional Psychology in Springfield, Missouri.)) Dan survey mengatakan hampir semua dari pasangan yang bercerai itu menggunakan kontrasepsi. Penggunaan alat kontrasepsi juga mengakibatkan pemerosotan moral generasi muda, sehingga lama kelamaan mereka tidak lagi menjunjung tinggi makna Perkawinan.

Untuk maksud melindungi Perkawinan inilah, Gereja mengajarkan pengaturan kelahiran dengan cara alamiah, dan bukan dengan kontrasepsi. Ajaran ini bertentangan dengan pendapat media dan dunia, namun Paus tetap mengajarkannya; dengan kesadaran akan konsekuensi bahwa Gereja, seperti Kristus, dapat dianggap sebagai ‘tanda pertentangan/ ‘sign of contradiction’ (HV 18). Hal ini bahkan menunjukkan ‘keaslian’ ajaran ini, yang mengakibatkan Gereja menjadi semakin serupa dengan Kristus yang mendirikannya. Pendapat dunia menghalalkan segala bentuk kenikmatan daging, sedangkan Tuhan mengajarkan kita untuk mengatasinya, dengan penguasaan diri. Dalam Perkawinan penguasaan diri dinyatakan oleh suami dan istri dengan menghilangkan rasa saling mementingkan diri sendiri -‘musuh’ dari cinta sejati- dan memperdalam rasa tanggung jawab (HV 21).

Selanjutnya, Paus Paulus VI memberikan seruan kepada pihak-pihak yang terkait agar memperhatikan dan mendukung ajaran ini. Seruan ini ditujukan kepada para penguasa/ pemerintah, cendekiawan, suami-istri, petugas medis, imam dan uskup (HV 23-30?). ((Kepada para pemerintah, Paus menyerukan agar mengusahakan solusi problem kependudukan, tanpa mengesampingkan penghormatan terhadap nilai-nilai kemanusiaan (HV 23). Kepada para cendekiawan, agar mereka terus mengembangkan penelitian untuk memberikan dasar yang pasti bagi pengaturan kelahiran berdasarkan pengamatan ritme natural, sehingga memungkinkan dibuatnya peraturan yang layak dalam hal pro-creation ini (HV 24). Kepada para suami istri, agar mereka memperkokoh panggilan hidup Kristiani yang mereka terima dalam Pembaptisan, dengan melakukan tugas panggilan hidup Perkawinan sampai pada kesempurnaannya, dan dengan demikian menjadi saksi Kristus yang hidup kepada dunia. Untuk itu, para suami dan istri dipanggil untuk menyandarkan diri kepada doa dan terutama pada Ekaristi (HV 25). Kepada para pasangan suami istri, agar mereka dapat membantu pasangan yang lain dan membagikan pengalaman mereka (HV 26). Kepada para medis, agar mendukung dengan solusi yang berdasarkan iman dan akal yang benar (HV 27). Kepada para imam, agar menjadi yang pertama dalam memberi contoh ketaatan kepada Magisterium, terutama karena terang Roh Kudus sendiri. Karena itu, para imam diminta untuk mengajarkan pasangan suami istri tentang kuasa doa, dan agar mereka menimba kekuatan di dalam sakramen Ekaristi dan Pengakuan dosa (HV 28). Dan kepada para uskup, agar mereka bekerjasama dengan para imam dan umat untuk menjaga Perkawinan dan menguduskannya, sehingga dapat dipenuhi oleh nilai-nilai kemanusiaan dan nilai-nilai Kristiani (HV 30).)) Khususnya para suami istri, Paus menyerukan agar mereka memperkokoh panggilan hidup Kristiani yang mereka terima dalam Pembaptisan, dengan melakukan tugas panggilan hidup Perkawinan sampai pada kesempurnaannya, dan dengan demikian menjadi saksi Kristus yang hidup kepada dunia. Untuk itu, para suami dan istri dipanggil untuk menyandarkan diri kepada doa dan terutama pada Ekaristi, dan Pengakuan dosa (HV 25, 28). Selanjutnya, kepada para imam, Paus menyerukan agar menjadi yang pertama dalam memberi contoh ketaatan kepada Magisterium, terutama karena terang Roh Kudus sendiri (HV 28). Dan kepada para uskup, agar mereka bekerjasama dengan para imam dan umat untuk menjaga Perkawinan dan menguduskannya, sehingga dapat dipenuhi oleh nilai-nilai kemanusiaan dan nilai-nilai Kristiani (HV 30).

Akhirnya, Paus mengingatkan kembali bahwa manusia tidak dapat hidup bahagia, tanpa menghormati hukum yang ditanamkan Tuhan di dalam dirinya. Hukum ini harus ditaati dengan pengertian dan kasih (HV 31).

Bagaimana sebaiknya menyikapi Humanae Vitae?

Banyak orang, termasuk kalangan umat Katolik sendiri, berpendapat bahwa pengajaran Humanae vitae merupakan ajaran yang mustahil diterapkan, karena sangat bertentangan dengan kondisi alamiah suami istri, dan membutuhkan pengorbanan yang sangat besar, terutama dari pihak suami. Bahkan kita pernah mendengar bahwa dalam urusan hubungan suami istri, sebaiknya diserahkan kepada yang bersangkutan, daripada mengikuti ajaran Gereja. Namun sesungguhnya, jika kita sungguh percaya bahwa Tuhan mengasihi kita, dan Ia melalui Gereja-Nya, mengajar demi kebahagiaan kita, pantaskah kita berkeras pada pendirian kita?

Mari kita renungkan ajaran Yesus, “Apa yang telah dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan manusia (Mat 19:6)”. Allah telah mempersatukan suami dan istri melalui sakramen Perkawinan. Namun demikian, persatuan ini ‘diceraikan’ oleh pemakaian kontrasepsi. Karena dengan kontrasepsi, persatuan antara suami istri menjadi tidak menyeluruh, tidak tanpa syarat, dan tidak mengacu pada komitmen ‘for better for worse’. Pendek kata, kasih suami istri yang total dan tak bersyarat diwujudkan dengan tindakan yang tidak mencerminkan hal itu. Secara objektif hal yang seperti ini sesungguhnya dapat dikatakan sebagai ‘ketidakjujuran’, karena apa yang dikatakan tidak sesuai dengan apa yang dilakukan.

Setelah satu generasi berlalu dari tahun ensiklik itu dikeluarkan, kita melihat bukannya buah yang baik dari kontrasepsi, namun sebaliknya, buah yang memprihatinkan. Atau tepatnya, untuk jangka pendek mungkin tidak kelihatan jelas akibatnya, tetapi dengan berjalannya waktu, kita melihat jelas efek negatifnya. Contohnya, meningkatnya perceraian dan aborsi, seks bebas, kehamilan di luar nikah, masalah anak terkena narkoba karena retaknya keluarga, meningkatnya jumlah dan jenis penyakit wanita sebagai akibat penggunaan kontrasepsi, dll. Untuk hal-hal kemerosotan moral ini kita bahkan tidak perlu lagi melihat kepada data statistik, karena telah begitu jelas terlihat di dalam masyarakat kita, dan mungkin saja di dalam lingkaran sanak keluarga kita sendiri. Jika kita dengan rendah hati mau menerima perkataan Yesus, bahwa untuk mengetahui baik atau tidaknya pohon, kita melihat dari buahnya (lih. Mat 12:33), maka kita dapat menerima bahwa penerapan kontrasepsi bukanlah sesuatu yang baik. Jadi larangan kontrasepsi yang diajarkan oleh Gereja adalah pertama-tama demi menciptakan kebahagiaan suami istri dan melindungi Perkawinan itu sendiri.

Sebenarnya, seperti dikatakan oleh Janet Smith, ((Janet Smith adalah Associate Professor of Philosophy di Universitas Dallas, Amerika Serikat. Karangannya yang terkenal tentang Humanae vitae, A Generation Later dapat dilihat di internet, di http://www.goodmorals.org/smith6.htm)) Gereja tidak melarang kontrasepsi karena akibat-akibat buruk seperti yang dikatakan di atas. Namun karena pada dasarnya tindakan kontraseptif itu sendiri adalah ‘jahat/ evil‘, maka tak mengherankan jika membuahkan hal-hal yang buruk.

Kontrasepsi adalah tindakan dosa karena perbuatan tersebut bertentangan dengan akal, kebenaran, dan hati nurani yang benar. (KGK, 1849) Jika kita mau jujur, maka kita dapat melihat bahwa kontrasepsi, (1) melawan kehendak Tuhan yang telah memberi tugas untuk mengambil bagian dalam karya penciptaan-Nya, sebab sejak awal Allah menjadikan hubungan suami istri sebagai sesuatu yang sakral yang terbuka pada kemungkinan akan kelahiran ciptaan-Nya yang baru; (2) melawan tubuh karena memasukkan benda ataupun ‘racun’ yang merusak tubuh, dan (3) melawan hakekat hubungan kasih yang total antara suami istri. Singkatnya, kontrasepsi melawan hukum alam dan hukum Tuhan, yang juga berakibat merendahkan martabat manusia, karena manusia dibuat tunduk kepada nafsu, daripada berusaha menguasai diri dan mengalahkan nafsu tersebut.

Suatu permenungan adalah, pada saat pertama seseorang membeli alat kontrasepsi, adakah hatinya bergumul? Umumnya ya. Kenapa demikian? Karena suara hati mereka melarangnya. Dalam kasus ini, suara hati mereka yang ‘melarang’ adalah suara Tuhan, karena dalam hal ini Roh Kudus sebenarnya mendorong mereka untuk tidak melakukan dosa. Jika kemudian orang tersebut merasa ‘terbiasa’, hal ini disebabkan karena suara hatinya berangsur ‘tumpul’ karena pengaruh media dan dunia, seolah mengatakan, “semua orang melakukan hal ini, maka tentu hal ini tidak apa-apa…” Atau, jika seorang suami mengatakan dia mengasihi istrinya seperti mengasihi tubuhnya sendiri (seperti yang dikatakan Ef 5:28); maka dapatkah ia menganjurkan istri atau bahkan memaksa istri untuk menelan pil KB yang berpengaruh negatif terhadap kesehatan istri? Dr. Chris Kahlenborn menyimpulkan bahwa wanita yang mengkonsumsi pil KB dan pernah melakukan aborsi, mempunyai resiko yang tinggi untuk mengidap kanker payudara, hati dan leher rahim. ((Lih. Chris Kahlenborn, MD, Breast Cancer: Its Link to Abortion and the Birth Control Pill (Dayton, Ohio: One more Soul, 2000.))

Sekarang mari kita lihat kata ‘kontrasepsi‘ yang artinya ‘melawan permulaan’, dalam hal ini permulaan kehidupan. Jadi di sini terjadi pertentangan. Singkatnya, mereka yang berbuat mau melakukan tindakan, tetapi tidak mau menanggung akibatnya. Mereka yang katanya saling mencintai malah memakai alat kontrasepsi sebagai ‘proteksi’, atau mengenakan alat ‘pembunuh’ sperma, seolah-olah menghadapi ‘perang’. Bukankah jika kita renungkan, ini bertentangan dengan hakekat kasih yang saling memberi dan menerima seutuhnya?

Perlu kita ketahui beberapa cara kerja alat kontrasepsi yaitu pil/ terapi hormon. ((Lihat ulasan John F. Kippley, Understanding Humanae Vitae, yang dapat diakses di internet, http://www.nfpandmore.org/understandinghumanae.shtml , penjelasan n.15.)) Pertama, menekan ovulasi, sehingga fungsinya seperti sterilisasi sementara. Kedua, mempertebal dinding leher rahim/cervical mucus, sehingga menghambat aliran sperma. Ketiga, jika kedua hal di atas tak terbendung, maka langkah terakhir adalah mencegah melekatnya sel telur yang telah dibuahi ke dinding rahim, sehingga mahluk sangat kecil yang sudah berjiwa itu mati. Dalam hal ini, kontrasepsi bersifat abortif awal. Penolakan atas hadirnya bakal anak ini menjadi akibat dari sikap yang seolah mengatakan, “Aku mau memberikan seluruh diriku, kecuali kesuburanku.” Kesuburan dianggap sebagai penyakit sehingga perlu diobati, dan anak dianggap sebagai beban dan bukan sebagai berkat. Atau, “aku mau menikmati kesenanganku bersamamu, tapi aku tidak mau menaruh komitmen dengan kamu.” Padahal, kasih yang sejati selalu menghasilkan komitmen selamanya, dan kelahiran seorang bayi adalah salah satu yang mengakibatkan komitmen tersebut.

Solusi yang ditawarkan Gereja: KB Alamiah (Natural Family Planning)

Gereja tidak pernah mengajarkan, “Kalau begitu beranak-lah sebanyak-banyaknya…”; melainkan menganjurkan pengaturan kelahiran yang alamiah, jika pasangan suami istri memiliki alasan yang kuat untuk membatasi kelahiran anak. Pengaturan KB secara alamiah ini dilakukan antara lain dengan cara pantang berkala, yaitu tidak melakukan hubungan suami istri pada masa subur istri. Hal ini sesuai dengan pengajaran Alkitab, yaitu “Janganlah kamu saling menjauhi, kecuali dengan persetujuan bersama untuk sementara waktu, supaya kamu mendapat kesempatan untuk berdoa” (1Kor 7:5). Dengan demikian suami istri dapat hidup di dalam kekudusan dan menjaga kehormatan perkawinan dan tidak mencemarkan tempat tidur (lih. Ibr 13:4).

Dewasa ini pengaturan KB alamiah sudah semakin akurat, karena tidak hanya berdasarkan penghitungan kalender, tetapi berdasarkan tanda-tanda fisik wanita yang menyertai kesuburannya/ ketidaksuburannya, yang dikenal dengan Metoda Billing atau pengembangannya, yaitu Metoda Creighton. Data statistik menunjukkan metode KB alamiah yang sedemikian memiliki tingkat kesuksesan 99%, bahkan penelitian di Jerman tahun 2007 yang lalu mencapai 99.6%. Lebih lanjut mengenai KB Alamiah (Natural Family Planning) yang cukup akurat, yaitu Metoda Creighton, silakan klik di sini

Dengan menerapkan KB Alamiah, pasangan diharapkan untuk dapat lebih saling mengasihi dan memperhatikan. Pantang berkala pada masa subur istri dapat diisi dengan mewujudkan kasih dengan cara yang lebih sederhana dan bervariasi. Suami menjadi lebih mengenal istri dan peduli akan kesehatan istri. Latihan penguasaan diri ini dapat pula menghasilkan kebajikan lain seperti kesabaran, kesederhanaan, kelemah-lembutan, kebijaksanaan, dll yang semuanya baik untuk kekudusan suami istri. Istripun dapat merasa ia dikasihi dengan tulus, dan bukannya hanya dikasihi untuk maksud tertentu. Teladan kebajikan suami istri ini nantinya akan terpatri di dalam diri anak-anak, sehingga merekapun bertumbuh menjadi pribadi yang beriman dan berkembang dalam berbagai kebajikan.

Kesimpulan

Perkawinan Katolik mengandung makna yang sangat indah dan dalam, karena melaluinya Tuhan mengikutsertakan manusia untuk mengalami misteri kasih-Nya dan turut mewujudkan karyaNya dalam penciptaan kehidupan baru: yaitu janin yang memiliki jiwa yang kekal. Perkawinan merupakan sakramen, karena menjadi gambaran persatuan Kristus dan Gereja-Nya. Hanya dengan menyadari kedalaman arti Perkawinan ini, yaitu untuk maksud persatuan (union) suami istri dengan pemberian diri mereka secara total, dan turut sertanya mereka dalam karya penciptaan Tuhan (pro-creation), kita lebih dapat memahami pengajaran Gereja Katolik yang menolak aborsi, kontrasepsi dan sterilisasi. Karena semua praktek tersebut merupakan pelanggaran terhadap kehendak Tuhan dan martabat manusia, baik pasangan suami istri maupun janin keturunan mereka. Aborsi dan penggunaan alat-alat kontrasepsi merendahkan nilai luhur seksualitas manusia, dengan melihat wanita dan janin sebagai hanya seolah-olah ‘tubuh’ tanpa jiwa. Penggunaaan alat kontrasepsi menghalangi union suami istri secara penuh dan peranan mereka dalam pro-creation, sehingga kesucian persatuan perkawinan menjadi taruhannya. Betapa besar perbedaan cara pandang yang seperti ini dengan rencana awal Tuhan, yang menciptakan manusia menurut gambaran-Nya: manusia pria dan wanita sebagai mahluk spiritual yang mampu memberikan diri secara total, satu dengan lainnya, yang dapat mengambil bagian dalam karya penciptaan dan pengaturan dunia!

Masih Perlukah Sakramen Pengakuan Dosa (Bagian 4-Selesai) ?

97

Pendahuluan

Jika kita bekerja di suatu perusahaan, mungkin perusahaan tersebut memberikan asuransi kesehatan, dan mungkin juga termasuk asuransi kesehatan gigi. Bayangkan kalau kita menerima asuransi kesehatan gigi, yang memungkinkan agar kita ke dokter gigi tanpa membayar, apa yang akan kita lakukan? Apakah kita akan secara teratur datang ke dokter gigi meminta agar dokter tersebut memeriksa dan membersihkan gigi kita? Ataukah kita akan datang ke dokter gigi hanya kalau kita merasa kesakitan yang luar biasa pada gigi kita?

Keadaan ini adalah sama seperti prinsip dalam Sakramen Pengakuan Dosa. Dosa adalah suatu penyakit rohani. Dan Yesus yang diwakili oleh pastor di dalam Sakramen Tobat adalah dokter dari segala dokter. Kita tahu, bahwa setiap hari kita melakukan dosa ringan, bahkan terkadang melakukan dosa berat. Kita juga tahu, bahwa dosa berat dapat membuat kita kehilangan keselamatan kita dan juga kalau dosa ringan terus dibiarkan, akan berkembang menjadi dosa berat. Nah, pertanyaannya, apakah kita juga mau datang kepada pastor untuk mengaku dosa pada waktu dosa yang kita buat masih belum terlalu berat, ataukah kita menunggu sampai dosa menjadi suatu kebiasaan yang sulit untuk dihilangkan? Mari kita bersama-sama melihat dan mengerti bahwa Sakramen Tobat ini diinstitusikan oleh Yesus untuk keselamatan kita, sehingga kita dapat mencapai kehidupan kekal.

General confession adalah suatu awal yang baik

Bayangkan kalau kita beberapa tahun tidak pernah ke dokter gigi. Mungkin kita tidak merasakan sakit pada gigi kita, namun benih-benih penyakit pasti ada disana. Karena hal tersebut, kita perlu datang ke dokter gigi dan minta “general cleaning“. Begitu juga dalam kehidupan spiritual kita, kita perlu mengadakan general cleaning. General cleaning dapat diumpamakan seperti “general confession”.

General confession adalah suatu pengakuan dosa yang bukan hanya terbatas dalam periode tertentu, namun mengakukan seluruh dosa dalam hidup kita sejauh yang dapat kita ingat. Ini adalah suatu “general check-up“, yang memungkin seorang dokter untuk mengetahui seluruh sejarah kesehatan kita. Alangkah baiknya kalau kita dapat membuat general confession kepada bapa pengakuan dan sekaligus juga bapa pembimbing (spiritual director) kita.[1]

Karena biasanya general confession memerlukan waktu yang lama – biasanya sekitar setengah sampai satu jam -, mintalah waktu secara khusus dari pastor, dan katakan kepada pastor untuk dapat menerima general confession. Pastikan juga bahwa kita benar-benar melakukan pemeriksaan batin secara sungguh-sungguh.

Biasakan untuk melakukan general confession setial tahun. St. Ignatius dari Loyola mengatakan dalam bukunya spiritual exercise Meskipun seseorang yang mengakukan dosa setiap tahun tidak diharuskan untuk membuat general confession, namun dengan melakukannya, seseorang menimba banyak sekali manfaat yang diperoleh dari penyesalan yang sungguh-sungguh atas segala dosa dan kejahatan yang dilakukan oleh orang tersebut dalam seluruh kehidupannya.”

Berapa sering kita mengakukan dosa kita?

Memang dalam peraturan Gereja, kita minimal sekali dalam satu tahun harus mengakukan dosa kita.[2] Seperti kasus kebersihan gigi, kalau kita hanya ke dokter gigi setahun sekali, maka kemungkinan besar, gigi kita akan banyak yang rusak karena terbentuknya karang gigi. Demikian juga dengan pengakuan dosa, semakin jarang kita mengaku dosa, maka akan semakin tumpul kepekaan kita dalam menolak dosa. Dengan dasar inilah, kita seharusnya mengaku dosa secara teratur dan lebih sering, sebagai contoh, satu bulan sekali. Sebagai perbandingan, Paus Yohanes Paulus II dan Bunda Teresa mengaku dosa seminggu sekali. Kalau sosok seperti mereka mengaku dosa setiap minggu, kita seharusnya mengikuti teladan mereka, karena kemungkinan besar atau pasti, kita melakukan lebih banyak dosa daripada mereka.

Mari kita lihat beberapa petunjuk praktis dibawah ini, agar kita dapat membuat pengakuan dosa yang baik.

Kebenaran-kebenaran hakiki yang perlu kita pegang

1. Tuhan sangat mengasihi kita

  • Tuhan sangat mengasihi kita, dan menginginkan agar kita memperoleh kebahagiaan abadi.
  • Kita memperoleh kebahagiaan abadi hanya jika menggunakan kebebasan kita dengan hidup menurut kehendakNya.

2. Dosa memisahkan kita dari Tuhan

  • Segala penolakan untuk berbuat sesuai dengan kehendak Tuhan adalah suatu DOSA, yang tingkatannya tergantung dari: a) perbuatan yang kita lakukan atau kita hilangkan, b) derajat kesadaran, maksud, dan kebebasan kita, c) segala situasi dan keterbatasan kita.
  • Sebagai penolakan terhadap kasih Tuhan, dosa adalah suatu bentuk ketidak- bersyukuran, kesombongan dan pemberontakan terhadapNya.
  • Ketika berdosa, kita berbalik dari Tuhan, memberikan perhatian dan cinta yang seharusnya diberikan kepada Tuhan, kepada diri kita sendiri atau mahluk ciptaan lainnya.
  • Karena itu, kita telah merusak diri dan orang lain karena telah melawan keteraturan yang ditentukan oleh Sang Pencipta.
  • Akibat dari dosa berat adalah maut, sehingga kita: a) kehilangan rahmat Tuhan, b) kehilangan tempat di surga, c) memilih untuk masuk dalam penderitaan abadi di neraka, d) memilih untuk menolak kasih Tuhan yang abadi.[3]

3. Pertobatan adalah kunci untuk kembali kepada Tuhan

  • Dengan kasihNya, Allah selalu ingin mengampuni kita. Ia tak pernah berhenti untuk memanggil kita kembali kepadaNya dan pada perilaku yang benar.
  • Untuk menikmati pengampunan Tuhan, kita harus: a) Berhenti berbuat dosa, b) Menghindari situasi dosa, c) Kembali kepada Tuhan dengan hati bertobat.
  • Kita harus mencari pengampunan Tuhan melalui pelayanan yang diberikan Gereja, sesuai dengan pemikiran Yesus ketika Ia memberikan kepada Rasul-rasulNya kuasa untuk mengampuni dosa-dosa. (Yoh 20:22-23)
  • Penerimaan pengampunan Tuhan melaui Sakramen Pengakuan Dosa membawa pada kita kebangkitan spiritual: kita bangkit lagi untuk menerima hidup baru dalam kasih. Melalui sakramen ini kita didamaikan dengan Allah, Gereja, sesama dan dengan diri sendiri.

LANGKAH- LANGKAH YANG HARUS DIAMBIL SEBELUM MENGAKU DOSA

  1. Yang terpenting bukanlah untuk ‘pergi mengaku dosa’, tapi bagaimana mengaku dosa yang baik’:
    • Mendekati sakramen ini dengan pertobatan yang tulus atas dosa-dosa kita.
    • Mengaku dosa-dosa kita dengan kerendahan hati dan kejujuran.
    • Berkemauan keras untuk menghindari dosa tersebut di kemudian hari dan hidup sesuai dengan kehendak Tuhan,
  2. Untuk melakukan hal-hal ini, langkah yang penting adalah melalui pemeriksaan batin, yaitu:
    • Sadar akan tingkat beratnya dan jumlah/ frekuensi dosa kita, baik dalam pikiran, perkataan maupun perbuatan, baik dalam perbuatan salah yang kita lakukan atau perbuatan baik yang harusnya kita lakukan tetapi tidak kita lakukan (sin of omission).
    • Sadar bahwa karena dosa kita, kita menyakiti hati Tuhan, menyebabkan sengsara dan wafat Kristus, dan menyebabkan hal yang buruk bagi diri dan sesama.
  3. Hal yang sangat membantu dalam pemeriksaan batin adalah:
    • Berdoa kepada Roh Kudus mohon penerangan dan ketulusan hati.
    • Membaca teks Kitab suci untuk membantu kita merenungkan akibat dosa, besarnya kasih Tuhan dan kesediaanNya untuk mengampuni kita.
    • Memeriksa diri dengan menjawab pertanyaan- pertanyaan mengenai tugas kita kepada Tuhan, sesama dan diri sendiri.

DOA SEBELUM PEMERIKSAAN BATIN

… Datanglah, O Roh Kudus, ke dalam jiwaku, Dan bantulah aku mengetahui dosa-dosaku, menyesali semua dosaku dan mengakukannya dengan kerendahan hati, agar aku dapat menikmati pengampunan Allah Bapa.

Dengan terangMu, terangi kegelapan pikiranku.
Dengan api RohMu, hangatkan dinginnya hatiku,

Dengan kasihMu, isilah aku dengan cinta dan kekuatan, sehingga aku dapat menyadari kesalahan yang kuperbuat dan kebaikan yang gagal kulakukan. Tolong aku agar sungguh bertobat, dan kuatkan niatku untuk menghindari dosa-dosa di kemudian hari, dan untuk hidup dalam cintaMu, damaiMu dan sukacitaMu. … Amin.

BEBERAPA TEKS KITAB SUCI UNTUK DIRENUNGKAN

Sebelum pemeriksaan batin, pilih dan baca salah satu dari teks berikut ini dan kemudian renungkan dalam doa teks yang baru saja dibaca.

  • Mat 5: 17-19
  • Mat 5: 20-48
  • Mat 7: 1-5
  • Mat 25: 31-46
  • Luk 15: 1-7
  • Luk 15: 11-32
  • Why 3:20

KERANGKA PEMERIKSAAN BATIN

Ada beberapa metode dalam pemeriksaan batin, yaitu berdasarkan 10 perintah Allah dan nilai-nilai Kristiani. Berdasarkan 10 perintah Allah, maka kita harus melihat berapa sering dan gagal kita melaksanakannya, Berdasarkan Nilai-nilai Dasar Kristiani, kasih kepada Tuhan dan sesama, kesabaran, kemurnian, kejujuran, dll, dan lihatlah apakah kita melakukan-nya atau tidak. Atau kita juga dapat mengadakan pemeriksaan batin berdasarkan delapan sabda bahagia (Mat 5:3-12).

Apapun caranya, yang terpenting adalah menempatkan diri kita dalam hadirat Allah dan tanyakanlah pada diri sendiri dengan kejujuran total, apakah kita telah menyenangkan hati Tuhan, jika tidak, mengapa?

Pertanyaan Awal:

  1. Kapan terakhir aku mengaku dosa? Apakah itu pengakuan dosa yang baik?
  2. Apakah aku berjanji sesuatu kepada Allah pada kesempatan itu? Apakah janji itu kutepati?
  3. Apakah aku melakukan dosa berat setelah pengakuan dosa yang terakhir?

PERTANYAAN-PERTANYAAN BERDASARKAN KESEPULUH PERINTAH ALLAH

1. Jangan ada padamu allah lain di hadapan-Ku.

  • Apakah aku ragu akan keberadaan Tuhan?
  • Apakah aku kurang bersyukur atas segala berkat-berkat yang Tuhan limpahkan?
  • Apakah aku sering menggerutu dalam menjalankan kehendak Tuhan dalam hidupku?
  • Apakah aku menolak untuk menerima permasalahan yang datang dalam hidupku sebagai cara untuk mendatangkan keselamatan?
  • Apakah aku mengabaikan suara Kristus dalam jiwaku ketika Dia meminta kepadaku untuk berkorban sesuatu?
  • Apakah aku sering kuatir dalam kehidupan karena kekurangpercayaanku terhadap penyelenggaraan Allah?
  • Apakah aku melalaikan tugasku sebagai mahluk ciptaan kepada Penciptaku?
  • Apakah aku gagal untuk menjadi saksi Kristus, baik dengan perkataan maupun perbuatan?
  • Apakah aku meremehkan, bahkan mengejek ajaran Gereja Katolik?
  • Apakah saya melemahkan iman orang lain, dengan cara menghina agama, Gereja, para imam, dll?
  • Apakah aku malu untuk menunjukkan identitasku sebagai orang Katolik?
  • Apakah aku menjadi anggota dari suatu organisasi yang melawan ajaran Katolik?
  • Apakah aku tidak mengaku dosa paling sedikit satu tahun sekali?
  • Apakah aku lupa untuk melakukan penitensi dari pengakuan dosa yang sebelumnya?
  • Apakah aku lupa untuk berpuasa dan berpantang pada hari-hari yang telah ditentukan?
  • Apakah aku sungguh-sungguh dalam berdoa dan berusaha dengan sepenuh hati untuk melawan godaan?
  • Apakah aku tidak setia dalam doa harianku?
  • Apakah aku tidak membuat prioritas dan mencoba dengan sekuat tenaga untuk hidup kudus?
  • Apakah Tuhan adalah yang paling penting dalam kehidupanku?
  • Apakah aku ragu-ragu tentang iman Katolik?
  • Apakah aku membaca buku atau menonton film yang bertentangan dengan iman Katolik?
  • Apakah aku percaya tahyul, atau pergi ke tukang ramal, percaya ramalan bintang, ramal telapak tangan, atau percaya ilmu gaib/ sihir?
  • Apakah aku selalu percaya kepada Tuhan, terutama dalam kemalangan dan pencobaan?
  • Apakah ada allah-allah lain di hidupku: uang, kesenangan, seks, keberhasilan, popularitas, kekuasaan, terobsesi dengan penampilan ….?

2. Jangan menyebut nama Tuhan Allahmu dengan tidak hormat

  • Apakah aku menggunakan nama Tuhan dengan tidak hormat?
  • Apa aku menggunakan nama Tuhan dalam kemarahan atau kutukan?
  • Apa aku berbohong di bawah sumpah?
  • Apakah aku menepati janjiku kepada Tuhan?
  • Apakah aku berkata yang tidak hormat tentang Yesus, Maria dan orang-orang Kudus?

3. Ingatlah dan kuduskanlah Hari Tuhan

  • Apakah aku setia mengikuti misa kudus pada hari Minggu atau hari-hari tertentu yang ditetapkan dalam kalendar Gereja? Apakah aku datang tepat waktu?
  • Apakah aku mengikuti misa dengan penuh perhatian dan penuh iman?
  • Apakah aku berdoa secara teratur, setidaknya pagi dan sore/ malam hari?
  • Apakah aku membaca Kitab suci setiap hari?
  • Seberapa minatku untuk mengetahui imanku dan membantu orang lain, termasuk teman-teman dan saudara-saudari/ kerabat?

4. Hormatilah ayahmu dan ibumu.

Untuk anak-anak:

  • Apakah aku gagal untuk mengasihi orang tua dan saudara-saudariku?
  • Apakah aku tidak menghormati dan tidak taat kepada mereka?
  • Apakah aku membantu mereka di saat aku bisa?
  • Apakah aku mengecewakan hati mereka? Bagaimana?
  • Apakah aku menghormati guru, pastor paroki dan orang-orang lain ada di atas otoritas-ku?
  • Apakah aku mentaati peraturan sekolah-ku?

Untuk orang tua:

  • Apakah aku membesarkan anak-anak dengan sepenuh hati dan dengan cinta yang tulus?
  • Apakah aku terlalu keras atau terlalu lembek terhadap mereka?
  • Apakah aku memberi contoh yang buruk kepada mereka dengan caraku berbicara atau bertindak?
  • Apakah aku memberi contoh yang baik untuk melaksanakan kewajiban religius dan kewajibanku sebagai warga negara?
  • Apakah aku mengusahakan agar anak-anakku mendapat pengajaran religius yang pantas dan aktif terlibat dalam kegiatan komunitas kristiani dan organisasi?
  • Apakah aku memotivasi mereka untuk terlibat dalam kegiatan Gereja dan kemasyarakatan?

5. Jangan membunuh

  • Apakah aku melukai seseorang dengan perkataanku atau perbuatanku?
  • Apakah aku menolak untuk membantu sesama yang membutuhkan ketika aku diberi kesempatan dan sesungguhnya dapat menolongnya?
  • Apakah aku menyebarkan rumor/ gosip tentang seseorang?
  • Apakah aku memberi contoh buruk? Apakah aku berusaha sebaik mungkin untuk memperbaikinya?
  • Apakah aku mengumpat/ mengomel?
  • Apakah aku meminta maaf segera dan dengan tulus ketika aku menyakiti seseorang?
  • Apakah aku memimpin/ menyebabkan orang lain berdosa dengan perkataan dan perbuatanku?
  • Apakah aku tidak menghormati pendapat ataupun kepercayaan orang lain?
  • Apakah aku mencabut hidup orang lain?
  • Apakah aku menyebabkan kecelakaan fisik, moral atau problem keuangan orang lain? Apakah aku telah memperbaikinya?
  • Apakah aku menjadi anggota organisasi kekerasan?
  • Apakah aku setuju atau mengizinkan, merekomendasikan, mencari atau terlibat dalam proses aborsi?
  • Apakah aku turut andil dalam polusi lingkungan atau penggunaan sumber alam secara egois?
  • Apakah aku memperhatikan kesehatanku: fisik dan mental?
  • Apakah aku menggunakan obat terlarang, merokok atau minum minuman keras berlebihan, dan melakukan apa saja yang membahayakan kesehatanku dan kesehatan orang lain?
  • Pada saat ada kesempatan, apakah aku tidak melakukan sesuatu untuk melawan dosa atau kejahatan?

6 dan 9. Jangan berzinah, dan jangan mengingini istri sesamamu.

Untuk semua:

  • Apakah aku melihat gambar, pertunjukan atau film, buku-buku dan publikasi lainnya yang tidak sopan dan membangkitkan fantasi seksual dan mengarahkanku kepada dosa ketidakmurnian?
  • Apakah aku memakai pakaian yang tidak sopan?
  • Apakah aku mengikuti pikiran yang kotor atau keinginan-keinginan yang tidak suci?
  • Apakah aku melakukan perbuatan yang tidak murni terhadap diri sendiri atau dengan sesama?
  • Apakah aku bertindak bijaksana terhadap sesama yang berlainan jenis kelamin, baik terhadap yang sudah menikah atau tidak/ belum menikah?
  • Apakah aku melontarkan cerita/ humor kotor?
  • Apakah aku terlibat dalam pergaulan bebas, seks pranikah, atau aktivitas seksual yang diperbolehkan hanya untuk suami istri?

Untuk pasangan yang sudah menikah:

  • Apakah aku setia kepada istri/ suamiku, baik di dalam pikiran maupun perbuatan?
  • Apakah aku menggunakan pil, alat-alat KB lainnya untuk menghalangi kehamilan? Apakah aku menganjurkan orang lain untuk melakukan hal itu?
  • Apakah aku menggunakan pernikahanku untuk mengekspresikan kasihku yang tulus kepada istri/ suamiku ataukah hanya untuk melampiaskan gairah seksual?

7 dan 10. Jangan mencuri. Jangan mengingini milik sesamamu.

  • Apakah aku menghormati milik orang lain?
  • Apakah aku merusak barang milik publik?
  • Apakah aku mencuri sesuatu? Apakah aku mengembalikan yang kucuri dan membayar sesuai dengan jumlahnya?
  • Apakah aku menyontek di sekolah, atau berbuat curang dalam bisnis? Apakah aku jujur dalam pekerjaan dan melakukannya dengan cara yang terbaik?
  • Apakah aku adil dalam membayar gaji bawahan-ku, pajak dan segala kewajibanku?
  • Apakah aku iri hati terhadap milik dan kesuksesan orang lain?
  • Apakah aku menyia-nyiakan waktu dan kesempatan?
  • Apakah aku serakah?

8. Jangan mengucapkan saksi dusta tentang sesamamu.

  • Apakah aku berbohong karena kesombonganku atau berbohong untuk mencelakakan orang lain?
  • Apakah aku bersaksi dusta di pengadilan?
  • Apakah aku menyebarkan rumor/ gosip yang dapat merusak reputasi/ nama baik sesamaku?
  • Apakah aku membocorkan rahasia yang dipercayakan kepadaku?
  • Apakah aku membocorkan rahasia kesalahan orang lain?
  • Apakah aku menuduh seseorang sembarangan?
  • Apakah aku menghakimi orang lain?
  • Apakah aku seorang yang berprasangka?
  • Apakah aku dapat menjaga keseimbangan antara kebenaran dan tindakan kasih?

SEGERA SEBELUM PENGAKUAN DOSA

Setelah pemeriksaan batin selesai, dan menyadari berapa sering dan berapa banyak anda telah menyakitkan hati Tuhan, sesama dan diri sendiri, maka:

  1. Dengan rendah hati dan tulus memohon pengampunan Tuhan dan kemampuan untuk menghindari dosa di kemudian hari.
  2. Berusaha untuk menemukan akar penyebab dosa- dosa anda: kecenderungan yang salah, kelemahan, kebiasaan buruk…, dan lihat apakah anda dapat menghilangkan setidak-tidaknya satu dari akar penyebabnya. Ini berarti berusaha menjadi orang yang lebih baik dengan membuang sedikitnya satu keburukan moral atau dengan memperkuat satu kualitas moral yang baik. Bayangkan kalau kita dapat menghilangkan satu kebiasaan buruk dalam satu tahun, maka kehidupan spiritual kita akan berkembang dengan pesat.

3. mohon agar Tuhan membantu anda untuk mengaku dosa dengan baik.

PADA SAAT PENGAKUAN DOSA

  1. Buatlah tanda salib dan berkata: “Berkatilah saya, Pastor, sebab saya telah berdosa.”
  2. Biarkan Pastor memberkati anda dan apapun perkataannya, dengarkan dengan hati terbuka, lalu katakan:
    • Pengakuan dosa saya yang terakhir adalah…. waktu yang lalu. Sejak itu aku melakukan dosa sebagai berikut…..
    • Mengakulah dengan jujur dan tulus segala dosa anda mulai dari yang terberat dan yang paling memalukan. Jika anda gugup, atau tak begitu jelas akan dosa tertentu, mintalah bantuan Pastor
    • Ingat, untuk sebisanya menyebutkan jumlah frekuensi dosa berat, dan keadaannya untuk memperjelas tingkat keseriusan dosa tersebut.
  3. Setelah selesai menyebutkan dosa-dosa anda, katakanlah:
    • Untuk semua dosa-dosa saya ini terutama dosa melawan… (misal: kasih, kejujuran, kemurnian, dll) aku mohon pengampunan dan penitensi dari Pastor.
  4. Pastor akan memberi anda beberapa saran. Ia juga akan memberikan penitensi yang harus dipenuhi setelah sakaramen pengakuan. Setelah itu, ucapkanlah doa tobat baik dengan perkataan sendiri, atau doa tobat sebagai berikut:
    • O Tuhanku, aku menyesal atas dosa-dosaku. Aku sungguh patut Engkau hukum, terutama karena aku tidak setia kepada Engkau yang maha pengasih dan maha baik bagiku. Aku benci akan segala dosaku, dan berjanji dengan pertolongan rahmatMu hendak memperbaiki hidupku dan tidak berbuat dosa lagi. Allah yang maha rahim, ampunilah aku, orang berdosa. Amin
  5. Setelah mengucapkan doa tobat, terimalah absolusi dengan rendah hati dan penuh syukur. Ikutilah doa Pastor, yang diakhiri dengan kata penutup “Amin!”

SETELAH PENGAKUAN DOSA

  1. Berlututlah di depan altar atau sakramen Maha Kudus atau gambar/ patung Tuhan Yesus, dan berterimakasihlah padaNya atas karunia pengampunan dosa, Perbaharui niat anda dan mohon pertolonganNya untuk mengatasi segala godaan.
  2. Jika penitensi diberikan dalam bentuk beberapa doa, ucapkanlah doa-doa tersebut dengan tenang dan penuh iman.
  3. Jika penitensi diberikan dalam bentuk tindakan kasih, maka harus dilaksanakan secepat mungkin.
  4. Tersenyumlah pada Yesus, dengan penuh rasa syukur. Bangkitlah dengan suka cita dan percaya diri: Tuhan sudah berbelas kasihan kepadamu. Ia merayakan kembalimu kepadaNya dan meng-inginkan anda termasuk dalam bilangan para kudusNya. Hiduplah untuk Dia, pada setiap saat kehidupanmu, dan biarkanlah orang-orang lain melihat betapa indahnya melayani Tuhan, dan hidup sesuai dengan kehendakNya!

Kesimpulan

Semua hal di atas adalah petunjuk-petunjuk praktis untuk mengaku dosa. Kita semua diingatkan kembali bahwa dosa sungguh menyedihkan hati Tuhan, karena melawan kasih dan hukum Tuhan, dengan akibat rusaknya hubungan kita dengan Tuhan dan Gereja. Hanya pertobatan, dan juga menerima Sakramen Pengampunan Dosa yang dapat mengembalikan keharmonisan hubungan kita dengan Allah. Dengan menerima Sakramen Tobat, kita akan dikuatkan untuk berusaha dengan sepenuh hati dan pikiran untuk hidup kudus, hidup untuk semakin memuliakan nama Tuhan.


[1] Francis De Sales, Introduction to the Devout Life (Image, 1972), p.38

[2] Council of Trent, Session 14; Canon 8.

[3] Ibid., p.37-38.

Adakah Keselamatan di luar Tuhan Yesus/ Gereja Katolik?

23

Pertanyaan:

Dear Pengasuh,

Saya akan bertanya mengenai “Sungguh adakah Keselamatan diluar Tuhan Yesus/Gereja ” ?. Apakah pernyataan konsili Vatikan II mengenai hal itu sudah benar dan sesuai terjemahannya ke dalam bahasa Indonesia ?. Karena kalau saya amati buah2 dari pemahaman pernyataan konsili vatikan II ini menjadi tidak baik yaitu banyak anak2 Tuhan yang sudah dibabtis meninggalkan gereja, karena mereka beranggapan dalam iman yang lainpun orang bisa selamat. Kalau kita menilik Sabda Tuhan sudah sangat jelas ” Akulah Jalan Kebenaran dan Hidup, tidak ada seorang pun sampai kepada Bapaku kalau tidak melalui Aku.”, “Kalau kamu percaya berikan dirimu dibabtis kalau tidak percaya akan dihukum”. Mohon jawaban karena saya masih bingung dengan hal ini, terima kasih. JBU.
Stefana

Jawaban:

Shalom Stefana,

Mengenai topik, “Adakah Keselamatan di luar Gereja Katolik” sekilas telah disinggung di dalam artikel Mengapa Kita Memilih Gereja Katolik, di bagian akhir artikel dengan sub-judul, Bagaimana dengan orang yang tidak mengenal Kristus atau umat yang sudah menjadi anggota gereja lain? Silakan membaca artikel tersebut. Namun untuk lebih jelasnya, topik ini akan ditulis lebih rinci di artikel terpisah.

Ya, betul, keselamatan hanya ada pada Yesus, Jalan, Kebenaran dan Hidup, dan tidak ada seorangpun yang datang kepada Bapa tanpa melalui Yesus (lih.Yoh 14:6). Namun, jangan lupa, bahwa Allah juga menghendaki semua orang diselamatkan dan memperoleh pengetahuan akan kebenaran (1 Tim 2: 3-4). Jadi jika ada orang yang di luar Gereja Katolik dapat diselamatkan, itu hanya terjadi karena jasa Kristus yang telah wafat bagi semua orang. Dengan pengertian ini, maka benar jika dikatakan tidak ada keselamatan di luar Tuhan Yesus dan Gereja-Nya yang adalah Tubuh Kristus. Sebab keselamatan yang diberikan Allah kepada manusia, itu diberikannya melalui Kristus dan Gereja-Nya. Berikut ini adalah kutipan lengkap dari Katekismus Gereja Katolik 1260:

“Sebab karena Kristus telah wafat bagi semua orang, dan panggilan terakhir manusia benar-benar hanya satu, yakni bersifat ilahi, kita harus berpegang teguh, bahwa Roh Kudus membuka kemungkinan bagi semua orang, untuk bergabung dengan cara yang diketahui oleh Allah dengan misteri Paska itu (GS 22). Setiap manusia yang tidak mengenal Injil Kristus dan GerejaNya, tetapi mencari kebenaran dan melakukan kehendak Allah sesuai dengan pemahamannya akan hal itu, dapat diselamatkan. Orang dapat mengandaikan bahwa orang-orang semacam itu memang menginginkan Pembaptisan, seandainya mereka sadar akan perannya demi keselamatan.”

Jadi dalam hal ini, kalimat ‘tidak mengenal Injil Kristus dan Gereja-Nya’ itu hanya berlaku bagi mereka yang belum dibaptis. Sedangkan bagi yang sudah dibaptis ataupun yang sudah mengerti bahwa Gereja Katolik adalah Sakramen Keselamatan yang telah direncanakan Allah, ketentuannya dapat kita baca pada Lumen Gentium 14,

“… andaikata ada orang, yang benar-benar tahu, bahwa Gereja Katolik itu didirikan oleh Allah melalui Yesus Kristus sebagai upaya yang perlu, namun tidak mau masuk ke dalamnya atau tetap tinggal di dalamnya, ia tidak dapat diselamatkan.”

Jadi, hal ini sesuai dengan sabda Yesus, bahwa, “Setiap orang yang kepadanya banyak diberi, daripadanya akan banyak dituntut “(Luk 12:48). Kita yang sudah diberi (lebih banyak) karunia iman di dalam Kristus (daripada mereka yang belum mengenal Yesus), dituntut untuk melakukan lebih banyak dan lebih baik, sesuai dengan yang telah diajarkan oleh iman itu kepada kita. Jika tidak, kita akan ‘menerima banyak pukulan’ (lih Luk 12:47). Namun orang yang tetap bertahan di dalam iman sampai kesudahannya akan selamat (lihat Mat 10:22, Mat 24:13).

Maka, jika seseorang yang sudah dibaptis Katolik betul-betul mempelajari dan mengenal imannya, sesungguhnya ia tidak mungkin pindah ataupun meninggalkan Gereja. Bahwa kenyataannya ada banyak orang pindah/ meninggalkan Gereja, mungkin memang disebabkan karena alasan-alasan tertentu. Namun dari yang saya ketahui, alasan tersebut banyak yang disebabkan karena ketidaktahuan/ kekurangan pengertian akan pengajaran Gereja Katolik yang adalah pengajaran Tuhan Yesus sendiri, atau karena alasan yang lebih bersifat praktis atau berhubungan dengan perasaan, misalnya karena pergaulan, senang dengan musik atau khotbah, atau mendapat kemudahan yang lain, seperti pekerjaan, dll.

Adalah tantangan bagi kita umat Katolik untuk mempelajari iman kita, agar kita dapat sungguh-sungguh mengenal iman kita ini dan mempraktekkannya (Silakan baca: Gereja Tonggak Kebenaran dan Tanda Kasih Tuhan, terutama bagian 5). Dengan demikian, kita menjadi saksi iman yang hidup bagi orang-orang di sekitar kita dan dapat membawa mereka agar mempunyai keinginan untuk datang kepada Tuhan dan Gereja-Nya.

Semoga tulisan di atas menjawab pertanyaan Stefana.

Salam kasih dalam Ktristus Tuhan,
Ingrid Listiati- https://katolisitas.org

Ekaristi sumber dan puncak Spiritualitas Kristiani

71

Ekaristi adalah ‘dekapan’ Allah yang menyatukan

Jika anda sudah menikah dan punya anak-anak kecil, anda pasti dapat memahami perasaan indah yang tak terlukiskan ini: Anak anda menghampiri anda, tanpa rengekan, tanpa tangisan, memeluk dan mencium anda. Anda akan merasakan kasih yang begitu dekat yang mempersatukan anda berdua. Jika suatu hari anda mengalami hal ini, entah dengan anak anda, keponakan atau cucu anda, bayangkanlah bahwa Tuhan sengaja memberikan pengalaman tersebut, supaya anda dapat sedikit membayangkan bagaimana perasaan Tuhan jika anda datang kepada-Nya seperti anak kecil itu. Hati-Nya melimpah dengan kasih dan suka cita, karena memang Dia selalu menantikan kesempatan ini; yaitu membawa anda ke dalam dekapan-Nya untuk bersatu dengan Dia. Oleh kuasa Roh Kudus, dekapan ini mempersatukan kita dengan Allah sendiri, seperti yang terjadi di dalam Ekaristi, saat Ia, Sang Ilahi, merendahkan diri untuk merangkul dan mengangkat kita, manusia yang dari ‘debu’ ini, agar kita beroleh hidup ilahi. Kita manusia yang berdosa tidak dapat, oleh usaha sendiri, menjadi kudus, kalau bukan Allah sendiri yang menguduskan kita.

Ekaristi adalah sumber dan puncak Spiritualitas Kristiani

Ekaristi adalah sumber dan puncak Spiritualitas Kristiani. Pertumbuhan Spiritualitas Kristiani yang bergerak ke arah ‘persatuan yang semakin erat dengan Kristus’ (KGK 2014) akan mencapai puncaknya pada Ekaristi yang adalah Kristus sendiri. Kristus hadir di dalam Ekaristi, sesuai dengan janji-Nya pada saat meninggalkan warisan Ekaristi pada Perjamuan Terakhir sebelum sengsara-Nya. Ekaristi diberikan sebagai kurban Tubuh dan Darah-Nya, agar dengan mengambil bagian di dalamnya, kita dapat bersatu dengan-Nya dan menjadi satu Tubuh (lih. KGK 1329). Jadi, Ekaristi merupakan Perjanjian Baru dan Kekal yang menjadi dasar pembentukan Umat pilihan yang baru, yaitu Gereja. ((Lih. Joseph Cardinal Ratzinger, Called to Communion, (San Francisco, USA: Ignatius Press 1996), p.28, “The institution of the most holy Eucharist… is the making of a covenant and as such, is the concrete foundation of the new people: the people comes into being through its covenant relation to God .”)) Di dalam Ekaristi kita melihat cerminan liturgi surgawi dan kehidupan kekal di mana Allah meraja di dalam semua (lih. KGK 1326). Dengan menerima Ekaristi, kita dipersatukan dengan Kristus dan melalui Dia, kepada Allah Tritunggal, sebab Ekaristi adalah kenangan kurban Yesus dalam ucapan syukur kepada Allah Bapa, oleh kuasa Roh Kudus (lih. KGK 1358). Jadi dengan menerima Ekaristi, Tuhan tidak saja hanya hadir, tetapi ‘tinggal’ di dalam kita sehingga kita mengambil bagian di dalam kehidupan Ilahi, kehidupan yang memberikan kita kekuatan untuk mencapai kesempurnaan kasih yang diajarkan oleh spiritualitas Kristiani, yaitu ‘mengasihi Tuhan dan mengasihi sesama’.

Sekilas tentang Spiritualitas Kristiani

Spiritualitas secara umum adalah jalan untuk memahami keberadaan dan kehidupan manusia yang berkaitan dengan pencarian nilai-nilai luhur untuk mencapai tujuan hidupnya. ((Lih. Michael Downey, Understanding Christian Spirituality, (New Jersey, USA: Paulist Press, 1997), p.14)) Di dalam agama Kristiani, ‘jalan’ tersebut bukanlah berupa peraturan- peraturan, tetapi berupa ‘Seseorang‘. Dan ‘Seseorang’ ini adalah Yesus Kristus, yaitu Allah yang menjelma menjadi manusia. Dengan kata lain, Spiritualitas Kristiani tidak diawali dengan ide gambaran tentang Allah, melainkan di dalam iman akan Sabda Allah yang menjadi manusia (Yoh 1:14), yaitu Yesus Kristus. Kristuslah pemenuhan Rencana Keselamatan yang dijanjikan Allah. Karena itu, kehidupan Spiritualitas Kristiani berpusat pada Kristus.

Pertumbuhan spiritual dicapai dengan mengambil bagian dalam Misteri Kristus

Kristuslah perwujudan Spiritualitas Kristiani, sehingga sangat wajar jika kita ingin bertumbuh secara spiritual, kita harus mengambil bagian di dalam ‘Misteri Kristus’, sehingga kehidupan spiritual kita merupakan bagian dari kehidupan yang Yesus miliki bersama dengan Allah Bapa dan Roh Kudus. Dengan demikian kita diangkat menjadi anak-anak Allah. ((Jordan Aumann, Christian Spirituality in the Catholic Tradition, (USA: Ignatius Press, 1985), p.9 and p.11 “…. Christ is, therefore, the embodiment of authentic spirituality and quite logically, from our point of view the spiritual life must be a participation in the ‘mystery of Christ.’ …..This does not mean, however that we should consider the spiritual life as Christ-centered to such an extent that we should fail to give emphasis to God the Father, God the Holy Spirit,….. but it is only by means of the mystery of God that we can believe fully in the mystery of the Incarnation and, therefore, can understand Jesus Christ…..Consequently, to participate in the mystery of Christ means to share in the selfsame life which animated the God-man, the life which the incarnate Word shares with the Father and the Holy Spirit; and through this life, man is regenerated and elevated to the supernatural order.”)) Keikutsertaan kita di dalam Misteri Kristus dinyatakan jika kita berpartisipasi di dalam Misteri Paska Kristus -yaitu sengsara, wafat, kebangkitan dan Kenaikan-Nya ke surga. ((Lih. Sacrosanctum Concilium 5, (Dokumen Vatikan II, Konstitusi tentang Liturgi Suci)) Misteri Paska ini dihadirkan di dalam liturgi Gereja Katolik (lih. KGK 1085).

Misteri Paska Kristus adalah pernyataan Kasih Tuhan yang terbesar

Tuhan adalah Kasih (1 Yoh 4:16) dan belas kasih adalah sifat Allah yang terbesar. Dalam belas kasih-Nya Allah ingin mengembalikan hubungan kasihNya dengan manusia yang telah dirusak oleh dosa. Untuk itulah Kristus datang ke dunia, untuk menyatakan belas kasihan Tuhan yang terbesar melalui Misteri Paska-Nya, yang menjadi bukti kasih Tuhan pada manusia yang lebih kuat dari pada dosa dan maut. Allah tidak menyayangkan Yesus Putera-Nya sendiri untuk menyelamatkan kita (Rom 8:32), para pendosa. Jadi, alasan Kristus untuk datang ke dunia adalah untuk wafat bagi kita; dan karena itu layaklah jika Ia mewariskan kenangan wafat-Nya itu, yang menjadi Perjanjian Baru dan Kekal antara kita manusia dengan Tuhan.

Di sini ‘perjanjian’ atau ‘covenant/ convenire (Latin)’ memiliki arti yang lebih dalam daripada sekedar kontrak. Perjanjian ini tidak menandai pertukaran harta milik, tetapi pemberian diri dalam relasi kasih, yang berlaku untuk selamanya. ((Lih. Scott Hahn, A Father Who Keeps His Promises, (Ann Arbor, Michigan, USA: Servant Publications, 1998), p. 24. “What is exactly a covenant? It comes from the Latin word ‘convenire’, which means ‘to come together’ or to agree; the English term ‘covenant’ involves a formal, solemn and binding pact between two or more parties. Juga Robert A Sungenis, Not by Bread Alone, (California, USA: Queenship Publication, 2000), p.11-12.)) Sejak kejatuhan Adam sampai kedatangan Kristus, Allah telah membuat perjanjian dengan bangsa Israel (‘the People of God’) melalui para bapa bangsa dan para nabi. Perjanjian ini (disebut Perjanjian Lama) ditandai dengan kurban penyembahan terhadap Tuhan dan kurban penebus dosa (Im 9:23) yang dipersembahkan melalui para imam (Kel 10:25-26). Melalui kurban ini, manusia diampuni dan dimampukan kembali untuk mengasihi Allah. Kurban inilah yang diteruskan oleh Gereja (‘the New People of God’) sebagai Perjanjian Baru dan Kekal di dalam Ekaristi -yang menjadi tebusan dosa manusia sampai akhir jaman. Ekaristi menjadi tanda belas kasihan Allah yang dinyatakan kepada Gereja dan melalui Gereja kepada segenap umat manusia.

Bagaimana Gereja menghadirkan Misteri Paska Kristus

Karena Misteri Paska merupakan hal yang terutama dalam Rencana Keselamatan Allah, maka Ekaristi yang menghadirkan Misteri Paska ini menjadi hal yang terutama dalam Gereja. Di dalam liturgi, Misteri Paska dihadirkan kembali karena jasa kebangkitan Kristus dan kuasa Roh Kudus. Di dalam liturgi, terutama Ekaristi, rahmat dicurahkan untuk pengudusan kita dan kemuliaan Tuhan, ((Lih. Sacrosanctum Concilium 10)) yang keduanya merupakan tujuan kehidupan spiritual kita. Jadi keikutsertaan kita di dalam liturgi, terutama dalam Ekaristi, adalah sesuatu yang sangat penting untuk pertumbuhan rohani kita, karena di dalam Ekaristi kita menerima rahmat pengudusan yang membuat kita mampu mencapai kepenuhan hidup, oleh karena kita dapat masuk dalam hubungan kasih yang mendalam dengan Allah.

Makna Liturgi Ekaristi

Di dalam kurban Ekaristi, para anggota Gereja menyatukan diri mereka dengan Kristus, Sang Kepala, untuk mempersembahkan pujian dan syukur kepada Allah Bapa. Di sini Kristus menjadi sekaligus Imam dan Kurban. Kata “Ekaristi” sendiri berarti ‘ucapan terima kasih kepada Allah’ (Lih. KGK 1328), dan sesungguhnya adalah doa Yesus Kristus kepada Allah Bapa. Keikutsertaan kita dalam doa Yesus yang disampaikan kepada Allah Bapa di dalam Roh Kudus adalah liturgi, (lih. KGK 1073) sehingga liturgi adalah suatu tindakan Yesus sebagai Kepala dan Gereja sebagai TubuhNya. ((Lih. Sacrosanctum Concilium 7.)) Yesus yang sungguh hadir di dalam liturgi Ekaristi, mengubah roti dan anggur oleh kuasa Roh Kudus menjadi Tubuh dan DarahNya, melalui perkataan-Nya yang diucapkan oleh imam, “Inilah TubuhKu, yang diberikan bagi-Mu…Inilah DarahKu yang ditumpahkan bagimu (Mat 26:26-28; Mrk 14:22-24; Lk 22:19-20).

Dengan mengambil bagian di dalam doa ini, kita menaikkan pikiran dan hati kepada Tuhan, dan di dalam iman, kita menerima rahmat yang tak terhingga, yaitu Kristus sendiri di dalam rupa hosti kudus, (lih. KGK 2559, 1373) yang menguduskan kita. Dengan demikian kita mengalami kepenuhan doa sebagai karunia Tuhan. Kita memberi kemuliaan kepada Tuhan, tidak hanya dengan menerima karunia itu, tetapi juga dengan memberikan diri kita kepada Tuhan, dalam arti kita ‘berdoa di dalam Roh’ (Ef 6:18) untuk menghidupkan di dalam batin kita kasih Bapa yang dinyatakan dalam Kristus untuk mendatangkan keselamatan bagi kita (lih. KGK 1073). Dengan Allah sendiri yang hidup di dalam kita, maka kita menjadi sungguh-sungguh ‘hidup’. Inilah yang disebut kemuliaan Tuhan.

Di dalam Ekaristi, kita menjadikan Karya Keselamatan Allah sebagai bagian dari diri kita sendiri, karena kita mempersatukan diri dan dipersatukan dengan Kristus yang menjadi Kurban satu-satunya yang dipersembahkan kepada Allah- yaitu Kurban yang menyelamatkan umat manusia. ((Lih. Redemptor Hominis, (Surat ensiklik Paus Yohanes Paulus II, Penyelamat Manusia), 7)) Dengan demikian, liturgi Ekaristi menjadi sumber doa dan tujuan doa kita. Karena itu, Ekaristi dikatakan sebagai puncak kehidupan Gereja, kesempurnaan kehidupan rohani dan arah tujuan dari segala sakramen Gereja (lih. KGK 1374).

Ekaristi mempersatukan kita dengan Kristus terutama dalam penderitaan kita

Doa menghantar seseorang kepada persatuan dengan Tuhan, sehingga ia dapat memiliki kehendak yang sama dengan kehendak Tuhan. Di dalam persatuan ini, Kristus bersatu dengan tiap-tiap orang, terutama mereka yang menderita. Di dalam Kristus, penderitaan manusia memperoleh arti yang baru yang berarti “melengkapi apa yang kurang dalam penderitaan Kristus” (Kol 1:24). Maksudnya adalah, karena Gereja sebagai Tubuh Kristus terus berkembang di dalam ruang dan waktu, maka penderitaan Kristus yang menyelamatkan juga dapat terus berkembang dan dilengkapi oleh penderitaan manusia. ((Lih. Salfivici Doloris (Surat Apostolik Paus Yohanes Paulus II, Tentang Arti Kristiani dari Penderitaan Manusia), 24.)) Di dalam penderitaan, manusia diajak untuk beriman lebih dalam, dengan cara mengubah pengertian kita tentang kebahagiaan untuk disesuaikan dengan kebahagiaan menurut pengertian Allah.

Prinsip kebahagiaan adalah: Allah ingin bersatu dengan kita. Jika kitapun demikian, dan menerima hal persatuan dengan Allah sebagai kebahagiaan kita, maka penderitaan atau kesenangan tidak menjadi masalah bagi kita. Sebaliknya, kita dapat menerima penderitaan kita, karena kita mengetahui bahwa di dalam Kristus, hal itu mendatangkan keselamatan bagi kita sendiri, bagi orang lain dan bagi semua orang berdosa secara umum. ((Lih. Jordan Aumann, Spiritual Theology, (New York, USA: Continuum 1980, reprint 2006), chapter 7. “Something is lacking to the passion of Christ, as St. Paul dared to say (Col 1:24) which must be contributed by the members of Christ cooperating in their own redemption… God accepts the suffering offered to Him by a soul in grace for salvation of another soul or for sinners in general.”)) Jadi penderitaan di dunia terjadi untuk mendatangkan kasih, ((Lih. Salfivici Doloris, 29-30.)) dan kasih yang memperbaiki dunia yang penuh dosa adalah keselamatan. Maka penderitaan berhubungan erat dengan keselamatan.

Ekaristi juga mengingatkan kita bahwa tidak ada Keselamatan jika tidak ada Salib; dan di dalam Kristus semua salib kita menyumbangkan arti bagi Keselamatan. Di dalam Ekaristi, kita dipersatukan dengan Kristus dan ikut ambil bagian di dalam penderitaan-Nya agar dapat pula mengambil bagian di dalam kemuliaan-Nya.

Ekaristi adalah contoh kerendahan hati Kristus

Di dalam Ekaristi, Kristus menyatakan pemenuhan janjiNya ketika berkata, “Akulah Roti Hidup yang telah turun dari sorga. Barangsiapa datang kepada-Ku, ia tidak akan lapar lagi. Jikalau seorang makan dari roti ini, ia akan hidup selama-lamanya… Aku akan membangkitkan dia pada akhir zaman” (Yoh 6:35,51,54,57). Dengan mengambil rupa roti, Yesus membuat Diri-Nya menjadi sangat kecil, meskipun sesungguhnya, bahkan surga-pun tidak cukup untuk memuat DiriNya. Yesus, yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri dan menjadi seorang hamba… sama dengan manusia. Dan… sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, dan sampai mati di kayu salib (Flp 2: 5-8).

Di dalam kerendahan hati-Nya, Dia menanggung penghinaan untuk dosa yang tidak pernah Dia lakukan. Sekarang, setelah Dia bangkit dari mati, Dia merendahkan diri secara lebih lagi, dengan mematuhi perkataan para imam-Nya, dan hadir di dalam rupa hosti, agar Dia dapat tinggal bersama kita untuk menghantar kita ke hidup yang kekal. Di dalam Ekaristi, Yesus mengajar kita tentang hal kemiskinan dan kerendahan hati. Dia mengambil rupa roti untuk dipecah dan dibagi-bagi, agar Ia dapat hadir ‘di dalam batas sebuah partikel yang kecil’ ((Lawrence G. Lovasik, The Basic Book of the Eucharist, (Manchester, New Hampshire, USA: Sophia Institute Press, 1960, reprint 2001), p. 31)) – hanya untuk menunjukkan bahwa Dia mau melakukan apa saja, untuk menyatakan betapa Dia mengasihi kita. Yesus yang sempurna merendahkan diri-Nya sampai ke titik ter-rendah, supaya kita yang rendah ini dapat dibawa kepada kesempurnaan Tuhan, dengan mengambil bagian di dalam kehidupan-Nya. Ia menjadi contoh bagi kita, supaya kita-pun mau berkurban untuk orang lain, supaya mereka dapat pula mengambil bagian di dalam kehidupan Allah.

Ekaristi membimbing kita kepada pengetahuan akan Tuhan, sebab di dalamnya kita melihat belas kasihan Allah dan kuasa Allah yang dinyatakan lewat perubahan roti dan anggur menjadi Tubuh dan Darah Kristus untuk menyelamatkan kita. Pada saat yang sama, kita dipimpin untuk sampai pada pengetahuan akan diri kita sendiri, sebab kita diingatkan akan dosa-dosa kita yang telah menyebabkan Dia wafat di Salib. Sungguh, Ekaristi merupakan contoh sempurna tentang kerendahan hati, yang menjadi dasar dari segala nilai-nilai kebijakan dalam Spiritualitas Kristiani. ((lih. St. Thomas Aquinas, Summa Theologiae II-II, Q. 161, a.5 ad 2. “…humility is said to be the foundation of the spiritual edifice.” )) (Lihat artikel: Kerendahan Hati: Dasar dan Jalan menuju Kekudusan) Ekaristi menyatakan dua kebenaran kepada kita: bahwa kita ini pendosa, namun sangat dikasihi oleh Tuhan. Dengan demikian, kita dapat belajar untuk dengan rendah hati menerima Dia yang sungguh-sungguh hadir di dalam Ekaristi, dan bahwa Ekaristi adalah cara Allah untuk mengasihi kita dan menyelamatkan kita.

Ekaristi membawa pada pertobatan yang terus menerus

Belas kasihan Tuhan yang dinyatakan di dalam Ekaristi membawa pertobatan, yang artinya ‘berbalik dari dosa menuju Tuhan’. Hal ini disebabkan karena kita tidak dapat bersatu dengan Tuhan yang kudus, jika kita tetap tinggal di dalam dosa. Pertobatan yang diikuti oleh pengakuan dosa yang menyeluruh adalah langkah pertama yang harus dibuat jika kita ingin sungguh-sungguh memulai kehidupan rohani. Langkah ini adalah pemurnian dari dosa berat (mortal sin). ((Lih. St Francis de Sales, An Introduction to the Devout Life, (Rockford, Illinois, USA: TAN Books and Publishers, 1994), p.14-15)) Sakramen Ekaristi tidak secara langsung menghapuskan dosa-dosa berat ini, namun Ekaristi secara tidak langsung menyumbangkan pengampunan atas dosa-dosa tersebut. ((Lih. Lawrence G. Lovasik, The Basic Book of the Eucharist, p. 77.)) Selanjutnya melalui Ekaristi, Tuhan memberikan rahmat pada kita agar kita sungguh-sungguh bertobat, ‘membenci’ dosa kita, dan hidup dalam pertobatan yang terus-menerus, sebab Dia membantu kita untuk melepaskan diri dari keterikatan yang tidak sehat kepada dunia, yang menurut Santo Franciskus de Sales adalah ‘segala kecenderungan untuk berbuat dosa’. Di dalam Ekaristi, kita ‘melihat’ penderitaan Kristus, sebagai akibat dari dosa-dosa kita, sehingga kita terdorong untuk menghindari dosa tersebut. Dengan pertobatan ini, selanjutnya kita dapat bertumbuh dengan berakar pada Kristus (lih. KGK 1394).

Ekaristi adalah Sakramen Kasih yang mempersatukan

Di atas segalanya, Ekaristi adalah sakramen Kasih. Ekaristi adalah tanda Kasih, yang disebut oleh Gereja sebagai agape, atau pax (damai). Ekaristi adalah pernyataan kasih Tuhan yang tak terbatas dan yang mengakibatkan dua jenis persatuan, yaitu persatuan dengan Tuhan melalui Kristus dan persatuan dengan sesama di dalam Kristus. Akibat dari persatuan ini adalah kasih yang tulus, yang menurut Santo Thomas adalah persahabatan antara manusia dengan Allah berdasarkan dengan kasih dan komunikasi dua arah, yang termasuk pemberian karunia kebahagiaan Tuhan kepada kita. ((Cf. St Thomas Aquinas, Summa Theology II-II, Q.23,a.1. “…since there is a communication between man and God, inasmuch as He communicates His happiness to us, some kind of friendship must needs be based on this same communication, of which it is written (1 Cor 1:9): “God is faithful: by Whom you are called unto the fellowship of His Son.” The love which is based on this communication is charity: wherefore it is evident that charity is the friendship of man for God.)) Dengan demikian, kebahagiaan Allah menjadi kebahagiaan kita. Hal ini membuat kita dapat melakukan perbuatan baik dengan siap sedia dan hati gembira, karena keinginan dan pikiran kita menjadi seperti keinginan dan pikiran Allah.

Ekaristi mendorong kita mengasihi sesama

Jelaslah, kasih kepada Tuhan mendorong kita untuk mengasihi sesama. Kristus telah memberikan perintah untuk mengasihi sesama sebagai perintah utama dalam kehidupan Kristiani, “Aku memberikan perintah baru kepada kamu, yaitu supaya kamu saling mengasihi; sama seperti Aku telah mengasihi kamu demikian pula kamu harus saling mengasihi. Dengan demikian semua orang akan tahu, bahwa kamu adalah murid-murid-Ku, yaitu jikalau kamu saling mengasihi ” (Yoh 13:34-35). Kasih di sini adalah kasih yang ‘memberikan diri’ (self-giving), terutama kepada yang miskin dan menderita, seperti yang diceritakan di dalam perumpamaan Orang Samaria yang baik hati. Di sini, orang yang miskin dan menderita, termasuk adalah mereka yang telah menyakiti hati kita dan mereka yang telah kita sakiti hatinya. Kasih mensyaratkan kita untuk melihat mereka sebagaimana Yesus melihat mereka, dan hanya rahmat Allah yang memungkinkan kita untuk melakukan hal ini. Jadi, Allah yang adalah Kasih, adalah sumber kekuatan bagi kita untuk mengasihi. Ekaristi sebagai sakramen kasih memberikan kepada kita rahmat pengudusan yang memampukan kita untuk bertindak sesuai dengan iman, pengharapan dan kasih; untuk memberikan hidup kita untuk mengasihi Tuhan dan sesama, karena kasih kita kepada Tuhan. ((Lih. 1Yoh 3:16; Yoh 15:13, Lumen Gentium 42, Dokumen Vtikan II, Konstitusi tentang Gereja.)) Jadi kesempurnaan kasih bukanlah semata-mata tergantung dari usaha manusia, tetapi adalah karunia yang diberikan dari Allah. ((Lih. Jordan Aumann, Christian Spirituality in the Catholic Tradition, p. 16))

Ekaristi membawa perubahan

Akibat dari rahmat Ekaristi adalah ‘perubahan‘. Yesus bukan hanya mengubah roti dan anggur menjadi Tubuh dan DarahNya, tetapi Dia melakukan sesuatu yang lebih dashyat lagi: Ia mengubah kita seutuhnya di dalam Dia dan mengisi kita dengan Roh Kudus yang sama yang membuat-Nya hidup. Dia mengubah keinginan kita untuk berbuat dosa menjadi keinginan untuk mengasihi. Dia mengubah kita, yang mempunyai keinginan hidup sendiri-sendiri menjadi keinginan untuk hidup dalam kebersamaan dalam damai. Sungguh, dengan menerima Ekaristi kita menjadi semakin dekat bersatu dengan Kristus (lih. KGK 1396), sehingga kita dapat terus menerus bertanya pada diri sendiri, “Apa yang akan dilakukan oleh Yesus, jika Ia ada di tempatku?” ((Lawrence G. Lovasik, The Basic Book of the Eucharist, p. 102)) Sikap ini akan membawa kita kepada jalan kekudusan, sebab kita terdorong untuk selalu mencari kehendak Tuhan di dalam segala sesuatu dan menyesuaikan diri kita dengan gambaran-Nya. Kita akan berusaha sedapat mungkin untuk mempergunakan segala kemampuan kita untuk memuliakan Tuhan dengan menyediakan diri bagi pelayanan kepada Tuhan dan sesama. ((Lih. Lumen Gentium 40)) Ekaristi mengubah kita ‘dari dalam’ sehingga kita dapat bertumbuh dalam kesempurnaan kasih yang menjadi kesempurnaan hidup rohani. Kepenuhan dan kebahagiaan hidup yang dicita-citakan oleh spiritualitas dicapai melalui pemberian diri kita di dalam Ekaristi, yaitu saat kita, bersama Yesus dan oleh kuasa Roh Kudus, mempersembahkan diri kita kepada Allah Bapa dan mengambil bagian dalam persatuan dengan kehidupan Allah Tritunggal Mahakudus. Di dalam Tuhan inilah kita dikuduskan.

Buah dari penerimaan Ekaristi tergantung dari sikap kita

Sungguh luas dan dalamlah makna Ekaristi dalam kehidupan rohani kita. Namun, buah dari penerimaan Ekaristi ini tergantung dari sikap kita. Semakin murni hati kita, semakin berlimpahlah rahmat yang kita terima. Sebab rahmat Tuhan yang berlimpah diberikan kepada kita di dalam Ekaristi, yang memberikan buah- buahnya yaitu: memperkuat persatuan kita dengan Allah (KGK 1391, 1396), meningkatkan dan memperbaharui rahmat Baptisan kita (KGK 1392), memisahkan kita dari dosa (KGK 1393-1395), mempersatukan kita sebagai tubuh Mistik Kristus (KGK 1396-1398). Oleh karena itu, kita harus menerima Ekaristi di dalam keadaan berdamai dengan Allah (tidak sedang dalam dosa berat) dan di dalam iman. Di dalam liturgi Ekaristi, pikiran kita harus bersatu dengan perkataan doa kita, dan kita harus bekerja sama dengan rahmat itu; jika tidak, kita menerimanya dengan sia-sia (lih. 2 Kor 6:1, KGK 1394)

Kita harus memiliki pikiran dan hati seperti Bunda Maria, yang mengambil bagian secara penuh di dalam Misteri Paska Kristus, dengan jawaban ‘YA’ yang total kepada Tuhan. Ia mempersembahkan dirinya seutuhnya kepada Allah- sambil menanggung penderitaan sebagai ibu, yang mencapai puncaknya pada saat ia melihat kesengsaraan dan kematian Anaknya di hadapan matanya sendiri, atas tuduhan dosa yang tidak pernah diperbuat oleh-Nya. Oleh karena itu, Bunda Maria menjadi teladan dalam hal iman, kasih dan persatuan yang sempurna dengan Kristus. ((Lih. Redemptoris Mater, (Surat ensiklik Paus Yohanes Paulus II, Bunda Penyelamat), 42)) Dengan menyerahkan segala kehendak bebasnya kepada Allah, Bunda Maria memberikan contoh kepada kita untuk bekerjasama dengan Allah.

Kesimpulan

Ekaristi adalah, “sakramen kasih, tanda kesatuan, dan ikatan kasih”, sebuah Perjamuan Paska di mana Kristus dikurbankan, untuk mengisi kita dengan rahmat yang menghantar kita kepada kehidupan kekal. ((Lih. Sacrosanctum Concilium, 57)) Sebagai sakramen kasih, Ekaristi menjadi sumber kekuatan bagi kita untuk mencapai kesempurnaan kasih yaitu kekudusan. Sebagai tanda kesatuan, Ekaristi menandai persatuan antara Tuhan dengan semua orang beriman (Gereja), dan melalui Gereja, dengan seluruh dunia. Sebagai ikatan kasih, Ekaristi mengarah pada persekutuan dengan Tuhan dan sesama. Sebagai Perjamuan Paska, Ekaristi menggambarkan tujuan akhir kita di surga. Sungguh, Ekaristi menjadi ‘Surga di Dunia’. Oleh karena itu, Ekaristi menjadi sumber dan puncak Spiritualitas Kristiani.

Kita harus bersatu dengan Kritus di dalam Ekaristi, jika kita ingin bertumbuh di dalam kekudusan untuk menjadi semakin serupa dengan Dia; sebab Ia adalah sumber kekudusan dan guru kesempurnaan. “Akulah pokok anggur dan kamulah ranting-rantingnya,” kata Yesus, “dalam hal inilah Bapa-Ku dipermuliakan, yaitu jika kamu berbuah banyak dan dengan demikian kamu adalah murid-murid-Ku” (Yoh 15:5,8). Kita harus tinggal di dalam Kristus dan Gereja-Nya, yaitu Tubuh-Nya, supaya kita dapat berbuah, yaitu kekudusan di dalam kesempurnaan kasih, untuk memuliakan Tuhan.

Jadi, kekudusan tidak tergantung dari usaha kita semata-mata, tetapi adalah pemberian Tuhan. Di dalam Ekaristi, Tuhan memberikan kasih dan rahmat pengudusan-Nya kepada kita, yaitu pada saat kita berpartisipasi dengan aktif di dalamnya, dengan mengakui bahwa Ia adalah Tuhan, dan kita membiarkan Ia mengasihi kita dan memberikan rahmat-Nya kepada kita sesuai dengan cara yang dikehendaki-Nya. Sebaliknya, kitapun memberikan segenap diri kita kepada Tuhan. Rahmat pengudusan Tuhan akan mengubah kita menjadi orang yang paling berbahagia, karena dapat memberikan diri kita kepada Tuhan dan sesama. Kita yang lemah dan berdosa dapat diubah Tuhan menjadi kudus, dan dimampukan oleh-Nya untuk melakukan perbuatan-perbuatan kasih yang di luar batas pemikiran manusia. Dan di sinilah kemuliaan Tuhan dinyatakan!

Keep in touch

18,000FansLike
18,659FollowersFollow
32,900SubscribersSubscribe

Artikel

Tanya Jawab