Home Blog Page 296

Memaknai Penderitaan: Memahami Kasih Allah yang Tak Terpahami

23

Dari Editor:

Terima kasih kepada Uti dan Yoyok yang telah bermurah hati membagikan kesaksian hidup mereka. Memang, masa penantian yang panjang akan kelahiran seorang anak dalam sebuah perkawinan, dapat mendatangkan bermacam perasaan dalam jiwa pasangan suami istri. Segala upaya dapat dilaksanakan, namun akhirnya, Tuhanlah yang menentukan. Dalam hal ini akhirnya, tiada yang dapat mendatangkan damai dan pengharapan, selain dari Allah itu sendiri.

Semoga kesaksian ini membuka mata banyak orang, bahwa dalam situasi apapun, Tuhan tidak pernah meninggalkan kita. Terutama dalam penderitaan batin, di mana tak seorangpun memahami kesusahan kita, di sanalah Allah secara lebih lagi mengasihi, menopang dan memberikan rahmat-Nya kepada kita. Bagi kita orang yang percaya kepada Allah, tiada yang dapat memisahkan kita dari kasih-Nya. “Sebab aku yakin, bahwa baik maut maupun hidup, ….baik kuasa-kuasa, yang di atas maupun yang di bawah… tidak akan dapat memisahkan kita dari kasih Allah, yang ada dalam Kristus Yesus, Tuhan kita,” (Rom 8:38-39)

Uti dan Yoyok, semoga pengalaman imanmu menguatkan juga banyak pasangan suami istri lain. Agar, mereka yang sudah dikaruniai anak-anak, dapat lebih mensyukuri rahmat anak-anak mereka, dan bagi mereka yang belum dikaruniai anak agar juga mempunyai pengharapan dan iman akan pertolongan Tuhan. Satu hal yang pasti, Tuhan akan memberi segala sesuatunya, indah pada waktu-Nya… (Pkh 3:11)


Bagian satu : Penderitaan kecilku, penderitaan sesamaku

“Hallo Bu Uti, selamat Natal ya…gimana dengan kemajuan pengobatannya ?” seorang kawan guru di sekolah menegurku selepas mengajar.

“Heei,… Bu Tineke sendiri bagaimana, sudah hamil nih ya sekarang ?” aku bertanya sepintas lalu pada kawan yang baru menikah kira-kira enam bulan lalu ini. Sebelumnya kuterangkan bahwa inseminasi ketiga yang baru saja kujalani kembali gagal, dan aku sampai berobat ke Singapura dengan hasil masih harus dioperasi (lagi). Karena aku sudah sempat menjalani operasi laparoskopi di Jakarta untuk problem endometriosis yang ternyata ditemukan dalam rahimku. Lalu Ibu Tineke menjawab pertanyaanku dengan pelan, seolah mau menjaga perasaanku, “Aku sudah Bu Uti, ini sudah jalan tiga bulan “ katanya lirih. Aku kaget, lalu segera menyahut spontan “Waah…senangnya….selamat yaa, semoga semuanya berjalan lancar dan baik, aduh, aku ikut senang”, kataku dengan tulus. Aku tidak mengira karena sesaat sebelum menikah rekanku Tineke ini baru saja menjalani operasi pengangkatan kista sebesar kepala bayi dari rahimnya. Kini ia sudah hamil tiga bulan. Setelah kami berpisah, aku berdoa dalam hati untuk keselamatan kehamilannya.

Kalau mau dihitung-hitung, potongan adegan seperti di atas sudah terjadi belasan kali, karena rekan-rekan guru di sekolah adalah orang-orang muda pada usia menikah dan melahirkan. Mereka semua tahu aku berganti status dari guru tetap menjadi tenaga honorer seperti ini dalam rangka usahaku untuk menjadi hamil. Tetapi tiga tahun telah lewat sejak aku berhenti bekerja sebagai guru penuh, dan aku masih mereka dapati berobat saja terus, tanpa ada berita tentang kehamilan. Kadang-kadang aku merasa tidak enak karena kabar kemajuanku sendiri mengenai usaha untuk menjadi hamil seringkali membuat suasana gembira pada teman-temanku yang baru saja menikah dan kemudian hamil menjadi berkurang. Tampaknya mereka menjadi prihatin atau merasa kasihan. Ah, benarkah demikian ? Atau itu hanya perasaanku saja sendiri ? Sambil berjalan sepanjang koridor, aku menelisik batinku sendiri, mencari rasa perih yang biasanya menelusup manakala aku mendengar teman-teman yang baru menikah sebulan atau beberapa minggu mengabarkan kehamilannya. Aku ingin tahu, masihkah perih itu ada di sana ? Masihkah pertanyaan ‘aku kapan ya?’ itu menggema mengiringi kegembiraanku kepada kawan ? Sekalipun aku banyak melupakan mengenai kehamilan saat aku pulang ke Malang kemarin (seperti biasa, lupa kesedihan bila sedang berada dekat Bapak Ibu dan kampung halaman), tetapi ternyata aku masih menemukan kepedihan itu di sana, jauh tersembunyi di dalam relung hatiku yang berkelok-kelok seperti labirin. Aku menghela napas panjang, seperti berusaha untuk mengusir perih itu jauh-jauh dari labirin hatiku. “Apa-apan kamu, jangan bersedih dong, harus bergembira dengan orang yang bergembira”. Lalu aku melanjutkan lagi kegiatanku sambil mengubur perasaan sedih itu dalam-dalam.

Sampai di rumah, aku menghidupkan televisi. Sambil melepas lelah, aku memperhatikan, hampir semua stasiun TV masih memberitakan mengenai tragedi Aceh. Sudah hari keduabelas, pikirku, dan keprihatinan dunia belum luntur juga. Aku melihat anak-anak yang kehilangan orang tua, orang tua yang berusaha mencari anaknya yang hilang tak tentu rimbanya, menyaksikan orang-orang selamat yang begitu kosong tatapannya karena masih trauma. Seandainya aku ada di posisi mereka, duh, tak terbayangkan beratnya. Sejenak aku memanggil kesedihanku dari labirin hati dan larut dalam kesedihan yang kulihat di televisi. Sebelum mataku terpejam untuk tidur siang, hatiku bertanya, “Tuhan, apa sebenarnya rencanaMu yang penuh misteri ? Mengapa kami harus melihat dan mengalami kepahitan-kepahitan hidup seperti ini ? Mengapa tidak Kau permudah hidup kami yang sudah lelah dengan keluh kesah ini ?” Sebelum aku tertidur, masih tertangkap olehku gambar Yesus yang begitu tegas tetapi damai penuh wibawa menatapku dari meja doa di ujung tempat tidurku. Seandainya aku boleh bermimpi bertemu Engkau, Tuhan, dan mendengarkan suaraMu menerangkan semua pertanyaanku ini. Tetapi Tuhan tetap diam, dan gambar Yesus itu tetap tidak berubah, seperti biasanya. Sudah sifat Tuhan untuk tidak berbicara terang-terangan kepada manusia barangkali, pikirku, kecuali kepada orang-orang kudus pilihanNya. Lalu bagaimana kami dapat survive ?

Bila aku menengok kembali usahaku selama 6 tahun aku menikah untuk bisa menjadi hamil, entah sudah berapa jenis dan tempat pengobatan alternatif yang kami datangi, entah sudah berapa nama dokter yang kami kunjungi, berapa jenis suplemen yang sudah kami telan, berapa banyaknya jenis pemeriksaan yang menyakitkan, serta berapa panjangnya doa yang kami panjatkan siang dan malam nyaris tak pernah putus supaya Tuhan berbelaskasihan, tetapi rasanya Tuhan tetap diam. Sepertinya Dia tak bergeming.

Sementara aku berjuang tak pernah putus, setiap saat aku harus berhadapan dengan teman-teman yang begitu mudah menjadi hamil. Baik teman-teman guru di sekolah maupun para tetangga. Tak berapa lama setelah mereka menikah, kehamilan itu pun datang. Atau kapanpun mereka menginginkan anak kedua, dengan sedikit sekali upaya, mereka pun hamil. Entah apa namanya, mungkin iri hati. Tetapi setiap aku tersenyum lebar memberi selamat kepada mereka, jauh di dalam hatiku, aku menangis. Setelah sekian lama peristiwa itu terjadi, lama-lama aku menjadi kebal dan telah terbiasa, walaupun perasaan sedih itu tidak pernah sama sekali hilang. Paling aku hanya menghibur diri “Tiap orang punya jalan hidupnya sendiri-sendiri”

Pertanyaan “Mengapa saya” sudah lama berlalu dari benakku. Aku menyadari bahwa orang lain pun punya beban yang jauh lebih berat dari bebanku. Dan bahwa hidup ini memang penuh dengan harapan-harapan yang tak terpenuhi. Bukannya aku tak menyadari itu semua. Aku juga bukannya tidak bersyukur atas karunia Tuhan pada hidupku yang begitu berlimpah, dan rasanya tak pantas manusia penuh dosa seperti aku ini menerima berkat sebegitu banyaknya. Bukan, aku bukannya tidak bersyukur dan tidak mau menanggung salib kehidupan. Yang terjadi sebenarnya adalah bahwa penderitaan yang kualami dan kulihat pada sesamaku selalu menggiringku pada pertanyaan “Tuhan, Engkau di mana ? Semua kehidupan ini, Kau maksudkan kemana ? Kau ingin kami bagaimana, Tuhan ? “ Karena Tuhan tidak pernah menjawab secara verbal dan gamblang, aku menyadari bahwa aku harus aktif mencari sendiri jawabannya. Kehendak bebas yang menjadi bukti nyata kasihNya yang tidak pernah memaksa itulah kurasa yang membuatku yakin bahwa kita bebas memaknai hidup kita sendiri. Musibah dan penderitaan hidup memang bukan pilihan bagi setiap orang. Pilihan manusia adalah mau tetap menjadi optimis, penuh harapan, dan tenang dalam penderitaan itu, atau mau memilih untuk menjadi putus asa, meratap, dan menggerutu berkepanjangan. Ngomong memang enak, tetapi melaksanakan, apakah bersukacita dan berpengharapan dalam kesesakan itu bukan sesuatu yang musykil untuk dilakukan ?

Bagian dua : Penderitaan Kristus memaknai penderitaanku

Benarkah Tuhan tak bergeming ? Benarkah Ia hanya diam melihat ratapan manusia dengan berbagai pergumulannya yang sering tak tertahankan ?

“Tetapi penderitaan kitalah yang ditanggungNya, dan penyakit kitalah yang dipikulNya. Dan oleh bilur-bilurNya, kita menjadi sembuh.” Melihat kepada hidup Yesus memang sarat dengan penderitaan. Ditolak oleh bangsanya, dibenci oleh pemuka Yahudi, dan diakhiri hidupNya dengan paksa dan sadis. Hidup Yesus dan Maria pun penuh dengan penderitaan sejak Yesus hadir di tengah-tengah mereka. Dikejar-kejar Herodes sampai ke Mesir, dicibir oleh orang sekampung halaman, dan puncaknya harus melihat putera satu-satunya disiksa dengan keji sampai mati di depan mata. Jadi apa sebenarnya pesan Tuhan dalam penderitaan ? Apakah justru lewat penderitaan Ia mencurahkan kasih dan rahmatNya yang begitu besar ? Sulit sekali pikiran manusiawi kita memahami kalimat seperti itu. Tetapi paling tidak kita melihat solidaritas Tuhan kepada penderitaan manusia. Bila kita sengsara, kita tahu bahwa Tuhan sudah lebih dulu mengalaminya untuk kita. Kita tahu bahwa Tuhan bukan cuma semena-mena membiarkan kita sengsara. Ia sudah tahu apa itu sengsara, dan sudah mengalaminya bagi kita. Lalu bila kita renungkan, kapan manusia merasakan Tuhan begitu dekat dan hangat ? Apakah pada saat segala sesuatu berjalan lancar, semua anggota keluarga sehat berkumpul, rejeki mengalir, dan hidup terasa mulus tiada hambatan ? Di manakah Tuhan kita tempatkan dalam keadaan seperti itu ? Biasanya Tuhan hanya hadir dalam rutinitas yang sering menjadi kering makna oleh kesibukan dan kedamaian kita.

Jadi, apakah penderitaan dipakai Tuhan untuk menarik kita lebih dekat lagi kepadaNya ? Bukan sekedar dekat di mata dan di bibir, tetapi dekat di hati yang terdalam ? Mungkin saja. Kalau begitu, dari kacamataNya, yang paling penting bukan situasi hidup di dunia ini, tetapi hidup kita di akhirat nanti. Bila hidup di dunia baik-baik saja, tetapi tidak membawa manusia kepada Tuhan, maka lebih baik hidup di dunia menderita, tetapi hidup di akhirat bahagia bersama Tuhan di surga. Tapi bukankah kita akan memilih hidup bahagia di dunia dan di akhirat ? Di sinilah pilihan bebas kita berperan. Kita bisa memilih untuk tetap bahagia karena kasih Tuhan yang selalu menyertai kita, sekalipun secara fisik kita menderita. Oh, semudah itukah ? Tentu saja tidak. Kita harus punya strategi untuk menghadapinya. Jadilah tulus seperti merpati, tetapi cerdik seperti ular, kata Kitab Suci.

Bagian tiga : Pilihan bebas kita adalah benih-benih kekekalan

Hidup kita yang pendek di dunia ini adalah masa untuk menabur. Lalu semua orang akan mengalami kematian. Tanpa terkecuali. Seandainya tidak ada kebangkitan orang mati, segala sesuatu yang kita hidupi di dunia ini akan lenyap. Bagaimana kita dapat mempercayai Allah yang mencintai kita tanpa syarat, kalau segala suka duka hidup kita sia-sia, lenyap bersama dengan matinya tubuh kita ? Karena Allah mencintai kita tanpa syarat sejak kekal sampai kekal, Ia tidak dapat membiarkan tubuh kita lenyap dalam kehancuran.

Hidup di dunia adalah masa ditaburkannya benih-benih kebangkitan. St. Paulus berkata, ditaburkan dalam kebinasaan, dibangkitkan dalam ketidakbinasaan. Ditaburkan dalam kehinaan, dibangkitkan dalam kemuliaan. Ditaburkan dalam kelemahan, dibangkitkan dalam kekuatan. Yang ditaburkan adalah tubuh alamiah, yang dibangkitkan adalah tubuh rohaniah. Jadi, tidak ada yang sia-sia dalam hidup badani kita, semua suka duka yang ditanggungnya memuat panggilan bagi kita untuk menghayati setiap saat dalam hidup kita sebagai benih-benih keabadian di surga kelak. Bagaimana kita mempercayai semua ini ? Itulah iman. “Iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat” (Ibrani 11 : 1). Iman adalah untuk kita orang-orang di dunia. Para Kudus di surga tidak lagi mempunyai atau membutuhkan iman, karena mereka sudah melihat Allah, bersama Allah. Seperti dalam Alkitab : “Tetapi pengharapan yang dilihat, bukan pengharapan lagi; sebab bagaimana orang masih mengharapkan apa yang dilihatnya ? Tetapi jika kita mengharapkan apa yang tidak kita lihat, kita menantikannya dengan tekun” (Roma 8 : 24b-25).

Bagian empat : Menderita jasmani tidak harus berarti menderita rohani

Jadi bagian kita dalam hidup ini utamanya adalah bersama Tuhan. Pilihan-pilihan kita terhadap situasi apapun dalam hidup kita, akan menentukan apakah kita mau menjalaninya di dalam Tuhan atau tidak. Bayangkanlah sebuah keluarga yang semuanya baik dan segala kebutuhan terpenuhi. Tetapi mereka tidak merasa membutuhkan Tuhan, tidak merasa perlu untuk berbagi kekuatan dan iman antar sesama anggotanya, membiarkan relasi dengan Tuhan digerogoti pelan-pelan. Ini memang keluarga yang sehat jasmani, tetapi tidak sehat rohani. Keluarga yang lain menderita sakit secara fisik, keprihatinan karena penderitaan, tetapi semuanya menyatu dalam iman dan pengharapan kepada Tuhan. Berelasi setiap saat dalam doa. Keluarga kedua ini memang sakit fisiknya, tetapi tidak sakit rohaninya. Rohaninya justru sehat walafiat karena terlatih oleh berbagai-bagai penderitaan yang dilaluinya bersama Tuhan. Mana yang menabur benih-benih kekekalan ? Tentu keluarga kedua walaupun secara jasmani menderita penyakit. “Jadi, karena Kristus telah menderita penderitaan badani, kamu pun harus juga mempersenjatai dirimu dengan pikiran yang demikian-karena barangsiapa telah menderita penderitaan badani, ia telah berhenti berbuat dosa, supaya waktu yang sisa jangan kamu pergunakan menurut keinginan manusia, tetapi menurut kehendak Allah (1 Petrus 4: 1-2)

Bagian lima : Sepenuhnya tak berdaya = tak berjarak lagi dengan Tuhan

Betapa indahnya bila kita diijinkan memikul salib bersama Tuhan. Ia mengijinkan kita ambil bagian dalam penderitaanNYa. Bila kita sabar dan setia, tak pelak lagi, Ia juga akan memberi kita bagian dalam kemuliaanNYa. Sampai di sini, menjadi jelaskah arti penderitaan hidup itu bagi keselamatan jiwa kita ? Tidakkah kita justru menganggap kesedihan dan kesengsaraan adalah benih-benih yang mempersiapkan kita untuk memasuki kehidupan yang sesungguhnya kelak ? Sebuah kesempatan emas untuk hanya bergantung kepada Tuhan dan merasakan kekuasaan kasihNya sepenuh-penuhnya, tanpa halangan. Kita menjadi sepenuhnya tak berdaya. Sepenuhnya bergantung. Kita menjadi tidak berjarak lagi dengan Tuhan. Seperti hewan, mereka adalah mahluk tak berdaya yang tidak berjarak dengan Tuhan. Sepenuhnya bergantung. Seekor ayam dapat makanannya langsung dari kemurahan Tuhan. Gajah-gajah di Thailand yang tak berdaya selamat dari gelombang tsunami. Mereka selamat karena insting mereka, langsung dari kemurahan Tuhan. Saat gempa pertama terjadi di Aceh, ribuan mil dari tempat mereka berada, para gajah itu tiba-tiba mengeluarkan suara seperti menangis. Sejam kemudian mereka lari tunggang langgang menjauhi pantai. Para turis dan pawang keheranan. Tapi tak lama, karena setelah gajah-gajah itu berhenti lari di dalam hutan, gelombang laut pertama menerjang masuk ke daratan. Terjangan air itu berhenti tepat di belakang rombongan gajah-gajah yang berlarian itu berhenti.

Seandainya kita tidak berjarak dengan Tuhan, sungguh-sungguh hanya bergantung kepadaNya, percaya dan berserah total akan penyelenggaraanNYa, pasti kita akan mempunyai insting iman dalam segala perkara hidup ini, bak gajah dan ayam yang hanya mengandalkan kemurahan Tuhan saja. Dalam ketidakberdayaan itu, bukan hanya segala keangkuhan, kesombongan, dan tinggi hati tidak mendapat tempat lagi, tetapi juga segala bentuk kekhawatiran dan kecemasan, tidak eksis lagi.

Bagian enam : Makan iman ganti makan kekhawatiran

Bersama Tuhan, jasmani atau hati kita boleh sakit, tapi rohani aman. Selama rohani kita aman bersama Tuhan, bukan hanya kita mampu menghadapi sakit hati dan jasmani kita, tetapi bahkan jasmani dan hati itu pun bisa ikut-ikutan jadi sembuh seperti halnya rohani kita yang selalu terpelihara sehat dekat Tuhan. Mengkhawatirkan hari esok adalah makanan sehari-hari manusia modern. Setelah 6 tahun berjuang tanpa hasil, hari-hari belakangan ini aku mulai dirambati pegel linu kekhawatiran. Aku mulai bertanya “Bagaimana bila aku tidak akan pernah bisa punya anak ? “ “Bagaimana hari tuaku bersama Yoyok nanti ?” “Alangkah sepinya rumah kami nanti, sampai kapan kesepian ini akan terus berlangsung” dan sejumlah pertanyaan bagaimana-bagaimana yang lain.

Dalam Kitab suci, kekhawatiran diibaratkan sebagai seekor singa yang mengaum-ngaum mencari mangsa di sekeliling kita. Kita bisa habis olehnya sebelum peristiwa apapun benar-benar terjadi pada kita. Betapa sia-sianya kegiatan khawatir itu. Tetapi juga betapa sulitnya mengelolanya agar tidak menguasai kita.

Stress manusia modern terbesar adalah mereka tidak pernah berada pada saat ini, di tempat ini, sekarang ini. Pikirannya terus melayang ke masa depan. Bukan hanya masa depan yang jauh, tapi juga nanti siang makan apa, nanti sore dalam meeting harus bicara apa, besok presentasi ke atasan harus bagaimana. Tentu saja hal itu perlu untuk perencanaan dan atisipasi. Namun tidak berarti kita mendahului waktu untuk tiba lebih dulu di masa depan yang belum tiba. Hanya sedikit sekali manusia yang sungguh hadir pada saat ini, detik ini, dan menikmatinya sepenuh-penuhnya. Sebab, tahu apa kita tentang hari esok ? Sudah susah-susah mikir gimana kalau tua kelak nggak punya anak, eh, tahu-tahu dalam semenit ada gelombang tsunami menggulung semuanya habis tak bersisa. Stress memikirkan harus berargumen dengan bos besok pagi ? Sudah sulit tidur semalaman, eh,.. tahu-tahu esok pagi itu matahari tidak terbit, seluruh bumi gelap gulita karena ada awan debu muntahan gunung berapi, dan sebagainya. Hari esok, termasuk semenit ke depan, adalah abstrak. Satu-satunya yang nyata dan kita miliki secara riil adalah saat ini, detik ini. Nikmatilah itu sebaik-baiknya, hayatilah setiap detik hidup ini dengan penuh syukur. Kita tidak perlu bersusah memikirkan hari esok yang belum tentu terjadi, dan belum tentu terjadi seperti yang kita pikirkan. What a waste ! Tuhan kita adalah Tuhan atas hari esok. Seperti burung pipit yang selalu diberi makan oleh Allah tetap hidup nyaman walaupun tidak pernah pusing oleh hari esok.

Berikut adalah petikan ilustrasi Anthony de Mello, SJ tentang pengelolaan kekhawatiran akan hari esok :

1) Buddha pernah ditanya : ‘Siapakah yang disebut orang suci ?’ Jawabnya : “Setiap jam terbagi atas sejumlah detik tertentu, dan setiap detik ada bagian-bagiannya lagi. Barang siapa mampu memberi perhatian penuh pada setiap bagian detik itu, sungguh pantas disebut orang suci. ‘

2) Seorang prajurit Jepang ditangkap oleh musuhnya dan dimasukkan ke dalam penjara. Semalaman ia tidak dapat tidur, karena yakin bahwa keesokan harinya ia akan disiksa dengan kejam. Tiba-tiba kata-kata Guru Zen-nya terlintas dalam ingatan. “Hari esok bukanlah kenyataan . Satu-satunya kenyataan adalah saat sekarang ini.’ Maka ia kembali pada saat sekarang – dan tertidur lelap.

3) Orang yang tidak dikuasai oleh masa depan bagaikan kawanan burung di angkasa dan rumpun bunga bakung di padang. Ia tidak kuatir akan hari esok. Segalanya adalah hari ini. Sungguh, dia itulah orang suci.

Dan bagaimana kita menikmati hari ini, saat ini, detik ini ? Tuhan sudah menyediakan begitu banyak untuk kita nikmati dan syukuri. Bangun pagi ada kehangatan matahari, kicauan burung yang merdu. Dengarkanlah, nikmatilah, syukurilah. Bangkit dari tempat tidur ada kamar yang bersih, terlindung dari panas dan hujan, ada perlengkapan tidur yang baik, perhatikanlah, nikmatilah, syukurilah. Keluar dari kamar ada senyum orang rumah, sehat, hidup, kaya akan keunikan. Sapalah, nikmatilah, syukurilah. Lalu mulailah kerjakan satu demi satu apapun yang kau kerjakan dengan penuh penghayatan. Ambil gelas, mengaduk gula, menuang teh, penuh konsentrasi, penuh syukur. Jangan biarkan pikiran mengelana ke masa depan, bahkan sejam ke depan. Kerjakan dan hayati penuh syukur apa yang kau lakukan saat ini, detik ini. (Catatan : cara hidup seperti itu dalam ilmu kesehatan mental India disebut meditasi Vipassana, jadi itu adalah meditasi sebenarnya, mencoba memusatkan perhatian detik demi detik apapun yang kita lakukan)

Jangan kita menganggap biasa bila orang bangun pagi, terus ke kantor, lalu pulang lagi ke rumah dengan selamat, lalu makan dan tidur. Jangan sekali-kali menganggap itu biasa, rutin, dan membosankan. Itu adalah luar biasa ! Itu adalah hadiah ! Itu adalah pemberian ! Bagi para korban tsunami di Aceh yang selamat, hanya dalam beberapa menit mereka tidak lagi pergi ke kantor, tidur dengan normal, dan makan dengan cukup. Bagi orang yang sedang sakit parah di rumah sakit, kegiatan buang air kecil dan buang air besar yang bagi kita biasa bisa menjadi sangat menyakitkan dan tidak enak. Hidup ini adalah hadiah, dan setiap hari yang baru adalah kesempatan indah yang tidak pernah sama. Diberikan oleh Tuhan untuk kita syukuri dan nikmati dengan baik, sambil belajar menangkap suara Allah lewat berbagai peristiwa yang tidak pernah sama setiap hari, dalam rutinitas sekalipun, bila kita mau menghayatinya. Setiap detik adalah berharga, dan setiap karakter orang yang kita jumpai adalah unik dan berharga, begitu kaya, tak pernah sama setiap hari. Oh, betapa kayanya hidup itu ! Terlalu kaya untuk kita lewatkan begitu saja. Selalu ada yang bisa kita syukuri pada detik ini. Bila berpikirnya melayang ke depan, tidak bisa bersyukur, karena hanya kekhawatiran yang ada. Bila menjalaninya setiap detik, maka yang ada hanya syukur karena masih diberi hidup, teman, udara pagi, dan lain-lain. Dan dengan begitulah kita menabur benih-benih kekekalan untuk hidup yang akan datang, karena hidup yang diberikan Tuhan saat ini tidak pernah kita sia-siakan.

Percayakan hari esok kita kepada Tuhan. Ia adalah Tuhan atas hari esok. Karena cintaNya, Ia punya rencana yang indah di hari esok, buat masing-masing kita. Tak peduli betapapun beratnya penderitaan kita saat ini, rencana Tuhan hanyalah indah semata. KasihNya terlalu besar dan kuasaNya terlalu agung, untuk membiarkan kita hanyut dalam arus kehidupan yang memisahkan kita dari kasihNya yang tak terpahami. Tak terpahami karena besarnya dan agungnya, sehingga setiap detik hidup ini terasa begitu berharga. Dan di balik setiap peristiwa hidup adalah tak lain tuntunan kebijaksanaanNya bagi kita.

Dalam perjalanan pengobatan medis yang kami jalani di 6 tahun pertama pernikahan, kami akhirnya juga mempunyai kesempatan dan memenuhi syarat untuk menjalani program bayi tabung yang disarankan dokter sebagai alternatif terakhir dari perjalanan usaha kami yang panjang. Tetapi kami sadar Gereja tidak menyetujuinya. Kami tidak ingin melukai hati Tuhan. Maka kami pun memutuskan untuk tidak akan pernah melakukannya. Karena kami yakin Tuhan tahu apa yang sedang Dia lakukan dan sedang Dia ijinkan terjadi pada kami, kami percaya sepenuhnya bahwa Dia sedang bekerja melalui segala sesuatu bagi kebaikan kami

Bagian tujuh : Penutup

Bagi aku dan Yoyok, filsafat hidup yang ingin kami pegang erat adalah filsafat “Wis Embuh” (bahasa Jawa yang artinya : nggak tahu deh). Hari depan kami ada di tangan Allah. Karenanya kami tidak perlu merasa khawatir. Bahkan memikirkannya pun tidak perlu. Kami tahu siapa yang memegang hidup kami. Wis Embuh adalah pegangan kami mengarungi hidup ini. Wis embuh berarti percaya dan pasrah total kepada penyelenggaraan Allah. Tak berjarak lagi dengan Allah. Seperti ayam, seperti burung pipit, yang dipelihara Allah. Kami mau menyerahkan semua ke dalam tangan Allah. Bila kami sibuk memikirkan atau mengkhawatirkannya lagi, berarti kami mengambilnya lagi dari tangan Allah, mengulik-uliknya lagi, mengotak-atiknya lagi. Berarti kami tidak percaya Allah sudah dan akan selalu menghandle-nya dengan baik. Kekhawatiran dan kesedihan adalah persembahan yang Allah berkenan. Serahkan saja semuanya itu kepadaNya, biar jadi milikNYa, bukan milik kita. Dia yang akan mengurus dan menghandlenya untuk kita. Kini telah sepuluh tahun kami mengarungi bahtera rumahtangga berdua saja, belum lagi bersama kehadiran tawaria dan canda anak-anak buah cinta yang kami rindukan. Namun kasih Allah Bapa yang tak terukur mendampingi kami dengan cara yang luar biasa unik dan nyata, yang sulit kami ceritakan dengan singkat karena kaya dan halusnya, sehingga kami tak sedikitpun merasakan kekurangan kasih Allah yang maha Hadir.

SABAR MENANTI WAKTU TUHAN
Di dalam hidup ini, semua ada waktunya.
Ada waktunya kita menabur….. ……… ……… ….
Ada juga waktu menuai…… ……… ……… ……… …….
Mungkin dalam hidupmu bagai datang menyerbu,
Mungkin doamu bagai tak terjawab !
Namun yakinlah tetap.
Tuhan tak’kan terlambat!
Juga tak akan lebih cepat
Semuanya…. ……… ……… ……… ….
Dia jadikan indah tepat pada waktuNya.
Tuhan selalu dengar doamu !
Tuhan tak pernah tinggalkanmu !
PertolonganNya pasti’kan tiba tepat pada waktuNya.
Bagaikan kuncup mawar pada waktunya mekar
Percayalah.. ……… ……… ……… ……… …..
Tuhan jadikan indah pada waktuNya.
Hendaklah kita s’lalu hidup dalam firmanNya.
Percayalah kepada Tuhan !
Nantikan Dia bekerja pada waktuNya.
Tuhan tak akan terlambat
Juga tak akanterlalu cepat
Ajarlah kami setia slalu menanti waktuMu Tuhan
(1 Korintus 10 : 13 & Pengkotbah 3 : 11a)

Uti-

Serpong, 8 Januari 2005

Diedit di Milan, 3 Juni 2009

Mengapa manusia pertama jatuh dalam dosa?

22

Pertanyaan:

bu Ingrid,
bila manusia sekarang punya kecenderungan berdosa/concupiscence akibat dari dosa manusia pertama, lalu kenapa manusia pertama bisa berbuat dosa bukankah waktu itu dia belum punya concupiscence?
kalau manusia pertama tanpa concupiscence tapi tetap berbuat dosa, bukankah itu artinya ada kesalahan pembuatan (spt mobil yg cacat produksi, walaupun dipakai dgn baik tetapi mogok)?

waktu Allah melihat semua ciptaan Nya baik: apakah waktu itu Allah tidak tahu bahwa manusia pertama akan berdosa dan keturunannya akan mempunyai concupiscene, shg Allah memutuskan beristirahat pada hari berikutnya?

bolehkah kita beranggapan bahwa penciptaan tidak langsung selesai ketika Allah menciptakan manusia pertama, tetapi karya penciptaan baru benar-benar selesai ketika Yesus disalib. Karena hanya dengan adanya Yesus yg mematahkan dosa awal & mengalahkan concupiscence, yg mendamaikan manusia di dalam diriNya, maka Allah dapat melihat semua ciptaanNya baik… dan dari salib Yesus berkata: “Sudah selesai” lalu baru saat itu Tuhan beristirahat?

Jawaban:

Shalom Fxe,
1) Manusia pertama jatuh ke dalam dosa, memang bukan karena concupiscence. Karena concupiscence/ ‘kecenderungan berbuat dosa’ itu hanya terjadi sebagai akibat dari kejatuhannya di dalam dosa. Menurut St. Thomas Aquinas, dalam Summa Theologica II-II, q. 163, a.1, mengutip Sir 10:13, “Kecongkakan adalah permulaan dari dosa.” “dosa masuk ke dalam dunia oleh dosa satu orang…” Maka dosa pertama dari manusia adalah kesombongan.

Kita ketahui bahwa Allah menciptakan manusia pertama baik adanya, dengan diberikannya 4 rahmat yang disebut 4 peternatural gifts, yang adalah: (a) immortality/ tidak tunduk terhadap kuasa maut, (b) immunity from suffering / tidak dapat menderita, (c) infused knowledge, (d) integrity, yaitu harmoni dan tunduknya segala macam keinginan dan emosi dari kedagingan kita kepada reason (akal budi) (Lih KGK, 405, 337).

Maka dosa kesombongan di sini tidak disebabkan oleh concupiscence, yang mengacu kepada ketidakteraturan keinginan daging, karena sebelum jatuh dalam dosa, Adam dan Hawa mempunyai yang disebut sebagai the gift of integrity, yaitu segala keinginan daging yang tunduk kepada akal budi.
Menurut St. Thomas, dalam hal ini yang ada adalah ketidakteraturan keinginan rohani yang melampaui takaran yang ditetapkan Allah.
Hal ini dimungkinkan karena manusia selain diciptakan dengan akal budi, juga diberi kehendak bebas. Akal budi dan kehendak bebas inilah yang juga terdapat pada para malaikat, dan kita ketahui bahwa ada sejumlah malaikat yang juga yang memilih untuk tidak taat kepada Allah.
Oleh karena itu, kenyataan bahwa manusia jatuh ke dalam dosa kesombongan ini, bukan disebabkan pertama-tama karena Hawa ‘terpikat’ oleh buah itu secara fisik, tetapi karena Hawa ‘terpikat’ oleh janji yang disebutkan oleh Iblis, bahwa setelah makan buah itu maka ia akan “menjadi seperti Allah” (Kej 3:5).

2) Jadi dengan pengertian ini, maka bukan berarti manusia diciptakan seperti ‘barang salah produksi’ sehingga jatuh dalam dosa. Alkitab malah menyebutkan bahwa setelah menciptakan manusia, “Allah melihat semua yang dijadikan-Nya itu sangat baik” (Kej 1: 31), padahal pada hari- hari sebelumnya ‘hanya’ dikatakan “baik”. Justru karena diciptakan secitra dengan Allah, maka manusia dapat memilih sendiri apa yang menjadi keinginannya, yaitu untuk taat kepada-Nya maupun menolak-Nya. Sayangnya manusia pertama memilih untuk menolak kasih Allah dan menolak taat kepada Allah, karena lebih percaya kepada bujukan Iblis. Oleh karena itulah, Yesus, sebagai Adam ke-dua ‘memperbaiki’/ memulihkan kejatuhan ini dengan menyatakan kasih kepada Allah Bapa dengan ketaatan yang sempurna terhadap kehendak Allah Bapa, dengan menyerahkan nyawa-Nya di kayu salib demi menyelamatkan umat manusia.

3) Allah yang Mahatahu sudah mengetahui bahwa menciptakan manusia dengan akal budi dan kehendak bebas dapat menyebabkan manusia dapat menolak Dia. Tuhan tidak terkejut dengan dosa manusia pertama tersebut, yang akhirnya diturunkan kepada semua manusia. Maka sudah menjadi rencana-Nya pula bahwa Ia akan mengutus Putera-Nya Yesus untuk menebus dosa umat manusia.

4) Maksud Allah beristirahat pada hari ke-tujuh adalah untuk memberikan teladan kepada kita untuk beristirahat pada hari Tuhan yaitu pada hari Minggu [hari Sabbath pada Perjanjian Lama].

Memang ini ada kaitannya dengan wafat dan kebangkitan Kristus.  Hari kebangkitan Kristus yang terjadi pada ‘hari pertama dalam minggu itu’ (Yoh 20:1), bagi orang Kristen akhirnya menggantikan hari Sabbath Yahudi. Hari Sabbath yang dimaksudkan sebagai hari beristirahat setelah Penciptaan manusia disempurnakan oleh Kristus melalui hari Minggu Paskah yang menandai hari Keselamatan yang menjadikan manusia menjadi ciptaan yang baru.

5) “Sudah selesai” sebagai perkataan Yesus yang terakhir sebelum wafat-Nya lebih mengacu kepada pernyataan sudah dipenuhinya segala tugas yang dipercayakan oleh Allah Bapa kepada-Nya di dunia. Atau dengan kata lain misi Inkarnasi-Nya sudah selesai.
Tuhan sendiri tidak pernah beristirahat dalam arti yang harafiah, sebab Ia terus berkarya, baik dalam penciptaan maupun dalam penyelenggaraan Ilahi-Nya.
Oleh wafat Kristus di salib, kuasa maut dan dosa dipatahkan. Oleh karena itu di dalam Pembaptisan, kita dikuburkan bersama Yesus (maksudnya meninggalkan segala dosa/ mati terhadap dosa) untuk dibangkitkan dan hidup bersama dengan Dia (lihat Rom 6:5-11). Maka melalui Pembaptisan, dosa asal dan dosa pribadi dihapuskan, walaupun concupiscence masih  tetap tinggal pada kita, agar kita dapat berjuang untuk mencapai kekudusan dengan mengalahkan kecenderungan berbuat dosa tersebut (silakan melihat KGK 1264).

Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
Ingrid Listiati- www.katolisitas.org

Tentang pertanyaan dari teman Protestan

40

Pertanyaan:

Salam Romo dan pengelola situs ini,

Saya baru mengalami perdebatan dengan org karismatik Protestan. Emank saya sempat sangat kesel atas sikapnya yang tidak mau menerima tapi menghardik saya. Saya tau kalo saya hny membuang waktu dan tenaga, tapi saya tidak bisa nerima kalo bunda maria dihina.

Saya meminta sodara seiman untuk membantu saya, seandainya saya diserang lagi. ini pertanyaan dari dia.
1. kenapa kita harus berdoa di dpn bunda maria? berarti kita menyembah berhala.
2. di roma ada gereja yg dibangun oleh kekuatan iblis, kata dia.
3. kenapa kita katolik boleh memakan makanan yg telah disembah kepada nenek moyang?
4. kenapa saya tidak mewartakan kabar katolik buat agama lain, napa harus ke dia?
5. kenapa alkitab katolik itu tidak sama dgn kristen? Dengan nada melecehkan alkitab Katolik.

ini jawaban saya:
1. katolik tidak menyembah ke bunda maria, tapi hanya menghormati. Dan di reply oleh temen aku, maria uda di surga, jd tidak usah doa melalui dia. katanya kita bisa doa lsg ke yesus atau minta pendeta doa ke yesus. Emank di sini, aku menyerang balik dia, kalo dia menyembah salib jg di gerejanya, sebab semua gereja kristen psti ada salib. Aku bertanya balik, apakah kamu meyembah salib, bknkah salib itu dari kayu? Dia tidak menjawab pertanyaan aku ini.

2. ttg gereja ini, saya tidak ada ide. dan aku balasin, apakah kamu uda meliat? dan katanya dia kalo dia punya bukti (hanya berdasarkan buku).

3. aku tidak menjawab ini secara jelas, tapi aku merefer ke persembahan makanan di waktu misa.

4. saya menjawab kalo aku tidak suka meliat org memaksakan agama ke org lain dan merasa agamanya plg bener dan pasti masuk surga, serta merasa agama lain itu masuk neraka. Dan dia berkata kalo dia sangat yakin akan hal ini serta mengatakan sungguh kasihan meliat saya tersesat ke dlm sini (agama Katolik).

5. taukah kamu alkitab itu pertama kali dibuat oleh katolik, dan hny Martin Luther yg mengganti kitab kalian, jd kitab protestan. Dan juga saya menyuruh dia membaca kitab Mat 16:16-18, dia ngotot kalo malas dan biilang aku sombong. dia suruh aku terus membaca, dan pasti ketemu kalo katolik kita itu bobrok. Jujur saja, saya sungguh kesel and malas ngomong ama dia. Tapi kalo gereja katolik dijelekin oleh karismatik dia, aku tidak bisa terima.

6. Serta bolehkah tolong dijelasin soal EENS? Bagaimana EENS di masa ini? Sebab ada yg bilng Vatican mengoreksi ttg pemahaman EENS, karena byk yg mengakibatkan orang jd salah arah dan bertindak seperti Karismatik Protestan (bukan saya mo menjelekkan karismatik protestan, tapi saya sudah cukup dengan tindak tanduk mereka). Thank you. felix

Jawaban:

Shalom Felix,
Pertama-tama, jika kita bertukar pikiran dengan teman kita yang Protestan, kita harus mengingat bahwa sebenarnya kita saudara dan saudari seiman dalam Kristus. Sebenarnya kita memiliki banyak persamaan di dalam Kristus.

Sekarang tentang pertanyaan anda:
1. Kenapa kita harus berdoa di depan Bunda Maria? Berarti kita menyembah berhala.
Jawab:  Gereja Katolik tidak mengharuskan umatnya berdoa di depan patung Bunda Maria. Jika umat Katolik berdoa di depan patung Bunda Maria, itu tidak berarti berdoa kepada patung itu, sebab kita berdoa menghormati Bunda Maria, yang digambarkan dengan patung itu, dan bukannya patung itu sendiri. Ini sangat berbeda dengan kisah-kisah Perjanjian Lama, di mana orang menyembah berhala dengan menyembah patung lembu tuangan, di mana mereka menganggap patung itulah tuhan mereka. Selanjutnya tentang penjelasan bahwa kita tidak menyembah patung, silakan baca artikel ini (silakan klik) dan tentang bagaimana pengertian memohon doa dari Bunda Maria silahkan klik di sini.

2. Di Roma ada gereja yg dibangun oleh kekuatan iblis, kata dia.
Silakan tanyakan apa sumbernya, sampai ia mengatakan demikian.

3. Kenapa kita katolik boleh memakan makanan yg telah disembah kepada nenek moyang?
Mengenai hal ini pernah dibahas dengan panjang lebar di tanya jawab (termasuk 8 komentar di bawahnya), link ini-silakan klik. Persembahan di Misa Kudus (yaitu hosti dan anggur) itu tidak sama dengan makanan sembahyangan di kuil. Karena hosti dan anggur dalam Misa Kudus akan diubah pada saat konsekrasi sehingga menjadi Tubuh dan Darah Kristus, sehingga meskipun wujudnya tetap hosti dan anggur, namun hakekatnya sudah bukan hosti dan anggur. Sedangkan makanan sembahyangan yang lain, itu tetap berupa makanan.

4. Kenapa saya tidak mewartakan kabar katolik buat agama lain, kenapa harus ke dia?
Hal ini memang perlu menjadi permenungan, sebab memang evangelisasi harus dikabarkan, baik kepada mereka yang sudah mengenal Kristus, agar lebih mengenal Dia, namun terutama juga kepada mereka yang belum mengenal Kristus, agar mereka mengenal Dia.

5. Kenapa alkitab Katolik itu tidak sama dgn kristen? Dengan nada melecehkan alkitab Katolik.
Alkitab yang dipakai oleh saudara-saudari kita yang beragama Kristen sebenarnya berasal dari Gereja Katolik. Sebab pada tahun 393 melalui Konsili Hippo, dan tahun 397 melalui Konsili Carthage, Gereja Katolik menentukan Kanon Kitab Suci. Selengkapnya, silakan melihat ke artikel ini (silakan klik). Bahwa pada akhirnya Alkitab Kristen Protestan berbeda dengan Alkitab Katolik, itu disebabkan karena pada abad ke 15, para pendiri gereja Protestan (dipelopori oleh Martin Luther) tidak mengikutsertakan beberapa kitab (yang disebut sebagai Deuterokanonika).

6. Penjelasan mengenai EENS (Extram Ecclesiam nula salus/ Tidak ada keselamatan di luar Gereja Katolik).
Untuk mengenai EENS, silakan lihat di sini, silakan klik. Jika ada yang belum jelas, silakan bertanya di sana. Dan untuk menjawab pertanyaan, kalau begitu, siapa yang dapat diselamatkan, silakan klik di sini.

Felix, memang menyedihkan, jika kita melihat kenyataan bahwa banyak orang yang mengaku menjadi pengikut Kristus, namun pemarah, atau berbicara kasar dan menuduh, dan tak mau mendengarkan. Ini malah seharusnya menjadikan kita lebih waspada agar jangan kita juga bersikap demikian.

Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
Ingrid Listiati – www.katolisitas.org

Apa arti 70 minggu dalam Kitab Daniel, apakah kedatangan Yesus yg kedua terjadi 2 tahap?

5

Pertanyaan:

Salam damai sejahtera, Kitab Daniel menulis tentang 70 minggu atau yang umumnya dikatakan sebagai Minggu ke 70 Daniel.

Yang ingin saya tanyakan :
1. Kalau seandainya Minggu ke:70 Daniel tsb dimulai tahun 2012 ( Kalender bangsa Maya berakhir di tahun 2012) , maka kapankah YESUS datang kedunia untuk yang kedua kalinya 2.Apakah kedatangan YESUS yang kedua kali tsb terdiri dari 2 tahapan ?
Tahap pertama YESUS datang untuk menjemput mempelainya seperti yang dinubuatkan oleh HENOKH sebelum dia diangkat hidup2 naik ke Surga.
Tahap kedua YESUS datang untuk memerangi si Dajal dalam perang Harmagedon

Salam, Machmud

Jawaban:

Shalom Machmud,
1) Menurut interpretasi dari A Catholic Commentary on Holy Scripture, gen ed. Dom Orchard p. 637-638, 70 minggu tahun yang disebut dalam Kitab Daniel tersebut bukan untuk dipakai sebagai patokan menghitung kedatangan Yesus yang kedua kali (kiamat). Ke 70 minggu tersebut adalah untuk menghitung pemenuhan janji Allah tentang kedatangan Yesus yang pertama di dunia yang membawa keselamatan kepada umat manusia. Malaikat Gabriel mengatakan kepada nabi Daniel bahwa Mesias akan datang dalam waktu 70 minggu tahun dari saat pembangunan kembali Yerusalem (Dan 9:1-27). 70 minggu tahun (490 tahun) dari saat pembangunan kembali Yerusalem (sekitar tahun 458 BC), membawa kita kepada sekitar tahun 32 AD, tahun dimana Yesus disalibkan.
Kita percaya bahwa kedatangan Yesus yang kedua akan datang tiba-tiba, dan memang tidak menjadi bagian kita untuk berusaha meramalkannya. Sepanjang sejarah manusia, banyak orang sudah meramalkannya, dan tidak ada yang benar.
Nubuat nabi Daniel ini hanya salah satu saja dari nubuat nabi-nabi yang lain di sepanjang sejarah manusia, yang menunjuk kepada kelahiran Kristus sebagai Putera Allah yang menjelma menjadi manusia untuk menyelamatkan manusia. Selanjutnya tentang nubuat-nubuat nabi tentang Kristus ini, sudah pernah dituliskan dalam artikel ini, silakan klik

2) Alkitab sebenarnya jelas mengatakan bahwa kedatangan Yesus yang kedua terjadi hanya sekali saja:
– Kedatangan Kristus akan dapat kelihatan oleh banyak orang:
“Lihat, Ia datang dengan awan-awan dan setiap mata akan melihat Dia.” (Why 1:7)
“… semua bangsa di bumi…. akan melihat Anak Manusia itu datang di atas awan-awan di langit dengan kekuasaan dan kemulianNya.” (Mat 24:30)
Kedatangannya akan diiringi dengan bunyi sangkakala (Mat 24:31)
“…. dan semua malaikat bersama-sama dengan Dia” (Mat 25:31)
-Kedatangan-Nya yang kedua akan sama seperti saat Ia naik ke surga:
“Yesus ini, yang terangkat ke surga meninggalkan kamu, akan datang kembali dengan cara yang sama seperti kamu melihat Dia naik ke surga” (Kis 1:9-11).
– Kedatangan Kristus akan menjadi akhir dunia dan membawa semua manusia kepada Pengadilan Terakhir (Mat 25) ….”Apabila Anak Manusia datang dalam kemuliaan-Nya dan semua malaikat bersama-sama dengan Dia, maka Ia akan bersemayam di atas tahta kemuliaan-Nya. Lalu semua bangsa akan dikumpulkan di hadapan-Nya dan Ia  akan memisahkan mereka seorang dari pada seorang …” (Mat 25:31-32)

Jadi menurut ajaran Gereja Katolik, kedatangan Yesus yang kedua kali di akhir jaman nanti hanya akan terjadi satu kali, dan itupun tidak rahasia, tetapi langsung terlihat oleh semua orang. Yesus akan datang kembali dalam kemuliaan-Nya dengan diiringi oleh para malaikat-Nya.

Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
Ingrid Listiati- www.katolisitas.org

Apakah skapulir dapat menyelamatkan?

20

Pertanyaan:

selamat siang saya mau tanya, scapulir itu apa? apa manfaatnya? dasar alkitabnya? terima kasih – Ben

Jawaban:

Shalom Ben,
Terima kasih atas pertanyaannya tentang skapulir. Skapulir (Ingris: Scapular) berasal dari bahasa latin: “scapula” yang berarti bahu. Skapulir ini awalnya berupa kain yang cukup lebar yang melintang di bahu. Pada awalnya, skapulir ini berasal dari kehidupan para rahib. Sama seperti yang memakai stola adalah seorang iman, maka seorang rahib ditandai dengan skapulir. Kemungkinan, pemakaian skapulir ini dapat ditelusuri mulai abad ke-7, dimana skapulir menjadi salah satu peraturan dari ordo benediktus. Dengan berkembangnya ordo-ordo, seperti ordo ketiga (third order) – yang terdiri dari kaum awam, maka skapulir ini juga berkembang, bukan hanya kain yang besar yang dikenakan oleh para rahib, namun skapulir yang cukup kecil, yang juga digunakan oleh kaum awam. Lebih lanjut, ordo Karmel berjasa dalam menyebarkan devosi skapular (sekitar abad 13), yaitu dengan skapulir coklat atau “brown scapular”. Ada begitu banyak jenis skapulir. Dan devosi ini mencapai puncaknya pada abad pertengahan, dimana skapulir dan rosario menjadi dua devosi kepada Bunda Maria.
Untuk mengenakan skapulir ini, tergantung dari jenis skapulirnya, setelah diberkati oleh pastor, maka dengan seseorang memakai skapulir, dia memakai simbol persaudaraan (membership in confraternity). Ada beberapa skapulir yang sering dipakai oleh umat Katolik, seperti: 1) The brown scapular of Our Lady of Mt. Carmel, yang berwarna coklat dan sering dihubungkan dengan sabbatine (Sabtu) Privilege, 2) The red scapular of Christ’s passion, 3) The black scapular of the seven sorrows of Mary, 4) The blue scapular of the Immaculate Conception, 5) The white scapular of the Holy Trinity. Dan ada juga scapular medal – yang mempunyai gambar hati kudus Yesus di satu sisi dan hati kudus Maria di sisi yang lain. Scapular medal ini disetujui oleh Vatikan pada tahun 1910.
Apakah manfaat dari skapulir ini?
Manfaatnya adalah tergabung dalam persaudaraan dari skapulir tersebut. Misalkan seseorang menggunakan skapulir coklat, maka dia tergabung dalam persaudaraan “our Lady of Mt. Carmel”. Dan Bunda Maria menjanjikan untuk orang-orang yang memakai skapulir sampai pada akhir hayatnya akan diselamatkan.
Namun satu prinsip yang harus kita pegang, benda-benda seperti rosario, skapulir adalah benda-benda sakramentali. Katekismus Gereja Katolik (KGK, 1667-1668 mengatakan:

1667: “Selain itu Bunda Gereja kudus telah mengadakan sakramentali, yakni tanda-tanda suci, yang memiliki kemiripan dengan Sakramen-sakramen. Sakramentali itu menandakan karunia-karunia, terutama yang bersifat rohani, dan yang diperoleh berkat doa permohonan Gereja. Melalui sakramentali hati manusia disiapkan untuk menerima buah utama Sakramen-sakramen, dan belbagai situasi hidup disucikan” (SC 60). (Bdk. CIC, can. 1166; CCEO, can. 867.)
1668 “Gereja mengadakan sakramentali untuk menguduskan jabatan-jabatan gerejani tertentu, status hidup tertentu, aneka ragam keadaan hidup Kristen serta penggunaan benda-benda yang bermanfaat bagi manusia. Sesuai dengan keputusan pastoral para Uskup, mereka juga dapat disesuaikan dengan kebutuhan dan kebudayaan serta sejarah khusus umat Kristen suatu wilayah atau zaman. Mereka selalu mempunyai doa yang sering diiringi dengan tanda tertentu, misalnya penumpangan tangan, tanda salib, atau pemercikan dengan air berkat, yang mengingatkan kepada Pembaptisan.

Dari dokumen di atas, kita melihat bahwa rahmat yang mengalir dari sakramentali tergantung dari disposisi hati yang memakai. Pada saat seseorang memakai skapulir dengan devosi dan disposisi hati yang baik, maka orang tersebut akan senantiasa diingatkan akan Bunda Maria dan Yesus, sebagai contoh: pada waktu orang tersebut melepaskan dan memakai skapukir, atau pada waktu-waktu tertentu, dia merasakan dan menyadari bahwa dia memakai skapulir. Jadi dalam satu hari, orang tersebut mempunyai kebiasaan untuk mengingat Yesus dan Bunda Maria. Dengan disposisi hati yang baik, maka rahmat Tuhan mengalir, sehingga dapat menyucikan berbagai situasi hidup. (lih KGK, 1667). Oleh karena itu, orang yang memakai skapulir, yang senantiasa diingatkan untuk menyucikan berbagai situasi hidup sampai akhir hayatnya, akan memperoleh keselamatan kekal.
Apakah orang yang memakai skapulir ini pasti masuk Surga? Tidak pasti, karena rahmat dari benda-benda sakramentali tergantung dari disposisi hati orang yang memakai. Gereja Katolik mengajarkan bahwa keselamatan adalah berkat Allah semata, dengan melalui iman dalam Kristus Tuhan dan dimanifestasikan dengan ketaatan untuk mengikuti seluruh perintah Tuhan. Jadi orang yang memakai skapulir belum tentu diselamatkan, kalau tidak disertai dengan iman kepada Kristus dan melaksanakan seluruh perintah-Nya. Namun, dengan disposisi hati yang baik, seseorang yang memakai skapulir dapat mencapai kekudusan dan memperoleh keselamatan. Sebaliknya, orang yang tidak memakai skapulir, namun terus bertumbuh dalam iman dan sakramen dan melaksanakan perintah Kristus sampai akhir hayatnya, dia juga dapat diselamatkan.
Skapulir dapat dianalogikan seperti cincin pernikahan. Orang yang memakai cincin belum tentu telah menikah. Namun orang yang menikah dan memakai cincin kawin, dengan disposisi hati yang benar, dapat membantu untuk setia terhadap pasangan.
Apakah dasar alkitab dari skapulir?
Kita dapat menghubungkan dasar-dasar Alkitab tentang skapulir dengan dasar-dasar Alkitab untuk pengajaran tentang relikwi, seperti:

Elisa membawa jubah Elia dan memukulkannya di sungai Yordan, sehingga air terbelah, sehingga Elisa dapat menyeberangi sungai Yordan (2 Raj 2:9-14). Di kitab yang sama, diceritakan bagaimana mayat yang terkena tulang-tulang dari Elisa, dapat hidup kembali (2 Raj 13:20-21).
Di dalam Perjanjian Baru diceritakan bahwa sapu tangan dan kain yang pernah dipakai oleh Paulus dapat menyembuhkan penyakit-penyakit (Kis 19:11-12). Kisah Para Rasul juga menceritakan bagaimana orang-orang membawa orang-orang sakit, sehingga minimal mereka dapat terkena bayangan dari rasul Petrus, dan kemudian disembuhkan (Kis 5:15).
Pembahasan menyeluruh tentang hal ini, silakan membaca artikel “Relikwi, mengantar kita kepada Tuhan” (silakan klik).

Secara prinsip, Tuhan dapat menggunakan benda-benda, baik berupa relikwi yang berhubungan dengan santa dan santo, atau skapulir yang diberikan oleh Gereja, untuk mengantar umat pada kekudusan. Semua devosi ini harus mengalir dari disposisi hati yang baik, seperti semua persembahan yang bersifat ekterior mengalir dari disposisi hati yang benar.
Semoga keterangan di atas dapat menjawab pertanyaan Ben.
Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
stef – www.katolisitas.org

Benarkah bahwa asal percaya, kita diampuni Tuhan & tak perlu mengaku dosa?

6

Pertanyaan:

selamat malam romo saya mau tanya
1. kis 10 : (43) Tentang Dialah semua nabi bersaksi, bahwa barangsiapa percaya kepada-Nya, ia akan mendapat pengampunan dosa oleh karena nama-Nya.”
dr ayat ini di gereja non katolik menyatakan bahwa kita tidak perlu mengaku dosa di hadapan iman,
2. kis 10 :(35) Setiap orang dari bangsa manapun yang takut akan Dia dan yang mengamalkan kebenaran berkenan kepada-Nya.
ayat ini menyatakan jika kita ingin benar di hadapan Tuhan lihat ayat tersebut?
bagaimana tanggapan magisterium gereja atas2 ke dua ayat ini? relevan tidak dengan pernyataan tersebut dari sudut gereja katolik?
3. apakah yang dimaksud kebenaran itu adalah firman?
terima kasih, Ben

Jawaban:

Shalom Ben,
1) Kis 10:43, berkata: Tentang Dialah semua nabi bersaksi, bahwa barangsiapa percaya kepada-Nya, ia akan mendapat pengampunan dosa oleh karena nama-Nya.” Jadi, konteksnya di sini adalah bagaimana dari sejak dulu, para nabi telah menubuatkan bahwa suatu saat nanti keselamatan akan menjangkau semua bangsa, asalkan mereka percaya kepada Tuhan. Janji Tuhan ini akhirnya dipenuhi melalui Kristus, Putera Allah yang menjelma menjadi manusia, yang dengan wafat dan kebangkitan-Nya membuka jalan keselamatan bagi semua orang.
Dalam Perjanjian Lama, kita melihat tentang janji Allah yang ingin menjangkau segala bangsa atau siapapun juga yang percaya kepadanya, misalnya dalam Yes 49:6, Mal 1:1, Yun 3 dan 4, ayat-ayat Mazmur.
Selanjutnya, ayat Kis 10:43 merupakan bagian dari perikop yang mengisahkan Kornelius, seorang non-Yahudi yang percaya kepada Yesus dan dibaptis. Jadi, ayat tersebut merupakan penegasan pengajaran bahwa dari sejak dulu sebenarnya Allah ingin mendatangkan keselamatan bagi semua bangsa, [tak terbatas pada bangsa Yahudi saja], asalkan mereka percaya kepada Yesus. Hubungkanlah ayat Kis 10:43 ini dengan ayat Luk 24: 47: “…dalam nama-Nya berita tentang pertobatan dan pengampunan dosa harus disampaikan kepada segala bangsa, mulai dari Yerusalem.” Maka Gereja Katolik juga mengimani yang disebutkan dalam Kis 10:43 tersebut, bahwa pengampunan dosa hanya didapatkan dalam nama Yesus.
Namun ayat ini tidak untuk diartikan bahwa hanya dengan percaya saja, artinya segala dosa otomatis diampuni; karena konteks dari ayat tersebut bukan itu. Dalam hal inilah, maka Gereja Katolik sering mengingatkan umatnya agar berusaha memahami Alkitab dengan melihat konteksnya, dan jangan memisahkan ayat-ayat tanpa melihat hubungannya dengan ayat yang lain. Silakan membaca artikel ini untuk melihat lebih lanjut bagaimana cara yang dianjurkan Gereja Katolik untuk membaca Alkitab (silakan klik). Karena jelas dalam Injil Yohanes, Yesus memberikan kuasa kepada para rasul untuk mengampuni dosa dengan mengatakan, “Terimalah Roh Kudus. Jikalau kamu mengampuni dosa orang, dosanya diampuni dan jikalau kamu menyatakan dosa orang tetap ada, dosanya tetap ada.” (Yoh 20:22-23).
Dengan demikian, Gereja Katolik memegang ayat ini sebagai bagaimana seseorang yang sudah percaya kepada Yesus dapat diampuni dosanya. Ia harus mengaku dosanya di hadapan imam, sebagai penerus para rasul yang sudah diberi kuasa oleh Yesus sendiri.
Jangan kita lupa, bahwa hal mengaku dosa ini tidak hanya berlaku untuk kaum awam, tetapi juga kepada para imam. Para imam-pun tidak terlepas dari dosa, dan karenanya, juga perlu mengaku dosa kepada sesama imam. Hal ini yang sering tidak diketahui oelah saudara-saudari kita yang Kristen Protestan. Kebanyakan, orang tidak mau mengaku dosa, karena berpikir: buat apa mengaku dosa kepada manusia, lebih baik langsung kepada Tuhan. Memang diperlukan kerendahan hati untuk mengaku dosa di hadapan seorang imam, namun itulah yang menjadi pengajaran Tuhan Yesus. Selanjutnya, memang tergantung dari kita apakah kita mau mentaati semua perintah-Nya, ataukah kita mau memilih sendiri pengajaran-Nya sesuai dengan kehendak kita. Namun jika kita pilih-pilih, sebenarnya kita belum sungguh-sungguh percaya total kepada Tuhan Yesus.

Maka pengertian ‘percaya’ atau beriman kepada Tuhan menurut ajaran Gereja Katolik adalah bukan hanya semata percaya kepada Tuhan saja, tetapi harus juga percaya dan taat kepada semua pengajaran yang diwahyukan-Nya, yang secara penuh diajarkan dalam Gereja Katolik, demikian bunyinya dari Dei Verbum 5 (Konstitusi Dogmatik tentang Wahyu Ilahi, Vatikan II):
Kepada Allah yang menyampaikan wahyu manusia wajib menyatakan “ketaatan iman” (Rom16:26 ; lih. Rom1:5 ; 2Cor10:5-6). Demikianlah manusia dengan bebas menyerahkan diri seutuhnya kepada Allah, dengan mempersembahkan “kepatuhan akalbudi serta kehendak yang sepenuhnya kepada Allah yang mewahyukan[4], dan dengan secara sukarela menerima sebagai kebenaran wahyu yang dikurniakan oleh-Nya. Supaya orang dapat beriman seperti itu, diperlukan rahmat Allah yang mendahului serta menolong, pun juga bantuan batin Roh Kudus, yang menggerakkan hati dan membalikkannya kepada Allah, membuka mata budi, dan menimbulkan “pada semua orang rasa manis dalam menyetujui dan mempercayai kebenaran”[5]. Supaya semakin mendalamlah pengertian akan wahyu, Roh Kudus itu juga senantiasa menyempurnakan iman melalui kurnia-kurnia-Nya.

Selanjutnya Dei Verbum 7- 10 menjelaskan tentang bagaimana Wahyu Ilahi tersebut diturunkan kepada kita, yaitu melalui Kitab Suci, Tradisi Suci dan Magisterium. Silakan klik di sini untuk membaca Dei Verbum.

2) Maka pengertian tentang keselamatan yang ditawarkan Tuhan kepada semua bangsa ini, sejalan dengan yang dikatakan dalam Kis 10 : 35 yang mengatakan, “Setiap orang dari bangsa manapun yang takut akan Dia dan yang mengamalkan kebenaran berkenan kepada-Nya.”
Ayat ini, yang masih berkaitan dengan kisah Kornelius tersebut, mengajarkan bahwa keselamatan terbuka bagi semua bangsa.  Seseorang dapat dibenarkan oleh Tuhan melalui Kristus dan menerima karunia Allah, tanpa harus memenuhi hukum Taurat Musa, dalam hal ini sunat dan hukum seremonial lainnya.
Takut akan Tuhan, di sini maksudnya adalah, “membenci kejahatan” (Ams 8:13). Maka, ayat Kis 10:35 mau mengatakan bahwa dengan kita membenci kejahatan dan mengamalkan kebenaran (mohon lihat jawaban point 3 di bawah ini); maka Tuhan akan berkenan.

3) Apakah yang dimaksud dengan kebenaran adalah firman?
Kebenaran adalah firman, itu sesuai dengan ajaran Yesus sendiri, yang mengatakan, “Akulah jalan, dan kebenaran dan hidup.” (Yoh 14:6). Maka kebenaran adalah Yesus sendiri yang adalah Firman yang Hidup (lih. Yoh 1:1, 14). Kebenaran di sini memang bisa berarti firman yang diajarkan kepada kita melalui Alkitab, namun sebenarnya tak terbatas hanya itu. Sebab jika kita perhatikan, Kristus sendiri mengatakan, Ia sendirilah Sang Firman.
Oleh karena itu ibadah yang tertinggi dalam Gereja Katolik adalah Perayaan Ekaristi/ Misa kudus, dimana di situ kita memperoleh kepenuhan Kristus, Firman Allah yang hidup. Pada liturgi Sabda, kita mendengarkan dan meresapkan firman Tuhan, pada liturgi Ekaristi, kita menerima Kristus dalam rupa hosti. Maka jika ditanya apakah kebenaran itu, saya rasa jawabannya yang paling tepat adalah Kristus beserta dengan semua ajaran-ajaran-Nya. Maka, firman di sini tidak terbatas hanya dalam kata-kata firman yang ada dalam Alkitab, tetapi keseluruhan Kristus yang dapat kita terima melalui sakramen-sakramen dalam Gereja Katolik, terutama dalam Perayaan Ekaristi. Sebab dalam diri Kristuslah semua firman Allah digenapi. Semoga dengan mengambil bagian dalam Kristus, kita umat Katolik dapat hidup mengamalkan kebenaran, dan dengan demikian dapat berkenan di hadapan Tuhan.

Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
Ingrid Listiati- www.katolisitas.org

Keep in touch

18,000FansLike
18,659FollowersFollow
32,900SubscribersSubscribe

Artikel

Tanya Jawab