Dari Editor:
Terima kasih kepada Uti dan Yoyok yang telah bermurah hati membagikan kesaksian hidup mereka. Memang, masa penantian yang panjang akan kelahiran seorang anak dalam sebuah perkawinan, dapat mendatangkan bermacam perasaan dalam jiwa pasangan suami istri. Segala upaya dapat dilaksanakan, namun akhirnya, Tuhanlah yang menentukan. Dalam hal ini akhirnya, tiada yang dapat mendatangkan damai dan pengharapan, selain dari Allah itu sendiri.
Semoga kesaksian ini membuka mata banyak orang, bahwa dalam situasi apapun, Tuhan tidak pernah meninggalkan kita. Terutama dalam penderitaan batin, di mana tak seorangpun memahami kesusahan kita, di sanalah Allah secara lebih lagi mengasihi, menopang dan memberikan rahmat-Nya kepada kita. Bagi kita orang yang percaya kepada Allah, tiada yang dapat memisahkan kita dari kasih-Nya. “Sebab aku yakin, bahwa baik maut maupun hidup, ….baik kuasa-kuasa, yang di atas maupun yang di bawah… tidak akan dapat memisahkan kita dari kasih Allah, yang ada dalam Kristus Yesus, Tuhan kita,” (Rom 8:38-39)
Uti dan Yoyok, semoga pengalaman imanmu menguatkan juga banyak pasangan suami istri lain. Agar, mereka yang sudah dikaruniai anak-anak, dapat lebih mensyukuri rahmat anak-anak mereka, dan bagi mereka yang belum dikaruniai anak agar juga mempunyai pengharapan dan iman akan pertolongan Tuhan. Satu hal yang pasti, Tuhan akan memberi segala sesuatunya, indah pada waktu-Nya… (Pkh 3:11)
Bagian satu : Penderitaan kecilku, penderitaan sesamaku
“Hallo Bu Uti, selamat Natal ya…gimana dengan kemajuan pengobatannya ?” seorang kawan guru di sekolah menegurku selepas mengajar.
“Heei,… Bu Tineke sendiri bagaimana, sudah hamil nih ya sekarang ?” aku bertanya sepintas lalu pada kawan yang baru menikah kira-kira enam bulan lalu ini. Sebelumnya kuterangkan bahwa inseminasi ketiga yang baru saja kujalani kembali gagal, dan aku sampai berobat ke Singapura dengan hasil masih harus dioperasi (lagi). Karena aku sudah sempat menjalani operasi laparoskopi di Jakarta untuk problem endometriosis yang ternyata ditemukan dalam rahimku. Lalu Ibu Tineke menjawab pertanyaanku dengan pelan, seolah mau menjaga perasaanku, “Aku sudah Bu Uti, ini sudah jalan tiga bulan “ katanya lirih. Aku kaget, lalu segera menyahut spontan “Waah…senangnya….selamat yaa, semoga semuanya berjalan lancar dan baik, aduh, aku ikut senang”, kataku dengan tulus. Aku tidak mengira karena sesaat sebelum menikah rekanku Tineke ini baru saja menjalani operasi pengangkatan kista sebesar kepala bayi dari rahimnya. Kini ia sudah hamil tiga bulan. Setelah kami berpisah, aku berdoa dalam hati untuk keselamatan kehamilannya.
Kalau mau dihitung-hitung, potongan adegan seperti di atas sudah terjadi belasan kali, karena rekan-rekan guru di sekolah adalah orang-orang muda pada usia menikah dan melahirkan. Mereka semua tahu aku berganti status dari guru tetap menjadi tenaga honorer seperti ini dalam rangka usahaku untuk menjadi hamil. Tetapi tiga tahun telah lewat sejak aku berhenti bekerja sebagai guru penuh, dan aku masih mereka dapati berobat saja terus, tanpa ada berita tentang kehamilan. Kadang-kadang aku merasa tidak enak karena kabar kemajuanku sendiri mengenai usaha untuk menjadi hamil seringkali membuat suasana gembira pada teman-temanku yang baru saja menikah dan kemudian hamil menjadi berkurang. Tampaknya mereka menjadi prihatin atau merasa kasihan. Ah, benarkah demikian ? Atau itu hanya perasaanku saja sendiri ? Sambil berjalan sepanjang koridor, aku menelisik batinku sendiri, mencari rasa perih yang biasanya menelusup manakala aku mendengar teman-teman yang baru menikah sebulan atau beberapa minggu mengabarkan kehamilannya. Aku ingin tahu, masihkah perih itu ada di sana ? Masihkah pertanyaan ‘aku kapan ya?’ itu menggema mengiringi kegembiraanku kepada kawan ? Sekalipun aku banyak melupakan mengenai kehamilan saat aku pulang ke Malang kemarin (seperti biasa, lupa kesedihan bila sedang berada dekat Bapak Ibu dan kampung halaman), tetapi ternyata aku masih menemukan kepedihan itu di sana, jauh tersembunyi di dalam relung hatiku yang berkelok-kelok seperti labirin. Aku menghela napas panjang, seperti berusaha untuk mengusir perih itu jauh-jauh dari labirin hatiku. “Apa-apan kamu, jangan bersedih dong, harus bergembira dengan orang yang bergembira”. Lalu aku melanjutkan lagi kegiatanku sambil mengubur perasaan sedih itu dalam-dalam.
Sampai di rumah, aku menghidupkan televisi. Sambil melepas lelah, aku memperhatikan, hampir semua stasiun TV masih memberitakan mengenai tragedi Aceh. Sudah hari keduabelas, pikirku, dan keprihatinan dunia belum luntur juga. Aku melihat anak-anak yang kehilangan orang tua, orang tua yang berusaha mencari anaknya yang hilang tak tentu rimbanya, menyaksikan orang-orang selamat yang begitu kosong tatapannya karena masih trauma. Seandainya aku ada di posisi mereka, duh, tak terbayangkan beratnya. Sejenak aku memanggil kesedihanku dari labirin hati dan larut dalam kesedihan yang kulihat di televisi. Sebelum mataku terpejam untuk tidur siang, hatiku bertanya, “Tuhan, apa sebenarnya rencanaMu yang penuh misteri ? Mengapa kami harus melihat dan mengalami kepahitan-kepahitan hidup seperti ini ? Mengapa tidak Kau permudah hidup kami yang sudah lelah dengan keluh kesah ini ?” Sebelum aku tertidur, masih tertangkap olehku gambar Yesus yang begitu tegas tetapi damai penuh wibawa menatapku dari meja doa di ujung tempat tidurku. Seandainya aku boleh bermimpi bertemu Engkau, Tuhan, dan mendengarkan suaraMu menerangkan semua pertanyaanku ini. Tetapi Tuhan tetap diam, dan gambar Yesus itu tetap tidak berubah, seperti biasanya. Sudah sifat Tuhan untuk tidak berbicara terang-terangan kepada manusia barangkali, pikirku, kecuali kepada orang-orang kudus pilihanNya. Lalu bagaimana kami dapat survive ?
Bila aku menengok kembali usahaku selama 6 tahun aku menikah untuk bisa menjadi hamil, entah sudah berapa jenis dan tempat pengobatan alternatif yang kami datangi, entah sudah berapa nama dokter yang kami kunjungi, berapa jenis suplemen yang sudah kami telan, berapa banyaknya jenis pemeriksaan yang menyakitkan, serta berapa panjangnya doa yang kami panjatkan siang dan malam nyaris tak pernah putus supaya Tuhan berbelaskasihan, tetapi rasanya Tuhan tetap diam. Sepertinya Dia tak bergeming.
Sementara aku berjuang tak pernah putus, setiap saat aku harus berhadapan dengan teman-teman yang begitu mudah menjadi hamil. Baik teman-teman guru di sekolah maupun para tetangga. Tak berapa lama setelah mereka menikah, kehamilan itu pun datang. Atau kapanpun mereka menginginkan anak kedua, dengan sedikit sekali upaya, mereka pun hamil. Entah apa namanya, mungkin iri hati. Tetapi setiap aku tersenyum lebar memberi selamat kepada mereka, jauh di dalam hatiku, aku menangis. Setelah sekian lama peristiwa itu terjadi, lama-lama aku menjadi kebal dan telah terbiasa, walaupun perasaan sedih itu tidak pernah sama sekali hilang. Paling aku hanya menghibur diri “Tiap orang punya jalan hidupnya sendiri-sendiri”
Pertanyaan “Mengapa saya” sudah lama berlalu dari benakku. Aku menyadari bahwa orang lain pun punya beban yang jauh lebih berat dari bebanku. Dan bahwa hidup ini memang penuh dengan harapan-harapan yang tak terpenuhi. Bukannya aku tak menyadari itu semua. Aku juga bukannya tidak bersyukur atas karunia Tuhan pada hidupku yang begitu berlimpah, dan rasanya tak pantas manusia penuh dosa seperti aku ini menerima berkat sebegitu banyaknya. Bukan, aku bukannya tidak bersyukur dan tidak mau menanggung salib kehidupan. Yang terjadi sebenarnya adalah bahwa penderitaan yang kualami dan kulihat pada sesamaku selalu menggiringku pada pertanyaan “Tuhan, Engkau di mana ? Semua kehidupan ini, Kau maksudkan kemana ? Kau ingin kami bagaimana, Tuhan ? “ Karena Tuhan tidak pernah menjawab secara verbal dan gamblang, aku menyadari bahwa aku harus aktif mencari sendiri jawabannya. Kehendak bebas yang menjadi bukti nyata kasihNya yang tidak pernah memaksa itulah kurasa yang membuatku yakin bahwa kita bebas memaknai hidup kita sendiri. Musibah dan penderitaan hidup memang bukan pilihan bagi setiap orang. Pilihan manusia adalah mau tetap menjadi optimis, penuh harapan, dan tenang dalam penderitaan itu, atau mau memilih untuk menjadi putus asa, meratap, dan menggerutu berkepanjangan. Ngomong memang enak, tetapi melaksanakan, apakah bersukacita dan berpengharapan dalam kesesakan itu bukan sesuatu yang musykil untuk dilakukan ?
Bagian dua : Penderitaan Kristus memaknai penderitaanku
Benarkah Tuhan tak bergeming ? Benarkah Ia hanya diam melihat ratapan manusia dengan berbagai pergumulannya yang sering tak tertahankan ?
“Tetapi penderitaan kitalah yang ditanggungNya, dan penyakit kitalah yang dipikulNya. Dan oleh bilur-bilurNya, kita menjadi sembuh.” Melihat kepada hidup Yesus memang sarat dengan penderitaan. Ditolak oleh bangsanya, dibenci oleh pemuka Yahudi, dan diakhiri hidupNya dengan paksa dan sadis. Hidup Yesus dan Maria pun penuh dengan penderitaan sejak Yesus hadir di tengah-tengah mereka. Dikejar-kejar Herodes sampai ke Mesir, dicibir oleh orang sekampung halaman, dan puncaknya harus melihat putera satu-satunya disiksa dengan keji sampai mati di depan mata. Jadi apa sebenarnya pesan Tuhan dalam penderitaan ? Apakah justru lewat penderitaan Ia mencurahkan kasih dan rahmatNya yang begitu besar ? Sulit sekali pikiran manusiawi kita memahami kalimat seperti itu. Tetapi paling tidak kita melihat solidaritas Tuhan kepada penderitaan manusia. Bila kita sengsara, kita tahu bahwa Tuhan sudah lebih dulu mengalaminya untuk kita. Kita tahu bahwa Tuhan bukan cuma semena-mena membiarkan kita sengsara. Ia sudah tahu apa itu sengsara, dan sudah mengalaminya bagi kita. Lalu bila kita renungkan, kapan manusia merasakan Tuhan begitu dekat dan hangat ? Apakah pada saat segala sesuatu berjalan lancar, semua anggota keluarga sehat berkumpul, rejeki mengalir, dan hidup terasa mulus tiada hambatan ? Di manakah Tuhan kita tempatkan dalam keadaan seperti itu ? Biasanya Tuhan hanya hadir dalam rutinitas yang sering menjadi kering makna oleh kesibukan dan kedamaian kita.
Jadi, apakah penderitaan dipakai Tuhan untuk menarik kita lebih dekat lagi kepadaNya ? Bukan sekedar dekat di mata dan di bibir, tetapi dekat di hati yang terdalam ? Mungkin saja. Kalau begitu, dari kacamataNya, yang paling penting bukan situasi hidup di dunia ini, tetapi hidup kita di akhirat nanti. Bila hidup di dunia baik-baik saja, tetapi tidak membawa manusia kepada Tuhan, maka lebih baik hidup di dunia menderita, tetapi hidup di akhirat bahagia bersama Tuhan di surga. Tapi bukankah kita akan memilih hidup bahagia di dunia dan di akhirat ? Di sinilah pilihan bebas kita berperan. Kita bisa memilih untuk tetap bahagia karena kasih Tuhan yang selalu menyertai kita, sekalipun secara fisik kita menderita. Oh, semudah itukah ? Tentu saja tidak. Kita harus punya strategi untuk menghadapinya. Jadilah tulus seperti merpati, tetapi cerdik seperti ular, kata Kitab Suci.
Bagian tiga : Pilihan bebas kita adalah benih-benih kekekalan
Hidup kita yang pendek di dunia ini adalah masa untuk menabur. Lalu semua orang akan mengalami kematian. Tanpa terkecuali. Seandainya tidak ada kebangkitan orang mati, segala sesuatu yang kita hidupi di dunia ini akan lenyap. Bagaimana kita dapat mempercayai Allah yang mencintai kita tanpa syarat, kalau segala suka duka hidup kita sia-sia, lenyap bersama dengan matinya tubuh kita ? Karena Allah mencintai kita tanpa syarat sejak kekal sampai kekal, Ia tidak dapat membiarkan tubuh kita lenyap dalam kehancuran.
Hidup di dunia adalah masa ditaburkannya benih-benih kebangkitan. St. Paulus berkata, ditaburkan dalam kebinasaan, dibangkitkan dalam ketidakbinasaan. Ditaburkan dalam kehinaan, dibangkitkan dalam kemuliaan. Ditaburkan dalam kelemahan, dibangkitkan dalam kekuatan. Yang ditaburkan adalah tubuh alamiah, yang dibangkitkan adalah tubuh rohaniah. Jadi, tidak ada yang sia-sia dalam hidup badani kita, semua suka duka yang ditanggungnya memuat panggilan bagi kita untuk menghayati setiap saat dalam hidup kita sebagai benih-benih keabadian di surga kelak. Bagaimana kita mempercayai semua ini ? Itulah iman. “Iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat” (Ibrani 11 : 1). Iman adalah untuk kita orang-orang di dunia. Para Kudus di surga tidak lagi mempunyai atau membutuhkan iman, karena mereka sudah melihat Allah, bersama Allah. Seperti dalam Alkitab : “Tetapi pengharapan yang dilihat, bukan pengharapan lagi; sebab bagaimana orang masih mengharapkan apa yang dilihatnya ? Tetapi jika kita mengharapkan apa yang tidak kita lihat, kita menantikannya dengan tekun” (Roma 8 : 24b-25).
Bagian empat : Menderita jasmani tidak harus berarti menderita rohani
Jadi bagian kita dalam hidup ini utamanya adalah bersama Tuhan. Pilihan-pilihan kita terhadap situasi apapun dalam hidup kita, akan menentukan apakah kita mau menjalaninya di dalam Tuhan atau tidak. Bayangkanlah sebuah keluarga yang semuanya baik dan segala kebutuhan terpenuhi. Tetapi mereka tidak merasa membutuhkan Tuhan, tidak merasa perlu untuk berbagi kekuatan dan iman antar sesama anggotanya, membiarkan relasi dengan Tuhan digerogoti pelan-pelan. Ini memang keluarga yang sehat jasmani, tetapi tidak sehat rohani. Keluarga yang lain menderita sakit secara fisik, keprihatinan karena penderitaan, tetapi semuanya menyatu dalam iman dan pengharapan kepada Tuhan. Berelasi setiap saat dalam doa. Keluarga kedua ini memang sakit fisiknya, tetapi tidak sakit rohaninya. Rohaninya justru sehat walafiat karena terlatih oleh berbagai-bagai penderitaan yang dilaluinya bersama Tuhan. Mana yang menabur benih-benih kekekalan ? Tentu keluarga kedua walaupun secara jasmani menderita penyakit. “Jadi, karena Kristus telah menderita penderitaan badani, kamu pun harus juga mempersenjatai dirimu dengan pikiran yang demikian-karena barangsiapa telah menderita penderitaan badani, ia telah berhenti berbuat dosa, supaya waktu yang sisa jangan kamu pergunakan menurut keinginan manusia, tetapi menurut kehendak Allah (1 Petrus 4: 1-2)
Bagian lima : Sepenuhnya tak berdaya = tak berjarak lagi dengan Tuhan
Betapa indahnya bila kita diijinkan memikul salib bersama Tuhan. Ia mengijinkan kita ambil bagian dalam penderitaanNYa. Bila kita sabar dan setia, tak pelak lagi, Ia juga akan memberi kita bagian dalam kemuliaanNYa. Sampai di sini, menjadi jelaskah arti penderitaan hidup itu bagi keselamatan jiwa kita ? Tidakkah kita justru menganggap kesedihan dan kesengsaraan adalah benih-benih yang mempersiapkan kita untuk memasuki kehidupan yang sesungguhnya kelak ? Sebuah kesempatan emas untuk hanya bergantung kepada Tuhan dan merasakan kekuasaan kasihNya sepenuh-penuhnya, tanpa halangan. Kita menjadi sepenuhnya tak berdaya. Sepenuhnya bergantung. Kita menjadi tidak berjarak lagi dengan Tuhan. Seperti hewan, mereka adalah mahluk tak berdaya yang tidak berjarak dengan Tuhan. Sepenuhnya bergantung. Seekor ayam dapat makanannya langsung dari kemurahan Tuhan. Gajah-gajah di Thailand yang tak berdaya selamat dari gelombang tsunami. Mereka selamat karena insting mereka, langsung dari kemurahan Tuhan. Saat gempa pertama terjadi di Aceh, ribuan mil dari tempat mereka berada, para gajah itu tiba-tiba mengeluarkan suara seperti menangis. Sejam kemudian mereka lari tunggang langgang menjauhi pantai. Para turis dan pawang keheranan. Tapi tak lama, karena setelah gajah-gajah itu berhenti lari di dalam hutan, gelombang laut pertama menerjang masuk ke daratan. Terjangan air itu berhenti tepat di belakang rombongan gajah-gajah yang berlarian itu berhenti.
Seandainya kita tidak berjarak dengan Tuhan, sungguh-sungguh hanya bergantung kepadaNya, percaya dan berserah total akan penyelenggaraanNYa, pasti kita akan mempunyai insting iman dalam segala perkara hidup ini, bak gajah dan ayam yang hanya mengandalkan kemurahan Tuhan saja. Dalam ketidakberdayaan itu, bukan hanya segala keangkuhan, kesombongan, dan tinggi hati tidak mendapat tempat lagi, tetapi juga segala bentuk kekhawatiran dan kecemasan, tidak eksis lagi.
Bagian enam : Makan iman ganti makan kekhawatiran
Bersama Tuhan, jasmani atau hati kita boleh sakit, tapi rohani aman. Selama rohani kita aman bersama Tuhan, bukan hanya kita mampu menghadapi sakit hati dan jasmani kita, tetapi bahkan jasmani dan hati itu pun bisa ikut-ikutan jadi sembuh seperti halnya rohani kita yang selalu terpelihara sehat dekat Tuhan. Mengkhawatirkan hari esok adalah makanan sehari-hari manusia modern. Setelah 6 tahun berjuang tanpa hasil, hari-hari belakangan ini aku mulai dirambati pegel linu kekhawatiran. Aku mulai bertanya “Bagaimana bila aku tidak akan pernah bisa punya anak ? “ “Bagaimana hari tuaku bersama Yoyok nanti ?” “Alangkah sepinya rumah kami nanti, sampai kapan kesepian ini akan terus berlangsung” dan sejumlah pertanyaan bagaimana-bagaimana yang lain.
Dalam Kitab suci, kekhawatiran diibaratkan sebagai seekor singa yang mengaum-ngaum mencari mangsa di sekeliling kita. Kita bisa habis olehnya sebelum peristiwa apapun benar-benar terjadi pada kita. Betapa sia-sianya kegiatan khawatir itu. Tetapi juga betapa sulitnya mengelolanya agar tidak menguasai kita.
Stress manusia modern terbesar adalah mereka tidak pernah berada pada saat ini, di tempat ini, sekarang ini. Pikirannya terus melayang ke masa depan. Bukan hanya masa depan yang jauh, tapi juga nanti siang makan apa, nanti sore dalam meeting harus bicara apa, besok presentasi ke atasan harus bagaimana. Tentu saja hal itu perlu untuk perencanaan dan atisipasi. Namun tidak berarti kita mendahului waktu untuk tiba lebih dulu di masa depan yang belum tiba. Hanya sedikit sekali manusia yang sungguh hadir pada saat ini, detik ini, dan menikmatinya sepenuh-penuhnya. Sebab, tahu apa kita tentang hari esok ? Sudah susah-susah mikir gimana kalau tua kelak nggak punya anak, eh, tahu-tahu dalam semenit ada gelombang tsunami menggulung semuanya habis tak bersisa. Stress memikirkan harus berargumen dengan bos besok pagi ? Sudah sulit tidur semalaman, eh,.. tahu-tahu esok pagi itu matahari tidak terbit, seluruh bumi gelap gulita karena ada awan debu muntahan gunung berapi, dan sebagainya. Hari esok, termasuk semenit ke depan, adalah abstrak. Satu-satunya yang nyata dan kita miliki secara riil adalah saat ini, detik ini. Nikmatilah itu sebaik-baiknya, hayatilah setiap detik hidup ini dengan penuh syukur. Kita tidak perlu bersusah memikirkan hari esok yang belum tentu terjadi, dan belum tentu terjadi seperti yang kita pikirkan. What a waste ! Tuhan kita adalah Tuhan atas hari esok. Seperti burung pipit yang selalu diberi makan oleh Allah tetap hidup nyaman walaupun tidak pernah pusing oleh hari esok.
Berikut adalah petikan ilustrasi Anthony de Mello, SJ tentang pengelolaan kekhawatiran akan hari esok :
1) Buddha pernah ditanya : ‘Siapakah yang disebut orang suci ?’ Jawabnya : “Setiap jam terbagi atas sejumlah detik tertentu, dan setiap detik ada bagian-bagiannya lagi. Barang siapa mampu memberi perhatian penuh pada setiap bagian detik itu, sungguh pantas disebut orang suci. ‘
2) Seorang prajurit Jepang ditangkap oleh musuhnya dan dimasukkan ke dalam penjara. Semalaman ia tidak dapat tidur, karena yakin bahwa keesokan harinya ia akan disiksa dengan kejam. Tiba-tiba kata-kata Guru Zen-nya terlintas dalam ingatan. “Hari esok bukanlah kenyataan . Satu-satunya kenyataan adalah saat sekarang ini.’ Maka ia kembali pada saat sekarang – dan tertidur lelap.
3) Orang yang tidak dikuasai oleh masa depan bagaikan kawanan burung di angkasa dan rumpun bunga bakung di padang. Ia tidak kuatir akan hari esok. Segalanya adalah hari ini. Sungguh, dia itulah orang suci.
Dan bagaimana kita menikmati hari ini, saat ini, detik ini ? Tuhan sudah menyediakan begitu banyak untuk kita nikmati dan syukuri. Bangun pagi ada kehangatan matahari, kicauan burung yang merdu. Dengarkanlah, nikmatilah, syukurilah. Bangkit dari tempat tidur ada kamar yang bersih, terlindung dari panas dan hujan, ada perlengkapan tidur yang baik, perhatikanlah, nikmatilah, syukurilah. Keluar dari kamar ada senyum orang rumah, sehat, hidup, kaya akan keunikan. Sapalah, nikmatilah, syukurilah. Lalu mulailah kerjakan satu demi satu apapun yang kau kerjakan dengan penuh penghayatan. Ambil gelas, mengaduk gula, menuang teh, penuh konsentrasi, penuh syukur. Jangan biarkan pikiran mengelana ke masa depan, bahkan sejam ke depan. Kerjakan dan hayati penuh syukur apa yang kau lakukan saat ini, detik ini. (Catatan : cara hidup seperti itu dalam ilmu kesehatan mental India disebut meditasi Vipassana, jadi itu adalah meditasi sebenarnya, mencoba memusatkan perhatian detik demi detik apapun yang kita lakukan)
Jangan kita menganggap biasa bila orang bangun pagi, terus ke kantor, lalu pulang lagi ke rumah dengan selamat, lalu makan dan tidur. Jangan sekali-kali menganggap itu biasa, rutin, dan membosankan. Itu adalah luar biasa ! Itu adalah hadiah ! Itu adalah pemberian ! Bagi para korban tsunami di Aceh yang selamat, hanya dalam beberapa menit mereka tidak lagi pergi ke kantor, tidur dengan normal, dan makan dengan cukup. Bagi orang yang sedang sakit parah di rumah sakit, kegiatan buang air kecil dan buang air besar yang bagi kita biasa bisa menjadi sangat menyakitkan dan tidak enak. Hidup ini adalah hadiah, dan setiap hari yang baru adalah kesempatan indah yang tidak pernah sama. Diberikan oleh Tuhan untuk kita syukuri dan nikmati dengan baik, sambil belajar menangkap suara Allah lewat berbagai peristiwa yang tidak pernah sama setiap hari, dalam rutinitas sekalipun, bila kita mau menghayatinya. Setiap detik adalah berharga, dan setiap karakter orang yang kita jumpai adalah unik dan berharga, begitu kaya, tak pernah sama setiap hari. Oh, betapa kayanya hidup itu ! Terlalu kaya untuk kita lewatkan begitu saja. Selalu ada yang bisa kita syukuri pada detik ini. Bila berpikirnya melayang ke depan, tidak bisa bersyukur, karena hanya kekhawatiran yang ada. Bila menjalaninya setiap detik, maka yang ada hanya syukur karena masih diberi hidup, teman, udara pagi, dan lain-lain. Dan dengan begitulah kita menabur benih-benih kekekalan untuk hidup yang akan datang, karena hidup yang diberikan Tuhan saat ini tidak pernah kita sia-siakan.
Percayakan hari esok kita kepada Tuhan. Ia adalah Tuhan atas hari esok. Karena cintaNya, Ia punya rencana yang indah di hari esok, buat masing-masing kita. Tak peduli betapapun beratnya penderitaan kita saat ini, rencana Tuhan hanyalah indah semata. KasihNya terlalu besar dan kuasaNya terlalu agung, untuk membiarkan kita hanyut dalam arus kehidupan yang memisahkan kita dari kasihNya yang tak terpahami. Tak terpahami karena besarnya dan agungnya, sehingga setiap detik hidup ini terasa begitu berharga. Dan di balik setiap peristiwa hidup adalah tak lain tuntunan kebijaksanaanNya bagi kita.
Dalam perjalanan pengobatan medis yang kami jalani di 6 tahun pertama pernikahan, kami akhirnya juga mempunyai kesempatan dan memenuhi syarat untuk menjalani program bayi tabung yang disarankan dokter sebagai alternatif terakhir dari perjalanan usaha kami yang panjang. Tetapi kami sadar Gereja tidak menyetujuinya. Kami tidak ingin melukai hati Tuhan. Maka kami pun memutuskan untuk tidak akan pernah melakukannya. Karena kami yakin Tuhan tahu apa yang sedang Dia lakukan dan sedang Dia ijinkan terjadi pada kami, kami percaya sepenuhnya bahwa Dia sedang bekerja melalui segala sesuatu bagi kebaikan kami
Bagian tujuh : Penutup
Bagi aku dan Yoyok, filsafat hidup yang ingin kami pegang erat adalah filsafat “Wis Embuh” (bahasa Jawa yang artinya : nggak tahu deh). Hari depan kami ada di tangan Allah. Karenanya kami tidak perlu merasa khawatir. Bahkan memikirkannya pun tidak perlu. Kami tahu siapa yang memegang hidup kami. Wis Embuh adalah pegangan kami mengarungi hidup ini. Wis embuh berarti percaya dan pasrah total kepada penyelenggaraan Allah. Tak berjarak lagi dengan Allah. Seperti ayam, seperti burung pipit, yang dipelihara Allah. Kami mau menyerahkan semua ke dalam tangan Allah. Bila kami sibuk memikirkan atau mengkhawatirkannya lagi, berarti kami mengambilnya lagi dari tangan Allah, mengulik-uliknya lagi, mengotak-atiknya lagi. Berarti kami tidak percaya Allah sudah dan akan selalu menghandle-nya dengan baik. Kekhawatiran dan kesedihan adalah persembahan yang Allah berkenan. Serahkan saja semuanya itu kepadaNya, biar jadi milikNYa, bukan milik kita. Dia yang akan mengurus dan menghandlenya untuk kita. Kini telah sepuluh tahun kami mengarungi bahtera rumahtangga berdua saja, belum lagi bersama kehadiran tawaria dan canda anak-anak buah cinta yang kami rindukan. Namun kasih Allah Bapa yang tak terukur mendampingi kami dengan cara yang luar biasa unik dan nyata, yang sulit kami ceritakan dengan singkat karena kaya dan halusnya, sehingga kami tak sedikitpun merasakan kekurangan kasih Allah yang maha Hadir.
SABAR MENANTI WAKTU TUHAN
Di dalam hidup ini, semua ada waktunya.
Ada waktunya kita menabur….. ……… ……… ….
Ada juga waktu menuai…… ……… ……… ……… …….
Mungkin dalam hidupmu bagai datang menyerbu,
Mungkin doamu bagai tak terjawab !
Namun yakinlah tetap.
Tuhan tak’kan terlambat!
Juga tak akan lebih cepat
Semuanya…. ……… ……… ……… ….
Dia jadikan indah tepat pada waktuNya.
Tuhan selalu dengar doamu !
Tuhan tak pernah tinggalkanmu !
PertolonganNya pasti’kan tiba tepat pada waktuNya.
Bagaikan kuncup mawar pada waktunya mekar
Percayalah.. ……… ……… ……… ……… …..
Tuhan jadikan indah pada waktuNya.
Hendaklah kita s’lalu hidup dalam firmanNya.
Percayalah kepada Tuhan !
Nantikan Dia bekerja pada waktuNya.
Tuhan tak akan terlambat
Juga tak akanterlalu cepat
Ajarlah kami setia slalu menanti waktuMu Tuhan
(1 Korintus 10 : 13 & Pengkotbah 3 : 11a)
–Uti-
Serpong, 8 Januari 2005
Diedit di Milan, 3 Juni 2009






