Home Blog Page 294

Tahun berapakah Yesus lahir?

18

Berikut ini adalah beberapa fakta tentang perhitungan tahun kelahiran Yesus.

1) Dionysius Exiguus (470-544) adalah seorang anggota Scythian monks, yang akhirnya tinggal di Roma sekitar tahun 500. Dionysius adalah orang yang pertama kali memperkenalkan AD (Anno Domini / the year of the Lord) pada waktu dia membuat kalendar Paskah (Easter). Sistem penanggalan ini menggantikan sistem penanggalan Diocletian, karena Dionysius tidak ingin menggunakan Diocletian, seorang yang menganiaya jemaat Kristen. Dionysius mengatakan bahwa Anno Domini dimulai 754 tahun dari pondasi Roma (A.U.C) atau tahun 1 AD, yaitu tahun dimana Yesus lahir (dalam perhitungan Dionysius). Namun berdasarkan perhitungan para ahli, terutama berdasarkan bukti sejarah dari Josephus, maka perhitungan ini dipandang tidak terlalu tepat.

2) Kitab Matius mengatakan “Sesudah Yesus dilahirkan di Betlehem di tanah Yudea pada zaman raja Herodes, datanglah orang-orang majus dari Timur ke Yerusalem” (Mt 2:1). Josephus, seorang ahli sejarah mengatakan bahwa Raja Herodes meninggal setelah berkuasa selama 34 tahun (de facto) dari meninggalnya Antigonus dan 37 tahun (de jure) sejak Roma mengeluarkan perintah yang menyatakan bahwa dia adalah raja (Josephus, Antiquities, 17,8, 1). Antigonus meninggal pada saat Marcus Agrippa dan Caninius Gallus menjadi konsulat, yaitu pada tahun 37 BC. (Josephus, Antiquities, 14,16, 4). Herodes menjadi raja pada saat Caius Domitias Calvinus dan Caius Asinius Pollio menjadi konsulat pada tahun 40 BC. Oleh karena itu perhitungannya adalah:

  • Dihitung dari meninggalnya Antigonus: 37 BC – 34 = 3 BC
  • Dihitung dari Raja Herodes menjadi raja: 40 BC – 37 = 3 BC.

Oleh karena itu, raja Herodes dipercaya meninggal sekitar 3 BC – 5 BC, atau kemungkinan sekitar 4 BC. Hal ini dikarenakan Josephus mengatakan bahwa pada saat tahun itu juga terjadi gerhana bulan (Josephus, Antiquities, 17,6, 4). Dan gerhana bulan ini terjadi pada tahun 4 BC. Tentang terjadinya gerhana bulan ini masih menjadi perdebatan.
3) Kalau kita mengikuti asumsi gerhana bulan pada waktu itu adalah 4 BC, yang menjadi rujukan kapan Herodes meninggal, maka Kristus harus lahir sebelum tahun 4 BC. Dan diperkirakan Yesus lahir beberapa tahun sebelum kematian raja Herodes. Berdasarkan perhitungan tersebut di atas, sebagian ahli percaya bahwa kelahiran Yesus adalah sekitar tahun 7 BC – 6 BC.

Benarkah kita tak bisa mohon para kudus untuk mendoakan kita?

25

Pertanyaan:

1. maaf pertanyaan saya agak kurang nyambung tapi masih terkait bacaan lazarus tersebut, temen saya dari gereja protestan berkata bahwa kita tidak bisa mendoakan arwah orang mati karena di cerita itu jelas ada perikop
ayat 26 Selain dari pada itu di antara kami dan engkau terbentang jurang yang tak terseberangi, supaya mereka yang mau pergi dari sini kepadamu ataupun mereka yang mau datang dari situ kepada kami tidak dapat menyeberang.
temen saya bilang, antara si lazarus dan orang kaya itu dalam 1 dunia ( alam kematian) saja tidak bisa berhubungan, apalagi kita yang masih hidup di dunia yang berbeda,
2. Temen saya juga bilang bahwa kata-kata orang kudus yang ada di alkitab itu adalah orang yang masih hidup, ciri-ciri orang hidup memiliki badan, jiwa dan roh, oleh karena itu jika kita berdoa bersama orang kudus yang sekarang( santo santa) itu sudah tidak relevan lagi karena mereka itu orang yang sudah meninggal yang tidak memilki badan dan jiwa.
menurut romo, ibu Ingrid atau Pak stef, bagaimana saya harus menanggapi pernyataan teman saya tersebut?
terima kasih, Ben

Jawaban:

Shalom Ben,
1. Ayat 26 yang disebutkan dalam perikop kisah orang kaya dan Lazarus (Luk 16:19-31) menceritakan jurang yang tak terseberangi antara neraka (tempat jiwa-jiwa orang yang jahat) dan pangkuan Abraham/ “the bosom of Abraham” (tempat jiwa-jiwa orang beriman menanti saat mereka boleh memasuki Surga setelah kebangkitan Yesus). Maka setelah Yesus yang bangkit turun ke tempat penantian  (yaitu pangkuan Abraham ini) maka semua jiwa yang di dalamnya dibawa ke Surga, karena Yesuslah yang sulung dari semuanya, dan Ia-lah yang membuka pintu Surga (lih. Kol 1:15-18). Oleh karena itu, jarak yang terbentang dan tak terseberangi adalah jarak antara surga dan neraka.

Namun antara para Kudus yang di Surga dan orang-orang beriman yang masih berziarah di dunia tidak terpisah oleh jurang yang tak terseberangi. Kenapa? Justru karena Yesus yang mempersatukan anggota-anggota Tubuh-Nya. Yesus mengajarkan bahwa Para Orang Kudus yang meninggal dalam Kristus tersebut tidak “mati” (lih. Yoh 11:25-26). Tuhan Yesus mengatakan, “Akulah kebangkitan dan hidup; barangsiapa percaya kepada-Ku, ia akan hidup walaupun ia sudah mati, dan setiap orang yang hidup dan yang percaya kepada-Ku, tidak akan mati selama-lamanya.” (Yoh 11:25-26). Para orang kudus yang telah percaya kepada Yesus itu, tidak mati, melainkan mereka tetap hidup di dalam Yesus.  Tuhan Yesus telah mengaruniakan hidup kekal kepada mereka yang telah makan Tubuh dan Darah Kristus (dalam Ekaristi) seperti yang dijanjikannya dalam Yoh 6:35, 48, 51, 53-58, “…Jikalau kamu tidak makan daging Anak Manusia dan minum darah-Nya, kamu tidak mempunyai hidup di dalam dirimu…. Barang siapa makan roti ini, ia akan hidup selama-lamanya.” Jadi dalam pengertian ini, Para Kudus yang meninggal dalam Kristus tersebut, sesungguhnya lebih “hidup” dari pada kita, sebab mereka melah telah bersatu dengan Sang Hidup itu sendiri yaitu Kristus, di surga.

Jadi walaupun pengertian orang kudus dalam Alkitab memang sering dipakai untuk menjelaskan orang-orang Kristen secara umum, namun Gereja Katolik tidak membatasi bahwa pengertian “orang kudus” ini hanya terbatas pada orang-orang yang masih hidup di dunia. Orang kudus yang meninggal dalam Kristus, tidak berhenti menjadi orang kudus setelah ia memasuki hadirat Allah yang ilahi. Para Orang Kudus yang sudah meninggal dan masuk Surga ini juga merupakan bagian dari Gereja yang Satu. Mereka tetap menjadi anggota Tubuh Kristus [yang satu] oleh karena jasa Yesus Kristus sebagai Kepalanya. (Dengan pengertian ini maka kita juga dapat mendoakan saudara-saudara kita, para beriman yang berada di dalam Api Penyucian, karena merekapun tergabung dalam Tubuh Kristus/ Gereja yang Satu itu).

Maka kalau Rasul Paulus mengajarkan bahwa sebagai umat beriman kita harus saling mendoakan, maka sangat masuk akal kalau kitapun dapat memohon para orang kudus di Surga untuk mendoakan kita. Alkitab sendiri mengatakan bahwa para “tua-tua” dalam Why 4:9, 5:8, 6:9-11 mengajukan doa-doa mereka ke hadapan Allah. “Tua-tua” ini adalah Para kudus. Mereka adalah jiwa-jiwa orang yang telah diselamatkan, dan karena mereka berada di surga, maka mereka pasti kudus, karena semua yang tidak kudus, tidak mungkin masuk surga. Maka mereka adalah juga “Orang-orang kudus.”

1 Tim 2:1-2 Rasul Paulus mengajarkan agar kita “menaikkan permohonan, doa syafaat dan ucapan syukur untuk semua orang”.  Jadi yang melakukan doa syafaat/ pengantaraan bukan saja hanya Kristus dan Roh Kudus, namun kita semua diundang untuk berdoa syafaat, saling mendoakan satu sama lain. Para beriman atau semua orang kudus diajar untuk berdoa atau berdoa syafaat, dan ini diajarkan dalam 32 ayat yang lain dalam Perjanjian Baru. Namun tentu saja doa syafaat kita ini hanya dapat terjadi karena Pengantaraan Kristus yang satu-satunya itu, dan tidak bisa telepas dari Kristus.

Gereja Katolik percaya bahwa Kristus dan Roh Kudus berdoa syafaat bagi kita. Doa syafaat ini secara sempurna kita lihat dalam Perayaan Ekaristi, di mana doa-doa ditujukan kepada Allah Bapa, melalui Kristus Sang Putera, di dalam Roh Kudus (silakan melihat teks Misa Kudus). Tidak pernah doa- doa ini dinyatakan di dalam nama Maria atau nama para kudus: Santa/ Santo.

Selanjutnya, karena kita percaya bahwa kematian akan membawa kita kepada kehidupan bersama Kristus, melihat Dia dan menjadi serupa dengan-Nya (1 Yoh 3:2), maka di surga nanti, saat kita bersatu dengan Kristus, kita akan melakukan juga apa yang dilakukan oleh Kristus, yaitu berdoa/ mendoakan orang-orang lain yang masih berziarah di dunia.

Gereja Katolik tidak pernah memaksa para anggotanya untuk mempunyai devosi khusus kepada Orang Kudus. Gereja hanya merekomendasikan devosi ini atas dasar ajaran Kitab Suci seperti. Alkitab sendiri tidak melarang kita untuk memohon kepada orang Kudus di surga untuk mendoakan kita. Maka sebaiknya, kita juga tidak melarangnya.

2. Teman anda itu mengatakan bahwa istilah Orang Kudus dalam Alkitab hanya terbatas pada orang yang masih hidup di dunia. Jadi katanya, berdoa kepada Santo/ Santa yang sudah meninggal sudah tidak relevan, karena mereka sudah tidak memiliki badan dan jiwa. Benarkah?

Hal ini sebagian telah dijawab dalam point 1. Perbedaannya di sini nampaknya adalah:  teman anda itu membatasi definisi orang kudus hanya pada orang yang masih hidup di dunia, sedangkan pengertian Gereja Katolik tidak demikian. Gereja Katolik berpegang pada janji Kristus, bahwa barangsiapa yang makan Tubuh-Nya yang adalah Roti Hidup, maka ia akan hidup selama-lamanya (lih. Yoh 6:58). Bandingkan di sini bahwa Yesus membandingkan nenek moyang bangsa Israel yang tidak memakan Tubuh-Nya, dan hanya makan manna di padang gurun. Yesus mengatakan bahwa mereka telah “mati”, tetapi yang makan Tubuh-Nya akan hidup selama-lamanya (Yoh 6:51). Maka, ada perbedaan definisi di sini. Teman anda membatasi pengertian “mati” dengan keadaan empiris bahwa orang yang mati sudah ‘tidak bernafas’, sedangkan ayat-ayat di perikop Yoh 6 ini mengajarkan bahwa pengertian “mati” adalah mereka yang tidak mempunyai hidup di dalam Kristus, yang diperoleh melalui makan Tubuh-Nya, Sang Roti Hidup. Di sini, kita sebagai orang Katolik bukannya mengingkari bahwa orang yang mati itu sudah tidak bernafas, tetapi kita memegang suatu prinsip yang lain, yaitu bahwa meskipun Para Orang Kudus yang wafat itu telah mati secara empiris, namun mereka “hidup” di dalam Tuhan, atas jasa Kristus. Yesus sendiri berkata, “Barangsiapa menuruti firman-Ku ia tidak akan mengalami maut sampai selama-lamanya.” (Yoh 8:51) Maka menurut pengajaran Yesus sendiri, bagi orang percaya yang memegang teguh firman-Nya, kematian tidak menjadikannya “mati”, melainkan hidup di dalam Dia.

Maka jika kita berpegang pada ajaran Yesus dari perikop Yoh 6 ini, kita percaya bahwa orang-orang beriman yang masuk di surga itu adalah tetap orang-orang kudus. Walaupun mereka tidak lagi bernafas, mereka sebenarnya tidak “mati”, tetapi mereka “hidup” oleh karena Kristus, Sang Roti Hidup, telah memberi kehidupan kekal kepada mereka (lih. Yoh 6:54). Dan setelah mereka bersatu dengan Yesus di surga, maka merekapun akan bersatu dengan Yesus dalam mendoakan orang-orang yang masih berziarah di dunia, sebab Tubuh akan selalu mendukung apa yang dilakukan oleh Sang Kepala. Namun demikian, doa syafaat yang dilakukan oleh Para Kudus itu hanya dimungkinkan oleh Doa Syafaat dan Pengantaraan Kristus yang esa dan satu-satunya itu, dan doa syafaat tersebut tidak bertentangan, karena para orang kudus yang sudah bersatu dengan Kristus tidak mungkin menginginkan sesuatu yang bertentangan dengan kehendak Kristus sang Kepala. Para Kudus tersebut adalah sahabat-sahabat Kristus, dan karena itu, sesungguhnya mereka juga adalah sahabat-sahabat kita. Kasih Kristuslah yang mempersatukan kita semua sebagai anggota Tubuh Mistik Kristus yang Satu itu. Dan, karena kita percaya bahwa “tidak ada suatu kuasa-pun yang mampu memisahkan kita dari kasih Allah” (Rom 8:38-39) maka kematian tidak mungkin memisahkan kita dengan Allah dan dengan sahabat-sahabat-Nya.

Untuk lebih lanjutnya tentang topik Para Orang Kudus ini, Stef akan mengulasnya dalam artikel terpisah. Mohon kesabarannya ya.

Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
Ingrid Listiati- www.katolisitas.org

Rapture menurut sudut pandang ajaran Gereja Katolik

52

Pendahuluan

Pertama saya mendengar teori tentang rapture ini adalah ketika saya pernah berbincang-bincang dengan teman saya yang beragama Protestan di sekitar tahun 1997. Terus terang, pada saat itu, saya tidak tahu banyak tentang hal ini, sehingga saya lebih banyak diam dan mendengarkan. Tentu hal ini membuat hati saya bertanya-tanya, namun saya bersyukur, bahwa setelah saya mempelajari lebih lanjut tentang ajaran Gereja Katolik tentang akhir jaman, pertanyaan saya ini terjawab. Saya bersyukur akan rahmat yang Tuhan berikan melalui pengajaran Magisterium yang diteruskan oleh para ahli kitab suci dan tokoh apologetik Katolik yang mampu menyampaikan ajaran ini dengan jelas dan rinci. Dalam hal ini saya bersyukur atas keterangan yang diberikan oleh Fr. Frank Chacon dan Jim Burham, melalui buku mereka Beginning Apologetics 8, The End Times, sumber utama yang saya ambil untuk menjelaskan topik yang penting ini. ((Lihat Father Frank Chacon & Jim Burnham, Beginning Apologetics 8: The End Times, (Farmington, NM: San Juan Catholic Seminary, 2005), esp. pp.10-17.))

Teori “secret rapture” adalah bagian dari ajaran Dispensationalism, yang pertama diajarkan oleh John Nelson Darby (1859-1874) dan dipopulerkan di Schofield Study Bible pada tahun 1909, serta belum lama ini menjadi ‘hit’ melalui buku seri Left Behind. Kita sebagai umat Katolik memang perlu waspada akan pengajaran “rapture” ini, sebab selain memperkenalkan interpretasi yang asing tentang Kedatangan Kristus yang kedua, teori ini juga mengajarkan hal yang keliru tentang pengertian Gereja. Maka mari kita lihat dulu pandangan Gereja Katolik baru kemudian pandangan Protestan dalam hal “rapture” ini.

Pandangan Katolik tentang “rapture”

Kata “rapture” berasal dari bahasa Latin yang artinya “to be caught up/ taken up” atau “diangkat”. Kata ini terdapat pada perikop 1 Tes 4:17:

“Sesudah itu kita yang hidup, yang masih tinggal, akan diangkat bersama-sama dengan mereka [para kudus] dalam awan menyongsong Tuhan di angkasa. Demikianlah kita akan selama-lamanya bersama-sama dengan Tuhan.”

Orang Katolik percaya bahwa mereka yang masih hidup pada saat kedatangan Kristus yang kedua tidak akan mengalami kematian yang membuat tubuh terurai di kubur, melainkan akan diubah dalam kemuliaan dan menyongsong (dengan ‘diangkat’) para kudus yang sudah bersama-sama dengan Kristus. Maka penyambutan Kristus di awan-awan tidak saja melibatkan para beriman yang masih hidup, namun juga para beriman yang telah meninggal. Interpretasi ini juga diimani oleh gereja Orthodox, dan sejumlah besar umat Protestan.

Pandangan Protestan Fundamentalis tentang “secret rapture”

Pada abad ke 19, di Amerika berkembang banyak aliran yang memusatkan perhatian pada keadatangan Yesus yang kedua. Salah satunya yang terkenal adalah yang dikenal dengan Dispensationalism. Dispensationalism, adalah pengajaran yang dipelopori oleh John Nelson Darby (1859-1874), pemimpin sekte Kristen di Inggris, yang bernama Plymouth Brethern. Dinamakan ‘dispensationalism’ karena ia membagi sejarah manusia menjadi 7 masa dispensasi/ tahap dimana Tuhan menyatakan wahyu-Nya kepada manusia. Namun di setiap tahap, manusia gagal dalam ujian, sehingga penghakiman terjadi di akhir setiap tahap, dan tahap baru akan menyusul sesudahnya.

Kita hanya akan membahas 2 aspek saja dalam tulisannya yang berkaitan dengan rapture, yaitu: 1) pandangannya tentang kedatangan Kristus; 2) pandangannya tentang Gereja. Menurut Darby terdapat perbedaan tak terseberangi antara bangsa Israel dan Gereja, sehingga ia membagi misalnya, bahwa nubuat Perjanjian Lama hanya diperuntukkan bagi bangsa Israel, dan tak ada satupun untuk Gereja. Menurut para dispensationalists, karena bangsa Israel menolak pembentukan Kerajaan Mesias di dunia dengan menolak Kristus, maka Tuhan menunda pembentukan Kerajaan tersebut, dan berpaling pada bangsa-bangsa non-Yahudi. Karena itu, jam/ lonceng nubuatan Yahudi berhenti berdetak ketika Yesus wafat; dan karena itu, semua nubuatan Perjanjian Lama bagi bangsa Israel ditunda.

Setelah waktu pemenuhan bangsa-bangsa non Yahudi (Luk 21:24), menurut Darby, Yesus akan kembali dengan rahasia untuk mengangkat Gereja yang terdiri dari orang-orang beriman non-Yahudi- ke surga. Mereka akan diangkat untuk bertemu dengan Yesus di surga. Setelah kedatangan Yesus ini, dimulailah masa tujuh tahun penderitaan/ tribulation dan pengrusakan dunia, di mana Antikristus akan berjaya. Setelah tujuh tahun penderitaan, baru Yesus akan datang secara publik dan mengalahkan Antikristus.

Selanjutnya, orang-orang Yahudi akan menerima Kristus sebagai Penyelamat mereka. Kristus akan memimpin dunia selama 1000 tahun (Millennium menurut Why 20:4) yang memerintah atas bangsa Israel yang telah dipulihkan. Pada masa ini nubuatan Perjanjian Lama akan bangsa Israel akan dipenuhi. Jam nubuatan bagi Israel kembali berdetak. Israel akan kembali membentuk agama yang sesuai dengan ritual dan kurban-kurban sesuai dengan Perjanjian Lama. Inilah kerajaan yang diajarkan oleh Yesus di Injil. Israel akan menjadi bangsa pilihan Allah lagi. Maka Gereja hanya menjadi solusi sementara, ‘pengisi masa kekosongan’ sampai Israel kembali kepada Tuhan. Setelah 1000 tahun, maka setan akan dilepaskan dan segera dikalahkan, dan dunia akan sampai pada akhirnya.

Dengan ide seperti ini, maka tak heran, bahwa orang-orang Kristen Fundamentalis memiliki pandangan yang rendah tentang Gereja, sebab hanya dianggap sebagai pengisi kekosongan masa saja. Dengan berpegang pada ide di atas, maka banyak dari mereka menganggap bahwa pendirian negara Israel pada tahun 1948 adalah sebagai sesuatu yang sangat penting. Mereka berpendapat bahwa saat itulah maka jam nubuatan Israel kembali berdetak lagi. Israel akan kembali menjadi bangsa pilihan, “rapture” akan segera terjadi, dan para beriman yang tergabung dalam Gereja akan segera ‘diangkat’.

Beberapa Masalah dari teori Dispensationalism tentang Rapture

1. Kesalahpahaman pandangan tentang Gereja.

Terdapat dua kekeliruan di sini: 1) Pandangan yang menganggap bahwa Gereja hanya mengisi kekosongan demi kepentingan bangsa non- Yahudi 2) Kerajaan Allah yang dikhotbahkan Yesus adalah berkenaan dengan bangsa Israel di masa mendatang yang telah dipulihkan.

Kenapa? Karena pada Mat 4:17 Yesus berkata, “Kerajaan Allah sudah dekat.” Dan juga dalam Mat 16: 13-20 ketika Yesus mengatakan akan “mendirikan Gereja-Nya atas batu karang” (Rasul Petrus), Ia berkata, “Kepadamu akan Kuberikan kunci Kerajaan Surga.”

Alkitab mengatakan bahwa Gereja adalah Tubuh Kristus (Ef 5:23; Kol 1:24), Yerusalem yang baru (Why 21:2), kota yang beranggotakan orang-orang Kudus yang diangkat menjadi keluarga Allah, dan kota yang dibangun atas dasar para rasul dan para nabi (lihat Why 21:14 dan Ef 2:19-22), Kerajaan Surga (Mat 13), Mempelai Kristus pada akhir jaman (Why 21:9). Dan Yesus juga mengatakan akan menyertai Gereja-Nya sampai pada akhir jaman (Mat 28:20).

Maka ide bahwa Gereja hanya sebagai ‘fase yang terlewati’ sampai bangsa Israel dipulihkan sebenarnya tidak ditemukan di dalam Alkitab. Terlebih lagi, pandangan ini tidak sesuai dengan bukti biblikal yang menyatakan bahwa Kerajaan Allah adalah Gereja. Bahkan yang lebih menyedihkan, beberapa pendukung ajaran ini malah mengatakan bahwa Gereja Katolik adalah agama yang sesat dan yang akan menjadi Antikristus- kota Babel (the Whore of Babylon) pada Why 18!

2. Kekurangpahaman akan makna sakramen, pengubahan diri kita di dalam hidup Kristus sebagai aspek penting untuk memperoleh keselamatan, dan karya Roh Kudus dalam Magisterium Gereja.

Karena pandangan yang keliru tentang Gereja, maka dengan sendirinya, para rapturist menolak sakramen-sakramen yang diberikan oleh Gereja sebagai tanda yang menyampaikan rahmat Tuhan. Dengan menolak sakramen, mereka memusatkan perhatian kepada Alkitab saja, dan terutama ayat untuk mengakui Yesus sebagai Tuhan dengan mulut (Rom 10:10). Tak heran, biasanya tujuan dari khotbah akhir jaman, adalah supaya seseorang dapat menerima Yesus Kristus sebagai Juru Selamat pribadi, dan dengan demikian Tuhan membenarkan dia, dan menyelamatkannya. Supaya dengan kondisi ini, ia dapat memiliki kepastian, bahwa ia ‘pasti’ diangkat dalam “secret rapture”, jika Yesus datang kembali. Maka di sini yang digarisbawahi hanya iman.

Padahal menurut ajaran Gereja Katolik yang berpegang pada ajaran Yesus dalam Yoh 3:5, untuk diselamatkan seseorang tidak hanya harus percaya kepada Yesus dan mengaku dengan mulut, namun juga seseorang harus lahir kembali dalam air dan Roh, yaitu dengan dibaptis dalam nama Bapa, Putera dan Roh Kudus, (Mat 28:19), dan selanjutnya hidupnya harus berubah sesuai dengan perintah Tuhan, yaitu: dengan melakukan perbuatan-perbuatan baik (lih. Yak 2:24) dan mengambil bagian dalam hidup ilahi (Rom 8: 10-11), yang kita terima melalui sakramen-sakramen, terutama Ekaristi.

Penolakan akan pengajaran ini menunjukkan betapa para rapturist itu tidak mengakui bahwa Roh Kudus bekerja dalam Magisterium Gereja Katolik. Namun penolakan terhadap ajaran Magisterium mengakibatkan mereka tidak memiliki keseragaman dalam pemahaman tentang rapture ini, sebab mereka hanya mengandalkan khotbah dari berbagai tokoh rapture, yang dapat mengajarkan pengajaran yang berbeda-beda.

3. Kesalahpahaman pandangan tentang Israel

Perjanjian Lama (PL) digenapi di Perjanjian Baru (PB). Peran Imamat dalam PL telah dipenuhi dalam Kristus sebagai Imam Agung yang lebih tinggi dari Harun –imam dalam PL (lihat Ibr 7:11-28). Maka segala kurban dalam PL telah digenapi di dalam kurban salib Yesus di Golgota, yang kemudian dihadirkan kembali di sepanjang segala abad dalam Sakramen Ekaristi. Maka, bangsa Israel dalam PL telah digenapi oleh Gereja dalam PB, yang disebut sebagai bangsa Israel yang baru (Gal 6:16). Nubuatan- nubuatan PL tentang Israel menemukan pemenuhannya di dalam Gereja. Jadi, tidak mungkin ada titik balik menuju bangsa Israel seperti dalam PL, sebab Gereja dalam PB adalah merupakan bangsa pilihan Allah yang baru dan kekal.

Maka pengakuan bangsa Israel secara sekular pada tahun 1948 oleh PBB yang adalah institusi non-Kristen tidak ada hubungannya dengan perjanjian bangsa Israel dengan Allah seperti pada Perjanjian Lama. Perjanjian bangsa Israel dengan Allah dalam PL terbentuk melalui perjanjian yang diberikan kepada Nabi Musa di Gunung Sinai. Oleh karena itu, Bangsa Israel adalah bangsa perjanjian. Sedangkan pembentukan Negara Israel secara sekular tidak mempunyai nilai religius yang penting bagi umat Kristen. Namun demikian, kita percaya bahwa bangsa Israel tetap ada dalam rencana Tuhan, seperti yang diajarkan oleh rasul Paulus dalam Rom 11. Suatu hari nanti mereka akan bergabung dengan Gereja dan menjadi bagian dari PB: bangsa pilihan Allah yang baru.

4. Kekeliruan dalam mengartikan 1 Tes 4

Tak ada dalam ayat 1 Tes 4 yang menyatakan kedatangan Kristus secara rahasia. Pada perikop ini yang diajarkan oleh Rasul Paulus adalah tentang kebangkitan orang mati yang terjadi pada waktu kedatangan Yesus yang kedua. Umat di Tesalonika waktu itu berduka dan cemas memikirkan keadaan umat Kristen yang meninggal sebelum kedatangan Kristus yang kedua: akankah mereka turut mengambil bagian dalam kemuliaan Kristus. Maka Rasul Paulus mengajarkan bahwa mereka yang telah wafat dalam Kristus akan bangkit terlebih dahulu. Baru kemudian, umat Kristen yang masih hidup akan bergabung dengan mereka yang telah bangkit, dan “bersama-sama dengan mereka, akan bertemu dengan Tuhan di angkasa” Dengan demikian, “kita akan selalu bersama-sama dengan Tuhan.” (a.17)

Jadi perhatian Rasul Paulus yang utama adalah untuk menghibur umat di Tesalonika dengan ajaran kebenaran bahwa pada akhirnya, kita akan berjumpa dengan Yesus pada kedatangan-Nya yang kedua. Tidak satupun orang, termasuk yang sudah mati akan ditinggalkan, sebab semua orang mati akan dibangkitkan. Maka para beriman yang masih hidup juga akan bergabung bersama mereka yang telah mendahului kita dan bersama dengan mereka akan mengambil bagian dalam kemuliaan Kristus yang turun dari Surga ke dunia.

Rasul Paulus mengajarkan tentang satu kali kedatangan Kristus (‘coming’ not ‘comings’). Silakan lihat tabel berikut ini untuk melihat hubungan perikop 1 Tes 4:13-17 ini dengan 3 perikop yang lain, yang menunjukkan bahwa yang dijabarkan mengacu pada kejadian yang sama. Kedatangan Kristus akan diumumkan dengan seruan malaikat dan suara sangkakala, dan ini bukan “secret rapture”/ masa pengangkatan ataupun kedatangan yang rahasia. Dalam perikop ini tidak dikatakan bahwa Yesus akan datang secara rahasia untuk mengangkat orang-orang Kristen ke surga untuk menghindari mereka dari masa penderitaan selama 7 tahun.

Empat perikop yang menjabarkan tentang Kedatangan Kristus yang kedua.

1 Tes 4:13-17

Mat 24:29-31

2 Tes 2:1,3,8

1 Kor 15

“kedatangan Tuhan” (a.14)

“Anak Manusia itu datang” (a.30)

“kedatangan Tuhan kita Yesus Kristus” (a.1)

_

“penghulu malaikat berseru” (a.16)

“malaikat-malaikat-Nya dengan meniup sangkakala” (a.31)

_

_

“sangkakala Allah berbunyi” (a.16)

“sangkakala yang dahsyat bunyinya” (a.31)

_

“nafiri akan berbunyi” /“nafiri terakhir” (a.52,51)

“mereka yang mati dalam Kristus akan bangkit” (a.16)

_

_

“orang-orang mati akan dibangkitkan (a.52)

“diangkat bersama-sama… menyongsong Tuhan di angkasa” (a.17)

“mengumpulkan orang-orang pilihan-Nya” (a.31)

“terhimpunnya kita dengan Dia” (a.1)

“dalam awan” (a.17)

“di atas awan-awan” (a.30)

_

[Kapankah peristiwa ini terjadi?]

“Segera sesudah siksaan pada masa itu” (a.29)

“Sebab sebelum hari itu haruslah datang dulu murtad dan harus dinyatakan dahulu manusia durhaka (Antikristus)” (a.3)

“pada waktu bunyi nafiri yang terakhir” (a.51)

Juga, tak kalah pentingnya, tak ada sebutan bahwa Yesus akan merubah haluan. Perhatikanlah bahwa, Yesus “akan turun dari surga.” Ia akan turun dari surga ke dunia. Tidak dikatakan bahwa Yesus akan membuat jalan putar balik (U-turn) setelah umat Kristen bertemu dengan-Nya di angkasa, lalu Ia akan kembali ke surga. Melainkan, ayat ini menjabarkan kembalinya Kristus dengan mulia ke dunia, dan kebangkitan orang mati akan terjadi bersamaan dengan hal ini. (Mengenai penjelasan U-turn ini silakan lihat Appendix- 1 di bawah artikel ini).

Dalam 1 Kor 15: 50-58, Rasul Paulus juga membahas hal yang sama. Ia mengatakan bahwa suara sangkakala di sini merupakan bunyi nafiri yang terakhir. Maka kematian akan berakhir, ”yang dapat binasa mengenakan yang tidak dapat binasa… Maut telah ditelan dalam kemenangan.” (1Kor 15:54). Jelaslah di sini bahwa Rasul Paulus mengajarkan tentang kedatangan Yesus yang kedua pada akhir jaman, di mana pada saat itu tidak ada kematian lagi.

Mat 24: 29-31 juga menjabarkan peristiwa yang sama dengan 1 Tes 4. Kedua perikop menceritakan kedatangan Kristus dalam awan-awan, dengan para malaikat dan suara sangkakala, dan pengumpulan orang-orang pilihan-Nya. [Namun para dispensationalists membedakan kedua peristiwa itu; 1 Tes 4 adalah pada waktu Yesus datang secara rahasia, dan pada Mat 24:29-31 adalah pada kedatangannya yang terakhir].

Mat 24:29-31: “Segera sesudah siksaan pada masa itu, matahari akan menjadi gelap dan bulan tidak bercahaya dan bintang-bintang akan berjatuhan dari langit dan kuasa langit akan goncang. Pada waktu itu akan tampak tanda Anak Manusia di langit dan semua bangsa di bumi akan meratap dan mereka akan melihat Anak Manusia itu datang di atas awan-awan di langit dengan segala kekuasaan dan kemuliaan-Nya. Dan Ia akan menyuruh keluar malaikat-malaikat-Nya dengan meniup sangkakala yang dahsyat bunyinya dan mereka akan mengumpulkan orang-orang pilihan-Nya dari keempat penjuru bumi…”

Maka karena ayat ini membahas kedatangan Yesus di akhir jaman seperti yang juga disetujui oleh para rapturist, dan karena 1 Tes 4:13-18 juga membicarakan peristiwa yang sama, maka sesungguhnya “rapture”/ pengangkatan tidak mungkin terjadi sebelum siksaan/ tribulation, tetapi segera sesudah siksaan pada saat kedatangan Yesus yang kedua.

2 Tes 2:1,3,8, juga meneguhkan bahwa “rapture” tidak terjadi sebelum siksaan tetapi sebaliknya, yaitu sesudah terjadi kesesatan/ pemberontakan dan pernyataan Antikritus/ manusia durhaka. Jadi, pengangkatan para beriman untuk bertemu dengan Kristus tidak terjadi sebelum 7 tahun siksaan/ tribulation dan kedatangan Yesus yang kedua. Sebaliknya, terjadi bersamaan dengan kedatangan Yesus yang kedua pada akhir jaman.

2 Tes 2:1,3,8: “Tentang kedatangan Tuhan kita Yesus Kristus dan terhimpunnya kita dengan Dia kami minta kepadamu, ….Janganlah kamu memberi dirimu disesatkan orang dengan cara yang bagimanapun juga! Sebab sebelum Hari ini haruslah datang dahulu murtad dan haruslah dinyatakan dahulu manusia durhaka… tetapi Tuhan Yesus akan membunuhnya dengan nafas mulutNya dan akan memusnahkannya, kalau Ia datang kembali.”

Jadi “rapture” tidak datang sebelum siksaan/ tribulation, tetapi sesudah siksaan, pemberontakan, dan Antikristus. “Rapture” itu terjadi saat sangkakala dibunyikan pada kedatangan Yesus kembali di akhir jaman.

5. Kesalahan interpretasi Mat 24:38-41

Mat 24: 38-41: “Sebab sebagaimana mereka pada zaman sebelum air bah….mereka tidak tahu akan sesuatu, sebelum air bah itu datang dan melenyapkan mereka semua, demikianlah pulalah halnya kelak pada kedatangan Anak Manusia. Pada waktu itu kalau ada dua orang di ladang, yang seorang akan dibawa dan yang lain ditinggalkan; kalau ada dua orang perempuan sedang memutar batu kilangan, yang seorang akan dibawa dan yang lain akan ditinggalkan.”

Para penganut paham secret rapture mengajarkan bahwa ayat-ayat ini mengisahkan adanya pengangkatan umat beriman secara rahasia. Tetapi sebenarnya, ayat-ayat ini tidak mengatakan secara jelas akan adanya pengangkatan rahasia itu. Yang jelas, Yesus mengambil contoh tersebut untuk menekankan betapa tiba-tiba dan tidak diketahui-nya kedatangan-Nya yang kedua. Nampaknya, ide ‘pengangkatan rahasia’ telah dimasukkan ke dalamnya; dan bukannya diperoleh langsung dari teks tersebut.

Di perikop  paralelnya dalam Luk 17:22-37, Yesus juga menggunakan contoh air bah untuk menjelaskan kedatangan-Nya kembali yang tiba-tiba. Ia menambahkan contoh lain tentang kehancuran Sodom. Kedua contoh menggambarkan satu ciri: kedatangan-Nya yang tiba-tiba dan tidak disangka-sangka.

Jadi tidak ada pengajaran tentang ‘pengangkatan secara rahasia’ menurut ayat-ayat Kitab Suci. Tuhan Yesus memulai perikop dengan mengatakan bahwa Hari kedatangan-Nya akan terlihat jelas: “Sama seperti kilat memancar dari ujung langit yang satu ke ujung langit yang lain, demikian pulalah kelak halnya Anak Manusia pada hari kedatangan-Nya” (Luk 17:24). Kita tahu, tak ada yang rahasia tentang kilat yang menyambar di langit. Yesus menyatakan bahwa seperti penghakiman di zaman Nabi Nuh dan Lot yang terjadi tanpa peringatan terlebih dahulu, “Demikianlah halnya kelak pada hari, di mana Anak Manusia menyatakan Diri-Nya” (Luk 17:30). Menyatakan diri adalah lawan kata dari menyembunyikan atau merahasiakan diri. ‘Hari ini’ mengacu pada kedatangan Yesus yang diketahui secara publik, dan tiba-tiba pada akhir zaman. Kedatangan-Nya akan jelas kelihatan seperti banjir air bah, jelas seperti kehancuran kota Sodom, dan jelas seperti kilat di langit.

Penganut paham ‘pengangkatan rahasia/ secret rapture’ memakai contoh air bah di zaman Nabi Nuh dan kehancuran Sodom untuk mendukung teori bahwa orang-orang benar lah yang akan diangkat, dan orang-orang yang jahat ditinggalkan. Tetapi dalam kedua contoh itu, yang terjadi malah sebaliknya: mereka yang diangkat/ dilenyapkan adalah yang jahat. Malah yang tinggal di dunia adalah orang-orang yang benar. Ini malah bertentangan dengan teori ‘pengangkatan rahasia’ tersebut.

6. Kesalahpahaman berpikir bahwa misi Yesus di dunia belum selesai

Sekitar 2000 tahun yang lalu, Yesus menyelesaikan Penyelamatan kita dalam tiga tahun pelayanan-Nya kepada publik. Di Golgota, Yesus “tahu, bahwa segala sesuatu telah selesai”, sehingga kata terakhir sebelum Ia wafat adalah, “Sudah selesai” (Yoh 19:28-30). Maka mengapa kemudian [seperti anggapan para dispensationalist] secara literal Ia akan kembali untuk suatu pelayanan publik yang lain selama 1000 tahun? Apakah ada sesuatu yang belum selesai? Bukankah Yesus berkata bahwa “Aku telah mengalahkan dunia.” (Yoh 16:33). Maka masuk akal jika pada tahun 1944, Magisterium Gereja Katolik mengeluarkan pernyataan menolak ajaran millenniarism seperti ini. Hal ini diulangi dalam KGK 676. ((KGK 676: Kebohongan yang ditujukan kepada Kristus ini selalu muncul di dunia, apabila orang mengkhayalkan bahwa dalam sejarahnya mereka sudah memenuhi harapan mesianis, yang hanya dapat mencapai tujuannya sesudah sejarah melalui pengadilan eskatologis. Gereja telah menolak pemalsuan Kerajaan yang akan datang, juga dalam bentuknya yang halus, yang dinamakan “milenarisme”, tetapi terutama bentuk politis dari mesianisme sekular yang secara mendalam bersifat salah.))

7. Kesalahan untuk tidak melihat pernyataan kitab Wahyu 13

Para rapturist mengajarkan bahwa orang-orang kudus akan diangkat sebelum Antikristus datang dan siksaan/ tribulation terjadi. Tetapi dalam Why 13:7-8, dikatakan bahwa Antikritus (binatang buas/ the Beast) malah memerangi para kudus tersebut di dunia!

8. Kesalahpahaman dalam memandang hal penderitaan

Para rapturist mengajarkan bahwa orang beriman akan diangkat untuk dibebaskan dari siksaan dan penderitaan yang besar. Mereka gagal untuk memahami bahwa Alkitab mengajarkan bahwa penderitaan dan ujian hidup adalah suatu hak istimewa bagi para pengikut Kristus (lihat Kol 1:24, Rom 8:17-18, Yak 1:2-4). Yesus mengatakan bahwa para pengikut-Nya akan memikul salib (Mat 16:24) dan bahwa kita akan menderita di dunia (Yoh 16:33). Dalam Kis 14:22 kita diajarkan, “untuk masuk ke dalam Kerajaan Allah kita harus mengalami banyak sengsara.” Maka Alkitab sangat jelas mengajarkan bahwa untuk mengikuti Yesus berarti kita juga harus mengambil bagian di dalam sengsara-Nya.

Pengajaran yang mengatakan bahwa para orang beriman akan dibebaskan dari siksaan besar/ the great tribulation, adalah pemikian yang tidak berdasarkan Alkitab. Ini hanya semacam keinginan sebagian orang yang menolak salib dan nilai –nilai luhur dari penderitaan. Lebih lanjut mengenai hal ini silakan baca dalam tulisan ini silakan klik

9. Ketidak-adaan bukti dalam sejarah

Jika teori “rapture” para beriman ini benar, kita layak mengharapkan bahwa teori ini diajarkan secara eksplisit dalam Alkitab dan para Bapa Gereja; tapi ternyata, hal ini tidak secara jelas diajarkan di Alkitab. Alkitab tidak pernah mengajarkan bahwa kedatangan Yesus yang kedua terjadi lebih dari satu kali. Kedatangan Yesus yang kedua ini selalu disebut dalam bentuk singular “Second coming” [bukan “comings”] dan mengacu pada kedatangan-Nya di akhir jaman. Juga, para Bapa Gereja mengajarkan bahwa kedatangan Yesus kembali hanya terjadi satu kali di akhir jaman.

Kesimpulan

Melalui tulisan di atas, semoga kita dapat mengambil kesimpulan bahwa teori Dispensationalist dan “secret rapture” merupakan ajaran yang tidak didasarkan atas pemahaman Alkitab, yang bahkan merendahkan peran Gereja. Teori ini tidak pernah terdengar sampai tahun 1830; dan juga ditolak oleh mayoritas orang Protestan sendiri. Ini adalah mirip seperti ajaran Saksi Yehova yang mengatakan bahwa orang yang masuk surga adalah 144,000 orang, atau ajaran Mormon yang mengajarkan pembaptisan orang mati.

Perlu kita ketahui di sini, bahwa Teologi berbeda dengan Ilmu Pengetahuan empiris, sebab dalam Teologi, teori yang betul-betul baru malah perlu dicurigai, justru karena keterlepasannya dari Tradisi para rasul yang jelas-jelas telah diinspirasikan oleh Roh Kudus. Perkembangan doktrin haruslah merupakan perkembangan organik, yang merupakan buah perkembangan dari biji/ akar yang sudah ada dari semula, dan bukannya merupakan ‘buah’ yang tidak ada asal-usulnya. Marilah kita berdoa agar kita diberi rahmat discernment oleh Tuhan untuk melihat manakah pengajaran yang benar berasal dari Tuhan, dan mana yang tidak, agar kita dapat dengan bijaksana menyikapi ajaran- ajaran yang berkembang di jaman modern ini. Salah satunya, tentang akhir jaman ini.

Appendix 1

Siapa yang membuat U- turn (jalan balik arah)?

Kata “bertemu/ menemui” dalam bahasa Yunani adalah apantesis. (( Apantesis dipergunakan dalam papyri [karya tulis Yunani]… sepertinya kata itu berarti sebagai penyambutan resmi dari orang terkemuka yang baru datang. (Moulton, Greek Test. Gram Vol I, 14) W.E. Vine, Vine’s Complete Expository Dictionary of Old and New Testament Words (Nashville: TN: Thomas Nelson Publishers, 1996), p.402.

“The word seems to have been a kind of technical term for the official of a newly arrived dignitary- a usage which accords excellently with its NT usage.” J.H. Moulton and G. Milligan, Vocabulary of the Greek New Testament (Peabody, MA: Hendrickson Publishers, 1997), p. 53.

“The use of apanthesis in 1 Tes 4:17 is noteworthy. The ancient expression for the civic welcome of an important visitor or the triumphant entry of a new ruler into the capital city and thus to his reign is applied to Christ.” Colin Brown, ed. New International Dictionary of New Testament Theology (Grand Rapids, MI: Zondervan, 1986), p.235.

Also see Barbara R. Rossing, The Rapture Exposed: The Message of Hope in the Book of Revelation (Boulder, CO: Westview Press, 2004),p. 174-177.)) Kata ini mengacu pada praktek masyarakat kuno, di mana para warga yang berkedudukan penting keluar untuk menyambut kedatangan raja atau orang terkemuka, dan menjemput beliau kembali ke kota. Dengan demikian, para warga itu mengambil bagian dalam kemuliaan kedatangan Tamu mereka itu. Perhatikanlah, bahwa di sini yang terjadi adalah: para warga meninggalkan kota, bertemu dengan orang terkemuka, dan kemudian kembali bersamanya ke kota. Yang berganti haluan adalah para warga, sedangkan orang yang terkemuka itu tidak. Ia terus menuju tempat tujuannya. Inilah arti kata apantesis yang digunakan di perikop-perikop lain di Alkitab.

Pada Mat 25: 6, dikisahkan lima perempuan yang bijaksana yang pergi keluar untuk menemui [apantesis] mempelai pria dan lalu menemaninya kembali ke pesta perkawinan. Lihatlah bahwa di sini para perempuan itulah yang kembali berbalik arah setelah pergi keluar menemui mempelai laki-laki. Pengantin laki-lakinya tidak membuat U-turn/ berbalik arah; ia terus menuju ke tempat tujuannya.

Kis 28:15, menceritakan bagaimana saudara-saudara Kristen, setalah mendengar bahwa Rasul Paulus mendekati Roma, mereka pergi ke luar kota untuk menemui [apantesis] Paulus, dan menghantarnya kembali ke Roma. Lagi-lagi, saudara-saudara Kristen itu yang membuat langkah balik setelah bertemu dengan Rasul Paulus. Rasul Paulus tidak membuat U-turn, ia tetap terus menuju tujuannya. Maka apantesis di sini seperti menjemput seseorang di airport/ stasiun kereta api. Artinya, untuk “menemui dan kembali bersama” orang yang dijemput, dan bukan untuk menemui dan “pergi meninggalkan [tempat asalnya] bersama.”

Jadi ketika 1 Tes 4:17 mengatakan bahwa semua orang Kristen akan bangkit menemui [apantesis] Kristus di awan-awan, maka bukan berarti bahwa kemudian secara tiba-tiba Yesus mengubah haluan/ berbalik kembali ke surga. Apantesis di sini artinya, bahwa kitalah yang akan mengubah haluan setelah menemui Kristus, dan menjemput Raja kita itu, saat Ia terus menuju tempat tujuan kedatangan-Nya yaitu ke dunia. Jadi 1 Tes 4:17 tidak menceritakan kisah yang mengerikan tentang mereka yang tertinggal dan tidak diangkat dalam “secret rapture”. Melainkan, ayat itu menceritakan partisipasi kita yang mulia pada kedatangan Yesus yang kedua. Kita akan bertemu dengan Tuhan kita di angkasa dan mengambil bagian dalam kedatangan-Nya yang mulia, saat Ia mengambil semua milik-Nya di dunia dan mengakhiri sejarah manusia.

Apakah hukum dosa dan hukum maut?

21

Pertanyaan:

Pengasuh Katolisitas
Mohon tanya apakah artinya hukum dosa dan hukum maut seperti yang ditulis dalam kitab Injil ?
Terima kasih. – H.Mudaya

Jawaban:

Shalom H. Mudaya,
Terima kasih atas pertanyaannya tentang hukum dosa dan hukum maut.

Kita melihat di dalam Roma 8:1-4 “1 Demikianlah sekarang tidak ada penghukuman bagi mereka yang ada di dalam Kristus Yesus. 2 Roh, yang memberi hidup telah memerdekakan kamu dalam Kristus dari hukum dosa dan hukum maut. 3 Sebab apa yang tidak mungkin dilakukan hukum Taurat karena tak berdaya oleh daging, telah dilakukan oleh Allah. Dengan jalan mengutus Anak-Nya sendiri dalam daging, yang serupa dengan daging yang dikuasai dosa karena dosa, Ia telah menjatuhkan hukuman atas dosa di dalam daging, 4 supaya tuntutan hukum Taurat digenapi di dalam kita, yang tidak hidup menurut daging, tetapi menurut Roh.

Dari ayat-ayat tersebut di atas, kita dapat menarik beberapa kesimpulan (lengkapnya silakan untuk membaca artikel ini – silakan klik):
1) Sebelum kedatangan Kristus, semua manusia berdosa dan tidak berdaya untuk melepaskan dosa. Hal ini dikarenakan bahwa setelah manusia pertama berdosa, manusia kehilangan rahmat kekudusan dan “four preternatural gifts“, yang termasuk “the gift of integrity“, yaitu karunia bahwa semua keinginan daging (passion) menurut secara penuh terhadap akal budi (reason). Karena dosa manusia pertama, semua manusia kehilangan rahmat kekudusan dan “four-preternatural gifts” (yaitu: (a) immortality, (b) immunity from suffering, (c) infused knowledge, and (d) integrity). Tanpa berkat-berkat ini, manusia hidup dalam gelimang dosa dan tidak kuasa untuk melepaskan diri dari dosa. Karena upah dosa adalah maut (Rm 6:23), maka adalah adil kalau manusia menerima hukum dosa dan hukum maut.

2) Hukum dosa dan hukum maut adalah dalam pengertian manusia kehilangan kebahagiaan abadi di Surga, atau manusia kehilangan kesempatan untuk dapat melihat muka dengan muka dengan Allah di Sorga. Namun di dalam kasih-Nya, Tuhan tidak membiarkan hal yang begitu mengenaskan ini terjadi pada umat manusia. Oleh karena itu Allah mengirimkan Putera-Nya yang tunggal untuk datang ke dunia dan menebus dosa manusia. Dan melalui Kristus – sungguh Allah, sungguh manusia – jembatan yang terputus antara Allah dan manusia dapat tersambung kembali.

3) Untuk menyambung kembali jembatan yang terputus, dan menerima kembali rahmat kekudusan (sanctifying grace), maka manusia perlu untuk menerima Sakramen Baptis. Berkat yang mengalir dalam Sakramen ini adalah bersumber pada misteri Paskah Kristus (sengsara, kematian, kebangkitan, dan kenaikan Yesus). Dan dengan menerima Sakramen Baptis, manusia diberi Roh Allah, sehingga dia dapat menjadi anak Allah di dalam Kristus, yang memampukannya untuk hidup kudus. Inilah sebabnya rasul Paulus menekankan akan kelahiran baru di dalam Kristus, yaitu melalui Sakramen Baptis.

4) Gereja Katolik mengajarkan bahwa Sakramen Baptis ini adalah satu-satunya jalan menuju keselamatan, seperti yang dikatakan di dalam Katekismus Gereja Katolik (KGK, 1257) mengatakan:

Tuhan sendiri mengatakan bahwa Pembaptisan itu perlu untuk keselamatan (Bdk. Yoh 3:5.). Karena itu, Ia memberi perintah kepada para murid-Nya, untuk mewartakan Injil dan membaptis semua bangsa (Bdk. Mat 28:19-20; DS 1618; LG 14; AG 5.). Pembaptisan itu perlu untuk keselamatan orang-orang, kepada siapa Injil telah diwartakan dan yang mempunyai kemungkinan untuk memohon Sakramen ini (Bdk. Mrk 16:16.). Gereja tidak mengenal sarana lain dari Pembaptisan, untuk menjamin langkah masuk ke dalam kebahagiaan abadi. Karena itu, dengan rela hati ia mematuhi perintah yang diterimanya dari Tuhan, supaya membantu semua orang yang dapat dibaptis, untuk memperoleh “kelahiran kembali dari air dan Roh”. Tuhan telah mengikatkan keselamatan pada Sakramen Pembaptisan, tetapi Ia sendiri tidak terikat pada Sakramen-sakramen-Nya.

Semoga keterangan singkat di atas dapat menjawab pertanyaan Mudaya. Mari kita bersama-sama mensyukuri rahmat Sakramen Baptis yang membuat kita menjadi anak-anak Allah di dalam Kristus.
Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
stef – www.katolisitas.org

Akhir Jaman menurut Ajaran Gereja Katolik (bagian ke-2)

75

Apakah tanda-tanda akhir jaman?

Injil Matius (terutama Mat 24) dan juga kitab Wahyu menuliskan tentang akhir jaman. Kita perlu membaca ayat-ayat tersebut dengan cermat, sebab sebagian dari ayat-ayat Mat 24 telah terjadi sebelum kehancuran Bait Allah di Yerusalem pada tahun 70 AD, dan sebagian lagi dari ayat-ayat itu mengacu pada akhir jaman. Dan ada juga tanda-tanda yang mengacu pada keduanya. Mari kita melihat satu-persatu. ((Sumber: Spirago- Clark, The Catechism Explained, A Practical Manual, (Rockford, Illinois: Tan Books and Publishers, Inc, 1899, 1921, 1993) p. 273-274; Father Frank Chacon, Jim Burnham, Beginning Apologetics: The End of Time, (Farmington, NM: San Juan Catholic Seminars), p. 3-5. )):

1. Kerajaan seribu tahun/ Milennium (berdasarkan Why 20).

“[Seorang malaikat] menangkap naga, si ular itu, yaitu Iblis dan Setan, dan mengikatnya seribu tahun lamanya….. Aku juga melihat jiwa-jiwa mereka, yang dipenggal kepalanya karena kesaksian tentang Yesus… hidup kembali dan memerintah sebagai raja bersama-sama dengan Kristus untuk masa seribu tahun…. Dan setelah masa seribu tahun itu berakhir, Iblis akan dilepaskan dari penjaranya, dan ia akan pergi menyesatkan bangsa-bangsa…” (Why 20:1-8)

Gereja Katolik tidak secara khusus mendefinisikan Millennium ini, namun mengambil patokan dari pengajaran St. Agustinus, yang menginterpretasikan secara allegoris, yaitu mengartikan 1000 tahun ini sebagai simbol, sebagai ‘jangka waktu yang cukup lama’, sebagaimana teks angka ‘1000’ yang lain dalam Alkitab merupakan simbol dari jumlah yang banyak/ ribuan. ((Lihat Mzm 50:10 dan Dan 7:10: seribu dan beribu-ribu di sini maksudnya adalah banyak sekali)) Seribu tahun kejayaan ini di mana Iblis diikat dan para kudus memimpin bersama Kristus ini sebagai Gereja Katolik yang masuk ke dalam sejarah manusia untuk menebarkan nilai-nilai Injil. Jadi seribu tahun kejayaan ini mengacu pada era Kekristenan. Pengikatan Iblis selama 1000 tahun ini dikaitkan dengan perumpamaan yang diajarkan oleh Kristus tentang orang kaya yang diikat: …Bagaimanakah orang dapat memasuki rumah seorang yang kuat dan merampas harta bendanya apabila tidak diikatnya dahulu orang yang kuat itu? Sesudah diikatnya, barulah dapat ia merampok rumah itu.” ((Mat 12:29, lihat St. Augustine, City of God, book XX, chap. 8.)) Kristus telah mengikat Iblis dengan korban sengsara dan salib-Nya. Namun demikian, Iblis terus berusaha mempengaruhi banyak bangsa, walaupun akhirnya mereka berangsur ‘tunduk’ dengan menerima nilai-nilai Injil dan pertobatan.

Maka, ke 1000 tahun tersebut adalah untuk diartikan sebagai simbol, yang mengacu pada arti jangka waktu yang lama antara kedatangan Kristus yang pertama dan kedatangan Kristus yang kedua. Namun menjelang akhir jaman, terjadi pelepasan ikatan Iblis, yang dihubungkan dengan kejayaan singkat suatu kesesatan/apostasy yang besar yang memuncak pada kejayaan Anti-Kristus. Pada saat inilah Gereja akan mengalami pencobaan yang hebat (lihat Why 20:7-9, KGK 675).

Gereja Katolik menolak untuk mengajarkan pandangan mengartikan 1000 tahun itu sebagai sesuatu masa yang literal. Hal ini dinyatakan secara tegas pada pernyataan Congregation for the Doctrine of the Faith di Roma pada tahun 1944, bunyinya sebagai berikut:

In recent times, on several occasions this Supreme Sacred Congregation of the Holy Office has been asked what must be thought of the system of mitigated Millenarianism, which teaches for example, that Christ the Lord before the final judgment, whether or not preceded by the resurrection of the many just, will come visibly to rule over this world. The answer is: The system of mitigated Millenarianism cannot be taught safely.” ((Congregation for the Doctrine of the Faith, Decree of 19 July 1944, DS, 3839.))

Kelihatannya pernyataan ini sulit, tetapi maksudnya sebenarnya sederhana: sebagai orang Katolik, kita menolak doktrin yang mengajarkan bahwa sebelum kedatangan Kristus yang kedua, maka Kristus akan datang lagi sebagai manusia dalam sejarah manusia, untuk memimpin kerajaan-Nya di dunia.

2. Kebangkitan Antikristus (1Yoh 2:18-23, 2Tes 2:3-4, Why 13, KGK 675-676)

“Seperti yang telah kamu dengar, seorang antikristus akan datang, sekarang telah bangkit banyak antikristus…” (1 Yoh 2:18)

“Janganlah kamu memberi dirimu disesatkan orang dengan berbagai cara…Sebab sebelum Hari itu, haruslah datang dahulu murtad dan haruslah dinyatakan dahulu manusia durhaka, yang harus binasa…. Kedatangan si pendurhaka itu adalah pekerjaan Iblis, dan akan disertai dengan rupa-rupa perbuatan ajaib, tanda-tanda dan mukjizat-mikjizat palsu, dengan rupa-rupa tipu daya jahat…” (2Tes 2:3-10)

Antikris adalah seseorang yang menyebut dirinya sendiri sebagai Kristus, dan dengan bantuan Iblis akan melakukan banyak mukjizat untuk menarik banyak orang (lih. 2Tes 2:9-10) dan ia akan menganiaya Gereja (lih. KGK 675). Antikristus ini juga disebut oleh Rasul Paulus sebagai “manusia durhaka” atau yang disebut dalam kitab Wahyu sebagai “binatang yang keluar dari dalam laut” yang disembah sebagai nabi palsu.

3. Penyesatan secara besar-besaran (2Tes 2-3, Why 13:3, Mat 24:11-12 dan Luk 18:8).

“Akan tetapi jika Anak Manusia datang, adakah Ia mendapati iman di bumi?” (Luk 18:8)

Alkitab mengajarkan bahwa sebelum kedatangan Kristus yang kedua akan terjadi banyak orang meninggalkan iman Kristiani. Banyak orang akan tertipu oleh nabi-nabi palsu, terutama nabi palsu yang terakhir, yaitu, Antikristus.

4. Pertobatan bangsa Yahudi (Rom 11)

“Aku mau kamu mengetahui rahasia ini: Sebagian dari Israel telah menjadi tegar sampai jumlah yang penuh dari bangsa-bangsa lain telah masuk. Dengan jalan demikian, seluruh Israel akan diselamatkan…” (Rom 11:25-26)

Dengan demikian, kita dapat berharap bahwa bangsa Israel akan akhirnya menerima Yesus sebagai Sang Mesias.

5. Pemberitaan Injil sampai ke ujung dunia (Mat 24:14)

“Dan Injil Kerajaan ini akan diberitakan di seluruh dunia menjadi kesaksian bagi semua bangsa, sesudah itu barulah tiba kesudahannya.” (Mat 24:14)

Maksudnya, ini bukan hanya penyiaran Injil melalui mass-media dan internet, namun merupakan penanaman nilai-nilai Injil di setiap bangsa.

6. Tampaknya tanda Kristus [dimengerti sebagai tanda salib] di langit (Mat 24:30)

“Pada waktu itu akan tampak tanda Anak Manusia di langit dan semua bangsa di bumi akan meratap dan mereka akan melihat Anak Manusia itu datang di atas awan-awan di langit…” (Mat 24:30)

7. Tanda-tanda yang menakutkan di langit, bencana alam yang dashyat dan kerusakan hebat yang disebabkan oleh manusia (Mat 24: Luk 21:25-26).

“Segera sesudah siksaan pada masa itu, matahari akan menjadi gelap dan bulan tidak bercahaya dan bintang-bintang akan berjatuhan dari langit dan kuasa-kuasa langit akan goncang.” (Mat 24: 29)

“Dan akan ada tanda-tanda pada matahari dan bulan dan bintang-bintang. Dan di bumi bangsa-bangsa akan takut dan bingung menghadapi deru dan gelombang laut…” (Luk 21:25)

8. Kemenangan Kristus di dunia tidak terjadi oleh karena kemajuan yang terus menerus oleh kemenangan historis Gereja (lih. Why 3:18), tetapi oleh kemenangan Allah dalam perjuangan akhir melawan Si jahat (lih. Why 20:7-10).

Dapatkah kita mengetahui waktu kedatangan Yesus yang kedua kali?

Yesus mengatakan bahwa kita tidak dapat mengetahui waktu kedatangan-Nya yang kedua (Mat 24:42). Alkitab berkali-kali menyatakan bahwa kedatangan Yesus yang kedua ini sifatnya seperti pencuri, dan tak pernah dapat diketahui (lih. Mat 25: 13. Luk 17:22-35, 1 Tes 5:2 dan 2 Pet 3:10). Hal ini juga dinyatakan dengan jelas dalam KGK 673 dan KGK 1040), bahwa hanya Tuhan saja yang mengetahui kapan saatnya kedatangan Yesus yang kedua tersebut.

Jika kita teliti tanda-tanda yang diberikan itu tidak dengan jelas menunjukkan urutan-urutannya, juga periode/ interval yang ada tidak jelas disebutkan jangka waktunya, dan banyak dari tanda itu mempunyai banyak arti dan telah terpenuhi, dan kita tidak tahu persis apakah hal yang lebih besar akan terjadi sebagai pemenuhan tanda-tanda tersebut. Sejarah telah membuktikan bahwa banyak orang telah berusaha mengartikan tanda-tanda, menghitung tahun-tahun untuk meramalkan akhir jaman, namun hanya berakhir dengan sejumlah teori yang tidak menjadi kenyataan.

Jadi, apa gunanya diberitahukan tanda-tanda/ angka-angka tersebut?

  1. Jawabannya adalah sederhana: tidak banyak. St. Agustinus mengajarkan bahwa tanda, angka, simbol yang kurang jelas tersebut dimaksudkan untuk mengajar pada kita kerendahan hati, untuk tidak berkutat meneliti yang melebihi kemampuan kita. Bahwa, kita tidak dapat mengerti semuanya detail Alkitab, dan karenanya kita dibawa untuk menerima apa yang diajarkan oleh Magisterium Gereja. Sejarah telah membuktikan bahwa orang-orang yang mengiterpretasikan sendiri tentang akhir jaman ini, tidak ada yang berhasil.
  2. Tanda-tanda tersebut juga untuk mengajarkan pada kita bahwa hidup kita sangat rentan terhadap serangan kejahatan. Kita diingatkan akan bahaya ‘kesesatan’ yang mungkin akan kita hadapi, yang disebabkan oleh pengajaran nabi-nabi palsu.
  3. Untuk mengingatkan kita bahwa kita harus selalu berjaga-jaga, bijaksana menilai tanda-tanda itu dan waspada, sebab walaupun kita tidak mengalami akhir jaman sewaktu kita masih hidup, kita akan tetap mengalami ‘akhir dari jaman kita’ pada waktu kita meninggal dunia.
  4. Untuk mengingatkan kita bahwa pada akhirnya, meskipun Iblis kelihatan sangat hebat, namun kuasa Allah tetap lebih besar dan akan mengalahkan Iblis.

Apa yang terjadi pada Kedatangan Yesus yang kedua tersebut?

  1. Akhir dunia.
  2. Akhir dari waktu, sebab sesudah itu hanya ada keabadian.
  3. Akhir dari kematian, sebab semua yang masih hidup pada saat Yesus datang yang kedua ini tidak mengalami kematian, tetapi ‘diubah’ (lih 1Kor 15:51; 1Tes 14:17)
  4. Akhir dari Api Penyucian. Setelah kedatangan Yesus ini maka semua orang yang ada dalam Api Penyucian akan memasuki surga.
  5. Kebangkitan orang mati. Orang-orang mati akan dibangkitkan (Yoh 5:27-29; 11:23-24). Tubuh orang-orang yang jahat akan bersatu dengan jiwanya dan masuk dalam siksa abadi di neraka, sedangkan tubuh orang-orang benar akan bersatu dengan jiwanya dan akan memasuki kebahagiaan kekal di surga. Tubuh orang-orang benar akan bersinar seperti matahari (Mat 13:43) dan tak bisa lagi mengalami penderitaan, penyakit dan kematian (1 Kor 15:42).
  6. Penghakiman terakhir (Mat 25:31-46; Why 20:1-15). Seluruh umat manusia akan dikumpulkan di hadapan tribunal yang akan menyatakan keseluruhan sejarah manusia. Segala sesuatu yang diperbuat seseorang akan dinyatakan di hadapan segala mahluk, tak ada yang tersembunyi. Tuhan akan mengumumkan penghakiman/ hukuman final, atau penghargaan final yang melibatkan tubuh dan jiwa setiap manusia: ke neraka atau ke surga. Mereka yang wafat sebelum kedatangan Yesus yang kedua telah mengetahui tujuan akhir mereka pada saat penghakiman khusus, dan hal ini tidak berubah. Hanya pada Pengadilan Akhir, pengadilan mereka dinyatakan kembali dan diumumkan hasilnya pada segenap mahluk, dan jiwa mereka bersatu dengan tubuh mereka menuju ke tempat tujuan akhir: surga atau neraka sesuai dengan hasil Penghakiman tersebut. Lebih lanjut mengenai hal ini silakan klik tanya jawab ini.
    Katekismus Gereja Katolik mengajarkan demikian tentang Penghakiman Terakhir:
    KGK 1038 Sesudah kebangkitan semua orang mati “baik orang yang benar maupun yang tidak benar” (Kis 24:15), menyusullah pengadilan terakhir. Itulah saatnya, di mana “semua orang yang di dalam kubur akan mendengar suara-Nya. Dan mereka yang telah berbuat baik akan keluar dan bangkit untuk hidup yang kekal, tetapi mereka yang telah berbuat jahat akan bangkit untuk dihukum” (Yoh 5:28-29). Lalu, “Anak Manusia datang dalam kemuliaan-Nya dan semua malaikat bersama-sama dengan Dia. … Lalu semua bangsa akan dikumpulkan di hadapan-Nya dan Ia akan memisahkan mereka seorang dari pada seorang, sama seperti gembala memisahkan domba dari kambing. Ia akan menempatkan domba-domba di sebelah kanan-Nya dan kambing-kambing di sebelah kiri-Nya. … Dan mereka ini akan masuk ke tempat siksaan yang kekal, tetapi orang benar ke dalam hidup kekal” (Mat 25:31.32-33.46).
    KGK 1039 Di depan Kristus, yang adalah kebenaran, akan nyata secara definitif hubungan setiap manusia dengan Allah yang sebenarnya (Bdk. Yoh 12:49). Pengadilan terakhir akan membuka sampai ke akibat-akibat yang paling jauh, kebaikan apa yang dilakukan atau tidak dilakukan oleh setiap orang selama hidupnya di dunia ini….
    KGK 1040 Pengadilan terakhir akan berlangsung pada kedatangan kembali Kristus yang mulia. Hanya Bapa yang mengetahui hari dan jam, Ia sendiri menentukan, kapan itu akan terjadi. Lalu, melalui Putera-Nya Yesus Kristus Ia akan menilai secara definitif seluruh sejarah. Kita akan memahami arti yang terdalam dari seluruh karya ciptaan dan seluruh tata keselamatan dan akan mengerti jalan-jalan-Nya yang mengagumkan, yang di atasnya penyelenggaraan ilahi telah membawa segala sesuatu menuju tujuannya yang terakhir. Pengadilan terakhir akan membuktikan bahwa keadilan Allah akan menang atas segala ketidak-adilan yang dilakukan oleh makhluk ciptaan-Nya, dan bahwa cinta-Nya lebih besar dari kematian (Bdk. Kid 8:6).
    KGK 1041 Kabar mengenai pengadilan terakhir mengajak manusia supaya bertobat, selama Allah masih memberi kepada mereka “waktu rahmat”, satu “hari penyelamatan” (2 Kor 6:2). Kabar itu membangkitkan ketakutan suci akan Allah dan mewajibkan orang melakukan keadilan Kerajaan Allah. Ia mengumumkan “pengharapan yang penuh bahagia” (Tit 2:13) akan parusia (?) Tuhan yang akan datang, “untuk dimuliakan di antara orang kudus-Nya, dan untuk dikagumi oleh semua orang yang percaya” (2 Tes 1:10).
  7. Restorasi universal (Kis 3:21, 1 Kor 15:28, KGK 671, 769). Setelah Penghakiman Terakhir, maka Gereja akan disempurnakan dalam kemuliaannya, sebagai Yerusalem yang baru (Why 21). Gereja hanya akan terdiri dari orang-orang kudus, yaitu semua orang benar sejak Adam, dari Abel sampai ke orang pilihan terakhir (KGK 769). Para orang kudus akan berjaya bersama Kristus, dalam tubuh dan jiwa yang mulia, dan akan melihat Allah dengan pandangan yang membahagiakan, dimana Allah akan membuka Diri kepada orang-orang pilihan-Nya secara tidak terbatas dan akan menjadi sumber kebahagiaan, perdamaian dan persekutuan sempurna, tanpa akhir (lih. KGK 1044-1045). Unsur-unsur dunia akan hancur karena nyala api ilahi, dan Tuhan akan menciptakan langit dan bumi yang baru (2 Pet 3:12-13), kuasa jahat dikalahkan, dan segala sesuatu akan ditaklukkan di bawah-Nya, dan Allah menjadi semua di dalam semua (1 Kor 15:28).

Untuk akhir yang mulia inilah maka, kita tidak perlu gelisah dan takut menghadapi akhir jaman. Sebab jika kita setia beriman kepada Tuhan dan hidup sesuai dengan perintah-perintah-Nya, maka malah selayaknya bersuka-cita akan adanya akhir jaman ini, di mana Kristus akan kembali lagi sebagai Raja semesta alam.

Kesimpulan

Jadi apa yang harus kita lakukan jika akhir dunia itu datang esok hari? Mungkin ada baiknya kita mengingat kisah kuno yang sering dikaitkan dengan St. Fransiskus Assisi, walaupun mungkin ini hanya sekedar legenda. Ada orang yang bertanya kepadanya demikian, “Apa yang akan kamu lakukan kalau besok kiamat?” Pada waktu ia sedang mencabut alang-alang di kebunnya. Lalu ia menjawab dengan cepat, “Aku akan menyelesaikan mencabut alang-alang ini dari kebunku.” Ini adalah jawaban seseorang yang yakin bahwa ia telah berusaha melayani Tuhan, sehingga tidak takut menghadapi akhir dunia. Jika Tuhan Yesus datang kembali, ia hanya berharap akan mendengar Yesus berkata, “Baik sekali perbuatanmu itu, hai hambaku yang baik dan setia.” (Mat 25:21). Tentu, karena hidup St. Fransiskus yang selalu melaksanakan perbuatan yang ditugaskan kepadanya dengan setia, dengan mata hati terarah kepada Tuhan.

Sekarang memang masalahnya adalah, apakah kita dapat mengatakan demikian, jika pertanyaan itu ditujukan pada kita. Apakah kita sudah melakukan pekerjaan kita dengan setia sesuai dengan panggilan hidup kita? Apakah kita sudah berusaha melakukan kehendak Tuhan? Maka, belajar dari St. Fransiskus, maka mari kita melakukan hal yang serupa, yaitu mencabut alang-alang dalam kebun hati kita, yaitu mencabut ajaran-ajaran yang keliru tentang akhir jaman, dan mengisinya dengan biji kebajikan, iman, pengharapan dan kasih. Semoga dengan demikian, kita dapat melihat akhir jaman dalam perspektif iman, sebab kita percaya, bahwa akhir jaman akan membawa kita, orang-orang yang percaya, kepada kepenuhan janji Kristus, yaitu keselamatan kekal dan persatuan dengan Allah yang tak terbatas. Maranatha, datanglah, ya Tuhan Yesus!

Akhir Jaman menurut Ajaran Gereja Katolik (bagian ke-1)

104

Pendahuluan

Saya teringat akan wejangan nenek saya tentang akhir zaman. Sebelum menjadi Katolik, ia adalah seorang Protestan. Sebelum ia wafat, ia pernah berkata demikian pada saya, “Sudah sejak saya masih kecil, saya mendengar akhir jaman dikhotbahkan dan ‘diramalkan’. Katanya sudah hampir datang, tetapi ternyata belum juga datang ya! Jadi lebih baik kita serahkan pada Tuhan, sedangkan bagian kita adalah rajin-rajin berdoa dan berbuat baik saja…” Saya rasa pesan ini sangat bijaksana, sebab jika kita melihat, memang apa yang dikatakan oleh nenek saya itu ada benarnya. Lihat saja, banyak orang meneliti ayat-ayat Alkitab untuk menghitung tahun untuk ‘meramalkan’ akhir jaman, lalu muncullah perkiraan, mulai dari tahun 200, 380, 838, 1000, 1260, 1533, 1844, 1914, 1988… hanyalah sekedar contohnya, tetapi tak ada satupun yang benar. Memang akhir zaman adalah suatu misteri. Kita tak akan mungkin dapat mengetahuinya secara tepat, dan pasti tidak mungkin kita ketahui sampai pada saatnya. Namun, ada banyak hal yang dapat kita ketahui tentang kedatangan Yesus yang kedua ini, dan jangan sampai kita tidak mau tahu tentang hal ini.

Mengapa ajaran Gereja Katolik berbeda dengan ajaran Protestan tentang ini?

Gereja Katolik dan Protestan sama-sama setuju bahwa Yesus Kristus akan datang kembali pada akhir jaman. Namun demikian, ada perbedaan yang cukup mendasar antara pandangan Protestan dengan ajaran Gereja Katolik tentang hal ini. Dua sebab historis yang cukup berpengaruh adalah: ((Father Frank Chacon, Jim Burnham, Beginning Apologetics: The End of Time, (Farmington, NM: San Juan Catholic Seminars), p. 3.))

  1. Gereja Protestan tidak melihat bahwa banyak nubuatan dari kitab Daniel yang telah terpenuhi pada masa Yudas Makabe. Karena Alkitab Protestan tidak memasukkan kitab Makabe, maka dapat dimengerti, mengapa demikian.
  2. Kurang memadainya pemahaman tentang kejadian seputar kehancuran Bait Allah di Yerusalem yang terjadi pada tahun 70 AD, yang juga merupakan pemenuhan sebagian dari perkataan Yesus sendiri pada Injil Matius, Markus dan Lukas.

Dua pandangan Protestan: Post- millenniarism dan Premilleniarism

Mungkin ada baiknya, sebelum kita mempelajari apa yang diajarkan oleh Gereja Katolik, kita melihat terlebih dahulu tentang apa yang diajarkan oleh gereja Protestan tentang akhir zaman ini. Gereja Protestan kebanyakan mengkaitkan kedatangan Yesus yang kedua dengan Kerajaan 1000 tahun yang disebutkan dalam Why 20:1-6. Mengenai hal ini terdapat dua pandangan yang berbeda: pandangan yang meletakkan kedatangan Kristus sebelum kerajaan 1000 tahun adalah Pre-millennialism, sedangkan yang meletakkan kedatangan Kristus sesudah kerajaan 1000 tahun adalah Post-millennialism.

Post-millenialism mencapai puncaknya pada abad 18-19 pada komunitas Anglo- Amerika, yang ditandai dengan pandangan optimistik tentang sejarah manusia, yang menuju kepada kemajuan secara universal. Pandangan ini mengharapkan 1000 tahun kejayaan Kristus yang akan tercapai dalam sejarah manusia. Pada akhir periode kejayaan ini, Iblis akan dilepaskan, perang Armageddon akan terjadi dan Kristus akan kembali datang dengan kemulian-Nya. Kerajaan 1000 tahun menurut pandangan ini mengacu kepada keadaan ideal di segala bidang, yang dihubungkan dengan revolusi politik dan keadilan sosial. Menarik di sini, bahwa ide ini bahkan juga mempengaruhi mental para atheists, seperti Marxism, Nazism dan regim totalitarian lainnya. Namun, dewasa ini, lama-kelamaan faham ini menjadi kurang populer, karena terjadinya kejadian-kejadian brutal di abad ke- 20, dan juga penurunan standar moral, di mana orang-orang tidak lagi menerapkan ajaran iman dan moral Kristiani. Maka pandangan akan kemajuan optimistik akan sejarah manusia dianggap menjadi terlalu naïf.

Maka sekarang, ada tendensi bahwa gereja Protestan tidak lagi mengharapkan kerajaan 1000 tahun melalui kemajuan sejarah manusia. Sebaliknya, mereka mengakui bahwa dimensi kehidupan manusia akan mengalami kemunduran di dalam hal iman dan moral. Nah, maka, timbullah paham Pre-millennialism, di mana keadaan manusia akan semakin memburuk, menjelang akhir jaman/ kedatangan Yesus yang kedua kali. Dalam pandangan ini, terdapat pengajaran yang dikenal sebagai Rapture dan Dispensationalism.

Apakah akan ada “the Secret Rapture”?

Sering kita dengar teori dari saudara/i kita yang Protestan, bahwa akan ada yang disebut sebagai “the secret rapture”. Yang paling terkenal adalah yang dapat kita baca dalam seri “Left Behind: A Novel of the Earth’s Last Days” karangan Tim LaHaye and Jerry Jenkins. Maksudnya di sini adalah di akhir jaman nanti Yesus akan datang dua kali: 1) Yang pertama, Yesus akan ‘mengangkat’ orang-orang yang sungguh beriman agar tidak mengalami pencobaan/ penderitaan di akhir jaman. [Orang ‘beriman’ yang dimaksud di sini adalah orang yang mengimani apa yang mereka ajarkan]. 2) Yang kedua, setelah pengangkatan ini, maka orang-orang yang tertinggal di dunia akan mengalami kesengsaraan akhir “final tribulation”, karena Antikristus akan dibiarkan berkuasa dan akan terjadi bermacam-macam bencana, yang mencapai puncaknya pada penghukuman orang-orang yang menolak Tuhan, pada saat kedatangan Kristus kembali. Jadi ini merupakan kedatangan Yesus yang ‘ketiga’ [jika kelahiran Yesus sebagai manusia dihitung sebagai kedatangan-Nya yang pertama], walaupun para rapturists mengatakan hal ini tidak terpisah dari kedatangan-Nya yang rahasia tersebut di atas.

Ketidaksepakatan dari para rapturists mengenai kapan rapture terjadi ((Paul Thigpen, The Rapture Trap, PA: Ascension Press, 2001, p. 127.))

Para rapturists tersebut mengatakan bahwa menurut Alkitab, kesengsaraan akhir akan terjadi pada tujuh tahun terakhir, dan “secret rapture” itu akan terjadi di dalam periode tersebut. Tetapi, di antara para rapturists itu, tidak ada kesepakatan, kapan sebenarnya akan terjadi “rapture” tersebut. Ada yang mengatakan sebelum kesengsaraan akhir (pre-tribulationists), namun ada juga yang yakin terjadi di tengah-tengah kesengsaraan (mid- tribulationists) dan sesudah kesengsaraan (post-tribulationists). Atau ada juga yang mengajarkan partial rapture, yang artinya hanya sebagian orang-orang Kristen saja yang ‘diangkat’ sebelum kesengsaraan akhir, sedangkan yang lain pada saat sesudahnya. Ketidaksepakatan ini tak jarang menyebabkan perdebatan yang keras. Suatu ironi, karena setiap rapturist itu mengklaim bahwa ia mengartikan secara harafiah berdasarkan “the plain sense of Scripture”. Rupanya, tentang rapture ini ternyata tidak terlalu “plain”/ jelas, bahkan di mata para rapturists itu sendiri.

Kalau begitu, dari mana mereka mendapatkan ide secret rapture ini?

Sebenarnya, ide “secret rapture/ pengangkatan rahasia” ini hanya dipegang oleh sebagian kecil dari umat Kristen di seluruh dunia. Umat Katolik, Ritus Timur Orthodox, dan bahkan jemaat Protestan sendiri banyak yang menganggap teori rapture ini sebagai sesuatu yang asing. Yang pasti, hal rapture ini tidak ada dalam syahadat Aku Percaya. Yang ada dalam Credo sebenarnya adalah “Ia akan kembali dengan mulia, mengadili orang yang hidup dan yang mati, kerajaan-Nya tidak akan berakhir.” ((Menurut Konsili Nicea, 325 AD)) Syahadat tidak mengatakan apapun tentang kedatangan Yesus ‘tambahan’ secara rahasia untuk mengangkat umat beriman untuk membebaskan mereka dari kesengsaraan akhir jaman. Jadi kesimpulannya, bukan saja hanya para Paus saja yang tidak mengajarkan secret rapture ini, bahkan para pendiri Gereja Protestan, yaitu Martin Luther, John Calvin dan John Wesley tidak mengajarkan secret rapture. Maka, jika ada orang bertanya, mengapa di Credo tidak disebutkan mengenai ‘secret rapture’ ini, karena memang ide ini tidak diimani oleh mayoritas umat Kristiani dalam sejarah Gereja, dan tidak berakar dari pengajaran Bapa Gereja.

Dispensationalism

Dispensationalism, adalah pengajaran yang dipelopori oleh John Nelson Darby (1859-1874), pemimpin sekte Kristen di Inggris, yang bernama Plymouth Brethern yang mengajarkan doktrinnya ke Amerika dan Kanada. Dinamakan ‘dispensationalism’ karena ia membagi sejarah manusia menjadi 7 masa dispensasi/ tahap dimana Tuhan menyatakan wahyu-Nya kepada manusia. Namun di setiap tahap, manusia gagal dalam ujian, sehingga penghakiman terjadi di akhir setiap tahap, dan tahap baru akan menyusul sesudahnya. Maka menurut Darby terdapat perbedaan tak terseberangi antara bangsa Israel dan Gereja, sehingga ia membagi misalnya, bahwa nubuat Perjanjian Lama hanya diperuntukkan bagi bangsa Israel, dan tak ada satupun untuk Gereja. Menurut para dispensationalists, karena bangsa Israel menolak pembentukan Kerajaan Mesias di dunia dengan menolak Kristus, maka Tuhan menunda pembentukan Kerajaan tersebut, dan berpaling pada bangsa-bangsa non-Yahudi. Karenanya, jam/ lonceng nubuatan Yahudi berhenti berdetak, dan hanya lembali berdetak setelah Antikristus datang, dan ‘rapture’ orang-orang beriman terjadi. Setelah para beriman diangkat, maka akan ada penderitaan akhir/ great tribulation bagi dunia, dengan bangsa Israel sebagai pusatnya. Lalu Yesus akan datang ke dunia yang terakhir kali, dan berjaya selama 1000 tahun.

Dispensationalism dan ‘rapture’ tidak tertulis secara harafiah dalam Alkitab

Meskipun para rapturists mengatakan bahwa ide mereka diperoleh melalui “the plain sense of Scripture” namun di Alkitab tidak ada pernyataan yang jelas dan harafiah seperti ini: “Kristus akan kembali datang ke dunia secara rahasia untuk mengangkat umat-Nya ke surga dan kemudian sekali lagi dalam kemuliaan-Nya untuk menghakimi dunia.” Atau, “Tuhan akan mengangkat umat-Nya sebelum kejayaan Antikristus, untuk membebaskan mereka dari penghakiman/ kesengsaraan akhir.” Tidak ada satupun ayat yang mengatakan demikian.

Ayat yang sering mereka kutip adalah Mat 24:37-42, “Sebab sebagaimana halnya pada zaman Nuh, demikian pula halnya… kedatangan Anak Manusia. …kalau ada dua orang di ladang, yang seorang akan dibawa dan yang lain ditinggalkan… Karena itu berjaga-jagalah sebab kamu tidak tahu pada hari mana Tuhanmu datang.” Menurut para rapturists, maka yang dibawa/ diangkat adalah para orang percaya, sedangkan yang tertinggal adalah yang orang yang tidak percaya. Padahal banyak orang Kristen percaya, bahwa ayat ini mengacu pada penghancuran Yerusalem oleh bangsa Roma. Maka jika konteks air bah jaman Nabi Nuh yang dipakai sebagai acuan, …”air bah itu datang dan melenyapkan mereka semua.” (Mat 24:37, 39) maka yang ‘dibawa/ dilenyapkan’ adalah orang-orang yang jahat sedangkan orang-orang yang benar malah ditinggalkan, yaitu Nabi Nuh dan anggota keluarganya. ((Lihat A Catholic Commentary on Holy Scripture, gen ed. Dom Orchard, OSB, New York: Thomas Nelson and Sons Ltd., 1953, p. 896.)) Namun demikian, meskipun diartikan bahwa yang diangkat adalah orang-orang yang benar, dalam ayat itu tidak dikatakan bahwa Yesus akan datang secara ‘rahasia’ untuk mengadakan pengangkatan umat pilihan-Nya.

Ayat lainnya yang sering dikutip adalah 1 Tes 4:13-17. Pada ayat ini Rasul Paulus bermaksud menghibur umat di Tesalonika akan kesedihan yang berlebihan meratapi anggota komunitas yang telah wafat. Namun pada saat yang sama ia juga menyinggung tentang kedatangan Tuhan yang kedua: “Selanjutnya kami tidak mau saudara-saudara, bahwa kamu tidak mengetahui tentang mereka yang meninggal, supaya kamu jangan berdukacita seperti orang-orang lain yang tidak mempunyai pengharapan. Karena jikalau kita percaya, bahwa Yesus telah mati dan telah bangkit, maka kita percaya juga bahwa mereka yang telah meninggal dalam Yesus akan dikumpulkan bersama-sama dengan Dia. Ini kami katakan kepadamu dengan firman Tuhan: kita yang hidup dan masih tinggal sampai kedatangan Tuhan, sekali-kali tidak akan mendahului yang telah meninggal. Sebab pada waktu tanda diberi, yaitu pada waktu penghulu malaikat berseru dan sangkakala Allah berbunyi, maka Tuhan sendiri akan turun dari sorga dan mereka yang mati dalam Kristus akan lebih dahulu bangkit, sesudah itu, kita yang hidup, yang masih tinggal akan diangkat bersama-sama dengan mereka dalam awan menyongsong Tuhan di angkasa. Demikianlah kita akan selama-lamanya bersama-sama dengan Tuhan.”

Seorang ahli Alkitab Protestan, Douglas J. Moo yang menentang teori secret rapture mengatakan, “Teks Perjanjian Baru secara garis besar diarahkan untuk kondisi khusus dalam kehidupan Gereja. Artinya… bahwa pengarang [kitab] akan memasukkan apa yang ia ingin sampaikan pada kondisi tertentu dan tidak menyertakan sesuatu yang tidak perlu jika tidak sesuai dengan maksudnya.” ((Diterjemahkan dari Douglas J Moo, “Response to Feinberg” in Gleason L Archer, et al., The Rapture: Pre- Mid-, or Post- Tribulational? (Grand Rapids, Mich: Zondervan, 1984), p. 99-100.)) Maka untuk konteks 1 Tes 4:13-18, Rasul Paulus menekankan kebangkitan untuk menghibur umat Kristen yang berduka; sedangkan 2 Tes 1:3-10, ia menekankan pada penganiayaan dan penghakiman untuk menguatkan umat Kristen yang sedang menderita penganiayaan. Namun demikian, Rasul Paulus tetap mengacu pada kejadian yang sama, yaitu: Kedatangan Kristus yang kedua yang terjadi hanya satu kali, dalam kemuliaan-Nya. Moo kemudian membandingkan dengan penuturan dan penekanan yang berbeda pada ke-empat Injil tentang kisah sengsara Yesus di salib, namun semuanya mengacu pada kejadian yang satu dan sama, yaitu penyaliban Yesus di Golgotha.

Jadi apa pengajaran Bapa Gereja mengenai akhir jaman? ((Diringkas dari The Rapture Trap, Paul Thigpen, PA: Ascension Press, 2001, p. 132-140.))

  1. St. Yustinus Martir (100-160): “…. Dua kedatangan Kristus yang telah diberitakan, adalah: pertama waktu Ia datang dalam penderitaan, tidak dalam kemuliaan, tidak dihormati dan disalibkan; tetapi kemudian Ia akan datang [kembali] dari surga dengan kemuliaan, ketika … Antikristus [lihat 2 Tes 2:3] yang mengajarkan hal-hal yang menentang Yang MahaTinggi, datang untuk melakukan hal-hal yang jahat di dunia melawan orang-orang Kristiani.” ((St. Yustinus Martir, Dialogue with Trypho, 110, , dapat dilihat dalam The Ante-Nicene Fathers: Translations of the Writings of the Fathers Down to AD 325, Alexander Roberts and James Donaldson, eds. (Grand Rapids, Mich: Eerdmans, 1987, reprint). 10 volumes.)) Maka di sini kita ketahui hanya ada dua kali kedatangan Kristus. Kedatangan yang kedua adalah setelah Gereja mengalami penganiayaan yang disebabkan oleh Antikristus. Tidak disebutkan adanya ‘secret rapture’ untuk membebaskan orang percaya dari penderitaan/ tribulations.
  2. St. Irenaeus (125-203): St. Irenaeus, yang adalah murid St. Policarpus, yang adalah murid St. Yohanes, mengatakan bahwa ke-10 raja yang disebut dalam Dan 7:24 dan Why 17:12, akan “memberikan kerajaan mereka kepada Antikris, dan mengusir Gereja.” Tetapi, para orang beriman akan bertemu dengan Tuhan pada “kebangkitan orang-orang benar, yang akan terjadi setelah kedatangan Antikristus, dan kehancuran semua bangsa di bawah kepemimpinannya.” ((St. Irenaeus, Against Heresies, V, 26, 1; 35, 1))
    Di sini juga jelas bahwa Gereja harus bertahan menghadapi penderitaan/ tribulation yang disebabkan oleh Antikristus, namun kemudian Kristus akan datang dan mengumpulkan para kudusnya dalam kebangkitan orang mati.
  3. St. Hippolytus (wafat 235): Ia juga mengajarkan dalam komentar kitab Daniel 12:1, bahwa akan terjadi masa kesulitan setelah kedatangan Antikristus yang menyebabkan kehancuran, baru setelah itu Kristus akan datang terakhir kali dari surga, “yang membawa api dan pengadilan yang adil bagi mereka yang menolak untuk percaya kepada-Nya.” ((St. Hippolytus, Treatise on Christ and Antichrist, 64.))
    Di sini juga tidak disebutkan bahwa ada kedatangan Yesus yang ‘ekstra’ dan rahasia untuk membebaskan Gereja dari penderitaan terakhir.
  4. Selanjutnya, pengajaran senada juga diajarkan oleh para Bapa Gereja, seperti dalam Surat-surat Barnabas, Hermas, Didache, Tertullian, Lactantius, Melito dari Sardis dan Methodius.
  5. St. Jerome (342-420), dengan mengacu pada beberapa ayat dalam Kitab Suci mengajarkan, bahwa orang-orang Kristen akan mengalami ‘final tribulation’ seperti yang mereka alami dalam setiap generasi. “Kamu keliru jika kamu menyangka bahwa tidak akan ada waktu bagi orang-orang Kristen untuk menderita akibat penganiayaan Iblis… Harinya akan datang…terberkatilah pelayan yang didapati Tuannya siap sedia. Lalu pada suara sangkakala dan bangsa-bangsa ketakutan, namun kamu malah bersuka cita… sebab kamu akan bergembira, tertawa dan berkata, Lihatlah, Tuhanku yang tersalib, lihat, Hakim-ku.” ((St. Jerome, Letter XIV.))
  6. St. Agustinus (354-430), mengatakan bahwa, “Allah yang Maha Besar sama sekali tidak membebaskan para kudus-Nya dari pencobaan, tetapi hanya melindungi hati mereka (“the inner man”), di mana iman berada, supaya dengan pencobaan dari luar, mereka [malah] bertumbuh di dalam rahmat… Pencobaan/penganiayaan ini yang terjadi di hari terakhir adalah sangat hebat, dan akan menjadi yang terakhir untuk dihadapi oleh Gereja yang Kudus di seluruh dunia, seluruh kota Kristus akan diserang oleh kota Iblis, yang keduanya ada di dunia.” Lalu St. Agustinus mengatakan, bahwa Kristus akan datang kembali untuk membangkitkan orang mati dan menghakimi dunia. ((St. Augustine of Hippo, City of God, XX, 8, 11, 14)) “Kebangkitan pertama” yang disebutkan dalam Why 20:5 diartikan sebagai Pembaptisan dan kehidupan dalam rahmat yang diberikan kepada umat beriman melalui sakramen-sakramen Gereja. Jadi uraian St. Agustinus jelas mengatakan, bahwa kedatangan Yesus yang kedua akan terjadi hanya satu kali, dalam kemuliaan, dan dapat dilihat oleh semua orang, sebagai akhir dari penderitaan yang besar yang dialami Gereja.
  7. St. Yohanes Krisostomus (347-407) juga percaya bahwa “pengangkatan” orang beriman akan terjadi bersamaan dengan kedatangan Kristus kembali dengan mulia di akhir sejarah manusia, untuk membangkitkan orang-orang mati dan menghakimi dunia. Dalam komentarnya terhadap 1 Tes 4:15-17 dia menjawab pertanyaan, “Kalau Kristus hendak turun ke dunia, mengapa kita perlu ‘diangkat’? Jawabnya adalah: “demi menghormati Dia.” ((St. John Chrysostom, Homilies on Thessalonians, VIII, “When a king drives into a city, those who are in honor go out to meet him; but those who are condemned await the judged inside the city. And at the coming of an affectionate father, his children and all those who are worthy to be his children are taken out to Him in chariot, so that they may see him and kiss him. But those of his servants who have offended him remain inside the house. We are carried upon the chariot of our Father. For He received Christ up in the clouds, and we shall be caught up in the clouds [see Acts 1:9]. Do you see how great is the honor? And as He descends, we go forth to meet Him…so shall we be with Him.“ (see 1 Tes 4:17).)) Di sini St. Yohanes menghubungkan pengangkatan dengan kebiasaan di masyarakat kuno, yang menyambut raja yang datang menuju tempat tujuannya. Bahkan hal ini juga terjadi pada keluarga, di mana ketika ayah datang, maka anak-anak datang menyambutnya.
  8. St. Thomas Aquinas (1225-1274) Ia mengutip St. Gregorius Agung yang dikutip oleh St. Albert yang mengatakan bahwa “suara sangkakala itu tidak lain adalah Sang Putera Allah yang turun ke dunia untuk menjadi Hakim.” ((St. Thomas Aquinas, Summa Theologica, Suppl. Q.77. Art.2.)) Hal ini berkaitan dengan Mat 24:27, “Sama seperti kilat memancar dari sebelah timur dan melontarkan cahayanya sampai ke barat, demikian pula-lah kelak kedatangan Anak manusia.”

Dari tulisan di atas, kita mengetahui, bahwa sepanjang sejarah Gereja, para Bapa Gereja tidak mengenal adanya teori “secret rapture”. Walaupun para rapturist ada yang mengutip suatu tulisan kuno yang tak jelas siapa pengarangnya, namun yang mungkin dipercayai oleh sejumlah umat Kristen awal. Pengarangnya disebut sebagai “Pseudo-Ephraem.” ((Pseudo, disini artinya, menurut Wikipedia: The prefix pseudo (from Greek ?????? “lying, false”) is used to mark something as false, fraudulent, or pretending to be something it is not. Jadi Pseudo- Ephraem, adalah tulisan yang diperkirakan seperti tulisan St. Ephraem tetapi sebenarnya bukan.)) Dalam teks kuno tersebut memang ada bagian yang jika dilepaskan dari konteksnya, dapat seolah mendukung teori rapture. ((For the saints and elect of God are gathered, prior to the tribulation that is to come, are taken to the Lord lest they ever see the confusion that is to overwhelm the world because of our sins….” Seperti dikutip oleh Gundry, First the Anti Christ, 162-63. Buku ini menceritakan pandangan Protestan tentang akhir jaman. Namun secara keseluruhan kita dapat melihat bahwa pandangan seorang evangelical Protestant dapat menentang ajaran “secret rapture” ini. Juga hal ini dijelaskan dalam buku Gundry yang lain, The Church and Tribulation.
)) Namun, sesungguhnya pernyataan tersebut cukup problematik, sebab secara keseluruhan teks tersebut menceritakan tentang kedatangan Kristus dengan kemuliaan-Nya diiringi oleh para malaikat dan para kudus-Nya untuk membangkitkan orang-orang mati pada Hari Penghakiman. Sehingga, hal ini bertentangan dengan pengangkatan orang beriman yang sudah meninggal secara rahasia/ secret rapture. Juga, pada teks yang sama dikatakan bahwa umat Kristen akan mengalami penderitaan akhir/ final tribulation di bawah Antikris, jadi ini juga bertentangan dengan pandangan bahwa secret rapture adalah untuk membebaskan para beriman dari penderitaan akhir.

Namun, seandainya pun ada yang menganggap teks ini adalah dasar pengajaran “secret rapture”, maka sesungguhnya, secara objektif dapat dikatakan bahwa pandangan tersebut hanyalah merupakan pendapat sekelompok jemaat awal berdasarkan dari pengarang yang tidak dikenal yang tidak mempunyai wewenang mengajar di Gereja, dan tidak sesuai dengan pengajaran para Bapa Gereja yang lain.

Pengajaran para pendiri Gereja Protestan tentang akhir jaman

Baik Luther maupun Calvin mengikuti pengajaran St. Agustinus: bahwa Gereja tidak dilepaskan dari penderitaan/ tribulation di tangan Antikristus, namun akhirnya, Kristus akan kembali dengan kemuliaan-Nya:

  1. Martin Luther, mengomentari kitab Wahyu, mengatakan bahwa kitab itu merupakan penjabaran tentang “penderitaan dan bencana yang akan terjadi pada dunia Kristen sepanjang sejarah.” ((Martin Luther, Preface to the Revelation of St. John, II; and Sermon on John 16:13.))
  2. John Calvin mengatakan, bahwa Antikristus akan menyelesaikan “penceraiberaian Gereja secara publik”. Namun akhirnya, Kristus akan mengalahkannya “dengan nafas mulut-Nya dan akan memusnahkannya [dengan segala kesesatannya], pada saat Ia datang kembali.” (lih. 2Tes 2:8). Maka bahkan Calvin sendiri yakin bahwa kejadian 1 Kor 15:20-28 dan 1 Tes 4:13 adalah satu kejadian. Ia mengatakan, perihal bunyi sangkakala terakhir,….”I prefer to understand the expression as metaphorical. In 1 Tes 4:16, …connects together the voice of the archangel and the trumpet of God. As therefore a commander, with the sound of a trumpet, summons his army to battle, so Christ, by His far- sounding proclamation, which will be heard throughout the whole world, will summon all the dead… to the tribunal of God.” ((John Calvin, Commentary on First Corinthians, 52.))

Jadi apa prinsip pengajaran Gereja Katolik tentang kedatangan Yesus yang kedua?

Secara prinsip ada empat hal yang perlu kita ketahui:

1. Kedatangan Yesus yang kedua tidak akan terjadi secara rahasia, melainkan akan terjadi secara publik, kelihatan oleh semua orang, penuh dengan kemuliaan, dan kejayaan. Maka, kedatangan Kristus yang kedua hanya akan terjadi satu kali saja.

  • “Lihat, Ia datang dengan awan-awan dan setiap mata akan melihat Dia.” (Why 1:7).
  • “… semua bangsa di bumi…. akan melihat Anak Manusia itu datang di atas awan-awan di langit dengan kekuasaan dan kemulianNya.” (Mat 24:30)
  • Kedatangannya akan diiringi dengan bunyi sangkakala (Mat 24:31).
    “…. dan semua malaikat bersama-sama dengan Dia” (Mat 25:31).

2. Kedatangan-Nya yang kedua akan diikuti oleh Penghakiman Terakhir yang mengadili semua orang.

  • ”Apabila Anak Manusia datang dalam kemuliaan-Nya dan semua malaikat bersama-sama dengan Dia, maka Ia akan bersemayam di atas tahta kemuliaan-Nya. Lalu semua bangsa akan dikumpulkan di hadapan-Nya dan Ia akan memisahkan mereka seorang dari pada seorang …” (Mat 25:31-32).

3. Seperti Yesus mengingatkan para murid-Nya, Gereja akan mengalami banyak penganiayaan sebelum kedatangan-Nya yang kedua. Kekuatan Iblis akan menyerang umat Allah, dan para beriman tidak dibebaskan dari kesulitan ini. Namun Tuhan akan memberikan rahmat untuk bertahan, dan siapa yang bertahan sampai kesudahannya melalui pemurnian dan kesetiaan dalam pencobaan ini, akan diselamatkan (lihat perikop tentang Siksaan yang berat dan mesias-mesias palsu pada Mat 24:15-28, Mrk 13:14-23, Luk 21:20-24).

4. Kedatangan Kristus yang kedua akan terjadi tanpa diduga, dengan cara yang sama seperti saat Ia naik ke surga. Artinya, tidak dapat diketahui sebelumnya (lih. KGK 673). Karena itu sikap yang tepat untuk menghadapinya adalah berjaga-jaga.

  • “Hendaklah kamu siap sedia, karena Anak Manusia datang pada saat yang tidak kamu duga.” (Mat 24:44)
  • “Yesus ini, yang terangkat ke surga meninggalkan kamu, akan datang kembali dengan cara yang sama seperti kamu melihat Dia naik ke surga” (Kis 1:9-11).
  • “Karena itu berjaga-jagalah, sebab kamu tidak tahu pada hari mana Tuhanmu datang.” (Mat 24:42)
  • “Engkau tidak perlu mengetahui masa dan waktu, yang ditetapkan Bapa sendiri menurut kuasa-Nya.” Maka KGK 1040 mengatakan, “Hanya Bapa yang mengetahui hari dan jam, Ia sendiri menentukan, kapan itu akan terjadi.”

Kesimpulan

Sementara banyak gereja Kristen non Katolik mengajarkan tentang akhir zaman ini dengan begitu banyak variasinya, yang bahkan bisa saling bertentangan, Magisterium Gereja Katolik memang memilih dengan tenang untuk teguh berpegang pada Tradisi yang diajarkan oleh para Bapa Gereja. Intinya, kedatangan Yesus yang kedua hanya terjadi satu kali, tiba-tiba dan tak dapat diketahui sebelumnya oleh manusia, dan Kristus akan datang dengan kemuliaan-Nya. Gereja Katolik tidak berusaha meramalkan siapakah Antikristus, ataupun menghubungkan skenario kitab Daniel dan kitab Wahyu. Namun bukan berarti kita layak mengacuhkannya, sebab permenungan akan akhir dunia akan sangat berguna untuk meletakkan kehidupan sehari-hari dalam perspektif yang benar, agar kita tidak terlena dengan kesenangan dan harta duniawi. Hal akhir jaman ini memang layak kita cermati, walaupun itu hanya menyadarkan kita bahwa kita mempunyai beberapa kemungkinan jawaban daripada sesuatu yang sudah pasti.

Selanjutnya, sebagai umat Katolik, tak usah kita lekas gelisah jika mendengar tentang pengajaran tentang akhir jaman. Akhir jaman memang harus menjadi perhatian kita, namun maksudnya agar kita dapat hidup dengan lebih baik dengan mempergunakan waktu yang Tuhan berikan pada kita dengan sebaik-baiknya untuk berbuat kasih dan kebaikan. Kita tidak perlu turut menghitung tahun dan waktu kedatangan Yesus yang kedua, karena besar kemungkinan hal itu tidak benar, seperti yang telah terbukti dalam sejarah manusia. Hasil hitungan kita akan hanya menambah panjang daftar kekeliruan ramalan manusia akan perhitungan akhir jaman, sebab Tuhan sendiri mengatakan bahwa kita tidak akan tahu hari mana Ia akan datang (Mat 24:42). Namun sebaliknya, kita juga tidak boleh mengacuhkan kedatangan Tuhan Yesus yang kedua ini, apalagi sampai hidup seolah-olah tidak akan ada Hari Penghakiman. Sebab jika demikian, kita akan menyesatkan diri sendiri dan akan menerima ganjarannya di akhir jaman nanti. Jadi, mari kita melakukan apa yang diajarkan oleh Gereja, yaitu, berjuang untuk hidup kudus, dengan mengasihi Tuhan dan sesama, sesuai dengan panggilan hidup kita, entah sebagai kaum awam atau kaum tertahbis. (( Lihat Konstitusi Dogmatik tentang Gereja, Lumen Gentium bab 5, Panggilan untuk hidup kudus.)) Supaya jika saatnya tiba, entah pada akhir hidup kita, ataupun jika kita masih hidup, pada hari kedatangan-Nya, maka kita didapati-Nya sebagai hamba yang setia dan berjaga-jaga. Agar kita boleh mendengar sabda-Nya, “Mari, hai kamu yang diberkati oleh Bapa-Ku, terimalah Kerajaan yang telah disediakan bagimu sejak dunia dijadikan.” (Mat 25:34).

Keep in touch

18,000FansLike
18,659FollowersFollow
32,900SubscribersSubscribe

Artikel

Tanya Jawab