Home Blog Page 227

Bila cinta datang mengetuk hati

4

Umat beriman Kristiani yang terkasih, tidak terasa waktu bergerak maju dan tidak kembali. Kita sedang menatap hari kedatangan Sang Juru Selamat Yesus Kristus. Hari Raya Natal telah tiba. Banyak tokoh yang mengelilingi kedatangan Tuhan Yesus di hari raya Natal. Mereka mendapat perhatian seluruh umat manusia di hari raya Natal. Mereka itu adalah:

Yusuf, merupakan figur seorang bapa dan suami yang sederhana, tidak banyak bicara tetapi bertanggungjawab. Nampaknya, figur Yusuf kurang mendapat perhatian. Kita lupa bahwa dalam karya keselamatan Allah, peran Yusuf  tidaklah kalah penting jika dibandingkan dengan peran Maria. Dapatkah kita bayangkan, apa yang akan terjadi jika Yusuf tidak menerima Maria? Kemungkinan besar Maria sudah dirajam habis oleh orang Yahudi, mengingat bahwa hukuman bagi seorang gadis yang mengandung di luar ikatan perkawinan adalah hukuman rajam (lih. Ul 22:21). Maria telah mengambil resiko yang sangat besar dengan mengatakan YA, terhadap undangan Malaikat Gabriel, untuk mengandung Kristus walaupun ia belum bersuami. Fiat voluntas tua, “Terjadilah menurut kehendakmu”, demikianlah jawab Maria kepada malaikat itu.

Marilah kita renungkan bersama, keadaan pada saat itu: Siapakah yang percaya bahwa buah kandungan Maria adalah dari Roh Kudus? Siapakah yang dapat menjawab bahwa buah kandungan Maria adalah Putera Allah sendiri?  Bukankah Maria sama dengan perempuan lainnya yang dapat mengandung dan melahirkan seorang bayi? Mengapa Maria menjadi istimewa? Jika kita membaca Injil terutama Injil Matius tentang kisah silsilah Yesus, maka kita akan menemukan ada empat puluh dua generasi, dari Abraham sampai kepada Yesus Kristus. Kemudian kalau dihitung kata “memperanakkan” ada 41 kali, tetapi pada giliran Yusuf, tiba-tiba Matius mengubah menjadi: …”suami Maria yang melahirkan Yesus” (Mat 1:16). Sedangkan Lukas sedikit berani dengan menulis Yesus sebagai ‘anak Yusuf’, tetapi masih dengan embel-embel ‘menurut anggapan orang’, se-olah-olah dia ingin membela diri: bukan aku lho yang mengatakannya! Yusuf memang berdiri di samping palungan pada saat kelahiran Yesus, dan selanjutnya selalu menyertai Yesus dan Maria ibu-Nya, sehingga orang mengenalnya sebagai bapa Yesus walaupun sesungguhnya ia adalah bapa angkat Yesus.

Yusuf umumnya digambarkan sebagai seorang lansia yang memegang tongkat untuk menopang tubuhnya yang sudah renta dimakan usia. Cobalah kita periksa baik-baik semua patung Yusuf, umumnya ia memegang tongkat. Kita bisa usil dan mempertanyakan, apakah memang benar Yusuf adalah seorang yang sudah tua, yang lebih pantas menjadi kakek Maria atau setidaknya ayahnya? Ataukah sesungguhnya Yusuf tidaklah setua itu pada saat mengambil Maria sebagai istrinya?

Sebenarnya, gambaran Yusuf yang sudah lansia kemungkinan diambil dari penjabaran the Protoevangelium of James yang dikecam oleh St. Thomas Aquinas. Menarik kita renungkan di sini adalah penjabaran tentang St. Yusuf menurut para mistik seperti Maria de Agrida yang terberkati, Anne Catherine Emmerich yang terberkati, dan Padre Pio. Mereka, berdasarkan penglihatan yang mereka terima, menjabarkan ciri- ciri Yusuf demikian: sebagai seorang muda yang belum menikah saat ia mengambil Maria sebagai istrinya, ia tampan dan baik hati, namun juga sederhana dan bersahaja, murni dalam pikiran dan perbuatan. Kekudusannya tak tercela baik di hadapan Allah maupun manusia.

Sesungguhnya, apakah usia Yusuf patut dipersoalkan? Mungkin saja tidak. Memang lebih mudah untuk mempercayai bahwa Yusuf adalah seorang yang tua, sehingga ia lebih dapat melindungi Maria dan menjaga kesucian Maria. Sebab memang diperlukan kebajikan yang lebih heroik bagi seseorang pria yang masih muda, namun tetap dengan kasih melindungi istrinya yang mengandung bukan anaknya, membesarkan anak itu, dan untuk seterusnya hidup menjaga kemurnian dalam kehidupan keluarganya dengan menghormati kaul keperawanan istrinya. Kebajikan inilah yang layak menjadikan Yusuf sebagai ‘pelindung Gereja’ dan teladan para suami. Sebab melalui St. Yusuf, para suami dapat belajar untuk mengasihi istrinya dengan tulus tanpa pamrih dan tanpa syarat. Yusuf adalah seseorang yang tulus hati (Mat 1:19). Sejauh mana kitapun tulus hati dalam mengasihi sesama kita? Sejauh mana para suami telah mengikuti teladan St. Yusuf dalam mengasihi istrinya?

Ketulusan Yusuf mengasihi Maria mengatasi harga dirinya. Yusuf tidak membutuhkan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan yang mungkin berkecamuk di dalam batinnya. Setelah mendengar kabar malaikat di dalam mimpinya, Yusuf tidak mempersoalkan kehamilan Maria tunangannya dan juga tidak mendesak Maria untuk menceritakan secara mendetial apa yang sebenarnya terjadi. Yusuf tidak merajuk, bahwa di dalam keluarga itu, ia bukanlah ayah kandung dari bayi yang dikandung oleh Maria. Dalam relasinya dengan Maria, Yusuf sungguh memberi ruang yang luas pada Maria untuk menjadi dirinya sendiri. Bagaimana dengan anda terutama umat Kristiani? Apakah anda akan kecewa berat dan sakit hati jika tidak mendapatkan peran yang anda inginkan dalam kegiatan anda bermasyarakat? Atau anda mendapat peran, tetapi tidak diperhitungkan oleh orang lain, apakah anda lalu sakit hati? Jika kemalangan datang menghadang, apakah pikiran dan perasaan kita langsung dipenuhi dengan sejuta tanya: Mengapa? Kadang kita juga mengharapkan jawaban seketika dari Tuhan atas doa-doa kita yang kebanyakan merupakan permohonan. Mengapa kita cenderung mengharapkan jawaban dari Tuhan dengan segera atas doa-doa kita? Sebab kita tidak sabar! Bahkan kita mempertanyakan keberadaan Tuhan. Tuhan ada nggak sih? Kok Tuhan diam saja, sedangkan kita sedang menghadapi masalah silih berganti. Kita sudah berdoa novena terus menerus, lalu kita bertanya kepada Tuhan, “Tuhan, mana jawabannya?” Kerap kita juga cepat bertengkar dengan orang lain, yang dimulai dengan persoalan kecil, misalnya karena perbedaan pandangan dalam keluarga. Karena kurang sabar, maka dalam berelasi dengan orang lain, kita cenderung menyalahkan, melarang bahkan menghakimi mereka. Padahal seharusnya, kita meneladani Yusuf yang sabar, tenang, mendengarkan, dan percaya penuh kepada penyelenggaraan Tuhan.  Perbedaan ataupun masalah bagi Yusuf malah menjadi sarana untuk menambah wawasan memahami sesama, dan cara untuk mendewasakan dalam berelasi. Santo Yusuf, semoga tingkah laku kami dapat berubah menyerupai teladanmu.

Maria, ah itu dia. Dengan mantel birumu Engkau semakin cantik dan indah. Meskipun demikian, sesungguhnya Maria tidak pernah memiliki mantel seindah itu. Dia adalah perempuan yang sederhana, gadis desa yang lugu. Sayangnya banyak patung Maria, yang nampak terlalu mewah dengan mantel biru itu. Gambaran tentang Maria melalui patung yang menghiasi kandang Natal, sepertinya tidak sesuai dengan kenyataan diri Maria yang sesungguhnya. Maria mengalami aneka kesulitan, baik karena dirinya yang mengandung dari Roh Kudus maupun karena relasinya dengan Anaknya Yesus hampir tidak pernah diceritakan. Sebagai perempuan Yahudi yang saleh bisa kita bayangkan betapa taatnya Maria pada aturan dan hukum Taurat. Oleh karena itu, pastilah Maria cemas ketika Yesus berkali- kali melanggar hukum Taurat, terutama tentang ketentuan hari Sabat. Maria juga sedih ketika banyak orang mengatakan bahwa anaknya “gila”. Maria berusaha membawa anaknya pulang kampung namun tak berhasil karena Yesus terlalu sibuk dan sampai- sampai tidak ada waktu untuk makan. Sebagai seorang ibu tentu Maria prihatin atas kesehatan anaknya. Jika sesekali Yesus pulang kampung ke rumah, kita yakin Maria sebagai ibu akan menyediakan makan kesukaan Yesus…

Banyak ketidakpastian memenuhi benak Maria, seperti setiap ibu, mungkin Maria pun ingin agar anaknya memiliki tempat tinggal tetap, menikah dan memberi cucu-cucu manis serta dihormati oleh masyarakat. Namun anaknya tidak memenuhi harapan ibunya. Yesus anaknya tidak menikah dan tidak ada waktu memikirkan diri-Nya sendiri karena Dia memberikan seluruh hidupnya untuk sesama dan Allah Bapa-Nya. Maria menyimpan segala perasaan ini di dalam hatinya. Dilihat dari kacamata ini, Maria dapat dikatakan sebagai seorang Ibu yang malang dengan anak yang berkarakter sulit. Sang Anak yang mempunyai cara berpikir dan cara hidup yang sangat berbeda dengan kebanyakan orang muda pada jaman itu. Namun Maria memberikan kebebasan pada Anaknya untuk berkembang sesuai dengan cita-cita-Nya. Maria tidak membentuk kepribadian Yesus seperti yang dia ingini. Maria mengakui dan menerima perbedaan karakter dengan Anaknya.

Hal yang menjadi puncak pengorbanan dan iman Maria adalah kesetiaannya kepada Yesus, yang membuatnya teguh berdiri menyertai Yesus di kaki salib-Nya, di saat hampir semua murid-Nya meninggalkan Dia. Maka Maria selalu mempertahankan “Fiat”-nya sampai akhir, walaupun Maria baru dapat memahami semuanya itu setelah kebangkitan Kristus dari wafat-Nya di kayu salib. Maka, hampir di sepanjang hidupnya, Maria bergelut dalam permenungan memahami cara pikir dan bertindak dari Putera-nya. Kita mengingat bahwa banyak ibu atau para istri yang tidak dengan mudah bisa memahami suami, dan anak-anak mereka. Kita mesti belajar dari Maria untuk merenungkan ketidakpastian dalam hidup ini, dan menyimpannya di dalam hati agar kita bisa bertindak dengan bijaksana.

Para Gembala, mereka adalah orang-orang pertama yang mengunjungi Yesus. Bagi kita hal ini membawa makna penting.  Para gembala adalah orang-orang yang selalu berjaga dan siaga, peka terhadap hal-hal yang tidak terduga. Mereka tidak ngotot berpegang teguh pada satu kepastian. Bukankah setiap saat serigala dapat datang menerkam domba- domba muda milik mereka?  Para gembala tetap siap sedia menjaga mereka. Mereka sangat bertanggungjawab. Kita memang bukan orang yang pandai matematika, atau ekonomi. Namun sikap kita kadang terlalu matematis; kaku dan ingin persis, karena takut akan perubahan yang tak terduga. Sebagai umat Kristiani yang baik, kita juga selayaknya belajar dari perilaku hidup para gembala yang siap sedia, siaga menjaga dan menanti kedatangan Tuhan. Mari belajar dari mereka dalam hal keluwesan dan keberanian untuk berubah, tentu ke arah yang lebih baik.

Keledai dan Sapi, mereka binatang yang terpilih dari sekian banyak binatang ciptaan Tuhan.  Berikut penutur kisah binatang, tentang apa yang layak menemani keluarga Yusuf di kandang? “Pertama, munculah Singa si raja binatang. Dia merasa bahwa hanya dia yang berdarah biru yang layak mengabdi Tuhan langit dan bumi. Dengan sombongnya dia menunjukkan kebolehannya lalu mengaum sekuat tenaga dan siap mencabik-cabik siapa saja yang mengganggu ketenangan sang bayi Yesus dalam palungan. Namun malaikat itu menjawab: “Engkau tidak memiliki perikebinatangan”, hardik sang malaikat. “Aku tidak membutuhkan kamu.” Berikutnya dengan langkah anggun mendekatlah Serigala. Ekornya mengibas-ibas dengan tenangnya dan diiringi senyum binal. Layaknya pencuri profesional berkatalah dia: “Setiap pagi aku akan mencuri madu murni bagi si bayi Yesus dan ayam betina bagi si ibu muda Maria”. Jawab Malaikat: “Hai pencuri ulung yang merugikan semua binatang, aku tak butuh penjaga macam kamu.” Begitulah satu persatu binatang muncul namun tak satupun yang layak. Malaikat melihat ke sekeliling dan tampaklah dari kejauhan Sapi dan Keledai yang berjalan hati-hati serta mendekat ragu dan malu. “Apa yang dapat kamu tawarkan?” sapa sang malaikat. “Aku tak punya apa-apa yang mulia,” jawab keledai dengan pandangan mata yang sedih. “Mereka menyebut kami berdua si tolol, yang tak berpendidikan dan tak punya kecakapan. Namun, toh kami ingin menawarkan diri untuk mengabdi Tuhan.” Lalu Sapi menyahut, “Mungkin Yang Mulia, kami bisa berguna. Kemampuan kami sederhana saja: mengibas-ibaskan ekor kami. Tapi siapa tahu, dengan melakukan ini kami mampu mengusir nyamuk dan lalat yang datang mendekat tanpa mengusik si bayi Yesus yang tidur lelap.” “Ahhhaaa,” seru Malaikat gembira, “Binatang yang beginilah yang kubutuhkan.” Akhirnya, Sapi dan Keledai dipilih  sebagai yang layak dan pantas menjadi teman yang mendampingi Yusuf sekeluarga”. Ceritanya selesai sampai di sini. Kita perlu mawas diri, agar dapat hidup sederhana tanpa ambisi menjadi orang hebat. Menjadi keluarga Kristiani yang baik dimulai dengan hidup apa adanya, sederhana, tidak sombong dan pongah. Sebab dengan kesederhanaan ini kita mengikuti teladan keluarga kudus di Nazaret.

Bayi Yesus dalam palungan. Dia yang kaya dan mulia mau merendahkan diri menjadi yang hina-papa, miskin dan manusiawi. Bisa kita bayangkan suasana kandang tempat Yesus dibaringkan, sepi, dingin, sunyi-senyap. Kehidupan baru ditawarkan pada manusia. Bayi mungil yang lahir itu adalah Sang Juru Selamat dunia! Dapatkah aku menjadi palungan bagi kehadiran Tuhan, lewat hidup dan pelayananku? Lewat kesetiaanku pada panggilan sebagai pasangan suami istri dan hidup religius: para imam, suster,bruder? Dalam keheningan malam kudus ini, kita patut menyalakan lilin-lilin kecil agar bersinar menyinari hidup yang baru berkat kedatangan Yesus di hari Natal. Kita bisa berharap agar bisa menjadi secercah harapan bagi sesama yang menderita: mereka yang tidak memiliki tumpangan, para gelandangan, fakir miskin peminta- minta di jalan dan lorong-lorong kehidupan kita. Ataupun kepada mereka yang miskin secara rohani, mereka yang kesepian dan putus asa. Apalagi jika ternyata mereka itu ada di sekitar kita, dan ada di dalam keluarga kita sendiri…

Tuhan Yesus, silakan datang di hari raya Natal ini. Ketuklah pintu hati kami, ya, Tuhan. Ya, masing- masing dari kami, entah kami para imam, suster dan bruder, pasangan suami istri, anggota keluarga ataupun orang muda. Kami berharap, apabila Cinta datang mengetuk hati, kami akan dapat menyambut-Nya dengan menyediakan diri kami menjadi terang yang menyinari sesama. Yesus datanglah di hari raya Natal, ketuklah hati kami agar mampu menjadi alat-Mu, menyinari setiap kegelapan dosa dan hati yang pilu mendamba hidup-Mu.

Bagi kita semua, mari, mulailah berdamai dengan diri sendiri, dan kemudian berdamailah dengan Tuhan dan sesama. Percayalah bahwa diri kita mampu membawa damai bagi dunia sekitar kita. Seperti kata Malaikat yang membawa kabar: “Damai di bumi bagi orang yang berkehendak baik, yang berkenan kepada-Nya” (lih. Luk 1:14)

“We wish you a Merry, Happy Christmas and Happy for Ever”

RD. D Gusti Bagus Kusumawanta,

Renungan ini mendapat inspirasi dari kartu ucapan seorang sahabat, dan telah dimuat dalam Majalah Relasi ME Indonesia bulan Desember 2010. Renungan ini juga telah diedit oleh redaksi Katolisitas.org

Tentang berjaga- jaga Mat 24: 37-39

7

Pertanyaan:

Ibu Ingrid

Minggu kemarin 28 Nov 2010 kita diingatkan kembali tentang Ber-jaga2
Mat 24 : 37 – 44
Mengapa Yesus memberikan nasehat tentang ber-jaga2 ini dengan zaman Nuh ?
Apakah pada saat itu Nuh tidak mengingatkan mereka (tetangga2nya)bahwa air bah akan datang, sehingga mereka tidak binasa tenggelam dalam air bah ?
Yesaya 2 : 1 – 5
Khususnya 2 : 4 Ia akan menjadi hakim antara bangsa-bangsa dan akan menjadi wasit bagi banyak suku bangsa; maka mereka akan menempa pedang-pedangnya menjadi mata bajak dan tombak-tombaknya menjadi pisau pemangkas; bangsa tidak akan lagi mengangkat pedang terhadap bangsa, dan mereka tidak akan lagi belajar perang.
Apakah waktu Yesus datang kembali, bangsa-bangsa hidup rukun sehingga tidak ada perang, sebab pedang2nya sudah dijadikan mata bajak dan tombak2nya dijadikan pisau pemangkas ?
Ataukah ayat tsb menyatakan akan zaman yang lain ?

Laras

Jawaban:

Shalom Laras,

Tentang berjaga-jaga Mat 24: 37-39:

“Sebab sebagaimana halnya pada zaman Nuh, demikian pula halnya kelak pada kedatangan Anak Manusia. Sebab sebagaimana mereka pada zaman sebelum air bah itu makan dan minum, kawin dan mengawinkan, sampai pada hari Nuh masuk ke dalam bahtera, dan mereka tidak tahu akan sesuatu, sebelum air bah itu datang dan melenyapkan mereka semua, demikian pulalah halnya kelak pada kedatangan Anak Manusia.”

Demikianlah penjelasan yang saya sarikan dari the Navarre Bible:

Dengan sekilas Tuhan Yesus menggambarkan akan keadaan manusia yang tidak peka dan tidak mempedulikan hal- hal surgawi. Manusia cenderung berpikir bahwa lebih pentinglah urusan makan dan minum, untuk menemukan suami atau istri (menikah); tetapi jika demikian, maka sikap ini melupakan apa yang menjadi hal yang terpenting/ terutama, yaitu kehidupan kekal. Tuhan kita mengatakan bahwa keadaan akhir dunia adalah seperti banjir besar (seperti di jaman nabi Nuh); artinya kedatangan-Nya yang kedua akan terjadi secara tiba- tiba, akan mengejutkan banyak orang, apakah mereka saat itu sedang berbuat baik ataukah berbuat jahat.

Dengan demikian perumpamaan air bah Nabi Nuh dimaksudkan sebagai gambaran kondisi akhir dunia yang datangnya secara tiba- tiba. Jika kita membaca di Kitab Kejadian tentang Nabi Nuh, (Kej 6-9) maka kita akan mengetahui bahwa Nabi Nuh dan keluarganya dipilih oleh Tuhan untuk diselamatkan dari bencana air bah, karena Nuh adalah seorang yang benar (Kej 6:9). Maka hanya Nuh saja yang diselamatkan dengan keluarganya di bumi, sedangkan semua orang yang lain dilenyapkan oleh air bah. Sepanjang pengetahuan saya, tidak dikatakan di dalam Kitab Suci bahwa Nuh mengingatkan para tetangganya bahwa air bah akan datang. Yang dikatakan di dalam Alkitab adalah ‘semua manusia menjalankan hidup yang rusak di bumi’ (Kej 6:12), sehingga mereka semua terkena hukuman Allah. Allah dengan kebijaksanaan-Nya menentukan demikian, atas dasar keadilan-Nya, namun kasih karunia-Nya ditunjukkan kepada Nuh sekeluarga (lih. Kej 6:8) dengan melindungi mereka dari bencana air bah yang melenyapkan hampir seluruh bumi.

Sedangkan untuk penjelasan Yesaya 2:1-5, demikianlah menurut Haydock Commentary on the Holy Scriptures:

Ayat ini menggambarkan keadaan damai di masa kepemimpinan Hizkia, raja Yehuda, anak Ahas (lih. 1 Raj 18), setelah kekalahan Sennacherib (anal raja Sargon II) sekitar abad 7 sebelum masehi. Namun keadaan ini juga dapat menggambarkan keadaan damai di dunia pada saat kelahiran Kristus.

Maka ayat dini dipilih sebagai bacaan masa Adven, untuk mengingatkan kita akan keadaan damai di dunia pada saat kedatangan Kristus yang pertama, yaitu saat kelahiran-Nya. Keadaan damai inilah yang semestinya diusahakan kembali pada saat ini, jika kita ingin menyambut kedatangan-Nya yang kedua.

Saya memahami ada orang- orang yang menginterpretasikan Yes 2:1-5 dan Yes 11:6-9 sebagai dasar adanya Kerajaan Damai 1000 Tahun. Namun bukan demikian yang diajarkan oleh Gereja Katolik. Hal ini sudah pernah dibahas di artikel ini, silakan klik. Silakan pula membaca tanya jawab di bawahnya. Semoga dapat menjawab pertanyaan anda.

Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
Ingrid Listiati- katolisitas.org

Tuhan sedang menunggu saya

4

“Lihat, Aku berdiri di muka pintu dan mengetok; jikalau ada orang yang mendengar suara-Ku dan membukakan pintu,  Aku akan masuk mendapatkannya dan Aku makan bersama-sama dengan dia, dan ia bersama-sama dengan Aku.” (Wahyu 3 : 20)

Membuat orang lain menunggu rasanya sama tidak enaknya dengan kalau kita menunggu orang lain. Ketika saya tidak menyelesaikan suatu kegiatan atau janji pada waktunya dan mengakibatkan orang lain menunggu saya, saya tidak hanya membuat kesal orang lain tetapi juga mengambil waktunya yang berharga, yang terbuang untuk menunggu saya. Tentu saja hal ini tidak berlaku pada seorang supir yang memang digaji untuk menunggu majikannya selesai berbelanja, misalnya. Tetapi bila yang menunggu kita selesai berbelanja itu adalah suami atau teman dekat saya, sesungguhnya saya sedang meminta pengertian dan pengorbanan mereka. Mungkin mereka juga menggerutu karena saya terlalu lama membuat mereka menunggu. Sebaliknya bila saya yang berada pada posisi menunggu, tentu saya juga resah, tetapi setidaknya saya tidak sedang merugikan orang lain.

Masa Adven adalah masa penantian kita akan kedatangan Kristus untuk hadir di tengah-tengah kita sebagai Sang Immanuel yang membebaskan kita dari semua belenggu kedosaan dan ikatan keduniawian kita. “Sesungguhnya, anak dara itu akan mengandung dan melahirkan anak laki-laki, dan mereka akan menamakan Dia Yesus, karena Dialah yang akan menyelamatkan umat-Nya dari dosa mereka.” Hal itu terjadi supaya genaplah yang difirmankan Tuhan oleh nabi:  “Sesungguhnya anak dara itu akan mengandung dan melahirkan seorang anak laki-laki, dan mereka akan menamakan Dia Immanuel” – yang berarti: Allah menyertai kita. (Matius 1: 22-23). Tuhan yang solider dengan kelemahan dan keterbatasan kita sebagai manusia dan menjadi sama seperti kita kecuali dalam hal dosa, menghantar kita kepada keselamatan yang sejati melalui hidup-Nya sebagai manusia dan penderitaan-Nya di kayu salib dalam wujud manusia Yesus. Namun keselamatan itu hanya dapat terjadi dengan sempurna bila kita senantiasa membuka diri untuk menerima anugerah pengampunan dan penebusan-Nya.

Maka kadang-kadang dalam masa Adven, saya lebih merasakan bahwa justru Yesuslah yang sedang menunggu saya untuk senantiasa datang kepada-Nya dan menyerahkan diri saya dibentuk sesuai dengan rencana agung-Nya. Namun Yesus menunggu dengan sangat sabar, Dia menunggu tanpa mengeluh, melainkan dengan penuh pengertian, dan cinta. Selama menunggu saya untuk berubah dari kebiasaan-kebiasaan saya yang tidak membuat saya sungguh-sungguh hidup, Tuhan Yesus bekerja melalui berbagai jalan cinta, supaya Dia dapat masuk ke dalam hati saya dan memberikan cinta-Nya yang kekal menjadi harta milik saya yang tak akan diambil oleh apapun juga. Kadang Dia memberikan saya teguran halus lewat perjumpaan,  percakapan, atau bahkan konflik dengan orang lain. Kadang Dia mengijinkan suatu peristiwa tertentu terjadi dalam hidup saya supaya saya mampu melihat Dia lebih jelas lagi dan mengalami pekerjaan-pekerjaan-Nya yang penuh dengan cinta dan rancangan keselamatan. Bersikap terbuka dan mau berubah adalah kunci utama supaya Tuhan dapat bekerja dengan sepenuhnya dan dengan bebas di dalam diri kita untuk menerima dan mengalami rahmat penebusan-Nya.

Ketika membaca mengenai Yohanes Pemandi di Matius 3: 1-12, yang berseru-seru di padang gurun menyerukan pertobatan dan berbalik dari dosa dan kebiasaan yang buruk, dengan pakaian dari bulu unta dan ikat pinggang dari kulit hewan yang pasti sangat sederhana, sesaat ingatan saya melayang kepada pemandangan di sekitar pusat kota (down town) Houston di Amerika di mana saya pernah bermukim. Di down town area itu banyak dijumpai para homeless (kaum gelandangan) yang tidak mempunyai tempat berteduh. Mereka berpakaian sangat kumal dan seadanya. Jumlah mereka sebenarnya tidak banyak, namun penampilan mereka yang kontras dengan situasi sekitarnya yang dikelilingi gedung-gedung bertingkat, taman-taman kota yang cantik, dan jalanan yang rapih, bersih, dan mapan, membuat kehadiran mereka terasa menyolok. Kebanyakan masyarakat umum memandang mereka dengan perasaan tidak aman, karena khawatir mereka akan berbuat kekerasan untuk mendapatkan uang demi memenuhi kebutuhan hidup mereka. Namun pada kenyataannya, sejauh yang saya alami, mereka tidak pernah mengganggu saya. Paling-paling hanya mendekat untuk minta uang satu dollar, dan kalau saya menggelengkan kepala karena kebetulan sedang tidak punya pecahan satu dollar, maka mereka akan menjauh dengan sopan. Hati saya tersentuh oleh kesederhaan dan kemiskinan mereka. Betapa dekatnya orang-orang seperti itu kepada Allah. Hidupnya hanya untuk hari ini, sedangkan hari besok ia bergantung sepenuhnya kepada Yang Punya Hidup.

Penampilan semacam itulah yang mungkin juga dijumpai dan dirasakan orang-orang Israel jaman dulu pada diri Yohanes Pemandi. Siapakah orang-orang yang tidak tertipu oleh penampilan fisiknya yang sangat sederhana itu, dan mampu melihat pesan yang dibawanya sebagai pesan kebenaran dari Yang Maha Kuasa? Siapakah mereka yang kemudian berbondong-bondong datang untuk dibaptis olehnya di Sungai Jordan sehingga mereka dapat menerima rahmat Allah sepenuhnya? Saya berpikir, pasti orang-orang itu adalah orang-orang yang hatinya selalu terbuka dan rendah hati, yang sadar bahwa dirinya masih jauh dari sempurna, dan oleh karenanya selalu siap dan mau untuk berubah. Orang-orang yang miskin di hadapan Allah. Yang bagaikan seorang homeless di downtown kota Houston, bergantung sepenuhnya pada kemurahan Allah di setiap hari yang baru, karena kemiskinannya.

Yohanes Pemandi mungkin tidak mempunyai keelokan apapun secara fisik, namun hatinya yang selalu haus akan Allah dan tidak mengenal kompromi akan dosa, berani mempertahankan prinsip demi kebenaran dan kasih Allah, dengan mudah memikat hati siapa saja yang terbuka kepada panggilan Tuhan yang halus, yang datang dalam berbagai peristiwa hidup dan perjumpaan dengan sesama di dalam kehidupan kita. Tuhan Yesus masih selalu menunggu saya dan Anda, di masa Adven ini, dan di seluruh masa kehidupan kita. Kerinduan-Nya hanya satu, supaya Dia selalu bisa memeluk dan mencintai kita sepenuhnya, tidak hanya sejak di dalam hidup ini, namun sampai seterusnya kelak di dalam kekekalan. Semoga hati kita selalu terbuka dan siap untuk diubahkan oleh-Nya. Semoga kita tidak terlena oleh kemilaunya kehidupan dunia yang hanya sementara ini, tetapi mengarahkan hati dan budi kita selalu untuk mendengarkan suara-Nya dan mengalami pekerjaan-pekerjaan-Nya.

Adalah pilihan saya untuk mengikuti cinta dan kesabaran-Nya yang sedemikian halus. Kita bebas memilih jalan kita sendiri. Namun kesetiaan-Nya akan selalu menemani dalam setiap tantangan dan kesukaran saya untuk berubah. Setiap tetes air mata dan duka saya adalah kedukaan-Nya, dan setiap tawa ria hati saya karena sukacita bersama-Nya adalah kerinduan-Nya. Komitmen untuk selalu bersama Dia adalah komitmen yang harus saya buat setiap hari, setiap jam, setiap detik. Jika saya menyatakan persetujuan dan bersedia untuk bersama-Nya, Dia akan terus memampukan saya untuk mengatasi diri sendiri dan berjalan sepenuhnya bersama-Nya.  Dengan kesabaran dan cinta yang tak terselami, Dia sedang menunggu saya…

Untuk memberikan perhatian yang tulus kepada sesama dan keluarga yang membutuhkan, sekalipun itu adalah waktu dan energi saya yang berharga untuk sekedar mendengarkan dan menemani mereka…

Untuk merelakan dengan cinta sebagian harta benda saya bagi saudara yang lebih membutuhkan…

Untuk mengampuni seorang teman yang sudah lama menyakiti hati saya dan sudah mencoba meminta maaf tetapi saya belum dapat sepenuhnya menerimanya kembali dalam hati saya…

Untuk memperbaiki pengaturan waktu doa saya di tengah kesibukan sehari-hari yang kian padat…

Untuk mengalah dengan penuh kesadaran dari kebiasaan-kebiasaan saya yang mengganggu kedamaian sesama di sekitarku….

Datang kepada-Nya di setiap awal hari yang baru adalah waktu-waktu terbaik untuk memohon terang-Nya menunjukkan bagian-bagian mana dari diri saya yang Tuhan rindu untuk saya serahkan kepada-Nya pada hari ini. Ini adalah pilihan dan kebebasan saya untuk dibentuk sesuai kerahiman-Nya dan kebijaksanaan-Nya, karena Ialah yang membentuk dan merancang saya, indah sejak awal hingga akhir. Tentu saja semua itu adalah pengorbanan dan penyangkalan diri bagi saya. Tetapi, memikul salib dengan penuh iman dan percaya sepenuhnya bersama Kristus adalah tanda cinta dan kesetiaan kita yang tak tertandingi nilainya di hadapan-Nya, yang akan selalu bersama kita sepanjang jalan salib kehidupan dan menunggu kita di rumah cinta-Nya yang kekal. Marilah kita melakukannya dengan mata yang tertuju kepada Yesus, yang memimpin kita dalam iman, dan yang membawa iman kita itu kepada kesempurnaan, yang dengan mengabaikan kehinaan tekun memikul salib ganti sukacita yang disediakan bagi Dia, yang sekarang duduk di sebelah kanan takhta Allah (Ibrani 12:2). Tidak ada jalan yang lebih damai dan indah bagi sebuah rancangan selain daripada mengikuti keinginan Sang Perancangnya. Seorang Perancang yang tidak hanya merancang dengan cermat dan kerahiman, tetapi juga dengan cinta yang tidak tertandingi dalamnya dan pengorbanan yang melampaui hidup itu sendiri.

Jauh dalam lubuk hati, saya tidak ingin Tuhan menunggu saya terlalu lama. Walaupun saya tahu bahwa Ia sabar dan pengertian-Nya tidak ada batasnya, namun cinta-Nya kepada saya di atas kayu salib, membuat saya tidak rela kalau Tuhan harus menunggu saya berlama-lama. Tentu juga demikian dengan Anda. Jadi, saudara-saudara, kita adalah orang berhutang, tetapi bukan kepada daging, supaya hidup menurut daging. Sebab, jika kamu hidup menurut daging, kamu akan mati; tetapi jika oleh Roh kamu mematikan perbuatan-perbuatan tubuhmu, kamu akan hidup. Semua orang, yang dipimpin Roh Allah, adalah anak Allah. (Roma 8 : 12-14). Hanya dengan selalu bersikap terbuka, siap untuk diubahkan dan dimurnikan dengan semangat kemiskinan di hadapan-Nya, kita dapat mengundang Dia, untuk dapat segera masuk ke dalam hati dan hidup kita, dan terus bekerja di sana menggenapi rencana-Nya yang penuh kasih dan keagungan, tanpa menunggu terlalu lama lagi.

Dalam suka dan duka dinamika perjalanan kehidupan, di tikungan-tikungan pergumulan dan tantangan, bahkan dalam keputusasaan dan harapan yang datang silih berganti dalam kehidupan, adalah sangat menghibur dan menguatkan hati menyadari bahwa Tuhan ada di dalam setiap momen-momen itu. Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah. Sebab, semua orang yang dipilih-Nya dari semula, mereka juga ditentukan-Nya dari semula untuk menjadi serupa dengan gambaran Anak-Nya, supaya Ia, Anak-Nya itu, menjadi yang sulung di antara banyak saudara. Dan mereka yang ditentukan-Nya dari semula, mereka itu juga dipanggil-Nya. Dan mereka yang dipanggil-Nya, mereka itu juga dibenarkan-Nya. Dan mereka yang dibenarkan-Nya, mereka itu juga dimuliakan-Nya. (Roma 8: 28 – 30).

Oleh karena Dia adalah setia hingga akhir, maka adalah kekuatan dan sukacita kita untuk terus mengandalkan Dia, sehingga kita menjadi semakin serupa dengan Dia dan siap sepenuhnya untuk selalu bersama-sama Dia di dalam keabadian. Berbahagialah manusia yang kekuatannya di dalam Engkau, yang berhasrat mengadakan ziarah! Apabila melintasi lembah Baka, mereka membuatnya menjadi tempat yang bermata air; bahkan hujan pada awal musim menyelubunginya dengan berkat. Mereka berjalan makin lama makin kuat, hendak menghadap Allah di Sion (Mazmur 84 : 6-8). (uti)

Berdoa dengan benar secara Katolik

145

Mengapa kita berdoa?

“Prayer is the raising of one’s mind and heart to God or the requesting of good things from God.” But when we pray, do we speak from the height of our pride and will, or “out of the depths” of a humble and contrite heart? He who humbles himself will be exalted; humility is the foundation of prayer. Only when we humbly acknowledge that “we do not know how to pray as we ought,” are we ready to receive freely the gift of prayer. “Man is a beggar before God.” (CCC, 2559)

KGK 2559 “Doa adalah pengangkatan jiwa kepada Tuhan, atau satu permohonan kepada Tuhan demi hal-hal yang baik”. Dari mana kita berbicara, kalau kita berdoa? Dari ketinggian kesombongan dan kehendak kita ke bawah atau “dari jurang” (Mzm 130:1) hati yang rendah dan penuh sesal? Siapa yang merendahkan diri akan ditinggikan (Bdk. Luk 18:9-14). Kerendahan hati adalah dasar doa, karena “kita tidak tahu bagaimana sebenarnya harus berdoa” (Rm 8:26). Supaya mendapat anugerah doa, kita harus bersikap rendah hati: Di depan Allah, manusia adalah seorang pengemis.

Itulah sebuah pemahaman tentang arti doa dari ajaran Gereja Katolik. Berdoa adalah getaran hati suara nurani yang menyapa Allah. Suatu permohonan dan syukur kepada Allah. Oleh karena itu tidaklah dapat dipungkiri bahwa berdoa merupakan suatu bagian penting bagi orang beriman. Tanpa doa iman kita akan lemah tanpa daya, kering dan tidak berbobot, tapi dengan berdoa iman kita dikuatkan, diteguhkan, ditopang hingga kokoh kuat tak tergoyahkan. Maka kebiasaan berdoa bagi umat Katolik sangatlah penting mulai dari anak-anak hingga orang tua dan kakek nenek tak terkecuali wajib berdoa. Namun berdoa macam mana yang benar secara Katolik? Itulah yang menjadi pokok persoalan kita. Kemarin pada tgl 7 Desember 2010 ketika terjadi pertemuan darat tim katolisitas.org dengan para pengunjung umat katolik di Jakarta, saya menyinggung perihal berdoa secara benar dan katolik. Sudah banyak kali saya mendengarkan orang Katolik berdoa tidak sesuai dengan iman Katolik. Doanya mengambang, intensi tidak berisi dan kesulitan dalam mengakhiri doanya. Lalu bagaimana berdoa secara benar dan Katolik? Menurut pengalaman rohani dari St Theresa dari Lisieux doa adalah:

“For me, prayer is a surge of the heart; it is a simple look turned toward heaven, it is a cry of recognition and of love, embracing both trial and joy” (suatu gelora, sentakan dalam hati, sebuah penglihatan kembali untuk ke depan menuju tahta surgawi, sebuah jeritan pengetahuan akalbudi dan cinta yang memeluk keduanya dalam suatu cobaan dan sukacita (bdk. St. Therese of Lisieux, Manuscrits autobiographiques, C 25r.).

Berdoalah menurut pola ”Doa Bapa Kami”.

Bapa kami yang di sorga, Dikuduskanlah nama-Mu, datanglah Kerajaan-Mu, jadilah kehendak-Mu di bumi seperti di sorga. Berikanlah kami pada hari ini makanan kami yang secukupnya dan ampunilah kami akan kesalahan kami, seperti kami juga mengampuni orang yang bersalah kepada kami; dan janganlah membawa kami ke dalam pencobaan, tetapi lepaskanlah kami dari pada yang jahat. [Karena Engkaulah yang empunya Kerajaan dan kuasa dan kemuliaan sampai selama-lamanya. Amin.] (Matius 6:9-13). Dalam doa Bapa Kami ada 3 pokok penting yang mendapat perhatian saat kita hendak doa: 1). Menyebut nama Allah dengan atributnya (kemahakuasaan Allah). Menyapa Allah sebagai Bapa yang sungguh dekat di hati manusia. Dia yang tidak jauh namun ada dan tinggal di anatara kita sebagai Bapa kita. Memohon datangnya kerajaan-Nya di dunia. 2). Intensi (permohonan) kita kepada Allah Bapa yakni rezeki setiap hari, kesehatan jiwa dan badan. 3) Menutup doa dengan memohon agar dikuatkan iman kita sehingga tidak jatuh dalam pencobaan. Terakhir setiap doa yang benar dan katolik ditutup dengan rumusan panjang lengkap bersifat trinitaris Allah Bapa, Putera dan Roh Kudus, atau rumusan pendek kristologis, yaitu “…. Demi Kristus Tuhan dan Pengantara kami.” Pola doa Bapa Kami juga memberikan contoh kepada kita untuk berdoa secara benar dan sungguh Katolik (di bawah artikel ini diberikan contoh yang benar).

Sifat-sifat yang menyertai doa yang benar:

a) Berdoalah dengan tekun.

Mintalah, maka akan diberikan kepadamu; carilah, maka kamu akan mendapat; ketoklah, maka pintu akan dibukakan bagimu. (Matius 7:7). Yesus mengatakan suatu perumpamaan kepada mereka untuk menegaskan, bahwa mereka harus selalu berdoa dengan tidak jemu-jemu. Kata-Nya: “Dalam sebuah kota ada seorang hakim yang tidak takut akan Allah dan tidak menghormati seorang pun. Dan di kota itu ada seorang janda yang selalu datang kepada hakim itu dan berkata: Belalah hakku terhadap lawanku. Beberapa waktu lamanya hakim itu menolak. Tetapi kemudian ia berkata dalam hatinya: Walaupun aku tidak takut akan Allah dan tidak menghormati seorang pun, namun karena janda ini menyusahkan aku, baiklah aku membenarkan dia, supaya jangan terus saja ia datang dan akhirnya menyerang aku.” Kata Tuhan: “Camkanlah apa yang dikatakan hakim yang lalim itu! Tidakkah Allah akan membenarkan orang-orang pilihan-Nya yang siang malam berseru kepada-Nya? Dan adakah Ia mengulur-ulur waktu sebelum menolong mereka? (Lukas 18:1-7). Mereka semua bertekun dengan sehati dalam doa bersama-sama,… (Kisah Para Rasul 1:14)

b) Berdoalah secara tersembunyi dengan rendah hati.

Tetapi jika engkau berdoa, masuklah ke dalam kamarmu, tutuplah pintu dan berdoalah kepada Bapamu yang ada di tempat tersembunyi. Maka Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya kepadamu. (Matius 6:6). Tempat tersembunyi yang dimaksudkan dalam sabda Tuhan ini adalah di dalam hati. Hati adalah tempat kita berjumpa dengan Tuhan. Kerendahan hati adalah dasar dari doa yang benar. Berdoalah dengan rendah hati dan dengan pertobatan. Tetapi pemungut cukai itu berdiri jauh-jauh, bahkan ia tidak berani menengadah ke langit, melainkan ia memukul diri dan berkata: “Ya Allah, kasihanilah aku orang berdosa ini.” (Lukas 18:13).

c) Berdoalah dengan tidak bertele-tele.

Lagipula dalam doamu itu janganlah kamu bertele-tele seperti kebiasaan orang yang tidak mengenal Allah. Mereka menyangka bahwa karena banyaknya kata-kata doanya akan dikabulkan (Matius 6:7). Ia berkata kepada mereka: “Berdoalah supaya kamu jangan jatuh ke dalam pencobaan” (Lukas22:40).

d) Berdoalah dalam pribadi Tuhan Yesus.

Dan apa juga yang kamu minta dalam nama-Ku, Aku akan melakukannya, supaya Bapa dipermuliakan di dalam Anak. Jika kamu meminta sesuatu kepada-Ku dalam nama-Ku, Aku akan melakukannya.” (Yohanes 14:13-14). Jikalau kamu tinggal di dalam Aku dan firman-Ku tinggal di dalam kamu, mintalah apa saja yang kamu kehendaki, dan kamu akan menerimanya (Yohanes 15:7). Berdoalah dengan iman dan keyakinan bahwa doamu sedang dikabulkan. Karena itu Aku berkata kepadamu: apa saja yang kamu minta dan doakan, percayalah bahwa kamu telah menerimanya, maka hal itu akan diberikan kepadamu (Markus.11:24).

e) Berdoalah dengan kuasa dari Roh Kudus.

”Jadi jika kamu yang jahat tahu memberi pemberian yang baik kepada anak-anakmu, apalagi Bapamu yang di sorga! Ia akan memberikan Roh Kudus kepada mereka yang meminta kepada-Nya.” (Lukas 11:13). ”Dan Aku akan mengirim kepadamu apa yang dijanjikan Bapa-Ku. Tetapi kamu harus tinggal di dalam kota ini sampai kamu diperlengkapi dengan kekuasaan dari tempat tinggi.” (Lukas 24:49). ”Tetapi kamu akan menerima kuasa, kalau Roh Kudus turun ke atas kamu, dan kamu akan menjadi saksi-Ku di Yerusalem dan di seluruh Yudea dan Samaria dan sampai ke ujung bumi.” (Kisah 1:8)

f) Berdoa itu mempersatukan umat beriman dengan Allah Bapa.

Hal ini ditekankan oleh Rasul Paulus kepada jemaat di Efesus 3:18-21: “Aku berdoa supaya kamu bersama-sama dengan semua orang kudus dapat memahami, betapa lebarnya dan panjangnya dan tingginya dan dalamnya kasih Kristus, dan dapat mengenal kasih itu yang melampaui segala pengetahuan. Aku berdoa supaya kamu dipenuhi dalam seluruh kepenuhan Allah. Bagi Dia  yang dapt melakukan jauh lebih banyak daripada yang kita doakan atau pikirkan seperti yang ternyata dari kuasa yang bekerja di dalam kita. Bagi Dialah kemuliaan di dalam jemaat dan di dalam Kristus Yesus turun temurun sampai selama-lamanya”. Teks dari “Catechism of the Catholic Church”  (Katekismus Gereja Katolik) di bawah ini menambah pemahaman kita tentang berdoa.

“In the New Covenant, prayer is the living relationship of the children of God with their Father who is good beyond measure, with his Son Jesus Christ and with the Holy Spirit. The grace of the Kingdom is “the union of the entire holy and royal Trinity….with the whole human spirit.” Thus, the life of prayer is the habit of being in the presence of the thrice-holy God and in communion with him. This communion of life is always possible because, through Baptism, we have already been united with Christ. Prayer is Christian insofar as it is communion with Christ and extends throughout the Church, which is his Body. Its dimensions are those of Christ’s love” (CCC, 2565).

KGK 2565      Dalam Perjanjian Baru, doa adalah hubungan yang hidup anak-anak Allah dengan Bapanya yang tidak terhingga baiknya, bersama Putera-Nya Yesus Kristus dan dengan Roh Kudus. Rahmat Kerajaan Allah adalah “persatuan seluruh Tritunggal Mahakudus dengan seluruh jiwa” manusia (Gregorius dari Nasiansa, or. 16,9). Dengan demikian, kehidupan doa berarti bahwa kita selalu berada dalam hadirat Allah yang tiga kali kudus dan dalam persekutuan dengan Dia. Persekutuan hidup ini memang selalu mungkin, karena melalui Pembaptisan kita sudah menjadi satu dengan Kristus (Bdk. Rm 6:5). Doa itu Kristen, sejauh ia merupakan persekutuan dengan Kristus dan menyebar luas di dalam Gereja, Tubuh Kristus. Ia merangkum segala sesuatu, sama seperti cinta kasih Kristus (Bdk. Ef 3:18-2).

 

Contoh doa pribadi yang benar dan Katolik.

Allah Bapa kami yang mahabaik, kami bersyukur untuk hari baru ini yang telah Kau anugerahkan bagi kami. Engkau telah melindungi kami selama semalam yang telah berlalu dan memberikan begitu banyak rezeki hingga saat ini. Kami mohon berikanlah kami hati yang sanggup bersyukur dan hati yang selalu memberi kepada orang lain dari anugerah yang telah kami terima daripada-Mu. Semoga kami sanggup melakukan itu dengan menolong sesama yang berkekurangan. Doa ini kami sampaikan kepadamu dengan pengantaraan Yesus Kristus Tuhan dan pengantara kami yang hidup bersama Dikau dalam persatuan dengan Roh Kudus, Allah sepanjang segala masa. Amin. (Penutup doa bersifat trinitaris: Allah Bapa, Putera dan Roh Kudus)

Tuhan Yesus Kristus, kami bersyukur atas penyertaanmu sepanjang hari ini. Kami menyadari bahwa banyak kesalahan dan kekurangan telah kami lakukan sepanjang hari ini. Kami mohon pengampunan darimu dan berilah kami kekuatan untuk bangkit dari kesalahan kami. Semoga besok kami mampu menjadi murid-Mu yang sejati. Karena Engkaulah Tuhan dan Pengantara kami yang hidup dan berkuasa kini dan sepanjang masa. Amin. (Penutup doa bersifat kristologis di mana Kristus menjadi pengantara kita satu-satunya dan bersifat universal kepada Allah Bapa).

Orang Muda Katolik (OMK) dan penghayatan imannya

45

Keluhan-keluhan

Dengan segala hormat pada seorang ibu yang menuliskan keluhan melalui e-mail kepada saya, surat beliau  saya tampilkan sebagai awal tulisan ini:

(Friday, February 13, 2009  6:46 AM):  Romo bisa beri advis ke kami tentang anak saya. Anak saya saat ini usianya 17 tahun, laki-laki,  berwatak keras, tapi perasaannya sangat halus, yang berakibat saya jadi sangat hati – hati kalau bicara dengan dia kawatir tersinggung. Sebab kerap kali jika berbicara dengan ayahnya,  sering beda pendapat dan berakibat perang mulut,  akhirnya marah2  , pernah jadi anaknya kabur, sementara saya dan adiknya pendiam.  Jadi kalau ribut begini  kami berdua sedih dan tidak suka. Anak pertama saya ini, pintar omong dan sangat setia kawan, jadi jika sudah  kumpul sama teman-temannya suka lupa waktu, meskipun tempat di mana dia ngumpul / nongkrong, kami orangtua tahu, termasuk No. HP  teman-temannya .  Tentang ke gereja,  menurut dia itu hanya setor muka saja.  Kerap kali dia tidak komuni. Sepertinya dia mengalami kehampaan. Pernah suatu kali dia bilang  Tuhan tidak pernah dengar doa saya, jadi percuma saja saya berdoa (saya sedih sekali dengarnya)  Saya ingin giring dia untuk mau mengaku dosa  tapi kog susah banget ya? Semoga ada Bapak Rohani yang bisa nasehati dia. Sementara ini dulu. Semoga ada advis dari Romo, terima kasih sudah mau membaca uneg2 saya.

Keluhan para orangtua mengenai dinamika anak-anaknya pada saat mereka beranjak remaja dan menjadi pemuda-pemudi kerap terdengar. Surat di atas ialah salah satu dari sekian banyak surat yang mampir ke in-box saya. Keluhan mengenai soal psikologis dan bagaimana mendampingi perkembangan Orang Muda Katolik (OMK) biasanya juga bersamaan dengan keluhan mengenai perkembangan iman Katolik-nya, seperti surat ibu di atas yang mengeluhkan iman anaknya yang sedang mengalami kehampaan. Dari pihak OMK sendiri pun  keluhan soal pengetahuan iman sering muncul. Di in-box saya sepanjang tahun 2008 telah mampir 23 keluhan kebingungan mengenai pengetahuan iman. Salah satunya ini:

(Wednesday, January 14, 2009, 15.47 PM): Romo, saya telah 3 bulan kerja di kawasan Kelapa Gading. Syukurlah lumayan baik, walau sering banjir. Tapi yg saya gelisah. Teman saya cowok beragama bukan Katolik. Tampaknya ia naksir saya. Ia baik, tapi suka bertanya-tanya ttg iman Katolik. Yang bikin saya gelisah, ia memberi buku-buku dan mempertanyakan iman Katolik saya. Saya bingung nih Romo. Saya pun tak tahu mesti ngejawab apa. Misalnya ia bilang bahwa Katolik salah karena percaya paus yang hanya manusia, itupun dikatakan bahwa paus kebal salah. Juga soal katolik menyembah Bunda Maria dan bikin patung itu salah besar. Juga salah jika kita misa karena itu berarti kejam karena menyalibkan Tuhan  Yesus lagi. Saya jujur saja kini sedang goyah. Tak pernah lagi ikut misa. Bagaimana Romo, saya bingung.

Menimbang Perkara

Dari dua pucuk surat elektronik di atas, saya menemukan ada sebuah  fakta yang sukar dibantah, yaitu bahwa pengetahuan dan penghayatan iman saling berhubungan. Pengetahuan iman yang minim akan membuat semangat OMK  dalam menghayati iman gampang padam. Sebaliknya, penghayatan iman yang suam-suam kuku, tidak akan menyemangati OMK untuk menambah pengetahuan imannya. Surat yang pertama di atas ialah mengenai seorang anak berusia 17 tahun yang bersemangat suam-suam kuku dan bolehlah ditebak berpengetahuan iman rendah. Surat yang kedua dari seorang  gadis

Katolik berusia 34 tahun, dengan penghayatan iman yang pada mulanya semangat, namun oleh karena pengetahuan imannya rendah, maka penghayatannya menjadi goyah. Pada kedua surat tersebut, baik OMK berusia 17 tahun maupun OMK berusia 33 tahun ternyata pengalaman dan pengetahuan imannya relatif sama.

Pedoman Karya Pastoral Kaum Muda yang dikeluarkan Komisi Kepemudaan KWI, membatasi usia OMK  sejak 13 hingga 35 tahun sejauh masih lajang. Dari pengalaman menerima keluhan sekitar iman OMK itu, saya memberanikan diri menarik fakta bahwa sejak usia 13 tahun hingga 35 tahun, pengetahuan iman OMK mengalami stagnasi. Pengetahuan iman mereka  begitu-begitu saja sejak ia komuni pertama, krisma, hingga menjelang masuk jenjang perkawinan. Saya menduga hal ini mungkin karena katekese kita yang “tradisional” (persiapan komuni I, persiapan krisma) masih berupa formalitas alias sebagai syarat saja untuk menerima komuni I dan krisma. Metode Katekese yang tidak menyentuh hati dan merangsang daya pikir itulah yang bisa jadi membuat iman Katolik kurang bergema di hati dan pemikiran OMK.

Kita bisa pula menimbang dari sisi pewarisan pengetahuan dan penghayatan iman dari keluarga. Ketika mengucapkan janji pernikahan dahulu di depan altar, suami-isteri berjanji akan mendidik anak-anak secara Katolik. Pendidikan itu mestinya pertama-tama merupakan kesaksian cinta kasih, kebenaran, doa dan iman serta pendidikan hati nurani. Seruan apostolik Paus Yohanes Paulus II “Familiaris Consortio” serta  surat-surat beliau kepada keluarga ( 2 Februari 1994) jelas-jelas menunjuk betapa agung dan indahnya tugas ini. Keluarga merupakan sekolah iman yang pertama, sebuah “Gereja keluarga”.

Dari sisi OMK sendiri, kita tahu, mereka kini mengalami tekanan berat dari sistem ekonomi dan politik serta budaya yang kurang mempercayai mereka. Sistem pendidikan nasional di Indonesia makin menekan mereka dengan berbagai kesulitan pribadi yang tidak mudah dipecahkan. Jika mereka mengelompok dalam kelompok se-lingkungan, separoki, sebaya, seminat, seprofesi sekalipun, maka tak ayal, tekanan itu bisa ditahan, namun tetap diragukan kehandalannya tanpa dukungan nyata dari pembimbing yang mereka percayai. Sebenarnya, tetap  ada harapan bahwa situasi kualitas iman OMK ini bisa diubah menjadi lebih tangguh, ulet dan militan. Marilah kita menelaah dari kekayaan ajaran Katolik sendiri yang memberikan inspirasi bagi peningkatan iman OMK. Saya mengusulkan  hal-hal di bawah ini, dengan mensyaratkan peran pembimbing, entah orangtua, pastor paroki, maupun para pendamping lainnya.

 

Kedalaman Mistik

Pasca Konsili Vatikan II (1965), paham akan Allah Tritunggal Mahakudus dan Gereja Kudus bukan saja menjadi sebuah pengetahuan  melainkan juga sebuah misteri pengalaman hidup konkrit umat beriman baik secara pribadi maupun bersama di tengah dunia yang sedang dan selalu berubah. Iman itu lebih dari sekedar pengetahuan, melainkan relasi personal dengan Allah yang telah mewahyukan diri dalam Kristus. Karya itu  terjadi dalam diri manusia berkat jasa Roh Kudus (bdk. Dei Verbum, 5). Iman sejati menyentuh pada tataran mistik, batin, kerohanian, ketika manusia beriman termasuk OMK secara pribadi bertemu Allah.  Iman tidak sekedar ajaran yang di’ketahui’ saja melainkan juga sebuah sikap dan cara hidup yang di’hayati’. Maka, doa dalam keluarga mesti dibiasakan oleh orangtua sejak anak-anak mereka masih kecil, agar misteri kedalaman penghayatan iman itu dikenal. Doa-doa dalam pertemuan OMK mesti dibuat tanpa bosan-bosan. Di samping itu, mesti dibuat liturgi sedemikian rupa sehingga  OMK merasakan sentuhan pada  lapisan kedalaman hatinya yang terdalam. Liturgi haruslah dirancang dan dipersiapkan serta dilaksanakan oleh imam dengan melibatkan OMK sedemikian rupa sehingga membantu OMK untuk menghayati iman tersebut. Liturgi perlu dikerjakan  sesuai dengan bahasa OMK yang merayakannya, agar dapat dipahami dan dihayati. Sungguh, jika OMK diberi kepercayaan dan didampingi dengan serius oleh pendamping yang tekun, maka mereka akan melakukan perkara-perkara baik yang tidak kita duga sebelumnya. Lebih dari itu, mereka akan mennghayati iman secara hidup dan cool.

 

Berkomunitas

Pentingnya berkomunitas bagi OMK mesti didasarkan pula oleh paham teologis yang tepat mengenai Gereja. Sampai dengan Konsili Vatikan II, banyak orang memahami Gereja sebagai sebuah ‘fenomena sosial/keagamaan’ yakni kelompok orang kristiani yang dipimpin oleh hirarki. Konsili menegaskan bahwa paham seperti itu tidak cukup! Gereja harus dimengerti bukan sebagai fenomena sosial, yang kelihatan, yang jasmani belaka. Ia adalah komunitas iman, harapan dan kasih dalam Kristus (bdk. Lumen Gentium, 8) Gereja ada bukan karena prakarsa manusia melainkan atas prakarsa Allah (bdk. Lumen Gentium 2,3,4). Pembimbing OMK mesti menyadari bahwa komunitas-komunitas OMK perlu berjejaring dan bergerak dalam misteri ini. Perlu dibatinkan oleh pembimbing, bahwa OMK ada karena panggilan Allah sendiri melalui Kristus dalam Roh Kudus. Mereka tak sekedar berkumpul karena sama-sama berminat akan hobi tertentu, namun pertama-tama karena inisiatif Yesus yang memanggil mereka menjadi satu kawanan. Jika hal ini dibuat, tentu keluhan bahwa OMK lari ke komunitas lain tak akan terjadi, atau yang lari akan kembali, karena merasakan kehangatan rohani dalam misteri panggilan Kristus  dalam gerejaNya. Seorang muda yang menulis surat kedua di atas akan tertolong jika memiliki dan dimiliki oleh sebuah komunitas OMK yang hangat, yang berpusat pada misteri kehadiran Kristus.

 

Katekese yang Menggerakkan

Pengajaran iman yang animatif, menggerakkan olah pikir pasti akan menggairahkan OMK. Para katekis dan pastor, bahkan orangtua, perlu mempelajari cara-cara baru untuk mengajarkan bagian-bagian pengajaran iman Katolik. Yang menarik adalah, sumber-sumber itu sekarang bisa didapatkan secara berlimpah ruah oleh para pendamping dan katekis manakala mereka mengunduh bahan-bahan itu dari internet. Lebih dari itu, muncul prakarsa-prakarsa dari para pendamping yang melibatkan OMK sendiri untuk membangun situs web dengan memanfaatkan media internet.

Metode katekese calon komuni I dan krisma mestinya tak hanya klasikal dan tradisional. Katekis bisa saja membuka kesempatan OMK mempelajari pokok-pokok iman dari internet, dengan melibatkan orangtua untuk mendampingi dan memeriksanya. Mmetode ini mensyaratkan adanya website-website Katolik yang baik. Dalam penelusuran saya, telah ada web-web mengenai pengajaran iman Katolik dalam bahasa Indonesia. Kita bisa mencoba mencari dengan googgle dengan kata kunci misalnya “katolisitas”, “gereja katolik”, “iman katolik”, “ekaristi”, dan semacamnya. Cara ini akan jauh menggairahkan dan menggerakkan jika pembimbing OMK terampil membuat tantangan bagi OMK agar memanfaatkan teknologi terkini yang mulai nereka digemari ini. Selain itu, OMK perlu dirangsang agar kritis dan tertantang untuk menanyakan segala hal yang menjadi ganjalan hatinya manakala mendengar aspek katekese tertentu.

 

Pembimbing yang Berkarakter Kuat

Pembimbing yang berkarakter kuat ialah pendamping OMK yang sabar dan tekun, ada (available) untuk dan bersama komunitas OMK. Ia merupakan pengejawantahan Gembala yang Baik, yang mengenal domba-dombanya, dan domba-dombanya mengenalnya. Ia mendengar perkembangan OMK yang dinamik. Bagaikan menerbangkan layang-layang, ia tahu kapan saat menarik benang dan kapan saat untuk mengulurnya, mencermati arah angin. OMK percaya kepadanya, sebagaimana ia percaya kepada OMK yang ia dampingi, bahwa mereka memiliki daya kekuatan ilahi dari dalam diri mereka untuk berkembang. Pembimbing yang demikian itu ialah para orangtua dalam keluarga, para pastor, para animator dan pengurus bidang kepemudaan paroki, para penggiat OMK di komunitas-komunitas ketegorial seperti komunitas pelajar, mahasiswa dan karyawan muda Katolik, dan semacamnya.  Maka, organisasi pengelola pastoral OMK semestinya selalu mengkader pembimbing-pembimbing yang handal. Perlu dibuat secara rutin oleh Komisi Kepemudaan dalam kerjasama dengan komisi lain dalam Gereja, untuk membentuk pendidikan para pembina, agar ada out put ketersediaan pembina yang berkarakter gembala yang baik. Kata lainnya ialah pembimbing yang berusaha menjadikan diri mereka teladan, yang menghayati iman dalam perkara harian. OMK akan menghargai dan mengikuti arah keteladanan pembimbing yang mengakui kelemahannya, namun tidak berkompromi untuk dibelokkan ke arah budaya sekularistik.

Catatan: Artikel ini dibuat untuk acara “Temu Darat Katolisitas 1″, yang diselenggarakan pada tanggal 7 Desember 2010 di Jakarta Utara. Artikel ini pernah dimuat di buletin KommKel KWI tahun 2009.

Gereja Katolik kuno? Siapa bilang?

20

I. Gereja Katolik kurang melakukan evangelisasi?

Kardinal Avery Dulles, SJ pernah mengatakan, “Tanyakan kepada umat Kristen apakah mereka mempunyai prioritas yang tinggi dalam menyebarkan iman mereka: 75% dari umat Protestan konservatif mengatakan ya, dan 57% dari konggregasi Amerika keturunan Afrika mengatakan ya, sedangkan yang mengatakan ya pada paroki- paroki Gereja Katolik hanya 6%. Tanyakan jika mereka mensponsori aktivitas evangelisasi setempat: 39% dari jemaat Protestan konservatif mengatakan ya, 16% jemaat Amerika keturunan Afrika mengatakan ya, dan hanya 3% dari paroki-paroki Katolik mendukungnya.” Mother Angelica, pendiri EWTN (Eternal Word Television Network) – stasiun televisi Katolik terbesar di dunia pernah mengatakan “Berikan kepada saya 10 orang Katolik yang mempunyai semangat yang sama seperti umat saksi-saksi Yehuwa, maka saya akan dapat merubah dunia“.

Itu adalah dua komentar dari orang-orang yang mempunyai andil dalam menyebarkan iman Katolik. Keduanya ingin mengatakan bahwa seluruh umat Katolik harus mempunyai semangat dalam menyebarkan iman Katolik. Namun, patut disayangkan bahwa ada sebagian dari elemen dalam Gereja Katolik, baik di tingkat anak-anak muda, keluarga, maupun di tingkat paroki, tidak terlalu menaruh perhatian besar pada karya-karya misi dan evangelisasi, walaupun tugas pewartaan adalah perintah Kristus sendiri. Jangankan memikirkan evangelisasi, bahkan ada sebagian dari umat Katolik yang mungkin tidak terlalu perduli terhadap apa yang dipercayainya. Bahkan ada sebagian yang mengatakan bahwa Gereja Katolik itu telah ketinggalan jaman, Gereja Katolik itu kuno.

II. Gereja Katolik kuno?

1. Sisi negatif dari “Gereja Katolik kuno”

Berapa kali kita mendengar dari begitu banyak anak muda, yang mengatakan bahwa “Gereja Katolik kuno“, apa-apa tidak boleh, terlalu kaku, terlalu prosedural, terlalu berorientasi kepada hirarki, kurang cepat merespon kebutuhan umat. Berapa banyak keluarga Katolik yang tidak terlalu perduli dengan pendidikan iman Katolik bagi anak-anak mereka? Gereja Katolik adalah kuno juga sering diartikan sebagai sesuatu yang harus ditinggalkan, karena tidak dapat mengikuti perkembangan jaman. Dan masih banyak nada-nada sumbang lain yang terdengar cukup lantang dan minta perhatian yang serius.

2. Menempatkan pengertian “Gereja Katolik kuno” dengan semestinya.

Sering sekali kita memberikan suatu istilah yang mempunyai konotasi negatif dalam satu sisi kehidupan, namun dalam sisi kehidupan yang lain, kata yang sama mempunyai konotasi yang positif. Ada orang yang mengatakan bahwa mobil yang lama ketinggalan zaman, namun orang lain penggemar mobil kuno mengatakan bahwa semakin kuno sebuah mobil, maka semakin baik. Para pengumpul barang antik akan setuju bahwa guci yang lama – terutama yang berasal dari kekaisaran Cina abad-abad awal sampai pertengahan – mempunyai nilai yang begitu tinggi. Bahkan satu guci porselen Qianlong berukuran 40 cm dari abad 18 terjual dengan harga 51 juta Euro atau sekitar 600 milyar. Dengan demikian, kata “kuno” tidak selalu jelek, bahkan menjadi begitu bernilai. Dalam hal ini, kita perlu melihat bahwa iman yang ‘kuno’ juga bernilai, karena justru membuktikan keasliannya.

3. Iman yang kita pegang adalah “kuno” namun tetap relavan sampai akhir zaman.

Kalau kita meneliti, lebih jauh, maka iman kekristenan yang kita pegang adalah berdasarkan sesuatu yang kuno, yang bahkan mulai dari permulaan manusia, yaitu Adam dan Hawa. Dan kemudian perjalanan kisah keselamatan yang kuno ini terus berlanjut ke Habel, Noah, Abraham, Ishak, .. Musa, … Daud, .. Yesus, para rasul, Gereja Katolik – melalui penerus rasul Petrus dan penerus para rasul, yaitu Paus dan para Uskup serta para imam – dan kemudian berlanjut kepada seluruh umat beriman pada masa saat ini sampai akhir zaman. Bukankah dengan demikian, iman kita adalah berdasarkan warisan dari pendahulu kita di dalam iman, yang sungguh sangat kuno? Apakah dengan demikian iman kita menjadi salah? Tentu saja tidak, karena iman yang kuno ini didukung oleh wahyu Allah sendiri yang dituliskan di dalam Alkitab. Mari sekarang kita melihat definisi iman serta kaitannya dengan perkembangan iman dalam dunia modern.

a. Definisi iman

Iman, berasal dari kata pistis (Yunani), fides (Latin) secara umum artinya adalah persetujuan pikiran kepada kebenaran akan sesuatu hal berdasarkan perkataan orang lain, entah dari Tuhan atau dari manusia. Persetujuan ini berbeda dengan persetujuan dalam hal ilmu pengetahuan, sebab dalam hal pengetahuan, maka persetujuan diberikan atas dasar bukti nyata, bahkan dapat diukur dan diraba, namun perihal iman, maka persetujuan diberikan atas dasar perkataan orang/ pihak lain. Namun  meskipun dari pihak lain, kita dapat yakin akan kebenarannya, sebab ‘pihak’ lain tersebut adalah Allah sendiri. Maka iman yang ilahi (Divine Faith), adalah berpegang pada suatu kebenaran sebagai sesuatu yang pasti, sebab Allah, yang tidak mungkin berbohong dan tidak bisa dibohongi, telah mengatakannya. Dan jika seseorang telah menerima/ setuju akan kebenaran yang dinyatakan Allah ini, maka selayaknya ia menaatinya.

Maka tepatlah jika Magisterium Gereja Katolik menghubungkan iman dengan ketaatan dan mendefinisikannya sebagai berikut:

“Kepada Allah yang menyampaikan wahyu manusia wajib menyatakan “ketaatan iman” (Rom16:26; lih. Rom1:5 ; 2Kor10:5-6). Demikianlah manusia dengan bebas menyerahkan diri seutuhnya kepada Allah, dengan mempersembahkan “kepatuhan akalbudi serta kehendak yang sepenuhnya kepada Allah yang mewahyukan” ((KONSILI VATIKAN I, Konstitusi Dogmatis tentang iman katolik, bab 3 tentang iman: DENZ 1789 (3008).)) dan dengan secara sukarela menerima sebagai kebenaran wahyu yang dikurniakan oleh-Nya. Supaya orang dapat beriman seperti itu, diperlukan rahmat Allah yang mendahului serta menolong, pun juga bantuan batin Roh Kudus, yang menggerakkan hati dan membalikkannya kepada Allah, membuka mata budi, dan menimbulkan “pada semua orang rasa manis dalam menyetujui dan mempercayai kebenaran” ((KONSILI ORANGE II, kanon 7: DENZ. 180 (377); KONSILI VATIKAN I, dalam Konstitusi itu juga: DENZ. 1791 (3010).)) Supaya semakin mendalamlah pengertian akan wahyu, Roh Kudus itu juga senantiasa menyempurnakan iman melalui kurnia-kurnia-Nya.” ((Konsili Vatikan II tentang Wahyu Ilahi, Dei Verbum 5))

Maka dalam hal ini iman tidak berupa perasaan atau pendapat, tetapi merupakan sesuatu yang tegas, perlekatan akalbudi dan pikiran yang tak tergoyahkan kepada kebenaran yang dinyatakan oleh Tuhan. Maka motif sebuah iman yang ilahi adalah otoritas Tuhan, yaitu berdasarkan atas Pengetahuan-Nya dan Kebenaran-Nya. Jadi, kita percaya akan kebenaran- kebenaran itu bukan karena pikiran kita mampu sepenuhnya memahaminya atau kita dapat melihatnya, namun karena Allah yang Maha Bijaksana dan Maha Benar menyatakannya. Kebenaran yang dinyatakan oleh Allah ini diberikan melalui Sabda-Nya, yaitu yang disampaikan kepada kita umat beriman melalui Kitab Suci dan Tradisi Suci, sesuai dengan yang diajarkan oleh Magisterium Gereja Katolik, yang kepadanya Kristus telah memberikan kuasa untuk mengajar dalam nama-Nya. Nah, untuk menerima kebenaran yang dinyatakan Allah ini, diperlukan kasih karunia dari Allah sendiri, dan untuk menanggapinya dengan ketaatan, diperlukan kerjasama dari pihak kita manusia.

Selanjutnya, Katekismus Gereja Katolik mengajarkan,

KGK 1814 Iman adalah kebajikan ilahi, olehnya kita percaya akan Allah dan segala sesuatu yang telah Ia sampaikan dan wahyukan kepada kita dan apa yang Gereja kudus ajukan supaya dipercayai. Karena Allah adalah kebenaran itu sendiri. Dalam iman “manusia secara bebas menyerahkan seluruh dirinya kepada Allah” (Dei Verbum 5).Karena itu, manusia beriman berikhtiar untuk mengenal dan melaksanakan kehendak Allah. “Orang benar akan hidup oleh iman” (Rom 1:17) Iman yang hidup “bekerja oleh kasih” (Gal 5:6).

b. Pengajaran iman yang baik tidak muncul tiba-tiba, namun berakar kuat dalam Tradisi.

Sering sekali orang mengatakan bahwa kita harus mengikuti perkembangan zaman. Namun, pokok-pokok iman tidak dapat mengikuti perkembangan zaman, karena iman yang baik senantiasa berakar kuat dalam Sabda Tuhan, baik yang lisan maupun yang tertulis (lih. 2Tes 2:15). Cardinal Newman, dalam bukunya “An Essay on the Development of Christian Doctrines”, meneliti bahwa Gereja yang mempunyai pengajaran yang benar adalah Gereja yang mempunyai perkembangan ajaran yang dapat ditelusuri sampai kepada jaman awal kekristenan, yang bersumber pada Yesus sendiri. Ini berarti harus ada konsistensi dalam pengajaran, sama seperti perkembangan pohon kecil ke pohon yang besar. Yang dimaksudkan dari kecil ke besar adalah ajaran yang sama, namun perkembangannya hanya untuk memperjelas pengertian bukan mengubah ajaran. Hal inilah yang ditemukan oleh Kardinal Newman dalam Gereja Katolik, sehingga karena ia menempatkan kebenaran di atas segalanya, akhirnya Kardinal Newman berpindah dari gereja Anglikan ke Gereja Katolik.

Inilah sebabnya, pengajaran iman yang baik adalah iman yang berdasarkan ajaran kuno, dalam pengertian pengajaran yang dipercaya oleh jemaat perdana dan diteruskan oleh umat Allah dari generasi ke generasi. Dengan demikian, kita tidak dapat membuat ajaran-ajaran baru – yang tidak pernah diajarkan di Alkitab maupun oleh para Bapa Gereja, yang mewakili jemaat perdana. Kebenaran dalam iman bukanlah berdasarkan sesuatu yang baru namun berdasarkan sesuatu yang “kuno“. Dengan demikian kebenaran iman menjadi suatu jalinan benang yang terjalin erat satu sama lain dan tak terpisahkan. Atau sama seperti pohon kecil yang bertumbuh menjadi pohon besar, dengan batang pohon yang sama, dengan ranting-ranting yang semakin besar dan banyak, namun tetap bergantung pada batang pohon yang sama, sehingga menghasilkan buah-buah yang limpah.

Tanpa parameter ini, maka akan sulit bagi seseorang untuk meyakini bahwa apa yang diimaninya adalah sungguh-sungguh benar. Tanpa parameter ini, maka ajaran iman yang dianggap benar pada masa dulu dapat saja dianggap salah pada masa ini dan dapat menjadi benar di kemudian hari. Hal ini dapat kita lihat dalam salah satu ajaran tentang Perjamuan Suci. Alkitab dan jemaat perdana mempercayai bahwa Kristus hadir secara nyata (Tubuh, Jiwa dan ke-Allahan-Nya) dalam rupa roti dan anggur:

1) St. Ignatius dari Antiokhia (110), adalah murid dari rasul Yohanes. Ia menjadi uskup ketiga di Antiokhia. Sebelum wafatnya sebagai martir di Roma, ia menulis tujuh surat kepada gereja-gereja, berikut ini beberapa kutipannya:

a. Dalam suratnya kepada jemaat di Roma, dia mengatakan, “…Di dalamku membara keinginan bukan untuk benda-benda materi. Aku tidak menyukai makanan dunia… Yang kuinginkan adalah roti dari Tuhan, yaitu Tubuh Kristus… dan minuman yang kuinginkan adalah Darah-Nya: sebuah makanan perjamuan abadi.” ((St. Ignatius of Antioch, Letter to the Romans, 7))

b. Dalam suratnya kepada jemaat di Symrna, ia menyebutkan bahwa mereka yang tidak percaya akan doktrin Kehadiran Yesus yang nyata dalam Ekaristi sebagai ‘heretik’/ sesat: “Perhatikanlah pada mereka yang mempunyai pandangan beragam tentang rahmat Tuhan yang datang pada kita, dan lihatlah betapa bertentangannya pandangan mereka dengan pandangan Tuhan …. Mereka pantang menghadiri perjamuan Ekaristi dan tidak berdoa, sebab mereka tidak mengakui bahwa Ekaristi adalah Tubuh dari Juru Selamat kita Yesus Kristus, Tubuh yang telah menderita demi dosa-dosa kita, dan yang telah dibangkitkan oleh Allah Bapa…” ((St. Ignatius of Antioch, Letter to the Smyrnaeans 6, 2))

c. Dalam suratnya kepada jemaat di Filadelfia, ia mengatakan pentingnya merayakan Ekaristi dalam kesatuan dengan Uskup, “Karena itu, berhati-hatilah… untuk merayakan satu Ekaristi. Sebab hanya ada satu Tubuh Kristus, dan satu cawan darah-Nya yang membuat kita satu, satu altar, seperti halnya satu Uskup bersama dengan para presbiter [imam] dan diakon.” ((St. Ignatius of Antioch, Letter to the Philadelphians, 4))

2) St. Yustinus Martir (sekitar tahun 150-160). Ia menjadi Kristen sekitar tahun 130, oleh pengajaran dari para murid rasul Yohanes. Pada tahun 150 ia menulis Apology, kepada kaisar di Roma untuk menjelaskan iman Kristen, dan tentang Ekaristi ia mengatakan: “Kami menyebut makanan ini Ekaristi, dan tak satu orangpun diperbolehkan untuk mengambil bagian di dalamnya kecuali jika ia percaya kepada pengajaran kami… Sebab kami menerima ini tidak sebagai roti biasa atau minuman biasa; tetapi karena oleh kuasa Sabda Allah, Yesus Kristus Penyelamat kita telah menjelma menjadi menjadi manusia yang terdiri atas daging dan darah demi keselamatan kita, maka, kami diajar bahwa makanan itu yang telah diubah menjadi Ekaristi oleh doa Ekaristi yang ditentukan oleh-Nya, adalah Tubuh dan Darah dari Kristus yang menjelma dan dengan perubahan yang terjadi tersebut, maka tubuh dan darah kami dikuatkan.” ((St. Yustinus Martir, First Apology 66, 20.))

3) St. Irenaeus (140-202). Ia adalah uskup Lyons, dan ia belajar dari St. Polycarpus, yang adalah murid Rasul Yohanes. Dalam karyanya yang terkenal, Against Heresies, ia menghapuskan pandangan yang menentang ajaran para rasul. Tentang Ekaristi ia menulis, “Dia [Yesus] menyatakan bahwa piala itu, … adalah Darah-Nya yang darinya Ia menyebabkan darah kita mengalir; dan roti itu…, Ia tentukan sebagai Tubuh-Nya sendiri, yang darinya Ia menguatkan tubuh kita.” ((St. Irenaeus, Against Heresy, 5, 2, 2.))

4) St. Cyril dari Yerusalem (315-386), Uskup Yerusalem, pada tahun 350 ia mengajarkan, “Karena itu, jangan menganggap roti dan anggur hanya dari penampilan luarnya saja, sebab roti dan anggur itu, sesuai dengan yang dikatakan oleh Tuhan kita, adalah Tubuh dan Darah Kristus. Meskipun panca indera kita mengatakan hal yang berbeda; biarlah imanmu meneguhkan engkau. Jangan menilai hal ini dari perasaan, tetapi dengan keyakinan iman, jangan ragu bahwa engkau telah dianggap layak untuk menerima Tubuh dan Darah Kristus.” ((St. Cyril of Jerusalam, Catechetical Lectures: 22 (Mystagogic 4), 6))

5) St. Augustinus (354-430), Uskup Hippo, mengajarkan, “Roti yang ada di altar yang dikonsekrasikan oleh Sabda Tuhan, adalah Tubuh Kristus. Dan cawan itu, atau tepatnya isi dari cawan itu, yang dikonsekrasikan dengan Sabda Tuhan, adalah Darah Kristus….Roti itu satu; kita walaupun banyak, tetapi satu Tubuh. Maka dari itu, engkau diajarkan untuk menghargai kesatuan. Bukankah roti dibuat tidak dari saru butir gandum, melainkan banyak butir? Namun demikian, sebelum menjadi roti butir-butir ini saling terpisah, tetapi setelah kemudian menjadi satu dalam air setelah digiling…[dan menjadi roti]” ((St. Agustinus, Sermons, no. 227, ML 38, 1099, FC XXXVIII, 195-196.))

Martin Luther sendiri mempercayai bahwa Kristus hadir secara nyata, walaupun dia berpendapat bahwa roti dan anggur tersebut juga mempunyai substansi roti dan anggur. Dengan kata lain, kehadiran Kristus secara nyata adalah bersama-sama dengan roti dan anggur. Atau roti dan anggur yang telah diberkati mempunyai dua substansi, yaitu roti dan anggur serta Kristus sendiri. Kemudian pada tahun 1529, Martin Luther berdebat dengan Zwingli pada konfrensi di Marburg untuk mempertahankan bahwa Kristus hadir secara nyata dalam roti dan anggur. Kita dapat melihat ajaran Martin Luther dalam “Small Catechism” bagian VI, yang ditulisnya sendiri sebagai berikut: ((silakan melihat teks dari Small Catechism di sini: http://www.bookofconcord.org/smallcatechism.php#sacrament ))

VI. The Sacrament of the Altar

As the head of the family should teach it in a simple way to his household.

What is the Sacrament of the Altar?

It is the true body and blood of our Lord Jesus Christ, under the bread and wine, for us Christians to eat and to drink, instituted by Christ Himself.

Where is this written?

The holy Evangelists, Matthew, Mark, Luke, and St. Paul, write thus:

Our Lord Jesus Christ, the same night in which He was betrayed, took bread: and when He had given thanks, He brake it, and gave it to His disciples, and said, Take, eat; this is My body, which is given for you. This do in remembrance of Me.

After the same manner also He took the cup, when He had supped, gave thanks, and gave it to them, saying, Take, drink ye all of it. This cup is the new testament in My blood, which is shed for you for the remission of sins. This do ye, as oft as ye drink it, in remembrance of Me.

What is the benefit of such eating and drinking?

That is shown us in these words: Given, and shed for you, for the remission of sins; namely, that in the Sacrament forgiveness of sins, life, and salvation are given us through these words. For where there is forgiveness of sins, there is also life and salvation.

How can bodily eating and drinking do such great things?

It is not the eating and drinking, indeed, that does them, but the words which stand here, namely: Given, and shed for you, for the remission of sins. Which words are, beside the bodily eating and drinking, as the chief thing in the Sacrament; and he that believes these words has what they say and express, namely, the forgiveness of sins.

Who, then, receives such Sacrament worthily?

Fasting and bodily preparation is, indeed, a fine outward training; but he is truly worthy and well prepared who has faith in these words: Given, and shed for you, for the remission of sins.

But he that does not believe these words, or doubts, is unworthy and unfit; for the words For you require altogether believing hearts.

Lebih lanjut dalam Augsburg Confession / Confessio Augustana (25 Juni 1530), di artikel X – tentang Perjamuan Allah (of the Lord’s Supper), diajarkan bahwa gereja Lutheran percaya bahwa Tubuh dan Darah Kristus adalah sungguh-sungguh hadir di dalam, dengan, dan dalam rupa roti dan anggur dari sakramen tersebut dan menolak siapapun yang mengajarkan yang lain. ((silakan melihat teks dari Augsburg Confession di sini: http://www.bookofconcord.org/augsburgconfession.php ))

Namun, apa yang dipercayai oleh Martin Luther tidak dipercayai oleh Ulrich Zwingli maupun John Calvin. Yang pertama percaya bahwa Ekaristi hanya sebagai simbol, yang kedua percaya bahwa Kristus hadir secara nyata hanya secara spiritual. Dan kemudian, kalau kita melihat, ajaran yang berbeda-beda tentang Ekaristi diajarkan oleh begitu banyak denominasi Kristen. Dalam kondisi seperti ini, bagaimana umat Allah dapat mengetahui mana yang benar dan mana yang tidak?

c. Pengajaran iman yang baik harus dipastikan kebenarannya.

Disinilah pentingnya adanya suatu otoritas, yang memberikan kepastian ajaran. Otoritas ini begitu penting, karena tanpa otoritas maka semua orang dapat mempunyai pendapat yang berbeda-beda akan ajaran iman. Otoritas ini bukanlah otoritas yang dibuat oleh manusia, namun otoritas yang bersifat Ilahi, karena diperintahkan sendiri oleh Kristus, ketika dia mengatakan “Kepadamu akan Kuberikan kunci Kerajaan Sorga. Apa yang kauikat di dunia ini akan terikat di sorga dan apa yang kaulepaskan di dunia ini akan terlepas di sorga.” (Mt 16:19). Mengikat dan melepaskan adalah manifestasi dari otoritas. Otoritas inilah yang diberikan oleh Kristus kepada Petrus dan penerus rasul Petrus, yaitu para Paus. Dan otoritas untuk mengampuni dosa juga diberikan kepada para rasul serta para penerusnya, yaitu para uskup, sehingga Yesus mengatakan “Jikalau kamu mengampuni dosa orang, dosanya diampuni, dan jikalau kamu menyatakan dosa orang tetap ada, dosanya tetap ada.” (Yoh 20:23). Dengan dasar inilah, maka Gereja, melalui Magisterium Gereja diberikan kuasa atau otoritas oleh Kristus untuk menjadi pilar kebenaran. Dan hal ini ditegaskan kembali oleh rasul Paulus, yang mengatakan “Jadi jika aku terlambat, sudahlah engkau tahu bagaimana orang harus hidup sebagai keluarga Allah, yakni jemaat (ecclesia = Church = Gereja) dari Allah yang hidup, tiang penopang dan dasar kebenaran.” (1Tim 3:15).

Inilah sebabnya, ketika Magisterium Gereja memberikan pengajaran iman dan moral, maka kita sebagai umat Katolik harus mempercayainya dan mengikutinya. Kalau kita memilih-milih dan menentukan sendiri mana pengajaran yang terlihat masuk akal dan nama yang tidak, maka iman kita bukan lagi bersifat Ilahi atau adi-kodrati, namun bersifat manusiawi. Menjadi bersifat manusiawi, karena parameter akhir dalam menentukan kebenaran adalah diri sendiri. Dan kalau ini diterapkan, maka akan terjadi perpecahan di mana-mana, yang pada akhirnya melanggar perintah dari Kristus untuk menjaga persatuan umat Allah (lih. Yoh 17:21).

4. Kuno sekaligus modern

Seperti yang telah diterangkan di depan, maka kita dapat melihat bahwa Gereja Katolik senantiasa mengajarkan pokok-pokok iman yang berdasarkan wahyu Allah, baik yang tertulis – yaitu Kitab Suci – dan juga yang lisan – yaitu Tradisi Suci, yang dijaga kemurniannya oleh Magisterium Gereja, sehingga kebenaran iman dapat diwariskan dari satu generasi ke generasi secara konsisten dan murni. Namun, bukan berarti bahwa kalau kita mempunyai iman yang kuno, maka kita tidak dapat mengadaptasi cara evangelisasi secara modern. Justru penggabungan dua hal inilah yang didengung-dengungkan dalam konsili Vatikan II.

Kita mendengar adanya dua kata kunci dalam konsili Vatican II, yaitu “aggiornamento” dan “ressourcement“. Ressourcement berasal dari bahasa Perancis yang berarti “kembali ke sumber”, baik Kitab Suci maupun Tradisi Suci. Aggiornamento, berasal dari bahasa Italia, yang berarti updating atau pembaharuan. Pembaharuan di sini bukanlah membuat ajaran-ajaran baru yang tidak sesuai dengan Alkitab maupun Tradisi Suci, namun lebih ke arah metode evangelisasi, sehingga pengajaran iman Katolik yang begitu benar dan indah dapat disampaikan dengan lebih jelas, yang berarti orang dapat menerima pengajaran tersebut dengan jelas dan penuh kegembiraan. Pembaharuan di sini adalah metode penyampaian, yang disesuaikan dengan kondisi zaman, dan juga kondisi pendengar. Dengan memperhatikan kondisi zaman dan kondisi pendengar, maka kabar gembira dapat disampaikan secara lebih relevan, sehingga pendengar dapat mengkorelasikannya dengan kehidupan mereka masing-masing. Pembaharuan di sini bukanlah untuk membuat doktrin yang baru, namun menyesuaikan dengan alat bantu yang ada, seperti internet, video, dll. Dan hal ini diserukan oleh Paus Yohanes Paulus II maupun Paus Benediktus XVI. Pada tahun 2009 pada hari komunikasi seluruh dunia yang ke-43, Paus Benediktus XVI mengatakan “Saya ingin mendorong kaum muda Katolik untuk membawa kesaksian iman mereka ke dalam dunia digital.

III. Pelajarilah, hiduplah dan sebarkanlah!

1. Pelajarilah iman Katolik dengan sungguh-sungguh.

Bagai pepatah, ‘Tak kenal maka tak sayang’, maka kita harus mengenal dan mempelajari iman kita, agar dapat menjadikan iman kita ini bagian dari hidup, dan dapat kita bagikan kepada orang lain. Walaupun mempelajari iman Katolik membutuhkan banyak waktu, mengingat banyaknya sumber yang harus dipelajari, -seperti dari kitab suci, dokumen-dokumen Gereja, tulisan para Bapa Gereja dan Para Kudus, dll – namun ini merupakan hal yang sangat berguna dan tidak dapat diukur manfaatnya bagi keselamatan jiwa kita. Suatu kenyataan yang harusnya mendorong kita adalah bagaimana saudara-saudari kita dari agama Kristen lain yang justru kembali ke pangkuan Gereja Katolik setelah mempelajari ‘kekayaan iman’ tersebut. Padahal kita sendiri yang Katolik belum tentu mengetahui dan mempelajarinya dengan sungguh-sungguh.

Mempelajari iman Katolik bukan dimaksudkan hanya agar kita mengetahui ’sebatas kepala dan tidak turun ke hati’. Sebab jika demikian kita akan mirip seperti orang Farisi yang rajin mempelajari Kitab suci, tetapi tidak menjiwai dan menerapkannya di dalam hidup. Mempelajari iman di sini berarti mendekati kebenaran dengan iman dan akal budi (faith and reason) (Di dalam pembukaan surat ensiklik Paus Yohanes Paulus II, yang berjudul Fides et Ratio (Faith and Reason), ia berseru, “Iman dan akal budi adalah seperti dua sayap yang mengangkat roh manusia untuk mencapai kontemplasi kebenaran; dan Tuhan telah menempatkan di dalam hati manusia keinginan untuk mengetahui kebenaran- yaitu untuk mengenal dirinya sendiri- sehingga dengan mengenal dan mengasihi Allah- semua orang, pria dan wanita -dapat juga sampai pada kepenuhan kebenaran tentang diri mereka sendiri (bdk Kel 33:18; Mzm 27:8-9; 63:2-3; Yoh 14:8; 1Yoh 3:2).

Faith and reason are like two wings on which the human spirit rises to the contemplation of truth; and God has placed in the human heart a desire to know the truth- in a word, to know himself – so that, by knowing and loving God, men and women may also come to the fullness of truth about themselves (cf. Ex 33:18; Ps 27:8-9; 63:2-3; Jn 14:8; 1Jn 3:2).))

dan dengan demikian, mengikuti Firman Tuhan sendiri yang mengatakan “…siap sedialah pada segala waktu untuk memberi pertanggungan jawab kepada tiap-tiap orang yang meminta pertanggungan jawab dari kamu tentang pengharapan yang ada padamu, tetapi haruslah dengan lemah lembut dan hormat…” (1 Pet 3:15). Jika kita kurang memahami iman dan pengharapan kita, tentu sulitlah bagi kita untuk memberi pertanggunggan jawab tentang iman kita jika ada yang bertanya pada kita.

Jadi mempelajari iman kita adalah suatu bentuk kerendahan hati, yang dimulai dari sikap ketaatan, menerima pernyataan wahyu Allah yang dipercayakan oleh Yesus Kristus kepada Gereja-Nya. Jika ada pengajaran yang belum kita mengerti, kita mohon karunia Roh Kudus untuk membimbing kita, namun kita harus percaya bahwa Roh Kudus itu telah lebih dahulu bekerja pada para Rasul dan kini terus bekerja di dalam para pengganti mereka, sehingga dengan kerendahan hati kita harus menerima sepenuhnya pengajaran Gereja. Dengan sikap ini, tentulah pada waktuNya, Tuhan akan membantu kita memahami pengajaran tersebut.

2. Hiduplah sesuai dengan iman Katolik.

Ingatlah bahwa iman Katolik adalah sesuatu yang berhubungan dengan kehidupan sehari-hari, bukan hanya urusan di gereja seminggu sekali. Hidup sesuai dengan iman Katolik inilah yang dimaksud dengan hidup kudus yang kita laksanakan di rumah, di tempat kerja, di sekolah, dan di mana saja. Dalam pelaksanaannya mungkin saja kita akan menghadapi tantangan, cemooh, atau bahkan kehilangan teman. Dalam hal ini ingatlah apa yang dikatakan Yesus untuk mereka yang dianiaya karena Dia, “Bersukacitalah dan bergembiralah, karena upahmu besar di surga” (Mat 5:12).

Hidup sesuai dengan iman Katolik adalah hidup dalam kekudusan (lihat artikel: Semua Orang Dipanggil untuk Hidup Kudus). Ini memang perjuangan bagi setiap kita. Iman kita harus selalu membawa perubahan diri kita ke arah yang lebih baik. Kita harus punya semangat seperti Rasul Paulus yang mengajarkan agar kita senantiasa taat dan mengerjakan keselamatan kita dengan takut dan gentar (lih. Fil 2:12). Takut di sini maksudnya adalah hormat (‘reverence and awe’) yang menggambarkan kasih kita sebagai anak-anak Allah untuk tidak melawan Allah Bapa kita, ((Lihat Dom Bernard Orchard M.A, A Catholic Commentary on Holy Scripture, (Thomas Nelsom and Sons, New York, 1951) p. 1130, ‘with fear and trembling’, a phrase implying reverence and awe, as again in 2Cor 7:15; Eph 6:5. …. It (is) a filial dread of offending God.)) baik dengan perkataan ataupun perbuatan. Hormat kepada Allah Bapa juga disertai dengan hormat kepada Yesus PuteraNya dan Gereja yang didirikanNya oleh kuasa Roh Kudus.

3. Sebarkanlah iman Katolik-mu.

Yesus menginginkan kita untuk menyebarkan kasihNya kepada seluruh dunia, sehingga dunia dapat dibawa kepada kebenaranNya, sebab Kristuslah “Jalan, Kebenaran dan Hidup (Yoh 14:6). Jadi menyebarkan iman bukan hanya menjadi tanggungjawab para uskup, imam dan religius lainnya, tetapi menjadi tugas kita semua. Penyebaran iman ini adalah pertama-tama melalui teladan hidup dan bukan hanya dengan kata-kata.

Ingatlah bahwa sebelum naik ke surga Yesus berkata, “…Pergilah, jadikanlah semua bangsa muridKu dan baptislah mereka dalam nama Bapa, Putera dan Roh Kudus, dan ajarkanlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. (Mat 28:19-20). Pada hari Pentakosta, kita melihat bagaimana Roh Kudus berkarya di atas para Rasul sehingga mereka dapat bersaksi tentang Yesus dengan berani, sampai akhirnya berita Injil dapat tersebar ke seluruh bumi. Roh Kudus yang sama itu berada di Gereja Katolik, yang juga berarti tinggal di dalam hati kita, anggota-anggotanya. ((Lihat Lumen Gentium 4, “Roh itu tinggal dalam Gereja dan dalam hati umat beriman bagaikan dalam kenisah (lih 1Kor 3:16; 6:19).”)) Komuni kudus yang kita terima hendaknya menjadikan kita pembawa misi Kristus. Mari kita bagikan rahmat persekutuan dengan Tuhan ini kepada orang-orang lain, sehingga mereka-pun dapat mengenal dan mengasihi Allah.

IV. Gereja Katolik kuno, tapi senantiasa mengikuti perkembangan zaman.

Dari pemaparan di atas, maka kita dapat melihat bahwa memang Gereja Katolik kuno dari sisi pengajaran iman, karena pengajaran iman yang kuno – dalam pengertian bersumber pada Sabda Allah tertulis (Alkitab) dan Lisan (Tradisi Suci), serta dijaga oleh Magisterium Gereja – maka pengajaran iman dapat terjamin kebenarannya. Dengan demikian, umat Allah akan mempunyai kepastian akan imannya. Dengan berpegang pada pilar-pilar kebenaran ini, maka kesatuan umat Allah dapat terjaga, seperti yang diinginkan oleh Kristus di Yoh 17.

Namun, kebenaran akan menjadi benda kuno dan tidak terpakai kalau tidak diwartakan. Oleh karena itu, seluruh umat Allah harus menyatukan derap langkah untuk membangun Gereja Katolik yang kita kasihi. Seluruh umat Allah dalam kapasitasnya masing-masing harus saling membantu agar semua umat dapat bertumbuh dalam kekudusan, serta menyebarkan kabar gembira, mengajarkan semua hal yang diperintahkan oleh Kristus . Mari, kita bersama-sama membangun Gereja Katolik yang kita kasihi sebagai manifestasi akan kasih kita kepada Allah. Biarlah Gereja-Nya menjadi terang dunia dan menjadi sakramen keselamatan bagi seluruh bangsa.

Catatan: Artikel ini dibuat untuk acara “Temu Darat Katolisitas 1”, yang diselenggarakan pada tanggal 7 Desember 2010 di Jakarta Utara.

Keep in touch

18,000FansLike
18,659FollowersFollow
32,900SubscribersSubscribe

Artikel

Tanya Jawab