Home Blog Page 211

Mengapa bayi perlu dibaptis padahal dia belum tahu apa-apa?

0

Ada tiga alasan yang membuat Gereja Katolik membaptis para bayi, yaitu: (1) karena perintah Kristus, (2) baptisan diperlukan untuk keselamatan, (3) orang tua mempunyai tanggung jawab untuk membawa anak-anaknya ke dalam Kerajaan Sorga. Kristus mengatakan bahwa tidak boleh ada seorangpun yang menghalangi anak-anak datang kepada-Nya, karena mereka adalah empunya Kerajaan Sorga (lih. Mat 19:14; Mar 10:14; Luk 18:16). Kalau ada yang menghalangi atau menyesatkan anak-anak, maka akan memperoleh hukuman yang berat (lih. Mat 18:6). Selanjutnya, Alkitab mengatakan bahwa barang siapa percaya dan dibaptis, maka dia akan diselamatkan (lih. Yoh 3:3-5; Mrk 16:16), karena mendapatkan pengampunan dosa -termasuk dosa asal- dan karunia Roh Kudus (lih. Kis 2:38). Melalui Baptisan, seseorang disatukan dengan kematian Kristus untuk dibangkitkan bersama dengan Kristus; sehingga ia dapat mati terhadap dosa dan hidup baru bagi Allah di dalam Kristus (lih. Rom 6:3-4,11).

Jika Kristus menginginkan agar anak-anak datang kepada-Nya dan tidak boleh ada yang menghalangi mereka, serta baptisan diperlukan untuk keselamatan, maka orang tua harus memberi bayi mereka dibaptis. Dengan demikian, para orang tua melaksanakan amanat agung Kristus untuk pemuridan, pembaptisan dan pengajaran (lih. Mat 28:19-20), sehingga bayi/ anak- anak mereka dapat memperoleh keselamatan.

Apakah dengan Baptisan bayi, maka orang tua merenggut kebebasan bayi mereka? Tentu saja tidak. Dalam tatanan kodrat, sudah selayaknya orang tua memberi obat kepada bayi yang sakit tanpa persetujuan bayi itu. Kalau hal ini dianggap benar, maka menjadi benar juga bahwa untuk keselamatan bayi yang mereka kasihi, mereka membaptis bayi mereka tanpa persetujuan bayi mereka. Di jaman para rasul, para murid juga membaptis keluarga (yang berarti bisa termasuk anak-anak dan bayi), seperti pada pembaptisan keluarga Lydia (Kis 16:15), kepala penjara di Filipi (Kis 16:33) dan Stefanus (1 Kor 1:16).

Dasar Kitab Suci:

  • Mat 19:14; Mar 10:14; Luk 18:16: Jangan menghalangi anak- anak datang kepada Tuhan
  • Mat 18:6: Hukuman bagi mereka yang menyesatkan anak- anak
  • Yoh 3:3-5: Syarat masuk Kerajaan Allah: dilahirkan kembali dalam air dan Roh (dibaptis)
  • Mrk 16:16: Syarat untuk diselamatkan: percaya dan dibaptis
  • Kis 2:38: Syarat untuk pengampunan dosa dan menerima Roh Kudus: bertobat dan dibaptis
  • Mat 28:19-20: Pesan terakhir Yesus: pemuridan, pembaptisan, pewartaan Injil
  • Kis 16:15, 33: Pembaptisan bersama- sama seisi rumahnya
  • 1Kor 1:16: Paulus membaptis keluarga Stefanus (termasuk anak- anaknya)

Dasar Tradisi Suci:

  • St. Irenaeus dari Lyons (120-180) dalam Adversus Haereses (Book II, Chapter 22)
    “Ia [Yesus] datang untuk menyelamatkan melalui Diri-Nya sendiri; semua, kataku: para bayi, anak- anak, orang muda maupun tua, yang melalui-Nya dilahirkan kembali di dalam Tuhan. Oleh karena itu, Ia melampaui semua usia, menjadi seorang bayi bagi para bayi untuk menguduskan mereka; menjadi seorang kanak- kanak untuk anak- anak, menguduskan mereka yang pada usia anak- anak…. [sehingga] Ia dapat menjadi guru yang sempurna di dalam segala sesuatu, sempurna tidak hanya dalam menyatakan kebenaran, tetapi juga sempurna di dalam segala usia.” (Against Heresies 2:22:4 [A.D. 189]).
  • Hippolytus (170-236) dalam bukunya The Antichrist
    “Pertama- tama, baptislah anak- anak, dan jika mereka dapat berbicara, biarkanlah mereka berbicara. Kalau tidak, biarlah para orang tua atau kerabat mereka berbicara atas nama mereka.” (The Apostolic Tradition 21:16 [A.D. 215]).
  • Origen (185-254) dalam De Principiis (Book IV)
    “Gereja menerima dari para rasul, tradisi untuk memberikan Baptisan bahkan kepada para bayi. Para rasul, yang dipercayakan rahasia- rahasia sakramen- sakramen ilahi, mengetahui bahwa pada setiap orang terdapat dosa asal, yang harus dicuci/ dibersihkan melalui air dan Roh.” (Commentaries on Romans 5:9 [A.D. 248]).”Setiap jiwa yang dilahirkan dalam daging tertanam oleh kecederungan berbuat jahat dan dosa …. Di dalam Gereja, Baptisan diberikan untuk penghapusan dosa, dan sesuai dengan penerapan Gereja, Baptisan diberikan bahkan kepada bayi- bayi….”(Homilies on Leviticus 8:3 [A.D. 248]).
  • St. Cyprian dari Carthage (200-270) dalam Epistle 58
    “Tentang apa yang berhubungan dengan kasus bayi- bayi: Kamu [Fidus] berkata bahwa mereka tidak harus dibaptis di hari kedua atau ketiga setelah kelahiran mereka, …., dan bahwa kamu tidak berpikir bahwa seseorang harus dibaptis dan disucikan di dalam waktu delapan hari setelah kelahirannya. Di dalam konsili kami nampaknya tidak demikian. Tidak seorangpun yang setuju kepada pandangan yang menurut pemikiranmu harus dilakukan. Sebaliknya, kami semua menilai bahwa belas kasihan dan rahmat Allah tidak boleh ditahan/ diingkari kepada siapapun yang dilahirkan.” (Letters 64:2 [A.D. 253]).”Jika, dalam kasus pendosa yang terparah, dan mereka yang pada mulanya banyak berdosa melawan Tuhan, ketika sesudahnya mereka menjadi percaya, penghapusan dosa mereka diberikan dan tak seorangpun yang dihalangi dari Pembaptisan dan rahmat, betapa lebih penting, bahwa seorang bayi tidak dihalangi, yang baru saja dilahirkan, dan belum berbuat dosa, kecuali bahwa karena dilahirkan di dalam daging seperti Adam, ia telah menerima akibat dari kematian [dosa asal] dari kelahirannya [sebagai manusia keturunan Adam]. Untuk alasan ini, ia [seorang bayi] lebih mudah untuk menerima penghapusan dosa, sebab dosanya yang diampuni adalah bukan dosanya sendiri, tetapi dosa orang lain [dosa asal akibat Adam]. (ibid., 64:5).
  • St. Gregorius Nazianzen (325-389) dalam Oration 40
    “Apakah kamu mempunyai bayi? Jangan biarkan dosa mengambil kesempatan, melainkan biarlah bayi itu dikuduskan… Dari usianya yang masih muda, biarlah ia dikonsekrasikan oleh Roh Kudus….” (Oration on Holy Baptism 40:7 [A.D. 388]).
  • St. Yohanes Krisostomus (347-407) dalam Homily 47 tentang Kisah para rasul
    “Baiklah,” beberapa orang akan berkata, “bagi mereka yang meminta Baptisan, tetapi apa yang kau katakan tentang mereka yang masih anak- anak, dan tidak sadar akan kekurangan ataupun akan rahmat? Apakah kami harus membaptis mereka juga?” ‘Tentu saja’ [jawab saya]… Lebih baik mereka dikuduskan [walaupun mereka] tidak menyadarinya, daripada mereka bertumbuh [menjadi besar] tidak bermeterai dan tidak menerima inisiasi.” (ibid.,40:28).”Kamu melihat begitu banyaknya keuntungan Baptisan, dan beberapa orang ebrpikir rahmat surgawi-nya hanya terdiri dari penghapusan dosa, tetapi kami sudah menjabarkan sepuluh hal kehormatan yang dikaruniakannya! Untuk alasan ini kami membaptis bahkan bayi- bayi, meskipun mereka tidak dirusakkan oleh dosa-dosa pribadi, sehingga mereka dapat memperoleh kekudusan, kebenaran, pengangkatan sebagai anak-anak Allah, sebagai ahli waris, saudara- saudara Kristus, dan bahwa mereka dapat menjadi anggota- anggota Kristus”
    (Baptismal Catecheses in Augustine, Against Julian 1:6:21 [A.D. 388]).
  • St. Agustinus dari Hippo (354-430 AD) dalam The City of God (Book XXII)
    “Cyprian tidak mengeluarkan dekrit yang baru tetapi mempertahankan kepercayaan Gereja yang paling kuat untuk mengkoreksi beberapa orang yang berpikir bahwa bayi- bayi tidak harus dibaptis sebelum hari kedelapan setelah kelahiran mereka …. Ia setuju dengan para sesama uskup bahwa seorang anak dapat dibaptis dengan layak/ tepat segera setelah ia lahir.” (Letters 166:8:23 [A.D. 412]).
  • St. Agustinus dari Hippo (354-430 AD) dalam Tractate 6 (John 1:32-33)
    “Dengan rahmat ini bayi- bayi yang dibaptis juga digabungkan ke dalam tubuh-Nya [Kristus] bayi- bayi yang tentu saja belum dapat meniru siapapun. Kristus, yang di dalam-Nya semua orang memperoleh hidup … memberikan juga rahmat yang paling tersembunyi dari Roh-Nya, rahmat yang dengan rahasia Ia alirkan bahkan kepada bayi- bayi …. Ini adalah hal yang istimewa sehingga kaum Kristen Punik (Afrika Utara) menyebut Baptisan keselamatan dan sakramen Tubuh Kristus sebagai bukan yang lain selain kehidupan. Darimanakah hal ini diperoleh, kalau bukan dari … tradisi apostolik, yang olehnya Gereja Kristus meneruskan dengan teguh bahwa tanpa Baptisan dan partisipasi pada meja altar Tuhan, adalah tidak mungkin bagi seorangpun untuk memperoleh Kerajaan Allah atau kepada keselamatan dan kehidupan kekal? Ini adalah kesaksian Kitab Suci juga …. Jika ada orang yang mempertanyakan mengapa anak- anak yang dilahirkan dari mereka yang sudah dibaptis juga harus dibaptis, biarlah mereka memperhatikan hal ini…. Sakramen Pembaptisan adalah paling pasti sakramen kelahiran kembali (Forgiveness and the Just Deserts of Sin, and the Baptism of Infants 1:9:10; 1:24:34; 2:27:43 [A.D. 412]).
  • St. Agustinus dari Hippo (354-430 AD) dalam Tractate 15 (John 4:1-42)
    “Kebiasaan Bunda Gereja dalam hal pembaptisan bayi tentu tidak boleh dicaci/ dicemooh, atau dianggap sebagai sesuatu yang berlebihan, atau dipercaya bahwa tradisi tersebut adalah sesuatu yang bukan apostolik.” (The Literal Interpretation of Genesis 10:23:39 [A.D. 408]).

Dasar Magisterium Gereja:

  • Katekismus Gereja Katolik (KGK, 403, 1231, 1250, 1251,  1252, 1282)
  • Konsili Chalcedon (451)
    “Siapapun yang mengatakan bahwa bayi- bayi yang baru lahir tidak harus dibaptis, atau mengatakan bahwa mereka memang dibaptis untuk menerima penghapusan dosa namun mereka tidak menerima apapun dari dosa asal Adam, yang dihapus di dalam permandian kelahiran kembali … biarlah ia menjadi anathema [diekskomunikasikan]. Sebab apa yang yang dikatakan oleh rasul Paulus, “Melalui satu orang, dosa masuk ke dunia, dan kematian melalui dosa, dan demikian diteruskan kepada semua manusia, di dalamnya semua telah berdosa’ (Rom 5:12), tidak dapat dimengerti dengan pemahaman yang lain daripada yang diajarkan dan disebarluaskan oleh Gereja Katolik. Sebab berkenaan dengan ketentuan iman bahkan bayi- bayi, yang di dalam diri mereka sendiri belum dapat melakukan dosa apapun, sungguh- sungguh dibaptis ke dalam penghapusan dosa, sehingga apa yang mereka terima dari kelahiran dapat dibersihkan oleh kelahiran kembali.” (Canon 3 [A.D. 416]).

Karena Bunda Maria adalah manusia biasa, bukankah kita tidak perlu menghormatinya secara istimewa?

0

Bunda Maria memang adalah manusia biasa. Namun, meskipun manusia biasa,  Bunda Maria adalah pribadi yang istimewa, sebab ia bekerja sama dengan rahmat Tuhan untuk mewujudkan rencana keselamatan-Nya bagi umat manusia. Jadi, Bunda Maria dipilih menjadi ibu Tuhan bukan karena jasanya, tetapi pertama- tama karena kehendak dan rahmat Tuhan, yang kemudian ditanggapi oleh Bunda Maria dengan ketaatannya, sehingga Kristus Sang Penyelamat dapat lahir sebagai manusia di dunia. Teladan ketaatan Bunda Maria, yang membuat rencana Allah terhadap seluruh umat manusia dapat terlaksana, itulah yang menjadikan Bunda Maria sebagai seorang yang istimewa dan patut kita hormati.

Bunda Maria dipilih Allah untuk mengandung di dalam rahimnya, Yesus Kristus, yang di dalam-Nya tinggal “seluruh kepenuhan ke-Allah-an secara jasmaniah” (Kol 2:9). Ke-eratan hubungan antara Allah dan manusia yang sedemikian, tidak pernah terjadi sebelumnya. Tidak ada satupun nabi ataupun tokoh dalam Kitab Suci yang pernah mengandung ‘kepenuhan ke-Allahan’ seperti yang terjadi pada Bunda Maria. Allah mengutus Kristus Putera-Nya dengan mempersiapkan tubuh bagi-Nya (lih. Ibr 10:5). Untuk itu, diperlukan kerjasama yang melibatkan kehendak bebas seorang perempuan -yaitu Perawan Maria- untuk mewujudkan rencana Allah itu, sehingga tanpa benih laki-laki namun oleh kuasa Roh Kudus, Tuhan Yesus dapat menjelma menjadi manusia. Dengan ketaatannya menerima Sabda Allah dalam Kabar Gembira malaikat, Perawan Maria menerima Sang Sabda itu di dalam hatinya dan di dalam tubuhnya, sehingga dengan demikian, ia memberikan Sang Sabda kepada dunia. Persatuan yang erat antara Perawan Maria dengan Kristus Sang Sabda Allah menjadikannya layak dihormati sebagai Bunda Allah dan Bunda Penebus.

Dengan perannya sebagai ibu yang mengandung, melahirkan dan membesarkan Yesus, Sang Putera Allah yang Tunggal yang menjelma menjadi manusia, Bunda Maria menempati tempat yang istimewa dalam sejarah keselamatan. Jadi jika umat Katolik menghormati Maria secara istimewa dibandingkan dengan para orang kudus lainnya, itu disebabkan karena: Allah terlebih dahulu menghormati Maria dengan memilihnya menjadi Bunda Putera-Nya dan telah memenuhinya dengan rahmat agar ia dapat mengemban tugas yang mulia itu (lih. Luk 1:28,35,43);  serta karena Maria telah diberikan oleh Kristus untuk menjadi Bunda umat beriman (lih. Yoh 19:26-27). Sudah seharusnya, kita lebih menghormati ibu kita sendiri di antara semua perempuan di dunia; demikian juga adalah layak jika kita lebih menghormati Bunda Maria di antara semua orang kudus dan tokoh manusia lainnya dalam Kitab Suci. Namun demikian, penghormatan kepada Maria tidak pernah melebihi penghormatan kita terhadap Tuhan.

Dasar Kitab Suci:

  • Luk 1:28: Salam Maria, penuh rahmat
  • Luk 1:35: Roh Kudus menaungi Maria, sebab itu Anak yang dilahirkan Maria adalah Anak Allah
  • Luk 1:43: Maria adalah ibu Tuhan
  • Yoh 19:26-27: Maria diberikan oleh Tuhan Yesus menjadi ibu bagi murid- murid-Nya
  • Gal 4:4: Tuhan mengutus Putera-Nya, untuk dilahirkan oleh seorang perempuan

Dasar Magisterium Gereja:

  • Konsili Vatikan II (1962-1965), Konstitusi tentang Gereja, Lumen Gentium (LG):

“Sebab Perawan Maria, yang sesudah warta Malaikat menerima Sabda Allah dalam hati maupun tubuhnya, serta memberikan Hidup kepada dunia, diakui dan dihormati sebagai Bunda Allah dan Bunda Penebus yang sesungguhnya. Karena pahala Putera-Nya, dan dipersatukan dengan-Nya dalam ikatan yang erat dan tidak terputuskan, ia dianugerahi kurnia serta martabat yang amat luhur, yakni menjadi Bunda Putera Allah, maka juga menjadi Puteri Bapa yang terkasih dan kenisah Roh Kudus. Karena anugerah rahmat yang sangat istimewa itu ia jauh lebih unggul dari semua makhluk lainnya, baik di sorga maupun di bumi. Namun demikian, sebagai keturunan Adam, ia termasuk golongan semua orang yang harus diselamatkan. Bahkan “ia memang Bunda para anggota Kristus… karena dengan cinta kasih ia menyumbangkan kerjasamanya, supaya dalam Gereja lahirlah kaum beriman, yang menjadi anggota Kepala itu”.[175] Oleh karena itu ia menerima salam sebagai anggota Gereja yang serba unggul dan sangat istimewa, pun juga sebagai pola-teladannya yang mengagumkan dalam iman dan cinta kasih. Menganut bimbingan Roh Kudus Gereja Katolik menghormatinya dengan penuh rasa kasih-sayang sebagai bundanya yang tercinta. (LG, 53)

Kitab-kitab Perjanjian Lama maupun Baru, begitu pula Tradisi yang terhormat, memperlihatkan peran Bunda Penyelamat dalam tata keselamatan dengan cara yang semakin jelas, dan seperti menyajikannya untuk kita renungkan. Ada pun Kitab-kitab Perjanjian Lama melukiskan sejarah keselamatan, yang lambat laun menyiapkan kedatangan Kristus di dunia. Naskah-naskah kuno itu, sebagaimana dibaca dalam Gereja dan dimengerti dalam terang pewahyuan lebih lanjut yang penuh, langkah demi langkah makin jelas mengutarakan citra seorang perempuan itu, Bunda Penebus. Dalam terang itu ia sudah dibayangkan secara profetis dalam janji yang diberikan kepada leluhur kita yang pertama, yang jatuh berdosa (lih. Kej 3:15). Ia adalah Perawan yang mengandung dan melahirkan seorang Anak laki- laki, yang akan diberi nama Imanuel (lih. Yes 7:14; bdk. Mi 5:2-3; Mat 1:22-23). Dialah yang unggul di tengah umat Tuhan yang rendah dan miskin, yang penuh kepercayaan mendambakan serta menerima keselamatan dari pada-Nya. Dengan dia, sang Puteri Sion yang amat mulia, dan setelah masa penantian yang panjang, genaplah masanya,  dan mulailah tata keselamatan yang baru, ketika Putera Allah mengenakan kodrat manusia daripadanya, untuk membebaskan manusia dari dosa melalui rahasia-rahasia hidup-Nya dalam daging (LG, 55).

Adapun Bapa yang penuh belaskasihan menghendaki, supaya penjelmaan Sabda didahului oleh persetujuan dari pihak dia, yang telah ditetapkan menjadi Bunda-Nya. Dengan demikian, seperti dulu seorang perempuan mendatangkan maut, sekarang pun, seorang perempuanlah yang mendatangkan kehidupan. Itu secara amat istimewa berlaku tentang Bunda Yesus, yang telah melimpahkan kepada dunia Sang Hidup itu sendiri yang membaharui segalanya, dan yang oleh Allah dianugerahkan kurnia-kurnia yang layak bagi tugas seluhur itu. Maka tidak mengherankan, bahwa di antara para Bapa suci menjadi lazim untuk menyebut Bunda Allah suci seutuhnya dan tidak terkena oleh cemar dosa manapun juga, bagaikan makhluk yang diciptakan dan dibentuk baru oleh Roh Kudus. Perawan dari Nasaret itu sejak saat pertama dalam rahim dikaruniai dengan semarak kesucian yang istimewa. Atas titah Allah ia diberi salam oleh Malaikat pembawa Warta dan disebut “penuh rahmat” (Luk 1:28). Kepada utusan dari sorga itu ia menjawab: “Aku ini hamba Tuhan, terjadilah padaku menurut perkataanmu” (Luk 1:38). Demikianlah Maria Puteri Adam menyetujui sabda ilahi, dan menjadi Bunda Yesus. Dengan sepenuh hati yang tak terhambat oleh dosa mana pun ia memeluk kehendak Allah yang menyelamatkan, dan membaktikan diri seutuhnya sebagai hamba Tuhan kepada Pribadi serta karya Putera-Nya, untuk di bawah Dia dan beserta Dia, berkat rahmat Allah yang mahakuasa, mengabdikan diri kepada misteri penebusan. Maka memang tepatlah pandangan para Bapa suci, bahwa Maria tidak secara pasif belaka digunakan oleh Allah, melainkan bekerja sama dengan penyelamatan umat manusia dengan iman serta kepatuhannya yang bebas. Sebab, seperti dikatakan oleh St. Ireneus, “dengan taat Maria menyebabkan keselamatan bagi dirinya maupun bagi segenap umat manusia”. Maka tidak sedikitlah para Bapa zaman kuno, yang dalam pewartaan mereka dengan rela hati menyatakan bersama St.Ireneus: “Ikatan yang disebabkan oleh ketidaktaatan Hawa telah diuraikan karena ketaatan Maria; apa yang diikat oleh perawan Hawa karena ia tidak percaya, telah dilepaskan oleh perawan Maria karena imannya”[179]. Sambil membandingkannya dengan Hawa, mereka menyebut Maria “bunda mereka yang hidup”. Sering pula mereka menyatakan: “maut melalui Hawa, hidup melalui Maria” (LG, 56).

  • Katekismus Gereja Katolik 484, 488, 490:

KGK 484        Pewartaan kepada Maria membuka “kegenapan waktu” (Gal 4:4): Janji-janji terpenuhi, persiapan sudah selesai. Maria dipanggil supaya mengandung Dia, yang di dalam-Nya akan tinggal “seluruh kepenuhan ke-Allah-an secara jasmaniah” (Kol 2:9). Jawaban ilahi atas pertanyaan Maria: “Bagaimana mungkin hal itu terjadi karena aku belum bersuami?” (Luk 1:34) menunjukkan kekuasaan Roh: “Roh Kudus akan turun atasmu” (Luk 1:35).

KGK 488        “Tuhan telah mengutus Putera-Nya” (Gal 4:4). Tetapi supaya menyediakan “tubuh bagi-Nya” (Ibr 10:5), menurut kehendak-Nya haruslah satu makhluk bekerja sama dalam kebebasan. Untuk tugas menjadi ibu Putera-Nya, Allah telah memilih sejak kekal seorang puteri Israel, seorang puteri Yahudi dari Nasaret di Galilea, seorang perawan, yang “bertunangan dengan seorang bernama Yusuf dari keluarga Daud: nama perawan itu Maria” (Luk 1:26-27). “Adapun Bapa yang penuh belas kasihan menghendaki, supaya penjelmaan Sabda didahului oleh persetujuan dari pihak dia, yang telah ditetapkan menjadi Bunda-Nya. Dengan demikian, seperti dulu seorang perempuan mendatangkan maut, sekarang pun seorang  perempuanlah yang mendatangkan kehidupan” (LG 56, Bdk. LG 61).

KGK 490        Karena Maria dipilih menjadi bunda Penebus, “maka ia dianugerahi karunia-karunia yang layak untuk tugas yang sekian luhur” (LG 56). Waktu pewartaan, malaikat menyalaminya sebagai “penuh rahmat” (Luk 1:28). Supaya dapat memberikan persetujuan imannya kepada pernyataan panggilannya, ia harus dipenuhi seluruhnya oleh rahmat Allah.

Diskusi lebih lanjut:

https://katolisitas.org/2008/09/07/maria-bunda-allah-2/
https://katolisitas.org/2010/02/01/kerjasama-antara-rahmat-dan-kehendak-bebas-dalam-diri-bunda-maria/
https://katolisitas.org/2011/09/12/apa-arti-full-of-grace-kecharitomene/
https://katolisitas.org/13781/penjelasan-mengenai-salam-malaikat-menurut-st-thomas-aquinas

Arti putra dan putri angkat Allah

7

Ya, kita diangkat menjadi putra dan putri angkat Allah melalui Pembaptisan. Katekismus berdasarkan Kitab Suci mengajarkan:

KGK 1265 Pembaptisan tidak hanya membersihkan dari semua dosa, tetapi serentak menjadikan orang yang baru dibaptis suatu “ciptaan baru” (2 Kor 5:17), seorang anak angkat Allah (Bdk. Gal 4:5-7); ia “mengambil bagian dalam kodrat ilahi” (2 Ptr 1:4), adalah anggota Kristus (Bdk. 1 Kor 6:15; 12:27), “ahli waris” bersama Dia (Rm 8:17) dan kenisah Roh Kudus (Bdk. 1 Kor 6:19).

Maksudnya, melalui Baptisan kita memperoleh pengampunan dosa yang memisahkan kita dari Allah dan oleh karena itu kita menjadi putra dan putri angkat Allah di dalam Kristus, yaitu kita mengambil bagian dalam kodrat ilahi di dalam Kristus, sehingga kita dapat beroleh hidup yang kekal. Kita ketahui bahwa pada awal mula, Allah menciptakan manusia menurut gambaran-Nya, dan karena itu secara kodrati, manusia sering disebut anak- anak Allah, karena berasal dari Allah yang sama. Namun gambaran Allah dalam diri manusia ini dirusak oleh dosa, yang diturunkan dari Adam dan Hawa, sehingga manusia kehilangan rahmat pengudusan dan terpisah dari Allah. Melalui Baptisan kita memperoleh kembali rahmat pengudusan yang mengembalikan martabat kita sebagai anak- anak Allah seperti yang direncanakan Allah dari semula. Rahmat Allah kemudian kita terima kembali secara khusus dalam sakramen- sakramen, terutama Ekaristi dan Pengampunan dosa. Selanjutnya perlu diketahui bahwa kita disebut ‘anak- anak angkat Allah’, karena memang kita menjadi anak- anak Allah karena diangkat (adopted) oleh-Nya, karena kita manusia tidak sehakekat dengan Allah. Maka status kita tidak sama dengan Kristus, yang adalah Putera Allah yang Tunggal, yang sehakekat dengan Allah Bapa. Di dalam Kristus dan melalui iman akan Kristuslah kita dapat mengambil bagian dalam kodrat ilahi, dan sampai pada keselamatan kekal. Hal ini ditegaskan juga dalam Katekismus Gereja Katolik:

KGK 460.    Sabda menjadi manusia, supaya kita “mengambil bagian dalam kodrat ilahi” (2 Ptr 1:4): “Untuk itulah Sabda Allah menjadi manusia, dan Anak Allah menjadi anak manusia, supaya manusia menerima Sabda dalam dirinya, dan sebagai anak angkat, menjadi anak Allah” (Ireneus, haer. 3,19,1). Sabda Allah “menjadi manusia, supaya kita di-ilahi-kan” (Atanasius, inc. 54,3). “Karena Putera Allah yang tunggal hendak memberi kepada kita bagian dalam ke-Allah-an-Nya, Ia menerima kodrat kita, menjadi manusia, supaya mengilahikan manusia” (Tomas Aqu., opusc. 57 in festo Corp. Chr. 1).

Keluarga Kristiani sebagai Ecclesia domestica

16

[Dari Katolisitas: pertanyaan ini dipindahkan dari topik artikel Perkawinan Katolik vs Perkawinan dunia, karena menunjuk ke topik khusus, Ecclesia domestica ]

Pertanyaan:

Dear Stef dan Inggrid serta tim Katolisitas,

Suatu ulasan yang luar biasa tentang moral dan spiritualitas perkawinan; saya kira sangat berguna bagi hidup perkawinan dari keluarga-keluarga katolik dalam membangun hidup perkawinana kristiani yang harmonis yang dilandasi dengan cinta perkawinan (cinta suami-istri).

Saya melihat di forum katolisitas.org sudah banyak ulasan dan tanya jawab tentang masalah-masalah perkawinan : hukum, moral dan spritualitas perkawinan. Namun sedikit tentang keluarga. Bagaimana hidup keluarga katolik (kristiani) itu dibangun, masih sedikit (kalaupun ada hanya disinggung sekilas). Padahal sangat penting ulasan tentang keluarga kristiani; apalagi Vatikan II dalam LG no 11 telah menegaskan Keluarga sebagai Ecclesia Domestica (Gereja rumah tangga) dan penjelasan lebih lanjut oleh Puas Yohanes Paulus II dalam  “Familiaris Consortio”, sehingga beliau digelari sebagai “Paus Keluarga”. Kalau dalam Gereja ada tempat kudus yang membawa/mengantar anggotanya kepada kekudusan, dalam keluarga sebagai ‘ecclesia domestica’ tempat kudus itu apa ya? (tentu saja tempat bukan hanya dalam arti fisik). atau kalau dikatakan “keluarga harus menjadi tempat kudus dalam Gereja rumah tangga”, apa persisnya??

Terima kasih dan salam.

Phiner

Jawaban:

Shalom Phiner,

Makna keluarga sebagai Ecclesia Domestica (Gereja rumah tangga) dijelaskan dalam Katekismus sebagai berikut:

1. Keluarga- keluarga Kristiani merupakan pusat iman yang hidup, tempat pertama iman akan Kristus diwartakan dan sekolah pertama tentang doa, kebajikan- kebajikan dan cinta kasih Kristen.

KGK 1656             …..keluarga-keluarga Kristen itu sangat penting sebagai pusat suatu iman yang hidup dan meyakinkan. Karena itu Konsili Vatikan II menamakan keluarga menurut sebuah ungkapan tua “Ecclesia domestica” [Gereja-rumah tangga] (Lumen Gentium 11, Bdk. Familiaris Consortio 21). Dalam pangkuan keluarga “hendaknya orang-tua dengan perkataan maupun teladan menjadi pewarta iman pertama bagi anak-anak mereka; orang-tua wajib memelihara panggilan mereka masing-masing, secara istimewa panggilan rohani” (LG 11, 2).

KGK 1666             Keluarga Kristen adalah tempat anak-anak menerima pewartaan pertama mengenai iman. Karena itu tepat sekali ia dinamakan “Gereja-rumah tangga” – satu persekutuan rahmat dan doa, satu sekolah untuk membina kebajikan-kebajikan manusia dan cinta kasih Kristen.

KGK 2685             Keluarga Kristen adalah tempat pendidikan doa yang pertama. Atas dasar Sakramen Perkawinan, keluarga adalah “Gereja rumah tangga”, di mana anak-anak Allah berdoa “sebagai Gereja” dan belajar bertekun dalam doa. Teristimewa untuk anak-anak kecil, doa sehari-hari dalam keluarga adalah kesaksian pertama untuk ingatan Gereja yang hidup, yang dibangkitkan dengan penuh kesabaran oleh Roh Kudus.

2. Keluarga Kristiani merupakan tempat dilaksanakannya misi imamat bersama yang diterima melalui Pembaptisan, yaitu dengan menyambut sakraman- sakramen, berdoa dan menerapkan kasih.

KGK 1657             Disini dilaksanakan imamat yang diterima melalui Pembaptisan, yaitu imamat bapa keluarga, ibu, anak-anak, semua anggota keluarga atas cara yang paling indah “dalam menyambut Sakramen-sakramen, dalam berdoa dan bersyukur, dengan memberi kesaksian hidup suci, dengan pengingkaran diri serta cinta kasih yang aktif” (LG 10). Dengan demikian keluarga adalah sekolah kehidupan Kristen yang pertama dan “suatu pendidikan untuk memperkaya kemanusiaan” (GS 52,1). Di sini orang belajar ketabahan dan kegembiraan dalam pekerjaan, cinta saudara sekandung, pengampunan dengan jiwa besar, malahan berkali-kali dan terutama pengabdian kepada Allah dalam doa dan dalam penyerahan hidup.

3. Keluarga Kristiani merupakan presentasi dan pelaksanaan persekutuan Gereja, yaitu persekutuan iman, harapan dan kasih.

KGK 2204             Keluarga Kristen adalah satu penampilan dan pelaksanaan khusus dari persekutuan Gereja. Karena itu, ia dapat dan harus dinamakan juga “Gereja rumah tangga” (FC 21, Bdk. LG 11). Ia adalah persekutuan iman, harapan, dan kasih; seperti yang telah dicantumkan di dalam Perjanjian Baru (Bdk. Ef 5:21 – 6:4; Kol 3:18-21; 1 Ptr 3:1-7), ia memainkan peranan khusus di dalam Gereja.

Keluarga sebagai Gereja kecil (Ecclesia domestica) dengan cara tertentu dan dengan caranya sendiri menjadi gambaran yang hidup dan penampilan historis dari misteri Gereja (lih. Familiaris Consortio 49)

4. Keluarga Kristiani adalah persekutuan antar anggota- anggotanya, yang menjadi tanda dan gambaran persekutuan Allah Trinitas.

KGK 2205             Keluarga Kristen adalah persekutuan pribadi-pribadi, satu tanda dan citra persekutuan Bapa dan Putera dalam Roh Kudus. Di dalam kelahiran dan pendidikan anak-anak tercerminlah kembali karya penciptaan Bapa. Keluarga dipanggil, supaya mengambil bagian dalam doa dan kurban Kristus. Doa harian dan bacaan Kitab Suci meneguhkan mereka dalam cinta kasih…..

5. Seperti halnya Gereja, keluarga- keluarga Kristiani mempunyai tugas mewartakan dan menyebarluaskan Injil.

KGK 2205             Keluarga Kristen mempunyai suatu tugas mewartakan dan menyebarluaskan Injil.

Dengan demikian, keluarga sebagai Ecclesia domestica merupakan tempat yang kudus, karena di dalam keluarga Allah sendiri hadir di tengah umat-Nya. Secara khusus dalam doa keluarga digenapilah Sabda Tuhan yang mengajarkan bahwa jika dua atau tiga orang yang bersekutu di dalam nama-Nya, Tuhan hadir (lih. Mat 18:20). “Tempat yang kudus” dalam keluarga tidak untuk diartikan secara jasmani, di mana keluarga menyediakan tempat khusus untuk berdoa; tetapi juga tempat kudus rohani, di mana keluarga bersama-sama menerapkan iman, pengharapan dan kasih yang melibatkan pengorbanan dan pemberian diri seturut teladan Kristus (lih. Familiaris Consortio 49). Dengan menerapkan kasih dan pengorbanan, setiap anggota keluarga mengambil bagian dalam kurban Kristus bagi pengudusan umat manusia dan turut mengambil bagian dalam tugas Gereja menjadi sarana keselamatan (lih. Lumen Gentium 1).

Selanjutnya Konferensi Waligereja Indonesia (KWI) menjabarkan dengan lebih jelas pengertian keluarga sebagai Ecclesia Domestica. Berikut ini adalah kutipan yang diambil dari buku Pedoman Pastoral Keluarga, KWI, (Jakarta: Obor Jan 2011), hl. 15-18, demikian:

Keluarga adalah Gereja Rumah Tangga (Ecclesia Domestica)

17. Berkat Sakramen Baptis, suami istri dan anak menerima dan memiliki tiga martabat Kristus, yakni martabat kenabian, imamat, dan rajawi. Dengan martabat kenabian mereka mempunyai tugas mewartakan Injil; dengan martabat imamat, mereka mempunyai tugas menguduskan hidup, terutama dengan menghayati sakramen- sakramen dan hidup doa; dan dengan martabat rajawi, mereka mempunyai tugas untuk melayani sesama.

Berkat sakramen Baptis pula, mereka menjadi anggota dan ikut membangun Gereja. Keluarga bukan hanya merupakan sebuah komunitas basis manusiawi belaka, melainkan juga komunitas basis gerejawi yang mengambil bagian dalam karya penyelamatan Allah. Hidup berkeluarga ini menampakkan hidup Gereja sebagai suatu persekutuan (Koinonia) dalam bentuk yang paling kecil namun mendasar, yang merayakan iman melalui doa peribadatan (Leiturgia), mewujudkan pelayanan (Diakonia) melalui pekerjaan, dan memberi kesaksian (Martyria) dalam pergaulan; semuanya itu menjadi sarana penginjilan (Kerygma) yang baru.

Maka keluarga adalah sungguh- sungguh Gereja rumah tangga karena mengambil bagian dalam lima tugas Gereja seperti berikut ini:

a. Persekutuan (Koinonia)
Keluarga adalah ‘persekutuan seluruh hidup’ (consortium totius vitae) antara seorang laki- laki dan seorang perempuan berlandaskan perjanjian antara kedua belah pihak dan diteguhkan melalui kesepakatan perkawinan. Persekutuan antara mereka berdua diperluas dengan  kehadiran anak- anak dan keluarga besar. Ciri pokok dari persekutuan  tersebut adalah hidup bersama berdasarkan iman dan cinta kasih serta kesediaan untuk saling mengembangkan pribadi satu sama lain. Persekutuan dalam keluarga diwujudkan dengan menciptakan saat- saat bersama, doa bersama, kesetiaan dalam suka dan duka, untung dan malang, ketika sehat dan sakit.

b. Liturgi (Leiturgia)
Kepenuhan hidup Katolik tercapai dalam sakramen- sakramen dan hidup doa. Melalui sakramen- sakramen dan hidup doa, keluarga bertemu dan berdialog dengan Allah. Dengannya mereka dikuduskan dan menguduskan jemaat gerejawi serta dunia. Relasi antara Kristus dengan Gereja terwujud nyata dalam Sakramen Perkawinan, yang menjadi dasar panggilan dan tugas perutusan suami- istri. Suami- istri mempunyai tanggung jawab membangun kesejahteraan rohani dan jasmani keluarganya, dengan doa dan karya. Doa keluarga yang dilakukan setiap hari dengan setia dakan memberi kekuatan iman dalam hidup mereka, terutama ketika mereka sedang menghadapi dan mengalami persoalan sulit dan berat, dan membuahkan berkat rohani, yaitu relasi yang mesra dengan Allah.

c. Pewartaan Injil (Kerygma)
Karena keluarga merupakan Gereja Rumah tangga, keluarga mengambil bagian dalam tugas Gereja untuk mewartakan Injil. Tugas itu dilaksanakan terutama dengan mendengarkan, menghayati, melaksanakan, dan mewartakan Sabda Allah. Dari hari ke hari mereka semakin berkembang sebagai persekutuan yang hidup dan dikuduskan  oleh Sabda. “Keluarga, seperti Gereja, harus menjadi tempat Injil disalurkan dan memancarkan sinarnya. Dalam keluarga, yang menyadari tugas perutusan itu, semua anggota mewartakan dan menerima pewartaan Injil. Orang tua tidak sekedar menyampaikan Injil kepada anak- anak mereka, melainkan dari anak- anak mereka sendiri, mereka dapat menerima Injil itu juga, dalam bentuk penghayatan mereka yang mendalam. Dan keluarga seperti itu menjadi pewarta Injil bagi banyak keluarga lain dan bagi lingkungan di sekitarnya.” (Paus Paulus VI, Himbauan Apostolik, “Evangelii Nuntiandi“, EN, 71)

Sabda Allah itu termuat dalam Kitab Suci, yang tidak selalu mudah dipahami, maka keluarga sebaiknya ikut mengambil bagian secara aktif dalam kegiatan- kegiatan pendalaman Kitab Suci.

d. Pelayanan (Diakonia)
Keluarga merupakan persekutuan cinta kasih, maka keluarga dipanggil untuk mengamalkan cinta kasih itu melalui pengabdiannya kepada sesama, terutama bagi mereka yang papa. Dijiwai oleh cinta kasih dan semangat pelayanan, keluarga katolik menyediakan diri untuk melayani setiap orang sebagai pribadi dan anak Allah. Pelayanan keluarga hendaknya bertujuan memberdayakan mereka yang dilayani, sehingga mereka dapat mandiri.

e. Kesaksian Iman (Martyria)
Keluarga hendaknya berani memberi kesaksian imannya dengan perkataan maupun tindakan serta siap menanggung resiko yang muncul dari imannya itu. Kesaksian iman itu dilakukan dengan berani menyuarakan kebenaran, bersikap kritis terhadap berbagai ketidakadilan dan tindak kekerasan yang merendahkan martabat manusia serta merugikan masyarakat umum.”

Dengan demikian, penjelasan dari KWI ini menegaskan bahwa keluarga menjadi Ecclesia domestica (Gereja Rumah tangga) karena mengambil bagian dalam kelima tugas/ peran Gereja, yaitu persekutuan, liturgi, pewartaan Injil, pelayanan dan kesaksian iman.

Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
Ingrid Listiati- katolisitas.org

Tinggallah bersama kami, ya Tuhan!

9

I. Tinggallah bersama kami, sebab hari telah menjelang malam

Mane nobiscum Domine” atau “Tinggallah bersama kami, ya Tuhan” adalah perkataan yang mempunyai makna yang begitu dalam. Dan inilah perkataan yang diambil oleh Paus Yohanes Paulus II dalam surat apostoliknya “Mane Nobiscum Domine” untuk tahun Ekaristi yang dicanangkan pada Oktober 2004 – Oktober 2005. Dengan demikian, kalau kita ingin menggali lebih dalam tentang kisah perjalanan dua orang murid ini dan apa yang dialaminya bersama dengan Yesus, maka kita tidak dapat memisahkannya dari Ekaristi kudus. Hal ini disebabkan karena apa yang terjadi dalam peristiwa perjalanan ke Emaus adalah menggambarkan apa yang terjadi dalam Ekaristi.

Bagi umat Kristen yang tidak mempercayai dan tidak melakukan perayaan Ekaristi, peristiwa perjalanan ke Emaus adalah seperti peristiwa di masa lalu dan sulit untuk dihubungkan dengan apa yang terjadi pada saat ini secara lebih mendalam. Namun, bagi umat Katolik, peristiwa ini dihadirkan kembali setiap hari, dalam perayaan Ekaristi. Ekaristi yang menjadi pusat kehidupan Gereja perdana akan terus menjadi pusat kehidupan Gereja Katolik sampai akhir zaman, sampai terjadinya Perjamuan kawin Anak Domba (lih. Why 19:9). Dapat dikatakan bahwa iman akan Ekaristilah yang dapat menguak misteri Sabda Allah di Lukas 24:13-35 secara lebih mendalam, karena itulah yang dialami para murid, itulah yang dilakukan oleh jemaat perdana, itulah yang dilakukan oleh Gereja sepanjang sejarah Gereja, dan itulah yang dilakukan oleh Gereja Katolik saat ini, sampai segala abad.

II. Bacaan Lukas 24:13-35

Pada minggu ke-tiga Paskah ini, bacaan diambil dari Kis 2:14,22-33; Mzm 16:1-2,5,7-11; 1Pet 1:17-21; Luk 24:13-35. Mari kita melihat bacaan Injil, yaitu Luk 24:13-35 sebagai berikut:

13. Pada hari itu juga dua orang dari murid-murid Yesus pergi ke sebuah kampung bernama Emaus, yang terletak kira-kira tujuh mil jauhnya dari Yerusalem,
14. dan mereka bercakap-cakap tentang segala sesuatu yang telah terjadi.
15. Ketika mereka sedang bercakap-cakap dan bertukar pikiran, datanglah Yesus sendiri mendekati mereka, lalu berjalan bersama-sama dengan mereka.
16. Tetapi ada sesuatu yang menghalangi mata mereka, sehingga mereka tidak dapat mengenal Dia.
17. Yesus berkata kepada mereka: “Apakah yang kamu percakapkan sementara kamu berjalan?” Maka berhentilah mereka dengan muka muram.
18. Seorang dari mereka, namanya Kleopas, menjawab-Nya: “Adakah Engkau satu-satunya orang asing di Yerusalem, yang tidak tahu apa yang terjadi di situ pada hari-hari belakangan ini?”
19. Kata-Nya kepada mereka: “Apakah itu?” Jawab mereka: “Apa yang terjadi dengan Yesus orang Nazaret. Dia adalah seorang nabi, yang berkuasa dalam pekerjaan dan perkataan di hadapan Allah dan di depan seluruh bangsa kami.
20. Tetapi imam-imam kepala dan pemimpin-pemimpin kami telah menyerahkan Dia untuk dihukum mati dan mereka telah menyalibkan-Nya.
21. Padahal kami dahulu mengharapkan, bahwa Dialah yang datang untuk membebaskan bangsa Israel. Tetapi sementara itu telah lewat tiga hari, sejak semuanya itu terjadi.
22. Tetapi beberapa perempuan dari kalangan kami telah mengejutkan kami: Pagi-pagi buta mereka telah pergi ke kubur,
23. dan tidak menemukan mayat-Nya. Lalu mereka datang dengan berita, bahwa telah kelihatan kepada mereka malaikat-malaikat, yang mengatakan, bahwa Ia hidup.
24. Dan beberapa teman kami telah pergi ke kubur itu dan mendapati, bahwa memang benar yang dikatakan perempuan-perempuan itu, tetapi Dia tidak mereka lihat.”
25. Lalu Ia berkata kepada mereka: “Hai kamu orang bodoh, betapa lambannya hatimu, sehingga kamu tidak percaya segala sesuatu, yang telah dikatakan para nabi!
26. Bukankah Mesias harus menderita semuanya itu untuk masuk ke dalam kemuliaan-Nya?”
27. Lalu Ia menjelaskan kepada mereka apa yang tertulis tentang Dia dalam seluruh Kitab Suci, mulai dari kitab-kitab Musa dan segala kitab nabi-nabi.
28. Mereka mendekati kampung yang mereka tuju, lalu Ia berbuat seolah-olah hendak meneruskan perjalanan-Nya.
29. Tetapi mereka sangat mendesak-Nya, katanya: “Tinggallah bersama-sama dengan kami, sebab hari telah menjelang malam dan matahari hampir terbenam.” Lalu masuklah Ia untuk tinggal bersama-sama dengan mereka.
30. Waktu Ia duduk makan dengan mereka, Ia mengambil roti, mengucap berkat, lalu memecah-mecahkannya dan memberikannya kepada mereka.
31. Ketika itu terbukalah mata mereka dan merekapun mengenal Dia, tetapi Ia lenyap dari tengah-tengah mereka.
32. Kata mereka seorang kepada yang lain: “Bukankah hati kita berkobar-kobar, ketika Ia berbicara dengan kita di tengah jalan dan ketika Ia menerangkan Kitab Suci kepada kita?”
33. Lalu bangunlah mereka dan terus kembali ke Yerusalem. Di situ mereka mendapati kesebelas murid itu. Mereka sedang berkumpul bersama-sama dengan teman-teman mereka.
34. Kata mereka itu: “Sesungguhnya Tuhan telah bangkit dan telah menampakkan diri kepada Simon.”

III. Telaah Lukas 24:13-35

a. Ayat 13-14: Perjalanan dua murid ke Emaus dan perjumpaan mereka dengan Yesus. Di bagian ini diceritakan tentang perjalanan dua murid dari Yerusalem ke Emaus, yang terletak tujuh mil (60 furlongs) dari Yerusalem. (lih. ay.13) Lokasi Emaus sekarang ini masih menjadi perdebatan. Dari beberapa alternatif, maka ada tiga kemungkinan yang terbaik, yaitu: Amwas (Nicopolis) – sekitar 20 mil bagian Barat dari Yerusalem; Koliniyeh, sekitar 5 mil dari Yerusalem; dan El Kubeibeh, sekitar 7 mil.

Perjalanan ini dilakukan pada hari pertama dalam minggu, atau pada hari Minggu, yaitu setelah terjadi penampakan dan tersebarnya berita bahwa kubur Yesus telah kosong (lih. Luk 24:1-12). Dalam perjalanan, mereka bercakap-cakap tentang berita kesedihan mereka akan Kristus yang wafat dan kabar akan kebangkitan Kristus. Salah satu dari murid ini bernama Kleopas. (ay.18) Helecas, uskup Caesarea, mengikuti apa yang dikatakan oleh St. Hieronimus (St. Jerome), memberikan penjelasan bahwa Kleopas adalah saudara dari St. Yosef – suami dari Bunda Maria. St. Ambrosius mengatakan bahwa dua orang murid tersebut bernama Ammaon dan Kleopas.

Tradisi menceritakan Kleopas akhirnya meninggal sebagai martir karena mempertahankan imannya akan Kristus yang menderita, wafat, bangkit dan naik ke Sorga. Diceritakan bahwa dia dibunuh di rumah tempat dia menjamu Yesus. Murid yang lain juga tidak diketahui identitasnya secara persis – ada yang mengatakan itu adalah Petrus, namun ada yang mengatakan Lukas.

b. Ayat 15-31: Tahapan pengalaman akan Kristus:

1. Ayat 15-16: Mereka tidak mengenali Yesus. Ketika dalam perjalanan inilah, Yesus berjalan dengan mereka, namun mereka tidak mengenalinya. Dikatakan bahwa ada yang menghalangi mata mereka.

2. Ayat 17-27: Percakapan mereka dengan Yesus. Yesus memulai percakapan dengan dua murid ini dengan bertanya apakah yang mereka percakapkan. Dan dengan kesedihan mendalam, mereka menceritakan akan Yesus, yang dianggap seorang nabi, yang tadinya diharapkan datang untuk membebaskan bangsa Israel. Namun, akhirnya imam-imam kepada menyerahkan Yesus ke penguasa dan Dia dihukum mati. Kemudian, para perempuan – yang adalah Maria Magdalena, Yohana, dan Maria ibu Yakobus (lih. Luk 24:10; Yoh 20:1) – memberitahukan bahwa mereka melihat kubur kosong dan ada malaikat yang memberitahu bahwa Yesus hidup. Untuk membuktikan kesaksian ini, maka teman mereka – yaitu Petrus dan Yohanes membuktikan dengan mata kepala mereka sendiri bahwa kubur memang kosong (lih. Luk 24:12; Yoh 20:3-10). Setelah menceritakan semua ini, maka kemudian, Yesus memberikan pengajaran bahwa kesengsaraan, wafat dan kebangkitan-Nya telah dinubuatkan oleh para nabi, mulai dari kitab Musa dan para nabi. Dan dikatakan bahwa hati mereka berkobar-kobar mendengar penjelasan Yesus (ay.32). Namun, mereka masih belum mengenali bahwa yang menerangkan kepada mereka adalah Yesus sendiri.

3. Ayat 28-29: Tinggallah bersama kami. Karena percakapan dengan Yesus membuat hati mereka berkobar-kobar dan hari telah menjelang malam, maka mereka meminta Yesus untuk tinggal bersama dengan mereka, ketika mereka sampai di kampung itu – dan kemungkinan di rumah Kleopas.

4. Ayat 30-32: Mengenali Yesus pada saat Yesus memecah roti. Dan ketika mereka duduk makan, maka Yesus mengambil roti, mengucap berkat, dan memecah-mecahkannya dan memberikannya kepada mereka. Dan pada saat itulah, maka dua orang murid ini akhirnya mengenali Yesus. Namun, kemudian Yesus lenyap dari antara mereka. Dan merekapun menyadari bahwa hati mereka telah berkobar-kobar pada saat Yesus menerangkan Kitab Suci kepada mereka.

e. 33-35: Yang dilakukan oleh para murid setelah mengenali Yesus. Setelah mendapatkan pengalaman bersama Yesus, maka kedua murid bergegas kembali ke Yerusalem hendak menceritakan kabar sukacita ini kepada para rasul. Ketika mereka bertemu dengan para rasul, ternyata mereka juga mengalami penampakan Yesus yang bangkit, serta menegaskan bahwa Yesus juga telah menampakkan diri kepada Petrus. Dan dua orang murid itu juga menceritakan pengalaman mereka yang mengenali Yesus ketika Yesus memecah-mecah roti. Dan pengalaman ini semakin menguatkan mereka semua, bahwa Kristus memang telah bangkit.

IV. Tafsir Lukas 24:13-35

a. 13-14: Perjalanan ke Emaus, perjalanan iman.

Pada hari pertama dalam Minggu atau juga hari Minggu, tersiar kabar di seluruh negeri bahwa kubur Kristus telah kosong. Cerita tentang kubur yang kosong, dimulai oleh Maria Magdala, Yohana dan Maria ibu Yakobus (lih. Luk 24:10) yang melihat dua malaikat yang mengatakan bahwa Kristus telah bangkit seperti yang telah difirmankan-Nya. (lih. Luk 24:6-7) Mendengar berita ini, Petrus berlari ke kubur (lih. Luk 24:12; Yoh 20:3-10 menceritakan Petrus dan Yohanes) untuk membuktikan apakah berita yang dibawa oleh perempuan-perempuan tersebut adalah benar. Dan ternyata memang kubur telah kosong dan Petrus bertanya-tanya dalam hatinya apa yang sebenarnya terjadi.

Dalam situasi inilah, dua orang murid, yang salah satunya bernama bernama Kleopas berjalan dari Yerusalem menuju Emaus (lih. ay.13,18). Kedua murid ini melakukan perjalanan yang dipenuhi oleh banyak pertanyaan dan kesedihan. Walaupun mereka telah mendengar bahwa kubur Kristus kosong, namun mereka masih tidak percaya bahwa Kristus telah bangkit. Hati mereka juga berat karena iman mereka akan Kristus seolah-olah menjadi sia-sia. Ini juga merupakan perjalanan iman kita, yang sering diwarnai oleh keputusasaan dan kesedihan akan masalah dan penderitaan yang kita alami. Kadang kita juga sering meragukan iman kita, karena ketidakmengertian kita.

b. Ayat 15-31: Perjumpaan dengan Kristus:

Kristus memang setiap saat hadir dan menemani kita dalam perjalanan kehidupan kita. Namun, secara khusus, Kristus hadir dalam perayaan Ekaristi Kudus. Inilah sebabnya, dalam surat apostolik “Mane Nobiscum Domine“, Yang Terberkati Paus Yohanes Paulus II, mengupas Ekaristi dan menghubungkannya dengan perjalanan dua orang murid ke Emaus. Dapat dikatakan bahwa perjalanan dua orang murid ini menguak misteri Ekaristi, memberikan penegasan akan apa yang terjadi pada Perjamuan Terakhir, serta memberikan gambaran akan bentuk liturgi Ekaristi yang dilakukan Gereja sampai sekarang.

1. Ayat 15-16: Mereka tidak mengenali Yesus yang berjalan bersama mereka.

Dikatakan, bahwa ketika dalam perjalanan, ke dua orang murid bercakap-cakap tentang segala sesuatu yang telah terjadi. Dan dalam kesedihan inilah, datanglah Yesus mendekati mereka. Dan bahkan dikatakan bahwa Kristus berjalan bersama dengan mereka. (ay.15) Sungguh suatu ayat yang dapat memberikan kekuatan kepada kita. Ternyata, kita tidak pernah berjalan sendiri dalam kehidupan dan terutama dalam kesedihan kita. Kristus memenuhi janji-Nya, yaitu “Aku menyertai kamu senantiasa sampai akhir zaman” (Mat 28:20)

Sama seperti dua orang murid tidak mengenali Yesus yang berjalan bersama mereka (ay.16), sering kita tidak mengenali Kristus yang hadir dalam perjalanan hidup kita. St. Gregorius mengatakan bahwa hati mereka dipenuhi dengan kasih akan Kristus, namun pada saat yang bersamaan mereka juga menaruh keraguan akan Kristus. ((St. Gregory, hom. 23 in Evang.)) Itulah sebabnya, ada yang menutupi mata akal budi dan hati mereka. Mereka melihat ada orang bersama-sama dengan mereka, namun, karena keraguan mereka, mereka tidak dapat mengenali bahwa orang itu adalah Yesus. Alasan yang lain adalah karena Kristus hadir dalam tubuh yang dimuliakan, sehingga sulit bagi dua orang murid mengenali Kristus, sama seperti Maria Magdalena tidak mengenali Yesus (lih. Yoh 20:14). Beberapa alasan mengapa Kristus membiarkan dua orang murid tidak mengenali-Nya pada awal perjalanan mereka dipaparkan oleh Cornelius A. Lapide adalah sebagai berikut:

(a). Kristus dan malaikat menampakkan diri kepada manusia sesuai dengan kondisi orang yang diberi penampakan. Karena mereka berdua dalam perjalanan, maka Kristus menampakkan diri sebagai pejalan kaki. Dan karena mereka mempunyai keraguan di dalam hati mereka, maka Kristus menjadi seorang asing bagi mereka.

(b) Kristus tidak ingin membuat dua orang murid ini dikuasai oleh penampakan yang seperti novel. Kristus tidak menginginkan bahwa penampakan ini menjadi seperti penampakan yang tidak meninggalkan kesan yang mendalam, bahkan mungkin hanya menganggap bahwa yang menampakkan diri kepada mereka adalah hantu. Dengan memberikan kesempatan kepada mereka untuk bercakap-cakap dengan Yesus, maka mereka tidak akan meragukan lagi bahwa Kristus telah bangkit.

(c) Memberikan kesempatan kepada dua orang murid untuk menumpahkan kesedihan dan keraguan mereka. Dengan bercakap-cakap dengan Kristus yang tidak dikenali mereka, maka mereka mempunyai kesempatan untuk menumpahkan segala kepedihan hati mereka, serta keraguan mereka.

(d) Mengajarkan bahwa kita sedang dalam perjalanan ke Sorga. Penampakan Kristus ini mengajarkan kita semua bahwa kita juga sedang dalam perjalanan ke Sorga. Dalam perjalanan ini, Kristus senantiasa hadir dalam setiap langkah kehidupan kita, mendampingi kita dalam setiap kesulitan kita, sehingga kita dapat sampai ke dalam Kerajaan Sorga.

Kedua murid ini hanya bercakap-cakap satu sama lain, mengungkapkan kepedihan hati mereka, namun mereka tidak mengundang Kristus dalam percakapan mereka. Pada saat itu, fokus mereka adalah pada diri mereka sendiri. Namun, sekalipun mereka tidak mengundang Kristus, namun Kristus mau hadir dan berjalan bersama dengan mereka. Kristus tidak pernah meninggalkan kita bahkan turut menemani kita di saat-saat sulit dalam kehidupan kita, sama seperti Kristus turut menemani perjalanan dua orang murid. Selama kita membicarakan tentang Kristus dengan hati yang tulus, maka Kristus hadir. Walaupun kita sering tidak mengerti apa yang diinginkan Kristus, namun kalau kita terus bergelut untuk terus mendalami pribadi Kristus, maka Dia pasti hadir. Kristus menegaskannya, dengan mengatakan “Sebab di mana dua atau tiga orang berkumpul dalam Nama-Ku, di situ Aku ada di tengah-tengah mereka.” (Mat 18:20)

Dari sini, kita dapat melihat, bahwa Allah senantiasa menjadi penggerak utama dalam terjadinya pembaharuan. Jadi, jangan heran, kalau sering dalam kesedihan dan kemalasan kita untuk pergi ke Ekaristi Kudus, Roh Kristus sendiri memberikan inspirasi ke dalam hati kita untuk tetap pergi ke gereja. Kita mungkin tidak mengenali dorongan Roh Allah ini, namun inspirasi yang membuat kita dapat berpartisipasi dalam Ekaristi adalah sungguh berasal dari Roh Allah sendiri, sama seperti dalam perumpamaan-Nya, Tuhan mengundang semua orang, dari yang jahat sampai yang baik (lih. Mat 22:9-10). Tuhan telah mempersiapkan Perjamuan suci dan semuanya telah tersedia (lih. Mt 22:4).

2. Ayat 17-27: Percakapan mereka dengan Yesus.

Pada saat kita hadir di dalam Perayaan Ekaristi, maka kita mengalami percakapan dengan Yesus sendiri. Percakapan ini menjadi penuh makna, kalau kita tidak berfokus pada diri sendiri, namun berfokus pada Kristus. Namun, sebaliknya, Kristus tidak pernah mengabaikan permasalahan dan kesedihan yang kita hadapi. Dia bertanya “Apakah yang kamu percakapkan sementara kamu berjalan?” (ay.17). Dalam setiap perayaan Ekaristi, ternyata Kristus memperbolehkan kita untuk membawa setiap permasalahan kita. Kita dapat menceritakan kesedihan kita, sama seperti kedua orang murid ini menceritakan kegalauan dan ketidakmengertian mereka akan Kristus (ay. 18-24).

Dua orang murid tersebut menceritakan tentang Yesus orang Nasaret, yang mereka anggap sebagai nabi yang berkuasa dalam perkataan dan perbuatan di hadapan Allah dan manusia, namun akhirnya menderita dan wafat. (ay.19-20) Dan dengan wafatnya Yesus, maka harapan mereka akan Mesias yang dianggap akan membebaskan bangsa Israel dari penjajahan bangsa Roma menjadi runtuh (ay.21) Namun, mereka juga dikejutkan oleh cerita dari perempuan-perempuan yang pada hari pertama dalam minggu mendapatkan kubur telah kosong dan mereka melihat malaikat-malaikat yang mengatakan bahwa Yesus hidup. Bahkan beberapa rasul telah mengecek kebenaran cerita ini, dan memang benar apa yang diceritakan oleh perempuan-perempuan itu. (ay.22-24)

Cerita dari perempuan-perempuan akan kubur yang kosong dan apa yang dikatakan oleh Malaikat bahwa Kristus hidup tidaklah mereka anggap. Bahkan konfirmasi dari para rasul bahwa kubur memang kosong juga mereka ragukan. Mereka tidak mendapatkan terang dari kesaksian ini, karena satu hal, yaitu karena ada sesuatu yang menghalangi mata mereka, yaitu karena mereka berfokus pada diri sendiri. Mereka tidak dapat melihat terang, karena mereka dikuasai kegelapan diri sendiri. Mereka hanya dapat melihat terang kalau mereka masuk dalam misteri Ekaristi, karena dalam Ekaristi ada Sang Terang sendiri. Bagaimana Kristus hadir dalam setiap perayaan Ekaristi? Pertanyaan ini dapat kita jawab dengan baik, kalau kita sendiri mengerti esensi dari Ekaristi.

Esensi dari Ekaristi:

Ekaristi disebut sebagai sumber dan puncak kehidupan Kristiani (LG, 11) karena di dalamnya terkandung seluruh kekayaan rohani Gereja, yaitu Kristus sendiri (KGK 1324). Pada perjamuan terakhir, pada malam sebelum sengsara-Nya, Kristus menetapkan Ekaristi sebagai tanda kenangan yang dipercayakan oleh Kristus kepada mempelai-Nya yaitu Gereja (KGK 1324). Kenangan ini berupa kenangan akan wafat dan kebangkitan Kristus yang disebut sebagai Misteri Paska, yang menjadi puncak kasih Allah yang membawa kita kepada keselamatan (KGK 1067). Keutamaan Misteri Paska dalam rencana Keselamatan Allah mengakibatkan keutamaan Ekaristi, yang menghadirkan Misteri Paska tersebut, di dalam kehidupan Gereja (KGK 1085).

Gereja Katolik mengajarkan bahwa kurban salib Kristus terjadi hanya sekali untuk selama-lamanya (Ibr 9:28). Kristus tidak disalibkan kembali di dalam setiap Misa Kudus, tetapi kurban yang satu dan sama itu dihadirkan kembali oleh kuasa Roh Kudus (KGK 1366). Hal itu dimungkinkan karena Yesus yang mengurbankan Diri adalah Tuhan yang tidak terbatas oleh waktu dan kematian. Kristus telah mengalahkan maut, karenanya Misteri Paska-Nya tidak hanya terbenam sebagai masa lampau, tetapi dapat dihadirkan di masa sekarang (KGK 1085). Karena bagi Tuhan, segala waktu adalah ’saat ini’, sehingga masa lampau maupun yang akan datang terjadi sebagai ’saat ini’. Dan kejadian Misteri Paska sebagai ’saat ini’ itulah yang dihadirkan kembali di dalam Ekaristi, dengan cara yang berbeda, yaitu secara sakramental. Dengan demikian, Ekaristi menjadi kenangan hidup akan Misteri Paska dan akan segala karya agung yang telah dilakukan oleh Tuhan kepada umat-Nya, dan sekaligus harapan nyata untuk Perjamuan surgawi di kehidupan kekal (lih. KGK 1362,1364,1340,1402,1405).

Dari pengertian Ekaristi di atas, maka menjadi jelas, bahwa karena Kristus sendiri hadir – bukan hanya karena Dia Tuhan, sehingga Dia dapat hadir dalam segala sesuatu, namun Dia hadir secara istimewa (par-excellence), yaitu dalam Tubuh, Darah, jiwa dan ke-Allahan-Nya – dalam setiap perayaan Ekaristi. ((lih. Paus Yohanes Paulus II, Mane Nobiscum Domine, 16; Encyclical Letter Mysterium Fidei (September 3, 1965), 39: AAS 57 (1965), 764; Sacred Congregation of Rites, Instruction Eucharisticum Mysterium On the Worship of the Eucharistic Mistery (May 25, 1967), 9: AAS 59 (1967), 547.)) Katekismus Gereja Katolik (KGK, 1374) menuliskan:

Cara kehadiran Kristus dalam rupa Ekaristi bersifat khas. Kehadiran itu meninggikan Ekaristi di atas semua Sakramen, sehingga ia “seakan-akan sebagai penyempurnaan kehidupan rohani dan tujuan semua Sakramen” (Tomas Aqu., s.th. 3,73,3). Dalam Sakramen Ekaristi mahakudus, tercakuplah “dengan sesungguhnya, secara real dan substansial tubuh dan darah bersama dengan jiwa dan ke-Allahan Tuhan kita Yesus Kristus dan dengan demikian seluruh Kristus” (Konsili Trente: DS 1651). “Bukan secara eksklusif kehadiran ini disebut “real”, seakan-akan yang lain tidak “real”, melainkan secara komparatif ia diutamakan, karena ia bersifat substansial; karena di dalamnya hadirlah Kristus yang utuh, Allah dan manusia” ( Mysterium Fidei 39).

Bagaimana kita menyebut Ekaristi?

Ekaristi berasal dari kata ‘eucharistein‘ yang artinya ucapan terima kasih kepada Allah (KGK 1328). Ekaristi adalah kurban pujian dan syukur kepada Allah Bapa, di mana Gereja menyatakan terima kasihnya kepada Allah Bapa untuk segala kebaikan-Nya di dalam segala sesuatu: untuk penciptaan, penebusan oleh Kristus, dan pengudusan. Kurban pujian ini dinaikkan oleh Gereja kepada Bapa melalui Kristus: oleh Kristus, bersama Dia dan untuk diterima di dalam Dia. (KGK 1359-1361)

Ekaristi adalah Perjamuan Tuhan, yang memperingati perjamuan malam yang diadakan oleh Kristus bersama dengan murid-murid-Nya. Perjamuan ini juga merupakan antisipasi perjamuan pernikahan Anak Domba di surga (KGK 1329).

Ekaristi adalah kenangan akan kesengsaraan dan kebangkitan Tuhan (KGK 1330). Ekaristi diadakan untuk memenuhi perintah Yesus untuk merayakan kenangan akan hidup-Nya, kematian-Nya, kebangkitan-Nya dan akan pembelaan-Nya bagi kita di depan Allah Bapa (KGK 1341).

Ekaristi adalah Kurban kudus, karena ia menghadirkan kurban tunggal Yesus, dan juga kurban penyerahan diri Gereja yang mengambil bagian dalam kurban Yesus, Kepalanya (KGK 1330, 1368). Sebagai kenangan Paska Kristus, Ekaristi menghadirkan dan mempersembahkan secara sakramental kurban Kristus satu-satunya dalam liturgi Gereja (KGK 1362, 1365). Ekaristi menghadirkan kurban salib dan memberikan buah-buahnya yaitu pengampunan dosa (KGK 1366).

Ekaristi adalah Komuni kudus, karena di dalam sakramen ini kita menerima Kristus sendiri (KGK 1382) dan dengan demikian kita menyatukan diri dengan Kristus, yang mengundang kita mengambil bagian di dalam Tubuh dan Darah-Nya, supaya kita membentuk satu Tubuh dengan-Nya (KGK 1331).

Ekaristi dikenal juga dengan Misa kudus, karena perayaan misteri keselamatan ini berakhir dengan pengutusan umat beriman (missio) supaya mereka melaksanakan kehendak Allah dalam kehidupan sehari-hari.

Ekaristi sebagai misteri Terang

Dalam kaitannya dengan perjalanan di Emaus, Paus Yohanes Paulus II mengatakan bahwa Ekaristi juga merupakan misteri Terang. Hal ini berkaitan dengan ayat Luk 24:25-27, dimana Yesus menegur mereka karena tidak percaya akan apa yang telah dinubuatkan para nabi, bahwa Mesias harus menderita sengsara sebelum masuk dalam kemuliaan-Nya. Dan bagaimana Yesus menjelaskan ini semua? Yaitu dengan menerangkannya dari apa yang tertulis dalam Kitab Suci, mulai dari kitab-kitab Musa dan juga kitab nabi-nabi yang lain. (aya.27) Dengan kata lain, Yesus menerangkan kepada dua orang murid, bahwa kitab nabi-nabi, mulai dari awal telah memberikan gambaran dan nubuat akan Mesias, yang memang harus menderita dan wafat, namun akan bangkit. Inilah yang juga senantiasa disenandungkan dalam mysterium fidei atau pernyataan iman, yaitu “Wafat Kristus kita maklumkan, kebangkitan-Nya kita muliakan, kedatangan-Nya kita rindukan.” Wafat dan kebangkitan-Nya bukan lagi sebagai gambaran atau nubuat, namun telah menjadi kenyataan dan terekam dalam sejarah manusia. Dan kedatangan-Nya terekam dalam janji-Nya kepada umat Allah. Dengan demikian, misteri iman kita bukan merujuk pada buku, namun pada Pribadi, yaitu Kristus sendiri.

Kristus menggambarkan Diri-Nya sebagai “Terang Dunia” (lih. Yoh 8:12). Kristus sebagai Terang Dunia diperkuat dengan mukjizat kesembuhan orang buta, sehingga yang tadinya tidak melihat apa-apa menjadi melihat terang. (lih. Yoh 9:1-41) Silakan melihat ulasan tentang perikop ini di sini – silakan klik. Namun, lebih dari pada mukjizat ini, Kristus menyatakan bahwa diri-Nya terang adalah dalam peristiwa Transfigurasi. (lih. Mat 17:1-9) Silakan melihat ulasannya di sini – klik ini. Dan kemudian pernyataan bahwa Diri-Nya adalah Terang Dunia dimateraikan dengan kebangkitan-Nya, yang mengalahkan kegelapan maut. Terang inilah yang sebenarnya tersembunyi dalam setiap perayaan Ekaristi, yang terus kita nyatakan dalam mysterium fidei. Terang yang tersembunyi ini, dinyatakan secara lebih jelas dan nyata dalam setiap perayaan Ekaristi.

Dua meja dalam perayaan Ekaristi

Ada dua meja dalam setiap perayaan Ekaristi, yaitu meja Sabda dan meja Roti atau meja Ekaristi. Dua meja ini mencoba menguak misteri iman dan membuat misteri iman ini dialami oleh umat Allah secara nyata, bahkan membuat umat Allah bersatu dengan Kristus sendiri. Dalam hubungan antara keduanya, St. Agustinus mengatakan bahwa Sabda sebagai sacramentum audibile (sakramen yang terdengar) dan sakramen sebagai verbum visibile (sabda yang terlihat).

Katekismus Gereja Katolik menerangkannya sebagai berikut:

KGK,1346 “Perayaan Ekaristi berlangsung sesuai dengan kerangka dasar yang sepanjang sejarah tetap sama hingga sekarang. Ia terbentuk dari dua bagian besar, yang pada hakikatnya merupakan satu kesatuan:
– Perkumpulan ibadat Sabda dengan bacaan-bacaan, homili, dan doa umat;
– upacara Ekaristi dengan persembahan roti dan anggur, yang konsekrasinya terjadi dalam ucapan syukur (ekaristi), dan komuni. Ibadat Sabda dan upacara Ekaristi merupakan “satu tindakan ibadat” (Sacrosanctum Concilium, 56). Meja, yang disiapkan untuk kita dalam Ekaristi adalah sekaligus meja Sabda Allah dan meja Tubuh Kristus (Bdk. DV 21.)”

Bagian pertama atau meja Sabda atau Ibadat Sabda inilah yang dialami oleh dua murid yang berjalan ke Emaus, dengan Kristus sendiri yang menguak misteri Sabda. Dengan demikian, fokus dari ibadah Sabda adalah Kristus sendiri. Jadi, apapun yang dilakukan oleh seorang imam di dalam Meja Sabda harus berfokus pada Kristus dan semakin membuat Pribadi Kristus lebih diketahui dan dikasihi oleh umat Allah. Proklamasi dari Sabda Allah (dari Perjanjian Lama, Mazmur, Surat-surat dan Injil) dan homili seharusnya dapat membuat hati umat Allah berkobar, sehingga dapat mengusir kegelapan kegalauan hati, kepedihan dan mengobarkan hati mereka sehingga mempunyai keinginan seperti dua orang murid, yang kemudian mengatakan “Tinggallah bersama kami, ya Tuhan” ((Mane Nobiscum Domine, 15)) – sehingga Kristus juga dapat tinggal bersama-sama dengan mereka. (ay.29) Pikiran dua orang murid terbuka dan dan hati mereka menyala oleh kebenaran Sabda Allah.

Dalam prakteknya saat ini, setelah pembukaan, dilanjutkan dengan Liturgi Sabda yang terdiri dari: (1) Bacaan I, (2) Mazmur tanggapan, (3) Bacaan II, (4) Alleluya/bait pengantar Injil, (5) Injil, (6) Aklamasi sesudah Injil, (7) Homili, (8) Syahadat, (9) Doa Umat. Pengaturan bacaan dibagi menjadi dua. Untuk bacaan hari Minggu dan hari raya diberikan 3 bacaan (1 bacaan PL, 1 bacaan PB, 1 Injil), yang dibagi menjadi tahun A, B, C. Tahun C dihitung kalau tahun saat ini dapat dibagi 3. Sebagai contoh, tahun 2010 adalah angka yang dapat dibagi 3, maka tahun 2010 adalah tahun C dan tahun 2011 adalah tahun A. Tahun A mengambil Injil Matius, B Markus ,C Lukas. Injil Yohanes digunakan pada masa-masa Prapaskah dan Paskah, sedangkan Kisah Para Rasul dipakai sebagai bacaan I pada masa Paskah. Sedangkan untuk bacaan Misa Harian, ada dua bacaan, yaitu bacaan I menggunakan tahun I (tahun ganjil, contoh: 2011) dan tahun II (tahun genap). Dan bacaan II (Injil) menggunakan perhitungan: Pekan I-IX adalah Injil Markus, X-XXI – Injil Matius, XXII-XXXIV – Injil Lukas. ((Emanuel Martasudjita, Pr., Pengantar Liturgi: Makna, Sejarah dan Teologi Liturgi, hal.186-188))

3. Ayat 28-29: Tinggallah bersama kami

Dikatakan bahwa dua orang murid ini memohon agar Yesus mau tinggal bersama dengan mereka. Bukan hanya karena hari sudah menjelang malam, namun juga karena hati mereka menyala oleh kebenaran. Dengan kebaikan mereka untuk menerima Yesus di rumah mereka, maka iman mereka dapat dikuatkan dan keraguan mereka dihapuskan. Namun, semangat dan hati mereka yang menyala karena mendengar tentang Kristus yang harus menderita sengsara dan wafat. Ini menjadi suatu kekuatan yang memberikan api pengharapan di dalam hati mereka. Mereka yang tadinya bermuka muram (ay.17) sekarang mempunyai muka yang berpengharapan. Mereka tidak mau melepaskan Yesus.

4. Ayat 30-32: Mengenali Yesus pada saat Yesus memecah roti.

Yesus tidak menolak tawaran mereka. Bahkan Yesus sendiri tidak hanya ingin memberikan kebenaran Sabda kepada mereka, namun Dia ingin memberikan Diri-Nya sendiri. Oleh karena itu dikatakan, “Waktu Ia duduk makan dengan mereka, Ia mengambil roti, mengucap berkat, lalu memecah-mecahkannya dan memberikannya kepada mereka.” (ay.30) Dan pada saat Yesus memecah roti inilah, maka mereka yang sebelumnya disinari dengan Sabda Allah, kemudian dapat mengenali Sang Sabda itu sendiri, yaitu Yesus. Inilah bagian meja atau ibadah Ekaristi. Perkataan atau berkat ini bukanlah satu doa biasa, namun dilakukan secara khusus dengan cara yang khusus, sehingga para murid dapat mengenali Yesus. Inilah perkataan yang sama, yang diucapkan oleh Yesus pada saat Perjamuan Terakhir, yaitu: “Dan ketika mereka sedang makan, Yesus mengambil roti, mengucap berkat, memecah-mecahkannya lalu memberikannya kepada murid-murid-Nya.” (Mat 26:26; Mrk 14:22; Luk 22:19; 1Kor 11:23-24) Formula di atas, kemudian menjadi dasar dari liturgi Ekaristi, yaitu yang terdiri dari:

(a) Mengambil roti atau persembahan. Persembahan ini adalah bagian tahap I dari liturgi Ekaristi, yang terdiri dari: Persiapan persembahan dan doa Persembahan. KGK 1350-1351 menerangkannya sebagai berikut:

KGK, 1350. Persiapan persembahan (offertorium). Orang membawa, kadang-kadang dalam satu prosesi, roti dan anggur ke altar, untuk dipersembahkan imam atas nama Kristus dalam kurban Ekaristi, di mana mereka berubah menjadi tubuh dan darah Kristus. Inilah tindakan Kristus sendiri, yang dalam perjamuan malam terakhir “mengambil roti dan piala”. “Hanya Gereja yang dengan rasa syukur mempersembahkan kepada Pencipta kurban yang murni ini, yang diambil dari ciptaan-Nya” (Ireneus, haer. 4,18,4; Bdk. Mal 1:11.). Penyampaian bahan persembahan di altar mengangkat ke permukaan tindakan Melkisedek dan meletakkan pemberian Pencipta itu ke dalam tangan Kristus. Di dalam kurban-Nya, Yesus menyempurnakan segala usaha manusiawi untuk membawa kurban.

KGK, 1351. Sejak awal, umat Kristen membawa, di samping roti dan anggur untuk Ekaristi, juga sumbangan untuk membantu orang yang memerlukannya. Kebiasaan kolekte (Bdk. 1 Kor 16:1.) Ini digerakkan oleh contoh Kristus, yang menjadi miskin untuk menjadikan kita kaya (Bdk. 2 Kor 8:9.) “Siapa yang mempunyai milik dan kehendak baik, memberi sesuai dengan kemampuannya, apa yang ia kehendaki, dan apa yang dikumpulkan, diserahkan kepada pemimpin. Dengan itu ia membantu yatim piatu dan janda, atau mereka yang karena sakit atau karena salah satu alasan, membutuhkannya, para narapidana dan orang asing yang ada dalam jemaat; singkatnya, ia adalah pemelihara untuk semua orang yang berada dalam kesusahan” (Yustinus, apol. 1,67,6).

(b) Mengucap berkat atau Doa Syukur Agung. Doa Syukur Agung ini terdiri dari dialog pembuka, prefasi dan kudus. Pada bagian ini, dengan kekuatan Roh Kudus, maka misteri Paska Kristus dihadirkan kembali dan dipersembahkan kepada Allah Bapa. Dikatakan di dalam KGK 1352- 1354 sebagai berikut.

KGK, 1352. Anafora. Dengan Doa Syukur Agung, – doa syukur dan doa konsekrasi – kita sampai kepada jantung hati dan puncak perayaan. Di dalam prefasi Gereja berterima kasih kepada Bapa melalui Kristus dalam Roh Kudus untuk segala karya-Nya, untuk penciptaan, penebusan dan pengudusan. Seluruh jemaat menggabungkan diri dalam pujian yang tak henti-hentinya dinyanyikan oleh Gereja surgawi para malaikat dan orang kudus bagi Allah yang tiga kali “kudus”.

1353. Dalam epiklese Gereja memohon kepada Bapa, untuk mengirimkan Roh Kudus-Nya atau “berkat sepenuh-penuhnya” (Bdk. MR, Doa Syukur Agung Romawi 90.) atas roti dan anggur, supaya mereka dengan kekuatan-Nya menjadi tubuh dan darah Yesus Kristus, sehingga mereka yang mengambil bagian dalam Ekaristi menjadi satu tubuh dan satu roh (beberapa liturgi menempatkan epiklese sesudah anamnese). Dalam kata-kata penetapan, kekuatan kata-kata dan tindakan Kristus dan kekuatan Roh Kudus menghadirkan tubuh dan darah Kristus, kurban-Nya di salib yang dipersembahkan-Nya satu kali untuk selamanya, di dalam rupa roti dan anggur.

1354. Dalam anamnese yang menyusul sesudah itu, Gereja mengenangkan sengsara, kebangkitan, dan kedatangan kembali Yesus Kristus dalam kemuliaan; ia menyampaikan kepada Bapa kurban Putera-Nya, yang mendamaikan kita dengan Dia. Dalam doa umat Gereja menyatakan bahwa Ekaristi dirayakan dalam persekutuan dengan seluruh Gereja di surga dan di bumi, Gereja orang hidup dan orang mati, dan dalam persekutuan dengan para pemimpin Gereja, Paus, Uskup diosesan, para imamnya, dan diaken, dan dalam persekutuan dengan semua Uskup di seluruh dunia dan Gereja-gerejanya.

(c) Memecah roti dan memberikannya kepada para murid adalah Komuni. Tahap ini terdiri dari: Bapa Kami, Embolisme, Sebab Engkaulah Raja, Doa Damai, Pemecahan Hosti, Persiapan Komuni, Penerimaan Tubuh (dan Darah) Kristus, Pembersihan (bejana), Saat Hening, Madah Pujian, Doa sesudah Komuni. Inilah saat di mana setiap umat dapat menerima Tubuh dan Darah Kristus, dan sekaligus menjadi tanda persatuan umat beriman. Kesatuan ini adalah kesatuan iman, karena mempercayai Kristus yang menderita, wafat, bangkit dan naik ke Sorga, serta hadir secara istimewa dalam Tubuh, Darah, Jiwa dan Ke-Allahan-Nya dalam rupa roti dan anggur, yang akan disantap bersama-sama.

Setelah Yesus melakukan tiga hal di atas, maka ayat 31 mengatakan “Ketika itu terbukalah mata mereka dan merekapun mengenal Dia, tetapi Ia lenyap dari tengah-tengah mereka.” Ketika mata mereka terbuka, maka Yesus lenyap dari tengah-tengah mereka. Yesus tidak lagi bersama dengan mereka dalam rupa manusia, namun Yesus hadir dalam rupa roti dan anggur. Terang yang seolah-olah bersembunyi dalam rupa roti dan anggur memberikan keberanian kepada umat Allah untuk menyantap-Nya dan menjadi cara agar Kristus dapat bersatu dengan umat-Nya. Dengan cara inilah, terpenuhi janji Kristus yang senantiasa tinggal bersama dengan umat Allah (lih. Mt 28:20). Inilah yang dilakukan oleh Kristus sebelum Dia kembali kepada Bapa, yaitu dengan memberikan Sakramen Ekaristi, yang memungkinkan Dia tinggal di tengah – tengah umat-Nya. Bukan hanya secara eksternal, namun juga bersatu dalam satu daging dan satu darah – persatuan yang tak terpisahkan.

c. 33-35: Yang dilakukan oleh para murid setelah mengenali Yesus.

Setelah dua orang murid itu mengalami Kristus yang bangkit, maka bangunlah mereka dan kemudian kembali ke Yerusalem (ay.33). Dua orang murid yang tadinya bermuram durja dan tidak dapat mengerti karya keselamatan Allah, kemudian menjadi penuh semangat untuk mewartakan Kristus yang bangkit, karena mereka telah mengalami Kristus yang bangkit. Kalau kita melihat berkat perutusan, maka kita dapat menangkap apa yang diharapkan setelah kita mengikuti Misa:

I: Tuhan bersamamu
U: Dan bersama rohmu
I: Semoga karena kebangkitan-Nya, Tuhan Yesus menganugerahkan kegembiraan sejati kepada saudara
U: Amin
I: Semoga Tuhan Yesus menguatkan hati Saudara, agar dapat menolak segala dosa dan senantiasa berjuang untuk hidup baik.
U: Amin
I: Semoga Yesus Kristus, penebus kita, memperkenankan Saudara ikut menikmati kebahagiaan di Surga bersama Dia.
U: Amin
I: Semoga Saudara sekalian dilindungi dan dibimbing oleh berkat Allah yang mahakuasa, Bapa dan Putera dan Roh Kudus.
U: Amin
I: Marilah pergi, kita diutus
U: Syukur kepada Allah.

Dari doa di atas, kita dapat melihat bahwa semua orang yang berpartisipasi dalam Ekaristi harus mengalami Kristus yang bangkit, yang memberikan kegembiraan sejati kepada kita semua. Seorang Katolik harus mempunyai kegembiraan atau sukacita, walaupun mungkin mengalami banyak masalah dan penderitaan. Bagaimana ini mungkin? Karena Kristus sendiri memberikan kekuatan kepada kita. Dan hanya dengan Kristuslah, kita dapat menolak segala dosa dan berjuang dalam kekudusan, sampai akhir hidup kita, sehingga pada saatnya nanti kita diperkenankan untuk menikmati kebahagiaan sejati di Sorga bersama dengan Tuhan dan para kudus-Nya.

Dalam perjalanan menuju ke Sorga inilah, maka kita memerlukan rahmat Tuhan, agar kita dapat setia terhadap panggilan kita, yaitu panggilan untuk mewartakan Kristus. Untuk itulah kita semua diutus, sama seperti dua orang murid yang langsung bangkit berdiri dan kemudian pergi ke Yerusalem. Setelah Misa, kita juga harus bangkit dan mempunyai semangat yang berkobar-kobar untuk mewartakan Kristus. Kita harus meniru teladan Bunda Maria. Setelah menerima Kristus di dalam kandungannya, maka Bunda Maria kemudian pergi ke rumah saudaranya, Elisabet untuk membantunya. Dengan semangat yang sama, setelah kita menerima Kristus dalam tubuh kita, maka kita juga diutus untuk pergi ke keluarga dan komunitas kita, sehingga kita dapat mewartakan kabar gembira.

V. Kristus telah bangkit dan kita diutus

Dari pemaparan di atas, kita dapat melihat bahwa perjalanan dua orang murid ke Emaus memberikan gambaran akan liturgi Ekaristi yang dilakukan oleh Gereja Katolik. Dan ibadah yang sama juga menjalankan apa yang diperintahkan Yesus pada saat Perjamuan Terakhir. Dengan demikian, terlihat dengan jelas bahwa Liturgi Ekaristi benar-benar Alkitabiah. Liturgi Ekaristi yang terdiri dari Ibadah Sabda dan Ibadah Ekaristi, memberikan kesempatan kepada umat Allah untuk bertemu dengan Sang Terang, yaitu Kristus, dengan pendengaran kita (lewat Sabda) dan dengan penglihatan dan juga panca indera kita (lewat Ekaristi). Bersatu dengan Kristus dalam Ekaristi seharusnya membuat seseorang dipenuhi dengan semangat untuk mewartakan kabar gembira. Bergembiralah… sebab Kristus telah bangkit!

Sabar kepada orang tua

34

Pertanyaan:

saya sbg anak seringkali merasa bersalah pd ortu apabila tdk menurut. apalagi di atas dituliskan bahwa orang makin manula makin sensitif, artinya kita yg msh muda sdh seharusnya pahami itu dan menyenangkan hati mereka.

nah, sy mempunyai masalah, apabila ortu datang dan nginep di rumah kami (sy tinggal bersama suami dan 2 anak), ada kalanya mereka melakukan hal yg bagi mereka nggak masalah tetapi bagi saya masalah. dan itu sgt mendongkolkan hati saya krn sy nggak bisa menegor mrk (lagi2 berurusan dg org tua berbicara, anak mendengar di negara kita), akibatnya emosi saya nggak terbuang dan ngrumpel di dalam batin.

apalagi jika mrk hny nginep 3-4 hr. trus pulang, ntar 3-4 hr kmdn datang dan nginep lagi. kan rasae lbh baik menahan diri daripada emosi kpd ortu, toh mrk juga akan pulang (meskipun ya dtg lagi).

contoh : tadi pagi papa mencuci gabus tempat ikan , dia mencari2 spon dan nemu di kamar mandi, lalu dipake.
saya kaget dan langsung negor “Pa, itu buat mandi lo!”.
Dan respon papa : menganggap teguranku enteng, terus menyuci dan bilang “yo wis………. yg ini gak usah dipake mandi, yg satunya aja.” dan sy jd mendongkoooool skali.

Hal papa sering meremehkan sy sering skali, jd sy sampe merasa jd anak durhaka (dikarenakan persaan bersalah krn mendongkol pd ortu).

Meski kdg sy merenung jauh, mgkn papa gak terlalu menganggap omonganku mgkn juga akibat aku krg respon dg kata2nya juga (sebabnya Bliau spt kebykan ortu lain, selalu bicara dan bicara tapi jarang mau pakai telinga buat anaknya). Namun, pikiran yg sehat ini nggak bisa nancep di hati. aku slalu dongkol dan emosiku meningkat beberapa kali dalam sehari. ini melelahkan jiwaku.

Mohon tanggapan bgmn sy bisa menjd anak yg bisa menjd teladan bagi anak2 saya.

Trimakasih. Gbu

Martina

Jawaban:

Shalom Martina,

Saya kurang lebih memahami pengalaman anda, ketika saya membayangkan seandainya saya berada di posisi anda. Namun mungkin, ada baiknya jika kita menghadapi kejadian ini kita ‘mundur sejenak’ dan melihat kejadian ini dari sudut pandang yang berbeda. Sebab mungkin saja, kita bersikap demikian karena ketentuan- ketentuan yang kita buat dan kita ketahui sendiri, namun ketentuan ini begitu ‘asing’ bagi orang tua kita. Buat dia tidak ada bedanya antara spon untuk mandi dan spon untuk mencuci piring (mungkin di jamannya, dia tidak tahu/ mempedulikan hal ini) sehingga dia tidak habis mengerti mengapa soal spon saja kok dipermasalahkan.

Kemungkinan hal kini bisa terjadi dalam hal- hal lainnya, sehingga jika ditinjau dengan cara berpikir anda, maka memang bisa terkesan ‘mengesalkan’ tetapi jika ditunjau dari sisi papa anda, maka dia tidak mudeng/ paham, anehnya di mana. Maka jika anda kurang berusaha untuk memahami cara pandangnya, maka besar kemungkinan anda akan kesal terus. Tetapi jika anda berusaha memahaminya, maka anda bisa hidup lebih damai, dan bahkan berterima kasih atas pengalaman- pengalaman anda bersamanya:

1. Pertama- tama, kita harus menganggap bahwa berbakti kepada orang tua di masa tua mereka sebagai jalan bagi Tuhan untuk menguduskan kita. Mengapa? Karena dengan demikian kita dilatih untuk bersabar, bermurah hati, membawa kedamaian di rumah tangga kita. Khotbah di bukit/ Delapan Sabda Bahagia dalam Injil Matius (Mat 5:3-12) mengingatkan kita bahwa jika kita mempunyai sikap- sikap demikian, maka kita tidak jauh dari Kerajaan Allah. Jangan kita lupa ciri utama dari kasih adalah sabar (lih. 1 Kor 13:4). Bisa jadi Tuhan mengijinkan hal itu terjadi untuk membentuk anda agar menjadi pribadi yang lebih menyerupai Dia, yaitu “sabar dalam menanggung segala sesuatu” (1 Kor 13:8). Sebab bisa jadi pula, saat kelak anda sampai ke Kerajaan Surga, Tuhan Yesus tersenyum pada anda dan mengatakan, “Martina, mari masuklah dalam Kerajaan-Ku, …. engkau telah menunjukkan kasihmu kepada-Ku, antara lain karena engkau telah bersabar terhadap papa saat ia salah menggunakan spon…. Ketahuilah sikap itu Kau nyatakan kepada-Ku.” (lih. Mat 25:40).

2. Secara umum, kita harus menempatkan hubungan dengan manusia lebih tinggi daripada harga barang. Jadi misalnya, jangan sampai kita bertengkar dengan orang yang kita kasihi jika ia tidak dengan sengaja merusak barang milik kita. Hubungan kasih kita dengannya lebih tinggi nilainya daripada benda- benda mati. Dalam contoh anda, maka hubungan kasih anda dengan papa jauh lebih berharga daripada spon. Anda dapat membeli lebih banyak spon, bahkan dapat membelikan spon khusus buat papa anda, jika ini dapat membuat semua pihak merasa lebih damai.

3. Kita harus menganggap bahwa kesempatan kita berbakti dan menerima kekurangan orang tua kita, sebagai kesempatan kita membalas budi orang tua kita. Kita selayaknya mengingat bahwa tanpa mereka kita tidak bisa menjadi seperti sekarang ini. Merekalah yang telah membanting tulang, berkorban untuk membesarkan kita, sekarang giliran kita untuk membalas kebaikan dan pengorbanan mereka.

4. Kitab Sirakh mengajarkan kepada kita tentang penghormatan dan kewajiban anak terhadap orang tua, yaitu kitab Sirakh 3. Berikut ini sekilas kutipannya:

“Barangsiapa menghormati bapanya, ia sendiri akan mendapat kesukaan pada anak-anaknya pula, dan apabila bersembahyang, niscaya doanya dikabulkan. Barangsiapa menghormati bapanya, ia sendiri akan mendapat kesukaan pada anak-anaknya pula, dan apabila bersembahyang, niscaya doanya dikabulkan serta melayani orang tuanya sebagai majikannya. Anakku, hormatilah bapamu, baik dengan perkataan maupun dengan perbuatan, supaya berkat dari padanya turun atas dirimu…. Anakku, tolonglah bapamu pada masa tuanya, jangan menyakiti hatinya di masa hidupnya. Pun pula kalau akalnya sudah berkurang hendaklah kaumaafkan, jangan menistakannya sewaktu engkau masih berdaya. Kebaikan yang ditunjukkan kepada bapa tidak sampai terlupa, melainkan dibilang sebagai pemulihan segala dosamu. Pada masa pencobaan engkau akan diingat oleh Tuhan, maka dosamu lenyap seperti air beku yang kena matahari. Serupa penghujat barangsiapa meninggalkan bapanya, dan terkutuklah oleh Tuhan orang yang mengerasi ibunya. Lakukanlah pekerjaanmu dengan sopan, ya anakku, maka engkau akan lebih disayangi dari pada orang yang ramah-tamah. Makin besar engkau, makin patut kaurendahkan dirimu, supaya kaudapat karunia di hadapan Tuhan.” (Sir 3:3-8; 12-18)

5. Maka Sabda Tuhan ini mengajarkan kepada kita untuk menghormati orang tua dan sabar terhadap mereka, apapun sikap mereka terhadap kita. Dikatakan bahwa dengan melakukan perintah ini, maka kita akan beroleh pengampunan/ pemulihan dosa kita.

6. Jika kita menghormati dan sabar terhadap orang tua, kita memberikan teladan yang baik kepada anak- anak kita, sehingga mereka juga akan menghormati orang tuanya.

7. Sebagai ‘bonus’ lakukanlah pelayanan anda kepada orang tua dengan hati riang dan ringan. Mohonlah kekuatan dari Tuhan Yesus untuk bersikap demikian. Percayalah lama kelamaan anda akan menemukan sukacita yang dari Tuhan di dalam segala hal, dan anda tidak lagi dikejar perasaan bersalah bahwa anda kurang menghargai orang tua.

Demikianlah Martina, tanggapan saya akan pertanyaan anda. Semoga dapat menjadi masukan buat anda, dan membuat anda menjadi lebih sabar dan berlapang hati untuk melayani dan memahami papa anda; sebab dengan demikian anda membuktikan kasih anda kepada Tuhan.

Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
Ingrid Listiati- katolisitas.org

Keep in touch

18,000FansLike
18,659FollowersFollow
32,900SubscribersSubscribe

Artikel

Tanya Jawab