Home Blog Page 210

Apakah Musa pengarang Pentateuch?

1

1. Apakah Kitab Kejadian ditulis oleh Musa seorang?

Pertanyaan ini berhubungan dengan pertanyaan tetang keotentikan Pentateuch (kelima Kitab Musa). Pontifical Biblical Commission pernah mengeluarkan pernyataan tentang hal ini demikian:

On the Mosaic Authorship of the Pentateuch
[From the Response of the Commission on Biblical Studies, June 27, 1906]

First Question: Whether the arguments amassed by critics [as of 1906] to impugn the Mosaic authenticity of the sacred books designated by the name Pentateuch are of sufficient weight, notwithstanding the collective testimony of witnesses to the contrary found in both Testaments, the persistent agreement of the Jewish people, the constant tradition of the Church, and the internal evidence derived from the text itself, to justify the statement that these books do not have Moses as their author but were compiled from sources for the most part posterior to the time of Moses?

Response: Negative.

(Pontifical Bible Commission, Responsum de Mosaica authentia Pentateuchi, June 27, 1906; ASS 39 (1906) 377-78; translated by Dean P. Bechard, The Scripture Documents – An Anthology of Official Catholic Teachings, 188)

Maksudnya di sini adalah: Pada tahun 1906, Gereja, berdasarkan banyaknya indikasi dari Kitab- kitab PL dan PB, keyakinan yang terus berlanjut di bangsa Israel dan tradisi yang tak terputus dari Gereja, dan bukti internal dari teks tersebut,  menolak argumen yang mengatakan bahwa Kitab Musa bukan dikarang oleh Musa, tetapi disusun oleh sumber- sumber lain di jaman setelah Musa. Namun demikian Gereja mengakui adanya kemungkinan penyesuaian redaksional pada teks biblis setelah Musa wafat. Ini dijelaskan dalam tanggapan terhadap pertanyaan kedua:

Second Question: [First part:] Whether the Mosaic authenticity of the Pentateuch necessarily postulates such a redaction of the whole work that requires us absolutely to maintain that Moses wrote with his own hand or dictated to amanuenses all and everything contained in it; [Second part:] or whether it is possible to admit the hypothesis of those who think that he entrusted the composition of the work itself, which he himself conceived under the influence of divine inspiration, to some other person or persons, but in such a way that they faithfully rendered his own thought, wrote nothing contrary to his will, and omitted nothing; and that the work thus produced, being approved by Moses as the principal and inspired author, was made public under his name.

Response: Negative to the first part; affirmative to the second part.

Maksudnya: (1) Apakah berarti Musalah yang menuliskan semua kitab Pentateuch atau mendiktekan keseluruhannya kepada para penyalin? Tidak. (2) Apakah mungkin untuk menerima dugaan bahwa Musa menitipkan penyusunan karyanya yang di bawah pengaruh Roh Kudus, kepada orang lain atau beberapa orang lain, namun mereka dengan setia mempertahankan pemikiran Musa dan tidak menuliskan apapun yang bertentangan dengan kehendak Musa, dan tidak menghapus apapun; dan bahwa karya itu lalu dihasilkan dan disetujui oleh Musa sebagai pengarang utama dan pengarang yang diinsirasikan Roh Kudus dan dipublikasikan di bawah namanya? Ya.

Third Question: Whether it may be granted without prejudice to the Mosaic authenticity of the Pentateuch that Moses in the production of his work made use of sources, whether written documents or oral traditions, and from these, in accordance with his special purposes and under the influence of divine inspiration, he selected some things, either verbatim or in substance, summarized or amplified, and inserted them into his work.

Response: Affirmative.

Maksudnya: Apakah dapat dikatakan bahwa dalam menyusun karyanya Musa menggunakan sumber- sumber lain, baik dokumen- dokumen tertulis maupun tradisi-tradisi lisan, dan dari sini, sesuai dengan maksudnya yang istimewa, dan di bawah pengaruh Roh Kudus, ia memilih beberapa hal, entah kata demi kata atau di dalam substansi, meringkasnya atau menekankan [beberapa hal] dan menyisipkan ke dalam karyanya? Ya.

Fourth Question: Whether, granted the substantial Mosaic authenticity of the Pentateuch, it may be admitted that in the long course of the centuries certain alterations have been introduced into the text, such as additions after the death of Moses either appended by an inspired author or inserted into the text as glosses or explanations; certain words or forms translated from the ancient into more current languages; or finally, faulty readings that can be attributed to the error of copyists, concerning which it is permissible to investigate and judge according to the norms of criticism.

Response: Affirmative, subject to the judgment of the Church.

Maksudnya: Apakah dapat diterima bahwa dalam jangka waktu berabad- abad yang panjang [sesudahnya], beberapa penyesuaian tertentu telah diadakan terhadap teks, seperti penambahan sesudah kematian Musa, baik ditambahkan oleh seorang pengarang yang diinspirasikan oleh Roh Kudus, atau dimasukkan ke dalam teks sebagai daftar kata- kata atau penjelasan; beberapa kata atau bentuk diterjemahkan dari bahasa kuno ke dalam bahasa yang lebih dipahami pada jaman yang bersangkutan; atau akhirnya, adanya kesalahan ejaan dapat dianggap sebagai kesalahan kesalahan penyalin, dan tentang hal itu dapat dilakukan penyelidikan dan penilaian sesuai dengan norma- norma criticism? Ya, sesuai dengan penilaian Gereja.

Dengan demikian, Gereja mengajarkan melalui PBC, bahwa pengarang kitab Pentateuch (kelima Kitab Musa) adalah Musa tentu atas inspirasi Roh Kudus, walaupun kemungkinan dia dapat melibatkan orang (orang- orang lain) untuk menyusun dan menyalinnya.

2. Kalau Musa yang menulis, jadi sepuluh perintah Allah itu ‘hanya’ karangan Musa?

Tidak. Sebab tentang hal siapakah pengarang Kitab Suci, Katekismus Gereja Katolik mengajarkan:

KGK 105    Allah adalah penyebab [auctor] Kitab Suci. “Yang diwahyukan oleh Allah dan yang termuat serta tersedia dalam Kitab Suci telah ditulis dengan ilham Roh Kudus”.”Bunda Gereja yang kudus, berdasarkan iman para Rasul, memandang kitab-kitab Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru secara keseluruhan, beserta semua bagian-bagiannya, sebagai buku-buku yang suci dan kanonik, karena ditulis dengan ilham Roh Kudus (lih. Yoh 20:31; 2 Tim 3:16; 2 Ptr 1:19-21; 3:15-16), dan dengan Allah sebagai pengarangnya, serta dalam keadaannya demikian itu diserahkan kepada Gereja” (DV 11).

KGk 106    Allah memberi inspirasi kepada manusia penulis [auctor] Kitab Suci. “Tetapi dalam mengarang kitab-kitab suci itu Allah memilih orang-orang, yang digunakan-Nya sementara mereka memakai kecakapan dan kemampuan mereka sendiri, supaya – sementara Dia berkarya dalam dan melalui mereka – semua itu dan hanya itu yang dikehendaki-Nya sendiri dituliskan oleh mereka sebagai pengarang yang sungguh-sungguh” (DV 11).

Jadi jika dikatakan Musa sebagai pengarang kelima Kitab Musa, maka Musa menuliskannya atas ilham Roh Kudus, dan bukan menulis apa yang dari dirinya sendiri. Dengan demikian kesepuluh Perintah Allah yang dituliskan oleh Musa di Kitab Keluaran (bukan kitab Kejadian), itu adalah berasal dari Allah sendiri, bukan dari Musa. Allah hanya memakai Musa untuk menuliskannya.

Ada poligami dan tipu daya di KS?

6

Pertanyaan:

Benarnya apa yg mau diajarkan di kitab kejadian?

Boleh poligami? Kyok Yakub gt.

Kenapa di kitab Kejadian banyak sekali tipu daya? Yang sepertinya dihalalkan / direstui oleh Tuhan.

Seperti :

Yakub yg mengambil hak kesulungan Esau dgn tipu daya.

Yusuf yg sengaja menaruh piala dikantung gandum benyamin sehingga benyamin dianggap mencuri.

Alexander Pontoh

Jawaban:

Shalom Alexander,

Untuk memahami maksudnya mengapa ada tertulis tentang poligami dan tipu daya ataupun kejahatan lainnya di Kitab Suci, kita perlu memahami prinsip “divine pedagogy” (“kebijaksanaan mendidik” ilahi) atau cara Tuhan mendidik manusia.

Kisah- kisah Perjanjian Lama (PL) tidak terlepas dari Perjanjian Baru (PB), dan cara memahaminya, adalah dengan melihatnya dalam konteks keseluruhan rencana keselamatan. Nah, keseluruhan rencana keselamatan Allah ini memang disingkapkan secara bertahap. Penyingkapan bertahap inilah yang di dalam Teologi disebut sebagai divine pedagogy (“kebijaksanaan mendidik” ilahi/ cara Tuhan mendidik [manusia])

KGK 53    Keputusan wahyu ilahi itu diwujudkan “dalam perbuatan dan perkataan yang bertalian batin satu sama lain” (Dei Verbum 2). Di dalamnya tercakup “kebijaksanaan mendidik” ilahi (divine pedagogy) yang khas: Allah menyatakan Diri secara bertahap kepada manusia; Ia mempersiapkan manusia secara bertahap untuk menerima wahyu diri-Nya yang adikodrati, yang mencapai puncaknya dalam pribadi dan perutusan Yesus Kristus, Sabda yang menjadi manusia…

Analoginya, Allah mendidik manusia, seperti orang tua mendidik anaknya. Di masa kanak- kanak lebih digunakan disiplin (yang umumnya melibatkan hukuman- hukuman), sedangkan semakin anak bertumbuh dewasa, lebih ditekankan aspek pengertian dan tanggungjawab. Pada saat kanak- kanak, tuntutan untuk kesempurnaan perbuatan baik juga tidak setinggi jika anak itu sudah menjadi dewasa.

1. Tentang poligami di Perjanjian Lama

Prinsip divine pedagogy terlihat juga dalam hal perkawinan. Bahwa sejak awalnya Tuhan menentukan perkawinan adalah antara satu orang pria dan satu orang wanita (monogami), dan keduanya menjadi satu daging (Kej 2: 24). Namun demikian, entah karena keterbatasan pemahaman akan perintah Tuhan kepada manusia untuk berkembang biak atau karena kelemahan daging, maka selanjutnya, para patriarkh dan mungkin juga orang- orang lain pada jaman PL melakukan poligami. Memang pada masa itu poligami belum secara eksplisit dilarang dalam hukum Taurat/ sepuluh perintah Allah. Yang ada adalah larangan dalam Ul 17:17 untuk raja, yang tidak dikatakan mengacu bagi setiap orang. Atau, yang ada adalah larangan implisit, yaitu bahwa dilarang mengingini istri saudaramu atau hambanya perempuan (perintah ke 9 dan 10, lih. Kel 20:17). Demikian juga, perceraian dapat diberikan menurut hukum Taurat Musa, karena ketegaran hati orang- orang pada saat itu (lih. Mat 19:8, Mrk 10:5). Namun dalam PB, Tuhan Yesus meluruskan ajaran tersebut, agar sesuai dengan kehendak Allah sejak awal mula, yaitu tentang perkawinan antara seorang pria dan seorang wanita, yang sifatnya eksklusif (monogami) dan tak terceraikan (lih. Mat 19:5-6; Mrk 10:6-9):

Lalu kata Yesus kepada mereka, “Sebab pada awal dunia, Allah menjadikan mereka laki-laki dan perempuan, sebab itu laki-laki akan meninggalkan ayahnya dan ibunya dan bersatu dengan isterinya, sehingga keduanya itu menjadi satu daging. Demikianlah mereka bukan lagi dua, melainkan satu. Karena itu, apa yang telah dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan manusia.”

Dengan demikian, terlihatlah bagaimana hukum kasih karunia yang diajarkan oleh Tuhan Yesus mengatasi dan menyempurnakan hukum Taurat. Kadang hal yang tidak ideal dapat diijinkan oleh Tuhan untuk terjadi di masa terdahulu, justru untuk menunjukkan dalamnya makna ajaran yang ideal/sempurna yang disampaikan oleh Tuhan Yesus di waktu kemudian. Dengan memahami prinsip ini, maka kita mengetahui bahwa sebagai murid- murid Kristus kita tidak dapat melakukan poligami, karena poligami tidak sesuai dengan kehendak Allah, seperti yang dinyatakan-Nya pada awal mula, yang kemudian ditegaskan kembali oleh Kristus.

Selanjutnya, hal monogami (satu suami satu istri) tersebut ditegaskan kembali dalam surat Rasul Paulus, yang mengajarkan bahwa hubungan suami dan istri merupakan gambaran dari Kristus sendiri dengan Gereja (jemaat-Nya), lih. Ef 5:22-33.

“Hai isteri, tunduklah kepada suamimu seperti kepada Tuhan, karena suami adalah kepala isteri sama seperti Kristus adalah kepala jemaat. Dialah yang menyelamatkan tubuh……Demikian juga suami harus mengasihi isterinya sama seperti tubuhnya sendiri: Siapa yang mengasihi isterinya mengasihi dirinya sendiri. Sebab tidak pernah orang membenci tubuhnya sendiri, tetapi mengasuhnya dan merawatinya, sama seperti Kristus terhadap jemaat, karena kita adalah anggota tubuh-Nya. Sebab itu laki-laki akan meninggalkan ayahnya dan ibunya dan bersatu dengan isterinya, sehingga keduanya itu menjadi satu daging. Rahasia ini besar, tetapi yang aku maksudkan ialah hubungan Kristus dan jemaat…” (Ef 5:22-32).

Maka sama seperti seorang manusia hanya memiliki satu kepala dan satu tubuh, demikianlah maka dalam perkawinan hanya ada satu suami (yang adalah kepala) dan satu istri (yang adalah tubuh); sebab Kristus sebagai Sang Kepala, juga hanya mendirikan satu Tubuh-Nya yaitu satu Gereja, yang didirikan-Nya di atas Rasul Petrus (lih. Mat 16:18), dan Gereja-Nya inilah yang disertai oleh-Nya sampai akhir zaman (lih Mat 28:19-20).

2. Tentang tipu daya

Dengan prinsip yang sama, kita menyikapi adanya tipu daya dalam kisah- kisah PL. Fakta tersebut tidak untuk mengajarkan bahwa tipu daya itu boleh dilakukan; namun untuk menunjukkan bagaimana proses Tuhan mendidik manusia yang dilakukan secara bertahap. Bahwa pada dasarnya manusia punya kecenderungan untuk berbuat jahat, namun sekalipun demikian, Tuhan tetap dapat berkarya dalam keadaan tersebut. Jangan lupa,  bagaimanapun juga manusia diciptakan sebagai mahluk yang punya kehendak bebas (bukan boneka). Hal inilah yang memungkinkan terjadinya kejadian yang tidak ideal tersebut- termasuk akal- akalan- yang dilakukan bahkan oleh para patriarkh itu sendiri, walaupun pada akhirnya situasi tersebut tetap dapat digunakan Tuhan untuk mengarahkan atau mendatangkan kebaikan bagi orang- orang pilihan-Nya.

Namun demikian, sesungguhnya secara umum Kitab Suci melarang orang menipu/ berdusta:

Kel 20:16: Jangan mengucapkan saksi dusta tentang sesamamu.

Ams 19:5, 9: Saksi dusta tidak akan luput dari hukuman, orang yang menyembur-nyemburkan kebohongan tidak akan terhindar. Saksi dusta tidak akan luput dari hukuman, orang yang menyembur-nyemburkan kebohongan akan binasa.

Ams 24:28, Jangan menjadi saksi terhadap sesamamu tanpa sebab, dan menipu dengan bibirmu.

Luk 18:20: Engkau tentu mengetahui segala perintah Allah: Jangan berzinah, jangan membunuh, jangan mencuri, jangan mengucapkan saksi dusta, hormatilah ayahmu dan ibumu.”

1 Pet 3:10: “Siapa yang mau mencintai hidup dan mau melihat hari-hari baik, ia harus menjaga lidahnya terhadap yang jahat dan bibirnya terhadap ucapan-ucapan yang menipu.

Kis 5:1-11: Ananias dan Safira yang berdusta dihukum Tuhan, sehingga wafat seketika.

3. Yakub mengambil kesulungan Esau dengan semangkuk masakan kacang merah

Ini untuk mengajarkan kepada kita bahwa seringkali manusia menjual iman/ sesuatu yang penting secara rohani hanya karena keinginan jasmani; seperti dilakukan oleh Esau yang menjual hak kesulungannya (sesuatu yang sangat penting dan berharga yang diberikan Tuhan) untuk semangkuk masakan kacang merah. Tuhan tidak berkenan dengan sikap ini. Sebab jika Esau tidak punya kecenderungan demikian, kemungkian ia tidak akan ‘jatuh’ dalam akal- akalan-nya Yakub. Tetapi justru karena Esau tidak menghargai hak kesulungannya (lih. Kej 25:34) yang dipandang sangat penting oleh Allah, maka akhirnya ia menerima akibat-nya, yaitu kehilangan hak kesulungan tersebut.

4. Yusuf sengaja menaruh piala di kantung gandum Benyamin?

Kisah ini harus dilihat dalam kaitannya dengan perikop sebelumnya, yaitu Kej 43: 29-31:

“Ketika Yusuf memandang kepada mereka, dilihatnyalah Benyamin, adiknya, yang seibu dengan dia, lalu katanya: “Inikah adikmu yang bungsu itu, yang telah kamu sebut-sebut kepadaku?” Lagi katanya: “Allah kiranya memberikan kasih karunia kepadamu, anakku!” Lalu segeralah Yusuf pergi dari situ, sebab hatinya sangat terharu merindukan adiknya itu, dan dicarinyalah tempat untuk menangis; ia masuk ke dalam kamar, lalu menangis di situ. Sesudah itu dibasuhnyalah mukanya dan ia tampil ke luar. Ia menahan hatinya dan berkata: “Hidangkanlah makanan….”

Jadi terlihat di sini bahwa ‘akal-akalan’ Yusuf menaruh piala di kantung gandum Benyamin adalah supaya ia dapat menahan adiknya (Benyamin) agar Benyamin dapat tinggal di istana bersama- sama dengan dia [walaupun dikatakannya agar Benyamin dapat ditinggal menjadi budaknya, karena telah ‘mencuri’ piala]. Namun kita membaca bahwa di perikop berikutnya, Yehuda memohon kepada Yusuf agar ia boleh menggantikan Benyamin menjadi budak Yusuf, supaya Benyamin dapat pulang ke rumah dan bertemu dengan ayah mereka (Yakub). Setelah dikisahkannya mengapa demikian, Yusuf akhirnya tak kuasa menahan hatinya, dan ia akhirnya menyatakan siapa sebenarnya dirinya kepada para saudaranya itu (lih. Kej 45). Pada perikop ini kita membaca terjadinya rekonsiliasi antara Yusuf dengan saudara- saudaranya. Dan Yusuf dapat menjelaskan kepada mereka bagaimana Tuhan dapat menggunakan kondisi yang terburuk sekalipun (yaitu ia yang dijual ke Mesir oleh saudara- saudaranya itu), untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka semua. Dengan demikian, kita melihat bahwa Allah mengizinkan akal- akalan Yusuf (soal piala itu) terjadi untuk mengarahkan Yusuf dan saudara- saudaranya kepada rekonsiliasi.

Alexander, kami memisahkan pertanyaan anda yang berikutnya di topik tersendiri, karena topiknya berbeda dengan pembahasan di atas ini. Kami mohon pengertian anda, agar lain kali anda menuliskan satu pertanyaan untuk satu topik, agar tidak menambah pekerjaan kami untuk mengatur pengelompokan jawaban. Boleh ya, anda turut membantu kami dengan cara yang sederhana tersebut? Terima kasih.

Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
Ingrid Listiati- katolisitas.org

Maria Bunda Gereja

19

Perbedaannya: Maria, Maria, dan Maria

Sering kita mendengar, bahwa tiga hal yang paling membedakan antara kita umat Katolik dengan saudara- saudari kita yang Kristen non- Katolik, adalah ajaran tentang Maria, Maria, dan Maria. Sesungguhnya ini adalah fakta yang cukup ironis, justru karena seharusnya Bunda Maria dapat mempersatukan kita sebagai satu saudara. Mengapa? Karena melalui rahmat Pembaptisan yang satu (lih. Ef 4:5) kita dijadikan anak- anak angkat Allah di dalam Kristus (lih. Ef 1:4-5), dan oleh karena itu, kalau Bunda Maria adalah Bunda Kristus, maka ia adalah Bunda kita juga. Ya, Maria adalah Bunda Gereja, ibu rohani bagi semua umat beriman.

1. Dasar penghormatan umat Katolik: Maria adalah Bunda Allah dan Hawa yang baru

Jadi dasar penghormatan umat Katolik kepada Bunda Maria adalah, karena Tuhan telah terlebih dahulu memilihnya sebagai Bunda Allah; sebab Kristus yang dikandung dan dilahirkannya adalah Allah. Itulah sebabnya di dalam Kitab Suci, Maria disebut sebagai Bunda Allah (lih. Luk 1:43, 35, Gal 4:4). Jika kita merenungkan bagaimana malaikat Tuhan menyapa Bunda Maria pada saat ia memberitakan kabar suka cita, kita akan melihat betapa Allah sendiri -melalui malaikat utusan-Nya- menghormati Maria, dengan menyapanya, “Hail, full of grace/ Salam, hai engkau yang dikaruniai” (Luk 1:28). Kata aslinya menurut Vulgate adalah kecharitomene, yang lebih tepat untuk diterjemahkan sebagai “Salam, hai engkau yang penuh rahmat”. Sapaan semacam ini tidak pernah ditujukan kepada tokoh manapun di dalam Alkitab. Dan kata “penuh rahmat” ini menjadi salah satu dasar yang dipandang oleh para Bapa Gereja untuk mengatakan bahwa sudah sejak awal hidupnya dalam kandungan ibunya, Maria sudah dipenuhi dengan rahmat Allah. Oleh karena tugas yang diembannya sebagai Bunda Allah, maka Maria dibebaskan dari noda dosa.

Nah, selanjutnya, karena Maria adalah Bunda yang melahirkan Kristus Sang Hidup (Yoh 14:6), yang memberi hidup kepada dunia (Yoh 6:33), maka Bunda Maria juga secara tidak langsung berperan serta dalam memberikan Hidup kepada dunia. ((lih.Konsili Vatikan II tentang Gereja, Lumen Gentium 53)). Dengan demikian, Maria menyempurnakan arti kata ‘Hawa’ yang artinya ibu dari segala yang hidup”mother of the living“/ ibu dari segala yang hidup. Maria adalah Sang Hawa yang baru, yang daripadanya lahir Sang Hidup, yang memberikan hidup yang kekal. Maka peran Maria sebagai Hawa yang baru mendukung peran Kristus sebagai Adam yang baru (lih. Rom 5:12-21). Rasul Paulus membandingkan Adam dengan Kristus, pada saat mengatakan bahwa oleh ketidaktaatan satu orang [Adam], semua orang telah jatuh dalam kuasa maut; dan karenanya oleh ketaatan satu orang [Kristus] semua orang beroleh hidup yang kekal. Mengambil prinsip yang sama, St. Irenaeus (180) membandingkan Hawa dengan Maria sebagai Hawa yang baru, “Ikatan ketidaktaatan Hawa dilepaskan oleh ketaatan Maria. Apa yang terikat oleh ketidakpercayaan Hawa dilepaskan oleh iman Maria.” ((St. Irenaeus, Against Heresies, 189 AD, 3:22:24)) Ikatan ketidak-taatan di sini maksudnya adalah belenggu dosa yang mengikat manusia karena ketidaktaatannya kepada Allah. Harus diakui bahwa meskipun Adam juga berdosa, namun dosanya ini dilakukan setelah Hawa terlebih dahulu jatuh dalam dosa ketidaktaatan kepada kehendak Allah. Oleh karena itu, pada saat penebusan dosa, “obat penawar”-nya adalah kondisi sebaliknya, yaitu diawali dengan ketaatan Bunda Maria, sang Hawa yang baru, kepada kehendak Allah (lih. Luk 1: 38); sehingga Kristus sebagai Adam yang baru dapat datang ke dunia oleh ketaatan-Nya kepada kehendak Allah Bapa (lih. Ibr 10:5-7). Oleh karena ketaatan Maria inilah, Tuhan Yesus menjelma menjadi manusia di dalam rahim Maria dan kemudian dilahirkan olehnya; sehingga Maria layak disebut Bunda Allah. Dengan melahirkan Kristus, Maria juga dapat disebut sebagai Bunda Gereja, karena Kristus sebagai Kepala selalu berada dalam kesatuan dengan Gereja yang adalah anggota- anggota-Nya yang memperoleh hidup di dalam Dia. Oleh karena itu, para Bapa Gereja tak ragu untuk mengatakan bahwa Maria adalah “bunda mereka yang hidup” dan mengkontraskannya dengan Hawa, dengan menyatakan “maut melalui Hawa, hidup melalui Maria.” Dan inilah yang diajarkan kembali dalam Konsili Vatikan II saat menjabarkan hubungan antara Maria dengan Gereja. ((Lihat Lumen Gentium 56, S. Ireneus, “dengan taat Maria menyebabkan keselamatan bagi dirinya maupun bagi segenap umat manusia” Maka … para Bapa zaman kuno, … menyatakan bersama Ireneus: “Ikatan yang disebabkan oleh ketidak-taatan Hawa telah diuraikan karena ketaatan Maria; apa yang diikat oleh perawan Hawa karena ia tidak percaya, telah dilepaskan oleh perawan Maria karena imannya” Sambil membandingkannya dengan Hawa, mereka menyebut Maria “bunda mereka yang hidup”. Sering pula mereka (St. Jerome, St. Agustinus, St. Cyril, St. Yohanes Krisostomus, St. Yohanes Damaskinus) menyatakan: “maut melalui Hawa, hidup melalui Maria.”))

Perlu kita ketahui di sini bahwa para Bapa Gereja tidak mengartikan suatu gambaran dalam Kitab Suci dengan satu arti saja, melainkan dengan banyak arti yang memperkaya makna keseluruhan yang ingin disampaikan. Maka tidaklah menjadi masalah bahwa Maria yang adalah Bunda Kristus, kemudian juga disebut sebagai Hawa Baru, yang dalam konteks Adam yang baru, adalah mempelai-Nya. Semua gambaran ini adalah untuk menjabarkan makna persatuan antara Kristus dan Gereja yang adalah mempelai-Nya, di mana Maria menjadi anggotanya yang istimewa, karena ia telah terlebih dahulu dipilih Allah untuk melahirkan Kristus.

2. Karena Maria adalah ‘Bunda Allah’ dan ‘Hawa yang baru’, ia tidak pernah terpisah dari Kristus dan Gereja

Saat kejatuhan Adam dan Hawa, Allah telah merencanakan akan mengutus Sang Penyelamat yang akan lahir dari keturunan “sang perempuan”/ “the woman” (Kej 3:15). Menurut para Bapa Gereja,  kata “perempuan” yang dimaksud di sini bukanlah Hawa, tetapi Hawa yang baru (’the New Eve’). Hal ini sudah menjadi pengajaran Gereja sejak abad ke-2 oleh Santo Yustinus Martir, Santo Irenaeus dan Tertullian, yang lalu dilanjutkan oleh Santo Agustinus. ((John R Willis, S.J. ed., The Teachings of the Church Fathers, Ignatius Press, San Francisco, 2002 reprint, edisi asli Herder and Herder, New York, 1966 h. 356))

Sayangnya, memang dalam terjemahan bahasa Indonesia, pada ayat ini dikatakan ‘perempuan ini’, seolah-olah menunjuk kepada Hawa, namun sebenarnya adalah ‘the woman’ (bukan this woman) sehingga artinya adalah sang perempuan, yang tidak merujuk kembali ke lakon yang baru saja dibicarakan. “Aku akan mengadakan permusuhan antara engkau dan perempuan ini, antara keturunanmu dan keturunannya; keturunannya akan meremukkan kepalamu, dan engkau akan meremukkan tumitnya.” (Kej 3:15) Ungkapan ‘woman’ ini yang kemudian kerap diulangi pada ayat Perjanjian Baru, misalnya pada mukjizat di Kana (lih. Yoh 2:4), ((John 2:4, RSV Bible, “O Woman, what have you to do with me? My hour has not yet come.” Diterjemahkan di dalam bahasa Indonesia, “Mau apakah engkau dari pada-Ku, ibu? Saatku belum tiba.”)) dan di kaki salib Yesus, saat Ia menyerahkan Bunda Maria kepada Yohanes murid kesayanganNya (Yoh 19:26). ((John 19:26-27, RSV Bible, “When Jesus saw his mother, and the disciple whom he loved standing near, he said to his mother,”Woman, behold, your son!” Then he said to the disciple, “Behold, your mother!” diterjemahkan di dalam bahasa Indonesia: Ketika Yesus melihat ibu-Nya dan murid yang dikasihi-Nya di sampingnya, berkatalah Ia kepada ibu-Nya, “Ibu, inilah anakmu!” Kemudian kata-Nya kepada murid-muridNya: “Inilah ibumu!”)) dan di wahyu kepada Rasul Yohanes (Why 11:19-12:1-). ((Rev 12:1-2 RSV Bible, “Then God’s temple in heaven was opened, and the ark of his covenant was seen within his temple…. And a great portent appeared in heaven, a woman clothed with the sun, with the moon under her feet, and on her head a crown of twelve stars…. Terjemahannya: Maka terbukalah Bait Suci Allah yang di sorga, dan kelihatanlah tabut perjanjian-Nya di dalam Bait Suci itu …. Maka tampaklah suatu tanda besar di langit: Seorang perempuan berselubungkan matahari, dengan bulan di bawah kakinya dan sebuah mahkota dari dua belas bintang di atas kepalanya.))  Pada tiga kesempatan tersebut, Sabda Tuhan mau menunjukkan bahwa Maria adalah ‘sang perempuan’ yang telah dinubuatkan Allah pada awal mula dunia, yang akan berada dalam permusuhan dengan setan dan bahwa keturunannya akan mengalahkan setan (lih. Kej 3:15).  Perempuan yang dimaksud di sini adalah Maria, berdasarkan kata “permusuhan” itu. Kata tersebut mempunyai pengertian “sesuatu yang berlawanan total“. Ini berarti, tidak tepat jika kita mengartikan bahwa perempuan itu adalah Hawa. Kita tahu bahwa Hawa dan ular (setan) tidaklah berlawanan total, karena Hawa telah berbuat dosa. Maka perlawanan total hanya mungkin terjadi jika perempuan yang dimaksud tidak berdosa. Kalau kita mengatakan bahwa perempuan itu adalah Hawa dan dia harus melawan ular (setan), maka tentu Hawa bukanlah lawan yang seimbang bagi setan, karena setelah berdosa, justru Hawa semakin tidak mempunyai kekuatan untuk melawan setan. “Perempuan itu” hanya menjadi lawan seimbang bagi setan dan berlawanan secara total dengan setan, kalau perempuan itu telah dipersiapkan oleh Allah sedemikian sehingga ia tidak berdosa. Ini sejalan dengan nubuat Kitab Yesaya, “Sebab itu Tuhan sendirilah yang akan memberikan kepadamu suatu pertanda: Sesungguhnya, seorang perempuan muda (‘virgin‘= perawan) mengandung dan akan melahirkan seorang anak laki-laki, dan ia akan menamakan Dia Imanuel.” (Yes 7:14) Maka menjadi masuk akal dan benar, bahwa anak laki- laki itu adalah Kristus yang disebut Imanuel (lih. Mt 1:23). Dengan demikian, perempuan itu adalah Bunda Maria. Pemahaman di atas dan banyak tulisan Bapa Gereja mengajarkan bahwa “perempuan itu” yang disebut dalam Kej 3:15, memang sesungguhnya mengacu kepada Bunda Maria.

Di sinilah terlihat betapa gambaran yang dinyatakan samar- samar dalam Kitab Perjanjian Lama, kemudian digenapi di dalam Perjanjian Baru. Seperti halnya Kristus dengan ketaatannya sebagai Adam yang baru mematahkan ikatan dosa Adam, Maria dengan ketaatannya mematahkan ikatan dosa Hawa. Oleh ketaatan Maria, Kristus menjelma menjadi manusia di dalam tubuhnya. “Fiat” dari Maria, menjadi awal terbentuknya Tubuh Yesus atas kuasa Roh Kudus di dalam rahimnya; dan Ia mengambil apapun untuk pertumbuhan tubuh jasmaniNya dari tubuh Maria. Selanjutnya, Gereja yang adalah Tubuh Kristus, dibentuk oleh Yesus dari darah dan air yang keluar dari sisi/ lambung-Nya, serupa dengan dibentuknya Hawa dari sisi/ tulang rusuk Adam. Dengan demikian, terlihatlah betapa tak terpisahkannya hubungan antara Yesus, Maria dan Gereja. Walaupun Kristus dilahirkan oleh Maria, namun tidak menjadikan Maria lebih utama dari Kristus; sebab yang menjadi Kepala Tubuh (Kepala jemaat) adalah Kristus (Kol 1:18; Ef 5:23). Dengan demikian, Maria adalah anggota Tubuh-Nya yaitu Gereja-Nya. Namun demikian, Maria adalah anggota yang istimewa, justru karena ketaatannya yang ‘mendahului’ anggota Tubuh-Nya yang lain; dan karena dengan ketaatannya ini rencana Allah tergenapi.

Kesatuan antara Kristus, Bunda Maria dan Gereja, menjadikan Bunda Maria tidak terpisahkan dari Kristus dan dari Gereja; sehingga ia bukan saja menjadi Bunda Allah, namun juga adalah Bunda Gereja, yaitu Bunda umat beriman. Setidaknya ada dua alasan mengapa demikian. Yang pertama adalah karena Bunda Maria menempati tempat terdepan dalam perjalanan iman; dan yang kedua adalah karena sebelum wafat-Nya, Tuhan Yesus sendiri memberikan Bunda Maria kepada kita, murid- murid yang dikasihi-Nya.

3. Dengan persatuannya dengan Kristus, Bunda Maria menjadi terdepan dalam perjalanan iman

Sebagai ibu yang mengandung, melahirkan dan membesarkan Yesus, Bunda Maria hadir secara istimewa dalam kehidupan Yesus di dunia. Di setiap peristiwa hidupnya, ketaatan iman Maria terus diuji dan disempurnakan oleh Tuhan. Sejak terbentuk-Nya Kristus dalam rahimnya, saat kelahiran-Nya di tempat yang termiskin, saat mengungsi ke Mesir, saat hilangnya dan diketemukannya kembali Yesus di bait Allah; saat pertumbuhan-Nya sejak anak-anak sampai dewasa, Maria hidup bersama- sama dengan Tuhan Yesus di bawah satu atap, dalam kesederhanaan keluarga tukang kayu. Saat Yesus pertama kali melakukan mujizat di perkawinan di Kana, Bunda Maria hadir; demikian pula pada saat Yesus mengajar orang banyak. Walaupun Kitab Suci tidak mencatat secara detail tentang Bunda Maria, namun kita mengetahui bahwa Bunda Maria hadir di saat- saat penting dan menentukan dalam hidup Tuhan Yesus di dunia.

Penyertaan Bunda Maria mencapai puncaknya pada saat ia mendampingi Kristus, sampai di bukit Golgota, di saat hampir semua murid-Nya meninggalkan Dia. Maria tegar berdiri di kaki salib Kristus, dan turut mempersembahkan Dia di hadapan Allah Bapa. Maria melihat sendiri kesengsaraan Putera-nya Yesus Kristus yang melampaui segala ungkapan, untuk menebus dosa-dosa manusia. Di kaki salibNya, Maria melihat sendiri apa yang nampaknya seperti pengingkaran total apa yang dikatakan oleh Malaikat Gabriel saat memberikan Kabar Gembira, “Ia akan menjadi besar …. Tuhan Allah akan mengaruniakan kepada-Nya takhta Daud, bapa leluhur-Nya, dan Kerajaan-Nya tidak akan berkesudahan.” (Luk 1:22-23). Nyatanya, di hadapan mata Bunda Maria, yang terlihat adalah penderitaan Putera-nya yang tak terlukiskan, “Ia dihina dan dihindari orang, seorang yang penuh kesengsaraan ….ia sangat dihina, sehingga orang menutup mukanya terhadap dia …” (lih. Yes 53:3-5). Betapa besarnya ketaatan iman yang ditunjukkan oleh Bunda Maria di kaki salib itu, di hadapan Allah! “Betapa totalnya ia memasrahkan dirinya kepada Tuhan tanpa syarat, mempersembahkan segala kehendak dan pemahamannya kepada Tuhan yang “tak terselami jalan- jalan-Nya” (Rom 11:33)… Ini mungkin adalah yang disebut sebagai “pengosongan diri yang paling dalam” yang pernah terjadi dalam sejarah kehidupan manusia.” ((Paus Yohanes Paulus II, Redemptoris Mater 18))

Para ibu yang pernah menyaksikan anaknya meninggal dunia di depan matanya sendiri akan lebih dapat memahami perasaan Bunda Maria. Apalagi dalam hal ini, Yesus wafat dengan cara yang sangat memilukan hati: Ia disiksa sampai mati, dan kepada-Nya difitnahkan segala yang jahat, walaupun sesungguhnya Ia tidak bersalah. Di kaki salib Yesus tergenapilah nubuat nabi Simeon kepada Bunda Maria, “dan suatu pedang akan menembus jiwamu sendiri….”(Luk 2:35) Di kaki salib itu Bunda Maria membuktikan persatuannya dengan Kristus, melalui keteguhan iman yang sama ketika ia menerima Kabar Gembira, “Terjadilah padaku menurut perkataan-Mu, ya Tuhan.” (lih. Luk 1: 38).

Mari kita memeriksa ke dalam diri kita masing- masing, seberapa jauh kita mempunyai iman yang sedemikian? Di saat berbagai masalah datang, dan sepertinya ‘gelap’ yang ada di hadapan kita, apakah kita masih dapat teguh beriman kepada Tuhan? Sesungguhnya, kita perlu belajar dari Bunda Maria untuk tetap dapat mengatakan kepada Tuhan, “Terjadilah kehendak-Mu,” dengan kepasrahan yang penuh; sebab kita percaya bahwa rancangan Tuhan jauh lebih tinggi dari rancangan kita (lih. Yes 55:8-9).

Sebab bukankah hal ini yang tergenapi pula di dalam diri Bunda Maria, bahwa karena ketaatan imannya, dan kesetiaannya kepada Tuhan, Maria juga melihat buah karya Allah selanjutnya. Kristus bangkit dari kematian (lih. Mat 28: 1-10; Mrk 16:1-8; Luk 24:1-12, Yoh 20:1-10), menampakkan diri-Nya dan menyatakan bahwa Dia sungguh hidup (Mrk 16:9-18; Luk 24:13-49, Yoh 20:11-29, 21:1-19, Kis 1:3) dan akhirnya, Kristus naik ke surga dengan mulia (lih. Luk 24:50-52; Kis 1:9-11). Selanjutnya, Bunda Maria turut berkumpul bersama- sama dengan para murid untuk bersama- sama sehati sejiwa menantikan Roh Kudus (lih. Kis 1:13-14), dan saat janji itu digenapi (Kis 2:1-4). Bunda Maria hadir pada hari Pentakosta, yaitu saat lahirnya Gereja dinyatakan, yang ditandai dengan datangnya Roh Kudus yang dijanjikan Kristus. Roh Kudus itulah yang secara ajaib mengubah para murid menjadi manusia baru di dalam Kristus. Mereka yang dulunya takut menjadi berani; yang dulunya kurang percaya menjadi teguh beriman.

Di tengah- tengah karya Allah membentuk para murid Kristus untuk menjadi semakin beriman, Maria tetap menjadi teladan iman, karena ia terus setia dan bertumbuh dalam penghayatannya akan rencana Tuhan sampai akhir. Atas jasa Kristus, dan karena persatuannya yang sempurna dengan Kristus untuk melawan setan sampai akhir hidupnya, maka Maria memperoleh hasil akhir dari kemenangan yang total atas dosa dan maut, yang selalu disebutkan dalam surat- surat Rasul Paulus (lih. Rom 5- 6; 1 Kor 15:21-26, 54-57). Karena itu, sebagaimana kebangkitan Kristus yang mulia menjadi bukti kemenangan ini, maka permusuhan Kristus [dalam kesatuan dengan Bunda Maria] dengan setan mencapai akhirnya dengan dimuliakannya juga Maria Bunda-Nya dalam tubuh kebangkitannya, seperti Tubuh kebangkitan Kristus. Maka, tergenapilah ajaran Rasul Paulus, “Dan sesudah yang dapat binasa ini mengenakan yang tidak dapat binasa dan yang dapat mati ini mengenakan yang tidak dapat mati, maka akan genaplah firman Tuhan yang tertulis: “Maut telah ditelan dalam kemenangan…” (1 Kor 15:54)…. ((lih. Paus Pius XII, Konstitusi Apostolik, Munificentissimus Deus, 39)) “Dengan demikian, Bunda Maria…. sebagai pendukung Penyelamat yang telah mencapai kemenangan atas dosa dan segala akibatnya, akhirnya memperoleh juga puncak yang tertinggi dari kehormatan yang diterimanya, bahwa ia dibebaskan dari kerusakan tubuh dalam kubur dan sehingga, seperti Puteranya, yang telah mengatasi maut, ia [Maria] dapat diangkat tubuh dan jiwanya kepada kemuliaan surga, di mana sebagai Ratu, ia duduk di dalam kemuliaan di sisi kanan Puteranya, Sang Raja segala zaman (1 Tim 1:17). ((Paus Pius XII, Munificentissimus Deus, 40, lihat juga definisi dari dogma Maria diangkat ke surga yang disebutkan oleh dokumen yang sama, alinea 44: “…. dengan kuasa dari Tuhan kita Yesus Kristus, dan dari Rasul Petrus dan Paulus yang terberkati, dan oleh kuasa kami sendiri, kami mengumumkan, menyatakan dan menentukan hal ini sebagai dogma yang diwahyukan Tuhan: bahwa Bunda Tuhan yang tidak bernoda, Maria yang tetap Perawan, setelah menyelesaikan tugas nya di dunia, diangkat tubuh dan jiwanya ke dalam kemuliaan surgawi.”))

Dalam kesatuannya dengan Kristus jugalah, maka Bunda Maria tidak berpangku tangan di surga, tetapi terus mendukung Kristus yang masih terus melaksanakan karya keselamatan-Nya di dunia ini, dengan doa- doa syafaatnya ((lih. Lumen Gentium 62)). Pengaruh Bunda Maria dalam karya keselamatan ini tentu terjadi bukan karena kuasa dirinya sendiri, tetapi karena kehendak Allah dan kebaikan-Nya. Peran pengantaraan Bunda Maria ini tidak menyaingi pengantaraan Kristus apalagi meniadakannya, melainkan mendukungnya. Konsili Vatikan II merumuskannya dengan indah, demikian:

Pengantara kita hanya ada satu, menurut sabda Rasul: “Sebab Allah itu esa, dan esa pula pengantara antara Allah dan manusia, yakni manusia Kristus Yesus, yang telah menyerahkan diri-Nya sebagai tebusan bagi semua orang” (1Tim 2:5-6). Adapun peran keibuan Maria terhadap umat manusia sedikit pun tidak menyuramkan atau mengurangi pengantaraan Kristus yang tunggal itu, melainkan justru menunjukkan kekuatannya. Sebab segala pengaruh Santa Perawan yang menyelamatkan manusia tidak berasal dari suatu keharusan objektif, melainkan dari kebaikan ilahi. Pengaruh tersebut mengalir dari kelimpahan pahala Kristus, bertumpu pada pengantaraan-Nya, sama sekali tergantung dari padanya, dan menimba segala kekuatannya dari padanya. Pengaruh itu sama sekali tidak merintangi persatuan langsung kaum beriman dengan Kristus, melainkan justru mendukungnya.” (Lumen Gentium 60)

Sebab tiada makluk satu pun yang pernah dapat disejajarkan dengan Sabda yang menjelma dan Penebus kita. Namun seperti imamat Kristus secara berbeda-beda ikut dihayati oleh para pelayan (imam) maupun oleh Umat beriman, dan seperti satu kebaikan Allah terpancarkan secara nyata kepada makhluk-makhluk ciptaan-Nya dengan cara yang berbeda-beda, begitu pula satu-satunya pengantaraan Penebus tidak meniadakan, melainkan membangkitkan pada mereka aneka bentuk kerja sama yang berasal dari satu-satunya sumber. Adapun Gereja tanpa ragu-ragu mengakui, bahwa Maria memainkan peran yang berada di bawah Kristus seperti itu. Gereja tiada hentinya mengalaminya, dan menganjurkan kepada kaum beriman, supaya mereka ditopang oleh perlindungan Bunda itu lebih erat menyatukan diri dengan Sang Pengantara dan Penyelamat.” (Lumen Gentium 62)

Jika Tuhan pernah bersabda, “doa orang yang benar sangat besar kuasanya” (Yak 5:16), bukankah akan sangat teramat besar kuasa doa Bunda Maria, yang telah dibenarkan Tuhan Yesus, dan terlebih lagi, karena ia adalah Bunda-Nya sendiri yang telah dikuduskan Allah? Itulah sebabnya Gereja Katolik menganjurkan kita umat beriman untuk memohon dukungan doa Bunda Maria, sebab hal itu baik untuk pertumbuhan iman kita, dan akan lebih erat lagi mempersatukan kita dengan Kristus.

Dengan demikian, nyatalah bahwa Maria telah masuk dalam rencana keselamatan Allah, sejak awal mula. Saat kejatuhan Adam dan Hawa, keberadaan Maria dan Kristus Puteranya telah dinubuatkan Allah; dan ini digenapi saat Maria menerima Kabar Gembira Malaikat. Selanjutnya, Bunda Maria selalu hadir dan bersatu dengan Kristus selama Ia hidup di dunia, saat sengsara, wafat, kebangkitan sampai kenaikan-Nya ke surga. Oleh kesetiaannya beriman sampai akhir, Bunda Maria diangkat ke surga, tubuh dan jiwanya dan menerima mahkota kehidupan yang dijanjikan Tuhan kepada mereka yang percaya dan mengasihi Dia (lih. Why 2:10; Yak 1:12). Maka ajaran bahwa Bunda Maria diangkat ke surga dan dimahkotai di surga, bukan semata- mata merupakan penghormatan kepada Bunda Maria saja, tetapi merupakan ajaran tentang pengharapan akan penggenapan janji Kristus kepada semua orang yang percaya kepada-Nya, di mana Maria telah mengambil tempat yang terdepan, sebab ia telah terlebih dahulu menunjukkan teladan imannya yang sempurna di hadapan Allah.

St. Ambrosius mengajarkan bahwa Bunda Maria adalah teladan Gereja dalam hal iman, kasih dan persatuan sempurna dengan Kristus ((lih. Lumen Gentium, 63)). Dalam misteri Gereja, Bunda Maria disebut sebagai perawan dan ibu, dan kedua hal ini juga yang harus diteladani oleh Gereja. Keperawanan dan kekudusan Maria mendorong Gereja untuk terus berpegang pada iman yang murni, yang tidak dipengaruh oleh ajaran si ‘ular tua’/ setan yang dapat dinyatakan dalam banyak cara. Selanjutnya, teladan Maria sebagai ibu, juga wajib mendorong Gereja untuk meniru perbuatan kasihnya dalam memberikan dirinya untuk mewujudkan rencana Allah, yaitu untuk melahirkan Kristus di hati umat beriman. Teladan iman Bunda Maria dalam hal iman yang murni, pengharapan yang teguh dan kasih yang tulus inilah yang seharusnya terus terpatri dalam hati kita, agar bersama Bunda Maria, akhirnya kita dapat menerima juga penggenapan janji Tuhan kepada setiap orang yang percaya.

4. Tuhan Yesus memberikan Bunda Maria menjadi ibu bagi murid- murid-Nya

Selanjutnya, alasan yang sangat kuat mengapa kita menghormati dan mengasihi Bunda Maria sebagai ibu, adalah sebab Tuhan Yesus menghendakinya demikian. Sesaat sebelum wafat-Nya, Tuhan Yesus memberikan Bunda Maria kepada Yohanes, murid yang dikasihi-Nya. “Ketika Yesus melihat ibu-Nya dan murid yang dikasihi-Nya disampingnya, berkatalah Ia kepada  ibu-Nya, “Ibu, inilah anakmu” kemudian kata-Nya kepada murid-murid-Nya, “Inilah ibumu!”/ Behold, your mother! Dan sejak itu murid itu [Yohanes] menerima dia [Bunda Maria] di dalam rumahnya.” (Yoh 19: 26-27) Kita ketahui bahwa pesan ini adalah salah satu dari ketujuh perkataan Yesus sebelum wafatNya dan pastilah ini merupakan pengajaran yang penting. Gereja Katolik selalu memahami ucapan tersebut, sebagai kehendak Yesus yang mempercayakan Ibu-Nya kepada kita semua para murid-Nya, yang diwakili oleh Rasul Yohanes. Sama seperti Yohanes Pembaptis menyebutkan sesuatu yang penting tentang Yesus dengan berkata, “Lihatlah Anak Domba Allah”/ Behold, the Lamb of God (Yoh 1:29) untuk diterima sebagai kebenaran bagi semua umat beriman; maka Tuhan Yesus juga menyebutkan hal yang penting tentang Bunda Maria, dengan berkata kepada para murid-Nya,” Inilah ibumu!”/ Behold, your mother!, agar kita umat beriman juga dapat menerimanya sebagai kebenaran. Ya, Bunda Maria adalah ibu kita, sebab Tuhan Yesus memberikannya kepada kita umat beriman, untuk kita kasihi, kita hormati dan kita teladani. Sebab dengan menerimanya sebagai ibu, kita dapat belajar untuk mengikuti teladan imannya sampai akhir; agar kitapun dapat masuk dalam Kerajaan-Nya dan beroleh mahkota kehidupan.

5. Ajaran Bapa Gereja tentang Bunda Maria sebagai Bunda Gereja

a. Origen (244)
Putera Maria hanya Yesus sendiri; dan ketika Yesus berkata kepada Ibu-Nya, “Lihatlah, anakmu,” seolah Ia berkata, “Lihatlah orang ini adalah Yesus sendiri, yang engkau lahirkan.” Sebab setiap orang yang dibaptis, hidup tidak lagi dirinya sendiri, tetapi Kristus hidup di dalamnya. Dan karena Kristus hidup di dalamnya, perkataan kepada Maria ini berlaku baginya, “Lihatlah anakmu- Kristus yang diurapi.” ((Origen, Commentary on John I,4, 23, PG 14, 32))

b. St. Ephrem dari Syria (306- 373)
“Kelahiran-Mu yang ilahi, O Tuhan, melahirkan semua ciptaan;
Umat manusia dilahirkan kembali darinya [Maria], yang melahirkan Engkau.
Manusia melahirkan Engkau di dalam tubuh; Engkau melahirkan manusia di dalam roh…”  ((St. Ephrem, Hymn 3 on the Birth of the Lord, v.5., ed. Lamy, II, pp 464 f))

c. St. Agustinus (416)
Maria adalah sungguh ibu dari anggota- anggota Kristus, yaitu kita semua. Sebab oleh karya kasihnya, umat manusia telah dilahirkan di Gereja, [yaitu] para umat beriman yang adalah Tubuh dari Sang Kepala, yang telah dilahirkannya ketika Ia menjelma menjadi manusia.” ((St. Augustine, De sancta virginitate, 6 (PL 40, 399) ))

d. Paus Pius X (1903- 1914)
“Bukankah Maria adalah Bunda Yesus? Oleh karena itu ia adalah bunda kita juga…. Maria yang mengandung Sang Juruselamat dalam rahimnya, dapat dikatakan juga mengandung mereka yang hidupnya terkandung di dalam hidup Sang Juruselamat. Karenanya, kita semua … telah dilahirkan dari rahim Maria sebagai tubuh yang bersatu dengan kepalanya. Oleh karena itu, dalam pengertian rohani dan mistik, kita disebut sebagai anak- anak Maria, dan ia adalah Bunda kita semua. ((Paus Pius X, Ad diem illum Laetissimum))

6. Martin Lutherpun mengajarkan bahwa Maria adalah Bunda Gereja

Martin Luther, pendiri gereja Protestan juga mengajarkan bahwa Bunda Maria adalah Bunda Gereja:

“Bunda Maria adalah Bunda Yesus dan bunda kita semua. Kalau Kristus adalah milik kita, kita harus berada di mana Ia berada; dan semua yang menjadi milik-Nya pasti menjadi milik kita, dan oleh karena itu ibu-Nya juga adalah ibu kita.” ((Luther Works, (Weimar edition), 29:655:26-656:7))

“Kita semua adalah anak- anak Maria.” ((Luther Works, (Weimar edition), 11:224:8))

7. Sudahkah Bunda Maria menjadi ibu bagi anda dan saya?

Apapun yang disampaikan di atas tidak akan terlalu berguna bagi kita, jika kita tidak menerimanya sebagai kehendak Tuhan bagi kita. Tuhan Yesus sudah memberikan segala- galanya bagi kita: kasih-Nya, hidup ilahi-Nya, dan bahkan ibu-Nya sendiri. Sekarang memang terserah kepada kita, apakah yang menjadi tanggapan kita. Apakah kita sudah bersikap seperti Rasul Yohanes yang menerima Bunda Maria sebagai ibu kita juga? Jika sudah, sejauh mana kita telah meniru teladan iman Bunda Maria? Mungkin kita memerlukan perjuangan tanpa henti untuk menanggapi pertanyaan yang kedua ini. Sebab sungguh, sepanjang hidup ini memang kita perlu berjuang untuk tetap taat dan setia kepada Tuhan. Namun tentu jika kita berjalan bersama Bunda Maria, kita akan dikuatkan sampai kita dapat memandang Kristus dalam kemuliaan-Nya yang kekal abadi di surga. Semoga pada saat itu, kita dapat memandang Tuhan Yesus, dan mengatakan, “Aku mengasihi-Mu, Tuhan, dan seturut kehendak-Mu, aku juga telah mengasihi Ibu-Mu yang Engkau berikan kepadaku.”

Bunda Maria, Bunda Kristus dan Bunda kami umat beriman, doakanlah kami, sekarang dan waktu kami mati. Amin.

Allah yang tak terukur atau immeasurable

2

Pertanyaan:

Syalom,

Kita mengetahui bahwa di dalam TRADISI SUCI, salah satu karakter TUHAN adalah IMMEASUREABLE. Nah definisi IMMEASUREABLE ( Tidak ada dapat diukur ) ini apa ?

Kita tahu secara umum bahwa IMMEASUREABLE artinya = Tidak dapat diukur ; Matematika / angka – angka / bilangan, tidak bisa menggambarkan TUHAN itu sendiri.

Nah apakah yang dimaksud, misalnya manusia sering kali menggunakan analogi matematika untuk mengukur sesuatu. Contoh tenaga mesin mobil sebesar 500 HP, atau panas matahari sepanas 6000 Celcius. Apakah yang dimaksud bahwa suatu angka ( contohnya seperti diatas) tersebut TIDAK DAPAT mengukur segala sesuatu yang dimiliki TUHAN itu ( Mungkin TUHAN memerlukan kekuatan 2.000.000 HP untuk mendorong planet bumi agar sesuai dengan posisinya ) ?

Tuhan Yesus memberkati & Bunda Maria selalu menuntun anda pada putraNYA

Jawaban:

Shalom Budi,

Terima kasih atas pertanyaannya tentang “tak terukur (immeasureable)”. Kalau kita melihat dalam Alkitab, kita menjumpai kata ini dalam beberapa ayat, seperti: “It is great and has no bounds; it is high and immeasurable. atau sungguh besar dan tidak terbatas tinggi dan tidak terukur” (Bar 3:25) atau “supaya pada masa yang akan datang Ia menunjukkan kepada kita kekayaan kasih karunia-Nya yang melimpah-limpah sesuai dengan kebaikan-Nya terhadap kita dalam Kristus Yesus.” (Ef 2:7) atau “dan betapa hebat kuasa-Nya bagi kita yang percaya, sesuai dengan kekuatan kuasa-Nya,” (Ef 1:19)

Dalam Ef 1:19 dan Ef 2:7 digunakan kata yang sama, yaitu:

ὑπερβάλλω
huperbállō; fut. huperbalṓ, from hupér (G5228), above, and bállō (G906), to cast, put. To excel, surpass. In the NT, used only in the pres. part., huperbállōn, masc.; huperbállousa, fem.; huperbállon, neut.; surpassing, exceeding, highly eminent (2Co 3:10; 2Co 9:14; Eph 1:19; Eph 2:7; Eph 3:19).
Deriv.: huperballóntōs (G5234), excessively; huperbolḗ (G5236), excellence.
Syn.: huperbaínō (G5233), to surpass; huperéchō (G5242), to excel.
Ant.: epileípō (G1952), to be insufficient; husteréō (G5302), to be deficient.

Jadi, dalam penggunaan, tak terukur (immeasureable) ini dapat digunakan dalam tatanan kodrat (natural law) maupun tatanan adi-kodrati (supernatural law). Dalam tatanan kodrat, kita dapat memakainya untuk menyatakan sesuatu yang sungguh besar, sulit terukur, walaupun mungkin bisa saja dapat diukur. Sebagai contoh, dalam bahasa percakapan dapat saja kita mengatakan bahwa besarnya matahari adalah sungguh tak terukur, yang artinya sungguh sangat besar atau panasnya matahari sungguh tak terukur, yang artinya sungguh sangat panas.

Namun dalam konteks kata ini dengan Tuhan, hal ini dapat merujuk kepada keterbatasan akal budi kita untuk menggapai Tuhan, karena adanya perbedaan kodrat, yang berbeda tak terhingga. Kita dapat menggambarkan kasih Allah, belas kasih Allah secara tak terhingga atau tak terukur, karena di luar jangkauan pemikiran kita. Sebagai contoh, Inkarnasi adalah suatu rencana dan tindakan Allah yang tak terukur. Contoh yang lain adalah seperti: Trinitas. Kita dapat melihat KGK 2007 menuliskan “Terhadap Allah tidak ada jasa dalam arti kata yang sebenarnya dari pihak manusia. Antara Dia dan kita terdapat satu ketidaksamaan yang tidak dapat diukur, karena kita telah menerima segala sesuatu dari Dia, Pencipta kita.

Tak terukur (immeasurable) biasanya dikaitkan dengan hal yang lain, yang memang merupakan kodrat Allah, seperti: immeasurable mercy, immeasurable greatness of his power, immeasurable love, dll. KGK 272 menuliskan “Kalau mengalami kejahatan dan penderitaan, iman akan Bapa yang maha kuasa dapat diuji secara serius. Sewaktu-waktu Allah tampaknya tidak hadir dan tidak mampu mencegah kemalangan. Namun Allah Bapa menyatakan kekuasaan-Nya atas cara paling rahasia dalam Penghinaan dan kebangkitan Putera-Nya, yang mengalahkan yang jahat. Dengan demikian, Yesus yang tersalib adalah “kekuatan dan hikmat Allah. Sebab yang bodoh dari Allah lebih besar hikmatnya daripada manusia dan yang lemah dari Allah lebih kuat daripada manusia” (1 Kor 1:24- 25). Dalam pembangkitan dan pengangkatan Kristus, Bapa menunjukkan “kekuatan kuasa-Nya” dan menyatakan betapa “hebat kuasa-Nya (immeasurable greatness) bagi kita yang percaya” (Ef 1:19).

Semoga, keterangan di atas dapat membantu untuk menggambarkan pemakaian kata tak terukur atau immeasurable.

Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
stef – katolisitas.org

Akulah pintu ke domba-domba itu

1

I.  Yesus sebagai Gembala dan Yesus sebagai ‘pintu’

Kita sering melihat lukisan ataupun poster yang menggambarkan Yesus sebagai gembala, yang sedang menggendong domba. Gambaran ini sangat indah, karena melukiskan kebaikan Tuhan yang menjaga dan melindungi setiap kita sepertihalnya gembala kepada domba kesayangannya. Gambaran inilah yang sering juga disampaikan di Perjanjian Lama, yaitu Tuhan adalah Gembala dan umat-Nya adalah kawanan dombanya (lih. Mzm 23). Para raja dan imam juga disebut sebagai gembala, yang ditugaskan Allah untuk menjaga dan memimpin umat-Nya. Namun, Nabi Yeremia memperingatkan umat akan adanya gembala- gembala yang tidak baik (lih. Yer 2:8), yang mengakibatkan domba tercerai berai, dan ia atas nama Allah menjanjikan datangnya gembala- gembala yang baik dari keturunan Daud (lih. Yer 23:1-6; 3:15; 10:21; Is 40:1-11). Nabi Yehezkiel juga memperingatkan hal serupa, dan menubuatkan kedatangan gembala yang baik, yang akan melindungi kawanan dombanya (Yeh 34). Yesus adalah penggenapan nubuat ini (lih. Luk 15:4-7).

Namun selain sebagai Gembala yang Baik, Tuhan Yesus juga menggambarkan Diri-Nya  sebagai pintu menuju kawanan domba. Di sinilah kita menemukan kekayaan makna ayat- ayat Kitab Suci, di mana dalam mengajarkan sesuatu, Tuhan Yesus dapat menggunakan banyak perumpamaan ataupun gambaran, tergantung dari makna apa yang hendak digarisbawahinya. Mari kita baca dan renungkan bersama perikop Injil Yohanes tersebut.

II. Bacaan Injil:  Yoh 10:1-10

1 “Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya siapa yang masuk ke dalam kandang domba dengan tidak melalui pintu, tetapi dengan memanjat tembok, ia adalah seorang pencuri dan seorang perampok;

2 tetapi siapa yang masuk melalui pintu, ia adalah gembala domba.

3 Untuk dia penjaga membuka pintu dan domba-domba mendengarkan suaranya dan ia memanggil domba-dombanya masing-masing menurut namanya dan menuntunnya ke luar.

4 Jika semua dombanya telah dibawanya ke luar, ia berjalan di depan mereka dan domba-domba itu mengikuti dia, karena mereka mengenal suaranya.

5 Tetapi seorang asing pasti tidak mereka ikuti, malah mereka lari dari padanya, karena suara orang-orang asing tidak mereka kenal.”

6 Itulah yang dikatakan Yesus dalam perumpamaan kepada mereka, tetapi mereka tidak mengerti apa maksudnya Ia berkata demikian kepada mereka.

7 Maka kata Yesus sekali lagi: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya Akulah pintu ke domba-domba itu.

8 Semua orang yang datang sebelum Aku, adalah pencuri dan perampok, dan domba-domba itu tidak mendengarkan mereka.

9 Akulah pintu; barangsiapa masuk melalui Aku, ia akan selamat dan ia akan masuk dan keluar dan menemukan padang rumput.

10 Pencuri datang hanya untuk mencuri dan membunuh dan membinasakan; Aku datang, supaya mereka mempunyai hidup, dan mempunyainya dalam segala kelimpahan…”

III. Telaah dan renungan teks

Berikut ini adalah telaah teks dan renungan tentang perikop di atas. Telaah teks bersumber dari The Navarre Bible ((lihat The Navarre Bible, St. John, James Gavigan, ed., (Dublin: Four Courts Press: 1987, reprint 1993), p. 142-144)) dan A Catholic Commentary on Holy Scripture, ((lihat A Catholic Commentary on Holy Scripture, ed. Dom Bernard Orchard O.S.B., (New York, Thomas Nelson and Sons: 1953), p. 999)), sedangkan renungan dicetak dengan huruf miring:

Perumpamaan Yesus sebagai Pintu dan Gembala yang baik sering diebut sebagai allegori ataupun metafor, atau secara keseluruhan disebut sebagai perumpamaan/ simili allegoris. Tugas penggembalaan inilah yang dipercayakan oleh Yesus kepada Rasul Petrus (lih. Mat 16:18, Yoh 21:15-17). Sebab yang dimaksud dengan kawanan domba adalah Gereja. Konsili Vatikan II mengajarkan bahwa antara lain Gereja adalah seumpama “kandang, dan satu-satunya pintu yang harus dilalui ialah Kristus (lih Yoh 10:1-10). Gereja juga kawanan, yang seperti dulu telah difirmankan akan digembalakan oleh Allah sendiri (lih Yes 40:11; Yeh 34:11 dst). Domba-dombanya, meskipun dipimpin oleh gembala-gembala manusiawi, namun tiada hentinya dibimbing dan dipelihara oleh Kristus sendiri, Sang Gembala Baik dan Pemimpin para gembala (bdk Yoh 10:11; 1Ptr 5:4), yang telah merelakan hidup-Nya demi domba-domba (lih Yoh 10:11-15). (Lumen Gentium 6).

1. Ayat 1-2 : Masuk melalui pintu menjadi tolok ukur gembala yang baik
Kawanan domba dapat diganggu dengan cara yang halus dari dalam, ataupun dengan cara yang kasar melalui kekuasaan yang disalahgunakan. Sejarah Gereja menunjukkan bahwa si Jahat dapat menggunakan kedua cara ini: kadang-kadang masuk dalam tubuh Gereja dengan cara halus dan rahasia untuk mengacaukan dari dalam; namun kadang ia masuk dari luar, dengan cara terang- terangan dan kasar. Pintu hanya terbuka bagi para gembala domba, sedangkan yang tidak masuk melalui pintu disebut sebagai pencuri dan perampok. “Siapakah gembala yang baik? Ia yang masuk melalui pintu, yaitu pintu kesetiaan kepada ajaran Gereja…. ” ((J. Escriva, Christ is passing by, 34))

Dapatkah kita mengenali gangguan si Jahat ini dalam Gereja, yang bahkan terjadi di masa sekarang ini? Gangguan yang kasar dari luar mungkin lebih jelas di mata kita, seperti kekerasan/ penganiayaan yang dilakukan oleh pihak luar kepada Gereja. Namun yang tak kalah memprihatinkan adalah gangguan yang masuk di dalam tubuh Gereja secara perlahan- lahan, misalnya adalah paham tentang New Age; di mana mulai banyak mempengaruhi umat Katolik. Sudahkah kita waspada dan menjaga iman kita dan keluarga kita agar jangan terpengaruh olehnya? Sudahkah kita menyadari bahwa gembala yang benar adalah yang masuk melalui pintu yaitu Kristus?

2. Ayat 3-5: Gembala yang baik mengenal domba- dombanya dan mereka mengikuti dia
Di saat itu adalah umum bahwa jika pada waktu malam kawanan domba dikumpulkan menjadi satu kawanan, dan mereka akan dijaga semalaman oleh penjaga malam. Lalu pada waktu dini hari, para gembala akan kembali dan membuka kawanan dan setiap gembala akan memanggil tiap- tiap dombanya, yang akan mengenali suara gembalanya dan mengikutinya. Domba- domba ini mengenali suara gembalanya karena sang gembala biasanya memanggil nama mereka untuk mencegah mereka terpisah dari kawanan; dan sang gembala akan memimpin mereka ke padang rumput. Tuhan menggunakan gambaran ini untuk mengajarkan kebenaran ilahi ini: Karena ada banyak suara di sekeliling kita, kita perlu mengenali suara Kristus, yang secara terus menerus disampaikan kepada kita melalui pengajaran Magisterium Gereja. Selanjutnya, kita perlu menaatinya, jika kita ingin memenuhi kebutuhan jiwa kita. “Kristus telah memberikan kepada Gereja-Nya kepastian di dalam ajaran dan sumber air rahmat di dalam sakramen- sakramen. Ia telah mengatur segalanya sehingga akan selalu ada orang- orang yang membimbing dan memimpin kita, untuk mengingatkan kita secara terus menerus akan jalan kita. Terdapat harta kekayaan yang tak terbatas tentang pengetahuan [akan iman] yang tersedia bagi kita: Sabda Tuhan yang dilestarikan oleh Gereja, rahmat Kristus yang disampaikan di dalam sakramen- sakramen dan juga para saksi iman dan teladan mereka yang hidup di sisi kita dan telah mengetahui bagaimana untuk membangun jalan kesetiaan kepada Tuhan dengan kehidupan mereka yang kudus.” ((J. Escriva, Christ is passing by, 34))

Belajar dari kisah domba- domba ini yang mengenali suara gembalanya: apakah kita sudah mengenali suara Kristus Gembala utama kita? Apakah kita mau taat kepada suara para gembala, yaitu para imam, uskup dan Paus yang diberi kuasa oleh Tuhan Yesus untuk mengajar kita? Apakah kita sudah mengenali pengajaran mereka sebagai pengajaran Tuhan sendiri? Apakah kita menghargai sakramen- sakramen? Dan dengan tulus hati mempersiapkan diri untuk menerimanya dengan sikap batin dan sikap tubuh yang layak? Apakah kita mau dengan kerendahan hati belajar dari para orang kudus (Santo/santa), dan mencontoh teladan hidup mereka? Atau jangan- jangan, dengan tinggi hati kita berujar, “Ah… semua orang sama saja. Para Santo/ santa tidak ada bedanya dengan saya!”

3. Ayat 6: Mereka tidak memahami ajaran Yesus yang disampaikan dengan perumpamaan
Kristus mengembangkan dan menginterpretasikan gambaran gembala dan kawanan untuk meyakinkan bahwa setiap orang yang mempunyai sikap batin yang baik dapat memahami artinya. Tetapi orang Yahudi gagal untuk memahaminya – seperti terjadi juga ketika Yesus mengajar tentang Ekaristi/ sang Roti hidup yang turun dari surga (Yoh 6:41-43) dan ketika ia berbicara tentang “air hidup” (Yoh 7: 37-43), atau ketika Ia membangkitkan Lazarus dari mati (Yoh 11:25-26).

Adakah halangan di batin kita untuk menerima ajaran Kristus? Apakah kita juga seperti orang Farisi, yang menutup diri terhadap ajaran Kristus dan ajaran Gereja, sementara dengan teguh memegang interpretasi sendiri tentang suatu ajaran tertentu? Bagaimana penghayatan kita akan pengajaran Yesus tentang Ekaristi- Roti Hidup yang dapat kita terima setiap hari? Bagaimana kita melihat kematian, dan orang- orang yang sudah mendahului kita? Nampaknya kita perlu mempunyai keterbukaan hati dan kerendahan hati untuk belajar memahami apa yang disampaikan oleh Tuhan Yesus melalui Gereja-Nya. Jika kita berkeras mempertahankan pendapat pribadi, bukankah kita menjadi seperti orang Yahudi, yang gagal memahami ajaran Yesus karena mendahulukan pemahaman sendiri, yang berbeda dengan yang Yesus sampaikan?

4. Ayat 7: Yesus adalah pintu ke domba- domba itu
Setelah Ia menjabarkan tentang Gereja-Nya di masa datang melalui gambaran kawanan domba, Kristus memperluas perumpamaan simili ini dan menyebut diri-Nya sebagai “pintu ke domba- domba itu”. Artinya, baik para gembala maupun domba yang masuk ke dalam kawanan harus melalui pintu itu; yaitu Kristus. St. Agustinus berkhotbah, “Melalui Kristus aku masuk, bukan ke rumahmu, tetapi ke hatimu. Melalui Dia aku masuk dan kamu dengan siap sedia mendengarkan aku yang berbicara tentang Dia. Mengapa? Karena kamu adalah domba Kristus; dan kamu telah ditebus oleh darah-Nya.” ((St. Agustinus, In Ioann Evang., 47, 2-3))

Jika Tuhan mempercayakan tugas penggembalaan yang sederhana kepada kita: misalnya sebagai orang tua dalam membina iman anak- anak kita; atau sebagai pelayan umat dalam paroki atau lingkungan, kita perlu mengusahakan tujuan ini: yaitu agar orang- orang yang dipercayakan Tuhan kepada kita, dapat mengenal dan mengasihi Kristus. Kristuslah yang harus menjadi yang utama, Dia semakin besar, dan kita semakin kecil (Yoh 3:30). Sudahkah kita bersikap demikian?

5. Ayat 8: Mereka yang datang sebelum Yesus adalah pencuri dan perampok
Perkataan Yesus yang keras tentang mereka yang datang sebelum Dia, tidak ditujukan kepada Moses atau para nabi (lih. Yoh 5:39,45; 8:56; 12:41), atau kepada Yohanes Pembaptis (lih. Yoh 5:23), sebab mereka mewartakan Mesias yang akan datang dan mempersiapkan jalan bagi-Nya. Di sini Kristus mengacu kepada para nabi palsu dan penipu, di antaranya beberapa pengajar Hukum Taurat, yang adalah orang- orang buta dan pembimbing yang buta (lih. Mat 23:16-24) yang menghalangi jalan orang- orang kepada Kristus, seperti telah terjadi sesaat sebelumnya, ketika para pengajar itu menghalangi orang- orang untuk percaya kepada Yesus, ketika Ia menyembuhkan orang yang dilahirkan buta (lih. Yoh 9).

St. Krisostomus dan banyak komentator lainnya telah berpandangan bahwa mesias palsu adalah seperti Yudas orang Galilea atau Theudas (Kis 5:36-); namun penggunaan kata kerja dalam bentuk present di sini, kelihatannya mengacu kepada para gembala palsu yang ada pada saat itu yaitu para orang Farisi dan Saduki. Domba- domba tidak mendengarkan mereka, kawanan itu menjadi seperti tidak mempunyai gembala (lih. Mat 9:36; Mrk 6:34). Dalam nubuat Yehezkiel, Yeh 34: 1-24, Tuhan telah menyatakan maksud-Nya untuk mengambil alih penggembalaan umat-Nya dari para gembala yang hanya memikirkan diri sendiri, dan memberikannya kepada sang raja keturunan Daud.

Dalam kehidupan sehari- hari, terutama bagi kita sering datang ke gereja, berdoa menerima sakramen, kita dipanggil untuk menjadi saksi iman yang hidup, yang bertingkah laku sesuai dengan iman kita. Apalagi bagi mereka yang dipercaya untuk mengajar di gereja, atau dikenal sebagai seseorang yang ‘melayani’ Tuhan, maka renungan ini menjadi sangat relevan: apakah aku sudah mengambil bagian dalam tugas penggembalaan Kristus dengan baik, ataukah belum? Sebab jangan sampai kita bersikap seperti orang- orang Farisi yang perbuatannya tidak sesuai dengan perkataan/ ajaran yang keluar dari mulut kita.

6. Ayat 9: Yesus sebagai pintu bagi gembala dan domba, menuju ke padang rumput
Ketika Yesus menyatakan diri-Nya sebagai pintu yang aman bagi semua yang masuk melalui Dia, Ia bermaksud pertama- tama sebagai pintu bagi gembala, namun demikian,  Ia juga adalah pintu bagi domba- domba yang melalui-Nya mereka masuk dan keluar untuk menemukan padang rumput.

Adalah wajar jika dalam rangka mengambil bagian dalam tugas sang pemimpin, sang bawahan mengikuti ketentuan dan perintah atasannya. Maka semua orang yang turut mengambil bagian di dalam tugas penggembalaan Kristus selayaknya mengindahkan ajaran Kristus yang dinyatakan melalui Magisterium, dan bukan semata- mata atas pemahamannya sendiri.

7. Ayat 10: Yesus datang untuk memberikan hidup dalam kelimpahan
Jika maksud para pencuri adalah merusak, maksud Yesus adalah memberikan hidup, yaitu hidup kekal. Ia datang kepada domba- dombanya supaya mereka memperoleh hidup dan mempunyainya di dalam kelimpahannya: yaitu rahmat, kemuliaan dan kebangkitan dari kematian.

Ada banyak orang keliru dalam menginterpretasikan ‘hidup dalam segala kelimpahan’ yang dimaksudkan oleh Tuhan Yesus di sini. Mereka menyangka bahwa Tuhan Yesus menjanjikan kelimpahan materi. Seolah-olah jika seseorang sudah mengimani Kristus pasti dapat berkelimpahan harta, atau sebaliknya, jika ia belum berkelimpahan harta artinya ia belum sungguh hidup di dalam Yesus. Namun Sabda Tuhan menunjukkan bahwa bukan kelimpahan harta jasmani yang dijanjikan oleh Yesus, melainkan hidup yang kekal (lih. Yoh 3:16; 1 Tim 1:16). Coba bayangkan, apakah kiranya yang lebih tinggi daripada kehidupan yang kekal bersama Tuhan? Banyak orang menghubungkan kelimpahan hidup dengan kebahagiaan duniawi yang diperoleh dari harta kekayaan, kedudukan, kecantikan, dst. Namun sesungguhnya semua itu bukan kelimpahan yang dijanjikan oleh Kristus. Yang dijanjikan-Nya adalah Ia, sebagai Sang Roti Hidup, akan hadir dan menyertai kita dalam Ekaristi; dan dengan menyambut Ekaristi kita menyambut Kristus sendiri. Adakah yang lebih berharga dari Kristus sendiri yang kita sambut? Dan dengan menyambut Dia yang adalah Sang Hidup, kita memperoleh hidup ilahi di dalam Kristus yang menghantar kita kepada hidup yang kekal. Dengan menyambut Kristus kita akan diubah sedikit demi sedikit untuk menjadi semakin menyerupai Dia: semakin beriman, semakin berpengharapan dan semakin dapat mengasihi dengan tulus. Dengan sifat- sifat inilah kita dimampukan oleh Allah untuk menghadapi pergumulan hidup; dan kita sungguh dapat hidup di dalam Tuhan dan bersama Tuhan. Dalam keadaan ini kita dapat melihat berkat- berkat Tuhan yang terus menyertai, walaupun kita berada dalam keadaan yang paling sulit sekalipun. Inilah hidup sejati di dalam Tuhan yang menghantar kita kepada kehidupan kekal di surga kelak.

“Akulah roti hidup yang telah turun dari sorga. Jikalau seorang makan dari roti ini, ia akan hidup selama-lamanya, dan roti yang Kuberikan itu ialah daging-Ku, yang akan Kuberikan untuk hidup dunia….. Barangsiapa makan daging-Ku dan minum darah-Ku, ia mempunyai hidup yang kekal dan Aku akan membangkitkan dia pada akhir zaman….Sama seperti Bapa yang hidup mengutus Aku dan Aku hidup oleh Bapa, demikian juga barangsiapa yang memakan Aku, akan hidup oleh Aku…. ia akan hidup selama-lamanya.” (Yoh 6:51-58)

“Dan jika Roh Dia, yang telah membangkitkan Yesus dari antara orang mati, diam di dalam kamu, maka Ia, yang telah membangkitkan Kristus Yesus dari antara orang mati, akan menghidupkan juga tubuhmu yang fana itu oleh Roh-Nya, yang diam di dalam kamu.” (Rom 8:11).

IV. Mari masuk melalui ‘pintu’ yaitu Kristus

Minggu ini adalah Minggu Panggilan. Kita perlu bersyukur kepada Tuhan, yang telah memberikan kepada kita para gembala yang mengajar dan memimpin kita atas kuasa yang diberikan oleh Tuhan Yesus melalui tahbisan mereka. Mari kita mendoakan agar mereka dapat setia menjalani panggilan hidup mereka; dan dapat setia mengajar sesuai dengan ajaran Magisterium Gereja. Dengan demikian, dapat terjagalah kesatuan kawanan, dan para gembala tersebut dapat menjadi gembala yang baik, yang masuk melalui pintu yang satu dan sama; yaitu Yesus Kristus. Mari kita berdoa pula, agar semakin banyak kaum muda tergerak untuk menanggapi tugas panggilan sebagai imam, biarawan ataupun biarawati; sebab dengan demikian mereka menjadi saksi yang hidup akan kuasa Tuhan; yang memampukan manusia yang serba terbatas untuk berkata “Ya” kepada panggilan-Nya yang melibatkan pemberian diri yang total, demi meluaskan Kabar Suka cita Kerajaan Allah sampai ke ujung bumi, namun juga sampai ke sudut- sudut hati. Akhirnya, seumpama kawanan domba, mari kita berdoa agar mengenali suara gembala- gembala yang baik- yaitu mereka yang masuk melalui ‘pintu’,  yaitu Kristus.

Dapatkah orang yang sudah pernah menikah di agama lain menikah lagi di Gereja Katolik?

0

Prinsipnya, Gereja Katolik menolak perceraian, dan mensyaratkan kedua mempelai pria dan wanita dalam status liber/ bebas, maksudnya tidak pernah terikat dalam perkawinan terdahulu. Sehingga kalau salah satu dari pasangan sudah pernah menikah secara sah (walaupun di agama bukan Katolik), maka pasangan tersebut tidak dapat diberkati perkawinannya oleh Gereja Katolik, sebab Gereja Katolik tetap menghargai ikatan perkawinan kodrati yang sudah disahkan menurut agama lain.

Jika pasangan itu ingin diberkati di Gereja Katolik, maka ikatan perkawinan terdahulunya harus dibereskan dahulu. Artinya, silakan dilihat, apakah ada kemungkinan pembatalan perkawinan yaitu apakah perkawinan terdahulu itu sah atau tidak. Menurut Gereja katolik, ada tiga hal yang membatalkan perkawinan: 1) halangan menikah; 2) cacat konsensus; dan 3) cacat forma kanonika.

Macam- macam halangan menikah adalah: 1) kurangnya umur, 2) impotensi, 3) adanya ikatan perkawinan terdahulu, 4) disparitas cultus/ beda agama tanpa dispensasi, 5) tahbisan suci, 6) kaul kemurnian dalam tarekat religius, 7) penculikan dan penahanan, 8) kejahatan pembunuhan, 9) hubungan persaudaraan konsanguinitas, 10) hubungan semenda, 11) halangan kelayakan publik seperti konkubinat, 12) ada hubungan adopsi.

Cacat konsensus adalah: 1) Kekurangan kemampuan menggunakan akal sehat, 2) Cacat yang parah dalam hal pertimbangan (grave defect of discretion of judgement), 3) Ketidakmampuan mengambil kewajiban esensial perkawinan, 4) Ketidaktahuan (ignorance) akan hakekat perkawinan, 5) Salah orang, 6) Salah dalam hal kualitas pasangan, yang menjadi syarat utama, 7) Penipuan/ dolus, 8) Simulasi total/ hanya sandiwara untuk keperluan tertentu seperti untuk mendapat ijin tinggal/ kewarganegaraan tertentu, 9) Simulasi sebagian, seperti: Contra bonum polis: dengan maksud dari awal untuk tidak mau mempunyai keturunan; Contra bonum fidei: tidak bersedia setia/ mempertahankan hubungan perkawinan yang eksklusif hanya untuk pasangan; Contra bonum sacramenti: tidak menghendaki hubungan yang permanen/ selamanya; Contra bonum coniugum: tidak menginginkan kebaikan pasangan, contoh menikahi agar pasangan dijadikan pelacur, dst, 10) Menikah dengan syarat kondisi tertentu, 11) Menikah karena paksaan, 12) Menikah karena ketakutan yang sangat akan ancaman tertentu.

Cacat forma kanonika: Pada dasarnya pernikahan diadakan berdasarkan cara kanonik Katolik, di depan otoritas Gereja Katolik dan dua orang saksi. Maka Pernikahan antara dua pihak yang dibaptis, yaitu satu pihak Katolik dan yang lain Kristen non- Katolik, memerlukan ijin dari pihak Ordinaris Gereja Katolik (pihak keuskupan di mana perkawinan akan diteguhkan). Sedangkan pernikahan antara pihak yang dibaptis Katolik dengan pihak yang tidak dibaptis (non Katolik dan non- Kristen) memerlukan dispensasi dari pihak Ordinaris.

Nah, orang yang tidak Katolik tidak terikat forma kanonika, tetapi hal halangan menikah dan cacat konsensus tetap perlu diperhitungkan. Silakan, jika ada dasarnya dari kedua hal tersebut, calon pasangan anda menulis surat permohonan pembatalan ikatan perkawinan kepada pihak Tribunal Keuskupan agar ikatan perkawinan terdahulunya itu dapat dinyatakan tidak sah. Ini bukan perceraian, melainkan Gereja Katolik menyatakan bahwa perkawinan sebelumnya itu tidak sah, karena tidak memenuhi syarat untuk dapat dikatakan sebagai perkawinan yang sah. Jika permohonan pembatalan ini sudah diberikan oleh Tribunal, maka anda dan pasangan anda dapat melangsungkan perkawinan secara sah di Gereja Katolik.

Silakan menemui pastor paroki untuk mendampingi anda di dalam hal ini.

Dasar Kitab Suci:

  • Mat 19:5-7, Mrk 10:6-9, Kej 2:24: Perkawinan monogam, tak terceraikan

Dasar Magisterium Gereja:

  • Katekismus Gereja Katolik: 1614, 1625, 1626, 1627, 1628, 1629, 1638

KGK 1614  Dalam pewartaan-Nya, Yesus mengajarkan dengan jelas arti asli dari persatuan pria dan wanita, seperti yang dikehendaki Pencipta sejak permulaan; izin yang diberikan oleh Musa untuk menceraikan isteri adalah suatu penyesuaian terhadap ketegaran hati; (Bdk. Mat 19:8) kesatuan perkawinan antara pria dan wanita tidak tercerai – Allah sendiri telah mempersatukan mereka; “Apa yang telah dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan manusia” (Mat 19:6).

KGK 1625  Perjanjian Perkawinan diikat oleh seorang pria dan seorang wanita yang telah dibaptis dan bebas untuk mengadakan Perkawinan dan yang menyampaikan kesepakatannya dengan sukarela. “Bebas” berarti:
– tidak berada di bawah paksaan;
– tidak dihalang-halangi oleh hukum kodrat atau Gereja.

KGK 1626  Gereja memandang kesepakatan para mempelai sebagai unsur yang mutlak perlu untuk perjanjian Perkawinan. “Perkawinan itu terjadi” melalui penyampaian kesepakatan (CIC, can. 1057 ? 1). Kalau kesepakatan tidak ada, Perkawinan tidak jadi.

KGK 1627   Kesepakatan itu merupakan “tindakan manusiawi, yakni saling menyerahkan diri dan saling menerima antara suami dan isteri” (GS 48,1; Bdk.KHK, can. 1057 ?2) “Saya menerima engkau sebagai isteri saya”; “saya menerima engkau sebagai suami saya” (OcM 45). Kesepakatan yang mengikat para mempelai satu sama lain diwujudkan demikian, bahwa “keduanya menjadi satu daging”. (Bdk. Kej 2:24; Mrk 10:8; Ef 5:31).

KGK 1628  Kesepakatan harus merupakan kegiatan kehendak dari setiap pihak yang mengadakan perjanjian dan bebas dari paksaan atau rasa takut yang hebat, yang datang dari luar. (Bdk.KHK, can. 1103). Tidak ada satu kekuasaan manusiawi dapat menggantikan kesepakatan (Bdk. KHK, can. 1057 ?1) Kalau kebebasan ini tidak ada, maka Perkawinan pun tidak sah.

KGK 1629  Karena alasan ini (atau karena alasan-alasan lain yang membuat Perkawinan tidak terjadi) (Bdk. KHK, cann. 1095-1107), Gereja, setelah masalah ini diperiksa oleh pengadilan Gereja yang berwewenang, dapat menyatakan Perkawinan itu tidak sah, artinya menjelaskan bahwa Perkawinan itu tidak pernah ada. Dalam hal ini kedua pihak bebas lagi untuk kawin; mereka hanya harus menepati kewajiban-kewajiban kodrati, yang muncul dari hubungan yang terdahulu (Bdk. KHK, can. 1071).

KHK 1638  “Dari Perkawinan sah timbul ikatan antara suami isteri, yang dari kodratnya bersifat tetap dan eksklusif, di samping itu dalam Perkawinan kristiani suami isteri diperkuat dengan Sakramen khusus untuk tugas-tugas serta martabat statusnya dan seakan-akan ditahbiskan (KHK, can. 1134).

  • Kitab Hukum Kanonik: Kann. 1083- 1094 (tentang halangan- halangan menikah); Kann.  1095, 1′- 1103 (tentang cacat konsensus), Kann. 1108- 1129,144, 1112,§1, 1116, 1127, §§1-2 (tentang bentuk/ forma kanonika perayaan perkawinan Katolik)

Tambahan penjelasan:

Keep in touch

18,000FansLike
18,659FollowersFollow
32,900SubscribersSubscribe

Artikel

Tanya Jawab