Home Blog Page 190

Apakah Gereja Katolik asalnya dari Kaisar Konstantin?

6

[Dari Katolisitas: Pertanyaan ini sebenarnya diletakkan di bawah artikel, “Mengapa memilih Gereja Katolik?”, silakan klik, namun karena komentar ini mengemukakan topik baru (meskipun topik serupa sudah pernah dibahas di beberapa jawaban di situs ini), maka kami pisahkan menjadi topik tersendiri]

Pertanyaan:

Shalom Katolisitas, sebuah penjelasan yang bagus tetapi ijinkan saya mengutip apa yang saya baca tentang gereja Katolik dibawah ini:

Kalau kekatolikan dimaksud agama GRK maka menurut apa yang saya baca didalam sejarah kesimpulannya kalau tidak ada ajaran kekatolikan GRK tsb maka Maria tidak akan mengalami distorsi pengajaran.

Saya mencoba menyumbangkan apa yang saya baca mengenai sejarah sinkretisme dengan paganisme memang dimulai sejak Raja Constantine berkuasa di Roma.

Sejak Constantine berkuasa tahun 312 M di Roma Barat bersama iparnya Licinus yang menguasai Roma Timur mereka berdua mengeluarkan “Edik Milano” tahun 313 dimana ditetapkan bahwa gereja mendapat kebebasan sepenuh-penuhnya untuk beribadah. Sejak saat itulah gereja berhenti dianiaya.

Gereja mulai berdamai dengan negara dan lama kelamaan kedudukan gereja meningkat dan kedudukannya semakin kokoh serta banyak mendapat fasilitas bantuan dari negara.

Setelah Constantine mengalahkan Licinus dan menguasai seluruh Roma tahun 324 Constantine mulai berusaha menyatukan kuasa agama dan negara ditangan satu orang yaitu dirinya sendiri. Tetapi barulah tahun 380 Gereja diresmikan menjadi ‘Gereja Negara’ oleh kaisar Theodosius.

Sejak berkuasa penuh Constantine membasmi semua gereja gereja sekte diluar gereja yang mulai disebut sebagai Gereja Roma Katolik (GRK). Dari sebelumnya gereja teraniaya sekarang gereja yang menganiaya gereja sekte lainnya seperti Marcion,Montanus,Novatinus dll.

Sebenarnya dari segi kemurnian ajaran maka perpaduan antara kuasa agama dan politik ini sangat merugikan gereja,gereja menjadi lebih diduniawikan dan mulai terjadi sinkretisme dengan agama atau lebih tepat disebut kebudayaan Romawi yaitu menyembah berbagai dewa dewi.

Bahwa gereja berada dibawah perlindungan kaisar membuat pemimpin gereja sungkan dan takluk kepada kehendak kaisar sehingga benih benih penyembahan berhala tidak kuasa dibendung lagi masuk kedalam ajaran gereja.

Karena Kekristenan menjadi agama resmi negara maka motivasi orang orang untuk masuk menjadi angggota gereja sudah terkontaminasi bukan saja karena iman tetapi juga gengsi dan kehormatan diri.

Inilah masa dimulainya proses sekularisasi dan sinkretisme gereja dimana tradisi paganisme mulai mewarnai gereja seperti upacara kebaktian yang megah,jubah jubah mewah,lilin,kemenyan,gedung gereja yang besar dan megah,dll.

Secara lahiriah Gereja masih disebut Kristen tetapi kesalehan para pengurusnya bercorak kafir karena mulai menggunakan berbagai perangkat penyembahan patung patung dan relikwi,menghormati orang kudus,malaikat,dan Maria.

Orang orang kafir masuk Kristen kehilangan dewa dewi mereka yang dapat memberikan pertolongan selama ini dalam rupa rupa kesulitan sekarang pengganti mereka diangkatlah orang orang kudus. Hari raya dewa dewa diganti menjadi hari raya Gereja untuk memuja orang kudus. Ibadah pada dewa dewi dijadikan ibadah kepada Maria selaku ‘Bunda Allah’ yang memelihara dan melindungi segala orang percaya.

Demikianlah sekilas asal mula GRK.

Sumber : Sejarah Gereja (Dr.Berkhof ; Dr.L.H.Enklaar).

Jawaban:

Shalom David,

1. Gereja Katolik baru lahir di zaman Raja Konstantin?

Gereja Katolik sudah ada sebelum Kaisar Konstantin. Sebutan “Katolik” untuk Gereja sudah mulai dikenal di zaman abad- abad awal, jadi bukan baru ada pada abad ke-4 di zaman Kaisar Konstantin. Untuk mengetahui kebenaran tentang hal ini, seseorang perlu mengetahui terlebih dahulu sejak kapan istilah “katolik” itu mulai dipakai dalam kesatuan dengan istilah Gereja.

Istilah ‘katolik’ bukan istilah baru, karena sudah dikenal sejak zaman Santo Polycarpus (murid Rasul Yohanes) untuk menggambarkan iman Kristiani, bahkan pada jaman para rasul. Kis 9:31 menuliskan asal mula kata Gereja Katolik (katholikos) yang berasal dari kata “Ekklesia Katha Holos“. Ayatnya berbunyi, “Selama beberapa waktu jemaat di seluruh Yudea, Galilea dan Samaria berada dalam keadaan damai. Jemaat itu dibangun dan hidup dalam takut akan Tuhan. Jumlahnya makin bertambah besar oleh pertolongan dan penghiburan Roh Kudus; Di sini kata “Katha holos atau katholikos; dalam bahasa Indonesia adalah jemaat/ umat Seluruh/ Universal atau Gereja Katolik, sehingga kalau ingin diterjemahkan secara konsisten, maka Kis 9:31, bunyinya adalah, “Selama beberapa waktu Gereja Katolik di Yudea, Galilea, dan Samaria berada dalam keadaan damai.

Namun istilah ‘Gereja Katolik’ resmi dikenal dan digunakan sebagai nama/ sebutan Gereja pada awal abad ke-2 (tahun 107), ketika Santo Ignatius dari Antiokhia menjelaskan dalam suratnya kepada jemaat di Smyrna 8, untuk menyatakan Gereja Katolik sebagai Gereja satu-satunya yang didirikan Yesus, untuk membedakan umat Kristen dari para heretik pada saat itu yang menolak bahwa Yesus adalah Allah yang sungguh-sungguh menjelma menjadi manusia, yaitu heresi/ bidaah Docetism dan Gnosticism. Dengan surat ini St. Ignatius mengajarkan tentang hirarki Gereja, imam, dan Ekaristi yang bertujuan untuk menunjukkan kesatuan Gereja dan kesetiaan Gereja kepada ajaran yang diajarkan oleh Kristus. . Demikian kutipannya:

“…Di mana uskup berada, maka di sana pula umat berada, sama seperti di mana ada Yesus Kristus, maka di sana juga ada Gereja Katolik.” (St. Ignatius of Antioch, Letter to Smyrnaeans, 8)

Sejak saat itu Gereja Katolik memiliki arti yang kurang lebih sama dengan yang kita ketahui sekarang, yaitu bahwa Gereja Katolik adalah Gereja universal di bawah pimpinan para uskup yang mengajarkan doktrin yang lengkap, sesuai dengan yang diajarkan Kristus; namun sebenarnya asal usul Gereja Katolik tetaplah adalah Gereja yang satu dan sama, yang didirikan Kristus di atas Rasul Petrus yang resmi dilahirkan di hari Pentakosta sekitar tahun 30.

Kata ‘Katolik’ sendiri berasal dari bahasa Yunani, katholikos, yang artinya “keseluruhan/ universal; atau “lengkap “. Jadi dalam hal ini kata katolik mempunyai dua arti: bahwa Gereja yang didirikan Yesus ini bukan hanya milik suku tertentu atau kelompok eksklusif yang terbatas; melainkan mencakup ‘keseluruhan‘ keluarga Tuhan yang ada di ‘seluruh dunia‘, yang merangkul semua, dari setiap suku, bangsa, kaum dan bahasa (Why 7:9). Kata ‘katolik’ juga berarti bahwa Gereja tidak dapat memilih-milih doktrin yang tertentu asal cocok sesuai dengan selera/ pendapat kita, tetapi harus doktrin yang setia kepada ‘seluruh‘ kebenaran. Rasul Paulus mengatakan bahwa hakekatnya seorang rasul adalah untuk menjadi pengajar yang ‘katolik’ artinya yang “meneruskan firman-Nya (Allah) dengan sepenuhnya…. tiap-tiap orang kami nasihati  dan tiap-tiap orang kami ajari dalam segala hikmat, untuk memimpin tiap-tiap orang kepada kesempurnaan dalam Kristus.” (Kol 1:25, 28). Maka, Gereja Kristus disebut sebagai katolik (= universal) sebab ia dikurniakan kepada segala bangsa, oleh karena Allah Bapa adalah Pencipta segala bangsa. Jadi Gereja Katolik adalah Gereja universal di bawah pimpinan para uskup yang mengajarkan doktrin yang lengkap, sesuai dengan yang diajarkan Kristus.

Jadi nampaknya sumber yang Anda kutip itu tidak melihat/ mengutip bukti sejarah yang menuliskan bahwa istilah “Gereja Katolik” sudah ada sebelum zaman Konstantin. Untuk memahami suatu kebenaran sejarah Gereja, seseorang perlu mengacu kepada fakta- fakta sejarah abad- abad awal, yaitu tulisan para Bapa Gereja dan tidak boleh membatasi diri hanya kepada konsepnya sendiri bahwa ‘karena Gereja Katolik mulai berkembang di abad ke-4 maka mestinya Gereja Katolik baru lahir di abad ke-4’. Konsepsi ini tidak benar.

Ajaran Marcion berkembang tahun 110 (abad ke-2) demikian pula Montanism, sedangkan Docetism dan Gnosticism berkembang sejak abad ke-1; mereka sudah disebut oleh Rasul Paulus sebagai orang- orang yang mengajarkan “injil yang lain” daripada injil yang diajarkan oleh para rasul (2 Kor 11:4, Gal 1:6). Para rasul mengingatkan agar jemaat tidak terpengaruh oleh ajaran mereka, dan timbullah istilah Gereja Katolik, untuk membedakan antara Gereja yang berlandaskan ajaran Kristus dan para rasul dengan gereja-gereja yang didirikan oleh orang (orang- orang) yang tidak mempunyai kesatuan dengan para rasul, walaupun mereka mengaku sebagai pengikut Kristus. Jadi istilah “Gereja Katolik” itu bukan baru timbul sesudah abad ke-4 oleh Kaisar Konstantin, tetapi sudah ada sejak abad awal (abad 1 dan 2).

2. Ajaran Gereja Katolik tercemar oleh ajaran bangsa pagan dengan adanya ajaran tentang ‘orang- orang kudus’ ?

Ajaran tentang persekutuan orang kudus dan penghormatan kepada orang- orang kudus ini sudah ada sejak abad- abad awal. Silakan membaca di sini tentang hal itu, silakan klik, yaitu point ke-2.

Penghormatan orang kudus berawal dari penghormatan jemaat perdana kepada para martir, yaitu mereka yang bersedia menyerahkan nyawanya demi mempertahankan iman akan Kristus. Kebiasaan ini mempunyai dasar pemahaman bahwa persatuan umat beriman di dalam Kristus tidak terceraikan oleh apapun, bahkan oleh maut (lih. Rom 8:38-39). Para orang kudus dan martir yang telah mendahului kita telah menjadi orang- orang yang telah dibenarkan Tuhan sehingga doa- doa mereka besar kuasanya (lih. Yak 5:16). Gereja tidak menyembah orang- orang kudus, namun menghormati mereka dan memohon dukungan doa mereka, silakan membaca lebih lanjut dasarnya di sini, silakan klik

Sedangkan penghormatan terhadap Bunda Maria dan tentang istilah Maria sebagai Bunda Allah, itu sumbernya adalah dari Kitab Suci, yang sudah ada di abad pertama, jauh sebelum jaman Kaisar Konstantin. Silakan membaca di sini untuk topik tersebut:

Mengapa Maria disebut Bunda Allah?
Mengapa umat Katolik menghomati Bunda Maria?

Selanjutnya silakan membaca tentang topik-topik tentang Bunda Maria di situs ini, yang semuanya mempunyai dasar dari Kitab Suci dan Tradisi Suci para rasul.

Memang sebagian dari informasi yang Anda tuliskan itu benar, yaitu tentang Edict Milan (Edik Milano 313), yang cukup berperan dalam perkembangan Gereja, karena sejak saat itu anggota- anggota Gereja tidak lagi dianiaya dan dikejar- kejar untuk dihukum mati. Lalu adalah juga benar bahwa bangsa Romawi itu dulu memuja/ menyembah banyak dewa dewi, kita bahkan masih dapat melihat hal ini dari bukti arkeologis yang ditemukan di sana. Juga adalah benar, bahwa Gereja pada abad itu menghormati para orang kudus. Tetapi adalah keliru kalau penghormatan orang kudus itu dihubungkan dengan kebiasaan bangsa Romawi untuk memuja dewa- dewi. Juga keliru kalau dikatakan bahwa pemimpin Gereja sungkan dengan Kaisar sehingga mengikuti kebiasaannya. Hal ‘sungkan’ ini merupakan hipotesa sang penulis kisah sejarah yang Anda kutip, namun tidak cocok dengan tulisan para Bapa Gereja sejak abad awal, yang tentu lebih dapat dipercaya, karena mereka merupakan para penerus Rasul. Para Bapa Gereja tersebut menuliskan bagaimana jemaat sejak awal telah memberikan penghormatan kepada para martir/ para kudus yang mendahului mereka. Lagipula, Gereja Katolik tidak pernah mengajarkan pemujaan/ penyembahan kepada para orang kudus, namun hanya menghormatinya saja, dan menjadikan mereka sebagai teladan iman. Silakan membaca di sini silakan klik tentang perbedaan antara penyembahan (Latria) yang hanya diberikan kepada Allah dan penghormatan (Dulia) yang diberikan kepada orang-orang kudus.

3. Tentang hal- hal lain

a. Jubah keagamaan dan bahkan warna- warnanya yang dipakai oleh para Uskup dan Paus mengacu kepada apa yang dituliskan untuk pakaian para imam Lewi dalam kitab Perjanjian Lama (lih. Kel 28:1-43; Kel 39:1-31) pada saat memimpin jemaat Allah; demikian pula jubah disebutkan dalam Kitab Wahyu sebagai pakaian bagi para orang kudus yang melayani Allah siang dan malam (lih. Why 7:14-15). Maka jubah dan warna- warnanya adalah pilihan Allah sendiri bagi imam-Nya sebagai para pelayan jemaat-Nya. Jadi kalau Gereja Katolik memakai warna- warna tersebut, itu adalah karena Allah sendiri menghendakinya, sebagaimana tertulis dalam Kitab Suci.

b. Penggunaan kemenyan juga memiliki dasar Kitab Suci (lih. Mzm 141:1-2; Why 8:3-4; Kel 30:34-37), demikian pula air untuk pemurnian (lih. Ibr 10:22; Yeh 36:25), dan minyak untuk pengurapan (lih. 1 Sam 16:13; Yak 5:14).

c. Penyalaan lilin pada saat ibadah, juga tidak dapat dilepaskan dengan dua hal, pertama akan pesan Kristus Sang Terang dunia (lih. Yoh 8:12), agar kita sebagai murid- murid-Nya juga dapat menjadi terang bagi dunia (lih. Mat 5:14), dengan memancarkan terang kita terima dari Kristus. Kedua, jika kita melihat ke dalam sejarah Gereja, kebiasaan menyalakan lilin di altar juga berhubungan dengan perayaan Ekaristi di gereja- gereja katakomba (bawah tanah) ataupun di tempat- tempat tersembunyi yang gelap, menghindari penangkapan dari pihak penguasa di abad- abad awal. Maka di sini penyalaan lilin mempunyai makna simbolis, namun juga fungsional, dan tidak ada kaitannya dengan filsafat kafir.

Selanjutnya tentang keberatan- keberatan lain sudah pernah dibahas di topik ini, silakan klik.

Demikianlah David, tanggapan kami atas komentar Anda, semoga menjadi masukan bagi Anda.

Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
Ingrid Listiati- katolisitas.org

Cara Menerima Komuni dua rupa

27

Pada waktu kita mengikuti perayaan Ekaristi, maka seringnya kita hanya menerima komuni satu rupa. Namun, dalam beberapa kesempatan, kita juga dapat menerima komuni dua rupa. Dalam kondisi seperti ini, banyak orang yang bingung bagaimana cara menerima komuni dua rupa secara benar. Berikut ini adalah ketentuan untuk penerimaan Komuni dua rupa seperti yang tertulis dalam PUMR (Pedoman Umum Misale Romawi):

PUMR 286    Kalau Darah Kristus disambut dengan minum dari piala, sesudah menyambut Tubuh Kristus, orang yang menyambut menghadap petugas yang melayani piala, dan berdiri di depannya. Pelayan berkata: Darah Kristus, penyambut menjawab: Amin. Lalu pelayan menyerahkan piala kepada penyambut. Penyambut memegang sendiri piala itu dan minum darinya, lalu mengembalikan piala kepada pelayan. Kemudian, penyambut kembali ke tempat duduk, dan sementara itu pelayan membersihkan bibir piala dengan purifikatorium.

PUMR 287    Kalau komuni dua rupa dilaksanakan dengan mencelupkan hosti ke dalam anggur, tiap penyambut, sambil memegang patena di bawah dagu, menghadap imam yang memegang piala. Di samping imam berdiri pelayan yang memegang bejana kudus berisi hosti. Imam mengambil hosti, mencelupkan sebagian ke dalam piala, memperlihatkannya kepada penyambut sambil berkata: Tubuh dan Darah Kristus. Penyambut menjawab: Amin, lalu menerima hosti dengan mulut, dan kemudian kembali ke tempat duduk.

Maka memang sebelum mengadakan Komuni dalam dua rupa harus dipersiapkan dua hal ini:

PUMR 285    Yang harus disiapkan untuk komuni dua rupa ialah:

a. kalau komuni- anggur dilaksanakan dengan minum langsung dari piala, hendaknya disiapkan beberapa piala atau satu piala yang cukup besar. Tetapi hendaknya diusahakan jangan sampai Darah Kristus tersisa terlalu banyak.

b. kalau komuni- anggur dilaksanakan dengan mencelupkan hosti ke dalam piala, hendaknya disiapkan hosti- hosti yang tidak terlalu kecil dan tipis, tetapi lebih tebal daripada biasanya, supaya sesudah dicelupkan masih dapat diberikan dengan mudah kepada orang yang menyambut.

Harap diketahui bahwa menurut ketentuan, tidak boleh digunakan cara bahwa si penyambut mencelupkan sendiri hosti ke dalam piala sebelum kemudian memakannya. Sayangnya cara ini yang kadang dilakukan di Indonesia, seperti halnya pada banyak umat yang mengalaminya. Namun, jika kita sudah mengetahui ketentuan ini, maka sungguh baik kalau kita dapat menemui Pastor untuk menyampaikan ketentuan dari PUMR ini; supaya di kemudian hari mereka dapat melakukan Komuni dua rupa sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Sebab biar bagaimanapun dari segi maknanya, Komuni adalah sesuatu yang dibagikan, dan bukan sesuatu yang diambil sendiri.

PUMR 160… Umat tidak diperkenankan mengambil sendiri roti kudus atau piala, apalagi saling memberikannya antar mereka. Umat menyambut entah sambil berlutut atau sambil berdiri, sesuai dengan ketentuan Konferensi Uskup. Tetapi, kalau menyambut sambil berdiri, dianjurkan agar sebelum menyambut Tubuh (dan Darah) Tuhan mereka menyatakan tanda hormat yang serasi, sebagaimana ditentukan dalam kaidah- kaidah mengenai komuni.

Dalam dokumen Redemptionis Sacramentum (RS, 94 dan 104) terjemahan KWI, 2004, dikatakan dengan jelas larangan ini demikian “[94.] Umat tidak diizinkan mengambil sendiri -apalagi meneruskan kepada orang lain- Hosti kudus atau piala kudus. Dalam konteks ini harus ditinggalkan juga penyimpangan di mana kedua mempelai saling menerimakan komuni dalam Misa Perkawinan.” Artinya hosti dan piala yang sudah dikonsekrasikan tidak boleh diambil sendiri, namun harus diberikan kepada penyambut oleh imam atau oleh petugas pelayan Komuni tak-lazim. Dengan demikian, juga dilarang, pasangan suami istri saling memberikan Komuni dalam Misa pemberkatan Perkawinan.

Selanjutnya, dalam RS 104 dikatakan demikian, “[104.] Umat yang menyambut  tidak diberi izin untuk mencelupkan sendiri hosti ke dalam piala; tidak boleh juga ia menerima hosti yang sudah dicelupkan itu pada tangannya. Hosti yang dipergunakan untuk pencelupan itu harus dibuat dari bahan yang sah dan harus sudah dikonsakrir; karena itu dilarang memakai roti yang belum dikonsakrir atau yang terbuat dari bahan lain.

Selanjutnya jika berpegang dari PUMR 160 dan 161, maka menerima Komuni dapat dilakukan sambil berlutut atau berdiri, dengan lidah atau dengan tangan.

Tentang Paus = Vicarius Filii Dei?

41

Pertanyaan:

VICARIUS FILII DEI adalah Gelar Paus. Dalam artikel KORAN MINGGUAN “OUR SUNDAY VISITOR” (the largest Catholic weekly in America) terbitan tgl 18 April 1915 pada halaman 3, mengatakan bahwa “Gelar Paus yg tertulis di “tiara/mitre” (topi yg selalu digunakan oleh Paus) adalah “VICARIUS FILII DEI”. Kemudian setelah munculnya hubungan antara 666 dengan Gelar Paus “VICARIUS FILII DEI”, Gelar Paus DIGANTI menjadi “Vicarius Christi”.

Ini bukti2nya dari Katolik sendiri (silahkan di klik link wensite-nya)
1) http://www.aloha.net/~mikesch/OSV1915.gif
OUR SUNDAY VISITOR terbitan tgl 18 April 1915 pada halaman 3. Perhatikan tulisan berikut: “What are the letters supposed to be in the Pope’s crown, and what do they signify, if anything? The letters inscribed in the Pope’s mitre are these: Vicarius Filii Dei, which is the Latin for Vicar of the Son of God…..”

2) http://www.aloha.net/~mikesch/fenton.jpg
Perhatikan tulisan berikut: “Vicarius Filii Dei is a manifest synonym of Vicarius Christi”

3) http://biblelight.net/Quasten%20Document%206.11%20x%209.5%20inch.gif
Perhatikan tulisan berikut: “The title Vicarius Filii Dei as well as the title Vicarius Christi is very common as the title for the Pope.”

4) http://biblelight.net/Sources/Gratian-1493-Dist96-136.gif
Distinctio 96 vicarius filii Dei (Quote of Donation of Constantine)

5) Vicarius Filii Dei in the text of the Donation of Constantine in an 1869 Vatican printing of Cardinal Deusdedit’s Canon Law (compiled in 1087 A.D.)
—-> http://books.google.ca/books?id=ke0CAAAAQAAJ&jtp=343&redir_esc=y#
Silahkan dibaca baris ke-10 yg tertulis “Vicarius Filii Dei ”

6) http://daten.digitale-sammlungen.de/~db/bsb00009126/images/index.html?id=00009126&fip=&no=7&seite=223
Silahkan dibaca halaman 342, paragraf 228 yg tertulis: “vicarius filii dei”

7) Vicarius Filii Dei digunakan 2x oleh Pope Paul VI di dalam Publikasi-nya yg berjudul “Acta Apostolicae Sedis (Acts of the Apostolic See)”
1x) January 11, 1968: Decree of Paul VI elevating the Prefecture Apostolic of Bafia, Cameroon, to a Diocese: Acta Apostolicae Sedis, Commentarium Officiale, vol. LX (1968), n. 6, pp. 317-319. Libreria Editrice Vaticana. ISBN 8820960680, 9788820960681.
Lihat halaman 317: http://biblelight.net/Sources/Bafianae_317.jpg
Judul depan publikasi (TITLE PAGE): http://biblelight.net/Sources/Bafianae_title.jpg
Silahkan dibaca:
“Adorandi Dei Filii Vicarius et Procurator, quibus numen aeternum summam Ecclesiae sanctae dedit, …”
Terjemahan Bahasa Inggris: “As the worshipful Son of God’s Vicar and Caretaker, to whom the eternal divine will has given the highest rank of the holy Church, …”

2x) August 9, 1965: Decree of Paul VI creating the Vicariate Apostolic of Río Muni, Equatorial Guinea:
Acta Apostolicae Sedis, Commentarium Officiale, vol. LVIII (1966), n. 6, pp. 421-422. Libreria Editrice Vaticana, ISBN 8820960664, 9788820960667.
Lihat halaman 421: http://biblelight.net/Sources/Rivi_Muniensis-421.jpg
Judul depan publikasi (TITLE PAGE): http://biblelight.net/Sources/Rivi_Muniensis-title.jpg
Silahkan dibaca:
“Qui summi Dei numine et voluntate principem locum in Christi Ecclesia, obtinemus, adorandi Filii Dei hic in terris Vicarii Petrique successores, …”
Terjemahan Bahasa Inggris: “We who the supreme God providentially wills, and maintains, in the principle position over Christ’s Church, the worshipful Son of God’s Vicar(s) upon the earth, Peter’s successor(s), …”

8) http://www.aloha.net/~mikesch/1827r.gif
A quote from the Donation of Constantine on page 1828 from volume 5 of Prompta Bibliotheca, 1858 Paris edition, where the title of Vicarius Filii Dei appears in #20 of article 2 of the entry “Papa” (Pope).
**** Silahkan dibaca halaman 1828 baris ke-23 tertulis: “vicarius Filii Dei”

Dan masih banyak lagi dokumen2 Katolik yg membuktikan bahwa Gelar Paus DULUNYA adalah “VICARIUS FILII DEI” dan sudah diganti menjadi “VICARIUS CHRISTI” karena tidak ingin diasosiasikan dengan lambang 666.

John 8:32 (Yohanes 8:32): “and you shall know the truth, and the truth shall make u free”
(dan kamu akan tau kebenaran dan kebenaran akan membebaskanmu).

Banyak sekali Umat Katolik yg benar2 mengasihi Allah (Yesus Kristus) tetapi BELUM mengetahui kebenaran. Read your BIBLE and search for the truth. Semoga Roh Kudus membimbing kita semua Pengikut Kristus kepada Firman Kebenaran. Amin.

Jawaban:

Shalom AK,

1. Vicarius Filii Dei: gelar Paus?

Gereja Katolik, menurut dokumen Tu es Petrus, menyebutkan gelar Paus sebagai berikut:

– His Holiness The Pope;
– Bishop Of Rome And Vicar Of Jesus Christ;
– Successor Of St. Peter, Prince Of The Apostles;
– Supreme Pontiff Of The Universal Church;
– Patriarch Of The West;
– Servant Of The Servants Of God;
– Primate Of Italy;
– Archbishop And Metropolitan Of The Roman Province;
– Sovereign Of Vatican City State.

Maka, walaupun ditinjau dari artinya, Vicar of the Son of God dan Vicar of Jesus Christ itu sama saja (karena Yesus Kristus adalah Putera Allah), namun gelar Bapa Paus yang umum dikenal adalah Vicar of Jesus Christ (Vicarius Iesu Christi).

Anda lalu mengacu kepada berita dari Our Sunday Visitor yang mengisahkan adanya tulisan Vicarius Filii Dei pada miter Paus, dan mengutip pernyataan Dr. J. Quasten dari Catholic University of America, yang menyatakan hal yang sedemikian, lalu menghubungkannya dengan jumlah bilangan pada Vicarius Filii Dei itu (VICarIVs (112)+fILII (53)+DeI (501)= 666. Sumber-sumber yang Anda sebut itu bukan sumber resmi dari Vatikan. Namun demikian, seandainya gelar itu benar sekalipun, tidak otomatis menjadi bukti bahwa Paus adalah seorang Anti-Kristus. Sebab ada banyak nama orang yang hurufnya kalau dijumlah juga =666, contohnya bahkan pendiri Gereja Seventh Day Adventism, Ellen Gould White, yang sangat vokal menyebut Paus sebagai antikristus, namanya sendiri jika dijumlah juga adalah 666 (eLLen (100)+ goVLD (555)+ VVhIte (11)= 666). Maka seperti halnya dengan makna simbolis bagi angka 1000 tahun dalam Why 20, angka 666 dalam Why 13:18 juga lebih mengacu kepada makna simbolis, sebagaimana pernah dituliskan di sini, silakan klik.

Selanjutnya, definisi yang diberikan oleh Kitab Suci tentang antikristus adalah:

“Anak-anakku, waktu ini adalah waktu yang terakhir, dan seperti yang telah kamu dengar, seorang antikristus akan datang, sekarang telah bangkit banyak antikristus. Itulah tandanya, bahwa waktu ini benar-benar adalah waktu yang terakhir. ….. Siapakah pendusta itu? Bukankah dia yang menyangkal bahwa Yesus adalah Kristus? Dia itu adalah antikristus, yaitu dia yang menyangkal baik Bapa maupun Anak.” (1 Yoh 2:18, 22)

“…dan setiap roh, yang tidak mengaku Yesus, tidak berasal dari Allah. Roh itu adalah roh antikristus dan tentang dia telah kamu dengar, bahwa ia akan datang dan sekarang ini ia sudah ada di dalam dunia.” (1 Yoh 4:3)

“Sebab banyak penyesat telah muncul dan pergi ke seluruh dunia, yang tidak mengaku, bahwa Yesus Kristus telah datang sebagai manusia. Itu adalah si penyesat dan antikristus.” (2 Yoh 1:7)

Jika seseorang dengan jujur membaca teks ini, maka ia akan mengetahui bahwa Paus bukanlah antikristus, karena justru Paus tidak pernah menyangkal Kristus, tidak pernah tidak mengakui Kristus, tidak pernah tidak mengakui bahwa Yesus telah datang sebagai manusia. Malahan ajaran Paus sungguh berpusat pada Kristus dan bahwa Kristus telah menjelma menjadi manusia.

2. Tentang dokumen Donation of Constantine

Anda kemudian mengacu kepada suatu dokumen yang disebut Donation of Constantine yang konon menyebut istilah Vicarius Filii Dei tersebut. Tetapi dokumen ini terbukti sebagai dokumen yang palsu/ tidak otentik. Isi dari dokumen tersebut terbagi dua, bagian yang pertama mengisahkan pertobatan dan baptisan Kaisar Konstantin oleh Paus Sylvester; bagian kedua mengisahkan tentang diberikannya hak- hak istimewa dari Kaisar Konstantin kepada Paus dan para penerusnya. Namun dokumen ini ternyata adalah dokumen palsu yang baru ditulis tahun 750-850 (seharusnya Konstantin hidup di akhir abad ke 3 sampai awal abad ke-4). Namun baru pada abad ke-15 kepalsuan dokumen ini dapat dibuktikan, oleh Cardinal Nicholas dari Cusa, Lorenzo Valla dan Baronius. Selanjutnya tentang kisah dokumen Donation of Constantine silakan klik di link ini.

Lagipula sebenarnya, yang tertulis di dokumen Donation of Constantine adalah demikian:

Petrus in terris VICARIUS FILII DEI esse videtur constitutus, ita et Pontifices, qui ipsius principis apostolorum gerunt vices, principatus potestatem amplius quam terrena imperialis nostrae serenitatis mansuetudo habere videtur, conscessam a nobis nostroque imperio obtineant…

Terjemahan bahasa Inggrisnya adalah:

As the Blessed Peter is seen to have been constituted vicar of the Son of God on the earth, so the Pontiffs who are the representatives of that same chief of the apostles, should obtain from us and our empire the power of a supremacy greater than the clemency of our earthly imperial serenity is seen to have conceded to it….

Jadi sebenarnya yang disebutkan di sana adalah: Rasul Petrus mendirikan/ menetapkan jabatan Vicarius Filii Dei/ Vicar of the Son of God, sedangkan Paus adalah wakil dari Rasul Petrus yang adalah pemimpin para Rasul … Jadi tidak dikatakan secara langsung di sini bahwa Paus adalah Vicarius Filii Dei; namun yang langsung sebagai Vicarius Filii Dei adalah Rasul Petrus; apakah dengan demikian mereka yang menuduh itu mau mengatakan bahwa Rasul Petrus juga adalah Antikristus (666)? Ini kan malah menjadi tuduhan yang tidak masuk akal, sebab Rasul Petrus adalah pemimpin para Rasul yang juga menulis surat yang termasuk dalam Kitab Suci, dan di atas Rasul Petrus ini Kristus mendirikan Gereja-Nya (lih. Mat 16:18).

3. Tentang dua dokumen Paus VI yang konon menuliskan tentang ‘Vicarius Filii Dei’

Selanjutnya, menarik diperhatikan adalah apa yang tertulis dalam dua dokumen resmi Kepausan yang sepertinya menyebutkan tentang gelar Vicarius Filii Dei

1. Bafianae (January 11, 1968), Decree of Paul VI elevating the Prefecture Apostolic of Bafia, Cameroon, to a Diocese:
Acta Apostolicae Sedis, Commentarium Officiale, vol. LX (1968), n. 6, pp. 317-319. Libreria Editrice Vaticana. ISBN 8820960680, 9788820960681.

Dikatakan di awal surat Dekrit Paus Paulus VI dalam pengangkatan Kamerun menjadi Keuskupan:
Adorandi Dei Filii Vicarius et Procurator, quibus numen aeternum summam Ecclesiae sanctae dedit ….”

Terjemahan bahasa Inggrisnya:
We, the Vicar and Caretaker of the adorable Son of God, to whom the eternal divine will has given the highest place in the holy Church, have never held anything more holy, more pressing, or of greater religious value than that fire be lit in the hearts of men, . . .

2. Rivi Muniensis (August 9, 1965), Decree of Paul VI creating the Vicariate Apostolic of Río Muni, Equatorial Guinea:
Acta Apostolicae Sedis, Commentarium Officiale, vol. LVIII (1966), n. 6, pp. 421-422. Libreria Editrice Vaticana, ISBN 8820960664, 9788820960667.

Dikatakan di awal surat Dekrit Paus Paulus VI tersebut:
Qui summi Dei numine et voluntate principem locum in Christi Ecclesia, obtinemus, adorandi Filii Dei hic in terris Vicarii Petrique successores,

Terjemahan bahasa Inggrisnya:
We who by the will of the supreme God have obtained the principal position in Christ’s Church, the Vicars here on earth of the adorable Son of God, the successors of Peter, …

Dokumen- dokumen ini memang sepertinya mengacu kepada gelar Vicarius Filii Dei, walau di dokumen tersebut tertulisnya tidak persis sama, Adorandi Dei Filii Vicarius, (jadi ada tambahan aDoranDI =1001; jadi total 1667)

Rev. Dr. Leslie Rumble dan Charles M. Carty, dalam wawancara radio menjawab pertanyaan pendengar tentang Vicarius Filii Dei, sebagai berikut:

[Q] 345.   I have heard that he [the pope] is Anti-Christ, and that he was described by St. John as 666, the numerical equivalent of the Latin words of the Pope’s title, Vicarius Filii Dei.

[A] That interpretation is absurd, and rejected by all reputable scholars, Catholic and non-Catholic alike. In any case, St. John wrote in Greek, and there is no warrant whatever for the translation to the Latin language. Moreover, whatever be the true interpretation of this mystical number, it certainly refers to some one individual being. If it referred to one particular Pope, it could refer to none of the others. To which Pope will people refer it? To a past Pope? Then he is dead and gone, and we need not worry about him. To the present Pope? He is the very antithesis of all the conditions of the Beast as described by St. John. However, the number does not refer to any of the Popes at all.

Terjemahannya:

[Pertanyaan] “345. Saya dengar bahwa Paus adalah antikristus dan bahwa ia digambarkan oleh St. Yohanes sebagai 666, jumlah yang sama dengan huruf Latin dari gelar Paus, Vicarius Filii Dei.

[Jawaban] Interpretasi ini ngawur, dan ditolak oleh semua ahli yang mempunyai reputasi, baik Katolik maupun non-Katolik. Bagaimanapun juga, St. Yohanes menulis di dalam bahasa Yunani dan tidak ada justifikasi apapun untuk terjemahan ke bahasa Latin. Lagipula, apapun juga yang menjadi interpretasi yang benar untuk angka yang mistik ini, pastilah ini mengacu kepada seseorang pribadi. Jika itu mengacu kepada seorang Paus, maka tidak mungkin mengacu kepada Paus lainnya. Kepada Paus yang mana orang- orang akan menghubungkannya? Kepada Paus di masa lalu? Jika demikian ia sudah mati dan berlalu, dan tidak ada yang perlu kita risaukan tentang dia. Kepada Paus saat ini? Justru ia adalah antitesa (segala kebalikan) dari semua keadaan Binatang yang disebutkan oleh St. Yohanes; [maka] angka itu tidak mengacu kepada Paus manapun.”

Source: Radio Replies, First Volume, by Rev. Dr. Leslie Rumble, M.S.C. and Rev. Charles Mortimer Carty, Copyright 1938, printed by Radio Replies Press, St. Paul 1, Minn., U.S.A., #345, page 80.

Kami umat Katolik tidak terganggu dengan segala tuduhan ini, karena tuduhan tersebut tidak berdasar dan tidak terbukti. Tuduhan Paus sebagai antikristus sudah lama (sekitar 500 tahun lalu) dituduhkan oleh Martin Luther; namun biarlah fakta sendiri yang menjawabnya. Bagian kami umat Katolik adalah mendoakan mereka yang menuduh Paus dengan tuduhan sedemikian, sebab kami percaya bahwa dengan mendoakan orang- orang yang memusuhi kami dengan menghina pemimpin kami, kami menjalankan ajaran Kristus sendiri dalam Mat 5:44-48. Ya, dengan berpegang pada Kitab Suci, kami percaya bahwa Sabda Tuhan pasti benar, bahwa Kristus tidak akan pernah meninggalkan Gereja-Nya sampai akhir zaman (lih. Mat 28:19-20) sehingga tidak mungkin Ia membiarkan bahwa Gerejanya dipimpin oleh banyak antikristus selama ratusan tahun [atau ribuan tahun]. Sebab jika demikian artinya Kristus mengingkari janji-Nya, dan ini sungguh tidak akan pernah terjadi; sebab dikatakan demikian dalam firman-Nya, “jika kita tidak setia, Dia tetap setia, karena Dia tidak dapat menyangkal diri-Nya.” (2 Tim 2: 13). Kesetiaan Kristus kepada Gereja-Nya inilah, yang menyebabkan Gereja Katolik tetap bertahan selama sekitar 2000 tahun sampai sekarang, dan kami percaya, Gereja ini akan terus bertahan sampai akhir zaman nanti.

Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
Ingrid Listiati- katolisitas.org

Doa keluarga: untuk diucapkan bersama- sama: bapak, ibu dan anak- anak

8

Allah Bapa di surga, puji syukur kami panjatkan ke hadirat-Mu, atas kesempatan kami bersama- sama menaikkan doa sebagai satu keluarga. Kami percaya bahwa Tuhan Yesus hadir di tengah kami saat ini, sesuai dengan sabda-Nya, “Sebab di mana dua atau tiga orang berkumpul dalam nama-Ku, di situ Aku ada di tengah- tengah mereka”. Kami percaya ya Yesus, Engkau mendengarkan doa- doa yang kami panjatkan kepada-Mu.

Tuhan Yesus, Engkau adalah pusat Keluarga Kudus, bukan hanya karena Engkau adalah Tuhan dan manusia, tetapi karena sampai akhir hidup-Mu Engkau adalah anak Maria dan Yusuf. Bantulah kami untuk memahami bahwa di dalam keluarga Kristiani, kami membutuhkan kasih-Mu. Berilah kami rahmat kasih yang sejati di dalam keluarga kami sehingga kami rela berkorban satu sama lain, sebab Engkau mengajarkan kasih yang sedemikian kepada kami.

Doa Bapak (oleh bapak/ papa)
Tuhan Yesus, aku bersyukur atas keluarga yang Engkau berikan kepadaku. Aku mohon agar aku dapat mencintai keluargaku dengan sepenuh hati. Dalam kesibukanku sehari- hari, bantulah aku agar dapat memberikan waktuku kepada mereka. Berikanlah kepadaku kasih yang berasal daripada-Mu, yaitu kasih sebagaimana Engkau mencintai Gereja-Mu.
Kami mohon, kabulkanlah doa kami, ya Tuhan

Doa Ibu (oleh ibu/ mama)
Tuhan Yesus, aku bersyukur atas keluarga yang Engkau berikan kepadaku. Aku mohon agar dapat melayani suami dan anak- anakku dengan kasih yang berasal dari-Mu. Berikanlah aku kerendahan hati dan bantulah aku untuk menjadi pembawa damai bagi keluarga kami, sehingga selalu ada suka cita dan damai sejahtera di dalamnya.
Kami mohon, kabulkanlah doa kami, ya Tuhan

Doa Bapak dan Ibu
Ya Tuhan, kami mohon agar Engkau membimbing kami dalam mendidik dan membesarkan anak- anak kami, agar kami dapat mengarahkan mereka kepada-Mu. Berkatilah usaha mereka dalam menuntut ilmu, dalam pergaulan yang baik dan kuatkanlah mereka dalam menghadapi godaan di sekeliling mereka.
Kami mohon, kabulkanlah doa kami, ya Tuhan

Doa Anak- anak
O Tuhan, kami bersyukur atas orang tua yang Engkau berikan kepada kami. Kami mohon agar Engkau membimbing mereka dalam menuntun kami menuju hari depan kami. Lindungilah mereka dari bahaya dan segala yang jahat, serta berikanlah kepada mereka kesehatan dan rejeki yang cukup, serta kebijaksanaan sesuai dengan kehendak-Mu. Bantulah kami untuk hidup sesuai dengan perintah- perintah-Mu, taat kepada orang tua dan mengasihi mereka dan saudara- saudari kami.
Kami mohon, kabulkanlah doa kami, ya Tuhan.

(untuk diucapkan bersama- sama: bapak, ibu dan anak- anak)
Bunda Maria yang terkasih, Bunda Kristus dan Bunda kami, tolonglah kami untuk belajar menimba kekuatan dari devosi kepada Keluarga Kudus yang telah diberikan Allah sebagai teladan bagi kami. Baik di Betlehem, di pengungsian ke Mesir, di Nazaret maupun di Yerusalem, Keluarga Kudusmu selalu merupakan tempat berlindung yang penuh kedamaian. Doakanlah kami, O Bunda, agar damai sejahtera yang datang dari ketaatan untuk melaksanakan perintah- perintah Tuhan, selalu ada di dalam keluarga kami. Doakanlah kami agar kami dapat dengan siap sedia selalu taat kepada kehendak Allah sehingga di dalam hidup kami bersama, kami tidak mementingkan diri sendiri, tetapi menjaga dan memelihara sebagai kepunyaan-Mu segala harta milik yang Tuhan percayakan kepada kami, sebab suatu hari nanti kami akan ditanyai oleh-Nya tentang pertanggungan jawab kami mempergunakan semua itu.

Tuhan segala rahmat dan kebijaksanaan, berikanlah kepada kami rahmat untuk hidup bersama di dalam damai yang kudus dan kebahagiaan. Tunjukkanlah kepada kami bagaimana untuk hidup sabar dan baik, tak mudah berkata- kata kasar dan cepat untuk memaafkan satu sama lain. Semoga kami menjadi seperti Keluarga Kudus di Nazaret- sederhana dan cinta damai, senantiasa rajin membantu sesama kami, dengan suka cita mengemban tugas di dalam Gereja maupun di lingkungan masyarakat kami.
Doa syukur dan permohonan ini kami panjatkan demi Kristus Tuhan kami. Amin.

Bapa Kami …. Salam Maria …. Kemuliaan ….

Apakah Ia sungguh seorang Raja bagiku?

2

Ketika saya berkunjung ke kota Bangkok, saya melihat di setiap hari kelahiran Raja Thailand, yaitu hari Senin, hampir seluruh masyarakat, dan tidak hanya pegawai pemerintah, menggunakan pakaian berwarna kuning, yaitu warna kelahiran untuk hari Senin menurut tradisi umat Buddha.  Mereka menggunakan pakaian berwarna kuning dengan penuh semangat dan kebanggaan, sebagai tanda cinta dan penghormatan kepada raja yang sangat mereka kasihi. Masih cukup banyak contoh dalam kehidupan sehari-hari yang menunjukkan dalamnya rasa cinta dan hormat masyarakat Thailand kepada raja mereka, Raja Bhumibol Adulyadej, yang mempunyai sejarah masa pemerintahan terlama di dunia dan memang dikenal arif dan banyak membawa perdamaian di dalam berbagai gejolak politik yang terjadi sepanjang sejarah bangsaThailand.

Rasa hormat dan kagum kepada seorang raja, disertai cinta yang besar, pasti akan membuat seseorang memberikan lebih banyak lagi dedikasi yang dipersembahkan bagi sang raja, mungkin bahkan sampai pada titik menyerahkan hidupnya demi kesetiaan dan pengabdian kepada sang raja, yang pada masyarakat tertentu, sudah dianggap penjelmaan dari dewa atau utusan Tuhan. Saya berpikir, pengabdian apakah yang telah saya curahkan bagi Raja Segala Raja, yang kita peringati pada minggu terakhir tahun liturgi sebelum masa Adven dimulai ini?

Apakah Raja Yang Satu ini sudah begitu menempati hati saya dan menjadi raja atas segala keputusan saya, pikiran saya, perkataan saya, dan perbuatan saya? Apakah saya bahkan sudah sungguh-sungguh mengenal Dia sebagai Raja Semesta Alam, Seorang Raja yang begitu mencintai umat-Nya, sehingga rela meninggalkan segala hak dan atribut-Nya sebagai Raja, untuk hidup di tengah umat-Nya yang lemah dan serba terbatas, demi mengajarkan cinta, pengorbanan, kepedulian, kerendahan hati, kelembutan, sembari terus menawarkan pengampunan, sukacita, dan kelepasan sejati dalam hidup ini, bahkan akhirnya rela memberikan nyawa-Nya dengan sengsara yang begitu dalam, demi umat yang amat dikasihi-Nya, supaya umat-Nya bahagia dan selamat? Di manakah di seluruh dunia ini ada Raja sedemikian? Begitu besar kuasa dan kekuatan-Nya, bahkan seluruh alam semesta ini adalah milik-Nya, dapat diubah atau dilenyapkan-Nya semudah membalikkan telapak tangan kalau Dia mau, tetapi semua kebesaran itu rupanya masih kalah oleh rasa cinta yang tak terhingga kepada umat-Nya. Manusia ciptaan-Nya ini yang terus menerus menjadi buah pikiran-Nya, sampai Ia memilih menjadi sama dengan mereka. Penderitaan umat-Nya karena dosa-dosa mereka itu telah menjadi sumber keteguhan hati-Nya, sehingga Ia bertahan hingga akhir di kayu salib kesengsaraan penuh kehinaan. Tetapi sesungguhnya, penyakit kitalah yang ditanggungnya, dan kesengsaraan kita yang dipikulnya, padahal kita mengira dia kena tulah, dipukul dan ditindas Allah (Yesaya 53:4)

Pada hari raya Kristus Raja Semesta Alam ini, saya memandangi gambar-gambar Diri-Nya di seluruh penjuru rumah, di berbagai penjuru bangunan gereja dan tempat aktivitas umat beriman. Saya teringat akan begitu banyak manusia di dunia ini, yang menyembah dan menghormati Dia, menyebut diri pengikut-Nya, menganggap Dia pahlawan tanpa tandingan, Juruselamat yang mengatasi segala kelemahan dan dosa, tetapi…..apakah sebanyak itu juga gambar Diri-Nya memenuhi hati saya? Apakah teladan cinta-Nya, pengurbanan-Nya, kerendahan hati-Nya, kepedulian dan kasih-Nya, memang sudah sungguh-sungguh menjadi patokan bagi setiap langkah hidup saya, tercermin mulai dari hal yang terkecil hingga hal-hal yang besar dalam hidup saya ? Apakah saya telah meluangkan waktu-waktu saya yang sangat berharga, khusus untuk bertemu dengan Dia supaya saya bisa mendengarkan Dia berbicara dalam hati saya, melalui Firman-Firman-Nya, melalui teladan orang-orang Kudus-Nya? Dan apakah segenap pujian dan penyembahan yang pantas Dia terima sebagai Raja, sudah sepenuhnya saya curahkan melalui Perayaan Ekaristi, untuk mengenang dan mensyukuri kurban dan sengsara-Nya bagi saya? Ataukah….sesungguhnya Dia hanya sekedar menjadi lambang bagi iman saya? Ataukah…saya hanya mengingat Dia dalam saat-saat sulit dalam hidup, atau… Dia hanya menjadi semacam Pelayan tempat saya mengajukan berbagai permintaan supaya Ia berikan sesuai dengan keinginan saya? Sungguhkah Ia seorang Raja bagiku, jika hanya sedikit saja sisa waktu dalam satu hariku, yang kuberikan untuk menyapa dan memuji-Nya? Sungguhkah ia seorang Raja bagiku, bila kehendak dan kemauanku saja yang terus menerus aku upayakan supaya terlaksana, tanpa hendak menanyakan lebih dulu, meneliti dan belajar, apa yang sebetulnya Dia inginkan bagiku? Atau kamu berdoa juga, tetapi kamu tidak menerima apa-apa, karena kamu salah berdoa, sebab yang kamu minta itu hendak kamu habiskan untuk memuaskan hawa nafsumu (Yak 4:3)

Di awal dan akhir hari ini, di saat doa Bapa Kami kudaraskan dengan bibirku, “Datanglah Kerajaan-Mu…” sesungguhnya aku sedang mendambakan Kerajaan-Nya menjadi segala yang terpenting di dalam seluruh aspek hidupku. Tetapi sayangnya, segala yang ditawarkan oleh kerajaan dunia ini nyatanya lebih sering menarik perhatianku dan menyedot segenap energi dan aspirasiku. Walau Tuhan sudah berkata,“Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu (Mat 6:33). Semuanya itu adalah kedamaian sejati yang dunia ini tak akan bisa memberi.

Akhirnya, dengan hati penuh penyesalan, saya memberanikan diri  datang kepada-Nya, Kristus Raja Semesta Alam, yang memberi saya hidup dan semua yang baik oleh karena kasih-Nya:

Tuhan Yesus Kristus, Raja Semesta Alam yang penuh belas kasihan dan kerendahan hati,

Engkau adalah Raja di atas segalanya, Engkau adalah Rajaku, Juruselamatku, sumber hidupku.

Tetapi, ampunilah aku, karena aku seringkali menempatkan Engkau, bukan sebagai seorang Raja, bukan sebagai segala-galanya bagiku

Engkau layak atas segala pujian dan persembahan, tetapi aku lebih suka memuja kesenangan pribadiku

Engkau yang memberiku hidup dan waktu yang berlimpah, tetapi aku sibuk dengan berbagai kepentinganku sendiri, dan hanya menyisakan sedikit sekali waktu bagi-Mu

Engkau yang selalu menghendaki segala yang terbaik bagiku, tetapi aku lebih sering merusaknya dengan memilih jalanku sendiri

Engkau berhak atas seluruh hidupku, kemauanku, aspirasiku, segala citaku…tetapi aku lebih sering tidak taat dan tidak patuh kepada-Mu

Engkau adalah sumber segala kebaikan, keselamatan, kesejahteraan, ….tetapi aku begitu bimbang dan lebih mempercayai kuasa-kuasa dunia untuk mengatasi berbagai kesukaranku

Engkau memiliki seluruh hidupku, …tetapi aku hanya datang kepada-Mu bila aku berada dalam kesulitan

Engkau adalah penguasa jiwa dan ragaku, tetapi ternyata aku lebih sering memberontak melawan Engkau

Ya Tuhan Yesus Kristus Juruselamatku, junjungan jiwaku, aku ingin kembali menjadi abdi-Mu yang setia. Nyatakanlah kepadaku apa yang tidak kupahami, bukalah hatiku dan selidikilah jalan-jalanku, supaya aku hanya menghendaki dan mengusahakan apa yang menyenangkan hati-Mu. Kuakkanlah segala kelemahan dan kealpaanku yang tidak kusadari selama ini, yang telah mengganggu aliran cinta-Mu kepadaku, biarlah aku mengakukan dosa-dosaku di hadapan-Mu, dan kembali berjalan di dalam terang bersama teladan cinta-Mu.

Terima kasih atas kurban salib-Mu yang telah menyelamatkan hidupku. Melalui sengsara-Mu, Engkau telah mengambil alih semua kepedihanku, luka hatiku, ketakutanku, ketidakberdayaanku, supaya dari kaki salib-Mu, aku belajar menyalibkan dosa-dosaku, dan bangkit dalam kemenangan dan kebebasan sejati bersama-Mu.

Semoga rasa syukurku atas kurban salib-Mu dan rasa terima kasihku atas semua cinta dan pengurbanan-Mu, menetapkan langkahku untuk meninggalkan dosa-dosaku, dan menjadi abdi-Mu yang setia, seumur hidupku. Bantulah aku bila aku harus jatuh lagi karena kesombongan dan kekerasan hatiku. Ya Raja Semesta Alam, aku amat menghormati dan mencintai-Mu. Terimalah seluruh hati dan hidupku, karena semuanya itu milik-Mu. Amin.

Pada peringatan Hari Raya Kristus Raja, 19 November 2011 (triastuti)

Bukankah Yohanes Pembaptis yang terbesar menurut Mat 11:11 dan bukan Bunda Maria?

16

Pertanyaan:

Syalom,

Mengenai interpretasi Mat 11:11, di mana Yesus berkata, “Sesungguhnya di antara mereka yang dilahirkan oleh perempuan tidak pernah tampil seorang yang lebih besar dari pada Yohanes Pembaptis, namun yang terkecil dalam Kerajaan Sorga lebih besar dari padanya”,

Bagaimana mungkin perkataan dari Yesus sendiri yang mengatakan Yohanes yang terbesar dari semua orang yang dilahirkan oleh perempuan bisa disangkali oleh keterangan dari the Navarre Bible [dari katolisitas: yang mengatakan bahwa Maria adalah yang terbesar setelah Yesus] Apakah keterangan dari Navarre Bible lebih akurat dari ucapan Yesus sendiri ?

Terima kasih
Mac

Jawaban:

Shalom Machmud,

Terima kasih atas pertanyaannya, yaitu mengapa dikatakan bahwa Maria adalah yang terbesar setelah Kristus, padahal di Mat 11:11 dikatakan bahwa Yohanes Pembaptislah yang berbesar. Matius 11:11 menuliskan “Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya di antara mereka yang dilahirkan oleh perempuan tidak pernah tampil seorang yang lebih besar dari pada Yohanes Pembaptis, namun yang terkecil dalam Kerajaan Sorga lebih besar dari padanya.” Kalau kita mengikuti secara persis apa yang dikatakan dalam ayat tersebut tanpa melihat konteksnya, maka kita akan mempunyai kesimpulan yang sama seperti yang anda berikan, yaitu semua manusia yang dilahirkan dari perempuan: Maria, para rasul – termasuk rasul Petrus, rasul Yohanes, dll – juga rasul Paulus adalah lebih rendah dari Yohanes Pembaptis. Kalau mau lebih konsisten, karena Kristus juga dilahirkan dari perempuan, maka Kristus juga seharusnya lebih rendah dari Yohanes. Pendapat yang salah ini diberikan oleh Manichee atau Marcionite. Tentu saja kita tidak dapat menafsirkan demikian. Jadi bagaimana kita menafsirkannya?

Kita dapat melihat konteks dari ayat tersebut, di mana dituliskan “Jadi untuk apakah kamu pergi? Melihat nabi? Benar, dan Aku berkata kepadamu, bahkan lebih dari pada nabi.” (Mat 11:9) atau di Lukas 7:24-28 menuliskannya sebagai berikut:

24 Setelah suruhan Yohanes itu pergi, mulailah Yesus berbicara kepada orang banyak itu tentang Yohanes: “Untuk apakah kamu pergi ke padang gurun? Melihat buluh yang digoyangkan angin kian ke mari? 25 Atau untuk apakah kamu pergi? Melihat orang yang berpakaian halus? Orang yang berpakaian indah dan yang hidup mewah, tempatnya di istana raja. 26 Jadi untuk apakah kamu pergi? Melihat nabi? Benar, dan Aku berkata kepadamu, bahkan lebih dari pada nabi. 27 Karena tentang dia ada tertulis: Lihatlah, Aku menyuruh utusan-Ku mendahului Engkau, ia akan mempersiapkan jalan-Mu di hadapan-Mu. 28 Aku berkata kepadamu: Di antara mereka yang dilahirkan oleh perempuan tidak ada seorangpun yang lebih besar dari pada Yohanes, namun yang terkecil dalam Kerajaan Allah lebih besar dari padanya.”

Dari konteks di ayat-ayat di atas, kita dapat mengatakan, bahwa Yesus ingin menyampaikan bahwa Yohanes Pembaptis adalah yang terbesar dari semua nabi yang ada dalam Perjanjian Lama (Mat 11:9; Luk 7:26), karena Yohanes Pembaptis adalah nabi terakhir yang memberitakan kedatangan Kristus, yang mempersiapkan kedatangan Kristus. Begitu pentingnya peran Yohanes Pembaptis, sehingga Gereja Katolik merayakan hari kelahirannya, di samping kelahiran Kristus dan kelahiran Bunda Maria. Katekismus Gereja Katolik menuliskan demikian tentang Yohanes Pembaptis:

KGK, 523.    Yohanes Pembaptis adalah perintis Tuhan yang langsung (Bdk. Kis 13:24.); ia diutus untuk menyiapkan jalan bagi-Nya (Bdk. Mat 3:3.). Sebagai “nabi Allah yang mahatinggi” (Luk 1:76) Ia menonjol di antara semua nabi (Bdk. Luk 7:26.). Ia adalah yang terakhir dari mereka (Bdk. Mat 11:13.) dan sejak itu Kerajaan Allah diberitakan (Bdk. Kis 1:22; Luk 16:16.). Ia sudah bersorak gembira dalam rahim ibunya mengenai kedatangan Kristus (Bdk. Luk 1:41.) dan mendapat kegembiraannya sebagai “sahabat mempelai” (Yoh 3:29), yang ia lukiskan sebagai “Anak Domba Allah, yang menghapus dosa dunia” (Yoh 1:29). Ia mendahului Yesus “dalam roh dan kuasa Elia” (Luk 1:17) dan memberikan kesaksian untuk Dia melalui khotbahnya, pembaptisan pertobatan, dan akhirnya melalui mati syahidnya (Bdk. Mrk 6:17-29).

KGK, 719.    Yohanes itu “lebih daripada nabi” (Luk 7:26). Di dalam dia, Roh Kudus menyelesaikan “tutur sapa-Nya melalui para nabi”. Yohanes adalah yang terakhir dari mata rantai para nabi yang dimulai dengan Elia (Bdk. Mat 11:13-14.). Ia mengumumkan bahwa penghibur Israel sudah dekat; ia adalah “suara” penghibur yang akan datang (Yoh 1:23; Bdk. Yes 40:1-3.). Sebagaimana kemudian Roh kebenaran, ia pun datang sebagai “saksi untuk memberi kesaksian tentang terang” (Yoh 1:7; Bdk. Yoh 15:26; 5:33.). Dengan demikian di depan mata Yohanes, Roh memenuhi apa yang dicari para nabi dan dirindukan para malaikat (Bdk. 1 Ptr 1:10-12.): “Jikalau engkau melihat Roh itu turun ke atas seseorang dan tinggal di atas-Nya, Dialah itu yang akan membaptis dengan Roh Kudus. Dan aku telah melihat-Nya dan memberi kesaksian: Dia inilah Anak Allah… Lihatlah Anak Domba Allah” (Yoh 1:33-36).

Dengan demikian, jelaslah, bahwa Yohanes Pembaptis yang terbesar dari antara semua manusia yang dilahirkan oleh perempuan (Mat 11:11) harus dimengerti bahwa dia adalah yang terbesar dari semua nabi, karena dia adalah nabi terakhir sebelum kedatangan Kristus dan yang mempersiapkan jalan bagi Kristus. Semoga jawaban ini dapat diterima. Tentang mengapa Bunda Maria adalah yang terbesar setelah Kristus dapat dilihat di penjelasan ini – silakan klik.

Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
stef – katolisitas.org

Keep in touch

18,000FansLike
18,659FollowersFollow
32,900SubscribersSubscribe

Artikel

Tanya Jawab