Home Blog Page 189

Perjuangan Adven, Keindahan Natal

3
Crop of original painting "Anbetung der Hirten"

Salah satu ciri suasana menjelang penghujung tahun adalah datangnya musim buah-buahan khas bumi pertiwi. Menjelang bulan September dan Oktober, pohon-pohon mangga yang tampak di jalan-jalan perumahan penduduk atau di wilayah pedesaan menampilkan buah-buahnya yang bergelantungan menarik mata siapa saja yang melihatnya. Demikian juga penjual buah nangka dan durian muncul berderet-deret di sepanjang jalan. Sementara itu, memasuki bulan November, pohon rambutan akan tampak mulai berbunga, memunculkan bulatan-bulatan mungil berwarna hijau berambut yang mengelompok di ujung dahan. Hal yang sama terjadi dengan pohon kelengkeng.

Saya tidak pandai bercocok tanam. Kalau pun saya memiliki pohon buah-buahan, saya hanya tahu menikmati pemandangan indah saat buah-buah yang bergelantungan siap untuk dipetik dan dinikmati. Tidak demikian halnya dengan suami saya. Sebagai orang yang tidak berlatar belakang pertanian, ia mempunyai pemahaman yang cukup baik tentang bercocok tanam, dan “bertangan dingin” bila berurusan dengan tanaman. Baginya, pohon buah-buahan tidak hanya menyajikan keasyikan yang berkaitan dengan saat memetik buah dan menikmatinya. Dengan ketelatenan yang besar, ia mengawali keasyikan sejak memilih bibit yang baik, dengan cara menyisihkan biji dari buah yang manis dan bagus, lalu menebar benih itu di sebuah pot atau polybag, merawatinya dengan pupuk kompos dan menyiraminya dengan teratur. Biji itu pun bertunas dan mulai terbentuk badan tanamannya. Ia rajin membuang tanaman liar yang mengganggu pertumbuhan tanaman mungil itu. Setelah cukup besar dan akarnya mulai kuat, ia memindahkan tanaman itu ke tanah yang lebih luas untuk melanjutkan perawatannya di tempat yang permanen. Akhirnya ketika tanaman buah itu cukup dewasa dan mulai menghasilkan buah yang bisa kami nikmati bersama, saya menyadari bahwa kegembiraan saya menikmatinya tidak sebesar kegembiraan dan kepuasan suami saya, yang mengusahakan pohon buah itu sejak masih berupa biji, merawatinya dengan cermat, dan menjaganya supaya selalu sehat. Saya percaya bahwa kepuasan tersendiri saat menikmati buahnya tidak dapat dibandingkan dengan kelelahan kerja saat menanam dan membesarkannya.

Penghujung tahun juga selalu identik dengan Adven. Minggu ini Gereja sedang memasuki minggu Adven yang ketiga. Peringatan peristiwa kelahiran Kristus Juru Selamat kita sudah semakin mendekat. Saya teringat tahun-tahun di mana masa Adven bagi saya sekedar datang dan kemudian berakhir tanpa saya sadari, dan tahu-tahu hari Natal tiba dengan segala kemeriahannya. Lagu-lagu natal yang meriah, kue-kue berhias yang memikat mata, pusat perbelanjaan dengan semua atributnya yang sangat menarik, dan daftar barang untuk dibeli sebagai hadiah bagi keluarga dan kerabat. Semua kemeriahan itu memang indah dan memberi nuansa tersendiri seputar perayaan Natal, dan saya menikmatinya. Tetapi ketika saya mengamati kandang Natal di altar gereja di mana patung bayi Yesus diletakkan pada malam Natal, tiba-tiba hati saya terasa sepi. Semua kemeriahan menjelang perayaan Natal itu terasa tidak sinkron dengan keheningan keluarga kudus Nazareth di kandang hewan itu. Saya bertanya-tanya dalam hati, apa dan siapa yang sebenarnya sedang saya rayakan.

Adven datang dan pergi, Natal tiba dan berlalu, saya tidak ingat apakah saya sudah menjadi lebih baik dan lebih mengasihi dibandingkan tahun-tahun yang berlalu, sementara Yesus sudah datang berkali-kali mengetuk hati saya dengan pesan kerinduan untuk lahir dan menetap di hati saya. Teringat oleh saya keindahan merawati tanaman sampai menghasilkan buah yang bisa dinikmati bersama, yang sering dilakukan oleh suami saya. Saya tidak merasakan kepuasan dan kegembiraan sebesar seperti yang ia alami, karena saya hanya sekedar memetik buah yang sudah jadi dan memakannya, tidak merasakan seninya memilih bibit, capeknya mencabuti rumput liar, dan kedisiplinan memberi pupuk dan menyiram. Rasa buah itu memang manis di lidah, enak dan memuaskan di perut, tetapi saya melewatkan saat-saat penuh usaha yang menghasilkan semua kemanisan itu. Karena saya hanya menjadi penonton, tidak terlibat dalam pengusahaan yang membuat bernilai keberhasilan dari sebuah usaha. Masa Adven sepertinya berlalu begitu saja dengan hambar, jika saya hanya menjadi penonton, tidak terlibat aktif di dalam menanggapi kesempatan indah yang diberikan Tuhan melalui Gereja-Nya, untuk menelisik apa yang masih harus saya benahi di hadapan Tuhan, melalui kegigihan merenungkan Firman-Nya setiap pagi, meluangkan waktu lebih banyak untuk berdoa dan merayakan Misa harian, serta berkumpul dengan saudara seiman untuk saling menguatkan komitmen kasih kita kepada-Nya. Melakukan semua usaha yang perlu, agar buah-buah kasih dan pertobatan yang memberi saya hidup, dapat saya petik dengan manis di hari kelahiran Yesus Tuhanku. Santo Yohanes Pemandi bahkan mengingatkan dengan keras, “Kapak sudah tersedia pada akar pohon dan setiap pohon yang tidak menghasilkan buah yang baik, akan ditebang dan dibuang ke dalam api.” (Luk3:9)

Hadiah Natal terindah tidak saja berupa benda-benda yang dibungkus dengan cantik, atau hidangan lezat yang disiapkan dengan segenap jerih payah, tetapi bahwa hati saya sudah menjadi palungan yang paling empuk dan nyaman untuk Tuhan berbaring di hari kedatangan-Nya dan berdiam di sana, memberikan saya kekuatan untuk menghasilkan buah-buah kasih yang paling manis yang bisa dinikmati sesama di sekitar saya dan lebih khusus lagi, yang bisa dinikmati oleh Tuhan. Bahagianya bila kita bisa mempersembahkan hadiah paling indah bagi bayi Yesus. Hadiah persembahan hati yang rindu dan siap dibentuk oleh hikmat-Nya, hadiah khusus hasil kerja keras dan usaha pertobatan yang tak kenal lelah, bagi Dia yang telah sudi menjadi seperti kita dan hadir di tengah-tengah kita. Itulah sukacita yang dimaksudkan Tuhan untuk saya hayati di hari kelahiran-Nya, sukacita karena kemenangan atas segala godaan egoisme dan cinta diri. Sukacita karena berusaha mengasihi Tuhan dan sesama dengan lebih sungguh. “Seperti Bapa telah mengasihi Aku, demikianlah juga Aku telah mengasihi kamu; tinggallah di dalam kasihKu itu. Jikalau kamu menuruti perintahKu, kamu akan tinggal di dalam kasihKu, seperti Aku menuruti perintah Bapaku dan tinggal di dalam kasihNya. Semuanya itu Kukatakan kepadamu, supaya sukacitaKu ada di dalam kamu dan sukacitamu menjadi penuh. Inilah perintahku, yaitu supaya kamu saling mengasihi, seperti Aku telah mengasihi kamu.” (Yoh 15: 9-12).

Akhirnya, hari Natal tetap akan tiba, baik saya mempersiapkan diri atau tidak. Tuhan tetap akan datang ke dunia, datang untuk kedua kalinya dengan segala kemuliaan-Nya, dan datang di saat kematian menjemput kita (yang kita tidak pernah tahu kapan), baik kita siap atau tidak. Rahmat dan karunia-Nya telah senantiasa dicurahkanNya dengan berlimpah untuk menopang niat pertobatan kita dan menuntun kita pada jalan kekudusan. Kini pilihan ada di tangan Anda dan saya. Selamat menyongsong Adven minggu ketiga. (Triastuti)

Program Katekese Dewasa

29

Pendahuluan

Dalam tiga tahun kehadiran situs katolisitas.org, kami telah menerima begitu banyak pertanyaan-pertanyaan dari umat Katolik. Dari pertanyaan-pertanyaan yang masuk, kami melihat bahwa banyak umat Katolik yang kurang mendapatkan pendidikan iman Katolik secara memadai, sehingga mudah terombang-ambing oleh pengajaran yang sering bertentangan dengan ajaran iman Katolik.

Maka pertanyaannya adalah, mengapa banyak umat Katolik kurang memahami iman Katolik walaupun sebelum dibaptis telah mendapatkan katekese selama kurang lebih satu tahun? Dari banyak masukan di sini – silakan klik, ada cukup banyak orang yang memandang bahwa bahan katekese yang ada kurang memadai. Dengan pemikiran ini dan tanpa mengurangi rasa hormat akan bahan-bahan yang sudah ada, maka katolisitas.org mencoba untuk menyusun program katekese dewasa yang berfokus pada isi. Hal ini sesuai dengan seruan KWI (Konferensi Waligereja Indonesia), yang pada tanggal 7-17 November 2011 bersidang dan menyerukan untuk berfokus pada katekese, yang menekankan isi.

Dalam memberikan pokok-pokok iman Katolik, sudah seharusnya katekese menempatkan isi sebagai prioritas utama, walaupun cara menyampaikannya juga tidak dapat dipandang remeh. Kita dapat belajar dari katekese pada masa-masa awal sampai sekarang, yang menekankan empat pilar dalam menjabarkan iman Katolik, yang juga dipakai dalam Katekismus Gereja Katolik. Empat pilar ini terdiri dari: (1) Apa yang kita percayai – penjabaran pernyataan iman “Aku Percaya”; (b) Bagaimana merayakan apa yang kita percayai – liturgi dan sakramen; (3) Bagaimana hidup sesuai dengan apa yang kita percayai – kehidupan dalam Kristus; (4) Bagaimana untuk mendapatkan kekuatan agar dapat hidup sesuai dengan apa yang kita percayai – penjabaran doa “Bapa Kami”.

Penyusunan materi ini akan mengacu kepada empat pilar di atas serta bersumber pada dokumen-dokumen Gereja, seperti: dokumen-dokumen Vatikan II, Katekismus Gereja Katolik, Kompendium Katekismus Gereja Katolik, ensiklik dan surat dari para Paus, terutama Paus Yohanes Paulus II dan Paus Benediktus XVI, tulisan-tulisan para Santa-Santo, The Aquinas Catechism dan program katekese dari keuskupan La Crosse, Wisconsin – USA.

Menjadi harapan kami agar materi-materi ini dapat berguna untuk memberikan kontribusi pada program katekese. Kami juga mengundang para katekis untuk dapat memberikan masukan untuk membuat materi ini menjadi lebih baik, serta menceritakan pengalaman ketika menggunakan materi ini. Lebih lanjut, para katekis juga dapat mensharingkan apa yang menjadi kendala dalam menerapkan masing-masing topik serta pertanyaan-pertanyaan kritis yang muncul pada saat terjadinya proses belajar mengajar, sehingga kita dapat membahasnya bersama-sama.

Bagian Satu – Pengakuan Iman

[catlist ID=1235 order=ASC numberposts=100 order=desc]

Makna mengambil air suci sebelum masuk gereja

25

Pertanyaan:

Shalom Tim katolisitas,

Saya ingin bertanya tentang pengambilan air suci di pintu masuk gereja dan kemudian membuat tanda salib.. Apakah seperti wudhu pada agama islam?

Bagaimanakah sejarah, referensi Alkitab, tata cara yg benar, dan makna dari tradisi ini?

Terimakasih, Semoga Berkat Tuhan beserta Tim Katolisitas..

-Adrian-

Jawaban:

Shalom Adrian,

Berikut ini adalah ulasan tentang makna pengambilan air suci sebelum memasuki gedung gereja, yang disadur dari tulisan karya Scott Hahn yang berjudul “Tanda-tanda Kehidupan, 40 Kebiasaan Katolik dan Akar Biblisnya” terbitan Dioma Publishing, 2011, hal.35 :

Pengambilan air suci sebelum kita memasuki gereja tidak terlepas dari penghayatan akan pentingnya air di dalam hidup manusia, karena air merupakan simbol penting yang menggambarkan kehidupan. Ya, sebab hidup jasmani kita dimulai di dalam air, demikian pula hidup rohani kita.

Air merupakan awal kehidupan. Dalam Kitab Kejadian penciptaan alam semesta dimulai dengan “Roh Allah melayang-layang di atas permukaan air.” (Kej 1:2). Demikian pula yang terjadi dalam kehidupan setiap manusia, kita memperoleh wujud insani kita di dalam kantung cairan, “air ketuban” dalam rahim ibu; dan ketika kantung air ini pecah, kelahiran dimulai.

Demikian pula, kita mengawali kunjungan kita ke gereja dengan mencelupkan air ke dalam bejana air suci, dan dengan air itu kita membuat tanda salib, yang mengingatkan kita akan Allah Tritunggal Mahakudus: Allah Bapa, Putera dan Roh Kudus, yang di dalam-Nya kita dibaptis dan memperoleh kehidupan ilahi.

Sudah sejak jaman Gereja awal, air digunakan dalam doa Kristiani. Bapa Gereja abad ke-2, Tertulianus, mencatat kebiasaan simbolis membasuh tangan sebelum menadahkannya dalam doa (Tertullian, On Prayer, p. 13). Kebiasaan ini juga sudah ada di kalangan Yahudi, dan kemungkinan ini yang dicatat oleh Rasul Paulus dalam suratnya kepada Timotius dalam 1 Tim 2:8. Sejarahwan Eusebius (320) mencatat bahwa sebuah gereja di Tirus memiliki air mancur pada pintu masuknya sebagai tempat kaum beriman membasuh tangan mereka.

Namun penggunaan air di pintu masuk gereja bukan sekadar sebagai tempat membasuh tangan, tetapi lebih kepada makna simbolis akan kehidupan itu sendiri, penyucian/ pertobatan dan kelahiran kembali. Air itu mengingatkan kepada air bah di zaman Nabi Nuh, yang olehnya kemudian keluarga Nabi Nuh memperoleh kehidupan baru (lih. Kej 8-9). Air itu juga mengingatkan kita kepada Laut Merah yang dilintasi oleh bangsa Israel saat dibebaskan dari perbudakan Mesir (lih. Kel 14:15-31). Namun terutama, air itu mengingatkan kita kepada Pembaptisan kita di mana kita telah dikuburkan bersama Kristus (lih. KGK 1220) dan dibangkitkan bersama Dia dan memperoleh kehidupan baru “di dalam air dan Roh” (Yoh 3:5) sebagai anak- anak angkat Allah (lih. KGK 1265).

Menurut St. Thomas Aquinas, air “menandakan rahmat Roh Kudus…karena Roh Kudus adalah sumber yang tak kunjung kering dari mana mengalir segala karunia rahmat.”(St. Thomas Aquinas, Commentary on St. John, p. 577). Kitab Wahyu meneguhkan hubungan antara air dan Roh Kudus dengan menggambarkan rahmat Roh Kudus sebagai suatu “sungai air kehidupan, yang jernih bagaikan kristal, yang mengalir dari tahta Allah dan tahta Anak Domba” (Why 2:1). Kita yang sudah dibaptis, lahir oleh air dan Roh, dan pengambilan air suci mengingatkan kita akan karunia rahmat Allah yang menguduskan kita, yang kita terima di dalam Pembaptisan.

Maka tindakan mengambil air suci sebelum memasuki gereja merupakan peringatan dan pembaruan pembaptisan kita. Juga, penggunaan air suci merupakan suatu penyegaran, yang membebaskan kita dari penindasan si jahat. St. Theresia dari Avila mengajarkan, “tidak ada suatu pun yang membuat roh-roh jahat lari tunggang langgang – tanpa memalingkan muka – kecuali air suci.” (St Theresia Avila, The Book of Her Life).

Jadi jika disimpulkan, pengambilan air suci di pintu gereja adalah untuk mengingatkan kita akan makna Pembaptisan kita (yaitu pertobatan, pengudusan, kehidupan baru di dalam Kristus dalam kesatuan dengan Allah Bapa dan Roh Kudus, dan partisipasi kita sebagai anak- anak angkat Allah di dalam misi Kristus) dan pengusiran roh-roh jahat.

Selanjutnya, kebanyakan gereja juga memiliki persediaan air suci sehingga warga paroki dapat mengambil air suci untuk dibawa pulang. Sejumlah keluarga Katolik menyiapkan wadah air suci kecil pada pintu masuk rumah/ setiap kamar; dan olehnya keluarga diingatkan akan rahmat pembaptisan yang menguduskan dan menyelamatkan.

Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
Caecilia Triastuti dan Ingrid Listiati- katolisitas.org

Tradisi Suci

15

Pertanyaan:

Salam damai,
Bu Inggrid, maaf sy belum paham. Tradisi gereja contohnya seperti apa ya? Tolong diperjelas untuk sy. Terima kasih.
Maria Angela Selly

Jawaban:

Shalom Maria Selly,

Tradisi Gereja atau Tradisi Suci yang diajarkan oleh Gereja Katolik adalah Tradisi Apostolik, yaitu Tradisi yang diperoleh dari para rasul, yang diperintahkan oleh Kristus untuk mewartakan semua perintah-Nya (lih. Mat 28:19-20). Para rasul mewartakan Injil dengan dua cara, yaitu secara lisan dan tertulis, dan yang lisan ini disebut Tradisi Suci. Katekismus mengajarkan demikian tentang Tradisi Suci, yang tidak terpisahkan dari Kitab Suci:

KGK 75    “Maka Kristus Tuhan, yang menjadi kepenuhan seluruh wahyu Allah yang Maha tinggi, memerintahkan kepada para Rasul, supaya Injil, yang dahulu telah dijanjikan melalui para nabi dan dipenuhi oleh-Nya serta dimaklumkan-Nya sendiri, mereka wartakan kepada semua orang, sebagai sumber segala kebenaran yang menyelamatkan serta sumber ajaran kesusilaan, dan dengan demikian dibagi-bagikan karunia-karunia ilahi kepada mereka” (DV 7).

KGk 76    Sesuai dengan kehendak Allah terjadilah pengalihan Injil atas dua cara:
secara lisan “oleh para Rasul, yang dalam pewartaan lisan, dengan teladan serta penetapan-penetapan meneruskan entah apa yang mereka terima dari mulut, pergaulan, dan karya Kristus sendiri, entah apa yang atas dorongan Roh Kudus telah mereka pelajari”;
secara tertulis “oleh para Rasul dan tokoh-tokoh rasuli, yang atas ilham Roh Kudus itu juga membukukan amanat keselamatan” (DV 7).

KGK 77    “Adapun, supaya Injil senantiasa terpelihara secara utuh dan hidup di dalam Gereja, para Rasul meninggalkan Uskup-Uskup sebagai pengganti-pengganti mereka, yang ‘mereka serahi kedudukan mereka untuk mengajar'” (DV 7). Maka, “pewartaan para Rasul, yang secara istimewa diungkapkan dalam kitab-kitab yang diilhami, harus dilestarikan sampai kepenuhan zaman melalui penggantian, penggantian yang tiada putusnya” (DV 8).

KGK 78    Penerusan yang hidup ini yang berlangsung dengan bantuan Roh Kudus, dinamakan “Tradisi”, yang walaupun berbeda dengan Kitab Suci, namun sangat erat berhubungan dengannya. “Demikianlah Gereja dalam ajaran, hidup serta ibadatnya dilestarikan serta meneruskan kepada semua keturunan dirinya seluruhnya, imannya yang seutuhnya” (DV 8). “Ungkapan-ungkapan para Bapa Suci memberi kesaksian akan kehadiran Tradisi ini yang menghidupkan, dan yang kekayaannya meresapi praktik serta kehidupan Gereja yang beriman dan berdoa.” (DV 8). 174, 1124, 2651.

KGK 79    Dengan demikian penyampaian Diri Bapa melalui Sabda-Nya dalam Roh Kudus tetap hadir di dalam Gereja dan berkarya di dalamnya: “Demikianlah Allah, yang dahulu telah bersabda, tiada henti-hentinya berwawancara dengan Mempelai Putera-Nya yang terkasih. Dan Roh Kudus, yang menyebabkan suara Injil yang hidup bergema dalam Gereja, dan melalui Gereja dalam dunia, menghantarkan Umat beriman menuju segala kebenaran, dan menyebabkan Sabda Kristus menetap dalam diri mereka secara melimpah (lih. Kol 3:16)” (DV 8).

KGK 80    “Tradisi Suci dan Kitab Suci berhubungan erat sekali dan terpadu. Sebab keduanya mengalir dari sumber ilahi yang sama, dan dengan cara tertentu bergabung menjadi satu dan menjurus ke arah tujuan yang sama” (DV 9). Kedua-duanya menghadirkan dan mendaya-gunakan misteri Kristus di dalam Gereja, yang menjanjikan akan tinggal bersama orang-orang-Nya “sampai akhir zaman” (Mat 28:20).

KGK 81    “Kitab Suci adalah pembicaraan Allah sejauh itu termaktub dengan ilham Roh ilahi”.”Dan Tradisi Suci, menyalurkan secara keseluruhan Sabda Allah, yang oleh Kristus Tuhan dan Roh Kudus dipercayakan kepada para Rasul. Tradisi menyalurkan Sabda Allah kepada para pengganti Rasul, supaya mereka ini dalam terang Roh kebenaran dengan pewartaan mereka, memelihara, menjelaskan, dan menyebarkannya dengan setia” (DV 9).

KGK 82    “Dengan demikian maka Gereja”, yang dipercayakan untuk meneruskan dan menjelaskan wahyu, “menimba kepastiannya tentang segala sesuatu yang diwahyukan bukan hanya melalui Kitab Suci. Maka dari itu keduanya [baik Tradisi maupun Kitab Suci] harus diterima dan dihormati dengan cita rasa kesalehan dan hormat yang sama” (DV 9).

KGK 83    Tradisi yang kita bicarakan di sini, berasal dari para Rasul, yang meneruskan apa yang mereka ambil dari ajaran dan contoh Yesus dan yang mereka dengar dari Roh Kudus. Generasi Kristen yang pertama ini belum mempunyai Perjanjian Baru yang tertulis, dan Perjanjian Baru itu sendiri memberi kesaksian tentang proses tradisi yang hidup itu. Tradisi-tradisi teologis, disipliner, liturgis atau religius, yang dalam gelindingan waktu terjadi di Gereja-gereja setempat, bersifat lain. Mereka merupakan ungkapan-ungkapan Tradisi besar yang disesuaikan dengan tempat dan zaman yang berbeda-beda. Dalam terang Tradisi utama dan di bawah bimbingan Wewenang Mengajar Gereja, tradisi-tradisi konkret itu dapat dipertahankan, diubah, atau juga dihapus.

Maka contoh Tradisi Suci adalah: 1) Doktrin- doktrin yang diajarkan Gereja Katolik melalui Konsili- konsili; 2) Doktrin/ ajaran yang diajarkan oleh Bapa Paus, selaku penerus Rasul Petrus, dan yang juga diajarkan oleh para uskup dalam kesatuan dengan Bapa Paus; 3) Tulisan pengajaran dari para Bapa Gereja dan para orang kudus (Santo/ Santa) yang sesuai dengan pengajaran Magisterium; 4) Katekismus Gereja Katolik; 5) Liturgi dan sakramen-sakramen.

Selanjutnya, silakan melihat daftar dogma dan doktrin yang diajarkan secara definitif (de fide) oleh Gereja Katolik, yang merupakan butir- butir pengajaran yang mengambil dasar dari Tradisi Suci dan Kitab Suci, silakan klik.

Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
Ingrid Listiati- katolisitas.org

Misteri Paska Kristus dan Kol 1:24

2

Pertanyaan:

Saya mao tambahin dikit
Jadi apa yg kurang banyak dr perjuangan kita kita sudah ditambahkan oleh Kristus melalui Misteri Paskah dan apa yg kurang dr Penderitaan Kristus kita lengkapi dengan perjuangan kita dalam menderita demi kekudusan kita dan Tubuh-Nya yaitu Jemaat Nya bahkan kalau mao di bilang lebi luas lagi bagi seluruh Umat Manusia.

“Aku Haus” — itu adalah sebuah kebutuhan yang Tuhan inginkan dari kita agar kita penuhi.
“Aku Ingin,,,” — itu adalah sebuah kebutuhan yang Tuhan inginkan dari kita agar kita penuhi.

Tuhan tidak butuh apa2 kan dari kita sesungguh Nya. Tetapi ternyata Tuhan mao merendahkan Diri-Nya karena dia benar2 mengasihi kita dan dalam kasih Nya memutuskan membutuhkan sesuatu dari kita jadi kata2 Paulus (Kol 1:24) utk melengkapi apa yang kurang dalam penderitaan Kristus itu menjadi masuk akal semua buat saya.

Y itu pandangan saya. Semoga saya tidak berlebihan dalam melihat arti penebusan Kristus sehingga saya buat2 teori2 sperti ini. Dan saya ingin sekali di benarkan kalau ada yang salah karena saya sadar yg ngomong itu dr diri saya ga mungkin semua nya berasal dr Roh Kudus tetapi pasti ada yang dari saya.
Dan saya tidak mao seperti itu, harus benar2 dari Roh Kudus yang di ilhami kepada Gereja Katolik yang tidak akan perna sesat selama nya.

Kemuliaan kepada Bapa, Putra, Roh Kudus seperti pada permulaan, sekarang, selalu dan sepanjang segala Masa.
Terima Kasih
Tuhan memberkati.
Leo

Jawaban:

Shalom Leo,

Puncak rencana keselamatan Allah bagi manusia adalah Misteri Paska Kristus; sehingga lebih tepat jika dikatakan bahwa keselamatan kita diperoleh karena Misteri Paska Kristus, yaitu Kristus yang telah disalibkan, wafat, bangkit dan naik ke surga, untuk menebus dosa manusia. Maka keselamatan bukan pertama- tama diperoleh dari perjuangan kita dan baru kemudian ditambahkan oleh Kristus melalui Misteri Paska-Nya; melainkan pertama- tama dari Kristus -melalui Misteri Paska-Nya- namun untuk mewujudkannya diperlukan kerjasama/ partisipasi dari kita (lih. Summa Theology III, q.49, a.3). Misteri Paska Kristus ini dirayakan di dalam liturgi, dan karena itu, partisipasi kita yang aktif di dalam liturgi merupakan partisipasi kita di dalam Misteri Paska Kristus.

Katekismus mengajarkan:

KGK 1066     Dalam syahadat iman Gereja mengakui misteri Tritunggal Mahakudus dan “keputusan-Nya yang berbelas kasih” untuk seluruh ciptaan: Bapa menyelesaikan “rahasia kesukaan Allah” (Ef 1:9), dengan menganugerahkan Putera-Nya yang kekasih dan Roh Kudus demi keselamatan dunia dan demi kehormatan nama-Nya. Inilah misteri Kristus (Bdk. Ef 3:4). Ini diwahyukan dalam sejarah dan dilaksanakan menurut satu rencana, artinya menurut satu “tata” yang dipikirkan secara bijaksana, yang oleh santo Paulus dinamakan “tata misteri” (Ef 3:9), oleh tradisi para Bapa “tata Sabda yang menjadi daging atau “tata keselamatan”.

KGK 1067    “Adapun karya penebusan umat manusia dan pemuliaan Allah yang, sempurna itu telah diawali dengan karya agung Allah di tengah umat Perjanjian Lama. Karya itu diselesaikan oleh Kristus Tuhan, terutama dengan misteri Paska: sengsara-Nya yang suci, kebangkitan-Nya dari alam maut, dan kenaikan-Nya dalam kemuliaan. Dengan misteri itu Kristus menghancurkan maut kita dengan wafat Nya, dan membangun kembali hidup kita dengan kebangkitan-Nya. Sebab dari lambung Kristus yang beradu di salib muncullah Sakramen seluruh Gereja yang mengagumkan” (SC 5). Karena itu dalam liturgi, Gereja merayakan terutama misteri Paska, yang olehnya Kristus menyelesaikan karya keselamatan kita.

KGK 1068    Di dalam liturgi, Gereja mewartakan dan merayakan misteri ini, sehingga umat beriman hidup darinya dan memberi kesaksian tentangnya di dalam dunia:
“Sebab melalui liturgilah, terutama dalam kurban ilahi Ekaristi, terlaksana karya penebusan kita. Liturgi merupakan upaya yang sangat membantu kaum beriman untuk dengan penghayatan Gereja yang sejati” (SC2).

Maka Kristus, dengan kurban salib-Nya dan kebangkitan-Nya, telah menyelesaikan karya keselamatan Allah. Namun demikian, karena keselamatan Kristus diberikan kepada Tubuh-Nya (Gereja) yang masih berziarah di dunia ini, yang tidak terlepas dari penderitaan hidup, maka penyelesaian karya keselamatan di dunia ini yang sudah digenapi di dalam Kristus, terus berlangsung di dalam Gereja sampai akhir zaman. Penderitaan yang dialami oleh kita anggota Gereja inilah yang merupakan ‘apa yang kurang’ dalam penderitaan Kristus (lih. Kol 1:24).

Paus Yohanes Paulus II dalam surat ensikliknya tentang Makna Kristiani dalam Penderitaan Manusia (Salvifici Doloris) mengajarkan tentang makna Kol 1:24 demikian:

“24. Nevertheless, the Apostle’s experiences as a sharer in the sufferings of Christ go even further. In the Letter to the Colossians we read the words which constitute as it were the final stage of the spiritual journey in relation to suffering: “Now I rejoice in my sufferings for your sake, and in my flesh I complete what is lacking in Christ’s afflictions for the sake of his body, that is, the Church“(Col. 1: 24). And in another Letter he asks his readers: “Do you not know that your bodies are members of Christ?”(1 Cor. 6, 15).

In the Paschal Mystery Christ began the union with man in the community of the Church. The mystery of the Church is expressed in this: that already in the act of Baptism, which brings about a configuration with Christ, and then through his Sacrifice—sacramentally through the Eucharist—the Church is continually being built up spiritually as the Body of Christ. In this Body, Christ wishes to be united with every individual, and in a special way he is united with those who suffer. The words quoted above from the Letter to the Colossians bear witness to the exceptional nature of this union. For, whoever suffers in union with Christ— just as the Apostle Paul bears his “tribulations” in union with Christ— not only receives from Christ that strength already referred to but also “completes” by his suffering “what is lacking in Christ’s afflictions”. This evangelical outlook especially highlights the truth concerning the creative character of suffering. The sufferings of Christ created the good of the world’s redemption. This good in itself is inexhaustible and infinite. No man can add anything to it. But at the same time, in the mystery of the Church as his Body, Christ has in a sense opened His own redemptive suffering to all human suffering. In so far as man becomes a sharer in Christ’s sufferings—in any part of the world and at any time in history—to that extent he in his own way completes the suffering through which Christ accomplished the Redemption of the world.

Does this mean that the Redemption achieved by Christ is not complete? No. It only means that the Redemption, accomplished through satisfactory love, remains always open to all love expressed in human suffering. In this dimension—the dimension of love—the Redemption which has already been completely accomplished is, in a certain sense, constantly being accomplished. Christ achieved the Redemption completely and to the very limits but at the same time he did not bring it to a close. In this redemptive suffering, through which the Redemption of the world was accomplished, Christ opened himself from the beginning to every human suffering and constantly does so. Yes, it seems to be part of the very essence of Christ’s redemptive suffering that this suffering requires to be unceasingly completed.

Thus, with this openness to every human suffering, Christ has accomplished the world’s Redemption through His own suffering. For, at the same time, this Redemption, even though it was completely achieved by Christ’s suffering, lives on and in its own special way develops in the history of man. It lives and develops as the body of Christ, the Church, and in this dimension every human suffering, by reason of the loving union with Christ, completes the suffering of Christ. It completes that suffering just as the Church completes the redemptive work of Christ. The mystery of the Church—that body which completes in itself also Christ’s crucified and risen body—indicates at the same time the space or context in which human sufferings complete the sufferings of Christ. Only within this radius and dimension of the Church as the Body of Christ, which continually develops in space and time, can one think and speak of “what is lacking” in the sufferings of Christ. The Apostle, in fact, makes this clear when he writes of “completing what is lacking in Christ’s afflictions for the sake of his body, that is, the Church“. (Pope John Paul II, Salvifici Doloris, 24)

Melalui penjelasan ini, kita mengetahui bahwa Kristus yang tidak terbatas oleh ruang dan waktu, tetap mengerjakan karya penyelamatan di dunia ini dengan melibatkan anggota- anggota Tubuh-Nya. Sebab dengan penderitaan-Nya di kayu salib, Ia membuka Diri-Nya terhadap penderitaan umat manusia, dan pada saat yang sama mengundang setiap anggota Tubuh-Nya untuk mengambil bagian di dalam penderitaan-Nya itu, yaitu dengan menyatukan segala penderitaan/ pergumulan yang kita alami di dunia ini dengan penderitaan-Nya di kayu salib yang mengatasi ruang dan waktu, agar menjadi penderitaan yang menyelamatkan (redemptive suffering) bagi umat manusia. Di sinilah kita memaknai penderitaan/ pergumulan yang kita alami di dunia ini, yaitu bahwa kita mengambil bagian di dalam penderitaan Kristus, dan dalam kesatuan dengan penderitaan-Nya itu, kita mengambil bagian pula di dalam keselamatan kekal yang dijanjikan-Nya.

Nah, penyatuan pergumulan hidup kita, segala kurban syukur maupun permohonan dengan kurban Kristus dilakukan secara istimewa dalam perayaan liturgi, terutama dalam sakramen Ekaristi. Di dalam Ekaristi kurban yang diperingati adalah kurban Kristus, namun kurban ini melibatkan kurban kita juga para anggota tubuh-Nya. Itulah sebabnya Ekaristi menjadi sumber dan puncak kehidupan kita sebagai umat Kristiani, sebab di sana kita merayakan Misteri Paska Kristus, yang menyelamatkan kita; di mana kita secara istimewa disatukan dengan Kristus Sang Kepala kita.

Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
Ingrid Listiati- katolisitas.org

Seputar Adven dan Natal

54

Mengerti apa yang terjadi di seputar Natal

Setiap tahun umat Kristiani merayakan Natal. Bagi umat Katolik, perayaan Natal didahului dengan persiapan masa Natal, yaitu Masa Adven yang merupakan masa persiapan kedatangan Kristus. Bagi banyak orang, Natal dan Adven identik dengan pohon natal, kandang natal, dan hadiah natal. Namun, lebih daripada itu, hal yang terpenting dilakukan adalah persiapan rohani untuk menyambut Kristus. Namun sayangnya, banyak orang kurang mengetahui alasan dan makna di balik semua persiapan rohani yang dilakukan. Artikel ini bertujuan untuk mengupas tradisi di seputar Natal dan persiapan yang dilakukan selama masa Adven, sehingga kita yang merayakan akan semakin menghargai apa yang biasa kita lakukan.

Seputar Natal

1. Kedatangan Yesus menjadi Anno Domini

Secara tidak sadar, sebenarnya dunia mengakui kedatangan Kristus sebagai satu hal yang begitu istimewa, karena perhitungan kalendar internasional menggunakan acuan kedatangan Kristus, yaitu yang dinamakan Anno Domini (AD), artinya tahun Tuhan, untuk menandai tahun-tahun sesudah kelahiran Kristus; dan BC, yaitu singkatan dari Before Christ untuk tahun- tahun sebelum kelahiran Kristus. Dengan demikian, kedatangan Kristus membagi sejarah manusia menjadi dua, dan titik pusatnya adalah Kristus sendiri. Ini adalah kenyataan yang terjadi berabad-abad dan patokan AD dan BC akan terus berlaku sampai akhir zaman.

Namun, kalau kita mengadakan perhitungan, sebenarnya kedatangan Kristus bukanlah permulaan tahun AD, namun sekitar 7BC – 5BC. Dionysius Exiguus (470-544) adalah seorang anggota Scythian monks, yang akhirnya tinggal di Roma sekitar tahun 500. Dionysius adalah orang yang pertama kali memperkenalkan AD (Anno Domini / the year of the Lord) pada waktu dia membuat kalendar Paskah (Easter). Sistem penanggalan ini menggantikan sistem penanggalan Diocletian, karena Dionysius tidak ingin menggunakan perhitungan Diocletian, seorang Kaisar yang menganiaya jemaat Kristen di abad ke-3. Dionysius mengatakan bahwa Anno Domini dimulai 754 tahun dari pondasi Roma (A.U.C) atau tahun 1 AD, yaitu tahun dimana Yesus lahir (dalam perhitungan Dionysius). Namun berdasarkan perhitungan para ahli, terutama berdasarkan bukti sejarah dari Josephus, maka perhitungan ini tidaklah benar.

Kitab Matius mengatakan “Sesudah Yesus dilahirkan di Betlehem di tanah Yudea pada zaman raja Herodes, datanglah orang-orang majus dari Timur ke Yerusalem” (Mt 2:1). Josephus, seorang ahli sejarah mengatakan bahwa Raja Herodes meninggal setelah berkuasa selama 34 tahun (de facto) dari meninggalnya Antigonus dan 37 tahun (de jure) sejak Roma mengeluarkan perintah yang menyatakan bahwa dia adalah raja (Josephus, Antiquities, 17,8,1). Antigonus meninggal pada saat Marcus Agrippa dan Lucius Caninius Gallus menjadi konsulat, yaitu pada tahun 37 BC. ((Josephus, Antiquities, 14,16, 4)). Herodes menjadi raja pada saat Caius Domitias Calvinus dan Caius Asinius Pollio menjadi konsulat pada tahun 40 BC. Perhitungannya adalah sebagai berikut: Dihitung dari meninggalnya Antigonus: 37 BC – 34 = 3 BC atau dihitung dari Raja Herodes menjadi raja: 40 BC – 37 = 3 BC.

Oleh karena itu, raja Herodes dipercaya meninggal sekitar 3 BC – 5 BC, atau kemungkinan sekitar 4 BC. Hal ini dikarenakan Josephus mengatakan bahwa pada saat tahun itu juga terjadi gerhana bulan (Josephus, Antiquities, 17,6, 4). Dan gerhana bulan ini terjadi pada tahun 4 BC. Karena Herodes meninggal tahun 4 BC, maka Kristus harus lahir sebelum tahun 4 BC. Dan diperkirakan Yesus lahir beberapa tahun sebelum kematian raja Herodes. Berdasarkan perhitungan tersebut di atas, para ahli percaya bahwa kelahiran Yesus adalah sekitar tahun 7 BC – 6 BC.

2. Mengapa merayakan Natal tanggal 25 Desember

Setiap tahun kita merayakan hari Natal, yaitu Hari Kelahiran Yesus Kristus. Namun mungkin banyak di antara kita yang mempunyai pertanyaan- pertanyaan sehubungan dengan perayaan Natal, setidak-tidaknya seperti tiga buah pertanyaan berikut ini. Pertama, tentang asal-usul perayaan Natal. Kedua, apa perlunya merayakan Natal, mengingat kata Natal tidak disebut dalam Kitab Suci. Ketiga, bolehkah merayakan Natal sebelum tanggal 25 Desember? ((Tiga pertanyaan dan jawaban dari pertanyaan ini dimuat di tabloid Catholic Life edisi Desember 2011))

Memang ada beberapa teori tentang asal mula hari Natal dan Tahun Baru. Menurut Catholic Encyclopedia, pesta Natal pertama kali disebut dalam “Depositio Martyrum” dalam Roman Chronograph 354 (edisi Valentini-Zucchetti (Vatican City, 1942) 2:17). ((New Catholic Encyclopedia, Vol III, The Catholic University of America, (Washington: 1967, reprint 1981), p.656)) Dan karena Depositio Martyrum ditulis sekitar tahun 336, maka disimpulkan bahwa perayaan Natal dimulai sekitar pertengahan abad ke-4.

Kita juga tidak tahu secara persis tanggal kelahiran Kristus, namun para ahli memperkirakan sekitar 8-6 BC (Sebelum Masehi). St. Yohanes Krisostomus berargumentasi bahwa Natal memang jatuh pada tanggal 25 Desember, dengan perhitungan kelahiran Yohanes Pembaptis. Karena Zakaria adalah imam agung dan hari silih (Atonement) jatuh pada tanggal 24 September, maka Yohanes Pembaptis lahir tanggal 24 Juni dan Kristus lahir enam bulan setelahnya, yaitu tanggal 25 Desember. ((Ibid.))

Ada juga sejumlah orang yang meyakini bahwa kelahiran Kristus jatuh pada tanggal 25 Desember, berdasarkan tanggal winter solstice (25 Desember dalam kalendar Julian), karena pada tanggal tersebut, matahari mulai kembali ke utara. Ada juga yang kemudian menghubungkan tanggal tersebut dengan kebiasaan kaum kafir /pagan berpesta “dies natalis Solis Invicti” (perayaan dewa Matahari); dan penetapan Kaisar Aurelian  di tahun 274, bahwa dewa matahari adalah pelindung kerajaan Roma, yang dirayakan setiap tanggal 25 Desember. ((Ibid.)) Hal serupa juga berlaku untuk tahun baru, yang dikatakan berasal dari kebiasaan suku Babilonia. Namun sejujurnya, semua itu merupakan spekulasi.

 

Penjelasan lengkap tentang hal ini dapat dibaca di sini – silakan klik.

Namun, bukankah Natal tidak pernah disebutkan dalam Kitab Suci? Mengapa kita tetap merayakan Natal? Kita tahu, bahwa tidak semua hal disebutkan di dalam Kitab Suci (lih. Yoh 21:25), termasuk kata Inkarnasi, Trinitas, Natal. Jangan lupa juga bahwa Kitab Suci pun tidak pernah menuliskan larangan untuk merayakan Natal. Satu hal yang pasti adalah kelahiran Yesus disebutkan di dalam Kitab Suci. Merayakan misteri Inkarnasi, merayakan Tuhan datang ke dunia dalam rupa manusia, merayakan bukti cinta kasih Allah kepada manusia adalah esensi dari perayaan Natal. Dengan demikian, perayaan Natal adalah hal yang sangat baik, karena seluruh umat Allah memperingati belas kasih Allah. Kalau memperingati ulang tahun anak kita adalah sesuatu yang baik – karena mengingatkan akan kasih Allah yang memberikan anak di dalam keluarga kita, maka seharusnya memperingati ulang tahun Sang Penyelamat kita adalah hal yang amat sangat baik, bahkan sudah seharusnya dilakukan.

Pertanyaan selanjutnya adalah apakah boleh merayakan Natal sebelum tanggal 25 Desember atau sesudah lewat masa Natal? Sebenarnya, dari pemahaman makna Adven, kita, umat Katolik,  tidak dianjurkan untuk merayakan Natal sebelum hari Natal. Sebab justru karena kita menghargai hari Natal sebagai hari yang sangat istimewa, maka kita perlu mempersiapkan diri untuk menyambutnya. Persiapan ini kita lakukan dengan masa pertobatan selama 4 minggu, yaitu mengosongkan diri kita dari segala dosa yang menghalangi kita menyambut Sang Juru Selamat; agar pada hari kelahiran-Nya, kita dapat mengalami lahir-Nya Kristus secara baru di dalam hati kita. Dengan demikian, kalau kita ingin merayakan Natal bersama keluarga, mari kita rayakan setelah Malam Natal, setelah hari Natal, selama dalam 8 hari (Oktaf Natal). Gereja Katolik memang merayakan Natal sejak Malam Natal sampai hari Epifani (Minggu Pertama setelah Oktaf Natal) dan bahkan gereja-gereja memasang dekorasi Natal sampai perayaan Pembaptisan Yesus oleh Yohanes Pembaptis (hari Minggu setelah tanggal 6 Januari).

3. Mengapa pohon cemara?

Sejarah pohon natal dapat ditelusuri sampai di sekitar abad ke-8, saat St. Bonifasius (675-754), seorang uskup Inggris, menyebarkan iman Katolik di Jerman. Pada saat dia meninggalkan Jerman dan pergi ke Roma sekitar 15 tahun lamanya, jemaat yang dia tinggalkan kembali lagi kepada kebiasaan mereka untuk mempersembahkan kurban berhala di bawah pohon Oak. Namun dengan berani St. Bonifasius menentang hal ini dan kemudian menebang pohon Oak tersebut. Jemaat kemudian bertanya bagaimana caranya mereka dapat merayakan Natal. Maka St. Bonifasius kemudian menunjuk kepada pohon fir atau pine, yang melambangkan damai dan kekekalan karena senantiasa hijau sepanjang tahun. Juga karena bentuknya meruncing ke atas, maka itu mengingatkan akan surga. Bentuk pohon yang berupa segitiga dan menjulang ke atas serta hijau sepanjang tahun, inilah mengingatkan kita akan misteri Trinitas, Allah yang kekal untuk selama-lamanya, yang turun ke dunia dalam diri Kristus untuk menyelamatkan manusia.

Maka walaupun memang tradisi pohon cemara tidak diperoleh dari jaman dan tempat asal Yesus, penggunaan pohon cemara tidak bertentangan dengan pengajaran Kitab Suci. Dalam hal ini, yang dipentingkan adalah maknanya: yaitu untuk mengingatkan umat Kristiani agar mengingat misteri kasih Allah Trinitas yang kekal selamanya, yang dinyatakan dengan kelahiran Yesus Sang Putera ke dunia demi menebus dosa manusia.

Tradisi Masa Adven

Begitu pentingnya peristiwa kelahiran Yesus Sang Putera, sehingga Gereja mempersiapkan umatnya untuk memperingatinya; dan masa persiapan ini dikenal dengan masa Adven. Kata “adven” sendiri berasal dari kata “adventus” dari bahasa Latin, yang artinya “kedatangan”. Masa Adven yang kita kenal saat ini sebenarnya telah melalui perkembangan yang cukup panjang. Pada tahun 590, sinode di Macon, Gaul, menetapkan masa pertobatan dan persiapan kedatangan Kristus. Kita juga menemukan bukti dari homili Minggu ke-2 masa Adven dari St. Gregorius Agung (Masa kepausan 590-604). Dari Gelasian Sacramentary, kita dapat melihat adanya 5 minggu masa Adven, yang kemudian diubah menjadi 4 minggu oleh Paus Gregorius VII (1073-1085). Sampai sekarang, masa Adven ini dimulai dari hari Minggu terdekat dengan tanggal 30 November (hari raya St. Andreas) selama 4 minggu ke depan sampai kepada hari Natal pada tanggal 25 Desember.

Masa Adven ini berkaitan dengan permenungan akan kedatangan Kristus. Kristus memang telah datang ke dunia, Ia akan datang kembali di akhir zaman; namun Ia tidak pernah meninggalkan Gereja-Nya dan selalu hadir di tengah- tengah umat-Nya. Maka dikatakan bahwa peringatan Adven merupakan perayaan akan tiga hal: peringatan akan kedatangan Kristus yang pertama di dunia, kehadiran-Nya di tengah Gereja, dan penantian akan kedatangan-Nya kembali di akhir zaman. Maka kata “Adven” harus dimaknai dengan arti yang penuh, yaitu: dulu, sekarang dan di waktu yang akan datang.

Ini adalah dasar dari pengertian tiga macam kedatangan Kristus yang dipahami Gereja Katolik. Pemahaman ini menjiwai persiapan rohani umat; dan hal ini tercermin dalam perayaan liturgi dalam Gereja Katolik. Sebab di antara kedatangan-Nya yang pertama di Betlehem dan kedatangan-Nya yang kedua di akhir zaman, Kristus tetap datang dan hadir di tengah umat-Nya. Hanya saja, masa Adven menjadi istimewa karena secara khusus Gereja mempersiapkan diri untuk memperingati peristiwa besar penjelmaan Tuhan, menjelang peringatan hari kelahiran-Nya di dunia.

Katekismus Gereja Katolik (KGK, 524) menuliskan:

KGK, 524 Dalam perayaan liturgi Adven, Gereja menghidupkan lagi penantian akan Mesias; dengan demikian umat beriman mengambil bagian dalam persiapan yang lama menjelang kedatangan pertama Penebus dan membaharui di dalamnya kerinduan akan kedatangan-Nya yang kedua (Bdk. Why 22:17.). Dengan merayakan kelahiran dan mati syahid sang perintis, Gereja menyatukan diri dengan kerinduannya: “Ia harus makin besar dan aku harus makin kecil” (Yoh 3:30).

Pada masa Adven, umat Katolik sering melakukan ulah kesalehan yang baik, yang berakar selama berabad-abad. Ulah kesalehan ini bertujuan untuk membantu mempersiapkan umat dalam menyambut kedatangan Sang Mesias. ((Kongregasi Ibadat dan Tata Tertib Sakramen, Direktorium tentang Kesalehan Umat dan Liturgi, Asas-asas dan pedoman, 97)) Semua ulah kesalehan ini mengingatkan umat akan Sang Mesias yang sebelumnya telah dinubuatkan melalui perantaraan para nabi dalam Perjanjian Lama. Ulah kesalehan ini juga mengingatkan umat Allah akan Kristus yang lahir dari Perawan Maria dengan begitu banyak kesulitan, yang akhirnya terlahir, namun terlahir di kandang, di tempat yang kurang layak. Mari sekarang kita membahas persiapan rohani yang terkait dengan masa Adven.

1. Persiapan spiritual

Karena masa Adven adalah masa penantian yang harus diisi dengan pertobatan, sehingga kita mempersiapkan diri kita untuk menyambut kedatangan Kristus, maka sudah seharusnya umat Allah mempersiapkan diri secara spiritual. Persiapan yang terbaik adalah dengan lebih sering menerima Sakramen Ekaristi dan juga menerima Sakramen Tobat. Sakramen Ekaristi menyadarkan kita akan kasih Allah yang memberikan Putera-Nya untuk bersatu dengan kita, yang dimulai dengan peristiwa Inkarnasi. Sakramen Tobat menyadarkan kita bahwa kita sebenarnya tidak layak menyambut Kristus karena dosa-dosa kita, namun Kristus datang ke dunia untuk menyelamatkan kita dari belenggu dosa. Masa Adven adalah waktu yang tepat untuk terus bertekun dalam doa-doa pribadi dan membaca Kitab Suci. Sungguh baik kalau kita dapat mengikuti bacaan Kitab Suci mengikuti kalender Gereja, karena bacaan-bacaan telah disusun sedemikian rupa untuk mempersiapkan kita menyambut Sang Mesias.

Dalam masa Adven ini, ada sebagian umat yang juga menjalankan Novena Maria dikandung Tanpa Noda, Novena Natal dan Novena Kanak- kanak Yesus. Karena Gereja memperingati Maria dikandung Tanpa Noda (Immaculate Conception) pada tanggal 9 Desember, maka penghormatan kepada Bunda Maria, yang melahirkan Kristus juga dipandang sebagai devosi yang baik. Jika devosi ini dilaksanakan, maka sebaiknya menonjolkan teks-teks profetis, mulai dari Kej 3:15 dan berakhir pada kabar gembira dari malaikat Gabriel kepada Maria, yang penuh rahmat. ((Ibid., 102))

2. Lingkaran Adven

Lingkaran Adven (Adven wreath) adalah satu lingkaran yang biasanya terbuat dari daun-daun segar, dengan empat lilin. Pada awal mulanya, sebelum kekristenan berkembang di Jerman, orang- orang telah menggunakan lingkaran daun, yang atasnya dipasang lilin untuk memberikan pengharapan bahwa musim dingin yang gelap akan lewat. Di abad pertengahan, umat Kristen mengadaptasi kebiasaan ini dan memberikan makna yang baru pada lingkaran daun ini menjadi lingkaran Adven, untuk menantikan kedatangan Mesias, Sang Terang. Dikatakan bahwa penyalaan lilin yang bertambah minggu demi minggu sampai hari Natal merupakan permenungan akan tahapan karya keselamatan Allah sebelum kedatangan Kristus, yang adalah Sang Terang Dunia, yang akan menghapuskan kegelapan. (Ibid, 98))

Di dalam dokumen Direktorium tentang Kesalehan Umat dan Liturgi, tidak disebutkan warna lilin yang digunakan, sehingga umat dapat menggunakan lilin warna putih ataupun ungu. Karena masa Adven juga menjadi masa pertobatan, maka lilin dapat menggunakan warna ungu, yang menjadi simbol pertobatan. Kemudian di Minggu ke-3, atau disebut minggu Gaudete atau minggu sukacita, dipasang lilin berwarna merah muda, yang menyatakan sukacita karena masa penantiaan akan telah berjalan setengah dan akan berakhir. Ada juga kebiasaan, yang meletakkan lilin putih di tengah, yang dinyalakan saat masa Adven selesai, yang menyatakan bahwa Kristus telah datang.

3. Antifon Tujuh ‘O’

Gereja Katolik mengharuskan para imam untuk berdoa liturgi harian (Liturgy of the hour atau Brevier). Walaupun doa ini diperuntukkan untuk para imam, namun kaum awam juga dianjurkan untuk mendoakannya. Dengan demikian, alangkah baik, kalau pada tanggal 17-23, juga diadakan ibadah sore bersama-sama di Gereja. Doa ini begitu indah dan dalam, sehingga seseorang dapat berdoa bersama dengan Gereja, doa berdasarkan Sabda Tuhan, dan doa bersama dengan para santa-santo yang dirayakan dalam liturgi Gereja. Dalam masa Adven, tujuh hari sebelum Natal, yaitu tanggal 17-23 Desember, didoakan antifon sebagai berikut: O Sapientia (O Kebijaksanaan), O Adonai (O Tuhan), O Radix Jesse (O Pangkal Isai), O Clavis David (O Kunci Daud), O Oriens (O Bintang Fajar), O Rex Gentium (O Raja Segala Bangsa), O Emmanuel (O Imanuel / O Tuhan beserta kita). Kalau kita mengambil inisial dari doa tersebut mulai dari sebutan yang terakhir, maka akan membentuk kalimat  “ERO CRAS”, yang artinya Besok, Aku akan datang. Jadi, masa penantian dalam masa Adven senantiasa dibarengi dengan pengharapan akan kedatangan Sang Imanuel.

Antifon ini menggambarkan kerinduan akan kedatangan Sang Mesias. Dia yang merupakan Sabda Allah (O, Kebijaksanaan), yang akan mengajarkan manusia jalan Allah dengan cara Sang Sabda yang adalah Allah menjadi manusia (lih. Yoh 1:1). Bagaimana pemenuhan dari janji ini? Hal ini dipenuhi secara bertahap, dengan menggambarkan beberapa karakter. Kalau sebelum-Nya Allah menyatakan hukum-hukumnya dalam dua loh batu, maka nanti Dia akan menyatakannya lewat sebuah Pribadi (O Adonai). Pribadi ini akan datang dari keturunan Daud (O Radix Jesse), yang menggambarkan Inkarnasi, di mana semua raja akan bertekuk lutut. Dia mempunyai kekuasaan tak terbatas, yang digambarkan sebagai kunci Daud (O Clavis David), di mana Dia akan mengangkat manusia dari keterpurukan. Dia akan memberikan terang (O Oriens) kepada bangsa-bangsa. Terang ini menyinari semua orang, baik bangsa Yahudi maupun non-Yahudi, dan Dia akan menjadi raja segala bangsa (O Rex Gentium). Dia akan datang kepada umat manusia dan akan menyertai (O Emmanuel) umat manusia. Itulah harapan dari umat manusia akan kedatangan Sang Penyelamat. Dan dari rangkaian tujuh O Antifon, maka seolah-olah Yesus menjawab kerinduan ini, dengan mengatakan ERO CRAS atau ‘Besok, Aku akan datang’. Mari kita melihat satu persatu dari antifon ini:

17 Desember (O Sapientia)

O Kebijaksanaan, yang mengalir dari Sabda yang Maha Tinggi, menggapai dari ujung ke ujung dengan penuh kuasa, dan dengan gembira memberikan segala sesuatu; datang dan ajarlah kami jalan kebijaksanaan.

“Roh TUHAN akan ada padanya, roh hikmat dan pengertian, roh nasihat dan keperkasaan, roh pengenalan dan takut akan TUHAN; ya, kesenangannya ialah takut akan TUHAN. Ia tidak akan menghakimi dengan sekilas pandang saja atau menjatuhkan keputusan menurut kata orang.” (Yes 11:2-3)

“Dan inipun datangnya dari TUHAN semesta alam; Ia ajaib dalam keputusan dan agung dalam kebijaksanaan.” (Yes 28:29)

18 Desember (O Adonai)

O Tuhan dan Penguasa dari bangsa Israel, yang telah menampakkan diri kepada Musa dari dalam semak terbakar, dan telah memberikan kepadanya hukum di Sinai: datang dan bebaskanlah kami dengan rengkuhan lengan-Mu.

“Tetapi ia akan menghakimi orang-orang lemah dengan keadilan, dan akan menjatuhkan keputusan terhadap orang-orang yang tertindas di negeri dengan kejujuran; ia akan menghajar bumi dengan perkataannya seperti dengan tongkat, dan dengan nafas mulutnya ia akan membunuh orang fasik. Ia tidak akan menyimpang dari kebenaran dan kesetiaan, seperti ikat pinggang tetap terikat pada pinggang.” (Yes 11:4-5)

“Sebab TUHAN ialah Hakim kita, TUHAN ialah yang memberi hukum bagi kita; TUHAN ialah Raja kita, Dia akan menyelamatkan kita.” (Yes 33:22)

19 Desember (O Radix Jesse)

O Pangkal Isai, yang berdiri sebagai tanda bagi orang-orang, yang di hadapan-Nya, seluruh raja tidak dapat membuka mulut mereka; yang kepada-Nya seluruh bangsa harus berdoa: datang dan bebaskanlah kami, janganlah menunda lagi.

“Suatu tunas akan keluar dari tunggul Isai, dan taruk yang akan tumbuh dari pangkalnya akan berbuah.” (Yes 11:1)

“Maka pada waktu itu taruk dari pangkal Isai akan berdiri sebagai panji-panji bagi bangsa-bangsa; dia akan dicari oleh suku-suku bangsa dan tempat kediamannya akan menjadi mulia.” (Yes 11:10)

20 Desember (O Clavis David)

O Kunci Daud, dan tongkat dari bangsa Israel; Yang mana apabila Ia membuka, tidak ada yang dapat menutup; apabila Ia menutup, tidak ada yang dapat membuka: datang dan pimpinlah tawanan dari rumah penjara, dan dia yang duduk dalam kegelapan dan bayang-bayang maut.

“Aku akan menaruh kunci rumah Daud ke atas bahunya: apabila ia membuka, tidak ada yang dapat menutup; apabila ia menutup, tidak ada yang dapat membuka.” (Yes 22:22)

“Besar kekuasaannya, dan damai sejahtera tidak akan berkesudahan di atas takhta Daud dan di dalam kerajaannya, karena ia mendasarkan dan mengokohkannya dengan keadilan dan kebenaran dari sekarang sampai selama-lamanya. Kecemburuan TUHAN semesta alam akan melakukan hal ini.” (Yes 9:7)

“untuk membuka mata yang buta, untuk mengeluarkan orang hukuman dari tempat tahanan dan mengeluarkan orang-orang yang duduk dalam gelap dari rumah penjara.” (Yes 42:7)

21 Desember (O Oriens)

O Fajar Timur, Cahaya kemegahan abadi, dan matahari keadilan: Datang dan terangilah mereka yang duduk dalam kegelapan, dan bayang-bayang maut.

“Bangsa yang berjalan di dalam kegelapan telah melihat terang yang besar; mereka yang diam di negeri kekelaman, atasnya terang telah bersinar.” (Yes 9:1)

“Bangkitlah, menjadi teranglah, sebab terangmu datang, dan kemuliaan TUHAN terbit atasmu. Sebab sesungguhnya, kegelapan menutupi bumi, dan kekelaman menutupi bangsa-bangsa; tetapi terang TUHAN terbit atasmu, dan kemuliaan-Nya menjadi nyata atasmu.” (Yes 60:1-2)

“Tetapi kamu yang takut akan nama-Ku, bagimu akan terbit surya kebenaran dengan kesembuhan pada sayapnya. Kamu akan keluar dan berjingkrak-jingkrak seperti anak lembu lepas kandang.” (Mal 4:2)

22 Desember (O Rex Gentium)

O Raja Segala Bangsa, dan yang dirindukan, Batu penjuru yang membuat bangsa Yahudi dan non-Yahudi menjadi satu: datang dan selamatkanlah manusia, yang telah Engkau ciptakan dari debu tanah.

“Sebab seorang anak telah lahir untuk kita, seorang putera telah diberikan untuk kita; lambang pemerintahan ada di atas bahunya, dan namanya disebutkan orang: Penasihat Ajaib, Allah yang Perkasa, Bapa yang Kekal, Raja Damai.” (Yes 9:6)

“Ia akan menjadi hakim antara bangsa-bangsa dan akan menjadi wasit bagi banyak suku bangsa; maka mereka akan menempa pedang-pedangnya menjadi mata bajak dan tombak-tombaknya menjadi pisau pemangkas; bangsa tidak akan lagi mengangkat pedang terhadap bangsa, dan mereka tidak akan lagi belajar perang.” (Yes 2:4)

“sebab itu beginilah firman Tuhan ALLAH: “Sesungguhnya, Aku meletakkan sebagai dasar di Sion sebuah batu, batu yang teruji, sebuah batu penjuru yang mahal, suatu dasar yang teguh: Siapa yang percaya, tidak akan gelisah!” (Yes 28:16)

23 Desember (O Emmanuel)

O Imanuel, Raja dan Pemberi hukum kami, harapan dari semua bangsa dan keselamatan mereka: datang dan selamatkanlah kami, O Tuhan Allah kami.

“Sebab itu Tuhan sendirilah yang akan memberikan kepadamu suatu pertanda: Sesungguhnya, seorang perempuan muda mengandung dan akan melahirkan seorang anak laki-laki, dan ia akan menamakan Dia Imanuel.” (Yes 7:14)

Mempersiapkan Natal dengan sungguh dan menangkap arti Natal

Dari pemaparan di atas, maka sesungguhnya menjadi jelas, bahwa masa Adven adalah masa persiapan untuk menyambut kedatangan Kristus, yang harus diisi dengan pertobatan, yaitu membersihkan rumah hati kita, agar Kristus dapat lahir kembali di hati kita. Kalau kita mempersiapkan diri dengan baik, maka kita akan mengalami Kristus yang hadir di dalam hati kita, sehingga kita juga akan mempunyai tujuan yang sama dengan Inkarnasi Kristus, yaitu untuk mengasihi dengan memberikan diri kepada sesama kita. Dengan kata lain, Natal mengingatkan kita untuk dapat berbagi kasih dengan sesama. Mari, pada masa Adven ini, kita mempersiapkan diri kita dengan sebaik-baiknya. Datanglah ya Tuhan, lahirlah secara baru di dalam hatiku…..!

Keep in touch

18,000FansLike
18,659FollowersFollow
32,900SubscribersSubscribe

Artikel

Tanya Jawab