Home Blog Page 182

Siapakah Mesias dan Nabi di Yoh 1?

2

Di Yoh 1:19-21, 25, Yohanes Pembaptis menjawab pertanyaan para Imam dan kaum Lewi bahwa dia bukan Mesias, bukan Elia, dan bukan nabi yang akan datang. Yohanes Pembaptis ingin menekankan bahwa dia bukanlah penjelmaan Elia dan dia ingin menekankan bahwa Sang Mesias dan Nabi yang dijanjikan bukanlah dia, melainkan Yesus Kristus.

Yohanes Pembaptis menjawab bahwa dia bukan Mesias (ay.20). Di ayat 6-8, Rasul Yohanes menulis bahwa Yohanes Pembaptis adalah utusan Allah, yang memberikan kesaksian tentang Terang, dengan penegasan bahwa Yohanes Pembaptis bukanlah terang itu. Di ayat 15, Yohanes Pembaptis memberikan kesaksian tentang Yesus, dengan berkata “Inilah Dia, yang kumaksudkan ketika aku berkata: Kemudian dari padaku akan datang Dia yang telah mendahului aku, sebab Dia telah ada sebelum aku.” Dan kemudian, kejelasan bahwa Terang ini adalah Yesus terungkap ketika Rasul Yohanes menulis, “Pada keesokan harinya Yohanes melihat Yesus datang kepadanya dan ia berkata: “Lihatlah Anak domba Allah, yang menghapus dosa dunia. Dialah yang kumaksud ketika kukatakan: Kemudian dari padaku akan datang seorang, yang telah mendahului aku, sebab Dia telah ada sebelum aku.” (Yoh 1:29-30)

Yohanes Pembaptis juga mengatakan bahwa dia bukan Elia menjawab pertanyaan imam dan kaum Lewi (ay. 21). Pertanyaan ini berdasarkan nubuat Maleakhi, yang mengatakan, “Sesungguhnya Aku akan mengutus nabi Elia kepadamu menjelang datangnya hari TUHAN yang besar dan dahsyat itu. ” (Mal 4:5) Yohanes Pembaptis bukanlah Elia dalam arti Elia yang sama seperti yang diceritakan di Perjanjian Lama, namun Yohanes Pembaptis dapat dikatakan Elia secara rohani (spirit), seperti yang dipertegas oleh Yesus dalam Mat 17:12. Secara tidak langsung, nubuat nabi Maleakhi terpenuhi juga dalam diri Yohanes Pembaptis.

Yohanes juga menyatakan bahwa dia bukanlah nabi yang akan datang (ay.21). Para Imam dan kaum Lewi bertanya tentang nabi yang akan datang berdasarkan nubuat dalam kitab Perjanjian Lama, “Seorang nabi akan Kubangkitkan bagi mereka dari antara saudara mereka, seperti engkau ini; Aku akan menaruh firman-Ku dalam mulutnya, dan ia akan mengatakan kepada mereka segala yang Kuperintahkan kepadanya.” (Ul 18:18) Dan seseorang yang digambarkan sebagai nabi ini terpenuhi dalam diri Yesus, karena Dia adalah Firman yang menjadi manusia (lih. Yoh 1:14). Hal ini ditegaskan oleh Rasul Petrus ketika dia memberikan khotbah di Serambi Salomo (lih. Kis 3:22-23) dan juga ditegaskan oleh Stefanus di Kis 7:37.

Dengan demikian Yoh 1, semakin menegaskan bahwa Yesus adalah pemenuhan dari nubuat Perjanjian Lama. Dia yang datang sebagai nabi, imam dan raja menjalankan tugas-Nya dengan sempurna sehingga mendatangkan keselamatan bagi seluruh umat manusia.

Sejak Kapan Gereja disebut Gereja Katolik?

16

Istilah ‘katolik‘ merupakan istilah yang sudah ada sejak abad awal, yaitu sejak zaman Santo Polycarpus (murid Rasul Yohanes) untuk menggambarkan iman Kristiani, ((Disarikan dari New Catholic Encyclopedia, Buku ke-3 (The Catholic University of America, Washington, DC, copyright 1967, reprinted 1981), hal. 261)) bahkan pada jaman para rasul, sebagaimana dicatat dalam Kitab Suci. Kis 9:31 menuliskan asal mula kata Gereja Katolik (katholikos) yang berasal dari kata “Ekklesia Katha Holos“. Ayatnya berbunyi, “Selama beberapa waktu jemaat di seluruh Yudea, Galilea dan Samaria berada dalam keadaan damai. Jemaat itu dibangun dan hidup dalam takut akan Tuhan. Jumlahnya makin bertambah besar oleh pertolongan dan penghiburan Roh Kudus.” (Kis 9:31). Di sini kata “Katha holos atau katholikos; dalam bahasa Indonesia adalah jemaat/ umat Seluruh/ Universal atau Gereja Katolik, sehingga kalau ingin diterjemahkan secara konsisten, maka Kis 9:31, bunyinya adalah, “Selama beberapa waktu Gereja Katolik di Yudea, Galilea, dan Samaria berada dalam keadaan damai. Gereja itu dibangun dan hidup dalam takut akan Tuhan. Jumlahnya makin bertambah besar oleh pertolongan dan penghiburan Roh Kudus.”

Namun nama ‘Gereja Katolik’ baru resmi digunakan pada awal abad ke-2 (tahun 107), ketika Santo Ignatius dari Antiokhia menjelaskan dalam suratnya kepada jemaat di Smyrna 8, untuk menyatakan bahwa Gereja Katolik adalah Gereja satu-satunya yang didirikan Yesus Kristus, untuk membedakannya dari para heretik pada saat itu -yang juga mengaku sebagai jemaat Kristen- yang menolak bahwa Yesus adalah Allah yang sungguh-sungguh menjelma menjadi manusia. Ajaran sesat itu adalah heresi/ bidaah Docetisme dan Gnosticisme. Dengan surat tersebut, St. Ignatius mengajarkan tentang hirarki Gereja, imam, dan Ekaristi yang bertujuan untuk menunjukkan kesatuan Gereja dan kesetiaan Gereja kepada ajaran yang diajarkan oleh Kristus. Demikian penggalan kalimatnya, “…Di mana uskup berada, maka di sana pula umat berada, sama seperti di mana ada Yesus Kristus, maka di sana juga ada Gereja Katolik….” ((St. Ignatius of Antioch, Letter to the Smyrnaeans, 8)). Sejak saat itu Gereja Katolik memiliki arti yang kurang lebih sama dengan yang kita ketahui sekarang, bahwa Gereja Katolik adalah Gereja universal di bawah pimpinan para uskup yang mengajarkan doktrin yang lengkap, sesuai dengan yang diajarkan Kristus.

Kata ‘Katolik’ sendiri berasal dari bahasa Yunani, katholikos, yang artinya “keseluruhan/ universal“; atau “lengkap“. Jadi dalam hal ini kata katolik mempunyai tiga arti, yaitu bahwa: 1) Gereja yang didirikan Yesus ini bukan hanya milik suku tertentu atau kelompok eksklusif yang terbatas; melainkan mencakup ‘keseluruhan‘ keluarga Tuhan yang ada di ‘seluruh dunia’, yang merangkul semua, dari setiap suku, bangsa, kaum dan bahasa (Why 7:9). 2) Kata ‘katolik’ juga berarti bahwa Gereja tidak dapat memilih-milih doktrin yang tertentu asal cocok sesuai dengan selera/ pendapat pribadi, tetapi harus doktrin yang setia kepada ‘seluruh‘ kebenaran. Rasul Paulus mengatakan bahwa hakekatnya seorang rasul adalah untuk menjadi pengajar yang ‘katolik’ artinya yang “meneruskan firman-Nya (Allah) dengan sepenuhnya…. tiap-tiap orang kami nasihati  dan tiap-tiap orang kami ajari dalam segala hikmat, untuk memimpin tiap-tiap orang kepada kesempurnaan dalam Kristus.” (Kol 1:25, 28); 3) Gereja Katolik adalah Gereja yang terus ada di seluruh/ sepanjang waktu, sampai akhir zaman kelak.

Maka, Gereja Kristus disebut sebagai katolik (= universal) sebab ia dikurniakan kepada segala bangsa, oleh karena Allah Bapa adalah Pencipta segala bangsa. Sebelum naik ke surga, Yesus memberikan amanat agung agar para rasulNya pergi ke seluruh dunia untuk menjadikan semua bangsa murid-muridNya (Mat 28: 19-20). Sepanjang sejarah Gereja Katolik menjalankan misi tersebut, yaitu menyebarkan Kabar Gembira pada semua bangsa, sebab Kristus menginginkan semua orang menjadi anggota keluarga-Nya yang universal (Gal 3:28). Kini Gereja Katolik ditemukan di semua negara di dunia dan masih terus mengirimkan para missionaris untuk mengabarkan Injil. Gereja Katolik yang beranggotakan bermacam bangsa dari berbagai budaya menggambarkan keluarga Kerajaan Allah yang tidak terbatas hanya pada negara atau suku bangsa yang tertentu.

Namun demikian, nama “Gereja Katolik” tidak untuk dipertentangkan dengan istilah “Kristen” yang juga sudah dikenal sejak zaman para rasul (lih. Kis 11:26). Sebab ‘Kristen’ artinya adalah pengikut/murid Kristus, maka istilah ‘Kristen’ mau menunjukkan bahwa umat yang menamakan diri Kristen menjadi murid Tuhan bukan karena sebab manusiawi belaka, tetapi karena mengikuti Kristus yang adalah Sang Mesias, Putera Allah yang hidup. Umat Katolik juga adalah umat Kristen, yang justru menghidupi makna ‘Kristen’ itu dengan sepenuhnya, sebab Gereja Katolik menerima dan meneruskan seluruh ajaran Kristus, sebagaimana yang diajarkan oleh Kristus dan para rasul, yang dilestarikan oleh para penerus mereka, sampai akhir zaman.

Yoh 14:16: Penolong yang lain

13

Siapakah penolong yang lain, yang disebutkan di Yoh 14:16? Menurut Kitab Suci bahasa Indonesia LAI, Yoh 14:16-17 Yesus mengatakan, “Aku akan minta kepada Bapa, dan Ia akan memberikan kepadamu seorang Penolong yang lain, supaya Ia menyertai kamu selama-lamanya, yaitu Roh Kebenaran. Dunia tidak dapat menerima Dia, sebab dunia tidak melihat Dia dan tidak mengenal Dia. Tetapi kamu mengenal Dia, sebab Ia menyertai kamu dan akan diam di dalam kamu.”

Sedangkan menurut bahasa Inggris (Douay Rheims), ” And I will ask the Father: and He shall give you another Paraclete (allos parakletos, in Greek), that He may abide with you for ever: The Spirit of truth, whom the world cannot receive, because it seeth Him not, nor knoweth Him. But you shall know Him; because He shall abide with you and shall be in you.” (Jn 14:16)

Ayat Yoh 14:16 tidak mengacu kepada seorang manusia, tetapi kepada Roh Kudus, karena:

1. Ayat Yoh 14:16, tidak dapat dipisahkan dari ayat ke-17 dan ayat- ayat lainnya dalam Kitab Suci, yang jelas menghubungkan makna ayat ini dengan Roh Kudus, Roh Kebenaran yang diutus oleh Allah Bapa dan Allah Putera (lih. 14:26; 15:26; 16:7).  Maka Sang Penolong dan Penghibur itu tidak mengacu kepada manusia, tetapi kepada Roh Kebenaran, yaitu Roh Allah sendiri yang dapat menyertai para murid Kristus selama- lamanya. Sebab tidak ada manusia yang dapat “menyertai selama- lamanya”, hanya Tuhan saja yang mampu menyertai selama- lamanya, dan hanya Tuhan saja yang bisa menyertai dan diam di dalam diri murid- murid Kristus.

Demikian pula, karena tepat setelah “Roh Kebenaran”, dikatakan, “Dunia tidak dapat menerima Dia karena dunia tidak melihat Dia”, maka kita ketahui bahwa Dia yang dimaksud di sini adalah Roh Kebenaran itu. Roh ini bukan manusia, karena meskipun manusia mempunyai jiwa rohani, namun ia juga mempunyai tubuh, dan karena itu dapat dilihat oleh dunia sekitarnya, dan dengan demikian tidak cocok dengan apa yang disebut dalam Yoh 14:17 tersebut.

2. Perlu juga dilihat asal katanya dalam bahasa Yunani, allos parakletos, yang juga tidak mengacu kepada kata “seorang”, sebab allos itu artinya “satu yang lain/ another/ else“, hanya saja, kata itu kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia menjadi ‘seorang’. Di sini terlihat adanya keterbatasan bahasa terjemahan, yang tidak secara persis mengartikan kata yang dimaksud, yaitu another Paraclete/ allos parakletos tersebut.

3. Selanjutnya, Injil Barnabas telah keliru dalam menyamakan Roh Kudus (paráklētos Yunani), dengan ‘periklutos‘ (artinya yang terhormat) yang dapat diterjemahkan dalam bahasa Arab “Ahmad”, sehingga akhirnya mengacu kepada Muhammad. Padahal dalam kitab Injil Yohanes, Kisah Para Rasul dan surat- surat Rasul Paulus, Roh Kudus tidak untuk diartikan sebagai manusia, melainkan Pribadi Allah sendiri yang dicurahkan kepada para Rasul dan umat beriman; untuk mendatangkan pertobatan dan mencurahkan rahmat pengudusan Allah dan karunia- karunia-Nya.

Freemason dan occultisme

17

Freemason/ Freemasonry bukan merupakan gerakan yang didirikan oleh Gereja Katolik.

Ada sebagian orang mengatakan bahwa freemasonry didirikan oleh Gereja Katolik, atau minimal Gereja Katolik berperan aktif di dalamnya. Namun ini adalah tuduhan yang tidak mendasar, karena Gereja Katolik sendiri – melalui beberapa dokumen – melarang anggotanya untuk ikut di dalam gerakan ini. Asal usul Freemasonry tidak diketahui dengan jelas, namun diperkirakan lahir akhir abad 16 di Scotlandia atau awal abad 17 di Inggris. Sekarang ini anggotanya mencapai 5 juta orang, tersebar di seluruh dunia, (Inggris, Skotlandia, Amerika, dst) namun kami tidak tahu apakah ada di Indonesia. Pada waktu awal didirikan di Eropa, sampai beberapa waktu kemudian, organisasi ini menjadi tempat berkumpulnya orang-orang yang kaya/ mempunyai kedudukan tertentu. Mereka mengatakan bahwa mereka bukan agama/ kelompok religius. Syarat utama menjadi anggota Freemason adalah percaya kepada adanya satu Sosok yang Sempurna/ “Supreme Being”. Maka konon semua penganut agama bisa bergabung, dan derajatnya sama, tidak boleh membawa-bawa agama dalam pertemuan mereka. Dari data Wikipedia kita ketahui bahwa ada beberapa uskup Anglikan menjadi anggota, dan memang dari tulisan lain yang beredar di internet, dikatakan bahwa target mereka yang utama adalah para pemimpin, terutama pemimpin gereja, dan karena Gereja yang paling nyata secara fisik adalah Gereja Katolik, maka mereka mentargetkan pemimpin Gereja Katolik untuk bergabung dalam organisasi ini. Tujuannya, untuk mengaburkan ajaran tentang keberadaan Tuhan seperti yang dikenal dalam Alkitab.

Tentang Freemasonry

Umumnya Freemasonry didefinisikan sebagai organisasi fraternitas/ persaudaraan yang merupakan sebuah sistem moral yang terselubung dalam kiasan, dan digambarkan dengan simbol. Simbol yang mereka pakai sebagai logo adalah penggaris siku dan jangka, dengan atau tanpa huruf G di tengahnya. Namun karena organisasi ini tidak mempunyai satu pemimpin utama, dan setiap anggota boleh menafsirkan sendiri simbol itu, maka tidak diperoleh kata kesepakatan untuk makna logo tersebut. Disebut Free-mason karena maksudnya adalah agar ideologi mereka yaitu, Kebebasan, Persamaan dan Persaudaraan menjadi prinsip yang merasuk secara bebas dalam sendi-sendi kemasyarakatan, tanpa diketahui dari mana asalnya.

Organisasi ini terbagi menjadi beberapa Grand Lodge/ Orients pada wilayah tertentu, dan keanggotaannya  terbagi menjadi 3 tingkatan. Umumnya pada bagian tingkat terbawah kegiatannya lebih ke arah sosialisasi. Maka tak mengherankan, banyak orang yang bergabung di level bawah tidak tahu mengapa organisasi ini dilarang oleh Gereja Katolik, sebab mereka sekedar hanya kumpul-kumpul saja dengan beberapa acara bersama. Setidaknya demikianlah yang yang kami ketahui dengan pembicaraan dengan seorang teman yang mempunyai pengalaman berkomunikasi dengan anggota kelompok Freemason di Amerika ini. Namun pada level berikutnya, sampai ketiga, terdapat ritual yang tidak sesuai dengan ritual Gereja, dan doktrin-nya yang mengacu ke arah naturalism dan rationalism mengarah kepada relativism, yaitu: tidak ada Kebenaran sejati, semua agama sama saja, dan mengusahakan dunia tanpa adanya Tuhan tetapi hanya, “Sosok Sempurna” yaitu Kebebasan, Persamaan dan Persaudaraan. (Padahal, ketiga hal tersebut, sesungguhnya tak bisa dicapai jika keberadaan Tuhan sebagai Pribadi tidak diakui).

Maka Gereja Katolik melarang Freemasonry karena beberapa alasan: Pertama, karena dengan slogan “Kebebasan, Persamaan dan Persaudaraan”, mereka sebenarnya menganggap “Kebebasan” sebagai tuhan/ Supreme Being mereka. Hal ini bertentangan dengan prinsip Allah Trinitas dalam agama Katolik. Kedua, slogan tersebut sedikit demi sedikit membentuk pola pikir relativism, di mana semua agama sama, semua benar, tidak ada yang paling benar, sehingga dalam moralitas dapat membingungkan, karena hal yang salah bisa dianggap benar. Hal ini bertentangan dengan prinsip Kebenaran objektif yang diajarkan oleh Gereja Katolik: yang benar selalu benar, sedangkan yang salah tidak pernah dianggap benar oleh Gereja. Ketiga, ritual yang mereka gunakan juga asing, misalnya, pelantikan gedung (mereka sebut sebagai pembaptisan) memakai simbol jagung, minyak dan anggur, dst, simbol dan upacara yang tidak sesuai dengan cita rasa Kristiani.

Paus Leo XIII melarang dengan jelas gerakan ini dalam surat ensikliknya Ab Apostolici, 15 Okt 1890, karena melihat gerakan Freemason menyusup ke dalam gerakan politik di Italia yang ingin menghapuskan pengaruh Gereja dari masyarakat, dan menaburkan kebencian kepada Gereja Katolik. Kitab Hukum Gereja tahun 1917, secara jelas menyebutkan bahwa siapa yang bergabung dalam Freemasonry, langsung terkena ekskomunikasi. Namun pada Kitab Hukum Gereja yang terbaru 1983, tidak secara eksplisit disebutkan kata ‘Freemasonry’, hanya, tetap disebutkan larangan untuk bergabung pada organisasi yang menentang Gereja. Maka ada orang-orang yang berspekulasi bahwa larangan Freemason sudah dicabut.

Hal ini diklarifikasi oleh Paus Benediktus XVI, yang pada waktu menjadi Prefect dalam the Congregation for the Doctrine of Faith. Dalam Quaesitum est, ia menyatakan “Penilaian negatif yang diberikan oleh Gereja terhadap kelompok Freemason tetap tidak berubah, sebab prinsip mereka tidak sesuai dengan doktrin Gereja. Dan karenanya, keanggotaan kelompok mereka tetap dilarang. Umat yang tergabung dalam kelompok Freemason berada dalam dosa berat dan tidak dapat menerima komuni.” Dekalarasi ini disetujui oleh Paus Yohanes Paulus II, dan ditandatangani pada tanggal 26 November 1983.

Freemason dengan gerakan naturalism, rationalism dan relativism-nya memang sangat berbahaya terhadap Iman Katolik, justru karena kelihatannya tidak berbahaya. Namun jika kita lihat di Amerika misalnya, nilai-nilai naturalism dan relativism ini memang mempengaruhi beberapa biara, sehingga mereka berfokus pada meditasi tentang alam lebih daripada berakar pada liturgi, mereka melepas habit/ kerudung demi persamaan dengan awam, berkompromi dengan nilai-nilai liberal, meringankan disiplin biara dst. Namun dengan langkah yang sedemikian, malah angka panggilan di biara itu merosot drastis. Sedangkan pada biara-biara yang tetap berpegang pada pengajaran iman yang benar sesuai dengan tradisi Katolik, malah tahun belakangan ini mendapat angka kenaikan yang signifikan.

Apakah Freemason menyusup ke dalam Gereja Katolik?

Ada banyak spekulasi bahwa gerakan Freemason telah menyusup ke dalam Gereja Katolik dengan cara yang halus, seperti menerima komuni di tangan, yang ditujukan supaya orang tidak lagi percaya akan kehadiran Yesus yang sungguh-sungguh dalam bentuk hosti kudus. Katolisitas telah membahas tentang komuni di mulut atau di tangan di jawaban ini, silakan klik. Kita tidak usah gelisah dalam hal ini, sebab jika kita percaya Tuhan membimbing GerejaNya dengan Roh Kudus-Nya, maka pasti Ia melindungi Gereja dalam menentukan segala sesuatu, dan bagian yang perlu kita lakukan adalah taat pada apa yang telah ditetapkan Gereja. Memang setelah Vatikan II, umat diperbolehkan menerima Komuni di tangan, sehingga terdapat 2 cara menerima Komuni, yaitu langsung di mulut atau di tangan. Maka, karena Gereja memperbolehkan 2 cara itu, maka kita dapat memilih salah satu (di mulut atau di tangan), asal kita lakukan dengan kesadaran penuh, bahwa kita menyambut Tuhan Yesus sendiri. Memang untuk sebagian orang lebih memilih komuni di langsung di mulut, karena cara yang demikian lebih berakar pada tradisi dan anjuran para orang Kudus. Namun, kita tidak dapat memaksakan kepada orang lain untuk menerima dengan cara yang sama.

Tentang Occultisme

Occultisme berasal dari kata occultus (Latin) artinya rahasia/ tersembunyi, sehingga diartikan sebagai pengetahuan akan sesuatu yang tersembunyi. Dalam bahasa Inggris, hal ini kemudian dikaitkan dengan pengetahuan paranomal, lawan kata dari ilmu pengetahuan/ science. Maka, arti Occultisme yang umumnya berlaku sekarang berkonotasi negatif, seperti ilmu gaib/ magic, astrologi, spiritualism, dst,  Tentu dengan konotasi demikian, Occultisme dilarang oleh Gereja Katolik, karena pada dasarnya merupakan pelanggaran terhadap perintah Tuhan yang pertama, “Akulah Tuhan Allah-mu. Jangan ada padamu allah lain di hadapan-Ku” (Kel 20:2-3). Mereka yang mempraktekkan Occultism tidak lagi mempercayai Allah sebagai Tuhan yang berada di atas segalanya, sebab mereka ‘menggantikan’ Allah dengan keyakinan mereka akan ilmu gaib/ roh-roh/ dst.

Mempercayai janji Kristus yang melindungi Gereja-Nya

Jadi, pada dasarnya, janganlah kita takut dan bingung jika kita mendengar berita-berita yang negatif tentang Gereja. Sebab sudah dari jaman abad awal banyak orang ingin menghancurkan Gereja Katolik, namun hingga sekarang Gereja tetap berdiri. Mari kita yakini dan percaya akan janji Kristus, bahwa Ia tidak akan meninggalkan Gereja-Nya, sampai akhir zaman. Kadang Tuhan mengizinkan hal negatif tersebut terjadi, malah untuk memurnikan dan memperbaharui Gereja, sebab Roh Kudus akan menyatakan kebenaran Tuhan, dan memampukan mereka yang berpegang kepada-Nya untuk mengikuti kehendak-Nya.

Allah Bapa yang Maha Kuasa

24

I. Trinitas menurut Kitab Suci:

  • Kej 1:26 – Tuhan menyatakan bahwa Ia ada di dalam komunitas Pribadi
  • Mat 3:13-17 – Trinitas dinyatakan dalam Pembaptisan Yesus
  • Mat 28:19 – Rumusan Pembaptisan membuktikan bahwa ketiga Pribadi Allah mempunyai derajat yang sama.
  • Luk 1:30-35 – Trinitas dinyatakan pada saat Yesus dikandung: dengan kuasa Roh Kudus, naungan Allahyang Mahatinggi (Bapa) dan Anak Allah dilahirkan.
  • Yoh 8:58 – Yesus mengklaim ke-Allahan dengan mengklaim nama Allah, yaitu: Aku adalah Aku (I am)
  • Yoh 10:30 – Yesus dengan Allah Bapa adalah satu
  • Yoh 14:16-17 – Melalui Kristus, Allah Bapa memberikan Penolong yang lain untuk menyertai kita, yaitu Roh Kudus.
  • Yoh 15:26 – Roh Penghibur atau Roh Kudus diutus oleh Kristus dari Bapa, yang memberikan kesaksian tentang Kristus.
  • Kis 5:1-11– Mendustai Roh Kudus adalah mendustai Allah.
  • 2Kor 13:14 – Berkat dengan rumusan Trinitas.
  • 1Yoh 4:8-16– Dengan saling mengasihi, kita mengambil bagian di dalam Roh Kudus, yaitu Kasih yang dinyatakan oleh Allah Bapa di dalam Kristus.

II. Trinitas menurut Katekismus Gereja Katolik

  • KGK 249 – Ajaran tentang Trinitas, diwahyukan sejak awal, lewat rumusan Pembaptisan dan ajaran para rasul, sebagaimana tertuang dalam liturgi Ekaristi (lih. 2 Kor 13:13; 1 Kor 12:4-6; Ef 4:4-6)
  • KGK 252–  Istilah yang digunakan Gereja: 1) substansi/ esensi/ kodrat, 2) pribadi 3) hubungan
  • KGK 253: Trinitas adalah satu, “Trinitas yang masing- masing Pribadinya satu hakekat-Nya.
  • KGK 254: Masing- masing Pribadi sungguh berbeda antara satu dengan lainnya.
  • KGK 255: Perbedaan itu adalah karena hubungan antara satu Pribadi dengan Pribadi lainnya.

III. Trinitas menurut Bapa Gereja

  • St. Paus Klemens dari Roma (menjadi Paus tahun 88-99):
    “Bukankah kita mempunyai satu Tuhan, dan satu Kristus, dan satu Roh Kudus yang melimpahkan rahmat-Nya kepada kita?” ((St. Clement of Rome, Letter to the Corinthians, Ch. 46, seperti dikutip oleh John Willis SJ, The Teachings of the Church Fathers, (San Francisco, Ignatius Press, 2002, reprint 1966), p. 145))
  • St. Ignatius dari Antiokhia (50-117) membandingkan jemaat dengan batu yang disusun untuk membangun bait Allah Bapa; yang diangkat ke atas oleh ‘katrol’ Yesus Kristus yaitu Salib-Nya dan oleh ‘tali’ Roh Kudus. ((St. Ignatius of Antiokh, Letter to the Ephesians, Ch. 9, Ibid., p. 146))
    “Ignatius, juga disebut Theoforus, kepada Gereja di Efesus di Asia… yang ditentukan sejak kekekalan untuk kemuliaan yang tak berakhir dan tak berubah, yang disatukan dan dipilih melalui penderitaan sejati oleh Allah Bapa di dalam Yesus Kristus Tuhan kita.” ((St. Ignatius, Letter to the Ephesians, 110))
    “Sebab Tuhan kita, Yesus Kristus, telah dikandung oleh Maria seturut rencana Tuhan: dari keturunan Daud, adalah benar, tetapi juga dari Roh Kudus.” ((ibid., 18:2)).
    “Kepada Gereja yang terkasih dan diterangi kasih Yesus Kristus, Tuhan kita, dengan kehendak Dia yang telah menghendaki segalanya yang ada.” ((St. Ignatius, Letter to the Romans, 110))
  • St. Polycarpus (69-155), dalam doanya sebelum ia dibunuh sebagai martir, “… Aku memuji Engkau (Allah Bapa), …aku memuliakan Engkau, melalui Imam Agung yang ilahi dan surgawi, Yesus Kristus, Putera-Mu yang terkasih, melalui Dia dan bersama Dia, dan Roh Kudus, kemuliaan bagi-Mu sekarang dan sepanjang segala abad. Amin.” ((St. Polycarp, Ibid., 146))
  • St. Athenagoras (133-190):
    “Sebab, … kita mengakui satu Tuhan, dan PuteraNya yang adalah Sabda-Nya, dan Roh Kudus yang bersatu dalam satu kesatuan, –Allah Bapa, Putera dan Roh Kudus.” ((St. Athenagoras, A Plea for Christians, Ch. 24, ibid., 148))
  • Aristides sang filsuf [90-150 AD] dalam The Apology
    “Orang- orang Kristen, adalah mereka yang, di atas segala bangsa di dunia, telah menemukan kebenaran, sebab mereka mengenali Allah, Sang Pencipta segala sesuatu, di dalam Putera-Nya yang Tunggal dan di dalam Roh Kudus. ((Aristides, Apology 16 [A.D. 140]))
  • St. Irenaeus (115-202):
    “Sebab bersama Dia (Allah Bapa) selalu hadir Sabda dan kebijaksanaan-Nya, yaitu Putera-Nya dan Roh Kudus-Nya, yang dengan-Nya dan di dalam-Nya, …Ia menciptakan segala sesuatu, yang kepadaNya Ia bersabda, “Marilah menciptakan manusia sesuai dengan gambaran Kita.” (( St. Irenaeus, Against Heresy, Bk. 4, Ch.20, Ibid., 148))
    “Sebab Gereja, meskipun tersebar di seluruh dunia bahkan sampai ke ujung bumi, telah menerima dari para rasul dan dari murid- murid mereka iman di dalam satu Tuhan, Allah Bapa yang Mahabesar, Pencipta langit dan bumi dan semua yang ada di dalamnya; dan di dalam satu Yesus Kristus, Sang Putera Allah, yang menjadi daging bagi keselamatan kita, dan di dalam Roh Kudus, yang [telah] mewartakan melalui para nabi, ketentuan ilahi dan kedatangan, dan kelahiran dari seorang perempuan, dan penderitaan dan kebangkitan dari mati dan kenaikan tubuh-Nya ke surga dari Kristus Yesus Tuhan kita, dan kedatangan-Nya dari surga di dalam kemuliaan Allah Bapa untuk mendirikan kembali segala sesuatu, dan membangkitkan kembali tubuh semua umat manusia, supaya kepada Yesus Kristus Tuhan dan Allah kita, Penyelamat dan Raja kita, sesuai dengan kehendak Allah Bapa yang tidak kelihatan, setiap lutut bertelut dari semua yang di surga dan di bumi dan di bawah bumi ….” ((St. Irenaeus, Against Heresies, I:10:1 [A.D. 189])).
    “Namun demikian, apa yang tidak dapat dikatakan oleh seorangpun yang hidup, bahwa Ia [Kristus] sendiri adalah sungguh Tuhan dan Allah … dapat dilihat oleh mereka yang telah memperoleh bahkan sedikit bagian kebenaran” ((St. Irenaeus, ibid., 3:19:1)).
  • St. Klemens dari Aleksandria [150-215 AD] mengajarkan: “Sang Sabda, Kristus, adalah penyebab, dari asal mula kita -karena Ia ada di dalam Allah- dan penyebab kesejahteraan kita. Dan sekarang, Sang Sabda yang sama ini telah menjelma menjadi manusia. Ia sendiri adalah Tuhan dan manusia, dan sumber dari semua yang baik yang ada pada kita” ((St. Clement, Exhortation to the Greeks/ the Heathen 1:7:1 [A.D. 190])).
    “Dihina karena rupa-Nya namun sesungguhnya Ia dikagumi, [Yesus adalah], Sang Penebus, Penyelamat, Pemberi Damai, Sang Sabda, Ia yang jelas adalah Tuhan yang benar, Ia yang setingkat dengan Allah seluruh alam semesta sebab Ia adalah Putera-Nya.” ((ibid., 10:110:1)).
  • St. Hippolytus [170-236 AD] dalam Refutation of All Heresies (Book IX)
    “Hanya Sabda Allah [yang] adalah dari diri-Nya sendiri dan karena itu adalah juga Allah, menjadi substansi Allah. ((St. Hippolytus, Refutation of All Heresies 10:33 [A.D. 228]))
    “Sebab Kristus adalah Allah di atas segala sesuatu, yang telah merencanakan penebusan dosa dari umat manusia …. ((ibid., 10:34)).
  • Tertullian [160-240 AD] dalam Against Praxeas
    “Bahwa ada dua allah dan dua Tuhan adalah pernyataan yang tidak akan keluar dari mulut kami; bukan seolah Bapa dan Putera bukan Tuhan, ataupun Roh Kudus bukan Tuhan…; tetapi keduanya disebut sebagai Allah dan Tuhan, supaya ketika Kristus datang, Ia dapat dikenali sebagai Allah dan disebut Tuhan, sebab Ia adalah Putera dari Dia yang adalah Allah dan Tuhan.” ((Tertullian, Against Praxeas 13:6 [A.D. 216])).
  • Origen [185-254 AD] dalam De Principiis (Book IV)
    “Meskipun Ia [Kristus] adalah Allah, Ia menjelma menjadi daging, dan dengan menjadi manusia, Ia tetap adalah Allah.” ((Origen, The Fundamental Doctrines 1:0:4 [A.D. 225])).
  • Novatian [220-270 AD] dalam Treatise Concerning the Trinity
    “Jika Kristus hanya manusia saja, mengapa Ia memberikan satu ketentuan kepada kita untuk mempercayai apa yang dikatakan-Nya, “Inilah hidup yang kekal itu, yaitu bahwa mereka mengenal Engkau, satu-satunya Allah yang benar, dan mengenal Yesus Kristus yang telah Engkau utus.” (Yoh 17:3). Bukankah Ia menghendaki agar diterima sebagai Allah juga? Sebab jika Ia tidak menghendaki agar dipahami sebagai Allah, Ia sudah akan menambahkan, “Dan manusia Yesus Kristus yang telah diutus-Nya,” tetapi kenyataannya, Ia tidak menambahkan ini, juga Kristus tidak menyerahkan nyawa-Nya kepada kita sebagai manusia saja, tetapi satu diri-Nya dengan Allah, sebagaimana dikehendakiNya agar dipahami, oleh persatuan ini Ia adalah Tuhan juga, seperti adanya Dia. Karena itu kita harus percaya, sesuai dengan ketentuan tertulis, kepada Tuhan, satu Allah yang benar, dan juga kepada Ia yang telah diutus-Nya, Yesus Kristus, yang, …tidak akan menghubungkan Diri-Nya sendiri kepada Bapa, jika Ia tidak menghendaki untuk dipahami sebagai Allah juga. Sebab [jika tidak] Ia akan memisahkan diri-Nya dari Dia [Bapa], jika Ia tidak menghendaki untuk dipahami sebagai Allah.” ((Novatian, Treatise Concerning the Trinity 16 [A.D. 235])).
  • St. Cyprian dari Carthago [200-270 AD] dalam Treatise 3
    “Seseorang yang menyangkal bahwa Kristus adalah Tuhan tidak dapat menjadi bait Roh Kudus-Nya …” ((St. Cyprian, Letters 73:12 [A.D. 253])).
  • Lactantius [290-350 AD] dalam The Epitome of the Divine Institutes
    “Ia telah menjadi baik Putera Allah di dalam Roh dan Putera manusia di dalam daging, yaitu baik Allah maupun manusia. ((Lactantius, Divine Institutes 4:13:5 [A.D. 307]))
    “Seseorang mungkin bertanya, bagaimana mungkin, ketika kita berkata bahwa kita menyembah hanya satu Tuhan, namun kita menyatakan bahwa ada dua, Allah Bapa dan Allah Putera, di mana penyebutan ini telah menyebabkan banyak orang jatuh ke dalam kesalahan yang terbesar … [yang berpikir] bahwa kita mengakui adanya Tuhan yang lain, dan bahwa Tuhan yang lain itu adalah yang dapat mati …. [Tetapi] ketika kita bicara tentang Allah Bapa dan Allah Putera, kita tidak bicara tentang Mereka sebagai satu yang lain dari yang lainnya, ataupun kita memisahkan satu dari lainnya, sebab Bapa tidak dapat eksis tanpa Putera dan Putera tidak dapat dipisahkan dari Bapa.” ((Lactantius, (ibid., 4:28–29))
  • St. Athanasius (296-373), “Sebab Putera ada di dalam Bapa… dan Bapa ada di dalam Putera…. Mereka itu satu, bukan seperti sesuatu yang dibagi menjadi dua bagian namun dianggap tetap satu, atau seperti satu kesatuan dengan dua nama yang berbeda… Mereka adalah dua,(dalam arti) Bapa adalah Bapa dan bukan Putera, demikian halnya dengan Putera… tetapi kodrat/ hakekat mereka adalah satu (sebab anak selalu mempunyai hakekat yang sama dengan bapanya), dan apa yang menjadi milik BapaNya adalah milik Anak-Nya.” ((St. Athanasius, Four Discourses Against the Arians, n. 3:3, in NPNF, 4:395.))
  • St. Agustinus (354-430), “… Allah Bapa dan Putera dan Roh Kudus adalah kesatuan ilahi yang erat, yang adalah satu dan sama esensinya, di dalam kesamaan yang tidak dapat diceraikan, sehingga mereka bukan tiga Tuhan, melainkan satu Tuhan: meskipun Allah Bapa telah melahirkan (has begotten) Putera, dan Putera lahir dari Allah Bapa, Ia yang adalah Putera, bukanlah Bapa, dan Roh Kudus bukanlah Bapa ataupun Putera, namun Roh Bapa dan Roh Putera; dan Ia sama (co-equal) dengan Bapa dan Putera, membentuk kesatuan Tritunggal. ” ((St. Augustine, On The Trinity, seperti dikutip oleh John Willis SJ, Ibid., 152.))

IV. Misteri Tritunggal Maha Kudus

Di pembahasan sebelumnya, telah dapat dibuktikan bahwa Tuhan itu ada, dan bahwa Ia adalah satu dan mempunyai kuasa yang penuh atas semua mahluk ciptaan-Nya. Semua itu dapat kita ketahui dari akal budi saja, sehingga hal inipun dapat diketahui oleh semua orang, termasuk mereka yang tidak mengimani Trinitas. Namun demikian, kita manusia tidak berhak untuk mengharapkan bahwa kita pasti mengetahui segala sesuatunya tentang Tuhan yang tidak terbatas, sebab akal budi manusia itu terbatas. Maka, pada akhirnya manusia harus berhenti dan menyerahkan kemampuan berpikirnya kepada apa yang diberitahukan oleh Allah sendiri. Sebab pertanyaan-pertanyaan kita tidak akan dapat terjawab, tanpa kita mengacu kepada Wahyu Ilahi, yaitu apa yang dinyatakan Allah tentang Diri-Nya. Pernyataan tentang Diri Allah Trinitas ini, sering disebut sebagai misteri dalam iman Kristiani.

Jika dikatakan bahwa ada dimensi misteri dalam ajaran iman, maksudnya bukan kebenaran yang tentangnya kita tidak dapat mengetahui sedikitpun; melainkan adalah kebenaran yang tentangnya kita tidak dapat mengetahui segala sesuatunya. Maka misteri iman bukan untuk diartikan sebagai seumpama tembok yang begitu luas tanpa batas yang mengarahkan orang untuk berjalan tanpa pegangan secara terus menerus tanpa akhir. Sebab walaupun disebut misteri, namun ada banyak kebenaran yang telah dinyatakan Allah, yang dapat kita pegang teguh hingga akhir, saat semua yang dijanjikan Allah mencapai penggenapannya.

Maka semua orang yang percaya kepada Allah harus siap untuk menerima misteri iman sebagai suatu kebenaran karena otoritas Allah yang mewahyukannya. Ini adalah pengertian iman. Akal budi mengatakan pada kita bahwa Allah dapat dan telah mewahyukan Diri-Nya kepada manusia; dan karena Ia adalah Tuhan, maka Ia harus dipercaya. Akal budi membantu manusia untuk mengetahui sesuatu, sedangkan iman membantu manusia untuk percaya akan sesuatu. Karena baik akal budi maupun iman berasal dari Tuhan, maka keduanya tidak akan bertentangan.

V. Trinitas: menurut wahyu Allah

Karena Tuhan mengasihi manusia, maka Tuhan ingin mengkomunikasikan siapa Diri-Nya yang sebenarnya kepada manusia. Tuhan menghendaki agar manusia dapat mengasihi-Nya sebagaimana adanya Dia. Allah mewahyukan kehidupan pribadi-Nya secara bertahap, mulai dari Allah yang Maha Kuasa, Pencipta langit dan bumi, Allah yang Maha Besar, yang memberikan perintah kepada bangsa Israel. Dari Allah yang Maha Besar, kemudian Allah menyatakan Diri-Nya secara lebih pribadi dalam peristiwa penjelmaan-Nya menjadi manusia (disebut peristiwa Inkarnasi) dalam diri Kristus. Melalui Kristuslah, yang sungguh Allah dan sungguh manusia, misteri kehidupan Allah Tritunggal dikomunikasikan, karena Kristus datang untuk melakukan kehendak Allah Bapa oleh kuasa Roh Kudus. Dan setelah kebangkitan dan kenaikan Kristus ke surga, bersama Allah Bapa Ia mengutus Roh Kudus ke dunia.

Trinitas di dalam Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru

Dalam artikel iman tentang Allah Bapa, kita mengetahui bahwa sebenarnya bangsa Israel telah mengenal Tuhan sebagai Bapa; dan kemudian pengertian Bapa diungkapkan secara lebih jelas oleh Kristus. Dalam Perjanjian Lama (PL), sebutan Allah sebagai Bapa merujuk kepada Sang Pencipta dunia (KGK, 238; lih. Ul 32:6; Mal 2:10); sebagai tanda perjanjian Allah dengan Israel (lih. Kel 4:22); sebagai Bapa kaum Israel (lih. 2Sam 7:14), dan secara khusus Bapa kaum miskin, baik yatim maupun janda (lih. Mzm 68:6). Namun, dalam Perjanjian Baru (PB), Yesus mengungkapkan jati diri Bapa, yang bukan hanya Sang Pencipta, namun juga menjadi Bapa bagi Nya- dalam hubungan asal (lih. Mat 11:27).

Dalam PL, kita melihat adanya wahyu Tuhan yang menggambarkan Trinitas, walaupun secara samar-samar. Dalam Kitab Kejadian, Tuhan mengatakan “Baiklah kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita” (lih. Kej 1:26). Para Bapa Gereja mengartikan bahwa ‘Kita’ mengacu kepada Bapa yang berbicara dengan Allah Putera dan Allah Roh Kudus. Imam memberkati bangsa Yahudi dengan menyebutkan nama Tuhan tiga kali (lih. Bil 6:23-24). Nabi Yesaya menceritakan bahwa para malaikat di Sorga berseru,”Kudus, kudus, kuduslah Tuhan” (lih. Yes 6:3). Kemudian Daud berkata “Tuhan telah berfirman kepada Tuanku: duduklah di sebelah kanan-Ku” (lih. Mat 24:44; Mzm 110:1). Semuanya ini menggambarkan secara samar-samar akan Tuhan yang satu, namun mempunyai tiga Pribadi.

Dalam PB, Yesus memberikan gambaran yang lebih jelas tentang misteri Trinitas, yaitu ketika Kristus dibaptis (lih. Mat 3:13-17); ketika malaikat menyampaikan kabar gembira (lih. Luk 1:30-35); janji Kristus untuk mengutus Penolong lain yang keluar dari Bapa (Yoh 14:16-17; Yoh 15:26) dan juga pesan Yesus yang terakhir sebelum naik ke surga, yaitu agar para murid membaptis dalam nama Allah Bapa, Putera dan Roh Kudus, menjadikan segala bangsa murid-Nya dan mengajarkan segala perintah-Nya (lih Mat 28:19-20).

Selanjutnya, Rasul Yohanes juga menyebutkan tentang Trinitas, “Sebab ada tiga yang memberi kesaksian di dalam sorga: Bapa, Firman dan Roh Kudus; dan ketiganya adalah satu.” (1Yoh 5:7). Hal ini juga dipertegas oleh Rasul Paulus, yang memberikan berkat dengan rumusan Trinitas (lih. 2Kor 13:14). Pada akhir suratnya kepada jemaat di Korintus, Rasul Paulus menuliskan penutup dengan rumusan Trinitas, “Kasih karunia Tuhan Yesus Kristus, dan kasih Allah, dan persekutuan Roh Kudus menyertai kamu sekalian.” (2Kor 13:13) Dalam pemaparannya tentang macam-macam karunia yang tidak dapat dipisahkan dari ketiga Pribadi dalam Trinitas, Rasul Paulus menuliskan, “Ada rupa-rupa karunia, tetapi satu Roh. Dan ada rupa-rupa pelayanan, tetapi satu Tuhan. Dan ada berbagai-bagai perbuatan ajaib, tetapi Allah adalah satu yang mengerjakan semuanya dalam semua orang.”(1Kor 12:4-6) Rasul Petrus juga menegaskan Trinitas dalam tulisannya sebagai berikut, “Orang-orang yang dipilih, sesuai dengan rencana Allah, Bapa kita, dan yang dikuduskan oleh Roh, supaya taat kepada Yesus Kristus dan menerima percikan darah-Nya. ” (1 Pet 1:2).

Dari dasar-dasar wahyu Allah yang dinyatakan di dalam Kitab Suci, maka Gereja perdana berjuang untuk dapat merumuskan Trinitas secara lebih jelas dan presisi, sehingga tidak terjadi penyimpangan ajaran. Gagasan-gagasan dapat dilihat dari analogi-analogi yang diberikan oleh para Bapa Gereja, maupun definisi-definisi yang diberikan oleh para Bapa Gereja, yang juga menjadi dasar dari keputusan-keputusan konsili. Di bawah ini adalah pemaparan Trinitas dengan menggunakan analogi dan filosofi.

VI. Menggunakan analogi

Analogi dapat memberikan gambaran akan sesuatu yang hendak kita pahami. Namun, kita harus mengingat bahwa Tuhan Sang Pencipta berada di atas semua ciptaan. Dengan demikian, walaupun berguna untuk membantu kita memahami Trinitas, analogi apapun berkenaan dengan ciptaan tidak akan dapat memberikan gambaran yang lengkap akan Tuhan:

1. Tiga wujud air: Tiga wujud air mungkin dapat menjadi gambaran yang sederhana akan tiga Pribadi Allah (Bapa, Putera dan Roh Kudus). Air (H2O) dapat berupa cairan yaitu air biasa, atau beku yaitu es batu, atau uap air, jika air dipanaskan (ini memang bukan contoh yang sempurna- karena sebenarnya Tuhan itu adalah Roh sehingga tidak berwujud material- tetapi mungkin perumpamaan ini bisa sedikit menjelaskan terutama kepada anak- anak).

2. Warna Putih: Warna putih dapat diuraikan sebagai warna merah, kuning dan biru. Masing-masing warna adalah unik terhadap warna yang lain, namun kalau disatukan menjadi satu warna, yaitu warna putih. Warna merah, kuning dan biru menjadi gambaran yang tidak sempurna akan keunikan dari masing-masing Pribadi dalam Trinitas, dan warna putih menggambarkan satu esensi dari Trinitas.

3. Kasih dan akal budi: Dalam bukunya, On the Trinity (Book XV, ch. 3), St. Agustinus menjabarkan ringkasan tentang konsep Trinitas. Secara khusus ia memberi contoh beberapa trilogi untuk menggambarkan Trinitas, yaitu:

a) Seorang pribadi yang mengasihi, pribadi yang dikasihi dan kasih itu sendiri.

b) Trilogi pikiran manusia, yang terdiri dari pikiran (mind), pengetahuan (knowledge) yang olehnya pikiran mengetahui dirinya sendiri, dan kasih (love) yang olehnya pikiran dapat mengasihi dirinya dan pengetahuan akan dirinya.

c) ingatan (memory), pengertian (understanding) dan keinginan (will). Seperti pada saat kita mengamati sesuatu, maka terdapat tiga hal yang mempunyai satu esensi, yaitu gambaran benda itu dalam ingatan/ memori kita, bentuk yang ada di pikiran pada saat kita melihat benda itu dan keinginan kita untuk menghubungkan keduanya.

VII. Pendekatan filosofi

1. Substansi, Pribadi, Hubungan

Untuk mendapatkan pengertian yang benar tentang Trinitas, maka kita tidak boleh mencampuradukkan antara Tuhan yang satu hakekat dengan tiga Pribadi, karena memang ada perbedaan antara substansi (substance)/ hakekat (essence)/ kodrat (nature) dan pribadi (person). ‘Substansi/ hakekat/ kodrat’ adalah mengacu kepada kodrat ilahi dalam kesatuan-Nya, sedangkan ‘pribadi’ merujuk kepada perbedaan yang nyata antara Allah Bapa, Allah Putera dan Allah Roh Kudus. Dan hubungan antara ketiganya dijelaskan dengan kata “hubungan” (relationship). Mari kita melihat ketiga kata ini satu persatu:

‘Substansi’ (kadang diterjemahkan sebagai hakekat/ kodrat) dari diri kita adalah ‘manusia’. Kodrat sebagai manusia ini adalah sama untuk semua orang. Tetapi jika kita menyebut ‘pribadi’ maka kita tidak dapat menyamakan orang yang satu dengan yang lain, karena setiap pribadi itu adalah unik. Dalam bahasa sehari-hari, pribadi kita masing-masing diwakili oleh kata ‘aku’ (atau ‘I’ dalam bahasa Inggris), di mana ‘aku’ yang satu berbeda dengan ‘aku’ yang lain. Sedangkan, substansi/ hakekat kita diwakili dengan kata ‘manusia’ (atau ‘human’).

Ketika ditanya, “Siapakah kamu?”, maka dapat dijawab, “Budi” (atau siapapun nama orang yang ditanya). Tapi ketika ditanya, “Apakah kamu?” maka jawabannya, “Manusia”. Maka pertanyaan “siapa” mengacu kepada pribadi manusia, sedangkan “apa” kepada kodratnya, yaitu sebagai manusia. Yang berbuat segala sesuatu adalah pribadi, bukan kodrat, namun kodratnya menentukan apa yang diperbuatnya. Contohnya, jika sebagai manusia ia adalah seorang ayah, maka ia melakukan apa- apa yang layak dilakukan oleh seorang ayah.

Pada Tuhan, hanya ada satu pikiran, akal budi dan kehendak, yang seolah difokuskan tiga kali. Maka jika ditanyakan kepada Tuhan, “Apakah Engkau?”, jawab-Nya, “Tuhan”, dan jika ditanyakan, “Siapakah Engkau”, maka jawab-Nya adalah, “Aku adalah Aku” sebanyak tiga kali, sebagai kesatuan dari ketiga Pribadi Allah Bapa, Putera dan Roh Kudus.

Analogi yang paling mirip (walaupun tentu tak sepenuhnya menjelaskan misteri Allah ini) adalah kesatuan antara jiwa dan tubuh dalam diri kita. Tanpa jiwa, kita bukan manusia, tanpa tubuh, kita juga bukan manusia. Kesatuan antara jiwa dan tubuh kita membentuk hakekat kita sebagai manusia, dan dengan sifat-sifat tertentu membentuk kita sebagai pribadi.

Dengan prinsip yang sama, maka di dalam Trinitas, substansi/ hakekat yang ada adalah satu, yaitu Tuhan, sedangkan di dalam kesatuan tersebut terdapat tiga Pribadi: ada tiga ‘Aku’, yaitu Bapa, Putera dan Roh Kudus. Tiga pribadi manusia tidak dapat menyamai makna Trinitas, karena di dalam tiga orang manusia, terdapat tiga “kejadian”/ ‘instances‘ kodrat manusia; sedangkan di dalam tiga Pribadi ilahi, terdapat hanya satu kodrat Allah, yang identik dengan ketiga Pribadi tersebut.  Dengan demikian, ketiga Pribadi Allah mempunyai kesamaan hakekat Allah yang sempurna:  setiap Pribadi adalah Allah, sehingga ketiganya membentuk kesatuan yang sempurna. Yang membedakan Pribadi yang satu dengan yang lainnya hanyalah terletak dalam hal hubungan asal (origin) pada ketiganya.

Hubungan asal ini maksudnya adalah Allah Putera berasal dari Allah Bapa, dan Roh Kudus berasal dari Allah Bapa dan Putera. Jika kita berpikir hanya tentang hubungan ini, kita dapat mengatakan sesuatu kepada salah satu Pribadi Allah yang tak dapat dikatakan kepada kedua Pribadi Allah yang lain. Kepada Allah Bapa, “Ia yang melahirkan Putera”, kepada Putera, “Ia yang lahir dari Allah Bapa”, dan kepada Roh Kudus, “Ia yang berasal dari Allah Bapa dan Putera”.

2. Yang satu jangan diceraikan dan yang berbeda jangan dianggap sama

Tritunggal adalah Allah yang satu ((Lihat KGK 253)). Pribadi ini tidak membagi-bagi ke-Allahan seolah masing-masing menjadi sepertiga, namun ketiganya adalah ‘sepenuhnya dan seluruhnya’. Bapa adalah yang sama seperti Putera, Putera yang sama seperti Bapa; dan Bapa dan Putera adalah yang sama seperti Roh Kudus, yaitu satu Allah dengan kodrat yang sama. Karena kesatuan ini, maka Bapa seluruhnya ada di dalam Putera, seluruhnya ada dalam Roh Kudus; Putera seluruhnya ada di dalam Bapa, dan seluruhnya ada di dalam Roh Kudus; Roh Kudus ada seluruhnya di dalam Bapa, dan seluruhnya di dalam Putera.

Ketiga Pribadi ini berbeda secara nyata satu sama lain, yaitu di dalam hal hubungan asalnya: yaitu Allah Bapa yang ‘melahirkan’, Allah Putera yang dilahirkan, Roh Kudus yang dihembuskan ((Lihat KGK 254)). Ketiga Pribadi ini berhubungan satu dengan yang lainnya. Perbedaan dalam hal asal tersebut tidak membagi kesatuan ilahi, namun malah menunjukkan hubungan timbal balik antar Pribadi Allah tersebut. Bapa dihubungkan dengan Putera, Putera dengan Bapa, dan Roh Kudus dihubungkan dengan keduanya. Hakekat ketiganya adalah satu, yaitu Allah ((Lihat KGK 255)).

3. Argumentasi kasih

Seperti telah disebutkan di atas, kasih tidak mungkin berdiri sendiri, namun melibatkan dua belah pihak. Sebagai contoh, kasih suami istri, melibatkan kedua belah pihak, maka disebut sebagai “saling” mengasihi. Kalau Tuhan adalah Kasih yang paling sempurna, maka tidak mungkin Ia tidak melibatkan pihak lain yang dapat menjadi saluran kasih-Nya dan juga dapat membalas kasih-Nya dengan derajat yang sama. Jadi Tuhan itu harus satu, namun bukan Tuhan yang betul- betul sendirian; sebab jika demikian, maka Tuhan tidak mungkin dapat menyalurkan dan menerima kasih yang sejati.

Orang mungkin berargumentasi bahwa Tuhan bisa saja satu dan sendirian dan Dia dapat menyalurkan kasih-Nya dan menerima balasan kasih dari manusia. Namun, secara logis, hal ini tidaklah mungkin, karena Tuhan Sang Kasih Ilahi tidak mungkin tergantung kepada manusia yang kasihnya tidak sempurna, dan kasih manusia tidak berarti jika dibandingkan dengan kasih Tuhan. Dengan demikian, sangatlah masuk akal, jika Tuhan mempunyai “kehidupan batin,” di mana Dia dapat memberikan kasih sempurna dan juga menerima kembali kasih yang sempurna. Jadi, di dalam kehidupan batin Allah inilah Yesus Kristus ada sebagai Allah Putera, yang dapat memberikan derajat kasih yang sama kepada Allah Bapa. Hubungan antara Allah Bapa dan Allah Putera adalah hubungan kasih yang kekal, sempurna, dan tak terbatas. Kasih ini membuahkan Roh Kudus. ((Roh Kudus adalah buah dari tindakan kasih antara Allah Bapa dan Allah Putera. Ini sebabnya, peristiwa Pentakosta terjadi setelah Yesus wafat di kayu salib. Bapa mengasihi Putera-Nya, dan Putera-Nya menunjukkan kasih-Nya dengan sempurna di kayu salib. Buah dari pertukaran dan kasih yang mengorbankan diri inilah yang menghasilkan Roh Kudus. Sehingga dalam ibadat iman yang panjang (Nicene Creed), kita melihat pernyataan “….Aku percaya akan Roh Kudus, Ia Tuhan yang menghidupkan; Ia berasal dari Bapa dan Putera….“)) Melalui hubungan kasih yang sempurna tersebut kita mengenal Allah yang pada hakekatnya adalah KASIH. Kesempurnaan kasih Allah ini ditunjukkan dengan kerelaan Yesus untuk menyerahkan nyawa-Nya demi kasih-Nya kepada Allah Bapa dan kepada kita. Yesus memberikan Diri-Nya sendiri demi keselamatan kita, ((John Paul II, Encyclical Letter on The Redeemer Of Man: Redemptor Hominis, 10 – Paus Yohanes Paulus II menekankan bahwa kasih yang sempurna adalah kasih yang dapat memberikan diri sendiri kepada orang lain. Dengan demikian, adalah “sesuai atau fitting” bahwa Tuhan, melalui Putera-Nya menjadi contoh yang sempurna bagaimana menerapkan kasih. Ini juga membuktikan bahwa Tuhan bukanlah Allah yang sendirian)) agar kita dapat mengambil bagian dalam kehidupan-Nya oleh kuasa Roh-Nya yaitu Roh Kudus.

4. Aktivitas rohani yang immanen vs aktivitas jasmani yang transitif

Untuk memahami Allah yang adalah Roh (Yoh 4: 24) kita harus melihat kepada apa yang terjadi dalam jiwa rohani kita, dan bukan kepada kodrat jasmani kita. Maka kita melihat kepada dua kemampuan rohani kita, yaitu akal budi dan kehendak bebas dan aktivitas keduanya.

Aktivitas rohani berbeda dengan aktivitas jasmani. Aktivitas rohani bersifat immanen dan sedangkan aktivitas jasmani bersifat transitif. Aktivitas immanen adalah yang menghasilkan akibat di dalam diri yang melakukannya, sedangkan aktivitas transitif adalah yang menghasilkan akibat di luar yang melakukannya. Contoh: Palu memukul paku, maka terjadi suatu akibat yang terjadi pada paku yang berasal dari sesuatu di luar dirinya. Ketika matahari memanasi bumi, maka di bumi terjadi panas yang merupakan akibat dari sesuatu di luar dirinya. Tetapi ketika manusia berpikir, maka efek/ akibatnya tinggal di dalam dirinya (dalam pikirannya sendiri), dan memperkaya orang yang berpikir. Ketika kita berpikir tentang sesuatu, kita membentuk suatu konsep di dalam pikiran kita yang mewakili tentang sesuatu itu yang ada di luar diri kita.

Beberapa heretik (pengajar/ teolog yang sesat) gagal untuk membuat pembedaan antara sifat immanen dan transitif ketika ingin memahami Trinitas. Mereka menggunakan analogi yang bersifat transitif untuk menjelaskan sesuatu yang sifatnya immanen. Ini terjadi pada Arius, yang menjelaskan bahwa Allah Putera mempunyai awal di dalam Allah Bapa, tetapi berakhir di luar Allah Bapa, yaitu sebagai ‘produk’ yang lain daripada Bapa, sehingga hakekatnya tidak sama dengan Allah Bapa. Hal yang sama terjadi pada Roh Kudus. Sabellius juga demikian, karena ia menolak adanya perbedaan dalam Pribadi Allah, dan menjelaskan Putera dan Roh Kudus dengan cara menghubungkannya dengan akibat perbuatan Allah pada diri manusia. Allah Putera mengacu kepada tindakan penjelmaan Allah di dalam rahim Bunda Maria; dan Roh Kudus mengacu kepada tindakan Allah menguduskan manusia. Maka menurut paham ini, Trinitas bukan merupakan hasil dari tindakan immanen yang terjadi di dalam diri Allah, namun sebagai tindakan transitif yang berakhir di dalam diri manusia ciptaan-Nya.

St. Thomas Aquinas menjelaskan bahwa walaupun kita boleh mencari analogi untuk memahami Trinitas, kita sebaiknya mencari analogi tersebut dari apa yang tertinggi di dalam pengalaman kita, yaitu jiwa rohani kita. Namun demikian, kita juga harus menyadari bahwa bahkan jiwa rohani kitapun tidak akan sanggup menjelaskan misteri Trinitas:

“Karena Tuhan ada di atas segalanya, kita harus memahami apa yang dikatakan tentang Tuhan tidak menurut cara yang terjadi pada ciptaan- ciptaan yang ter-rendah, yaitu tubuh, tetapi terhadap keserupaan dengan ciptaan yang tertinggi yaitu substansi akal budi; walaupun keserupaan yang diperoleh dari inipun tetap tidak dapat mewakili hal-hal ilahi. Maka gerakan Allah (procession) tidak untuk dipahami dari apa yang terjadi pada tubuh, seperti panas dari suatu sumber yang membuat benda lain menjadi panas. Melainkan hal itu harus dimengerti sebagai munculnya suatu hasil pemikiran, contohnya, kata yang jelas yang keluar dari sang pembicara, namun yang tetap berada di dalam dirinya. Dengan cara ini Iman Katolik memahami gerakan Allah (procession) yang terjadi di dalam diri Allah.” ((St. Thomas Aquinas, Summa Theology, I, q.27,a.1))

Jadi buah aktivitas immanen dalam diri Allah tetap tinggal dalam diri Allah. Selanjutnya, kita ketahui bahwa semakin tinggi dan sempurnanya suatu aktivitas, maka buahnya juga akan semakin sempurna. Semakin sempurna kita mengetahui sesuatu maka konsep yang terbentuk dalam diri kita akan semakin menyerupai realitas yang digambarkannya. Semakin sempurna kita mencintai, semakin sempurna kita memberikan diri kita kepada yang dicintai. Di dalam Tuhan, buah dari aktivitas immanen ini sangatlah sempurna, sampai menjadi identik dengan Sumber yang menghasilkannya, yaitu Allah sendiri. Buah dari kasih yang sempurna antara Allah Bapa dan Putera adalah Roh Kudus, yang sama hakekat-Nya dengan Bapa dan Putera.

5. Kelahiran (generation) dan gerakan (procession)

Kita dapat mengerti lebih jelas tentang Trinitas, dengan melihat hubungan asal: ‘lahir dari’ (generation), berkenaan dengan Allah Putera, dan ‘berasal dari’ (procession), berkenaan dengan Roh Kudus. Manusia diciptakan menurut gambar Allah, sehingga mempunyai kemampuan untuk mengetahui dan mengasihi. Kemampuan untuk mengetahui adalah aktivitas akal budi. Seseorang yang tahu tentang sesuatu akan mempunyai gambaran atau konsep tentang sesuatu tersebut di dalam pikirannya. Kalau di dalam Tuhan ada aktivitas yang bersifat kekal tentang Diri-Nya sendiri, maka secara kekal ada gambaran tentang Diri-Nya, yaitu konsep di dalam Diri-Nya – yang menggambarkan secara sempurna akan Diri-Nya. ((St. Thomas Aquinas, ST, I, q. 27, a. 2)) Gambaran akan Diri Allah yang sempurna ini adalah Kristus, sehingga Rasul Paulus mengatakan “Ia adalah gambar Allah yang tidak kelihatan, yang sulung, lebih utama dari segala yang diciptakan” (Kol 1:15). Sebutan ‘lahir dari’ berkenaan dengan Allah Putera. ‘Lahir dari’ mempunyai konotasi kemiripan dengan yang melahirkan. Sabda Allah seolah-olah menjadi refleksi dari Allah sendiri. Begitu sempurna kemiripan ini sehingga Sang Sabda menjadi Allah sendiri. Kitab Kebijaksanaan menuliskan “Sebelum air samudera raya ada, aku telah lahir…” (Keb 8:24).

St. Thomas Aquinas menjelaskan lebih lanjut tentang aktivitas yang lain di dalam Tuhan, yaitu yang disebut procession, yang berkenaan dengan Roh Kudus. Ketika seseorang mengasihi, maka ada satu dorongan untuk mendekat pada yang dikasihi, untuk tinggal bersama dengan orang yang dikasihi. Kalau kita terapkan pada Trinitas, maka Roh Kudus merupakan dorongan yang bersifat kekal dari kasih antara Allah Bapa dan Allah Putera.

VIII. Ajaran-ajaran sesat menentang Trinitas

1. Adoptionisme / dynamic monarchianism-

Paham Adoptionisme diajarkan oleh uskup jemaat Antiokhia, yang bernama Paulus dari Samosata. Paham ini mengajarkan bahwa Kristus adalah Putera Allah karena adopsi (diangkat anak) dan bukan karena kodrat-Nya memang demikian. Menurut ajaran ini, Kristus adalah manusia yang di dalamnya Sang Sabda turun dalam tingkatan yang maksimum melalui karunia Roh Kudus, sehingga menjadikannya Anak Allah. Hal turunnya Roh Kudus dan pengangkatan ini terjadi saat Pembaptisan Yesus.

Ajaran ini juga diyakini oleh kaum Ebionit (yaitu sekte Kristen Yahudi). Menurut paham ini, Sang Sabda dan Roh Kudus bukanlah Pribadi, melainkan hanya sifat-sifat atau kekuatan Tuhan. Paham ini menolak misteri Trinitas dan Inkarnasi; dan menunjukkan pengaruh yang kuat akan ajaran Yudaisme. Paham ini dinyatakan sesat pada akhir abad ke-2 dan ditolak oleh Konsili Nicea I. Prinsip ajaran Adoptionisme ini kembali mencuat dan diperinci dalam ajaran sesat Nestorianisme di abad ke-5.

2. Sabellianisme/ Modalisme/ Patripassian

Sabellius adalah Uskup Pentapolis di abad ke-3, yang mengajarkan doktrin yang menolak pembedaan yang nyata antara ketiga Pribadi Allah. Menurut paham ini, ketiga Pribadi Allah ini hanyalah tiga cara /“modes” pernyataan tentang keilahian-Nya yang tunggal (disebut monarchy, menurut bahasa Yunani). Cara pernyataan Tuhan di dalam diri-Nya sendiri adalah “Bapa”; cara penjelmaan-Nya menjadi manusia adalah “Putera”, dan cara Allah menguduskan manusia dan tinggal di hati manusia adalah “Roh Kudus”. Atau dengan kata lain, ketiga cara itu adalah: Penciptaan (Bapa), Penebusan (Putera) dan Pengudusan (Roh Kudus). Karena itu paham Sabellianisme disebut juga “modalisme” atau “monarchianisme.”

Ajaran ini tidak sesuai dengan apa yang tertulis dalam Kitab Suci Perjanjian Baru, yang secara jelas membedakan antara Pribadi Allah Bapa dan Putera (Kristus), walaupun menyatakan bahwa kedua-Nya adalah satu. Kristus berdoa kepada Bapa, sebagaimana kepada Pribadi yang berbeda. Namun hal ini tidak menjadi perhatian bagi para pengikut Sabellius. Sebaliknya mereka mengajarkan bahwa kemanusiaan Yesus demikian bersatu dengan Allah Bapa sehingga Allah Bapa-lah yang menderita di kayu salib. Oleh karena itu, Sabellianisme juga dikenal dengan aliran Patripassian, yaitu yang mengajarkan Penderitaan Allah Bapa (Passion of the Father).

St. Dionisius dari Aleksandria menulis traktat untuk menolak ajaran Sabellianisme ini, namun dikatakan bahwa tulisan tersebut sedemikian menentangnya sampai jatuh ke dalam kesalahan yang sebaliknya, yang kemudian menjadi cikal bakal pemikiran Arianisme.

Maka Paus Dionisius menjelaskan tentang Trinitas kepada St. Dionisius, Patriarkh Aleksandria, bahwa penolakan akan paham Sabellianisme dapat jatuh ke dalam kesesatan kebalikannya:

“… sebab Sabellius menghujat ketika mengatakan bahwa Sang Putera adalah Allah Bapa dan juga sebaliknya; sedangkan para penentang Sabellius juga pada ukuran tertentu menyatakan adanya tiga Tuhan, ketika mereka membagi kesatuan agung [Trinitas] menjadi tiga substansi yang berbeda satu sama lain. Sebab adalah penting bahwa Sabda ilahi menjadi satu dengan Allah, dan bahwa Roh Kudus ada di dalam Tuhan dan tinggal di dalam Dia: dan karena itu Trinitas yang ilahi disatukan menjadi satu, seperti berada di dalam satu kepala, yaitu di dalam Allah yang Maha Kuasa….” ((Letter of Pope Dionysius to Dionysius of Alexandria, CF 301-303))

3. Arianisme

Beberapa prinsip ajaran Arius (250- 336) adalah bahwa Tuhan bukanlah Trinitas; bahwa Allah Bapa lebih mulia daripada Allah Putera; bahwa Sang Putera walaupun ilahi namun tidak sehakekat dengan Bapa; bahwa Sang Putera adalah mahluk ciptaan (seperti malaikat yang tertinggi), Allah Putera bukan Putera Allah tetapi anak angkat Allah; Putera tidak memahami Allah Bapa, Kristus Sang Putera bukan sungguh Tuhan dan sungguh manusia; bahwa Kristus tidak mempunyai jiwa manusia, namun jiwa keilahian yang tidak sama persis dengan Tuhan. Prinsip-prinsip ini menunjukkan bahwa secara mendasar ajaran ini salah, sebab tidak mengakui Trinitas, dengan hanya mengakui Allah Bapa saja sebagai Allah. Ajaran ini yang seolah membagi tingkatan ke-Allahan, menjadi serupa dengan paham polytheisme, dan karena itu tidak sesuai dengan ajaran Kristiani.

Aliran Arianisme ini sangat memberi pengaruh besar kepada kehidupan Gereja, dan bahkan sampai menimbulkan kekacauan masyarakat umum. Oleh karena itu, Kaisar Konstantin turut berkepentingan untuk mengatasi kekacauan ini. Ia mengundang para pemimpin Gereja untuk mengadakan Konsili, agar meluruskan ajaran ini sehingga kekacauan dapat diatasi. Konsili Nicea (325) kemudian mengeluarkan penegasan pernyataan iman yang sudah selalu diimani Gereja sejak awal mula yaitu, bahwa Kristus sehakekat dengan Allah Bapa, Allah dari Allah, Allah benar dari Allah benar.

St. Athanasius yang hadir di dalam Konsili Nicea mengabdikan seluruh hidupnya untuk melestarikan ajaran Konsili tersebut, “Aku ada di dalam Bapa dan Bapa ada di dalam Aku (Yoh 14:10). Sebab Putera ada di dalam Bapa, … sebab keseluruhan Pribadi Allah Putera adalah sesuai dengan hakekat Allah Bapa, sebagaimana pancaran sinar dari terang dan aliran air dari air mancur; sehingga barang siapa melihat Allah Putera, melihat apa yang berkenaan dengan Allah Bapa…. ” ((St. Athanasius, Four Discourse Against the Arians, n.3:3,4, in NPNF, IV, 395))

St. Basil, Gregorius Nazianza dan Gregorius dari Nissa (abad ke-4) membantu menjelaskan misteri Trinitas ini dengan membedakan “hakekat” dengan “Pribadi”, dan mengajarkan bahwa Tuhan adalah satu hakekatnya, namun Tiga Pribadi-Nya.

IX. Apa gunanya doktrin Trinitas bagi kita?

Pengetahuan akan Tuhan tidak pernah sia-sia dan tidak berguna, apalagi jika itu menyangkut Tuhan sendiri. Doktrin Trinitas adalah ajaran yang mendasar bagi iman Kristiani, sebab misteri ini menjelaskan fakta bahwa Pribadi kedua Trinitas (yaitu Allah Putera), menjelma menjadi manusia dan wafat dan bangkit untuk menebus umat manusia. Hal ini akan dibahas lebih lanjut dalam topik berikutnya. Namun selain menjelaskan fakta Inkarnasi, doktrin Trinitas menjelaskan akan hubungan jiwa manusia dengan Allah di dalam kehidupan rohani.

1. Manusia mengambil bagian di dalam kodrat ilahi.

Rasul Petrus mengajarkan, “… supaya olehnya kamu boleh mengambil bagian dalam kodrat ilahi…” (2 Pet 1:4). Kodrat ilahi yang dimaksud di sini adalah prinsip kehidupan Allah di mana Allah Putera lahir dari Allah Bapa, dan Roh Kudus berasal dari Allah Bapa dan Putera.

Kardinal Newman di dalam salah satu khotbahnya menjelaskan bahwa Allah telah ada, sebelum menciptakan alam semesta, termasuk malaikat dan manusia. Tidak ada apa-apa yang lain, selain Allah. Keadaan ini terus berlangsung untuk jangka waktu yang tak terukur, sampai saat Allah menciptakan langit dan bumi dan segala isinya. Maka, penciptaan yang berumur ribuan tahun, atau jutaan tahun sekalipun, hanya seperti ‘hari kemarin’ jika dibandingkan dengan kekekalan Tuhan.

Namun dalam kekekalan-Nya, Allah bukannya tidak melakukan apa-apa. Ia berbahagia di dalam Pengetahuan/ Pikiran-Nya yang adalah Sang Sabda, yaitu Putera-Nya sendiri, yang kepadaNya Allah Bapa mengkomunikasikan kodrat-Nya, hidup-Nya dan kesempurnaan-Nya. Kedua Pribadi ini saling mengasihi secara timbal balik dengan sempurna dan penuh, sehingga melahirkan Pribadi Allah yang ketiga, yaitu Roh Kudus. Hal tindakan Allah ini terjadi di dalam kekekalan, di luar dimensi waktu, sehingga tidak ada yang ada lebih dulu disusul yang lain, tetapi ketiga Pribadi Allah ada bersama- sama dalam kekekalan itu.

Maka Kasih yang menjadi hakekat Allah secara aktif hidup di dalam kehidupan Allah yang terdalam, dan hal saling mengasihi ini juga terjadi di dalam kekekalan, sehingga tidak ada sesaatpun di mana Allah Bapa hanya sendirian tanpa Allah Putera ataupun Roh Kudus. Ketiga Pribadi Allah ada bersama-sama sejak awal mula, sesuai dengan hakekat Kasih itu yang memang selalu memberi, dan tidak tertuju kepada satu pribadi sendirian.

Ketika Rasul Petrus mengatakan kita mengambil bagian di dalam kehidupan Allah ini, artinya, kita digabungkan dengan kehidupan Allah sendiri. Kita mengambil bagian di dalam Pengetahuan Tuhan, yaitu Sang Sabda, dan di dalam Roh Kasih Allah yang merupakan pertukaran kasih antara Allah Bapa dan Putera. Dengan kata lain, kita mengambil bagian di dalam hal bagaimana Allah mengenal dan mengasihi Diri-Nya sendiri yang begitu sempurna.

2. Kodrat ilahi kita terima melalui Pembaptisan

Kodrat dan kehidupan ilahi ini kita terima saat kita digabungkan dengan Allah Trinitas, di dalam Pembaptisan. Kehidupan ilahi yang kita terima ini seumpama biji yang bertumbuh di sepanjang hidup kita, yang setelah kematian akan menuju kepada buahnya, yaitu saat kita memandang Allah sebagaimana adanya Dia (lih. 1 Yoh 3:2). Kehidupan ilahi ini diperoleh karena rahmat pengudusan yang diberikan Allah kepada kita semua yang dibaptis. Oleh rahmat ini, jiwa kita yang telah dibaptis menerima Roh Kudus, sehingga kita dapat mengambil bagian di dalam kehidupan Allah Trinitas; dan masuk dalam persekutuan yang penuh kasih yang ada di antara ketiga Pribadi Allah dalam Trinitas.

3. Kodrat ilahi menjadikan kita anak-anak angkat Allah

St. Paulus mengajarkan bahwa karena kita telah menerima Roh Kudus, maka kita adalah anak- anak Allah, “Jadi, saudara-saudara, kita adalah orang berhutang, tetapi bukan kepada daging, supaya hidup menurut daging. Sebab, jika kamu hidup menurut daging, kamu akan mati; tetapi jika oleh Roh kamu mematikan perbuatan-perbuatan tubuhmu, kamu akan hidup. Semua orang, yang dipimpin Roh Allah, adalah anak Allah. Sebab kamu tidak menerima roh perbudakan yang membuat kamu menjadi takut lagi, tetapi kamu telah menerima Roh yang menjadikan kamu anak Allah. Oleh Roh itu kita berseru: “ya Abba, ya Bapa!” Roh itu bersaksi bersama-sama dengan roh kita, bahwa kita adalah anak-anak Allah. Dan jika kita adalah anak, maka kita juga adalah ahli waris, maksudnya orang-orang yang berhak menerima janji-janji Allah, yang akan menerimanya bersama-sama dengan Kristus, yaitu jika kita menderita bersama-sama dengan Dia, supaya kita juga dipermuliakan bersama-sama dengan Dia.” (Rom 8:12-17).

Maka jika kita dibaptis, kita adalah anak- anak angkat Allah, sebab Allah telah mengangkat kita untuk menerima hak atas warisan ilahi, yaitu hidup kekal. Di dunia, pengangkatan anak memberikan implikasi bahwa anak tersebut menjadi anggota keluarga yang mengangkatnya, dan ia menerima sebagian tertentu dari kehidupan jasmani orang tuanya. Namun pengangkatan anak secara ilahi membuat kita menjadi pengambil bagian di dalam kehidupan Allah sendiri. Artinya, oleh kasih karunia kita dimampukan untuk hidup menyerupai hidup Allah sendiri. “Tetapi semua orang yang menerima-Nya diberi-Nya kuasa supaya menjadi anak-anak Allah, yaitu mereka yang percaya dalam nama-Nya; orang-orang yang diperanakkan bukan secara jasmani …, melainkan dari Allah.” (Yoh 1:12-13)

4. Kodrat ilahi menjadikan kita Bait Allah

Dengan menerima Roh Kudus saat Pembaptisan, maka kita menjadi tempat kediaman Allah sendiri, sebagaimana diajarkan oleh Rasul Paulus,“Tidak tahukah kamu, bahwa kamu adalah bait Allah dan bahwa Roh Allah diam di dalam kamu?” (1Kor 3:16). Tuhan Yesus sendiri, saat Perjamuan Terakhir mengajarkan bahwa kasih merupakan syarat yang harus dilakukan oleh murid Kristus agar Tuhan dapat tinggal diam di dalam dirinya, “Jika seorang mengasihi Aku, ia akan menuruti firman-Ku dan Bapa-Ku akan mengasihi dia dan Kami akan datang kepadanya dan diam bersama-sama dengan dia.” (Yoh 14:23) Dengan demikian Yesus menyatakan segi lain tentang Trinitas dalam hubungannya dengan kita. Yaitu bahwa Tuhan berdiam di dalam jiwa seseorang yang berada dalam keadaan rahmat, yaitu yang mengasihi Tuhan dan menuruti firman-Nya, seperti Ia diam di dalam bait-Nya.

5. Rahmat Pengudusan memampukan kita ‘memiliki’ Allah

Oleh rahmat pengudusan, jiwa manusia diberi kemampuan untuk ‘memiliki’ Allah dan berpegang kepada firman-Nya. Tanpa bantuan rahmat Allah kita tidak dapat memperoleh pemahaman akan Dia, dan kita tidak dapat ‘memiliki’ Dia. Tuhan tinggal di dalam kita, dan bukan hanya pemahaman tentang Tuhan yang tinggal di dalam kita. Tuhan tinggal di dalam kita melalui Iman dan Kasih, yang dicurahkan ke dalam hati kita (Rom 5:5). Oleh iman, pengharapan dan kasih, kita dimampukan untuk mengenal dan mengasihi Allah, walaupun tingkatan pengenalan dan kasih kita akan Allah yang kita peroleh di dunia ini tidak akan sama dengan pengenalan dan kasih kita akan Allah yang secara sempurna kita peroleh di surga kelak.

Ahimelekh atau Abyatar?

0

Pertanyaan ini berhubungan dengan fakta bahwa di kitab Samuel dikatakan bahwa Raja Daud sampai “kepada Ahimelek, imam itu” (1 Sam 21:1) yang memberikan kepadanya roti kudus, sedangkan pada Injil Markus, dikatakan bahwa Raja Daud “masuk ke Rumah Allah waktu Abyatar menjabat sebagai Imam Besar…” (Mrk 2:26) lalu makan roti sajian/ roti kudus.

Pertama- tama yang perlu disadari adalah, bahwa yang disebutkan dalam Injil Markus bukanlah Raja Daud menemui Abyatar, tetapi bahwa ia “masuk ke Rumah Allah pada waktu Abyatar menjabat sebagai Imam Besar”.

Maka pertanyaannya adalah, jika imam yang ditemui oleh Raja Daud adalah Ahimelek, mengapa dikatakan bahwa saat itu yang menjadi Imam Besar adalah Abyatar? Jawabannya dapat kita ketahui dengan membaca keseluruhan perikop 1 Sam 21 dan 1 Sam 22. Di perikop tersebut dikatakan bahwa terdapat banyak imam pada saat itu. Secara eksplisit dikatakan bahwa para imam itu, yang memakai baju efod dan kain lenan, berjumlah delapan puluh lima orang (1 Sam 22:18). Ketika Raja Saul mengetahui bahwa Ahimelek membantu Daud, ia memerintahkan Doeg agar membunuh Ahimelek dan seluruh keluarganya, dan para imam yang lain (1Sam 22:18-19) kecuali Abyatar, anak Ahimelekh, yang juga imam, yang luput karena melarikan diri (1Sam 22: 19-20, 23:9).

Ketika kita mengetahui bahwa pada waktu itu terdapat banyak imam, maka pertanyaannya adalah, mengapa Markus mencatat bahwa Abyatar adalah Imam Besar? Bukankah Ahimelek yang menjadi Imam Besar saat itu? Kemungkinan jawabnya adalah bahwa saat itu Imam Besar tidak hanya satu orang, sebab pada masa Tuhan Yesus, juga terdapat lebih dari seorang Imam Besar, “… pada waktu Hanas dan Kayafas menjadi Imam Besar” (Luk 3:2). Kayafas adalah anak menantu Anas. Dengan demikian, besar kemungkinan bahwa Abyatar yang adalah anak Ahimelekh, juga seperti ayahnya, adalah Imam Besar.

Dengan demikian, perikop 1 Sam 21 dan 1 Sam 22 tidak bertentangan dengan Mrk 2:26, sebab hari- hari Abyatar menjadi Imam Besar juga bersamaan dengan hari- hari Ahimelekh menjadi Imam Besar, hanya saja Abyatar bertahan lebih lama menjadi Imam Besar, sebab setelah Raja Saul mengetahui bahwa Ahimelekh membantu Daud, maka semua imam pada saat itu [kecuali Abyatar] dibunuh olehnya.

 

Keep in touch

18,000FansLike
18,659FollowersFollow
32,900SubscribersSubscribe

Artikel

Tanya Jawab