Home Blog Page 152

Historisitas Kitab Ester

1

Hal perkiraan bahwa ditemukannya nama Haman dalam prasasti batu rosetta yang menunjukkan bahwa kemungkinan ada seseorang bernama Haman hidup di zaman Raja Firaun di Mesir, tidak membuktikan apa-apa yang mengguncang historisitas kitab Ester. Sebab ditemukannya prasasti itu tidak menjadi tanda bahwa nama Haman itu (jika Hmn-h yang tertulis pada prasasti itu mau diinterpretasikan sebagai Hemen/ Haman) adalah satu-satunya orang saja yang bernama Haman, yang pernah hidup di dunia ini. Sebab kemungkinan tetap ada (dan besarlah kemungkinan itu) bahwa ada orang yang juga bernama Haman yang hidup di masa Raja Ahasyweros (Raja Xerxes) berabad-abad kemudian.

Lagipula jika dibaca inskripsi lengkapnya pada prasasti tersebut, tidak disebutkan bahwa nama Haman (Hmn-h) ini adalah seorang yang dekat dengan Raja Firaun, seperti yang diklaim oleh sejumlah orang. Memang disebutkan nama Hmn-h (diterjemahkan sebagai Hemen-hetep), dan disebutkan kata Raja, tetapi tidak disebutkan tentang hubungan antara kedua orang tersebut. Terjemahan tulisan di prasasti itu adalah demikian, menurut informasi yang beredar di internet:

(1) An offering, which the king gives to Osiris, Foremost of the Westerners, Lord of Infinity, Ruler of Eternity, so that he may give everything that is offered on his food table; the sweet breath of the northern wind; a goodly funeral for his old age, for the Ka of the overseer of the stonemasons of Amun Hemen-hetep, true of voice. (2) An offering, which the King gives to the Western Desert and Amaunet, the Lady of Heaven, so that she may give food and sustenance and all kinds of offerings, all things good and pure, for the Ka of the overseer of the stonemasons of Amun Hemen-hetep, true of voice. (3) His son Pu-hotep. (4) The mistress of the house Nefret-nub.”

Teks ini tidak menyebutkan apapun tentang kedekatan ataupun posisi tinggi dari seorang yang bernama Hemen-hetep itu, yang dapat menjadi dasar bahwa orang yang ditulis namanya di sana adalah pasti seorang yang dekat dengan Firaun. Frasa itu merupakan frasa yang umum tertulis dalam banyak kubur Mesir, dan tidak menunjukkan hubungan yang khusus dengan Raja (Firaun). Sesungguhnya di internet sendiri hal klaim prasasti rosetta ini masih merupakan perdebatan, karena tertera kesalahan pengutipan sumber, yang justru melemahkan klaim tersebut. Silakan Anda ketik di google dengan kata kunci ‘Haman hoax’, dan Anda akan dapat membaca argumen-argumen yang mempertanyakan ke-valid-an klaim tersebut.

Dalam A Catholic Commentary on Holy Scripture, ed Dom Orhard, OSB, disampaikan dalam penjelasan Kitab Esther, bahwa terdapat argumen-argumen yang kuat akan historisitas kitab Ester, yaitu antara lain ((lih. A Catholic Commentary on Holy Scripture, ed Dom Orhard, OSB (New York: Thomas Nelson and Sons, 1953), p. 409)) :

1) detail topografi dan kronologis yang kuat: ada banyak nama-nama yang digunakan yang sesuai dengan fakta historis; ada acuan terhadap perayaan tahunan yang diadakan di Media dan Persia.
2) ada penyebutan perayaan festival Purim, yang pada masa abad ke-2 SM dikenal sebagai ‘hari Mordekhai’ (2 Mak 15:36). Bahwa ‘pur’ maksudnya adalah undi (lih Est 3:7; 9:24) telah ditemukan dalam bahasa Babilonia, yaitu berasal dari kata ‘puru‘, dari kata dasar ‘paru‘ yang artinya ‘memotong’. Maka artinya adalah: menentukan dengan potongan. Digunakannya kata Babilonia ‘pur’ ini untuk festival tersebut dan bukan kata Ibrani ‘goral‘ (yang berarti ‘undi’) menunjukkan bahwa festival Purim ini diadakan di masa Pembuangan bangsa Yahudi di Babilonia.
3) Penemuan arkeologis di akropolis di Susan yang berasal dari sekitar abad ke-5 SM yang ditemukan oleh arkeolog M. Dieulafoy dan J. de Morgan memperkuat deskripsi ini.

Maka kisah Ester ini berkaitan dengan masa pemerintahan Raja Ahasyweros (Raja Artaxerxes/  Xerxes  (486-465). Ahli sejarah Herodotus menulis bahwa pada tahun ke-3 pemerintahannya, ia mengumpulkan banyak pangeran di Susan untuk merencanakan perang melawan bangsa Yunani. Kesempatan ini cocok dengan kesempatan di mana Raja Ahasuerus membuang ratunya, Wasti, karena sang ratu menolak untuk hadir di pesta itu, yang juga tercatat terjadi di tahun ke-3 dalam kitab Ester (lih. Est 1:3, 12). Pada tahun ke-6, ekspedisi ke Yunani tidak berhasil dan Raja kembali pada tahun berikutnya. Pada tahun-tahun tersebut (antara tahun ke-3 s/d ke-7) raja disibukkan dengan perang, sehingga ini menjelaskan jeda waktu antara turunnya ratu Wasti dan dengan pemilihan Ester sebagai Ratu.

Maka untuk menyelidiki historisitas kitab Ester, lebih masuk akal untuk meneliti bukti historis yang ada sehubungan dengan masa pemerintahan Raja Ahasuerus (menurut ahli sejarah mengacu kepada Raja Artaxerxes/  Xerxes I), dan bukan jauh-jauh meneliti ke zaman raja Firaun di berabad- abad sebelumnya. Penemuan arkeologis yang diperkirakan berasal di sekitar abad ke-5 SM di zaman Raja Ahasyweros jika dikaitkan dengan narasi kitab Ester, semakin dapat memperjelas keseluruhan kisahnya: ((lih. Claus Schedl, History of the Old Testament, Book V, (New York: Alba House, 1971), p. 134-146))

1. Ditemukannya batu arkeologis di tahun ke-2 pemerintahan Raja Xerxes di beberapa perumahan di Barsippa dan sekitarnya tentang catatan-catatan bisnis dari bermacam perusahaan. Catatan itu menjelaskan tentang adanya tahun pemberontakan di tahun ke-2 zaman pemerintahan Raja Xerxes. Terdapat empat orang penguasa/ pemberontak yang ada dalam setengah tahun (5 Agustus 484- 5 Maret 483 SM), yang bernama Bel-simanni, Samaseriba, Aksimasku dan Sikusti. Situasi ini membuat keruwetan besar dalam hal dunia usaha (bisnis). Banyak perusahaan di Barsippa ambruk, dan kemungkinan termasuk seluruh kawasan itu. Gelar Raja Xerxes sebagai Raja Babilonia juga pupus, dan Babilonia menjadi sebuah provinsi, dan kehilangan kesatuan dengan Persia. Maka dari bukti arkelogis yang ditemukan di Barsippa, diketahui bahwa tahun kedua Raja Xerxes adalah tahun pemberontakan. Salah satu teks yang ditemukan di prasasti di Barsippa (tahun 485 SM) menyebutkan nama Marduka yang kemungkinan mengacu kepada Mordekhai dalam Kitab Esther. Marduka tercatat sebagai seorang petinggi keuangan Pangeran yang mengatur perjalanan petinggi Persia yang mengadakan inspeksi ke Barsippa. Kemungkinan dengan kedudukannya ini yang mempunyai akses ke pemerintahan Persia, Mordekhai dapat mengetahui adanya rencana persekongkolan untuk membunuh raja Ahasyweros (lih. Est 2:19-23).

2. Setelah berhasil mengatasi pemberontakan-pemberontakan tersebut di tahun ke-2 pemerintahannya, Raja Ahasyweros (Xerxes) mengadakan pesta besar di tahun ke-3, di mana Ratu Wasti menolak untuk hadir di hadapan Raja pada hari ketujuh, di hadapan para pangeran dan semua petinggi bangsa sekutu Raja Ahasyweros, dan hal ini membuat Raja Ahasyweros sangat murka, dan membuang Ratu Wasti.

3. Setelah kembali dari Yunani, Raja Ahasyweros memperistri Ester. Perkawinan terjadi di bulan kesepuluh, tahun ke-7, atau sekitar 22 Desember 479 sampai 20 Januari 478 SM. Naiknya Ester sebagai Ratu Susan, tidak berarti bahwa ia menjadi Ratu bagi keseluruhan Kerajaan, yang menurut Herodotus dipegang oleh Ratu Amestris.

4.  Ditemukannya Elephantine- Papyri, yang menyatakan bahwa di akhir abad ke-5 SM di Mesir memang terjadi pembantaian orang-orang Yahudi. Maka hal ini cocok dengan narasi di kitab Ester yang menyatakan adanya rencana Haman untuk menghabisi seluruh bangsa Yahudi, di zaman pemerintahan Raja Ahasyweros. Perintah pembantaian ini dimulai di hari ke-13 bulan ke-12 (8 Maret 473). Keadaan berhenti setelah Ratu Esther tampil di hadapan Raja dan memutarbalikkan keadaan, sehingga akhirnya posisi Haman digantikan oleh Mordekhai.

Penemuan daeva inscription di tahun 1935 ((Text ANET 316; E F Schmidt, Persepolis II, Contents of the Trasury and other Discoveries, (Chicago 1957): Magnificent photograph.)) juga memperkuat hal ini. Melalui inskripsi tersebut diketahui bahwa Raja Xerxes melarang dan ingin melenyapkan kultus penyembahan sepuluh dewa; yang setelah diteliti berkaitan dengan kesepuluh anak Haman, yang masing-masing memakai nama dewa-dewa Iran tersebut. Sedangkan Raja Xerxes waktu itu menyembah dewa Ahura-mazda. Penyembahan umat Israel terhadap satu Tuhan, dianggap lebih menyerupai/ lebih dekat kepada penyembahan satu dewa Ahura-mazda, sehingga hal ini diperbolehkan oleh Raja Xerxes. Dekrit penghancuran kultus sepuluh dewa tersebut dikeluarkan oleh Raja Xerxes, dan dilaporkan di Susan pembunuhan mencapai 500 orang sedangkan di provinsi-provinsi mencapai 75,000 orang.

5. Festival Purim yang bertepatan dengan bulan penuh di bulan Adar 14/15 (Februari- Maret, lih. Est 9:21) yang kemungkinan untuk mengingat bahwa perayaan itu terjadi awalnya dari Haman yang membuang undi untuk membinasakan bangsa Yahudi, namun yang kemudian menuai hasil yang sebaliknya, di mana Raja, atas pengaruh Ratu Ester, kemudian membalikkan malapetaka tersebut terhadap Haman sendiri, dan kaum keluarganya.

Kesimpulan:

Kejadian-kejadian yang tercatat di kitab Esther dapat masuk ke dalam kerangka sejarah Persia tanpa kesulitan. Walaupun mengisahkan peran wanita, tidak dapat disimpulkan secara langsung bahwa ini merupakan pengaruh sastra Yunani. Sebab menurut  ahli sejarah Josephus dan Philo, kisah-kisah Perjanjian Lama memang menyampaikan gaya bahasa yang erotis. Tak jarang, wanita dalam aspek erotiknya, yang menjadi pahlawan. Kisah ini nyata contohnya dalam kitab Ester (sesungguhnya juga kisah Yudit, Ruth, dst).

 

Diary bersama Tuhan

3

Terbiasa menulis buku harian (diary) sejak masih duduk di bangku sekolah dasar, kegiatan itu akhirnya terbawa hingga saya dewasa. Setelah berpacaran dan menikah, saya juga mempunyai sebuah diary khusus untuk menuliskan berbagai peristiwa penting dan kejadian-kejadian indah yang saya alami bersama pasangan hidup saya. Diary itu kami tulis berdua, bergantian, dan menjadi suatu sarana yang cukup membantu ketika relasi kami sedang tegang dan saya hanya bisa menumpahkan kekesalan atau uneg-uneg saya kepada suami di dalam diary berdua itu. Ketika suasana mulai membaik, apa yang saling kami tuliskan di sana menjadi bahan refleksi dan evaluasi berdua agar argumentasi atau kemarahan yang terjadi di antara kami tidak terulang kembali di masa datang. Itu adalah satu dari banyak kebaikan mempunyai sebuah diary berdua yang diisi bersama, baik secara sendiri-sendiri atau sambil duduk santai berdua melewatkan waktu luang di malam yang tenang. Demikian juga kenangan manis dari cuplikan ragam peristiwa, ribuan kata, dan serbaneka perbuatan, yang telah membuat hari-hari kami berdua sungguh berwarna, dapat sewaktu-waktu kami baca kembali. Efek menghangatkan hati dari peristiwa itu lantas dapat kami alami lagi kapan pun kami membaca kembali tulisan kami di sana, sekalipun peristiwanya sudah lama berlalu. Sebaliknya, peristiwa pahit dan kesalahpahaman menjadi pelajaran berharga. Diary cinta kami itu menjadi sebuah pengingat yang manis, betapa berharganya karunia Tuhan kepada manusia dalam sebuah kehidupan berbagi, yang disebut dengan pernikahan.

Ternyata sangat membangun dan mengasyikkan untuk juga mempunyai sebuah buku harian / jurnal yang mencatat hubungan kasihku sehari-hari dengan Tuhan, yang telah menciptakan aku karena kasih, dan dengan kasih yang besar memeliharaku setiap hari di dunia ini. Kalaupun kita bukan orang yang gemar menulis buku harian (atau mungkin bahkan tidak gemar menulis apa-apa sama sekali), kisah kasih sehari-hari yang dialami karena kasih Tuhan dan di dalam kasihNya, sungguh layak dan berharga untuk dicatat dalam hati, dikenang, diapresiasi, dan dievaluasi. Sesungguhnya Bunda Maria adalah pribadi yang menginspirasi kita untuk melakukan hal ini, karena beliau menyimpan (atau sebetulnya dengan kata lain, mencatat) dan merenungkan di dalam hatinya semua peristiwa mencengangkan yang dialaminya bersama Yesus dan karena Yesus, sejak Dia hadir dalam rahimnya oleh kuasa Roh Kudus (bdk. Luk 2:19). Semua peristiwa bersama Tuhan dan di dalam Tuhan adalah peristiwa iman. Peristiwa iman adalah cerminan kepercayaan kita kepada Allah Yang Maha Bisa, yang Maha Hadir, dan Maha Peduli, di dalam kehidupan manusia dan dunia ini.

Ketika banyak dari manusia jaman ini mempertanyakan apakah Tuhan ada dan di mana Dia, (terutama saat manusia sedang menghadapi kesukaran dan penderitaan), maka bagi saya sebuah diary bersama Tuhan menuliskan bagaimana Ia memelihara kita, menceritakan pada kita bahwa Ia adalah Allah yang hidup dan aktif, Allah yang sangat baik, yang sangat mengasihi kita, selalu memperhatikan dan mencukupkan segala sesuatu yang kita perlukan, dari hal yang terkecil. Mencatat dinamika perjalanan iman dan naik turunnya kehidupan doa kita menjadi bagian dari relasi kita dengan Tuhan. Di dalam mencatat segala peristiwa yang saya imani dan rasakan sebagai bukti penyertaan Tuhan, saya belajar untuk peka dan menghargai apa yang sudah Tuhan karuniakan pada saya karena kasihNya, yang biasanya saya anggap sebagai sebuah rutinitas saja (sudah seharusnya). Misalnya menulis tentang hangatnya matahari pagi, bahwa saya masih bisa bangun setiap pagi untuk menjalani kehidupan, bahwa saya dikelilingi orang-orang terkasih yang selalu mendampingi saya.

Membuka kembali catatan harian tentang penyertaan dan keterlibatan Allah dalam hidup, membuat kita dapat berseru dalam hati kita seperti murid yang dikasihi saat mengenali Tuhan dalam karyaNya yang ajaib, ketika jala mereka hampir koyak karena penuhnya ikan, “Itu Tuhan !” (lih.Yoh 21:7)

Catatan saya memperlihatkan, ketika saya berseru padaNya dengan penuh keprihatinan terhadap sebuah masalah, lewat cara yang unik Tuhan memberikan saya penghiburan lewat suatu peristiwa kecil. Di lain waktu, saya terluka oleh perbuatan seseorang, saya mengeluh kepada Tuhan bahwa saya merasa berat untuk bisa mengampuni perbuatan itu. Tetapi lantas saya mengalami beberapa rangkaian kejadian yang memampukan saya mengampuni kesalahan itu, bahkan disadarkan bahwa sebenarnya saya juga bersalah. Saya mencatat bahwa kadang jawabanNya datang sesederhana saat membaca sebuah email, atau saat melihat potongan suatu acara di TV. Kadang juga bertahap dan lewat sebuah proses. Sangat sering terjadi ketika sedang membaca Kitab Suci. Saat membaca Kitab Suci, ternyata pergumulan pada hari itu saya temukan jawabannya secara langsung dari bacaan Kitab Suci yang saya baca pada hari yang sama. Dalam mengimani penyertaan Tuhan, kita meyakini bahwa bagi orang beriman, tidak ada hal yang kebetulan. Karena kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah (Rm 8:28)

Ada lagi yang menarik ketika ada catatan peristiwa yang cukup lama menjadi pergumulan saya. Suatu hari pada saat saya menulis lagi, saya baru menyadari bahwa hal yang saya gumulkan itu saat itu sudah menjadi jauh lebih baik. Itu adalah ketika saya baru menyadari bahwa Tuhan ternyata sudah menjawab doa saya. Memang jawaban doa itu kadang tidak datang dalam bentuk seperti yang saya bayangkan, cara yang tidak saya duga sama sekali, tetapi yang jelas bahwa pergumulan itu akhirnya beres. Hal itu membuat saya makin mengagumi kebijaksanaan dan kuasaNya.

Catatan harian saya menunjukkan bahwa Tuhan selalu bekerja untuk kebaikan kita, selalu menolong dan menumbuhkan, kadang dengan cara yang sangat halus dan kompleks, sampai saya tidak menyadarinya. Diary bersamaNya membuat saya terkagum-kagum atas prosesNya yang unik dan kreatif, namun sangat berhasil guna dan membuka kemungkinan baru yang tak pernah saya bayangkan sebelumnya. Misalnya tercantum catatan ketika rasanya doa saya belum juga dijawab, ternyata jawaban itu hanya sedang ditundaNya, supaya Dia bisa memberi yang lebih baik dan lebih mendewasakan saya. Ia juga bekerja dalam diri orang-orang di sekitar saya, baik dalam diri orang-orang yang sulit, maupun orang-orang yang selalu menunjukkan kasih. Dia membentuk kami semua lewat pergumulan hidup bersama. Saya melihat perubahan indah dari sesama saya yang disentuhNya. Dan saya melihat perubahan diri saya sendiri juga. Lewat konflik dengan sesama, Tuhan mengingatkan saya, menegur saya. Lewat jawaban doa yang ditundaNya, Dia membentuk saya. Demikianlah catatan itu memungkinkan saya mengikuti proses pekerjaanNya yang penuh kerahiman dan cinta.

Saya merenungkan, dengan pengetahuan dan kebijaksanaan saya yang begitu terbatas dan sempit, saya menyampaikan doa dan mengadukan keluhan saya padaNya. Namun karena Tuhan begitu Maha Tahu dan kebijaksanaanNya begitu luas, Ia menjawab doa saya dengan kekayaan kearifan yang tak terpikirkan oleh saya sebelumnya. Sampai hari ini saya masih berproses dalam belajar mengenali jalan-jalanNya yang kaya dan bijaksana. Buku harian itu membuka mata saya sekali lagi akan kebesaran Tuhan, dan bagi saya, petualangan bersamaNya selalu seru, indah, mendatangkan sukacita, walau kadang penuh kejutan.

Satu ketika ada rasa malu dan sesal juga, ketika doa-doa yang sudah dijawab dengan indah oleh Tuhan, ternyata lupa tidak saya apresiasi dengan khusus sebagaimana seharusnya, karena saat doa itu dijawabNya, saya sudah tidak lagi memprioritaskan masalah itu lagi, atau karena saya terlalu sibuk dengan urusan-urusan saya sendiri. Demikian catatan harian itu mengingatkan saya agar tidak menjadi seperti sembilan orang kusta yang tidak lagi datang untuk berterima kasih kepada Tuhan Yesus setelah mengalami hadiah kesembuhan yang ajaib dariNya.

Memang bagi saya yang tergolong mudah lupa, jika berbagai peristiwa iman yang umumnya halus itu dibiarkan berlalu tanpa apresiasi, besar kemungkinan kesan itu akan tergerus kesibukan sehari-hari dan kemudian terlupakan. Saya merasakan bahwa iman yang bertumbuh dan akhirnya berbuah adalah iman yang terus dipupuk, di mana semua pengalaman jatuh bangun kita dalam beriman kepada Tuhan dikenali, ditandai, diingat, dievaluasi, dan dipelajari. Semua itu melahirkan rasa syukur atas belas kasih Allah yang multi dimensional dan pemeliharaanNya yang tiada henti. Rasa syukur yang dalam itu memungkinkan kita berbuah bagi Tuhan dan semakin terpacu untuk meninggalkan kedosaan kita, supaya kita senantiasa berada dalam perkenanan Tuhan dan selalu bersama-sama dengan Dia dalam segala sesuatu.

Lain waktu saya menemukan catatan mengenai betapa gembiranya hati saya saat sedang berada di tengah saudara seiman, untuk memuji namaNya yang kudus dan merenungkan karya-karyaNya yang agung. Saya menyadari kemudian bahwa rasa damai dan gembira itu sebenarnya adalah karunia Tuhan sendiri, yang merespon puji-pujian yang menyukakan hatiNya dengan melimpahkan sukacita dan damai sejahtera dalam hati saya dan teman-teman seiman.

Lagi yang membuat saya merasa kagum dan terharu, betapa Tuhan selalu menyediakan apa yang saya perlukan, bahkan sebelum saya sempat memintanya secara khusus, dan lebih jauh lagi, bahkan sebelum saya menyadari bahwa saya memerlukan hal itu. Ternyata Dia sudah menyediakan, yang amat baik, yang terbaik untuk saya. Sebaliknya, saya belajar bahwa kerinduan yang tidak atau mungkin belum dikabulkanNya, karena itu adalah kerinduan yang didorong oleh keinginan duniawi saya, dan bukan yang benar-benar saya perlukan untuk bertumbuh dalam iman dan kasih. Di situ saya belajar menyelaraskan permohonan doa saya dengan apa yang saya imani sebagai yang menyukakan hati Tuhan, yang sesuai dengan kehendakNya, dan bukan hanya keinginan saya. Ini adalah proses panjang yang tidak ringan, di mana kita memerlukan banyak doa dan bimbingan Sabda Tuhan untuk membentuk kita sedemikian sehingga keinginan-keinginan kita menjadi selaras dengan keinginan Tuhan sendiri. Doa bersama Bunda Maria yang selalu mendahulukan kehendak Allah sangat membantu dalam perjuangan ini.

Mencatat (atau khusus mengingat) pengalaman hidup di mana kita merasakan Tuhan hadir dan berkarya, membuat Tuhan bagaikan seorang sahabat yang nyata, yang selalu hadir menyertai kita, bukan lagi sosok yang jauh dan serba misteri. Ia adalah Tuhan yang hidup dan dekat, Ia bergembira bersama kita, bersedih bersama duka lara kita. Di akhir hari, saat saya mencatat pengalaman saya di hari itu bersamaNya, teringat oleh saya ayat dari Roma 12:2 ini, “Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna.” Diary saya bersama Tuhan menolong saya mengalami karya-karyaNya yang nyata, menemani saya mengintrospeksi diri, terus belajar melakukan apa yang baik dan berkenan kepadaNya sebagai tanda cinta saya kepadaNya, dan mengalami cintaNya lebih dalam lagi. (Triastuti)

Historisitas Kitab Tobit

3

Para ahli Kitab Suci memperkirakan bahwa kitab Tobit ini ditulis sekitar 250-150 BC, tentang suatu kisah yang terjadi di sekitar abad 8-7 SM.

1. Tobit hidup pada zaman Raja Asyur yang mana?

Dewasa ini ada sejumlah ahli Kitab Suci yang meragukan historisitas kitab Tobit. Sebab dikatakan di kitab Tobit, bahwa Salmaneser, Raja Assyria/ Asyur (727-722) menguasai suku-suku Israel Utara, termasuk suku Naftali (lih. Tob 1:2; 2 Raj 17:5-6), namun menurut para ahli tersebut, deportasi suku Naftali terjadi di zaman Raja Asyur yang bernama Tiglat Pileser III, (734) sebagaimana disebutkan dalam 2 Raj 15:29.

Terdapat sedikitnya dua argumen yang dapat menjawab keberatan ini. Pertama-tama, banyak ahli Kitab Suci tidak mempunyai kata sepakat tentang kapankah suku Naftali dideportasi. Nyatanya dalam sejarah dapat terjadi bahwa proses deportasi/ penawanan berlangsung dalam jangka waktu yang lama (beberapa ahli menyatakan bahkan dalam jangka waktu 65 tahun). Jangka waktu yang lama ini menjadi solusi untuk menjawab raja yang mana yang menawan suku-suku utara Israel. Artinya, bahwa proses deportasi dapat terjadi di masa pemerintahan kedua raja tersebut.

Argumen yang lain disampaikan dalam A Catholic Commentary on Holy Scripture (CCHS), ed. Dom Orchard OSB. Dituliskan di sana bahwa nama raja dalam kitab Tobit adalah “Enemessarus”, sebagaimana tertulis dalam beberapa varian Kitab Septuaginta. Tulisan “Enemessarus” adalah kebalikan dari huruf Asyur “Sarru-ukin” (catatan: mengingat bahwa cara menulis alphabet Asyur adalah dari kanan ke kiri, maka kemungkinan nama raja yang dimaksud adalah nama berdasarkan alphabet yang dibaca dari arah sebaliknya). “Sarru-ukin” ini adalah huruf Asyur dari raja Sargon II, yang memerintah di tahun 721 sampai 705. Maka Salmanaser dalam kitab Tobit 1:2 adalah Raja Sargon II. Solusi ini memberikan jawaban yang lebih masuk akal, sebab deportasi suku Naftali dapat terjadi di masa pemerintahan Raja Sargon II, setelah penguasaan daerah Samaria. Meskipun sudah pernah terjadi deportasi/ masa penawanan suku Naftali di masa sebelumnya, tetapi tetap terbuka kemungkinan bahwa proses deportasi tersebut berlanjut sampai pada masa Raja Sargon II.

Argumen yang diberikan CCHS ini menyelesaikan keberatan lainnya yang tertulis dalam versi Vulgate, bahwa Raja Sanherib adalah anak dari Raja Salmaneser. Para ahli sejarah mengatakan bahwa Raja Sanherib (704-681) adalah anak dari Raja Sargon II (721-705). Dengan melihat bahwa Salmaneser ini mengacu kepada Raja Sargon II, maka tidak ada kontradiksi antara fakta sejarah dengan yang disampaikan dalam kitab Tobit 1:18; dan juga dengan Tob 1:21-22, yang menyebutkan bahwa Tobit juga mengalami masa pemerintahan Raja Sanherib dan pada saat raja itu dibunuh oleh putera-puteranya, dan kemudian salah satu puteranya, Esarhadon, menjadi raja (lih. Tob 1:21-22).

Berikut ini adalah urutan nama Raja Asyur yang menjadi latar belakang deskripsi kitab Tobit (diambil dari buku Chronological Background Charts of the Old Testament, karangan John Walton, (Grand Rapids, Michigan: Zondervan, 1994), p. 65)

Tiglat Pileser III (745-727 SM)
Shalmaneser V (727-722 SM)
Sargon II (721-705 SM)
Sennacherib/ Sanherib (704-681 SM)
Esarhaddon (681-669)

2. Apakah Tobit hidup di zaman setelah kematian Raja Solomo (997 SM)?

Dengan penjelasan point 1, maka nampaknya orang-orang  yang menghubungkan deportasi Neftali dengan pemberontakan suku-suku Israel Utara yang terjadi setelah kematian Salomo tahun 997 SM, itu menjadi tidak kuat. Argumen ini terlalu jauh menghubungkan dua peristiwa yang tidak berhubungan, yaitu perpecahan bangsa Israel, dengan deportasi suku Naftali di abad 8-7 SM yang dilakukan oleh Raja Asyur, yang sudah jelas disebut namanya di dalam Kitab itu sendiri. Tentu saja, dengan asumsi alokasi kisah Tobit dalam jangka waktu sejarah yang tidak tepat, akan menghasilkan banyak pertanyaan- pertanyaan lain yang sepertinya menjadi tidak cocok, seperti sepertinya tentang umur Tobit. (Dengan asumsi tersebut, Tobit sepertinya berumur lebih dari 257 tahun, padahal ditulis di Tob 14:2 bahwa Tobit wafat di usia 112 tahun). Orang-orang ini kemudian menyimpulkan bahwa kitab Tobit tidak otentik, karena tidak sesuai dengan data sejarah. Padahal sebenarnya, asumsi mereka sendiri yang tidak akurat, karena tidak tepat dalam menghubungkan apa yang tertulis dalam Kitab Tobit, dengan fakta sejarah yang ada.

Maka argumen ini keliru, sebab deportasi suku Naftali tidak terjadi pada pemberontakan suku-suku utara Israel di zaman setelah kematian Raja Salomo (sekitar abad 10 SM), tetapi terjadi di sekitar dua sampai tiga abad sesudahnya, yaitu di zaman Raja Asyur yang bernama Salmaneser (Enemesarrus), sebagaimana dicatat dalam Kitab Tobit itu, yang mengacu kepada Raja Sargon II. Pada zaman Raja Salmaneser itulah (sekitar abad 8-7 SM), Tobit dideportasi dari kampung halamannya di Tisbe (di daerah Galilea) ke Niniwe. Nenek Tobit yang bernama Debora, telah mengajar Tobit sejak ia masih kanak-kanak, untuk mentaati hukum Taurat. Maka meskipun seluruh suku Naftali menyembah Baal dan patung banteng emas yang telah dibuat oleh Raja Yeroboam di Dan, Tobit tetap setia berziarah ke Yerusalem.

3. Kitab Tobit tidak historis karena mencatat hal-hal supernatural?

Selanjutnya, para ahli Kitab Suci yang beraliran rationalis menolak kitab Tobit, karena melihat bahwa di kitab tersebut dicatat hal-hal yang sifatnya supernatural, seperti adanya malaikat, setan, mukjizat, nubuat, dst. Para rasionalis tersebut menganggap hal-hal ini sebagai tahyul sebab tak dapat dibuktikan secara empiris ataupun secara ilmiah; oleh karena itu mereka meragukan historisitas kitab Tobit. Namun sejujurnya, dalam seluruh Kitab Suci hal-hal yang sifatnya supernatural ini (adanya malaikat, setan, mukjizat, nubuat) disebutkan di banyak ayat dan kitab-kitab lainnya dalam Kitab Suci, dan bukan hanya dalam Kitab Tobit. Maka adalah sesuatu yang tidak konsisten, jika kitab Tobit ditolak karena menyebutkan tentang hal-hal ini; sebab jika prinsip ini yang dipakai, seseorang dapat sampai pada keputusan untuk menolak hampir keseluruhan Kitab Suci.

Akhirnya, mari kita melihat juga bahwa Kitab Tobit ini sudah sejak awal tergabung dalam Kitab Septuaginta (sekarang dikenal sebagai bagian dari kitab-kitab Deuterokanonika), dan sudah diterima oleh Gereja sejak abad- abad awal sebagai Kitab yang diinspirasikan oleh Roh Kudus. Gereja Katolik menerima kitab Tobit (dan kitab-kitab Deuterokanonika lainnya), karena memang kitab-kitab tersebut tergabung dan menjadi kesatuan dengan kitab-kitab Perjanjian Lama.

Selanjutnya tentang kitab-kitab Deuterokanonika, silakan membaca di artikel-artikel berikut ini:

Apakah Deuterokanonika tidak termasuk Alkitab?
Menjawab keberatan tentang Septuaginta dan Deuterokanonika
Perkenalan dengan Kitab Suci (bagian-2)
Tentang kitab-kitab Deuterokanonika

Mei dan Oktober sebagai bulan Maria

15

Secara tradisi, Gereja Katolik mendedikasikan bulan- bulan tertentu untuk devosi tertentu. Bulan Mei yang sering dikaitkan dengan permulaan kehidupan, karena pada bulan Mei di negara- negara empat musim mengalami musim semi atau musim kembang. Maka bulan ini dihubungkan dengan Bunda Maria, yang menjadi Hawa yang Baru. Hawa sendiri artinya adalah ibu dari semua yang hidup, “mother of all the living” (Kej 3:20). Devosi mengkhususkan bulan Mei sebagai bulan Maria diperkenalkan sejak akhir abad ke 13. Namun praktek ini baru menjadi populer di kalangan para Jesuit di Roma pada sekitar tahun 1700-an, dan baru kemudian menyebar ke seluruh Gereja.

Pada tahun 1809, Paus Pius VII ditangkap oleh para serdadu Napoleon, dan dipenjara. Di dalam penjara, Paus memohon dukungan doa Bunda Maria, agar ia dapat dibebaskan dari penjara. Paus berjanji bahwa jika ia dibebaskan, maka ia akan mendedikasikan perayaan untuk menghormati Bunda Maria. Lima tahun kemudian, pada tanggal 24 Mei, Bapa Paus dibebaskan, dan ia dapat kembali ke Roma. Tahun berikutnya ia mengumumkan hari perayaan Bunda Maria, Penolong umat Kristen. Demikianlah devosi kepada Bunda Maria semakin dikenal, dan ketika Paus Pius IX mengumumkan dogma “Immaculate Conception/ Bunda Maria yang dikandung tidak bernoda” pada tahun 1854, devosi bulan Mei sebagai bulan Maria telah dikenal oleh Gereja universal.

Paus Paulus VI dalam surat ensikliknya, the Month of Mary mengatakan, “Bulan Mei adalah bulan di mana devosi umat beriman didedikasikan kepada Bunda Maria yang terberkati,” dan bulan Mei adalah kesempatan untuk “penghormatan iman dan kasih yang diberikan oleh umat Katolik di setiap bagian dunia kepada Sang Ratu Surga. Sepanjang bulan ini, umat Kristen, baik di gereja maupun secara pribadi di rumah, mempersembahkan penghormatan dan doa dengan penuh kasih kepada Maria dari hati mereka. Pada bulan ini, rahmat Tuhan turun atas kita … dalam kelimpahan.” (Paus Paulus VI, the Month of May, 1)

Sedangkan penentuan bulan Oktober sebagai bulan Rosario, berkaitan dengan peristiwa yang terjadi 3 abad sebelumnya, yaitu ketika terjadi pertempuran di Lepanto pada tahun 1571, di mana negara- negara Eropa diserang oleh kerajaan Ottoman yang menyerang agama Kristen. Terdapat ancaman genting saat itu, bahwa agama Kristen akan terancam punah di Eropa. Jumlah pasukan Turki telah melampaui pasukan Kristen di Spanyol, Genoa dan Venesia. Menghadapi ancaman ini, Don Juan (John) dari Austria, komandan armada Katolik, berdoa rosario memohon pertolongan Bunda Maria. Demikian juga, umat Katolik di seluruh Eropa berdoa rosario untuk memohon bantuan Bunda Maria di dalam keadaan yang mendesak ini. Pada tanggal 7 Oktober 1571, Paus Pius V bersama- sama dengan banyak umat beriman berdoa rosario di basilika Santa Maria Maggiore. Sejak subuh sampai petang, doa rosario tidak berhenti didaraskan di Roma untuk mendoakan pertempuran di Lepanto. Walaupun nampaknya mustahil, namun pada akhirnya pasukan Katolik menang pada tanggal 7 Oktober. Kemudian, Paus Pius V menetapkan peringatan Rosario dalam Misa di Vatikan setiap tanggal 7 Oktober. Kemudian penerusnya, Paus Gregorius XIII, menetapkan tanggal 7 Oktober itu sebagai Hari Raya Rosario Suci.

Demikianlah sekilas mengenai mengapa bulan Mei dan Oktober dikhususkan sebagai bulan Maria. Bunda Maria memang terbukti telah menyertai Gereja dan mendoakan kita semua, para murid Kristus, yang telah diberikan oleh Tuhan Yesus menjadi anak- anaknya (lih. Yoh 19:26-27). Bunda Maria turut mengambil bagian dalam karya keselamatan Kristus Putera-Nya, dan bekerjasama dengan-Nya untuk melindungi Gereja-Nya sampai akhir jaman.

Apakah Yudas Iskariot berjasa dalam karya keselamatan manusia?

30

Ada sebagian orang mengatakan bahwa  Yudas Iskariot berjasa dalam terjadinya karya penyelamatan Tuhan Yesus. Menurut mereka, tanpa Yudas tak ada karya penyelamatan, sehingga dengan demikian, Yudas tidak berdosa. Mari kita lihat pertanyaan pertama yang mengatakan bahwa Yudas Iskariot berjasa dalam terjadinya karya penyelamatan Tuhan, dan tanpa dia tidak ada keselamatan, bahkan lebih lanjut menegaskan bahwa Yudas tidak berdosa.

Untuk mengatakan bahwa Yudas Iskariot berjasa dalam terjadinya penyelamatan Tuhan, hampir sama saja dengan mengatakan bahwa Setan yang membuat Adam dan Hawa berdosa juga berjasa, karena dengan itu Yesus turun ke dunia dan menunjukkan kepada umat manusia tentang kasih Allah yang tak terbatas. Tentu saja kita tidak bisa berkata bahwa tanpa Yudas tidak ada keselamatan, karena Tuhan juga dapat menggunakan cara yang lain. Dalam artian, tanpa pengkhianatan Yudas, orang Farisi juga tetap dapat menangkap Yesus dan berusaha untuk membunuhnya, seperti yang diceritakan dalam beberapa kejadian di Injil (Yoh 5:18; Yoh 7:1).

Mungkin pernyataan yang lebih baik adalah “Tuhan dapat mendatangkan sesuatu yang baik dari sesuatu yang buruk untuk menyatakan kemuliaan-Nya“. Keburukan dosa yang terekspresi lewat setan yang menggoda Adam dan Hawa, mendatangkan rencana Tuhan yang paling indah, yaitu misteri Inkarnasi. Keburukan dosa Petrus yang menyangkal Yesus tiga kali (Mat 26:69-75) mendatangkan kekuatan bagi Petrus untuk mengemban amanat yang diberikan oleh Yesus untuk menggembalakan domba-domba-Nya (Yoh 21:15-17). Dan keburukan dosa yang dilakukan oleh Yudas membuka mata hati manusia akan suatu bahaya dosa keputusasa-an, yang adalah dosa yang tidak terampuni, karena yang bersangkutan menolak kemungkinan untuk diampuni.

Dosa keputusasa-an (despair) adalah salah satu dosa yang melawan Roh Kudus, yang tidak dapat diampuni di kehidupan ini dan kehidupan mendatang (Lk 12:10). Dosa pengkhianatan Yudas tidaklah sebesar dosanya untuk mengakhiri hidupnya. Andaikata Yudas bertobat dan kembali kepada Yesus, mungkin dia akan menjadi seorang rasul yang luar biasa, seperti Rasul Petrus yang bertobat dan menjadi Paus yang pertama. Jadi apakah Yudas berdosa? Ya, terutama karena dia mengakhiri hidupnya, dikarenakan keputusasaan. Dosa ini adalah dosa melawan 2 theological virtue atau kebajikan ilahi: pengharapan dan iman. Pengharapan dihilangkan oleh keputusasa-an, dengan cara melihat bahwa tidak ada harapan lagi untuk memperoleh surga. Iman dihilangkan oleh keputusasa-an karena melihat dosanya lebih besar dari kasih dan belas kasih Tuhan. Dan Yesus secara jelas mengatakan, “Dia yang bersama-sama dengan Aku mencelupkan tangannya ke dalam pinggan ini, dialah yang akan menyerahkan Aku. Anak Manusia memang akan pergi sesuai dengan yang ada tertulis tentang Dia, akan tetapi celakalah orang yang olehnya Anak Manusia itu diserahkan. Adalah lebih baik bagi orang itu sekiranya ia tidak dilahirkan.” (Mat 26:23-24). Dari pernyataan Yesus ini, kita dapat menyimpulkan bahwa Yudas mengalami penderitaan di neraka, kecuali jika pada saat-saat akhir sebelum kematiannya, dia benar-benar bertobat dan menyesali semua dosanya. Namun Kitab Suci tidak menceritakan hal ini.

Bagaimana dengan peristiwa penyaliban? Apakah Tuhan pro dengan kekerasan? Sesungguhnya ini adalah suatu pernyataan yang tidak dapat dipertanggungjawabkan. Pernyataan ini akan benar, kalau seandainya manusia dilahirkan sebagai robot, sehingga semuanya diatur oleh Tuhan tanpa ada kerjasama dari manusia. Namun manusia mempunyai keinginan bebas sehingga manusia dapat memilih untuk mengikuti Yesus dengan ajaran kasih-Nya, atau melawan Yesus dengan perbuatan dosa. Memang Tuhan mengizinkan hal ini terjadi, karena Tuhan dapat membawa kebaikan yang lebih besar. Dalam hal ini penderitaan dan kematian Yesus menjadi sumber keselamatan umat manusia.

Dalam peristiwa penyaliban kita melihat dua hal yang bertolak belakang: 1) Kekejaman dan keburukan dosa dan 2) Keindahan dan kedalaman kasih Allah. Kekejaman dosa dapat terlihat dari penderitaan Kristus. Dan kedalaman kasih Allah dibuktikan dengan kematian-Nya di kayu salib. Kristus dapat saja menyelamatkan dunia dengan setetes darah-Nya, namun Dia memilih untuk ‘minum dari piala yang diberikan oleh Bapa’ dengan mencurahkan darah-Nya di kayu salib. Penderitaan-Nya yang begitu besar untuk membayar dosa-dosa kita, seharusnya semakin memacu kita untuk hidup kudus. Di kayu salib Kristus seolah-olah berkata kepada kita masing-masing, “Ini adalah tanda kasih-Ku kepadamu, apakah tanda kasihmu kepada-Ku?

Kalau Tuhan pro dengan kekerasan, Yesus tidak akan mengajarkan ajaran cinta kasih.  Tentu saja ini tidak benar, sebab dari pengajaran Yesus di “Kotbah di bukit” (lih Mat 5:1-12) kita melihat ajaran cinta kasih yang begitu sempurna.

Mari kita bersama-sama belajar dari kisah Yudas,  kasih dan belas kasihan Allah selalu lebih besar dari dosa kita, asalkan kita mau bertobat dan kembali kepada-Nya. Mari kita berbangga dengan Salib Kristus, karena kita melihat Allah yang begitu mengasihi setiap kita, sehingga kita juga terus berusaha berjuang untuk hidup kudus, menjalankan semua perintah yang diajarkan oleh Tuhan Yesus.

Kristus yang Menderita dalam Pemerintahan Pontius Pilatus, Wafat dan Dimakamkan

10

I. Jika biji mati, maka ia akan menghasilkan banyak buah

Injil Yohanes mengisahkan adanya kontras ini: Yesus yang dielu-elukan sebagai Raja, namun kemudian Yesus yang harus mati seperti biji. Setelah Yesus masuk ke Yerusalem dan disambut dengan sorak-sorai oleh orang banyak yang menyerukan, “Hosana! Diberkatilah Dia yang datang dalam nama Tuhan, Raja Israel!” (Yoh 12:13), kemudian Yesus berkata kepada para murid-Nya, “Sesungguhnya jikalau biji gandum tidak jatuh ke dalam tanah dan mati, ia tetap satu biji saja; tetapi jika ia mati, ia akan menghasilkan banyak buah.” (Yoh 12:24). Memang, kedatangan Kristus ke dunia ini adalah untuk menebus dosa dunia dengan kematian-Nya. Kontras dengan manusia yang datang ke dunia untuk hidup, Kristus datang ke dunia untuk mati. Oleh karena itu, di awal karya Kristus di hadapan umum, Yohanes Pembaptis mengatakan, “Lihatlah Anak Domba Allah, yang menghapus dosa dunia” (Yoh 1:29).

Anak Domba Allah yang menjadi korban penebus dosa bagi kita manusia, telah dinubuatkan secara begitu jelas oleh nabi Yesaya sekitar 500-700 tahun sebelum kedatangan Kristus. Mari kita merenungkan kembali, nubuat tentang Sang Hamba yang menderita ini:

“Siapakah yang percaya kepada berita yang kami dengar, dan kepada siapakah tangan kekuasaan TUHAN dinyatakan? Sebagai taruk ia tumbuh di hadapan TUHAN dan sebagai tunas dari tanah kering. Ia tidak tampan dan semaraknyapun tidak ada sehingga kita memandang dia, dan rupapun tidak, sehingga kita menginginkannya. Ia dihina dan dihindari orang, seorang yang penuh kesengsaraan dan yang biasa menderita kesakitan; ia sangat dihina, sehingga orang menutup mukanya terhadap dia dan bagi kitapun dia tidak masuk hitungan. Tetapi sesungguhnya, penyakit kitalah yang ditanggungnya, dan kesengsaraan kita yang dipikulnya, padahal kita mengira dia kena tulah, dipukul dan ditindas Allah. Tetapi dia tertikam oleh karena pemberontakan kita, dia diremukkan oleh karena kejahatan kita; ganjaran yang mendatangkan keselamatan bagi kita ditimpakan kepadanya, dan oleh bilur-bilurnya kita menjadi sembuh. Kita sekalian sesat seperti domba, masing-masing kita mengambil jalannya sendiri, tetapi TUHAN telah menimpakan kepadanya kejahatan kita sekalian. Dia dianiaya, tetapi dia membiarkan diri ditindas dan tidak membuka mulutnya seperti anak domba yang dibawa ke pembantaian; seperti induk domba yang kelu di depan orang-orang yang menggunting bulunya, ia tidak membuka mulutnya. Sesudah penahanan dan penghukuman ia terambil, dan tentang nasibnya siapakah yang memikirkannya? Sungguh, ia terputus dari negeri orang-orang hidup, dan karena pemberontakan umat-Ku ia kena tulah. Orang menempatkan kuburnya di antara orang-orang fasik, dan dalam matinya ia ada di antara penjahat-penjahat, sekalipun ia tidak berbuat kekerasan dan tipu tidak ada dalam mulutnya. Tetapi TUHAN berkehendak meremukkan dia dengan kesakitan. Apabila ia menyerahkan dirinya sebagai korban penebus salah, ia akan melihat keturunannya, umurnya akan lanjut, dan kehendak TUHAN akan terlaksana olehnya. Sesudah kesusahan jiwanya ia akan melihat terang dan menjadi puas; dan hamba-Ku itu, sebagai orang yang benar, akan membenarkan banyak orang oleh hikmatnya, dan kejahatan mereka dia pikul. Sebab itu Aku akan membagikan kepadanya orang-orang besar sebagai rampasan, dan ia akan memperoleh orang-orang kuat sebagai jarahan, yaitu sebagai ganti karena ia telah menyerahkan nyawanya ke dalam maut dan karena ia terhitung di antara pemberontak-pemberontak, sekalipun ia menanggung dosa banyak orang dan berdoa untuk pemberontak-pemberontak.” (Yes 53:1-12)

II. Pewahyuan tentang Kebenaran-Nya membawa Yesus kepada penderitaan

Ke-empat Injil mengisahkan bahwa bagi para ahli taurat dan pemimpin agama Yahudi, Yesus dipandang telah melanggar keyakinan mendasar dari bangsa itu, seperti: (1) melawan ketaatan kepada hukum yang umum berlaku saat itu; (2) melawan tempat sentral kanisah Yerusalem; (3) dianggap orang melawan iman akan Allah yang Esa (lih. KGK, 576).

Yesus adalah Sang Pemberi Hukum yang akhirnya dihukum

Di dalam masyarakat Yahudi, ketaatan melaksanakan Hukum Taurat merupakan takaran apakah seseorang sungguh-sungguh melaksanakan perintah Allah. Yesus sendiri menegaskan bahwa Dia bukan datang untuk meniadakan Hukum Taurat, namun untuk menggenapinya (lih. Mat 5:17-19). Dalam perikop tentang anak muda yang kaya dan saleh (lih. Mat 19:16-22; Mrk 10:17-31; Lk 18:18-30) diceritakan bahwa anak muda tersebut bertanya kepada Yesus, bagaimana caranya untuk memperoleh kehidupan yang kekal. Jawaban Yesus adalah apakah anak muda tersebut melaksanakan Hukum Taurat atau tidak, yaitu: jangan membunuh, jangan berzinah, jangan mencuri, jangan mengucapkan saksi dusta, hormatilah ayah ibumu dan kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri (lih. Mat 19:18-19). Anak muda tersebut secara jujur menjawab bahwa dia telah menjalankan semuanya dan bertanya kepada Yesus, apa lagi yang harus dia lakukan? St. Markus mengatakan dalam Injilnya, bahwa Yesus memandang anak muda tersebut dengan penuh kasih. Yesus mengasihi anak muda itu yang menjalankan Hukum Taurat. Dalam kasih-Nya, Yesus mengundang anak muda tersebut untuk tidak hanya sampai pada menjalankan hukum, namun bertemu dengan Sang Pemberi Hukum, dan menjalin hubungan dengan Sang Pemberi Hukum itu, dengan menjual segala yang dimiliki untuk kemudian mengikuti Dia (lih. Mat 19:21).

Perikop di atas menunjukkan bahwa Yesus adalah sungguh Allah, karena Dia  menempatkan diri-Nya sebagai Sang Pemberi Hukum. Kita juga dapat melihat, bahwa pada saat Yesus memulai pengajaran-Nya, terutama dalam khotbah di Bukit (Delapan Sabda Bahagia), Ia berbicara di dalam nama-Nya sendiri, untuk menyatakan otoritas yang dimiliki-Nya untuk mengajar  (Mat 5:1-dst). Ini membuktikan bahwa Yesus lebih tinggi dari Musa dan para nabi[1], sebab Musa berbicara dalam nama Tuhan (lih. Kel 19:7) ketika ia menyampaikan hukum Sepuluh Perintah Allah; tetapi Yesus memberikan hukum dalam nama-Nya sendiri, “Aku berkata kepadamu….” Hal ini tertera sedikitnya 12 kali di dalam pengajaran Yesus di bukit, yang dicatat dalam Mat 5 dan 6, dan dengan demikian Ia menegaskan Diri-Nya sebagai Pemberi Hukum Ilahi (the Divine Legislator) itu sendiri, yaitu Allah. Demikian pula dengan perkataan-Nya, “Amin, amin…”, di awal kalimat ajaran-Nya, Yesus menegaskan segala yang akan diucapkan-Nya sebagai perintah; bukan seperti orang biasa yang mengatakan ‘amin’ di akhir doanya sebagai tanda ‘setuju’. Itulah sebabnya dikatakan bahwa Yesus mengajar dengan penuh kuasa dan tidak mengajar seperti ahli-ahli taurat (lih. Mat 7:29; Mrk 1:22;  Luk 4:32).

Karena Yesus adalah Sang Pemberi Hukum itu sendiri, Sang Sabda yang menjelma menjadi manusia, maka Dia dapat memberikan penjelasan secara definitif tentang hukum yang diberikan Allah. Sebagai contohnya, Yesus mengatakan, “Kamu telah mendengar pula yang difirmankan kepada nenek moyang kita: Jangan bersumpah palsu, melainkan peganglah sumpahmu di depan Tuhan. Tetapi Aku berkata kepadamu: Janganlah sekali-kali bersumpah, baik demi langit, karena langit adalah takhta Allah,” (Mat 5:33-34); “Kamu telah mendengar yang difirmankan kepada nenek moyang kita: Jangan membunuh; siapa yang membunuh harus dihukum. Tetapi Aku berkata kepadamu: Setiap orang yang marah terhadap saudaranya harus dihukum; siapa yang berkata kepada saudaranya: Kafir! harus dihadapkan ke Mahkamah Agama dan siapa yang berkata: Jahil! harus diserahkan ke dalam neraka yang menyala-nyala.” (Mat 5:21-22). Dan kalau kita melihat ada sekitar 140 kali, penulis Injil merekam perkataan Yesus, “Aku berkata kepadamu”, dan sekitar 14 kali di antaranya, Yesus berkata, “Tetapi Aku berkata kepadamu” (lih. Mat 5:22,28,32,34,39,44; 11:22,24,36; 19:9; 26:29; Mrk 9:13; Luk 13:35; Yoh 4:35)- untuk memberikan penjelasan tentang makna yang sebenarnya dari hukum yang telah ada. Tepatlah apa yang dinubuatkan oleh nabi Yesaya, bahwa Yesus adalah Sang Pemberi Hukum (lih. Yes 42:3), bahkan Dia sendiri menjadi Perjanjian bagi umat manusia (lih. Yes 42:6). Dan karena tidak ada manusia yang dapat menjalankan hukum dengan sempurna, maka Yesus sendiri merelakan diri-Nya untuk menjadi “kutuk hukum” untuk mengganti kita (lih. Gal 3:13).

Salah satu sebab penderitaan Kristus yang membawa-Nya pada kayu salib adalah pertentangan-Nya dengan ahli-ahli taurat. Yesus menyatakan bahwa para ahli taurat hanya berpegang pada adat istiadat manusia, yang meniadakan Firman Tuhan (lih. Mrk 7:8). Yesus bertentangan dengan para ahli taurat tentang makanan yang halal (lih. Mrk 7:18-21); dan juga tentang hari Sabat (lih. Mat 12:5; Luk 13:15-16; 14:3-4). Karena itu, dikatakan bahwa orang-orang Farisi dan Saduki bersekongkol untuk membunuh Yesus (lih. Mat 12:14).

Yesus, Sang Bait Allah yang dirubuh dan dibangun kembali dalam tiga hari

Yesus menyatakan bahwa Dia adalah bait Allah, sebagai tempat tinggal Allah yang definitif di antara manusia (lih. Yoh 2:21; KGK 586). Sebagai Kanisah yang hidup, sejak kecil, Yesus juga menghormati bait Allah ini, yang ditandai dengan sunat pada hari ke delapan (lih. Luk 2:21; bdk. Kej 17:12) dan kemudian Yesus dipersembahkan di bait Allah di hari ke-empatpuluh (lih. Luk 2:22; bdk. Im 12:1-5). Pada usia 12 tahun, Yesus tinggal di rumah Bapa (lih. Luk 2:46-49) dan sebelum karya umum-Nya, minimal setiap tahun, Dia pergi ke kanisah pada hari raya Paskah (lih. Luk 2:41). Pada waktu Dia melakukan karya umum, Yesus juga melakukannya seirama dengan ziarah-ziarah-Nya ke Yerusalem – terutama pada hari-hari raya Yahudi besar (lih. Yoh 2;13-14; 5:1,14; 7:1,10,14; 8:2; 10:22-23). Yesus juga menunjukkan cinta-Nya kepada Allah dengan menghormati kanisah sebagai rumah doa, rumah Bapa, sehingga tidak rela melihat kanisah menjadi tempat berjualan (lih. Mat 21:13; bdk Mzm 69:10; Jn 2:16-17).

Namun demikian, Yesus tidak menghendaki bahwa orang-orang hanya sampai pada pengenalan akan kanisah Yerusalem, yang terikat pada waktu dan tempat. Dia mengatakan kepada perempuan Samaria, “Percayalah kepada-Ku, hai perempuan, saatnya akan tiba, bahwa kamu akan menyembah Bapa bukan di gunung ini dan bukan juga di Yerusalem.” (Yoh 4:21) Yesus tidak ingin bahwa kita manusia hanya menyembah Allah di kanisah Yerusalem, namun Dia menginginkan agar kita dapat mencapai Sang Kenisah, yaitu Yesus sendiri. Namun, untuk mencapai tujuan ini, Yesus mengatakan bahwa kanisah ini harus dirubuhkan dan akan dibangun kembali dalam tiga hari, yaitu dengan kematian-Nya dan kebangkitan-Nya (lih. Yoh 2:18).

Yesus, Putera Allah, yang membawa pertentangan

Dengan menempatkan Diri sebagai Pemberi Hukum, dan menempatkan diri lebih tinggi dari bait Allah (lih. Mat 12:6), maka sebenarnya Yesus telah menyampaikan kepada kaum Yahudi, bahwa Dia adalah Allah. Namun, pernyataan yang lebih eksplisit bahwa Yesus menyatakan diri-Nya sebagai Allah, datang dalam bentuk yang tidak mungkin dapat disalah-artikan oleh kaum Yahudi, yaitu ketika Yesus mengampuni dosa dan menyatakan bahwa diri-Nya adalah Anak Allah.

Kaum Farisi tercengang-cengang ketika Yesus bergaul dan makan bersama dengan para pendosa (lih. Luk 5:30), dan memperlihatkan belas kasih-Nya kepada para pendosa. Ia, seperti sang bapa dalam perumpamaan anak yang hilang (lih. Luk 15:23-32), menyambut pendosa yang bertobat (lih. Luk 19:1-10). Kaum Farisi tidak dapat menerima tindakan Yesus itu, ketika Ia sendiri berkata, “Percayalah, hai anak-Ku, dosamu sudah diampuni” (lih. Mat 9:2-8; Luk5:24).  Rasul Matius menulis bahwa beberapa ahli Taurat berkata dalam hatinya, “Ia [Yesus] menghujat Allah” (Mat 9:3), sebab mereka tahu, bahwa hanya Allah saja yang dapat mengampuni dosa. Puncak kemarahan mereka nampak, ketika mendengar Yesus sendiri berkata, “Aku berkata kepadamu, mulai sekarang kamu akan melihat Anak Manusia duduk di sebelah kanan Yang Mahakuasa dan datang di atas awan-awan di langit.” (Mat 26:64; bdk Luk 22:70). Mendengar perkataan Yesus itu, Imam Besar mengoyakkan pakaiannya dan kemudian berkata bahwa Yesus telah menghujat Allah. Bagi orang Farisi, jelaslah sudah bahwa Yesus telah mengklaim Diri-Nya sebagai Allah. Katekismus Gereja Katolik menuliskannya sebagai berikut:

KGK 590 “Hanya jati diri ilahi pribadi Yesus dapat membenarkan tuntutan begitu absolut, seperti yang berikut ini: “Siapa tidak bersama Aku, ia melawan Aku dan siapa tidak mengumpulkan bersama Aku, ia mencerai-beraikan” (Mat 12:30), atau ungkapan-ungkapan seperti: “Dan sesungguhnya yang ada di sini lebih dari nabi Yunus… lebih dari Salomo” (Mat 12:41-42), “di sini ada yang melebihi Bait Allah” (Mat 12:6). Atau apabila Ia menghubungkan dengan diri-Nya bahwa Daud menamakan Mesias Tuhannya (Bdk. Mat 12:36,37), atau mengatakan: “Sebelum Abraham jadi, Aku ada.” (Yoh 8:58), dan malahan: “Aku dan Bapa adalah satu” (Yoh 10:30).”

Tidak ada seorang nabipun yang pernah menyatakan dirinya sebagaimana Kristus menyatakan diri-Nya.

III. Tentang Penyaliban Kristus?

Penyaliban Kristus: Bagaimana kita tahu bahwa itu fakta dan bukan fiksi?

Di dalam doa Aku Percaya kita menyatakan, “Aku percaya… akan Yesus… yang menderita sengsara dalam pemerintahan Pontius Pilatus”. Dengan ini kita menyatakan bahwa kita percaya bahwa penderitaan dan kematian Yesus bukanlah fiktif, namun sungguh terjadi di dalam sejarah manusia. Seorang sejarahwan di abad pertama, Flavius Josephus menuliskan demikian dalam bukunya Jewish Antiquities, 18.63-64:

“Pada saat ini, hiduplah Yesus, seorang yang bijaksana. Karena ia adalah seorang pelaku perbuatan yang luar biasa, seorang guru dari orang-orang yang menerima kebenaran dengan senang hati. Dan ia mendapatkan pengikut baik di kalangan banyak orang Yahudi dan di antara banyak orang yang berasal dari Yunani. Dan ketika Pilatus, karena tuduhan yang dibuat oleh orang-orang terkemuka di antara kita, mengutuk dia untuk disalibkan, mereka yang telah mencintainya sebelumnya tidak berhenti mencintainya. Karena ia menampakkan diri kepada mereka pada hari ketiga, hidup lagi, sama seperti yang telah dibicarakan oleh para nabi Allah dan banyak hal-hal lain yang menakjubkan yang tak terhitung banyaknya telah dibicarakan tentang dirinya. Dan sampai hari ini suku Kristen, yang dinamai seturut namanya, tidak mati.”

Kesaksian Josephus (37-100) menjadi penting, justru karena ia sendiri adalah seorang Yahudi, sehingga kesaksiannya dapat dikatakan sebagai kesaksian yang netral, yang tidak dibuat untuk membela umat Kristen. Tulisan Josephus ini dapat menjadi referensi yang baik, mengingat ia menuliskannya pada zaman yang tak jauh dari kejadian yang sesungguhnya di abad pertama, di mana ia masih dapat memperoleh sumber yang akurat, berdasarkan kesaksian para saksi mata yang masih hidup di saat ia menuliskannya. Demikian pula, catatan sejarah dapat dibaca dalam tulisan seorang sejarahwan di abad ke-3, Eusebius (263-339), di dalam karyanya yang berjudul Church History, Book 1, secara khusus, chapter 11.

Selain tulisan dari para ahli sejarah, Kitab Suci juga secara jelas memberikan bukti tentang Kristus yang menderita dan wafat. Dalam kesempatan yang berbeda-beda, Kristus telah memberitahukan kepada para murid-Nya tentang jalan penderitaan dan kematian yang harus dilalui-Nya (lih. Mat 17: 22; Mat 20:19; Mat 26:2; Mrk 9:30; Mrk 10:33-34; Luk 18:32). Injil juga secara jelas menceritakan tentang penderitaan dan wafat Kristus (lih. Mat 26-27; Mrk 14:15; Luk 22-23; Yoh 18-19). Kita juga melihat bahwa iman yang diwartakan oleh para rasul justru bersumber pada Kristus yang wafat dan bangkit, seperti yang diwartakan oleh Rasul Paulus: “Sebab aku telah memutuskan untuk tidak mengetahui apa-apa di antara kamu selain Yesus Kristus, yaitu Dia yang disalibkan” (1Kor 2:2). “Sebab yang sangat penting telah kusampaikan kepadamu, yaitu apa yang telah kuterima sendiri, ialah bahwa Kristus telah mati karena dosa-dosa kita, sesuai dengan Kitab Suci…” (1Kor 15:3). “Tetapi yang benar ialah, bahwa Kristus telah dibangkitkan dari antara orang mati, sebagai yang sulung dari orang-orang yang telah meninggal.” (1Kor 15:20). Demikian pula, Rasul Petrus mengatakan, “Terpujilah Allah dan Bapa Tuhan kita Yesus Kristus, yang karena rahmat-Nya yang besar telah melahirkan kita kembali oleh kebangkitan Yesus Kristus dari antara orang mati, kepada suatu hidup yang penuh pengharapan…” (1Ptr 1:3); “Sebab juga Kristus telah mati sekali untuk segala dosa kita, Ia yang benar untuk orang-orang yang tidak benar, supaya Ia membawa kita kepada Allah; Ia, yang telah dibunuh dalam keadaan-Nya sebagai manusia, tetapi yang telah dibangkitkan menurut Roh…” (1 Ptr 3:18).

Jika diamati dari sisi yang berbeda, sesungguhnya secara manusiawi, kematian Kristus tidaklah perlu dibanggakan, bahkan dapat dianggap menjadi batu sandungan. Rasul Paulus mengatakan bahwa pemberitaan Kristus yang tersalib untuk orang-orang Yahudi adalah suatu batu sandungan, dan untuk orang-orang bukan Yahudi adalah suatu kebodohan (1Kor 1:23). Dengan demikian, kalau memang Kristus tidak wafat, maka tidak ada yang perlu ditutup-tutupi tentang hal tersebut. Namun, para rasul dan jemaat perdana tetap memberitakan Kristus yang tersalib dan bangkit, walaupun mereka harus dianiaya karena itu. Mengapa? Karena Kristus yang menderita dan wafat adalah merupakan suatu kebenaran, sehingga tidak perlu ditutup-tutupi, sebab hal itu sungguh terjadi.

Siapa yang menyalibkan Kristus?

Pada waktu orang-orang Yahudi memaksa Pontius Pilatus untuk menyalibkan Yesus, mereka berteriak, “Biarlah darah-Nya ditanggungkan atas kami dan atas anak-anak kami.”(Mat 27:25) Pernyataan ini tidak untuk disimpulkan bahwa seluruh umat Yahudi bertanggungjawab atas penyaliban Kristus, karena mungkin saja mereka bertindak karena ketidaktahuan – seperti yang dikatakan oleh Rasul Petrus (lih. Kis 3:17 -), sehingga tidak mungkin penghukuman ini diterapkan untuk keturunan-keturunan mereka. Orang-orang yang terlibat dalam drama penyaliban Kristus pada waktu itu – yaitu: kaum Farisi dan Saduki, Pontius Pilatus, Imam Agung, Herodes, para prajurit, semua orang yang menghina Yesus – memang harus mempertanggungjawabkan semua hal yang mereka lakukan di hadapan Allah. Namun, kita tidak dapat menyalahkan keturunan-keturunan mereka. Dokumen Konsili Vatikan yang dikutip dalam KGK 597 menuliskan demikian:

“Apa yang telah dijalankan selama Ia menderita sengsara tidak begitu saja dapat dibebankan sebagai kesalahan kepada semua orang Yahudi yang hidup ketika itu atau kepada orang Yahudi zaman sekarang… Orang-orang Yahudi jangan digambarkan seolab-olah dibuang oleh Allah atau terkutuk, seakan-akan itu dapat disimpulkan dari Kitab Suci” (NA 4).

Di sisi yang lain, kita tahu bahwa Kristus datang ke dunia untuk menebus dosa kita manusia (Gal 3:13; 4:4). Karena dosa-dosa kitalah, maka Kristus datang ke dunia, menderita sengsara, dan wafat di kayu salib. Katekismus Gereja Katolik menerangkannya sebagai berikut:

KGK 598.        Dalam Magisterium imannya dan dalam kesaksian para kudusnya Gereja tidak pernah melupakan bahwa semua pendosa pun adalah “penyebab dan pelaksana semua siksa yang Kristus derita” (Cat. R. 1,5,11; Bdk. Ibr 12:3). Karena Gereja sadar bahwa dosa-dosa kita menimpa Kristus sendiri (Bdk. Mat 25:45; Kis 9:4-5), ia tidak ragu-ragu mempersalahkan warga Kristen atas penderitaan Kristus – sementara mereka ini terlalu sering melimpahkan tanggung jawab hanya kepada orang Yahudi:
“Tanggung jawab ini terutama mengenai mereka, yang berkali-kali jatuh ke dalam dosa. Oleh karena dosa-dosa kita menghantar Kristus Tuhan kita kepada kematian di kayu salib, maka sesungguhnya, mereka yang bergelinding dalam dosa dan kebiasaan buruk, ‘menyalibkan lagi Anak Allah dan menghina-Nya di muka umum’ (Ibr 6:6) – satu kejahatan, yang nyatanya lebih berat lagi daripada kejahatan orang-orang Yahudi. Karena mereka ini, seperti yang dikatakan sang Rasul, ‘tidak menyalibkan Tuhan yang mulia, kalau sekiranya mereka mengenal-Nya’ (1 Kor 2:8). Tetapi kita mengatakan, kita mengenal Dia, walaupun demikian kita seolah-olah menganiaya-Nya waktu kita menyangkal-Nya dengan perbuatan kita” (Catech. R. 1,5,11).
“Setan bukanlah mereka yang menyalibkan-Nya, melainkan engkau, yang bersama mereka menyalibkan-Nya dan masih tetap menyalibkan-Nya, dengan berpuas diri dalam perbuatan jahat dan dalam dosa” (Fransiskus dari Assisi, Admon. 5,3).

Kalau kita melihat dari sudut pandang rencana Allah, maka sebenarnya kita juga dapat menyimpulkan bahwa penderitaan Kristus dan kematian-Nya adalah cara yang dipilih Allah untuk menyelamatkan manusia (Kis 2:23). Walaupun semua ini adalah rencana Allah -karena Allah telah mengetahui segala sesuatunya sejak awal mula- namun tidak berarti bahwa orang-orang yang bersalah karena menyalibkan Kristus, dapat dipandang hanya sebagai robot yang menjalankan fungsinya dalam karya keselamatan Allah. Karena terwujudnya penyaliban Yesus itu juga melibatkan kehendak bebas orang-orang yang menyalibkan Dia.

Apakah jalan salib adalah satu keharusan?

Pernahkah kita berpikir mengapa Yesus memilih penderitaan yang begitu berat sampai akhirnya mati di kayu salib untuk menyelamatkan manusia? Apakah tidak ada cara lain yang lebih mudah? St. Thomas Aquinas dalam Summa Theology, Part III, q. 46. a 1, menjelaskan jawaban untuk pertanyaan: “Apakah menjadi keharusan bagi Kristus untuk menderita [di salib] untuk menebus umat manusia?” St. Thomas membahas satu-persatu keberatan tentang apakah Kristus harus menderita, berikut ini:

Keberatan 1: Kelihatannya tidak perlu bagi Kristus untuk menderita demi menyelamatkan umat manusia. Sebab umat manusia tidak dapat dibebaskan kecuali oleh Allah…. dan tak ada satupun yang dapat mengharuskan Tuhan, sebab ini merupakan hal yang tidak sesuai dengan kemahakuasaan Tuhan. Maka kelihatannya tidak perlu Yesus menderita.

Keberatan 2: Apa yang merupakan keharusan adalah bertentangan dengan apa yang dilakukan tanpa paksaan. Kristus menderita karena kehendak-Nya sendiri, sebab tertulis, “Dia dianiaya, tetapi dia membiarkan diri ditindas dan tidak membuka mulutnya seperti anak domba yang dibawa ke pembantaian; seperti induk domba yang kelu di depan orang-orang yang menggunting bulunya, ia tidak membuka mulutnya.” (Yes 53:7). Yesus mempersembahkan diri-Nya atas kehendak sendiri. Maka kelihatannya tidak menjadi keharusan bagi Yesus untuk menderita di salib.

Keberatan 3: Selanjutnya, tertulis, “Segala jalan Tuhan adalah kasih setia dan kebenaran” (Mzm 25:10). Tapi kelihatannya tidak perlu bahwa Ia harus menderita, sebab di pihak-Nya sebagai Kerahiman Ilahi, Ia akan memberikan karunia-karunia tanpa syarat, maka kelihatannya dapat diterima bahwa tidak perlu diadakan semacam “pembayaran hutang dosa”; dan juga, di pihak Keadilan Ilahi, di mana manusia memang layak menerima hukuman yang kekal. Maka kelihatannya tidak perlu Kristus menderita untuk membebaskan manusia dari dosa.

Keberatan 4: Selanjutnya, kodrat malaikat yang lebih sempurna dari manusia… tetapi Kristus tidak menderita untuk memperbaiki kodrat malaikat yang berdosa. Maka, kelihatannya, demikian juga tidak perlu Kristus menderita di salib bagi manusia.

Sebaliknya, tertulis: “Dan sama seperti Musa meninggikan ular di padang gurun, demikian juga Anak Manusia harus ditinggikan, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya beroleh hidup yang kekal.” (Yoh 3:14-15)

Saya menjawab bahwa ….. terdapat beberapa arti terhadap kata “keharusan”. Di satu sisi itu berarti di mana kodratnya yang menentukan demikian; dan dalam hal ini maka nyata bahwa memang bukan keharusan, baik dari pihak Allah maupun dari pihak manusia bahwa Kristus harus menderita. Namun di sisi yang lain, sesuatu dapat menjadi keharusan dari sesuatu sebab yang di luar dari dirinya; dan jika ini terjadi, ini adalah sebab yang efisien atau yang menggerakkan, sehingga dapat membawa semacam keharusan ….. Maka walaupun tidak menjadi keharusan bagi Kristus untuk menderita, jika dipandang dari keharusan yang memaksa, karena dari pihak Allah tidak ada yang memaksa-Nya, dan dari pihak Kristus, karena Dia menyerahkan diri-Nya dengan rela. Namun, dapat dikatakan bahwa penderitaan Kristus adalah suatu keharusan, jika dilihat dari akhir/ tujuan maksudnya. Dan ini dilihat dalam tiga hal:

1. Dari sudut pandang kita yang dibebaskan oleh Sengsara-Nya, sesuai dengan Yoh 3:14-15: “Dan sama seperti Musa meninggikan ular di padang gurun, demikian juga Anak Manusia harus ditinggikan, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya beroleh hidup yang kekal.”

2. Dari sisi Kristus, yang menerima kemuliaan-Nya melalui kerendahan Sengsara-Nya, dalam Luk 24:26: “Bukankah Mesias harus menderita semuanya itu untuk masuk ke dalam kemuliaan-Nya?”

3. Dari sisi Tuhan Allah Bapa, yang telah menentukan terlaksananya nubuat dalam Perjanjian Lama, seperti tertulis dalam Luk 22:22, “Sebab Anak Manusia memang akan pergi seperti yang telah ditetapkan…”Ia berkata kepada mereka: “Inilah perkataan-Ku, …., yakni bahwa harus digenapi semua yang ada tertulis tentang Aku dalam kitab Taurat Musa dan kitab nabi-nabi dan kitab Mazmur. Lalu Ia membuka pikiran mereka, sehingga mereka mengerti Kitab Suci. Kata-Nya kepada mereka: “Ada tertulis demikian: Mesias harus menderita dan bangkit dari antara orang mati pada hari yang ketiga.” (Luk 24:44-46).

Jawaban terhadap keberatan 1: Ini adalah argumen berdasarkan keharusan dari pihak Allah, dan seperti telah disebutkan di atas, tidak ada keharusan dalam hal ini.

Jawaban terhadap keberatan 2: Ini adalah argumen berdasarkan keharusan dari pihak Kristus sebagai manusia, dan seperti telah disebutkan di atas, tidak ada keharusan dalam hal ini.

Jawaban terhadap keberatan 3: Bahwa manusia harus dibebaskan oleh Sengsara Kristus adalah sesuai dengan kasih setia Tuhan dan keadilan-Nya. Dengan keadilan-Nya, sebab dengan Sengsara-Nya, Kristus menebus (membayar lunas) dosa-dosa umat manusia dan manusia dibebaskan oleh keadilan Tuhan; dan dengan belas kasih-Nya, sebab karena manusia sendiri tidak dapat menebus dosa dari semua kodrat manusia, menurut Rom 3:24-25, “dan oleh kasih karunia telah dibenarkan dengan cuma-cuma karena penebusan dalam Kristus Yesus. Kristus Yesus telah ditentukan Allah menjadi jalan pendamaian karena iman, dalam darah-Nya.” Dan belas kasih Tuhan akan semakin berlimpah daripada pengampunan dosa tanpa penebusan melalui kayu Salib. Oleh karena itu dikatakan, “Tetapi Allah yang kaya dengan rahmat, oleh karena kasih-Nya yang besar, yang dilimpahkan-Nya kepada kita, telah menghidupkan kita bersama-sama dengan Kristus, sekalipun kita telah mati oleh kesalahan-kesalahan kita…” (Ef 2:4-5)

Jawaban untuk Keberatan 4: Dosa dari para malaikat adalah sesuatu yang tak dapat diobati, namun tidak demikian dengan dosa manusia pertama (lihat Summa Theology, I, q. 64, a. 2)

Dengan melihat uraian di atas, maka memang sebenarnya bukan menjadi suatu keharusan mutlak bagi Kristus untuk menderita di salib bagi kita, namun memang itulah yang dipilih-Nya, dan ini sudah direncanakan-Nya sejak awal mula dunia. Sebab Allah sudah mengetahui segala sesuatunya, bahwa manusia pertama akan jatuh dalam dosa. Dosa asal inilah yang akan diturunkan kepada semua umat manusia, dan karena manusia tak dapat menebus dosanya sendiri, maka Allah memutuskan untuk mengutus Putera-Nya sendiri untuk menebus dosa manusia dengan sengsara-Nya di kayu salib. Penderitaan yang tak terlukiskan di kayu salib tersebut adalah bukti kasih Allah yang tiada terbatas, dan juga bukti keadilan yang sempurna, yang menunjukkan kejamnya akibat dosa, yang harus dipikul oleh Kristus, untuk membebaskan kita manusia dari belenggu dosa. Maka walaupun setetes darah-Nya sebenarnya cukup untuk menebus seluruh dosa manusia, namun Yesus justru mau menyatakan yang lebih sempurna dan  berlimpah ruah/“superabundant” daripada itu. Sebab Kristus hendak menunjukkan kasih yang melebihi dari apa yang disyaratkan, kasih yang mengatasi segalanya. Kerendahan hati Yesus yang ditunjukkan-Nya dengan kerelaan-Nya menjadi manusia dan menderita di kayu salib merupakan “obat penawar”/ antidote bagi dosa asal Adam, yaitu kesombongan ingin menjadi/ menyamai Allah. Ketaatan Kristus terhadap kehendak Allah Bapa menjadi obat penawar bagi ketidaktaatan Adam kepada Allah (lih. Rom 5:19). Dengan menghayati hal ini, kita semakin menghargai pengorbanan Kristus di kayu Salib, dan berusaha sedapat mungkin menjauhkan diri dari dosa yang memisahkan kita dari Allah.

IV. Misteri Paskah Kristus

Perjamuan Terakhir sebagai antisipasi Misteri Paskah

Di awal karya umum Kristus, Rasul Yohanes berkata tentang Dia, “Lihatlah Anak Domba Allah” (Yoh 1:29, 36), yang menggambarkan bahwa Kristus akan menjadi korban bagi penebusan dosa. Selanjutnya, di dalam Injil Yohanes, kurban Anak Domba Allah ini digambarkan dengan lebih jelas ketika Kristus berkata, “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jikalau kamu tidak makan daging Anak Manusia dan minum darah-Nya, kamu tidak mempunyai hidup di dalam dirimu. Barangsiapa makan daging-Ku dan minum darah-Ku, ia mempunyai hidup yang kekal dan Aku akan membangkitkan dia pada akhir zaman. Sebab daging-Ku adalah benar-benar makanan dan darah-Ku adalah benar-benar minuman. Barangsiapa makan daging-Ku dan minum darah-Ku, ia tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia.” (Yoh 6:53-56) Di sini, Yesus memberikan penjelasan bahwa Tubuh-Nya adalah benar-benar makanan dan darah-Nya adalah benar-benar minuman. Untuk mendapatkan kehidupan kekal, kita harus menyantap tubuh-Nya dan minum darah-Nya. Bagaimana caranya? Kristus menunjukkan cara untuk menyantap Tubuh-Nya dan minum Darah-Nya yang mendatangkan keselamatan kekal, yaitu dengan apa yang dilakukan-Nya dalam Perjamuan Terakhir. Di hadapan para rasul, Yesus berkata, “Inilah Tubuh-Ku yang diserahkan bagimu” (Luk 22:19) dan “Inilah Darah-Ku, darah perjanjian, yang ditumpahkan bagi banyak orang untuk pengampunan dosa” (Mat 26:28).

Bagaimana mungkin Kristus memberikan Tubuh-Nya dan Darah-Nya padahal Ia masih bersama-sama dengan mereka? Karena Perjamuan Terakhir yang dilakukan oleh Kristus bersama-sama para rasul adalah merupakan antisipasi dari Misteri Paskah Kristus – kesengsaraan, kematian, kebangkitan dan kenaikan Kristus ke Sorga – yang kemudian dialami secara nyata sejak dari penderitaan Kristus di Taman Getsemani. Dalam Perjamuan Terakhir, Yesus juga menginginkan agar Dia diingat dan dikenang kembali dalam perayaan tersebut, yang kini dilakukan dengan setia oleh Gereja Katolik dalam setiap Perayaan Ekaristi.

Getsemani: Penderitaan terberat Kristus

Ada banyak teolog yang menyatakan bahwa penderitaan Yesus yang terberat bukanlah penderitaan-Nya di kayu salib, namun apa yang terjadi di taman Getsemani. Sebab dalam permenungan-Nya di taman Getsemani, Kristus melihat dosa-dosa seluruh umat manusia, sejak zaman Adam dan Hawa sampai manusia terakhir sebelum akhir zaman. Artinya, saat itu Kristus juga melihat semua dosa kita. Inilah yang menyebabkan Yesus meneteskan keringat darah.

St. Thomas Aquinas menyatakan bahwa ada tiga pengetahuan di dalam diri Kristus dalam kodrat-Nya sebagai manusia, yaitu: 1) pengetahuan yang diperolehnya dari pengalaman/ pembelajaran (acquired knowledge), 2) pengetahuan yang ditanamkan dari Allah (infused knowledge); dan 3) pandangan kesempurnaan surgawi (beatific vision). Acquired knowledge ini adalah sama seperti pengetahuan yang kita dapatkan dari pembelajaran kehidupan sehari-hari, maupun tentang pengetahuan-pengetahuan yang lain. Hal ini dinyatakan di dalam Alkitab, “Dan Yesus makin bertambah besar dan bertambah hikmat-Nya dan besar-Nya, dan makin dikasihi oleh Allah dan manusia.“(Luk 2:52). Infused knowledge adalah pengetahuan seperti yang diperoleh oleh nabi-nabi maupun para malaikat. Allah sendiri memberikan inspirasi dan dengan akal budi mereka, para nabi mengekspresikannya dengan ungkapan dan kata-kata mereka sendiri. Bagaimana dengan beatific vision? Pengetahuan inilah yang dipunyai oleh Kristus sejak Dia dikandung dan sampai selama-lamanya. Pengetahuan ini memungkinkan Kristus senantisa berada dalam persatuan dengan Allah Bapa walaupun Dia mengambil kodrat manusia. Pada saat yang bersamaan, pengetahuan ini memungkinkan Kristus dapat memilih untuk membawa seluruh umat manusia dalam doa-Nya di taman Getsemani.

Bayangkan ketika orang tua merenungkan dosa-dosa yang diperbuat oleh anaknya. Hati mereka dapat menjerit dan merasakan kepedihan yang mendalam. Inilah yang dialami oleh Musa, ketika dia mengetahui bahwa bangsa Israel akan mengalami kehancuran karena telah menyembah berhala. Dia berkata “… Ah, bangsa ini telah berbuat dosa besar, sebab mereka telah membuat allah emas bagi mereka. Tetapi sekarang, kiranya Engkau mengampuni dosa mereka itu–dan jika tidak, hapuskanlah kiranya namaku dari dalam kitab yang telah Kautulis.” (Kel 32:32)

Sekarang coba bayangkan, apa yang dialami oleh Yesus, ketika Dia melihat secara jelas seluruh dosa-dosa manusia, dari manusia pertama sampai manusia yang terakhir. Dan gambaran seluruh dosa-dosa manusia lebih jelas dibandingkan dengan kejelasan Musa melihat dosa-dosa umat Israel. Dengan beatific vision-Nya, Kristus melihat kesombongan manusia, orang-orang yang meninggalkan Gereja-Nya, orang-orang yang memecahkan diri dari Tubuh Mistik Kristus, orang-orang yang sibuk dengan pekerjaan mereka dan lupa akan Tuhan yang telah memberikan rezeki kepada mereka. Dia juga melihat dosa-dosa yang kita lakukan, yaitu saat kita lebih memilih kesenangan kita dibandingkan dengan mengikuti perintah Allah, atau saat kita egois, atau saat kita marah dan mengeluh ketika ada pencobaan datang.

Namun, pada saat yang bersamaan, selain dosa-dosa kita, Kristus juga melihat perbuatan kasih yang kita lakukan. Ini berarti pada saat kita melakukan perbuatan kasih, maka kita juga menghibur Kristus pada saat Dia berdoa di taman Getsemani. Pada waktu Kristus berdoa inilah, segala yang terjadi di masa lalu maupun masa depan, dihadirkan oleh Kristus. Dengan demikian, jika kita berdoa dan melakukan perbuatan kasih di masa kini, kita menemani dan menghibur Kristus pada saat Dia mengalami penderitaan di Taman Getsemani. Kita mengikuti apa yang diperintahkan oleh Kristus sendiri, ketika Dia mengatakan, “Hati-Ku sangat sedih, seperti mau mati rasanya. Tinggallah di sini dan berjaga-jagalah dengan Aku.” (Mat 26:38). Jangan biarkan kita lengah sehingga Kristus menegur kita dengan mengatakan, “Tidakkah kamu sanggup berjaga-jaga satu jam dengan Aku?” (Mat 26:40).

Penyaliban: Puncak kasih Kritus

Memang, Kristus sebenarnya dapat membebaskan manusia dengan jalan yang lebih mudah dan tidak memerlukan jalan kesengsaraan. Namun, penderitaan salib dan kematian-Nya adalah cara yang dipilih oleh Allah untuk menyelamatkan umat manusia dari belenggu dosa (1Kor 5:7; Jn 8:34-36). Wafat Kristus dan pemberian Diri sebagai kurban sebagai tanda Perjanjian Baru, yang diantisipasi dalam Perjamuan Terakhir, terealisasi secara nyata dalam kematian Kristus di kayu salib, sehingga  akhirnya, sebelum wafat-Nya, Kristus mengatakan, “sudah selesai” (Yoh 19:30).

Dalam misteri salib Kristus inilah, maka kita dapat yakin bahwa dosa-dosa kita telah diampuni, karena darah Kristus telah menyucikan kita dari segala dosa (lih. 1Yoh 1:7). Kita juga mengingat ketika sebelum menghembuskan nafas-Nya yang terakhir, Kristus berkata, “Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat“ (Luk 23:34). Dengan kurban persembahan diri-Nya  yang tertumpah di kayu salib,  Yesus yang sungguh Allah dan sungguh manusia, menjadi Pengantara satu-satunya antara Allah Bapa dan manusia.

Melalui salib-Nya, belenggu iblis juga dikalahkan, seperti yang dikatakan-Nya, “Sekarang berlangsung penghakiman atas dunia ini: sekarang juga penguasa dunia ini akan dilemparkan ke luar; dan Aku, apabila Aku ditinggikan dari bumi, Aku akan menarik semua orang datang kepada-Ku.” (Jn 12:31-32) Bagaimana Kristus dapat menarik semua orang datang kepada-Nya? Dia katakan “Dan sama seperti Musa meninggikan ular di padang gurun, demikian juga Anak Manusia harus ditinggikan,  supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya beroleh hidup yang kekal” (Yoh 3:14-15).

Akhirnya, penyaliban Kristus memungkinkan kita untuk tidak jatuh dalam hukuman kekal, namun memungkinkan kita untuk masuk dalam Kerajaan Sorga. Kerajaan Sorga yang tadinya tidak dapat dijangkau oleh manusia akibat dosa asal dan dosa pribadi, kini terbuka bagi manusia. Manusia yang tadinya menjauh dari Allah dan tidak mempunyai kekuatan dan daya untuk menggapai Allah, kini dapat menjadi anak-anak Allah, yang dapat berseru kepada Bapa, Abba! (lih. Rm 8:15; Gal 4:6). Ya, di dalam Anak Allah – Yesus – maka kita dapat menjadi anak-anak Allah.

V. Kebangkitan-Nya menghancurkan kematian

Saat kita mengatakan di dalam doa Aku Percaya, “Kristus, yang menderita sengsara, dalam pemerintahan Pontius Pilatus, disalibkan, wafat dan dimakamkan,” kita menyatakan iman kita bahwa penderitaan, penyaliban dan wafat Kristus adalah sungguh terjadi di dalam sejarah manusia, yaitu dalam masa pemerintahan Pontius Pilatus. Penderitaan dan kematian Kristus bukanlah hanya dipercayai secara iman, namun juga dipercayai sebagai satu kejadian yang sesungguhnya. Iman inilah yang terus diwartakan oleh para rasul dan jemaat perdana, serta diteruskan oleh Gereja. Dan itulah yang kita percaya.

Dengan penderitaan dan kematian-Nya, Kristus menghancurkan kematian. Dalam setiap Perayaan Ekaristi kita menyatakan iman kita “dengan wafat, Engkau menghancurkan kematian; dengan bangkit, engkau memulihkan kehidupan; datanglah dalam kemuliaan”. Hanya dengan bersatu dengan kematian Kristus, kita dapat turut dibangkitkan bersama-sama dengan Kristus.


[1] Lihat misalnya para nabi mengatakan “Beginilah firman Allah, …” (Yeh 30:1; 33:1;34:1; Yer 6:22; 16:1; 32:6; Hos 1:1; Yoel 1:1, atau “demikianlah firman Tuhan”, (Yes 1:24; Yeh 30:10, dst), atau “beginilah firman Tuhan Allah ….”, (Yeh 43:11; Yer 15:19; 19:1; 25:32; 31:15, 16,23,35,37, Am 1:6); atau “Tuhan berfirman kepadaku,” (Yer 14:11).

Keep in touch

18,000FansLike
18,659FollowersFollow
32,900SubscribersSubscribe

Artikel

Tanya Jawab