Aku Percaya akan Gereja Katolik yang Kudus

17

Di dalam syahadat yang pendek dituliskan “Aku percaya akan Gereja Katolik yang kudus” dan di dalam syahadat panjang dituliskan “aku percaya akan Gereja yang satu, kudus, katolik dan apostolik.“Dalam artikel ini, kita akan melihat arti dari Gereja sebagai tanda kasih Tuhan, tujuan dan sarana keselamatan yang didirikan Tuhan untuk keselamatan umat manusia, serta empat tanda Gereja, yaitu satu, kudus, katolik dan apostolik. Dengan pembahasan ini, diharapkan kita akan dapat lebih mengerti hakekat Gereja yang sebenarnya, yang merupakan pemberian Tuhan dan bukan sesuatu yang dapat sembarangan didirikan oleh manusia. Kalau Gereja merupakan pemberian Tuhan, maka sudah seharusnya kita harus menerima pemberian Tuhan ini dengan rasa syukur dan tidak boleh membuat saingan. Dan Gereja yang didirikan oleh Kristus dan mempunyai empat tanda ini adalah Gereja Katolik.

Gereja Tanda Kasih Tuhan

Jika anda seorang perancang, entah itu arsitek, perancang busana, mesin, mobil ataupun program komputer, tentu pada saat anda merancang, anda sudah punya sebuah gambaran dalam pikiran anda tentang hasil akhir rancangan anda. Mungkin hal ini dapat membantu kita untuk memahami bagaimana Allah telah merencanakan tujuan akhir pada saat menciptakan dunia. Kita semua mengetahui bahwa manusia adalah mahluk terakhir yang diciptakan-Nya, yang menjadi paling sempurna dari antara mahluk hidup lainnya, yaitu tumbuhan dan hewan. Pada saat menciptakan manusia inilah, Allah telah merancang hasil akhir dari penciptaan tersebut, yaitu bahwa semua manusia akan dipersatukan dengan diri-Nya sendiri. Begitu dalamnya makna kasih Tuhan ini, hingga kita-pun sulit membayangkannya. Tetapi begitulah yang direncanakan Allah bagi kita, sehingga digenapi apa yang tertulis, “Apa yang tidak pernah dilihat oleh mata, dan tidak pernah didengar oleh telinga, dan yang tidak pernah timbul di dalam hati manusia: semua yang disediakan Allah untuk mereka yang mengasihi Dia” (1Kor 2:9, Yes 64:4). Ya, Tuhan bermaksud menjadikan kita bagian yang tak terpisahkan daripada-Nya, bersatu denganNya di dalam hidup Ilahi dan menikmati kebahagiaan bersamaNya tanpa akhir.

Persatuan inilah yang menjadi hakekat Gereja, maka benarlah jika dikatakan bahwa “dunia diciptakan untuk Gereja dan Gereja adalah tujuan segala sesuatu“ (KGK 760) Untuk tujuan ini, Allah telah mengirimkan Yesus Kristus Putera-Nya yang mengorbankan DiriNya demi menghapus dosa manusia, agar manusia dapat dikumpulkan di dalam Dia dalam suatu sarana yang dinamakan “Gereja”. Dengan demikian, Gereja tidak saja menjadi tujuan akhir hidup manusia tetapi juga sarana untuk mencapai tujuan itu (KGK 778, 824). Sungguh tak terbataslah kasih Tuhan dan tak ternilailah ‘harga’ yang telah dibayarNya demi terbentuknya Gereja! Di saat kita sampai pada pengertian inilah, kita akan memiliki rasa syukur dan hormat yang mendalam kepada Tuhan dan kepada Gereja yang didirikanNya.

Seperti halnya bulan memantulkan cahaya matahari, Gereja yang adalah Tubuh Mistik Kristus memantulkan cahaya Kristus, Sang Terang dunia (Yoh 8:12, 9:5) kepada semua bangsa. Gereja di dalam Kristus adalah seperti sakramen yaitu tanda dan sarana persatuan yang tak terpisahkan dengan Allah dan kesatuan dengan seluruh umat manusia. (LG 1) Oleh karena itu, Gereja sebagai cerminan Kristus menjadi tanda Kasih Allah kepada manusia, yang mengarahkan manusia pada tujuan akhir hidupnya yaitu persatuan dengan Allah. Jadi, Gereja memiliki dua dimensi yang tak terpisahkan, yaitu: pertama, sebagai tujuan akhir, ia berdimensi Ilahi, dan kedua, sebagai sarana, ia berdimensi manusiawi. Perpaduan kedua hal ini merupakan suatu yang kompleks, yang membuat Gereja sebagai kelompok yang kelihatan secara lahiriah, namun bersifat rohaniah; kelompok yang dilengkapi struktur kepemimpinan, namun juga sebagai Tubuh Mistik Kristus; kelompok yang berada di dunia namun diperkaya oleh karunia-karunia surgawi. (KGK 771, LG 8)

Gereja sebagai tujuan akhir hidup manusia

(lih. Ef 1:9-10, Kol 1:15-20,26-27; 1Kor 2:7, Lumen Gentium 2, KGK 760-764)

Pada saat penciptaan dunia, Allah telah merencanakan untuk mengangkat manusia ke dalam kehidupan Ilahi. Namun rencana persatuan Ilahi ini terhalang oleh karena dosa Adam yang kemudian diturunkan kepada semua manusia. Karenanya Allah terus menerus mengutus para nabi untuk membawa manusia kembali kepada-Nya, hingga akhirnya Ia mengutus Putera-Nya sendiri yaitu Yesus Kristus menjadi tebusan atas dosa-dosa manusia, supaya tidak ada lagi penghalang antara manusia dengan Allah.

Di dalam diri Kristus, Allah yang tidak kelihatan menyatakan diriNya dan Kristus menjadi yang sulung dari segala ciptaan. Segala sesuatu diciptakan di dalam Kristus, Sang Firman, (Yoh 1:1), oleh Kristus, dan untuk Kristus. Ialah kepala tubuh, yaitu jemaat (lih. Kol 1:15-18, Ef 1:9-10). Karenanya, sudah sejak awal mula Allah telah merencanakan penggabungan jemaat dengan Kristus sebagai kepala yang kemudian dikenal sebagai ‘Gereja’. Rasul Paulus mengajarkan bahwa pada mulanya Allah menentukan orang-orang yang dipilihNya untuk menjadi serupa dengan Kristus Putera-Nya, supaya Kristus menjadi yang sulung dari banyak saudara (lih. Rom 8:29). Nah, kesatuan semua manusia dengan Yesus sebagai yang sulung inilah yang disebut Gereja.

Maka kalau ada orang bertanya pada kita sejak kapan Gereja direncanakan oleh Allah, kita dapat mengatakan bahwa Gereja sudah direncanakan sejak penciptaan dunia. Hanya saja pada waktu itu (di dalam Kitab Kejadian) belum secara eksplisit disebut sebagai ‘Gereja’. Persekutuan manusia dalam ‘wadah’ Gereja ini dipersiapkan oleh Allah melalui pembentukan bangsa Israel di masa Perjanjian Lama hingga tiba waktunya Kristus sendiri menyempurnakannya oleh kuasa Roh Kudus pada Perjanjian Baru, yang merupakan penggenapan Perjanjian Lama. Pada akhir zaman, Gereja akan mencapai kesempurnaannya, di mana semua orang benar sepanjang segala abad akan dipersatukan dengan Allah sendiri.

Nyatalah, sebagai tujuan akhir hidup manusia, Gereja bersifat Ilahi, sebab di dalamnya manusia dipersatukan dengan Allah. Persekutuan kudus dengan Allah ini membawa manusia pada persekutuan dengan para orang kudus sepanjang zaman, karena semua orang kudus tersebut bersekutu dengan Allah, dan juga, karena kematian tidak dapat memisahkan kita dari kasih Kristus (Rm 8:38). Persekutuan kudus ini pula yang menjelaskan, bahwa hanya ada satu Gereja, karena hanya ada satu Tubuh Mistik Kristus, yang terdiri dari kita yang masih berziarah di dunia ini, mereka yang sudah mulia di surga, dan mereka yang sebelum masuk ke surga masih dimurnikan di Api Penyucian. (KGK 962) Kedua dimensi persekutuan ini –yaitu persekutuan dengan Allah dan dengan para kudus-Nya- menunjukkan sifat ilahi dari Gereja, yang membedakannya dari organisasi apapun di dunia.

Gereja sebagai sarana untuk mencapai tujuan akhir hidup manusia

(lih. Ef 4:7,12-16, 1 Tim 3:15, LG 1, 4, KGK 765-768)

Sekarang, mari kita lihat peran Gereja sebagai sarana menuju tujuan akhir manusia. Kristus telah datang ke dunia untuk menebus dosa-dosa kita, supaya kita beroleh keselamatan dan dapat dipersatukan dengan Allah. Untuk itu, Kristus mendirikan Gereja-Nya pada hari Pentakosta oleh kuasa Roh Kudus, supaya oleh Roh yang sama Ia senantiasa dapat menguduskan Gereja-Nya, untuk membawa umat manusia kepada keselamatan dalam persekutuan dengan Allah Bapa. Ini adalah suatu karunia rahmat, bukan usaha manusia sendiri. Karunia keselamatan ini diberikan melalui perantaraan Gereja, yang adalah Tubuh Kristus, sehingga Gereja juga disebut ‘sakramen keselamatan,’[1] yaitu tanda/ sarana untuk menyalurkan rahmat keselamatan dari Tuhan. Perlu kita ingat bahwa Kristus sendiri adalah Sakramen (Tanda) Kasih Allah, dan Gereja adalah sakramen Kristus. Dengan demikian, Gereja sebagai tanda Kasih Allah terjadi karena hubungan Gereja dengan Kristus.

Sebagai ‘sakramen’, Gereja terus-menerus menghadirkan secara nyata karya keselamatan Kristus oleh kuasa Roh Kudus. Kristus terus menerus hadir dan berperan aktif dengan cara yang kelihatan di dalam dan melalui Gereja-Nya yang dibimbing oleh Roh Kudus. Jadi di dalam Gereja-Nya, Kristus sendirilah yang mengajar, menguduskan, dan melayani Gereja melalui para uskup. Hal ini sesuai dengan janji-Nya kepada para rasul, “Engkau akan menerima kuasa Roh Kudus…. dan engkau akan menjadi saksi-saksi-Ku di Yerusalem….” (Kis 1:8). Telah menjadi kehendak Yesus bahwa setelah kenaikan-Nya ke surga, Ia akan tetap berkarya di dalam Gereja, agar kita diberi kasih karunia untuk keperluan pembangunan Tubuh-Nya sampai kita bertumbuh sesuai dengan kepenuhan Kristus (lih. Ef 4:7,12-13). Yesus berkarya melalui perantaraan manusia yang dipilihNya, yaitu para rasul dan penerus mereka yaitu para uskup, yang secara turun temurun diurapi dengan kuasa Roh KudusNya sendiri.[2]

Jelaslah bahwa selain dijiwai oleh Tuhan Yesus, Gereja juga melibatkan peran serta manusia, misalnya, Gereja dipimpin oleh manusia (Paus dan para uskup, imam), beranggotakan kita manusia, yang kesemuanya tidak terlepas dari dosa. Karenanya, Tuhan menyediakan sarana pengudusan, di mana Ia sendiri yang bertindak menguduskan lewat perantaraan para imam-Nya melalui sakramen-sakramen. Melalui sakramen, rahmat Tuhan yang tidak kelihatan disalurkan melalui simbol-simbol yang kelihatan. Maka dalam dimensi manusiawi ini terdapat dua hal yang penting, yaitu hal kepemimpinan/ struktur Gereja dan hal sakramen sebagai saluran rahmat Tuhan yang melibatkan perantaraan manusia dan benda-benda lahiriah.

Kepemimpinan/ struktur Gereja

(KGK 880-883, LG 18-29)

Yesus mendirikan GerejaNya di atas Rasul Petrus (Kepha, Petros) -yang artinya batu karang- (Mat 16:18) dan memberikan kuasa yang khusus kepadanya di atas para rasul yang lain, untuk menggembalakan domba-domba-Nya (Yoh 21:5-7). Walaupun Kristus juga memberikan kuasa kepada rasul-rasul yang lain (Mat 18:18), hanya kepada Petruslah Ia memberikan kunci- kunci Kerajaan Surga (Mat 16:19) yang melambangkan kuasa untuk memimpin GerejaNya di dunia.

Yesus sang Gembala yang Baik mempercayakan domba-dombaNya kepada Petrus dan mempercayakan tugas untuk meneguhkan iman para rasul yang lain, agar iman Gereja jangan sampai sesat (Luk 22:3-32). Petruslah yang kemudian menjadi pemimpin para rasul setelah hari Pentakosta, mengabarkan Injil, membuat keputusan dan pengarahan (Kis 2:1-41, 15:7-12). Para penerus Rasul Petrus ini dikenal sebagai uskup Roma, yang dipanggil sebagai ‘Paus’ yang artinya Papa/ Bapa.

Jelaslah bahwa secara struktural, Paus (penerus Rasul Petrus) memegang kepemimpinan tertinggi, diikuti oleh para uskup (penerus para rasul lainnya) di dalam persekutuan dengan Paus. Para uskup ini dibantu oleh para imam dan diakon. Dalam hal ini, para Paus memegang kuasa Rasul Petrus, yang menerima perintah dari Yesus sendiri, dan karenanya tidak mungkin sesat. Perlu diketahui, bahwa kepemimpinan Paus -dan para uskup di dalam persekutuan dengannya- yang tidak mungkin sesat (‘infallible’) ini- hanya berlaku di dalam hal pengajaran iman dan moral.[3] Hal ini sungguh membuktikan kemurnian pengajaran Gereja, karena ajarannya bukan merupakan hasil demokrasi manusia, melainkan diturunkan dari Yesus sendiri, dan Paus tidak punya kuasa untuk mengubahnya.

Sakramen-sakramen Gereja

(KGK 1113-1532)

Ketujuh sakramen (Pembaptisan, Penguatan, Ekaristi, Pengakuan Dosa, Tahbisan, Perkawinan, dan Urapan orang sakit) merupakan tanda yang menyampaikan rahmat dan kasih Tuhan secara nyata. Hal ini merupakan pemenuhan janji Kristus yang tidak akan pernah meninggalkan kita sebagai yatim piatu (Yoh 14:18). Melalui sakramen tersebut, Allah mengirimkan Roh Kudus-Nya untuk menyembuhkan, memberi makan dan menguatkan kita.

Keberadaan sakramen sebenarnya telah diperkenalkan sejak zaman Perjanjian Lama, tetapi pada saat itu hanya merupakan simbol saja -seperti sunat dan perjamuan Paskah (pembebasan Israel dari Mesir)- dan bukan sebagai tanda yang menyampaikan rahmat Tuhan. Kemudian Kristus datang, bukan untuk menghapuskan Perjanjian Lama melainkan untuk menggenapinya. Maka Kristus tidak menghapuskan simbol-simbol itu tetapi menyempurnakannya, dengan menjadikan simbol sebagai tanda ilahi. Sunat disempurnakan menjadi Pembaptisan, dan perjamuan Paskah menjadi Ekaristi. Dengan demikian, sakramen bukan hanya sekedar simbol semata, tapi menjadi tanda yang sungguh menyampaikan rahmat Tuhan.

Di sini kita melihat bagaimana Allah tidak menganggap benda- benda lahiriah sebagai sesuatu yang buruk, sebab di akhir penciptaan Allah melihat semuanya itu baik (Kej 1:31). Bukti lain adalah Kristus sendiri mengambil rupa tubuh manusia (yang termasuk ‘benda’ hidup) sewaktu dilahirkan ke dunia (lih. Ibr 10:5) Kita dapat melihat pula bahwa di dalam hidupNya, Yesus menyembuhkan, memberi makan dan menguatkan orang-orang dengan menggunakan perantaraan benda-benda, seperti tanah sewaktu menyembuhkan orang buta (Yoh 9:1-7); air sewaktu mengubahnya menjadi anggur di Kana (Yoh 2:1-11), roti dan ikan dalam mukjizat pergandaan untuk memberi makan 5000 orang (Yoh 6:5-13), dan roti dan anggur yang diubah menjadi Tubuh dan DarahNya di dalam Ekaristi (Mat 26:26-28). Jika Yesus mau, tentu Ia dapat melakukan mujizat secara langsung, tetapi Ia memilih untuk menggunakan benda- benda tersebut sebagai perantara. Janganlah kita lupa bahwa Ia adalah Tuhan dari segala sesuatu, dan karenanya Ia bebas menentukan seturut kehendak dan kebijaksanaan-Nya untuk menyampaikan rahmatNya kepada kita.

Mungkin ada orang bertanya, mengapa ada tujuh sakramen? Alasannya adalah karena terdapat hubungan yang erat antara kehidupan rohani dan jasmani.[4] Secara jasmani ada tujuh tahap penting kehidupan: kita lahir, tumbuh menjadi dewasa karena makan. Jika sakit kita berobat, dan di dalam hidup kita dapat memilih untuk tidak menikah atau menikah. Lalu setelah selesai menjalani hidup, kita meninggal dunia. Nah, sekarang mari kita lihat bagaimana sakramen menguduskan tahap-tahap tersebut di dalam kerohanian kita.

Kelahiran kita secara rohani ditandai dengan sakramen Pembaptisan, di mana kita dilahirkan kembali di dalam air dan Roh (Yoh 3:5), yaitu di dalam Kristus sendiri. Kita diteguhkan oleh Roh Kudus dan menjadi dewasa dalam iman melalui sakramen Penguatan (Kis 1:5). Kita bertumbuh karena mengambil bagian dalam sakramen Ekaristi yang menjadi santapan rohani (Yoh 6: 51-56). Jika rohani kita sakit, atau kita berdosa, kita dapat disembuhkan melalui pengakuan dosa dalam sakramen Tobat/ Pengakuan dosa, di mana melalui perantaraan iman-Nya Tuhan Yesus mengampuni kita (Yoh 20: 22-23). Lalu jika kita terpanggil untuk hidup selibat untuk Kerajaan Allah, Allah memberikan kuasa untuk melakukan tugas-tugas suci melalui penerimaan sakramen Tahbisan Suci/ Imamat (Mat 19:12). Sedangkan jika kita terpanggil untuk hidup berkeluarga, kita menerima sakramen Perkawinan (Mat 19:5-6). Akhirnya, pada saat kita sakit jasmani ataupun saat menjelang ajal, kita dapat menerima sakramen Pengurapan orang sakit, yang dapat membawa rahmat kesembuhan ataupun persiapan bagi kita untuk kembali ke pangkuan Allah Pencipta (Yak 5:14).

Gereja yang berlangsung sepanjang sejarah

Gereja adalah terang dunia yang meneruskan Yesus Sang Terang kepada dunia. (lih. LG 1) Ini berdasarkan perkataan Yesus sendiri, “Kamu adalah terang dunia. Kota yang terletak di atas di atas gunung tidak mungkin tersembunyi “(Mat 5:14). Karena itu, Gereja yang didirikan oleh Yesus dimaksudkan untuk berdiri sebagai institusi yang kelihatan. Yesus sendiri berjanji, “…di atas batu karang ini (Petrus) Aku akan mendirikan jemaat-Ku dan alam maut tidak akan menguasainya.” (Mat 16:18) Artinya, Gereja-Nya tidak akan pernah binasa, dan tidak akan pernah terlepas daripada-Nya. Gereja-Nya akan bertahan terus sampai kedatangan-Nya kembali di akhir zaman.

Gereja Katolik adalah Gereja satu-satunya yang bertahan sejak didirikan oleh Kristus (sekitar 30 AD). Dapat dikatakan bahwa gereja yang lain adalah kelompok yang memecahkan diri dari kesatuan Gereja Katolik. Gereja Timur Orthodox memisahkan diri dari pada tahun 1054, gereja Protestan tahun 1517, dan gereja-gereja Protestan yang lain adalah pemecahan dari gereja Protestan yang awal ini. Beberapa gereja Protestan dan pendirinya adalah sebagai berikut: Anglican, didirikan oleh Raja Henry VIII (abad ke-16) di Inggris, Lutheran dan Calvinis oleh Luther dan Calvin (abad ke 16), Methodis didirikan oleh John Wesley (1739) di Inggris, Kristen Baptis oleh Roger Williams (1639), Anabaptis oleh Nicolas Stork (1521), Persbyterian didirikan di Scotland (1560). Beberapa aliran lain misalnya Mormon didirikan oleh Joseph Smith 1830, Saksi Yehovah oleh Charles Taze Russell (1852-1916). Atau yang baru-baru ini Unification Church didirikan oleh Rev. Sun Myung Moon di Korea.

Hanya Gereja Katolik yang bertahan dari abad pertama yang dengan setia mengajarkan pengajaran yang diberikan oleh Kristus kepada para Rasul-Nya, tanpa mengurangi ataupun mengubah. Kesinambungan para Paus dapat ditelusuri asalnya sampai kepada Rasul Petrus. Hal ini tidak pernah terjadi di dalam organisasi apapun di dunia. Pemerintahan negara dunia yang tertua-pun tidak dapat menandingi lamanya keberadaan Gereja Katolik. Banyak gereja yang sekarang aktif menjalankan penginjilan didirikan hanya di abad- 19 atau ke- 20, atau baru-baru ini saja di abad ke-21. Tidak ada dari mereka yang dapat berkata mereka didirikan sendiri oleh Yesus.

Gereja Katolik telah berdiri selama kira-kira 2000 tahun, walaupun dalam sejarahnya sering menghadapi pertentangan dari dunia. Ini adalah kesaksian yang nyata bahwa Gereja berasal dari Tuhan, sebagai pemenuhan dari janji Kristus. Jadi, Gereja bukan semata-mata organisasi manusia, meskipun tidak bisa dipungkiri bahwa ada masa-masa di mana dipimpin oleh mereka yang tidak bijaksana, yang mencoreng nama Gereja dengan perbuatan- perbuatan mereka. Namun, kenyataannya, mereka tidak sanggup menghancurkan Gereja. Gereja Katolik tetap berdiri sampai sekarang. Jika Gereja ini hanya organisasi manusia semata, tentulah ia sudah hancur sejak lama. Sekarang Gereja Katolik beranggotakan sekitar satu milyar anggota, sekitar seper-enam dari jumlah manusia di dunia, dan menjadi kelompok yang terbesar dibandingkan dengan gereja-gereja yang lain. Ini bukan hasil dari kepandaian para pemimpin Gereja, tetapi karena karya Roh Kudus.

Empat tanda Gereja sejati

Jika kita ingin tahu apa yang menjadi ciri-ciri Gereja yang didirikan oleh Kristus, kita akan mengetahui bahwa ada empat ciri; yaitu Gereja yang satu, kudus, katolik dan apostolik (LG 8)

Gereja yang Satu

(Rom 12:5, 1Kor 10:17, 12:13, KGK 813-822, LG 4)

Yesus mendirikan hanya satu Gereja, bukan kesatuan dari beberapa gereja yang berbeda-beda. Kita mengetahuinya dari Yesus sendiri, yang mengatakan bahwa Ia akan mendirikan Gereja-Nya (bukan gereja-gereja) di atas Petrus (Mat 16:18). Pada saat Perjamuan Terakhir sebelum wafatNya Kristus berdoa untuk kesatuan GerejaNya: “supaya mereka semua menjadi satu, sama seperti Engkau, ya Bapa, di dalam Aku dan Aku di dalam Engkau…” (Yoh 17:21). Kitab suci mengatakan bahwa Gereja adalah ‘mempelai Kristus’ (Ef 5:23-32). Karenanya, tidak mungkin Ia mempunyai lebih dari satu mempelai. Mempelai-Nya yang satu adalah Gereja Katolik.

Kesatuan Gereja Katolik ini ditunjukkan dengan kesatuan dalam hal: (1) iman dan pengajaran, berdasarkan ajaran Kristus (2) liturgi dan sakramen dan (3) kepemimpinan, yang awalnya dipegang oleh para rasul di bawah kepemimpinan Rasul Petrus, yang kemudian diteruskan oleh para pengganti mereka. Kepada kesatuan inilah semua para pengikut Kristus dipanggil (Fil 1:27, 2:2), sebagai “sebuah bangsa yang dipersatukan dengan kesatuan Bapa, Putera dan Roh Kudus.” (LG 4)

Kesatuan Gereja Katolik dalam hal pengajaran mempunyai dua dimensi, yaitu berlaku di seluruh dunia dan berlaku sepanjang sejarah. Hal ini dimungkinkan karena dalam hal iman kepemimpinan Gereja dipegang oleh seorang kepala, yaitu seorang Paus yang bertindak sebagai wakil Kristus. Sepanjang sejarah, oleh bimbingan Roh Kudus, Gereja semakin memahami akan ajaran-ajaran Kristus (Yoh 16:12-13) dan menjabarkannya, namun tidak pernah menetapkan sesuatu yang bertentangan dari apa yang sudah ditetapkan sebelumnya.

Gereja yang kudus

(Ef 5:25-27, Why 19:7-8, KGK 823-829, LG 8, 39, 41,42)

Kekudusan Gereja disebabkan oleh kekudusan Kristus yang mendirikannya. Hal ini tidak berarti bahwa setiap anggota Gereja-Nya adalah kudus, sebab Yesus sendiri mengakui bahwa para anggotaNya terdiri dari yang baik dan yang jahat (lih. Yoh 6:70), dan karena itu tak semua dari anggotaNya masuk ke surga (Mat 7:21-23). Tetapi Gereja-Nya menjadi kudus karena ia adalah mempelai Kristus dan Tubuh-Nya sendiri, sehingga Gereja menjadi sumber kekudusan dan sebagai penjaga alat yang istimewa untuk menyampaikan rahmat Tuhan melalui sakramen- sakramen (lih. Ef 5:26).

Jadi kekudusan Gereja dapat dilihat dari para anggotanya yang hidup di dalam rahmat pengudusan, terutama mereka yang sungguh-sungguh menerapkan kekudusan itu di dalam kaul religius seperti para rohaniwan, rohaniwati dan terutama terlihat nyata pada para martir dan Orang Kudus (lih. LG 42). Kekudusan Gereja juga terlihat dari banyaknya mukjizat yang dilakukan oleh Para Kudus sepanjang sejarah. Dalam hal kekudusan inilah, maka Gereja menggarisbawahi pentingnya pertobatan (lih. LG 8), agar para anggotanya dibawa kepada rahmat pengudusan Allah.

Gereja yang katolik

(Mat 28:19-20, Why 5:9-10, KGK 830-856, LG 1)

Istilah ‘katolik‘ merupakan istilah yang sudah ada sejak abad awal, yaitu sejak zaman Santo Polycarpus (murid Rasul Yohanes) untuk menggambarkan iman Kristiani,[5] bahkan pada jaman para rasul. Kis 9:31 menuliskan asal mula kata Gereja Katolik (katholikos) yang berasal dari kata “Ekklesia Katha Holos“. Ayatnya berbunyi, “Selama beberapa waktu jemaat di seluruh Yudea, Galilea dan Samaria berada dalam keadaan damai. Jemaat itu dibangun dan hidup dalam takut akan Tuhan. Jumlahnya makin bertambah besar oleh pertolongan dan penghiburan Roh Kudus.” (Kis 9:31). Di sini kata “Katha holos atau katholikos; dalam bahasa Indonesia adalah jemaat/ umat Seluruh/ Universal atau Gereja Katolik, sehingga kalau ingin diterjemahkan secara konsisten, maka Kis 9:31, bunyinya adalah, “Selama beberapa waktu Gereja Katolik di Yudea, Galilea, dan Samaria berada dalam keadaan damai. Gereja itu dibangun dan hidup dalam takut akan Tuhan. Jumlahnya makin bertambah besar oleh pertolongan dan penghiburan Roh Kudus.”

Namun nama ‘Gereja Katolik‘ baru resmi digunakan pada awal abad ke-2 (tahun 107), ketika Santo Ignatius dari Antiokhia menjelaskan dalam suratnya kepada jemaat di Smyrna 8, untuk menyatakan bahwa Gereja Katolik adalah Gereja satu-satunya yang didirikan Yesus Kristus, untuk membedakannya dari para heretik pada saat itu -yang juga mengaku sebagai jemaat Kristen- yang menolak bahwa Yesus adalah Allah yang sungguh-sungguh menjelma menjadi manusia. Ajaran sesat itu adalah heresi/ bidaah Docetisme dan Gnosticisme. Dengan surat tersebut, St. Ignatius mengajarkan tentang hirarki Gereja, imam, dan Ekaristi yang bertujuan untuk menunjukkan kesatuan Gereja dan kesetiaan Gereja kepada ajaran yang diajarkan oleh Kristus. Demikian penggalan kalimatnya, “…Di mana uskup berada, maka di sana pula umat berada, sama seperti di mana ada Yesus Kristus, maka di sana juga ada Gereja Katolik….”[6]. Sejak saat itu Gereja Katolik memiliki arti yang kurang lebih sama dengan yang kita ketahui sekarang, bahwa Gereja Katolik adalah Gereja universal di bawah pimpinan para uskup yang mengajarkan doktrin yang lengkap, sesuai dengan yang diajarkan Kristus.

Kata ‘Katolik’ sendiri berasal dari bahasa Yunani, katholikos, yang artinya “keseluruhan/ universal“; atau “lengkap“. Jadi dalam hal ini kata katolik mempunyai dua arti, yaitu bahwa: 1) Gereja yang didirikan Yesus ini bukan hanya milik suku tertentu atau kelompok eksklusif yang terbatas; melainkan mencakup ‘keseluruhan’keluarga Tuhan yang ada di ‘seluruh dunia’, yang merangkul semua, dari setiap suku, bangsa, kaum dan bahasa (Why 7:9). 2) Kata ‘katolik’ juga berarti bahwa Gereja tidak dapat memilih-milih doktrin yang tertentu asal cocok sesuai dengan selera/ pendapat pribadi, tetapi harus doktrin yang setia kepada ‘seluruh‘ kebenaran. Rasul Paulus mengatakan bahwa hakekatnya seorang rasul adalah untuk menjadi pengajar yang ‘katolik’ artinya yang “meneruskan firman-Nya (Allah) dengan sepenuhnya…. tiap-tiap orang kami nasihati  dan tiap-tiap orang kami ajari dalam segala hikmat, untuk memimpin tiap-tiap orang kepada kesempurnaan dalam Kristus.” (Kol 1:25, 28)

Maka, Gereja Kristus disebut sebagai katolik (= universal) sebab ia dikurniakan kepada segala bangsa, oleh karena Allah Bapa adalah Pencipta segala bangsa. Sebelum naik ke surga, Yesus memberikan amanat agung agar para rasulNya pergi ke seluruh dunia untuk menjadikan semua bangsa murid-muridNya (Mat 28: 19-20). Sepanjang sejarah Gereja Katolik menjalankan misi tersebut, yaitu menyebarkan Kabar Gembira pada semua bangsa, sebab Kristus menginginkan semua orang menjadi anggota keluarga-Nya yang universal (Gal 3:28). Kini Gereja Katolik ditemukan di semua negara di dunia dan masih terus mengirimkan para missionaris untuk mengabarkan Injil. Gereja Katolik yang beranggotakan bermacam bangsa dari berbagai budaya menggambarkan keluarga Kerajaan Allah yang tidak terbatas hanya pada negara atau suku bangsa yang tertentu.

Namun demikian, nama “Gereja Katolik” tidak untuk dipertentangkan dengan istilah “Kristen” yang juga sudah dikenal sejak zaman para rasul (lih. Kis 11:26). Sebab ‘Kristen’ artinya adalah pengikut/murid Kristus, maka istilah ‘Kristen’ mau menunjukkan bahwa umat yang menamakan diri Kristen menjadi murid Tuhan bukan karena sebab manusiawi belaka, tetapi karena mengikuti Kristus yang adalah Sang Mesias, Putera Allah yang hidup. Umat Katolik juga adalah umat Kristen, yang justru menghidupi makna ‘Kristen’ itu dengan sepenuhnya, sebab Gereja Katolik menerima dan meneruskan seluruh ajaran Kristus, sebagaimana yang diajarkan oleh Kristus dan para rasul, yang dilestarikan oleh para penerus mereka).

Gereja yang Apostolik

(Ef 2:19-20, KGK 857-865, LG 22)

Gereja disebut apostolik karena Yesus telah memilih para rasul-Nya untuk menjadi pemimpin- pemimpin pertama Gereja-Nya, di bawah pimpinan Rasul Petrus (Mat 16:18, Yoh 21:15-18). Oleh karena Yesus sendiri menjanjikan Gereja-Nya tidak akan binasa (Mat 16:18), maka kepemimpinan Gereja tidak berhenti dengan kepemimpinan para rasul tetapi diteruskan oleh para penerus mereka. Dengan demikian janji penyertaan Yesus terus berlangsung sampai pada saat ini, di mana Ia mengatakan, “Aku akan menyertai engkau senantiasa sampai kepada akhir zaman” (Mat 28:20).

Para rasul adalah para uskup yang pertama, dan sejak abad pertama, pengajaran para rasul di dalam Kitab suci dan Tradisi kudus diturunkan dari mulut ke mulut kepada para penerus mereka (lih. 2 Tes 2:15), misalnya tentang kehadiran Kristus yang nyata di dalam Ekaristi, kurban Misa, pengampunan dosa melalui perantaraan imam, kelahiran baru dalam pembaptisan, keberadaan Api penyucian, peran khusus Maria dalam karya Keselamatan, hal kepemimpinan Paus, dan lain-lain.

Surat pertama dari Santo Klemens (penerus ketiga setelah Rasul Petrus, tahun 96) kepada jemaat di Korintus yang menyelesaikan konflik di antara mereka membuktikan kepemimpinan Gereja di bawah penerus Rasul Petrus sebagai uskup di Roma.[7] Kepemimpinan di bawah Paus di Roma ini diakui oleh Gereja Katolik sampai saat ini (LG 22). Singkatnya, jika kita kembali ke abad pertama, kita akan menemukan Gereja yang memiliki banyak kemiripan dengan Gereja Katolik yang sekarang, karena memang itu adalah satu dan sama.

Mendengarkan Gereja adalah mendengarkan Kristus

Semakin kita mengerti bahwa Gereja merupakan tujuan – yaitu persatuan dengan Allah – dan juga sekaligus menjadi sarana keselamatan bagi seluruh umat manusia, maka semakin kita menerima, menghargai, dan mensyukuri pemberian Tuhan ini. Gereja yang otentik adalah Gereja yang satu, kudus, katolik dan apostolik; dan ini terdapat di Gereja Katolik (LG 8). Dari Kitab Suci, Tradisi dan tulisan para Bapa Gereja dapat diketahui bahwa Gereja mengajar dengan kuasa Yesus. Di tengah-tengah banyaknya pendapat dan ajaran dari agama-agama yang berbeda-beda, Gereja Katolik selalu menyuarakan ajaran yang sama sepanjang segala abad, sebab ia adalah “tiang penopang dan dasar kebenaran” (1 Tim 3:15).

Karena Yesus sendiri mengatakan kepada para rasul, “Barangsiapa yang mendengarkan kamu, ia mendengarkan Aku; dan barangsiapa menolak kamu, ia menolak Aku dan Dia yang mengutus Aku” (Luk 10:16), maka kita percaya bahwa Yesus mempercayakan kepemimpinan Gereja kepada para rasul dan penerus mereka. Karena Yesus sendiri berjanji akan membimbing Gereja-Nya sampai kepada seluruh kebenaran oleh kuasa Roh KudusNya (Yoh 16:12-13), maka kita dapat mengimani bahwa Gereja-Nya ini, Gereja Katolik, mengajarkan kebenaran Kristus. Jadi, kalau kita ingin benar-benar mendengarkan Kristus, kita harus mendengarkan Gereja; dan kalau kita ingin mengasihi Kristus secara


CATATAN KAKI:
  1. ‘Sakramen’ di sini bukan berarti tambahan dari ke tujuh sakramen yang sudah ada dalam Gereja Katolik. Sakramen di sini berhubungan dengan pengertian dasar dari kata ‘sakramen’, yang berarti tanda dari sesuatu yang kudus dan tersembunyi (dalam bahasa Yunani “mysterion”, misteri). []
  2. lih. LG 21: “Untuk menunaikan tugas-tugas yang semulia itu para rasul diperkaya dengan pencurahan istimewa Roh Kudus, yang turun dari Kristus atas diri mereka (lih. Kis 1:8; 2:4; Yoh 20:22-23). Dengan penumpangan tangan mereka sendiri meneruskan kurnia rohani itu kepada para pembantu mereka (lih. 1Tim 4:14; 2Tim 1:6-7). Kurnia itu sampai sekarang disampaikan melalui tahbisan Uskup.” []
  3. Lihat Lumen Gentium 25, “Adapun ciri tidak dapat sesat itu, yang atas kehendak Penebus ilahi dimiliki Gereja-Nya dalam menetapkan ajaran tentang iman atau kesusilaan, meliputi seluruh perbendaharaan Wahyu ilahi, yang harus dijagai dengan cermat dan diuraikan dengan setia. Ciri tidak dapat sesat itu ada pada Imam Agung di Roma, Kepala Dewan para Uskup, berdasarkan tugas beliau, bila selaku gembala dan guru tertinggi segenap Umat beriman, yang meneguhkan saudara-saudara beliau dalam iman (lih. Luk 22:32), menetapkan ajaran tentang iman atau kesusilaan dengan tindakan definitif. Oleh karena itu sepantasnyalah dikatakan, bahwa ketetapan-ketetapan ajaran beliau tidak mungkin diubah dari dirinya sendiri, dan bukan karena persetujuan Gereja. Sebab ketetapan-ketetapan itu dikemukakan dengan bantuan Roh Kudus, yang dijanjikan kepada Gereja dalam diri Santo Petrus. Oleh karena itu tidak membutuhkan persetujuan orang-orang lain, lagi pula tidak ada kemungkinan naik banding kepada keputusan yang lain. []
  4. Lihat St. Thomas Aquinas, Summa Theologica, III, q. 65, a. 1, ad. 1 []
  5. Disarikan dari New Catholic Encyclopedia, Buku ke-3 (The Catholic University of America, Washington, DC, copyright 1967, reprinted 1981), hal. 261 []
  6. St. Ignatius of Antioch, Letter to the Smyrnaeans, 8 []
  7. Lihat Cyril C. Richardson, ed. Early Christian Fathers, A Touchstone Book, Simon & Schuster, New York, 1996, p. 33 []
Share.

About Author

Stefanus Tay, MTS dan Ingrid Listiati, MTS adalah pasangan suami istri awam dan telah menyelesaikan program studi S2 di bidang teologi di Universitas Ave Maria - Institute for Pastoral Theology, Amerika Serikat.

17 Comments

  1. Bapak / Ibu yang terkasih, saya ada pertanyaan mengenai karya penyelamatan Kristus terhadap manusia sbb.:

    Apa dasar Alkitabiah yang menyatakan bahwa karya penyelamatan Kristus itu tetap berlangsung hingga saat ini walaupun Kristus Sang Juru Selamat itu sendiri sudah wafat pada 2000 tahun yang lalu secara manusiawi ?

    Demikian, terima kasih atas kesediaan Bapak / Ibu untuk menjawab pertanyaan saya ini.

    Anthony Philip C.

    [dari katolisitas: Saya tidak tahu apakah ini adalah pertanyaan untuk tugas atau tidak. Namun, Anda dapat melihat di ayat Mat 28:20 "Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman."]

  2. Syalom saya mau bertanya, apakah ada di Alkitab bahwa Yesus dan para toko Alkitab membawa suatu agama khususnya yang mengarah pada katolik? Jadi apa dasar orang percaya katolik itu kudus? Siapa yang menentukan kudus tidaknya suatu benda agama atau apapun itu? Apakah katolik kudus seperti tabut perjanjian yang kudus. Lalu bagaimana dengan sejarah kelam Katolik, bagaimana pembataian yang di lakukan katolik pada zaman pembaharuan (pemisahan Protestan dari Katolik).
    TERAKHIR, DIMANA LETAK KEKUDUSAN KATOLIK ??

    • Shalom Wilee,

      1. Mengapa Gereja disebut kudus?

      Gereja disebut kudus, karena Kepalanya adalah Kristus yang adalah Allah yang kudus. Tentang topik ini sudah pernah dibahas di sini, silakan klik.

      Maka walaupun anggota-anggota Gereja terdiri dari orang-orang yang berdosa, namun setiap anggotanya dipanggil untuk hidup kudus, sebagaimana juga telah berhasil dinyatakan oleh sejumlah anggota Gereja yang telah bekerjasama dengan rahmat Allah, sehingga sampai kepada kekudusan itu. Yang menentukan kekudusan mereka adalah Allah sendiri, yang telah berkenan menyatakannya lewat mukjizat dan buah-buah yang baik yang dihasilkan selama hidup orang-orang tersebut dan bahkan setelah mereka telah meninggal dunia, melalui kuasa doa syafaat mereka. Tentang hal ini sudah pernah diulas di sini, silakan klik.

      2. Tentang pembantaian di zaman pembaharuan

      Tentang sejarah Gereja, memang ada masanya Gereja Katolik dipimpin oleh para Paus yang hidupnya tidak sesuai dengan panggilannya sebagai pemimpin Gereja. Tentang hal ini, juga sudah pernah kami ulas sekilas di sini, silakan klik. Namun fakta bahwa para Paus yang sedemikian juga tidak membuat Gereja Katolik bubar, ini suatu bukti yang jelas akan penyertaan Kristus sendiri, yang menggenapi janji-Nya bahwa Ia akan menyertai Gereja-Nya sampai akhir zaman (Mat 28:19-20).

      Namun informasi tentang menghubungkan Gereja Katolik dengan pelaku penganiayaan, nampaknya ini adalah informasi yang distortif dan tidak sesuai dengan kenyataan yang sebenarnya. Jika Anda tertarik dengan topik ini, silakan terlebih dahulu Anda membaca beberapa artikel terkait di situs ini, yang mungkin berhubungan dengan pertanyaan Anda:

      Tentang Inkuisisi
      Luther dan ekskomunikasinya

      Tentang Pembantaian kaum Huguenot di abad ke 16
      Apakah Galileo Galilei dibunuh oleh Gereja Katolik
      Apakah binatang pertama dalam Wahyu 13 = Gereja Katolik?

      Sejujurnya, kalau kita membaca catatan sejarah dengan obyektif, kita akan mengetahui bahwa penganiayaan yang ditujukan kepada pihak Gereja Katolik, itu jauh lebih besar jumlahnya daripada jumlah orang yang dihukum melalui pengadilan inkuisisi Gereja Katolik. Lagipula penghukuman pada masa inkuisisi hanya diberikan jika yang bersangkutan sudah terbukti bersalah menyebarkan ajaran sesat yang sungguh mengancam masyarakat, dan mereka tidak menunjukkan kehendak untuk bertobat.

      Berikut ini saya kutip sedikit dari artikel di atas tentang Inkuisisi:

      “Studi sejarah yang dilakukan belakangan ini menunjukkan bahwa hanya sekitar 4000 sampai 5000 orang yang dihukum mati oleh inkuisisi di Spanyol, dan ini terjadi dalam selang waktu sekitar dua setengah abad. Di masa Spanish Inquisition, dalam 30 tahun pemerintahan ratu Isabella, ada sekitar 100,000 orang yang dikirim ke inkuisisi, dan 80,000 orang di antaranya dinyatakan tidak bersalah. 15,000 dinyatakan bersalah, namun setelah mereka menyatakan iman secara publik, maka mereka dibebaskan kembali. Hanya ada sekitar 2,000 orang yang meninggal karena keputusan inkuisisi sepanjang pemerintahan Ratu Isabella, dan 3000 orang kemudian dari tahun 1550 – 1800 (250 tahun). Sebagai perbandingan, dalam perang sipil di Jerman selama dua tahun (1524-1526) antara para petani dan kaum terpelajar, yang dipicu oleh pengajaran Luther tentang ide membuat semua orang sama derajatnya, membuat puluhan ribu petani menyerang para imam, uskup, prajurit, menguasai kota, membuat kekacauan, dan mengakibatkan serangan balik dari pihak penguasa dan pemerintah yang menewaskan sekitar 130,000 petani belum termasuk golongan masyarakat yang lain. Menurut sejarahwan William Manchester, jumlah warga Jerman yang wafat di sekitar waktu konflik tersebut mencapai sekitar 250,000 orang, jika dihitung sejak tahun 1523 sampai 1527. Juga, hanya dalam waktu 20 hari, Revolusi Perancis (1794), yang dimotori oleh gerakan “Enlightenment”, meng-eksekusi pria dan wanita sebanyak 16,000- 40,000. Jumlah korban ini, jauh lebih banyak daripada korban inkuisisi dalam 30 tahun pemerintahan Ratu Isabella. Demikian juga, pembunuhan 72,000 umat Katolik yang dilakukan oleh Raja Inggris Henry VIII, sehingga jumlah orang yang meninggal selama beberapa tahun pada masa pemerintahan Henry VIII dan anaknya Elizabeth I, jauh melebihi apa yang terjadi pada inkuisisi di Spanyol dan Roma selama 3 abad.”

      3. Apakah Gereja kudus seperti tabut perjanjian yang kudus?

      Sesungguhnya, setiap umat beriman, dipanggil untuk menjadi kudus, seperti halnya tabut perjanjian, sebab Kitab Suci mengajarkan bahwa tubuh kita dalah tempat kediaman Roh Kudus (1 Kor 6:19). Gereja Katolik mengartikannya secara lebih nyata, yaitu setiap anggota Gereja yang menyambut Kristus dalam Ekaristi kudus, bersatu dengan Kristus (Komuni), dan dengan demikian menjadi tabut Allah sendiri. Ekaristi inilah yang memberikan hidup kepada Gereja dan menguduskannya. Itulah sebabnya dari antara orang-orang yang berdosa, timbullah orang-orang yang mampu mengatasi kelemahannya dan hidup melaksanakan hukum kasih sampai tingkatan yang heroik, seperti yang ditunjukkan oleh para orang kudus (Santa/o) dan martir, sebab mereka bekerjasama dengan rahmat Allah. Walaupun tidak semua orang dapat meniru teladan para orang kudus, namun tetaplah setiap orang dipanggil untuk hidup kudus. Dan pesan inilah yang diserukan oleh Konsili Vatikan II, yang menjadi salah satu pesan intinya.

      4. Di manakah letak kekudusan Katolik?

      Pertama-tama tentu terletak pada Kristus Sang Kepalanya. Kristus yang mendirikan Gereja-Nya, yaitu Gereja Katolik di atas rasul Petrus (lih. Mat 16:18), adalah kudus.

      Sedangkan hal-hal yang lainnya, itu mengalir dari kekudusan Kristus ini, dan tak dapat dilepaskan dari Kristus. Kekudusan ini nampak pula dalam diri para orang kudus, terutama Bunda Maria dan para Santo/a dan para martir. Kekudusan ini nampak dalam sakramen-sakramen-Nya, yaitu yang melaluinya rahmat Allah disampaikan kepada umat-Nya. Juga, kekudusan yang mengacu kepada kesempurnaan kasih yang mempersatukan, ini nampak dalam kesatuan Gereja Katolik yang tetap terjaga sejak didirikan oleh Kristus di abad pertama. Sepanjang sejarah memang terdapat sejumlah orang-orang tertentu yang memisahkan diri dari Gereja Katolik, namun Gereja Katolik sendiri tidak terpecah. Kepemimpinannya oleh Paus sebagai penerus Rasul Petrus dapat ditelusuri sampai awal mula, yaitu sampai kepada Rasul Petrus itu sendiri. Paus sekarang, Paus Fransiskus di urutan ke 266. Urutannya, dapat dibaca di sini, silakan klik. Akhirnya kekudusan itu nampak dari buah-buah Roh Kudus yang keluar dari pelayanan kasih Gereja ataupun dari para anggota Gereja yang menerapkan iman mereka dalam perbuatan kasih.

      Semoga kekudusan juga dapat nampak dalam kehidupan kita, walau dalam cara yang kecil dan sederhana, dalam perkataan dan perbuatan.

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      Ingrid Listiati- katolisitas.org

  3. yusup sumarno on

    Dear Katolisitas,
    Dalam kasus di mana ,misalnya, Uskup, Imam, atau Paus sedang dalam keadaan tidak hidup dalam rahmat atau melakukan dosa besar dan belum bertobat, apakah peran menguduskan tetap bisa terjadi?atau saat imam yg sedang dalam dosa berat tsb merayakan ekaristi, apakah mujizat roti mnjdi tubuh Kristus tetap terjadi? Jika ya, mohon penjelasan. Terima kasih

    • Shalom Yusuf Sumarno,

      Kalau kita mau berfikir lebih mendalam, tidak ada seorangpun yang pantas untuk mengubah roti dan anggur menjadi tubuh, darah, jiwa dan ke-Allahan Kristus. Dan tidak ada seorangpun yang pantas untuk memberikan pengampunan dosa. Semua ini hanya mungkin kalau Kristus sendiri yang memberikan kuasa. Oleh karena itu, validitas sakramen tidak bergantung pada kesucian pastor, uskup atau paus yang melakukannya, namun tergantung dari kuasa dan perintah Kristus. Dengan kata lain, selama forma dan materi dari sakramen tersebut valid, maka sakramen tersebut pasti memberikan rahmat yang mengalir dari misteri Paskah. Katekismus Gereja Katolik menuliskan sebagai berikut:

      KGK 1128.    Inilah arti dari ungkapan Gereja (bdk. Konsili Trente: DS 1608), bahwa Sakramen-sakramen bekerja ex opere operato [secara harfiah: "atas dasar kegiatan yang dilakukan"]. Artinya, mereka berdaya berkat karya keselamatan Kristus yang dilaksanakan satu kali untuk selamanya. Oleh karena itu: “Sakramen tidak dilaksanakan oleh kesucian manusia yang memberi atau menerima [Sakramen], tetapi oleh kekuasaan Allah” (Thomas Aqu., s.th. 3,68,8). Pada saat Sakramen dirayakan sesuai dengan maksud Gereja, bekerjalah di dalam dia dan oleh dia kekuasaan Kristus dan Roh-Nya, tidak bergantung pada kekudusan pribadi pemberi. Buah-buah Sakramen juga bergantung pada sikap hati orang yang menerimanya.

      Jadi, yakinlah bahwa setiap kali pastor – baik yang kudus maupun kurang kudus – merayakan Ekaristi, maka mukjizat pasti terjadi. Kristus yang telah berjanji untuk bersatu dengan kita dalam wujud roti dan anggur tidak akan mengingkari janji-Nya, walaupun kadang kita mengingkari Kristus. Semoga dapat membantu.

      Salam kasih dalam kasih Kristus,
      stef – katolisitas.org

      • yusup sumarno on

        Pak Stef,
        Banyak terima kasih atas jwban yg gamblang ini. Sungguh bangga dg team katolisitas dan pd Gereja yg telah menyediakan semua jawaban. Gbu

  4. valentina fransisca tsang on

    Dear Katolisitas

    beberapa hari yang lalu Ibu saya baru pulang dari P.Bali
    mengantar adik masuk perguruan tinggi disana.
    Ibu saya bercerita sebelum menemukan tempat kost untuk adik saya, mereka sempat tinggal di salah satu gereja., untuk beberapa hari.

    Ibu saya bercerita di gereja tempat mereka tinggal
    mirip seperti gereja katolik
    pemimpin gereja disebut pastori bahkan ada yang tidak boleh menikah
    mereka juga membuat tanda salib sebelum berdoa
    doa-doanya ada juga yang mirip-mirip gereja katolik
    mulai dari Doa Aku percaya, salam ibu suci maria dan kemulian
    bahkan mereka mempunyai sakramen mencapai 6

    bahkan setelah ibu saya menemukan tempat Kost, mereka menawarkan diri untuk ibadat pemberkatan rumah.

    yang ingin saya tanyakan:
    1. Apakah gereja ini salah satu bagian dari gereja katolik?
    2. Apakah berdosa pergi ke gereja tersebut mengingat hanya itu gereja
    terdekat dari tempat adik saya tinggal kost.
    3. Bila berdosa, bagaimana cara kami menghindar karena adik saya cerita
    setiap ada kebaktian mereka selalu menjemput ke tempat kost.
    4. Apakah adik saya perlu melaporkan hal ini pada pengurus paroki di sana?

    salam kasih dari saya
    valentina fransisca tsang

    • RD. Bagus Kusumawanta on

      Valentina Yth

      Saya orang Bali dan tinggal di Gianyar, tahu baik kota Denpasar. Sejauh yang saya ketahui di Bali tidak ada Gereja Katolik Bebas kecuali sekarang ada Gereja Ortodox tapi non Katolik, di Singaraja. Lalu anda bercerita tentang Gereja yang bagi saya sepertinya mirip Gereja Katolik, apakah itu Gereja Katolik Bebas seperti yang ada di Surabaya atau Gereja Anglikan yang juga mirip. Di mana alamat Gereja itu? Saya mungkin belum tahu kalau di Denpasar sudah ada. Mohon kabarnya.

      Gereja itu tidak ada sangkut pautnya dengan Gereja Katolik dan Gereja Katolik tidak ada cabangnya melainkan satu dan universal. Cara menghindari, katakan tidak, saya tetap Katolik dan ke Gereja Katolik. Bisakah anda tahu di mana alamatnya. Saya di Gereja Katolik St Maria Ratu Rosari Gianyar, jalan Mulawarman 92 A, Gianyar. Silakan datang bila ada kesulitan. Anda perlu melaporkan ke pastor paroki atau pada saya, akan saya sampaikan ke pastor paroki di mana anda tinggal jika ada gangguan pemaksaan, dll. Jangan mau dirayu dijemput dll, iman dan kepercayaan dibangun atas dasar iman dan kebebasan manusia dalam menjawab panggilan Tuhan, tidak dengan paksaan apalagi dengan servis jemputan.

      Salam
      Rm Wanta

  5. Tidak ada ayatnya dalam alkitab bahwa Gereja Katolik yang kudus jangan menipu diri dan bangga bahwa gereja katolik itu kudus di Dunia ini tidak ada yang kudus Nanti Tuhan Yesus kembali kedua kalinya kedunia baru ada yang Ia Kuduskan sesuai dengan kehendakNYA. Jangan bodoh

    • Shalom Fransiska,

      Terima kasih atas komentar Anda. Sesungguhnya, Anda mempunyai kesempatan untuk memberikan argumentasi yang menyanggah artikel di atas dengan baik dan terstruktur dan tidak hanya memberikan argumentasi “pokoknya tidak ada di Kitab Suci”. Apalagi Kitab Suci sendiri tidak memberikan ayat bahwa satu-satunya sumber kebenaran adalah Kitab Suci. Semoga Anda dapat membaca sekali lagi artikel di atas, dan dapat memberikan argumentasi yang lebih baik.

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      stef – katolisitas.org

    • “Ada kurang dari 100 orang di dunia yang benar-benar membenci Gereja Katolik, namun ada jutaan orang yang membenci apa yang mereka mengerti secara salah sebagai Gereja Katolik.“

      -Ven. Fulton J. Sheen-

    • Imanuel Ronaldo on

      Gereja Tuhan adalah Kudus sehingga diibaratkan sebagai perawan suci yang akan di persunting oleh Tuhan Yesus sendiri di Akhir Zaman

      - Imanuel Ronaldo/GPDI Nafiri Pasuruan

      [dari katolisitas: Dan apakah ciri-ciri dari Gereja Tuhan atau Gereja yang didirikan sendiri oleh Kristus?]

  6. Bapak Stefanus Tay dan Ibu Ingrid Tay, mohon pencerahan, kenapa ada 2 jenis syahadat para Rasul yang pendek dan panjang, bagaimana historisnya? Terimakasih atas jawabannya.

    [Dari Katolisitas: Syahadat yang kita kenal sekarang ada dua, yaitu syahadat singkat (disebut syahadat apostolik) dan syahadat yang panjang (disebut syahadat Nisea), yang berasal dari syahadat Konsili Nisea. Teksnya dapat kita lihat dalam Ketekismus Gereja Katolik, sebelum Bagian Kedua, KGK 185.
    KGK 194:
    Syahadat apostolik, yang dinamakan demikian karena dengan alasan kuat ia dipandang sebagai rangkuman setia dari iman para Rasul. Itulah pengakuan Pembaptisan lama dalam Gereja Roma. Karena itu ia mempunyai otoritas tinggi: “Itulah simbolum yang dijaga Gereja Roma, di mana Petrus, yang pertama di antara para Rasul, mempunyai takhtanya dan ke mana ia membawa ajaran iman para Rasul itu” (Ambrosius, symb. 7).
    KGK 195:
    Juga apa yang dinamakan Syahadat Nisea-Konstantinopel mempunyai otoritas besar karena ia dihasilkan oleh kedua konsili ekumenis yang pertama (325 dan 381) dan sampai hari ini merupakan milik bersama semua Gereja besar di Timur dan di Barat.]

  7. Shalom katolisitas.
    Tolong dijelaskan maksud yang anda tulis seperti kalimat berikut ini:(alinea ke dua dari sub judul ini Gereja sebagai tujuan akhir hidup manusia)
    “Di dalam diri Kristus, Allah yang tidak kelihatan menyatakan diriNya dan Kristus menjadi yang sulung dari segala ciptaan.” Kristus menjadi yang sulung dari segala ciptaannya, seakan-akan Yesus adalah ciptaan seperti halnya kita manusia. Trimakasih GBU

    • Shalom Frans,

      Di dalam artikel di atas dituliskan “Di dalam diri Kristus, Allah yang tidak kelihatan menyatakan diriNya dan Kristus menjadi yang sulung dari segala ciptaan.” Hal ini sehubungan dengan ayat Kolese “Ia adalah gambar Allah yang tidak kelihatan, yang sulung, lebih utama dari segala yang diciptakan, karena di dalam Dialah telah diciptakan segala sesuatu, yang ada di sorga dan yang ada di bumi, yang kelihatan dan yang tidak kelihatan, baik singgasana, maupun kerajaan, baik pemerintah, maupun penguasa; segala sesuatu diciptakan oleh Dia dan untuk Dia.” (Kol 1:15-16; bdk. Rom 8:29; Kol 1:18) Yang sulung di sini tidak dapat diartikan sebagai sesuatu yang sejajar dengan ciptaan yang lain, melainkan diartikan secara metafor, yaitu bahwa Kristus telah ada sebelum penciptaan. Dengan kata lain, keberadaan-Nya adalah sebelum Abraham (lih. Yoh 5:58), dan pada mulanya adalah Firman, yang bersama-sama dengan Allah dan Dia adalah Allah (lih. Yoh 1:1).

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      stef – katolisitas.org

  8. saya ingin bertanya apakah tidak dapat sesat itu sama dengan tidak bisa salah? bagaimana usaha greja katolik di masa lalu yg tidak mengijinkan orang – orang biasa untuk memiliki Alkitab? bagaimana dgn Penganiayaan yang di lakukan oleh Greja? apakah penyiksaan itu tidak di anggap sebuah kesalahan?

    [dari katolisitas: Silakan melihat dua artikel ini - silakan klik, dan klik ini]

  9. yusup sumarno on

    Pak dan Bu Tay,

    ada salah ketik (kurang kata “tak” atau “tidak”) pada kalimat ini: Ya, Tuhan bermaksud menjadikan kita bagian yang terpisahkan daripada-Nya, bersatu denganNya di dalam hidup Ilahi dan menikmati kebahagiaan bersamaNya tanpa akhir.

    [Dari Katolisitas: Terima kasih atas koreksi Anda dan kejelian Anda membaca. Ya, ada kesalahan di sana, seharusnya 'tak terpisahkan'. Sekali lagi, terima kasih.]

    Tidak ada kata kata lain setelah membaca artikel ini selain: bangga dan bersyukur menjadi Katolik dan rindu untuk lebih mengasihi sesama karena Ia memberikan Gereja karena kasihNya.

Add Comment Register



Leave A Reply