Aku Percaya

16

I. Iman menurut Kitab Suci

  • Ibr 11:1 - Tanpa iman, tidak seorangpun dapat berkenan kepada Allah.
  • Mk 9:17-27 – Dengan iman segala sesuatu mungkin; kita perlu memohon agar Tuhan menambahkan iman kita.
  • Mat 16:17 – Iman adalah karunia pemberian Tuhan
  • Yoh 3:16 – Iman kepada Yesus memimpin kepada kehidupan kekal.
  • Mrk 16:16 – Kita diselamatkan dalam iman dan baptisan.
  • Yoh 3:36 – Iman mensyaratkan ketaatan.
  • Yoh 6:40 – Tuhan memberikan kita keinginan untuk beriman.
  • Ef 1:18 – Iman yang mencari pengertian.
  • Ef 2:1-10 – Kita diselamatkan oleh iman, dan ini adalah karunia Allah.
  • Ef 6:16 – Iman adalah pelindung terhadap Setan.
  • Kol 1:23 – Berpeganglah pada iman yang dikaruniakan kepadamu.
  • Yak 1:3-8 – Kita harus berteguh dalam iman.
  • Luk 1:26-45 – Bunda Maria adalah teladan dalam beriman.

II. Iman menurut Katekismus Gereja Katolik

  • KGK 143-167 – Tentang iman
  • KGK 153, 179, 234 – Iman adalah karunia, rahmat Allah
  • KGK 157, 161 – Iman adalah pasti dan perlu untuk keselamatan
  • KGK 153, 156-159 – Iman mencari pengertian, iman dan akal budi bersatu
  • KGK 29, 162, 1003 – Iman dapat bertumbuh, dapat hilang dan didapat kembali
  • KGK 163-153 – Iman adalah permulaan kehidupan kekal

III. Iman menurut Para Kudus

  • St. Tomas Rasul (abad ke-1): Saat melihat Yesus yang bangkit menunjukkan bekas luka- luka-Nya, Tomas percaya dan berkata, “Ya Tuhanku dan Allahku!” (Yoh 20:28).
  • St. Ambrosius (abad ke-4): “Ketika seseorang percaya, murka Tuhan beranjak darinya, dan kehidupan menghampirinya” (On Penitence, I, 51)
  • St. Tomas Aquinas (abad ke-13) “Pencipta iman adalah Dia yang menghasilkan persetujuan dari orang yang percaya kepada kebenaran yang dinyatakan. Sekedar pendengaran bukanlah penyebab yang cukup. Persetujuan disebabkan oleh kehendak, bukan hanya dengan akal budi semata. Oleh karena itu, seorang pewarta atau pengkotbah tidak dapat menghasilkan iman. Tuhan adalah penyebab dari iman, karena hanya Dia yang dapat mengubah kehendak kita.” (Disputations concerning Truth, 27,3.)

IV. Makna Iman

Dalam credo/ syahadat, kita memulai dengan perkataan “Aku Percaya” atau “Kami Percaya”. Iman adalah syarat untuk mendapatkan keselamatan, karena tanpa iman, tidak seorangpun dapat berkenan kepada Allah (Ibr 11:1). Kita dapat menjabarkan makna “Aku percaya”  dalam tiga hal (KGK, 35):

1. Manusia mempunyai kapasitas untuk mengetahui dan mengasihi Allah. Hal ini dapat kita lihat dari tingkah laku religius seperti kurban, doa, upacara, meditasi dari semua budaya manusia, walaupun tidak sempurna. Inilah sebabnya manusia disebut mahkluk religius[1]. Dapat dikatakan bahwa manusia memiliki kemampuan untuk mengetahui dan mengasihi Pencipta-Nya, dan ini menandakan bahwa manusia diciptakan menurut gambar Allah (Kej 1:27).

2. Tuhan datang kepada kita untuk mewahyukan Diri-Nya. Karena pengetahuan manusia tidak sempurna untuk mencapai Tuhan, maka terdorong oleh kasih-Nya, Allah mewahyukan Diri-Nya kepada manusia, agar manusia dapat memperoleh pengetahuan akan kebenaran.

3. Manusia harus menanggapi wahyu Allah. Karena pengetahuan manusia akan Allah tidaklah sempurna sedangkan wahyu Allah adalah sempurna, maka sudah seharusnya manusia menanggapi wahyu yang diberikan oleh Allah.

V. Manusia mempunyai kapasitas untuk mengetahui dan mengasihi Allah

1. Manusia terbuka terhadap kebenaran, kebaikan dan keindahan

Manusia merindukan kebahagiaan yang bersifat kekal, yang tidak dapat diberikan oleh materi yang bersifat sementara.[2] Hal ini diperkuat dengan kemampuan manusia yang terbuka terhadap kebenaran, di mana manusia mengenali nilai-nilai moral di dalam hati nuraninya, seperti: jangan melakukan apa yang tidak ingin orang lain perbuat kepadamu. Manusia juga dapat menghargai keindahan dan kebaikan, yang menjadi benih untuk mengenal Tuhan yang adalah indah dan baik secara absolut.[3]

2. Manusia mengenali Tuhan lewat dunia

Kalau manusia mau mengamati dunia sekelilingnya, maka manusia dapat melihat bahwa tidak mungkin dunia dan seluruh alam raya terjadi secara kebetulan, karena tertata secara teratur. Keindahan dunia ini dapat menuntun manusia kepada Sang Pencipta.[4]

VI. Allah menyatakan diri-Nya

Walaupun manusia dengan akal budinya mempunyai kemampuan untuk mengenal Pencipta-Nya,[5] namun tanpa Allah menyatakan Diri-Nya, manusia tidak dapat memahami Pribadi Allah secara lengkap.

1. Kitab Suci

Allah telah memberikan inspirasi Roh Kudus kepada para penulis Kitab Suci untuk menuliskan Sabda Allah (2Tim 3:16), sehingga manusia dapat melihat rencana keselamatan Allah, yang dimulai dari Perjanjian Lama (PL) sampai Perjanjian Baru (PB) dan manusia dapat memperoleh pengetahuan akan kebenaran. Rencana keselamatan ini dimulai dari Adam dan Hawa (satu keluarga), kemudian nabi Nuh (beberapa keluarga), Abraham (suku), Yakub (bangsa Israel), Daud (kerajaan), dan Kristus yang mendirikan Gereja-Nya (seluruh dunia).

2. Tradisi Suci

Tradisi Suci adalah Tradisi yang berasal dari para rasul yang meneruskan apa yang mereka terima dari ajaran dan contoh Yesus dan bimbingan dari Roh Kudus. Oleh Tradisi, Sabda Allah yang dipercayakan Yesus kepada para rasul, disalurkan seutuhnya kepada para pengganti mereka, supaya dalam pewartaannya, mereka memelihara, menjelaskan dan menyebarkannya dengan setia.[6] Tradisi Suci ini tidak dapat bertentangan dengan Kitab Suci, bahkan mendukung kejelasan akan makna dari Kitab Suci yang sebenarnya.

3. Magisterium Gereja atau Wewenang mengajar Gereja

Dari uraian di atas, kita mengetahui pentingnya peran Magisterium yang “bertugas untuk menafsirkan secara otentik Sabda Allah yang tertulis atau diturunkan itu yang kewibawaannya dilaksanakan dalam nama Yesus Kristus.” ((KGK, 85; DV, 10) Magisterium ini tidak berada di atas Sabda Allah, melainkan melayaninya, supaya dapat diturunkan sesuai dengan yang seharusnya. Dengan demikian, oleh kuasa Roh Kudus, Magisterium yang terdiri dari Bapa Paus dan para uskup pembantunya [yang dalam kesatuan dengan Bapa Paus]  menjaga dan melindungi Sabda Allah itu dari interpretasi yang salah.

VII. Iman adalah tanggapan manusia atas wahyu Allah

1. Iman sebagai tanggapan kita kepada Allah yang mewahyukan Diri-Nya.

Allah telah mewahyukan Diri-Nya kepada manusia secara bertahap, sejak Perjanjian Lama sampai Perjanjian Baru dan kemudian diwariskan oleh Gereja dari satu generasi ke generasi berikutnya. Oleh karena wahyu Allah dapat memenuhi kerinduan kita akan kebahagiaan, kebenaran, kebaikan, dan keindahan, maka sudah seharusnya kita menanggapi pewahyuan ini.

2. Iman sebagai pemberian Allah

Walaupun iman merupakan tanggapan manusia, namun sisi lain dari iman adalah pemberian Allah, yang diberikan pada saat baptisan. Bantuan Allah ini membantu kita untuk menjawab panggilan Allah untuk menjadi anak-anak Allah dan mengambil bagian di dalam kehidupan Allah. Tuhan membantu kita, agar kita mampu untuk untuk menjalankan iman kita dan setia sampai pada akhirnya. Semua tawaran dan bantuan Allah diberikan secara cuma-cuma kepada manusia, yang juga menuntut tanggapan secara bebas dari manusia.

3. Iman adalah kepastian

Iman bukanlah masalah perasaan atau loncatan emosi sesaat, namun iman adalah sesuatu yang pasti karena kebenarannya diberikan oleh Allah sendiri, yang tidak mungkin berdusta. Iman juga tidak bertentangan dengan akal budi, karena keduanya diciptakan oleh Tuhan. Jadi kepastian iman adalah berdasarkan otoritas Allah sendiri.

4. Tahapan iman adalah mendengar, mempertimbangkan, mempercayai dan mentaati (Kis 8:27-39).

Tahap pertama adalah mendengar, yang berarti perlu ada yang memberitakan dan perlu ada yang menanggapi. Dikatakan “Bagaimanakah aku dapat mengerti, kalau tidak ada yang membimbing aku?” (Kis 8:31) Setelah mendengar, diperlukan pertimbangan akal budi. Akal budi tidak bertentangan dengan iman, karena keduanya berasal dari Tuhan. Dan setelah mempertimbangkan tentang iman yang diberikan, seseorang dapat mempercayai kebenaran. Setelah menerima kebenaran iman, seseorang harus mentaati kebenaran yang diberitakan, baik dalam perkara yang mudah maupun dalam perkara yang sulit.

5. Ketaatan iman adalah cermin dari kedewasaan iman

Kedewasaan iman seseorang terlihat dari ketaatan imannya, yang berarti menempatkan kebenaran iman di atas kepentingan pribadi. Kalau Tuhan telah menyatakan kebenaran, maka selayaknya kita tidak memilih-milih kebenaran yang kita percayai, melainkan kita mempercayainya secara menyeluruh. Mentaati [Latin: ob-audire] bukanlah sekedar mendengar, namun mendengarkan. Ketaatan iman berarti penyerahan yang total dari akal budi dan keinginan kita kepada kebenaran yang diwahyukan oleh Allah, yang kebenaran-Nya dijamin oleh Allah sendiri. Sikap ini membuat seseorang menjadi saksi Allah, karena hidupnya dijalankan sesuai dengan perintah Allah.

6. Manfaat dari iman.

a. Iman menyatukan jiwa kita dengan Tuhan.

Persatuan dengan Allah terjadi dalam baptisan, sehingga baptisan disebut sakramen iman yang pertama, yang menuntun seseorang pada keselamatan (lih. Mrk 16:16). Inilah sebabnya Rasul Paulus menegaskan bahwa tanpa iman tidak ada seorangpun yang berkenan kepada Allah (lih. Ibr 11:6).

b. Iman memperkenalkan kita pada kehidupan kekal.

Kitab Suci mengajarkan, “Inilah hidup yang kekal itu, yaitu bahwa mereka mengenal Engkau, satu-satunya Allah yang benar, dan mengenal Yesus Kristus yang telah Engkau utus.” (Yoh 17:3)

c. Iman menuntun kehidupan kita.

Untuk dapat hidup baik, maka seseorang harus mengetahui bagaimana untuk hidup dengan baik. Cara untuk hidup baik tidak dapat dicari sendiri oleh setiap individu, karena untuk mencapainya diperlukan waktu yang lama dan dapat salah. Dikatakan “Orang yang benar itu akan hidup oleh percayanya (imannya).” (Hab 2:4)

d. Iman membantu kita untuk mengalahkan pencobaan.

Pencobaan dapat datang dari setan, dari dunia, maupun dari kedagingan kita.

1. Setan dapat mencobai kita untuk melawan Allah. Pencobaan ini dapat dikalahkan oleh iman, karena iman mengatakan bahwa Dia adalah Allah dari semua, yang harus ditaati. Dikatakan “Sadarlah dan berjaga-jagalah! Lawanmu, si Iblis, berjalan keliling sama seperti singa yang mengaum-aum dan mencari orang yang dapat ditelannya. Lawanlah dia dengan iman yang teguh, sebab kamu tahu, bahwa semua saudaramu di seluruh dunia menanggung penderitaan yang sama.” (1 Pet 5:8-9)

2. Dunia dapat menggoda kita dengan menawarkan gemerlapnya kekayaan maupun ketakutan akan penderitaan. Iman dapat mengalahkan godaan tersebut, karena iman mengajarkan bahwa ada kehidupan yang yang lebih baik di Sorga, sehingga kita dapat menyingkirkan gemerlapnya dunia dan tidak takut dalam menghadapi percobaan dunia. Rasul Yohanes menuliskan “Inilah kemenangan yang mengalahkan dunia: iman kita.”(1Yoh 5:4) Iman juga membantu kita untuk mengerti bahwa ada kejahatan yang lebih ditakuti dari semua ancaman dunia ini, yaitu neraka. Kristus berkata, “Dan janganlah kamu takut kepada mereka yang dapat membunuh tubuh, tetapi yang tidak berkuasa membunuh jiwa; takutlah terutama kepada Dia yang berkuasa membinasakan baik jiwa maupun tubuh di dalam neraka.” (Mat 10:28)

3. Kedagingan menggoda kita dengan kenikmatan dunia ini. Karena iman mengatakan bahwa hamba nafsu dapat kehilangan keselamatan kekal (lih. Gal 5:19-21), maka kita dapat menghindari godaan ini dengan iman. Sabda Tuhan mengatakan, “dalam segala keadaan pergunakanlah perisai iman.” (Ef 6:16)

7. Bagaimana bertumbuh dalam iman?

Karena iman adalah karunia Tuhan untuk membantu kita menuju keselamatan, maka sudah seharusnya kita memelihara dan menjaga iman kita dengan bijaksana setiap saat. Agar kita dapat hidup, bertumbuh dan setia pada iman kita sampai akhir, maka kita perlu: (a) disegarkan dengan Firman Allah dan doa; (b) minta kepada Tuhan untuk menambah iman kita; (c) terus bertumbuh dalam perbuatan kasih yang berdasarkan iman. Pertumbuhan dan kemantapan iman perlu didukung dengan pengertian yang benar tentang iman, sehingga diperlukan sikap iman yang mencari pengertian.

8. Kehilangan iman atau dosa melawan iman

Ada kalanya, seseorang dapat kehilangan karunia yang paling berharga yang diberikan oleh Tuhan, yaitu iman. Kehilangan iman adalah sama saja dengan kehilangan hubungan kasih mesra dengan Allah, sehingga dapat berakibat sangat fatal. Beberapa hal yang menyebabkan seseorang dapat kehilangan iman adalah:

a. Ketidakperdulian. Ketidakperdulian akan hal-hal yang bersifat rohani, akan tujuan akhir (yaitu Sorga) dapat menyebabkan akibat fatal, karena akan membuat seseorang tidak melihat pentingnya iman.

b. Terjebak oleh jeratan dunia ini. Orang yang terfokus pada apa yang terjadi di dunia ini dapat kehilangan fokus akan kehidupan kekal.

c. Skandal dari umat dan Gereja. Seseorang dapat kehilangan iman karena batu sandungan yang diakibatkan oleh umat beriman yang hidup tidak sesuai dengan apa yang diimaninya. Lebih lanjut kekecewaan terhadap Gereja juga dapat menyebabkan seseorang kehilangan iman. Orang ini gagal untuk melihat bahwa fokus dari iman bukanlah pada orang-orangnya namun pada pengajaran dan kebenaran yang diberikan. Namun demikian, adalah tantangan bagi seluruh umat beriman dan Gereja untuk dapat memancarkan kebenaran dan kasih Kristus.

d. Kejahatan di dunia. Orang sering kehilangan iman karena melihat kejahatan di dunia ini, sehingga seseorang bertanya-tanya, di manakah Tuhan. Orang dalam kategori ini gagal melihat bahwa ada keadilan yang akan ditegakkan pada saat akhir zaman. Kejahatan tidak membuktikan bahwa kebaikan tidak ada, karena kebaikan juga dapat dilihat di dunia ini.

e. Tekanan budaya dan sosial terhadap iman. Seseorang yang hidup dalam tekanan sosial dan budaya yang memandang sinis terhadap agama dapat menyeret seseorang yang kurang kuat imannya kepada arus budaya yang bertentangan dengan nilai-nilai kristiani.

VIII. Penutup

Dari pemaparan di atas, kita dapat melihat bahwa iman adalah tindakan Allah yang memberikan karunia kepada umat-Nya dan sekaligus tindakan manusia, yaitu tanggapan manusia akan Allah yang mewahyukan Diri-Nya. Karena Allah tidak mungkin berdusta, maka wahyu Allah terjamin kebenarannya.

Oleh iman yang dinyatakan dengan Baptisan, kita memperoleh keselamatan, karena melalui iman kita disatukan dengan Tuhan, dituntun di dalam hidup kita untuk mengalahkan godaan, agar sampai kepada kehidupan kekal.

IX. Diskusi

  1. Apakah arti iman bagimu dan berikan beberapa contoh.
  2. Apakah dasar dari iman?
  3. Kapankah anda menyadari bahwa iman adalah pemberian?
  4. Apa yang perlu anda lakukan agar iman anda bertumbuh?
  5. Apakah yang dapat memperlemah iman?
  6. Bagaimana doa dapat membantu pertumbuhan iman?

CATATAN KAKI:
  1. KGK, 28 []
  2. KGK, 33; GS, 18,1; GS, 14,2 []
  3. KGK, 41; bdk. Keb 13:5 []
  4. KGK, 32; bdk. Rm 1:19-20; bdk St. Agustinus dari Serm. 241,2 []
  5. KGK, 36 []
  6. KGK, 81; DV, 9 []
Share.

About Author

Stefanus Tay, MTS dan Ingrid Listiati, MTS adalah pasangan suami istri awam dan telah menyelesaikan program studi S2 di bidang teologi di Universitas Ave Maria - Institute for Pastoral Theology, Amerika Serikat.

16 Comments

  1. Salam kasih Kristus, trima kasih atas pembahasan Credo ini, moga makin banyak yang terbantu dalam mempertahankan dan mengembangkan iman Katolik

  2. Pace e bene, Tim Katolisitas

    Mungkin aku masih terlalu muda untuk bertanya ini.
    Terlepas dari tentang ajaran Katolik atau tidak
    Tetapi dalam hidup seseorang pasti selalu pertanyaan.
    Dan ini tentang keberadaan Allah.
    “Mengapa Allah ada?”

    Dan pertanyaan terakhir (cukup dengan jawaban “ya” atau “tidak”)

    Apakah benar isi Alkitab itu dongeng?

    Mungkin kedua pertanyaan itu bisa dengan gampang dijawab sekalipun oleh anak-anak…

    Tetapi saya kira ada sesuatu yang tidak biasa di dalam pertanyaan itu.

    • Shalom Benny,

      Terima kasih atas pertanyaannya. Bersyukurlah kalau Anda masih muda namun telah mempunyai kerinduan untuk menggali kebenaran. Tentang keberadaan Allah dan kaitannya dengan apa yang kita percaya, saya mengusulkan agar Anda dapat membaca dua link ini – silakan klik dan klik ini. Dalam artikel tersebut, keberadaan Allah yang satu dapat dibuktikan dengan menggunakan akal budi.

      Dalam dua artikel tersebut, Anda dapat menemukan jawaban tentang bagaimana membuktikan Allah itu ada, dan apakah Allah itu. Kalau ditanya mengapa Allah ada, maka hal ini mensyaratkan bahwa kita mempercayai bahwa ada Allah. Dari sisi Allah tidak ada yang perlu ditanyakan mengapa Dia ada, karena keberadaan-Nya tidak ditentukan oleh yang lain. Keberadaan-Nya tidak tergantung dari segala sesuatu yang ada. Namun, kalau kita melihat dari sisi kita, maka keberadaan Allah memungkinkan segala sesuatu menjadi ada, karena Allah adalah yang menyebabkan segala sesuatu yang baik ada.

      Anda bertanya apakah Kitab Suci itu dongeng. Jawabanya adalah tidak, meskipun tujuan penulisan Alkitab bukanlah menjadi buku sejarah, namun, untuk mengantar manusia pada kehidupan kekal. Beberapa diskusi ini dapat membantu Anda untuk mendapatkan gambaran secara lebih mendalam – silakan klik dan klik ini. Semoga dapat membantu.

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      stef – katolisitas.org

  3. Andrew Wirawan on

    Salam damai Kristus,

    Saya ingin menanyakan apakah arti “faith”?
    Dan apakah “Faith” itu bagi dirimu sendiri?
    I know that Faith is something that is too good to be true, but I’m not sure how to explain it to orang yang menanyakan itu.
    Bagi saya sendiri faith is a way to practice love.

    Thanks,

    Andrew

    • Shalom Andrew,

      Terima kasih atas pertanyaannya. Kalau Anda ingin mendalami tentang arti iman, ada baiknya Anda mulai membaca dari artikel ini – silakan klik. Iman adalah keyakinan yang teguh terhadap kebenaran berdasarkan saksi. Oleh karena itu, tanggapan akan kebenaran yang dinyatakan oleh Kristus dan Gereja-Nya adalah dengan ketaatan iman. Ketaatan iman inilah yang mempengaruhi seluruh kehidupan kita. Kalau kita beriman akan Kristus, maka kita mentaati semua perintah yang diberikan oleh Kristus, dan kalau kita beriman bahwa Kristus mendirikan Gereja Katolik dan memberikan kuasa mengajar kepada Gereja, maka dengan sukacita dan kerendahan hati, kita mentaati pengajaran Gereja, baik yang mudah maupun yang sulit. Dengan demikian, iman yang kita yakini bukan tergantung dari apa yang kita pandang baik, sehingga kita mempunyai iman yang murni. Dengan beriman secara murni, maka kasih dan pengharapan kita akan berkembang.

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      stef – katolisitas.org

  4. yusup sumarno on

    Dear Katolisitas,

    Doa Aku percaya yang kita pakai selama ini, dari manakah dasar atau sumbernya? (KS, Tradisi Suci?).

    mohon tanggapan. terima kasih

    • Shalom Yusup Sumarno,

      Doa Aku Percaya dikenal juga sebagai “Syahadat para Rasul”. Maka teksnya itu diambil dari pengajaran para Rasul yang kemudian diturunkan oleh para penerus mereka (disebut Tradisi Suci). Secara rumusan persisnya memang tidak tertulis dalam Kitab Suci, tetapi semua bagian-bagiannya mengambil dasar dari Kitab Suci. St. Irenaeus dan Tertullian di abad ke2-3 sudah mencatat adanya beberapa rumusan syahadat tersebut yang mirip satu sama lain. Rumusan syahadat tersebut kemudian mencapai keseragamannya dalam Konsili Nicaea di abad ke-4.

      Untuk membaca penjelasan tentang makna Syahadat Aku Percaya, silakan Anda membaca Katekismus Gereja Katolik no. 26-1065. Di sana disampaikan dasar-dasar Kitab Suci dan Tradisi Suci sehubungan dengan pembahasan setiap artikel iman yang tercakup dalam Syahadat Aku Percaya.

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      Ingrid Listiati- katolisitas.org

  5. Shalom pak Stefanus,

    saya mau bertanya. pada bagian penjelasan manusia mempunyai kapasitas untuk mengenal dan mengasihi Allah, kog saya menangkap di sini manusia sebagai inisiator iman ya? Menurut John Calvin yaitu total depravity, peta dan teladan Allah yg telah Allah ciptakan telah rusak secara total tatkala manusia berdosa berarti seharusnya manusia tidak ada kemampuan sama sekali untuk mengenal apa lagi ingin bersekutu dengan Allah. Mohon bimbingannya ya.

    Di atas bapak memaparkan dalam komentar bahwa Allah menghendaki semua manusia diselamatkan namun dalam Roma 9:21-22 di sana ditulis bahwa “Allah menaruh kesabaran yang besar terhadap benda-benda kemurkaan-Nya …”. Dan sesuai dengan calvinisme, dia memaparkan bahwa penebusan itu hanya untuk sebagian orang. Bagaimana pendapat Bapak?

    Selain itu, mengenai kehilangan iman, bolehkah Bapak memberi ayat mengenai kehilangan iman? Menurut John Calvin, Allah menyediakan rahmat dan anugerah bagi umat pilihanNya agar tetap selamat atau tidak jatuh dalam lembah dosa. Sehingga walau orang tersebut berdosa dengan sangat berat sekali orang tersebut tetap sempat bertobat atau kembali pada TUHAN sebelum akhir hidupNya. Bagaimana pendapat Bapak?

    Terima kasih dan mohon bimbinganNya. Gbu.

    • Shalom Arliando,

      Memang, Martin Luther dan John Calvin mempunyai pendapat bahwa setelah manusia jatuh dalam dosa, maka manusia mengalami kerusakan total (total depravity), sehingga seolah-olah manusia tidak mempunyai kehendak bebas (free will) dan pada akhirnya menuntun pada pendapat double predestination. Namun, Gereja Katolik mengajarkan, bahwa ketika manusia pertama melawan Tuhan, maka mereka kehilangan sesuatu di luar kodrat mereka (infused knowledge, bebas dari penderitaan, tidak dapat mati, tunduknya kedagingan terhadap akal budi) dan sesuatu yang bersifat adi-kodrati, yaitu rahmat pengudusan (sanctifying grace). Namun, manusia tidak sepenuhnya rusak dan tetap mempunyai kehendak bebas dan mempunyai kemampuan untuk bekerjasama dengan rahmat Tuhan. Kita melihat perjuangan para Bapa Gereja yang mempertahankan kehendak bebas dari manusia ketika mereka melawan pengajaran sesat dari Gnostic, Manichean dan Albigensian , yang menolak kehendak bebas manusia. Dalam Konsili Trente, dalam Degree of Justification, can.5 dituliskan sebagai berikut “If anyone shall say that after the sin of Adam man’s free will was lost and destroyed, or that it is a thing in name only, indeed a title without a reality, a fiction, moreover, brought into the Church by Satan: let him be anathema.” atau “Jika seseorang mengatakan bahwa setelah dosa dari Adam kehendak bebas manusia hilang dan rusak, atau bahwa itu adalah sesuatu yang hanya nama saja, sebuah sebutan tanpa suatu realitas, sebuah fiksi, lebih lanjut, dibawa ke dalam Gereja oleh setan: biarlah dia anatema.” Pandangan Gereja ini bukan untuk menempatkan rahmat Allah dalam proses keselamatan lebih rendah daripada kehendak bebas manusia. Justru, Gereja juga mengajarkan bahwa tanpa rahmat Allah, manusia tidak dapat sampai ke Sorga. Dengan kata lain, Gereja senantiasa memperjuangkan pengajaran keduanya, yaitu rahmat Allah dan kehendak bebas yang saling terkait dan mengantar manusia pada keselamatan, seperti yang juga diajarkan oleh St. Agustinus.

      Rom 9:22 memang menuliskan “Jadi, kalau untuk menunjukkan murka-Nya dan menyatakan kuasa-Nya, Allah menaruh kesabaran yang besar terhadap benda-benda kemurkaan-Nya, yang telah disiapkan untuk kebinasaan.” Namun bukan berarti bahwa kita semua adalah benda-benda kemurkaan yang disiapkan untuk kebinasaan, karena Tuhan juga berfirman bahwa “[Tuhan] menghendaki supaya semua orang diselamatkan dan memperoleh pengetahuan akan kebenaran.” (1Tim 2:4) Jadi Rom 9:22 bukan ingin menekankan bahwa semua manusia adalah rusak, melainkan benda-benda kemurkaan-Nya adalah orang-orang yang dengan kehendak bebasnya menolak pemberitaan kabar gembira. Menaruh pengharapan akan belas kasih Allah, rasul Paulus tetap berdoa bagi mereka (lih. Rom 10:1) dan terus melakukan segala sesuatu untuk keselamatan mereka (lih. Rom 11:14). Kalau memang orang-orang tersebut pasti tidak diselamatkan karena telah ditakdirkan masuk neraka, maka rasul Paulus tidak perlu berdoa maupun berusaha melakukan segala sesuatu agar mereka juga dapat diselamatkan.

      Tentang kehilangan iman, maka kita dapat melihat di 1Tim 1:18-19, yang menuliskan “Tugas ini kuberikan kepadamu, Timotius anakku, sesuai dengan apa yang telah dinubuatkan tentang dirimu, supaya dikuatkan oleh nubuat itu engkau memperjuangkan perjuangan yang baik dengan iman dan hati nurani yang murni. Beberapa orang telah menolak hati nuraninya yang murni itu, dan karena itu kandaslah iman mereka.” Lebih lanjut Katekismus Gereja Katolik menjabarkan tentang ketabahan dalam iman sebagai berikut:

      KGK 162     Iman adalah satu anugerah rahmat yang Allah berikan kepada manusia. Kita dapat kehilangan anugerah yang tak ternilai itu. Santo Paulus memperingatkan Timotius mengenai hal itu: “Hendaklah engkau memperjuangkan perjuangan yang baik dengan iman dan hati nurani yang murni. Beberapa orang telah menolak hati nuraninya yang murni itu, dan karena itu kandaslah iman mereka” (1 Tim 1:18-19). Supaya dapat hidup dalam iman, dapat tumbuh dan dapat bertahan sampai akhir, kita harus memupuknya dengan Sabda Allah dan minta kepada Tuhan supaya menumbuhkan iman itu (Bdk. Mrk. 9:24; Luk 17:5; 22:32.). Ia harus “bekerja oleh kasih” (Gal 5:6; Bdk. Yak 2:14-26.), ditopang oleh pengharapan (Bdk. Rm 15:13.) dan berakar dalam iman Gereja.

      Semoga komentar di atas dapat membantu. Lebih lanjut diskusi tentang sola fide dapat dibaca di sini – silakan klik.

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      stef – katolisitas.org

  6. Setelah saya membaca artikel diatas, berikut pertanyaan Leonard dan tanggapan Pak Stef, saya ingin memberikan komentar.

    Menurut saya Iman bukan pemberian Allah, tetapi Pilihan manusia seutuhnya, kecuali yang terjadi pada orang-orang tertentu yang Dipilih Allah sebagai Utusan-Nya. Pertimbangan saya adalah karena hal itu bertentangan dengan Konsep tentang Pemberian Allah yang berupa Keinginan Bebas (freewill).

    Selain itu kalau Iman adalah Karunia Allah, maka sama saja kita mempercayai Ajaran tentang Pre-destinasi, atau lebih dikenal dengan Takdir. Seakan-akan ada orang tertentu yang sudah ditentukan untuk menjadi orang ber-Iman, sementara orang lain ditentukan menjadi orang sesat. Hal ini juga bertentangan dengan Karakter Allah adalah Kasih, yang Maha Adil.

    Justru karena Allah maha Kasih dan Adil, maka Dia memberikan kebebasan itu kepada Manusia, yang diaku sebagai Anak-Nya. Sedangkan kepada para orang pilihan-Nya, agak berbeda karena Nabi itu lebih banyak berperan bukan sebagai Anak-Nya, tetapi sebagai Hamba Allah. Sebagai Hamba, maka seorang Nabi atau Imam atau orang pilihan lainnya, maka dia memang sudah didisain dari Awal untuk memiliki keyakinan yang utuh kepada Allah, sebagai Tuannya, dan dia harus taat sepenuhnya, seperti yang dialami Yunus.

    Ketika Allah memberikan manusia kebebasan untuk memilih, Allah tetap berusaha membimbing anak-Nya itu dengan mengirimkan orang PilihanNya. Pada saat manusia mendengar berita Kebenaran dari seorang Nabi, maka saat ltulah mereka memilih hendak mempercayai atau tidak, disitulah Iman mulai tumbuh sebagai Tunas. Cerita selanjutnya, seperti yang diumpamakan oleh Yesus, tentang Benih yang ditaburkan.

    Bagaimana menurut pak Stef?

    • Shalom F.X Slamet,

      Iman harus dilihat dari dua sisi, yaitu pemberian Allah dan tindakan manusia untuk menanggapi wahyu Allah. Iman sebagai pemberian Allah tidaklah bertentangan dengan kehendak bebas manusia, karena walaupun Tuhan menawarkan iman kepada manusia, manusia tetap mempunyai kebebasan untuk menolaknya. Sebaliknya, tanpa rahmat Allah, manusia tidak dapat menanggapi wahyu Allah dengan baik. Kita percaya, bahwa memang Tuhan menghendaki semua orang untuk diselamatkan (lih. 1Tim 2:3-4). Dengan demikian, Tuhan memberikan rahmat yang diperlukan bagi manusia agar dapat menanggapi rahmat Allah serta karunia-karunia lain yang diperlukan bagi manusia untuk mencapai tujuan akhir, yaitu Sorga. Dengan demikian, Tuhan tidak pernah menentukan secara aktif (walaupun Dia juga tahu siapa-siapa saja yang masuk neraka, karena Tuhan maha tahu), bahwa sebagian orang akan masuk neraka. Dalam contoh yang anda berikan “Allah tetap berusaha membimbing anak-Nya itu dengan mengirimkan orang PilihanNya”, secara tidak langsung ingin mengatakan bahwa Allah memberikan bantuan kepada orang tersebut untuk dapat mempunyai iman. Dalam contoh penabur benih, maka Allah yang terlebih dahulu memberikan benih kepada manusia agar dapat menanggapi Sabda Allah. Jadi, kita dapat melihat bahwa iman pada saat yang bersamaan adalah pemberian Alllah, namun juga tanggapan manusia.

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      stef – katolisitas.org

  7. Shalom pak Stef,

    1. Apakah arti iman bagimu dan berikan beberapa contoh.
    2. Apakah dasar dari iman?
    3. Kapankah anda menyadari bahwa iman adalah pemberian?
    4. Apa yang perlu anda lakukan agar iman anda bertumbuh?
    5. Apakah yang dapat memperlemah iman?
    6. Bagaimana doa dapat membantu pertumbuhan iman?

    Tanggapan saya adalah:

    1. Iman bagi saya adalah kepastian dan kepercayaan utk sesuatu harapan akan kebenaran yg belum tentu benar. mengapa saya bilang begitu, di kacamata saya sebagai orang Kristen, orang yg non Kristen yg teguh memegang iman nya dengan percaya tuhannya adalah yg benar tetapi buat kita itu tidak benar. jadi siapa yg benar, sama2 tidak perna liat Tuhan kan? dan di kacamata saya kalau kita bilang ke Protestan kepenuhan kebenaran ada di GK dan Yesus mendirikan Gereja Katolik dan menginginkan Gereja bersatu, lalu mereka bilang nggak, gereja bukan Institusi atau organisasi tetapi kumpulan org2 yg percaya Jesus dan cukup Jesus karena dia adlah Jalan,kebenaran,Hidup. Jadi semua gereja sama saja karena berpusat kepada Yesus , bukti nya Tuhan Berkarya di gereja Dia dan Tuhan bebas memakai sapa saja. Jadi dia bertahan dengan iman protestan dia yg dia yakini benar tetapi menurut pemahaman saya salah. jadi sapa yg benar, Sama2 Tuhan berkarya di Gereja masing2?

    2. Dasar dari Iman menurut saya adalah kerinduan dan harapan utk mencari dan menemukan Tuhan

    3.Ketika saya di beri tau dan baca di Alkitab Iman itu pemberian dan bukan hasil kerja keras mu. Yg saya agak kurang mengerti, apakah Tuhan jg yg memberikan iman kepada orang yg Non-Kristen?

    4. Mohon dan bertekun di dalam Tuhan (Doa, Misa, Rosario, Saat Teduh, dsb)

    5. Kesombongan, keragu2an, malas bertekun dalam Tuhan (Doa, Misa, Rosario, Saat Teduh, dsb)

    6. Karena Tuhan pasti menjawab doa kita.

    Sekedar sharing saja. Dulu ketika saya lg krisis Iman (apakah Yesus adalah Tuhan? apakah saya benar2 percaya Yesus adalah Tuhan? Apakah ini bukan penipuan masa 2000 thn yg lalu ada Tuhan turun ke dunia jadi orang Yahudi trus mati dan itu buat tebus saya yg org Indonesia? dsb)

    Dan ketika teman saya cerita mengenai Double predestination. Iman itu asal nya dari Roh Kudus maka nya ada orang yg baca Alkitab tp tidak ngerti atau tidak percaya karena dia tidak punya Roh Kudus jadi ayat Iman itu pemberian dan bukan usaha mu. Selama Tuhan belum berikan atau tidak berikan Roh Kudus anda tidak akan beriman.

    Saya pusing tuh. Gimana ya kalau Tuhan ga kasi Roh Kudus ke saya, sampai kapanpun dan jungkir balik kaya apa juga saya pasti tidak akan percaya atau meragukan Yesus adalah Tuhan. Apakah saya bisa selamat.

    Ya saya tidak menyerah dan Syukur kepada Allah dia berkenan memberikan Roh NYA kepada saya. Sehingga saya bisa menemukan dan percaya kepada Nya

    pertanyaaannya apakah benar Iman asalnya dr Roh Kudus dl bukan dr pertmbangan akal sehat?

    Di artikel di atas di sebutkan
    “4. Tahapan iman adalah mendengar, mempertimbangkan, mempercayai dan mentaati (Kis 8:27-39).

    Tahap pertama adalah mendengar, yang berarti perlu ada yang memberitakan dan perlu ada yang menanggapi. Dikatakan “Bagaimanakah aku dapat mengerti, kalau tidak ada yang membimbing aku?” (Kis 8:31) Setelah mendengar, diperlukan pertimbangan akal budi. Akal budi tidak bertentangan dengan iman, karena keduanya berasal dari Tuhan. Dan setelah mempertimbangkan tentang iman yang diberikan, seseorang dapat mempercayai kebenaran. Setelah menerima kebenaran iman, seseorang harus mentaati kebenaran yang diberitakan, baik dalam perkara yang mudah maupun dalam perkara yang sulit.”

    Tidak ada penjelasan Roh Kudus turun atas org tersebut dalam proses dia menerima Yesus. kenapa begitu?

    Terima kasih

    • Shalom Leonard,

      Terima kasih atas tanggapannya untuk artikel tentang iman. Berikut ini adalah tanggapan yang dapat saya berikan:

      1. Karena terjadi banyak perbedaan di antara umat beriman, maka sebenarnya menjadi kewajiban seluruh umat beriman untuk meneliti, mempertanyakan dan mempelajari imannya, sehingga dia dapat meyakini artikel iman yang dipercayai. Dalam kasus yang anda berikan, maka tidak mungkin kebenaran “Yesus mendirikan Gereja Katolik” dan “Yesus tidak mendirikan Gereja Katolik” adalah sama-sama benar, karena sesuatu tidak mungkin “ya” dan “tidak” dalam waktu dan cara yang sama. Dalam kondisi ini, maka seseorang harus terus menggali imannya. Untuk membuktikan hal ini, maka saya pernah menulis artikel tentang Gereja Katolik di sini – silakan klik.

      2. Dasar dari iman bukan hanya aspek manusia yang merindukan dan menemukan Tuhan. Ini adalah aspek manusia yang memang diciptakan oleh Tuhan untuk mengetahui dan mengasihi Pencipta. Iman dapat didefinisikan sebagai suatu persetujuan akal budi yang kokoh kepada kebenaran, yang bukan berdasarkan perasaan, namun berdasarkan kesaksian saksi. Dengan demikian, dasar dari iman adalah kepercayaan akan yang pemberi saksi. Dan karena Sang Pemberi kesaksian (wahyu) adalah Allah sendiri yang tidak mungkin berbohong, maka kita harus mempercayainya. Iman seperti ini adalah disebut iman ilahi (supernatural faith), karena yang memberikan kesaksian adalah Allah sendiri. Kalau iman hanya berdasarkan penglihatan seseorang atau kesimpulan pemikiran seseorang, maka iman tersebut disebut iman manusia (human faith).

      3. Coba pikirkan, kapan kita mengetahui bahwa iman adalah pemberian? Bagaimana dengan kenyataan bahwa ada yang dibaptis ada yang tidak dibaptis? Bagaimana seseorang dapat sampai pada baptisan?

      4,5,6. Coba lihat bagaimana agar iman dapat bertumbuh di artikel ini – silakan klik. Memang kesombongan, kemalasan dalam membina kehidupan rohani dapat memperlemah iman. Coba lihat juga 1Yoh 2:16 tentang keinginan daging, keinginan mata dan keangkuhan hidup. Tuhan dapat menjawab doa kita dengan: tidak, ya maupun tunggu.

      Selama kita mengalami pertobatan, beriman dan berjuang dalam kekudusan, maka kita dapat yakin bahwa Roh Kudus bekerja dalam diri kita, karena Roh Kudus adalah Roh kasih dan Roh yang menyatakan manusia akan dosa. Allah rindu untuk mencurahkan Roh Kudus kepada umat-Nya. Dan kalau kita terus bertekun dan bekerjasama dengan rahmat Allah sampai kita wafat, maka Allah akan memberikan belas kasih-Nya kepada kita, sehingga kita akan mendapatkan kebahagiaan abadi di Sorga.

      Pertanyaan anda yang terakhir: Iman harus dilihat sebagai pemberian Allah dan pada saat yang bersamaan merupakan tanggapan kita akan wahyu yang diberikan oleh Allah, seperti yang telah kami paparkan di artikel di atas. Di dalam Kis 8:31 diceritakan tentang tahapan iman, yaitu mendengar, mempertimbangkan, mempercayai dan mentaati. Di mana peran Roh Kudus? Ketika seseorang menyediakan diri untuk membaca, mempelajari dan mau mendengar, maka Roh Kudus telah bekerja, sehingga hati orang tersebut seperti telah dipersiapkan untuk menerima ‘biji’ iman. Bahkan Roh Kudus tidak saja bekerja di tahap awal ini, karena agar seseorang dapat mengerti dan mempercayai serta melaksanakan Sabda Allah, maka Roh Kudus memberikan karunia-Nya, seperti karunia pengertian, takut akan Tuhan, pengetahuan, dll. Silakan melihat pembahasan tujuh karunia Roh Kudus di sini – silakan klik. Semoga keterangan tambahan ini dapat membantu.

      Salam kasih dalam kasih Tuhan,
      stef – katolisitas.org

  8. Shalom Pak Stef,

    Pada hari raya Paskah tahun 2000, pas tahun Yubelium Agung, saya ada ikut turne ke kampung sambil membawa Komuni, yang waktu itu belum dilarang awam membagikan Komuni.

    Masih sangat saya ingat sampai sekarang: terasa sekali, sangat berbeda saat memegang Komuni tersebut, daripada memegang barang lain.

    Kemarin sore, iseng-iseng saya tanya seorang prodiakon tentang perasaan saat membagikan Komuni. Ia menjawab: memang terasa berbeda sekali memegang hosti yang telah dikonsekrir, daripada yang belum.

    Maka, saya jadi ingin bertanya sama Pak Stef, yang walau pertanyaannya mungkin terasa main-main, tapi saya penasaran juga nih. Yaitu: sepengetahuan Pak Stef, apakah pernah diadakan percobaan terhadap sekelompok orang; untuk melihat apakah mereka bisa membedakan mana hosti yang telah dikonskrir, dan mana yang belum? Seperti salah satu film tentang seorang anak kecil yang dipercayai sebagai reinkarnasi dari Lama (rahib) di Tibet. Diceritakan dalam film ini, bagaimana anak kecil ini bisa menunjukkan topi milik almarhum Lama tersebut, di antara topi-topi lainnya.

    Terima kasih.

    Salam,
    Lukas Cung

    • Shalom Lukas Cung,

      Terima kasih atas pertanyaannya tentang tubuh Kristus dalam rupa roti. Iman kita tidak tergantung dari perasaan-perasaan. Dengan kata lain, karena Kristus telah mengatakan pentingnya makan tubuh-Nya untuk memperoleh keselamatan (lih. Yoh 6:54) dan dipertegas oleh Kristus sendiri dalam Perjamuan Terakhir, serta diteruskan oleh para jemaat perdana dan ajaran ini dipertegas oleh Magisterium Gereja, maka kita menerima hal ini sebagai satu kebenaran. Setelah kita menerima hal ini sebagai satu kebenaran, maka kita harus mempercayainya, lepas dari perasaan kita. Dengan demikian, kita dapat saja merasakan satu perasaan khusus pada saat membawa hosti kudus, namun tidak menjadi masalah kalau kita juga tidak dapat membedakan antara hosti biasa dengan hosti kudus, karena secara kasat mata, dua hosti tersebut tidak mempunyai perbedaan. Saya tidak pernah tahu kalau ada orang yang dapat membedakan keduanya. Namun, hal ini tidak penting. Yang penting adalah ketika kita membawa Hosti Kudus, maka kita menyadari dan memberikan penghormatan dan penyembahan kepada Kristus sendiri, karena hosti itu adalah Kristus sendiri.

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      stef – katolisitas.org

      • Shalom Pak Stef,

        Baik, saya tambah mengerti sekarang, bahwa iman kita tidak tergantung kepada perasaan-perasaan. Yang penting adalah kita menerima sebagai satu kebenaran, bahwa Hosti Kudus itu adalah Kristus sendiri.

        Sungguh, betapa indah dan luar biasa; menerima Hosti Kudus, berarti menerima Kristus sendiri.

        Terima kasih.

        Salam,
        Lukas Cung