Bunda Maria: yang Terbesar di antara Para Kudus?

19

Pertanyaan:

Dear mbak Ingrid

Seorang kawan Katolik mengatakan kepada saya bahwa Maria adalah manusia yang paling mulia setelah YESUS. Di dalam kerajaan Surga setelah Allah Tritunggal, Maria adalah sosok nomer dua bahkan lebih dari para malaikat. Ketika saya tanya alasannya ia menjawab demikian: Tugas perutusan Maria selama hidupnya di dunia jauh lebih besar dari semua Nabi2 perjanjian lama dan bahkan jauh lebih besar dari Yohanes Pembaptis yang oleh Yesus sendiri katakan sebagai terbesar di dunia.

Saya tanya perutusan apakah yang telah dijalani Maria sehingga dia boleh dianggap sebagai yang terbesar dalam kerajaan Allah setelah Allah Tritunggal? Dia menjawab

Sebab Maria yang mengandung TUHAN Sebagai Ibu yang mengandung Putra Allah, Maria merasakan penolakan yang menyakitkan ketika manusia menolak menyediakan rumahnya bagi TUHAN yang akan lahir. Maria yang mengandung dan melahirkan TUHAN. Dan puncaknya adalah Maria mengalami penderitaan batin yang berat ketika harus menyaksikan dan mempersembahkan Putra-Nya di Golgota demi penebusan.

Kemudian lantas bagaimana dengan Yusuf? Bukankah dalam keluarga kepala keluarga adalah Bapak bukan Ibu, jika dengan Yusuf saja Maria berada di bawahnya, bagaimana bisa dikatakan bahwa Maria adalah sosok nomer dua di Surga setelah Allah Tritunggal dan ia menjawab

Sebab Maria yang mengandung TUHAN bukan Yosef yang mengandung TUHAN

Lantas bagaimana dengan Yusuf? Dia menjawab Yusuf menempati di surga pada peringkat ke tiga setelah Maria di peringkat ke dua. Saya tanya apa alasannya bahwa Yusuf harus disebut sebagai menempati peringkat ke tiga? Bagaimana dengan Firman TUHAN tentang Yohanes? Di tempat ke berapa dia? Bukankah YESUS sendiri berfirman bahwa YOHANES lah yang terbesar?

Dari diskusi ini timbul pertanyaan saya:

Benarkah doktrin gereja Katolik mengajarkan bahwa Maria adalah sosok termulia setelah Allah Tritunggal dan Yusuf di peringkat ke tiga? Lantas bagaimana dengan posisi Yohanes Pembaptis? Dan bagaimana dengan Petrus dan ke 11 rasul lainnya di peringkat ke berapakah mereka? Apakah mereka2 ini tidak lebih besar dari Maria dan Yusuf? Jika benar tidak lebih besar apa dasarnya gereja Katolik mengatakan demikian? Lantas bagaimana dengan nabi-nabi perjanjian lama? Di posisi ke berapakah mereka? Apakah mereka tidak lebih besar dari pada 12 Rasul dan Maria serta Yusuf? Jika ia apa dasarnya mengatakan demikian?

Kedua: Soal perutusan Maria yang dikatakan istimewa dari segala ciptaan ini adalah tanggapan saya: Mengandung dan melahirkan adalah hal biasa bagi wanita itu sudah kodratnya yang diberikan Tuhan. Kalau Yusuf yang mengandung itu baru aneh. Jadi tugas sebagai ibu untuk melahirkan adalah seperti tugas Yusuf yang memberi nafkah (makan-pakaian). Jadi mengandung dan melahirkan (Tuhan) bukanlah sesuatu penderitaan tetapi lebih kepada kebanggaan, demikian juga bagi Yusuf yang memberi makan pada “Tuhan” bukanlah suatu beban berat melainkan anugerah. Tentu saja kita harus menghormati keduanya, tapi kalau kita baca pengajaran dalam PB seorang istri harus menghormati suami dan bukan suami yang menghormati istri, melainkan suami harus mengasihi istri. Tentang kehilangan Putra, belum tentu seorang ibu lebih sedih daripada ayahnya, tetapi mungkin sang ayah lebih bisa mengendalikan emosinya saat kehilangan atau sebaliknya akan tetapi kalau seturut Firman dalam PB perbandingan istri kepada suami adalah seperti jemaat kepada KRISTUS

Semoga Tuhan Memberkati

Jawaban:

Shalom Hesti,

1. Bunda Maria: yang terbesar di antara para kudus?

Gereja Katolik memang melihat kepada Bunda Maria sebagai teladan kekudusan dan kesempurnaan Kristiani, dengan kenyataan bahwa Allah sendiri berkenan memilihnya sebagai ibu yang melahirkan Kristus, Sang Putera Allah yang menjadi manusia. Tentang dasar penghormatan yang istimewa kepada Bunda Maria, sudah pernah dituliskan di sini, silakan klik.

Karena Maria dipilih untuk menjadi Bunda Allah, suatu pilihan yang tidak akan pernah terjadi lagi dalam sejarah manusia bahwa seorang manusia akan melahirkan Tuhan yang menjelma menjadi manusia, maka posisi/ peran Maria memang tidak pernah dapat disamakan oleh peran siapapun. Sebab dengan menjadi bunda Kristus Sang Kepala, maka Maria juga menjadi bunda bagi anggota-anggota Tubuh-Nya, yaitu Gereja. Dengan demikian Gereja menghormati Bunda Maria sebagai bundanya, dan dengan demikian Maria mengambil tempat yang istimewa di antara para orang kudus lainnya, bahkan di antara para mahluk lainnya; sebab Kristus yang dilahirkannya merupakan yang sulung dan yang utama dari segala ciptaan (lih. Kol 1:15).

Maka ringkasnya, Bunda Maria memang adalah orang kudus yang istimewa, jika dibandingkan dengan tokoh- tokoh lainnya dalam Kitab Suci, karena: 1) berkat imannya ia dipilih Tuhan untuk menjadi Bunda Allah; 2) ia dikuduskan Tuhan dan dipenuhi rahmat sehingga tidak berdosa baik dosa asal maupun dosa pribadi; 3) karena ketaatannya ia menyebabkan keselamatan bagi seluruh umat manusia; 4) dengan perannya sebagai perawan dan bunda, Maria menjadi gambaran yang sempurna bagi Gereja.

Berikut ini adalah ajaran Gereja Katolik yang menyatakan hal tersebut:

1. Konsili Vatikan II :

“Sebab Perawan Maria, yang sesudah warta Malaikat menerima Sabda Allah dalam hati maupun tubuhnya, serta memberikan Hidup kepada dunia, diakui dan dihormati sebagai sungguh- sungguh Bunda Allah dan Bunda Penebus. Karena pahala putera-nya ia ditebus secara lebih unggul, serta dipersatukan dengan-Nya dalam ikatan yang erat dan tidak terputuskan. Ia dianugerahi kurnia serta martabat yang amat luhur, yakni menjadi Bunda Putera Allah, maka juga menjadi Puteri Bapa yang terkasih dan kenisah Roh Kudus. Karena anugerah rahmat yang sangat istimewa itu ia jauh lebih unggul dari semua makhluk lainnya, baik di sorga maupun di bumi. Namun sebagai keturunan Adam Ia termasuk golongan semua orang yang harus diselamatkan. Bahkan “ia memang Bunda para anggota (Kristus), -. Karena dengan cinta kasih ia menyumbangkan kerjasamanya, supaya dalam Gereja lahirlah kaum beriman, yang menjadi anggota Kepala itu”. Oleh karena itu ia menerima salam sebagai anggota Gereja yang serba unggul dan sangat istimewa, pun juga sebagai pola-teladannya yang mengagumkan dalam iman dan cinta kasih. Menganut bimbingan Roh Kudus Gereja Katolik menghadapinya penuh rasa kasih-sayang sebagai bundanya yang tercinta. (Lumen Gentium, 53)

Sehubungan dengan penjelmaan Sabda ilahi Santa Perawan sejak kekal telah ditetapkan untuk menjadi Bunda Allah. Berdasarkan rencana penyelenggaraan ilahi ia di dunia ini menjadi Bunda Penebus, dan mengatasi semua orang lain dan dengan cara yang satu-satunya menjadi sang pendamping yang istimewa dan hamba Tuhan yang rendah hati. Dengan mengandung Kristus, melahirkan-Nya, membesarkan-Nya, menghadapkan-Nya kepada Bapa di kenisah, serta dengan ikut menderita bengan Puteranya yang wafat di kayu salib, ia secara sungguh istimewa bekerja sama dengan karya Juru selamat, dengan ketaatannya, iman, pengharapan serta cinta kasihnya yang berkobar, untuk membaharui hidup adikodrtai jiwa-jiwa. Oleh karena itu dalam tata rahmat ia menjadi Bunda kita. (Lumen Gentium, 61)

Karena kurnia serta peran keibuannya yang ilahi, yang menyatukannya dengan Puteranya Sang Penebus, pun pula karena segala rahmat serta tugas-tugasnya, Santa Perawan juga erat berhubungan dengan Gereja. Seperti telah diajarkan oleh St. Ambrosius, Bunda Allah itu pola Gereja, dalam hal iman, cinta kasih dan persatuan sempurna dengan Kristus. Sebab dalam misteri Gereja, yang juga tepat disebut Bunda dan perawan, Santa Perawan Maria mempunyai tempat utama, serta secara ulung dan istimewa memberi teladan sebagai perawan maupun ibu.”

2. Katekismus Gereja Katolik mengajarkan bahwa Maria adalah tokoh yang kudus/ sempurna dan termurni di antara semua mahluk ciptaan-Nya, demikian:

KGK 867    Gereja adalah kudus: … Dalam orang-orang kudusnya terpancar kekudusannya; di dalam Maria ia sudah kudus secara sempurna.

KGK 64    Dengan perantaraan para nabi, Allah membina bangsa-Nya dalam harapan akan keselamatan, dalam menantikan satu perjanjian yang baru dan kekal, yang diperuntukkan bagi semua orang (Bdk. Yes 2:2-4). dan ditulis dalam hati mereka (Bdk. Yer 31:31-34; Ibr 10:16). Para nabi mewartakan pembebasan bangsa Allah secara radikal, penyucian dari segala kejahatannya (Bdk. Yeh 36), keselamatan yang mencakup semua bangsa (Bdk. Yes 49:5- 6; 53:11). Terutama orang yang miskin dan rendah hati di hadapan Allah (Bdk. Zef 2:3) menjadi pembawa harapan ini. Wanita-wanita saleh seperti Sara, Ribka, Rahel, Miriam, Debora, Hana, Yudit, dan Ester tetap menghidupkan harapan akan keselamatan Israel itu; tokoh yang termurni di antara mereka adalah Maria (Bdk. Luk 1:38).

KGK 492    Bahwa Maria “sejak saat pertama ia dikandung, dikaruniai cahaya kekudusan yang istimewa” (Lumen Gentium 56), hanya terjadi berkat jasa Kristus: “Karena pahala Puteranya, ia ditebus secara lebih unggul” (Lumen Gentium 53). Lebih dari pribadi tercipta yang manapun, Bapa “memberkati dia [Maria] dengan segala berkat Roh-Nya oleh persekutuan dengan Kristus di dalam surga” dan [Allah] telah memilih dia “sebelum dunia dijadikan, supaya ia kudus dan tidak bercacat di hadapan-Nya” (Bdk. Ef 1:3-4).

KGK 493    Bapa-bapa Gereja Timur menamakan Bunda Allah “Yang suci sempurna” [panhagia]: mereka memuji dia sebagai yang “bersih dari segala noda dosa, seolah-olah dibentuk oleh Roh Kudus dan dijadikan makhluk baru” (Lumen Gentium 56). Karena rahmat Allah, Maria bebas dari setiap dosa pribadi selama hidupnya.

KGK 494    Atas pengumuman bahwa ia, oleh kuasa Roh Kudus akan melahirkan “Putera yang maha tinggi” tanpa mempunyai suami (Bdk. Luk 1:28-37), Maria menjawab dalam “ketaatan iman” (Rm 1:5), dalam kepastian bahwa “untuk Allah tidak ada sesuatu pun yang mustahil”: “Aku ini hamba Tuhan, jadilah padaku menurut perkataanmu” (Luk 1:37-38). Dengan memberikan persetujuannya kepada Sabda Allah, Maria menjadi bunda Yesus. Dengan segenap hati, ia menerima kehendak Allah yang menyelamatkan, tanpa dihalangi satu dosa pun, dan menyerahkan diri seluruhnya sebagai abdi Tuhan kepada pribadi dan karya Puteranya. Di bawah Dia dan bersama Dia, dengan rahmat Allah yang mahakuasa, ia melayani misteri penebusan (Bdk. Lumen Gentium 56).
“Sebab, seperti dikatakan oleh Santo Ireneus, ‘dengan taat Maria menyebabkan keselamatan bagi dirinya maupun bagi segenap umat manusia‘. Maka tidak sedikitlah para Bapa zaman kuno, yang dalam pewartaan mereka dengan rela hati menyatakan bersama Ireneus: ‘Ikatan yang disebabkan oleh ketidak-taatan Hawa telah diuraikan karena ketaatan Maria; apa yang diikat oleh perawan Hawa karena ia tidak percaya, telah dilepaskan oleh Perawan Maria karena imannya‘. Sambil membandingkannya dengan Hawa, mereka menyebut Maria ‘bunda mereka yang hidup’. Sering pula mereka nyatakan: ‘maut melalui Hawa, hidup melalui Maria”‘ (Lumen Gentium 56).

KGK 495    Dalam Injil-injil Maria dinamakan “Bunda Yesus” (Yoh 2:1; 19:25,Bdk. Mat 13:55 dll). Oleh dorongan Roh Kudus, maka sebelum kelahiran Puteranya ia sudah dihormati sebagai “Bunda Tuhan-Ku” (Luk 1:43). la, yang dikandungnya melalui Roh Kudus sebagai manusia dan yang dengan sesungguhnya telah menjadi Puteranya menurut daging, sungguh benar Putera Bapa yang abadi, Pribadi kedua Tritunggal Maha kudus. Gereja mengakui bahwa Maria dengan sesungguhnya Bunda Allah [Theotokos, Yang melahirkan Allah] (Bdk. DS 251).

KGK 506    Maria adalah perawan, karena keperawanannya adalah tanda imannya, “yang tidak tercemar oleh keraguan sedikit pun” (Lumen Gentium 63), dan karena penyerahannya kepada kehendak Allah yang tidak terbagi (Bdk. 1 Kor 7:34-35). Berkat imannya ia dapat menjadi Bunda Penebus: “Maria lebih berbahagia dalam menerima iman kepada Kristus, daripada dalam mengandung daging Kristus” (Agustinus, virg. 3).

KGK 507    Maria adalah perawan sekaligus bunda, karena ia adalah citra hakikat Gereja dan Gereja dalam arti penuh (Bdk. Lumen Gentium 63): Gereja, “oleh menerima Sabda Allah dengan setia pula – menjadi ibu juga. Sebab melalui pewartaan dan baptis, Gereja melahirkan bagi hidup baru yang kekal-abadi putera-putera yang dikandungnya dari Roh Kudus dan lahir dari Allah. Gereja pun perawan, yang dengan utuh-murni menjaga kesetiaan yang dijanjikannya kepada Sang Mempelai. Dan sambil mencontoh Bunda Tuhannya, Gereja dengan kekuatan Roh Kudus secara perawan mempertahankan imannya, keteguhan harapannya, dan ketulusan cinta kasihnya” (Lumen Gentium 64).

Nah, sekarang bagaimana dengan posisi orang kudus lainnya seperti St. Yusuf, St. Yohanes Pembaptis dan para Rasul? Sepanjang pengetahuan saya tidak ada dokumen Gereja Katolik yang secara definitif menyebutkan urutan- urutan orang kudus setelah Bunda Maria. Nampaknya tidaklah menjadi terlalu penting untuk mempersoalkan urutan tersebut, karena sebagai anggota- anggota Tubuh Kristus, setiap dari mereka mempunyai peran dan kekhususannya sendiri- sendiri.

Mengenai interpretasi Mat 11:11, di mana Yesus berkata, “Sesungguhnya di antara mereka yang dilahirkan oleh perempuan tidak pernah tampil seorang yang lebih besar dari pada Yohanes Pembaptis, namun yang terkecil dalam Kerajaan Sorga lebih besar dari padanya”, menurut keterangan dari the Navarre Bible adalah demikian:

“Dengan Yohanes Pembaptis, berakhirlah sudah Perjanjian Lama dan kita memasuki ambang Perjanjian Baru. Sang Perintis memperoleh kehormatan untuk membuka jalan bagi Kristus, dengan memberitakan Dia kepada orang banyak. Tuhan telah menugaskan kepadanya misi agung untuk mempersiapkan orang- orang sejamannya untuk mendengar Injil. Kesetiaan Yohanes Pembaptis diketahui dan diumumkan oleh Kristus. Pujian kepadanya merupakan penghargaan atas kerendahan hatinya: Yohanes, menyadari perannya, telah berkata, “Ia harus semakin besar dan aku semakin kecil.” (Yoh 3:30).

Yohanes Pembaptis merupakan yang terbesar, dalam arti bahwa ia menerima misi yang unik dan tidak tertandingi di dalam konteks Perjanjian Lama. Namun demikian, di dalam Kerajaan Surga (Perjanjian Baru) yang dimulai oleh Kristus, karunia rahmat ilahi membuat mereka yang terkecil yang dengan setia menerima rahmat itu menjadi lebih besar daripada yang terbesar menurut Perjanjian yang terdahulu. Pada saat karya penebusan kita selesai, rahmat Tuhan juga akan mencapai orang- orang benar di masa Perjanjian Lama. Dengan demikian, kebesaran Yohanes Pembaptis, Sang Perintis dan yang terakhir dari para nabi, akan disempurnakan oleh martabat diangkatnya menjadi anak Allah.”

2. Soal perutusan Maria yang dikatakan istimewa dari segala ciptaan.

Tentang hal ini Anda mengatakan, “Mengandung dan melahirkan adalah hal biasa bagi wanita itu sudah kodratnya yang diberikan Tuhan. Kalau Yusuf yang mengandung itu baru aneh. Jadi tugas sebagai ibu untuk melahirkan adalah seperti tugas Yusuf yang memberi nafkah (makan-pakaian).”

Memang benar hal mengandung dan melahirkan mungkin adalah hal biasa bagi wanita, tetapi itu jika yang dikandung dan dilahirkan adalah manusia. Kalau yang dikandung adalah Tuhan, maka menjadi sangat tidak biasa. Ini yang membuat Bunda Maria menjadi istimewa, karena yang dikandungnya adalah Yesus, yang sungguh Tuhan, walaupun Ia juga sungguh manusia.

Selain itu, Maria mengandung dan melahirkan tidak dengan campur tangan benih laki- laki, melainkan oleh Roh Kudus. Ini yang membuat Maria tidak sama dengan para wanita pada umumnya yang mengandung dengan keterlibatan benih suaminya. Dalam penjelmaan-Nya menjadi manusia, Tuhan Yesus mengambil semua ciri kemanusiaan-Nya (gen, DNA, darah, sel, dst) dari Bunda Maria dan tidak sama sekali dari St. Yusuf. Dengan demikian, maka Maria memang dapat dikatakan sebagai ibu biologis dari Kristus, sedangkan St. Yusuf adalah bapa angkat Yesus (foster father) bukan bapa biologis Yesus. Tentang hal ini, sudah pernah dibahas di sini, silakan klik. Maka, tanpa mengecilkan peran Yusuf, kita secara obyektif dapat melihat bahwa kesatuan antara Tuhan Yesus dan Bunda Maria tidak dapat disamakan dengan kesatuan antara Tuhan Yesus dan St. Yusuf. Namun demikian, Gereja Katolik tetap menghormati St. Yusuf dan banyak gereja/ paroki mengambil nama St. Yusuf sebagai santo pelindungnya.

Anda selanjutnya mengatakan, “Jadi mengandung dan melahirkan (Tuhan) bukanlah sesuatu penderitaan tetapi lebih kepada kebanggaan, demikian juga bagi Yusuf yang memberi makan pada “Tuhan” bukanlah suatu beban berat melainkan anugerah. Tentu saja kita harus menghormati keduanya, tapi kalau kita baca pengajaran dalam PB seorang istri harus menghormati suami dan bukan suami yang menghormati istri, melainkan suami harus mengasihi istri. Tentang kehilangan Putra, belum tentu seorang ibu lebih sedih daripada ayahnya, tetapi mungkin sang ayah lebih bisa mengendalikan emosinya saat kehilangan atau sebaliknya akan tetapi kalau seturut Firman dalam PB perbandingan istri kepada suami adalah seperti jemaat kepada KRISTUS.

Benar bahwa mengandung dan melahirkan Tuhan sesungguhnya bukan merupakan penderitaan tetapi kebanggaan dan anugerah. Hal ini juga disadari oleh Bunda Maria, sehingga ia mengatakan juga dalam kidung Magnificatnya, “Jiwaku memuliakan Tuhan, dan hatiku bergembira karena Allah, Juruselamatku, sebab Ia telah memperhatikan kerendahan hamba-Nya. Sesungguhnya, mulai dari sekarang segala keturunan akan menyebut aku berbahagia, karena Yang Mahakuasa telah melakukan perbuatan-perbuatan besar kepadaku …” (Luk 1:46-49).

Namun janganlah kita lupakan pergumulan batin Maria sebelum ia mengatakan “Ya” terhadap kabar gembira malaikat, yaitu bahwa ada resiko yang cukup besar bagi Maria saat itu, karena menurut hukum Taurat, seorang perempuan yang mengandung bukan dari suaminya terancam hukuman rajam dan dipermalukan di hadapan umum (lih. Ul 22:23-24). Namun Bunda Maria percaya sepenuhnya akan rencana Tuhan sehingga ia dapat berkata, “Aku ini hamba Tuhan. Terjadilah padaku menurut perkataan-Mu.” (lih. Luk 1:38). Jangan pula dilupakan bahwa meskipun dalam keadaan rahmat dan anugerah Tuhan, Keluarga kudus (Bunda Maria, St. Yusuf dan Yesus) hidup dalam kemiskinan dan kesederhanaan, bahkan pernah menjadi pengungsi di Mesir. Maka kehidupan Bunda Maria dan St. Yusuf merupakan rangkaian mozaik antara kebahagiaan dan keprihatinan namun tidak membuat iman mereka menjadi luntur. Puncak penderitaan Bunda Maria yang merupakan penggenapan nubuat Simeon bahwa ‘sebuah pedang akan menembus jiwanya’ (Luk 2:35) adalah ketika Bunda Maria berdiri di kaki salib Kristus, dan melihat bagaimana Putera-Nya disiksa sampai wafat. Kenyataan yang terpampang di hadapannya ini menjadi sangat berlawanan, bahkan sepertinya merupakan penyangkalan total dari apa yang pernah didengarnya dari malaikat, “Ia akan menjadi besar dan akan disebut Anak Allah Yang Mahatinggi… dan Ia akan menjadi raja atas kaum keturunan Yakub sampai selama-lamanya dan Kerajaan-Nya tidak akan berkesudahan.” (Luk 1:32-33). Namun Maria tetap teguh berdiri mendampingi Puteranya dengan kesetiaan seorang hamba, “Terjadilah padaku menurut kehendak-Mu” (lih. Luk 1:38).

Tentang menghormati suami, itu tentu dilakukan oleh Bunda Maria terhadap St. Yusuf, sebab sebagai perempuan yang taat kepada hukum Taurat (Gal 4:4), Bunda Maria tidak mungkin melakukan sebaliknya. Namun kita juga dapat membayangkan bahwa St. Yusuf juga menghormati Bunda Maria, sebagai seseorang yang telah dipilih Tuhan untuk melahirkan Putera-Nya. Jika dikatakan dalam Kitab Suci bahwa Yusuf adalah seorang yang tulus hati (Mat 1:19), dan ketulusan hatinya ini yang memimpinnya untuk melindungi Maria (lih. Mat 1:19) dan mengikuti kehendak Tuhan yang diberitahukan kepadanya dalam mimpi; terlebih lagi setelah ia menjadi suami Maria, ia akan semakin mengenal panggilan Tuhan dalam hidupnya untuk melindungi Maria sebagai Tabut Allah, dan Putera Allah yang dikandung dan dilahirkan oleh Maria.

Jika kita membaca Kitab Suci, kita akan tahu bahwa keberadaan St. Yusuf disebut terakhir kali saat Yesus diketemukan dalam Allah saat berumur 12 tahun (lih. Luk 2:41-52). Tradisi Gereja mengajarkan bahwa St. Yusuf sudah lama wafat sebelum Yesus disalibkan. Maka yang menyaksikan sengsara dan wafat Yesus adalah Bunda Maria, sedangkan St. Yusuf tidak, sebab ia sudah meninggal dunia. Itulah sebabnya, karena Yesus tidak ingin ibu-Nya hidup sebatang kara sepeninggalan-Nya (karena St. Yusuf sudah wafat dan Yesus tidak mempunyai adik- adik), maka Ia memberikan Bunda Maria kepada Rasul yang dikasihi-Nya, yaitu Yohanes (lih. Yoh 19:26-27).

Akhirnya, Gereja Katolik juga mengajarkan bahwa hubungan antara suami dan istri mengambil teladan dari hubungan antara Kristus dan Gereja, di mana Kristus telah menyerahkan diri-Nya baginya (lih. Ef 5:25). Sebab masing- masing dari kita sebagai anggota Gereja dipanggil kepada kesempurnaan kasih kepada Kristus, yang adalah Kepala kita; dan dalam hal inilah Bunda Maria telah menjadi teladan, sebab ia telah melakukan kesempurnaan kasih itu sepanjang hidupnya.

Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
Ingrid Listiati- katolisitas.org

Share.

About Author

Ingrid Listiati telah menyelesaikan program studi S2 di bidang teologi di Universitas Ave Maria - Institute for Pastoral Theology, Amerika Serikat.

19 Comments

  1. Yohanes Frederick Oyong Lawijaya Tjipto on

    Berbahagialah kita punya Tuhan Yesus;karena kita dimungkinkan menjadi Anak2 Allah Bapa yg juga mempunyai Bunda Allah yaitu Bunda Maria serta Bapa pelindung kita St Yosef yg memberikan kita kehidupan kekal dan menjadikan kita layak bersamaNya diSorga Ampunilah kami orang yang berdosa ini & terimalah kami dengan segala kelemahan kami karena yg ada bersama kebahagiaan & kemuliaanMu Saja di Sorga Amin

    • Shalom Yohanes Frederick,

      Walaupun kami memahami maksud Anda, namun nampaknya cara penulisannya kurang tempat, sehingga dapat menimbulkan salah pengertian. Mungkin lebih baik, jika dituliskannya demikian:

      Berbahagialah kita yang punya Tuhan Yesus, karena di dalam Yesus kita dimungkinkan menjadi anak-anak angkat Allah.
      Berbahagialah kita yang mempunyai Bunda Maria, yang selain Bunda Allah juga adalah Bunda kita.
      Berbahagialah kita yang mempunyai Santo pelindung, yaitu St. Yusuf.

      Berbahagialah kita karena mempunyai Allah yang memberikan kehidupan kekal dan menjadikan kita layak bersama-Nya di Surga.

      Ampunilah kami orang berdosa ini dan terimalah kami dengan segala kelemahan kami.
      Semoga suatu hari nanti kami dapat memperoleh kebahagiaan di Surga dan memandang kemuliaan-Mu.

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      Ingrid Listiati- katolisitas.org

  2. sugeng pratikno on

    salam dalam nama TuhanYesus,
    Ada 2 tokoh penting dalam kehidupan Yesus, yaitu Maria dan Yosef, yg langsung diangkat ke Surga oleh Allah.
    Yang menjadi pertanyaan, apakah ada kesaksian (seperti ketika Yesus naik ke sorga, disaksikan oleh para murid/rasul ) tentang diangkatnya bunda Maria atau santo Yosef ke sorga tersebut? Ataukah mereka (santa Maria dan santo Yosef) langsung lenyap, tanpa diketahui seorangpun. Dan setelah itu Maria/ santo Yosef menampakkan diri lagi secara supranatural, dalam kemuliaan sorgawi kepada umat Kristen awal.
    Terima kasih-GBU-sugeng

    • Shalom Sugeng Pratikno,

      Gereja Katolik mempercayai bahwa yang diangkat ke Sorga oleh Allah dalam Perjanjian Baru adalah Bunda Maria. Santo Yosef meninggal seperti manusia biasa, dan akan mendapatkan badan yang telah dimuliakan pada akhir zaman. Bagaimana terjadinya Bunda Maria diangkat ke Sorga tubuh dan jiwanya, memang tidak diceritakan di dalam Kitab Suci, karena memang tidak semua hal tertulis di dalam Kitab Suci (lih. Yoh 20:30) Kita menerima kebenaran iman ini karena dasar-dasar tak langsung yang diberikan dalam Kitab Suci, tulisan dari para Bapa Gereja, yang akhirnya ditetapkan oleh Magisterium Gereja. Beberapa tulisan Bapa Gereja mengenai hal ini adalah sebagai berikut:

      1. Pseudo- Melito (300): Oleh karena itu, jika hal itu berada dalam kuasaMu, adalah nampak benar bagi kami pelayan- pelayan-Mu, bahwa seperti Engkau yang telah mengatasi maut, bangkit dengan mulia, maka Engkau seharusnya mengangkat tubuh Bundamu dan membawanya dengan-Mu, dengan suka cita ke dalam surga. Lalu kata Sang Penyelamat [Yesus]: “Jadilah seperti perkataanmu”.[1]

      2. Timotius dari Yerusalem (400)
      Oleh karena itu Sang Perawan [Maria] tidak mati sampai saat ini, melihat bahwa Ia yang pernah tinggal di dalamnya memindahkannya ke tempat pengangkatannya.[2]

      3. Yohanes Sang Theolog (400)
      Tuhan berkata kepada Ibu-Nya, “Biarlah hatimu bersuka dan bergembira. Sebab setiap rahmat dan karunia telah diberikan kepadamu dari Bapa-Ku di Surga dan dari-Ku dab dari Roh Kudus. Setiap jiwa yang memanggil namamu tidak akan dipermalukan, tetapi akan menemukan belas kasihan dan ketenangan dan dukungan dan kepercayaan diri, baik di dunia sekarang ini dan di dunia yang akan datang, di dalam kehadiran Bapa-Ku di Surga”… Dan dari saat itu semua mengetahui bahwa tubuh yang tak bercacat dan yang berharga itu telah dipindahkan ke surga[3]

      4. Gregorius dari Tours (575)
      Para Rasul mengambil tubuhnya  [jenazah Maria] dari peti penyangganya dan menempatkannya di sebuah kubur, dan mereka menjaganya, mengharapkan Tuhan [Yesus] agar datang. Dan lihatlah, Tuhan datang kembali di hadapan mereka; dan setelah menerima tubuh itu, Ia memerintahkan agar tubuh itu diangkat di awan ke surga: dimana sekarang tergabung dengan jiwanya, [Maria] bersukacita dengan para terpilih Tuhan …[4]

      5. Theoteknos dari Livias (600)
      Adalah layak … bahwa tubuh Bunda Maria yang tersuci, tubuh yang melahirkan Tuhan, yang menerima Tuhan, menjadi ilahi, tidak rusak, diterangi oleh rahmat ilahi dan kemuliaan yang penuh …. agar hidup di dunia untuk sementara dan diangkat ke surga dengan kemuliaan, dengan jiwanya yang menyenangkan Tuhan[5]

      6. Modestus dari Yerusalem (sebelum 634)
      Sebagai Bunda Kristus yang termulia… telah menerima kehidupan dari Dia [Kristus], ia telah menerima kekekalan tubuh yang tidak rusak, bersama dengan Dia yang telah mengangkatnya dari kubur dan mengangkatnya kepada Diri-Nya dengan cara yang hanya diketahui oleh-Nya[6]

      7. Germanus dari Konstantinopel (683)
      Engkau adalah ia, …. yang nampak dalam kecantikan, dan tubuhmu yang perawan adalah semuanya kudus, murni, keseluruhannya adalah tempat tinggal Allah, sehingga karena itu dibebaskan dari penguraian menjadi debu. Meskipun masih manusia, tubuhmu diubah ke dalam kehidupan surgawi yang tidak dapat musnah, sungguh hidup dan mulia, tidak rusak dan mengambil bagian dalam kehidupan yang sempurna[7]

      8. Yohanes Damaskinus (697)
      Adalah layak bahwa ia, yang tetap perawan pada saat melahirkan, tetap menjaga tubuhnya dari kerusakan bahkan setelah kematiannya. Adalah layak bahwa dia, yang telah menggendong Sang Pencipta sebagai anak di dadanya, dapat tinggal di dalam tabernakel ilahi. Adalah layak bahwa mempelai, yang diambil Bapa kepada-Nya, dapat hidup dalam istana ilahi. Adalah layak bahwa ia, yang telah memandang Putera-Nya di salib dan yang telah menerima di dalam hatinya pedang duka cita yang tidak dialaminya pada saat melahirkan-Nya, dapat memandang Dia saat Dia duduk di sisi Bapa. Adalah layak bahwa Bunda Tuhan memiliki apa yang dimiliki oleh Putera-nya, dan bahwa ia layak dihormati oleh setiap mahluk ciptaan sebagai Ibu dan hamba Tuhan.[8].

      9. Gregorian Sacramentary (795)
      Terhormat bagi kami, O Tuhan, perayaan hari ini, yang memperingati Bunda Allah yang kudus yang meninggal dunia untuk sementara waktu, namun tetap tidak dapat dijerat oleh maut, yang telah melahirkan Putera-Mu, Tuhan kami yang menjelma dari dirinya.[9]

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      stef – katolisitas.org

      • Salam Sejahtera Pak Stef…

        Kalau blh saya mengomentari tentang Santo Yosef. Saya tidak tahu apakah benar Gereja Katolik tidak pernah mengajarkan tentang pengangkatan Santo Yosef, tetapi Iman saya menyakini bahwa Ia juga diangkat. Dasarnya apa? Yaitu pada Kitab Kejadian 5:24 yang berbunyi ” Dan Henokh hidup bergaul dengan Allah, lalu ia tidak ada lagi, sebab ia telah diangkat oleh Allah. Dasar ayat ini juga yang saya pakai sebagai pembenaran akan doktrin diangkatnya Bunda Maria ke Surga. Jika karena Henokh bergaul akrab dengan Allah saja dapat diangkat ke Surga, Siapakah makhluk di dunia ini yang lebih akrab dengan Yesus Kristus selain Maria dan Yosef. Kedekatan dan keakraban Maria, Yosef dan Yesus melebihi keakraban semua manusia sepanjang jaman. Oleh karena itu sudah layak dan sepantasnya bahwa setelah Yosef mati tubuhnya terangkat ke surga. Bagaimana menurut Bapak Stef yang terberkati oleh TUHAN?

        Salam Kasih

        [Dari Katolisitas: Walaupun Gereja Katolik tidak mengeluarkan pernyataan resmi/ definitif tentang hal ini, namun beberapa orang kudus, seperti St. Vincent Ferrer dan St. Francis de Sales, meyakini demikian. Silakan membaca penjelasannya di sini, silakan klik. Demikian pula, tanggal 26 Mei 1960, Paus Yohanes XXIII dalam homilinya di hari perayaan Kenaikan Tuhan Yesus ke Surga, mengatakan bahwa pengangkatan St. Yusuf ke Surga adalah suatu hal yang layak dipercaya (cosi piamente noi possiamo credere).]

    • Shalom pak Sugeng,

      Tentu tidak ada kesaksian tentang diangkatnya bunda Maria atau santo Yosef ke sorga. Doktrin tentang bodily assumption (terangkatnya bunda Maria secara utuh/fisik ke surga tanpa adanya kematian) muncul pada tahun 1950 oleh Pope Pius XII. Yang melatar belakangi adalah doktrin-doktrin yg berhubungan dengan Maria terdahulu, seperti keperawanan Maria, kesuciannya,dll. Banyak orang Katholik mulai menyakan, kalau Maria benar2 suci dan tidak berdosa, apakah itu berarti Maria tidak pernah mengenal maut?
      Muncullah doktrin baru itu di tahun 1950, untuk menegaskan kepada semua, di mana posisi gereja Katholik dalam menjawab pertanyaan yang timbul dari doktrin2 terdahulu.
      Jadi, ini bukanlah kebenaran, melainkan suatu evolusi yang terjadi, suatu domino effect lah istilahnya.
      Saya harap jawaban ini dapat membantu…

      GBU

      • Shalom DK12,

        Terima kasih atas tanggapan anda. Memang tidak ada yang melihat bagaimana Bunda Maria diangkat ke Sorga. Namun, bukan berarti kalau tidak ada yang melihat maka kita tidak dapat mempercayainya. Dalam kotbahnya tanggal 15 Agustus 1522, Martin Luther mengatakan “There can be no doubt that the Virgin Mary is in heaven. How it happened we do not know. And since the Holy Spirit has told us nothing about it, we can make of it no article of faith . . . It is enough to know that she lives in Christ.” Martin Luther tahu bahwa Bunda Maria berada di Sorga bersama dengan Kristus, walaupun tidak ada yang melihatnya. Hal yang sama dilakukan oleh para Bapa Gereja di abad-abad awal. Mereka mempercayai bahwa Bunda Maria diangkat ke Sorga walaupun tidak melihatnya. Dan akhirnya Magisterium Gereja memberikan penegasan tentang hal ini dalam Munificentissimus Deus tahun 1950 oleh Paus Pius XII. Anda dapat membaca artikel tentang Bunda Maria diangkat ke Sorga di sini – silakan klik, yang memberikan dasar dari Kitab Suci, Tradisi Suci dan Magisterium Gereja. Dan tentu saja anda dapat memberikan sanggahan dari argumentasi yang telah diberikan.

        Kalau anda ingin berdiskusi tentang evolusi doktrin, cobalah anda juga mempelajari tentang Sakramen Ekaristi, tentang Maria Bunda Allah, tentang Maria tanpa noda, dari jaman sebelum Martin Luther, pada waktu Martin Luther dan setelah Martin Luther sampai sekarang. Silakan juga membaca development of Christian Doctrine oleh Cardinal Newman di sini – silakan klik. Semoga dapat diterima.

        Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
        stef – katolisitas.org

  3. Shalom Pengasuh Katolisitas…

    Saya, meyakini bahwa Bunda Maria adalah SATU-SATUNYA PEREMPUAN yang diberkati Allah, yang dipilih Allah melahirkan Yesus.
    Sebagai bejana, Maria di sucikan dari DOSA ASAL, karena tidak mungkin YANG KUDUS lahir dari yang tidak KUDUS.

    Saya membaca sedikit artikel dari Majalah Hidup (secara online) di:
    link to hidupkatolik.com

    Dituliskan oleh penulis bahwa :
    Tidak, Maria bukan satu-satunya wanita yang disebut ”terpuji di antara wanita.” (Luk 1:42). Dalam Perjanjian Lama, ada dua wanita lain yang dipuji demikian. Pertama, yaitu Yael, ”diberkatilah Yael, isteri Heber, orang Keni itu, melebihi perempuan-perempuan lain” (Hak 5:24); dan kedua, Yudit, ”Allah yang Mahatinggi memberkatilah engkau, hai anakku, lebih dari pada semua perempuan di atas bumi.” (Ydt 13:18).

    Penginjil Lukas memang secara sengaja menggunakan pujian ”terpujilah di antara wanita” justru untuk membandingkan peran penting Maria dengan dua sosok dalam Perjanjian Lama itu.
    ——————————————————————–
    Mohon tanggapan dari Katolisitas atas artikel itu..
    Saya sedikit terganggu membaca artikel ini, karena menurut saya, dalam artikel ini jelas-jelas membandingkan Bunda Maria dengan wanita lain (Yael dan Yudit) yang secara jelas masih memiliki DOSA ASAL

    Caritas Dei in cordibus nostris

    Steve

    • Shalom Steve,
      Kata kuncinya bukan “satu- satunya perempuan yang diberkati Allah” tetapi adalah kelanjutannya, yaitu bahwa sebagai satu- satunya perempuan yang diberkati Allah, bahkan dipenuhi dengan rahmat-Nya (‘kecharitomene’), sehingga ia dipilih Allah melahirkan Putera Tunggal-Nya, yaitu Yesus Kristus.
      Benar bahwa ada perempuan-perempuan lain di dalam Kitab Suci yang dicatat sebagai perempuan yang diberkati Allah, seperti Yael dan Yudit, tetapi mereka berdua tidak melahirkan Putera Allah. Dan ini menjadikan perbedaan yang sangat besar antara mereka berdua dengan Bunda Maria.

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      Ingrid Listiati- katolisitas.org

      • Shalom Bu Ingrid

        Terima kasih jawabannya..
        Perlukah hal ini diklarifikasikan?
        Mengingat judul tulisan artikel ini (menurut saya) bisa menjadi salah kaprah oleh sebagian orang..

        Salam Kasih dalam Kristus Tuhan..

        • Shalom Steve,
          Mohon maaf saya tidak paham dengan maksud Anda. Sebab saya rasa yang tertulis di artikel di atas ini yaitu “Bunda Maria yang terbesar dari para kudus” itu memang demikian, sehingga tidak memerlukan klarifikasi atau bisa menjadi salah kaprah.
          Juga pernyataan bahwa Bunda Maria adalah satu- satunya perempuan yang diberkati Allah (lebih tepatnya, dipenuhi dengan rahmat Allah) yang dipilih untuk melahirkan Putera-Nya. Ini juga menurut hemat saya cukup jelas.
          Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
          Ingrid Listiati- katolisitas.org

  4. Ibu Ingrid yang baik,
    Saya mau ikut komentar dan bertanya soal Bunda Maria.
    1. Dikatakan di atas Bahwa Maria “sejak saat pertama ia dikandung, dikaruniai cahaya kekudusan yang istimewa” (Lumen Gentium 56). Tetapi dikatakan juga berkat imannya ia dipilih Tuhan untuk menjadi Bunda Allah. Saya sedikit bingung di sini mengenai urutan kronologisnya. Karena menurut logika saya, dengan dibebaskannya Bunda Maria dari dosa asal dan dikuduskan oleh Allah menunjukkan bahwa Allah sudah memiliki rencana untuk memilih Maria menjadi Bunda Yesus terlepas dari imannya, karena Maria masih janin saat itu. Namun penjelasan di atas sepertinya menunjukkan hal yang lain, yang saya tidak jelas juga apa hal lain itu.

    2. Sewaktu di Roma, saya pernah ikut berdiskusi dengan para frater yang sedang belajar teologi. Mereka memperdebatkan mengenai, “Apakah Bunda Maria tahu bahwa bayi yang dikandungnya adalah Putera Allah saat menerima kabar dari Gabriel?” Wanita jaman itu katanya banyak yang mengharapkan dipilih Allah untuk mengandung Sang Mesias, tapi mereka tidak tahu bahwa Sang Mesias adalah Allah Putera. Jadi kalau Maria tidak mengetahui saat itu, kapan Maria sadar mengenai keAllahan Yesus? Kalau Maria mengetahui saat itu, apakah ada dokumen Gereja yang mengajarkan demikian? Seingat saya tidak ada kesimpulan yang ditarik oleh para frater jadi mengenai ya dan tidaknya juga belum jelas. Mengingat mereka baru belajar S1 teologi sedangkan Ibu Ingrid dan Pak Stef sudah S2 Teologi, mungkin bisa memberikan pencerahan.

    Terima kasih.
    Edwin

    • Shalom Edwin,

      1. Kerjasama antara rahmat Allah dan ketaatan iman.

      Dalam Teologi, sebagaimana diajarkan oleh St. Thomas Aquinas dikenal rumusan “Grace perfects nature, not destroys it‘. Artinya rahmat Tuhan diberikan untuk menyempurnakan kodrat dan bukan merusaknya/ meniadakannya. Maka dalam hal keselamatan  hal ini berlaku, artinya kita diselamatkan karena rahmat Tuhan, tetapi kita juga harus bekerjasama dengan rahmat Tuhan itu. St. Agustinus menyampaikan ajaran ini dengan lebih puitis, “He who created you without you does not justify you without you… ” (St. Augustine, Sermon 169, 11,13). Kita dapat melihat adanya kerjasama antara rahmat karunia dengan iman (iman yang hidup- yang disertai perbuatan sebagai bukti dari imannya) dalam hidup seseorang agar ia dapat diselamatkan; sebagaimana diajarkan dengan jelas oleh Rasul Paulus dalam Rom 4. Maka pada Bunda Maria, yang pertama- tama inisiatif datang dari Allah untuk menguduskan dia, karena Allah yang Maha Tahu telah mengetahui sejak awal mula bahwa Bunda Maria akan bekerja sama dengan rahmat-Nya. Namun selanjutnya, rahmat ini ditanggapi oleh Bunda Maria dengan ketaatan imannya.

      Paus Yohanes Paulus II dalam surat ensikliknya Redemptoris Mater (RM) mengajarkan,

      “Sungguh, saat menerima kabar Gembira, Maria memasrahkan dirinya sepenuhnya kepada Tuhan, dengan “ketaatan penuh dari akal budi dan kehendaknya”, menyatakanketaatan iman” kepada Dia yang mengatakan kepadanya melalui pembawa pesan-Nya (Dei Verbum 5). Oleh karena itu, Ia menanggapi, dengan seluruh kemanusiaan dan kewanitaannya; dan tanggapan iman ini mencakup baik kerjasama yang sempurna dengan “rahmat Tuhan yang mendahului dan membantu” dan keterbukaan yang sempurna kepada karya Roh Kudus, yang “secara terus menerus menghantar iman menuju kesempurnaannya dengan karunia- karunia-Nya.” (Ibid., 4, lih. Lumen Gentium, 56, sebagaimana dikutip dalam Redemptoris Mater 13)

      Ketaatan iman Bunda Maria inilah yang dipuji oleh Tuhan Yesus ketika Ia mengatakan bahwa pertama- tama, ibu-Nya adalah seorang yang mendengarkan Sabda Tuhan dan melaksanakannya (lih. Mrk 3:35; Luk 11:27-28). Paus Yohanes Paulus II mengajarkan dengan mengutip tulisan para Bapa Gereja, “Ia [Bunda Maria] mengandung Kristus di pikirannya, sebelum mengandung Kristus di dalam rahim-nya, di dalam iman.” (RM 13)

      2. “Apakah Bunda Maria tahu bahwa bayi yang dikandungnya adalah Putera Allah saat menerima kabar dari Gabriel?”

      Jika kita berpegang kepada Kitab Suci, maka nampaknya Bunda Maria sudah tahu bahwa yang akan dilahirkan-Nya adalah Putera (Anak) Allah, karena dikatakan, “Jawab malaikat itu kepadanya: “Roh Kudus akan turun atasmu dan kuasa Allah Yang Mahatinggi akan menaungi engkau; sebab itu anak yang akan kaulahirkan itu akan disebut kudus, Anak Allah.” (Luk 1:35)

      Namun demikian, pemahaman Bunda Maria akan “Anak Allah” yang akan dikandungnya bertumbuh hari demi hari. Bunda Maria bertumbuh dalam pengenalan akan rencana keselamatan Allah ini, yang melibatkan kerjasamanya dan ia menyimpan segala pengetahuan ini di dalam hatinya. Selanjutnya, Paus Yohanes Paulus II mengajarkan:

      “Melalui tahun- tahun hidup Yesus yang tersembunyi di Nazareth, hidup Maria juga “tersembunyi dengan Kristus di dalam Tuhan” (lih. Kol 3:3) melalui iman. Sebab iman adalah kontak dengan misteri Tuhan. Setiap hari Maria berada dalam kontak dengan misteri yang tak terselami, yaitu misteri Tuhan yang menjelma menjadi manusia, sebuah misteri yang melampaui apapun yang diwahyukan di dalam Perjanjian Lama. Sejak menerima Kabar Gembira, pikiran Bunda Maria telah diperkenalkan kepada pembaruan radikal dari Tuhan yang mewahyukan Diri-Nya sendiri dan dijadikan sadar akan misteri ini. Ia [Bunda Maria] adalah yang pertama dari “mereka yang kecil” yang tentangnya Yesus berkata: “Bapa …. karena semuanya Engkau sembunyikan bagi orang bijak dan orang pandai, tetapi Engkau nyatakan kepada orang kecil.” (Mat 11:25).

      …..”Dan ini adalah jalan bahwa Maria, selama bertahun- tahun, hidup di dalam keakraban dengan misteri Putera-Nya, dan berjalan terus di dalam peziarahan iman“, ketika Yesus “bertambah di dalam kebijaksanaan …. di hadapan Allah dan manusia” (Luk 2:52). Pemilihan Allah akan Kristus dinyatakan dengan lebih jelas di hadapan manusia. Manusia pertama yang diizinkan untuk mengenali Kristus adalah Maria, yang hidup bersama dengan Yusuf di rumah yang sama di Nazareth ….Hidup berdampingan dengan Putera-Nya di bawah satu atap dan dengan setia menjaga “di dalam persatuannya dengan Putera-Nya“, ia [Maria] “telah unggul di dalam peziarahan iman”, sebagaimana ditekankan oleh Konsili (lih. Luman Gentium 58). Maka di sepanjang kehidupan publik Kristus juga (lih. Mat 3:21-25) hari lepas hari digenapi di dalam Maria berkat yang diucapkan oleh Elisabet pada saat kunjungan Maria: “Terpujilah ia yang percaya” (RM 17).

      “Sejak saat menerima Kabar Gembira dan konsepsi, sejak saat kelahiran-Nya di kandang Betlehem, Maria mengikuti Yesus langkah demi langkah di dalam peziarahan iman sebagai ibu. Ia mengikuti-Nya di sepanjang tahun-tahun kehidupan-Nya yang tersembunyi di Nazareth; ia mengikuti Dia juga sepanjang waktu setelah Ia meninggalkan rumah, ketika Ia mulai “berkarya dan mengajar” (Kis 1:1) di tengah bangsa Israel. Di atas semua itu ia mengikuti-Nya di dalam pengalaman tragis ke Golgota. Kini ketika Maria berada dengan para Rasul di Ruang Atas di Yerusalem pada awal mula Gereja, imannya, yang lahir dari perkataan saat menerima Kabar Gembira, telah menemukan peneguhannya….”

      Demikianlah kita ketahui bahwa sepanjang hidupnya, Bunda Maria juga mengalami peziarahan iman. Iman yang dinyatakannya saat menerima Kabar Gembira tidak otomatis diikuti pengetahuan yang sempurna akan segala rencana Tuhan. Pengetahuan dan iman Bunda Maria bertumbuh seiring dengan waktu, dan oleh karena itu kita dapat mengikuti teladan iman Bunda Maria, yang terus memperbaharui ketaatannya kepada Tuhan di dalam setiap langkah peziarahan imannya itu. Ia berkata “Ya” kepada kehendak Tuhan sejak menerima Kabar Gembira, sampai mendampingi Yesus di kaki salib-Nya, dan sampai hari Pentakosta, saat ia melihat penggenapan dan peneguhan janji Allah yang diterimanya saat menerima Kabar Gembira.

      Itulah sebabnya Gereja melihat Bunda Maria sebagai teladan bagi umat beriman, yang berjalan dengan ketaatan iman sepanjang hidup, walaupun saat menjalaninya belum memahami sepenuhnya rencana Tuhan; sebab akan tiba saatnya Tuhan menggenapi semua janji-Nya bagi kita orang percaya, asalkan kita teguh berpegang kepada-Nya dan hidup sesuai dengan iman kita.

      Semoga uraian ini menjawab pertanyaan Anda.

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      Ingrid Listiati- katolisitas.org

  5. saudari Hesti

    menurut sy Gereja Katolik menempatkn Bunda Maria dlm posisi istimewa krn ketaatannya,sprti halnya Yesus taat kpd Bapa yg mengutusnya yg akhirnya Ia dimuliakn oleh Bapa,duduk disebelah kanan Allah.didlm surga sptinya tdk ada tingkatan2 krn Yesus berfirman:..sedangkan barangsiapa merendahkan diri dan menjadi seperti anak kecil ini dialah yang terbesar dalam Kerajaan Sorga..dan’…Sebab siapapun yang melakukan kehendak BapaKu diSorga dialah saudaraKu laki laki,dialah saudaraKu perempuan,dialah ibuKu.’ tdk sedikit pula orang2 kudus yg pnya masa lalu kelam mempunyai tempat istimewa di Hati Yesus krn ketaatan dn kesetiaan mereka kpd Tuhan…….[Dari Katolisitas: kami edit]. Bunda Maria memang manusia luar biasa krn walaupun dimuliakan,memperoleh tempat istimewa di Sorga tapi Maria selalu menyatakan, bukan kemuliaannya melainkan kemuliaan Putra-Nya. Gereja Katolik tdk pernah melupakan teladan ato jasa orang2 benar apalg Santo Yusuf yg berperan serta dlm kehidupan Yesus.

  6. turut komentar:
    membaca dan memahami Kitab Suci dalam terang pengajaran Gereja Katolik menghasilkan suatu pengajaran iman yang indah luar biasa.Terimakasih kepada Gereja Katolik yang menerangi kita memahami apa yang terdapat dalam Kitab Suci. Waspadalah akan pengajaran Kitab Suci yang sepotong sepotong dan instans dari [….. dari Katolisitas: kami edit, mungkin maksudnya, pihak-pihak yang] membiaskan apa yang seharusnya diajarkan. Pertanyaan di atas mencerminkan pemahaman Kitab Suci yang sepotong sepotong dan harafiah. Berbahagialah kita yang bergabung dengan Gereja Katolik bisa menikmati indahnya Kitab Suci. Terimakasih buat team Katolisitas yang sabar dalam memaparkan indahnya pengajaran Gereja Katolik.

  7. Dear mbak Ingrid

    Seorang kawan Katolik mengatakan kepada saya bahwa Maria adalah manusia yang paling mulia setelah YESUS. Di dalam kerajaan Surga setelah Allah Tritunggal, Maria adalah sosok nomer dua bahkan lebih dari para malaikat. Ketika saya tanya alasannya ia menjawab demikian: Tugas perutusan Maria selama hidupnya di dunia jauh lebih besar dari semua Nabi2 perjanjian lama dan bahkan jauh lebih besar dari Yohanes Pembaptis yang oleh Yesus sendiri katakan sebagai terbesar di dunia.

    ……

    [Dari Katolisitas: kami edit. Pertanyaan selengkapnya dan tanggapan kami, sudah tertera di atas, silakan klik]

    • Dear Ibu Inggrid,
      Menurut saya tidak usah diperdebatkan siapa itu Bunda Maria, ia adalah seorang wanita yang dipilih Allah untuk melahirkan Yesus, kalau ia kenapa dipilih Allah pasti banyak argumen, ada yang saling melengkapi dan pasti ada yang saling menyanggah.
      Yang penting sebenarnya adalah bagaimana kita dapat lebih mengenal siapa itu Yesus, kebaikanNya, kasihNya, janjiNya dan berkat-berkatNya dapat kita nikmati sepanjang hidup kita. Yang akhirnya dengan mulut dan hati kita dapat mengatakan : YESUS ADALAH BAIK SUNGGUH BAIK & AMAT BAIK. Walaupun hidup kita sering diliputi oleh masalah dan keadaan yang tidak mendukung. BAGI DIALAH KEMULIAAN & KUASA SELAMA-LAMANYA. Amin

      • Shalom Budi Yoga,

        Terima kasih atas tanggapan anda. Dalam diskusi iman, maka kita tentu saja dapat melihat adanya tingkatan apakah diskusi menyentuh kebenaran yang langsung diberikan secara eksplisit dalam Kitab Suci atau kebenaran yang merupakan deduksi dari kebenaran yang utama. Berdiskusi tentang hal yang terakhir bukannya tidak berguna, namun dapat memberikan kedalaman pembahasan terhadap kebenaran-kebenaran yang hakiki. Jadi, tidak cukup kita hanya berdiskusi tentang kebaikan Yesus dengan mengabaikan pengajaran-pengajaran yang lain. Kalau hanya ingin berdiskusi tentang kebaikan Yesus tanpa menyentuh dogma dan doktrin, maka pemahaman kita dapat saja salah, karena pada akhirnya kita akan menyamaratakan kekristenan dan mengabaikan pengajaran. Sebagai contoh, kita dapat berhenti pada diskusi tentang Yesus yang sungguh baik karena Dia telah datang ke dunia untuk menebus dosa manusia. Namun, kita juga dapat berdiskusi lebih lanjut tentang Yesus yang adalah Roti Hidup, yang harus disantap oleh umat Allah (Yoh 6) dan ditegaskan dalam Perjamuan Suci. Dan kemudian diskusi dapat berlanjut tentang Sakramen Ekaristi. Setelah itu, kita dapat berdiskusi tentang liturgi Ekaristi itu sendiri, sehingga kita dapat menghindari pelanggaran liturgi dan dapat memaknai Ekaristi dengan lebih baik. Kemudian diskusi dapat berlangsung terus sampai ke tingkat yang lebih detail. Kalau kita dapat melihat rangkaian diskusi ini, maka kita akan melihat bahwa tidak ada yang sia-sia, walaupun diskusi dilakukan dalam tingkatan detail, yang secara sekilas terlihat tidak perlu. Namun, dari sisi yang lain, hal-hal detail adalah merupakan perwujudan dari apa yang dipercayai. Semoga pemikiran dari sisi yang berbeda ini dapat diterima.

        Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
        stef – katolisitas.org