Yes 11:2-3: 6 karunia atau 7 karunia Roh Kudus?

2

Pertanyaan:

Shalom Katolisitas,

Ada yang mau saya tanyakan mengenai Yesaya 11:2-3 berikut:
“Roh Tuhan akan ada padanya, roh hikmat dan pengertian, roh nasihat dan keperkasaan, roh pengenalan dan TAKUT AKAN TUHAN; ya, kesenangannya ialah TAKUT AKAN TUHAN.”

Teks kitab Nabi Yesaya dalam bahasa Ibrani mencatat hanya enam karunia dengan karunia TAKUT AKAN TUHAN disebutkan dua kali, terjemahan Septuaginta bahasa Yunani dan Vulgata bahasa Latin mencatat tujuh karunia, dengan menambahkan “kesalehan” dan menghilangkan pengulangan TAKUT AKAN ALLAH.
(sumber: http://yesaya.indocell.net/id551.htm)

Bisakah tolong dijelaskan mengenai hal ini? Bagaimana saya bisa menjawab tudingan bahwa tambahan “kesalehan” pada ketujuh karunia Roh Kudus ini dianggap sebagai bentuk tidak terpeliharanya firman Allah dari teks aslinya?

Salam kasih dalam Kristus Tuhan
Emmanuela

Jawaban:

Shalom Emmanuela,

Berikut ini adalah keterangan yang kami peroleh dari Dr. Lawrence Feingold STL, pembimbing Teologis situs Katolisitas tentang mengapa dalam terjemahan Septuaginta disebutkan tujuh karunia Roh Kudus (kami sertakan dalam dua bahasa, bahasa Inggris dan terjemahannya dalam bahasa Indonesia):

Penjelasan tentang mengapa terdapat tujuh karunia Roh Kudus dalam terjemahan Septuaginta (oleh Dr. Lawrence Feingold STL) Terjemahannya dalam bahasa Indonesia (oleh Ingrid Listiati MTS)
The Messianic prophecy of Isaiah 11:2-3 is the origin of the well-known Christian enumeration of the seven gifts of the Holy Spirit: wisdom, understanding, counsel, fortitude, knowledge, piety, and fear of the Lord. These gifts are also highly revered in Jewish spirituality.

The Hebrew text actually seems to mention only six gifts, repeating the last gift of fear of the Lord twice. However, the Greek Septuagint translation from the third century BC gives seven gifts. Where the Hebrew text gives fear of the Lord twice, the Septuagint translates "piety and fear of the Lord."

Why did the translators of the Septuagint do this? It is not certain, but there is reason to think that it was done to fill out the symbolic number seven representing fullness, and harmonize with other texts of the prophets which speak of "seven spirits" and seven "eyes" of the Lord. [The seven "eyes" of the Lord are spoken of in Zech 4:10: "These seven are the eyes of the lord, which range through the whole earth." The book of Revelation establishes a connection of the seven eyes with "seven spirits" of the Lord; see Rev 3:1; 4:5; and especially Rev 5:6: "I saw a Lamb standing, as though it had been slain, with seven horns and with seven eyes, which are the seven spirits of God sent out into all the earth."] Indeed, the seven spirits of the Lord, or seven gifts of the Holy Spirit, were an element of Tradition before Christ.

St. Jerome's famous Latin translation, the Vulgate, although generally translated directly from the Hebrew, here uncharacteristically follows the Septuagint. The reason for this is undoubtedly that the seven gifts of the Holy Spirit had already deeply entered the Christian spiritual Tradition. [The Septuagint translation frequently shows a development of doctrine within the life of Israel, in that the Septuagint translation reflects the state of Jewish understanding in the third and second centuries BC. Thus it is a very important witness of the Jewish living Tradition. It is also possible that the Septuagint and the Vulgate were based on Hebrew textual traditions different from that of the Masoretic text, with a potentially equal claim to authenticity.]

The close relation between piety and filial fear of the Lord is shown to us in the Hebrew text of Isaiah 11:2-3, which lists the fear of the Lord twice. The authoritative Greek translation of the Septuagint, nevertheless, distinguished the two gifts, referring to the second as piety.

Nubuat tentang Mesias dalam Kitab Yesaya (Yes 11:2-3) adalah asal dari penjabaran tentang tujuh karunia Roh Kudus: kebijaksanaan, pengertian, nasehat, keperkasaan, pengetahuan, kesalehan dan takut akan Tuhan. Karunia- karunia ini juga sangat dihormati dalam spiritualitas Yahudi.

Teks Ibrani nampaknya menyebutkan hanya enam karunia, dengan mengulangi karunia yang terakhir, yaitu takut akan Tuhan, sebanyak dua kali. Meskipun demikian, terjemahan Yunani Septuaginta dari abad ke- 3 sebelum Masehi menyebutkan tujuh karunia. Teks Ibrani menyebutkan takut akan Tuhan dua kali, sedangkan Septuaginta menerjemahkan, "kesalehan dan takut akan Tuhan."

Mengapa para penerjemah Septuaginta melakukan hal ini? Tidak diketahui dengan pasti, tetapi ada alasan untuk berpikir bahwa ini dilakukan untuk melengkapi angka simbolis tujuh yang mengartikan kesempurnaan, dan menyesuaikan dengan teks- teks para nabi yang lain yang mengatakan "tujuh Roh" dan "tujuh mata" Tuhan. [Tujuh "mata" Tuhan dikatakan dalam Zak 4:10: "...Yang tujuh ini adalah mata TUHAN, yang menjelajah seluruh bumi." Kitab Wahyu menyatakan hubungan antara tujuh mata dengan "tujuh Roh"; (lih. Why 3:1; 4:5 dan khususnya Why 5:6): "Maka aku melihat ... seekor Anak Domba seperti telah disembelih, bertanduk tujuh dan bermata tujuh: itulah ketujuh Roh Allah yang diutus ke seluruh bumi."]. Sungguh, ketujuh Roh Tuhan, atau ketujuh karunia Roh Kudus, adalah elemen Tradisi sebelum Kristus.

Terjemahan Latin St. Hieronimus yang terkenal, Vulgata, meskipun secara umum diterjemahkan langsung dari bahasa Ibrani, di sini secara tidak umum mengikuti terjemahan Septuaginta. Tidak diragukan lagi, alasannya adalah bahwa ketujuh karunia Roh Kudus telah berakar dalam Tradisi spiritual Kristiani. [Terjemahan Septuaginta telah berkali- kali menunjukkan perkembangan ajaran di dalam kehidupan bangsa Israel, di mana terjemahan Septuaginta mencerminkan tingkatan pemahaman bangsa Yahudi di abad ketiga dan kedua sebelum Masehi, oleh karena itu adalah saksi yang sangat penting dari Tradisi Yahudi yang hidup. Juga mungkin terjadi bahwa Septuaginta dan Vulgata disusun berdasarkan tradisi- tradisi tekstual Ibrani yang berbeda dengan teks Masoretik, yang keduanya secara potensial mempunyai klaim otentisitas yang sama.]

Hubungan yang dekat antara kesalehan dan takut akan Tuhan [filial fear of the Lord] dinyatakan kepada kita di dalam teks Ibrani Yes 11:2-3, yang menyebutkan 'takut akan Tuhan' sebanyak dua kali. Meskipun demikian terjemahan Yunani Septuaginta yang otoritatif membedakan antara keduanya, dengan menyebutkan 'takut akan Tuhan' yang kedua sebagai 'kesalehan'.

Maka dapat disimpulkan bahwa karunia "kesalehan" di Yes 11:2-3 bukanlah merupakan tambahan. Sebab memang di sana disebut dua kali karunia 'takut akan Tuhan'; yaitu 'takut akan Tuhan' dan 'kesenangannya ialah takut akan Tuhan'; dan ungkapan yang kedua inilah yang diterjemahkan dengan istilah 'kesalehan'. Demikian pula, dapat terjadi bahwa Septuaginta mengambil teks tradisi Ibrani yang berbeda dengan teks Maroretik, namun keduanya tetap otentik, sebab keduanya menyampaikan tradisi Yahudi yang ada dalam kehidupan spiritualitas Yahudi pada saat itu. Teks Septuagint menerjemahkan ayat- ayat Yes 11: 2-3 dengan melihat kaitan ayat tersebut dengan ayat lainnya dalam Kitab Suci yang menghubungkan ketujuh karunia ini dengan ketujuh 'mata' Tuhan.

Pada akhirnya, kita harus mengakui bahwa Sabda Allah dalam Kitab Suci diberikan kepada Gereja, maka Gerejalah yang berhak untuk menafsirkannya dengan benar. Mereka yang tidak mengimani kebenaran dalam Kitab Suci tidak dapat menginterpretasikannya dengan benar, sebab titik perhatian mereka cenderung terbatas pada ayat- ayat tertentu dan menginterpretasikannya sendiri berdasarkan atas pengertiannya terhadap ayat itu saja, tanpa melihat kaitannya dengan keseluruhan ayat dalam Kitab Suci, sedangkan Gereja selalu melihat Kitab Suci sebagai satu kesatuan, di mana ayat yang satu berhubungan dengan ayat- ayat yang lain. Khusus mengenai ayat Yes 11:2-3, sesungguhnya bukan Gereja yang menginterpretasikannya, tetapi teks Kitab Suci sendiri yang telah menyatakannya, berdasarkan atas Tradisi Yahudi pada saat itu -yang sudah ada sebelum Gereja resmi berdiri- karena teks itu sudah ada sejak abad 2-3 sebelum Masehi. Dengan demikian terjemahan 'kesalehan' dalam Septuaginta tidak dapat dikatakan sebagai bukti bahwa Kitab Suci tidak asli/ tidak otentik.

Demikian yang dapat saya sampaikan menanggapi pertanyaan anda. Semoga berguna.

Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
Ingrid Listiati- katolisitas.org

Share.

About Author

Ingrid Listiati telah menyelesaikan program studi S2 di bidang teologi di Universitas Ave Maria - Institute for Pastoral Theology, Amerika Serikat.

2 Comments

  1. Shalom Katolisitas,

    Ada yang mau saya tanyakan mengenai Yesaya 11:2-3 berikut:
    “Roh Tuhan akan ada padanya, roh hikmat dan pengertian, roh nasihat dan keperkasaan, roh pengenalan dan TAKUT AKAN TUHAN; ya, kesenangannya ialah TAKUT AKAN TUHAN.”

    Teks kitab Nabi Yesaya dalam bahasa Ibrani mencatat hanya enam karunia dengan karunia TAKUT AKAN TUHAN disebutkan dua kali, terjemahan Septuaginta bahasa Yunani dan Vulgata bahasa Latin mencatat tujuh karunia, dengan menambahkan “kesalehan” dan menghilangkan pengulangan TAKUT AKAN ALLAH.
    (sumber: link to yesaya.indocell.net)

    Bisakah tolong dijelaskan mengenai hal ini? Bagaimana saya bisa menjawab tudingan bahwa tambahan “kesalehan” pada ketujuh karunia Roh Kudus ini dianggap sebagai bentuk tidak terpeliharanya firman Allah dari teks aslinya?

    Salam kasih dalam Kristus Tuhan
    Emmanuela

    [Dari Katolisitas: Pertanyaan ini sudah dijawab di atas, silakan klik]

Add Comment Register



Leave A Reply