shalom…..
saya banya membaca tentang ertikal yg saudara tulis, sebagai orang katolik sy merasa sangat terbantu, dan semakin mengerti tentang ajaran katolik yg sy anut, sy sangat tertarik menganai ajaran2 kristen di luar greja katolik. terkhusus tentang ajaran mormon yg berkembang d Amerika, bisakah saudara menggambrkan tentang ajaran ini dr sisi katolik?
terimakasih…. shalom..
Flo
Shalom Flo,
Berikut ini sekilas tentang Mormonism, yang saya sarikan dari buku karangan Father Frank Chacon dan Jim Burnham, Beginning Apologetics 2 (Farmington, San Juan Seminars, 1996) p. 19- 26:
Gereja Mormon didirikan oleh Joseph Smith, Jr pada tahun 1830. Nama resminya adalah Church of Jesus Christ of Later-day Saints (LDS).
Joseph Smith (1805-1844) mengklaim bahwa ia mendirikan gereja Mormon atas dasar wahyu- wahyu yang diterimanya tahun 1820, dari dua orang yang datang dari surga. Mereka mengatakan kepadanya bahwa semua agama Kristen yang ada saat itu sudah rusak total. Maka misi Joseph Smith adalah untuk memulihkan agama tersebut, yang konon sudah rusak segera setelah kematian Rasul yang terakhir.
Untuk menggenapi misinya, Joseph Smith mengklaim bahwa Tuhan telah menjadikannya seorang nabi dan rasul. Ia menjadi nabi yang menyampaikan Wahyu Ilahi dan menulis kitab Suci. Smith memang menulis tiga kitab yang diklaim oleh kaum Mormon sebagai bagian dari Kitab Suci: Book of Mormon, Doctrines and Covenants and Pearl of Great Price. Kaum Mormon juga percaya bahwa para pemimpin gereja LDS yang meneruskan Joseph Smith adalah nabi- nabi.
Berikut ini adalah sumber- sumber utama yang dipinjam oleh Joseph Smith untuk mendirikan Mormonism:
1) Protestantism.
Joseph Smith, seperti Charles Taze Russell (Pendiri Saksi Yehuwa) datang dari latar belakang Protestan. Smith mengajarkan kesalahan ajaran Protestantism, seperti penolakan akan Ekaristi, Paus, ajaran tentang Maria, dan kitab- kitab Deuterokanonika.
2) Adventism.
Ajaran Joseph Smith mempunyai kemiripan dengan ajaran Adventism. Smith memperkirakan akhir jaman pada tahun 1890. Walaupun tidak menekankan perhatian akan akhir jaman, seperti halnya pada aliran the Seventh-Day Adventists dan Saksi Yehuwa, Smith menyerap pola pikir bebas dalam hal- hal religius seperti yang dianut oleh kelompok- kelompok Adventist di jamannya.
3). Freemasonary.
Smith masuk menjadi anggota Mason tahun 1842, dan mengambil upacara- upacara Masonik ke dalam Mormonism.
4). Sumber- sumber lainnya.
Tokoh- tokoh kolonial: Cotton Maher, William Penn dan Roger Williams, memperkirakan bahwa orang- orang Indian di Amerika kemungkinan adalah kaum sisa Israel Palestina yang bermigrasi ke Amerika berabad sebelum Kristus. Smith mengajarkan bahwa orang- orang Yahudi yang datang ke Amerika sekitar tahun 600 BC mendirikan dua bangsa yang besar, yaitu Nephites dan Lamanites. Namun demikian, penyelidikan arkeologis dan sejarah Amerika tidak dapat menemukan jejak kedua bangsa ini seperti yang disebut dalam Book of Mormons. Tidak adanya bukti ini telah menjadi hal yang sangat memalukan bagi para sejarahwan Mormon dan arkeolognya. Karena bukti- bukti yang semakin meyakinkan bahwa kedua bangsa ini tidak pernah ada, maka kaum Mormon mengesampingkan ajaran ini.
Ajaran Mormon lainnya yang tidak sesuai dengan Kitab Suci maupun Tradisi Suci adalah tentang perkawinan di surga, poligami, baptisan orang mati, kepercayaan akan wahyu- wahyu yang terus menerus, dan adanya banyak tuhan. Tentang Gereja Katolik, Mormonism menyebutnya sebagai “the great apostasy” (kesesatan yang besar), yang dimulai sejak kematian Rasul yang terakhir (sekitar 100 AD) dan atau paling lambat sekitar tahun 200. Mormonism mengajarkan bahwa Gereja Kristus telah hilang lenyap dari bumi sampai pada saat dipulihkannya oleh Joseph Smith tahun 1829.
Tapi sebenarnya tuduhan ini tidak mendasar, sebab Kitab Suci, tulisan para Bapa Gereja abad- abad awal, dan kenyataan sejarah menjadi saksi utama akan kesalahan tuduhan ini.
a. Tuhan Yesus mengajarkan kepada murid- murid-Nya untuk membangun rumah di atas batu dan bukan di atas pasir, agar rumahnya kokoh dan tidak hancur/ lenyap ditelan banjir (lih. Mat 7:24-27). Maka mungkinkah Ia sendiri tidak melakukan hal itu? Kenyataannya, Yesus mendirikan rumah-Nya, yaitu Gereja-Nya di atas Petrus (Batu Karang) dan Ia sendiri berjanji untuk menjaganya agar tidak sesat/ binasa.
Mat 16:13-18 mengatakan: Setelah Yesus tiba di daerah Kaisarea Filipi, Ia bertanya kepada murid-murid-Nya: “Kata orang, siapakah Anak Manusia itu?” Jawab mereka: “Ada yang mengatakan: Yohanes Pembaptis, ada juga yang mengatakan: Elia dan ada pula yang mengatakan: Yeremia atau salah seorang dari para nabi.” Lalu Yesus bertanya kepada mereka: “Tetapi apa katamu, siapakah Aku ini?” Maka jawab Simon Petrus: “Engkau adalah Mesias, Anak Allah yang hidup!” Kata Yesus kepadanya: “Berbahagialah engkau Simon bin Yunus sebab bukan manusia yang menyatakan itu kepadamu, melainkan Bapa-Ku yang di sorga. Dan Akupun berkata kepadamu: “Engkau adalah Petrus dan di atas batu karang ini Aku akan mendirikan jemaat-Ku (Gereja-Ku) dan alam maut tidak akan menguasainya.” (… upon this rock I will build My Church; and the gates of hell shall not prevail against it.“- KJV, versi yang diakui oleh Mormonism)
Maka berdasarkan janji Kristus ini, tidak mungkin walaupun untuk sementara waktu saja, Gereja/ jemaat-Nya dapat binasa dan lenyap ditelan gerbang maut. Maka pandangan Mormonism yang mengatakan Gereja dapat binasa (walau untuk sementara waktu) adalah pandangan yang menuduh Kristus berdusta.
b. Mat 18:15-18: “Apabila saudaramu berbuat dosa, tegorlah dia di bawah empat mata. Jika ia mendengarkan nasihatmu engkau telah mendapatnya kembali. Jika ia tidak mendengarkan engkau, bawalah seorang atau dua orang lagi, supaya atas keterangan dua atau tiga orang saksi, perkara itu tidak disangsikan. Jika ia tidak mau mendengarkan mereka, sampaikanlah soalnya kepada jemaat (Gereja). Dan jika ia tidak mau juga mendengarkan jemaat, pandanglah dia sebagai seorang yang tidak mengenal Allah atau seorang pemungut cukai. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya apa yang kamu ikat di dunia ini akan terikat di sorga dan apa yang kamu lepaskan di dunia ini akan terlepas di sorga.”
Yesus mengajarkan untuk membawa perselisihan dalam hal religius ke hadapan Gereja. Perintah ini mensyaratkan keberadaan Gereja yang setia kepada misinya. Jika tidak demikian, artinya kita harus menyerahkan masalah religius kepada gereja pagan yang rusak, untuk memenuhi perintah Kristus, dan ini menjadi tidak masuk akal.
c. Mat 28:20, Yesus berkata kepada para rasul-Nya: “Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman.”
Tak dapat disangkal bahwa Yesus selalu/ senantiasa menyertai Gereja-Nya yang didirikan-Nya di atas para rasul- sampai akhir jaman. Karena janji Kristus ini, maka tidak mungkin Gereja menjadi sesat dalam hal pengajarannya, sebab tidak mungkin Kristus meninggalkan dan mengabaikan Gereja-Nya.
d. 1 Tim 3:15: “Jadi jika aku terlambat, sudahlah engkau tahu bagaimana orang harus hidup sebagai keluarga Allah, yakni jemaat (Gereja) dari Allah yang hidup, tiang penopang dan dasar kebenaran.”
Rasul Paulus mengatakan kepada kita bahwa Gereja adalah tiang penopang dan dasar kebenaran; dan ini menunjukkan sifat Gereja yang kuat, stabil, dan permanen. Gereja sebagai keluarga Allah, akan menjadi guru yang permanen yang mengajarkan kebenaran.
Kesimpulannya: Kitab Suci menunjukkan bahwa Gereja Katolik yang didirikan Kristus di atas Rasul Petrus, tidak pernah dan tidak akan rusak di dalam hal otoritas apostolik dan ajarannya.
Mormonism mengutip ayat- ayat di Kitab Suci tentang penyesatan untuk mendukung klaim mereka tentang ‘kesesatan besar’, seperti Mat 7:15, Kis 20:29, 2 Tes 2:3, dan 2 Pet 2:1). Namun demikian, ayat- ayat ini menunjukkan adanya penyesatan besar yang akan terjadi sebelum akhir jaman, atau kepada kesesatan- kesesatan yang terjadi sepanjang periode sejarah Gereja. Kita setuju dengan Mormonism bahwa telah terjadi dan akan terus terjadi penyimpangan ajaran sesat dari pihak- pihak tertentu yang memisahkan diri dari Gereja. Namun demikian tidak ada ayat di dalam Kitab Suci yang menyebutkan adanya kesesatan total yang melibatkan otoritas apostolik yang terus berlangsung melalui para penerus Rasul, yaitu para Paus dan Uskup.
Adalah penting untuk mempelajari tulisan para Bapa Gereja sampai tahun 200, untuk mengetahui bahwa tuduhan Mormonism sesungguhnya berlawanan dengan fakta. St. Klemens, Ignatius, Yustinus Martir, Polycarpus dan Irenaeus, adalah para Bapa Gereja yang terkenal pada jaman ini, dan tulisan- tulisan mereka didokumentasikan dengan baik. Mereka telah mulai ada sejak jaman para rasul dan berakhir sekitar tahun 200. Maka mereka termasuk dalam periode, yang menurut Mormonism, merupakan periode kerusakan Gereja Katolik dan ajarannya.
Studi tentang tulisan para Bapa Gereja menunjukkan bahwa mereka secara konsisten mengajarkan ajaran Gereja Katolik. St. Klemens (wafat tahun 80) menyatakan tentang otoritasnya sebagai Uskup Roma dan kepala Gereja. Ia juga mengajarkan tentang Misa sebagai perayaan kurban Kristus. St. Ignatius yang adalah pembantu Rasul Yohanes menuliskan sebuah surat yang keras tahun 110, mengecam mereka yang menolak kehadiran Yesus yang nyata di dalam Ekaristi. St. Yustinus Martir pada tahun 155 memberikan secara mendetail perayaan Ekaristi. St. Irenaeus (188-199) memperingatkan agar seseorang harus mengikuti Gereja Roma agar dapat mengikuti ajaran Apostolik.
Para Bapa Gereja bahkan tidak menyebutkan adanya “kesesatan besar”, seperti diharapkan sebagian orang, jika hal itu benar terjadi di masa hidup mereka. Sebaliknya, mereka memang menyebutkan banyak penyimpangan- penyimpangan yang melawan ajaran Gereja Katolik, seperti tuduhan bahwa umat Katolik mempraktekkan kanibalism dan penolakan ajaran tentang Inkarnasi. Jika memang ada penyesatan besar- besaran terjadi di Gereja di masa mereka hidup, tentu kita dapat melihat adanya tulisan- tulisan dalam skala yang besar di pihak penyerang dan pembela ajaran yang benar, namun tidak demikian yang terjadi.
Menurut Mormonism, para Bapa Gereja di abad awal mengajarkan ajaran Mormon, yang kemudian diabaikan oleh para Bapa Gereja yang sesat di jaman berikutnya. Namun demikian, tidak ada satupun Bapa Gereja di abad awal yang pernah mengajarkan ajaran Mormonism seperti poligami, baptisan orang mati, adanya banyak tuhan ataupun perkawinan di surga. Tidak ada bukti sedikitpun bahwa Gereja awal [sebelum terjadinya 'kesesatan besar' menurut kaum Mormon] adalah gereja Mormon. Sebaliknya, bukti yang tidak dapat disangkal adalah Gereja awal tersebut mengajarkan ajaran yang diajarkan oleh Gereja Katolik. Gereja Katolik mengajarkan ajaran yang sama, yang diajarkan oleh para Rasul, sampai pada hari ini. Kesimpulannya, studi tentang tulisan para Bapa Gereja di abad- abad awal membuktikan tidak adanya klaim Mormonism tentang terjadinya “kesesatan besar”.
Kanon Kitab Suci secara resmi ditetapkan oleh Gereja Katolik pada tahun 382 oleh Paus Damasus I, diteguhkan kembali oleh Konsili Hippo (393) dan Carthago (397). Mormonism menerima dengan iman, kanon Perjanjian Baru, persis seperti yang ditetapkan oleh Gereja Katolik. Namun penentuan kanon ini terjadi setelah tahun 200, yaitu setelah Gereja Katolik, menurut Mormonism, telah menjadi rusak total dan tak dapat mewartakan kebenaran. Bukankah ini adalah suatu pandangan yang tidak konsisten, sebab Mormonism menerima otoritas Gereja Katolik dalam menentukan Kitab Suci, namun kemudian menolak bahwa Gereja Katolik tetap memegang otoritas mengajar dengan benar.
Mengapakah sejarah mencatat adanya pemisahan diri dalam sejarah Gereja: Arianism, Othodoxy, Protestantism- tetapi tidak pernah menyebutkan adanya ‘kesesatan total’? Jika skima- sksima besar disebutkan, mengapa jika memang ada skisma yang terbesar, malah tidak pernah disebutkan? Jika memang ada, tentunya ada orang yang mencatatnya. Jika benar Gereja awal mengajarkan ajaran Mormon, maka tentulah ada tulisan yang banyak dari para jemaat awal, ketika banyak dari anggota Gereja lainnya yang ‘tersesat’ mengikuti ajaran yang non- Mormon. Namun faktanya, tidak ada sedikitpun protes, tak ada bahkan satupun bukti yang menunjukkan hal itu. Kebisuan sejarah ini sungguh merupakan kenyataan yang kuat, yang menunjukkan bahwa klaim Mormonism sebagai ajaran yang asli sungguh tidak berdasar dan tidak dapat dibuktikan.
Sejarah mencatat, misalnya ketika ada ajaran sesat Arianism (di awal abad ke-4) yang menentang keilahian Kristus, maka para Bapa Gereja menanggapinya dengan melengkapi kalimat syahadat (Credo). Sebelumnya Credo hanya menyebutkan tentang Yesus: “Putera-Nya yang Tunggal, Tuhan kita”, menjadi: “Putera Allah yang Tunggal, Ia lahir dari Bapa sebelum segala abad, Allah dari Allah, Terang dari Terang, Allah benar dari Allah benar. Ia dilahirkan, bukan dijadikan sehakikat dengan Bapa; segala sesuatu dijadikan oleh-Nya…” Dengan demikian, Gereja meluruskan ajaran yang keliru, dan menegaskan kembali ajaran yang benar.
Maka jika benar ada kesesatan besar di Gereja, tentulah ada seseorang yang netral yang dapat menulis sesuatu untuk menantang Gereja agar setia mengajarkan kebenaran. Atau Gereja sendiri harus meluruskan ajaran agar dapat diketahui ajaran yang murni, yang tercermin dalam syahadat/ credo. Namun hal ini tidak pernah terjadi, tidak ada orang yang menantang Gereja untuk mengajarkan ajaran yang murni dari para Rasul [karena memang Gereja sudah selalu mengajarkan ajaran yang murni tersebut]. Sebaliknya, yang ditantang/ ditolak adalah ajaran yang menentang ajaran para rasul itu.
Jika ditanya, kaum Mormon tidak dapat memberikan penjelasan rinci fakta tentang kesesatan besar itu. Yang dikatakan hanya adalah terjadi kesesatan besar, namun jika ditanya apa contohnya secara mendetail, mereka tidak dapat menjawabnya, misalnya: siapa yang mempelopori kesesatan itu, di mana terjadinya, tentang apa, siapa yang menolak kesesatan itu, dst.
Kita ketahui bahwa sebagai pengikut Kristus kita (maupun kaum Mormon) menerima otoritas kitab Perjanjian Baru. Kitab Perjanjian Lama sendiri tetap eksis selama sekitar 1300 tahun sampai tergenapinya dalam Perjanjian Baru, walaupun ada banyak tokoh pemimpin dalam Perjanjian Lama yang hidupnya jahat. Dengan kenyataan ini, apakah kita harus percaya bahwa Gereja –yang didirikan oleh Kristus yang adalah Allah Putera yang menjelma menjadi manusia dan yang merupakan penggenapan janji Allah dalam Perjanjian Baru– akan dapat runtuh hanya dalam waktu 70 tahun setelah saat didirikannya oleh Kristus?
Daripada mencari fakta kesesatan besar yang terjadi setelah kematian Rasul terakhir, kita dapat mencari adanya kesesatan yang direkam dalam Injil. Yoh 6 telah merekam kejadian kesesatan dari banyak pengikut Kristus yang menolak untuk percaya akan ajaran Kristus tentang Ekaristi, yaitu agar para pengikut-Nya makan Tubuh-Nya dan minum Darah-Nya dalam rupa makanan (roti) dan minuman. Banyak di antara mereka yang mengikut Yesus saat itu menolak ajaran ini, sebab mereka tidak dapat menerima kehadiran Kristus yang secara nyata dalam Ekaristi. Demikian juga, kaum Mormon juga menolak untuk percaya akan kehadiran Yesus secara nyata dalam Ekaristi. Maka sesungguhnya dapat dipertanyakan di sini, siapakah sebenarnya yang menyimpang dari ajaran Kristus.
Di atas semua itu, Gereja mengajarkan kepada kita bahwa Wahyu Umum Allah (public Revelation) telah berakhir dengan wafatnya Rasul yang terakhir yaitu Yohanes, sekitar tahun 100. Oleh karena itu tidak akan ada pengajaran baru, ataupun Kitab Suci yang baru ataupun nabi- nabi baru seperti pada jaman nabi Musa, Yesaya, Daniel, dst. Gal 4:4, mengajarkan bahwa Yesus menyampaikan kepenuhan Wahyu Allah. Yud 1:3 mengatakan bahwa ajaran iman ini telah disampaikan kepada orang- orang kudus (…. ye should earnestly contend for the faith which was once delivered unto the saints- KJV). Mat 28:19-20 mengindikasikan bahwa semua ajaran telah disampaikan Kristus kepada para rasul, dan mereka harus mewartakan semua ajaran ini ke seluruh dunia.
Dengan demikian, Kitab Suci sendiri menyatakan bahwa tidak akan ada lagi Wahyu- wahyu umum yang baru, karena Wahyu umum telah mencapai puncaknya, dan telah disampaikan oleh Kristus. Katekismus Gereja Katolik mengajarkan:
KGK 66 “Tata penyelamatan Kristen sebagai suatu perjanjian yang baru dan definitif, tidak pernah akan lenyap, dan tidak perlu diharapkan suatu wahyu umum baru, sebelum kedatangan yang jaya Tuhan kita Yesus Kristus” (Dei Verbum 4). Walaupun wahyu itu sudah selesai, namun isinya sama sekali belum digali seluruhnya; masih merupakan tugas kepercayaan umat Kristen, supaya dalam peredaran zaman lama kelamaan dapat mengerti seluruh artinya.
KGK 67 Dalam peredaran waktu terdapatlah apa yang dinamakan “wahyu pribadi”, yang beberapa di antaranya diakui oleh pimpinan Gereja. Namun wahyu pribadi itu tidak termasuk dalam perbendaharaan iman. Bukanlah tugas mereka untuk “menyempurnakan” wahyu Kristus yang definitif atau untuk “melengkapinya”, melainkan untuk membantu supaya orang dapat menghayatinya lebih dalam lagi dalam rentang waktu tertentu. Di bawah bimbingan Wewenang Mengajar Gereja, maka dalam kesadaran iman, umat beriman tahu membedakan dan melihat dalam wahyu-wahyu ini apa yang merupakan amanat otentik dari Kristus atau para kudus kepada Gereja. Iman Kristen tidak dapat “menerima” wahyu-wahyu yang mau melebihi atau membetulkan wahyu yang sudah dituntaskan dalam Kristus. Hal ini diklaim oleh agama-agama bukan Kristen tertentu dan sering kali juga oleh sekte-sekte baru tertentu yang mendasarkan diri atas “wahyu-wahyu” yang demikian itu.
Demikianlah, maka Kitab Suci dan Tradisi Suci Gereja sendiri menunjukkan bahwa ajaran Mormonism yang berdasarkan atas wahyu pribadi Joseph Smith Jr, di abad ke-19 bukanlah merupakan ajaran yang murni berasal dari Kristus dan para rasul.
Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
Ingrid Listiati- katolisitas.org
Bu Inggrid, Mormon menyebut gereja Katolik maaf “setan” atau sesat,,,,
Apa tindakan gereja Katolik slm ini? Apakah pernah gereja secara tegas mengutuk atau menentang Mormon sama spt gereja menentang aborsi dan kontrasepsi?
Apakah pernah diajak dialog sblmnya?
tks.
Shalom Vincent,
Sepanjang pengetahuan kami, Gereja Katolik tidak pernah mengeluarkan pernyataan resmi yang mengecam Mormonism (ataupun denominasi lain). Namun demikian, ada surat resmi yang dikeluarkan dari Vatikan, tepatnya dari Congregation for the Doctrine of the Faith (CDF), yang isinya menyatakan bahwa Baptisan yang dilakukan oleh gereja Mormon tidaklah sah menurut Gereja Katolik. Demikian terjemahannya:
Kongregasi Doktrin Iman
Tanggapan terhadap keraguan/ dubium‘
tentang ke-sah-an Baptisan yang dilaksanakan oleh
“The Church of Jesus Christ of Latter-day Saints” yang disebut Mormon
Pertanyaan: Apakah Baptisan yang dilaksanakan oleh komunitas “The Church of Jesus Christ of Latter-day Saints” yang disebut Mormon dalam bahasa vernakular, adalah sah?
Jawaban: Tidak
Imam Agung Roma, Yohanes Paulus II, dalam Audiensi yang diberikan kepada Kardinal Perfek yang bertandatangan di bawah ini, menyetujui tanggapan ini, memutuskan di dalam Sesi Ordinaria dari Kongregasi ini, dan memerintahkannya agar dipublikasikan.
Dari Kantor Kongregasi Doktrin Iman, 5 Juni 2001
Kardinal Joseph Ratzinger
Prefek
Tarcisio Bertone S.D.B.
Uskup Agung emeritus dari Vercelli
Sekretaris
Alasannya mengapa baptisan Mormon tidak valid menurut Gereja Katolik adalah, karena mereka tidak mempunyai maksud/ intensi yang sama dengan intensi Gereja Katolik dalam hal Baptisan. Sebab meskipun ritus Baptisan Mormon mengacu kepada Bapa, Putera dan Roh Kudus, namun iman mereka tentang Pribadi Allah ini sangat berbeda dengan iman Katolik dan iman mayoritas denominasi Kristen; sehingga ritus tersebut tidak dapat dianggap sebagai Baptisan Kristiani. Kaum Mormon menganggap Yesus dan Roh Kudus sebagai anak- anak dari Bapa Surgawi dan Bunda Surgawi, dan bahwa Baptisan ditetapkan oleh Allah Bapa, dan bukan oleh Kristus. Selain itu, Mormonis tidak hanya mengajarkan dan melaksanakan Baptisan bagi orang hidup, tetapi juga Baptisan orang mati melalui wakil/ proxy, dan ini tidak sesuai dengan ajaran Gereja Katolik maupun ajaran banyak gereja non- Katolik lainnya. Oleh karena itu, jika seorang Mormon ingin menjadi Katolik, ia tetap harus menerima Baptisan yang dilakukan oleh Gereja Katolik.
Namun demikian, walaupun ada perbedaan- perbedaan Teologis yang cukup mendasar antara Gereja Katolik dan Mormonism, terdapat juga persamaan di antara keduanya yaitu di dalam hal menentang aborsi dan perkawinan sesama jenis. Ajaran Mormonism umumnya berdasarkan wahyu pribadi pendirinya, Joseph Smith, 1830. Sebelum mendirikan Mormonism, Joseph Smith (1830) bukan anggota Gereja Katolik (jadi tidak seperti Martin Luther). Jadi memang pihak Gereja Katolik tidak pernah mengajak Joseph Smith berdialog di abad ke- 19 itu, tidak sama seperti ketika beberapa kali Gereja Katolik mengupayakan dialog dengan Martin Luther di abad ke 16, sebelum ia memutuskan untuk memisahkan diri dari Gereja Katolik. Walaupun begitu, bukan berarti tidak ada dialog sama sekali antara Gereja Katolik dan Mormonism (LDS). Dialog diusahakan dengan berbagai cara, misalnya lewat doa ekumenis tanggal 18 April 2008 yang lalu saat kunjungan Paus Benediktus XVI ke Amerika. Di pertemuan doa itu, kedua wakil dari LDS hadir, dan kemudian upaya dialog dilanjutkan di tingkat keuskupan (sebagaimana telah dilakukan), terutama di Utah, di mana terdapat mayoritas umat LDS. Silakan selanjutnya membaca berita ini, silakan klik.
Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
Ingrid Listiati- katolisitas.org
Tetapi tetap semua itu harus kembali ke Alkitab karena itu pedoman hidup kita dan inilah tugas kita untuk menyelamatkan mereka yang tersesat dan beritakan Injil kepada mereka supaya mereka mendapatkan keselamatan aminn god bless (from:GMII=Gereja Missi Ijili Indonesia)
[dari katolisitas: Terima kasih atas komentarnya. Silakan juga membaca artikel tentang sola scriptura di sini - silakan klik]
Bagaimana sikap kita sebagai orang Katolik menanggapi para misionaris dari Gereja Yesus Kristus Dari Orang2 Suci Zaman Akhir, para misionaris tersebut begitu aktif mendatangi rumah2 orang Kristen dan memberikan khotbah dan memberikan kitab suci mereka ( Kitab Mormon ) dan mereka mempunyai nabi baru…….
Shalom Fransiskus,
Sesungguhnya jika kita sungguh mengenal iman kita, maka kita perlu terpengaruh dengan apa yang disampaikan dengan berbagai pengajaran baru yang tidak sesuai dengan apa yang diajarkan oleh Tuhan Yesus dan para rasul. Tentang Mormonism sudah pernah sekilas dibahas di sini, silakan klik.
Maka kuncinya di sini adalah apakah kita sudah cukup memahami iman kita. Jika belum, silakan gunakan waktu- waktu yang ada sekarang ini untuk semakin mengenal dan memahami iman Katolik. Baru setelah memahami iman kita sendiri, kita dapat membuka diri untuk berdialog dengan mereka; sehingga kita tidak mudah dibingungkan oleh pandangan mereka. Jika tidak, lebih baik menunda kesempatan untuk berdialog. Ada banyak kasus di mana umat Katolik yang tidak sungguh- sungguh memahami imannya malah akhirnya bingung dan meragukan imannya setelah mendengar banyak ajaran baru, karena ia tidak terlebih dahulu berakar kuat dalam pemahaman iman Katolik. Padahal jika dipahami dengan benar, maka kita umat Katolik tidak perlu ragu dan bimbang, sebab segala yang diwayukan Tuhan melalui Tuhan Yesus Kristus dan para rasul-Nya terus dijaga dan dilestarikan secara penuh dalam Gereja Katolik, sehingga kita tidak perlu berpaling ke manapun.
Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
Ingrid Listiati- katolisitas.org
Apapun yg baik dari luar Katholik boleh kita ambil sepanjang itu tidak bertentangan dengan Gereja yang satu, kudus, katholik, dan apostolik…juga apakah sesuai dengan Kitab Suci, Tradisi dan Magisterium Gereja….di luar itu kita tidak bisa kompromi…….
Aku ingin belajar lebih baik, untuk menemukan kebenaran dan keselamatan melalui Kitab Suci….
Sdr Darius. ..belajar dari Kitab Suci itu baik tetapi tidak cukup….seharusnya dari Kitab Suci dan Magisterium Gereja Katolik dan Tradisi Suci…sebab Kitab Suci tidak bisa menerjemahkan dirinya sendiri. Contoh yg paling kongkrit adalah mengenai silsilah Tuhan Yesus yg berbeda dari injil Matius 1:1-17 yg mengatakan Yesus adalah anak Yusuf dan Yusuf adalah anak Yakub….sementara Lukas 3:23-38 Yusuf adalah anak Eli. ..Bagaimana sdr mendapat informasi yg jelas ttg ini. Urutan keturunan yg seharusnya baku saja Kitab Suci seolah olah memberikan informasi yg tidak jelas…..ini membuktikan Kitab Suci tidak bisa menerjemahkan dirinya sendiri. Perlu wewenang mengajar dari Bapa Gereja dari dulu sd sekarang utk menjelaskan ini. Dan sepertinya Katolisitas pernah membahas ini dengan baik..Terimakasih Katolisitas. ..Benarlah. ..Tanpa Magisterium Gereja dan tanpa Tradisi Suci akan menghasilkan perpecahan Gereja yg menerjemahkan Kitab Suci menurut selera penerjemah. …
Syalom Johanes
Anda menulis :
…..ini membuktikan Kitab Suci tidak bisa menerjemahkan dirinya sendiri.
Kitab Suci atau Alkitab adalah Firman Allah yang tertulis.
Yohanes 1:1. Pada mulanya adalah Firman; Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah.
Apakah mungkin Allah tidak bisa menerjemahkan dirinya sendiri ? Barangkali anda yang belum bisa membaca dengan baik tentang silsilah Tuhan Yesus, sehingga anda belum bisa memahami dengan benar tentang silsilah tsb. Jadi mohon jangan ter-buru2 menghakimi .
Coba tanyakan pada Ingrid atau Stef, beliau akan menjelaskan pada anda agar menjelaskan : apa yang menurut anda beda, tetapi sebenarnya saling melengkapi.
Terima kasih
mac
Shalom Machmud,
Kemungkinan maksud dari Johanes adalah bahwa adakalanya untuk memahami keseluruhan makna Kitab Suci diperlukan penjelasan dari luar Kitab Suci, yaitu dari para Bapa Gereja, terutama jika ada ayat- ayat yang berbeda tentang suatu kejadian/ hal yang sama. Dalam hal ini adalah tentang silsilah Tuhan Yesus, yang disampaikan dengan urutan yang berbeda, antara Injil Matius dan Injil Lukas. Padahal kita percaya bahwa Kitab Suci menyampaikan kebenaran dan karena itu perbedaan tersebut tidak mungkin saling bertentangan. Hal bagaimana menjelaskan perbedaan silsilah Yesus ini sudah pernah dibahas di sini, silakan klik.
Perbedaan silsilah Yesus di Injil Matius dan Lukas merupakan salah satu contoh, di mana jika kita berpegang hanya kepada Kitab Suci saja (sola scriptura), kita tidak dapat mengetahui solusi/ pemahaman yang benar tentang hal- hal yang nampak berbeda dalam Kitab Suci. Namun setelah kita mempelajari tulisan dari Bapa Gereja, kita dapat mengetahui bahwa keterangan di Injil Matius dan Injil Lukas sebenarnya tidak bertentangan melainkan saling melengkapi, sehingga memperluas sudut pandang kita dalam memahami makna ayat- ayat Kitab Suci.
Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
Ingrid Listiati- katolisitas.org
Sdr Machmud…saya berterimakasih atas tangan sdr. Yg saya maksudkan dengan Kitab Suci tidak bisa menerjemahkan dirinya sendiri itu tentu bukan berkaitan bahwa Firman Allah tidak berkuasa. Tentu sdr melihatnya dari sisi firman adalah Allah. Namun kita melihat dari sisi literal tulisan silsilah itu….apakah tidak membingungkan? Orang non Kristen sering sekali memakai ini utk menyerang pengikut Kristus. Sdr.Ingrid telah menjelaskannya dengan baik buat sdr. Dan apa yang saya tulis benar adanya. Ini membuktikan “hanya alkitab” saja tidak cukup dan saya tambahkan untuk mengomentari tulisan sdr. Darius bahwa dia seharusnya belajar dari KS dan Tradisi Suci dan Magisterium Gereja. Adakah yang salah? Kalau tidak ada Tradisi dan Magisterium Bagaimanakah sdr Machmud menjelaskan dua silsilah Yesus menurut dua penulis Injil? Kadang-kadang saya sungguh bingung dgn Protestanism…karena mereka tidak consistent dalam penerapan dasar iman..sekali lagi pembuktian bahwa sola scriptura runtuh atas dasar Alkitab sendiri. Yang menjadi pertanyaan selanjutnya adalah apakah dengan dasar yg sudah tidak benar ini; bisa membawa jemaat pada seluruh kepenuhan kebenaran? Sungguh menjadi tanya tanya besar.Biarlah waktu yang membuktikan. …..
Syalom Johanes
Betul sekali karna dengan sebebas-bebasnya dan semaunya menafsirkan Alkitab menurut kehendaknya sendiri membuat orang2 bingung antara satu dengan yang lain akhirnya ya terjadilah perpecahan2 yang mengakibatkan satu sama lain saling mengklaim bahwa dialah yang benar yang lain salah. Akhirnya bingung sendiri dan bengong sendiri…
Syukur adanya para Bapa Gereja yang mengeluarkan Magisterium Gereja. Gereja Katholik menjadi bebas dari perpecahan satu sama lain dan tetap menjadi gereja yang Satu, Kudus, Katholik, dan Apostolik.
God bles all…….
Baru beberapa minggu saya mengenal para ELDER …dan sedikit mempelajari tentang kitab Mormon….perasaan saya menjadi lebih baik..karena di gereja ini….saya merasakan ketenangan tanpa keterpaksaan, saya rajin datang untuk sekedar konsultasi spiritual….aku melihat kedamaian di gereja ini…..yang sebelumnya jarang saya rasakan….
Shalom Peter,
Kami tidak tahu apakah anda seorang Katolik atau bukan. Jika ya, kami mengundang anda untuk membaca artikel yang ada di situs ini, Mengapa Kita Memilih Gereja Katolik, silakan klik.
Mari kita sadari bahwa memilih Gereja bukanlah atas dasar perasaan kita, tetapi atas apakah yang dikehendaki oleh Tuhan Yesus. Jika kita sudah mengambil dasar pemahaman ini sebagai patokan, maka selanjutnya, kita akan menemukan damai sejahtera yang sejati.
Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
Ingrid Listiati- katolisitas.org
Syalom Peter
Mungkin juga bisa seperti itu… tapi perasaan seperti ini pun bisa siapa dapatkan di mana saja…bisa saja sekatu di tempat yang lama imannya tdk berkembang atau bertumbuh, jarang bergaul dengan sesama anggota gerejanya atau ya hanya suam2 kuku…
Karena di tempat yang baru mendapatkan yang lain trus merasakan damai… tapi kalau nanti mendapat kesulitan trus biasanya pergi lagi meninggalkan dan cari suasana baru lagi…
Ya saya dulu juga pernah mutar2 sana sini eh akhirnya ya kembali lagi ke gereja Katholik memang aneh yaaaaaaa.
Syalom Flo,
Mari kita cermati bahwa Gereja Mormon didirikan tahun 1830. itu sih SANGAT JAUH dari KEBENARAN YESUS yang lahir tahun 0 Masehi. Sama seperti saya tanya orang yang bernama Devian yang lahir tahun 2 Masehi. apakah kita tahu bagaimana kehidupan orang itu ?
Tuhan Yesus Memberkati & Bunda Maria selalu menuntun anda pada kebenaran
Salam Damai dalam Kristus Tuhan,
Bu, Inggrid,
Apakah ajaran marmon, sbgmana yang telah ibu paparkan di atas,dapat digolongkan dalam ajaran Kristen? Apakah aliran marmon tsb telah ada di Indonesia ?
GBU
Salam Beslam,
Pengikut aliran Mormon sudah ada di Indonesia. Mereka menamakan diri sebagai gereja “Orang-Orang Suci Zaman Akhir”. Mantan ketua PGI Pdt Nathan Setiabudi mengatakan bahwa syarat keanggota gereja OOSZA sebagai anggota PGI belum terpenuhi ketika ia menjabat ketua PGI (lihat: http://www.hariankomentar.com/arsip/arsip_2006/mei_16/hl002.html ) Pada blog http://febrina.wordpress.com/mormon/ disebut bahwa dukungan politis dari Gus Dur membuat aliran ini lebih leluasa masuk ke Indonesia dan mencari pengikut.
Ketua Komisi HAK Keuskupan Agung Semarang Rm Aloys Budi Purnomo pasca kerusuhan pengrusakan gereja di Temanggung bulan lalu, telah dikirimi Alkitab Mormon berbahasa Indonesia langsung ke pastoran tanpa tahu siapa pengirimnya. Jadi, pengikut sudah ada di Indonesia namun keberadaannya belum diakui secara resmi oleh PGI.
Salam
Rm YD Harsanto Pr
Dear Romo Dwi dan Teman 2 Katolisitas .
Kebetulan saya mengenal banyak teman dari OOSZA , karena salah satu dari teman dekat saya adalah termasuk tokoh utama di OOSZA Jakarta ( juga Indonesia ) . Dan pada waktu saya bekerja di 2 buah perusahaan , terdapat cukup banyak anggota OOSZA .
Saya pernah bersama dng teman ini mengunjungi Temple Mormon di Tokio (suatu hari minggu 1995 ), sewaktu kita bertugas di Jepang .
Teman saya juga pernah memberikan kepada saya beberapa buku dari Mormon , dan sekilas saya membaca kisah keluarga Yahudi tempo dulu ( jauh sebelum Kristus ) yang berangkat dari israel dan menemukan benua Amerika ( bagaimana pendapat anda mengenai hal ini ?? ), jadi ada anggapan bahwa beberapa suku bangsa yang cukup maju di amerika ( astec ?? dsb ) adalah datang dari keturunan Israel .
Saya juga membaca dari buku Mormon tsb bahwa dulu pun Yesus hadir secara nyata disana ( ada gambar mengenai hal ini di buku tsb ) .
Dari teman 2 OOSZA ini saya melihat hubungan persaudaraan yang akrab , ini mungkin yang paling penting untuk di contoh , beberapa brother & sister ( begitu mereka menyebut pemimpin maupun yang dipimpin ) tampaknya memberikan bantuan , bimbingan , pendidikan dsb kepada brother & sister yang berkekurangan dan membutuhkan , dalam bentuk apa saja .
Jadi OOSZA meskipun kecil tampaknya cukup baik , setahu saya mereka cukup maju dan besar di USA .
Di beberapa negara yang dekat dng USA spt ; Jepang , Philiphina , Jerman (Barat) dsb terdapat Mormon Temple ; Untuk upacara penting seperti pernikahan dianjurkan untuk menikah di temple tsb .
Demikianlah apa yang saya fahami mengenai Mormon .
Terima kasih .
Paulus
Shalom Paulus,
Memang, Joseph Smith pendiri aliran Mormonisme (OOSZA) mengajarkan bahwa orang- orang Yahudi yang datang ke Amerika sekitar tahun 600 BC mendirikan dua bangsa yang besar, yaitu Nephites dan Lamanites. Namun demikian, penyelidikan arkeologis dan sejarah Amerika tidak dapat menemukan jejak kedua bangsa ini seperti yang disebut dalam Book of Mormons. Tidak adanya bukti ini telah menjadi hal yang sangat memalukan bagi para sejarahwan Mormon dan arkeolognya. Karena bukti- bukti yang semakin meyakinkan bahwa kedua bangsa ini tidak pernah ada, maka kaum Mormon mengesampingkan ajaran ini.
Kita tahu, bahwa menurut Kitab Suci Yesus lahir di Betlehem (Luk 2:1-6), sehingga klaim bahwa Yesus lahir di tempat lain adalah klaim yang tidak alkitabiah.
Persaudaraan yang akrab dalam suatu komunitas adalah sesuatu yang baik, tetapi itu tidak menjadikan bahwa komunitas itu adalah Gereja yang otentik. Sebab keotentikan Gereja ditentukan oleh 4 tanda, yaitu apakah Gereja tersebut satu, kudus, katolik (universal) dan apostolik (diturunkan dari para rasul Kristus); dan keempat ciri ini ada pada Gereja Katolik.
Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
Ingrid Listiati- katolisitas.org
shalom…..
saya banya membaca tentang ertikal yg saudara tulis, sebagai orng katolik sy merasa sangat terbantu, dan semakin mengerti tentang ajaran katolik yg sy anut, sy sangat tertarik menganai ajaran2 kristen di luar greja katolik. terkhusus tentang ajaran marmon yg berkembang d Amerika, bisakah saudara menggambrkan tentang ajaran ini dr sisi katolik?
terimakasih…. shalom..
[Dari Katolisitas: Pertanyaan ini sudah dijawab di atas, silakan klik]