Bolehkah berkomunikasi dengan jiwa-jiwa di Api Penyucian?

47

Pertanyaan:

Bapak/Ibu, saya sangat tertarik dengan jiwa-jiwa di api penyucian dan oleh sebab itu saya memiliki beberapa pertanyaan yang sampai saat ini belum saya temukan jawabannya secara tegas, mudah-mudahan bapak/ibu dapat membantu. Sebab sejujurnya saat ini saya pun masih dalam tahap katekumen.

pertanyaan saya
1. iman katolik mempercayai bahwa jiwa/roh tetap hidup setelah kematian. pertanyaan saya, kita sebagai manusia yang masih hidup, sejauh manakah masih boleh “berkomunikasi” dengan mereka. misalnya di dalam doa bolehkah kita berbicara dengan mereka, bercerita misalnya… bagaimana pandangan iman katolik? apakah itu justru dianggap sebagai hal-hal mistis memanggil roh misalnya?

2. apakah memungkinkan bagi kita tetap merasa dekat/akrab atau punya hubungan batin dengan mereka yang telah meninggal. sejauh mana itu dibenarkan? dan mana batasan yang salah?

3. merasa kangen dengan orang yang sudah meninggal apakah salah? terutama jika pada waktu2 tertentu berkeinginan untuk memanggil namanya dan bercakap-cakap dengan dia. jika salah kenapa? dan jika benar mengapa? yang saya takutkan ketika melakukan itu seperti yg sering orang2 bilang, membuat jiwanya tidak tenang di surga sana.
Ollyvia Hansen

Jawaban:

Shalom Ollyvia Hansen,

1. Bolehkah berkomunikasi dengan jiwa- jiwa yang ada di Api Penyucian?

Jika di sini diartikan komunikasi dua arah, maka jawaban singkatnya, tidak boleh. Yang diperbolehkan dan diajarkan oleh Gereja Katolik adalah agar kita mendoakan jiwa- jiwa di Api Penyucian, dengan mengambil dasar utamanya 2 Mak 12:38-45, dan ajaran Tradisi Suci (lebih lanjut tentang topik ini, klik di sini). Sedangkan hal memohon dukungan doa syafaat dari jiwa- jiwa di Api Penyucian, tidak diajarkan secara definitif oleh Magisterium. Sehingga karena tidak/belum ditentukan, maka sebagai umat beriman, kita dapat memegang pendapat berdasarkan kesaksian pribadi beberapa para orang kudus, dan atas dasar “common sense“.

St. Thomas dalam Summa Theology II-II.q.83,a.11 menolak bahwa jiwa- jiwa di Api Penyucian dapat berdoa bagi kita yang masih hidup di dunia, sebaliknya kita yang harus berdoa untuk mereka. Namun demikian, banyak Teolog lainnya yang berpandangan bahwa jiwa- jiwa di Api Penyucian berdoa untuk kita. St. Bellarminus (De Purgatorio, lib. II, xv,) mengajarkan bahwa karena mereka mempunyai kasih yang lebih besar (daripada kasih kita) kepada Tuhan, karena mereka sungguh dekat dengan Allah, lebih dekat daripada kita, dan karena mereka telah mengetahui bahwa mereka pasti termasuk dalam bilangan yang diselamatkan Allah- maka doa- doa mereka sangat besar kuasanya.

St. Thomas Aquinas memang mengajarkan bahwa jiwa- jiwa di dalam Api Penyucian tidak dapat, dengan kemampuan mereka sendiri, untuk mengetahui doa- doa permohonan kita. Namun St. Alfonsus Liguori mengajarkan, Tuhan dapat membuat doa- doa kita diketahui oleh jiwa- jiwa di Api Penyucian (melalui infused knowledge). Hal ini tidak terjadi secara langsung, sebab mereka belum melihat Allah/ memperoleh ‘beatific vision‘, karena mereka belum sampai di surga.

Dalam bukunya Great Means of Salvation, chap. I, III, 2, St. Alfonsus menyimpulkan, “sehingga jiwa- jiwa di Api Penyucian, karena dikasihi Tuhan dan diteguhkan di dalam rahmat, tidak mempunyai halangan yang mencegah mereka untuk mendoakan kita. Namun Gereja tidak memohon kepada mereka ataupun memohon doa syafaat mereka, karena umumnya mereka tidak mengetahui doa- doa kita. Tetapi kita dapat percaya bahwa Tuhan dapat membuat doa- doa kita diketahui oleh mereka.” St. Alfonsus mengutip tulisan St. Katarina dari Bologna yang mengatakan bahwa jika ia [St. Katarina] mempunyai suatu permohonan dan memohon dukungan doa dari jiwa- jiwa di Api Penyucian, ia akan segera didengarkan.

St. Katarina dari Genoa yang mengalami banyak karunia penglihatan tentang pengalaman di Api Penyucian mengatakan, “di samping kebahagiaan para kudus di surga, tidak ada suka cita yang dapat dibandingkan dengan jiwa- jiwa di Api Penyucian, sebab mereka mengalami komunikasi yang tak terputus dengan Tuhan, dan ini menambahkan suka cita mereka …. Semakin mereka dimurnikan, semakin bertambahnya persatuan mereka dengan Tuhan. Namun demikian, tetap dapat dikatakan bahwa mereka menderita, lebih daripada para martir yang menderita di dunia- karena kerinduan mereka untuk bersatu sepenuhnya dengan Tuhan dalam kesempurnaan surgawi, belum terwujud. Namun demikian, mereka menderita dengan suka cita dan kesabaran. Kedamaian absolut dan penyerahan diri ke dalam kehendak Tuhan tidak mencegah mereka untuk merasakan, pada saat yang sama, rasa sedih karena masih terpisah/ belum sepenuhnya bersatu dengan Allah.”

Dengan pemahaman ini, saya menanggapi pertanyaan anda demikian:

1. Doa kita pertama- tama kita tujukan kepada Tuhan. Namun jika kita mengambil definisi doa dari St. Theresia Kanak- kanak Yesus, bahwa doa adalah pandangan ke surga, maka kita dapat saja memohon dukungan dari para orang kudus-Nya di surga, karena mereka telah bersatu sempurna dengan Tuhan Yesus.

2. Sedangkan perihal jiwa- jiwa di Api Penyucian, yang sudah pasti dapat kita lakukan adalah kita mendoakan mereka, terutama dengan mengajukan ujud Misa Kudus, agar mereka dapat segera bergabung dalam Kerajaan Surga.

3. Namun perihal mohon dukungan doa dari jiwa- jiwa di Api Penyucian, kita harus melihatnya demikian: a) sepanjang kita yakin bahwa orang yang meninggal itu wafat dalam keadaan rahmat (bertobat dan telah menerima sakramen Urapan orang sakit), maka kita dapat berharap bahwa jiwa orang ini sedikitnya berada di Api Penyucian. Maka dalam kondisi ini kita dapat memohon dukungan doa mereka, atau kita dapat memohon kepada Tuhan Yesus agar mereka dapat mengetahui permohonan kita dan turut mendoakan kita. b) Kita hanya dapat memohon hal ini dalam doa- doa pribadi (sebagai devosi pribadi) dan bukan pada doa bersama dalam komunitas. Sedangkan jika doa memohon dukungan doa dari para orang kudus (Santo/a), dapat kita ucapkan bersama dalam komunitas, karena Gereja universal telah mengimaninya bahwa mereka telah berada di surga.

2. Bolehkan punya hubungan batin dengan orang yang sudah meninggal?

Jawabnya boleh saja, jika maksudnya di sini adalah mengenang dan mengingatnya. Namun harap selalu disadari bahwa mereka sudah tidak ada di dunia ini. Doa adalah pertama- tama pandangan ke surga, sehingga fokus utamanya tetap Tuhan. Adanya ikatan kasih antara kita dengan para beriman yang sudah jaya di surga maupun yang masih dimurnikan di Api Penyucian tidak dapat menggeserkan makna utama dari doa kita yang terarah kepada Tuhan. Dengan prinsip ini, perwujudan hubungan batin yang terbaik adalah mengajukan intensi Misa Kudus untuk mendoakan jiwa-jiwa orang- orang yang sudah meninggal. Sebab jika mereka berada di Api Penyucian doa- doa ini akan sangat berguna bagi mereka, dan jika mereka sudah ada di surga (sehingga mereka sudah tidak membutuhkan doa- doa kita lagi), maka Tuhan dapat mengarahkan doa- doa ini kepada jiwa- jiwa lain yang sangat membutuhkannya.

3. Merasa kangen dengan orang yang sudah meninggal, bolehkah?

Jawabnya juga boleh, sejauh kita menyadari bahwa rasa kangen itu tidak mungkin kita penuhi di dunia ini. Orang- orang yang sudah meninggal sudah tidak dapat lagi kembali ke dunia ini, sebab mereka tidak mungkin bangkit dari mati, sampai kebangkitan badan di akhir jaman nanti. Maka kita tidak dapat bercakap- cakap langsung atau berkomunikasi dengan mereka seperti ketika mereka masih hidup di dunia ini. Yang dapat kita lakukan adalah kita menyampaikan rasa kangen kita akan orang yang kita kasihi tersebut kepada Tuhan Yesus. Dan biarlah Tuhan Yesus yang memberi penghiburan kepada kita, dan, jika itu sesuai kehendak-Nya, maka Ia dapat memberitahukan permohonan doa kita kepada jiwa orang yang kita kasihi [baik jika ia masih di Api Penyucian ataupun jika ia sudah berada di surga], agar ia dapat turut mendoakan kita.

Memohon dukungan doa dari jiwa- jiwa orang- orang yang sudah meninggal tidak sama dengan pemanggilan arwah, yang dilarang di kitab- kitab Perjanjian Lama. Yang dilarang di Alkitab adalah meminta informasi ilahi dari jiwa- jiwa yang sudah meninggal. Pada saat Saul memohon kepada arwah Samuel, ia tidak memohon agar Samuel untuk mendoakan dia (sebab jika demikian itu baik dan tidak dilarang), tetapi ia mencari informasi tentang hasil pertempuran yang akan terjadi (semacam ramalan), dan inilah yang dilarang Allah. Karena melalui ramalan, sebenarnya seseorang tidak lagi menghormati Allah sebagai Penyelenggara Ilahi yang mengetahui segala sesuatu dan menghendaki segala yang terbaik terjadi bagi umat-Nya (Selanjutnya tentang topik Samuel dan Saul (1 Sam 28) ini sudah pernah dibahas di sini, silakan klik). Namun pada saat kita memohon dukungan doa dari jiwa- jiwa di dalam Api Penyucian, itu tidak melibatkan pemanggilan arwah ataupun meminta informasi ramalan, melainkan hanya atas dasar kesadaran dan iman bahwa akan kasih Tuhan Yesus mengatasi kematian (lih. Rom 38-39) dan karenanya sebagai kesatuan umat beriman kita dapat saling mendoakan.

Maka, prinsip yang harus kita pegang adalah: pengantaraan Kristus yang satu- satunya itu (1 Tim 2:5) adalah pengantaraan yang melibatkan juga partisipasi anggota- anggota Tubuh-Nya yang lain. Maka jiwa- jiwa yang berada lebih dekat kepada Tuhan daripada kita yang masih berziarah di dunia ini- dapat turut mengambil bagian di dalam Pengantaraan Kristus, untuk menghubungkan kita dengan Allah. Namun pengantaraan mereka tidak berdiri sendiri terlepas dari Kristus, melainkan bergantung pada Kristus. Dengan demikian mereka bukan saingan Kristus, melainkan kawan sekerja Kristus (lih. 1 Kor 3:9).

Jiwa- jiwa yang sudah berada di surga sudah sampai kepada kesempurnaan karena persatuan mereka yang sempurna dengan Tuhan. Di dalam kesempurnaan ini, mereka tidak lagi akan menjadi ‘tidak tenang’, sebab mereka telah bersatu dengan Kristus Sang Sumber Damai dan ketenangan. Namun demikian, karena mereka bersatu penuh dengan Kristus yang masih terus berkarya menyelamatkan manusia, maka mereka akan terus juga mendukung Kristus dengan doa- doa mereka untuk karya penyelamantan-Nya itu.

Mari kita syukuri rahmat kasih Kristus yang mengatasi segalanya, bahkan kematian sekalipun. Sebab kita mengimani bahwa kita semua yang memakan Dia, Sang Roti Hidup dalam Ekaristi, akan memperoleh hidup oleh Dia (Yoh 6:51, 57). Dan kasih dan kehidupan di dalam Kristus inilah yang menjadi dasar persekutuan orang- orang beriman, baik yang masih berziarah di dunia ini, ataupun mereka yang sedang dimurnikan di Api Penyucian, maupun mereka yang telah berjaya di surga.

Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
Ingrid Listiati- katolisitas.org

Share.

About Author

Ingrid Listiati telah menyelesaikan program studi S2 di bidang teologi di Universitas Ave Maria - Institute for Pastoral Theology, Amerika Serikat.

47 Comments

  1. hi,,ingin bertanya mustahilkah untuk berdoa bagi jiwa dalam neraka?sebab saya pernah mendengar bahwa st theresa avila juga berdoa untuk mereka sekiranya x silap dgar..

    • Shalom Weldy,

      Sejujurnya saya belum pernah mendengar/ membaca bahwa St. Teresa Avila mendoakan jiwa-jiwa di neraka. Namun seandainya demikian pun: 1) kemungkinan itu atas kemurahan hati dan inisiatifnya sendiri, mengingat pernah dalam suatu pengalaman rohaninya, ia seolah dibawa ke neraka, dan melihat/ mengalami sendiri segala penderitaan di sana, sehingga mungkin saja ada dorongan untuk mendoakan jiwa-jiwa di sana. 2) doa-doa tersebut tidak berpengaruh untuk membawa mereka keluar dari neraka untuk beralih ke Surga, sebab jiwa-jiwa ada di neraka karena keputusan mereka sendiri, yang diizinkan oleh Allah, sebagai sesuatu yang final dan definitif, tidak dapat berubah lagi (lih. KGK 1033, 1035,1037).
      Maka, Gereja Katolik tidak mengajarkan bahwa kita dapat mendoakan jiwa-jiwa dalam neraka agar mereka dapat beralih ke Surga.

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      Ingrid Listiati-katolisitas.org