Stigmata

30

Pertanyaan:

Syalom,Pak Stef dan Bu Ingrid

Saya ingin menanyakan tentang stigmata,artinya apa ya..seperti pernah di alami Padre Pio,apakah hal itu juga penyakit jasmani,dari pandangan Gereja sendiri, bagaimana?Apakah stigmata bisa sembuh dengan sendrinya,atau tidak, dan kalo dari pengalaman orang orang yang mengalaminya apa terjadi secara tiba tiba atau bagaimana?
Apakah ciri ciri stigmata itu sendiri,apakah hanya dialami oleh orang-orang suci..?
Apakah ada data orang-orang yang pernah mengalami stigmata?
Terima kasih,sebelumnya
Berkah Tuhan

Jawaban:

Shalom Joan Heru,

Stigmata (bentuk jamak dari stigma, dalam bahasa Yunani) adalah luka- luka di tubuh ataupun perasaan sakit pada bagian- bagian tubuh seperti yang dialami oleh Tuhan Yesus karena penyaliban-Nya. Maka stigmata yang dialami oleh para stigmatist berkaitan dengan kelima luka seperti luka- luka Kristus yaitu: di kedua tangan, kaki dan lambung. Beberapa di antara para stigmatist tersebut juga mengalami luka- luka di kepala. Para stigmatist ini ada yang mengalami sakit pada bagian- bagian tubuh tersebut, tetapi di tubuhnya tidak ada luka. Sedangkan pada kasus lainnya, stigmata disertai juga luka- luka dengan rasa sakit yang tak terkira. Pada kasus- kasus tertentu pada darah yang keluar, disertai dengan bau harum. Stigmata ini dihubungkan dengan persatuan spiritual/ mistik antara orang yang menerimanya dengan Kristus, sebab mereka secara khusus dapat mengambil bagian dalam penderitaan Kristus (lih. Kol 1:24)/mempersatukan penderitaan mereka dengan penderitaan Kristus, demi mendoakan pertobatan dunia. Karena stigmata ini berhubungan dengan pengalaman rohani, maka umumnya diterima dalam keadaan/ setelah berdoa ataupun mengalami karunia penglihatan dalam doa.

Stigmatist yang terkenal adalah St. Fransiskus dari Asisi (1181-1226) dan St. Padre Pio dari Pietrelcina, Italia (1887-1968). St. Fransiskus Asisi adalah Santo pertama yang tercatat menerima stigmata. Ia menerima stigmata tersebut di tahun 1224, dua tahun sebelum wafatnya, yaitu pada saat ia berdoa di hari raya Salib Suci. Salah satu stigmatist lainnya yang terkenal adalah St. Padre Pio, yang menerima stigmata ini dan menanggungnya selama 50 tahun. Luka- lukanya ini telah dipelajari oleh para dokter di abad ke 20, yaitu oleh Dr. Luigi Romanelli, Dr. Giogio Festa, antara 1920-1925. Profesor Giuseppe Bastianelli, yang menjadi dokter Paus Benediktus XV juga telah memeriksanya, namun tidak memberi komentar. Ahli pathologi Dr. Amico Bignami dari universitas Roma yang memeriksanya tidak dapat memberikan diagnosa.

St. Padre Pio sendiri, selain memiliki stigmata, juga mempunyai banyak karunia lainnya seperti karunia melakukan mukjizat, penyembuhan, nubuat, bilocation (dapat hadir di dua tempat pada waktu yang bersamaan), levitation (dapat terangkat saat berdoa), dapat membaca isi hati seseorang, mendatangkan pertobatan dan hidup tanpa tidur dan makan yang normal (dapat hidup selama minimal 20 hari hanya dengan Ekaristi, tanpa makanan lainnya), karunia bahasa lidah, dan dari luka- luka stigmata-nya terpancar bau harum. Selama lima puluh tahun luka- luka stigmatanya mengeluarkan darah dan baru berhenti sesaat sebelum kematiannya. Pada saat kematiannya luka- luka stigmatanya hilang seluruhnya, tanpa meninggalkan bekas.

Orang- orang yang dicatat mempunyai stigmata, kebanyakan memang dari kalangan biarawan/ biarawati Katolik, yaitu:

* Blessed Lucia Brocadelli of Narni
* Saint Catherine of Ricci
* Saint Catherine of Siena
* Blessed Anne Catherine Emmerich
* Saint Francis of Assisi
* Saint Gemma Galgani
* Saint Veronica Giuliani
* Saint John of God
* Saint Faustina Kowalska
* Saint Marie of the Incarnation
* Saint Pio of Pietrelcina
* Saint Rita of Cascia
* Fr. Zlatko Sudac

Stigmatist yang bukan dari kalangan biara ialah:
* Therese Neumann (1898-1962), anggota order ketiga St. Fransiskus dari Bavaria, Jerman.
* Mary Kourbet Al-Akhras, dikenal Myrna Nazzour, seorang ibu rumah tangga dari Soufanieh, Syria (1964-)

Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
Ingrid Listiati- katolisitas.org

Share.

About Author

Ingrid Listiati telah menyelesaikan program studi S2 di bidang teologi di Universitas Ave Maria - Institute for Pastoral Theology, Amerika Serikat.

30 Comments

  1. Martin Saragih on

    Syalom…..
    Saya lagi menyusun Skripsi taon ini……
    Judul skripsi saya: STIGMATA KRISTUS (Suatu Tinjuan Teologi Sosial Tentang Stigmata Kristus Sebagai Tugas Panggilan Gereja Masa Kini).
    Sekarang masih Bab II.
    boleh nggk saya minta sunmber buku yang menyangkut tentang STIGMATA KRISTUS.

    • Shalom Martin,

      Mungkin ada baiknya Anda mengunjungi situs Kain Kafan Turin, silakan klik atau membaca buku-buku tentangnya, contohnya sebagai berikut:

      - Dr. Leoncio A Garza-Valdes, The DNA pf God? Newly Discovered Secrets of the Shrouds of Turin, (New York: Berkley Books, 1999)
      - C. Bernard Ruffin, The Shrouds of Turin, Our Sunday Visitor Publishing, Huntington, Ind. 1999, pp- 26-27.
      - Dr. Frederick T. Zugibe, The Cross and the Shroud, (Minnesota, Paragon House: 1981)

      Anda dapat pula membaca buku riwayat hidup St. Fransiskus dari Asisi dan St. Padre Pio dari Pietrelcina sebab keduanya adalah orang kudus yang dikaruniai stigmata semasa hidup mereka.

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      Ingrid Listiati- katolisitas.org

  2. Dear Ingrid dan Stefanus,
    Salam damai dalam Jesus Kristus. Masalah adanya orang-orang tertentu mendapatkan wahyu, dan apakah benar-benar hal ini dari Tuhan, sy sangat setuju dengan jwaban Stefanus. Walaupun memang kita tidak menghakimi tetapi kalau memang itu benar dari Tuhan maka tidak akan bertentangan dengan ajaran gereja Katolik yang sudah sangat lama bertahan menjadi iman kita.
    Stefanus dan Inggrid, yang sy ingin tanyakan di sini adalah mengenai stigmata. Seperti telah kita ketahui beberapa orang suci telah menerima stigmata dan yang terakhir adalah Fra Elia. Apakah gereja katolik sudah mengakui tentang stigmata dari Fra Elia ? Sy mendengar masih ada pertentangan tentang stigmata beliau, apakah betul?
    Terima kasih untuk waktu dan jawaban buat saya dan Tuhan memberkati anda berdua serta seluruh tim katolisitas

    [Dari Katolisitas: Silakan membaca jawaban ini, silakan klik]

  3. Syalom,,,
    saya mau bertanya tentang film stigmata dan injil Tomas.
    apakah ayat pada injil Tomas dalam film stigmata (Yesus berkata : kerajaan Tuhan berada dalam dirimu dan setiap perbuatanmu, bukan gedung kayu atau batu, belah sepotong kayu dan Aku ada di sana) benar-benar ada atau cuma karangan dalam film saja?
    apakah injil Tomas memang dilarang untuk disebarluaskan agar iman umat tidak goyah krn salah satu ayat ini ataukah ada ayat lain yang memang bertentangan dengan injil-injil yg diakui.
    kalau memang benar ayat di atas ada dalam injil Tomas dan apakah benar ayat itu ditujukan kepada orang atheis,
    maaf,…karena saya kurang pengetahuan tentang injil shg muncul pertanyaan bodoh karena nonton film stigmata.
    Terima kasih…..!

    • Shalom Fydjo,

      Beberapa Bapa Gereja menghubungkan injil Thomas dengan ajaran sesat di abad- abad pertama, yaitu Gnosticsm dan Docetism. St. Hippolytus (155-235) adalah Bapa Gereja Yang pertama menyebutkan bahwa injil tersebut digunakan oleh sekte Naasenes, yaitu pengikut aliran Gnosticism dari Syria. Origen menyebutkan bahwa injil tersebut adalah tulisan yang sesat/ heretik. St. Cyril (Sirilus) dari Yerusalem menyebutkan bahwa injil itu ditulis oleh kaum Manichaean -dan karenanya bukan ditulis oleh Rasul Thomas. Eusebius menolak injil tersebut dan menyebutkannya sebagai sesat dan palsu. Ajaran Gnosticism mungkin memang menarik bagi kaum atheis, karena prinsipnya yang mengacu kepada aliran panteism (setiap orang mempunyai partikel ilahi dan kelak semua partikel ini bersatu dan menjadi “tuhan”) menawarkan paham yang tidak mengajarkan konsep konsekuensi dosa dan pentingnya penyelamatan dari Tuhan. Prinsip Panteisme ini mencuat kembali dalam aliran New Age Movement (NAM); dan tentang hal ini sudah pernah dibahas sekilas di sini, silakan klik.

      Perlu diketahui bahwa di abad- abad awal, di luar ke-empat Injil (Injil Matius Markus, Lukas, Yohanes) terdapat banyak tulisan yang disebut juga sebagai injil (seperti injil Tomas, injil Petrus, injil Yudas, injil Yakobus, injil Barnabas dll), namun tulisan injil-injil tersebut merupakan karya tulis manusia biasa. Banyak di antara injil-injil itu palsu/ tidak otentik (tidak dapat dibuktikan bahwa sungguh ditulis oleh Rasul yang bersangkutan), dan tidak merupakan tulisan yang diinspirasikan oleh Roh Kudus. Injil- injil tersebut ada yang tidak sesuai atau bahkan bertentangan dengan keempat Injil, seperti halnya yang disampaikan oleh injil Thomas ataupun injil Barnabas. Keberadaan injil- injil ini telah diketahui oleh para Rasul sendiri, dan oleh karena itu, Rasul Paulus di abad pertama dalam surat- suratnya juga telah memperingatkan jemaat agar tidak mengikuti injil- injil yang lain daripada yang telah mereka terima dari para rasul (lih. 2 Kor 11:4 dan Gal 1:6). 

      Sebagai umat Kristiani, selayaknya kita berpegang pada Kitab Suci yang kanonnya ditentukan oleh Magisterium Gereja Katolik, yang menerima kuasa infalibilitas dari Kristus untuk “mengikat dan melepaskan” (Mat 16:18-19, 18:18); dalam hal ini untuk menentukan kitab- kitab mana yang otentik dan isinya ‘mengikat’ bagi umat beriman, dan mana yang tidak. Kita harus mengingat bahwa Kitab Suci diberikan kepada Gereja, dan Gerejalah yang berhak menentukan kanonnya dan interpretasi kitab- kitab tersebut secara otentik. Ini semakin menunjukkan betapa Kitab Suci tidak dapat dilepaskan dari Tradisi Suci para rasul yang diteruskan oleh Magisterium Gereja Katolik; ketiganya adalah pilar Gereja, yang menjamin bahwa Sabda Tuhan diterima dan dilestarikan dengan murni dari awal mula sampai sekarang.

      Dengan berpegang pada prinsip ini, kita tidak mudah dibingungkan ataupun goyah melihat film ataupun tulisan- tulisan yang dibuat berdasarkan atas injil-injil yang non- kanonik tersebut; sebab semua tulisan ataupun film itu hanya berdasarkan karya tulis manusia dan tidak berdasarkan wahyu ilahi.

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      Ingrid Listiati -katolisitas.org

  4. Syalom bu/pak.. Met malem.
    Saya mau tanya lagi nih. Berhubung masih penasaran. Di sebuah website ditulis klo stigmata itu ada yg sifatnya sementara (kontemporer) jg, itu maksudnya gmana ya? Trus yg dimaksud dgn pas lagi doa itu ‘ngambang’ maksudnya gmana ya? Makasih ya Pak Stef dan Bu Inggrid. Jawab jg bsa dikirim ke email saya, terimakasih. God Bless.. :)

    • Shalom Helena,

      Mungkin maksudnya adalah temporary stigmata, yang artinya stigmata yang diperoleh tidak/ belum permanen. Contohnya Padre Pio menerima temporary stigmata tgl 20 Sept 1910, artinya stigmata yang diterima saat itu belum permanen (menetap). Pada tahun 1918 ia menerima stigmata yang permanen, dan terlihat; dan stigmata ini menetap padanya sampai sesaat sebelum wafatnya di tahun 1968.

      Doa yang disertai tanda lain seperti levitation/ terangkat(mengambang) di udara, merupakan salah satu karunia yang dialami oleh para mistik, seperti St. Joseph Cupertino, St. Fransiskus Asisi dan St. Alphonsus Liguori.

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      Ingrid Listiati- katolisitas.org

  5. salam

    bagaimana dengan fenomena stigmata yang dialami oleh Catalina Rivas dari Bolivia, apakah Vatikan pernah mengeluarkan pernyataan resminya tentang hal tersebut? Karena hal tersebut direkam dan coba dibuktikan secara ilmiah (Fox tv, science test faith, signs from God) dan ternyata mereka tidak mendapatkan penjelasan yang secara ilmiah, masih misterius. Darah yang keluar dari luka tersebut juga ditest di lab dan diperiksa DNAnya. Pada jaman St.Padre Pio mengalami stigmata apa juga pernah diteliti untuk dibuktikan kebenarannya? Apa hasil dari test tersebut?

    terima kasih

    • Shalom Maria,
      Terus terang, saya tidak terlalu tahu tentang pembuktian dari ilmu pengetahuan dari Catalina Rivas. Dan tentang St. Padre Pio, ada cukup banyak dokter yang menyelidiki tentang stigmata tersebut, dan stigmata tersebut hilang pada beberapa hari sebelum dia meninggal. Namun,satu hal yang perlu dicermati, ketika kanonisasi, Vatikan tidak menyinggung tentang stigmata maupun kemampuan bilocation dari St. Padre Pio. Dengan kata lain, bagi Gereja bukan stigmata atau bilocation yang membuat seseorang menjadi santa/o, namun dari iman, pengharapan dan kasih dalam derajat yang heroic.
      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      stef – katolisitas.org

  6. Syaloom,

    Saya mao bertanya sedikit, tadi malam tanpa sengaja saya menonton film “stigmata”. Mungkin Pak Stef dan Bu Inggrid tau atau pernah menontonnya

    Dan tentang film itu, saya sungguh kesal menontonnya, karena seperti film “Da Vinci Code” sungguh memojokkan gereja katolik dan kali ini dengan menggunakan stigmata yang sungguh “kehormatan” bagi yng menerimanya. Saya bingung kenapa pihak Vatican mengijinkan syuting film ini dan “Da Vinci Code”? apakah memang tidak meminta ijin terlebih dahulu?

    Maaf, tetapi saya benar2 kesal menonton film tersebut, sehingga saya memberikan pertanyaan seperti ini. (Walaupun saya mendapat sedikit hal positif dr film tsb)

    Terima kasih

    (Btw Disana disebutkan ada Gospel of Thomas yang tidak diakui oleh vatican? apakah benar? bagaimana cerita tentang di temukan Gospel of Thomas yg berisikan perkataan rahasia Tuhan Yesus ketka perjamuan terakhir. )

    • Shalom Leo,

      Terima kasih atas pertanyaannya tentang film. Kalau tidak salah, saya pernah menonton film tentang stigmata. Secara prinsip, kita harus melihat bahwa sering dalam sebuah film, walaupun sering dengan embel-embel berdasarkan fakta sejarah, namun harus diakui bahwa ada banyak hal yang kemudian didramatisir, apalagi film ‘stigmata’ yang hanya merupakan cerita fiksi. Tentang film Da Vinci Code, sebenarnya mereka tidak pernah menggunakan Vatikan. Bahkan ketika mereka ingin mengambil gambar di Westminster Abbey dan Saint-Sulpice, pihak gereja tidak mengizinkannya, sehingga mereka harus menggunakan bangunan yang lain atau menggunakan komputer untuk gambar visual. Dan Vatikan tidak juga memberikan izin untuk pengambilan gambar di Vatican dalam film ‘Angels and Demons”, sehingga mereka harus membuat model di komputer.

      Tentang kesalahan injil Thomas yang dipakai untuk membuktikan hubungan yang istimewa antara Yesus dan Maria Magdalena, saya telah menjawabnya di sini – silakan klik. Akhirnya, sebagai umat Katolik kita harus menyikapi film-film yang ada dengan kritis, karena ada banyak film yang memang memberikan pesan anti agama dan kadangkala anti Gereja Katolik. Semoga dapat membantu.

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      stef – katolisitas.org

      • Shaloom Pak Stef,

        Terima kasih atas tanggapannya. Iya saya sungguh kesal kok banyak ya film2 seakan2 memojokkan otoritas gereja Katolik di dunia ini. Bahkan di film “Stigmata” disebutkan perkataan Tuhan Yesus di perjamuan terakhir adalah “Jesus said… the Kingdom of God is inside you, and all around you, not in mansions of wood and stone. Split a piece of wood… and I am there, lift a stone… and you will find me.” Dan diartikan di film itu tidak perlu gereja di dunia ini dan Vatican tidak mengakui injil itu karena akan menghancurkan gereja mereka

        Terima kasih sekali lagi

  7. Stefanus Xaverius on

    Maaf saya ingin bertanya mengenai bilocation (dapat hadir di dua tempat pada waktu yang bersamaan), boleh dijelaskan bagaimana maksudnya?? Trims tim.. ;)

    • Shalom Stefanus,
      Terima kasih atas pertanyaannya tentang bilocation. Orang yang diberi kemampuan ini dapat berada di dua lokasi pada waktu yang bersamaan, yang sering disaksikan oleh orang-orang yang berada di lokasi pertama dan orang-orang yang berada di lokasi ke dua. Sebagai contoh, ada yang mengatakan bahwa St. Alphonsus Mary de Liguori pada tanggal 21 September 1774 setelah misa, kemudian dia terduduk dengan sikap yang penuh hormat dan berlangsung selama dua hari. Dan ketika dia bangun, dia mengatakan bahwa dia baru saja mengunjungi Paus Clement XIV, yang meninggal pada tanggal 22 September 1774. Masih banyak cerita yang lain tentang kemampuan bilocation dari santo Alphonsus maupun santa-santo yang lain, yang dapat anda baca di sini – silakan klik. Semoga dapat membantu.

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      stef – katolisitas.org

  8. Alexander Pontoh on

    saya pernah diceritai oleh teman saya. ttg biarawan katolik yang sewaktu meditasi bisa sampai melayang/mengambang di udara.

    kemudian saya searching di internet. saya menemukan santo padre pio di wikipedia, yang bisa mengambang sewaktu berdoa.

    saya jadi cukup penasaran. seingat saya di katolisitas pernah dibahas (tapi ttg stigmata)

    di wikipedia… saya menemukan bahwa fenomena ini tidak hanya dialami oleh santo santa dari katolik. sehingga terpikir dibenak saya bahwa ini adalah sesuatu yang tidak berhubungan dengan Tuhan. jadi bisa dijelaskan dengan ilmu fisika (mungkin seperti… Psychokinesis)

    tapi jika saya melihat di wikipedia… sepertinya fenomena ini banyak (mungkin paling banyak) dialami oleh santo santa (Christianity) sehingga… saya jadi ingin menanyakan ke katolisitas, apakah ini ada hubungannya dengan iman katolik?

    link to en.wikipedia.org
    link to en.wikipedia.org

    apa tujuan dari mengambang sewaktu berdoa?
    kenapa padre pio bisa sampai mengambang sewaktu berdoa?

    apakah sekedar karunia dari Tuhan?
    apakah itu bisa dilatih? (bukan dari Tuhan, tapi sekedar fisika [seperti Hukum Gravitasi] tapi ujung2nya jg dari dunia ini, yg notabene adalah ciptaan Tuhan)

    jika itu bisa dilatih… berarti kita manusia ini sungguh luar biasa… diciptakan menurut gambar dan rupa Tuhan saja bisa seperti ini… apalagi pencipta kita (Tuhan) (>_<)

    • Shalom Alexander Pontoh,

      Memang dalam kehidupan santa-santo, ada yang digambarkan pada waktu berdoa dapat mengambang, termasuk St. Padre Pio maupun St. Fransiskus Asisi, dll. Fenomena ini tidak ada hubungannya dengan kekudusan seseorang, karena kekudusan seseorang tidak diukur dari seberapa tinggi dia mengambang, namun dari derajat persatuannya dengan Tuhan. Tuhan secara bebas dapat memberikan karunia ini kepada orang-orang yang dipilihnya, namun bukan berarti bahwa orang-orang yang tidak diberi karunia ini tidak kudus, sebagai contoh: saya tidak pernah mendengar yang terberkati Bunda Teresa dari Kalkuta dapat mengambang kalau berdoa, atau tidak juga diceritakan para rasul mengambang kalau berdoa. Jadi, silakan ilmu pengetahuan menyelidiki apakah fenomena ini dapat dilatih atau tidak. Namun, dari sisi iman, fenomena ini tidak secara otomatis menunjukkan kekudusan seseorang.

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      stef – katolisitas.org

      • Alexander Pontoh on

        Terima kasih atas balasannya, Pak Stef.

        Apakah Pak Stef ingin mengatakan bahwa ini (mengambang sewaktu berdoa) hanya fenomena alam yang bisa dijelaskan secara ilmiah?

        • Shalom Alexander Pontoh,
          Terus terang, dalam hal ini saya tidak terlalu tahu. Bahwa ada cerita hal ini terjadi di dalam beberapa diri santa-santo, terutama ketika mereka berdoa, memang fenomena ini dituliskan. Namun, bagaimana penjelasannya secara ilmiah, biarlah ilmu pengetahuan yang membuktikannya. Namun, yang jelas, kekudusan atau kekhusukan seseorang dalam berdoa tidaklah diukur dari apakah seseorang bisa mengambang atau tidak. Maaf, saya tidak dapat menjelaskan lebih jauh tentang hal ini.

          Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
          stef – katolisitas.org

  9. Dear P’Stef,
    saya mau tanya sedikit tentang Fra Elia yg menurut buku yg pernah saya baca, menuliskan tentang Fra Elia, siapa dan rahmat stigmata yg diterimanya spt Padre Pio.
    pertanyaan saya, apakah P’Stef tau Fra Elia itu masih hidupkah sekarang ? tinggal dimana ? dan skr melayani dimana ? krn sptnya info tentang Fra Elia ini terbatas, tidak sepopular Padre Pio yg sama2 menerima rahmat stigmata.

    Trima kasih sebelum dan sesudahnya.
    Tuhan memberkati.

    salam damai,
    Lucia

    • Shalom Lucia,

      Terus terang saya tidak banyak mengetahui tentang Fra Elia ini. Namun dari informasi yang bisa dibaca di internet, saya menangkap kesan bahwa belum tentu stigmata yang ada padanya itu otentik, melihat ada banyak kejanggalan, entah dari apa yang diucapkan oleh Fra Elia ini, maupun yang dilakukannya. Oleh karena itu, lebih baik kita serahkan hal ini ke tangan pihak otoritas Gereja, sebab jika pengalaman itu otentik, dan pesan- pesan yang disampaikan juga otentik, maka dengan sendirinya pesan itu akan sampai juga kepada kita umat beriman. Namun jika tidak, maka dengan sendirinya pesan itu akan hilang dan tidak diingat orang. Kita mungkin masih mengingat kisah dari Pak Thomas di Kediri, yang dulu mengklaim juga mendapat penampakan- penampakan Bunda Maria, namun akhirnya terbukti bahwa itu bohong/ tidak sungguh terjadi. Maka lebih baik kita tidak terlalu mudah percaya akan wahyu- wahyu pribadi semacam ini, dan lebih baik kita tunggu saja pernyataan dari pihak otoritas Gereja tentang hal tersebut.

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      Ingrid Listiati- katolisitas.org

  10. Shalom Pak Stef dan Bu Ingrid

    saya mau tanya nih. dari artikel artikel yang saya baca tentang stigmata itu, ternyata ada stigmata ada yang terlihat secara fisik yakni seperti luka-luka yang dialami Yesus dan stigmata yang tak terlihat. yang mau saya tanyakan adalah apa ciri-ciri orang yang mendapatkan karunia stigmata yang tak terlihat itu (seperti apa) dan juga yang terlihat.

    Terima kasih. GBU

    nb: mohon jawaban kalau bisa juga diposkan ke alamat email saya, terima kasih sebelumnya.

    • Shalom Helena,
      Menurut kisah riwayat para orang kudus, kita ketahui bahwa memang ada di antara mereka yang diberi karunia stigmata yang terlihat secara fisik, maupun ada juga yang tidak terlihat. Ciri- siri stigmata yang terlihat adalah bahwa mereka diberi karunia mempunyai luka- luka Yesus (baik di tangan, kaki, lambung, ataupun mereka mempunyai tanda- tanda luka tersebut dyang disertai dengan rasa sakit yang sangat); sedangkan para stigmatics yang menerima stigmata yang tidak terlihat hanya mengalami rasa sakit/ penderitaan tanpa adanya tanda luka- luka fisik yang terlihat.

      Silakan membaca lebih lanjut sekilas tentang stigmata dan pengalaman para stigmatics ini di link berikut ini, silakan klik.

      Jika anda tertarik untuk mengetahui tentang fenomena ini silakan anda membaca secara khusus tentang riwayat hidup St. Fransiskus Asisi dan St. Padre Pio.

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      Ingrid Listiati- katolisitas.org

      • Shalom Bu Ingrid,
        makasih bu atas jawabannya. saya masih ada sedikit unek-unek ni. saya pernah diskusi dengan teman seiman juga, menurutnya klo kemampuan seperti indara keenam itu juga termasuk stigmata yang tdk terlihat. apa itu benar bu? terimakasih atas balasannya .

        nb:bu, jawaban bisa dikasih ke email saya, makasih.

        • Shalom Helena,

          Mari mengacu kepada pengertian seperti yang disampaikan oleh New Advent Encyclopedia, tentang Mystical stigmata, sebagai berikut:

          “To decide merely the facts without deciding whether or not they may be explained by supernatural causes, history tells us that many ecstatics bear on hands, feet, side, or brow the marks of the Passion of Christ with corresponding and intense sufferings. These are called visible stigmata. Others only have the sufferings, without any outward marks, and these phenomena are called invisible stigmata.

          Dengan demikian stigmata selalu berkaitan dengan penderitaan/ sengsara Kristus, entah itu disertai dengan tanda- tanda lahiriah berupa luka- luka (yang sesuai dengan luka- luka Kristus di tangan, kaki, lambung, ataupun kepala), atau tanpa tanda- tanda luka lahiriah. Jadi di sini kemampuan indera ke-enam, jika tidak mengacu kepada penderitaan/ sengsara Kristus, tidak dapat dikatakan sebagai stigmata.

          Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
          Ingrid Listiati- katolisitas.org

  11. Caesarandra on

    Dear pak stef,

    Saya juga agak bingung pak Stef…mengapa dari sekian banyak yang mengalami stigmata dan jenasah yang tak rusak itu hanya dari kalangan Katolik ya ? Apa kah itu dengan secara tidak langsung Tuhan telah memberitahu kita bahwa Katolik lah iman yang paling benar dimata Nya ?

    Rgds,
    CaesarAndra

    • Shalom Caesandra,

      Hal memberikan karunia stigmata, adalah sepenuhnya merupakan hak Tuhan, yang memberikan karunia ini kepada orang- orang tertentu sesuai dengan kebijaksanaan-Nya. Karunia stigmata ini sedikit banyak menyingkapkan misteri keselamatan Allah di dalam Kristus yang melibatkan juga anggota- anggota-Nya. Bahwa masih ada banyak orang yang tidak percaya, maka kita tidak dapat memaksa, sama seperti Tuhan juga tidak memaksa. Bagi orang yang tidak percaya, maka tanda yang paling jelas sekalipun tidak akan cukup, sedangkan bagi orang yang percaya, sesungguhnya tanda tidak diperlukan.

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      Ingrid Listiati- katolisitas.org

  12. Dear Katolisitas,
    Saya sering menghadiri kebaktian oikumene yang dibawakan Pendeta Pantekosta, di mana saat mereka mendoakan seseorang, maka orang yang didoakan bisa rebah ke lantai. Hal ini tidak saya ketahui ada di Katolik. Mohon dijelaskan apakah itu karena pengaruh Roh Kudus ?

    Mengapa di gereja Pantekosta diwajibkan perpuluhan sementara di GK tidak ? Apakah berarti GK tidak taat pada firman Allah yang terdapat di Kitab Maleakhi ?

    -Apakah berbahaya bagi iman Katolik kita, apabila sering mengikuti kebaktian-kebaktian yang dibawakan oleh Pendeta Pantekosta.

    - Mengapa Pendeta Pantekosta juga menyebut diri mereka Pastor ?

    - Bagaimana pandangan GK mengenai Facebook ? Karena saya baru mengikuti ibadah oikumene di mana Pendetanya menyatakan bahwa Tuhan Yesus telah berbicara padanya untuk keluar dr Facebook.

    Mohon tanggapannya, tks

    • Shalom Lilian,

      1. Terima kasih atas pertanyaannya tentang kebaktian oikumene. Fenomena seseorang yang rebah saat didoakan juga terdapat di acara-acara kelompok karismatik Katolik. Anda dapat membaca pembahasan tentang gerakan karismatik ini di sini – silakan klik. Bahwa ada yang mengalami pengalaman spiritual ketika didoakan sampai rebah, mungkin saja terjadi. Yang penting di sini adalah, orang tidak hanya berhenti untuk mencari fenomena-fenomena spiritual seperti ini, namun untuk hidup secara spiritual – yang berarti hidup di dalam roh setiap hari dan menampakkan buah-buah Roh dalam kehidupan nyata. Sebagai umat Katolik, kita harus bertumbuh bukan dari fenomena-fenomena seperti ini, namun dari sakramen-sakramen, seperti Sakramen Ekaristi dan Sakramen Tobat, yang memang diinstitusikan sendiri oleh Yesus.

      2. Jawaban tentang pertanyaan tentang perpuluhan dapat dibaca di sini – silakan klik.

      3. Kemudian, apakah sebagai umat Kristen Katolik, kita dapat mengikuti kebaktian-kebaktian yang dibawakan oleh penginjil non-Katolik? Menurut saya, kita tidak perlu mengikuti ibadah-ibadah yang diselenggarakan oleh mereka, karena dapat menimbulkan kebingungan iman. Pada akhirnya, kita memang harus mengakui bahwa meskipun ada banyak persamaan iman antara Gereja Katolik dan non-Katolik, namun ada cukup banyak artikel iman yang berbeda. Bagi umat Katolik yang tidak mempunyai dasar yang kuat tentang iman Katolik dan mengikuti ibadah-ibadah dari non-Katolik, maka pengajaran-pengajaran yang tidak sesuai dengan iman Katolik dapat mempengaruhi orang tersebut, yang pada akhirnya akan menimbulkan kebingungan. Kalau ada orang yang ingin turut mengikuti doa karismatik, silakan bergabung dengan persekutuan doa Karismatik Katolik. Namun, yang paling penting adalah untuk terus bertumbuh melalui Sakramen Tobat dan Sakramen Ekaristi.

      3. Tentang pendeta Kristen non-Katolik menyebut diri mereka pastor, sebenarnya juga bukanlah istilah yang resmi yang dipakai oleh banyak denominasi. Pastor merujuk kepada kata “shepherd” atau gembala. Di satu sisi, istilah ini sebenarnya juga menjadi rancu, karena seolah-olah, mereka juga mengakui adanya imam tertahbis dan bukan hanya imam bersama untuk semua umat percaya. Silakan melihat artikel tentang Sakramen Imamat di sini – silakan klik, yang membahas tentang imam tertahbis dan imam bersama.

      4. Tentang facebook, maka kita harus melihatnya sebagai sarana, sama seperti internet atau website. Ini berarti sarana tersebut bukanlah sesuatu yang jahat. Internet dan website dapat dipergunakan sebagai sesuatu yang negatif – seperti menyebarkan pornografi, kekerasan, dll. Namun, sebaliknya, sarana yang sama dapat dipergunakan untuk sesuatu yang positif, yaitu untuk misi evangelisasi, menyebarkan pengajaran dan kasih Kristus kepada dunia. Jadi, facebook, sejauh dipakai untuk meningkatkan martabat manusia sebagai mahluk ciptaan Tuhan, maka dapat menjadi sesuatu yang baik dan tidak perlu dijauhi. Namun, untuk memakainya, tentu saja diperlukan penguasaan diri dan kebijaksaan, sehingga facebook bukan mengatur orang yang menggunakan, namun orang yang menggunakanlah yang mengatur penggunaan facebook. Artinya, pengguna harus tahu kapan memakai dan kapan berhenti. Kalau sampai pengguna facebook, sampai tidak bisa mengontrol waktu, sehingga lupa keluarga, orang tua, lupa berdoa, dll., maka ada baiknya orang tersebut untuk menjauhi facebook atau sarana lain yang membuatnya menjadi lupa diri. Jadi, kuncinya di sini adalah penguasaan diri (temperance), sehingga kita dapat menggunakan sarana yang ada untuk semakin membuat kita lebih baik. Semoga jawaban-jawaban singkat ini dapat membantu.

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      stef – katolisitas.org

  13. Syalom,Pak Stef dan Bu Ingrid

    Saya ingin menanyakan tentang stigmata,artinya apa ya..seperti pernah di alami Padre Pio,apakah hal itu juga penyakit jasmani,dari pandangan Gereja sendiri, bagaimana?Apakah stigmata bisa sembuh dengan sendrinya,atau tidak, dan kalo dari pengalaman orang orang yang mengalaminya apa terjadi secara tiba tiba atau bagaimana?
    Apakah ciri ciri stigmata itu sendiri,apakah hanya dialami oleh orang-orang suci..?
    Apakah ada data orang-orang yang pernah mengalami stigmata?
    Terima kasih,sebelumnya
    Berkah Tuhan

    [Dari Katolisitas: Pertanyaan ini sudah dijawab di atas, silakan klik]

    • shalom pak Stef dan bu Ingrid

      Saya ingin menanyakan tentang stigmata yang dialami oleh Julia Kim dari Korea.
      Apakah juga telah diakui oleh Paus dan kalangan petinggi gereja katolik ?

      Bagaimana tanggapan Pak stef dan Bu Ingrid ttg Ibu Julia Kim ini ?

      Terima kasih, GBU

      [Dari Katolisitas: sepanjang pengetahuan saya, Vatikan belum mengeluarkan pernyataan resmi tentang fenomena Julia Kim. Hal ini sudah pernah saya tuliskan di sini, silakan klik.]

Add Comment Register



Leave A Reply