Tentang ‘Petros’ dan ‘Petra’

[Berikut ini adalah pertanyaan dari Thomas yang menyertakan pertanyaan tentang Keutamaan Paus dan tanggapan dari gereja Protestan. Ingrid akan menanggapi tulisan ini menurut Kitab Suci dan ajaran Gereja Katolik.]

Pertanyaan:

kak, aku dapat hal ini dari teman protestan’ku..

Rocks and Stones
Question: Please comment on the following argument which I read in a Catholic website. It can be summarized like this:
1. Jesus spoke Aramaic. So, what Jesus said to Simon in Matthew 16:18 was this: ‘You are Kepha, and on this kepha I will build my Church.’
2. The Aramaic word kepha is translated petra or petros in Greek. The two words are synonyms in first century Greek.
3. Jesus could not have said, ‘You are petra, and on this petra I will build my Church’ because that would have entailed giving Simon a feminine name. So, Jesus changed the ending of the noun to render it masculine. “You are Petros, and on this petra I will build my Church.”
4. That is the real reason why Jesus employed two different words and not as Protestants argue, that ‘this rock’ may refer to something or somebody else other than Peter.
Answer: The question about the papacy is broader than the interpretation of petros and petra in Matthew 16:18. Do not be fooled by Catholic apologists who make a big deal about ‘this rock’ as if the papacy is vindicated if it could be proved that ‘this rock’ refers to Peter. This passage says nothing about universal jurisdiction, successors or Roman bishops.
Even if this can be conclusively proven (and I think it cannot), it does not confirm the papacy, i.e. the universal rule of the bishop of Rome over the whole church. In fact there is a sense in which the apostle Peter, together with the other apostles and the prophets, form the foundation of the church because the Gospel was first given through them. This has nothing to do with the claimed universal jurisdiction of the bishop of Rome as the Roman apologist would have us believe.
But let me just deal with the convoluted Aramaic/Greek argument that you kindly sent to me.
It is true that Jesus spoke in Aramaic. But how do the Catholic scholars know what Jesus said in the Aramaic language, since all the existing manuscripts of the Gospel of Matthew are written in Greek? You realize that this business of what Jesus must have said in Aramaic is pure speculation. I don’t know what were Jesus’ original words in Aramaic, neither do our Catholic friends. Should we build an argument – indeed the structure of the church of Jesus Christ – on mere speculations?
The Catholic apologist bends over backwards to convince us that petros and petra are equivalent Greek words that mean the same thing. They say that it is merely a question of different gender ending. The truth of the matter is that these are two distinct Greek words with similar, but not identical meaning. According to the Greek Lexicon, petros is “a rock or a stone”, whereas petra is “a rock, cliff or ledge.” Jesus illustrates the meaning of petra as a massive foundational rock: “Therefore whosoever heareth these sayings of mine, and doeth them, I will liken him unto a wise man, which built his house upon a rock” (Matthew 7:27).
Still, assuming they know what Jesus originally said in Aramaic, the Catholic apologist goes on to explain why Jesus employs the two different Greek words. He puts these words in the mouth of a Protestant missionary:
“Wait a second,” he said. “If kepha means the same as petra, why don’t we read in the Greek, ‘You are Petra, and on this petra I will build my Church’? Why, for Simon’s new name, does Matthew use a Greek word, Petros, which means something quite different from petra?”
To this the Catholic apologist answers triumphantly:
“Because he had no choice,” I said. “Greek and Aramaic have different grammatical structures. In Aramaic you can use kepha in both places in Matthew 16:18. In Greek you encounter a problem arising from the fact that nouns take differing gender endings. You have masculine, feminine, and neuter nouns. The Greek word petra is feminine. You can use it in the second half of Matthew 16:18 without any trouble. But you can’t use it as Simon’s new name, because you can’t give a man a feminine name—at least back then you couldn’t. You have to change the ending of the noun to make it masculine. When you do that, you get Petros, which was an already-existing word meaning rock.”
So that’s why He uses Petros! Not to give Simon a feminine name!
But I’m sure that the reader can think of a third option. Contrary to the Catholic apologist assertion, He had another choice!
Why not use petros in the second part of the sentence if the Holy Spirit wanted to make it absolutely clear that He was building His church on the son of Jona, and avoid the gender problem? If petra and petros mean the same thing (as the Catholic apologist insists), Jesus could have said:
“Thou art PETROS and upon this PETROS I will build my church.”
There, the third option! That way any ambiguity would have been avoided – if indeed Jesus wanted to identify the foundation rock with the apostle Peter! Needless to say, that is not what Jesus said. Rather, He said:
“Thou are PETROS and upon this PETRA I will build my church.”
Christ insisted on a distinction! At the very least we can say that the rock upon which the church is built could refer to something other than Peter.
So, rather than speculate on Jesus’ original words in Aramaic, we should study the inspired words of the Holy Scriptures, and in Matthew 16:18, the Holy Spirit employed two different words to distinguish between ‘Peter’ and ‘the rock’. That is what we can say with certainty.
I hope you can see the emptiness of the Catholic argument. They want it to sound that it is obviously clear that Jesus built His church on Peter. It is not so. And though any Catholic reading this article may not be inclined to trust me, I would appeal to you to listen to St Augustine’s explanation of this message:
“For on this very account the Lord said, ‘On this rock will I build my Church,’ because Peter had said, “Thou art the Christ, the son of the living God.’ On this rock, therefore, He said, which thou hast confessed, I will build my church. For the Rock (petra) was Christ; and on this foundation was Peter himself also built. For other foundation no man lay that this is laid, which is Christ Jesus.” (Augustine, Homilies on the Gospel of John).
“This rock” is Peter’s confession; the rock, the foundation is Jesus Christ!

Jawaban:

Shalom Thomas,

Untuk lain kali sebaiknya jika anda bertanya, gunakanlah bahasa Indonesia, agar dapat lebih dimengerti oleh semua pembaca situs ini. Sedapat mungkin, silakan anda sarikan terlebih dahulu pertanyaan/ pandangan Protestan yang ingin anda tanyakan, sehingga pertanyaannya tidak terlalu panjang. Berikut ini adalah tanggapan saya:

1. Yesus berbicara dalam bahasa Aram?

Pandangan Protestan di atas seolah mengatakan bahwa pada Mat 16:18, Yesus tidak berbicara dalam bahasa Aram, atau anggapan bahwa Yesus berbicara dalam bahasa Aram itu hanyalah suatu spekulasi. Namun jika kita membaca ayat- ayat Kitab Suci lainnya, kita mengetahui bahwa memang sesungguhnya nama yang diberikan oleh Tuhan Yesus kepada Simon Petrus adalah Kepha (= Kefas dalam terjemahan Indonesia), yaitu suatu kata bahasa Aram yang berarti batu karang. Ini disebutkan oleh Rasul Yohanes dalam Injilnya (Yoh 1:42), dan juga oleh Rasul Paulus dalam suratnya (Gal 1:18). Maka para rasul yang lain mengingat bahwa nama yang Tuhan Yesus berikan kepada Simon adalah ‘Kefas’, dari bahasa Aram. Maka, sebenarnya ayat  Mat 16:18 itu sesungguhnya mengatakan, “Kamu adalah Kefas, dan di atas Kefas ini Aku akan mendirikan Gereja-Ku.” Dan Kefas ini adalah Rasul Simon Petrus.

Di Kitab Suci sendiri kita mengetahui perkataan lain, seperti “Eli, Eli, lama sabakhtani” (Mat 27:46; Mrk 15:34) yang juga adalah bahasa Aram. Dan dengan demikian bahwa Yesus berbicara dalam bahasa Aram bukanlah suatu spekulasi. Bahwa Kitab Suci kemudian dituliskan dalam bahasa Yunani, itu berhubungan dengan kondisi saat itu yang memang menggunakan bahasa Yunani sebagai bahasa dalam literatur (dan juga percakapan); namun itu tidak mengubah kenyataan bahwa Yesus sebenarnya memberikan nama “Kefas” dari kata Aram, kepada Simon, yang dalam bahasa Yunani-nya diterjemahkan sebagai “Petros”, sehubungan dengan gender maskulin yang ada dalam tata bahasa Yunani untuk nama seorang pria.

2.“Petros”= batu kecil; “Petra” = batu besar?

Paham Protestan umumnya mengatakan bahwa “Petros” artinya batu kecil dan “Petra” artinya batu besar/ batu karang. Sehingga, paham ini berkesimpulan bahwa perkataan Yesus, “Kamu adalah Petros, dan di atas petra ini Aku akan mendirikan Gereja-Ku” menunjukkan bahwa ‘Petros’ dan ‘petra’ ini tidak sama. Petros adalah nama lain Simon, sedangkan ‘petra’ / batu karang adalah untuk diartikan sebagai Kristus sendiri ataupun pengakuan iman Simon.

Para apologist Katolik umumnya mengatakan bahwa sebenarnya ‘petros’ dan ‘petra’ mengacu kepada arti yang tidak berbeda, yaitu sama- sama batu besar. Hal ini juga dikatakan oleh ahli bahasa Yunani Protestan yaitu D.A Carson dalam bukunya “Matthew”. in Frank E. Gaebelein, ed. The Expositor’s Bible Commentary (Grand Rapids: Zondervan, 1984), vol.8, 368; dan Joseph Thayer, dalam bukunya Thayer’s Greek- English Lexicon of the New Testament (Peabody: Hendrickson, 1996), 507.

Kata “batu kecil” yang dipakai dalam bahasa Yunani adalah ‘lithos‘, bukan ‘petros‘. Maka kata ‘lithos‘ (bentuk jamaknya adalah ‘lithoi‘ yang dipakai dalam ayat Mat 4:3, pada saat Iblis mencobai Yesus, untuk mengubah batu- batu (lithoi) menjadi roti. Kata ‘lithoi‘ ini juga yang dipakai oleh Rasul Petrus pada saat menasihati jemaat agar hidup sebagai batu (‘lithoi‘) yang hidup yang membentuk sebuah rumah rohani (1 Pet 2:5). Kalau seandainya Yesus (dan Matius) menginginkan ditampilkan perbedaan ini (batu besar dan batu kecil) maka yang digunakan harusnya adalah, “Kamu adalah lithos (batu kecil) dan di atas petra (batu besar) ini Aku akan mendirikan Gereja-Ku.” Jika demikian malah kalimatnya menjadi tidak logis bukan, karena sepertinya tidak ‘nyambung’.

Kita perlu melihat bahwa kalimat tersebut terdiri dari dua bagian kalimat yang dihubungkan oleh kata “dan”. Matius memilih kata “kai” untuk menghubungkan kedua bagian kalimat itu, di mana kata “kai” itu mengacu kepada “pronoun”/ subyek yang sama yang sudah disebut sebelumnya. Selanjutnya, digunakan kata ‘taute‘ yang kalau dalam bahasa Inggris diterjemahkan sebagai “this very“, atau dalam bahasa Indonesianya adalah “dan inilah”. Maka sesungguhnya, yang ingin dikatakan oleh Yesus adalah, “Kamu adalah Petros (batu karang), dan di atas petra (batu karang) inilah, Aku akan mendirikan Gereja-Ku.”

Jika maksud Yesus adalah untuk membedakan keduanya, Matius seharusnya menggunakan kata “alla“  yaitu “tetapi” sehingga tidak mengacu kepada subyek yang sedang dibicarakan sebelumnya, atau dapat diartikan sebagai batu yang lain. Tetapi kita mengetahui tidak demikian halnya.

Maka untuk menjawab pertanyaan di atas: kalau memang Petros dan petra sama artinya, mengapa tidak ditulis “Engkau adalah Petros, dan di atas petros ini Aku akan mendirikan Gereja-Ku”? Jawabannya adalah: karena dalam tata bahasa Yunani dikenal sistem gender, seperti halnya dalam bahasa Latin, di mana batu karang (secara literal) itu mempunyai gender feminin dengan akhirannya adalah “a”.  Maka Yesus memberi nama baru kepada Simon, untuk dihubungkan dengan karakter yang dilambangkannya yaitu batu karang (petra); yang memang terpampang di hadapan mereka pada saat Yesus mengatakan hal ini kepada mereka, di Kaisaria, Filipi. [Silakan anda klik di wikipedia atau sumber internet lainnya untuk melihat potret lokasi Caesarea, Phillipi, agar anda lebih memahami konteks yang dibicarakan di sini].

3. “Petra” di sini artinya “pengakuan iman Petrus” dan bukan Petrus?

Ada juga pandangan Protestan yang mengatakan bahwa “batu karang”/ petra yang dimaksud di sini adalah “pengakuan Petrus” dan bukannya Petrus sendiri. Pandangan ini sesungguhnya adalah pandangan yang hanya mengambil interpretasi alegoris/ simbolis tetapi tidak mau mengambil arti literalnya. Sebaliknya, Gereja Katolik mengambil keduanya, yaitu “petra”/ batu karang (Mat 16:18) tersebut mengacu kepada Petrus (arti literal) oleh sebab pengakuan imannya akan Kristus sebagai Anak Allah yang hidup (arti alegoris/ simbolis).

Banyak ahli Kitab Suci Protestan mengakui bahwa Petruslah “batu karang” yang dimaksud dalam pernyataan Yesus ini. Silakan klik di sini untuk membaca pengajaran mereka, antara lain Oscar Cullmann (Lutheran), Eduard Schweizer, Francis W. Beare dan Thomas G. Long (Reformed), D.A Carson, Herman Ridderbos, Craig Blomberg, Craig Keener (Evangelis Protestan), R. T France (Anglikan). Cullmann menuliskan, “Tapi apa yang dimaksudkan oleh Yesus ketika mengatakan: “Di atas Batu Karang ini Aku akan mendirikan Gereja-Ku?” Ide para Reformer bahwa Ia [Yesus] mengacu kepada iman Petrus adalah sangat tidak terbayangkan (inconceivable)…. Sebab tidak ada referensi yang mengacu kepada iman Petrus. Yang ada, paralel/ perbandingan antara “Kamu adalah Batu Karang” dan “di atas Batu Karang ini Aku akan membangun” menunjukkan bahwa Batu Karang yang kedua adalah sama dengan Batu Karang yang pertama. Oleh karena itu, jelaslah bahwa Yesus mengacu kepada Petrus, yang kepadanya Ia telah memberi nama Batu Karang. Ia telah menunjuk Petrus… Dalam hal ini exegesis Gereja Katolik benar, dan semua usaha gereja Protestan untuk menghapuskan interpretasi ini harus ditolak. (lihat Oscar Cullmann, dalam artikel “Rock̶1; (petros, petra) trans. and ed. by Geoffrey W. Bromiley, Theological Dictionary of the New Testament (Eerdmans Publishing, 1968), volume 6, p. 108).”

4. Hanya Tuhan saja yang dapat disebut “Batu Karang”?

Argumen lainnya dari umat Protestan adalah bahwa hanya Tuhan-lah yang layak disebut sebagai ‘Gunung Batu/ batu karang’, seperti yang ditulis dalam Yes 44:8, “Adakah Allah selain dari pada-Ku? Tidak ada Gunung Batu yang lain, tidak ada Kukenal!” dan 1 Kor 10:4, “sebab mereka minum dari batu karang rohani yang mengikuti mereka, dan batu karang itu ialah Kristus.”

Memang Tuhan disebut sebagai ‘Gunung Batu’/ ‘the Rock‘ di Yes 44:8, dan bahkan di banyak ayat lainnya. Namun juga di tujuh bab kemudian dalam kitab Yesaya, yaitu Yes 51: 1-2, dikatakan Abraham adalah gunung batu yang daripadanya bangsa Israel terpahat. Serupa dengan hal ini adalah: Yesus disebut sebagai dasar Gereja (1 Kor 3:11) tetapi dalam Why 21:14 dan Ef 2:20, dikatakan bahwa dasar Gereja adalah para rasul. Atau dikatakan bahwa Yesus adalah Terang Dunia (Yoh 9:5) tetapi Kitab Suci juga mengatakan bahwa kita sebagai murid- murid Kristus adalah terang dunia (Mat 5:14). Juga, Yesus adalah Sang Rabi/ guru pengajar, namun ada banyak pengajar di dalam Tubuh Kristus (Ef 4:11; Yak 3:1).

Maka bukanlah suatu kontradiksi untuk mengatakan jika dasar Gereja adalah para rasul, sebab mereka dapat menjadi dasar Gereja karena mereka ada di dalam Kristus, Sang Dasar/ Pondasi. Demikian juga, Gereja dapat menjadi terang dunia karena ia berada di dalam Kristus yang adalah Terang Dunia. Seorang guru pengajar dapat mengajar karena ia ada di dalam Kristus Sang Guru. Dengan pengertian ini kita mengartikan Petrus sebagai ‘batu karang’. Keberadaannya sebagai ‘batu karang’ tidak mengurangi makna Kristus sebagai ‘Batu Karang/ Gunung Batu’ sebab karakternya sebagai batu karang tersebut diperoleh dari Kristus.

5. Mari mengikuti ajaran St. Agustinus

Di komentar di atas, sang penjawab mengatakan agar kita kembali kepada ajaran St. Agustinus:

For on this very account the Lord said, ‘On this rock will I build my Church,’ because Peter had said, “Thou art the Christ, the son of the living God.’ On this rock, therefore, He said, which thou hast confessed, I will build my church. For the Rock (petra) was Christ; and on this foundation was Peter himself also built. For other foundation no man lay that this is laid, which is Christ Jesus.” (Augustine, Homilies on the Gospel of John).

Tentu saja Gereja Katolik juga setuju dengan ajaran ini, bahwa memang Kristus adalah Sang Batu Karang. Namun mengatakan bahwa Petrus adalah “batu karang” juga tidaklah bertentangan dengan ajaran ini, karena ‘batu karang’ yang dimaksudkan di sini juga tidak untuk diartikan terpisah dari Kristus. Maka Petrus sebagai ‘batu karang’ itu bukan untuk dianggap ‘saingan’ Kristus, seolah- olah Petrus adalah batu karang yang lain dengan Kristus. Petrus hanya menerima karakter batu karang dari Kristus Sang Batu Karang; sama seperti kita sebagai murid- murid Kristus menjadi terang dunia karena mengambil sumbernya dari Kristus Sang Terang Dunia.

Selanjutnya, jika mau konsisten, seharusnya sang penjawab surat di atas juga menerima ajaran St. Agustinus berikutnya tentang keutamaan Paus. Tentang ayat Mat 16:18, St. Agustinus menjelaskan kembali dalam bukunya Retractiones, 1, 20,1, demikian:

“…. Tetapi aku mengetahui hal itu sangat sering pada saat- saat berikutnya, sehingga aku menjelaskan apa yang Tuhan katakan: “Kamu adalah Petrus, dan di atas batu karang ini Aku akan mendirikan Gereja-Ku’, bahwa itu harus dimengerti sebagai dibangun di atas Dia yang kepada-Nya Petrus mengaku: “Engkau adalah Kristus, Anak Allah yang hidup,” dan oleh karena itu, Petrus, yang dipanggil ‘batu karang’ ini, mewakili Gereja yang didirikan di atas batu karang ini, dan telah menerima ‘kunci-kunci Kerajaan Surga‘….” (lihat St. Augustine: The Retractions, trans. Sister Mary Inez Bogan (Washington, D.C.: Catholic University of America Press, 1968) 60:90-91).

Maka, St. Agustinus mengajarkan bahwa Sang Batu Karang adalah Kristus, di mana Petrus juga membangun di atasnya, namun itu tidak mengubah ajarannya tentang keutamaan Petrus [yang mewakili seluruh Gereja] dan para penerusnya. Ia bahkan menunjukkan pentingnya jalur apostolik ini untuk membuktikan Gereja sejati; untuk menolak ajaran sesat Donatism yang uskup- uskupnya tidak mempunyai jalur apostolik. Sayangnya Luther dan Calvin, yang sama- sama mempelajari St. Agustinus, rupanya ‘menganggap sepi’ ajaran ini, atau hanya memilih sebagian dari ajaran St. Agustinus yang mereka pandang mendukung pandangan mereka.

Berikut ini adalah ajaran St. Agustinus:

“Jika urutan episkopal secara turun temurun adalah sesuatu yang harus dipertimbangkan, adalah lebih lagi dalam hal kepastian, kebenaran dan keamanan, kita mengurutkannya dari Petrus sendiri, yang kepadanya, sebagai seorang yang mewakili seluruh Gereja, Tuhan Yesus berkata, “Engkau adalah Petrus dan di atas batu karang ini Aku akan mendirikan jemaat-Ku dan alam maut tidak akan menguasainya.” Petrus digantikan oleh Linus, Linus oleh Klemens, Klemens oleh Anacletus, Anacletus oleh Evaristus, Evaristus oleh Sixtus, Sixtus oleh Telesforus, Telesforus oleh Hyginus, Hyginus oleh Anicetus, Anicetus oleh Pius, Pius oleh Soter. Soter oleh, Alexander, Alexander oleh Victor, Victor oleh Zephyrinus oleh Callistus, Callistus oleh Urban, Urban oleh Pontianus, Pontianus oleh Anterus, Anterus oleh Fabian, Fabian oleh Cornelius, Cornelius oleh Lucius, Lucius oleh Stephen, Stephen oleh Sixtus, Sixtus oleh Dionisius, Dionisius oleh Felix, Felix oleh Eutychian, Eutychian oleh Caius, Caius oleh Marcellus, Marcellus oleh Eusebius, Eusebius oleh Melchiades, Melchiades oleh Sylvester oleh Markus, Markus oleh Julius, Julius oleh Liberius, Liberius oleh Damasus, Damasus oleh Siricius, Siricius oleh Anastasius. Dalam urutan ini tidak ada satupun uskup Donatist ditemukan.”(St. Augustinus, To Generosus, Letter 53, 2 Jurgens, Faith of the Early Fathers, 3:2)

Akhirnya, mari kita melihat argumen masing- masing dan menilai manakah yang lebih masuk akal dan sesuai dengan Kitab Suci dan Tradisi Suci. Walaupun rangkaian artikel Keutamaan Paus yang ada di situs ini belum lengkap (baru sampai bagian ke-4) namun saya percaya, jika kita mau membacanya dengan hati yang terbuka tanpa prasangka, maka sebenarnya kita semua dapat memahami bahwa ajaran Gereja Katolik tentang keutamaan Paus ini sungguh sangat berdasar, dan bukan sekedar ‘argumen yang kosong’, seperti yang dituduhkan di atas. Keutamaan Paus dan kepemimpinannya atas Gereja tidak hanya didasarkan atas Mat 16:18 saja, tetapi juga sudah dibuktikan dengan ayat- ayat lainnya dalam Kitab Suci,  dalam Tradisi Suci para rasul dan ajaran Bapa Gereja.

Perlu diketahui, bahwa banyak dari antara para Apologist Katolik sebelum menjadi Katolik adalah seorang Protestan yang sangat mempelajari Kitab Suci, dan bahkan banyak di antara mereka adalah bekas pendeta. Mereka adalah para ahli Kitab Suci yang selain menguasai bahasa aslinya (Yunani dan Ibrani) juga menguasai sejarah. Beruntunglah kita yang dapat belajar dari para Apologist tersebut yang membangun Gereja Katolik, justru dengan latar belakang mereka sebagai seorang Protestan. Ini justru merupakan bukti yang sangat kuat bahwa jika seseorang sungguh dengan tulus mencari kebenaran, maka ia akan sampai kepada Gereja Katolik. Kepindahan mereka ke Gereja Katolik merupakan bukti bahwa mereka mengasihi Allah, Sang Kebenaran itu, melebihi segala- galanya.

Demikian, yang dapat saya sampaikan untuk pertanyaan anda. Semoga berguna.

Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
Ingrid Listiati- katolisitas.org

Beberapa artikel yang berhubungan:

Beberapa artikel di kategori yang sama:

7 Komentar to Tentang ‘Petros’ dan ‘Petra’

  1. “Matius 16:18 dan Sistem Nilai Ilmu Hukum”

    Shallom, saudara-saudara terkasih di Katolisitas,

    Saya sungguh senang dengan adanya tempat untuk bertanya tentang ajaran-ajaran Katolik di internet, dan ternyata website ini didukung oleh banyak pribadi yang sangat berkompeten.

    Demikian banyaknya yang ingin saya tanyakan hingga saya sendiri bingung hendak memulai darimana. Akhirnya saya putuskan untuk memulai dari fondasinya, yaitu tentang kata “Petros” dan “Petra” ini.

    Asumsi dari rangkaian pertanyaan saya di bawah ini adalah: “Setahu saya, Pernjanjian Baru yang dikanonisasi adalah dalam bahasa Yunani, dan bukan dalam bahasa Aram. Jika Mat 16:18 ditafsirkan berdasarkan Kanon Perjanjian Baru (PB) yang berbahasa Yunani, maka ia akan menghasilkan keputusan teologis-dogmatis yang berbeda dengan tafsiran yang tidak berdasarkan Kanon PB, yaitu tafsiran atas bahasa lisan (Aram) dari ayat itu.”
    Yang ingin saya tanyakan adalah:

    1. Dalam dunia hukum diakui suatu nilai bahwa tradisi tulisan-eksplisit (hukum positif), lebih berotoritas dibandingkan dengan tradisi lisan. Jika jarang ada orang yang mau melaporkan kasus penipuan perjanjian kerjasama yang dilakukan ‘di bawah tangan’ ke pengadilan, itu karena mereka sadar bahwa mereka tidak dapat memberikan bukti otentik (hitam-diatas-putih, secara legal-formal, yang dibuat di hadapan notaris), kepada pihak penegak hukum. Setujukan Anda? Jika tidak, mengapa?

    2. Suatu kebenaran, seharusnya tahan uji oleh berbagai hal yang ‘dianggap sebagai kebenaran’, baik oleh kalangan Kristen sendiri, maupun dari luar kekristenan, seperti ilmu pengetahuan (dalam hal ini adalah ilmu hukum). Setujukah Anda?

    3. Yang dimaksud sebagai “Kitab Suci” Perjanjian Baru (yang telah dikanoniasasi) adalah Kitab Suci yang berbahasa Yunani atau berbahasa Aram. Benarkah demikian? Yang manakah yang dimaksudkan sebagai “infallible”: Kitab Suci yang telah dikanonisasi dalam bahasa Yunani atau ‘Kitab Suci’ lisan dalam bahasa Aram? Mengapa? Bolehkah saya mendapatkan dokumen pendukung (legal-formal) yang membuktikan bahwa Perjanjian Baru berbahasa Aram memiliki otoritas dan infallibilitas yang sama dengan Perjanjian Baru yang telah dikanonisasi dalam bahasa Yunani?

    4. Menurut ilmu hukum, jika suatu tradisi lisan (bahasa Aram, misalnya), telah dibuatkan transkripnya ke dalam tulisan, maka yang memiliki otoritas yang lebih tinggi adalah yang berbentuk tulisan. Setujukah Anda? Mengapa?

    5. Jika satu konstitusi (dalam bentuk tulisan) telah disahkan sebagai infallible dan berotoritas, kemudian ternyata yang dijadikan sumber kebijakan Katolik ditarik dari tradisi lisan (bahasa Aram) dan bukan dari naskah konstitusi itu sendiri (yang memiliki pernyataan eksplisit dalam bahasa Yunani), bukankah ia telah ‘kalah’ dalam pengujian kebenaran oleh ilmu hukum yang mengatakan bahwa tradisi tulisan lebih berotoritas daripada tradisi lisan?

    6. Jika ternyata tradisi ‘lisan’ (bahasa Aram) untuk Mat. 16:18 dijadikan dasar yang sah untuk menafsirkan tradisi tulisan eksplisit legal-formal (berdasarkan kanonisasi), maka tindakan demikian telah mereduksi nilai dari kanonisasi itu sendiri.

    7. Jika tradisi lisan dianggap sebagai ‘memiliki otoritas yang sama’ dengan sumber hukum tulisan-eksplisit untuk menetapkan suatu dogma yang infallible, bukankah itu berarti terdapat DUA SUMBER HUKUM legal-formal dengan dua TINGKAT otoritas yang sama untuk ranah yang sama (keagamaan. dogmatis)? Bolehkah ada dua sumber hukum yang berbeda, sedangkan otoritasnya dianggap sama untuk ranah yang sama pula? Bukankah ini berarti ‘kalah’ oleh pengujian kebenaran dari ilmu hukum yang menyatakan ‘tidak boleh ada dua sumber hukum yang otoritasnya sama dengan ranah yang sama…?”

    8. BAHKAN sebenarnya, jika suatu dogma infallible DIHASILKAN dari bahasa lisan (Aram) atas klausul-eksplisit legal-formal kanon Kitab Suci berbahasa Yunani, bukankah itu berarti menganggap OTORITAS BAHASA LISAN LEBIH TINGGI DIBANDINGKAN DENGAN OTORITAS KONSTITUSIONAL BAHASA TULISAN-EKSPLISIT?

    9. Sebagai bahan penguji:

    a. Apakah Gereja Katolik Roma (GKR) akan (atau SELALU?) menganggap KELIRU ‘tafsiran’ (baca: keputusan teologis-dogmatis) yang didasarkan pada literatur tertulis legal-formal yang telah dikanonisasi yaitu Kitab Suci Perjanjian Baru dalam bahasa Yunani yang berbeda dengan hasil tafsiran Gereja Katolik Roma, KARENA Gereja Katolik Roma TELAH menetapkan dogma infalliblenya berdasarkan tradisi lisan (bahasa Aram) atas Mat 16:18? Mengapa?

    b. Logikanya: jika Gereja Katolik Roma tidak menganggap tafsiran yang bersumber dari Kitab Suci berbahasa Yunani itu sebagai tafsiran YANG KELIRU, maka berarti ada DUA KEBENARAN yang INFALLIBLE. Setujukah Anda? Jika ada dua kebenaran yang sama-sama infallible, maka salah satunya pastilah keliru karena menyangkut dogma.

    10. Penutup: Bagi saya pribadi, dan saya tidak yakin jika para ahli hukum tidak mendukung saya, penafsiran yang mengakar pada naskah lisan (bahasa Aram) baik oleh Gereja Katolik Roma, maupun oleh para sarjana Protestan, merupakan metodologi yang menyalahi (dan karenanya ‘kalah’ oleh mengujian) sistem nilai yang berlaku dalam ilmu hukum. Metodologinya tidak valid. Apakah kebenaran yang dihasilkan dari metodologi yang tidak valid dapat disebut sebagai ‘kebenaran’?

    Demikian rangkaian pertanyaan dari saya.

    Jika ada salah kata mohon dimaafkan.

    Atas perhatiannya saya mengucapkan terima kasih.

    Tuhan Yesus memberkati.

    Salam damai…

    • Shalom Hamba 02,

      Berikut ini saya menanggapi pernyataan Anda:

      1. Sumber ajaran Gereja Katolik tidak dapat dibandingkan dengan sumber hukum sekular.

      Dari pernyataan Anda, nampak bahwa Anda ingin menerapkan prinsip yang berlaku dalam hukum sekular ke dalam prinsip ajaran Gereja Katolik. Tetapi sejujurnya kedua hal ini tidak sama, sehingga tidak dapat dibandingkan. Dalam dunia sekular, memang yang mempunyai nilai hukum adalah hukum yang tertulis, karena memang patokan yang berlaku adalah demikian. Namun dalam ajaran Kristiani, yang menjadi patokan dan sumber ajaran bukan semata kitab hukum, namun keseluruhan Pribadi Sang pembuat Hukum, yaitu Kristus. Dengan demikian, tidak dapatlah disetarakan prinsip ilmu hukum, dengan prinsip ajaran iman Kristiani.

      Dengan Pribadi Kristus sebagai sumber ajaran Kristiani, maka untuk menerapkan apa yang menjadi kehendak dan perintah Kristus, tidak cukup kita mengandalkan ajaran- ajaran-Nya yang dituliskan (disebut Kitab Suci), tetapi juga ajaran- ajaran-Nya yang tidak tertulis, yang disampaikan secara lisan oleh Kristus dan para rasul kepada para penerus mereka (disebut Tradisi Suci). Bahkan Injil yang tertulis berasal dari ajaran lisan dari Kristus dan para rasul. Rasul Matius dan Rasul Yohanes mencatat ajaran lisan Kristus ke dalam Injil yang mereka tulis, sedangkan Markus, anak angkat Rasul Petrus, mencatat dalam Injilnya, ajaran lisan yang sering dikhotbahkan Rasul Petrus; demikian pula Lukas, pembantu Rasul Paulus, mencatat dalam Injilnya, ajaran lisan yang sering dikhotbahkan oleh Rasul Paulus. Dengan demikian ajaran lisan para rasul memang sifatnya setara dengan ajaran para rasul yang tertulis (seperti Injil dan surat- surat para rasul). Rasul Paulus dengan jelas mengajarkan hal ini (lih. 2 Tes 2 :15). Pengabaian ajaran lisan Kristus dan para rasul (yang disebut Tradisi Suci) itu malah tidak sesuai dengan apa yang diajarkan dalam Kitab Suci. Sebab Tradisi Suci/ ajaran lisan itu bukan ajaran tambahan ataupun turunan dari apa yang tertulis dalam Kitab Suci, melainkan ajaran yang sama tingkatannya dan tidak terpisahkan dari Kitab Suci. Bahkan sebagaimana telah disebutkan, ajaran lisan itu (Tradisi Suci) ada terlebih dahulu sebelum Kitab Suci dituliskan, dan Kitab Suci berasal dari Tradisi Suci.

      Oleh karena itu, Katekimus Gereja Katolik mengajarkan:

      KGK 81 “Kitab Suci adalah pembicaraan Allah sejauh itu termaktub [tertulis] dengan ilham Roh ilahi”.”Oleh Tradisi Suci, Sabda Allah, yang oleh Kristus Tuhan dan Roh Kudus dipercayakan kepada para Rasul, disalurkan seutuhnya kepada para pengganti mereka, supaya mereka ini dalam terang Roh Kebenaran dengan pewartaan mereka, memelihara, menjelaskan, dan menyebarkannya dengan setia” (Konsili Vatikan II, Dei Verbum 9).

      KGK 82 …. Maka dari itu keduanya [baik Tradisi Suci maupun Kitab Suci] harus diterima dan dihormati dengan cita rasa kesalehan dan hormat yang sama” (Konsili Vatikan II, Dei Verbum 9).

      Selanjutnya mengapa Gereja Katolik tidak mengajarkan Kitab Suci saja sebagai sumber ajarannya, silakan klik di sini.

      2. Nama Petrus dalam bahasa Aram (yaitu Kefas) adalah tafsiran?

      Anda mempermasalahkan sebutan dalam bahasa Aram [dalam hal ini 'Kefas'] sebagai ‘di luar/ tidak sesuai dengan apa yang tertulis’ karena yang tertulis dalam Injil adalah dalam bahasa Yunani [yaitu Petros/ Petra]; dan karena itu ‘Kefas’ sebagai nama Rasul Simon Petrus hanya merupakan tafsir yang tidak sah/ tidak berdasarkan Kanon PB.

      Kesimpulan ini keliru. Sebab terdapat ayat-ayat lain di dalam Kitab Suci (yang sesuai dengan Kanon PB)-yang ditulis dalam bahasa Yunani tersebut- yang menyebutkan Petrus sebagai ‘Kefas’ (Kepha) -nama dalam bahasa Aram (lih. Yoh 1:42, Gal 1:18, 2:11, 2:14; 1 Kor 1:12, 3:22, 15:5). Dicatat pula bahwa dalam Kitab Suci, perkataan Yesus dalam bahasa Aram seperti, “Eli, eli, lama sabakhtani.” (Mat 27:46; Mrk 15:34). Maka bahwa Yesus memberi nama Petrus sebagai Kefas, itu bukan hipotesa atau tafsiran yang tidak berdasar. Namun demikian, bahwa selanjutnya yang lebih banyak digunakan adalah namanya dalam bahasa Yunani (yaitu Petros) juga benar, sebab memang bahasa Yunani merupakan bahasa yang lebih berkembang dan dikenal luas pada masa itu daripada bahasa Aram, dan bahwa Kitab Suci Perjanjian Baru memang dituliskan dalam bahasa Yunani.

      Selanjutnya, silakan dibaca kembali uraian di atas, sebab walaupun dipakai tafsiran menurut bahasa Yunanipun, dengan pemahaman arti kata sambungnya yaitu ‘kai‘ dan ‘taute‘, (“and”, on “this very” [rock]) jelas menunjukkan bahwa nama Petros dan Petra mengacu kepada batu karang yang sama, yang atasnya Kristus mendirikan Gereja-Nya. Maka dengan menggunakan bahasa Yunani-pun, sebenarnya interpretasi yang masuk akal adalah interpretasi yang diajarkan oleh Gereja Katolik.

      Tak heran, mereka yang dengan tulus mempelajari Kitab Suci dengan mempelajari bahasa aslinya, baik Aram maupun Yunani akan sampai kepada kesimpulan yang diajarkan oleh Gereja Katolik. Seorang ahli Kitab Suci Lutheran, Oscar Cullman menulis, “Tapi apa yang dimaksudkan oleh Yesus ketika mengatakan: “Di atas Batu Karang ini Aku akan mendirikan Gereja-Ku?” Ide para Reformer bahwa Ia [Yesus] mengacu kepada iman Petrus adalah sangat tidak terbayangkan (inconceivable)…. Sebab tidak ada referensi yang mengacu kepada iman Petrus. Yang ada, paralel/ perbandingan antara “Kamu adalah Batu Karang” dan “di atas Batu Karang ini Aku akan mendirikan” menunjukkan bahwa Batu Karang yang kedua adalah sama dengan Batu Karang yang pertama. Oleh karena itu, jelaslah bahwa Yesus mengacu kepada Petrus, yang kepadanya Ia telah memberi nama Batu Karang. Ia telah menunjuk Petrus… Dalam hal ini exegesis Gereja Katolik benar, dan semua usaha gereja Protestan untuk menghapuskan interpretasi ini harus ditolak.” (lihat Oscar Cullmann, dalam artikel “Rock (petros, petra) trans. and ed. by Geoffrey W. Bromiley, Theological Dictionary of the New Testament (Eerdmans Publishing, 1968), volume 6, p. 108).

      Cullman tidak sendirian dalam hal ini. Banyak ahli Kitab Suci Kristen non Katolik yang juga mengakui bahwa Petruslah “batu karang” yang dimaksud dalam pernyataan Yesus ini.  Eduard Schweizer, Francis W. Beare dan Thomas G. Long (Reformed), D.A Carson, Herman Ridderbos, Craig Blomberg, Craig Keener (Evangelis Protestan), R. T France (Anglikan), juga sependapat dengan Cullman. Silakan klik di sini untuk sekilas membaca tulisan mereka.

      3. Tradisi Suci itu dituliskan?

      Walaupun ajaran lisan dari Kristus dan para Rasul itu dikenal dengan nama Tradisi Suci, namun ajaran lisan tersebut kemudian dituliskan juga oleh para penerus Rasul yaitu Bapa Gereja. Dari tulisan para Bapa Gereja itulah, Gereja memperoleh warisan ajaran- ajaran lisan dari Kristus dan para rasul yang dijaga dengan setia oleh para penerus mereka.

      4. Tentang Infalibilitas

      Silakan membaca apa itu artinya infalibilitas Paus dan syarat- syaratnya, silakan klik

      5. Dogma Infallibilitas dihasilkan dari tafsiran Mat 16:18 dalam tradisi lisan Aram?

      Ini pandangan yang keliru. Silakan membaca artikel seri tentang Keutamaan Petrus di situs ini:

      Keutamaan Petrus 1: Menurut Kitab Suci
      Keutamaan Petrus 2: Bukti sejarah tentang Keberadaan Petrus di Roma
      Keutamaan Petrus 3: Tanggapan terhadap Mereka yang Menentang Keberadaan Petrus di Roma
      Keutamaan Petrus 4: Menurut Dokumen Paling Awal Gereja
      Keutamaan Petrus 5: Dalam Gereja di Lima Abad Pertama

      Maka hal infalibilitas tidak ada kaitannya dengan tafsiran dalam bahasa Aram. Sebab keutamaan Petrus itu tidak terbentuk oleh tafsiran, tetapi oleh fakta yang diakui dan diterima oleh para rasul dan jemaat perdana dan yang kemudian diterapkan terus di sepanjang sejarah Gereja. Bukti sejarah jelas membuktikan hal ini; dan para ahli sejarah, bahkan dari kalangan Kristen non- Katolik, banyak yang dengan lapang hati mengakui hal ini. Maka jika Gereja Katolik tidak menerima tafsiran lain daripada apa yang diajarkan oleh para Bapa Gereja ini, bukan karena Gereja mendasarkan ajarannya dari ‘tradisi lisan bahasa Aram‘, tetapi karena tafsiran lain tersebut tidak sesuai dengan makna ayat Mat 16:18, dan juga tidak sesuai dengan kenyataan yang dicatat di dalam sejarah.

      Demikian, Hamba 02, tanggapan saya. Mohon maaf saya tidak menanggapi satu persatu pernyataan Anda, karena dasar argumen yang Anda pakai, (yang mengambil prinsip ilmu hukum sebagai acuan utama) tidak dapat diterapkan sebagai prinsip utama dalam ajaran iman Katolik. Bahwa di level pelaksanaan, Gereja Katolik juga mempunyai Kitab Hukum Kanonik, itu benar; dan di level ini prinsip ilmu hukum dapat dipakai. Namun di level yang lebih tinggi, yaitu tentang ajaran imannya itu sendiri [yang menjadi dasar KHK tersebut], prinsip ilmu hukum tidak dapat dipakai sebagai acuan utama, sebab agama Kristiani bukan agama buku/ agama kitab semata. Agama Kristen bersumber pada Pribadi Kristus, dan karena inilah maka Ia tidak dapat dituliskan/ dibatasi dalam buku/ kitab, bahkan yang paling tebal sekalipun (lih. Yoh 21: 25). Demikian pula pernyataan Anda yang diulang- ulang bahwa dasar penentuan Gereja Katolik pada tradisi Aram, juga keliru, karena; jika ayat Mat 16:18 diinterpretasikan dalam bahasa Yunani sekalipun, juga; mengacu kepada interpretasi yang diajarkan oleh Gereja Katolik (yaitu bahwa Petruslah yang dimaksud Yesus sebagai batu karang yang atasnya Kristus mendirikan Gereja-Nya); dan hal ini pula diakui oleh cukup banyak ahli Kitab suci dari kalangan Kristen non Katolik. Demikian, maka tuduhan Anda bahwa metodologi yang digunakan oleh Gereja Katolik dalam menjelaskan ayat Mat 16:18 tidak valid, juga keliru. Dengan demikian, keliru pula kesimpulan Anda bahwa interpretasi Mat 16:18 tidak dapat disebut sebagai kebenaran. Kebenaran itu sifatnya obyektif; dan entah interpretasi dari bahasa Aram, Yunani, atau kelogisan kalimat, tulisan para Bapa Gereja dan bukti sejarah, dan fakta yang terjadi dalam Gereja, semuanya itu menunjukkan kebenaran ajaran Gereja Katolik dalam hal makna ayat Mat 16:18 ini.

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      Ingrid Listiati- katolisitas.org

  2. Syaloom,

    Saya mau tanya kenapa Tuhan setelah memberi nama Petrus kepada St Petrus tetapi masih memanggil dia Simon? Padahal ketika Abram diganti menjadi Abraham dia dipanggil Abraham oleh Allah?

    Apakah sebenarnya Tuhan tidak mengganti nama Simon tetapi hanya menjadikan dia sebagai Petrus?

    Terima kasih

    • Shalom Leonard,

      Kitab Injil Yohanes mencatat dengan jelas dalam perikop “Murid- murid Yesus yang pertama”, bahwa pada saat Yesus pertama kali bertemu dengan Simon, Yesus berkata kepadanya, “Engkau Simon, anak Yohanes, engkau akan dinamakan Kefas (artinya: Petrus).” (Yoh 1:42). Kitab Injil Matius mencatat dalam perikop ‘Yesus memanggil murid- murid yang pertama’, nama Simon, “yang disebut Petrus” (Mat 4:18). Demikian pula, Rasul Paulus juga menyebut Simon dengan sebutan Kefas/ Petrus, (lih. 1 Kor 1:12; 3:22; 15:5; Gal 1:18, 2:9). Dengan demikian, nama Petrus/ Kefas (batu karang) yang diberikan oleh Yesus kepada Simon dalam Yoh 1:42; Mat 16:18, memang kemudian benar- benar kemudian menjadi namanya.

      Walaupun saya tidak menemukan keterangan penjelasan mengapa Kristus masih memanggil nama Simon saat mempercayakan domba- domba-Nya dalam Yoh 21:15-19, namun ada beberapa alasan yang mungkin. Pertama- tama, kita mengetahui bahwa Gereja baru resmi berdiri setelah hari Pentakosta, lima puluh hari setelah hari kebangkitan Yesus. Dengan demikian nama Petrus baru resmi digunakan setelah itu. Kisah Para Rasul mencatat bahwa setelah peristiwa Pentakosta, Tuhan yang berbicara kepada Simon Petrus dalam penglihatan memanggilnya tidak lagi dengan sebutan Simon, namun Petrus (lih. Kis 10:13). Kedua, Tuhan Yesus yang memberikan nama yang baru kepada Simon, Dia pula yang berhak untuk menentukan kapan Ia akan memanggilnya dengan sebutan Petrus itu. Sebab pada saat nama baru itu diberikan, Yesus juga tidak mengatakan, “Mulai saat ini engkau tidak akan disebut sebagai Simon lagi melainkan Petrus”; namun “engkau akan dinamakan Kefas (Petrus)”. Ini berbeda dengan perkataan Allah kepada Abram, “… Karena itu namamu bukan lagi Abram, melainkan Abraham.” (Kej 17:5). Artinya setelah berkata demikian, nama Abram tidak digunakan lagi. Ketiga, jangan dilupakan bahwa Kristus sendiri adalah Sang Batu Karang (1 Kor 10:4), sehingga nama Petrus (batu karang) ini merupakan partisipasi di dalam Kristus Sang Batu Karang itu sendiri; seperti halnya kita disebut sebagai terang dunia (Mat 5:14) sebagai partisipasi di dalam Kristus Sang Terang dunia (Yoh 8:12). Maka pada saat Kristus masih berada di tengah- tengah para murid, adalah pantas jika Kristus tidak memanggil nama Simon Petrus dengan sebutan Petrus (Batu Karang- yang sebenarnya adalah salah satu sebutan bagi diri-Nya sendiri), sampai Kristus sendiri telah naik ke surga, dan mempercayakan kepemimpinan Gereja-Nya di dunia kepada Rasul Petrus, yang menjadi pondasi/ dasar yang mempersatukan jemaat-Nya, dan dengan demikian Rasul Petrus menjadi wakil-Nya (vicar of Christ) di dunia ini.

      Menjawab pertanyaan anda: Sabda Tuhan Yesus menunjukkan bahwa Ia memang bermaksud memberi Simon nama yang baru, yaitu Petrus/ Kefas (Batu Karang), sebagaimana yang dikatakan-Nya dalam Yoh 1:42. Namun saat Dia mulai memanggil Simon dengan sebutan Petrus itu memang baru dilakukan-Nya setelah Ia tidak lagi berada di tengah- tengah para rasul-Nya. Ini memperkuat maksud bahwa setelah Kristus naik ke surga, Rasul Petruslah yang kemudian harus melaksanakan peran untuk menjadi dasar batu karang yang mempersatukan umat-Nya.

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      Ingrid Listiati- katolisitas.org

  3. terima kasih sekali kak..
    ya, saya jga minta maaf karena menggunakan bahasa inggris..
    untuk kedepannya, saya akan menggunakan bahasa indonesia..
    Tuhan memberkati, kak Inggrid dan kak Stef..

  4. kak, aku dapat hal ini dari teman protestan’ku..

    Rocks and Stones
    Question: Please comment on the following argument which I read in a Catholic website. It can be summarized like this:
    1. Jesus spoke Aramaic. So, what Jesus said to Simon in Matthew 16:18 was this: ‘You are Kepha, and on this kepha I will build my Church.’
    2. The Aramaic word kepha is translated petra or petros in Greek. The two words are synonyms in first century Greek.
    3. Jesus could not have said, ‘You are petra, and on this petra I will build my Church’ because that would have entailed giving Simon a feminine name. So, Jesus changed the ending of the noun to render it masculine. “You are Petros, and on this petra I will build my Church.”
    4. That is the real reason why Jesus employed two different words and not as Protestants argue, that ‘this rock’ may refer to something or somebody else other than Peter.
    Answer: The question about the papacy is broader than the interpretation of petros and petra in Matthew 16:18. Do not be fooled by Catholic apologists who make a big deal about ‘this rock’ as if the papacy is vindicated if it could be proved that ‘this rock’ refers to Peter……

    [Dari Katolisitas: diedit, sebab keseluruhannya telah ditampilkan dan dijawab di atas, silakan klik]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

CONNECT WITH US: