Dialog tentang Wahyu Allah dan kebenaran

19

Pertanyaan:

Selamat jumpa pak stev dan Ibu Ingrit saya Lisa umat Protestan ada beberapa hal tanggapan saya soal wahyu, tolong ditanggapi menurut iman Katolik bagaimana? kalo tidak sama dimana letak ketidaksamaannya. Terima kasih jika mau menanggapi.
Wahyu Allah itu disampaikan dalam Alkitab
Karena itu benarlah jika hanya ada satu-satunya Alkitab dalam Otoritas Tunggal dalam Gereja
Kasih karunia melahirkan Iman
Iman bukanlah suatu kondisi yang stagnan, melainkan dinamis tergantung dari respon orang percaya tersebut
Rom 10:17 Jadi, iman timbul dari pendengaran, dan pendengaran oleh firman KRISTUS.
Iman tidak lagi mencari kebenaran, kebenaran sudah ditemukan, dan untuk selanjutnya diperdalam
Iman pun tanpa kebajikan dan pengetahuan tidak menghasilkan kesalehan
2Pe 1:5 Justru karena itu kami harus dengan sungguh-sungguh berusaha untuk menambahkan kepada imanmu kebajikan, dan kepada kebajikan pengetahuan,
2Pe 1:6 dan kepada pengetahuan penguasaan diri, kepada penguasaan diri ketekunan, dan kepada ketekunan kesalehan,
Dalam kaitan inilah saya ingin mengajak setiap kita tidak sekedar beriman melainkan tekun untuk kesalehan
Pengetahuan akan kebenaran bukan hanya milik Bapak Gereja, bukan juga milik Rasul-Rasul KRISTUS, pengetahuan akan kebenaran adalah kasih karunia kepada setiap orang-orang pilihan Allah
Tit 1:1 Dari Paulus, hamba Allah dan rasul YESUS KRISTUS untuk memelihara iman orang-orang pilihan Allah dan pengetahuan akan kebenaran seperti yang nampak dalam ibadah kita,
Kemudian
Orang percaya beriman kepada Tuhan YESUS KRISTUS
Bukan kepada Ajaran Gereja, bukan kepada Dogma Gereja atau apapun
Pengetahuan akan kebenaran itu pun terus bertumbuh sesuai dengan kasih karunia dan repson orang percaya
Eph 4:13 sampai kita semua telah mencapai kesatuan iman dan pengetahuan yang benar tentang Anak Allah, kedewasaan penuh, dan tingkat pertumbuhan yang sesuai dengan kepenuhan KRISTUS,
Rom 12:3 Berdasarkan kasih karunia yang dianugerahkan kepadaku, aku berkata kepada setiap orang di antara kamu: Janganlah kamu memikirkan hal-hal yang lebih tinggi dari pada yang patut kamu pikirkan, tetapi hendaklah kamu berpikir begitu rupa, sehingga kamu menguasai diri menurut ukuran iman, yang dikaruniakan Allah kepada kamu masing-masing.
Dan pencarian akan kebenaran itu tidak akan mentok, karena Allah sendiri yang menjanjikan kesempurnaan kita
2Jn 1:3 Kasih karunia, rahmat dan damai sejahtera dari Allah Bapa, dan dari YESUS KRISTUS, Anak Bapa, akan menyertai kita dalam kebenaran dan kasih.
1Jn 5:6 Inilah Dia yang telah datang dengan air dan darah, yaitu YESUS KRISTUS, bukan saja dengan air, tetapi dengan air dan dengan darah. Dan Rohlah yang memberi kesaksian, karena Roh adalah kebenaran.
1Jn 5:7 Sebab ada tiga yang memberi kesaksian (di dalam sorga: Bapa, Firman dan Roh Kudus; dan ketiganya adalah satu.
Bagi saya ALKITAB-lah sumber segala Iman.

Jawaban:

Shalom Lisa,

Selamat datang di situs ini. Terima kasih atas pemaparannya tentang Wahyu Allah dan kebenaran. Berikut ini adalah tanggapan yang dapat saya berikan:

1) Lisa mengatakan “Wahyu Allah itu disampaikan dalam Alkitab. Karena itu benarlah jika hanya ada satu-satunya Alkitab dalam Otoritas Tunggal dalam Gereja

a) Dalam point ini, Lisa mengungkapkan tentang sola scriptura atau hanya Alkitab saja. Namun, Gereja Katolik percaya akan tiga pilar kebenaran, yaitu: 1) Tradisi Suci, 2) Kitab Suci, 3) Magisterium (kewenangan mengajar). Di dalam artikel ini (silakan klik), dituliskan:

1) Tradisi Suci

Tradisi Suci adalah Tradisi yang berasal dari para rasul yang meneruskan apa yang mereka terima dari ajaran dan contoh Yesus dan bimbingan dari Roh Kudus. Oleh Tradisi, Sabda Allah yang dipercayakan Yesus kepada para rasul, disalurkan seutuhnya kepada para pengganti mereka, supaya dalam pewartaannya, mereka memelihara, menjelaskan dan menyebarkannya dengan setia.[5] Maka Tradisi Suci ini bukan tradisi manusia yang hanya merupakan ‘adat kebiasaan’. Dalam hal ini, perlu kita ketahui bahwa Yesus tidak pernah mengecam seluruh adat kebiasaan manusia, Ia hanya mengecam adat kebiasaan yang bertentangan dengan perintah Tuhan (Mrk 7:8).

Jadi, Tradisi Suci dan Kitab Suci tidak akan pernah bertentangan. Pengajaran para rasul seperti Allah Tritunggal, Api penyucian, Keperawanan Maria, telah sangat jelas diajarkan melalui Tradisi dan tidak bertentangan dengan Kitab Suci, meskipun hal-hal itu tidak disebutkan secara eksplisit di dalam Kitab Suci. Janganlah kita lupa, bahwa Kitab Suci sendiri mengajarkan agar kita memegang teguh Tradisi yang disampaikan kepada kita secara tertulis ataupun lisan (2Tes 2:15, 1Kor:2).

Juga perlu kita ketahui bahwa Tradisi Suci bukanlah kebiasaan-kebiasaan seperti doa rosario, berpuasa setiap hari Jumat, ataupun selibat para imam. Walaupun semua kebiasaan tersebut baik, namun hal-hal tersebut bukanlah doktrin. Tradisi Suci meneruskan doktrin yang diajarkan oleh Yesus kepada para rasulNya yang kemudian diteruskan kepada Gereja di bawah kepemimpinan penerus para rasul, yaitu para Paus dan uskup.

2) Kitab Suci

Allah memberi inspirasi kepada manusia yaitu para penulis suci yang dipilih Allah untuk menuliskan kebenaran. Allah melalui Roh KudusNya berkarya dalam dan melalui para penulis suci tersebut, dengan menggunakan kemampuan dan kecakapan mereka. “Oleh sebab itu, segala sesuatu yang dinyatakan oleh para pengarang yang diilhami tersebut, harus dipandang sebagai pernyataan Roh Kudus.”[6] Jadi jelaslah bahwa Kitab Suci yang mencakup Perjanjian Lama dan Baru adalah tulisan yang diilhami oleh Allah sendiri (2Tim 3:16). Kitab-kitab tersebut mengajarkan kebenaran dengan teguh dan setia, dan tidak mungkin keliru. Karena itu, Allah menghendaki agar kitab-kitab tersebut dicantumkan dalam Kitab Suci demi keselamatan kita.[7]

Mungkin ada orang Kristen yang berkata, bahwa keselamatan [edit 05 Feb 2010: seharusnya kebenaran] mereka diperoleh melalui Kitab Suci saja. Namun, jika kita mau jujur, kita akan melihat bahwa hal itu tidak pernah diajarkan oleh Kitab Suci itu sendiri. Malah yang ada adalah sebaliknya, bahwa Kitab Suci tidak boleh ditafsirkan menurut kehendak sendiri (2Pet 1:20-21) sebab ada kemungkinan dapat diartikan keliru (2Pet 3:15-16). Gereja pada abad-abad awal juga tidak menerapkan teori ini. Teori ‘hanya Kitab Suci’ atau ‘Sola Scriptura’ ini adalah salah satu inti dari pengajaran pada zaman Reformasi pada tahun 1500-an, yang jika kita teliti, malah tidak berdasarkan Kitab Suci. Silakan melihat artikel ini (silakan klik).

Pada kenyataannya, Kitab Suci tidak dapat diinterpretasikan sendiri-sendiri, karena dapat menghasilkan pengertian yang berbeda-beda. Sejarah membuktikan hal ini, di mana dalam setiap tahun timbul berbagai gereja baru yang sama-sama mengklaim “Sola Scriptura” dan mendapat ilham dari Roh Kudus. Ini adalah suatu kenyataan yang memprihatinkan, karena menunjukkan bahwa pengertian mereka tentang Kitab suci berbeda-beda, satu dengan yang lainnya. Jika kita percaya bahwa Roh Kudus tidak mungkin menjadi penyebab perpecahan (lih. 1Kor14:33) dan Allah tidak mungkin menyebabkan pertentangan dalam hal iman, maka kesimpulan kita adalah: “Sola Scriptura” itu teori yang keliru.

3) Magisterium (Wewenang mengajar) Gereja

Dari uraian di atas, kita mengetahui pentingnya peran Magisterium yang “bertugas untuk menafsirkan secara otentik Sabda Allah yang tertulis atau diturunkan itu yang kewibawaannya dilaksanakan dalam nama Yesus Kristus.”[8] Magisterium ini tidak berada di atas Sabda Allah, melainkan melayaninya, supaya dapat diturunkan sesuai dengan yang seharusnya. Dengan demikian, oleh kuasa Roh Kudus, Magisterium yang terdiri dari Bapa Paus dan para uskup pembantunya [yang dalam kesatuan dengan Bapa Paus]  menjaga dan melindungi Sabda Allah itu dari interpretasi yang salah.

Kita perlu mengingat bahwa Gereja sudah ada terlebih dahulu sebelum keberadaan kitab-kitab Perjanjian Baru. Para pengarang/ penulis suci dari kitab-kitab tersebut adalah para anggota Gereja yang diilhami oleh Tuhan, sama seperti para penulis suci yang menuliskan kitab-kitab Perjanjian Lama. Magisterium dibimbing oleh Roh Kudus diberi kuasa untuk meng-interpretasikan kedua Kitab Perjanjian tersebut.

Jelaslah bahwa Magisterium sangat diperlukan untuk memahami seluruh isi Kitab Suci. Karunia mengajar yang ‘infallible‘ (tidak mungkin sesat) itu diberikan kepada Magisterium pada saat mereka mengajarkan secara resmi doktrin-doktrin Gereja. Karunia ini adalah pemenuhan janji Kritus untuk mengirimkan Roh KudusNya untuk memimpin para rasul dan para penerus mereka kepada seluruh kebenaran (Yoh 16:12-13).

b) Dari pemaparan di atas, maka kita melihat ada dua sumber wahyu Allah, yaitu dalam bentuk lisan maupun tertulis (lih. 2 Tes 2:15). Bentuk lisan ini janganlah salah dimengerti bahwa ini hanyalah suatu pengajaran lisan tanpa ada dokumen tertulis. Yang termasuk dalam Tradisi Suci juga dituliskan, sehingga kita mempunyai bukti-bukti otentik, seperti tulisan-tulisan dari Bapa Gereja, yang mempunyai hubungan dengan para rasul yang ditunjuk oleh Kristus sendiri. Dan Magisterium Gereja mempunyai fungsi agar wahyu Allah ini dapat diwariskan dan dimengerti oleh seluruh generasi dengan benar dan murni. Oleh karena itu, Kitab Suci dan Tradisi Suci tidak dapat bertentangan satu sama lain, karena keduanya bersumber pada sumber yang sama, yaitu Kristus. Dan Magisterium Gereja tidak dapat mengajarkan sesuatu yang berlawan dengan Alkitab dan Tradisi Suci. Jadi ketiganya saling terkait, menjadi satu pondasi yang kokoh, sehingga kebenaran tidak goyah.

c) Kalau memang satu-satunya sumber wahyu Allah adalah Alkitab, bagaimana kita dapat menjelaskan kehidupan jemaat awal, sebelum Alkitab (Perjanjian Baru) ditulis. Kita tahu bahwa kitab-kitab PB ditulis pada tahun-tahun sebagai berikut: Matius (50-55) dan 1 & 2 Tes (51-52), Yakobus (50-60), Galatia (54), sampai Yohanes (98-100). Apakah pegangan mereka dari tahun 33 (tahun setelah kematian Kristus) – 100 (tahun sampai semua kitab PB tertulis)? Bukankah dari tahun 33-100, Alkitab Perjanjian Baru belum terbentuk secara lengkap?

Kita juga tahu bahwa Alkitab bukanlah diberikan oleh Kristus dalam bentuk buku Alkitab yang kita kenal saat ini. Dan kita tahu bahwa pada masa awal, ada begitu banyak buku-buku yang lain. Pertanyaannya, kalau Alkitab menjadi satu-satunya pegangan bagi Gereja, bagaimana pegangan ini dapat menjadi satu-satunya pegangan sebelum ditentukan oleh Gereja sebagai suatu pegangan yang pasti? Apakah dengan demikian satu-satunya pegangan yang pasti (Alkitab) memerlukan pegangan yang lain, sehingga kita dapat yakin bahwa pegangan yang pasti tersebut tidak mungkin salah? Kalau begitu, apakah pegangan yang lain mungkin salah? Kalau mungkin salah, bukankah pengangan yang tidak mungkin salah (Alkitab) dapat saja salah, karena ditentukan oleh pegangan yang mungkin salah?

Dan bagaimana Gereja dapat menentukan bahwa buku yang termasuk dalam Alkitab adalah seperti yang kita kenal saat ini? Apakah parameternya? Apakah Tradisi Suci, dalam hal ini adalah kesaksian dari Bapa Gereja, memegang peranan penting dalam menentukan kitab mana yang menjadi bagian dari Alkitab yang kita kenal? Apakah kesaksian dari St. Irenaeus (180 AD) dan Eusebius memegang peranan penting dalam menentukan keaslian Injil, karena mereka mengatakan:

“Kita telah mengetahui bukan dari siapapun tentang rencana keselamatan kita kecuali dari mereka yang melaluinya Injil telah diturunkan kepada kita, yang pada suatu saat mereka ajarkan di hadapan publik, dan yang kemudian, sesuai dengan kehendak Tuhan, diturunkan kepada kita di dalam Kitab Suci, untuk menjadi dasar dan tonggak dari iman kita…. Sebab setelah Tuhan kita bangkit dari mati [para rasul]diberikan kuasa dari atas, ketika Roh Kudus turun [atas mereka]dan dipenuhi oleh semua karunia-Nya, dan mempunyai pengetahuan yang sempurna: mereka berangkat menuju ujung-ujung bumi, mengajarkan kabar gembira yang diberikan oleh Tuhan kepada kita…. Matius... menuliskan Injil untuk diterbitkan di antara orang Yahudi di dalam bahasa mereka, sementara Petrus dan Paulus berkhotbah dan mendirikan Gereja di Roma…. Markus, murid dan penerjemah Petrus, juga memmeneruskan kepada kita secara tertulis, apa yang biasanya dikhotbahkan oleh Petrus. Dan Lukas, rekan sekerja Paulus, juga menyusun Injil yang biasanya dikhotbahkan Paulus. Selanjutnya, Yohanes, murid Tuhan Yesus ….juga menyusun Injil ketika tinggal di Efesus, Asia Minor.” (St. Irenaeus, Against the Heresies, Buku III, bab 1,1)

“[Injil] yang pertama dituliskan oleh Matius, yang adalah seorang publikan tetapi kemudian menjadi rasul Yesus Kristus, yang menerbitkannya untuk umat Yahudi, dituliskan dalam bahasa Ibrani. [Injil] kedua oleh Markus, yang disusun di bawah bimbingan St. Petrus, yang telah mengangkatnya sebagai anak… (1 Pet 5:13). Dan ketiga, menurut Lukas, yang menyusunnya untuk umat non-Yahudi, Injil yang dibawakan oleh Rasul Paulus; dan setelah semuanya itu, [Injil] menurut Yohanes. (Eusebius, His eccl 6.25.3-6).

Kalau kesaksian di atas tidak dianggap sama sekali sebagai sumber kebenaran, bagaimana kita dapat tahu bahwa Injil hanya ada empat (Matius, Markus, Lukas, Yohanes) dan tidak termasuk injil-injil yang lain?

2) Lisa menuliskan “Kasih karunia melahirkan Iman
Iman bukanlah suatu kondisi yang stagnan, melainkan dinamis tergantung dari respon orang percaya tersebut”

a) Saya menyetujui bahwa iman adalah suatu pemberian dari Tuhan. Mungkin pernyataan bahwa iman bukanlah suatu kondisi yang stagnan, melainkan dinamis, harus didefinisikan lebih lanjut. Sebelum saya menanggapi pernyataan ini, saya ingin bertanya terlebih dahulu kepada Lisa: 1) Apakah definisi dari iman? 2) Apakah parameter yang menentukan bahwa seseorang mempunyai iman yang benar? 3) Darimana kita tahu bahwa parameter yang digunakan (jawaban no:2) adalah benar? 4) Kalau iman adalah sesuatu yang dinamis, dari mana orang dapat yakin bahwa iman yang dipercayainya saat ini adalah suatu kebenaran yang tetap?

b) Tentang ayat-ayat yang Lisa kutip (Rm 10:17; 2 Pet 1:5-6) adalah memang benar, dimana iman yang benar seharusnya menghasilkan buah-buah Roh Kudus. Dan saya sangat setuju untuk ajakan untuk bertekun dalam kesalehan – mungkin lebih tepat dalam kekudusan.

c) Kemudian anda menuliskan “Pengetahuan akan kebenaran bukan hanya milik Bapak Gereja, bukan juga milik Rasul-Rasul KRISTUS, pengetahuan akan kebenaran adalah kasih karunia kepada setiap orang-orang pilihan Allah

1) Memang benar sekali apa yang dikatakan Lisa bahwa pengetahuan akan kebenaran bukan hanya milik Bapa Gereja dan rasul-rasul Kristus. Bahkan Gereja Katolik mengajak semua anggota Gereja tanpa kecuali untuk hidup kudus (yang menjadi buah dari pengetahuan dan kebenaran).

2) Namun, bukankah menjadi suatu kenyataan bahwa kita juga “berhutang” (dalam tanda kutip) kepada rasul-rasul yang telah dipilih oleh Kristus sendiri, dan juga para Bapa Gereja dan Magisterium Gereja, yang membuat kita dapat mengenal kebenaran Wahyu Allah, seperti yang dituliskan di Alkitab? Tanpa mereka (para rasul, bapa Gereja, magisterium Gereja), bukankah kita tidak mempunyai Alkitab seperti yang kita kenal saat ini?

3) Kalau kebenaran adalah kasih karunia kepada setiap orang-orang pilihan Allah, apakah mungkin terjadi bahwa ada kebenaran yang saling bertentangan? Bukankah kalau saling bertentangan tidak mungkin keduanya benar, karena di dalam kebenaran tidak ada kontradiksi? Sebagai contoh: Dikatakan di Mt 24:36 “Tetapi tentang hari dan saat itu tidak seorangpun yang tahu, malaikat-malaikat di sorga tidak, dan Anakpun tidak, hanya Bapa sendiri” Apakah mungkin di antara umat beriman, ada yang mengatakan bahwa 1) Yesus tahu hari kiamat atau 2) Yesus tidak tahu hari kiamat. Jawabannya adalah “ya” dan “tidak”, dan tidak mungkin keduanya benar, karena keduanya saling bertentangan. Dalam hal ini, kalau kebenaran hanya masalah pribadi, antara kasih karunia Allah dan setiap umat beriman, maka seharusnya tidak boleh ada jawaban yang bertentangan, karena kasih karunia Allah tidak mungkin salah. Namun, kalau ada pertentangan, bukankah ini membuktikan bahwa masing-masing pribadi tidak dapat dijadikan tolak ukur kebenaran, karena masing-masing pribadi dapat salah menafsirkan ayat tersebut? Kalau demikian, bagaimana agar tidak terjadi pertentangan?

3) Lisa menuliskan “Orang percaya beriman kepada Tuhan YESUS KRISTUS. Bukan kepada Ajaran Gereja, bukan kepada Dogma Gereja atau apapun. Pengetahuan akan kebenaran itu pun terus bertumbuh sesuai dengan kasih karunia dan repson orang percaya

a) Pernyataan bahwa orang beriman kepada Tuhan Yesus Kristus adalah benar. Namun pertanyaannya adalah: Tuhan Yesus Kristus yang seperti apa? Yang tahu hari kiamat atau yang tidak tahu hari kiamat? Yang mempunyai satu akal budi atau dua akal budi? Yesus yang memperbolehkan baptis bayi atau tidak? Yesus yang menginstitusikan Sakramen Baptis sebagai syarat keselamatan atau tidak? Cobalah diskusikan dengan beberapa teman Lisa pertanyaan-pertanyaan tersebut. Kalau anda mendapatkan jawaban-jawaban yang berbeda-beda, maka pendapat siapa yang benar? Dan bagaimana Lisa menentukan bahwa jawaban A benar dan jawaban B salah.

b) Dikatakan bahwa pengetahuan dan kebenaran terus bertumbuh. Pengetahuan memang terus bertumbuh, dimana semakin kita diberikan rahmat oleh Allah dan kita terus berusaha belajar mendalami iman kita, maka kita akan mendapatkan pengetahuan yang lebih mendalam. Namun, apakah kebenaran terus bertumbuh? Apakah yang dimaksud kebenaran terus bertumbuh? Apakah mungkin suatu kebenaran dari “ya” menjadi “tidak” atau sebaliknya dari “tidak” menjadi “ya”? Sebagai contoh: Apakah kontrasepsi berdosa? Cobalah untuk menjawab pertanyaan ini dengan alur pemikiran yang Lisa berikan di point ini.

c) Lisa mengutip Ef 4:13 dan Rm 12:3 untuk mendukung bahwa setiap orang dapat mencapai kesatuan iman dan pengetahuan yang benar. Pertanyaan saya, kalau masing-masing orang pasti dapat mencapai kesatuan iman dan pengetahuan yang benar, mengapa jemaat di Korintus saling bertentangan, sehingga Rasul Paulus sampai mengatakan “Sebab pertama-tama aku mendengar, bahwa apabila kamu berkumpul sebagai Jemaat, ada perpecahan di antara kamu, dan hal itu sedikit banyak aku percaya.” (1 Kor 11:18). Dan bagaimana jemaat perdana memutuskan permasalahan tentang sunat di konsili Yerusalem? Bukankah mereka tidak dapat memutuskan mana yang benar secara sendiri-sendiri? Bukankah rasul Paulus juga mengatakan “Jadi jika aku terlambat, sudahlah engkau tahu bagaimana orang harus hidup sebagai keluarga Allah, yakni jemaat (Ecclesia = Gereja) dari Allah yang hidup, tiang penopang dan dasar kebenaran.” (1 Tim 3:15)

Kalau kita melihat dalam lingkup yang lebih luas, yaitu seluruh dunia, maka apakah yang menjadi pegangan kalau terjadi perbedaan doktrin atau pengajaran di dalam gereja-gereja yang mengklaim seluruh pengajarannya bersumber pada Alkitab? Bahkan ada yang mengklaim pengajarannya dari Alkitab (seperti saksi Yehuwa) tidak mempercayai bahwa Yesus adalah pribadi kedua dari Trinitas.

4) Lisa mengatakan “Dan pencarian akan kebenaran itu tidak akan mentok, karena Allah sendiri yang menjanjikan kesempurnaan kita

a) Silakan menjawab beberapa pertanyaan yang saya ajukan di atas, sehingga mungkin Lisa dapat melihat pencarian kebenaran dari sisi yang berbeda. 2 Yoh 1:3 mengatakan “Kasih karunia, rahmat dan damai sejahtera dari Allah Bapa, dan dari Yesus Kristus, Anak Bapa, akan menyertai kita dalam kebenaran dan kasih.” Pertanyaannya bukanlah keraguan kita akan kasih karunia Allah, namun apakah kita berada dalam kebenaran dan kasih. Karena kalau kita tidak mempunyai kebenaran dan kasih, maka kita tidak di dalam Kristus, karena Allah adalah kebenaran (lih. Yoh 14:6) dan kasih (lih. 1 Yoh 4:8).

b) Pencarian kebenaran memang harus ditempatkan lebih tinggi dari kepentingan pribadi. Namun, kebenaran yang seperti apa? Silakan melihat beberapa kasus yang saya ajukan di atas. Contoh yang lain adalah: umat Katolik percaya bahwa Yesus (tubuh, jiwa dan ke-Allahan-Nya) hadir dalam rupa roti dan anggur. Umat non-Katolik tidak mempercayainya. Namun, keduanya mengambil dasar dari Alkitab. Pertanyaannya adalah mana yang benar? Saya bukan hendak membahas topik ini, namun hanya mencoba memperlihatkan bahwa harus ada satu parameter untuk menentukan bahwa sesuatu tetap disebut benar, baik kita setuju maupun kita tidak setuju, karena kebenaran lebih tinggi dari diri kita masing-masing. Kalau kita hanya menganggap sesuatu adalah benar, karena kita merasa bahwa hal tersebut adalah benar, maka parameternya adalah diri kita sendiri, perasaan kita, yang mungkin dapat salah. Dan tentu saja, ini bukan parameter yang baik.

Pernyataan kebenaran tidak “mentok“, perlu dianalisa lebih jauh. Seperti yang saya sebutkan di point sebelumnya, apakah mungkin dari “ya” menjadi “tidak” dan dari “tidak” menjadi “ya”? Silakan melihat point 3b).

c) Lisa mengutip 1 Yoh 5:6 “Inilah Dia yang telah datang dengan air dan darah, yaitu YESUS KRISTUS, bukan saja dengan air, tetapi dengan air dan dengan darah. Dan Rohlah yang memberi kesaksian, karena Roh adalah kebenaran.” Namun, Roh yang sama juga menjadi Roh dari Gereja, karena Yesus sendiri mengatakan “22 Dan sesudah berkata demikian, Ia mengembusi mereka dan berkata: “Terimalah Roh Kudus. 23  Jikalau kamu mengampuni dosa orang, dosanya diampuni, dan jikalau kamu menyatakan dosa orang tetap ada, dosanya tetap ada.” Dan ini juga sesuai dengan apa yang dikatakan oleh Yesus kepada Petrus, yang menjadi Paus pertama “18. Dan Akupun berkata kepadamu: Engkau adalah Petrus dan di atas batu karang ini Aku akan mendirikan jemaat-Ku (Gereja-Ku) dan alam maut tidak akan menguasainya. 19.  Kepadamu akan Kuberikan kunci Kerajaan Sorga. Apa yang kauikat di dunia ini akan terikat di sorga dan apa yang kaulepaskan di dunia ini akan terlepas di sorga.” (Mt 16:18-19).

Oleh karena itu, kebenaran yang adalah Roh Allah berdiri dengan teguh di atas batu karang, atau Petrus – yang diteruskan oleh pengantinya, yaitu para paus – sehingga kebenaran tetap menjadi suatu kebenaran dan tidak dapat dibelokan, karena Yesus sendiri yang menjanjikan bahwa alam maut tidak menguasainya.

Sebagai kesimpulan, saya menyetujui bahwa Alkitab adalah sumber kebenaran dan merupakan wahyu Allah. Namun, Alkitab bukanlah satu-satunya sumber kebenaran, karena Alkitab sendiri tidak menyatakannya demikian. Bahkan Gereja ada terlebih dahulu dari Alkitab. Dan melalui kesaksian Bapa Gereja (Tradisi Suci) dan keputusan konsili-konsili (Magisterium Gereja), maka Kitab Suci dapat menjadi sumber kebenaran seperti yang kita kenal saat ini. Tanpa adanya Tradisi Suci dan Magisterium Gereja, maka kita tidak mengenal Alkitab sebagai sumber kebenaran. Kalau Gereja dapat menentukan kitab-kitab mana yang menjadi bagian dari Alkitab, maka apa yang menghalangi Gereja untuk menginterpretasikan Alkitab, sehingga ada kesatuan doktrin bagi seluruh umat beriman? Bukankah Yesus sendiri yang menjanjikan bahwa alam maut tidak akan menguasai Gereja, yang berarti Gereja dapat menjadi pilar kebenaran (lih. 1 Tim 3:15)? Oleh karena itu, kebenaran bukanlah hanya “saya” dan “Alkitab”. Kalau demikian halnya, maka akan terjadi begitu banyak perpecahan, seperti yang telah dibuktikan oleh sejarah.

Semoga Lisa dapat melihat bahwa ada dasar yang kuat kalau Gereja Katolik mengatakan bahwa ada tiga pilar kebenaran, yang terdiri dari Kitab Suci, Tradisi Suci, dan Magisterium Gereja.

Saya ingin menyarankan agar Lisa juga dapat membaca artikel tentang Gereja Katolik di sini (silakan klik). Mari kita bersama-sama berjuang untuk senantiasa hidup dalam kebenaran dan kasih.

Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
stef – www.katolisitas.org

Share.

About Author

Stefanus Tay telah menyelesaikan program studi S2 di bidang teologi di Universitas Ave Maria - Institute for Pastoral Theology, Amerika Serikat.

19 Comments

  1. Dominicus Endy on

    Bapak Stef dan Ibu Inggrid,
    Bila saya berdiskusi dengan saudara kita protestan mereka menolak tradisi suci yang ada pada Katolik dan apa saja di katolik yang menurut mereka tidak ter sebut secara Ekplisit di Alkitab, dan hanya berpatokan pada Sola Scriptura/kitab suci saja, mereka berargumen “Jika memang Penting mangapa tidak disebutkan secara ekplisit?seharusnya jika penting disebutkan secara eksplisit di kitab suci, jadi jika tidak disebutkan berarti tidak penting “. Sebagai contoh: Api Pencucian, mereka beranggapan jika memang ada api pencucian seharusnya disebutkan secara eksplisit di Kitab Suci, walau saya sudah berargumen seperti artikel di Katolisitas tentang Api Pencucian namun tetap beranggapan jika tidak disebutkan di kitab suci berarti gak penting. bagaimana seharusnya saya berargumen lagi?Mohon penjelasannya. Saya sangat yakin argumen saya akan dapat diterima jika argumen saya pas karena perdebatan saya ini penuh dengan toleransi. yang saya sebut diatas hanya satu contoh saja masih banyak lagi yang lain yang tidak diakui. Terimkasih dan mohon jawabannya.

    • Shalom Dominicus,
      Terima kasih atas pertanyaannya. Kalau anda mau, silakan membaca dialog dengan beberapa orang di artikel ini – silakan klik. Di dalam dialog tersebut, kita dapat melihat pembahasan dari beberapa sudut. Kalau mereka menuntut untuk memberikan ayat secara eksplisit, mengapa Trinitas, Sola Scriptura, Sola Fide juga tidak disebutkan secara eksplisit di Alkitab? Dengan menggunakan argumentasi mereka, maka kita dapat mengatakan bahwa Trinitas, Sola Scriptura, Sola Fide adalah tidak penting. Kalau mereka menolak Tradisi Suci, bagaimana mereka dapat yakin bahwa Matius ditulis oleh rasul Matius? Bagaimana mereka dapat yakin bahwa keempat Injil adalah benar? Tentang Api Penyucian, silakan cari di fasilitas pencarian. Semoga dapat membantu.

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      stef – katolisitas.org

  2. thomas vernando on

    Kak, katanya Lukas 1:43 itu tidak begitu membantu karena TUHAN=ELOHIM tapi Tuhan=semacam sebutan atau gelar seperti di ayat tersebut.
    bagaimana menanggapi hal tersebut?
    terima kasih.

    • Shalom Thomas,

      Kalau seseorang tidak percaya bahwa Luk 1:43 tidak membantu untuk mengatakan bahwa Bunda Maria adalah Bunda Allah, maka silakan memberikan memberikan beberapa pertanyaan ini:

      1. Kalau dalam Luk 1:43 perkataan Tuhan atau Kurios, maka silakan juga menerangkan ayat-ayat padanan yang memakai kata Kurios ini: (Mat 1:22; Mat 5:33; Mar 5:19; Luk 1:6, Luk 1:28; Kis 7:33; Ibr 8:2; Yak 4:15; Mat 27:10; Mar 13:20; Luk 1:58; Kis 7:49; Rom 4:8; Ibr 7:21; 1Pet 1:25). Mengapa ayat-ayat tersebut dipercaya sebagai Tuhan sedangkan Luk 1:43 hanyalah merupakan sebutan tuan?

      2. Kalau memang kata tersebut diartikan sebagai tuan, siapakah tuan itu? Apakah tuan tersebut mengacu kepada Yesus atau bukan? Kalau Yesus, apakah dia percaya bahwa Yesus adalah Tuhan? Kalau dia percaya, apakah dia juga percaya bahwa Yesus yang adalah Tuhan ini dilahirkan oleh perawan Maria? Kalau dia percaya, maka disebut apakah ibu yang melahirkan Yesus, yang adalah Tuhan?

      3. Tanyakan, apakah ada di abad-abad awal sampai sekitar tahun 500, ada tulisan dari Bapa Gereja yang menolak bahwa Maria adalah Bunda Allah?

      4. Silakan menerangkan apa yang dipercaya para pendiri Protestant berikut ini:

      Martin Luther:

      “Rasul Paulus (Gal 4:4) mengatakan, “Tuhan mengutus Anak-Nya, yang lahir dari seorang perempuan.” Perkataan ini yang kupegang sebagai kebenaran, sungguh- sungguh menegaskan dengan teguh bahwa Maria adalah Bunda Allah.”[92]

      “Konsili tersebut [Efesus] tidak menyampaikan sesuatu yang baru tentang iman, tetapi telah memperkuat iman lama, melawan kesombongan baru Nestorius. Artikel iman ini- bahwa Maria adalah Bunda Allah- sudah ada di dalam Gereja sejak awal dan bukan merupakan kreasi baru dari Konsili, tetapi presentasi dari Injil dan Kitab Suci.”[93]

      “Ia [Maria] layak disebut tidak saja sebagai Bunda Manusia, tetapi juga Bunda Allah … Adalah pasti bahwa Maria adalah Bunda dari Allah yang nyata dan sejati.”[94]

      John Calvin:

      “Elisabet memanggil Maria Bunda Allah, karena kesatuan kedua kodrat dalam pribadi Kristus adalah sedemikian sehingga manusia yang mortal yang ada dalam rahim Maria adalah juga pada saat yang sama Allah yang kekal.”[108].

      Zwingli:

      “Telah diberikan kepada-Nya apa yang tidak dimiliki oleh ciptaan yang lain, bahwa di dalam dagingnya, Ia melahirkan Allah Putera.”[113]

      “Aku sangat yakin bahwa Maria, sesuai dengan perkataan Injil sebagai seorang Perawan murni yang melahirkan bagi kita Putera Allah dan pada saat melahirkan dan setelah melahirkan selamanya tetap murni, tetap perawan.[114]

      Semoga pertanyaan-pertanyaan tambahan ini dapat memperjelas.

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      stef – katolisitas.org

  3. Shalom Bpk Steve, Ibu Ingrid dan team Katolisitas

    kalau mau lihat dasar gereja yang benar bacalah Efesus 2:19 – 21:

    “Demikianlah kamu bukan lagi orang asing dan pendatang, melainkan kawan sewarga dari orang-orang kudus dan anggota-anggota keluarga Allah,yang dibangun di atas dasar para rasul dan para nabi, dengan KRISTUS YESUS sebagai batu penjuru. Di dalam Dia tumbuh seluruh bangunan, rapi tersusun, menjadi bait Allah yang kudus, di dalam Tuhan.”

    1. Anggota keluarga Allah dibangun diatas dasar para rasul dan nabi berarti jemaat Tuhan sekarang hanya berdiri diatas landasan wahyu yang ditulis oleh para rasul dan nabi yaitu Alkitab.Tidak ada lagi nabi dan rasul yang baru apalagi wahyu baru.
    2. Disini jelas batu penjurunya adalah KRISTUS YESUS bukan Petrus maupun gereja yang didirikan diatas makamnya Petrus
    3. Rasul disebut terlebih dahulu ketimbang nabi menunjukkan bahwa PL telah digenapi didalam PB,oleh karena itu untuk mengerti PL dengan benar harus berdasarkan prinsip prinsip yang ada didalam PB.
    4. Gereja bukanlah organisasi dan gedung melainkan tubuh KRISTUS yaitu orang orangnya,yaitu semua mereka yang terpanggil dan dikhususkan bagi Tuhan.Gereja tidak boleh mengingkari apa yang menjadi dasar dasar berdirinya gereja yaitu Alkitab. Kalau hanya aspek organisasi boleh diatur didalam tradisi.
    5. Iman yang hidup seperti yang anda sebutkan tidak berasal dari gereja melainkan dari pendengaran akan Firman Tuhan yang tertulis didalam Alkitab. Oleh karena itu gereja wajib memberitakan dan mengajarkan Firman kepada para anggotanya.
    6. Tradisi gereja hasil kreasi manusia wajib tunduk kepada kebenaran Alkitab karena Alkitab adalah Firman Allah sendiri yang hidup dan berotoritas mutlak.
    7. Pertumbuhan iman sekali gus pertumbuhan gereja yang benar hanyalah berdasarkan aplikasi kebenaran Alkitab didalam kehidupan gereja mereka (2 Kor.10:14,15).
    8. Tradisi gereja hanya bersifat sementara didunia ini saja tetapi Firman Tuhan adalah kekal selama-lamanya (Mazmur 119:89 ; I Petrus 1:24-25).
    9. Pada akhir jaman manusia dihakimi bukan dengan tradisi gereja melainkan oleh Firman Tuhan demikianlah sabda YESUS didalam Yoh.12:47,48 sbb:
    “Dan jikalau seorang mendengar perkataan-Ku, tetapi tidak melakukannya, Aku tidak menjadi hakimnya, sebab Aku datang bukan untuk menghakimi dunia, melainkan untuk menyelamatkannya. Barangsiapa menolak Aku, dan tidak menerima perkataan-Ku, ia sudah ada hakimnya, yaitu firman yang telah Kukatakan, itulah yang akan menjadi hakimnya pada akhir zaman.”
    10. Firman yang tertulis adalah representasi dari Firman yang Hidup yaitu
    KRISTUS,karena semua wahyu berasal dari hembusan nafas Allah sebagaimana juga kehidupan manusia pertama.Tidak ada satu ayatpun didalam alkitab yang tidak diwahyukan melaui ROH KUDUS.

    Terimakasih

    • Shalom Tristan,

      Terima kasih atas sanggahannya. Namun, sanggahan-sanggahan seperti ini tidaklah dapat memberikan dialog yang mendalam, karena ada beberapa hal yang telah didiskusikan tidak dilanjutkan, seperti diskusi di artikel ini – silakan klik. Oleh karena itu, saya pindahkan komentar anda di tanya jawab ini. Berikut ini adalah tanggapan yang dapat saya berikan:

      1. Anda mengatakan “Anggota keluarga Allah dibangun diatas dasar para rasul dan nabi berarti jemaat Tuhan sekarang hanya berdiri diatas landasan wahyu yang ditulis oleh para rasul dan nabi yaitu Alkitab.Tidak ada lagi nabi dan rasul yang baru apalagi wahyu baru.” Gereja Katolik mengimani bahwa tidak ada wahyu yang baru setelah tertulisnya kitab Wahyu.

      2. Anda mengatakan “Disini jelas batu penjurunya adalah KRISTUS YESUS bukan Petrus maupun gereja yang didirikan diatas makamnya Petrus” Di ayat ini memang dijelaskan bahwa Kristus adalah merupakan batu penjuru. Namun, bagaimana anda menjelaskan ayat Mt 16:16-19? Bahwa Gereja dididirikan di atas Petrus tidaklah bertentangan dengan ayat Ef 2:20, karena Gereja yang didirikan di atas Petrus mempunyai kepala yang sama seperti yang disebutkan di Ef 2:20, yaitu Kristus sendiri. Gereja Katolik tidak pernah mengklaim bahwa Gereja Katolik terpisah dari Kristus, karena Kristus adalah Kepala Gereja, dengan Roh Kudus yang menjadi jiwa Gereja.

      3. Anda mengatakan “Rasul disebut terlebih dahulu ketimbang nabi menunjukkan bahwa PL telah digenapi didalam PB,oleh karena itu untuk mengerti PL dengan benar harus berdasarkan prinsip prinsip yang ada didalam PB.” Semua ajaran dari Gereja Katolik tidak mungkin bertentangan dengan Alkitab. Kalau Gereja ada terlebih dahulu dari Alkitab dan menjadi pilar kebenaran (lih 1Tim 3:15), maka untuk mengerti secara benar apa yang ditulis di dalam PL dan PB, maka kita harus mendengarkan Gereja. Kalau Alkitab adalah sesuatu yang tidak mungkin salah, bagaimana mungkin yang menentukan dapat salah? Apakah sesuatu yang dapat salah dapat menentukan sesuatu yang tidak dapat salah? Kalau demikian, tidak mungkin ada keyakinan yang pasti bahwa sesuatu yang tidak dapat salah tersebut (Alkitab) adalah benar-benar tidak dapat salah, karena dihasilkan oleh sesuatu yang dapat salah (Gereja Katolik).

      4. Anda mengatakan “Gereja bukanlah organisasi dan gedung melainkan tubuh KRISTUS yaitu orang orangnya,yaitu semua mereka yang terpanggil dan dikhususkan bagi Tuhan.Gereja tidak boleh mengingkari apa yang menjadi dasar dasar berdirinya gereja yaitu Alkitab. Kalau hanya aspek organisasi boleh diatur didalam tradisi.” Gereja Katolik senantiasa melihat dualitas dari kodrat Gereja, yaitu sebagai cara (means) dan tujuan (end). Dualitas ini adalah tak terpisahkan seperti kodrat Yesus, yang sungguh Allah dan sungguh manusia. Di artikel tentang tonggak kebenaran di sini – silakan klik, maka anda dapat membaca:

      Gereja sebagai tujuan akhir hidup manusia

      (lih. Ef 1:9-10, Kol 1:15-20,26-27; 1Kor 2:7, Lumen Gentium 2, KGK 760-764)

      Pada saat penciptaan dunia, Allah telah merencanakan untuk mengangkat manusia ke dalam kehidupan Ilahi. Namun rencana persatuan Ilahi ini terhalang oleh karena dosa Adam yang kemudian diturunkan kepada semua manusia. Karenanya Allah terus menerus mengutus para nabi untuk membawa manusia kembali kepadaNya, hingga akhirnya Ia mengutus Putera-Nya sendiri yaitu Yesus Kristus menjadi tebusan atas dosa-dosa manusia, supaya tidak ada lagi penghalang antara manusia dengan Allah.

      Di dalam diri Kristus, Allah yang tidak kelihatan menyatakan diriNya dan Kristus menjadi yang sulung dari segala ciptaan. Segala sesuatu diciptakan di dalam Kristus, Sang Firman, (Yoh 1:1), oleh Kristus, dan untuk Kristus. Ialah kepala tubuh, yaitu jemaat (lih. Kol 1:15-18, Ef 1:9-10). Karenanya, sudah sejak awal mula Allah telah merencanakan penggabungan jemaat dengan Kristus sebagai kepala yang kemudian dikenal sebagai ‘Gereja’. Rasul Paulus mengajarkan bahwa pada mulanya Allah menentukan orang-orang yang dipilihNya untuk menjadi serupa dengan Kristus Putera-Nya, supaya Kristus menjadi yang sulung dari banyak saudara (lih. Rom 8:29). Nah, kesatuan semua manusia dengan Yesus sebagai yang sulung inilah yang disebut Gereja.

      Maka kalau ada orang bertanya pada kita sejak kapan Gereja direncanakan oleh Allah, kita dapat mengatakan bahwa Gereja sudah direncanakan sejak penciptaan dunia. Hanya saja pada waktu itu (di dalam Kitab Kejadian) belum secara eksplisit disebut sebagai ‘Gereja’. Persekutuan manusia dalam ‘wadah’ Gereja ini dipersiapkan oleh Allah melalui pembentukan bangsa Israel di masa Perjanjian Lama hingga tiba waktunya Kristus sendiri menyempurnakannya oleh kuasa Roh Kudus pada Perjanjian Baru, yang merupakan penggenapan Perjanjian Lama. Pada akhir zaman, Gereja akan mencapai kesempurnaannya, di mana semua orang benar sepanjang segala abad akan dipersatukan dengan Allah sendiri.

      Nyatalah, sebagai tujuan akhir hidup manusia, Gereja bersifat Ilahi, sebab di dalamnya manusia dipersatukan dengan Allah. Persekutuan kudus dengan Allah ini membawa manusia pada persekutuan dengan para orang kudus sepanjang zaman, karena semua orang kudus tersebut bersekutu dengan Allah, dan juga, karena kematian tidak dapat memisahkan kita dari kasih Kristus (Rm 8:38). Persekutuan kudus ini pula yang menjelaskan, bahwa hanya ada satu Gereja, karena hanya ada satu Tubuh Mistik Kristus, yang terdiri dari kita yang masih berziarah di dunia ini, mereka yang sudah mulia di surga, dan mereka yang sebelum masuk ke surga masih dimurnikan di Api Penyucian.[4] Kedua dimensi persekutuan ini –yaitu persekutuan dengan Allah dan dengan para kudusNya- menunjukkan sifat ilahi dari Gereja, yang membedakannya dari organisasi apapun di dunia.

      Gereja sebagai sarana untuk mencapai tujuan akhir hidup manusia

      (lih. Ef 4:7,12-16, 1 Tim 3:15, LG 1, 4, KGK 765-768)

      Sekarang, mari kita lihat peran Gereja sebagai sarana menuju tujuan akhir manusia. Kristus telah datang ke dunia untuk menebus dosa-dosa kita, supaya kita beroleh keselamatan dan dapat dipersatukan dengan Allah. Untuk itu, Kristus mendirikan Gereja-Nya pada hari Pentakosta oleh kuasa Roh Kudus, supaya oleh Roh yang sama Ia senantiasa dapat menguduskan Gereja-Nya, untuk membawa umat manusia kepada keselamatan dalam persekutuan dengan Allah Bapa. Ini adalah suatu karunia rahmat, bukan usaha manusia sendiri. Karunia keselamatan ini diberikan melalui perantaraan Gereja, yang adalah Tubuh Kristus, sehingga Gereja juga disebut ‘sakramen keselamatan,’[5] yaitu tanda/ sarana untuk menyalurkan rahmat keselamatan dari Tuhan. Perlu kita ingat bahwa Kristus sendiri adalah Sakramen (Tanda) Kasih Allah, dan Gereja adalah sakramen Kristus. Dengan demikian, Gereja sebagai tanda Kasih Allah terjadi karena hubungan Gereja dengan Kristus.

      Sebagai ‘sakramen’, Gereja terus-menerus menghadirkan secara nyata karya keselamatan Kristus oleh kuasa Roh Kudus. Kristus terus menerus hadir dan berperan aktif dengan cara yang kelihatan di dalam dan melalui Gereja-Nya yang dibimbing oleh Roh Kudus. Jadi di dalam GerejaNya, Kristus sendirilah yang mengajar, menguduskan, dan melayani Gereja melalui para uskup. Hal ini sesuai dengan janjiNya kepada para rasul, “Engkau akan menerima kuasa Roh Kudus…. dan engkau akan menjadi saksi-saksiKu di Yerusalem….” (Kis 1:8). Telah menjadi kehendak Yesus bahwa setelah kenaikanNya ke surga, Ia akan tetap berkarya di dalam Gereja, agar kita diberi kasih karunia untuk keperluan pembangunan Tubuh-Nya sampai kita bertumbuh sesuai dengan kepenuhan Kristus (lih. Ef 4:7,12-13). Yesus berkarya melalui perantaraan manusia yang dipilihNya, yaitu para rasul dan penerus mereka yaitu para uskup, yang secara turun temurun diurapi dengan kuasa Roh KudusNya sendiri.[6]

      Jelaslah bahwa selain dijiwai oleh Tuhan Yesus, Gereja juga melibatkan peran serta manusia, misalnya, Gereja dipimpin oleh manusia (Paus dan para uskup, imam), beranggotakan kita manusia, yang kesemuanya tidak terlepas dari dosa. Karenanya, Tuhan menyediakan sarana pengudusan, di mana Ia sendiri yang bertindak menguduskan lewat perantaraan para imam-Nya melalui sakramen-sakramen. Melalui sakramen, rahmat Tuhan yang tidak kelihatan disalurkan melalui simbol-simbol yang kelihatan. Maka dalam dimensi manusiawi ini terdapat dua hal yang penting, yaitu hal kepemimpinan/ struktur Gereja dan hal sakramen sebagai saluran rahmat Tuhan yang melibatkan perantaraan manusia dan benda-benda lahiriah.

      Tanpa dua hal tersebut di atas, maka unsur Gereja menjadi tidak lengkap. Gereja yang tanpa unsur cara (means) – hirarki, sakramen, dll – tidak akan dapat mempunyai persatuan. Gereja yang bukan sebagai tujuan dan hanya sebagai cara hanyalah menjadi organisasi sosial belaka. Kalau pada point ini, anda ingin menekankan bahwa semua denominasi tergabung dalam tubuh mistik Kristus yang tidak terlihat, maka argumentasi anda akan menjadi kuat kalau anda dapat menunjukkan kesatuan umat Allah, yang mempunyai kesatuan pengajaran.

      5. Anda mengatakan “Iman yang hidup seperti yang anda sebutkan tidak berasal dari gereja melainkan dari pendengaran akan Firman Tuhan yang tertulis didalam Alkitab. Oleh karena itu gereja wajib memberitakan dan mengajarkan Firman kepada para anggotanya.” Inilah yang dilakukan oleh Gereja Katolik, yaitu menjaga agar pesan Alkitab dapat disampaikan secara murni dari generasi ke generasi. Mengikuti argumentasi anda, bagaimana anda menjelaskan akan pengajaran kehadiran Kristus secara nyata dalam Ekaristi oleh Martin Luther dan kemudian mayoritas dari denominasi mengajarkan Perjamuan Suci hanyalah sebagai simbol belaka. Kalau demikian, manakah pengajaran yang benar dan manakah yang harus dipercaya oleh anggotanya?

      6. Anda mengatakan “Tradisi gereja hasil kreasi manusia wajib tunduk kepada kebenaran Alkitab karena Alkitab adalah Firman Allah sendiri yang hidup dan berotoritas mutlak.” Untuk sampai pada kesimpulan ini, maka anda harus mendefinisikan apakah yang disebut tradisi (dengan “t” kecil) dan Tradisi (dengan”t” besar). Bahkan sebenarnya, kalau kita mengerti Tradisi, maka Alkitab justu menjadi Alkitab yang kita kenal seperti sekarang ini karena adanya Tradisi Suci yang berkembang. Kalau anda bersikeras mengatakan bahwa Tradisi Gereja adalah hasil kreasi manusia belaka dan mungkin bertentangan dengan Alkitab, maka silakan menunjukkan satu Tradisi Gereja yang bertentangan dengan Alkitab. Dan saya akan mencoba menjawab bahwa semua Tradisi Suci tidak mungkin bertentangan dengan Alkitab.

      7. Anda mengatakan “Pertumbuhan iman sekali gus pertumbuhan gereja yang benar hanyalah berdasarkan aplikasi kebenaran Alkitab didalam kehidupan gereja mereka (2 Kor.10:14,15).Kalau demikian, bagaimana anda menerangkan perbedaan dogma dari Ekaristi yang dipercayai oleh Martin Luther dan demominasi saat ini, dan bagaimana menjelaskan Martin Luther, Calvin yang percaya Maria tetap perawan, namun ditolak oleh hampir semua denominasi Kristen? Bagaimana anda menerangkan aplikasi kebenaran Alkitab dalam kondisi seperti ini?

      8. Anda mengatakan “Tradisi gereja hanya bersifat sementara didunia ini saja tetapi Firman Tuhan adalah kekal selama-lamanya (Mazmur 119:89 ; I Petrus 1:24-25).” Kalau anda ingin mengkontradiksi anda Tradisi Suci dengan Alkitab, maka sebenarnya kita harus mendiskusikan tentang apa yang disebut Tradisi Suci. Kalau memang and setuju bahwa Firman Allah adalah kekal, maka ayat ini juga kekal adanya “Sebab itu, berdirilah teguh dan berpeganglah pada ajaran-ajaran yang kamu terima dari ajaran-ajaran yang kamu terima dari kami, baik secara lisan, maupun secara tertulis.” (2Tes 2:15). Jadi, berpeganglah pada apa yang tertulis di Alkitab dan apa yang diajarkan oleh Gereja secara turun temurun atau yang merupakan Tradisi Suci.

      9. Anda mengatakan “Pada akhir jaman manusia dihakimi bukan dengan tradisi gereja melainkan oleh Firman Tuhan” Yang menjadi masalah dengan pernyataan ini adalah mempunyai konotasi bahwa Tradisi Suci bertentangan dengan Alkitab. Kalau kita harus berpegang pada Alkitab (secara tertulis) dan Tradisi Suci (secara lisan) seperti yang disebutkan di 2Tes 2:15, maka bagaimana mungkin dari ayat yang sama, dapat memberikan kontradiksi?

      10. Anda mengatakan “Firman yang tertulis adalah representasi dari Firman yang Hidup yaitu KRISTUS,karena semua wahyu berasal dari hembusan nafas Allah sebagaimana juga kehidupan manusia pertama.Tidak ada satu ayatpun didalam alkitab yang tidak diwahyukan melaui ROH KUDUS.” Amin. Gereja Katolik tidak menolak, bahkan mengajarkan bahwa Alkitab ditulis dengan inspirasi Roh Kudus. Namun, Alkitab tidak pernah menuliskan bahwa Alkitab sajalah yang menjadi satu-satunya pilar kebenaran.

      Komentar ini sebenarnya banyak pengulangan dari diskusi tentang Wahyu Allah dan kebenaran di sini – silakan klik. Saya tidak tahu mengapa anda tetap mengajukan argumentasi yang sebenarnya mirip-mirip dengan apa yang telah didiskusikan sebelumnya. Dalam point-point yang anda berikan, maka anda perlu memberikan argumentasi bahwa Tradisi Suci yang menjadi salah satu pilar kebenaran adalah bertentangan dengan Alkitab. Oleh karena itu, anda perlu menunjukkan salah satu Tradisi Suci dari Gereja Katolik yang bertentangan dengan Alkitab dan lebih baik kalau anda juga dapat memberikan definisi Tradisi Suci. Tanpa argumentasi ini, maka diskusi tidak dapat berkembang dengan baik. Bahwa Alkitab diinspirasikan oleh Roh Kudus dan menjadi pilar kebenaran tidaklah perlu dibahas, karena Gereja Katolik mengajarkan hal yang sama. Jadi, berfokuslah pada perbandingan Tradisi Suci dan Alkitab. Pada akhirnya dua pertanyaan mendasar yang perlu anda buktikan – kalau anda percaya akan Sola Scriptura adalah: 1) Silakan memberikan ayat dan esensi di Alkitab yang mengatakan bahwa Alkitablah satu-satunya (sola) pilar kebenaran. 2) Kalau memang benar pengajaran Sola Scriptura, maka mengapa terjadi perpecahan sampai 28,000 denominasi? Pertanyaan ini begitu mendasar untuk mengkaji pengajaran Sola Scriptura. Kalau anda hendak menghubungkan dengan Alkitab dengan Tradisi Suci, maka pertanyaannya adalah: Apakah anda setuju bahwa Gereja ada terlebih dahulu sebelum ada Alkitab yang kita saat ini? Kalau demikian, bagaimana jemaat pertama (sebelum tahun 100) hidup dan berdasarkan apakah? Siapakah yang menentukan buku-buku di dalam Alkitab? Bagaimanakah kita tahu bahwa Matius menuliskan Injil Matius? Silakan untuk memikirkan pertanyaan-pertanyaan tersebut. Setelah anda menjawab semua pertanyaan yang saya ajukan, maka kita dapat melanjutkan diskusi ini. Semoga dapat diterima.

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      stef – katolisitas.org

      • John Henry Newman on

        Syallom, Katolisitas
        saya bertanya bagaimana keselamatan tokoh-tokoh iman di PL, waktu itu kan belum ada gereja, sakramen dan alkitab, tradisi suci dan magisterium dan bagaimana penjahat yang disalib disebelah Tuhan Yesus, ia hanya mengatakan kepada Yesus ingat kepada Ia, bila Ia datang sebagai raja, Tuhan Yesus malah bilang hari ini juga engkau ada bersama aku di Firdaus, ia selamat langsung dan Tuhan sendiri yang bicara pada dia.
        Dan bagaimana perumpamaan Tuhan Yesus tentang Lazarus dan orang kaya? di situ tidak ada disinggung sama sekali tentang api penyucian. Lazarus selamat dan orang kaya binasa.

        • Shalom John Henry Newman,

          Mengenai kisah orang kaya dan Lazarus, sudah pernah dibahas di sini, silakan klik. Di sana disebutkan adanya tempat/ kondisi yang disebutkan sebagai pangkuan Abraham (Luk 16:22), yaitu tempat jiwa- jiwa orang benar menikmati kebersamaan dengan para malaikat sambil menantikan kedatangan Kristus. Sedangkan tentang penjahat yang disalib di sebelah kanan Yesus, sudah pernah dibahas di sini, silakan klik.

          Perikop- perikop tersebut memang tidak langsung mengisahkan tentang Api Penyucian, karena Tuhan Yesus tidak mengajarkan segala sesuatunya secara sekaligus dalam suatu perikop. Ia mengajar dengan perumpamaan dalam banyak kesempatan, dan masing- masing kisah menyampaikan makna tertentu, tidak semua hal disampaikan dari satu perumpamaan. Demikian, maka untuk hal Api Penyucian, kita harus melihat kepada ayat- ayat lainnya dalam Kitab Suci, seperti sudah pernah dibahas di sini, silakan klik.

          Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
          Ingrid Listiati- katolisitas.org

      • Tristan menulis:
        “Anggota keluarga Allah dibangun diatas dasar para rasul dan nabi berarti jemaat Tuhan sekarang hanya berdiri diatas landasan wahyu yang ditulis oleh para rasul dan nabi yaitu Alkitab.Tidak ada lagi nabi dan rasul yang baru apalagi wahyu baru.”

        Kenyataannya:
        Kalau membaca tulisan tulisan anda, saya menyimpulkan anda berasal dari gereja Karismatik pentacostal, Coba anda bandingkan dengan gereja anda : betapa seringnya para pendeta mengklaim mereka bernubuat, bahkan jemaat pun bisa mengklaim mendapatkan nubuat. Lihat, betapa banyak pendeta menjadi nabi nabi baru di jaman sekarang dengan diagung agungkan oleh jemaat, seolah olah melebihi Tuhan, Bakan nubuat diakui sebagai karunia Roh Kudus yang bisa disampaikan langsung di depan jemaat.Apakah ini tidak menjadikan gereja anda sebagai gereja yang menurunkan wahyu wahyu baru? Lihat, betapa tidak konsisten apa yang anda tulis dengan gereja yang anda ikuti. Dan kalau mau tahu , inilah yang menyebabkan mengapa gereja terus terpecah pecah. Sayang , kalau gereja anda didasarkan pada pengajaran para nabi dan para rasul, maka kalian akan tetap berada dalam Gereja Katolik. Sdr, jangan melihat kuman diseberang lautan , tapi gajah di pelupuk mata sdr tidak kelihatan bagi sdr. Belajarlah Konsisten.

    • Shalom Tristan,

      Anda menulis di atas:
      4. Gereja bukanlah organisasi dan gedung melainkan tubuh KRISTUS yaitu orang orangnya,yaitu semua mereka yang terpanggil dan dikhususkan bagi Tuhan.Gereja tidak boleh mengingkari apa yang menjadi dasar dasar berdirinya gereja yaitu Alkitab. Kalau hanya aspek organisasi boleh diatur didalam tradisi.

      Komentar saya:
      Dengan jelas sekali Anda menulis bahwa dasar berdirinya gereja yaitu Alkitab. Berarti, menurut Anda: gereja ada karna Alkitab, Alkitablah yang terlebih dahulu ada daripada gereja.
      Sedangkan menurut pemahaman saya, justru sebaliknya: Gereja Katoliklah yang terlebih dahulu ada daripada Alkitab. Karna, setelah peristiwa Pentakosta, maka mulai terbentuklah Gereja Katolik – yang pemimpinnya adalah Rasul Petrus – baru di banyak tahun berikutnya, kitab-kitab Perjanjian Baru ditulis. Dan, baru pada abad ke-4 Masehi, kanon-kanon kitab itu ditetap sebagaimana Alkitab yang ada pada saat ini. Jadi, bingung aku, bagaimana bisa Alkitab dianggap terlebih dahulu ada daripada Gereja. Jadi, semakin bingung aku, bagaimana bisa di abad ke-21 Masehi ini muncul anggapan bahwa Alkitablah yang menjadi dasar berdirinya Gereja.

      Baiklah, kalau begitu… Kalau Anda tetap dengan pendapat bahwa dasar berdirinya Gereja adalah Alkitab, kalau Anda tetap dengan pendapat bahwa Alkitablah yang menentukan adanya Gereja, maka cobalah Anda renungkan baik-baik jawaban Pak Stef ini: “Kalau Alkitab adalah sesuatu yang tidak mungkin salah, bagaimana mungkin yang menentukan dapat salah? Apakah sesuatu yang dapat salah dapat menentukan sesuatu yang tidak dapat salah? Kalau demikian, tidak mungkin ada keyakinan yang pasti bahwa sesuatu yang tidak dapat salah tersebut (Alkitab) adalah benar-benar tidak dapat salah, karena dihasilkan oleh sesuatu yang dapat salah (Gereja Katolik).”

      Salam kasih dalam Tuhan Yesus,
      Lukas Cung

  4. [dari katolisitas: karena diskusi ini adalah antara Lisa dan Stef, maka perkaaan "Ibu" saya ganti dengan "Stef", sehingga tidak membingungkan]

    Stef menuliskan:
    Tradisi Suci dan Kitab Suci tidak akan pernah bertentangan. Pengajaran para rasul seperti Allah Tritunggal, Api penyucian, Keperawanan Maria, telah sangat jelas diajarkan melalui Tradisi dan tidak bertentangan dengan Kitab Suci, meskipun hal-hal itu tidak disebutkan secara eksplisit di dalam Kitab Suci. Janganlah kita lupa, bahwa Kitab Suci sendiri mengajarkan agar kita memegang teguh Tradisi yang disampaikan kepada kita secara tertulis ataupun lisan (2Tes 2:15, 1Kor:2).
    Juga perlu kita ketahui bahwa Tradisi Suci bukanlah kebiasaan-kebiasaan seperti doa rosario, berpuasa setiap hari Jumat, ataupun selibat para imam. Walaupun semua kebiasaan tersebut baik, namun hal-hal tersebut bukanlah doktrin. Tradisi Suci meneruskan doktrin yang diajarkan oleh YESUS kepada para rasulNya yang kemudian diteruskan kepada Gereja di bawah kepemimpinan penerus para rasul, yaitu para Paus dan uskup.

    tanggapan saya:
    Keperawanan Maria bukanlah ajaran, melainkan memang kenyataan yg sederhana, karena KRISTUS bukan dari benih manusia
    Doa Rosario, tidak ada dalam ajaran KRISTUS, berdoa kepada Bapa di Surga dalam Nama Tuhan YESUS

    Begitu pula puasa di hari Jumat? , puasa dihari Senin sampai Jumat, tidak benarkah?

    Apalagi hidup selibat para imam?, Rasul Petrus tidak konsekuen dong? Lihat pada Kotbah di Bukit dan ketika Tuhan YESUS naik ke Sorga, ada berpesan kepada murid-muridnya, hiduplah secara selibat?
    ———————————
    Stef menuliskan:
    2) Kitab Suci
    Allah memberi inspirasi kepada manusia yaitu para penulis suci yang dipilih Allah untuk menuliskan kebenaran. Allah melalui Roh KudusNya berkarya dalam dan melalui para penulis suci tersebut, dengan menggunakan kemampuan dan kecakapan mereka. “Oleh sebab itu, segala sesuatu yang dinyatakan oleh para pengarang yang diilhami tersebut, harus dipandang sebagai pernyataan Roh Kudus. Jadi jelaslah bahwa Kitab Suci yang mencakup Perjanjian Lama dan Baru adalah tulisan yang diilhami oleh Allah sendiri (2Tim 3:16). Kitab-kitab tersebut mengajarkan kebenaran dengan teguh dan setia, dan tidak mungkin keliru. Karena itu, Allah menghendaki agar kitab-kitab tersebut dicantumkan dalam Kitab Suci demi keselamatan kita.
    Mungkin ada orang Protestan yang berkata bahwa keselamatan mereka diperoleh melalui Kitab Suci saja. Namun, jika kita mau jujur, kita akan melihat bahwa hal itu tidak pernah diajarkan oleh Kitab Suci itu sendiri. Malah yang ada adalah sebaliknya, bahwa Kitab Suci tidak boleh ditafsirkan menurut kehendak sendiri (2Pet 1:20-21) sebab ada kemungkinan dapat diartikan keliru (2Pet 3:15-16). Gereja pada abad-abad awal juga tidak menerapkan teori ini. Teori ‘hanya Kitab Suci’ atau ‘Sola Scriptura’ ini adalah salah satu inti dari pengajaran pada zaman Reformasi pada tahun 1500-an, yang jika kita teliti, malah tidak berdasarkan Kitab Suci.
    Pada kenyataannya, Kitab Suci tidak dapat diinterpretasikan sendiri-sendiri, karena dapat menghasilkan pengertian yang berbeda-beda. Sejarah membuktikan hal ini, di mana dalam setiap tahun timbul berbagai gereja baru yang sama-sama mengklaim “Sola Scriptura” dan mendapat ilham dari Roh Kudus. Ini adalah suatu kenyataan yang memprihatinkan, karena menunjukkan bahwa pengertian mereka tentang Kitab suci berbeda-beda, satu dengan yang lainnya. Jika kita percaya bahwa Roh Kudus tidak mungkin menjadi penyebab perpecahan (lih. 1Kor14:33) dan Allah tidak mungkin menyebabkan pertentangan dalam hal iman, maka kesimpulan kita adalah: “Sola Scriptura” itu teori yang keliru.

    Tanggapan saya:
    Tidak ada Teolog Protestan yang mengatakan bahwa keselamatan mereka diperoleh melalui Kitab Suci saja. Sola Gracia berbeda dengan Sola Scriptura
    Keselamatan itu hanya karena kasih karunia saja
    Berarti Stef juga tidak memahami esensi dari Protestan

    Dan Sola Scriptura bukanlah teori

    Melainkan “ajakan” untuk kembali ke Alkitab saja, tidak dicampur2 dengan mitos, filsafat Plato dan Sinkritisme “agama babel”
    ——————————–
    Stef menuliskan:
    3) Magisterium (Wewenang mengajar) Gereja
    Dari uraian di atas, kita mengetahui pentingnya peran Magisterium yang “bertugas untuk menafsirkan secara otentik Sabda Allah yang tertulis atau diturunkan itu yang kewibawaannya dilaksanakan dalam nama YESUS KRISTUS.”
    Magisterium ini tidak berada di atas Sabda Allah, melainkan melayaninya, supaya dapat diturunkan sesuai dengan yang seharusnya. Dengan demikian, oleh kuasa Roh Kudus, Magisterium yang terdiri dari Bapa Paus dan para uskup pembantunya [yang dalam kesatuan dengan Bapa Paus] menjaga dan melindungi Sabda Allah itu dari interpretasi yang salah.
    Kita perlu mengingat bahwa Gereja sudah ada terlebih dahulu sebelum keberadaan kitab-kitab Perjanjian Baru. Para pengarang/ penulis suci dari kitab-kitab tersebut adalah para anggota Gereja yang diilhami oleh Tuhan, sama seperti para penulis suci yang menuliskan kitab-kitab Perjanjian Lama. Magisterium dibimbing oleh Roh Kudus diberi kuasa untuk meng-interpretasikan kedua Kitab Perjanjian tersebut.
    —edit—
    Tanggapan saya:
    Yang mengajar itu apakah Roh Kudus atau Magisterium?

    Kalau Magisterium diajari oleh Roh Kudus?

    Mengapa “berbelit-belit” mengajari kembali?

    Apakah orang yang tidak bisa membuka hatinya untuk Roh Kudus, dapat mengerti ajaran dari Rog Kudus?

    Berarti tidak perlu magisterium itu atau wewenang untuk mengajar, menjadi sesuatu yang sacral dan agung

    Karena Pengajar yang diajari oleh Roh Kudus, juga masih diajari oleh Roh Kudus

    Menjadi “berhala” jika para pengajar disamakan dengan posisinya dengan Roh Kudus
    —————————-
    Stef menuliskan:
    Dan bagaimana Gereja dapat menentukan bahwa buku yang termasuk dalam Alkitab adalah seperti yang kita kenal saat ini? Apakah parameternya? Apakah Tradisi Suci, dalam hal ini adalah kesaksian dari Bapa Gereja, memegang peranan penting dalam menentukan kitab mana yang menjadi bagian dari Alkitab yang kita kenal?

    Tanggapan saya:
    Roh dan Kebenaran jadi jawabannya
    ——————————-
    Stef menanyakan:
    a) Saya menyetujui bahwa iman adalah suatu pemberian dari Tuhan. Mungkin pernyataan bahwa iman bukanlah suatu kondisi yang stagnan, melainkan dinamis, harus didefinisikan lebih lanjut. Sebelum saya menanggapi pernyataan ini, saya ingin bertanya terlebih dahulu kepada anda.
    1) Apakah definisi dari iman?
    2) Apakah parameter yang menentukan bahwa seseorang mempunyai iman yang benar?
    3) Darimana kita tahu bahwa parameter yang digunakan (jawaban no:2) adalah benar?
    4) Kalau iman adalah sesuatu yang dinamis, dari mana orang dapat yakin bahwa iman yang dipercayainya saat ini adalah suatu kebenaran yang tetap?
    b) Tentang ayat-ayat yang di kutip (Rm 10:17; 2 Pet 1:5-6) adalah memang benar, dimana iman yang benar seharusnya menghasilkan buah-buah Roh Kudus. Dan saya sangat setuju untuk ajakan untuk bertekun dalam kesalehan – mungkin lebih tepat dalam kekudusan.

    Jawaban saya:
    Iman bagi saya adalah percaya dan berbuah bagi KRISTUS

    Parameternya buah2 yang dihasilkan

    Bagaimana yakin bahwa buahnya itu benar ;

    Jas 3:11 Adakah sumber memancarkan air tawar dan air pahit dari mata air yang sama?

    Jas 3:12 Saudara-saudaraku, adakah pohon ara dapat menghasilkan buah zaitun dan adakah pokok anggur dapat menghasilkan buah ara? Demikian juga mata air asin tidak dapat mengeluarkan air tawar.

    Iman yang dinamis adalah Iman yang bertumbuh terhadap kebenaran yang tetap (KRISTUS)

    Dari bayi rohani, menjadi anak kemudian tumbuh dalam kedewasaan penuh
    ————————-
    Stef menuliskan:
    1) Memang benar sekali apa yang dikatakan Bro Tony bahwa pengetahuan akan kebenaran bukan hanya milik Bapa Gereja dan rasul-rasul KRISTUS. Bahkan Gereja Katolik mengajak semua anggota Gereja tanpa kecuali untuk hidup kudus (yang menjadi buah dari pengetahuan dan kebenaran).
    2) Namun, bukankah menjadi suatu kenyataan bahwa kita juga “berhutang” (dalam tanda kutip) kepada rasul-rasul yang telah dipilih oleh KRISTUS sendiri, dan juga para Bapa Gereja dan Magisterium Gereja, yang membuat kita dapat mengenal kebenaran Wahyu Allah, seperti yang dituliskan di Alkitab? Tanpa mereka (para rasul, bapa Gereja, magisterium Gereja), bukankah kita tidak mempunyai Alkitab seperti yang kita kenal saat ini?
    3) Kalau kebenaran adalah kasih karunia kepada setiap orang-orang pilihan Allah, apakah mungkin terjadi bahwa ada kebenaran yang saling bertentangan?Bukankah kalau saling bertentangan tidak mungkin keduanya benar, karena di dalam kebenaran tidak ada kontradiksi?
    Sebagai contoh: Dikatakan di Mt 24:36
    “Tetapi tentang hari dan saat itu tidak seorangpun yang tahu, malaikat-malaikat di sorga tidak, dan Anakpun tidak, hanya Bapa sendiri”

    Apakah mungkin di antara umat beriman, ada yang mengatakan bahwa 1) YESUS tahu hari kiamat atau 2) YESUS tidak tahu hari kiamat. Jawabannya adalah “ya” dan “tidak”, dan tidak mungkin keduanya benar, karena keduanya saling bertentangan.
    Dalam hal ini, kalau kebenaran hanya masalah pribadi, antara kasih karunia Allah dan setiap umat beriman, maka seharusnya tidak boleh ada jawaban yang bertentangan, karena kasih karunia Allah tidak mungkin salah. Namun, kalau ada pertentangan, bukankah ini membuktikan bahwa masing-masing pribadi tidak dapat dijadikan tolak ukur kebenaran, karena masing-masing pribadi dapat salah menafsirkan ayat tersebut? Kalau demikian, bagaimana agar tidak terjadi pertentangan?

    Tanggapan saya:
    Saya berhutang sekali kepada bapa rohani saya, kakak rohani saya dan teman rohani saya, namun bukan berarti saya mengkultuskan mereka

    Begitupula dengan Rasul yang tidak mau dikultuskan, atau pengemuka jemaat KRISTUS, akan bersedih jika tahu bahwa kemudian mereka akan dikultuskan

    YESUS sebagai Anak Manusia ketika berada dibumi, “terbatasi” dalam pengetahuannya

    Namun YESUS “sebelum” dan “sesudah” kedatangan-Nya ke bumi, tentu IA tahu kapan kedatangan-Nya
    —————————–
    Stef menuliskan:
    a) Pernyataan bahwa orang beriman kepada Tuhan YESUS KRISTUS adalah benar. Namun pertanyaannya adalah: Tuhan YESUS KRISTUS yang seperti apa? Yang tahu hari kiamat atau yang tidak tahu hari kiamat? Yang mempunyai satu akal budi atau dua akal budi? YESUS yang memperbolehkan baptis bayi atau tidak? YESUS yang menginstitusikan Sakramen Baptis sebagai syarat keselamatan atau tidak? Cobalah diskusikan dengan beberapa teman Bro pertanyaan-pertanyaan tersebut. Kalau anda mendapatkan jawaban-jawaban yang berbeda-beda, maka pendapat siapa yang benar? Dan bagaimana anda menentukan bahwa jawaban A benar dan jawaban B salah.
    b) Dikatakan bahwa pengetahuan dan kebenaran terus bertumbuh. Pengetahuan memang terus bertumbuh, dimana semakin kita diberikan rahmat oleh Allah dan kita terus berusaha belajar mendalami iman kita, maka kita akan mendapatkan pengetahuan yang lebih mendalam. Namun, apakah kebenaran terus bertumbuh? Apakah yang dimaksud kebenaran terus bertumbuh? Apakah mungkin suatu kebenaran dari “ya” menjadi “tidak” atau sebaliknya dari “tidak” menjadi “ya”? Sebagai contoh: Apakah kontrasepsi berdosa? Cobalah untuk menjawab pertanyaan ini dengan alur pemikiran yang anda berikan di point ini.
    c) Anda mengutip Ef 4:13 dan Rm 12:3 untuk mendukung bahwa setiap orang dapat mencapai kesatuan iman dan pengetahuan yang benar. Pertanyaan saya, kalau masing-masing orang pasti dapat mencapai kesatuan iman dan pengetahuan yang benar, mengapa jemaat di Korintus saling bertentangan, sehingga Rasul Paulus sampai mengatakan Sebab pertama-tama aku mendengar, bahwa apabila kamu berkumpul sebagai Jemaat, ada perpecahan di antara kamu, dan hal itu sedikit banyak aku percaya.” (1 Kor 11:18).
    Dan bagaimana jemaat perdana memutuskan permasalahan tentang sunat di konsili Yerusalem? Bukankah mereka tidak dapat memutuskan mana yang benar secara sendiri-sendiri? Bukankah rasul Paulus juga mengatakan :
    mengatakan “Jadi jika aku terlambat, sudahlah engkau tahu bagaimana orang harus hidup sebagai keluarga Allah, yakni jemaat (Ecclesia = Gereja) dari Allah yang hidup, tiang penopang dan dasar kebenaran.” (1 Tim 3:15)
    Kalau kita melihat dalam lingkup yang lebih luas, yaitu seluruh dunia, maka apakah yang menjadi pegangan kalau terjadi perbedaan doktrin atau pengajaran di dalam gereja-gereja yang mengklaim seluruh pengajarannya bersumber pada Alkitab? Bahkan ada yang mengklaim pengajarannya dari Alkitab (seperti saksi Yehuwa) tidak mempercayai bahwa YESUS adalah pribadi kedua dari Trinitas.

    Tanggapan saya:
    Jangankan saya dengan Bu, Rasul Paulus saja pernah berbeda pendapat dengan Rasul Petrus.
    Gal 2:11 Tetapi waktu Kefas datang ke Antiokhia, aku berterang-terang menentangnya, sebab ia salah.

    Dalam kondisi itu jika saya diminta menentukan pendapat siapa yang benar, saya nyatakan adalah Rasul Paulus, dan saat itu mungkin Rasul Petrus mengakui kekilafannya

    Kebenaran tentang KRISTUS bertumbuh dalam pengertian dan relasi orang percaya dengan KRISTUS

    bayi rohani hanya dapat memakan makanan rohani yang “cocok” namun semuanya tergantung

    kepada orang percaya itu sendiri, bagaimana responnya terhadap Kebenaran KRISTUS disesuikan dengan gaya hidupnya, sehingga menghasilkan buah-buah kebenaran KRISTUS

    Heb 5:12 Sebab sekalipun kamu, ditinjau dari sudut waktu, sudah seharusnya menjadi pengajar, kamu masih perlu lagi diajarkan asas-asas pokok dari penyataan Allah, dan kamu masih memerlukan susu, bukan makanan keras.

    Mengenai alat kontrasepsi, saya tidak melihat sebagai dosa.

    Mengenai pertentangan jemaat yang terjadi di Korintus, tidak dapat menafikan kebenaran pada Ef 4:13 dan Rm 12:3

    Bukan Firman yang harus mengkondisikan “dirinya” dengan situasi, sebaliknya Firman berkuasa ditengah situasi apapun juga

    ——————-
    Stef menuliskan:
    Tanpa adanya Tradisi Suci dan Magisterium Gereja, maka kita tidak mengenal Alkitab sebagai sumber kebenaran.
    Kalau Gereja dapat menentukan kitab-kitab mana yang menjadi bagian dari Alkitab, maka apa yang menghalangi Gereja untuk menginterpretasikan Alkitab, sehingga ada kesatuan doktrin bagi seluruh umat beriman? Bukankah YESUS sendiri yang menjanjikan bahwa alam maut tidak akan menguasai Gereja, yang berarti Gereja dapat menjadi pilar kebenaran (lih. 1 Tim 3:15)? Oleh karena itu, kebenaran bukanlah hanya “saya” dan “Alkitab”. Kalau demikian halnya, maka akan terjadi begitu banyak perpecahan, seperti yang telah dibuktikan oleh sejarah.
    Semoga anda dapat melihat bahwa ada dasar yang kuat kalau Gereja Katolik mengatakan bahwa ada tiga pilar kebenaran, yang terdiri dari Kitab Suci, Tradisi Suci, dan Magisterium.

    Tanggapan saya:
    Saya perhatikan pembahasan yg banyak ini cenderung diulang2

    Mohon kiranya kita membahas masalah subtansial saja

    • Shalom Lisa,

      Terima kasih atas tanggapan dan sanggahan dalam topik Wahyu Allah dan kebenaran. Mari kita melanjutkan diskusi kita dan berikut ini adalah tanggapan yang dapat saya berikan. Pernyataan Lisa dalam warna biru, jawaban saya dalam dalam warna hitam dan pertanyaan saya kepada Lisa yang perlu dijawab adalah dalam warna merah. Saya juga mohon, agar Lisa dapat menjawab satu-persatu semua pertanyaan tersebut. Saya minta maaf, kalau anda tidak menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut, saya tidak dapat memasukkan komentar yang anda berikan. Namun, saya yakin bahwa Lisa akan dapat menjawab semua pertanyaan yang saya ajukan dengan baik. Seperti diskusi sebelumnya, maka kita akan berdiskusi satu kali putaran lagi.

      1) TENTANG TRADISI SUCI: Lisa mengatakan “Keperawanan Maria bukanlah ajaran, melainkan memang kenyataan yg sederhana, karena KRISTUS bukan dari benih manusia“.

      a) Mungkin pernyataan di atas harus diperjelas dengan pertanyaan ini: Apakah Lisa percaya bahwa Maria tetap perawan sebelum dan setelah melahirkan Yesus? Kalau percaya, dimanakah disebutkan bahwa Maria tetap perawan setelah melahirkan Kristus? Kalau tidak percaya, di ayat manakah disebutkan bahwa Maria tidak perawan lagi setelah melahirkan Kristus? Darimana Lisa tahu bahwa pendapat yang Lisa pegang adalah benar dan tidak mungkin salah? Kalau memang sesederhana itu, mengapa timbul beberapa pendapat? Silakan membaca artikel tentang Bunda Maria perawan untuk selamanya di sini (silakan klik). Kalau setelah membaca artikel tersebut Lisa setuju bahwa Bunda Maria adalah perawan untuk selamanya, maka Lisa sebenarnya setuju dengan pengajaran Gereja Katolik. Dan dengan demikian tidak perlu ada diskusi lagi tentang hal ini, yang juga berarti Lisa percaya akan Tradisi Suci. Namun, kalau Lisa tidak setuju, maka Lisa harus menyetujui bahwa topik “Bunda Maria tetap perawan selamanya” bukanlah suatu kenyataan sederhana seperti yang Lisa nyatakan di atas. Akan menjadi sangat sederhana kalau semua orang percaya akan Magisterium Gereja. Di tahap ini, saya ingin menunjukkan bahwa Alkitab saja tidak cukup untuk menjadi pilar kebenaran.

      b) Lisa mengatakan “Doa Rosario, tidak ada dalam ajaran KRISTUS, berdoa kepada Bapa di Surga dalam Nama Tuhan YESUS

      1) Justru, saya ingin mengatakan bahwa rosario bukanlah merupakan suatu Tradisi Suci dalam pengertian bahwa menjadi suatu pengajaran yang harus dipegang teguh dan tidak mungkin berubah. Namun, kalau Lisa ingin mengetahui tentang hal ini, berikut ini adalah keterangannya. Kalau maksudnya kata”doa rosario” tidak ada dalam ajaran Yesus atau dalam Alkitab, maka saya setuju. Namun, kalau dikatakan tidak mempunyai dasar dari Alkitab maka tentu saja menjadi kesimpulan yang salah. Doa Rosario adalah doa yang begitu Alkitabiah. Doa Bapa Kami sendiri diajarkan oleh Yesus sendiri (lih. Mt 6:9-13; Lk 11:2-4). Penjelasan tentang doa Bapa kami ada di sini (silakan klik). Dan kalau doa Bapa Kami diajarkan sendiri oleh Kristus, maka ini adalah doa yang paling sempurna. Sedangkan dalam doa rosario, umat Katolik mendoakan doa yang paling sempurna ini sebanyak ENAM” kali.

      Dan doa Salam Maria sendiri adalah doa yang berdasarkan Alkitab. Mari kita melihat satu-persatu kalimat dari doa ini:

      Salam Maria penuh rahmat, Tuhan sertamu: “Ketika malaikat itu masuk ke rumah Maria, ia berkata: “Salam, hai engkau yang dikaruniai, Tuhan menyertai engkau.” (Lk 1:28)
      Dalam doa Maria bahasa Inggris: Hail Mary, full of grace, the Lord is with you. Bandingkan dengan RSV “And he came to her and said, “Hail full of Grace, the Lord is with you!

      Terpujilah engkau di antara wanita dan terpujilah buah tubuhmu, Yesus: “lalu berseru dengan suara nyaring: “Diberkatilah engkau di antara semua perempuan dan diberkatilah buah rahimmu.” (Lk 1:42).

      Santa Maria Bunda Allah: “Siapakah aku ini sampai ibu Tuhanku datang mengunjungi aku?” (Lk 1:43).

      Doakanlah kami yang berdosa ini, sekarang dan waktu kami mati. Amin.: “Karena itu hendaklah kamu saling mengaku dosamu dan saling mendoakan, supaya kamu sembuh. Doa orang yang benar, bila dengan yakin didoakan, sangat besar kuasanya.” (Yak 5:16). “Dari pada-Nyalah seluruh tubuh, –yang rapih tersusun dan diikat menjadi satu oleh pelayanan semua bagiannya, sesuai dengan kadar pekerjaan tiap-tiap anggota–menerima pertumbuhannya dan membangun dirinya dalam kasih.” (Ef 4:16). Jadi, kalau semua umat Alllah adalah hidup, walaupun tidak berada di dunia ini dan kita harus saling mendoakan, maka adalah sudah seharusnya kita memohon agar Bunda Maria (yang telah dibenarkan oleh Allah dan pasti telah berada di Sorga) mendoakan kita semua yang masih mengembara di dunia ini.

      2) Dari keterangan di atas, maka silakan Lisa menunjukkan bagian mana dari doa rosario yang tidak Alkitabiah. Kalau maksudnya bukan isi doanya, namun dari perulangannya, maka silakan membaca jawaban ini (silakan klik). Sebagai tambahan, dalam doa rosario, umat Katolik tidak hanya mengulang doa Salam Maria, tetapi juga sambil merenungkan peristiwa- peristiwa hidup Yesus Kristus, yaitu dalam peristiwa- peristiwa gembira, sedih, mulia dan terang. Permenungan akan peristiwa kehidupan Yesus ini merupakan “jiwa” dari doa rosario, sehingga fokus utama doa rosario sebenarnya adalah Kristus.

      c) Lisa mengatakan “Begitu pula puasa di hari Jumat? , puasa dihari Senin sampai Jumat, tidak benarkah?” Kembali, saya ingin menegaskan bahwa hal berpuasa pada hari Jumat bukanlah merupakan Tradisi Suci dalam pengertian sebagai dogma, namun hanya tradisi (dengan huruf kecil) kebiasaan umat Katolik. Namun, kalau Lisa ingin berdiskusi tentang hal ini, berikut ini adalah jawaban saya. Pernyataan ini sama saja dengan mengatakan “Mengapa harus ke gereja hari Minggu? Memangnya kalau ke gereja hari Senin – Sabtu tidak boleh?” Tentu saja jawabannya boleh. Namun dengan menentukan satu hari secara spesifik, maka umat Allah tahu bahwa seluruh umat Allah melakukan hal yang sama, sehingga selain dimensi vertikal, ada dimensi horisontal, yaitu persatuan satu-sama lain dalam ikatan kasih Kristus. Cobalah melihat contoh dalam beberapa gereja yang akan mengadakan acara besar. Yang dilakukan oleh mereka adalah puasa bergilir 3 bulan sebelumnya. Apakah kemudian saya dapat menanyakan “memangnya puasa hanya dapat 3 bulan sebelumnya, kalau 1 tahun – 4 bulan sebelumnya apakah salah?” Atau kalau komunitas tersebut mengambil keputusan untuk berdoa pada waktu yang sama, misalkan jam 20:00-21:00. Apakah kemudian, saya dapat mengatakan “Memangnya berdoa sebelum jam 20:00 tidak boleh?” Cobalah Lisa melihat dari sisi yang berbeda dan jangan hanya melihat “pokoknya semua yang dilakukan oleh Gereja Katolik pasti salah, sampai hal-hal yang sekecil-kecilnya.” Dengan ini, semoga Lisa dapat melihat bahwa tradisi-tradisi kecil yang bukan Tradisi Suci-pun mempunyai makna yang begitu dalam, yang dapat membantu kehidupan umat beriman.

      d) Lisa mengatakan “Apalagi hidup selibat para imam?, Rasul Petrus tidak konsekuen dong? Lihat pada Kotbah di Bukit dan ketika Tuhan YESUS naik ke Sorga, ada berpesan kepada murid-muridnya, hiduplah secara selibat?

      1) Penjelasan tentang hidup selibat dapat dilihat di sini (silakan klik). Silakan membaca artikel tersebut yang mengulas topik ini secara lebih mendalam dan baca juga tanya-jawab di bagian bawah artikel, yang mendiskusikan tentang dasar-dasar selibat para imam.

      Kita juga dapat melihat ayat-ayat berikut ini “28 Petrus berkata: “Kami ini telah meninggalkan segala kepunyaan kami dan mengikut Engkau.” 29 Kata Yesus kepada mereka: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya setiap orang yang karena Kerajaan Allah meninggalkan rumahnya, isterinya atau saudaranya, orang tuanya atau anak-anaknya, 30 akan menerima kembali lipat ganda pada masa ini juga, dan pada zaman yang akan datang ia akan menerima hidup yang kekal.” (Lk 18:28-30). Dengan demikian hidup selibat adalah manifestasi dari menyerahkan semuanya kepada Allah demi Kerajaan Allah.

      2) Kemudian alasan “Lihat pada Kotbah di Bukit dan ketika Tuhan YESUS naik ke Sorga, ada berpesan kepada murid-muridnya, hiduplah secara selibat?” yang diberikan oleh Lisa, menurut saya terlalu dicari-cari. Dengan alasan yang sama, maka saya dapat mengatakan “Lihat pada Kotbah di Bukit dan ketika Tuhan naik ke Sorga, apakah Yesus memberikan pesan kepada murid-muridnya, percayalah pada ajaran Sola Scriptura, Sola Fide?” Karena tidak disebutkan, maka saya tidak percaya.

      3) Kalau menurut Lisa, apakah arti dari ayat ini, terutama pada bagian yang saya beri warna merah “Ada orang yang tidak dapat kawin karena ia memang lahir demikian dari rahim ibunya, dan ada orang yang dijadikan demikian oleh orang lain, dan ada orang yang membuat dirinya demikian karena kemauannya sendiri oleh karena Kerajaan Sorga. Siapa yang dapat mengerti hendaklah ia mengerti.” (Mt 19:12). Apakah ayat 1 Kor 7:32-34 tidak dapat dipakai untuk mendukung hidup selibat? Karena dikatakan “32 Aku ingin, supaya kamu hidup tanpa kekuatiran. Orang yang tidak beristeri memusatkan perhatiannya pada perkara Tuhan, bagaimana Tuhan berkenan kepadanya. 33 Orang yang beristeri memusatkan perhatiannya pada perkara duniawi, bagaimana ia dapat menyenangkan isterinya, 34 dan dengan demikian perhatiannya terbagi-bagi. Perempuan yang tidak bersuami dan anak-anak gadis memusatkan perhatian mereka pada perkara Tuhan, supaya tubuh dan jiwa mereka kudus. Tetapi perempuan yang bersuami memusatkan perhatiannya pada perkara duniawi, bagaimana ia dapat menyenangkan suaminya.

      Dan sebelumnya, rasul Paulus mengatakan “Namun demikian alangkah baiknya, kalau semua orang seperti aku; tetapi setiap orang menerima dari Allah karunianya yang khas, yang seorang karunia ini, yang lain karunia itu.” (1 Kor 7:7).

      2) TENTANG KITAB SUCI: Lisa menuliskan “Tidak ada Teolog Protestan yang mengatakan bahwa keselamatan mereka diperoleh melalui Kitab Suci saja. Sola Gracia berbeda dengan Sola Scriptura Keselamatan itu hanya karena kasih karunia saja. Berarti Stef juga tidak memahami esensi dari Protestan” Saya tahu persis ajaran Sola Scriptura dan Sola Gratia. Yang saya maksudkan dalam tulisan saya bukan “Mungkin ada orang Protestan yang berkata bahwa keselamatan mereka diperoleh melalui Kitab Suci saja“, namun seharusnya “Mungkin ada orang Protestan yang berkata bahwa kebenaran mereka diperoleh melalui Kitab Suci saja“. Saya minta maaf atas kesalahan ketik di dalam argumentasi saya sebelumnya dan saya akan lebih berhati-hati lain kali.

      a) Kalau anda mengatakan “Dan Sola Scriptura bukanlah teori“, maka tunjukkan buktinya ayat dan esensi di Alkitab yang mengatakan bahwa Alkitablah satu-satunya (sola) pilar kebenaran.

      b) Kalau anda mengatakan “Melainkan “ajakan” untuk kembali ke Alkitab saja, tidak dicampur2 dengan mitos, filsafat Plato dan Sinkritisme “agama babel”“, maka justru tidak Alkitabiah, karena ajakan untuk kembali ke Alkitab saja tidak pernah disebutkan di dalam Alkitab. Argumentasi ini sama seperti yang disebutkan dalam diskusi yang lain (silakan klik). Dan silakan membuktikan tuduhan anda di link tersebut, dimana saya telah memberikan beberapa pertanyaan dan sanggahan.

      c) Di tahap ini, saya ingin memberikan suatu argumentasi bahwa Alkitab tidak dapat menginterpretasikan sendiri, sehingga dibutuhkan Tradisi Suci dan Magisterium Gereja. Kalau Lisa tidak menyetujui, maka silakan memberikan argumentasi untuk menyanggah hal ini, seperti yang saya kemukakan sebelumnya. Dengan demikian anda harus membuktikan bahwa Alkitab saja cukup dan dapat menginterpretasikan sendiri. Dan silakan untuk menunjukkan ayat-ayat tersebut.

      3) TENTANG MAGISTERIUM GEREJA: Lisa mengatakan “Yang mengajar itu apakah Roh Kudus atau Magisterium? Kalau Magisterium diajari oleh Roh Kudus? Mengapa “berbelit-belit” mengajari kembali?

      a) Di sini anda memisahkan antara Roh Kudus dan Magisterium Gereja. Seolah-olah Magisterium Gereja dapat bertentangan dengan Roh Kudus. Kalau memang demikian, mengapa rasul Paulus mengatakan “Jadi jika aku terlambat, sudahlah engkau tahu bagaimana orang harus hidup sebagai keluarga Allah, yakni jemaat (Gereja) dari Allah yang hidup, tiang penopang dan dasar kebenaran.” (1 Tim 3:15)? Mengapa rasul Paulus tidak mengatakan “Roh Kudus” sebagai tiang penopang dan dasar kebenaran? (masalahnya bukan pada Roh Kudus-nya, namun pada masing-masing dari kita yang dapat salah). Kalau memang Magisterium Gereja tidak diperlukan, mengapa terjadi perpecahan gereja, sehingga ada sekitar 28.000 denominasi? Bukankah salah satu penyebab perpecahan adalah karena tidak adanya otoritas untuk menentukan secara pasti manakah yang benar? Kalau memang Alkitab dapat mengartikan sendiri dan Roh Kudus membisikan artinya kepada setiap pembaca Alkitab, maka mengapa terjadi perbedaan penafsiran?

      b) Dalam kondisi di atas, dalam skala yang lebih luas, yaitu seluruh Gereja Katolik di seluruh dunia, maka Magisterium Gereja mempunyai kuasa untuk menentukan kebenaran, sehingga terjadi keseragaman ajaran. Dengan demikian pengajaran Kristus dapat diteruskan secara murni dari satu generasi ke generasi yang lain. Kalau anda mengatakan, Magisterium dapat salah, maka tunjukkan satu saja ajaran dari Gereja Katolik yang menurut anda salah, dan kita dapat berdiskusi tentang topik tersebut sampai selesai. Di satu sisi, kalau anda mengatakan Magisterium dapat salah, dapatkah kita yakin bahwa kita tidak mungkin salah dan yakin bahwa penafsiran masing-masing pribadi adalah benar? Kalau anda mengklaim bahwa Roh Kudus dapat berbicara kepada anda, mengapa Roh Kudus tidak dapat berbicara kepada Magisterium Gereja, dimana Kristus sendiri telah memberikan kuasa-Nya di Mt 16:18-19?

      c) Kalau memang benar Roh Kudus mengajar masing-masing pribadi untuk menginterpretasikan Alkitab – termasuk dalam hal doktrin, bagaimana menjelaskan perbedaan pengajaran tentang Sakramen Ekaristi antara yang dipercaya Martin Luther dan John Calvin? Silakan meneruskan diskusi tentang point ini di sini (silakan klik).

      d) Lisa melanjutkan “Apakah orang yang tidak bisa membuka hatinya untuk Roh Kudus, dapat mengerti ajaran dari Roh Kudus? Berarti tidak perlu magisterium itu atau wewenang untuk mengajar, menjadi sesuatu yang sacral dan agung. Karena Pengajar yang diajari oleh Roh Kudus, juga masih diajari oleh Roh Kudus. Menjadi “berhala” jika para pengajar disamakan dengan posisinya dengan Roh Kudus

      1) Seseorang dapat membuka hatinya terhadap pengajaran Roh Kudus pada waktu seseorang membaca Alkitab, sehingga seseorang dapat mengerti dan berjuang untuk mengikuti perintah-perintah Kristus. Namun, perlu disadari juga bahwa tidak semua orang menguasai bahasa Ibrani, Yunani, mengerti kebudayaan Israel pada waktu, mengerti kondisi sosial-ekonomi, politik pada waktu buku-buku di dalam Alkitab di tulis. Apakah dengan demikian Roh Kudus membisikkan kepada setiap orang pengetahuan akan hal-hal tersebut? Roh Kudus juga dapat berkerja melalui Gereja, dalam hal ini melalui Magisterium Gereja, sehingga beberapa hal yang terlihat bertentangan di Alkitab dapat diinterpretasikan sebagai kebenaran yang saling mendukung dan “make sense“, sesuai dengan yang inspirasikan Roh Kudus.

      Kalau semuanya begitu mudah diinterpretasikan, mengapa rasul Petrus mengatakan demikian tentang surat Rasul Paulus, “Hal itu dibuatnya dalam semua suratnya, apabila ia berbicara tentang perkara-perkara ini. Dalam surat-suratnya itu ada hal-hal yang sukar difahami, sehingga orang-orang yang tidak memahaminya dan yang tidak teguh imannya, memutarbalikkannya menjadi kebinasaan mereka sendiri, sama seperti yang juga mereka buat dengan tulisan-tulisan yang lain.” (2 Pet 3:16).

      2) Saya akan setuju dengan Lisa bahwa tidak perlu ada Magisterium Gereja, kalau dalam waktu 500 tahun lebih dari jaman Martin Luther sampai sekarang tidak ada perpecahan, dan yang adalah satu Gereja dengan pengajaran yang sama dan tidak saling bertentangan satu sama lain. Dengan demikian kalau Lisa mengatakan “Karena Pengajar yang diajari oleh Roh Kudus, juga masih diajari oleh Roh Kudus“, maka mengapa Lisa tidak dapat menerima bahwa ada pengajar-pengajar di Gereja Katolik yang juga dipenuhi Roh Kudus, yang telah terbukti menjalankan tugasnya dari jaman Yesus sampai sekarang dan sampai nanti berakhirnya dunia, sehingga memungkinkan terjadinya keseragaman doktrin? Apakah Lisa berpendapat bahwa tidak ada Roh Kudus di dalam Gereja Katolik? Menurut Lisa, mengapa pengajaran “Maria yang tetap perawan untuk selamanya” yang dipercayai oleh Martin Luther 500 tahun yang lalu, kemudian dapat berkembang menjadi suatu pengajaran yang dianggap sesat oleh banyak orang Protestan saat ini?

      3) Gereja Katolik tidak menganggap bahwa Magisterium Gereja sama posisinya dengan Roh Kudus. Sebaliknya, karena Kristus yang menjanjikan Gereja-Nya untuk tetap bertahan dari alam maut dan memberikan kuasa untuk mengikat maupun melepaskan (Mt 16:18-19), maka dengan yakin dan kerendahan hati seluruh umat Katolik mengakui bahwa Roh Kudus berkarya melalui mereka – bukan karena kekuatan mereka sendiri, namun karena percaya akan janji Yesus sendiri. Dan kalau diteliti lebih lanjut, bukankah dengan pengajaran Sola Sciptura, dan setiap individu dapat menafsirkan dengan bebas arti dari Alkitab, maka sebenarnya setiap individu menjadi magisterium sendiri? Bukankah kalau masing-masing merasa tafsirannya yang benar, karena Roh Kudus memberikan inspirasi kepada setiap individu (atau kalau mau dalam tingkat denominasi) maka membuat setiap individu (atau pengajar di setiap denominasi) menjadi berhala?

      e) Jadi, di tahap ini, saya ingin menunjukkan bahwa Magisterium menjalankan fungsinya sebagai salah satu pilar kebenaran, karena kuasa yang diberikan oleh Kristus sendiri. Kalau Lisa tidak setuju dengan hal ini, maka Lisa harus menjelaskan tentang banyaknya perpecahan gereja karena tidak ada otoritas yang dapat menginterpretasikan Alkitab secara pasti, yang dapat dipercayai kebenarannya.

      4) TENTANG KERJASAMA TRADISI SUCI, KITAB SUCI, DAN MAGISTERIUM GEREJA:

      Ketika saya bertanya “Dan bagaimana Gereja dapat menentukan bahwa buku yang termasuk dalam Alkitab adalah seperti yang kita kenal saat ini? Apakah parameternya? Apakah Tradisi Suci, dalam hal ini adalah kesaksian dari Bapa Gereja, memegang peranan penting dalam menentukan kitab mana yang menjadi bagian dari Alkitab yang kita kenal?“, maka Lisa menjawab “Roh dan Kebenaran jadi jawabannya

      a) Dalam hal ini Lisa tidak menjawab pertanyaan saya. Oleh karena itu, silakan menjawab pertanyaan yang saya ajukan sekali lagi: Dan bagaimana Gereja dapat menentukan bahwa buku yang termasuk dalam Alkitab adalah seperti yang kita kenal saat ini? Apakah parameternya? Apakah Tradisi Suci, dalam hal ini adalah kesaksian dari Bapa Gereja, memegang peranan penting dalam menentukan kitab mana yang menjadi bagian dari Alkitab yang kita kenal? Sebagai pertanyaan tambahan: bagaimana kita tahu bahwa Injil Matius ditulis oleh Matius?

      b) Bagaimana dengan pertanyaan sebelumnya:Apakah kesaksian dari St. Irenaeus (180 AD) dan Eusebius memegang peranan penting dalam menentukan keaslian InjilKalau kesaksian di atas tidak dianggap sama sekali sebagai sumber kebenaran, bagaimana kita dapat tahu bahwa Injil hanya ada empat (Matius, Markus, Lukas, Yohanes) dan tidak termasuk injil-injil yang lain?

      b) Silakan juga menjawab pertanyaan saya, yang diajukan sebelumnya dan belum dijawab oleh Lisa: Kalau memang satu-satunya sumber wahyu Allah adalah Alkitab, bagaimana kita dapat menjelaskan kehidupan jemaat awal, sebelum Alkitab (Perjanjian Baru) ditulis. Kita tahu bahwa kitab-kitab PB ditulis pada tahun-tahun sebagai berikut: Matius (50-55) dan 1 & 2 Tes (51-52), Yakobus (50-60), Galatia (54), sampai Yohanes (98-100). Apakah pegangan mereka dari tahun 33 (tahun setelah kematian Kristus) – 100 (tahun sampai semua kitab PB tertulis)? Bukankah dari tahun 33-100, Alkitab Perjanjian Baru belum terbentuk secara lengkap? Belum lagi pada waktu itu belum ada percetakan, sehingga Kitab Suci yang sudah ditulispun tidak “siap sedia” ada di setiap rumah orang percaya.

      c) Dan juga pertanyaan ini: “Pertanyaannya, kalau Alkitab menjadi satu-satunya pegangan bagi Gereja, bagaimana pegangan ini dapat menjadi satu-satunya pegangan sebelum ditentukan oleh Gereja sebagai suatu pegangan yang pasti? Apakah dengan demikian satu-satunya pegangan yang pasti (Alkitab) memerlukan pegangan yang lain, sehingga kita dapat yakin bahwa pegangan yang pasti tersebut tidak mungkin salah? Kalau begitu, apakah pegangan yang lain mungkin salah? Kalau mungkin salah, bukankah pengangan yang tidak mungkin salah (Alkitab) dapat saja salah, karena ditentukan oleh pegangan yang mungkin salah?

      Apakah menurut Lisa, tanpa adanya Bapa Gereja dan Magisterium Gereja, kita dapat mempunyai Alkitab seperti yang kita kenal saat ini? Silakan Lisa menceritakan bagaimana kita dapat menerima Alkitab yang kita kenal saat ini tanpa adanya peran Bapa Gereja dan Magisterium Gereja.

      d) Di tahap ini, kita melihat adanya suatu kerjasama yang harmonis antara ketiga pilar kebenaran (Tradisi Suci, Kitab Suci, dan Magisterium Gereja), sehingga umat Allah dapat mengimani kebenaran tanpa adanya keraguan.

      5) APLIKASINYA DALAM IMAN: , Lisa menuliskan “Iman bagi saya adalah percaya dan berbuah bagi KRISTUS. Parameternya buah2 yang dihasilkan. Bagaimana yakin bahwa buahnya itu benar; Jas 3:11 Adakah sumber memancarkan air tawar dan air pahit dari mata air yang sama? Jas 3:12 Saudara-saudaraku, adakah pohon ara dapat menghasilkan buah zaitun dan adakah pokok anggur dapat menghasilkan buah ara? Demikian juga mata air asin tidak dapat mengeluarkan air tawar.

      a) Mari kita menganalisa jawaban di atas. Secara prinsip Lisa ingin mengajukan argumentasi bahwa iman terus bertumbuh dan oleh karena itu kebenaran terus bertumbuh dan tidak perlu bergantung pada Bapa Gereja maupun Tradisi Suci. Lisa memberikan definisi tentang iman “Iman bagi saya adalah percaya dan berbuah bagi KRISTUS” Bagaimana kalau kita menggunakan definisi dari Alkitab yang Lisa pegang sebagai satu-satunya landasan kebenaran, yang mengatakan “Iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat.” (Ibr 11:1). Kalau kita melihat ayat 2, maka rasul Paulus mengatakan “Sebab oleh imanlah telah diberikan kesaksian kepada nenek moyang kita.” Dan kemudian dilanjutkan dengan menyebutkan kesaksian iman dari Habel, Henokh, Nuh, Abraham, Ishak, Yakub, Sara, Yusuf, Musa, dll. Rasul Paulus memberikan daftar tersebut, agar pendengar pada waktu itu juga belajar dari iman para pendahulunya. Dan ini ditegaskan kembali di Ibr 12:1, yang mengatakan “Karena kita mempunyai banyak saksi, bagaikan awan yang mengelilingi kita, marilah kita menanggalkan semua beban dan dosa yang begitu merintangi kita, dan berlomba dengan tekun dalam perlombaan yang diwajibkan bagi kita” Siapa yang menjadi saksi di sini? Para pendahulu mereka di dalam iman. Dan terlebih lagi, mereka mengingat akan Kristus yang telah menderita bagi mereka dan menebus dosa mereka.

      Ini berlaku juga bagi kita, Kristus menjadi saksi, para pendahulu kita di Perjanjian Lama di dalam iman menjadi saksi, para pendahulu kita setelah kedatangan Kristus juga menjadi saksi bagi iman kita. Inilah sebabnya, kita harus melihat apa yang dilakukan oleh para pendahulu kita, yang rela mati mempertahankan iman kepada Kristus, sama seperti pesan rasul Paulus kepada umat Ibrani untuk juga melihat contoh para pendahulu mereka di dalam Perjanjian Lama.

      b) Dengan demikian, maka iman yang dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat menjadi tidak tergoyahkan. Di sinilah Tradisi Suci dan Magisterium Gereja memberikan suatu pengertian dan pemahaman akan ayat-ayat dari Alkitab, sehingga iman kita tidak berubah. Tanpa Tradisi Suci dan Magisterium Gereja dan hanya bersandar pada Kitab Suci saja, maka dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dapat berubah. Ini terbukti dengan begitu banyak doktrin dari gereja-gereja Protestan yang berbeda-beda sehingga tidak dapat dijadikan suatu dasar, karena ibaratnya pondasi, maka telah berubah berkali-kali, sehingga tidak lagi menjadi pondasi yang kokoh.

      c) Kalau Lisa mengatakan bahwa parameter seseorang mempunyai iman yang benar adalah “buah-buah yang menghasilkan (Yak 3:11-12)” maka saya ingin bertanya: Apakah benar beriman kepada Yesus, percaya bahwa hanya Alkitab sajalah sumber kebenaran dan kemudian terjadi begitu banyak perpecahan, seperti yang terbukti dari begitu banyak denominasi? Bukankah perpecahan bukanlah buah-buah Roh Kudus (lih. Gal 5:20)? Tentu saja saya tidak menutup mata terhadap begitu banyak umat Protestan yang memang hidup sesuai dengan pesan Kristus, yang benar-benar menampakkan buah-buah Roh. Namun, di satu sisi, perpecahan adalah sesuatu yang nyata dan terjadi.

      d) Kemudian Lisa melanjutkan “Iman yang dinamis adalah Iman yang bertumbuh terhadap kebenaran yang tetap (KRISTUS) Dari bayi rohani, menjadi anak kemudian tumbuh dalam kedewasaan penuh” Silakan membaca teguran rasul Paulus kepada jemaat di Korintus yang mempunyai masalah dengan perpecahan (lih. 1 Kor 1; 1 Kor 3). Kedewasaan iman terlihat dari ketaatan, sehingga dia dapat menerima kebenaran baik yang dia setujui maupun yang tidak mudah ia setujui (seperti: Sakramen Ekaristi, Sekramen Baptis – termasuk Baptis bayi, dll), yang mudah dijalankan maupun yang sulit dijalankan (seperti kontrasepsi, dll.)

      e) Jadi, dalam tahap ini saya ingin membuktikan bahwa iman yang menjadi dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat, dapat goyah tanpa adanya tiga pilar kebenaran. Bergantung pada Kitab Suci saja dapat membahayakan iman, karena interpretasi pribadi (yang berbeda-beda) tidak dapat menjadi dasar dari iman.

      6) TENTANG MENGERTI IMAN TANPA BAPA GEREJA: Lisa menjawab “Saya berhutang sekali kepada bapa rohani saya, kakak rohani saya dan teman rohani saya, namun bukan berarti saya mengkultuskan mereka.”

      a) Dengan jawaban ini, maka Lisa mengakui bahwa Lisa “berhutang” kepada kakak rohani dan teman rohani anda. Dengan demikian, Lisa juga setuju bahwa kita semua berhutang kepada para Bapa Gereja. Yang tidak dapat anda terima adalah anda merasa Gereja Katolik seolah-olah mengkultuskan mereka. Namun, Gereja Katolik tidaklah mengkultuskan mereka, namun melihat, mempelajari apa yang dituliskan oleh mereka, karena kebijaksanaan – karena rahmat Tuhan yang mereka terima – sehingga mereka dapat memberikan sumbangan yang begitu besar dalam sejarah kekristenan. Kalau anda membaca St. Agustinus, St. Thomas Aquinas, St. Francis de Sales, dll, maka anda akan terpana bagaimana mereka dapat masuk begitu jauh dalam misteri Allah. Justru dengan belajar dari mereka dan membaca Alkitab bersama Bapa Gereja, membuat kita dapat menghayati pesan Kristus secara murni.

      Kalau Lisa menuliskan “Begitupula dengan Rasul yang tidak mau dikultuskan, atau pengemuka jemaat KRISTUS, akan bersedih jika tahu bahwa kemudian mereka akan dikultuskan“, maka saya pikir kita mempunyai definisi yang berbeda tentang pengkultusan. Silakan Lisa mendefinisikan kata “pengkultusan” dan apa yang diperbuat oleh Gereja Katolik sehingga anda tetap mengatakan bahwa Gereja Katolik mengkultuskan mereka.

      b) Untuk perlunya belajar dari Bapa Gereja dan dokumen Gereja, saya memberi contoh ayat Mt 24:36 “Tetapi tentang hari dan saat itu tidak seorangpun yang tahu, malaikat-malaikat di sorga tidak, dan Anakpun tidak, hanya Bapa sendiriDan Lisa menjawab “YESUS sebagai Anak Manusia ketika berada dibumi, “terbatasi” dalam pengetahuannya. Namun YESUS “sebelum” dan “sesudah” kedatangan-Nya ke bumi, tentu IA tahu kapan kedatangan-Nya

      1) Disinilah kita melihat bahwa Alkitab saja dan saya saja tidaklah cukup untuk mendapatkan pengertian yang benar terhadap beberapa ayat yang memang sulit diartikan. Kita harus mengakui keterbatasan pengetahuan kita. Seandainya Lisa mau belajar dari Bapa Gereja, maka anda akan dapat mengetahui jawaban tersebut dengan lebih baik.

      2) Silakan berdiskusi lagi dengan denominasi lain, mungkin dapat melalui forum atau e-mail, dan apakah Lisa akan mendapatkan jawaban yang sama atau tidak. Yang menjadi masalah dari jawaban tersebut adalah:

      a) Kalau Yesus sebagai Anak manusia terbatasi dalam pengetahuan selama berada di bumi, maka Yesus yang adalah kekal – karena ada sebelum Abraham (Yoh 8:58) – tidaklah sama pengetahuannya selama Yesus berada di bumi dengan Yesus sebelum kedatangan dan setelah kenaikan-Nya ke Sorga. Dengan demikian, ini bertentangan dengan ayat “Yesus Kristus tetap sama, baik kemarin maupun hari ini dan sampai selama-lamanya.” (Ibr 13:8). Apakah Lisa percaya bahwa Tuhan Yesus berubah?

      b) Kalau Yesus tidak tahu hari kiamat pada waktu Dia berada di bumi, maka kita tidak dapat mengatakan bahwa Yesus adalah Allah pada waktu Dia berada di bumi, karena Allah tahu segala sesuatunya, baik masa lalu, saat ini, dan masa datang. Apakah benar Lisa percaya bahwa Yesus bukan Allah pada waktu Dia berada di bumi?

      3) Dengan demikian, jawaban yang diberikan Lisa mengandung banyak kelemahan. Mungkin ada denominasi lain yang memberikan jawaban yang berbeda. Namun kalau jawabannya berbeda, maka kebenaran hanya masalah pendapat pribadi. Kalau benar-benar menafsirkan secara pribadi adalah karya Roh Kudus, maka seharusnya tidak boleh ada jawaban yang bertentangan, karena Roh Kudus tidak mungkin salah. Namun, kalau ada pertentangan, bukankah ini membuktikan bahwa masing-masing pribadi tidak dapat dijadikan tolak ukur kebenaran, karena masing-masing pribadi dapat salah menafsirkan ayat tersebut? Kalau demikian, bagaimana agar tidak terjadi pertentangan?

      c) Jadi, di tahap ini saya ingin membuktikan, bahwa kita dapat masuk ke dalam misteri Allah secara lebih mendalam, kalau kita mau membaca Alkitab bersama dengan para Bapa Gereja dan juga bersama dengan dokumen Gereja.

      7) TENTANG KEBENARAN YANG BERUBAH, PERPECAHAN KARENA TIDAK ADANYA TIGA UNSUR KEBENARAN: Lisa mengatakan “Jangankan saya dengan Stef, Rasul Paulus saja pernah berbeda pendapat dengan Rasul Petrus. Gal 2:11 Tetapi waktu Kefas datang ke Antiokhia, aku berterang-terang menentangnya, sebab ia salah.

      a) Justru dengan demikian pendapat pribadi tidaklah dapat dijadikan suatu pegangan kebenaran. Dalam perbedaan mereka, rasul Paulus dan rasul Petrus tetap berpegang pada keputusan Konsili Yerusalem. Dan rasul Paulus bukan menentang pengajaran rasul Petrus, namun menegur dia karena tindakan pelaksanaannya yang dipandang Paulus kurang tepat dalam menjalankan suatu doktrin yang telah ditetapkan sebelumnya, di mana rasul Petrus sendiri yang menegaskan di Konsili Yerusalem dengan mengatakan “dan Ia sama sekali tidak mengadakan perbedaan antara kita [bangsa Yahudi] dengan mereka [bangsa non-Yahudi], sesudah Ia menyucikan hati mereka oleh iman” (Kis 15:9). Dengan demikian kesalahan Petrus bukanlah pada doktrinal, namun pada pelaksanaan. Jadi, mereka memegang pengajaran yang sama, namun berbeda dalam masalah kebijaksanaan untuk menerapkan doktrin tersebut dalam kondisi tertentu. Dan Lisa mengatakan “Dalam kondisi itu jika saya diminta menentukan pendapat siapa yang benar, saya nyatakan adalah Rasul Paulus, dan saat itu mungkin Rasul Petrus mengakui kekilafannya” Tentu saja kita tahu bahwa yang benar pada kasus tersebut adalah rasul Paulus yang tetap konsisten dengan keputusan yang telah ditetapkan di Yerusalem. Perselisihan ini tidak merubah kenyataan bahwa mereka mempercayai doktrin yang sama.

      Namun kondisi ini berbeda dengan apa yang dialami oleh banyak denominasi yang mempunyai pengajaran yang berbeda-beda dan bukan hanya pada masalah disiplin dan pelaksanaan.

      b) Lisa belum menjawab pertanyaan yang saya berikan tentang kebenaran yang bertumbuh, sehingga seolah-olah kita tidak perlu terikat pada pengajaran masa lalu. Ketika saya bertanya tentang beberapa hal berikut ini “Namun, apakah kebenaran terus bertumbuh? Apakah yang dimaksud kebenaran terus bertumbuh? Apakah mungkin suatu kebenaran dari “ya” menjadi “tidak” atau sebaliknya dari “tidak” menjadi “ya”? Sebagai contoh: Apakah menggunakan alat kontrasepsi berdosa? Cobalah untuk menjawab pertanyaan ini dengan alur pemikiran yang Lisa berikan di point ini.“, maka Lisa memberikan jawaban ” Kebenaran tentang KRISTUS bertumbuh dalam pengertian dan relasi orang percaya dengan KRISTUS. Bayi rohani hanya dapat memakan makanan rohani yang “cocok” namun semuanya tergantung kepada orang percaya itu sendiri, bagaimana responnya terhadap Kebenaran KRISTUS disesuikan dengan gaya hidupnya, sehingga menghasilkan buah-buah kebenaran KRISTUS. Heb 5:12 Sebab sekalipun kamu, ditinjau dari sudut waktu, sudah seharusnya menjadi pengajar, kamu masih perlu lagi diajarkan asas-asas pokok dari penyataan Allah, dan kamu masih memerlukan susu, bukan makanan keras. Mengenai alat kontrasepsi, saya tidak melihat sebagai dosa.

      1) Berdasarkan jawaban di atas, maka bukan kebenarannya yang bertumbuh, namun orang yang bertumbuh di dalam kebenaran yang dimanifestasikan pada pengertian dan relasi orang tersebut dengan Sang Kebenaran, yaitu Kristus. Oleh karena itu, kalau orang tersebut mempunyai gambaran atau pengajaran yang salah tentang Kristus, maka orang tersebut tidak dapat bertumbuh dalam kebenaran. Dengan demikian, maka jawaban di atas tidak menjawab pertanyaan saya: Apakah mungkin suatu kebenaran dari “ya” menjadi “tidak” atau sebaliknya dari “tidak” menjadi “ya”?

      2) Sebagai contoh paling jelas dari pertanyaan tersebut adalah pengajaran tentang kontrasepsi. Sebelum tahum 1930, semua gereja, termasuk gereja-gereja Protestan mengatakan bahwa menggunakan alat kontrasepsi adalah dosa. Namun setelah tahun 1930, denominasi satu dan yang lain mulai mengatakan bahwa kontrasepsi tidak berdosa, dan kemudian anda memberikan jawaban tidak berdosa. Dengan demikian, yang tadinya dianggap “berdosa” menjadi “tidak berdosa“. Pertanyaan saya adalah, dalam contoh kasus seperti ini, apakah yang menjadi pijakan kebenaran? Kalau Alkitab yang digunakan sama, mengapa sebelum tahun 1930 semua gereja mengatakan bahwa kontrasepsi adalah dosa dan sekarang hampir semua gereja (kecuali Gereja Katolik) mengatakan bahwa itu bukan dosa. Apakah karena sulit dijalankan ataukah ada dasar lain?

      Bagaimana seseorang dapat bertumbuh dalam iman, kalau tadinya semua gereja mengatakan bahwa kontrasepsi berdosa, dan kemudian setelah tahun 1930 hanya Gereja Katoliklah yang bertahan dengan ajaran moral ini? Kalau Lisa mau melihat pengajaran Gereja Katolik tentang hal ini, silakan membaca artikel “Humanae Vitae itu benar” (silakan klik).

      c) Kemudian pertanyaan saya sebelumnya juga belum terjawab berkaitan dengan kesatuan iman: Pertanyaan saya, kalau masing-masing orang pasti dapat mencapai kesatuan iman dan pengetahuan yang benar, mengapa jemaat di Korintus saling bertentangan, sehingga Rasul Paulus sampai mengatakan “Sebab pertama-tama aku mendengar, bahwa apabila kamu berkumpul sebagai Jemaat, ada perpecahan di antara kamu, dan hal itu sedikit banyak aku percaya.” (1 Kor 11:18). Dan bagaimana jemaat perdana memutuskan permasalahan tentang sunat di Konsili Yerusalem? Bukankah mereka tidak dapat memutuskan mana yang benar secara sendiri-sendiri? Bukankah rasul Paulus juga mengatakan “Jadi jika aku terlambat, sudahlah engkau tahu bagaimana orang harus hidup sebagai keluarga Allah, yakni jemaat (Ecclesia = Gereja) dari Allah yang hidup, tiang penopang dan dasar kebenaran.” (1 Tim 3:15)

      Lisa hanya menjawab “Mengenai pertentangan jemaat yang terjadi di Korintus, tidak dapat menafikan kebenaran pada Ef 4:13 dan Rm 12:3” Saya tidak menolak Ef 4:13 dan Rm 12:3 karena memang rahmat Allah dapat memberikan karunia. Di Ef 4:11-12 ditekankan adanya orang-orang yang memang dipilih Tuhan untuk memberitakan Injil, gembala, pengajar, untuk membangun Tubuh Kristus (Gereja). Dapakah Lisa juga melihat bahwa para Bapa Gereja juga orang-orang yang dipilih Allah untuk menyampaikan kebenaran? Dengan demikian, kita juga dapat belajar mendengarkan mereka. Juga Gereja yang didirikan oleh Kristus menjadi pilar kebenaran seperti yang disebutkan di 1 Tim 3:15. Silakan untuk menjawab pertanyaan di atas. Dan kemudian silakan menjawab pertanyaan berikut ini, yang belum terjawab: Kalau kita melihat dalam lingkup yang lebih luas, yaitu seluruh dunia, maka apakah yang menjadi pegangan kalau terjadi perbedaan doktrin atau pengajaran di dalam gereja-gereja yang mengklaim seluruh pengajarannya bersumber pada Alkitab? Bahkan ada yang mengklaim pengajarannya dari Alkitab (seperti saksi Yehuwa) tidak mempercayai bahwa Yesus adalah pribadi kedua dari Trinitas. Saya melihat, Lisa tidak menjawab pertanyaan dan hanya memberikan jawaban seperti “Bukan Firman yang harus mengkondisikan “dirinya” dengan situasi, sebaliknya Firman berkuasa ditengah situasi apapun juga” Firman Tuhan memang berkuasa, namun menurut interpretasi siapa? Bukankah contoh kontrasepsi di atas menjadikan Firman Tuhan disesuaikan dengan kondisi jaman?

      8) KESIMPULAN: Di diskusi sebelumnya di bagian akhir, saya memberikan suatu kesimpulan dari diskusi kita. Yang namanya kesimpulan pasti merupakan satu pengulangan dari ide-ide atau argumentasi yang telah diberikan. Jadi, kalau Lisa mengatakan “Saya perhatikan pembahasan yg banyak ini cenderung diulang2. Mohon kiranya kita membahas masalah subtansial saja“, maka saya kira menjadi tidak tepat.

      Jadi, dalam tahap ini, saya ingin menyimpulkan (bukan pengulangan, namun suatu kesimpulan) bahwa:

      1) Lisa belum dapat menunjukkan bahwa Alkitab saja cukup untuk menjadi sumber kebenaran. Karena sebenarnya, secara obyektif kita dapat melihat bahwa Alkitab sebagai sumber kebenaran terbentuk dari sumber kebenaran yang lain, yaitu Tradisi Suci dan Magisterium Gereja.

      2) Kita melihat bahwa membaca Alkitab dengan Bapa Gereja dan dokumen Gereja akan membawa kita kepada pengertian yang lebih mendalam tentang pesan Kristus sendiri. Dan ini terbukti dengan interpretasi yang salah dan tidak tepat tentang ayat Mt 24:36, sehingga menimbulkan banyak kontradiksi.

      3) Tanpa adanya ketiga pilar kebenaran ini, maka iman kita tidak dapat menjadi pondasi atau dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan. Tanpa adanya Tradisi Suci dan Magisterium Gereja, Kitab Suci dapat diinterpretasikan dengan salah, sehingga kebenaran menjadi sangat relatif dan tergantung dari yang menginterpretasikan dan juga tergantung dari jaman. Kita dapat melihat contoh dalam kasus kontrasepsi.

      4) Akhirnya tanpa Magisterium Gereja dan Tradisi Suci, dan hanya bersandar pada Alkitab saja, mengakibatkan terjadi begitu banyaknya perpecahan gereja yang bukan merupakan buah-buah Roh Kudus dan bertentangan dengan pesan Yesus sendiri di Yoh 17.

      Semoga diskusi ini dapat berguna bagi kita berdua, namun besar harapan saya bahwa para pembaca katolisitas.org yang lain dapat juga menarik manfaat dari diskusi ini. Semoga nama Tuhan saja yang dipermuliakan.

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      stef – http://www.katolisitas.org

      • Alexander Pontoh on

        Konsili Yerusalem, apakah itu?

        Firman Tuhan disesuaikan dengan kondisi jaman. apakah buruknya? apakah baiknya? yang Tuhan inginkan yang bagaimana?

        • Shalom Alexander,

          Terima kasih atas pertanyaannya. Konsili Yerusalem adalah konsili pertama dari Gereja – sekitar tahun 50 -, dimana para rasul berdiskusi apakah jemaat Kristen non-Yahudi perlu disunat atau tidak. Kita dapat melihat latar belakang dari konsili ini di Kis 15:1-2, yang menuliskan “1. Beberapa orang datang dari Yudea ke Antiokhia dan mengajarkan kepada saudara-saudara di situ: “Jikalau kamu tidak disunat menurut adat istiadat yang diwariskan oleh Musa, kamu tidak dapat diselamatkan.”
          2. Tetapi Paulus dan Barnabas dengan keras melawan dan membantah pendapat mereka itu. Akhirnya ditetapkan, supaya Paulus dan Barnabas serta beberapa orang lain dari jemaat itu pergi kepada rasul-rasul dan penatua-penatua di Yerusalem untuk membicarakan soal itu.
          ” Dari sini, kita melihat, dalam kaitan dengan diskusi di atas tentang Sola Scriptura, saya ingin menekankan bahwa pada saat terjadi pertentangan doktrin (dalam hal ini perlu sunat atau tidak bagi jemaat Kristen non-Yahudi), maka yang mereka lakukan bukan membuka Kitab Suci, karena Perjanjian Baru belum ada. Yang mereka lakukan adalah pergi ke para rasul dan kemudian mereka memutuskan apa yang harus dilakukan, sehingga terjadi keseragaman doktrin. Dan apa yang dilakukan oleh rasul Paulus dan Barnabas? Mereka menerima keputusan konsili dan menjalankan keputusan tersebut dan meneruskannya kepada jemaat yang lain. Bahkan surat keputusan tersebut dibacakan di depan jemaat Antiokhia (lih. Kis 15:30-31).

          Kemudian pertanyaan ke-dua berkaitan dengan tuduhan bahwa Gereja Katolik menyesuaikan Firman Tuhan dengan kondisi jaman. Apakah hal ini adalah baik atau tidak, sebenarnya tergantung dari definisi apakah yang dimaksud dengan menyesuaikan Firman Tuhan dengan kondisi jaman. Kalau yang dimaksud, seperti dalam tuduhan di atas, bahwa seolah-olah Firman Tuhan diputarbalikkan untuk mendukung kekuasaan dan politik dari Gereja Katolik, maka tentu saja saya menolak argumentasi ini. Dan saya justru memberikan contoh tentang kontrasepsi, yang sebelum tahun 1930 dianggap berdosa oleh semua gereja, namun sekarang semua gereja – kecuali Gereja Katolik – beranggapan bahwa kontrasepti tidaklah berdosa. Inilah yang menurut saya memutar balikkan Firman Tuhan untuk membenarkan pengajaran, yang sebenarnya bertentangan dengan Firman Tuhan.

          Di satu sisi, kalau Firman Tuhan menyesuaikan kondisi jaman dalam pengertian harus dipresentasikan secara efektif sesuai dengan kondisi jaman, maka ini adalah sesuatu yang bagus. Dan ini dilakukan oleh Vatikan II, dimana ditekankan perlunya untuk kembali pada sources (ressourcement) atau sumber utama, seperti Alkitab, Bapa Gereja, dokumen Gereja. Dan juga ditekankan untuk perlunya updating (aggiornamento), yaitu mempresentasikan kebenaran dengan cara yang lebih baik, lebih segar, dan lebih menarik. Hal terakhir inilah yang dapat dipandang positif, dengan kondisi harus dibarengi dengan semangat untuk tetap bertahan pada kebenaran yang telah diyakini, seperti yang dinyatakan di dalam Alkitab, pengajaran Bapa Gereja, dan Dokumen Gereja.

          Semoga keterangan di atas dapat membantu.

          Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
          stef – http://www.katolisitas.org

    • Ibu Lisa menulis demikian:
      Dan Sola Scriptura bukanlah teori

      Melainkan “ajakan” untuk kembali ke Alkitab saja, tidak dicampur2 dengan mitos, filsafat Plato dan Sinkritisme “agama babel”

      Pendapat saya: jangan terlalu gegabah menilai sesuatu dan malah kita sendiri yang kena imbasnya. Mengapa? Karena……..(lihat Legenda Yunani kuno Dewa Apollo berikut ini):

      Legenda Yunani kuno Dewa Apollo: Leto sedang mengandung anak dari Zeus, dewa tertinggi Yunani. Ia melarikan diri dari kejaran naga Python yang terus memburunya untuk memangsa anak yang dikandungnya sebab anak itu ditakdirkan akan membunuh sang naga dan mengambil alih kekdudukannya di Delfi, pusat keagamaan Yunani. Zeus memerintahkan Poseidon, yaitu dewa angin dan laut untuk membantu dan melindungi Leto. Alhasil, Leto mendapatkan tempat perlindungan yang aman di pulau Delos dan melahirkan anak-anaknya, yakni Apollo dan Artemides. Apollo kemudian pergi ke Delfi membunuh naga Python dan mulailah zaman keemasan yang penuh dengan damai , aman,dan sejahtera.

      sekarang bacalah Wahyu 12:1-6 dari alkitab anda.

      (dari buku “Perempuan itu Maria?” oleh Surip Stanislaus, OFM Cap hal 9-10)

      pendapat saya: Apakah anda mau menghapus Wahyu 12:1-6 dari alkitab juga?Karena latar belakang ceritanya sangat mirip…mungkin saja Wahyu 12:1-6 berlatar belakang legenda yang sangat populer itu. Yang jelas legenda Yunani ini sudah ada jauh…jauh…sebelum kitab Wahyu ada…Yang sangat menarik adalah: Pulau Delos(yg merupakan pulau suci orang Yunani) yang disebutkan dalam legenda itu letaknya tidak jauh dari Pulau Patmos tempat Yohanes menulis kitab Wahyu. kalau anda konsisten dengan pendapat anda diatas, maka anda akan menghapus Wahyu 12:1-6 ini. Dan mungkin kedengarannya tidak terlalu mengherankan karena “Rasul Martin Luther”(menurut anda rasul-tidak ada di alkitab) juga pernah mau menghapus seluruh kitab Wahyu dari Alkitab…..Sungguh Ironis kalau sampai dihapus… Ini gara-gara dosa “SolaScriptura”……

  5. Terimakasih atas jawabannya Bpk Stev, saya akan membaca terlebih dahulu, setelah itu akan saya tanggapin sekiranya masih ada yang mungkin belum jelas atau ketidaksetujuan saya terhadap jawaban Bpk. harapan saya semoga Bapak sabar dan iklas untuk berdiskusi dengan saya. GBU!

    Salam Kasih

    Lisa

  6. yohanes yudi purnomo on

    Salam damai,
    Setelah membaca tulisan di atas dan beberapa tulisan sebelumnya (sambil membaca dan bertanya-tanya kenapa umat kristen selalu menekankan sola scriptura?) tiba-tiba terlintas dalam pikiran saya :

    - Apakah hal ini bukan karena gereja protestan lahir pada era reformasi tahun 1500-an dan pada saat itu sudah ada Alkitab, sehingga cukup Alkitab saja.
    - Sementara itu, Gereja Katolik percaya pada 3 pilar kebenaran: Tradisi Suci, Kitab Suci dan Magisterium karena Gereja Katolik lahir sejak jemaat pertama lahir dan bertumbuh; betumbuh dalam kekudusan tanpa Alkitab sampai tahun 100.

    Nah, kalau melihat 2 perbedaan waktu kelahiran di atas, pantas saja bila kita selalu bertentangan tentang apakah hanya Kitab Suci saja? atau juga Tradisi Suci dan Magisterium.
    Mohon koreksi kalau analisa akar masalahnya salah.

    yang selalu berdosa,
    yohanes yudi purnomo

  7. Selamat jumpa pak stev dan Ibu Ingrit saya Lisa umat Protestan ada beberapa hal tanggapan saya soal wahyu, tolong ditanggapi menurut iman Katolik bagaimana? kalo tidak sama dimana letak ketidaksamaannya. Terima kasih jika mau menanggapi.
    Wahyu Allah itu disampaikan dalam Alkitab …..

    [dari katolisitas: silakan melihat jawaban di atas - silakan klik]

Add Comment Register



Leave A Reply