Dalamnya Makna Tanda Salib

59

Tanda salib ini mengandung arti yang sangat mendalam yaitu 1) kemanunggalan dari Allah Trinitas, 2) salib menunjukkan keadilan Allah, yang menunjukkan betapa kejamnya akibat dosa kita, sehingga Allah sendiri yang menebusnya dengan wafat-Nya di salib itu (lih. Gal 3:13); 3) salib menunjukkan kasih Allah yang terbesar, yaitu bahwa Ia menyerahkan nyawa-Nya bagi kita (Yoh 15:13) agar kita dapat diselamatkan dan memperoleh hidup yang kekal (Yoh 3:16); 4) salib yang merupakan tanda keselamatan dan kemenangan orang-orang Kristen, yang disebabkan oleh kemenangan Kristus atas dosa dan maut. Jadi tanda salib ini merupakan lambang yang berdasarkan Alkitab (lih. Yeh 9:4, Kel 17:9-14, Why 7:3, 9:4 dan 14:1), dan bukanlah sesuatu yang bertentangan dengan ajaran Yesus. Bahkan Rasul Paulus sendiri bermegah dengan pewartaan salib Kristus (Gal 6:14), sehingga wajarlah jika kita sebagai pengikut Kristus membawa makna tanda salib ini kemanapun kita berada.

Menurut sejarah, diketahui bahwa Tanda Salib memang merupakan tradisi jemaat awal, yang dimulai sekitar abad ke-2 berdasarkan kesaksian para Bapa Gereja, terutama Tertullian, yang dilanjutkan oleh St. Cyril dari Yerusalem, St. Ephrem dan St Yohanes Damaskus. Jadi walaupun kita tidak membaca ajaran mengenai tanda salib ini dilakukan oleh para rasul di dalam Alkitab, namun bukan berarti bahwa tanda salib ini tidak berdasarkan Alkitab.

Sebab, biar bagaimanapun, makna yang terkandung dalam pembuatan tanda salib ini terpusat pada Kristus, untuk mengingatkan para beriman akan keselamatan yang dapat diperoleh oleh jasa Kristus yang tersalib dan bangkit. Maka tanda salib ini bagi umat Kristen adalah tanda yang harus kita bawa kemanapun sebagai tanda yang mengingatkan kita kepada salib Kristus yang menyelamatkan kita. Tradisi ini serupa dengan tradisi bangsa Yahudi yang memakai “tefilin” yaitu semacam kotak hitam yang berisi naskah Alkitab, yang mereka ikatkan di dahi mereka, sebagai pelaksanaan dari perintah dalam kitab Ul 6:4-8: “Kasihilah TUHAN, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu. Apa yang kuperintahkan kepadamu pada hari ini haruslah engkau perhatikan, haruslah engkau mengajarkannya berulang-ulang kepada anak-anakmu dan membicarakannya apabila engkau duduk di rumahmu, apabila engkau sedang dalam perjalanan, apabila engkau berbaring dan apabila engkau bangun. Haruslah juga engkau mengikatkannya sebagai tanda pada tanganmu dan haruslah itu menjadi lambang di dahimu…” Tanda di dahi ini juga disebutkan di dalam kitab Yeh 9:4.

Tanda Salib menurut Para Bapa Gereja

Maka bagi umat Kristiani, tradisi membuat tanda salib ini sudah berakar sejak lama, bahkan dari Alkitab Perjanjian Lama, dan juga Perjanjian Baru, yaitu dari kitab Wahyu Why 7:3; 9:4; 14:1. Berakar dari ajaran Kitab Suci inilah, maka Para Bapa Gereja mengajar demikian:

1) Tertullian (abad 2) mengajarkan dalam De cor Mil, iii: “Dalam perjalanan kita dan pergerakan kita, pada saat kita masuk atau keluar, ….. pada saat berbaring ataupun duduk, apapun pekerjaan yang kita lakukan kita menandai dahi kita dengan tanda salib.”

2) St. Cyril dari Yerusalem (315-386) dalam Catecheses (xiii, 36)  mengajarkan, “Maka, mari kita tidak merasa malu untuk menyatakan Yesus yang tersalib. Biarlah tanda salib menjadi meterai kita, yang dibuat dengan jari-jari kita, di atas dahi … atas makanan dan minuman kita, pada saat kita masuk ataupun keluar, sebelum tidur, ketika kita berbaring dan ketika bangun tidur ketika kita bepergian ataupun ketika kita beristirahat.”

3) St. Ephrem dari Syria (373) mengajarkan, “Tandailah seluruh kegiatanmu dengan tanda salib yang memberi kehidupan. Jangan keluar darin pintu rumahmu sampai kamu menandai dirimu dengan tanda salib. Jangan mengabaikan tanda ini, baik pada saat sebelum makan, minum, tidur, di rumah maupun di perjalanan. Tidak ada kebiasaan yang lebih baik daripada ini. Biarlah ini menjadi tembik yang melindungi segala perbuatanmu, dan ajarkanlah ini kepada anak-anakmu sehingga mereka dapat belajar menerapkan kebiasaan ini.”

4) St. Yohanes Damaskus (676-749) mengajarkan, “Tanda salib diberikan sebagai tanda di dahi kita, …. sebab dengan tanda ini kita umat yang percaya dibedakan dari mereka yang tidak percaya.”

Memang dalam hal cara membuat tanda salib itu terjadi perkembangan, karena pada awalnya tanda salib hanya dibuat di dahi saja, namun kemudian diajarkan juga untuk membuat tanda salib di mulut (St Jerome, Epitaph Paulae) dan di hati (Prudentius, Cathem., vi, 129). Tanda salib seperti yang kita kenal sekarang, yang secara jelas diajarkan oleh Paus Innocentius III (1198–1216), seperti demikian:

“The sign of the cross is made with three fingers, because the signing is done together with the invocation of the Trinity. … This is how it is done: from above to below, and from the right to the left, because Christ descended from the heavens to the earth, and from the Jews (right) He passed to the Gentiles (left). Others, however, make the sign of the cross from the left to the right, because from misery (left) we must cross over to glory (right), just as Christ crossed over from death to life, and from Hades to Paradise. [Some priests] do it this way so that they and the people will be signing themselves in the same way. You can easily verify this — picture the priest facing the people for the blessing — when we make the sign of the cross over the people, it is from left to right…

Cara membuat tanda salib

Memang terdapat beberapa cara untuk membuat tanda salib. Yang terpenting di sini adalah makna yang ingin disampaikannya, dan penghayatan orang yang membuat tanda salib ini. Maka cara yang mendetail sebenarnya tidak terlalu menjadi masalah, seperti apakah membuatnya dengan dua jari (jari penunjuk dan jari tengah, yang melambangkan dua kodrat Yesus, yaitu Allah dan manusia) atau tiga jari (yang melambangkan Trinitas), atau kelima jari (melambangkan kelima luka-luka Yesus di kayu salib). Atau arah salibnya ke kanan dulu baru kiri (seperti yang dilakukan Gereja-gereja Timur dan Orthodox) atau ke kiri dahulu baru ke kanan (seperti yang dilakukan oleh Gereja Katolik Roma).

Umumnya caranya adalah demikian:

Dengan dua atau tiga (atau lima jari) jari tangan kanan di dahi (sambil mngucapkan: “Atas nama Bapa”), tangan kemudian ke dada -melambangkan hati atau ke perut -menunjuk kepada luka Yesus di perut-Nya ataupun rahim di mana Yesus dikandung oleh Bunda Maria (sambil mengucapkan “dan Putera”, kemudian tangan menuju ke bahu kiri dan kanan (sambil mengucapkan “dan Roh Kudus” Amin). Dan tangan kembali terkatup.

Kapan kita membuat tanda salib?

1) Pada saat sebelum dan sesudah kita berdoa.

2) Ketika kita melewati setiap bangunan gereja Katolik, untuk menghormati kehadiran Tuhan Yesus di dalam tabernakel.

3) Ketika memasuki gereja (membuat tanda salib dengan air suci)

4) Saat-saat sedang menghadapi ketakutan ( misalnya: ketika kita mendengar sirine ambulans, mobil kebakaran) ataupun ketika menerima kabar duka cita orang yang meninggal.

5) Ketika kita melihat Salib Kristus, ataupun di saat- saat lain untuk menghormati Kristus, memohon pertolongan-Nya,

6) Ketika hendak mengusir godaan, ketakutan maupun mengusir pengaruh kuasa jahat.

7) Ketika ayah, sebagai imam dalam keluarga memberkati anak-anaknya, ia dapat menandai anak-anaknya dengan tanda salib di dahi mereka, misalnya sebelum anak-anak berangkat ke sekolah atau sebelum mereka tidur pada waktu malam hari.

Semoga kita dapat menghayati makna tanda salib ini, dan menjadikan tanda salib sebagai bagian dari hidup kita sendiri. Setiap kita membuat tanda salib kita mengingat dan menhormati Kristus yang oleh kasih-Nya rela menyerahkan hidup-Nya di kayu salib untuk menebus dosa-dosa kita. Semoga kita dapat berkata bersama dengan Rasul Paulus, “Tetapi aku sekali-kali tidak mau bermegah, selain dalam salib Tuhan kita Yesus Kristus, sebab olehnya dunia telah disalibkan bagiku dan aku bagi dunia.” (Gal 6:14)

Share.

About Author

Stefanus Tay, MTS dan Ingrid Listiati, MTS adalah pasangan suami istri awam dan telah menyelesaikan program studi S2 di bidang teologi di Universitas Ave Maria - Institute for Pastoral Theology, Amerika Serikat.

59 Comments

  1. Bolehkah membuat tanda salib dengan tangan kiri?

    [Dari Katolisitas: Jika orang tersebut kidal, maka ya, dapat dilakukan, membuat Tanda salib dengan tangan kiri. Yang penting tetap dilakukan dengan hormat dengan dengan pennghayatan akan maknanya.]

  2. Shallom, saya ingin bertanya apakah salah bila orang kristen yang bukan dari denominasi katholik membuat tanda salib? Saya sering buat tanda salib sebelum makan sesudah makan, sebelum tidur dan sebelum dan sesudah saya berdoa. Ya saya bukan dari denominasi katholik, tetapi saya ingin menjadi penganut agama katholik, tetapi tidak tau saya harus pergi kepada siapa? Oleh sebab itu saya melakukan hal yang umum dilakukan oleh orang katholik.

    [Dari Katolisitas: Tentu saja Anda boleh membuat Tanda Salib, sebab Salib adalah Tanda kemenangan kita sebagai umat yang mengimani Kristus. Jika Anda ingin menjadi Katolik, silakan menghubungi paroki di mana Anda berdomisili, atau paroki lain yang memudahkan Anda untuk mengikuti program katekumen (proses pengajaran iman Katolik) sebelum Anda dapat diterima menjadi Katolik. Namun jika demikian, nanti sebelum diterima menjadi Katolik di paroki tersebut, hal ini perlu diinformasikan kepada Romo paroki di mana Anda berdomisili, agar Anda dapat digabungkan dalam data umat paroki Anda, dan Anda dapat terlibat dalam kegiatan gerejawi di paroki Anda. Jika Anda pernah dibaptis secara sah di gereja Anda, dan gereja Anda termasuk daftar PGI, maka Anda tak perlu dibaptis lagi, hanya perlu diterima/ diteguhkan menjadi Katolik. Syukur atas terpanggilnya Anda menjadi Katolik, semoga Anda dapat menjalani proses persiapan ini, sehingga kelak Anda dapat bergabung sepenuhnya dalam keluarga besar Gereja Katolik.]

  3. Salib
    Positif thinking
    Simbul keselamatan
    Tabir terbelah dua [dari Katolisitas: mungkin maksud Anda tirai di tempat mahakudus di bait Allah?], hubungan Allah dan manusia langsung
    Yang percaya diampuni Dan diselamatan
    Ada tujuh sabda yang Luar Biasa didalam peristiwa salib Yesus [dari Katolisitas: mungkin maksud Anda tujuh sabda terakhir Yesus di kayu salib (seven last words of Christ)? Tentang ini sudah pernah dibahas di sini, silakan klik]

  4. Salam Damai Kristus bagi kita semua..

    saya ingin bertanya karena masih bingung dengan hal ini, sebenarnya apakah pengertian dari berdoa bersifat kristologi dan berdoa bersifat trinitas dan juga perbedaannya? itu yang masih saya bingung. Dan satu hal lagi apakah itu saja sifat sifat berdoa?, jika itu benar ada berapa banyak lagi sifat sifat dalam berdoa?

    • Shalom Perado,

      Katekismus Gereja Katolik mengajarkan tentang doa, demikian:

      KGK 2559     “Doa adalah pengangkatan jiwa kepada Tuhan, atau satu permohonan kepada Tuhan demi hal-hal yang baik” (Yohanes dari Damaskus, f.o.3,24). Dari mana kita berbicara, kalau kita berdoa? Dari ketinggian kesombongan dan kehendak kita ke bawah atau “dari jurang” (Mzm 130:1) hati yang rendah dan penuh sesal? Siapa yang merendahkan diri akan ditinggikan (Bdk. Luk 18:9-14). Kerendahan hati adalah dasar doa, karena “kita tidak tahu bagaimana sebenarnya harus berdoa” (Rm 8:26). Supaya mendapat anugerah doa, kita harus bersikap rendah hati: Di depan Allah, manusia adalah seorang pengemis (Bdk. Agustinus, serm. 56,6,9, 2613, 2736)

      KGK 2565    Dalam Perjanjian Baru, doa adalah hubungan yang hidup anak-anak Allah dengan Bapanya yang tidak terhingga baiknya, bersama Putera-Nya Yesus Kristus dan dengan Roh Kudus. Rahmat Kerajaan Allah adalah “persatuan seluruh Tritunggal Mahakudus dengan seluruh jiwa” manusia (Gregorius dari Nasiansa, or. 16,9). Dengan demikian, kehidupan doa berarti bahwa kita selalu berada dalam hadirat Allah yang tiga kali kudus dan dalam persekutuan dengan Dia. Persekutuan hidup ini memang selalu mungkin, karena melalui Pembaptisan kita sudah menjadi satu dengan Kristus (Bdk. Rm 6:5). Doa itu Kristen, sejauh ia merupakan persekutuan dengan Kristus dan menyebar luas di dalam Gereja, Tubuh Kristus. Ia merangkum segala sesuatu, sama seperti cinta kasih Kristus.

      Dengan pengertian ini, maka pada prinsipnya kita berdoa kepada Tuhan, yaitu Allah Trinitas (ini disebut doa bersifat Trinitas), yaitu doa ditujukan kepada Allah Bapa melalui Kristus Pengantara kita, oleh kuasa Roh Kudus. Namun demikian, selain ditujukan kepada Allah Bapa, doa dapat pula ditujukan kepada Kristus (disebut bersifat Kristologis) maupun Roh Kudus (Pneumatologis), karena kedua Pribadi ini juga adalah Pribadi Allah yang Satu. Hanya saja, jika doa ditujukan kepada Yesus, maka di akhir doa tidak diucapkan “demi Kristus Tuhan Pengantara kami”. Tuhan Yesus mengajarkan agar kita menujukan doa kita kepada Allah Bapa (doa Bapa Kami), dan demikianlah, umumnya doa- doa liturgis Gereja ditujukan kepada Allah Bapa, dengan Pengantaraan Kristus Tuhan, oleh kuasa Roh Kudus, seperti pada Misa Kudus. Namun demikian ada juga doa- doa yang ditujukan kepada Yesus, seperti doa konsekrasi kepada Hati Kudus Yesus, doa Koronka (Yesus, Engkaulah Andalanku!), doa litani, dst. Demikian juga dengan doa dapat ditujukan kepada Roh Kudus, secara khusus misalnya pada saat menjelang Pentakosta, mohon ketujuh karunia Roh Kudus (PS 93), doa mohon pencurahan Roh Kudus, dst. Sedangkan doa- doa yang ditujukan kepada Bunda Maria, maksudnya adalah memohon agar Bunda Maria mendoakan kita/ menyampaikan permohonan kita kepada Tuhan Yesus.

      Selanjutnya silakan anda membaca artikel seri tentang Doa, di sini (silakan klik di judul-judul berikut)

      Doa menjadi bagian yang terpisahkan dari kehidupan seorang Kristen. Namun ada tiga kesalahan persepsi tentang doa yang dinyatakan oleh St. Thomas Aquinas. Tiga kesalahan tersebut dapat dilihat pada tulisan berikut ini: 1) Tuhan tidak campur tangan, 2) Tuhan sudah menakdirkan segalanya sehingga doa tidak diperlukan, 3) Kita dapat merubah keputusan Tuhan dalam doa. Kemudian sebagai kesimpulan dijelaskan 4) konsep doa dengan mengambil definisi doa menurut St. Teresia kanak-kanak Yesus.

      5) Doa Bapa Kami, doa yang sempurna
      6) Doa yang benar menurut ajaran iman Katolik
      7) Bagaimanakah sikap dan waktu doa?

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      Ingrid Listiati- katolisitas.org

  5. Shalom,

    Majikan saya adalah non-kristen. Mereka mengetahui saya beragama katolik. Oleh sebab saya telah bekerja dengan mereka terlalu lama maka hubungan kami terjalin rapat umpama keluarga. Saya dan anak-anaknya bekerja dalam satu pejabat. Oleh itu hubungan saya juga rapat dengan cucu-cucunya. Mereka juga tahu saya ke gereja walaupun saya bukan penganut yang taat beragama. Satu hal yang tidak pernah saya lakukan di hadapan keluarga majikan saya adalah membuat tanda salib. Saya tidak ada halangan membuat tanda salib bila bersama dengan non-kriten/non-katolik yang lain, tetapi hal membuat tanda salib di hadapan mereka amat berat bagi saya.
    Saya teringat ayat dalam alkitab yang mengatakan (maaf kalau salah) barang siapa menyangkal saya di hadapan manusia, saya juga akan menyangkalnya di hadapan malaikat. Hal ini amat merisaukan saya. Tetapi bila saya teringat, ayat yang mengatakan, (betulkan kalau salah), tuluslah seperti merpati dan cerdiklah seperti ular. Hati saya sedikit terhibur.Walaupun saya tak tahu mengapa ular dikatakan cerdik di sini. Apakah ini ada kaitan dengan ular dalam kitab kejadian? Adakah dengan tidak membuat tanda salib di hadapan sesetengah orang telah menyangkal Yesus?

    Mohon penjelasan & terimakasih.

    Rita

    • Caecilia Triastuti on

      Shalom Rita,

      Terima kasih atas pertanyaan Anda. Kenyataannya dalam berbagai kesempatan hidup sehari-hari, terutama di jaman yang semakin sekular di tengah berbagai kemajemukan hidup bermasyarakat, saya sendiri dan umumnya umat beriman juga masih selalu ditantang untuk menghidupi iman saya secara nyata, dan teguh bersaksi atas iman itu, demi kasih dan kemuliaan Allah serta Kabar Baik yang Allah percayakan pada kita (lih. Mark 16 : 15) untuk diwartakan ke segala makhluk, dengan salah satunya melalui membuat sebuah tanda salib, pada kesempatan-kesempatan yang sesuai. Relevan untuk direnungkan, sebagaimana pergumulan Anda ini, apakah saya konsisten dengan pernyataan iman saya kepada dunia di mana saya hidup, karena tugas dan panggilan kita semua sebagai duta-duta damai bagi dunia yang membutuhkan selalu sentuhan kasih dan kebenaran Allah. Tuhan Yesus mengatakan bahwa damai adalah tanda kehadiran-Nya di hati kita dan tanda yang Dia ingin senantiasa kita wartakan kepada sekeliling kita sebagai murid-murid-Nya (lihat Yoh 14:27). Maka pergumulan Anda adalah menurut hemat saya sebuah sapaan halus untuk berefleksi apakah damai-Nya itu sudah pertama-tama hadir di dalam diri kita sehingga juga dapat diteruskan kepada orang lain di sekitar kita. Mungkin memang situasi yang Anda alami sebegitu rupa, sehingga Anda merasa berat untuk membuat tanda salib di hadapan keluarga majikan Anda, betapapun hati Anda menginginkannya. Latar belakang relasi dengan majikan dan pengalaman masa lalu majikan Anda (yang Anda ceritakan melalui email jalur pribadi) sedikit banyak mempengaruhi hal itu. Namun jika Anda membuat tanda salib itu, sebenarnya Anda bersikap jujur kepada diri sendiri, kepada keluarga majikan Anda, dan kepada Tuhan. Apalagi keluarga majikan sangat mengerti tentang Anda karena sudah lama Anda bekerja pada mereka, dan seluruh anggota keluarganya sudah seperti keluarga sendiri dengan Anda, jadi sebenarnya tidak ada halangan yang terlalu memberatkan untuk tidak melakukan membuat tanda salib sebagaimana kerinduan di hati Anda dan panggilan Tuhan kepada Anda.

      Ada satu lagi pesan Yesus yang saya harapkan dapat menguatkan Anda yaitu Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu dan dengan segenap kekuatanmu.(Mark 12: 30). Bila kita dipanggil dan memang merasa terpanggil untuk mengasihi Tuhan dengan segenap kekuatan, maka sebenarnya semua justifikasi dan pertimbangan duniawi tidak boleh menghalangi kita untuk memenuhinya, termasuk membuat tanda salib sebagai penghargaan, iman, dan cinta kita yang tulus kepada Allah Tritunggal dalam setiap aspek hidup kita. Memang lantas dengan pernyataan iman berupa tanda salib itu, mata dunia akan tertuju kepada kita, apa yang dapat mereka harapkan dari seorang yang berkeimanan sedemikian? Memang di situlah tantangannya, bahwa hidup kita haruslah mencerminkan apa yang kita imani bersama dan dalam Yesus, dan justru di langkah selanjutnya itulah kesempatan kita untuk mewartakan kasih dan Kabar Baik itu kemudian terbuka lebih lebar. Jadi buatlah tanda salib tanpa merasa takut dan ragu lagi, karena sebenarnya itu adalah bagian dari keputusan Anda untuk taat dan ‘ya’ kepada Allah, dan bersama rahmat-Nya, akan memampukan Anda melangkah lebih jauh lagi bersama Tuhan, menjadi duta-duta terang bagi dunia di mana Anda tinggal dan berkarya, sebagaimana kehendak-Nya.

      Dan secara khusus bagi keluarga majikan Anda, agar mereka tetap mengalami kasih Tuhan melalui Anda. Mohonlah kepada Tuhan dalam doa-doa Anda, agar tanda salib yang Anda lakukan, menjadi berkat bagi keluarga majikan Anda, karena kerahiman Tuhan mengatasi semua tembok-tembok di dalam hati manusia. Dan sebab rahmat Tuhan Allah Tritunggal menyertai Anda, maka Anda dapat mengalami bahwa keputusan untuk setia dalam beriman dan bertindak, membuat iman Anda berkesempatan untuk tumbuh dan berbuah, tidak lagi mandeg, ragu dan malu, atau takut. Termasuk rasa takut untuk disepelekan, atau rasa takut untuk menyinggung perasaan orang lain, dalam hal ini majikan Anda. Roh Allah akan mengajarkan kita keberanian dalam kasih dan keyakinan yang mantap akan penyertaan-Nya. Kuasa kasih-Nya melampaui segala kelemahan dan keterbatasan kita, bahkan untuk hal-hal yang semula tidak berani kita bayangkan. Semoga sharing ini dapat menguatkan iman dan kasih Anda kepada Tuhan untuk membuat tanda salib dengan damai dan sukacita.

      Tambahan dari Ingrid Listiati :

      Mungkin ada baiknya, kita mengingat dan semakin menghayatinya, bahwa salib Kristus adalah tanda kasih Kristus kepada kita, yang juga harus menjadi tanda kasih kita kepada-Nya. Di dalam kasih Allah inilah kita bermegah, bukan untuk menyombongkan diri, tetapi untuk menunjukkan bahwa kita sebagai murid Kristus, mau setia mengikuti jejak-Nya, yaitu untuk mengasihi dan melayani dunia di mana kita ditempatkan, sampai titik darah penghabisan, sebagaimana dicontohkan oleh Kristus sendiri. Dengan semangat ini, kita dapat berkata bersama Rasul Paulus, “Tetapi aku sekali-kali tidak mau bermegah, selain dalam salib Tuhan kita Yesus Kristus, sebab olehnya dunia telah disalibkan bagiku dan aku bagi dunia.” (Gal 6:14).

      Pengorbanan kita untuk membuat tanda salib bukan apa- apa jika dibandingkan dengan pengorbanan Kristus untuk menebus dosa-dosa kita. Kalau kita mau mengambil bagian sedikit saja dalam pengorbanan Kristus, yaitu dengan membuat Tanda Salib (tanpa takut dan kita mau mengambil resiko dicemooh atau direndahkan) maka kita mempunyai pengharapan akan mengambil bagian juga dalam kebangkitan-Nya, sebagaimana dijanjikan Allah dalam Flp 3:10-11. Jika kita tidak takut mengakui Kristus Tuhan kita di hadapan manusia, maka Kristus juga akan mengakui kita di hadapan Allah Bapa (Mat 10:32), dan di hadapan para malaikat-Nya (Luk 12:8). Betapa kita semua menantikan saat itu, di mana Kristus dalam kesatuan dengan Allah Bapa mengakui kita sebagai anak-Nya dan menerima ungkapan kasih kita yang sungguh sangat tak seberapa dengan kasih-Nya yang telah melimpah dalam kehidupan kita melalui Yesus Kristus Tuhan dan Juruselamat kita!

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan
      Ingrid Listiati dan Triastuti – katolisitas.org

  6. Ibu Inggrid dan Bpk Stefanus yth,
    Komsos parokiku membuat informasi bahwa tanda salib sbb “poin 4. Tanda salib yg dibuat sebaiknya tanda salib besar, yaitu dgn menyentuh pusar (sebagai lambang inkarnasi Kristus). Tidak membuat tanda salib ketika imam memberi absolusi umum (“…semoga Alah mengasihani kita…dst..”), karena yg kita ikuti adalah Misa Kudus bukan Sakramen Tobat. Tidak salah membuat tanda salib dengan menyentuh dada ketika berkata “Putra”. Tambahan :
    Info ini BUKAN TPE BARU. TPE yg berlaku tetap TPE 2005. Info ini hanya merupakan hasil olahan setelah penulis mengikuti rekoleksi liturgi di salah satu paroki di KAJ oleh komisi liturgi KWI yg pastinya juga berdasarkan TPE 2005″”. Memang dari referensi sering disebut bagian perut,lower chest, the end of chest bone, stomach; apakah yang dimaksud bagian perut itu PUSER? Saya lebih melihat realita dimana mana tanda salib adalah dengan menunjuk/menepuk kearah dada. Terima kasih berkenan memberi keterangan tentang tanda salib.

    • Shalom Hendra,

      Sebagaimana disampaikan di atas, sesungguhnya terdapat beberapa cara membuat tanda salib, yang memang tergantung dari bagaimana memaknainya. Ada yang membuat tanda salib (bagian “Putera”) dengan menyentuh pusar, lambang Inkarnasi Kristus ataupun di perut melambangkan luka Yesus di lambung-Nya, namun juga ada yang di dada, yang mengingatkan akan Hati Kudus-Nya yang menyatu dengan hati kita.

      Menurut buku karangan Rev. Dr. Eugene JCS Weitzel, From Baltimore to Vatican II, Q. 295, p. 480 tentang cara membuat tanda salib, dikatakan demikian:

      “Kita membuat Tanda Salib dengan meletakkan tangan kanan di dahi, dan kemudian di dada, dan ke arah kiri dan kanan bahu, dengan berkata: Atas nama Bapa, dan Putera dan Roh Kudus.”

      Karena tidak ada cara yang baku yang disyaratkan, mari jangan juga terpaku dengan suatu cara tertentu, seolah cara yang lain keliru. Yang terpenting adalah bagaimana kita memaknainya dan menghayati makna itu, yaitu bahwa setiap kali kita membuat Tanda Salib, kita mengingat nama Tuhan Allah Tritunggal, yang di dalam-Nya kita dibaptis. Pembaptisan itu sendiri adalah pintu gerbang yang melaluinya kita dapat sampai kepada keselamatan kekal.

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      Ingrid Listiati- katolisitas.org

  7. Salam dalam damai kristus

    Saya seorang Katolik, 25thn, saya ingin bertanya tentang tanda salib, semenjak kecil seperti pada seorang Katolik pada umumnya saya menggunakan tangan kanan untuk melakukan tanda salib, tapi sebenarnya saya adalah seseorang yang dalam keseharian adalah bertangan kiri baik itu menulis, bekerja dan makan. Jika kebanyakan orang menggunakan tangan kanannya dalam melakukan aktifitas dan menggunakan tangan kiri untuk bersih2 setelah (maaf…) B.A.B, saya justru sebaliknya…saya melakukan tangan kiri untuk aktifitas dan menggunakan tangan kanan untuk bersih2 setelah B.A.B, mungkin bagi orang yang bertangan kanan ini tidak ada masalah tapi bagi saya yang bertangan kiri inilah yang sering membuat gundah dan bertanya-tanya…
    1. Apakah pantas saya melakukan tanda salib dengan tangan kanan padahal saya menggunakannya juga untuk sesuatu yang bisa dikatakan jorok? apakah ada semacam aturan atau anjuran2 alkitab dalam Gereja Katolik mengenai hal ini? apa yang seharusnya saya lakukan? apakah kebiasaan tersebut harus saya hilangkan?
    2. Pertanyaan yang lain yang ingin saya tanyakan, saya pernah mendengar teman muslim saya yang melihat saya makan dengan tangan kiri, yang menurutnya dalam agamanya dianjurkan untuk tidak /dilarang (entah itu najis atau haram) menggunakan tangan kiri pada saat makan, bagaimana dalam Gereja Katolik sebenarnya tentang tangan kanan dan tangan kiri ini dalam melakukan aktifitas sehari-hari?

    • Shalom David,

      Sama seperti tidak menjadi masalah untuk melakukan aktifitas lain dengan tangan kanan maupun tangan kiri, maka tidak ada masalah juga untuk membuat tanda salib, baik dengan tangan kanan maupun tangan kiri. Yang terpenting dalam membuat tanda salib adalah benar-benar menghayati apa yang dilakukan, karena tanda salib mempunyai makna yang begitu dalam. Silakan melihat artikel ini – silakan klik. Tidak ada aturan di dalam Kitab Suci tentang hal ini. Yang ada adalah “Dan jika tanganmu yang kanan menyesatkan engkau, penggallah dan buanglah itu, karena lebih baik bagimu jika satu dari anggota tubuhmu binasa dari pada tubuhmu dengan utuh masuk neraka” (Mat 5:30). Dengan kata lain, kita harus menggunakan tangan kita untuk melakukan perbuatan-perbuatan baik. Dan membuat tanda salib dengan tangan adalah sungguh baik. Jadi, silakan melakukan tanda salib, baik dengan tangan kanan maupun tangan kiri.

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      stef – katolisitas.org

  8. Shalom Katolisitas,

    saya mau tanya sebenarnya klo buat tanda Salib yg 3 jari (Trinitas) itu jari jempol, jari telunjuk dan jari tengah atau jari telunjuk, jari tengah dan jari manis keduanya dengan telapak tangan terbuka atau gmana ya?

    Terima kasih

    • Shalom Anggi,

      Membuat tanda salib untuk melambangkan Trinitas dilakukan dengan tiga jari. Tradisi di Timur dan juga tulisan dari Paus Leo IV (pertengahan abad 9), memberikan keterangan bahwa membuat tanda salib dengan tiga jari: yaitu jari tengah, jari telunjuk, dan ibu jari. Sedangkan membuat tanda salib dengan lima jari adalah melambangkan lima luka Yesus di salib dan dengan dua jari melambangkan dua kodrat Yesus – yang sungguh Allah dan sungguh manusia.

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      stef – katolisitas.org

  9. Syalom Alaikhem,
    Dalam membuat tanda salib, yang pertama dikatakan bukankah seharusnya “Dalam Nama Bapa” (dalam bahasa Inggris “In the Name Of the Father”).

    [Dari Katolisitas: Kata "in" memang artinya "dalam" jika diterjemahkan dalam bahasa Indonesia. Namun jika ada kelanjutannya "in the name of", artinya mernyerupai idiom, dan bukan hanya sekedar "dalam"/ di dalam. Tentang hal ini sudah pernah ditulis di sini, silakan klik]

Add Comment Register



Leave A Reply