Dalamnya Makna Tanda Salib

Pertanyaan:

Kepada Bpk. Stefanus,
shallom dalam nama Kristus.
Saya mau bertanya, sejak kapan tanda salib mulai digunakan, karena tidak ada dalam alkitab, dan para rasul mungkin tidak menggunakan tanda salib mengingat mereka masih beribadat di sinagoga. Dan mengapa tanda salib gereja roma dan orthodox berbeda arah urutannya, apakah dulunya sama trus ada perubahan atau memang sejak semula berbeda. Terima kasih

Jawaban:

Shalom Justin Syuhada,

Makna Tanda Salib

Tanda salib ini mengandung arti yang sangat mendalam yaitu 1) kemanunggalan dari Allah Trinitas, 2) salib yang merupakan tanda keselamatan dan kemenangan orang-orang Kristen, yang disebabkan oleh kemenangan Kristus atas dosa dan maut. Jadi tanda salib ini merupakan lambang yang berdasarkan Alkitab (lih. Yeh 9:4, Kel 17:9-14, Why 7:3, 9:4 dan 14:1), dan bukanlah sesuatu yang bertentangan dengan ajaran Yesus. Bahkan Rasul Paulus sendiri bermegah dengan pewartaan salib Kristus (Gal 6:14), sehingga wajarlah jika kita sebagai pengikut Kristus membawa makna tanda salib ini kemanapun kita berada.

Menurut sejarah, diketahui bahwa Tanda Salib memang merupakan tradisi jemaat awal, yang dimulai sekitar abad ke-2 berdasarkan kesaksian para Bapa Gereja, terutama Tertullian, yang dilanjutkan oleh St. Cyril dari Yerusalem, St. Ephrem dan St Yohanes Damaskus. Jadi walaupun kita tidak membaca ajaran mengenai tanda salib ini dilakukan oleh para rasul di dalam Alkitab, namun bukan berarti bahwa tanda salib ini tidak berdasarkan Alkitab.

Sebab, biar bagaimanapun, makna yang terkandung dalam pembuatan tanda salib ini terpusat pada Kristus, untuk mengingatkan para beriman akan keselamatan yang dapat diperoleh oleh jasa Kristus yang tersalib dan bangkit. Maka tanda salib ini bagi umat Kristen adalah tanda yang harus kita bawa kemanapun sebagai tanda yang mengingatkan kita kepada salib Kristus yang menyelamatkan kita. Tradisi ini serupa dengan tradisi bangsa Yahudi yang memakai “tefilin” yaitu semacam kotak hitam yang berisi naskah Alkitab, yang mereka ikatkan di dahi mereka, sebagai pelaksanaan dari perintah dalam kitab Ul 6:4-8: “Kasihilah TUHAN, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu. Apa yang kuperintahkan kepadamu pada hari ini haruslah engkau perhatikan, haruslah engkau mengajarkannya berulang-ulang kepada anak-anakmu dan membicarakannya apabila engkau duduk di rumahmu, apabila engkau sedang dalam perjalanan, apabila engkau berbaring dan apabila engkau bangun. Haruslah juga engkau mengikatkannya sebagai tanda pada tanganmu dan haruslah itu menjadi lambang di dahimu…” Tanda di dahi ini juga disebutkan di dalam kitab Yeh 9:4.

Tanda Salib menurut Para Bapa Gereja

Maka bagi umat Kristiani, tradisi membuat tanda salib ini sudah berakar sejak lama, bahkan dari Alkitab Perjanjian Lama, dan juga Perjanjian Baru, yaitu dari kitab Wahyu Why 7:3; 9:4; 14:1. Berakar dari ajaran Kitab Suci inilah, maka Para Bapa Gereja mengajar demikian:

1) Tertullian (abad 2) mengajarkan dalam De cor Mil, iii: “Dalam perjalanan kita dan pergerakan kita, pada saat kita masuk atau keluar, ….. pada saat berbaring ataupun duduk, apapun pekerjaan yang kita lakukan kita menandai dahi kita dengan tanda salib.”

2) St. Cyril dari Yerusalem (315-386) dalam Catecheses (xiii, 36)  mengajarkan, “Maka, mari kita tidak merasa malu untuk menyatakan Yesus yang tersalib. Biarlah tanda salib menjadi meterai kita, yang dibuat dengan jari-jari kita, di atas dahi … atas makanan dan minuman kita, pada saat kita masuk ataupun keluar, sebelum tidur, ketika kita berbaring dan ketika bangun tidur ketika kita bepergian ataupun ketika kita beristirahat.”

3) St. Ephrem dari Syria (373) mengajarkan, “Tandailah seluruh kegiatanmu dengan tanda salib yang memberi kehidupan. Jangan keluar darin pintu rumahmu sampai kamu menandai dirimu dengan tanda salib. Jangan mengabaikan tanda ini, baik pada saat sebelum makan, minum, tidur, di rumah maupun di perjalanan. Tidak ada kebiasaan yang lebih baik daripada ini. Biarlah ini menjadi tembik yang melindungi segala perbuatanmu, dan ajarkanlah ini kepada anak-anakmu sehingga mereka dapat belajar menerapkan kebiasaan ini.”

4) St. Yohanes Damaskus (676-749) mengajarkan, “Tanda salib diberikan sebagai tanda di dahi kita, …. sebab dengan tanda ini kita umat yang percaya dibedakan dari mereka yang tidak percaya.”

Memang dalam hal cara membuat tanda salib itu terjadi perkembangan, karena pada awalnya tanda salib hanya dibuat di dahi saja, namun kemudian diajarkan juga untuk membuat tanda salib di mulut (St Jerome, Epitaph Paulae) dan di hati (Prudentius, Cathem., vi, 129). Tanda salib seperti yang kita kenal sekarang, yang secara jelas diajarkan oleh Paus Innocentius III (1198–1216), seperti demikian:

“The sign of the cross is made with three fingers, because the signing is done together with the invocation of the Trinity. … This is how it is done: from above to below, and from the right to the left, because Christ descended from the heavens to the earth, and from the Jews (right) He passed to the Gentiles (left). Others, however, make the sign of the cross from the left to the right, because from misery (left) we must cross over to glory (right), just as Christ crossed over from death to life, and from Hades to Paradise. [Some priests] do it this way so that they and the people will be signing themselves in the same way. You can easily verify this — picture the priest facing the people for the blessing — when we make the sign of the cross over the people, it is from left to right…

Cara membuat tanda salib

Memang terdapat beberapa cara untuk membuat tanda salib. Yang terpenting di sini adalah makna yang ingin disampaikannya, dan penghayatan orang yang membuat tanda salib ini. Maka cara yang mendetail sebenarnya tidak terlalu menjadi masalah, seperti apakah membuatnya dengan dua jari (jari penunjuk dan jari tengah, yang melambangkan dua kodrat Yesus, yaitu Allah dan manusia) atau tiga jari (yang melambangkan Trinitas), atau kelima jari (melambangkan kelima luka-luka Yesus di kayu salib). Atau arah salibnya ke kanan dulu baru kiri (seperti yang dilakukan Gereja-gereja Timur dan Orthodox) atau ke kiri dahulu baru ke kanan (seperti yang dilakukan oleh Gereja Katolik Roma).

Umumnya caranya adalah demikian:

Dengan dua atau tiga (atau lima jari) jari tangan kanan di dahi (sambil mngucapkan: “Atas nama Bapa”), tangan kemudian ke dada -melambangkan hati atau ke perut -menunjuk kepada luka Yesus di perut-Nya ataupun rahim di mana Yesus dikandung oleh Bunda Maria (sambil mengucapkan “dan Putera”, kemudian tangan menuju ke bahu kiri dan kanan (sambil mengucapkan “dan Roh Kudus” Amin). Dan tangan kembali terkatup.

Kapan kita membuat tanda salib?

1) Pada saat sebelum dan sesudah kita berdoa.

2) Ketika kita melewati setiap bangunan gereja Katolik, untuk menghormati kehadiran Tuhan Yesus di dalam tabernakel.

3) Ketika memasuki gereja (membuat tanda salib dengan air suci)

4) Saat-saat sedang menghadapi ketakutan ( misalnya: ketika kita mendengar sirine ambulans, mobil kebakaran) ataupun ketika menerima kabar duka cita orang yang meninggal.

5) Ketika kita melihat Salib Kristus, ataupun di saat- saat lain untuk menghormati Kristus, memohon pertolongan-Nya,

6) Ketika hendak mengusir godaan, ketakutan maupun mengusir pengaruh kuasa jahat.

7) Ketika ayah, sebagai imam dalam keluarga memberikati anak-anaknya, ia dapat menandai anak-anaknya dengan tanda salib di dahi mereka, misalnya sebelum anak-anak berangkat ke sekolah atau sebelum mereka tidur pada waktu malam hari.

Semoga kita dapat menghayati makna tanda salib ini, dan menjadikan tanda salib sebagai bagian dari hidup kita sendiri. Setiap kita membuat tanda salib kita mengingat dan menhormati Kristus yang oleh kasih-Nya rela menyerahkan hidup-Nya di kayu salib untuk menebus dosa-dosa kita. Semoga kita dapat berkata bersama dengan Rasul Paulus, “Tetapi aku sekali-kali tidak mau bermegah, selain dalam salib Tuhan kita Yesus Kristus, sebab olehnya dunia telah disalibkan bagiku dan aku bagi dunia.” (Gal 6:14)

Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
Ingrid Listiati- www.katolisitas.org

Beberapa artikel di kategori yang sama:

35 Komentar to Dalamnya Makna Tanda Salib

  1. Salam sejahtera bp. Stef dan bu Inggrid,

    1. Dari kebiasaan kami membuat Tanda Salib adalah :
    di dahi : Dalam Nama Bapa
    di dada/perut : dan Putera
    di bahu kiri : dan Roh Kudus
    di bahu kanan : amin, tangan mengatup.

    2. Saya baca dari beberapa web, cara membuat Tanda Salib adalah :
    di dahi : Dalam Nama Bapa
    di dada/perut : dan Putera
    di bahu kiri ke bahu kanan : dan Roh Kudus
    tangan mengatup : amin

    Mohon pencerahan dalam membuat Tanda Salib yang benar menurut ajaran Gereja Katolik dengan cara pertama ataukah yang kedua, ataukah ada cara lain yang lebih benar.
    Terima kasih. Tuhan memberkati

    • Shalom Yustinus,

      Menurut pengetahuan saya, tidak ada dokumen Gereja yang secara resmi mengajarkan cara membuat Tanda Salib. Yang memang diajarkan secara prinsip adalah makna Tanda Salib, dan tulisan para Bapa Gereja yang membuktikan bahwa Tanda Salib dibuat sebagai permulaan dan penutup doa yang mengingatkan kita kepada Salib Kristus. Sedangkan terdapat sedikit perbedaan dalam hal cara membuat Tanda Salib, dan asalkan dipahami maknanya, hal itu tidaklah menjadi masalah.
      Silakan membaca di link ini tentang Tanda Salib, dan cara umum membuat Tanda Salib, silakan klik.Jika berpegang kepada tulisan itu, maka cara yang benar adalah cara yang kedua, yaitu: di dahi : Dalam Nama Bapa; di dada/perut : dan Putera; di bahu kiri ke bahu kanan: dan Roh Kudus,  lalu tangan mengatup : amin.

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      Ingrid Listiati- katolisitas.org

  2. Bagi saya tanda salib itu artinya hubungan kita dengan TUhan,manusia,dan dibawah kia yakni kematian, kenapa kita membuat tanda salib agar tubuh dan jiwa kita sesuai dengan salib tadi

  3. Berkah Dalem. 1. Mohon informasi tentang sejarah penggunaan tanda salib di Gereja Katolik dan mengapa ada perbedaan dengan Gereja Timur. 2. Apa makna tanda salib dan berbagai karunia yang dapat kita peroleh dari penggunaan tanda salib. 3. Apa alasan teman-teman Kristen Protestan tidak menggunakan tanda salib. Terima kasih.

    [dari katolisitas: silakan melihat artikel di atas - silakan klik]

  4. Shalom pak Stef dan bu Ingrid, saya ingin bertanya. Apakah salib kita umat Katolik harus menyertakan corpus Christi ataukah tidak harus? Apakah ada alasan tertentu untuk hal ini? Di Gereja St. Matias, Kosambi koq tidak ada corpus Christi, yaa? Mohon informasinya. Terima kasih.

    • Shalom Barnabas,
      Menurut tradisi Gereja Katolik, salib itu punya corpus Yesus yang menderita. Pada abad pertengahan hal ini sangat ditekankan untuk mengungkapkan bahwa Yesus adalah Tuhan yang sungguh-sungguh telah menjadi manusia dan sungguh-sungguh telah menanggung duka derita manusia berdosa, meskipun Dia sendiri tidak berdosa, hanya untuk menebus manusia yang berdosa supaya selamat. Yesus yang telah menderita dan mati itu, sungguh-sungguh telah bangkit untuk mengalahkan maut abadi atau dosa maut, sebab Dia sungguh-sungguh Allah (Putra Allah yang Tunggal yang sangat dikasihi oleh Allah Bapa). Sementara itu saudara-saudara kita yang Protestan mewarisi kebiasaan menggunakan salib tanpa corpus untuk menggarisbawahi kebenaran tentang kebangkitan Yesus. Yesus yang jenazahnya diturunkan dan dimakamkan, telah bangkit dan meninggalkan kenangan salib tanpa corpus. Ini dikuatkan oleh kebiasaan mereka untuk tidak mematungkan Yesus. Masing-masingnya mempunyai alasan. Kini dalam gedung gereja Katolik tertentu dipakai salib tanpa corpus atau dengan tubuh Yesus yang bangkit mulia, bukan tubuh Yesus yang menderita, karena mau menggarisbawahi misteri kebangkitan itu. Meskipun demikian harus kita yakini bahwa tidak ada kebangkitan Yesus Kristus tanpa lebih dahulu mengalami derita dan kematian yang mengerikan. Dengan menggarisbawahi salah satu aspek, tidak berarti aspek lain dari misteri kebangkitan disangkal. Bagi saya pribadi, dalam salib dengan corpus Yesus yang menderita menurut tradisi Gereja Katolik, terungkaplah dua aspek kebenaran misteri penyelamatan dalam diri Yesus Kristus: kebenaran tentang Yesus yang sungguh-sungguh menderita dan mati (sungguh manusia) serta kebenaran tentang Yesus yang sungguh-sungguh bangkit mulia (sungguh Allah).

      Salam dan doa. Gbu.
      Rm Boli Ujan, SVD.

  5. Saya termasuk orang yang paling suka membuat Tanda Salib, bukan ingin pamer, bukan ingin menonjolkan diri, tapi percaya atau tidak Tanda Salib ini selalu membawa kebahagiaan serta ketenangan untuk saya, di saat akan menghadapi ujian, di saat terlewat dari hal2 buruk, dan sebagainya salah satu cara saya bersyukur dan berterima kasih kepada Tuhan Yesus adalah dengan Tanda Salib, Terima Kasih karena blog ini sudah membuka wawasan saya betapa sakralnya Pengorbanan Tuhan Yesus Kristus dan betapa intimnya kita bisa berkomunikasi denganNya walau hanya dengan cara sederhana yakni Tanda Salib yang kita gambarkan dengan jemari di atas tubuh kita yang merupakan kediaman-Nya. Salam Damai Kristus ^^

  6. yohannes sutrisno November 30, 2011 at 11:55 pm

    Berkah Dalem
    Pertanyaan singkat:
    - Apakah dalam membuat tanda salib setelah kata ‘amin’ kemudian mencium telapak tangan / jari tangan,diperbolehkan dalam gereja Katolik? hal ini sering terlihat dalam kebiasaan membuat tanda salib bagi umat katolik di Amerika Latin.
    Terima kasih – Deo Gratias -

    • Shalom Yohanes Sutrisno,

      Menurut pengetahuan saya, cara membuat tanda salib yang umum dikenal adalah yang telah disampaikan di atas. Namun kadang ada orang- orang yang membuat tanda salib setelah berdoa rosario, dan kemudian mencium salib di ujung rantai rosario itu, sehingga kesannya seperti ia sedang mencium ujung jari tangannya sendiri. Kemungkinan hal inilah yang Anda lihat, karena mungkin saja rosario yang digunakan untuk berdoa adalah rantai kecil yang ada di balik telapak tangan, dengan salib kecil di ujungnya.

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      Ingrid Listiati- katolisitas.org

  7. Syalom

    Maaf sebelumnya, saya ingin bertanya apakah tanda salib boleh digunakan jemaat gereja2 lain (Protestan) kecuali Katolik???
    Thank u
    Gbu

    • Shalom Eka,

      Sebenarnya tanda salib merupakan sintesis atau rangkuman dari apa yang kita percaya, yaitu Tritunggal Maha Kudus. Kalau jemaat lain menyadari apa yang terkandung dalam tanda salib ini serta berniat mengekspresikannya, maka sesungguhnya itu adalah hal yang sangat baik. Dengan demikian, gereja-gereja non-Katolik juga dapat melakukan tanda salib, kalau mereka mau dan menghayatinya.

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      stef – katolisitas.org

  8. Salam dalam Kristus,
    Prodiakon dilarang memberikan berkat publik dengan mengarahkan tanda salib kepada umat seperti yang dilakukan imam, akan tetapi prodiakon diijinkan memberi berkat dengan membuat tanda salib pada dahi anak-anak. Saya mohon penjelasan apa saja yang dilarang dan apa yang diijinkan bagi Prodiakon sehubungan dengan membuat tanda salib. Apakah pemberkatan jenazah oleh Prodiakon membuat tanda salib dengan menggunakan patung salib yang diarahkan ke jenazah termasuk yang dilarang dilakukan oleh Prodiakon? Terima kasih atas pencerahannya. Tuhan memberkati kita semua.

    • Yohanes Dwi Harsanto Pr November 21, 2011 at 9:01 am

      Salam Iman Iswanto,

      Dalam buku “Tata Laksana Melepas Jenazah” terbitan Komisi Liturgi Keuskupan Agung Semarang, ada keterangan pada halaman 49-50 demikian:

      “Ditegaskan kembali di sini bahwa yang diperbolehkan memberikan berkat publik dengan tanda salib atas jenazah atau umat hanyalah imam. Bila pemimpin ibadat bukan imam, maka dalam permohonan berkat, cukuplah baginya untuk membuat tanda salib sendiri atas dirinya sendiri dan diikuti oleh umat yang juga membuat tanda salib atas diri mereka masing-masing. Namun tindakan liturgis mengulurkan tangan atas jenazah boleh dilakukan oleh siapapun sebagai pemimpin ibadat, baik imam maupun bukan imam.”

      Pada bagian pemberkatan jenazah hlm 66 ada tambahan keterangan:
      “Kalau pemimpin ibadat imam atau diakon tertahbis: tangan diulurkan dan membuat berkat tanda salib. Kalau pemimpin ibadat bukan orang tertahbis cukup tangan diulurkan.”

      Maka, jika pemimpin nya prodiakon paroki (awam tidak tertahbis) tidak diperkenankan memberi berkat. Cukup mengulurkan tangan atas jenazah, entah dengan memegang salib entah tidak. Jadi, prodiakon memohonkan berkat untuk jenazah dengan mengulurkan tangan yang memegang salib diperbolehkan, tetapi salib hanya diangkat saja tidak untuk membuat gerakan tanda salib.

      Salam

      Yohanes Dwi Harsanto Pr

      • Yohanes Dwi Harsanto Pr November 21, 2011 at 10:51 am

        Tambahan jawaban saya untuk Iman Iswanto:

        Dalam buku Ibadat Berkat (Komlit KWI) yang disusun berdasar buku “De Benedictionibus” (editio typica dari Tahta Suci 1984), prodiakon:

        1.Tidak boleh merentangkan tangan saat membawa doa-doa seperti doa pembuka, doa berkat, doa penutup. Saat mengucapkan doa-doa tersebut, tangan prodiakon tetap terkatup.
        2.Tidak boleh membuat gerakan pemberian berkat tanda salib publik.
        3.Boleh membuat tanda salib dengan ibu jari pada dahi orang.
        4.Boleh mengulurkan tangan di atas atau ke arah orang/barang yang dimohonkan berkat, termasuk jenazah.
        5.Boleh memerciki barang/orang dengan air suci
        6.Boleh mendupai gedung/barang/tempat. Dalam pemberkatan jenazah, dimungkinkan Prodiakon mendupainya.

        Salam,
        Yohanes Dwi Harsanto, Pr

  9. Dear moderator yg baik2 n sabar,

    Sy kaget sekali wkt sdg googling (dgn gambar) ada salib2 yang milik orang pagan/menyembah berhala. Tapi memang modelnya lain2 (lain dgn bentuk salib Katolik/Kristen). Juga sy baru dapat kabar dr sdr : musti hati2 dgn rosario versi new world. (salibnya ada lingkaran yg sebetulnya melambangkan matahari). Bagaimana ini mods? Terima kasih atas jawaban yg akan diberikan.

    [Dari Katolisitas: Silakan membaca artikel ini terlebih dahulu, silakan klik]

  10. 1.JIka Injil tidak mengajarkan tanda salib,lantas apa yang menjadi dasar gereja mengadakan-nya?
    2.Ayat yang dicantumkan WHY 7,9 dan 14 hanya menyatakan dahi,mengapa kemudian bersilang kiri-kanan (dada)?
    3.Apakah murid2 Yesus pernah melakukan tanda salib?
    4.apakah benar yesus mati di salib?
    salam

    • Shalom Abu Hanan,

      Terima kasih atas pertanyaan anda. Saya tidak tahu apakah anda telah membaca artikel di atas. Namun, kalau belum, silakan membaca terlebih dahulu artikel di atas – silakan klik. Dan tidak menjadi masalah kalau membuat tanda salib tidak disebutkan di dalam Kitab Suci, karena Gereja Katolik mempunyai tiga pilar kebenaran, yaitu: Kitab Suci, Tradisi Suci dan Magisterium Gereja. Magisterium Gereja inilah yang menjaga agar pesan Tuhan yang disampaikan dalam Kitab Suci dan Tradisi Suci dapat diwariskan dengan setia dan murni dari generasi ke generasi. Pengertian dari tiga pilar ini adalah sebagai berikut:

      Tradisi Suci

      Tradisi Suci adalah Tradisi yang berasal dari para rasul yang meneruskan apa yang mereka terima dari ajaran dan contoh Yesus dan bimbingan dari Roh Kudus. Oleh Tradisi, Sabda Allah yang dipercayakan Yesus kepada para rasul, disalurkan seutuhnya kepada para pengganti mereka, supaya dalam pewartaannya, mereka memelihara, menjelaskan dan menyebarkannya dengan setia.[5] Maka Tradisi Suci ini bukan tradisi manusia yang hanya merupakan ‘adat kebiasaan’. Dalam hal ini, perlu kita ketahui bahwa Yesus tidak pernah mengecam seluruh adat kebiasaan manusia, Ia hanya mengecam adat kebiasaan yang bertentangan dengan perintah Tuhan (Mrk 7:8).

      Jadi, Tradisi Suci dan Kitab Suci tidak akan pernah bertentangan. Pengajaran para rasul seperti Allah Tritunggal, Api penyucian, Keperawanan Maria, telah sangat jelas diajarkan melalui Tradisi dan tidak bertentangan dengan Kitab Suci, meskipun hal-hal itu tidak disebutkan secara eksplisit di dalam Kitab Suci. Janganlah kita lupa, bahwa Kitab Suci sendiri mengajarkan agar kita memegang teguh Tradisi yang disampaikan kepada kita secara tertulis ataupun lisan (2Tes 2:15, 1Kor:2).

      Juga perlu kita ketahui bahwa Tradisi Suci bukanlah kebiasaan-kebiasaan seperti doa rosario, berpuasa setiap hari Jumat, ataupun selibat para imam. Walaupun semua kebiasaan tersebut baik, namun hal-hal tersebut bukanlah doktrin. Tradisi Suci meneruskan doktrin yang diajarkan oleh Yesus kepada para rasulNya yang kemudian diteruskan kepada Gereja di bawah kepemimpinan penerus para rasul, yaitu para Paus dan uskup.

      Kitab Suci

      Allah memberi inspirasi kepada manusia yaitu para penulis suci yang dipilih Allah untuk menuliskan kebenaran. Allah melalui Roh KudusNya berkarya dalam dan melalui para penulis suci tersebut, dengan menggunakan kemampuan dan kecakapan mereka. “Oleh sebab itu, segala sesuatu yang dinyatakan oleh para pengarang yang diilhami tersebut, harus dipandang sebagai pernyataan Roh Kudus.”[6] Jadi jelaslah bahwa Kitab Suci yang mencakup Perjanjian Lama dan Baru adalah tulisan yang diilhami oleh Allah sendiri (2Tim 3:16). Kitab-kitab tersebut mengajarkan kebenaran dengan teguh dan setia, dan tidak mungkin keliru. Karena itu, Allah menghendaki agar kitab-kitab tersebut dicantumkan dalam Kitab Suci demi keselamatan kita.[7]

      Mungkin ada orang Kristen yang berkata, bahwa keselamatan mereka diperoleh melalui Kitab Suci saja. Namun, jika kita mau jujur, kita akan melihat bahwa hal itu tidak pernah diajarkan oleh Kitab Suci itu sendiri. Malah yang ada adalah sebaliknya, bahwa Kitab Suci tidak boleh ditafsirkan menurut kehendak sendiri (2Pet 1:20-21) sebab ada kemungkinan dapat diartikan keliru (2Pet 3:15-16). Gereja pada abad-abad awal juga tidak menerapkan teori ini. Teori ‘hanya Kitab Suci’ atau ‘Sola Scriptura’ ini adalah salah satu inti dari pengajaran pada zaman Reformasi pada tahun 1500-an, yang jika kita teliti, malah tidak berdasarkan Kitab Suci.

      Pada kenyataannya, Kitab Suci tidak dapat diinterpretasikan sendiri-sendiri, karena dapat menghasilkan pengertian yang berbeda-beda. Sejarah membuktikan hal ini, di mana dalam setiap tahun timbul berbagai gereja baru yang sama-sama mengklaim “Sola Scriptura” dan mendapat ilham dari Roh Kudus. Ini adalah suatu kenyataan yang memprihatinkan, karena menunjukkan bahwa pengertian mereka tentang Kitab suci berbeda-beda, satu dengan yang lainnya. Jika kita percaya bahwa Roh Kudus tidak mungkin menjadi penyebab perpecahan (lih. 1Kor14:33) dan Allah tidak mungkin menyebabkan pertentangan dalam hal iman, maka kesimpulan kita adalah: “Sola Scriptura” itu teori yang keliru.

      Magisterium (Wewenang mengajar) Gereja

      Dari uraian di atas, kita mengetahui pentingnya peran Magisterium yang “bertugas untuk menafsirkan secara otentik Sabda Allah yang tertulis atau diturunkan itu yang kewibawaannya dilaksanakan dalam nama Yesus Kristus.”[8] Magisterium ini tidak berada di atas Sabda Allah, melainkan melayaninya, supaya dapat diturunkan sesuai dengan yang seharusnya. Dengan demikian, oleh kuasa Roh Kudus, Magisterium yang terdiri dari Bapa Paus dan para uskup pembantunya [yang dalam kesatuan dengan Bapa Paus] menjaga dan melindungi Sabda Allah itu dari interpretasi yang salah.

      Kita perlu mengingat bahwa Gereja sudah ada terlebih dahulu sebelum keberadaan kitab-kitab Perjanjian Baru. Para pengarang/ penulis suci dari kitab-kitab tersebut adalah para anggota Gereja yang diilhami oleh Tuhan, sama seperti para penulis suci yang menuliskan kitab-kitab Perjanjian Lama. Magisterium dibimbing oleh Roh Kudus diberi kuasa untuk meng-interpretasikan kedua Kitab Perjanjian tersebut.

      Jelaslah bahwa Magisterium sangat diperlukan untuk memahami seluruh isi Kitab Suci. Karunia mengajar yang ‘infallible‘ (tidak mungkin sesat) itu diberikan kepada Magisterium pada saat mereka mengajarkan secara resmi doktrin-doktrin Gereja. Karunia ini adalah pemenuhan janji Kritus untuk mengirimkan Roh KudusNya untuk memimpin para rasul dan para penerus mereka kepada seluruh kebenaran (Yoh 16:12-13).

      Dengan demikian, semua pertanyaan anda telah terjawab dengan dasar Tradisi Suci, yang tidak bertentangan dengan Kitab Suci. Silakan membaca secara teliti di artikel di atas tentang perkembangan tanda salib. Saya menyarankan sebelum anda bertanya lebih lanjut tentang pokok-pokok iman Kristen yang lain, ada baiknya anda membaca beberapa artikel kristologi di bawah ini:

      Iman Katolik bersumber pada Allah Tritunggal dan berpusat pada Kristus, Allah yang menjelma menjadi manusia untuk menyelamatkan kita. Inkarnasi, Allah menjadi manusia, adalah perbuatan Tuhan yang terbesar, yang menunjukkan segala kesempurnaanNya: KebesaranNya, namun juga KasihNya yang menyertai kita. Penjelmaan Allah ini telah dinubuatkan oleh para nabi. Yesus Kristus yang kita imani sekarang adalah sungguh Yesus Tuhan yang ber-inkarnasi dan masuk ke dalam sejarah manusia, karena Yesus sungguh Allah dan sungguh manusia.

      Silakan juga membaca beberapa link tentang apologetik non-Kristen di sini – silakan klik, yang telah membahas begitu banyak topik-topik. Semoga usulan ini dapat diterima.

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      stef – katolisitas.org

      • salam

        Tradisi Suci adalah Tradisi yang berasal dari para rasul yang meneruskan apa yang mereka terima dari ajaran dan contoh Yesus dan bimbingan dari Roh Kudus

        saya tidak melihat adanya murid Yesus/para rasul melakukan contoh “salib”.Termasuk di kalangan awal pemeluk Kristen (2 abad pertama).

        berdasarkan kesaksian para Bapa Gereja.

        adakah hal tersebut adalah karena intervensi penguasa?Mengingat keadaan masa itu bahwa kalangan awal kristen dalam keadaan tertindas?
        Kesaksian Bapa gereja bagaimna yang dimaksudkan?

        Kita perlu mengingat bahwa Gereja sudah ada terlebih dahulu sebelum keberadaan kitab-kitab Perjanjian Baru.

        Justru yang demikian itu menjadi pertanyaan besar bagi saya…..
        Karena ;
        1.penulisan KS datang diakhir pembentukan Gereja (setelah ada gereja baru ada penulisan)
        2.Jiwa gereja terlebih dahulu ada dibandingkan KS yang memiliki kedudukan lebih tinggi dari pada Gereja.
        Karena 2 hal tersebut akan besar kemungkinan menjadikan KS ter-distorsi oleh opini2 yang berkembang pada masa penulisan dan membekas pada ke-iman/jiwa-an para penulis KS.

        sekian dulu…
        salam

        • Shalom Abu Hanan,

          1. Tentang Tanda Salib

          Catatan tentang pembuatan tanda salib ditulis oleh Bapa Gereja di abad awal, pertama kali oleh Tertullian (160-225), namun bukan berarti bahwa baru pada saat itu orang membuat tanda salib. Tanda salib berakar pada inti iman Kristiani, yaitu Allah yang menyelamatkan manusia, melalui kematian Kristus di kayu salib untuk menebus dosa umat manusia. Nah, tentang Kristus yang disalibkan dan kebangkitan-Nya pada hari ketiga, telah diberitahukankan sendiri oleh Kristus kepada para murid-Nya, dan hal ini secara eksplisit ditulis di Kitab Injil maupun di catatan sejarah, seperti sudah pernah dibahas di sini: Yesus wafat di salib atau di tiang?, silakan klik. Rasul Paulus juga mengajarkan jemaat untuk mengimani Kristus yang disalibkan (lih. 1 Kor 1:23; 1Kor 2:2, Gal 3:1). Dengan demikian, pembuatan tanda salib bukanlah tidak beralasan, dan dasarnya sudah jelas diajarkan oleh Kristus sendiri dan para rasul.

          Tanda salib itu dibuat untuk menandai umat Kristiani yang mengimani Kristus yang telah wafat di salib dan bangkit dari mati, sehingga salib itu menjadi tanda kemenangan atas maut. Katekismus Gereja Katolik mengajarkan:

          KGK 1235    Tanda Salib pada awal perayaan menyatakan bahwa Kristus mengukir tanda-Nya pada orang yang akan bergabung dengan-Nya. Ia [Tanda Salib] menandakan rahmat penebusan, yang Kristus telah beroleh bagi kita dengan salib-Nya.

          Jadi kelirulah anggapan bahwa adanya tanda salib itu ada karena intervensi penguasa. Penguasa sekuler (jika maksud anda adalah para kaisar Roma) tidak mempunyai kuasa apapun dalam mengajarkan hal iman kepada jemaat. Sejarah mencatat, bahwa sebelum Edict of Milan 313, para penguasa Roma menentang jemaat Kristen dan menganiaya mereka, maka tidak mungkin mereka mengajarkan jemaat untuk membuat tanda salib, sebab mereka bahkan tidak mengimani Yesus yang disalibkan. Lagipula, Edict of Milan itupun bukan merupakan pengajaran iman, namun merupakan surat keputusan yang ditandatangani oleh Kaisar Roma, yaitu Konstantin I dan Licinius, tentang diberlakukannya toleransi beragama di Kerajaan Romawi.

          2. Gereja ada terlebih dahulu, baru kemudian Kitab Suci.

          Pernyataan ini benar. Sebab agama Kristen sesungguhnya tidak semata- mata mengacu kepada sebuah Kitab, tetapi kepada Seorang Pribadi, yaitu Yesus Kristus. Kristus tidak mendirikan/ menulis Kitab Suci, namun Ia mendirikan Gereja (jemaat), yang didirikanNya di atas Rasul Petrus (lih. Mat 16:18). Dengan demikian, Kristus tidak membatasi ajaran-Nya dengan apa yang tertulis dalam Kitab Suci -sebab tidak semua perkataan maupun perbuatan-Nya, dapat dituliskan semua di dalam Kitab Suci (lih. Yoh 21:25)- namun Kristus mempercayakan pelestarian segala ajaran-Nya kepada para rasul-Nya (lih. Mat 28:20). Maka para rasul melaksanakan amanat terakhir Kristus ini dengan mengajarkan kepada para murid mereka, untuk berpegang kepada semua ajaran mereka, baik yang lisan maupun yang tertulis. Karena apa yang mereka peroleh secara lisan dari Kristus dan dari semua teladan-Nya, juga mereka teruskan kepada para murid mereka, baik secara lisan (yang disebut Tradisi Suci) maupun tertulis (yang disebut Kitab Suci).

          “Sebab itu, berdirilah teguh dan berpeganglah pada ajaran-ajaran yang kamu terima dari ajaran-ajaran yang kamu terima dari kami, baik secara lisan, maupun secara tertulis.” (2 Tes 2:15)

          Dengan demikian, Tradisi Suci memang ada lebih dahulu daripada Kitab Suci. Kitab Injil sendiri merupakan pengajaran lisan dari Kristus yang dituliskan, ataupun khotbah dari para rasul yang kemudian dituliskan. Bapa Gereja abad awal, St. Irenaeus (130 – 202) menulis tentang penulisan Injil demikian: “Matius juga menerbitkan sebuah Injil secara tertulis di antara kaum Yahudi di dalam bahasa mereka, sedangkan Petrus dan Paulus memberitakan Injil dan mendirikan Gereja di Roma. Tetapi setelah keberangkatan mereka, Markus, murid dan penerjemah Petrus, juga menurunkan kepada kita secara tertulis apa yang biasanya dikhotbahkan oleh Petrus. Dan Lukas, pembantu Paulus, juga menuliskan sebuah kitab Injil tentang apa yang biasanya dikhotbahkan Paulus. Kemudian, Yohanes, murid Tuhan- yang bersandar di pangkuan-Nya- juga menuliskan Injil ketika tinggal di Efesus, Asia Kecil.” (St. Irenaeus, Against Heresies 3.1.1, in Ante-Nicene Fathers (Peabody, NY: Hendrickson, 1994), 1:414).

          Sedangkan tentang asal usul kanon Kitab Suci yang terdiri dari Kitab Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru, klik di sini.
          Memang yang menentukan kitab- kitab mana yang termasuk dalam Kitab Suci adalah Gereja, dalam hal ini adalah Magisterium Gereja Katolik pada tahun 382. Namun demikian, Gereja tidak pernah mengubah apa yang tertulis di dalam kitab- kitab tersebut, dan tidak pernah melakukan standarisasi. Keotentikan Injil dan Kitab Perjanjian Baru sudah pernah dibahas di sini, silakan klik. Kitab Injil dan Perjanjian Baru dituliskan sekitar 20- 50 tahun setelah wafat dan kebangkitan Kristus, artinya adalah pada masa saksi mata kejadian tersebut masih hidup, sehingga secara obyektif dapat diketahui kebenaran kitab tersebut. Dalam keadaan para saksi mata masih hidup tersebut, dan juga, terutama karena inspirasi Roh Kudus, para pengarang Kitab Suci tidak dapat membuat distorsi atas Wahyu Allah yang ditulisnya. Itulah sebabnya, walaupun ditulis oleh orang yang berbeda- beda, pada waktu dan tempat yang berbeda juga, namun dapat menyampaikan inti pengajaran yang sama. Fakta ini malah menjadi  bukti nyata bagi keotentikan Kitab- kitab tersebut, sebab, jika suatu kitab mengajarkan sesuatu yang berbeda atau malah bertentangan dengan ajaran para rasul, maka dapat diketahui bahwa kitab tersebut tidak otentik, sebab Roh Kudus tidak mungkin menginspirasikan seorang penulis untuk menuliskan sesuatu yang bertentangan dengan apa yang sudah pernah diinspirasikan-Nya kepada para penulis kitab sebelumnya.

          3. Gereja terlebih dahulu ada dibandingkan Kitab Suci, yang memiliki kedudukan lebih tinggi dari pada Gereja?

          Pernyataan pertama benar, yaitu Gereja terlebih dahulu ada dibandingkan Kitab Suci. Namun pernyataan kedua tidak benar, sebab kedudukan Kitab Suci tidak lebih tinggi dari Gereja. Gereja (jemaat) adalah Tubuh Kristus, dan Kristus adalah Kepalanya (lih. Ef 5: 23,29-30; Kol 1:18), dengan demikian Gereja merupakan bagian yang tak terpisahkan dari Kristus, dan selalu ada dalam kesatuan dengan-Nya, dan dengan Sabda-Nya. Dengan demikian, Kitab Suci yang adalah Sabda Tuhan (yang dituliskan), tidak terpisahkan dari Gereja. Kesatuan yang tak terpisahkan antara Sabda Tuhan dan Tubuh-Nya, dirayakan di dalam setiap perayaan Ekaristi (Misa Kudus), di mana terdapat dua bagian liturgi, yaitu: 1) Liturgi Sabda, di mana Kitab Suci dibacakan di tengah jemaat (Gereja); dan 2) Liturgi Ekaristi, di mana kurban Kristus (Tubuh dan Darah-Nya, dalam rupa roti dan anggur) dihadirkan kembali di tengah para anggota Tubuh Mistik-Nya (Gereja).

          Demikian tanggapan saya, semoga dapat menjadi masukan bagi anda.

          Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
          Ingrid Listiati- katolisitas.org

  11. elisabeth antaraningsih June 5, 2011 at 10:51 am

    Pada saat membuat tanda salib dan mengatakan ‘ dan putera’
    apakah tangan di ‘ hati’ , ‘pusar’, atau ‘perut ‘ ?

    Terimakasih,
    Berkah Dalem.

    • Shalom Elisabeth,
      Tidak menjadi masalah, anda dapat melakukan tanda salib pada kata “Putera” dengan menandai baik di hati (mengacu kepada hati Yesus) atau perut yang mengacu kepada lambung Kristus yang ditembus oleh tombak, demi menyelamatkan kita; atau di perut mengacu kepada rahim Maria, bahwa Kristus pernah menjelma menjadi manusia dan dikandung di dalam rahim Maria, atau di pusar yang mengingatkan bahwa Kristus adalah pusat hidup kita. Yang terpenting adalah bagaimana anda menghayatinya.

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      Ingrid Listiati- katolisitas.org

      • Shalom!!
        Saya membaca di sebuah website Katolik juga yang mengatakan kalau pada kata Putera posisi tangan di pusar karena karena tali pusar adalah tali kehidupan, tali yang menyambung antara ibu dan anak di sinilah janin mendapat makan dan mendapat curahan kehidupan. Dan Yesus lahir sebagai manusia untuk menyelamatkan manusia dan karyaNya itu dimulai dari semenjak kita masih berupa janin.
        Semoga bisa menjadi referensi.
        GBU

        [Dari Katolisitas: Posisi tangan di pusar ataupun di dada, pada saat menyebut "Putera", keduanya diperbolehkan, dengan maknanya masing- masing]

  12. Pertanyaan seputar Jumat Agung:
    1.Apakah kebiasaan Mencium Salib pada Jumat Agung hanya dilakukan dalam gereja katolik? bagaimana dengan gereja lain?
    2.Bagimana sejarah terjadinya upacara mencium salib?
    3.Apakah mencium salib dapat dipertanggungjawabkan secara moral dan teologis? Bukankah tindakan tersebut aneh dan tidak logis menurut akal sehat? Mengapa iman katolik harus melakukan hal yang tidak masuk akal?

    • Shalom Herman Jay,

      1. Apakah yang mempunyai tradisi mencium salib hanya Gereja Katolik?

      Tidak. Gereja Orthodox, yaitu Gereja- gereja Timur yang mempunyai jalur apostolik, juga mempunyai tradisi mencium salib.

      2. Sejak kapan dilakukan penciuman salib?

      Upacara penghormatan salib yang melibatkan menyingkapan selubung kain pada salib dan penghormatan salib yang dilakukan di liturgi Latin di abad ke 7 dan 8, berasal dari Gereja Yerusalem. Tulisan “Peregrinatio Sylviae” mencatat upacara ini, yang telah dilakukan di Yerusalem di akhir abad ke-4. Berikut catatannya (selengkapnya silakan klik di link ini):

      Then a chair is placed for the Bishop in Golgotha behind the Cross… a table covered with a linen cloth is placed before him; the Deacons stand around the table, and a silver-gilt casket is brought in which is the wood of the holy Cross. The casket is opened and (the wood) is taken out, and both the wood of the Cross and the Title are placed upon the table. Now, when it has been put upon the table, the Bishop, as he sits, holds the extremities of the sacred wood firmly in his hands, while the Deacons who stand around guard it. It is guarded thus because the custom is that the people, both faithful and catechumens, come one by one and, bowing down at the table, kiss the sacred wood and pass on. (Duchesne, tr. McClure, 564)

      Pada waktu itu, jemaat satu persatu maju untuk memberi penghormatan kepada relikwi kayu salib Yesus. Namun dengan berjalannya waktu, pada saat jemaat berkembang ke seluruh dunia, menjadi sulit atau bahkan tidak mungkin bagi setiap gereja lokal untuk memperoleh relikwi kayu salib itu, dan karena relikwi ini memang hanya lambang saja, maka digantikan dengan crucifix (salib dengan patung Yesus). Penghormatan terhadap crucifix ini merupakan penghormatan dulia- relatif, yang secara prinsip artinya sudah dijelaskan di sini, silakan klik.

      Penghormatan dulia- relatif ini dicatat dalam Kitab Suci, yaitu ketika Tuhan menyuruh Musa untuk membuat tabut perjanjian, dengan membuat patung malaikat (kerub) untuk diletakkan di atas tutupnya (lih. Kel 37), di mana di dalamnya diletakkan roti manna (Kel 25:30), tongkat Harun (Bil 17:10) dan kedua loh batu sepuluh perintah Allah (Kel 25:16). Tabut perjanjian ini kemudian menyertai bangsa Israel sampai ke tanah terjanji yang dipimpin oleh nabi Yosua. Kitab Yosua sendiri mencatat bahwa Yosua bersama- sama para tua- tua sujud ke tanah menghormati tabut Tuhan: “Yosuapun mengoyakkan jubahnya dan sujudlah ia dengan mukanya sampai ke tanah di depan tabut TUHAN hingga petang, bersama dengan para tua-tua orang Israel….” (Yos 7:6). Tentu tabut itu bukan Tuhan, dan tentu yang dihormati bukan apa yang nampak, yaitu kotak dengan patung malaikat (kerub) di atasnya, tetapi adalah Allah yang dilambangkan-Nya. Yosua dan para tua- tua Yahudi pada saat itu tidak menyembah berhala, Allah tidak menghukum mereka karena sujud di depan tabut itu. Sebaliknya Allah menerima ungkapan tobat mereka, dan menyatakan kehendak-Nya atas apa yang harus mereka perbuat terhadap Akhan, yang melanggar perintah-Nya.

      Dulia- relatif juga dikehendaki Allah pada saat Allah menyuruh Musa membuat ular dari tembaga yang dipasangnya di sebuah tiang, dan siapa yang memandang patung ular itu akan tetap hidup walaupun telah dipagut ular (Bil 21:8-9). Ular yang ditinggikan di tiang ini menjadi gambaran akan Yesus Kristus yang juga akan ditinggikan di kayu salib (lihat Yoh 3:14).

      Maka tindakan mencium crucifix bukanlah perbuatan berhala. Tindakan itu hanya merupakan ungkapan kasih dan tobat kita, seperti yang dikehendaki Tuhan sendiri di dalam Mazmur, “Beribadahlah kepada TUHAN dengan takut dan ciumlah kaki-Nya dengan gemetar….” (Mzm 2:11).

      3. Apakah mencium salib dapat dipertanggungjawabkan?

      Anda kemudian bertanya, “Apakah mencium salib dapat dipertanggungjawabkan secara moral dan teologis? Bukankah tindakan tersebut aneh dan tidak logis menurut akal sehat? Mengapa iman katolik harus melakukan hal yang tidak masuk akal?

      Jika kita memahami maknanya, maka tentu saja tindakan mencium crucifix tersebut dapat dipertanggungjawabkan secara moral dan teologis. Sebab pada prinsipnya Allah tidak melarangnya. Yang dilarang Allah adalah menyembah patung- patung yang dianggap sebagai allah- allah lain di hadapan-Nya. Hal ini sudah pernah kami bahas di sini, silakan klik.

      Tradisi mencium crucifix ini berasal dari Gereja di abad- abad awal, dan didasari atas iman akan besarnya kuasa pengorbanan Kristus di kayu salib. Rasul Paulus sendiri mengajarkan, “Sebab pemberitaan tentang salib memang adalah kebodohan bagi mereka yang akan binasa, tetapi bagi kita yang diselamatkan pemberitaan itu adalah kekuatan Allah.” (1 Kor 1:18)

      Penghormatan akan salib Kristus mungkin untuk sebagian orang adalah kebodohan dan tidak masuk akal, namun bagi mereka yang menghayati maknanya, seperti yang dikatakan oleh Rasul Paulus ini, tindakan ini malah merupakan tindakan pengakuan iman kita akan kekuatan Allah. Maka walaupun tidak diharuskan apakah kita mau menghormati salib Yesus dengan mencium salib atau tidak, tetapi jika kita mengetahui maknanya, tentu saja, baik jika kita mengungkapkan iman kita akan kekuatan Kristus yang tersalib, dengan mencium kaki-Nya, tanda tobat dan penghormatan kita kepada Dia yang menyerahkan nyawa-Nya demi menyelamatkan kita.

      Selanjutnya tentang dalamnya makna tanda salib, silakan klik di sini

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      Ingrid Listiati- katolisitas.org

  13. Shalom,
    Baru-baru ini saya mendengar suatu pertanyaan semacam ini :
    “Kenapa harus membuat tanda salib sebelum berdoa? Toh tidak ada bedanya/sama saja dengan jika tidak membuat tanda salib?”
    Jawaban apa yang harusnya dapat diberikan kepada si penanya?

    Mohon bantuannya..
    Terima kasih,
    GBU

    • Shalom RBV,

      Terima kasih atas pertanyaannya. Sebagai umat Katolik, kita diperintahkan untuk menjadi saksi Kristus. Tanda salib adalah merupakan “credo” yang singkat namun bermakna sangat dalam. Dalam tanda salib kita mewartakan iman kita akan Tritunggal Maha Kudus. Selain mewartakan Kristus, maka kita juga diingatkan bahwa kita telah ditebus oleh Kristus, yang telah mati di kayu salib. Ini berarti bahwa sebagai orang yang telah ditebus Kristus, kita harus berfikir, berkata dan bertindak sebagaimana layaknya anak-anak Allah. Dengan demikian, tanda salib membantu kita untuk terus berjaga-jaga dalam iman. (lih. Why 3:3). Dengan demikian, sungguh besar manfaat membuat tanda salib dan tidak membawa kerugian apapun, bahkan menjadi kesempatan untuk menjadi saksi Kristus dengan cara yang sederhana. Kalau membuat tanda salib mempunyai banyak “keuntungan” dan tidak ada ruginya, dan kalau teman anda berpendapat bahwa membuat atau tidak membuat tanda salib adalah sama saja, maka seharusnya teman anda membuat tanda salib, karena mempunyai “keuntungan” lebih dan kesempatan untuk bersaksi bagi Kristus. Jadi, mengapa teman anda tidak membuat tanda salib?

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      stef – katolisitas.org

  14. Saya mau bertanya,

    apa makna tanda salib dengan air suci?

    berikut sumber yg telah saya temukan dari http://www.indoforum.org/archive/index.php/t-73026.html
    tp sy ingin jawaban yg cukup kuat dan dapat dipercaya…

    Terimakasih
    Salam Damai… GBU

    • Shalom Jaya,

      Terima kasih atas pertanyaannya tentang tanda salib dengan air suci. Jawaban di link tersebut adalah baik dan benar. Dalam konteks liturgi, pada waktu kita masuk ke dalam Gereja, maka ketika kita mengambil air suci, maka kita diingatkan kembali akan makna baptisan yang telah kita terima, yaitu: dibebaskan dari belenggu dosa, menjadi anak-anak Allah, menerima rahmat pengudusan, yang pada akhirnya mengantar kita kepada kehidupan kekal. Lihat artikel tentang baptisan di sini – silakan klik. Pembabtisan juga mengingatkan kita akan pertobatan kita, dan janji baptis kita, yaitu untuk menolak Setan. Ini berarti, kita dapat memeriksa diri kita, apakah kita telah tergoda dalam jeratan setan? Dan kalau memang kita melakukan dosa berat, maka kita dapat mengaku dosa terlebih dahulu sebelum menerima Tubuh Kristus. Dengan demikian, kita dapat menyambut Tubuh Kristus dengan baik. Ekaristi dapat memberikan kita rahmat untuk dapat sampai pada kehidupan kekal (lih. Yoh 6), di mana St. Ignatius menyebutnya sebagai “the medicine of immortality and an antidote that we should not die but live for ever in Jesus Christ,” (lih. St. Ignatius, Ephes., 20) Tentang makna tanda salib, secara khusus telah dijawab di sini – silakan klik. Semoga dapat membantu.

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      stef – katolisitas.org

  15. Bagaimana membuat tanda salib yang benar?
    Sebab ada yang hingga dada, ada yang hingga perut, mana yang benar?

    • Shalom Hamidi,
      Walaupun yang umum diterapkan di Gereja Katolik Roma adalah membuat tanda salib (pada perkataan “dan Putera”) hingga di dada (melambangkan hati); namun jika seseorang membuat tanda salib (pada perkataan “dan Putera”) sampai ke perut (melambangkan luka Yesus yang di lambung, atau bahwa Yesus telah dikandung di rahim Bunda Maria”) juga benar. Jadi tergantung bagaimana memaknainya. Yang terpenting adalah makna keseluruhan yaitu membawa “salib Kristus” di dalam tubuh kita, supaya kita teringat akan janji Baptis kita yaitu: kita mati terhadap dosa dan hidup di dalam dan untuk Kristus.

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      Ingrid Listiati- http://www.katolisitas.org

  16. BUDI YOGA PRAMONO December 5, 2009 at 12:59 am

    Tanda salib…itulah salahsatu alasan saya mengapa pindah ke katolik. Seperti identitas diri bahwa kita adalah milik Kristus yang termanifestasi dalam Allah Bapa , Allah Anak , Allah Roh Kudus .
    Saya cenderung memakai jempol krn Dia adalah yang terbaik , yang terutama dalam hidup kita ; dimana diluar Kristus sebenarnya kita tidak bisa berbuat apa-apa.
    Waktu Brazil juara dunia , stelah mencetak gol saya nggak ingat siapa orangnya membuat tanda salib dan membuka kausnya dan terlihat kaus dalamnya bertuliskan : I belong to Jesus . Wow….

    • @BUDI YOGA PRAMONO, saya tahu siapa yang mengcetak gol dan kemudian membuat tanda salib dan kemudian membuka kausnya dan terlihat kaus dalamnya bertuliskan : I belong to Jesus . Dia adalah pemain Brasil bernama Kaka, sekarang menjadi pemain di Club Real Madrid.

      Kalau saya membuat tanda salib dengan memyatukan jari telunjuk, jari tengah ke ibu jari sebagai tanda Tritunggal.

  17. Kepada Bpk. Stefanus,
    shallom dalam nama Kristus.
    Saya mau bertanya, sejak kapan tanda salib mulai digunakan, karena tidak ada dalam alkitab, dan para rasul mungkin tidak menggunakan tanda salib mengingat mereka masih beribadat di sinagoga. Dan mengapa tanda salib gereja roma dan orthodox berbeda arah urutannya, apakah dulunya sama trus ada perubahan atau memang sejak semula berbeda. Terima kasih, Justin Syuhada

    [Dari Admin Katolisitas: Pertanyaan ini sudah dijawab di atas, silakan klik]

    • kapan tradisi tanda salib muncul?

      [Dari Katolisitas: Seperti telah tertulis di artikel di atas, "Menurut sejarah, diketahui bahwa Tanda Salib memang merupakan tradisi jemaat awal, yang dimulai sekitar abad ke-2 berdasarkan kesaksian para Bapa Gereja...."]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

CONNECT WITH US: