Mengapa aborsi itu dosa

82

“Tolong, jangan tusuk saya!”

Saya pernah menonton suatu program TV yang menunjukkan proses aborsi pada bayi usia 6 bulan. Dokter dengan sarung tangan memegang gunting dan pisau untuk ‘membuka’ perut ibu. Beberapa menit kemudian, bagian perut sudah tersayat, dan dalam sekejap, saya melihat suatu adegan yang membuat jantung saya hampir berhenti berdetak: keluarlah sebuah tangan kecil dari perut itu memegangi ujung gunting itu, seolah berteriak, “Tolong, jangan menusuk saya!” Namun mungkin para dokter itu sudah terbiasa melakukan “pekerjaan” itu. Tak lama kemudian hancurlah sudah tubuh manusia kecil dan tak berdaya itu. Bayi kecil itu mati terpotong-potong. Tidak sebagai manusia, namun hanya sebagai ‘benda’ yang dibuang karena dianggap mengganggu dan tidak diharapkan….

Pro Choice vs Pro-life

Di Amerika dewasa ini, terdapat isu yang cukup hangat, yang tak jarang mengundang perdebatan, yaitu mengenai aborsi. Umumnya mereka yang setuju aborsi menyebut diri sebagai ‘pro- choice‘ -karena mengacu kepada hak ibu untuk ‘memilih’ nasib dirinya dan bayi yang dikandungnya; sedangkan yang tidak setuju menyebut diri ‘pro-life‘. Gereja Katolik sendiri selalu ada dalam posisi “pro-life” karena Gereja Katolik selalu mendukung kehidupan manusia, tak peduli seberapa muda usianya, termasuk mereka yang masih di dalam kandungan.

Sebenarnya secara objektif terminologi yang dipakai sudah rancu, karena ‘pro-choice‘ sebenarnya bukan ‘choice‘, sebab pilihan yang diambil dalam hal ini hanya satu, yaitu membunuh bayi yang masih dalam usia kandungan. Sang bayi yang kecil dan lemah itu tidak membuat pilihan, sebab ia ditentukan untuk mati. Tragisnya, yang menentukan kematiannya adalah ibunya sendiri yang mengandungnya.

Kapan kehidupan manusia terbentuk?

Gereja Katolik ‘pro- life‘ karena Tuhan mengajarkan kepada kita untuk menghargai kehidupan, yang diperoleh manusia sejak masa konsepsi (pembuahan) antara sel sperma dan sel telur. Kehidupan manusia terbentuk pada saat konsepsi, karena bahkan dalam ilmu pengetahuan-pun diketahui, “Sebuah zygote adalah sebuah keseluruhan manusia yang unik.”[1] Pada saat konsepsi inilah sebuah kesatuan sel manusia yang baru terbentuk, yang lain jika dibandingkan dengan sel telur ibunya, ataupun sel sperma ayahnya. Pada saat konsepsi ini, terbentuk sel baru yang terdiri dari 46 kromosom (seperti halnya  sel manusia dewasa) dengan kemampuan untuk mengganti bagi dirinya sendiri sel-sel yang mati.[2] Analisa science menyimpulkan bahwa fertilisasi bukan suatu “proses” tetapi sebuah kejadian yang mengambil waktu kurang dari satu detik. Selanjutnya, dalam 24 jam pertama, persatuan sel telur dan sperma bertindak sebagai sebuah organisme manusia, dan bukan sebagai sel manusia semata-mata. Selengkapnya, untuk melihat pandangan para scientists tentang kapan hidup manusia dimulai, silakan membaca di link ini, silakan klik.

Masalahnya, orang-orang yang “pro-choice” tidak menganggap bahwa yang ada di dalam kandungan itu adalah manusia, atau setidaknya mereka menghindari kenyataan tersebut dengan berbagai alasan. Padahal science sangat jelas mengatakan terbentuknya sosok manusia adalah pada saat konsepsi (pembuahan sel telur oleh sel sperma). Pada saat itulah Tuhan ‘menghembuskan’ jiwa kepada manusia baru ciptaan-Nya, yang kelak bertumbuh dalam rahim ibunya, dapat lahir dan berkembang sebagai manusia dewasa. Adalah suatu ironi untuk membayangkan bahwa kita manusia berasal dari ‘fetus’ yang bukan manusia. Logika sendiri sesungguhnya mengatakan, bahwa apa yang akan bertumbuh menjadi manusia layak disebut sebagai manusia.

Dasar Kitab Suci

1. Kitab suci juga mengajarkan bahwa manusia sudah terbentuk sebagai manusia sejak dalam kandungan ibu:

Yes 44:2: “Beginilah firman TUHAN yang menjadikan engkau, yang membentuk engkau sejak dari kandungan dan yang menolong engkau…”

Allah sendiri mengatakan telah membentuk kita sejak dari kandungan, artinya, sejak dalam kandungan kita sudah menjadi manusia yang telah dipilih-Nya.

Ayb 31: 15: “Bukankah Ia, yang membuat aku dalam kandungan, membuat orang itu juga? Bukankah satu juga yang membentuk kami dalam rahim?”

Ayub menyadari bahwa ia dan juga orang-orang lain telah diciptakan/ dibentuk oleh Allah sejak dalam kandungan.

Yes 49, 1,5: “….TUHAN telah memanggil aku sejak dari kandungan telah menyebut namaku sejak dari perut ibuku…. Maka sekarang firman TUHAN, yang membentuk aku sejak dari kandungan untuk menjadi hamba-Nya, untuk mengembalikan Yakub kepada-Nya…”

Nabi Yesaya mengajarkan bahwa Allah telah memanggilnya sejak ia masih di dalam kandungan (sesuatu yang tidak mungkin jika ketika di dalam kandungan ia bukan manusia).

2. Kitab Suci mengajarkan bahwa setiap kehidupan di dalam rahim ibu adalah ciptaan yang unik, yang sudah dikenal oleh Tuhan:

Yer 1:5: “Sebelum Aku membentuk engkau dalam rahim ibumu, Aku telah mengenal engkau, dan sebelum engkau keluar dari kandungan, Aku telah menguduskan engkau, Aku telah menetapkan engkau menjadi nabi bagi bangsa-bangsa.”

Mazmur 139: 13, 15-16: “Sebab Engkaulah yang membentuk buah pinggangku, menenun aku dalam kandungan ibuku…. Tulang-tulangku tidak terlindung bagi-Mu, ketika aku dijadikan di tempat yang tersembunyi, dan aku direkam di bagian-bagian bumi yang paling bawah; mata-Mu melihat selagi aku bakal anak, dan dalam kitab-Mu semuanya tertulis hari-hari yang akan dibentuk, sebelum ada satupun dari padanya.”

Gal 1:15-16: “Tetapi waktu Ia, yang telah memilih aku sejak kandungan ibuku dan memanggil aku oleh kasih karunia-Nya, berkenan menyatakan Anak-Nya di dalam aku, supaya aku memberitakan Dia di antara bangsa-bangsa bukan Yahudi, maka sesaatpun aku tidak minta pertimbangan kepada manusia”

Luk 1:41-42: “Dan ketika Elisabet mendengar salam Maria, melonjaklah anak yang di dalam rahimnya dan Elisabetpun penuh dengan Roh Kudus lalu berseru, “Diberkatilah engkau di antara semua perempuan dan diberkatilah buah rahimmu.”

Di dalam kisah ini, Yohanes Pembaptis yang masih berada dalam kandungan Elisabet dapat melonjak gembira pada saat mendengar salam Maria. Lalu Elisabet-pun mengucapkan salam kepada Maria dan kepada Yesus yang ada dalam kandungan Bunda Maria sebagai ‘buah rahim’-nya. Tentulah ini menunjukkan bahwa kehidupan janin di dalam kandungan sudah menunjukkan kehidupan seorang manusia, yang sudah dapat turut melonjak karena suka cita, dan layak untuk ‘diberkati’ sebagai manusia. Janin di dalam kadungan bukan hanya sekedar sepotong daging/ fetus tanpa identitas. Sejak di dalam kandungan, Allah telah membentuk kita secara khusus, memperlengkapi kita dengan berbagai sifat dan karakter tertentu agar nantinya dapat melakukan tugas-tugas perutusan kita di dunia.

3. Tuhan Yesus mengajarkan kita untuk memperhatikan dan mengasihi saudara-saudari kita yang terkecil dan terlemah, sebab dengan demikian kita melakukannya untuk Kristus sendiri.

Mat 25:45: “… sesungguhnya segala sesuatu yang tidak kamu lakukan untuk salah seorang dari yang paling hina ini, kamu tidak melakukannya juga untuk Aku.”

Aborsi yang pada akhirnya membunuh janin, entah di dalam atau di luar kandungan, adalah tindakan pembunuhan yang bertentangan dengan perintah Yesus untuk memperhatikan dan mengasihi saudari-saudari kita yang terkecil dan terlemah.

4. Kitab Suci menuliskan bahwa kita tidak boleh membunuh, atau jika mau dikatakan dengan kalimat positif, kita harus mengasihi sesama kita.

Kel 20: 13; Ul 5:17; Mat 5:21-22; 19:18: “Jangan membunuh.”

Mat 22:36-40; Mrk 12:31; Luk 10:27; Rom 13:9, Gal 5:14: “Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri”

1 Yoh 3:15Setiap orang yang membenci saudaranya, adalah seorang pembunuh manusia. Dan kamu tahu, bahwa tidak ada seorang pembunuh yang tetap memiliki hidup yang kekal di dalam dirinya.”

Jika di dunia ini mulai banyak kampanye untuk melindungi binatang-binatang, (terutama binatang langka), maka adalah suatu ironi, jika manusia  malahan melakukan aborsi yang membunuh sesama manusia, yang derajatnya lebih tinggi dari binatang. Apalagi jika aborsi dilegalkan/ diperbolehkan secara hukum. Maka menjadi suatu ironi yang mengenaskan: ikan lumba-lumba dilindungi mati-matian, tetapi bayi-bayi manusia dimatikan dan tidak dilindungi.

Suatu permenungan: seandainya kita adalah janin itu, tentu kitapun tak ingin ditusuk dan dipotong-potong sampai mati. Maka, jika kita tidak ingin diperlakukan demikian, janganlah kita melakukannya terhadap bayi itu. Atau, kalau kita mengatakan bahwa kita mengimani Kristus Tuhan yang hadir di dalam mahluk ciptaan-Nya yang terkecil itu, maka sudah selayaknya kita tidak menyiksanya apalagi membunuhnya! Kita malah harus sedapat mungkin memeliharanya dan memperlakukannya dengan kasih.

5. Kitab Suci menuliskan, bahwa jika kita tidak peduli akan nasib saudara-saudari kita yang lemah ini, kita sama dengan Kain, yang pura-pura tidak tahu nasib saudaranya sendiri.

Kel 4: 9 Firman Tuhan kepada Kain, “Di mana Habel adikmu itu?” Ia (Kain) menjawab, “Aku tidak tahu.” Padahal tidak mungkin ia tidak tahu sebab Kain sendirilah yang memukul Habel adiknya hingga ia mati (lih. Kel 4:8).

Adalah suatu fakta yang memprihatinkan, yang menyangkut Presiden Barrack Obama yang terkenal oleh kebijakannya memperbolehkan aborsi. Pada suatu kesempatan dalam wawancara tanggal 16 Agustus 2008 (pada saat itu ia masih menjadi senator Illinois), ia ditanya oleh Pastor Rick Warren, “Jadi kapan menurut anda seorang bayi memperoleh hak azasinya?” Ini adalah pertanyaan yang menyangkut iman dan bagaimana iman itu bekerja dalam hati nurani dan kebijaksanaan sang (calon) Presiden. Namun sayangnya jawaban Obama adalah, “Answering that question with specificity, you know, is above my pay grade.” (Menjawab pertanyaan itu dengan detailnya, kamu tahu, itu melampaui batas gaji/ penghasilan saya). Suatu jawaban yang kelihatan sangat enteng untuk pertanyaan yang sangat serius. Ini sungguh mirip dengan jawaban Kain, “Aku tidak tahu.” Padahal, tentu bukannya tidak tahu, tetapi lebih tepatnya tidak mau tahu. Sebab fakta science dan bahkan akal sehat sesungguhnya telah begitu jelas menunjukkan kapan manusia terbentuk sebagai manusia.

Alkitab menunjukkan dan bahkan ilmu pengetahuan membuktikan bahwa kehidupan manusia berawal dari masa konsepsi. Satu sel ini kemudian berkembang menjadi janin yang sungguh sudah berbentuk manusia, walaupun masih di dalam kandungan. DNA dan keseluruhan 46 kromosom terbentuk saat konsepsi. Jantung janin telah berdetak di hari ke-18, keseluruhan struktur syaraf terbentuk di hari ke- 20. Di hari ke 42, semua tulang sudah lengkap, gerak refleks sudah ada. Otak dan semua sistem tubuh terbentuk di minggu ke-8. Semua sistem tubuh berfungsi dalam 12 minggu. Hanya orang yang menutup diri terhadap semua fakta ini dapat berkata, “aku tidak tahu” kapan kehidupan manusia dimulai, dan apakah janin itu seorang manusia atau bukan.

Pengajaran Bapa Gereja

1. Didache: Pengajaran dari kedua belas Rasul (80- 110)[3]
Mungkin tak banyak orang mengetahui bahwa larangan aborsi sudah berlaku sejak abad ke-1. Dalam Didache, yang merupakan katekese moral, aborsi dan mungkin juga kontrasepsi (yang dikatakan dalam istilah “magic” atau “drug“)[4]

2. Konsili Elvira (305) dan Konsili  Ancyra (314) mengecam aborsi, silakan melihat teks lengkapnya di link ini, silakan klik.

3. Beberapa Bapa Gereja yang mengajarkan larangan aborsi:

The Apocalypse of Peter (ca. 135)
Tertullian (c.160-240)
Athenagoras (d. 177)
Minucius (3rd Century AD)
Basil (c.329-379)
Ambrose (c.340-397)
Jerome (347-420)
John Chrysostom (347-407)
Augustine of Hippo (354-430)
St. Caesarius, Bishop of Arles (470-543)
Theodorus Priscianus (c.4th-5th century AD)
Justinian (527-565)
Gregory the Great (540-604)
Disciple of Cassiodorus (after 540 AD)
Apocalypse of Paul
The Apostolic Constitutions
The Letter of Barnabas
Hippolytus

Teks lengkapnya dari masing-masing Bapa Gereja tersebut, silakan klik di link ini.

Pengajaran Magisterium Gereja Katolik

Maka, Magisterium Gereja Katolik dengan teguh menjunjung tinggi kehidupan manusia dan menentang aborsi, karena memang demikianlah yang sudah diajarkan oleh para rasul dan diimani Gereja sepanjang sejarah.

1. Konsili Vatikan II, Gaudium et Spes 27, “Selain itu apa saja yang berlawanan dengan kehidupan sendiri, misalnya bentuk pembunuhan yang mana pun juga, penumpasan suku, pengguguran (aborsi), eutanasia atau bunuh diri yang disengaja; apa pun yang melanggar keutuhan pribadi manusia, …. apa pun yang melukai martabat manusia, seperti kondisi-kondisi hidup yang tidak layak manusiawi, pemenjaraan yang sewenang-wenang, pembuangan orang-orang, perbudakan, pelacuran, perdagangan wanita dan anak-anak muda; begitu pula kondisi-kondisi kerja yang memalukan, sehingga kaum buruh diperalat semata-mata untuk menarik keuntungan…. itu semua dan hal-hal lain yang serupa memang perbuatan yang keji. Dan sementara mencoreng peradaban manusiawi, perbuatan-perbuatan itu lebih mencemarkan mereka yang melakukannya, dari pada mereka yang menanggung ketidak-adilan, lagi pula sangat berlawanan dengan kemuliaan Sang Pencipta.”

2. Paus Paulus VI dalam surat ensikliknya, Humanae Vitae 13 mengutip Paus Yohanes XXIII mengatakan, “Hidup manusia adalah sesuatu yang sakral, dari sejak permulaannya, ia secara langsung melibatkan tindakan penciptaan oleh Allah.” Maka manusia tidak mempunyai dominasi yang tak terbatas terhadap tubuhnya secara umum; manusia tidak mempunyai dominasi penuh atas kemampuannya berkembang biak justru karena pemberian kemampuan berkembang biak itu ditentukan oleh Allah untuk memberi kehidupan baru, di mana Tuhan adalah sumber dan asalnya.

Dalam surat ensiklik yang sana Paus Paulus VI juga menyebutkan kedua aspek perkawinan yaitu persatuan (union) dan penciptaan kehidupan baru (pro-creation). Maka “usaha interupsi/ pemutusan terhadap proses generatif yang sudah berjalan, dan terutama, aborsi yang dengan sengaja diinginkan, meskipun untuk alasan terapi, adalah mutlak tidak termasuk dalam cara-cara yang diizinkan untuk pengaturan kelahiran.”[5].

3. Congregation for the Doctrine of the Faith, Declaration on Procured Abortion: (18 November 1974), nos 12-13, AAS (1974), 738:

“…from the time that the ovum is fertilized, a life is begun which is neither that of the father nor the mother; it is rather the life of a new human being with his own growth. It would never be made human if it were not human already. This has always been clear, and … modern genetic science offers clear confirmation. It has demonstrated that from the first instant there is established the programme of what this living being will be: a person, this individual person with his characteristic aspects already well determined. Right from fertilization the adventure of a human life begins, and each of its capacities requires time-a rather lengthy time-to find its place and to be in a position to act.”

Karena hidup manusia dimulai saat konsepsi/ fertilisasi, maka manusia harus dihormati dan diperlakukan sebagai manusia sejak masa konsepsi dan karenanya, sejak saat konsepsi, hak-haknya sebagai manusia harus diakui, terutama haknya untuk hidup.[6]

4. Yohanes Paulus II dalam surat ensikliknya, Evangelium Vitae menekankan bahwa Injil Kehidupan (the Gospel of Life) yang diterima Gereja dari Tuhan Yesus sebenarnya telah menggema di hati semua orang. Setiap orang yang terbuka terhadap kebenaran dan kebaikan akan mengenali hukum kodrat yang tertulis di dalam hatinya (lih. 2:14-15) tentang kesakralan kehidupan manusia dari sejak awal mula sampai akhirnya; dan dengan demikian dapat mengakui adanya hak dari setiap orang untuk dapat hidup. Sesungguhnya atas dasar pengakuan akan hak untuk hidup inilah setiap komunitas manusia dan komunitas politik didirikan.[7]

Paus Yohanes Paulus II kemudian menyebutkan adanya hubungan yang dekat antara kontrasepsi dan aborsi. Kontrasepsi menentang kebenaran sejati tentang hubungan suami istri, sedangkan aborsi menghancurkan kehidupan manusia. Kontrasepsi menentang kebajikan kemurnian di dalam perkawinan, sedangkan aborsi menentang kebajikan keadilan dan merupakan pelanggaran perintah “Jangan membunuh”[8]. Maka keduanya sebenarnya berasal dari pohon yang sama, berakar dari mental hedonistik yang tidak mau menanggung akibat dalam hal seksualitas, berpusat pada kebebasan yang egois, yang menganggap ‘pro-creation‘ sesuatu beban untuk pencapaian cita-cita/ personal fulfillment.

Paus Yohanes Paulus II menyebutkan mentalitas sedemikian mendorong bertumbuhnya “culture of death” di dalam masyarakat, yang pada dasarnya menentang kehidupan.[9] Dalam mentalitas ini, bayi/ anak-anak maupun orang tua yang sakit-sakitan dianggap sebagai ‘beban’ sehingga muncullah budaya aborsi dan euthanasia. Suatu yang sangat menyedihkan! Padahal seharusnya, manusia memilih kehidupan seperti yang diperintahkan Allah, “Pilihlah kehidupan, supaya engkau hidup, baik engkau maupun keturunanmu, dengan mengasihi Tuhan Allahmu, mendengarkan suara-Nya dan berpaut kepada-Nya….” (Ul 30:19-20).

Akhirnya, berikut ini adalah pengajaran definitif dari Paus Yohanes Paulus II yang menolak aborsi[10]:

“Therefore, by the authority which Christ conferred upon Peter and his Successors, in communion with the Bishops-who on various occasions have condemned abortion and who in the aforementioned consultation, albeit dispersed throughout the world, have shown unanimous agreement concerning this doctrine-I declare that direct abortion, that is, abortion willed as an end or as a means, always constitutes a grave moral disorder, since it is the deliberate killing of an innocent human being. This doctrine is based upon the natural law and upon the written Word of God, is transmitted by the Church’s Tradition and taught by the ordinary and universal Magisterium.”

Efek-efek negatif dari aborsi

Tidak mengherankan, karena aborsi adalah perbuatan yang menentang hukum alam dan hukum Tuhan, maka tindakan ini membawa akibat- akibat negatif, terutama kepada ibu dan ayah bayi, maupun juga kepada para pelaku aborsi dan masyarakat umum, terutama generasi muda, yang tidak lagi melihat kesakralan makna perkawinan.

Ibu yang mengandung bayi, terutama menanggung akibat negatif, baik bagi fisik maupun psikologis, yaitu kemungkinan komplikasi fisik, resiko infeksi, perdarahan, atau bahkan kematian. Selanjutnya, penelitian dalam Journal of the National Cancer Institute di Amerika juga menunjukkan wanita yang melakukan aborsi meningkatkan resiko 50% terkena kanker payudara. Sebab aborsi membuat terputusnya proses perkembangan natural payudara, sehingga jutaan selnya kemudian mempunyai resiko tinggi mengalami keganasan. Selanjutnyapun kehamilan berikutnya mempunyai peningkatan resiko gagal 45%, atau komplikasi lainnya seperti prematur, steril, kerusakan cervix. Selanjutnya tentang hal ini dapat anda lihat di link ini, silakan klik.

Di atas semua itu adalah tekanan kejiwaan yang biasanya dialami oleh wanita- wanita yang mengalami aborsi. Tekanan kejiwaan ini membuat mereka depresi, mengalami kesedihan yang berkepanjangan, menjadi pemarah, dikejar perasaan bersalah, membenci diri sendiri, bahkan sampai mempunyai kecenderungan bunuh diri. Menurut studi yang diadakan oleh David Reardon yang memimpin the Elliot Institute for Social Sciences Research di Springfield Illinois (di negara Obama menjadi senator): 98% wanita yang melakukan aborsi menyesali tindakannya, 28% wanita sesudah melakukan aborsi mencoba bunuh diri, 20% wanita post-aborsi mengalami nervous breakdown, 10% dirawat oleh psikiatris.

Ini belum menghitung adanya akibat negatif dalam masyarakat, terutama generasi muda. Legalisasi aborsi semakin memerosotkan moral generasi muda, yang dapat mempunyai kecenderungan untuk mengagungkan kesenangan seksual, ataupun memikirkan kepentingan diri sendiri, tanpa memperhitungkan tanggung jawab. Suatu mentalitas yang sangat bertentangan dengan ajaran Kristiani.

Bagi yang telah melakukan aborsi

Paus Yohanes Paulus II dengan kebapakan mengatakan bahwa Gereja menyadari bahwa terdapat banyak faktor yang menyebabkan seorang wanita melakukan aborsi. Gereja mengajak para wanita yang telah melakukan aborsi untuk menghadapi segala yang telah terjadi dengan jujur. Perbuatan aborsi tetap merupakan perbuatan yang sangat salah dan dosa, namun juga janganlah berputus asa dan kehilangan harapan. Datanglah kepada Tuhan dalam pertobatan yang sungguh dalam Sakramen Pengakuan Dosa. Percayakanlah kepada Allah Bapa jiwa anak yang telah diaborsi, dan mulai sekarang junjunglah kehidupan, entah dengan komitmen mengasuh anak-anak yang lain, atau bahkan menjadi promotor bagi banyak orang agar mempunyai pandangan yang baru dalam melihat makna kehidupan manusia.[11]. Anjuran ini juga berlaku bagi para dokter, petugas medis atau siapapun yang pernah terlibat dalam tindakan aborsi, entah dengan menganjurkannya ataupun dengan melakukan/ membantu proses aborsi itu sendiri. Semoga semakin banyak orang dapat melihat kejahatan aborsi, sehingga tidak lagi mau melakukannya.

Kesimpulan

Pengajaran Alkitab dan Gereja Katolik menyatakan, “Kehidupan manusia adalah sakral karena sejak dari awalnya melibatkan tindakan penciptaan Allah”[12]. Kehidupan, seperti halnya kematian adalah sesuatu yang menjadi hak Allah[13], dan manusia tidak berkuasa untuk ‘mempermainkannya’. Perbuatan aborsi menentang hukum alam dan hukum Allah, maka tak heran, perbuatan ini mengakibatkan hal yang sangat negatif kepada orang-orang yang terlibat di dalamnya. Aborsi adalah tindakan pembunuhan manusia, walaupun ada sebagian orang yang menutup mata terhadap kenyataan ini. Gereja Katolik tidak pernah urung dalam menyatakan sikapnya yang “pro-life“/ mendukung kehidupan, sebab, Gereja menghormati Allah Pencipta yang memberikan kehidupan itu. Tindakan melindungi kehidupan ini merupakan bukti nyata dari iman kita kepada Kristus, yang adalah Sang Hidup (Yoh 14:6) dan pemberi hidup itu sendiri.

Mari, di tengah-tengah budaya yang menyerukan “kematian”/ culture of death, kita sebagai umat Katolik dengan berani menyuarakan “kehidupan”/ culture of life. Mari kita melihat di dalam setiap anak yang lahir, di dalam setiap orang yang hidup maupun yang meninggal, gambaran kemuliaan Tuhan Pencipta yang telah menciptakan manusia sesuai dengan gambaran-Nya. Dengan demikian, kita dapat menghormati setiap orang, dan memperlakukan setiap manusia sebagaimana mestinya demi kasih dan hormat kita kepada Tuhan yang menciptakannya.

Mari bersama kita mewartakan Injil Kehidupan, yang menyatakan kepenuhan kebenaran tentang manusia dan tentang kehidupan manusia. Semoga kita dapat memiliki hati nurani yang jernih, sehingga kita dapat mendengar seruan Tuhan untuk memperhatikan dan mengasihi sesama kita yang terkecil, yakni mereka yang sedang terbentuk di dalam rahim para ibu. Sebab Yesus bersabda, “Apa yang kau lakukan terhadap saudaramu yang paling kecil ini, engkau lakukan untuk Aku…” (lih. Mat 25:45).


CATATAN KAKI:
  1. Landrum B. Shettles, M.D. and David Rorvik, “Human Life Begins at Conception,” in Rites of Life (Grand Rapids, MI: Zondervan, 1983) cited in Abortion: Opposing Viewpoints (St. Paul, MN: Greenhaven Press, 1986), p.16 []
  2. Lihat Bob Larson, Larson’s Book of Family Issues (Wheaton, IL: Tyndale House, 1986), p. 297 []
  3. Lihat J. Tixeront, A Handbook of Patrology []
  4. Lihat John Hardon, S.J., “The Catholic Tradition on the of Contraception” on line http://www.therealpresence.org/archives/Abortion_Euthanasia/Abortion_Euthanasia_004.htm Ia menulis: Istilah ini ‘mageia‘ dan ‘pharmaka‘ dimengerti berkaitan dengan ritus-ritus magis dan/ atau minuman/ obat untuk kontrasepsi dan sebagai dosa besar, yang umum dilakukan oleh orang-orang pagan:

    “Thou shalt not commit sodomy, thou shalt not commit fornication; thou shalt not steal; thou shalt not use magic; thou shalt not use drug; thou shalt not procure abortion, nor commit infanticide. ((Didache, II, 1-2 []

  5. Paus Paulus VI, Humanae Vitae 14, mengutip Roman Catechism of the Council of Trent, Part II, ch. 8, Paus Pius XI, ensiklik Casti Connubii: AAS 22 (1930), pp. 562-64; …. Konsili Vatikan II, Gaudium et Spes, 51: AAS 58, 1966, p. 1072 []
  6. lihat Congregation for the Doctrine of the Faith, Instruction on Respect for Human Life in its Origin and on the Dignity of Procreation Donum Vitae: (22 February 1987), I, No. 1, AAS 80 (1988), 79 []
  7. Lihat Yohanes Paulus II, Evangelium Vitae, 2 []
  8. Lihat Evangelium Vitae, 13 []
  9. Lihat Evangelium Vitae 24, 26, 28 []
  10. Evangelium Vitae 62 []
  11. Lihat Evangelium Vitae 99 []
  12. Evangelium Vitae 53 []
  13. lihat Evangelium Vitae, 39, lihat Ayub 12:10 []
Share.

About Author

Ingrid Listiati telah menyelesaikan program studi S2 di bidang teologi di Universitas Ave Maria - Institute for Pastoral Theology, Amerika Serikat.

82 Comments

  1. Fransiscus xaverius on

    Slmt pagi Pak Stef dan Ibu Inggrid. Akhir2 ini perkembangan terapi dlm dunia medis berkembang sangat pesat, di antaranya yg sangat menjanjikan adalah terapi stem cell untuk memperbaiki kerusakan organ. Saya bekerja sebagai dokter spesialis penyakit dalam. Mohon Pak Stef dan ibu Inggrid berkenan memberikan panduan yg bisa saya terapkan sehari2 dalam memberikan terapi dan menjawab pertanyaan para pasien sehubungan dg perkembangan terapi ini, agar tidak bertentangan dg iman Katolik. Apabila ada buku atau situs resmi Katolik yg bisa saya baca/akses sehubungan dg hal ini, saya sangat berterima kasih.
    Terima kasih dan salam hormat bagi Pak Stef dan Ibu Inggrid.

  2. Yth Romo Wanta dan Ibu Inggrid,
    saya seorang ibu muda yg sedang hamil anak pertama saya. Baru2 ini ketika saya memeriksakan ke dokter kandungan, diketahui bahwa kehamilan saya membahayakan bagi saya dan janin saya, apabila saya masih nekat melanjutkan, ada kemungkinan bahwa hanya salah satu dari kami yang selamat atau janin saya akan meninggal dalam kandungan. Karena itu dokter menyarankan untuk aborsi.
    Yang ingin saya tanyakan, apakah saya berdosa apabila saya melakukan aborsi dengan alasan seperti itu?
    Saya sangat ingin melahirkan bayi saya..tapi saya juga tidak ingin karena keegoisan saya, malah akan menyakiti beberapa pihak..saya juga tidak ingin berdosa…saya harus bagaimana?? :'(
    terimakasih atas jawabannya
    Tuhan memberkati

    • Shalom Sukma,

      Ada baiknya jika Anda meminta pendapat dokter kandungan lain untuk memperoleh pertimbangan lain (second opinion) untuk kasus Anda. Sebab belum tentu dokter yang kedua memberikan kesimpulan yang sama.

      Namun apapun keadaannya, Gereja Katolik tidak memperbolehkan aborsi, apalagi demi alasan keadaan yang belum pasti (baru prediksi). Maka yang harus diusahakan adalah mempertahankan keduanya, yaitu sang ibu (yaitu Anda) dan sang bayi (anak Anda). Jika di dalam prosesnya terjadi sesuatu keadaan yang sungguh genting, sampai misalnya harus dilakukan operasi untuk menyelamatkan Anda berdua, namun kemudian sang janin wafat, maka hal itu bukanlah aborsi, sebab hal itu tidak merupakan sesuatu yang dilakukan dengan sengaja.

      Dalam surat ensikliknya Evangelium Vitae (Injil Kehidupan), Paus Yohanes Paulus II menulis:

      “Paus Pius XI secara khusus, di dalam surat ensikliknya Casti Conubii, menolak alasan-alasan pembenaran aborsi yang kelihatannya baik/benar. Paus Pius XII melarang semua aborsi yang langsung, yaitu setiap tindakan yang ditujukan secara langsung untuk merusak/menghilangkan kehidupan manusia di dalam rahim, “apakah pengrusakan itu dimaksudkan sebagai tujuan ataukah sebagai cara untuk mencapai tujuan.” Paus Yohanes XXIII meneguhkan bahwa hidup manusia adalah kudus sebab sejak awalnya kehidupan itu secara langsung melibatkan tindakan Allah yang mencipta. Konsili Vatikan II, sebagaimana disebutkan sebelumnya, dengan keras mengecam aborsi: “Sejak saat konsepsinya, kehidupan harus dijaga dengan pemeliharaan/ perhatian yang terbesar, sedangkan aborsi dan pembunuhan bayi merupakan tindakan kriminal yang tak terkatakan lagi (unspeakable crime).”

      Demikianlah Sukma, yang dapat saya sampaikan tentang pertanyaan Anda. Tentulah sekarang Anda menghadapi situasi yang sulit, namun berharaplah terus kepada pertolongan Tuhan. Kami di Katolisitas akan turut mendoakan Anda, semoga oleh pertolongan Tuhan Anda dapat melahirkan bayi Anda dengan selamat.

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      Ingrid Listiati- katolisitas.org

  3. Yth. Para Pengasuh Katolisitas,
    Secara kebetulan saya menemukan website katolisitas ini yang sangat banyak memberikan pencerahan kepada saya dan menyadarkan saya akan apa yang pantas dan tidak pantas saya lakukan. Sehubungan dengan artikel di atas mengenai dosa aborsi, saya ingin menyampaikan pengalaman saya disini kiranya bisa mendapat petunjuk yang baik bagaimana saya dapat bertindak. Pengalaman saya bermula dari saya menjalin hubungan (pacaran) dengan seorang wanita (non – Katolik). Pengalaman punya pacar ini merupakan pengalaman pertama saya seumur hidup (Pada saat itu usia saya 24 Tahun). Seiring dengan berjalannya hubungan kami, meskipun mengetahui bahwa melakukan hubungan diluar nikah merupakan dosa namun tetap saja kami melakukannya, sampai pada akhirnya saya mengetahui bahwa kekasih saya ini telah menikah dan memiliki keluarga yang sah. Saya sangat menyesal karena telah begitu jauh masuk ke dalam kehidupan orang yang telah beruma tangga.
    Saya sadari ini merupakan suatu kesalahan yang sangat fatal, tetapi pada saat itu dia memberi tahu saya bahwa kehidupan rumah tangganya sedang tidak dalam kondisi yang baik untuk di teruskan, dimana dia dan suaminya telah bersepakat untuk melakukan perceraian (saya tidak tahu apa latar belakang keputusan mereka untuk bercerai dan kapan mulainya rencana mereka tetapi saya sangat merasa bersalah, dan merasa telah menjadi penyebab retaknya hubungan rumah tangga mereka) .

    Menyadari hal ini, di dalam hati saya sangat ingin membantu mereka agar dapat bersatu kembali sebagai keluarga yang utuh, saya tidak tahu apakah langkah yang saya ambil ini benar atau tidak. saya cuma berdoa dan mohon pengampunan kepada Tuhan karena telah melakukan dosa yang jelas – jelas dilarang oleh Tuhan, serta mohon petunjuknya kiranya diberikan jalan untuk bisa membantu menyatukan kembali keluarga mereka. Akhirnya saya menetapkan hati saya untuk menyampaikan maksud saya kepada kekasih saya ini (Meskipun telah mengetahui bahwa dia telah berkeluarga tetapi hubungan kami tetap terjalin baik). Awalnya dia menolak untuk kembali memperbaiki hubungan dengan suaminya tetapi saya terus memberikan pengertian kepadanya sampai akhirnya dia mengerti dan berniat untuk memperbaiki hubungan dengan suaminya.
    Kurang lebih sebulan setelah dia menyatakan komitmennya untuk memperbaiki hubungan dengan suaminya (Perlu diketahui bahwa saya bertemu dengan wanita ini di tempat kerja, yang jauh dari keluarganya), dan menurut dia mereka sudah bersepakat untuk memperbaiki hubungan mereka yang sudah di ambang perceraian, tetapi ternyata timbul hal yang tidak pernah kami sangka – sangka.
    Kekasih saya mengakui bahwa dia telah mengandung anak dari hasil hubungan kami berdua, ada rasa bahagia di dalam hati saya mendengar hal ini, tetapi selain itu saya juga sangat sedih mendengarnya.
    Menurutnya suaminya pasti tidak akan menerima hal itu bahwa dia mengandung bayi saya, saya tidak pernah kenal maupun bertemu dengan suaminya. Saya sangat bingung dengan hal ini, dia sendiri tidak berani menyampaikan kepada suaminya mengenai kehamilannya karena takut akan tindakan suaminya yang mungkin bisa membahayakan dirinya maupun diri saya. Akhirnya saya diminta mengambil keputusan apa yang harus kami lakukan terhadap bayi yang dikandung.

    Terlintas dipikiran saya, apakah sebaiknya dia segera mengurus perceraian dengan suaminya sehingga dapat menikah dengan saya, tetapi akhirnya saya urung menyampaikan keinginan saya tersebut, saya tidak tahu alasannya kenapa. saya terus berdoa memohon petunjuk kepada Tuhan kiranya diberikan petunjuk untuk menemukan jalan keluar atas apa yang saya alami ini. Dia memberitahu saya bahwa dia akan terpaksa menggugurkan kandungannya jika saya tidak segera mengambil keputusan. Dan keputusan yang dia maksud disini yaitu agar saya menikah dengannya, sementara statusnya pada saat itu dia masih bersuami yang sah. Saya juga menyampaikan permasalahan saya ini kepada sahabat – sahabat saya, tetapi tidak ada jalan keluar yang dapat mereka berikan, kebanyakan saran – saran dari mereka tidak sesuai dengan keinginan saya, ada yang menyarankan untuk melakukan aborsi terhadap bayi yang dikandung, ada pula yang menyarankan untuk pergi jauh – jauh dari tempat kerja kami, jauh dari keluarga kami masing – masing dan menjalani hidup bersama tanpa menikah dan tetap menjaga bayi yang dikandungnya.

    Sementara saya masih berlama – lama mempertimbangakan keputusan terbaik yang harus saya ambil, tanpa sepengetahuan saya dia telah meminum obat (yang katanya bisa menggugurkan kandungan yang dia dapat dari temannya). saya diberitahu mengenai hal ini setelah dia meminum obat tersebut. Saya sangat sedih akan hal ini, tapi saya tidak bisa berbuat apa – apa, toh salah saya juga terlalu berlama-lama dalam memutuskan hal tersebut, sehingga dia meminum obat tersebut. Saya hanya bisa berdoa dan mohon pengampunan serta berharap mudah-mudahan obat yang diminumnya tidak bekerja dengan baik sehingga janin yang dikandungnya tidak sampai keguguran. Setelah pemberitahuannya bahwa dia sudah meminum obat tersebut, kami tidak pernah lagi berkomunikasi, sampai saya diberitahu oleh temannya bahwa bayi yang dikandungnya telah berhasil gugur. Saya sangat menyesal akan hal ini tetapi saya tidak bisa berbuat banyak. Saya bahkan telah memberikan nama buat bayi itu tetapi dia telah pergi untuk selama-lamanya. Hari – hari saya diliputi kesedihan, begitu juga dia, meskipun tidak diucapkan nya tetapi saya merasa ini semua salah saya, saya telah jatuh kedalam dosa yang sangat dalam. Meskipun saya tahu ada sakramen pengakuan dosa, saya tahu bahwa Yesus mau mengampuni setiap orang yang berdosa, tetapi saya tidak berani mengaku dosa dihadapan pastor., padahal dalam hati saya sangat ingin mengakui dosa – dosa saya ini agar dapat diberi pengampunan dari Tuhan, tetapi keberanian saya tiba – tiba hilang begitu saya bertemu dengan pastor.

    Sampai akhirnya saya mengundurkan diri dari pekerjaan saya yang lama dan pindah ke tempat kerja yang baru saya belum mengaku dosa sampai sekarang. Sementara mantan kekasih saya, menurut informasi dari teman saya ditempat kerja yang lama, bahwa dia sedang dalam proses mengurus perceraiannya dengan suaminya. Saya bingung apa yang harus saya lakukan, ingin sekali saya segera mengaku dosa agar terbebas dari beban ini, tetapi saya selalu merasa tidak mampu pada saat bertemu dengan pastor. apalagi ditempat kerja saya yang baru ini, jarang sekali pastor datang berkunjung ke stasi kami yang jauh di daerah terpencil. saya mohon petunjuk dari tim katolisitas maupun para pembaca katolisitas yang berkenan, bagaimana sebaiknya saya menghadap pastor atau uskup untuk mengakui dosa saya ini, saya merasa semakin lama menyimpannya semakin berat rasanya beban ini.
    Mohon maaf kalau cerita pengalaman saya di atas terlalu panjang, dan mungkin agak kurang terstruktur bahasanya., tetapi pada intinya saya sangat menyesal telah berbuat dosa-dosa seperti itu. Mohon bimbingan dan nasehatnya, apa sebaiknya yang bisa saya lakukan dan bagaimana caranya agar saya dapat memberanikan diri untuk mengaku dosa bila bertemu dengan pastor nantinya.

    Terima Kasih,
    Salam,
    Johanes

    • Yohanes Dwi Harsanto Pr on

      Salam Johanes,

      Tiada dosa yang tak terampuni jika kita menyesalinya dan berniat memperbaiki situasi, datang pada Kristus yang hadir dalam Sakramen Tobat. Segeralah mengaku dosa, didahului pemeriksaan batin dan doa-doa tobat. Dasar pertobatan kita semua adalah bahwa kasih dan kerahiman Bapa lebih besar daripada dosa kita. Syarat mengaku dosa hanyalah kerendahan hati untuk datang dan mengaku pada Kristus melalui Gereja yang diwakili oleh imam. Anda mesti tahu, bahwa dosa yang tidak diakukan akan menjadi bahaya laten yaitu penumpulan hati nurani yang akan membawa ke dosa yang lebih besar dan menjatuhkan kita secara moral, sosial, bahkan tidak mustahil secara ekonomi, dan yang paling membahayakan, ialah membuat kita jauh dari damai sejahtera keselamatan Allah kekal.

      Sesederhana itu langkah mengaku dosa, menyesali sungguh-sungguh karena tahu betapa berbahayanya dosa dan betapa menyakiti hati Allah yang Mahakasih, menemui imam dan mengatakan “saya mau mengaku dosa”.  Bapa yang Maharahim melalui Kristus Putera-Nya mengampuni Anda dalam Roh Kudus pada liturgi Sakramen Pengampunan dosa privat. Keluarkanlah semua itu di hadapan Bapa Pengakuan. Ikutilah nasihat Bapa Pengakuan, lakukan demi perbaikan situasi. Anda akan mengalami kelegaan dan suka cita. Imam-imam dan uskup pun mengaku dosa bahkan sri paus pun mengaku dosa pada imam lain secara berkala. Kita tidak ingin dosa menghancurkan kita. kita membutuhkan rahmat pengampunan Allah setiap saat.

      Jika berbuat dosa merasa tidak malu dan takut, mengapakah mengaku untuk diampuni kita merasa malu dan takut? Rasa malu dan takut sebesar apapun tidak bisa mengatasi sebuah rahmat ilahi yang agung dan melegakan… Datanglah… Dalam artikel “Masih perlukah Sakramen Pengakuan Dosa”, silakan klik di sini,  dipaparkan cara bersiap dan mengaku dosa dengan baik.

      Salam
      Yohanes Dwi Harsanto, Pr

  4. mengenai ijin pengampunan yang previlegenya dimiliki oleh Uskup atau Romo yang sudah ditentukan ada di mana ya, Romo Wanta atau Pak Stef??

    [dari katolisitas: Seseorang dapat mengaku dosa kepada imam seperti biasa. Kalau ada dosa-dosa di mana pengampunan hanya diberikan oleh Uskup, maka imam tersebut akan menyampaikannya orang tersebut untuk mengaku dosa kepada Uskup. Kalau imam tersebut mengampuni dosa-dosa tersebut, berarti imam tersebut telah diberi wewenang oleh Uskup setempat.]

  5. salam

    lalu apa yang terjadi dengan jiwa si bayi ini yang telah diaborsi atau dibunuh? Apakah di surga? Jiwa2 bayi ini kan belum dibaptis dan untuk masuk surga atau mendapatkan keselamatan harus dibaptis dulu. Di api penyucian? Jiwa2 ini kan murni, apanya yang disucikan?
    terima kasih

    [dari katolisitas: silakan melihat jawaban ini - silakan klik]

  6. Syalom,
    bagaimana orang Katolik memperlakukan plasenta/bali setelah melahirkan? Apakah ritual adat untuk menguburkan dan diberi sesaji, diperbolehkan?

    • Shalom Renni,

      Menurut pengetahuan saya, tidak ada aturan khusus dari Gereja Katolik sehubungan dengan mengubur plasenta setelah sang ibu melahirkan bayinya. Sebaiknya ditanyakan dahulu, apakah tujuan menguburkan plasenta? Jika tujuannya adalah superstitious/ berkenaan dengan tahyul atau kepercayaan tertentu, maka tidak boleh dilakukan. Jika tidak ada kepercayaan tahayul, namun misalnya hanya karena melanjutkan tradisi keluarga, maka dapat dilakukan, tetapi tentu tidak perlu memakai sesaji.

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      Ingrid Listiati- katolisitas.org

      • Terima kasih atas respon dari Bu Inggrid.
        Setelah bertanya lebih lanjut tentang mengapa ada ritual tersebut, ternyata berhubungan dengan tahayul. Karena orang tua suami saya masih mengikuti tradisi daerah kami. Dan menganggap plasenta adalah teman bayi selama dalam kandungan dan dianggap memiliki roh, sehingga dikuburkan dan diberi benda-benda sesaji. Apakah saya berdosa jika melakukan hal ini, bukan karena keinginan saya sendiri tetapi terpaksa untuk menghormati orang tua suami saya yang non-Kristen.

        • Shalom Renni,

          Walaupun anda tidak berkehendak, namun faktanya perbuatan menguburkan dengan benda- benda sesaji tersebut tidak sesuai dengan ajaran Kristiani, karena berbau tahayul. Maka jika ditanya apakah dosa, jawabannya tetap dosa. Namun mungkin kadarnya tidak seberat jika anda melakukannya atas kehendak dan kesadaran Anda sendiri. Selanjutnya, silakan bicarakan hal ini baik- baik dengan orang tua suami Anda itu karena bukannya tidak mungkin ia akan mengharuskan anda melakukannya lagi jika Anda melahirkan anak- anak yang berikutnya. Perlu diingat bahwa bagaimanapun Anda sudah dewasa dan anda berhak menentukan pilihan Anda sendiri, apalagi dalam hal yang berkenaan dengan keyakinan iman Anda. Saya percaya jika diajak bicara baik- baik orang tua pada dasarnya akan menghormati keputusan anaknya. Selanjutnya, silakan untuk tetap menunjukkan kasih dan perhatian kepada mertua Anda itu, sebab jangan sampai ia menyangka Anda tidak menyayangi dan menghormatinya dengan tidak mengikuti keinginannya itu. Anda justru mempunyai kesempatan untuk membuktikan bahwa setelah mengikuti Kristus, Anda menjadi lebih perhatian, lebih mengasihi dan menghormatinya sebagai orang tua, karena demikianlah yang diajarkan oleh Kristus.

          Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
          Ingrid Listiati- katolisitas.org

          • Terima kasih Bu Ingrid atas penjelasannya.
            Seperti Bu Ingrid jelaskan sebelumnya bahwa tidak aturan khusus dari Gereja Katolik mengenai plasenta. Mungkin bu Ingrid bisa memberi tahu saya bagaimana seharusnya orang Katolik memahami dan memperlakukan plasenta agar sesuai dengan Iman Katolik dan tidak terjebak dalam tahayul.

            Terima kasih banyak ya Bu. GBU

            • Yohanes Dwi Harsanto Pr on

              Salam Renni,

              Plasenta atau “ari-ari” secara medis berfungsi sebagai penyalur makanan dan saluran lainnya, yang menghubungkan janin dengan ibunya. Peran penting plasenta ini berhenti setelah bayi lahir. Namun dalam masyarakat tertentu, masih ada kepercayaan bahwa di samping fungsi medis, ada pula hubungan “gaib” tertentu antara bayi dengan plasentanya. Karena itu, sebagian masyarakat yang mewarisi kepercayaan kuno ini masih terlihat melakukan berbagai macam ritual yang tidak ada kaitannya dengan iman Katolik. Pendeknya, takhayul. Salah satunya adalah mengubur plasenta di dekat rumah, bahkan harus diberi pelita. Kadang-kadang pemendaman plasenta diikuti juga benda-benda tertentu yang dipercaya akan berpengaruh atas nasib dan kehidupan si bayi. Orang melakukannya itu begitu saja, tanpa pernah tahu hubungan sebab akibatnya. Jika bayi itu dilahirkan di rumah sakit, maka ada rumah sakit yang sekaligus sudah mengurus pemendaman plasenta itu, di samping ada pula yang membakarnya sampai habis. Namun rumah sakit di Indonesia masih ada yang masih menyerahkan plasenta itu pada keluarga untuk dipendam.

              Karena itu, sebagai orang Katolik, sikap terbaik ialah memendamnya saja. Berdoa selalu boleh namun tidak ada doa khusus. Dari sisi kebersihan lingkungan hal ini memang sudah seharusnya. Bolehlah dengan doa-doa standard dalam hati, “Aku Percaya”, “Bapa Kami”, “Salam Maria”, “Kemuliaan”, “Terpujilah”, dengan semangat syukur dan kesadaran bahwa bayi lahir selamat dan Tuhan menganugerahkan segala sarana kelengkapannya termasuk plasenta selama dalam kandungan, sebagaimana dulu Yesus juga dikandung dan memiliki plasenta juga. Begitu saja, cukup.

              Salam
              Yohanes Dwi Harsanto Pr

  7. saya udah baca artikel di atas…
    jadi kalau begitu masih adakah pengampunan buat org tua yang melakukan aborsi??

    padahal itukan dosa yang sangat besar dan tdk disukai TUHAN

    • Shalom Gusniati,

      Sabda Tuhan mengatakan kepada kita, “Sebab juga Kristus telah mati sekali untuk segala dosa kita… ” (1 Ptr 3:18), kecuali dosa menghujat Roh Kudus, yang penjelasannya sudah pernah dibahas di sini, silakan klik. Dengan demikian, seseorang yang telah melakukan dosa aborsi (ataupun dosa besar lainnya seperti pembunuhan ataupun perzinahan), jika ia sungguh- sungguh bertobat, maka dosanya tetap dapat diampuni. Pengakuan dosa ini dapat diberikan melalui sakramen Pengakuan Dosa, dan khusus untuk dosa aborsi ini yang dilakukan dan berhasil, menurut Kitab Hukum Kanonik (KHK 1398) mengakibatkan yang melakukannya terkena sangsi ekskomunikasi latae sententiae, sehingga Pengakuan Dosa aborsi harus dilakukan di hadapan Uskup, atau imam yang diberi kuasa oleh Uskup untuk memberikan absolusi dosa aborsi. Maksud Gereja menentukan demikian tentu baik, yaitu untuk memberikan pendidikan kepada umat tentang beratnya dosa aborsi ini, supaya umat tidak dengan ‘mudah’ melakukan dosa ini dengan berpikiran, “nanti kan tinggal mengaku dosa kepada pastor.”

      Jadi kita tidak dapat menghubungkan pengampunan Tuhan dengan dugaan bahwa kalau dosa tertentu diampuni, berarti Tuhan seolah ‘suka’ dengan dosa itu atau mentolerirnya. Tuhan tidak menyukai dosa, bahkan dosa sekecil apapun. Jadi belas kasihan dan pengampunan Tuhan bukan merupakan tanda bahwa Tuhan mentolerir dosa, namun sebagai kesempatan yang diberikan Tuhan kepada manusia untuk bertobat dan memperbaiki diri, mulai lagi dari awal, untuk berbuat kebaikan, sebagai bukti dari iman.

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      Ingrid Listiati- katolisitas.org

  8. dr.Mervin Tri Hadianto on

    Apakah pemakaian kontrasepsi IUD juga sebagai abortif janin, karena bisa sudah terjadi pembuahan namun gagal nidasi karena endometrium dalam proses inflamasi karena benda asing. Apakah alasan ini gereja Katolik melarang IUD? Mohon penjelasan

    [Dari Katolisitas: Gereja Katolik melarang penggunaan alat kontrasepsi, baik yang sifatnya abortif atau tidak abortif, karena secara moral pemakaian alat kontrasepsi tidak dapat dibenarkan. Mohon membaca jawaban dari pertanyaan yang serupa pertanyaan anda di sini, silakan klik.]

  9. Rm,saya mau tanya. Ada teman saya yang bercerita bahwa dia telah hamil padahal belum menikah. Dia bicara dengan saya akan menggugurkan bayi itu. Saya bingung bagaimana mencegahnya,dan dia sudah melakukannya dengan minum obat. Apakah saya juga ikut berdosa karena tidak mampu mencegah pembunuhan?

    • Shalom Anggi,
      Pada akhirnya, keputusan ada di tangan teman anda sendiri. Maka jika anda sudah memberitahukan kepadanya, bahwa tindakan pengguguran adalah dosa dan anda sudah sedapat mungkin berusaha untuk mencegahnya, maka sesungguhnya anda sudah melakukan tugas anda.

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      Ingrid Listiati- katolisitas.org

  10. Fransiskus Dany on

    Saya sdh baca artikel diatas,yang menjadi pertanyaan,;Dari penelitian dr,pada seorang Ibu hamil,mengatakan bahwa si Ibu tdk bisa melahirkan Bayi yang di kandungnya,dikarenakan adanya teroid pada si Ibu,Kalau anak dilahirkan tidak menjamin nyawa si Ibu.
    Bagai mana Gereja memandang hal ini,dan bagaimana menurut Alkitab,Terimakasih

    • Shalom Fransiskus Dany,
      Secara prinsip, kita tidak dapat melakukan pembunuhan kepada bayi secara ‘langsung’ demi keselamatan ibu. Kalau hal ini dilakukan, maka hasil yang baik adalah merupakan akibat dari perbuatan yang jahat, yaitu membunuh bayi. Dua nyawa tersebut adalah sama-sama berharga di mata Tuhan. Lain halnya, kalau ada suatu operasi yang dilakukan oleh ibu tersebut, kemudian bayi tersebut terbunuh. Dalam kasus ini, kesembuhan yang dialami oleh ibu tersebut adalah hasil dari suatu operasi (bukan merupakan perbuatan dosa) dan bukan dari hasil pembunuhan. Semoga dapat semakin jelas.

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      stef – katolisitas.org

  11. saya setuju bahwa Tuhan melarang aborsi. aborsi sama saja dengan tindakan pembunuhan. Allah sendirlah yang berkehendak membentuk manusia sejak fertilisasi dan tentu Allah berkehendak juga bahwa ia dilahirkan kedunia sebagai manusia yang layak hidup. sejak fertilisasi sigot sebagai calon bayi dan seterusnya bayi yang adalah manusia seutuhnya memiliki hak untuk hidup dan ingat bahwa ALLAHLAH yang memberikan hak itu manusia manapun tidak berhak untuk mencabut kehidupan itu. merampas hak Tuhan sama saja dengan DOSA.
    syalom, GBU

  12. Seorang teman bercerita bahwa istrinya telah mengambil tindakan aborsi ( seijin suami dan keluarga dan dokter ). Aborsi dilakukan saat usia kandungan nya 4 bulan.

    Alasan diambil tindakan aborsi, karena bayi yang dikandung tidak memiliki perkembangan tempurung kepala yang sempurna. Sehingga otaknya tidak dilindungi. Dengan kata lain tidak memiliki tempurung kepala. Menurut dokter jika dibiarkan lahir saat 9 bulan nanti, si bayi cuman hanya memiliki umur 1 hari maximal, kemudian akan meninggal

    Dia juga cerita kasus itu ke seorang dokter. Dia juga pernah menangani kasus serupa. Karena dulu dia bertugas di daerah pedalaman, yang tidak memiliki alat USG, dsb, dia sempet kaget saat memeriksa bukaan si ibu. Ternyata yang disentuh adalah bagian kepala yang tidak memiliki tempurung. Dan si bayi itu hanya bertahan 4 jam, karena dibantu dengan oksigen. Jika tanpa bantuan oksigen, hanya bertahan 2 jam saja.

    Dan menurut segi kedokteran, dari kasus tersebut adalah termasuk LEGAL untuk aborsi.

    Nah apakah tindakan aborsi tersebut diperbolehkan? Apakah dengan kasus tersebut, Gereja memberikan dispensasi ?

    • Shalom Dominica,

      Terima kasih atas pertanyaannya. Dalam keadaan yang anda ceritakan, maka aborsi yang dilakukan tetap tidak diperbolehkan, karena itu adalah pembunuhan secara langsung. Ini berarti bayi (yang berarti manusia) dibunuh karena ada anggota tubuhnya yang tidak lengkap. Apakah kita akan membunuh saudara kita yang karena kecelakaan, membuat tempurung kepalanya retak? Kita harus memikirkan bahwa kehormatan (dignity) dari sang bayi adalah sama seperti dignity orang yang telah dewasa. Kalau kita tidak boleh melakukan pembunuhan kepada orang dewasa dalam kondisi tersebut, maka kita juga tidak boleh melakukannya kepada bayi. Biarlah bayi tersebut lahir dengan normal. Dan kalaupun bayi itu meninggal, biarlah dia meninggal sebagai anak Allah yang dikasihi orang tuanya dan bukan karena dibunuh orang tuanya. Untuk itu, silakan membaca prinsip akibat ganda di sini – silakan klik, terutama bagian ini – silakan klik. Apa yang dilegalkan dokter atau negara sekalipun tidak berarti secara otomatis umat Katolik dapat melakukannya. Semoga link tersebut dapat membantu.

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      stef – katolisitas.org

    • albert cendikiawan on

      sdri Dominica yg dikasihi Kristus

      Saya tidak tahu persis kasus nya, tetapi dari keterangan anda saya menduga kasus yang terjadi adalah anencephaly. Keadaan ini merupakan kegagalan pertumbuhan otak besar (cerebral hemisphere) dan tempurung kepala (calvaria) sehingga perkembangan otak terhenti hanya pada batang otak (brain stem). tidak terdapat “batok kepala”. Karena cerebral hemisphere bertanggung jawab atas fungsi kognitif, bayi-bayi dengan anencephali dipastikan tidak akan pernah mencapai kesadaran dan apapun yang timbul dari kesadaran itu (berpikir, misalnya).

      setiap kasus bayi dengan anencephali merupakan kasus etik yang sulit. kasus yang terkenal adalah kasus bayi K . di mana pihak keluarga ingin sang bayi diselamatkan dengan cara menggunakan ventilator, alat yang membantu bernafas. hal ini “ditolak” oleh pihak RS. kasus ini diselesaikan lewat pengadilan yang mendukung pendirian ibu.

      apa pilihan tindakan dalam hal ini? Apa opsi yang terbaik?
      Bayi-bayi dengan anencephali “dengan otomatis” akan mengalami gagal nafas, seperti bayi K, pada beberapa hari pertama kehidupannya. secara medis gagal nafas dapat ditolong dengan ventilator sebagaimana bayi K yang bertahan 2 tahun lebih. penggunaan ventilator, meski menjamin sang bayi tetap bernafas dengan artifisial, tidak akan mampu memberikan fungsi kognitif. perlu dimengerti sikap RS yang enggan menyediakan ventilator. hal ini bukan bearti RS sadis tetapi lebih dikarenakan terbatasnya sumber daya meski alasan ini pastinya kontroversial.

      penggunaan ventilator dan tindakan lain yang bertujuan mempertahankan nyawa sering disebut resusitasi. menurut buku pengangan kedokteran yang “berlaku” internasional seperti Harrison Principle of Internal Medicine (USA) dan ABC of Resuscitation (UK), tindakan resusitasi hanya dilakukan bila ada peluang untuk kembalinya fungsi normal (ada peluang sembuh). ABC of Resuscitation menyarankan agar tenaga medis berhati-hati dalam memberikan resuscitasi karena sering resuscitasi pada kasus “terminally ill” akan berujung pada kasus etis dilematis (ABC menggunakan istilah “ultimate tragedy”). Harrison menawarkan “palliative care” sebagai ganti resuscitation pada kasus terminally ill.

      dengan kenyataan bahwa bayi-bayi dengan anencephaly tidak akan memiliki fungsi kognitif dan mereka , hampir pasti, akan mengalami gagal nafas, maka bayi-bayi dengan anencephaly dapat dimasukkan dalam kategori terminally ill. sebuah artikel dari L’observatore Romano mengenai kasus medis ini menggunakan istilah “failing life”. pilihan terapi adalah palliative care. pada pilihan ini, pasien dijaga dan dipastikan untuk mengalami kematian yang layak, termasuk bebas dari sakit (tapi bukan euthanasia), bebas dari dehidrasi (kurang cairan), bebas dari kelaparan dst.

      meski medscape (situs medis cukup bagus) memberikan pilihan menghentikan kehamilan (terminate the pregnancy, kadang sebuah istilah halus untuk criminal provocative abortion), medscape juga menuliskan alternatif palliative care, yaitu sang bayi dilahirkan dan dirawat hingga proses kematian selesai. bahkan medscape menuliskan agar tenaga medis memanggil sang bayi dengan nama bila keluarga memutuskan untuk memberi nama. perawatan psikologi terhadap orang tua juga diperlukan karena umumnya ada perasaan bersalah (guilty).

      memang bayi dengan anencephaly, selama kehamilan, sering mengakibatkan masalah bagi si ibu, yang pada kasus langka mungkin hingga ke tahap membahayakan ibu. dalam kasus ini “medical provocative abortion” mungkin merupakan pilihan yang dapat diterima secara etis. tetapi dengan sengaja menghentikan kehamilan karena alasan ini padahal pada kenyataannya hidup sang ibu tidak terganggu termasuk pembunuhan.

      sebagai kesimpulan:
      1. Bayi dengan anencephaly tidak mengalami perkembangan otak yang normal. mereka termasuk dalam kelompok terminally ill
      2. tindakan penyelamatan (resuscitation) bukanlah pilihan yang tepat. Palliative care merupakan pilihan yang lebih manusiawi
      3. Meski termasuk salah satu opsi medis, pregnancy termination (penghentian kehamilan) dalam kasus bayi anencephaly di mana keselamatan ibu tidak terancam termasuk pembunuhan
      4. hanya bila keselamatan ibu terancam secara objektif, aborsi dapat dipertimbangkan

      referensi
      1. kisah bayi K : link to en.wikipedia.org
      2. Colquhoun, Handley, Evans. ABC of Resuscitation. 5th ed. BMJ. terutama pada bab “Ethics in Resuscitation”
      3. Fauci et al. Harrison’s Principle of Internal Medicine. 17th ed. McGraw Hill. terutama pada bab “Palliative and End-of-Life Care”
      4. Committee of Doctrine of National Conference of Bishops (US). Moral Principle Concerning Infants with Anencephaly. link to ewtn.com. statementnya :

      a. “It can never be morally justified directly to cause the death of an innocent person no matter the age or condition of that person”.
      b. “The anencephalic child during his or her probably brief life after birth should be given the comfort and palliative care appropriate to all the dying”.
      c. “this failing life need not be further troubled by using extraordinary means to prolong it”

      5. Medscape. Anencephaly. link to emedicine.medscape.com

      terima kasih
      Tuhan Yesus memberkati

  13. Terima kasih atas nasihatnya.. sesungguhnya ia telah mmbuka mata hati yg selama ini buta sbb dosa dunia,.. terima kasih sekali lagi,,moga Tuhan mgampuni sgala dosa yg tlah sya lakukan,, saya brharap .. masi ada sinar cinta kasih Yesus d dlm hidup sya..~

  14. Frans Hendrawan on

    Bagi teman-teman yang ingin mengetahui lebih jauh tentang aborsi, silahkan mengikuti seminar khusus tentang aborsi yang diadakan oleh Perduki Chapter Utara 1 pada:
    Hari, tgl : Sabtu, 28 Mei 2011
    Waktu : Pkl. 09:00
    Tempat : Restaurant Golden Leaf – Kelapa Gading
    Bersama Romo Dr.Peter dan Dr.Boyke

  15. constantinus on

    apakah aborsi itu dosa ? dan siapa yang menanggung dosa itu nanti,bagaimana cara mengadopsi dan apa cara yang harus dilakukan.mengapa bisa membentuk menjadi bayi

    • Shalom Constantinus,

      1. Tentang Aborsi

      Aborsi itu dosa, karena termasuk tindakan pembunuhan. Yang menanggung dosa aborsi adalah mereka yang melakukannya, entah ibu sang janin, ataupun ayahnya, jika ia mengajurkannya, demikian juga dengan para dokter/ para medis, dan pihak lainnya yang memungkinkan terjadinya tindakan aborsi tersebut. Selanjutnya silakan membaca di artikel ini (silakan klik di judul berikut):

      Mengapa aborsi itu dosa?
      Kekejaman aborsi

      2. Tentang adopsi

      Demikian keterangan yang saya peroleh dari situs LBH:

      Ketentuan mengenai adopsi anak bagi pasangan suami istri diatur dalam SEMA No.6 tahun 1983 tentang penyempurnaan Surat Edaran Nomor 2 tahun 1979 tentang pemeriksaan permohonan pengesahan/pengangkatan anak. Selain itu Keputusan Menteri Sosial RI No. 41/HUK/KEP/VII/1984 tentang Petunjuk Pelaksanaan Perizinan Pengangkatan Anak juga menegaskan bahwa syarat untuk mendapatkan izin adalah calon orang tua angkat berstatus kawin dan pada saat mengajukan permohonan pengangkatan anak, sekurang-kurangnya sudah kawin lima tahun. Keputusan Menteri ini berlaku bagi calon anak angkat yang berada dalam asuhan organisasi sosial.

      3. Mengapa bisa membentuk manjadi bayi?

      Pertanyaan ini dijawab oleh pengetahuan ilmu biologi, yaitu bayi terbentuk dari bersatunya sel sperma sang ayah dan sel telur sang ibu. Keterangan selanjutnya silakan anda membaca dalam ilmu biologi.

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      Ingrid Listiati- katolisitas.org

  16. Romo Wanta yang terhormat, hukuman ekskomunikasi seperti apa yg biasanya diberikan Bapa Uskup??

    [Dari Katolisitas: pertanyaan ini digabungkan karena satu topik]

    Satu pertanyaan lagi Romo, jika si pelaku aborsi sudah mengaku dosa,apakah setelah itu dia bisa menerima Tubuh Kristus lagi? Terima kasih sebelumnya Romo yang terkasih

    • Dia Yth

      Beberapa tentang Sanksi dalam Gereja (sanksi pidana) bisa dibaca dalam Buku VI judul IV Hukum dan penghukuman lainnya, kann 1331 dstnya. Tentang sanksi: orang yang terkena sanksi ekskomunikasi dilarang:
      1. ambil bagian apapun sebagai pelayan dalam perayaan kurban ekaristi atau upacara upacara ibadat lain manapun,
      2. merayakan sakramen- sakramen atau sakramentali dan menyambut sakramen,
      3. menunaikan jabatan jabatan atau pelayanan pelayanan tugas gerejawi manapun atau juga melakukan tindakan kepemimpinan.

      salam
      Rm Wanta

      Tambahan dari Stef:
      Menjawab pertanyan ke-dua: Kalau pelaku aborsi telah mendapatkan pengampunan dalam Sakramen Pengampunan Dosa (baik oleh uskup maupun pastor yang diberi kewenangan), maka dia dapat menerima Tubuh Kristus lagi, karena dia tidak berada dalam dosa berat.

Add Comment Register



Leave A Reply