Tiga misi keselamatan Kristus: sebagai nabi, imam dan raja

8

Pertanyaan:

salom
Dear, aku mau nanya: bagaimana penjelasan paham dan ciri pelayanan profetis/kenabian dalam Gereja katolik?

Jawaban:

Shalom Chrsnt,

Terima kasih atas pertanyaannya tentang ciri pelayanan kenabiaan dalam Gereja Katolik. Untuk menjawab pertanyaan ini, kita harus mengerti definisi dari nabi, tiga misi keselamatan Kristus (three fold mission of Christ), dan Gereja yang melanjutkan 3 misi Kristus ini sampai akhir jaman, dan juga tugas semua orang orang yang telah dibaptis juga mengemban tiga misi ini, yaitu: sebagai nabi, imam, dan raja.

1) Secara prinsip seorang nabi dapat didefinisikan sebagai seseorang yang mewartakan kebenaran dari Allah, yang dapat menyangkut hal-hal yang berkaitan dengan masa depan dan juga memberitakan kebenaran Allah lewat pengajaran. Hal ini dapat kita lihat bagaimana Tuhan berbicara dengan perantaraan para nabi untuk memberitakan kedatangan Sang Mesias. Kita juga melihat tugas lain dari nabi di dalam Perjanjian Lama yang tugasnya adalah mengajarkan kebenaran. Pada waktu bangsa Israel tersesat dan menyimpang dari jalan Allah, maka seorang nabi yang benar-benar di utus oleh Tuhan senantiasa mencoba mengembalikan bangsa Israel ke jalan Tuhan. Dikatakan bahwa Yohanes Pemandi adalah nabi terakhir dari Perjanjian Lama.

KGK, 523: “Yohanes Pembaptis adalah perintis Tuhan yang langsung (Bdk. Kis 13:24.); ia diutus untuk menyiapkan jalan bagi-Nya (Bdk. Mat 3:3.). Sebagai “nabi Allah yang mahatinggi” (Luk 1:76) Ia menonjol di antara semua nabi (Bdk. Luk 7:26.). Ia adalah yang terakhir dari mereka (Bdk. Mat 11:13.) dan sejak itu Kerajaan Allah diberitakan (Bdk. Kis 1:22; Luk 16:16.). Ia sudah bersorak gembira dalam rahim ibunya mengenai kedatangan Kristus (Bdk. Luk 1:41.) dan mendapat kegembiraannya sebagai “sahabat mempelai” (Yoh 3:29), yang ia lukiskan sebagai “Anak Domba Allah, yang menghapus dosa dunia” (Yoh 1:29). Ia mendahului Yesus “dalam roh dan kuasa Elia” (Luk 1:17) dan memberikan kesaksian untuk Dia melalui khotbahnya, pembaptisan pertobatan, dan akhirnya melalui mati syahidnya (Bdk. Mrk 6:17-29.).

KGK, 719: “Yohanes itu “lebih daripada nabi” (Luk 7:26). Di dalam dia, Roh Kudus menyelesaikan “tutur sapa-Nya melalui para nabi”. Yohanes adalah yang terakhir dari mata rantai para nabi yang dimulai dengan Elia (Bdk. Mat 11:13-14.). Ia mengumumkan bahwa penghibur Israel sudah dekat; ia adalah “suara” penghibur yang akan datang (Yoh 1:23) (Bdk. Yes 40:1-3.). Sebagaimana kemudian Roh kebenaran, ia pun datang sebagai “saksi untuk memberi kesaksian tentang terang” (Yoh 1:7) (Bdk. Yoh 15:26; 5:33.). Dengan demikian di depan mata Yohanes, Roh memenuhi apa yang dicari para nabi dan dirindukan para malaikat (Bdk. 1 Ptr 1:10-12.): “Jikalau engkau melihat Roh itu turun ke atas seseorang dan tinggal di atas-Nya, Dialah itu yang akan membaptis dengan Roh Kudus. Dan aku telah melihat-Nya dan memberi kesaksian: Dia inilah Anak Allah… Lihatlah Anak Domba Allah” (Yoh 1:33-36).

2) Dari Katekismus Gereja Katolik, 523 dan 719, kita dapat menyimpulkan bahwa Yohanes Pembaptis adalah nabi terakhir dari Perjanjian Lama. Dan kemudian kita melihat bagaimana Kristus menjadi pemenuhan dari semua yang dikatakan oleh para nabi di Perjanjian Lama. Kristus datang ke dunia ini dengan tiga misi utama, yaitu sebagai nabi, imam dan raja. Yesus datang ke dunia untuk menjadi nabi, yang mewartakan kebenaran, karena Dia sendiri adalah kebenaran (lih. Yoh 14:6). Yesus juga datang ke dunia, sebagai imam yang menyediakan Diri-Nya sendiri sebagai Korban dan sekaligus Imam Agung dengan kematiannya di kayu salib. Yesus juga datang sebagai raja, yang memperbaharui kerajaan Daud – bukan sebagai raja di dunia ini, namun sebagai Raja di setiap hari umat manusia dan juga menjadi Raja di dalam Kerajaan Sorga. Katekismus Gereja Katolik mengatakan “Yesus Kristus diurapi oleh Bapa dengan Roh Kudus dan dijadikan “imam, nabi, dan raja“. Seluruh Umat Allah mengambil bagian dalam ketiga jabatan Kristus ini, dan bertanggung jawab untuk perutusan dan pelayanan yang keluar darinya (Bdk. RH 18-21.).” (KGk, 783; lihat juga KGK, 1241, 1546, 1581, 436).

3) Karena Kristus sendiri yang mendirikan Gereja Katolik, maka tiga tugas utama ini terus dijalankan oleh Gereja Katolik. Sebagai nabi, maka Gereja Katolik harus terus mewartakan kebenaran Kristus, mewariskan harta pusaka kebenaran ini dari satu generasi ke generasi secara murni. Tugas pewartaan ini termasuk evangelisasi, katekese, dll. Tugasnya sebagai imam terutama adalah dengan terus memberikan sakramen-sakramen, sehingga Gereja dapat terus membantu umat Allah untuk senantiasa memperoleh rahmat Allah. Sedangkan tugasnya sebagai raja adalah dengan terus melayani umat dan mengatur Gereja, yang memang mempunyai dimensi hirarki dan institusional.

4) Pada waktu seseorang menerima Sakramen Baptis, maka seseorang telah diperbaharui di dalam Kristus dan menerima Roh Kristus. Oleh karena itu, tiga tugas utama Kristus, sebagai nabi, imam dan raja juga diberikan kepada umat Allah. Sebagai umat Allah, kita harus menjalankan tugas sebagai nabi dengan terus berpegang pada kebenaran dan hidup menurut kebenaran yang telah ditetapkan oleh Kristus melalui Gereja-Nya. Umat Katolik juga diajak untuk turut aktif dalam setiap karya pewartaan, baik melalui katekese, kesaksian hidup, dll. Sebagai imam, umat Allah diajak untuk terus berpartisipasi dalam kehidupan sakramen dan liturgi, terutama Sakramen Ekaristi dan Sakramen Tobat. Dan umat Allah juga dapat turut serta dalam tugasnya sebagai imam dengan hidup kudus – yaitu mengasihi Allah dan mengasihi sesama atas dasar kasih terhadap Allah. Sebagai raja, umat Allah diajak dalam tugas pelayanan (diakonia), pelayanan pastoral, persaudaraan (koinonia) dll.

5) Oleh karena itu, tugas kenabian di dalam Gereja Katolik tidak diartikan secara sempit. Orang sering mengartikan tugas kenabian sebagai seseorang yang dapat melihat masa depan. Namun, Gereja Katolik percaya bahwa tidak ada lagi wahyu publik setelah kematian rasul Yohanes, yang menuliskan Kitab Wahyu. Tuhan telah mengungkapkan seluruh misteri keselamatan kepada umat manusia melalui Kristus dan seluruh tradisi, baik lisan maupun tertulis. Semua pengajaran yang ada hanya menjelaskan semua warisan iman ini kepada seluruh manusia. Katekismus Gereja Katolik menjelaskan:

KGK, 66: “Tata penyelamatan Kristen sebagai suatu perjanjian yang baru dan definitif, tidak pernah akan lenyap, dan tidak perlu diharapkan suatu wahyu umum baru, sebelum kedatangan yang jaya Tuhan kita Yesus Kristus” (DV 4). Walaupun wahyu itu sudah selesai, namun isinya sama sekali belum digali seluruhnya; masih merupakan tugas kepercayaan umat Kristen, supaya dalam peredaran zaman lama kelamaan dapat mengerti seluruh artinya.

KGK, 67: “Dalam peredaran waktu terdapatlah apa yang dinamakan “wahyu pribadi”, yang beberapa di antaranya diakui oleh pimpinan Gereja. Namun wahyu pribadi itu tidak termasuk dalam perbendaharaan iman. Bukanlah tugas mereka untuk “menyempurnakan” wahyu Kristus yang definitif atau untuk “melengkapinya”, melainkan untuk membantu supaya orang dapat menghayatinya lebih dalam lagi dalam rentang waktu tertentu. Di bawah bimbingan Wewenang Mengajar Gereja, maka dalam kesadaran iman, umat beriman tahu membedakan dan melihat dalam wahyu-wahyu ini apa yang merupakan amanat otentik dari Kristus atau para kudus kepada Gereja. Iman Kristen tidak dapat “menerima” wahyu-wahyu yang mau melebihi atau membetulkan wahyu yang sudah dituntaskan dalam Kristus. Hal ini diklaim oleh agama-agama bukan Kristen tertentu dan sering kali juga oleh sekte-sekte baru tertentu yang mendasarkan diri atas “wahyu-wahyu” yang demikian itu.

Oleh karena itu, kita sebagai  umat beriman dapat menjadi nabi dengan terus mewartakan kebenaran yang telah diberikan oleh Kristus melalui Gereja-Nya. Dan kita mengasihi Allah kalau kita dapat melaksanakan seluruh perintah-Nya dengan segenap hati, pikiran dan kekuatan kita. Pembahasan tentang tiga misi keselamatan ini akan dibahas secara mendalam dalam program pertumbuhan dan pembaharuan, yang dapat dilihat di sini (silakan klik). Saya mengundang Chrsnt dan seluruh pembaca katolisitas.org untuk turut berpartisipasi dalam program ini, dengan turut merenungkan dan menjawab pertanyaan yang diberikan.

Semoga uraian di atas dapat menjawab pertanyaan Chrsnt.

Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
stef – www.katolisitas.org

Share.

About Author

Stefanus Tay telah menyelesaikan program studi S2 di bidang teologi di Universitas Ave Maria - Institute for Pastoral Theology, Amerika Serikat.

8 Comments

  1. shirelyzan on

    shalom,
    setiap orang yang dibaptis harus ada nama baptis kan.. jadi saya mau tanya macam mana saya mahu tahu apa maksud nama baptis saya jika nama baptis saya ‘shelly’ .?
    Terima Kasih

    [Dari Katolisitas: Nama Baptis yang diambil dari nama Santa/o bukan merupakan keharusan, walaupun dianjurkan. Sepanjang pengetahuan saya tidak ada nama St. Shelly, namun demikian jika Anda memilih nama tersebut, silakan saja, namun ada baiknya Anda cari tahu terlebih dahulu artinya. Silakan membaca lebih lanjut tentang nama Baptis di artikel ini, silakan klik]

  2. Eroz Nakfatu on

    Salam,,,
    Saya sedang menulis skripsi tentang peran imam dalam politik perspektif Gaudium et Spes art. 73-76. Walaupun dalam Gaudium et Spes art. 73-76, secara spesifik membahas tentang peran Gereja dalam politik tetapi menurut hemat saya, ketika berbicara tentang peran Gereja maka imam juga dapat terlibat karena Gereja itu meliputi awam dan hierarki di mana imam termasuk dalam hierarki. Oleh karena itu, saya meminta penjelasan tentang peran profetis imam dalam politik.
    Terimakasih.

    • Shalom Eroz,

      Nampaknya prinsipnya adalah yang disebut dalam Gaudium et Spes 76:

      “Berdasarkan tugas maupun wewenangnya Gereja sama sekali tidak dapat di campuradukkan dengan negara, dan tidak terikat pada sitem politik manapun juga. Sekaligus Gereja itu menjadi tanda dalam perlindungan transendesi pribadi manusia. Di bidang masing-masing negara dan Gereja bersifat otonom tidak saling tergantung. Tetapi keduanya, kendati atas dasar yang berbeda, melayani panggilan pribadi dan sosial orang-orang yang sama.”

      Dengan demikian, secara umum tidak dibenarkan keterlibatan imam ke dalam partai politik, apalagi menjadi aktivis ataupun ketua partai politik, karena berpotensi menuai konflik kepentingan pribadi/ partai dengan tugasnya sebagai gembala umat.

      KHK Kan. 285

      § 1 Para klerikus hendaknya menjauhi segala sesuatu yang tidak sesuai dengan statusnya, menurut ketentuan-ketentuan hukum partikular.

      § 2 Hendaknya para klerikus menghindari hal-hal yang meskipun tidak tercela, namun asing bagi status klerikal.

      § 3 Para klerikus dilarang menerima jabatan-jabatan publik yang membawa serta partisipasi dalam pelaksanaan kuasa sipil.

      § 4 Tanpa izin Ordinarisnya, janganlah mereka mengelola harta benda urusan kaum awam atau menerima jabatan-jabatan sekular yang membawa-serta beban untuk mempertanggungjawabkannya; mereka dilarang menanggung jaminan, meskipun dengan hartanya sendiri, tanpa konsultasi dengan Ordinarisnya sendiri; demikian pula janganlah mereka menandatangani surat utang yang menimbulkan kewajiban melunasinya, tanpa dirumuskan perkaranya.

      Namun demikian, Gereja (baik awam maupun para religius) dapat tetap secara aktif menyuarakan pandangannya dan mendukung gerakan-gerakan yang sesuai dengan ajaran iman Kristiani, seperti mendukung gerakan pro-life untuk menolak aborsi, mendukung perawatan orang sakit dan menolak euthanasia, dst.

      Silakan membaca juga Katekismus Gereja Katolik sehubungan dengan hubungan antara Gereja dan negara/ masyarakat:

      KGK 1910, 2273, 1883, 2499, 2431, 2372, 1901-1904, 2243, 1923, 899, 2442, 2499, 2242, 2273, 2237, 2246, 1889, 1939, 854, 1905-1912, 1924, 1927, 2441, 1880, 1881, 1892, 1929, 2459, 1886-1887, 1895, 1882, 1893, 2244-2246, 2257, 1883, 1885, 2198, 2419-2425, 1928, 1943, 2023, 1603, 2250.

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      Ingrid Listiati- katolisitas.org

  3. fonny (sabah,Malaysia) on

    shalom bu dan pak stef,

    saya mahu menanya mengenai hal meminta berkat untuk rumah, maksud saya minta didoakan dan diberkati rumah tempat kami tinggal. Apakah harus paderi yang melakukan pemberkatan rumah atau boleh juga dilakukan oleh katekis (ketua gereja bg org awam)?

    salam damai ya…

    • Shalom Fonny,

      Mari mengacu kepada jawaban yang diberikan oleh Rev. John Trigilio dan Rev. Kenneth D Brighenti, dalam The Catholicism Answer Book: the 300 Most Frequently Asked Questions, (Sourcebooks, 2007), sebagaimana dikutip di situs ini, silakan klik, intinya demikian:

      Memang adalah kebiasaan rumah tangga Katolik, di mana para bapa memberkati anak-anak mereka, dan mempunyai tempat air suci di dekat pintu masuk, supaya penghuni rumah ataupun tamu dapat memberkati diri mereka sendiri saat masuk ataupun meninggalkan rumah.

      Namun tentang pemberkatan rumah secara formal/ resmi, umumnya hanya dilakukan oleh para tertahbis, dalam hal ini imam atau diakon tertahbis. Umumnya hal ini dilakukan pada saat keluarga menempati rumah yang baru. Demikian juga, para imam dan diakon dapat memberkati rumah-rumah di masa Paska atau Natal. Hal ini masih dilakukan di negara- negara Polandia, Ukrainia dan Cekoslovakia, di mana pemberkatan itu merupakan kesempatan bagi para imam maupun diakon untuk mengenal umat di paroki mereka.

      Hal pemberkatan ini berhubungan dengan pelaksanaan misi imamat Kristus, yang kita terima saat Pembaptisan. Silakan selanjutnya membaca artikel di atas, silakan klik, tentang Tiga Misi Keselamatan Kristus: sebagai nabi, imam dan raja.

      Dalam instruksi umum dalam Buku Pemberkatan (Book of Blessings) menyebutkan pelayan-pelayan yang dapat melakukannya: 1) Uskup, ketika perayaan pemberkatan melibatkan daerah keuskupannya; 2) Imam, jika perayaan pemberkatan melibatkan komunitas parokinya; 3) Diakon tertahbis, sebab tugas diakon adalah membantu uskup dan imam; 4) Awam (dalam hal ini terutama para bapa), dalam lingkup rumah tangganya, seperti pada saat memberkati anak-anaknya dan memberkati makanan yang tersedia saat makan bersama keluarga.

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      Ingrid Listiati- katolisitas.org

  4. halo, salom.
    Romo, mau tanya, bagaimana partisipasi Keluarga Kristiani sebagai nabi dan bagaimana Keluarga kristiani meneladani Kristus sebagai nabi di tengah dunia

    • Shalom Eduard Umbu,

      Terima kasih atas pertanyaannya. Secara prinsip tugas sebagai nabi adalah untuk mewartakan kebenaran dan terutama hidup di dalam kebenaran. Kebenaran tidak dapat dikaburkan dengan alasan toleransi atau karena kepentingan pribadi, misal: karena lebih mudah, karena lebih menguntungkan, dll. Kalau kita berjalan di dalam kebenaran, maka kita hidup di dalam Kristus, karena Kristus adalah jalan, kebenaran dan hidup (lih. Yoh 14:6). Pada waktu kita dibaptis, maka kita mengemban tugas sebagai nabi, raja, dan imam.

      Sekarang, bagaimana penerapan kenabian dalam kehidupan berkeluarga. Secara prinsip, keluarga kristiani harus mencerminkan kebenaran kristiani dan bertindak sebagaimana layaknya keluarga kristiani, yang meneladani keluarga kristiani di Nazaret. Keluarga Kristiani adalah gereja terkecil, yang harus menjadi contoh bagi keluarga-keluarga yang lain, yang kehidupannya harus didominasi oleh kebenaran dan kasih. Karena tiga misi keselamatan Kristus (nabi, imam, raja) terutama dilaksanakan oleh Gereja, maka setiap keluarga kristiani – sebagai gereja terkecil – harus meneladani Gereja, termasuk dengan menjalankan semua doktrin dan dogma, serta disiplin-disiplin yang ditetapkan oleh Gereja Katolik. Oleh karena itu, kalau Gereja Katolik mengatakan bahwa kontrasepsi adalah tidak boleh dan berdosa, maka keluarga kristiani harus dengan taat mengikutinya, walaupun sulit untuk dijalankan.

      Tugas dari keluarga Kristiani adalah membimbing seluruh anggota keluarganya untuk masuk dalam Kerajaan Sorga. Oleh karena itu, orang tua harus mendidik anak-anaknya agar dapat mengenal dan mengasihi iman Katolik, yang bersumber pada Kristus sendiri. Kehidupan keluarga ini juga harus berakar pada sakramen-sakramen (terutama Ekaristi dan Sakramen Tobat), karena kita percaya bahwa rahmat Tuhan mengalir secara luar biasa dalam sakramen-sakramen. Dan kehidupan mereka ditandai dengan doa bersama dan bertumbuh dalam sabda Tuhan. Dengan demikian, keluarga kristiani dapat mengerti kebenaran (lewat Firman Tuhan dan pengajaran Gereja) dan pada saat bersamaan diberikan rahmat Tuhan (lewat doa, sakramen-sakramen) untuk menjalankan kebenaran tersebut, serta menerapkan kebenaran tersebut dengan ikatan kasih. Dengan demikian keluarga kristiani dapat bersinar terang dan menjadi refleksi kehidupan keluarga kudus di Nazaret, yang mencerminkan kehidupan Trinitas.

      Demikian jawaban yang dapat saya berikan. Semoga berguna.

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      stef – http://www.katolisitas.org

Add Comment Register



Leave A Reply