Menikah atau selibat? (1 Kor 7 :1-40)

Menikah atau hidup selibat untuk Kerajaan Allah?

Mungkin pertanyaan seperti ini adalah pertanyaan yang harusnya direnungkan oleh para muda- mudi Katolik. Jaman sekarang, kita melihat dalam keadaan masyarakat, di mana terdapat kebebasan mass media dan gaya hidup yang bahkan seolah menganggap perkawinan yang tak terceraikan adalah sesuatu yang sukar, apalagi kehidupan selibat, yang dipandang lebih lagi sangat mustahil. Namun sebenarnya, tidaklah demikian jika kita berpegang pada pengajaran Rasul Paulus. Jaman dahulu situasi di Korintus mirip dengan kondisi kita sekarang, maka kitapun bisa belajar banyak dari pengajaran Rasul Paulus ini.

Dalam 1 Kor 7:1-40, Rasul Paulus mengajarkan tentang perkawinan dan kehidupan selibat. Pengajaran ini penting, terutama jika kita memahami kondisi jemaat di Korintus saat itu. Kota Korintus merupakan kota transit dan kota pelabuhan. Dengan kondisi ini maka kota tersebut mempunyai tingkat ke-asusilaan/ immorality yang tinggi. Di tengah lingkungan pagan yang sedemikian, maka kemungkinan ada beberapa jemaat di Korintus yang menanyakan kepada rasul Paulus, tentang bagaimana menyikapinya, apakah jadi sebaiknya semua orang Kristen harus hidup selibat, atau apakah perkawinan itu merupakan hal yang buruk. Maka bab tujuh ini menandai dimulainya bagian kedua dari surat pertama Rasul Paulus kepada umat di Korintus . Konteksnya adalah surat ini kemungkinan merupakan jawaban dari Rasul Paulus akan pertanyaan tersebut.

Dalam jawabannya ini Rasul Paulus mengajarkan tentang:

1. ay. 1-16 Perkawinan dan sifatnya yang tak terceraikan
2. ay. 17-24 Rasul Paulus menjelaskan bahwa menjadi murid Kristus tidak mutlak harus mengubah status hidup (misal: dari menikah menjadi selibat) ataupun mengubah keadaan eksternal. Maka perikop ini tidak mengajarkan secara keseluruhan konsep perkawinan Kristiani, sebab untuk melihat pengajaran yang lebih lengkap tentang perkawinan, kita harus membaca juga Ef 5: 22-33, di mana persatuan dan kasih suami istri dilambangkan dengan persatuan dan kasih Kristus kepada jemaat/ Gereja-Nya.

3. ay. 25-38 Kehidupan selibat yang dipandang sebagai sesuatu yang lebih tinggi karena menjadi tanda pengabdian dan kasih tanpa syarat kepada Tuhan dan sesama.
4. ay. 39- 40 Kehidupan menjanda yang dapat dijadikan kesempatan untuk melayani Tuhan dengan lebih penuh.

Berikut ini saya sampaikan uraian yang mengambil sumber utama dari  Commentary yang ada di The Navarre Bible, The Letters of St. Paul:

7:1-9 Rasul Paulus mengajarkan bahwa Perkawinan adalah sesuatu yang baik. Di sini dan di ayat 25-35, Raul Paulus ingin mengatakan bahwa bukan hanya kehidupan selibat yang dapat dilakukan oleh umat Kristiani. Maka ia menyatakan dua hal yang mendasar yaitu memang kehidupan selibat berada di tingkat yang lebih tinggi dari perkawinan, tetapi perkawinan adalah sesuatu yang baik dan kudus bagi mereka yang terpanggil untuk itu.

Dalam hal ini, Rasul Paulus melihat bahwa kehidupan perkawinan dan selibat itu harus dilihat berdampingan. Pengajaran ini dilanjutkan oleh St. Yohanes Krisostomus dengan indahnya, “Barangsiapa yang mengecam perkawinan, ia juga membuang kemuliaan yang ada pada kehidupan selibat; sedangkan barangsiapa yang memuliakan perkawinan, maka ia juga membuat kehidupan selibat menjadi menarik dan bersinar. Sesuatu yang kelihatannya baik hanya ketika dibandingkan dengan sesuatu yang buruk, tidaklah sungguh-sungguh berharga;  tetapi ketika hal itu lebih besar daripada hal-hal yang dihargai oleh semua orang, maka memang hal itu baik di tingkat yang sangat tinggi.” (St. Yohanes Krisostomus, De virginitate, 10, 1)

Jadi Rasul Paulus menjawab di sini bahwa adalah baik untuk hidup selibat, namun untuk itu seseorang memerlukan rahmat yang istimewa dari Tuhan (ay.7). Mengingat keadaan moral di Korintus yang sangat aktif dipengaruhi oleh ketidakmurnian sehingga dapat meningkatkan banyak godaan (ay. 2, 5, 9), maka lebih baik bagi mereka yang tidak mempunyai karunia untuk hidup selibat untuk menikah. Namun demikian tentu ia tidak bermaksud mengajarkan bahwa tujuan utama perkawinan adalah untuk membebaskan diri dari godaan. Sebab makna Perkawinan malah sangat luhur karena  kasih suami istri menjadi gambaran akan kasih Yesus kepada Gereja-Nya (lih. Ef 5:22-33). Di sini Rasul Paulus hanya menganjurkan agar bagi yang terpanggil untuk hidup selibat, namun bagi yang tidak terpanggil/ yang tidak mempunyai karunia untuk hidup selibat, agar tidak hidup selibat dan karenanya menanggung resiko tidak dapat mengatasi godaan tersebut.

7:3-6 Rasul Paulus mengajarkan bahwa kehidupan selibat bukan untuk semua orang. Jika untuk kondisi khusus suami dan istri hendak bertarak/ tidak berhubungan suami istri (perfect continence), mereka harus melakukannya atas kesepakatan bersama, dan hanya untuk sementara waktu, agar tidak memasukkan diri sendiri ke dalam godaan setan yang tidak perlu. Juga Rasul Paulus mengajarkan agar suami dan istri bukanlah pemilik dari tubuhnya sendiri, suami memiliki hak atas tubuh istri dan demikian pula sebaliknya.

7:7 Rasul Paulus sendiri hidup selibat. Ia menginginkan orang lainpun seperti dia, sehingga dapat mengabdikan diri sepenuhnya kepada Allah. Namun ia juga mengakui bahwa hidup selibat merupakan karunia istimewa dari Allah, seperti yang diajarkan Kristus (lih. Mat 19:11-12). Ini adalah tanggapan terhadap kasih yang telah dinyatakan oleh Yesus secara tak terbatas. Dan Rasul Paulus secara pribadi telah mengalaminya [dalam perjalanan ke Damsyik]. Rahmat dengan kekuatan ilahi meningkatkan kerinduan bagi orang-orang tertentu untuk mengasihi Allah dengan total, eksklusif, tetap dan selama-lamanya. Maka keinginan bebas untuk mengabdi sepenuhnya kepada Allah dengan hidup selibat selalu dianggap Gereja sebagai sesuatu yang menandai dan mendorong kasih (lih. Lumen Gentium / LG 42). Kehidupan selibat adalah bukti kasih tanpa syarat, dan mendorong kepada kasih yang terbuka kepada semua orang (Paus Paulus VI, Sacerdotalis caelibatus).

Maka ketika Rasul Paulus mengatakan “setiap orang menerima dari Allah karunianya yang khas”, artinya bahwa perkawinan juga merupakan karunia dari Tuhan (lih. LG 11). “Perkawinan adalah jalan ilahi di dunia…. Maksud perkawinan adalah untuk membantu pasangan menguduskan mereka sendiri dan orang lain. Untuk alasan ini mereka menerima rahmat istimewa di dalam sakramen Perkawinan. Mereka yang terpanggil untuk menikah akan, dengan rahmat Tuhan, menemukan di dalam kondisi mereka setiap hal yang mereka perlukan untuk hidup kudus dan untuk lebih mengikuti jejak Kristus setiap hari dan untuk menuntun semua yang hidup bersama mereka kepada Tuhan.”[1]

7:10-11 Maka kehidupan selibat bagi Rasul Paulus bukan merupakan perintah, tetapi berupa anjuran. Sedangkan tentang perkawinan yang tak terceraikan itu merupakan perintah Tuhan, seperti yang telah diajarkan oleh Yesus (lih. Mat 19:6); dan suami ataupun istri tak dapat menceraikannya (Mat 5: 31-32; 19:3-23; Mk 10:12). Perkawinan yang tak terceraikan ini berakar dari kasih yang memberikan diri secara total dari pasangan suami istri, demi kebaikan anak-anak mereka. Maka perkawinan yang tak terceraikan ini menemukan kebenaran puncaknya di dalam rencana Allah yang menghendaki agar perkawinan yang tak terceraikan ini merupakan sebuah buah, tanda dan syarat dari kasih setia absolut yang Allah tujukan kepada manusia dan yang Yesus tujukan kepada Gereja….[2]

7:12-16 Setelah mengajarkan tentang perkawinan yang tak terceraikan, Rasul Paulus menjelaskan tentang kasus yang umum ditemukan saat itu, yaitu perkawinan antar dua orang pagan, yang kemudian salah satunya menjadi Kristen. Dalam dunia pagan memang hukum memperbolehkan perceraian. Menurut tradisi Yahudi, jika seseorang pagan menjadi Yahudi, maka ia disunat dan harus mengikuti hukum Taurat Musa, termasuk  menghindari hubungan sosial dengan orang non-Yahudi (karena akan menjadi najis), sehingga ikatan perkawinan sebelumnya dengan orang non-Yahudi itu harus diceraikan.

Namun demikian, Rasul Paulus tidak memberikan solusi ini. Menurut Rasul Paulus, ikatan perkawinan tetap berlaku, sebab hukum kenajisan tidak berlaku/ telah diperbaharui oleh Kristus. Hanya saja jika pihak yang pagan tidak mau hidup dalam perdamaian, maka pihak yang sudah dibaptis dapat berpisah dengannya dan menikah kembali.

Maka dalam hal ini ada tiga hal penting yang harus diketahui:

1) Yesus Kristus tidak pernah bicara tentang hal ini; sehingga ini memang pengajaran dari Rasul Paulus. Maka ia bukan hendak membatalkan pengajaran Yesus tentang perkawinan yang tak terceraikan. Yang dilakukannya adalah, dengan inspirasi Roh Kudus, ia mengajarkan secara umum untuk menyikapi suatu kasus khusus.

2) Jika seorang pagan dibaptis, maka ia menguduskan anggota keluarga lainnya (suami/ istrinya dan anak-anak) (ay. 13-14). Maka pertobatannya bukan malah ‘merusak’ keutuhan keluarga, tetapi malah sesuatu yang membawa kebaikan bagi seluruh keluarga. Pembaptisan bukan sesuatu yang mengakibatkan perceraian, tetapi malah memperkuat dan menguduskan keluarga.

3) Hanya jika pasangan yang tetap tidak percaya (tetap pagan) mengganggu kehidupan keluarga atau tidak memperbolehkan pasangan yang Kristen tersebut untuk hidup sesuai dengan imannya, maka mereka boleh berpisah dan ia yang Kristen tersebut boleh menikah kembali.

Maka Gereja Katolik mengikuti solusi yang diajarkan oleh Rasul Paulus dan umum disebut sebagai “Pauline privilege” (lihat KHK kann. 1143-1147)

Namun ada catatan yang sangat penting di sini, bahwa, kondisi yang disebutkan oleh Rasul Paulus ini bukan kondisi pernikahan di mana salah satu pihaknya sudah Katolik, -yang menikah dengan pihak non- Katolik (kawin campur atau kawin beda agama). Pada kasus- kasus ini, Gereja Katolik mensyaratkan adanya komitmen dari pihak non- Katolik dan jika ini dilakukan maka pernikahan tetap sah dan tak terceraikan (lihat KHK kann. 1124- 1128).

7:17-24 Rasul Paulus mengajarkan bahwa pertobatan tidak perlu diikuti dengan perubahan total status hidup, “hendaklah tiap-tiap orang tetap hidup seperti yang telah ditentukan Tuhan baginya” (lih. ay. 17, 20,24). Contoh yang diberikan misalnya soal sunat lahiriah dan hamba/ pekerja. (ay. 18-22). Jadi yang dipentingkan di sini adalah pertobatan rohaniah, dan bahwa kondisi sehari-hari, entah pekerjaan, keluarga, hubungan sosial, dst sekarang membantu kita untuk menuju kekudusan. Kehidupan kita harus mempunyai dimensi baru, sebab kita menyadari bahwa Tuhan membimbing kita untuk melakukan tugas-tugas yang dipercayakan oleh Tuhan kepada kita.

7:19 Penekanan bahwa yang lebih penting adalah menaati perintah Tuhan, maka dengan demikian, sunat atau tidak bersunat tidak lagi menjadi penting, hanya “iman yang bekerja oleh kasih” (Gal 5:6; lih. Gal 6:15).

7:21-23 Pada jaman Rasul Paulus, memang perbudakan masih ada, tetapi Rasul Paulus berkali-kali mengajarkan bahwa sebenarnya setiap manusia mempunyai martabat yang sama di hadapan Allah (lih. Gal 3:28-29 dan Filemon). Sesudahnya ketika ajaran Kristiani masuk ke dalam sendi-sendi  kemasyarakatan, maka perbudakan dihapuskan.

Bagaimana seseorang dapat hidup merdeka, pada saat ia masih hidup sebagai pelayan? Maka jawabannya, menurut St. Yohanes Krisostomus adalah ketika ia dapat hidup merdeka/ bebas dari nafsu dan pikiran yang tidak sehat.[3]

Sedangkan yang benar adalah kita semua hidup sebagai pelayan Tuhan, dengan melihat kepada teladan Yesus sendiri (lih. 1 Kor 20:28) Maka jika kita melayani sesama demi kasih kita kepada Tuhan, itu adalah sesuatu yang sangat mulia. “Kita hidup memang harus melayani, suka atau tidak suka, sebab itulah yang dilakukan oleh kita manusia. Maka tiada yang lebih baik dari pada menyadari akan Kasih yang menjadikan kita pelayan Tuhan…. Dengan demikian kita mengerjakan segala sesuatu di dunia dengan sungguh-sungguh seperti orang-orang yang lain, namun dengan kedamaian di dalam hati kita. Kita bersuka cita dan selalu tenang di dalam menghadapi sesuatu, sebab kita tidak menaruh kepercayaan kepada hal yang sementara, tetapi pada hal yang tetap selamanya.”[4]

7:25-35 Rasul Paulus menjelaskan keistimewaan kehidupan selibat dibandingkan dengan perkawinan. Magisterium Gereja Katolik juga mengajarkan demikian (lih. Trent, De Sacrum matrimonio, ca. 10; Pius XII, Sacra virginitas,11)). Rasul Paulus memang mengatakan bahwa untuk ajaran berikut ia tidak menerima perintah Allah namun hanya menganjurkan kehidupan selibat, dengan motivasi utama, yaitu kasih kepada Allah. “Ini adalah tujuan utama dan alasan utama bagi selibat Kristiani- untuk mengabdikan diri sepenuhnya kepada hal-hal surgawi, memberikan kepada hal-hal itu segenap perhatian dan kasih, memikirkan Dia senantiasa, dan mengkonsekrasikan diri kepada Tuhan sepenuhnya, tubuh dan jiwa.[5]

Kehidupan selibat ini akan menuju kepada kehidupan yang penuh dan produktif sebab akan membuat seseorang dapat mengasihi sesama dengan lebih penuh dan mengabdikan diri kepada mereka dengan lebih total. Juga kehidupan selibat mengacu pada dimensi kehidupan di akhir jaman: tanda kebahagiaan surgawi (lih. Vatikan II, Perfectae caritatis, 12) dan mengacu pada kehidupan para kudus di surga.

Namun, meskipun selibat adalah tingkat yang lebih tinggi, perkawinan bukanlah sesuatu yang buruk. Mereka yang menikah tidak melakukan sesuatu yang salah (ay. 28), dan tidak perlu seseorang yang sudah menikah untuk hidup selibat (ay. 3-5) atau bercerai (ay. 27). “Kehidupan selibat demi Kerajaan Allah tidak hanya tidak berlawanan dengan martabat perkawinan, namun mensyaratkan dan meneguhkannya. Perkawinan dan kehidupan selibat adalah dua hal yang melambangkan dan mempraktekkan satu misteri perjanjian Allah dengan umat-Nya. Ketika perkawinan tidak dijunjung tinggi, maka kehidupan selibat tidak dapat eksis; ketika seksualitas manusia tidak dinilai sebagai sesuatu yang berharga yang diberikan oleh Sang Pencipta, maka pengorbanannya demi Kerajaan Allah menjadi kehilangan artinya.”[6]

7:28 “kesusahan badani” Ini tidak dimaksudkan untuk merendahkan perkawinan. Hubungan suami istri dalam perkawinan di mana terjadi persatuan yang intim dan murni adalah suatu yang agung dan terhormat:….ini merupakan tindakan pemberian diri yang memperkaya pasangan dengan suka cita dan ucapan syukur.[7].

7:33 “perkara duniawi”: menunjukkan bahwa mereka yang menikah tidak dapat mengabaikan kebutuhan- kebutuhan material dalam keluarga. Bahkan suami (kepala keluarga) tidak dapat menyenangkan Tuhan jika ia tidak memenuhi kebutuhan keluarganya. “Adalah suatu kesalahan jika mereka [suami dan istri] tidak memasukkan kehidupan keluarga bagi perkembangan rohani mereka. Kesatuan perkawinan, pendidikan anak dan usaha memenuhi kebutuhan keluaraga…. dan hubungan- hubungan dengan orang lain dalam komunitas- semua ini adalah keadaan umum manusiawi yang harus dikuduskan oleh pasangan suami istri.[8] Maka tidak benarlah jika seseorang terlalu aktif mengikuti kegiatan kerasulan awam, sampai menelantarkan keluarga dan kebutuhan keluarganya sendiri.

7:29-31 St. Paul mengingatkan pada kita bahwa hidup ini singkat (lih. Rom 13:11-14; 2 Pet 3:8; 1 Yoh 2:15-17) agar kita dapat menggunakan sebaik-baiknya dari waktu yang ada untuk melayani Tuhan. Maka kita harus tidak terikat pada hal-hal duniawi, supaya kita tidak diperbudak oleh apapun dan siapapun (lih. 1 Kor 7:23; Lumen Gentium 42), tetapi selalu mempunyai pandangan ke arah kehidupan kekal.

7:35 Ayat ini dimaksudkan oleh Rasul Paulus untuk menunjukka bahwa orang-orang yang tdiak menikah mempunyai kesiap-sediaan yang lebih untuk melayani Tuhan.

7:36-38 Terdapat dua teori untuk menjelaskan ayat-ayat ini: 1) Rasul Paulus mengacu kepada kebiasaan saat itu di mana seorang Kristen dapat menerima seorang perawan Kristen di rumahnya untuk mencegah keluarga perempuan itu yang masih pagan untuk memaksanya menikah. 2) Rasul Paulus menujukan ajaran ini kepada para bapa atau bapa angkat yang menurut kebiasaan saat itu mempunyai kuasa untuk memutuskan apakah anak perempuannya akan menikah atau tidak. Dalam hal ini, “baiklah mereka kawin”/ let them marry sebenarnya harus diterjemahkan sebagai “he can decide that she marry.”

Walaupun penyampaian dalam paragraf ini sepertinya tidak jelas, namun maksud utama Rasul Paulus tetap jelas, yaitu, bahwa perkawinan adalah baik dan kudus, tetapi tak seorang-pun wajib untuk menikah; mereka yang dengan panggilan ilahi  -”ia yang mempunyai keyakinan ini di dalam hatinya”- dipanggil untuk hidup selibat melakukan hal yang lebih baik (lih. ay. 38).

7:39-40 Mengikuti Rasul Paulus, Gereja selalu mengajarkan bahwa ikatan perkawinan hanya dapat dipisahkan oleh kematian salah satu dari pasangan, dan ia yang masih hidup dapat menikah lagi. Namun menurut anjuran Rasul Paulus, lebih baik bagi yang masih hidup itu untuk tetap tidak menikah, dan melayani Tuhan, jika itu kehendak Tuhan.

Kesimpulan

Melihat pentingnya makna kedua panggilan hidup ini, memang sebaiknya para pemuda/i Katolik merenungkannya sebelum membuat keputusan. Baik perkawinan maupun hidup selibat merupakan jalan yang dapat menuntun seseorang kepada kekudusan, namun perlu direnungkan secara khusus dalam kondisi kita masing-masing, “Apa kehendak Tuhan bagiku?” “Dengan cara apa aku dapat memuliakan Tuhan dengan lebih baik?” Dan jika kita sudah ‘terlanjur’ memilih jalan dan status hidup kita, kita tak perlu resah, karena setiap jalan dan keadaan kita, tetap dapat membawa kita kepada kekudusan, asalkan kita hidup sesuai dengan perintah-perintah-Nya, terutama perintah kasih kepada Tuhan dan kasih kepada sesama.


CATATAN KAKI:
  1. St. Josemaria Escriva, Conversations, 91 []
  2. lihat Paus Yohanes Paulus II, Familiaris Consortio, 20 []
  3. lihat St. Yohanes Krisostomus, Hom., on 1 Cor, 19, ad loc. []
  4. St. Josemaria Escriva, Friends of God, p.35 []
  5. Pius XII, Sacra virginitas, 5 []
  6. Yohanes Paulus II, Familiaris Cansortio, 16 []
  7. Lihat Vatican II, Gaudium et Spes, 49 []
  8. St. Josemaria Escriva, Christ is Pasiing by, 23 []

Beberapa artikel yang berhubungan:

Beberapa artikel di kategori yang sama:

50 Komentar to Menikah atau selibat? (1 Kor 7 :1-40)

  1. Salam Damai Kristus,
    Saya mau bertanya perihal hidup Panggilan yang membedakan antara hidup berkeluarga dan Selibat secara teologisnya itu apa. Bagaimana hubungannya dengan karya Kristus sendiri dalam campur tanganNya.
    Kalau boleh saya minta saran berbagai sumber bacaan sabda Perjanjian Lama dan Baru yang berkaitan dengan Perkawinan atau hidup berkeluarga. Terima kasih

    [dari katolisitas: silakan melihat artikel di atas - silakan klik]

  2. Syalom, saya ada pertanyaan:
    - apakah salah jika kita menyukai org yg ternyata telah memilih selibat awam?
    - apakah dosa jika saya mohon pd Tuhan agar org itu (yg selibat awam itu) mencintai saya dan saya berharap mukjizat dr Tuhan utk itu?
    - apakah jika kita sdh memilih utk selibat awam, lalu keluar, kita berdosa?

    Thanks sblmnya, mbak, Romo.
    God bless u..

    • Yohanes Dwi Harsanto Pr November 19, 2011 at 9:06 pm

      Salam Princess,

      Mohon rahmat Tuhan selalu baik, karena akhirnya tergantung Tuhan mau berikan atau tidak. Beliau Mahatahu, pasti mengetahui apa yang terbaik untuk Anda dan dia.

      Namun setelah berdoa, saran saya Anda utarakan saja isi hati Anda padanya terus terang. Selanjutnya, nantikan saja bagaimana sikapnya. Di situlah terjadi tuntunan Allah sendiri melalui dialog di antara Anda dan dia. Anda bisa tanyakan informasi mengenai selibat awam itu dan mengetahui sikapnya terhadap isi hati Anda.

      Tentu saja selibat yang diniati sendiri lain dari selibat imamat dan biarawan kanonik. Namun bagaimanapun, harus dihargai selibat awam-nya itu jika ia tetap mau melanjutkannya. Semoga segera ada kejelasan.

      Salam
      Yohanes Dwi Harsanto, Pr

      • Trima kasih jawabannya Rm…
        Saya blom berani mengatakan langsung begitu,Rm..

        Kemaren2 kami dijodoh2kan begitu ama teman2, lalu dia blg dia gak suka dijodohkan krn punya pengalaman buruk… Juga namanya cinta gak bisa dipaksa…
        Dan dia mulai merasa saya menyukainya, n dia mengatakan kalo saat ini dia msh menjalankan selibat awamnya.
        Dan dia saat ini menganggap saya hanya sebagai sahabat seiman saja..

        Saya juga belum pernah mengalami ini sebelumnya, Romo.
        Ntah kenapa saya yakin sekali n merasa cocok dgn dia.
        Saya rasa saya jauh bisa dekat ama Tuhan kalo dgn dia…
        Apa salah jika saya masih mohon pd Tuhan utk membuka jalan??
        Bahkan saat ini saya menjalani novena dan puasa utk itu, apa itu salah ya Romo?

        • Yohanes Dwi Harsanto Pr November 21, 2011 at 9:43 am

          Salam Princess,

          Tidak salah. Silahkan lanjutkan. Namun harus dengan keterbukaan pula bahwa Tuhan memiliki kuasa mutlak atas permohonan kita. Jika Tuhan mengabulkan atau tidak mengabulkan, Anda pasti tahu tanda-tandanya. Misalnya: tanda-tanda itu muncul dari reaksi dia, reaksi hati Anda sendiri, dan reaksi teman-teman serta keluarga dan masyarakat. Semoga segera jelas dalam doa-doa dan membuat komunikasi yang baik dengan dia.

          Salam
          Yohanes Dwi Harsanto Pr

  3. Poppy Linggi Allo September 26, 2011 at 12:12 am

    Dear Katolisitas.org,

    saya masih bingung dengan pertanyaan “apakah seseorang perlu menikah atau tidak.” Dan saya lihat cukup banyak orang-orang lajang juga bergumul dengan masalah tersebut. Bisakah Katolisitas memberikan panduan bagaimana seseorang dapat lebih mengenali panggilannya untuk memilih: hidup menikah atau tidak ? Saya sendiri sudah mencoba cari referensi kemana2, termasuk meng-google nya, hehehe….nampaknya di Gereja juga hal tsb kurang mendapatkan perhatian. Saya sempat bergabung dengan beberapa komunitas dan masih tetap blank untuk pertanyaan tsb. Malahan banyak rekan2 yang memberi masukan bahwa sebaiknya orang tidak menikah. Saya sempat juga bergabung dengan salah satu komunitas single di daerah saya, juga di Young Adult Ministry yang saya baca2 infonya di internet, dalam program2nya tidak membahas soal mencari pasangan hidup.

    Terima kasih dan salam :-)

    Poppy L.A.

    [dari Katolisitas: Silahkan membaca artikel kami di atas, yang berjudul "Menikah atau Selibat? (1 Kor 7:1-40)", silahkan klik. Semoga pertanyaan Anda terjawab]

     

     

  4. katolisitas yth,
    [....dari Katolisitas: kami edit]. Saya ingin bertanya, apakah seorang pastor yang pernah melakukan hubungan seksual dengan seorang wanita, masih boleh menjadi pastor dan menerimakan sakramen? Bila diberi hukuman, biasanya hukuman seperti apa? Terima kasih katolisitas…

    • Imelda Yth

      Walaupun tentu tidak seharusnya terjadi, namun pastor yang pernah melakukan hubungan seksual dengan seorang wanita masih dapat menjadi pastor dan menerimakan sakramen. Mengapa? Karena sakramen imamat adalah suatu tanda -materai ilahi yang tak akan terhapuskan. Sedangkan dosa karena hubungan seksual masalah privat/ pribadi antara dia [sang pastor] dengan wanita itu dan Tuhan, serta dosa adalah urusan forum internal. Hukuman tentu ada, yaitu paling tidak suspensi apalagi kalau mengakibatkan penderitaan bagi si korban.

      salam
      Rm Wanta

  5. Shalom,

    Apakah hidup selibat itu maksudnya harus di biara atau boleh sebagai selibat awam, tidak terikat kaul tetapi tidak menikah? Bolehkah kita tidak menikah tetapi tidak masuk biara?

    Terima Kasih,

    Shalom, Monica

    • Shalom Monica,

      Menurut pengetahuan saya, hidup selibat tidak harus di biara. Ada banyak orang yang hidup selibat di luar biara, entah karena pilihan sendiri ataukah karena keadaannya. Mereka tidak terikat kaul, namun mereka tetap dapat mempersembahkan hidup mereka kepada Tuhan sesuai dengan jalan panggilan hidup mereka. Saya pernah mendengar komunitas sedemikian di Jakarta, namanya kalau tidak salah adalah komunitas Putri Sion.

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      Ingrid Listiati- katolisitas.org

      • stefanus Xaverius August 31, 2011 at 8:39 pm

        Ibu saya ingin bertanya, apa jika ada seseorang sering datang ke panti jompo untuk membelikan makanan dan menemani serta merawat para orang jompo, ke panti asuhan dan yayasan pendidikan anak cacat untuk ikut membantu, yang intinya mencoba mempraktekkan ajaran kasih Yesus terhadap itu termasuk dalam hidup selibat?? Sebab jujur saya sering melakukannya, saya ingin hidup saya bermakna, saya bahkan pernah berpikir untuk menjadi biarawan tetapi orang tua saya tidak mengijinkan.

        Jadi saya putuskan untuk melakukan hal di atas saja sesuai kata hati saya, saya ingin bisa seperti mother Teressa yang bisa mengasihi orang2 tanpa pandang bulu, saya hanya ingin hidup saya bermakna, apa mungkin saya bisa “hidup selibat” dengan mengabdikan diri saya untuk merawat orang2 jompo di panti jompo yang kebetulan milik Gereja Katolik juga di daerah saya ?

        mohon pencerahannya agar saya mengerti tentang hidup selibat.. :)

        • Shalom Stefanus,

          Pengertian hidup selibat adalah tidak menikah. Nah jika seseorang memang terpanggil untuk tidak menikah dan membaktikan hidup seluruhnya untuk Tuhan, maka memang jalan yang umum dikenal adalah bergabung dengan suatu komunitas hidup religius (biara). Namun demikian tentu saja tetap dapat dilakukan jika seseorang ingin hidup selibat, namun tidak masuk biara.

          Selanjutnya perlu diketahui juga bahwa hidup mempraktekkan ajaran kasih Yesus, seperti datang ke panti jompo atau yayasan anak cacat, juga tetap dapat dilakukan, meskipun anda memilih untuk hidup berkeluarga. Sebab hidup berkeluarga, jika dilakukan dengan sungguh- sungguh sesuai dengan apa yang diajarkan oleh Gereja (dengan mempraktekkan ajaran kasih), juga dapat menghantar setiap anggota keluarga kepada kekudusan. Silakan anda membaca tentang panggilan hidup berkeluarga menurut ajaran Gereja Katolik, silakan klik. Maka makna hidup tidak hanya dapat dialami oleh orang- orang yang hidup selibat, tetapi juga oleh orang- orang yang memilih untuk hidup berkeluarga. Hanya saja, memang secara obyektif kita melihat bahwa mereka yang memilih untuk hidup selibat bagi Kerajaan Allah dengan mempersembahkan hidup mereka seluruhnya untuk Tuhan, mereka secara lebih khusus menggambarkan realita persatuan dengan Tuhan seperti yang kelak akan kita alami dalam kehidupan kekal, yaitu: tidak ada orang yang kawin atau dikawinkan, tetapi seluruh keberadaan kita sudah dipenuhi oleh Allah itu sendiri (lih. Luk 20:35).

          Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
          Ingrid Listiati- katolisitas.org

          • Stefanus Xaverius Freydy September 5, 2011 at 2:35 pm

            terimakasih ibu atas sarannya,, saya harap semoga perbuatan saya dapat berkenan kepada Allah sekalipun saya tidak masuk dalam komunitas Biara..
            Trims Ibu,, sukses dalam pelayanannya,, ^^

  6. Shalom, Bu Ingrid,
    Maaf. Link yang saya buka tidak dapat menampilkan jawaban dari Ibu. Mohon diulang.

    Saya memikirkan beberapa hal mengenai pekerjaan manusia. Lalu, jika kita bandingkan dengan perintah Kristus bahwa dengan meninggalkan segalanya dan mengikut Dia adalah salah satu syarat masuk ke dalam kehidupan yang kekal. Apakah jika demikian halnya, itu berarti jika kita melakukan pekerjaan yang bersifat “duniawi”, atau dengan kata lain tidak menjadi rohaniwan atau religius seperti suster/bruder/romo kita belum dapat masuk ke dalam Kerajaan Sorga?
    >
    > Lalu, bagaimana dengan orang yang tidak menerima Tahbisan Suci tetapi tidak hendak menikah berlawanan dengan ajaran Gereja Katolik? Dalam arti, jika tidak menikah maka kita harus sepenuhnya pula, tidak setengah-setengah, maka kita perlu menerima Tahbisan Suci? Atau boleh tidak menikah walaupun tidak menerima Tahbisan Suci?
    >
    > Kemudian yang terakhir, bagaimana dengan perkumpulan seperti PRK (Penebar Ragi Kristus) yang terdiri dari wanita yang tidak menikah, berkaul seperti suster, tetapi boleh mencari nafkah dan menyumbangkan dedikasinya bagi masyarakat? Adakah dokumen Gereja Katolik yang mengatur hal tersebut secara eksplisit?

    Terima Kasih.
    Shalom,
    Monica

    • Shalom Monica,

      Mohon memberitahu saya link jawaban saya yang mana yang tidak dapat dibuka?

      1. Perintah “meninggalkan segala sesuatu” untuk mengikuti Yesus memang dapat diartikan secara harafiah maupun simbolis. Jika diartikan harafiah, memang dapat diartikan meninggalkan segalanya (segala harta milik dan keluarga mereka) untuk mengikuti Kristus seperti para rasul. Para biarawan dan biarawati sepanjang sejarah Gereja Katolik juga mengikuti jejak mereka. Namun dapat juga “meninggalkan segala sesuatu” ini diartikan secara simbolis, di mana diartikan tidak ada keterikatan dengan hal- hal duniawi untuk mengikuti Kristus. Ketidakterikatan dengan dunia bukan berarti tidak bekerja ataupun mencari rejeki; melainkan tidak membuat diri dikendalikan oleh pekerjaan tersebut.

      2. Maka memang tidak semua orang harus menjadi ditahbiskan menjadi biarawan atau menjadi biarawati untuk mengikuti Kristus. Orang yang memilih untuk tidak menikah, namun tidak masuk biara, juga tetap dapat melaksanakan panggilan hidup mereka untuk hidup kudus yaitu menerapkan kesempurnaan cinta kasih, dan dengan demikian memuliakan Tuhan.

      Dalam dokumen Konsili Vatikan II tentang Gereja, Lumen Gentium, diajarkan bahwa semua orang dari semua golongan (baik religius maupun awam, menikah atau tidak menikah) dipanggil untuk hidup kudus:

      “Maka dalam Gereja semua anggota, entah termasuk Hirarki entah digembalakan olehnya [kaum awam], dipanggil untuk kesucian, menurut amanat rasul: “Sebab inilah kehendak Allah: pengudusanmu” (1Tes 4:3; lih. Ef 1:4). Adapun kesucian gereja itu tiada hentinya tampil dan harus nampak pada buah-buah rahmat, yang dihasilkan oleh Roh dalam kaum beriman. Kekudusan itu dengan aneka cara terungkapkan pada masing-masing orang, yang dalam corak hidupnya menuju kesempurnaan cinta kasih dengan memberi teladan baik kepada sesama. Secara khas pula nampak dalam penghayatan nasehat-nasehat, yang lazim disebut “nasehat Injil”. Penghayatan nasehat-nasehat itu atas dorongan Roh Kudus ditempuh oleh orang banyak kristiani, entah secara perorangan, entah dalam corak atau status hidup yang disahkan oleh Gereja, serta menyajikan dan harus menyajikan di dunia ini kesaksian dan teladan yang ulung tentang kesucian itu. (Lumen Gentium 39)

      “Jadi bagi semua jelaslah, bahwa semua orang kristiani, bagaimanapun status atau corak hidup mereka, dipanggil untuk mencapai kepenuhan hidup kristiani dan kesempurnaan cinta kasih. Dengan kesucian itu juga dalam masyarakat di dunia ini cara hidup di masyarakat dunia menjadi lebih manusiawi…..” (Lumen Gentium 40)

      “Hendaklah para imam, serupa dengan para Uskup yang mempunyai mereka sebagai mahkota rohaniPara suami-isteri dan orang tua kristiani wajib, menurut cara hidup mereka, dengan cinta yang setia seumur hidup saling mendukung dalam rahmat, dan meresapkan ajaran kristiani maupun keutamaan-keutamaan Injil dihati keturunan, yang penuh kasih mereka terima dari Allah. Sebab dengan demikian mereka memberi teladan cinta kasih yang tak kenal lelah dan penuh kerelaan kepada semua orang, memberi contoh kepada persaudaraan kasih, dan menjadi saksi serta pendukung kesuburan Buda Gereja. Mereka menjadi tanda pun sekaligus ikut serta dalam cinta kasih Kristus terhadap Mempelai-Nya, sehingga Ia menyerahkan diri untuknya. Teladan serupa disajikan dengan cara lain oleh para janda dan mereka yang tidak menikah, yang juga dapat menyumbang banyak sekali bagi kesucian dan kegiatan Gereja…. (Lumen Gentium 41)

      3. Sepanjang pengetahuan saya, komunitas awam yang tidak menikah yang didirikan sebagai institut sekular seperti PRK (Penebar Ragi Kristus)  didirikan tanpa afiliasi dengan Roma/ Vatikan, sehingga Vatikan tidak mempunyai dokumen khusus untuk mengaturnya.

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      Ingrid Listiati- katolisitas.org

  7. Shalom,

    1. Apakah kemurnian menjadi syarat mutlak/ utama untuk menjadi calon imam? Kemurnian yang saya maksud ialah pernah melakukan hubungan seksual sebelum menikah? Apakah masa lalu (kehidupan seksual) seorang calon imam juga dinilai/ berpengaruh ? Bagaimana jika seseorang yang sekarang sudah bertobat total / metanoia ? Kan St Agustinus juga bisa menjadi orang kudus; sementara kita semua dalam proses menuju kekudusan itu. Kalau tidak diberi kesempatan gimana ? Walau saya baca di atas, utk mencapai kekudusan tidak mesti dengan memilih jalan hidup berselibat utk mjd biarawan/wati ?

    2. Apakah seorang duda/ janda yg selibater (sdh tdk terikat hubungan perkawinan karena ditinggal mati pasangannya) bisa menjadi biarawan/wati ? Dengan asumsi usia mereka msh memungkinkan untuk ikut seleksi dan berkarya di kemudian hari .

    Terima kasih atas atensinya .

    • Adi yth

      1. Kemurnian adalah salah satu kewajiban sebagai calon imam. Mengapa jika seseorang pernah menikah tidak layak untuk menjadi imam (irregularitas dalam hukum kanonik). Maka wajib dia orang yang murni selibat sehingga tidak mengganggu perjalanan imamatnya. Seorang yang telah melakukan hubungan intim dengan orang yang bukan pasangannya yang sah adalah dosa sekaligus menjadi halangan dalam panggilan. Jadi secara umum dan pada dasarnya hubungan seksual merupakan halangan panggilan.

      Jika ada seseorang yang hidup dalam dosa seks bebas, hidup bersama dan lain- lain, lalu ingin menjadi imam, tentu pihak kongregasi/ diocesan harus hati hati kalau mau menerimanya. Sebab tantangannya adalah untuk memastikan apakah orang tersebut sudah sungguh bertobat, sudah meninggalkan kehidupan masa lalunya dan sungguh sudah hidup baru di dalam Kristus. Sebab jangan sampai kemudian masih tersimpan dorongan yang belum habis dan masih bisa muncul ketika sudah diterima menjadi calon imam dan malah juga sesudah tahbisan. Maka logis jika diharuskan memilih, pihak kongregasi lebih condong kepada calon imam yang normal, masih polos bersih dibandingkan calon yang pernah punya pengalaman tidak baik dan perlu penanganan khusus.

      Hanya rahmat ilahi yang dapat menobatkan seseorang, seperti yang terjadi pada St. Agustinus. Konteks jaman sekarang tidak sama, dengan adanya kondisi masyarakat yang lebih kompleks. Maka perlu penelitian medis dan psikis kesehatan calon agar apa yang pernah dilakukannya tidak menghalangi kehidupan imamatnya. Maka pada prinsipnya, hubungan seksual adalah halangan untuk menjadi imam. Namun jika orang tersebut sudah sungguh bertobat dan hal ini dinyatakan oleh pembimbing rohaninya, maka kemungkinan ia dapat ditahbiskan menjadi imam; apalagi jika didukung oleh kesaksian orang banyak tentang pertobatannya. Bagi saya perlu waktu dan dilihat secara serius. Persoalan bukan bisa atau tidak, atau boleh atau tidak; tetapi secara prinsip hal tersebut menjadi halangan. Dalam konteks dan situasi luar biasa (extraordinary) bisa ditabiskan dan diterima. Namun untuk zaman sekarang dengan adanya circullar letter kongregasi iman maka hal ini perlu diwaspadai.

      2. Seorang janda untuk menjadi biarawati sangat langka dan belum pernah saya ketahui. Namun bisa terjadi karena ada banyak hal yang perlu dicermati seperti hubungannya dengan anak, keluarga, harta benda, dll. Apakah penerimaan itu tidak bertentangan dengan regula tarekat/ordo yang menerima dan sebagainya. Bisa jadi seorang duda atau janda bisa menjadi pertapa tapi tidak biarawan/i yang aktif dalam pastoral, tergantung sekali lagi pada aturan masing-masing tarekatnya.

      salam
      Rm wanta

  8. mcm mana seorang ingin tahu dia dipanggil oleh Tuhan?
    bagai mana mahu jadi yang terbaik di mata Tuhan?
    kenapa setiap orang ada perasa cinta kepada seorang wanita?

    [Dari Katolisitas: Pertanyaan serupa sudah pernah dijawab di atas ini, silakan klik. Silakan anda membaca terlebih dahulu artikel di atas dan tanya jawab yang menyertainya. Adalah wajar jika seseorang pria mencintai wanita, hanya memang perlu dibedakan apakah cinta itu hanya sebagai sahabat ataukah cinta yang memanggilnya sampai ke jenjang perkawinan. Untuk ini memang diperlukan permenungan, dan baik jika yang bersangkutan mengikuti retret pribadi.]

  9. wah…tulisannya sangat bagus…

    tetapi saya ingin menayakan lebih spesifik lagi: gimana selibat dan perkwainan itu menurut Paus Yohanes Paulus II,,,, yang terangkum dalam teologi tubuhnya??? bisa bantu kan??? soalnya aq sdg butuh bangat… salam ….

    • Shalom Albert,
      Silakan anda membaca terjemahan buku Theology of the Body ke dalam bahasa Indonesia yang disusun oleh Rm Deshi Ramadhani, dan saya dengar buku ini sudah beredar di Jakarta. Silakan anda mencarinya di toko- toko buku di kota anda. Mohon maaf karena keterbatasan waktu, kami belum sempat membahasnya di situs ini.

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      Ingrid Listiati- http://www.katolisitas.org

      • albert simbolon January 23, 2010 at 8:35 am

        ok deh… aq sih dah baca bku rm deshi itu..dan buku teologi tubuh bhs inggrisnya jga dah aq pnya plus dgn commentarnya….. aq hanya mau berbagi az n nambah pengtahuna… aq sdg nyusun skripsi ttg hal itu… ok… thx atas sarannya…

  10. Trimakasih bu Ingrid, atas jawabanya saya puas atas jawabanya,
    1. jadi apa yang harus saya pahami mengenai makna seks dalam pernikahan?
    2. bagaimana cara menemukan pasangan yang sesuai dengan kehendak Tuhan?
    3. “Menjadi satu daging” di kitab kejadian 2:24 dan di Injil matius 19:5 apa ya maksudnya?
    4. Jadi motivasi apa yang harus saya tanamkan jika saya memutuskan untuk menikah?
    5. Saya binggung bu Ingrid, saya resah jika saya memutuskan untuk menikah, saya melihat banyak di televisi orang bercerai, KDRT (kekerasan dalam rumah tangga), perselingkuhan, PIL, WIL, waduh kok banyak bgt ya godaannya, kira2 apa ya yang menjadi penyebab keretakan dalam rumah tangga, sehingga kok banyak orang berselingkuh? saya menta bantuannya…

    trimakasih bu Ingrid..
    GBU

    • Shalom Ario,

      1. Jadi apa yang harus saya pahami mengenai makna seks dalam pernikahan?

      Sekali lagi saya ingin menganjurkan anda membaca buku "Theology of the Body" yang merupakan pengajaran dari Paus Yohanes Paulus II tentang makna seksualitas, tidak hanya dalam kaitannya dengan perkawinan, tetapi juga dalam kehidupan manusia seluruhnya.Silakan anda membaca juga artikel di situs ini tentang Indah dan dalamnya makna Sakramen Perkawinan Katolik, silakan klik.

      Intinya perbedaan seksual dan kesatuannya dalam perkawinan adalah sesuatu yang merupakan gambaran tentang perbedaan, kesatuan, dan kesuburan (distinction, unity, and fruitfulness) yang terdapat di dalam Allah Trinitas. Persatuan laki-laki dan perempuan dalam perkawinan adalah persatuan kasih antara dua pribadi yang berbeda, dan ini membuka kemungkinan terhadap kehadiran seorang ciptaan yang baru. Tentu penggambaran ini adalah sangat terbatas sekali untuk menggambarkan Allah, karena Allah tidak mempunyai jenis kelamin seperti manusia, dan Allah tidak kawin atau dikawinkan. Tetapi sifat kesatuan dari dua Pribadi-Nya itulah yang ingin digambarkan oleh Allah, dengan menciptakan manusia sebagai laki-laki dan perempuan; sebab persatuan ini menghadirkan buah kasih dalam pribadi yang ketiga, seperti halnya persatuan kasih antara Bapa dan Putera menghembuskan Roh Kudus.

      Juga, menurut Paus Yohanes Paulus II, persekutuan antara laki-laki dengan perempuan yang sudah ada sejak awal mula merupakan gambaran samar-samar akan persekutuan Kristus dengan Gereja-Nya (lih Ef 5:22-32). Inilah sebabnya Allah menciptakan kita sebagai mahluk yang berjenis kelamin yang menginginkan persekutuan, supaya kita merindukan persekutuan dengan Kristus, dengan menghayati dan mempersiapkan diri sebagai Mempelai Kristus yang abadi, yaitu sebagai anggota Gereja-Nya.

      2. Bagaimana cara menemukan pasangan yang sesuai dengan kehendak Tuhan?

      Pertama-tama bawalah dia di dalam doa anda setiap hari. Mohonlah kepada Tuhan petunjuk untuk menemukan jodoh anda itu. Kedua, karena anda menginginkan jodoh yang dari orang yang seiman, maka libatkanlah diri anda pada pergaulan orang-orang muda yang seiman. Ketiga, pusatkanlah perhatian anda pertama-tama untuk berteman dahulu, jangan langsung bertujuan ‘mencari jodoh’, sebab itu beresiko malah anda tidak dapat mengenal calon jodoh anda dengan baik. Ke-empat, setelah anda berteman, utarakanlah pandangan-pandangan anda/ nilai-nilai yang anda pandang penting di dalam hidup ini. Ajaklah ke gereja/ berdoa bersama. Jangan ragu untuk bersikap jujur dan apa adanya. Di sinilah anda akan mengetahui teman mana yang dapat mengasihi dan menerima anda sebagai pasangan hidup. Ke-lima, jika kelihatannya anda sudah cocok, (berdoalah semoga iapun demikian, sebab jika tidak, biar bagaimanapun hubungannya tidak bisa jalan), temuilah orang tuanya dan binalah hubungan yang penuh hormat dengan orang tua calon istri anda itu, semoga andapun mendapat restu dari mereka.

      3. “Menjadi satu daging” di kitab kejadian 2:24 dan di Injil matius 19:5 apa ya maksudnya?

      Menurut Paus Yohanes Paulus dalam Thelogy of the Body "menjadi satu: original unity" mengacu bahwa laki-laki dan perempuan mengambil bagian dalam kemanusiaan yang sama, dan bahwa mereka kemudian menjadi "satu daging." Maka laki-laki dan perempuan pertama-tama adalah saudara laki-laki dan saudara perempuan (brother and sister) di dalam kemanusiaannya sebelum mereka menjadi suami istri. Dalam kesatuan ini maka dikatakan manusia diciptakan sebagai "double unity", yaitu laki-laki dan perempuan, yang artinya, dua dalam satu kesatuan, atau satu di dalam perbedaan. Maka di dalam perbedaan ini yang membentuk kesatuan, penciptaan manusia ini dikatakan ‘lengkap’.

      Maka "satu daging" di sini mengacu juga pada kenyataan bahwa bagi Adam (suami) seharusnya, Hawa (istri) adalah "his second self"/ separuhnya yang lain atau istilah puitisnya belahan jiwa. Maka dalam arti terbatas, manusia menjadi gambaran kesatuan Allah sendiri, di mana jelas dikatakan dalam doa Yesus, "supaya mereka menjadi satu…. seperti Kita adalah satu" (Yoh 17:21-22). Maka di sini, manusia diciptakan menurut gambaran Allah dinyatakan oleh manusia dalam keadaan persekutuannya, yaitu laki-laki dan perempuan yang dipersatukan Allah menjadi satu dalam perkawinan, untuk menggambarkan (tentu dengan sangat terbatas) persatuan antara Allah Bapa dan Allah Putera. Dikatakan gambaran terbatas di sini karena pada Allah tidak ada jenis kelamin, dan kesatuan dalam Pribadi Allah bukan karena perkawinan.

      Karena agungnya makna kesatuan yang ingin digambarkan, kita mengetahui bahwa makna ‘satu daging’ di sini tidak dimaksudkan hanya kesatuan jasmani, melainkan: kesatuan jasmani merupakan tanda dan janji akan kesatuan rohani. Maka sebetulnya setiap kali suami dan istri melakukan hubungan badan, maka yang dilakukan adalah memperbaharui janji kesetiaan perkawinan mereka satu sama lain, yang mengikat kesatuan rohani mereka sebagai pasangan yang sudah dipersatukan oleh Allah. Maka jika tiap- tiap pasangan memahami kedalaman makna hubungan seksual antara suami dengan istri, mestinya mereka tidak berpaling kepada orang ketiga (PIL/ WIL).

      4. Jadi motivasi apa yang harus saya tanamkan jika saya memutuskan untuk menikah?

      Motivasinya adalah:

      1) anda mau memberikan diri anda seutuhnya kepada pasangan anda seumur hidup, setia kepadanya dalam keadaan sehat dan sakit, untung dan malang.
      2) anda mau menerima anak-anak yang dipercayakan oleh Tuhan kepada anda dan mendidik mereka supaya merekapun mengenal dan mengasihi Tuhan.
      3) dengan melaksanakan tugas sebagai suami dan ayah yang baik yang mengasihi istri dan anak-anak tanpa syarat, anda mau mengambil bagian dalam menjadi gambaran kasih Allah kepada umat-Nya. Dan sebagai suami yang mengasihi, menguduskan dan rela berkorban bagi istri anda, maka anda mau mengambil bagian dalam menjadi gambaran akan kasih Kristus kepada Gereja-Nya.
      4) anda mau membawa seluruh keluarga anda, termasuk anda sendiri ke dalam surga.

      5. Saya resah jika saya memutuskan untuk menikah, saya melihat banyak di televisi orang bercerai, KDRT (kekerasan dalam rumah tangga), perselingkuhan, PIL, WIL, waduh kok banyak bgt ya godaannya, kira2 apa ya yang menjadi penyebab keretakan dalam rumah tangga, sehingga kok banyak orang berselingkuh?

      Ya, benar, terdapat banyak hal yang menyebabkan keretakan dalam rumah tangga. Namun jangan kuatir, asalkan anda melandaskan perkawinan pada iman dan kasih anda kepada Tuhan, maka anda akan dimampukan oleh-Nya untuk menjalaninya dengan setia sampai akhir. Demikian, beberapa tips yang bisa saya tuliskan untuk anda:

      1) Berdoalah bersama-sama dengan pasangan anda, pagi dan malam hari. Sertai juga dengan membaca Alkitab bersama, dan merenungkannya. Jika anda nanti mempunyai anak- anak, berdoalah dengan anak-anak minimal sekali sehari. Biasakan untuk membina hubungan yang dekat dengan Tuhan, karena Ia-lah yang dapat menolong anda dalam mengalahkan godaan apapun di dalam perkawinan anda.

      2) Usahakan komunikasi yang terbuka antara anda, istri dan anak-anak, selalu usahakan di dalam kasih dan kelembutan.

      3) Jika istri anda marah atau sedang emosi, jangan membalas, jangan pergi ke luar rumah/ mencari pelarian. Tenangkan diri anda, ajaklah ia berbicara pada kesempatan lain, saat emosi sudah turun.

      4) Lakukan tugas anda sebagai kepala keluarga dengan baik, rajin bekerja, demi memberi nafkah kepada istri dan anak-anak.

      5) Lakukanlah peran anda sebagai ‘imam dalam keluarga’. Didiklah anak-anak di dalam iman Katolik. Ke gereja bersama- sama sebagai keluarga. Sekolahkan anak-anak di sekolah Katolik, dan ajarilah mereka Alkitab dan kisah para santa dan santo. Kalau anda sadar bahwa anda belum cukup mengenal iman anda, mulaikah dari sekarang untuk mempelajari dan mendalaminya. Karena anda tidak mungkin dapat membagikannya kepada keluarga anda kelak, kalau anda sendiri tidak memahaminya!
      6) Libatkanlah diri anda di dalam mengurus anak-anak dan rumah tangga, jangan menyerahkan semuanya kepada istri, apalagi hanya kepada pembantu rumah tangga. Dengan keterlibatan anda, maka anda terhindar dari sikap acuh terhadap keluarga dan rumah tangga anda. Dengan demikian, anda membangun relasi antara anda, istri dan anak-anak.

      7) Jangan menggunakan alat kontrasepsi, sebab itu sedikit demi sedikit akan menjadikan anda dikendalikan oleh hasrat seksual anda, dan bukannya anda yang menguasai/ mengendalikannya. Juga dengan alat kontrasepsi, istri lama kelamaan dapat merasa dijadikan sebagai ‘obyek’ keinginan anda, dan bukannya sebagai mitra yang anda kasihi. Jika sampai anda berdua harus mengatur kelahiran karena alasan yang legitim, terapkanlah KB Alamiah.

      8) Jangan menonton BF, membaca buku/ situs porno, dst. Sebab jika ini dilakukan efeknya akan buruk bagi hubungan anda, karena anda dapat berfantasi yang tidak semestinya. Bahkan efeknya akan tinggal di pikiran anda, sampai anda terpengaruh di bawah sadar anda, sehingga anda mudah tertarik oleh godaan seksual dari orang yang bukan istri anda.

      9) Bertumbuhlah di dalam iman bersama keluarga-keluarga Katolik yang lain di paroki, mengikuti komunitas keluarga Katolik, dst.

      10) Luangkanlah waktu untuk berkumpul/ bersantai bersama dengan istri dan anak-anak anda, di mana anda bisa bercanda tawa dan berbagi cerita dengan mereka.

      Demikian yang dapat saya sampaikan untuk menanggapi pertanyaan anda. Jangan terlalu resah melihat kenyataan dunia yang memang mengancam keutuhan keluarga. "Serahkanlah hidupmu kepada Tuhan dan percayalah kepada-Nya, dan Ia akan bertindak" (Mzm 37:5). Sepanjang anda telah berserah kepada Tuhan, dan melakukan bagian yang dapat anda lakukan, maka percayalah, selanjutnya Tuhan akan membuka jalannya bagi anda untuk mendatangkan yang terbaik bagi anda.

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      Ingrid Listiati- http://www.katolisitas.org

  11. syalom,,,
    mau tanya tentang matius 5:32 – “Tetapi Aku berkata kepadamu: Setiap orang yang menceraikan isterinya kecuali karena zinah, ia menjadikan isterinya berzinah; dan siapa yang kawin dengan perempuan yang diceraikan, ia berbuat zinah.”,,,,,, apakah klw isteri kita berzinah kita boleh menceraikannya,,, karena disitu dikatakan setiap org yg mnceraikan isterinya “kecuali” karena zinah…… apakah kata “kecuali dlm ayat tsb brmaksud sprti itu..???

    • Shalom Lian,
      Untuk hal ini, Gereja Katolik mengacu kepada interpretasi yang diajarkan oleh St. Clemens dari Alexandria (150-216), yang mengajarkan maksud ajaran Yesus pada ayat Mat 5:32, 19:9, “Setiap orang yang menceraikan istrinya kecuali karena zinah…” Zinah di sini artinya adalah perkawinan antara mereka yang sudah pernah menikah namun bercerai, padahal pasangannya yang terdahulu itu belum meninggal. (lihat, St. Clemens of Alexandria, Christ the Educator, Bk. 2, Chap.23, seperti dikutip oleh John Willis, S.J, Ibid., p.442) Jadi, dalam hal ini, Yesus mengakui perkawinan yang pertama sebagai yang sah, dan perkawinan kedua itulah yang harusnya diceraikan agar pihak yang pernah menikah secara sah dapat kembali kepada pasangan terdahulu). Jika anda belum membaca, silakan membaca artikel Indah dan dalamnya makna Sakramen Perkawinan Katolik, silakan klik.

      Ayat itu adalah untuk menjelaskan kondisi saat itu- pada jaman Yesus- bahwa terdapat orang yang bercerai dan kawin lagi padahal istri yang terdahulu belum meninggal. Maka Yesus mengajarkan bahwa yang harus diceraikan adalah istri dalam perkawinan kedua, agar suami dapat kembali kepada istri dalam perkawinan pertama. Maka perceraian perkawinan yang kedua inilah yang menjadi perkecualian, sedangkan perceraian pada kondisi selain perkecualian itu tetaplah dilarang, apalagi perkawinan dengan seseorang yang walaupun telah bercerai namun masih mempunyai ikatan perkawinan dengan pasangan yang terdahulu.

      Demikian agar dipahami maksudnya.

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      Ingrid Listiati- http://www.katolisitas.org

  12. Trimakasih bu Ingrid atas jawabannya yang sangat menolong saya, saya mau bertanya lagi:

    1. jadi saya tidak salah ya jika saya memutuskan untuk menikah, walaupun saya tahu bahwa kehendak Tuhan yang terbaik adalah mejadi selibat (Imam), karena menurut saya Imam lebih tinggi / lebih mulia, benar demikian?
    2. Apakah hidup menikah tidak bisa mencapai kesucian hidup?
    3 Apakah jika menikah saya akan berdosa percabulan? mengingat saya sering jatuh pada dosa ini, seorang diri, apakah dengan menikah saya akan terbebas dari dosa ini ataukah justru malah makin parah?
    4Apakah menikah lebih tepatnya (seks) dapat menjadi penghambat saya mencapai kesucian / kekudusan dan kemurnian hidup? atau lebih tepatnya apakah seks dapat menjadi penghalang bagi saya untuk mencapai persatuan dengan Allah?
    5 Apakah seks dapat menjadi ilah berhala bagi saya ketika saya menikah?
    6. Apakah cinta akan istri akan menjadi penghalang untuk saya lebih mencintai Allah atau untuk lebih bersatu dengan Allah? Maaf banyak yang saya tanyakan, atas bantuannya trimakasih!
    7. Apakah masturbasi itu dosa?
    8. Apakah masturbasi dan pornografi akan membuat orang yang melakukannya menjadi tidak setia terhadap pasangannya?

    sekian, terimakasih!
    Tuhan memberkati!

    GBU

    • Shalom Ario,
      1. Jika setelah melalui doa dan permenungan, anda merasa bahwa anda lebih terpanggil untuk hidup berkeluarga, maka tentu anda tidak bersalah jika memutuskan untuk menikah. Namun saya berharap, bahwa keputusan ini didorong oleh motivasi anda untuk memuliakan Tuhan dengan lebih baik di dalam kehidupan berkeluarga dengan saling menguduskan [antara suami dan istri dan anak-anak], dan bukannya terutama untuk melepaskan dorongan seksual. Alangkah baiknya jika anda membaca buku “Theology of the Body” yang berisi khotbah Paus Yohanes Paulus II tentang keluhuran makna tubuh kita. Saya dengar buku ini telah diterjemahkan oleh Rm Deshi Ramadhani, S.J., Lihatlah Tubuh-Ku.

      2. Setiap panggilan hidup, baik selibat ataupun menikah, tetap dapat menjadikan seseorang untuk hidup kudus. Khusus mengenai pasangan suami istri dan orang tua, Lumen Gentium (Konsili Vatikan II tentang Gereja) mengajarkan:

      “Jadi bagi semua jelaslah, bahwa semua orang kristiani, bagaimanapun status atau corak hidup mereka, dipanggil untuk mencapai kepenuhan hidup kristiani dan kesempurnaan cinta kasih. Dengan kesucian itu juga dalam masyarakat di dunia in cara hidup menjadi lebih manusiawi….” (Lumen Gentium 40)

      “Para suami-isteri dan orang tua kristiani wajib, menurut cara hidup mereka, dengan cinta yang setia seumur hidup saling mendukung dalam rahmat, dan meresapkan ajaran kristiani maupun keutamaan-keutamaan Injil di hati keturunan mereka, yang penuh kasih mereka terima dari Allah. Sebab dengan demikian mereka memberi teladan cinta kasih yang tak kenal lelah dan penuh kerelaan kepada semua orang, memberi contoh kepada persaudaraan kasih, dan menjadi saksi serta pendukung kesuburan Bunda Gereja. Mereka menjadi tanda pun sekaligus ikut serta dalam cinta kasih Kristus terhadap Mempelai-Nya, sehingga Ia menyerahkan diri untuknya….” (Lumen Gentium 41)

      3. Sebenarnya tujuan utama pernikahan adalah agar suami dan istri dapat saling memberikan diri dengan seutuhnya tanpa syarat seumur hidup, dan untuk mendidik dan membesarkan anak-anak yang Tuhan percayakan kepada mereka. Maka jika pasangan menikah, namun tidak mempunyai kedua motivasi di atas, maka sesungguhnya dapat dikatakan bahwa keduanya memasuki jenjang perkawinan dengan motivasi yang keliru. Terutama, jika maksud utama hanya untuk melepaskan dorongan seksual. Tak bisa dipungkiri, dewasa ini banyak terjadi kecenderungan ke arah ini, di mana pasangan tidak lagi mengindahkan kehendak Tuhan dalam membina perkawinan, tetapi mengikuti dorongan jasmani, sampai meletakkan kepuasan jasmani di atas hukum Tuhan. Maka akibatnya, banyak perkawinan yang kandas, atau salah satu pihak (atau bisa juga keduanya) jatuh ke dalam dosa percabulan, selingkuh, dst.

      Jika anda mengetahui bahwa anda mempunyai kecenderungan dosa seksual dengan diri anda sendiri (masturbasi), sebaiknya anda memang berusaha untuk mengatasinya terlebih dahulu sekarang. Karena meskipun anda menikah, kecenderungan masturbasi tetaplah akan ada. Soal apakah lebih parah atau tidak, itu tergantung anda sendiri juga. Silakan anda membaca di sini, silakan klik, dan jika masih ada pertanyaan, silakan bertanya di sana.

      4. Seks diciptakan Allah untuk maksud yang agung dan mulia; yaitu untuk menyatakan kasih yang total antara suami dan istri dan untuk memungkinkan manusia mengambil bagian dalam karya penciptaan Allah. Maka jika digunakan dengan semestinya sesuai dengan kehendak Allah, maka seksualitas tidaklah menghambat kesucian hidup. Yang menghambat adalah jika aktivitas seksual dianggap sebagai akhir dari segalanya, tanpa memperhitungkan kehendak Allah. Misalnya, dengan tujuan mencapai semata kepuasan seksual, maka pasangan memakai alat kontrasepsi, menjalani sterilisasi, dst, dan sesungguhnya tanpa disadari ini malah melemahkan kasih yang murni antara suami istri, karena terdapat kecenderungan untuk membatasi kasih hanya kepada memuaskan hasrat jasmani, tanpa mempedulikan akibatnya. Selanjutnya, silakan membaca artikel: Humanae Vitae itu benar, silakan klik.

      Padahal jika seksualitas ini dihayati dan hubungan suami istri dilakukan seturut kehendak Tuhan, maka sesungguhnya, suami dan istri dapat lebih menghayati akan kasih Allah; sebab hubungan kasih suami istri tesebut dikehendaki Allah sebagai gambaran kasih-Nya kepada umat-Nya, gambaran kasih Kristus kepada Gereja-Nya. Jika anda belum membaca, silakan anda membaca artikel Indahnya Makna Perkawinan Katolik, silakan klik.

      5. Jika anda menempatkan kepuasan seksual di atas segalanya, memang dapat dikatakan bahwa anda menjadikan seks sebagai allah lain di hadapan Allah. Maka, sebaiknya anda meletakkan segala sesuatunya sesuai dengan proporsinya. Keluarga yang menomorsatukan Allah, selalu berdoa bersama, membaca dan merenungkan Alkitab bersama, dan melaksanakan perintah-perintah Tuhan. Maka silakan anda memeriksa kehidupan anda, atau rencana anda dalam perkawinan anda nantinya. Jika anda tetap menomorsatukan Allah dalam relasi anda dengan istri anda, termasuk dalam hal seksualitas, maka anda akan melihat bahwa bukan kepuasan anda yang menjadi tujuan utama. Anda akan belajar untuk menguasai diri anda, termasuk dalam mengalahkan dorongan seksual, ataupun dorongan dosa yang lain. Dan ini sangat baik bagi pertumbuhan rohani anda menuju kekudusan, dan kasih antara anda dan istri anda dimurnikan.

      6. Cinta anda kepada istri tidak menghalangi anda mengasihi Allah, jika anda tetap menempatkan Allah yang utama dalam kehidupan perkawinan anda (lih. point 5). Fokus kepada Allah akan mempengaruhi sikap anda dalam mengepalai rumah tangga anda, dan dengan melakukan ini anda akan dimampukan untuk semakin menghayati kasih Allah. Jika anda menikah, anda dipanggil untuk menjadi ‘imam dalam keluarga’ yang mengarahkan seluruh anggota keluarga anda kepada Allah.
      Anda sendiri harus menjadi cerminan dari kasih Allah itu. Artinya, Allah menghendaki anda mengasihi istri anda seperti mengasihi tubuh anda sendiri, menyerahkan hidup anda baginya, seperti Kristus menyerahkan hidup-Nya bagi Gereja-Nya (lih Ef 5: 25-28). Maka anda, seperti teladan Kristus, harus rela berkorban demi istri, memperhatikan dan memeliharanya, seperti anda merawat tubuh anda sendiri. Perintah ini tidak sederhana, terutama jika istri anda sakit, atau kemudian anda menemukan ketidak cocokkan di sana sini. Ini merupakan salah satu konsekuensi perkawinan, namun percayalah jika anda menjalaninya bersama Allah, maka Tuhan sendiri akan menambahkan kasih di antara anda. Dan keputusan anda untuk terus mengasihi istri tanpa syarat ini, adalah bukti kasih anda kepada Allah yang telah mempersatukan anda berdua. Dengan kesetiaan kasih anda kepada istri yang tanpa syarat, dan seumur hidup inilah, anda dikuduskan.

      7. Masturbasi itu dosa. Silakan membaca artikel ini, silakan klik.

      8. Apabila seseorang melakukan masturbasi dan pornografi, apalagi sampai ketagihan, maka ini lama- kelamaan juga membahayakan rumah tangganya. Karena perbuatan tersebut mau tidak mau akan mencemari hubungan kasih yang tulus antara suami istri. Sehingga jika karena satu dan lain hal salah satu pasangan tidak dapat melakukan hubungan, maka pasangan yang lain dapat terdorong untuk tidak setia kepada janji perkawinan, karena besarnya dorongan yang terbentuk dalam bawah sadarnya akibat terlalu seringnya menonton/ berfantasi seksual. Silakan juga menyimak tanya jawab di sini, silakan klik.

      Demikian yang dapat saya tuliskan untuk menanggapi pertanyaan anda, semoga berguna.

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      Ingrid Listiati- http://www.katolisitas.org

  13. romo, menaggapi pertanyaan saya kemarin tentang orang yang menerima sakramen pernikahan kemudian menerimakan sakramen imamat, saya pernah baca di warta MSC disitu di jelaskan bahwa untuk mendaftar menjadi romo diperbolehkan seseorang yang sudah menikah, dan waktu kemaren saya konsultasi dengan seorang imam Jesuit ternyata di negara barat (eropa) diperbolehkan orang yang sudah menikah kemudian istrinya meninggal, kemudian ia menerima sakramen imamat (menjadi imam) bagaimana romo menanggapi pertanyaan saya itu?

    terimakasih

    • Ario Yth

      Sekali lagi untuk ritus Latin semua kandidat imam wajib selibater jadi belum menikah tentunya. Sedangkan ritus timur untuk menjadi imam boleh dari seorang laki-laki yang pernah menikah. Jelas. Di Eropa-pun kalau itu ritus latin-roma tidak diperkenankan calon imam yang ditahbiskan dari yang sudah berkeluarga kecuali dia pernah menjadi imam Anglican kemudian masuk ke Gereja Katolik Roma.

      salam
      Wanta. Pr

  14. Saya mau bertanya :
    1. Bagaimana sih caranya mengetahui dan mencari kehendak Tuhan untuk hidup saya, apakah saya menikah atau hidup selibat?
    2. “Terjadilah kehendak-Mu” apakah kehendak Tuhan selaras dengan keinginan kita, jika tidak apakah kehendak Tuhan selalu akan terlaksana?
    4. Apakah yang dimaksud dengan wanita adalah “penolong yang sepadan” bagi bu Ingrid yang telah menikah?
    5. Apa yang dimaksud dengan pngkbh 3:9-12, apakah lebih baik untuk menikah dari pada selibat?

    terimakasih,
    Tuhan memberkati!

    • Shalom Ario,

      1. Bagaimana mengetahui dan mencari kehendak Tuhan, apakah saya menikah atau selibat? Jika anda ingin mengetahuinya, saya mengusulkan anda mengikuti retret pribadi sebelum memutuskan hal ini. Ini memang adalah salah satu keputusan yang paling penting dalam hidup anda, dan yang mengarahkan hidup anda selanjutnya. Pada dasarnya, yang anda lakukan adalah anda kembali ke dalam hati anda, dan membawa kedua panggilan ini ke hadapan Tuhan yang hadir di dalam hati anda. Jika anda membawanya terus menerus setiap hari di dalam doa, saya rasa Tuhan akan menyatakannya dengan cara yang dapat anda ketahui. Silakan anda terbuka dan bertanya, baik kepada orang- orang yang sudah menikah, maupun juga kepada para imam (dapat juga berkunjung ke tempat Romo Wanta, dkk.), agar anda dapat mempertimbangkan, apakah kiranya panggilan hidup yang lebih cocok dengan pribadi anda.

      2. Apalah kehendak Tuhan selaras dengan keinginan kita? Bisa ya, bisa tidak. Kalau anda bicara tentang keinginan jasmani, maka seringkali memang tidak cocok. Pergumulan akan kehendak kita sebagai manusia dan kehendak Allah juga terjadi dalam pribadi Yesus pada saat berdoa di taman Getsemani (lih. Mat 26:39; Mrk 14:36; Luk 22:42). Namun tidak seperti kita yang sering mendahulukan keinginan diri sendiri, Kristus mendahulukan kehendak Allah Bapa. Ia telah mengetahui sejak awal mula, bahwa memang maksud kedatangan-Nya ke dunia adalah untuk mati di kayu salib untuk menyelamatkan manusia. Walaupun kodrat-Nya sebagai manusia melihat hal ini sebagai sesuatu yang sangat berat, namun pada akhirnya Yesus menyerahkan kehendak-Nya untuk menaati kehendak Bapa, dan dengan kerelaan hati menyerahkan diri-Nya untuk disalibkan (Yoh 10:15,18; Yoh 15:13). Persatuan yang sempurna antara kodrat Allah dan manusia dalam diri Yesus menyebabkan Dia dengan kehendak bebas-Nya sebagai manusia menginginkan terlaksananya kehendak Allah Bapa.

      Hal inipun terjadi pada kita manusia. Jika kita dekat dengan Allah (berakar dalam doa dan Sabda Tuhan), maka kita menjadi lebih peka akan apa yang menjadi kehendak-Nya dalam hidup kita, dan kita berusaha untuk melaksanakannya. Namun jika kita lebih mengindahkan perasaan dan kehendak kita sendiri, maka bisa jadi, kehendak Tuhan tidak terlaksana. Jika pilihan menyangkut hal baik dan buruk, maka jika kita mengindahkan keinginan sendiri yang jahat, maka dalam hal ini kita jatuh dalam dosa. Namun masalahnya adalah jika kita memilih antara dua hal yang baik (dalam hal ini selibat atau menikah). Maka yang menjadi tolok ukurnya adalah, menurut St. Ignatius dari Loyola, adalah pilihan mana olehnya anda dapat lebih memuliakan nama Tuhan? Hal ini memang hanya anda sendiri yang dapat menjawabnya.

      3. Istri adalah "penolong yang sepadan" bagi suaminya menurut saya adalah 1) istri menolong dan mendukung suaminya tanpa maksud untuk menjadi lebih berkuasa daripada suaminya 2) menolong untuk menjadikan suami menjadi lebih berkembang sebagai pribadi, 3) menolong dalam arti bekerja sama 4) menolong pada saat yang diperlukan: bukannya menolong sampai suami tidak bisa berdiri sendiri 5) menolong terutama pada saat suami berada dalam kesusahan baik jasmani maupun rohani.

      4. Kitab Pengkotbah 3:9-12 adalah bagian dari perikop yang mengatakan "Segala sesuatu ada waktunya". Keseluruhan perikop ingin menyampaikan bahwa Tuhan mempunyai rencana yang indah pada akhirnya dan karena Allah Maha Tahu, Ia telah emngetahui segalanya sejak semula. Namun manusia dengan keterbatasannya hanya melihat sepotong-sepotong saja. Dan karena melihatnya hanya sepotong, maka manusia cenderung melihat apa yang terlihat mata, apa yang dapat dirasakan dan dialami di dalam hidup di dunia. Maka, ayat 12 yang mengatakan, "Aku tahu bahwa untuk mereka [manusia] tak ada yang lebih daripada bersuka-suka dan menikmati kesenangan dalam hidup mereka…." bukanlah untuk diinterpretasikan bahwa hidup menikah lebih baik dari hidup selibat. Karena kata "Aku" di sini mau menceritakan pendapat si penulis Kitab, tentang manusia yang umumnya memang mencari kesenangan duniawi. Ayat ini sebaiknya dihubungkan juga dengan ayat sebelumnya yang tertulis dalam kitab Pengkhotbah, yaitu, "Segala sesuatu adalah sia-sia" (Pgkh 1:2). Maka apa yang kelihatannya menarik di mata manusia sesungguhnya sia-sia, dalam arti semua akan berakhir. Semua ada waktunya (Pgkh 3:1). Kitab ini justru ingin mengajarkan pada kita untuk mempunyai keseimbangan di dalam memandang kehidupan; tidak sampai bekerja berlelah-lelah tanpa istirahat (ay. 9-10) sampai tidak melihat  hal-hal yang lain di dalam hidup, tidak dapat melihat pekerjaan Allah. Namun apapun kejadiannya, Allah akan membuat segala sesuatunya indah pada waktunya (ay. 11), dan mendatangkan kebaikan bagi kita, jika kita mengasihi Tuhan (lih. Rom 8:28).

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      Ingrid Listiati- http://www.katolisitas.org

  15. saya mau bertanya tapi lebih jauh kepada romo sih kalo bisa
    1.Apakah alasan dasar romo memutuskan untuk hidup selibat / tidak menikah?
    2.Apakah keputusan untuk hidup selibat itu diambil ats tindakkan yang sadar, bebas tanpa paksaan?
    3.Apakah didalam gereja Katolik diperbolehkan seseorang yang sudah menerima sakramen pernikahan dapat menerima sakramen imamat?
    4.Apakah keputusan untuk menikah harus diambil dengan sikap hati yang benar seperti yang di tulis dalam kitab Tobit dan sara, yaitu tanpa hawa nafsu?

    Aku mau kasi masukan aja:
    menurutku perkawinan itu sesuatu yang indah, mulia, berharga, dan terhormat. dimana itu sebuah ungkapan cinta kasih Allah yang nyata diwujudnyatakan lewat pasangan yang ia nikahi. seperti di kisahkan dalam kitab Kidung Agung memang kitab paling suci seperti banyak di katakan para rabbi Yahudi, sehingga seseorang tidak boleh sembarangan menafsirkannya..namuan kebanyakannya orang sering menfsirkanya dengan keliru untuk mencari pembenaran diri…
    Pernikahan yang sejati adalah pernikahan yang tidak terceraikan, seperti dikumandangkan pada kitab kejadian “hawa diciptakan dari tulang rusuk adam” sehingga pasangan yang sejati ya hanya satu…
    disinilah kita harus mengikuti tuntunan Tuhan dalam menemukan pasangan hidup kita yang sejati…seperti Tuhan membimbing Tobia menemukan istrinya lewat tuntunan Malaikat Rafael, disini kita pun harus memperhatikan tuntunan malakat pelindung kita masing-masing dalam menemukan pasangan hidup kita yang telah Tuhan tetapkan untuk masing-masing kita mempunyai pasangannya satu-satu.
    memang hidup selibat adalah keputusan yang daiambil secara sadar, dan bebas…
    kebanyakan dari kita terpengaruh oleh keadaan situasi dunia sekarang yang menyalah gunakan pacaran secara sembarangan, sehingga makna pacaran yang esensial yaitu untuk menemukan pasangan hidup yang sejati menuju pernikahan yang kudus jadi berantakan, dan menjadi keruh oleh hawa nafsu, dan kepentingan diri sendiri, dan egoisme pribadi..
    Aku menyarankan bagi Anda yang ingin menapaki ke jenjang pernikahan untuk baca deh buku nya rm Deshi Rahmadani “lihatlah tubuhku..”
    disitu ditulis seks bukalah sesuatu yang tabu bagi gereja Katolik dan sembarangan, orang yang tidak mengerti dan memahaminya pasti salah memperlakukan seks itu, orang yang tidak mengenali yang indah dan yang mulia tidak mungkin dapat menghargai yang indah yang mulia itu, yang Tuhan sediakan untuk kita manusia ciptaanNya..
    sekian GBU..

    • Ario Yth

      Pertanyaanmu sepen padahati nurani setiap orang yang terpanggil dan pasti dengan sikap hati yang benar tidak didasarkan pada nafsu atau emosi belaka.
      rti ujian komprehensif/pendadaran calon imam yang akan ditahbiskan menjadi imam. Itu kesan pertama, dan jawaban saya tidak bisa mewakili teman2 Imam karena sangat subyektif menyangkut motivasi panggilan. Baik kalau anda datang ke Pastoran Unio Indonesia Jalan Kramat VII/10 Jakarta Pusat disana anda bisa menemui pelbagai macam ragam rama dan saya untuk pertanyaan anda. Maka saya jawab nomor 3 dan 4: Nomor 3 dapat terjadi khususnya Katolik ritus Timur para imam ada yang telah menikah kemudian menjadi imam, ritus Latin Roma tidak diperkenankan Selibat merupakan syarat pokok dalam undang-undang Gereja dan karunia Ilahi untuk tahbisan imamat.
      Nomor 4: keputusan menikah atau tahbisan dengan hidup selibat adalah keputusan sadar dan bertanggungjawab didasarka
      salam
      Rm Wanta

  16. tolong…… saya seorang katholik dr kcil, kedua oran gtua jg katholik. saya sdg mjalani hubg dg pria muslim, kami sdh 3tahun bsama, tentu sj kelg sy tdk ada yg mengetahui. kami bniat mnikah.. halangan km hny satu yaitu pbedaan agama. sy pnah mengucap bhw sy bsedia mengalah n pindah mjd muslim.. tp hati kcil sy kadang msh blm bs mnerima.. apa ada solusi untuk masalah yg sdg sy hadapi? apa tanggapan katholik.. jk sy jd pindah agama? tolong saya. tlg kirim jawaban ke email sy jg. tq

    • Shalom Angela,
      Pertanyaan anda serupa dengan yang pernah masuk kepada redaksi situs ini. Pada dasarnya jika saya boleh menyarankan, anda jangan terlalu cepat memutuskan pindah agama. Sungguh, keputusan yang tergesa-gesa tersebut nanti dapat menimbulkan penyesalan seumur hidup, sebab anda memilih untuk meninggalkan Kristus demi mengejar keinginan sendiri. Tentu itu dapat menyedihkan hati Tuhan. Maka saya mengusulkan agar anda mempertimbangkan keputusan anda dengan sungguh-sungguh. Mungkin ini adalah kesempatan yang Tuhan berikan pada anda untuk membuktikan kasih anda kepada Tuhan yang terlebih dahulu mengasihi anda. Mungkin ada baiknya anda mempelajari iman Katolik anda, sehingga anda dapat melihat keindahannya, dan kepentingannya demi menghantar anda kepada keselamatan kekal, sehingga anda tidak dengan mudah meninggalkannya,

      1) Perkawinan di KUA dimana salah satu pihak beragama Katolik tidak valid (tidak sah kanonik) karena hukumnya setiap orang Katolik terikat pada hukum Gereja (bdk kan. 11). Maka perkawinan di KUA sah sipil tetapi pihak Katolik telah melakukan pemurtadan karena pasti harus mengucapkan credonya kaum muslim. Dia berdosa karena murtad. Maka jika dia sadar di kemudian hari akan perbuatannya bisa disembuhkan/divalidasi dengan mengucapkan janji perkawinan secara kanonik (pembaruan kesepakatan bdk. kan 1156). Itulah dasar hukumnya.

      Kan. 11 – Yang terikat oleh undang-undang yang semata-mata gerejawi ialah orang yang dibaptis di dalam Gereja katolik atau diterima di dalamnya, dan yang menggunakan akal-budinya dengan cukup, dan jika dalam hukum dengan jelas tidak ditentukan lain, telah berumur genap tujuh tahun.
      Kan. 1156 – § 1. Untuk konvalidasi perkawinan yang tidak sah karena suatu halangan yang bersifat menggagalkan, dituntut bahwa halangan itu telah berhenti atau diberikan dispensasi dari padanya, serta diperbarui kesepakatan nikah, sekurang-kurangnya oleh pihak yang sadar akan adanya halangan.
      § 2. Pembaruan kesepakatan itu dituntut oleh hukum gerejawi demi sahnya konvalidasi itu, juga jika pada mulanya kedua pihak telah menyatakan kesepakatannya dan tidak menariknya kembali kemudian.

      2) Maka untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan:
      Apa konsekwensi seorang katolik menikah dengan seorang islam dan melaksanakan pernikahan di KUA, apakah ada hukuman atau sangsi untuk seorang katolik? Apakah nama baptis yang dipakai akan hilang? Apakah dia jg masih/boleh mendapat komuni? Apakah dapat pernikahan tersebut di terima oleh Gereja?
      Jawab:
      Sebenarnya, istilahnya bukan hukuman, tetapi lebih kepada konsekuesi atas pilihan orang itu sendiri. Dengan menikah di KUA, maka ia memilih untuk meninggalkan imannya, dengan memeluk agama Islam (karena dengan mengucapkan credo/ syahadat agama Islam, maka ia menjadi Muslim).
      Namun demikian, sesungguhnya tanda di jiwa yang diterimanya pada waktu sakramen Baptis tidak pernah hilang. Maka sebenarnya ia masih dapat memakai nama baptisnya, hanya saja kebanyakan orang tidak melakukan ini, jika sudah memutuskan menjadi Muslim.
      Karena telah menjadi Muslim dan meninggalkan iman Katolik, maka ia tidak diperbolehkan untuk menyambut komuni, karena komuni bermakna persatuan dengan Kristus dan Tubuh-Nya yaitu Gereja Katolik. Lagipula perkawinan yang diberkati di KUA tidak sah/ valid menurut hukum Gereja, sehingga di hadapan Tuhan, sesungguhnya ia melanggar perintah Tuhan (perintah ke-6 dari Sepuluh Perintah Allah).
      Maka perkawinan yang dilangsungkan di KUA tidak dapat dianggap sah kanonik oleh Gereja.

      3) Apa yang harus ditempuh jika terpaksa dilakukan kawin campur/ beda agama, namun agar sah menurut hukum Gereja?
      Pertama-tama konsultasikan dengan pastor paroki, agar dapat diperoleh dispensasi, namun perkawinan harus diberkati menurut ketentuan hukum kanonik Gereja Katolik. Pihak yang Katolik harus berjanji untuk secara sekuat tenaga agar semua anaknya dapat dibaptis dan dididik secara Katolik, dan pihak yang non-Katolik diberitahukan akan janji dan kewajiban pasangannya yang Katolik. Lalu keduanya harus mengetahui ciri-ciri hakiki Perkawinan, yaitu monogami, tak terceraikan dan terbuka bagi kelahiran anak-anak. Berikut ini adalah dasarnya menurut Kitab Hukum Kanonik Gereja Katolik:

      Kan. 1127 – § 1. Mengenai tata peneguhan yang harus digunakan dalam perkawinan campur hendaknya ditepati ketentuan-ketentuan kan. 1108;
      § 2. Jika terdapat kesulitan-kesulitan besar untuk menaati tata peneguhan kanonik, Ordinaris wilayah dari pihak katolik berhak untuk memberikan dispensasi dari tata peneguhan kanonik itu dalam tiap-tiap kasus, tetapi setelah minta pendapat Ordinaris wilayah tempat perkawinan dirayakan, dan demi sahnya harus ada suatu bentuk publik perayaan; Konferensi para Uskup berhak menetapkan norma-norma, agar dispensasi tersebut diberikan dengan alasan yang disepakati bersama.
      § 3. Dilarang, baik sebelum maupun sesudah perayaan kanonik menurut norma § 1, mengadakan perayaan keagamaan lain bagi perkawinan itu dengan maksud untuk menyatakan atau memperbarui kesepakatan nikah; demikian pula jangan mengadakan perayaan keagamaan, dimana peneguh katolik dan pelayan tidak katolik menanyakan kesepakatan mempelai secara bersama-sama, dengan melakukan ritusnya sendiri-sendiri.

      Kan. 1108 – § 1. Perkawinan hanyalah sah bila dilangsungkan di hadapan Ordinaris wilayah atau pastor paroki atau imam atau diakon, yang diberi delegasi oleh salah satu dari mereka itu, yang meneguhkannya, serta di hadapan dua orang saksi.

      Kan. 1125 – Izin semacam itu dapat diberikan oleh Ordinaris wilayah, jika terdapat alasan yang wajar dan masuk akal; izin itu jangan diberikan jika belum terpenuhi syarat-syarat sebagai berikut:
      1) pihak katolik menyatakan bersedia menjauhkan bahaya meninggalkan iman serta memberikan janji yang jujur bahwa ia akan berbuat segala sesuatu dengan sekuat tenaga, agar semua anaknya dibaptis dan dididik dalam Gereja katolik;
      2) mengenai janji-janji yang harus dibuat oleh pihak katolik itu pihak yang lain hendaknya diberitahu pada waktunya, sedemikian sehingga jelas bahwa ia sungguh sadar akan janji dan kewajiban pihak katolik;
      3) kedua pihak hendaknya diajar mengenai tujuan-tujuan dan ciri-ciri hakiki perkawinan, yang tidak boleh dikecualikan oleh seorang pun dari keduanya.
      Demikian yang sementara dapat saya sampaikan kepada anda, semoga berguna. Jika masih ada pertanyaan silakan bertanya kembali.

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      Ingrid Listiati- http://www.katolisitas.org

      • BUDI YOGA PRAMONO October 21, 2009 at 3:58 am

        mencari pasangan hidup memang harus seiman, itu harus dan wajib kalo tidak lebih baik selibat krn kalo kita keluar dari iman kita kpd Kristus itu berarti tdk ada keselamatan didlam hidup ini, terus buat apa hidup ini , dimana didunia adalah sementara tapi disurga kita hidup kekal. Kalo tidak di surga ya pasti di neraka yng kekal…mengerikan sekali.
        Saya dulu juga pernah hampir hidup dgn org muslim krn saya pikir keselamatan bukan hanya dari Kristus tp bisa dari agama mana saja. Tetapi puji Tuhan , Yesus tidak rela shg ada saja halangan yg membuat saya tidak bisa melepaskan Kristus. Akhirnya saya diberi hikmat : seharusnya kamu punya komunitas di gereja , persekutuan, selgrup atau teman bermain shg bisa saling menguatkan, saling berbagi , sharing iman dan kamu pasti menemukan pasanganmu di situ . Benar juga ya , selama ini saya hanya ke gereja seminggu sekali kadang2 bolos, tiap hari saya bergaul dgn teman bukan seiman krn saya org jawa dgn saudara2 dan teman2 org bukan seiman semua shg pikiran & hati saya terkontaminasi dgn cara berpikir mereka. Saya akhirnya memutuskan masuk di persekutuan doa & bekerja di perusahaan milik anak Tuhan , Yesus memang baik , Dia mengirimkan seseorg utk memaksa saya & mengajak saya utk aktif pelayanan & saya banyak menerima ajaran2 firman Tuhan yng membuat saya makin melekat kpd Kristus. Saya berdoa minta pasangan krn waktu itu umur sdh 31 th. Saya minta Tuhan yng pilihkan bukan saya yg milih. 3 th kmdn lewat seorg hamba Tuhan saya dinubuatkan : bahwa sebenarnya Tuhan sudah siapkan tapi selama ini engkau tidak siap bahkan takut kl tidak bisa memelihara & menghidupi istri & anak2mu kelak, krn itu persiapkan hatimu krn awal thn Tuhan sudah berikan pasangan hidupmu & jika Tuhan berkenan pd akhir tahun engkau akan menikah dgnnya. Amin Tuhan kataku dalam hati, dan saya mulai mencari siapa dia , waktu itu th 2002 dan bln september aku kenalan dgn seorg wanita , singkat cerita aku nembak tp ia menjawab tidak krn kamu bukan tipe saya. Sakit hatiku ditolak shg aku berpikir mana Tuhan jodohku. Dia ingatkan itu krn kamu milih sendiri. Saya dr dulu ingin sekali ke Gua Maria , ada apa kok Maria aja sampai dibuatin gua, isinya apa. Tgl 1 jan 2003 akhirnya saya berangkat dengan teman ke Gua Maria dgn teman saya , dan malamnya saya ditelpon teman saya perempuan katanya ada yng mau kenalan mau nggak tapi org katolik , jawab saya ya. Kami akhirnya kenalan, kira2 bln. Feb saya diingatkan Tuhan : tahu nggak kamu saya beri kerinduan utk datang ke Gua Maria itu krn jodohmu memang org katolik, ingatkah kamu ketika kamu didoakan jodoh yg Kusediakan bagimu kuberikan pd awal tahun. Saya kaget, benar Tuhan ; akhirnya saya beritahukan kpd calon tp tidak yakin krn ia harus dpt juga dari Tuhan sendiri bukan dari kata saya. Maka kami putuskan untuk doa puasa 2x seminggu & tiap jam 10 malam doa bersama di tempat masing2. Akhirnya Tuhan juga membuat tanda untuknya bahwa benar saya adl jodohnya dan bl. Oktober 2003 kami menikah & sekarang kami sdh dikaruniai 2 org anak . Saya pindah dari kristen ke katolik. Itu semua adl anugerah, Tuhan yg pilihkan pasti Tuhan yg berkati.

        • Shalom Budi,
          Terima kasih atas sharing pengalaman hidup anda. Saya ikut bersyukur kepada Tuhan, bahwa akhirnya anda menemukan jodoh sesuai dengan kehendak-Nya. Saya juga turut bersyukur bahwa hal itu anda peroleh atas keterlibatan Bunda Maria, sebab terjadinya kok ya melalui ziarah ke gua Maria itu. Saya percaya bahwa sampai sekarangpun Bunda Maria tetap menyertai anda, istri dan anak-anak anda dengan doa- doanya. Memang atas latar belakang anda, mungkin anda ‘sulit’ membayangkan Bunda Maria yang berdoa bagi setiap umat Kristiani. Namun sesungguhnya dengan pengalaman anda yang cukup unik itu, rasanya tak sulit untuk menerima kenyataan bahwa Allah turut bekerja di dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia (Rom 8:28). Dan, ‘segala sesuatu’ itu antara lain adalah dengan ziarah anda ke gua Maria tgl 1 Jan 2003, yang mendatangkan bagi anda rahmat memperoleh jodoh yang dari Tuhan. Sebagai orang beriman, kita memang tidak melihat sesuatu yang baik sebagai “kebetulan” tetapi sebagai rahmat Tuhan, untuk tujuan yang baik bagi kita. Semoga anda terus mengalami kasih dan berkat Tuhan melalui perantaraan doa Bunda Maria. Dan semoga anda suatu saat nanti juga siap untuk menerima Bunda Maria di dalam rumah hati anda.
          Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
          Ingrid Listiati- http://www.katolisitas.org

    • Aku mau ngasi masukan aja pernikahan yang seiman saja sulit apa lagi kalo beda iman, Tuhan telah menempatkan kita masing-masing di iman yang kita percayai maka pastinya Tuhan tidaklah bodoh dengan menempatkan pasang hidup kita di jalur yang berbeda iman dengan kita, semoga angela mengerti itu, maaf….
      bahakan sepalipun aku orang katolik dari kecil, mama ku kristen, papa ku katolik, aku tidak percaya kalo pasanggan hidupku diberiman kristen,apalagi berbeda kepercayaan dengan ku..aku sangat yakin pasanganku beriman sama dengan ku yaitu iman katolik… sebab kitab Tobia tentang perkawinan yang dari Tuhan tidak ada di alkitab nya orang kristen, pastilah pasangan yang seiman dengan aku lah yang dapat memahami iman ku…dan yang pasti yang seimanlah yang berasal dari Tuhan..

      [Dari Admin Katolisitas: komentar ini digabungkan]
      Jadi benar / tidak kalau saya menfsirkan bahwa Tuhan menempatkan pasangan atau jodoh kita di iman yang sama dengan kita, jadi kalalu saya katolik dari bayi jadi pasangan saya juga pastinya seorang wanita yang beriman katolik?
      dan benar atau tidak kalau saya menafsirkan adam diciptakan terlebih dahulu dari hawa maka pasangan saya seharusnya lebih muda dari saya?

      • Shalom Ario,

        1.Gereja Katolik tidak mengajarkan adanya ‘takdir’ yang artinya seolah-olah Tuhan sudah menentukan segala sesuatunya, dan manusia hanya menjadi ‘boneka’ untuk menjalaninya. Tuhan menghargai segala kehendak bebas dan keputusan manusia, walaupun Ia dengan segala kemaha-tahu- an-Nya, telah mengetahui sejak awal mula tentang bagaimana kehidupan kita. Namun Tuhan tidak pernah memaksakan kehendak-Nya kepada kita. Selanjutnya tentang takdir dan nasib ini, silakan anda membaca di sini, silakan klik.

        Maka, menjawab pertanyaan anda, memang Tuhan membimbing kita masing-masing, jika kita melibatkan Dia, pada saat kita memilih pasangan hidup kita masing-masing, namun Ia tidak ‘memaksakannya’ kepada kita. Dengan demikian, kita tidak dapat mengatakan bahwa kalau saya Katolik, pasti pasangan hidup saya juga Katolik. Memang kalau anda mempunyai kecenderungan memilih pasangan hidup yang Katolik, itu sesuatu yang baik sekali, dan tentu jika anda bawa terus di dalam doa, dan anda bergaul dengan sesama saudara/ i seiman, maka besar kemungkinan anda dapat menemukan pasangan yang Katolik seperti yang anda inginkan. Namun mungkin ada banyak orang yang karena situasi yang tertentu, atau bahkan karena tidak memikirkannya secara serius atau tidak membawa perihal pasangan hidup yang satu iman ini di dalam doa, maka akhirnya mereka mendapatkan pasangan yang tidak seiman. Hal ini memang diakui akan menjadi lebih sulit (seperti kata anda, satu agama saja sudah sulit, apalagi beda), terutama dalam hal mengajarkan iman kepada anak-anak, dan tentang banyaknya keputusan lain yang harusnya diambil atas dasar iman. Untuk ini perihal kawin campur- beda gereja, atau beda agama inilah maka Gereja Katolik tetap mengizinkan asalkan dibuat perjanjian terlebih dahulu, agar pihak yang Katolik tetap dapat menjalankan ibadah dan kewajibannya sebagai umat Katolik, dan dengan sekuat tenaga mendidik anak-anak secara Katolik. Jika ini disetujui, maka Gereja Katolik mengizinkan perkawinan tersebut, meskipun tidak dari satu agama/ satu Gereja.

        2. Memang di dalam Alkitab yang diciptakan adalah Adam terlebih dahulu baru kemudian Hawa, namun sebenarnya itu bukan menjadi dasar keharusan bahwa mempelai laki-laki harus lebih tua dari mempelai wanita. Yang terlebih penting adalah bukan keadaan harafiahnya bahwa Hawa lebih muda dari Adam, tetapi arti rohaniahnya, yaitu Hawa diciptakan dari tulang rusuk Adam, yang artinya untuk menjadi "penolong yang sepadan" bagi Adam (Kej 1:18). Jadi kedudukan Hawa tidak di atas -untuk mengepalai Adam-, ataupun di bawah Adam -untuk di-injak-injak-, namun sepadan- untuk dikasihi oleh Adam dan mengasihi Adam. Selanjutnya, Alkitab mengajarkan bahwa hubungan suami istri ini malah seharusnya menjadi gambaran akan hubungan Kristus dengan Gereja-Nya (lih. Ef 5:22-33). Artinya suami harus mengasihi istrinya seperti mengasihi tubuhnya sendiri (ay.28), mengasuh dan merawatnya (ay.29), bahkan menyerahkan diri-nya bagi istrinya (ay. 25). Demikian juga, istri harus mengasihi suaminya dan tunduk kepada suaminya (ay.22).

        Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
        Ingrid Listiati- http://www.katolisitas.org

  17. Shalom,
    Kalau seseorang itu dipanggil untuk hidup selibat, tetapi dengan kebebasannya ia memilih untuk menolak panggilan itu. Apakah itu dosa? Apa yang harus ia lakukan kalau ia merasa tidak kuat mengatasi godaan?

    Terima kasih.
    Setiawan

    • Shalom Setiawan,

      Sebenarnya pertanyaan anda kurang jelas di sini, sebab "dipanggil untuk hidup selibat" ini, apakah artinya ia sudah menjadi imam, lalu kemudian tidak tahan hidup selibat, lantas keluar; atau orang itu belum menjadi imam, dan baru ‘merasa’ terpanggil menjadi imam? Sebab untuk kedua kasus itu jawabannya berbeda.

      1. Jika orang itu sudah menjalani panggilan untuk menjadi imam, sehingga praktis dia sudah hidup selibat, namun kemudian ia memilih untuk menolak kehidupan selibatnya, maka ia berdosa. Namun menurut derajatnya, terdapat dua kemungkinan:

      - jika ia dengan hati nurani memilih untuk meninggalkan hidup selibatnya, tanpa melakukan dosa ketidakmurnian (misal perzinahan, dst) dan kemudian ia mendapat ijin dari superior dan dari Vatikan, maka sesungguhnya dosa/ kesalahannya adalah dengan tidak bekerjasama dengan rahmat Allah yang sudah diterimanya melalui Sakramen Tahbisan Suci, yang seharusnya cukup untuk membuatnya setia dalam panggilan imamatnya.

      - jika ia memilih untuk meninggalkan hidup selibatnya karena telah terlanjur melakukan perbuatan dosa (zinah, dst) maka ia berdosa sangat berat karena selain tidak setia dengan panggilan hidunya sebagai imam, ia melakukan perbuatan zinah dan menjadi batu sandungan bagi orang lain.

      2. Jika orang itu belum menjadi imam, namun baru ‘merasa terpanggil sebagai imam’, namun ia memilih untuk tidak menjadi imam, maka kesalahannya lebih ringan dibandingkan dengan jika ia sudah menjadi imam. Sebab biar bagaimanapun, Tuhan memanggil, namun tidak pernah memaksa. Ia selalu melibatkan kehendak bebas manusia. Maka jika sebenarnya dorongan menjadi imam sangat kuat, namun ditolak; maka mungkin di sini letak kesalahannya adalah pada ketakutan mengatasi godaan yang lebih besar daripada keinginan untuk menanggapi panggilan Tuhan itu.

      St. Padre Pio pernah mengatakan bahwa dosa itu seumpama anjing galak yang dirantai di tiang. Jadi kalau kita tidak dekat-dekat tiang dan anjing itu, kita tidak akan jatuh. Tetapi kalau kita sedikit bermain-main dan mendekati anjing galak itu, maka kita bisa kena gigitan anjing- yang artinya kita jatuh dalam dosa. Maka pelajaran yang bisa diambil pertama-tama adalah: jangan mendekati godaan itu, atau jangan menurutinya. Carilah perbuatan dan kesibukan yang dapat mengalihkan perhatian anda ke arah yang lebih baik. Hindari pergaulan yang dapat menyeret anda ke dalam dosa. Hindari situasi melamun, menyendiri atau apapun yang menyeret anda kepada godaan itu. Carilah rekan-rekan yang dapat membangun iman anda. Isilah waktu dengan mendekatkan diri kepada Tuhan, entah dengan berdoa, membaca dan merenungkan Kitab Suci, atau kesibukan lain yang berguna untuk rohani anda. Bertumbuhlah dalam doa dan sakramen, terutama Ekaristi dan Sakramen Tobat. Ikutilah Misa harian, jika memungkinkan. Pergilah mengaku dosa sedikitnya sebulan sekali, dan carilah seorang pembimbing rohani. Semoga dengan bantuan rahmat Tuhan anda dapat kuat mengatasi godaan itu.

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      Ingrid Listiati- http://www.katolisitas.org

      • Terima kasih Mba Ingrid,
        Yang saya maksudkan ialah yang kedua. Merasa terpanggil sebagai imam, namun belum menjadi imam. Yang saya maksud juga dengan menolak panggilan itu ialah memilih untuk menikah yang sepengetahuan saya sama kudusnya dengan imamat. Apakah setelah menikah Tuhan tetap akan terus menerus menghantui dengan panggilan? Atau bisakah orang tersebut menjadi diakon permanen sebagai jawaban atas panggilan Tuhan untuk menjadi imam?
        Terima kasih atas pengajarannya.

        • Shalom Setiawan,
          Kalau boleh saya menganjurkan, sebaiknya anda (atau seorang yang sedang merenungkan jalan panggilan hidup) mengikuti retret pribadi, dengan seorang pembimbing rohani, untuk membuat discerment untuk keputusan penting ini dalam hidup anda. Memang kehidupan pernikahan adalah sesuatu yang baik dan sangat luhur, namun, secara objektif kita harus melihat bahwa memang kehidupan selibat untuk Kerajaan Allah adalah sesuatu yang lebih sempurna daripada hidup pernikahan, dalam hal mewujudkan kasih yang tanpa syarat kepada Tuhan dan sesama, seperti yang telah dijabarkan dalam artikel di atas. Maka yang terpenting adalah melihat apakah anda benar-benar terpanggil untuk kehidupan imamat itu, sebab jika benar-benar Tuhan memanggil anda maka, kuasa-Nya akan benar-benar nyata, sehingga anda tidak ragu lagi, dan akan berani melangkah bersama Tuhan untuk mengatasi godaan tersebut. Namun jika dalam proses discerment itu anda dikuasai oleh rasa ragu dan takut, maka ada kemungkinan bahwa imamat memang bukan jalan yang Tuhan inginkan bagi anda. Dan memang benar, anda tidak melakukan kesalahan jika anda memilih hidup menikah, dan jangan pula merasa bersalah jika kemudian anda menikah. Tuhan tidak pernah memaksa, dan panggilan-Nya memang untuk diterima dengan sukarela.

          Tambahan lagi sebenarnya, walaupun anda memutuskan untuk menikah, motivasi utamanya adalah bukan supaya anda dapat seolah-olah ‘menyalurkan’ kebutuhan jasmani anda/ menuruti ‘godaan’ itu. Sebab hal itu juga bukan motivasi yang baik untuk perkawinan. Jika anda terpanggil untuk menikah, motivasi anda seharusnya adalah untuk 1) memberikan diri anda sepenuhnya kepada pasangan anda, dan 2) untuk mendidik anak-anak yang akan Tuhan percayakan kepada anda, agar mereka mengenal dan mengasihi Tuhan. Jika bukan kedua hal ini yang menjadi motivasi anda, maka dalam kehidupan perkawinan anda, nanti juga anda akan menghadapi masalah yang tidak kalah besar dengan masalah yang akan dihadapi jika anda menjadi imam. Sebab hidup setia kepada satu orang seumur hidup, dalam untung dan malang, dalam sehat dan sakit, itu juga bukan hal yang mudah, jika anda tidak dengan sungguh- sungguh menghayati makna perkawinan itu. Silakan anda membaca artikel Indah dan dalamnya Perkawinan Katolik, silakan klik.
          Pada dasarnya, setiap kita, baik yang menjadi imam maupun yang menikah, tetap dipanggil terhadap kekudusan dan mengatasi godaan Iblis dalam bentuk apapun, dan mungkin konteksnya dalam hal ini dalam hal kemurnian. Kita dipanggil juga untuk hidup setia melaksanakan iman kita, yang dilukiskan secara nyata dengan menjalani panggilan hidup kita (sebagai imam atau awam) dengan baik dan setia. Saya menganjurkan, jika memungkinkan, bacalah juga buku Theology of the Body, karangan Paus Yohanes Paulus II, yang sudah diterjemahkan oleh Rm Deshi Ramadhani S.J. Semoga anda dapat melihat indahnya makna panggilan hidup perkawinan dan kehidupan selibat untuk Kerajaan Allah yang saling mendukung, sebagaimana direncanakan Allah. Dan anda dapat menilik ke dalam diri anda sendiri, jalan mana yang Tuhan inginkan bagi anda yang sesuai juga dengan kehendak bebas anda.

          Mengenai diakon permanen memang dapat merupakan pilihan jika keuskupan setempat membutuhkan. Di Amerika ini, permanent diaconate, sudah lebih dikenal dan lebih umum, namun, kelihatannya di Indonesia, diakon permanen belum umum. Silakan anda menanyakan kepada keuskupan di mana anda tinggal tentang kemungkinan tersebut di atas.
          Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
          Ingrid Listiati- http://www.katolisitas.org

  18. Salam damai Pak Augustinus,

    Tulisan Pope John Paul II’s THEOLOGY OF THE BODY, sudah di terjemahkan oleh Rm.Deshi Ramadhani, SJ dan diterbitkan oleh penerbit Kanisius. Buku ini bisa di beli di toku buku Gereja Katedral Jakarta atau bisa pesan langsung ke penerbit Kanisius secara online. Buku ini termasuk best seller. Berikut saya beri linknya untuk membeli buku tersebut. http://www.kanisiusmedia.com/prod_best.php

    Menurut saya buku ini wajib dibaca oleh semua kalangan. Tulisan yang sangat revolusioner.

    Tuhan Berkati
    Deasy

  19. Augustinus Setioadhi October 2, 2009 at 5:28 pm

    Shalom Bu Inggrid,

    Karena bahasa Inggris saya agak terbatas, apabila berkenan saya ingin mendapatkan ulasan tentang tulisan dari :
    Pope John Paul II’s THEOLOGY OF THE BODY.
    This publication @ 2003 Resurrection Publications.
    P.O. Box 21357. Cheyenne, WY 82003-7026
    http://www.theologyofthebody.net

    Banyak terima – kasih saya haturkan.

    Tuhan Yesus memberkati.

    • Shalom Augustinus,
      Saya memang pernah merencanakan untuk mengulasnya di situs ini, tetapi karena memang sampai sekarang belum terlaksana. Sebenarnya topik ini sangat menarik, dan jika dibahas memang tidak cukup hanya dalam satu atau dua artikel, karena memang sangat panjang dan dalam maknanya. Namun kabar baiknya adalah saya mendengar bahwa topik ini sudah diterjemahkan oleh R. Deshi Ramadhani SJ, dan malah beberapa kali sudah diadakan seminarnya di Jakarta. Saya malah mendengar tgl 7 November ini akan diadakan juga seminar “Theology of the Body” ini di paroki Stella Maris Jakarta. Silakan anda mencari keterangan lebih lanjut ke Bp. Usman 0815 1155 66 55.
      Mungkin suatu saat nanti di situs ini akan kami bahas tentang Theology of the Body ini, mohon doa ya.
      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      Ingrid Listiati- http://www.katolisitas.org

      • Augustinus Setioadhi October 5, 2009 at 5:17 pm

        Shalom Bu Inggrid,

        Thanks banget atas infonya, nanti saya akan kontak ke P Usman.
        Sepengetahuan saya “Theology of The Body ” ada 129 session yg diberikan oleh Paus John Paul II dlm audisi tiap Rabu, agar pembahasan nya bisa lebih mendalam tiap sessi mungkin bisa dibahas tersendiri (hanya saran aja Bu).

        Doa saya menyertai pelayanan Ibu dgn team.

        Gbu,
        Augustinus

  20. Syalom, katolisitas
    Saya ada pertanyaan di 1 Korintus 7 : 1- 40
    Apa maksud ayat-ayat tersebut dan dalam konteks apa ? .-
    Terima kasih
    Adnilem.Sg

    [Dari Admin Katolisitas: Pertanyaan ini sudah dijawab di atas, silakan klik]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

CONNECT WITH US: