Menikah atau selibat? (1 Kor 7 :1-40)

67

Menikah atau hidup selibat untuk Kerajaan Allah?

Mungkin pertanyaan seperti ini adalah pertanyaan yang harusnya direnungkan oleh para muda- mudi Katolik. Jaman sekarang, kita melihat dalam keadaan masyarakat, di mana terdapat kebebasan mass media dan gaya hidup yang bahkan seolah menganggap perkawinan yang tak terceraikan adalah sesuatu yang sukar, apalagi kehidupan selibat, yang dipandang lebih lagi sangat mustahil. Namun sebenarnya, tidaklah demikian jika kita berpegang pada pengajaran Rasul Paulus. Jaman dahulu situasi di Korintus mirip dengan kondisi kita sekarang, maka kitapun bisa belajar banyak dari pengajaran Rasul Paulus ini.

Dalam 1 Kor 7:1-40, Rasul Paulus mengajarkan tentang perkawinan dan kehidupan selibat. Pengajaran ini penting, terutama jika kita memahami kondisi jemaat di Korintus saat itu. Kota Korintus merupakan kota transit dan kota pelabuhan. Dengan kondisi ini maka kota tersebut mempunyai tingkat ke-asusilaan/ immorality yang tinggi. Di tengah lingkungan pagan yang sedemikian, maka kemungkinan ada beberapa jemaat di Korintus yang menanyakan kepada rasul Paulus, tentang bagaimana menyikapinya, apakah jadi sebaiknya semua orang Kristen harus hidup selibat, atau apakah perkawinan itu merupakan hal yang buruk. Maka bab tujuh ini menandai dimulainya bagian kedua dari surat pertama Rasul Paulus kepada umat di Korintus . Konteksnya adalah surat ini kemungkinan merupakan jawaban dari Rasul Paulus akan pertanyaan tersebut.

Dalam jawabannya ini Rasul Paulus mengajarkan tentang:

1. ay. 1-16 Perkawinan dan sifatnya yang tak terceraikan
2. ay. 17-24 Rasul Paulus menjelaskan bahwa menjadi murid Kristus tidak mutlak harus mengubah status hidup (misal: dari menikah menjadi selibat) ataupun mengubah keadaan eksternal. Maka perikop ini tidak mengajarkan secara keseluruhan konsep perkawinan Kristiani, sebab untuk melihat pengajaran yang lebih lengkap tentang perkawinan, kita harus membaca juga Ef 5: 22-33, di mana persatuan dan kasih suami istri dilambangkan dengan persatuan dan kasih Kristus kepada jemaat/ Gereja-Nya.

3. ay. 25-38 Kehidupan selibat yang dipandang sebagai sesuatu yang lebih tinggi karena menjadi tanda pengabdian dan kasih tanpa syarat kepada Tuhan dan sesama.
4. ay. 39- 40 Kehidupan menjanda yang dapat dijadikan kesempatan untuk melayani Tuhan dengan lebih penuh.

Berikut ini saya sampaikan uraian yang mengambil sumber utama dari  Commentary yang ada di The Navarre Bible, The Letters of St. Paul:

7:1-9 Rasul Paulus mengajarkan bahwa Perkawinan adalah sesuatu yang baik. Di sini dan di ayat 25-35, Raul Paulus ingin mengatakan bahwa bukan hanya kehidupan selibat yang dapat dilakukan oleh umat Kristiani. Maka ia menyatakan dua hal yang mendasar yaitu memang kehidupan selibat berada di tingkat yang lebih tinggi dari perkawinan, tetapi perkawinan adalah sesuatu yang baik dan kudus bagi mereka yang terpanggil untuk itu.

Dalam hal ini, Rasul Paulus melihat bahwa kehidupan perkawinan dan selibat itu harus dilihat berdampingan. Pengajaran ini dilanjutkan oleh St. Yohanes Krisostomus dengan indahnya, “Barangsiapa yang mengecam perkawinan, ia juga membuang kemuliaan yang ada pada kehidupan selibat; sedangkan barangsiapa yang memuliakan perkawinan, maka ia juga membuat kehidupan selibat menjadi menarik dan bersinar. Sesuatu yang kelihatannya baik hanya ketika dibandingkan dengan sesuatu yang buruk, tidaklah sungguh-sungguh berharga;  tetapi ketika hal itu lebih besar daripada hal-hal yang dihargai oleh semua orang, maka memang hal itu baik di tingkat yang sangat tinggi.” (St. Yohanes Krisostomus, De virginitate, 10, 1)

Jadi Rasul Paulus menjawab di sini bahwa adalah baik untuk hidup selibat, namun untuk itu seseorang memerlukan rahmat yang istimewa dari Tuhan (ay.7). Mengingat keadaan moral di Korintus yang sangat aktif dipengaruhi oleh ketidakmurnian sehingga dapat meningkatkan banyak godaan (ay. 2, 5, 9), maka lebih baik bagi mereka yang tidak mempunyai karunia untuk hidup selibat untuk menikah. Namun demikian tentu ia tidak bermaksud mengajarkan bahwa tujuan utama perkawinan adalah untuk membebaskan diri dari godaan. Sebab makna Perkawinan malah sangat luhur karena  kasih suami istri menjadi gambaran akan kasih Yesus kepada Gereja-Nya (lih. Ef 5:22-33). Di sini Rasul Paulus hanya menganjurkan agar bagi yang terpanggil untuk hidup selibat, namun bagi yang tidak terpanggil/ yang tidak mempunyai karunia untuk hidup selibat, agar tidak hidup selibat dan karenanya menanggung resiko tidak dapat mengatasi godaan tersebut.

7:3-6 Rasul Paulus mengajarkan bahwa kehidupan selibat bukan untuk semua orang. Jika untuk kondisi khusus suami dan istri hendak bertarak/ tidak berhubungan suami istri (perfect continence), mereka harus melakukannya atas kesepakatan bersama, dan hanya untuk sementara waktu, agar tidak memasukkan diri sendiri ke dalam godaan setan yang tidak perlu. Juga Rasul Paulus mengajarkan agar suami dan istri bukanlah pemilik dari tubuhnya sendiri, suami memiliki hak atas tubuh istri dan demikian pula sebaliknya.

7:7 Rasul Paulus sendiri hidup selibat. Ia menginginkan orang lainpun seperti dia, sehingga dapat mengabdikan diri sepenuhnya kepada Allah. Namun ia juga mengakui bahwa hidup selibat merupakan karunia istimewa dari Allah, seperti yang diajarkan Kristus (lih. Mat 19:11-12). Ini adalah tanggapan terhadap kasih yang telah dinyatakan oleh Yesus secara tak terbatas. Dan Rasul Paulus secara pribadi telah mengalaminya [dalam perjalanan ke Damsyik]. Rahmat dengan kekuatan ilahi meningkatkan kerinduan bagi orang-orang tertentu untuk mengasihi Allah dengan total, eksklusif, tetap dan selama-lamanya. Maka keinginan bebas untuk mengabdi sepenuhnya kepada Allah dengan hidup selibat selalu dianggap Gereja sebagai sesuatu yang menandai dan mendorong kasih (lih. Lumen Gentium / LG 42). Kehidupan selibat adalah bukti kasih tanpa syarat, dan mendorong kepada kasih yang terbuka kepada semua orang (Paus Paulus VI, Sacerdotalis caelibatus).

Maka ketika Rasul Paulus mengatakan “setiap orang menerima dari Allah karunianya yang khas”, artinya bahwa perkawinan juga merupakan karunia dari Tuhan (lih. LG 11). “Perkawinan adalah jalan ilahi di dunia…. Maksud perkawinan adalah untuk membantu pasangan menguduskan mereka sendiri dan orang lain. Untuk alasan ini mereka menerima rahmat istimewa di dalam sakramen Perkawinan. Mereka yang terpanggil untuk menikah akan, dengan rahmat Tuhan, menemukan di dalam kondisi mereka setiap hal yang mereka perlukan untuk hidup kudus dan untuk lebih mengikuti jejak Kristus setiap hari dan untuk menuntun semua yang hidup bersama mereka kepada Tuhan.”[1]

7:10-11 Maka kehidupan selibat bagi Rasul Paulus bukan merupakan perintah, tetapi berupa anjuran. Sedangkan tentang perkawinan yang tak terceraikan itu merupakan perintah Tuhan, seperti yang telah diajarkan oleh Yesus (lih. Mat 19:6); dan suami ataupun istri tak dapat menceraikannya (Mat 5: 31-32; 19:3-23; Mk 10:12). Perkawinan yang tak terceraikan ini berakar dari kasih yang memberikan diri secara total dari pasangan suami istri, demi kebaikan anak-anak mereka. Maka perkawinan yang tak terceraikan ini menemukan kebenaran puncaknya di dalam rencana Allah yang menghendaki agar perkawinan yang tak terceraikan ini merupakan sebuah buah, tanda dan syarat dari kasih setia absolut yang Allah tujukan kepada manusia dan yang Yesus tujukan kepada Gereja….[2]

7:12-16 Setelah mengajarkan tentang perkawinan yang tak terceraikan, Rasul Paulus menjelaskan tentang kasus yang umum ditemukan saat itu, yaitu perkawinan antar dua orang pagan, yang kemudian salah satunya menjadi Kristen. Dalam dunia pagan memang hukum memperbolehkan perceraian. Menurut tradisi Yahudi, jika seseorang pagan menjadi Yahudi, maka ia disunat dan harus mengikuti hukum Taurat Musa, termasuk  menghindari hubungan sosial dengan orang non-Yahudi (karena akan menjadi najis), sehingga ikatan perkawinan sebelumnya dengan orang non-Yahudi itu harus diceraikan.

Namun demikian, Rasul Paulus tidak memberikan solusi ini. Menurut Rasul Paulus, ikatan perkawinan tetap berlaku, sebab hukum kenajisan tidak berlaku/ telah diperbaharui oleh Kristus. Hanya saja jika pihak yang pagan tidak mau hidup dalam perdamaian, maka pihak yang sudah dibaptis dapat berpisah dengannya dan menikah kembali.

Maka dalam hal ini ada tiga hal penting yang harus diketahui:

1) Yesus Kristus tidak pernah bicara tentang hal ini; sehingga ini memang pengajaran dari Rasul Paulus. Maka ia bukan hendak membatalkan pengajaran Yesus tentang perkawinan yang tak terceraikan. Yang dilakukannya adalah, dengan inspirasi Roh Kudus, ia mengajarkan secara umum untuk menyikapi suatu kasus khusus.

2) Jika seorang pagan dibaptis, maka ia menguduskan anggota keluarga lainnya (suami/ istrinya dan anak-anak) (ay. 13-14). Maka pertobatannya bukan malah ‘merusak’ keutuhan keluarga, tetapi malah sesuatu yang membawa kebaikan bagi seluruh keluarga. Pembaptisan bukan sesuatu yang mengakibatkan perceraian, tetapi malah memperkuat dan menguduskan keluarga.

3) Hanya jika pasangan yang tetap tidak percaya (tetap pagan) mengganggu kehidupan keluarga atau tidak memperbolehkan pasangan yang Kristen tersebut untuk hidup sesuai dengan imannya, maka mereka boleh berpisah dan ia yang Kristen tersebut boleh menikah kembali.

Maka Gereja Katolik mengikuti solusi yang diajarkan oleh Rasul Paulus dan umum disebut sebagai “Pauline privilege” (lihat KHK kann. 1143-1147)

Namun ada catatan yang sangat penting di sini, bahwa, kondisi yang disebutkan oleh Rasul Paulus ini bukan kondisi pernikahan di mana salah satu pihaknya sudah Katolik, -yang menikah dengan pihak non- Katolik (kawin campur atau kawin beda agama). Pada kasus- kasus ini, Gereja Katolik mensyaratkan adanya komitmen dari pihak non- Katolik dan jika ini dilakukan maka pernikahan tetap sah dan tak terceraikan (lihat KHK kann. 1124- 1128).

7:17-24 Rasul Paulus mengajarkan bahwa pertobatan tidak perlu diikuti dengan perubahan total status hidup, “hendaklah tiap-tiap orang tetap hidup seperti yang telah ditentukan Tuhan baginya” (lih. ay. 17, 20,24). Contoh yang diberikan misalnya soal sunat lahiriah dan hamba/ pekerja. (ay. 18-22). Jadi yang dipentingkan di sini adalah pertobatan rohaniah, dan bahwa kondisi sehari-hari, entah pekerjaan, keluarga, hubungan sosial, dst sekarang membantu kita untuk menuju kekudusan. Kehidupan kita harus mempunyai dimensi baru, sebab kita menyadari bahwa Tuhan membimbing kita untuk melakukan tugas-tugas yang dipercayakan oleh Tuhan kepada kita.

7:19 Penekanan bahwa yang lebih penting adalah menaati perintah Tuhan, maka dengan demikian, sunat atau tidak bersunat tidak lagi menjadi penting, hanya “iman yang bekerja oleh kasih” (Gal 5:6; lih. Gal 6:15).

7:21-23 Pada jaman Rasul Paulus, memang perbudakan masih ada, tetapi Rasul Paulus berkali-kali mengajarkan bahwa sebenarnya setiap manusia mempunyai martabat yang sama di hadapan Allah (lih. Gal 3:28-29 dan Filemon). Sesudahnya ketika ajaran Kristiani masuk ke dalam sendi-sendi  kemasyarakatan, maka perbudakan dihapuskan.

Bagaimana seseorang dapat hidup merdeka, pada saat ia masih hidup sebagai pelayan? Maka jawabannya, menurut St. Yohanes Krisostomus adalah ketika ia dapat hidup merdeka/ bebas dari nafsu dan pikiran yang tidak sehat.[3]

Sedangkan yang benar adalah kita semua hidup sebagai pelayan Tuhan, dengan melihat kepada teladan Yesus sendiri (lih. 1 Kor 20:28) Maka jika kita melayani sesama demi kasih kita kepada Tuhan, itu adalah sesuatu yang sangat mulia. “Kita hidup memang harus melayani, suka atau tidak suka, sebab itulah yang dilakukan oleh kita manusia. Maka tiada yang lebih baik dari pada menyadari akan Kasih yang menjadikan kita pelayan Tuhan…. Dengan demikian kita mengerjakan segala sesuatu di dunia dengan sungguh-sungguh seperti orang-orang yang lain, namun dengan kedamaian di dalam hati kita. Kita bersuka cita dan selalu tenang di dalam menghadapi sesuatu, sebab kita tidak menaruh kepercayaan kepada hal yang sementara, tetapi pada hal yang tetap selamanya.”[4]

7:25-35 Rasul Paulus menjelaskan keistimewaan kehidupan selibat dibandingkan dengan perkawinan. Magisterium Gereja Katolik juga mengajarkan demikian (lih. Trent, De Sacrum matrimonio, ca. 10; Pius XII, Sacra virginitas,11)). Rasul Paulus memang mengatakan bahwa untuk ajaran berikut ia tidak menerima perintah Allah namun hanya menganjurkan kehidupan selibat, dengan motivasi utama, yaitu kasih kepada Allah. “Ini adalah tujuan utama dan alasan utama bagi selibat Kristiani- untuk mengabdikan diri sepenuhnya kepada hal-hal surgawi, memberikan kepada hal-hal itu segenap perhatian dan kasih, memikirkan Dia senantiasa, dan mengkonsekrasikan diri kepada Tuhan sepenuhnya, tubuh dan jiwa.[5]

Kehidupan selibat ini akan menuju kepada kehidupan yang penuh dan produktif sebab akan membuat seseorang dapat mengasihi sesama dengan lebih penuh dan mengabdikan diri kepada mereka dengan lebih total. Juga kehidupan selibat mengacu pada dimensi kehidupan di akhir jaman: tanda kebahagiaan surgawi (lih. Vatikan II, Perfectae caritatis, 12) dan mengacu pada kehidupan para kudus di surga.

Namun, meskipun selibat adalah tingkat yang lebih tinggi, perkawinan bukanlah sesuatu yang buruk. Mereka yang menikah tidak melakukan sesuatu yang salah (ay. 28), dan tidak perlu seseorang yang sudah menikah untuk hidup selibat (ay. 3-5) atau bercerai (ay. 27). “Kehidupan selibat demi Kerajaan Allah tidak hanya tidak berlawanan dengan martabat perkawinan, namun mensyaratkan dan meneguhkannya. Perkawinan dan kehidupan selibat adalah dua hal yang melambangkan dan mempraktekkan satu misteri perjanjian Allah dengan umat-Nya. Ketika perkawinan tidak dijunjung tinggi, maka kehidupan selibat tidak dapat eksis; ketika seksualitas manusia tidak dinilai sebagai sesuatu yang berharga yang diberikan oleh Sang Pencipta, maka pengorbanannya demi Kerajaan Allah menjadi kehilangan artinya.”[6]

7:28 “kesusahan badani” Ini tidak dimaksudkan untuk merendahkan perkawinan. Hubungan suami istri dalam perkawinan di mana terjadi persatuan yang intim dan murni adalah suatu yang agung dan terhormat:….ini merupakan tindakan pemberian diri yang memperkaya pasangan dengan suka cita dan ucapan syukur.[7].

7:33 “perkara duniawi”: menunjukkan bahwa mereka yang menikah tidak dapat mengabaikan kebutuhan- kebutuhan material dalam keluarga. Bahkan suami (kepala keluarga) tidak dapat menyenangkan Tuhan jika ia tidak memenuhi kebutuhan keluarganya. “Adalah suatu kesalahan jika mereka [suami dan istri]tidak memasukkan kehidupan keluarga bagi perkembangan rohani mereka. Kesatuan perkawinan, pendidikan anak dan usaha memenuhi kebutuhan keluaraga…. dan hubungan- hubungan dengan orang lain dalam komunitas- semua ini adalah keadaan umum manusiawi yang harus dikuduskan oleh pasangan suami istri.[8] Maka tidak benarlah jika seseorang terlalu aktif mengikuti kegiatan kerasulan awam, sampai menelantarkan keluarga dan kebutuhan keluarganya sendiri.

7:29-31 St. Paul mengingatkan pada kita bahwa hidup ini singkat (lih. Rom 13:11-14; 2 Pet 3:8; 1 Yoh 2:15-17) agar kita dapat menggunakan sebaik-baiknya dari waktu yang ada untuk melayani Tuhan. Maka kita harus tidak terikat pada hal-hal duniawi, supaya kita tidak diperbudak oleh apapun dan siapapun (lih. 1 Kor 7:23; Lumen Gentium 42), tetapi selalu mempunyai pandangan ke arah kehidupan kekal.

7:35 Ayat ini dimaksudkan oleh Rasul Paulus untuk menunjukka bahwa orang-orang yang tdiak menikah mempunyai kesiap-sediaan yang lebih untuk melayani Tuhan.

7:36-38 Terdapat dua teori untuk menjelaskan ayat-ayat ini: 1) Rasul Paulus mengacu kepada kebiasaan saat itu di mana seorang Kristen dapat menerima seorang perawan Kristen di rumahnya untuk mencegah keluarga perempuan itu yang masih pagan untuk memaksanya menikah. 2) Rasul Paulus menujukan ajaran ini kepada para bapa atau bapa angkat yang menurut kebiasaan saat itu mempunyai kuasa untuk memutuskan apakah anak perempuannya akan menikah atau tidak. Dalam hal ini, “baiklah mereka kawin”/ let them marry sebenarnya harus diterjemahkan sebagai “he can decide that she marry.”

Walaupun penyampaian dalam paragraf ini sepertinya tidak jelas, namun maksud utama Rasul Paulus tetap jelas, yaitu, bahwa perkawinan adalah baik dan kudus, tetapi tak seorang-pun wajib untuk menikah; mereka yang dengan panggilan ilahi  -“ia yang mempunyai keyakinan ini di dalam hatinya”- dipanggil untuk hidup selibat melakukan hal yang lebih baik (lih. ay. 38).

7:39-40 Mengikuti Rasul Paulus, Gereja selalu mengajarkan bahwa ikatan perkawinan hanya dapat dipisahkan oleh kematian salah satu dari pasangan, dan ia yang masih hidup dapat menikah lagi. Namun menurut anjuran Rasul Paulus, lebih baik bagi yang masih hidup itu untuk tetap tidak menikah, dan melayani Tuhan, jika itu kehendak Tuhan.

Kesimpulan

Melihat pentingnya makna kedua panggilan hidup ini, memang sebaiknya para pemuda/i Katolik merenungkannya sebelum membuat keputusan. Baik perkawinan maupun hidup selibat merupakan jalan yang dapat menuntun seseorang kepada kekudusan, namun perlu direnungkan secara khusus dalam kondisi kita masing-masing, “Apa kehendak Tuhan bagiku?” “Dengan cara apa aku dapat memuliakan Tuhan dengan lebih baik?” Dan jika kita sudah ‘terlanjur’ memilih jalan dan status hidup kita, kita tak perlu resah, karena setiap jalan dan keadaan kita, tetap dapat membawa kita kepada kekudusan, asalkan kita hidup sesuai dengan perintah-perintah-Nya, terutama perintah kasih kepada Tuhan dan kasih kepada sesama.


CATATAN KAKI:
  1. St. Josemaria Escriva, Conversations, 91 []
  2. lihat Paus Yohanes Paulus II, Familiaris Consortio, 20 []
  3. lihat St. Yohanes Krisostomus, Hom., on 1 Cor, 19, ad loc. []
  4. St. Josemaria Escriva, Friends of God, p.35 []
  5. Pius XII, Sacra virginitas, 5 []
  6. Yohanes Paulus II, Familiaris Cansortio, 16 []
  7. Lihat Vatican II, Gaudium et Spes, 49 []
  8. St. Josemaria Escriva, Christ is Pasiing by, 23 []
Share.

About Author

Stefanus Tay, MTS dan Ingrid Listiati, MTS adalah pasangan suami istri awam dan telah menyelesaikan program studi S2 di bidang teologi di Universitas Ave Maria - Institute for Pastoral Theology, Amerika Serikat.

67 Comments

  1. Saya mau bertanya tentang saran dari Rasul Paulus tentang hidup selibat. Apakah hidup selibat disini diarahkan untuk hidup membiara atau hidup selibat sebagai rasul awam?

    • Shalom Steven,

      Prinsip dari 1 Kor 7 adalah untuk memberikan nasihat bahwa setiap orang dipanggil dalam kapasitas yang berbeda-beda sesuai dengan cara hidup dan kekhasannya masing-masing. Rasul Paulus menuliskan, “Namun demikian alangkah baiknya, kalau semua orang seperti aku; tetapi setiap orang menerima dari Allah karunianya yang khas, yang seorang karunia ini, yang lain karunia itu.” (1Kor 7:7) Seseorang dapat saja menikah atau hidup selibat. Namun, keduanya harus semakin memuliakan Allah.

      Rasul Paulus memang memberikan nasihat ada orang yang dipanggil untuk selibat. Tidak dijelaskan apakah yang dipanggil selibat untuk membiara atau sebagai rasul awam. Namun, keduanya adalah sama baiknya. Karena hal ini adalah keputusan yang besar, maka alangkah baiknya kalau orang yang mau mempertimbangkan hal ini harus memikirkannya dengan sungguh-sungguh, dengan cara melakukan proses discernment dan juga mempunyai pembimbing rohani. Semoga dapat membantu.

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      stef – katolisitas.org

  2. Shalom..

    Saya sedang kalut sekali akhir2 ini. Sebenarnya saya punya keinginan sejak belia untuk hidup membiara selepas SMA, namun saat ini usia saya telah mencapai 22 tahun. Lagipula orang tua saya tidak menghendaki saya untuk hidup selibat, mungkin karena takut saya gagal membiara dan sendirian di masa tua. Pada masa itu hingga sekarang saya telah membina hubungan dengan lelaki muslim selama 8 tahun. Dulu saya cukup sreg dengan dia tapi akhir2 ini banyak hal dari dia yang membuat saya jadi takut dan ragu untuk melanjutkan ke jenjang yang lebih serius. Walau begitu, keluarganya sudah setuju dengan saya dan merencanakan pernikahan kami. Apa yang harus saya lakukan, saya sedih sekali, saya meminta pada Tuhan agar datang seseorang yang baik bagi saya setidaknya beri petunjuk apakah saya harus menikah atau tidak. Tapi keinginan membiara apakah masih mungkin bagi saya, mungkin sudah tidak karena sudah tidak murni kesannya hanya jadi pelampiasan saja, walau tidak demikian. Di manakah Tuhan saat ini kenapa Tuhan biarkan saya pada lelaki yang melangkahi iman dan Tuhan saya. Ada perasaan sakit hati ketika pacar saya merendahkan iman dan Tuhan saya. Sudah berani begitu sekarang, apalagi kelak. Bukan itu saja, yang seiman dengan saya juga tak begitu baik untuk saya. Rasanya saat ini jodoh saya sedang dikaburkan. Saya tidak melihat ada yang benar2 bisa diandalkan. Padahal saya tidak juga menuntut sesuatu yang aneh2 dari lelaki. Apakah manusia memang diciptakan berpasang2an? apakah salah dan rendah jika manusia memilih untuk tidak menikah? itu kesan yang diungkapkan pacar saya.

    • Shalom Josia,

      Panggilan untuk masuk biara pada dasarnya adalah suatu anugerah. Maka layaknya anugerah, sikap yang tepat adalah diterima dan ditanggapi dengan ucapan syukur, bukan dengan rasa terpaksa. Sebab dengan masuk biara dan hidup selibat untuk Kerajaan Allah, seseorang diarahkan untuk secara suka rela memberikan dirinya sepenuh-penuhnya untuk Allah, sebagai tanggapan atas anugerah kasih yang telah ia terima terlebih dahulu dari Allah. Jika sebelum membuat keputusan itu ia merasa terpaksa, maka kemungkinan besar ia tidak terpanggil untuk hidup selibat untuk Kerajaan Allah, sebab bagi yang sungguh terpanggil, ia akan dengan sukarela dan bahkan dengan suka cita menyerahkan keseluruhan dirinya untuk Tuhan. Sebab bahkan ia berpikir, bahwa jika ia menikahpun, ia tidak akan dapat bahagia, sebab keseluruhan kasihnya sudah diberikan kepada Tuhan. Hidup selibat untuk Kerajaan Allah adalah sesuatu yang ‘alangkah baik’, -jika kita meminjam perkataan dari Rasul Paulus (lih. 1Kor7:7). Karena mereka yang melakukannya, telah hidup sebagaimana di Surga kelak kita semua akan hidup, yaitu tidak kawin dan dikawinkan, melainkan hidup seperti malaikat (lih. Mat 22:30; Mrk 12:25), sepenuhnya bersatu dengan Allah. Mereka yang tidak mengimani Kristus dan juga tidak mengimani ajaran Kristus, akan sulit menerima ajaran ini. Namun bagi kita yang mengimani Kristus dan mengimani Sabda-Nya, kita dapat menerima bahwa memang ada orang-orang tertentu yang membuat dirinya tidak kawin -menurut Sabda Yesus- “karena kemauannya sendiri oleh karena Kerajaan Sorga” (Mat 19:12). Mereka telah diberi pengertian, pengharapan dan keinginan yang kuat untuk mengalami persatuan yang penuh dengan Allah itu, bahkan sejak dalam kehidupan mereka di dunia ini. Tentu ini bukan sesuatu yang rendah, namun sebaliknya, adalah sesuatu yang luhur dan mulia!

      Nah sekarang tentang kasus Anda. Agaknya, dari surat Anda, nampak sekilas bahwa Andapun sebenarnya tidak begitu sreg dengan keputusan menikah dengan seseorang yang tidak seiman dengan Anda. Jika Anda tetap mengikutinya, maka terdapat kemungkinan Anda menyesali keputusan Anda di kemudian hari, karena Anda sebenarnya telah mengetahui ada yang tidak pas di hati Anda, yaitu ketika pasangan Anda ‘melangkahi iman dan Tuhan Anda’. [Saya meminjam kata-kata Anda].

      Maka, silakan menemui pastor paroki Anda atau pembimbing rohani Anda, yang kepadanya Anda rutin mengaku dosa, dan sampaikan kepadanya pergumulan Anda ini. Mohonlah bimbingan darinya, dan dengarkanlah nasehatnya.  Atau, jika saya boleh mengusulkan, Anda perlu mengikuti retret pribadi untuk memeriksa batin dan hati nurani Anda, tentang apakah jalan hidup yang akan Anda tempuh. Yang pertama perlu Anda temukan dari dalam hati Anda adalah apakah Anda memutuskan untuk menikah atau hidup selibat untuk Kerajaan Allah. Janganlah terlalu cepat menyalahkan Tuhan seolah Tuhan tidak mengirimkan jodoh yang seiman kepada Anda. Adakah Anda bergaul dalam komunitas gerejawi di paroki/ keuskupan Anda? Jika tidak, ya mungkin saja agak sulit bagi Anda untuk menemukan kenalan yang seiman dengan Anda. Atau kalau dorongan untuk masuk biara semakin kuat, silakan mencari bimbingan rohani dari pastor Anda, dan silakan mencari tahu tentang ordo mana yang kemungkinan menjawab kerinduan batin Anda. Apapun jalan yang Anda pilih, ketahuilah bahwa keduanya dapat menuntun Anda kepada kekudusan, asalkan Anda mau terus bekerjasama dengan rahmat Tuhan dan melakukan kehendak dan perintah-Nya.

      Mungkin saat-saat inilah Anda perlu berdoa dengan lebih sungguh, entah dengan Novena, atau dengan mengikuti Perayaan Ekaristi setiap hari. Mohonlah pimpinan Tuhan untuk membuat keputusan yang sangat penting ini, yang akan menentukan kehidupan Anda selanjutnya. Namun percayalah bahwa Tuhan tidak meninggalkan Anda, sebab Ia sungguh mengasihi Anda. Jika Anda mengandalkan Dia, Ia akan menyatakan kehendak-Nya kepada Anda dan memampukan Anda untuk menanggapi-Nya.

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      Ingrid Listiati- katolisitas.org

  3. Salam pak Stef/Ibu Ingrid,

    Saya masih kurang mengerti beberapa hal, mohon bantuannya untuk menerangkan:

    1) Pada 1 Kor 7:7, apakah karunia/rahmat istimewa yang dimaksud rasul Paulus ini adalah karunia yang sama dikatakan oleh Yesus pada Mat 19:11?

    2) Apakah karunia ini diberikan pada orang-orang tertentu yang jumlahnya terbatas, atau bisa diberikan pada hampir semua orang? Apakah semua orang yang saat ini hidup selibat, bisa kita katakan bahwa mereka semua mempunyai karunia ini?

    3) Bagaimana kita bisa tahu bahwa kita telah memperoleh karunia ini? Jika kita merasa tidak yakin memiliki karunia ini, apakah berarti sebaiknya kita menikah?

    Pada artikel di atas bagian penjelasan ayat 7:1-9,
    “…Mengingat keadaan moral di Korintus yang sangat aktif dipengaruhi oleh ketidakmurnian sehingga dapat meningkatkan banyak godaan (ay. 2, 5, 9), maka lebih baik bagi mereka yang tidak mempunyai karunia untuk hidup selibat untuk menikah. Namun …. Di sini Rasul Paulus hanya menganjurkan agar bagi yang terpanggil untuk hidup selibat, namun bagi yang tidak terpanggil/ yang tidak mempunyai karunia untuk hidup selibat, agar tidak hidup selibat dan karenanya menanggung resiko tidak dapat mengatasi godaan tersebut.”
    Bagaimana kita bisa cukup yakin kita bisa menguasai diri / mengatasi godaan yang ada atau tidak?

    4) Bagaimana jika misalnya seseorang yakin dalam hatinya dan menetapkan untuk selibat, namun setelah bertahun-tahun berikutnya menyadari bahwa sebenarnya dia tidak mampu untuk hidup selibat / tidak mampu hidup sendiri mengatasi godaan2, sedangkan usianya sudah tidak muda lagi sehingga peluang untuk memperoleh pasangan nyaris tidak ada?

    5) Agak keluar dari pembahasan, saya ingin mengetahui bagaimana kebanyakan orang yang selibat, khususnya selibat awam, pada saat usia mereka lanjut dan tidak memiliki anak untuk merawat mereka di hari tua? Kalau mau jujur, sulit sekali untuk mengharapkan bantuan dan perhatian dari keluarga yang bukan anak kandung.

    Mohon bantuan penjelasannya pak Stef/Ibu Inggrid. Terima kasih.

    • Shalom Budi,

      1. Ya, karunia hidup selibat (tidak kawin) untuk memusatkan perhatian kepada perkara Tuhan sebagaimana disebutkan oleh Rasul Paulus dalam 1 Kor 7:7-8, 32-35, adalah mengacu kepada hidup selibat oleh karena Kerajaan Surga, yang disebutkan oleh Kristus pada Mat 19:12.

      2. Karunia hidup selibat untuk Kerajaan Allah tidak diberikan kepada semua orang, namun kepada orang-orang tertentu menurut kehendak-Nya. Tidak semua orang yang saat ini hidup selibat dapat dikatakan memiliki karunia ini, namun mereka dapat memintanya kepada Tuhan dan Tuhan dapat mengabulkannya. Tentang karunia hidup selibat yang akan diberikan oleh Allah Bapa kepada para imam yang meminta kepada-Nya dengan rendah hati dan sungguh-sungguh, Paus Paulus VI dalam surat ensikliknya, Sacerdotalis Caelibatus mengatakan:

      44. Holy virginity is a very special gift. Nevertheless, the whole present-day Church, solemnly and universally represented by the pastors responsible for her welfare ….manifested her absolute faith “in the Holy Spirit that the grace of leading a celibate life, so desirable in the priesthood of the New Testament, will be readily granted by God the Father if those who by ordination share the priesthood of Christ humbly and earnestly ask it together with the whole Church.” (Decree on the Priestly Ministry and Life, no. 16: AAS 58 (1966), 1015-16 [TPS XI, 462].)

      3. Bagaimana kita bisa tahu bahwa kita memperoleh karunia selibat? Pertama-tama tentu dengan sungguh-sungguh membawa hal ini dalam doa-doa kita, terutama melalui retret khusus yang dikenal dengan retret Panggilan, untuk meneliti batin tentang apakah kita terpanggil untuk membaktikan diri kepada Tuhan dengan hidup selibat, atau tidak. Dalam perjalanan sampai kepada keputusan tersebut, hal panggilan hidup selibat untuk Kerajaan Allah juga harus diuji dan diterima oleh pihak otoritas dalam Gereja yang bertanggungjawab dalam pelayanan ini (lih. Sacerdotalis Caelibatus 15).

      Seringkali, menurut kesaksian para imam/ para biarawan/biarawati, keyakinan akan panggilan ini sesungguhnya bertumbuh seiring dengan waktu. Semakin panggilan itu diikuti dengan sungguh, semakin rahmat Allah ditambahkan sehingga hidup selibat tidak dirasakan sebagai beban, tetapi sebagai pemberian sukarela kepada Allah yang dilakukan dengan sukacita yang keluar dari sebuah pilihan yang dibuat demi kasih kepada Kristus (lih. Sacerdotalis Caelibatus 72). Sebab melalui hidup selibat untuk Kerajaan Allah, seseorang dapat dengan lebih sempurna mengikuti teladan Kristus, yang selama hidup-Nya di dunia menjalani kehidupan selibat, dan dengan demikian mempunyai perhatian dan kasih yang sempurna kepada Allah Bapa dan umat manusia (lih. Sacerdotalis Caelibatus 21). Seorang imam akan menerima kekuatan dan suka cita yang baru saat ia memperdalam motivasinya dan keyakinannya bahwa ia telah memilih bagian yang lebih baik, melalui doa dan meditasi (lih. Sacerdotalis Caelibatus 74).

      Sebaliknya, jika dalam ketulusan hati kita memeriksa diri, selalu timbul dorongan untuk hidup menikah dan membentuk keluarga, maka kemungkinan memang hidup selibat bukan panggilan hidup kita. Namun jika kita memilih untuk menikah, motivasi utama bukanlah untuk menyalurkan keinginan daging, tetapi untuk memberikan diri sepenuhnya kepada pasangan hidup kita. Dengan demikian, kitapun mengikuti teladan Kristus mengasihi, sebab hubungan kasih suami istri mengambil teladannya dari kasih Kristus kepada Gereja.

      Bagaimana kita bisa cukup yakin kita bisa menguasai diri/ mengatasi godaan? Jika kita mengandalkan Tuhan dan janji-Nya kepada kita bahwa segala perkara dapat kita tanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepada kita (lih Flp 4:13), maka kita dapat yakin bahwa jika kita berjuang sungguh-sungguh di dalam rahmat-Nya, maka Tuhan akan memampukan kita untuk menguasai diri dan menolak godaan.

      4. Bagaimana jika seseorang yakin untuk hidup selibat di masa mudanya, namun ternyata bertahun-tahun kemudian meragukannya/ menyadari bahwa itu bukan panggilannya? Tentu jawabnya tergantung dari kasusnya. Perlu diingat di sini bahwa keputusan untuk hidup selibat dan terutama selibat untuk Kerajaan Allah, adalah keputusan yang dibuat atas kehendak bebas dan bukan paksaan dari siapapun. Dan setiap keputusan itu memiliki konsekuensinya masing-masing. Dalam keadaan hidup selibat ini nampaknya ada dua keadaan:

      1) Jika seorang pernah berpikir untuk hidup selibat di masa mudanya, namun ia tidak terikat kaul selibat sebagai imam/ biarawan/biarawati, maka jika bertahun-tahun kemudian ingin menikah, ia dapat melakukannya, tentu jika ia bertemu dengan seseorang yang dapat mengasihi dan dikasihinya; dan menerimanya apa adanya. Jika kemudian dalam keadaan usia yang telah lanjut ia sulit menemukan pasangan, ini adalah sebuah konsekuensi yang perlu dihadapi dengan hati lapang, sambil terus berserah kepada penyelenggaraan Tuhan. Orang tersebut perlu melibatkan diri dalam komunitas gerejawi dan dalam pergaulan di lingkungan yang baik, sehingga membuka kemungkinan untuk bertemu dengan seseorang yang dapat menjadi pasangan hidupnya.

      2) Jika seseorang telah mempunyai kaul untuk hidup selibat (hidup sebagai imam/ rohaniwan/ rohaniwati) maka ia tidak dengan mudah dapat mengubah keputusannya, sebab ia terikat oleh kaul yang telah dibuatnya sendiri dengan kehendak bebasnya. Dalam kasus-kasus pelanggaran yang sangat berat dapat diberi dispensasi oleh pihak otoritas Gereja, namun tentu setelah melalui pemeriksaan yang seksama. Dalam memberikan dispensasi ini Gereja selalu bertindak dengan hati yang berat (with heartfelt regret) terutama pada kasus-kasus di mana terjadi krisis iman, kelemahan moral, kegagalan bertanggung jawab dan menjadi skandal bagi umat beriman (lih Sacerdotalis Caelibatus 84-88).

      5. Bagaimana keadaan masa depan kaum selibat awam? Sejujurnya tergantung dari masing-masing orang. Memang menurut perhitungan manusia mungkin sulit mengharapkan bantuan dari pihak keluarga besar, namun mari jangan mengabaikan juga campur tangan Tuhan. Yang terpenting, jika orang itu hidup dalam kemurahan hati dan ketulusan baik kepada Tuhan dan sesamanya, murah hati untuk selalu memberikan pertolongan dan tumpangan kepada sesama, semasa ia masih aktif bekerja, percayalah bahwa di saat ini maupun di masa tuanya, iapun akan menerima kemurahan baik dari Tuhan maupun sesamanya, sebagaimana dijanjikan oleh Tuhan sendiri dalam Mat 5:7.

      Sungguh, apapun pilihan yang kita putuskan dalam hidup ini pasti mempunyai konsekuensinya. Namun jika dijalani bersama Tuhan, menurut perintah-perintah-Nya dan kehendak-Nya, pasti Tuhan akan memelihara dengan cara-Nya sendiri yang melampaui pemikiran kita.

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      Ingrid Listiati- katolisitas.org

    • Terima kasih banyak, Bu Ingrid untuk penjelasan di atas yang sangat membantu pemahaman saya. Saya sendiri masih berusaha untuk belajar mengenai ajaran katolik yang lengkap.

      Saya ingin bertanya mengenai hal lain. Bagaimana jika seorang muda katolik (khususnya perempuan) yang karena dituntut/disuruh orangtuanya supaya lekas menikah, atau juga karena malu jika diperbincangkan masyarakat sekitar jika tidak kunjung menikah (yang umumnya dicap “tidak laku” dan disindir2), akhirnya kurang cermat atau agak ceroboh dalam memilih pasangan, atau dengan sekenanya menyanggupi saat dipertunangkan oleh orangtua meskipun pasangannya/tunangannya ada kelemahan2 sifat yang serius (seperti kurang menghargai orang lain, sombong, menganggap derajat perempuan lebih rendah, dll) atau tidak seiman, akhirnya dalam pernikahan banyak terjadi konflik yang serius, pasangannya sering menyakiti, tidak mengasihi sehingga dia tidak jarang sakit hati dan membenci pasangannya?
      Apakah sikapnya yang kurang cermat dalam menentukan pilihan hidup bisa dikatakan sebagai suatu dosa? mengingat adanya tuntutan orangtua yang kuat dan resiko cemoohan sekitar jika usia telah tidak muda lagi namun tidak kunjung menikah.
      Karena kenyataannya tidak sedikit orang muda – laki-laki maupun perempuan – yang mulai sekenanya saja dalam memilih pasangan jika usia sudah mulai tua.

      Mohon pendapat dari bu Ingrid mengenai hal ini. Terima kasih sebelumnya.

      • Sesungguhnya tidak ada keharusan bagi setiap orang untuk menikah, seolah kalau tidak menikah ia berbuat dosa. Sebab kita ketahui bahwa ada orang-orang tertentu yang memilih untuk hidup tidak menikah (selibat) untuk Kerajaan Allah, seperti para imam dan biarawan/ biarawati, dan cara hidup sedemikian diajarkan oleh Kristus (lih. Mat 19:12), dan bahkan dipilih-Nya sendiri. Demikian pula, ada sejumlah orang yang memilih untuk tidak menikah, walaupun juga tidak masuk seminari/ biara, dan dengan demikian memiliki waktu yang lebih penuh untuk berkarya baik dalam masyarakat maupun Gereja.

        Adalah suatu kenyataan yang memprihatinkan memang, jika seseorang menikah bukan karena keinginannya sendiri, tetapi karena takut dicap ‘tidak laku’ oleh keluarga dan masyarakat sekitarnya. Ini adalah kesalahan yang terlalu mahal untuk ‘dibayar’ akibatnya, jika ia menjadi asal pilih saja, tanpa sungguh mengenal dan mengasihi pasangannya itu. Jika ia mengetahui bahwa pernikahan adalah suatu yang baik dan sakral di hadapan Tuhan, namun ia melakukannya seolah hanya asal-an saja, maka ia sudah berdosa di hadapan Tuhan. Sebab dikatakan bahwa “jika seseorang tahu bagaimana ia harus berbuat baik, tetapi tidak melakukannya, ia berdosa” (Yak 4:17).

        Namun bukannya tidak mungkin, dari fakta bahwa akhirnya pasangan tersebut toh menikah dan menerima sakramen perkawinan, Tuhan tetap dapat berkarya untuk memampukan pasangan tersebut, jika keduanya bekerjasama dengan rahmat Tuhan, untuk membuat perkawinan mereka berhasil. Di sinilah penting kesediaan dari kedua belah pihak untuk bertobat dan kemudian bersama melihat bahwa tiada yang mustahil bagi Tuhan, asalkan mereka mau mengandalkan Tuhan.

        Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
        Ingrid Listiati- katolisitas.org

         

  4. shalom..
    saya umat katolik dari Malaysia..
    saya ingin tahu yang mana satu betul mengenai firman Tuhan pada Kor 7:36-38 “36.Inilah nasihat pada pasangan yg sudah bertunang,tetapi mengambil keputusan untuk tidak berkahwin.Jika lelaki itu merasa tidak bertindak dengan sepatutnya terhadap tunangnya dan jika dia tidak dapat menahan nafsunya,serta merasa harus berkahwin dengan gadis itu,hendaklah dia melakukan apa yang dikehendakinya.Dia tidak berdosa,jika mereka berkahwin.Tetapi jika seorang lelaki,tanpa paksaan sesiapa pun, mengambil keputusan untuk tidak berkahwin dengan tunangnya,dan jika dia dapat mengawal nafsunya dengan baik serta tahu akan apa yang hendak dilakukan,maka lebih baik dia tidak berkahwin dengan tunangnya.Dengan demikian orang yang berkahwin melakukan perbuatan yang baik.Tetapi orang yang tidak berkahwin melakukan perbuatan yg lebih baik”. Kitab suci ini diterjemahkan oleh The Bible Society of Malaysia.Kalau saya tidak salah, ayat ini sedikit berbeza pada kitab yg digunakan umat katolik.Dalam kitab katolik tiada ayat “Bertunang” dan kitab ini digunakan oleh kristian SIB(sidang injil borneo)dimana kebanyakan penganutnya di Negeri Sabah Malaysia.Mereka juga percaya pada Tuhan Yesus tp tidak percaya pada tritunggal.Saya dapat kitab ini dari teman saya,jd saya gunakan saja sebab saya fikir sama saja dengan kitab katolik tetapi setelah baca dan dibandingkan dengan kitab katolik ada berlainan sedikit.Maafkan saya sekiranya tersalah memberi pandangan,saya cuma ingin tahu.terima kasih..

    • Shalom Nani,

      Teks ayat tersebut menurut Vulgate (dalam versi Douay Rheims, terjemahan bahasa Inggris) adalah:

      But if any man think that he seemeth dishonoured with regard to his virgin, for that she is above the age, and it must so be: let him do what he will. He sinneth not if she marry.  For he that hath determined, being steadfast in his heart, having no necessity, but having power of his own will: and hath judged this in his heart, to keep his virgin, doth well. Therefore both he that giveth his virgin in marriage doth well: and he that giveth her not doth better.” (1 Cor 7:36-38)

      Dalam terjemahan bahasa Indonesia (LAI):

      “Tetapi jikalau seorang menyangka, bahwa ia tidak berlaku wajar terhadap gadisnya, jika gadisnya itu telah bertambah tua dan ia benar-benar merasa, bahwa mereka harus kawin, baiklah mereka kawin, kalau ia menghendakinya. Hal itu bukan dosa. Tetapi kalau ada seorang, yang tidak dipaksa untuk berbuat demikian, benar-benar yakin dalam hatinya dan benar-benar menguasai kemauannya, telah mengambil keputusan untuk tidak kawin dengan gadisnya, ia berbuat baik. Jadi orang yang kawin dengan gadisnya berbuat baik, dan orang yang tidak kawin dengan gadisnya berbuat lebih baik.”

      Demikianlah keterangan tentang ayat-ayat tersebut menurut The Navarre Bible:

      Terdapat dua macam teori sehubungan dengan 1 Kor 7:36-38. Yang pertama, Rasul Paulus mengacu kepada kebiasaan pada Gereja awal, di mana seorang pria Kristen dapat menerima perempuan muda Kristen di dalam rumahnya, untuk menjaga keperawanannya dan melindunginya dari paksaan keluarganya yang pagan untuk menikah. Kita mengetahui kebiasaan ini dari dokumen-dokumen di abad ke-2 dan ke-3….

      Teori yang kedua, adalah Rasul Paulus mengingatkan kepada para ayah/ guardian (ayah angkat) yang, menurut kebiasaan pada saat itu, harus membuat keputusan akhir apakah anak gadisnya itu menikah atau tidak menikah. Dalam kasus ini, terjemahan yang lebih tepat adalah, “Biarlah ia [sang ayah/ ayah angkat] berbuat apa yang dikehendakinya. Ia [sang ayah/ ayah angkat] tidak berdosa jika ia [anak gadisnya] menikah ….. (let him do what he will. He sinneth not if she marry….)” Maka maksudnya bukan “baiklah mereka kawin”, tetapi bahwa sang ayah/ ayah angkat itu dapat memutuskan agar anak gadisnya itu menikah.

      Walaupun tidak dapat dipastikan keadaan seperti apakah yang sedang dibicarakan oleh Rasul Paulus di sini, namun maksud dari Rasul Paulus jelas adalah bahwa perkawinan adalah sesuatu yang baik dan kudus, namun tak seorangpun wajib untuk menikah. Ia yang “telah mengambil keputusan untuk selibat/  tidak kawin/ he that hath determined, being steadfast in his heartto keep his virgin,” [yang menjaga keperawanan anak gadisnya], bahkan melakukan hal yang lebih baik.

      Maka nampaknya, terjemahan LAI lebih mengacu kepada teori yang pertama. Namun demikian terjemahan SIB (Sidang Injil Borneo) nampaknya tidak sesuai dengan terjemahan LAI, maupun terjemahan Vulgata, karena pada terjemahan SIB terdapat penambahan frasa kalimat, “Inilah nasihat pada pasangan yang sudah bertunang, tetapi mengambil keputusan untuk tidak berkahwin….” yang tidak ada di teks aslinya.

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      Ingrid Listiati- katolisitas.org

  5. Salam.
    Bagaimana dgn seseorang yg memang memiliki orientasi seksual yg salah, sehingga tentu saja utk hidup kudus, dia tdk akan mgkn melalui jalan pernikahan, kecuali jika dipaksakan atau dia berhasil sembuh dan kembali normal atas pertolongan Tuhan. Nah, apakah seseorang spti layak tidak utk jg hidup selibat melayani Tuhan? Dari segi motivasi memang inilah awalnya, namun bkn satu2nya.
    Dan mgkn bsa dijelaskan orang yg hidup selibat apakah hrs slalu jd biarawan/biarawati atau org2 yg spti Romo, suster, dsb? Kalau hnya mjd awam saja dlm profesi pd umumnya spti dokter, pengacara, guru, dsb bisa tdak?
    Dan apa saja yg bisa atau harus dilakukan sebagai orang2 yg selibat?
    Dan pertnyaan tambahan sy: apakah mgkn bhwa terlahir dgn kecenderungan homoseksual itu adalah suatu takdir yg mgkn memang ditentukan Tuhan mjd slh satu cara memanggil org tsb hidup sepenuhnya bagiNya (selibat) sehingga mjd salah 1 dasar pertimbangan bahwa yg diinginkan Tuhan bagi hidupnya adalah selibat.
    krn sy melihat di sekitar kita di zaman ini (entah di zaman2 dlu, krn sy jg tdak pernah tahu ada pengikut Tuhan yg homo) memang byk org2 spti itu yg mgkn tdk kita ketahui tp ternyata jg spti itu krn memakai topeng, sehingga seharusnya pasti lah ada maksud di balik terlahirnya org2 itu.

    Terima kasih atas kesediaannya menjawab demi membantu memutuskan jalan hidup. Maaf jika topiknya mjd tercampur dgn topik ttg kaum terbuang spti homoseksual.

    Salam. Tuhan Yesus mengasihi kita semua. amin

    • Yohanes Dwi Harsanto Pr on

      Salam Jericho,
       
      Dalam “Instruction Concerning the Criteria for the Discernment of Vocations with regard to Persons with Homosexual Tendencies in view of their Admission to the Seminary and to Holy Orders”, silakan klik di sini, homoseksual aktif tidak diizinkan hidup dalam kondisi sebagai calon imam. Tentu saja kecenderungan ini pun menyulitkan dia untuk menjadi  biarawan dan biarawati. Jika mereka pasif, tentu saja mungkin.  Namun bagaimanapun menurut pengalaman Gereja, saudara/i yang homoseks “pasif” ini pun susah dijamin tetap pasif sampai mati dibandingkan dengan yang heteroseksual, lebih-lebih jika lingkungan terdiri dari gender yang sama. Karena itu, Gereja melalui Sri Paus Benediktus XVI menegaskan larangan seminari menerima kaum homoseksual masuk.
       
      Bagi saudara-saudari homoseksual, selibat awam sangat mungkin. Mereka tetap menjadi awam dengan profesi masing-masing namun tidak menikah demi Kerajaan Allah. Mereka membentuk komunitas yang berkumpul secara berkala untuk membuat rekoleksi bersama, dan menyumbangkan dharma bakti pelayanan bagi Gereja, namun bisa pula tanpa berkomunitas secara khusus dengan sesama selibat awam. Kita yakin bahwa rencana Tuhan yang Mahatinggi dan Mahaadil tetap indah bagi semua. Refleksi ini sejajar dengan refleksi mengenai adanya penderitaan dan ketidaksempurnaan di dunia ciptaan-Nya seperti telah pernah dibahas di bagian lain website ini misalnya di artikel “Mengapa Tuhan membiarkan penderitaan”, klik di sini

      Salam
      Yohanes Dwi Harsanto Pr

    • Rm Yohanes Dwi Harsanto, Pr on

      Salam Yuri,

      Kutipan dari Wikipedia berikut semoga membantu walau secara sangat umum. “Monastisisme dalam kekristenan memiliki pelbagai bentuk kehidupan religius guna menanggapi panggilan Yesus dari Nazaret untuk mengikutiNya. Monastisisme Kristiani mulai tumbuh sejak permulaan sejarah Gereja, mengikuti teladan-teladan dan gagasan-gagasan dari Kitab Suci, termasuk yang tercantum dalam Kitab Suci Perjanjian Lama, meskipun kitab tersebut tidak mewajibkannya dijalani dalam institusi tertentu. Monastisisme Kristiani ditata menurut peraturan rohani (misalnya Peraturan Santo Basilius, Peraturan Santo Benediktus) dan, di masa kini, hukum Gereja.

      Monastisisme Kristiani merupakan suatu jalan hidup rohani (yang juga disebut “jalan penyempurnaan”) yang disambut sebagai sebuah panggilan Allah dari keinginan untuk beroleh kehidupan kekal dalam hadirat-Nya. Pada Khotbah di Bukit dalam sabda-sabda bahagiaNya (jalan hidup yang benar menurut hukum Allah), Yesus menyampaikan kepada khalayak ramai yang mendengarkan khotbahNya untuk menjadi “Sempurna sama seperti Bapamu di Surga adalah sempurna” (Mat. 5:48). Tatkala berbicara kepada para pengikutNya, Yesus menyampaikan pula sebuah undangan untuk hidup selibat bagi orang-orang “yang kepadanya telah diberikan karunia” (Mat. 19:10-12); dan ketika ditanya apa lagi yang perlu selain menaati hukum Taurat agar dapat “masuk ke dalam kehidupan kekal”, Dia menganjurkan mereka untuk menjual segala harta benda duniawi yang mereka miliki lalu membagi-bagikan hasil penjualannya kepada orang-orang miskin kemudian mengikuti Dia, “jikalau engkau ingin menjadi sempurna” (Mat. 19:16-22 = Mrk. 10:17-22 = Luk. 18:18-23.)

      Dalam Kitab Suci Perjanjian Baru terdapat bukti mengenai kehidupan monastik Kristiani, seperti pelayanan yang dilaksanakan oleh para janda dan para perawan. Pada akhirnya, pertama-tama di Syria dan kemudian di Mesir, umat Kristiani mulai merasa terpanggil juga untuk menjalani kehidupan monastik eremitik (dengan semangat “Padang Gurun” dari Perjanjian Lama guna mencapai pembaharuan rohani dan kembali kepada Allah). Santo Antonius Agung disebut-sebut oleh Athanasius sebagai salah seorang “Rahib Pertapa” awal. Mulai di Mesir, kehidupan monastik menumbuhkan monastisisme senobitik sebagaimana yang terutama dikenal di Barat. Khususnya di Timur Tengah monastisisme eremitik tetap menjadi pola monastisisme yang paling umum sampai surutnya kekristenan Syria pada akhir Abad Pertengahan.

      Akan tetapi tidak semua orang cocok dengan kehidupan terpencil, dan muncul banyak laporan mengenai adanya pertapa-pertapa yang mengalami gangguan mental. Jelas dibutuhkan bentuk-bentuk bimbingan rohani yang terorganisir; dan sekitar tahun 318 Santo Pakhomius mulai mengorganisir para pengikutnya dalam apa yang nantinya menjadi biara senobitik Kristiani yang pertama. Tak lama kemudian, lembaga-lembaga serupa didirikan pula di seluruh padang gurun Mesir serta seluruh kawasan Timur Kekaisaran Romawi. Biara-biara Timur yang termasyhur meliputi:

      Biara Santo Antonius, yang merupakan biara Kristiani tertua di dunia.
      Mar Awgin mendirikan sebuah biara di Gunung Izla di Nisibis, Mesopotamia (~350), dan dari biara ini tradisi senobitik tersebar ke seluruh Mesopotamia, Persia, Armenia, Georgia, dan bahkan sampai ke India dan Tiongkok.
      Santo Sabbas Yang Disucikan mengorganisir para biarawan di padang gurun Yudea ke dalam sebuah biara dekat Betlehem (483), dan biara ini dianggap sebagai induk semua biara Gereja-Gereja Ortodoks Timur
      Biara Santa Katerina, Gunung Sinai didirikan antara tahun 527 dan 565 di padang gurun Sinai atas perintah Kaisar Yustinianus I.

      Di Barat, perkembangan terpenting terjadi tatkala peraturan-peraturan bagi komunitas-komunitas monastik ditulis, Peraturan Santo Basilius dianggap merupakan yang pertama. Tanggal persis ditulisnya Peraturan Sang Guru masih problematis; namun peraturan tersebut dianggap mendahului Peraturan Santo Benediktus yang disusun oleh Benediktus dari Nursia bagi biaranya di Monte Cassino, Italia (± 529), dan biara-biara lain yang telah didirikannya. Peraturan Santo Benediktus menjadi peraturan yang paling umum dipergunakan selama Abad Pertengahan dan masih tetap dipergunakan sekarang ini. Peraturan Augustinian , karena keringkasannya, telah diadopsi oleh berbagai komunitas, terutama oleh para Kanon Reguler.

      Sekitar abad ke-12, ordo Fransiskan, Karmelit, Dominikan, dan Augustinian memutuskan untuk hidup dalam biara-biara perkotaan di tengah-tengah umat ketimbang di pertapaan-pertapaan terpencil.
      Kini wujud-wujud monastisisme kristiani, yang banyak di antaranya bersifat ekumenis, berkembang di tempat-tempat seperti Komunitas Monastik Bose di Italia, Persaudaraan Monastik Yerusalem di seluruh Eropa, dan Komunitas Taizé di Perancis, serta gerakan Neomonastisisme yang terutama bersifat protestan injili di Amerika.

      Sumber: link to id.wikipedia.org

      Salam
      Yohanes Dwi Harsanto Pr

  6. Saya dalam poses pembatalan pernikahan, karena mantan suami kembali ke agamanya terdahulu dan akan menceraikan saya jika saya tidak mengikutinya, dan itu telah terjadi, secara sipi/negara kami telah bercerai. Saat ini saya mempunyai anak usia 2 tahun, apa dengan keadaan seperti ini saya bisa hidup selibat tapi dengan membawa anak? saya hanya ingin hidup bisa lebih berati dengan melayani… trimakasih

    • Shalom Indah,

      Sejujurnya, melayani tidak harus dengan kehidupan selibat, walaupun memang seseorang yang memilih untuk hidup selibat demi Kerajaan Allah, mempunyai kesempatan dan keadaan yang lebih leluasa untuk melayani Tuhan. Dalam kondisi Anda, yaitu yang telah mempunyai anak usia 2 tahun, maka tanggung jawab Anda yang terbesar di hadapan Tuhan adalah untuk membesarkan dan memelihara anak Anda tersebut, agar dapat bertumbuh menjadi anak yang baik dan berkenan di hadapan Allah. Oleh karena itu, meskipun Anda memperoleh izin pembatalan perkawinan sekalipun, maka Anda tidak dapat mengabaikan tanggungjawab Anda untuk membesarkan dan mendidik anak Anda tersebut. Namun demikian, kehidupan selibat tetap dapat Anda lakukan sendiri, tanpa harus memasuki biara. Anda dapat mencurahkan perhatian Anda sepenuhnya untuk mendidik anak Anda, melibatkan diri di dalam kegiatan-kegiatan gerejawi di paroki Anda dan menerima sakramen-sakramen Gereja, dan dengan demikian Anda dapat turut memberikan diri Anda dalam kehidupan Gereja.

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      Ingrid Listiati- katolisitas.org

    • selibat merupakan suatu komitmen bukan merupakan suatu pelampiasan karena sudah sakit hati dengan pasangan kita, oleh karna itu ada baiknya kita menenangkan diri sejenak dan mengetahui bahwa hidup selibat bukan merupakan pelarian kita.

      [Dari Katolisitas: Ya, pandangan ini benar]

Add Comment Register



Leave A Reply