Doa Bapa Kami, doa yang sempurna

49

Pendahuluan

Ingatan saya melayang ke tahun-tahun yang silam, ketika saya masih bergabung dalam kegiatan mudika. Dalam kegiatan mudika waktu itu, kelihatannya tak banyak orang yang dengan suka cita mau menawarkan diri untuk memimpin doa. Kebanyakan, harus ditanya dahulu, dan jawabannya tak jarang yang seperti ini, “Kamu saja, ah, aku masih belum berani….” Semoga saja tidak demikian keadaannya sekarang, setelah semakin banyaknya kegiatan di paroki yang melibatkan perkembangan spiritualitas umat, termasuk para mudika dan OMK. Harus diakui, kita semua harus menyadari bahwa doa adalah nafas iman, dan karenanya kita harus menjadikan doa sebagai bagian yang terpenting dalam kehidupan kita. Maka sekarang pertanyaan yang sering muncul di benak kita adalah, “Jadi, bagaimana seharusnya kita berdoa?” Nah, kita tak perlu berkecil hati, karena ternyata para rasul juga pernah bertanya hal yang serupa kepada Kristus, “Tuhan, ajarlah kami berdoa…” (Luk 11:1), dan Tuhan Yesus mengajarkan kepada murid-murid-Nya, sebuah doa yang terindah: Doa Bapa Kami. Namun sayangnya, karena mungkin kita terlalu menghafalnya di kepala, maka malah makna perkataannya tidak turun sampai ke hati….

Doa yang sempurna yang harus didukung sikap batin

Doa Bapa kami merupakan salah satu warisan yang paling berharga, yang Tuhan Yesus berikan kepada kita. Melalui doa ini kita diajak oleh Kristus untuk memanggil Allah sebagai Bapa, sebab kita telah diangkat menjadi anak-anak Allah. Doa ini mengandung tujuh permohonan yang terbagi mejadi dua bagian, yang pertama untuk memuliakan Tuhan (6:9-10) sedangkan bagian kedua untuk kebutuhan kita yang berdoa (6:11-13).[1]. Doa ini mengandung pujian/ penyembahan kepada Allah, penyerahan diri kita kepada-Nya, pertobatan dan permohonan.
Namun, betapapun indahnya suatu doa, yang terpenting adalah bagaimana kita meresapkannya, sehingga kata-kata yang diucapkan bukan hanya sekedar hafalan tetapi sungguh-sungguh yang keluar dari hati. St. Teresa dari Avila memberikan satu tips yang sangat berharga, “Arahkanlah matamu ke dalam batin dan lihatlah di dalam dirimu…. Engkau akan menemukan Tuhanmu.”[2]. Maka sebelum kita mengucapkan doa apapun, kita harus mempersiapkan batin terlebih dahulu, supaya kita sadar kepada Siapa kita akan mengajukan doa kita, dan betapa Mahabesar dan MahaKasih-nya Dia, sehingga kita dapat menempatkan diri kita dengan layak. Sepantasnya kita menyadari betapa kecil, lemah, dan berdosa-nya kita, namun juga betapa besarnya kita dikasihi oleh Allah, di dalam Kristus Yesus.

Doa Bapa Kami

(berdasarkan Mat 6:9-13)
Bapa Kami, yang ada di surga,
dimuliakanlah nama-Mu, datanglah Kerajaan-Mu,
Jadilah kehendak-Mu di atas bumi seperti di dalam surga
Berilah kami rejeki pada hari ini,
dan ampunilah kesalahan kami
seperti kamipun mengampuni yang bersalah kepada kami
Dan janganlah masukkan kami ke dalam pencobaan
Tetapi bebaskanlah kami dari yang jahat. Amin.

Bapa Kami

Bapa, atau “Abba” (lih. Mk 14:36, Rom 8:15; Gal 4:6) dalam bahasa Aramaic adalah panggilan yang erat seorang anak kepada ayahnya. Oleh kasih-Nya kepada kita, Yesus mengizinkan kita memanggil Allah sebagai Bapa kita, karena Yesus mengangkat kita menjadi saudara- saudari angkatNya. Ya, setiap kita mengucapkan kata “Bapa”, selayaknya kita mengingat bahwa kita ini telah diangkat oleh Allah Bapa menjadi anak-anak-Nya oleh jasa Kristus Tuhan kita.  Allah yang begitu agung dan mulia, Ia yang begitu besar dan berkuasa, dapat kita panggil sebagai “Bapa”. St. Teresa dari Avila pernah mengatakan bahwa dalam kesehariannya saat merenungkan Doa Bapa Kami ini, tak jarang ia hanya berhenti pada kata “Bapa” saja, dan Tuhan sudah berkenan memberikan karunia sukacita kontemplatif yang tak terkira. Mari kita belajar dari St. Teresa, bahwa saat kita mengucapkan kata “Bapa”, kita sungguh meresapkannya dalam hati kita: ya, kita manusia yang lemah ini, boleh memanggil Dia, Bapa, karena kasih-Nya yang tak terbatas kepada kita. Saat kita katakan, “Bapa”…. resapkanlah bahwa kita berada dalam hadirat Allah yang Maha Mulia, namun juga yang Maha Pengasih. Ia yang lebih dahulu rindu kepada kita, sehingga kita diberikan kerinduan untuk berdoa, dan memanggil nama-Nya.

Bapa Kami: Perkataan “kami” di sini mengingatkan kita bahwa kita dapat memanggil Allah sebagai “Bapa” karena Kristus. Alangkah baiknya, jika dalam mengucapkan doa ini kita membayangkan bahwa kita berada di antara para rasul pada saat pertama kali Yesus mengajarkan doa ini kepada mereka. Bayangkan bahwa kita memandang Kristus yang mengajar kita untuk memanggil Allah sebagai Bapa kami, karena Kristus tidak hanya mengangkat “saya saja” menjadi saudara angkat-Nya, tetapi juga orang-orang lain yang dipilih-Nya, yaitu anggota-anggota Gereja. Oleh karena itu, Doa Bapa Kami ini merupakan doa Gereja,[3], doa yang ditujukan kepada Allah Bapa yang mengangkat kita semua menjadi anak-anak-Nya. Dan, mari kita renungkan juga, betapa besar harga yang telah dibayar oleh Kristus Sang Putera untuk mengangkat kita semua untuk menjadi anggota keluarga Allah! Sebab di kayu salib-lah Kristus telah menumpahkan Darah-Nya, Darah Perjanjian Baru dan Kekal, sehingga Darah itulah yang mengikat kita semua menjadi satu saudara.

Yang ada di surga: Ya, kita mempunyai seorang Bapa di surga, yang mengasihi kita sedemikian rupa, sehingga tak menyayangkan Anak-Nya sendiri untuk wafat bagi kita, supaya dosa-dosa kita diampuni dan kita dapat mengambil bagian dalam kehidupan ilahi-Nya.[4]

Dimuliakanlah nama-Mu, datanglah Kerajaan-Mu: : Ini merupakan kerinduan kita agar semakin banyak orang dapat mengenal Allah yang mulia dan kudus.[5] Dan ini juga seharusnya disertai dengan keinginan kita untuk dipakai Allah sebagai alat-Nya untuk memuliakan nama-Nya. “Dimuliakanlah nama-Mu, ya Tuhan, dalam keluargaku, pekerjaanku, perkataanku, segala sikapku….; Jadilah Engkau Raja dalam rumahku, pekerjaanku, studiku, dalam pikiran dan perbuatanku.” Ini mengingatkan kita agar kita jangan mencari dan mengejar kemuliaan diri sendiri dalam segala sesuatu, karena segala sesuatu yang ada pada diri kita sesungguhnya adalah milik Tuhan dan harus kita gunakan untuk kemuliaan nama Tuhan. Dan agar dalam setiap keputusan dan tindakan yang kita ambil, kita dapat menomorsatukan Tuhan, kiranya, keputusan/ tindakan apa yang terbaik yang bisa kulakukan untuk lebih memuliakan Tuhan?

Jadilah kehendak-Mu di atas bumi seperti di dalam surga: Ketaatan dan penyerahan diri pada kehendak orang lain mensyaratkan kerendahan hati, demikian pula penyerahan diri yang total kepada Tuhan. Sering manusia berkeras dalam memohon sesuatu kepada Allah, namun di sini kita melihat, Tuhan Yesus sendiri mengajarkan kepada kita untuk berserah kepada Allah Bapa. Sebab Bapa yang Maha Pengasih mengetahui apa yang kita butuhkan dan apa yang terbaik bagi kita, bukan saja untuk hidup kita di dunia, tetapi untuk hidup kita yang ilahi di surga kelak. Ungkapan penyerahan diri yang total ini mengingatkan kita akan doa Yesus di Taman Getsemani, “… tetapi bukanlah kehendak-Ku melainkan kehendak-Mulah yang terjadi.” (Luk 22:42). Karena ketaatan Yesus pada kehendak Bapa inilah, maka Ia menggenapi rencana keselamatan Allah Bapa, dengan wafat-Nya di salib dan kebangkitan-Nya. Semoga kitapun bisa taat dan menyerahkan diri kita secara total kepada Allah, sehingga kita dapat mengambil bagian dalam rencana keselamatan Allah bagi umat manusia.

Berilah kami rejeki pada hari ini: Yesus sangat mengasihi kita dan peduli pada kita, sehingga Ia mengajarkan kepada kita permohonan ini. Ia mengingatkan kepada kita bahwa rejeki  dan nafkah kita, “our daily bread“, adalah berkat dari Tuhan. Tuhanlah yang mengizinkan kita mendapatkan rejeki hari ini, memiliki kesehatan dan hidup sampai pada saat ini, sehingga dapat menikmati rejeki yang Tuhan berikan. “Berilah padaku rejeki hari ini, ya Tuhan, dan ingatkanlah aku bahwa semua rejeki yang kuterima adalah semata-mata berkat-Mu, dan bukan milikku sendiri.” Maka kitapun harus teringat pada orang lain, terutama mereka yang berkekurangan, agar merekapun beroleh berkat Tuhan. Selanjutnya, para Bapa Gereja, terutama St. Agustinus mengkaitkan “our daily Bread” dengan Ekaristi,[6] yang menjadi berkat/ rejeki rohani kita. Ini mengingatkan kepada kita agar kita tidak semata-mata mencari rejeki duniawi, tetapi juga berkat rohani. Bagi kita, berkat rohani yang tertinggi maknanya adalah Ekaristi, saat kita boleh menerima Kristus Sang Roti Hidup. Di sini kita diingatkan oleh para Bapa Gereja untuk memohon kehadiran Yesus, Sang Roti Hidup, di dalam hidup kita setiap hari. Dan jika “setiap hari” ini diucapkan setiap hari, maka artinya adalah selama-lamanya. “Semoga Tuhan Yesus, Sang Roti Hidup itu, sungguh menguatkanku dan menyembuhkanku hari ini, dan selama-lamanya.

Dan ampunilah kesalahan kami seperti kamipun mengampuni yang bersalah kepada kami: Dikatakan di sini bukan “ampunilah kami, seperti kami akan mengampuni yang bersalah kepada kami.” Maka seharusnya, pada saat kita mengucapkan doa ini, kita sudah harus mengampuni orang yang telah bersalah kepada kita atau yang menyakiti hati kita. Mari kita renungkan, kalimat yang sederhana ini namun sangat dalam artinya: Bahwa Tuhan akan mengampuni kita kalau kita terlebih dahulu mengampuni orang lain. Jadi artinya, kalau kita tidak mengampuni maka kitapun tidak beroleh ampun dari Tuhan. Betapa sulitnya perkataan ini kita ucapkan pada saat kita mengalami sakit hati yang dalam oleh karena sikap sesama, terutama jika itu disebabkan oleh mereka yang terdekat dengan kita. Namun Tuhan menghendaki kita mengampuni mereka, agar kitapun dapat diampuni oleh-Nya. Maka mengampuni orang lain sesungguhnya bukan saja demi orang itu, tetapi sebaliknya, demi kebaikan diri kita sendiri: supaya kita-pun diampuni oleh Tuhan.

Dan janganlah masukkan kami ke dalam pencobaan tetapi bebaskanlah kami dari yang jahat: Mari kita sadari bahwa kita ini manusia yang lemah dan mudah jatuh ke dalam dosa dan kesalahan. Kita belum sampai pada tingkat di mana kita benar- benar terbebas dari segala godaan dan pencobaan. Pencobaan itu bisa bermacam- macam: ketakutan menghadapi masa depan, sakit penyakit, masalah keluarga dan pekerjaan, dst, namun bisa juga merupakan ‘pencobaan rohani’, terutama godaan untuk menjadi sombong, karena merasa telah diberkati dengan aneka karunia dan kebajikan. Untuk yang terakhir ini, St. Teresa, mengingatkan bahwa kita harus selalu rendah hati, tidak boleh terlalu yakin bahwa kita tidak akan jatuh ke dalam dosa. Jangan sampai kita bermegah akan suatu kebajikan. St Teresa mengambil contoh, bahwa kita tidak boleh terlalu cepat menganggap diri sabar, sebab akan ada saatnya bila seseorang hanya sedikit saja menyinggung hati kita, namun langsung kesabaran kita itu hilang.  Maka sikap yang terbaik adalah selalu berjaga-jaga, menimba kekuatan dari Tuhan, dan menyadari bahwa kita sungguh tergantung kepada-Nya.

Ada banyak cara untuk meresapkan perkataan dalam doa Bapa Kami. Kita dapat berhenti sejenak, setelah kita mengucapkan satu kalimat, dan merenungkannya, atau kita dapat memilih satu bagian kalimat dalam doa Bapa Kami itu dan kita renungkan berulang kali sepanjang hari. Kedua cara ini dapat menghantar kita pada pemahaman yang lebih mendalam setiap kali kita mengulangi doa Bapa Kami di kemudian hari.

Contohnya, pada saat mengucapkan doa Bapa Kami, kita dapat meresapkannya demikian,

Bapa Kami yang ada di surga, ……………………………………………    Betapa bersyukurnya aku boleh menyebut Engkau, “Bapa”
Dimuliakanlah nama-Mu, Datanglah kerajaan-Mu …………………   Biarlah nama-Mu dimuliakan di dalam hidupku
Jadilah kehendak-Mu, di atas bumi seperti di dalam surga ……..   Aku mau taat dan menjadikan kehendakMu yang terutama
Berilah kami rejeki pada hari ini ………………………………………..   terutama rejeki rohani, yaitu Kristus Sang Roti Hidup
Dan ampunilah kesalahan kami …………………………………………   Kasihanilah aku, yang berdosa ini
seperti kamipun mengampuni yang bersalah kepada kami ……..   Berilah aku kekuatan untuk mengampuni sesama
Dan janganlah masukkan kami ke dalam pencobaan ………………  Sebab aku mengakui kelemahanku
tetapi bebaskanlah kami dari yang jahat ……………………………..   terutama terhadap kesombongan dan ketinggian hati

Kesimpulan

Maka jika kita perhatikan, walaupun singkat dan sederhana, sesungguhnya makna doa Bapa Kami sangatlah dalam. Jika kita belum melihatnya demikian, maka sudah saatnya kita mohon ampun kepada Tuhan, dan memohon kepada Roh Kudus untuk membantu kita untuk meresapkan doa ini. Sebab, jika kita perhatikan, doa spontan yang baik sesungguhnya mengambil sumber dari doa Bapa Kami ini. Misalnya: “Tuhan, aku bersyukur dan memuji Engkau (=Dimuliakanlah nama-Mu), karena Engkau sungguh baik (“Bapa”). Aku rindu menyenangkan-Mu, ya Tuhan, dan ingin melayani Engkau (Datanglah Kerajaan-Mu). Namun seringkali aku jatuh, dan melukai-Mu dengan dosa-dosaku. Kasihanilah aku ya Tuhan (Ampunilah kesalahan kami). Maka, kumohon ya Tuhan, dampingilah aku, supaya aku bisa memperbaiki diri, dan hidup lebih baik dari hari kemarin (Janganlah masukkan kami ke dalam pencobaan). Dan kumohon juga dari-Mu, berkat jasmani dan rohani agar aku dapat menjalani hari ini dengan baik (Berilah kami rejeki pada hari ini). Engkaulah Tuhan dan Allahku, kepada-Mulah aku berserah… (Jadilah kehendak-Mu, di atas bumi seperti di dalam surga). Amin.

Dengan demikian, dengan meresapkan doa Bapa Kami, kitapun dapat menilai, apakah doa-doa kita selama ini sudah cukup baik. Selanjutnya, mari kita menilik hati kita masing-masing, apakah kita sudah meresapkan doa Bapa Kami, setiap kali kita mendaraskannya. Doa ini adalah doa yang diajarkan oleh Yesus, oleh karena itu selayaknya kita hayati dan kita resapkan di dalam hati. Jangan sampai kita kita hanya menghafalkan kata-katanya saja, tanpa menjadikan kata-kata itu ungkapan hati. Atau sebaliknya, kita tidak lagi rajin mengucapkannya, karena lebih menyukai doa- doa dengan perkataan kita sendiri. Alangkah baiknya, jika di samping doa- doa spontan maupun doa hening, kita tetap mengucapkan doa Bapa Kami ini dengan sikap batin yang baik. Sebab doa Bapa Kami adalah doa yang sempurna yang berasal dari Allah sendiri, dan karenanya marilah kita mengucapkannya dengan kasih yang besar kepada Dia yang telah mengajarkan-Nya kepada kita!


CATATAN KAKI:
  1. Lihat KGK 2765, 2781 []
  2. St. Teresa of Avila, The Way of Perfection, Text prepared by Kieran Kavanaugh OCD, (Washington DC: ICS Publication, 2000), p. 317 []
  3. KGK 2768 []
  4. 2 Pet 1:4; 1 Yoh 3:1; KGK 2766, 2780 []
  5. Mzm 111:9; Luk 1:49 []
  6. Letters of St. Augustine to Proba, CXXX, chap. XI- 21 []
Share.

About Author

Ingrid Listiati telah menyelesaikan program studi S2 di bidang teologi di Universitas Ave Maria - Institute for Pastoral Theology, Amerika Serikat.

49 Comments

  1. Terima kasih sekali atas artikelnya :)
    ijin share

    [Dari Katolisitas: Silakan berbagi, dan mohon jangan dilupakan jika Anda membagikan artikel di Katolisitas kepada orang lain, harap mencantumkan di bawahnya, dicopy dari situs http://www.katolisitas.org. Terima kasih.]

  2. Selamat malam tim katolisitas yang dikasihi Tuhan,

    Ada satu pertanyaan yang menganjal dalam hati saya tentang Doa Bapa Kami, yaitu bagaimana seharusnya kita melafalkan bait “Jadilah kehendak Mu di atas bumi seperti di dalam surga” dengan benar? Sebab seturut pendengaran saya, apabila bait tersebut dipenggal/dilafalkan dengan cara berbeda, maka artinya bisa berbeda pula. Dalam benak saya, ada dua cara pelafalan, yaitu:

    1. “Jadilah kehendak-Mu, di atas bumi seperti di dalam surga”. Bait ini diucapkan dengan dilafalkan “jadilah kehendak-Mu” terlebih dahulu, setelah itu baru disambung “di atas bumi seperti di dalam surga. Menurut pengamatan saya, cara pelafalan/pemenggalan ini adalah cara yang paling umum dipakai oleh umat Katolik Indonesia. Menurut hemat saya, cara pelafalan/pemenggalan seperti ini membuat bait tersebut mempunyai arti bahwa kita berdoa supaya kehendak Tuhan terjadi YAITU di atas bumi menjadi seperti di surga. Berarti kalau kehendak Tuhan tersebut terjadi, MAKA kondisi bumi akan menjadi seperti di surga (tidak ada penderitaan, dsb). Btw, dengan model pelafalan ini, guru SMP saya pernah mengajarkan bahwa surga sebenarnya adalah bumi yang kondisinya damai. Jadi seolah-olah surga=bumi yang damai.

    2. “Jadilah kehendak-Mu di atas bumi, seperti di dalam surga”. Bait ini diucapkan dengan dilafalkan “jadilah kehendak-Mu diatas bumi” terlebih dahulu, setelah itu baru disambung “seperti di dalam surga”. Menurut hemat saya, cara pelafalan/pemenggalan seperti ini membuat bait tersebut mempunyai arti bahwa kita berdoa supaya kehedak Tuhan terjadi dibumi seperti di surga, sebab di bumi kehendak Tuhan tidak selalu terjadi. Model inilah yang sampai sekarang saya pakai, sebab saya pernah mendengar pengajaran bahwa memang di bumi kehendak Tuhan tidak selalu terjadi, maka dari itu kita memohon supaya kehendak Tuhan selalu terjadi di bumi, seperti di dalam surga dimana kehendak Tuhan pasti terjadi.

    Pertanyaan saya adalah, apakah tim katolisitas melihat adanya perbedaan arti pada kedua cara pelafalan tersebut? Jika tidak ada perbedaan arti antara keduanya, berarti perbedaan tersebut hanya perasaan saya saja. Tetapi jika iya, maka pelafalan manakah yang benar? atau kedua-duanya salah?

    Demikian pertanyaan saya, semoga tim katolisitas selalu dalam perlindungan Tuhan Yesus.Amin

    • Shalom AHS,

      Silakan membaca tanggapan kami tentang makna ayat Mat 6:10, berkenaan dengan ayat “Jadilah kehendak-Mu di atas bumi seperti di dalam Surga…”, silakan klik.

      Menurut penjelasan di sana, kita selayaknya melihat frasa itu sebagai satu kesatuan, tanpa perlu dipenggal. Sebab pemenggalan frasa itu kemudian malah memasukkan sesuatu prakonsepsi tertentu yang sebenarnya tidak dimaksudkan oleh frasa itu.

      Jadi yang dimaksudkan di sana sebenarnya, adalah kita memohon kepada Tuhan agar kehendakNya di bumi ditaati, seperti bagaimana kehendak-Nya ditaati di Surga. Maka di sini kita berdoa agar di bumi keadaannya bisa menjadi seperti di Surga, dan bukan untuk diartikan sebaliknya yaitu bahwa Surga sama dengan bumi. Memang di akhir zaman nanti Tuhan akan menjadikan langit dan bumi yang baru, yang tentang ini telah diulas di sini, silakan klik. Namun bumi yang baru di akhir zaman itu, tidak sama dengan bumi yang ada sekarang ini. Sebelum sampai ke sana, kita manusia berziarah di bumi, dengan pengharapan bahwa kelak, oleh iman kita akan diperkenankan Allah masuk dalam Kerajaan-Nya.

      Selanjutnya pemenggalan frasa tersebut, yang mengarah kepada anggapan bahwa di bumi kehendak Tuhan tidak selalu terjadi, itu juga tidak tepat. Sebab segala yang terjadi baik di bumi maupun di Surga, itu terjadi karena seizin Tuhan. Jika kita melihat kejadian tertertentu yang terjadi di bumi sebagai sesuatu yang tidak dapat kita pahami, itu adalah karena kita melihatnya hanya dalam dimensi waktu di dunia ini menurut pemahaman kita sebagai manusia. Namun Tuhan melihat segala sesuatunya sampai kepada kehidupan kekal dan dalam kekekalan di Surga, maka segala sesuatu yang nampaknya tidak adil yang terjadi di dunia ini, diizinkan oleh Tuhan terjadi, sebab akan tiba saatnya di mana Tuhan akan menyatakan keadilan-Nya, yaitu di saat Pengadilan Terakhir, di mana setiap orang akan diadili menurut perbuatannya (lih. Rm 2:6; Why 2:23; 20:13) di hadapan segala ciptaan-Nya yang lain, dan akan menerima konsekuensinya.

      Silakan melihat prinsip adanya dua macam kehendak Allah, sebagaimana pernah diulas di sini, silakan klik.

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      Ingrid Listiati- katolisitas.org

  3. oppa gaoelz on

    Mat.6:9-13. DOA BAPA KAMI yg dikutip dan dibahas di sini,
    Redaksinya TIDAK SEPERTI YG di KITAB SUCI .. Mis.:DIMULIA-
    KAN .. Di KS “DIKUDUSKAN” kemudian “REJEKI” di KS “MAKANAN
    KAMI SECUKUPNYA .. Mengapa sampai berbeda dgn nats KITAB
    SUCI .. MANA YANG BENAR .. AJARAN GEREJA KATOLIK atau KITAB
    SUCI .. ???

    • Shalom Oppa Gaoelz,

      Tentang mengapa dalam teks doa Bapa Kami yang digunakan oleh Gereja Katolik disebutkan, berilah kami “rezeki”, bukan “makanan kami yang secukupnya”, sudah dibahas di sini, silakan klik.

      Hal perbedaan terjamahan ini juga nampak pada kata “dimuliakanlah nama-Mu” (menurut terjemahan Gereja Katolik), dan “dikuduskanlah nama-Mu” (menurut terjemahan LAI. Kata aslinya adalah ἁγιάζω, hagiázō (bahasa Yunani) yang dalam bahasa Inggris dapat diterjemahkan sebagai “to make holy, to sanctify, to consecrate, to make sacred, to hallow“, menguduskan ataupun memuliakan.

      Jadi sesungguhnya dalam bentuk pasif, kata tersebut dapat diterjemahkan sebagai ‘dikuduskanlah’ ataupun ‘dimuliakanlah’. Jika kita melihat kepada terjemahan bahasa Inggris, kita dapat membaca bahwa memang dari kata yang sama hagiázō (G37), dapat diterjemahkan menjadi ‘sanctified‘ (contohnya Yoh 10:36, 17:19; Kis 20:32, 26:18; 1Kor 1:2,6:11; 1Tim 4:5, 2Tim 2:21; Ibr 2:11, 10:10,14,29) ataupun kata ‘hallowed‘ (contohnya Mat 6:9, Luk 11:2, dalam doa Bapa Kami). Walaupun dalam terjemahan LAI tidak dibedakan terjemahan antara ‘sanctified’ dan ‘hallowed’ ini, namun ini tidak mengubah kenyataan bahwa kata hagiázō dapat diterjemahkan menjadi dikuduskanlah, atau dimuliakanlah.

      Maka mohon dipahami, hal yang Anda sampaikan ini lebih menyangkut kepada hal terjemahan daripada sebuah ajaran. Gereja Katolik juga mengambil sumber ajaran-Nya dari Kitab Suci, dan karena itu ajaran Gereja Katolik tidak bertentangan dengan Kitab Suci.

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      Ingrid Listiati- katolisitas.org

       

      PS: Mohon untuk lain kali, untuk menulis tidak dengan huruf besar semua, karena menurut bahasa internet itu adalah ungkapan kemarahan. Kami percaya Anda sedang tidak marah-marah dengan kami, dan karena itu silakan menggunakan huruf besar dan huruf kecil yang semestinya menurut ketentuan bahasa yang baik dan santun. Terima kasih.

  4. shalom,

    ada satu pertanyaan yang membuat saya bingung yaitu isi yang ada dalam doa bapa kami, yaitu ” dan janganlah masukkan kami dalam pencobaan”.

    apa yang dimaksud dengan kalimat ini karena menurut saya kalau kita tak mengalami pencobaan maka kita tak akan pernah dapat menjadi dewasa. Dengan adanya cobaan-cobaan yang kita hadapi maka kita dapat terus belajar dan menjadi lebih dewasa. mohon penjelasannya.

    Terimakasih.

    • Shalom Andimmike,

      Penjelasan tentang Mat 6:13, “janganlah masukkan kami ke dalam pencobaan”, menurut A Catholic Commentary on Holy Scripture, Dom Orchard, ed. adalah:

      “Kalimat ini memohon agar Allah Bapa tidak membawa kita kepada pencobaan. Karena Tuhan tidak mencobai siapapun (lih. Yak 1:13) maka frasa ‘jangan masukkan kami’ dapat diartikan dengan ‘jangan izinkan kami untuk menuju’… Kata ‘pencobaan’ tidak selalu berarti sebuah undangan langsung untuk berbuat dosa; namun ‘pencobaan’ ini merupakan keadaan-keadaan, yang bagi kita, menjadi bukti sebagai kesempatan berbuat dosa….”

      Maka, memang benar bahwa umumnya pencobaan yang terjadi dalam hidup kita dapat membantu kita bertumbuh menjadi dewasa di dalam iman kepada Tuhan, tetapi di saat yang sama, kita harus menyadari bahwa seandainyapun kita berhasil mengatasinya, semua itu karena pertolongan Tuhan, dan bukan karena kekuatan kita sendiri. Kita tidak dapat bermegah atas kekuatan/ keteguhan kita sendiri menghadapi pencobaan sebab jika demikian kita pasti jatuh (lih. 1 Kor 10:12). Jika Tuhan mengizinkan terjadinya pencobaan dalam hidup kita, itu adalah karena Ia melihat dalam kebijaksanaan-Nya, bahwa kita dapat, berjuang bersama-Nya, untuk menghadapinya, sebab Ia akan memberikan jalan keluar kepada kita (lih. 1 Kor 10:13). Namun bukan bagian kita untuk sepertinya menantang, “Mari Tuhan, berikanlah pencobaan itu kepadaku”, seolah-olah kita meminta Tuhan menghantar kita kepada keadaan yang dapat dengan kuat menarik kita untuk berbuat dosa, dan kita pasti kuat menolaknya. Sebab faktanya, tanpa diminta, pencobaan/ ujian itu sudah datang sendiri dalam hidup kita, entah karena memang karena kesalahan kita sebelumnya dalam membuat keputusan, atau karena Tuhan mengizinkan hal itu terjadi tanpa campur tangan kita. Contoh pencobaan ini misalnya: masalah keluarga/ hubungan suami istri, masalah di tempat kerja, masalah keuangan, sakit penyakit, dst. Namun apapun yang terjadi, Tuhan tetap dapat menggunakan keadaan-keadaan itu untuk dapat mendatangkan kebaikan bagi kita, asalkan kita mengasihi Dia (lih. Rom 8:28).

      Jadi, mari kita berusaha menjauhi keadaan-keadaan yang dapat mengundang kita untuk berbuat dosa, sambil dengan rendah hati memohon pertolongan Tuhan, jika keadaan tersebut ternyata hadir di hadapan mata kita. Sebab hanya dengan kekuatan yang dari Tuhan, kita memperoleh keteguhan menolak untuk berbuat dosa dan segala yang jahat, dan tidak membiarkan diri kita jatuh ke dalamnya.

      “Bapa kami yang ada di surga, …janganlah masukkan kami ke dalam pencobaan, tetapi bebaskanlah kami dari yang jahat. Amin”

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      Ingrid Listiati- katolisitas.org

      PS: Selanjutnya tentang Apakah pencobaan datang dari Tuhan?, silakan klik di sini