Berpuasa dan berpantang menurut Gereja Katolik

113

Bagaimanakah berpuasa yang benar menurut ajaran Gereja Katolik, kapan dan bagaimana puasa itu dilakukan? Pertama-tama perlu kita ketahui dulu alasan mengapa kita berpuasa dan berpantang. Bagi kita orang Katolik, puasa dan pantang artinya adalah tanda pertobatan, tanda penyangkalan diri, dan tanda kita mempersatukan sedikit pengorbanan kita dengan pengorbanan Yesus di kayu salib sebagai silih dosa kita dan demi mendoakan keselamatan dunia. Jadi puasa dan pantang bagi kita tak pernah terlepas dari doa. Dalam masa prapaska, maka puasa, pantang dan doa disertai juga dengan perbuatan amal kasih bersama-sama dengan anggota Gereja yang lain. Dengan demikian, pantang dan puasa bagi kita orang Katolik merupakan latihan rohani yang mendekatkan diri pada Tuhan dan sesama, dan bukan untuk hal lain, seperti diit/ supaya kurus, menghemat, dll. Dengan mendekatkan dan menyatukan diri dengan Tuhan, maka kehendak-Nya menjadi kehendak kita. Dan karena kehendak Tuhan yang terutama adalah keselamatan dunia, maka melalui puasa dan pantang, kita diundang Tuhan untuk mengambil bagian dalam karya penyelamatan dunia, dengan cara yang paling sederhana, yaitu berdoa dan menyatukan pengorbanan kita dengan pengorbanan Yesus di kayu salib. Kita pun dapat mulai mendoakan keselamatan dunia dengan mulai mendoakan bagi keselamatan orang-orang yang terdekat dengan kita: orang tua, suami/ istri, anak-anak, saudara, teman, dan juga kepada para imam, pemimpin Gereja, pemimpin negara, dst.

Berikut ini mari kita lihat ketentuan tobat dengan puasa dan pantang, menurut Kitab Hukum Gereja Katolik:

  • Kan. 1249 – Semua orang beriman kristiani wajib menurut cara masing-masing melakukan tobat demi hukum ilahi; tetapi agar mereka semua bersatu dalam suatu pelaksanaan tobat bersama, ditentukan hari-hari tobat, dimana umat beriman kristiani secara khusus meluangkan waktu untuk doa, menjalankan karya kesalehan dan amal-kasih, menyangkal diri sendiri dengan melaksanakan kewajiban-kewajibannya secara lebih setia dan terutama dengan berpuasa dan berpantang, menurut norma kanon-kanon berikut.
  • Kan. 1250 – Hari dan waktu tobat dalam seluruh Gereja ialah setiap hari Jumat sepanjang tahun, dan juga masa prapaskah.
  • Kan. 1251 – Pantang makan daging atau makanan lain menurut ketentuan Konferensi para Uskup hendaknya dilakukan setiap hari Jumat sepanjang tahun, kecuali hari Jumat itu kebetulan jatuh pada salah satu hari yang terhitung hari raya; sedangkan pantang dan puasa hendaknya dilakukan pada hari Rabu Abu dan pada hari Jumat Agung, memperingati Sengsara dan Wafat Tuhan Kita Yesus Kristus.
  • Kan. 1252 – Peraturan pantang mengikat mereka yang telah berumur genap empat belas tahun; sedangkan peraturan puasa mengikat semua yang berusia dewasa sampai awal tahun ke enampuluh; namun para gembala jiwa dan orangtua hendaknya berusaha agar juga mereka, yang karena usianya masih kurang tidak terikat wajib puasa dan pantang, dibina ke arah cita-rasa tobat yang sejati.
  • Kan. 1253 – Konferensi para Uskup dapat menentukan dengan lebih rinci pelaksanaan puasa dan pantang; dan juga dapat mengganti-kan seluruhnya atau sebagian wajib puasa dan pantang itu dengan bentuk-bentuk tobat lain, terutama dengan karya amal-kasih serta latihan-latihan rohani.

Memang sesuai dari yang kita ketahui, ketentuan dari Konferensi para Uskup di Indonesia menetapkan selanjutnya :

  • Hari Puasa dilangsungkan pada hari Rabu Abu dan Jumat Agung. Hari Pantang dilangsungkan pada hari Rabu Abu dan tujuh Jumat selama Masa Prapaska sampai dengan Jumat Agung.
  • Yang wajib berpuasa ialah semua orang Katolik yang berusia 18 tahun sampai awal tahun ke-60. Yang wajib berpantang ialah semua orang Katolik yang berusia genap 14 tahun ke atas.
  • Puasa (dalam arti yuridis) berarti makan kenyang hanya sekali sehari. Pantang (dalam arti yuridis) berarti memilih pantang daging, atau ikan atau garam, atau jajan atau rokok. Bila dikehendaki masih bisa menambah sendiri puasa dan pantang secara pribadi, tanpa dibebani dengan dosa bila melanggarnya.

Maka penerapannya adalah:

  1. Kita berpantang setiap hari Jumat sepanjang tahun (contoh: pantang daging, pantang rokok dll) kecuali jika hari Jumat itu jatuh pada hari raya, seperti dalam oktaf masa Natal dan oktaf masa Paskah. Penetapan pantang setiap Jumat ini adalah karena Gereja menentukan hari Jumat sepanjang tahun (kecuali yang jatuh di hari raya) adalah hari tobat. Namun, jika kita mau melakukan yang lebih, silakan berpantang setiap hari selama Masa Prapaska.
  2. Jika kita berpantang, pilihlah makanan/ minuman yang paling kita sukai. Pantang daging adalah contohnya, atau yang lebih sukar mungkin pantang garam. Tapi ini bisa juga berarti pantang minum kopi bagi orang yang suka sekali kopi, dan pantang sambal bagi mereka yang sangat suka sambal, pantang rokok bagi mereka yang merokok, pantang jajan bagi mereka yang suka jajan. Jadi jika kita pada dasarnya tidak suka jajan, jangan memilih pantang jajan, sebab itu tidak ada artinya.
  3. Pantang tidak terbatas hanya makanan, namun pantang makanan dapat dianggap sebagai hal yang paling mendasar dan dapat dilakukan oleh semua orang. Namun jika satu dan lain hal tidak dapat dilakukan, terdapat pilihan lain, seperti pantang kebiasaan yang paling mengikat, seperti pantang nonton TV, pantang ’shopping’, pantang ke bioskop, pantang ‘gossip’, pantang main ‘game’ dll. Jika memungkinkan tentu kita dapat melakukan gabungan antara pantang makanan/ minuman dan pantang kebiasaan ini.
  4. Puasa minimal dalam setahun adalah Hari Rabu Abu dan Jumat Agung, namun bagi yang dapat melakukan lebih, silakan juga berpuasa dalam ketujuh hari Jumat dalam masa Prapaska (atau bahkan setiap hari dalam masa Prapaska).
  5. Waktu berpuasa, kita makan kenyang satu kali, dapat dipilih sendiri pagi, siang atau malam. Harap dibedakan makan kenyang dengan makan sekenyang-kenyangnya. Karena maksud berpantang juga adalah untuk melatih pengendalian diri, maka jika kita berbuka puasa/ pada saat makan kenyang, kita juga tetap makan seperti biasa, tidak berlebihan. Juga makan kenyang satu kali sehari bukan berarti kita boleh makan snack/ cemilan berkali-kali sehari. Ingatlah tolok ukurnya adalah pengendalian diri dan keinginan untuk turut merasakan sedikit penderitaan Yesus, dan mempersatukan pengorbanan kita dengan pengorbanan Yesus di kayu salib demi keselamatan dunia.
  6. Maka pada saat kita berpuasa, kita dapat mendoakan untuk pertobatan seseorang, atau mohon pengampunan atas dosa kita. Doa-doa seperti inilah yang sebaiknya mendahului puasa, kita ucapkan di tengah-tengah kita berpuasa, terutama saat kita merasa haus/ lapar, dan doa ini pula yang menutup puasa kita/ sesaat sebelum kita makan. Di sela-sela kesibukan sehari-hari kita dapat mengucapkan doa sederhana, “Ampunilah aku, ya Tuhan. Aku mengasihi-Mu, Tuhan Yesus. Mohon selamatkanlah …..” (sebutkan nama orang yang kita kasihi)
  7. Karena yang ditetapkan di sini adalah syarat minimal, maka kita sendiri boleh menambahkannya sesuai dengan kekuatan kita. Jadi boleh saja kita berpuasa dari pagi sampai siang, atau sampai sore, atau bagi yang memang dapat melakukannya, sampai satu hari penuh. Juga tidak menjadi masalah, puasa sama sekali tidak makan dan minum atau minum sedikit air. Diperlukan kebijaksanaan sendiri (prudence) untuk memutuskan hal ini, yaitu seberapa banyak kita mau menyatakan kasih kita kepada Yesus dengan berpuasa, dan seberapa jauh itu memungkinkan dengan kondisi tubuh kita. Walaupun tentu, jika kita terlalu banyak ‘excuse’ ya berarti kita perlu mempertanyakan kembali, sejauh mana kita mengasihi Yesus dan mau sedikit berkorban demi mendoakan keselamatan dunia.

Demikian ulasan mengenai pantang dan puasa menurut ketentuan Gereja Katolik. Semoga bermanfaat.

Share.

About Author

Stefanus Tay, MTS dan Ingrid Listiati, MTS adalah pasangan suami istri awam dan telah menyelesaikan program studi S2 di bidang teologi di Universitas Ave Maria - Institute for Pastoral Theology, Amerika Serikat.

113 Comments

  1. bimomartens on

    Shalom bapak/ibu Tay,

    Artikel yang tertulis diatas cukup menjelaskan secara gamblang bagaimana kita sebagai orang katolik harus berpuasa dan berpantang. Namun tidak dapat dipungkiri bahwa sebagai minoritas di negara ini, umat katolik kadang merasa rancu dengan tata cara berpuasa umat islam.

    Puasa dalam islam segala sesuatunya sudah diatur secara baku sesuai ketentuan agamanya. Berbeda dengan kita dimana gereja hanya menetapkan syarat minimal puasa dan pantang. Nah, hal ini kadang membuat umat katolik yang hidup diantara ‘aturan yang sudah baku’ tadi merasa bingung. Terutama bagi umat yang masih remaja atau yang belum matang iman. Faktanya, itulah yang saya rasakan dulu.

    Saudara kita umat muslim begitu ramai jika bulan puasa tiba. Terlihat ucapan selamat berpuasa di tv sampai fenomena penutupan paksa rumah makan untuk menghormati mereka yang berpuasa. Bagaimana dengan kita, saya dulu bahkan tidak tahu apakah orang tua/saudara-saudara saya puasa atau tidak, padahal tinggal dalam satu rumah. Disini yang mungkin sedikit luput dari pandangan kita adalah bagaimana peranan orang tua untuk mengajarkan puasa dan pantang pada anak-anaknya karena puasa dalam katolik hampir ‘tak terdeteksi’. Bisa dibuktikan dari komentar ini : link to katolisitas.org bagaimana orang tua katolik tidak mengajarkan pentingnya berpantang dan berpuasa di bulan pra paskah.

    Saya memahami bukan kapasitas anda untuk membandingkan satu sama lain. Namun saya kira ada baiknya untuk melihat bagaimana puasa katolik dengan memakai perspektif dari luar katolik mengingat kita hidup di negara mayoritas non kristen. Contohnya;
    a. Buka puasa jam berapa, sahur jam berapa, dan bagaimana.
    b. Yang membatalkan puasa. Jika melakukan sesuatu yang membatalkan puasa, apa yang harus diperbuat umat katolik. Dalam islam, kalau batal puasa maka boleh makan minum dan menunggu esok hari untuk puasa lagi. Adakah puasa katolik mengenal ‘batal puasa’.
    c. Jargon ‘hari kemenangan’ dalam idul fitri apa bisa dipakai umat katolik dalam paskah setelah berpuasa 40 hari (ini cukup aneh juga).
    d. Bermaaf-maafan dan saling mengunjungi di idul fitri. Apa yang harus kita lakukan pada paskah?
    e. Buka puasa ramadhan biasanya ada kolak pisang, es sirup, kue, kurma, dan sebagainya. Bolehkah makan kenyang 1 kali dengan menyantap beragam makanan tersebut?
    f. Aturan tentang hubungan suami istri di bulan pra paskah.
    g. Datang bulan (menstruasi) bagi perempuan, kenapa dalam katolik masih diperbolehkan berpuasa. Dan sebagainya.

    Nah, hal-hal seperti itu. Sebenarnya kalau masih mau dicari akan banyak fenomena di bulan ramadhan yang akan menjadi pertanyaan bagi umat katolik di bulan pra paskah. Bukan maksud saya untuk membandingkan. Namun saya kira wajar dalam kehidupan sosial terkadang muncul pertanyaan-pertanyaan yang terkesan membandingkan satu dengan yang lain, apalagi dalam hal iman agar umat katolik bisa mempertanggungjawabkan imannya jika mendapatkan pertanyaan tentang pantang dan puasa dari saudara muslim.

    Mohon maaf kalau ada kata yang kurang berkenan, silakan dimoderasi. Terima kasih sebelumnya, berkah dalem.

    • Shalom Bimomarten,

      Kita tidak perlu mengacu kepada ajaran ajaran agama lain untuk melaksanakan ajaran iman kita. Mari kita menerima perbedaan yang ada, tanpa perlu merasa harus menyesuaikan pelaksanaan ajaran iman kita dengan apa yang umum dilakukan oleh umat agama lain.

      Dengan prinsip ini, saya menanggapi pertanyaan Anda:

      1. Tentang jam ‘buka’ puasa dan sahur

      Tentang jam ‘buka’ puasa dan sahur tidak ditentukan dalam ajaran iman Katolik. Karena makna puasa dan pantang kita tidak sama dengan puasa dalam agama lain, maka ketentuan pelaksanaannya juga tidak harus sama dengan apa yang umumnya dipraktekkan dalam agama lain. Tentang mengapa kita berpantang dan berpuasa, silakan membaca artikel ini, silakan klik.

      2. Adakah istilah puasa yang batal?

      Makna utama puasa bagi umat Katolik adalah penyangkalan diri sebagai tanda pertobatan. Maka agak rancu kalau mengatakan puasa yang batal. Apakah artinya batal bertobat? Jika pertobatan ada, namun puasa tidak sempurna dilakukan, maka sebenarnya yang adalah pelaksanaan penyangkalan diri yang tidak sempurna. Baru jika ternyata orang itu mengabaikan puasa pada saat yang diwajibkan oleh Gereja, maka artinya ia telah melakukan kesalahan/ dosa karena melanggar perintah Gereja.

      Jika ini yang terjadi, maka silakan mengaku dosa dalam sakramen Pengakuan dosa, dan kemudian melaksanakan penitensinya.

      3. Adakah istilah “hari kemenangan” setelah berpuasa?

      Puasa dan pantang bagi kita umat Katolik juga berarti sebagai bentuk partisipasi/ mengambil bagian dalam penderitaan Kristus agar kita dapat turut serta dalam kemuliaan dan suka cita kebangkitan-Nya. Maka kemenangan yang dicapai di akhir masa Puasa/ masa Prapaska, adalah kemenangan Kristus yang kita peringati setiap hari raya Paska. Sebagai umat Kristiani, kita hanya mengambil bagian dalam “kemenangan” itu, tetapi kita sendiri tanpa Kristus tidak dapat mengklaim “kemenangan” atas dosa dan maut itu.

      4. Apa yang harus kita lakukan pada hari raya Paska?

      Yang terpenting, tentu adalah bersyukur kepada Allah atas karunia penyelamatan-Nya yang diwujudkan-Nya dengan sengsara, wafat dan kebangkitan Kristus untuk menebus dosa-dosa kita. Rasa syukur ini pertama-tama kita nyatakan dengan mengikuti perayaan Ekaristi pada Malam Paska [untuk merenungkan karya keselamatan Allah, yang jelas dinyatakan dalam bacaan-bacaan liturgis saat itu]. Walaupun mengikuti Misa Malam Paska sudah memenuhi ketentuan perayaan Paska, namun alangkah baiknya, jika kita juga hadir dalam perayaan Ekaristi pada hari Raya Paska, sebagai ungkapan syukur dan kasih kita kepada Kristus yang telah menyatakan kasih-Nya yang begitu besar dengan pengorbanan-Nya di kayu salib untuk menyelamatkan kita.

      Sesudahnya, kita dapat melanjutkan perayaan dalam keluarga, namun tentang hal ini tidak ada ketentuan khusus dari Gereja. Hal bermaaf-maafan bukan merupakan hal yang disyaratkan pada hari Raya Paska, karena bagi kita umat Kristiani, hal bermaaf-maafan merupakan keharusan setiap hari. Kita tidak diperkenankan untuk mempersembahkan apapun kepada Tuhan, jika kita belum memaafkan sesama kita (Mat 5:24). Kita tidak boleh marah/ menyimpan dendam, sebab firman Tuhan meminta agar padam amarah kita sebelum matahari terbenam (Ef 4:26). Tuhan Yesus malah mengharuskan kita, tidak saja untuk memaafkan, tetapi juga mengasihi para musuh kita -yaitu mereka yang membenci dan memusuhi/ menganiaya kita (Mat 5:44). Dalam doa Bapa Kami yang kita doakan setiap hari, kita mengamini bahwa agar kita memperoleh pengampunan dari Tuhan maka kitapun mengampuni sesama kita (Mat 6:12). Dengan demikian, hal memaafkan merupakan keharusan setiap hari, dan bukannya hanya pada saat-saat tertentu saja.

      5. Bolehkah makan berbagai cemilan di samping satu kali makan kenyang?

      Jika kita memahami makna puasa bagi umat Katolik, yang artinya matiraga/ penyangkalan diri demi pertobatan kita dan untuk mengambil bagian dalam penderitaan Kristus; maka kita akan mengetahui apakah hal ini layak dilakukan atau tidak.

      Gereja memang tidak merumuskan larangan tertulis tentang hal ini, namun hati nurani yang bersih akan dapat menilai bahwa makan kenyang satu kali, namun jika ditambah dengan berbagai cemilan ini, akan mengaburkan makna pantang dan puasa yang sesungguhnya.

      6. Tentang hubungan suami istri pada bukan Prapaskah?

      Gereja tidak mengeluarkan ketentuan tentang hal ini. Secara prinsip, hubungan suami istri tidak dipandang sebagai sesuatu yang najis, namun sebagai suatu yang sakral di hadapan Tuhan. Hanya saja, pada saat yang sama, pasangan juga dapat mewujudkan kebajikan pengendalian diri sebagai salah satu bentuk matiraga, untuk mewujudkan tanda pertobatan. Maka tentang hal ini, silakan diputuskan sesuai dengan penghayatan tentang makna pantang dan puasa, di masa Prapaska.

      7. Mengapa perempuan yang sedang datang bulan masih diperbolehkan berpuasa?

      Karena makna puasa dalam iman Katolik tidak sama dengan makna puasa pada ajaran agama lain. Sebab hal datang bulan tidak menghalangi seseorang untuk bertobat dan menyatakan pertobatannya dengan puasa dan pantang.

      Akhirnya, mohon dipahami juga bahwa ketentuan puasa dan pantang yang ditentukan oleh Gereja Katolik, memang tidak sama dengan ketentuan Perjanjian Lama. Ketentuan di masa PL tentang puasa termasuk dalam ketentuan seremonial yang kemudian diperbaharui di masa Perjanjian Baru, yang dihubungkan maknanya dengan penggenapan di dalam Kristus. Sebab segala ketentuan lahiriah di masa PL dimaksudkan untuk memperoleh makna sesungguhnya dalam ketentuan rohaniah di dalam Kristus dalam PB. Demikianlah maka sunat jasmani pada PL digenapi dalam sunat rohani (Baptisan) pada PB.

      Lebih lanjut tentang hal ini, silakan membaca di sini, silakan klik.

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      Ingrid Listiati- katolisitas.org

  2. Stella Angelina on

    Dear Katolisitas team..
    Shalom,

    Saya mau bertanya mengenai pertanyaan-pertanyaan yang sering kali ditanyakan kepada saya..
    1. Mengenai hal berpuasa dan berpantang, ada beberapa orang yang berpuasa dan berpantang di hari Minggu, padahal setahu saya hari Minggu tidak diperkenankan untuk berpuasa dan berpantang karena hari Minggu adalah hari raya, bagaimana saya harus menjelaskan kepada teman-teman yang bersikeras untuk berpuasa juga berpantang di hari Minggu, terutama selama masa Prapaskah, karena setau saya 40 hari masa Prapaskah untuk berpantang dan berpuasa dalam hitungan hari, 40 hari tersebut di luar hari Minggu.

    2. Mengenai pengakuan dosa apabila tidak mengikuti perayaan Ekaristi/ misa di hari Minggu. Sebetulnya saya sendiri juga mengetahui hal ini dari teman-teman saya. Jadi saya pun menjalankannya. Namun ada dari beberapa teman saya yang menanyakan dan meragukan hal ini.

    Pertanyaan saya adalah, apakah ada bukti tertulis mengenai dua hal di atas dalam dokumen-dokumen gereja? Bagaimana saya harus menjelaskan kepada teman-teman saya yang bersikeras untuk tetap berpuasa dan berpantang di hari Minggu?

    Terima kasih.

    • Shalom Stella,

      Memang Gereja Katolik menginginkan agar seluruh umat beriman untuk merayakan pesta kebangkitan Kristus pada hari Minggu. Itulah sebabnya, kita memulai berpuasa dan berpantang pada hari Rabu, sehingga tanpa berpuasa pada hari Minggu selama masa prapaskah, maka kita mendapatkan 40 hari untuk berpantang dan berpuasa. Gereja hanya mengatur ketentuan berpantang dan berpuasa, seperti yang dapat Anda baca pada artikel di atas – silakan klik. Namun, mungkin ada orang yang mau tetap berpantang dan berpuasa pada hari Minggu selama masa Prapaskah. Tentu saja, bukan berdosa juga kalau ada orang yang melakukan hal ini, apalagi kalau didasari dengan semangat kasih kepada Allah. Namun, perlu diingat juga bahwa alangkah baiknya, kalau kita juga menyatukan langkah kita dengan derap langkah Gereja.

      Tidak mengikuti perayaan Ekaristi pada hari Minggu atau hari wajib yang ditentukan oleh Gereja adalah berdosa – yaitu pelanggaran terhadap perintah ke-3, “Kuduskanlah hari Tuhan”. Dengan demikian, bagi orang yang melanggar perintah ini, memang harus mengaku dosa. Semoga dapat membantu.

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      stef – katolisitas.org

  3. syalom. saya ingin bertanya tentang puasa.
    saya sedang tergabung dalam kepanitiaan natal, sebagai tim liturgi. jujur, saya tidak begitu paham dengan hal-hal liturgis. kemudian, saya diberi tugas untuk membuat daftar doa, maupun teknis puasa dan pantang yang harus dilakukan seluruh panitia, agar lebih mantap secara rohani sebelum perayaan natal. saat saya mencoba mencari tahu melalui senior saya pada kepanitiaan event lain, saya melihat bahwa dia menetapkan hari Jumat agar semua panitia berpuasa tidak makan, hanya minum saja, mulai dari jam 12 dinihari hingga jam 3 siang (event senior saya berlangsung pada pertengahan tahun 2013). ketika saya melihat artikel ini, saya sedikit bingung mengenai pemilihan hari Jumat menjelang bulan november dan desember ini. Yang saya ingin tanyakan adalah pada hari Jumat mana sajakah yang tidak boleh melakukan puasa, mulai dari bulan november hingga januari minggu pertama ? saya cukup bingung mengenai peraturan hari Jumat pada artikel diatas.

    Terima kasih

    • Shalom Denny,

      Ketentuan puasa dan pantang yang disebut dalam KHK merupakan ketentuan minimal, sehingga jika kemudian sejumlah umat berinisiatif untuk membuat ketentuan sendiri, dapat saja dilakukan, asalkan tetap masuk akal dan mungkin dilakukan. Silakan juga dipahami alasan mengapa kita sebagai umat Katolik berpantang dan berpuasa, silakan klik di sini.

      Nah, sejujurnya, menurut KHK, hari tobat adalah setiap hari Jumat sepanjang tahun, kecuali hari Jumat yang jatuh di dalam masa oktaf Natal dan masa oktaf Paskah. (Masa oktaf adalah masa 8 hari setelah hari raya, karena selama 8 hari Gereja merayakan secara khusus, perayaan Natal dan Paskah). Pemilihan hari tobat pada hari Jumat adalah karena melalui pantang/ matiraga kita mengenangkan sengsara dan wafat Tuhan Yesus, yang terjadi pada hari Jumat Agung. Dengan demikian, silakan saja setiap hari Jumat (hari tobat) jika komunitas Anda mau melakukan puasa, walaupun ketentuan umumnya di KHK adalah pantang. Karena ketentuan secara umum adalah Jumat sepanjang tahun adalah hari tobat, maka setiap Jumat pada bulan November dan Desember adalah hari tobat, kecuali hari Jumat yang ada dalam masa 8 hari setelah hari raya Natal. Selanjutnya, kembali setiap Jumat adalah hari tobat (pada bulan Januari, Februari, Maret), kecuali Jumat dalam masa 8 hari setelah Paskah.

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      Ingrid Listiati- katolisitas.org

      • Shallom katolisitas..saya ingin menanyakan soal puasa..saya sekarang diberi tugas dalam kepanitiaan retret yang saya ikuti untuk menyusun jadwal puasa dan teknis doa sedangkan saya belum pernah sama sekali melakukan itu..yang ingin saya tanyakan itu cara menyusun teknis doa itu seperti apa ya dan apa hubungannya dengan puasa itu sendiri..

        terima kasih

        [Dari Katolisitas: Silakan Anda tanyakan langsung kepada koordinator kepanitiaan retret itu sendiri, mengenai definisi dari istilah “teknis doa”. Doa secara garis besar adalah komunikasi antara kita dengan Tuhan sehingga penambahan istilah ‘teknis’ di depannya memang menjadi ambigu, apakah komunikasi itu bisa diatur ‘teknis’-nya. Beberapa topik tentang doa sudah pernah dibahas di situs ini, silakan menggunakan fasilitas pencarian di sisi kanan homepage untuk menemukannya, dengan mengetikkan kata kunci ‘doa’. Sedangkan untuk motivasi kita berpantang dan berpuasa, dan bahwa bagi kita umat Katolik, pantang dan puasa merupakan ungkapan tobat, dan tak terpisahkan dari doa itu sendiri, silakan membaca artikel ini, silakan klik].

  4. Shalom Katolisitas,

    saya ingin menanyakan dari ” Kan. 1250 – Hari dan waktu tobat dalam seluruh Gereja ialah setiap hari Jumat sepanjang tahun, dan juga masa prapaskah.”

    lalu apakah diperbolehkan melaksanakan aksi pantang dan puasa pada hari-hari biasa seperti hari senin, selasa, rabu, kamis, sabtu, dan minggu pada pekan-pekan biasa?

    lalu apakah wujud puasa dan pantang ditunjukan pada suatu intensi khusus misalnya untuk melaksanakan kegiatan retret rohani, kegiatan terntentu,atau wujud doa pribadi?

    terimakasih Katolisitas, Tuhan berkati

    [Dari Katolisitas: Boleh saja, mengingat motivasi pantang dan puasa bagi kita umat Katolik adalah pertobatan dan permenungan akan sengsara Kristus, dan pertobatan maupun permenungan tersebut dapat dilakukan kapan saja. Dalam permenungan itu, kita juga dapat menggabungkan penderitaan kita dan intensi doa kita dengan penderitaan Kristus itu. Namun memang umumnya hari Minggu tidak diadakan puasa maupun permenungan akan sengsara Kristus, karena pada hari itu kita secara khusus mengenangkan hari kebangkitan Kristus. Selanjutnya tentang Mengapa kita berpantang dan berpuasa, silakan klik di sini.]

  5. Mohon panduannya bagaimana cara berdoa dan puasa secara Katholik

    terimakasih
    Tina

    [Dari Katolisitas: Silakan membaca dua artikel berikut tentang pantang dan puasa:

    Berpuasa dan berpantang menurut Gereja Katolik, silakan klik
    Mengapa kita berpantang dan berpuasa?, silakan klik.]

  6. Ferry Gh. Beu on

    Sehubungan dengan puasa dan pantang, bagaimana tanggapan serta komentar gereja pada fakta bahwa ada banyak umat katholik melakukan sesuai apa yang dilakukan oleh YESUS.

    [dari katolisitas: Mohon diperjelas pertanyaannya]

  7. Saya ingin bertanya apakah setelah menerima komuni pertama dapat melakukan berpuasa?

    [dari katolisitas: Puasa dan pantang dapat kita lakukan selama masa prapaskah. Pantang dapat dilakukan pada masa Prapaskah dan Jumat sepanjang tahun. Tentu saja, di luar masa tersebut, umat dapat melakukan puasa dan pantang.]

  8. Inilah kerikil-kerikilmu :
    1. berdoalah dengan hati
    2. ekaristi
    3. kitab suci
    4. berpuasa
    5. pengakuan dosa.

    Pertanyaannya : bagaimanakah tata cara berpuasa (4) secara katolik selain paskah ?

    berkah Dalem,

    • Shalom Kun Pink,

      Kitab Hukum Kanonik hanya mengatur batasan minimal untuk pantang dan puasa, sebagaimana telah disebutkan di artikel di atas. Tentang puasa dan pantang, tidak dilakukan pada hari Paskah dan dalam oktaf Paskah dan Natal. Namun pada hari Jumat sepanjang tahun (kecuali masa Natal, Paskah dan dalam masa oktafnya), adalah masa tobat di mana kita umat Katolik berpantang, umumnya pantang salah satu jenis makanan atau minuman yang disukai.

      Kan. 1250Hari dan waktu tobat dalam seluruh Gereja ialah setiap hari Jumat sepanjang tahun, dan juga masa prapaskah.

      Kan. 1251Pantang makan daging atau makanan lain menurut ketentuan Konferensi para Uskup hendaknya dilakukan setiap hari Jumat sepanjang tahun, kecuali hari Jumat itu kebetulan jatuh pada salah satu hari yang terhitung hari raya; sedangkan pantang dan puasa hendaknya dilakukan pada hari Rabu Abu dan pada hari Jumat Agung, memperingati Sengsara dan Wafat Tuhan Kita Yesus Kristus.

      Motivasi dari pantang/ matiraga ini adalah pertobatan, sebagaimana pernah diulas di sini, silakan klik. Aturan pantang dan puasa dapat mengacu kepada ketentuan minimal sebagaimana disebutkan di artikel di atas, atau jika dipandang kurang, dan Anda mau melakukan lebih, silakan saja dilakukan. Puasa dan matiraga yang diiringi doa, adalah salah satu bentuk devosi/ ungkapan kasih kepada Tuhan Yesus yang telah terlebih dahulu mengasihi kita, dengan pengorbanan dan wafat-Nya di kayu salib. Karena berkaitan dengan ungkapan kasih inilah, maka tentu dapat dilakukan suatu perbuatan kasih yang melebihi daripada apa yang disyaratkan.

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      Ingrid Listiati- katolisitas.org

  9. Shalom,

    Saya mau tanya , apakah boleh puasa di lakukan karena ada doa khusus agar di kabulkan? dan apakah puasa hanya di lakukan 1 hari pada hari rabu abu atau jumat agung? dan apa rabu abu itu rabu awal setiap bulan?

    Terima kasih

    [Dari Katolisitas: Puasa dapat dilakukan di luar masa Prapaska, sebagai ungkapan Tobat ataupun devosi pribadi. Ketentuan Puasa dan pantang yang ditetapkan oleh KHK dan keuskupan, itu sifatnya adalah kenentuan minimal. Puasa minimal adalah hari Rabu Abu (permulaan Masa Prapaska) dan Jumat Agung (perayaan hari wafatnya Tuhan Yesus). Rabu Abu bukan Rabu pertama setiap bulan, tetapi hari permulaan masa Prapaska. Sedangkan tentang Mengapa kita berpantang dan berpuasa, klik di sini. Dan mengapa disebut Rabu Abu, klik di sini.]

  10. Stefanus Dodi Wiwoho on

    Shalom Tim Katolisitas

    Dalam bacaan, saya sering mendengar para rasul dan para murid Tuhan Yesus selalu melakukan berdoa dan berpuasa.

    yang ingin saya tanyakan, sbb :
    Petama, berpuasa yang bagaimana yang senantiasa dilakukan para Rasul dan murid-murid Tuhan Yesus dimaksud; yang kedua, adakah masa melakukan puasa selain pada masa pantang dan berpuasa saat masa pra Paskah? Yang ketiga, bagaimana dengan umat biasa seperti kami ini dapatkah juga melakukannya seperti mereka ?

    Mohon penjelasannya, terima kasih.

    salam damai Kristus ….
    Tuhan memberkati ….

    [dari katolisitas: Silakan melihat tanya jawab ini – silakan klik]

  11. Stefhanus . W on

    Shalom Katolisitas, bagaimana kalau kita dalam masa puasa telah terlanjur melanggar? Apakah bisa di lanjutkan lagi pada masa-masa Puasa di hari berikut’nya?

    • Shalom Stefhanus,
      Pada saat sekarang ini, kita masih dalam masa Prapaskah. Oleh karena itu, silakan melakukan laku tobat pada masa ini. Kita juga dapat melakukan laku tobat bukan hanya pada hari Jumat namun juga pada hari-hari yang lain di luar hari Minggu. Dan setelah Paskah, kita tetap dapat meneruskan laku tobat kita setiap hari Jumat. Mari, dalam masa retret agung ini, kita benar-benar merenungkan dan menghayati karya penebusan Kristus, sehingga dapat membawa kita kepada kasih Kristus yang telah rela menderita dan wafat bagi kita.

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      stef – katolisitas.org

  12. Selamat pagi Romo

    Saya ingin bertanya, bagaimana hukumnya untuk hubungan suami istri (seks) bagi yg sudah menikah saat pantang dan berpuasa dimasa prapaskah ini…sedangkan saya ingin menjalankan puasa selama masa prapaskah, tp saya jg memiliki kewajiban sebagai istri terhadap suami..

    Trimakasih.

    • Shalom Tere,

      Dalam masa prapaskah, Gereja memberikan syarat minimal, yaitu: pantang bagi yang telah berumur 14 tahun serta puasa bagi yang berumur 18-59 tahun. Puasa hanya ditentukan makan kenyang sekali dan berpantang dapat dilakukan dalam berbagai bentuk, seperti tidak makan daging, tidak merokok, dll. Bahkan Keuskupan Jakarta melakukan gerakan pantikfoam, yaitu pantang plastik dan styrofoam sebagai gerakan ekologi. Dengan demikian, kita dapat memilih jenis pantang yang kita ingin jalani. Kalau sebagai pasangan suami istri, ingin berpartisipasi dalam penderitaan Kristus dengan pantang seks, maka hal ini juga bentuk pantang yang menuntut pengorbanan. Namun, untuk hal satu ini, perlu dibicarakan dengan pasangan. Jangan melakukan pantang ini, kalau pasangannya tidak setuju. Diskusikan hal ini dalam suasana kasih. Selamat berpantang dan berpuasa.

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      stef – katolisitas.org