Berpuasa dan berpantang menurut Gereja Katolik

Pertanyaan:

Yth Katolisits,
Saya ingin bertanya tentang bagaimana berpuasa yang benar menurut ajaran gereja katolik? Sebagaimana kita ketahui,ketika tri hari suci gereja menganjurkan agar umat berpuasa dan berpantang.dikatakan ,bahwa kita hanya makan kenyang satu kali(siang). Tetapi sampai saat ini,saya selalu berpuasa dari pagi sampai sore saja. Saya tidak makan,tetapi minum air putih saja. Itupun secukupnya,karna dalam pekerjaan,saya setiap hari bertemu dengan orang banyak.apakah itu boleh? Dan teman saya bercerita bahwa dia berpuasa dari pagi sampai besok pagi lagi. Saya sangat salut sama dia. Karna saya belum pernah berpuasa seperti dia. Mungkin untuk hal yang lain, ketika kita sedang novena ataupun berdoa untuk sesuatu hal, alangkah bagusnya jika disertai denga puasa juga. Apakah berpuasa ketika menyambut tri hari suci sama dengan berpuasa kitaa pribadi? Saya berharap katolisitas akan memberikan jawaban tentang bagaimana berpuasa yang benar, sehingga saya tidak bingung lagi. Trims. Tuhan memberkati – Nie

Jawaban:

Shalom Nie,
Pertama-tama perlu kita ketahui dulu alasan mengapa kita berpuasa dan berpantang. Bagi kita orang Katolik, puasa dan pantang artinya adalah tanda pertobatan, tanda penyangkalan diri, dan tanda kita mempersatukan sedikit pengorbanan kita dengan pengorbanan Yesus di kayu salib sebagai silih dosa kita dan demi mendoakan keselamatan dunia. Jadi puasa dan pantang bagi kita tak pernah terlepas dari doa. Dalam masa prapaska, maka puasa, pantang dan doa disertai juga dengan perbuatan amal kasih bersama-sama dengan anggota Gereja yang lain. Dengan demikian, pantang dan puasa bagi kita orang Katolik merupakan latihan rohani yang mendekatkan diri pada Tuhan dan sesama, dan bukan untuk hal lain, seperti diit/ supaya kurus, menghemat, dll. Dengan mendekatkan dan menyatukan diri dengan Tuhan, maka kehendak-Nya menjadi kehendak kita. Dan karena kehendak Tuhan yang terutama adalah keselamatan dunia, maka melalui puasa dan pantang, kita diundang Tuhan untuk mengambil bagian dalam karya penyelamatan dunia, dengan cara yang paling sederhana, yaitu berdoa dan menyatukan pengorbanan kita dengan pengorbanan Yesus di kayu salib. Kita pun dapat mulai mendoakan keselamatan dunia dengan mulai mendoakan bagi keselamatan orang-orang yang terdekat dengan kita: orang tua, suami/ istri, anak-anak, saudara, teman, dan juga kepada para imam, pemimpin Gereja, pemimpin negara, dst.

Berikut ini mari kita lihat ketentuan tobat dengan puasa dan pantang, menurut Kitab Hukum Gereja Katolik:

  • Kan. 1249 – Semua orang beriman kristiani wajib menurut cara masing-masing melakukan tobat demi hukum ilahi; tetapi agar mereka semua bersatu dalam suatu pelaksanaan tobat bersama, ditentukan hari-hari tobat, dimana umat beriman kristiani secara khusus meluangkan waktu untuk doa, menjalankan karya kesalehan dan amal-kasih, menyangkal diri sendiri dengan melaksanakan kewajiban-kewajibannya secara lebih setia dan terutama dengan berpuasa dan berpantang, menurut norma kanon-kanon berikut.
  • Kan. 1250 – Hari dan waktu tobat dalam seluruh Gereja ialah setiap hari Jumat sepanjang tahun, dan juga masa prapaskah.
  • Kan. 1251 – Pantang makan daging atau makanan lain menurut ketentuan Konferensi para Uskup hendaknya dilakukan setiap hari Jumat sepanjang tahun, kecuali hari Jumat itu kebetulan jatuh pada salah satu hari yang terhitung hari raya; sedangkan pantang dan puasa hendaknya dilakukan pada hari Rabu Abu dan pada hari Jumat Agung, memperingati Sengsara dan Wafat Tuhan Kita Yesus Kristus.
  • Kan. 1252 – Peraturan pantang mengikat mereka yang telah berumur genap empat belas tahun; sedangkan peraturan puasa mengikat semua yang berusia dewasa sampai awal tahun ke enampuluh; namun para gembala jiwa dan orangtua hendaknya berusaha agar juga mereka, yang karena usianya masih kurang tidak terikat wajib puasa dan pantang, dibina ke arah cita-rasa tobat yang sejati.
  • Kan. 1253 – Konferensi para Uskup dapat menentukan dengan lebih rinci pelaksanaan puasa dan pantang; dan juga dapat mengganti-kan seluruhnya atau sebagian wajib puasa dan pantang itu dengan bentuk-bentuk tobat lain, terutama dengan karya amal-kasih serta latihan-latihan rohani.

Memang sesuai dari yang kita ketahui, ketentuan dari Konferensi para Uskup di Indonesia menetapkan selanjutnya :

  • Hari Puasa dilangsungkan pada hari Rabu Abu dan Jumat Agung. Hari Pantang dilangsungkan pada hari Rabu Abu dan tujuh Jumat selama Masa Prapaska sampai dengan Jumat Agung.
  • Yang wajib berpuasa ialah semua orang Katolik yang berusia 18 tahun sampai awal tahun ke-60. Yang wajib berpantang ialah semua orang Katolik yang berusia genap 14 tahun ke atas.
  • Puasa (dalam arti yuridis) berarti makan kenyang hanya sekali sehari. Pantang (dalam arti yuridis) berarti memilih pantang daging, atau ikan atau garam, atau jajan atau rokok. Bila dikehendaki masih bisa menambah sendiri puasa dan pantang secara pribadi, tanpa dibebani dengan dosa bila melanggarnya.

Maka penerapannya adalah:

  1. Kita berpantang setiap hari Jumat sepanjang tahun (contoh: pantang daging, pantang rokok dll) kecuali jika hari Jumat itu jatuh pada hari raya, seperti dalam oktaf masa Natal dan oktaf masa Paskah. Penetapan pantang setiap Jumat ini adalah karena Gereja menentukan hari Jumat sepanjang tahun (kecuali yang jatuh di hari raya) adalah hari tobat. Namun, jika kita mau melakukan yang lebih, silakan berpantang setiap hari selama Masa Prapaska.
  2. Jika kita berpantang, pilihlah makanan/ minuman yang paling kita sukai. Pantang daging adalah contohnya, atau yang lebih sukar mungkin pantang garam. Tapi ini bisa juga berarti pantang minum kopi bagi orang yang suka sekali kopi, dan pantang sambal bagi mereka yang sangat suka sambal, pantang rokok bagi mereka yang merokok, pantang jajan bagi mereka yang suka jajan. Jadi jika kita pada dasarnya tidak suka jajan, jangan memilih pantang jajan, sebab itu tidak ada artinya.
  3. Pantang tidak terbatas hanya makanan, namun pantang makanan dapat dianggap sebagai hal yang paling mendasar dan dapat dilakukan oleh semua orang. Namun jika satu dan lain hal tidak dapat dilakukan, terdapat pilihan lain, seperti pantang kebiasaan yang paling mengikat, seperti pantang nonton TV, pantang ’shopping’, pantang ke bioskop, pantang ‘gossip’, pantang main ‘game’ dll. Jika memungkinkan tentu kita dapat melakukan gabungan antara pantang makanan/ minuman dan pantang kebiasaan ini.
  4. Puasa minimal dalam setahun adalah Hari Rabu Abu dan Jumat Agung, namun bagi yang dapat melakukan lebih, silakan juga berpuasa dalam ketujuh hari Jumat dalam masa Prapaska (atau bahkan setiap hari dalam masa Prapaska).
  5. Waktu berpuasa, kita makan kenyang satu kali, dapat dipilih sendiri pagi, siang atau malam. Harap dibedakan makan kenyang dengan makan sekenyang-kenyangnya. Karena maksud berpantang juga adalah untuk melatih pengendalian diri, maka jika kita berbuka puasa/ pada saat makan kenyang, kita juga tetap makan seperti biasa, tidak berlebihan. Juga makan kenyang satu kali sehari bukan berarti kita boleh makan snack/ cemilan berkali-kali sehari. Ingatlah tolok ukurnya adalah pengendalian diri dan keinginan untuk turut merasakan sedikit penderitaan Yesus, dan mempersatukan pengorbanan kita dengan pengorbanan Yesus di kayu salib demi keselamatan dunia.
  6. Maka pada saat kita berpuasa, kita dapat mendoakan untuk pertobatan seseorang, atau mohon pengampunan atas dosa kita. Doa-doa seperti inilah yang sebaiknya mendahului puasa, kita ucapkan di tengah-tengah kita berpuasa, terutama saat kita merasa haus/ lapar, dan doa ini pula yang menutup puasa kita/ sesaat sebelum kita makan. Di sela-sela kesibukan sehari-hari kita dapat mengucapkan doa sederhana, “Ampunilah aku, ya Tuhan. Aku mengasihi-Mu, Tuhan Yesus. Mohon selamatkanlah …..” (sebutkan nama orang yang kita kasihi)
  7. Karena yang ditetapkan di sini adalah syarat minimal, maka kita sendiri boleh menambahkannya sesuai dengan kekuatan kita. Jadi boleh saja kita berpuasa dari pagi sampai siang, atau sampai sore, atau bagi yang memang dapat melakukannya, sampai satu hari penuh. Juga tidak menjadi masalah, puasa sama sekali tidak makan dan minum atau minum sedikit air. Diperlukan kebijaksanaan sendiri (prudence) untuk memutuskan hal ini, yaitu seberapa banyak kita mau menyatakan kasih kita kepada Yesus dengan berpuasa, dan seberapa jauh itu memungkinkan dengan kondisi tubuh kita. Walaupun tentu, jika kita terlalu banyak ‘excuse’ ya berarti kita perlu mempertanyakan kembali, sejauh mana kita mengasihi Yesus dan mau sedikit berkorban demi mendoakan keselamatan dunia.

Demikian ulasan mengenai pantang dan puasa menurut ketentuan Gereja Katolik. Semoga bermanfaat ya, Nie, dan tidak menambah bingung.

Salam kasih dalam Kristus Tuhan<
Ingrid Listiati – http://www.katolisitas.org

Beberapa artikel yang berhubungan:

Beberapa artikel di kategori yang sama:

75 Komentar to Berpuasa dan berpantang menurut Gereja Katolik

  1. Kresensia Nadeak February 29, 2012 at 7:39 pm

    Syalom.,.,.
    Saya ingin bertanya :

    1.Selama kita berpuasa, sikap yg bagaimana yg sharusnya kita lakukan?

    2.Apakah jika kita marah, kecewa, menangis,(puasanya batal)??

    Trims, GB :)

    • Shalom Kresensia,

      1. Sikap kita yang baik dalam berpuasa adalah sikap tobat, sebab maksud utama dari puasa adalah pertobatan.

      2. Jenis pantang yang termudah yang disarankan oleh Gereja adalah pantang sehubungan dengan makanan/ minuman tertentu yang paling kita sukai. Sesudah itu baru kita boleh tambahkan juga pantang yang lain yang sifatnya lebih rohani, seperti pantang marah, pantang mengeluh, pantang berprasangka buruk, dst. Maka jika kita gagal dalam pantang ini, semestinya masih ada jenis pantang yang lain yang kita lakukan, sehingga tidak dapat dikatakan puasa dan pantang kita otomatis batal atau tidak ada artinya. Tetap pantang kita yang lain merupakan ungkapan tobat. Jika kita jatuh/ gagal menahan emosi pada saat pantang, bersegeralah memohon ampun pada Tuhan, dan mulailah kembali untuk berjuang agar tidak jatuh/ gagal lagi pada hari itu.

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      Ingrid Listiati- katolisitas.org

  2. dikatakan bahwa hari puasa adalah Rabu Abu dan Jumat Agung. Apakah boleh berpuasa sepanjang hari di masa Prapaskah?

    [Dari Katolisitas: Yang disebutkan dalam Kitab Hukum Kanonik adalah persyaratan minimum, sehingga jika Anda mau melakukan puasa dan pantang selama 40 hari, tentu saja diperbolehkan. Namun tentu bukan puasa sepanjang hari sampai tidak makan dan minum, sebab puasa menurut ajaran Gereja Katolik adalah makan satu kali kenyang dalam sehari (jadi dua kali lainnya menjadi optional, jika Anda mau makan 2 kali lagi, maka itu bukan makan sampai kenyang. Jika Anda tidak makan di luar makan satu kali kenyang, atau hanya makan sekali lagi; dan Anda dapat melakukannya, tentu itu dapat dilakukan. Di atas semua itu, pahamilah mengapa kita berpantang dan berpuasa, silakan klik di sini untuk membacanya.]

  3. fonny (sabah,Malaysia) February 19, 2012 at 7:26 pm

    Salam damai Katolitas,

    saya mau menanya mengenai hal puasa spjg prapaskah. apakah minum air juga tmasuk puasa 1x kenyang 1hari?

    terima kasih, ^-^

    [Dari Katolisitas: Minum air tidak dilarang pada Masa Puasa dan pantang menurut hukum Gereja Katolik. Sebab puasa dan pantang menurut iman Katolik bukan semata menahan lapar dan haus, namun sebagai ungkapan tobat dan mempersatukan sedikit mati raga kita dengan penderitaan Kristus. Selanjutnya, silakan membaca artikel Mengapa kita berpantang dan berpuasa, silakan klik.]

  4. mau tanya,
    bagaimana cara (ritual) kita memulai dan mengakhiri puasa dan pantang??

    thx

    [Dari Katolisitas: Sepanjang pengetahuan kami tidak ada rubrik khusus yang mengatur hal ini. Silakan membaca contoh doa- doa di sini, silakan klik, untuk didoakan di Masa Puasa.]

  5. salam rara
    bagaimana jika kita melaksanakan doa novena serta menjalankan puasa penuh selama 9 hari berturut2….
    dan bukan hanya hari jumat saja..
    apakah ini bisa dilaksanakan romo sekaligus,,..jika kita menginginkan sesuatu permohonan dari hati yang tulus.

    • Shalom Darahma,
      Yang ditulis di dalam Kitab Hukum Kanonik adalah persyaratan minimum, sehingga jika Anda ingin menambahkannya dari hati yang tulus, tentu saja hal ini diperbolehkan, dan akan berguna bagi pertumbuhan iman Anda. Namun alangkah baik juga jika puasa dan permohonan disertai dengan iman dan penyerahan diri yang total kepada Tuhan, akan apa yang menjadi rencana Tuhan dalam hidup Anda, sebagaimana iman Bunda Maria, “jadilah padaku menurut perkataan-Mu.” Sebab dengan kepasrahan yang total ini, hati Anda akan siap menerima apapun yang akan terjadi di dalam kehidupan Anda, dan Anda akan dimampukan untuk menghadapinya dengan rahmat Tuhan.
      Salam kasih dalam Kristus Tuhan, Ingrid Listiati- katolisitas.org

  6. Syalom…
    saya mau bertanya, selama kita berpuasa doa apa yang cocok kita doakan? trims… GBU

    [Dari Katolisitas: Silakan klik di sini]

  7. Salam,

    Yang mau saya tanyakan, bagaimana pandangan agama Katolik mengenai Terapi Urine (untuk kesehatan), apakah ayat AMSAL 5:15 itu merupakan salah satu jawabannya, apakah benar artinya ” Minumlah dari kelebihan….” itu yang dimaksud adalah seperti terapi tersebut, dan apakah hal ini termasuk salah satu hal berpuasa? Dan apakah orang yang melakukan terapi tersebut juga menjadi lebih bisa menolak gangguan2 rohani dari luar karena ada hubungannya dengan puasa tersebut.
    Mohon dibantu jawaban, sekian dan terimakasih

    • Shalom Steve,

      Ams 5:15, “Minumlah air dari kulahmu sendiri, minumlah air dari sumurmu yang membual.” (Drink water out of thy own cistern, and the streams of thy own well)

      Menurut Haydock’s Commentary on Holy Scripture, makudnya adalah: “Hiduplah dengan tenang di dalam tanah milikmu, dengan istrimu sendiri” (Live comfortably on your own property, with your own wife).
      [Sumur pada saat itu menandakan kepemilikan/ tanah milik; dan dengan demikian minum dari sumur sendiri, maksudnya adalah mencukupkan diri dengan milik sendiri dan tidak menghendaki milik orang lain].

      Maka nampaknya, interpretasi yang menghubungkan sumur ini dengan urine memang relatif agak terlalu ‘jauh’. Harusnya dibuktikan dahulu apakah kebiasaan minum urine ini memang sudah ada sejak jaman kitab Amsal ini ditulis. Sebab jika tidak, nampaknya interpretasi ini agak dipaksakan, seolah sudah ada konsepsi terapi urine, lalu mencoba mencari ayat yang kira- kira mendukungnya dalam Kitab Suci. Seharusnya yang dilakukan adalah mempelajari konteks budaya/ kebiasaan Yahudi saat itu, untuk melihat apakah interpretasi tersebut relevan atau tidak.

      Terus terang saya juga tidak mengetahui apakah terapi urine berkaitan dengan puasa. Makna puasa dan pantang menurut Gereja Katolik, silakan klik di sini. Puasa dan pantang menurut Gereja Katolik bukan merupakan suatu terapi jasmani, tetapi lebih kepada terapi rohani, yaitu sebagai tanda pertobatan, dan menyatukan sedikit pengorbanan kita dengan penderitaan Kristus di kayu salib demi keselamatan umat manusia. Memang orang yang rutin berpuasa/ berpantang akan lebih terbiasa untuk menahan diri, namun hal pengendalian diri ini bukan tujuan utama dari pantang dan puasa menurut iman Katolik.

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      Ingrid Listiati- katolisitas.org

      • Terima kasih Bu Ingrid atas tambahan penjelasannya.

        Jawaban ini memang masih dalam bayangan saya, bahwa menafsirkan kata demi kata dalam satu ayat Kitab suci bisa berbeda-beda pada setiap orang. Bahkan dalam ayat yang paling sederhanapun bisa berbeda-beda.

        Tapi itulah enaknya dalam agama kita ini, saling berbagi dan kasih adalah tujuan utama dalam segala permasalahan duniawi, yang penting adalah tetap setia pada jalan yang telah disediakan-NYA.

        Salam Damai,

        Steve

  8. salam

    terima kasih bu Ingrid, saya ada pertanyaan lagi. Saat puasa kita juga harus bisa mengendalikan nafsu kita baik itu amarah maupun yg lainnya. Semisal saya sdg berpuasa kemudian saya menasehati adik ato saudara saya karena berpakaian tdk pantas atau hal lainnya yg intinya saya ingin mengajari ato memberitau yg baik tapi dlm prosesnya kami berbantah shg harus diakui walaupun sedikit ada perasaan kesel walaupun tidak sampai terbawa sampai seharian, apa dg hal tsb puasa saya batal? Kemudian apabila saat puasa ada tante saya berkunjung dan menceritakan ttg kehidupan anak2nya baik itu buruk maupun baik yg mau tak mau saya harus merespon atau seorang tetangga mengatakan bahwa seorang menaruh kebencian kpd saya shg saya terlibat pembicaraan, apa hal ini bergosip dan bisa membatalkan puasa? Hal2 apa saja yang membatalkan puasa? Terima kasih

    • Shalom Maria,

      Sejujurnya saya belum pernah mendengar ada ketentuan baku tentang apa yang membuat suatu puasa itu batal. Yang disebutkan dalam Kitab Hukum Kanonik tentang puasa dan pantang adalah ketentuan minimum, yaitu makan kenyang hanya sekali dalam sehari, dan seseorang memilih suatu pantang yang termudah yaitu pantang makanan/ minuman tertentu yang disukai. Jadi pantang lainnya yang dilakukan di samping pantang yang disebutkan di atas, seperti pantang marah, pantang gosip dst., sifatnya adalah tambahan, walaupun sebenarnya memang lebih sulit. Jika sampai pantang yang paling sederhana itu tidak dilakukan, misalnya kelupaan, itupun saja tidak menutupi kemungkinan yang lain, yaitu seseorang dapat memilih jenis pantang yang lain. Demikian pula kalau misalnya Anda gagal menahan emosi (misalnya marah, atau membicarakan keburukan orang lain) pada saat sedang berpuasa/ berpantang, maka itu tidak serta merta membatalkan puasa dan pantang Anda dan membuatnya tidak berguna. Jika hal itu terjadi, bersegeralah mohon ampun kepada Tuhan; sebab besar kemungkinan, melalui kejadian itu Tuhan mengingatkan kita bahwa kita ini adalah manusia yang lemah; dan betapa kita membutuhkan rahmat Allah hanya untuk dapat melaksanakan pantang yang sangat sederhana. Sesungguhnya pantang dan puasa kita sungguh hanya merupakan pengorbanan yang sangat kecil, yang tidak dapat dibandingkan dengan pengorbanan Kristus. Kita semakin disadarkan bahwa kita masih jauh dari sempurna, masih jauh dari teladan Kristus, yang menanggung jalan salib-Nya dengan kesabaran dan kerelaan hati-Nya tanpa mengeluh. Dapat terjadi, Tuhan mengizinkan segala godaan tersebut terjadi pada saat kita sedang berpantang/ berpuasa, justru untuk melatih kita menjadi semakin rendah hati dan semakin menyadari ketergantungan kita pada Tuhan, yang juga menjadi salah satu tujuan dari puasa dan pantang itu.

      Melalui kejadian sehari- hari, misal saat kita menasehati seseorang, atau mendengarkan curhat seseorang; pada saat itu kita harus segera memohon pertolongan Tuhan agar kita dibimbing oleh Tuhan untuk menyatakan apa sebenarnya yang menjadi kehendak Tuhan (bukan melulu pendapat kita sendiri) kepada orang itu. Jika sampai orang tersebut tidak menerimanya, itu sudah bukan tanggung jawab kita lagi; sebab yang terpenting kita sudah mengatakannya dengan kasih. Yang harus kita jaga adalah agar kita tidak terbawa emosi, terutama jika yang berbicara dengan kita sudah mengeluarkan kata- kata kasar/ keras. Pada saat ini kita harus diam dan berdoa mohon rahmat pengendalian diri, agar kita tidak membalas dengan kata- kata yang keras juga. Inilah saat kita harus mengingat teladan Yesus yang tidak membalas, saat segala tuduhan ditujukan kepada-Nya. Justru melalui kejadian ini sesungguhnya makna puasa dan pantang kita menjadi nyata, karena secara rohani kita mengambil bagian (walau sangat sedikit) tentang apa yang dialami oleh Tuhan Yesus di jalan salib-Nya, yaitu di-salah mengertikan, dan kepada-Nya dituduhkan segala yang jahat.

      Jadi saat kita berpikir bahwa kita ‘memberi sedikit’ kepada Tuhan melalui puasa dan pantang itu, justru malah sebenarnya kita menerima banyak dari Tuhan,  sebab Tuhan membentuk kita sedikit demi sedikit untuk menjadi semakin memiliki pikiran dan perasaan Kristus. Ya, puasa dan pantang, sesungguhnya dapat membantu kita untuk mengambil bagian dalam apa yang tertulis dalam surat Rasul Paulus:

      “Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama, menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus, yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia. Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib. Itulah sebabnya Allah sangat meninggikan Dia dan mengaruniakan kepada-Nya nama di atas segala nama, supaya dalam nama Yesus bertekuk lutut segala yang ada di langit dan yang ada di atas bumi dan yang ada di bawah bumi, dan segala lidah mengaku: “Yesus Kristus adalah Tuhan,” bagi kemuliaan Allah, Bapa!” (Flp 2:5-11)

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      Ingrid Listiati- katolisitas.org

  9. salam

    sy sdh berusaha utk berpuasa menurut Gereja Katolik dr pkl 00 smp pkl 00 dn sy rasakn lbh berat drpd saat sy puasa menurut umat muslim(tdk bermaksud merendahkan)walaupun ktnya puasa kita enak tp stlh jalani mlh lbh berat krn kt makan kenyang 1 kali(sy sehari 2x mkn) aplg dg berpantang tp sy senang krn sy bisa ambil bag dr sengsara Yesus walaupun sedikit.kita jg saat berpuasa harus beramal dn membantu sesama.klo materi sy jjr tdk bs krn sy sendiri kekurangan kmd sy putuskn utk membantu dg doa utk anggota Gereja yg sdg menderita di api penyucian mlhan di api penyucian tdk mengenal agama,tepatkah?sy jg jika beramal sy memutuskn utk beramal kpd ibu sy krn ibu sy janda,tepatkah?apkh beramal kpd keluarga sendiri bukan beramal?sy mw tnya ttg rosario.ada batasannya tdk kita berdoa rosario,max brp x sehari?sy prnh saat krj ato saat di bis drpd pikiran kemana2 sy kdg doa rosario dg bantuan jari2,bolehkah?terima kasih

    • Shalom Maria,

      Sesungguhnya, hal berat atau tidaknya puasa dan pantang memang menjadi relatif. Sebab bagi orang yang sehari- harinya banyak minum, tentu saja berpuasa tanpa minum akan menjadi cukup berat. Namun bagi orang yang biasa tidak minum banyak, lalu mempunyai makanan kesenangan tertentu, maka berpantang makanan tersebut selama masa puasa menjadi cukup berat baginya. Namun terlepas dari semua fakta ini, puasa dan pantang menurut Gereja Katolik bukanlah diukur dari sejauh mana itu berat dan menyiksa kita, tetapi sejauh mana kita mempersatukannya dengan sengsara Kristus, demi keselamatan kita dan sesama kita. Maka puasa dan pantang kita tidak terpisah dari doa, dan perbuatan baik/ amal. Perbuatan baik/ amal ini memang bisa secara menyangkut jasmani dan rohani, sehingga jika Anda tidak dapat memberikan amal berupa materi, Anda dapat memberikan amal rohani, yang bahkan nilainya lebih tinggi.

      Berikut ini adalah 14 karya karitatif/ perbuatan kasih yang diajarkan oleh Gereja Katolik (lih. KGK 2447):

      7 Karya karitatif jasmani:
      1. Memberi makan pada orang (Matius 25:35)
      2. Memberi minum pada yang haus (Matius 25:35)
      3. Memberi pakaian pada yang telajang (Matius 25:36)
      4. Memberi tumpangan kepada tunawisma (Matius 25:35)
      5. Mengunjungi yang sakit (Matius 25 :36)
      6. Mengunjungi tawanan (Matius 25 :36)
      7. Menguburkan yang mati (Tob 1:17; 12:12; 14:2)

      7 karya karitatif rohani:
      1. Membimbing yang ragu-ragu
      2. Mengajar yang tidak tahu
      3. Menasihati pendosa
      4. Menghibur yang sedih
      5. Mengampuni kesalahan
      6. Menanggung dengan sabar kepahitan hidup
      7. Mendoakan yang hidup maupun yang mati

      Kalau ibu Anda janda dan memang membutuhkan pertolongan, tentu anda memang berkewajiban membantunya. Sebab mengasihi orang tua menempati tempat yang pertama dalam mengasihi sesama. Terlihat bahwa dalam dua loh batu kesepuluh perintah Allah, perintah 1-3 adalah untuk mengasihi Allah dan perintah 4-10 adalah mengasihi sesama, dan perintah untuk menghormati (dan mengasihi) orang tua menempati urutan yang pertama di loh batu yang kedua tersebut.

      Lalu tentang rosario, setahu saya tidak ada batasan berapa maksimalnya dalam sehari. Silakan Anda mendaraskan doa rosario sewaktu Anda menginginkannya. Jika Anda dapat mendaraskannya di dalam pikiran Anda sepanjang hari, ini malah Anda melaksanakan Sabda Allah yang mengatakan, “Tetaplah berdoa”/ Pray withour ceasing (1 Tes 5:17). Tidak ada larangan berdoa rosario dengan menggunakan jari-jari, namun untuk memudahkan Anda, silakan Anda membeli di toko buku rohani, rosario yang berbentuk cincin atau gelang, sehingga dapat dibawa- bawa kemanapun tanpa menarik perhatian, dan Anda dapat mendoakan rosario kapanpun Anda menginginkannya. Namun jika Anda tidak berdoa rosario, doa spontan yang lainpun dapat Anda lakukan. Para Santa/o menyebutnya sebagai “ejaculative prayer” yaitu doa- doa singkat sepanjang hari, seperti, “Tuhan Yesus, aku mengasihi-Mu, selamatkanlah jiwa- jiwa (atau selamatkanlah….. sebutkan nama orang yang Anda doakan).” Atau, “Tuhan Yesus, kasihanilah aku,” atau, “Tuhan Yesus, syukur bagi-Mu, Bunda Maria doakanlah aku.” Atau, “Datanglah Roh Kudus, penuhi hatiku.” Dan seterusnya.

      Semoga kita dapat melangkah bersama untuk terus membawa-Nya serta di dalam kehidupan kita sehari- hari.

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      Ingrid Listiati- katolisitas.org

  10. Anastasia Rosari Dewi September 26, 2011 at 9:20 am

    Shallom..
    Saya ingin menanyakan tentang puasa setiap jumat sepanjang tahun itu apakah aturannya sama ketika kita menjalankan puasa dan pantang pada masa prapaskah atau ada aturan lain yang harus dilakukan.

    Terima kasih

    [dari katolisitas: silakan melihat jawaban di atas - silakan klik]

  11. Syaloom Pengurus Katolisitas,

    Saya ingin bertanya, kebanyakan dr pembacaan inti dr Puasa dan Pantang untuk pertobatan diri dan mendoakan orang lain.

    Yang ingin saya tanyakan:

    Mgkn di tanya jawab di bagian apa saya pernah bilang saya ketika SMA menerima komuni di Gereja non Katolik dengan cara yang tidak pantas (belum baptis dan penasaran akan rasa roti nya).

    Saya melakukan Pantang tidak akan makan makanan kesukaan saya (mie) seumur hdup karena dosa itu, tp saya tidak berdoa setiap hari, hanya satu kali saja ketika memutuskan melakukan itu. Apakah itu sudah salah?

    Apakah pantang saya sebenarnya tidak perlu, karena saya sudah dibaptis ketika saya mau pantang jadi dosa masa lalu saya sudah dihapus?

    Karena saya pikir kok pantang saya kebanyakan hanya untuk kepentingan diri saya sendiri dan saya pengen mengubah pantangan itu buat mendoakan orang lain saja, bolehkan seperti itu atau saya harus membuat pantangan baru?

    • Shalom Leonard,
      Di dalam doa Prefasi Misa Kudus Minggu biasa dikatakan demikian, “Keinginan kami untuk bersyukur kepada-Mu itu sendiri adalah karunia-Mu. Ucapan syukur kami tidak menambah kemuliaan-Mu, tetapi membuat kami bertumbuh di dalam rahmat-Mu melalui Yesus Kristus Tuhan kami.” (Our desire to thank You is in itself Your gift. Our prayer of thanksgiving adds nothing to Your greatness but makes us grow in Your grace through Jesus Christ, our Lord.)
      Maka saya percaya dorongan dari dalam hati anda untuk melakukan pantang sebagai ungkapan tobat, juga berasal dari Tuhan, sebab dorongan hati untuk bertobat/ insyaf dari dosa berasal dari Roh Kudus (lih. Yoh 16: 8). Pertobatan adalah awal dari hubungan yang lebih dekat dengan Allah, sebab melalui pertobatan, hilanglah penghalang terbesar yang merintangi hubungan kasih antara anda dengan Tuhan. Memang tidak ada aturan tertulis secara mendetail tentang hal ini, namun menurut hemat saya, anda dapat melanjutkan pantang tersebut, namun dengan disertai ujud doa tambahan, yaitu selain untuk pertobatan anda, anda mendoakan juga bagi pertobatan orang lain.
      Jangan lupa, bahwa ungkapan tobat juga merupakan bentuk ungkapan kasih, dan bahwa sifat kasih adalah memberi yang terbaik, melebihi yang disyaratkan; sehingga dengan prinsip ini, maka selalu terbuka kesempatan bagi anda untuk melakukan ‘lebih’ dari yang disyaratkan, asalkan anda melakukannya atas dasar motivasi kasih kepada Tuhan. Silakan anda tentukan sendiri seturut hati nurani anda, apakah wujud ungkapan kasih itu, yang dapat anda berikan kepada Tuhan dan sesama. Mungkin prinsip ajaran dari St. Thomas Aquinas dapat membantu, yaitu adanya tujuh perbuatan kasih yang bersifat rohani dan tujuh yang bersifat jasmani. Perbuatan kasih secara rohani yang dapat kita lakukan kepada sesama kita yang membutuhkan adalah: untuk membantu mereka untuk bertobat, untuk mengajar mereka yang tidak tahu, untuk membantu menguatkan mereka yang ragu-ragu, untuk menghibur mereka yang berduka, untuk dengan sabar menerima kesalahan/ kekurangan orang lain, untuk mengampuni kesalahan, dan untuk mendoakan mereka yang masih hidup maupun yang sudah meninggal. Sedangkan tujuh perbuatan kasih secara jasmani adalah: memberi makan mereka yang kelaparan, memberi minum untuk mereka yang haus, memberikan pakaian kepada mereka yang telanjang, memberikan tumpangan tempat tinggal kepada mereka yang tidak punya rumah, mengunjungi mereka yang sakit, mengunjungi mereka yang ada di dalam penjara, dan menguburkan orang yang meninggal dunia. Di antara perbuatan kasih yang menyangkut rohani dan jasmani ini, tentu yang rohani mempunyai tempat yang lebih utama, walaupun yang jasmani juga bukannya tidak penting. Sebab perbuatan kasih yang menyangkut rohani ini berkaitan dengan membawa seseorang kepada keselamatan.
      Demikian yang dapat saya sampaikan tentang pantang, yang menurut iman Katolik tidaklah berdiri sendiri, namun disertai juga dengan doa dan perbuatan kasih (sebagai ungkapan iman dan pengharapan), agar dapat menghantar kita kepada penggenapan janji keselamatan di dalam Kristus.
      Salam kasih dalam Kristus Tuhan, Ingrid Listiati- katolisitas.org

  12. Poppy Linggi Allo August 2, 2011 at 7:59 pm

    Yth Katolisitas.org,

    saya ingin bertanya mengenai seseorang yang melakukan doa novena dibarengi dengan puasa (biasanya puasa mutih atau puasa Senin-Kamis/Rabu-Jumat), untuk tujuan khusus seperti mendoakan kelancaran even rohani, mendoakan orang sakit, ataupun mendoakan rekan yang tengah menghadapi bahaya. Menurut salah seorang rekan yang biasa melakukan doa novena+puasa ini, dengan berpuasa kekuatan doanya semakin meningkat dan untuk kasus2 tertentu seperti ketika mendoakan orang yang terpengaruh ilmu hitam doa biasa saja tidak cukup. Bagaimana pandangan iman Katolik mengenai hal tsb.

    Terima kasih atas masukannya.
    Salam dalam kasih Tuhan :-)

    • Yohanes Dwi Harsanto Pr August 3, 2011 at 5:41 am

      Salam Poppy,

      Tradisi spiritualitas Katolik menjunjung tinggi kebiasaan doa dan puasa serta pantang. Yesus sendiri menyatakan bahwa doa dan puasa mampu mengalahkan kejahatan. Yesus sendiri berpuasa dan tekun berdoa. Dialah pendoa sejati. Motivasi berdoa dan berpuasa serta berpantang yang benar bukanlah karena pertama-tama perintah atau aturan, namun sebagai ungkapan syukur akan kasih Tuhan yang telah menebus kita, dan ungkapan permohonan yang serius, sekaligus ungkapan keyakinan bahwa Allah pasti menolong. Yang berdoa apalagi berdoa disertai puasa dan pantang pasti akan mengalami kepekaan akan bimbingan Tuhan dalam hidup, jauh lebih bisa merasakannya daripada jika ia tak berdoa, berpuasa maupun berpantang. Dalam penerimaan sakramen-sakramen Kristus, pun umat Katolik yang berdoa disertai puasa dan pantang pasti akan mengalami daya guna sakramen secara lebih berbuah bagi diri sendiri maupun bagi pelayanannya kepada sesama. Gereja tetap menganjurkan berpuasa minimal 1 jam sebelum Misa.

      Salam

      Yohanes Dwi Harsanto, Pr

      • Poppy Linggi Allo October 15, 2011 at 2:16 pm

        Salam Romo dan terima kasih atas tanggapannya :-)

        doa novena yang dibarengi puasa ini (saya dan teman2 menyebutnya dengan istilah “doa puasa’) cukup populer dilakukan sebagian orang. Mengenai doa puasa ini ada pengalaman unik yang pernah saya alami. Ketika itu saya dan rekan2 bekerjasama dalam penyelenggaraan KRK Penyembuhan. Ada seorang rekan yang melakukan doa puasa untuk kelancaran even kami termasuk juga mendoakan orang2 sakit yang akan datang, dan ketika dia berdoa saya dapat merasakan hati tersentuh sangat dalam sampai menangis. Saya kemudian memahami bahwa apabila orang melakukan puasa untuk permohonan khusus seperti itu, yang dia lakukan sebenarnya adalah menekan tubuh jasmani untuk memperoleh kekuatan rohani. Permohonan dikabulkan karena kekerasan hatinya. Mereka mengobarkan spirit pengurbanan sehingga tidak ada spirit sukacita atau rasa damai sejahtera yang biasanya menyertai pekerjaan2 Allah atau karya Roh Kudus. Demikian yang saya pahami, dan pikiran saya sangat terbeban karenanya..
        Ketika membaca tanggapan dari Romo (Motivasi berdoa dan berpuasa serta berpantang yang benar bukanlah karena pertama-tama perintah atau aturan, namun sebagai ungkapan syukur akan kasih Tuhan yang telah menebus kita, dan ungkapan permohonan yang serius, sekaligus ungkapan keyakinan bahwa Allah pasti menolong) beban2 pikiran saya terangkat dan sepertinya memahami sesuatu.
        Lebih lanjut di dalam Alkitab saya temukan bahwa kasih karunia Allah demikian besar dan ada banyak petunjuk untuk permohonan doa, antara lain : pada kisah perkawinan di Kana (Bunda Maria meminta dengan lembut kepada PuteraNya Yesus agar menolong pasangan pengantin yang kehabisan anggur); kisah Daud dan Yonatan (jiwa mereka berpadu dan Yonatan mengasihi Daud seperti dirinya sendiri sehingga menyelamatkan dari ancaman pembunuhan); Simson dan Delila (Delila membangkitkan cinta pada diri Simson sehingga memberikan rahasia hidupnya); orang2 sakit yang disembuhkan Yesus (karena ketaatan, percaya dan iman yang besar). Dan masih banyak lagi. Rasanya saya jadi lebih memahami tentang karya penebusan Tuhan. Terima kasih.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

CONNECT WITH US: