Tentang sebutan Tuhan, Allah dan Yahweh, samakah?

40

Menurut New Advent Catholic Encyclopedia, Bangsa Yahudi mengenal tiga sebutan nama untuk Tuhan, yaitu El, Elohim dan Eloah, di samping nama YHWH (Tetragrammaton/ Yahweh). Perkataan Yahweh ini terdapat sekitar 6000 kali dalam Perjanjian Lama, Elohim 2570, Eloah 57 kali dan El 226 kali. Walaupun masih menjadi perdebatan para ahli Kitab Suci, dikatakan bahwa kemungkinan kata Allah berasal dari kata El ini, yang berarti Tuhan yang Mahabesar/Mahakuasa (lih. Kel 6:2) yang secara derivatif dapat pula berarti “Ia yang dikejar oleh semua orang, Ia yang menjadi tujuan semua orang, ia yang kepada-Nya semua orang mencari perlindungan dan bimbingan, Ia yang kepada-Nya seseorang mendekatkan dirinya, dst”. Diskusi argumen tentang asal usul kata ini, setuju atau tidak setuju akan makna derivatif-nya akan menghasilkan pembicaraan yang terlalu jauh.

Sedangkan nama Tuhan sebagai YHWH yang diterima oleh Musa, merupakan nama yang sangat sakral, maka menurut tradisi Yahudi, mereka dilarang menyebutkan nama YHWH tersebut. Penyebutan nama YHWH (Yahweh) hanya dilakukan setahun sekali oleh Imam Agung, yang dilakukan di Bait Allah, pada pesta Yom Kippur.  Karena kesakralan kata YHWH ini, maka tak sembarang orang menyebutkannya; dan di dalam pembacaan Kitab suci, mereka mengganti kata YHWH tersebut dengan Adonai. Septuagint dan Vulgate kemudian menerjemahkan Adonai ini dengan Kyrios/ Dominus. Paus Benediktus XVI dalam bukunya Jesus of Nazareth condong kepada hasil studi para ahli Kitab Suci yang mengatakankan bahwa pengakuan Petrus akan Yesus sebagai Mesias, Putra Allah yang hidup (Mat 16:13-15), jatuh pada peringatan hari Yom Kippur ini (lihat buku karangan Bapa Paus Benedict XVI, Jesus of Nazareth p. 306); yang menunjukkan penggenapan sebutan Allah YHWH/ Adonai ini di dalam diri Kristus Yesus.

Selanjutnya tentang topik Tuhan dan Allah silakan membaca artikel ini (silakan klik).

Kurios‘ itu adalah ‘Tuhan’ (Lord) yang diambil dari bahasa Yunani, yang merupakan bahasa penulisan kitab Perjanjian Baru. Sedangkan kata “Tuhan” (Lord) dalam Kitab Perjanjian Lama (PL) dalam bahasa Ibrani-nya adalah “Adonai“. Dalam PL, kata “Adonai” (Tuhan/ Lord) ini dipakai sebagai kata ganti bagi YHWH (Yahwe) dan digunakan bersama- sama kata “Elohim/ (Allah/ God)” (lih. Mzm 38:15; Mzm 8:1,9), walaupun kata “adonai” ini memang juga menggambarkan hubungan antara tuan dan hamba (lih. Kej 24:9,20,12,14,27; Kel 21:4-6) antara suami dan istri (lih. Kej 18:12, Yud 19:27; Mzm 45:12).

Demikianlah contoh ayat-ayat di mana kata ‘YHWH’, ‘Tuhan’ (Lord)  dan ‘Allah’ (God)  digunakan untuk mengacu kepada Allah yang satu dan sama:

“Sebab kepada-Mu, ya TUHAN [YHWH/ Yehovah], aku berharap; Engkaulah yang akan menjawab, ya Tuhan [Adonai], Allahku [Elohim].” (Mzm 38:15)

“Ya TUHAN [YHWH/ Yehovah], Tuhan [Adonai] kami, betapa mulianya nama-Mu di seluruh bumi! …. Ya TUHAN [YHWH/ Yehovah], Tuhan [Adonai] kami, betapa mulianya nama-Mu di seluruh bumi! (Mzm 8:1,9).

Di kitab Perjanjian Baru, terdapat ayat-ayat, di mana kata “kurios” diterjemahkan sebagai “Tuhan” (Lord), dan mengacu kepada Allah (God), seperti halnya pada Luk 1:32; 2:9, Kis 5:19), dan kata “kurios” ini juga mengacu kepada Yesus (lih. Rom 10:9, 1Kor 12:3; Flp 2:11; Why 19:15); sehingga dengan demikian, ayat-ayat tersebut mengajarkan bahwa Yesus adalah Allah (God).

Kata Ibrani “Adonai” diterjemahkan di dalam Kitab Septuaginta (PL dalam bahasa Yunani) dengan kata Yunani, yaitu “Kurios” (Lord). Kata “Kurios” ini juga digunakan untuk menterjemahkan kata YHWH (God). Maka Kitab Suci mengajarkan bahwa, baik kata ‘Kurios‘ dan ‘YHWH’ ini mengacu kepada kata ‘Allah’ (dalam PL) dan kepada ‘Tuhan’ dan ‘Yesus’ (dalam PB); dan dengan demikian, Kitab Suci mengajarkan bahwa Yesus adalah Allah. Kata Adonai  dalam Perjanjian Lama adalah kata ganti terhadap kata YHWH [Yehovah/ Yahwe], yaitu kata yang penggunaannya terbatas, oleh karena bangsa Yahudi menolak untuk mengucapkan kata tersebut karena takut menyebutkannya dengan tidak hormat, dan dengan demikian melanggar perintah Allah, “Janganlah menyebut nama Tuhan [YHWH/ Yehovah] Allah-mu [Elohim] dengan tidak hormat” (lih. Kel 20: 7). Dengan digunakannya kata “Adonai” ini sebagai kata ganti YHWH (dalam PL), dan kata yang sama ini juga mengacu kepada Yesus (dalam PB), maka kita sampai pada kesimpulan bahwa Yesus adalah Kurios, dan karena Kurios adalah YHWH/ Allah, maka Yesus adalah Allah.

Dengan demikian, penggunaan nama Yahweh, Adonai, Kyrios (Kurios), Dominus, ini sebenarnya bermakna sama, yaitu Tuhan atau Allah.  Mari kita berpegang pada apa yang diajarkan Gereja tentang sebutan ‘Allah’ dan ‘Tuhan’ ini. Roman Curia dalam, ” The Congregation for Divine Worship” 29 Juni 2008,  mengatakan, ” Penyebutan gelar Kyrios kepada Tuhan yang bangkit merupakan pernyataan akan ke-Allah-an-Nya.” Dokumen ini memberikan kesimpulan bagi penggunaan kata Kyrios untuk kata YHWH (Tetragrammaton) yang artinya adalah Allah.

 

Share.

About Author

Stefanus Tay, MTS dan Ingrid Listiati, MTS adalah pasangan suami istri awam dan telah menyelesaikan program studi S2 di bidang teologi di Universitas Ave Maria - Institute for Pastoral Theology, Amerika Serikat.

40 Comments

  1. Bagaimana penjelasan tentang kata Akulah Guru dan Tuan dalam Alkitab Ende Yohanes 13:13, sedangkan dalam Alkitab TB Yohanes 13:13 Akulah Guru dan Tuhan, Terimakasih Tuhan Berkati.

    • Shalom Aritra,

      Silakan membaca artikel di atas, silakan klik. ‘Kurios‘ itu adalah ‘Tuhan’ (Lord) yang diambil dari bahasa Yunani, yang merupakan bahasa penulisan kitab Perjanjian Baru. Sedangkan kata “Tuhan” (Lord) dalam Kitab Perjanjian Lama (PL) dalam bahasa Ibrani-nya adalah “Adonai“. Dalam PL, kata “Adonai” (Tuhan/ Lord) ini dipakai sebagai kata ganti bagi YHWH (Yahwe) dan digunakan bersama- sama kata “Elohim/ (Allah/ God)” (lih. Mzm 38:15; Mzm 8:1,9), walaupun kata “adonai” ini memang juga menggambarkan hubungan antara tuan dan hamba (lih. Kej 24:9,20,12,14,27; Kel 21:4-6) antara suami dan istri (lih. Kej 18:12, Yud 19:27; Mzm 45:12). Maka memang kata Adonai/ Kurios dapat diterjemahkan sebagai figur otoritas tertinggi, yaitu Tuan/Master, Tuhan/Lord/God (bahasa Inggris), dan memang Tuhan adalah Tuan bagi mahluk ciptaan-Nya. 

      Tentang ayat Yoh 13:13; St. Yohanes Krisostomus mengatakan, bahwa Yesus sekarang tidak hanya bicara kepad Petrus saja tetapi kepada semua: Kami memanggil Aku Guru dan Tuhan. Ia menerima penilaian mereka dan untuk menghindari kesan bahwa perkataan itu hanya semata perkataan mereka, Yesus menegaskan, Dan kamu benar, sebab memang Akulah Guru dan Tuhan. 

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      Ingrid Listiati- katolisitas.org

  2. Saudara sekalian….yang terpenting kita harus lebih peka terhadap tuntunan Tuhan dan untuk penyebutan nama Tuhan di tiap2 negara bahkan suku, daerah itu berbeda-beda….jadi IMAN kita yang menentukan kepada siapa kita percaya… nama Tuhan ngak boleh diperdebatkan….sorry bagi saya sekali Yesus tetap Yesus…orang Indonesia kok mau berlagak pakai bahasanya orang luar….Gbu

  3. Nama-nama Tuhan Perjanjian Lama dalam Sejarah Alkitab Indonesia yaitu ;
    -Tuhan Hua,
    -Tuhan Jehuwa,
    -Tuhan Allah,
    -Tuhan Jahwe dan
    -Tuhan Yahweh.

    Terjemahan Lama LAI (1962)
    - Tuhan JEHUWA (Kel 15: 3)
    Foto:
    link to photos-b.ak.fbcdn.net

    Terjemahan Lama LAI (1970)
    - Tuhan HUA (Yeh 12:28)
    Foto:
    link to photos-f.ak.fbcdn.net

    Terjemahan Baru LAI (2011)
    - Tuhan ALLAH ( Yeh 12:28)
    Foto:
    link to photos-g.ak.fbcdn.net

    Terjemahan KSKK (LAI 2002)
    - Tuhan Yahweh ( Yes 42: 8)
    link to photos-g.ak.fbcdn.net

    Terjemahan ENDE (1969)
    - Tuhan Jahweh (Yeh 3:27)
    Link:
    link to sabdaweb.sabda.org

    Nama Yahweh dalam kamus TB LAI 2011, carilah kata TUHAN
    Foto:
    link to photos-h.ak.fbcdn.net

    Nama Yahweh pada Pengantar kitab Mazmur alkitab “Penuntun Hidup Berkelimpahan” Hal 813, LAI 1994
    Foto:
    link to photos-b.ak.fbcdn.net

    KET:
    - Nama Hua singkatan dari Jehuwa
    - Nama Hua juga sering dinyanyikan dalam liturgi2 gereja.

    Kesimpulan:
    - Nama Yahweh adalah Tuhan Pencipta Langit dan Bumi , Tuhan Bangsa Israel
    - Etimologi Allah=Elohim–> FATAL/Human Error (Yeh12:28) lihat nama Hua menjadi nama Allah kenapa bukan Budha atau Wisnu ajah.
    - Acuan kebenaran bukan kristen Arab , yg jadi acuan adalah Bangsa Israel ( Yes 2:3)
    - silahkan buka Pujisyukur no 540

    • Shalom Aten,

      Dalam Kitab Suci, kata ALLAH  yang satu disebut dengan beberapa istilah: YHWH/ Yehovah (sekitar 6800 kali); Elohim (2,600 kali); Adonai (439 kali) dan El (238 kali). Ada lagi istilah yang merupakan kombinasi, seperti El Shaddai, El Eloah dan Yahweh Elohim.

      Dalam Yeh 12:28, yang digunakan adalah kata “Adonai” dan “Yehovah”, demikian: “Oleh karena itu katakanlah kepada mereka: Beginilah firman Tuhan (Adonai) ALLAH (Yehovah): Tidak satupun dari firman-Ku akan ditunda-tunda. Apa yang Kufirmankan akan terjadi, demikianlah firman Tuhan (Adonai) ALLAH (Yehovah).”

      Maka yang Anda permasalahkan di sana adalah kata terjemahan, yang tidak mengubah apapun maksud dari Kitab Suci, sebab yang ditulis di sana adalah istilah yang ditujukan kepada Allah yang satu da sama. Kemungkinan kata “Hua” di sana adalah kependekan dari Yehovah/ Yehuwa, namun di edisi tahun 2003 terjemahan LAI, sudah diterjemahkan sebagai Tuhan ALLAH, sehingga  dalam bahasa Indonesia, Yehovah diterjemahkan sebagai ALLAH atau TUHAN (semua dengan huruf besar). Namun pandangan Anda, yang mempertanyakan mengapa tidak diterjemahkan dengan istilah Budha atau Wisnu, tentu tidak ada dasarnya, sebab kedua kata itu tidak menggambarkan Tuhan menurut iman Kristiani.

      Acuan kebenaran adalah apa yang telah ditetapkan Gereja/ jemaat (lih. 1Tim 3:15), sebab Kitab Suci diberikan kepada Gereja, yaitu jemaat yang mengimani Kristus. Kanon Kitab Suci yang ada pada kita sekarang adalah hasil penetapan Magisterium Gereja Katolik, pertama kali oleh Paus Damasus I (382), lalu ditegaskan lagi di Konsili Hippo (393) dan Karthago (397). Jadi acuannya bukan bangsa Israel yang bahkan tidak percaya kepada apa yang diwahyukan Allah di dalam Kristus.

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      Ingrid Listiati- katolisitas.org

  4. Dear katolisitas,

    Cuman pingin tahu saja nih. Kalo mengambil analogi dari kata ‘petros’ dan ‘petra’ dalam bahasa Yunani seperti yg sdh pernah dijelaskan di artikel yang lain di website ini, petros berarti batu karang dalam bentuk maskulinnya (dalam bentuk gender laki2). Apakah itu berarti Kurios/ Kyrios ini juga diartikan Tuhan dalam bentuk gender laki2 (seperti kata Bapa) ? Padahal kita tidak tahu gender Tuhan itu apa dan dalam tata bahasa Yunani, sesuatu yg tidak diketahui gendernya maka digunakan bentuk feminim-nya, yang contohnya adalah kata ‘petra’ itu sendiri. Mohon pejelasannya, terima kasih.

    Tuhan memberkati.

    [Dari Katolisitas: Gender bagi kata Allah (Elohim) maupun Tuhan (Kurios) adalah maskulin. Maka nampaknya Kurios dan Elohim ini tak ada hubungannya dengan kata Petros dan Petra.]

  5. Katolik di Indonesa justru memperkenalkan nama Yahweh..
    Coba perhatikan berbandingan terjemahan dibawah ini?

    Yes 42: 8 “Aku ini Yahweh, itulah namaKu…” (KSKK Edisi Pastoral Katolik, LAI 2002)

    Yes 42:8 ” Aku ini TUHAN, itulah namaKu…” (Terjemahan LAI sampai saat ini”

    Kesalahan penterjemahan menimbulkan banyak perbedaan pendapat, saya kira terjemahan yg benar pada ayat diatas adalah terjemahan KSKK( Kitab Suci Komunitas Kristiani Edisi Pastoral Katolik cetakan LAI 2002). Kenapa? Coba lihat perbedaannya sangat signifikan antara;
    ->Sebuah NAMA (Yahweh) dan jabatan (TUHAN)

    Sangat ironis jika seorang menanyakan “siapa nama ayah kamu??” . Terus anda menjawab nama ayah saya adalah “AYAH”. Bukankah AYAH adalah sebuah Gelar atau Jabatan sama halnya dengan kata Presiden, dokter, lurah, perawat, dll. Seorang anak tentu harus tahu nama ayahnya. Bagaimana respon kita jika seorang menanyakan siapa nama Tuhan orang kristen pada jaman Perjanjian Lama?? Apakah anda akang menjawab TUHAN, ALLAH, TUHAN ALLAH, TUHAN Allah, Tuhan Allah??? Sesuai terjemahan LAI saat ini. Padahal jika diucapkan kedengarannya SAMA saja tidak membedakan mana huruf kecil dan huruf besar.

    Ada sebuah lagu yang memuat Nama Yahweh dan itu sering kita nyanyikan dalam Puji Syukur, anda cari sendiri daftar judul pada halaman belakang Puji Syukur anda.

    Kitab Suci Komunitas Kristiani harus dipegang semua umat Katolik diIndonesia karena disitu memuat Nama Yahweh lebih dari 2000 kali. Dan membedakan apa itu NAMA dan Apa itu jabatan?? Supaya kita tau bahwa Yesus adalah Yahweh yg turun menjadi manusia.

    Coba lihat Kata pengantar kitab Imamat…Iman bangsa Israel kepada Yahweh tidak berubah… (sumber kitab suci komunitas kristiani, edisi pastoral katolik)
    link to imankatolik.or.id

    • Shalom Aten,

      Demikianlah keterangan tentang kata asli yang terdapat pada ayat Yes 42:8, menurut link to e-sword.net, yang menjelaskan mengapa di beberapa teks diterjemahkan sebagai Tuhan, dan di teks lainnya diterjemahkan YHWH:

      Kata yang ada di teks aslinya adalah: (diberi kode H3068):

      ְיהָוֹה
      yehōwāh: A noun meaning God. The word refers to the proper name of the God of Israel, particularly the name by which He revealed Himself to Moses (Exo_6:2-3). The divine name has traditionally not been pronounced, primarily out of respect for its sacredness (cf. Exo_20:7; Deu_28:58). Until the Renaissance, it was written without vowels in the Hebrew text of the Old Testament, being rendered as YHWH. However, since that time, the vowels of another word, ’aḏōnāy (H136), have been supplied in hopes of reconstructing the pronunciation. Although the exact derivation of the name is uncertain, most scholars agree that its primary meaning should be understood in the context of God’s existence, namely, that He is the “I AM THAT I AM” (Exo_3:14), the One who was, who is, and who always will be (cf. Rev_11:17). Older translations of the Bible and many newer ones employ the practice of rendering the divine name in capital letters, so as to distinguish it from other Hebrew words. It is most often rendered as LORD (Gen_4:1; Deu_6:18; Psa_18:31 [32]; Jer_33:2; Jon_1:9) but also as GOD (Gen_6:5; 2Sa_12:22) or JEHOVAH (Psa_83:18 [19]; Isa_26:4). The frequent appearance of this name in relation to God’s redemptive work underscores its tremendous importance (Lev_26:45; Psa_19:14 [15]). Also, it is sometimes compounded with another word to describe the character of the Lord in greater detail (see Gen_22:14; Exo_17:15; Jdg_6:24).

      Maka entah diterjemahkan sebagai “Tuhan” (Jehovah) atau YHWH, tidaklah mengubah kebenaran yang disampaikan, bahwa teks tersebut mengacu kepada Allah, yang menyatakan diri-Nya sebagai Tuhan (Jehovah), yang di ayat yang lain mengatakan bahwa Ia adalah “Aku adalah Aku/ I AM THAT I AM” (arti dari YHWH).

      Yang membedakan antara jabatan Allah dan nama Allah adalah manusia, namun Allah sendiri tidak membedakan antara keduanya, sebab Ia memperkenalkan namanya kepada manusia sebagai TUHAN (Yehowah/ Lord, lih. Yes 42:8), dan juga sebagai “Aku adalah Aku” (Kel 3:14-15). Tanpa adanya pembedaan ini kita mengetahui bahwa Tuhan (Jehowah) yang sama itulah yang menyelamatkan manusia dalam Pribadi Yesus (Jesus artinya Jehovah saves/ Tuhan menyelamatkan), yang adalah Putera Allah yang menjelma menjadi manusia.

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      Ingrid Listiati- katolisitas.org

       

  6. Bahkan Tuhan Yesus pun mengajari kita untuk bersikap sopan santun terhadap Sang Pencipta dengan memanggil Dia dengan sebutan Bapa… :)
    Tidak mungkin kan kita memanggil ayah kita dengan menyebut “nama” beliau, pastilah kita akan memanggil mereka dengan sebutan “ayah”.
    God Bless us….! ^_^

  7. CAHAYA LASE on

    Syalom smuanya,yg Tuhan berkati,sy ingin bertanya apakah klo kita gunakan nama Tuhan yg benar itu jd suatu dosa bgi diri kita,klo menurut sy sudah saatnya kita kembali kepada bahasa asli dlm kitab suci,contohnya penggunaan nama asli dari Tuhan,trims

    • Shalom Cahaya Lase,

      Nampaknya di sini persoalannya adalah, apakah kita mau membaca Kitab Suci dengan terang Roh yang sama dengan Roh yang mengilhami penulisan Kitab Suci, dan melihat kenyataan bagaimana Sabda Allah itu diartikan dalam kehidupan nyata bangsa pilihan-Nya. Sebab jika kita membaca dengan sikap batin yang sedemikian, maka kita akan menyadari dan mengakui bahwa nama Yahweh merupakan ekspresi kebesaran Allah yang tak terbatas, yang bahkan dianggap sebagai istilah yang tak boleh diucapkan, sehingga istilah tersebut dalam Kitab Suci sendiri kerap digantikan dengan nama lain, yaitu Adonai, yang artinya Tuhan.

      Jika seseorang tidak membaca Kitab Suci dengan prinsip pemahaman ini, maka ia tidak memiliki kepekaan akan makna “Yahweh” ini sebagaimana dahulu ketika nama ini diwahyukan Allah kepada manusia. Tanpa kepekaan ini, orang dapat menganggapnya sebagai perkataan biasa yang dapat diucapkan oleh siapa saja dan kapan saja, seperti perkataan lainnya. Namun hal ini tidak terjadi pada bangsa Israel, yang menerima pewahyuan nama YHWH ini. Itulah sebabnya masalahnya bukan dosa atau tidak dosa, jika kita mengucapkan Yahweh, tetapi pada apakah kita mau dengan kerendahan hati menerapkan penghormatan kepada nama Yahweh itu, sebagaimana awalnya ketika nama itu diberikan kepada manusia. Maka jika Gereja Katolik tidak mengucapkan kata “Yahweh” dalam doa-doa liturgis itu disebabkan oleh karena Gereja menghormati tradisi awal sesuai dengan konteks pada saat nama tersebut diwahyukan. Mari dengan rendah hati kita memahami keputusan Gereja ini, sambil juga menangkap maksudnya, yaitu untuk mengkhususkan suatu nama dengan penghormatan yang khusus kepada Allah, justru dengan tidak mengucapkannya, sebagaimana dahulu saat nama tersebut diwahyukan kepada manusia.

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      Ingrid Listiati- katolisitas.org

  8. ketika ada kebenaran yang nyata, masih sajakan tidak boleh diutarakan di Forum ini?

    [dari katolisitas: Cobalah untuk berfokus pada satu topik diskusi. Dan sebelum mengajukan pertanyaan, silakan juga membaca dari topik diskusi yang ada melalui fasilitas pencarian. Silakan juga melihat diskusi-diskusi panjang yang telah dilakukan. Yang tidak mau kita lakukan adalah mengulangi argumentasi-argumentasi yang telah diberikan. Semoga dapat dimengerti]

  9. mengapa nama tuhan kita berbeda-beda tiap negara dan di indonesia sendiri nama tuhan kita sama dengan nama tuhan dari agama muslim

    mohon penjelasannya

    • Shalom Lionel,

      Allah mewahyukan Diri-Nya dalam Sabda-Nya yang ditulis dalam bahasa manusia, maka memang sebutan nama-Nya dinyatakan sesuai dengan bahasa yang digunakan pada saat pewahyuan itu. Kemudian seiring dengan berjalannya sejarah manusia, sebutan itu diterjemahkan ke dalam banyak bahasa bangsa manusia, sehingga dapat terjadi terjemahan yang berbeda-beda untuk kata “Tuhan”.

      Kata “Tuhan” dalam Wahyu Ilahi yang dinyatakan kepada kita umat Kristiani, adalah sebagaimana yang tertulis dalam Kitab Suci, yang pada awalnya ditulis dalam bahasa Ibrani, yaitu El, Elohim, Eloah dan YHWH (Tetragrammaton/ Yahweh). Penjelasannya lebih lanjut, silakan membaca artikel di atas, silakan klik. Walaupun masih terjadi perdebatan di kalangan para ahli Kitab Suci, dikatakan bahwa Allah berasal dari kata El ini, yang berarti Tuhan yang Mahabesar/Mahakuasa (lih. Kel 6:2).

      Bahwa nama Allah juga digunakan sebagai sebutan dalam agama Islam (bahasa Arab) dapat dimengerti, sebab bahasa Ibrani dan bahasa Arab termasuk dalam rumpun bahasa Semitik yang dipergunakan di daerah Timur Tengah dan Afrika Utara dan sekitarnya.

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      Ingrid Listiati- katolisitas.org

       

        • Shalom Lionel,

          Katekismus Gereja Katolik mengajarkan hubungan Gereja dengan umat Islam demikian:

          KGK 841    Hubungan Gereja dengan umat Islam. “Namun rencana keselamatan juga merangkum mereka, yang mengakui Sang Pencipta; di antara mereka terdapat terutama kaum Muslimin, yang menyatakan, bahwa mereka berpegang pada iman Abraham, dan bersama kita bersujud menyembah Allah yang tunggal dan maharahim, yang akan menghakimi manusia pada hari kiamat” (Lumen Gentium 16, Bdk. Nostra Aetate 3).

          Maka Gereja Katolik mengakui bahwa umat muslim-pun mengakui Allah yang satu, walaupun pemahaman mereka tentang Allah yang satu itu tidak sama dengan pemahaman kita umat Kristiani. Fr. Vincent Serpa OP di situs Catholic Answers, menjawab demikian silakan klik:

          “Memang, umat muslim tidak percaya pada Allah Trinitas seperti kita. Demikian pula, umat Yahudi. Namun kita semua percaya akan satu Sosok Ilahi yang Tertinggi yang menciptakan dan mengatur alam semesta. Ketika Rasul Paulus mengetahui bahwa orang-orang Yunani menyembah seorang tuhan yang tak dikenal (lih. Kis 17:23), ia mengidentifikasikan bahwa tuhan itu adalah Allah kita. Umat Muslim menyembah Allah yang satu menurut pengetahuan mereka, yang menurut pandangan kita, adalah suatu pengetahuan [tentang Allah] yang sangat terbatas.”

          Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
          Ingrid Listiati- katolisitas.org

          • makasih atas jawabannya.
            dari apa yang disampaikan itu berarti Tuhan Kristen, Islam, Yahudi SAMA.

            namun salah seorang guru agama Pantekosta menjawab bahwa itu adalah nama yang sama namun pribadi yang berbeda, contohnya ada dua orang bernama budi namun mereka berdua memiliki sifat yang sangat bertolak belakang. itulah yang dimaksud dengan guru agama tersebut, bagaimana tanggapan iman Katolik terhadap pernyataan ini?

            lalu seorang pastor pada saat homili mengatakan bahwa MAU sembah ALLAH KATOLIK atau ALLAH ISLAM, MAU sembah ALLAH KASIH atau ALLAH KEJAM, berarti dengan kata lain, pernyataan tersebut berarti memang Tuhan Katolik dan Islam berbeda.

            mohon maaf kalau banyak bertanya, tapi ini sungguh membuat saya sangat bingung
            makasih katolisitas

            • Shalomn Lionel,

              Kalau mau lebih jelas, sebenarnya kita harus memberikan penjelasan tentang “apanya yang sama” dan “apanya yang berbeda”. Kita tahu bahwa Allah yang satu sebenarnya dapat dibuktikan dengan akal budi – lihat artikel ini – silakan klik. Bahkan kepada jemaat di Athena, Rasul Paulus menegaskan “Sebab ketika aku berjalan-jalan di kotamu dan melihat-lihat barang-barang pujaanmu, aku menjumpai juga sebuah mezbah dengan tulisan: Kepada Allah yang tidak dikenal. Apa yang kamu sembah tanpa mengenalnya, itulah yang kuberitakan kepada kamu.” (Kis 17:23) Dengan demikian, menjadi masuk akal kalau memang agama Yahudi, Islam dan Kristen menyembah Tuhan yang satu. Namun, kita tahu bahwa Tuhan ingin agar manusia dapat mengenal dan mengasihi Tuhan dengan lebih dalam lagi. Itulah sebabnya, Tuhan menyatakan Diri-Nya bukan lagi dengan kata-kata atau Firman, namun menjadi manusia dalam diri Kristus. Dan kedatangan Kristus membuka secara lebih jelas akan pribadi Allah yang walaupun satu substansi, namun ternyata mempunyai tiga Pribadi. Dalam konteks inilah tentu saja kita dapat mengatakan ada perbedaan Tuhan dalam Islam dan Yahudi dengan Tuhan umat Kristen. Semoga dapat memperjelas.

              Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
              stef – katolisitas.org

              • makasih atas jawabannya. berarti pernyataan yg saya kemukakan sebelumnya dari pendeta dan pastor tersebut salah?

                dari jawaban tim katolisitas di atas, berarti sah-sah saja jika kita menyembah tuhan islam atau tuhan yahudi. jadi tidak mesti semua harus menjadi kristen untuk masuk surga, biarpun saudara kita yang beragama islam dan yahudi pun serta semua agama lain yg tak mengenal nama ALLAHnya sesuai dengan apa yg dikatakan rasul paulus dapat masuk surga? jadi tidak usah ada pewartaan injil karena mereka sudah mengetahuinya?

                bagaimana menurut katolisitas?

                • Shalom Lionel,

                  Setelah kita mengetahui persamaan dan perbedaan, maka kita dapat melihat mana yang kurang dan mana yang kurang tepat. Walaupun umat Yahudi dan Islam menyembah satu Tuhan, namun bukan berarti bahwa kita tidak perlu mewartakan kepada mereka. Kristus sendiri memberikan amanat agung di Mat 28:19-20 untuk mewartakan kabar gembira kepada semua orang. Kalau kita menyadari bahwa Kristus sendiri mendirikan Gereja Katolik dan Gereja diperlukan untuk keselamatan (lihat diskusi ini – silakan klik) serta kepenuhan kebenaran ada di dalam Gereja Katolik, maka sudah seharusnya kita mewartakan kabar gembira kepada semua orang, seperti yang diperintahkan oleh Kristus. Lihat juga diskusi tentang evangelisasi baru ini – silakan klik, di mana kita harus menjangkau semua orang dari berbagai golongan dan agama, seperti yang dipaparkan dalam berbagai macam dokumen Gereja.

                  Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
                  stef  – katolisitas.org

  10. shalom,

    saya selalu terbayang-banyang mengenai nama tuhan. nama tuhan di beberapa negara berbeda-beda, ada ALLAH, LORD, YAHWE. di indonesia sendiri nama tuhan dalam alkitab adalah ALLAH. pertanyaannya adalah mengapa bisa terjadi perbedaan nama ini dan mengapa di indonesia nama tuhan katolik sama dengan nama tuhan muslim ( apakah sengaja atau bagaimana, mohon penjelasannya) dan apakah tuhan katolik sama dengan tuhan islam ( dalam hal kepribadian karena memiliki nama yang sama)

    Terimakasih

    [dari katolisitas: Silakan melihat tanya jawab di atas - silakan klik]

  11. Eduardus Tri Soegiharto on

    Maaf, saya ingin bertanya untuk meluruskan pemahaman tentang Allah yang benar bagi orang Kristen.

    Seringkali kita berdoa menyebut nama Allah / Bapa (Tuhan kami Yesus Kristus), tetapi tidak memahami Allah yang mana (Allah yang tidak jelas), bukannya lebih tepat kita mengatakan: Allah nenek moyang kami Abraham, Ishak dan Yakub seperti yang dicontohkan oleh para Nabi-nabi di zaman Perjanjian Lama berikut: ?

    Keluaran 3:16 Pergilah, kumpulkanlah para tua-tua Israel dan katakanlah kepada mereka: TUHAN, Allah nenek moyangmu, Allah Abraham, Ishak dan Yakub, telah menampakkan diri kepadaku, serta berfirman: Aku sudah mengindahkan kamu, juga apa yang dilakukan kepadamu di Mesir.

    1 Raja-raja 18:36 Kemudian pada waktu mempersembahkan korban petang, tampillah nabi Elia dan berkata: “Ya TUHAN, Allah Abraham, Ishak dan Israel, pada hari ini biarlah diketahui orang, bahwa Engkaulah Allah di tengah-tengah Israel dan bahwa aku ini hamba-Mu dan bahwa atas firman-Mulah aku melakukan segala perkara ini.

    1 Tawarikh 29:18 Ya TUHAN, Allah Abraham, Ishak dan Israel, bapa-bapa kami, peliharalah untuk selama-lamanya kecenderungan hati umat-Mu yang demikian ini dan tetaplah tujukan hati mereka kepada-Mu.

    2 Tawarikh 30:6 Maka berangkatlah pesuruh-pesuruh cepat ke seluruh Israel dan Yehuda membawa surat dari raja dan para pemimpin, dan mengatakan sesuai dengan perintah raja: “Hai, orang Israel, kembalilah kepada TUHAN, Allah Abraham, Ishak dan Israel, maka Ia akan kembali kepada yang tertinggal dari pada kamu, yakni mereka yang terluput dari tangan raja-raja Asyur.

    Kisah Rasul 3:13 Allah Abraham, Ishak dan Yakub, Allah nenek moyang kita telah memuliakan Hamba-Nya, yaitu Yesus yang kamu serahkan dan tolak di depan Pilatus, walaupun Pilatus berpendapat, bahwa Ia harus dilepaskan.

    Kisah Rasul 7:32 Akulah Allah nenek moyangmu, Allah Abraham, Ishak dan Yakub. Maka gemetarlah Musa, dan ia tidak berani lagi melihatnya.

    Jadi bagaimana sebaiknya kita memanggil / menyebut Allah kita? Semoga pandangan saya membuka wawasan baru bagi kita semua.

    Salam,
    Eduardus Tri Soegiharto

    • Shalom Eduardus,

      Sesungguhnya ayat yang Anda pilih itu adalah ayat yang sangat baik yang menjelaskan siapakah Allah menurut yang diwahyukan-Nya sendiri dalam Perjanjian Lama, asalkan kita membacanya dalam kaitannya dengan ayat-ayat sebelumnya. Demikian mari kita melihat kutipannya:

      “Lalu Musa berkata kepada Allah: “Tetapi apabila aku mendapatkan orang Israel dan berkata kepada mereka: Allah nenek moyangmu telah mengutus aku kepadamu, dan mereka bertanya kepadaku: bagaimana tentang nama-Nya? -apakah yang harus kujawab kepada mereka? Firman Allah kepada Musa: “AKU ADALAH AKU.” (I Am Who I Am) Lagi firman-Nya: “Beginilah kaukatakan kepada orang Israel itu: AKULAH AKU (I am) telah mengutus aku kepadamu.” Selanjutnya berfirmanlah Allah kepada Musa: “Beginilah kaukatakan kepada orang Israel: TUHAN, Allah nenek moyangmu, Allah Abraham, Allah Ishak dan Allah Yakub, telah mengutus aku kepadamu: itulah nama-Ku untuk selama-lamanya dan itulah sebutan-Ku turun-temurun. Pergilah, kumpulkanlah para tua-tua Israel dan katakanlah kepada mereka: TUHAN, Allah nenek moyangmu, Allah Abraham, Ishak dan Yakub, telah menampakkan diri kepadaku, serta berfirman: Aku sudah mengindahkan kamu, juga apa yang dilakukan kepadamu di Mesir….” (Kel 3:13-16)

      Ayat-ayat di atas menyatakan bahwa Allah menyatakan diriNya sebagai “Aku adalah Aku” / I Am Who I Am. Sedangkan istilah “Allah Abraham, Allah Ishak dan Allah Yakub” merupakan penjabaran ataupun penjelasan dari istilah “Allah nenek moyangmu” itu, yang disebutkan persis sebelum kata, “Allah Abraham, Allah Ishak dan Allah Yakub”. Allah menjelaskan bahwa “Aku adalah Aku” itulah yang menjadi Allah nenek moyang bangsa Israel, yaitu Allahnya Abraham, Ishak dan Yakub. Dengan mengatakan “Aku adalah Aku”, Allah menyatakan diri-Nya mengatasi segala sesuatu, dan namanya Ia tidak tergantung dari siapapun.

      Dengan mengacu kepada ayat ini, maka besarlah maknanya perkataan Yesus pada saat Ia mengidentifikasikan diri-Nya dengan “I am” ini:

      “Kata Yesus kepada mereka: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya sebelum Abraham jadi, Aku telah ada.” (Yoh 8:58)
      (Jesus said to them, “Truly, truly, I say to you, before Abraham was, I am.”- Jn 8:58)

      Itulah sebabnya orang-orang mau melempari Yesus dengan batu, sebab dengan perkataan-Nya itu Yesus menyatakan ke-Allahan-Nya, sebab Ia menyatakan bahwa Ia sudah ada sebelum Abraham diciptakan. Dengan demikian Yesus menyatakan bahwa Dia adalah Allah yang pada masa Perjanjian Lama menyatakan diri sebagai “I am“: Akulah Aku.

      Besarnya makna perkataan “I am” ini juga terlihat pada saat Yesus ditangkap di taman Getsemani:

      “Maka Yesus, yang tahu semua yang akan menimpa diri-Nya, maju ke depan dan berkata kepada mereka: “Siapakah yang kamu cari?” Jawab mereka: “Yesus dari Nazaret.” Kata-Nya kepada mereka: “Akulah (I am) Dia.” Yudas yang mengkhianati Dia berdiri juga di situ bersama-sama mereka. Ketika Ia berkata kepada mereka: “Akulah (I am) Dia,” mundurlah mereka dan jatuh ke tanah (Yoh 18:4-6).

      Selanjutnya tentang nama/ sebutan Allah, Tuhan, sudah pernah dibahas di sini, silakan klik.

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      Ingrid Listiati- katolisitas.org

       

  12. Lucas Margono on

    Terima kasih jawaban Katolisitas untuk pertanyaan saya “Perbedaan syarat keseselamatan di Gereja Katolik dan Gereja-gereja lain?” Jawabannya sungguh luar biasa rasional dan tak terbantahkan.

    Kali ini saya ingin menanyakan :Apakah benar dulu sekitar tahun 1950 an untuk penyebutan Allah, dalam Gereja Katolik adalah YAHWE baik itu dalam pengajaran maupun kotbah termasuk dalam Kitab Suci, karena Allah adalah istilah dari bahasa Arab?
    Kalau itu benar kenapa dirubah, siapa yang merubahnya dan atas dasar apa?
    Demikian atas jawaban Katolisitas saya mengucapkan terima kasih. Tuhan memberkati.

    • Shalom Lucas,

      Demikian adalah informasi yang kami peroleh dari Rm. Indra Sanjaya, Pr. dan Rm. Martin Harun, OFM:

      1) Memang benar bahwa Jerusalem Bible (bahkan juga New Jerusalem Bible) menggunakan kata Yahweh untuk YHWH. Perjanjian Lama terjemahan P. Groenen mengikuti model ini tetapi menganjurkan untuk membacanya sebagai Tuhan (seperti dalam Hebrew Bible, YHWH dibaca ‘Adonai‘).
      2) Penggunaan kata YHWH tidak ada kaitannya dengan penggunaan kata ‘Allah’.

      Selanjutnya tentang Sebutan Tuhan, Allah dan Yahweh, sudah pernah diulas di atas, silakan klik. Sedangkan tentang Apakah Tuhan sama dengan Allah?, klik di sini.

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      Ingrid Listiati- katolisitas.org

  13. Syallom!
    Sehubungan dengan penggunaan kata ‘Allah’ini, saya ingin mengajukan pertanyaan sbb :
    1. Apakah kata ‘Allah’ memang sudah ada dalam teks PL dan PB asli (PL dan PB dalam tulisan dan bahasa penulis kitab tersebut)?
    2. Apakah waktu Yesus hidup, kata ‘Allah’ sudah digunakan oleh orang Israel/Yahudi untuk menyebut nama Tuhan mereka?
    Terima kasih atas bantuannya, Tuhan memberkati!

    • Shalom Protasius,

      Berikut jawaban dari Romo Indra Sanjaya, Pr (dituliskan dalam huruf bercetak miring) salah satu pakar Kitab Suci di tanah air, terima kasih kepada Rm Indra atas jawaban yang diberikan bagi pertanyaan Protasius

      Sehubungan dengan penggunaan kata ‘Allah’ini, saya ingin mengajukan pertanyaan sbb :
      1. Apakah kata ‘Allah’ memang sudah ada dalam teks PL dan PB asli (PL dan PB dalam tulisan dan bahasa penulis kitab tersebut)?

      O ya pasti ada karena penerjemah tidak pernah mengubah teks. Yang diterjemahkan ya teks apa adanya; tidak ditambah dan dikurangi.

      2. Apakah waktu Yesus hidup, kata ‘Allah’ sudah digunakan oleh orang Israel/Yahudi untuk menyebut nama Tuhan mereka?

      Iya, pasti sudah, bahkan juga pada periode sebelum Yesus…kalau tidak dari mana kata ‘Allah’ yang ada di Alkitab kita. Kan seorang penerjemah selalu menerjemahkan apa adanya. Kalau di Alkitab kita ada kata ‘Allah’ maka ya itu adalah hasil terjemahan dari kata asli entah dalam bahasa Ibrani (elohim) atau dalam bahasa Yunani (theos).

      Terima kasih atas bantuannya, Tuhan memberkati!

      Tuhan memberkati Anda juga…

  14. Mikael Liu on

    apakah kita harus selalu bertahan pada tradisi2 atau kita semua boleh menimbang sendiri, dalam arti selama tingkah laku dan atau sikap kita berdasarkan Kasih. Hal ini tidak bertentangan dengan kehendak Allah. Contoh: kita menyebut Allah atau Tuhan atau Yahwe atau apapun itu selama berdasarkan Kasih itu bisa di benarkan? Mohon penjelasan. Terima kasih. (Mikael Liu)

    • Shalom Mikael Liu,

      Pertama- tama, perlu dibedakan antara Tradisi Suci (dengan huruf besar) dengan tradisi (dengan huruf kecil). Umat Katolik menjunjung tinggi Tradisi Suci sebagaimana telah diajarkan oleh Magisterium (Wewenang Mengajar) Gereja. Yang termasuk dalam Tradisi Suci di sini adalah pengajaran yang berkenaan dengan iman dan moral, yang berasal dari ajaran para rasul dan para Bapa Gereja. Butir- butir pengajaran Magisterium berdasarkan Tradisi Suci ini dapat dilihat secara sistematis dalam daftar dogma, silakan klik, hasil Konsili- konsili dan dokumen Gereja lainnya. Namun kalau hanya sekedar tradisi yang tidak langsung berhubungan dengan iman dan moral, semacam tradisi mengadakan misa tutup tahun, tradisi menyalakan lilin pada saat berdoa, tradisi memasang pohon natal dst, itu sifatnya tidak mengikat, karena tidak bersifat doktrinal.

      Vatikan melalui CDW (The Congregation for Divine Worship) 29 Juni 2010 memang mengajarkan agar dihindari pemakaian kata “Yahwe” pada liturgi, karena kata Yahwe adalah “ekspresi kebesaran dan kemuliaan Allah yang tidak terukur, [sehingga] dipahami sebagai sesuatu yang tidak terucapkan.” Tradisi Yahudi, seperti halnya yang kita ketahui dari Kitab Suci, memperlihatkan bagaimana umat Israel menggunakan empat huruf tetragammaton YHWH atau, mereka mengganti dengan istilah “Adonai” atau “Tuhan” untuk kata ‘Yahwe’ ini. Para jemaat Kristen perdana melanjutkan tradisi ini, sehingga pihak Vatikan menetapkan agar hal ini tetap dipertahankan.

      Maka motif pelarangan menggunakan istilah ‘Yahwe’ pada liturgi Gereja Katolik, justru adalah kasih dan penghormatan yang tinggi, kepada Allah yang ke-mahakuasa-annya tidak terbatas. Sebab kasih kepada Allah adalah kasih yang didasari atas penghormatan/ “takut akan Tuhan” (lih. Mzm 19:9; 25:12,14; 34:9-11,147:11) yang merupakan awal dari hikmat kebijaksanaan dan pengetahuan (Mzm 111:10; Ams 1:7; Ams 9:10), yang menghantar kita kepada pengenalan akan Allah (Ams 2:5).

      Dengan dikeluarkannya ketentuan CDW ini, maka selayaknya kita sebagai umat Katolik mematuhinya. Ini adalah bukti ketaatan iman dam kasih kita yang total kepada Kristus, yang terus mengajar sampai saat ini melalui Magisterium Gereja Katolik. Ajaran yang berhubungan tentang iman dan moral yang dikeluarkan oleh Magisterium, pastilah berakar pada ajaran Kitab Suci dan Tradisi para Rasul dan Bapa Gereja dan telah diterapkan sejak awal pada jemaat perdana. Jika kita mengasihi Kristus dan menghormati-Nya, maka selayaknya kita mematuhi ajaran-Nya yang diberikan oleh para penerus Rasul yang telah diberi-Nya kuasa untuk mengajar kita.

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      Ingrid Listiati- katolisitas.org

  15. Aliran Jehovah tetap mempersalahkan Gereja Katolik dan Gereja-gereja Protestan karena tidak menggunakan kata Jehuwa sebagai nama Allah dalam Kitab Suci. Semua gereja menggunakan kata- kata Tuhan sebagai terjemahan dari Jehuwa. Padahal arti dasar dari Tuhan adalah Tuan (Adhonai).

    Kutipan Majalah Menara Pengawal 1 Juli 2010 halaman 6 antara lain : “orang-orang Kristen yang murtad tampaknya menyingkirkan nama pribadi Yehuwa lalu menggantinya dengan Ky’rios, kata Yunani untuk “Tuan”. Oleh karena itu pada halaman 8:”Menghapus nama Allah dari FirmanNya yang tertulis dan
    menggantinya dengan “Tuhan” merintangi para pembaca untuk benar-benar mengenal siapa Allah”.Terjemahan yang membuat blunder adalah Kisah Para Rasul 2:34 : “Tuhan berkata kepada Tuhanku”. Seharusnya “Yehuwa berfirman kepada Tuanku (Yesus yang dibangkitkan).

    Mohon pendapat anda.
    Herman Jay

    • Shalom Herman Jay,

      Sebenarnya kutipan yang anda sebut itu adalah pendapat yang memang dipegang oleh para Saksi Yehuwa. Tetapi sebenarnya, jika kita sendiri membaca Kitab Suci, kita akan melihat bahwa anggapan tersebut tidak benar. Bangsa Yahudi menggunakan kata Yahwe dan Adonai, untuk menyebutkan Tuhan. Kata Adonai dipakai sebagai kata lain dari kata YHWH (Yahwe), yang dianggap sangat sakral, sehingga penyebutan kata Yahwe oleh imam kepala itu hanya dilakukan sekali saja setahun pada hari raya Yom Kippur. Hal ini sudah pernah dibahas di sini, silakan klik, dan di sini, silakan klik.

      Maka pembedaan Yahwe dan Adonai itu disebabkan karena pemahaman para Saksi Yehuwa bahwa Yesus bukan Tuhan, dan jelas ini menentang kebenaran Kitab Suci sendiri, yang mengatakan bahwa Yesus Kristus adalah Putera Allah yang hidup/ “Christus Filius Dei vivi” (Mat 16:16).

      Mari sebagai umat Katolik, kita berpegang pada ajaran yang sudah jelas tertera dalam Kitab Suci, seperti yang diajarkan juga oleh Magisterium Gereja, agar tidak mudah dibingungkan oleh ajaran- ajaran yang menyimpang dari pengajaran dari para rasul. Tentang hal ini, Rasul Paulus sudah memperingati (lih. 2 Kor 11:4), bahwa sejak awal mulapun sudah ada orang- orang yang memberitakan Injil yang lain daripada yang diberitakan oleh para rasul. Justru oleh karena itu, peran para rasul dan penerus mereka menjadi sangat penting untuk menjaga kemurnian ajaran Kristus, dan peran ini sekarang dilaksanakan oleh Magisterium Gereja Katolik. Melalui Tradisi Suci yang ditentukan oleh Magisterium- lah, kita memperoleh Kitab Suci yang kita peroleh sekarang, dan melalui Kitab Suci dan ajaran Tradisi Suci- lah, kita mengetahui bahwa Yesus Kristus adalah Allah, dan bahwa Yahwe adalah Allah dan Tuhan.

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      Ingrid Listiati- katolisitas.org

  16. Joshua Arie Poernomosidi on

    shaloom,

    ada beberapa pertanyaan yang ingin saya tanyakan:
    1. Kitab Perjanjian Lama ditulis dengan Bahasa Ibrani. Apa ada kata Allah di dalamnya? Jika ada tolong disebutkan.
    2. Apa bisa nama diganti dengan gelar? Karena setahu saya YHWH itu nama dan sedangkan kata Tuhan atau Allah hanya merupakan gelar.
    3. Dalam kata HALELLUYAH bkn kah kata ini berarti ‘Terpujilah YAHWEH’? Jika kita ingin menggunakan kata Allah bukankah seharusnya berbunyi HALELLULAH?
    4. Apakah Tuhannya orang percaya dengan Tuhannya orang islam itu sama?

    Tq, LJBU

    • Shalom Joshua Arie,

      1. Allah dalam bahasa Ibrani adalah “elohim” yang merupakan bentuk plural dari “el” atau “eloah”. Meskipun bentuk ini plural/ jamak, tetapi tidak untuk dimaksudkan bahwa Allah itu banyak, karena jelas sekali dalam PL Allah (elohim) berkata, “Tuhan (yehova/ YHWH) lah Allah (elohim), tidak ada yang lain kecuali Dia (bentuk tunggal)” (Ul 4:35, 39)

      2. Jadi sebenarnya “elohim” itu bukan sekedar gelar, tetapi memang kata yang mengacu kepada Allah, seperti halnya Tuhan (yehovah/ YHWH/ Yahwe).

      3. Halleluyah atau Alleluia (Latin) itu berasal dari kata yang tercantum dalam Kitab Septuagint yaitu transkrip Yunani asli dari Kitab Tobit (Tob 13:22), Mazmur 104, dan Wahyu 19, yang tertulis sebagai Allelouia, sehingga diterjemahkan dalam Vulgate sebagai Alleluia. Artinya, “terpujilah Allah”. (Allelu= terpujilah, ia/ yah= sebutan dari Allah/ Yehwe)

      4. Umat Kristen dan umat Islam memang percaya akan Tuhan yang satu, tetapi konsep tentang Tuhan yang satu ini berbeda, antara Tuhan yang diimani oleh umat Kristen dan oleh umat Islam. Bagi umat Islam, Tuhan yang satu itu adalah “Sesuatu” yang menciptakan alam semesta dan umat manusia, sedangkan bagi umat Kristiani, Allah yang satu itu bukanlah Sesuatu, melainkan Pribadi: Allah yang satu itu mempunyai tiga Pribadi, yaitu Allah Bapa, Putera dan Roh Kudus. Allah Trinitas ini berperan dalam Penciptaan, Penyelamatan dan Pengudusan umat manusia.

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      Ingrid Listiati- http://www.katolisitas.org

  17. Fredrik Mariang on

    Hal Yang Terpenting Contohilah Teladan Yesus Kristus SelamaNya. kita boleh bangga dengan diri kita tapi satu hal bahwa Tuhanlah yang mengasihi kita sehingga kita boleh di beri Talenta yang Begitu Bermanfaat/berguna bagi setiap Manusia! jangan pernah pandang kulit, Ras atau pun Agama Tetapi Berikanlah Hidupmu di Semua Manusia karena Yahweh ” Tuhan Yesus Kristus” menunggumu Untuk MEMULIAHKAN DIA” TUHAN YESUS ” Hari ini, kini dan selamanya.
    Berkaryalah untuk kebesaran Nama Tuhan Yesus selamanya.
    Yahweh adalah Yesus Kristus !!!
    kata Allah Adalah sebutan yang tidak mempunyai Arti!!, yang orang sampai sekarang masih memakainya di mana kata Allah dulu di terjemahkan oleh sarjana Teologia kristiani dan sarjana non teologia yang berstatus non kristiani !!.
    jangan pernah padang saya Sesat tapi artikel yang saya tulis memberkati semua yang membaca.
    Ingat kata Isa Almasih = tidak mempunyai arti apa-apa.
    Yang benar Yehosua= Tuhan yang Mengasihi!!!
    Tuhan Memberkati Amin…

  18. shalom.

    maaf ya..setelah saya membaca artikel ini, saya masih tidak begitu faham.apakah TUHAN dan ALLAH itu berbeza?saya masih kurang jelas mengenai hal ini.

    Saya juga mohon penjelasan mengenai satu hal lagi mengenai panggilan…”pastor” dan father@paderi .Apakah pastor itu merujuk kepada paderi juga?

    thanks..

    • Shalom Monica,
      Dari uraian di atas, sebenarnya Tuhan dan Allah itu sama saja. Sebab di dalam Alkitab digunakan kedua istilah itu untuk memanggil nama Tuhan. 1) El, Eloah, Elohim, sebagai asal dari kata Allah, 2) YHWH (Yahwe) yang kemudian disebut Adonai, dan diterjemahkan dalam Septuaginta menjadi Kyrios/ Dominus. Dalam diri Yesus kedua sebutan ini diberikan, dan kebangkitan-Nya dari kematian merupakan bukti yang paling jelas tentang ke-Allahan-Nya.

      Mengenai mengapa kita memanggil pastor dengan panggilan Romo/ Father/ paderi, dijelaskan dengan begitu baiknya oleh Fr. Ray Suriani, di link ini, silakan klik. Pada dasarnya, kita harus melihat konteksnya yang benar pada saat kita membaca Mat 23:9. Karena larangan Yesus untuk menyebut siapapun sebagai bapa di bumi ini adalah untuk memperingatkan kepada umat bahwa 1) hanya ada satu saja yang dapat kita anggap sebagai Allah Bapa; 2) janganlah seperti ahli Taurat dan orang Farisi yang senang dihormati dan dipanggil sebagai rabbi dan bapa oleh semua orang.

      Sebab di perikop yang lain, Yesus juga menyebut orang tua sebagai bapa dan ibu, (lih. Mat 10:35; 19:29) Jika Ia sungguh melarangnya, maka Ia tidak mungkin menyebutkan sendiri panggilan ini. Lalu, Abraham disebut sebagai “bapa Abraham” bapa leluhur kita (Luk 16:24, Kis 7:2; Rom 4:1, Yak 2:21), dan Rasul Paulus menyebutkan dirinya sebagai bapa bagi umat di Korintus (1 Kor 4:15) dan bapa rohani bagi Timotius (1 Tim 1:2, 2 Tim 1:2), dan bagi Titus (Tit 1:4). Rasul Yohanes juga berkhotbah kepada para bapa (1 Yoh 2:14) Tentunya rasul Paulus, Yakobus dan Yohanes memiliki maksud pada saat menuliskan ayat-ayat itu. Yaitu bahwa di dalam hidup kita ini memang ada orang-orang tertentu yang diberi tugas sebagai bapa untuk berperan sebagai orang tua bagi anak-anak, mendidik dan membesarkan anak-anak mereka. Dan secara rohani, tugas kebapakan itu diberikan kepada para pemimpin umat, yaitu para pastor, seperti teladan Rasul Paulus.
      Para pastor itu berperan dalam kelahiran kita semua umat Katolik secara rohani. Mereka (para pastor) itu yang membaptis kita, mengajar kita, membimbing kita dan memberi teladan kepada kita bagaimana mengasihi, seperti Allah Bapa mengasihi kita. Oleh karena itu kita harus berdoa bagi para imam/ pastor, yang kita panggil sebagai Romo/ paderi. Semoga oleh rahmat Tuhan, mereka dapat melaksanakan peran mereka sebagai bapa rohani bagi kita semua dengan baik, dan dapat menjadi teladan iman dan kekudusan.
      Mari berdoa rosario bagi para imam setiap hari, teksnya telah kami sediakan di sini, silakan klik.
      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      Ingrid Listiati- http://www.katolisitas.org

  19. shaloom..

    saya bersyukur bisa masuk ke website ini yang banyak menjelaskan tentang iman kristiani dan memenambah wawasan saya tentang iman katolik,langsung aja nih pak stefanus, saya mau tanya apa benar kata atau nama Allah itu sebenarnya dari arab dan dari jaman sebelum adanya islam
    dan haya digunakan oleh bangsa arab pada saat itu, sedangkan Allah yang dimaksud sejak nabi Musa adalah YHWH atau YAHWEH
    dan apa benar kata Allah yang dipakai dalam Alkitab berasal dari bahasa melayu arab yang berasal dari versi ILT yang umum dipakai orang sekarang, jika benar apa selama ini kita salah menyebutkan nama tuhan,kalau benar kenapa kita tidak menggunakan nama Tuhan sesungguhnya seperti yang nabi Musa katakan, apakah nama YAHWEH yang banyak digunakan oleh negara lain kecuali indonesia dan malaysia merupakan nama yang lebih diakui dunia. mohon penjelasanya ,trimakasih sebelumnya pak stefanus, Shaloom..

    [dari katolisitas: silakan melihat jawaban di atas - silakan klik]

Add Comment Register



Leave A Reply