PendahuluanKarena Ekaristi adalah Yesus Kristus sendiri, Ekaristi menjadi ‘jantung’ dari iman Katolik. Katekismus Gerja Katolik mengajarkan bahwa Ekaristi adalah “sumber dan puncak seluruh kehidupan Kristiani” (KGK 1324) dan “hakikat dan rangkuman iman kita” (KGK 1327). Tentu idealnya semua orang Katolik mengetahui hal ini, tetapi sayangnya, kenyataan berbicara lain. Di Amerika, menurut polling pendapat yang diadakan oleh Gallup poll pada tahun 1992, pengertian ini tidak dimiliki oleh sebagian besar umat Katolik.[1] Hal yang serupa mungkin pula terjadi di Indonesia.
Hasil yang diperoleh cukup menggambarkan bahwa banyak orang Katolik yang tidak tahu dengan persis bahwa Yesus sungguh-sungguh hadir dalam Ekaristi:
Orang yang benar-benar mengerti akan pengajaran Gereja Katolik akan mengetahui bahwa pilihan yang benar itu hanya pilihan pertama, sedangkan pilihan yang lain itu keliru. Sayangnya, hanya 30% umat Katolik yang mengerti akan kebenaran ini; sedangkan 70% yang lain sepertinya ‘bingung’ atau memegang kepercayaan gereja lain yang bukan Katolik. Mari kita bertanya pada diri kita sendiri, termasuk golongan mana kita ini?
Selama kira-kira 2000 tahun, Gereja Katolik selalu mengajarkan bahwa Yesus Kristus sungguh hadir, real dan substansial, di dalam Ekaristi, yaitu Tubuh, Darah, Jiwa dan ke-Allahan-Nya di dalam rupa roti dan anggur (KGK 1374). Pada saat imam selesai mengucapkan doa konsekrasi – “Inilah Tubuh-Ku” dan “Inilah darah-Ku”, Tuhan secara ajaib mengubah roti dan anggur menjadi Tubuh dan Darah-Nya. Kejadian ini disebut sebagai “transubstansiasi“, yang mengakibatkan substansi dari roti dan anggur berubah menjadi Tubuh dan Darah Kristus (lih. KGK 1376). Jadi yang tinggal hanyalah rupa roti dan anggur, tetapi substansi roti dan anggur sudah lenyap, digantikan dengan kehadiran Yesus.
Yesus hadir seutuhnya di dalam roti itu, bahkan sampai di partikel yang terkecil dan di dalam setiap tetes anggur. Pemecahan roti bukan berarti pemecahan Kristus, sebab kehadiran Kristus utuh, tak berubah dan tak berkurang di dalam setiap partikel. Dengan demikian kita dapat menerima Kristus di dalam rupa roti saja, atau anggur saja, atau kedua bersama-sama (lih. KGK 1390). Dalam setiap hal ini, kita menerima Yesus yang utuh di dalam sakramen.
Karena Yesus sungguh-sungguh hadir di dalam Ekaristi, maka kita memberi hormat di depan tabernakel, kita berlutut dan menundukkan diri sebagai tanda penyembahan kepada Tuhan. Itulah sebabnya Gereja memperlakukan Hosti Kudus dengan hormat, dan melakukan prosesi untuk menghormati Hosti suci yang disebut Sakramen Maha Kudus, dan mengadakan adorasi di hadapan-Nya dengan meriah (lih. KGK 1378).
Kehadiran Kristus di dalam Ekaristi bermula pada waktu konsekrasi dan berlangsung selama rupa roti dan anggur masih ada (KGK 1377), maksudnya pada saat roti dan anggur itu dicerna di dalam tubuh kita dan sudah tidak lagi berbentuk roti, maka itu sudah bukan Yesus. Jadi kira-kira Yesus bertahan dalam diri kita [dalam rupa hosti] selama 15 menit. Sudah selayaknya kita menggunakan waktu itu untuk berdoa menyembah-Nya, karena untuk sesaat itu kita sungguh-sungguh menjadi tabernakel Allah yang hidup!
Kristus sendiri yang mengundang kita untuk menyambut Dia dalam Ekaristi (KGK 1384), dan karena itu kita harus mempersiapkan diri untuk saat yang agung dan kudus ini, dengan melakukan pemeriksaan batin. Karena Ekaristi itu sungguh-sungguh Allah, maka kita tidak boleh menyambutNya dalam keadaan berdosa berat. Untuk menyambut-Nya dengan layak kita harus berada dalam keadaan berdamai dengan Allah. Jika kita sedang dalam keadaan berdosa berat, kita harus menerima pengampunan melalui Sakramen Tobat sebelum kita dapat menyambut Komuni Kudus (KGK 1385).
Ekaristi disebut sebagai sumber dan puncak kehidupan Kristiani (LG 11) karena di dalamnya terkandung seluruh kekayaan rohani Gereja, yaitu Kristus sendiri (KGK 1324). Pada perjamuan terakhir, pada malam sebelum sengsara-Nya, Kristus menetapkan Ekaristi sebagai tanda kenangan yang dipercayakan oleh Kristus kepada mempelai-Nya yaitu Gereja (KGK 1324). Kenangan ini berupa kenangan akan wafat dan kebangkitan Kristus yang disebut sebagai Misteri Paska, yang menjadi puncak kasih Allah yang membawa kita kepada keselamatan (KGK 1067). Keutamaan Misteri Paska dalam rencana Keselamatan Allah mengakibatkan keutamaan Ekaristi, yang menghadirkan Misteri Paska tersebut, di dalam kehidupan Gereja (KGK 1085).
Gereja Katolik mengajarkan bahwa kurban salib Kristus terjadi hanya sekali untuk selama-lamanya (Ibr 9:28). Kristus tidak disalibkan kembali di dalam setiap Misa Kudus, tetapi kurban yang satu dan sama itu dihadirkan kembali oleh kuasa Roh Kudus (KGK 1366). Hal itu dimungkinkan karena Yesus yang mengurbankan Diri adalah Tuhan yang tidak terbatas oleh waktu dan kematian. Kristus telah mengalahkan maut, karenanya Misteri Paska-Nya tidak hanya terbenam sebagai masa lampau, tetapi dapat dihadirkan di masa sekarang (KGK 1085). Karena bagi Tuhan, segala waktu adalah ‘saat ini’, sehingga masa lampau maupun yang akan datang terjadi sebagai ‘saat ini’. Dan kejadian Misteri Paska sebagai ‘saat ini’ itulah yang dihadirkan kembali di dalam Ekaristi, dengan cara yang berbeda, yaitu secara sakramental. Dengan demikian, Ekaristi menjadi kenangan hidup akan Misteri Paska dan akan segala karya agung yang telah dilakukan oleh Tuhan kepada umat-Nya, dan sekaligus harapan nyata untuk Perjamuan surgawi di kehidupan kekal (lih. KGK 1362,1364,1340,1402,1405).
Ekaristi berasal dari kata ‘eucharistein‘ yang artinya ucapan terima kasih kepada Allah (KGK 1328). Ekaristi adalah kurban pujian dan syukur kepada Allah Bapa, di mana Gereja menyatakan terima kasihnya kepada Allah Bapa untuk segala kebaikan-Nya di dalam segala sesuatu: untuk penciptaan, penebusan oleh Kristus, dan pengudusan. Kurban pujian ini dinaikkan oleh Gereja kepada Bapa melalui Kristus: oleh Kristus, bersama Dia dan untuk diterima di dalam Dia. (KGK 1359-1361)
Ekaristi adalah Perjamuan Tuhan, yang memperingati perjamuan malam yang diadakan oleh Kristus bersama dengan murid-murid-Nya. Perjamuan ini juga merupakan antisipasi perjamuan pernikahan Anak Domba di surga (KGK 1329).
Ekaristi adalah kenangan akan kesengsaraan dan kebangkitan Tuhan (KGK 1330). Ekaristi diadakan untuk memenuhi perintah Yesus untuk merayakan kenangan akan hidup-Nya, kematian-Nya, kebangkitan-Nya dan akan pembelaan-Nya bagi kita di depan Allah Bapa (KGK 1341).
Ekaristi adalah Kurban kudus, karena ia menghadirkan kurban tunggal Yesus, dan juga kurban penyerahan diri Gereja yang mengambil bagian dalam kurban Yesus, Kepalanya (KGK 1330, 1368). Sebagai kenangan Paska Kristus, Ekaristi menghadirkan dan mempersembahkan secara sakramental kurban Kristus satu-satunya dalam liturgi Gereja (KGK 1362, 1365). Ekaristi menghadirkan kurban salib dan memberikan buah-buahnya yaitu pengampunan dosa (KGK 1366).
Ekaristi adalah Komuni kudus, karena di dalam sakramen ini kita menerima Kristus sendiri (KGK 1382) dan dengan demikian kita menyatukan diri dengan Kristus, yang mengundang kita mengambil bagian di dalam Tubuh dan Darah-Nya, supaya kita membentuk satu Tubuh dengan-Nya (KGK 1331).
Ekaristi dikenal juga dengan Misa kudus, karena perayaan misteri keselamatan ini berakhir dengan pengutusan umat beriman (missio) supaya mereka melaksanakan kehendak Allah dalam kehidupan sehari-hari.
Yesus sungguh-sungguh hadir di dalam Ekaristi, seperti dinyatakan:
Tulisan para Bapa Gereja di abad awal merupakan bukti yang sangat penting tentang ‘keaslian’ pengajaran tentang Ekaristi. Para Bapa Gereja merupakan saksi yang menjamin keaslian pengajaran Alkitab, karena mereka sungguh-sungguh menyaksikan para rasul mengajar dan menuliskan Injil, seperti Rasul Matius, Yohanes dan St. Paulus menuliskan surat-suratnya. Melalui tulisan-tulisan mereka, kita mengetahui Tradisi Suci para Rasul, seperti Kehadiran Yesus dalam Ekaristi, Misa Kudus, kepemimpinan Rasul Petrus, devosi kepada Maria, Api penyucian, dll. Semua pengajaran ini adalah pengajaran yang diteruskan oleh Gereja Katolik. Berikut ini adalah para Bapa Gereja yang mengajarkan tentang kehadiran Yesus di dalam Ekaristi:
Para Bapa Gereja ini membuktikan bahwa jemaat Kristen awal percaya akan Kehadiran Yesus di dalam Ekaristi. Perhatikanlah bahwa St. Ignatius adalah murid Rasul Yohanes, sedangkan St. Yustinus Martir dan St. Irenaeus belajar langsung dari murid-murid Rasul Yohanes. Mereka semua mendapat pengajaran dari Rasul Yohanes yang menulis tentang Yesus sebagai “Roti Hidup” (Yoh 6). Siapa yang dapat mengatakan bahwa ia lebih memahami pengajaran Yesus tentang ‘Roti Hidup’ ini dari pada mereka yang mendengar langsung/ murid dari Rasul Yohanes?
Jika kita dengan hati terbuka mempelajari Alkitab, dan tulisan para Bapa Gereja, kita akan melihat bahwa kenyataan menunjukkan bukti yang kuat yang mendasari pengajaran Gereja Katolik tentang Kehadiran Yesus secara real dan substansial di dalam Ekaristi. Yesus sendiri hadir di dalam Ekaristi, di dalam rupa roti dan anggur, dan sudah menjadi kehendak-Nya agar kita mengenangkan Dia melalui perjamuan ini, agar kita dapat mengambil bagian di dalam Misteri Paska-Nya yang mendatangkan keselamatan bagi dunia. Ekaristi adalah cara yang dipilih Yesus agar kita dapat tinggal di dalam Dia dan Dia di dalam kita. Percaya penuh akan kehadiran-Nya di dalam Ekaristi dan menerima Ekaristi dengan sikap yang benar merupakan bentuk perwujudan iman dan kasih kita kepada Tuhan yang terlebih dahulu mengasihi kita sampai wafat di salib. Mari kita menerima dengan hati terbuka, cara Yesus mengasihi kita di dalam Ekaristi. Mari kita berdoa, agar makin hari kita makin dapat menghayati kasih-Nya yang tak terbatas, yang tercurah pada kita melalui Sakramen yang Maha Kudus ini…
salam
saat ke gereja kita dituntut mengikuti Misa dengan khidmat karena kita mempersiapkan diri kita menerima tubuh Yesus saat Ekaristi. Bagaimana dg orangtua yg punya anak2 yang masih batita khususnya anak yang masih di bawah 1 thn ato 2th yang masih aktif-aktifnya. Saya pernah dititipi anak saudara utk diajak ke gereja, anaknya kalem ngga banyak gerak tapi yang namanya anak 1th yang sedang belajar ngomong, anaknya ngoceh terus karena ngga enak sama umat lainnya, takut mengganggu maka saya ajak ponakan saya keluar tapi saya jadi kurang khidmat ato kurang bisa mengikuti Misa dg baik apalagi pas Doa Syukur Agung ponakan saya malah rewel minta tidur jadi saya tidak bisa mengikuti Doa Syukur Agung dengan baik. Atau pas saat saya berdoa setelah komuni saya persingkat karena mw minta berkat romo utk ponakan saya. Bagaimana posisi saya di hadapan gereja maupun di hadapan Yesus karena tenaga dan pikiran terbagi 2 saat Misa, apakah saya ato para ibu-ibu yang dalam posisi yang sama seperti saya berdosa karena tidak bisa fokus ato mempersiapkan diri saat Ekaristi atau tidak dapat mengikuti Misa dg baik? Karena yang saya ketahui perayaan Misa khususnya Ekaristi juga dihadiri oleh anggota Gereja yang lainnya baik yg ada di surga atau di api penyucian, jadi saya harus mempersiapkan diri dg baik.
trima kasih
Shalom Maria,
Terima kasih atas pertanyaan Anda yang menarik dan memang merupakan tantangan yang aktual bagi para orang tua yang merayakan Misa bersama anak-anak mereka yang masih kecil. Menurut hemat saya, “kesibukan” Anda dan para ibu dalam menangani si kecil selama perayaan Misa tidak membuat Anda berdosa, karena Tuhan tentu mengerti kesulitan itu dan tetap menghargai usaha dan ketulusan Anda untuk merayakan Ekaristi bersama anak-anak demi kemuliaan nama-Nya.
Saya pribadi sangat menghargai niat banyak orangtua untuk memperkenalkan perayaan Ekaristi pada anak-anak sejak usia mereka masih sangat muda, walaupun tantangannya cukup banyak, karena selain belum mengerti, pada usia dini anak-anak juga masih sukar untuk diajak duduk diam dan berkonsentrasi dalam waktu yang cukup panjang, dalam hal ini sekitar satu jam atau satu setengah jam merayakan Ekaristi. Memang bila sarananya tersedia, mengikuti kegiatan Sekolah Minggu juga baik, supaya anak-anak mengenal pengajaran Kitab Suci dan bertumbuh dalam pemahamannya akan kasih Tuhan. Namun keikutsertaan mereka di dalam perayaan Ekaristi tidak tergantikan oleh kegiatan Sekolah Minggu, dan bagaimanapun juga kegiatan mengikuti Misa sangat baik untuk dibiasakan sejak mereka sudah mulai dapat diajak bekerja sama selama mengikutinya. Dalam hal ini orangtua diajak untuk aktif dan kreatif mencari sarana yang memungkinkan anak-anak turut berpartisipasi dalam Misa tanpa menjadi bosan yang kemudian juga berpotensi mengganggu konsentrasi umat yang lain.
Membawakan berbagai jenis mainan pengalih perhatian atau makanan, tidak terlalu disarankan, karena selain hal itu tidak membuat anak-anak belajar untuk mengenal apa yang terjadi dalam Misa, orangtua pun dapat teralihkan perhatiannya kepada hal-hal yang tidak berhubungan dengan pujian dan penyembahan kepada Tuhan. Sebagai gantinya, di sela-sela mereka mulai jenuh atau kehilangan konsentrasi, supaya mereka tetap dapat mengikuti Misa tanpa menjadi rewel namun tetap mendapatkan situasi rohani, orangtua dapat memberikan berbagai buku rohani anak-anak yang mempunyai cerita yang menarik dan gambar-gambar yang juga menarik, buku-buku bergambar mengenai kisah santo santa, rosario dari plastik, dan benda-benda bersifat rohani lainnya. Usaha ini diberikan hanya pada saat mereka mulai jenuh. Namun dengan berbagai pengajaran yang sering diterapkan di rumah, anak-anak yang sudah lebih besar, misalnya 4 tahun ke atas, bisa diajak memperhatikan apa yang terjadi di sekitar altar, dan diajak tetap menghargai Tuhan Yesus yang ada di tengah-tengah umat-Nya sekalipun tidak kelihatan. Usaha ini berkesinambungan, misalnya, di rumah, di antara kegiatan bermain bersama anak-anak, orangtua dapat meluangkan waktu untuk bermain merayakan Misa bersama mereka. Anak-anak biasanya sangat senang menirukan kegiatan orang dewasa yang sering mereka lihat. Dengan peralatan sederhana untuk memberikan suasana seperti di gereja, orangtua bisa mengajarkan anak-anak untuk menirukan semua gerakan liturgis pada saat yang tepat, misalnya berdiri, berlutut, membuat tanda salib, ikut bernyanyi (sambil mengajarkan beberapa nyanyian liturgi yang bisa mereka ikuti), memberikan salam damai, gerakan menyembah pada saat konsekrasi, dan seterusnya, sambil memberikan penjelasan sederhana tentang makna di balik gerakan-gerakan tersebut. Termasuk mengajarkan pentingnya bersikap hormat dan hikmat pada saat Doa Syukur Agung. Keterlibatan orangtua dan penanaman bahwa semua itu adalah sesuatu yang indah dan menyenangkan bagi Tuhan, akan membuat anak-anak juga menghargai Ekaristi dan lama kelamaan dapat memahami dan mencintainya seiring pertambahan usia dan pertumbuhan mereka.
Salam kasih,
Triastuti – katolisitas.org
Tambahan dari Ingrid:
Mungkin juga baik untuk dicoba, jika anak sudah disiapkan dari rumah, untuk berjanji akan berlaku baik di gereja/ mengikuti Misa, lalu orang tua mengajak anak duduk justru di bangku depan, sehingga anak dengan leluasa dapat melihat ke altar, dan tidak terhalang oleh umat yang lain. Menurut banyak kesaksian orang tua, hal ini malah membantu orang tua, karena perhatian anak akan tertuju ke altar. Sedangkan kalau anak dan orang tua duduk di belakang, akan sulit bagi anak untuk memperhatikan apa yang terjadi di altar, sehingga mereka cenderung ‘main’/ asyik dengan ulahnya sendiri. Inilah yang kami lakukan terhadap anak baptis kami sejak dia berusia 2 tahun saat kami mulai membawanya mengikuti Misa harian. Sejak saat itu dia terbiasa untuk “behave” (berlaku sopan) pada saat Misa Kudus, dan mengetahui bahwa di altar itulah Tuhan Yesus hadir di dalam rupa Ekaristi.
Selanjutnya, adalah baik jika sehabis Misa anak diajak untuk berdoa dan menyalakan lilin di hadapan patung Tuhan Yesus atau Bunda Maria. Ajarilah anak berdoa di sana, cukup doa yang sederhana. Contoh: orang tua mengucapkan beberapa kata, dan anak mengulanginya. Yang penting dengan pengalaman itu anak memahami makna doa, dan bahwa gereja adalah rumah Tuhan, tempat jemaat-Nya berkumpul, berdoa dan mengucap syukur.
Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
Ingrid Listiati – katolisitas.org
Syaloom Pengurus Katolisitas
Saya mao tanya,
1.Kalau komuni di luar gereja Katolik apakah roti dan anggurnya diubah menjadi Tubuh dan Darah Kristus? Karena saya tidak tahu dulu, saya belom dibaptis saya makan dan minum saja karena pengen tahu rasanya. Dan saya menyesalinya apakah itu berubah atau tidak. Apakah saya akan diampuni?
2.Misalnya tidak berubah menurut anda? Misalnya gereja di luar Katolik melakukan Ekaristi dengan cara dan doa dan pemahaman yg bulat dan iman kalau sungguh Tubuh dan Darah yg Kristus yang dimakan. Tp mereka tidak bergabung ke Gereja katolik. Apakah itu “sah”? Saya melihat kalau St.Petrus yang diberikan kunci Kerajaan Sorga? Jadi ada kemungkinan Ekaristi di luar gereja Katolik tidak berubah jadi daging dan darah Kristus, tp kalau menurut saya kembali ke kehendak Tuhan ( maksudnya terserah Tuhan). Menurut anda bagaimana? Maaf saya tidak bermaksud mengadu domba atau semacamnya. Karena ini pertanyaan yg agak2 menjurus. Tp saya penasaran dan ingin tahu. Kalau misalnya tidak berkenan untuk tampil di web ini, bolehkah jawabannya dikirim ke email saya saja.
Terima kasih
Shalom Leonard,
Pertama-tama, nampaknya yang perlu kita sadari bersama adalah, Gereja merupakan ‘pemberian’ Kristus, dan kuasa yang diberikan kepada Kristus kepada para rasul merupakan juga ‘pemberian’ Kristus. Jika kita memahami hal ini, maka kita tidak dengan serta merta menganggap bahwa siapapun berhak untuk mendirikan gereja dan mengubah roti dan anggur itu menjadi Tubuh dan Darah Kristus. Sebab Kristus juga tidak memberikan kuasa itu kepada semua pengikut-Nya, tetapi hanya kepada para rasul-Nya. Para rasul kemudian bertugas untuk melaksanakan amanat Kristus untuk melakukan perjamuan tersebut untuk mengenang kurban Kristus di tengah-tengah Gereja-Nya; dan membagikan Tubuh dan Darah Kristus itu kepada anggota- anggotaNya untuk menjadi santapan rohani mereka. Dan karena Kristus menghendaki agar Gereja-Nya terus ada sampai akhir jaman, maka kuasa yang diberikan Kristus kepada para rasul itu diteruskan pula kepada para penerus mereka (yaitu para imam yang ditahbiskan secara sah) sampai sekarang. Melalui merekalah, yang mengucapkan konsekrasi -yaitu Sabda Kristus atas roti dan anggur itu- maka kurban Kristus yang satu dan sama itu dihadirkan kembali di tengah- tengah kita oleh kuasa Roh Kudus. Dengan demikian ada dua hal yang menjadikan roti dan anggur itu menjadi Tubuh dan Darah Kristus: 1) perkataan Sabda Tuhan dalam Konsekrasi; 2) jalur apostolik (apostolic succession), artinya tahbisan yang sah berasal mula dari para rasul. Hal inilah yang membedakan antara perjamuan kudus dalam gereja Kristen non Katolik dengan perjamuan Ekaristi dalam Gereja Katolik. Hal ini sudah pernah ditulis dalam artikel ini, silakan klik.
Katelismus Gereja Katolik, mengajarkan demikian:
KGK 1410 Kristus sendiri, Imam Agung abadi Perjanjian Baru, mempersembahkan kurban Ekaristi melalui pelayanan imam. Demikian juga Kristus sendirilah menjadi bahan persembahan dalam kurban Ekaristi. Ia sendiri sungguh hadir dalam rupa roti dan anggur.
KGK 1411 Hanya para imam yang ditahbiskan secara sah, dapat memimpin upacara Ekaristi dan mengkonsekrir roti dan anggur supaya menjadi tubuh dan darah Kristus.
KGK 1412 Tanda-tanda hakiki Sakramen Ekaristi adalah roti dari gandum dan anggur dari buah anggur. Berkat Roh Kudus dimohonkan ke atasnya dan imam mengucapkan kata-kata konsekrasi, yang Yesus ucapkan dalam perjamuan malam terakhir “Inilah tubuh-Ku yang diserahkan bagimu…. Inilah piala darah-Ku. …”
KGK 1413 Oleh konsekrasi terjadilah perubahan [transsubstansiasi] roti dan anggur ke dalam tubuh dan darah Kristus. Di dalam rupa roti dan anggur yang telah dikonsekrir itu Kristus sendiri, Dia yang hidup dan dimuliakan, hadir sungguh, nyata, dan secara substansial dengan tubuh-Nya, darah-Nya, jiwa-Nya, dan kodrat ilahi-Nya (Bdk. Konsili Trente: DS 1640; 1651).
Dengan pemahaman ini saya menanggapi pertanyaan anda:
1. Komuni di luar gereja Katolik apakah Roti dan anggur nya diubah menjadi Tubuh dan Darah Kristus?
Suatu komunitas gerejawi yang tidak memiliki jalur apostolik (apostolic succession) sesungguhnya tidak dapat mengubah roti dan anggur menjadi Tubuh dan Darah Kristus. Jika anda menyambutnya dalam komunitas tersebut, sesungguhnya anda tidak menyambut Tubuh dan Darah Kristus. Namun bisa terjadi komunitas tersebut menganggap itu adalah Tubuh dan Darah Kristus, dan mensyaratkan orang yang menyambut harus sudah dibaptis/ menjadi anggota jemaat mereka. Maka, jika waktu anda menyambut itu anda belum dibaptis dan bukan menjadi anggota jemaat mereka, inilah kemungkinan yang menyebabkan mengapa hati nurani anda ‘menuduh’ anda sekarang, sebab motivasi anda menyambut bukan untuk menyambut Kristus ataupun mengenangkan Dia, tetapi hanya untuk sekedar ingin tahu rasanya saja. Nanti jika anda memutuskan untuk dibaptis secara Katolik, anda dapat mengaku dosa anda dalam Sakramen Pengakuan Dosa, dan anda akan dapat memperoleh pengampunan dari Tuhan.
2. Apakah iman yang bulat kalau itu sungguh Tubuh dan Darah Kristus maka menjadikan roti dan anggur itu sungguh Tubuh dan Darah Kristus, dan “sah”?
Telah diuraikan di atas, bahwa yang menjadikan roti dan anggur itu berubah menjadi Tubuh dan Darah Kristus adalah perkataan konsekrasi dan jalur apostolik. Maka perubahan substansi (Transubstansiasi) tidak tergantung dari kondisi iman/ batin si penerima ataupun kondisi batin imam yang mempersembahkannya. Dengan perkataan lain, meskipun jemaat itu yakin seyakin- yakinnya bahwa roti itu Tubuh dan Darah Kristus, namun jika yang mempersembahkannya adalah orang yang tidak mempunyai tahbisan yang sah (mempunyai jalur apostolik), maka transubstansiasi tidak terjadi. Sebaliknya, meskipun seorang imam yang mempersembahkan Misa sedang galau batinnya, namun oleh kuasa Sabda Tuhan dalam konsekrasi dan karena kuasa tahbisannya yang sah, maka transubstansiasi tetap terjadi. Konsekrasi yang diucapkan oleh imam yang sah tahbisannya akan mengubah roti dan anggur menjadi Tubuh dan Darah Kristus. Demikian juga, transubstansiasi terjadi tidak tergantung oleh disposisi batin orang yang menerima. Oleh karena itu, siapa yang menyambut Tubuh dan Darah itu dengan disposisi batin yang tidak baik, entah karena tidak percaya/ tidak mengimaninya, ataupun karena dosa berat, maka ia mendatangkan hukuman atas dirinya sendiri, sebab ia berdosa terhadap Tubuh dan Darah Tuhan Yesus yang disambutnya. Ini dikatakan dalam 1 Kor 11:27-30.
Namun demikian, disposisi batin yang baik diperlukan untuk menyambut Tubuh dan Darah Kristus, sebab rahmat Allah yang kita peroleh dalam Ekaristi sebanding dengan disposisi batin kita pada saat menyambutnya. Konsili Vatikan II tentang Liturgi Suci mengajarkan demikian:
11. Akan tetapi supaya hasil guna itu diperoleh sepenuhnya, Umat beriman perlu datang menghadiri liturgi suci dengan sikap-sikap batin yang layak. Hendaklah mereka menyesuaikan hati dengan apa yang mereka ucapkan, serta bekerja sama dengan rahmat surgawi, supaya mereka jangan sia-sia saja menerimanya (lih. 2 Kor 6:1).
Demikian tanggapan saya atas pertanyaan anda.
Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
Ingrid Listiati- katolisitas.org
Syalom Saudari Ingrid
Terima kasih untuk jawabannya. Waktu itu saya sudah ditegur sama guru agama saya. Dan kami berdoa bersama untuk meminta ampun kepada Tuhan Yesus. Dan sekarang tiba2 saja saya teringat akan dosa saya di masa lalu. Walaupun skrg saya sudah dibaptis ( non-Katolik ) dan komuni itu dari luar jalur apolistik. Saya menyesal dan berharap bisa terima Komuni di gereja Katolik. Apakah harus baptis lagi?
Ketika saya ikut Misa kemarin, saya berpikir “Tuhan aku ingin sekali makan Tubuh dan darahMu melebihi Karunia Roh Kudus. ( tujuh karunia yang ada di Yesaya 11 dan karunia Karismatik)
Apakah cara berpikir saya itu salah? Karena setelah itu saya tidak tenang? Karena saya jadi seperti tidak mementingkan Roh Kudus. Menganggap Roh Kudus tidak sepenting Tubuh dan Darah Kristus.
Mohon bimbingannya
Terima kasih
Shalom Leonard,
Jika anda sudah pernah dibaptis dan baptisan itu sah (dengan materia dan forma yang benar, yaitu dengan air bersih dan diberikan atas nama Allah Bapa, Putera dan Roh Kudus, serta diberikan sesuai dengan maksud Pembaptisan seperti yang diajarkan oleh Gereja Katolik) maka anda tidak perlu dibaptis ulang. Sebab Gereja Katolik memegang prinsip bahwa Baptisan hanya boleh diberikan satu kali saja seumur hidup, karena menghormati otoritas Tuhan Yesus yang menginstitusikannya, hanya ada satu Baptisan (lih. Ef 4:5). Silakan anda menemui Pastor paroki anda, untuk mengetahui apakah gereja yang membaptis anda dulu itu termasuk dalam daftar PGI. Jika ya, maka baptisan anda sah diberikan, maka jika anda ingin menjadi Katolik, maka anda tidak perlu dibaptis ulang, hanya perlu diteguhkan. Namun anda tetap perlu mengikuti proses katekumenat, silakan tanyakan kepada pastor paroki bagaimana detailnya.
Jika anda sudah dibaptis dengan sah, sebetulnya anda sudah menerima Roh Kudus dan ketujuh karunia Roh Kudus, seperti yang disebutkan dalam Yesaya 11. Setelah seseorang dibaptis ia perlu bertumbuh di dalam iman, harapan dan kasih, dan Ekaristi merupakan jalan yang terbaik untuk membentuk kita bertumbuh di dalam hidup yang baru di dalam Roh Kudus tersebut.
Katekismus Gereja Katolik mengajarkan:
Jadi tidak salah jika kita menempatkan Ekaristi sebagai yang utama dalam kehidupan kita, sebab memang di dalam Ekaristi kita menyambut seluruh kepenuhan Kristus, yang merupakan seluruh kekayaan rohani Gereja. Bersamaan dengan kita menyambut Kristus, kita menerima pula rahmat dan karunia-Nya, untuk bertumbuh di dalam karunia- karunia Roh Kudus yang telah kita terima di dalam Pembaptisan.
Demikianlah tanggapan saya, semoga mencerahkan.
Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
Ingrid Listiati- katolisitas.org