Tanggapan tentang New Age Movement: Reiki, yoga?

88

Pertama-tama perlu kita ketahui terlebih dahulu apa sebenarnya yang disebut sebagai New Age Movement (NAM), baru setelah itu kita bahas mengenai yoga dan reiki. Menurut Paus Yohanes Paulus II dalam bukunya “Crossing the Treshold of Hope“,  NAM sebetulnya memiliki kemiripan dengan heresi/ ajaran sesat di abad pertama yaitu Gnosticism. Gnosticism kuno sebenarnya telah ada sebelum Kristus. Gnosticism tidak secara khusus mempunyai hirarki dan lembaga yang jelas, tetapi ia ‘menyusup’ pada agama-agama yang sudah ada, menggunakan struktur agama tersebut sambil mengaburkan apa yang menjadi kepercayaan agama tersebut dan ajaran aliran Gnosticism sendiri. Hal serupa terjadi pada NAM. Ciri-ciri Gnosticsm yang mencoba merasuki iman Kristiani:

  1. Percaya pada Allah yang sama sekali tak dapat diketahui oleh orang biasa, kecuali dengan pengetahuan rahasia (‘gnosis‘). Allah ini memancarkan allah yunior (aeons) yang menjembatani antara dunia material dan Allah. Salah satu dari allah yunior ini disebut Demiurge (allah pencipta). Demiurge ini menciptakan dunia material.
  2. Demiurge ini menciptakan dunia material yang jahat. Jadi kejahatan bukan akibat dosa asal, tapi karena pengaruh dunia material.
  3. Menurut para gnostics, Yesus adalah salah satu dari allah yunior ini. Karena para gnostics itu membenci tubuh/ dunia material, maka mereka menolak Inkarnasi (Allah menjelma menjadi manusia/ mengambil bentuk tubuh manusia) dan kehadiran Kristus yang nyata dalam Ekaristi. Menurut mereka, Yesus datang untuk membebaskan manusia dari pengaruh Demiurge.
  4. Karena membenci tubuh yang berupa materi, maka pengajaran yang mereka tawarkan adalah ‘pembebasan’ dari tubuh, melalui praktek Gnosticism.
  5. Bagi mereka, pengajaran Yesus hanya diberikan kepada sebagian pengikut-Nya, dan keselamatan diperoleh bukan dengan rahmat Tuhan, melainkan dengan mempelajari ‘pengetahuan rahasia’ tersebut.

Pada jaman para rasul, sudah ada pengaruh Gnosticism yang ingin ‘mengaburkan’ kebenaran Injil. Maka pada surat kepada jemaat di Kolose Rasul Paulus memperingati mereka untuk tidak mengikuti ‘roh-roh dunia’/ cosmic powers (Kol 2:8), dan Rasul Yohanes juga memperingatkan jemaat terhadap ajaran sesat yang tidak mengakui bahwa Kristus adalah Allah yang menjelma menjadi manusia (1Yoh 4:2).

Sekarang ini prinsip Gnosticism terdapat dalam NAM, yang sesungguhnya berakar dari agama-agama Timur, terutama Hindu Pantheism dan Buddha. Kepercayaan NAM adalah bahwa segala sesuatu adalah Satu (Brahman) dan Satu adalah Tuhan. Dunia yang kita ketahui sekarang adalah ilusi. Jadi tujuan hidup bagi penganut NAM adalah untuk menemukan kesatuan dan keilahian di dalam segala sesuatu. Maka tujuan dari latihan rohani NAM adalah untuk menemukan keilahian dalam setiap orang, bahwa setiap kita adalah Tuhan! Maka setiap kita akan kehilangan jati diri sebagai individu, dan terserap di dalam kesatuan yang disebut Nirwana. Kesatuan tersebut bukan pribadi, namun suatu Energi universal. Jadi Allah di sini digambarkan sebagai Energi.

Bagaimana mengatur/ mengarahkan ‘energi’ inilah yang diajarkan oleh reiki, dan juga sesungguhnya oleh yoga, dengan aneka gerakan. Pada tahap awal,  mempelajari gerakan-gerakan ini sepertinya tidak berbahaya, namun pada tahap lanjut mengarah kepada suatu meditasi pengosongan diri dan mantra-mantra tertentu. Praktek seperti demikian tidak sesuai dengan ajaran Kristiani, dan karenanya sesungguhnya tidak boleh diikuti oleh umat Katolik. Sesungguhnya mengikuti gerakan yoga sebatas olah raga tidak menjadi masalah, asalkan jangan sampai mendalami ke tahap yang lebih dalam. Namun jika dapat dihindari, tentunya hal itu lebih baik; sebab sesungguhnya dapat saja dipilih bentuk olah raga yang lain yang tidak mengarah kepada NAM. Karena semakin yoga/ reiki dituruti, semakin ada tingkatan tertentu yang jika diikuti terus tidak sesuai dengan iman Katolik, sebab:

  1. Kita percaya bahwa Allah bukan merupakan “Energi”, tetapi merupakan “Pribadi” dalam hal ini Pribadi Trinitas Allah Bapa, Putera dan Roh Kudus. Jangan lupa bahwa bagaimanapun dashyatnya energi, tetaplah kapasitasnya berada di bawah mahluk spiritual. Jadi adalah semacam kontradiksi, jika manusia diciptakan oleh “energi”, yang tidak dapat berpikir, tak dapat merasa, apalagi mengasihi. Bagi kita, tidak mungkin manusia yang merupakan mahluk spiritual diciptakan oleh “Energi”, berdasarkan prinsip akal sehat, bahwa tidak mungkin sesuatu yang lebih rendah menciptakan yang lebih tinggi, atau seseorang tak mungkin memberikan sesuatu yang tidak lebih dahulu dipunyainya. (Lihat artikel: Bagaimana membuktikan bahwa Tuhan itu ada)
  2. NAM percaya akan adanya kesatuan yang abstrak, yang mengarah pada tidak adanya individu lagi, tidak ada lagi perbedaan antara yang jahat dan baik, semua dipandang sebagai ilusi. Hitler akan dipandang sama saja dengan Bunda Teresa. Tentu saja hal ini bertentangan dengan akal sehat; dan sama saja dengan menolak akal sehat.
  3. Iman Kristiani tidak pernah mengajarkan bahwa tubuh (dunia material) itu jahat (evil), bahkan dikatakan bahwa tubuh kita adalah bait Roh Kudus (lihat 1 Kor 6:19; 3:16). Maka ajaran NAM agar kita membebaskan diri dari tubuh adalah sesuatu yang tidak sesuai dengan iman Kristen.
  4. Iman Kristiani malah mengajarkan kebangkitan badan pada akhir jaman nanti, di mana tubuh akan bersatu kembali dengan jiwa. Jadi ajaran NAM berupa ‘pembebasan’ manusia dari tubuh sebagai prinsip keselamatan juga tidak sesuai dengan ajaran iman Kristen.
  5. Dengan mengikuti latihan-latihan NAM, seperti yoga dan reiki, apalagi jika mencapai tingkatan tertentu, maka pusat dan fokus latihan rohani adalah diri sendiri, dan bukannya Allah. Jika pada awalnya mungkin seolah-olah diperbolehkan untuk merenungkan Allah, namun pada tahap tertentu tidak demikian lagi halnya.
  6. Tanpa disadari, mereka yang mengikuti latihan-latihan tersebut akan lebih mengandalkan latihan pengaturan ‘energi’ tersebut daripada bersandar pada doa dan menimba kekuatan dari Tuhan sendiri.

Saya menganjurkan, jika ada orang Katolik yang tertarik melakukan meditasi, silakan mempelajari meditasi yang diajarkan oleh Para Orang Kudus yang sesuai dengan tradisi iman Katolik, seperti meditasi ala St. Theresia dari Avila, St. Franciskus de Sales, atau St. Ignatius dari Loyola, dan St. Yohanes Salib. Fokus meditasi tersebut adalah Allah dan bukan “mengosongkan diri”. Meditasi yang dianjurkan Gereja adalah meditasi dengan merenungkan Sabda Allah, yang disebut “Lectio divina”, atau sering juga dikenal dengan sebutan ‘berdoa dengan Sabda Tuhan’. Meditasi ini jelas berbeda dengan meditasi ala NAM.

Pihak Vatikan pernah mengeluarkan dokumen mengenai tanggaan Gereja terhadap New Age Movement, yang pada dasarnya menolak paham NAM tersebut, dan aneka bentuk penggabungan antara NAM dan iman Kristiani. Silakan membaca dokumen-nya di sini: Pontifical Council for Culture, Pontifical Council for Inter-religious Dialogue, Jesus Christ the Bearer of the Water of Life: A Christian reflection on the “New Age”(silakan klik) dan Presentations of Holy See’s document on “New Age”. (silakan klik)

Share.

About Author

Stefanus Tay, MTS dan Ingrid Listiati, MTS adalah pasangan suami istri awam dan telah menyelesaikan program studi S2 di bidang teologi di Universitas Ave Maria - Institute for Pastoral Theology, Amerika Serikat.

88 Comments

  1. Saya pernah diajak teman saya utk melakukan reiki. Saya lgsung heran dan bertanya apa itu reiki? Dia blg itu smcam penyembuhan dlm diri yg mngaitkan energi dlm tubuh. Lalu krna rasa tdk percya saya sy lgsung blg bhwa dlm Kristen kmi tdk mngenal reiki dan kmi tdk mempercayainya. Yg kmi percaya adalah Yesus sebagai penyembuh bukan lwat reiki. Puji Tuhan saya tahu itu ajaran yg slh yg bertentangan dgn iman kristen saya

    [Dari Katolisitas: Ya, Anda benar, ajaran penyembuhan diri sendiri yang dikaitkan dengan energi tidak sesuai dengan ajaran iman Kristiani.]

  2. saya lusia, besar di keluarga katolik, yang sangat saya syukuri dan kasihi.
    ada kalanya ada persoalan, seperti 4 tahun lalu, ayah saya terkena serangan stroke. Sudah berobat ke rumah sakit dan minum obat herbal,dan pijat alternatif. Puji Tuhan keadaaan ayah sudah membaik, walaupune tangan kiri dan kaki kiri belum cukup kuat untuk digerakkan. suatu saat, kakak saya mendapat informasi kalau ada teman yang bisa menyembuhkan penyakit dengan kekuatan supranatural. singkat ceritanya, ternyata sakit stroke yang dialami ayah bukan secara medis, tapi non medis, karena gangguan roh jahat. tetapi selain berobat itu, ibu selalu megingatkan kalo itu hanya sarana penyembuhan, penyembuh utama adalah Tuhan Yesus, ibu selalu mengajak kami untuk selalu berdoa malam bersama. setelah berobat, memang keadaan ayah semakin membaik dan tidak tergantung obat rumah sakit, dan yang lebih terasa perbedaannya adalah sikap dan emosi ayah sekarang tidak seperti dulu yang sangat emosional dan gampang marah. Yang ingin saya tanyakan, bagaimana menurut pandangan secara katolik tindakan kami dengan melakukan pengobatan melalui tenaga supranatural? terima kasih.GBU.

    • Shalom Lusia,

      Dewasa ini memang dunia banyak menawarkan aneka cara penyembuhan, bahkan dengan istilah yang seolah-olah dapat diterima oleh iman Kristiani. Penyembuhan supranatural yang dikenal oleh kita umat Kristiani adalah penyembuhan yang terjadi dalam nama Yesus, yang adalah Seorang Pribadi, dan bukan sebuah Energi/ Tenaga. Silakan Anda menilik kepada cara penyembuhan yang ditawarkan itu, apakah dengan doa-doa dan merenungkan firman Tuhan? Apakah digunakan perantaraan orang lain (master) atau medium lain atau disebutkannya suatu tenaga dari dalam diri sendiri untuk menyembuhkan? Jika dengan doa dan firman Tuhan itu baik, dan tidak perlu dicurigai. Tetapi jika dengan perantaraan orang lain (master), transfer tenaga dalam, pentagram/ ataupun medium lainnya, maka ini patut dikritisi. Sebab jangan sampai Anda sekeluarga, menjadi lebih akrab dengan doa ‘tenaga supranatural’ yang belum tentu dari Tuhan Yesus, daripada dengan sakramen Ekaristi, yang sudah jelas dari Tuhan Yesus.

      Silakan Anda membaca artikel tentang hal ini di atas, silakan klik, dan tanya jawab di bawahnya (sejauh ini ada dua halaman situs. Di halaman pertama, kami beerdialog dengan salah seorang aktivis metode penyembuhan dengan energi, yang dilarang oleh Gereja Katolik).

      Mari dalam kita beriman kepada Yesus, kita berikan ketaatan kita yang sepenuhnya, tanpa mendahulukan kehendak ataupun pemikiran kita sendiri.

      Kami turut bersyukur dengan keadaan ayah Anda yang semakin membaik. Dengan dukungan doa seluruh keluarga, doa rosario, sakramen Ekaristi, semoga Ayah Anda akan semakin pulih. Jika dipandang berguna, silakan mendoakan bersama dalam keluarga Anda, Doa melawan kekuatan kegelapan, klik di sini.

      Teriring doa dari kami di Katolisitas.

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      Ingrid Listiati- katolisitas.org

    • Shalom Samuel,

      Qigong yang mengacu pada kata Qi/ chee mengacu pada kata energi atau energi kehidupan, dan Gong artinya kerja. Maka Qigong mengacu kepada praktek ‘mengerjakan energi kehidupan’ dalam diri seseorang. Nah, memang tersirat di sini adanya semacam kepercayaan akan adanya energi di dalam tubuh yang mengatur kehidupan seseorang, dan bahwa energi ini dapat dikendalikan. Paham tentang kekuatan ‘energi’ yang dapat mengendalikan kesehatan ataupun keadaan seseorang ini yang memang kurang dapat dijelaskan dari sisi iman, sebab tersirat di dalamnya bahwa pandangan sedemikian menempatkan diri sendiri, dan bukan Tuhan sebagai pengendali segala sesuatu.

      Maka, walaupun memang tidak semua praktek Qigong berkaitan dengan hal spiritual, namun, prinsip dasar tentang kekuatan energi yang melandasi paham ini, sejujurnya tidak sesuai dengan ajaran iman Katolik. Maka, jika yang ingin diambil manfaatnya adalah hanya teknik pernafasannya, atau gerakan-gerakan atau posisi tubuh tertentu, ramuan obat-obatan, teknik pijat dst, memang nampaknya tidak berbahaya, namun kisahnya akan lain, jika mulai ada latihan-latihan meditasi non-Kristiani maupun manipulasi interaksi dengan mahluk hidup lainnya. Maka walaupun nampaknya tidak berbahaya, namun karena prinsip yang mendasarinya sesungguhnya tidak sesuai dengan prinsip ajaran iman, maka tetaplah praktek ini perlu diwaspadai. Karena ada kemungkinan, seseorang yang telah melakukan tahap praktek yang nampaknya tidak berbahaya itu, akan sedikit demi sedikit tertarik untuk semakin meningkatkan efeknya. Bahkan dapat terjadi, tanpa disadarinya, ia memasuki ranah spiritual praktek ini yang akhirnya dapat mengguncangkan imannya sendiri akan Allah, yaitu, setelah ia seolah merasakan adanya energi yang berperan dalam tubuhnya. Dapat terjadi, sebagai akibatnya, ia bahkan lebih memilih latihan Qigong daripada mengikuti perayaan Ekaristi, misalnya. Dan di sinilah terjadi bagaimana peran energi yang dikendalikan oleh diri sendiri itu menggeserkan peran Tuhan dalam hidup orang tersebut.

      Maka yang perlu diwaspadai, adalah jangan sampai menggantikan/ menggeserkan tempat Allah sebagai pengendali segala sesuatu, dengan diri sendiri.

      Fokus kepada energi dalam diri seseorang merupakan inti ajaran New Age Movement, dan tentang hal ini sudah pernah dibahas di artikel di atas, silakan klik.

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      Ingrid Listiati- katolisitas.org

  3. Salam damai. mBak Inggrit pertama saya trimakasih atas artikelnya tentang New Age Movement. Dengan membaca artikel ini saya merasa bahwa selama ini saya salah, karena ketidak tahuan. Saya banyak membaca buku tentang pengembangan diri dan perubahan pola pikir. Buku terbaru yang saya baca adalah There’s a spiritual solution to every problem karangan Wayne W. Dyer. Setelah saya membaca artikel tentang NAM baru saya tahu kalo Dyer ini rupanya penganut NAM. Dan buku sebelumnya adalah The way to love karangan Anthony de Mello yang mendapat perhatian juga dari Bapa Suci Benedictus.
    Sekali lagi trimakasih.

  4. Salam Damai
    saya ingin bertanya, apabila seseorang terlibat atau pernah terlibat dalam praktek yang berkaitan dengan NAM seprti contoh2 yg telah disebutkan baik secara aktif ataupun tidak (hanya sepintas seperti percaya ramalan, horoskop, menyukai lagu2 yg berkaitan dng NAM, dll ) telah melakukan dosa berat?
    saya juga pernah berpikir kalo ramalan bintang tidak salah karena ada di Injil tentang 3 orang Majus yang mengetahui tentang Yesus lewat ramalan dan melihat bintang. Tolong dikoreksi pemahaman saya
    Salut dengan Katolisitas
    Terima kasih

    • Shalom Arto,

      KGK, 1857 menuliskan “Supaya satu perbuatan merupakan dosa berat harus dipenuhi secara serentak tiga persyaratan: “Dosa berat ialah dosa yang mempunyai materi berat sebagai obyek dan yang dilakukan dengan penuh kesadaran dan dengan persetujuan yang telah dipertimbangkan” (RP 17).” Dengan kata lain, perbuatan tersebut adalah mempunyai materi dosa yang berat, tahu bahwa itu dosa berat, namun melakukannya juga. Jadi, kalau sebelumnya, seorang Katolik terlibat dalam NAM karena ketidaktahuannya, maka sebenarnya belum termasuk dosa berat, walaupun tetap berdosa. Namun, setelah dia tahu bahwa Gereja melarang NAM dan kemudian dia tetap melakukannya, maka dia dapat terjerumus ke dalam dosa berat.

      Sebenarnya, kalau kita mau melihat bahwa Gereja ingin melindungi anak-anaknya dari kesesatan, maka kita dapat mengerti bahwa peraturan yang diberikan oleh Gereja Katolik adalah untuk melindungi umat Allah. Yang ditakutkan dari NAM adalah lama-kelamaan akan mengambil dasar kekristenan kita yang berakar pada Kristus. Dan apakah yang tersisa dari iman Katolik kita, kalau Kristus sebagai dasar iman kita diganti dengan hal-hal lain?

      Di Mat 2:2, orang-orang majus dari Timur bertanya-tanya “Di manakah Dia, raja orang Yahudi yang baru dilahirkan itu? Kami telah melihat bintang-Nya di Timur dan kami datang untuk menyembah Dia.” Tidak dijelaskan apakah melihat bintang adalah merupakan ramalan. Ada beberapa interpretasi berkaitan dengan ayat ini. Ada interpretasi secara literal, bahwa memang terjadi semacam meteor atau bintang yang terlihat jelas pada waktu itu. Ada yang menginterpretasikan bahwa kaum majus dari Timur mungkin juga mengetahui tentang Mesias dari nubuat Balaam (lih. Bil 24:17). Dan tentu saja terbuka kemungkinan bahwa Tuhan juga dapat memberikan pengetahuan secara istimewa kepada kaum majus dari Timur, sama seperti Tuhan memberikan pengetahuan kepada Balaam. Namun, bukan berarti bahwa tanda bintang ini dapat membenarkan astrologi. Hal ini ditegaskan oleh St. Gregorius (Hom. 10) dan St. Agustinus di (lib. 5, de Civitat. Dei, c. 1, &c.)

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      stef – katolisitas.org

  5. Reiki adalah istilah dari energi alam semesta sebainya Gereja Katolik tidak perlu resah dan menganggap Reiki adalah sesat dipandang dari sudut ajaran Gereja .
    sebelumnya alangkah baiknya untuk mendalami Reiki itu apa. jadi tidak ujug ujug mengangapnya itu sebagai sesuatu yang sesat. kalau ingin menilai buku jangan hanya melihat sampulnya tapi pahamilah dan telaahlah sampai tuntas baru boleh mengadakan penilaian apapun itu ujudnya. sangatlah tidak profesional bila menilai sesuatu hanya dari katanya orang atau informasi yang sempit. kalau ingin merasakan dinginya air ya mandilah dengan sungguh2.
    ada ungkapan bahwa “”Tuhan Yesus Kristus adalah Raja Semesta Alam “” cobalah dalami kata2 diatas itu. dengan apakah Tuhan Yesus Kristus memelihara alam semesta ini? dengan kuasaNYA nah kuasanya ini berbentuk apa kalau memenang semua harus bisa dijabarkan melalui akal?

    Tahukah Artinya Yoga ? yoga artinya “” manunggaling kawulo Gusti”” bersatunya Tuhan dengan manusia nah ini bukankah setiap hari kita lakukan ketika kita menerima Sakramen Maha Kudus ?

    jadi sebaiknya janganlah terlalu dirisaukan karena sekali lagi kalau ingin menilai buku jangan hanya dilihat dari sampulnya.
    salam

    Submitted on 2012/05/31 at 8:26 am

    sebaiknya Gereja Katolik tidak menyama ratakan semua dukun dan paranormal itu semua buruk menurut pandangan dan ajaran Gereja Katolik tapi hendaknya berhati hati karena didalam dukun dan paranormal masih ada kebaikan karena saya pribadi pernah menekuni / sekolah “”perdukunan dan keparanormalan”” jadi sebaiknya diteliti dulu secara mendalam tentang hal tersebut sehingga tidak menghakimi mereka mereka yang belum tentu bersalah karena mereka juga adalah bagian dari umat Allah . “”KASIHILAH MUSUH MUSUHMU”” adalah perintah yang paling berat dan mustahil untuk dijalankan oleh pengikut pengikut Kristus. jadi berlapang dadalah sambil menunggu buahnya karena dari buah kita tahu pohonya.
    saya sendiri adalah salah satu bagian dari paranormal itu. dan spesialisasi saya adalah pemanggil arwah. Arwah tersebut bukan untuk diusir atau dianiaya tapi untuk dipersembahkan kepada Tuhan Yesus satu satunya Tuhan yang nyata dan hidup setelah diajak berdoa dan bertobat dan kalau boleh saya tegaskan tiada Tuhan selain Yesus yang mati dikayu salib itu.
    saya membuka diri bagi siapapun untuk diskusi baik secara langsung maupun tidak
    dan paranormal yang saya ajarkan adalah berdasarkan Kitab Suci, Ekaristi dan Kasih jadi sudah tidak bisa lepas dari kekatolikan
    jadi saya harap mereka yang ahli hukum2 Gereja janganlah terlalu kaku dalam “”menghakimi”” sesama pengikut Kristus apalagi yang Katolik
    salam

    • Shalom jbsoemitro,

      1. Gereja Katolik ujug-ujug menganggap Reiki sesat?

      Dari pesan Anda, nampaknya Anda berpandangan bahwa Gereja Katolik tidak mempelajari terlebih dulu tentang New Age Movement (termasuk di dalamnya Reiki ini) lalu -meminjam istilah Anda- ujug-ujug menganggap Reiki sesat.  Ini adalah anggapan yang keliru. Silakan Anda membaca terlebih dahulu dokumen yang dikeluarkan oleh Vatikan tentang ajaran New Age ini, silakan klik. Anda akan mengetahui bahwa di sana dibahas tentang ajaran-ajaran New Age Movement itu, yang diambil dari sumber-sumber resmi New Age itu sendiri; dan dijelaskan di sana mengapa ajaran tersebut tidak sesuai dengan ajaran iman Kristiani. Sedangkan penjabaran tentang Reiki, dan mengapa Gereja Katolik tidak dapat menerimanya sebagai alternatif cara penyembuhan, klik di sini.

      Gereja Katolik mengajarkan bahwa “Tuhan Yesus Kristus adalah Raja Semesta Alam” (lih. KGK 786), namun tidak mengartikan Raja semesta alam itu dengan kuasa/ energi penyembuhan ilahi atau pikiran ilahi atau kesadaran ilahi, seperti diajarkan dalam Reiki. Gereja Katolik tidak membatasi penyembuhan hanya yang dapat dijelaskan dengan science (ilmu pengetahuan), namun Gereja juga mengakui penyembuhan yang diperoleh melalui kuasa adikodrati seperti yang terjadi dalam penyembuhan dan mukjizat-mukjizat yang terjadi atas kuasa doa di dalam nama Tuhan Yesus Kristus. Namun demikian, Reiki tidak termasuk di dalam kedua cara penyembuhan itu, sebab yang berperan dalam proses kesembuhan itu adalah ‘energi universal’ yang berada di bawah kuasa pikiran dan kehendak manusia. Demikian pula, proses “attunement” yang diperoleh melalui upacara sakral yang melibatkan manifestasi dan kontemplasi simbol-simbol tertentu yang hanya diketahui oleh para master Reiki, di sini juga tidak dapat dikatakan sesuai dengan iman Kristiani.

      2. Yoga artinya ‘manunggaling kawulo Gusti’?

      Jika kita membaca buku-buku referensi maupun situs-situs tentang yoga, dikatakan bahwa: 1) asal kata ‘yoga’ adalah ‘yuj’, yang artinya mempersatukan atau menggabungkan; 2) akar kata yang kedua dari yoga adalah samadhi, yang dijabarkan sebagai ‘tahap pikiran yang di dalamnya kita dengan sendirinya menjadi begitu dalam digabungkan dengan obyek yang sedang diselidiki sehingga batasan-batasan identitas pribadi kita dikesampingkan untuk sementara waktu. Dari  definisi ini saja terdapat hal yang tidak dapat langsung dikatakan bahwa yoga itu pasti sesuai dengan meditasi Kristiani, sebab: 1) di dalam definisi yoga sendiri tidak secara eksplisit disebutkan bahwa ‘obyek’ yang dituju itu adalah Tuhan; 2) seandainyapun tujuan/ obyeknya Tuhan, namun persatuan dengan Tuhan menurut iman Kristiani, tidak meniadakan identitas pribadi kita.

      Salah satu mistik Katolik yang terkenal, St. Katarina dari Siena, menuliskan wahyu pribadinya, mengenai perkataan Tuhan  tentang jiwa-jiwa yang mengalami persatuan dengan Tuhan: “Mereka adalah seperti batu bara yang menyala yang tak dapat dipadamkan ketika batu bara itu telah seluruhnya terbakar di dalam tungku api, sebab batu bara itu telah diubah menjadi bara api. Demikianlah yang terjadi pada jiwa-jiwa ini yang telah dimasukkan ke dalam tungku api cinta kasih-Ku, yang tidak menahan apapun, tak sedikitpun dari kehendak mereka di luar Aku, namun seluruhnya dinyalakan di dalam Aku. Tak ada seorangpun yang dapat merebut mereka atau menyeret mereka keluar dari rahmat-Ku. Mereka telah disatukan dengan Aku dan Aku di dalam mereka.” (St. Catharine of Siena, The Dialogue (Paulist Press 1980) p. 147). Analogi serupa juga dijabarkan oleh St. Yohanes dari Salib, yang juga adalah seorang mistik Katolik. Intinya dalam meditasi Kristiani, tujuannya bukan kekosongan total, tetapi persatuan dengan Tuhan, di dalam cinta kasih-Nya, dan persatuan ini tidak meniadakan identitas pribadi yang bersangkutan (dalam analogi tersebut batu bara menjadi bara yang menyala).

      Memang terdapat beberapa jenis yoga, sehingga tidak dapat dikatakan bahwa praktek yoga semuanya tidak sesuai dengan iman Kristiani. Tetapi harus disadari bahwa pada tingkatan yang tertinggi, yoga bertujuan untuk membawa yang melakukannya kepada kekosongan total, dan inilah yang tidak sesuai dengan prinsip ajaran Kristiani. Tentang hal ini pernah dibahas di sini, silakan klik.

      3. Paranormal Katolik dengan memanggil arwah?

      Apa yang disampaikan di situs katolisitas tidak bertujuan untuk menghakimi pribadi orang-orang tertentu, tetapi untuk membantu kita sebagai umat Katolik untuk memilah, apakah suatu perbuatan ataupun ajaran tertentu sesuai dengan ajaran iman Katolik atau tidak.

      Tentang pemanggilan arwah, Katekismus Gereja Katolik mengajarkan demikian:

      KGK 2116    Segala macam ramalan harus ditolak: mempergunakan setan dan roh jahat, pemanggilan arwah atau tindakan-tindakan lain, yang tentangnya orang berpendapat tanpa alasan, seakan-akan mereka dapat “membuka tabir” masa depan (Bdk. Ul 18:10; Yer 29:8). Di balik horoskop, astrologi, membaca tangan, penafsiran pratanda dan orakel (petunjuk gaib), paranormal dan menanyai medium, terselubung kehendak supaya berkuasa atas waktu, sejarah dan akhirnya atas manusia; demikian pula keinginan menarik perhatian kekuatan-kekuatan gaib. Ini bertentangan dengan penghormatan dalam rasa takwa yang penuh kasih, yang hanya kita berikan kepada Allah.

      Maka, Gereja Katolik, berdasarkan Kitab Suci melarang kita umat Katolik untuk memanggil arwah, ataupun berkomunikasi dengan arwah, dengan maksud membuka tabir masa depan. Namun demikian, memang diketahui bahwa di dalam kehidupan beberapa Santa/ Santo, terdapat pengalaman rohani di mana mereka dikunjungi jiwa-jiwa yang ada di Api Penyucian (namun para Santa/ Santo ini tidak memanggil arwah tersebut). Menurut kesaksian para orang kudus itu, umumnya jiwa-jiwa itu minta didoakan, agar mereka dapat beralih ke Surga; dan doa yang terbaik dalam hal ini adalah doa intensi yang dipersembahkan di dalam perayaan Ekaristi. Umumnya para santa/santo itu mendoakan jiwa-jiwa tersebut, dan secara khusus mengajukan intensi Misa Kudus untuk mereka. Setelah itu umumnya jiwa-jiwa tersebut tidak lagi minta didoakan oleh para Santa Santo tersebut, sebab oleh belas kasihan Allah mereka telah digabungkan dalam kerajaan surga.

      Bukan dalam wewenang saya untuk menilai apakah pengalaman Anda serupa dengan yang dialami oleh para kudus tersebut. Mungkin Anda sendiri dapat merenungkannya dan menilainya. Jika mendoakan jiwa-jiwa itu adalah talenta yang diberikan kepada Anda, tentu itu sesuatu yang positif, tetapi seharusnya tidak melibatkan aktivitas pemanggilan arwah, sebagaimana disebutkan dalam KGK 2116 tersebut, sebab di balik aktivitas tersebut, terselubung kehendak berkuasa atas waktu, sejarah, atas manusia, dan keinginan menarik perhatian kekuatan-kekuatan gaib. Dan ini bertentangan dengan penghormatan yang seharusnya hanya diberikan kepada Allah.

      Anda dapat saja tidak setuju dengan apa yang kami sampaikan di sini, itu adalah hak Anda. Tetapi adalah hak kami juga untuk menyampaikan ajaran iman Katolik, sebagaimana diajarkan oleh Magisterium Gereja Katolik. Kami tidak menghakimi Anda, namun kami hanya menyampaikan apa yang diajarkan Gereja Katolik, sehubungan dengan pernyataan Anda tentang Reiki, yoga dalam kaitannya dengan meditasi Kristiani, dan hal pemanggilan arwah.

      Semoga dapat dipahami maksud baik kami.

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      Ingrid Listiati- katolisitas.org

       

      • Yth,Team katolisitas. Sy may tanya: diartikel diatas ditulis “jiwa-jiwa dari mans-mans yang telah meninggal dunia dan minta didoakan itu” , itu= adalah: arwah dari Mans-mans yang selama hidupnya didunia adalah: pemeluk agama Katolik, atau non katolik or apa ya … (mksd sy mis: apakah mereka slm hdp di dunia itu mis: org Atheis, atau agama lain atau gimana gitu…… ??
        Menurut team katolisitas, sesghnya ada berapa sorga dan neraka ?? Dan dari pandangan dari (ajaran) katolik dan gereja katolik ??/ mengapa sy tanya, krn: pernah sy dengar,ada orang lain – orang lain bisa saja beranggapan dan ada pernah bicara ke sy, bhw: “didunia ini ada banyak agama-agama (mksd: dari agama-agama samawi = pengikut, pemercaya nabi Abraham, dst), s/d agama-agama non samawi, maka: “ada banyak sorga dan ada banyak neraka”, gitu….( sy tertawa aja sih,krn: sy jadi ingat kok kayak kavling rumah kali ya…..di sorga sana,–tersenyum) . Terima kasih sy tunggu jawabannya. terima kasih.

        • Shalom Sartika,

          Gereja Katolik menurut pengajaran para Bapa Gereja mengajarkan bahwa surga adalah suatu tempat atau keadaan kediaman Allah beserta para kudus-Nya yang mulia. Di surga inilah para orang benar akan memandang Allah sebagaimana Ia yang sesungguhnya, tanpa tedeng aling-aling, sebagaimana dirumuskan oleh Paus Benediktus XII (1336) demikian:

          “Kami mendefinisikan bahwa jiwa-jiwa semua orang kudus di surga telah melihat dan benar-benar melihat Sang Hekekat Ilahi oleh intuisi yang langsung dan muka dengan muka, dengan bijak sehingga tak ada sesuatupun yang menghalangi sebagai obyek penglihatan, tetapi hakekat Ilahi mempresentasikan diri-Nya sendiri di hadapan mereka secara langsung, tanpa selubung, dengan jelas dan terbuka; lagipula, bahwa di dalam pandangan ini mereka menikmati Hakekat Ilahi, dan bahwa oleh pandangan ini dan kenikmatan ini, mereka sungguh terberkati dan memiliki kehidupan kekal dan istirahat kekal.” (Denzinger, Enchiridion, ed. 10, n. 530–old edition, n, 456; cf. nn. 693, 1084, 1458 old, nn. 588, 868).

          Argumen Kitab Suci tentang hal ini diperoleh dari 1 Kor 13:8-13 (lih.Mat 18:10; 1 Yoh 3:2; 2 Kor 6:6-8)

          Dengan prinsip ini, karena Tuhan Sang Hakekat ilahi itu hanya ada satu, maka Surga itu hanya ada satu. Sebaliknya, karena neraka adalah suatu keadaan keterpisahan dari surga yang satu ini, maka neraka juga hanya ada satu.

          KGK 1033 …. Keadaan pengucilan diri secara definitif dari persekutuan dengan Allah dan dengan para kudus ini, dinamakan “neraka”.

          KGk 1034     Yesus beberapa kali berbicara tentang “gehenna”, yakni “api yang tidak terpadamkan” (Bdk. Mat 5:22.29; 13:42.50; Mrk 9:43-48), yang ditentukan untuk mereka, yang sampai akhir hidupnya menolak untuk percaya dan bertobat, tempat jiwa dan badan sekaligus dapat lenyap (Bdk. Mat 10:28)….

          KGK 1035    Ajaran Gereja mengatakan bahwa ada neraka, dan bahwa neraka itu berlangsung sampai selama-lamanya. Jiwa orang-orang yang mati dalam keadaan dosa berat, masuk langsung sesudah kematian ke dunia orang mati, di mana mereka mengalami siksa neraka, “api abadi” (Bdk. DS 76; 409; 411; 801; 858; 1002; 1351; 1575; SPF 12). Penderitaan neraka yang paling buruk adalah perpisahan abadi dengan Allah; hanya di dalam Dia manusia dapat menemukan kehidupan dan kebahagiaan, karena untuk itulah ia diciptakan dan itulah yang ia rindukan.

          Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
          Ingrid Listiati- katolisitas.org

           

      • Shalom jbsoemitro..

        Ya.. ini akan benar2 menjadi sesat apabila sdr lebih mempercayainya(kemampuan anda) ketimbang percaya dgn Tuhan Yesus Kristus Sendiri..

        _____________________________________________________________________

        Rendah Hatilah supaya Ia berkenan kepadaMu..

        _____________________________________________________________________

        Berkah Dalem Gusti
        Fiat Voluntas Tua..^^

        [Dari Katolisitas: Nampaknya perlu ditekankan kata "apabila/ kalau" itu. Dan suatu yang perlu direnungkan adalah apakah kita semua (tidak hanya yang terlibat dalam diskusi ini) cukup rendah hati untuk mendengarkan dan menaati apa yang diajarkan oleh Magisterium Gereja, yang telah diberi kuasa oleh Tuhan Yesus untuk "mengikat dan melepaskan" (Mat 18:18), artinya, menentukan sesuatu sebagai hal yang benar/mengikat atau tidak; mana yang disebut sebagai dosa/ pelanggaran dan mana yang tidak]

  6. Salam dalam kasih Yesus Kristus

    Saya telah membaca tulisan Anda tentang Reiki dan gerakan movement. Terima kasih atas informasinya yang sangat mencerahkan. Saya ingin bertanya, suatu ketika saya memiliki kenalan orang Katolik yang memperdalam Reiki.

    Orang ini bahkan bisa menebak karakter dan perilaku orang lain dengan menyebutkan namanya, padahal orang ini tidak mengenal orang yang bersangkutan. Misalnya saja:

    “Siapa nama kawanmu” ucapnya
    “Ignasia Kimi” (bukan nama sebenarnya), sahutku
    Dia kemudian berkomentar, “wah, si Ignasia orangnya bla bla bla”
    Kadang diikuti dengan nasihat, “hati-hati sebaiknya jangan temenan saja dia, karena orangnya bla bla bla”

    Mohon maaf, dialog di atas hanyalah contoh saja. Namun kira-kira kejadian seperti itulah yang pernah saya alami ketika bertemu dengan orang yang memperdalam reiki ini.

    Pertanyaan saya, apakah hal-hal seperti ini pantas kita percayai? Dan bagaimana menurut pandangan iman Katolik? Mohon penjelasannya! Terima kasih

    • Shalom Doni,

      Tentang hal ramalan Katekimus Gereja Katolik mengajarkan:

      KGK 2116     Segala macam ramalan harus ditolak: mempergunakan setan dan roh jahat, pemanggilan arwah atau tindakan-tindakan lain, yang tentangnya orang berpendapat tanpa alasan, seakan-akan mereka dapat “membuka tabir” masa depan (Bdk. Ul 18:10; Yer 29:8.). Di balik horoskop, astrologi, membaca tangan, penafsiran pratanda dan orakel (petunjuk gaib), paranormal dan menanyai medium, terselubung kehendak supaya berkuasa atas waktu, sejarah dan akhirnya atas manusia; demikian pula keinginan menarik perhatian kekuatan-kekuatan gaib. Ini bertentangan dengan penghormatan dalam rasa takwa yang penuh kasih, yang hanya kita berikan kepada Allah.

      Jadi kita tidak boleh percaya kepada segala bentuk ramalan, apalagi sudah menjadi rahasia umum bahwa dalam proses attunement dalam Reiki juga membuka kesempatan keterlibatann roh-roh tertentu, dan karena itu bertentangan dengan kepercayaan dan penghormatan kita yang penuh, yang harus diberikan kepada Allah saja.

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      Ingrid Listiati- katolisitas.org

  7. Mohon penjelasan mengenai pro-kontra ajaran Anthony de Mello? apakah dengan mengambil perumpamaan dari ajaran lain termasuk NAM dan bertentangan dengan ajaran Katolik? Referensi dari catatan Paus Benediktus XVI: link to vatican.va

    [Dari Katolisitas: Kami sudah pernah menanggapi pertanyaan serupa di sini, silakan klik. Gereja Katolik menentang ajaran NAM, sehingga memang seharusnya para pengajar iman Katolik tidak mengambil contoh- contoh yang dapat mengacu kepada prinsip- prinsip ajaran NAM.]

  8. Dear Bu Inggrid dan tim Katolisitas..

    Mungkin agak terlambat untuk ikut serta dalam topik pembahasan ini, karena saya baru saja menemukan dan memperhatikan artikel2 dalam website Katolisitas :)

    Saya ingat beberapa tahun lalu waktu “The Secret” baru dipublish dan (seolah2) langsung booming. Ada yang meminjamkan kepada kakak saya, dvd dan bukunya sekaligus. Saya mencoba menonton dvd The Secret itu.
    Dari pembukaan sampai pertengahan isi video tersebut disusun dengan sangat indah, persis seperti video2 kesaksian Kristiani, maka orang tidak akan curiga bahwa inti pengajarannya akan menarik menuju arah yang berlawanan sama sekali dengan iman Katolik. Saat video sudah mulai memasuki pengajaran yg mengatakan bahwa kita manusia dapat memperoleh apapun yg kita inginkan dengan memproyeksikan keinginan kita pada alam semesta, baru terasa ada yg mengusik hati. Sungguh syukur kepada Tuhan karena Dia melindungi saya dan kakak dari pengajaran2 new age tsb..
    Tapi dari pengalaman ngobrol dengan teman2 mudika saya melihat beberapa teman cenderung untuk tertarik dengan ide2 dlm “The Secret” ini. Ide2 yg menawarkan hasil “keberhasilan/kesuksesan” yg pasti, yang bisa dicapai dengan “memproyeksikan” keinginan2 tsb ke alam semesta yg entah berasal dari mana..

    Jadi gimana ya bu.. sepertinya memang sasaran dari ajaran2 new age ini adlh orang2 muda yang masih/merasa berpikiran terbuka terhadap segala perubahan?

    Saya ingin berdoa, semoga Tuhan senantiasa melindungi anak2Nya dari penyusup2 yang sangat halus ini..

    Tuhan memberkati..

    [Dari Katolisitas: Ya, Anda benar bahwa kita harus waspada tentang ajaran- ajaran yang menyusup secara halus ini. Tentang "the Secret" sudah pernah sekilas dibahas di sini, silakan klik]

  9. Poppy Linggi Allo on

    Bagiamana tanggapan Katolisitas.org mengenai pengajaran2 spiritual yang populer saat ini seperti “Hati Nurani”, “Membuka Hati” (dan berbagai pengajaran penggunaan hati lainnya), ESQ, “Pendalaman Spiritual”, “Quantum Psikoterapi” dsb? Sebagai informasi, lokakarya2 yang mengajarkan tentang hati diselenggarakan oleh organisasi yang juga mengajarkan reiki dan yoga..
    apalah aliran2 semacam ini boleh diikuti ataukah dikategorikan juga sebagai NAM?

    Saya juga menemukan buku berjudul Peziarahan Hati yang ditulis oleh Romo Thomas Hidya Tjaya, SJ, PhD terbitan Kanisius yang dalam sinopsisnya antara lain :

    Buku ini menawarkan kepada anda sebuah pandangan integral mengenai tujuan hidup yang sebenarnya dan cara untuk mencapainya dalam peziarahan di dunia ini. Oleh karena hidup ini adalah anugerah dari Tuhan, anda diajak untuk menjalaninya dengan menggunakan ‘alat’ (tool) yang juga telah dianugerahkan oleh Tuhan untuk menjalin relasi dengan-Nya, yaitu hati. Hati adalah kunci relasi manusia dengan Tuhan, dan hanya melalui hatilah anda akan mengalami kebahagiaan sejati. Dengan menggunakan hati sebaik-baiknya, anda menghayati hidup ini sesuai dengan tujuannya.

    (link to kanisiusmedia.com)

    Saya ingin bertanya apakah penjelasan tentang hati ini sesuai dengan ajaran agama Katolik. terima kasih.

    Salam kasih :-)

    poppy L.A.

    • Shalom Poppy,

      Sesungguhnya, ajaran NAM itu berbahaya justru karena sekilas terkesan tidak berbahaya. Dan karena kelihatan tidak berbahaya ini, maka pengaruhnyapun dapat masuk perlahan- lahan ke dalam kegiatan- kegiatan yang diikuti oleh umat Katolik. Terus terang, saya tidak mendalami apa itu latihan spiritual “Membuka hati”, “Hati Nurani” dan lain- lain yang Anda sebutkan, sehingga tidak dapat memberi komentar yang mendetail. Namun mari kenali prinsipnya saja, bahwa latihan spiritualitas Katolik itu fokusnya adalah pengenalan akan Tuhan dan pengenalan akan diri kita sendiri. Jadi apapun bentuk meditasi yang ditawarkan, kalau tidak mengarah ke fokus tersebut, atau jika hanya menekankan pengenalan ke hati diri sendiri, maka sesungguhnya tidak sesuai dengan tradisi Kristiani. Demikian juga, kalau dalam meditasi itu yang ditekankan adalah energi, juga tidak sesuai dengan iman Kristiani, karena Tuhan yang kita imani bukan energi tetapi Pribadi. Meditasi yang diperkenalkan oleh Reiki dan sejenisnya memusatkan pikiran kepada suatu energi tertentu yang seolah menentukan keseimbangan (dan kesehatan) di dalam tubuh manusia, dan kemudian dalam meditasi ini dapat dimasukkan unsur doa. Namun latihan ini sesungguhnya tidak terarah kepada Tuhan, karena pada prinsipnya pengaturan energilah yang ditekankan di sini. Maka di sini terlihat suatu kerancuan, dan karena itulah Magisterium Gereja Katolik melarang praktek Reiki.

      Maka, silakan dilihat tentang apa yang diajarkan dalam segala bentuk latihan spiritual yang anda sebutkan itu. Apakah yang menjadi fokus di sana, apakah permenungan firman Tuhan dan kehadiran Tuhan? Apakah pengosongan diri semata? Sebab jangan dilupakan bahwa spiritualitas Katolik tidak mengajarkan pengosongan diri secara total sampai seseorang kehilangan jati dirinya. Melalui meditasi dan kontemplasi menurut tradisi Katolik, seseorang dibawa kepada pengalaman persatuan dengan Tuhan, dan bukan pengalaman pengosongan ataupun pengisian energi tertentu.

      St. Teresia dari Avila, St. Yohanes Salib, St. Ignatius Loyola, St. Fransiskus dari Sales adalah para orang kudus yang dikenal dalam meditasi Katolik. Silakan jika Anda berminat, silakan membaca karya- karya mereka. Lihatlah bahwa dari tulisan- tulisan mereka, fokus mereka adalah kepada persatuan dengan Tuhan dan perhatian kepada Tuhan itu mengarahkan seseorang untuk semakin mengenali diri sendiri dan misi yang diembannya dalam rencana keselamatan Allah. Buah- buah dari latihan rohani itu harusnya menjadikan orang yang mengikutinya menjadi lebih mencintai Sabda Tuhan dan sakramen- sakramen-Nya, dan menjadi lebih rendah hati, karena kerendahan hati pada dasarnya adalah pengenalan dan pengakuan akan Allah yang Maha besar, Maha segalanya, dan akan diri kita sendiri yang kecil dan serba lemah. Kerendahan hati ini juga tercermin dalam kesiapsediaannya untuk tunduk kepada ajaran dan otoritas Gereja. Jika memang buah- buah ini yang nampak dalam latihan rohani yang anda sebutkan, maka latihan rohani itu baik dan sesuai dengan ajaran iman Katolik. Jika tidak, atau anda sendiri ragu karena fokusnya tidak ke sana, maka lebih baik tidak usah diikuti.

      Selanjutnya, sekilas excerpt dari buku Rm. Thomas Hidya SJ, nampaknya baik, silakan saja jika anda tertarik untuk membacanya. Komunikasi kita dengan Tuhan memang melibatkan hati kita. Di atas semua itu, peganglah prinsip utamanya, yaitu bahwa Tuhanlah yang menjadi fokus utama dalam meditasi Kristiani. Itulah sebabnya meditasi Jalan Salib, ataupun meditasi peristiwa- peristiwa hidup Yesus dalam doa Rosario merupakan salah satu bentuk meditasi yang sangat baik.

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      Ingrid Listiati- katolisitas.org

       

      • Poppy Linggi Allo on

        Shalom bu Ingrid dan terima kasih atas tanggapannya,

        Mengenai latihan hati dan hati nurani saya pertanyakan berhubung waktu itu dipromosiin lokakarya Membuka Hati yang setahu saya link ke lokakarya masteryoga, dimana alumni membuka hati dapat mempelajari berbagai materi dan teknik lanjutan pada lokakarya masteryoga (diselenggarakan oleh organisasi yang sama).

        [Dari Katolisitas: link kami edit]

        Orang yang mempromosikan lokakarya juga menunjukkan buku Peziarahan Hati ketika mengetahui saya beragama Katolik. Melihat buku yang ditulis oleh seorang Romo, orang tentunya akan berpikir bahwa lokakarya maupun pengajaran yang diberikan telah mendapat acknowledge dari Gereja. Namun saya merasa perlu untuk bertanya berhubung sudah pernah punya pengalaman dengan NAM sebelumnya sehingga lebih berhati2.
        Terima kasih kepada Katolisitas yang menjelaskan tentang meditasi dan spiritualitas Katolik yang sesungguhnya. Dari jawaban ibu Ingrid juga saya memahami poin-poin yang dijelaskan. Dan saya juga sudah mencoba latihan meditasi Katolik yaitu Doa Yesus dan Lectio Divina. Rasanya memang berbeda dengan jenis2 meditasi lainnya. Suatu hal yang membahagiakan adalah, didalam melakukan meditasi Katolik saya merasakan damai sejahtera lantaran berada pada koridor yang benar diterangi oleh Roh Kudus melalui GerejaNya.

        Lebih lanjut, setelah searching topik mengenai praktek hati dan hati nurani di internet ada masukan dari forum ekaristi dot org yang ingin saya share kiranya bermanfaat bagi saudara2 se-iman yang mempertanyakan hal serupa.

        link to ekaristi.org

        Salam kasih,

        Poppy L.A.

  10. Paulus Sutikno Panuwun on

    Dear Monica dan teman2 katolisitas,

    Saya ingin menyampaikan pengalaman (dari membaca, melihat video maupun latihan meditasi / taichi) dan pemikiran saya pada topik New Age, Reiki, spiritualitas universal, Meditasi; Budhism, Tao Te Ching, karena saya sangat ingin mengenalnya. Juga sudah 5 tahun saya menjalani latihan Tai chi bersama teman2 lingkungan dan tetangga yang Kristen, Budha, bahkan ada yang Muslim. Sampai hari ini saya tidak merasa kehilangan kekatolikan saya, malahan saya merasa begitu indahnya latihan itu bagi diri saya dan teman2. Seperti halnya meditasi, taichi juga satu bentuk meditasi yang bertujuan mendapatkan inner peace.
    New age jelas lahir di dunia barat yang katakanlah bosan dengan kekristenan, saya mencoba merenungkannya, apakah di Indonesia akan terjadi seperti ini juga, karena kehidupan modern yang jelas mengutamakan kesuksesan, kepintaran, popularitas, dan jelas melanda umat Katolik juga, apalagi mereka yang makmur. Apalagi dunia barat sejak zaman Nietzche juga lebih mengutamakan kehidupan yang bebas, lebih menyukai kehidupan zaman Yunani dengan dewa dewinya, yang utama adalah kebahagiaan dunia.
    Seperti kita lihat dunia barat sudah jadi atheist, dan belakangan ini sedang juga runtuh karena “cinta akan uang” ;di Indonesia juga tampaknya seperti itu, kita pastilah akan menuju ke sana juga.
    Nah saya rasa New age, Reiki dsb menjadi pilihan buat mereka yang merasa gelisah kuatir dan banyak kesusahan. Banyak orang Kristen Katolik tidak sadar akan artinya mengikuti Kristus, lalu menjadikan Tuhan sebagai pusat hiburan.
    Kalau saja kita sadar bahwa Tuhan menginginkan kita melakukan pekerjaanNya semata-mata agar kita jadi manusia baik (manusia wu wei menurut laotse) dan mendapatkan damai sejahteraNya, saya rasa dunia akan jadi baik seperti semula waktu diciptakan Allah.

    Paulus

    • Shalom Paulus,

      Terima kasih atas tanggapan anda tentang NAM. Secara tidak sadar, orang-orang Katolik yang ikut NAM cenderung untuk mempunyai pandangan yang menyamaratakan agama, kebenaran dianggap sebagai sesuatu yang relatif, sehingga lama-kelamaan relativisme menjadi ajaran yang dipegang. Dan inilah yang perlu dikritisi. Silakan anda melihat diskusi tentang hal ini di sini- silakan klik. New Age tidak lahir dari kebosanan dunia barat akan kekristenan, karena aliran serupa (seperti: gnosticism) sudah ada di masa-masa awal kekristenan. Relativisme dan individualisme mempunyai tempat yang nyaman di NAM. Dunia barat dan dunia modern yang dipenuhi dengan paham individualisme dan relativisme menyukai NAM karena memperoleh pembenaran di dalamnya, yaitu dapat merasakan diri sebagai manusia yang spiritual tanpa perlu dogma dan doktrin untuk ditaati. Dengan kata lain, NAM dipandang sebagai satu penyelesaian untuk membentuk manusia spiritual yang bebas dari semua aturan. Bahkan secara tidak sadar, setiap individu akhirnya menjadi tuhan, karena semua kebenaran akhirnya merujuk pada pandangan pribadi.

      Di sisi yang positif, popularitas NAM menunjukkan kehausan manusia akan hal-hal yang bersifat spiritual. Hal ini semakin membuktikan kepada kita bahwa manusia adalah makhluk yang diciptakan Tuhan menurut gambar Tuhan (lih. Kej 1:27), yaitu menjadi makhluk spiritual. Dengan demikian, manusia tidak mungkin mendapatkan kebahagiaan sejati di tingkat material, namun harus masuk ke tingkat spiritual. Dan dalam tingkat inilah, Kristus sendiri menunjukkan jalan, kebenaran dan hidup (lih. Yoh 14:6), sehingga dengan mengikuti Kristus, manusia dapat memperoleh kebahagiaan sejati. Namun, mengikuti Kristus bukanlah sekedar demi kenyamanan pribadi, namun mempunyai konsekuensi, yaitu memikul salib, menyangkal diri dan mengikuti semua perintah Kristus. Dengan demikian, bagi yang benar-benar ingin mendapatkan kebahagiaan sejati, ikutilah Kristus, karena Kristuslah Jalan, Kebenaran dan Hidup. Mengikuti NAM hanya akan membawa pada spiritualitas yang semu, karena tidak mempunyai akar yang kuat. Jadi, sebagai umat Katolik, janganlah mengikuti NAM.

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      stef – katolisitas.org

  11. yohanes baptis nugroho on

    Pembahasan mengenai NAM makin hari kok makin ramai ya… Nampaknya makin banyak orang yang mengenalnya atau mempelajarinya. Kalau meninjau dari ajaran gereja Katolik bahwa ada kebenaran di luar gereja, apakah benar kalau gereja mengatakan bahwa New Age itu sesat karena tidak sesuai dengan doktrin agama Katolik. Kalau demikian halnya semua ideologi atau agama yang tidak sesuai dengan doktrin agama Katolik juga bisa dikatakan sesat dong…

    Satu hal yang membuat saya bingung, Tuhan pencipta alam semesta ini ada berapa sih. Apakah Tuhannya orang Katolik sama dengan orang lain baik dari Kristen, Islam, Hindu, Budha, atau Kong Hu Cu. Ataukah tiap agama punya Tuhannya masing-masing. Lalu jika demikian pencipta orang Katolik, Kristen, Islam, Hindu, Budha, berarti beda-beda dong… Aneh ya. Seandainya penciptanya beda tapi kok secara biologis dan kimiawi bisa sama ya. Yang lebih aneh lagi kenapa bumi dan mataharinya cuma ada satu. Kenapa Tuhan tidak menciptakan satu bumi dan matahari untuk tiap agama. Apa Tuhannya tiap agama sebenarnya saling bekerja sama dalam menciptakan manusia di dunia ini. Apa sebenarnya di surga sana Tuhannya orang Katolik, Kristen, Islam, Hindu, Budha, dll hidup dengan damai, rukun, bekerja sama, hidup sebagai satu saudara ya…

    Tuhan memang penuh misteri…

    • Shalom Yohanes Baptis,

      Terima kasih atas komentar anda. Memang diskusi tentang NAM tidak akan ada habisnya. Namun, satu hal yang mungkin kita perlu renungkan adalah Tuhan tidak mungkin mengkontradiksi Diri-Nya sendiri atau dengan kata lain, kebenaran tidak dapat mengkontradiksi dirinya sendiri. Tidak mungkin dua hal yang saling bertentangan dalam kondisi dan cara yang sama, dapat dianggap benar keduanya. Dengan demikian, kebenaran yang mengatakan bahwa Tuhan itu satu dan mempunyai pribadi tidak mungkin sama benarnya dengan kepercayaan yang mengatakan bahwa Tuhan itu dapat banyak dan adalah energi. Menjadi tugas bagi setiap penganut agama Katolik dan NAM dan bahkan setiap agama untuk benar-benar mendalami iman dan kepercayaannya, meneliti apa yang dipercayainya dan bahkan mempertanyakan dan mendiskusikannya.

      Kalau anda bertanya tentang ada berapa Tuhan, maka tentu saja kita menjawab ada satu Tuhan, karena Tuhan itu harus satu. Mengatakan Tuhan lebih dari satu adalah bertentangan dengan hakekat Tuhan sendiri yang adalah ‘maha’ dalam segalanya. Yang menjadi permasalahan adalah Tuhan yang seperti apa? Walaupun dengan akal budi, kita dapat membuktikan akan keberadaan Tuhan yang satu, pribadi, benar, baik dan indah, namun untuk mengetahui Tuhan secara mendalam, maka kita memerlukan wahyu dari Tuhan. Dalam konteks agama Kristen, maka Tuhan sendiri yang telah mewahyukan Diri-Nya, seperti yang dinyatakan-Nya dalam Kitab Suci. Ini berarti Tuhan sendiri memberikan kesaksian tentang Diri-Nya, termasuk kesaksian tentang Inkarnasi, yang menyadarkan kita bahwa Tuhan bukan hanya maha besar, namun juga Tuhan yang bersama kita atau imanuel. Dan Tuhan yang imanuel ini kemudian mendirikan Gereja, yaitu Gereja Katolik, yang senantiasa menjaga agar wahyu Allah dapat diteruskan dari satu generasi ke generasi yang lain secara murni. Inilah sebabnya Gereja Katolik mengatakan bahwa kepenuhan kebenaran ada padanya, karena Allah sendiri mewahyukan Diri-Nya dan menjaga kebenaran itu lewat Gereja-Nya.

      Keyakinan bahwa kepenuhan kebenaran ada di dalam Gereja Katolik seharusnya tidak membuat umat Gereja Katolik menjadi sombong, bahkan seharusnya menimbulkan rasa tanggung jawab yang besar. Saya pikir untuk meyakini bahwa iman yang dipegang seseorang adalah yang sungguh benar sebenarnya adalah hal yang wajar, karena memang sudah seharusnya kita memilih iman yang sungguh benar. Bagi saya dan umat Katolik yang lain, maka iman yang sungguh benar ini ada di dalam Gereja Katolik. Namun, apakah dengan memilih iman yang sungguh benar kemudian kita harus memaksa orang lain? Tentu saja tidak, karena dalam masalah agama, orang harus memilihnya secara bebas. Apakah dengan memilih iman yang sungguh benar membuat kita harus mewartakannya kepada orang lain? Tentu saja, karena kita ingin orang lain juga memperoleh kebenaran iman. Namun, hal ini harus dilakukan dengan cara yang tulus dan bijaksana, sehingga tidak ada nilai-nilai paksaan. Orang sering mengaburkan bahwa kalau kita tidak mengakui perbedaan antar keyakinan, maka kita tidak mempunyai toleransi. Namun sebenarnya, kalau kita mengakui adanya perbedaan, menyikapinya dengan bijaksana, melakukan pewartaan dengan tulus dan tanpa paksaan adalah merupakan bentuk toleransi yang lebih dewasa. Sama seperti dua orang dewasa dapat membentuk perkawinan, walaupun masing-masing mempunyai pribadi yang berbeda, maka adalah mungkin untuk hidup bersama dengan damai walaupun mempunyai perbedaan agama dan kepercayaan. Semoga jawaban ini dapat diterima.

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      stef – katolisitas.org

    • Shalom Jeany,
      Terus terang, sayapun sungguh prihatin mendengarnya. Namun saya menduga, semua itu dilakukan karena mereka tidak sungguh- sungguh mengetahui bahwa hal itu dilarang oleh Gereja Katolik, seperti telah dipaparkan di atas.
      Maka jika dipandang baik dan dapat membantu, silakan anda meng-copykan tulisan- tulisan di Katolisitas tentang topik ini untuk disampaikan kepada mereka. Semoga maksud baik kita semua mendapat tanggapan positif, mengingat bahwa mereka seharusnya menjadi teladan iman bagi umat.

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      Ingrid Listiati- katolisitas.org

      • Shalom Ibu Ingrid,
        Terima kasih atas tanggapannya, iya saya juga prihatin & sedih … Saya usul kalau bisa Ibu Ingrid/team Katolitas bantu untuk menyampaikan ke keuskupan supaya dari keuskupan secara formal memberitahukan lewat mimbar Gereja tentang hal ini kepada umat Katolik, dan kepada para imam… mungkin bisa dengan diadakan pertemuan khusus atau tergantung pada kebijakan Bapa Uskup nantinya.

        Salam kasih,
        Jeany

        [dari Katolisitas: keprihatinan Anda sudah kami sampaikan juga kepada Rm Wanta dan Rm Santo di KWI, semoga dapat juga menjadi perhatian mereka dan dapat ditindaklanjuti bila perlu. Terima kasih atas kepedulian Anda.]

  12. Syalom Katolisitas.

    Termia Kasih atas artikel yang sangat jelas ini.

    Tetapi saya memiliki beberapa masalah yang ingin saya tanyakan.

    Yesus sendiri mengajarkan kepada kita untuk tidak membeda-bedakan sesama kita yang berbeda keyakinan, lalu apakah Gereja Katolik menganggap Hindu dan Buddha itu ajaran yang salah? Terus terang saya sering melihat dan mendengar ajaran kedua agama itu dari media, dan mulai sedikit terpengaruh pikiran bahwa kebenaran itu relatif, terletak di mana-mana, berarti karena dewa-dewi itu belum tentu ada, Apa berarti keyakinan kita akan adanya Kristus dan Tuhan yang Esa juga relatif?

    Lalu, perbedaan konsep tentang reinkarnasi. Umat hindu dan Buddha percaya bahwa manusia yangn mati akan lahir kembali dalam wujud lain, apakah Gereja Katolik juga memiliki konsep seperti itu?

    Apakah dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa keyakinan kita adalah benar? Sebab saya sendiri sering goyah dengan pemaparan agama lain yang sekilas pandang juga sepertinya benar, apalagi dengan kesan bahwa Katolik itu dari Barat alias orang Eropa, Hindu Buddha dari Timur (Cina, India), Islam dari Arab.

    Apa yang harus saya lakukan? Terkadang saya meragukan keberadaan Yesus sendiri. Sungguh amat mengganggu pikiran saya yang sedang berusaha menanamkan iman katolik yang kuat, apalagi saya tidak mendapatkan asupan bimbingan iman yang memadai semasa kecil saya hingga saat ini dari keluarga.

    Mohon bantuannya.

    Salam Kasih.

    Monica

    • Shalom Monica,

      1. Relativisme

      Memang dewasa ini ada banyak ideologi- ideologi yang mencuat ke permukaan, yang nampaknya baru, seperti NAM itu, walaupun sebenarnya akarnya sudah ada sejak lama. Bermacam ideologi ini begitu ‘membombardir’ kita seolah semua paham itu benar, dan segalanya menjadi relatif, seperti yang juga diajarkan oleh NAM tersebut. Tentu ini keliru. Iman yang menganggap semua adalah relatif sesungguhnya bukan iman yang berdasarkan kebenaran yang dari Tuhan, tetapi berdasarkan atas ego dan keinginan manusia, yang ingin dianggap benar. Sedangkan iman yang sejati itu harus bersumber dari Tuhan sendiri yang mewahyukan Diri-Nya, dan ini kita temukan di dalam Kristus.

      Gereja Katolik di bawah  Yohanes Paulus II dan Paus Benediktus XVI mengajarkan bahwa Relativisme adalah salah satu problem terbesar tentang hal iman dan moral dewasa ini. Paus Benediktus XVI dalam homilinya pada Misa pemilihan Paus, tanggal 18 April 2005, antara lain mengatakan demikian:

      “How many winds of doctrine have we known in recent decades, how many ideological currents, how many ways of thinking. The small boat of the thought of many Christians has often been tossed about by these waves – flung from one extreme to another: from Marxism to liberalism, even to libertinism; from collectivism to radical individualism; from atheism to a vague religious mysticism; from agnosticism to syncretism and so forth. Every day new sects spring up, and what St Paul says about human deception and the trickery that strives to entice people into error (cf. Eph 4: 14) comes true.

      Today, having a clear faith based on the Creed of the Church is often labeled as fundamentalism. Whereas relativism, that is, letting oneself be “tossed here and there, carried about by every wind of doctrine”, seems the only attitude that can cope with modern times. We are building a dictatorship of relativism that does not recognize anything as definitive and whose ultimate goal consists solely of one’s own ego and desires.

      We, however, have a different goal: the Son of God, the true man. He is the measure of true humanism. An “adult” faith is not a faith that follows the trends of fashion and the latest novelty; a mature adult faith is deeply rooted in friendship with Christ. It is this friendship that opens us up to all that is good and gives us a criterion by which to distinguish the true from the false, and deceipt from truth.

      We must develop this adult faith; we must guide the flock of Christ to this faith. And it is this faith – only faith – that creates unity and is fulfilled in love.

      On this theme, St Paul offers us as a fundamental formula for Christian existence some beautiful words, in contrast to the continual vicissitudes of those who, like children, are tossed about by the waves: make truth in love. Truth and love coincide in Christ. To the extent that we draw close to Christ, in our own lives too, truth and love are blended. Love without truth would be blind; truth without love would be like “a clanging cymbal” (I Cor 13: 1).

      Dewa dan dewi adalah semacam legenda, dan tidak memasuki sejarah manusia. Namun Kristus adalah Tuhan yang menjelma menjadi manusia, dan masuk dalam sejarah manusia ; dan Kristus inilah yang kita imani sebagai kepenuhan Kebenaran, puncak dari seluruh Wahyu Allah (lih. KGK 75). Wahyu Allah ini disampaikan secara tertulis dan lisan, dan keduanya dilestarikan sepenuhnya di dalam Gereja Katolik, sehingga kita dapat mengetahui bahwa Kebenaran itu sifatnya tidak relatif, namun definitif dan tidak berubah, seperti yang telah dibuktikan oleh ajaran Gereja Katolik yang tetap sama selama 2000 tahun lebih.

      2. Tentang reinkarnasi

      Gereja Katolik tidak mempercayai reinkarnasi. Kalau kita mengetahui perbedaan antara tumbuhan, binatang dan manusia, seperti yang dipaparkan di sini – silakan klik, maka sangat sulit untuk dapat menerima reinkarnasi. Bagaimana mungkin, manusia yang mempunyai jiwa yang bersifat spiritual dan bersifat kekal, kemudian dapat menjadi binatang, yang mempunyai jiwa yang tidak bersifat spiritual dan tidak kekal?

      Gereja Katolik mengajarkan bahwa kontemplasi tentang Allah dan Kebenaran-Nya dapat didekati dengan iman dan akal budi. Artinya adalah kebenaran yang sejati itu harus juga masuk akal, dan bukan hanya sesuatu yang hanya diimani, tanpa ada penjelasannya yang dapat diterima oleh akal sehat.

      3. Iman mudah goyah?

      Pada akhirnya, pencarian akan Tuhan akan juga memerlukan keterbukaan hati kita untuk tidak mengandalkan semata- mata kepada pemahaman dan ‘selera’ kita sendiri, namun kepada Wahyu Allah itu sendiri yang telah disampaikan seutuhnya oleh Gereja Katolik. Maka adalah langkah yang baik, jika kita terlebih dahulu mempelajari ajaran Gereja Katolik, daripada membuang waktu untuk mempelajari banyak paham- paham yang tidak jarang saling bertentangan satu sama lain dan malah membuat bingung. Jika kita berpegang pada Kristus yang adalah Kebenaran itu sendiri, maka kita tidak mudah terombang- ambing. Tak kenal maka tak sayang, namun jika kita sudah mengenal namun kita tidak sayang, maka problemnya ada pada diri kita sendiri. Untuk itu yang terpenting adalah mohon rahmat Tuhan agar kita dapat mengenal Dia, namun juga agar kita dapat mengasihi-Nya, yaitu dengan melaksanakan perintah- perintah-Nya (lih. 1 Yoh 2:4; 5:2-3).

      Akhirnya, selain berakar di dalam doa, firman Tuhan dam sakramen- sakramen Gereja (terutama Ekaristi dan Tobat), silakan anda bergabung juga dengan komunitas gerejawi di paroki anda, sebab iman anda dapat juga bertumbuh melalui persekutuan bersama umat seiman. Semoga dengan demikian iman anda tidak lekas goyah, dan anda dapat terus bertumbuh dalam pengharapan dan kasih.

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      Ingrid Listiati- katolisitas.org

      • Dear Bu Ingrid,

        Hanya sekedar rasa ingin tahu saja.
        Tentang reinkarnasi, bukankah Katolik juga ada ? yaitu kebangkitan badan dan kehidupan kekal.
        Saya mengartikan konteks reinkarnasi di ajaran Budha sama dengan kebangkitan badan dan kehidupan kekal dalam ajaran Katolik. Bukan seperti pemahaman reinkarnasi yang terlahir sebagai binatang, tumbuhan dll, saya juga tidak percaya. Seperti tertulis, Ibrani 9:27 “Dan sama seperti manusia ditetapkan untuk mati hanya satu kali saja, dan sesudah itu dihakimi.”

        Terimakasih

        • Shalom Hendrik,
          Kebangkitan badan dan kehidupan kekal yang diajarkan oleh Kristus, tidak sama dengan reinkarnasi seperti dalam ajaran Budha. Karena pengertian reinkarnasi yang umum dimengerti (menurut ajaran Budha) adalah seseorang yang sudah mati dapat ‘lahir kembali’ dalam rupa yang berbeda dalam kehidupan ini (bukan kehidupan kekal); dan rantai ‘kelahiran kembali’ ini dapat berlangsung sampai berkali- kali sampai banyak generasi. Ajaran macam ini tidak sesuai dengan ajaran Kristiani. Menurut ajaran Kristus seperti yang kita ketahui secara jelas dalam Kitab Suci adalah manusia itu hidup dan mati hanya satu kali saja (lih. Ibr 9:27) lalu setelah kebangkitan di akhir jaman, manusia (tubuh dan jiwa)nya masuk dalam kehidupan kekal di surga (bagi orang- orang benar) atau masuk dalam kebinasaan kekal di neraka (bagi orang- orang yang jahat/ menolak Allah).
          Semoga Tuhan mendapatkan kita layak untuk digabungkan dalam kelompok manusia yang masuk ke dalam kehidupan kekal bersama-Nya di surga.

          Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
          Ingrid Listiati- katolisitas.org

  13. Arief Prilyandi on

    Shalom Tim Katolisitas,

    Sekilas membaca “Jesus Christ The Bearer of The Water of Life” Saya mau bertanya mengenai Medieval Alchemy dan Renaissance Hermeticism, ajaran new age seperti apa?

    Mengapa Celtic Christianity juga merupakan new age?

    Terima kasih.

    • Shalom Arief,

      1. Medieval Alchemy

      Dalam sejarah ilmu pengetahuan, alchemy mengacu kepada bentuk penyelidikan tentang alam dan awal disiplin filosofi dan spiritual yang menggabungkan elemen- elemen kimia, metalurgi, obat- obatan, astrologi, semiotik, mistis, spiritualism, dan seni sebagai bagian- bagian kekuatan tunggal yang lebih besar. Maka alchemy menurut pemikiran kuno adalah jalan pemurnian dan transformasi spiritual; ekspansi kesadaran dan perkembangan intuisi melalui gambar- gambar. Alchemy berkaitan dengan mistis dan misteri, yang diyakini mempunyai kekuatan untuk mengubah kesadaran dan menghubungkan jiwa manusia dengan Allah.

      Pada jaman Abad Pertengahan (medieval) alchemy tersebar di dunia barat, seperti halnya astrologi dan okultism. Alchemy ini berfungsi di dua tingkatan yaitu tingkatan duniawi dan rohani. Di tingkatan duniawi para alchemis mengacu pada proses pengubahan besi dasar menjadi emas. Dalam tingkatan rohani, alchemis bekerja untuk memurnikan diri mereka sendiri dengan mengeliminasi material ‘dasar’ diri sendiri untuk mencapai ‘emas’ pencerahan.

      Alchemy memperoleh namanya di Eropa Latin di abad ke -12, sebagai bentuk pemikiran spekulatif yang berhubungan dengan astrologi; yang berusaha menemukan hubungan antara manusia dengan kosmos dan untuk mempergunakan hubungan itu demi keuntungan manusia.

      Medieval alchemy, yang berhubungan astrologi ini ditolak oleh Gereja Katolik, sebab ini merupakan bentuk pelecehan terhadap kemahakuasaan Tuhan.

      KGK 2116    Segala macam ramalan harus ditolak: mempergunakan setan dan roh jahat, pemanggilan arwah atau tindakan-tindakan lain, yang tentangnya orang berpendapat tanpa alasan, seakan-akan mereka dapat “membuka tabir” masa depan (Bdk. Ul 18:10; Yer 29:8). Di balik horoskop, astrologi, membaca tangan, penafsiran pratanda dan orakel (petunjuk gaib), paranormal dan menanyai medium, terselubung kehendak supaya berkuasa atas waktu, sejarah dan akhirnya atas manusia; demikian pula keinginan menarik perhatian kekuatan-kekuatan gaib. Ini bertentangan dengan penghormatan dalam rasa takwa yang penuh kasih, yang hanya kita berikan kepada Allah.

      2. Renaissance Hermeticism

      Hermeticism adalah seperangkat kepercayaan filosofis dan religius yang berdasarkan atas tulisan- tulisan pseudepigrafikal Mesir Helenistik (Yunani) oleh Hermes Trismegistus yang merupakan wakil dari peleburan antara dewa Mesir Thoth dan dewa Yunani, Hermes.

      Kepercayaan akan dewa- dewa ini tentu berlawanan dengan iman akan Tuhan yang Esa, yang diajarkan oleh iman Kristiani.

      3. Ajaran tentang New Age

      Kami sudah berusaha menjabarkan tentang prinsip ajaran New Age, yang mengambil prinsip ajaran Gnosticism, di artikel di atas, silakan klik. Atau silakan membaca di point 2.3.3 tentang Central Themes of the New Age, dalam dokumen “Jesus Christ, the Bearer of the Water of Life“. Silakan anda membaca di sana, dan jika masih ada yang kurang jelas silakan bertanya kembali.

      4. Celtic Christianity

      Celtic Christianity umumnya dihubungkan dengan aliran Kristen sekelompok orang di Bristish Isles (sekelompok pulau di barat laut benua Eropa, termasuk Inggris dan Irlandia) di jaman awal Abad Pertengahan. Aliran Celtic Christianity berbeda dengan iman Kristiani secara umum, karena aliran ini menolak prinsip ajaran tentang dosa asal dan akibatnya pada manusia. Menurut aliran ini, manusia tidak mempunyai kecenderungan berbuat dosa, dan karena itu manusia dapat, dengan mengandalkan kemampuannya sendiri, untuk bersatu dengan Tuhan. Pandangan ini secara khusus diajarkan oleh Pelagius (sekitar abad 4), dengan menekankan cara hidup kudus dengan melaksanakan praktek ascestism, agar seseorang dapat selamat.

      Namun ajarannya ini tidak sesuai dengan ajaran para rasul dan Bapa Gereja, yang mengajarkan bahwa keselamatan diperoleh karena kasih karunia Allah (yang memampukan manusia untuk melakukan kebaikan) dan iman akan Yesus Kristus (yang tidak terpisahkan dari perbuatan baik/ kasih); jadi bukan semata- mata hanya karena perbuatan baik saja. Ajaran Pelagius ini dikecam oleh St. Agustinus, dan juga oleh Konsili Carthage di tahun 416 dan Konsili di Afrika tahun 418.

      Prinsip dasar Celtic Christianity ini, yang menolak akan akibat dosa asal, dan karenanya tidak mengakui pentingnya rahmat Allah (grace) bagi keselamatan manusia inilah yang membuatnya mirip dengan ajaran New Age. Sebab kedua aliran ini menganggap bahwa manusia dengan mengandalkan kemampuannya sendiri dapat selamat, sehingga bagi mereka Inkarnasi Kristus bukan merupakan jalan yang absolut untuk menghantar manusia kepada keselamatan kekal. Padahal  Sabda Allah yang tercatat dalam Kitab Suci maupun dalam Tradisi Suci para rasul yang diteruskan oleh para Bapa Gereja justru mengajarkan sebaliknya, bahwa keselamatan kekal kita peroleh karena kasih karunia Allah, oleh iman (lih. Ef 2:8-9) yang bekerja oleh kasih (Gal 5:6); jadi bukan karena semata usaha perbuatan baik manusia saja.

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      Ingrid Listiati- katolisitas.org

  14. Bu Ingrid, terimakasih atas keterangan Anda yang begitu jelas. Apakah dokumen yang dikeluarkan oleh Vatican ini pernah disosialisasikan oleh Gereja pada umat?

    Saya berpendapat hal ini penting sekali disosialisasikan, tetapi seingat saya, saya belum pernah mendapati/mendengar tanggapan Gereja Katolik terhadap NAM ini secara resmi disosialisasikan pada umat.

    Demikian pula mungkin perlu disosialisasikan aplikasi2 NAM ini dalam masayarakat mengambil nama apa saja selain Reiki dan yoga, sehingga umat dapat mengenalinya. Terutama awam Katolik, sangat rentan terhadap NAM ini, contohnya melalui buku/film The Secret mengutip beberapa ayat Kitab Suci, maka dengan mudah mereka menilai ini sesuai dengan Kekristenan ( ini terjadi pada teman saya,” lho kan ada ayatnya masa bertentangan dengan iman Kristen?” dia mengatakan begitu dengan heran dan tidak mengerti)

    Yang pernah saya dengar hanya komentar singkat dan sangat halus yang diselipkan oleh seorang Imam dalam khotbahnya tentang NAM ini, karena kurang tegas, saya rasa banyak orang yang tidak menerima pesan ini. Teman saya sendiri banyak yang terlibat dalam pelayanan baik Paroki maupun kelompok2 doa tapi tidak mengerti apa itu NAM.

    Mungkin bisa diinfokan Bu, bila pernah disosialisasikan lewat mana saja, terutama untuk saudara-saudara seiman yang tidak familiar dengan internet.

    Terima kasih,
    Yashinta

    • Shalom Yashinta,
      Dokumen Jesus the Bearer of the Water of Life sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, Yesus Pembawa Air Hidup, yang dapat anda peroleh di:

      Departemen Dokumentasi dan Penerangan KWI
      Jl Cut Mutiah 10 Menteng, Jakarta Pusat 10340 telpon 021 319 2 5757
      Email: dokpen@kawali.org
      Pembayaran melalui: Rekening KWI

      atau pesan ke
      Penerbit dan Toko Rohani OBOR
      Jl. Gunung Sahari no. 91
      Jakarta Pusat 10610
      Telp. (021) 422 2396 Fax. (021) 421 9054
      Email: tokorohani@obormedia.com
      Website: http://www.obormedia.com

      Memang mungkin perlu disosialisasikan lebih lanjut, maka anda dapat juga turut menyebarkan informasi ini, kepada mereka yang membutuhkannya.

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      Ingrid Listiati- katolisitas.org

      • Terimakasih infonya Bu, tentu ini sangat membantu. Saya memang terbeban untuk membagikan info ini pada teman-teman saya.

        Akhir-akhir ini semakin sering saya mendengar tentang anak muda Katolik yang goncang dan meninggalkan imannya karena kurang mengerti dasar iman keKatolikan sehingga mudah dipengaruhi dengan ajaran iman lain maupun paham NAM ini.

        Sedapat mungkin saya berusaha membagikan apa yang sudah saya dapat dari web ini dan buku-buku Katolik yang saya baca, pada teman-teman di sekitar saya.

        Tuhan memberkati

  15. Syalom, Mba Ingrid dan Om Stef, saya mau minta tolong! bisa ga katolisitas mengupload dokumen “Yesus Kristus Pembawa Air Hidup” dalam bahasa Indonesia? setahu saya link yang diberikan masih dalam bahasa Inggris. dokumen ini Dokpen KWI pun sepertinya sudah sulit di cari. Jika memungkinkan bisa diuplaod bagi kami yang bertugas di tempat yang jauh dari Jakarta dan toko Buku Rohani yang ada di kota-kota mungkin akan memudahkan kami untuk memberi dan berbagi informasi kapada umat mengenai New Age kepada mereka yang membutuhkan. Trims, Tuhan memberkati!

Add Comment Register



Leave A Reply