Pertobatan Zakeus (Luk 19:1-10)

8

Pembahasan secara garis besar:

Di kota Yerikho, tinggal seorang kepala pemungut pajak, Zakheus, yang sangat dibenci oleh orang banyak. Ia adalah koruptor, dan penghianat bangsa, karena dia menarik uang lebih daripada yang seharusnya, dan dia bekerja pada pemerintah Roma, yang pada waktu itu menjajah bangsa Yahudi. Semua orang tidak mau berteman dengannya, walaupun ia sangat kaya. Orang-orang memandang dia sebagai seorang pendosa yang harus dijauhi.

Sebelum lewat di kota Yerikho, Yesus menyembuhkan orang buta di tengah jalan. Maka orang-orang banyak mengerumuni Dia, demikian juga Zakheus. Namun karena badannya pendek, maka ia memanjat pohon ara untuk dapat melihat Yesus dengan jelas. Yesus mengetahui maksud hati Zakheus, maka ketika Ia lewat, Dia memandang Zakheus dengan penuh kasih. Dia memanggil nama “Zakheus”, dan bahkan mau tinggal dan makan bersama dengannya.

Kasih inilah yang merubah kehidupan Zakheus, dan ia mengalami pertobatan yang benar. Pertobatan/Metanoia adalah perubahan sikap 180 derajat. Berubah dari sikap dosa dan berbalik kepada Kristus, serta menyadari jati diri kita yang sebenarnya, sebagai anak-anak Allah. Itu juga yang dialami oleh Zakheus, setelah mengalami kasih dari Tuhan, mengalami pertobatan, dia mau memperbaiki hidup, dan membagi kasih kepada orang lain, termasuk orang-orang yang pernah dia rugikan.

Kita semua adalah seperti Zakheus, yang datang dengan latar belakang yang berbeda, dan kita ingin melihat Tuhan, serta mengalami jamahan kasih-Nya. Tidak ada kesalahan yang terlalu besar bagi Tuhan untuk diampuni. Dimana dosa semakin besar, maka kasih-Nya akan semakin besar dan nyata. Tuhan tidak mempermasalahkan masa lalu, dosa-dosa kita. Yang Dia mau adalah, kita menyadari akan semua dosa-dosa kita, bertobat, dan mengalami kasih-Nya yang begitu besar. Kasih yang sempurna, kasih yang “Agape”, yang bukan dari dunia ini, yang dapat merubah segalanya.

Orang yang sudah mengalami jamahan kasih Allah, seharusnya tidak boleh menjadi manusia yang sama lagi. Kehidupannya harus benar-benar berubah, karena tidak ada kasih yang dapat disimpan sendiri. Dengan sendirinya kasih ini akan mengalir keluar, dan akan menular dengan cepat. Alangkah indahnya, jika di dalam keluarga, komunitas, lingkungan, dan paroki kita, semua orang mengalami kasih Allah yang benar-benar nyata, dan membagikannya kepada semua orang. Dunia kita akan menjadi tempat bagi kita untuk mempraktekkan hukum Tuhan, yaitu hukum cinta kasih. Tempat bagi kita untuk melakukan pelayan dengan penuh kasih dan sukacita.

Pembahasan ayat-ayat

Luk 19:1: Yesus masuk ke kota Yerikho dan berjalan terus memasuki kota itu.

Yerikho adalah suatu kota di mana terletak di sebelah Timur dari Yerusalem, dan dekat dengan sungai Yordan. Ditempat inilah tempat tembok yang terkenal, yaitu tembok Yerikho yang dirubuhkan oleh Yosua, atas bantuan Tuhan. Ketika itu para iman berjalan mengelilingi tembok dan pada hari ketujuh mereka mengeliliungi tembok Yerikho dan bersorak sorai, dan tembok itu runtuh (Yos 6:13-16). Di tempat ini juga yang menginspirasikan lagu “Dari Yerikho ke Yerusalem ada jalan belas kasih ….). Ketika itu seorang Samaria menolong seorang yahudi, setelah dia dirampok. Juga ada seorang buta, yang disembuhkan Yesus (Lukas 18:35-43). Dan ditempat inilah terjadi suatu drama kehidupan, yang memberikan pengharapan kepada semua pendosa, termasuk kita semua, yaitu drama kasih yang membawa pertobatan yang sejati, kisah Zakheus.

Luk 19:2 Di situ ada seorang bernama Zakheus, kepala pemungut cukai, dan ia seorang yang kaya.

Zakheus yang berarti “suci” , dari Zakchaios, atau “zakkay”.
Dia yang memang suci, karena dimurnikan sendiri oleh Yesus Kristus. Dia seorang pendosa yang diubah oleh Yesus menjadi seorang kudus.

Dia adalah seorang pemungut cukai, bahkan kepala dari pemungut cukai di daerah Yerikho. Sebagai latar belakang, pada masa pemerintahan Roma, orang-orang Yahudi diharuskan untuk membayar pajak kepada kaisar/pemerintah Roma. Dan amatlah umum pada masa itu, bahwa seorang pemungut pajak, biasanya menarik pajak lebih daripada yang ditetapkan oleh pemerintah Roma. Dengan kebiasaan seperti itu, maka seorang pemungut pajak menjadi sangat dibenci rakyat. Karena Zakheus seorang yahudi, maka dia dianggap seorang yang berkhianat terhadap bangsanya sendiri, karena dia bekerja pada pemerintah Roma, bangsa penjajah.

Zakheus, dengan pekerjaannya sebagai pemungut pajak, adalah seseorang yang mengambil hak orang lain yang bukan menjadi haknya, dalam hal ini adalah uang milik masyarakat. Dengan cara seperti inilah Zakheus menjadi kaya.

Permenungan: Apakah kita seperti Zakheus, yang mengambil hak orang lain?

  • Sebagai orangtua, apakah kita mengambil hak anak-anak, yang berhak untuk bercanda, bercerita, dan bersukacita bersama-sama dengan orang tuanya?
  • Sebagai seorang guru, apakah kita memberikan yang menjadi hak bagi murid, yaitu untuk mengetahui kebenaran, juga memberikan nilai-nilai moral yang benar?
  • Sebagai seorang Katolik, apakah kita sudah memberikan hak kepada keluarga, masyarakat, untuk membiarkan mereka mengetahui, bagaimana sebenarnya iman Katolik yang benar, yang berdasarkan kasih yang sejati?
  • Sebagai umat Tuhan, apakah kita juga sudah memberikan apa yang menjadi hak Tuhan, untuk disembah dan dimuliakan? Apakah kita juga seperti Zakheus, yang “korupsi waktu”, waktu untuk pergi ke gereja, waktu berdoa, waktu membaca alkitab, berkomunitas, dll?
  • Tuhan tidak menentang kita untuk menjadi kaya, namun Tuhan menentang, jika kekayaan yang ada didapat dengan cara yang tidak halal, dan merugikan orang lain.

Luk 19:3 Ia berusaha untuk melihat orang apakah Yesus itu, tetapi ia tidak berhasil karena orang banyak, sebab badannya pendek.

Zakheus, tentu sudah mendengar tentang Yesus, dimana terlihat dari keinginannya untuk melihat Yesus. Dia sudah mendengar, bagaimana Yesus sudah menyembuhkan begitu banyak orang dari berbagai macam penyakit, juga membuat begitu banyak mukjijat. Dia juga mungkin sudah mendengar, bagaimana Yesus tidak pernah menolak seorangpun untuk datang kepada-Nya, juga termasuk pendosa …..

Namun karena keterbatasannya, karena badannya pendek, dan juga ada begitu banyak orang, maka kita dia tidak dapat melihat Yesus.

Permenungan: Apakah kita seperti Zakheus, yang juga mempunyai keterbatasan untuk bertemu dengan Yesus?

  • Mungkin karena situasi pekerjaan kita, yang menuntut kita harus begitu sibuk, kita tidak dapat meluangkan waktu untuk berdoa. Mungkin karena kesibukan kita, sebagai seorang istri, begitu sibuk dengan melayani anak-anak, sehingga tidak ada waktu untuk Tuhan. Juga sebagai aktifis di gereja, membuat kita terlalu sibuk dengan urusan gereja, sehingga tidak dapat meluangkan waktu untuk berdoa?
  • Apakah kita juga terhalang bertemu dengan Yesus, karena orang lain? Mungkin kita takut ditertawakan ketika kita mau menunjukkan bahwa kita adalah murid Yesus. Kita takut dianggap sok suci. Kita tidak mau korupsi, tapi semua orang korupsi, sehingga kalau kita tidak ikut-ikut, maka kita takut dijauhi dan dibenci rekan sekerja kita. Kalau kita tidak ikut nyontek, merokok, kita takut dianggap banci oleh teman sekolah kita?
  • Bagaimana kita dapat bertemu dengan Yesus?
    • Berdoa: Yer 29:12-13 (Dan apabila kamu berseru dan datang untuk berdoa kepada-Ku, maka Aku akan mendengarkan kamu; apabila kamu mencari Aku, kamu akan menemukan Aku; apabila kamu menanyakan Aku dengan segenap hati).
      Apakah kalau macet di jalan, menunggu anak di sekolah, pada saat mencuci piring, dll, kita melakukannya dengan doa?
    • Membaca Firman Tuhan: 2Ti 3:15 (Ingatlah juga bahwa dari kecil engkau sudah mengenal Kitab Suci yang dapat memberi hikmat kepadamu dan menuntun engkau kepada keselamatan oleh iman kepada Kristus Yesus).
      Apakah kita benar-benar meluangkan waktu untuk membaca Firman-Nya, yang sebenarnya adalah surat kasih dari pencipta kita?
    • Komunitas: Mat 18:20 (Sebab di mana dua atau tiga orang berkumpul dalam Nama-Ku, di situ Aku ada di tengah-tengah mereka.”).
      Apakah kita lebih suka berkumpul untuk memuji Tuhan, ataukah kita lebih suka berkumpul untuk ke café, ngerumpi, belanja, dll?
    • Pelayanan Kasih: Mat 25:45 (Maka Ia akan menjawab mereka: Aku berkata kepadamu, sesungguhnya segala sesuatu yang tidak kamu lakukan untuk salah seorang dari yang paling hina ini, kamu tidak melakukannya juga untuk Aku).
      Apakah kita juga peka terhadap orang-orang di sekitar kita yang membutuhkan kita? Mungkin tidak dalam bentuk uang, namun perhatian dan kasih.
    • Sakrament-sakrament, secara istimewa dalam Perayaan Ekaristi: 1 Kor 10:16 (Bukankah cawan pengucapan syukur, yang atasnya kita ucapkan syukur, adalah persekutuan dengan darah Kristus? Bukankah roti yang kita pecah-pecahkan adalah persekutuan dengan tubuh Kristus?).
      Apakah kita benar-benar percaya, bahwa Yesus hadir dalam rupa roti dan anggur dalam perayaan ekaristi? Kalau ya, apakah kita merasa cukup untuk menerimanya seminggu sekali? Apakah kita menghadiri perayaan ekaristi setiap Jum’at pertama? Misa harian? Adorasi di hari-hari tertentu?

Luk 19:4 Maka berlarilah ia mendahului orang banyak, lalu memanjat pohon ara untuk melihat Yesus, yang akan lewat di situ.

Zakheus tidaklah menyerah karena keterbatasannya, dan karena orang banyak yang menghalangi dia untuk bertemu dengan Yesus. Yang dia lakukan adalah memanjat pohon ara.

Permenungan: Apakah kita seperti Zakheus, yang mau terus berusaha untuk bertemu dengan Yesus, dengan segala keterbatasannnya?

  • Marilah kita lihat segala keterbatasan yang kita miliki. Mungkin kita terbatas karena waktu luang yang kita miliki adalah sedikit. Kita tidak mempunyai waktu untuk berdoa. Pertanyaannya adalah, apakah kalau kita diberi waktu lebih, misal pada saat liburan, kita mau meluangkan waktu kita untuk berdoa? Kalau kita mau menjawab dengan jujur, maka kita akan menjawab tidak. Apakah ditengah keterbatasan kita, kita mau berdoa pada saat jalan macet, saat mencuci piring, saat menyapu rumah, saat sebelum dan setelah makan, sebelum dan setelah tidur, atau pada saat kita bermain dengan anak-anak kita?
  • Mungkin ada sebagian dari kita berkata “saya tidak pandai untuk bicara di depan umum. Saya mau melayani, tapi saya tidak mampu”. Bagaimana kalau kita melayani dengan senyuman kita, membawa damai di dalam kelompok atau lingkungan kita? Melayani anggota keluarga dengan sukacita?
  • Kita punya banyak keterbatasan, namun kita juga punya kemampuan untuk berkata “Di tengah keterbatasanku, aku mau seperti Zakheus, yang mau lari dan memanjat pohon ara untuk bertemu dengan Yesus.”

Luk 19:5 Ketika Yesus sampai ke tempat itu, Ia melihat ke atas dan berkata: “Zakheus, segeralah turun, sebab hari ini Aku harus menumpang di rumahmu.”

Lihatlah…. Karena Zakheus sudah berusaha dengan segala keterbatasannya, dia akhirnya dapat berjumpa dengan Yesus. Benarlah apa yang dikatakan di dalam alkitab, bahwa Dia akan membiarkan diri-Nya ditemukan oleh orang yang mencari-Nya dengan tulus hati.

Dan bagaimana pertemuan Yesus dengan Zakheus? Yesuslah yang terlebih dahulu mengadakan inisiatif. Dia yang terlebih dahulu membuka pembicaan dengan Zakheus. Yang Yesus lakukan adalah:

  • BERHENTI. Yesus berhenti di bawah pohon tempat Zakheus ada. Dia mau berhenti dimana saja, juga ditempat kita ada.
  • Yesus berhenti setiap saat di dalam kehidupan kita, lebih-lebih pada saat kita benar-benar membutuhkan uluran kasih-Nya,
  • MELIHAT KEATAS. Pada saat semua orang memandang rendah Zakheus, Yesus justru melihat keatas, kepada Zakheus. Pada saat mata Yesus bertemu dengan mata Zakheus, mata-Nya bukanlah mata yang benci dan menuduh, seperti yang dilakukan oleh orang-orang Yahudi. Tatapan mata yang dipancarkan oleh Yesus adalah tatapan penuh kasih.
    Jangan pernah berfikir bahwa kita tidaklah pantas untuk menerima Yesus, karena dosa-dosa kita. Yesus tidak pernah merendahkan kita kalau kita menyadari dosa-dosa kita. Dia akan meninggikan kita, dan membawa kita ke tempat yang seharusnya, yaitu menjadi anak-anak Allah.
  • MEMANGGIL. Bayangkan, tidak ada orang yang memanggil Zakheus dengan namanya. Semua orang memanggil Zakheus dengan sebutan “pemungut cukai”.
    Yesuslah yang juga memanggil kita dengan nama kita masing-masing, “James, Heri, Doni, …” Terlebih dia juga memanggil kita dengan sebutan “sahabat”, karena meskipun kita adalah hamba, namun Dia menganggap kita adalah sabahat-Nya. Yang terpenting, adalah Dia memanggil kita dengan sebutan “anak-anak Allah”. Sebutan yang memungkinkan kita untuk memanggil Allah, sebagai Abba, Bapa, Papa, Bapak.
  • MEMINTA. Jangankan meminta untuk menjadi teman, berbicarapun orang segan kepada Zakheus. Yesus meminta kepada Zakheus untuk dapat tinggal dirumahnya.
    Mungkin pada saat ini, Tuhan Yesus, meminta sesuatu kepada kita. Dan mungkin juga itu adalah permintaan yang sama, yaitu untuk turun dari tempat kita, tempat di mana kita biasa berada. Tempat di mana dosa dan kebiasaan buruk harus ditanggalkan.
  • TINGGAL. Yesus mau tinggal menginap di rumah Zakheus. Tuhan, pencipta langit dan bumi, mau memilih untuk tinggal di rumah Zakheus, sang pendosa, sementara orang menganggap najis untuk menginjakkan kaki di rumah sang pendosa.
    Yesus juga mau tinggal di hati kita, di kehidupan kita, di permasalahan kita. Dia sudah menawarkan dirinya kepada kita. “….. Aku mau tinggal di rumah hatimu”. Lalu apakah jawaban kita?

Permenungan: Apakah kita seperti Zakheus yang mengalami pengalaman yang serupa? ; Pengalaman di mana Yesus yang penuh kasih, mau menerima kita apa adanya?

  • Pada saat kita sakit, kita dapat mengalami Yesus yang begitu baik, yang memberikan kekuatan kepada kita. Dimana Dia selalu memberikan kekuatan.
  • Pada saat kita menerima merayakan ekaristi, lihatlah Yesus yang merendahkan diri-Nya dalam rupa roti dan anggur, supaya kita dapat menerima-Nya di dalam keberadaan kita.
  • Pada saat kita menerima sakrament pengakuan dosa, alamilah Yesus yang penuh belas kasih, dan mau menerima segala kekurangan kita, dan merangkul kita kembali kepada-Nya dan gereja-Nya.

Luk 19:6 Lalu Zakheus segera turun dan menerima Yesus dengan sukacita.

Dan dikatakan bahwa “….Zakheus segera turun dan menerima Yesus dengan sukacita”. Bayangkan jika ada seorang superstar atau presiden yang mengatakan, bahwa dia mau bermalam di rumah kita dan makan bersama kita. Kita tentu akan segera bergegas dan menyambutnya. Inilah, Yesus, Tuhan yang menciptakan seluruh alam semesta, raja dari segala raja, meminta kita, untuk diperbolehkan tinggal di hati kita.

Apa yang dilakukan oleh Zakheus:

  • TURUN. Zakheus turun dari pohon untuk bertemu dengan Yesus secara pribadi. Kita juga harus turun dari ketinggian pohon yang menghalangi kita untuk berjumpa dengan Yesus lebih dekat lagi. Kita harus meninggalkan segala kesombongan kita, masa lalu kita, ketakutan, kekuatiran, merasa sikap merasa tidak dikasihi, kesendirian kita, untuk bertemu secara pribadi dengan Yesus.
  • MENERIMA. Sama seperti Zakheus, pada saat Yesus datang dan memanggil kita, kita harus menerima-Nya. Adalah untuk kebaikan kita untuk menerima panggilan-Nya, agar kita dapat merasakan damai sejahtera dan agar kita mendapatkan kekuatan dalam mengarungi bahtera kehidupan ini yang penuh tantangan.
  • SUKACITA. Sudah selayaknyalah, bahwa panggilan Tuhan, harus kita sambut dengan sukacita.

Permenungan: Apakah kita seperti Zakheus yang bereaksi sama, yaitu menyambut Yesus dengan penuh sukacita?

  • Pada saat kita menerima Yesus dalam ekaristi, apakah kita juga menyambut-Nya dengan penuh sukacita dan penuh harap?
  • Pada saat kita melayani yang terkecil, anak-anak, saudara satu iman yang membutuhkan bantuan kita, apakah kita melakukannya dengan penuh sukacita? Bagaimana di dalam pelayanan kita, apakah kita melayani Tuhan dengan hati yang bersuka dan gembira?

Luk 19:7 Tetapi semua orang yang melihat hal itu bersungut-sungut, katanya: “Ia menumpang di rumah orang berdosa.”

Semua orang bersungut-sungut, merasa bahwa Yesus yang begitu suci tidak layak untuk tinggal di rumah sang pendosa dan sang pendosa tidaklah layak untuk menerima Yesus, sang Maha Suci.

Permenungan: Apakah kita seperti semua orang yang bersungut-sungut, melihat bahwa Yesus mau tinggal bersama dengan pendosa?

  • Apakah kita sering mengatakan dalam hati kita, bahwa kita lebih baik dari orang lain? Bahwa kita lebih layak untuk melayani Tuhan daripada orang lain?
  • Ketika seorang bekas pemabuk, orang yang tidak pernah ke gereja, tiba-tiba mengalami kasih Kristus, dan menjadi orang yang berubah, kita mungkin mengatakan “Ah, dia khan dulu hidupnya nggak baik… kok sok-soknya melayani begitu. Kalau aku sih memperbaiki hidup dulu, baru melayani.”
  • Kita semua adalah seperti orang banyak dalam cerita ini. Kita semua adalah “orang-orang yang munafik”. Namun Tuhan mengerti segala kekurangan kita, dan Dia yang secara terus-menerus menyempurnakan kita, hingga suatu saat kita akan bertemu Dia, muka dengan muka. Dan pada saat itulah, kita menyerupai Dia, dimana tidak ada selubung kemunafikan lagi, karena semua yang terjadi di dalam kegelapan akan dibawa ke dalam terang.

Luk 19:8 Tetapi Zakheus berdiri dan berkata kepada Tuhan: “Tuhan, setengah dari milikku akan kuberikan kepada orang miskin dan sekiranya ada sesuatu yang kuperas dari seseorang akan kukembalikan empat kali lipat.”

Salah satu bentuk dari pertobatan yang benar adalah semangat dan tindak lanjut untuk melakukan sesuatu untuk memperbaiki kesalahan. Yesus mengatakan kepada Maria Magdalena, si pelacur “…. Pergilah dan janganlah berbuat dosa lagi…(Yoh 8:11)”. Dan kasih merubah segalanya. Mungkin ada banyak orang yang mengatakan kepada Zakheus bahwa dia harus berubah, dan mungkin semua itu membuat Zakheus semakin marah. Namun kasih dari Yesus, yang mau menyapa dan tinggal bersama dia, yang mau menerima dia apa adanya, menjadi suatu kekuatan untuk merubah apa yang tidak dapat dia rubah sebelumnya.

Bahkan Zakheus melakukan silih atas segala dosa-dosanya. Mengembalikan empat kali lipat adalah hukum orang Yahudi bagi orang yang mencuri lembu atau domba, dia harus menggantinya empat kali lipat (lihat kel 22:1). Secara hukum/adat dengan mengganti empat kali lipat sudahlah lebih dari cukup, namun tidak bagi Zakheus yang baru saja menerima kasih yang berlimpah dari Yesus. Kasih dari Yesus meluap, seperti yang digambarkan Daud dalam mazmurnya “… pialaku penuh melimpah (Mazmur 23:5)”. Kasih inilah yang mendorong Zakheus untuk melakukan hal yang lain, yang melebihi hukum yang berlaku, melebihi tingkat keadilan, yaitu dengan mengatakan “Tuhan, setengah dari milikku akan kuberikan kepada orang miskin…”

Permenungan: Apakah kita seperti Zakheus, yang sudah mengalami kasih Yesus, dan hidup kita berubah 180 derajat?

  • Apakah kita sudah mengalami kasih yang seperti Zakheus alami, di mana merubah seluruh kehidupan kita? Merubah cara pandang kita terhadap kehidupan ini? Sampai kita mengalami kasih ini, maka kehidupan rohani kita akan berhenti dan tidak bergerak…. Kecaplah dan lihatlah betapa baiknya Tuhan itu… (Maz 34:8)
  • Apakah kita mengalami kasih yang Tuhan berikan adalah berlimpah dan tidak mungkin kita simpan hanya untuk kita sendiri?

Luk 19:9 Kata Yesus kepadanya: “Hari ini telah terjadi keselamatan kepada rumah ini, karena orang inipun anak Abraham.

Yesus mengatakan “… Hari ini, telah terjadi keselamatan…”. Pertobatan yang benar selalu akan menghasilkan keselamatan. Zakheus yang mengalami kasih Tuhan, dan kemudian bertobat dan melakukan silih atas dosa-dosanya, akhirnya mendapatkan sesuatu yang paling berharga, yaitu mendapatkan keselamatan.

Kitapun sama seperti Zakheus, bahwa kita adalah anak-anak Abraham di dalam iman. Kita mempunyai iman seperti Abraham. Abraham dibenarkan karena iman, kitapun dibenarkan karena iman, yaitu iman kepada Yesus Kristus. Namun lebih lagi keselamatan yang kita terima adalah melulu karena berkat Tuhan, pemberiaan cuma-cuma dari Tuhan. Kalau kita mencari siapa yang layak menerima keselamatan, maka semua orang tidaklah layak untuk menerimanya, karena kita semua telah berdosa dan kehilangan kemuliaan Allah.

Permenungan: Apakah kita sama seperti Zakheus, yang menerima perkataan Yesus “.. Hari ini terjadi keselamatan, karena engkau sudah beriman kepadaku..?”.

  • Yesus yang pertama-tama merindukan untuk mengucapkan perkataan ini kepada kita semua. Dia rindu agar kita semua, dan seluruh umat manusia untuk mendapatkan keselamatan. Agar hidupnya juga diberkati dan melimpah, dan damai
  • Apakah kita juga menjadi alat Tuhan untuk keselamatan keluarga kita, komunitas kita, tempat kerja kita? Selama kita terus membawa Yesus dalam setiap hal yang kita lakukan, maka kita akan terus menjadi alat-Nya.

Luk 19:10 Sebab Anak Manusia datang untuk mencari dan menyelamatkan yang hilang.”

Yesus datang ke dunia ini untuk mencari dan menyelamatkan yang hilang. Sama seperti gembala yang baik, Ia tidak membiarkan satu dombapun hilang dari kawanannya. Sama seperti yang Dia katakan, bahwa orang sakitlah yang membutuhkan dokter.

Permenungan: Kita semua adalah orang yang sakit, yang membutuhkan dokter, dokter dari segala dokter, yaitu Yesus sendiri.

  • Kita mungkin sakit karena kurang kasih dan perhatian. Tersiksa karena masa lalu kita, dan kuatir akan masa depan. Sakit, karena kurang peka terhadap penderitaan sesama, terlalu egois, mengejar kesenangan sendiri. Mungkin kita sakit, karena menganggap bahwa harta, karir adalah nomor satu dalam hidup ini.
  • Mari pada saat ini kita mengundang Yesus untuk masuk dalam hidup kita, dalam setiap sendi kehidupan kita, dan dalam keberadaan diri kita, sehingga kita dapat menjadi bait suci-Nya yang kudus.

Marilah kita berdoa

Dalam nama Bapa, dan Putera, dan Roh Kudus, Amin

Tuhan Yesus, aku berterima kasih, melalui sabda-Mu, tentang Zakheus, Engkau mengigatkan aku, bahwa Engkau adalah Allah yang berbelas kasih. Engkau tidak mau satupun dari umat-Mu hilang. Tuhan bantu aku untuk menyadari, bahwa akupun sama seperti Zakheus, yang merindukan jamahan kasih-Mu. Aku seringkali berusaha untuk menjadi murid-Mu yang baik, namun aku seringkali gagal, karena segala kelemahan-kelemahanku. Yesus, bantulah aku agar sekali lagi aku boleh mengalami kasih-Mu yang merubah segala sisi kehidupanku. Bantu aku, ya Yesus, agar aku dapat menyadari semua dosa-dosaku dan memutuskan untuk bertobat dan melakukan silih atas semua dosa-dosaku. Bantu aku ya Yesus, untuk menyadari, bahwa hal yang paling penting di kehidupan ini adalah mempersiapkan diri untuk memperoleh keselamatan kekal. Terimakasih Yesus, Engkau sudah wafat di kayu salib untuk menebus dosaku, dan biarlah hatiku senantiasa diisi dengan puji-pujian karena keselamatan yang Engkau berikan secara cuma-cuma kepadaku. Di dalam nama Tuhan Yesus, aku berdoa dan mengucap syukur. .. Amin.

Dalam nama Bapa, dan Putera, dan Roh Kudus, Amin

Share.

About Author

Stefanus Tay telah menyelesaikan program studi S2 di bidang teologi di Universitas Ave Maria - Institute for Pastoral Theology, Amerika Serikat.

8 Comments

  1. budiaryotejo on

    Pertobatan sejati dapat diwujutkan dgn ;

    1. Kesadaran dan kebebasan diri kita yg telah dirahmati oleh Roh Kudus.
    Menerima Yesus sebagai juru slamat (iman kpd Yesus).
    2. Perubahan pola pikir/akal budi kita. Dengan rahmat Roh Kudus pola pikir dan
    tindakan-prilaku kita diubah sesuai firman/kehendak Tuhan dan tidak berpikir dan bertindak
    dengan cara2 duniawi.
    3. Berdoa,dengan benar ( didalam roh dan kebenaran ), puasa dan berkorban.

    Demikian temen2.

  2. Syalom Pak Stef dan Bu Inggrid

    Saya sangat penasaran dengan kisah keruntuhan tembok Yerikho. Bagaimana cara Tuhan meruntuhkan tembok tersebut/ apakah dengan membuat orang-orang yang ada di dalam tembok memenuhi atas tembok selama 7 hari sehingga membuat tembok tersebut tidak kuat menahan beban tubuh mereka?

    terima kasih

    • Shalom Vian,

      Kitab Suci tidak menceritakan keruntuhan tembok Yerikho secara lebih detail, kecuali dengan memaparkan bahwa keruntuhan tersebut disebabkan karena campur tangan Allah yang memberikan perintah kepada Yosua (lih. Yos 6), yaitu dengan mengelilingi tembok, bersorak-sorai dan meniup sangkakala. Namun, selain makna literal ini, ada makna spiritual yang diajukan oleh Origen. Origen memberikan interpretasi bahwa tembok Yeriko ini adalah gambaran akan dunia dan pada saatnya – ketika genap waktunya – maka sangkakala akan dibunyikan dan dunia akan berakhir (lih. 1Tes 4:16; Why 8:2,6; 10:7l 11:15).

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      stef – katolisitas.org

  3. Shalom Dedi,
    mau tanya, kenapa dlm beberapa uraian yg saya baca menyebutkan Yesus mati bukan Yesus wafat.
    [dari katolisitas: memang dalam bahasa Indonesia, wafat dan mati mempunyai arti yang sama, dengan perbedaan: wafat dipakai untuk raja, atau orang-orang yang kita hormat. Jadi, saya telah mengganti perkataan mati menjadi wafat. Kalau anda lihat, 1Tes 5:10 memakai kata “mati”.]

    uraiannya tolong di perbagus…..

    [dari katolisitas: Anda akan membantu kami, kalau anda menyebutkan di artikel mana perkataan itu di tulis. Pada waktu anda mengatakan “uraiannya tolong diperbagus”, maka anda sebenarnya ingin memberikan masukan di artikel mana? Dan kalau anda ingin membantu, silakan memberikan masukan dengan dasar yang jelas dan baik. Terima kasih atas masukannya.]

  4. Salam Kasih,
    mau tanya, kenapa dlm beberapa uraian yg saya baca menyebutkan Yesus mati bukan Yesus wafat.
    menurut saya menggunakan kata MATI rasanya lebih ekstrim bagi saya,apakah ini bisa dipakai kedua-duanya?
    terimakasih u penjelasannya.

    salam,
    christine

    [dari katolisitas: memang dalam bahasa Indonesia, wafat dan mati mempunyai arti yang sama, dengan perbedaan: wafat dipakai untuk raja, atau orang-orang yang kita hormat. Jadi, saya telah mengganti perkataan mati menjadi wafat. Kalau anda lihat, 1Tes 5:10 memakai kata “mati”.]

  5. pertobatan itu harus di awali dengan kesadaran diri, bahwa orang tersebut percaya dan menerima Yesus Kristus sebagai Juruselamat Pribadi dalam hidupnya….?????
    Jgbu>

    • Shalom Dedi,
      Terima kasih atas komentarnya. Pertobatan sebenarnya harus digerakkan oleh Roh Kudus sendiri, yaitu dengan memberikan “actual grace” atau rahmat yang membantu. Rahmat ini memberikan kesadaran bahwa seseorang telah berdosa. Bagi yang belum dibaptis akan menuntun seseorang kepada Baptisan. Namun, pertobatan kedua adalah pertobatan seumur hidup, yang menuntun seseorang kepada pertobatan yang terus-menerus. Bagi umat Katolik pertobatan ini dimanifestasikan dalam Sakramen Pengampunan Dosa. Dari konsep pertobatan awal dan kedua, maka menerima Yesus sebagai juru selamat pribadi saja yang dilakukan hanya sekali saja, tidaklah cukup tanpa adanya kekudusan – mengasihi Allah dan sesama atas dasar kasih kepada Allah.
      Semoga dapat membantu.
      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      stef – http://www.katolisitas.org