Home Blog Page 55

Jembatan Kehidupan

0

“Ini ladang bukan sembarang ladang, tapi ladang jerami. Aku datang bukan sembarang datang, tapi untuk mencurahkan isi hati”. Pantun ini menggambarkan suasana hati dari seorang ibu yang mengunjungiku pada tanggal 19 November 2014. Ia ditemani oleh beberapa orang dari komunitas Emmaus Journey, yang mendalami Kitab Suci setiap hari. Tak perlu kutanyakan siapakah dirinya. Siapakah dirinya sudah terpapar dari wajahnya yang berseri. Ia adalah orang yang diberkati. Ia mengalami cinta dan kuasa Tuhan dalam masa-masa berat kehidupannya selama ini. Cinta dan kuasa Tuhan itu memberikan peneguhan yang sangat berarti.

Ia menikah pada tahun 1981. Empat tahun kemudian, tepatnya 1985, suaminya meninggal dunia. Suaminya meninggal dunia ketika ibu itu berumur dua puluh lima tahun. Ketika suaminya meninggal dunia, anak satu-satunya masih dalam kandungannya dalam usia delapan bulan. Sepeninggal suaminya, ia tidak terus menerus meratapi kehidupannya yang tidak menentu. Ia tidak terpaku dalam problema hidupnya yang berat. Ia tegar menghadapi semuanya itu karena ia senantiasa bersimpuh di hadapan Tuhan. Ia mencurahkan doa-doa dan harapannya kepadaNya bagi anak yang ia cintai. Menjual kue dan menjahit ia lakoni agar anaknya mendapatkan pendidikan yang tinggi. “Puji Tuhan, anakku berhasil meraih gelar S2. Itulah penghiburan yang aku impikan selama ini”, katanya dengan senyuman manis.

Pada tahun 2010, ia terserang stroke. Stroke yang dideritanya tidak membuat semangat hidupnya mati. Ia tetap ceria walaupun tubuhnya lemah. Semangat hidupnya itu dibakar oleh Firman Tuhan yang direnungkan dalam komunitas Emmaus Journey: “Firman Tuhan yang aku renungkan senantiasa membuka mata hatiku terhadap kasih-Nya. Kasih Tuhan itu membuatnya tidak jatuh dalam keputusasaan karena kasih-Nya yang ia hayati terus menumbuhkan imanku kepadaNya. Biarlah tubuhku setengah lumpuh, asalkan imanku kepada Tuhan tidak mati”.

Kasih Tuhan itu kini sangat nyata dalam diri anaknya yang sangat berbakti kepadanya. Anaknya itu mengatakan prinsipnya dalam memilih istri kepadanya: “Ma, aku akan mencari istri yang bisa cocok dengan Mama”. Anaknya itu setiap hari mengeprint ayat-ayat Kitab Suci dengan huruf besar bagi mamanya sehingga mudah baginya untuk membacanya karena matanya memang mulai kabur. Ibu itu mengakui dan mensyukuri kuasa Allah terjadi di sekitar kehidupannya: “Ah, Tuhan ALLAH! Sesungguhnya, Engkaulah yang telah menjadikan langit dan bumi dengan kekuatan-Mu yang besar dan dengan lengan-Mu yang terentang. Tiada suatu apapun yang mustahil untukMu!’ (Yeremia 32:17).

Pesan bagi kita dari sejarah kehidupannya: Tuhan memberikan lima jembatan kehidupan yang menghubungkan satu situasi dengan situasi lainnya. Jembatan terpendek adalah putus asa. Jembatan terpanjang adalah pengharapan. Jembatan terkuat adalah iman. Jembatan termahal adalah pengorbanan. Jembatan terindah adalah kasih. Ketika kita memilih melalui jembatan kasih, kita pasti tidak akan melewati jembatan putus asa. Kita tidak putus asa dalam situasi yang berat karena kasih melahirkan pengharapan. Pengharapan muncul dari iman yang kuat. Iman yang kuat terungkap dalam pengorbanan. Kasih sejati adalah kasih Tuhan sendiri yang senantiasa menyertai setiap langkah kehidupan kita ini. Ucapan syukur kepadaNya merupakan sikap yang pantas bagi Dia yang senantiasa ingin membahagiakan kita, anak-anak-Nya yang Ia kasihi.

Tuhan Memberkati

Oleh Pastor Felix Supranto, SS.CC

Keluarga adalah Istana Allah

0

“Berjumpa Dengan Allah Dalam Keluarga” merupakan tema Natal tahun 2014 ini: “Tetapi Aku akan hadir di tengah-tengahmu dan Aku akan menjadi Allahmu dan kamu akan menjadi umat-Ku” (Imamat 26:12). Sebagai tempat perjumpaan dengan Allah, keluarga adalah tempat yang kudus, Istana Allah, Gereja sejati. Karena merupakan tempat kudus Allah, keluarga merupakan tempat penyembahan kepadaNya dan saluran berkat-Nya. Tuhan dalam Perjanjian Lama telah mengatakan tentang berkat di dalam rumah-Nya : “Di sanalah kamu makan di hadapan TUHAN, Allahmu, dan bersukaria, kamu dan seisi rumahmu, karena dalam segala usahamu engkau diberkati oleh TUHAN, Allahmu” (Ulangan 12:7).

Kasih dalam keluarga merupakan wujud nyata dari berjumpa dengan Allah karena Allah adalah kasih: “Allah adalah kasih, dan barangsiapa tetap berada di dalam kasih, ia tetap berada di dalam Allah dan Allah di dalam dia ”(1 Yoh 4:16). Kasih terungkap dalam tindakan saling memperhatikan, saling menolong, saling memaafkan, dan meneguhkan. Ketika kasih mewarnai keluarga, kehadiran Allah terjadi di tempat itu. Kehadiran Allah dalam kasih membuat anggotanya rindu untuk berjumpa satu sama lain setiap saat. Kerinduan untuk senantiasa berjumpa dalam keluarga menandakan kasih Allah telah hidup di dalamnya. Allah menciptakan Adam, pria, sesuai dengan gambaran-Nya karena Ia ingin berbagi kasih. Hawa, wanita, diciptakan Allah dari tulang rusuk pria dengan maksud agar wanita menjadi teman sepadan pria dalam berbagi kasih. Jadi, sejak awal keluarga dibentuk Allah dengan kasih-Nya dan keluarga adalah pembawa atau penyalur kasih ke dalam dunia untuk pertama kalinya.

Kasih di dalam keluarga menangkal ancaman terhadap keluarga sebagai Istana Allah. Ancaman itu adalah persaingan yang telah diciptakan di kota metropolitan ini. Perusahaan-perusahaan menuntut para karyawannya untuk bekerja sangat keras karena menghadapi persaingan yang ketat. Banyak karyawan mengalami stres. Mereka mengalami stres karena banyaknya pekerjaan dengan waktu terbatas, tuntutan “deadline” yang membuat hidup terasa terburu-buru, terjadi konflik antar pribadi karena ada yang mempunyai kepentingan tersembunyi. Akibatnya: walaupun mereka berada dalam keluarga, tetapi jiwanya kosong sehingga rumah bagaikan tempat kuburan yang sunyi dan tanpa komunikasi dari hati. Perasaan tersinggung dan terabaikan menjadi makanan sehari-hari. Karena tuntutan hidup yang semakin tinggi, suami dan istri harus bekerja. Suami dan istri yang bekerja bisa memicu persaingan siapa yang mendapatkan posisi dan gaji yang lebih tinggi. Anak-anak pun dikondisikan untuk bersaing mendapatkan kasih sayang. Orang tua lebih menyanyangi anak-anak yang manis, taat, dan pandai daripada anak-anaknya yang kurang dalam kemampuan belajar. Anak-anak jadi terbiasa berlaku pura-pura demi memperebutkan perhatian orangtuanya. Kasih akan mengubah persaingan menjadi dukungan sehingga setiap anggotanya merasa dimiliki dan dicintai sehingga hidupnya berarti. Stres pun akan berubah menjadi kegembiraan hati karena kasih.

Bagaimana kita menjadikan rumah kita sebagai Istana Allah, yaitu tempat perjumpaan kita denganNya dan penyaluran berkat-Nya:

1. Menjadikan rumah kita sebagai Gereja: “Aku hendak memperhatikan hidup yang tidak bercela: Bilakah Engkau datang kepadaku? Aku hendak hidup dalam ketulusan hatiku di dalam rumahku” (Mazmur 101:2).

Kita menjadikan perilaku di rumah seperti di Gereja. Rumah kita menjadi tempat menyembah, mengasihi, dan melayani. Ketika kita berhasil menciptakan perilaku itu di rumah kita layaknya di Gereja, rumah kita akan mengalirkan berkat yang luar biasa. Berkat Tuhan itu nyata: “Apabila engkau memakan hasil jerih payah tanganmu, berbahagialah engkau dan baiklah keadaanmu. Istrimu akan menjadi seperti pohon anggur yang subur di dalam rumahmu; anak-anakmu seperti tunas pohon zaitun sekeliling mejamu!” (Mazmur 128:2-3). Arti berkat dari rumah dalam ayat-ayat tersebut : a) Kita akan mendapatkan kebahagiaan dan keadaan kita baik, yaitu damai sejahtera; b) Istri akan menjadi seperti pohon anggur, yaitu sumber sukacita dalam keluarga; c) Anak-anak seperti tunas pohon zaitun, yaitu memiliki masa depan yang gemilang seperti tunas yang sedang tumbuh.; d) Suami diberkati Tuhan dengan pekerjaan dan usaha yang maju.

2. Menjadikan rumah kita Altar Tuhan.

Yang dimaksudkan altar Tuhan di sini adalah hati yang dipenuhi kerinduan untuk bersekutu dengan Tuhan. Ketika doa dipanjatkan dalam rumah kita, Tuhan akan hadir. Ketika Tuhan hadir dalam rumah kita, yang susah menjadi sukacita, yang lemah menjadi kuat, yang kekurangan dipenuhi kebutuhannya. Pendek kata, ketika rumah kita dipenuhi dengan kehadiran Allah, rumah kita menjadi tempat yang nyaman dan membuat anggotanya betah tinggal di dalamnya.

Kesimpulan bahwa rumah kita menjadi Istana Allah di mana kita bisa berjumpa denganNya dan menikmati berkat-Nya dapat diresapi melalui puisi saya di bawah ini.

Keluarga Gudang Cerita

Keluarga adalah tempat kekuatan ketika ku tak berdaya,

Motivasi saat semangat hampir mati.

Doa saat ku tak mampu lagi memanjatkannya.

Di sanalah banyak ceritera dan kisah kehidupan yang terkenang.

Tawa dan air mata mengalir bersama.

Tawa dalam gembira tidak menjadikan lupa diri,

Air mata dalam dukacita tidak membuat putus asa.

Aneka kisah menjadi pelangi yang mewarnai hidup ini.

Semuanya itu karena keluarga adalah anugerah Tuhan yang kusyukuri.

Di situlah kasih tertanam abadi.

Pengharapan, keteguhan, dan pengorbanan terukir di dalam hati.

Impian pun tak pernah berhenti.

Tangan Tuhan terasa mengiringi langkah hidup ini.

Tuhan Memberkati

Oleh Pastor Felix Supranto, SS.CC

Siapkanlah jalan bagi Tuhan!

0
Sumber gambar: http://frpetercft.blogspot.com/2012_12_01_archive.html

[Hari Minggu Adven II: Yes 40:1-5,9-11; Mzm 80:9-14: 2Ptr 3:8-14; Mrk 1:1-8] 

Menjelang musim banjir di Jakarta ini, ada banyak jalan diperbaiki. Tak terkecuali jalan di dekat rumah kami -yang dulunya kurang rata, berlubang di sana sini dan sering digenangi air pada musim hujan- kini dipermak seolah menyambut tamu. Walau belum selesai, tetapi sudah mulai terlihat bahwa ruas jalan itu makin baik dan mulus. Ada harapan, jalan itu tidak kebanjiran lagi seperti di tahun lalu… Bacaan Kitab Suci hari ini juga mengisahkan tentang mempersiapkan jalan bagi Tuhan, yang tentu layak disambut dengan jauh lebih baik, daripada menyambut musim banjir. Lagipula, contoh banjir ini sepertinya bertolak belakang, sebab kedatangan Tuhan itu kita dambakan, sedangkan kedatangan banjir tidaklah kita harapkan. Namun demikian, ada kemiripan dalam masa persiapannya, yaitu sama-sama mempersiapkan jalan. Jalan yang berlubang ditimbun, yang menjulang diratakan, agar mudah dilewati pada saat yang dinantikan itu datang.

Minggu lalu kita bersama telah merenungkan pentingnya masa persiapan menjelang kedatangan Kristus. Mungkin sejumlah di antara kita sudah membuat semacam niat yang kuat untuk menjadikan Adven tahun ini menjadi masa persiapan yang lebih berarti daripada tahun-tahun sebelumnya. Kini pertanyaannya, sudahkah niat yang baik ini ditindaklanjuti? Sebab ada kecenderungan umum bahwa lebih mudahlah kita bersemangat menggebu di saat awal, namun kemudian lekas mengendor sebelum niat itu sepenuhnya terlaksana. Minggu ini, sabda Tuhan mengingatkan kita bahwa Tuhan Allah-lah yang kita nantikan (lih. Yes 40:10), sehingga patutlah kita bersungguh-sungguh dalam mempersiapkan kedatangan-Nya. Persiapan yang terbaik untuk menyambut-Nya adalah dengan bertobat dan kembali kepada Allah (Mrk 1:4,7), agar Ia mendapatkan kita tak bercacat dan tak bernoda di hadapan-Nya (lih. 2Pet 3:9,14). Betapa hatiku berdegup kencang setiap kali merenungkan hal ini: bagaimana mungkin kita menjadi ‘tak bercacat dan tak bernoda’ di hadapan-Nya? Padahal sepertinya, semakin rajin kuperiksa batinku, semakin kutemukan betapa seringnya aku gagal memusatkan hati, perhatian, dan kasihku kepada Tuhan dan mewujudkannya. Betapa mudahnya aku jatuh dalam kelemahanku, entah terlalu memikirkan diri sendiri, kurang rendah hati, kurang sabar, dan kurang peka terhadap kebutuhan sesama. Betapa rapuhnya jiwaku dalam mengejar kekudusan itu. O, Tuhan, kasihanilah aku!

Namun syukurlah, sabda-Nya dalam kitab Mazmur hari ini memberi kekuatan kepadaku. Sebab keselamatan yang dari Tuhan itu dekat kepada orang-orang yang takwa, yang takut akan Tuhan (Mzm 85:10). Tuhan menghendaki kesetiaan kita di bumi, agar Ia pun mencurahkan keadilan, kasih dan kebaikan-Nya! (Mzm 85: 11-13) Maka, yang terpenting adalah kita tetap setia mengikuti jalan Tuhan, dan Tuhan pun akan menopang kita dengan kasih dan kebaikan-Nya. Mother Teresa pernah mengatakan, “Setialah dalam perkara-perkara yang kecil, sebab di sanalah terletak kekuatanmu… Kalau kamu mudah berkecil hati dan kurang percaya diri, itu adalah tanda kesombongan, sebab itu menunjukkan bahwa kamu mengandalkan kekuatanmu sendiri. Keinginanmu untuk mencukupkan diri sendiri, mementingkan diri sendiri, serta menonjolkan kepandaianmu akan menghalangi kedatangan-Nya untuk hidup dalam hatimu, sebab Allah tidak dapat mengisi apa yang sudah penuh….” Di Minggu kedua masa Adven ini, mari kita memeriksa batin, apakah kita sudah dengan setia melakukan tugas-tugas yang dipercayakan Tuhan kepada kita? Apakah kita sudah setia dalam doa dan merindukan Dia? Apakah malah sebaliknya, hati kita dipenuhi dengan segala ke-aku-an yang menghalangi Tuhan untuk datang dan tinggal di dalamnya?

Sungguh, di Minggu kedua Adven ini, Gereja mengajak kita untuk menjadi rendah hati. Yaitu, agar kita mau datang kepada Tuhan, dengan mengakui segala dosa kita di hadapan-Nya, yang bagaikan lubang-lubang ataupun bukit yang menghalangi Dia untuk masuk ke dalam hati kita. Mari kita isi lubang keputusasaan dan kita ratakan bukit-bukit kesombongan kita, agar semakin lapanglah jalan bagi-Nya. Di sakramen yang agung itu -sakramen Pengakuan Dosa- mari kita datang dengan tobat yang sejati, sebagai bukti kesetiaan kita untuk tetap berada di jalan-Nya. Biarlah rahmat pengampunan Allah memulihkan kita, dan mendatangkan kembali kasih, kesetiaan, keadilan dan damai sejahtera di dalam hati kita. Semoga dengan demikian kita semakin siap menyambut kedatangan-Nya.

Marilah kita berdoa, agar kita dapat menyambut Kristus di hari Natal, tidak dengan palungan hati yang dingin, tetapi dengan hati penuh dengan kasih kepada-Nya dan kerendahan hati, hati yang hangat oleh kasih yang membalas kasih-Nya, seperti hati Bunda Maria.” (Mother Teresa: To Live, to Love, to Witness, 17)

Berjaga menantikan Tuhan

0
Sumber gambar: http://christianitymalaysia.com/wp/word-week-forgiveness-sets-free/light-at-end-of-tunnel-a/

[Hari Minggu Adven I: Yes 63:16-17; 64:1,3-8; Mzm 80:2,3, 15-19: 1Kor 1:3-9; Mrk 13:33-37]

Apa yang kita rasakan kalau kita menantikan kedatangan orang yang kita kasihi? Mungkin ada perasaan dag dig dug, atau rasa greget ingin lekas bertemu. Mungkin para ibu yang pernah menantikan kelahiran anak dalam kandungannya, akan lebih memahami seperti apakah perasaan semacam ini. Sembilan bulan masa penantian kelahiran sang bayi dapat mengubah banyak hal dalam diri sang ibu. Namun mungkin intinya adalah satu: pusat perhatian sang ibu tidaklah lagi kepada dirinya sendiri, tetapi kepada sang buah hati. Pikirannya dipenuhi hal-hal yang berkaitan dengan sang anak dan segala kebutuhannya, mulai dari tempat tidur, pakaian, selimut bahkan sampai botol susu. Sang ibupun akan berusaha makan makanan yang sehat dan bergizi agar janin dalam kandungannya dapat bertumbuh dengan baik. Ia tak berkeberatan menghilangkan kebiasaan buruk yang dapat membahayakan pertumbuhan sang buah hati. Ia juga akan rajin memeriksakan kandungannya ke dokter, agar memastikan proses kehamilan berlangsung baik dan normal. Apakah kita berbuat serupa dalam menantikan kedatangan Tuhan kita?

Setiap tahun kita merayakan masa Adven dan Natal, yang sesungguhnya merupakan persiapan untuk menyongsong dua peristiwa Adven bagi diri kita masing-masing. Yaitu saat Yesus datang kedua kalinya di saat kematian kita, dan di akhir zaman kelak. Oleh karena itu, St. Paus Yohanes Paulus II mengatakan bahwa seluruh hidup kita hendaknya menjadi suatu masa Adven (Audiensi Umum, 18 Des 2002). Kita menantikan dengan penuh harap, Kristus yang telah pernah datang dalam sejarah manusia, dan yang senantiasa datang dalam Ekaristi, khususnya dalam perayaan Natal setiap tahun; dan juga yang akan datang lagi di akhir hidup kita kelak. Kalau kita sungguh mengasihi Dia, seharusnya kedatangan-Nya tidak membuat kita ketakutan, namun membuat kita bersuka cita. Namun masalahnya, sudahkah kita bersuka cita menantikan Kristus? Kesadaran akan makna Adven mendorong kita untuk mengubah pusat hati kita, dari diri sendiri kepada Kristus. Jika kita memusatkan hati kepada Kristus, kita akan berusaha melakukan kehendak-Nya, yaitu tugas- tugas yang dipercayakan-Nya kepada kita (lih. Mrk 13:34). Jika kita mengarahkan hati kepada Terang ilahi-Nya, kita akan dapat melihat segala dosa kita yang menghalangi hubungan kita dengan Tuhan (lih. Yes 64:6), dan mengakuinya di hadapan Allah. Dan jika kita mengandalkan kasih karunia-Nya, kita tidak akan berkekurangan dan akan selalu diteguhkan sampai akhir (lih. 1Kor 1:7-8). Hanya dengan sikap berjaga- jaga semacam ini kita bisa memiliki suka cita dalam menantikan kedatangan-Nya.

Maka, di masa Adven ini, Gereja mengajak kita untuk lebih rajin memeriksa batin, untuk melihat adakah hal-hal yang menghalangi kita untuk menyambut kedatangan Tuhan? Apakah mata hati kita masih dikaburkan oleh banyak hal duniawi? Apakah kita cenderung malas dan ‘tidur’ secara rohani dan tidak pernah memikirkan bagaimana kita menyambut kedatangan Tuhan yang pasti terjadi dalam kehidupan kita? Masa Adven adalah masa penantian yang mengajak kita kembali bertekun dalam doa, agar kita mengalahkan kecenderungan untuk menjadi suam-suam kuku dalam menyatakan iman dan kasih kita kepada Tuhan. Ini adalah waktu untuk merenungkan karya keselamatan Allah yang demikian luar biasa: Ia telah mengutus Putera-Nya sendiri untuk menyelamatkan kita. St. Bernardus mengatakan, “Saudara-saudaraku, Tuhan menyatakan kepada kita… jalan sejati menuju keselamatan. Renungkanlah semuanya itu dengan penuh perhatian. Menanjaklah kamu dalam pengertian akan hari-hari Adven ini. Di atas semua itu, pusatkanlah perhatian kepada Dia yang akan datang; pikirkanlah kapan Ia datang, dan di mana Ia datang; renungkanlah maksud kedatangan-Nya, kegenapan waktu kedatangan-Nya, cara yang dipilih-Nya untuk datang. Semua renungan ini baik adanya…. Gereja tidak akan merayakan masa Adven ini dengan sedemikian khidmat, jika dalam masa ini tidak terkandung misteri yang begitu istimewa.” (Sermon on the six aspects of Advent, 1)

Mari kita sambut masa Adven ini dengan hati yang terarah kepada Tuhan Yesus, Sang Juru Selamat kita. “Kepada-Mu ya, Tuhan, kuangkat jiwaku; Allahku, kepada-Mu aku percaya….”, demikian antifon yang kita dengar di awal perayaan Ekaristi hari ini. Semoga Bunda Maria membantu kita dalam masa Adven ini, untuk merenungkan misteri kelahiran Puteranya, Tuhan kita Yesus Kristus. Sebagaimana seluruh pikiran dan hati Bunda Maria terarah kepada Kristus saat menantikan kelahiran-Nya, semoga pikiran dan hati kitapun terarah kepada Kristus, secara khusus di masa Adven ini. Semoga dengan demikian Tuhan Yesus mendapati kita dalam keadaan berjaga menantikan kedatangan-Nya, dan bukan sedang dalam keadaan sibuk untuk berbagai urusan yang kurang penting ataupun kurang berarti dalam terang kedatangan Tuhan.

Mendoakan Firman Tuhan : Doa Ketika Stress Karena Pekerjaan

0

“Kembalilah tenang, hai jiwaku, sebab TUHAN telah berbuat baik kepadamu” (Mazmur 116:7)

1. Ayat Kitab Suci

Ketika kita sedang stress yang berhubungan dengan pekerjaan kita, kita bisa mendoakan Firman Tuhan dari Mazmur 116 : 7: “Kembalilah tenang, hai jiwaku, sebab TUHAN telah berbuat baik kepadamu” (Mazmur 116:7).

2. Maksud Ayat Itu

Mazmur 116 : 7 dapat dipahami dengan mengerti seluruh konteks perikop ini, yaitu dari ayat 1-19. Mazmur 116:1-19 merupakan sebuah doa ucapan syukur karena terluput dari maut.

Pemazmur menyatakan syukurnya karena benar-benar mengalami pertolongan Tuhan dari masalah besar. Pemazmur baru saja diselamatkan Tuhan dari kematian yang mengancamnya. Kematian sering digambarkan dengan tali, belenggu, ataupun penjara: “Tali-tali maut telah meliliti aku, dan kegentaran terhadap dunia orang mati menimpa aku, aku mengalami kesesakan dan kedukaan” (Mazmur 116:3). Nyawa Pemazmur benar-benar terancam. Ia menjadi korban fitnah dan menghadapi ancaman hukuman mati, tetapi tetap percaya akan kebaikan Tuhan: “Aku boleh berjalan di hadapan TUHAN, di negeri orang-orang hidup. Aku percaya, sekalipun aku berkata: “Aku ini sangat tertindas” (Mazmur 116:9-10).

Dalam keadaan nyawanya terancam, ia melakukan tindakan yang sederhana. Ia memanggil nama Tuhan untuk memohon pertolongan-Nya: “Tetapi aku menyerukan nama TUHAN: “Ya TUHAN, luputkanlah kiranya aku!” (Mazmur 116:3). Pengalaman yang menyeramkan itu justru menjadikan pemazmur semakin mengenal Tuhan. Karena pemazmur semakin mengenal Tuhan, ia semakin mengasihiNya. Ada tiga alasan mengapa ia semakin mengasihiNya. Pertama: Allah mendengarkan doa umat-Nya. Kedua: Allah mengasihi dan menyayangi umat-Nya seperti orangtua terhadap anak-anaknya. Ketiga: Allah menyelamatkan umat-Nya. Allah yang mendengarkan doa, mengasihi, dan menyelamatkan umat-Nya merupakan ungkapan nyata kebaikan-Nya. Pemazmur membalas kebaikan Allah itu dengan melakukan empat tindakan. Pertama: Pemazmur beribadah dengan setia. Ibadah merupakan ungkapan untuk memuliakan Allah. Kedua: Ia membayar nazar dengan memenuhi komitmen yang telah dibuat dan melakukan tanggung jawab. Ketiga: Ia bersyukur kepada Allah dengan mempersembahkan korban. Keempat: Ia melayani Allah dengan mempersembahkan dirinya sebagai hamba-Nya.

Stress adalah suatu kondisi yang sering dialami oleh para pekerja di jaman modern ini. Perusahaan-perusahaan menuntut para karyawannya untuk bekerja sangat keras karena menghadapi persaingan yang ketat. Banyak para karyawan pun mengalami stress. Mereka mengalami stress karena banyaknya pekerjaan dengan waktu terbatas, tuntutan “deadline” yang membuat hidup terasa terburu-buru, terjadi konflik antar pribadi karena ada yang mempunyai kepentingan tersembunyi, diberi tanggung jawab tanpa kewenangan, dan gaji yang tidak adil jika dibandingkan dengan gaji karyawan lainnya.

Stress atas pekerjaan membuat jiwa kita tidak tenang. Pikiran kita dipenuhi dengan kekalutan karena membayangkan banyaknya pekerjaan yang harus dibereskan hari ini. Stress yang dibiarkan bisa membuat kita sakit, bahkan bisa membunuh kita.

Bagaimana mengatasi stress itu? Stress itu terjadi tergantung sikap kita terhadapnya. Kita harus berani menolaknya daripada memanjakannya. Ketika kita mengatakan “tidak” terhadap stress, stress tidak terjadi. Kita tidak membiarkan stress menguasai kita karena kita meyakini bahwa kasih dan kebaikan Tuhan tidak akan pernah pudar dalam situasi yang paling sukar. Karena kasih Allah itu tidak pernah pudar, kita harus menyerahkan segala masalah kita yang berkaitan dengan pekerjaan kepada Tuhan. Tuhan sanggup memulihkan, menyegarkan, dan memberi ketenangan pada jiwa kita: “TUHAN itu baik; Ia adalah tempat pengungsian pada waktu kesusahan; Ia mengenal orang-orang yang berlindung kepada-Nya”(Nahum 1:7). Tuhan senantiasa ingin menyegarkan jiwa kita setelah tertekan begitu lama karena kita sangat berharga di mata-Nya: “Sebab itu janganlah kamu takut, karena kamu lebih berharga dari pada banyak burung pipit.” (Matius 10:31). Ketika kita menyerahkan segala persoalan kita, perkara dalam pekerjaan berubah menjadi berkat karena kita semakin menjadi dekat dengan Tuhan. Dekat dengan Tuhan memberikan ketenangan jiwa yang tak terbandingkan dengan apapun, seperti gaji dan kedudukan tinggi dalam pekerjaan kita: “Hanya pada Allah saja kiranya aku tenang, sebab dari padaNyalah harapanku” (Mazmur 62:6). Jiwa kita kembali tenang karena kita percaya bahwa Tuhan itu adil. Ketika jiwa kita kembali menjadi tenang karena Tuhan, MASALAH menjadi kepanjangan “MANUSIA SADAR ADA ALLAH”.

3. Doa:

Doa Mohon Ketenangan Kembali Jiwa Dalam Bekerja

“Kembalilah tenang, hai jiwaku, sebab TUHAN telah berbuat baik kepadamu” (Mazmur 116:7).
Oleh Pastor Felix Supranto, SS.CC

Allah Bapa, aku bersyukur karena pekerjaan yang telah Engkau berikan kepadaku.

Pekerjaan yang aku rebut dengan perjuangan dan air mata.

Tapi, kini hatiku gersang.

Aku kehilangan semangat.

Jenuh dan kalut menguasaiku.

Jiwaku menjadi tidak tenang.

Hidup terasa dikejar-kejar.

Kebahagiaan hilang musnah.

Semua akibat banyaknya pekerjaan dan tuntutan.

Aku hampir tidak bisa memenuhinya.

Pulihkan, Ya Bapa, ketenangan jiwaku.

Engkau adalah Allah Mahatahu bagaimana menyentuh hati setiap boss dan rekan kerjaku

untuk menjadi bijaksana dan penuh kasih.

Tuhan segarkan jiwaku kembali dengan suasana nyaman dan aman dalam pekerjaanku.

Aku percaya bahwa tiada yang mustahil bagiMu.

Aku kini berdoa seperti Pemazmur: “Kembalilah tenang, hai jiwaku, sebab TUHAN telah berbuat baik kepadamu” (Mazmur 116:7).

Amin.

Pesan Natal bersama KWI – PGI Tahun 2014: Berjumpa dengan Allah dalam Keluarga

0

“Mereka cepat-cepat berangkat dan menjumpai Maria dan Yusuf dan bayi itu” (Luk 2:16)

Dalam perayaan Natal tahun ini, kami mengajak seluruh umat Kristiani untuk menyadari kehadiran Allah di dalam keluarga dan bagaimana keluarga berperan penting dalam sejarah keselamatan. Putera Allah menjadi manusia. Dialah Sang Imanuel; Tuhan menyertai kita. Ia hadir di dunia dan terlahir sebagai Yesus dalam keluarga yang dibangun oleh pasangan saleh Maria dan Yusuf.

Melalui keluarga kudus tersebut, Allah mengutus Putera Tunggal-Nya ke dalam dunia yang begitu dikasihiNya. Ia datang semata-mata untuk menyelamatkan manusia dari kekuasaan dosa. Setiap orang yang percaya kepadaNya tidak akan binasa, tetapi akan memperoleh hidup yang kekal (Yoh. 3:16-17).

Natal: Kelahiran Putera Allah dalam Keluarga

Kelahiran Yesus menguduskan keluarga Maria dan Yusuf dan menjadikannya sumber sukacita yang mengantar orang berjumpa dengan Allah. Gembala datang bergegas menjumpai keluarga Maria, Yusuf, dan Yesus yang terbaring dalam palungan. Perjumpaan itu menyebabkan mereka pulang sebagai kawanan yang memuliakan Allah (Luk 2: 20). Orang-orang Majus dari Timur sampai pada Yesus dengan bimbingan bintang, tetapi pulang dengan jalan yang ditunjukkan Allah dalam mimpi (Mat 2: 12). Perjumpaan dengan Yesus menyebabkan orientasi hidup para gembala dan Majus berubah. Mereka kini memuji Allah dan mengikuti jalan-Nya.

Natal merupakan sukacita bagi keluarga karena Sumber Sukacita memilih hadir di dunia melalui keluarga. Sang Putera Allah menerima dan menjalani kehidupan seorang manusia dalam suatu keluarga. Melalui keluarga itu pula, Ia tumbuh dan berkembang sebagai manusia yang taat pada Allah sampai mati di kayu salib. Di situlah Allah yang selalu beserta kita turut merasakan kelemahan-kelemahan kita dan kepahitan akibat dosa walaupun ia tidak berdosa (bdk. Ibr. 4:15).

Keluarga sebagai Tanda Kehadiran Allah

Allah telah mempersatukan suami-istri dalam ikatan perkawinan untuk membangun keluarga kudus. Mereka dipanggil untuk menjadi tanda kehadiran Allah bagi satu sama lain dalam ikatan setia dan bagi anak-anaknya dalam hubungan kasih. Keluarga mereka pun menjadi tanda kehadiran Allah bagi sesama. Berkat perkawinan Kristen, Yesus, yang dahulu hadir dalam keluarga Maria dan Yusuf, kini hadir juga dalam keluarga kita masing-masing. Allah yang bertahta di surga tetap hadir dalam keluarga dan menyertai para orangtua dan anak-anak sepanjang hidup.

Dalam keluarga, sebaiknya Firman Tuhan dibacakan dan doa diajarkan. Sebagai tanggapan atas Firman-Nya, seluruh anggota keluarga bersama-sama menyampaikan doa kepada Allah, baik yang berupa pujian, ucapan syukur, tobat, maupun permohonan. Dengan demikian, keluarga bukan hanya menjadi rumah pendidikan, tetapi juga sekolah doa dan iman bagi anak-anak.

Dalam Perjanjian Lama kita melihat bagaimana Allah yang tinggal di surga hadir dalam dunia manusia. Kita juga mengetahui bahwa lokasi yang dipergunakan untuk beribadah disebut tempat kudus karena Allah pernah hadir dan menyatakan diri di tempat itu untuk menjumpai manusia. Karena Sang Imanuel lahir dalam suatu keluarga, keluarga pun menjadi tempat suci. Di situlah Allah hadir. Keluarga menjadi ”bait suci”, yaitu tempat pertemuan manusia dengan Allah.

Tantangan Keluarga Masa Kini

Perubahan cepat dan perkembangan dahsyat dalam berbagai bidang bukan hanya memberi manfaat, tetapi juga membawa akibat buruk pada kehidupan keluarga. Kita jumpai banyak masalah keluarga yang masih perlu diselesaikan, seperti kemiskinan, pendidikan anak, kesehatan, rumah yang layak, kekerasan dalam rumah tangga, ketagihan pada minuman dan obat-obatan terlarang, serta penggunaan alat komunikasi yang tidak bijaksana. Apalagi ada produk hukum dan praktek bisnis yang tidak mendukung kehidupan seperti pengguguran, pelacuran, dan perdagangan manusia. Permasalahan-permasalahan tersebut mudah menyebabkan konflik dalam keluarga. Sementara itu, banyak orang cenderung mencari selamat sendiri; makin mudah menjadi egois dan individualis.

Dalam keadaan tersebut, keluhuran dan kekudusan keluarga mendapat tantangan serius. Nilai-nilai luhur yang mengekspresikan hubungan cinta kasih, kesetiaan, dan tanggung jawab bisa luntur. Saat-saat kudus untuk beribadat dan merenungkan Sabda Allah mungkin pudar. Kehadiran Allah bisa jadi sulit dirasakan. Waktu-waktu bersama untuk makan, berbicara, dan berekreasipun menjadi langka. Pada saat itu, sukacita keluarga yang menjadi dasar bagi perkembangan pribadi, kehidupan menggereja, dan bermasyarakat tak mudah dialami lagi.

Natal: Undangan Berjumpa dengan Allah dalam Keluarga

Natal adalah saat yang mengingatkan kita akan kehadiran Allah melalui Yesus dalam keluarga. Natal adalah kesempatan untuk memahami betapa luhurnya keluarga dan bernilai- nya hidup sebagai keluarga karena di situlah Tuhan yang dicari dan dipuji hadir. Keluarga sepatutnya menjadi bait suci di mana kesalahan diampuni dan luka-luka disembuhkan.

Natal menyadarkan kita akan kekudusan keluarga. Keluarga sepantasnya menjadi tempat di mana orang saling menguduskan dengan cara mendekatkan diri pada Tuhan dan saling mengasihi dengan cara peduli satu sama lain. Para anggotanya hendaknya saling mengajar dengan cara berbagi pengetahuan dan pengalaman yang menyelamatkan. Mereka sepatutnya saling menggembalakan dengan memberi teladan yang baik, benar, dan santun.

Natal mendorong kita untuk meneruskan sukacita keluarga sebagai rumah bagi setiap orang yang sehati-sejiwa berjalan menuju Allah, saling berbagi satu sama lain hingga mereka pun mengalami kesejahteraan lahir dan batin. Natal mengundang keluarga kita untuk menjadi oase yang menyejukkan, di mana Sang Juru Selamat lahir. Di situlah sepantasnya para anggota keluarga bertemu dengan Tuhan yang bersabda: ”Datanglah kepadaKu, kamu yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu.” (Mat 11: 29) Dalam keluarga di mana Yesus hadir, yang letih disegarkan, yang lemah dikuatkan, yang sedih mendapat penghiburan, dan yang putus asa diberi harapan.

Kami bersyukur atas perjuangan banyak orang untuk membangun keluarga Kristiani sejati, di mana Allah dijumpai. Kami berdoa bagi keluarga yang mengalami kesulitan supaya diberi kekuatan untuk membuka diri agar Yesus pun lahir dan hadir dalam keluarga mereka.

Marilah kita menghadirkan Allah dan menjadikan keluarga kita sebagai tempat layak untuk kelahiran Sang Juru Selamat. Di situlah keluarga kita menjadi rahmat dan berkat bagi setiap orang; kabar sukacita bagi dunia.

SELAMAT NATAL 2014 DAN TAHUN BARU 2015

Jakarta, …November 2014

Atas nama Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia,

Pdt. Dr. Andreas A. Yewangoe
Ketua Umum

Pdt. Gomar Gultom
Sekretaris Umum Konferensi Waligereja Indonesia

Mgr. Ignatius Suharyo
K e t u a

Mgr. Johannes Pujasumarta
Sekretaris Jenderal

Keep in touch

18,000FansLike
18,659FollowersFollow
32,900SubscribersSubscribe

Artikel

Tanya Jawab