Home Blog Page 33

Bersukacitalah, Tuhan sudah dekat!

0
Sumber gambar: https://theconservativetreehouse.files.wordpress.com/2012/12/advent-wreath-3.jpg

[Hari Minggu Ketiga Adven: Zef 3:14-18; Yes 12; Flp 4:4-7; Luk 3:10-18]

Di hari menjelang Natal tahun ini, salah seorang kerabat kami dari luar kota akan datang mengunjungi kami selama beberapa hari. Ah, betapa kami sudah mulai bersiap-siap  menyambutnya! Kami sudah merencanakan acara-acara kami bersamanya, dan mempersiapkan tempat di rumah kami. Betapa dari hal-hal kecil ini, kami menyadari, bahwa persiapan yang jauh lebih penting harus diadakan, untuk menyambut Kristus sang Tamu Agung kita. Walau kita telah selalu menyambut-Nya dalam Ekaristi sepanjang tahun, namun hari Natal adalah hari yang dikhususkan untuk memperingati kedatangan-Nya ke dunia di hari kelahiran-Nya sekitar 2000 tahun yang lalu. Sebab kedatangan Sang Mesias itu sudah dinanti-nantikan oleh umat pilihan-Nya selama berabad-abad, dan telah dinubuatkan oleh para nabi. Maka dengan menantikan Dia saat ini, kita sesungguhnya mengambil bagian dalam penantian umat Allah, yang telah terjadi dahulu kala, sebelum kedatangan-Nya. Selain itu, kita pun tetap menantikan Dia yang akan datang kembali di akhir zaman. Masa Adven merupakan masa yang mengingatkan kita bahwa hidup kita di dunia secara keseluruhan adalah masa penantian, akan perjumpaan kita dengan Kristus yang lebih penuh, saat kita beralih dari dunia ini. Dan karena Yang kita nantikan adalah Dia yang mengasihi kita dan kita kasihi, maka kita bersuka cita!

Sukacita adalah tema yang kita rayakan hari ini, di hari Minggu Gaudete, Minggu pertengahan masa Adven. Gereja mengajak kita bersukacita, karena hari Natal sudah semakin dekat. Tidak hanya itu, kitapun bersyukur dan bersukacita merayakan Kerahiman Allah. Tanggal 8 Desember 2015 yang lalu—hari Bunda Maria Dikandung Tanpa Noda—adalah pembukaan Tahun Yubelium Luar Biasa, yang akan berlangsung sampai tanggal 20 November 2016, di Hari Raya Kristus Raja. Di Basilika Santo Petrus Vatikan, Paus Fransiskus membuka Pintu Suci, yang melambangkan Kristus sendiri yang adalah Sang Pintu (Yoh 10:9) yang melalui-Nya kita sampai kepada Allah Bapa. Dengan dibukanya Pintu Suci tersebut dan juga Pintu Suci di ketiga basilika lainnya di Roma dan di gedung-gedung katedral di seluruh dunia, kita dapat berziarah memasukinya dan mengalami belas kasih Tuhan. Belas kasih Allah ini secara istimewa kita terima, jika kita terlebih dahulu bertobat dan mengakui dosa-dosa kita dalam sakramen Tobat. Gereja memberikan indulgensi penuh kepada umat yang memenuhi persyaratannya, yaitu sebelum atau pada hari melalui Pintu Suci, ia menerima sakramen Tobat, menerima Ekaristi, berdoa bagi intensi Bapa Paus, dan memiliki pertobatan yang sungguh sehingga tidak lagi memiliki keterikatan dengan dosa apa pun. Dalam surat Paus Fransiskus yang berkenaan dengan Tahun Yubelium ini, secara khusus Paus menyebutkan dosa khusus yang menentang kehidupan, yaitu aborsi. Paus mengundang semua orang yang telah melakukannya, agar bertobat, mengalami pengampunan Tuhan dan dipulihkan dari kepedihan luka batin yang umumnya sangat membekas di jiwa. Paus menekankan bahwa kuasa belas kasihan Allah tidak mengecualikan siapa pun, dan dosa apa pun, asalkan orang tersebut mau bertobat dan kembali kepada Allah. Jika dipersiapkan dengan sungguh, melewati Pintu Suci merupakan suatu kesempatan  mengalami belas kasih Allah yang tak terbatas, yang dapat mengubah kita untuk menjadi berbelas kasih kepada sesama. Demikian tema Tahun Yubelium, “Hendaklah kamu murah hati, seperti Bapa-mu adalah murah hati” (Luk 6:36).

Setelah mengalami belas kasih Allah dan pengampunan-Nya,  kita akan dapat sungguh bersukacita di dalam Dia.  Bacaan Kitab Suci hari ini pun menyatakan kepada kita sejumlah caranya. Pertama, berdoa dan mengucap syukur (Flp 4:6). Kedua, bersyukur atas apa yang ada pada kita (Luk 3:14).  Ketiga, berbagi kepada sesama (Luk 3:10). Dalam persiapan hati menjelang Natal, kita memang tetap tidak terlepas dari semua pergumulan hidup yang sedang kita hadapi saat ini. Tetapi kesadaran bahwa Tuhan ada di tengah-tengah kita dan bahwa Ia akan memperbaharui kita (Zef 3:17), itu akan mengubah sikap batin kita! Dengan kata lain, masalahnya sama tapi kita menghadapinya secara berbeda.

Untuk menumbuhkan rasa syukur dan sukacita ini, memang kita perlu belajar dari Bunda Maria. Rahmat Tuhan yang tercurah padanya dan memenuhinya, memampukannya untuk senantiasa bersukacita, dalam situasi apa pun. Walau harus melakukan perjalanan jauh dengan mengendarai keledai dalam keadaan mengandung dan cuaca yang dingin. Walau tidak memperoleh tempat penginapan. Walau akhirnya melahirkan di kandang hewan. Walau kemudian harus mengungsi ke Mesir… dan seterusnya. Semua kesulitan tersebut dapat dilaluinya sebab di hatinya Bunda Maria memiliki sukacita sejati, yang datang dari persatuannya dengan Tuhan. Semoga di Minggu Gaudete ini, hati kita dipenuhi sukacita yang dari Tuhan, dan kita dibawa-Nya untuk menjadi semakin dekat dengan-Nya, sehingga kita pun dapat mengalami pengalaman seperti Bunda Maria. Semoga kita selalu bersukacita dalam menantikan Tuhan, dan tetap mengumandangkan pujian kepada-Nya, “Jiwaku memuliakan Tuhan, dan hatiku bersukaria karena Allah Penyelamatku” (Luk 1:46).

Berkat Terindah

0

Sharing pelayanan oleh Pst Felix Supranto, SS.CC

Aku, tanggal 29 November 2015, tiba lebih awal di Gereja Laurensius-Alam Sutera, untuk merayakan Misa Kharismatik dan Adorasi bersama Pastor Hadi Suryono dan Pastor Chris Purba, SJ. Misa dan Adorasi tersebut diadakan dalam rangka ulang tahun ke-3 PDPKK St. Laurensius.

Saat itu hujan rintik-rintik. Aku melihat seorang ibu berteduh di pos satpam. Aku mendatanginya. Tangan ibu itu menggegam rosario. Ibu tersebut menanggung sakit kanker. Ia ingin menimba kekuatan dari Tuhan melalui Misa dan Adorasi tersebut. Aku bertanya kepadanya: “Bu, hujan begini, ibu nekat datang ke sini, nanti sakit”. Jawabnya: “Puji Tuhan, kalau aku sakit. Dengan sakit, aku mendapatkan berkat, yaitu kesempatan untuk bersaksi atas kuasa-Nya”. Aku bertanya lagi kepadanya: “Bu, bagaimana kalau hujan sampai sore?”. Jawabnya kepadaku: “Puji Tuhan kalau hujan sampai sore. Dengan hujan sampai sore, aku memperoleh berkat lagi, yaitu kesempatan untuk berdoa lebih lama”. Aku memberanikan diri mengajukan pertanyaan lebih dalam kepada ibu itu: “Ibu pasti sudah lelah dalam mengatasi penyakit ibu dan tentu sudah banyak mengeluarkan biaya untuk berobat. Bagaimana kalau Tuhan tidak memberikan kesembuhan kepada ibu?”. Ibu itu menjawabku dengan tersenyum: “Puji Tuhan kalau aku tidak sembuh. Dengan tidak sembuh, aku mendapatkan berkat lagi, yaitu bersabar. Hidupku tergantung kepadaNya. Aku harus mensyukuri berkat Tuhan itu apa pun bentuknya”. Aku terdiam karena terkagum-kagum dengan iman ibu itu. Setelah memberikan pin Blackberry kepadanya, aku menghantarnya ke dalam gereja. Di dalam gereja, ibu itu berdoa dengan sangat kusyuk.

Aku terkejut karena ibu tersebut menulis BBM jam 21.39 pada hari itu: “Malam Pastor Felix, trimakasih atas persembahan Misa Kharismatik dan Adorasi Sakramen Mahakudus. Saya sungguh merasakan hadirat Tuhan Yesus dan Allah Bapa yang menaungi anak-anak-Nya yang bersatu dalam Pujian dan Penyembahan. Pastor Felix trimakasih atas sukacita dan senyum Pastor yang menguatkan kita, umat Allah, untuk terus bersukacita dalam kesesakan penyakit, dan terus mengandalkan Tuhan Yesus, Sang Sumber Kehidupan, Tabib, dan Sahabat sejati anak-anak-Nya yang sedang luka dan sakit. Hanya dalam Dialah saya sanggup menjalani derita penyakit. Trimakasih Pastor atas doa-doanya. Salam dan doa saya untuk Pastor dalam pelayanan pada yang lemah, sakit, terasing, lansia, anak-anak yang kurang kasih sayang…Amien. Mohon doanya ya Pastor besok saya mau periksa darah. Semoga saya tidak terindikasi kanker indung telur dalam rahim”. Aku sangat terharu karena di tengah penderitaannya ibu itu meneguhkan dan memotivasiku untuk menjadi pastor yang lebih baik dalam pelayanan. Aku berkata dalam hatiku: “Bu, semoga aku dapat mewujudkan harapanmu”.

Pesan yang dapat kita timba dari pengalaman ibu itu: “Berkat Tuhan bukan hanya materi dan kesehatan. Berkat Tuhan yang terindah adalah bersyukur, beribadat, dan bersabar: “Bersyukurlah kepada TUHAN, sebab Ia baik! Bahwasanya untuk selama-lamanya kasih setia-Nya” (Mazmur 118:29). Ketika masalah datang, Tuhan tidak meminta kita untuk terus memikirkan jalan keluar karena itu akan membuat kita kelelahan. Tuhan hanya meminta kita bersabar dan berdoa. Bagi Tuhan tiada masalah yang tak dapat diatasiNya. Tuhan jauh lebih besar daripada masalah yang menimpa kita. Dia tidak membiarkan kita menghadapi masalah sendirian. Kekuatan kita yang terbesar berasal dari kebergantungan kita kepada Tuhan yang kuat: “Sungguh, Allah itu keselamatanku; aku percaya dengan tidak gementar, sebab TUHAN ALLAH itu kekuatanku dan mazmurku, Ia telah menjadi keselamatanku” (Yesaya 12:2).

Tuhan Memberkati

Puisi Kerahiman: Tersungkur di Kaki Tuhan

0

Oleh Pastor Felix Supranto, SS.CC

Misa Kharismatik, 02 Desember 2015, di Paroki Mangga Besar,

menjadi sebuah perjalanan iman,

tersungkur di kaki Tuhan.

Kotbah masih bersemangat.

Tiba-tiba kaki gemetar dan mata berkunang-kunang.

Semakin lama, pandangan semakin buram.

Aku sempat berdoa: “Tuhanku, beri aku kekuatan,

sampai komuni tiba.

Itulah kebahagiaanku sebagai imam”.

Ketika aku selesai berkata:

“Inilah, Anak Domba Allah Yang Menghapus Dosa Dunia…”,

semuanya menjadi gelap.

Ternyata sambil memegang Tubuh Kristus,

aku tergeletak dengan tak sadarkan diri di panti imam, di dekat altar.

Aku merasakan tangan Tuhan menopang kepalaku sehingga tak terluka.

Tuhan berbisik kepadaku: “Ingatlah Salib di altar,

Aku mati karena dosa manusia.

Oleh bilur-bilur-Ku,

mereka telah Aku selamatkan.

Bangunlah dan katakanlah kepada mereka

seberapa buruknya mereka,

Aku akan menyambutnya. .

Yang dulu biarlah berlalu.

Aku akan menjadikan hidup mereka baru”.

Tak lama kemudian, aku mendengar sayup-sayup

tangisan umat memohon mukjizat Tuhan bagiku

dengan iringan lagu “Curahkanlah kuasa-Mu, Tuhan”.

Aku pun berdiri dan umat bertepuk tangan

karena doanya didengarkan Tuhan.

Di sakristi aku terus memandang Salib besar.

Aku berkata kepada Tuhan: “Aku tersungkur di Muka-Mu,

ku bawa semua dosaku.

Aku yakin mendapatkan belaskasihan-Mu.

Aku kini siap mewartakan kerahiman-Mu”.

Kehadiran Kristus dalam Sakramen Mahakudus yang memberiku kedamaian

0
Sumber gambar: https://tomperna.files.wordpress.com/2013/05/holy-eucharist-in-monstrance.jpg

Pengantar dari editor:

Bagi saudara kita Hendy, yang berkenan berbagi pengalaman imannya dengan kita semua, berbagai kesukaran dan tantangan kehidupan tidak lagi menjadi hambatan yang meresahkan hati, karena pengalaman yang terindah menemukan kehadiran Kristus yang nyata di dalam Sakramen Mahakudus. Kedamaian yang dialaminya adalah damai yang bukan berasal dari dunia ini, kedamaian yang hakiki yang berasal dari Sang Sumber Damai itu sendiri, sehingga gelombang kesukaran hidup tidak lagi menakutkan melainkan menjadi jalan yang memurnikan dan membawanya lebih dekat lagi kepada Sang Pemberi Hidup Yesus Kristus Tuhan kita. Mari kita simak selengkapnya kisah kesaksiannya berikut ini.

Shalom,
Kiranya Yesus memberkati kita semua. Santa Perawan Maria yang tak bernoda, doakanlah kami yang berdosa ini.

Nama saya Hendy, saya dari paroki Regina Caeli, Jakarta Utara. Saya ingin sedikit berbagi kisah perjalanan hidup saya menjadi Katolik. Saya anak bungsu dari empat bersaudara. Sebelumnya saya beragama Kristen Karismatik dan iman saya dalam Kristen suam-suam kuku. Saya jarang sekali ke gereja. Suatu hari saya berkenalan dengan wanita yang kemudian menjadi istri saya, yang sekarang beragama Katolik. Menjelang pernikahan, saya berpindah ke Katolik karena kakak saya yang beragama Katolik memberikan nasihat untuk belajar agama Katolik dan saya juga berpikir pasangan suami-istri yang berbeda agama tentunya kurang baik.

Saya belajar katekumen selama 1 tahun di paroki Regina Caeli, di mana banyak sekali pertanyaan saya seputar Bunda Maria, Api penyucian, dan adat-adat Katolik yang tidak terjawab. Setelah lulus dari katekumen, saya melangsungkan pernikahan dengan istri saya. Pada saat itu keyakinan saya akan agama Katolik bisa dikatakan sangat rendah dan pengetahuan saya akan akan agama Katolik sangat minim. Karena saya berasal dari Kristen Karismatik, kepercayaan saya kepada Bunda Maria yang tak bernoda bisa dikatakan tidak ada sama sekali.

Setelah tiga tahun saya dan istri menunggu sang buah hati, akhirnya ia datang juga. Saya memberi anak saya nama baptis Gabrielle yang diambil dari nama Santo Malaikat Agung Gabriel. Pada waktu itu, saya hanya mengerti bahwa Malaikat Gabriel adalah pembawa kabar dari Tuhan dan kedatangan buah hati kami adalah kabar gembira bagi kami dan keluarga. Saya belum tahu bahwa Malaikat Gabriel-lah yang membawa kabar gembira kepada Bunda Maria.

Seiring dengan perjalanan waktu, di saat perjalanan iman orang lain mengalami pasang surut, perjalanan iman saya surut tidak pasang-pasang. Berbagai masalah tiada henti menimpa keluarga kecil kami dan mengakibatkan renggangnya hubungan saya dengan istri. Belum lagi masalah-masalah yang saya alami dalam pekerjaan, hubungan dengan rekan-rekan sekerja saya, dan hubungan dengan keluarga saya sendiri, sehingga saya mengalami kepahitan dan kebencian yang mendalam. Pada masa itu saya telah bergabung dalam pelayanan gereja Regina Caeli, tetapi iman saya sangatlah dangkal.

Puncak tekanan hidup saya alami saat kehamilan istri saya yang ke-dua. Anak kami yang ke-dua divonis oleh dokter mengalami kelainan kromosom dan tidak dapat bertahan. Kalau pun dapat bertahan, anak saya akan lahir dengan gangguan mental bahkan cacat. Tekanan juga datang dari desakan keluarga supaya kami menggugurkan kandungan, namun saya tidak mau, karena saya berpikir, singa saja tidak memakan anaknya. Jika saya gugurkan anak kami, maka kami sungguh lebih rendah dari hewan. Di samping itu, saya sungguh takut akan dosa apabila saya setuju untuk menggugurkan kandungan istri saya.

Di tengah-tengah masalah yang kami terima, istri saya mengajak saya untuk berdoa Novena Tiga Salam Maria di gereja. Pada hari ke-3, tiba-tiba istri saya ingin bertemu dengan romo untuk berkonsultasi mengenai masalah yang kami hadapi. Saat itu jam 9 malam dan saya berpikir tidak mungkin ada romo yang mau, apalagi tanpa membuat janji. Lalu kami bertanya kepada petugas keamanan Regina Caeli, apakah ada romo yang bersedia untuk bertemu dengan kami. Petugas itu berkata bahwa romo sedang meeting dan yang ada waktu itu adalah Romo Yohanes Budi, dia bersedia untuk bertemu dengan kami. Setelah kami utarakan masalahnya kepada Romo Budi, dia menganjurkan kami untuk tidak menggugurkan anak kami dan berdoa serta berserah kepada Tuhan. Apabila kami berkeras untuk menggugurkannya, maka kami akan diekskomunikasi oleh gereja Katolik.

Berkat bimbingan Romo Yohanes Budi, kami bersepakat untuk mempertahankannya dan tetap melanjutkan Novena Tiga Salam Maria. Pada hari ke-9 di malam hari, tiba-tiba saya mendapat keinginan yang kuat untuk memberikan tanda salib dengan menggunakan minyak suci di perut istri saya dan saya lakukan itu. Keesokan harinya saya membawa istri saya ke dokter untuk memeriksakan kandungan dan hasilnya adalah anak saya telah tidak ada detak jantungnya. Dokter mengatakan waktu meninggalnya diperkirakan kemarin malam. Kami mengerti bahwa ini semua adalah kehendak Tuhan, tetapi tetaplah peristiwa ini meninggalkan bekas luka kesedihan di hati kami.

Satu bulan berlalu dan masalah-masalah yang saya alami tidak kunjung berhenti. Iman saya hampir hilang dan saya bertanya, “Tuhan, apa salah saya sehingga saya mengalami ini semua.” Karena putus asa dan tidak ada jalan keluar, saya pergi ke gereja lima malam berturut-turut. Saya berlutut di depan Tabernakel dan meminta Tuhan Yesus dan Bunda Maria untuk menjadi keluarga saya. Aneh bukan, tapi itulah ungkapan yang keluar dari seseorang yang imannya hampir hilang dan putus asa di mana semua jalan terlihat gelap gulita. Ucapan itu keluar karena saya merasa sangat kesepian dan sendiri, di mana tidak ada satu orang pun yang bisa memberikan saya damai.

Selang satu minggu, saya iseng-iseng membuka youtube dan mendengar kesaksian dari seorang penyihir yang masuk ke Katolik dan seorang pengikut aliran setan yang masuk ke Katolik. Saya memiliki minat yang sangat tinggi terhadap okultisme. Mereka bersaksi bahwa Tuhan Yesus sungguh hadir dalam Sakramen Maha Kudus, dan Hosti suci sungguh adalah tubuh dan darah-NYA. Saat mendengar itu, saya ingin membuktikannya dan mereka mengatakan, sebelum menerima Hosti kudus, kita harus bersungguh-sungguh meminta ampun atas dosa kita dan hanyalah Hosti kudus yang bisa membersihkan kita dari segala dosa dan nista yang ada di dalam kita.

Senin pagi, saya pergi ke Misa pagi dan sebelum menerima Hosti kudus, saya benar-benar minta ampun atas dosa saya dan saya minta diberikan damai. Di saat Hosti kudus masuk ke dalam mulut saya, tiba-tiba saya diliputi oleh rasa damai, dan di saat itulah di dalam hati saya berkata, inilah kedamaian yang saya cari-cari selama hidup saya dan sungguh Tuhan Yesus ada di dalam Hosti kudus. Beban saya hilang semua. Terpujilah Kristus selama-lamanya dan di saat itu pula saya sungguh-sungguh percaya kepada Bunda Maria. Hampir setiap hari saya mengikuti Misa pagi, setidaknya seminggu 5 sampai 6 kali.

Hidup saya sungguh diubahkan. Dulu saya tidak pernah berdoa kecuali doa sebelum makan karena sudah kebiasaan dari Kristen, sekarang saya mulai belajar untuk berdoa Rosario dan doa Koronka.Sekarang saya mulai mempelajari doa Hati Kudus Yesus. Percayalah bahwa Tuhan Yesus sungguh hadir dalam Sakramen Maha Kudus dan saya mulai belajar iman Katolik melalui buku-buku, internet, dan you tube.

Mengalami kehadiran Tuhan Yesus dan damai-Nya dalam Sakramen Mahakudus juga membantu mengubah perspektif saya selama ini. Sebelumnya saya lebih mengandalkan diri saya sendiri untuk menghadapi semua masalah dan emosi saya mudah meletup-letup. Sekarang saya bisa lebih mengontrol diri dalam menghadapi masalah, dan pengalaman ini telah membuka pikiran saya bahwa selama ini yang menjadi problem utama saya bukanlah masalahnya itu sendiri, tetapi cara saya dalam menghadapi masalah. Hubungan saya dengan istri maupun keluarga menjadi lebih baik dibandingkan dulu dan ayah saya yang sebelumnya mustahil untuk mau dibaptis menjadi Katolik, kini bersedia untuk dibaptis menjadi Katolik. Ini semua terjadi karena kebaikan Tuhan Yesus dan Ibu Bunda Maria.

Ada lagi satu kesaksian yang sesungguhnya agak enggan saya ceritakan, tetapi ini adalah untuk Kemuliaan Tuhan Yesus. Sebelum dijamah Tuhan, selama 2 tahun rumah saya diganggu di mana pintu kamar bisa terbuka sendiri, TV menyala sendiri, anak saya seringkali merasa takut dan tiba-tiba menangis kencang serta mengamuk. Pada waktu tidur, sekitar jam 12 malam sampai jam 1 pagi anak saya suka terbangun dan menangis serta mengamuk selama 1 jam. Biasanya kami membuat tanda salib di dahinya atau kami kalungkan rosario dan tak lama kemudian dia kembali tenang.Terkadang cara ini berhasil, terkadang tidak, dan yang diganggu bukan hanya kami saja, bahkan orang yang bekerja di rumah kami pun diganggu. Kami telah mencoba berbagai cara, memanggil kelompok doa, orang-orang yang memiliki talenta khusus di bidang itu dan romo untuk memberkati. Mula-mula usaha itu berhasil, tapi selang beberapa waktu kemudian kami diganggu kembali dan pada saat itulah banyak sekali masalah yang saya hadapi sampai saya ke gereja lima malam berturut-turut, berlutut di depan tabernakel dan berdoa di gua Maria. Tak lama kemudian saya dijamah di Hosti Kudus. Setelah dijamah, saya mulai berdoa Rosario di rumah. Gangguan itu berkurang jauh dan pernah dua kali pada saat saya berdoa Rosario, tiba-tiba saya mendengar suara orang menepuk tangan satu kali dan galaxy tab milik anak saya tiba-tiba berbunyi. Saat itu hanya ada saya dan anak saya di kamar di mana anak saya sedang tidur siang. Tetapi saya teruskan saja berdoa Rosario. Pada saat galaxy tab itu berbunyi saya hanya sendiri di dalam kamar.

Kemudian kami meminta romo untuk memberkati rumah kami sekali lagi dan kami membeli patung Santo Malaikat Agung Mikael. Saya berdoa dengan perantaraan Malaikat Agung Santo Mikael setelah selesai berdoa Rosario. Puji Tuhan sejauh ini kami tidak lagi mengalami gangguan yang berarti.

Dan saya juga mantan pengidap hepatitis C di mana waktu itu dokter memvonis kemungkinan saya untuk sembuh hanya 20 persen dan dokter meminta saya untuk banyak berdoa. Dalam pengobatan pertama virus tersebut bisa ditekan tetapi satu tahun kemudian timbul lagi, dan saya melakukan pengobatan kembali. Sekarang ini saya telah sembuh dari virus tersebut dan telah dicek selama 7 tahun dan hasilnya negatif, puji Tuhan. Jujur sewaktu saya sembuh saat itu saya belum menjadi Katolik tetapi saya yakin hanya dengan kebaikan Tuhan saja sekarang saya telah sembuh. Saya percaya bahwa segala segala sesuatu yang terjadi dalam hidup saya adalah rencana Tuhan Yesus dan Ibu Bunda Maria. Melalui kejadian-kejadian hidup, saya mengalami jamahan dan pertobatan, dan saya sangat bersyukur bahwa saya masih diberi kesempatan untuk bertobat. Saya sendiri masih terus berjuang untuk melawan cobaan setan karena setiap kali saya berdoa pasti ada suara-suara hujatan di dalam kepala saya.Tapi saya serahkan semuanya kepada Tuhan Yesus dan Ibu Bunda Maria serta Malaikat Agung Santo Mikael, semoga saya diberikan kekuatan untuk menghadapinya.

Demikian kesaksian kecil saya dan semoga bisa bermanfaat bagi saudara dan saudari yang membaca dan membawa saudara pembaca ke jalan Tuhan Yesus. Percayalah Tuhan Yesus dan Ibu Bunda Maria selalu mendengarkan doa anak-anaknya yang sedang ditimpa oleh masalah.

Salam Maria Tuhan besertamu, terpujilah engkau di antara wanita dan terpujilah buah tubuhmu Yesus. Santa Maria Bunda Allah, doakanlah kami yang berdosa ini, sekarang dan waktu kami mati. AMIN.

Vitamin B1-7 rohani: Berharap, berjaga, bertobat, berdoa, bermatiraga, belajar, berbuat kasih

0
Sumber gambar: http://www.sacristies-of-the-world.com/wp-content/uploads/2013/12/Advent-Wreath-week-2.jpg

[Hari Minggu Kedua Adven: Bar 5:1-9; Mzm 125:1-6; Flp 1:4-6,8-11; Luk 3:1-6]

Adven adalah masa Gereja memulai kembali siklus perjalanannya merenungkan misteri kehidupan Kristus, suatu misteri yang begitu dalam dan tak habis- habisnya untuk diresapkan dalam kehidupan umat beriman. Sebab sesungguhnya, hidup kita di dunia merupakan masa Adven yang panjang untuk menantikan kedatangan Kristus yang kedua di akhir zaman. Sebagaimana kedatangan Kristus yang pertama telah dinanti-nantikan oleh bangsa pilihan Allah, demikian juga, kedatangan-Nya yang kedua dinanti-nantikan oleh Gereja, sebagai bangsa pilihan Allah yang baru. Sebagaimana kedatangan Kristus yang pertama merupakan peristiwa yang nyata dalam sejarah, kedatangan-Nya yang kedua juga demikian. Karena itu, kita mempunyai suatu harapan yang nyata dan pasti, bahwa Kristus akan datang kembali untuk mengambil bagi-Nya, kita semua yang telah menjadi milik-Nya. Namun demikian, Kristus menyatakan pengharapan ini harus diwujudkan dengan sikap berjaga-jaga (lih. Mat 24:42; Mrk 13:33). Sebagai umat beriman kita berjaga-jaga, baik untuk menantikan kedatangan-Nya di akhir zaman, maupun di saat kematian kita, ataupun saat kita merenungkan tiap-tiap tahun menjelang peringatan hari kelahiran-Nya di dunia.

St. Yohanes Paulus II dalam salah satu khotbahnya tentang Adven tahun 2001 mengatakan, “Syukur kepada-Nya [Kristus], sejarah umat manusia berjalan sebagai ziarah menuju penggenapan Kerajaan Allah yang telah dimulainya dengan Inkarnasi-Nya dan kemenangan-Nya atas dosa dan maut. Untuk alasan ini, Adven sama artinya dengan pengharapan: bukan penantian sia-sia… tetapi kepercayaan yang nyata dan pasti tentang kedatangan kembali, Ia yang telah mengunjungi kita… Ini adalah sebuah harapan yang mendorong sikap berjaga-jaga, kebajikan khas dari masa liturgis yang khusus ini. Berjaga-jaga dalam doa, yang dibantu oleh harapan penuh kasih; berjaga-jaga dalam dinamika belas kasih yang nyata, dengan kesadaran bahwa Kerajaan Allah datang mendekat bilamana orang-orang belajar hidup sebagai saudara” (St. Paus Yohanes Paulus II, Homili, 2 Des 2001). Namun kenyataannya, hidup sebagai saudara tidak selamanya mudah bagi semua bangsa dan bagi semua orang. Karena itu, di masa Adven tahun yang sama itu, Paus Yohanes Paulus II mengkhususkan satu hari bagi seluruh umat beriman untuk melakukan doa puasa, dengan ujud memohon perdamaian kepada Allah. Hal puasa atau matiraga bagi Gereja bukan merupakan sesuatu yang baru, melainkan sudah menjadi ungkapan umum yang diajarkan dalam Kitab Suci sebagai ungkapan pertobatan. Ini sejalan dengan makna masa Adven. Paus mengatakan, “Puasa menyatakan penyesalan dari suatu kesalahan, tapi juga maksud untuk mengambil tanggung jawab dengan mengakui dosa-dosa kita dan bertekad untuk mengembalikan hati dan perbuatan kita kepada keadilan yang lebih besar, terhadap Allah dan sesama. Dengan berpuasa, kita mengakui dengan kerendahan hati yang meyakinkan, bahwa pembaruan diri dan masyarakat hanya dapat berasal dari Allah… Di luar bentuk-bentuk kesalehan yang palsu…, puasa memungkinkan orang untuk membagi rezeki sehari-hari dengan mereka yang tidak memilikinya.” (St. Paus Yohanes Paulus II, Homili, 9 Des 2001). Demikianlah, seorang yang sungguh bertobat juga adalah seorang yang berdoa, yang mau bermatiraga demi melakukan silih bagi dosa-dosanya dan dosa-dosa sesamanya. Di masa Adven ini, Gereja mendorong kita untuk menjadi semakin reflektif, memeriksa diri kita, apakah kita sudah mempunyai kekudusan untuk memandang Allah, jika Allah datang di hadapan kita pada saat ini. Jika belum, kita dipanggil untuk merendahkan hati di hadapan-Nya, dan mengakui segala kesalahan dan dosa-dosa kita. Memasuki Tahun Kerahiman Ilahi tanggal 8 Desember ini, kita diingatkan bahwa kerahiman Allah jauh melampaui dosa-dosa kita. Asalkan kita sungguh bertobat—dan mengakui dosa-dosa kita dalam sakramen Tobat—Tuhan akan menerima kita kembali dan memperbarui hidup kita. Kita akan “dituntun dengan sukacita oleh Allah, oleh cahaya kemuliaan-Nya dan dengan belas kasihan dan kebenaran-Nya” (Bar 5:9). Dalam belas kasih dan kebenaran Allah inilah kita menyongsong kedatangan Kristus, yang akan kita rayakan pada hari Natal, maupun kelak saat Ia datang kembali di akhir zaman.

Belas kasih dan kebenaran Allah inilah yang diwartakan dalam Berita Injil. Dan karena itu, Rasul Paulus mengingatkan kita untuk bertumbuh dalam kasih dan kebenaran Allah itu. Ia mendoakan kita, “Semoga kasihmu makin melimpah dalam pengetahuan yang benar dan dalam segala macam pengertian, sehingga  kamu dapat memilih apa yang baik, supaya kamu suci dan tak bercacat menjelang hari Kristus…” (Flp 1:9-10). Setelah kita diampuni dan menerima rahmat belas kasih Allah, kitapun dipanggil untuk meneruskan belas kasih Allah itu dalam kebenaran dan kebaikan kepada sesama. Dan hanya dengan demikian kita dapat bertumbuh dalam kekudusan yang dikehendaki oleh Allah. Nyatalah bahwa sikap kerendahan hati yang diajarkan oleh Yohanes Pembaptis dalam Injil maksudnya tidak hanya untuk memangkas kesombongan kita, tetapi juga untuk mengisi kekosongan hati kita dengan pengertian yang benar akan belas kasih dan kebenaran Allah. Kerendahan hati membuat kita selalu bersedia memperbaiki diri, namun juga bersedia belajar untuk mengisi pundi-pundi hati kita dengan pengetahuan yang benar akan perintah dan kehendak Allah. Sebab dengan pengertian yang benar akan kehendak-Nya, kita akan dimampukan untuk melakukan apa yang sungguh baik dan kudus, yang berkenan kepada Tuhan dan mendatangkan kemuliaan bagi nama-Nya.

Adven adalah masa penantian akan kedatangan Tuhan, sebuah kesempatan bagi   kita untuk berharap, berjaga, bertobat, berdoa, bermatiraga, belajar dan berbuat kasih. Semua ini adalah vitamin rohani yang mempersiapkan jiwa kita untuk bertemu dengan Tuhan Yesus. Paus Fransiskus dalam homili Adven tahun 2013 lalu mengatakan, “Apakah kalian ingin bertemu Yesus dalam hidup kalian? Ya? Hal ini penting dalam kehidupan Kristiani. Hari ini, dengan meterai Roh Kudus, kalian akan memiliki kekuatan yang lebih besar untuk perjalanan itu, untuk perjumpaan dengan Yesus itu. Ambillah keberanian, jangan takut! Hidup adalah perjalanan ini. Dan hadiah yang paling indah adalah untuk bertemu Yesus. Majulah, beranilah!” (Paus Fransiskus, 1 Des 2013)

Hai, jiwaku, berharaplah dan berjalanlah dalam menyongsong Tuhan Yesus, dengan kekuatan yang berasal daripada-Nya.

Bagaimana kita menantikan Tuhan?

0
Sumber gambar: http://www.emorycatholic.org/wp-content/uploads/2014/12/AdventWreath1.jpg

[Hari Minggu Pertama Adven: Yer 33:14-16; Mzm 25:4-14; 1Tes 3:12-4:2; Luk 21:25-28,34-36]

Melihat berita dunia di televisi belakangan ini memang dapat membuat kita merenung. Akankah saat akhir zaman segera tiba? Sebab di beberapa ayat sebelum perikop bacaan Injil hari ini Yesus menyebutkan tentang tanda-tandanya yang sepertinya terjadi sekarang ini, “Bangsa akan bangkit melawan bangsa dan kerajaan melawan kerajaan… dan akan terjadi juga hal-hal yang mengejutkan dan tanda-tanda yang dahsyat dari langit. Tetapi sebelum itu,” kata Yesus, “kamu akan ditangkap dan dianiaya… kamu akan dihadapkan kepada raja-raja dan penguasa-penguasa oleh karena nama-Ku… dan kamu akan dibenci semua orang oleh karena nama-Ku… Kalau kamu tetap bertahan, kamu akan memperoleh hidupmu” (Luk 21:10-12, 17,19). Ayat-ayat ini jelas menunjukkan bahwa Yesus tidak meluputkan para murid-Nya dari penganiayaan, namun menjanjikan keselamatan kepada siapa yang bertahan dalam iman. Meskipun demikian, dewasa ini ada paham yang dipegang kuat-kuat oleh sejumlah orang, bahwa Tuhan Yesus akan mengangkat orang-orang pilihan-Nya secara rahasia, untuk meluputkan mereka dari penderitaan. “Kamu percaya nggak, kamu akan diangkat? Kalau kamu nggak percaya, nanti kamu nggak diangkat lho sama Tuhan Yesus….!” [dan dengan demikian tertinggal di bumi serta mengalami penderitaan]. Demikian  topik pembicaraan yang mungkin pernah kita dengar. Seakan-akan yang menjadi tolok ukur orang diselamatkan atau tidak, adalah apakah ia percaya atau tidak, tentang teori pengangkatan (rapture) ini. Kalau teori ini benar-benar benar, mengapa baru terdengar sekitar 1800 tahun setelah zaman Yesus, dan belum pernah diajarkan oleh para Bapa Gereja? Mengapa hal ini tak secara eksplisit diajarkan oleh Kristus dan para Rasul? Dan mengapa penjelasan tentang teori ini pun berbeda-beda dan menimbulkan perdebatan di kalangan para penganut teori ini sendiri? Roh Kudus, bantulah kami melihat dan membedakan manakah ajaran yang sungguh berasal dari-Mu dan manakah yang bukan.

Akankah ada ‘secret rapture, pengangkatan rahasia’ umat pilihan? Sedikitnya ada hal-hal yang dapat kita renungkan di sini. Pertama, soal kerahasiaan kedatangan Kristus. Umumnya, ayat yang paling sering dianggap sebagai acuan sebagai dasar dari adanya pengangkatan rahasia adalah, “Pada waktu itu, kalau ada dua orang di ladang, yang seorang akan dibawa dan yang lain ditinggalkan….” (Mat 24:40-41). Namun jika dibaca dengan jujur, ayat-ayat tersebut tidak menunjukkan adanya pengangkatan rahasia itu, yang dipahami bahwa Yesus akan datang secara diam-diam/ rahasia mengangkat orang-orang pilihan-Nya. Sebab ayat-ayat itu sesungguhnya berhubungan dengan kalimat selanjutnya, “Karena itu berjaga-jagalah, sebab kamu tidak tahu pada hari mana Tuhanmu datang” (ay. 42) Maka Yesus mengambil contoh tersebut untuk menekankan betapa tiba-tiba dan tidak diketahui-nya saat kedatangan-Nya yang kedua. Karena itu, Yesus meminta kita supaya berjaga-jaga dan siap sedia (ay. 44). Kalau ada orang mengartikan bahwa Yesus akan datang secara diam-diam/ rahasia untuk mengangkat umat pilihan-Nya berdasarkan ayat-ayat itu, nampaknya ide ‘pengangkatan rahasia’ tersebut telah lebih dulu dimasukkan ke dalam teks, dan bukannya diperoleh langsung dari teks itu. Di perikop paralelnya dalam Luk 17:22-37, Yesus juga menggunakan contoh air bah dan kehancuran kota Sodom untuk menjelaskan kedatangan-Nya kembali, yang sifatnya tiba-tiba dan tidak disangka-sangka. Namun ayat-ayat tersebut tidak menyatakan kerahasiaan kedatangan Yesus, ataupun membagi kedatangan-Nya itu menjadi dua tahap, yang satu rahasia dan yang kedua tidak rahasia. Sebaliknya, yang dikatakan oleh Yesus tentang kedatangan-Nya kembali adalah: “Akan ada tanda-tanda pada matahari dan bulan dan bintang-bintang… kuasa langit akan goncang. Pada waktu itu orang akan melihat Anak Manusia datang dalam awan dengan segala kekuasaan dan kemuliaan-Nya” (Luk 21:27, 17:24). Dari ayat ini, kita ketahui bahwa Yesus akan datang kembali dengan mulia di akhir zaman, tanpa didahului olah tahap-tahap rahasia, namun oleh tanda-tanda di langit yang dapat dilihat semua orang.

Kedua, apakah benar Yesus akan mengangkat umat pilihan-Nya untuk meluputkan mereka dari penderitaan? Seandainya demikian, ini tidaklah sesuai dengan apa yang kerap dikatakan oleh Yesus sendiri, dan juga di begitu banyak ayat lain dalam Kitab Suci. Sebab penderitaan adalah suatu ujian yang harus dilalui oleh para murid Kristus, agar dapat dibangkitkan bersama Kristus (lih. Kol 1:24, Rm 8:17-18, Yak 1:2-4, Yoh 16:33). Para rasul mengajarkan, “untuk masuk ke dalam Kerajaan Allah kita harus mengalami banyak sengsara” (Kis 14:22). Mereka tidak mengatakan bahwa umat beriman yang hidup di zaman ini atau di zaman akhir akan dikecualikan. Sayangnya, sejumlah orang, bahkan umat Katolik sendiri, meyakini paham pengangkatan rahasia untuk meluputkan umat dari penderitaan. Mungkin karena pengaruh klaim wahyu pribadi dari orang-orang tertentu.  Namun Wahyu Umum yang dinyatakan oleh Kristus dalam Kitab Suci menyatakan sebaliknya. Yesus mengatakan bahwa menjelang kedatangan-Nya yang kedua, akan terjadi berbagai penganiayaan dan kecemasan, namun justru siapa yang bertahan melaluinya dan berpegang kepada nama-Nya itulah yang akan diselamatkan-Nya. Ini sejalan dengan ajaran Yesus sebelumnya, yaitu agar kita menyangkal diri, memikul salib kita, dan mengikuti Dia (lih. Mat 16:24). Tentu mengikut Yesus tidak untuk diartikan hanya sampai di Kalvari, tetapi justru untuk mengikuti-Nya sampai ke Surga. Maka kita justru harus bertahan memikul salib kita terlebih dahulu, dan bukannya meyakinkan diri sendiri bahwa kita akan diluputkan dari salib itu. Memang orang pada umumnya tidak menyukai salib ataupun penderitaan. Tetapi salib ataupun penderitaan merupakan bagian dari kehidupan kita di dunia sebagai manusia, sehingga kita tak mungkin dapat luput darinya; atau beranggapan bahwa Allah akan meluputkan kita darinya. Sebab justru adalah kehendak Tuhan bahwa melalui penderitaan itulah iman kita diuji (lih. Yes 48:10; 1Ptr 4:12-13; Rm 5:3-5). Supaya dengan demikian, janji-Nya ini dapat digenapi, “Tetapi orang yang bertahan sampai pada kesudahannya akan selamat” (Mat 24:13). Dalam khotbah-Nya tentang akhir zaman, Yesus memperingatkan para murid-Nya, bahwa sebelum saat itu tiba, akan ada penyiksaan, murtad, nabi-nabi palsu, ajaran sesat, kedurhakaan, kebencian semua orang kepada kita karena kita mengimani Dia (lih. Mrk 13:13, 2Tes 2:1-12), dan juga langit akan goncang (lih. Mrk 13:24-27; Mat 24:24-31). Ayat-ayat tersebut menyatakan bahwa Yesus tidak meluputkan orang-orang pilihan-Nya dari penderitaan. Ketika Ia berkata, “Berjaga-jagalah senantiasa sambil berdoa, supaya kamu beroleh kekuatan untuk luput dari semua yang akan terjadi itu, dan supaya kau tahan berdiri di hadapan Anak Manusia” (Luk 21:36); ‘kekuatan untuk luput’ ini maksudnya adalah bertahan agar tidak terjatuh dalam  pesta pora, dan hal-hal duniawi (lih. Luk 21:35), dan bertahan di tengah kesulitan dan penderitaan. Yesus mengingatkan agar kita berjaga-jaga, dan tetap bertahan sampai akhir—meski dalam keadaan kacau tersebut (lih. Mrk 13:13). Dan jika kita didapati-Nya “tak bercacat pada hari Tuhan” (1Kor 1:8) yaitu hari kedatangan-Nya itu, kita akan diselamatkan oleh-Nya.

Ketiga, jadi apa yang dimaksud Rasul Paulus tentang orang-orang yang diangkat dalam 1Tes 4:16-17? Kita umat Katolik tentu percaya—seperti yang disampaikan oleh ayat-ayat itu—bahwa umat beriman yang masih hidup di saat akhir zaman “akan diangkat bersama-sama dengan mereka [yang telah mati dalam Kristus] dalam awan menyongsong Tuhan di angkasa.” Pengangkatan ini tidak diam-diam ataupun rahasia, sebab akan didahului seruan malaikat dan sangkakala Allah (ay. 16). Dan pengangkatan ini maknanya adalah untuk menyongsong ataupun menyambut Yesus sebagai Raja, yang akan datang menghakimi semua bangsa di dunia dalam Pengadilan Terakhir. Ayat-ayat tersebut tidak mengatakan adanya “jeda seribu tahun” antara kedatangan Yesus ini dengan Pengadilan Terakhir—sebagaimana yang umum diyakini oleh teori pengangkatan ini. Tak ada pernyataan apa pun di sana yang menyatakan bahwa pengangkatan itu adalah untuk mengangkat orang-orang pilihan ke Surga sehingga terluput dari bencana ataupun ke suatu tempat untuk menunggu sampai sekian waktu. Yesus menyatakan bahwa Kedatangan-Nya dan Pengadilan tersebut terjadi berurutan seketika: “Sebab Anak Manusia akan datang dalam kemuliaan Bapa-Nya diiringi malaikat-malaikat-Nya; pada waktu itu Ia akan membalas setiap orang menurut perbuatannya” (Mat 16:27). Dan lagi kata Yesus, “Apabila Anak Manusia datang dalam kemuliaan-Nya dan semua malaikat bersama-sama dengan Dia, maka Ia akan bersemayam di atas takhta kemuliaan-Nya. Lalu semua bangsa akan dikumpulkan di hadapan-Nya dan Ia akan memisahkan mereka seorang dari pada seorang, sama seperti gembala memisahkan domba dari kambing….” (Mat 25:31-32).

Paham pengangkatan rahasia sebelum masa kesengsaraan/ tribulation memang tak bisa dipisahkan dari tokoh yang mempopulerkannya, yaitu John Nelson Darby (1800-1882) dan C.I. Scofield (1843-1921). Keduanya menganut paham premillennialism. Dalam paham ini sendiri terdapat perbedaan pandangan tentang kapankah terjadinya pengangkatan itu. Sebelum tahun 1800 dikatakan bahwa pengangkatan terjadi sesudah masa kesengsaraan atau penganiayaan umat. Lalu Darby dan Scofield mengatakan bahwa pengangkatan terjadi sebelum kesengsaraan. Namun dewasa ini juga sudah ada pandangan lain, yaitu bahwa waktu pengangkatan itu akan terjadi di tengah-tengah masa kesengsaraan. Ada juga pandangan yang lain lagi bahwa pengangkatan itu tidak akan terjadi serentak, tetapi pada saat yang berbeda-beda. Ini malah tidak cocok dengan arti literal dari ayat 1Tes 4:17 yang jelas mengatakan bahwa umat beriman yang masih hidup di akhir zaman akan “diangkat bersama-sama” menyongsong Kristus.

Sesungguhnya jika kita jujur mendengarkan hati nurani, kita akan dapat mengetahui, bahwa semakin ingin dijelaskan, teori rapture/ Pengangkatan ini malah semakin membingungkan, karena semakin banyak variasinya berdasarkan pandangan para tokoh yang berbeda, dan semakin tidak koheren dengan ayat-ayat lainnya dalam Kitab Suci. Ini semakin membuktikan kekeliruan teori “sola scriptura/ hanya Kitab Suci saja.” Sebab, orang-orang yang membaca Kitab Suci dan ayat-ayat yang sama ini, dapat sampai kepada kesimpulan yang berbeda-beda. Juga, para penganut teori rapture—yang umumnya berpegang kepada prinsip “sola scriptura/ hanya Kitab Suci saja”—ternyata kemudian melanggar prinsipnya sendiri, sebab mereka toh akhirnya tidak saja berpegang kepada Kitab Suci, tetapi juga kepada klaim-klaim wahyu pribadi orang-orang tertentu, sebagai tolok ukur kebenaran yang mereka yakini.

Karena itu, menyikapi berbagai pandangan tentang akhir zaman, lebih baik kita berpegang kepada ajaran Rasul Petrus: “Akan tetapi, saudara-saudaraku yang kekasih, yang satu ini tidak boleh kamu lupakan, yaitu, bahwa di hadapan Tuhan satu hari sama seperti seribu tahun dan seribu tahun sama seperti satu hari. Tuhan tidak lalai menepati janji-Nya, sekalipun ada orang yang menganggapnya sebagai kelalaian, tetapi Ia sabar terhadap kamu, karena Ia menghendaki supaya jangan ada yang binasa, melainkan supaya semua orang berbalik dan bertobat. Tetapi hari Tuhan akan tiba seperti pencuri. Pada hari itu langit akan lenyap dengan gemuruh yang dahsyat dan unsur-unsur dunia akan hangus dalam nyala api, dan bumi dan segala yang ada di atasnya akan hilang lenyap. Jadi, jika segala sesuatu ini akan hancur secara demikian, betapa suci dan salehnya kamu harus hidup… Sebab itu, saudara- saudaraku yang kekasih, sambil menantikan semuanya ini, kamu harus berusaha, supaya kamu kedapatan tak bercacat dan tak bernoda di hadapan-Nya, dalam perdamaian dengan Dia” (2Ptr 3: 8-14).

Firman ini meneguhkan kita tentang inti kebenaran yang harus kita yakini untuk menyambut kedatangan Tuhan Yesus. Yaitu karena Kedatangan-Nya tidak terduga, maka untuk menyambut-Nya kita harus secepatnya bertobat dan mengusahakan kesucian dan kesalehan. Sikap inilah yang mestinya kita miliki untuk memasuki masa Adven. Adven adalah masa kita mempersiapkan hati menyambut peringatan hari kelahiran Tuhan Yesus di dunia. Menjelang Adven bacaan-bacaan liturgi memang mengingatkan kita akan Kedatangan-Nya yang mulia di akhir zaman. Kita pun diajak untuk merenungkan, bahwa Kristus yang akan datang kembali dengan mulia itu, dahulu pernah datang ke dunia dalam kesederhanaan-Nya. Ia yang adalah Tuhan yang mengatasi segalanya, telah merendahkan diri-Nya dengan mengambil rupa hamba, dan lahir di sebuah kandang hewan. Ini adalah suatu teladan kerendahan hati Sang Tuhan yang semestinya membuat kita ‘berkaca’. Sebab umumnya sebagai manusia sering kita meninggikan diri, ataupun tak mau direndahkan orang. Ya, masa Adven adalah masa kita memeriksa diri kita sendiri, seberapa miripkah kita dengan Tuhan yang kita imani. Semoga kita memiliki kerendahan hati untuk bertobat, dan mengejar kesucian, kesalehan, seperti yang diajarkan oleh Rasul Petrus itu. Sudahkah kita melakukannya? Sebab jangan sampai malah yang kita lakukan atau pikirkan di masa Adven ini adalah sebaliknya, yang dikecam oleh Yesus sendiri, yaitu “pesta pora, kemabukan dan kepentingan-kepentingan duniawi….” (Luk 21:34). Inilah saat kita berjaga-jaga, melakukan usaha yang terus menerus agar tidak terikat dengan hal-hal duniawi—yaitu keinginan mata, keinginan daging dan keangkuhan hidup (1Yoh 2:16).

Di awal masa Adven ini, mari kita memohon kepada Tuhan agar kita dapat memiliki kerinduan akan kedatangan-Nya. Menantikan Tuhan Yesus dalam kesederhanaan dan keheningan. Menantikan Dia dalam pertobatan dan kesadaran akan Kerahiman Ilahi-Nya. Menantikan Dia dalam doa dan ucapan syukur, serta dalam ungkapan kasih kepada sesama yang membutuhkan. Semoga dengan sikap sedemikian, kita dapat tahan berdiri di hadapan Yesus, kapan pun dan dengan cara apa pun Dia memutuskan untuk datang menjemput kita.

Marilah kita berdoa supaya kita dapat menyambut Yesus di hari Natal, tidak dalam palungan dingin dari hati yang egois, tetapi dalam hati yang penuh cinta, bela rasa, sukacita dan damai sejahtera, hati yang hangat penuh kasih, satu sama lain.” (Bunda Teresa dari Kalkuta)

Keep in touch

18,000FansLike
18,659FollowersFollow
32,900SubscribersSubscribe

Artikel

Tanya Jawab