Home Blog Page 30

Bersusah-susah dahulu, bersenang-senang kemudian

0
Sumber gambar: http://blogs.ancientfaith.com/thissideofglory/2015/08/06/christs-transfiguration-our-transformation/

[Minggu Prapaskah II: Kej 15:5-18; Mzm 27:1-14; Flp 3:17-4:1; Luk 9:28-36]

Dewasa ini, ada banyak orang mempunyai semboyan, “bersenang-senang dahulu, bersenang-senang kemudian”. Pendek kata, maunya senang terus. Mungkin kita pun demikian, cenderung memilih apa yang menyenangkan  hati. Kalau bisa, bersenang-senang di dunia, lalu kelak bersenang-senang di Surga. Tetapi hal itu tidak diajarkan oleh sabda Tuhan. Sebab untuk sampai ke Surga diperlukan persiapan dan ini tidak bisa dilewati dengan hanya bersenang-senang.

Di Bacaan Pertama, kita mendengar janji Allah kepada Abraham. Ini adalah pengulangan janji yang sudah pernah dikatakan Allah sebelumnya (Kej 12:1-9). Yaitu bahwa Allah akan membuat keturunan Abraham menjadi bangsa yang besar, dan bahwa Allah akan memberikan kepadanya tanah yang subur sebagai miliknya. Namun sebelum sampai ke Tanah terjanji itu, ada hal-hal yang mendahuluinya. Yaitu Abraham taat pada perintah Tuhan untuk meninggalkan tempat kediamannya yang lama. Di perjalanan, ia harus bersusah-payah  bahkan harus berjuang membebaskan Lot saudaranya, dan orang-orangnya dari perampasan oleh raja-raja di daerah sekitar tanah Kanaan itu (lih. Kej 14). Maka janji dan penyertaan Allah tidak meniadakan perjuangan Abraham. Iman Abraham pun diuji. Karena ketika Allah berjanji bahwa keturunan Abraham akan menjadi sebanyak bintang di langit, ia masih belum mempunyai keturunan. Kendati demikian, Abraham percaya kepada Allah, dan ini diperhitungkan oleh Allah (Kej 15:6). Abraham pun mempersembahkan kurban kepada Allah sebagai tanda imannya akan janji Allah itu.

Kisah Abraham mengajak kita untuk memeriksa diri. Apakah kita juga mempunyai iman seperti ini, yang tetap percaya kepada Tuhan meskipun belum dapat melihat penggenapan janji-Nya? Sebagaimana Allah telah berjanji menghantar Abraham dan keturunannya ke tanah Kanaan, Allah pun berjanji akan menghantar kita ke Tanah Perjanjian yang sesungguhnya, yaitu Surga. Untuk itu, kita pun dipanggil untuk menjadi seperti Abraham. Yaitu, rela meninggalkan “zona nyaman” kita, dosa-dosa dan cara hidup kita yang lama, untuk mau dipimpin oleh Tuhan. Ini tidak mudah, dan membutuhkan perjuangan. Namun kabar baiknya adalah: Tuhan akan menyertai dan membantu kita memenangkan perjuangan kita. Sebagai ungkapan rasa syukur dan iman,  kita pun dipanggil untuk menjadi seperti Abraham, yaitu mempersembahkan kurban kepada Tuhan. Betapa ini nyata, setiap kali kita mempersembahkan diri kita dalam kurban Ekaristi. Maka kisah Abraham sebenarnya merupakan gambaran samar-samar tentang apa yang seharusnya kita lakukan pula dalam perjalanan rohani kita, tentu dengan acuan kepada penggenapannya dalam Kristus.

Di Bacaan Kedua, Rasul Paulus memperjelas bahwa jalan untuk sampai kepada kemuliaan surgawi, adalah melalui salib. Karena itu, kita tidak boleh menolak salib, dengan dalih, “salib sudah dipikul oleh Yesus, sekarang aku tak perlu memikulnya”. Sebab tak sedikit orang yang mengaku diri sebagai Kristen, namun paham yang diyakininya adalah demikian. Puasa dan mati raga dianggap tidak perlu dan iman diukur dari seberapa banyak itu mendatangkan berkat-berkat duniawi. Walaupun dalam perjuangan hidup kita Tuhan selalu menyertai dan memberkati, namun seharusnya fokus kita sebagai umat Kristen bukan kepada berkat-berkat tersebut, tetapi kepada salib Kristus, yang daripadanya kita memperoleh kekuatan untuk memikul salib  kehidupan kita masing-masing. Rasul Paulus malah mengingatkan, bahwa kalau kita memusuhi salib, kita menjadikan perut sebagai Tuhan kita, sebab pikiran kita semata-mata tertuju kepada hal-hal duniawi; dan ini akan membinasakan kita (lih. Flp 3: 19). Betapa keras perkataan ini! Namun mari kita biarkan sabda Tuhan ini membuat kita melihat dengan jujur ke dalam hati, apakah kita memusuhi salib, ataukah kita menerimanya dengan rasa syukur? Sebab melalui salib, kita dapat dibawa lebih dekat kepada Kerajaan Surga.

Salib kita adalah berbagai tanggung jawab kita sehubungan dengan tugas panggilan hidup kita masing-masing, dan segala bentuk pengorbanan yang menyertainya. Para rasul, termasuk Rasul Paulus, mengartikan salib yang harus mereka pikul ini sampai ke tingkat yang tertinggi. Yaitu, mereka mengambil cara hidup Yesus sebagai cara hidup mereka sendiri: taat, miskin, dan rela menyerahkan nyawa mereka demi iman, harap dan kasih mereka akan Kristus. Dengan kapasitas masing-masing, kita pun dipanggil untuk hidup mengikuti teladan para rasul ini. Artinya, selalu mengarahkan hati kepada iman dan pengharapan kita akan kehidupan kekal yang dijanjikan Kristus, dan tak enggan berkorban untuk  itu, demi kasih kita kepada-Nya. Maka apa yang kita lakukan di dunia akan memperoleh arti yang baru. Diberi rejeki dan talenta, kita bertanya: “Apa yang dapat kubuat dari rejeki dan talenta ini untuk memuliakan Tuhan dan membawa banyak orang kepada keselamatan?” Demikian juga, jika Tuhan mengizinkan kita mengalami salib kehidupan, entah penyakit, ataupun pergumulan di keluarga dan di tempat kerja. Kita tetap percaya bahwa jika kita dengan rela mempersatukan segala penderitaan kita dengan penderitaan Yesus di salib, maka itu akan menjadi penderitaan yang menyelamatkan, entah bagi kita sendiri maupun bagi orang lain. Sebab di akhir penderitaan itu, ada pengharapan akan kemuliaan surgawi di mana kita akan dipersatukan dengan Dia.

Kisah Injil hari ini juga meneguhkan pengharapan ini. Kristus mengizinkan para rasul-Nya—Petrus, Yohanes dan Yakobus—untuk melihat bagaimana Ia dimuliakan di atas gunung, untuk meneguhkan iman mereka. Pengalaman ini menghibur mereka dari kekecewaan setelah mendengar pemberitahuan Yesus, bahwa Ia akan menderita dan wafat, sebelum dibangkitkan. Bahkan selanjutnya, Yesus meminta agar setiap orang yang mau mengikuti jejak-Nya, untuk memikul salibnya juga (lih. Luk 9:22). Dapat dibayangkan bahwa perkataan Yesus ini tidak langsung dipahami oleh para murid-Nya dan bahkan mendatangkan kekecewaan bagi mereka. Maka peristiwa Transfigurasi Yesus ini menjadi penghiburan yang meneguhkan pengharapan para murid itu, bahwa akan ada kemuliaan setelah penderitaan dan kematian. Bahkan bertahun-tahun kemudian setelah Kristus bangkit dan naik ke Surga,  Rasul Petrus masih mengingat peristiwa tersebut sebagai pengalaman berharga yang meneguhkan pengharapan imannya. Dan ia menuliskan peristiwa itu dalam suratnya untuk meneguhkan pengharapan umat beriman yang lain (lih. 2Ptr 1:17-18).

Seperti Rasul Petrus, kita pun dapat selalu memusatkan hati kepada pengharapan kita akan kebahagiaan surgawi. St. Josemaria Escriva mengatakan, “Di saat godaan datang, pikirkanlah Sang Kasih yang menantikan kamu di Surga. Tumbuhkanlah pengharapanmu… Kita akan berpikir tentang seperti apakah Surga itu. ‘Apa yang tak pernah dilihat oleh mata, dan didengar oleh telinga, dan tak pernah masuk dalam hati manusia, itulah yang disediakan bagi mereka  yang mengasihi Dia’. Dapatkah kamu membayangkan bagaimana rasanya  untuk sampai ke sana dan bertemu dengan Allah, untuk melihat indahnya kasih yang dicurahkan dalam hati kita…? (St. Josemaria Ecriva, The Way 139). Marilah di masa Prapaska ini, sesering mungkin kita mengangkat hati dan pikiran kita kepada Tuhan dan mendoakan Mazmur yang kita dengar hari ini:

Tuhan adalah terang dan keselamatanku, kepada siapakah aku harus takut?… Sungguh aku percaya akan melihat kebaikan Tuhan, di negeri orang-orang yang hidup…. Aku percaya kepadaMu, Tuhanlah Pengharapanku!  Amin.

Jangan kutip sabda Tuhan untuk menutupi dosa

0
Sumber gambar: https://en.wikipedia.org/wiki/Temptation_of_Christ#/media/File:Temptations_of_Christ_(San_Marco).jpg

[Minggu Prapaskah I: Ul 26:4-10a; Mzm 91:1-15; Rm 10:8-13; Luk 4:1-13]

Bacaan Injil di awal masa Prapaska ini mengisahkan tentang Tuhan Yesus yang berpuasa di padang gurun selama 40 hari lamanya, dan dicobai iblis. Mungkin banyak dari kita sudah berkali-kali membaca perikop ini, dan sejumlah dari kita bahkan hafal akan kisahnya. Namun hari ini, mari kita renungkan satu hal saja dari kisah tersebut. Yaitu bahwa iblis ‘berani’ menggoda Yesus, dan di puncak godaannya itu, iblis mengutip ayat-ayat Kitab Suci!

Fakta bahwa bahkan Yesus sendiri—ketika Ia mengambil rupa manusia—tidak luput dari godaan iblis, ini harus membuat kita waspada. Sebab tak ada seorang pun—sekalipun ia “dekat dengan Tuhan”—yang tidak pernah digoda oleh iblis. Godaan tidak selalu datang dalam bentuk yang hebat atau dahsyat. Bisa saja awalnya hanya godaan kecil-kecil saja, seperti godaan untuk makan di saat sedang berpuasa, godaan untuk mengabaikan puasa dan pantang, godaan untuk memilih apa yang enak saat sedang berniat bermatiraga. Namun godaan bisa meningkat, seperti godaan menyangkut ambisi akan kekuasaan dan kemuliaan, agar dihormati orang. Yesus pun digoda oleh iblis demikian. Yesus mengalahkan godaan itu dengan sabda Tuhan, “Manusia hidup bukan dari roti saja” (Ul 8:3); dan “Engkau harus menyembah Tuhan, Allahmu, dan hanya kepada Dia sajalah engkau berbakti!” (Ul 6:13)

Lalu, entah karena ikut-ikutan atau karena memang cerdik dan culas, sang iblis juga mengutip Kitab Suci saat menggoda Yesus agar menunjukkan kehebatan-Nya dengan menjatuhkan diri dari bubungan Bait Allah. Sebab katanya, “Mengenai Engkau, Ia [Allah] akan memerintahkan malaikat-malaikat-Nya untuk melindungi Engkau, dan mereka akan menatang Engkau di atas tangannya, supaya kaki-Mu jangan terantuk kepada batu” (Mzm 91:11-12). Ayat-ayat ini kita dengar di Mazmur hari ini. Perkataan itu mengacu kepada janji Allah kepada umat-Nya, suatu ungkapan kiasan yang artinya adalah perlindungan Allah bagi orang percaya dari marabahaya. Namun iblis mengutip ayat ini untuk menggoda Yesus agar sengaja mendatangkan  bahaya atas diri-Nya—yaitu dengan menjatuhkan diri dari ketinggian. Agar dengan demikian, Yesus menunjukkan hebatnya perlindungan yang akan diterima-Nya dari Allah Bapa-Nya. Tetapi Yesus dengan tegas menjawab, “Jangan mencobai Tuhan, Allah-Mu!” (Ul 6:16)

Demikianlah, dewasa ini, ada orang-orang yang berusaha menutupi kesalahan dan dosa yang dibuatnya, dengan mengutip sabda Tuhan. Tentu tak ada kesalahan dalam sabda yang dikutip, namun hanya interpretasinya yang tidak benar. Ada orang yang mengutip kisah Yesus yang marah pada para pedagang-pedagang di bait Allah, sebagai pembenaran bagi sifatnya yang pemarah. Ada yang mengutip kisah hidup Raja Daud dan Salomo yang punya banyak istri, sebagai alasan baginya untuk menyetujui poligami. Ada yang menekankan ajaran kasih yang tak membeda-bedakan, untuk membenarkan dukungannya terhadap perkawinan sesama jenis. Atau orang mencari-cari ayat sebagai alasan untuk menceraikan istri atau suami dan kemudian menikah lagi. Bahkan mau berbuat curang pun mengartikan sendiri, (kali-kali aja itu termasuk arti) “cerdik seperti ular” tak apa, asal “tulus seperti merpati!”… dan masih banyak lagi. Semoga sabda Tuhan hari ini dapat menegur kita agar kita tidak memiliki kecenderungan mencari pembenaran diri, dari suatu perbuatan yang sudah jelas salah, dengan mengutip ayat-ayat Kitab Suci yang diartikan menurut kehendak sendiri. Dalam keadaan ingin membela diri, ada kecondongan orang hanya melihat sedikit ayat tanpa memperhitungkan ayat-ayat lainnya dalam Kitab Suci. Semoga kitapun diberi kewaspadaan agar tidak lekas terpengaruh oleh paham-paham yang keliru walaupun sepertinya terlihat “berbau ayat Kitab Suci”.  St. Ambrosius mengingatkan, “Jangan biarkan pengajar sesat memikatmu dengan memberikan contoh-contoh dari Kitab Suci. Iblis menggunakan kesaksian dalam Kitab Suci bukan untuk mengajar tetapi untuk menipu.” (St. Ambrose, in Catena Aurea, Luk 4: 9-13). Agar kita tidak jatuh dalam kesalahan semacam ini, kita perlu dengan rendah hati mendengarkan ajaran Magisterium Gereja, yang daripadanya kita memperoleh Kitab Suci. Sebab ajaran Magisterium merupakan rangkuman interpretasi yang benar akan ayat-ayat Kitab Suci.

Selanjutnya, hari ini kita diingatkan akan kerahiman Allah yang selalu menyertai umat-Nya. Sejak zaman Nabi Musa, sebagaimana kita dengar di Bacaan Pertama, Allah terus menolong umat-Nya, keluar dari penjajahan Mesir menuju ke Tanah yang dijanjikan-Nya. Gereja mengartikan penjajahan Mesir sebagai gambaran dari penjajahan dosa; pembebasannya adalah makna Baptisan dan bahwa Tanah Terjanji Kanaan yang sesungguhnya adalah Surga. Namun memang tak sedikit waktu perjalanan sejak bangsa Israel dibebaskan dari penjajahan Mesir, sampai ke Tanah Terjanji. Demikianlah pula, tak singkat waktu perjalanan sejak kita dibaptis sampai nanti kita berpulang dan dapat diterima dalam Kerajaan Surga. Ada jatuh bangun yang harus dilalui: jatuh  (lagi) ke dalam kelemahan kita, namun selalu ada kesempatan untuk bangun (lagi) melalui pertobatan selama kita masih hidup di dunia ini. Masa Prapaska adalah masa bagi kita untuk kembali bangun dari kejatuhan kita; bertobat dari segala kesalahan kita. Ini diawali dengan suatu langkah sederhana: mengakui bahwa kita telah berdosa. Kita tak perlu mencari pembelaan diri dari ayat-ayat manapun. Kalau kita sudah tidak jujur, ya katakan demikian di hadapan Tuhan. Demikian juga, kalau kita pemarah, sombong, ingin dipuji orang, dan sulit mengampuni. Ini saatnya kita berseru kepada Tuhan, yang kaya akan belas kasihan kepada semua orang yang berseru kepada-Nya (Rm 10:12).

Godaan-godaan mungkin memang tetap ada, kesesakan dalam hidup tidak berhenti, namun kasih Tuhan mengatasi semuanya itu. Yesus pun pernah mengalami godaan-godaan itu, namun Ia tidak jatuh ke dalamnya. Maka kini Ia membantu kita untuk melalui berbagai godaan dengan kekuatan yang daripada-Nya, supaya kita pun tidak jatuh. Sebab Yesus adalah Tuhan kita yang telah mengalahkan kuasa dosa dan maut; dan inilah yang akan kita peringati dengan penuh syukur di masa Paskah kelak.

Tuhan, betapa ingin ku melekat kepada-Mu, agar Engkau meluputkan aku dari segala godaan dosa. Kumohon, berilah aku kerendahan hati, agar dapat mengakui dosaku dengan jujur tanpa mencari pembenaran diri. Jawablah aku jika aku berseru dalam kelemahanku, dan lindungilah aku di dalam kesesakan. Amin.

1. Tobat; 2. Taat; 3. Berbuah untuk Tuhan

0
Sumber gambar: https://www.flickr.com/photos/teddybear_crafts/5692437121/

[Minggu Biasa V: Yes 6:1-8; Mzm 138:1-8; 1Kor 15:1- 11; Luk 5:1-11]

Ada kecenderungan orang ingin langsung menikmati hasil akhir, tanpa susah. Ini berlaku dalam dunia kerja, dunia usaha, dan bahkan juga dalam karya-karya kerasulan. Namun bacaan-bacaan Kitab Suci hari ini mengajarkan kepada kita tentang hal-hal yang harus dilalui sebelum kita dapat mengharapkan buah dari apa yang kita lakukan. Pertama, kita perlu mengakui kelemahan dan dosa-dosa kita. Kedua, kita dengan taat mengikuti kehendak dan perintah Tuhan. Baru selanjutnya, kita dapat berharap bahwa Tuhan akan mendatangkan buah dari apa yang kita lakukan, tentu dalam bantuan rahmat-Nya.

Pertama, sabda Tuhan mengajarkan kita agar kita bersedia mengakui kelemahan dan dosa kita. Atau singkat kata: bertobat. Nabi Yesaya menjadi contoh bagi kita. Ketika dihadapkan pada kemuliaan Allah, Nabi Yesaya menyadari ketidaklayakannya, karena dosanya. “Celakalah aku…. Sebab aku ini seorang yang najis bibir…” (Yes 6:5). Nabi Yesaya tak enggan mengakui bahwa ia telah berdosa dengan bibirnya, walaupun mungkin saja  ia tidak berdosa dengan anggota tubuhnya yang lain. Dosa yang menyangkut perkataan memang sepertinya sulit untuk dihindari, bahkan oleh seorang pelayan Tuhan sekalipun. Demikian pula, Rasul Paulus tak segan menyatakan pertobatannya. Sebab sebelum menjadi rasul, Paulus— dulunya disebut Saulus—oleh karena ketidaktahuannya, bahkan telah menganiaya umat Kristen. Namun Kristus sendiri membuat Paulus bertobat dan memilihnya menjadi rasul.  Di awal tugasnya mewartakan Injil Tuhan, Rasul Paulus, tidak malu mengakui kesalahannya itu, “Karena aku adalah yang paling hina dari semua rasul, dan tak layak disebut rasul, sebab aku telah menganiaya Jemaat Allah…” (1Kor 15:9). Juga, di Bacaan Injil, dikisahkan bahwa setelah menyaksikan karya Tuhan yang mulia, Rasul Petrus juga secara terus terang mengakui ketidaklayakannya, yaitu bahwa ia adalah orang berdosa (lih. Luk 5:8). Karena pada awalnya ia kurang percaya, dan bahkan mungkin sedikit sombong dan menganggap diri berpengalaman sebagai nelayan. Dari ketiga tokoh ini, mari kita belajar kerendahan hati. Sebab Allah menghendaki kita menyadari bahwa Ia memilih dan mengutus kita, bukan karena kehebatan kita, namun karena belas kasih-Nya. Karena itu, Allah berkenan pada kita, jika kita menyadari keterbatasan dan kelemahan kita, namun kita mau mengandalkan kemurahan hati-Nya. Maka kuncinya adalah, mengandalkan Tuhan dan berpegang padaNya. Ini menghantar kita ke langkah berikutnya, yang berkaitan erat dengan pertobatan, yaitu: ketaatan.

Kedua, sabda Allah mengajarkan kita untuk bersedia menaati perintah-Nya. Pada Nabi Yesaya, ini nampak dari kesediaannya menuruti perintah Allah untuk menerima bara api yang disentuhkan ke mulutnya untuk menguduskan dia (lih. Yes 6:7). Para Bapa Gereja mengartikan bara api ini sebagai gambaran akan Yesus dalam sakramen. St. Petrus Krisologus mengatakan tentang hal ini demikian, “Biarlah saat ini kita merasa menyesal karena kasih, di hati kita. Marilah kita menerima bahwa kita berdosa dalam tubuh yang malang ini. [Maksudnya adalah, kodrat manusia yang memiliki kecondongan terhadap dosa]. Marilah kita menangis dengan keluhan yang kudus, sebab kita pun, memiliki bibir yang berdosa. Mari kita lakukan ini, supaya seorang malaikat datang kepada kita, dengan sepit yang membawa rahmat, sebuah sakramen iman yang berkobar diambil bagi kita dari altar surgawi. Marilah melakukan ini untuk membuatnya menyentuh bibir kita untuk menghapus kesalahan-kesalahan kita, memurnikan kita dari dosa dan menyalakan mulut kita dengan kobaran sempurna dari pujian [kepada Allah] yang sepenuhnya. Sehingga nyala ini menghasilkan penyelamatan dan bukan kesakitan. Mari kita mohon juga, supaya panas bara itu menembus sampai ke hati kita…” (St. Peter Chrysologus, Sermon 57). Nabi Yesaya memberi teladan ketaatan untuk menerima cara yang dipilih Allah untuk memurnikan kita. Maukah kita menerima “bara” sakramen-sakramen Gereja, agar Allah dapat menguduskan dan mengobarkan kita?

Di Bacaan Kedua, ketaatan Rasul Paulus ditunjukkannya dengan bekerjasama dengan kasih karunia Allah yang telah diberikanNya kepadanya (lih. 1Kor 15:10). Kerja keras Rasul Paulus menjadi teladan bagi jemaat. Ia mengajarkan apa yang telah ia imani dan lakukan terlebih dahulu.  Rasul Paulus menjadi contoh bagi kita untuk berpegang teguh pada Injil. Yaitu teguh mengimani dan mewartakan bahwa Kristus telah wafat karena dosa kita, sesuai dengan Kitab Suci. Dan bahwa Ia telah dimakamkan, bangkit dan menampakkan diri kepada para murid-Nya (lih. 1Kor 15:1-8), sebagai bukti bahwa Ia telah mengalahkan kuasa maut. Dengan demikian, kita yang percaya kepada-Nya memperoleh keselamatan dan hidup yang kekal. Betapa layak kita memuliakan Tuhan untuk karya-Nya di dalam diri Kristus Putera-Nya! Sebab bukankah demikian juga yang kita nyanyikan dalam Mazmur hari ini, yaitu bahwa nama Tuhan itulah yang hendak kita wartakan, yang kita muliakan. Sebab Ia telah mengulurkan tangan kanan-Nya dan menyelamatkan kita (lih. Mzm 138:7).

Injil hari ini menyampaikan bahwa Rasul Petrus pun taat kepada Yesus. Ia taat pada perkataan Yesus untuk bertolak ke tempat yang dalam dan menebarkan jalanya, walaupun waktu itu bukan saat yang umum untuk menjala ikan. Ketaatan Petrus ini membuahkan hasil baginya dan teman-temannya, yaitu begitu banyaknya ikan yang dapat mereka tangkap (Luk 5:1-7). Selanjutnya, ketika Yesus memanggil mereka untuk menjadi penjala manusia, merekapun taat dan mengikuti Yesus.

Demikianlah, point ketiga yang kita lihat di sini adalah jika kita mau merendahkan diri untuk bertobat, taat dan mengandalkan kasih karunia Allah, maka Tuhan akan memampukan kita menunaikan tugas yang dipercayakan kepada kita dan memberikan buah yang limpah. Pada Nabi Yesaya, kasih karunia Tuhan dan ketaatannya membuatnya mampu menanggapi panggilan perutusan Tuhan, “Inilah aku, utuslah aku!” (Yes 6:8) Demikian pula, Tuhan memampukan Rasul Paulus untuk mewartakan Injil, dan kasih karunia-Nya mendatangkan hasil yang tidak sia-sia (1Kor 15:10). Juga, Tuhan memampukan Rasul Petrus, sehingga ia memperoleh hasil yang limpah dari menjala ikan (Luk 5:6-9), dan kelak, saat ia bersama dengan rekan rasul lainnya, menjala manusia. Kita semua adalah buah dari pelayanan para nabi dan rasul Kristus, sebab dari merekalah kita mengenal Allah yang menyelamatkan kita melalui Putra-Nya Yesus Kristus oleh kuasa Roh Kudus. Kita pun, dalam kapasitas masing-masing dipilih Tuhan untuk mengambil bagian dalam tugas perutusan dari Allah. Agar kita tidak memusatkan diri semata pada  buah-buah materi di dunia ini, tetapi juga pada buah-buah rohani yang dapat menghantar kita dan sesama pada kehidupan kekal.

Sungguh, apapun panggilan hidup kita, sabda Tuhan hari ini mengajak kita untuk mengikuti jejak Nabi Yesaya, Rasul Petrus dan Paulus. Mari kita merendahkan diri di hadapan Tuhan, bertobat, taat pada perintah-Nya dan mengandalkan kerahiman-Nya. Agar dengan demikian, Tuhan memampukan kita melakukan tugas-tugas yang dipercayakan kepada kita dan mendatangkan buah yang limpah seturut kehendak-Nya. Semoga Tuhan memberi kita hikmat kebijaksanaan, agar kita tidak membatasi diri pada kehendak dan rencana diri sendiri namun pada kehendak dan rencana Tuhan. Agar Tuhan dapat berkarya melalui kita, untuk turut mendatangkan buah keselamatan bagi banyak orang.

Tuhan Yesus, kasihani dan ampunilah aku dari segala dosaku. Bantulah aku untuk menaati perintah-Mu hari ini. Topanglah dan mampukanlah aku untuk melakukan apa yang baik dan menghasilkan buah bagi kemuliaan nama-Mu. Amin.”

Tumbuhkanlah kasih sejati dalam hatiku

0
Sumber gambar: https://www.etsy.com/listing/89204061/love-is-patient-love-is-kindlove-never

[Minggu Biasa IV: Yer 1:4-19; Mzm 71:1-17; 1Kor 12:31- 13:13; Luk 4:21-30]

Perikop tentang kasih yang kita baca hari ini, termasuk perikop yang paling sering dipilih sebagai bacaan Kitab Suci dalam perayaan Ekaristi sakramen Perkawinan. Tidak mengherankan, sebab perjuangan untuk mengasihi yang adalah perjuangan seumur hidup, terutama bagi pasangan suami istri. Ajaran Kristiani memang memberi arti yang baru dalam mengasihi sesama. Sebab Sabda Tuhan mengajar kita untuk mengasihi sesama bukan semata-mata karena dorongan kemanusiaan, tetapi karena kita melihat Tuhan yang hadir dalam diri sesama kita, terutama mereka yang kecil, miskin, hina dan tersingkir (lih. Mat 25:40). Dalam konteks pasangan suami istri, kasih sejati sungguh diuji ketika salah satu di antara mereka terkena sakit parah, jatuh miskin, ataupun jatuh dalam dosa. Adakah suami atau istri masih dapat tetap setia dan mengasihi dalam keadaan sedemikian?

Tuhan Yesus memberikan arti yang lebih dalam tentang kasih kepada sesama, yaitu untuk mengasihi mereka, “seperti Aku telah mengasihi kamu” (Yoh 15:12). Mungkin mudah, jika sesama kita sedang dalam keadaan “mudah dicintai”. Namun mengasihi menjadi tantangan jika pihak yang harusnya kita kasihi ternyata “sulit dikasihi”. Misalnya, mereka telah menyakiti hati kita, mereka berbeda pandangan dengan kita, keras hati dan tidak mau mendengarkan kita. Bagaimana menghadapi orang-orang yang seperti ini?

Rasul Paulus mengajarkan kepada kita kuncinya. Yaitu pertama, kasih itu sabar. Sebab untuk dapat berbuat baik, kita harus tahu bagaimana menyikapi sesuatu yang buruk. Yaitu kita membuang sikap bersungut-sungut, pemarah dan berkata-kata tajam. Bukankah dalam hal ini saja sudah sulit, terutama bagi orang-orang yang sifat dasarnya lekas komplain dan cepat mengkritik orang lain. Kesabaran membutuhkan kebesaran jiwa. Kasih itu sabar, artinya tahan menghadapi apa-apa yang bagi kita terlihat kurang “pas”. Misalnya, tidak jengkel jika mendengar ucapan teman yang “garing” ataupun menyindir, tidak membesar-besarkan kesalahan orang lain, tidak lekas gusar jika keadaan tidak berjalan seperti yang diharapkan. Kesabaran akan membuat kita hidup berdamai dengan orang lain. Dengan sifat ini kita meniru Allah yang sangat sabar terhadap umat-Nya; Kristus yang begitu sabar terhadap kita yang sering lambat untuk memahami apa yang diajarkan-Nya; dan yang kerap jatuh dalam dosa.

Kasih itu murah hati. Artinya melakukan yang baik bagi orang lain. Kita tidak “sayang” untuk membagikan kepada orang lain, apa yang baik dan yang kita inginkan bagi diri kita sendiri. Kasih itu tidak cemburu, tidak iri hati. Bukankah kita telah melihat betapa banyak contoh, betapa rasa iri telah menghancurkan persahabatan dan merusak tali persaudaraan? Tak heran, St. Thomas menyebut iri hati sebagai ibu dari segala kebencian.

Kasih itu tidak sombong…. Sebab ada banyak dosa melawan kasih yang berakar dari kesombongan, ingin melebihi orang lain dan ingin mendahulukan kehendak sendiri.  Padahal sebaliknya, kerendahan hati adalah dasar bagi semua kebajikan yang lain, terutama kasih. Kasih bersukacita karena kesuksesan orang lain, dan ini memang didahului oleh kerendahan hati untuk mengakui kelebihan orang tersebut. Kasih bersedia mendengarkan orang lain, walaupun itu mensyaratkan kerendahan hati untuk tidak terlalu cepat berkomentar. Kasih bersedia meminta maaf jika melakukan kesalahan dan bersedia memaafkan orang yang bersalah kepada kita. Kerendahan hati menjadi syarat mutlak bagi seseorang untuk dapat mengakui kesalahan dan  meminta maaf, serta  memaafkan  orang lain. Kerendahan hati pulalah yang memungkinkan orang mengusahakan persatuan daripada perpecahan.

Kasih itu menutupi segala sesuatu… sabar menanggung segala sesuatu…. Termasuk di sini adalah belajar untuk tidak mencari-cari kesalahan orang lain. Dan sekalipun kita menemukannya, kita tidak membesar-besarkannya. Meskipun keadaan menjadi runyam karena kesalahan orang lain, kita tidak berkutat menyalahkan orang tersebut, melainkan mengusahakan jalan keluarnya.

Kasih tidak berkesudahan; nubuat akan berakhir; bahasa roh akan berhenti; pengetahuan akan lenyap…. Sungguh, kasihlah yang menghantar kita ke Surga, dan kasih pulalah yang masih terus ada selamanya di sana. Sebab sekalipun kita diberi banyak karunia—bernubuat, mengajar, menyembuhkan, berbahasa roh—tetapi kalau kita tidak punya kasih, semua karunia itu tidak membenarkan kita di hadapan Tuhan (lih. Mat 7:21-23). Sebab iman harus dinyatakan dengan perbuatan kasih agar dapat menyelamatkan (lih. Yak 14-24).  Dan kasih tidak berakhir, tapi justru akan lebih penuh dalam Kerajaan Surga.

Demikianlah tinggal ketiga hal ini, yaitu iman, pengharapan dan kasih, dan yang paling besar di antaranya ialah kasih. Di Surga iman tidak diperlukan lagi, sebab kita sudah melihat Allah dalam keadaan-Nya yang sebenarnya (1 Yoh 3:2). Di Surga, pengharapan pun tidak diperlukan lagi, sebab apa yang kita harapkan telah tercapai, yaitu bahwa kita  berada di dalam Allah dan Allah di dalam kita, dalam arti sepenuhnya (lih. 1Kor 15:28). Namun kasih akan terus ada, sebab Allah adalah Kasih (1Yoh 4:8) dan “bahwasanya untuk selamanya kasih setia-Nya” (Mzm 118:1).

Tuhan Yesus, tumbuhkanlah di dalamku, kasih yang sejati. Bukalah mata hatiku supaya aku dapat melihat kehadiran-Mu di dalam diri sesamaku, sehingga aku dimampukan untuk mengasihi mereka demi kasihku kepada-Mu. Semoga dengan demikian, kelak Engkau mengizinkan aku memasuki kehidupan kekal, yang dipenuhi oleh Kasih-Mu yang tak berkesudahan. Amin.”

Seberapa dalam kucintai sabda Tuhan?

0
Sumber gambar: http://media.ldscdn.org/images/media-library/jesus-christ/jesus-teaching-in-synagogue-olsen-82887-gallery-notice.jpg

[Minggu Biasa III: Neh 8:3-11; Mzm 19:8-15; 1Kor 12:12-30; Luk 1:1-4;4:14-21]

Aku senengnya sama Romo yang itu… soalnya khotbahnya ringkas, cara bicaranya ekspres, jadi Misa cepet selesai…,” demikian komentar salah seorang umat. Komentar spontan yang menggelitik. Benarkah jika kita menginginkan ibadat   yang “cepat selesai”?

Bacaan Pertama hari ini mengisahkan cerita yang sebaliknya. Yaitu ibadat bangsa Israel yang baru saja kembali pulang ke tanah air mereka, setelah bertahun-tahun berada di tanah pembuangan di Babilonia. Setelah tiba, mereka berkumpul untuk bersyukur dan menyembah Tuhan. Imam Ezra membacakan dan menjelaskan isi kitab Taurat yang telah mereka lupakan ketika mereka berada di tanah asing. Sabda Tuhan itu dibacakan, dari pagi sampai tengah hari, pastinya lebih dari satu atau dua jam. Namun umat mendengarkannya dengan sungguh-sungguh. Setelah sabda Tuhan selesai dibacakan, mereka sujud sampai ke tanah, dan bahkan dikatakan bahwa semua orang yang mendengarkannya menangis. Mari kita berhenti sejenak di sini. Kapankah atau pernahkah kita menangis setelah mendengarkan sabda Tuhan dibacakan? Sebab jangan- jangan yang lebih sering terjadi adalah bacaan sabda Tuhan yang dibacakan itu berlalu begitu saja, sedangkan pikiran kita melayang ke tempat yang lain…. Rindukah kita agar Tuhan menyapa kita melalui sabdaNya? Jika ya, apa yang sudah kita lakukan untuk sungguh mendengarkan Dia?

Bacaan Injil hari ini mencatat perkataan Yesus setelah Ia selesai membacakan nas Kitab Yesaya di rumah ibadat, “Pada hari ini genaplah nas tadi sewaktu kamu mendengarnya,” demikian sabda Yesus. Yesus-lah penggenapan janji Allah untuk membebaskan orang-orang yang tertawan dan tertindas dan penglihatan pada orang-orang buta. Yesus-lah yang datang membawa rahmat Tuhan (lih. Luk 4:18-19). Dapatkah penggenapan janji ini kualami, jika aku tidak mendengarkannya? St. Agustinus mengatakan, “Kita harus mendengarkan Injil, seperti seolah-olah Tuhan sendiri yang hadir dan berbicara kepada kita. Kita harusnya tidak berkata, ‘berbahagialah mereka yang dapat melihat Dia’, sebab banyak dari mereka yang melihat Dia [malah] menyalibkan Dia. Dan banyak yang tidak melihatNya telah percaya kepadaNya…” (St. Augustine, Commentary on St. John’s Gospel, 30).

Katekismus—seolah mengulangi ajaran St. Agustinus ini—mengatakan, “… Ia [Kristus] hadir dalam sabda-Nya sebab Dia-lah sendiri yang berbicara ketika Kitab Suci dibacakan di dalam Gereja…” (KGK 1088). Perkataan- perkataan ini menggugah kita untuk memeriksa batin, sejauh mana kita telah mendengarkan sabda Tuhan seperti seolah-olah Tuhan sendiri yang menyampaikannya  kepada kita. Atau, kalau kita ditugaskan untuk membacakan sabda Tuhan ataupun menyanyikan Mazmur dalam liturgi, sejauh mana kita mempersiapkannya dan menyadari bahwa  kita dipakai Tuhan untuk menyuarakan sabda-Nya di tengah umat-Nya? Ah, seandainya kita semua memiliki kesadaran ini, tentunya tak ada orang yang mengobrol atau bermain Hp saat sabda Tuhan dibacakan; dan tak ada orang yang boring (bobo miring) saat homili. Sebab semua umat menyadari bahwa saat itu Tuhan sedang berbicara kepada umat-Nya. Ya, perhatian penuh terhadap sabda Tuhan tidak hanya milik para imam yang membacakan Injil dan menjelaskannya di homili, tetapi juga kepada semua umat—baik para petugas liturgi maupun umat lainnya—yang mendengarkannya. Yaitu, agar kita tidak mendengarkan sabda sambil lalu dan ingin agar cepat berlalu. Tetapi untuk mendengarkannya dengan sepenuh hati, dan kemudian merenungkannya sepanjang hari.  Sebab hal mendengarkan sabda Tuhan ini tidak hanya terbatas pada saat Misa Kudus. Melainkan seharusnya, kita sudah membaca bacaan sabda dalam Misa Kudus itu, bahkan sebelum kita menghadirinya setiap hari, dan kemudian merenungkannya. Sabda Tuhan, walau mungkin sudah pernah kita dengar, tetaplah selalu baru dan dapat menyentuh hati kita dengan cara yang berbeda dalam setiap kesempatan. Jika kita sungguh mengasihi Tuhan, sudah selayaknya kita rindu mendengarkan sabda-Nya dan memperoleh pemahaman yang lebih mendalam tentangnya. Sebab dengan demikian, kita dapat semakin mengenal dan mengasihi Dia, dan karena itu, kita semakin terdorong untuk mengasihi sesama, terutama sesama anggota Tubuh Kristus.

Sabda-Mu ya Tuhan, adalah Roh dan kehidupan…” demikian kalimat Mazmur yang meresap ke dalam hatiku hari ini. “Ya Tuhan, semoga Engkau berkenan akan renungan hatiku, dan menyalakan di dalamnya Api cinta Roh Kudus-Mu. Amin.”

Doa ibu besar kuasanya

0
Sumber gambar: http://www.canadiancatechist.com/wp-content/uploads/2015/12/00-00-vasili-nesterenko-the-marriage-feast-at-cana-in-gallilee-2001.jpg

[Minggu Biasa II: Yes 62:1-5; Mzm 96:1-10; 1Kor 12:4-11; Yoh 2:1-11]

Sebagai intensi Misa Kudus hari ini, kita turut bersyukur bersama dengan salah seorang saudara kita yang mengucap syukur atas terkabulnya permohonan melalui doa novena Tiga Salam Maria…,” demikian ucap Romo Paroki kami di salah satu perayaan Ekaristi. Mungkin ungkapan syukur semacam ini telah sering kita dengar, atau malah kitapun pernah mengajukannya. Tak bisa dipungkiri, besar kuasa doa Bunda Maria, yang memang bukan baru terjadi di masa ini, tetapi juga di masa ketika ia masih hidup di dunia. Bacaan Injil hari ini menyatakannya, yaitu di pesta perkawinan di Kana. Ketika itu, Bunda Maria melihat bahwa pasangan itu kekurangan anggur. Ia lalu berkata kepada Yesus, “Mereka kehabisan anggur.” Suatu kalimat sederhana, tanpa meminta, tanpa mendesak. Tetapi selanjutnya seolah ada seruan tanpa kata, yang mungkin hanya dipahami oleh Tuhan Yesus, “Tetapi aku percaya kepadaMu, Anakku. Aku menaruh harap kepadaMu. Yesus, aku tak meminta apapun untuk diriku sendiri, tetapi ini untuk mereka.” Dan kita semua mengetahui bagaimana kisah selanjutnya. Yesus menanggapi permohonan ibu-Nya, dan melakukan mukjizat-Nya yang pertama.

Dari perikop Injil Yohanes ini, kita mengetahui bahwa Bunda Maria adalah seorang ibu yang peka akan kebutuhan sesamanya. Dan Tuhan menghendaki bahwa mukjizat Yesus yang pertama itu didahului oleh permohonan ibu-Nya, yang tertuang dalam kalimat pendek, “Mereka kehabisan anggur”. Mungkin kita bertanya-tanya, mengapa kalimat singkat semacam itu menjadi doa yang begitu besar kuasanya? St. Alfonsus Liguori dalam salah satu khotbahnya mengatakan, “Mengapa doa-doa Maria begitu berdaya guna di hadapan Tuhan? [Sebab] doa-doa para orang kudus [yang lain] adalah doa-doa dari para hamba, tetapi doa-doa Maria adalah doa dari seorang Ibu, yang dengan demikian berdaya guna dan besar kuasanya. Karena kasih Yesus kepada ibu-Nya tidaklah terbatas, maka permohonan ibu-Nya tidaklah mungkin tidak didengarkan… Tak ada seorang pun yang meminta Bunda Maria untuk memohon kepada Puteranya atas nama pasangan yang bermasalah itu. Di atas semua itu, hati Maria, yang tak pernah gagal untuk berbelas kasih kepada orang yang tidak beruntung… mendorongnya untuk mengambil bagi dirinya sendiri, tugas untuk memohon mukjizat kepada Puteranya, meskipun tidak diminta…. Jika Bunda Maria bertindak demikian tanpa diminta, apa yang akan terjadi, jika mereka memintanya?” (St. Alphonsus Liguori, Abbreviated Sermons, 48: On Trust in the Mother of God).

Ya, apa yang terjadi, jika kita sebagai umat beriman mau memohon kepada Bunda Maria untuk mendoakan kita? Tentu, ia akan bersegera membawa permohonan kita ke hadapan Kristus Puteranya. Memang yang mengabulkan permohonan kita tetaplah Tuhan saja, tetapi alangkah beruntungnya kita, jika bunda-Nya turut menjadikan ujud doa kita sebagai permohonannya sendiri, sebagaimana yang dilakukannya di pesta di Kana itu. Sebab walau bisa saja kita tidak “kekurangan anggur”, tetapi adakalanya kita kekurangan cinta kasih, dan manisnya kehidupan. Mungkin ada saatnya hidup kita terasa rutin dan hambar, entah dalam perkawinan, keluarga maupun di tempat kerja, di sekolah, ataupun di gereja. Sejujurnya, hanya Tuhan yang dapat mengubah hal yang biasa-biasa saja menjadi sesuatu yang sungguh berarti dan mendatangkan kebahagiaan. Hanya Tuhan yang dapat mengubah duka menjadi suka, pahit getir kehidupan menjadi pengalaman yang memperkaya iman. Bunda Maria telah sejak awal memahami pergumulan hidup di dunia. Kini di Surga ia terus menerus mendoakan kita, dan doa syafaatnya menjadi pelayanannya yang tertinggi yang diberikannya kepada Allah. Itulah karunia yang diberikan Allah kepada Bunda Maria, dan juga kepada para kudus-Nya. Bunda Maria menjadi pendoa bagi kita, yaitu anak-anaknya yang masih berziarah di dunia ini. Sebab Tuhan Yesus memang membagi-bagikan karunia-Nya untuk kepentingan bersama (lih. 1Kor 12:4-7). Ia mengikutsertakan  anggota-anggota Tubuh-Nya untuk turut melaksanakan karya keselamatan-Nya. Ia memberikan karunia kepada tiap-tiap orang secara khusus, seperti yang dikehendaki-Nya (1Kor 12:11), demi kemuliaan nama-Nya. Dan seperti Bunda Maria, jika kita telah mengalami penyertaan dan pertolongan Tuhan, kitapun dipanggil untuk menjadi pendoa bagi mereka yang membutuhkan, supaya mereka pun mengalami belas kasih-Nya.

Maka marilah kita mensyukuri karya agung Tuhan untuk menyelamatkan kita. Kita bersyukur atas berbagai karunia yang diberikan-Nya kepada anggota-anggota Gereja demi kebaikan bersama. Termasuk di dalamnya, kita bersyukur untuk karunia-Nya kepada Bunda Maria, yang menjadikannya pendoa syafaat bagi kita semua. Dengan melihat kepada Bunda Maria, yang telah menerima penggenapan janji keselamatan Allah, kita pun terdorong untuk mengikuti teladan imannya. Teladan iman ini, dimulai dengan ketaatan dan kesediaan untuk melaksanakan kehendak dan perintah Tuhan. Bukankah Bunda Maria telah lebih dahulu menunjukkan ketaatan imannya ketika ia menerima sabda Allah yang disampaikan oleh malaikat itu? Kini, Bunda Maria mendorong kita untuk taat kepada Tuhan, dengan berpesan, “Apa yang dikatakan kepadamu, buatlah itu!” (Yoh 2:5) Dan dengan demikian, kita berharap bahwa Tuhan Yesus akan mengubah apa yang hambar dalam hidup kita menjadi apa yang manis bagi kemuliaan nama Tuhan!

Kami mohon ya, Tuhan, semoga kami dapat memperoleh pertolongan dari doa-doa syafaat Bunda Maria. Agar kami, yang diperkaya oleh bantuannya, dapat dilepaskan dari segala marabahaya dan memperoleh rahmat kasih dan kesatuan di dalam Engkau, Tuhan dan Juruselamat kami. Amin.

Keep in touch

18,000FansLike
18,659FollowersFollow
32,900SubscribersSubscribe

Artikel

Tanya Jawab