Home Blog Page 258

Pembaptisan bayi/ anak-anak

16

Pertanyaan:

Saya dan istri adalah katolik. Saya dibaptis tidur dan istri saya dibaptis berdiri. Kini kami mempunyai anak berusia satu tahun. Saya merencanakan anak saya untuk dibaptis pada usia 5 tahun agar dia bisa merasakan bagaimana rasanya dibaptis. Sebenarnya ini juga pengalaman saya pada saat kecil dulu. Saya dibaptis pada usia sekitar 5 – 6 tahun. Dan masih sangat membekas diingatan saya pada saat dibaptis. Nah, hal inilah yang ingin saya lakukan pada anak saya. Tetapi pertanyaannya adalah, saya pernah membaca suatu artikel dan forum – forum Katolik lainnya, ada baiknya agar anak secepat mungkin dibaptis agar terlepas dari dosa asal. Tetapi saya kok jadi berpikir begini, jika anak yang masih bayi dibaptis, dia pasti tidak mempunyai suatu pengalaman bagaimana indahnya dibaptis, karena masih bayi jadi tidak merasakan apa – apa. Jadi bagaimana menurut pandangan gereja tentang pertanyaan saya ini.. Apakah sebaiknya anak – anak secepatnya dibaptis walau masih bayi dan tidak merasakan apa – apa, atau menunggu dia cukup besar baru dibaptis agar dia bisa merasakan indahnya saat dibaptis? Terima kasih atas penjelasannya.

Nico

Jawaban:

Shalom Nico,

Tuhan Yesus mensyaratkan Pembaptisan bagi keselamatan (lih. Yoh 3:5; Mrk 16:16). Rasul Paulus mengajarkan kepada kita bahwa kita semua lahir dengan membawa dosa asal Adam dan karenanya membutuhkan Pembaptisan (lih. Rom 5:18-19). Yesus mengajarkan bahwa anak- anak tidak boleh dilarang untuk datang kepada-Nya (lih. Mrk 10:14). Para rasul membaptis semua anggota keluarga (Kis 16:15, 33; 1 Kor 1:16); dan ini termasuk anak- anak dan bayi. Selanjutnya dari tulisan para Bapa Gereja kita mengetahui bahwa praktek pembaptisan bayi sudah dilakukan sejak jaman para rasul. Fakta bahwa anak- anak mungkin kurang dalam merasakan sesuatu atau menggunakan akal budi mereka, tidaklah menghalangi mereka untuk tergabung dalam Perjanjian Baru melalui Pembaptisan. Sama seperti pada Perjanjian Lama, orang tua dapat membawa bayi mereka ke bait Allah agar sang bayi dapat masuk ke dalam perjanjian tersebut lewat sunat; demikian pula dalam Perjanjian Baru orang tua dapat menghantar anaknya untuk menjadi anggota keluarga Allah dalam Perjanjian Baru melalui Pembaptisan.

St. Cyprian (250) mengajarkan, “Baptisan yang menyampaikan penghapusan dosa asal harus dilakukan segera dan tidak ditunda.”[i] Likewise, St. Augustinus (422), menekankan, bahwa pembaptisan sebagai “kematian kita dengan Kristus terhadap dosa dan kebangkitan kita kepada kehidupan yang baru”, memberikan pondasi terhadap rahmat Baptisan kepada semua orang, baik dewasa maupun anak- anak, sebab semua orang telah lahir dengan dosa asal [ii]. Maka St. Cyprian and St. Augustinus secara jelas mengajarkan agar bayi/ anak- anak segera dibaptis. Hal ini telah menjadi praktek yang dilakukan oleh para rasul, seperti yang dilakukan kepada Lydia dan Krispus (lih. Kis 16:15 : 18:8)

Dengan prinsip bahwa kita dilahirkan dengan dosa asal dan bahwa dosa asal tersebut hanya dapat dihapuskan melalui Pembaptisan agar kita dapat masuk dalam Kerajaan Surga, maka sudah selayaknya para orang tua segera membaptis bayinya setelah kelahiran mereka, dan tidak perlu menunggu sampai beberapa tahun agar mereka dapat ‘merasakan’ indahnya Baptisan. Iman kita tidak tergantung dari perasaan tetapi lebih kepada realitas pemberian rahmat Allah pada saat Pembaptisan itu. Alasan perasaan anak menjadi sekunder, jika dibandingkan dengan kenyataan bahwa dengan secepatnya anak menerima Pembaptisan, maka ia secepat mungkin menerima rahmat keselamatan. Dengan demikian orang tua tidak menyesal, jika sampai misalnya, karena suatu musibah, sang anak meninggal pada usia sangat muda. Jika anak itu belum sempat dibaptis, tentu orang tua akan menyesalinya, karena belum sempat membawa anak itu untuk menerima karunia Allah yang tak terhingga yaitu keselamatan kekal dalam kerajaan surga.

Demikian tanggapan saya atas pertanyaan anda, semoga berguna.

Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
Ingrid Listiati- www.katolisitas.org


[i] Cf. Cyprian, Epistles 64 as quoted in The Sudy of Liturgy, edited by Cheslyn Jones, Edward Yarnold SJ, p. 123

[ii] Cf. St. Augustine, Enchiridion, ch. 42,43,45.

Pekan Doa Untuk Kesatuan Umat Kristiani

0

DEWAN KEPAUSAN UNTUK MEMAJUKAN KESATUAN UMAT KRISTIANI

Bahan-bahan untuk

PEKAN DOA UNTUK KESATUAN UMAT KRISTIANI

dan untuk sepanjang tahun 2009
“Agar mereka menjadi satu dalam tangan-Mu” (Yeh. 37:17)

Disiapkan dan diterbitkan bersama oleh:
Dewan Kepausan Untuk Memajukan Kesatuan Umat Kristiani
dan Komisi Faith and Order Dewan Gereja-Gereja Sedunia

Catatan mengenai kutipan-kutipan Kitab Suci:
Kutipan-kutipan Kitab Suci yang dicantumkan dalam buku ini diambil dari Alkitab Deuterokanonika terbitan Lembaga Alkitab Indonesia – Lembaga Biblika Indonesia.

Kepada Mereka yang mengorganisasi Pekan Doa untuk Kesatuan Umat Kristiani

Mengupayakan Kesatuan: Sepanjang Tahun

Menurut tradisi, waktu untuk menyelenggarakan Pekan Doa Untuk Kesatuan Umat Kristiani di belahan utara adalah 18-25 Januari. Tanggal-tanggal itu diusulkan oleh Paul Wattson pada tahun 1908 yang meliputi hari-hari antara Pesta Santo Petrus dan Pesta Santo Paulus, dan karena itu memiliki suatu makna simbolik. Di belahan selatan, di mana Januari merupakan hari libur, Gereja-Gereja sering memilih hari-hari lain untuk menyelenggarakan Pekan Doa, misalnya sekitar Pentakosta (yang disarankan oleh gerakan Faith and Order pada tahun 1926), yang juga merupakan tanggal simbolik oleh kesatuan Gereja.

Dengan memperhatikan kelonggaran mengenai tanggal, kami mendorong Anda untuk memahami bahan yang disajikan dalam buku ini sebagai suatu undangan untuk menemukan kesempatan-kesempatan yang tepat sepanjang tahun 2009 untuk mengungkapkan tingkat persekutuan yang sudah dihayati oleh Gereja-Gereja, dan untuk berdoa bersama guna memohon kesatuan penuh yang dikehendaki oleh Kristus.

Menyesuaikan Teks

Bahan ini ditawarkan dengan pengertian bahwa, kalau mungkin, ia disesuaikan untuk penggunaan tingkat lokal. Dalam melakukan penyesuaian, haruslah diperhitungkan kebiasaan liturgis dan devosional setempat. Penyesuaian seperti itu hendaknya dilaksanakan secara ekumenis. Di sejumlah tempat badan/lembaga-lembaga ekumenis sudah ditetapkan untuk menyesuaikan teks ini. Di tempat-tempat lain, kami berharap bahwa kebutuhan untuk menyesuaikan bahan ini akan menjadi suatu dorongan untuk menciptakan badan/lembaga-lembaga seperti itu.

Menggunakan Bahan Pekan Doa

  • Untuk Gereja-Gereja dan komunitas-komunitas Kristiani yang melaksanakan Pekan Doa bersama-sama lewat suatu ibadat bersama, hendaknya disusun tata perayaan ibadat yang ekumenis.
  • Gereja-Gereja dan komunitas-komunitas Kristiani dapat juga memadukan bahan-bahan Pekan Doa ini ke dalam ibadat-ibadat mereka sendiri. Doa-doa dari ibadat ekumenis “delapan hari” ini beserta doa-doa tambahannya dapat digunakan sebagai pilihan yang tepat untuk disisipkan ke dalam perayaan ibadat yang bersangkutan.
  • Komunitas-komunitas yang selama Pekan Doa ini melaksanakan ibadat setiap hari dapat mengambil bahan ibadat yang disediakan pada bagian “Renungan Alkitab dan Doa-doa Selama Delapan Hari”.
  • Mereka yang selama Pekan Doa ini ingin melaksanakan pendalaman Kitab Suci dapat menggunakan teks-teks biblis dan renungan yang disediakan pada bagian “Renungan Alkitab dan Doa-doa Selama Delapan Hari”, [hlm. …] sebagai acuan. Dalam setiap pendalaman, diskusi dapat langsung mengantar kepada doa permohonan sebagai penutup acara.
  • Bagi mereka yang selama Pekan Doa ini ingin berdoa secara pribadi, teks-teks biblis dan renungan yang disediakan pada bagian “Renungan Alkitab dan Doa-doa Selama Delapan Hari”, [hlm. …] dapat sangat bermanfaat untuk memusatkan doa-doa mereka. Mereka dapat sungguh merasakan bahwa mereka bersekutu dengan orang-orang lain di seluruh dunia yang sedang berdoa agar kesatuan Gereja Kristus semakin nyata.

Yehezkiel 37:15-28

[15] Firman Tuhan datang kepadaku, [16] “Hai engkau anak manusia, ambillah sepotong papan dan tulislah di atasnya: Yehuda dan orang-orang Israel yang bersekutu dengan dia. Kemudian ambillah papan yang lain dan tulislah di atasnya: Yusuf — papan Efraim — dan seluruh kaum Israel yang bersekutu dengan dia. [17] Lalu gabungkanlah kedua papan itu menjadi satu, sehingga keduanya menjadi satu dalam tanganmu.

[18] Kalau teman-teman sebangsamu bertanya kepadamu, ‘Tidakkah engkau bersedia memberitahukan kepada kami, apa artinya ini,’ [19] katakanlah kepada mereka, ‘Beginilah firman Tuhan Allah: Aku mengambil papan Yusuf — yang ada dalam tangan Efraim — beserta suku-suku Israel yang bersekutu dengan dia dan menggabungkannya dengan papan Yehuda, dan Aku akan menjadikan mereka satu papan, sehingga mereka menjadi satu dalam tangan-Ku. [20] Dan sementara engkau memegang papan-papan yang kautulisi itu dalam tanganmu di hadapan mereka, [21] katakanlah kepadanya: Beginilah firman Tuhan Allah: Sungguh, Aku menjemput orang Israel dari tengah bangsa-bangsa, ke mana mereka pergi; Aku akan mengumpulkan mereka dari segala penjuru dan akan membawa mereka ke tanah mereka. [22] Aku akan menjadikan mereka satu bangsa di tanah mereka, di atas gunung-gunung Israel, dan satu raja akan memerintah mereka seluruhnya; mereka tidak lagi akan menjadi dua bangsa dan tidak lagi akan terbagi menjadi dua kerajaan. [23] Mereka tidak lagi akan menajiskan dirinya dengan berhala-berhala atau dewa-dewa mereka yang menjijikkan atau dengan semua pelanggaran mereka. Tetapi Aku akan melepaskan mereka dari segala penyelewengan mereka, dengan mana mereka berbuat dosa, dan mentahirkan mereka, sehingga mereka akan menjadi umat-Ku dan Aku akan menjadi Allahnya. [24] Maka hamba-Ku Daud akan menjadi rajanya, dan mereka semuanya akan mempunyai satu gembala. Mereka akan hidup menurut peraturan-peraturan-Ku dan melakukan ketetapan-ketetapan-Ku dengan setia. [25] Mereka akan tinggal di tanah yang Kuberikan kepada hamba-Ku Yakub, di mana nenek moyang mereka tinggal; sungguh, mereka, anak-anak mereka, dan cucu cicit mereka akan tinggal di sana untuk selama-lamanya dan hamba-Ku Daud menjadi raja mereka untuk selama-lamanya. [26] Aku akan mengadakan perjanjian damai dengan mereka, dan itu akan menjadi perjanjian yang kekal dengan mereka. Aku akan memberkati mereka dan membuat mereka banyak dan memberikan tempat kudus-Ku di tengah-tengah mereka untuk selama-lamanya. [27] Tempat kediaman-Ku pun akan ada pada mereka dan Aku akan menjadi Allah mereka dan mereka akan menjadi umat-Ku. [28] Maka bangsa-bangsa akan mengetahui bahwa Aku, Tuhan, menguduskan Israel, pada saat tempat kudus-Ku berada di tengah-tengah mereka untuk selama-lamanya.”

Beberapa Catatan tentang Pekan Doa 2009

Tema Biblis

Pekan Doa untuk Kesatuan Umat Kristiani 2009 berakar dalam pengalaman Gereja-Gereja di Korea. Dalam konteks perpecahan nasional yang sedang melanda Korea, Gereja-Gereja di Korea memetik inspirasi dari Nabi Yehezkiel, yang juga hidup dalam suatu bangsa yang terpecah-belah secara memprihatinkan dan mendambakan kesatuan.

Baik sebagai nabi maupun sebagai imam, Yehezkiel dipanggil oleh Allah pada usia yang masih muda, yakni 30 tahun. Bekerja dari tahun 594 sampai dengan 571 SM, ia sangat dipengaruhi oleh pembaruan-pembaruan religius dan politis yang telah dirintis oleh Raja Yosia pada tahun 621 SM. Raja Yosia telah berusaha menghapuskan warisan buruk dari penaklukan Assyria atas Yehuda, lewat pembaruan-pembaruan yang memugar hukum dan ibadat sejati kepada Allah Israel. Tetapi, sesudah Yosia gugur dalam peperangan, putranya Raja Yoyakim mengagungkan Mesir dan menyembah beragam ilah yang merajalela di sana. Para nabi yang berani mengecam Yoyakim ditindas dengan kejam: Uria dianiaya dan Yeremia dibinasakan. Sesudah penyerbuan Babel dan penghancuran bait Allah pada tahun 587 SM, para pemimpin dan para guru bangsa – di antara mereka adalah Yehezkiel yang masih muda – ditangkap dan dibawa ke Babel. Di sana, seperti Yeremia, Yehezkiel mengecam para “nabi” yang memberikan harapan-harapan yang tidak realistis, dan karena hal ini ia harus menanggug kebencian dan penghinaan dari sesama orang Israel di pembuangan.

Tetapi, dalam penderitaan yang sedemikian besar, cinta Yehezkiel terhadap bangsanya semakin berkembang. Ia mengecam para pemimpin yang bertindak melawan perintah Allah; ia juga berusaha memimpin bangsanya kembali kepada Allah, dengan menekankan kesetiaan Allah kepada perjanjian-Nya dan solidaritas dengan umat Allah. Di atas semuanya, dalam situasi yang tampaknya tanpa harapan, Yehezkiel tidak putus asa tetapi memaklumkan suatu amanat harapan: maksud Allah untuk membarui dan menyatukan umat Allah masih belum dapat diwujudkan. Dalam usahanya ini, Yehezkiel didorong oleh dua penglihatan. Yang pertama adalah penglihatan yang sudah sangat lazim yakni lembah yang penuh dengan tulang-tulang kering yang, berkat tindakan Roh Allah, dibangkitkan dari kematian kepada kehidupan (Yeh. 37:1-14).

Bahan-bahan Pekan Doa tahun ini didasarkan pada penglihatan Yehezkiel yang kedua, yakni penglihatan tentang dua potong kayu, yang melambangkan dua kerajaan Israel yang terpecah-belah. Nama dua belas suku asli dalam kerajaan yang terpecah itu (dua di Utara, dan sepuluh di Selatan) tertulis pada kedua potong kayu, yang kemudian dipadukan kembali menjadi satu (Yeh. 37:15-23).

Menurut Yehezkiel, perpecahan bangsa Israel itu mncerminkan – dan merupakan akibat dari – keberdosaan serta pengasingan mereka dari Allah. Mereka dapat menjadi satu bangsa lagi dengan membuang dosa-dosa mereka, dengan menjalani pertobatan, dan dengan berpaling kembali kepada Allah. Tetapi, akhirnya, Allah sendirilah yang menyatukan umat Allah dengan memurnikan, membarui, dan membebaskan mereka dari perpecahan mereka. Bagi Yehezkiel, kesatuan ini bukan hanya penyatuan kelompok-kelompok yang sebelumnya terpecah-belah tetapi, lebih dari itu, merupakan suatu ciptaan baru, yakni lahirnya suatu bangsa baru yang akan menjadi tanda pengharapan bagi bangsa-bangsa lain dan bagi seluruh umat manusia.

Tema pengharapan juga diungkapkan dalam teks lain yang sangat disayangi oleh Gereja-Gereja di Korea, yakni Wahyu 21:3-4. Ayat-ayat ini menunjuk kepada pemurnian umat Allah, untuk mewujudkan damai sejati, rekonsiliasi, dan kesatuan yang hanya dapat ditemukan di tempat di mana Allah tinggal, “Ia akan tinggal bersama-sama dengan mereka sebagai Allah mereka. Mereka akan menjadi umat-Nya dan Allah sendiri akan menyertai mereka; Ia akan menghapus segala air mata dari mata mereka. Maut tidak akan ada lagi; tidak akan ada lagi perkabungan, atau ratap tangis …”

Tema-tema biblis inilah – kesatuan sebagai sesuatu yang dikehendaki Allah bagi umat-Nya; kesatuan sebagai anugerah Allah, yang menuntut pertobatan dan pembaruan; kesatuan sebagai suatu ciptaan baru; semua ini membangkitkan pengharapan bahwa umat Allah masih dapat disatukan; inilah yang telah mengilhami Gereja-Gereja di Korea dalam mempersembahkan bahan-bahan untuk Pekan Doa tahun 2009 ini.

Tema Teologis

Pada tahun 2009, umat Kristiani di seluruh dunia akan berdoa untuk memohon kesatuan, “agar mereka menjadi satu dalam tanganmu” (Yeh. 37:17). Yehezkiel – nama yang berarti “Allah membuatnya kuat” – dipanggil untuk membangkitkan pengharapan dalam hati bangsanya yang dirundung situasi religius dan politis yang memprihatinkan menyusul jatuhnya Israel dan pendudukan oleh musuh, serta pembuangan bangsa orang dari antara bangsanya.

Kelompok lokal dari Korea mendapati bahwa teks Yehezkiel itu memberikan beberapa paralel yang kuat antara situasi mereka sendiri dalam suatu negara yang terpecah-belah dan situasi kekristenan yang juga terpecah-belah. Kata-kata Yehezkiel memberi mereka pengharapan bahwa Allah akan menghimpun umat-Nya menjadi satu, dengan memanggil mereka menjadi milik Allah sendiri, dan dengan memberkati mereka untuk membuat mereka menjadi suatu bangsa yang kuat. Suatu pengharapan baru akhirnya dibangkitkan, yakni bahwa Allah akan menciptakan suatu dunia yang baru. Sama seperti dalam teks Yehezkiel, di mana keberdosaan tampak dalam perpecahan bangsa Israel yang dilecehkan lewat berhala dan pelanggaran, demikian juga keberdosaan tampak dalam bentuk perpecahan umat Kristiani yang telah mengakibatkan skandal besar dalam dunia dewasa ini.

Dengan membaca teks dari Perjanjian Lama ini, umat Kristiani dapat bercermin bagaimana kita dapat memahami penerapannya pada situasi perpecahan kita sendiri. Khususnya kita melihat bagaimana Allah menjadi Dia yang memulihkan kesatuan, yang mendamaikan umat dan menciptakan suatu situasi yang baru. Peran Israel yang disatukan, diampuni, dan dimurnikan menjadi suatu tanda pengharapan bagi seluruh dunia.

Seperti dicatat di atas, nubuat tentang dua potong kayu yang digabungkan menjadi satu ini adalah nubuat kedua yang ditemukan dalam Yehezkiel 37. Nubuat pertama, yang barangkali lebih familiar bagi Gereja-Gereja adalah penglihatan tentang tulang-tulang kering yang menjadi hidup kembali berkat tindakan Roh Allah. Dalam kedua nubuat ini Allah dilihat sebagai sumber kehidupan, pencipta suatu awal yang baru. Dalam nubuat pertama, Roh Allah adalah roh kehidupan. Dalam nubuat kedua, Allah sendiri menciptakan kesatuan, rekonsiliasi, dan damai di tengah suatu bangsa yang terpecah-belah. Dengan kata lain kehidupan baru diberikan lewat kesatuan dua pihak yang terpecah.

Di sini, umat Kristiani dapat melihat suatu pralambang yang menggambarkan apa yang akan diwujudkan oleh Kristus, yakni kehidupan baru yang datang lewat penaklukan kematian, dalam ketaatan kepada kehendak Bapa yang menyelamatkan. Dari dua potong kayu yang membentuk salib-Nya, Yesus mendamaikan kita dengan Allah; dan dengan ini, umat manusia dicurahi pengharapan baru. Kendati kedosaan kita, kendati kekerasan dan peperangan kita, kendati kesenjangan antara kaya dan miskin, kendali penyalahgunaan kita atas ciptaan, kendali bencana dan penderitaan, kendati diskriminasi, dan kendati adanya ketidak-satuan serta perpecahan kita, Yesus Kristus – lewat tangan-Nya yang terentang di salib – merangkul seluruh ciptaan dan memberikan shalom Allah kepada kita. Dalam tangan-Nya kita menjadi satu, seolah-olah kita ditarik kepada Dia yang ditinggikan pada salib.

Dari situasi suatu negara yang terpecah-belah tetapi memiliki kemauan untuk mengatasi tidak hanya perpecahan politis tetapi juga perpecahan di kalangan Gereja-Gereja Kristiani, Gereja-Gereja Korea mengusulkan tema untuk Pekan Doa 2009, “Agar mereka menjadi satu dalam tangan-Mu.” Mereka mendapati bahwa pengharapan baru akan lahir dari permenungan mereka tentang tindakan Allah untuk mendamaikan dan membawa shalom kepada umat Allah.

Bahan-bahan untuk Delapan Hari

Bertolak dari teks sentral yang diambil dari Yehezkiel, renungan kita selama “delapan hari” Pekan Doa untuk Kesatuan Umat Kristiani mengantar kita kepada kesadaran yang lebih mendalam tentang bagaimana kesatuan Gereja ini juga bermanfaat untuk pembaruan komunitas umat manusia. Dari kesadaran ini muncullah suatu tanggung jawab berat, yakni bahwa semua orang yang mengakui Kristus sebagai Tuhan hendaknya berusaha memenuhi doa-Nya “agar mereka semua menjadi satu supaya dunia percaya bahwa Engkau telah mengutus Aku” (Yoh. 17:21).

Itulah sebabnya rangkaian delapan hari ini dimulai dengan suatu renungan mengenai kesatuan umat Kristiani. Kita diajak merenungkan perpecahan ajaran dan sejarah perpecahan – kadang-kadang bahkan kebencian yang memberi sandungan – di kalangan umat Kristiani. Didukung oleh renungan ini, kita berdoa agar Allah, yang menghembuskan roh kehidupan ke dalam tulang-tulang kering dan yang mewujudkan kesatuan kita di dalam tangan-Nya di tengah keanekaragaman, akan menghembuskan kehidupan dan rekonsiliasi atas kekeringan dan perpecahan kita dewasa ini. Pada hari pertama ini, dan pada setiap hari selama delapan hari itu, kita diundang untuk berdoa bagi dunia kita yang sungguh memerlukan rekonsiliasi; khususnya, kita diundang untuk sungguh peduli akan peran yang akan dimainkan oleh kesatuan umat Kristiani dalam mewujudkan rekonsiliasi ini.

Pada hari kedua Gereja-Gereja berdoa untuk mengatasi dan mengakhiri perang serta kekerasan. Kita berdoa agar, di tengah macam-macam konflik, orang-orang Kristiani sebagai murid Pangeran Perdamaian dapat mewujudkan suatu rekonsiliasi yang berakar dalam pengharapan. Hari ketiga menawarkan suatu renungan mengenai kesenjangan yang menganga antara orang-orang kaya dan orang-orang miskin. Keterikatan kita kepada uang, sikap kita terhadap orang miskin, merupakan suatu petunjuk mengenai kadar kemuridan kita dalam mengikuti Yesus, yang datang ke tengah-tengah kita untuk membebaskan kita dan untuk memaklumkan kabar baik kepada orang-orang miskin, pembebasan kepada orang-orang tawanan, dan keadilan bagi semua orang.

Pada hari keempat kita berdoa agar semua orang Kristiani menyadari bahwa hanya dengan bersama-sama mereka akan mampu menjaga anugerah yang diberikan Allah kepada kita, merawat udara yang kita hirup, melindungi bumi yang menghasilkan buah dan makhluk yang memuliakan penciptanya. Pada hari kelima kita berdoa demi berakhirnya prasangka dan diskriminasi yang mewarnai masyarakat kita dewasa ini. Sebagaimana kita tahu, martabat kita datang dari Allah. Demikian juga kita tahu bahwa kesatuan kita sebagai orang Kristiani memberi kesaksian bahwa hanya satulah Dia yang menciptakan setiap orang dari kita sebagai makhluk unik yang dikasihi Allah. Kerajaan yang harus kita bangun adalah kerajaan keadilan dan cinta yang menghormati perbedaan, sebab dalam Kristus kita semua adalah satu.

Pada hari keenam, dalam doa kita mengenang semua orang yang menderita dan semua orang yang melayani mereka. Ayat-ayat mazmur membantu kita untuk menyadari bahwa bahasa yang kita ungkapkan dalam ratap tangis kepada Allah di saat kita dirundung sakit dan amarah dapat mengungkapkan hubungan yang erat dan setia dengan Allah. Tanggapan penuh kasih dari orang-orang Kristiani kepada mala petaka yang menimpa orang-orang yang menderita merupakan tanda Kerajaan Allah. Bersama-sama, Gereja-Gereja dapat sungguh membantu mendapatkan bantuan yang dibutuhkan oleh orang sakit, baik bantuan material maupun bantuan spiritual.

Pada hari ketujuh orang-orang Kristiani disadarkan bahwa mereka menghadapi pluralisme yang mendambakan kesatuan dalam Allah. Tanpa kesatuan ini akan sulitlah membangun suatu kerajaan damai bersama semua orang yang berkehendak baik. Ujud-ujud doa kita mencapai kepenuhannya pada hari kedelapan, yakni ketika kita berdoa agar semangat Sabda Bahagia mengatasi roh dunia ini. Orang-orang Kristiani menyandang harapan bahwa segala sesuatu akan dibarui dalam tatanan baru yang dibangun oleh Kristus. Hal ini memampukan orang-orang Kristiani menjadi pembawa harapan dan pembangun rekonsiliasi di tengah-tengah peperangan, kemiskinan, diskriminasi, dan konteks-konteks lain di mana manusia menderita dan segala makhluk merintih.

Persiapan Pekan Doa untuk Kesatuan Umat Kristiani 2009

Naskah Dasar

Draft pertama dari bahan Pekan Doa tahun ini disiapkan oleh suatu kelompok yang beranggotakan wakil-wakil dari Konferensi Uskup Korea (Catholic Bishops’ Conference of Korea – CBCK) and Dewan Nasional Gereja-Gereja Korea (National Council of Churches in Korea – NCCK), yakni: Dr Chai Soo-il, professor pada Universitas Han Shin, PROK / NCCK; Dr Kim Woong-Tae, Presiden Sekolah Tinggi Dong-Sung, CBCK; Dr Shim Kwang-Sup, professor pada Methodist Theological Seminary, KMC, NCCK; Nn. Jung Hae-Sun, sekretaris eksekutif, NCCK; Fr. Kang Diego, anggota misionaris Consolata di Korea, CBCK; Nn. Han Mi-Sook, anggota gerakan Focolare, Korea, CBCK. Kami sungguh-sungguh berterima kasih kepada mereka atas kerja keras dan ketajaman visi mereka.

Pertemuan Persiapan Internasional di Marseilles, Prancis

Selama beberapa tahun, salah seorang anggota tim persiapan internasional untuk Pekan Doa terus mendesak agar tim menyelenggarakan pertemuannya di Marseilles. Ia bercerita tentang gerakan sosial yang amat menarik di kota ini: suatu kelompok yang beranggotakan para pemimpin agama dari berbagai denominasi, iman, dan kebudayaan telah dibentuk di dekat kantor walikota. Kelompok ini memiliki suatu cita-cita untuk membangun komunikasi yang akrab antara kelompok-kelompok iman, mengembangkan relasi, dan mencegah polarisasi antar aneka kelompok penduduk di kota ini.

Organisasi ini dikenal sebagai Marseille Espérance (Harapan Marseilles). Sambil bergandeng tangan, para anggota kelompok ini telah berbicara lantang melawan kegiatan-kegiatan baik lokal maupun internasional yang mengandung unsur intoleransi atau kebencian terhadap agama (pelecehan makam, serangan 11 September di New York, dll.). Kelompok ini sungguh percaya bahwa persatuan mereka yang membela toleransi telah membantu mencegah sejumlah kerusuhan lintas-iman dan lintas-budaya yang telah melanda kota-kota Eropa. Karena tidak mau mengikatkan diri pada salah satu partai politik, mereka selalu tinggal diam pada masa pemilihan. (Sekularisme adalah asas yang ketat dari kehidupan publik Prancis.) Dengan menyerahkan dialog teologis kepada kelompok-kelompok lain, mereka memusatkan perhatian utamanya pada perdamaian di seluruh kota.

Demikianlah, pada 24-29 September 2007, tim persiapan internasional mengadakan pertemuan di Centre Notre Dame du Roucas, yang dikelola oleh Chemin Neuf, suatu komunitas Katolik Roma yang sangat ramah dengan suatu panggilan ekumenis. Tim berhimpun di suatu rumah yang bermandikan sinar mentari dengan pemandangan ke arah laut dan dekat dengan basilika Notre Dame de la Garde. Tim persiapan internasional ini terdiri dari orang-orang Protestan, Ortodoks, dan Katolik, bersama dengan dua anggota dari kelompok Korea yang menyusun naskah dasar (dan dua penasihat mereka). Dalam pertemuan ini tim mengolah naskah yang disusun di Korea, yang telah diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris, dan kini disunting untuk penggunaan internasional. Pertemuan berlangsung dalam suasana penuh kepercayaan dan keceriaan, yang merupakan buah dari sikap saling hormat antara para anggota tim. Pada akhir pertemuan, wakil-wakil dari Dewan Kepausan untuk Memajukan Kesatuan Umat Kristiani dengan hangat menyampaikan ucapan terima kasih kepada Direktur Faith and Order, Tom Best, dan Carolyn McComish, yang dalam waktu singkat akan mengundurkan diri. Dewan Kepausan bertema kasih atas kerjasama mereka selama bertahun-tahun dalam karya kelompok persiapan internasional.

Dalam pertemuan pekan ini, tim diundang untuk bertatap muka dengan para anggota Marseille Espérance. Dalam pertemuan ini tim diajak mempelajari kegiatan-kegiatan Marseille Espérance dan kemudian mengunjungi aneka tempat penting bagi Marseille Espérance di dalam kota, antara lain sebuah gereja tua Saint Victor dan masjid setempat. Kami berterima kasih kepada Marseille Espérance atas sambutan yang hangat, atas keramahan dan pemaparan kegiatan-kegiatan mereka; juga atas minat mereka terhadap karya tim persiapan internasional. Tim internasional berdoa agar karya Marseille Espérance terus berlanjut tidak hanya untuk menjaga perdamaian di dalam kota, tetapi juga agar, lewat teladan toleransi religiusnya, Marseille Espérance memperkaya kehidupan penduduk Marseilles.

Tema Ibadat

“Agar mereka menjadi satu dalam tangan-Mu” (Yeh. 37:17)

Dalam teks dari Yehezkiel ini (37:15-19,22-24a), kita menemukan keinginan Allah yang bernyala-nyala agar suku-suku Israel yang terpecah-belah itu bersatu. Berkat ilham Allah, Yehezkiel menyatukan kedua potong kayu itu. Tata gerak profetis ini merupakan simbol dari penyatuan kembali kerajaan Israel Utara dan Selatan: “Gabungkanlah keduanya menjadi satu papan, sehingga keduanya menjadi satu dalam tanganmu” (Yeh. 37:17).

Untuk mewujudkan karya pembaruan dalam bentuk kesatuan ini, Allah menyandarkan diri pada nabi-Nya. Dengan demikian, Yehezkiel dibebani perutusan untuk memaklumkan kepada Israel bahwa Allah sendirilah yang ingin menyatukan suku-suku Israel dan “menggenggam mereka dalam tangan-Nya”.

Yehezkiel harus juga memanggil bangsa Israel untuk bertobat guna mempersiapkan jalan bagi negara masa depan, yakni negara rekonsiliasi dan damai yang hanya akan terwujud lewat pertobatan tulus kaum Israel. Tugas sang nabilah memaklumkan dalam nama Tuhan bahwa pertobatan itu sangat mendesak. Siapa saja yang menginginkan kesatuan seturut Perjanjian harus berpaling dari berhala dan dibersihkan oleh Allah. “Aku akan menyelamatkan mereka dari segala kemurtadan yang telah menjerumuskan mereka dan akan membersihkan mereka. Kemudian mereka akan menjadi umat-Ku dan Aku menjadi Allah mereka.” Harapan akan dinyalakan kembali lewat pembaruan kesetiaan mereka kepada Allah.

Pada masa Yehezkiel, Israel merindukan kesatuan nasional. Kita, orang-orang Kristiani, yang diutus kepada segala bangsa, berharap dan berdoa agar tercipta persekutuan penuh dalam Kristus. Dengan demikian, ibadat yang didasarkan pada Yehezkiel 37 ini memanggil kita untuk memahami – dalam terang Kristus – panggilan sang nabi demi kesatuan umat Allah.

Tata Cara Ibadat

Perayaan dimulai dengan membunyikan gong, pertanda persekutuan kita dalam doa bersama umat Kristiani di Korea. Dalam semangat Yehezkiel yang memanggil bangsanya kepada pertobatan, Ritus Tobat mendesak kita – sebagai hamba Allah yang setia dan sebagai pelayan kesatuan Kristiani – untuk meniti lorong-lorong pembaruan personal dan eklesial yang mengantar kepada persekutuan penuh.

Ibadat Sabda dibuka dengan mengundang kita untuk meneguhkan iman kita bahwa Bapa sungguh-sungguh mendambakan kesatuan (Yeh. 37:15-19,22-24a). Surat kepada Jemaat di Roma (Rom. 8:18-25) meyakinkan kita bahwa bersama dengan seluruh ciptaan kita digenggam dalam tangan Allah dan bahwa Roh Kudus berdoa bagi kita. Injil (Yoh. 17:8-11) mengukuhkan bahwa karunia kesatuan spiritual telah dimenangkan bagi kita lewat kematian dan kebangkitan Yesus Kristus.

Lewat Doa Permohonan kita ambil bagian dalam harapan serta doa Yesus untuk kesatuan sempurna antar kita. Di samping itu, kita juga ambil bagian dalam ketidaksabaran Yesus untuk menyaksikan kita bekerja dalam kesatuan cinta untuk mewujudkan dunia baru, lewat keadilan dan perdamaian.

Pada Penutup Ibadat, kita memaklumkan dengan Surat kepada Jemaat di Roma 8:38 bahwa tidak ada sesuatu pun yang dapat memisahkan kita dari cinta Kristus, karena dalam Dia Allah Bapa kita telah membarui segala sesuatu. Allah mengutus kita untuk memberi kesaksian tentang ciptaan baru. Ini merupakan suatu dorongan bagi semua orang Kristiani. Lewat komitmen ekumenis, mereka pun memberikan sumbangan untuk menciptakan tatanan baru, yakni kesatuan dalam Kristus yang telah bangkit.

Perlengkapan yang diperlukan untuk ibadat: gong, Alkitab, dua belas papan kayu, dan tali untuk mengikatnya.

Tata Cara Ibadat

Pembuka

Gong dibunyikan tiga kali untuk menunjukkan dimulainya ibadat.

P: Pemimpin Ibadat; L: Lektor / Pembaca; U: Umat.

Salam

P: Semoga rahmat dan damai dari Allah Bapa kita, dari Tuhan kita Yesus Kristus, dan dari Roh Kudus selalu besertamu.

U: Dan sertamu juga.

Mazmur Pembuka: Mzm. 146 (atau madah/mazmur lain yang sesuai).

Perarakan para pemimpin ibadat bersama dengan para peserta sambil membawa Alkitab dan papan untuk diikat bersama sebagai suatu simbol kesatuan yang diilhami oleh teks Yehezkiel. Pembawa papan berjalan di depan salib atau pada jarak liturgis di depan gereja.

Saat hening sejenak.

P: Hampirilah Allah. Marilah kita menghampiri Allah, yang berbelas kasih kepada kita dan yang menjadi sumber pengharapan serta kerinduan kita.

Ajakan ini dapat diucapkan dalam bahasa Korea untuk menggarisbawahi kenyataan bahwa umat Kristiani di negara inilah yang tahun ini membantu kita berdoa untuk kesatuan umat Kristiani: Kadja Heemang-e dju-nim-kke.

Ritus Tobat

P: Ibadat tahun ini telah diusulkan oleh umat Kristiani di Korea, satu bangsa yang terpecah menjadi dua negara. Kita akan mendengarkan Nabi Yehezkiel yang dalam penglihatan menyaksikan Allah menyatukan dua potong kayu. Kita berhimpun sebagai orang-orang Kristiani dari komunitas yang terpecah-belah. Kita mohon ampun, karena ketidaksatuan kita telah menjadi sandungan bagi dunia. Kita juga mohon ampun atas ketidakmampuan kita untuk menjadi duta rekonsiliasi di dunia ini. Maka kita harus mengambil langkah pertobatan pribadi dan gerejawi untuk sampai kepada persekutuan penuh dalam Kristus!

Saat hening sejenak.

Sementara saat hening ini, para pembawa potongan papan – yang duduk di depan jemaat atau bersama dengan para pelayan ibadat – menyebar ke tengah jemaat sebagai tanda perpecahan kita dan dosa kita melawan kesatuan dalam Kristus.

P: Dari jurang yang dalam aku berseru kepada-Mu, ya Tuhan. Tuhan, dengarkanlah suaraku!

U: Tuhan, kami berseru kepada-Mu, tetapi amat sering kami berseru dengan suara yang tidak padu.

P: Biarlah telinga-Mu menaruh perhatian kepada suara permohonanku.

U: Kami memohon kesatuan tetapi kami tidak mau berkurban demi rekonsiliasi.

P: Jika Engkau, ya Tuhan, mengingat-ingat kesalahan, siapakah yang dapat tahan?

U: Siapakah yang dapat tahan? Kami datang ke hadapan-Mu dengan membawa kegagalan kami dalam menanggapi penderitaan dan perpecahan dunia.

P: Tetapi pada-Mu ada pengampunan, supaya Engkau ditakuti orang.

U: Kyrie eleison. Christe eleison. Kyrie eleison.

P: Aku menanti-nantikan Tuhan, jiwaku menanti-nanti, dan aku mengharapkan firman-Nya.

U: Jiwaku menanti-nantikan Tuhan, lebih dari penjaga menantikan fajar.

P: Yehezkiel mengucapkan firman Tuhan ini: Aku akan membebaskan mereka dari segala kejahatan mereka; Aku akan membersihkan mereka. Maka mereka akan menjadi umat-Ku dan Aku akan menjadi Allah mereka. Mereka akan menjadi satu dalam tangan-Ku. Ya Allah, Engkaulah satu-satunya harapan kami.

U: Tolonglah kami menjadi alat rekonsiliasi-Mu.

Liturgi Sabda

Bacaan pertama: Yeh. 37:15-19,22-24a

Nyanyian: Jadilah Mereka Satu (PS 617)

Bacaan kedua: Rom. 8:18-25

Alleluya

Injil: Yoh. 17:8-11

Renungan

Hening sejenak.

Doa Permohonan

P: Dengan penuh iman kita berdoa kepada Allah – Bapa, Putra, dan Roh Kudus: “Tuhan, dengarkanlah doa kami.” (dapat dilagukan).

L1: Marilah kita berdoa bagi komunitas-komunitas Kristiani lokal kita, bagi Gereja-Gereja kita, dan bagi kelompok-kelompok ekumenis; juga bagi semua yang hadir di sini, dan bagi mereka yang tidak hadir dalam ibadat kita hari ini.
Tuhan, ampunilah kami ketika kami bersikap acuh tak acuh satu sama lain, dan turunkanlah penyembuhan-Mu ke atas luka-luka serta perpecahan yang membuat kami tetap tercerai-berai.

U: Tuhan, dengarkanlah doa kami.

L2: Marilah kita berdoa agar memiliki penghargaan yang lebih mendalam terhadap pembaptisan kita ke dalam satu Tubuh Kristus.
Tuhan, topanglah setiap orang dari kami dan juga komunitas-komunitas kami sementara kami melanjutkan langkah menuju kesatuan yang Engkau dambakan bagi semua murid-Mu.

U: Tuhan, dengarkanlah doa kami.

L1: Marilah kita berdoa bagi para pemimpin rohani dan para pemimpin Gereja kita, agar Roh Kudus terus menerangi mereka dan memberi mereka rahmat untuk bekerja dalam suasana harmonis, dalam suka cita, dan kasih. Marilah kita berdoa juga bagi semua pejabat pemerintah.

L2: Tuhan, bantulah mereka agar dapat bekerja untuk mewujudkan keadilan dan perdamaian, dan berilah mereka kebijaksanaan untuk memperhatikan kebutuhan semua orang khususnya mereka yang paling membutuhkan.

U: Tuhan, dengarkanlah doa kami.

L1: Marilah kita berdoa bagi semua bangsa dan masyarakat yang hidup di tengah perpecahan dan konflik internal yang parah.

L2: Tuhan, kami mengingat khususnya bangsa Korea, Utara dan Selatan. Semoga, kendati ada perpecahan dan perpisahan politis, upaya mereka untuk mewujudkan kesatuan dapat membawa hasil, dan semoga kesatuan mereka menjadi tanda pengharapan bagi semua orang yang mengupayakan rekonsiliasi di tengah-tengah percekcokan.

U: Tuhan, dengarkanlah doa kami.

L1: Marilah kita memanjatkan syukur bagi orang-orang yang atas ilham Tuhan telah memperoleh tempat penting dalam kehidupan iman kami, dan bagi semua orang yang mengungkapkan pengampunan, kemurahan, dan cinta Tuhan.

L2: Semoga pemberian dan kemurahan hati mereka mengilhami keinginan kami untuk memberikan diri dan melayani sesama dengan seluruh kehidupan kami.

U: Tuhan, dengarkanlah doa kami.

L1: Marilah kita berdoa bagi semua orang yang mewartakan Injil dan menghadapi tantangan yang berat dari zaman kita.

L2: Tuhan, semoga kami masing-masing belajar memainkan peran kami dalam meringankan bencana global dan ekologis yang mengakibatkan penderitaan manusia dan merongrong ciptaan-Mu.

U: Tuhan, dengarkanlah doa kami.

L1: Marilah kita berdoa bagi semua Gereja.

L2: Kami mohon pertolongan-Mu, Tuhan, agar suatu saat nanti semua Gereja dapat berhimpun di sekeliling satu meja perjamuan dan ambil bagian dalam persekutuan para kudus.

U: Tuhan, dengarkanlah doa kami.

Bapa Kami

P: Setiap orang dalam bahasanya sendiri, marilah kita mengucapkan doa yang diberikan Yesus kepada kita:

U: Bapa kami …

P: Sebagai tanda komitmen kita untuk mengupayakan rekonsiliasi, marilah sekarang kita saling memberikan salam damai.

Salam damai diiringi dengan nyanyian yang sesuai, misalnya Salam Damai, Kubawa Damai.

Tindakan Simbolis

Sekarang para pembawa papan memadukan papan kayu yang mereka bawa, dua-dua (diikat dalam bentuk salib), sebagai tanda bahwa rekonsiliasi ini merupakan prakarsa dan karya Allah yang menyatukan kita dalam tangan-Nya.

Syahadat Nikea

P: Marilah kita bersatu hati dalam mendaras Syahadat Nikea.

Sementara pengakuan iman dimaklumkan, salib dapat diangkat; secara simbolis pengangkatan ini menghubungkan salib itu dengan papan-papan yang sudah diikat berdua-dua. Di gereja-gereja di mana kolam pembaptisan berada di tempat yang sentral, tindakan simbolis ini dapat dilaksanakan di sana, sebagai kenangan akan pembaptisan yang telah membuat kita “disatukan dalam tangan Allah”.

U: Aku percaya akan satu Allah, Bapa yang mahakuasa, pencipta langit dan bumi, dan segala sesuatu yang kelihatan dan tak kelihatan; dan akan satu Tuhan Yesus Kristus. Putra Allah yang tunggal. Ia lahir dari Bapa sebelum segala abad, Allah dari Allah, Terang dari Terang, Allah benar dari Allah benar. Ia dilahirkan, bukan dijadikan, sehakikat dengan Bapa; segala sesuatu dijadikan oleh-Nya. Ia turun dari surga untuk kita manusia, dan untuk keselamatan kita. Ia dikandung dari Roh Kudus, dilahirkan oleh Perawan Maria, dan menjadi manusia. Ia pun disalibkan untuk kita, waktu Pontius Pilatus. Ia menderita sampai wafat dan dimakamkan. Pada hari ketiga Ia bangkit menurut Kitab Suci. Ia naik ke surga, duduk di sisi Bapa. Ia akan kembali dengan mulia, mengadili orang yang hidup dan yang mati, kerajaan-Nya takkan berakhir.

Aku percaya akan Roh Kudus, Ia Tuhan yang menghidupkan; Ia berasal dari Bapa dan Putra, Yang serta Bapa dan Putra, disembah dan dimuliakan; Ia bersabda dengan perantaraan para nabi.

Aku percaya akan Gereja yang satu, kudus, katolik dan apostolik. Aku mengakui satu pembaptisan akan penghapusan dosa. Aku menantikan kebangkitan orang mati dan hidup di akhirat.

Doa Penutup dan Pengutusan

Disarankan seorang muda.

L: Aku yakin, bahwa baik maut, maupun hidup, baik malaikat-malaikat, maupun pemerintah-pemerintah, baik yang ada sekarang, maupun yang akan datang, atau kuasa-kuasa, baik yang di atas, maupun yang di bawah, atau pun sesuatu makhluk lain, tidak akan dapat memisahkan kita dari kasih Allah, yang ada dalam Kristus Yesus, Tuhan kita. (Rm. 8:38-39)

P: Kita akan meninggalkan tempat ibadat ini untuk kembali kepada situasi konkret hidup kita masing-masing. Marilah kita tetap teguh dalam iman dan harapan, karena Allah Bapa kita telah membarui segala sesuatu dalam Yesus Kristus. Ia mengutus kita untuk menjadi saksi kasih-Nya dan untuk memainkan peran dalam mewujudkan ciptaan baru. Semoga Allah, yang mengetahui suka cita kita, kemarahan kita, dan kepedihan kita, selalu menuntun kita; dan semoga kita berani dan tetap setia menjalani hidup yang sepadan dengan iman Kristiani.

U: Tuhan, tinggallah bersama kami.

Nyanyian

Sebaiknya dipilih suatu nyanyian yang memuji rekonsiliasi Allah dengan umat-Nya lewat salib. Sementara nyanyian dilambungkan, para pembawa papan kayu mengambil kayu mereka dan memberikannya kepada anggota jemaat yang mewakili aneka komunitas Kristiani yang hadir, sebagai tanda ikatan persekutuan antara mereka.

Berkat

P: Saudara dan Saudari dalam iman, umat Kristiani yang hari ini berhimpun di sini, lewat kekuatan salib Saudara ingin menjadi tanda rekonsiliasi.

Semoga Tuhan memberkati Saudara dan selalu menjaga Saudara.

Semoga Tuhan membuat wajah-Nya bersinar atas Saudara dan bermurah hati kepada Saudara.

Semoga Tuhan mengarahkan pandangan-Nya kepada Saudara dan memberikan damai-Nya kepada Saudara.

U: Amin.

Renungan Alkitab dan Doa-doa Selama Delapan Hari

Hari Pertama

Komunitas-komunitas Kristiani Menghadapi Perpecahan Lama dan Baru
“agar mereka menjadi satu dalam tangan-Mu” (Yeh. 37)

Bacaan

  • Yeh. 37:15-19,22-24a: Satu dalam tangan-Mu.
  • Mzm. 103:8-13, atau 18: Tuhan adalah penyayang dan pengasih, dan berlimpah kasih setia.
  • 1 Kor 3:3-7,21-23: Di antara kamu ada iri hati dan percekcokan … sementara kamu semua adalah milik Kristus.
  • Yoh. 17:17-21: Supaya mereka semua bersatu… agar dunia percaya

Renungan

Orang-orang Kristiani dipanggil menjadi alat kasih Allah yang bernyala-nyala dan mendatangkan damai di dalam dunia yang diwarnai aneka macam perpecahan dan pengasingan. Dengan dibaptis dalam nama Bapa dan Putra dan Roh Kudus, dan dengan mengakui iman akan Kristus yang disalibkan dan bangkit, kita menjadi satu umat milik Kristus sendiri, suatu umat yang diutus untuk menjadi Tubuh Kristus di dunia dan bagi dunia. Untuk ini, Kristus berdoa bagi para murid-Nya: semoga mereka bersatu, supaya dunia percaya.

Perpecahan antar umat Kristiani dalam masalah-masalah fundamental yang menyangkut iman dan kemuridan Kristiani sungguh-sungguh merongrong kemampuan kita untuk memberi kesaksian di hadapan dunia. Di Korea, seperti di kalangan banyak bangsa lain, Injil Kristus diwartakan dengan suara yang saling bertengkar, yang menuturkan suatu pewartaan sumbang tentang Kabar Baik. Di sini ada godaan untuk melihat perpecahan-perpecahan masa kini, dengan latar belakang konflik yang menyertainya, sebagai pembenaran alami terhadap sejarah Kristiani kita; kita tidak mampu melihat perpecahan itu sebagai suatu kontradiksi internal yang sungguh-sungguh bertentangan dengan amanat bahwa Allah telah mendamaikan dunia dalam Kristus.

Penglihatan Yehezkiel tentang dua papan, yang bertuliskan nama-nama kerajaan Israel kuno yang terpecah-belah, yang menjadi satu dalam tangan Allah, merupakan suatu gambaran kuat mengenai kuasa Allah untuk mewujudkan rekonsiliasi, untuk melaksanakan bagi suatu bangsa yang diliputi perpecahan sesuatu yang tidak dapat mereka sendiri lakukan. Kiasan ini sangat menyentuh hati orang-orang Kristiani yang terpecah-belah, karena menggambarkan sumber rekonsiliasi yang ditemukan di jantung pewartaan Kristiani sendiri. Pada kedua papan kayu yang membentuk Salib Kristus itu, Tuhan yang menguasai sejarah mengambil sendiri luka-luka dan perpecahan umat manusia. Dalam totalitas pemberian diri-Nya di salib, Yesus memadukan dosa umat manusia dengan kasih setia Allah yang menyelamatkan. Menjadi Kristiani berarti dibaptis dalam kematian Yesus; terdorong oleh kerahiman-Nya yang tanpa batas, lewat kematian itu Tuhan Yesus menuliskan pada kayu salib nama-nama umat manusia yang terluka, sambil mendekapkan mereka kepada diri-Nya dan memulihkan relasi mereka dengan Allah dan dengan satu sama lain.

Kesatuan Kristiani adalah persekutuan yang didasarkan atas belonging kita kepada Kristus, kepada Allah. Dengan semakin bertobat kepada Kristus, kita mendapati diri kita didamaikan oleh kuasa Roh Kudus. Doa untuk kesatuan umat Kristiani adalah suatu pengakuan iman kita akan Allah, suatu pembukaan hati lebar-lebar kepada Roh Kudus. Dikaitkan dengan usaha-usaha kita yang lain untuk mengupayakan kesatuan di kalangan orang-orang Kristiani – dialog, kesaksian dan perutusan bersama – doa untuk kesatuan merupakan alat yang istimewa; lewat doa ini Roh Kudus sedang bekerja agar rekonsiliasi dalam Kristus dinyatakan dengan jelas dalam dunia yang akan diselamatkan oleh Kristus.

Doa

Allah yang mahamurah, Engkau telah mengasihi dan mengampuni kami dalam Kristus, dan telah berusaha mendamaikan seluruh bangsa manusia dalam kasih yang menyelamatkan. Sudilah memandang kami, yang bekerja dan berdoa untuk kesatuan komunitas-komunitas Kristiani yang terpecah-belah. Berilah kami pengalaman menjadi saudara dan saudari dalam kasih-Mu. Semoga kami menjadi satu, satu dalam tangan-Mu. Dengan pengantaraan Kristus, Tuhan kami. Amin.

Hari Kedua

Orang-orang Kristiani Menghadapi Perang dan Kekerasan
“agar mereka menjadi satu dalam tangan-Mu”(Yeh. 37)

Bacaan

  • Yes. 2:1-4: Mereka tidak lagi akan berlatih perang.
  • Mzm. 74:18-23: Janganlah pernah melupakan umat-Mu yang miskin.
  • 1 Ptr. 2:21-25: Oleh bilur-bilur-Nya kamu telah disembuhkan.
  • Mat. 5:38-48: Berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu.

Renungan

Perang dan kekerasan merupakan hambatan utama untuk kesatuan yang dikehendaki Allah bagi umat manusia. Dalam analisis yang terakhir, perang dan kekerasan merupakan akibat dari perpecahan tak tersembuhkan yang bercokol di dalam diri kita, dan juga merupakan akibat dari kecongkakan manusia yang menghalangi kita untuk memulihkan landasan sejati keberadaan kita.

Orang-orang Kristiani Korea ingin sekali mengakhiri perpecahan yang sudah berlangsung lebih dari 50 tahun antara Korea Utara dan Korea Selatan; mereka juga sangat rindu menyaksikan damai bersemi di mana-mana di seluruh dunia. Kogoncangan yang terjadi di Semenanjung Korea tidak hanya mengungkapkan kepedihan satu bangsa yang masih terpecah-belah, tetapi juga menandakan mekanisme perpecahan, permusuhan, dan balas dendam yang merongrong umat manusia.

Apa yang dapat mengakhiri rangkaian perang dan kekerasan ini? Yesus menunjukkan kepada kita kuasa yang dapat menghentikan lingkaran-setan kekerasan dan ketidakadilan bahkan dalam situasi-situasi yang paling ganas. Kepada murid-murid-Nya, yang menanggapi kekerasan dan kerusuhan dengan cara-cara yang digunakan dunia, secara paradoksal Yesus mengajarkan penolakan kekerasan (Mat. 26:51-52).

Yesus mengungkap kebenaran sejati yang ada di balik kekerasan umat manusia. Karena patuh kepada Bapa, Yesus mati di kayu salib untuk menyelamatkan kita dari dosa dan kematian. Salib mengungkapkan paradoks dan konflik yang terkandung dalam kodrat manusia. Kematian keji yang menimpa Yesus itu merupakan awal dari suatu ciptaan baru yang memaku dosa manusia, kekerasan dan perang pada salib Yesus.

Yesus Kristus mengajarkan gerakan tanpa kekerasan yang tidak hanya berlandaskan humanisme. Ia mengajarkan pembangunan kembali ciptaan Allah; Ia juga mengajarkan harapan serta iman akan datangnya langit baru dan bumi baru. Pengharapan ini didasarkan pada kemenangan final atas kematian yang dicapai Yesus pada kayu salib; pengharapan ini mendorong kita untuk bertekun dalam mengupayakan kesatuan umat Kristiani dan dalam berjuang melawan segala bentuk perang serta kekerasan.

Doa

Ya Tuhan, Engkau telah menyerahkan diri-Mu sendiri pada kayu salib demi kesatuan seluruh umat manusia. Kami mempersembahkan kepada-Mu kodrat insani kami yang dihancurkan oleh egoisme, kesombongan, kesia-siaan, dan angkara murka. Tuhan, janganlah tinggalkan kaum tertindas yang menderita karena segala macam kekerasan, kemarahan dan kebencian, yang menjadi kurban kepercayaan yang sesat dan ideologi yang saling bertentangan. Tuhan, pandanglah kami dengan murah hati, dan perhatikanlah seluruh umat-Mu, supaya kami semua dapat menikmati damai dan sukacita yang merupakan bagian utuh dari tata ciptaan-Mu. Semoga semua orang Kristiani bekerjasama untuk mewujudkan keadilan-Mu, bukan hanya keadilan kami. Berilah kami keberanian untuk membantu sesama memanggul salib mereka, dan tidak membebankan salib kami sendiri atas bahu mereka. Tuhan, ajarkanlah kepada kami kebijaksanaan sejati supaya kami dapat memperlakukan musuh-musuh kami dengan kasih, bukan dengan kebencian. Sebab Engkaulah Tuhan dan pengantara kami. Amin.

Hari Ketiga

Orang-orang Menghadapi Ketidakadilan dan Kemiskinan Ekonomi
“agar mereka menjadi satu dalam tangan-Mu” (Yeh. 37)

Bacaan

  • Im. 25:8-14: Yubileum yang membebaskan.
  • Mzm. 146: Tuhan menegakkan keadilan bagi orang-orang yang diperas.
  • 1 Tim. 6:9-10: Cinta uang adalah akar segala kejahatan.
  • Luk. 4:161-21: Yesus dan tahun yubileum sebagai pembebasan.

Renungan

Kita berdoa untuk datangnya Kerajaan Allah. Kita mendambakan suatu dunia di mana manusia, khususnya mereka yang paling papa, tidak meninggal sebelum masa yang ditentukan. Tetapi, sistem ekonomi dunia dewasa ini memperburuk situasi kaum papa dan memperparah kesenjangan sosial.

Dewasa ini komunitas dunia dihadapkan dengan krisis tenaga kerja yang semakin genting dengan segala akibatnya. Dengan demikian, pendewa-dewaan pasar (keuntungan), atau cinta uang menurut penulis Surat kepada Timotius, tampak sebagai ‘akar segala kejahatan’. Dalam konteks ini, apa yang dapat dan harus dikerjakan oleh Gereja-Gereja? Marilah kita mencermati tema yubileum dari Alkitab yang ditonjolkan Yesus untuk menggarisbawahi pelayanan-Nya.

Menurut kutipan dari Kitab Imamat, selama tahun yubileum harus dimaklumkan pembebasan; orang-orang yang terpaksa merantau karena alasan ekonomi harus dikembalikan ke rumahnya dan kepada keluarga mereka; kalau ada orang yang kehilangan segala hartanya ia harus dapat hidup di tengah masyarakat bukan sebagai orang asing. Uang tidak boleh dipinjamkan demi bunga dan makanan tidak boleh dijual demi keuntungan.

Yubileum menyiratkan suatu etika komunitas, pembebasan budak dan pengembalian mereka kepada rumah, pemulihan hak-hak keuangan dan pembebasan hutang. Bagi orang-orang yang menjadi kurban struktur masyarakat yang tidak adil, yubileum berarti pemulihan hukum dan pemulihan sarana-sarana hidup mereka.

Dalam dunia masa kini ‘banyaknya uang’ dilihat sebagai nilai tertinggi dan sebagai tujuan hidup. Prioritas-prioritas dunia masa kini hanya akan menjerumuskan kepada kematian. Sebagai Gereja, kita dipanggil untuk menghadapi situasi ini dengan menghayati bersama semangat yubileum dan dengan mengikuti Kristus, yakni menyebarluaskan kabar baik. Jikalau orang-orang Kristiani sudah mengalami penyembuhan dari perpecahan-perpecahan mereka, maka mereka akan menjadi lebih peka terhadap perpecahan-perpecahan lain, yakni perpecahan yang melukai umat manusia dan alam ciptaan.

Doa

Allah yang mahaadil, di dunia ini ada tempat-tempat yang berkelimpahan makanan, tetapi ada juga tempat-tempat di nama tidak ada cukup makanan dan di mana kelaparan serta penyakit merajalela. Allah, pangkal damai, di dunia ini ada orang-orang yang mengambil manfaat dari kekerasan dan perang, sementara ada juga orang-orang yang karena perang dan kekerasan terpaksa meninggalkan rumah dan menjadi pengungsi. Allah yang mahamurah, bantulah kami memahami bahwa kami tidak dapat hidup melulu dari uang tetapi dari sabda Allah. Bantulah kami memahami bahwa kami tidak dapat mencapai kehidupan dan kesejahteraan sejati kecuali dengan mengasihi Engkau dan mematuhi kehendak serta ajaran-Mu. Semua ini kami mohon dalam nama Yesus Kristus, Tuhan kami. Amin.

Hari Keempat

Orang-orang Kristiani Menghadapi Krisis Ekologi
“agar mereka menjadi satu dalam tangan-Mu”(Yeh. 37)

Bacaan
  • Kej. 1:31-2:3: Allah melihat segala yang dijadikan-Nya itu sungguh amat baik.
  • Mzm. 148:1-5: Ia memberi perintah, maka semuanya tercipta.
  • Rm. 8:18-23: Penghancuran ciptaan.
  • Mat. 13:31-32: Yang paling kecil dari segala jenis benih.
Renungan

Allah menciptakan dunia kita ini dengan kebijaksanaan dan cinta; dan ketika menyelesaikan karya agung penciptaan, Allah melihat bahwa semuanya baik adanya.

Tetapi, dewasa ini dunia dihadapkan dengan suatu krisis ekologi yang serius. Bumi menderita karena pemanasan global sebagai akibat dari konsumsi energi yang berlebihan. Dalam empat puluh tahun terakhir, luas area hutan di planet kita ini telah menyusut sekitar 50% sementara padang gurun terus semakin meluas bahkan dengan lebih cepat. Tiga perempat dari makhluk yang hidup di laut sudah musnah. Setiap hari lebih dari 100 spesies kehidupan mati, dan hilangnya keragaman makhluk hidup ini merupakan ancaman yang serius bagi umat manusia sendiri. Bersama Santo Paulus kita dapat menegaskan: segala makhluk telah diserahkan kepada kuasa kehancuran, ia mengerang kesakitan seperti orang yang sakit bersalin.

Kita tidak dapat mengingkari bahwa manusia memikul tanggung jawab yang berat atas hancurnya lingkungan. Ketamakan manusia yang tak terkendali menebarkan bayang-bayang kematian atas seluruh ciptaan.

Bersama-sama, orang-orang Kristiani harus berusaha sebaik-baiknya untuk menyelamatkan alam ciptaan. Menghadapi tugas yang maha raksasa ini, mereka harus memadukan segala usaha mereka. Hanya bersama-sama mereka dapat menjaga karya Sang Pencipta. Sungguh mustahil orang tidak menangkap tempat sentral yang diduduki oleh unsur-unsur alam dalam perumpamaan dan ajaran Yesus. Kristus menunjukkan hormat yang besar bahkan kepada benih yang paling kecil dari segala benih. Dengan mengacu kepada visi biblis mengenai ciptaan, orang-orang Kristiani dapat sehati sesuara memberikan sumbangan kepada masa depan planet kita yang hari ini kita renungkan.

Doa

Allah, Pencipta kami, dunia telah Kauciptakan dengan Sabda-Mu dan Engkau melihat bahwa dunia yang Kauciptakan itu sungguh baik adanya. Tetapi dewasa ini kami sedang menyebarkan kematian dan menghancurkan lingkungan. Bantulah kami agar dapat menyesali ketamakan kami; bantulah kami merawat semua yang telah Kauciptakan. Bersama-sama, kami ingin menjaga ciptaan-Mu. Demi Kristus, pengantara kami. Amin.

Hari kelima

Orang-orang Kristiani Menghadapi Diskriminasi dan Kecurigaan Sosial
“agar mereka menjadi satu dalam tangan-Mu”(Yeh. 37)

Bacaan
  • Yes. 58:6-12: Jangan menyembunyikan diri terhadap saudaramu sendiri.
  • Mzm. 133: 133:1: Alangkah baik dan indahnya, apabila saudara-saudara hidup bersama dengan rukun.
  • Gal. 3:26-29: Kamu semua satu di dalam Kristus Yesus.
  • Luk. 18:9-14: Kepada beberapa orang yang menganggap dirinya benar.
Renungan

Pada awal mula, umat manusia yang diciptakan menurut gambar Allah itu bersatu padu dalam tangan Allah. Tetapi, dosa menyusup ke dalam hati laki-laki dan perempuan, dan sejak itu kita membangun segala macam syak-wasangka. Diskriminasi pun dapat terjadi hanya karena perbedaan suku atau identitas etnik, karena perbedaan identitas seksual atau karena kenyataan sebagai laki-laki dan perempuan. Di tempat-tempat lain, syak-wasangka dan diskriminasi bahkan telah melekat pada agama tertentu dan melumpuhkannya, dan hal ini menjadi alasan untuk menutup diri. Semua faktor diskriminatif ini sungguh melecehkan manusia dan menjadi sumber konflik serta penderitaan yang amat besar.

Dalam pelayanan-Nya di bumi, Yesus menunjukkan diri sebagai orang yang sangat peduli terhadap martabat laki-laki dan perempuan. Ia terus-menerus menolak segala bentuk diskriminasi; Ia juga menolak kesombongan yang dimiliki oleh sejumlah rekan sezaman-Nya atas dasar sikap-sikap yang diskriminatif. Orang yang adil tidak selalu sama dengan yang kita bayangkan. Pelecehan tidak memiliki tempat dalam hati orang-orang beriman.

Mazmur 133 membandingkan suka cita yang dihayati oleh saudara dan saudari dengan indahnya minyak yang berharga atau segarnya embun yang turun dari Gunung Hermon. Kita diberi karunia untuk merasakan suka cita seperti itu setiap kali kita menyingkirkan prasangka kelompok dalam himpunan-himpunan ekumenis.

Pemulihan kesatuan seluruh umat manusia merupakan tugas perutusan semua orang Kristiani. Bersama-sama, mereka harus berjuang melawan segala bentuk diskriminasi. Pemulihan itu juga merupakan harapan bersama sebab kita semua satu di dalam Kristus, dan di sini tidak ada lagi Yahudi atau Yunani, budak atau orang merdeka, laki-laki atau perempuan.

Doa

Ya Tuhan, tolonglah kami menyadari diskriminasi dan pengucilan yang merusak masyarakat. Arahkanlah pandangan kami dan bantulah kami menyadari prasangka-prasangka yang tersembunyi di dalam diri kami. Ajarlah kami memusnahkan segala bentuk pelecehan, dan ajarlah kami merasakan betapa senangnya hidup bersama dalam kesatuan. Sebab Engkaulah Tuhan dan pengantara kami. Amin.

Hari Keenam

Orang-orang Kristiani Menghadapi Bencana dan Penderitaan
“agar mereka menjadi satu dalam tangan-Mu”(Yeh. 37)

Bacaan
  • 2 Raj. 20:1-6: Ingatlah akan daku, ya Tuhan!
  • Mzm. 22:1-11: Mengapa Engkau meninggalkan aku?
  • Yak. 5:13-15: Doa yang lahir dari iman akan menyelamatkan orang sakit.
  • Mrk. 10:46-52: Apa yang kaukehendaki supaya Aku perbuat bagimu?
Renungan

Betapa seringnya Yesus berjumpa dengan orang sakit dan berkenan menyembuhkan mereka! Kesadaran akan kemurahan Tuhan kita terhadap orang sakit sangat kuat di kalangan Gereja-Gereja kita yang masih terpecah-belah ini. Orang-orang Kristiani selalu mengikuti teladan Tuhan dengan menyembuhkan orang sakit, membangun rumah sakit, balai pengobatan, mengorganisasi karya-karya pengobatan, dan mempedulikan tidak hanya jiwa tetapi juga tubuh anak-anak Allah.

Ini bukanlah tanggapan yang luar biasa; orang sehat cenderung mengandalkan kesehatannya dan lupa akan mereka yang tidak dapat ambil bagian dalam kehidupan sehari-hari masyarakat karena sakit atau cacat. Tetapi orang sakit? Mereka barangkali merasa tersingkir dari Allah, dari kehadiran-Nya, dari berkat dan kuasa penyembuhan-Nya.

Iman Hizkia yang sangat kuat menopang dia menanggung penyakitnya. Dalam masa duka cita itu, Hizkia menemukan kata-kata untuk mengenang Allah, sumber rahmatnya. Sungguh, orang-orang yang menderita malah dapat menggunakan kata-kata dari Alkitab untuk meratap dan menggugat Allah: Mengapa Engkau meninggalkan aku? Apabila kita memiliki relasi yang tulus dengan Allah, yang dilandasi dengan bahasa kesetiaan dan bahasa syukur akan masa-masa yang membahagiakan, maka kita juga akan mampu menciptakan ruang untuk suatu bahasa yang, kalau perlu, dapat mengungkapkan duka cita, kepedihan atau kemarahan dalam doa.

Orang sakit bukanlah obyek; mereka bukan hanya sasaran perawatan. Sebaliknya, mereka adalah subyek iman; seperti para murid Yesus, mereka harus belajar dari kisah Injil Markus. Para murid ingin secepatnya melanjutkan perjalanan bersama dengan Yesus; mereka tidak peduli akan orang sakit yang ada di pinggir kerumunan orang banyak. Ketika orang sakit itu berteriak, ia dianggap menghambat perjalanan mereka. Kita biasa merawat orang sakit, tetapi tidak begitu biasa mendengarkan teriakan keras mereka; kita bahkan merasa terganggu oleh teriakan itu. Dewasa ini, barangkali mereka berteriak untuk mendapatkan obat bagi negara-negara miskin, dan hal ini menyentuh permasalahan paten dan keuntungan. Para murid yang berusaha mencegah orang buta itu agar tidak menghampiri Yesus telah menjadi utusan yang harus menyampaikan jawaban Tuhan yang agak berbeda dan penuh perhatian: Mari, Ia memanggil kamu.

Barulah ketika mengantar orang sakit kepada Yesus para murid mulai memahami apa yang dikehendaki Yesus, yakni: meluangkan waktu untuk berjumpa dengan orang sakit dan berbicara dengan mereka, menanyakan apa yang mereka kehendaki dan mereka butuhkan. Suatu komunitas-penyembuh hanya dapat berkembang kalau orang-orang sakit sungguh mengalami kehadiran Allah lewat hubungan timbal balik dengan para saudari dan saudara mereka dalam Kristus.

Doa

Ya Allah, dengarkanlah umat-Mu ketika mereka berseru kepada-Mu dalam kesakitan dan kepedihan. Semoga orang-orang yang sehat selalu mensyukuri kesehatannya, dan melayani orang-orang sakit dengan tangan terbuka dan hati penuh kasih. Ya Allah, perkenankanlah kami semua hidup dalam rahmat dan penyelenggaraan-Mu, menjadi komunitas penyembuh yang sejati, yang bersama-sama memuliakan nama-Mu. Dengan pengantaraan Kristus, Tuhan kami. Amin.

Hari Ketujuh

Orang-orang Kristiani Menghadapi Pluralitas Agama
“agar mereka menjadi satu dalam tangan-Mu”(Yeh. 37)

Bacaan
  • Yes. 25:6-9: Inilah Tuhan yang kita nanti-nantikan.
  • Mzm. 117:1-2: Pujilah Tuhan, hai segala bangsa!
  • Rom. 2:12-16: Orang yang melakukan hukum Taurat akan dibenarkan.
  • Mrk. 7:24-30: Dengan mengatakan ini, kamu dapat pulang ke rumah dengan hati bahagia.
Renungan

Hampir setiap hari kita mendengar kekerasan di berbagai belahan dunia antara para penganut iman yang berbeda. Tetapi, kita belajar bahwa Korea merupakan tempat di mana iman yang berbeda-beda – Buddhis, Kristiani, Konfusius – pada umumnya hidup berdampingan dalam damai.

Dalam suatu madah pujian yang agung, Nabi Yesaya berbicara tentang semua air mata yang diseka dan tentang suatu pesta mewah yang dihidangkan bagi segala suku dan bangsa! Pada suatu hari, kata Nabi Yesaya, semua bangsa di bumi akan memuji Allah dan bersuka cita karena keselamatan yang Ia berikan. Tuhan yang mereka nanti-nantikan adalah tuan dari pesta abadi dalam nyanyian pujian Yesaya.

Alkisah, Yesus berjumpa dengan seorang perempuan bukan Yahudi yang meminta Dia menyembuhkan putrinya. Mula-mula Yesus tidak mau menolong dia, dengan nada sinis. Tetapi perempuan itu tidak menyerah, dengan berkata kurang lebih sebagai berikut: “anjing yang ada di bawah meja pun makan remah-remah yang dijatuhkan anak-anak.” Yesus menegaskan bahwa sikap perempuan itu merupakan bagian dari perutusan-Nya kepada orang-orang Yahudi dan juga orang-orang non-Yahudi. Maka Yesus menyuruh perempuan itu pulang dengan janji bahwa putrinya akan sembuh.

Gereja-Gereja sungguh memiliki komitmen kepada dialog untuk mewujudkan kesatuan umat Kristiani. Pada tahun-tahun terakhir ini, dialog juga telah dikembangkan dengan umat yang menganut iman lain, khususnya para “ahliwaris Kitab” (Yudaisme, Islam). Perjumpaan dengan mereka tidak hanya memberikan pencerahan tetapi juga membantu memajukan sikap hormat dan hubungan baik antar-sesama, dan membangun damai di mana terjadi konflik. Kalau kesaksian Kristiani kita dipadukan dengan keutamaan iman akan Kristus, maka upaya kita untuk menanggulangi syak-wasangka dan konflik akan semakin efektif. Dan kalau kita dengan penuh perhatian mendengarkan sesama yang beriman lain, kita dapat mempelajari lebih banyak hal tentang betapa lapangnya kasih Allah bagi semua orang, dan betapa luas kerajaan-Nya!

Dialog antar orang-orang Kristiani hendaknya tidak menjurus kepada hilangnya identitas Kristiani tertentu tetapi kepada suka cita karena kita mematuhi doa Yesus agar kita menjadi satu, sebagaimana Ia dan Bapa adalah satu. Kesatuan tidak akan terwujud hari ini atau bahkan besok; tetapi bersama-sama, juga dengan orang-orang yang menganut iman lain, kita berjalan menuju tujuan akhir kita yakni cinta dan keselamatan.

Doa

Tuhan, Allah kami, kami bersyukur kepada-Mu karena kebijaksanaan yang kami perolah dari Kitab-kitab-Mu. Berilah kami keberanian untuk membuka hati dan pikiran kami kepada sesama umat Kristiani dan bahkan kepada mereka yang menganut iman lain. Berilah kami rahmat untuk mengatasi hambatan-hambatan berupa sikap acuh tak acuh, kecurigaan atau kebencian; dan perlihatkanlah kepada kami hari-hari terakhir, ketika orang-orang Kristiani dapat berjalan bersama menuju pesta abadi, di mana segala air mata akan diseka dan semua perselisihan akan dikalahkan oleh kasih. Dengan pengantaraan Kristus, Tuhan kami. Amin.

Hari Kedelapan

Warta Pengharapan Kristiani di Tengah Dunia yang Terpecah-belah
“agar mereka menjadi satu dalam tangan-Mu.”(Yeh. 37)

Bacaan
  • Yeh. 37:1-4: Aku akan membuka kubur-kuburmu.
  • Mzm. 104:24-34: Engkau membarui muka bumi.
  • Why. 21:1-5a: Lihatlah, Aku menjadikan segala sesuatu baru!
  • Mat. 5:1-12: Berbahagialah kamu …
Renungan

Aku akan menempatkan Roh-Ku di dalam tubuhmu dan kamu akan hidup. Iman yang didasarkan pada Kitab Suci dipenuhi dengan pengharapan yang radikal bahwa kata terakhir dalam sejarah adalah kata-kata Allah, dan bahwa kata terakhir yang diucapkan Allah bukanlah kata-kata penghakiman tetapi kata-kata penciptaan yang melahirkan suatu ciptaan baru. Sebagaimana terungkap dalam renungan hari-hari yang lalu, orang-orang Kristiani hidup di tengah-tengah suatu dunia yang diwarnai dengan aneka perpecahan dan pengasingan. Tetapi sikap Gereja tetaplah sikap berharap. Sikap yang selalu berharap ini tidak didasarkan pada apa yang dapat diperbuat oleh manusia, tetapi pada kuasa dan keinginan lestari Allah untuk mengubah kehancuran dan perpecahan menjadi kesatuan dan keutuhan, kebencian yang mendatangkan kematian menjadi cinta yang mendatangkan kehidupan. Bangsa Korea terus-menerus menanggung konsekuensi tragis dari perpecahan nasional, tetapi di kalangan mereka juga muncul pengharapan Kristiani yang bernyala-nyala.

Pengharapan Kristiani tetap hidup bahkan di tengah penderitaan yang amat berat sebab pengharapan itu lahir dari cinta Allah yang teguh yang diungkapkan pada salib Kristus. Pengharapan bangkit bersama dengan kebangkitan Yesus dari kubur, ketika kematian dan kuasa maut dikalahkan; pengharapan menyebar bersama dengan turunnya Roh Kudus pada Hari Pentakosta, yang membarui muka bumi. Kristus yang bangkit adalah awal dari kehidupan baru yang autentik. Kebangkitan Kristus memaklumkan berakhirnya hukum lama dan menaburkan benih-benih ciptaan baru yang abadi; di sana segala sesuatu akan didamaikan dalam Dia, dan Allah akan menjadi segala-galanya dalam segala-galanya.

Lihatlah, Aku membuat segala sesuatu menjadi baru. Pengharapan Kristiani dimulai dengan pembaruan ciptaan, sedemikian rupa sehingga terpenuhilah maksud asli dari karya penciptaan yang dilakukan oleh Allah. Dalam Kitab Wahyu 21, Allah tidak berkata ‘Aku menciptakan semua hal yang baru” tetapi “Aku membuat segala sesuatu menjadi baru.” Pengharapan Kristiani bukanlah suatu penantian panjang yang pasif akan datangnya akhir dunia tetapi keinginan yang aktif untuk terjadinya pembaruan dunia. Pembaruan ini sudah dimulai dalam peristiwa kebangkitan dan Pentakosta. Pengharapan ini bukanlah pengharapan akan datangnya puncak apokaliptik sejarah yang menghancurkan dunia kita, tetapi pengharapan akan terjadinya perubahan fundamental dan radikal dari dunia yang sudah kita kenal ini. Awal baru yang ditampilkan Allah akan mengakhiri segala dosa, perpecahan, dan keterbatasan dunia; awal baru ini juga akan mengubah ciptaan sehingga ia pantas ambil bagian dalam kemuliaan Allah dan ikut menikmati keabadian-Nya.

Pengharapan inilah yang mendorong dan menopang orang-orang Kristiani ketika mereka berhimpun untuk berdoa memohon kesatuan. Kekuatan doa untuk kesatuan ini adalah kekuatan yang datang dari pembaruan yang dikerjakan Allah terhadap dunia yang Ia ciptakan; kebijaksanaan yang mendasari doa ini adalah kebijaksanaan Roh Kudus yang menghembuskan hidup baru ke dalam tulang-tulang kering dan membuatnya hidup; ketulusan doa untuk kesatuan ini tercermin pada keterbukaan diri kita secara penuh kepada kehendak Allah, yakni keterbukaan untuk diubah menjadi alat-alat kesatuan yang dikehendaki Kristus bagi murid-murid-Nya.

Doa

Allah yang mahabaik, Engkau selalu menyertai kami di tengah-tengah penderitaan dan kekalutan; dan sampai akhir zaman Engkau tetap akan menyertai kami. Bantulah kami menjadi umat yang sungguh penuh pengharapan, yang tulus menghayati Sabda Bahagia, dan gigih mengupayakan kesatuan yang Engkau dambakan. Dengan pengantaraan Kristus, Tuhan kami. Amin.


Bahan Ibadat Tambahan dari Korea

Dengarkanlah Doa Kami (Woo-Ri Gi-Do, Nyanyian Korea)

Ya Allah, dengarkanlah doa kami.

Engkau tahu apa yang kami butuhkan

dan Engkau mendengarkan kami.

Berilah kami damai-Mu.

Doa untuk Perdamaian dan Penyatuan Kembali Semenanjung Korea, 2006

Kami berharap

kesatuan kembali negeri ini akan teguh dan indah.

Kamu berharap

kesatuan ini akan menyembuhkan sejarah kepedihan dan penderitaan kami.

Anugerahkanlah kesatuan kepada bangsa kami,

dan berikanlah pengharapan kepada seluruh dunia…

Tuhan,

dalam Dikau, kami memimpikan suatu mimpi besar,

mimpi yang Kauimpikan pada kayu salib di masa lampau itu.

Mimpi besar setiap orang,

dan mimpi agung seluruh sejarah,

yang ada di dalam Hati-Mu

adalah mimpi kami juga.

Doa Paskah Gereja-Gereja Korea Selatan dan Korea Utara, April 2007

O Tuhan,

Engkau telah mengalahkan kematian

dan bangkit kepada kehidupan! (“Aku telah mengalahkan dunia” (Yoh 16:33)

Kami memuji Engkau, ya Tuhan kami,

karena Engkau telah bangkit,

karena, akhirnya, Engkau mengalahkan salib,

karena Engkau meninggalkan kubur kosong,

dan bangkit dengan mulia.

O Tuhan kami yang telah bangkit,

air mata-Mu di Getsemani telah membuat bunga-bunga musim semi bermekaran,

kepedihan-Mu di Golgota telah memancarkan terang ke tengah kegelapan;

Engkau telah mengubah kesedihan di luar kubur menjadi suka cita;

Engkaulah Harapan abadi seluruh umat manusia.

Kini, kami letih

karena dirundung kegelapan perpecahan yang berkepanjangan;

kami terus-menerus memanggul salib

sambil berkelana menyusuri negeri ini

ibarat menyusuri suatu padang gurun;

kami menapaki jalan yang penuh duri tajam

sampai datangnya fajar baru.

Di sini,

hari ini,

dengan melintasi setiap lembah

yang membentang di sepanjang tanah air kami,

Gereja-Gereja utara dan selatan berhimpun menjadi satu,

orang-orang Kristiani selatan dan utara berpadu dalam kehangatan hati,

memuji Engkau, ya Allah,

atas datangnya fajar Paskah yang baru.

Ya Allah,

agar supaya kami dapat menjadi saksi yang hidup tentang kebangkitan,

biarlah tangan-tangan kami

yang berlumuran darah

karena menancapkan paku kebencian

dan menghunjamkan tombak penghukuman,

menjadi tangan-tangan

yang membebat luka,

yang terulur untuk membangun rekonsiliasi.

Ya Allah,

di lorong penderitaan ini,

bantulah kami

memulihkan suara penghiburan,

dan memantapkan kembali langkah perdamaian.

Dan, akhirnya,

bantulah kami menyadari

bahwa kami dapat mengubah sejarah kematian.

Maka, ya Tuhan,

sebagaimana salib dan kebangkitan itu satu,

sebagaimana Sungai Daedong di Utara dan Sungai Han di Selatan bermuara di laut yang sama,

semoga kebebasan kami yang serba tidak lengkap

menjadi penyatuan kembali yang sempurna,

yang membentang dari Gunung Halla di Selatan

sampai Gunung Baekdu di Utara,

dari Kaesong di Barat

sampai Pegunungan Keumgang di Timur.

Dan, selanjutnya, ya Tuhan,

semoga salam Paskah-Mu

“Damai sejahtera bagimu,” (Yoh. 20:19,21,16)

melampaui batas-batas tanah kami

dan menjangkau seluruh Asia serta seluruh dunia.

Satukanlah kami semua

dalam damai, pekik suka cita, tawa ria,

dan pelukan persahabatan.

Semoga hari-hari tidak pasti

yang menyelubungi kampung global ini

berubah menjadi Hari Ketiga

yang penuh pengharapan.

Semua ini kami panjatkan

dalam nama Yesus Kristus yang telah bangkit

yang menuntun tanah air kami

menuju satu negara, satu ciptaan baru.

Doa Bersama ini disusun bersama oleh Dewan Nasional Gereja-Gereja Korea (NCCK) dan Federasi Kristiani Korea (KCF).

Salib

Karya: Yun Dongju, Seorang penyair dan martir yang berjuang untuk kemerdekaan Korea dalam masa kolonial Jepang. Ia dihukum mati pada tahun 1945.

Berkas-berkas sinar mentari

yang terus mengikuti langkahku

sampai semenit yang lalu

kini terhenti pada salib

yang bertengger di puncak gereja.

Aku bertanya-tanya

bagaimana mereka dapat mendaki

suatu puncak yang begitu tinggi.

Aku mondar-mandir tanpa henti,

sambil bersiul-siul riang,

tak terdengar lonceng gereja berdentang.

Dan kalau sebuah salib pernah diberikan kepadaku,

sama seperti kepada orang yang sedang menghadapi ajal,

kepada Yesus Kristus yang berbahagia,

aku akan mengucurkan diam-diam

darah yang bermunculan ibarat sekuntum bunga,

yang turun membasahi leherku,

di kolong langit yang menjadi gelap.

Marilah Kita Bersatu

Bapa yang kudus,

lindungilah mereka dengan kuasa nama-Mu –

nama yang telah Kauberikan kepada-Ku –

supaya mereka dapat menjadi satu

sama seperti kita adalah satu.

Sebagaimana Engkau mengutus Aku ke dunia,

Aku telah mengutus mereka ke dalam dunia.

Bagi mereka Aku menguduskan diri-Ku,

supaya mereka pun dapat sungguh-sungguh dikuduskan.

Aku di dalam mereka dan Engkau di dalam Aku.

Semoga mereka diantar kepada kesatuan yang sempurna

agar dunia tahu bahwa Engkau telah mengutus Aku

dan telah mengasihi mereka

sama seperti Engkau telah mengasihi Aku.

Situasi Ekumenis di Korea [1]

1. Bangsa Korea: 5.000 Tahun Sejarahnya Sebagai Satu Bangsa.

Untuk memahami situasi ekumenis di Korea penting sekali memahami sejarah khusus bangsa Korea.

Korea didirikan pada tahun 2333 SM oleh Dankun, dan bertahan selama hampir 5000 tahun sebagai suatu bangsa yang secara rasial homogen. Meskipun menghadapi ancaman berat dari China selama 2000 tahun pertamanya, Korea mempertahankan martabat dan kemerdekaannya sebagai suatu bangsa (Choson Purba). Sejak abad pertama SM sampai ke abad ketujuh M, Korea mengalami beberapa dinasti. Sejak tahun 57 SM sampai tahun 935 M Dinasti Kokuryeo (37 SM – 668 M), Paikje (18 SM sampai tahun 660 M) dan Shilla (57 SM sampai tahun 935 M). Masa Tiga Kerajaan (Samkuk) dalam sejarah Korea ditopang oleh tiga dinasti tersebut; di Utara Dinasti Balhae (798-926 M) digantikan oleh Dinasti Koryo (918-1392) pada abad ke sepuluh, dan Dinasti Chosun (1392 – 1910) pada abad keempat belas. Selama masa ini Korea tidak hanya bertahan sebagai suatu bangsa yang homogen, tetapi juga memperoleh perkembangan-perkembangan kultural yang tinggi.

Pada tahun 1897 berdirilah Kekaisaran Korea (Daehan Jeguk), yang mengawali suatu era modern dalam sejarah Korea. Sejak tahun 1910 sampai 1945 Korea diduduki oleh Jepang, tetapi orang-orang Korea tidak pernah kehilangan harapan dan tidak pernah berhenti berjuang untuk memperoleh kemerdekaan. Usaha dan perjuangan itu akhirnya mengantar mereka kepada kebebasan dari pendudukan Jepang pada tahun 1945, dengan berakhirnya Perang Dunia II. Sejarah telah mengungkap nasib Korea: karena tempatnya sangat penting dalam kerangka geo-politis, Korea telah menderita banyak pengaruh, dan banyak serangan, dari kekuatan-kekuatan besar dunia.

Korea juga harus berjuang melawan konflik internal yang mencerminkan aneka ragam ideologi. Pergulatan ideologis yang berlangsung bertahun-tahun itu memuncak dalam pendirian dua negara terpisah: Republik Demokrasi Rakyat Korea, yang berasaskan komunisme, di Korea Utara, dan Republik Korea, yang berasaskan demokrasi serta kebebasan, di selatan. Konflik dan konfrontasi antara kedua ideologi menjerumuskan bangsa ini ke dalam tragedi Perang Korea (1950-1953), di mana banyak orang kehilangan nyawa. Pada tahun 1953 ditandatangani suatu gencatan senjata. Batas antara Korea Utara dan Korea Selatan, dengan zona demiliterisasinya, menjadi simbol kasat mata dari tragedi sejarah Korea.

Jumlah keluarga yang terpecah-belah oleh perang, dan akibat buruknya, diperkirakan sekitar 10 juta. Akhir-akhir ini keluarga-keluarga itu diberi kesempatan terbatas untuk saling berjumpa. Tetapi, pada umumnya mereka bahkan tidak tahu apakah anggota keluarga mereka yang ada di belahan utara/selatan masih hidup atau sudah mati. Kepedihan keluarga-keluarga ini tetap bercokol dalam hati setiap orang Korea; hal ini merupakan luka yang mendalam dalam kebanggaan dan identitas mereka sebagai bangsa.

2. Rekonsiliasi Dan Kerjasama Utara dan Selatan

Pada tanggal 4 Juli 1972, Semenanjung Korea mengalami suatu titik balik sejarah. pada hari ini ditandatangani Deklarasi Bersama yang mengubah suasana konflik dan permusuhan, mengurangi kesalahpahaman timbal balik, dan memfasilitasi diskusi serta usaha-usaha praktis ke arah penyatuan bangsa sebagai tugas bersama.

Dewan Gereja-Gereja Sedunia dan Gereja Katolik Roma juga telah menunjukkan minat besar dalam memfasilitasi perdamaian dan melunakkan ketegangan yang selama ini mewarnai relasi-relasi utara – selatan. Pada tahun 1988, Sidang Raya Dewan Gereja-Gereja Nasional di Korea memaklumkan “Deklarasi Gereja-Gereja Korea” mengenai Penyatuan Kembali dan Perdamaian Bangsa”, dan Konferensi Uskup Katolik membentuk Komisi untuk Rekonsiliasi Nasional. Menindak-lanjuti peristiwa penting ini, sejumlah Gereja (misalnya Gereja Katolik Changchungdang dan Gereja Chilkok) telah didirikan di Korea Utara, dan ibadat-ibadat mulai diselenggarakan di sana.

Dalam konteks ini, pemenang Hadiah Nobel Perdamaian, Kim Dae-Jung, – President Republik Korea (Selatan) waktu itu – menyelenggarakan pertemuan tingkat tinggi dengan pemimpin Korea Utara, Kim Jong-Il. Pertemuan ini mengeluarkan Deklarasi Bersama pada 15 Juni 2000. Deklarasi ini memperkuat pemerintahan Korea Selatan dalam melaksanakan “politik terang-mentari”-nya terhadap Korea Utara. Tetapi, situasi di zona demiliterisasi menunjukkan ketegangan tingkat tinggi antara Utara dan Selatan. Usaha-usaha untuk perdamaian di Semenanjung Korea mendapat dukungan dari negara-negara yang terlibat dalam pembicaraan enam-pihak. Pertemuan ini telah membuahkan kerjasama dan kolaborasi dalam berbagai bidang, misalnya: dukungan material pada tingkat pemerintahan dan, pada tingkat swasta, pertukaran dalam bidang kebudayaan, olah raga, agama, dan seni; juga pertukaran dalam bidang akademik dan ekonomi.

3. Mengatasi Konflik dan Perpecahan di Jalan Menuju Kesatuan dan Penyatuan

Kendati banyak usaha telah dilakukan untuk mencapai perdamaian dan rekonsiliasi di Semenanjung Korea, masih ada akar-akar konflik yang mendalam, perpecahan, dan konfrontasi. Untuk mewujudkan kesatuan yang damai, Utara dan Selatan harus menghadapi sejumlah masalah bersama: konfrontasi antara liberalisme dan sosialisme, kesenjangan antara kaya dan miskin, dan penindasan terhadap iman serta agama.

Masih ada tembok pemisah antara Utara dan Selatan, suatu tembok yang tampak amat kokoh untuk dirobohkan. Tetapi harapan, dan juga kerinduan, akan kesatuan telah menjadi keprihatinan bersama pada kedua pihak, ketika mereka melagukan nyanyian pengharapan yang sama (“Uri Ui Sowon Eun Tongil”). Semua orang Korea, meskipun menghadapi banyak perbedaan dan konflik, mengharapkan suatu unifikasi yang diliputi damai dan kerukunan di seluruh Semenanjung Korea. Sebagai orang Kristiani kita berharap dan menantikan hari ketika Allah akan menyatukan kedua pihak yang terpecah, sehingga kita dapat sehati sesuara memuji dan bersyukur kepada Allah atas karya rekonsiliasi dan ciptaan baru ini.

4. Latar Belakang Pekan Doa untuk Kesatuan Umat Kristiani 2009: Gerakan Ekumenis Korea

Komunitas Katolik di Korea didirikan pada tahun 1784 oleh orang Katolik baptisan pertama di Korea, yakni Lee Sung-Hun, yang menyebarkan ajaran Kristiani di kalangan rekan-rekan seperjuangannya. Protestantisme diperkenalkan di Korea pada tahun 1880-an. Pada tahun 1919, orang-orang Kristiani Korea bekerjasama dengan saudara-saudara penganut iman lain, antara lain para pemimpin Buddha, Chon Taoisme, dan para pemuka agama-agama tradisional, untuk melawan kekuatan Jepang, demi kemerdekaan Korea.

Cikal bakal gerakan ekumenis Korea dapat dilacak kembali ke rekomendasi-rekomendasi dan semangat Konsili Vatikan II (1962-1965), khususnya Dekrit mengenai Ekumenisme, yang menekankan pentingnya upaya semua orang Kristiani untuk mewujudkan kesatuan umat Kristiani. Gereja-Gereja yang berpartisipasi dalam dialog lintas-Gereja di Korea adalah Metropolis Ortodoks Korea, Konferensi Uskup Katolik Korea, Dewan Nasional Gereja-Gereja di Korea (dan Gereja-Gereja anggotanya: Gereja Presbyterian di Korea, Gereja Methodis Korea, Gereja Presbyterian di Republik Korea, Bala Keselamatan Wilayah Korea, Gereja Anglikan Korea, Gereja Evangelis Korea, Jemaat Allah Injil Sepenuh di Korea), dan Gereja Lutheran di Korea. Sejak awal 1970-an, Dewan Nasional Gereja-Gereja di Korea, yang mewakili Protestantisme, dan Gereja Katolik Roma di Korea, telah bergantian menyelenggarakan ibadat dalam rangka Pekan Doa untuk Kesatuan Umat Kristiani. Ibadat bersama ini telah menyediakan bagi orang-orang Kristiani ruang untuk berdoa dan bekerja bersama guna memajukan gerakan ekumenis di Korea. Pada tahun 1977 para ahli Kitab Suci dari kalangan Gereja-Gereja Protestan dan Katolik menyelesaikan terjemahan bersama untuk Alkitab sehingga, untuk pertama kalinya, semua Gereja di Korea dapat memiliki terjemahan dalam bahasa Korea yang sama untuk Alkitab.

Gerakan ekumenis Korea sekarang memiliki aneka program untuk berbagai kelompok: untuk staf aneka denominasi, untuk para teolog, untuk para mahasiswa seminari, dan untuk para moderator dari aneka denominasi. Sejak tahun 2000, suatu kelompok studi yang beranggotakan para teolog telah menyelenggarakan suatu Forum Ekumenis; kelompok ini membahas aneka tema teologis untuk meningkatkan pemahaman timbal balik antara Gereja-Gereja Protestan dan Gereja Katolik. Di samping itu, suatu kelompok yang diorganisasi oleh para mahasiswa seminari telah melaksanakan program seperti mengunjungi berbagai seminari dan menyelenggarakan olah raga untuk mengembangkan persahabatan di kalangan para anggota aneka Gereja. Para moderator aneka denominasi mengadakan pertemuan dan perjamuan bersama secara teratur untuk meningkatkan pemahaman dan persahabatan mereka, dan untuk saling tukar gagasan.

Suatu seminar mengenai Kesatuan Umat Kristiani di Asia, yang diselenggarakan pada 24-28 Juli 2006 di Wisma Harun (Aaron’s House) merupakan suatu peristiwa yang pantas dikenang dalam sejarah gerakan ekumenis Korea. Seminar ini dihadiri oleh Kardinal Walter Kasper, Presiden Dewan Kepausan untuk Memajukan Kesatuan Umat Kristiani; dalam seminar ini berhimpun para pemuka dari negara-negara Asia untuk mendiskusikan dan membagikan aneka pendekatan kepada kesatuan umat Kristiani dan gagasan-gagasan untuk mencapainya. Pada 23 Juli 2006, pada Konferensi Methodis Sedunia yang ke-19 yang diselenggarakan di Seoul, Korea, Gereja Methodis “menadatangani” Deklarasi Bersama mengenai Ajaran tentang Penyelamatan yang sudah disetujui oleh Gereja Katolik Roma dan Federasi Lutheran Sedunia pada 1999. Dengan demikian peristiwa tingkat dunia yang penting untuk kesatuan umat Kristiani ini terjadi di Korea.

Didasarkan pada pengalaman dan kepercayaan timbal balik yang terhimpun lewat aneka program dan kegiatan bersama, para pemimpin dari kalangan Gereja-Gereja Protestan dan dari kalangan Gereja Katolik di Korea melaksanakan peziarahan ekumenis pada 6-16 Desember 2006. Mereka mengunjungi Paus Benediktus XVI di Vatikan, Sekretaris Jenderal Dewan Gereja-Gereja Sedunia di Jenewa, Swiss, dan Yang Mulia Batrik Ekumenis di Istanbul, Turki. Di Roma, mereka juga berjumpa dengan staf Dewan Kepausan untuk Memajukan Kesatuan Umat Kristiani, dan di Jenewa dengan staf Komisi Faith and Order dari Dewan Gereja-Gereja Sedunia. Dalam kunjungan-kunjungan itu mereka memaparkan suatu gagasan bahwa umat Kristiani Korea dapat mempersiapkan draft bahan-bahan Pekan Doa untuk Kesatuan Umat Kristiani 2009. Kedua lembaga ekumenis itu menyambut positif gagasan tersebut, dan menyetujui saran Gereja-Gereja Korea untuk menyusun bahan-bahan Pekan Doa.

Pada 23 Januari 2007, Gereja-Gereja Korea menyelenggarakan ibadat bersama dalam kerangka Pekan Doa untuk Kesatuan Umat Kristiani di Gereja Anglikan di Chongju, dan juga menyelenggarakan suatu pertemuan para teolog dari Gereja-Gereja Protestan dan Gereja Katolik. Pertemuan ini menunjuk dua orang dari Gereja-Gereja Protestan dan tiga orang dari Gereja Katolik untuk menjadi anggota sub-komisi persiapan untuk menyusun bahan untuk Pekan Doa 2009. Sub-komisi ini mengadakan pertemuan perdananya pada 8 Februari 2007 dan memilih Yehezkiel 37:15-23, yang berisi nubuat tentang kerajaan Israel yang disatukan kembali, sebagai tema untuk buku panduan Pekan Doa untuk Kesatuan Umat Kristiani 2009. Bagi Gereja-Gereja di Korea kutipan dari Kitab Yehezkiel ini sangat cocok dengan situasi di Semenanjung Korea, yang merupakan satu-satunya negara di dunia yang masih terpecah. Diputuskan bahwa setiap denominasi akan menulis renungan biblis dan doa untuk satu dari “delapan hari” Pekan Doa. Dengan demikian mulailah karya yang akhirnya mengantar kepada penerbitan bahan-bahan yang dibagikan ke seluruh dunia untuk Pekan Doa 2009.

Penutup

Keadaan Semenanjung Korea sekarang ini – yang menghalangi orang-orang Korea dari belahan yang satu untuk berkomunikasi dengan orangtua mereka, anak-anak, saudara, kaum kerabat, dan sahabat-sahabat yang hidup di belahan yang lain – mengungkapkan suatu situasi yang tidak dapat diterima dan yang harus diatasi. Situasi politik di Korea Utara, yang menghalangi rakyat untuk melaksanakan tradisi religius mereka sendiri, mengungkapkan suatu situasi penindasan yang membatasi hati nurani manusia.

Tetapi situasi konfrontasi, antagonisme, konflik, kekerasan, dan perang yang berakar dalam permusuhan agama, rasa, dan etnik, tidaklah terbatas di Semenanjung Korea; semua itu juga terjadi di banyak tempat di dunia dewasa ini. Oleh karena itu, pengalaman perpecahan dan penderitaan bangsa Korea ini sungguh relevan bagi orang-orang Kristiani dan masyarakat di seluruh dunia. Orang-orang Kristiani (Katolik, Protestan, Ortodoks) di Korea bekerja sama untuk kesejahteraan seluruh bangsa – untuk membawa damai sejati ke Semenanjung Korea – bersama para penganut iman lain: Buddhisme, Konfusianisme, dan agama-agama tradisional lain, termasuk Won Buddhisme dan Chon Taoisme (Chon Do Gyo).

Selama Pekan Doa untuk Kesatuan Umat Kristiani 2009, orang-orang Kristiani diminta untuk berdoa guna memajukan kesatuan dan membangun perdamaian; tugas-tugas ini merupakan tanggung jawab semua orang Kristiani di seluruh dunia. Harapan yang mengilhami doa ini adalah agar semua bangsa di dunia menjadi umat Allah; agar Allah menjadi Allah mereka, dan agar umat dikaruniai kebahagiaan berupa suka cita dan kesejahteraan ketika konfrontasi, konflik, dan perpecahan dimusnahkan dan kesatuan diwujudkan. Orang-orang Kristiani harus berdoa dengan sabar sampai “langit baru dan bumi baru” tercipta: “sehingga mereka menjadi umat-Ku dan Aku menjadi Allah mereka” (Yehezkiel 37:23).


Pekan Doa untuk Kesatuan Umat Kristiani

Tema 1968-2009

Pada tahun 1968, untuk pertama kalinya digunakan bahan-bahan Pekan Doa yang disiapkan bersama oleh Komisi Faith and Order dari Dewan Gereja-Gereja Sedunia dan Dewan Kepausan untuk Memajukan Kesatuan Umat Kristiani.

1968
Untuk Memuji Kemuliaan-Nya. (Ef. 1:14)
Pour la louange de sa gloire

1969
Dipanggil Untuk Merdeka. (Gal. 5:13)
Appelés à la liberté
(Pertemuan persiapan diselenggarakan di Roma, Italia)

1970
Kami Adalah Kawan Sekerja Allah (1 Kor. 3:9)
Nous sommes les coopérateurs de Dieu
(Pertemuan persiapan diselenggarakan di Pertapaan Niederaltaich, Republik Federasi Jerman)

1971
… Dan Persekutuan Roh Kudus (2 Kor. 13:13)
…et la communion du Saint-Esprit

1972
Aku Memberikan Perintah Baru kepada Kamu (Yoh. 13:34)
Je vous donne un commandement nouveau
(Pertemuan persiapan diselenggarakan di Jenewa, Swiss)

1973
“Tuhan, Ajarlah Kami Berdoa (Luk. 11:1)
Seigneur, apprends-nous à prier
(Pertemuan persiapan diselenggarakan di Pertapaan Montserrat, Spanyol)

1974
Agar Segala Lidah Mengaku: Yesus Kristus Adalah Tuhan, (Flp. 2: 1-13)
Que tous confessent: Jésus-Christ est Seigneur
(Pertemuan persiapan diselenggarakan di Jenewa, Swiss)

1975
Maksud Allah: Segala Sesuatu Disatukan di dalam Kristus, Sang Kepala (Ef. 1: 3-10)
La volonté du Père: Tout réunir sous un seul chef, le Christ
(Bahan dari Kelompok Australia. Pertemuan persiapan diselenggarakan di Jenewa, Swiss)

1976
Kita Akan Menjadi Sama Seperti Dia (1 Yoh. 3:2) atau, Dipanggil untuk Menjadi Apa Adanya Kita
Appelés a devenir ce que nous sommes
(Bahan dari Konferensi Gereja-Gereja Karibia. Pertemuan persiapan diselenggarakan di Roma, Italia)

1977
Bertahan Bersama dalam Pengharapan (Rom. 5:1-5)
L’espérance ne deçoit pas
(Bahan dari Lebanon, di tengah perang saudara. Pertemuan persiapan diselenggarakan di Jenewa, Swiss)

1978
Bukan Lagi Orang Asing (Ef. 2:13-22)
Vous n’êtes plus des étrangers
(Bahan dari tim ekumenis di Manchester, Inggris.)

1979
Layanilah Seorang Akan Yang Lain, Agar Allah Dimuliakan (l Ptr. 4:7-11)
Soyez au service les uns des autres pour la gloire de Dieu
(Bahan dari Argentina. Pertemuan persiapan diselenggarakan di Jenewa, Swiss)

1980
Datanglah Kerajaan-Mu (Mat. 6:10)
Que ton règne vienne!
(Bahan dari suatu kelompok ekumenis di Berlin, Republik Demokrasi Jerman.
Pertemuan persiapan diselenggarakan di Milan)

1981
Satu Roh – Banyak Karunia – Satu Tubuh (1 Kor. 12:3b-13)
Un seul esprit – des dons divers – un seul corps
(Bahan dari Graymoor Fathers, USA. Pertemuan persiapan diselenggarakan di Jenewa, Swiss
)

1982
Semoga Semua Orang Mendapatkan Rumahnya di Dalam Dikau, ya Tuhan (Mzm. 84)
Que tous trouvent leur demeure en Toi, Seigneur
Bahan dari Kenya.
Pertemuan persiapan diselenggarakan di Milan, Italia)

1983
Yesus Kristus – Kehidupan bagi Dunia (1 Yoh. 1: 1-4)
Jesus Christ – La Vie du Monde
(Bahan dari suatu kelompok ekumenis di Irlandia. Pertemuan persiapan diselenggarakan di Céligny (Bossey), Swiss)

1984
Dipanggil untuk Menjadi Satu Melalui Salib Tuhan Kita (1 Kor. 2:2 dan Kol. 1: 20)
Appelés à l’unité par la croix de notre Seigneur
(Pertemuan persiapan diselenggarakan di Venetia, Italia)

1985
Dari Kematian ke Kehidupan Bersama Kristus (Ef. 2:4-7)
De la mort à la vie avec le Christ
(Bahan dari Jamaika. Pertemuan persiapan diselenggarakan di Grandchamp, Swiss)

1986
Kamu Akan Menjadi Saksi-Ku (Kis. 1:6-8)
Vous serez mes témoins
(Bahan dari Yugoslavia
(Slovenia). Pertemuan persiapan diselenggarakan di Yugoslavia)

1987
Dipersatukan dalam Kristus – Suatu Ciptaan Baru (2 Kor. 5:17-6:4a)
Unis dans le Christ – une nouvelle création
(Bahan dari Inggris. Pertemuan persiapan diselenggarakan di Taizé, Prancis)

1988
Di Dalam Kasih Allah Tidak Ada Ketakutan (1 Yoh. 4:18)
L’Amour de Dieu bannit la Crainte
(Bahan dari Italia. Pertemuan persiapan diselenggarakan di Pinerolo, Italia)

1989
Membangun Komunitas: Satu Tubuh di Dalam Kristus (Rom. 12:5-6a)
Bâtir la communauté: Un seul corps en Christ
(Bahan dari Kanada. Pertemuan persiapan diselenggarakan di Whaley Bridge, Inggris)

1990
Semoga Mereka Semua Bersatu…Agar Dunia Percaya (Yoh. 17)
Que tous soient un…Afin que le monde croie
(Bahan dari Spanyol. Pertemuan persiapan diselenggarakan di Madrid, Spanyol)

1991
Pujilah Tuhan, hai Segala Bangsa! (Mzm. 117 dan Rom. 15:5-13)
Nations, louez toutes le Seigneur
(Bahan dari Jerman. Pertemuan persiapan diselenggarakan di Rotenburg an der Fulda, Republik Federasi Jerman)

1992
Aku Menyertaimu Senantiasa … Maka Dari Itu, Pergilah (Mat. 28:16-20)
Je suis avec vous…allez donc
(Bahan dari Belgia. Pertemuan persiapan diselenggarakan di Bruges, Belgia)

1993
Menghasilkan Buah Roh Untuk Kesatuan Umat Kristiani (Galatians 5: 22-23)
Pour l’unité: laisser mûrir en nous les fruits de l’Esprit
(Bahan dari Zaire. Pertemuan persiapan diselenggarakan di Zurich, Swiss)

1994
Keluarga Allah: Dipanggil Untuk Menjadi Sehati dan Sepikir (Kis. 4:23-37)
La maison de Dieu: Appelés à être un dans le cœur et dans l’esprit
(Bahan dari Irlandia. Pertemuan persiapan diselenggarakan di Dublin, Republik Irlandia)

1995
Koinonia: Persekutuan dalam Allah dan dengan Sesama (Yoh. 15:1-17)
La koinonia: communion en Dieu et les uns avec les autres
(Bahan dari Faith and Order. Pertemuan persiapan diselenggarakan di Bristol, Inggris)

1996
Lihatlah, Aku Berdiri di Depan Pintu dan Mengetuk (Why. 3:14-22)
Je me tiens à la porte et je frappe
(Bahan dari Portugal.
Pertemuan persiapan diselenggarakan di Lisbon, Portugal)

1997
Atas Nama Kristus Kami Meminta Kepadamu: Berilah Dirimu Didamaikan dengan Allah. (2 Kor. 5:20)
Au nom du Christ, laissez-vous reconcilier avec Dieu
(Bahan dari Dewan Ekumenis Norwegia. Pertemuan persiapan diselenggarakan di Stockholm, Swedia)

1998
Roh Membantu Kita Dalam Kelemahan Kita (Rom. 8:14-27)
L’Esprit aussi vient en aide à notre faiblesse
(Bahan dari Prancis. Pertemuan persiapan diselenggarakan di Paris, Prancis)

1999
Ia akan diam bersama-sama dengan mereka sebagai Allah mereka dan mereka akan menjadi umat-Nya (Wahyu 21:1-7)
Dieu demeurera avec eux. Ils seront ses peuples et lui sera le Dieu qui est avec eux
(Bahan dari Malaysia. Pertemuan persiapan diselenggarakan di Pertapaan Bose, Italia)

2000
Terpujilah Allah Yang Telah Memberkati Kita dalam Kristus (Ef. 1:3-14)
Béni soit Dieu, qui nous a bénis en Christ
(Bahan dari Dewan Gereja-Gereja Timur Tengah. Pertemuan persiapan diselenggarakan di La Verna, Italia)

2001
Aku Adalah Jalan, Kebenaran, dan Hidup (Yoh. 14:1-6)
Je suis le chemin, et la vérité et la vie
(Bahan dari Romania. Pertemuan persiapan diselenggarakan di Vulcan, Romania)

2002
Sebab Pada-Mu Ada Sumber Kehidupan (Mzm. 36:5-9)
Car chez toi est la fontaine de la vie (Psalm 35, 6-10)
(Bahan dari CEEC dan CEC. Pertemuan persiapan diselenggarakan di dekat Augsbourg, Jerman

2003
Harta Ini Kami Punyai Dalam Bejana Tanah Liat (2 Kor. 4:4-18)
Car nous avons ce trésor dans des vases d’argile
(Bahan dari Argentina. Pertemuan persiapan diselenggarakan di Los Rubios, Spanyol)

2004
Damai-Ku Kuberikan Kepadamu (Yoh. 14:23-31; John 14: 27)
Je vous donne ma paix
(Bahan dari Aleppo, Suriah. Pertemuan persiapan diselenggarakan di Palermo, Sicilia)

2005
Kristus, Satu-satunya Dasar Gereja (1 Kor. 3:1-23)
Le Christ, unique fondement de l’Eglise
(Bahan dari Slovakia. Pertemuan persiapan diselenggarakan di Piesta?y, Slovakia)

2006
Di mana dua atau tiga orang berkumpul dalam nama-Ku, di situ Aku ada di tengah-tengah mereka (Mat. 18:18-20)
Là où deux ou trois se trouvent réunis en mon nom, je suis au milieu d’eux.
(Bahan dari Irlandia. Pertemuan persiapan diselenggarakan di Prosperous, Co. Kildare, Irlandia)

2007
Orang Tuli Dibuat-Nya Mendengar, Orang Bisu Berbicara (Mrk. 7:31-37)
Il fait entendre les sourds et parler les muets
(Bahan dari Afrika Selatan . Pertemuan persiapan diselenggarakan di Faverges, Prancis)

2008
Berdoalah Tanpa Henti! (1 Tes. 5:(12a) 13b-18)
Priez sans cesse (Bahan dari USA. Pertemuan persiapan diselenggarakan di Graymoor, Garrison, USA)

2009
Agar Mereka Menjadi Satu dalam Tangan-Mu (Yeh. 37: 15-28)
Ils seront unis dans ta main (Ezek 37, 15-28)
(Bahan dari Korea. Pertemuan persiapan diselenggarakan di Marseilles, Prancis)


Beberapa Tanggal Penting dalam Sejarah Pekan Doa untuk Kesatuan Umat Kristiani

Sekitar 1740 Di Skotlandia muncul suatu gerakan pentakostal, yang memiliki hubungan dengan Amerika Utara, yang amanat pokoknya mencakup doa bagi dan bersama semua Gereja.

1820 James Haldane Stewart menerbitkan tulisan berjudul “Butir-butir untuk Kesatuan Umum Umat Kristiani demi Pencurahan Roh.”

1840 Ignatius Spencer, seorang petobat kepada Gereja Katolik Roma, menyarankan adanya suatu “Doa Bersama untuk Kesatuan.”

1867 Konferensi Para Uskup Anglikan Pertama di Lambeth menandaskan doa untuk kesatuan dalam Mukadimah Keputusan Konferensi.

1894 Paus Leo XIII mendorong kebiasaan menyelenggarakan suatu Pekan Doa untuk kesatuan dalam kerangka Pentakosta.

1908 Pelaksanaan “Pekan Kesatuan Gereja” dimulai oleh Paul Wattson.

1926 Gerakan Faith and Order mulai menerbitkan “Saran-saran untuk suatu Pekan Doa untuk Kesatuan umat Kristiani.”

1935 Abbas Paul Couturier dari Prancis menganjurkan adanya “Pekan Doa Universal untuk Kesatuan Umat Kristiani,” yang secara inklusif melibatkan semua orang, untuk memohon dan mengupayakan “kesatuan yang dikehedaki Kristus lewat sarana-sarana yang Ia kehendaki.”

1958 Unité Chrétienne (Lyon, Prancis) dan Komisi Faith and Order dari Dewan Gereja-Gereja Sedunia mulai bekerja bersama dalam menyiapkan bahan-bahan untuk Pekan Doa.

1964 Di Yerusalem, Paus Paulus VI dan Batrik Athenagoras I bersama-sama melambungkan doa Yesus “agar mereka semua bersatu” (Yoh. 17).

1964 “Dekrit mengenai Ekumenisme” dari Konsili Vatikan II menandaskan bahwa doa merupakan jiwa dari gerakan ekumenis; maka dekrit ini mendorong pelaksanaan Pekan Doa.

1966 Komisi Faith and Order dari Dewan Gereja-Gereja Sedunia dan Sekretariat untuk Memajukan Kesatuan Umat Kristiani [sekarang dikenal sebagai Dewan Kepausan untuk Memajukan Kesatuan Umat Kristiani] mulai membentuk badan resmi untuk bersama-sama menyiapkan bahan-bahan Pekan Doa.

1968 Secara resmi, untuk pertama kalinya digunakan bahan Pekan Doa yang disiapkan bersama oleh Faith and Order dan Sekretariat untuk Memajukan Kesatuan Umat Kristiani [sekarang dikenal sebagai Dewan Kepausan untuk Memajukan Kesatuan Umat Kristiani].

1975 Untuk pertama kalinya digunakan bahan Pekan Doa yang didasarkan pada teks dasar yang disiapkan oleh suatu kelompok ekumenis lokal. Kelompok pertama yang melaksanakan rencana ini dengan mempersiapkan draft awal 1975 adalah suatu kelompok di Australia.

1988 Bahan-bahan Pekan Doa digunakan dalam ibadat pembukaan Federasi Kristiani Malaysia, yang menghimpun kelompok-kelompok Kristiani utama di negeri itu.

1994 Teks untuk Pekan Doa 1996 disiapkan dalam kerjasama dengan YMCA dan YWCA.

2004 Dicapai kepekatan bahwa bahan-bahan untuk Pekan Doa untuk Kesatuan Umat Kristiani disusun dan diterbitkan bersama dalam format yang sama oleh Faith and Order (DGD) dan Dewan Kepausan untuk Memajukan Kesatuan Kristiani (Gereja Katolik).

2008 Perayaan ulang tahun ke-100 Pekan Doa untuk Kesatuan Umat Kristiani. (Pendahulunya, Pekan Kesatuan Gereja, pertama kali dilaksanakan pada tahun 1908.)

Hal anak mogok sekolah

12

Pertanyaan:

Salam Damai

Semoga Tuhan selalu memberikan berkat yang berlimpah pada Katolisitas dan semua yang terlibat di dalamnya sehingga Katolisitas semakin mendewasakan iman kita semua.
Saya ingin mendewasakan iman keluarga kami melalui pertanyaan sebagai berikut : masalah anak saya yang sudah diterima di Perguruan Tinggi Negeri di Bali, tetapi baru 1 semester lalu tidak mau melanjutkan kuliah lagi dengan alasan jauhlah tempat kuliahnya, tidak cocoklah sama temannya, dosennya kurang paslah, sehingga saat ini mogok. Kami sudah memberikan nasehat dan doa sebagai ortu dan juga sudah kami konsultasikan ke psikiater dan psikolog namun masih aja tidak ada reaksi sampai saat ini. Tawaran untuk pindah ke universitas lainnya juga tidak direspon, lalu bagaimana tindakan kami sebagai keluarga Katolik dalam menghadapi masalah ini, mohon bantuannya.
Terimakasih

Laurensius SH

Jawaban:

Shalom Laurensius,

Memang tidak mudah untuk membujuk anak yang mogok sekolah. Diperlukan keterbukaan dari pihak sang anak untuk mendengarkan nasihat orang tua, tetapi juga diperlukan keterbukaan anda sebagai orang tua untuk mendengarkan apakah sebenarnya yang menjadi alasan anak anda. Berikut ini adalah beberapa saran saya:

1. Jika belum dilakukan, silakan berdoa bersama istri anda baik pagi dan malam hari, dengan intensi khusus bagi anak anda ini. Anda dan istri anda dapat secara khusus berdoa dan berpuasa pada masa Prapaska ini dengan membawa intensi anda ini. Walaupun anda sudah meminta tolong kepada psikolog ataupun psikiater, jangan lupa bahwa sebenarnya anda dan istri andalah yang sesungguhnya merupakan tokoh pendidik utama bagi anak anda (lihat KGK 1653). Anda sudah diberi kepercayaan oleh Tuhan untuk mendidik dan membesarkan anak ini, dan karenanya layak dilakukan usaha dari pihak anda untuk memahami anak anda. Lagipula anda memiliki hal utama yang belum tentu dimiliki oleh psikolog ataupun psikiater tersebut terhadap anak anda, yaitu kasih seorang bapa/ ibu kepada anaknya.

2. Setelah berdoa, silakan anda mencari waktu yang baik untuk berbicara dari hati ke hati dengan anak anda. Pada kesempatan ini, jangan terlalu banyak bicara dulu, tetapi dengarkanlah dahulu kisah dari pihak anak anda. Katakanlah bahwa anda ingin mendengarkan apa sebenarnya pengalaman yang telah dialaminya. Jadilah pendengar yang baik, bahkan jika perlu jangan katakan apa- apa, hanya rangkullah anak anda, dan katakan bahwa anda mengasihi dia dan menginginkan yang terbaik baginya. Biarkan anak anda bercerita, jangan diputus, jangan langsung dikoreksi. Dengarkan dulu, dan tangkaplah masalahnya.

3. Silakan anda periksa masalahnya, apakah karena dia tidak mampu mengikuti, ataukah tidak menyukai jurusan yang diambil, atau karena dia tidak menyukai lingkungan teman- temannya (pergaulan yang tidak baik, mungkin?), atau karena mempunyai pengalaman traumatik dengan dosen, atau apa? Sesudah diketahui masalahnya, silakan didiskusikan bersama, bagaimana sebaiknya. Tanyakan kepadanya, apakah usulan darinya. Apakah mengambil cuti satu tahun dulu, sambil dia mencari jurusan/ universitas yang cocok? Apakah ingin bekerja, sambil kuliah part-time? Jelaskan kepadanya pentingnya pendidikan untuk masa depan, tanpa memaksa. Artinya, anda juga perlu mempunyai keterbukaan untuk menerima, jika masalahnya adalah karena ia tidak ingin melanjutkan ke universitas, tetapi kepada sekolah kejuruan, jika ia merasa tidak mampu secara akademis. Namun jika bukan itu masalahnya, karena anak anda sesungguhnya cukup berprestasi, maka anda memang harus berusaha untuk menemukan alasan yang sesungguhnya. Yang penting sebagai orang tua, peran anda adalah mengarahkan, agar anak anda dapat mengambil jalan/ langkah masa depan yang menjadikan dia dapat berkembang sebagai dirinya sendiri, dalam profesi apapun. Yang terpenting, anak anda dapat menjadi yang terbaik di profesi tersebut, dan menjadi kudus melalui profesi tersebut.

4. Jika perlu, ajaklah juga sahabat anak anda yang cukup baik untuk diajak saling berembuk, agar sahabat-nyapun dapat mendorongnya untuk kembali kuliah jika memang ia sesungguhnya mampu secara akademis.

5. Sarankan agar dia mengikuti retret pribadi untuk merenungkan jalan hidupnya, atau bahkan panggilan hidupnya. Apakah anak anda terpanggil untuk hidup membiara, atau hidup berkeluarga? Apakah yang menjadi cita- citanya? Semoga akan ada pembimbing rohani yang dapat membimbing anak anda dalam retret itu, dan biarkan Tuhan sendiri yang mengarahkan anak anda dalam masa discernment ini.

6. Ajaklah anak anda berdoa dengan anda dan istri anda. Semoga anak anda dapat menjadi semakin terbuka dan semakin dapat berkomunikasi yang baik dengan anda.

Demikianlah saran singkat saya, semoga berguna.

Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
Ingrid Listiati- www.katolisitas.org

Tentang perzinahan

54

Pertanyaan:

Shalom Katolisitas.

Dengan membaca ulasan ttg “apakah hidup bersama sebelum Pemberkatan Nikah” merupakan Dosa..
saya ingin masuk lebih dalam lagi dengan apa arti berjinah / perjinahan, dan bagaimana parameternya berdasarkan ajaran Gereja Katolik. mudah2an ulasan2 katolisitas bisa menjawab macam2 fenomena tentang pandangan terhadap arti perjinahan yang mana sering membuahkan perceraian/perpisahan bagi sebuah rumah tangga.

Salam sejahtera
Felix Sugiharto

Jawaban:

Shalom Felix Sugiarto,

Definisi perzinahan menurut ajaran Kristus dalam Kitab Suci, adalah:

“Setiap orang yang menceraikan isterinya, lalu kawin dengan perempuan lain, ia berbuat zinah; dan barangsiapa kawin dengan perempuan yang diceraikan suaminya, ia berbuat zinah.” (Luk 16:18, lih. Mrk 10:11)

“Kamu telah mendengar firman: Jangan berzinah. Tetapi Aku berkata kepadamu: Setiap orang yang memandang perempuan serta menginginkannya, sudah berzinah dengan dia di dalam hatinya.” (Mat 5:27-28)

Katekismus Gereja Katolik mengajarkan:

KGK 2380     Perzinahan, artinya ketidaksetiaan suami isteri. Kalau dua orang, yang paling kurang seorang darinya telah kawin, mengadakan bersama hubungan seksual, walaupun hanya bersifat sementara, mereka melakukan perzinahan. Kristus malah mencela perzinahan di dalam roh Bdk. Mat 5:27-28.. Perintah keenam dan Perjanjian Baru secara absolut melarang perzinahan Bdk. Mat 5:32; 19:6; Mrk 10:11; 1 Kor 6:9-10.. Para nabi mengritiknya sebagai pelanggaran yang berat. Mereka memandang perzinahan sebagai gambaran penyembahan berhala yang berdosa Bdk.Hos 2:7;Yer 5:7; 13:27.

KGK 2381    Perzinahan adalah satu ketidakadilan. Siapa yang berzinah, ia tidak setia kepada kewajiban-kewajibannya. Ia menodai ikatan perkawinan yang adalah tanda perjanjian; ia juga menodai hak dari pihak yang menikah dengannya dan merusakkan lembaga perkawinan, dengan tidak memenuhi perjanjian, yang adalah dasarnya. Ia membahayakan martabat pembiakan manusiawi, serta kesejahteraan anak-anak, yang membutuhkan ikatan yang langgeng dari orang-tuanya.

Perzinahan ini merupakan perbuatan yang melanggar kesucian ikatan perkawinan dan makna luhur hubungan seksual antara seorang pria dan wanita. Jadi jika dijabarkan, Tuhan tidak berkenan dengan dosa perzinahan, karena:

1. Merupakan perbuatan ketidak-setiaan. Perkawinan Katolik dimaksudkan Allah untuk menjadi tanda yang mencerminkan kasih setia Allah kepada umat-Nya (selanjutnya tentang ini, klik di sini); sehingga pelanggaran terhadap kasih setia ini disamakan oleh Tuhan sebagai tindakan ‘berhala’, seperti ketika pada jaman PL umat Israel berkali- kali melanggar perjanjian dengan Allah dengan menyembah dewa/ allah-allah lain.

“Karena itu matikanlah dalam dirimu segala sesuatu yang duniawi, yaitu percabulan, kenajisan, hawa nafsu, nafsu jahat dan juga keserakahan, yang sama dengan penyembahan berhala, semuanya itu mendatangkan murka Allah…” (Kol 3:5-6)

2. Merupakan perbuatan yang melanggar kesucian dan keluhuran hubungan seksual suami istri, yang harusnya melambangkan kesatuan antara Kristus dan mempelai-Nya yaitu Gereja-Nya (jemaat-Nya).

“Sebab itu laki-laki akan meninggalkan ayahnya dan ibunya dan bersatu dengan isterinya, sehingga keduanya itu menjadi satu daging. Rahasia ini besar, tetapi yang aku maksudkan ialah hubungan Kristus dan jemaat.” (Ef 5:31-32, lih. Mat 19:5-6)

3. Merupakan perbuatan ketidak- adilan; sebab keadilan mensyaratkan pembagian sesuatu kepada pihak- pihak yang bersangkutan sesuai dengan haknya. Perzinahan melawan prinsip keadilan ini, sebab hubungan dilakukan oleh pasangan yang tidak berhak melakukannya. Selanjutnya, efeknyapun dapat membawa kehancuran dalam keluarga, yaitu pasangan yang dikhianati, dan anak- anaknya. Tidak ada seorangpun dari kita yang ingin dikhianati, sebab itu bertentangan dengan prinsip kasih dan keadilan, yang mengatakan:

“Segala sesuatu yang kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu, perbuatlah demikian juga kepada mereka.” (Mat 7:12)

4. Merupakan perbuatan dosa yang dapat menyebabkan pelanggaran/ dosa yang lain, seperti bersaksi dusta terhadap pasangan yang sesungguhnya, pemakaian alat kontrasepsi dan bahkan pembunuhan ataupun aborsi. Kisah perzinahan Raja Daud merupakan salah satu contohnya (lih. 2 Sam 11).

5. Merupakan perbuatan yang menjadi skandal/ batu sandungan, entah bagi umat seiman, maupun bagi mereka yang tidak seiman dengan kita dan ini ‘menyesatkan’ karena dapat mengakibatkan sikap merendahkan martabat perkawinan. Keluarga adalah Gereja yang terkecil, yang seharusnya membagikan terang kepada dunia sekitarnya, dan bukannya malah mengikuti arus dunia, yang seolah menyetujui/ tidak melarang perzinahan.

“Celakalah dunia dengan segala penyesatannya: memang penyesatan harus ada, tetapi celakalah orang yang mengadakannya.” (Mat 18:7)

6. Merupakan perbuatan yang merusak diri sendiri dan berdosa terhadap tubuhnya sendiri yang seharusnya menjadi tempat kediaman Roh Kudus.

“Siapa melakukan zinah tidak berakal budi; orang yang berbuat demikian merusak diri.”(Ams 6:32)

“Tidak tahukah kamu, bahwa tubuhmu adalah anggota Kristus? Akan kuambilkah anggota Kristus untuk menyerahkannya kepada percabulan? Sekali-kali tidak! Atau tidak tahukah kamu, bahwa siapa yang mengikatkan dirinya pada perempuan cabul, menjadi satu tubuh dengan dia? Sebab, demikianlah kata nas: “Keduanya akan menjadi satu daging.” Tetapi siapa yang mengikatkan dirinya pada Tuhan, menjadi satu roh dengan Dia. Jauhkanlah dirimu dari percabulan! Setiap dosa lain yang dilakukan manusia, terjadi di luar dirinya. Tetapi orang yang melakukan percabulan berdosa terhadap dirinya sendiri. Atau tidak tahukah kamu, bahwa tubuhmu adalah bait Roh Kudus yang diam di dalam kamu, Roh Kudus yang kamu peroleh dari Allah, –dan bahwa kamu bukan milik kamu sendiri?” (1 Kor 6:15-19)

7. Merupakan perbuatan yang dapat mengakibatkan seseorang kehilangan keselamatannya, jika yang melakukannya tidak bertobat. Karena perzinahan adalah dosa berat yang melawan hukum Tuhan, maka perbuatan ini sungguh membawa resiko pihak- pihak yang terlibat di dalamnya kehilangan rahmat keselamatannya (Lih. Gal 5: 19-20). Perzinahan melibatkan obyek moral yang berat, dan umumnya dilakukan atas kesadaran dan pengetahuan yang penuh, dan dengan kehendak bebas; dan ketiga hal ini menjadikan perzinahan sebagai dosa berat (lih. KGK 1857), yang sungguh memisahkan seseorang dari Tuhan.

KGK 1855     Dosa berat merusakkan kasih di dalam hati manusia oleh satu pelanggaran berat melawan hukum Allah. Di dalamnya manusia memalingkan diri dari Allah, tujuan akhir dan kebahagiaannya dan menggantikannya dengan sesuatu yang lebih rendah. …

Selanjutnya, mungkin relevan di sini kita mengetahui konteks ayat Mat 19:9, di mana Yesus mengatakan, “Tetapi Aku berkata kepadamu: Barangsiapa menceraikan isterinya, kecuali karena zinah, lalu kawin dengan perempuan lain, ia berbuat zinah.” (Mat 19:9, Mat 5:32). Namun bukan berarti karena zinah maka seseorang dapat menceraikan pasangannya (istri/ suaminya) yang telah berbuat zinah. St. Clemens dari Alexandria (150-216), mengajarkan maksud ajaran Yesus pada ayat tersebut sebagai berikut: “Zinah di sini artinya adalah perkawinan antara mereka yang sudah pernah menikah namun bercerai, padahal pasangannya yang terdahulu itu belum meninggal.[15] (Jadi, dalam hal ini, Yesus mengakui perkawinan yang pertama sebagai yang sah, dan perkawinan kedua itulah yang harusnya diceraikan agar pihak yang pernah menikah secara sah dapat kembali kepada pasangan terdahulu).

Demikian yang dapat saya sampaikan mengenai perzinahan menurut ajaran Gereja Katolik. Semoga berguna.

Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
Ingrid Listiati- www.katolisitas.org

Nasib orang yang bunuh diri dan hubungannya dengan baptisan

30

Pertanyaan:

Shalom Team katolisitas
Pak Stef & Bu Ingrid

Saya mau menanyakan tentang seorang kawan baik saya (perempuan agama Katolik), ketika suaminya meninggal karena kasus bunuh diri (di publikasikan meninggal karena sakit), mereka mempunyai status nikah secara Gereja Katolik (dispensasi beda agama), pernah ditolak permohonan Baptisan Katoliknya secara lisan oleh Pastor Paroki, disebabkan sang suami buta huruf sehingga tidak bisa mengikuti pelajaran katekumen untuk Baptisannya sampai hari2 terakhir menjelang sakit keras dan meninggal secara bunuh diri,.

saya perjelas bahwa penolakan baptisan oleh Romo harus mengikuti Katekumen terlebih dahulu, sedangkan pihak yang menginginkan baptisan bependapat bahwa bagaimana bisa mengikuti Katekumen dalam kondisi buta huruf…

Pertanyaan saya adalah:
1. Bunuh diri itu kita ketahui melawan hukum Allah, karena melawan hukum dengan menghilangkan nyawa, bagaimana nasib kawan saya itu setelah meninggal? rohnya menuju kemana?
2. Penolakan Baptisan Gereja karena buta huruf itu apakah beralasan atau sebenarnya masih ada jalan lain menurut ajaran Gereja?
3. Saat-saat jenazahnya di semayamkan di Rumah Sakit juga menjalani doa-doa manurut Gereja Katolik, apakah membantu dalam hal kasus kematiannya yang secara bunuh diri itu dan belom di Baptis Katolik?
4. Apakah kawan saya yang meninggal ada kemungkinan menerima Kemuliaan Allah di Sorga?
5. Seharusnya harus bagaimana aga supaya mempunyai kepastian di terima oleh Tuhan (masuk Sorga)?

Terima kasih dan mohon pencerahannya.

Salam sejahtera,
Felix Sugiharto.

Jawaban

Shalom Felix Sugiharto,

Terima kasih atas pertanyaannya tentang bagaimana nasib orang yang meninggal karena bunuh diri. Secara prinsip, bunuh diri merupakan pelanggaran berat terhadap keadilan, harapan dan cinta kasih (lih. KGK, 2325). Melanggar keadilan, karena manusia tidak mempunyai hak untuk menghilangkan nyawanya, yang tidak dia ciptakan sendiri, namun mendapatkannya dari Tuhan. Melanggar harapan, karena seseorang yang bunuh diri tidak mempercayai kasih dan belas kasih Tuhan. Dan pelanggaran terhadap cinta kasih, terjadi karena merusak ikatan solidaritas dengan keluarga, bangsa dan umat manusia (lih. KGK, 2281). Dengan demikian, bunuh diri, kalau dilakukan dengan sesadar-sadarnya, memang merupakan dosa berat. Dengan pemikiran ini, mari kita menganalisa pertanyaan-pertanyaan yang diajukan:

1 & 4) Bagaimana nasib orang bunuh diri? Kita dapat mengatakan bahwa kita tidak tahu nasibnya, dan kita serahkan pada belas kasih Tuhan. Hal ini disebabkan karena kita tidak tahu apa yang terjadi pada saat detik-detik terakhir hidupnya. Mungkin saja, dia benar-benar mengalami sesal sempurna serta mendapatkan rahmat Allah. Namun, orang yang bunuh diri, memang benar-benar mempertaruhkan keselamatan kekalnya. Tentu saja, keadaan-keadaan seperti: gangguan psikis yang berat, ketakutan besar, kekuatiran yang berat akan suatu musibah, penganiayaan, dll dapat mengurangi tanggung jawab pelaku (lih. KGK, 2282). Jadi, hanya Tuhan saja yang tahu nasib orang yang bunuh diri, dan oleh sebab itu, kita tidak perlu berspekulasi tentang nasib orang itu.

2) Penolakan Baptisan karena buta huruf: Sebenarnya penolakan baptisan karena alasan buta huruf tidaklah benar. Kita dapat melihat beberapa dasar peraturan Gereja:

Kan. 864 – Yang dapat dibaptis ialah setiap dan hanya manusia yang belum dibaptis.

Kan. 865 – § 1. Agar seorang dewasa dapat dibaptis, ia harus telah menyatakan kehendaknya untuk menerima baptis, mendapat pengajaran yang cukup mengenai kebenaran-kebenaran iman dan kewajiban-kewajiban kristiani dan telah teruji dalam hidup kristiani melalui katekumenat; hendaknya diperingatkan juga untuk menyesali dosa-dosanya.

§ 2. Orang dewasa yang berada dalam bahaya maut dapat dibaptis jika memiliki sekadar pengetahuan mengenai kebenaran-kebenaran iman yang pokok, dengan salah satu cara pernah menyatakan maksudnya untuk menerima baptis dan berjanji bahwa akan mematuhi perintah-perintah agama kristiani.

a) Dari peraturan di atas, maka kita melihat bahwa tidak ada syarat bahwa seseorang harus dapat baca tulis untuk dapat dibaptis. Kalau kita perhatikan, data di dunia tahun 2005, tingkat buta huruf seluruh dunia adalah sekitar 16% (lihat sumber ini – silakan klik). Pada tahun 1841, tingkat buta huruf di Inggris sekitar 33% untuk pria dan 44% untuk wanita. Pada abad-abad awal, Gereja Katolik tetap membaptis orang dewasa, walaupun tidak dapat membaca dan menulis. Sampai abad pertengahan, di negara Eropa begitu banyak umat Katolik yang tidak dapat membaca dan menulis. Dan kalau kita melihat, Gereja Katolik juga tidak melarang baptisan bayi, walaupun bayi tersebut tidak dapat membaca dan menulis.

b) Tentu saja, bagi calon baptis dewasa yang tidak dapat membaca dan menulis harus diberikan penerangan dan pelajaran yang secukupnya, sehingga dia dapat mengerti tentang iman Katolik, seperti yang tercantum dalam kan. 865 di atas. Untuk itu, diperlukan kerja keras dari pengajar, sehingga dapat memberikan pelajaran tersendiri bagi umat yang tidak dapat membaca dan menulis.

3) Menjalani doa-doa Katolik setelah meninggal: Justru ini adalah tindakan yang baik. Orang yang telah menginginkan baptisan dan benar-benar ingin hidup mengikuti Kristus, dan mengikuti pelajaran agama, sebenarnya dapat digolongkan telah menerima baptisan rindu. Katekismus Gereja Katolik (KGK, 1259) mengatakan “Bagi para katekumen yang mati sebelum Pembaptisan, kerinduan yang jelas untuk menerima Pembaptisan, penyesalan atas dosa-dosanya, dan cinta kasih sudah menjamin keselamatan yang tidak dapat mereka terima melalui Sakramen itu.” Partisipasi orang tersebut di dalam proses katekumen merupakan manifestasi dari kerinduannya untuk dibaptis dan dapat terlihat. Yang tidak dapat kita lihat secara kasat mata adalah penyesalan akan dosa-dosanya dan cinta kasih. Jadi, kembali kita serahkan kepada belas kasihan Tuhan.

5) Kepastian untuk masuk Sorga? Menerima baptisan, sehingga dapat menerima rahmat pengudusan, karunia Roh Kudus, menjadi anak Allah, pengampunan dosa – baik dosa asal maupun dosa-dosa pribadi yang dilakukan sampai pada saat baptisan. Setelah menerima rahmat Allah, teruslah berjuang dalam kekudusan – yaitu mengasihi Allah dan mengasihi sesama atas dasar kasih kepada Allah – sampai akhir hayat. Dan ini hanya mungkin dengan terus bertekun dalam doa, Firman Tuhan, berakar pada sakramen-sakramen, terutama Sakramen Tobat dan Sakramen Ekaristi. Dengan demikian, semoga kita dapat terus bekerja sama dengan rahmat Allah dan terhindar dari dosa berat pada waktu kita dipanggil oleh Tuhan.

Demikian jawaban yang dapat saya berikan. Semoga dapat membantu.

Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
stef – www.katolisitas.org

Iman dan pengabulan doa

22

Pertanyaan:

Pak Stef dan Bu Inggrid yth,
Setiap kali Yesus berkata: Imanmu telah menyelamatkanmu.
Pertanyaan saya:
– apa sih artinya “iman” itu?
– Bagaimanakah caranya agar kita bisa beriman dengan benar?
– Adakah hubungan antara Iman dengan: Mintalah maka kamu akan diberikan, ketoklah maka kamu akan dibukakan
– mengapa ada banyak orang yang meminta dengan sungguh-sungguh tetapi kok tidak diberikan juga, padahal sudah lama banget mintanya? misalnya minta jodoh! adakah hubungannya dengan iman disini?

Jawaban:

Shalom Pius Nugraha,

Terima kasih atas pertanyaan anda tentang iman, yang memang merupakan sesuatu yang sangat penting bagi kehidupan kita sebagai murid- murid Kristus. Untuk memperoleh pengertian yang lebih mendalam tentang iman, maka saya akan membahasnya dari definisi terlebih dahulu, baru kemudian kita dapat melihat kepada penerapannya dalam hidup kita. Semoga setelah itu kita semua dapat memeriksa, sejauh mana kita telah sungguh- sungguh beriman, dan apakah doa- doa kita sudah kita panjatkan dengan iman yang benar, dan ya, termasuk doa memohon jodoh, bagi mereka yang sedang bergumul dalam hal ini.

1. Definisi iman dari Kitab Suci:

“Iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat.” (Ibr 11:1)

Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah… (Ef 2:8)

Dengan demikian kita mengetahui bahwa iman berkaitan dengan pengharapan akan keselamatan kekal yang diberikan karena kasih karunia Allah. Rasul Yakobus mengajarkan, bahwa agar iman itu menyelamatkan, maka iman itu harus disertai perbuatan-perbuatan kasih, sebab tanpa perbuatan, iman itu kosong dan mati.

“…iman bekerjasama dengan perbuatan-perbuatan dan oleh perbuatan-perbuatan itu iman menjadi sempurna…. Jadi kamu lihat, bahwa manusia dibenarkan karena perbuatan-perbuatannya dan bukan hanya karena iman…. Sebab seperti tubuh tanpa roh adalah mati, demikian jugalah iman tanpa perbuatan-perbuatan adalah mati. (Yak 2:22,24,26)

Dengan demikian sangat eratlah kaitan antara iman dan kasih, sebab keduanya adalah karunia Roh Kudus. Iman, pengharapan dan kasih adalah kebajikan ilahi yang menghantar kita kepada keselamatan kekal oleh Kristus, dan yang terbesar di antara ketiganya itu adalah kasih.

Oleh Dia (Yesus Kristus) kita juga beroleh jalan masuk oleh iman kepada kasih karunia ini. Di dalam kasih karunia ini kita berdiri dan kita bermegah dalam pengharapan akan menerima kemuliaan Allah.” (Rom 5:2)

Malah kasih karunia Tuhan kita itu telah dikaruniakan dengan limpahnya kepadaku dengan iman dan kasih dalam Kristus Yesus. (1 Tim1:14)

Sekalipun aku mempunyai karunia untuk bernubuat dan aku mengetahui segala rahasia dan memiliki seluruh pengetahuan; dan sekalipun aku memiliki iman yang sempurna untuk memindahkan gunung, tetapi jika aku tidak mempunyai kasih, aku sama sekali tidak berguna. (1 Kor 13:2)

Demikianlah tinggal ketiga hal ini, yaitu iman, pengharapan dan kasih, dan yang paling besar di antaranya ialah kasih. (1 Kor 13:13)

2. Pengertian iman menurut Magisterium Gereja Katolik

Iman, berasal dari kata pistis (Yunani), fides (Latin) secara umum artinya adalah persetujuan pikiran kepada kebenaran akan sesuatu hal berdasarkan perkataan orang lain, entah dari Tuhan atau dari manusia. Persetujuan ini berbeda dengan persetujuan dalam hal ilmu pengetahuan, sebab dalam hal pengetahuan, maka persetujuan diberikan atas dasar bukti nyata, bahkan dapat diukur dan diraba, namun perihal iman, maka persetujuan diberikan atas dasar perkataan orang lain. Maka iman yang ilahi (Divine Faith), adalah berpegang pada suatu kebenaran sebagai sesuatu yang pasti, sebab Allah, yang tidak mungkin berbohong dan tidak bisa dibohongi, telah mengatakannya. Dan jika seseorang telah menerima/ setuju akan kebenaran yang dinyatakan Allah ini, maka selayaknya ia menaatinya.

Maka tepatlah jika Magisterium Gereja Katolik menghubungkan iman dengan ketaatan dan mendefinisikannya sebagai berikut:

“Kepada Allah yang menyampaikan wahyu manusia wajib menyatakan “ketaatan iman” (Rom16:26; lih. Rom1:5 ; 2Kor10:5-6). Demikianlah manusia dengan bebas menyerahkan diri seutuhnya kepada Allah, dengan mempersembahkan “kepatuhan akalbudi serta kehendak yang sepenuhnya kepada Allah yang mewahyukan[4], dan dengan secara sukarela menerima sebagai kebenaran wahyu yang dikurniakan oleh-Nya. Supaya orang dapat beriman seperti itu, diperlukan rahmat Allah yang mendahului serta menolong, pun juga bantuan batin Roh Kudus, yang menggerakkan hati dan membalikkannya kepada Allah, membuka mata budi, dan menimbulkan “pada semua orang rasa manis dalam menyetujui dan mempercayai kebenaran”[5]. Supaya semakin mendalamlah pengertian akan wahyu, Roh Kudus itu juga senantiasa menyempurnakan iman melalui kurnia-kurnia-Nya.” (Konsili Vatikan II tentang Wahyu Ilahi, Dei Verbum 5)

Maka dalam hal ini iman tidak berupa perasaan atau pendapat, tetapi merupakan sesuatu yang tegas, perlekatan akalbudi dan pikiran yang tak tergoyahkan kepada kebenaran yang dinyatakan oleh Tuhan. Maka motif sebuah iman yang ilahi adalah otoritas Tuhan, yaitu berdasarkan atas Pengetahuan-Nya dan Kebenaran-Nya. Jadi, kita percaya akan kebenaran- kebenaran itu bukan karena pikiran kita mampu sepenuhnya memahaminya atau kita dapat melihatnya, namun karena Allah yang Maha Bijaksana dan Maha Benar menyatakannya. Kebenaran yang dinyatakan oleh Allah ini diberikan melalui Sabda-Nya, yaitu yang disampaikan kepada kita umat beriman melalui Kitab Suci dan Tradisi Suci, sesuai dengan yang diajarkan oleh Magisterium Gereja Katolik, yang kepadanya Kristus telah memberikan kuasa untuk mengajar dalam nama-Nya. Nah, untuk menerima kebenaran yang dinyatakan Allah ini, diperlukan kasih karunia dari Allah sendiri, dan untuk menanggapinya dengan ketaatan, diperlukan kerjasama dari pihak kita manusia.

Selanjutnya, Katekismus Gereja Katolik mengajarkan,

KGK 1814    Iman adalah kebajikan ilahi, olehnya kita percaya akan Allah dan segala sesuatu yang telah Ia sampaikan dan wahyukan kepada kita dan apa yang Gereja kudus ajukan supaya dipercayai. Karena Allah adalah kebenaran itu sendiri. Dalam iman “manusia secara bebas menyerahkan seluruh dirinya kepada Allah” (Dei Verbum 5).Karena itu, manusia beriman berikhtiar untuk mengenal dan melaksanakan kehendak Allah. “Orang benar akan hidup oleh iman” (Rom 1:17) Iman yang hidup “bekerja oleh kasih” (Gal 5:6).

3. Iman mempunyai dimensi obyektif dan subyektif

Melihat penjelasan di atas, maka kita mengetahui bahwa iman mempunyai dimensi obyektif dan subyektif. Obyektif, karena dasar kepatuhan akalbudi dan kehendak kita adalah kebenaran dari Tuhan (dari Kitab Suci dan Tradisi Suci), yang tidak mungkin salah; namun juga subyektif karena berhubungan dengan kebajikan yang dimiliki oleh tiap- tiap orang, yang melaluinya ia dapat menjadi taat beriman.

4. Bagaimana beriman yang benar?

a. Dari uraian di atas, kita mengetahui bahwa iman adalah karunia Allah sehingga manusia dapat menerima apa yang diwahyukan Allah. Jadi untuk beriman yang benar, pertama- tama, kita harusmengetahui Kebenaran yang diwahyukan Allah itu. Kitab Suci mengajarkan:

“Jadi, iman timbul dari pendengaran, dan pendengaran oleh firman Kristus.” (Rom 10:17)

Selanjutnya, Kitab Suci juga mengajarkan bahwa firman Kristus itu disampaikan secara lisan dan tertulis. Dengan demikian Gereja Katolik mengajarkan agar kita berpegang kepada Kitab Suci (ajaran firman Tuhan yang tertulis) dan Tradisi Suci (ajaran firman Tuhan yang disampaikan lisan oleh Kristus dan para rasul). Keduanya ini adalah sumber iman kita sebagai murid- murid Kristus. Rasul Paulus mengajarkan:

“Sebab itu, berdirilah teguh dan berpeganglah pada ajaran-ajaran yang kamu terima dari kami, baik secara lisan, maupun secara tertulis.” (2 Tes 2:15)

Jadi langkah awal untuk beriman dengan baik, adalah kenalilah dan pelajarilah kebenaran firman Tuhan, baik melalui Kitab Suci maupun Tradisi Suci, dan keduanya ini disampaikan dengan setia oleh Magisterium Gereja Katolik.

b. Karena kita mengetahui bahwa iman kita peroleh dari kasih karunia Allah, maka untuk bertumbuh di dalam iman, kita juga harus mengandalkan kasih karunia Allah ini. Kita harus hidup di dalam Kristus dan menerima rahmat-Nya, dan kita umat Katolik menerima rahmat ini melalui sakramen- sakramen, terutama sakramen Ekaristi, di mana kita menyambut Tubuh Kristus sendiri.

“Barangsiapa makan daging-Ku dan minum darah-Ku, ia tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia. Sama seperti Bapa yang hidup mengutus Aku dan Aku hidup oleh Bapa, demikian juga barangsiapa yang memakan Aku, akan hidup oleh Aku.” (Yoh 6:56-57)

c. Selanjutnya, untuk menjadikan iman itu benar- benar hidup dan bertumbuh, iman itu harus dibarengi dengan perbuatan kasih:

“Sebab seperti tubuh tanpa roh adalah mati, demikian jugalah iman tanpa perbuatan-perbuatan adalah mati.” (Yak 2:26)

5. Apakah ada hubungan antara iman dengan pengabulan doa permohonan?

Adalah suatu yang menarik bahwa anda bertanya apakah ada hubungan antara iman dengan firman Tuhan yang mengatakan, “Mintalah, maka akan diberikan kepadamu; carilah, maka kamu akan mendapat; ketoklah, maka pintu akan dibukakan bagimu.” (Luk 11:9-10; Mat 7:7). Jawabnya: Tentu ada. Jika permohonan kita belum dikabulkan, kita selayaknya memeriksa batin; apakah kita sudah meminta dengan benar kepada Tuhan? Sebab yang menjadi fokus utama pada saat kita “meminta” kepada Tuhan, seharusnya adalah segala sesuatu yang dapat menghantar kita kepada keselamatan kekal, yang menjadi tujuan iman kita. Jika itu yang kita minta dengan iman, pasti itu akan dikabulkan oleh Tuhan. Sebab, jangan lupa, selanjutnya Tuhan Yesus berkata:

“Jadi jika kamu yang jahat tahu memberi pemberian yang baik kepada anak-anakmu, apalagi Bapamu yang di sorga! Ia akan memberikan Roh Kudus kepada mereka yang meminta kepada-Nya.” (Luk 11:13)

“Jikalau kamu tinggal di dalam Aku dan firman-Ku tinggal di dalam kamu, mintalah apa saja yang kamu kehendaki, dan kamu akan menerimanya.” (Yoh 15:7)

“Sampai sekarang kamu belum meminta sesuatupun dalam nama-Ku. Mintalah maka kamu akan menerima, supaya penuhlah sukacitamu.” (Yoh 16:24)

Jadi yang harus menjadi pertanyaan berikutnya adalah, apakah kita pernah meminta Roh Kudus, atau untuk hidup dalam pimpinan Roh Kudus? Apakah kita sudah tinggal di dalam Kristus dan di dalam firman-Nya, dan melaksanakan perintah- perintah-Nya? Apakah kita sudah memohon dalam nama Tuhan Yesus? Sebab hal- hal di atas belum dilakukan, maka sudah saatnya kita memperbaiki sikap batin kita, dan mulai melakukannya. Sedangkan jika sudah melakukannya, mari kita tingkatkan, supaya kita bertumbuh di dalam iman dan kebenaran, sebab Kitab Suci mengatakan:

“Doa orang yang benar, bila dengan yakin didoakan, sangat besar kuasanya.” (Yak 5:16)

Selanjutnya bagi kita umat Katolik, ini adalah kesempatan bagi kita untuk merendahkan hati dan memohon dukungan doa dari para orang kudus, terutama Bunda Maria. Kita belajar daripadanya, untuk mempunyai iman dan penyerahan diri yang total kepada Tuhan.

6. Mengapa sudah minta dengan sungguh- sungguh tetapi belum diberikan juga? Seperti minta jodoh.

Hal pengabulan doa memang merupakan hak Tuhan.  Kita percaya bahwa Allah adalah Bapa yang baik dan Ia akan turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia (lih. Rom 8:28). Dengan mengimani hal ini, maka jika kita harus menunggu pengabulan doa kita, kita percaya bahwa Allah sedang membentuk kita sesuai dengan rencana-Nya. Dalam masa penantian ini, Tuhan menginginkan agar kita bertumbuh dalam iman dan ketekunan. Percaya sepenuhnya bahwa Allah Bapa kita akan memberikan yang terbaik; entah jawab-Nya : “Ya”, “tidak”, atau “tunggu”.

Dalam hal jodoh, memang ada bagian yang harus dilakukan dari pihak yang memohon kepada Tuhan. Orang ini harus juga membuka diri dalam pergaulan, melibatkan diri dalam suatu komunitas Katolik, jika ingin mendapatkan jodoh seiman, dan harus mempunyai sikap ramah dan bersahabat kepada semua orang. (Ikutilah persekutuan doa, kegiatan lingkungan/ mudika paroki, kursus evangelisasi, atau koor gereja, atau Legio Mariae, atau kursus Kitab Suci, atau kegiatan lain yang memungkinkan anda memperdalam iman anda dan berinteraksi dengan sesama umat beriman). Seseorang yang meminta jodoh, tidak bisa hanya tinggal di kamar atau di rumah sendiri, lalu berharap ada yang datang mengetuk pintu dan memperkenalkan diri sebagai “sang jodoh”. Orang yang sungguh ingin menikah dan membina kehidupan keluarga harus berani menyatakan imannya dengan kasih dan pengorbanan kepada orang- orang yang ia jumpai. Karena sesuatu yang harus dipunyai oleh seorang suami atau istri dalam keluarga yang benar di mata Tuhan adalah kasih yang total dan rela berkorban. Pendeknya, orang ini harus berani berteman, mengasihi dan memperhatikan orang lain. Jadi pertemanan tidak terbatas hanya bermotif “untuk dipacari”, tetapi membina persahabatan yang baik dengan semua orang. Sebab mungkin saja rencana Tuhan bekerja melalui orang- orang lain, yaitu mereka yang diperhatikan/ menerima kasih itulah yang akhirnya dapat memperkenalkan kepadanya seseorang yang nantinya akan menjadi “sang jodoh” baginya.

Jika anda sedang bergumul dengan hal ini, silakan meningkatkan ketekunan anda dalam doa, membaca sabda Tuhan, dan menerima sakramen- sakramen, terutama Ekaristi. Dalam doa- doa anda fokuskan doa anda untuk bertumbuh di dalam iman, pengharapan dan kasih kepada Tuhan, maka jika anda meminta jodoh, mintalah agar Tuhan mempertemukan anda dengan seseorang yang dapat membawa anda lebih dekat kepada Tuhan. Jadi, fokus utamanya tetap Tuhan dan keselamatan kekal terlebih dahulu, baru kemudian permohonan anda. Hal ini berlaku untuk permohonan apapun, baik itu untuk jodoh, kesehatan ataupun pekerjaan. Jangan lupa, Tuhan bersabda:

“Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu.” (Mat 6:33)

Mungkin maksud Tuhan menunda pengabulan doa anda dalam hal jodoh adalah, supaya anda bertumbuh di dalam iman anda terlebih dahulu, supaya anda menemukan juga jodoh anda yang dapat sehati sepikir dengan anda; agar kalian bersama- sama nanti dapat bersatu dalam kasih dan melayani Tuhan, saling menguduskan sampai kalian memasuki kehidupan yang kekal.

Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
Ingrid Listiati- www.katolisitas.org

Keep in touch

18,000FansLike
18,659FollowersFollow
32,900SubscribersSubscribe

Artikel

Tanya Jawab