Home Blog Page 219

Beatifikasi Paus Yohanes Paulus II

22

Pertanyaan:

Sory nimbrung.

Sy baru tahu kalau Alm.Paus Yohanes Paulus II akan dibeatifikasikan.

admin, mohon pencerahan pro dan kontra atas beatifikasi Alm.Paus Yohanes Paulus II donk.

Thanks.

Regards,
Astrile

Jawaban:

Shalom Astrile,

Gereja Katolik memang mengenal proses beatifikasi pada orang- orang tertentu yang sudah meninggal dunia, yang selama hidupnya menjadi teladan kekudusan bagi umat beriman. Proses ini dimulai dari permintaan Gereja setempat, yang umumnya berkaitan dengan banyaknya mujizat yang terjadi atas perantaraan/ permohonan orang kudus tersebut kepada Tuhan. Maksudnya tentu agar umat beriman dapat terinspirasi dan terdorong untuk meniru teladan hidup kekudusannya. Proses beatifikasi ini sendiri tidak mudah, dan pihak otoritas Gereja akan memeriksa dengan seksama, kehidupan orang tersebut, baik dari teladan hidupnya maupun keotentikan mujizat- mujizat Tuhan yang terjadi atas perantaraan doa syafaatnya. Tentang proses beatifikasi sendiri sudah pernah dijabarkan di sini, silakan klik. Dalam proses itu sendiri dibentuk tim Yang akan memeriksa, yang terdiri dari para penyelidik yang pro dan kontra terhadap orang yang sedang dibeatifikasi, dan dengan demikian pemeriksaan dapat berjalan dengan obyektif, sampai ditemukannya bukti- bukti yang mendukung ataupun menghentikan proses beatifikasi tersebut.

Maka jika kita mendengar bahwa proses beatifikasi dimulai pada seseorang, tidak perlu kita merasa kuatir, sebab Tuhan sendiri akan menunjukkan buktinya, apakah seseorang itu layak dinyatakan sebagai orang kudus yaitu Santo/ santa; mengingat bahwa proses tersebut mensyaratkan mujizat- mujizat yang hanya mungkin terjadi dengan campur tangan Tuhan sendiri. Dan mujizat- mujizat [dengan perantaraan doa orang tersebut] harus terjadi tidak saja sebelum orang itu wafat, namun terlebih lagi setelah ia wafat; karena itu menunjukkan bahwa saat itu orang tersebut telah dibenarkan Tuhan dan mencapai persatuan sempurna dengan Dia, sehingga besarlah kuasa doanya (lih. Yak 5:16).

Tentang mujizat- mujizat yang terjadi atas doa syafaat Paus Yohanes Paulus II semasa hidupnya telah banyak dicatat, dan demikian beberapa contohnya yang kami sarikan dari artikel Miraculous Healings attributed to John Paul II, dikutip dari majalah Love one Another, number 5, by the Society of Christ, Sterling Heights, Michigan USA, 2005, p. 12-13:

1. Kesembuhan Kardinal Marchisano, pembantu Paus Yohanes Paulus II, dan rektor basilika St. Petrus: Pada tahun 2000 ia mengalami kesalahan operasi arteri lehernya, yang menyebabkan pita suara kanannya rusak, sehingga ia sangat sulit untuk berbicara, dan suaranya tidak dapat terdengar dan tak dapat dimengerti. Pada saat Paus Yohanes mengunjunginya, dan meletakkan tangannya pada tenggorokannya itu, ia berdoa, dan mengatakan, “Jangan takut, lihatlah, Tuhan akan memberikan suaramu itu kembali kepadamu.” Seketika itu juga Kardinal Marchisano mengalami kesembuhan total.

2. Kesembuhan Victoria Szechinskis: Victoria lahir pada tahun 1982 dan didiagnosa mempunyai tumor yang mematikan di dadanya. Keluarga Szechinskis hidup di Toronto Kanada. Pada tahun 1985 dalam audiensi dengan Bapa Paus di Roma, ibunya Danuta, membawa Victoria untuk bertemu dengan Bapa Paus dan didoakan olehnya. Bapa Paus menghampiri mereka dan menggendong Victoria, sambil berkata kepada ibunya, “Berdoalah dan percayalah kepada Tuhan. Jika Tuhan memutuskan agar Victoria harus kembali kepada-Nya, Ia akan mengambil Victoria bagi-Nya. Jika Ia menghendaki Victoria untuk tetap bersamamu, itu yang akan terjadi. Perlakukanlah Victoria sama seperti engkau memperlakukan anak- anakmu yang lain. Itulah yang dikehendaki Tuhan.” Sekembalinya ke Kanada, Victoria merasakan sakit yang sangat sehingga dilarikan ke Rumah Sakit. Keluarga memperkirakan ia akan segera meninggal, sehingga akhirnya ia dibawa pulang ke rumah. Namun kemudian di rumah, mujizat terjadi, kondisinya membaik. Kemudian aneka test dilakukan, dan hasilnya menunjukkan bahwa tumor itu telah lenyap. Victoria bertumbuh normal, dan pada saat artikel dituliskan, ia berumur 22 tahun, sehat, senang berolah raga dan mendaki gunung.

3. Paus Yohanes Paulus II meletakkan tangannya atas kepala seorang anak perempuan yang buta, dalam kunjungannya ke Puerto Rico, Oktober 1984. Sekembalinya ke rumah, anak itu dapat melihat.

4. Pada saat audiensi umum pada tanggal 14 Maret 1979, Paus Yohanes Paulus II mencium Kay Kelly, seorang penderita kanker, yang hidup di Liverpool. Beberapa bulan kemudian kanker itu hilang semuanya.

5. Di bulan November 1980, pada saat gempa terjadi di Italia, Emilio Cocconi, 16 tahun, terkubur hidup- hidup. Walaupun kemudian ia dapat diselamatkan, namun kaki kirinya tidak dapat berfungsi. Paus bertemu dengannya pada saat Paus mengunjungi daerah gempa tersebut dan menghiburnya. Empat tahun kemudian (1984) Emilio bertemu kembali dengan Paus pada saat audiensi di Roma. Paus memberkatinya, dan mengatakan, “Tuhan yang Mahabaik akan menolongmu.” Empat minggu kemudian, anak muda itu sembuh.

6. Pada tahun 1981, dalam kunjungannya ke Manila, Filipina, Paus mendoakan dan meletakkan tangannya atas seorang biarawati, Madre Vangie, 51 tahun yang tubuhnya cacat dan harus bergantung kepada kursi roda. Beberapa menit kemudian, suster tersebut dapat berdiri tegak, sembuh sepenuhnya, dan meninggalkan kursi rodanya.

7. Di bulan Januari 1980 di Castel Gondolfo, Paus bertemu dengan Stefani Mosca, seorang anak perempuan berumur 10 tahun yang cacat tubuh. Paus menghibur dan menciumnya. Beberapa waktu kemudian ia sembuh.

8. Pada tahun 1990, Paus Yohanes Paulus II memberkati dan mencium Helano Mireles, seorang bocah Meksiko yang berusia 4 tahun, yang menderita leukemia. Penyakitnya hilang seketika setelah Paus memberkatinya. Hal ini disaksikan oleh Kardinal Javier Lozano Berragan, yang kemudian memberikan kesaksian atas mujizat kesembuhan ini.

Di samping mujizat- mujizat ini, kita mengingat bahwa semasa hidupnya, Paus Yohanes Paulus II sangat dihormati, justru karena kesederhanaannya dan ketulusan kasih yang ditunjukkannya, sehingga melalui dia, orang dapat mengalami kasih Kristus. Tak mengherankan, bahwa pada saat pemakamannya, jumlah peziarah yang hadir mencapai sekitar 4 juta orang. Beritanya dicatat oleh sekitar 6000 jurnalis; acaranya dihadiri oleh 180 pemimpin negara dan diliput oleh 137 stasiun televisi dari 81 negara. Para komentator setuju bahwa acara ini merupakan yang terbesar sepanjang sejarah manusia.

Paus Yohanes Paulus II adalah seorang pendoa dan seorang mystic, sehingga Kristus dapat bertindak melalui dia dan menyatakan kasih-Nya. Paus sangat menghormati setiap orang dan menuntut agar hak dasar terhadap kemerdekaan suara hati dihormati, demikian juga hak untuk hidup dari saat konsepsi sampai kematian yang wajar. Paus tidak pernah berbicara buruk tentang orang lain dan memperlakukan orang lain dengan kebencian. Pada saat yang sama, Ia mewartakan Kebenaran Wahyu tanpa takut…. dengan keberanian yang besar ia mewartakan kebenaran- kebenaran Iman walaupun hal- hal itu tidak nyaman/ tidak populer di telinga para pendengarnya. Ia berjalan menerjang arus, tanpa berkompromi dan tanpa menjadikan kebenaran- kebenaran Tuhan sebagai sesuatu yang relatif…. Pesannya yang terkenal sepanjang pontifikatnya adalah: “Jangan takut untuk membuka pintu hatimu untuk Kristus! Jangan takut untuk memohon kepada Kristus setiap hari, “Tuhan, aku ingin menjadi kudus, yaitu untuk mengatakan, seperti yang Kauingini terjadi atasku.” Jangan takut untuk mengikuti Kristus setiap hari, dan untuk melaksanakan Injil dan perintah- perintah-Nya. Jangan takut untuk memasrahkan dirimu sepenuhnya kepada Kristus….” (lihat artikel He Changed the Course of World History, majalah Love One Another, vol 5, 2005, p. 4-8).

Demikianlah keterangan yang dapat kami sertakan sehubungan dengan proses beatifikasi Paus Yohanes Paulus II. Untuk proses selanjutnya, mari kita serahkan kepada Tuhan dan pihak otoritas Gereja yang akan memeriksa, apakah Paus Yohanes Paulus II memang sungguh seorang kudus yang telah dibenarkan oleh Tuhan di surga, sehingga dapat dinyatakan sebagai Yang terberkati/ Santo Yohanes Paulus II.

Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
Ingrid Listiati- katolisitas.org

Ketika doaku belum terjawab

18

Sampai di mana kita dapat mempercayai Allah? Ketika hidup berjalan sama sekali tidak sesuai dengan harapan kita, atau saat sakit penyakit dalam berbagai wujud muncul dengan kesembuhan yang terasa begitu jauh, atau saat penderitaan hidup datang akibat sikap-sikap keras kepala dan kesombongan manusia yang begitu parah, apakah kita tetap dapat mempercayai Allah? Ketika doa-doa yang kita panjatkan siang dan malam terasa belum menampakkan tanda-tanda akan dikabulkan, apakah kita tetap setia berharap akan pertolongan Allah atau mulai mencari jawaban di dalam kekuatan-kekuatan lain yang tidak dalam perkenanan Tuhan?

Pada waktu seorang ayah membawa kepada Yesus anaknya yang kerasukan roh jahat sejak ia kecil sehingga membuat sang anak bisu dan tuli serta berkali-kali hendak dibinasakan oleh roh itu, Yesus menegur sang ayah, yang memohon dengan keragu-raguan terhadap kuasa Yesus, kataNya: “Katamu: Jika Engkau dapat? Tidak ada yang mustahil bagi orang yang percaya!” (Markus 9: 23). Saya merenungkan kembali dalam doa saya selama ini apakah dalam hati saya juga mendahului permohonan saya kepada Tuhan dengan kata-kata “Jika Engkau dapat?” Tentu saja Tuhan dapat! Ia adalah Raja Semesta Alam! Sangat penting untuk senantiasa berdoa dengan penuh harapan kepada Allah dan membawa apapun yang kita butuhkan kepadaNya, dengan iman yang penuh bahwa Ia dapat berbuat apapun juga untuk menyelamatkan kita, yang mustahil bagi akal budi kita sekalipun. Tentang kapan dan bagaimana permohonan kita itu akan dikabulkan, itu adalah kebijaksanaan Allah, karena Dia tahu apa yang paling kita butuhkan, dan selalu memberikan yang apa terbaik dalam hidup kita, lebih dari yang kita tahu.

Apa yang sebenarnya paling saya butuhkan dalam hidup ini? Keinginan kita selalu berubah, kebutuhan kita juga demikian, seiring dengan dinamika dan perkembangan hidup kita. Apa yang dulu penting bagi kita sekarang tidak lagi, atau sebaliknya. Kita juga umumnya meminta supaya dijauhkan dari segala kesusahan, padahal sesungguhnya ada banyak sekali hadiah kehidupan, ketekunan, dan tahan uji, tersembunyi di dalam kesusahan hidup, yang membuat kita menjadi semakin tangguh, penuh iman dan kasih, serta bijaksana. Hal-hal yang sangat dibutuhkan oleh jiwa kita yang kering. Kita sering tidak tahu apa yang tepat bagi kita, dan bahkan kadang kita tidak tahu apa yang sebaiknya kita minta. Karena itulah, Tuhan tidak selalu mengabulkan doa kita, dan kadang Ia menunda sampai kita siap menerima jawaban doa-doa kita. Karena itulah, apa yang sesungguhnya kita perlukan sebenarnya adalah hikmat untuk bisa menghadapi hidup dengan kepercayaan yang teguh akan penyelenggaraanNya, apapun yang terjadi. Karena itulah, mengetahui apa yang sebetulnya paling kita butuhkan, inilah jawaban Tuhan atas doa-doa yang kita persembahkan dengan tulus kepadaNya, apapun itu, yaitu “Jadi jika kamu yang jahat tahu memberi pemberian yang baik kepada anak-anakmu, apalagi Bapamu yang di Surga! Ia akan memberikan Roh Kudus kepada mereka yang meminta kepada-Nya. (Lukas 11: 13b). Dan apa yang dilakukan oleh Roh Kudus bagi kita? Dia akan berdoa bagi kita dengan keluhan yang tidak terucapkan, bagi kebutuhan-kebutuhan jiwa kita yang sebenarnya, yang sering tidak kita sadari, sebab kita rancu dengan pengaruh riuh rendahnya dunia ini dengan segala kemegahan semu yang ditawarkannya, dan dengan segala norma-norma yang menjadi ukuran kebahagiaannya…. Demikian juga Roh membantu kita dalam kelemahan kita; sebab kita tidak tahu, bagaimana sebenarnya harus berdoa; tetapi Roh sendiri berdoa untuk kita kepada Allah dengan keluhan-keluhan yang tidak terucapkan. (Roma : 8 – 26).

Ketika kita merasa ditinggalkan, saat kita merasakan sedih menyayat karena merasa sendiri di dalam penderitaan hidup, kita patut ingat akan kesepian dan kesedihan Yesus saat berdoa di Taman Getsemani. Bapa memang tidak mengabulkan doa permohonan Yesus untuk mengambil cawan yang hendak diminumNya, karena rencana agungNya harus digenapi. Tetapi seorang malaikat diutusNya untuk menguatkan Yesus di dalam kesengsaraanNya dan ketakutanNya sebagai manusia. “Ya BapaKu, jikalau Engkau mau, ambillah cawan ini dari padaKu, tetapi bukanlah kehendakKu melainkan kehendakMulah yang terjadi” Maka seorang malaikat dari langit menampakkan diri kepadaNya untuk memberi kekuatan kepadaNya. (Lukas 22 : 42-43).

Akhirnya, penghiburan Allah adalah sumber kekuatan kita yang tidak pernah kering. Saat kita merasa bahwa kesulitan hidup datang dan pertolongan seolah tak kunjung tiba, baiklah kita membaca kembali pernyataan Allah kepada umatNya, Dapatkah seorang perempuan melupakan bayinya, sehingga ia tidak menyayangi anak dari kandungannya? Sekalipun dia melupakannya, Aku tidak akan melupakan Engkau (Yesaya 49 : 15) dan di dalam kesempatan lain Ia berfirman pula, Aku sekali-kali tidak akan membiarkan engkau dan Aku sekali-kali tidak akan meninggalkan engkau.” (Ibrani 13 : 5b). Dua kali Tuhan menggunakan kata “sekali-kali” atau yang artinya sebetulnya adalah “tidak akan pernah” meninggalkan kita. Justru di dalam kesukaran, kita akan semakin banyak mengalami penghiburan dan penyertaan Allah yang membuat jiwa kita sungguh dipuaskan dan terkagum-kagum akan kuasa kasih setiaNya.

Dan inilah seruan Yesus ketika Ia mengutus kita untuk hidup mewartakan Dia, “Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir jaman” (Markus 28 : 20b). Jika Raja Semesta Alam berjanji, kita tahu bahwa janji itu tidak main-main. Tinggal apakah kita bersedia untuk tetap tenang percaya penuh pengharapan seperti Bapa Abraham dan Bunda Maria, dalam teladan iman mereka, tetap percaya sekalipun melangkah dalam segala ketidakpastian dan ketidakmengertian. Sebab beginilah firman Tuhan ALLAH, Yang Mahakudus, Allah Israel: “Dengan bertobat dan tinggal diam kamu akan diselamatkan, dalam tinggal tenang dan percaya terletak kekuatanmu.” (Yesaya 30 : 15).

Iman adalah kunci menuju kepenuhan penyelenggaraan Allah, penggenapan janjiNya, dan rencana agungNya dalam hidup kita. Begitu pentingnya iman itu sehingga pertanyaan Yesus kepada kita masing-masing adalah seperti yang tertuang dalam perumpamaan tentang hakim yang tak benar “Tidakkah Allah akan membenarkan orang-orang pilihanNya yang siang malam berseru kepadaNya? Dan adakah Ia mengulur-ulur waktu sebelum menolong mereka? Aku berkata kepadamu: Ia akan segera membenarkan mereka. Akan tetapi, jika Anak Manusia itu datang, adakah Ia mendapati iman di bumi?” (Lukas 18 : 7-8).

Bagaimana tanggapan kita terhadap pertanyaan Yesus ini? Allah sesungguhnya sudah banyak memberikan jawaban dan janji akan penyertaanNya, melalui FirmanNya, dan melalui ajaran Tuhan kita Yesus Kristus, PuteraNya. Tinggal bagaimana kita merespon jawaban Allah itu dengan iman di dalam keseharian kita dalam hidup ini. (uti)

Apakah dengan hidup baik saja, kita dapat masuk Sorga?

26

Ada yang menuliskan bahwa, untuk menjalani kehidupan agamanya ia merasa tidak perlu sulit-sulit, tidak mau repot harus begini dan begitu. yang penting bagi dia adalah hidup baik, tidak berbuat dosa, tidak mau menyalahi aturan duniawi, dll. Kalau sekiranya ia merasa salah, ia bertekad untuk tidak mengulanginya. Bagi dia itu saja sudah cukup. Memang kalau kita melihat konsep keselamatan terlihat adanya dua ekstrim yang kedua-duanya bertentangan dengan ajaran Katolik: 1) yang pertama, adalah beriman saja dan tidak perlu ada perbuatan baik dan 2) yang ke-dua adalah perbuatan baik saja cukup dan tidak perlu yang lainnya, termasuk menyingkirkan dimensi iman dan segala konsekuensi kehidupan orang beriman. Jawaban untuk sola fide, telah dituliskan di sini – silakan klik, yang dapat menjerumuskan seseorang pada konsep sekali selamat tetap selamat – dan telah dijawab di sini – silakan klik. Sedangkan untuk ekstrim yang lain, yang mengedepankan perbuatan baik dan mengenyampingkan dimensi iman, maka berikut ini adalah empat alasan untuk menolak anggapan ini:

1. Kita dibenarkan oleh Kristus melalui pengorbanan-Nya di kayu salib dan rahmat yang mengalir dari misteri Paskah diberikan secara biasa pada Sakramen Baptis.

Untuk dapat selamat, maka berarti kita dibenarkan oleh Allah. Bagaimana kita dapat dibenarkan oleh Allah? Dengan mati di kayu salib maka, Kristus yang menjadi pengantara antara manusia dan Tuhan, telah menebus dosa kita, dan memberikan rahmat (grace), yang memungkinkan manusia dapat diselamatkan. Ini adalah meritorious cause keselamatan manusia, yaitu pengorbanan Kristus yang menghasilkan rahmat berlimpah. Dan kalau ditelusuri, maka hal ini disebabkan oleh efficient cause, yaitu belas kasih Allah, yang tidak membiarkan manusia untuk tetap terpisah dari Allah. Nah, kasih Allah dan pengorbanan Kristus telah terjadi. Bagaimana manusia mendapatkan rahmat yang mengalir dari pengorbanan Kristus? melalui instrumental cause – yaitu Sakramen Baptis, yang berarti untuk orang dewasa diperlukan iman. Melalui Sakramen Baptis ini, memungkinkan manusia untuk dibenarkan oleh Allah, karena manusia memperoleh rahmat pengudusan (sanctifying grace). Dan inilah yang disebut the formal cause. Dan pada akhirnya rencana keselamatan ini akan membawa kemuliaan bagi nama Tuhan dan keselamatan manusia (disebut final cause).

Kalau disederhanakan: manusia berdosa, sehingga kehilangan keselamatan kekal. Keselamatan kekal ini adalah the final cause. Namun Allah tidak membiarkan itu terjadi karena belas kasih Allah yang tak terhingga bagi manusia (the efficient cause), sehingga Dia memberikan Putera-Nya untuk menebus dosa manusia dengan cara mati di kayu salib dan memberikan rahmat (the meritorious cause). Rahmat ini diterima oleh manusia secara normal (the ordinary means) melalui Sakramen Baptis (the instrumental cause). Dan karena rahmat pengudusan atau sanctifying grace diterima pada saat pembaptisan, maka manusia berkenan dan dibenarkan di hadapan Allah (the formal cause – yaitu keadilan Allah).

2) Tanpa iman tidak ada yang dapat menyenangkan hati Allah.

Pada point nomor 1, maka kita melihat pentingnya baptisan, yang menuntut persyaratan adanya iman (pada baptisan dewasa), karena dengan baptisan, kita menerima rahmat pengudusan yang mengalir dari misteri Paskah Kristus (penderitaan, kematian, kebangkitan dan kenaikan Kristus). Dan tentang pentingnya iman, surat kepada jemaat di Ibrani mengatakan “Tetapi tanpa iman tidak mungkin orang berkenan kepada Allah. Sebab barangsiapa berpaling kepada Allah, ia harus percaya bahwa Allah ada, dan bahwa Allah memberi upah kepada orang yang sungguh-sungguh mencari Dia.” (Ibr 11:6). Sebaliknya, hanya iman saja tanpa ada perbuatan kasih, maka iman tersebut adalah mati (lih. Yak 2:26). Hal ini juga ditegaskan oleh Yesus yang mengatakan “Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan! akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga, melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di sorga.” (Mk 7:21).

3) Beriman berarti ketaatan.

Iman mensyaratkan ketaatan kepada yang memberi wahyu. Katekismus Gereja Katolik merumuskan sebagai berikut:

143. Melalui iman, manusia menaklukkan seluruh pikiran dan kehendaknya kepada Allah. Dengan segenap pribadinya manusia menyetujui Allah yang mewahyakan Diri (Bdk. DV 5.). Kitab Suci menamakan jawaban manusia atas undangan Tuhan yang mewahyukan Diri itu “ketaatan iman” (Bdk. Rm 1:5; 16:26.)

144. Taat [ob-audire] dalam iman berarti menaklukkan diri dengan sukarela kepada Sabda yang didengar, karena kebenarannya sudah dijamin oleh Allah, yang adalah kebenaran itu sendiri. Sebagai contoh ketaatan ini Kitab Suci menempatkan Abraham di depan kita. Perawan Maria melaksanakannya atas cara yang paling sempurna.

Dengan demikian, kalau kita mengatakan bahwa kita beriman, maka ketaatan ini menjadi bagian penting dari manifestasi iman. Bahkan Rasul Yohanes mengatakan bahwa ketaatan untuk menjalankan perintah Kristus, disebut sebagai bukti akan kasih kita kepada Kristus (lih. 1Yoh 5:3). Perintah yang mana? Rasul Yohanes mengatakan semua perintah-Nya (lih. 1Yoh 3:24) dan Yesus mengatakan hal yang sama sebelum Dia naik ke Sorga (lih. Mt 28:20). Jadi, kalau kita tahu bahwa kita harus menjalankan semua perintah-Nya, maka kita tidak boleh memilih perintah-Nya menurut interpretasi kita sendiri, dalam hal ini hanya menjalankan perbuatan baik.

4. Perintah Kristus adalah termasuk menerima sakramen-sakramen dan masuk dalam Gereja Katolik.

Kalau kita membaca Alkitab secara cermat, maka kita akan dapat melihat bahwa Kristus telah memberikan tujuh sakramen kepada umat Allah. Dan Sakramen, yang menjadi cara yang dipilih oleh Kristus untuk menyalurkan rahmat-Nya, harus diterima dengan penuh rasa syukur dan sudah sepantasnya kita berpartisipasi dalam sakramen-sakramen, terutama Sakramen Ekaristi dan Sakramen Tobat (bagi yang telah dibaptis). Ini berarti, ke Gereja untuk turut berpartisipasi dalam Sakramen Ekaristi menjadi manifestasi akan kasih kita kepada Allah dan juga cara untuk menerima rahmat Allah. Dengan demikian, kalau kita beriman secara Katolik, maka sudah seharusnya kita juga turut berpartisipasi dalam Sakramen ini dan tidak cukup hanya dengan mengandalkan perbuatan baik.

Dalam keselamatan, selain melalui Kristus (Kristosentris), juga berkaitan dengan melalui Gereja (ekklesiosentris). Katekismus Gereja Katolik mengajarkan:

Lebih lanjut Katekismus Gereja Katolik (KGK, 1741)mengatakan “Pembebasan dan keselamatan. Dengan salib-Nya yang mulia, Kristus telah memperoleh keselamatan bagi semua manusia. Ia telah membebaskan mereka dari dosa yang membelenggu mereka. “Kristus telah memerdekakan kita” (Gal 5:1). Di dalam Dia kita mengambil bagian dalam “kebenaran” yang memerdekakan (Yoh 8:32). Kepada kita diberi Roh Kudus, dan “di mana ada Roh Allah, di situ ada kemerdekaan” (2 Kor 3:17), demikian santo Paulus mengajarkan. Sejak sekarang kita bermegah bahwa “kita telah masuk ke dalam kemerdekaan kemuliaan anak-anak Allah” (Rm 8:21).

KGK 270 – “Penciptaan adalah “awal tata keselamatan”, “awal sejarah keselamatan” (DCG 51) yang berpuncak pada Kristus. Sebaliknya misteri Kristus adalah terang misteri penciptaan yang menentukan; ia menyingkap tujuan, untuk apa Allah menciptakan “pada mulanya… langit dan bumi” (Kej 1:1). Sejak awal Allah telah memikirkan kemuliaan ciptaan baru di dalam Kristus (Bdk Rm 8:18-23).

KGK, 846: “Bagaimana dapat dimengerti ungkapan ini [EENS: Extram Ecclesiam Nulla Salus/ Di luar Gereja Tidak ada Keselamatan] yang sering kali diulangi oleh para bapa Gereja? Kalau dirumuskan secara positif, ia mengatakan bahwa seluruh keselamatan datang dari Kristus sebagai Kepala melalui Gereja, yang adalah Tubuh-Nya:
“Berdasarkan Kitab Suci dan Tradisi, konsili mengajarkan, bahwa Gereja yang sedang mengembara ini perlu untuk keselamatan. Sebab hanya satulah Pengantara dan jalan keselamatan, yakni Kristus. Ia hadir bagi kita dalam Tubuh-Nya, yakni Gereja. Dengan jelas-jelas menegaskan perlunya iman dan baptis, Kristus sekaligus menegaskan perlunya Gereja, yang dimasuki orang melalui baptis bagaikan pintunya. Maka dari itu andaikata ada orang, yang benar-benar tahu, bahwa Gereja Katolik itu didirikan oleh Allah melalui Yesus Kristus sebagai upaya yang perlu, namun tidak mau masuk ke dalamnya atau tetap tinggal di dalamnya, ia tidak dapat diselamatkan” (Lumen Gentium 14).

5. Kesimpulan

Dari pemaparan di atas, maka kita dapat melihat bahwa seluruh keselamatan umat manusia berpusat dan bersumber pada misteri Paskah Kristus. Iman akan misteri Paskah ini memberikan keselamatan kepada umat manusia. Namun, iman menuntut ketaatan iman, yaitu melaksanakan semua perintah yang diberikan oleh Kristus. Dan perintah-perintah-Nya adalah termasuk menjadi anggota Tubuh Mistik Kristus atau Gereja Katolik, bertumbuh dalam sakramen-sakramen. Dan rahmat yang mengalir dalam sakramen-sakramen ini memampukan seseorang untuk dapat berbuat kasih yang bersifat adikodrati, yaitu mengasihi Tuhan dan mengasihi sesama berdasarkan kasih kepada Tuhan. Tanpa rahmat Allah, kita tidak mungkin dapat setia terhadap kehidupan kristiani kita sampai pada akhirnya. Jadi, hanya dengan berbuat baik saja, tidak secara otomatis akan membawa kita pada keselamatan kekal, karena keselamatan kekal bukanlah merupakan hak kita, namun merupakan anugerah. Semoga jawaban ini dapat diterima.

Tentang Mat 10:34-36

2

Shalom Remigio,

Berikut ini adalah penjelasan ayat Mat 10:34-36, yang saya peroleh dari A Catholic Commentary on Holy Scripture, ed. Dom Orchard:

Mat 10:34, “Jangan kamu menyangka bahwa Aku datang untuk membawa damai….”

Maksudnya di sini adalah, ketidaksetujuan/perlawanan dan perang, agar kedamaian semu dari para pendosa dapat dikalahkan, dan mereka yang mengikuti Dia, akan menjadi berbeda dalam hal moral dan kesukaan dari para pengikut dunia. Pedang ini adalah Injil, yang memisahkan orang tua yang tetap tidak percaya- dari anaknya (Menochius) — Harus diamati bahwa Injil tidak dengan sendirinya menghasilkan pertikaian di antara umat manusia, tetapi yang dinubuatkan oleh Kristus adalah, karena penyimpangan di dalam hati manusia, maka pertikaian- pertikaian akan terjadi yang mengikuti pewartaan Injil. Namun demikian, yang dapat dipersalahkan bukannya Injil itu sendiri, sebab mereka yang menerimanya, setelah pertobatannya akan berusaha sedapat mungkin untuk menjaga perdamaian dengan semua orang, bahkan dengan para penganiaya mereka; sedangkan mereka yang menolak Injil, akan melupakan ikatan persaudaraan, dan menganiaya bahkan sampai mati, para pengikut Kristus (Haydock).

Memang sebelum Kristus datang ke dunia pertikaian ‘pedang’ semacam ini belum ada; yaitu roh tidak harus berperang dengan keras melawan daging; tetapi ketika Yesus menjadi manusia, Ia menunjukkan kepada kita apakah yang merupakan keinginan daging, dan apakah yang merupakan buah- buah roh, dan Ia mengajarkan untuk menempatkan kedua hal ini dalam pertentangan, yaitu agar kita selalu membuang keinginan daging yang selalu berusaha menguasai kita, dan agar kita mengikuti keinginan roh. (Origen)

Mat 10:35, “Aku datang untuk memisahkan….”

Kedatangan Kristus dan pengajarannya dapat mengakibatkan hal ini, dengan alasan bahwa akan ada banyak orang yang berkeras tidak ingin menerimanya dan kemudian menganiaya mereka yang memilih untuk mengikuti Dia. Maka, tidak berarti bahwa Kristus datang untuk tujuan ini yaitu untuk memisahkan ayah dengan anak dan seterusnya. (Challoner) Sebaliknya, Kitab Suci mengajarkan kita agar kita mengasihi setiap orang tanpa kecuali, terutama kerabat kita sendiri, tetapi perkataan di atas adalah untuk menunjukkan apa yang terjadi di dalam keluarga yang sama, ketika beberapa di antara mereka menjadi Kristen. Kita menjumpai hal- hal ini benar- benar terjadi dalam kehidupan- kehidupan orang- orang kudus. (Witham)— Mereka yang ingin menikmati damai surgawi, harus tidak menyatukan dirinya dengan pencinta keinginan dunia. (Baradius)

Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
Ingrid Listiati- katolisitas.org

Tentang Luk 7:11- 27

6

Pertanyaan:

Shalom…..

Dear Katolisitas, saya ingin bertanya makna dari Injil Lukas 7:11-27 bagi kehidupan kita dijaman sekarang? terimakasih…Berkah Dalem
Inus

Jawaban:

Shalom Inus,

Luk 7:11-27 memuat dua perikop yang berbeda, yaitu Yesus membangkitkan anak muda di Nain (11-17), dan Yesus dan Yohanes Pembaptis, (18-35). Berikut ini adalah keterangan yang saya sarikan dari the Navarre Bible on Luke, p. 105:

Luk 7:11-17

Secara garis besar di perikop yang pertama (Luk 7:11-17), dikisahkan bagaimana Kristus melakukan inisiatif terlebih dahulu untuk menolong janda yang berduka karena anak laki- lakinya yang tunggal telah wafat. Kehilangan anak laki- laki satu- satunya merupakan pukulan terbesar dalam kehidupan seorang janda; yang artinya ia kehilangan segala- galanya. Dikatakan bahwa Yesus ‘tergerak olah belas kasihan’ (ay. 13). Maka Yesus bukannya tidak pernah turut merasakan penderitaan kita manusia, yang terjadi karena cinta. Ia turut merasakan pedihnya perpisahan antara anak- anak dan orang tua karena kematian, dan karena itu Dia mengalahkan maut untuk memberikan kehidupan kekal, agar dapat mempersatukan kembali mereka yang saling mengasihi tersebut.

Dalam perikop itu dikisahkan Yesus menaruh belas kasihan kepada janda itu, dan ia menghiburnya sambil mengatakan “Jangan menangis”, seolah hendak mengatakan, “Aku tak mau melihat engkau menangis. Aku datang ke dunia untuk membawa sukacita dan damai sejahtera.” Dan lalu terjadilah mujizat, yang menunjukkan bahwa Kristus adalah Tuhan, sebab Ia dapat membangkitkan anak muda yang sudah mati itu. Namun sebelum mujizat itu terjadi, Yesus menaruh belas kasihan terlebih dahulu, yang menjadi tanda kasih Kristus kepada manusia.

Dari perikop ini kita mengetahui bahwa Yesus peduli akan kesedihan kita, yang disebabkan karena ditinggal oleh orang yang kita kasihi, atau masalah kesehatan, masalah keluarga ataupun pekerjaan- yang mengakibatkan kita merasa kehilangan segala- galanya, seperti janda itu. Tuhan Yesus berbelas kasihan kepada kita, dan dengan kuasa-Nya Ia dapat menolong kita memberikan jalan keluar, dan bahkan mujizat, sebab Ia adalah Tuhan.

Luk 11:18-27

St. Thomas Aquinas menjelaskan perikop ini sebagai berikut: “Bukan karena ketidaktahuannya Yohanes bertanya tentang Kristus yang menjelma menjadi manusia, sebab ia sudah terlebih dahulu menyatakan kepercayaannya (lih. Yoh 1:34). Oleh karena itu, yang ditanyakan bukan, “Apakah kamu adalah dia yang sudah datang?”, tetapi “Apakah kamu adalah dia yang akan datang?”; dan dengan demikian menanyakan bukan masa lampau melainkan masa yang akan datang. Dan juga jangan kita bepikir bahwa Yohanes tidak mengetahui akan sengsara yang akan ditanggung oleh Yesus, sebab Yohanes Pembaptis telah berkata, “Lihatlah Anak Domba Allah yang menghapus dosa- dosa dunia (Yoh 1:29) dan karenanya menubuatkan sengsara Yesus, yang juga telah dinubuatkan oleh para nabi (lih. Yes 53)…. Yohanes membuat pertanyaan ini, menurut St. Yohanes Krisosotomus, bukan karena keraguan ataupun ketidaktahuan, tetapi karena ia ingin agar para murid- muridnya memperoleh kepuasan dari jawaban Yesus sendiri tentang hal itu. Oleh karena itu, Yesus memberikan jawabanNya dengan mengajarkan kepada para murid ini, dengan mengacu kepada bukti- bukti mujizatnya (ay.22) (St. Thomas Aquinas, Summa Theology, II-II, q.2, a.7 ad 2), termasuk membangkitkan orang mati, seperti yang baru dilakukannya terhadap anak muda di Nain, dalam perikop sebelumnya.

Di ayat 22, kepada para murid Yohanes Pembaptis, Yesus mengacu kepada mujizat- mujizat yang dilakukannya, yang menunjukkan bahwa Ia adalah Mesias yang dijanjikan Allah, yang telah dinubuatkan oleh para nabi. Bersamaan dengan mujizat-Nya, disebutkan salah satu tanda kedatangan Kerajaan Allah adalah diberitakannya keselamatan kepada kaum miskin. Kaum miskin di sini mengacu kepada Mat 5:3, Luk 6:20, dan 6:24.

Mengikuti teladan Yesus, Gereja selalu memberikan perhatian istimewa kepada kaum miskin. Di jaman kita, para Paus berkali- kali menekankan kewajiban kita sebagai umat Kristen untuk memerangi ketidakadilan dan kemiskinan. “Ke-egoisan dan dominasi merupakan godaan bagi manusia. Karena itu diperlukan discernment untuk menghancurkan akar dari situasi ketidakadilan dan untuk memajukan keadilan…. Gereja mengarahkan perhatiannya kepada ‘kaum miskin’ yang baru ini– ‘orang cacat, mereka yang diperlakukan tidak adil, kaum manula, kaum marginal– agar mengenali mereka, menolong mereka dan mempertahankan tempat dan martabat mereka di dalam masyarakat yang dikeraskan oleh persaingan dan ketertarikan akan kesuksesan. (Paus Paulus VI, Octogesima adveniens, 15)

Keterangan di atas menunjukkan kepada kita, bahwa jika kita mau ikut serta melanjutkan karya keselamatan Kristus, kita juga harus menaruh perhatian kepada kaum miskin. Paus Benediktus XVI dalam surat ensikliknya Caritas in Veritate, mengajarkan bahwa kemiskinan itu lahir dari keterpisahan/ isolasi: “Salah satu bentuk kemiskinan yang paling dalam yang dapat dialami manusia adalah isolasi/ keterpisahan. Kalau kita melihat dari dekat bermacam bentuk kemiskinan, termasuk bentuk-bentuk material, kita melihat bahwa mereka lahir dari isolasi, dari tidak dicintai atau dari kesulitan untuk dapat mencintai. Kemiskinan sering dihasilkan dari penolakan atas kasih Tuhan, oleh kecenderungan dasar dan tragis manusia yang menutup diri sendiri, memikirkan diri sendiri sebagai “self-sufficient”/ cukup dengan diri sendiri atau semata-mata sebuah fakta yang tidak penting dan hanya sekejap mata, seorang ”asing” di dalam sebuah alam semesta yang acak. Manusia terasing ketika ia sendirian, ketika ia terpisah dari realitas, ketika ia berhenti berpikir dan percaya akan sebuah pondasi….” (Caritas in Veritate, 53)

Dengan demikian memang kemiskinan tidak saja terbatas kepada kemiskinan materi, namun juga kemiskinan lain yang disebabkan karena keterasingan mereka dari kasih sesamanya, dan karena penolakan atas kasih Tuhan. Kemiskinan macam ini bisa terjadi di sekitar kita, bahkan juga di kalangan mereka yang dari luar nampaknya tidak kekurangan sesuatu apapun. Untuk merekalah Injil juga harus diwartakan, sebab kasih Kristus ditujukan kepada semua orang, terutama mereka yang miskin, baik yang miskin secara jasmani maupun rohani.

Pesan lainnya yang dapat dipetik dari kisah ini adalah bahwa kita selayaknya memiliki keteguhan iman akan Kristus sebagai Tuhan, setelah membaca dan merenungkan Injil, dan menghayatinya dalam kehidupan kita sehari- hari. Sebab segala sesuatu yang dinubuatkan oleh para nabi tentang Mesias, sungguh telah digenapi dalam diri Kristus. Dengan menyandarkan hidup kita kepadaNya, dan hidup di dalam Dia, maka kita dapat mengalami  pertolongan-Nya, bahkan yang ajaib sekalipun, karena Ia adalah Allah yang hidup dan senantiasa menyertai kita, baik di saat suka, namun terutama pada saat kita berduka. Semoga kita semua yang percaya dapat memiliki keteguhan iman, dan tidak lekas goyah ataupun kecewa dan menolak Dia, karena mengalami percobaan/ kesulitan di dalam hidup ataupun terpengaruh oleh ajaran- ajaran lainnya yang menolak Kristus. Sebab di Kristus berkata, “Berbahagialah orang yang tidak menjadi kecewa dan menolak Aku.” (ay. 23).

Demikianlah sekilas tentang makna kedua perikop tersebut, jika dikaitkan dengan kehidupan kita di jaman sekarang.

Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
Ingrid Listiati- katolisitas.org

Tentang Mormonism

32

Pertanyaan:

shalom…..
saya banya membaca tentang ertikal yg saudara tulis, sebagai orang katolik sy merasa sangat terbantu, dan semakin mengerti tentang ajaran katolik yg sy anut, sy sangat tertarik menganai ajaran2 kristen di luar greja katolik. terkhusus tentang ajaran mormon yg berkembang d Amerika, bisakah saudara menggambrkan tentang ajaran ini dr sisi katolik?
terimakasih…. shalom..
Flo

Jawaban:

Shalom Flo,

Berikut ini sekilas tentang Mormonism, yang saya sarikan dari buku karangan Father Frank Chacon dan Jim Burnham, Beginning Apologetics 2 (Farmington, San Juan Seminars, 1996) p. 19- 26:

Gereja Mormon didirikan oleh Joseph Smith, Jr pada tahun 1830. Nama resminya adalah Church of Jesus Christ of Later-day Saints (LDS).

Joseph Smith (1805-1844) mengklaim bahwa ia mendirikan gereja Mormon atas dasar wahyu- wahyu yang diterimanya tahun 1820, dari dua orang yang datang dari surga. Mereka mengatakan kepadanya bahwa semua agama Kristen yang ada saat itu sudah rusak total. Maka misi Joseph Smith adalah untuk memulihkan agama tersebut, yang konon sudah rusak segera setelah kematian Rasul yang terakhir.

Untuk menggenapi misinya, Joseph Smith mengklaim bahwa Tuhan telah menjadikannya seorang nabi dan rasul. Ia menjadi nabi yang menyampaikan Wahyu Ilahi dan menulis kitab Suci. Smith memang menulis tiga kitab yang diklaim oleh kaum Mormon sebagai bagian dari Kitab Suci: Book of Mormon, Doctrines and Covenants and Pearl of Great Price. Kaum Mormon juga percaya bahwa para pemimpin gereja LDS yang meneruskan Joseph Smith adalah nabi- nabi.

Berikut ini adalah sumber- sumber utama yang dipinjam oleh Joseph Smith untuk mendirikan Mormonism:

1) Protestantism.
Joseph Smith, seperti Charles Taze Russell (Pendiri Saksi Yehuwa) datang dari latar belakang Protestan. Smith mengajarkan kesalahan ajaran Protestantism, seperti penolakan akan Ekaristi, Paus, ajaran tentang Maria, dan kitab- kitab Deuterokanonika.

2) Adventism.
Ajaran Joseph Smith mempunyai kemiripan dengan ajaran Adventism. Smith memperkirakan akhir jaman pada tahun 1890. Walaupun tidak menekankan perhatian akan akhir jaman, seperti halnya pada aliran the Seventh-Day Adventists dan Saksi Yehuwa, Smith menyerap pola pikir bebas dalam hal- hal religius seperti yang dianut oleh kelompok- kelompok Adventist di jamannya.

3). Freemasonary.
Smith masuk menjadi anggota Mason tahun 1842, dan mengambil upacara- upacara Masonik ke dalam Mormonism.

4). Sumber- sumber lainnya.
Tokoh- tokoh kolonial: Cotton Maher, William Penn dan Roger Williams, memperkirakan bahwa orang- orang Indian di Amerika kemungkinan adalah kaum sisa Israel Palestina yang bermigrasi ke Amerika berabad sebelum Kristus. Smith mengajarkan bahwa orang- orang Yahudi yang datang ke Amerika sekitar tahun 600 BC mendirikan dua bangsa yang besar, yaitu Nephites dan Lamanites. Namun demikian, penyelidikan arkeologis dan sejarah Amerika tidak dapat menemukan jejak kedua bangsa ini seperti yang disebut dalam Book of Mormons. Tidak adanya bukti ini telah menjadi hal yang sangat memalukan bagi para sejarahwan Mormon dan arkeolognya. Karena bukti- bukti yang semakin meyakinkan bahwa kedua bangsa ini tidak pernah ada, maka kaum Mormon mengesampingkan ajaran ini.

Ajaran Mormon lainnya yang tidak sesuai dengan Kitab Suci maupun Tradisi Suci adalah tentang perkawinan di surga, poligami, baptisan orang mati, kepercayaan akan wahyu- wahyu yang terus menerus, dan adanya banyak tuhan. Tentang Gereja Katolik, Mormonism menyebutnya sebagai “the great apostasy” (kesesatan yang besar), yang dimulai sejak kematian Rasul yang terakhir (sekitar 100 AD) dan atau paling lambat sekitar tahun 200. Mormonism mengajarkan bahwa Gereja Kristus telah hilang lenyap dari bumi sampai pada saat dipulihkannya oleh Joseph Smith tahun 1829.

Tapi sebenarnya tuduhan ini tidak mendasar, sebab Kitab Suci, tulisan para Bapa Gereja abad- abad awal, dan kenyataan sejarah menjadi saksi utama akan kesalahan tuduhan ini.

1. Bukti dari Kitab Suci.

a. Tuhan Yesus mengajarkan kepada murid- murid-Nya untuk membangun rumah di atas batu dan bukan di atas pasir, agar rumahnya kokoh dan tidak hancur/ lenyap ditelan banjir (lih. Mat 7:24-27). Maka mungkinkah Ia sendiri tidak melakukan hal itu? Kenyataannya, Yesus mendirikan rumah-Nya, yaitu Gereja-Nya di atas Petrus (Batu Karang) dan Ia sendiri berjanji untuk menjaganya agar tidak sesat/ binasa.

Mat 16:13-18 mengatakan: Setelah Yesus tiba di daerah Kaisarea Filipi, Ia bertanya kepada murid-murid-Nya: “Kata orang, siapakah Anak Manusia itu?” Jawab mereka: “Ada yang mengatakan: Yohanes Pembaptis, ada juga yang mengatakan: Elia dan ada pula yang mengatakan: Yeremia atau salah seorang dari para nabi.” Lalu Yesus bertanya kepada mereka: “Tetapi apa katamu, siapakah Aku ini?” Maka jawab Simon Petrus: “Engkau adalah Mesias, Anak Allah yang hidup!” Kata Yesus kepadanya: “Berbahagialah engkau Simon bin Yunus sebab bukan manusia yang menyatakan itu kepadamu, melainkan Bapa-Ku yang di sorga. Dan Akupun berkata kepadamu: “Engkau adalah Petrus dan di atas batu karang ini Aku akan mendirikan jemaat-Ku (Gereja-Ku) dan alam maut tidak akan menguasainya.” (… upon this rock I will build My Church; and the gates of hell shall not prevail against it.“- KJV, versi yang diakui oleh Mormonism)

Maka berdasarkan janji Kristus ini, tidak mungkin walaupun untuk sementara waktu saja, Gereja/ jemaat-Nya dapat binasa dan lenyap ditelan gerbang maut. Maka pandangan Mormonism yang mengatakan Gereja dapat binasa (walau untuk sementara waktu) adalah pandangan yang menuduh Kristus berdusta.

b. Mat 18:15-18: “Apabila saudaramu berbuat dosa, tegorlah dia di bawah empat mata. Jika ia mendengarkan nasihatmu engkau telah mendapatnya kembali. Jika ia tidak mendengarkan engkau, bawalah seorang atau dua orang lagi, supaya atas keterangan dua atau tiga orang saksi, perkara itu tidak disangsikan. Jika ia tidak mau mendengarkan mereka, sampaikanlah soalnya kepada jemaat (Gereja). Dan jika ia tidak mau juga mendengarkan jemaat, pandanglah dia sebagai seorang yang tidak mengenal Allah atau seorang pemungut cukai. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya apa yang kamu ikat di dunia ini akan terikat di sorga dan apa yang kamu lepaskan di dunia ini akan terlepas di sorga.”

Yesus mengajarkan untuk membawa perselisihan dalam hal religius ke hadapan Gereja. Perintah ini mensyaratkan keberadaan Gereja yang setia kepada misinya. Jika tidak demikian, artinya kita harus menyerahkan masalah religius kepada gereja pagan yang rusak, untuk memenuhi perintah Kristus, dan ini menjadi tidak masuk akal.

c. Mat 28:20, Yesus berkata kepada para rasul-Nya: “Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman.”

Tak dapat disangkal bahwa Yesus selalu/ senantiasa menyertai Gereja-Nya yang didirikan-Nya di atas para rasul- sampai akhir jaman. Karena janji Kristus ini, maka tidak mungkin Gereja menjadi sesat dalam hal pengajarannya, sebab tidak mungkin Kristus meninggalkan dan mengabaikan Gereja-Nya.

d. 1 Tim 3:15: “Jadi jika aku terlambat, sudahlah engkau tahu bagaimana orang harus hidup sebagai keluarga Allah, yakni jemaat (Gereja) dari Allah yang hidup, tiang penopang dan dasar kebenaran.”

Rasul Paulus mengatakan kepada kita bahwa Gereja adalah tiang penopang dan dasar kebenaran; dan ini menunjukkan sifat Gereja yang kuat, stabil, dan permanen. Gereja sebagai keluarga Allah, akan menjadi guru yang permanen yang mengajarkan kebenaran.

Kesimpulannya: Kitab Suci menunjukkan bahwa Gereja Katolik yang didirikan Kristus di atas Rasul Petrus, tidak pernah dan tidak akan rusak di dalam hal otoritas apostolik dan ajarannya.

Mormonism mengutip ayat- ayat di Kitab Suci tentang penyesatan untuk mendukung klaim mereka tentang ‘kesesatan besar’, seperti Mat 7:15, Kis 20:29, 2 Tes 2:3, dan 2 Pet 2:1). Namun demikian, ayat- ayat ini menunjukkan adanya penyesatan besar yang akan terjadi sebelum akhir jaman, atau kepada kesesatan- kesesatan yang terjadi sepanjang periode sejarah Gereja. Kita setuju dengan Mormonism bahwa telah terjadi dan akan terus terjadi penyimpangan ajaran sesat dari pihak- pihak tertentu yang memisahkan diri dari Gereja. Namun demikian tidak ada ayat di dalam Kitab Suci yang menyebutkan adanya kesesatan total yang melibatkan otoritas apostolik yang terus berlangsung melalui para penerus Rasul, yaitu para Paus dan Uskup.

2. Bukti dari tulisan Bapa Gereja abad- abad awal.

Adalah penting untuk mempelajari tulisan para Bapa Gereja sampai tahun 200, untuk mengetahui bahwa tuduhan Mormonism sesungguhnya berlawanan dengan fakta. St. Klemens, Ignatius, Yustinus Martir, Polycarpus dan Irenaeus, adalah para Bapa Gereja yang terkenal pada jaman ini, dan tulisan- tulisan mereka didokumentasikan dengan baik. Mereka telah mulai ada sejak jaman para rasul dan berakhir sekitar tahun 200. Maka mereka termasuk dalam periode, yang menurut Mormonism, merupakan periode kerusakan Gereja Katolik dan ajarannya.

Studi tentang tulisan para Bapa Gereja menunjukkan bahwa mereka secara konsisten mengajarkan ajaran Gereja Katolik. St. Klemens (wafat tahun 80) menyatakan tentang otoritasnya sebagai Uskup Roma dan kepala Gereja. Ia juga mengajarkan tentang Misa sebagai perayaan kurban Kristus. St. Ignatius yang adalah pembantu Rasul Yohanes menuliskan sebuah surat yang keras tahun 110, mengecam mereka yang menolak kehadiran Yesus yang nyata di dalam Ekaristi. St. Yustinus Martir pada tahun 155 memberikan secara mendetail perayaan Ekaristi. St. Irenaeus (188-199) memperingatkan agar seseorang harus mengikuti Gereja Roma agar dapat mengikuti ajaran Apostolik.

Para Bapa Gereja bahkan tidak menyebutkan adanya “kesesatan besar”, seperti diharapkan sebagian orang, jika hal itu benar terjadi di masa hidup mereka. Sebaliknya, mereka memang menyebutkan banyak penyimpangan- penyimpangan yang melawan ajaran Gereja Katolik, seperti tuduhan bahwa umat Katolik mempraktekkan kanibalism dan penolakan ajaran tentang Inkarnasi. Jika memang ada penyesatan besar- besaran terjadi di Gereja di masa mereka hidup, tentu kita dapat melihat adanya tulisan- tulisan dalam skala yang besar di pihak penyerang dan pembela ajaran yang benar, namun tidak demikian yang terjadi.

Menurut Mormonism, para Bapa Gereja di abad awal mengajarkan ajaran Mormon, yang kemudian diabaikan oleh para Bapa Gereja yang sesat di jaman berikutnya. Namun demikian, tidak ada satupun Bapa Gereja di abad awal yang pernah mengajarkan ajaran Mormonism seperti poligami, baptisan orang mati, adanya banyak tuhan ataupun perkawinan di surga. Tidak ada bukti sedikitpun bahwa Gereja awal [sebelum terjadinya ‘kesesatan besar’ menurut kaum Mormon] adalah gereja Mormon. Sebaliknya, bukti yang tidak dapat disangkal adalah Gereja awal tersebut mengajarkan ajaran yang diajarkan oleh Gereja Katolik. Gereja Katolik mengajarkan ajaran yang sama, yang diajarkan oleh para Rasul, sampai pada hari ini. Kesimpulannya, studi tentang tulisan para Bapa Gereja di abad- abad awal membuktikan tidak adanya klaim Mormonism tentang terjadinya “kesesatan besar”.

3. Bukti dari Kanon Kitab Suci

Kanon Kitab Suci secara resmi ditetapkan oleh Gereja Katolik pada tahun 382 oleh Paus Damasus I, diteguhkan kembali oleh Konsili Hippo (393) dan Carthago (397). Mormonism menerima dengan iman, kanon Perjanjian Baru, persis seperti yang ditetapkan oleh Gereja Katolik. Namun penentuan kanon ini terjadi setelah tahun 200, yaitu setelah Gereja Katolik, menurut Mormonism, telah menjadi rusak total dan tak dapat mewartakan kebenaran. Bukankah ini adalah suatu pandangan yang tidak konsisten, sebab Mormonism menerima otoritas Gereja Katolik dalam menentukan Kitab Suci, namun kemudian menolak bahwa Gereja Katolik tetap memegang otoritas mengajar dengan benar.

4. Kebisuan sejarah.

Mengapakah sejarah mencatat adanya pemisahan diri dalam sejarah Gereja: Arianism, Othodoxy, Protestantism- tetapi tidak pernah menyebutkan adanya ‘kesesatan total’? Jika skima- sksima besar disebutkan, mengapa jika memang ada skisma yang terbesar, malah tidak pernah disebutkan? Jika memang ada, tentunya ada orang yang mencatatnya. Jika benar Gereja awal mengajarkan ajaran Mormon, maka tentulah ada tulisan yang banyak dari para jemaat awal, ketika banyak dari anggota Gereja lainnya yang ‘tersesat’ mengikuti ajaran yang non- Mormon. Namun faktanya, tidak ada sedikitpun protes, tak ada bahkan satupun bukti yang menunjukkan hal itu. Kebisuan sejarah ini sungguh merupakan kenyataan yang kuat, yang menunjukkan bahwa klaim Mormonism sebagai ajaran yang asli sungguh tidak berdasar dan tidak dapat dibuktikan.

Sejarah mencatat, misalnya ketika ada ajaran sesat Arianism (di awal abad ke-4) yang menentang keilahian Kristus, maka para Bapa Gereja menanggapinya dengan melengkapi kalimat syahadat (Credo). Sebelumnya Credo hanya menyebutkan tentang Yesus: “Putera-Nya yang Tunggal, Tuhan kita”, menjadi: “Putera Allah yang Tunggal, Ia lahir dari Bapa sebelum segala abad, Allah dari Allah, Terang dari Terang, Allah benar dari Allah benar. Ia dilahirkan, bukan dijadikan sehakikat dengan Bapa; segala sesuatu dijadikan oleh-Nya…” Dengan demikian, Gereja meluruskan ajaran yang keliru, dan menegaskan kembali ajaran yang benar.

Maka jika benar ada kesesatan besar di Gereja, tentulah ada seseorang yang netral yang dapat menulis sesuatu untuk menantang Gereja agar setia mengajarkan kebenaran. Atau Gereja sendiri harus meluruskan ajaran agar dapat diketahui ajaran yang murni, yang tercermin dalam syahadat/ credo. Namun hal ini tidak pernah terjadi, tidak ada orang yang menantang Gereja untuk mengajarkan ajaran yang murni dari para Rasul [karena memang Gereja sudah selalu mengajarkan ajaran yang murni tersebut]. Sebaliknya, yang ditantang/ ditolak adalah ajaran yang menentang ajaran para rasul itu.

5. Mormonism tak dapat menjelaskan apakah secara rinci ‘kesesatan besar’ itu

Jika ditanya, kaum Mormon tidak dapat memberikan penjelasan rinci fakta tentang kesesatan besar itu. Yang dikatakan hanya adalah terjadi kesesatan besar, namun jika ditanya apa contohnya secara mendetail, mereka tidak dapat menjawabnya, misalnya: siapa yang mempelopori kesesatan itu, di mana terjadinya, tentang apa, siapa yang menolak kesesatan itu, dst.

6. Keutamaan Perjanjian Baru

Kita ketahui bahwa sebagai pengikut Kristus kita (maupun kaum Mormon) menerima otoritas kitab Perjanjian Baru. Kitab Perjanjian Lama sendiri tetap eksis selama sekitar 1300 tahun sampai tergenapinya dalam Perjanjian Baru, walaupun ada banyak tokoh pemimpin dalam Perjanjian Lama yang hidupnya jahat. Dengan kenyataan ini, apakah kita harus percaya bahwa Gereja –yang didirikan oleh Kristus yang adalah Allah Putera yang menjelma menjadi manusia dan yang merupakan penggenapan janji Allah dalam Perjanjian Baru– akan dapat runtuh hanya dalam waktu 70 tahun setelah saat didirikannya oleh Kristus?

7. Kesesatan besar sudah terekam dalam Yohanes 6.

Daripada mencari fakta kesesatan besar yang terjadi setelah kematian Rasul terakhir, kita dapat mencari adanya kesesatan yang direkam dalam Injil. Yoh 6 telah merekam kejadian kesesatan dari banyak pengikut Kristus yang menolak untuk percaya akan ajaran Kristus tentang Ekaristi, yaitu agar para pengikut-Nya makan Tubuh-Nya dan minum Darah-Nya dalam rupa makanan (roti) dan minuman. Banyak di antara mereka yang mengikut Yesus saat itu menolak ajaran ini, sebab mereka tidak dapat menerima kehadiran Kristus yang secara nyata dalam Ekaristi. Demikian juga, kaum Mormon juga menolak untuk percaya akan kehadiran Yesus secara nyata dalam Ekaristi. Maka sesungguhnya dapat dipertanyakan di sini, siapakah sebenarnya yang menyimpang dari ajaran Kristus.

Di atas semua itu, Gereja mengajarkan kepada kita bahwa Wahyu Umum Allah (public Revelation) telah berakhir dengan wafatnya Rasul yang terakhir yaitu Yohanes, sekitar tahun 100. Oleh karena itu tidak akan ada pengajaran baru, ataupun Kitab Suci yang baru ataupun nabi- nabi baru seperti pada jaman nabi Musa, Yesaya, Daniel, dst. Gal 4:4, mengajarkan bahwa Yesus menyampaikan kepenuhan Wahyu Allah. Yud 1:3 mengatakan bahwa ajaran iman ini telah disampaikan kepada orang- orang kudus (…. ye should earnestly contend for the faith which was once delivered unto the saints– KJV). Mat 28:19-20 mengindikasikan bahwa semua ajaran telah disampaikan Kristus kepada para rasul, dan mereka harus mewartakan semua ajaran ini ke seluruh dunia.

Dengan demikian, Kitab Suci sendiri menyatakan bahwa tidak akan ada lagi Wahyu- wahyu umum yang baru, karena Wahyu umum telah mencapai puncaknya, dan telah disampaikan oleh Kristus. Katekismus Gereja Katolik mengajarkan:

KGK 66 “Tata penyelamatan Kristen sebagai suatu perjanjian yang baru dan definitif, tidak pernah akan lenyap, dan tidak perlu diharapkan suatu wahyu umum baru, sebelum kedatangan yang jaya Tuhan kita Yesus Kristus” (Dei Verbum 4). Walaupun wahyu itu sudah selesai, namun isinya sama sekali belum digali seluruhnya; masih merupakan tugas kepercayaan umat Kristen, supaya dalam peredaran zaman lama kelamaan dapat mengerti seluruh artinya.

KGK 67 Dalam peredaran waktu terdapatlah apa yang dinamakan “wahyu pribadi”, yang beberapa di antaranya diakui oleh pimpinan Gereja. Namun wahyu pribadi itu tidak termasuk dalam perbendaharaan iman. Bukanlah tugas mereka untuk “menyempurnakan” wahyu Kristus yang definitif atau untuk “melengkapinya”, melainkan untuk membantu supaya orang dapat menghayatinya lebih dalam lagi dalam rentang waktu tertentu. Di bawah bimbingan Wewenang Mengajar Gereja, maka dalam kesadaran iman, umat beriman tahu membedakan dan melihat dalam wahyu-wahyu ini apa yang merupakan amanat otentik dari Kristus atau para kudus kepada Gereja. Iman Kristen tidak dapat “menerima” wahyu-wahyu yang mau melebihi atau membetulkan wahyu yang sudah dituntaskan dalam Kristus. Hal ini diklaim oleh agama-agama bukan Kristen tertentu dan sering kali juga oleh sekte-sekte baru tertentu yang mendasarkan diri atas “wahyu-wahyu” yang demikian itu.

Demikianlah, maka Kitab Suci dan Tradisi Suci Gereja sendiri menunjukkan bahwa ajaran Mormonism yang berdasarkan atas wahyu pribadi Joseph Smith Jr, di abad ke-19 bukanlah merupakan ajaran yang murni berasal dari Kristus dan para rasul.

Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
Ingrid Listiati- katolisitas.org

Keep in touch

18,000FansLike
18,659FollowersFollow
32,900SubscribersSubscribe

Artikel

Tanya Jawab