Home Blog Page 209

Jangan takut, Aku menyediakan tempat bagimu

2

Jangan takut

Minggu ini kita diingatkan agar jangan takut dan gelisah. Mengapa? Karena Tuhan mengetahui bahwa manusia mempunyai kecenderungan untuk menjadi takut dan gelisah. Permasalahan keluarga, kondisi keuangan, pergumulan di dalam dosa dan penyakit dapat mengakibatkan kita menjadi gelisah dan khawatir. “Mati aku“, adalah reaksi terburuk yang mungkin dapat terucap jika segala problema itu nampaknya tidak teratasi. Namun dalam kemungkinan terburuk sekalipun, bahkan pada saat menjelang ajal kita, Tuhan mengingatkan agar kita tak perlu kuatir. Sebab asalkan kita setia beriman kepada-Nya, maka Tuhan sudah menyediakan tempat bagi kita di surga. Oleh karena itu, kematian bagi kita orang percaya sesungguhnya bukanlah sesuatu yang menakutkan, karena merupakan awal dari kehidupan yang baru, di mana kita beroleh pemenuhan akan pengharapan iman kita: bahwa Tuhan akan menyediakan tempat bagi kita dan kita akan tinggal bersama-Nya.

Bacaan Injil Yoh 14:1-12

1 “Janganlah gelisah hatimu; percayalah kepada Allah, percayalah juga kepada-Ku.

2  Di rumah Bapa-Ku banyak tempat tinggal. Jika tidak demikian, tentu Aku mengatakannya kepadamu. Sebab Aku pergi ke situ untuk menyediakan tempat bagimu.

3  Dan apabila Aku telah pergi ke situ dan telah menyediakan tempat bagimu, Aku akan datang kembali dan membawa kamu ke tempat-Ku, supaya di tempat di mana Aku berada, kamupun berada.

4  Dan ke mana Aku pergi, kamu tahu jalan ke situ.”

5  Kata Tomas kepada-Nya: “Tuhan, kami tidak tahu ke mana Engkau pergi; jadi bagaimana kami tahu jalan ke situ?”

6  Kata Yesus kepadanya: “Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorangpun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku.

7  Sekiranya kamu mengenal Aku, pasti kamu juga mengenal Bapa-Ku. Sekarang ini kamu mengenal Dia dan kamu telah melihat Dia.”

8  Kata Filipus kepada-Nya: “Tuhan, tunjukkanlah Bapa itu kepada kami, itu sudah cukup bagi kami.”

9  Kata Yesus kepadanya: “Telah sekian lama Aku bersama-sama kamu, Filipus, namun engkau tidak mengenal Aku? Barangsiapa telah melihat Aku, ia telah melihat Bapa; bagaimana engkau berkata: Tunjukkanlah Bapa itu kepada kami.

10 Tidak percayakah engkau, bahwa Aku di dalam Bapa dan Bapa di dalam Aku? Apa yang Aku katakan kepadamu, tidak Aku katakan dari diri-Ku sendiri, tetapi Bapa, yang diam di dalam Aku, Dialah yang melakukan pekerjaan-Nya.

11 Percayalah kepada-Ku, bahwa Aku di dalam Bapa dan Bapa di dalam Aku; atau setidak-tidaknya, percayalah karena pekerjaan-pekerjaan itu sendiri.

12 Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya barangsiapa percaya kepada-Ku, ia akan melakukan juga pekerjaan-pekerjaan yang Aku lakukan, bahkan pekerjaan-pekerjaan yang lebih besar dari pada itu…..”

Tuhan Yesus menyediakan tempat bagi kita

Kita akan lebih memahami perikop ini jika kita melihat kaitannya dengan perikop sebelumnya. Di sana dikatakan bahwa Yesus sudah tahu bahwa Rasul Petrus akan menyangkal-Nya sebanyak tiga kali, dan ketika Ia mengatakan hal itu di hadapan para rasul lainnya, mereka menjadi sedih karenanya. Namun kemudian Yesus menghibur mereka, sebab sebagai Allah, Ia- pun sudah mengetahui bahwa para rasul itu, walaupun jatuh bangun dalam hal iman, akan akhirnya sampai juga ke surga.

“Aku akan datang kembali” (ayat 3) mengacu kepada kedatangan-Nya yang kedua (lih. 1 Kor 4:5; 11:26; 1Tes 4:16-17; 1Yoh 2:28), maupun juga pertemuan-Nya dengan setiap jiwa manusia setelah orang itu wafat. Maka janji Tuhan Yesus untuk menyediakan tempat di surga, bukan saja ditujukan kepada para rasul, tetapi juga kepada kita yang percaya kepada-Nya dan yang setia kepada-Nya sampai akhir.

Janji Tuhan Yesus ini selayaknya menghibur kita; namun juga mengingatkan agar kita selalu percaya dan setia kepada-Nya. Oleh rahmat Baptisan kita semua ini menjadi milik Allah, anak- anak angkat Allah di dalam Kristus (lih. Gal 3:26). Sudahkah kita hidup sebagai anak- anak Allah? Sebab jika kita terus berjuang untuk hidup sesuai dengan panggilan kita ini, maka janji Tuhan ini akan digenapi di dalam kita. Mari kita memeriksa batin kita, agar Tuhan menunjukkan pada kita, dalam hal- hal apa saja, sikap kita masih belum sesuai sebagai sikap anak- anak Allah. Dan marilah kita mohon rahmat Tuhan, agar kita dimampukan untuk memperbaikinya.

Kristus adalah Jalan menuju Allah Bapa

Sebenarnya, jika kita membayangkan bahwa kita hadir di tengah para rasul 2000 tahun yang lalu, saat Yesus mengucapkan perkataan-Nya ini, kemungkinan kitapun dapat memahami kegundahan hati Rasul Tomas, “Ke manakah Engkau akan pergi, Tuhan? Aku tidak tahu, bagaimana mungkin aku tahu jalan ke sana?” Namun sekarang kita perlu berterima kasih kepada Rasul Tomas, yang menyuarakan kegundahan hatinya, sebab oleh karena itu, Yesus menjawabnya dengan Sabda-Nya yang meneguhkan, “Akulah jalan, kebenaran dan hidup. Tidak ada seorangpun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku.” (Yoh 14:6).

St. Agustinus mengatakan, “Adalah penting bahwa Tuhan Yesus mengatakan, ‘Akulah jalan’ untuk menunjukkan kepada para rasul bahwa mereka sesungguhnya telah mengetahui/ mengenal apa yang mereka pikir tidak mereka kenal, sebab mereka sudah mengenal Dia.” ((St. Agustinus, In Ioann. Evang., 66,2)) Nah, pertanyaannya sekarang: apakah kita sudah mengenal Tuhan Yesus? Hidup kita di dunia ini memang merupakan kesempatan yang Tuhan berikan kepada kita untuk bertumbuh di dalam pengenalan akan Kristus, supaya kita dapat bertumbuh pula dalam kasih kepada-Nya dan kepada sesama demi kasih kita kepada Kristus. Sebab pada akhirnya, kasih inilah yang kita persembahkan kembali ke hadirat Tuhan di surga.

Dalam penjelasan The Navarre Bible, dikatakan bahwa Yesus menjadi ‘jalan’ kepada Bapa melalui 5 cara. Pertama melalui ajaran-Nya; sebab dengan berpegang pada ajaran-Nya kita akan sampai ke surga; kedua, melalui iman yang diinspirasikan-Nya, sebab Ia datang ke dunia sehingga “barang siapa yang percaya kepada-Nya dapat beroleh hidup yang kekal” (Yoh 3:16); ketiga, melalui teladan-Nya, sebab tak ada yang dapat sampai kepada Allah Bapa tanpa meneladani Kristus; keempat, melalui jasa-Nya, yang memampukan kita untuk masuk ke tempat kediaman abadi, dan terakhir, Kristus adalah jalan, karena Ia menyatakan Allah Bapa, yang dengan-Nya Ia adalah Satu, karena ke-Allahan-Nya. ((lih. The Navarre Bible, St. John, (Ireland, Four Courts Press, 1987), p. 184))

Maka agar kita semakin menghayati bahwa Kristus adalah jalan kepada Allah Bapa, kita perlu merenungkan ajaran Kristus dan kehidupanNya, dari lahir-Nya sampai pada wafat,  kebangkitan dan kenaikan-Nya ke Surga. Hal ini diajarkan oleh St. Francis dari Sales yang mengatakan, “Seperti halnya anak- anak yang mendengarkan ibunya…., belajar untuk bicara sesuai dengan bahasa ibunya, demikian pula kita, dengan membawaNya dekat dengan kita melalui meditasi, permenungan akan perkataan-Nya, perbuatan-Nya, dan kasih-Nya, kita belajar, dengan bantuan rahmat Tuhan, untuk berbicara, bertindak dan berkehendak seperti Dia…. Kita tidak dapat mencapai Allah Bapa dengan melalui jalan lain….; Ke-Allahan tidak dapat kita lihat dengan baik di dunia ini jika tidak di dalam kesatuan dengan kemanusiaan Penyelamat kita yang kudus, yang hidup dan kematian-Nya…. merupakan topik yang paling layak untuk direnungkan bagi meditasi kita sehari- hari ((St. Francis de Sales, Introduction to the Devout Life, part II, chap. 1,2))

Dengan merenungkan kehidupan Yesus, maka kita akan dapat mengarahkan hidup kita sesuai dengan kehendak-Nya. Itulah sebabnya banyak orang dapat bertumbuh secara rohani dengan berdoa rosario, karena doa rosario pada dasarnya adalah doa permenungan peristiwa- peristiwa hidup Yesus. Dengan permenungan tersebut, umat beriman dibawa untuk lebih menghayati rencana keselamatan Allah yang dinyatakan di dalam Kristus. Maka ajakan untuk merenungkan kehidupan Yesus ini adalah ajakan bagi anda dan saya. Jose Maria Escriva mengatakan, “Ia [Kristus] berbicara kepada semua manusia, tetapi dengan cara yang istimewa Ia memikirkan orang- orang yang, seperti anda dan saya, yang berkehendak kuat untuk menganggap panggilan hidup Kristiani sebagai sesuatu yang serius; Ia ingin agar Tuhan selalu ada di dalam pikiran- pikiran kita, di mulut kita, dan di setiap perbuatan kita, termasuk dalam kegiatan- kegiatan yang paling biasa dan rutin.” ((J. Escriva, Friends of God, 127)) Mari kita memeriksa batin kita dengan jujur, sejauh mana Kristus sudah menjadi pusat dalam pikiran kita, perkataan kita, kehendak maupun perbuatan kita? Jika Kristus belum menjadi motivasi yang utama bagi kita tiap- tiap hari, kita perlu memohon kepada Tuhan untuk membantu kita mengarahkan pikiran dan hati kita kepada-Nya, supaya hidup kita dapat dipimpin oleh-Nya.

Maka, perkataan Yesus, “Akulah jalan, kebenaran dan hidup,” tidak saja hanya ditujukan untuk menjawab Rasul Tomas… Menjadi Kebenaran dan Hidup adalah sesuatu yang layak bagi Tuhan yang menjelma menjadi manusia, seperti yang dituliskan oleh Rasul Yohanes dalam permulaan Injilnya, “Firman itu telah menjelma menjadi manusia … penuh kasih karunia dan kebenaran” (Yoh 1:14). Kristus adalah kebenaran, sebab dengan kedatangan-Nya ke dunia Ia menunjukkan bahwa Tuhan setia kepada janji- janji-Nya; dan karena Ia mengajarkan kebenaran tentang siapakah Tuhan itu. Selanjutnya, Kristus mengajarkan kepada kita bahwa penyembahan yang sejati adalah yang dilakukan “di dalam Roh dan kebenaran” (Yoh 4:23), yang artinya, penyembahan sejati kepada Allah Bapa adalah yang dilakukan di dalam Diri-Nya, yang adalah Sang Kebenaran itu. Kristus adalah Hidup, sebab dari kekekalan Ia mempunyai hidup ilahi dengan Allah Bapa (lih. Yoh 1:4) dan karena Ia menjadikan kita pengambil bagian dalam kehidupan ilahi, melalui rahmat Baptisan. Inilah sebabnya mengapa Injil mengatakan, “Inilah hidup yang kekal itu, yaitu bahwa mereka mengenal Engkau, satu-satunya Allah yang benar, dan mengenal Yesus Kristus yang telah Engkau utus.” (Yoh 17:3) ((lih. The Navarre Bible, Ibid., p.185))

Tentang hal ini St. Agustinus mengajarkan, “….sepertinya, Yesus berkata, Lewat jalan mana kamu akan pergi? Akulah Jalan. Kemanakah kamu akan pergi? Akulah kebenaran. Di manakah kamu akan tinggal? Akulah Hidup. Setiap orang dapat mencapai pengertian akan Kebenaran dan Hidup, tetapi tidak semua menemukan Jalannya. Para orang bijak di dunia menyadari bahwa Tuhan adalah kehidupan kekal dan kebenaran yang dapat diketahui; namun Sang Sabda Allah yang adalah Kebenaran dan Hidup yang bersatu dengan Allah Bapa, telah menjadi Jalan, dengan menjelma menjadi manusia. Renungkanlah kerendahan hati-Nya [Kristus] dan kamu akan mencapai Allah.” ((St. Augustine, De verbis Domini sermones, 54)) O, betapa dalamnya makna kasih Allah yang ditunjukkan-Nya melalui Kristus!

Barangsiapa telah melihat Aku, ia telah melihat Bapa

Banyak orang mempertanyakan ke-Allahan Yesus, sebab mereka tidak memahami bahwa Allah Bapa dan Putera [Kristus] adalah Satu.  Hal inilah yang kemungkinan juga menjadi pertanyaan Rasul Filipus, “…tunjukkanlah Bapa itu kepada kami” (ayat 8). Namun Yesus “menegur para rasul karena [mereka] tidak mengenali Dia, meskipun perbuatan- perbuatan-Nya adalah perbuatan yang hanya dapat dilakukan oleh Tuhan — berjalan di atas air, mengendalikan angin badai, mengampuni dosa, membangkitkan orang mati. Karena inilah mengapa Ia [Kristus] menegur Filipus: karena ia tidak mengenali kodrat ke-Allahan-Nya melalui kemanusiaan-Nya.” ((St. Agustinus, De Trinitate, Book 7))

Sungguh, kita perlu memohon kepada Tuhan agar semakin dapat menghayati misteri kasih Allah ini, yang begitu tak terbatas dan melampaui batas pikiran manusia. Sebab hanya kasih Allah yang begitu besarlah yang membuat-Nya mau mengutus Sang Sabda, yaitu Putera-Nya sendiri untuk menjadi manusia dan menyelamatkan manusia. “Maka Yesus Kristus, Sabda yang menjadi daging, diutus sebagai “manusia kepada manusia”((Surat kepada Diognetus,7,4: Funk, Apostolic Fathers, I, 403)), “menyampaikan sabda Allah” (Yoh3:34), dan menyelesaikan karya penyelamatan, yang diserahkan oleh Bapa kepada-Nya (lih. Yoh 5:36 ; Yoh17:4). Barang siapa melihat Dia, melihat Bapa juga (lih. Yoh 14:9). Untuk alasan ini Yesus menyempurnakan wahyu dengan menggenapinya melalui keseluruhan karya-Nya untuk menghadirkan Diri-Nya dan menyatakan DiriNya –  melalui Sabda perkataan-Nya maupun perbuatan-Nya, dengan tanda-tanda serta mukjizat-mukjizatnya, namun terutama dengan wafat dan kebangkitan-Nya penuh kemuliaan dari maut, akhirnya dengan mengutus Roh Kebenaran, menyelesaikan wahyu dengan memenuhinya, dan meneguhkan dengan kesaksian ilahi, bahwa Allah menyertai kita, untuk membebaskan kita dari kegelapan dosa serta maut, dan untuk membangkitkan kita bagi hidup kekal.” ((Konsili Vatikan II tentang Wahyu Ilahi, Dei Verbum, 4))

Orang yang percaya kepada-Ku akan melakukan pekerjaan-pekerjaan yang Kulakukan, bahkan yang lebih besar

“Sebelum meninggalkan dunia ini, Tuhan Yesus berjanji kepada para rasul untuk memberikan kepada mereka kuasa sehingga keselamatan Tuhan dapat dinyatakan melalui mereka. Segala pekerjaan dan mujizat ini diwartakan di dalam nama Yesus Kristus (lih. Kis 3:1-10; 5:15-16; dst) dan secara khusus pertobatan bangsa- bangsa kepada iman Kristiani dan pengudusan mereka diperoleh melalui khotbah pengajaran dan pelayanan sakramen- sakramen. Hal- hal itu dapat dianggap sebagai pekerjaan- pekerjaan yang lebih besar daripada pekerjaan-Nya jika kita melihat bahwa melalui pelayanan para rasul, Injil tidak hanya diwartakan di Palestina tetapi disebarkan sampai ke seluruh dunia. Namun demikian kuasa yang luar biasa dalam karya apostolik dan pengajaran bersumber dari Kristus, yang telah naik ke Surga kepada Allah Bapa: setelah melewati penghinaan di kayu salib, Yesus telah dimuliakan dan dari surga Ia menyatakan kuasa-Nya dengan bertindak melalui para rasul-Nya.” ((The Navarre Bible, Ibid., p.187))

Kuasa para rasul diperoleh dari Kristus yang dimuliakan. Jangan lupa bahwa Kristus pernah bersabda, “Apapun yang kauminta dalam nama-Ku, Aku akan melakukannya” (lih. Yoh 14:13). Maka jika para rasul dapat melakukan perkara- perkara besar, semua itu hanya terjadi karena Kristus yang memampukan mereka. Demikian pula seharusnya, jika Tuhan mengijinkan kita turut mengambil bagian dalam karya kerasulan-Nya, untuk memberitakan kasih Allah dan membawa sesama kita kepada Tuhan, kita harus melihatnya sebagai karya Kristus, dan bukan semata karena kemampuan kita.

St. Agustinus menjelaskannya, seolah demikianlah yang dikatakan Tuhan Yesus, “Bukannya bahwa ia yang percaya kepada-Ku akan menjadi lebih besar daripadaku, tetapi hanya bahwa Aku akan melakukan perbuatan- perbuatan yang lebih besar daripada sekarang; lebih besar, oleh dia yang percaya kepada-Ku, daripada yang Kulakukan sendiri sekarang tanpa dia.” ((St. Agustinus, In Ioann. Evang., 72, 1)). O, betapa besar rencana Allah dan penyelenggaraan-Nya yang dinyatakan di dalam Gereja-Nya yang kudus, di mana kita dapat terus menerima rahmat-Nya dan menimba kekuatan dari Sang Hidup ilahi, melalui pengajaran Firman Tuhan dan sakramen- sakramen yang disampaikannya.

Pesan yang layak diingat: Jangan takut

Paus Yohanes Paulus II adalah Paus yang paling sering menyuarakan tema ini dalam khotbah- khotbahnya: Jangan takut!  Menurut Archbishop Fulton Sheen yang pernah menghitung kata “Jangan takut” di Kitab Suci, konon jumlahnya adalah 365 kali. Tentu ini bukan kebetulan, dan bahwa Tuhan mengingatkan kita setiap hari dalam setahun agar kita jangan takut, jangan lekas gelisah dan khawatir. Ini adalah pesan yang selalu relevan dan pas dengan keadaan kita saat ini. Sebab apapun yang sedang kita hadapi, baik tantangan, kesulitan, ataupun bencana, tidak akan dapat memisahkan kita dari kasih Kristus (lih. Rom 8:38-39). Asalkan kita berpegang kepada Kristus dan mengandalkan Dia, yang adalah Jalan, Kebenaran dan Hidup, kita akan memperoleh jalan keluar. Jika janji Tuhan ini digenapi dalam hidup banyak orang percaya, kita harus yakin hal itu juga terjadi dalam hidup kita.

“Semuanya itu Kukatakan kepadamu, supaya kamu beroleh damai sejahtera dalam Aku…. Kuatkanlah hatimu, Aku telah mengalahkan dunia.” (Yoh 16:33)

Apakah Pilatus yang paling bertanggungjawab atas kematian Yesus?

7

Pertanyaan:

Shalom Katolisitas,

Beberapa waktu lalu saya nonton acara TV dari National Geografic Channel, dengan judul “Who killed Jesus?”
Kesimpulannya adalah bahwa fakta historis tidak sesuai dengan apa yang ditulis dalam matius 27, bahwa Pilatus tidak bersalah dengan kematian Yesus (27:24).

Menurut banyak nara sumber dalam acara itu, Pilatus diyakini memliki sifat cukup kejam dan dianggap yang paling bertanggungjawab dengan kematian Yesus. Disebutkan pula sejarah membebaskan tahanan (baca barabas) juga saat itu tidak dikenal dalam kebudayaan Yahudi, melainkan ada di kebudayaan Mesir.

Mereka beragumen kenapa Injil Matius ditulis seolah bangsa Yahudi yang bersalah karena memang zaman injil dibuat yang sekitar 40-50 tahun kemudian itu dikarenakan friksi yang meningkat antara pengikut agama yahudi dan kristen pada saat itu.

Bagaimana tanggapan katolik dalam hal ini?

Terima kasih, GBU.
Teddy

Jawaban:

Shalom Teddy,

Ada setidaknya lima hal yang menyatakan lemahnya dasar kesimpulan National Geographic Channel yang menganggap Pilatus paling bertanggung jawab atas kematian Yesus.

1. Fakta yang dicatat oleh para sejarahwan pada abad awal tidak menyatakan bahwa Pilatuslah yang paling bertanggungjawab atas kematian Yesus.

Jika kita ingin mengetahui kebenaran fakta sejarah, tentu lebih baik kita mempercayai keterangan yang dituliskan oleh ahli sejarah pada abad awal, yang masih dapat berhubungan dengan saksi-saksi mata peristiwa pada jaman itu; daripada kepada hipotesa orang- orang modern di abad- abad berikutnya. Demikianlah maka kesaksian ahli sejarah pada abad-abad pertama menjadi penting, seperti yang dituliskan oleh Flavius Josephus (37-100) seorang sejarahwan Yahudi, yang dalam bukunya Jewish Antiquities, 18.63-64:

At this time there appeared Jesus, a wise man. For he was a doer of startling deeds, a teacher of the people who receive the truth with pleasure. And he gained a following both among many Jews and among many of Greek origin. And when Pilate, because of an accusation made by the leading men among us, condemned him to the cross, those who had loved him previously did not cease to do so. For he appeared to them on the third day, living again, just as the divine prophets had spoken of these and countless other wondrous things about him. And up until this very day the tribe of Christians, named after him, has not died out.

Kesaksian Josephus menjadi penting, justru karena ia sendiri adalah seorang Yahudi. Sebab jika bukan imam-imam kepala dan orang Yahudi yang pertama- tama menyebabkan kematian Kristus (tetapi Pilatus), dan bahwa orang Yahudi hanya ‘kambing hitam’, maka pastilah Josephus juga menuliskan demikian. [Josephus pasti akan membela bangsanya sendiri dalam hal ini]. Selanjutnya, selain Josephus, Philo dari Alexandria (duta kaisar Caligula 299-305) juga memberi kesaksian tentang bagaimana Pilatus yang karena situasinya yang terjepit pada saat itu, menyetujui dijatuhinya hukuman mati kepada Yesus. Pilatus  ingin menyenangkan hati Kaisar [dengan memasang gambarnya dalam bentuk patung/ perisai di Yerusalem] dan ingin mengikuti kemauan orang Yahudi yang dipimpinnya, agar tidak mengadukan hal- hal negatif tentang kepemimpinannya kepada kaisar. Inilah sebab yang utama, mengapa sampai ia membiarkan Kristus dijatuhi hukuman mati, yaitu agar ia dapat ‘menenangkan’ orang Yahudi yang menuntut demikian, walaupun ia sendiri sesungguhnya tidak menginginkannya, seperti tercatat di Injil. Selanjutnya untuk membaca tentang dilemma Pilatus, menurut Philo dan Josephus, silakan klik di link ini.

2. Para rasul pun menyatakan tentang penyaliban Kristus karena penolakan bangsa Yahudi sendiri.

Kisah para rasul menyatakan bahwa Kristus disalibkan karena ditolak oleh para pemuka agama Yahudi (lih. Kis 2:23, 36). Perkataan rasul Petrus cukup jelas:

“…..Allah Abraham, Ishak dan Yakub, Allah nenek moyang kita telah memuliakan Hamba-Nya, yaitu Yesus yang kamu serahkan dan tolak di depan Pilatus, walaupun Pilatus berpendapat, bahwa Ia harus dilepaskan. Tetapi kamu telah menolak Yang Kudus dan Benar, serta menghendaki seorang pembunuh sebagai hadiahmu….” (Kis 3:13-14)

“Yesus adalah batu yang dibuang oleh tukang-tukang bangunan? yaitu kamu sendiri?,namun ia telah menjadi batu penjuru.” (Kis 4:11)

Kisah Para Rasul disusun sekitar tahun 64 AD, yaitu sekitar 30 tahun setelah Yesus naik ke surga, sehingga masih ada kemungkinan para saksi mata kematian (dan kebangkitan) Kristus dan saksi yang mendengarkan khotbah Petrus tersebut masih hidup. Jika seandainya kejadian kematian Yesus bukan disebabkan oleh orang Yahudi sendiri tapi oleh Pilatus, tentu akan ada karya tulis pada jaman itu yang menolak isi Kisah para Rasul tersebut. Tetapi kenyataannya, tidak ada. Penolakan itu hanya terjadi berabad- abad sesudahnya, seperti yang disimpulkan oleh National Geographic Channel, sehingga sesungguhnya ini yang layak dipertanyakan kebenarannya, karena dasar kesimpulan ini lebih kepada asumsi para ahli saat ini, daripada fakta yang terjadi pada saat itu.

3. Yesus sendiri menubuatkan bahwa Ia akan ditolak oleh kaum Yahudi; dan kitab Injil secara jelas menuliskan demikian

Yesus sendiri memberitahukan kepada para rasul-Nya sebanyak tiga kali bahwa Ia harus pergi ke Yerusalem dan menanggung banyak penderitaan dari pihak para tua- tua, imam- imam kepala dan ahli Taurat, dan mereka akan menjatuhi Dia dengan hukuman mati (Mat 16:21; Mat 17:22; Mat 20:18-19). Pemberitahuan ini dituliskan juga dalam Injil Markus dan Lukas.

Selanjutnya, ke-empat Injil jelas menyebutkan keterlibatan tua-tua dan imam- imam kepala Yahudi yang menghendaki Yesus dihukum mati; dan bagaimana Pilatus berusaha untuk membebaskan Yesus, namun tidak berdaya karena desakan orang- orang Yahudi sendiri (lih. Mat 27: 18-26; Mrk 15:11-15; Luk 23:22-24; Yoh 19:12-16).

Jadi jika seseorang mengatakan bahwa Pilatuslah yang sebenarnya menghukum mati Yesus (tanpa keterlibatan kaum Yahudi), maka itu sama saja dengan ia menolak kebenaran ucapan Yesus sendiri dan apa yang tertulis di Injil. Perlu diingat bahwa Injil yang pertama ditulis menurut tradisi adalah Matius (38-45 AD, yaitu sekitar 8-15 tahun setelah kenaikan Kristus ke surga) dalam bahasa Ibrani. Tentang hal ini sudah pernah dituliskan di sini, silakan klik. Maksud utama penulisan Injil adalah untuk melestarikan ajaran Kristus dan menurunkannya kepada jemaat. Jadi Injil pertama ditulis bukan 40-50 tahun setelah kenaikan Yesus ke surga dengan muatan politis, seperti perkiraan mereka.

4. Perkataan dalam Injil tentang kematian Yesus juga sesuai dengan nubuat para nabi di Perjanjian Lama.

Nubuat kematian Tuhan Yesus yang tertulis dalam Perjanjian Lama secara implisit mengatakan bahwa Ia wafat karena ditolak oleh bangsa-Nya sendiri (lih. Yes 1:3; Mzm 118:22; Keb 2:12-20). Kita ketahui bahwa Kitab- kitab Perjanjian Lama ini ditulis sekitar abad 2-3 abad sebelum Masehi, jauh sebelum kitab Injil ditulis, sehingga jika kita percaya nubuat ini digenapi di dalam Kristus, maka kita tidak akan heran, jika kenyataannya memang Yesus ditolak oleh bangsa-Nya sendiri.

5. Sifat dasar Pilatus yang kejam tidak menjadi dasar yang kuat untuk menyalahkan Pilatus.

Sifat dasar Pilatus yang kejam tidak menjadi dasar yang kuat, bahwa ia-lah yang paling bersalah dalam menjatuhkan hukuman mati pada Yesus, demikian pula argumen yang menyatakan bahwa Pilatus membenci orang Yahudi, sehingga menginginkan hukuman mati bagi Yesus. Sebab fakta yang terlihat dari bukti koin yang dicetak di masa pemerintahan Pilatus menunjukkan lambang tongkat penguasa Roma, dan dibaliknya adalah serumpun anggur yang adalah lambang umum bagi koin Yahudi. Maka dari sini terlihat kebijakan politik Pilatus untuk mengusahakan persamaan hak antara bangsa Yahudi dengan non- Yahudi. Untuk membaca selanjutnya, silakan klik di link ini.

Berikutnya, ada faktor- faktor lain, yang dicatat oleh Philo dan Josephus tentang mengapa Pilatus sampai menyetujui penyaliban Kristus, seperti telah disebutkan pada point 1 di atas.

Demikian Teddy, yang dapat saya sampaikan untuk menanggapi pertanyaan anda. Seharusnya, pihak- pihak yang mempertanyakan kebenaran Injil itulah yang perlu menyertakan bukti- buktinya. Namun, sepanjang pengetahuan saya, bukti- bukti itu justru tidak kuat, karena yang menjadi dasar adalah asumsi para ahli masa kini, dan bukannya dari fakta obyektif pada saat itu, yang didukung oleh tulisan orang- orang pada jaman itu, atau dari ahli sejarah yang berhubungan dengan para saksi mata kejadian tersebut.

Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
Ingrid Listiati- katolisitas.org

Indahnya pengampunan Tuhan

16

Dari editor:

Terima kasih Yudhi, karena anda mau berbagi kisah pengalaman hidupmu dengan kami di Katolisitas. Melalui kisahmu kami semakin percaya bahwa Tuhan Yesus tidak pernah meninggalkan kita dan membuang kita, yang sudah diangkat menjadi milik-Nya sejak pembaptisan kita. “Semua yang diberikan Bapa kepada-Ku akan datang kepada-Ku, dan barangsiapa datang kepada-Ku, ia tidak akan Kubuang.” (Yoh 6:37). Walau sering kita jatuh bangun di dalam kehidupan ini, Tuhan tetap setia untuk menopang dan membantu kita untuk kembali bangkit. Nampaknya inilah yang anda alami, dan kami turut bersyukur membacanya. Semoga Tuhan selalu memberkati anda dalam kehidupan anda selanjutnya, dan jika Tuhan berkenan, semoga Tuhan mengabulkan permohonan anda dan istri anda untuk dapat memperoleh keturunan.

Indahnya pengampunan Tuhan

Oleh Yudhi Raisan

Dosa-dosaku pada waktu muda dan pelanggaran-pelanggaranku janganlah Kauingat, tetapi ingatlah kepadaku sesuai dengan kasih setia-Mu, oleh karena kebaikan-Mu, ya TUHAN” (Mazmur 25:7)

Bapak Ibu dan Saudara-saudara yang terkasih dalam Kristus Yesus, dalam tulisan ini saya, Yudhi Raisan, mencoba untuk menuangkan pengalaman saya tentang pengampunan dari Tuhan.

Saya mempunyai iman warisan dari orangtua, iman non-Nasrani. Tetapi sejak masih duduk di bangku TK, saya sudah dikenalkan kepada Tuhan Yesus oleh orang tua saya. Mungkin karena sejak TK saya sudah bersekolah di sekolah Kristen dan kebetulan rumah saya berdekatan dengan sebuah gereja Protestan. Setiap Minggu pagi, mama saya selalu mengantar saya untuk mengikuti Sekolah Minggu. Saya mulai mengenal iman Katolik sejak saya duduk di bangku SMA, karena saya sekolah di sekolah Katolik. Saya merasa iman Katolik itu sangat indah, karena saya yakin bahwa Gereja Katolik benar-benar Gereja yang berasal dari Kristus, yang berawal dari St Petrus yang diberikan kuasa oleh Tuhan untuk menggembalakan domba-domba-Nya, yang kemudian menjadi Paus pertama dan diwariskan kepada penerusnya sampai dengan Paus yang sekarang. Juga karena saya melihat Gereja Katolik begitu kaya dengan adanya devosi kepada santo dan santa, adanya doa-doa kontemplasi, dan doa kharismatik. Banyak orang yang tidak bisa berdoa dengan keheningan, susah untuk berkonsentrasi karena pikirannya bercabang. Maka ia bisa berdoa dengan cara seperti komunitas kharismatik dengan cara berdoanya yang penuh semangat. Kekayaan dan keindahan itulah yang membuat saya terkesan dengan iman Katolik. Hingga kemudian saya pun memutuskan untuk dibaptis secara Katolik. Orang tua saya tidak keberatan, karena sejak awal orang tua saya memberi kebebasan kepada anak-anaknya. Sejak dibaptis, iman saya bertumbuh. Saya rajin ke gereja dan melakukan doa Rosario.

Pada suatu waktu, saya mempunyai seorang teman wanita yang cukup spesial dan kamipun berpacaran. Pacar saya itu tidak seiman dengan saya, tetapi tetap saja kami menjalin hubungan. Saat itu mungkin kami berpikir bahwa hubungan kami tidak akan lama dan hanya untuk main-main saja. Mungkin itu yang dinamakan cinta monyet. Namun ternyata tidak demikian. Hubungan kami terus berlanjut sampai 9 tahun lamanya, walaupun pada akhirnya kami berpisah. Selama 6 tahun kami back street karena orang tua pacar saya tidak menyetujui hubungan kami dengan alasan tidak seiman. Sepandai-pandainya kami bersembunyi, akhirnya hubungan kami ketahuan juga. Singkatnya setelah hubungan kami memasuki tahun ke-9, saya dipanggil oleh orang tua pacar saya dan kami diminta untuk menikah dengan catatan saya harus meninggalkan iman Katolik saya dan menjadi pemeluk agama keluarga pacar saya. Kalau tidak, saya harus putus. Karena saya sangat menyayangi si dia dan tidak mau kehilangannya, saya bersedia meninggalkan iman saya. Tanpa sepengetahuan orang tua, saya mengucapkan dua kalimat syahadat di depan pemuka agama pacar saya dan kaum kerabat pacar saya. Sejak saat itu saya tidak pernah pergi ke gereja lagi dan tidak pernah berdoa. Dari rumah saya pamit ke gereja, tetapi saya tidak ke gereja, saya pergi ke rumah pacar saya. Sesungguhnya di dalam hati, saya menolak itu semua, karena saya menjadi pemeluk agama pacar saya bukan dari hati saya. Saya merasa berdosa telah mengkhianati Tuhan Yesus. Mulai terjadi pergumulan dalam hati saya. Setiap hari saya merasa tersiksa dan kalau itu terjadi terus menerus, saya bisa gila. Saya merasa sudah tidak kuat lagi. Kini kalau saya ingat kembali akan peristiwa itu, saya teringat pemazmur yang tersiksa karena dosanya, yang membuatnya terpisah dari Allah. Sesungguhnya perasaan terpisah dari Allah karena saya mengingkari iman saya dan berbohong kepada diri sendiri, orangtua dan Tuhan itu yang membuat saya merasa tidak mampu bertahan lebih lama lagi. “Sebab aku sendiri sadar akan pelanggaranku, aku senantiasa bergumul dengan dosaku”(Mazmur 51:3).

Pada suatu kesempatan, saya curhat dengan seorang teman dan dia mengatakan, “Kamu bodoh telah menukar Yesus dengan seorang wanita.” Saya sangat tersentak oleh perkataan itu. Selama masa-masa saya berpacaran dengan kekasih saya itu, saya tidak pernah ke gereja dan tidak pernah berdoa. Saya jauh dari Tuhan, sehingga saya tidak merasakan pemeliharaan Tuhan. Tetapi tanpa saya sadari, Tuhan begitu mengasihi saya dan tidak pernah meninggalkan saya. Saya merasa Tuhan bekerja lewat teman saya yang menegur saya itu. Akhirnya saya membulatkan hati untuk menemui pastor dan saya mengaku dosa. Sebelum pastor memberikan penitensi kepada saya, dia mengatakan kalimat yang begitu menyejukkan hati saya, ”Berbahagialah anakku, engkau akan menerima hadiah Paskah yang begitu indah yaitu pengampunan dari Bapa, dan engkau akan kembali ke dalam pelukan-Nya.” Ketika itu menjelang Paskah tahun 2000. Seketika saya merasakan kegembiraan Bapa di Surga yang selalu menanti saya kembali. Saya merasa amat lega dan percaya akan kasih pengampunan Allah Bapa.

Keesokan harinya saya datang ke rumah pacar saya, saya mengatakan bahwa saya sudah mengaku dosa di depan pastor, dan kembali menjadi Katolik. Mendengar hal itu, orang tua pacar saya marah kepada saya, sambil menunjuk-nunjuk saya, mereka berkata, “Kamu berdosa besar telah mempermainkan agama kami”. Saya menjawab bahwa saya sudah berdosa besar ketika saya mengingkari iman saya dan berpindah memeluk agama yang tidak sesuai dengan panggilan hati saya , tetapi urusan dosa adalah urusan saya dengan Tuhan dan saya yakin Tuhan saya Maha Pengampun. Saya percaya saya sudah diampuni. Dan sejak saat itu, saya putus dengan pacar saya.

Tetapi permasalahan tidak cukup sampai di situ. Saat saya bergumul dengan masalah saya, pekerjaan saya di kantor terlantar, sehingga akhirnya saya ditugaskan hanya untuk mengarsip dokumen. Saya merasa sudah dibuang. Saya lantas merasa jenuh, dan akhirnya memutuskan untuk mengundurkan diri. Itu adalah saat-saat yang berat bagi saya. Saya merasa frustasi, seolah belum cukup menderita karena putus dengan pacar saya yang telah menjadi kekasih saya selama 9 tahun, tambahan lagi saya juga harus kehilangan pekerjaan. Mungkin Bapak Ibu dan Saudara-saudara dapat membayangkan bagaimana perasaan saya saat itu. Saya marah kepada Tuhan, Ia sudah mengampuni saya tetapi mengapa saya harus dihukum seperti ini. Padahal sesungguhnya apa yang terjadi pada saya adalah akibat pilihan saya sendiri, bukan karena Tuhan marah. Tetapi saat itu pemahaman saya belum sampai ke sana. Kehidupan saya berubah. Kembali saya absen untuk datang ke gereja lagi. Saat siang saya tidur, tetapi di malam hari saya keluyuran. Saya mulai senang berjudi. Lebih parah, ketika saya kalah berjudi, diam-diam saya mencuri uang mama saya. Saya tidak perduli itu uang hasil jualan Mama. Mama berjerih payah berjualan untuk kebutuhan hidup kami sehari-hari, karena Papa sudah pensiun dan mereka tidak mau meminta kepada anak-anaknya, apalagi kepada saya, yang seorang pengangguran.

Pada suatu malam, ketika saya sedang tidur, saya bermimpi Bunda Maria menampakkan diri pada saya. Tangan kanannya terbuka mengajak saya untuk mendekat kepadanya. Tangan kiri Bunda memegang Kitab Suci. Saya menghampiri Bunda, lalu saya dipeluknya. Bunda berkata, “Kemarilah, bacalah ini,“ sambil memberikan Kitab Suci kepada saya, “Maka hidupmu akan bahagia.”

Sejak mimpi yang amat mengesankan itu, saya mencoba membaca Kitab Suci dengan serius. Saya mulai dari Perjanjian Baru karena bagi saya Perjanjian Lama sangat membosankan, apalagi karena saya jarang bahkan hampir tidak pernah membaca Kitab Suci. Ternyata membaca Kitab Suci begitu indah, memberikan saya kekuatan baru. Saya pun lalu berniat untuk mendalaminya agar saya dapat mengenal Tuhan lebih dalam lagi melalui Sabda-Nya (mungkin itu satu alasan mengapa sekarang saya belajar di KPKS – Kursus Pendalaman Kitab Suci St Paulus yang diselenggarakan oleh LBI). Saya juga mulai berdoa Rosario lagi (satu alasan mengapa saya berdevosi kepada Bunda Maria). Setelah itu saya mendapatkan pekerjaan baru, yaitu tempat kerja saya yang sekarang. Selain itu saya juga mempunyai pekerjaan sampingan yang hasilnya lumayan. Dan akhirnya saya juga mendapatkan seorang istri yang begitu mencintai saya dan selalu mensupport saya. Kenangan indah akan kasih pengampunan Bapa yang kekal kembali memenuhi hati saya. Sungguhpun Engkau menghitung langkahku, Engkau tidak akan memperhatikan dosaku (Ayub 14:16). Saat itu saya menyadari lagi kegembiraan Surga pada saat saya bertobat, yang saya kenali di dalam Kitab Lukas 15 : 10, “Aku berkata kepadamu: Demikian juga akan ada sukacita pada malaikat-malaikat Allah karena satu orang dosa yang bertobat”.

Kini walau saya sudah menikah memasuki tahun ke-empat, kami belum dikaruniai seorang anak. Menurut dokter saya dan istri sehat-sehat saja. Mengapa saya belum dikaruniai anak sampai sekarang? Tuhan pasti punya alasan yang saya tidak pernah tahu, tetapi yang saya tahu, rencana-Nya pasti baik untuk saya dan istri saya.

Satu hal lagi yang membuat saya bahagia, saya bersama adik dan kakak telah membawa orang tua saya menjadi Katolik, walaupun papa saya dibaptis secara Katolik satu minggu sebelum beliau dipanggil Tuhan. Kalau saya ingat kembali perjalanan iman kedua orangtua saya, ya, walaupun kedua orangtua saya memiliki iman warisan non Kristiani, mereka memasukkan anak-anaknya ke sekolah Kristen karena mereka beranggapan di sekolah Kristen dikenal dengan kedisiplinannya. Kami anak-anaknya juga diantar ke Sekolah Minggu untuk mendidik moral kami, supaya kami tahu mana yang benar dan mana yang salah. Karena mereka sendiri walaupun beragama, pada waktu itu mereka jarang pergi ke tempat ibadah agama mereka, bahkan bisa dibilang tidak pernah. Mama saya sudah mengenal agama Kristen sejak kami masih sekolah. Mama belajar agama Kristen karena beliau ingin bisa membantu menjawab pertanyaan kami manakala kami menjumpai kesulitan dalam pelajaran sekolah khususnya pelajaran agama Kristen. Jadi beliau belajar dari buku, sehingga sebelum menjadi Katolik, Mama sudah tahu siapa itu Yesus, Maria, Yoseph, bahkan dia sudah tahu cerita tentang Zakeus, Yunus, Adam dan Hawa ketika jatuh ke dalam dosa dan sebagainya. Sedangkan keputusan papa saya untuk dibaptis adalah nampaknya merupakan suatu puncak kerinduan yang sudah dialaminya sejak beliau sakit. Pada saat Papa sakit, tetangga satu lingkungan sering datang untuk mendoakan beliau dan mereka sering bercerita tentang Yesus. Semua itu membuat papa saya merasa terjamah oleh kasih Yesus. Beliau sempat dua kali merayakan Misa di gereja sebelum dipanggil Tuhan. Itulah saat saya kembali merasakan penyelenggaraan Tuhan yang selalu sempurna, kasih-Nya yang tetap untuk selamanya. Ia membuat segala sesuatu indah pada waktunya, bahkan Ia memberikan kekekalan dalam hati mereka. (Pengkotbah 3:11a).

Demikianlah pengalaman yang dapat saya bagikan, semoga dapat berguna bagi kemuliaan Tuhan. Tuhan sudah memberi pengampunan penuh kepada saya, dan melalui Bunda Maria saya kembali ke jalan-Nya. Tuhan dan Bunda Maria telah bekerja dalam pergumulan dan masalah yang saya hadapi. Saya yakin Tuhan dan Bunda Maria akan bekerja juga dalam pergumulan dan masalah yang Bapak Ibu dan Saudara-saudara hadapi. AMIN.

Bersihkanlah aku dari pada dosaku dengan hisop, maka aku menjadi tahir, basuhlah aku, maka aku menjadi lebih putih dari salju! Biarlah aku mendengar kegirangan dan sukacita, biarlah tulang yang Kauremukkan bersorak-sorak kembali!” (Mazmur 51 : 9-10).

Apakah Doa Rosario adalah doa pengulangan yang dilarang Alkitab?

0

Umat Kristen non-Katolik sering mengatakan bahwa doa rosario adalah doa yang tidak Alkitabiah dan sesat, karena bertele-tele (lih. Mat 6:7), yaitu dengan mengulang-ulang doa Salam Maria. Mat 6:7 mengajarkan agar kita tidak berdoa secara bertele-tele, atau dalam versi bahasa Inggris KJV dikatakan sebagai “vain repetition” atau pengulangan sia-sia (vain). Namun sesungguhnya, tidak semua doa yang diulang adalah salah, karena di dalam Kitab suci kita dapat menemukan bahwa ada begitu banyak pengulangan doa, seperti: (a) “Bahwasanya untuk selama-lamanya kasih setia-Nya” (ada sekitar 31 ayat, 5 ayat di Mzm 118 dan 26 ayat di Mzm 136), (b) “…dengan tidak berhenti-hentinya mereka berseru siang dan malam: “Kudus, kudus, kuduslah Tuhan Allah, …” (Why 4:8), (c) Tiga kali Yesus mengucapkan doa yang sama, “Ya Bapa-Ku, jikalau cawan ini tidak mungkin lalu, kecuali apabila Aku meminumnya, jadilah kehendak-Mu!” (Mat 26:39, 42, 44), (d) Dua orang buta berseru-seru perkataan yang sama, “Kasihanilah kami, hai Anak Daud.” (Mat 20:30-31). Dengan demikian, kita dapat melihat bahwa tidak semua doa berulang itu salah, karena pengulangan doa pada contoh di atas bukanlah pengulangan kata-kata semata, namun doa yang didaraskan kepada Tuhan dengan dasar iman, pengharapan dan kasih.

Sejujurnya, banyak umat Kristen non-Katolik yang juga berdoa dengan pengulangan-pengulangan, seperti misalnya dalam doa spontan, diulangi perkataan, “ya Tuhan” atau “ampunilah kami“. Bahkan juga lagu yang sama diulang berkali-kali dalam doa pujian dan penyembahan. Kalau pengulangan doa spontan dan lagu pujian tersebut tidak dianggap sesat, mengapa doa rosario dianggap sesat?

Doa rosario tersusun dari beberapa doa, yaitu doa Aku Percaya (1x), Bapa Kami (6x), Kemuliaan (6x), Terpujilah (6x), Salam Maria (53x), di mana 50x doa Salam Maria adalah untuk merenungkan 5 peristiwa dalam kehidupan Tuhan Yesus Kristus. Kalau kita memahami makna doa rosario, maka kita juga memahami bahwa fokus doa ini bukanlah pada pengulangan doa Bapa Kami dan Salam Maria, namun kepada misteri Inkarnasi Kristus. Katekismus Gereja Katolik mengatakan bahwa rosario adalah ringkasan dari seluruh Injil (lih. KGK 971). Hal ini dapat kita lihat dari empat kelompok peristiwa, yaitu peristiwa-peristiwa gembira, terang, sedih dan mulia. Peristiwa gembira (yang didoakan pada hari Senin dan Sabtu) terdiri dari: Maria menerima Kabar Gembira, kunjungan ke Elizabet, kelahiran Kristus, Yesus dipersembahkan di bait Allah, Yesus ditemukan di bait Allah; Peristiwa terang (Kamis): Yesus dibaptis, mukjizat di Kana, Yesus mewartakan Kerajaan Allah, Transfigurasi, Perjamuan Terakhir; Peristiwa sedih (Selasa dan Jumat): Yesus di Taman Getsemani, Yesus didera, Yesus dimahkotai duri, Yesus memanggul salib-Nya, dan Yesus wafat; Peristiwa mulia (Rabu dan Minggu): Yesus bangkit, Yesus naik ke Sorga, Pentakosta, Maria diangkat ke Sorga, Maria menerima mahkota kehidupan di Sorga.

Dengan demikian, selama berdoa rosario, umat Katolik merenungkan kehidupan Yesus. Artinya, orang yang setia berdoa rosario setiap hari adalah orang yang merenungkan misteri kehidupan Kristus secara lengkap dua kali dalam seminggu. Bagaimana mungkin, hal merenungkan kehidupan Kristus dianggap sebagai pengulangan yang sia-sia? Bagaimana mungkin hal mengulangi doa Bapa Kami, doa yang diajarkan Yesus, dianggap sesat? Justru setiap saat, kita harus merenungkan kehidupan Kristus dan merenungkan doa Bapa Kami, sehingga Kristus dapat menuntun kehidupan kita. Jadi, apakah ada akibatnya, jika seseorang berdoa rosario secara sungguh-sungguh? Tentu ada, yaitu ia dibawa kepada kekudusan, seperti yang terjadi pada para Santa-santo di sepanjang sejarah Gereja. Dengan merenungkan peristiwa-peristiwa kehidupan Yesus dan menghubungkannya dengan kehidupan kita sendiri, kita dibentuk oleh Kristus untuk menjadi semakin serupa dengan Dia.  Jadi, marilah kita, tanpa ragu, berdoa rosario, sehingga kita dapat bertumbuh dalam kekudusan, sebagaimana dikehendaki oleh Tuhan (lih. 1 Tes 4:3).

Dasar Alkitab:

  • Mat 6:7: Doa yang sesat bukanlah doa pengulangan, namun pengulangan yang tidak berguna (vain repetition).
  • Mzm 118, Mzm 136: Contoh pengulangan doa: “Bahwasanya untuk selama-lamanya kasih setia-Nya
  • Why 4:8: Pengulangan doa, “Kudus, kudus, kudus”
  • Mat 26:39,42,44: Yesus mengulangi doa, “Ya Bapa-Ku jikalau cawan ini tidak mungkin lalu, kecuali apabila Aku meminumnya, jadilah kehendak-Mu!
  • Mat 20:30-31: Dua orang buta berseru berulang-ulang, “Kasihanilah kami, hai Anak Daud.

Dasar Magisterium Gereja:

  • Paus Yohanes Paulus II, Surat Apostolik, Rosarium Virginis Mariae:
    “Doa Rosario, meskipun jelas sifatnya Marian,  namun pada intinya adalah doa yang Kristosentris -berpusat pada Kristus. Dalam kesungguhan elemen-elemennya, ia mengungkapkan kedalaman pesan Injil dalam keseluruhannya, yang tentangnya dapat dikatakan sebagai ringkasannya.” (RVM 1)
  • Pesan Paus Benediktus XVI untuk Hari nasional pertama dari Orang Muda Katolik dari Belanda, par.8:
    “Pendarasan doa Rosario dapat menolongmu untuk belajar seni berdoa dengan kesederhanaan Maria dan kedalaman [iman]-nya.”
  • Katekismus Gereja Katolik  971, 2678, 2679, 2708:
    KGK 971    Sesungguhnya, mulai dari sekarang segala keturunan akan menyebut aku berbahagia” (Luk 1:48). “Penghormatan Gereja untuk Perawan Maria tersuci termasuk dalam inti ibadat Kristen” (MC 56). “Tepatlah bahwa ia dihormati oleh Gereja dengan kebaktian istimewa. Memang sejak zaman kuno Santa Perawan dihormati dengan gelar “Bunda Allah”; dan dalam segala bahaya dan kebutuhan mereka, umat beriman sambil berdoa mencari perlindungannya… Kebaktian Umat Allah terhadap Maria… meskipun bersifat istimewa, namun secara hakiki berbeda dengan bakti sembah sujud, yang dipersembahkan kepada Sabda yang menjelma seperti juga kepada Bapa dan Roh Kudus, lagi pula sangat mendukungnya” (LG 66). Ia mendapat ungkapannya dalam pesta-pesta liturgi yang dikhususkan untuk Bunda Allah (Bdk. SC 103.) dan dalam doa marian – seperti doa rosario, yang merupakan “ringkasan seluruh Injil” (Bdk. MC 42.)KGK 2678 Dalam kesalehan Barat selama Abad Pertengahan muncullah Doa Rosario sebagai pengganti populer untuk ibadat harian. Di dunia Timur, Litani Akathistos dan Paraklisis lebih mirip dengan ibadat harian dalam Gereja-gereja Bisantin, sementara tradisi Armenia, Koptik, dan Siria lebih mengutamakan himne dan lagu-lagu rakyat, untuk menghormati Bunda Allah. Tetapi tradisi doa pada hakikatnya tetap sama dalam Salam Maria, dalam theotokia, dalam himne santo Efraim, dan santo Gregorius dari Narek.

    KGK 2679    Maria adalah pendoa sempurna dan citra Gereja. Kalau kita berdoa kepadanya, kita menyetujui bersama dia keputusan Bapa, yang mengutus Putera-Nya untuk menyelamatkan semua manusia. Sebagaimana murid yang dicintai Yesus, kita juga menerima Bunda Yesus yang telah menjadi Bunda semua orang yang hidup, ke dalam rumah kita (Bdk. Yoh 19:27.). Kita dapat berdoa dan memohon bersama dia. Doa Gereja seakan-akan didukung oleh doa Maria; ia disatukan dengan Maria dalam harapan (Bdk. LG 68-69.)

    KGK 2708  Meditasi memakai pikiran, daya khayal, gerak perasaan dan kerinduan. Usaha ini penting untuk memperdalam kebenaran iman, untuk menggerakkan pertobatan hati dan memperkuat kehendak guna mengikuti Kristus. Doa Kristen terutama berusaha untuk bermeditasi tentang “misteri Kristus”, sebagaimana terjadi waktu pembacaan Kitab Suci, “lectio divina“, dan pada doa rosario. Bentuk renungan doa ini mempunyai nilai yang besar; tetapi doa Kristen harus mengejar lebih jauh lagi: pengenalan akan kasih Tuhan Yesus Kristus dan persatuan dengan Dia.

Inseminasi, bolehkah?

9

Pertanyaan:

Shalom!

Saya dan suami sudah menikah selama 2.5 tahun dan kami belum dikaruniai anak. Belum lama ini kami menjalani tes kesuburan sesuai saran dokter dan hasil tes HSG menyatakan tidak ada masalah pada kandungan saya. Akan tetapi hasil sperma suami
Tidak begitu baik dalam arti dokter mengatakan utk punya anak lewat hubungan suami istri sepertinya cukup sulit dan dokter menganjurkan metode inseminasi.

Terus terang sekarang saya dalam dilema dimana satu pihak inseminasi tidak dibenarkan dalam ajaran katolik tapi disisi lain kamipun sangat mendambakan kehadiran anak dalam keluarga kami. Saya memasrahkan semuanya kepada Tuhan dan saya juga berharap dapat diberikan masukan mengenai hal ini.

Terima kasih sebelumnya.
Stella

Jawaban:

Shalom Stella,

Tentu tidak ada salahnya jika anda mendambakan anak, tetapi memang anda benar, bahwa jika kita sungguh mengasihi Tuhan, maka kita harus mengusahakan segala sesuatunya agar jangan sampai melawan kehendak Tuhan. Prinsip ajaran iman Katolik adalah, hubungan suami istri harus mempunyai tujuan union (persatuan suami istri) dan procreation (terbuka untuk kemungkinan lahirnya anak). Maka inseminasi, baik yang heterolog (melibatkan pihak ketiga) maupun yang homolog (antara pasangan suami istri itu sendiri), memang tidak sesuai dengan ajaran iman Katolik, karena dalam prosesnya meniadakan proses union (persatuan suami istri).

Dokumen Dignitas Personae yang menanggapi hal Bio-etik yang dikeluarkan oleh Vatikan (Congregation for the Doctrine of the Faith) pada tgl 8 Sept 2008 (silakan klik link ini), silakan membaca di sana terutama paragraf #12. Di sana dikatakan antara lain, “Instruksi Donum vitae menyatakan: “Dokter harus berada di posisi melayani orang- orang dan melayani prokreasi manusia. Ia tidak mempunyai otoritas untuk mengatur mereka atau untuk memutuskan takdir mereka. Intervensi medis menghormati martabat manusia ketika ia mau membantu hubungan seksual suami istri, baik untuk mempermudah pelaksanaannya atau untuk membuatnya mencapai hasilnya, ketika hal itu sudah dilakukan secara normal. Dan, tentang inseminasi buatan homolog, dikatakan: “Inseminasi buatan homolog di dalam perkawinan tidak dapat diterima, kecuali pada kasus- kasus di mana teknik tersebut bukan sebagai pengganti hubungan seksual suami istri, tetapi untuk memudahkan dan untuk membantu sehingga hubungan tersebut dapat mencapai maksudnya.”

Dua teknik yang mungkin masih diperbolehkan secara moral, adalah Gamete Intra- Fallopian Transfer (GIFT) dan Tubal Ovum Transfer (TOT) atau Lower Tubal Ovum Transfer (LTOT)  Silakan membaca selengkapnya di link ini, silakan klik, silakan baca di bagian akhir artikel tentang GIFT dan TOT/LTOT. Dalam prosedur GIFT, sperma dan sel telur diambil dengan cara hampir sama dengan cara yang dipakai pada prosedur bayi tabung, hanya saja, pengeluaran sperma tidak dengan cara masturbasi, tetapi dengan kondom yang dilubangi (perforated condom), sehingga sebagian sperma dapat secara normal masuk ke rahim, dan sebagian lagi dapat ‘dikumpulkan’ dan dikapasitasikan (dibersihkan dan dicampur dengan obat/ zat kimia) sebelum dimasukkan kembali agar memudahkan penyuburan. Dengan menggunakan laparaskopi, dokter dapat memasukkan sperma dan sel telur ke tuba falopi di mana pembuahan secara normal terjadi.

Prosedur kedua, TOT/ LTOT, melibatkan penyedotan satu atau lebih sel telur dari tuba fallopi dan pemasukan kembali ke dalam rahim. Diharapkan dengan prosedur ini, maka sel telur dibawa lebih ‘dekat’ jaraknya, dan lebih mudah dicapai oleh sperma. Setelah itu dilakukan hubungan suami istri secara normal. Cara ini dapat membantu jika masalah yang ada adalah ada penyumbatan/ bekas luka jaringan pada tuba fallopi atau jika jumlah sperma rendah atau jika sperma lambat bergerak.

Kedua alternatif ini kemungkinan masih dapat dilakukan dalam kasus anda. Silakan selanjutnya mendiskusikan kemungkinannya dengan dokter spesialis anda. Di atas semua itu iringilah usaha anda dengan doa. Jika Tuhan berkenan, usaha anda akan berhasil. Namun jika Tuhan berkehendak lain, janganlah berputus asa, sebab anda tetap dapat hidup berbahagia dan saling mengasihi dengan suami anda, walaupun tanpa kehadiran anak. Mohonlah kepada Tuhan Yesus untuk memberikan kelimpahan kasih yang tulus antara anda berdua, sehingga apapun yang terjadi dapat anda hadapi dengan suka cita yang dari Tuhan.

Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
Ingrid Listiati- katolisitas.org

Mengapa umat Katolik mohon dukungan doa kepada orang- orang kudus yang sudah meninggal dunia?

0

Dalam 1 Tim 2:1-2 Rasul Paulus mengajarkan agar kita “menaikkan permohonan, doa syafaat dan ucapan syukur untuk semua orang”.  Jadi yang melakukan doa syafaat/ pengantaraan bukan saja hanya Kristus dan Roh Kudus, namun kita semua diundang untuk berdoa syafaat, saling mendoakan satu sama lain. Para beriman atau semua orang kudus diajar untuk berdoa atau berdoa syafaat, dan ini diajarkan dalam 32 ayat yang lain dalam Perjanjian Baru. Namun tentu saja doa syafaat kita ini hanya dapat terjadi karena Pengantaraan Kristus yang satu-satunya (lih. 1 Tim 2:5) itu, dan tidak bisa terlepas dari Kristus. Gereja Katolik percaya bahwa Kristus berdoa syafaat bagi kita kepada Allah Bapa di dalam Roh Kudus, seperti secara sempurna terlihat dalam Perayaan Ekaristi. Perayaan Ekaristi diadakan di dalam nama Kristus, dan tidak pernah dinyatakan di dalam nama Maria atau dalam nama para kudus, baik Santa ataupun Santo.

Masalahnya, ada banyak orang menganggap bahwa para orang kudus (Santa/ Santo) yang sudah meninggal sudah tidak ada hubungannya dengan orang- orang yang masih hidup di dunia, karena mereka sudah “mati”, tidak bernafas. Gereja Katolik berdasarkan Kitab Suci mengajarkan bahwa para kudus yang sudah meninggal itu tidak mati, melainkan tetap hidup. Sebab yang mati hanya tubuhnya, tetapi jiwa orang- orang kudus tersebut tetap hidup bersama Tuhan, karena itulah yang dijanjikan oleh Kristus sendiri, khususnya dalam Yoh 11:25,  Rom 8:11, Yoh 3: 16; Yoh 6:58 maupun Yoh 8:51. Maka “mati” di sini artinya bukan tidak bernafas, melainkan tidak hidup lagi di dunia. Dalam perikop Roti Hidup di Injil Yohanes, disebutkan bahwa orang-orang beriman yang di Surga tetap adalah orang-orang kudus yang hidup, karena Kristus, Sang Roti Hidup, telah memberi kehidupan kekal kepada mereka (lih. Yoh 6:54).

Maka, memohon dukungan doa dari para orang kudus berbeda dengan pemanggilan arwah orang mati yang dikecam di kitab Perjanjian Lama, yang bertujuan untuk meminta informasi ilahi dari jiwa- jiwa yang sudah meninggal. Pada saat Saul memohon kepada arwah Samuel (1 Sam 28), ia tidak memohon agar Samuel mendoakan dia -sebab jika demikian itu baik dan tidak dilarang- tetapi ia mencari informasi tentang hasil pertempuran yang akan terjadi, jadi semacam ramalan. Inilah yang dilarang Allah. Karena dengan ingin mengetahui ramalan, sebenarnya seseorang tidak lagi menghormati Allah Sang Penyelenggara Ilahi yang mengetahui segala sesuatu dan bahwa Allah menghendaki segala yang terbaik bagi umat-Nya.

Selanjutnya, karena kita percaya bahwa kematian akan membawa kita kepada kehidupan bersama Kristus, di mana kita akan melihat Dia dalam keadaan yang sesungguhnya dan menjadi serupa dengan-Nya (lih. 1 Yoh 3:2), maka kita percaya, bahwa di Surga para kudus juga telah menjadi serupa dengan Kristus. Sebagai anggota Tubuh Kristus yang telah berjaya di Surga, para orang kudus itu akan melakukan juga apa yang dilakukan oleh Kristus Sang Kepala, yaitu mendoakan orang-orang lain yang masih berziarah di dunia (lih. Why 5:8; Why 8:3-4). Doa- doa para kudus ini sangat besar kuasanya karena mereka sudah dibenarkan oleh Kristus (lih. Yak 5:16). Para orang kudus itu bukan saingan Kristus, melainkan rekan sekerja Kristus (1 Kor 3:9). Dengan demikian, mereka juga adalah sahabat-sahabat kita, karena kita diikat oleh kasih Kristus menjadi satu Tubuh. Dalam satu kesatuan Tubuh Kristus ini, kita percaya bahwa “tidak ada suatu kuasa-pun yang mampu memisahkan kita dari kasih Allah, yang ada di dalam Kristus Yesus Tuhan kita.” (Rom 8:38-39). Oleh karena itu, kita dapat memohon agar mereka mendoakan kita yang masih berziarah di dunia ini, sama seperti kita memohon dukungan doa dari sesama umat beriman yang masih hidup di dunia ini.

Dasar Alkitab:

  • 1 Tim 2:1-2: Ajaran untuk menaikkan doa syafaat bagi semua orang
  • 1 Tim 2:5: Yesus satu- satunya Pengantara kepada Bapa
  • Rom 8:11: Roh Kristus yang membangkitkan Kristus akan menghidupkan kita
  • Yoh 3: 16: Yang percaya pada Kristus beroleh hidup kekal
  • Yoh 6:54, 6:58: Yang makan Roti Hidup [dan minum darahNya] akan hidup selamanya
  • Yoh 8:51: Yang menuruti firman Kristus tidak akan mengalami maut
  • Yoh 6:54: Yang makan daging-Nya dan minum darah-Nya, mempunyai hidup kekal
  • Yoh 11:25-26: Yang percaya kepada Kristus akan hidup walaupun ia sudah mati
  • 1 Yoh 3:2: Kelak kita akan menjadi sama seperti Kristus
  • Why 5:8; Why 8:3-4: Doa syafaat para tua-tua di surga
  • Yak 5:16: Doa orang benar besar kuasanya
  • 1 Kor 3:9: Kita adalah kawan sekerja Kristus
  • Rom 8:38-39: Maut tidak memisahkan kita dari kasih Kristus

Dasar Tradisi Suci:

  • St. Klemens dari Aleksandria (150-215)

“Dengan cara ini, ia [seorang Kristen sejati] selalu murni dalam doa. Ia juga berdoa dalam kumpulan para malaikat, sebagai seorang berada di tingkatan malaikat, dan ia tak pernah beranjak dari perlindungan mereka; dan meskipun ia berdoa sendirian, ia telah berada di dalam paduan suara para kudus yang berdiri dengannya [dalam doa]” (St. Clement of Alexandria, The Stromata (Book VII), Miscellanies 7:12 [A.D. 208]).

  • Origen  (185-254)

“Tetapi bukan Sang Imam Agung [Kristus] sendiri yang berdoa untuk mereka yang berdoa dengan tulus, tetapi juga para malaikat … demikian juga jiwa-jiwa para orang kudus yang telah meninggal dunia” (Origen, De Principiis (Book IV), Prayer 11 [A.D. 233]).

  • St. Siprianus dari Karthago (200-270)

“Mari kita mengingat satu sama lain dalam harmoni dan kesatuan suara. Mari kita, di kedua belah pihak [yang terpisah kematian] selalu berdoa bagi satu sama lain. Mari mengangkat beban-beban dan kesedihan dengan dengan saling mengasihi, sehingga jika salah seorang dari kita, dengan pergerakan perlindungan ilahi, telah pergi terlebih dahulu [wafat], kasih kita dapat terus berlanjut dalam hadirat Tuhan, dan doa-doa kita bagi saudara-saudari kita tidak berhenti dalam hadirat belas kasihan Allah Bapa” (St. Cyprian of Carthage, Epistle 7, Letters 56[60]:5 [A.D. 253]).

  • St. Efraim dari Syria (306-373)

“Kalian, para martir yang berjaya, yang bertahan dalam penganiayaan dengan suka cita demi Tuhan dan Sang Penyelamat, kalian yang mempunyai keberanian berbicara di hadapan Tuhan sendiri, kalian para orang kudus, berdoa syafaat-lah untuk kami, orang-orang yang lemah dan berdosa, sehingga rahmat Kristus dapat turun atas kami dan menerangi hati kami semua, sehingga kami dapat mengasihi Dia.” (St. Ephraim the Syrian, Commentary on Mark, The Nisibene Hymns, [A.D. 370]).

  • St. Basilius Agung (329-379)

“Atas perintah Putera Tunggal-Mu, kami berkomunikasi dengan kenangan para orang kudus-Mu …. oleh doa-doa dan permohonan mereka, berbelas kasihanlah kepada kami semua, dan bebaskanlah kami demi nama-Mu yang kudus.” (St. Basil the Great, Letter 243,  Liturgy of St. Basil, [A.D. 373]).

  • St. Gregorius dari Nisa (325-386)

“[Efraim], engkau yang berdiri di hadapan altar ilahi [di Surga] … ingatlah kami semua, mohonkanlah bagi kami pengampunan dosa-dosa, dan penggenapan janji Kerajaan kekal” (St. Gregory of Nyssa, On the Baptism of Christ,  Sermon on Ephraim the Syrian [A.D. 380]).

  • St. Gregorius dari Nazianza (325-389)

“Ya, saya diyakinkan bahwa doa syafaat [ayah saya] sekarang lebih berguna daripada pengajarannya di hari-hari terdahulu, sebab kini ia lebih dekat kepada Tuhan, bahwa ia telah menanggalkan keterbatasan tubuhnya, dan membebaskan pikirannya dari tanah liat yang dulu mengaburkannya, dan kini mengadakan pembicaraan yang terus terang dengan keterus-terangan pikiran yang utama dan murni …” (St. Gregory Nazianzen, Oration 18:4)

“Semoga engkau [Siprianus], dari atas memandang ke bawah dengan belas kasih kepada kami, dan membimbing perkataan dan hidup kami; dan menggembalakan kawanan yang kudus ini …. menyenangkan Allah Trinitas yang kudus, yang di hadapan-Nya engkau berdiri.” (St. Gregory Nazianzen, Oration 17, 24)

  • St. Yohanes Krisostomus (347-407 AD)

“Ketika kamu merasa bahwa Tuhan menyesahmu, jangan berlari kepada musuh-musuh-Nya …. tetapi kepada sahabat-sahabat-Nya, para martir, para orang kudus, dan mereka yang menyenangkan hati-Nya dan yang mempunyai kuasa yang besar [di dalam Tuhan].” (St. John Chrysostom, Orations 8:6, Homily 8 on Romans [A.D. 396])

“Ia yang mengenakan pakaian ungu [yaitu, seorang bangsawan] …. berdiri mengemis kepada para orang kudus untuk menjadi pelindungnya di hadapan Tuhan, dan ia yang memakai mahkota mengemis kepada sang pembuat tenda [Rasul Paulus] dan sang nelayan [Rasul Petrus] sebagai pelindungnya, meskipun mereka telah wafat.” (St. John Chrysostom, Homilies 26 on Second Corinthians  [A.D. 392]).

  • St. Hieronimus, (347-420)

“Engkau mengatakan di alam bukumu bahwa ketika kita hidup kita dapat saling mendoakan, tetapi setelahnya ketika kita telah mati, tak ada doa seorangpun yang dapat didengar …. Tetapi jika para Rasul dan martir ketika masih tinggal di dalam tubuh dapat mendoakan orang lain, pada saat di mana mereka masih dapat memikirkan diri mereka sendiri, berapa lebih banyak-kah yang dapat mereka lakukan setelah mereka menerima mahkota, kemenangan dan kejayaan?” (St. Jerome, Against Vigilantius 6 [A.D. 406]).

  • St. Agustinus dari Hippo (354-430)

“Sebuah bangsa Kristen merayakan bersama dalam perayaan religius, kenangan para martir, baik untuk menekankan teladan mereka agar diikuti, maupun agar bangsa itu dapat mengambil bagian dalam jasa-jasa mereka dan dibantu oleh doa-doa mereka.” (St. Augustine of Hippo,  The City of God (Book VIII), Against Faustus the Manichean [A.D. 400]).)

“Juga, jiwa-jiwa orang beriman yang telah wafat tidak terpisah dari Gereja, yang bahkan sekarang adalah Kerajaan Kristus. Jika tidak demikian, tidak akan ada kenangan akan mereka di altar Tuhan dalam komunikasi Tubuh Kristus.” (St. Augustine of Hippo, The City of God (Book XX), 9:2 [A.D. 419]).

“Di altar Tuhan kita tidak mengenang para martir dengan cara yang sama dengan yang kita lakukan terhadap mereka yang telah meninggal untuk mendoakan mereka, melainkan agar mereka [para martir itu] mendoakan kita sehingga kita dapat mengikuti jejak kaki mereka.” (St. Augustine of Hippo, Tractate/ Homilies on John, 84 (John 15:13) [A.D. 416]).

Dasar Magisterium Gereja:

  • Katekismus Gereja Katolik: 955, 956, 957:

KGK 955    “Persatuan mereka yang sedang dalam perjalanan dengan para saudara yang sudah beristirahat dalam damai Kristus, sama sekali tidak terputus. Bahkan menurut iman Gereja yang abadi diteguhkan karena saling berbagi harta rohani” (LG 49).

KGK 956    Doa syafaat para kudus. “Sebab karena para penghuni surga bersatu lebih erat dengan Kristus, mereka lebih meneguhkan seluruh Gereja dalam kesuciannya; mereka menambah keagungan ibadat kepada Allah, yang dilaksanakan oleh Gereja di dunia; dan dengan pelbagai cara mereka membawa sumbangan bagi penyempurnaan pembangunannya. Sebab mereka, yang telah ditampung di tanah air dan menetap pada Tuhan, karena Dia, bersama Dia, dan dalam Dia, tidak pernah berhenti menjadi pengantara kita di hadirat Bapa, sambil mempersembahkan pahala-pahala, yang telah mereka peroleh di dunia, melalui Pengantara tunggal antara Allah dan manusia yakni: Kristus Yesus. Demikianlah kelemahan kita amat banyak dibantu oleh perhatian mereka sebagai saudara” (LG 49).
“Jangan menangis, sesudah saya mati saya akan lebih berguna bagi kamu dan akan menyokong kamu secara lebih baik daripada selama saya hidup” (Dominikus, dalam sakratul maut kepada sama saudara seserikat, Bdk. Jordan dari Sachsen, lib. 93).
“Saya akan mengisi kehidupan saya di surga dengan melakukan yang baik di dunia” (Teresia dari Anak Yesus, verba).

KGK 957    Persekutuan dengan para orang kudus. “Kita merayakan kenangan para penghuni surga bukan hanya karena teladan mereka. Melainkan lebih supaya persatuan segenap Gereja dalam Roh diteguhkan dengan mengamalkan cinta kasih persaudaraan. Sebab seperti persekutuan kristiani antara para musafir mengantarkan kita untuk mendekati Kristus, begitu pula keikut-sertaan dengan para kudus menghubungkan kita dengan Kristus, yang bagaikan Sumber dan Kepala mengalirkan segala rahmat dan kehidupan Umat Allah sendiri” (LG 50).
“Kita menyembah Kristus karena Ia adalah Putera Allah. Tetapi para saksi iman, kita kasihi sebagai murid dan peniru Tuhan dan karena penyerahan diri yang tidak ada tandingannya kepada raja dan guru mereka. Semoga kita juga menjadi teman dan sesama murid mereka” (Polikarpus, Mart. 17).

Diskusi lebih lanjut:

https://katolisitas.org/2009/08/17/apakah-jemaat-perdana-percaya-akan-persekutuan-para-kudus/

https://katolisitas.org/2010/04/29/belajar-dari-st-thomas-aquinas-tentang-memohon-dukungan-doa-orang-kudus/

https://katolisitas.org/2010/11/16/pengantaraan-yesus-bersifat-inklusif/

https://katolisitas.org/2009/06/29/benarkah-kita-tak-bisa-mohon-para-kudus-untuk-mendoakan-kita/

https://katolisitas.org/2009/12/07/apakah-umat-katolik-harus-berdoa-melalui-bunda-maria/

https://katolisitas.org/2009/09/21/samuel-saul-dan-perempuan-pemanggil-arwah-di-en-dor/

Keep in touch

18,000FansLike
18,659FollowersFollow
32,900SubscribersSubscribe

Artikel

Tanya Jawab