Home Blog Page 205

Tentang 12 takhta (Mat 19:27-28)

16

Pertanyaan:

“Lalu Petrus menjawab dan berkata kepada Yesus: “kami ini telah meninggalkan segala sesuatu dan mengikut Engkau; jadi apakah yang akan kami peroleh?”
Kata Yesus kepada mereka: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya pada waktu penciptaan kembali,apabila Anak Manusia bersemayam di takhta kemuliaan-Nya,kamu,yang telah mengikut Aku,akan duduk juga di atas dua belas takhta untuk menghakimi kedua belas suku Israel. Matius 19 : 27

1.Apa yangg dimaksud ayat tersebut?
2. Apa yang dimaksud 12 takhta di ayat tersebut ?
3. Apa yang di maksud ke 12 suku Israel?
4. Bukankah Yesus satu2nya hakim pada akhir zaman,mengapa yg duduk di 12 takhta akan mengghakimi juga?

Trimaksih
Mohon pencerahannya..
Fiat voluntas tua

Jawaban:

Shalom Jerry,

1. Berikut ini adalah interpretasi ayat Mat 18:27-28, menurut A Catholic Commentary of Holy Scripture, Dom Orchard, OSB, ed.

Lalu Petrus menjawab dan berkata kepada Yesus: “Kami ini telah meninggalkan segala sesuatu dan mengikut Engkau; jadi apakah yang akan kami peroleh?” Kata Yesus kepada mereka: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya pada waktu penciptaan kembali, apabila Anak Manusia bersemayam di takhta kemuliaan-Nya, kamu, yang telah mengikut Aku, akan duduk juga di atas dua belas takhta untuk menghakimi kedua belas suku Israel. (Mat 19:27-28)

ay.27: “Kami telah meninggalkan semuanya”. Betapa Rasul Petrus begitu yakin akan hal ini! Ia yang sebelumnya adalah hanya seorang nelayan, selalu miskin, hidup dari pekerjaannya dan memperoleh roti dengan keringatnya; namun dengan keyakinan yang teguh ia mengatakan, bahwa ia telah meninggalkan segalanya (St. Jerome/ Hieronimus) — Sebab kita tidak harus memperhitungkan apa yang ditinggalkannya, melainkan kehendak yang dengannya ia meninggalkan segalanya. Ia meninggalkan banyak hal, dan tidak menyisakannya untuk dirinya sendiri. Adalah sesuatu yang besar untuk menyerahkan segala sesuatu, meskipun hal- hal yang kita tinggalkan tidaklah begitu besar dari diri mereka sendiri. Apakah kita tidak memperhatikan betapa besarnya kecintaan kita terhadap segala hal yang telah kita miliki dan betapa bersemangatnya kita mencari apa yang tidak kita miliki? Dalam hal inilah St. Petrus dan saudaranya St. Andreas, meninggalkan banyak hal, sebab mereka menyangkal diri mereka sendiri bahkan hasrat dan keinginan untuk memiliki apapun. (St. Gregory, on S. Mat. hom. v.) — Meskipun saya tidak kaya, saya tidak boleh, karena hal itu, menerima lebih sedikit penghargaan, sebab para rasul yang telah berbuat hal yang sama dengan saya, adalah tidak lebih kaya daripada saya. Oleh karena itu, ia yang meninggalkan segala yang dimilikinya, meninggalkan segalanya di dunia, dan menginginkan untuk memiliki sesuatu yang melebihi semuanya itu. (St. Augustine, ep. lxxxix. ad. Hilar.)

ay.28: Yesus Kristus menyebutkan kebangkitan badan sebagai ‘penciptaan kembali’, sebab saat itu akan terjadi pemulihan tubuh manusia dan seluruh dunia. Janji ini yang dibuat kepada para rasul untuk duduk di takhta pada saat penghakiman terakhir, dan menghakimi kedua belas suku Israel, harus dimengerti tidak terbatas kepada para rasul atau kepada orang- orang Yahudi saja. Sebab St. Paulus mengatakan (lih. 1Kor 6:2 dan3) bahwa tidak hanya dia, tetapi banyak dari jemaat di Korintus yang kepadanya ia menuliskan suratnya, akan menghakimi tidak hanya keduabelas suku Israel, tetapi juga seluruh dunia, dan bahkan para malaikat sendiri. Pandangan para Bapa Gereja, seperti St. Jerome (Hieronimus), St. Agustinus dan St. Gregorius dan lainnya, mengatakan bahwa semua orang- orang yang seperti para rasul, yaitu telah meninggalkan kenikmatan dunia, melekat pada Kristus di dalam pikiran dan kasih, dan dengan setiap cara yang mungkin memajukan kemuliaan Kristus dan pewartaan Injil-Nya, akan dihormati dengan diperbolehkan duduk bersama-Nya di dalam penghakiman pada saat kebangkitan badan. (Tirinus) — Kamu juga akan duduk di kedua belas takhta, artinya, pada saat kebangkitan badan, ketika Kristus akan tampil di tahta kemuliaan-Nya dengan pengadilan surgawi, dan dengan para umat pilihan-Nya, akan menghukum dunia yang jahat. (Witham)

Dengan interpretasi ini, maka demikianlah tanggapan untuk pertanyaan anda selanjutnya:

2. Maka ‘takhta’ di sini adalah ungkapan figuratif tentang kedudukan orang- orang pilihan Tuhan, yang telah mengikuti jejak para rasul dalam meninggalkan kesenangan dunia untuk hidup bagi Allah.

3. Kedua belas suku Israel di sini tidak hanya untuk diartikan sebagai keduabelas suku Israel secara literal, tetapi juga keseluruhan umat manusia (dan bahkan para malaikat), yang telah diciptakan Allah, demi maksud-Nya mempersatukan segala sesuatunya di dalam Kristus, sang Mesias dan Raja Israel (Mrk 15:32; Kol 1:16-20).

4. Keberadaan para umat pilihan Allah yang menduduki 12 takhta tersebut bukan untuk menyaingi Kristus, tetapi untuk bersama- sama mendukung penghakiman Kristus, yaitu untuk menghukum mereka yang jahat.

Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
Ingrid Listiati- katolisitas.org

Mengapa Allah meminta Abraham mengorbankan Ishak anaknya?

1

Pertanyaan:

Mengenai kutipan ini [dari Katolisitas: kutipan yang dimaksud di sini diambil dari artikel Katolisitas di link ini, silakan klik]

3. Jika seseorang sudah dapat melihat bahwa Allah tidak pernah memerintahkan segala sesuatunya bertentangan dengan akal sehat, baru seseorang dapat melihat bahwa membakar tempat ibadah, dst sebenarnya bukan hal yang dapat dibenarkan, karena bertentangan dengan perintah Allah yang tertulis di dalam setiap hati manusia sebagai hukum kodrat, yaitu kita tidak boleh membunuh. Pelarangan mengucapkan ’selamat hari raya’ memang mungkin ada, yang semuanya terpulang pada bagaimana mereka dididik dalam agama mereka; yang seolah mengatakan demikian itu adalah dosa, sehingga mereka tidak melakukannya. Namun ini tentu bobotnya tidak sama dengan ‘membakar tempat ibadah’, sebab untuk hal yang kedua ini, sesungguhnya orang yang menggunakan akal sehatnya, dapat mengetahui bahwa perbuatan ini salah.

Dalam Kitab Kejadian, Abraham diminta mempersembahkan (yg artinya disembelih) Ishak (yg seorang manusia) kepada TUHAN. Bagi saya ini permintaan yang tidak masuk akal (entah bagi teman2 lainnya) namun itulah ujian iman bagi Abraham.

Matius Teddy

Jawaban:

Shalom Matius Teddy,

Memang sekilas nampaknya permintaan Allah kepada Abraham sepertinya aneh dan tidak masuk akal; namun sebenarnya ada maksud Allah yang ingin disampaikan di sini, yaitu bahwa kisah pengorbanan Ishak, anak Abraham, adalah untuk menjadi penggambaran samar- samar akan pengorbanan Kristus. Penjelasan Kitab Kejadian di The Navarre Bible, Pentateuch, Jose Maria Casciaro, ed. (Dublin: Four Court Press, 1999), p. 117-118 menuliskan demikian:

“Tuhan telah setia kepada janji-Nya: Ia telah memberikan Abraham seorang putera melalui Sara. Sekarang giliran Abraham yang harus memperlihatkan kesetiaannya kepada Tuhan dengan kesediaannya untuk mengorbankan puteranya itu sebagai pengakuannya bahwa anak itu adalah milik Allah. Perintah Allah ini kelihatan tidak masuk akal: Abraham sudah kehilangan Ismail, ketika ia dan Hagar sudah diusir; sekarang Abraham diminta untuk mengorbankan puteranya yang tertinggal. Mengorbankan puteranya berarti melepaskan diri bahkan dari penggenapan janji yang digenapi di dalam Ishak. Meskipun demikian, Abraham taat.

Katekismus Gereja Katolik mengajarkan: “Sebagai pemurnian terakhir imannya diminta pula dari Abraham “yang telah menerima janji itu” (Ibr 11:17), agar mempersembahkan puteranya, yang telah Allah berikan kepadanya. Imannya tidak goyah: “Allah sendiri akan menyediakan anak domba itu” (Kej 22:8), demikian Abraham berkata, karena “ia berpikir, bahwa Allah berkuasa membangkitkan orang-orang, sekalipun dari antara orang mati” (Ibr 11: 19). Demikianlah bapa orang beriman serupa dengan Allah Bapa (Bdk. Rm 4:16-21), yang tidak menyayangkan anak-Nya sendiri, tetapi menyerahkan-Nya untuk semua orang (Bdk. Rm 8:32). Doa membuat manusia serupa lagi dengan Allah dan membiarkan ia mengambil bagian dalam kekuasaan cinta kasih Allah yang membebaskan banyak orang. (KGK 2572)

Dengan melalui ujian yang diberikan Allah, Abraham mencapai kesempurnaan (lih. Yak 2:21) dan ia sekarang berada dalam keadaan di mana Allah meneguhkan kembali dengan cara yang agung, akan janji yang telah dibuat-Nya sebelumnya (lih. Kej 12:3).

Pengorbanan Ishak mempunyai karakter yang membuatnya menjadi gambaran akan korban penebusan Kristus. Di sana digambarkan seorang bapa yang mempersembahkan puteranya; putera yang menyerahkan dirinya sesuai dengan kehendak bapanya; dan alat- alat pengorbanan seperti kayu, pisau dan altar. Kejadian itu mencapai puncaknya dengan memperlihatkan bahwa melalui ketaatan Abraham dan penyerahan diri Ishak, berkat Tuhan akan mencapai semua bangsa di bumi (lih. ay.18). Sehingga tak mengherankan bahwa tradisi Yahudi menghargai nilai penebusan tertentu (a certain redemptive value) atas ketaatan Ishak, dan para Bapa Gereja melihat peristiwa ini sebagai penggambaran akan kisah sengsara Kristus, sebagai Putera Tunggal Allah Bapa.”

Paus Yohanes Paulus II dalam surat ensikliknya, Redemptoris Mater, membandingkan iman Bunda Maria dengan iman Abraham, demikian:

“Iman Maria juga dapat dibandingkan dengan iman Abraham, yang disebut oleh Rasul Paulus “bapa leluhur kita” (Rom 4:12). Di dalam pengaturan keselamatan menurut wahyu Allah, iman Abraham menetapkan permulaan Perjanjian Lama; [sedangkan] iman Maria pada saat menerima kabar gembira menetapkan permulaan Perjanjian Baru. Sebagaimana Abraham “berharap dan percaya sekalipun tidak ada dasar untuk berharap, bahwa ia akan menjadi bapa banyak bangsa” (lih. Rom 4:18), demikian pula Maria, pada saat menerima kabar gembira, setelah menyatakan kaul keperawanannya (“Bagaimana mungkin hal ini terjadi sebab aku tidak bersuami?/ How shall this be, since I have no husband?“) percaya bahwa melalui kuasa dari Yang Maha Tinggi, oleh kuasa Roh Kudus, ia akan menjadi Bunda Sang Putera Allah sesuai dengan pernyataan Malaikat: “…anak yang akan kaulahirkan itu akan disebut kudus, Anak Allah.” (Luk 1:35)

…. Ketaatan iman Maria sepanjang peziarahan hidupnya akan memperlihatkan kemiripan yang mencengangkan dengan iman Abraham. Seperti sang bapa bangsa pilihan Allah itu, demikian pula Maria, sepanjang peziarahan ketaatannya sebagai seorang anak dan ibu, “berpengharapan sementara tak ada dasar untuk berharap”…. (RM 14)

Penjelasan ini mengajarkan kepada kita, bahwa bukanlah tidak ada maksudnya bahwa Allah Bapa meminta kepada Abraham untuk mempersembahkan Ishak, sang anak perjanjiannya. Sebab hal ini merupakan gambaran samar- samar akan Diri-Nya yang tak segan-segan mempersembahkan Kristus, Putera Tunggal-Nya, demi menebus umat manusia. Permintaan ini memang sekilas tidak masuk di akal, sebagaimana kenyataan bahwa karena kasih-Nya yang tiada terbatas, Allah Bapa dapat mengorbankan Putera-Nya sendiri untuk menjadi tebusan bagi dosa- dosa umat manusia, sehingga rahmat pengampunan-Nya dapat sampai ke segala bangsa.

Semoga Tuhan membimbing kita agar semakin dapat meresapkan dalam hati akan makna kasih Allah ini, yang sungguh jauh melampaui akal kita sebagai manusia.

Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
Ingrid Listiati- katolisitas.org

Mengapa Bunda Maria disebut sebagai Hawa yang baru?

0

Bunda Maria disebut sebagai Hawa yang baru, sebab seperti halnya Hawa, Bunda Maria memainkan peran yang penting dalam sejarah keselamatan manusia. Hawa, adalah manusia perempuan pertama yang oleh ketidaktaatannya membawa maut ke dunia, sedangkan Bunda Maria, oleh ketaatannya melahirkan Sang Hidup ke dunia. Perbandingan antara Hawa dengan Bunda Maria sebagai ‘Hawa yang Baru’- tidak berdiri sendiri, melainkan sebagai kesatuan dengan perbandingan antara Adam dengan Kristus yang disebut sebagai ‘Adam yang baru’ (lih. Rom 5:12-21, 1 Kor 15:21). Jadi sama seperti bahwa ada keterlibatan Hawa, sehingga Adam jatuh ke dalam dosa, dan menurunkan dosa asal tersebut kepada semua umat manusia, maka demikian pula, ada keterlibatan Hawa yang baru yaitu Bunda Maria, sehingga Adam yang baru (Kristus) dapat lahir ke dunia untuk menghapus dosa manusia. Maka tepat jika dikatakan bahwa oleh Hawa, umat manusia jatuh dalam dosa, dan karena itu dalam kuasa maut; sedangkan oleh Maria, umat manusia menerima penghapusan dosa, dan karena itu menerima kehidupan kekal.

Hawa, terpedaya oleh bujukan Iblis, sehingga ia tidak taat kepada kehendak Tuhan, sedangkan Bunda Maria percaya oleh pemberitaan Malaikat, sehingga ia taat akan kehendak Tuhan. Maka St. Irenaeus mengatakan bahwa ikatan ketidaktaatan Hawa, yaitu belenggu dosa yang mengikat manusia karena ketidaktaatannya kepada Allah, diuraikan oleh ketaatan Bunda Maria. Harus diakui, bahwa pada awal mula, meskipun Adam juga berdosa, namun dosanya dilakukan setelah Hawa terlebih dahulu jatuh dalam dosa ketidaktaatan kepada kehendak Allah. Oleh karena itu, pada saat penebusan dosa, “obat penawar”nya adalah kondisi lawannya, yaitu diawali dengan ketaatan Maria, sang Hawa yang baru, kepada kehendak Allah (lih. Luk 1: 38) maka Kristus sebagai Adam yang baru dapat datang ke dunia oleh ketaatan-Nya kepada kehendak Allah Bapa (lih. Ibr 10:5-7).

Cara menginterpretasikan Kitab Suci dengan cara tipologis seperti ini, yaitu membandingkan penggambaran Perjanjian Lama dengan penggenapannya di dalam Perjanjian Baru, diajarkan oleh Kristus sendiri. Contohnya adalah Kristus mengatakan bahwa Ia merupakan penggenapan dari tanda Yunus (lih. Luk 11:30); pengorbananNya di kayu salib merupakan penggenapan akan gambaran ular tembaga yang ditinggikan di tiang oleh Musa (Yoh 3:14; Bil 21:8-9); dan penjelasan-Nya kepada kedua murid-Nya di perjalanan ke Emaus tentang penggenapan Kitab Suci Perjanjian Lama di dalam diri-Nya (lih. Luk 24:13-35). Penggenapan Perjanjian Lama dalam Perjanjian Baru ini juga diajarkan oleh para murid, seperti Rasul Petrus menghubungkan bahtera Nuh dengan Baptisan (lih. 1 Pet 3:18-22); Rasul Paulus menghubungkan perjamuan Paskah dengan kurban Kristus (lih. 1 Kor 5:7), dan Adam (manusia pertama) dengan Kristus sebagai Adam yang baru (lih. Rom 5:12-21).  Maka tak mengherankan bahwa Tradisi Suci para Rasul dan para Bapa Gereja juga mengajarkan bahwa Bunda Maria adalah Hawa yang baru. Dengan demikian, penggambaran rencana keselamatan Allah yang samar-samar dinyatakan di dalam Perjanjian Lama, kemudian digenapi di dalam Perjanjian Baru.

Dasar Kitab Suci

  • Rom 5:12-21, 1 Kor 15:21: Kristus sebagai Adam yang baru:
  • Luk 1:38: Ketaatan Maria membuka jalan bagi ketaatan Yesus. Oleh perkataan Maria, “Jadilah padaku menurut perkataanmu.”  Kristus masuk ke dunia melakukan kehendak Bapa (lih. Ibr 10:5-7)

Dasar Tradisi Suci

  • St. Yustinus Martir (155): “Ia menjadi manusia melalui Sang Perawan, agar ketidaktaatan yang terjadi dari sang ular dapat dihancurkan dengan cara yang sama seperti pada awalnya. Sebab Hawa, yang adalah seorang perawan dan tidak bernoda, yang percaya pada perkataan sang ular, membawa ketidaktaatan dan maut. Tetapi Perawan Maria menerima dengan iman dan suka cita, ketika Malaikat Gabriel memberitakan Kabar Gembira kepadanya bahwa Roh Kudus Tuhan akan turun atasnya dan kuasa yang Maha Tinggi akan menaungi dia: sehingga Yang Kudus yang dilahirkannya adalah Putera Allah; dan ia menjawab, “Jadilah padaku menurut perkataan-mu.” Dan melaluinya[Maria] Yesus telah lahir…” (St. Justin Martyr, Dialogue with Trypho, 100).
  • St. Irenaeus (180): “Sesuai dengan rencana ini, Perawan Maria taat, dengan berkata, “Aku ini hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu.” Tetapi Hawa tidak taat; sebab ia tidak taat ketika ia masih perawan. Dan bahkan ketika ia, yang memang telah bersuami, namun masih perawan …., yang menjadi tidak taat, menjadi sebab kematian, baik bagi dirinya sendiri maupun bagi seluruh umat manusia. Juga Maria, yang telah bertunangan, meskipun ia perawan; dengan ketaatan, menjadi sebab keselamatan, baik bagi dirinya maupun seluruh umat manusia…. Juga Lukas, memulai silsilah dari Tuhan Yesus, sampai kembali ke Adam, menunjukkan bahwa hanya Dia [Tuhan Yesus] yang melahirkan mereka kembali ke dalam Injil kehidupan, dan bukan mereka yang melahirkan-Nya. Dan dengan demikian, ikatan ketidaktaatan Hawa telah dilepaskan dengan ketaatan Maria. Sebab apa yang telah diikat kuat oleh perawan Hawa melalui ketidakpercayaannya, telah diuraikan oleh Perawan Maria melalui iman.” (St. Irenaeus, Against Heresy, 3:22)
  • Tertullian (212): ” Sebab ketika Hawa masih perawan, perangkap kata-kata telah masuk ke dalam telinganya yang membangun kematian. Maka serupa dengan itu,  ke dalam jiwa seorang perawan, harus diperkenalkan kata-kata Sabda Allah yang membangun jalinan kehidupan; sehingga apa yang telah dihancurkan oleh jenis kelamin ini dapat, oleh jenis kelamin yang sama, dipulihkan kepada keselamatan. Seperti Hawa telah percaya kepada sang ular, Maria percaya kepada sang Malaikat. Pelanggaran yang terjadi karena seorang telah percaya [kepada sang ular], oleh seorang yang lain dihapuskan karena percaya [kepada malaikat].  (Tertullian, Flesh of Christ, 17)

Dasar Magisterium

  • Konsili Vatikan II, Konstitusi tentang Gereja, Lumen Gentium:

“Atas titah Allah ia[Maria] diberi salam oleh Malaikat pembawa Warta dan disebut “penuh rahmat” (Luk 1:38). Demikianlah Maria Puteri Adam menyetujui sabda ilahi, dan menjadi Bunda Yesus. Dengan sepenuh hati yang tak terhambat oleh dosa mana pun ia memeluk kehendak Allah yang menyelamatkan, dan membaktikan diri seutuhnya sebagai hamba Tuhan kepada pribadi serta karya Putera-Nya, untuk di bawah Dia dan beserta Dia, berkat rahmat Allah yang mahakuasa, mengabdikan diri kepada misteri penebusan. Maka memang tepatlah pandangan para Bapa suci, bahwa Maria tidak secara pasif belaka digunakan oleh Allah, melainkan bekerja sama dengan penyelamatan umat manusia dengan iman serta kepatuhannya yang bebas. Sebab, seperti dikatakan oleh St. Ireneus, “dengan taat Maria menyebabkan keselamatan bagi dirinya maupun bagi segenap umat manusia.” ((Lih. St. Ireneus, Melawan bidaah-bidaah III, 22,4: PG 7,959A; HARVEY 2,123))[178]. Maka tidak sedikitlah para Bapa zaman kuno, yang dalam pewartaan mereka dengan rela hati menyatakan bersama Ireneus: “Ikatan yang disebabkan oleh ketidak-taatan Hawa telah diuraikan karena ketaatan Maria; apa yang diikat oleh perawan Hawa karena ia tidak percaya, telah dilepaskan oleh perawan Maria karena imannya.” ((St. Ireneus, Ibid., : Harvey 2,124.)) Sambil membandingkannya dengan Hawa, mereka menyebut Maria “bunda mereka yang hidup” ((St. Epifanus, Melawan bidaah, 78,18: PG 42,728CD-729AB)). Sering pula mereka menyatakan: “maut melalui Hawa, hidup melalui Maria.” ((St. Hieronimus, Surat 22,21: PL 22,408. Lih. St. Agustinus, Kotbah 51,2,3: PL 38,335; Kotbah 232,2: kolom 1108. St. Sirilus dari Yerusalem, Katekese 12,15: PG 33,741 AB. St. Yohanes dari Damsyik, Homili 2 pada Hari Raya Meninggalnya St. Perawan Maria, 3: PG 96,728)). (LG 56)

“Sebab dalam iman dan ketaatan ia melahirkan Putera Bapa sendiri di dunia, dan itu tanpa mengenal pria, dalam naungan Roh Kudus, sebagai Hawa yang baru, bukan karena mempercayai ular yang kuno itu, melainkan karena percaya akan utusan Allah, dengan iman yang tak tercemar oleh kebimbangan. Ia telah melahirkan Putera, yang oleh Allah dijadikan yang sulung di antara banyak saudara (Rom 8:29), yakni Umat beriman. Maria bekerja sama dengan cinta kasih keibuannya untuk melahirkan dan mendidik mereka.” (LG 62)

  • Katekismus Gereja Katolik: 411, 726, 2618, 2853, 129.

KGK 411    Tradisi Kristen melihat dalam teks ini pengumuman tentang “Adam baru” (Bdk. 1 Kor 15:21-22.45) yang oleh “ketaatan-Nya sampai mati di salib” (Flp 2:8) berbuat lebih daripada hanya memulihkan ketidak-taatan Adam (Bdk. Rm 5:19-20). Selanjutnya banyak Bapa Gereja dan pujangga Gereja melihat wanita Yang dinyatakan dalam “protoevangelium” adalah Bunda Kristus, Maria, sebagai “Hawa baru”. Kemenangan yang diperoleh Kristus atas dosa diperuntukkan bagi Maria sebagai yang pertama dan atas cara yang luar biasa: ia dibebaskan secara utuh dari tiap noda dosa asal (Bdk. Pius IX: DS 2803). dan oleh rahmat Allah yang khusus ia tidak melakukan dosa apa pun selama seluruh kehidupan duniawinya (Bdk. Konsili Trente: DS 1573).

KGK 726    Pada akhir perutusan Roh, Maria menjadi “wanita”; Hawa baru, “bunda orang-orang hidup”, bunda “Kristus paripurna ” (Bdk. Yoh 19:25-27). Dalam kedudukan itu ia bersama dengan keduabelasan “sehati bertekun dalam doa” (Kis 1:14), ketika Roh Kudus pada pagi hari Pentekosta menyatakan awal “zaman terakhir” dengan memunculkan Gereja.

KGK 2618    Injil menyatakan kepada kita, bagaimana Maria berdoa dan menjadi perantara dalam iman: di Kana (Bdk. Yoh 2:1-12) ibu Yesus meminta apa yang dibutuhkan untuk perjamuan perkawinan. Perjamuan ini adalah tanda bagi satu perjamuan lain: yakni perjamuan perkawinan Anak Domba, di mana Kristus, atas permohonan Gereja sebagai mempelai-Nya, menyerahkan tubuh dan darah-Nya. Pada saat Perjanjian Baru, Maria didengarkan pada kaki salib. Karena ia adalah wanita, Hawa baru, “ibu semua orang hidup”, yang benar.

KGK 2853    Pada saat Yesus menerima kematian dengan sukarela guna memberikan kehidupan-Nya kepada kita, kemenangan diperoleh atas “penguasa dunia” (Yoh 14:30) satu kali untuk selama-lamanya. Itulah pengadilan atas dunia ini, dan penguasa dunia ini “dilemparkan ke luar” (Yoh 12:31, Bdk. Why 12:11). Ia “memburu wanita itu” (Bdk. Why 12:13-16), tetapi ia tidak berkuasa atasnya; Hawa baru yang “terberkati” oleh Roh Kudus, dibebaskan dari dosa dan dari kebusukan kematian (karena dikandung tanpa noda dosa dan karena sebagai Bunda Allah yang selalu perawan, Maria diangkat ke dalam surga). “Maka marahlah naga itu kepada perempuan itu, lalu pergi memerangi keturunannya yang lain” (Why 12:17). Karena itu Roh dan Gereja berdoa: “Datanglah, ya Tuhan Yesus” (Why 22:20, Bdk. Why 22:17), karena kedatangan-Nya akan membebaskan kita dari yang jahat.

KGK 129     Jadi umat Kristen membaca Perjanjian Lama dalam terang Kristus yang telah wafat dan bangkit. Pembacaan tipologis ini menyingkapkan kekayaan Perjanjian Lama yang tidak terbatas. Tetapi tidak boleh dilupakan, bahwa Perjanjian Lama memiliki nilai wahyu tersendiri yang Tuhan kita sendiri telah nyatakan tentangnya (Bdk. Mrk 12:29-31). Selain itu Perjanjian Baru juga perlu dibaca dalam cahaya Perjanjian Lama. Katekese perdana Kristen selalu menggunakan Perjanjian Lama (Bdk. 1 Kor 5:6- 8; 10:1-11.) Sesuai dengan sebuah semboyan lama Perjanjian Baru terselubung dalam Perjanjian Lama, sedangkan Perjanjian Lama tersingkap dalam Perjanjian Baru: “Novum in Vetere latet et in Novo Vetus patet.” (Agustinus, Hept. 2,73, Bdk. Dei Verbum 16)

Dukacitamu itu adalah menurut kehendak Allah

6

Pertanyaan:

Yth. Katolisitas

mohon penjelasan tentang ayat di 2 Korintus 7:9 “Namun sekarang aku bersukacita,bukan karena kamu telah berdukacita melainkan karena dukacitamu membuat kamu bertobat. sebab dukacitamu itu adalah menurut kehendak Allah..”
di ayat tesebut dikatakan duka menurut kehendak Allah.yang termasuk dukacita menurut kehendak Allah dan yang bukan yang bagaimana?
Desy

Jawaban:

Shalom Desy,

Terima kasih atas pertanyaannya tentang dukacita menurut kehendak Allah. Dikatakan di dalam 2 Kor 7:9 “namun sekarang aku bersukacita, bukan karena kamu telah berdukacita, melainkan karena dukacitamu membuat kamu bertobat. Sebab dukacitamu itu adalah menurut kehendak Allah, sehingga kamu sedikitpun tidak dirugikan oleh karena kami.” Apakah yang dimaksud dengan dukacita menurut kehendak Allah? Berikut ini adalah jawaban yang dapat saya berikan:

1. Dikatakan di ayat sebelumnya “Jadi meskipun aku telah menyedihkan hatimu dengan suratku itu, namun aku tidak menyesalkannya. Memang pernah aku menyesalkannya, karena aku lihat, bahwa surat itu menyedihkan hatimu–kendatipun untuk seketika saja lamanya–,” (2Kor 7:8). Dengan demikian kita dapat menyimpulkan bahwa kesedihan mereka disebabkan oleh surat rasul Paulus, yang menegur dengan keras kehidupan jemaat di Korintus. Surat teguran kepada jemaat di Korintus dapat kita baca dalam surat kepada jemaat di Korintus yang pertama, yang menegur jemaat di Korintus karena adanya (a) perpecahan: 1Kor 1-4, (b) keangkuhan spiritual: 1Kor 3:1-4, (c) kehidupan moral yang tidak baik: 1Kor 5:1-13; 1Kor 6. Walaupun ada banyak karunia Roh Kudus yang dicurahkan kepada jemaat di Korintus, namun mereka dianggap masih sebagai anak-anak, yang harus diberi susu, dan dianggap sebagai manusia duniawi yang belum dewasa dalam iman.

2. Teguran yang keras dari rasul Paulus mendatangkan duka cita bagi jemaat di Korintus. Namun, rasul Paulus menyebutkan bahwa dukacita mereka adalah dukacita menurut kehendak Allah, yang berbeda dengan duka cita oleh dunia ini. Perbedaannya adalah dukacita dari Allah mendatangkan pertobatan yang benar. Teguran rasul Paulus mendatangkan pertobatan, namun pertobatan ini memberikan satu harapan. Harapan ini bersumber pada Allah yang berbelas kasih, bahwa Allah senantiasa memberikan kesempatan kepada orang-orang yang ingin bertobat. Dan pertobatan ini mendatangkan keselamatan.

Pertobatan yang mendatangkan keselamatan adalah pertobatan batin yang benar. Katekismus Gereja Katolik (KGK, 1431) menyatakan “Tobat batin adalah satu penataan baru seluruh kehidupan, satu langkah balik, pertobatan kepada Allah dengan segenap hati, pelepasan dosa, berpaling dari yang jahat, yang dihubungkan dengan keengganan terhadap perbuatan jahat yang telah kita lakukan. Sekaligus ia membawa kerinduan dan keputusan untuk mengubah kehidupan, serta harapan atas belas kasihan ilahi dan bantuan rahmat-Nya. Pertobatan jiwa ini diiringi dengan kesedihan yang menyelamatkan dan kepiluan yang menyembuhkan, yang bapa-bapa Gereja namakan “animi cruciatus” [kesedihan jiwa], “compunctio cordis” [penyesalan hati] (Bdk. Konsili Trente: DS 1676-1678; 1705; Catech. R. 2,5,4.)” Dengan demikian pertobatan jiwa diiringi dengan kesedihan yang menyelamatkan dan kepiluan yang menyembuhkan, yang mengantar seseorang berpaling dari dosa dan kemudian berjalan di jalan Allah.

Kesedihan jiwa sebagai manifestasi dari pertobatan dan penyesalan berbeda dengan kesedihan dari dunia ini – yang mengantar manusia pada keputusasaan. Kesedihan dari dunia ini adalah suatu keputusasaan, tidak melihat adanya harapan untuk memperbaiki diri. Berfikir bahwa dosanya lebih besar dari pengampunan Tuhan. Dan hal ini dapat berakhir pada kebinasaan, seperti yang dialami oleh Yudas Iskariot.

3. Dari uraian di atas, maka jelaslah bahwa rasul Paulus menjalankan fungsinya sebagai pemimpin umat, untuk menegur umatnya yang telah melakukan kesalahan. Walaupun teguran ini mendatangkan kesedihan di hati umatnya, namun sungguh berguna secara spiritual, karena mendatangkan pertobatan yang benar, yang mengantar umat Allah pada keselamatan. Dan inilah yang membuat rasul Paulus bersukacita di atas dukacita umatnya.

Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
stef – katolisitas.org

Bagaimana mungkin Bunda Maria tetap perawan?

0

Iman Kristiani tidak meragukan bahwa Yesus menjelma menjadi manusia oleh kuasa Roh Kudus di dalam rahim Maria, tanpa keterlibatan benih dari laki- laki. Lahirnya Kristus dari seorang perawan, menjadi salah satu tanda ke-Allahan Yesus, sebab tidak pernah ada dalam sejarah manusia, seorang manusia lahir dari seorang perawan tanpa campur tangan benih laki- laki. Namun selanjutnya timbul pertanyaan apakah pada saat dan setelah melahirkan Bunda Maria tetap perawan?

Gereja Katolik mengajarkan bahwa Maria tetap perawan, sebelum, pada saat dan sesudah melahirkan Yesus. Walaupun tidak dinyatakan secara eksplisit dalam Kitab Suci, namun hal ini dapat diketahui setidaknya melalui beberapa prinsip ini:

1. Allah menguduskan secara istimewa hal- hal yang berkenaan dengan tempat kediaman-Nya. Allah menguduskan tabut Perjanjian Lama yang berisikan manna, kedua loh batu dan tongkat imam Harun (lih. Kel 25 -31, Ibr 9:4), terlebih lagi Ia pasti menguduskan Maria, yang adalah tabut Perjanjian yang Baru yang mengandung Yesus Sang Roti Hidup (Yoh 6:35), Firman yang menjadi daging (Yoh 1:14), dan Sang Imam Agung (Ibr 8:1). Kitab Daniel mengisahkan bahwa Allah menghukum mati Raja Belsyazar yang menggunakan perkakas dari bait suci Yerusalem untuk dipakai minum-minum dengan tamu-tamunya (lih. Dan 5); juga Allah menghukum Uza yang menyentuh tabut perjanjian (2 Sam 6:6-7). Di Perjanjian Lama Allah juga melarang hubungan suami istri untuk alasan- alasan tertentu, misalnya para imam dilarang berhubungan dengan istrinya pada masa mereka melayani di bait Allah. Musa juga melarang umat Israel untuk berhubungan dengan istri mereka, pada saat ia naik ke gunung Sinai untuk menerima sepuluh perintah Allah (Kel 19:15). Maka ada keharusan pantang di sini untuk maksud yang sangat suci.

Selanjutnya, Nabi Yehezkiel juga pernah bernubuat bahwa tak ada seorangpun yang dapat melewati gerbang yang dilalui oleh Tuhan untuk masuk ke dunia (lih. Yeh 44:2). Nubuat ini berkaitan dengan keperawanan Maria yang tetap selamanya, sebab Kristus datang ke dunia melalui rahim Maria sebagai gerbangnya. Dengan demikian, tidak mengherankan jika pada saat Allah memenuhi Maria dengan rahmat-Nya (lih. Luk 1:28) demi perannya sebagai ibu Yesus, Allah telah menguduskan Maria secara istimewa, sehingga Maria dapat mempersembahkan keseluruhan tubuh dan jiwanya secara total untuk Tuhan.

2. Maria telah mempunyai nazar/ kaul untuk tetap perawan seumur hidupnya. Hal ini diketahui dengan tanggapannya ketika menerima kabar gembira, “Bagaimana hal itu mungkin terjadi, karena aku tidak bersuami?” (“I know not man” (menurut Douay Rheims, terjemahan Vulgate- Mat 1:34)). Jika Maria tidak mempunyai kaul keperawanan, ungkapan ini menjadi aneh, karena pada kenyataannya ia sudah bertunangan dengan Yusuf. Istilah “know” dalam Kitab Suci tidak hanya berarti ‘mengetahui’ ataupun ‘mengenal’, tetapi dalam konteks suami istri, hal ini mengacu kepada hubungan suami istri, seperti halnya yang terjadi pada Adam dan Hawa: “And Adam knew Eve his wife; who conceived and brought forth Cain, saying: I have gotten a man through God.” (Kej 4:1) “Knew” di sini diterjemahkan oleh LAI dengan kata ‘bersetubuh’. Maka jika Maria mengatakan, “I know not man” artinya adalah ia tidak bersetubuh dengan laki- laki. Perkataan ini hanya masuk akal jika sejak semula Maria telah mempunyai kaul keperawanan, walaupun pada saat itu ia sudah bertunangan dengan Yusuf. Sebab jika Maria tidak mempunyai kaul keperawanan, sesungguhnya tidak ada yang aneh bagi seseorang yang sudah bertunangan menurut adat Yahudi untuk dapat mengandung dan melahirkan anak. Nazar/ kaul semacam ini dimungkinkan, seperti yang tertulis dalam Bil 30.

3. Keperawanan Maria juga melibatkan keperawanan Yusuf suaminya. Dikatakan bahwa Yusuf adalah ‘seorang yang tulus hati’ (Mat 1:19); ia juga adalah seorang yang takut akan Tuhan sehingga ia selalu taat akan kehendak Tuhan yang dinyatakan kepadanya lewat mimpi (lih. Mat 1: 24; 2:14). Maka, St. Hieronimus mengatakan bahwa St. Yusuf tidak akan berani mengganggu keperawanan Maria, karena mengetahui bahwa Roh Kuduslah yang telah menaungi Maria sehingga Kristus sang Putera Allah dapat menjelma menjadi manusia di dalam rahim Maria.

Kata ‘sampai’ di Mat 1:25, “Ia mengambil Maria sebagai isterinya, tetapi tidak bersetubuh dengan dia sampai ia melahirkan anaknya laki-laki …,” tidak berarti bahwa setelah Maria melahirkan, maka Yusuf bersetubuh dengannya. Sebab kata ‘heos‘/ ‘sampai’ dalam bahasa Yunani tidak selalu mensyaratkan adanya perubahan kondisi setelah sesuatu itu terjadi. Hal ini terlihat di banyak ayat Kitab Suci, seperti pada Mat 28: 19-20, Yesus menyertai para murid sampai akhir zaman, namun tidak berarti bahwa setelah akhir zaman Yesus tak menyertai para murid-Nya. Demikian pula dengan ayat- ayat lainnya: Luk 1:80, Luk 20:43, 1 Kor 15:25, 1 Tim 4:13, 2 Sam 6:23.

4. Keperawanan Maria inilah yang semakin menunjukkan ke-Allahan Yesus. Adalah tidak mungkin, menurut St. Agustinus, bahwa Yesus yang datang dengan maksud untuk memulihkan manusia dari kerusakan dosa, dan melenyapkan segala penyakit dan kelemahan (Mat 4:23) malahan merusak keutuhan ibu-Nya sendiri pada saat kedatangan-Nya (St. Agustinus, Serm. 189, n.2; PL 38, 1005). Maka kedatangan Kristus ke dunia tidak mengganggu keperawanan ibu-Nya sama seperti ketika kebangkitan-Nya, Yesus juga tidak merusak pintu- pintu yang terkunci (Lih. Yoh 20:26, St. Augustine, Letters no. 137)

5. Fakta dalam Injil menyatakan bahwa tidak mungkin Maria mempunyai anak- anak lain selain Yesus. Pada saat Yesus hilang di bait Allah (Luk 2:41-51) tidak dikisahkan adanya ‘adik- adik’ Yesus. Sebab jika Yesus mempunyai adik- adik, maka kepada merekalah mestinya Yesus mempercayakan ibu-Nya sebelum wafat-Nya, dan bukan kepada Yohanes rasul-Nya (lih. Yoh 19:26-27).

Dasar Kitab Suci

  • Luk 1:34: “I know not man” (Douay Rheims, terjemahan Vulgate)/ “aku tidak bersuami”.
  • Yeh 44:2: Pintu yang dilewati Tuhan tidak dapat dilewati oleh orang lain.
  • Bil 30: Nazar seorang perempuan (termasuk untuk menjaga keperawanan).
  • Luk 2:41-51: Pada saat Yesus hilang di bait Allah tidak dikisahkan adanya ‘adik- adik’ Yesus
  • Yoh 19:26-27: Sebelum wafat-Nya, Yesus mempercayakan Maria ibu-Nya kepada rasul Yohanes, karena Ia tidak mempunyai adik- adik/ saudara kandung.

Dasar Tradisi Suci

  • St. Hippolytus (235): “Ia adalah tabut yang dibentuk dari kayu yang tidak dapat rusak. Sebab dengan ini ditandai bahwa Tabernakel-Nya dibebaskan dari kebusukan dan kerusakan.” (St. Hippolytus, Orations Inillud, Dominus pascit me)
  • Origen (244): “Bunda Perawan dari Putera Tunggal Allah ini disebut sebagai Maria, yang layak bagi Tuhan, yang tidak bernoda dari yang tidak bernoda, hanya satu- satunya.” (Origen, Homily 1)
  • Tertullian (213), “Dan sungguh, ada seorang perawan… yang melahirkan Kristus, supaya semua gelar kekudusan dapat dipenuhi di dalam diri orang tua Kristus, melalui seorang ibu yang adalah perawan dan istri dari satu orang suami.” (Tertullian, On Monogamy, 8).
  • St. Athanasius (293-373) menyebutkan Maria sebagai Perawan selamanya/ Ever Virgin. (St. Athanasius, Discourses Against the Arians, 2, 70, Jurgens, Vol.1, n. 767a).
  • St. Epifanus (374): Allah Putera …. telah lahir sempurna dari Maria yang suci dan tetap Perawan oleh Roh Kudus….” (St. Epiphanus, Well Anchored Man, 120).
  • St. Hieronimus (347- 420) tidak hanya menyebutkan keperawanan Maria, tetapi juga keperawanan Yusuf (lih. St. Jerome, The Perpetual Virginity of Blessed Mary, Chap 21).
  • St. Agustinus dan St. Ambrosius (415), mengajarkan keperawanan Maria sebelum, pada saat dan sesudah melahirkan Yesus Kristus, sehingga Maria adalah perawan selamanya (Lih. St. Augustine, Sermons, 186, Heresies, 56; Jurgens, vol.3, n. 1518 dan 1974d).

“Dengan kuasa Roh Kudus yang sama, Yesus lahir tanpa merusak keperawanan Bunda Maria, seperti halnya setelah kebangkitan-Nya, Dia dapat datang ke dalam ruang tempat para murid-Nya berdoa, tanpa merusak semua pintu yang terkunci (Lih. Yoh 20:26).” (St. Augustine, Letters no. 137)

Selanjutnya, St. Agustinus mengajarkan, “It is not right that He who came to heal corruption should by His advent violate integrity.” (Adalah tidak mungkin bahwa Ia yang datang untuk menyembuhkan korupsi/kerusakan, malah merusak keutuhan pada awal kedatangan-Nya.” (St. Agustinus, Serm. 189, n.2; PL 38, 1005)

St. Agustinus mengartikan ayat yang disampaikan oleh Bunda Maria, “karena aku tidak bersuami (I know not man)” (Luk 1:34, Douay Rheims Bible) adalah suatu ungkapan kaul Bunda Maria untuk hidup selibat sepanjang hidupnya.

  • St. Petrus Kristologus (406- 450): “Sang Perawan mengandung, Sang Perawan melahirkan anaknya, dan ia tetap perawan” (St. Petrus Kristologus, Sermon 117).
  • Paus St. Leo Agung (440-461) :“a Virgin conceived, a Virgin bare and a Virgin she remained.- [Ia adalah seorang Perawan yang mengandung, Perawan melahirkan, dan ia tetap Perawan.” (Pope St. Leo the Great, On the Feast of the Nativity, Sermon 22:2).
  • St. Yohanes Damaskinus (676- 749) juga mengatakan hal yang serupa: “Ia yang tetap Perawan, bahkan tetap perawan setelah kelahiran [Kristus] tak pernah sampai akhir hidupnya berhubungan dengan seorang pria… Sebab meskipun dikatakan Ia [Kristus] sebagai yang ‘sulung’…. arti kata ‘sulung’ adalah ia yang lahir pertama kali, dan tidak menunjuk kepada kelahiran anak- anak berikutnya.” (St. Yohanes Damascene, Orthodox Faith, 4:14 ).

Dasar Magisterium Gereja

  • Konsili Konstantinopel II (553) dan Sinode Lateran (649):

Maria adalah Perawan, sebelum pada saat dan sesudah kelahiran Yesus Kristus (De fide).

Konsili Konstantinopel II (553) menyebutkan Bunda Maria sebagai, “kudus, mulia, dan tetap-Perawan Maria”.

Sinode Lateran (649) di bawah Paus Martin I mengatakan:

“Ia [Maria] mengandung tanpa benih laki-laki, [melainkan] dari Roh Kudus, melahirkan tanpa merusak keperawanannya, dan keperawanannya tetap tidak terganggu setelah melahirkan.” (D256)

Keperawanan Maria termasuk 1) keperawanan hati, 2) kemerdekaan dari hasrat seksual yang tak teratur dan 3) integritas fisik. Namun doktrin Gereja secara prinsip mengacu kepada keperawanan tubuh/ fisik Maria. (lih. Dr. Ludwig Ott, Fundamentals of Catholic Dogma, Ibid., p.204)

Maka dogma Maria tetap Perawan mencakup tiga hal, yaitu keperawanan sebelum, pada saat dan setelah melahirkan Kristus:

1) Maria mengandung dari Roh Kudus, tanpa campur tangan manusia (De fide)

Ini sesuai dengan kabar gembira yang disampaikan oleh malaikat Gabriel (lih. Luk 1: 35). Maria mengandung dari Roh Kudus dinyatakan dalam Syahadat Aku Percaya, “Qui conceptus est de Spiritu Sancto.” (D 86, 256,993)

2) Maria melahirkan Putera-Nya tanpa merusak keperawanannya (De fide)

Keperawanan Maria pada saat melahirkan Yesus termasuk dalam gelar, “tetap perawan” yang diberikan kepada Maria oleh Konsili Konstantinopel (553) (D214, 218, 227). Doktrin ini diajarkan oleh Paus Leo I dalam Epistola Dogmatica ad Flavianum (Ep 28,2), disetujui oleh Konsili Kalsedon, dan diajarkan dalam Sinode Lateran (649). Prinsipnya adalah ajaran dari St. Agustinus (Enchiridion 34) yang mengajarkan dengan analogi- Yesus keluar dari kubur tanpa merusaknya, Ia masuk ke dalam ruangan terkunci tanpa membukanya, menembusnya sinar matahari dari gelas, lahirnya Sabda dari pangkuan Allah Bapa, keluarnya pikiran manusia dari jiwanya.

3) Setelah melahirkan Yesus, Maria tetap perawan (De fide).

Konsili Konstantinopel (553) dan Sinode Lateran menyebutkan gelar “tetap perawan”(D 214, 218, 227). St. Agustinus dan para Bapa Gereja mengartikan ayat yang disampaikan oleh Bunda Maria, “karena aku tidak bersuami (I know not man)” (Luk 1:34, Douay Rheims Bible) adalah suatu ungkapan kaul Bunda Maria untuk hidup selibat sepanjang hidupnya.

  • Konsili Vatikan II, Konsili tentang Gereja, Lumen Gentium:

Konsili Vatikan II mengajarkan: “Seperti telah diajarkan oleh St. Ambrosius, Bunda Allah itu pola Gereja, yakni dalam hal iman, cinta kasih dan persatuan sempurna dengan Kristus. Sebab dalam misteri Gereja, yang tepat juga disebut Bunda dan perawan, Santa Perawan Maria mempunyai tempat utama, serta secara ulung dan istimewa memberi teladan perawan maupun ibu.” (LG 63)

  • Katekismus Gereja Katolik 499, 500, 501

KGK 499 Pengertian imannya yang lebih dalam tentang keibuan Maria yang perawan, menghantar Gereja kepada pengakuan bahwa Maria dengan sesungguhnya tetap perawan (Bdk. DS 427), juga pada waktu kelahiran Putera Allah yang menjadi manusia (Bdk. DS 291; 294, 442; 503; 571; 1880). Oleh kelahiran-Nya “Puteranya tidak mengurangi keutuhan keperawanannya, melainkan justru menyucikannya” (LG 57). Liturgi Gereja menghormati Maria sebagai “yang selalu perawan” [Aeiparthenos] (Bdk. LG 52).

KGK 500 Kadang-kadang orang mengajukan keberatan bahwa di dalam Kitab Suci dibicarakan tentang saudara dan saudari Yesus (Bdk. Mrk 3:31-35; 6:3; 1 Kor 9:5; Gal 1:19). Gereja selalu menafsirkan teks-teks itu dalam arti, bahwa mereka bukanlah anak-anak lain dari Perawan Maria. Yakobus, dan Yosef yang disebut sebagai “saudara-saudara Yesus” (Mat 13:55), merupakan anak-anak seorang Maria yang lain (Bdk. Mat 27:56) yang adalah murid Yesus dan yang dinamakan “Maria yang lain” (Mat 28:1). Sesuai dengan cara ungkapan yang dikenal dalam Perjanjian Lama (Bdk. misalnya Kej 13:8; 14:16; 29:15), mereka itu sanak saudara Yesus yang dekat.

KGK 501 Yesus adalah putera Maria yang tunggal. Tetapi keibuan Maria yang rohani (Bdk. Yoh 19:26-27; Why 12:17). mencakup semua manusia, untuknya Yesus telah datang untuk menyelamatkannya: “Ia telah melahirkan putera, yang oleh Allah dijadikan ‘yang sulung di antara banyak saudara’ (Rm 8:29), yakni umat beriman. Maria bekerja sama dengan cinta kasih keibuannya untuk melahirkan dan mendidik mereka” (LG 63).

Ajaran para pemimpin gereja Protestan tentang Maria yang tetap perawan:

  • Martin Luther:

“Adalah artikel iman bahwa Maria adalah Bunda Tuhan dan tetap Perawan.” (Martin Luther, Weimar edition of Martin Luther’s Works (translation by William J. Cole), vol 11, 319-320)

“Setelah Maria “mengetahui bahwa ia adalah Bunda dari Allah Putera, ia tidak ingin untuk menjadi ibu dari anak manusia, tetapi ia tetap di dalam rahmat karunia itu.” (Martin Luther, Ibid., p. 320)

“Tidak diragukan lagi, tidak ada seorangpun yang begitu berkuasa yang, menggantungkan pada pemikirannya sendiri, tanpa Kitab Suci, akan beranggapan bahwa ia [Maria] tidak tetap perawan.” (Martin Luther, Ibid., p. 320)

“Kristus, Penyelamat kita, adalah buah yang nyata dan alamiah dari rahim Maria yang perawan … Ini adalah tanpa kerjasama seorang laki-laki, dan ia [Maria] tetap perawan setelah itu.” (Luther’s Works, eds. Jaroslav Pelikan (vols. 1-30) & Helmut T. Lehmann (vols. 31-55), St. Louis: Concordia Pub. House (vols. 1-30); Philadelphia: Fortress Press (vols. 31-55), 1955, v.22:23 / Sermons on John, chaps. 1-4 (1539)]

  • John Calvin:

“Helvidius telah menunjukkan dirinya sendiri sebagai seorang yang bebal, dengan mengatakan bahwa Maria mempunyai banyak anak- anak, sebab ada disebutkan dalam beberapa perikop tentang saudara- saudara Kristus.” (Harmony of Matthew, Mark & Luke, sec. 39 (Geneva, 1562), vol. 2 / From Calvin’s Commentaries, tr. William Pringle, Grand Rapids, MI: Eerdmans, 1949, p.215; on Matthew 13:55}) Dengan demikian Calvin sendiri mengartikan “saudara- saudara” ini artinya saudara sepupu atau saudara bukan saudara kandung (relatives).

  • Ulrich Zwingli:

“Saya sangat menghargai Bunda Allah, Sang Perawan Maria yang tidak bernoda dan tetap perawan.” (E. Stakemeier, De Mariologia et Oecumenismo, K. Balic, ed. (Rome, 1962), 456).

“Kristus… dilahirkan dari Perawan yang paling tidak bernoda.” (Ibid.)

“Adalah layak bahwa Sang Anak yang kudus harus mempunyai seorang Bunda yang kudus.” (Ibid.)

“Saya percaya dengan teguh, bahwa Maria, menurut kata-kata Injil sebagai Perawan yang murni, melahirkan bagi kita Putera Allah dan saat melahirkan dan setelah melahirkan selamanya tetap Perawan yang murni, tak berubah.” (Zwingli Opera, Corpus Reformatorum, Berlin, 1905, v. 1, p. 424)

Apa dasar ajaran Gereja Katolik bahwa Bunda Maria diangkat ke surga?

0

Dogma Maria diangkat ke surga berhubungan dengan ajaran Gereja Katolik lainnya tentang Bunda Maria, yaitu bahwa Bunda Maria adalah Bunda Allah, yang telah dipersiapkan sebelumnya oleh Allah, sehingga Maria menjadi ‘Sang Tabut Perjanjian Baru’ yang mengandung Kristus sebagai penggenapan Perjanjian Lama.  Sama seperti Kristus yang dikandungnya dimuliakan Allah dengan kenaikan-Nya ke surga, demikian pula Bunda Maria dimuliakan oleh Allah dengan diangkat ke surga setelah akhir hidupnya di dunia. Pengangkatan Bunda Maria ke surga ini memberikan pengharapan bagi penggenapan janji Allah kepada semua umat beriman yang setia sampai pada akhirnya.

1. Bunda Maria adalah Tabut Perjanjian Baru yang selalu berada dalam kesatuan dengan Kristus yang dikandungnya.

Kitab Mazmur mengajarkan, “Bangunlah, ya TUHAN, dan pergilah ke tempat perhentian-Mu, Engkau serta tabut kekuatan-Mu!” (Mzm 132:8). Maria sebagai Tabut Perjanjian Baru yang mengandung Kristus, akan selalu bersama dengan Kristus. Jika Henokh dan nabi Elia dapat diangkat oleh Tuhan ke surga (lih. Kej 5:24, Ibr 11:5. 2 Raj 1:11-12, 1 Mak 2:58) maka terlebih lagi Tuhan Yesus dapat melakukan hal itu terhadap Ibu-Nya sendiri.

2. Kitab Suci menggambarkan secara figuratif bahwa Bunda Maria adalah ratu, yang menerima kemuliaan karena kemuliaan Puteranya.

Kitab Raja- raja mengisahkan bagaimana Raja Salomo (anak Raja Daud) menghormati ibunya, Batsyeba, dan raja menyediakan tempat bagi bundanya di sebelah kanannya (lih. 1 Raj 2:19). Kristus, sebagai Raja keturunan Daud dan Putera Allah sendiri, akan berbuat yang sama, yaitu menghormati ibu-Nya dan menyediakan tempat baginya di sisi kanan-Nya di Surga. Jika raja di dunia tahu menghormati ibunya, maka Kristus Sang Raja di atas segala raja, tidak akan kurang dalam memberi penghormatan kepada ibu yang melahirkan-Nya ke dunia.

Kitab Mazmur menggambarkan perkawinan raja, di mana raja yang digambarkan di sana adalah Kristus: “Engkau yang terelok di antara anak- anak manusia…. Takhtamu kepunyaan Allah, tetap untuk seterusnya dan selamanya…. sebab itu Allah telah mengurapi engkau… di antara mereka yang disayangi terdapat puteri-puteri raja, disebelah kananmu berdiri permaisuri berpakaian emas dari Ofir.” (Mzm 45:3-10) Permaisuri di sebelah kanan raja adalah bunda sang raja, sebagaimana ratu Batsyeba di jaman Raja Salomo.

Kitab Wahyu menggambarkan Tabut perjanjian sebagai seorang perempuan yang mengandung Anak laki- laki, “Maka terbukalah Bait Suci Allah yang di sorga, dan kelihatanlah tabut perjanjian-Nya di dalam Bait Suci itu dan terjadilah kilat dan deru guruh dan gempa bumi dan hujan es lebat. Maka tampaklah suatu tanda besar di langit: Seorang perempuan berselubungkan matahari, dengan bulan di bawah kakinya dan sebuah mahkota dari dua belas bintang di atas kepalanya…. Maka ia melahirkan seorang Anak laki-laki, yang akan menggembalakan semua bangsa dengan gada besi…” (Why 11:19- 12:1-12). Gereja Katolik menginterpretasikan ‘perempuan’ ini secara literal sebagai Bunda Maria, yaitu “perempuan” yang sama yang disebutkan pada Kej 3:15 dan Yoh 2:4; 19:26. Namun demikian, Gereja Katolik juga menerima interpretasi allegoris lainnya, yaitu bahwa ‘perempuan’ ini dapat diinterpretasikan sebagai Gereja, Israel ataupun Yerusalem sorgawi.

3. Pengangkatan Bunda Maria ke surga merupakan pemenuhan janji Allah.

Kitab Suci mengatakan bahwa seorang perempuan (yaitu Bunda Maria) yang keturunannya (Yesus) akan menghancurkan Iblis dan kuasanya, yaitu maut (lih. Kej 3:15); dan bahwa pengangkatan ini merupakan kemenangan atas dosa dan maut (lihat Rom 5-6, 1 Kor 15:21-26) di mana kematian akan ditelan dalam kemenangan (1 Kor 15:54-57).

Rasul Paulus mengajarkan bahwa “…jika kita menderita bersama-sama dengan Dia [Kristus]…kita juga dipermuliakan bersama-sama dengan Dia” (Rom 8:17). Kehidupan Bunda Maria sendiri diwarnai berbagai penderitaan bersama Kristus, dan nubuat Nabi Simeon bahwa suatu pedang akan menembus jiwanya (Luk 2:35) tergenapi di kaki salib Kristus, saat Bunda Maria melihat Yesus Puteranya disiksa sampai wafat di hadapan matanya sendiri. Oleh sebab Bunda Maria adalah ibu yang melahirkan Kristus dan karena itu dibebaskan Allah dari noda dosa, dan sebab Bunda Maria adalah murid Kristus yang pertama menderita bersama-Nya dengan sempurna, maka layaklah bahwa Tuhan Yesus memenuhi janji dalam Rom 8:17 ini. Demi memenuhi janji inilah, Allah telah mengangkat Bunda Maria, tubuh dan jiwanya ke dalam kemuliaan surga, di akhir hidupnya. Sebab dikatakan dalam Kitab Suci bahwa Kristus adalah buah sulung yang bangkit dari mati, dan kemudian diikuti oleh orang- orang lain [yaitu umat beriman] menurut urutannya (lih. 1 Kor 15:23). Sepantasnyalah Maria, sebagai ibu Yesus, menempati urutan kedua setelah Yesus. Bunda Maria menjadi yang pertama dari umat beriman yang ditempatkan di sebelah kanan Allah, sebagaimana yang dijanjikan Tuhan kepada mereka yang beriman dan hidup sesuai dengan imannya (lih. Mat 25:33).

Akhirnya, perlu kita ketahui bahwa Bunda Maria ‘diangkat’ Tuhan ke surga, dan bukan ‘naik’ ke surga.  Maria ‘diangkat’, jadi bukan karena kekuatannya sendiri melainkan diangkat oleh kuasa Allah, sedangkan Yesus ‘naik’ ke surga oleh kekuatan-Nya sendiri. Bagi umat Katolik, peristiwa Bunda Maria diangkat ke surga adalah peringatan akan pengharapan akan kebangkitan badan di akhir zaman. Kita sebagai orang beriman, jika hidup setia dan taat kepada Allah sampai akhir, akan mengalami apa yang dijanjikan Tuhan itu: bahwa kita akan diangkat ke surga, tubuh dan jiwa, untuk bersatu dengan Dia dalam kemuliaan surgawi. Maka, dogma Maria diangkat ke surga, bukan semata-mata doktrin untuk menghormati Maria, tetapi merupakan perayaan akan pengharapan kita sebagai murid- murid Kristus.

Dasar Kitab Suci

  • Kej 3:15: Seorang perempuan [Maria] dan keturunannya [Yesus] akan meremukkan kepala ular [Iblis]
  • 1 Raj 2:19: Bunda raja menerima penghormatan dari raja dan ditempatkan di sisi kanan raja
  • Mzm 45:3-10: Permaisuri berpakaian emas di sisi kanan raja
  • Why 11:19- 12:1-12: Bunda Maria, Sang Tabut perjanjian dan perempuan yang melahirkan Anak laki- laki [Kristus] yang memimpin dunia.
  • Rom 5-6:23: Upah dosa adalah maut, tetapi karunia Allah adalah hidup yang kekal. (Maka Maria yang tidak berdosa, tidak mengalami kerusakan akibat maut)
  • 1 Kor 15:21-26: Semua orang akan dihidupkan kembali dalam persekutuan dengan Kristus, tiap- tiap orang menurut urutannya.
  • 1 Kor 15:54: Maut ditelan dalam kemenangan (ini digenapi dalam diri Bunda Maria yang tak berdosa)
  • Rom 8:17: Mereka yang menderita bersama Yesus akan dimuliakan bersama Dia.

Dasar Tradisi Suci

  • Pseudo- Melito (300):
    Oleh karena itu, jika hal itu berada dalam kuasa-Mu, adalah nampak benar bagi kami pelayan- pelayan-Mu, bahwa seperti Engkau yang telah mengatasi maut, bangkit dengan mulia, maka Engkau seharusnya mengangkat tubuh Bunda-Mu dan membawanya dengan-Mu, dengan suka cita ke dalam surga. Lalu kata Sang Penyelamat [Yesus]: “Jadilah seperti perkataanmu”. (Pseudo- Melito, The Passing of the Virgin 16:2-17)
  • Timotius dari Yerusalem (400):
    Oleh karena itu Sang Perawan [Maria] tidak mati sampai saat ini, melihat bahwa Ia yang pernah tinggal di dalamnya memindahkannya ke tempat pengangkatannya. (St. Timothy of Jerusalem, Homily on Simeon dan Anna)
  • Yohanes Sang Theolog (400):
    Tuhan berkata kepada Ibu-Nya, “Biarlah hatimu bersuka dan bergembira. Sebab setiap rahmat dan karunia telah diberikan kepadamu dari Bapa-Ku di Surga dan dari-Ku dan dari Roh Kudus. Setiap jiwa yang memanggil namamu tidak akan dipermalukan, tetapi akan menemukan belas kasihan dan ketenangan dan dukungan dan kepercayaan diri, baik di dunia sekarang ini dan di dunia yang akan datang, di dalam kehadiran Bapa-Ku di Surga”… Dan dari saat itu semua mengetahui bahwa tubuh yang tak bercacat dan yang berharga itu telah dipindahkan ke surga. (John the Theologian, The Dormition of Mary)
  • Gregorius dari Tours (575)
    Para Rasul mengambil tubuhnya  [jenazah Maria] dari peti penyangganya dan menempatkannya di sebuah kubur, dan mereka menjaganya, mengharapkan Tuhan [Yesus] agar datang. Dan lihatlah, Tuhan datang kembali di hadapan mereka; dan setelah menerima tubuh itu, Ia memerintahkan agar tubuh itu diangkat di awan ke surga: di mana sekarang tergabung dengan jiwanya, [Maria] bersukacita dengan para terpilih Tuhan … (Gregory of Tours, Eight Books of Miracles 1:4)
  • Theoteknos dari Livias (600)
    Adalah layak … bahwa tubuh Bunda Maria yang tersuci, tubuh yang melahirkan Tuhan, yang menerima Tuhan, menjadi ilahi, tidak rusak, diterangi oleh rahmat ilahi dan kemuliaan yang penuh …. agar hidup di dunia untuk sementara dan diangkat ke surga dengan kemuliaan, dengan jiwanya yang menyenangkan Tuhan (Theoteknos, Homily on the Assumption)
  • St. Modestus dari Yerusalem (sebelum 634)
    Sebagai Bunda Kristus yang termulia… telah menerima kehidupan dari Dia [Kristus], ia telah menerima kekekalan tubuh yang tidak rusak, bersama dengan Dia yang telah mengangkatnya dari kubur dan mengangkatnya kepada Diri-Nya dengan cara yang hanya diketahui oleh-Nya. (Modestus, Encomium in dormitionnem Sanctissimae Dominae nostrae Deiparae semperque Virginis Mariae)
  • St. Germanus dari Konstantinopel (683)
    Engkau adalah ia, …. yang nampak dalam kecantikan, dan tubuhmu yang perawan adalah semuanya kudus, murni, keseluruhannya adalah tempat tinggal Allah, sehingga karena itu dibebaskan dari penguraian menjadi debu. Meskipun masih manusia, tubuhmu diubah ke dalam kehidupan surgawi yang tidak dapat musnah, sungguh hidup dan mulia, tidak rusak dan mengambil bagian dalam kehidupan yang sempurna (St. Germanus, Sermon I).
  • St. Yohanes Damaskinus (697)
    Adalah layak bahwa ia, yang tetap perawan pada saat melahirkan, tetap menjaga tubuhnya dari kerusakan bahkan setelah kematiannya. Adalah layak bahwa dia, yang telah menggendong Sang Pencipta sebagai anak di dadanya, dapat tinggal di dalam tabernakel ilahi. Adalah layak bahwa mempelai, yang diambil Bapa kepada-Nya, dapat hidup dalam istana ilahi. Adalah layak bahwa ia, yang telah memandang Putera-Nya di salib dan yang telah menerima di dalam hatinya pedang duka cita yang tidak dialaminya pada saat melahirkan-Nya, dapat memandang Dia saat Dia duduk di sisi Bapa. Adalah layak bahwa Bunda Tuhan memiliki apa yang dimiliki oleh Putera-nya, dan bahwa ia layak dihormati oleh setiap mahluk ciptaan sebagai Ibu dan hamba Tuhan (John Damascene, Dormition of Mary)
  • Gregorian Sacramentary (795)
    Terhormat bagi kami, O Tuhan, perayaan hari ini, yang memperingati Bunda Allah yang kudus yang meninggal dunia untuk sementara waktu, namun tetap tidak dapat dijerat oleh maut, yang telah melahirkan Putera-Mu, Tuhan kami yang menjelma dari dirinya. (Gregorian Sacramentary, Veranda, ante 795)

Dasar Magisterium

  • Paus Pius XII dalam Konstitusi Apostolik Munificentissimus Deus (1950) mengajarkan:

“Oleh karena itu, Bunda Tuhan yang terhormat, dari segala kekekalan digabungkan secara tersembunyi dengan Yesus Kristus …. akhirnya memperoleh sebagai puncak tertinggi dari segala haknya yang istimewa, bahwa ia harus dijaga agar bebas dari kerusakan kubur dan bahwa seperti Puteranya, setelah mengalahkan maut, ia dapat diangkat tubuh dan jiwanya ke dalam kemuliaan surga, di mana sebagai Ratu, ia duduk di dalam kemegahan di sisi kanan Putera-Nya, Raja segala masa yang kekal (lih. 1 Tim 1:17, Munificentissimus Deus, 40)

“…. dengan kuasa dari Tuhan kita Yesus Kristus, [kuasa] dari Rasul Petrus dan Paulus yang terberkati, dan dengan kuasa kami sendiri, kami mengumumkan, menyatakan dan menentukannya sebagai dogma yang ilhami Roh Kudus: bahwa Bunda Maria yang tidak bernoda, Perawan Maria yang tetap perawan, setelah menyelesaikan kehidupannya di dunia, diangkat tubuh dan jiwanya ke dalam kemuliaan surgawi.” (Munificentissimus Deus, 44)

  • Konsili Vatikan II (1962-1965), Konstitusi tentang Gereja, Lumen Gentium:
    “Akhirnya Perawan tak bernoda, yang tidak pernah terkena oleh segala cemar dosa asal, sesudah menyelesaikan perjalanan hidupnya di dunia, telah diangkat melalui kemuliaan di sorga beserta badan dan jiwanya. Ia telah ditinggikan oleh Tuhan sebagai Ratu alam semesta, supaya secara lebih penuh menyerupai Puteranya, Tuan di atas segala tuan (lih. Why 19:16), yang telah mengalahkan dosa dan maut.” (LG 59)
  • Katekismus Gereja Katolik 966:
    KGK 966 “Akhirnya Perawan tak bernoda, yang tidak pernah terkena oleh segala cemar dosa asal, sesudah menyelesaikan perjalanan hidupnya di dunia, telah diangkat memasuki kemuliaan di surga beserta badan dan jiwanya. Ia telah ditinggikan oleh Tuhan sebagai Ratu alam semesta, supaya secara lebih penuh menyerupai Puteranya, Tuan di atas segala tuan, yang telah mengalahkan dosa dan maut” (LG  59, Bdk. Pengumuman dogma mengenai Maria diangkat ke surga oleh Paus Pius XII, 1950: DS 3903). Terangkatnya Perawan tersuci adalah satu keikutsertaan yang istimewa pada kebangkitan Puteranya dan satu antisipasi dari kebangkitan warga-warga Kristen yang lain.
    “Pada waktu persalinan engkau tetap mempertahankan keperawananmu, pada waktu meninggal, engkau tidak meninggalkan dunia ini, ya Bunda Allah. Engkau telah kembali ke sumber kehidupan, engkau yang telah menerima Allah yang hidup dan yang akan membebaskan jiwa-jiwa kami dari kematian dengan doa-doamu” (Liturgi Bisantin, pada Pesta Kematian Maria 15 Agustus).

Diskusi lebih lanjut

Keep in touch

18,000FansLike
18,659FollowersFollow
32,900SubscribersSubscribe

Artikel

Tanya Jawab