Home Blog Page 153

Apakah Bunda Maria sepenuhnya mengetahui rencana Allah?

17

Bunda Maria mengetahui bahwa Yang dikandung dalam rahimnya adalah Anak (Putera) Allah, sebab inilah yang dikatakan oleh malaikat itu kepadanya, “Sesungguhnya engkau akan mengandung dan akan melahirkan seorang anak laki-laki dan hendaklah engkau menamai Dia Yesus. Ia akan menjadi besar dan akan disebut Anak Allah Yang Mahatinggi” (Luk 1:31-32). Maka dalam hal ini, Bunda Maria mengetahui bahwa Allah mempunyai rencana untuk mengaruniakan Putera-Nya untuk menyelamatkan manusia, melalui penjelmaan-Nya menjadi manusia di dalam rahimnya.

Namun apakah artinya hal ini sepenuhnya, atau hal-hal apakah yang akan dialaminya sebagai akibat dari melahirkan dan membesarkan Putera Allah, belum diketahui secara mendetail oleh Bunda Maria, pada saat ia menerima Kabar Gembira dari malaikat itu. Hal ini baru terungkap sedikit demi sedikit sejalan dengan perjalanan hidupnya. Justru karena inilah, Bunda Maria menunjukkan teladan imannya, bahwa meskipun ia tidak sepenuhnya mengetahui rencana Allah sampai sedetail-detailnya, namun ia percaya dan dengan setia menjalaninya dengan penuh penyerahan diri kepada Allah.

Tak lama setelah menerima Kabar Gembira dari malaikat tentang penjelmaan Yesus Sang Penyelamat, melihat bagaimana hal itu tergenapi di dalam rahimnya, dan saat ia melahirkan Yesus di Betlehem yang disambut dengan paduan suara surgawi (Luk 2:13-15) dan penghormatan dari para majus (lih. Mat 2:11), Bunda Maria menerima kabar lainnya dari Simeon di bait Allah. Yaitu bahwa peran keibuannya harus dilalui di dalam penderitaan: bahwa pedang akan menembus jiwanya (lih. Luk 2:35). Ini nyata dalam pengungsiannya bersama bayi Yesus dan St. Yusuf ke Mesir (Mat 2:13-15) untuk menghindari pembunuhan anak-anak di Betlehem atas titah Raja Herodes. Ini suatu tanda bahwa sejak awal kehadiran Kristus di dunia, Ia sudah ditolak oleh bangsa-Nya sendiri. Bunda Maria dan St. Yusuf adalah orang-orang pertama yang turut mengambil bagian dalam penderitaan Yesus ini, ditolak, hidup sebagai pengungsi, dalam kemiskinan sebagai orang-orang yang tersingkirkan. Puncak penderitaan Bunda Maria yang merupakan penggenapan nubuat Simeon bahwa ‘sebuah pedang akan menembus jiwanya’ (Luk 2:35) adalah ketika Bunda Maria berdiri di kaki salib Kristus, dan melihat bagaimana Putera-Nya dihina dan disiksa sampai wafat. Kenyataan yang terpampang di hadapannya ini menjadi sangat berlawanan, bahkan sepertinya merupakan penyangkalan total dari apa yang pernah didengarnya dari malaikat, “Ia akan menjadi besar dan akan disebut Anak Allah Yang Mahatinggi… dan Ia akan menjadi raja atas kaum keturunan Yakub sampai selama-lamanya dan Kerajaan-Nya tidak akan berkesudahan.” (Luk 1:32-33). Namun Maria tetap teguh berdiri mendampingi Puteranya dengan kesetiaan seorang hamba, “Terjadilah padaku menurut kehendak-Mu” (lih. Luk 1:38). Pengosongan diri Maria inilah yang mungkin disebut sebagai pengosongan diri yang paling dalam yang pernah terjadi dalam sejarah kehidupan manusia, yang oleh Bapa Paus Yohanes Paulus II, sebagai “the deepest kenosis (self-emptying) in human history.” (lihat Redemptoris Mater, 18-19). Para ibu yang pernah menyaksikan anaknya meninggal dunia di depan matanya akan lebih dapat memahami betapa dalamnya duka cita Bunda Maria saat itu. Apalagi dalam hal ini, Yesus disiksa sampai wafat karena difitnah, padahal Ia tidak melakukan kesalahan sedikitpun.

Nah, maka penyingkapan rencana keselamatan Allah dalam kehidupan Bunda Maria terjadi secara bertahap; dan hal ini tidak secara penuh diketahui oleh Bunda Maria sejak awal. Di sinilah berperan ketaatan iman Bunda Maria, sebagaimana dijelaskan oleh Paus Yohanes Paulus II dalam surat ensikliknya, Redemptoris Mater:

“Ketika Keluarga Kudus kembali ke Nazaret setelah kematian Raja Herodes, di sana dimulailah kehidupan mereka yang tersembunyi dalam jangka waktu yang lama. Bunda Maria “yang percaya bahwa apa yang dikatakan kepadanya dari Tuhan akan terlaksana” (Luk 1:45), menghidupi sabda ini hari demi hari….

Sepanjang tahun-tahun kehidupan Yesus yang tersembunyi di rumah di Nazaret, kehidupan Maria juga “tersembunyi bersama Kristus di dalam Tuhan” (lih. Kol 3:3) oleh iman. Sebab iman adalah suatu kontak dengan misteri Tuhan. Setiap hari Maria selalu ada di dalam kontak yang terus menerus dengan misteri yang tak terperikan dari Tuhan yang menjelma, sebuah misteri yang melampaui apapun yang dinyatakan di dalam Perjanjian Lama. Sejak menerima Kabar Gembira, pikiran Bunda Maria telah diperkenalkan kepada pembaruan yang radikal dari pewahyuan diri Tuhan dan telah menyadari misteri tersebut. Maria adalah orang yang pertama dari “mereka yang sederhana” yang tentangnya Yesus akan bersabda: “Bapa, … Engkau telah menyembunyikan hal-hal ini dari mereka yang bijak dan pandai, dan menyatakannya kepada orang-orang sederhana” (Mat 11:25). Sebab “tak seorangpun mengenal Anak selain Bapa” )Mat 11:27). Jika demikian, bagaimana Maria dapat “mengenal Sang Putera”? Tentu saja Maria tidak mengenal Kristus sebagaimana Bapa mengenal-Nya; namun ia adalah orang yang pertama dari mereka yang tentangnya Bapa “telah memilih untuk menyatakan diri-Nya” (lih. Mat 11:26-27; 1Kor 2:11)….

Maka Maria terberkati, sebab “ia telah percaya”, dan senantiasa percaya hari demi hari di tengah segala pencobaan dan kemalangan di masa kanak-kanak Yesus, dan lalu di sepanjang tahun kehidupan yang tersembunyi di Nazaret, di mana Ia “tunduk kepada mereka” (Luk 2:51)…. Dan ini adalah jalan di mana Maria, sepanjang tahun-tahun, hidup di dalam ke-intiman dengan misteri Putera-nya, dan melangkah maju di dalam “peziarahan iman“, sementara Yesus “bertumbuh di dalam kebijaksanaan … di hadapan Allah dan manusia.” (Luk 2:52)…

Namun demikian, ketika Yesus ditemukan di bait Allah, dan ibu-Nya bertanya, “Nak, mengapakah Engkau berbuat demikian terhadap kami?” Yesus yang berumur dua belas tahun menjawab, “Tidakkah kamu tahu bahwa Aku harus berada di dalam rumah Bapa-Ku?” Dan Penginjil menambahkan: “Dan mereka (Yusuf dan Maria) tidak mengerti apa yang dikatakan-Nya kepada mereka” (Luk 2:48-50). Yesus menyadari bahwa “tidak seorangpun mengenal Bapa selain Anak” (lih. Mat 11:27); maka bahkan ibu-Nya, yang kepadanya telah dinyatakan misteri ke-Allahan-Nya secara paling lengkap, hidup di dalam keintiman dengan misteri ini hanya oleh iman! Hidup berdampingan dengan Putera-nya di bawah satu atap, dan dengan setia menjaga “persatuannya dengan Puteranya”, Maria “melangkah maju dalam peziarahan iman“, seperti yang ditekankan oleh Konsili Vatikan II. Dan demikianlah, di sepanjang kehidupan Kristus di hadapan umum (lih. Mat 3:21-35), hari ke hari digenapilah di dalam diri Maria, berkat yang diucapkan oleh Elisabet pada saat kunjungan Maria, “Terberkatilah ia yang telah percaya” (Paus Yohanes Paulus II, Redemptoris Mater 17).

Semakin kita merenungkan kehidupan Kristus dan Keluarga Kudus di Nazaret, semakin kita dapat melihat teladan iman Bunda Maria, yang dalam ketaatan, kesederhanaan dan kesetiaan, menyerahkan kehidupannya ke dalam pimpinan tangan Tuhan. Kehidupannya di dunia sebagai ibu Tuhan Yesus diwarnai oleh banyak ujian dan penderitaan, namun Bunda Maria tidak beranjak dari imannya yang teguh: “Terjadilah padaku menurut perkataan-Mu, ya Tuhan”, sebab ia yakin dan percaya bahwa “apa yang dikatakan Tuhan kepadanya akan terlaksana”.

Semoga, seperti Bunda Maria, kita semakin bertumbuh dalam iman hari demi hari, sebab kita percaya bahwa apa yang dijanjikan oleh Tuhan kepada kita yang percaya kepada-Nya, akan terlaksana.

 

Peran Maria dalam mukjizat di Kana (Yoh 2:1-11)

28

Mari kita lihat ayat-ayat tersebut (Yoh 2:1-5): “Pada hari ketiga ada perkawinan di Kana yang di Galilea, dan ibu Yesus ada di situ;  Yesus dan murid-murid-Nya diundang juga ke perkawinan itu.  Ketika mereka kekurangan anggur, ibu Yesus berkata kepada-Nya: “Mereka kehabisan anggur.”  Kata Yesus kepadanya: “Mau apakah engkau dari pada-Ku, ibu? Saat-Ku belum tiba.”  Tetapi ibu Yesus berkata kepada pelayan-pelayan: “Apa yang dikatakan kepadamu, buatlah itu!

a. Dari ayat-ayat di atas, terlihat jelas, bahwa Maria membuat permohonan kepada Yesus, dengan mengatakan “Mereka kehabisan anggur” (ay.4). Dan Yesus mengerti permohonan ini dan bukan sekedar pemberitahuan, sehingga Dia mengatakan “Mau apakah engkau dari pada-Ku, Ibu? Saat-Ku belum tiba” (ay.5) Hal ini adalah sama saja dengan mengatakan “Mengapa engkau (Ibu Maria) meminta Aku untuk melakukan sesuatu [mukjizat], yang belum saatnya Aku lakukan?” Percaya dan tahu akan Putera-Nya, maka Bunda Maria bukan memohon kepada para pelayan, namun memerintahkan kepada para pelayan untuk melakukan apapun yang dikatakan oleh Yesus. (ay.5).

b. Kita jangan lupa, bahwa Maria adalah satu-satunya orang yang pernah dilahirkan di dunia ini, yang berkumpul dengan Yesus setiap hari, sejak di kandungan sampai sekitar 30 tahun. Inilah sebabnya, kalau ada orang yang paling mengerti Yesus, maka orang itu adalah Bunda Maria. Mungkin, kita bersama-sama dapat merenungkan, bahwa jika kita yang mengklaim telah menerima Roh Kudus dapat mengerti ajaran Yesus dan apa yang dilakukan oleh Yesus, maka, terlebih lagi Bunda Maria, sang mempelai Roh Kudus. Bunda Maria telah mengandung Sang Sabda, hidup bersama-sama dengan Sang Sabda selama 30 tahun, setiap hari mengasihi Sang Sabda, sehingga Sabda tersebut menyatu dalam kehidupannya, perkataannya, dan perbuatannya, dan seluruh keberadaan dirinya. Bunda Maria sungguh mengenal dan memahami ajaran dan kehendak Kristus Puteranya, sehingga apa yang dipikirkan, dilakukan dan diminta oleh Bunda Maria senantiasa sesuai dan sejalan dengan kehendak Kristus Sang Sabda. Dengan fakta ini, kita harus mengakui, bahwa Bunda Maria dan Yesus mempunyai hubungan yang begitu dekat, begitu murni, saling membagi, sehingga keduanya dapat mengatakan “ini aku, aku milikmu“.  Yesus sendiri, sebagai manusia dalam kebudayaan Yahudi, menghormati dan taat kepada orang tuanya. Ini dicatat dalam Injil  Lukas, “Lalu Ia pulang bersama-sama mereka ke Nazaret; dan Ia tetap hidup dalam asuhan mereka. Dan ibu-Nya menyimpan semua perkara itu di dalam hatinya. Dan Yesus makin bertambah besar dan bertambah hikmat-Nya dan besar-Nya, dan makin dikasihi oleh Allah dan manusia.” (Lk 2:51-52).

c. Mungkin penjelasan dari beberapa Bap Gereja dapat membantu. St. Bernardus menjelaskan perikop ini (lih. St. Bernard, Homily 2) demikian: “Saya melihat dengan jelas bahwa Yesus mengatakan, Mau apakah engkau daripadaku, ibu, bukan karena Ia memarahi/ menegur, atau mau mengaburkan kesederhanaan hati ibu-Nya yang merendah, namun karena demi kita, sehingga apa yang menjadi perhatian orang tua menurut daging janganlah membuat kita yang sudah percaya, menjadi kuatir.” Sebab Kristus nyatanya taat kepada ibu-Nya, dan untuk menghormatinya, Ia melakukan mukjizat itu. Dengarlah St. Krisostomus: ” Meskipun Ia [Yesus] menjawab demikian, namun Ia mengabulkan doa ibu-Nya, sehingga Ia dapat menghormatinya dan tidak tampak mengeraskan hati terhadapnya, ataupun juga mempermalukan dia di hadapan begitu banyak orang yang hadir.” Dan Euthymus mengatakan, “Betapa besar Yesus menghormati Maria adalah jelas dari banyak kejadian, termasuk juga di sini, bahwa Ia memenuhi permintaannya.”

 

Surat Apostolik dari Paus Benediktus XVI: Pintu kepada Iman

6

Catatan: Berikut ini adalah terjemahan tidak resmi (unofficial  translation)  dokumen Surat Apostolik dari Paus Benediktus XVI, yang berjudul “Pintu kepada Iman”, yang diterjemahkan oleh katolisitas.org dari dokumen aslinya dalam Bahasa Inggris, seperti yang tertulis di sini – silakan klik. Mohon agar pengutipan terjemahan ini dapat menyertakan sumbernya, yaitu: www.katolisitas.org, sehingga usulan atau masukan dapat disampaikan kepada kami.

SURAT APOSTOLIK
MOTU PROPRIO DATA”

PINTU KEPADA IMAN

DARI  USKUP AGUNG ROMA
BENEDIKTUS  XVI

UNTUK PENCANANGAN TAHUN IMAN

PINTU IMAN MENUJU KEHIDUPAN BERSATU DENGAN TUHAN

1. “Pintu kepada iman” (Kis 14:27) selalu terbuka bagi kita, menghantarkan kita ke dalam persekutuan hidup dengan Allah dan memberi tawaran untuk masuk ke dalam Gereja-Nya. Adalah mungkin untuk melintasi ambang pintu itu ketika Sabda Allah diwartakan dan hati manusia membiarkan dirinya dibentuk oleh rahmat yang senantiasa mengubah. Untuk masuk melalui pintu itu berarti memulai suatu perjalanan yang akan berlangsung seumur hidup. Perjalanan itu dimulai dengan baptisan (lih. Rom 6:4), yang melaluinya kita dapat menyebut Allah sebagai Bapa, dan perjalanan berakhir dengan jalan melalui kematian menuju kehidupan kekal, buah dari kebangkitan Tuhan Yesus, yang sejak dahulu berkehendak, dengan anugerah Roh Kudus, untuk menarik mereka yang percaya kepada-Nya masuk ke dalam kemuliaan-Nya sendiri (lih. Yoh 17:22). Beriman kepada Tritunggal –Bapa, Putera dan Roh Kudus– adalah percaya kepada Allah yang Mahaesa yang adalah Kasih (lih. 1Yoh 4:8): Bapa, yang di dalam kepenuhan waktu telah mengutus Putra-Nya demi keselamatan kita;Yesus Kristus, yang di dalam misteri wafat dan kebangkitan-Nya telah menebus dunia; Roh Kudus, yang memimpin Gereja sepanjang segala abad sambil kita menantikan kedatangan Tuhan kembali dalam kemuliaan.

GEREJA BERTUGAS MENGANTAR UMAT KATOLIK MEMASUKI PINTU IMAN

2. Sejak permulaan pelayanan saya sebagai Penerus Petrus, saya telah berbicara tentang perlunya menemukan kembali perjalanan iman, sehingga memberikan pencerahan yang lebih jelas akan sukacita dan semangat yang diperbarui oleh perjumpaan dengan Kristus. Dalam homili pada Misa yang menandai peresmian pontifikat/ kepausan saya, saya mengatakan: “Gereja, secara keseluruhan,  dan semua pastornya, seperti Kristus, harus bergerak untuk memimpin umat keluar dari padang gurun, menuju ke tempat kehidupan,  menuju persahabatan dengan Putera Allah, menuju Dia, yang memberi kita kehidupan, dan kehidupan yang berkelimpahan.” ((Homili pada awal menjabat sebagai Uskup Roma dalam pelayanan sebagai penerus Petrus (24 April 2005):AAS 97 (2005), 710.)) Sering terjadi, bahwa umat Kristiani lebih menaruh perhatian kepada konsekuensi-konsekuensi sosial, budaya dan politis dari komitmen mereka, dengan tetap berpandangan  tentang iman sebagai sebuah anggapan yang dengan sendirinya membuktikan dirinya di dalam kehidupan bermasyarakat. Di dalam kenyataannya, anggapan ini bukan saja tidak bisa diandaikan terjadi dengan sendirinya, tetapi hal tersebut sering secara terang-terangan diingkari. ((Lih. Benedictus XVI, Homili dalam Misa “Terreiro do Paço” di Lisabon, (11 Mei 2010); Insegnamenti VI: 1 (2010), 673.))  Sementara di masa lampau sangat mungkin orang dapat mengenal suatu matriks unit kemasyarakatan, yang secara luas diterima sebagai daya tarik terhadap isi iman dan nilai-nilai yang diinspirasikan olehnya, di masa sekarang ini hal ini nampaknya tidak lagi menjadi kasus di dalam lingkupan luas masyarakat, karena adanya krisis iman yang mendalam yang telah mempengaruhi banyak orang.

MENGHIDUPKAN KEMBALI IMAN KITA

3. Kita tidak dapat menerima bahwa garam menjadi tawar atau pelita ditaruh di bawah gantang (lih. Mat 5:13-16). Orang-orang zaman sekarangpun masih tetap dapat merasakan kebutuhan untuk pergi ke sumur, seperti wanita Samaria, untuk mendengarkan Yesus, yang mengundang kita untuk percaya kepada-Nya serta menimba dari sumber air hidup yang memancar keluar dari dalam diri-Nya (lih. Yoh 4:14). Kita harus menemukan kembali sedapnya rasa kita menyantap sabda Allah, yang dengan setia telah disampaikan oleh Gereja, dan menyantap roti hidup yang telah diserahkan bagi kehidupan para murid-Nya (lih. Yoh 6:51). Sungguh, pada zaman inipun ajaran Yesus masih tetap bergema dengan kuasa yang sama: “Bekerjalah, bukan untuk makanan yang akan dapat binasa, melainkan untuk makanan yang bertahan sampai kepada hidup yang kekal” (Yoh 6:27). Pertanyaan yang dulu ditanyakan oleh para pendengar-Nya adalah sama dengan pertanyaan yang kita ajukan sekarang: “Apakah yang harus kami perbuat, supaya kami mengerjakan pekerjaan yang dikehendaki Allah?” (Yoh 6:28). Kita mengetahui jawaban Yesus: ”Inilah pekerjaan yang dikehendaki Allah, yaitu hendaklah kamu percaya kepada Dia yang telah diutus Allah” (Yoh 6:29). Oleh karena itu, percaya kepada Yesus Kristus adalah jalan untuk sampai dengan pasti kepada keselamatan.

TAHUN IMAN UNTUK MENEMUKAN KEMBALI IMAN KITA

4. Di dalam terang semua hal ini, saya telah mengambil keputusan untuk mencanangkan suatu Tahun Iman. Tahun itu akan dimulai pada tanggal 11 Oktober 2012, yakni hari ulang tahun yang ke limapuluh dari pembukaan Konsili Vatikan II, dan akan ditutup pada Hari Raya Tuhan kita Yesus Kristus Raja Semesta Alam, pada tanggal 24 November 2013. Tanggal yang mengawali Tahun Iman itu, 11 Oktober 2012, juga adalah hari ulang tahun yang ke- duapuluh dari penerbitan buku Katekismus Gereja Katolik, sebuah naskah yang sudah dipromulgasikan oleh pendahulu saya, Beato Yohanes Paulus II, ((Lih. Paus Yohannes Paulus II, Konstitusi Apostolik Fidei Depositum (11 Oktober 1992): AAS 86 (1994), 113-118.)) dengan maksud untuk memberikan kepada semua umat beriman gambaran tentang kekuatan dan keindahan iman kita. Dokumen tersebut, sebagai buah yang otentik dari Konsili Vatikan II, telah diminta oleh Sinode Luar-biasa Para Uskup pada tahun 1985 sebagai sebuah sarana bantu bagi pelayanan Katekese ((Lih. Laporan terakhir Sinode Luar Biasa II Para Uskup (7 Desember 1985), II, B, a, 4 in Enchiridion Vaticanum, ix, n. 1797.)) dan telah diterbitkan dalam kerjasama dengan semua Uskup Gereja Katolik.  Tambahan pula, tema Sidang Umum Sinode Para Uskup yang telah saya undang untuk bulan Oktber 2012 adalah: “Evangelisasi Baru untuk Penerusan Iman Kristiani”. Hal ini akan menjadi kesempatan yang baik untuk menghantar segenap Gereja masuk ke dalam saat refleksi yang khusus dan penemuan kembali imannya. Ini bukan yang pertama kalinya Gereja menetapkan untuk merayakan Tahun Iman. Pendahulu saya yang terhormat Hamba Tuhan Paus Paulus VI pernah memaklumkan itu pada tahun 1967, untuk memperingati kemartiran Santo Petrus dan Santo Paulus pada peringatan sembilan belas abad tentang tindakan terluhur kesaksian mereka. Beliau berpendapat hal itu sebagai saat yang paling mulia bagi seluruh Gereja untuk untuk membuat “suatu pengakuan yang otentik dan tulus dari iman yang sama”. Selanjutnya, beliau menghendaki bahwa hal ini diteguhkan dengan cara yang “individual maupun kolektif secara bebas dan bertanggung jawab, baik secara lahir maupun batin, dengan rendah hati dan terus-terang”. ((Paus Paulus VI, Ekshortasi Apostolik Petrum et Paulum Apostolos pada perayaan XIX abad kemartiran St. Petrus dan Paulus (22 Februari 1967): AAS 59 (1967), 196.)) Beliau berpendapat, bahwa dengan cara demikian seluruh Gereja dapat memulihkan kembali “pemahaman yang tepat akan iman itu, sehingga dengan demikian menguatkannya, memurnikannya, meneguhkannya dan mengakuinya.” ((Ibid., 198.)) Pergolakan besar tahun itu semakin menunjukkan kebutuhan akan perayaan semacam ini. Perayaan itu ditutup dengan Pengakuan Iman Umat Allah ((Paulus VI, Credo Umat Allah, Homili dalam Misa pada perayaan XIX abad kemartiran St. Petrus dan Paulus pada penutupan “Tahun Iman” (30 Juni 1968): AAS 60 (1968), 433-445.)) dimaksudkan untuk menunjukkan, betapa isi hakiki iman yang selama berabad-abad telah membentuk warisan segenap umat beriman, perlu diteguhkan, dipahami dan diselidiki lagi secara baru, agar menjadi kesaksian iman yang konsisten di dalam keadaan-keadaan historis yang ada saat ini yang sangat berbeda dengan keadaan sejarah masa lampau.

5. Dalam arti tertentu, pendahulu saya yang terhormat itu melihat Tahun Iman ini sebagai suatu “konsekuensi dan kebutuhan dari masa pasca konsili”, ((PaulusVI,  Audiensi Umum  (14 Juni 1967): Insegnamenti V (1967), 801. ))  menyadari sepenuhnya akan kesulitan-kesulitan besar pada zaman itu, teristimewa yang berkaitan dengan pengakuan iman yang sejati dan penafsiran yang benar akan hal itu. Nampak bagi saya bahwa saat peluncuran Tahun Iman yang bertepatan dengan ulang tahun ke lima-puluh pembukaan Konsili Vatikan II akan memberikan kesempatan yang baik untuk membantu umat memahami, bahwa naskah- naskah yang telah diwariskan oleh para Bapa Konsili itu, di dalam kata-kata Beato Yohanes Paulus II, “sama sekali belum kehilangan nilai dan kecemerlangannya”. Naskah-naskah itu perlu dibaca dengan benar, diketahui secara luas dan diresapkan di dalam hati sebagai naskah-naskah yang penting dan mengikat dari Magisterium Gereja, di dalam Tradisi Gereja … Saya merasa lebih dari sebelumnya berkewajiban untuk menunjuk kepada Konsili itu sebagai rahmat agung yang dicurahkan Allah kepada Gereja di abad keduapuluh: di sana kita menemukan penunjuk arah yang pasti bagi tindakan-tindakan yang kita ambil dalam abad itu yang sekarang baru dimulai.” ((Paus BeatoYoannes  Paulus II, Surat Apostolik Novo Millennio Ineunte (6 Januari 2001), 57: AAS 93 (2001), 308)) Saya juga ingin menekankan dengan sangat, apa yang sudah saya katakan tentang Konsili tersebut beberapa bulan setelah saya terpilih sebagai Penerus Petrus: ”Jika kita menafsirkan dan mengimplementasikan Konsili itu dengan dibimbing oleh suatu hermeneutika yang benar, maka Konsili itu adalah dan dapat menjadi semakin kuat berdaya guna bagi pembaruan Gereja yang senantiasa diperlukan.” ((Sambutan kepada Curia Romana, (22 Desember 2005): AAS 98 (2006), 52.))

PEMBAHARUAN MELALUI PERTOBATAN BAGI SELURUH GEREJA

6. Pembaruan Gereja juga dicapai melalui kesaksian yang diberikan oleh hidup umat beriman: justru dengan keberadaan mereka di dunia ini, umat Kristiani dipanggil untuk memancarkan sabda kebenaran yang telah diwariskan Tuhan Yesus kepada kita. Konsili sendiri, dalam Konstitusi Dogmatik Lumen Gentium, mengatakan ini: “Sementara Kristus, yang “suci, tanpa salah, tanpa noda” (Ibr 7:26), tidak mengenal dosa (lih. 2Kor 5:21), namun datang hanya untuk menebus dosa-dosa seluruh bangsa (lih. Ibr 2:17), …Gereja… merangkul para pendosa dalam pangkuannya, sekaligus [Gereja itu] suci, dan selalu perlu dimurnikan, secara terus-menerus mengikuti jalan pertobatan dan pembaharuan. Gereja, ‘seperti seorang pengembara di negeri asing, berjalan maju melawan arus di tengah- tengah penganiayaan dunia dan penghiburan dari Allah’, sambil mewartakan salib dan wafat Tuhan sampai Ia datang (lih. 1Kor 11:26). Tetapi, oleh kuasa Tuhan yang telah bangkit, Gereja diberikan kekuatan untuk mengatasi dukacita dan kesulitannya, di dalam kesabaran dan di dalam cinta kasih, baik [dukacita dan kesulitan yang timbul] dari dalam maupun dari luar, sehingga Gereja dapat dengan setia menyatakan di dunia, meskipun dengan samar-samar, misteri Tuhannya sampai akhirnya, misteri tersebut dinyatakan di dalam terang yang sempurna.” ((Konsili Ekumenis Vatikan II,  Konstitusi Dogmatis tentang Gereja Lumen Gentium, 8.))

Dalam perspektif ini, Tahun Iman adalah suatu panggilan kepada sebuah pertobatan yang sejati dan baru kepada Tuhan, satu-satunya  Juruselamat dunia. Di dalam misteri wafat dan kebangkitan-Nya, Allah telah menyatakan di dalam kepenuhannya Kasih yang menyelamatkan dan memanggil kita kepada pertobatan hidup melalui pengampunan dosa-dosa (lih. Kis 5:31). Bagi Santo Paulus, Kasih ini menghantar kita ke dalam suatu kehidupan baru: “Kita telah dikuburkan… bersama-sama dengan Dia oleh baptisan dalam kematian, supaya, sama seperti Kristus telah dibangkitkan dari antara orang mati oleh kemuliaan Bapa, demikian juga kita akan hidup dalam hidup yang baru” (Rom 6:4). Oleh iman, hidup yang baru ini memberi wujud bagi seluruh keberadaan manusia sesuai dengan kenyataan baru yang radikal dari kebangkitan Tuhan. Sejauh ia dengan bebas bekerjasama, pikiran-pikiran manusia dan perasaan-perasaannya, mentalitas dan perilakunya sedikit demi sedikit dimurnikan dan diubah, dalam suatu perjalanan yang tidak pernah akan sepenuhnya selesai di dalam kehidupan ini. “Iman yang bekerja oleh kasih” (Gal 5:6) menjadi kriteria baru bagi pemahaman dan tindakan yang mengubah seluruh hidup manusia (lih. Rom 12:2; Kol 3:9-10; Ef 4:20-29; 2Kor 5:17).

PEMBAHARUAN IMAN MELALUI EVANGELISASI SEBAGAI PENGALAMAN KASIH

7. “Kasih Kristus menguasai kita” (2Kor 5:14): Kasih Kristuslah yang memenuhi hati kita dan mendorong kita untuk melakukan evangelisasi. Sekarang ini, seperti di waktu yang dulu, Kristus mengutus kita melalui lorong-lorong dunia ini untuk memberitakan Injil-Nya kepada seluruh bangsa di bumi (lih. Mat 28:16). Melalui kasih-Nya, Yesus Kristus menarik kepada diri-Nya bangsa-bangsa dari segala keturunan: di dalam setiap zaman Dia menghimpun Gereja, mempercayakan kepadanya pewartaan Injil oleh sebuah mandat yang senantiasa baru. Pada zaman sekarangpun, terdapat sebuah kebutuhan akan komitmen gerejawi yang lebih kuat bagi suatu evangelisasi baru, agar supaya orang menemukan kembali suka cita dalam percaya dan kegairahan untuk mengkomunikasikan iman. Dalam menemukan kembali kasih-Nya dari hari ke hari, komitmen perutusan dari umat beriman mencapai kekuatan dan kegairahan yang tak pernah dapat pudar.  Iman bertumbuh apabila ia dihidupi sebagai pengalaman kasih yang telah diterima, dan ketika iman dikomunikasikan sebagai suatu pengalaman rahmat dan suka cita. Iman itu membuat kita berbuah, sebab ia memperluas hati kita di dalam pengharapan dan memampukan kita untuk memberi kesaksian yang menghidupkan: memang, iman itu membuka hati dan budi mereka yang mendengarkan dan menanggapi undangan Tuhan untuk melekat kepada sabda-Nya dan menjadi murid-murid-Nya. Orang-orang yang percaya, demikian Santo Agustinus mengatakan pada kita, “menguatkan diri mereka sendiri dengan percaya.” ((De Utilitate Credendi, I:2.)) Uskup Hippo yang kudus itu memiliki alasan yang tepat untuk mengungkapkan dirinya dengan cara ini. Sebagaimana kita ketahui, hidupnya merupakan suatu pencarian terus-menerus akan keindahan iman sampai suatu saat ketika hatinya menemukan istirahat dalam Allah. ((Konsili Ekumenis Vatikan II, Konstitusi tentang Liturgi Suci Sacrosanctum Concilium, 10.)) Karya tulisnya yang luas dan lengkap, yang di dalamnya Agustinus memberi penjelasan tentang pentingnya percaya dan kebenaran iman, sampai sekarang tetap terus membentuk warisan kekayaan yang tiada taranya, dan tetap membantu banyak orang yang mencari Allah untuk menemukan jalan yang benar menuju “pintu kepada iman”.

Karena itu, hanya melalui percaya, iman bertumbuh dan menjadi lebih kuat; tidak ada kemungkinan lain untuk memiliki kepastian tentang kehidupan, kecuali dengan penyerahan diri sendiri, dengan suatu kesetiaan yang terus menguat [crescendo], ke dalam rangkulan sebuah cinta yang sepertinya terus bertumbuh tanpa henti karena cinta itu berasal dari Allah.

RENUNGAN AKAN IMAN WAJIB DIINTENSIFKAN

8. Pada kesempatan yang membahagiakan ini, saya ingin mengundang saudara-saudara saya para Uskup seluruh dunia untuk bergabung bersama dengan Penerus Petrus selama masa yang penuh dengan rahmat rohani yang dianugerahkan Tuhan kepada kita, dengan mengingat anugerah iman yang sangat berharga itu. Kita hendak merayakan Tahun itu dengan cara yang pantas dan berbuah. Renungan tentang iman harus dikuatkan, agar membantu semua umat yang beriman kepada Kristus untuk memperoleh keterpautan yang lebih disadari dan lebih bersemangat, kepada Injil, khususnya pada saat terjadi perubahan yang mendalam seperti yang sedang dialami oleh umat manusia pada saat ini. Kita akan mendapat kesempatan untuk mengakui iman kita akan Tuhan yang bangkit di gereja-gereja katedral kita dan di gereja-gereja di seluruh dunia; di rumah-rumah kita dan di antara kaum keluarga kita, sehingga setiap orang dapat merasakan kebutuhan yang kuat untuk mengetahui dengan lebih baik dan untuk meneruskan kepada generasi yang akan datang iman segala zaman tersebut. Komunitas-komunitas biara seperti juga komunitas-komunitas paroki, dan semua lembaga-lembaga gerejawi, baik yang lama maupun yang baru, semuanya harus menemukan cara sepanjang Tahun ini, untuk membuat pengakuan syahadat (Credo) secara publik.

UMAT DIHARAPKAN MEWUJUDKAN PENGAKUAN IMAN SECARA LEBIH SADAR

9. Pada tahun ini kita hendak membangkitkan dalam diri setiap orang beriman aspirasi untuk mengakui iman dalam kepenuhannya dan dengan keyakinan yang baru, dengan penuh kepercayaan dan harapan. Tahun tersebut juga akan menjadi sebuah kesempatan yang baik untuk mengintensifkan perayaan iman itu di dalam liturgi, teristimewa di dalam perayaan Ekaristi, yang adalah “puncak ke mana seluruh kegiatan Gereja diarahkan; … dan juga adalah sumber dari mana seluruh kekuatan Gereja itu mengalir”. ((Konsili Ekumenis Vatikan II, Konstitusi tentang Liturgi Suci, Sacrosanctum Concilium, 10.)) Pada saat yang sama, kita berdoa agar kesaksian hidup umat beriman dapat bertumbuh semakin meyakinkan. Menemukan kembali isi iman yang diakui, dirayakan, dihayati dan didoakan, ((Lih. Paus Yohannes Paulus II, Konstitusi Apostolik Fidei Depositum (11 Oktober 1992): AAS 86 (1994), 116. )) dan merenungkan kembali tentang tindakan iman, adalah tugas yang harus dijadikan sebagai tugasnya sendiri oleh setiap umat beriman, khususnya selama Tahun Iman ini.

Bukan tanpa alasan, umat Kristiani pada abad-abad awal dituntut untuk menghafalkan pengakuan iman tersebut. Bagi mereka hal itu menjadi doa setiap hari, agar tidak lupa pada komitmen yang telah mereka ikrarkan di dalam Pembaptisan mereka. Dengan kata-kata yang sarat makna, Santo Agustinus berbicara tentang hal ini di dalam homili tentang redditio symboli, tentang penyerah-alihan (penerusan) pengakuan iman: “Simbol misteri kudus yang telah kalian terima bersama dan yang pada hari ini telah kalian ucapkan kembali satu demi satu, adalah perkataan yang atasnya iman Bunda Gereja didirikan dengan kokoh di atas landasan yang stabil, yang adalah Kristus Tuhan. Kalian telah menerimanya, dan mengucapkannya, namun kalian harus tetap memeliharanya di dalam budi dan hati sanubari kalian, kalian harus tetap mengulanginya di tempat tidur kalian,  mengingat-ingatnya di tempat-tempat publik, dan tidak melupakannya sementara kalian makan, bahkan ketika kalian sedang tidurpun, kalian harus tetap menjaganya dengan hati kalian.” ((Sermo 215:1.))

TINDAKAN IMAN

10. Di sini saya ingin membuat sketsa sebuah jalan yang dimaksudkan untuk membantu kita memahami secara lebih mendalam, bukan saja isi iman itu, melainkan juga tindakan yang dengannya kita memilih untuk mempercayakan diri kita sepenuhnya kepada Allah, dengan penuh kebebasan. Pada kenyataannya,  terdapat kesatuan yang mendalam antara tindakan yang dengannya kita beriman dan isi iman yang kepadanya kita memberikan persetujuan kita. Santo Paulus membantu kita masuk ke dalam kenyataan ini ketika dia menulis: “Dengan hati orang percaya dan dibenarkan, dan dengan mulut orang mengaku dan diselamatkan” (Rom 10:10). Hati menunjukkan bahwa tindakan pertama yang membawa seseorang menjadi percaya adalah anugerah Allah dan perbuatan rahmat yang bertindak dan mengubah seseorang dari dalam.

SEBAGAI LANJUTAN DARI HATI YANG DIGERAKKAN OLEH RAHMAT ILAHI

Teladan Lydia secara khusus menjadi sangat tepat dalam hal ini. Santo Lukas menceriterakan bahwa, ketika ia berada di Filipi, pada suatu hari Sabat, Paulus memberitakan Injil kepada beberapa wanita, di antaranya adalah Lydia dan “Tuhan membuka hatinya, sehingga ia memperhatikan apa yang dikatakan oleh Paulus” (Kis 16:14). Di dalam ungkapan ini terkandunglah suatu makna yang penting. Santo Lukas mengajarkan bahwa pemahaman isi dari yang harus diimani tidaklah memadai jika hati, yaitu tempat kudus yang sejati di dalam diri seseorang, tidak turut dibuka oleh rahmat yang membuat mata dapat melihat apa yang ada di bawah permukaan dan mamahami, bahwa apa yang telah diwartakan adalah Sabda Allah.

DILANJUTKAN DENGAN PENGAKUAN IMAN DAN KOMITMEN

Pengakuan dengan mulut pada gilirannya menunjukkan, bahwa iman melibatkan pengakuan secara publik dan komitmen. Seorang Kristiani tidak pernah boleh berpikir bahwa beriman adalah tindakan pribadi saja. Beriman adalah memilih untuk memihak kepada Allah agar dengan demikian hidup dengan Dia. “Memihak kepada Dia” ini menunjuk kepada pemahaman akan alasan-alasan mengapa menjadi percaya. Justru karena iman adalah suatu tindakan yang bebas, iman juga menuntut tanggungjawab sosial atas apa yang diimaninya. Pada hari Pentakosta, Gereja menunjukkan dengan sejelas-jelasnya dimensi publik dari keimanan dan pewartaan iman ini tanpa takut, kepada setiap orang. Karunia Roh Kuduslah yang membuat kita siap untuk diutus dan yang menguatkan kesaksian kita, serta menjadikannya terus-terang dan berani.

ADALAH SUATU TINDAKAN PRIBADI, DAN JUGA BERSIFAT KOMUNITAS

Pengakuan iman adalah suatu tindakan yang selain bersifat pribadi, tetapi juga bersifat komunitas. Gerejalah yang menjadi subjek utama dari man. Di dalam iman dari komunitas Kristiani, setiap individu menerima baptisan, suatu tanda efektif tentang pintu masuk ke dalam kalangan umat beriman untuk memperoleh keselamatan. Sebagaimana kita membaca di dalam buku Katekismus Gereja Katolik: “Aku percaya”, adalah iman Gereja, yang diakui secara pribadi oleh setiap orang percaya, terutama pada waktu Pembaptisan. “Kami percaya”  adalah iman Gereja, yang diakui oleh para Uskup yang berkumpul di dalam konsili atau secara lebih umum oleh pertemuan liturgis umat beriman. “Aku percaya”: adalah juga Gereja, ibu kita, dalam menanggapi Allah dengan iman sebagaimana ia mengajarkan kita berkata: baik “aku percaya”, maupun “kami percaya”. ((Katekismus Gereja Katolik, 167))

Jelaslah, bahwa pengetahuan akan isi iman adalah hakiki bagi seseorang untuk dapat memberikan persetujuannya, yaitu untuk mengikatkan diri sepenuhnya, dengan segenap akal-budi dan kehendaknya, kepada apa yang disampaikan oleh Gereja. Pengetahuan akan iman membuka pintu masuk ke dalam kepenuhan misteri keselamatan yang diwahyukan Allah. Persetujuan yang kita berikan itu berarti bahwa ketika kita percaya, kita menerima dengan bebas seluruh misteri iman, sebab penjamin dari kebenarannya adalah Allah, yang mewahyukan diri-Nya sendiri dan mengizinkan kita mengetahui misteri cinta-kasih-Nya. ((Lih. Konsili Ekumenis Vatikan I, Konstitusi Dogmatis tentang Iman Katolik, Dei Filius, Bab. III: DS 3008-3009: Konsili Ekumenis Vatikan II, Konstitusi Dogmatis tentang Wahyu Ilahi, Dei Verbum, 5.))

Di sisi lain, kita tidak boleh lupa, bahwa di dalam konteks budaya kita, ada banyak bangsa, yang meskipun tidak meng-klaim memiliki anugerah iman itu, namun secara tulus mencari makna yang tertinggi dan kebenaran yang pasti tentang hidup mereka dan dunia. Pencarian ini merupakan “pendahuluan” yang otentik kepada iman, karena ia menuntun orang pada jalan yang membawanya kepada misteri Allah. Sebenarnya, akal-budi manusia mengandung di dalam dirinya sendiri tuntutan bagi “apa yang selamanya sah dan langgeng”. ((Benediktus XVI, Sambutan di  Collège des Bernardins, Paris (12 September 2008): AAS100 (2008), 722.)) Tuntutan ini mengandung suatu panggilan yang tetap, yang terpatri secara tak-terhapuskan di dalam hati manusia, untuk mulai bergerak mencari Dia, yang tidak akan kita cari seandainya Dia tidak lebih dahulu bergerak untuk menemukan kita. ((Lih. Santo Augustinus, Confessions, XIII:1)). Pada perjumpaan inilah, iman mengundang kita dan iman membuka kita sepenuhnya.

KATEKISMUS ADALAH SARANA UNTUK MENGENAL ISI IMAN SECARA SISTEMATIK

11. Untuk sampai pada pemahaman yang sistematik akan isi iman itu, semua orang dapat menemukannya di dalam buku Katekismus Gereja Katolik, suatu sarana-bantu yang sangat berharga dan tak tergantikan.  Katekismus adalah salah satu dari buah-buah terpenting Konsili Vatikan Kedua. Dalam Konstitusi Apostolik Fidei Depositum, yang ditandatangani, bukan karena kebetulan, pada Hari Ulang Tahun yang ke tiga-puluh pembukaan Konsili Vatikan Kedua, Beato Yohanes Paulus II menulis: ”Katekismus ini akan menjadi suatu kontribusi yang sangat penting bagi karya pembaruan seluruh kehidupan Gereja … Saya menyatakan Katekismus menjadi suatu alat bantu yang sah dan legitim bagi persekutuan gerejawi dan menjadi norma yang pasti bagi pengajaran iman”. ((Paus Yoannes Paulus II, Konstitusi Apostolik Fidei Depositum (11 Oktober 1992): AAS 86 (1994), 115 dan 117.))

MENGAJARKAN KITA KEBENARAN YANG HAKIKI AKAN IMAN KITA

Dalam arti inilah bahwa Tahun Iman harus mengupayakan suatu usaha terpadu untuk menemukan kembali dan untuk mempelajari isi fundamental dari iman yang dirangkum secara sistematis dan organik di dalam Katekismus Gereja Katolik. Di sinilah, sebenarnya, kita melihat kekayaan ajaran yang telah diterima oleh Gereja, dijaga dan diwartakannya sepanjang dua ribu tahun sejarah keberadaannya. Dari Kitab Suci, sampai ke para Bapa Gereja, dari para pakar teologi sampai ke para orang kudus sepanjang segala abad, Katekismus tersebut memberikan rekaman yang tetap tentang banyak cara yang di dalamnya Gereja telah merenungkan iman itu dan telah membuat kemajuan di dalam ajaran, sehingga memberikan kepastian kepada umat beriman di dalam kehidupan iman mereka.

DENGAN DIIRINGI OLEH BANTUAN LITURGI DAN SAKRAMEN-SAKRAMEN

Dalam strukturnya yang seperti itu, Katekismus Gereja Katolik  mengikuti perkembangan iman langsung tentang tema-tema besar dalam kehidupan sehari-hari. Di setiap halamannya, kita temukan bahwa apa yang disajikan di sini bukanlah teori belaka, akan tetapi suatu perjumpaan dengan Seorang Pribadi yang hidup di dalam Gereja. Pengakuan iman diikuti oleh penerimaan kehidupan sakramental yang di dalamnya Kristus hadir, bertindak dan terus membangun Gereja-Nya. Tanpa liturgi dan sakramen-sakramen, pengakuan iman akan kehilangan daya gunanya, sebab ia akan kehilangan rahmat yang mendukung kesaksian Kristiani. Melalui persyaratan yang sama, ajaran Katekismus tentang kehidupan moral memperoleh arti yang penuh, apabila ditempatkan di dalam keterikatannya dengan iman, liturgi dan doa.

DIPERLUKAN BANTUAN DARI KONGREGASI UNTUK AJARAN IMAN DAN DIKASTERI-DIKASTERI TAHTA SUCI

12. Maka, di dalam Tahun Iman ini, Katekismus Gereja Katolik  akan dipergunakan sebagai alat bantu untuk memberikan dukungan nyata bagi iman, terutama bagi mereka yang terkait dengan pembentukan/pembinaan umat Kristiani, yang sangat krusial dalam konteks budaya kita. Untuk tujuan ini, saya telah mengundang Kongregasi untuk Ajaran Iman, dalam kesepakatan dengan Dikasteri-dikasteri Takhta Suci yang kompeten, untuk menyusun sebuah Nota, yang akan memberikan kepada Gereja dan kepada umat beriman secara individu, beberapa patokan tentang bagaimana harus menghayati Tahun Iman ini dengan cara yang se-efektif dan se-tepat mungkin, bagi kepentingan iman dan pewartaan (evangelisasi).

Dalam skala yang lebih besar dari pada di masa yang lampau, sekarang ini iman dihantam dengan serangkaian pertanyaan yang muncul dari suatu sikap mental yang telah berubah, yang, khususnya dewasa ini, membatasi bidang kepastian-kepastian rasional kepada bidang penemuan-penemuan ilmiah dan teknologi. Namun demikian, Gereja tidak pernah merasa takut untuk tetap menunjukkan, bahwa tidak mugkin ada pertentangan antara iman dan ilmu pengetahuan yang sejati, sebab keduanya, kendatipun melalui jalur yang berbeda, mengarah kepada kebenaran. ((Lih.  Paus Yoannes Paulus II, Ensiklik Fides et Ratio (14 September 1998), 34, 106: AAS 91 (1999), 31-32, 86-87.))

KESAKSIAN IMAN DARI PARA KUDUS

13. Satu hal yang akan menentukan dalam Tahun Iman ini adalah, penelusuran sejarah iman kita, yang ditandai sebagaimana adanya dengan misteri yang tak terpahami tentang keterjalinan antara kekudusan dan dosa. Sementara hal yang pertama menyoroti kontribusi besar yang telah dilakukankan oleh para laki-laki atau perempuan bagi pertumbuhan dan perkembangan komunitas melalui kesaksian hidup mereka, hal yang kedua harus membangkitkan di dalam setiap orang suatu karya yang tulus dan berkesinambungan tentang pertobatan untuk mengalami belas kasihan Bapa, yang ditawarkan kepada semua orang.

YESUS SEBAGAI MODEL KEHIDUPAN IMAN

Selama waktu ini kita perlu untuk tetap menjaga pandangan kita kepada Yesus Kristus, “yang memimpin kita dalam iman, dan yang membawa iman kita itu kepada kesempurnaan” (Ibr 12:2): di dalam Dia, semua kekhawatiran dan semua kerinduan hati manusia mendapatkan pemenuhannya. Sukacita kasih, jawaban atas drama penderitaan dan kesakitan, kekuatan pengampunan di hadapan sebuah penghinaan yang diterima dan kemenangan hidup atas kehampaan kematian: semuanya ini menemukan kepenuhannya di dalam misteri Inkarnasi-Nya, ketika Dia menjadi manusia, ketika Dia mengambil bagian di dalam kelemahan manusiawi kita, agar dapat mengubahnya dengan kuasa kebangkitan-Nya. Di dalam Dia yang telah wafat dan bangkit kembali demi keselamatan kita, contoh teladan iman yang telah menandai dua ribu tahun sejarah keselamatan kita ini dibawa ke dalam kepenuhan terang.

TELADAN DARI BUNDA MARIA

Dengan iman, Maria menerima kata-kata Malaikat dan percaya kepada pesan bahwa ia akan menjadi Bunda Allah di dalam ketaatan kesalehannya (lih. Luk 1:38). Ketika mengunjungi Elisabet, ia melambungkan madah pujiannya kepada Yang Mahatinggi karena karya-karya ajaib yang telah dikerjakan-Nya di dalam diri mereka yang menaruh kepercayaan kepada-Nya (lih. Luk 1:46-55). Dengan sukacita dan kegentaran ia melahirkan anaknya yang tunggal, dengan tetap mempertahankan keperawanannya (lih. Luk 2:6-7). Sambil tetap mempercayai Yusuf, suaminya, ia membawa Yesus ke Mesir untuk menyelamatkan-Nya dari penganiayaan Herodes (lih. Mat 2:15-17). Dengan iman yang sama, ia mengikuti Tuhan di dalam pewartaan-Nya dan tetap menyertai-Nya sampai akhir ke Golgota (lih. Yoh 19:25-27). Dengan iman, Maria mengecap buah-buah kebangkitan Yesus dan tetap menyimpan setiap kenangan di dalam hatinya (lih. Luk 2:19,51). Ia menyerahkan semua itu kepada Keduabelas Rasul yang berkumpul di Ruang Atas untuk menerima Roh Kudus (lih. Kis 1:14-2:1-4).

KEHIDUPAN IMAN PARA RASUL

Dengan iman, para Rasul telah meninggalkan segalanya dan mengikuti Tuhan mereka (lih. Mat 10:28). Mereka percaya kepada kata-kata yang dengannya Ia mewartakan Kerajaan Allah yang telah datang dan dipenuhi di dalam diri-Nya (lih. Luk 11:20). Mereka hidup di dalam persekutuan dengan Yesus yang membina mereka dengan ajaran-Nya, yang mewariskan kepada mereka suatu peraturan baru tentang hidup, dengan mana mereka akan dikenal sebagai murid-murid-Nya setelah kematian-Nya (lih. Yoh 13:34-35). Dengan iman, mereka pergi ke seluruh dunia, mengikuti perintah-Nya untuk mewartakan Injil kepada semua ciptaan (lih. Mrk 16:15) dan mereka tanpa takut mewartakan kepada semua orang sukacita kebangkitan, yang tentangnya mereka adalah saksi-saksi yang setia.

CONTOH HIDUP PARA MURID YESUS

Dengan iman, para murid membentuk komunitas yang pertama, yang dihimpun di sekeliling ajaran para Rasul, di dalam doa, di dalam perayaan Ekaristi, sambil mempertahankan kepunyaan mereka sebagai milik bersama agar dengan demikian mereka memenuhi kebutuhan saudara-saudara mereka (lih. Kis. 2:42-47).

MARTIR MENYERAHKAN HIDUP DEMI IMAN

Dengan iman, para martir menyerahkan hidup mereka, dengan memberikan kesaksian kepada kebenaran Injil yang telah mengubah hidup mereka dan membuat mereka mampu mencapai pemberian terbesar dari cinta-kasih: pengampunan bagi para penganiaya mereka.

KESAKSIAN DARI PARA RELIGIUS

Dengan iman, para pria dan wanita telah membaktikan hidup mereka di dalam Kristus, dengan meninggalkan segala sesuatu, agar dapat hidup dalam ketaatan, kemiskinan dan kemurnian dalam kesederhanaan injili, sebagai tanda nyata penantian akan Tuhan yang datang tanpa tertunda. Dengan iman, tak terbilang banyaknya umat Kristiani telah memajukan tindakan bagi keadilan sehingga dengan demikian mereka melaksanakan sabda Tuhan, yang datang untuk mewartakan pembebasan dari penindasan dan mewartakan suatu tahun penuh kebaikan bagi semua orang (lih. Luk 4:18-19).

KESAKSIAN DARI BANYAK UMAT KRISTIANI DARI SEGALA ABAD

Dengan iman, sepanjang segala abad, pria dan wanita dari segala usia, yang namanya tercatat di dalam Kitab Kehidupan (lih.Why 7:9; 13:8), telah mengakui keindahan mengikuti Tuhan Yesus kemanapun mereka dipanggil untuk memberi kesaksian terhadap kenyataan, bahwa mereka adalah orang-orang Kristiani: di dalam keluarga, di tempat kerja, dalam kehidupan publik, di dalam melaksanakan kharisma-kharisma dan pelayanan- pelayanan yang kepadanya mereka dipanggil.

Dengan iman, kita juga hidup: dengan menghayati pengakuan yang hidup akan Tuhan Yesus, yang hadir di dalam hidup kita dan di dalam sejarah kita.

MELAKSANAKAN KESAKSIAN HIDUP DALAM CINTA KASIH

14. Tahun Iman juga akan menjadi sebuah kesempatan yang baik untuk menguatkan kesaksian amal kasih. Sebagaimana Santo Paulus mengingatkan kita: “Demikianlah tinggal ketiga hal ini, yaitu iman, pengharapan dan kasih, dan yang paling besar di antaranya ialah kasih” (1 Kor 13:13). Bahkan dengan kata-kata yang lebih kuat, ‒yang telah senantiasa menempatkan umat Kristiani di bawah kewajiban,‒  Santo Yakobus mengatakan: “Apakah gunanya, saudara-saudaraku, jika seorang mengatakan, bahwa ia mempunyai iman, padahal ia tidak mempunyai perbuatan? Dapatkah iman itu menyelamatkan dia? Jika seorang saudara atau saudari tidak mempunyai pakaian dan kekurangan makanan sehari-hari, dan seorang dari antara kamu berkata: “Selamat jalan, kenakanlah kain panas dan makanlah sampai kenyang!”, tetapi ia tidak memberikan kepadanya apa yang perlu bagi tubuhnya, apakah gunanya itu? Demikian juga halnya dengan iman: Jika iman itu tidak disertai perbuatan, maka iman itu pada hakekatnya adalah mati. Tetapi mungkin ada orang berkata: “Padamu ada iman dan padaku ada perbuatan”, aku akan menjawab dia: “Tunjukkanlah kepadaku imanmu itu tanpa perbuatan, dan aku akan menunjukkan kepadamu imanku dari perbuatan-perbuatanku” (Yak 2:14-18).

HUBUNGAN ANTARA IMAN DAN CINTA KASIH

Iman tanpa kasih tidak akan menghasilkan buah, sedangkan kasih tanpa iman hanya akan menjadi suatu perasaan yang terus menerus berada di bawah kuasa kebimbangan. Iman dan kasih saling mensyaratkan satu sama lain, sedemikian rupa di mana yang satu akan membiarkan yang lain untuk tampil menurut jalurnya sendiri-sendiri. Memang, banyak orang Kristiani membaktikan hidupnya dengan kasih bagi mereka yang sendirian, yang terpinggirkan atau terkucilkan, sebagaimana juga bagi mereka yang pertama-tama menuntut perhatian kita dan yang paling penting bagi kita untuk dibantu, sebab justru di dalam diri merekalah  nampak cerminan wajah Kristus sendiri. Melalui iman, kita dapat mengenali wajah Tuhan yang bangkit di dalam diri mereka yang meminta kasih kita. “Sesungguhnya, segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku” (Mat 25:40). Kata-kata ini adalah peringatan yang harus tidak boleh dilupakan dan undangan yang tetap bagi kita untuk membalas kasih yang dengannya Tuhan memelihara kita. Imanlah yang memampukan kita mengenali Kristus dan kasih-Nyalah yang mendorong kita untuk membantu-Nya kapan saja Dia menjadi sesama kita di sepanjang perjalanan hidup kita. Didukung oleh iman, marilah kita memandang dengan penuh harap kepada komitmen kita di dunia, sambil kita menantikan “langit yang baru dan dunia yang baru, di mana terdapat kebenaran” (2Ptr 3:13; lih. Why 21:1).

UNDANGAN SANTO PAULUS UNTUK TUMBUH DALAM IMAN

15. Ketika sampai pada akhir hidupnya, Santo Paulus meminta Timotius muridnya untuk “mengejar iman” (lih. 2Tim 2:22) dengan kesetiaan yang sama seperti ketika ia masih muda (lih. 2Tim 3:15). Kita mendengar undangan ini ditujukan juga kepada kita masing-masing, supaya jangan ada di antara kita yang menjadi malas di dalam iman. Adalah [sebagai] pendamping sepanjang hidup inilah yang membuat iman mampu untuk memahami, secara baru, keajaiban-keajaiban yang Tuhan lakukan bagi kita. Sambil bermaksud mengumpulkan tanda-tanda zaman di dalam sejarah kita sekarang ini, iman membuat setiap kita menjadi tanda yang hidup akan kehadiran Tuhan yang bangkit di dunia ini. Apa yang secara khusus dibutuhkan oleh dunia sekarang ini adalah kesaksian yang dapat dipercaya dari orang-orang yang memperoleh pencerahan di dalam budi dan hatinya oleh sabda Tuhan dan yang mampu membuka hati dan budi banyak orang untuk merindukan Allah dan kehidupan yang sejati, kehidupan tanpa akhir.

HARAPAN PAUS BENEDIKTUS XVI BAGI TAHUN IMAN

“Supaya firman Tuhan beroleh kemajuan dan dimuliakan” (2Tes 3:1): semoga Tahun Iman ini membuat hubungan kita dengan Kristus Tuhan, semakin bertambah teguh, karena hanya di dalam Dialah ada kepastian untuk memandang ke masa depan dan jaminan kasih yang sejati dan tetap. Semoga kata-kata Santo Petrus ini dapat memberikan seberkas sinar yang terakhir atas iman: “Bergembiralah akan hal itu, sekalipun sekarang ini kamu seketika harus berdukacita oleh berbagai-bagai pencobaan. Maksud semuanya itu ialah untuk membuktikan kemurnian imanmu — yang jauh lebih tinggi nilainya dari pada emas yang fana, yang diuji kemurniannya dengan api — sehingga kamu memperoleh puji-pujian dan kemuliaan dan kehormatan pada hari Yesus Kristus menyatakan diri-Nya. Sekalipun kamu belum pernah melihat Dia, namun kamu mengasihi-Nya. Kamu percaya kepada Dia, sekalipun kamu sekarang tidak melihat-Nya. Kamu bergembira karena sukacita yang mulia dan yang tidak terkatakan, karena kamu telah mencapai tujuan imanmu, yaitu keselamatan jiwamu” (1Ptr 1:6-9). Hidup umat Kristiani mengenal baik pengalaman sukacita maupun pengalaman penderitaan. Betapa banyak orang-orang kudus yang telah hidup di dalam kesendirian! Betapa banyak umat beriman, bahkan sampai hari ini, dicobai oleh keheningan Allah, ketika mereka lebih merindukan untuk mendengar suara-Nya yang menghibur! Percobaan-percobaan hidup, sementara membantu kita untuk memahami misteri salib dan turut mengambil bagian di dalam penderitaan Kristus (lih. Kol 1:24),  adalah juga suatu pendahuluan kepada sukacita dan harapan ke mana iman mengarahkan: “jika aku lemah, maka aku kuat” (2Kor 12:10). Kita percaya dengan kepastian yang kokoh bahwa Tuhan Yesus telah mengalahkan kejahatan dan kematian. Dengan kepercayaan yang pasti ini kita mempercayakan diri kita kepada-Nya: Ia, yang hadir di tengah-tengah kita, mengalahkan kuasa si jahat (lih. Luk 11:20) dan Gereja, persekutuan yang nampak dari belas-kasih-Nya, tinggal di dalam Dia sebagai suatu tanda bagi rekonsiliasi yang definitif dengan Bapa.

Marilah kita mempercayakan saat rahmat ini kepada Bunda Allah, yang diwartakan sebagai, “berbahagialah ia, yang telah percaya“ (Luk 1:45).

 

Dikeluarkan di Roma, di Basilika Santo Petrus, pada tanggal 11 Oktober 2011, tahun kepausan saya yang ke tujuh.
PAUS BENEDIKTUS XVI

 

Catatan:

Terjemahan dilakukan oleh katolisitas.org  : https://katolisitas.org/8142/surat-apostolik-dari-paus-benediktus-xvi-pintu-kepada-iman. Judul tambahan untuk mempermudah mempelajari isi dokumen adalah tanggung jawab Romo F.X. Zen Taufik (fr.franciszen@gmail.com).

Terima kasih kepada Rm. Zen yang telah memberikan masukan untuk revisi terjemahan di beberapa bagian dalam dokumen ini.

Hanya dipergunakan untuk kalangan terbatas.

Didache/ Didakhe

14

Didache adalah peninggalan para rasul yang sungguh sangat berharga. Untuk menjawab beberapa pertanyaan seputar Didache, kami mengacu kepada buku The New Catholic Enclyclopedia, The Catholic University of America, Washington DC, 1967, Book 4, p. 859, dan kepada New Advent Encyclopedia, yang secara online dapat anda baca di link ini, silakan klik:

1. Siapa yang menuliskan Didache?

Didache adalah suatu karya tulis yang sering disebut- sebut oleh beberapa Bapa Gereja sebagai tulisan yang penting setelah Kitab Suci. Memang tidak dapat dibuktikan secara eksplisit bahwa tulisan tersebut dituliskan sendiri oleh kedua belas rasul, namun melalui gaya penulisan dan isi yang disampaikan dapat disimpulkan bahwa kitab tersebut disusun sebelum tahun 80 (65-80) nampaknya tidak lebih belakang dari tulisan- tulisan Rasul Paulus. Maka diperkirakan Didache dituliskan pada saat yang bersamaan dengan Injil, kemungkinan dituliskan di Antiokhia.

Eusebius dari Caesarea (263-339), dalam bukunya, Church History, III.25.4 telah mengakui keberadaan Didache (the Teaching of the Apostles), dengan menyebutkannya paralel dengan the Acts of Paul, The Shepherd [of Hermas], the Apocalypse of Peter, Epistle of Barnabas [Surat Barnabas, bukan Injil Barnabas] dan juga the Apocalypse of John.

Philotheos Bryennios dari Nicomedia adalah orang yang menemukan dan mengidentifikasikan teks keseluruhan Didache (dated 1056) Teks ini kemudian disimpan di gereja Holy Sepulchre di Konstantinopel pada tahun 1873. Sepuluh tahun kemudian (1883) Bryennios memberikan kepada dunia, teks yang dikenal sebagai edisi pertama Didache, dengan pengantar dan komentar dalam bahasa Yunani.

Memang ada banyak orang yang meragukan keaslian tulisan ini, atau dianggap sebagai tulisan apokrif. Tetapi di samping itu, Didache tetap sukses mempertahankan daya kekuatannya untuk menyakinkan bahwa tulisan tersebut termasuk katagori tulisan- tulisan yang disusun oleh para rasul (apostolic fathers). Pandangan yang lebih seimbang menyebutkan Didache sebagai “Pengajaran para rasul” tanpa menyebutkan “keduabelas rasul”, mengingat bahwa kemungkinan yang menulis adalah para pengajar yang disejajarkan dengan para rasul, namun tidak termasuk dalam bilangan keduabelas rasul, seperti Rasul Paulus sendiri, Barnabas, Andronikus dan Junias dan para pengajar di tingkatan pertama, yang merupakan saksi langsung dari Tuhan Yesus, dan menerima panggilan tersebut secara istimewa.

2. Bagaimanakah sejarahnya sehingga dikeluarkan Didache?

Didache terdiri dari tiga bagian yaitu: 1) Dua Jalan (the Two Ways), jalan kehidupan dan jalan kematian 2) Ritual- ritual yang mengatur Pembaptisan, puasa, Komuni kudus, 3) Pelayanan.

Dari sumber yang ada, kita tidak dapat diketahui sejarahnya mengapa Didakhe dikeluarkan. Dugaan kami adalah tulisan tersebut dituliskan sebagai pelengkap ajaran- ajaran yang sudah tertulis dalam Kitab Suci, karena kita mengetahui bahwa Kitab Suci tidak menuliskan segala sesuatu sampai sedetail- detailnya tentang suatu ajaran. Maka para rasul berhak untuk menuliskan penjelasan tambahan untuk melengkapi ajaran Kitab Suci, dan inilah yang kemudian dikenal sebagai Didache.

Selanjutnya tentang isi ketiga bagian dalam Didache, secara garis besar dapat anda baca di link New Encyclopedia tersebut di atas.

3. Apakah Didakhe ini pengajarannya masih berlaku di Gereja Katolik?

seperti misalnya perintah berpuasa pada hari Rabu dan Jum’at pada setiap minggunya dan perintah-perintah lainnya?

Secara umum, pengajaran Didache ini merupakan sesuatu yang baik. Magisterium Gereja Katolik mengambil prinsip- prinsip umum yang diajarkan di dalamnya, termasuk tentang Pembaptisan, Komuni Kudus dan puasa. Namun ketentuan persisnya yang berlaku sekarang bagi kita adalah berdasarkan Katekismus Gereja Katolik dan Kitab Hukum Kanonik. Ketentuan tentang puasa bagi kita umat Katolik, sudah pernah dibahas di sini, silakan klik, dan di sini, silakan klik. Ya, menurut ketentuan KHK, umat Katolik wajib berpantang setiap hari Jumat sepanjang tahun, kecuali pada hari Jumat yang kebetulan jatuh pada hari raya/ dalam oktaf hari raya Natal dan Paska. Sedangkan pantang dan puasa wajib pada hari Rabu Abu dan Jumat Agung. Perlu diketahui bahwa persyaratan ini adalah persyaratan minimal, dan tentu saja dapat dilakukan lebih jika diinginkan.

4. Apakah pengajaran Didakhe ini juga diajarkan di Gereja non Katolik? Bolehkah pengajaran ini saya kenalkan pada umat Kristen yang non Katholik?

Didache adalah tulisan yang diperkirakan berasal dari abad pertama yang merupakan salah satu sumber yang membentuk Tradisi Suci. Gereja-gereja non Katolik umumnya berpegang kepada doktrin mereka yaitu Kitab Suci saja (Sola Scriptura), sehingga kemungkinan mereka tidak mempunyai penghormatan kepada tulisan- tulisan di luar Kitab Suci. Namun tentu saja, sebagai umat Katolik, kita dapat memperkenalkan isi Didache maupun tulisan para Bapa Gereja lainnya kepada umat Kristen non Katolik, karena melalui tulisan- tulisan tersebut sesungguhnya pemahaman kita akan Kitab Suci semakin diperkaya.

Dokumen KWI mengenai Pembaruan Hidup Kristiani Sebagai Karisma Roh

1

PEMBARUAN HIDUP KRISTIANI SEBAGAI KARISMA ROH

Pedoman Pembaruan Karismatik Katolik Indonesia 1995
Konferensi Waligereja Indonesia

Penerbit OBOR
Jl. Gunung Sahari 91
Jakarta Pusat 10610
Telp. 3860726

SURAT PENGANTAR PARA USKUP UNTUK PEDOMAN KARISMATIK 1995

Para imam, biarawan-biarawati, Pengurus Badan-badan Pelayanan Karismatik Katolik dan segenap umat beriman yang terkasih,

Melalui Anda sekalian, Pembaruan Karismatik Katolik sudah hadir secara resmi di Jakarta pada tahun 1976 dan dari situ menyebar ke beberapa daerah. Pedoman Pastoral para Uskup Indonesia mengenai Pembaruan Karismatik telah kami terbitkan pada tahun 1983. Sekarang Pembaruan Karismatik Katolik telah ada di hampir semua Keuskupan di Indonesia. Banyak pihak merasa memerlukan suatu bimbingan pastoral lagi dari para Bapa Uskup mengenai Pembaruan Karismatik Katolik. Maka kami telah menerbitkan Surat Gembala mengenai Pembaruan Karismatik pada tanggal 10 November 1993; tertuju kepada seluruh umat katolik demi kesatuan, persaudaraan dan kesepahaman seluruh umat. Sekarang kami, para Uskup seluruh Indonesia ingin menyampaikan suatu Pedoman yang terutama ditujukan terutama kepada anda sekalian yang tergabung dalam Pembaruan Karismatik Katolik. Dengan pedoman ini kami bermaksud memenuhi permintaan Badan Pelayanan Nasional Karismatik Katolik di Indonesia untuk membarui dan sekaligus melengkapi Pedoman yang dikeluarkan Majelis Agung Wali Gereja Indonesia pada tanggal 11 Februari 1983 itu.

“Pembaruan Gereja terus menerus” yang terjadi lewat interaksi semua kelompok pembaruan dan umat dalam seluruh Gereja menjadi latar belakang seluruh Pedoman ini. Kami, para uskup ingin bersama anda, para peserta Pembaruan Karismatik, dan bersama dengan kelompok-kelompok lainnya pula, selalu mencari kehendak Allah, serta menemukan bimbingan Roh Kudus bagi Gereja. Usaha “Mencari Bersama” itu kami laksanakan dalam rangka kesediaan untuk menyambut karisma Roh dalam Yesus Kristus.

Saudara-saudari yang terkasih, dengan penuh syukur kami telah mengalami peran-serta banyak dari anda dalam menggairahkan hidup rohani Gereja Indonesia. Justru karena kami menghargai buah-buah baik yang ada, dan ingin menjauhkan kita semua dari buah-buah yang tidak baik, maka kami menyampaikan Pedoman baru ini, dan menempatkan Pembaruan Karismatik Katolik di tengah pergumulan iman katolik seluruh umat.

Mengingat bahwa Pedoman ini bersifat umum, untuk seluruh Indonesia, kami memohon agar setiap Keuskupan, setiap daerah, dan setiap kelompok karismatik menangkap arahan pokoknya dan menerapkan Pedoman ini dalam keserasian dengan situasi dan kondisi setempat. Oleh karena itu, di setiap Keuskupan perlu ada Badan Pelayanan Keuskupan (BPK). Di situ suatu Buku Pegangan, yang lebih sesuai dengan kebutuhan serta situasi iman umat setempat, dapat dibuat bersama bersama dengan wakil yang ditunjuk oleh Pimpinan Keuskupan, sehingga sesuai dengan kebijakan dan bimbingan Uskup setempat. Badan Pelayanan Nasional diharapkan membantu pelaksanaannya. Bahkan jika situasi dan keadaan umat, lebih-lebih corak iman umat, begitu rupa, kami dapat mengerti bahwa demi perkembangan iman umat, seorang Uskup mengambil kebijakan untuk sementara waktu tidak memasukkan Persekutuan Doa Karismatik di daerah tertentu atau di seluruh Keuskupannya.

Kami harap, dengan sikap dasar yang digariskan dalam Pedoman ini, Gereja Indonesia tumbuh dan berkembang, berkat sikap saling mempengaruhi dari semua kelompok yang ada di dalamnya, saling membagikan apa yang baik yang berasal dari satu Roh Pembaru. Dengan demikian, meski ada bermacam-macam kelompok yang berbeda satu sama lain, Gereja tetap bersatu, bahkan diperkaya karenanya. Maka bersama St. Paulus kami para Uskup berseru kepada seluruh umat katolik “berusahalah memelihara kesatuan Roh oleh ikatan damai: satu tubuh dan satu Roh, sebagaimana kamu telah dipanggil kepada satu pengharapan yang terkandung dalam panggilanmu, satu Tuhan, satu iman, satu baptisan, satu Allah dan Bapa dari semua, Allah yang di atas semua dan oleh semua dan di dalam semua” (Ef 4:3-6)

Atas nama para Uskup Indonesia,

Ketua                                                                                         Sekretaris Jendral

(Julius Kardinal Darmaatmadja, S.J.)                          (Mgr.Martinus Situmorang, OFMCap)

ROH KUDUS PENDORONG EVANGELISASI BARU

1. Roh Kuduslah yang mengantar Gereja ke seluruh kebenaran, mempersatukan dalam persekutuan dan pelayanan, melengkapi dan membimbing dengan aneka karunia hirarkis serta karismatis. ((Bandingkan Konstitusi Dogmatis Konsili Vatikan II mengenai Gereja, a.14.)) Akhir-akhir ini, oleh Hirarki, yaitu dalam diri Paus Yohanes Paulus II, Gereja dibimbing menuju ke suatu Evangelisasi Baru, karena keadaan dunia berubah amat cepat. Semua anggota Gereja, terutama yang menggabungkan diri dalam arus pembaruan Gereja, diharapkan membarui diri dalam arah itu pula.

2. Maka dari itu, kita, seluruh umat katolik, perlu selalu mawas diri untuk menilai kembali apa-apa yang telah biasa kita lakukan. Kita harus mengkaji kembali, sejauh mana perlu ada perubahan dan pembaruan pada apa yang telah lazim dihidupi dan dijalankan, bahkan mungkin perlu mencari, menciptakan langkah dan cara baru, mengingat konteks kehidupan sudah berubah banyak. Bersama seluruh Gereja, Pembaruan Karismatik Katolik juga perlu membarui diri tanpa henti. Untuk itulah kami, para Uskup Indonesia, merasa perlu menyampaikan Pedoman Pastoral baru mengenai Pembaruan Hidup Kristiani dengan menyelami makna Karisma Roh yang saat ini berwarna dasar “membarui keterlibatan kita pada Evangelisasi Baru dalam kesatuan dengan seluruh umat”.

I. BERIMAN DI TENGAH MASYARAKAT YANG BERUBAH CEPAT

A. SITUASI MASYARAKAT

3. Bangsa kita dan banyak bangsa lain merasakan adanya kehausan untuk semakin meningkatkan kesejahteraan hidup. Kehausan itu dapat dipahami sebagai pelaksanaan pengutusan seluruh umat manusia dari Firdaus untuk menggarap dunia. ((Kej 1-2)) Dari pengalaman ternyata perbaikan ekonomi dapat membawa sejumlah perbaikan hidup, namun sebaliknya juga mengakibatkan munculnya hal-hal yang merugikan. Ekonomi sering disamakan dengan mengejar atau menumpuk harta dan materi. Meski bahaya materialisme negara ateis sudah susut dengan hancurnya negara-negara dengan sistem komunis, tetapi kapitalisme yang seringkali mendewa-dewakan materi dan modal kerap menginjak-injak harkat manusia. Dalam pola pembangunan semacam itu, orang mudah meremehkan hidup rohani, suara hati dan moral hidup keagamaan. Kita semua prihatin dengan situasi tersebut.

4. Jika orang merendahkan pribadi, meremehkan hidup iman dan hidup rohani, maka masyarakat tidak akan menghargai hidup bersama. Individualisme dan kecenderungan mencari kesenangan dan kepuasan diri akan menjadi warna utama setiap upaya di dunia politik, ekonomi, sosial, dan budaya, bahkan juga agama. Memang erat dan mendalamlah hubungan antara kepincangan di dunia politik, ekonomi, sosial, dan budaya dengan kemerosotan iman, moral, maupun hidup rohani.

5. Itulah sebabnya mengapa akhir-akhir ini pada banyak bangsa dan dalam pelbagai agama muncul aneka gerakan, baik untuk membarui hidup rohani, menghargai pribadi manusia, menjunjung tinggi persaudaraan, kebersamaan dan solidaritas, sampai dengan memperhatikan lingkungan hidup dan alam semesta. Namun demikian, tawaran dari pihak agama sering begitu banyak sehingga tidak sedikit umat kita menjadi bingung. Karena itu, orang berterimakasih sekali kalau ada yang menawarkan pandangan hidup yang utuh, pasti, dan memikat. Kami mengakui, bahwa bagi banyak orang, Pembaruan Karismatik Katolik berperan penting dalam pembaruan tersebut.

B. SITUASI GEREJA

6. Bersama dengan seluruh masyarakat Indonesia, kita juga mengalami “kegembiraan dan harapan, duka dan kecemasan”. ((Konstitusi Pastoral Konsili Vatikan II mengenai “Gereja dalam Dunia”, a.1.)) Kita bersyukur bahwa kemakmuran meningkat, namun kita semua ikut cemas dan merasa terancam oleh bahaya materialisme, individualisme, konsumerisme, hedonisme, pan seksualisme sampai ke bentuk-bentuk kemasyarakatannya dalam aneka penyelewengan.

7. Dalam pergumulan itu setiap bagian Gereja disentuh oleh Roh Kudus secara bersama-sama dan sekaligus secara khusus sesuai dengan kharisma masing-masing. Dalam arus pencurahan Roh Kudus, para Rasul menyaksikan Yesus diutus Bapa, mula-mula lewat peristiwa pembaptisanNya oleh Yohanes, ((Luk.3:1-20)) namun mereka akhirnya merasakan, daya pembebasanNya juga dinyatakan melalui diri mereka setelah KebangkitanNya, yakni lewat pencurahan Roh Kudus dengan peristiwa Pentakosta. Demikianlah umat perdana menghayati pengutusan mereka. ((Bdk. Kis. 1:5 dan 2:17-36))

8. Dalam proses tersebut kita bersatu dengan gerak pembaruan Gereja semesta sepanjang segala abad. Gereja sendiri muncul sekitar Yesus, bersamaan dengan lahirnya aneka gerakan keagamaan yang tidak puas dengan pelaksanaan agama Yahudi saat itu. Kisah para Rasul Bab 15 dan banyak tulisan Perjanjian Baru menunjukkan bagaimana para murid Yesus Kristus tidak mau beku dalam kebiasaan lama. Ketika Santo Antonius dari Mesir dan pengikutnya menyepi ke gurun, tatkala Santo Benediktus mendirikan biara-biara, sampai ke jaman Santo Bernardus, tersiarlah karya Roh untuk selalu membarui hidup Gereja. Santo Dominikus, Santo Fransiskus dan Santa Clara dari Assisi, Santo Ignasius dan Loyola, Santa Theresia Avila dan Santo Yohanes dari Salib serta para pendiri tarekat di abad ke-19 adalah deretan orang-orang yang berusaha setia kepada panggilan Gereja untuk mendengarkan bimbingan Roh tanpa henti. Pada abad ke-20 banyak sekali orang awam yang terjun dalam “Gerakan Awam” dan membangun spiritualitas awam karena merasa didesak oleh Roh untuk membarui iman dan hidupnya. Pembaruan Karismatik Katolik pada hakikatnya tumbuh dalam arus pembaruan dari abad ke abad tersebut.

C. TANTANGAN TERHADAP UMAT BERIMAN

9. Dalam masyarakat massal dan dalam persekutuan-persekutuan umat yang pengikutnya melimpah ruah, sering diperlukan kesaksian bahwa iman menyentuh lubuk hati manusia. ((Konstitusi Pastoral Konsili Vatikan II mengenai “Gereja dalam Dunia”, a.7.)) Meski iman mempunyai segi sosial, ((1 Kor.14:24)) namun perlu disambut oleh masing-masing secara pribadi. Iman yang utuh itu dapat dilihat dan didengar orang serta dapat dikomunikasikan secara inderawi pula. ((Bdk. Kis. 2:33-37 dan 1 Yoh.1:1-3)) Cara hidup semacam itu hanya dapat terwujud dengan mengambil inspirasi Roh Kudus dan mengikuti jejak Sang Putera yang mengajarkan cara, bagaimana iman kepada Allah Bapa menjadi nyata di tengah gejolak dunia.

10. Keadaan masyarakat dan Gereja semacam itu menantang kita untuk memiliki pendirian dan sikap kristiani yang teguh. Kita dipanggil untuk berani menunjukkan bahwa hidup rohani yang diisi oleh Roh Cintakasih Ilahi itu sungguh bagian hidup masa-kini. Dunia memerlukan saksi-saksi iman yang dengan kata dan perbuatan memperlihatkan bahwa Roh sekarang ini masih berperan.

II. PENGUTUSAN GEREJA

11. Gereja adalah persekutuan orang-orang yang “memberi kesaksian tentang kebangkitan Tuhan Yesus dan tentang hidup dalam kasih karunia yang berlimpah-limpah”. ((Bdk. Kis 4:33)) Persekutuan ini bertekun dalam doa dan melibatkan diri dalam usaha meningkatkan kesejahteraan hidup bersama. ((Kis.2:41-47)) Itulah wujud nyata dari pengutusan Gereja yang dipesankan Kristus saat keberangkatanNya untuk “duduk di sisi Bapa”. ((Luk. 24:46-49 dan Kis. 1:6-11)) Gereja diutus untuk menghadirkan kasih Allah di tengah hidup manusia yang terlibat penuh dalam pembangunan masyarakat sejahtera.

12. Untuk memberi wujud nyata pelayanan kita di tengah masyarakat diperlukan banyak upaya. Ada yang teknis, seperti di pelbagai tindakan pembenahan lalulintas dan ekonomi serta perdagangan. Ada pula segi-segi pembangunan rasa berbangsa dan pembentukan ideologi pembangunan yang tepat. Ada pula pelayanan membela hak-hak asasi manusia dan perbaikan lingkungan hidup, mengabdi di bidang pelayanan pendidikan, sosial ekonomi dan kesehatan, maupun menyantuni para yatim piatu. Di sana Gereja diutus memancarkan hembusan cintakasih di mana-mana, sehingga “tanah menjadi wujud kasih Allah” ((Bdk. Kej.2:4b-7)) serta “persaudaraan antar manusia, dan aneka kesibukan sederhana harian kita merupakan tanda bahwa sekarang pun Allah tetap menyayangi manusia dan membagikan cintaNya kepada seluruh umatNya”. ((Bdk. Rom. 12:9-21)) Begitulah Gereja diutus untuk membagikan pembaruan sikap hidup dari kehangatan cintakasih Roh Allah.

A. ANEKA WUJUD PENGUTUSAN GEREJA

13. Bersama seluruh Gereja sejak jaman para Rasul sampai kepada Ibu Teresa dari Calcutta kita menemukan bahwa daya kekuatan cinta Roh Allah perlu diwujud-nyatakan: dalam pelayanan satu sama lain untuk mencari nafkah sehingga kesejahteraan masyarakat meningkat secara nyata; dalam pengabdian kita di tengah orang-orang yang mengalami kedukaan, penyakit, kehilangan tempat tinggal atau kebebasan politiknya; dalam upaya kita menciptakan persatuan antara kita sendiri maupun dengan semua orang yang berkehendak baik; dalam aneka usaha untuk lebih memahami rahasia alam sebagai misteri Rencana Penyelamatan Allah; dalam aneka bentuk ibadat dan persekutuan doa yang mau mengungkapkan rasa bakti kita kepada Tuhan yang penuh kasih.

Sebenarnya kita semua dipanggil untuk memberi bentuk pribadi kepada semua wujud itu. Akan tetapi, keterbatasan menyebabkan kita memilih sesuatu wujud yang sangat erat hubungannya dengan kehidupan kita yang konkret sehingga dapat kita laksanakan, tanpa meremehkan wujud pengutusan yang lain. Kepada setiap orang dikaruniakan karisma Roh Allah itu untuk kepentingan bersama. ((Bdk. 1Kor. 12:7))

B. ANEKA CARA MELAKSANAKAN PENGUTUSAN GEREJA

14. Paulus menunjukkan dengan jelas bahwa Roh Allah menghendaki agar masing-masing dari kita melaksanakan pengutusan dengan aneka cara yang Dia anugerahkan. ((1Kor.12)) Jadi, berdasarkan kemampuan yang ada. Ada yang caranya dengan berkotbah, lainnya dengan cara membagikan pengetahuannya, yang lainnya lagi dengan cara membuat mukjizat, yaitu kata-kata dan tindakan yang membuat orang tertegun sehingga sadar bahwa dalam kejadian itu Allah menunjukkan kasihNya. Dalam kerangka ini, umat diperkaya oleh Roh dengan sejumlah orang yang diberi karisma untuk memimpin umatNya ((1 Kor.12:28-30)) dan juga para nabi yang menafsirkan tanda-tanda jaman.

15. Setiap nabi dan utusan Tuhan mengingatkan manusia akan kehadiran dan karya Roh dalam dunia. Mereka itu merasakan bahwa Allah mau menghembuskan nafas hidupNya dalam dunia, betapapun banyak kesulitan yang menghimpit. Para nabi dipanggil untuk menafsirkan arah hembusan Roh Allah. Mereka itu dikaruniai kemampuan untuk menemukan sabda Tuhan yang sulit dipahami manusia: bukan dalam arti bahwa mereka mempergunakan kata-kata yang sulit, melainkan bahwa mereka menyampaikan pesan yang tidak mudah ditangkap oleh manusia yang terlalu memusatkan perhatiannya kepada dunia dan enggan menatapkan mata-hatinya kepada Allah. ((Kita ingat, bagaimana Musa memerlukan aneka bukti untuk dapat mengkomunikasikan kehendak Allah kepada Firaun. Nabi Natan mempergunakan perumpamaan guna menunjukkan kehendak Tuhan kepada Daud. Yohanes Pembaptis memakai kata-kata keras dan tajam kepada umat Israel pada jaman Yesus. Mereka memakai bahasa dengan tatabahasa jelas; tetapi pesannya tidak mudah dipahami.))

Kesulitan orang menangkap pesan para nabi disebabkan oleh kedegilan hati pendengarnya. Kedegilan itu menyebabkan orang salah menangkap maksud terdalam dari ucapan-ucapan kenabian atau malah tidak mendengar sama sekali. Diperlukan seorang Dominikus untuk menangkap perlunya pewartaan paham-paham iman yang tepat dan jelas. Dinantikan kedatangan Fransiskus dari Assisi untuk mengerti bahwa kekayaan itu bukan pegangan dasar manusia guna memperoleh keselamatan kekal. Ibu Teresa Calcutta kita sambut untuk menyelami perlunya perwujudan solidaritas manusia bagi saudara-saudara yang secara fisik menderita.

16. Sekarang ini dunia mengalami persoalan besar: di satu pihak persatuan amat didambakan, di lain pihak perang dan permusuhan berkecamuk di mana-mana. Diperlukan gerakan yang membarui dunia agar bisa benar-benar mewujudkan persaudaraan sejati yang teraba dan terasa. Persaudaraan itu harus mengakar pada jiwa orang dan tidak hanya berlandas pada kepentingan biologis, ekonomi, dan politik. Iman dan agama harus mendasari usaha tersebut. Umat manusia memerlukan bukti yang menyentuh darah dan daging, bahwa iman dan agama sungguh mampu melahirkan persaudaraan sejati. Oleh karena itu, masing-masing pribadi, petugas, dan kelompok diajak untuk mewujudnyatakan karisma persaudaraan dari Roh yang satu itu. Sebab karunia manapun akhirnya tidak berarti kalau tidak ada Roh Cintakasih Yang Satu itu.

17. Dalam suasana itu kami, para Uskup, menyambut dengan gembira anda yang berjumlah banyak, yang merasa “lahir kembali dalam Roh” karena mengalami “secara istimewa terjamah oleh Roh”. Di situ kami melihat pangkal penting dari kebersamaan anda sekalian, para peserta Pembaruan Karismatik Katolik. Anda sekalian merupakan kelompok yang merasakan sentuhan kasih Kristus yang menyelamatkan diri anda pribadi, dan sekaligus disentuh oleh keprihatinan Kristus yang terdalam untuk menyelamatkan semua bangsa. ((Mat. 28:18-20)) Yang menggembirakan kami adalah bahwa banyak di antara anda yang terpikat oleh kasih Allah itu tersebar di berbagai pemukiman, kampus perguruan tinggi, lingkungan pabrik dan usaha, yang sampai kini dianggap kering dari pengaruh hidup rohani. Bahkan dari antara anda yang sering terdorong untuk secara berani mewartakan kabar Gembira: kadang dengan bijaksana dan halus, kadang pula secara agak mendesak dan kurang tenggang-rasa. Sementara itu pantaslah kita ingat bahwa Roh berhembus di mana ia mau. ((Bdk. Yoh.3:8)) Tuhanlah yang menentukan, kapan dan bagaimana Ia mau menyentuh umatNya. Dapat terjadi bahwa Ia berbicara dan berkarya justru melalui orang yang tidak kita duga. Maka dari itu, kita perlu menyampaikan Kabar Baik dengan rendah hati.

C. PENGUTUSAN PEMBARUAN KARISMATIK KATOLIK

18. Di tengah kemajemukan wujud dan gairah pengutusan murid Tuhan itulah, kami menyaksikan, bagaimana banyak umat terpanggil bergabung dalam Pembaruan Karismatik Katolik. Maka dari itu Pembaruan Karismatik Katolik kami akui sebagai salah satu dari sekian banyak upaya dan bentuk dalam Gereja yang mengejawantahkan tersentuhnya hati manusia oleh daya kekuatan Roh Allah.

19. Kita catat dari sejarah, bahwa pada tahun 1970-an muncul pelbagai persekutuan doa ekumenik, yang dengan cepat memukau banyak orang katolik. Untuk menolong mereka ini, dalam kerangka penggembalaan gerejawi, Uskup Agung Jakarta, Mgr. Leo Sukoto, S.J. mengundang tokoh pembaruan karismatik katolik. Pada bulan Mei 1976 Pastor O’Brien, S.J. dan H. Schneider, S.J. diminta oleh Bapa Uskup untuk menyelenggrakan “Seminar Hidup Baru” di Jakarta. Sejak saat itu, secara berangsur-angsur Pembaruan Karismatik Katolik Indonesia tumbuh dan berkembang. Seperti setiap unsur dalam Gereja, Pembaruan Karismatik Katolik mempunyai wujud khasnya tetapi juga menerima tuntutan untuk memadukan diri dalam kebersamaan seluruh Umat Allah secara tulus.

III. POKOK-POKOK PEMBARUAN KARISMATIK

A. IMAN AKAN TRITUNGGAL

20. Pembaruan Karismatik pertama-tama kami pandang sebagai salah satu unsur dinamika Gereja yang mengakui bahwa hidup kita di dunia dihayati dengan iman, yang diakui sebagai karisma, yaitu anugerah Roh. Iman kita berakar pada Tritunggal Yang Mahakudus: yaitu percaya bahwa hidup kita diberikan oleh Allah Bapa Sang Pencipta, ditebus oleh Allah Putra Sang Juruselamat, dan diurapi oleh Allah Roh Kudus Sang Penghibur. Hidup Gereja adalah hidup bersama yang diimani sebagai wujud manusiawi dari karya Roh yang menggerakkan seluruh umat manusia dalam cintakasih seturut ajaran Kristus menuju kepada persatuan kekal dengan Allah.

21. Dalam pengertian itu Gereja mulai ada ketika para Rasul berhimpun dalam persaudaraan di sekitar Yesus Kristus, menanggapi panggilan Sang Guru. Sekarang Gereja tetap menjadi persekutuan murid-murid Kristus. Oleh karena itu, dinamika menjadi murid Kristus ((Seringkali hal itu diberi istilah “pemuridan”, walaupun dari sudut pembentukan kata bahasa Indonesianya tidak serasi)) adalah dinamika dasariah dalam hidup menggereja. Kami bergembira melihat, bahwa salah satu segi iman yang kerap ditekankan dan diperdalam oleh Pembaruan Karismatik Katolik adalah kesadaran menjadi murid Kristus. Dari Yesus Sang Guru kita beriman kepada Bapa Sang Pencipta yang hidup tanpa ada yang pernah melihatNya ((Bdk. Yoh.1:18; 5:37; 1 Tim.6:16)) kecuali Sang Putera. ((Yoh 6:46)) Setelah menghadap BapaNya dan Bapa kita, Kristus mewariskan kepada kita Roh Kudus. ((Yoh. 14:26 dan 16:13)) Maka sebagaimana kita mengenal Bapa hanya melalui Putera, kita pun sampai kepada Putera hanya melalui Roh Kudus. ((Ef. 2:18)) Dengan kata lain, iman akan Roh Kudus hanya dapat dihayati dalam kesatuan dengan kepercayaan akan Bapa dan Putra. Iman akan Roh Kudus kita peroleh juga lewat kepercayaan kepada Yesus Kristus : ((Yoh. 14:6)) dengan menjadi murid Yesus Kristus. Kami berharap bahwa Pembaruan Karismatik Katolik menjadi ragi dalam Gereja, supaya umat lebih menyadari konsekuensinya menjadi murid Kristus: yaitu terus menerus berusaha semakin memahami ajaran Kristus serta melaksanakannya secara utuh.

B. ROH KUDUS: SANG KARUNIA

22. Berkat Paska, para Rasul mengimani kesatuan hidup Kristus dengan Bapa. Kesatuan Bapa dengan Putera itu terjadi berkat Roh Kudus yang menjadi Sang Karunia, sehingga Yesus Kristus hidup dalam Bapa. Penginjil menunjukkan peranan Roh Kudus, Sang Karunia, sejak awal mula dan dalam seluruh hidup Yesus Kristus serta pengutusanNya sebagai Mesias. ((Mrk. 1:10)) Hal itu dirumuskan dengan ungkapan Yohanes Pembaptis “Orang Yang kamu lihat dicurahi Roh dan ditinggali Roh adalah Dia yang akan membaptis dengan Roh Kudus”. ((Yoh.1:33)) Ungkapan itu memperlihatkan bahwa seluruh pengutusan Yesus sebagai Messias itu terangkum dalam arus karya Roh Kudus, kasih karunia Bapa. Maka, baptisan dalam Roh di situ menunjuk kepada seluruh cara hidup dan pelayanan Yesus Kristus sebagai Utusan Allah, sebagaimana misalnya ditampilkan dalam Luk 4:18-19. Hubungan Yesus dengan Roh Kudus dan Allah Bapa terlaksana dalam Ia mewartakan Kabar Gembira, baik dengan kata maupun dengan perbuatan; bahkan dengan sengsara di salib dan mati, sampai dibangkitkan kembali.

23. Karena menerima Roh Kudus itulah, maka kita dapat beriman dan disatukan dengan Tubuh Kristus. ((Konstitusi Dogmatis Konsili Vatikan II mengenai Gereja, a.4)) Roh Kudus pula yang menyebabkan kita semua bersatu. ((1 Kor.12:3)) Melalui Roh Kudus, Kristus hadir di antara kita, sebab Ia adalah Roh Kristus sendiri. ((Rom. 8:9 dan Gal 4:6))

Karena Gereja hidup dari Roh Kudus, maka seluruh Gereja dan setiap orang kristiani itu sesungguhnya bersifat ‘karismatik’ ((Misalnya Ireneus, Adversus Haereses III, 24, 1 (PG 7:966))) Dalam pengertian itu, Pembaruan Karismatik Katolik merangsang Gereja untuk merasakan sepenuh-penuhnya bahwa seluruh kemanusiaan kita sungguh diresapi oleh daya Roh Kudus. Maka kekhususan Pembaruan Karismatik Katolik pertama-tama terdapat dalam mendarah-dagingnya iman akan hidupnya Roh Kudus dalam umat kristiani secara keseluruhan. Dalam kepercayaan itu, Pembaruan Karismatik Katolik menggarisbawahi suatu segi penting iman katolik yang kadangkala kurang terasa pada lingkungan lain dalam Gereja. Demikianlah dapat dikatakan bahwa Pembaruan Karismatik Katolik bersifat dan harus bersifat gerejawi. ((Tokoh Karismatik, seperti Kardinal Suenens dari Belgia, sangat menekankan pendirian ini.))

24. Iman dalam Pembaruan Karismatik Katolik yang amat akrab dengan Roh Kudus, menemukan teladan dan pembimbing surgawinya dalam diri Santa Perawan Maria. ((Bdk. Konstitusi Dogmatis Konsili Vatikan II mengenai Gereja, a.53)) Pada hari Pentakosta para Rasul ditemani oleh Bunda Gereja ((Bdk. Konstitusi Dogmatis Konsili Vatikan II mengenai Gereja, a.63)) ini untuk menyambut Roh Kudus, Sang Penghibur. Hal itu mengokohkan kepercayaan umat bahwa sejak awal mula Maria memang bersatu dengan Roh Kudus. Bahkan Gereja percaya bahwa Maria terkandung tanpa noda dosa, justru berkat daya pengudusan Roh Tuhan. ((Bdk. Konstitusi Dogmatis Konsili Vatikan II mengenai Gereja, a.56)) Jadi, kuasa Roh Kudus menjangkau sampai ke saat Maria sendiri mulai dikandung. Itulah sebabnya, secara istimewa Maria kita sebut “Putri Allah Bapa”. Kita percaya bahwa karunia Roh Kudus tidak ditentukan oleh batas waktu, tempat, dan kondisi lahiriah manusia. Bahkan kita percaya, bahwa Maria menjadi Bunda Allah karena Roh Kudus menaunginya. ((Luk 1:26-38. Lih. Konstitusi Dogmatis Konsili Vatikan II mengenai Gereja, a.57 )) Maka Maria kita sebut juga “Mempelai Allah Roh Kudus”.

Kami bergembira bahwa dalam Pembaruan Karismatik Katolik bergema terus bakti kepada Bunda Maria tersebut demi iman akan Yesus Kristus. Kita percaya, bahwa kekuatan Roh tidak dibatasi oleh kehendak manusia manapun. Kita dipanggil untuk menyerahkan hati, budi, kehendak, dan seluruh karya kita kepada Tuhan. Hanya karena persatuan penuh dengan Roh Kudus itulah, Maria menjadi “Bunda Allah Putra”. ((Begitulah kita mengetahui nilai iman dari Doa Rosario, khususnya ketiga butir Doa Salam Maria sesudah “Syahadat”.)) Hubungan batin itu ditegaskan lagi dalam perjalanan pewartaan Yesus, yang memuji Maria karena “mendengarkan firman Allah dan memeliharanya”. ((Luk. 11:28, bdk. Luk. 8:19-21, Mat. 12:46-50, Mrk. 3:31-35)) Persatuan Maria dan Putranya terjadi di salib, ketika Sang Putra dimuliakan. Dengan begitu menjadi jelas pula, bahwa peran Maria dalam karya penyelamatan bersatu padu dengan peran Putranya, berkat naungan Roh Kudus.

Jelaslah bahwa Pembaruan Karismatik Katolik yang sangat berbakti kepada Roh Kudus dan ingin dipersatukan dengan Tuhan tidak mempunyai teladan yang lebih tepat daripada Bunda Maria. Kami menganjurkan agar bakti kepada Maria senantiasa dipupuk dengan penuh kasih sejati serta dalam cara-cara yang tepat.

C. ANEKA KARUNIA

25. Kami menyaksikan bahwa kemajemukan ungkapan Gereja juga kelihatan dalam kenyataan bahwa perwujudan iman karismatik tampil dalam beberapa cara. Misalnya, keluarga karismatik yakin, bahwa baptis sudah sejak dahulu kala senantiasa merupakan sakramen, manusia dibersihkan dari dosa yang menjauhkan manusia dari Allah. Baptis dalam pengertian mendasar seperti itu mengandung unsur lahiriah yaitu membersihkan dengan air, dan unsur rohani yaitu membersihkan dengan Roh. Segi rohani itulah yang diungkapkan kembali dengan seluruh pengalaman rohani mendalam yang menyertainya, kalau dalam lingkungan karismatik dipergunakan istilah “Baptisan Roh”. Di satu pihak, keluarga karismatik mengingatkan seluruh umat akan bersatunya segi lahiriah dan batiniah dalam baptisan, sambil menekankan pentingnya segi batiniah ini untuk dihayati. Pengalaman diselamatkan yang mendalam ini sungguh memberikan semangat baru untuk hidup secara baru pula. Di lain pihak, keluarga karismatik perlu menyadari kesatuannya dengan seluruh pergulatan umat untuk memberi arti dan melaksanakan baptis dengan semangat dan pelaksanaan yang tepat. Penginjil Yohanes jelas menyebutkan baptis dalam kaitan dengan Roh; itu untuk menjelaskan seluruh pengutusan hidup dan wafat Yesus sebagai Messias, bukan untuk mengacu pada suatu upacara tertentu. ((Yoh. 1:33. Lihat juga di atas mengenai peristiwa sekitar baptisnya Yesus dan komentar Yohanes Pembaptis. Baik dicatat, bahwa Alkitab tidak berbicara mengenai “Baptis Roh”, melainkan “dibaptis dalam Roh Kudus” (bdk. juga Luk 3:16 dan Mat 3:11): jadi “dicelupkan dalam air” (sebagai tanda tobat dan karena itu bersih dari dosa) dan “itu terjadi dalam Roh Kudus” (bukan dalam tahyul atau dalam motivasi psikhis atau bahkan karena kepentingan biologis/kesehatan). Pada awal gerakan PKK, para pemimpin merasakan sulitnya menegaskan kedua segi baptisan dalam Roh ini, agar di satu pihak tidak memberi kesan seakan-akan ada baptisan lagi sesudah Sakramen Baptis, namun di lain pihak memang ada segi yang ingin ditekankan, yaitu segi pengalaman dibersihkan luar-dalam lagi. Maka sering dipergunakan pula istilah “pembaruan dalam Roh” atau “pencurahan Roh”. Amat perlu bahwa umat yang sederhana dibantu untuk menangkap masalahnya secara tepat. Para pemimpin PKK ikut memikul tanggung jawab untuk menyebarluaskan saling mengerti dalam hal ini.))

26. Dalam pelbagai kegiatan karismatik, “pencurahan Roh” menjadi suatu ungkapan penting. Ini mempunyai dasar iman yang dalam dan perlu ditangkap secara tepat dalam konteks pemahaman kita mengenai hidup kristiani. Dari seluruh Injil kita mengetahui bahwa penyelamatan Allah itu berwujud tindakan Allah mencurahkan RohNya. Itu terjadi, baik pada peristiwa penciptaan maupun dalam penjelmaan Allah Putra serta dalam pemakluman GerejaNya. ((Perhatikan bahwa Luk. 1:15, Kis. 1:15, 2:38, 10:47, 11:15, 19:5.6 menyebutkan baik baptis maupun pencurahan Roh. Masing-masing memperlihatkan ada perbedaan di antara keduanya tetapi ada hubungannya juga. Semua menunjukkan bahwa baptis merupakan suatu bentuk sosial yang kelihatan dari proses batiniah, bahwa manusia menerima penyelamatan, yaitu pengudusan dari Allah.)) Maka secara tepat pencurahan Roh disebut saat penyelamatan Allah dirasakan kembali. Dalam proses perkembangan Gereja, segi pelembagaan dan administratif kerap kali lebih menonjol ke depan daripada segi rohani, sehingga orang lebih merasa “terdaftar” menjadi anggota Gereja melalui petugas manusiawi daripada disambut oleh Allah melalui pemberian RohNya. Dalam konteks itu, “pencurahan Roh” dalam lingkungan karismatik di satu pihak menggarisbawahi makna teologis dari “menyambut kasih Roh”, di lain pihak mau menegaskan keyakinan kita akan peran perdana Roh dalam penyelamatan, yang senantiasa merupakan pegangan dasar iman kita, namun yang sering menipis karena perjalanan sejarah dan pengalaman hidup”. ((Di sini kita melihat betapa kaya pengertian di balik istilah “pencurahan Roh”, yang seringkali menimbulkan salah paham kalau tidak diterangkan dengan baik. Oleh sebab itu, baiklah dicatat bahwa istilah “pencurahan Roh” kadang dipakai oleh Pemimpin Pembaruan Karismatik Katolik, tetapi kadangkala juga tidak. Di Amerika sering dipergunakan “baptism in the Holy Spirit” (baptis dalam Roh Kudus), di Inggris dipakai “the release of the Spirit” (pelepasan atau pencurahan Roh Kudus), di Jerman “Firmerneuerung” (pembaruan penguatan), di Perancis “l’effusion de l’Esprit” (pencurahan Roh). Baiklah diusahakan agar orang tidak terpancang pada satu istilah atau satu upacara maupun satu tindakan, melainkan pada proses iman, yaitu bahwa mengikuti Kristus adalah suatu proses lahir-batin, yang dibimbing oleh Roh Kudus terus menerus. Pembaruan Karismatik Katolik Indonesia pernah membuat kesepakatan bahwa selanjutnya akan mempergunakan istilah “pencurahan Roh” agar orang tidak merancukannya dengan Sakramen Baptis))

27. Banyak peserta Pembaruan Karismatik Katolik menerima pengalaman “pencurahan Roh” dalam Seminar Hidup Baru dalam Roh. Di situ kelihatan, bahwa “komunikasi iman” yang sering terjadi melalui bentuk “kesaksian” merupakan proses yang hidup. Iman kita memang diterima melalui pewartaan sesama. Mengingat pokok perkara adalah pewartaan mengenai Yesus Kristus sendiri, maka kami percaya bahwa isi dan cara Seminar Hidup Baru yang sudah dibakukan itu dapat terus menerus disempurnakan.

Khususnya, iman akan Roh Kudus, dalam kehangatan pengalaman kasih akan Sang Putra menuju bakti sejati kepada Bapa perlu dicamkan dengan budi yang jernih. Karunia-karunia perlu betul-betul diyakini sebagai ungkapan kasih Roh Kudus, Sang Karunia Utama. Lalu orang harus sungguh didorong untuk mau tumbuh terus menerus dalam kesempurnaan dengan Yesus Kristus. Jadi, Seminar Hidup Baru adalah awal dari jiarah hidup yang panjang. Hal itu dapat lebih terpupuk kalau para peserta Pembaruan Karismatik Katolik benar-benar mau menyediakan “saat-saat teduh” setiap hari, guna menyambut sapaan Allah. Hingar-bingar Kebangunan Rohani atau Seminar Besar perlu dilengkapi dengan keheningan perjumpaan mesra dengan Sang Kristus. Baiklah peserta Pembaruan Karismatik Katolik meneruskan tradisi bagus dengan mengikuti secara teratur pembinaan dalam Persekutuan Doa yang sehat. Di sana gairah untuk hidup baru dapat diuji oleh kesetiaan berdoa, mendalami Kitab Suci, ajaran, dan tradisi Gereja dalam kebersamaan.

Syukurlah kalau makin banyak yang terpanggil untuk mengembangkan komunitas-komunitas basis imani, yang dapat menjadi sel-sel Gereja: entah dengan tinggal bersama, entah dengan pertemuan berkala yang intensif. Kami juga ingin mendukung dan mendorong pelbagai program bina lanjut yang sudah mulai berkembang di banyak tempat. Hendaknya isi semakin dicermati sedangkan cara semakin dipadukan.

28. Dalam lingkungan karismatik kerap muncul segi kenabian, yang dalam seluruh hidup Gereja sejak dahulu kala sampai sekarang sudah penting. Dahulu kala, proses seorang nabi mengenali kehendak Allah terjadi kadang kala dengan mengucapkan kata-kata yang tidak mudah dipahami orang lain. Namun, kita sama-sama mengalami bahwa hal itu bukan pokok dari kenabian sendiri. Oleh karena itu, sifat kenabian tidak dapat dibatasi hanya dalam bentuk pengucapan kata-kata yang tidak dapat dipahami orang lain. Dalam peristiwa itu kita dapat diteguhkan dalam beriman atau dapat meletakkan harapan kita di tangan Tuhan serta dapat terdorong untuk bertobat. Sejak beberapa waktu, Gereja malah diajak untuk lebih banyak terlibat dalam gerakan-gerakan sosial. Demikianlah orang menangkap aneka bahasa yang dipakai Roh Allah untuk menyatakan kehendakNya.

Itulah sebabnya mengapa terasa persatuan Pembaruan Karismatik dengan seluruh umat Allah, apabila ada peserta Persekutuan Doa yang bernubuat. Persekutuan itu akan semakin teguh apabila kurnia bernubuat dimengerti dengan mengingat latar belakang kenabian yang sejak Perjanjian Lama sudah dikenal di kalangan umat Allah. Karunia ini erat berkaitan dengan pengutusan. Nubuat sejati mau mengungkapkan kehendak Allah pada saat dan tempat tertentu dan perlu selalu diuji oleh umat melalui orang yang bertanggungjawab. Pada kasus-kasus tertentu, kurnia ini malah perlu diuji oleh Pemimpin Resmi Gereja Setempat, yaitu Uskup.

29. Dalam semangat yang sama, kami memahami “bahasa Roh” secara gerejawi pula. Dalam Gereja ada tradisi berdoa / bernyanyi dalam bahasa Roh, seperti tersirat dalam 1 Kor 14 dan Rom 8:26-27. Orang tidak berkata-kata kepada manusia, tetapi kepada Allah. Di situ ia membangun diri. Maka, bahasa Roh merupakan suatu cara berdoa. Tidak seorangpun mengerti bahasanya, maka sering disebut “bahasa cinta”. Jenis ini aktual ada dalam Pembaruan Karismatik Katolik Indonesia. Pengucapannya bukan tidak sadar. Tetapi buah bahasa Roh adalah membawa sesuatu yang baru kepada manusia. Sesuatu yang baru itu terasa membawa keselamatan kepada manusia. Kami ingin mengajak semua bersatu dalam iman yang benar dan dalam bakti kita kepada Roh yang mau membarui muka bumi secara menyeluruh; seraya mengimbau agar “bahasa Roh” dalam keluarga karismatik dipakai secara bijaksana.

30. Karunia Penyembuhan sering menonjol sekali dalam Pembaruan Karismatik Katolik. Banyak orang justru mendapat peneguhan iman karena peristiwa penyembuhan, entah penyembuhan lahiriah, entah penyembuhan batiniah. Kami menangkap keseluruhan peristiwa penyembuhan tersebut dalam kerangka iman akan hadirnya Kerajaan Allah dan bahwa Roh berkarya. ((Bdk. Luk. 4:18-19)) Kita meyakini bahwa yang terpenting dalam setiap peristiwa penyembuhan Perjanjian Baru adalah semakin berimannya orang yang disembuhkan maupun orang yang di sekitarnya. Di sana terasakan oleh manusia seutuhnya, bahwa “shalom” Allah dianugerahkan kepadanya melalui Sang Putra berkat kuasa RohNya. Keselamatan itu membangun manusia kembali, membuatnya utuh lagi, membersihkannya dari jejak kedosaan, dan memulihkan hubungannya dengan Allah dan sesama. Pemulihan itu dapat tampak, walau tidak selalu, dalam wujud penyembuhan lahiriah.

Maka, marilah kita ingat bahwa dalam Gereja Katolik penyembuhan yang menyeluruh bagi hubungan manusia dengan Allah itu terungkap lengkap dalam sakramen-sakramen. Sebab di sana secara secara gerejawi diakui bahwa manusia disentuh Allah seluruhnya. Bahkan ada sakramen-sakramen yang secara resmi merayakan Allah, Sang Penyembuh, yang membawa kesehatan lahir batin, yaitu Sakramen Tobat dan Sakramen Pengurapan Orang Sakit. Di sana penyembuhan diletakkan dalam kerangka iman dan diserahkan kepada kebijaksanaan Allah. ((Sayang, bahwa kesadaran ini menipis, karena sakramen-sakramen tersebut kurang dihayati secara menyeluruh)) Kami menganjurkan agar Pembaruan Karismatik Katolik lebih menghidupkan kembali perayaan sakramen-sakramen, terutama kedua sakramen itu.

Dalam pengertian itu kami yakin, bahwa Sakramen Ekaristi tidak seyoganya dikacaukan dengan acara-acara penyembuhan. Sebab di sana yang dirayakan adalah penyerahan diri Yesus di salib demi penebusan kita dan persatuan kita. Itulah peristiwa penyembuhan agung seluruh umat manusia. Jadi, Ekaristi sendiri adalah perayaan penyembuhan yang paling utama. Perayaan Ekaristi sendiri, bila dihayati secara khidmat dan khusuk dapat membawa ketenangan hati, kesembuhan rohani, dan pemulihan hubungan sosial. Tuhan dirasakan hadir sebagai penyelamat lahir batin. Lebih jauh lagi, kita perlu lebih mengimani arti salib, penderitaan, dan maut secara kristiani, yaitu bahwa salib betul-betul jalan kemuliaan Tuhan. Ternyata, Bapa memuncakkan kasihNya justru dalam penderitaan dan Salib itu. Sebab, penyerahan Diri Yesus Kristus dalam kematianNya adalah jalan satu-satunya ke arah “Penyembuhan Menyeluruh”, yaitu terpulihkannya hubungan Allah dengan manusia. Kecuali itu, ada penderitaan manusia yang disebabkan kesalahannya sendiri; namun ada pula penderitaan yang, seperti pada Ayub, diizinkan Tuhan dengan maksud mulia, yaitu demi keselamatan diri sendiri maupun sesama.

31. Dalam Pembaruan Karismatik Katolik ada kebiasaan yang serupa dengan kebiasaan jaman Gereja Perdana, yaitu Penumpangan Tangan. Kita mewarisi tradisi untuk menumpangkan tangan pada orang yang kita doakan. Tanda kepercayaan itu terjadi pula dalam Sakramen Imamat. Dalam Persekutuan Doa, tentu saja penumpangan tangan tidak mempunyai fungsi sakramental. Di situ secara inderawi kita bergabung dengan sesama untuk mengungkapkan iman kepada Allah yang penuh kasih dan memohon berkatNya. Sekali lagi, tampak bahwa kita dapat mengungkapkan keyakinan yang terdalam dengan isyarat dan perilaku yang menyentuh hati. Semoga orangnya benar-benar tersentuh Roh dan menerima berkat Allah.

32. Kalau kita membarui iman semacam itu, maka kita akan sadar, bahwa akhirnya seluruh hidup orang beriman merupakan karunia alias karisma Tuhan. Karisma-karisma Allah dapat berupa sesuatu yang mencolok, seperti karunia bernubuat dan berbahasa roh, tetapi juga ada buah-buah Roh yang penting, misalnya penguasaan diri, disiplin, ketekunan, dan kebijaksanaan harian. Sepantasnya kita memperluas pemahaman tentang karya Roh yang melampaui satu-dua anugerah yang menakjubkan. Sebab, Tuhan berbicara kepada umatNya melalui cara apapun yang Ia kehendaki. Kita percaya bahwa Tuhan itu Maha Kuasa. Ia menganugerahi kita sesuai dengan kehendakNya. Maka kita tidak perlu mendesak-desak Tuhan melakukan mukjizat dengan cara yang kita tentukan. Kepercayaan ini hendaknya menguatkan kita untuk tidak putus-putusnya menyejahterakan hidup kita, namun sekaligus berserah diri kepada perkenanNya sebagaimana Dia kehendaki.

Dengan demikian, diharapkan menjadi jelas, bahwa “menerima karunia” seperti misalnya disebut-sebut oleh Paulus, bukanlah berarti ” memiliki sejumlah keistimewaan dan teknik khusus dalam berdoa atau melayani umat”, melainkan “suatu cara untuk mewujudkan iman kristiani“. Karisma Roh adalah suatu pelayanan untuk membangun jemaat Kristus: di situ Roh berkarya dan menyelamatkan umatNya. Dengan sikap ini kita dapat mengatasi godaan untuk secara berlebihan mengangkat salah satu karunia. ((Bdk. Konstitusi Dogmatis Konsili Vatikan II mengenai Gereja, a.12)) Sebab setiap karunia tidak ada artinya bila tanpa iman, pengharapan dan cinta kasih. ((Bdk. 1 Kor. 13:4-7)) Maka karunia fisik dan kejiwaan apa pun tak berarti bila tidak dirangkum dalam kerendahan hati dan kasih Kristus serta berguna bagi umat. ((Bdk. 1 Kor. 14:12 dan Fil. 3:8)) Orang yang diberi karunia Roh harus juga mencerminkan buah-buah Roh dalam hidup hariannya. ((Bdk. Gal.5:19-22))

33. Kami hargai bahwa dalam Pembaruan Karismatik Katolik “segi kontemplatif” hidup kristiani dicoba dipadukan dengan “segi aktif”nya, sehingga tidak terpisah-pisahkan. Hal itu dapat membantu orang katolik untuk tidak hidup dalam dua dunia: ketika sembahyang lain dengan ketika bekerja. Maka orang menjadi pelaksana pembaruan hidup kristiani dalam Roh apabila ia mengarahkan doa dan kontemplasinya pada tindakan pelayanan serta persatuan dengan seluruh umat maupun masyarakat dan mengisi kegiatan hariannya dengan bakti sejati kepada Allah. Perpaduan antara segi kontemplatif dengan segi aktif itulah yang sesungguhnya akan menolong Gereja untuk lebih mudah menangkap tanda-tanda jaman: memahami, merasakan, dan mengikuti, juga melaksanakan dorongan Roh Kudus, demi kemuliaan Nama Allah di tengah karya sehari-hari.

IV. DINAMIKA DAN PRANATA PEMBARUAN KARISMATIK

A. ROH DAN KATA-KATA

34. Di kalangan umat pada umumnya dan Pembaruan Karismatik Katolik pada khususnya tersebar tradisi untuk menjadi pewarta Injil. ((Kebiasaan ini sering disebut dengan kata “penginjilan”. Tetapi kata itu menjadi terlalu dekat dengan kata “penginjil”, yaitu pengarang Injil, dan tidak begitu menguntungkan untuk umat. Apalagi lalu diciptakan kata kerja “menginjili”, seakan-akan kata Injil adalah sesuatu yang melulu kata verbal dan dapat diberikan oleh manusia. Padahal Injil mengacu kepada Kristus sendiri dan menyangkut seluruh hidupNya. Komplikasi itu bertambah kalau dikaitkan pula dengan dunia politik, yang mudah merangkaikannya dengan “usaha penginjilan dan kristenisasi”. Barangkali lebih baik kalau kita semakin lama semakin menghindari istilah “evangelis”, “penginjilan”, “menginjili” dsb. Lebih baik kita mempergunakan istilah “Kabar Gembira”, “mewartakan Kabar Gembira”, “pewartaan…”dsb)) Di situ bergemalah tradisi dari Gereja Perdana sampai sekarang, yaitu bahwa sejak baptis umat kristiani memang ditugasi untuk mewartakan Kabar Baik. Kabar tersebut termaktub dalam Yesus Kristus yang dikenal melalui Perjanjian Baru. Maka, pewarta Injil membawa tugas penting, yaitu mewartakan pesan Allah sendiri.

Syukurlah bahwa Pembaruan Karismatik Katolik juga ikut menyebarkan gairah membaca Kitab Suci. Di tengah meningkatnya minat pada pembacaan Kitab Suci dan pewartaan itu sangat terpujilah inisiatif beberapa pihak untuk mengadakan penataran serius agar orang benar-benar menangkap baik arti kata-kata maupun latar belakang rohani dari ayat-ayat Kitab Suci. Kita semua tahu, bahwa maksud Tuhan tidak kita tangkap dengan baik apabila kita hanya mencupliki ayat-ayat yang sesuai dengan kebutuhan kita tanpa memperhitungkan konteks luas. Kita sadar bahwa kalau suatu kelompok atau seseorang tidak mempunyai kemampuan untuk menafsirkan Kitab Suci atau naskah ajaran Gereja secara baik, betul-betul diperlukan bantuan dari orang lain yang tahu dan mampu, entah seorang imam entah seorang yang cukup terdidik dalam tafsir Kitab Suci.

35. Dengan cara tersebut dapatlah kita terselamatkan dari bahaya penafsiran harafiah atas Kitab Suci, yang sering dilakukan oleh orang-orang fundamentalis. Mereka mengira menemukan dasar (=fundamen) hidup mereka pada ‘kata-kata’ dan huruf dalam Kitab Suci. Padahal, iman kita lebih menghubungkan kita dengan Roh yang ada di balik kata-kata itu, yang mengaruniakan Sabda Bapa serta menghubungkan dengan semangat hidup baru dalam Yesus, yang mendasarkan diri pada keseluruhan isi Kitab Suci. Kemampuan untuk menafsirkan Kitab Suci dengan baik dan kesediaan untuk mengikuti penataran-penataran tentang Kitab Suci dan ajaran Gereja dapat membantu kita semua supaya dapat melayani Persekutuan Doa, membimbing Sekolah Minggu, menyampaikan homili dan renungan secara khidmat dan bertanggungjawab. Terus menerus belajar dapat juga menolong kita untuk mengadakan dialog dengan siapa pun mengenai Kitab Suci dan kebenaran-kebenaran iman.

B. ROH DAN ORGANISASI

36. Kami melihat bahwa akar terpenting Pembaruan Karismatik Katolik adalah kasih tanpa batas dari Roh Kudus kepada manusia dan jawaban manusia yang disentuhNya. Maka, ‘hukum utama’-nya adalah kasih Allah. Namun karena kita manusia, maka Allah memakai prasarana-prasarana manusiawi, seperti organisasi dan pranata-pranata.

Pada waktu kelompok masih kecil, banyak hal dapat diselenggarakan dengan sederhana dan secara kekeluargaan. Tatkala harus bekerja sama dengan banyak orang, juga kalau itu berkaitan dengan pewartaan Kabar Gembira, yang bersifat rohani namun mengandung unsur-unsur manusiawi (seperti kata-kata, buku dan uang), diperlukanlah sekedar kerangka kerjasama. Kerangka ini mudahnya disebut pranata kerja. Kami dapat memahami bahwa Pembaruan Karismatik Katolik yang menekankan sifat “dinamis dalam mendengarkan bisikan Roh”, memerlukan upaya tersendiri dalam urusan pengorganisasiannya. Di satu pihak diperlukan pranata, di lain pihak jangan sampai gerak Roh terhambat karenanya.

37. Gereja Katolik mempunyai pengalaman manis maupun pahit dengan urusan organisasi. Ada masa ketika organisasi Gereja amat ketat, sehingga hampir segalanya diatur dari pusat. Ada pula masa tatkala orang tidak mempedulikan pranata kerja dan kesepakatan, sehingga mudah terjadi kesalahpahaman dan penyelewengan ajaran maupun praktek hidup beriman seperti misalnya di jaman banyak bidaah pada abad-abad pertama Gereja.

Pembaruan Karismatik Katolik juga merupakan pembaruan hidup beriman: artinya sekaligus mengandung unsur-unsur batin tetapi menyangkut pula banyak unsur lahiriah, seperti organisasi. Unsur organisasi tersebut dapat berkaitan dengan ajaran atau praktek hidup bersama. Wajar kalau Roh diberi kesempatan untuk menjadi isi pokok dalam pembaruan karismatik namun masih dibantu dengan pranata kerja yang justru bertujuan mendukung gerakan Roh.

C. BADAN PELAYANAN NASIONAL DAN KELOMPOK BASIS

38. Dalam perkembangannya, Pembaruan Karismatik Katolik lama kelamaan memerlukan badan yang menata pelayanan, baik di tingkat basis maupun di tingkat keuskupan, regional dan nasional, bahkan internasional. Justru demi hidupnya pembaruan terus menerus, seyogyanya dijaga supaya pembaruan sendiri terlaksana tanpa henti dalam kelompok-kelompok basis. Untuk itu, perlu sekali bahwa kaderisasi semakin diusahakan dengan serapi mungkin. Dibutuhkan banyak moderator dan pelancar yang sungguh mengetahui prinsip-prinsip Pembaruan Karismatik Katolik secara mendalam serta memiliki ketrampilan memimpin kelompok pedalaman.

39. Badan-badan Pelayanan hendaklah menolong supaya gairah dari Seminar Hidup Baru dipupuk kehangatannya melalui pendalaman bina-lanjut serta ketekunan dan kesetiaan dalam mengikuti persekutuan doa. Kelompok-kelompok Persekutuan Doa hendaknya terus menerus dibantu untuk tanpa kenal lelah memurnikan diri menjadi persekutuan rohani, terkokohkan menjadi tempat orang menimba inspirasi rohani bagi keterlibatan harian dalam karya dan pergaulan luas serta terkuatkan dalam kerjasama dengan kelompok lain. Banyak Persekutuan Doa terbentuk karena kesamaan minat, kesibukan dan pengalaman batin. (Maka dari itu dengan bantuan tersebut di atas melalui Persekutuan Doa dapat ditumbuhkan komunitas  basis gerejawi yang mendalam rohaninya, luas pengetahuan imannya, tepat pemahamannya dan tekun penghayatannya.) Pantaslah diarahkan, agar doa-doa, pendalaman Kitab Suci maupun ajaran Gereja mendorong peserta melaksanakan hidup sehari-hari dalam keluarga, kampung, paroki dan tempat bekerja sebagai orang kristiani yang sejati.

Perlu diperhatikan pula persekutuan doa ekumenik. Terutama, Badan-badan Pelayanan perlu menjaga dan melindungi saudara saudari yang baru menjadi katolik, yang masih lemah kekatolikannya, dan masih sedikit pengetahuan imannya. Sebaiknya mereka ini tidak diperkenankan turut serta dalam persekutuan doa ekumenik. Selanjutnya, baiklah kita bersemangat Injil: bersatu dengan para pengganti Petrus menantikan kedatangan Yesus yang mulia. ((Bdk. Yoh. 21:1-14)) Artinya, kita setia kepada Gereja kita dalam semangat iman yang terbuka. Bila demikian kita tidak perlu risau bila ada orang yang berusaha menarik-narik saudara kita memasuki himpunan mereka. Namun demikian kita memang perlu memiliki kesetiakawanan tinggi sebagai satu persekutuan. Perlulah kita menolong saudara-saudari yang tertarik untuk ‘mencari hiburan sabda’ di luar Gereja Katolik, dan mengusahakan agar liturgi dan pewartaan sabda kita sungguh mengena di hati manusia masa kini. Di lain pihak kita perlu tahu, bahwa Tuhan bersabda tidak pertama-tama untuk menyenangkan manusia, melainkan untuk ‘menyatakan kehendakNya’.

Dalam kaitan ini, kami berharap agar Badan Pelayanan Keuskupan lebih memperhatikan supaya umat tidak mudah mengambil alih kebiasaan dan lagu-lagu yang berasal dari tradisi dan teologi yang tidak sesuai dengan khasanah Gereja Katolik. Kami mendukung upaya-upaya untuk menciptakan lagu-lagu baru yang sesuai dengan penghayatan umat masa kini dan menyapa banyak orang.

40. Rangkaian kelompok-kelompok basis memerlukan pranata kerjasama yang rapi. Kami bergembira bahwa sejak beberapa saat dibentuk Badan Pelayanan Keuskupan, Badan Pelayanan Regional, dan Badan Pelayanan Nasional. Badan ini mau menjadi wadah, agar kelompok-kelompok basis memperoleh kemudahan dan bantuan lahir-batin. Maka dari itu, Badan Pelayanan Keuskupan, Badan Pelayanan Regional, dan Badan Pelayanan Nasional bertugas tidak hanya mengorganisasi pertemuan nasional melainkan juga merangsang terjadinya pembaruan tanpa henti dalam semua kelompok basis dan dalam taraf nasional. Dengan demikian badan-badan ini tidak membekukan melainkan justru merangsang kehidupan dalam Pembaruan Karismatik Katolik. Hal ini dapat terjadi dengan pertemuan-pertemuan, persekutuan-persekutuan, ((Ini sering juga disebut “fellowship”)) tetapi juga dengan edaran-edaran serta cara-cara kerjasama lainnya.

41. Khususnya, kami ingin mendukung usaha Badan Pelayanan Keuskupan, Badan Pelayanan Regional, dan Badan Pelayanan Nasional untuk memajukan terus program-program bina lanjut yang sudah dimulai secara lebih terpadu. Peningkatan pemahaman akan tafsir Kitab Suci yang benar dan akan ajaran Gereja serta tradisinya dapat meningkatkan mutu hidup beriman umat. Para Moderator ditugasi dan dipercaya untuk menilik, agar program-program pendidikan peserta maupun pewarta benar-benar sesuai dengan kebutuhan umat dan selaras dengan ajaran Gereja, sebab pewartaan Gereja adalah pewartaan Sabda Tuhan. Dengan demikian kita berpartisipasi dalam pengutusan Gereja yang ditugasi Kristus, Sang Pewarta Utama. Terutama perlu diperdalam usaha memadukan bina iman dengan penerimaan sakramen-sakramen. Dalam perkara yang penting kami yakin para Moderator tidak segan-segan mengadakan konsultasi dengan Keuskupan dan Seminari-seminari Tinggi demi keserasian ajaran. Dengan begitu, semoga tercipta pula komunikasi timbal balik yang lebih akrab.

42. Dengan gembira kami menyaksikan berkembangnya tradisi konvensi-konvensi daerah, regional, dan nasional. Ternyata konvensi-konvensi tersebut dapat diteruskan dan dikembangkan untuk memadukan rasa kebersamaan dan menjadi sarana pendalaman iman melalui lokakarya dan seminar-seminar. Agaknya sumbangsih para pakar teologi, psikologi, dan ilmu-ilmu lain masih dapat lebih dimanfaatkan untuk meningkatkan mutu kita bersama. Perlu dicermati agar jarak antara konvensi, kebangunan rohani yang satu dengan berikutnya tidak terlalu dekat. Yang penting, bagaimana itu berpengaruh pada hidup bersama sebagai Persekutuan Doa dan pada hidup harian masing-masing sebagai pribadi.

43. Tim-tim pelayanan Persekutuan Doa, Badan Pelayanan Keuskupan, Badan Pelayanan Regional, dan Badan Pelayanan Nasional sudah berkembang di banyak tempat. Kami harap, koordinasi pelayanan sungguh diupayakan, sebagaimana telah ditunjukkan dalam Surat Gembala KWI mengenai Pembaruan Karismatik Katolik tahun 1993. Hendaknya mutu ditingkatkan dengan organisasi yang lebih baik, studi terus menerus, refleksi tanpa henti, dan penataran yang dapat diandalkan.

Kelompok Persekutuan Doa kategorial sudah semakin banyak yang tumbuh. Mereka itu perlu lebih diperhatikan lagi dalam hal isi pewartaan dan koordinasi pelayanannya. Kami meminta agar Badan Pelayanan Nasional, Badan Pelayanan Regional, Badan Pelayanan Keuskupan, dan semua badan pelayanan mengusahakan terbentuknya kader-kader berbobot: baik untuk Pembaruan Karismatik Katolik sendiri maupun untuk Gereja luas. Hal itu hanya mungkin kalau Pembaruan Karismatik Katolik lebih memperhatikan pelayanan dan pendampingan kaum muda.

Lebih dari pada itu, seyogyanya Pembaruan Karismatik Katolik Indonesia lebih erat bekerjasama dengan Badan Pelayanan Internasional untuk Pembaruan Karismatik Katolik (ICCRS) yang sudah disambut ke dalam Kongregasi Suci untuk Kerasulan Awam.

D. PEMBARUAN KARISMATIK DAN HIERARKI

44. Dari uraian Paulus dalam 1 Kor. 12-14 kita mendapat penjelasan, bahwa sejak semula disadari betapa segala kegiatan Gereja sebagai wujud karisma Roh itu bisa bermakna ganda, sehingga memerlukan penelitian batin terus menerus. Bagi Paulus, tidak setiap kali orang berbicara bahasa asing itu dari Roh, dan tidak setiap kali ada penyembahan itu pasti dari Roh, serta tidak setiap kepandaian bicara itu dari Roh. Umat memainkan peran penting dalam menentukan sejauh manakah sesuatu itu dari Roh. Maka dari itu, wakil umat, yaitu pemimpin Gereja, perlu mendapat kepercayaan untuk mengambil bagian dalam mengambil keputusan, sehingga diperoleh penjelasan yang tegas: manakah yang dari Roh Kudus. Itulah peranan hierarki, yang mendapat karunia khusus pula untuk memimpin.

45. Kalau menyangkut pewartaan, marilah kita sadari, bahwa pewartaan dalam Gereja bukanlah pewartaan pendapat sendiri melainkan pewartaan Sabda Allah, seperti diakui dan diajarkan oleh Gereja Semesta. Hierarki merupakan instansi yang melayani seluruh umat dalam memperoleh kepastian pemahaman sejati mengenai Sabda Tuhan. Maka, pengesahan dari hierarki senantiasa merupakan persyaratan dasar dalam pewartaan kita. Oleh karena itu, setiap pelayan pewartaan resmi dalam Gereja kita perlu memperoleh pengangkatan dari Uskup setempat atau yang diberi kuasa untuk itu. ((Bdk. Konstitusi Dogmatis Konsili Vatikan II mengenai Gereja, a.12)) Hendaknya Badan Pelayanan Nasional, Badan Pelayanan Regional, dan Badan Pelayanan Keuskupan membantu agar pedoman kita ini terlaksana dengan baik.

46. Kami dapat merasakan beratnya tugas Badan Pelayanan Nasional, Badan Pelayanan Regional, dan Badan Pelayanan Keuskupan dalam menciptakan kader-kader untuk mewartakan Sabda Tuhan secara bertanggungjawab. Oleh karena itu, kami mendukung keinginan untuk meningkatkan kemampuan para pewarta. Sudah ada sejumlah sekolah pewarta. Hendaknya mutu mereka senantiasa ditingkatkan. Kerjasama dengan Lembaga Pendidikan Imam, Lembaga Pendidikan Kateketik, serta dengan pelbagai pakar dalam hal itu dapat memperkaya semua pihak.

47. Kami ingin mengajak para imam untuk memperhatikan kebutuhan terdalam umat secara keseluruhan. Adalah tugas hirarki untuk menjaga persatuan: baik secara positif dengan mendukung gerakan pemersatuan maupun dengan mengusahakan persatuan apabila ada gejala-gejala perpecahan. Memang masing-masing imam dapat memiliki kecenderungan pribadi terhadap cara beriman tertentu. Akan tetapi, pengutusan imam sebagai pemersatu umat menuntut kesediaan untuk menjalankan pelayanan pemersatuan dan pemulihan persatuan iman. Ternyata, semakin banyak Persekutuan-persekutuan Doa yang ingin berbakti dengan baik dan membutuhkan bimbingan, khususnya dari imam setempat.

E. PEMBARUAN KARISMATIK KATOLIK DAN USAHA-USAHA PEMBARUAN LAIN

48. Kita tahu bahwa pencinta Roh Kudus ada dalam seluruh Gereja. Roh Kudus hidup di semua anggota umat dan pada segala tingkat umat. Maka pembaruan hidup dalam Roh Kudus mempunyai tempat dalam Gereja dan merupakan satu dari sekian banyak arus pembaruan rohani yang diterbitkan oleh Roh, baik dalam kelompok maupun perseorangan. Oleh karena itu, diperlukan pula komunikasi dan kerjasama antara Pembaruan Karismatik Katolik dengan badan-badan pembaruan lain, seperti Kelompok Pembaruan Hidup Kristiani, Legio Mariae, Marriage Encounter, Couples for Christ, dsb. Hal itu juga dapat membantu semua pihak untuk belajar satu sama lain dan tetap terbuka pada pembaruan.

49. Tugas para pemimpin dalam kelompok pembaruan tidak mudah. Di satu pihak harus mendorong dinamika pembaruan terus menerus, di lain pihak perlu juga menjaga persatuan yang kadang kala meminta keteraturan tertentu. Kadang kala perlu membimbing kelompok secara khas, namun usaha itu tidak perlu membawa fanatisme. Pantas pula kita membuka mata kelompok pada cakrawala hidup Gereja yang lebih luas, tanpa mengaburkan kekhasan kelompok. Meski sulit, kami berharap bahwa para pemimpin semua kelompok menjadi jembatan saling memahami dan jembatan komunikasi apabila terjadi ketegangan, seperti dalam semua bentuk hidup bersama.

50. Dalam konteks ini perlu juga diingat bahwa pembaruan karismatik berlangsung baik di kalangan umat protestan maupun katolik. Dalam banyak kesempatan ada pertemuan ekumenik. Konsili Vatikan Kedua sudah menunjukkan tekad Gereja Katolik untuk menggiatkan ekumene. Bahkan Gereja Katolik mengakui bahwa dapat memperoleh buah banyak dari perjumpaan ekumenik. ((Bdk. Dekrit Konsili Vatikan II mengenai Ekumene, a.4)) Maka ekumene dapat pula terlaksana, bahkan sudah sering terjadi dalam pembaruan karismatik. Namun, ekumene tidak perlu disamaratakan dengan asal berdoa bersama dan menerima apa-apa saja yang dilakukan oleh umat atau Gereja lain. Ekumene yang baik memiliki tolok-ukur sebagai berikut: pesertanya secara tulus saling menghargai, memiliki sikap tahu diri yang sehat, serta mengenal tradisi maupun ajaran Gerejanya masing-masing. Ekumene dalam Pembaruan Karismatik dapat didukung dan disuburkan kalau sekaligus mendorong meningkatnya pengetahuan dan pengamalan kebiasaan, maupun prinsip ajaran serta hidup sakramental katolik. Dengan demikian rekonsiliasi dengan saudara-saudara kristen non-katolik menjadi suatu proses yang sehat.

F. SALING MENGHARGAI

51. Mengikuti pesan Rasul Paulus, kita tahu bahwa hidup Roh dan usaha menyuburkan karunia-karunia dalam Gereja hanya dapat terlaksana dengan saling menghargai. “Telinga tidak dapat membuang tangan, hanya karena tangan tidak dapat mendengar”. ((Bdk. 1 Kor. 12:21)) Maka, secara intern seyogyanyalah kita saling menghargai di kalangan Pembaruan Karismatik.

Lebih jauh lagi, baik peserta maupun para pemimpin diajak untuk mengembangkan suasana saling menghargai dengan kelompok dan pemimpin-pemimpin kelompok lain dalam Gereja. Dalam hal ini kita harus menyebarkan cinta kasih, yang merupakan inti dasar dari karunia Roh. ((Bdk. 1 Kor. 13:1-3)) Kita diundang untuk membagikan dan menghidupkan persahabatan. Persaudaraan kita seyogyanya juga tampak dengan hidup rukun dan bekerja sama dalam membangun Gereja dan masyarakat.

V. ROH TERUS MENERUS MEMBARUI KITA

A. “DISCRETIO SPIRITUUM”

52. Roh itu Maha Sempurna, Ia jauh lebih besar daripada manusia, dan tidak dapat ditangkap sepenuhnya dengan seluruh gejala hidup manusiawi. Kita tahu bahwa ucapan atau tindakan yang kelihatannya saleh belum tentu sungguh dari Roh. Demikian pula, tidak semua yang tampaknya tidak suka dengan kita, betul-betul musuh kita. Matius mengingatkan kita “tidak semua yang berseru ‘Tuhan, Tuhan’ akan masuk Kerajaan Surga”. ((Mat. 7:21))

Marilah kita semua membarui iman kita bahwa daya kekuatan Roh Kudus merupakan sendi penciptaan dan penyelamatan serta pengudusan kita. Dalam Roh-lah Bapa memberikan diriNya, mengutus Sang Putra, dan mendampingi perjalanan ziarah Gereja. Iman ini perlu kita ulang lagi dan lagi di tengah jaman yang semakin percaya kepada kekuatan manusia sendiri dan menjadi semakin sekular. Namun dalam kepercayaan itu marilah kita menghindarkan diri dari godaan untuk menyamakan karya Roh dengan pelbagai tindakan kita sendiri. Bersama Yohanes kita dapat berkata, “Janganlah percaya akan setiap roh, tetapi ujilah roh-roh itu, apakah mereka berasal dari Allah. ((1 Yoh. 4:1a)) Dalam tekad itu kita bersatu.

53. Marilah kita semua meneliti batin kita masing-masing untuk benar-benar melangkah dalam Roh. Kita dapat mengaktualkan tindakan-tindakan sekular penuh rasionalisasi sebagai bisikan Roh, kita juga dapat tergelincir menganggap inspirasi spektakuler kita sebagai perbuatan Roh. Dalam gairah waktu bertobat, dapat saja kita terdorong untuk mengambil keputusan besar. Namun, hal itu harus ditindak-lanjuti dengan pendalaman pemahaman dan pendampingan orang yang lebih tahu akan gerak Roh dalam manusia: mana dorongan dari Roh yang baik dan mana dari sumber lain. Diperlukan penyadaran Roh yang jernih agar kita secara tegas lebih menangkap, sejauh manakah Roh benar-benar di balik segala perbuatan kita. Di situlah kita temukan wujud nyata dari hidup beriman dalam hidup sehari-hari. “Discretio Spirituum” semacam itu amat diperlukan oleh umat. Salah satu ukuran yang dapat ditemukan secara sederhana adalah: sejauh mana gerakan itu mengakibatkan cinta yang semakin besar kepada saudara-saudara Tuhan yang membutuhkan bantuan. Khususnya para pemimpin kelompok hendaklah unggul dalam menolong umat dan melaksanakan sendiri ‘discretio’ itu.

54. Dalam kerangka itu, kami meminta agar Badan Pelayanan Nasional, Badan Pelayanan Regional, dan Badan Pelayanan Keuskupan pertama-tama menjadi instansi untuk semakin menghidupkan iman kepada Roh dengan menyebarluaskan ‘discretio’ yang sejati. Badan Pelayanan Nasional Karismatik Katolik hendaknya terutama mengambil peranan rohani. Pelbagai pranata dan langkah yang dilaksanakan dalam rangka pelayanan nasional hendaknya merupakan buah dari ‘discretio’ dan mendorong dilaksanakannya ‘discretio’ terus-menerus dalam segala lapisan pembaruan hidup kristiani.

55. Para imam dan pemuka umat kami ajak untuk secara lebih penuh menyerahkan diri kepada daya kekuatan Roh dan menolong umat untuk lebih teliti mengkaji segala sesuatunya dengan “discretio” sejati.

Dalam proses itu, diperlukan tobat dan pembaruan terus-menerus. Pembaruan Karismatik Katolik dapat mendorong sikap tobat itu kepada orang-orang di luar kelompok mereka. Namun pertobatan dan pembaruan terus-menerus terutama harus menjadi darah daging Pembaruan Karismatik, sehingga Pembaruan Karismatik Katolik secara hakiki dan internal adalah gerakan yang unggul dalam membarui diri tanpa henti.

Begitulah, kesediaan untuk menyadari keberimanan di tengah kesibukan sehari-hari dapat mendorong sikap setia dan sekaligus kritis dalam gerak menggereja.

B. PEMBARUAN KARISMATIK DAN KETERLIBATAN SOSIAL

56. Arah yang seyogyanya kita tuju adalah saling membantu agar Roh Kudus sungguh memenuhi hidup kita. Salah satu petunjuk yang dapat membantu kita untuk mengetahui sejauh manakah kita didorong oleh Roh Sejati, adalah dengan memeriksa, bagaimanakah kita bersikap kepada kepentingan umat dan masyarakat yang lebih luas. Dalam proses itu, pembaruan iman kepada Roh Kudus perlu semakin disambungrasakan dengan segi profetik iman yang lebih menyeluruh: baik menyangkut segi hidup batin perseorangan dan kelompok maupun segi penyelamatan seluruh umat manusia, rohaniah dan jasmaniah. Kita perlu lagi dan lagi menyediakan diri untuk bergabung dengan seluruh dinamika Gereja yang sejak awal sampai sekarang senantiasa mau menggabungkan doa dengan perbuatan sosial. ((Bdk. Luk. 4:18-19 dan Konstitusi Dogmatis Konsili Vatikan II mengenai Gereja, a.8)) Kita menyaksikan bagaimana umat Gereja Perdana yang amat menyadari kehadiran dan karya Roh Kudus itu bertekun dalam ajaran para Rasul dan saling membagi harta.

57. Oleh karena itu, kita perlu bersyukur bahwa banyak peserta Pembaruan Karismatik Katolik yang semakin mampu mengintegrasikan doa dan bakti-sosial. Sementara itu, Pembaruan Karismatik Katolik dapat menolong Gereja untuk memberi isi rohani kepada kegiatan-kegiatan sosial. Dalam hal ini baiklah membuka diri terhadap teladan baik dari para Pemimpin Gereja, yang semakin melihat bahwa iman katolik mendesak kita untuk “mendahulukan saudara-saudari yang berkesusahan”.

C. PEMBARUAN TERUS MENERUS

58. Akhirnya marilah kita berusaha agar melihat pembaruan hidup dalam Roh menjadi dasar bersama kita. Sebab dengan demikian kita menjunjung tinggi kebersamaan kita sebagai murid-murid Sang Guru, ialah Yesus Kristus. Marilah kita saling membantu supaya dapat menempatkan pembaruan hidup dalam Roh sebagai jiwa hidup Gereja, kalau mau terus-menerus membarui diri. Kami menghimbau keluarga karismatik untuk senantiasa melaksanakan upaya pembaruan hidup dalam Roh dalam kesatuan dengan Gereja-Gereja setempat, di mana pun mereka berada.

Semoga Bapa yang penuh kasih dan Sang Putra yang menyelamatkan kita senantiasa menyertai jiarah kita untuk menjadi umat yang kudus dalam Roh Persatuan.

PENUTUP

59. Pada bagian awal pedoman ini ditegaskan tentang iman Gereja Perdana, yakni bahwa yang mempersatukan kita adalah Roh Kudus, Roh Persatuan. “…dengan perantaraan Roh, Ia membentuk tubuhNya, yakni Gereja sebagai sakramen keselamatan…” ((Konstitusi Dogmatis Konsili Vatikan II mengenai Gereja, a.48)) Karena Roh Cintakasih itulah yang menjiwai seluruh Gereja, maka marilah kita mohon agar Roh itu pula yang menghidupkan seluruh umat, dan Roh itu juga yang membarui hidup kita, lahir maupun batin.

60. Semoga dengan demikian, terlaksanalah harapan yang diserukan oleh Paulus sesudah ia membicarakan pelbagai karunia dalam umat dan sebelum ia mengemukakan bentuk konkret karunia karunia itu: “yang paling besar di antaranya ialah cinta kasih”. ((1 Kor. 13:13))

Dengan demikian, semoga “kasih karunia Tuhan Yesus Kristus dan kasih Allah dan persekutuan Roh Kudus menyertai kamu sekalian”. ((2 Kor. 13:13))

61. Semoga Bunda Maria, yang selalu menyatu dengan suka duka PutraNya Yesus Kristus, dan yang sejak awal Gereja bersatu pula dengan para Rasul, dan yang bersama mereka pada peristiwa Pentakosta dikukuhkan sebagai Gereja yang hidup di bawah bimbingan dan kuasa Roh Kudus, menjadi teladan sempurna maupun pengantara yang kuasa bagi perjalanan pejiarahan kita menuju Bapa, bersatu dengan PutraNya Yesus Kristus, di bawah bimbingan dan naungan Roh Kudus.

BAHAN BACAAN

N.B. Untuk menolong anda semua meneruskan pembaruan dengan belajar dari sumber lain, kami lampirkan di sini: sejumlah bahan bacaan dalam pelbagai bahasa. Pastilah bahan ini belum lengkap. Namun demikian kiranya cukup untuk menarik minat dan menyediakan bahan belajar lebih lanjut.

Baumert, Norbert (Hrsg.), Jesus ist der Herr: Kirchliche Texte zur Katholischen Charismatischen Erneuerung, Munsterschwarzach, 1987

McDonnel, Kilian, Communion Ecclesiology and Baptism in the Spirit: Tertullian and the Early Church, dalam ThSt 49 (1988) 671 – 693.

McDonnel, Kilian, The Holy Spirit and Power: The Catholic Charismatic Renewal, New York, 1975.

McDonnel, Kilian, dan George T. Montague, Christian Initiation and Baptism in the Holy Spirit: Evidence from the first Eight Centuries. First, amended edition, Collegeville, Minnesota, The Liturgical Press, 1991.

Koller, Johann, Charismatische Erneuerung in der Pfarre, dalam ThQ 129 (1981) 32-42.

Kramer, Peter, Kein neuer kirchlicher Verein? Kirchenrechtliche Erwagungen zur “charismatishen Erneuerung” im Bereich der deutschen Bischofskonferenz, dalam TrThZ 97 (1988) 52-63.

Kramer, Peter dan J. Mohr, Charismatische Erneuerung der Kirche. Chance und Gefahren, Trier, 1980.

Laurentin, Rene, Catholic Pentecostalism, Darton, 1977.

Mollat, Donation, L’Experience de l’Esprit dans la Nouveau Testament, Feu Nouveau, Paris, 1973.

Muhlen, Heribert, Die katholisch-charismatische Gemeinde Erneuerung, dalam StdZ 100 (1975) 801-812.

Muhlen, Heribert, “Erneuerung aus dem Geist Gottes” und “Der Geist macht lebendig. Unterschiedliche historische Wurzeln von zwei Dokumenten zur geistlichen Erneuerung, dalam GuL 61 (1988) 143-157.

Muhlen, Heribert, Das Verhaltnis von ‘innerer Taufe” und Taufsakrament: Gehort das personliche Taufbekenntnis zum Wesen der Taufe?, dalam ThGI 79 (1989) 552-567

Muhlen, Heribert, Neu mit Gott. Einubung in christliches Leben und Zeugnis, Freiburg-Basel, Wien, 1990.

Nientiedt, Klaus, Unmittelbarkeit – Eine Gnadengabe? Zur katholischen Charismatischen Erneuerungsbewegung, dalam HK 37 (1983) 368-372.

Rahner, Karl, The Dynamic Element in the Church (Quaestiones Disputatae, 12), Herder and Herder, New York, 1964.

Rey, Karl Guido, Gotteserlebruisse im Schnellverfahren: Suggestion als Gefahr und Charisma, Muenchen, 1985.

Rey, Karl Guido, Gotteserlebris in der Masse: Zur Problematik religioser Massenveranstaltungen, dalam GuL 61 (1988) 185 – 194.

Sudbrack, Josef, Der Geist der Einheit und der Vielheit. Ein Dokument zur “Erneuerung” christlichen Lebens in der Kirche, dalam GuL 60 (1987) 411-430.

Suenens, Leon Joseph, A New Pentecost?, Darton, 1975.

Sullivan, F.A., Pfingstbewegung und charismatische Gemeindeerneuerung: Geschichte-Spiritualitat-Stellungnahme, dalam GuL 59 (1986) 166 – 183.

Walsh, Vincent M., A Key to Charismatic Renewal in the Catholic Church, St, Meinrad, IN, 1975.

Siapakah David Benjamin Keldani?

8

Ada orang yang bertanya, apakah benar David Benjamin Keldani dulunya seorang guru besar Teologi Katolik, imam, bahkan uskup, namun kemudian meninggalkan Gereja dan menjadi muslim?  Untuk menanggapi pertanyaan ini, seseorang perlu memeriksa terlebih dahulu apakah benar Keldani ini dulunya pernah menjadi guru besar Teologi Katolik, imam, dan uskup sebagaimana disebutkan dalam klaim tersebut.

1. Apakah Keldani adalah seorang ‘guru besar’?

Jika kita perhatikan, klaim yang tertulis di internet tentang Keldani itu bersumber dari tulisan satu dan sama, yang dikutip oleh bermacam situs. Ini berbeda dengan yang umumnya terjadi pada tokoh-tokoh besar, akan ada banyak sumber yang menuliskan tentang dirinya. Sebagai contoh, Abdurrahman Wahid. Begitu kita ketik namanya, akan ada banyak sumber yang menuliskan tentang beliau. Artinya buah pikiran dan perannya diakui di kalangan umat muslim. Nah, Keldani ini tidak demikian. Padahal jika kita melihat klaimnya, seolah pengajaran Keldani ini dianggap penting bagi kalangan mereka, namun pertanyaannya, mengapa ‘keahliannya’ relatif tidak dikenal, bahkan di dunia muslim sendiri?

Di salah satu buku ensiklopedia Islam Modern yang cukup dikenal, The Oxford Encyclopedia of the Modern Islamic World, Oxford University Press, nama David Benjamin Keldani (Abdu’l-Ahad Dawud) tidak muncul. Padahal tokoh Abdurrahman Wahid dari Indonesia saja tertulis di buku ensiklopedia tersebut. Selanjutnya, jika kita melihat buku seri ensiklopedia yang secara umum lebih dikenal di dunia, yaitu The New Encyclopaedia Britannica, nama David Benjamin Keldani (Abdu’l-Ahad Dawud) tidak tercantum. Fakta ini sendiri selayaknya membuat kita mempertanyakan validitas dari klaimnya, entah sebagai scholar (ahli) yang konon ahli dalam berbagai bahasa dan mempelajari Kitab Suci dalam bahasa aslinya dan kemudian mengajarkan buah-buah pikirannya. Sebab jika klaim ini benar, setidaknya ia akan memperoleh pengakuan, setidaknya dari kalangan ahli bahasa (linguistik kuno: Yunani, Latin, Ibrani) atau para ahli Kitab dari kalangan muslim, jika memang pemahamannya benar.

Demikian pula jika kita melihat kepada buku-buku ensiklopedia Katolik. Tidak ada referensi yang menuliskan tentang Keldani. Padahal di ensiklopedia Katolik umumnya cukup lengkap dituliskan nama-nama tokoh, baik mereka yang pernah berperan dalam Gereja, maupun mereka yang membenci Gereja Katolik, dan tokoh-tokoh yang mencoreng wajah Gereja Katolik. Dengan absennya Keldani di sini dapat disimpulkan bahwa Keldani tidak pernah benar-benar dikenal di kalangan umat Katolik (apalagi dikenal sebagai ‘guru besar’), baik sebelum maupun sesudah ia meninggalkan Gereja Katolik.

2. Apakah Keldani seorang ‘guru besar’/ profesor Teologi Katolik?

Sekarang mari kita melihat kenyataan yang lain. Yaitu bahwa Keldani meninggalkan Gereja Katolik pada saat ia berumur 33 tahun. Dikatakan dalam klaimnya yang dikutip di situs-situs bahwa ia adalah seorang ‘profesor’. Namun dari informasi yang terbatas itu tidak diberitahukan ia itu mengajar sebagai profesor di mana? Sebab tidak ada catatan di sekolah/ universitas manapun tempat ia mengajar, kecuali ketika ia sebagai seorang Kristen Anglikan kemungkinan mengajar saat ia berumur 19-22 tahun. Namun gereja Anglikan di Urmiah tidak mempunyai sekolah yang lebih tinggi dari sekolah SMA. Juga tidak ada data bahwa ia pernah mengajar sebagai profesor ketika tahun 1892 (di usianya yang ke 25), ia mengirimkan tulisannya kepada majalah Tablet -sebuah majalah mingguan Katolik di Inggris. Gelarnya yang tercantum di sana adalah “BD” (Bachelor of Divinity), suatu gelar yang tidak otomatis menunjukkan dia adalah seorang profesor. Pihak majalah Tablet (market@tablet.netkonect.co.uk), yang masih eksis sampai sekarang, tidak mempunyai record data autobiografi Keldani.

Selanjutnya tentang tulisannya yang berjudul “Authenticity of the Pentateuch“, yang dituliskan di sekitar tahun yang sama. Pendidikan yang diterima Keldani sampai saat itu adalah 2-3 tahun studi tentang Misi di Mill Hill, Inggris, sehingga kemungkinan besar dasar yang dipakai untuk menuliskan artikel tersebut adalah pengetahuan secara umum tentang kebiasaan yang tercatat di kitab Taurat dan kemiripannya dengan adat istiadat Assyria di mana ia berasal, dan bukan penyelidikan yang mendalam tentang arkeologi, linguistik/ bahasa asli dan studi banding secara ilmiah tentang berbagai buku literatur. Bahasa asli kitab Perjanjian Lama adalah Ibrani, Yunani dan beberapa bahasa Aram. Meskipun bahasa Ibrani mirip dengan bahasa Syria, tetapi kedua bahasa itu tidak sama, dan adalah sesuatu yang perlu dipertanyakan bahwa hanya dalam waktu singkat (di Inggris dan Roma?) ia sudah dapat menguasai bahasa Ibrani dan Yunani.

Nampaknya ia juga tidak mendalami keseluruhan kelima Kitab Taurat Musa. Ini terlihat dari beberapa komentarnya yang mengatakan bahwa Kitab Suci adalah palsu karena menurut hukum Musa (lih. Im 20:17), Abraham adalah seorang kriminal, karena menikahi Sarah, adiknya sendiri (adik lain ibu, lih Kej 20:12). Keldani nampaknya mengabaikan kenyataan bahwa memang sebelum dikeluarkannya hukum Musa, hal pernikahan sesama saudara memang terjadi dalam Perjanjian Lama, seperti halnya perkawinan antara sesama anak-anak Adam dan Hawa. Hanya setelah perkembangan jumlah manusia, dan akibat dosa asal yang menyertainya, terjadi hal-hal yang negatif dari perkawinan sesama saudara ini, sehingga kemudian dilarang oleh Allah. Tentang hal ini sudah pernah dibahas di sini, silakan klik.

Sekarang tentang dicatatnya Keldani sebagai peserta Eucharistic Congress tahun 1897 yang diadakan selama 5 hari di Paray-le-Monial, Perancis. Ini tidak menjadi bukti bahwa ia menempati posisi penting di Gereja Katolik. Konggres semacam ini diadakan untuk menumbuhkan dan memperkuat devosi kepada sakramen Ekaristi, namun bukan konggres yang khusus membahas ataupun menentukan ajaran Gereja Katolik, seperti halnya Konsili-konsili. Dalam konggres Ekaristi ini, umat awam dapat turut hadir, dan hadirin dapat mencapai puluhan ribu orang. Selama pertemuan dapat saja ada banyak artikel dibacakan, dan tidak menjadi jaminan bahwa Keldani adalah pembicara utama dalam Konggres itu. Sebagai bandingannya adalah silakan membaca daftar pembicara dalam kongres Ekaristi yang belum lama berlalu tgl 10-17 Juni 2012 di Dublin, silakan klik. Di sana terdapat banyak orang yang terlibat menjadi pembicara/narasumber (termasuk dari kaum awam); dan tidak menjadi jaminan bahwa yang berbicara di sana adalah seorang guru besar. Dapat terjadi ia dipercaya oleh Uskup Urmiah untuk hadir di sana mewakili umatnya, karena Keldani dapat berbahasa Perancis; dan ia diperbolehkan membacakan tulisan yang entah berasal dari Uskup ataupun minimal disetujui oleh Uskupnya. Di artikel itu ia menuliskan ketidaksetujuannya/ penyesalannya terhadap sistem pendidikan Katolik di kalangan Nestorian (para pengikut aliran sesat Nestorius); dengan demikian fokus tulisannya adalah bagaimana memberikan pendidikan yang baik, agar para pengikut aliran tersebut dapat kembali kepada ajaran iman Kristiani. Ia mengkritisi para misionaris barat (dari kalangan non- Katolik) yang sepertinya berlomba-lomba mencari pengikut di Urmiah.

3. Apakah Keldani seorang ‘Uskup’?

Dalam buku seri Hierarchia Catholica Medii et Recentioris Aevi, yang memberikan informasi biografi yang detail dari setiap Uskup Katolik, Uskup Agung dan Kardinal antara 1846 sampai 1903 (sebelum Keldani meninggalkan Gereja Katolik), tidak disebutkan nama Benjamin Keldani. Maka Keldani tidak pernah menjadi Uskup Katolik. Keuskupan Urmiah dan Salmas (kedua keuskupan yang kemungkinan menjadi area yang harus dipimpinnya jika benar ia pernah dipilih sebagai Uskup) sudah mempunyai uskupnya sendiri- sendiri. Uskup Urmiah sejak tahun 1890-1918 adalah Thomas Ado, sedangkan Uskup Salmas dari tahun 1894- 1915 adalah Isaac Khoudabache. ((Ritzler, Remigium, and Pirminum Sefrin.  “Hierarchia Catholica Medii et Recentioris Aevi“, vol. 8 (1846-1903).  Padua:
Messaggero di S. Antonia, 1979.  pp. 493))

4. Apakah Keldani adalah seorang imam?

Maka kemungkinan yang paling mungkin dalam klaim tersebut adalah Keldani memang adalah seorang imam Katolik.  Mungkin saja memang Keldani merupakan salah seorang anggota Konggregasi Misi yang didirikan oleh St. Vincent de Paul (1625) atau disebut juga Lazarist (mengambil nama St. Lazare dari nama kongregasi mereka) yang membuka tempat misi mereka di Persia tahun 1841, dan tahun 1892 membuka seminarinya di Urmiah. Mengapa seorang imam dapat berubah keyakinan, inilah pertanyaannya, yang memang tidak secara memadai dapat kita simpulkan.

Namun adalah sesuatu yang perlu dipertanyakan, jika dikatakan bahwa Keldani meninggalkan Gereja bukan karena konflik tetapi karena keputusan hati nurani. Fakta menunjukkan bahwa ia mengajukan pengunduran diri langsung kepada Uskupnya, tanpa melalui/ melibatkan superiornya sendiri sudah merupakan tanda bahwa ada pertentangan antara dirinya dengan superiornya sendiri. Entah apakah pertentangannya tidak dapat diketahui dengan pasti, tetapi perihal perbedaan kebijakan menangani sistem pendidikan di tanah misi (Urmiah) itu dapat menjadi salah satu topiknya mengingat itulah yang menjadi perhatian khusus Keldani. Bahwa setelah khotbahnya yang terakhir di tahun baru 1900 yang menyuarakan protesnya, dan setelah itu ia menerima kunjungan dari Msgr. Lesne, yang kemudian diikuti dengan retret pribadi, perlu menjadi bahan permenungan. Sebab setelah retret itu, Keldani memutuskan untuk mengundurkan diri sebagai imam. Memang jika permohonan pengunduran diri diajukan, pihak otoritas Gereja dapat saja menganjurkan agar permohonan ditarik kembali atau sebaliknya, menyetujui, dan kemudian memutuskan untuk menarik semua faculty imamatnya. Nampaknya keadaan yang kedua yang terjadi pada Keldani, sehingga dalam keadaan semacam ini, apapun dapat terjadi dari pihak Keldani untuk mencari solusi untuk menjelaskan posisinya.

Seseorang bernama Mark Pleas mengadakan semacam riset tentang siapakah David Benjamin Keldani, dan menjabarkan hasil penelitiannya di situs ini, silakan klik, dan di sana terdapat tanggapan yang cukup rasional dan mendetail terhadap klaim tentang Keldani yang banyak beredar di internet. Pleas sampai pada kesimpulan bahwa Keldani adalah suatu sosok yang mudah berubah, tidak pernah menyukai otoritas, sehingga sering berpindah keyakinan. Pertama ia di Urmiah (kemungkinan sebagai seorang Nestorian?), kemudian ke Inggris, dan pada saat itu kemungkinan besar ia adalah seorang Anglikan. Kemudian ia menjadi Katolik, kemudian menjadi Unitarian (salah satu kelompok yang tadinya ditentangnya, karena termasuk golongan misionaris dari barat), lalu menjadi muslim. Namun setelah ia menjadi muslim kiprahnya sebagai seorang ahli yang terpelajar relatif tidak dikenal, sehingga bahkan kapan wafatnya tidak diketahui dengan pasti (walau tertulis 1940).

Dengan keadaannya yang relatif tidak stabil dan buktinya (credential-nya) sebagai ahli Kitab Sucipun tidak diakui secara umum di dunia, maka secara obyektif, hasil pemikirannya belum tentu mewakili keahlian yang telah diklaim olehnya. Sebagai contoh tentang interpretasinya bahwa paraclete (Roh Kudus) adalah periklutos. Sebab para ahli Kitab Suci yang mendalami bahasa Yunani secara umum mengetahui bahwa paraclete yang dimaksud berasal dari kata παράκλητος (paráklētos) yang artinya: penghibur, pembela yang mengacu kepada Roh Kudus, dan bukan periklutos, yang artinya, yang terpuji, lalu dihubungkan dengan nama Ahmad.

Pada akhirnya, terpulanglah pada kita masing-masing, jika kita mendengar informasi-informasi semacam ini. Memang hal keyakinan berhubungan dengan hati nurani, namun sesungguhnya hati nurani juga terbentuk dari keterbukaan untuk menerima pengajaran yang benar yang sepenuhnya sesuai dengan akal sehat dan kebaikan yang sudah Tuhan tanamkan di dalam hati setiap orang. Dengan berpegang kepada prinsip ini, kita dapat memilah manakah informasi yang masuk akal dan karena itu mempunyai kemungkinan mengandung kebenaran; dan manakah informasi yang nampak bertentangan dan tidak masuk akal untuk dikatakan sebagai kebenaran.

Keep in touch

18,000FansLike
18,659FollowersFollow
32,900SubscribersSubscribe

Artikel

Tanya Jawab