Apakah Manusia Terdiri Dari Tubuh, Jiwa dan Roh atau Tubuh dan Jiwa?

48

Diskusi apakah manusia terdiri dari sesuatu yang bersifat material dan sesuatu yang bersifat spiritual telah dilakukan sejak lama, seperti yang dilakukan oleh Plato, Aristoteles, dll. untuk mengerti kodrat manusia. Dalam hal ini, para teolog kristen terbagi menjadi dua, yaitu dichotomy dan trichotomy. Yang menganut pengertian dichotomy berpendapat bahwa manusia terdiri dari tubuh dan jiwa dan Trichotomi mengatakan bahwa manusia terdiri dari: tubuh (body), jiwa (soul / psyche), dan roh (spirit / pneuma). Konsep trichotomy – yang diajarkan oleh Plato, gnostics, manichaeans, apollinarians, dan pada jaman modern ini diajarkan oleh Gunter – ditolak oleh Gereja Katolik. (Ludwig Ott, Fundamentals of Catholic Dogma (Tan Books & Publishers, 1974), p.96-97). Kita tidak dapat mengatakan bahwa dua-duanya benar, karena ke-dua konsep tersebut berbeda. Mari kita melihat satu-persatu dari teori ini dari Alkitab.

I. Mengapa Gereja Katolik mengajarkan dichotomy:

1) Dalam Alkitab kata “jiwa” dan “roh” sering dipakai bergantian, seperti: Yoh 12:27 “Sekarang jiwa-Ku terharu (my soul troubled) dan apakah yang akan Kukatakan? Bapa, selamatkanlah Aku dari saat ini? Tidak, sebab untuk itulah Aku datang ke dalam saat ini.” Yoh 13:21 “Setelah Yesus berkata demikian Ia sangat terharu (He was troubled in spirit), lalu bersaksi: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya seorang di antara kamu akan menyerahkan Aku.

Para ahli Alkibab mengatakan bahwa contoh di atas merupakan “Hebrew parallelism“, yang merupakan cara menyatakan ide secara puitis, dimana ide yang sama diulang dengan memakai kata yang berbeda. Sebagai contoh Lk 1:46-47 “46 Lalu kata Maria: “Jiwaku (soul) memuliakan Tuhan, 47 dan hatiku (spirit) bergembira karena Allah, Juruselamatku,

2) Kej 2:7 “ketika itulah TUHAN Allah membentuk manusia itu dari debu tanah dan menghembuskan nafas (spirit) hidup ke dalam hidungnya; demikianlah manusia itu menjadi makhluk yang hidup (living soul).” Kalau memang manusia terdiri dari tiga bagian, mengapa dalam kisah penciptaan, manusia diceritakan dibentuk dari debu tanah (sesuatu yang bersifat material, dalam hal ini menjadi tubuh) dan nafas hidup (sesuatu yang bersifat non-material/spiritual)? Di sini tidak dikatakan bahwa setelah ada dua unsur (debu tanah dan nafas hidup), maka manusia mempunyai jiwa, namun dikatakan bahwa: manusia menjadi mahluk yang hidup (living soul). Living soul dalam hal ini adalah “the whole man“, yang terdiri dari tubuh dan jiwa.

Jadi, apa yang membuat manusia menjadi mahluk yang hidup? debu tanah dan nafas hidup atau tubuh dan jiwa spiritual, yang membentuk kehidupan manusia, yang membuat manusia adalah manusia dengan kodrat yang ada saat ini. Karena jiwa spiritual ini diciptakan oleh Tuhan (lih. Kej 2.7) dengan menghembuskan nafas, maka jiwa yang bersifat immaterial ini adalah immortal / abadi.

3) Mt 10:28 mengatakan “Dan janganlah kamu takut kepada mereka yang dapat membunuh tubuh, tetapi yang tidak berkuasa membunuh jiwa; takutlah terutama kepada Dia yang berkuasa membinasakan baik jiwa maupun tubuh di dalam neraka.” Membunuh dan membinasakan jiwa dan tubuh di sini bukannya berarti membuat tubuh dan jiwa lenyap, namun membuat tubuh dan jiwa mengalami penderitaan abadi di neraka.

4) Lebih lanjut 1 Kor 5:3; 7:34 mengatakan “3 Sebab aku, sekalipun secara badani tidak hadir, tetapi secara rohani hadir, aku–sama seperti aku hadir–telah menjatuhkan hukuman atas dia, yang telah melakukan hal yang semacam itu. 34 dan dengan demikian perhatiannya terbagi-bagi. Perempuan yang tidak bersuami dan anak-anak gadis memusatkan perhatian mereka pada perkara Tuhan, supaya tubuh dan jiwa mereka kudus. Tetapi perempuan yang bersuami memusatkan perhatiannya pada perkara duniawi, bagaimana ia dapat menyenangkan suaminya.

II. Menyanggah teori trichotomy:

1) Ib 4:12 “Sebab firman Allah hidup dan kuat dan lebih tajam dari pada pedang bermata dua manapun; ia menusuk amat dalam sampai memisahkan jiwa dan roh, sendi-sendi dan sumsum; ia sanggup membedakan pertimbangan dan pikiran hati kita.” Perhatikan bahwa rasul Paulus membandingkan antara jiwa-roh dan sendi-sendi-sumsum dan pertimbangan-pikiran. Secara sekilas, kita akan melihat bahwa jiwa dan roh adalah dua hal yang berbeda, namun kalau kita melihat perbandingan setara, maka rasul Paulus membandingkan jiwa dan roh seperti sendi-sendi dan sumsum, dimana sumsum dan sendi adalah satu kesatuan; atau pertimbangan dan pikiran, di mana orang tidak dapat membuat pertimbangan tanpa adanya pemikiran maupun sebaliknya. Oleh karena itu, kita dapat menyimpulkan bahwa jiwa dan roh adalah satu hal yang satu, karena jiwa kita bersifat spiritual.

2) 1 Thes 5:23 “Semoga Allah damai sejahtera menguduskan kamu seluruhnya dan semoga roh, jiwa dan tubuhmu terpelihara sempurna dengan tak bercacat pada kedatangan Yesus Kristus, Tuhan kita.” Seperti yang diterangkan di atas, ini ayat ini adalah “Hebrew parallelism“, untuk menekankan sesuatu dengan menggunakan kata yang berbeda. Kita melihat di Mk 12:30 “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu dan dengan segenap kekuatanmu.” Kalau kita menggunakan logika trichotomy, maka kita akan melihat bahwa manusia bukan hanya terdiri dari tubuh, jiwa, dan roh, namun juga hati.

3) Secara definisi, jiwa adalah “the principle of life” dan jiwa adalah bersifat immaterial/spiritual. Kalau memang roh terpisah dari jiwa dan juga bersifat spiritual, maka seolah-olah ada dua immaterial yang berbeda, dalam satu tubuh. Dan akan sulit membayangkan ada 2 immaterial di dalam 1 material (tubuh). Pertanyaannya adalah siapa yang menciptakan jiwa (bersifat immaterial) dan siapakah yang menciptakan roh (bersifat immaterial). Karena immaterial lebih tinggi tingkatannya dari material dan yang rendah tidak dapat menciptakan yang lebih tinggi, maka jiwa (dan atau) roh tidak dapat diciptakan oleh tubuh yang bersifat material.

III. Pengajaran Resmi Gereja Katolik tentang manusia yang terdiri dari tubuh dan jiwa (KGK 362-367).

KGK 362     Pribadi manusia yang diciptakan menurut citra Allah adalah wujud jasmani sekaligus rohani. Teks Kitab Suci mengungkapkan itu dalam bahasa kiasan, apabila ia mengatakan: “Allah membentuk manusia dari debu tanah dan menghembuskan napas hidup ke dalam hidungnya; demikianlah manusia itu menjadi makhluk yang hidup” (Kej 2:7). Manusia seutuhnya dikehendaki Allah.

KGK 363     Dalam Kitab Suci istilah jiwa sering berarti kehidupan manusia (Bdk. Mat 16:25-26; Yoh 15:13.) atau seluruh pribadi manusia (Bdk. Kis 2:41.). Tetapi ia berarti juga unsur terdalam pada manusia (Bdk. Mat 26:38; Yoh 12:27.), yang paling bernilai padanya (Bdk. Mat 10:28; 2 Mak 6:30.), yang paling mirip dengan citra Allah: “Jiwa” adalah prinsip hidup rohani dalam manusia.

KGK 364     Tubuh manusia mengambil bagian pada martabat keberadaan “menurut citra Allah”: ia adalah tubuh manusiawi karena ia dijiwai oleh jiwa rohani. Pribadi manusiawi secara menyeluruh sudah ditentukan menjadi kenisah Roh dalam Tubuh Kristus (Bdk. 1 Kor 6:19-20; 15:44-45.). “Manusia, yang satu jiwa maupun raganya, melalui kondisi badaniahnya sendiri menghimpun unsur-unsur dunia jasmani dalam dirinya, sehingga melalui dia unsur-unsur itu mencapai tarafnya tertinggi, dan melambungkan suaranya untuk dengan bebas memuliakan Sang Pencipta. Oleh karena itu manusia tidak boleh meremehkan hidup jasmaninya; tetapi sebaliknya, ia wajib memandang baik serta layak dihormati badannya sendiri, yang diciptakan oleh Allah dan harus dibangkitkan pada hari terakhir” (GS 14, 1).

KGK 365     Kesatuan jiwa dan badan begitu mendalam, sehingga jiwa harus dipandang sebagai “bentuk” badan , artinya jiwa rohani menyebabkan, bahwa badan yang dibentuk dari materi menjadi badan manusiawi yang hidup. Dalam manusia, roh dan materi bukanlah dua kodrat yang bersatu, melainkan kesatuan mereka membentuk kodrat yang satu saja.

KGK 366     Gereja mengajarkan bahwa setiap jiwa rohani langsung diciptakan Allah (Bdk. Pius XII. Ens. “Humani generis” 1950: DS 3896; SPF 8.) – ia tidak dihasilkan oleh orang-tua – dan bahwa ia tidak dapat mati (Bdk. Konsili Lateran V 1513: DS 1440.): ia tidak binasa, apabila pada saat kematian ia berpisah dari badan, dan ia akan bersatu lagi dengan badan baru pada hari kebangkitan.

KGK 367     Kadang kata jiwa dibedakan dengan roh. Santo Paulus berdoa demikian: “Semoga Allah damai sejahtera menguduskan kamu seluruhnya, dan semoga roh, jiwa dan tubuhmu terpelihara sempurna dengan tak bercacat pada kedatangan Yesus Kristus” (1 Tes 5:23). Gereja mengaiarkan bahwa perbedaan ini tidak membagi jiwa menjadi dua (Bdk. Konsili Konstantinopel IV, 870: DS 657.). Dengan “roh” dimaksudkan bahwa manusia sejak penciptaannya diarahkan kepada tujuan adikodratinya (Bdk. Konsili Vatikan 1: DS 3005; GS 22,5.) dan bahwa jiwanya dapat diangkat ke dalam persekutuan dengan Allah (Bdk. Pius XII, Ens. “Humani generis” 1950: DS 3891). karena rahmat.

Share.

About Author

Stefanus Tay, MTS dan Ingrid Listiati, MTS adalah pasangan suami istri awam dan telah menyelesaikan program studi S2 di bidang teologi di Universitas Ave Maria - Institute for Pastoral Theology, Amerika Serikat.

48 Comments

  1. bsa santoso on

    Yth Bapak/Ibu team Katolisitas.
    Mohon bantuan dari team, baru baru ini di facebook (berita katolik) saya ada berita sbb :
    Seminar : KESEIMBANGAN HIDUP untuk DAMAI & BAHAGIA dengan cara mengolah sumbu kehidupan : BODY – MIND – SPIRIT (Tubuh – Jiwa – Roh)
    Apakah sudah merasa damai?
    Apakah sudah merasa bahagia?
    Sadarkah kita punya tubuh, jiwa dan roh?
    Apa bedanya? Apa hubungannya???
    Temukan pembahasan nya dalam seminar ini pada:
    Hari / Tgl : SABTU / 18 OKTOBER 2014
    Waktu : 8 – 15 WIB (diakhiri dengan misa)
    Tempat : KAPEL Gereja SANTO THOMAS RASUL – Gedung Karya Pastoral Lt.3, Jl.Pakis Raya blok G5 Bojong, Cengkareng
    Pembicara. : RM.BUDI SANTOSO,MSC
    (Komisi Spiritualitas Tarekat MSC)

    Tiket : Rp 30.000,- (inc.snack & lunch)
    … ada sesi ‘WORKSHOP / PELATIHAN’ …
    Tempat terbatas,segera daftar!!
    Info / Pendaftaran :
    – Yona 0813 1077 8788
    – Adriana 0812 9696 3207
    – Caecilia Siu Chen 0815 1039 3066
    NB. Harap membawa Alat Tulis
    Penyelenggara :
    Komunitas Tritunggal Mahakudus (KTM) Distrik 1 Jakarta

    dikarenakan ada kata2 : Sadarkah kita punya tubuh, jiwa dan roh? maka dalam kebimbangan dan ketidak mengertian ini saya memberanikan diri bertanya. ” yg benar yg mana? ” sekali lagi mohon maaf atas ketidak tahuan saya dan sama sekali saya tidak bermaksud untuk mengadukan hal ini dalam konotasi yg negatif.
    Jika pertanyaan ini dirasa berguna untuk orang lain silakan ditampilkan, namun jika memungkinkan bersifat negatif mohon jangan ditampilkan.

    Terimakasih
    Santoso

    • Shalom Santoso,

      Ada baiknya kita berpegang pada apa yang dituliskan dalam Katekismus Gereja Katolik 362-367. Dan dalam KGK 367 dituliskan dengan jelas:

      KGK 367     Kadang kata jiwa dibedakan dengan roh. Santo Paulus berdoa demikian: “Semoga Allah damai sejahtera menguduskan kamu seluruhnya, dan semoga roh, jiwa dan tubuhmu terpelihara sempurna dengan tak bercacat pada kedatangan Yesus Kristus” (1 Tes 5:23). Gereja mengaiarkan bahwa perbedaan ini tidak membagi jiwa menjadi dua (Bdk. Konsili Konstantinopel IV, 870: DS 657.). Dengan “roh” dimaksudkan bahwa manusia sejak penciptaannya diarahkan kepada tujuan adikodratinya (Bdk. Konsili Vatikan 1: DS 3005; GS 22,5.) dan bahwa jiwanya dapat diangkat ke dalam persekutuan dengan Allah (Bdk. Pius XII, Ens. “Humani generis” 1950: DS 3891). karena rahmat.

      Jadi, mari kita berpegang pada apa yang diajarkan oleh Gereja, bahwa manusia merupakan kesatuan dari tubuh dan jiwa.

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      stef – katolisitas.org

  2. Tjahja widjaja on

    Redaksi Yth,

    Saya memiliki gambaran tentang diri ini sbb: 1. Tubuh/daging; 2. Jiwa/memori (perasaan); 3. Roh. Benarkah pendapat saya ini?

    Mohon penjelasan atas pertanyaan “Siapakah aku, Aku, dan AKU? dilihat dari sudut spiritualitas Katolik (bila memungkinkan merujuk pada ayat Alkitab tertentu).

    Sebelumnya saya ucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya atas kesempatan ini.

    [Dari Katolisitas: Diskusi tentang topik ini sudah pernah dibahas secara panjang lebar di situs ini. Silakan membaca terlebih dahulu artikel di atas, silakan klik dan juga di artikel ini, silakan klik.]

  3. Salam kasih,

    Maaf pak Stef, sy agak sedikit bingung masalah manusia terdiri dari tubuh jiwa dan roh, dlm KGK 362-367 disebutkan kl manusia terdiri dari dua unsur yaitu tubuh dan jiwa, roh menjadi satu kesatuan dgn jiwa. Tapi dlm buku iman katolik (KWI) dikatakan kl manusia terdiri dari 3 unsur yaitu tubuh, jiwa dan roh…hal ini menjadi rancu pengertiannya dan menimbulkan perdebatan di persekutuan doa di temp saya krn mereka menjelaskan (yg tertulis cukup jelas) menyangkut ketiga unsur ini.
    Tapi dlm KGK tidak menjelaskan sedemikian jelasnya. Yg jd pertanyaan sy, bagaimana cara menjelaskan ke persekutuan doa temp sy, bahwa manusia hanya terdiri dari 2 unsur, tubuh dan jiwa (roh menjadi bagian dlm jiwa/tidak terpisahkan)? Krn mereka cenderung berdasar pada buku kuning KWI.

    Terimakasih Pak Stef
    Salam kasih
    Yindri

    • Shalom Yindri,

      Kalau sampai ada hal yang terlihat bertentangan, tentu saja kita harus mengacu kepada Katekismus Gereja Katolik, karena dengan jelas dituliskan oleh paus Yohanes Paulus II tentang wibawa teks, yaitu “Saya mengakuinya sebagai alat yang sah dan legitim dalam pelayanan persekutuan Gereja, selanjutnya sebagai norma yang pasti untuk ajaran iman“. Yang mungkin bisa Anda jelaskan dari buku kuning sehubungan dengan hal ini adalah dengan mengutip KGK 367

      KGK 367     Kadang kata jiwa dibedakan dengan roh. Santo Paulus berdoa demikian: “Semoga Allah damai sejahtera menguduskan kamu seluruhnya, dan semoga roh, jiwa dan tubuhmu terpelihara sempurna dengan tak bercacat pada kedatangan Yesus Kristus” (1 Tes 5:23). Gereja mengajarkan bahwa perbedaan ini tidak membagi jiwa menjadi dua (Bdk. Konsili Konstantinopel IV, 870: DS 657.). Dengan “roh” dimaksudkan bahwa manusia sejak penciptaannya diarahkan kepada tujuan adikodratinya (Bdk. Konsili Vatikan 1: DS 3005; GS 22,5.) dan bahwa jiwanya dapat diangkat ke dalam persekutuan dengan Allah (Bdk. Pius XII, Ens. “Humani generis” 1950: DS 3891). karena rahmat.

      Dengan kata lain, mungkin di buku kuning seolah-olah mencoba melihat ada perbedaan antara jiwa dan roh sesuai dengan 1Tes 5:23. Namun, yang harus dipegang adalah perbedaan ini tidak membagi jiwa menjadi dua. Dengan demikian, manusia terdiri dari tubuh dan jiwa, di mananya jiwanya bersifat spiritual – yang diarahkan kepada tujuan adikodratinya, yaitu Surga. Semoga dapat memperjelas.

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      stef – katolisitas.org

      • roi simanjuntak on

        yang terkasih pak stef,

        mohon dijelaskan maksud dari jiwa yang bersifat spiritual ? apakah ini artinya jiwa rohani ? kalau begitu ada jiwa yang tidak bersifat spiritual ya ? sehingga apakah kita bisa sebut sbb :

        jiwa bersifat spiritual –> roh
        jiwa bersifat tidak spiritual –> jiwa

        tentu bukan untuk membagi 2 antara jiwa dan roh, tetapi secara sifat akan ada 2 model… dimana mereka tetap satu kesatuan…

        salam kasih,
        Roni Simanjuntak

        [Dari Katolisitas: Maksudnya jiwa yang tidak bersifat spiritual adalah jiwa yang terdapat pada binatang. Silakan membaca artikel tentang hal ini, silakan klik.]

        • roni simanjuntak on

          Yth Katolisitas,

          terima kasih atas jawabannya dan saya sudah membuka link tersebut lalu mendapatkan pertanyaan sbb :

          berdasarkan link, tertulis ” Oleh karena itu, orang yang tidak menggunakan akal budi sebagaimana mestinya, maka orang tersebut berlaku sebagaimana layaknya hewan. Orang yang menggunakan seksualitas hanya berdasarkan nafsu semata tanpa adanya kasih, merendahkan dirinya sendiri pada tingkat hewan. ” –> Kita tahu bahwa manusia mempunyai kehendak bebas sehingga kadang2 manusia memilih jiwa yang tidak spiritual dibanding dengan yang spiritual…

          pertanyaan juga, apakah jiwa yang spiritual yang dimaksud dengan akal budi ?
          Apakah akal budi manusia hanya bersifat spiritual saja ?

          sehingga baik jiwa yang spiritual dan yang tidak spiritual ada didalam diri manusia. Inilah kodrat penciptaan. Bahwa manusia menjadi ciptaan yang sempurna karena semua melekat dalam manusia jika dibandingkan dengan tumbuhan dan hewan. Karena jiwa yang spiritual hanya datang dari Allah maka jiwa yang tidak spiritual datang dari tubuh tersebut.

          Salam kasih, RS

          • Shalom Roni,

            Kehendak bebas yang menjadi kodrat manusia adalah sesuatu yang baik, karena dengan kehendak bebasnya, maka manusia dapat secara bebas memberikan dirinya kepada Allah. Di dalam Katekismus Gereja Katolik (KGK 1) dituliskan “Allah dalam Dirinya sendiri sempurna dan bahagia tanpa batas. Berdasarkan keputusan-Nya yang dibuat karena kebaikan semata-mata, Ia telah menciptakan manusia dengan kehendak bebas, supaya manusia itu dapat mengambil bagian dalam kehidupan-Nya yang bahagia“.

            Manusia dilengkapi oleh Tuhan dengan jiwa yang bersifat spiritual, karena memang manusia diciptakan oleh Allah seturut dengan gambar-Nya (lih. Kej 1:27), sehingga manusia mempunyai akal budi (intellect) dan kehendak (will). Dengan akal budi dan kehendak ini, maka manusia mempunyai kodrat untuk dapat mengenal dan mengasihi pencipta-Nya. Apakah bukti dari hal ini? KGK 28 menjelaskannya sebagai berikut:

            Sejak dahulu kala manusia menyatakan melalui pandangan iman dan pola tingkah laku religius (seperti doa, kurban, upacara, dan meditasi), atas berbagai cara, usaha mereka untuk menemukan Allah. Cara pengungkapan itu tidak selalu jelas artinya, tetapi terdapat sekian umum di antara segala bangsa manusia, sehingga manusia dapat disebut sebagai makhluk religius:”Dari satu orang saja [Allah] telah menjadikan semua bangsa dan umat manusia untuk mendiami seluruh muka bumi dan Ia telah menentukan musim-musim bagi mereka dan batas-batas kediaman mereka, supaya mereka mencari Dia dan mudah-mudahan menjamah dan menemukan Dia, walaupun Ia tidak jauh dari kita masing-masing. Sebab di dalam Dia kita hidup, kita bergerak, kita ada” (Kis. 17:26-28).

            Jadi, dengan demikian, manusia hanya mempunyai jiwa yang spiritual (tentu saja dengan tubuh). Namun, dosa membuat manusia tidak dapat lagi menggunakan kehendak bebasnya dengan benar. Dan akhirnya dosa membuat manusia tidak lagi dengan jelas melihat tujuan hidupnya, yaitu bersekutu dengan Tuhan untuk selamanya di Surga. Dengan kata lain dosa merusak jiwa manusia yang bersifat spiritual. Semoga dapat memperjelas.

            Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
            stef – katolisitas.org

            • roni simanjuntak on

              Dear Pak Stef,

              Sepertinya semakin dijelaskan, maka semakin jelas bahwa dalam diri manusia terdapat jiwa yang bersifat spiritual dan yang tidak bersifat spiritual.

              Jika “akal budi” hanya memuat unsur –> jiwa yang bersifat spiritual saja –> maka manusia tidak jatuh dalam dosa, sehingga “will/kehendak” yang tersedia hanya pilihan-pilihan yang tidak bertentangan dengan kehendak Allah.

              Tetapi keyataannya manusia berdosa = tidak memilih yang sesuai dengan kehendak Allah bahkan bertentangan dengan kehendak Allah –> jadi yang dituruti adalah kehendak jiwa yang bersifat tidak spiritual.

              kalimat “Manusia dilengkapi oleh Tuhan dengan jiwa yang bersifat spiritual” saya setuju dalam arti bahwa dalam diri manusia juga terdapat jiwa yang bersifat tidak spiritual.

              Dan ini dikuatkan dengan kenyataan yang ada dari jaman dahulu atas kalimat “Sejak dahulu kala manusia menyatakan melalui pandangan iman dan pola tingkah laku religius (seperti doa, kurban, upacara, dan meditasi), atas berbagai cara, usaha mereka untuk menemukan Allah. Cara pengungkapan itu tidak selalu jelas artinya, tetapi terdapat sekian umum di antara segala bangsa manusia, sehingga manusia dapat disebut sebagai makhluk religius” membuktikan bahwa ada bangsa yang beriman dan yang menolak iman (atheis). Disinilah dibuktikan bahwa jiwa manusia terdiri dari yang bersifat spiritual dan yang bersifat tidak spiritual.

              Lalu dalam kalimat ” dosa membuat manusia tidak dapat lagi menggunakan kehendak bebasnya dengan benar” –> dosa adalah hasil dari kehendak bebas manusia yang memilih jalan tidak sesuai dengan kehendak Allah. Jadi manusia-nya, bukan dosa-nya, yang tidak dapat lagi menggunakan kehendak bebasnya dengan benar. Yang artinya, manusia tersebut memilih jiwa yang bersifat tidak spiritual. Dengan kata lain, manusia harus hidup dalam bimbingan jiwa yang bersifat spiritual bukan memilih jiwa yang bersifat tidak spiritual.

              Secara logika, bagaimana mungkin manusia hanya mempuyai jiwa yang bersifat spiritual saja, padahal manusia sering berbuat dosa (memilih jiwa yang bersifat tidak spiritual).

              Mohon pencerahan…

              Salam kasih, RS

              • Shalom Roni,

                Anda menyimpulkan: Jiwa manusia bersifat spiritual karena adanya akal budi dan kehendak; sedang manusia berdosa; oleh karena itu, ada jiwa yang bersifat tidak spiritual. Coba bandingkan dengan logika ini: Tuhan menciptakan manusia baik adanya; sedang kenyataannya, ada manusia yang jahat; Oleh karena itu, Tuhan menciptakan sebagian manusia jahat. Tentu saja kesimpulan ini tidaklah benar. Bahwa jiwa manusia yang bersifat spiritual dapat memilih dosa, bukan berarti bahwa ada dua jiwa manusia. Bagaimana jiwa manusia yang bersifat spiritual dapat mengatakan ya terhadap dosa? Karena dosa asal dan akibatnya memperlemah jiwa manusia, sehingga ada “kecenderungan berbuat dosa” atau juga disebut concupiscence. Hal ini dituliskan dalam Katekismus Gereja Katolik sebagai berikut:

                KGK 405 Walaupun “berada pada setiap orang secara pribadi” (bdk. Konsili Trente: DS 1513), namun dosa asal tidak mempunyai sifat kesalahan pribadi pada keturunan Adam. Manusia kehilangan kekudusan asli, namun kodrat manusiawi tidak rusak sama sekali, tetapi hanya dilukai dalam kekuatan alaminya. Ia takluk kepada kelemahan pikiran, kesengsaraan dan kekuasaan maut dan condong kepada dosa; kecondongan kepada yang jahat ini dinamakan “concupiscentia”. Karena Pembaptisan memberikan kehidupan rahmat Kristus, ia menghapus dosa asal dan mengarahkan manusia kepada Allah lagi, tetapi akibat-akibat untuk kodrat, yang sudah diperlemah tinggal dalam manusia dan mengharuskan dia untuk berjuang secara rohani.

                Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
                stef – katolisitas.org

                • roni simanjuntak on

                  Shalom Pak Stef,

                  Terima kasih atas jawabannya.

                  Analog atas logika diatas saya pikir kurang tepat, karena jiwa yang kita bahas adalah berdasarkan sifat. Jika didalam manusia terdapat 2 sifat jiwa, bukan berarti dia mempunyai 2 buah jiwa dan bukan maksud saya juga untuk membelah jiwa tersebut. Contoh, Air mempunyai sifat yang menghancurkan dan sifat yang menghidupkan –> itu bukan artinya airnya di bagi 2 kan ? begitu juga pemahaman saya sebagai berikut :

                  Jiwa yang bersifat tidak spiritual –> seperti yang terdapat dalam binatang, tentu juga datang dari Tuhan kan ? (bdk. Kej 1:21-25)

                  Jiwa yang bersifat spiritual –> terdapat dalam diri manusia dan sempurna (bdk kej 1:26-30). Dikatakan sempurna, karena manusia-lah mahluk hidup yang mempunyai kemampuan mengenal penciptanya. Hanya manusia-lah yang akan terus mencari tahu tentang Allah sebagai Pencipta-Nya.

                  Sehingga dari gambaran diatas bukan membagi 2 jiwa tersebut, tetapi jiwa tetap satu tetapi dengan 2 jenis sifat, yaitu : yang bersifat spiritual dan yang bersifat tidak spiritual. Dengan demikian
                  Jiwa yang bersifat spiritual –> bahwa jiwanya diarahkan secara terus menerus kepada Allah –> sesuai dengan sifat “roh”
                  Jiwa yang bersifat tidak spiritual –> bahwa jiwanya tidak diarahkan secara terus menerus kepada Allah. Jika jiwanya diarahkan kepada manusia, maka termasuk dalam sifat ini–> dengan kata lain “jiwa”.

                  Rahmat pembaptisan untuk menghapus (sebenarnya mengurangi/menghindari “concupiscence” ) manusia dari dosa asal, karena dengan pembaptisan maka manusia tsb masuk menjadi anggota GK yang artinya mulai mengetahui ajaran GK untuk bersekutu dengan Allah (bdk. Kis 2:38, 8:12, dsb) sehingga bisa me-minimize “concupiscence” (kecenderungan berbuat dosa).

                  Jadi bagi seorang Atheis, dia tidak perlu mengembangkan jiwanya yang bersifat spiritual.

                  Dalam KGK 405, kalimat ” Ia takluk kepada kelemahan pikiran, kesengsaraan dan kekuasaan maut dan condong kepada dosa; kecondongan kepada yang jahat ini dinamakan “concupiscentia”” –> karena kehendak bebas manusia memilih jiwa yang bersifat tidak spiritual…

                  Mohonn pencerahan…..

                  Salam Kasih, RS

                  • Shalom Roni,

                    Sebenarnya jiwa bukanlah merujuk pada sifat. Coba silakan memberikan definisi tentang jiwa. Justru dengan membagi jiwa bersifat spiritual dan jiwa yang tidak bersifat spiritual akan terjadi dualisme. Implikasinya adalah siapa yang menciptakan jiwa yang bersifat spiritual dan jiwa yang bersifat tidak spiritual? Kalau dua-duanya diciptakan oleh Tuhan, maka bagaimana mungkin manusia diciptakan menurut gambar Allah (lih. Kej 1:26-27)?

                    Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
                    stef – katolisitas.org

                    • roni simanjuntak on

                      Salam Kasih Pak Stef,

                      Maaf begitu lama saya menanggapi jawaban bapak karena kesibukan. Saya mau menyampaikan kutipan dari Kompendium KGK no 70, sbb :

                      70. Dari mana jiwa berasal?
                      Jiwa yang bersifat rohani tidak berasal dari orang tua, tetapi diciptakan secara langsung oleh Allah dan bersifat abadi. Jiwa tidak ikut mati pada saat dipisahkan dari badan dalam kematian, dan jiwa akan dipersatukan kembali dengan badan pada hari kebangkitan.

                      disini dengan jelas secara implisit kita bisa simpulkan :
                      Jiwa yang bersifat rohani –> datang dari Allah dan bersifat abadi (tidak mati) dan
                      Jiwa yang bersifat tidak rohani –> datang dari orang tua.

                      pernyataan diatas mudah dicerna semua orang, itu sebabnya banyak anak mempunyai pola pikir, perasaan, dll, serupa dengan orang tuanya.

                      Inilah yang menjadi pola dasar pemikaran Santo Paulus. Jiwa yang bersifat rohanilah yang memungkinkan manusia mengenal Penciptanya.

                      mohon pencerahan..

                      RS- AMDG..

                      Dari katolisitas:

                      Shalom Roni,

                      KGK 1703 menuliskan “Karena ia mempunyai “jiwa yang bersifat rohani dan kekal abadi” (GS 14), maka “manusia… merupakan satu-satunya makhluk di dunia ini… yang oleh Allah dikehendaki demi dirinya sendiri” (GS 24,3). Sudah sejak pembuahannya, ia telah ditentukan untuk kebahagiaan abadi.” Jiwa yang bersifat rohani di dalam KGK 1703 tidaklah memberikan implikasi bahwa ada jiwa yang bersifat tidak rohani. KGK 1703 hanya ingin menekankan bahwa manusia diciptakan menurut citra Allah (KGK 1702), yang mempunyai jiwa yang bersifat rohani (KGK 1703).

                      Jiwa yang bersifat rohani ini juga sering disebut roh. Namun, roh dan jiwa ini bukanlah merupakan dua hal yang terpisah. Hal ini ditegaskan dalam KGK yang lain sebagai berikut:

                      KGK 367     Kadang kata jiwa dibedakan dengan roh. Santo Paulus berdoa demikian: “Semoga Allah damai sejahtera menguduskan kamu seluruhnya, dan semoga roh, jiwa dan tubuhmu terpelihara sempurna dengan tak bercacat pada kedatangan Yesus Kristus” (1 Tes 5:23). Gereja mengajarkan bahwa perbedaan ini tidak membagi jiwa menjadi dua (Bdk. Konsili Konstantinopel IV, 870: DS 657.). Dengan “roh” dimaksudkan bahwa manusia sejak penciptaannya diarahkan kepada tujuan adikodratinya (Bdk. Konsili Vatikan 1: DS 3005; GS 22,5.) dan bahwa jiwanya dapat diangkat ke dalam persekutuan dengan Allah (Bdk. Pius XII, Ens. “Humani generis” 1950: DS 3891). karena rahmat.

                      Inilah sebabnya, di dalam artikel yang lain dari KGK dituliskan:

                      997.    Apa artinya “bangkit”? Pada saat kematian, di mana jiwa berpisah dari badan, tubuh manusia mengalami kehancuran, sedangkan jiwanya melangkah menuju Allah dan menunggu saat, di mana ia sekali kelak akan disatukan kembali dengan tubuhnya. Dalam kemaha-kuasaan-Nya, Allah akan menganugerahkan kepada tubuh kita secara definitif kehidupan yang abadi, waktu Ia menyatukannya lagi dengan jiwa kita berkat kebangkitan Yesus.

                      Jadi kodrat manusia terdiri dari tubuh dan jiwa, di mana jiwa manusia adalah bersifat rohani, yang kadang juga disebut roh. Karena diskusi ini sudah cukup panjang, maka silakan saja untuk merenungkan lagi tanya jawab di atas dan membandingkannya kembali dengan KGK. Semoga dapat dimengerti.

                      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
                      stef – katolisitas.org

                    • roni simanjuntak on

                      Ytk, Pak Stef,

                      Terima kasih pak atas jawabannya dan semua ulasannya.. satu pertanyaan terakhir pak, Pak stef tidak menyinggung KGK 1705 yang isinya :

                      1705 Berkat jiwanya dan berkat kekuatan rohani
                      akal budi dan kehendaknya, manusia dilengkapi dengan kebebasan “yang adalah
                      lambang yang unggul citra ilahi di dalam manusia” (GS 17)

                      kata berkat jiwanya dan berkat kekuatan rohani akal budi –> ini juga menandakan 2 hal yang saling berkaitan..

                      Kalau kita melihat kebelakang bahwa manusia diciptakan secitra dengan Allah, itu mau mengatakan apa ? apakah manusia yg mempunyai tubuh secitra dengan Allah yang berbentuk roh ? ataukah jiwa manusia secitra dengan Roh Allah ? Apakah Allah mempunyai jiwa ? Pada saat manusia diciptakan dengan mempunyai tubuh, maka yang menjadi citra Allah dalam manusia adalah Roh dari si pencipta sendiri yaitu Allah (kesaksian iman dari Bapa-bapa orang beriman) yang disematkan dalam seluruh manusia (ciptaan). Konsekwensi dari pemberian tubuh kepada manusia adalah adanya “kebutuhan tubuh” yang berupa materi dan “jiwa si tubuh” yang berupa non materi dimana semua itu diikat oleh Roh Allah yang bersemayam dalam roh setiap manusia pada saat dilahirkan.

                      Pertanyaan saya yang terakhir untuk menutup diskusi saya kepada katolisitas adalah, apakah katolisitas berpendapat bahwa Orang tua tidak pernah menurunkan sifat-sifatnya non materi (jiwa) kepada si anak ?

                      terima kasih pak stef dan tim katolisitas atas pencerahannya. Saya akan merenungkan diskusi kita dan akan terus belajar demi perkembangan iman saya sendiri dan untuk semakin Memuliakan Tuhan. AMDG.

                      Salam Kasih – Roni

                      [dari katolisitas: Shalom Roni, KGK 1705 tidak menekankan bahwa “jiwa” dan berkat kekuatan rohani “akal budi” dan “kehendak” adalah tiga hal yang berbeda. Hal ini hanya untuk menyatakan bahwa jiwa manusia bersifat spiritual. Spiritualitas jiwa ini terletak pada “akal budi” dan “kehendak” yang mampu untuk mengenal dan mengasihi Allah. Pada akhirnya, saya harus menutup diskusi ini karena telah berlarut-larut. Saya telah mencoba untuk menjawab pertanyaan Anda. Kalau memang Anda masih tidak dapat menerima, maka itu juga menjadi hak Anda yang tidak dapat saya paksakan. Semoga dapat dimengerti]

  4. roni simanjuntak on

    Dear Katolisitas,

    saya ada pertanyaan sederhana mengenai tubuh dan jiwa/roh :

    apakah jiwa/roh yang diberikan kepada manusia masih akan berkembang sejalan dengan bertambahnya umur atau jiwa/roh ini sudah berbentuk paket jadi tidak akan berkembang sejalan dengan bertambahnya umur..

    salam kasih,
    roni simanjuntak

    • Shalom Roni Simanjuntak,

      Manusia terdiri dari tubuh yang bersifat material dan jiwa yang bersifat spiritual. Kita tahu bahwa tubuh bertumbuh sejalan dengan bertambahnya usia. Jiwa manusia juga bertumbuh dalam faculties of the soul, seperti: akal budi (intellect), kehendak (will) dan rasa (sense). Pertumbuhan jiwa dengan demikian juga merupakan pertumbuhan kebajikan. Jadi, kalau kita menginginkan agar jiwa kita bertumbuh secara sehat, maka kita perlu bertumbuh dalam kebajikan (virtue): kebijaksanaan, keadilan, keberanian, pengendalian diri dan iman, pengharapan, kasih. Semoga dapat membantu.

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      stef – katolisitas.org

      • roni simanjuntak on

        Yth Bpk. Stef,

        terima kasih pak atas jawabannya. Apakah iblis juga berkembang jiwa-nya secara kualitas ? Lalu setelah manusia mati, apakah masih mengalami perkembangan jiwa ?

        Salam kasih,
        Roni

        • Shalom Roni,

          Iblis tidak berkembang jiwanya, baik secara kualitas maupun kuantitas. Sebab pengetahuan/ keadaan jiwa para malaikat itu (sebagai mahluk rohani) sudah final pada saat diciptakan; maka tidak seperti manusia yang karena keterbatasan tubuhnya, maka ada pertumbuhan berkenaan dengan tubuhnya, yang juga berpengaruh terhadap perkembangan jiwanya.

          Setelah manusia wafat, maka ada tiga pilihan keadaan yang menantinya: Surga, neraka atau Api Penyucian. Keadaan di Surga maupun neraka adalah keadaan final, di mana Surga adalah persatuan dengan Allah yang kekal, sedangkan neraka adalah keterpisahan dari Allah yang kekal. Dalam keadaan final ini (baik di Surga maupun neraka), tidak ada lagi perkembangan/ perubahan keadaan jiwa. Sedangkan jiwa-jiwa yang di Api Penyucian, adalah jiwa-jiwa yang sedang dimurnikan, sebelum digabungkan dalam persatuan kekal dengan Allah di Surga. Maka dalam keadaan pemurnian ini, dapat dikatakan terjadi ‘perkembangan’ jiwa manusia, di mana jiwa diubah/ dimurnikan agar menjadi siap memasuki kebahagiaan kekal di Surga.

          Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
          Ingrid Listiati- katolisitas.org

  5. Antonius Erwin Sirait on

    Mohon bantuan Admin, rekan lainnya akan penjelasan tentang :
    – Roh dan Jiwa pada Manusia, apakah Sama
    – Kapan ada Roh dan jiwa pada Calon Bayi, usia berapa hari ada kehidupan, dan kehidupan itu apakah kehendak Allah atau Manusia atau keduanya?,,,
    – Saat meninggal manusia, Tubuh menjadi tanah, Apakah jiwa dan Roh manusia masuk api penyucian, bukankah roh manusia adalah bersumber dari Nafas kehidupan yang di berikan Allah,dan jiwa manusia dari mana?… apakah di turunkan dari kedua orangtua yang ada pada sel sperma dan indung telur ibunya, maka yang dapat berdosa itu roh atau jiwa?
    – Siapa yang mencatat semua perbuatan manusia, untuk dipertanggung jawabkan kemudian kelak
    – Mohon penjelasan berdasarkan alkitab dan pengajaran Gereja.

    [dari katolisitas: Silakan melihat tentang konsep tubuh dan jiwa di atas – silakan klik. Pada saat kita mengatakan jiwa manusia, maka sebenarnya adalah jiwa yang bersifat spiritual. Jadi, kita tidak mengadakan perbedaan antara jiwa dan roh. Saat manusia meninggal, maka jiwanya akan diadili secara langsung dalam Pengadilan Khusus. Kalau manusia berbuat dosa, maka yang berdosa adalah keseluruhan dirinya, yaitu tubuh dan jiwanya, namun terutama adalah jiwanya. Tuhan tahu secara persis dosa setiap manusia, karena Dia adalah maha tahu. Silakan juga melihat pengadilan umum dan pengadilan khusus di sini – silakan klik]

  6. Paulus Samsu Wienarno on

    Shalom Katolisitasyang terkasih,
    Setelah membaca penjelasan dan tanya jawab disini, bukannya tercerahkan tetapi saya malah menjadi bingung. Ini saya tahu karena kebodohan saya saja. Sya sudah menjadi Katolik selama 60 tahun, tapi saya sangsi apakah saya sudah menjadi murid Kristus apa blom ? sesuai dengan Yoh. 13 : 34-35 (………….bahwa kamu adalah murid-murid-Ku, jikalau kamu saling mengasihi”…Padahal saya blom bisa sepenuhnya mengasihi seperti perintah Yesus itu. Selain dari pada itu setelah membaca diskusi tersebut diatas mengenai : Tubuh, Jiwa dan Roh…lebih bingung lagi karena saya merasakan dengan pengalaman rohani saya tentang adanya Trichotomy. Bahwa Manusia ketika lahir cuma mempunyai Jiwa dan raga saja. Raga berasal dari tanah dan jiwa berasal dari nafas Allah. Sedangkan Roh adalah karunia dari Bapa seperti dalam percakapan antara Yesus dengan Nicodemus dalam Yoh. 3 : 1 – 21 terutama ayat 5 :Jawab Yesus :”Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jika seseorang tidak dilahirkan dari air dan ROH, ia tidak akan masuk dalam kerajaan Allah.”Oleh karena itu saya sering mendapatkan intelgensia dan mimpi , bahwa setiap orang itu hanya terdiri dariTubuh dan Jiwa, tetapi kalau mau masuk surga harus dilahirkan kembali dari air dan roh. Mohon pencerahan atas kebodohan saya ini. Trimakasih Berkah Dalem

    • Shalom Paulus,

      Terima kasih atas pertanyaan Anda. Kalau Anda merasa bingung dengan beberapa diskusi yang ada, silakan menanyakannya lebih lanjut. Tentang Yoh 13:34-35, yaitu perintah untuk saling mengasihi, maka kita harus melihat bahwa “mengasihi” adalah satu proses, yang harus kita perjuangkan seumur hidup. Yang terpenting adalah, kita terus mengandalkan rahmat Allah untuk terus bertumbuh dalam kasih atau kekudusan.

      Tentang jiwa dan roh manusia memang sering dipakai secara bergantian di dalam Kitab Suci, namun bukan untuk menyatakan adanya dua entitas spiritual yang berbeda. Dengan kata lain, jiwa manusia adalah roh, karena jiwa manusia adalah jiwa yang spiritual, yang mempunyai kemampuan untuk mengetahui dan mengasihi penciptanya. Semoga dapat memberikan kejelasan.

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      stef – katolisitas.org

  7. Syalom,

    Saya ingim memperjelas saja…sepengetahuan saya manusia itu terdiri dari tubuh, jiwa dan Roh.
    berbeda dengan hewan yang hanya memiliki tubuh dan jiwa.
    Namun sesuai dengan pendalaman alkitab yang saya ikuti disebutkan bahwa sesuai KGK 367 yang ada cuman pembagian jiwa spiritual dan tubuh material. atau dengan kata lain gereja katolik mengakui tubuh rohani ada di dalam jiwa.

    Benarkah begitu?? karena menurut saya tubuh rohani tetap ada tapi terpisah tidak menjadi satu dengan jiwa.

    Mohon penjelasan untuk pendapat saya ini, apakah benar? :

    1. Bila seseorang meninggal, maka jiwanya akan ke api pencucian (sesuai Iman Katolik) tapi Roh yang adalah Nafas Allah sendiri akan kembali kepada Allah.

    2. Bila kita sedang meditasi atau kontemplatif.., bisa saja Roh kita dibawa okleh Roh Allah untuk melihat dunia di luar kita.

    3. Hal ini dikuatkan dengan alkitab di Rm 8;16, dikatakan bhw Roh Allah bersama dengan roh kita.

    4. Apabila kita berbahasa Roh, maka Roh Allah lah yang membimbing roh kita bukan jiwa kita karena kita dalam keadaan sadar.

    Demikian pertanyaan saya, mohon kesediaannya untuk dapat memberikan pemahaman kepada saya.

    Terima kasih atas jawabannya

    • Shalom Richard,

      Mohon membaca terlebih dahulu artikel dan tanya jawab di atas ini, silakan klik.

      Gereja Katolik mengajarkan bahwa manusia terdiri dari tubuh dan jiwa yang bersifat rohani, dan dengan demikian tidak memisahkan antara jiwa dengan roh. Perbedaan manusia dengan hewan adalah bahwa hewan memiliki juga tubuh dan jiwa, namun jiwa hewan tidak bersifat rohani; sedangkan pada manusia, jiwanya bersifat rohani.

      Tubuh manusia itu sifatnya materia, jadi tidak ada istilah tubuh rohani. Yang ada adalah jiwa yang bersifat rohani. Pada manusia yang hidup, jiwa dan tubuhnya bersatu. Pada saat kematian, jiwa ini terpisah dari tubuhnya.

      1. Bila seseorang meninggal, maka jiwanya diadili langsung oleh Kristus, dan menerima hasil penghakiman itu, entah ke surga, neraka, atau ke Api Penyucian. Pengadilan ini disebut Pengadilan khusus. Tentang hal ini sudah pernah dibahas di sini, silakan klik. Jiwa yang rohani tersebut sifatnya adalah kekal.

      2. Jiwa yang rohani tersebut dapat mengalami pengalaman rohani semacam karunia penglihatan, namun tidak berarti bahwa pengalaman tersebut menjadikan jiwa keluar dari tubuh, sebab jika demikian orang tersebut wafat. Sebab keterpisahan jiwa dari tubuh adalah kematian.

      3. Rom 8:16 mengatakan bahwa Roh Kudus bersaksi bersama-sama dengan roh kita, bahwa kita adalah anak-anak Allah. Namun demikian, Roh Allah tetaplah Roh Allah, dan roh kita tetaplah maksudnya adalah jiwa rohani kita, yang memberikan hidup kepada tubuh kita. Karena Allah telah memberikan Roh-Nya itu untuk diam di dalam tubuh kita, maka kita dapat memperoleh kehidupan kekal bersama-Nya (lih. Rom 8:11). Namun Roh Allah yang diam di dalam kita itu tidak secara otomatis menjadikan kita Allah. Allah tetaplah Allah, kita tetaplah mahluk ciptaan-Nya. Namun keberadaan Roh Allah ini di dalam kita memungkinkan kita untuk mengambil bagian di dalam kehidupan ilahi Allah, karena kita telah diangkat menjadi anak-anak angkat-Nya di dalam Kristus.

      4. Apabila kita berdoa dalam bahasa roh, maka jiwa rohani kita yang berdoa, dengan menggunakan lidah jasmani kita. Kita mendoakannya dengan sadar, sebab jiwa rohani yang berdoa tidak menjadikan seseorang menderita sakit jiwa ataupun kelainan jiwa. Hanya pada saat itu jiwa rohani kita dibantu oleh Roh Kudus untuk berdoa, dengan keluhan-keluhan yang tak terkatakan (Rom 8:26).

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      Ingrid Listiati- katolisitas.org

  8. Salam Kasih,
    Sebelumnya saya memohon maaf jika apa yang akan saya sampaikan ini tidak sesuai dengan topik bahasan atau pun bertentangan dengan pendapat saudara/i terkasih oleh karenanya saya mohon bimbingan dari saudara/i sekalian, tujuan saya menyampaikan pendapat saya adalah agar terjalin diskusi yang terbuka dan dalam rangka mengembangkan dan mengarahkan iman dan kepercayaan kita kepada Bapa, Putera dan Roh Kudus.

    Saya setuju manusia adalah mahluk yang terdiri dari dua kodrat yaitu, materiil adalah tubuh yang berasal dari debu dan tanah serta jiwa yang berasal dari nafas Tuhan.

    Saya menyadari pemahaman saya hanyalah setitik air dari samudera luas pengetahuan dan kebenaran yang hanya dimiliki oleh Tuhan.
    Didasari oleh Kitab Suci, dan KGK seperti yang telah diuraikan oleh penulis di atas saya menerimanya, namun demikian saya juga memahami ada kodrat ke tiga dari manusia yang bersifat spiritual yaitu Roh. Roh tersebut menurut saya bukan bawaan dari manusia semata ketika dilahirkan.

    Roh tersebut adalah buah dari kasih Bapa di sorga melalui PuteraNya Yesus Kristus Tuhan kepada umat manusia melalui peristiwa Baptisan, (Mat 3:13-17; Mr 1:9-11; Luk 3:21-22; Yoh 1:32-34), dan digenapi dalam peristiwa Pantekosta disaat Yesus Kristus Tuhan mencurahkan Roh Kudus kepada murid-muridNya maka terjadilah apa yang tertulis dalam (Yoh 1:33) “Dan akupun tidak mengenal-Nya, tetapi Dia, yang mengutus aku untuk membaptis dengan air, telah berfirman kepadaku: Jikalau engkau melihat Roh itu turun ke atas seseorang dan tinggal di atas-Nya, Dialah itu yang akan membaptis dengan Roh Kudus.(yang dimaksud Yohanes Pembaptis adalah Yesus dari Nazaret.

    Melalui peristiwa Pantekosta para murid telah menerima Roh Kudus dan Roh Kudus tinggal di atas mereka maka perintah Yesus Kristus Tuhan berikutNya adalah (Mat 28:19) “Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus.

    Dengan demikian saya meyakini bahwa barang siapa telah dibaptis maka dalam dirinya telah berdiam Roh Kudus, dan hatinya telah menjadi bait suci Tuhan dan ia telah menerima kodrat ketiga yaitu Roh (Kudus), melalui Roh Kudus inilah ia telah diselamatkan karena hanya Roh Kudus yang mampu menuntun jiwa seseorang menuju Bapa di Sorga, walau pun demikian jika jiwa seseorang yang telah mati dan telah dituntun oleh Roh Kudus ke sorga belum sepenuhnya suci dan masih dijumpai adanya dosa maka kasih karunia Tuhan akan menyucikannya melalui api penyucian.

    Oleh karena itu ingatlah dan camkanlah pesan Tuhan Yesus Kristus (Mar 3:28-29): (28) Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya semua dosa dan hujat anak-anak manusia akan diampuni, ya, semua hujat yang mereka ucapkan. (29) Tetapi apabila seorang menghujat Roh Kudus, ia tidak mendapat ampun selama-lamanya, melainkan bersalah karena berbuat dosa kekal.” (bdk : Luk 12:9-10; Mat 12:31-32).

    Tentu saja tanpa Roh Kudus yang berdiam dalam diri manusia ketika ajal menjemput, jiwa manusia hanya akan terombang ambing dalam kematian dan tidak dapat menemukan sorga yang kekal oleh karenanya jagalah agar Roh Kudus yang telah kita terima melalui sakramen Pembaptisan selalu menaungi diri kita.

    Dalam Kitab Suci kita melihat peran Roh Kudus telah menghantarkan orang-orang pilihan Tuhan menuju sorga.
    (Ibrani :11:5) Karena iman Henokh terangkat, supaya ia tidak mengalami kematian, dan ia tidak ditemukan, karena Allah telah mengangkatnya. Sebab sebelum ia terangkat, ia memperoleh kesaksian, bahwa ia berkenan kepada Allah.

    (2Raja-Raja: 2:9) Dan sesudah mereka sampai di seberang, berkatalah Elia kepada Elisa: “Mintalah apa yang hendak kulakukan kepadamu, sebelum aku terangkat dari padamu.” Jawab Elisa: “Biarlah kiranya aku mendapat dua bagian dari rohmu.”

    (Lukas 1:34-35) Kata Maria kepada malaikat itu: “Bagaimana hal itu mungkin terjadi, karena aku belum bersuami?” Jawab malaikat itu kepadanya: “Roh Kudus akan turun atasmu dan kuasa Allah Yang Mahatinggi akan menaungi engkau; sebab itu anak yang akan kaulahirkan itu akan disebut kudus, Anak Allah.
    Bunda Maria adalah wanita pilihan Tuhan, Tuhan berkenan kepadanya dan Firman Tuhan menjadi daging dalam rahim Maria dan Roh Kudus ada padanya maka ia diangkat ke sorga.

    Mereka adalah orang-orang pilihan Tuhan dibenarkan dan disucikan dihadapan Tuhan, oleh karena iman dan kehendak Tuhan maka Henokh diangkat ke sorga, oleh karena kehendakNya Tuhan mencurahkan Roh Kudus (Roh Tuhan) kepada Elia, dan oleh karena kasih Tuhan kepada seluruh umat manusia Tuhan meletakan FirmanNya dalam rahim Bunda Maria dan mengangkatnya ke sorga.

    Bagi saya pribadi seluruh peristiwa kehidupan yang dijalani oleh Yesus Kristus Tuhan mulai dari awal nubuat di Perjanjian Lama hingga kelahiran, kehidupan, sengsara, wafat dan kebangkitan Yesus Kristus Tuhan dalam Perjanjian Baru adalah sebuah proses (pengajaran dan kurban) untuk menyelamatkan dan menghantarkan manusia kepada Bapa di sorga yang kekal.

    Akhirnya saya menyadari setelah Yesus Kristus Tuhan menyelesaikan tugas dari Bapa di sorga untuk menghapus dosa asal umat manusia lewat pengorbanan salib suciNya maka misteri penyelamatan umat manusia kemudian terletak pada pencurahan Roh Kudus dalam peristiwa Pantekosta yang memampukan dan memberi Kuasa Ilahi kepada para muridNya untuk mencurahkan Roh Kudus kepada sesamanya manusia melalui sakramen Baptisan.

    Berbahagialah kita semua yang percaya dan telah dibaptis dalam nama BAPA, PUTERA, DAN ROH KUDUS.
    Berbahagialah kita yang oleh karena kasih Tuhan kita Yesus Kristus telah disatukan dalam gereja katolik melalui sakramen Baptis yang diberikan oleh Yesus Kristus Tuhan secara langsung kepada Petrus Rasul yang kemudian diwariskan kepada Bapa Paus dan para imam melalui sakramen Imamat dan oleh karenanya kita beroleh materai dan janji Tuhan akan kerajaan sorga dan Roh Kudus ada pada kita yang selalu menghibur, dan memberikan karunia – karuniaNya untuk menuntun hati dan pikiran kita kepada Bapa di sorga di dalam Tuhan kita Yesus Kristus. Amen

    [Dari Katolisitas: Gereja Katolik mengajarkan bahwa manusia diciptakan Allah sebagai mahluk yang mempunyai tubuh dan jiwa yang bersifat rohani, sebagaimana disebutkan di artikel di atas, silakan klik. Dengan demikian, ayat-ayat yang Anda kutip di atas, tentu saja kami amini. Kami tidak dapat mengulang-ulang diskusi yang sudah banyak dilakukan tentang trikotomi dan dikotomi di situs ini. Kami hanya dapat menyampaikan apa yang diajarkan oleh Gereja Katolik, dan kalau Anda tidak dapat menerimanya, itu adalah hak Anda. Namun adalah hak kami juga untuk berpegang kepada ajaran Magisterium Gereja Katolik, yang mengajarkan bahwa manusia diciptakan terdiri dari tubuh dan jiwa rohani; dan dengan demikian tidak memisahkan antara jiwa dan roh dalam diri manusia, sebab dalam kenyataannya keduanya selalu ada dalam kesatuan. Jika Rasul Paulus pernah menyebutkan “roh, jiwa dan tubuh”, maksudnya bukan memisahkan antara roh dan jiwa, tetapi untuk menunjukkan bahwa sejak awal mula menusia diciptakan untuk suatu tujuan akhir yang bersifat rohani/ adikodrati; yaitu bahwa jiwa manusia berbeda dengan jiwa mahluk hidup lainnya, sebab jiwa manusia dapat diangkat derajatnya melampaui kodratnya, menuju persatuan dengan Allah yang adalah Roh (lih. KGK 367)].

    • Salam Kasih,
      Saudara ku, terima kasih atas tanggapannya.
      Apa yang telah saya sampaikan sejauh pemahaman saya tidak bertentangan dengan KGK yang tentunya bersumber dari kitab suci dan tradisi suci yang disampaikan secara bijak oleh pengajar. Hingga saat ini saya belum melihat satu atau dua kata ketidak setujuan anda menilai pendapat saya.
      Demikian pula halnya dengan saya, tidak ingin membuat penafsiran yang mengarahkan pada trikotomi maupun dikotomi, saya hanya ingin belajar untuk mengetahui apakah pemahaman saya tersebut keliru? Tiada bermaksud untuk memaksakan pemahaman tersebut kepada siapa pun. Jika semua umat katolik (seperti halnya saya yang awam) telah memahaminya dengan baik masalah ini tentunya topik bahasan ini akan sepi tanggapan, melalui web ini saudara ku telah memilih jalan Kerawam dan berkomitment untuk menjadi pengajar yang baik berkat Karunia Roh Kudus untuk mengajarkan dengan cara lemah lembut dan itu bukanlah hal yang mudah, maka dengan harapan mendapatkan pengajaran saya berani berpendapat.

      Bagi para pencari akan selalu haus akan jawaban, dan melalui akal budi kita berkembang dalam iman dan spiritual. Saya berbahagia karena saya mulai rajin membaca KGK karena tidak semua orang mempunyai kemauan dan kesempatan untuk mempelajarinya terlebih menyimpanya dalam hati.

      Saya sangat tertarik dengan topik bahasan ini karena bagi saya ini sangat berharga, dengan memahami tubuh, jiwa dan roh saya dapat mengenal diri saya, apa tujuan hidup saya, dan kemana setelah saya mati, dan dengan demikian melepaskan saya menjadi seorang ateis atau pun pemuja setan karena kesadaran akan begitu berharganya tubuh dan jiwa ini melampaui segala sesuatu yang kasat mata.

      Dengan keterbatasan saya berusaha untuk memahami apa yang saudara tulis di artikel tersebut dan yang tertulis dalam KGK sesuai dengan yang saudara sampaikan, berikut yang didalam kurung adalah kebingungan saya.

      2) 1 Thes 5:23 “Semoga Allah damai sejahtera menguduskan kamu seluruhnya dan semoga roh, jiwa dan tubuhmu terpelihara sempurna dengan tak bercacat pada kedatangan Yesus Kristus, Tuhan kita.“ Seperti yang diterangkan di atas, ini ayat ini adalah “Hebrew parallelism“,… artikel)
      (tidak adakah ruang lain untuk memahaminya selain menggunakan pendekatan “Hebrew parallelism“? Bagaimana jika apa yang dikatakan oleh rasul Paulus itu seperti adanya, apakah itu mungkin?)

      …Pertanyaannya adalah siapa yang menciptakan jiwa (bersifat immaterial) dan siapakah yang menciptakan roh (bersifat immaterial). Karena immaterial lebih tinggi tingkatannya dari material dan yang rendah tidak dapat menciptakan yang lebih tinggi, maka jiwa (dan atau) roh tidak dapat diciptakan oleh tubuh yang bersifat material. (artikel)
      (Bukankah Dia yang Maha Kuasa yang mampu melakukannya? Tepatkah menggunkan kata immaterial untuk jiwa dan roh? Bukankah roh bersifat supermaterial?)

      (KGK362-365) “Bagaimana jiwa dan badan membentuk satu kesatuan dalam manusia?”
      Pribadi manusia adalah satu wujud jasmani sekaligus rohani.
      (bdk: Pribadi Allah; Bapa, Putra dan Roh Kudus apakah kata “Pribadi” yang dimaksud sama artinya? (bdk; KGK 343)
      – Dalam manusia,roh dan materi membentuk satu kodrat.
      (roh + materi (badan)=manusia, disebutkan secara tegas terpisah antara roh dan badan)
      – Kesatuan ini begitu dalam sehingga berkat prinsip spiritual yaitu,
      (prinsip apa yang dimaksud?),
      – jiwa, badan yang adalah materi menjadi badan manusia yang hidup
      (jiwa, badan = materi, tidak disebutkan jiwa dan badan secara terpisah jika artinya materi maka dapat binasa (bdk: Matius 10:28)
      dan berpartisipasi dalam martabat gambaran Allah.

      Dalam manusia, roh dan materi bukanlah dua kodrat yang bersatu (?), melainkan kesatuan (?) mereka membentuk kodrat yang satu (?) saja.(artikel)
      (Disini saya binggung apakah maksudnya “bukan bersatu” tapi “kesatuan” “menjadi satu kodrat” apakah bisa saya katakan ibarat minyak dan air yang bila disatukan akan terpisah tetapi tetap satu? Atau ibarat lidi yang disatukan menjadi sapu lidi? Sementara dalam KGK 364 dikatakan “kesatuan ini begitu dalam”….)

      Demikian (KGK362-365) yang saya pahami menyebutkan satu sifat supermaterial dalam tubuh yaitu roh, dan jiwa bersifat (immaterial), jika tubuh yang sifatnya material dianggap lebih rendah maka masih perlukah kita mengharapkan kebangkitan badan? Atau bagaimana kita menjelaskan fenomena tubuh para santo atau orang suci yang tidak mengalami kehancuran setelah sekian lama berpisah dengan jiwanya? Misteri apa yang coba disampaikan Tuhan melalui fenomena tersebut?

      (KGK366-368) “Dari mana jiwa berasal?”
      … Bersifat rohani…..
      (bukankah sifat rohani tersebut berasal dari Bapa melalui karunia Roh Kudus? ataukah sudah inherent di dalam jiwa?)
      … tidak berasal dari orang tua…
      (orang tua menurunkan sifat genetik kepada anaknya?)
      … diciptakan secara langsung oleh Allah dan bersifat abadi

      Jika saya coba ringkas:
      Manusia = jiwa + tubuh
      Pembaptisan gereja menghasilkan; manusia baru = tubuh + jiwa + Roh Kudus (sifat rohani) = tujuan akhir kerajaan sorga
      Pembaptisan setan; manusia = tubuh + jiwa + roh kegelapan (sifat jahat) = tujuan akhir neraka.

      Bukankah misteri Penebusan adalah menyucikan jiwa dari dosa asal? Dan ketika jiwa telah terlahir kembali maka jiwa melalui sakramen baptisan menjadi satu dalam roh? Roh Kudus lah yang menjaga jiwa dari kematian kekal. Bukankah Tuhan adalah mempelai prianya? Maka jiwa dan tubuh selalu dijaga kesuciannya dalam bilik penantian hingga saat pesta perkawinan kudus dilaksanakan?
      Kesempitan pemahaman saya sebagai seorang awam dalam menafsirkan apa yang tertulis dalam KGK menimbulkan pemahaman yang berbeda dengan saudara ku, oleh karenanya saya memohon pengajaran agar selalu bertumbuh dalam iman. Amen

      • Shalom Amare,

        1. Katekismus mengajarkan bahwa meskipun ditulis atas inspirasi Roh Kudus, Kitab Suci ditulis oleh manusia, sehingga untuk memahami Kitab Suci kita perlu menemukan apa yang sebetulnya ingin disampaikan oleh sang manusia pengarang kitab itu melalui kata-kata yang digunakannya. Maka, penting kita memperhitungkan tentang peran sastra/ gaya bahasa yang dipergunakan oleh sang penulis kitab, agar kita tidak salah paham.

        KGK 109    Di dalam Kitab Suci Allah berbicara kepada manusia dengan cara manusia. Penafsir Kitab Suci harus menyelidiki dengan teliti, agar melihat, apa yang sebenarnya hendak dinyatakan para penulis suci, dan apa yang ingin diwahyukan Allah melalui kata-kata mereka (Bdk. DV 12,1).

        KGK 110    Untuk melacak maksud para penulis suci, hendaknya diperhatikan situasi zaman dan kebudayaan mereka, jenis sastra yang biasa pada waktu itu, serta cara berpikir, berbicara, dan berceritera yang umumnya digunakan pada zaman teks tertentu ditulis. “Sebab dengan cara yang berbeda-beda kebenaran dikemukakan dan diungkapkan dalam nas-nas yang dengan aneka cara bersifat historis, atau profetis, atau poetis, atau dengan jenis sastra lainnya” (DV 12,2).  

        Cara pikir Ibrani dan Yunani juga berpengaruh terhadap pengungkapan firman Allah ini, yang antara lain nyata dalam gaya bahasa poetis. Gaya bahasa poetis (puisi) ini memungkinkan kata yang sama digunakan untuk menyampaikan arti yang berbeda, namun sebaliknya dua kata yang berbeda dapat digunakan untuk makna yang sama. Untuk membuktikan bahwa kata ‘jiwa’, atau sering juga disebut sebagai ‘nyawa’, itu sama dengan ‘roh’, kita perlu melihat kepada kata aslinya. Memang terlihat agak rumit sedikit, tetapi begitu kita melihat perbandingan terjemahannya, maka kita tidak akan menemui kesulitan untuk menerima, bahwa memang Kitab Suci menyatakan bahwa pada manusia, ‘jiwa’ (soul), atau ‘nyawa’ itu secara prinsip sama dengan ‘roh’ (spirit).

        Sebagai contoh, dalam Perjanjian Lama, kata “nephesh (Ibrani)/ psuche (Yunani)” dapat diartikan/ diterjemahkan sebagai ‘nyawa’ (Kej 9:4, Ul 12:23; 19:21, Im 7:20,21,27; 17:10-15; 1Raj 20:31,39,42; 1Taw 11:19; 2Taw 1:11; Ayb 2:6; Mzm 35:4 dst), sebagai ‘mahluk hidup’ (Kej 9:10,12,15,16; Im 11:46), sebagai ‘seseorang’ (Ul 27:25; Yos 20:3,9; Bil 31:19; 35:11-15), sebagai ‘hidup’ (Mzm 22:30; Ams 7:23; Ams 12:10), sebagai ‘jiwa’ di banyak sekali ayat (Ams 3:22, Mzm 3:2, Ul 6:5; 10:12; 11:13; 13:13; 26:16; 30:6,10; Yos 22:5; Ayb 7:11; 10:1; 30:16; Mzm 6:4,5; 25:1,20; 31:8; 33:20 dan masih banyak lagi).

        Dalam Perjanjian Baru, kata yang sama “psuche“, diterjemahkan sebagai ‘hidup’ (Mat 6:25; Luk 12:22,23), ‘jiwa’ (Mat 10:28, 22:37; Mrk 12:30,33; Luk 1:46; 2:35; 10:27; Yoh 12:27; Kis 4:32; Flp 2:30; Yak 5:20; 1Pet 2:11), ‘nyawa’ (Mat 10:39; 16:25; 20:28; Mrk 3:4; 8:36; Yoh 10:11-17; 12:25; 13:37,38; 15:13; Kis 15:26; 20:24; 27:10,22; Rm 11:3; 16:4; 1Yoh3:16)

        Demikian pula, di Perjanjian Lama, kata “ruach (Ibrani)” walaupun banyak diterjemahkan sebagai ‘roh’, namun juga diterjemahkan juga sebagai ‘jiwa’ (Ayb 6:4, 7:11, Mzm 32:2; 34:19,23; 77:3,78:8), ‘nafas’ (Kej 7:15; Ayb 9:18, 17:1; Mzm 33:6; Yes 40:7;42:5; 57:16; Yeh 37:10), atau ‘nyawa’ (Ayb 10:12; Mzm 31:6; Yer 10:14).

        Dalam Perjanjian Baru, kata yang sama “pneuma“, memang banyak diterjemahkan sebagai ‘roh’, tetapi juga ‘nyawa’ (Luk 23:46), ‘hati’ (Luk 1:47; Rom 1:9; 2Kor 2:13), ‘rohani’ (Rom 2:29; 1Kor 5:3), ‘nafas’ (2 Tes 2:8)

        ‘Jiwa’ atau ‘roh’ ini berhubungan dengan ‘hidup’ atau yang menjadikan sesuatu itu hidup. Dalam Perjanjian Lama, hal ini dihubungkan dengan kata ‘neshamah‘ (Ibrani)/ ‘pnoe‘ (Yunani), yang diterjemahkan dengan kata ‘nafas’ (Kej 2:7), seperti ketika Tuhan meniupkan nafas kehidupan kepada Adam. Kata ‘neshamah‘ sebagai ‘nafas’ juga digunakan di Kej 7:22, Yes 2:22, Yeh 37:5,6. Kata lain untuk ‘nafas’ ini, adalah ‘ruach‘ (Ibrani)/ ‘pneuma‘ (Yunani), seperti digunakan pada Kej 7:15, dst. Kata ‘ruach, pneuma‘ ini memang juga diterjemahkan sebagai ‘roh’, tapi juga diterjemahkan sebagai ‘jiwa’, seperti pada Mzm 51:19; 77:3, dst seperti telah disebut di atas.

        Maka, secara obyektif, harus diakui bahwa dalam Kitab-kitab Perjanjian Lama, ada banyak ayat yang disampaikan dengan gaya bahasa puisi, di mana dua kata yang berbeda, diperbandingkan untuk menggambarkan realitas yang sama, atau satu kata yang sama, dapat diterjemahkan dalam dua ungkapan kata yang berbeda; dan ini yang kerap dikenal dengan istilah Hebrew parallelism, seperti yang banyak disampaikan dalam Kitab Mazmur dan Amsal. Contohnya misalnya:

        “Hai anakku, janganlah engkau melupakan ajaranku, dan biarlah hatimu memelihara perintahku…” (Ams 3:1), di sini ajaran Tuhan diparalelkan dengan perintah Tuhan, untuk menggambarkan suatu kesatuan makna, yaitu ajaran yang merupakan juga perintah Tuhan.

        “…selama nafas (neshamah, pnoe) ku masih ada padaku, dan roh (ruach, pneuma) Allah masih di dalam lubang hidungku… ” (Ayb 27:3). Namun di kitab Ayub yang sama,  ‘neshamah, pnoe‘ diterjemahkan juga sebagai ‘roh’ dan sebaliknya ‘ruach, pneuma‘, sebagai ‘nafas’, demikian: “Roh (neshamah, pnoe) Allah telah membuat aku, dan nafas (ruach, pneuma) Yang Mahakuasa membuat aku hidup.” (Ayb 33:4) Maka kesimpulannya, kedua kata itu -ruach dan pneuma (atau dalam bahasa Yunaninya, ‘pnoe/ pneuma‘)- merupakan Hebrew parallelism, yaitu merupakan dua ungkapan yang artinya serupa, sehingga dapat ditukar-tukar penggunaannya/ terjemahannya.

        Kata yang sama “ruach” diterjemahkan menjadi ‘roh’, ataupun ‘jiwa’ pada Mzm 51, demikian:
        “Bangkitkanlah kembali padaku kegirangan karena selamat yang dari pada-Mu, dan lengkapilah aku dengan roh (ruach) yang rela!” (Mzm 51:12); “Korban sembelihan kepada Allah ialah jiwa (ruach) yang hancur; hati yang patah dan remuk tidak akan Kaupandang hina, ya Allah.” (Mzm 51:17)

        Karena kata ‘nafas’, ‘roh’, ‘nyawa’, ‘jiwa’, itu dapat ditukar-tukar penggunaannya, kita memahami bahwa kata-kata tersebut mengacu kepada makna yang serupa- jika konteksnya serupa. Itulah sebabnya, tidak masalah bagi kita untuk menerima bahwa kata ‘ruach, pneuma‘ diterjemahkan ‘nyawa’ (Mzm 31:5, Luk 23:46), namun juga kata yang sama itu juga diterjemahkan sebagai ‘roh’ (Pkh 12:7, Yeh 37:14, Yak 2:26, Why 11:11 dst, masih banyak lagi), dan juga sebagai nafas (Yeh 37:8-10, dst), ataupun sebagai ‘jiwa’ (Mzm 51:19;77:3, dst)

        Jadi, memang dalam Kitab Suci sendiri, dapat kita lihat bahwa ‘roh dan jiwa’ pada manusia mengacu kepada suatu realitas yang sama, karena kata asli yang digunakan juga sama, atau dengan kata padanannya, yang juga mengacu kepada makna yang sama. Sebab memang jiwa, roh, nyawa, itulah yang memberikan kehidupan kepada tubuh. Itulah sebabnya mengapa Gereja Katolik tidak secara tegas memisahkan antara roh dan jiwa pada manusia. Dengan cara inilah Gereja Katolik mengartikan ayat 1 Tes 5:23 tersebut.

        2. Maka jiwa atau jiwa yang rohani itulah yang menjadikan tubuh manusia menjadi hidup. Tubuh itu bersifat material, artinya bisa dilihat, dipegang, dan mempunyai wujud; sedangkan jiwa itu sifatnya immaterial, artinya tidak dapat dilihat ataupun dipegang. Jadi jiwa bukan bersifat “supermaterial”, karena material itu sifatnya terlihat, sedangkan jiwa itu tidak terlihat.

        3. Dalam satu pribadi manusia, ada kesatuan antara tubuh dan jiwa. Maka dikatakan bahwa pada hakekatnya, manusia terdiri dari kesatuan antara tubuh dan jiwa. Atau, secara kodrati, manusia terdiri dari tubuh dan jiwa.

        Namun pada Allah, sebagaimana diwahyukan-Nya dalam Kitab Suci dan Tradisi Suci, Allah pada hakekatnya adalah satu, namun ada tiga Pribadi dalam diri Allah yang satu itu, dan tentang hal ini sudah pernah dibahas di sini, silakan klik.

        4. Kesatuan antara tubuh dan jiwa dalam pribadi manusia inilah, yang begitu dalam, sehingga justru dengan demikian kita mengharapkan kebangkitan badan, sebab secara kodrati, sejak awal diciptakan oleh Allah, manusia itu merupakan kesatuan antara tubuh dan jiwa. Maka pada akhir tujuan hidup manusia dalam kehidupan kekal, tubuh dan jiwa ini juga akan bersatu kembali dalam kemuliaan.

        Memang tubuh bersifat material, dan karena efek dosa asal, dapat mengalami kematian, namun oleh kuasa penebusan Kristus, tubuh ini dapat dibangkitkan bersama Kristus, agar dipersatukan dengan jiwanya, dalam kesatuan dengan Kristus.

        Harus diakui analogi dengan benda-benda memang agak sulit untuk menggambarkan kesatuan antara tubuh dan jiwa, sebab semua contoh kesatuan benda-benda itu sifatnya materi dengan materi, sedangkan pada manusia, kesatuan tubuh dan jiwa adalah kesatuan antara materi dan sesuatu yang bukan materi.

        5. Jiwa itu tidak ada dengan sendirinya, tetapi diciptakan oleh Allah. Maka jiwa itu merupakan bersifat rohani, karena memang diciptakan demikian oleh Allah, di dalam Firman-Nya, oleh kuasa Roh (ruach)-Nya/ Roh Kudus.

        6.  Pembentukan tubuh kita dalam rahim ibu, memang melibatkan persatuan benih orang tua kita, namun jiwa kita langsung diciptakan oleh Allah. Dengan demikian pasangan suami istri mengambil bagian dalam karya penciptaan Allah.

        7. Pembaptisan menyucikan manusia dari dosa asal dan dosa pribadi, dan memberikan hidup yang baru di dalam Kristus. Artinya, tubuh dan jiwa yang dulunya tercemar dosa, dikuduskan dan diberi hidup ilahi oleh Allah, oleh kuasa Roh Kudus-Nya. Akibat dosa, sebenarnya tubuh dan jiwa manusia itu harusnya binasa di neraka (upah dosa adalah maut, Rom 3:23), namun oleh kasih karunia Allah di dalam Kristus, manusia dapat dikuduskan tubuh dan jiwanya, agar dapat masuk dalam kehidupan kekal dalam kerajaan Surga.

        8. Tuhan Yesus adalah mempelai Gereja (jemaat), sebagaimana disampaikan oleh surat Rasul Paulus (Ef 5:22-33) dam kitab Wahyu (Why 19:9). Namun perkawinan di sini tidak untuk diartikan sebagai perkawinan manusiawi/ duniawi, tetapi perkawinan/ persatuan surgawi. Yesus mengajarkan bahwa di surga, orang tidak kawin dan dikawinkan (lih. Mat 22:30; Mrk 12:25; Luk 20:35), namun hidup bersatu dengan Allah, seperti halnya para malaikat-Nya, memandang Dia dalam keadaan-Nya yang sebenarnya (1 Yoh 3:2).

        Demikianlah tanggapan saya semoga berguna. Adalah baik jika Anda terdorong untuk membaca Katekismus. Semoga Roh Kudus memberikan kepada kita hati seorang murid, sehingga siap sedia untuk menerima dengan kerendahan hati, pengajaran-Nya yang disampaikan oleh Gereja Katolik.

        Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
        Ingrid Listiati- katolisitas.org

        • Salam Kasih,
          Bu Ingrid, pak Stef dan team katolisitas yg baik terima kasih atas penjelasannya.
          Saya menyadari sumber pengetahuan adalah kerendahan hati untuk menerima kebenaran yang telah diajarkan.
          Sebagai seorang awam pendapat pribadi dalam memahami yang “misteri” berasal dari pergulatan pengalaman hidup dan tafsir (KS) akan apa yg dipelajari dalam pergolakan dan kontradiksi hingga menjadi satu konsep yg diyakini kebenaranya secara pribadi dan terkadang tanpa disadari bertentangan dengan ajaran GK .
          Sumber kekayaan iman GK berupa dokumen Konsili, ASG, dan KGK serta tulisan para Bapa Gereja dan Tradisi-tradisi suci dalam GK tentulah sangat penting untuk memahami kepenuhan iman GK yg tidak didasarkan pada Injil semata, dalam konteks inilah semoga team katolisitas dapat mencerahkan kami yang awam. Amen

          [Dari Katolisitas: Terima kasih atas kesediaan Anda untuk mendengar dan menerima penjelasan keterangan ajaran Gereja Katolik. Semoga kita sebagai umat Katolik selalu mempunyai keterbukaan dan kerendahan hati untuk mendengarkan penjelasan Gereja, sehingga kita semakin memahami betapa indahnya namun juga betapa kokohnya ajaran iman Katolik, karena dibangun di atas dasar yang kuat.]

  9. yth ibu ingrid dan bapak stef,

    Saya tertarik mengenai misteri tubuh manusia. Setelah saya membaca artikel ini, dengan semua tanya jawabnya, saya ingin memberitahukan permenungan saya mengenai trichotomy. Saya katholik dari kecil dan saya termasuk yang setuju dengan trikotomi dengan beberapa alasan.

    1. Tubuh : saya setuju dengan pendapat katolisitas, hanya saja saya tambahkan beberapa hal. Sesuai dengan Kejadian 1:27 “Maka Allah menciptakan manusia itu menurut gambar-Nya, menurut gambar Allah diciptakan-Nya dia; laki-laki dan perempuan diciptakan-Nya mereka”. ini artinya bahwa manusia diciptakan segambaran dengan Allah, dari lahir, remaja, dewasa sampai kematian. Pada saat manusia masih bayi, mayoritas yang bekerja dalam manusia adalah tubuh dan roh saja. sejalan dengan pertumbuhan manusia, maka jiwa&pikiran pun semakin bertumbuh begitu juga rohnya. Kita sering mendengar bahwa daging (tubuh) lemah, tetapi menurut saya tidak demikian. Aktivitas tubuh, sangat terbatas pada hal-hal mekanisme tubuh untuk menjaga tubuh tetap berfungsi dan bekerja dengan baik. Jadi kalau tubuh lapar, dia hanya butuh makanan. tetapi kenapa manusia ingin makan sea food, nasi goreng, pizza, ayam bakar ? tubuh tidak membutuhkan itu, kadang kala, dengan nasi putih dan garam pun, tubuh merasa cukup. atau kadang kala manusia bisa bermatiraga untuk bisa mendekat kepada Allah sampai tubuh tidak bisa menahan rasa lapar lagi. jadi daging tidak lemah (dalam arti spiritual), justru kelemahan itu terletak di dalam jiwa&pikiran manusia yang saya jelaskan dibawah ini.

    2. Jiwa, adalah bentuk spiritual dalam diri manusia yang selalu saya gabungkan dengan pikiran (seperti iman + Perbuatan). Aktivitas jiwa&pikiran sangat tergantung dari perkembangan tubuh manusia. semakin dewasa manusia maka semakin besar sumbangsih jiwa&pikiran terhadap tubuh untuk melakukan sesuatu. Jiwa&pikiran tidak kekal, dia akan mati atau tidak bekerja jika tubuh mati. Jika tubuh hanya berstrahat (tidur) maka jiwa&pikiran pun masih bekerja. Jiwa&pikiran inilah yang membawa tubuh ingin merasakan makanan yang aneh-aneh dan berlebihan. kadangkala, sesuai dengan perkembangan jiwa&pikiran, tubuh mendapatkan makanan yang tidak baik bagi mekanisme tubuh dan tidak baik juga bagi Roh manusia yang terikat oleh Roh Allah. Saya mengartikan ini–> inilah yang disebut dengan “kehendak bebas manusia”. Disinilah kadangkala hak kebebasan manusia sering bertentangan dengan kehendak Allah. Di dalam jiwa&pikiran inilah titik lemah manusia. bukan pada daging. Setan/Iblis sangat senang beraktivitas diwilayah ini. Jiwa&pikiran ini jugalah yang menekan roh manusia menjadi tidak berdaya. kutipan “Yohanes 4:32 Akan tetapi Ia berkata kepada mereka: “Pada-Ku ada makanan yang tidak kamu kenal.” banyak ditujukan untuk jiwa&pikiran. Di dalam Rantai Spiritual saya, saya merasakan bahwa Yesus Kristus datang ke dunia untuk Jiwa&Pikiran Manusia. Jiwa&Pikiran inilah yang membawa manusia kedalam dosa. sebelum kehadiran Yesus, semakin maju manusia tetapi jiwa&pikirannya semakin bobrok. setelah kehadiran Yesus Kristus, kita bisa lihat sejarah dan perjalanan iman kita. Jaman sekarang dan seterusnya ? hanya kita yang bisa menjawab.

    3. Roh (manusia), adalah bentuk spiritual dalam tubuh yang sudah ada semenjak manusia dilahirkan hingga dewasa. bahkan setelah tubuh dan jiwa mati pun, roh manusia tetap hidup karena roh ini adalah kepunyaan Allah. Jadi didalam Purgatorium, hanya roh yang ada bukan jiwa&pikiran. Roh inilah yang melingkupi semua aktivitas tubuh dan jiwa. Jadi Roh berada dilingkaran terluar dari tubuh dan jiwa. Roh inilah yang selalu menjadi “penasehat” kepada tubuh dan jiwa untuk melakukan sesuatu. kita bisa lihat kutipan ” 1 Tesalonika 5:23 Semoga Allah damai sejahtera menguduskan kamu seluruhnya dan semoga roh, jiwa dan tubuhmu terpelihara sempurna dengan tak bercacat pada kedatangan Yesus Kristus, Tuhan kita.” Didalam roh manusia-lah Allah bersemayam sampai jiwa&pikiran mengusik dan menolak Allah. Daya kerja roh (manusia) juga sangat luar biasa terutama jika Allah lebih banyak bekerja dibandingkan dengan jiwa&pikiran. Kita sering mendengar sesorang yang tidak bisa disembuhkan secara medis, tetapi akhirnya dia sembuh oleh karena mukjizat. Disaat inilah Roh manusia bekerja di dalam persekutuan dengan Roh Allah.

    Saya cukup sadar bahwa per-menunngan saya agak bertentangan dengan hukum gereja Katolik, tetapi sesuai dengan perkembangan manusia, mungkin hal-hal yang bisa dipertanggung jawabkan argumennya akan menjadi bahan pertimbangan Gereja Katholik untuk semakin bijaksana.

    Sebagai seorang biasa, saya analog-kan trikotomi diatas sebagai Trinitas Manusia. Hal ini sangat sesuai dengan iman saya yang percaya dengan Trinitas Allah. Hal ini karena, Allah menciptakan Manusia serupa dengan Allah. Dengan Manusia yang ingin semakin dekat dengan Allah dan dengan Allah yang semakin ingin dekat dengan Manusia, saya melihat itu sebagai Rantai Spiritual saya.

    Mohon penerangan, kritikan atau hukum-hukum gereja mengenai hal ini. Terima kasih. AMDG.

    Rgds, RS.


    [dari katolisitas: Silakan Anda membaca terlebih dahulu artikel di atas – silakan klik. Kemudian, silakan juga menjawab beberapa pertanyaan ini: (1) Apakah definisi tubuh, jiwa dan roh; (2) Apakah hubungan antara ketiganya; (3) Apakah jiwa dan roh adalah bersifat spiritual dan apakah kekal?; (4) Bagaimanakah menerangkan bahwa ada dua kekuatan spiritual ada dalam satu material?; (5) Apakah ada kemungkinan jiwa dan roh saling bertentangan dan apakah yang menentukan bahwa salah satu dari mereka dapat menang?; (6) Setelah manusia meninggal, maka apakah yang terjadi dengan jiwa dan rohnya?; (7) Apakah setelah di Sorga, maka manusia tetap mempunyai jiwa dan roh dan apakah masih mungkin bertentangan?]

    • dear katolisitas,

      (1) Apakah definisi tubuh, jiwa dan roh; saya sudah jelaskan diatas. jika ada yang kurang jelas, tolong sampaikan kepada saya.

      (2) Apakah hubungan antara ketiganya : ketiganya adalah satu, tidak bisa dipisahkan. kalau ditanya bagian mana yang terpenting ? maka jawabannya adalah ketiga-tiganya. Tolong diperjelas lagi hubungan seperti apa yang ingin ditanyakan oleh katolisitas.

      (3) Apakah jiwa dan roh adalah bersifat spiritual dan apakah kekal? jiwa dan roh bersifat spiritual. Jiwa&pikiran tidak kekal, tetapi roh kekal. Jiwa&pikiran sangat melekat kepada tubuh, tetapi roh sangat melekat kepada Allah. Karena hanya dengan Kasih Allah sajalah, maka manusia diberikan kehidupan berupa Roh Allah pada waktu dilahirkan. Sehingga kita bisa disebut sebagai “allah” (dalam huruf kecil).Kita bisa melihat pada diri seorang bayi, disitu lebih banyak Rohnya yang bekerja, yang diberikan oleh Allah, dibandingkan orang dewasa yang dengan perkembangan jiwa&pikirannya bisa menolak Allah yang telah hadir didalam roh manusia. kita bisa lihat juga pada orang tua yang merasa akan dipanggil oleh Tuhan. Dia tidak lagi mengandalkan jiwa&pikirannya untuk berbuat, tetapi lebih banyak roh-nya yang berbuat. Permasalahan manusia terjadi pada saat manusia beranjak dewasa. Dengan segala perkembangan tubuh, jiwa&pikirannya, menjadi semakin menjauh dan tidak peduli akan roh-nya yang telah diberikan oleh Allah. Disinilah penderitaan roh manusia yang sudah terbentuk akibat jiwa&pikirannya masuk kedalam purgatorium untuk di sucikan. Apakah akan terjadi re-inkarnasi ? re-inkarnasi 100% tidak, tapi mirip-mirip bisa saja. Yang jelas, Roh Allah yang dihembuskan kepada semua manusia adalah sama tetapi jiwa &pikirannya, sangat tergantung dari masing-masing tubuh tersebut. sepasang anak kembar pun, tidak bisa sama 100%. itu disebabkan jiwa&pikirannya yang berbeda tubuh.

      (4) Bagaimanakah menerangkan bahwa ada dua kekuatan spiritual ada dalam satu material? perlu diingat, bahwa 2 kekuatan spiritual ini, juga bukan sebenarnya 2 dalam arti material. Jangan terbatas kepada materi, ruang dan waktu. Apakah trinitas Allah, juga mengartikan adanya 3 kekuatan ? sesuai dengan uraian saya sebelumnya, bahwa jiwa menjadi salah satu bentuk kehendak bebas manusia terhadap kehendak Allah. Hanya jiwa&pikiranlah yang bisa menolak persekutuan antara roh manusia dan Roh Allah.

      (5) Apakah ada kemungkinan jiwa dan roh saling bertentangan dan apakah yang menentukan bahwa salah satu dari mereka dapat menang?; Ya jiwa dan roh bisa saling bertentangan. Kita bisa lihat pada seorang bayi, dimana jiwa&pikirannya masih sangat terbatas, disini roh-nya masih sangat dikuasai oleh Roh Allah. Kutipan “Markus 10:14 Ketika Yesus melihat hal itu, Ia marah dan berkata kepada mereka: “Biarkan anak-anak itu datang kepada-Ku, jangan menghalang-halangi mereka, sebab orang-orang yang seperti itulah yang empunya Kerajaan Allah.” Pada saat dewasa, dimana jiwa&pikiran manusia, berkembang sesuai dengan lingkungan-nya, disinilah mulai terjadi kehendak bebas yang tidak sesuai dengan kehendak Allah. Allah Bapa pun tidak bisa menyentuh sisi yang satu ini. Hanya ada satu cara untuk bisa menyentuh kehendak bebas manusia ini, yaitu dengan cara mengutus Putranya yang Tunggal Tuhan Kita, Yesus Kristus. Untuk kehendak bebas manusia-lah, Yesus datang menyelamatkan manusia. Jika jiwa&pikiran manusia sudah tidak bertentangan dengan roh manusia (yang diberikan oleh Allah), maka Kerajaan Allah pun tetap terjaga ! dan rencana penciptaan yang secitra dengan Allah pun akan tetap berjalan sesuai dengan kehendak Allah !

      (6) Setelah manusia meninggal, maka apakah yang terjadi dengan jiwa dan rohnya?; Jiwa akan meninggal ikut dengan tubuh. Roh manusia, yang baik buruknya ditentukan oleh aktiivitas jiwa&pikiran, akan masuk kedalam persekutuan dengan Roh Allah.

      (7) Apakah setelah di Sorga, maka manusia tetap mempunyai jiwa dan roh dan apakah masih mungkin bertentangan? Di sorga tidak terdapat jiwa. Sorga adalah tempat perkumpulan roh-roh yang telah disucikan berdasarkan iman dan perbuatannya selama hidup. Jadi melalui perbuatanlah iman sesorang akan disempurnakan. Semakin sempurna iman, maka semakin sucilah manusia tersebut sehingga bisa bersekutu dengan Allah. Kutipan “Yakobus 2:22 Kamu lihat, bahwa iman bekerjasama dengan perbuatan-perbuatan dan oleh perbuatan-perbuatan itu iman menjadi sempurna.”

      Rgds, RS

      • Shalom Roni,

        Dari komentar yang telah Anda berikan, maka berikut ini adalah komentar yang dapat saya berikan. Mungkin kita setuju dengan tubuh kita – yang bersifat material, yang menjadi bagian dari kodrat manusia. Dengan demikian, semua hal yang bersifat material, yang tersentuh, terlihat dan dapat ditangkap oleh panca indera manusia adalah tubuh. Kalau kita diciptakan menurut gambar Allah, maka yang terutama adalah karena kita mempunyai jiwa yang bersifat spiritual, yang mempunyai kemampuan untuk mengetahui dan mengasihi penciptanya.

        Dalam pemaparan Anda, maka Anda memberikan kesimpulan: jiwa dan pikiran digabungkan;  keduanya tidaklah kekal – yang berarti di Sorga tidak ada lagi jiwa dan pikiran; keduanya membawa manusia ke dalam dosa; keduanya mempengaruhi aktifitas Roh manusia. Pertanyaannya adalah: Pada waktu Tuhan menciptakan manusia pertama, maka manusia terdiri dari apa? Kalau tubuh, jiwa dan pikiran dianggap sebagai sesuatu yang negatif, maka siapakah yang menciptakan semuanya dan kalau Tuhan yang menciptakan bukankah Tuhan menciptakan sesuatu yang tidak baik? Apakah aktifitas dari jiwa dan pikiran? Apakah keduanya adalah satu? Kalau keduanya tidak kekal, apakah kemudian roh kita – yang kekal – tidak mempunyai kapasitas yang dilakukan oleh jiwa dan pikiran? Kalau jiwa dan pikiran dikaitkan dengan kehendak bebas manusia, apakah setelah meninggal maka manusia tidak mempunyai kehendak bebas lagi, karena jiwa dan pikiran tidak kekal? Mungkin dari pertanyaan-pertanyaan tersebut, kita dapat lagi menggali topik ini secara lebih mendalam.

        Ketika saya bertanya ada dua kekuatan spiritual dalam satu material, sebenarnya untuk memberikan pemahaman yang lebih mendalam bagaimana aktifitas jiwa berbeda dengan aktifitas roh; atau sebenarnya karena dua hal tersebut adalah spiritual, maka sebenarnya merupakan sesuatu yang sama, namun seolah-olah mempunyai dua aktifitas. Kalau Anda ingin membandingkannya dengan Trinitas, maka ini adalah pembahasan yang berbeda lagi, karena dalam Trinitas, kita melihat adanya satu kodrat namun mempunyai tiga pribadi. Yang kita diskusikan adalah manusia, yang terdiri dari satu tubuh, namun mempunyai dua hal yang bersifat non-material.

        Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
        stef – katolisitas.org

        • Roni Simanjuntak on

          Shalom Pak Stef,

          Maaf saya menjawab terlambat karena baru memeriksa dan mencari bahwa katolisitas sudah menjawab pertanyaan saya.

          Dalam Kitab Kejadian kita bisa lihat kehendak bebas Allah dalam menciptakan bumi dan bagaimana Allah dengan segala kehendak bebas dan segala kasih-Nya mau menciptakan Manusia secitra dengan diri-Nya. Kehendak bebas tidak selalu negatif. Tubuh tidak selalu negatif. Jiwa&Pikiran tidak selalu negatif. Roh selalu benar (karena berasal dari Allah), tapi manusia mempunyai tugas untuk tetap menjaga Roh tersebut yang pada awal mulanya diberikan baik, dan pada akhirnya pun harus diberikan kepada Allah dalam kondisi baik, sehingga kalau itu yang terjadi maka persekutuan roh manusia dengan Roh Allah (Kudus) akan terjadi. Jiwa&Pikiran dalam bentuk spiritual menjadi bentuk kehendak bebas manusia, sejalan dengan pertumbuhan/perkembangan/semakin dewasa-nya manusia tersebut. Pada saat diciptakan ketiga hal ini diberikan oleh Allah kepada Manusia karena sesuai dengan Citra-Nya.

          kejadian 2:17 tetapi pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat itu, janganlah kaumakan buahnya, sebab pada hari engkau memakannya, pastilah engkau mati.

          dalam hal ini pun kita bisa lihat 2 point :

          a. tetapi pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat itu, janganlah kaumakan buahnya

          b. sebab pada hari engkau memakannya, pastilah engkau mati

          kita bisa lihat perintah Tuhan pada point A yang cukup jelas. Tetapi pada point B, kita bisa lihat bahwa ada penekanan pada hari engkau memakannya –> yang berarti pada saat kita mengetahui hal yang baik dan jahat = manusia sudah cukup dewasa –> maka kita mati = Melanggar Perintah Allah = Menjauh dari Allah. Disini secara implisit dijelaskan bagaimana kehendak bebas manusia menjadi hak hakiki dari setiap manusia yang tidak bisa di intervensi oleh Allah. Pada saat kita bayi, kehendak bebas manusia sangat lemah sedangkan kekuatan roh lebih besar. Pada saat manusia mulai tua sekali juga terlihat bahwa kehendak bebas melemah dan kekuatan roh lebih ke arah pasrah (dominant). Permasalahan pada saat manusia berusia produktif, disini terlihat bahwa kehendak bebas menjadi kuat bahkan lebih kuat daripada kekuatan roh. Apakah diusia ini kehendak bebas menjadi negatif ? tidak. disinilah pengaruh dari roh manusia (yang selalu didiami oleh Roh Allah)untuk terus menjadi pensehat kepada kehendak bebas dan tubuh supaya bisa terus menjaga roh manusia tetap dalam keadaan baik pada saat diberikan kepada Allah.

          Rasul Paulus pun mengatakan dalam :

          1 Tesalonika 5:23 “Semoga Allah damai sejahtera menguduskan kamu seluruhnya dan semoga roh, jiwa dan tubuhmu terpelihara sempurna dengan tak bercacat pada kedatangan Yesus Kristus, Tuhan kita.”

          Galatia 6:18 Kasih karunia Tuhan kita Yesus Kristus menyertai roh kamu, saudara-saudara! Amin.

          Roma 12:11 Janganlah hendaknya kerajinanmu kendor, biarlah rohmu menyala-nyala dan layanilah Tuhan.

          kutipan diatas terlihat bahwa Rasul Paulus, terus menekankan tubuh, jiwa dan roh manusia harus terus secitra dengan Allah sendiri melalui Putra-Nya Yesus Kristus.

          Dari sini saya akan mencoba menjawab beberapa pertanyaan bapak :

          1. Pada waktu Tuhan menciptakan manusia pertama, maka manusia terdiri dari apa? –> tubuh, jiwa dan roh

          2. Kalau tubuh, jiwa dan pikiran dianggap sebagai sesuatu yang negatif, maka siapakah yang menciptakan semuanya dan kalau Tuhan yang menciptakan bukankah Tuhan menciptakan sesuatu yang tidak baik? –> jiwa&pikiran = kehendak bebas –> tidak selalu negatif. tergantung manusia dalam melakukan pilihan. sehingga kita diharapkan oleh Rasul Paulus seperti beberapa kutipan di atas.

          3. Apakah aktifitas dari jiwa dan pikiran? –> dia bisa ber-imajinasi, mempunyai kesadaran, mengingat, merasakan (hati), berpikir bagi mekanisme tubuh, berfikir dan merasakan nasehat-nasehat roh, berfantasi dan merealisasikan gaya hidup, dll.

          4. Apakah keduanya (jiwa&pikiran) adalah satu? –> secara mekanisme kerja berdiri sendiri, tetapi secara keputusan dia menjadi satu. Roh selalu menjadi penasehat bagi jiwa&Pikiran dalam membuat keputusan.

          5. Kalau keduanya tidak kekal, apakah kemudian roh kita – yang kekal – tidak mempunyai kapasitas yang dilakukan oleh jiwa dan pikiran? –> Roh manusia bekerja di dalam seluruh tubuh, jiwa&pikiran manusia. Disini saya menggambarkan bahwa bukan Roh yang berada dalam lingkaran paling dalam. Roh-lah yang berada dalam lingkaran paling luar. Karena Roh inilah yang terus meliputi/melingkari tubuh, jiwa&pikiran manusia dalam membuat keputusan. Jadi roh manusia mempunyai kapasitas dalam jiwa&pikiran manusia.

          6. Kalau jiwa dan pikiran dikaitkan dengan kehendak bebas manusia, apakah setelah meninggal maka manusia tidak mempunyai kehendak bebas lagi, karena jiwa dan pikiran tidak kekal? –> ya, manusia tidak mempunyai kehendak bebas lagi. Roh manusia akan bersatu dengan Roh Allah jika manusia benar-benar menjaga Roh Allah yang diberikan pada waktu penciptaan sampai meninggal. Rasul Paulus juga mengatakan dalam 1Korintus 6:17 “Tetapi siapa yang mengikatkan dirinya pada Tuhan, menjadi satu roh dengan Dia”.

          7. Kalau Anda ingin membandingkannya dengan Trinitas, maka ini adalah pembahasan yang berbeda lagi, karena dalam Trinitas, kita melihat adanya satu kodrat namun mempunyai tiga pribadi. Yang kita diskusikan adalah manusia, yang terdiri dari satu tubuh, namun mempunyai dua hal yang bersifat non-material.–> Kata Trinitas menurut Pak Stef saya setuju untuk ditujukan dengan Trinitas Allah. Dalam hal Trinitas Manusia, itu sebenarnya hanya analogi saya terhadap Trikhotomi yang saya pahami yang sedikit berbeda dengan paham Trikhotomi yang pada umumnya kita ketahui. Trikhotomi pada umumnya mengatakan bahwa roh dilingkaran paling dalam,
          jiwa dilingkaran tengah dan tubuh dilingkaran paling luar, tetapi saya menggambarkannya berlawanan. Tubuh lingkaran paling dalam, jiwa di tengah dan Roh di luar. Karena sedikit perbedaan itu, saya menyebutnya “Trinitas Manusia”.

          Saya-pun menggambarkan diagram Trinitas Allah dengan Allah Bapa dilingkaran paling dalam, Allah putera diligkaran tengah dan Allah Roh Kudus dilingkaran paling luar. Jika Bapak ada private e-mail saya akan mengirimkan bagan hubungan keduanya yang saya sebut dengan Rantai Spiritual.

          Saya sangat memahami memang tidak mudah untuk menyampaikan hal di atas karena sudah adanya dogma dogma GK, sedangkan saya seorang yang tidak mempunyai latar belakang theologi atau ahli hukum GK. Hal di atas hanyalah hasil per-menungan, pemikiran saya setelah saya mengalami “re-freshed” dalam iman katholik saya. Sehingga ajakan untuk menggali topik ini lebih dalam, itu sangat menggembirakan saya.

          Salam Kasih – AMDG..

          • Shalom Roni Simanjuntak,

            Terima kasih atas tanggapan Anda. Saya minta maaf terlebih dahulu, karena keterbatasan waktu, maka ini merupakan jawaban saya yang terakhir tentang topik ini. Dari jawaban Anda, maka kita setuju bahwa Tuhan menciptakan manusia dengan kodrat tubuh dan jiwa (menurut anda + Roh), adalah bersifat baik, yang berarti pada akhirnya akan menghadap Allah dengan kodrat yang telah diberikan namun derajat yang sempurna. Anda mengatakan sebelumnya bahwa kalau manusia meninggal, maka jiwa akan turut meninggal bersama dengan tubuh, sedangkan roh manusia akan masuk dalam persekutuan dengan Roh Allah. Point yang ingin saya berikan adalah kalau manusia yang telah meninggal tidak mempunyai jiwa, maka aktifitas jiwa seperti yang anda sebutkan – rasa, pikiran – tidak akan ada di Sorga. Kecuali kalau Anda berpendapat bahwa Roh juga mempunyai aktifitas sama seperti jiwa. Kalau memang aktifitasnya sama dan sama-sama bersifat spiritual, maka sebenarnya jiwa dan roh itu adalah sesuatu yang sama. Gereja Katolik menyebut sesuatu yang sama ini sebagai jiwa, yang pada manusia – karena diciptakan menurut gambar Allah – maka bersifat spiritual. Dengan demikian, manusia terdiri dari tubuh dan jiwa yang bersifat spiritual.

            Tentang kehendak bebas manusia dan hubungannya dengan rahmat: Anda dapat membacanya di sini – silakan klik. Allah bisa memberikan inspirasi kepada kehendak bebas manusia, dengan tetap menghormati kehendak bebas manusia. Itulah yang disebut rahmat. Saya pikir, mendiskusikan kehendak bebas berdasarkan umur tidaklah relevan, karena ada juga manusia yang mulai tua juga justru semakin melawan Allah. Pada akhirnya, kita harus melihat bahwa kehendak bebas adalah sesuatu yang baik, karena itulah yang diberikan Allah kepada manusia. Yang tidak baik adalah kehendak bebas yang menyimpang, yang menjadikan diri sendiri sebagai parameter baik dan buruk, dan bukan berdasarkan atas perintah Allah. Dan itulah yang dilakukan oleh manusia pertama yang jatuh dalam dosa.

            Tentang kehendak bebas setelah meninggal: Kalau Anda mengatakan bahwa jiwa dan pikiran tidak kekal, sehingga setelah meninggal, maka manusia tidak lagi mempunyai pikiran dan kehendak bebas, maka sebenarnya tidak tepat. Kehendak bebas manusia tidaklah hilang, karena manusia yang tidak mempunyai kehendak bebas justru seperti robot. Justru orang-orang di Sorga mempunyai kehendak bebas yang sempurna, sehingga kehendak bebasnya hanya menginginkan sesuatu yang benar, baik dan indah.

            Jadi, kita dapat melihat bahwa dengan mempercayai bahwa manusia mempunyai tubuh, jiwa dan roh, serta mempercayai bahwa jiwa – sebagai aktifitas berfikir, merasa, kehendak bebas – adalah tidak kekal, maka dapat membuat kesimpulan yang keliru, yaitu manusia yang telah mengalami kesempurnaan justu tidak mempunyai kehendak bebas. Manusia yang pada awalnya diciptakan oleh Tuhan dengan kehendak bebas dan kemudian berakhir di Sorga dengan tanpa kehendak bebas, bukanlah merupakan kesempurnaan, namun justru merupakan kemunduran. Jadi, manusia sebenarnya terdiri dari tubuh dan jiwa, di mana setelah mencapai Sorga tubuh dan jiwa ini menjadi tubuh yang telah dimuliakan yang bersatu dengan jiwa yang senantiasa bersatu dengan Tuhan secara bebas. Semoga diskusi singkat ini dapat bermanfaat.

            Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
            stef – katolisitas.org

            • roni simanjuntak on

              Salam Kasih Pak Stef,

              terima kasih atas jawabannya. Saya sangat mengerti atas keterbatasan waktu dari pak stef, dan saya juga tidak bisa memaksakan. Masih banyak yang ingin saya diskusikan, tetapi karena waktu pak stef, saya ingin bertanya dua hal saja :

              1. Jawaban bpk : “Manusia yang pada awalnya diciptakan oleh Tuhan dengan kehendak bebas dan kemudian berakhir di Sorga dengan tanpa kehendak bebas, bukanlah merupakan kesempurnaan, namun justru merupakan kemunduran.” apakah merupakan tanggapan pribadi atau atas dasar dogma Gereja Katolik ?

              2. pernyataan “Allah bisa memberikan inspirasi kepada kehendak bebas manusia, dengan tetap menghormati kehendak bebas manusia” : apakah katolisitas percaya bahwa kehendak bebas manusia tidak bisa di-intervensi oleh Allah ?

              jawaban singkat saja tidak apa apa pak. terima kasih atas semua ulasannya. AMDG..

              Salam kasih,
              Roni Simanjuntak

              • Shalom Roni Simanjuntak,

                Terima kasih atas pengertiannya. Sebenarnya pernyataan saya adalah berdasarkan dari proses deduksi. Allah yang mempunyai kehendak bebas, menciptakan manusia dengan kehendak bebas (lih. KGK, 1730). Dan kondisi ini dipandang sungguh amat baik oleh Allah (lih. Kej 1:31). Dengan demikian, kehendak bebas bukanlah sesuatu yang negatif, bahkan sesuatu yang sungguh amat baik kalau digunakan dengan semestinya. Akan tetapi, penyimpangan kehendak bebas adalah berbahaya, seperti yang terlihat dari dosa manusia pertama. Bunda Maria, Yesus Kristus menunjukkan kepada kita, bahwa dengan tetap menggunakan kehendak bebas mereka, maka mereka telah memilih untuk taat kepada rencana Allah. Dan kesempurnaan kehendak bebas inilah yang seharusnya ada pada para malaikat, Bunda Maria, santo-santa di Sorga. Hanya dengan kehendak bebas, maka kita dapat mengasihi secara murni. Dan kalau kasih kita kepada Allah dan sesama adalah sempurna di Sorga, maka semua ini mengalir dari kehendak bebas yang sempurna.

                Tentang hal yang kedua, dalam daftar dogma – silakan klik – maka salah satunya dituliskan sebagai berikut “The human will remains free under the influence of efficacious grace, which is not irresistible.” Dengan demikian, kita melihat bahwa Allah tetap memberikan rahmat kepada manusia dengan tetap menghormati kehendak bebas manusia. Namun, manusia dengan kehendak bebasnya juga dapat menolak rahmat Allah. Tentu saja Allah dapat mengintervensi kehendak bebas manusia dengan rahmat-Nya, namun Allah tidak dapat memaksa sampai manusia kehilangan kehendak bebasnya. Semoga dapat membantu.

                Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
                stef – katolisitas.org

  10. syalom tim katolisitas,

    saya kurang mengerti mengapa menurut agama katolik manusia hanya terdiri dari tubuh dan jiwa, apalagi dalam hal bahwa jiwa dan roh merupakan kata yang berarti sama yang dipakai bergantian.

    Menurut saya harus terlebih dulu dijelaskan apa definisi dari tubuh, jiwa dan roh dalam pengertian umum dan kitab suci sehingga bisa menjadi dasar yang kuat atas ajaran tersebut. Saya sendiri juga tidak faham tentang makna ketiga hal tersebut.

    Namun yang saya tahu jiwa sepertinya berbeda dengan roh, sebab yang ada hanya rumah sakit jiwa bukan rumah sakit roh????

    bagi saya manusia diciptakan dari tanah inilah yang membentuk tubuh. Kemudian Allah menghembuskan nafas ke dalamnya, inilah yang menjadi roh.

    Tetapi jiwa bukan berarti tidak ada, sebab setelah manusia itu hidup, akan memiliki jiwa. Dalam arti jiwa adalah KARAKTER/KEPRIBADIAN manusia yang tercipta itu.

    apa yang dimiliki oleh hewan adalah tubuh dan jiwa (memiliki bentuk dan sifat/pribadi/karakter), dan yang tidak dimiliki adalah ROH, sebab hanya manusialah yang dihembusi oleh NAFAS TUHAN.

    Tambahan lagi, dalam psikologi, gangguan jiwa sepertinya berbeda dengan gangguan roh, gangguan jiwa dapat menurun pada anak (dapat diwariskan secara genetik)yang adalah gangguan mental, kondisi psikologis atau pribadi manusia,

    manusia tanpa tubuh, bukan manusia. manusia tanpa roh tidak mengenal Tuhan (sebab roh berasal dari tuhan). Manusia tanpa jiwa hidup tanpa perbuatan(sebab hidup manusia dipengaruhi oleh jiwanya, seorang seniman misalnya, kerena memiliki JIWA SENI).

    gangguan jiwa dapat sembuh oleh dokter, gangguan roh sembuh oleh Tuhan.

    mohon tanggapannya,
    terima kasih.

    • Shalom Xellz,

      Menurut saya, cobalah membaca terlebih dahulu argumentasi yang telah diberikan di atas – silakan klik. Di artikel tersebut telah dibahas alasan-alasannya mengapa Gereja Katolik mengajarkan bahwa manusia terdiri dari tubuh dan jiwa. Di artikel tersebut juga dibahas tentang definisi jiwa – principle of life atau prinsip dari kehidupan. Definisi lebih lanjut tentang jiwa serta perbedaannya dengan binatang dan tumbuhan, dapat dilihat di artikel ini – silakan klik.

      Kalau dihubungkan dengan penciptaan manusia, maka dalam artikel tersebut dijelaskan sebagai berikut: Kej 2:7 “ketika itulah TUHAN Allah membentuk manusia itu dari debu tanah dan menghembuskan nafas (spirit) hidup ke dalam hidungnya; demikianlah manusia itu menjadi makhluk yang hidup (living soul).” Kalau memang manusia terdiri dari tiga bagian, mengapa dalam kisah penciptaan, manusia diceritakan dibentuk dari debu tanah (sesuatu yang bersifat material, dalam hal ini menjadi tubuh) dan nafas hidup (sesuatu yang bersifat non-material/spiritual)? Di sini tidak dikatakan bahwa setelah ada dua unsur (debu tanah dan nafas hidup), maka manusia mempunyai unsur lain yang bersifat spiritual (non material). Namun dikatakan bahwa: manusia menjadi mahluk yang hidup (living soul). Living soul dalam hal ini adalah “the whole man“, yang terdiri dari tubuh dan jiwa.

      Kalau Anda beranggapan bahwa nafas yang dihembuskan oleh Tuhan kepada manusia pada kisah penciptaan adalah roh yang sekaligus adalah jiwa, maka sebenarnya tidak menjadi masalah kalau kita mengerti bahwa dua hal tersebut adalah satu dan bukan dua hal yang terpisah, yaitu jiwa yang bersifat spiritual. Perbedaan manusia dengan hewan adalah hewan tidak memiliki jiwa yang bersifat spiritual seperti yang dimiliki oleh manusia.

      Kita tidak dapat mencampuradukan definisi jiwa dalam dunia sekuler dengan apa yang dimengerti oleh Gereja, yaitu bahwa jiwa adalah merupakan prinsip kehidupan – yang sebenarnya mencakup segala sesuatu baik akal budi, keinginan. Jadi, semuanya tergantung dari definisi. Seseorang yang sakit jiwa adalah yang tidak mampu menggunakan organ (dalam hal ini otak) yang diperlukan untuk dapat melakukan aktifitas jiwa – mengetahui dan mengasihi. Namun, orang ini tetap mempunyai martabat sebagai manusia. Semoga hal ini dapat memperjelas.

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      stef – katolisitas.org

  11. Shalom,

    1 Thes 5:23 “…..tubuhmu terpelihara sempurna dengan tak bercacat pada kedatangan Yesus Kristus, Tuhan kita.”

    Bagaimana pandangan gereja katolik tentang pendermaan organ (organ donation)?

    Rita, Sabah, Malaysia

    [Dari Katolisitas: silakan membaca di sini, silakan klik.]

  12. Saya masih belum bisa percaya dan memahami bahwa tubuh manusia saat ini hanya terdiri dari tubuh dan jiwa. Karena berdasarkan kisah penebusan dan penyelamatan Kristus, Kristus sendiri berfirman bahwa Ia akan pergi kepada Bapa dan akan mengutus Roh Kebenaran (Roh Penghibur) yang akan mendampingi kita di dunia. Jadi kalau kita percaya bahwa Roh Kebenaran (Roh Kudus) itu didalam diri kita, maka setelah kepergian Sang Mesias menyatu kembali kepada Bapa itu, ada ‘tamu” terhormat lain yang dianugerahkan oleh Bapa sendiri dalam nama Anak manusia, untuk membimbing, menghibur dan mengajarkan apa yang menjadi ajaran, perintah dan kehendak Bapa dan Anak Manusia sendiri karena Bapa, Anak dan Roh Kudus itu adalah satu, dan selalu bersama kita yang percaya kepada-Nya….(see : Yoh.14 :15-17, Yoh.15: 26, Yoh.16: 4b – 15). Semoga bermanfaat. Amin.

    • Shalom Dody,

      Nampaknya yang dibicarakan di sini bukan adanya atau tidak adanya Roh Kudus yang mendampingi manusia, tetapi apakah dalam diri manusia ada roh (roh manusia) yang terpisah dari jiwa manusia, sehingga manusia terdiri dari tubuh jiwa dan roh. Nah, tentang adanya Roh Kudus yang mendampingi manusia, itu adalah suatu kebenaran yang tidak perlu didiskusikan, sebab memang benar Roh Kudus sudah dicurahkan kepada manusia, lewat Baptisan, saat kita diangkat menjadi anak-anak Allah di dalam Kristus, dan karena itu kita menerima hidup ilahi. Roh Kudus yang dicurahkan ini bukan roh manusia, tetapi adalah Roh Allah.

      Sedangkan untuk hal berikutnya, yaitu apakah manusia terdiri dari tubuh dan jiwa (dikotomi), atau tubuh, jiwa dan roh (trikotomi), itu sudah dijabarkan di artikel di atas, yaitu bahwa Gereja Katolik mengajarkan, berdasarkan Kitab Suci, bahwa manusia terdiri dari tubuh dan jiwa yang bersifat rohani.

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      Ingrid Listiati- katolisitas.org

  13. siapakah manusia itu menurut ajaran kitab suci dan ajaran gereja????

    [Dari Katolisitas: Manusia adalah mahluk ciptaan Allah yang diciptakan menurut gambaran/ citra Allah (lih. Kej 1:27). Selanjutnya tentang apa makna manusia diciptakan menurut gambaran Allah, silakan klik di sini]

  14. Untuk mengetahui :Apakah manusia terdiri dari tubuh,jiwa dan roh atau tubuh dan jiwa.
    Kalau sudah ditemukan jawabannya maka,kenakan jawaban itu kepada pertanyaan:

    TIGA HARI S E B E L U M YESUS DIBANGKITKAN DARI KEMATIANNYA YESUS ADA DIMANA?
    TIGA HARI SEBELUM YESUS DIBANGKITKAN PADA HARI KE T I G A TIDAK BOLEH ADA YESUS DALAM WUJUD APA PUN ,apakah dalam wujud manusia atau makhluk roh yang HIDUP.

    Kalau jawaban yang diperoleh dapat mengisi kevakuman tiga hari itu,maka jawabannya adalah salah, karena berarti sebelum Yesus dibangkitkan SUDAH ada Yesus. Kan Yesus BARU dibangkitkan pada hari ketiga [Lukas.24:7]

    Silahkan coba!

    [dari katolisitas: Apakah dasar menentukan kriteria Anda “TIGA HARI SEBELUM YESUS DIBANGKITKAN PADA HARI KE T I G A TIDAK BOLEH ADA YESUS DALAM WUJUD APA PUN ,apakah dalam wujud manusia atau makhluk roh yang HIDUP.”? Pertanyaan-pertanyaan yang anda berikan dapat dijawab dengan jelas ketika kita melihat definisi kematian, hubungan tubuh dan jiwa. Namun, menurut saya, berfokuslah terlebih dahulu pada diskusi tentang kekekalan jiwa yang telah kita mulai.]

  15. Rani HEndrikus on

    Alasan pada poit II untuk menyanggah teori trichotomy sangat lemah. Kalimat ini :”Sebab firman Allah hidup dan kuat dan lebih tajam dari pada pedang bermata dua manapun; ia menusuk amat dalam sampai memisahkan jiwa dan roh, sendi-sendi dan sumsum;…………”, sangat jelas untuk menunjukan bahwa firman Tuhan itu sangat tajam (kuat/berdaya) bahkan mampu memisahkan jiwa dari roh. Untuk apa pernyataan ini di ungkapkan kalau bukan untuk menunjukan bahwa: KETAJAMAN FIRMAN TUHAN ITU MAMPU MEMISAHKAN/MEMBEDAKAN SESUATU (DUA SUBSTANSI) YANG SULIT DIPISAHKAN ATAU DIBEDAKAN JIKA MENGGUNAKAN ALAT/CARA LAIN. Jadi tolong tim katolisitas uraikan juga teori trichotomy secara lengkap serta kritik-kritik yang diberikan oleh para pendukung teori trichotomy terhadap teori dichotomy. Apa dampaknya jika orang katolik lebih meyakini teori trichotomy? Mohon tanggapan dari tim katolisitas, dan terima kasih banyak sebelumnya. Shalom!

    • Shalom Rani Hendrikus,

      Terima kasih atas tanggapannya. Memang Firman Tuhan sanggup memisahkan segala sesuatu. Justru begitu tajamnya, sehingga Firman Tuhan sanggup memisahkan satu substansi. Dengan kata lain, kita dapat menginterpretasikan ayat Ibr 4:12 secara spiritual, untuk menyatakan bahwa memang Firman Tuhan sanggup menembus hati manusia yang terdalam. Namun, hal ini tidak untuk menyatakan bahwa manusia terdiri dari dua hal yang bersifat spiritual. Saya telah mencoba menguraikan bahwa tidak mungkin di dalam satu tubuh manusia terdiri dari dua hal yang bersifat spiritual. Kalau Anda masih mempunyai keberatan atau argumentasi yang lain, silakan untuk menyampaikannya kepada kami.

      Kalau seorang Katolik mendukung bahwa manusia terdiri dari tubuh, jiwa dan roh, maka pada akhirnya akan terjadi banyak kebingungan, seperti: apa hubungan jiwa dan roh, apa yang terjadi dengan jiwa dan roh setelah manusia meninggal, apakah jiwa dan roh keduanya bersifat kekal atau sementara, dll.

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      stef – katolisitas.org

      • Shalom katolisitas yg saya hormati,

        Saya setuju pendapat Rani. Mungkin benar mayoritas agama katolik lebih cenderung percaya kepada teori trichotomy.

        Dan pernyataan pak Stef, tentang kebingungan yang akan terjadi apabila menganut trichotomy, kalau menurut saya sebenarnya tdk ada.

        Dengan segala keterbatasan saya yang katolik awam ini, yang menjadi pengertian saya selama ini adalah :

        Jiwa adalah : Pikiran,Perasaan,akal budi manusia, termasuk didalamnya kehendak bebas manusia seutuh dan selengkapnya, yang input sumbernya berasal dari 5-6 pancaindera manusia.
        Makanya saya menyakini adanya pikiran sadar, dan pikiran bawah sadar.

        Jiwa pengertian saya bukan hanya bersifat Rohani, lebih tepat dikatakan Jiwa yang bersifat Jasmani/badaniah karena adanya fungsi energi Otak sebagai penyimpan memori semua pikiran dan perasaan manusia.

        Jadi menurut pendapat saya :
        Pengertian Jiwa bisa dalam 2 arti, Jiwa Jasmani dan Jiwa Rohani ( ROH yang dihembuskan ALLAH kepada manusia)

        Kalau saya perhatikan, katolisitas selalu mengartikan Jiwa adalah pasti spiritual/ rohani. Disinilah dimulainya titik kebingungan membaca kebenaran ajaran Katolik.

        Apakah Jiwa selalu spiritual, jawaban saya : TIDAK. karena ada energi jiwa yang bekerja di dalam dan secara jasmani manusia sebagai daya hidup manusia. Manusia seutuhnya bisa hidup secara normal, kalau fasilitas + sumber energinya lengkap. Fasilitas badaniah dan sumber energi Jiwa Jasmani dan Jiwa Rohaninya bekerja dengan harmonis.

        Jiwa dan Roh bukanlah 2 kekuatan spritual yang terpisah, yang saling bersaing dan saling mengadu kekuatan. Tetapi keduanya adalah sumber energi manusia yang saling melengkapi sesuai dengan tugas dan peranannya yang secara misteri telah dirancang sedemikian indah kedalam bentuk CITRA ALLAH yang kudus yaitu manusia.

        Jiwa yang secara Jasmani tidak KEKAL, akan mati kalau kematian datang. Tubuh Mati, Jiwa Jasmani pun mati.
        Tetapi Jiwa yang bersifat rohani akan kekal, krn bukan hasil buatan orang tua / manusia, melainkan berasal langsung dari ALLAH sendiri.

        Intinya saya percaya adanya suatu kekuatan dan kehebatan ALLAH yang menggabungkan energi dari elemen-elemen sumber energi daya hidup manusia ini sehingga terjadilah suatu proses kehidupan seorang manusia.

        Pertanyaan yang menggelitik selanjutnya
        Apakah benar Roh pertama kali yang dihembuskan ke manusia bukan ROH KUDUS? krn pengertian baptisan baru kita mendapatkan Roh Kudus??

        Saya pribadi percaya, bahwa ROH yang dihembuskan pertama kali ke manusia adalah ROH ALLAH sendiri, semua roh manusia sumbernya hanya satu yaitu ALLAH itu sendiri. Jadi sebenarnya dari sejak kita mengalami kehidupan di Rahim kandungan, lalu mengalami kematian di Rahim, dan lahir sebagai manusia, ROH itu adalah Roh Allah yang Kudus.

        Apakah kita mau bilang bahwa janin bayi di rahim, itu hanya tubuh dan jiwa saja? atau bahkan hanya tubuh saja, jiwanya belum ada? atau sudah ada tubuh, jiwa dan rohnya secara lengkap?

        Yang saya yakini: Kita sudah mendapatkan ROH kehidupan yang KUDUS dari ALLAH sendiri sejak kita dikandung dalam Rahim.

        Demikian katolisitas, saya mengharapkan katolisitas bisa lebih maju, lebih baik lagi menyebarkan kebenaran ajaran katolik yang indah ini.

        Terimakasih banyak Katolisitas,
        Salam Kasih.

        GBU all

        • Shalom Roni,

          Terima kasih atas tanggapannya. Kalau Anda mau, maka Anda juga dapat menjawab beberapa pertanyaan yang saya ajukan di sini – silakan klik. Anda memberikan pengertian bahwa jiwa adalah bersifat jasmani karena fungsi otak, karena Anda membatasi pengertian jiwa dengan aktifitas berfikir. Namun, pada waktu kami mengatakan bahwa jiwa bersifat non-material, dan jiwa manusia bersifat spiritual, dan jiwa adalah prinsip kehidupan (principle of life), maka kita dapat melihat bahwa pengertian jiwa ini lebih luas dari definisi Anda. Gereja Katolik telah mendefinisikannya secara jelas di dalam Katekismus Gereja Katolik (KGK 362-367).

          Kalau kita membaca kitab Kejadian, maka kita dapat melihat bahwa “Allah membentuk manusia itu dari debu tanah dan menghembuskan nafas hidup ke dalam hidungnya; demikianlah manusia itu menjadi makhluk yang hidup.” (Kej 2:7). Dengan demikian, Allah memberikan nafas kehidupan. Namun, bukan berarti nafas hidup ini adalah Roh Kudus yang menjadi bagian dari hakekat manusia. Untuk mengatakan bahwa Roh Kudus menjadi bagian dari hakekat seluruh umat manusia, maka sebenarnya telah mendekati pengajaran sesar dari Pantheisme – yang menyatakan bahwa Allah di dalam semua dan semua adalah Allah.

          Kapan Allah mulai memberikan jiwa kepada manusia? ketika manusia dikandung. Pada saat itulah, Allah memberikan nafas hidup kepada manusia. Terus terang, saya tidak mengangkap kalimat yang Anda berikan ini “Jadi sebenarnya dari sejak kita mengalami kehidupan di Rahim kandungan, lalu mengalami kematian di Rahim, dan lahir sebagai manusia, ROH itu adalah Roh Allah yang Kudus.

          Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
          stef – katolisitas.org

  16. melchior de jesus on

    Salam dear katolisitas…
    Saya mau bertanya, apakah Peran roh kudus atau jiwa, yg memampukan kt dlm hal mengendalikan hawa nafsu, tolong jelaskan apakah jiwa dan roh kudus itu berbeda..??

    • Shalom Melchior de Jesus,

      Terima kasih atas pertanyaan Anda. Kita harus membedakan antara jiwa manusia dan Roh Kudus, karena keduanya tidaklah sama. Jiwa adalah the principle of life. Dengan kata lain, setiap individu mempunyai jiwa masing-masing. Jadi, manusia A adalah persatuan antara tubuh A dan jiwa A dan manusia B adalah persatuan antara tubuh B dan jiwa B.  Sedangkan Roh Kudus bukanlah jiwa kita, namun Dia adalah Pribadi ke-tiga dari Trinitas, yang menyadarkan kita akan dosa-dosa kita dan memberikan kekuatan kepada kita untuk hidup kudus, termasuk dengan memberikan kita tujuh karunia Roh Kudus pada saat kita dibaptis. Roh Kudus yang sama juga memberikan kepada kita kemampukan untuk mengendalikan diri kita dari nafsu-nafsu yang tidak teratur. Roh Kudus inilah yang mendorong kita untuk mengaku dosa ketika kita melakukan dosa, serta memampukan kita untuk tidak mengulangi dosa yang sama. Namun demikian, dituntut kerjasama dari kita untuk senantiasa berkerjasama dengan Roh Kudus, sehingga kita dapat mengasihi Allah dengan segenap hati dan mengasihi sesama seperti diri sendiri. Semoga keterangan singkat ini dapat memperjelas.

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      stef – katolisitas.org

      • melchior de jesus on

        Terima kasih pa Stef atas penjelasannya,
        Saya jadi lebih memahami esensi dr jiwa,
        Dan Roh Kudus.
        Trima kasih ya Allah Tri Tunggal Maha kudus yg telah mengutus
        Roh kudus, yg senantiasa membimbing jalan hidup kami..