Mengapa kita berpantang dan berpuasa?

78

“What are you going to give up this Lent?”

Di Amerika ini, ada pertanyaan umum menjelang masa Prapaska. Dalam pembicaraan sehari- hari antar teman, seseorang dapat bertanya, “What are you going to give up this Lent?” (“Kamu mau pantang apa dalam Masa Prapaska ini?”). Ya, seharusnya pertanyaan ini timbul di hati kita sebelum kita memulai masa Prapaska, jika kita ingin membuat Masa Prapaska ini suatu kesempatan kita untuk bertumbuh secara rohani. Inilah kesempatan bagi kita untuk merenungkan, hal apa yang paling kita sukai, yang dapat kita ‘korbankan’ demi menyatakan kasih kepada Tuhan, yang lebih dahulu mengasihi kita. Hal yang disukai bisa berbeda antara orang yang satu dengan yang lain, dan karena itu, yang paling dapat merasakan efeknya adalah orang yang bersangkutan. Ada keluarga teman saya yang senengnya menonton TV, kemudian mereka memutuskan untuk mengurangi nonton TV sehingga hanya 1 kali seminggu, hari Sabtu. Waktu yang tadinya dipakai untuk nonton TV dipergunakan untuk berkumpul dan berdoa bersama. Tahun lalu, di samping pantang daging,  suami saya memilih pantang kopi, dan saya pantang sambal. Minggu pertama sangat berat buat suami saya, yang sudah bertahun-tahun terbiasa minum kopi minimal 3 gelas sehari. Awalnya, kepalanya pusing dan selalu mengantuk, namun toh akhirnya bisa juga. Lalu saya, dengan pantang sambal maka makan apapun rasanya kurang pas di lidah saya. Tapi hal ini mengajarkan saya supaya tidak lekas komplain. Sebab ini bukan apa-apa jika dibandingkan dengan pengorbanan Yesus di kayu salib.

Memang, kita dapat menemukan banyak jenis pantang, dan mungkin pula kita dapat memilih yang  sedikit lebih sulit, yang melibatkan penguasaan diri. Contohnya, pantang membicarakan kekurangan orang lain, pantang membicarakan kelebihan diri sendiri,  pantang mengeluh/ komplain, pantang berprasangka negatif atau pantang marah bagi orang yang lekas emosi. Selanjutnya kita diajak untuk lebih mengarahkan hati kepada Tuhan dan berusaha menyenangkan hati-Nya dengan pikiran dan perbuatan kita.  Ini adalah contoh yang paling sederhana dari ucapan, “Aku mau mati terhadap diri sendiri dan hidup bagi Tuhan” (lih. Rom 6:8). Jadi pantang dan puasa bukan sekedar tidak makan daging atau tidak jajan, tetapi selebihnya tak ada yang berubah dalam hubungan kita dengan Tuhan. Kita diundang untuk melihat ke dalam diri kita, untuk melihat kebiasaan apakah yang selama ini menghalangi kita untuk lebih dekat kepada Tuhan. Mari, pada masa Prapaska ini, kita membuat suatu usaha nyata untuk mengambil ‘penghalang’ tersebut dalam hidup kita. Dan dengan demikian, kita dapat mengalami hubungan yang lebih baik dengan Tuhan.

Buat apa berpantang dan berpuasa

Setiap masa Prapaska, kita diajak oleh Gereja untuk bersama-sama berpantang dan berpuasa. Puasa dan pantang yang disyaratkan oleh Gereja Katolik sebenarnya tidak berat, sehingga sesungguhnya tidak ada alasan bagi kita untuk tidak melakukannya. Namun, meskipun kita melakukannya, tahukah kita arti pantang dan puasa tersebut bagi kita umat Katolik?

Bagi kita orang Katolik, puasa dan pantang artinya adalah tanda pertobatan, tanda penyangkalan diri, dan tanda kita mempersatukan sedikit pengorbanan kita dengan pengorbanan Yesus di kayu salib sebagai silih dosa kita dan demi mendoakan keselamatan dunia. Jika pantang dan puasa dilakukan dengan hati tulus maka keduanya dapat menghantar kita bertumbuh dalam kekudusan. Kekudusan ini yang dapat berbicara lebih lantang dari pada khotbah yang berapi-api sekalipun, dan dengan kekudusan inilah kita mengambil bagian dalam karya keselamatan Allah. Allah begitu mengasihi dan menghargai kita, sehingga kita diajak oleh-Nya untuk mengambil bagian dalam karya keselamatan ini. Caranya, dengan bertobat, berdoa dan melakukan perbuatan kasih, dan sesungguhnya inilah yang bersama-sama kita lakukan dalam kesatuan dengan Gereja pada masa Prapaska.

Jangan kita lupa bahwa  masa puasa selama 40 hari ini adalah karena mengikuti teladan Yesus, yang juga berpuasa selama 40 hari 40 malam, sebelum memulai tugas karya penyelamatan-Nya (lih. Mat 4: 1-11; Luk 4:1-13). Yesus berpuasa di padang gurun dan pada saat berpuasa itu Ia digoda oleh Iblis. Yesus mengalahkan godaan tersebut dengan bersandar pada Sabda Tuhan yang tertulis dalam Kitab Suci. Maka, kitapun hendaknya bersandar pada Sabda Tuhan untuk mengalahkan godaan pada saat kita berpuasa. Dengan doa dan merenungkan Sabda Tuhan, kita akan semakin menghayati makna puasa dan pantang pada Masa Prapaska ini.

Puasa dan pantang tak terlepas dari doa

Jadi puasa dan pantang bagi kita tak pernah terlepas dari doa. Dalam masa Prapaska, puasa, pantang dan doa disertai juga dengan perbuatan amal kasih bersama-sama dengan anggota Gereja yang lain. Dengan demikian, pantang dan puasa bagi kita orang Katolik merupakan latihan rohani yang mendekatkan diri pada Tuhan dan sesama, dan bukan untuk hal lain, seperti semata-mata ‘menyiksa badan’, diit/ supaya kurus, menghemat, dll. Janganlah kita lupa, tujuan utama puasa dan pantang adalah supaya kita dapat lebih menghayati kasih Tuhan yang kita terima dan kasih kepada Tuhan. Kita diajak untuk merenungkan sengsara Kristus demi menyelamatkan kita, dan selanjutnya kita diajak untuk menyatakan kasih kita kepada Kristus, dengan mendekatkan diri kepada-Nya dan sesama.

Dengan puasa kita mengambil bagian dalam karya keselamatan Allah

Dengan mendekatkan dan menyatukan diri dengan Tuhan, maka kehendak-Nya menjadi kehendak kita. Dan karena kehendak Tuhan yang terutama adalah keselamatan dunia, maka melalui puasa dan pantang, kita diundang Tuhan untuk mengambil bagian dalam karya penyelamatan dunia, yaitu dengan berdoa dan menyatukan pengorbanan kita dengan pengorbanan Yesus di kayu salib. Kita pun dapat mendoakan keselamatan dunia dengan mulai mendoakan bagi keselamatan orang-orang yang terdekat dengan kita: orang tua, suami/ istri, anak-anak, saudara, teman, dan juga kepada para imam dan pemimpin Gereja. Kemudian kita dapat pula berdoa bagi para pemimpin negara, para umat beriman, ataupun mereka yang belum mengenal Kristus.

Puasa dan Pantang menurut Ketentuan Gereja Katolik

Berikut ini mari kita lihat ketentuan tobat dengan puasa dan pantang, menurut Kitab Hukum Gereja Katolik:

  1. Kan. 1249 - Semua orang beriman kristiani wajib menurut cara masing-masing melakukan tobat demi hukum ilahi; tetapi agar mereka semua bersatu dalam suatu pelaksanaan tobat bersama, ditentukan hari-hari tobat, dimana umat beriman kristiani secara khusus meluangkan waktu untuk doa, menjalankan karya kesalehan dan amal-kasih, menyangkal diri sendiri dengan melaksanakan kewajiban-kewajibannya secara lebih setia dan terutama dengan berpuasa dan berpantang, menurut norma kanon-kanon berikut.

  2. Kan. 1250 - Hari dan waktu tobat dalam seluruh Gereja ialah setiap hari Jumat sepanjang tahun, dan juga masa prapaskah.

  3. Kan. 1251 - Pantang makan daging atau makanan lain menurut ketentuan Konferensi para Uskup hendaknya dilakukan setiap hari Jumat sepanjang tahun, kecuali hari Jumat itu kebetulan jatuh pada salah satu hari yang terhitung hari raya; sedangkan pantang dan puasa hendaknya dilakukan pada hari Rabu Abu dan pada hari Jumat Agung, memperingati Sengsara dan Wafat Tuhan Kita Yesus Kristus.

  4. Kan. 1252 - Peraturan pantang mengikat mereka yang telah berumur genap empat belas tahun; sedangkan peraturan puasa mengikat semua yang berusia dewasa sampai awal tahun ke enampuluh; namun para gembala jiwa dan orangtua hendaknya berusaha agar juga mereka, yang karena usianya masih kurang tidak terikat wajib puasa dan pantang, dibina ke arah cita-rasa tobat yang sejati.

  5. Kan. 1253 - Konferensi para Uskup dapat menentukan dengan lebih rinci pelaksanaan puasa dan pantang; dan juga dapat mengganti-kan seluruhnya atau sebagian wajib puasa dan pantang itu dengan bentuk-bentuk tobat lain, terutama dengan karya amal-kasih serta latihan-latihan rohani.

Memang sesuai dari yang kita ketahui, ketentuan dari Konferensi para Uskup di Indonesia menetapkan selanjutnya :

  1. Hari Puasa dilangsungkan pada hari Rabu Abu dan Jumat Agung. Hari Pantang dilangsungkan pada hari Rabu Abu dan tujuh Jumat selama Masa Prapaska sampai dengan Jumat Agung.

  2. Yang wajib berpuasa ialah semua orang Katolik yang berusia 18 tahun sampai awal tahun ke-60. Yang wajib berpantang ialah semua orang Katolik yang berusia genap 14 tahun ke atas.

  3. Puasa (dalam arti yuridis) berarti makan kenyang hanya sekali sehari. Pantang (dalam arti yuridis) berarti memilih pantang daging, atau ikan atau garam, atau jajan atau rokok. Bila dikehendaki masih bisa menambah sendiri puasa dan pantang secara pribadi, tanpa dibebani dengan dosa bila melanggarnya.

Maka penerapannya adalah sebagai berikut:

  1. Kita berpantang setiap hari Jumat sepanjang tahun (contoh: pantang daging, pantang rokok dll) kecuali jika hari Jumat itu jatuh pada hari raya, seperti dalam oktaf masa Natal dan oktaf masa Paskah. Penetapan pantang setiap Jumat ini adalah karena Gereja menentukan hari Jumat sepanjang tahun (kecuali yang jatuh di hari raya) adalah hari tobat. Namun, jika kita mau melakukan yang lebih, silakan berpantang, setiap hari selama Masa Prapaska.

  2. Jika kita berpantang, pilihlah makanan/ minuman yang paling kita sukai. Pantang daging adalah contohnya, atau yang lebih sukar mungkin pantang garam. Tapi ini bisa juga berarti pantang minum kopi bagi orang yang suka sekali kopi, dan pantang sambal bagi mereka yang sangat suka sambal, pantang rokok bagi mereka yang merokok, pantang jajan bagi mereka yang suka jajan. Jadi jika kita pada dasarnya tidak suka jajan, jangan memilih pantang jajan, sebab itu tidak ada artinya.

  3. Pantang tidak terbatas hanya makanan, namun pantang makanan dapat dianggap sebagai hal yang paling mendasar dan dapat dilakukan oleh semua orang. Namun jika satu dan lain hal tidak dapat dilakukan, terdapat pilihan lain, seperti pantang kebiasaan yang paling mengikat, seperti pantang nonton TV, pantang ’shopping’, pantang ke bioskop, pantang ‘gossip’, pantang main ‘game’ dll. Jika memungkinkan tentu kita dapat melakukan gabungan antara pantang makanan/ minuman dan pantang kebiasaan ini.

  4. Puasa minimal dalam setahun adalah Hari Rabu Abu dan Jumat Agung, namun bagi yang dapat melakukan lebih, silakan juga berpuasa dalam ketujuh hari Jumat dalam masa Prapaska, (atau bahkan setiap hari dalam masa Prapaska).

  5. Waktu berpuasa, kita makan kenyang satu kali, dapat dipilih sendiri pagi, siang atau malam. Harap dibedakan makan kenyang dengan makan sekenyang-kenyangnya. Karena maksud berpantang juga adalah untuk melatih pengendalian diri, maka jika kita berbuka puasa/ pada saat makan kenyang, kita juga tetap makan seperti biasa, tidak berlebihan. Juga makan kenyang satu kali sehari bukan berarti kita boleh makan snack/ cemilan berkali-kali sehari. Ingatlah tolok ukurnya adalah pengendalian diri dan keinginan untuk turut merasakan sedikit penderitaan Yesus, dan mempersatukan pengorbanan kita dengan pengorbanan Yesus di kayu salib demi keselamatan dunia.

  6. Maka pada saat kita berpuasa, kita dapat mendoakan untuk pertobatan seseorang, atau mohon pengampunan atas dosa kita. Doa-doa seperti inilah yang sebaiknya mendahului puasa, kita ucapkan di tengah-tengah kita berpuasa, terutama saat kita merasa haus/ lapar, dan doa ini pula yang menutup puasa kita/ sesaat sebelum kita makan. Di sela-sela kesibukan sehari-hari kita dapat mengucapkan doa sederhana, “Ampunilah aku, ya Tuhan. Aku mengasihi-Mu, Tuhan Yesus. Mohon selamatkanlah …..” (sebutkan nama orang yang kita kasihi)

  7. Karena yang ditetapkan di sini adalah syarat minimal, maka kita sendiri boleh menambahkannya sesuai dengan kekuatan kita. Jadi boleh saja kita berpuasa dari pagi sampai siang, atau sampai sore, atau bagi yang memang dapat melakukannya, sampai satu hari penuh. Juga tidak menjadi masalah, puasa sama sekali tidak makan dan minum atau minum sedikit air. Diperlukan kebijaksanaan sendiri (prudence) untuk memutuskan hal ini, yaitu seberapa banyak kita mau menyatakan kasih kita kepada Yesus dengan berpuasa, dan seberapa jauh itu memungkinkan dengan kondisi tubuh kita. Walaupun tentu, jika kita terlalu banyak ‘excuse’ ya berarti kita perlu mempertanyakan kembali, sejauh mana kita mengasihi Yesus dan mau sedikit berkorban demi mendoakan keselamatan dunia.

Tidak terbatas Pantang dan Puasa dan derma/amal

Dalam masa Prapaska ini, dapat pula kita melakukan sesuatu yang baik yang belum secara konsisten kita lakukan. Misal, bangun lebih pagi setiap hari untuk berdoa, misal dari yang biasanya 5 menit, usahakan jadi 10 menit; atau dari yang biasanya 10 menit, usahakan jadi 20 menit, atau yang 30 menit jadi 1 jam. Memulai hari dengan berdoa dan merenungkan Sabda Tuhan adalah sesuatu yang perlu kita usahakan setiap hari.

Mengikuti Misa Harian (di samping Misa hari Minggu, tentu saja) adalah sesuatu yang dapat pula kita lakukan, jika itu memang memungkinkan dalam situasi kita. Jangan terlalu cepat mengatakan tidak mungkin, jika belum pernah mencoba. Apalagi jika kita tidak mencobanya karena malas bangun pagi. Mengikuti Misa dan menyambut Kristus dalam Ekaristi adalah bukti yang nyata bahwa kita sungguh menghargai apa yang telah dilakukan-Nya bagi kita di kayu salib demi keselamatan kita. Kita dapat pula meluangkan waktu untuk doa Adorasi, di hadapan Sakramen Maha Kudus, jika memang ada kapel Adorasi di paroki/ di kota tempat kita tinggal. Atau kita dapat mulai berdoa Rosario setiap hari. Atau mulai dengan setia meluangkan waktu untuk mempelajari Kitab Suci dan Katekismus Gereja Katolik. Atau mengikuti Ibadat Jalan Salib di gereja, atau jika tidak mungkin, melakukannya bersama dengan keluarga di rumah.

Dalam relasi kita dengan sesama, juga tidak terbatas dengan ‘asal sudah nyumbang, maka sudah beres’. Dengan merenungkan sengsara Tuhan Yesus, maka kita diajak untuk lebih peka terhadap sikap kita terhadap sesama yang kurang beruntung. Misalnya, yang paling dekat adalah pembantu rumah tangga dan supir. Pernahkah kita memberi kesempatan pada mereka untuk beristirahat, misalnya memberi mereka libur? Libur di sini tidak termasuk hanya pada libur Lebaran, dst, tetapi libur/ istirahat agar mereka juga dapat berekreasi dan melepas lelah. Atau apakah kita menjalin persahabatan dengan sesama anggota Paroki yang berkekurangan?

Wah, banyak sekali sesungguhnya yang dapat kita lakukan, jika kita sungguh ingin bertumbuh di dalam iman. Namun seungguhnya, mulailah saja dengan langkah kecil dan sederhana. St. Theresia dari Liseux pernah mengatakan tipsnya, yaitu, “Lakukanlah perbuatan-perbuatan yang kecil dan sederhana, namun dengan kasih yang besar.”

Penutup

Maka untuk menjawab pertanyaan awal, “Mau pantang apa aku pada Masa Prapaska ini?”, kita perlu kembali melihat ke dalam hati kita masing-masing. Pasti jika kita mau jujur, akan selalu ada yang dapat kita lakukan. Mengurangi nonton TV, mengurangi ngemil/ jajan, mengurangi nonton bioskop, tidak main game di internet, dll hanya contoh saja, namun itu belum lengkap, jika kita tidak menggunakan waktu tersebut, untuk hal-hal lain yang lebih mendukung perbuatan kasih kita kepada Tuhan dan sesama.

Ya, dengan Rabu Abu, kita diingatkan bahwa hidup kita di dunia ini hanyalah sementara, maka mari kita mempersiapkan diri bagi kehidupan kita yang sesungguhnya di surga kelak. Kita hanya dapat masuk surga dan memandang Tuhan hanya jika kita memiliki kekudusan itu (lih. Ibr 12:14), maka sudah saatnya kita bertanya pada diri sendiri: sudahkah aku hidup kudus? Masa pertobatan adalah masa rahmat yang Tuhan berikan pada kita, untuk mengatur kembali fokus kehidupan kita. Apakah yang menjadi pusat kegiatanku sehari-hari: aku atau Tuhan? Jika kita masih banyak menemukan ‘aku’ sebagai pusatnya, mungkin sudah saatnya kita mulai mengubahnya….

Share.

About Author

Ingrid Listiati telah menyelesaikan program studi S2 di bidang teologi di Universitas Ave Maria - Institute for Pastoral Theology, Amerika Serikat.

78 Comments

  1. Dear Katolistas Team,

    Saya punya pertanyaan mengenai pantang dan puasa.
    1. Jika kita berkomitmen untuk pantang daging, apakah ikan juga termasuk daging? karena saya mendengar kalau ikan dan daging itu berbeda.
    2. Jika kita berkomitmen pantang jajan, apakah jika pada hari kamis (atau hari2 sebelumnya) kita sudah membeli snack, maka hari Jumat kita diperbolehkan untuk memakan snack itu? atau tidak diperbolehkan karena sudah termasuk jajan walaupun membelinya bukan di hari Jumat? Dan jika membeli sayur mayur untuk dimasak ataupun membeli sayur matang pada hari Jumat, termasuk jajan atau tidak?

    Mohon petunjuknya. Thanks before & God bless! ^^

    • Shalom Tia,

      Secara prinsip, Gereja Katolik hanya memberikan batasan yang sungguh minimal tentang pantang dan puasa. Hal ini disebabkan karena Gereja memandang bahwa pantang dan puasa merupakan manifestasi agar kita turut serta dalam penderitaan Kristus. Jadi, pada waktu pantang dan puasa, maka yang terpenting melakukannya atas dasar kasih kepada Kristus dan menjadi kesempatan agar kita semakin dekat kepada Kristus.

      Tentang pantang daging, Anda dapat makan ikan. Namun, semua orang dapat melakukan lebih daripada yang disyaratkan. Kalau mau pantang jajan pada hari Jumat, maka yang penting kita tidak makan jajanan pada hari Jumat. Jadi pantangnya tidak makan jajanan bukan pantang beli jajanan. Sayur yang memang dimakan pada makanan utama, tentu saja bukan termasuk jajanan.

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      stef – katolisitas.org

      • Shalom , Bgaimna cara mnghitung kita berpuasa slama 40 hari sdangkn di kalender sya sudah mlakukan kalkulasi mlai dri hri Rabu Abu sampai paskah trnyata lebih dari 40 hari (tanpa mnghitung hari Minggu). Mohon penjelasannya, trimakasih.

        [dari katolisitas: Silakan menghitung dari tanggal 5 Maret – 19 April, tanpa menghitung hari Minggu]

    • Shalom Maria,

      Jika kita melihat di kamus besar Bahasa Indonesia, dikatakan bahwa arti mati raga itu adalah: “memperteguh hati dng menolak segala macam kesenangan diri; menahan hawa nafsu” (Referensi: link to kamusbahasaindonesia.org )

      Maka mati raga, umumnya dihubungkan dengan raga, nafsu, yang terjadi secara jasmani, yang menimbulkan kesenangan, contohnya, seperti makanan, minuman beralkohol, ataupun hubungan seksual.

      Dengan demikian dari definisinya, matiraga itu lebih berhubungan dengan sesuatu yang jasmani, daripada yang sifatnya rohani atau batin.

      Namun demikian, jika mau dihubungkan, kemungkinan maksudnya adalah kita tidak mengejar kesenangan batin, yaitu kepada pengalaman-pengalaman spiritual. Sebab bagi kita umat Katolik, komunikasi dengan Tuhan dalam doa, tidaklah ditujukan untuk memperoleh pengalaman-pengalaman spiritual ataupun sensasi-sensasi tertentu. Bagi kita doa adalah relasi kasih kita dengan Tuhan, sehingga pengalaman-pengalaman rohani tidaklah menjadi sesuatu yang utama.

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      Ingrid Listiati- katolisitas.org

  2. Shalom team katolisitas yg t’kasih…

    Menurut sya, ibadat b’puasa & pantang ini sngat perlu & unik skali m’mandang’n sejajarnya dgn p’tobatan & p’mnungan karya kasih Yesus.

    Yg ingin sya tnya’n, knapa b’puasa tdk t’masuk dlm Sakramen kudus kita? Krna mnurut sya, b’puasa m’rupakan 1 pilar @ tanda yg dpt m’dorong kpd kselamatan (mlalui p’tobatan & doa)…

    Mhon p’cerahan… Krna sya rsa skiranya b’puasa t’msuk dlm Sakramen kudus, pasti kta umat katolik x akn m’anggap enteng ibadat t’sbut…

    Thanx in advance
    Salam kasih dlm Kristus

    • Shalom John,

      Pada dasarnya, sakramen itu adalah saluran rahmat Allah, yang berdaya guna karena Kristus sendiri yang bekerja di dalamnya. Katekismus mengajarkan:

      KGK 1127    Sakramen-sakramen yang dirayakan dengan pantas dalam iman, memberikan rahmat yang mereka nyatakan (Bdk. Konsili Trente: DS 1605 dan 1606). Mereka berdaya guna, karena Kristus sendiri bekerja di dalamnya; Ia sendiri membaptis, Ia sendiri bertindak dalam Sakramen-sakramen-Nya, untuk membagi-bagikan rahmat, yang dinyatakan oleh Sakramen. Bapa telah mengabulkan doa Gereja Putera-Nya, yang menyatakan imannya akan kekuasaan Roh Kudus dalam epiklese setiap Sakramen. Seperti api mengubah bahan bakar menjadi api, demikian Roh Kudus mengubah apa yang takluk kepada kekuasaannya, ke dalam kehidupan ilahi.

      KGK 1128    Inilah arti dari ungkapan Gereja (Bdk. Konsili Trente: DS 1608), bahwa Sakramen-sakramen bekerja ex opere operato [secara harfiah: “atas dasar kegiatan yang dilakukan”]. Artinya, mereka berdaya berkat karya keselamatan Kristus yang dilaksanakan satu kali untuk selamanya. Oleh karena itu: “Sakramen tidak dilaksanakan oleh kesucian manusia yang memberi atau menerima [Sakramen], tetapi oleh kekuasaan Allah” (Thomas Aqu., s.th. 3,68,8). Pada saat Sakramen dirayakan sesuai dengan maksud Gereja, bekerjalah di dalam dia dan oleh dia kekuasaan Kristus dan Roh-Nya, tidak bergantung pada kekudusan pribadi pemberi. Buah-buah Sakramen juga bergantung pada sikap hati orang yang menerimanya.  

      KGK 1129     Gereja mengatakan bahwa Sakramen-sakramen Perjanjian Baru perlu untuk keselamatan umat beriman (Bdk. Konsili Trente: DS 1604). “Rahmat sakramental” adalah rahmat Roh Kudus yang diberikan oleh Kristus kepada tiap Sakramen secara khusus. Roh itu menyembuhkan dan mengubah semua mereka yang menerima-Nya, dengan menjadikan mereka serupa Putera Allah. Buah kehidupan sakramental ialah: Roh Anak Allah memberi kepada orang beriman bagian pada kodrat ilahi (Bdk. 2 Ptr 1:4), dengan mempersatukan mereka dengan daya kehidupan Putera tunggal, sang Penebus.      

      Maka dalam sakramen, pelaku utama-Nya adalah Tuhan, bukan manusia; dan rahmat Allah yang diberikan oleh Allah melalui sakramen ini, diperlukan untuk keselamatan. Inilah yang membedakan antara sakramen dengan puasa, dan mengapa puasa tidak termasuk dalam sakramen. Sebab pelaku utama puasa adalah manusia, bukan Tuhan. Puasa dapat dilakukan sebagai persiapan batin dari pihak yang akan menerima sakramen (seperti sebelum dibaptis, sebelum menerima Krisma, sebelum menerima Ekaristi, dst) tetapi puasa itu sendiri bukan sakramen.

      Selanjutnya, silakan membaca lebih lanjut mengenai pengertian sakramen, di artikel ini, silakan klik.

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      Ingrid Listiati- katolisitas.org

      • Shalom bu Ingrid,

        Terima kasih atas jwapannya yg sngat detail & m’bina. Sgala yg team katolisitas jelas’n dlm situs ini sngat b’guna bg kmi smua m’mhami pngajaran greja Katolik.

        Semoga Tuhan sntiasa m’berkati karya krasulan anda smua ini.

        Puji syukur… God bless…

  3. dear katolisitas,
    saya ingin bertanya tentang kewajiban puasa
    saya memiliki seorang teman yang pada masa puasa lalu berpuasa dengan mengganti makan normal menjadi roti tawar selama jam kerja, saya perhatikan dia memakan roti tsb 2-3 lembr selama 8 jam kerja dan minum normal,
    saya bertanya-tanya, bisa ya puasa dengan cara itu? karena selama ini saya mengetahui puasa berpantang daging, garam.. sedangkan berpuasa dengan mengganti dengan makan roti tawar belum pernah saya ketahui.. ternyata sampai detik saya enlis ini, teman kerja yang seiman ini masih menjalani puasa degan cara ini..
    saya takut salah kaprah tentang apa yang dia jalani..
    mohon bantuan penjelasannya untuk pertanyaan saya ini, terima kasih JCBU

    • Shalom Emma,

      Ketentuan tentang puasa dan pantang menurut Gereja Katolik, silakan klik di sini. Memang yang disebutkan di sana adalah ketentuan minimal, sehingga jika ada orang yang mau melakukan lebih, demi kasihnya kepada Allah, tentu boleh saja melakukannya, dan itu baik.

      Kemungkinan teman Anda melakukan puasa dan pantang dengan hanya makan makan roti tawar dan minum air putih setelah membaca buku tentang pesan penampakan Bunda Maria di Medjugorje, 21 Juli 1982, yang salah satunya menyebutkan cara sedemikian untuk berpuasa. Selain bahwa klaim penampakan di Medjugorje belum mendapat persetujuan dari Tahta Suci, bahkan jika sudah diakui-pun pesan ini tidak mengikat semua umat beriman, walaupun jika dilakukan sebagai salah satu bentuk devosi, tentu baik dan mendukung pertumbuhan iman. Tentu dengan catatan jika memang keadaan orang tersebut cukup sehat untuk melakukannya. Puasa dan pantang bagi kita umat Katolik bukan hanya dilakukan demi membatasi makanan dan minum, tetapi sebagai tanda pertobatan dan dalam kesatuan dengan doa. Puasa/ matiraga yang dilaksanakan dalam kesatuan dengan doa, dapat membantu orang yang melakukannya untuk mengarahkan hati dan pikiran kepada Tuhan, dengan turut merenungkan pengorbanan Yesus, demi menyelamatkan kita.

      Selanjutnya tentang apa makna puasa dan pantang, bagi kita umat Katolik, sudah dibahas di atas, silakan klik di sini.

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      Ingrid Listiati- katolisitas.org

  4. Shalom bu Ingrid

    Saya merasa bersalah krn anak saya pas masa pra paskah kemaren mau berpuasa (hanya makan gandum tawar saja dan air putih), tapi tidak sy ijinkan krn masih terlalu kecil (9th). Selain masalah usia, sebelumnya anak sy mengalami keadaan yg kurang baik oleh teman disekolahnya, beberapa temannya selalu mengambil jatah makan anak saya, ini berlangsung setahun lebih tanpa sy ketahui setelah anak saya jatuh sakit (lambungnya), baru sy mengetahuinya (anak sy menutupi hal ini), krn hal ini sy menyarankan dia utk berpantang saja. Anak sy sempat ngotot, tapi ttp saya larang, akhirnya dia nurut. Sebagai ortu, benarkah yg sy lakukan? Atau sy membiarkan dia dgn kemauannya? Saya jd serba salah melihat banyak hal yg dia pantangkan selama ini. Terimakasih

    Shalom,
    Yindri

    • Shalom Yindri,

      Adalah sesuatu yang positif, jika anak Anda yang masih belia, telah mempunyai kerinduan untuk melakukan matiraga di masa Prapaska. Namun sudah sepantasnya, bahwa matiraga itu jangan sampai membahayakan kesehatannya sendiri. Anda sebagai ibunya, tentu lebih mengetahui secara pasti keadaan anak Anda, apakah memang anak Anda dapat melakukan puasa (makan roti gandum dan air putih saja). Silakan juga bertanya kepada dokter anak Anda. Sebagai orang tua, Anda juga bertanggungjawab menjaga dan memelihara anak Anda, termasuk di sini adalah memperhatikan kesehatannya. Ketentuan Gereja tentang batas minimal umur untuk puasa adalah 14 tahun. Namun tentu, jika beberapa tahun sebelumnya anak memang mampu dan mau melakukannya, maka puasa dapat dilakukan. Namun jika karena alasan kesehatan puasa tidak dapat dilakukan, maka silakan berpantang beberapa hal yang disukai, seperti pantang jajan, pantang main game, pantang nonton TV, pantang makan permen/ yang manis-manis, dst. Pantang ini merupakan latihan yang baik bagi anak, pertama-tama untuk pengendalian diri, namun juga dapat menghasilkan rasa syukur dan penghargaan terhadap apa yang dimilikinya, sebagai pemberian Tuhan melalui orang tua. Sebab seringkali kita lebih menghargai sesuatu, pada saat kita tidak dapat memiliki/ menggunakannya. Dengan masa pantang, anak akan semakin disadarkan bahwa hal-hal yang disukainya itu pantas disyukuri dan dihargai, sebagai pemberian Tuhan melalui orang tua, yang sebenarnya diperolehnya bukan pertama-tama karena haknya, tetapi karena belas kasih Tuhan dan orang tuanya. Pantang juga dapat membawanya semakin menyadari betapa besarnya kasih Kristus kepadanya yang tercurah di kayu salib, sebab pantang apapun yang dilakukannya tidak akan pernah sebanding dengan segala pengorbanan yang telah dilakukan Kristus baginya. Namun untuk sampai kepada pemahaman ini, umumnya diperlukan penjelasan dari orang tua.

      Jadi mohonlah tuntunan Roh Kudus, agar Anda dapat menjalankan peran sebagai orang tua dengan bijaksana, untuk membimbing anak Anda yang mempunyai kerinduan untuk turut bermatiraga dalam masa Prapaska. Di atas semua itu, yang terbaik adalah memberitahukan kepadanya motivasi kita sebagai umat Katolik untuk bermatiraga dalam masa Prapaska, sebagaimana telah diuraikan di artikel di atas, silakan klik.

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      Ingrid Listiati- katolisitas.org

      • Shalom bu Ingrid,

        Terimakasih atas penjelasannya, terimakasih jg krn situs ini membuat sy jadi banyak belajar utk menambah pengetahuan sy.

        Salam Kasih Kristus
        Yindri

  5. Erika Aurelia on

    Kak , umur ku 12 tahun , aku sedeng belajar puasa untuk mempersiapkan Jumat Agung nanti , sebenarnya aku takut banget di bilang “alim” makanya aku tidak mau memberitahukan kepada ibuku . Hari ini aku terus dipaksa makan sama ibuku tapi aku menolak dan menaruhkan kembali ke meja . Aku berdosa tidak ketika aku menolak ? Apa yang kuharus lakukan ?

    • Shalom Erika Aurelia,

      Sejujurnya, Kak Ingrid terharu sekali membaca pesanmu. Meskipun usia Erika baru 12 tahun dan sebetulnya belum wajib untuk melakukan puasa di hari Jumat Agung nanti, namun Erika sudah berniat untuk berpuasa pada Masa Prapaska ini. Ya, memang kalau kita mengasihi Tuhan, kita akan terdorong untuk mempersembahkan yang terbaik, melebihi dari apa yang disyaratkan.

      Nah, memang Tuhan Yesus mengajarkan kita untuk tidak menunjukkan kepada orang banyak bahwa kita sedang berpuasa, jika maksudnya adalah agar dipuji orang (lih. Mat 6:16). Tetapi dalam kasusmu, nampaknya tidak apa-apa jika Erika memberitahu ibu, kalau kamu mau belajar berpuasa, dalam masa Prapaska ini. Maka Erika tidak perlu berbohong pada ibu, sehingga ibupun tidak berpikir macam-macam karena kamu menolak untuk makan makanan yang sudah dibuatkan oleh ibu. Mestinya ibumu akan turut bangga dan mendukung niat baikmu untuk berpuasa itu. Sebab berpuasa bagi kita orang Katolik maksudnya adalah kita menunjukkan pertobatan kita di hadapan Tuhan. Artinya kita mau berjuang menjadi orang yang lebih baik dan lebih mengasihi Tuhan dan sesama. O ya, kalau Erika tak mau orang lain tahu kalau Erika sedang belajar berpuasa, maka boleh katakan pada ibu….: “Ssst…. ini rahasia kita berdua, ya, Bu. Jangan bilang siapa-siapa ya, kalau saya lagi belajar puasa.” OK?

      Semoga Tuhan Yesus berkenan menerima persembahan puasa-mu itu sebagai tanda kasihmu yang tulus kepada-Nya, yang sudah lebih dulu mengasihimu.

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      Kak Ingrid- katolisitas.org

      PS: Erika, di atas ini ada artikel tentang: “Mengapa kita berpantang dan berpuasa”, silakan klik di sini, untuk membacanya.

  6. Dasar Pemikiran Ketentuan Masa Puasa
    Sebagai upaya pendewasaan pengetahuan dan penghayatan iman Katolik, seyogyanya dijelaskan latar belakang dan alasan dari setiap ketentuan masa puasa .
    1, Rentang umur yang wajib berpuasa : 18 – 60 tahun.
    Mengapa startnya mulai usia 18 tahun? Mengapa bukan mulai dari umur yang lebih muda?
    2. Rentang umur yang wajib pantang : 14 – 60 tahun.
    Mengapa startnya mulai usia 14 tahun?
    3. Mengapa puasa katolik lebih enteng dari puasa islam? Kayaknya puasa katolik puasa bohong-bohongan.
    4. Banyak umat sekarang melek kesehatan, sehingga sudah tidak makan daging atau tidak merokok , tidak jajan berlebihan walau punya duit. jadi apa relevansi pantang bagi mereka?

    • Shalom Herman Jay,

      Mohon dipahami bahwa apa yang ditentukan dalam KHK dan keuskupan tentang pantang dan puasa, merupakan syarat ketentuan minimum, sehingga tidak ada larangan untuk menyesuaikannya dengan keadaan kita, jika memungkinkan. Maka silakan saja melakukan puasa, sebelum berumur 18 tahun, jika dikehendaki dan memungkinkan secara kesehatan. Batas 18 tahun adalah batas umum di mana seseorang dapat dinyatakan dewasa, sehingga harapannya pada usia tersebut tidak ada halangan dari segi kesehatan/ pertumbuhan tubuh. Usia 14 tahun untuk pantang, juga adalah usia di mana dianggap sudah ada keadaan fisik dan pengertian yang memadai untuk melakukan mati raga/ pantang. Tentu saja, sudah dapat dilakukan lebih dini, silakan dilakukan, itu sangat baik. Namun Gereja memberikan batas yang dipandang sebagai batas umum yang masuk akal, sehingga mestinya secara umum tidak ada alasan mengapa orang yang dalam rentang usia tersebut tidak dapat melakukannya.

      Puasa Katolik memang bukan bertujuan hanya semata untuk menahan diri untuk tidak makan, minum ataupun perbuatan lainnya. Maksud utama puasa Katolik adalah pertobatan dan menyatukan diri dengan pengorbanan Kristus, melakukan silih bagi dosa-dosa pribadi dan sesama, serta mendoakan pertobatan diri dan seluruh dunia. Dengan demikian, kita turut serta mengambil bagian dalam karya keselamatan-Nya (lih. Kol 1:24). Silakan membaca artikel di atas, silakan klik. Jika Anda melakukan dengan sungguh-sungguh maksud ini, maka sungguh bukan puasa bohong-bohongan. Sebab yang diusahakan dalam masa Pertobatan ini adalah menggabungkan doa, derma dan mati raga, yang tujuannya adalah menjadikan diri sendiri menjadi orang yang bertobat, lebih baik dari kemarin, mempunyai kasih dan bela rasa yang sejati kepada sesama, terutama yang membutuhkan bantuan; namun juga mempunyai penghayatan yang lebih mendalam akan iman dan kasih kita kepada Allah di dalam Kristus.

      Orang tidak makan daging, tidak merokok, tidak jajan, juga masih dapat berpantang/ melakukan mati raga. Bahkan kesempatannya bukannya lebih mudah, yaitu pantang yang bukan makanan dan minuman, yang sejujurnya bahkan lebih sulit. Misalnya, pantang membicarakan orang lain, pantang komplain, pantang marah, pantang menceritakan kebaikan diri sendiri, pantang menganggap diri paling pintar, dst, silakan diteruskan sendiri. Tak ada batas maksimal bagi orang yang dengan tulus mengejar kekudusan.

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      Ingrid Listiati- katolisitas.org

       

  7. Salam Damai Sejahtera bagi kita semua. Saya mau tanya, apakah puasa bagi orang Katolik menjelang Paskah itu wajib? Mohon penjelasannya.Terima kasih.

    [dari katolisitas: silakan membaca artikel di atas – silakan klik]

  8. Puasa Tidak Sejalan Dengan Kristianitas?
    Saya bertemu dengan seseorang dari salah satu gereja. Kebetulan bulan bulan puasa, sehingga pembicaraan melantur ke pokok pembicaraan tentang puasa.
    Saya menyatakan orang kristen juga mengenal puasa. Namun, di gereja orang tersebut, puasa tidak dijalankan lagi dengan alasan Yesus sudah membebaskan semua pengikutnya dari kewajiban berpuasa.
    Walau menjadi pengikut Kristus, tidak berarti cara hidup Yesus harus diikuti semua pengikutnya. Kalau Yesus tidak kawin, toh pengikutnya tidak harus tidak kawin.

    • Shalom Herman Jay,

      Saya rasa, saya tidak perlu mengungkapkan bahwa Yesus (lih. Mat 4:1-2; Mrk 1:12-13; Luk 4:1-2), dan jemaat perdana melakukan puasa (lih. 2Kor 6:5; 2Kor 11:27; Kis 9:9; Kis 13:2-3; Kis 14:23) . Lihat juga artikel di atas – silakan klik – tentang pentingnya berpuasa dan berpantang. Kalau memang ukuran yang dipakai adalah walaupun menjadi pengikut Kristus namun tidak perlu mengikuti kehidupan Kristus, maka pertanyaan saya adalah: Apakah mereka perlu mengampuni dosa sesama, karena Kristus mengajarkan pengampunan? Apakah mereka perlu untuk berdoa, karena Kristus berdoa? Kalau memang perlu, maka mengapa puasa tidak perlu? Dan apakah parameternya, perintah mana atau tindakan apa dari Kristus yang perlu atau tidak perlu dilakukan? Memang, tidak secara otomatis orang yang berpuasa akan masuk Sorga. Namun, dengan berpuasa, maka seseorang diajarkan untuk melatih pengendalian diri dan berpartisipasi dalam penderitaan Kristus, sehingga seseorang dapat semakin menyerupai Kristus.

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      stef – katolisitas.org

  9. shalom.
    Saya ada satu soalan.
    Kalau Yesus berpuasa selama 40 hari ketika berada di bumi sebelum diangkat naik ke syorga, mengapa kita tidak berpuasa selama tempoh tersebut?

    [Dari Katolisitas: Masa Puasa dan pantang Umat Katolik adalah empat puluh hari, yaitu dalam Masa Prapaska. Silakan membaca di artikel di atas, tentang Mengapa Kita Berpantang dan Berpuasa, silakan klik]

  10. salam sdr Ocavianus

    sy mw sharing kisah sy.sy pnya penyakit maaq.lumayan parah.dulu krn alasan itu sy tdk mampu utk berpuasa tp mungkin krn dorongan Roh Kudus sy mencoba belajar puasa.awal cukup berat bukan krn tdk kuat menahan lapar tp krn waktu makan perut sy tdk bs menerima mknan,kepala pusing,perut mual.walaupun mknan msuk tp sy akn menderita sepanjang mlm.stamina drop begitu jg dg ketahanan tubuh turun.sy tdk putus asa,sy hrs mengalahkn penyakit ini.awalnya sy cb sehari puasa,sehari recovery begitu seterusnya smp paskah.mungkin krn Roh Kudus jg smp sekarang sy mampu berpuasa 2x seminggu dn saat prapaskah sy mampu puasa spti yg lainnya walaupun tdk full 40 hr tp sy berusaha utk lebih baik dr sebelumnya.sekrg sy mampu 3hr berturut2 puasa tnpa kesakitan spti dl.untuk itu setiap mw mengakhiri puasa sy bersyukur kpd Tuhan krn tlh dibantu dn disertai selm puasa.dmk pengalaman sy.smoga tahun ini sy mampu menjalani puasa lebih baik dr sebelumnya
    terima kasih

  11. Bagaimana cara orang yang menderita gastroentritis (sejenis magh) melakukan puasa pada masa Pra-Paskah? Terima kasih. Tuhan memberkati.

    • Shalom Ocavianus,

      Saya tidak tahu sebagaimana parahnya penyakit tersebut. Jika memang sudah benar- benar parah sehingga tidak orang yang bersangkutan harus makan tiga kali dengan jumlah yang tidak bisa dikurangi, maka silakan mencari cara matiraga yang lain. Seperti misalnya, tidak nonton TV kalau memang senangnya nonton TV; tidak browsing internet (kecuali untuk pekerjaan/ sekolah), tidak shopping; tidak jalan-jalan ke mall ataupun nonton bioskop, tidak gossip/ membicarakan orang lain; tidak duduk bersandar; tidak makan snack/ ngemil; tidak dengar musik; tidak marah; tidak komplain, dst, masih banyak pantang yang lain yang bisa dicoba, yang bahkan sering lebih sukar daripada pantang makanan. Demikian juga, silakan tetap melakukan derma dan doa sebab memang kedua hal itu tidak terpisahkan dari pantang dan puasa menurut iman Katolik.
      Sedangkan kalau sebenarnya penyakit itu tidak terlalu parah, sebenarnya puasa dengan makan satu kali kenyang, itu sesungguhnya tidak terlalu berat. Jika memang tidak bisa “skip” makan, maka masih dapat makan 3 kali hanya saja dalam dua kali makan, jumlah makanannya dikurangi. Sedang satu kali makan dapat tetap makan kenyang.
      Silakan ditimbang menurut “prudence“/ kebijaksanaan orang yang bersangkutan, sebab motivasi utama puasa dan pantang adalah untuk mengungkapkan tobat. Selanjutnya, silakan membaca artikel, Mengapa kita Berpantang dan Berpuasa?, silakan klik.

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      Ingrid Listiati- katolisitas.org

  12. shalom.

    saya ingin bertanya bagaimana cara umat katolik berpuasa pada masa advent dan pada masa prapaskah.dan makanan dan minuman apa saja yang boleh dihidangkan dalam berpuasa,dari pukul berapa hingga pukul berapa!! saya bertanya sebab iman saya kurang dan saya ingin lebih mengerti tentang agama yang saya peluk!!!mohon pencerahaannya nya teman2.

    • Shalom Ikang,

      Tentang puasa dan pantang, silakan membaca terlebih dahulu artikel di atas: Mengapa kita berpantang dan berpuasa?, silakan klik. dan tentang persyaratan pantang dan puasa, silakan klik di sini

      Memang Gereja Katolik tidak menentukan secara mendetail tentang makanan dan minuman saat puasa dan pantang; itu diserahkan kepada kebijaksanaan kita umatnya. Prinsip yang perlu dipegang adalah karena puasa dan pantang bagi kita adalah ungkapan tobat dan mati raga, maka pada masa pantang dan puasa itu kita tidak malah memakan makanan yang mewah dan berlebihan pada saat makan. Waktu menurut KHK dihitung dari saat jam 12 malam sampai jam 12 malam berikutnya.

      Selanjutnya silakan juga membaca renungan di masa puasa dan pantang, silakan klik di sini. Sedangkan untuk doa di masa puasa dan pantang, silakan klik.

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      Ingrid Listiati- katolisitas.org

  13. Luhut Tamba on

    Pengasuh yang terkasih….

    saya seorang Katolik yang sangat mengasihi iman Katolik walaupun saya masih banyak kekurangan untuk menjadi seorang Katolik yang baik, beruntunglah saya menemukan forum ini, dgn harapan wawasan saya tentang iman saya bisa terbina.

    Sedikit pertanyaan saya kali ini, yaitu,:
    – bagaimana berpuasa menurut iman Katolik? Dan apakah puasa Senin-Kamis (seperti yg banyak dilakukan di Jawa) sesuai dgn iman Katolik?
    – bulan ini dalam tradisi Katolik adalah bulan Rosario, apakah berdoa Rosario dalam bulan ini harus dilakukan pada jam yang sama (bila mendaraskannya tiap hari)?

    Terimakasih sebelumnya kepada admin yg telah menjawab pertanyaan saya ini, semoga kita semua dibimbing untuk lebih mengasihi iman Katolik…

    • Shalom Luhut,

      1. Tentang Puasa dan Pantang, menurut Gereja Katolik, sudah pernah dibahas di artikel- artikel ini (silakan klik)

      Mengapa Kita Berpantang dan Berpuasa?
      Puasa dan Pantang menurut Gereja Katolik
      Menemukan Tuhan dalam Puasa dan Pantangku

      2. Tentang Rosario pada bulan Maria

      Rosario adalah bentuk devosi kepada Bunda Maria. Dasar devosi kepada Bunda Maria dapat dibaca di artikel ini, silakan klik.

      Karena devosi pada dasarnya adalah ungkapan kasih dan penghormatan, maka memang tidak ada aturan yang baku dan kaku. Tentu semakin kita melakukannya dengan setia dan sungguh- sungguh, akan semakin baik, dan dengan demikian doa rosario dan segala bentuk devosi lainnya tidak terbatas kita lakukan di bulan Oktober atau Mei saja. Namun tentu pada bulan yang istimewa ini, silakan anda doakan doa rosario pada jam yang sama, jika memang memungkinkan bagi anda. Namun jika tidak, jangan sampai menjadi halangan bagi anda untuk tetap mendoakan doa rosario setiap hari.

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      Ingrid Listiati- katolisitas.org

  14. Bernardus Aan on

    Salam Damai Kristus sdri Desy,

    Saya hanya menambahkan saja bahwa pada Umat Gereja Perdana juga melakukan puasa Hari Rabu dan Jum’at. Ini terdapat pada Didakhe (Ajaran Tuhan melalui 12 Rasul kepada seluruh bangsa) pada Bab 8. Dari terjemahan http://www.ekaristi.org bunyi dari bab tersebut adalah sebagai berikut :

    Bab 8. Puasa dan Berdoa (Doa Bapa Kami). Tapi janganlah puasamu seperti orang orang munafik (farisi), karena mereka hanya berpuasa pada hari kedua dan kelima dalam satu minggu. Sebaliknya, berpuasalah pada hari keempat (Rabu) dan pada hari Persiapan (Jumat). Jangan berdoa seperti orang orang munafik (farisi), sebaliknya seperti yang diperintahkan Tuhan dalam GerejaNya, seperti ini :

    Bapa Kami yang berada di dalam surga, dimuliakanlah nama Mu. Datanglah kerajaan Mu. Jadilah kehendak Mu diatas bumi, seperti didalam surga. Berilah kami rejeki pada hari ini, dan ampunilah kesalahan kami seperti kami pun mengampuni yang bersalah kepada kami. Dan janganlah membawa kami kepada pencobaan, tapi jauhkanlah kami dari yang jahat; karena segala Kekuasaan dan Kemuliaan adalah milikmu untuk selama lamanya.

    Disitu disebutkan bahwa menurut pengajaran Didakhe berpuasa adalah 2 kali dalam seminggu yaitu hari keempat (hari rabu) dan pada hari persiapan (hari Jum’at). Berdasarkan pengajaran dari Kitab Didakhe tersebut maka puasa yang sdri Desy lakukan dibenarkan malahan bagus sekali.

    Namun yang paling penting adalah yang dikatakan oleh Bu Ingrid bahwa “Di atas semua itu, doa dan merenungkan firman Tuhan adalah sesuatu yang penting dan tidak terpisahkan dari puasa dan pantang. Dalam kesatuan dengan doa dan firman, puasa dan pantang tersebut dapat merupakan ungkapan tobat yang tulus. Jika memungkinkan ikutilah Misa Kudus pada hari itu, sehingga makna keseluruhan puasa dan pantang anda dapat semakin lengkap.”

    Demikian tambahan informasi dari saya, dan Tuhan memberkati sdri Desy dan keluarga.

    Salam Dalam Kasih Karunia Kristus Yesus,
    Bernardus Aan

  15. yth.katolisitas

    saya dan ibu saya melakukan puasa seminggu 2x setiap hari rabu dan jumat.walaupun masa puasa sudah berakhir kami masih berpuasa sebagai ujud syukur kami kepada Tuhan.puasa ini kami lakukan sudah cukup lama.pernah teman ibu saya,banyak sebenarnya yng menanyakn kepada ibu saya kenapa hari rabu dan jumat,tidak senin dan kamis?jawabnnya karena senin dan kamis,tradisi jawa,kami ingin mengikuti tradisi katolik,rabu,karena awal dari puasa(rabu abu),jumat karena sengsara dan wafat yesus(jumat agung).
    kenapa masih puasa,kan masa puasa sudah habis dan begitu juga bila memilih hari rabu dan jumat karena alasan tresebut tidak dibenarkan karena itu hanya untuk pas masa puasa.apkah benar yang kami lakukan selama ini?jika hari yng kami pilih tidak diperbolehkn atau salah,hari apa saja kami boleh berpuasa diluar bulan puasa?

    terima kasih

    • Shalom Desy,

      Silakan anda membaca artikel di atas, silakan klik.

      Aturan pantang dan puasa yang tercantum dalam Kitab Hukum Kanonik merupakan ketentuan minimun bagi kita umat Katolik tentang pantang dan puasa. Maka jika anda dapat melakukan lebih, tentu saja anda dapat melakukannya, asalkan dilandasi atas motivasi yang benar, yaitu sebagai ungkapan tobat dan mempersatukan pengorbanan kita yang kecil ini dengan pengorbanan Kristus di kayu salib.

      Dalam ketententuan KHK, di luar masa Prapaska, umat Katolik memang berpantang setiap hari Jumat sepanjang tahun, kecuali pada hari Jumat yang jatuh pada hari oktaf Paskah dan Natal. Dipilih hari Jumat, karena untuk mengenang hari wafatnya Tuhan Yesus. Jika anda ingin menambahnya menjadi hari Jumat dan Rabu, dan bukan hanya pantang tetapi juga puasa, tentu baik, dan tidak dilarang. Di atas semua itu, doa dan merenungkan firman Tuhan adalah sesuatu yang penting dan tidak terpisahkan dari puasa dan pantang. Dalam kesatuan dengan doa dan firman, puasa dan pantang tersebut dapat merupakan ungkapan tobat yang tulus. Jika memungkinkan ikutilah Misa Kudus pada hari itu, sehingga makna keseluruhan puasa dan pantang anda dapat semakin lengkap.

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      Ingrid Listiati- katolisitas.org

  16. Dear Katolisitas,

    terima kasih atas jawaban yang diberikan.

    Untuk poin no.7 memang saya tidak memiliki dasar apapun dalam mengatakan bahwa hanya ada 20% saja umat Katolik yang berpuasa. Itu semata hanyalah pendapat pribadi saya, harap perhatikan di atas saya menggunakan kata mungkin, yang berarti saya tidak dapat menunjukkan bukti atau fakta apapun. Saya rasa karena beberapa pengalaman pribadi yang saya alami sehingga saya sampai menyatakan seperti itu. Saya mohon maaf menyatakan sesuatu yang tak berdasar. Silakan mengunjungi link berikut: link to cathnewsindonesia.com. Mungkin artikel dalam link tersebut sedikit banyak mempengaruhi pendapat saya.

    Sekedar sharing, dulu saat masih bersekolah, kebetulan saat itu bulan Ramadhan bagi umat muslim, saya dan beberapa teman sedang berkumpul. Pembicaraan akhirnya beralih ke topik bulan puasa di mana beberapa teman mengeluhkan dan mengolok-olok bau mulut muslim yang puasa. Saya menyanggah teman-teman saya tersebut dengan bertanya, lantas bagaimanakah bau mulut kalian saat kalian berpuasa? Jawab mereka adalah bau mulut mereka oke-oke saja karena mereka tidak pernah berpuasa.

    Dalam banyak pengalaman saya menemui orang Katolik yang ‘lupa’ kewajibannya, “Oh iya ya, hari ini Rabu Abu, yahhh…ga puasa deh.”

    Saya tidak bermaksud menghakimi umat, betul, tidak ada gunanya. Tidak pada tempatnya saya tertarik atau ingin tahu apakah seseorang berpuasa atau tidak. Sejujurnya, itu sama sekali bukan urusan saya (sedangkan saya sendiri puasanya juga amburadul). Namun bukankah sebagai saudara seiman di mana kita sebagai yang disebutkan gereja “Wajib berpantang dan berpuasa” kita juga wajib menegur dan mengingatkan saudara-saudara seiman yang kita lihat/tahu tidak berpuasa agar melaksanakan kewajibannya berpuasa? Sama halnya dengan jika saudara-saudara seiman kita jarang ke gereja, kita menegurnya dengan kasih dan kelembutan dan mengajaknya untuk melaksanakan kewajiban ke gereja.
    Sama juga halnya bila kita menegur seorang rekan Katolik di tempat kerja kita bila ia melakukan suatu dosa, “Hai, jangan melakukan itu, ingat, kita sedang dalam masa puasa, tahanlah dirimu.”
    Ataukah dalam hal puasa ini berbeda karena masuk ke dalam ranah pribadi seseorang? Sehingga “ya, itu urusan pribadi mereka sendiri dengan Tuhan. Tuhan yang melihat ke dalam hati mereka masing-masing, sama sekali tak ada urusannya dengan saya.”
    Saya pribadi akan merasa senang jika diingatkan akan kewajiban saya yang saya lalaikan, daripada menganggap orang yang mengingatkan saya menghakimi saya (kecuali caranya keterlaluan).

    Hanya ada dua kemungkinan mengenai pernyataan persentase 20% di atas. Kemungkinan pertama, persentase umat Katolik yang masuk kategori wajib puasa di Indonesia yang melaksanakan ibadah puasanya adalah di atas 20% (katakanlah 99,9%), maka saya salah, dan itu adalah persentase yang sangat bagus. Kemungkinan kedua, persentase umat Katolik yang masuk kategori wajib puasa di Indonesia yang melaksanakan ibadah puasanya adalah di bawah 20%. Jika kemungkinan kedua yang terjadi, apakah ya diterima begitu saja kondisinya, tanpa dicari penyebabnya mengapa sesuatu yang diwajibkan tidak dilaksanakan?

    Lagipula jika saya menyebutkan persentase umat Katolik yang wajib berpuasa yang melaksanakan puasa dan pantang sebesar 99,9%, apakah hal itu akan berkesan menghakimi? Jika menyatakan sesuatu yang kurang baik maka disebut menghakimi, jika menyatakan sesuatu yang baik, maka saya rasa istilahnya adalah memuji, walaupun keduanya sama-sama tanpa dasar apapun.

    Yang saya pertanyakan adalah panduan dari gereja Katolik sendiri yang saya nilai kurang tentang bagaimana melaksanakan puasa tersebut, jadi tidak sekedar disosialisasikan setiap awal masa puasa dengan cukup satu kalimat “makan kenyang satu kali.” Jika umat diperkenalkan dengan bagaimana gampangnya puasa dalam gereja Katolik, mungkin saya tidak akan memperoleh jawaban yang berbeda-beda setiap kali saya menanyakan perihal ini (bahkan jawaban dari Katolisitas juga berdasarkan pendapat pribadi), dan mungkin saya tidak akan pernah menanyakan hal-hal lahiriah sepele di atas.

    Telah saya sebutkan bahwa pertanyaan saya adalah yang berkaitan dengan puasa/pantang fisik, bukan tentang yang bersifat rohani. Saya bertanya tentang panduan melaksanakan puasa dan pantang agar hal itu tidak menjadi sia-sia dilakukan. Sedangkan mengutip jawaban dari Katolisitas “Gereja memberikan kebebasan kepada kita untuk menentukan batasan cara kita berpuasa, karena bukan itu yang terpenting”, ternyata batasan itu bebas kita tentukan sendiri, yang mana walaupun pertanyaan saya telah terjawab, berarti juga bahwa pertanyaan saya itu untuk hal-hal yang tidak terlalu penting.

    Mari kita lihat contoh teman saya seorang Katolik yang berpuasa plus pantang garam. Menurut pemahamannya puasa adalah makan kenyang hanya satu kali. Sama seperti saya sebelum ini, dia juga tidak tahu apa-apa tentang pengertian batasan minimum kemampuan berpuasa. Jadi dia memaksakan diri seharian makan satu porsi nasi dengan air putih saja. Dia tidak tahu bahwa puasa dan pantangnya tidak harus seperti itu, bahwa dia sebenarnya bisa makan tetap tiga kali. Ia bukan tipe orang yang berpuasa agar dilihat orang, namun lebih karena ia menyadari kewajibannya sebagai orang Katolik untuk berpuasa di hari itu. Namun mau tak mau penampilannya yang pucat saya pun bisa mengetahui bahwa dia sedang berpuasa. Suatu hari saat dia berpuasa/pantang dia bertanya kepada saya (mungkin karena lemas tak kuat menahan lapar), apakah buah mengandung garam? Pisang, apel, pir? Pikirnya, dengan menambah nasi putihnya dengan beberapa buah maka puasa/pantangnya tidak batal. Saya sendiri tidak berani memberi jawaban pasti, khawatir usaha susah payahnya berpuasa menjadi batal karena saya memberi informasi yang salah. Menurut saya dalam buah ada terdapat kandungan garam. Nah, apakah buah mengandung garam dan dapat membatalkan pantangan?

    Akibatnya puasa orang itu menjadi menyiksa dirinya sendiri karena ketidaktahuannya akan hal-hal yang kurang penting tadi, namun menjadi berpengaruh terhadap hal terpenting dalam puasanya. Puasanya juga menjadi sedikit di luar kehendak Tuhan yaitu orang-orang jadi tahu bahwa ia sedang berpuasa.

    Di gereja saya, setiap mulai misa diinformasikan hal-hal rutin sbb: tidak bertepuk tangan, tidak membiarkan putra-putri berkeliaran apalagi saat konsekrasi, saat doa damai tidak perlu didoakan karena itu adalah doa umat, harap mematikan handphone, duduk merapat ke tengah agar umat yang belakangan datang dapat kebagian tempat duduk, dsb, dsb. Pengumuman itu demi kelancaran misa ekaristi. Nah, apakah tidak terasa aneh untuk urusan puasa dan pantang yang katanya adalah kewajiban itu nyatanya hanya diumumkan sekali saja di awal masa puasa, dengan satu kalimat “makan kenyang hanya satu kali” saja? Tidakkah umat berhak untuk dijelaskan lebih jauh dan lebih lanjut tata caranya seperti yang Katolisitas sampaikan di artikel Katolisitas di atas (setidaknya dari sub-artikel Puasa dan Pantang menurut Gereja Katolik)? Bukankah ini juga demi kelancaran puasa dan pantang umat selama 40 hari ke depan? Saya hanya berpendapat bahwa porsi pemberian informasinya amat tidak seimbang. Dan seharusnya Gereja melakukan perbaikan untuk hal ini.

    Keterangan Katolisitas tentang makan kenyang satu kali adalah sebagai batasan minimum juga baru kali ini saya dengar. Dan terus terang ini mencerahkan saya! Bukankah ini suatu hal yang baik?

    Sekian dari saya, sekali lagi jika ada yang tidak berkenan mohon maaf.

    Terima kasih,
    Fenky

    • Shalom Fenky,
      Terima kasih atas sharing anda. Semoga dapat menjadi perhatian para imam juga untuk mengingatkan umat mereka. Namun sebenarnya kalau anda ikut Pertemuan Lingkungan, hal itu juga sudah diingatkan, malah diberikan renungannya juga.
      Perihal saya katakan jangan menghakimi dalam hal puasa adalah, supaya jangan kita melihat dan menilai orang puasa dari luarnya, lalu langsung menilai apakah dia puasa atau tidak. Ini tidak ada gunanya. Namun, tentu kalau kita melihat anggota keluarga/ kerabat/ teman kita lupa berpuasa, tentu saja kita boleh mengingatkan mereka atas dasar kasih.
      Sepanjang pengetahuan saya buah tidak mengandung garam, jadi bagi yang pantang garam, tentu boleh makan buah. Pada dasarnya pantang dan puasa itu melatih kita untuk melakukan “pengorbanan”/ mortification sebagai tanda pertobatan. Maka silakan saja dipilih sendiri, bagi yang suka sekali kopi, pantang kopi, atau pantang sambal, pantang es batu, atau pantang nasi, atau apapun yang paling disukai. Percayalah, dengan resep pantang dari apa yang paling disukai, plus makan hanya satu kali kenyang dalam sehari, itu jika dilakukan sungguh- sungguh dan konsisten, dapat sedikit mengingatkan kita akan kisah sengsara Tuhan Yesus, dan mendekatkan diri kita kepada-Nya.
      Akhirnya jika anda pandang berguna, silakan anda membagikan kepada keluarga anda/ saudara anda tentang pengajaran tentang pantang dan puasa menurut Gereja Katolik, seperti yang anda ketahui dari situs ini. (Memang detailnya tidak ada, karena secara resmi memang tidak ada aturan detailnya). Walaupun tidak ada aturan detailnya, mari kita pahami bahwa Tuhan memang lebih menekankan kepada sikap batin dalam Masa Prapaska ini yaitu pertobatan sejati, yang dinyatakan dengan perbuatan kasih kepada Tuhan dan sesama.
      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      Ingrid Listiati- katolisitas.org

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      Ingrid Listiati- katolisitas.org

  17. Dear Katolisitas,

    saya memiliki pertanyaan mengenai aturan pantang dan puasa. Berhubung selama ini pertanyaan saya ini sering mendapat jawaban yang bermacam-macam (berbeda-beda), saya harap katolisitas dapat memberikan jawaban yang pasti yang dapat saya jadikan pegangan. Jika Katolisitas sudah pernah membahasnya mohon memberikan linknya.

    Aturan puasa dalam gereja Katolik (dalam surat KWI) pada intinya hanya terdiri dari satu kalimat berikut: “Makan kenyang satu kali.” Sementara keterangan yang lainnya adalah siapa saja yang wajib melakukannya, atau kapan saja waktu untuk melakukannya.

    Padahal kalimat “makan kenyang satu kali” tersebut sangat ambigu dan menimbulkan banyak pemahaman (dan pertanyaan), setidaknya bagi saya, dan inilah yang ingin saya tanyakan.

    Apakah “makan kenyang satu kali” tersebut:
    1. Makan kenyang hanya boleh satu kali saja (dalam satu hari tersebut), dan boleh-boleh saja makan ringan (ngemil) beberapa kalipun.

    2. Tetap makan dengan jadwal seperti biasa (sarapan, makan siang, makan malam), namun jangan sampai kenyang, hanya satu kali saja yang boleh sampai kenyang.

    3. Bagaimana dengan minum? Apakah hanya boleh satu kali itu saja (dengan makan kenyang satu kali tadi), ataukah boleh pula beberapa kali dalam satu hari tersebut?

    4. Mulai dari pukul berapa hingga pukul berapakah satu hari berpuasa tersebut?

    Pertanyaan saya selanjutnya, misalkan seseorang berpuasa dengan metode makan hanya satu kali (dalam 24 jam tersebut), dan kebetulan ia berpantang garam (pantang yang menurut saya adalah pantang yang paling sulit), jika ia menggunakan metode pertama
    (makan hanya satu kali kenyang), bolehkah ia menambah porsinya (misal biasa hanya satu piring, menjadi dua piring, walaupun hanya nasi putih) untuk menunjang kekuatan tubuhnya?

    Pertanyaan mengenai pantang, untuk orang yang tidak merokok, jarang jajan, vegetarian, mungkin yang dapat dipilih adalah pantang garam. Bagi seorang yang vegetarian, apa yang harus dipantangkan jika sehari-harinya ia tidak merokok, jarang jajan, juga telah terbiasa makan tanpa garam? Ya memang ada banyak yang bisa dipantangkan secara rohani, namun pertanyaan saya adalah pantangan fisik.

    Selanjutnya lagi, bila dalam hari puasa yang diwajibkan tersebut seseorang kebetulan diundang untuk menghadiri sebuah hajatan/acara yang ada makan minumnya, apakah sebaiknya ia tetap ikut menghadiri, dan tidak makan/minum di sana, dan menjawab “Maaf,
    saya sedang berpuasa”? Bagaimana perikop Matius 6:1, 6:18 dibandingkan dengan yang tertulis dalam Roma 12:15 harus disikapi? Apakah kedua perikop tersebut berbeda konteks?

    Guru agama saya waktu saya bersekolah dulu mengajarkan hakikat puasa dan pantang dalam Gereja Katolik adalah untuk berbagi dengan orang lain. Misalnya seseorang berpuasa dan berpantang tidak merokok, maka anggaran yang sedianya untuk makan dan rokoknya tersebut haruslah ia sediakan untuk Aksi Puasa Pembangunan yang sejatinya untuk orang lain. Jika tidak, maka puasa dan pantangnya menjadi kurang berarti.

    Terus terang ihwal puasa dan pantang dalam Gereja Katolik tidak mendapat perhatian lebih dari umatnya sendiri (bandingkan dengan ibadat puasa di agama mayoritas negeri ini), sehingga jarang ada umat Katolik yang mempertanyakannya, dan dengan demikian
    setiap kali pengumuman tata cara puasa dan pantang hanya cukup dinyatakan dengan “makan kenyang satu kali” saja. Malah mungkin dari keseluruhan umat Katolik di Indonesia yang masuk kategori wajib berpuasa, hanya 20% atau kurang yang melaksanakannya (Seandainya saja ada pihak yang bersedia untuk melakukan survei).

    Sekian pertanyaan dari saya, mohon maaf atas opini yang kurang berkenan. Atas perhatian dari Katolisitas saya ucapkan terima kasih.

    Terima kasih,
    Fenky

    • Shalom Fenky,

      Agaknya harus dipahami terlebih dahulu prinsip utama dari pantang dan puasa dalam Gereja Katolik, yaitu sebagai ungkapan tobat (lih. KGK 1434), untuk mengarahkan kita kepada Tuhan yang melihat isi hati kita daripada untuk dilihat orang (KGK 1969). Maka kita berpuasa dan berpantang bukan semata- mata melakukan ketentuan masa Prapaska, tetapi merupakan ungkapan pertobatan dan ungkapan kasih kita kepada Tuhan yang telah lebih dahulu berkorban di kayu Salib untuk menebus kita. Jadi dalam ungkapan tobat kita yang sungguh sangat kecil jika dibandingkan dengan korban Kristus, kita mempersatukan pengorbanan kita yang sangat sederhana itu dengan korban Kristus, demi pertobatan kita, dan pertobatan dunia yang kita doakan.

      Nah, ketentuan puasa yang artinya makan kenyang hanya satu kali itu memang merupakan persyaratan minimum yang ditetapkan oleh Gereja Katolik. Setahu saya, memang tidak ada ketentuan tertulis lainnya dari pihak otoritas Gereja Katolik, untuk menjelaskan hal ‘makan satu kali kenyang” itu, oleh karena itu dapat saja terjadi pemahaman yang bervariasi. Tetapi sepanjang maksud pantang dan puasa dipahami, maka saya rasa, pelaksanaan pantang dan puasa membawa faedah bagi yang melakukannya; baik dari melatih pengendalian diri, menjadikan diri ‘rela berbagi’, namun terutama dalam mengarahkan pikiran dan hati kepada Kristus. Oleh karena itu, pelaksanaan ketentuan satu kali makan kenyang, menurut saya pribadi adalah:

      1. Makan kenyang satu kali (boleh dipilih pada pagi hari, atau siang hari, atau sore hari). Selebihnya, silakan makan dua kali lagi- sehingga makan tetap tiga kali dengan porsi yang sedikit. Ini adalah syarat minimal seseorang sudah dapat dikatakan berpuasa menurut ketentuan Gereja Katolik.

      Jika anda dapat melakukan lebih, silakan anda makan hanya dua kali sehari, (atau bahkan satu kali sehari), dengan hanya sekali makan kenyang.

      Menurut saya, makan kenyang satu kali dengan snack yang boleh berkali- kali sampai tidak terbatas, itu tidak sesuai dengan inti berpuasa. Sebab dengan boleh makan berkali- kali tersebut, kemungkinan orang tidak lagi merasakan ‘menahan lapar’, sebab begitu lapar, lalu makan snack (ngemil), lalu di mana melatih pengendalian dirinya? Padahal justru pada saat kita merasa lapar itulah saat yang baik bagi kita untuk berdoa, mohon ampun untuk kesalahan kita, mendoakan pertobatan orang- orang yang kita kasihi dan pertobatan dunia, dan setelah itu, menggunakan uang yang biasanya kita gunakan untuk membeli makanan untuk didermakan.

      2. Bagaimana dengan minum?

      Nah ketentuan pantang dan puasa menurut Gereja Katolik memang tidak menyebutkan batasan dalam hal minum, sehingga dalam masa puasa tersebut kita tetap dapat minum seperti biasa. Namun sekali lagi, ketentuan tersebut merupakan ketentuan minimum. Kita tetap dapat menambahkan sendiri (dengan puasa mengurangi minum/ tidak minum sampai waktu tertentu), jika itu kita anggap semakin membantu kita untuk mengungkapkan pertobatan kita dan mendekatkan diri kepada Kristus. Dalam hal ini, memang yang lebih ditekankan oleh Gereja Katolik adalah sikap batin, sehingga kita dapat memilih sendiri cara berpuasa yang dapat lebih menunjang pertobatan kita.

      3. Batasan waktu pantang dan puasa.

      KHK menulis batas waktu penghitungan hari adalah dari jam 12 malam (pk. 00.00) ke pukul 12 malam berikutnya. Maka puasa dapat dilakukan dalam jangka waktu tersebut. Jika dalam berpuasa kita memutuskan untuk tidak makan pagi, maka puasa dapat dilakukan sampai makan siang (jam 12 siang ataupun jam 3 siang). Jika puasa dilakukan untuk tidak makan pagi dan tidak makan siang, maka puasa dapat dilakukan sampai pukul 6 sore, dan makan malam itulah yang dianggap makan satu kali kenyang. Gereja memberikan kebebasan kepada kita untuk menentukan batasan cara kita berpuasa, karena bukan itu yang terpenting. Sebab yang terpenting adalah melalui puasa, kita mengambil bagian dalam karya keselamatan Kristus, yaitu dengan menyatakan pertobatan kita, mendoakan pertobatan sesama dan dengan berderma.

      4. Bagi yang pantang garam

      Saya setuju bahwa pantang garam adalah pantang yang paling sulit, namun tidak mustahil untuk dilakukan. Seseorang yang pantang garam membutuhkan energi untuk tetap dapat bertahan menjalankan kegiatan sehari- hari. Maka pada saat makan satu kali kenyang, ia boleh saja makan dengan menambah porsinya, sebab itu masih masuk dalam katagori ‘makan satu kali kenyang’, tentu dalam batas- batas kewajaran (dua piring misalnya masih wajar, tetapi jika sampai berpiring- piring, maka juga sudah tidak lagi sesuai dengan maksud berpuasa, yang harus juga mampu mengendalikan diri).

      5. Bagi yang sudah tidak merokok, tidak suka jajan, vegetarian, dan sudah biasa makan tanpa garam, pantang apa lagi?

      Silakan pantang jenis sayuran/ makanan yang disukai. Misalnya sebagai vegetarian ia paling suka makan sayur bayam, maka pada saat pantang, silakan ia tidak usah makan bayam, pilihlah sayuran lain. Atau jika ia suka makan tahu/ tempe, silakan tidak makan tahu/ tempe pada saat pantang.

      Selanjutnya, sebenarnya yang lebih sulit adalah pantang rohani, sebab pantang rohani ini juga dapat berarti 1) pantang melakukan sesuatu hal yang kita sukai, tetapi juga termasuk: 2) melakukan sesuatu yang tidak kita sukai/ malas lakukan, demi meningkatkan hubungan kita dengan Allah. Hal pertama itu contohnya, tidak menggosip (membicarakan orang lain), tidak membicarakan kebaikan/ kelebihan diri sendiri, tidak nonton TV, tidak main game di internet, tidak tidur siang, tidak makan di restoran, tidak jalan- jalan shopping, namun pakailah waktu- waktu tersebut untuk berdoa, gunakan uangnya untuk derma. Hal kedua itu contohnya, yang tidak biasa bangun pagi, silakan mencoba bangun pagi untuk berdoa/ membaca Kitab Suci/ mengikuti Misa Kudus harian. Yang biasanya cuek dan kurang memperhatikan anggota keluarga, silakan lebih memperhatikan kebutuhan anggota keluarga, termasuk pembantu rumah tangga dan sopir.

      6. Di acara undangan, bolehkah mengatakan, “Maaf, saya sedang berpuasa.”

      Jika sedang diundang, dan ada acara makan pada saat kita berpuasa, maka menurut hemat saya, kita tetap dapat mengatakan dengan santun kepada orang yang menawari kita makan, “Tidak, terima kasih.” Jika ia memaksa, baru kita katakan, “Maaf saya sedang berpuasa.” Namun tentu ini kita katakan hanya kepada orang yang menawari kita, dan tanpa maksud memamerkan diri bahwa kita sedang berpuasa. Kita toh tidak menggembar- gemborkan, “Haloo…. haloo, saya sedang berpuasa, saudara- saudari”. Nah, kalau begini barulah itu melanggar kehendak Yesus seperti yang disebut dalam Mat 6:1, 6:18. Pada waktu itu, kaum Farisi kalau sedang berpuasa lalu memasang muka muram sedemikian agar diketahui bahwa ia sedang berpuasa, dan agar ia mendapat pujian dari orang- orang bahwa ia sedang berpuasa. Maka sikap inilah yang ditentang oleh Yesus. Jika kita berpuasa, “cucilah mukamu…. ” (Mat 6:17) maksudnya supaya tetap segar dan berseri-seri, agar jangan terlihat bahwa kita sedang berpuasa, dan agar kita jangan menarik perhatian dan mengharapkan pujian dari orang lain bahwa kita sedang berpuasa. “Maka Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya kepadamu” (Mat 6:18).

      Ayat Rom 12:15 adalah ayat yang maksudnya menekankan kesatuan hati dengan sesama kita. Jika kita sudah menghadiri suatu acara pernikahan, misalnya, itu sudah merupakan ungkapan suka cita, entah di sana kita makan atau tidak, itu sudah tidak menjadi terlalu penting. Sebab adakalanya, seseorang diundang ke banyak undangan pesta perkawinan/ ulang tahun dalam sehari, maka tidak ada kewajiban bagi orang itu untuk selalu makan dalam setiap kesempatan, atau baru jika demikian artinya ia ikut ‘bersuka cita’ bersama tuan rumah. Kehadirannya sendiri sudah merupakan ungkapan nyata bahwa ia bersukacita bersama yang mengundang.

      Alternatif lainnya adalah adalah, jika kita diundang pada Masa Puasa, dan kita tidak ingin menjadi pusat perhatian di sana, maka aturlah bahwa di acara makan tersebut adalah saat kita “makan satu kali kenyang”. Misalnya undangan pada malam hari, artinya kita berpuasa ataupun tidak makan kenyang sampai pada malam hari. Atau jika undangan pada siang hari, maka setelah kita makan di siang hari itu, maka malam hari tidak perlu makan kenyang atau bahkan tidak usah makan, sampai hari esoknya.

      7. Umat Katolik tidak memberi perhatian dalam masa Puasa dan pantang?

      Nampaknya ini pandangan yang belum tentu benar. Jika seseorang membandingkannya dengan puasa di agama lain, memang nampaknya puasa Katolik nampak “tidak ada apa-apanya”. Tetapi sesungguhnya jika dijalani, sesungguhnya tidak sesederhana itu. Sebab dalam Masa Puasa ini bahkan pada saat makan kenyang sekalipun, kita tetap harus pantang makanan yang kita suka. Jadi walau dari luar nampaknya lebih mudah (karena bahkan boleh minum dst), tetapi dari tata batin, tetap melibatkan kesulitan tersendiri karena tetap kita harus belajar menahan diri untuk tidak makan/ minum yang kita sukai, juga pada saat kita ‘berbuka puasa’. Saya tidak tahu atas dasar apa anda mengatakan bahwa hanya ada 20 % saja umat Katolik yang berpuasa. Memang sejauh ini, saya tidak mengetahui apakah ada yang pernah melakukan studi tentang hal ini. Seandainya ada sekalipun, perlu diteliti metoda melakukan studi dan pengambilan sample-nya bagaimana. Tanpa adanya bukti yang nyata, saya rasa lebih baik tidak usah kita mengeluarkan pernyataan- pernyataan seperti itu, sebab tidak ada gunanya, malah berkesan menghakimi sesama umat, seolah kita mengatakan, “kamu tidak puasa, kan?”. Padahal sejujurnya, hanya Tuhan yang tahu sejauh mana seseorang telah melakukan puasa dan pantang itu, yang memang mungkin tidak terlihat dari luar oleh orang lain.

      Mari kita serahkan saja hal ini kepada Tuhan yang melihat di kedalaman hati setiap umat-Nya: apakah ada pertobatan yang sejati di sana, apakah ada kasih yang tulus di sana? Apakah ada keinginan untuk mengambil bagian dalam karya keselamatan Kristus? Maka walaupun tidak dilihat orang, puasa dan pantang tetaplah bermakna, sebab kita percaya akan janji Kristus, “Maka Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya kepadamu.” (Mat 6:18)

      Selanjutnya tentang Puasa dan Pantang, silakan membaca di sini:

      Mengapa kita berpantang dan berpuasa
      Puasa dan pantang menurut Gereja Katolik

      Menemukan Tuhan dalam puasa dan pantangku

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      Ingrid Listiati- katolisitas.org