Apa yang Menghimpit Gereja di Eropa?

15

Paus Yohanes Paulus II juga mempunyai keprihatinan yang sama dengan keprihatinan Anda. Dalam surat Ekshortasi Apostoliknya yang berjudul Ecclesia in Europa (Gereja di Eropa) ia menuliskan juga menurunnya kehidupan rohani jemaat di Eropa (dan juga di negar-negara barat lainnya). Silakan klik di link ini untuk membaca ringkasannya. Banyak orang hidup dalam kebingungan, tidak pasti dan tidak berpengharapan, walaupun secara jasmani tampak tidak berkekurangan. Walaupun di zaman dahulu benua Eropa dikenal dengan simbol-simbol kehadiran agama Kristen, kini simbol-simbol tersebut terancam hilang dan menjadi bekas jejak di masa lalu.

Sebabnya menurut Paus adalah adanya kemajuan sekularisme yang terus menekan dan mengancam kehidupan iman Kristiani. Sekularisme adalah suatu pandangan yang menekankan perkembangan fisik, moral, intelektual manusia sebagai titik tertinggi, terlepas dari pertimbangan religius. Dengan adanya kemajuan sekularisme ini, banyak orang mengalami kesulitan untuk menerapkan nilai-nilai Injil ke dalam kehidupan sehari-hari. Dengan dipisahkannya nilai-nilai iman dengan kehidupan sehari- hari, maka orang mengusahakan kemajuan visi manusia terpisah dari visi Tuhan. Pandangan sekularisme menempatkan manusia di pusat realitas kehidupan, menggantikan tempat Tuhan. Manusia mulai beranggapan bahwa kebenaran-pun ditentukan oleh manusia, dan bukan oleh Tuhan. Di sini timbul ide relativisme, segalanya relatif sebab tergantung dari pandangan manusia, yang bisa berbeda antara satu orang dan lainnya. Manusia mulai lupa bahwa bukan manusia yang menciptakan Tuhan, tapi sebaliknya Tuhanlah yang menciptakan manusia. Budaya Eropa yang mengagungkan manusia sebagai pusat dunia, terpisah dari Tuhan, membuat mereka hidup seolah- olah Tuhan tidak ada. Inilah yang disebut sebagai ‘silent apostasy’/ (kesesatan total secara diam-diam).

Terhadap sikap ini Paus Yohanes Paulus II berseru, mengutip kitab Wahyu, “Bangunlah, dan kuatkanlah apa yang masih tinggal yang sudah hampir mati… (Why 3:2). Gereja di Eropa diserukan untuk bangkit dan bertumbuh dalam keyakinan bahwa Tuhan melalui Roh Kudus-Nya selalu hadir dan tetap berkarya di tengah sejarah manusia, dan Tuhan membuat Gereja-Nya sebagai aliran kehidupan yang terus mengalir menjadi tanda pengharapan bagi semua orang.

Cara-cara yang perlu dilakukan, menurut Paus adalah:

1) Re-evangelisasi (penginjilan kembali) di Eropa, bahkan kepada mereka yang sudah dibaptis, sebab dewasa ini banyak orang beranggapan bahwa mereka telah mengenal iman Kristiani, tetapi kenyataannya mereka sebenarnya tidak tahu apa-apa. Seringnya mereka bahkan kurang/ tidak tahu elemen yang paling mendasar di dalam iman. Mereka melakukan devosi tapi tidak mengerti dasarnya. Dasar yang tidak kuat ini membuat orang semakin mudah terpengaruh oleh agnosticisme dan atheisme (tidak mengakui agama dan tidak mengakui Tuhan). Maka orang- orang Kristen dipanggil agar kembali menghayati imannya, iman yang secara kritis dapat menjawab tantangan zaman dan menolak segala godaan, yang memberikan pengaruh kepada keadaan dunia -dalam hal budaya, sosial, politik, dst- yang mempraktekkan bahwa persaudaraan antara kaum Katolik dan Kristen non-Katolik adalah lebih kuat daripada ikatan etnis; agar dapat mewariskan iman Kristiani kepada generasi berikutnya. Ini adalah tantangan Gereja di zaman akhir ini, sebab Kristus berkata, “Ketika Anak manusia datang, adakah Ia mendapati iman di bumi?” (Luk 18:8)

2) Sakramen Tobat harus dihidupkan kembali di Eropa, untuk menumbuhkan kembali hati nurani yang jernih. Sebab jalan seseorang untuk kembali kepada Tuhan adalah melalui pertobatan; dan agar seseorang dapat bertobat, ia pertama- tama harus menyadari dosanya, dan selanjutnya ia perlu menerima rahmat pengampunan Allah melalui imam-Nya.

3) Gereja perlu mewartakan secara baru, kebenaran tentang perkawinan dan keluarga. Di tengah-tengah pandangan dunia yang menentang ajaran Gereja tentang ikatan perkawinan yang tak terceraikan, tuntutan dunia agar hubungan de-facto diakui sebagai perkawinan yang sah, tuntutan agar perkawinan sesama jenis diakui, Gereja tetap harus menyuarakan hakekat perkawinan sebagaimana dikehendaki oleh Tuhan. Orang-orang perlu menemukan kembali kebenaran tentang keluarga sebagai persekutuan kehidupan dan persekutuan kasih yang terbuka terhadap kehidupan baru, sebagai Gereja kecil yang mengambil bagian di dalam misi Gereja dan di dalam kehidupan masyarakat. Maka kehidupan doa dan iman harus kembali ditumbuhkan di dalam setiap keluarga.

Mari berdoa agar jangan sampai kitapun terpengaruh oleh paham sekularisme ini, yang sedikit demi sedikit juga mulai merasuki pola pikir banyak orang di tanah air. Sebaliknya, mari kita berjuang untuk menerapkan nilai- nilai iman di dalam kehidupan kita sehari- hari, tentu dengan pertolongan Tuhan.

Share.

About Author

Stefanus Tay, MTS dan Ingrid Listiati, MTS adalah pasangan suami istri awam dan telah menyelesaikan program studi S2 di bidang teologi di Universitas Ave Maria - Institute for Pastoral Theology, Amerika Serikat.

15 Comments

  1. Pro Katolisitas. Paralel dengan penjelasan sdr FXE tentang membanjirnya imigran ke Eropa dengan membawa serta agama dan budayanya, saya pernah membaca (tapi lupa sumbernya) bahwa diramalkan dalam beberapa dekade mendatang Eropa menjadi dunia Islam. Bila punya informasi dan analisis mohon bantuanya, Trimakasih.

    • Shalom Frans,

      Secara prinsip, masyarakat yang egois, yang tidak mau mempunyai keturunan akan mengalami kemunduran. Hal ini terjadi di banyak masyarakat di Eropa, yang sebagian besar hanya ingin mempunyai anak satu atau dua dan bahkan ada yang tidak mau mempunyai keturunan. Situasi ini ditambah dengan masuknya imigran dengan agama yang berbeda dan berbesar hati untuk mempunyai anak-anak yang cukup banyak. Dengan mempertimbangkan angka rata-rata kelahiran dari penduduk Eropa dan kaum pendatang, maka menjadi masuk akal kalau pada satu waktu, maka Eropa akan dipenuhi dengan kaum pendatang dan keturunannya. Kondisi ini menjadi satu tantangan tersendiri dalam melakukan karya evangelisasi. Namun, kalau masyarakat mau untuk turut serta, maka sudah saatnya masyarakat Eropa mempunyai hati yang besar dengan membuka diri terhadap kelahiran dan tidak membatasinya secara artifisial. Dan tentu saja, hal ini harus dibarengi dengan memberikan pondasi yang kokoh akan iman Katolik yang baik.

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      stef- katolisitas.org

      • Maaf klu sy ikut memberi masukkan, pendpt sy adlh: bhw Bukan disebabkan karena masyarakat Eropa egois karena tidak menghendaki keturunan yang menyebabkan kemunduran Iman katolik, iman kristen, di Eropa, yg mengakibatkan gereja-gereja menjadi kosong atau gereja -gereja (baik: katolik, kristen : dr.reform kristen s/d aliran lain) berkurang pengunjung / umat yg datang ke gereja. Kemunduran Iman katolik, Iman kristen Non Kristen telah terjadi sejak berpuluh-puluh tahun sebelumnya hingga sekarang, menyebabkan: gereja-gerja katolik dan gereja gereja kristen non katolik menjadi sepi pengunjung/umat berkurang. mengapa?? krn dr.penglmn pergaulan sy (sy tinggal belasan tahun di Eropa),adlh: Karena….memang masyrakat Eropa cenderung skeptis terhadap Agama. Banyak dari mereka melihat hanya dari sejarah. Karena sy juga punya banyak kawan-kawan Eropa yg mempunyai anak dan banyak anak ( jadi sekali lagi tidak berkaitan dgn karena: Tidak memiliki keturunan) (sprti. Stefanus katakan di Nov.16, at:10:28 am). Disamping karena skeptis, jg itu tadi : banyaknya umat katolik sbg mayoritas utama di Eropa (awal mulanya),juga karena sejarah gereja (buruk),juga krn: mans mans yg seringkali terlalu toleran/ berkelebihan (artinya gini: membuka luas bagi agama dan kebudayaan asing masuk),tapi: Kurang berwaspada dgn ajaran agama (Katolik, kristen) yg seharusnya diperlihara dan ditingkatkan. Yg dgn tidak hny memandang dari segi: negatif (itu tadi sejarah buruk gereja katolik),tapi melihat positif nya. (( namun kesulitan dtg: tatkala selama bertahun-tahuan bahkan beberapa tahun belakangan ini, bahkan s/d tahun lalu saja,msh bnyk: demonstrasi besar-besaran menuntut kaum selibat melakukan pedofilis thd umat, namun: gereja katolik tidak mengungkapkan, mis: jauh-jauh bulan minta maaf terbuka —klupun ada pernyataan terbuka,baru belakangan, nah…kasus kasus semacam ini menimbulkan lukan hati berkepanjangan)). Trus kaum pendatangitu (berbeda agama dan kebudayaan) berani meminta hak-haknya, mis: hak pembangunan mesjid, hak ini…hak itu. Semtr Kebudayaan org2 Eropa,cenderung menghargai HAm lbh baik, berush memenuhi tuntutan2 semcm itu (sbb: itu tidka heran: pembangunan mesjid di Eropa, maju pesat, artinya: banyak sekali didirikan mesjid2). Semtr org2 Eropa (dlm hal: pemrth ngr2 Eropa) beserta kaum gereja (temrsk: katolik, dan Kristen non katolik) sesghnya butuh “urapan RohKudus dan butuh keberanian dan semangat seperti para rasul,nabi di jaman dulu” u.bangkit. Tapi…repotnya krn: Politik ikut berperanan dgn centralisasi. Artinya gini; politik di Eropa selalu mengandalkan Pmerthn, artinya: dana apapun mengandalkan dr.dana rakyat yg dibayarkan melalui pajak. — Ini menjadi sumber sumbangan, pembiayaan dimana-mana. (( beda gdn sistem politik di Inds, mis: mau bangun gerja (katolik, kristen) dan menghidupinya dari dana umat sendiri, tidak dari dana pemerth). Dan masih banyaklah faktor-faktornya (klu dituliskan panjang). Jadi itu inti kira-kira sy mau kasih sumbangsih pendpt. Trus juga krn: itu tadi “sistem pengajaran didlm keluarga -keluarga yg mengendur, artinya gini: klu mis: sbg oma Opa yg dulunya percaya kpd Tuhan, Kristus, mereka…mereka ini kurang mengajarkan, bahkan tidka lagi mendidik anak-anak mereka, ke gereja, artinya: bukan lagi sbgl suatu keharusan— nah…ini yg keliru, shg akhirnya: Turun temurun dari opa besar, oma besar, yg tadinya kuat ke katolikkan dan ke kristenan, mengendur, mengendur ke anak-anaknya , trus ke generasi generasi berikutnya, akhirnya kebablasan, menjunjung nama Kebebasan, shg tidak lagi melihat bhw: Iman katolik, Iman kristen perlu diusahan, dipupuk, dikembang biakkan. Semoga berkenan. ( Maaf andai ada kata kurang berkenan). Sekali lagi semoga bermanfaat.

        • Shalom Sartika,

          Terima kasih atas tanggapannya. Secara prinsip, jawaban saya di atas adalah untuk menjawab tentang kaum imigran yang membludak di Eropa, yang tidak diimbangi oleh pertumbuhan masyarakat Eropa sendiri. Tentu saja ada keluarga-keluarga yang mempunyai banyak keturunan di Eropa. Namun, silakan melihat juga berapa tingkat kelahiran secara menyeluruh di negara-negara Eropa, yang memang cukup rendah. Masalah tingkat kelahiran yang rendah di Eropa tentu saja bukan menjadi masalah tunggal krisis iman di Eropa, karena ada banyak hal yang terkait, seperti: pengaruh modernisme dan materialisme di Eropa (yang juga mempengaruhi negara-negara maju); Sebagian anggota Gereja gagal untuk menjadi saksi Kristus yang baik – baik dari kalangan klerus maupun awam; dan seperti yang Anda sebutkan, memang semangat evangelisasi yang perlu diperbaharui di segala lapisan Gereja, baik di tingkat keluarga, lingkungan, dan masyarakat luas. Paus Benediktus XVI telah membentuk komisi khusus untuk menggiatkan evangelisasi di Eropa, yang sebelumnya mempunyai akar kekristenan. Namun, yang lebih penting, setiap anggota Gereja di Eropa melakukan tugasnya masing-masing, yaitu dengan terus menjadi saksi Kristus yang baik dan secara aktif melakukan evangelisasi sesuai dengan porsinya masing-masing.

          Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
          stef – katolisitas.org

  2. syalom katolisitas,,
    sebelumnya saya minta maaf bila pertanyaan saya kurang tepat d forum ini,, tetapi membaca judul artikel di atas saya jadi teringat akan mata kuliah sejarah yang saya ambil. kebanyakan saat membahas tentang sejarah gereja di eropa abad pertengahan, gereja katolik adalah agama yang banyak melakukan kesalahan dan memberikan dogma-dogma (dogma ini dipandang sebagai sesuatu yang negatif oleh dosen saya) yang akhirnya memicu perpecahan dalam agama kristen yaitu munculnya gereja reformasi. Isi kuliah tersebut antara lain :

    1. Dijelaskan bahwa dalam agama katolik timbul penyimpangan-penyimpangan seperti pengekangan terhadap ilmu pengetahuan, bahkan melakukan pembunuhan terhadap para penemu, yang terkenal adalah galileo…sehingga menimbulkan apa yang disebut aufklarung. ini tentu akan menciptakan pandangan bahwa agama katolik yang dianggap suci dan bebas dari kesalahan rupanya memiliki banyak kesalahan misalnya teori bumi sebagai pusat tata surya, yang sekarang terbukti salah. ini jelas menimbulkan anggapan bahwa agama katolik yang (katanya) dengan bimbingan roh kudus haruslah bebas dari kesalahan, menjadi agama yang salah. Sering menjadi andalan saat berdebat bahwa agama katolik tidak sesuai dengan ilmu pengetahuan dan jelas tidak berasal dari Allah, karena Allah sebagai sumber pengetahuan pasti tahu yang benar.

    2. Sering disebutkan bahwa Paus menjual surat penebusan dosa yang kemudian menimbulkan protes Luther (saya memang sudah membaca tentang indulgensi), pendapat ini jelas menimbulkan rasa antipati lagi terhadap agama katolik. Menimbulkan rasa aneh, ‘yang beli surat itu dosanya diampuni’

    3. Bahwa para imam katolik sering ditampilkan sebagai orang munafik.katanya di abad pertengahan muncul ‘isu’ tentang anak-anak (haram) pastur. apakah ini benar? Banyak pastur/imam/uskup yang menikah di luar atau hubungan dengan suster dan memiliki anak -inilah yang melatarbelakangi pertentangan hidup selibat dalam agama kristen protestan. Yang lebih parah lagi dikatakan bahwa suster (biarawati) “disediakan” untuk para imam katolik yang selibat! bahasa kasarnya ada perzinahan….

    dan banyak hal lainnya yang cenderung memojokkan gereja yang penuh kesalahan…. jadi bagaimana orang katolik menjawab atau paling tidak menjelaskan duduk persoalan yang sebenarnya terjadi waktu itu dalam tubuh gereja eropa abad pertengahan? BERDASARKAN FAKTA SEJARAH bukan sekedar iman dan keyakinan…..?

    Tolong tim katolisitas jika memang bukan tempatnya dapat menunjukkan ke mana pertanyaan saya ini bisa terjawab….

    terima kasih,

    • Shalom Xellz,

      Harus diakui bahwa ada banyak buku sejarah yang ditulis oleh pihak-pihak yang sudah anti Katolik, sehingga apa yang dituliskan menyudutkan Gereja Katolik. Namun demikian, jika kita mau membaca sumber- sumber lainnya yang lebih netral, kita akan mendapat gambaran yang lebih obyektif. Sayangnya, mungkin tidak banyak dari sumber-sumber ini yang sudah diterjemahkan dalam bahasa Indonesia. Beberapa klaim yang ditulis umumnya adalah Gereja Katolik itu anti ilmu pengetahuan sehingga menghukum mati Galileo, Gereja Katolik menjual surat penebusan dosa, Gereja membantai orang-orang non-Katolik yang tidak bersalah, dst, yang sudah pernah dibahas di situs ini, yang sesungguhnya merupakan klaim yang keliru. Silakan klik di judul-judul artikel berikut (yang kami tulis berdasarkan fakta, bukan hanya untuk ‘diimani’ saja):

      Apakah Galileo Dibunuh Gereja Katolik?
      Mengapa Galileo dihadapkan pada Tim Investigasi Gereja?

      Penjualan Surat Pengampunan Dosa di Abad Pertengahan?
      Katolik Menyalahgunakan Indulgensi atau Surat Pengampunan Dosa?
      Pembantaian Kaum Huguenot di abad ke-16
      Tak Perlu Guncang Jika Membaca Tulisan Anti Katolik

      Sedangkan tentang klaim bahwa Gereja tidak mungkin salah mengajar (infallibilitas) itu hanya terbatas dalam hal iman dan moral, dan bukan dalam hal ilmu pengetahuan empiris. Selanjutnya tentang apa itu infalibilitas, silakan klik di sini

      Sedangkan tentang isu bahwa ada para pastor bahkan paus yang hidupnya tidak benar dan mempunyai anak haram, hal itu tidak dipungkiri oleh Gereja Katolik (silakan membaca artikel: Tanggapan Tentang Keberatan akan Beberapa Paus, silakan klik)
      tetapi tentu saja, hal itu harus dilihat secara obyektif dan proporsional. Artinya, harus dilihat bahwa hal tersebut bukan kasus umum tetapi khusus. Hal yang serupa adalah berita skandal seks yang melibatkan para imam. Janganlah kita menganggap bahwa semua imam berbuat demikian, sebab faktanya yang melakukan skandal tersebut hanya sebagian kecil (dengan prosentase yang relatif rendah); dan bahwa skandal serupa juga terjadi pada pemimpin agama yang lain, dan bahkan pada agama yang lain prosentasenya lebih tinggi.

      Tidak dipungkiri, bahwa berita pelecehan seksual yang dilakukan oleh imam, pendeta [atau bahkan tokoh agama lainnya] merupakan berita yang menyedihkan. Sejauh ini memang berita yang lebih diekspos nampaknya adalah skandal yang dilakukan oleh imam tertentu, sedangkan berita skandal yang dilakukan oleh pendeta, umumnya jarang diekspos, atau jika diekspos-pun tidak seheboh jika dibandingkan dengan berita serupa yang dilakukan oleh imam. Maka tak heran, banyak orang mengira seolah- olah Gereja Katoliklah yang paling bersalah dalam hal kasus skandal seks. Padahal data menunjukkan bahwa problem skandal seks itu juga dilakukan oleh banyak pihak, termasuk pendeta. Tentu ini bukan untuk membela ataupun mengatakan bahwa perbuatan tersebut dapat diterima, sebab perbuatan skandal tersebut tetaplah adalah suatu pelanggaran/ dosa yang berat di hadapan Allah.

      Menurut laporan yang dilakukan secara netral dan independen dari seorang profesor peneliti yaitu Philip Jenkins, di Pennsylvania, prosentase kasus pedophilia yang menyangkut imam Katolik adalah 0.2 dan 1.7 % sedangkan yang menyangkut pendeta Protestan adalah 2 dan 3 %,  “…it was determined that between 0.2 and 1.7 percent of priests are pedophiles. The figure among the Protestant clergy ranges between 2 and 3 percent.” (Philip Jenkins, Pedophiles and Priests (New York: Oxford University Press, 2001), pp. 50, 81)

      Betapapun memprihatinkan kasus-kasus ini, yang terpenting, hal ini sudah mendapat perhatian dari Bapa Paus, dan sebagai contohnya Paus Benediktus XVI menulis surat yang tegas kepada Gereja-gereja yang terkena dengan masalah ini, seperti di Irlandia, silakan klik dan beberapa kebijaksanaan lanjutan untuk menyelesaikan kasus-kasus tersebut.

      Dengan demikian, maka, mari kita melihat fakta sejarah dan keadaan yang terjadi di Gereja saat ini, dengan kacamata yang lebih obyektif. Dan mari berdoa untuk para imam, agar mereka dapat selalu setia kepada panggilan hidup mereka, dan menjadi teladan kekudusan bagi umat Tuhan. Silakan klik di sini, untuk doa rosario untuk para imam.

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      Ingrid Listiati- katolisitas.org

      • syalom bu ingrid.

        terimakasih atas tangapannya.Memang yang aneh adalah mengapa fakta-fakta lain mengenai sejarah gereja seperti yang ibu tulis tidak pernah atau jarang dituliskan secara umum dan hanya sebatas pembahasan secara iman. Ini tentu tidak bisa membuktikan kebenaran sejarah.

        semoga bu ingrid dan seluruh tim katolisitas dalam roh kudus, dapat terus membimbing dan mendidik umat ke dalam pendewasaan iman yang lebih baik lagi.Amin

  3. Saya baru lima tahun ini tinggal di Belanda, di lingkungan saya kebanyakan mereka tidak mau terikat kepada gereja, alasan yang saya dengar karena sejarah pada abad ke 16 Raja Phillip ke II dari Spanyol yang Katolik memaksakan orang2 Belanda untuk menjadi Katolik dan kalau tidak tunduk dibunuh. Berdasarkan sejarah itu mereka tidak mau terikat pada gereja, karena gereja jadi punya konotasi negatif. Keadaan kehidupan beragama sangat memprihatinkan di sini

    • Shalom Imiyati,

      Sejarah memang mencatat para tokoh yang walaupun Kristen, namun tidak hidup sesuai dengan ajaran cinta kasih, yang merupakan hukum terutama dalam agama Kristen. Kita melihat para raja dan pemimpin Katolik yang anti terhadap kelompok non- Katolik (contohnya Raja Philip II dari Spanyol ini) namun juga para pemimpin gereja-gereja non-Katolik juga anti Katolik. Kalau kita membaca sejarah, maka kita melihat sikap ‘anti’ ini datang dari kedua belah pihak, dan untuk itu kita patut prihatin dan bukanlah saling menuding, karena biar bagaimanapun kesalahan ada pada kedua belah pihak. Jika Anda tertarik, silakan membaca ulasan sekilas terhadap pertanyaan senada, di sini, silakan klik.

      Pada akhirnya keputusan tentang iman ada pada setiap orang secara pribadi, dan kita tidak dapat memaksakannya. Namun perlu kita ingat bersama bahwa yang mencoreng wajah Gereja itu bukan ajarannya tetapi orang-orang/ oknum tertentu. Maka memutuskan untuk tidak menjadi anggota Gereja hanya karena perbuatan segelintir orang, juga bukan sikap yang tepat; sebab iman seharusnya bergantung kepada apa yang diwahyukan Tuhan dan bukan dari apa yang dilakukan oleh manusia.

      Mari kita berdoa bagi saudara-saudari kita di Eropa, khususnya di Belanda, tempat Anda tinggal, semoga Tuhan berkenan menghidupkan kembali iman Kristiani di negara-negara tersebut. Dan juga semoga Anda dapat menemukan juga komunitas gerejawi di sana yang mempunyai kerinduan untuk bertumbuh secara rohani di sana, atas dasar kasih kepada Tuhan Yesus dan Gereja-Nya.

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      Ingrid Listiati- katolisitas.org

       

      • Imiyati Indra on

        Ibu Ingrid yang baik,

        Terima kasih atas keterangan nya, ya kita sama2 berdoa untuk Eropa khususnya Belanda untuk bertobat dan kembali pada Tuhan Yesus.

  4. Materi pertanyaan ini sulit dan kompleks, dan ada banyak argumentasi & perspektif tentang hal ini.
    quote: “Sebabnya menurut Paus adalah adanya kemajuan sekularisme yang terus menekan dan mengancam kehidupan iman Kristiani.” … Kemajuan Sekularisme tidak selalu berarti buruk. Misalnya, sekularisme yg berkembang positif dapat mendukung demokrasi dan masyarakat yg plural. Pada pokoknya sistem sekular memberikan otonomi kepada public government. Biarlah kaisar mendapat tugasnya tanpa menghalangi masyarakatnya untuk melakukan kebajikan atau berekspresi positif.
    Kalau kita fokus pada pandangan Paus Benedictus (sebelumnya Kardinal Ratzinger), beliau tidak menyalahkan sistem sekuler tetapi melihat ada efek negatif yg tumbuh dari budaya sekuler tsb.
    Sekularisme Eropa telah membawa banyak kemajuan yg membanggakan, mengutip Paus Benedictus: “The many discoveries, innovative technologies that are developing at a rapid pace, are reason for pride, but often are not without troubling implications. … Rich in means, but not in aims, mankind in our time is often influenced by reductionism and relativism which lead to a loss of the meaning of things..”. Masyarakat jadi sangat pragmatis melupakan horizon tujuan yg lebih luas. Contoh aktualnya adalah: menghadapi banjir imigran dari Afrika dan Timur Tengah, mereka datang membawa budaya masing-masing (termasuk agama). Di kota2 pesisir penduduk imigran lebih dari separuh penduduk asli (ref. National Geography bulan lalu). Dilain pihak demografi penduduk Eropa menyusut (ini berkaitan dgn egoisme dan mental kontraseptive, maka HV cambuk yg cocok dalam konteks Eropa!). Identitas asli Eropa terhimpit oleh identitas imigran. Masyarakat Eropa memilih jalan praktis: daripada memilih jalan panjang untuk memperkuat / rejuvenate their root-identity, mereka memilih: melarang semua bentuk ekspresi kultural sektarian: jilbab dilarang, salib pun dilarang ditunjukkan di muka umum dll dll… maka semua ekspresi identity dari budaya2 yang mungkin bertabrakan ditarik ke ruang privat, dibuat undang-undang dan segala instrumennya agar ekpresi tsb tidak muncul di publik. Rich in means, not in aims.
    Pada hemat saya, Paus melihat masalah Eropa pada dua hal berikut: (1) rich in means, not in aims. sekularisme memungkinkan masyarakan Eropa mengembangkan invasi methods and technology tetapi melupakan horizon tujuan yg lebih besar (termasuk tujuan transendental). Paus menggambarkan bahwa Science and Faith adalah dua sayap yg membawa manusia ke tingkat pengetahuan yg lebih tinggi (2) Kenyataan bahwa demografi penduduk asli Eropa yg menyusut dan membajirnya imigran dari Afrika dan Timur Tengah, masyarakat Eropa krisis identity, dalam banyak audiensi umum Beliau di hari Rabu , Paus mengajak Eropa untuk rediscover their root identity (dalam hal ini bisa kita artikan christendom identity). Tetapi Paus bukan satu2nya yg beropini ttg hal ini, terapi Paus sungguh mengulas hal ini dalam buku-buku tulisannya: Europe Today & Tomorrow, dll.
    Demikian sedikit sharing dari saya… GBU.

    • Shalom Fxe,

      Menurut definisinya, sekularism itu menentang/ menolak pengaruh iman ataupun hal-hal religius, demikian sebagaimana dapat dibaca di dictionary.com, klik di sini:

          Secularism

      1. secular  spirit or tendency, especially a system of political or social philosophy that rejects all forms of religious faith and worship.
      2. the view that public education and other matters of civil policy should be conducted without the introduction of a religious element.

      Jadi tidak mengherankan jika para Paus (baik Paus Yohanes Paulus II maupun Paus Benediktus XVI) menolak pemahaman ini, yaitu sekularisme menurut definisi ini.

      Maka nampaknya harus dibedakan antara definisi kemajuan science dan definisi sekularisme. Sebab tentu saja benar, Paus Benedictus VI maupun Paus Yohanes Paulus II mendukung kemajuan science (sepanjang kemajuan ini melayani martabat manusia dan bukan malah menentangnya) di Eropa dan negara-negara maju, namun mereka tidak menyamakan definisi kemajuan science tersebut dengan sekularisme. Setidaknya hal itu tercermin dari ajaran-ajaran mereka yang jelas disampaikan baik secara tertulis maupun lisan.

      Beberapa kutipan perkataan Paus Benediktus XVI misalnya:

      1. Dalam pertemuan para Uskup dari Selandia Baru dan negara-negara Pasifik (Des 2011), dikatakan demikian -sumber: klik di sini:

      Pope Benedict XVI encouraged visiting bishops to fight secularism by reawakening a missionary spirit in the Catholic Church, saying the Christian faith provides the best foundation for society.

      “We know that, ultimately, Christian faith provides a surer basis for life than the secular vision…..It is only in the mystery of the Word made flesh that the mystery of humanity truly becomes clear….Secularism“, the pope acknowledged, is “a reality that has a significant impact on the understanding and practice of the Catholic faith.” This, he added, is seen specifically ina weakened appreciation for the sacred nature of Christian marriage and the stability of the family.” In such a context, he went on to say, the struggle to lead a life worthy of “our baptismal calling [based on Ephesians 4:1] and to abstain from the earthly passions which wage war against our souls [as per 1 Peter 2:11] becomes ever more challenging.”

      “Since the Christian faith is founded on the Word made flesh, Jesus Christ, the new evangelization is not an abstract concept but a renewal of authentic Christian living based on the teachings of the Church,” the pope told the bishops. Then term “New Evangelization” refers to efforts to re-evangelize countries that were once Christian but have become secularized. He said he had established the Pontifical Council for Promoting the New Evangelization last year for this reason….”

      2. Ketika menerima kunjungan para Uskup Amerika (Jan 2012):

      Pope Benedict XVI raises his voice against the “dominant culture of secularism in America” and, between the lines, he attacks Obama’s policy in favor of contraception, gay marriage and abortion, preventing a true freedom of conscience to American Catholics. Pope Ratzinger received some American bishops, in the periodical “ad limina” pilgrimage, led by Cardinal Donald Wuerl, head of the church in Washington, and other bishops of the area that was the cradle of American Catholicism, to ask with force “committed lay Catholics”, “well formed” and “having a strong sense critical of the dominant culture” because “secularism” threatens the core values of American culture.

      Read more: link to technorati.com

      3. Dalam kunjungannya ke Spanyol (Nov 2010) Paus menentang sekularisme di negara itu, klik di sini:

      During his visit, he surprised Spain with strong words against what he described as “aggressive secularism” on the part of the government that since 2004 has legalized gay marriage, relaxed abortion legislation, and eliminated compulsory religious education in schools…. “The renaissance of modern Catholicism comes mostly thanks to Spain. But it is also true that laicism, a strong and aggressive secularism was born in Spain, as we saw in the 1930s….This dispute is happening again in Spain today. The future of faith and the relations between faith and secularism have Spanish culture as its epicenter….”

      Atas dasar ini, maka benarlah jika dikatakan bahwa sekularisme memberikan efek negatif terhadap iman Katolik, karena memang dari definisinya saja, pandangan ini sudah menolak pengaruh iman dalam kehidupan sehari-hari. Sekularisme cenderung menitikberatkan kepada faktor jasmani, kehendak bebas manusia terpisah dari Tuhan, sehingga melahirkan banyak praktek yang tidak sesuai dengan iman Kristiani, seperti aborsi, kontrasepsi, perkawinan sesama jenis, sebagaimana dikatakan oleh Paus Benediktus XVI. Maka Paus berkali-kali mengajarkan bahwa kemajuan teknologi harus diimbangi dengan iman, kebenaran harus diimbangi dengan kasih, agar manusia dapat berkembang seutuhnya, sebagaimana diserukannya dalam Caritas in Veritate, yang terjemahannya ada di sini, silakan klik

      PS: Kesan saya, di buku Europe: Today and Tomorrow, Paus Benediktus XVI juga tidak mengatakan bahwa sekularisme itu adalah sesuatu yang netral apalagi baik. Jika Anda mempunyai kutipannya yang mengatakan demikian, mohon memberitahukan kepada saya ada di halaman berapa, sebab saya juga ingin tahu apabila Paus mengatakan demikian, konteksnya apa, dan mengapa.

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      Ingrid Listiati- katolisitas.org

      • Salam Katolisitas,

        Menurut saya, pokok diskusi ini adalah bagaimana kita mengartikan paham “Secularism”. Bila Dictionary.com yg Anda kutip, definisi ke-2 rasanya lebih netral (mirip dgn definisi Oxford Learner Dict.). Wikipedia mengartikan sbb: “Secularism is the principle of separation between government institutions and the persons mandated to represent the State from religious institutions and religious dignitaries.”. Bila prinsip “separation/pemisahan” ini yg kita pegang, maka ini sejalan dgn suara Gereja dalam GS: “Terutama dalam masyarakat yang bersifat plural, sangat pentinglah bahwa orang-orang mempunyai pandangan yang tepat tentang hubungan antara polical community (negara/pemerintahan) dan Gereja,…. Di bidang masing-masing political community (negara/pemerintahan) dan Gereja bersifat otonom tidak saling tergantung. Tetapi keduanya, kendati atas dasar yang berbeda, melayani panggilan pribadi dan sosial orang-orang yang sama.”. Pemerintahan sekular BISA bermanfaat pada masyarakat yg plural, untuk menghindari tekanan mayoritas thd minoritas.
        Dalam tingkat pelaksanaan, walaupun keduanya terpisah, hendaknya Gereja dan negara/pemerintah bekerja sama agar tujuan tercapai dgn lebih efektif. Kerja-sama positif antar keduanya inilah yg oleh Paus Benedict kadang disebut sebagai “good secularism” atau kadang dgn istilah “open-secularism”. Tetapi juga tidak dapat dipungkiri bahwa “sekularism” di Eropa juga ditunggangi oleh partai-partai komunis & kelompok politik ekstrem kiri lainnya, mereka memang mengagendakan untuk menghilangkan (secara aktif) segala bentuk pengaruh Gereja dalam kehidupan sosial. Kondisi ini disebut Paus kadang dengan istilah “secularism which …. (ada deskripsi yg ditolak)” atau simply dgn istilah “not good secularism” atau kadang istilah “aggressive secularism” (istilah ini muncul dalam kutipan anda no.3). Dalam pelaksanaanya, kelompok mana yg open-secularism atau kelompok mana yg aggressive-secularism akan ditentukan oleh pandangan kasus per kasus.
        Misalnya dalam hal pendidikan, pilihan sbb.:(1)Pendidikan agama dalam pendidikan umum (negeri) dibiayai oleh negara (2) Pendidikan agama dalam pendidikan umum tidak diselenggarakan oleh negara, tetapi masing2 komunitas diberi fasilitas/subsidi oleh negara untuk mengadakannya dgn upaya dari mereka sendiri (3) pendidikan agama dalam pendidikan publik dilarang oleh pemerintah, dan hanya boleh dilakukan dalam ranah privat. Kasus lain dalam hal aborsi, perkawinan sejenis, dll….

        Menurut saya ini adalah masalah yg harus dielaborasi oleh sosiologi. Apapun bentuk social organiazation yg dipilih, Gereja hanya memastikan bahwa 10 Perintah Allah yg disummary menjadi: cintailah Tuhan Allahmu dan cintailah sesamamu, dapat dijalankan dgn bebas oleh setiap individu dan komunitas. Tetapi paham yg secara tegas menekankan supremasi otonomi negara/pemerintah (politik) diatas otonomi apapun, yaitu Totalitarianism (berbeda dgn Secularism), yg dianut oleh Hitler, Korut sekarang ini, dll. ini pasti harus ditentang, karena menghalangi individu untuk melakukan perintah Allah.

        PS. maaf saya tidak punya dokumen Europe Today & Tomorrow, saya membacanya bbrp waktu lalu dalam resensi online, tapi insight yg saya dapat sudah saya sampaikan disini.
        Demikian sharing singkat saya. Semoga Tuhan melimpahkan berkat kepada Katolisitas. Amen.

        • Shalom Fxe,

          Benar bahwa nampaknya kita mempunyai persepsi yang berbeda tentang istilah secularism. Saya sudah klik ke Oxford Advanced American Dictionary- yang Anda sebutkan (klik di sini), dan di sana disebutkan pengertian secularism yang hampir sama dengan yang disebutkan dalam dictionary.com:

          the belief that religion should not be involved in the organization of society, education, etc.

          Dengan demikian, menurut definisinya, baik dictionary.com maupun Oxfordlearnersdictionary.com keduanya menyampaikan bahwa menurut definisinya secara umum, prinsipnya adalah secularism adalah paham yang menentang pengaruh religius dalam kehidupan sehari-hari. Ini bertentangan dengan maksud pengajaran Gereja Katolik, yaitu bahwa ajaran iman seharusnya malah merasuk dalam kehidupan sehari-hari.

          Bahwa dalam kenyataannya memang agama tidak dapat dipolitisir, itu benar, dan bahwa pemimpin Gereja seperti uskup/imam dilarang aktif memimpin partai politik. Benar juga jika dikatakan, sebagaimana dinyatakan dalam Gaudium et Spes bahwa komunitas politik dan Gereja tidak saling tergantung; tetapi pemisahan ini istilahnya bukan sekularisme.

          Dan terus terang saja, saya belum memperoleh informasi tentang Paus Benediktus XVi yang mengatakan adanya “good secularism”. Jika Anda mengetahui kutipan persisnya, walau hanya lisan, mungkin dapat Anda sampaikan agar saya/ pembaca lainnya dapat mengetahuinya.

          Sedang penggunaan istilah “open secularism” yang digunakan oleh Paus Benediktus XVI yang dikutip oleh Reuters, konteksnya bukan untuk memuji bahwa hal itu baik, tetapi sebagai kondisi keadaan yang tidak perlu ditakuti dalam paham sekularisme, yaitu asalkan orang dapat hidup sesuai dengan hati nuraninya. Demikian kutipannya selengkapnya klik di sini:

          Reuters report:

          He [Pope Benedictus XVI] said religions had nothing to fear from secular society as long as it had “an open secularism that lets all live as they believe, in accordance with their conscience.”

          Selanjutnya, dalam kesempatan yang sama, Paus menyampaikan penolakannya akan sekularisme -yaitu penolakan nilai-nilai religius dalam kehidupan sehari-hari, ketika ia mengatakan: “The question of God doesn’t endanger society, it doesn’t threaten human life! The question of God must not be absent from the great questions of our time.”

          Jika kita ketik kata kunci ‘secularism’ dan ‘Pope Benedict XVI’, kita akan menemukan banyak pembahasan, namun sepanjang pengetahuan saya, Paus tidak mengatakan bahwa sekularisme itu baik. Setidaknya sumber resmi dari Vatikan tidak ada yang menyatakan demikian. Anda dapat dan boleh mengkoreksi saya jika Anda menemukan kutipan langsung dari sumber resmi dari Tahta Suci/ Vatikan yang mengatakan demikian.

          Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
          Ingrid Listiati-katolisitas.org

  5. Franzizco haezer on

    Pertanyaan.
    Saya beragama Katolik, dan sungguh yakin dalam ajaran Katolik mengarahkan kita pada kebenaran dan Keselamatan. Tapi saya bingung sekarang ini tenggang rasa negara-negara yang mayoritas Kristen/Katolik dengan tenggang rasanya menjadikannya kecolongan. Banyak dari masyarakat mereka yang tidak percaya akan Yesus dan keselamatan dari ajaran Katolik, dan meninggalkan imannya.
    Apakah itu konsekuensi dari kebaikan atau toleransi tinggi yang diaplikasikan oleh negara-negara yg mayoritas Kristen?

    [Dari Katolisitas: silakan membaca tanggapan kami di sini, silakan klik]

Add Comment Register



Leave A Reply