Apakah Kitab Suci dan Tradisi Suci Menentang Keutamaan Petrus?

2

Ayat- ayat Kitab Suci yang mendukung keutamaan Petrus salah satunya memang Mat 16:18, namun bukan hanya itu saja. Silakan membaca artikel ini: Keutamaan Petrus menurut Kitab Suci, silakan klik, untuk melihat dasar- dasar ayat Kitab Sucinya. Berikut ini adalah beberapa jawaban tentang keberatan keutamaan Petrus.

1. Tentang Petros dan Petra

Nampaknya Anda mempersoalkan tentang istilah Petros (maskulin) dan Petra (feminin), namun tentang hal ini sudah pernah di bahas di sini, silakan klik, silakan jika Anda tertarik untuk membaca di sana tentang topik ini.  Pemahaman tentang istilah ini memang penting namun keutamaan Petrus tidak semata ditentukan oleh istilah ini, mengingat bahwa Kristus kemungkinan besar menggunakan bahasa Aram pada saat berbicara kepada Simon, saat menamai dia dengan sebutan Kefas (Batu Karang) sebagaimana disebutkan oleh Rasul Yohanes dalam Injilnya (Yoh 1:42), dan Rasul Paulus dalam surat-suratnya (lih. 1Kor 1:12;3:22;15:5; Gal 1:18).

2. Batu Karang tetapi menjadi batu sandungan?

Tidak ada yang bertentangan antara ditunjuknya Petrus sebagai ‘batu karang’/ pondasi Gereja dengan kegagalan Petrus memahami misi Kristus sebagai Mesias, sehingga ia disebut sebagai ‘batu sandungan’ (Mat 16:24). Sebab memang pada saat Yesus masih berada di tengah para Rasul, tidak ada dari mereka yang benar-benar mengerti akan apa yang dikatakan oleh Yesus tentang hubungan antara sengsara dan kematian-Nya dengan rencana keselamatan Allah. Para Rasul baru memperoleh pemahaman yang benar tentang hal ini, ketika Kristus telah bangkit dan lalu mengirimkan Roh-Nya pada hari Pentakosta. Baru setelah itu, secara berani Petrus berkhotbah kepada orang banyak mengenai misteri Paskah Kristus (lih. Kis 2: 14-40). Maka, justru kelemahan Rasul Petrus sebelum menerima pencurahan Roh Kudus ini, lebih lagi menggambarkan kebenaran firman Tuhan bahwa memang Tuhan memilih apa yang lemah kecil di mata manusia, untuk menunjukkan kuasa Allah yang bekerja atasnya. Dengan demikian, tergenapi sabda Allah ini, “Cukuplah kasih karunia-Ku bagimu, sebab justru dalam kelemahanlah kuasa-Ku menjadi sempurna.” (2 Kor 12:9)

Maka kelemahan Rasul Petrus tidak menghalangi rencana Kristus yang memilihnya sebagai batu karang bagi Gereja. Hal ini bahkan diakui oleh ahli Kitab Suci yang non-Katolik, yang bernama W.F Albright, yang mengatakan, “Menolak keutamaan kedudukan Petrus di antara para murid ataupun di kalangan komunitas Kristen awal merupakan sebuah pengingkaran bukti-bukti…. Perhatian kepada kegagalan dan sifat Petrus yang mudah berubah tidak menariknya dari keutamaan ini; melainkan malah menekankannya…” (W.F. Albright and C.S. Mann, The Anchor Bible: Matthew (Garden City, New York: Double Day& Co., 1971), p. 195). Justru dengan menggunakan kelemahan Petrus, Allah menunjukkan kuasa-Nya untuk mendirikan dan membangun Gereja-Nya.

3. Batu Karang adalah Kristus bukan Petrus?

Kitab Suci tidak pernah mengatakan bahwa istilah ‘Batu Karang’ ini hanya untuk ditujukan kepada Kristus. Memang Kristus adalah Batu Karang sebagaimana disebutkan dalam 1Kor 10:4, namun istilah ‘batu karang’ juga ditujukan kepada Petrus dalam Mat 16:18. Hal ini seperti bahwa Kristus adalah Terang Dunia (Yoh 9:5), walaupun kita para murid Kristus juga disebut terang dunia (lih. Mat 5:14). Kita menjadi terang dunia dengan mengambil bagian dalam Sang Terang dunia yaitu Kristus; demikian pula Petrus menjadi batu karang yang atasnya Gereja didirikan, karena Petrus mengambil bagian dalam Kristus Sang Batu Karang.

Dalam menginterpretasikan Kitab Suci, kita selayaknya tidak mengabaikan arti literalnya. Jika suatu ayat juga memiliki arti simbolis, bukan berarti arti literal ayat itu dapat dibuang begitu saja. Maka, di ayat Mat 16:18, ‘batu karang’ di sini dapat diartikan literal sebagai nama Petrus, dan diartikan secara simbolis (alegoris) bahwa yang dimaksud adalah pengakuan iman Petrus. Gereja Katolik menerima kedua arti ini.

4. Apakah ada Bapa Gereja yang menentang keutamaan Rasul Petrus?

4.1. St. Siprianus/ St. Cyprian dari Khartage (200-258)

Ada yang mengutip tulisan dari St. Siprianus sebagai berikut: “Setelah kebangkitanNya, Ia menganugerahkan kuasa yang setara atas semua rasul-rasul… Tentunya Para Rasul lainnya juga sama dengan Petrus, dikaruniai dengan suatu persekutuan yang sederajat dalam kedudukan dan kuasa.” (St. Cyprian of Chartage, Treatise I: On The Unity Of The Church, IV:12,13)

Kami tidak menemukan kutipan semacam itu dalam tulisan St. Siprianus. Keseluruhan tulisan On the Unity of the Church (chapter 4) dapat dibaca di link ini, silakan klik

Namun seandainya ada kutipan itu, pengertian “sederajat dalam kedudukan dan kuasa” di sini mengacu kedudukan para rasul yang sama- sama adalah rasul Kristus, yang diberi kuasa untuk mengikat dan melepaskan (lih. Mat 18:18), dan mengampuni dosa (Yoh 22:21-23). Namun demikian, St. Siprianus juga tetap mengakui keutamaan Rasul Petrus sebagai pemimpin para rasul, sebab St. Siprianus menulis demikian:

a. Pengajaran St. Siprianus

“Tuhan berkata kepada Petrus: “Aku berkata kepadamu,” Ia berkata, “bahwa engkau adalah Petrus dan di atas batu karang ini Aku akan mendirikan Gereja-Ku, dan alam maut tidak akan menguasainya. Dan kepadamu aku akan memberikan kunci Kerajaan Surga: dan apapun yang kamu ikat di dunia akan terikat di surga dan apapun yang kamu lepaskan di dunia akan terlepas di Surga.” Dan lagi Ia berkata kepadanya setelah kebangkitan-Nya, “Gembalakanlah domba- domba-Ku.” Atasnya Ia mendirikan Gereja-Nya, dan kepadanya Ia memberikan perintah untuk menggembalakan domba- domba-Nya; dan meskipun Ia memberikan kuasa serupa kepada semua rasul-Nya, namun Ia mendirikan [hanya]satu kursi kepemimpinan; dan Ia mendirikan dengan kuasa-Nya sendiri sebuah sumber dan alasan mendasar untuk kesatuan itu. Memang para rasul yang lain ada di mana Petrus berada, namun keutamaan diberikan kepada Petrus, di mana sudah dinyatakan dengan jelas bahwa hanya ada satu Gereja dan satu kursi kepemimpinan. Demikian pula, semua gembala dan kawanan dombanya dinyatakan satu, yang diberi makan oleh semua Rasul dengan pemikiran yang satu. Jika seseorang tidak berpegang pada kesatuan dengan Petrus ini, dapatkah ia membayangkan bahwa ia masih memegang iman? Jika ia mengabaikan kursi kepemimpinan Petrus yang atasnya Gereja didirikan, dapatkah ia masih yakin dan percaya bahwa ia berada di dalam Gereja?” (St. Cyprian, The Unity of the Church, 4, (251-256) in Jurgens, Faith of the Early Fathers, 1:220. According to St. Cyprian, The See of Rome is ecclesia principalis unde unitas sacerdotalis exorta est, “The Church which persides in Love” (Gereja yang memimpin di dalam kasih), seperti dikutip dalam John Meyendorff, The Primacy of Peter,  (Crestwood: New York: St. Vladimir’s Seminary Press, 1992) p. 98-99)

“Hanya ada satu Tuhan dan satu Kristus, dan satu Gereja dan satu kursi kepemimpinan yang didirikan di atas Petrus, oleh perkataan Tuhan Yesus. Tidaklah mungkin untuk membangun altar yang lain atau imamat yang lain di samping altar yang satu dan imamat yang satu itu. Siapapun yang berkumpul di luar kesatuan itu, akan tercerai berai.” (St. Cyprian, Letter of Cyprian to All His People [43 (40),5] in Jurgens, Faith of the Early Fathers, 1:229)

b. Surat St. Siprianus kepada Paus Kornelius di Roma (252)

Dalam suratnya kepada Paus Kornelius di Roma (252), St. Siprianus menulis:

“Dengan uskup yang mereka tunjuk sendiri oleh para heretik, mereka bahkan berlayar dan membawa surat- surat dari para skismatik dan bidat kepada kursi kepemimpinan Petrus dan pimpinan Gereja, di mana kesatuan imamat mempunyai sumbernya; namun mereka [para bidat]tidak berpikir bahwa mereka [Gereja Roma] ini adalah jemaat Roma, yang imannya dipuji oleh Rasul pengkhotbah dan di antara mereka tidak mungkin kesesatan dapat masuk.” (Letter of Cyprian to Cornelius of Rome 59, 14, in Jurgen, Faith of the Early Fathers, 1: 232)

c. Surat St. Siprianus kepada Antonianus, Uskup Numidia (252)

“Kamu menulis juga bahwa saya harus meneruskan kepada Kornelius [Uskup Roma], kolega kita, salinan dari suratmu, sehingga beliau dapat mengesampingkan semua keresahan dan mengetahui langsung bahwa kamu berada di dalam persekutuan dengan beliau, yaitu dengan Gereja Katolik.” (Letter of Cyprian to Antonianus, a Bishop in Numidia 55(52), 1, (251-252), in Jurgens, Faith of the Early Fathers, 1:230)

Di sini diketahui bahwa St. Cyprian mengajarkan bahwa untuk berada dalam persekutuan dengan seluruh Gereja Katolik, seseorang harus berada dalam persekutuan langsung dengan Uskup Roma.

“Ketika penganiayaan sudah reda, dan kesempatan untuk bertemu memungkinkan; sejumlah besar uskup Afrika …. bertemu bersama … Dan jika sejumlah uskup di Afrika tidak puas, kamu juga menulis ke Roma, kepada Kornelius [Paus], kolega kita tentang hal ini, yang juga akan mengadakan konsili dengan banyak sekali uskup, yang setuju dalam satu pendapat seperti yang kita pegang.” (Letter of Cyprian to Antonianus, a Bishop in Numidia 51, 6, (251-252), ANF, 5:328)

Melalui surat ini St. Siprianus menyatakan praktek yang terjadi dalam menangani perbedaan pendapat di keuskupannya, dengan mengakui keutamaan Uskup Roma.

“Kornelius dijadikan Uskup [Uskup Roma] oleh keputusan Tuhan dan Kristus, oleh kesaksian hampir semua klerus, oleh dukungan orang- orang yang hadir pada saat itu, oleh kolese para imam yang terberkati, dan orang- orang yang baik lainnya, … di mana adalah tempat Petrus, martabat kursi kepemimpinan imamat. Sebab kursi terisi sesuai dengan kehendak Tuhan dan dengan persetujuan kita semua…. Sebab seseorang tidak dapat mempunyai jabatan gerejawi jika tidak memegang kesatuan dengan Gereja.” (Letter of Cyprian to Cornelius of Rome 55 (52), 8, in Jurgen, Faith of the Early Fathers, 1: 230)

d. St. Siprianus kepada Paus Stephen (254- 257)

“Siprianus kepada saudaranya [Paus] Stephen, salam …. Adalah pantas bagimu untuk menuliskan surat- surat kepada sesama uskup yang ditunjuk di Gaul, agar tidak menderita lagi karena Marcian….karena ia sepertinya tidak di-ekskomunikasi oleh kami …. Biarlah surat- surat ditujukan olehmu kepada provinsi dan orang- orang yang ada di Arles, yang dengan demikian, Marcian diekskomunikasi; [dan]orang lain dapat menggantikan kedudukannya… Sebab kehormatan dari para pendahulu kami, para martir Paus Kornelius dan Lucius, seharusnya dilestarikan… Tunjukkan kepada kami siapa yang ditunjuk menggantikan Marcian, sehingga kami mengetahui kepada siapa kami mengarahkan saudara- saudara kami, dan kepada siapa kami harus menulis [surat].” (St. Cyprian, To Father [Pope] Stephen, concerning Maricianus of Arles, who had joined himself to Novatian; Epistle LXVI, ANF 5:367-369)

Di sini terlihat bahwa dalam posisinya sebagai uskup, St. Siprianus tetap mengakui keutamaan dan kepemimpinan uskup Roma, sebab jika tidak, ia tidak perlu menulis demikian kepada Paus Stephen. Kenyataannya, St. Siprianus yang sering dianggap menentang kepemimpinan Paus tetap memohon kepada Uskup Roma (Paus Stephen) untuk melakukan kepemimpinan atas Gereja universal.

e. St. Siprianus kepada semua jemaatnya:

“Hanya ada satu Tuhan dan satu Kristus, dan satu Gereja dan satu Tahta yang didirikan di atas Petrus oleh Sabda Tuhan. Adalah tidak mungkin untuk memasang altar yang lain, atau imamat yang lain di samping altar yang satu dan imamat yang satu. Barangsiapa yang mengumpulkan di tempat lain akan tercerai berai.” (Letter of Cyprian to All His People [43 (40),5] in Jurgens, Faith of the Early Fathers, 1: 229)

Maka tidak benar kalau dikatakan St. Siprianus menentang keutamaan Rasul Petrus dan para penerusnya. Kecenderungan dari mereka yang mengatakan demikian adalah, mereka mengutip sedikit tulisan St. Siprianus yang nampaknya mendukung pandangan mereka namun mereka tidak mengutip tulisan-tulisan St. Siprianus yang lainnya yang jelas menunjukkan bahwa St. Siprianus mengakui keutamaan Rasul Petrus dan para penerusnya.

4.2. St. Yohanes Krisostomus (349-407)

“Di atas batu karang ini Aku akan membangun. Ini adalah atas Pengakuan Imannya.”
(St. John Chrysostom, Homilies On The Gospel Of St.Matthew, LIV.3:17-18)

Tidak ada masalah dengan kutipan ini, sebab Gereja Katolik selain menerima arti literal ‘batu karang’ sebagai Petrus, juga menerima arti simbolisnya, yaitu sebagai pengakuan iman Petrus. Selanjutnya, perlu disimak bahwa St. Yohanes Krisostomus juga mengatakan demikian:

“[Yesus] berkata kepadanya, “Gembalakanlah domba- domba-Ku”. Dan mengapa… ia berkata demikian kepada Petrus? Ia adalah seorang yang dipilih dari para Rasul, [menjadi]juru bicara bagi para murid, pemimpin kelompok; karena itu juga Paulus pergi mengunjunginya untuk bertanya kepadanya dan bukan kepada orang lain. Dan pada saat yang sama…. Yesus meletakkan ke dalam tangannya otoritas tertinggi di antara para saudara; …. “Jika kamu mengasihi Aku, gembalakanlah saudara- saudaramu.” (St. John Chrysostom, Homilies on John 88, 1. NPNF I, 14:331.)

“Untuk apa Ia menumpahkan darah-Nya? Adalah agar Ia dapat memenangkan domba- domba-Nya yang dipercayakan-Nya kepada Petrus dan para penerusnya.” (St. John Chrysostom, De Sacerdotio, 53)

Petrus sendiri adalah pemimpin kepala para Rasul, yang pertama di dalam Gereja, sahabat Kristus, yang menerima wahyu bukan dari manusia tetapi dari Allah Bapa, sebagaimana dikatakan Tuhan Yesus dengan berkata, “Diberkatilah engkau Simon anak Yohanes, sebab daging dan darah tidak menyatakannya kepadamu, tetapi Bapa-Ku yang di surga; inilah Petrus, dan ketika Aku menamai dia Petrus, Aku menamakan batu karang yang tidak terputus, fondasi yang kuat itu, Rasul yang besar yang pertama dari para murid, yang pertama dipanggil dan yang pertama taat.” (St. John Chrysostom, Homily 3 de Poenit, 4, in Berrington dan Kirk, Ibid ., 2:31)

“…  sebab kepadanya [Petrus] Kristus telah berkata, “Dan ketika kamu sudah insaf, kuatkanlah saudara- saudaramu.” (St. John Chrysostom, Homily 3, in Acts, NPNF 1, 11:20)

“Apa yang dapat lebih rendah hati daripada jiwa itu [Paulus]? Setelah kesuksesannya, yang tidak kalah dengan Petrus…, tetapi dengan martabat yang sama dengan dia, ia datang kepadanya sebagai penatuanya dan superiornya. Satu- satunya tujuan dari perjalanannya adalah untuk mengunjungi Petrus; dan menunjukkan penghormatan kepada para rasul…. Ia mengatakan, “untuk mengunjungi Petrus”, dia tidak mengatakan untuk melihat/ bertemu, tetapi untuk mengunjungi (ἱστορέω), kata yang digunakan untuk menunjukkan tentang mereka yang mencari pengetahuan/ pengalaman akan suatu kota yang besar dan indah, dan menerapkannya dalam diri mereka sendiri. Dia menganggap layak semua kesukaran agar ia dapat melihat Petrus; dan ini muncul dalam Kisah para rasul juga.” (St. John Chrysostom, Commentary on Galatians 1, 18, NPNf 1, 13:12-13)

Selanjutnya, pengakuan St. Yohanes Krisostomus akan Paus ditunjukkan saat mengirim surat kepada Paus Innocentius I untuk memperoleh koreksi dari keputusan yang ditujukan melawan dia, dan pembatalan hukuman yang dijatuhkan kepadanya, dan penegasan sangsi kepada mereka yang telah melanggar hukum kanon. (cf.  Joseph Hergenrother, Anti Janus, (Dublin: W.B. Kelly, 1870), p. 130-131)

Maka walaupun St. Yohanes Krisostomus pernah mengatakan tentang Yakobus dan tahta Yerusalem (yang sering dipahami sebagai keuskupan/ tahta pertama di Gereja), namun St. Yohanes Krisostomus memahami bahwa posisi keuskupan Yerusalem berada di bawah panggilan St. Petrus. Krisostomus menulis, “Jika seseorang bertanya, “Bagaimana Yakobus menerima tahta di Yerusalem? Aku akan menjawab, bahwa Ia menunjuk Petrus sebagai guru, tidak di Yerusalem, tetapi di dunia.” (St. John Chrysostom, Homily 88, 1, on St. John, NPNF 1, 14:332)

4.3. St. Agustinus dari Hippo (354-430)

Mereka yang menolak keutamaan Rasul Petrus kadang mengutip perkataan St. Agustinus yang dianggap mendukung pandangan mereka:

“Dengan memandang bahwa Kristus adalah batu karang (Petra), Petrus adalah umat Kristen. Sebab batu karang (Petra) adalah sebutan aslinya. Oleh karena itu Petrus disebut dari batu karang, bukan batu karang dari Petrus; sebagaimana Kristus tidak disebut dari Kristen, namun Kristen dari Kristus. Oleh karena itu, Dia berkata, “Engkau adalah Petrus; dan di atas Batu Karang ini” yang mana telah engkau akui, diatas Batu Karang ini yang mana telah engkau nyatakan, dengan berkata, “Engkau adalah Kristus, Putera Allah yang hidup’ akan Kubangun GerejaKu;” yaitu atas DiriKu Sendiri, Putera dari Allah yang hidup, “akan Kubangun GerejaKu.” Aku akan membangunmu diatas DiriKu Sendiri, bukan Diri-Ku Sendiri diatasmu.” (St. Augustine of Hippo, Sermon XXVI. 1:2)

Memang sepertinya dari kutipan ini St. Agustinus mengartikan ‘Batu karang’ sebagai Kristus yang kepada-Nya Petrus menyatakan imannya. Namun kemudian St. Agustinus mempertimbangkan kembali tulisannya ini. Kita ketahui, di saat usianya yang lanjut (72 tahun, 4 tahun sebelum ia wafat) St. Agustinus menuliskan semacam buku review (tinjauan ulang) akan semua tulisan/ ajarannya yang terdahulu dalam suatu tulisan yang diberi judul Retractions yang artinya ‘pertimbangan kembali’. Di sana ia memperjelas maksud pernyataannya tentang hal ini, dan bahwa Batu Karang dalam perikop Mat 16:18 mengacu baik kepada Kristus yang kepada-Nya Petrus menyatakan imannya, maupun kepada Petrus itu sendiri, karena pengakuan imannya itu:

“Di dalam sebuah perikop di buku ini, saya berkata tentang Rasul Petrus: “Di atasnya Gereja didirikan.” Ide ini juga dinyatakan dalam nyanyian oleh banyak orang di dalam bait yang dikarang oleh St. Ambrosius … Tetapi saya mengetahui hal itu sering di kemudian hari, maka saya menjelaskan apa yang dikatakan Tuhan: “Kamu adalah Petrus dan di atas batu karang ini Aku akan mendirikan Gereja-Ku, “bahwa ini untuk diartikan bahwa [Gereja] didirikan di atas Ia [Kristus] yang di atasnya Petrus mengakui: Engkau adalah Kristus, Anak Allah yang hidup,” dan karena itu Petrus, yang dipanggil setelah batu karang ini, mewakili orang-orang di Gereja yang didirikan di atas batu karang ini, dan telah menerima “kunci- kunci Kerajaan Surga.” Sebab ‘batu karang ini adalah Kristus’, dan dengan mengakui-Nya, seperti juga seluruh Gereja mengakui-Nya, Simon disebut sebagai Petrus. Tetapi biarlah para pembaca memutuskan manakah dari kedua pendapat ini yang lebih mungkin.” (Retractationes 1,20,1, in St. Augustine: The Retractations, trans, Sis. Mary Inez Bogan (Washington DC: Catholic University of America Press, 1968), 60:90-91)

Dengan demikian, St. Agustinus tidak menolak arti literal ‘batu karang’ itu sebagai Petrus, dan di atasnya Gereja didirikan. St. Agustinus tidak pernah meragukan kepemimpinan Rasul Petrus dan para penerusnya, hal ini terlihat jelas dalam suratnya kepada para heretik/ bidat Donatisme:

“Sebab jika jalur suksesi para uskup harus diperhitungkan, dengan kepastian yang lebih tinggi dan menguntungkan bagi Gereja, kita menghitung kembali sampai kepada Petrus sendiri, kepada siapa, sebagai yang mengemban figur seluruh Gereja, Tuhan berkata: ‘Di atas batu karang ini Aku mendirikan Gereja-Ku, dan alam maut tidak akan menguasainya!’ Penerus Petrus adalah Linus, dan para penerusnya dalam kesinambungan yang tidak terputus adalah: Klemens, Anakletus, Evaristus, Alexaner, Sixtus, Teleforus, Iginus, Anicetus, Pius, Soter, Eleutherius, Victor, Zephirinus, Calixtus, Urbanus, Pontianus, Antherus, Fabianus, Cornelius, Luciu, Stefanus, Xystus, Dionisius, Felix, Eutychianus, Gaius, Marcellinus, Marcellus, Eusebius, Miltiades, Sylvester, Marcus, Julius, Liberius, Damasus, dan Siricius yang digantikan oleh Uskup Anastasius saat ini. Dalam jalur apostolik ini tidak ditemukan satupun Uskup Donatis.” (St.Letters of St. Augustine 53, 3, NPNF 1, 1:298. Donatisme adalah aliran sesat yang berkembang pada masa St. Agustinus hidup)

Di sini kita melihat adanya pernyataan yang kuat dari St. Agustinus, yang mendukung keutamaan Uskup/ Paus di Roma, untuk menolak ajaran sesat. St. Agustinus memberikan dasar untuk menolak para bidat dengan menyatakan adanya tradisi dan suksesi kepemimpinan apostolik di dalam Gereja Katolik. St. Agustinus menanyakan secara rethorik, “Apakah para Donatist mempunyai klaim kebenaran kepada kebenaran? Tidak. Dapatkah mereka mengklaim suksesi apostolik dari Petrus sendiri? Tidak.” Oleh karena itu mereka tidak di dalam Gereja dan tidak dapat mengklaim kembali sampai kepada para rasul. (Ibid.)

Selanjutnya, dalam suratnya menanggapi penyerangan yang dilakukan para bidat kepada Caecilianus, Uskup Carthage, St. Agustinus menulis demikian:

“Kota itu (Carthage) mempunyai seorang uskup yang otoritasnya tidak kecil, yang mampu untuk tidak mempedulikan banyaknya para musuhnya yang bersekongkol menyerang dia, ketika ia [Caecilianus] melihat dirinya bersatu dalam surat persekutuan, baik dengan Gereja Roma, yang di dalamnya keutamaan tahta apostolik [apostolicae cathedrae principatus] telah selalu diterapkan- dan dengan daratan yang lain- yang dari mana Injil datang ke Afrika itu sendiri, di mana ia dapat dengan siap sedia memohon tentang kasusnya, jika para penyerangnya berusaha mengasingkan gereja- gereja itu darinya.” (St. Augustine, Epistle 43,7, in Joseph Berrington and John Kirk, Faith of Catholics, ed. T.J. Capel, vol 2 (New York: F. Pustet & Co, 1885) p. 81-82)

Untuk menangani ajaran sesat yang terjadi di Afrika Utara, para Uskup, termasuk St. Agustinus, Uskup Hippo, mengirimkan surat untuk memperoleh konfirmasi resmi konsili mereka dari “tahta apostolik”/ Apostolic See. Surat tersebut diawali dengan perkataan, “Sebab Tuhan, dengan kelimpahan yang istimewa dari rahmat-Nya, telah menempatkan engkau di Tahta Apostolik…” Selanjutnya setelah Paus Innocentius I memutuskan mengenai masalah tersebut, mereka [214 para uskup itu termasuk St Agustinus] berkata:

“Kami yakin bahwa penilaian harus tetap seperti yang dikeluarkan oleh Uskup [Paus] Innocentius dari tahta Rasul Petrus yang terberkati…”

[Paus Innocentius] mengacu kepada semuanya, menulis kembali kepada kita dengan cara yang sama di mana adalah sah dan menjadi tugas Tahta Apostolik untuk menuliskannya.” (St. Augustine, Sermon 186, n.2, in Luke Rivington, The Primitive Church and the See of Peter, (London: Longmans, Green and Co., 1894), p. 290)

Kemudian demikianlah anjuran St. Agustinus kepada jemaat:

“Jawablah kepadanya [Paus Innocentius I], ya, seperti kepada Tuhan sendiri, yang kesaksian-Nya digunakan oleh uskup itu.” (St. Augustine, Lib., i.c. Julian c.4, in Rivington, Ibid.,p. 290)

Selanjutnya St. Agustinus juga menulis tentang peran Roma sebagai yang mengeluarkan kata terakhir tentang suatu ajaran tertentu. Ia mengacu kepada keputusan Paus dalan Konsili Carthage dan Milevis (416) yang mengecam ajaran sesat Pelagianisme:

Roma locuta est, causa finita est / Roma sudah bicara [memutuskan], kasus ditutup.” (St. Augustine, Sermons 131,10, William A. Jurgens, The Faith of the Early Fathers, (Collegeville, Minnesota: Liturgical Press), 3:28)

Terhadap para pengikut ajaran sesat Manichaeisme, St. Agustinus mengatakan keyakinannya akan otoritas Gereja Katolik:

“Jangan bicarakan tentang kebijaksanaan yang karenanya kamu [para Manichaean]tidak percaya ada di dalam Gereja Katolik, ada banyak hal lain yang lebih benar menjagaku tetap di dalam pangkuannya. Persetujuan berbagai bangsa menjagaku di dalam Gereja; demikian juga otoritasnya, diawali dengan mukjizat- mukjizat, dipelihara oleh pengharapan, dan diperluas oleh cinta kasih, dan dimantapkan oleh waktu. Suksesi para imam menjaga saya, dimulai dari tahta Petrus Rasul, yang kepadanya Tuhan setelah kebangkitan-Nya memberikan kuasa untuk memberi makan kepada domba- domba-Nya, sampai kepada keuskupan saat ini. … Sebab begitu banyak dan besar ikatan yang berharga yang dimiliki oleh suatu nama Kristen yang dengan benar menjaga seseorang yang adalah orang percaya di alam Gereja Katolik …Tak seorangpun dapat menggoyangkan saya dari iman yang telah mengikat pikiran saya dengan ikatan yang begitu banyak dan kuat dengan agama Kristen …. Sebab di pihak saya, saya tidak akan percaya kepada Injil kecuali jika otoritas Gereja Katolik mendorong saya.” (St. Augustine, Against the Epistle of Manichaeus 5,4-5, in Joseph Cullen Ayer, A Source Book for Ancient Church History, (New York: Charles Scribner’s Sons, 1948), p. 454-455, cf. NPNF 1, 4:130, 131)

Maka adalah tidak benar jika dikatakan bahwa St. Agustinus tidak mengakui keutamaan/ otoritas Rasul Petrus dan para penerusnya atas Gereja, karena begitu banyak tulisannya yang menyatakan sebaliknya. St. Agustinus bahkan menyatakan suatu fakta yang sering dilupakan orang, yaitu bahwa Injil yang ada pada kita sekarang ini ada, karena otoritas Gereja Katolik (yang dimulai dari tahta Petrus) itulah yang menyatakannya.

4.4 St. Ambrosius dari Milan (337-397)

St. Ambrosius menuliskan “Kemudian, Iman adalah dasar Gereja, sebab hal itu tidak dikatakan pada daging Petrus, namun pada imannya, bahwa gerbang-gerbang Hades tidak akan menguasainya. Namun Pengakuan Imannya telah mengalahkan Hades.” (St. Ambrose of Milan,The Sacrament Of The Incarnation Of Our Lord, IV:32-V:35)

Sekali lagi, kutipan ini juga tidak menjadi masalah bagi Gereja Katolik. Sebab Gereja Katolik memang menerima arti literal Batu karang sebagai Petrus ataupun secara allegoris sebagai pengakuan iman Petrus akan Kristus. Kutipan tulisan St. Ambrosius ini tidak membuktikan bahwa ia tidak mengakui keutamaan Petrus dan para penerusnya. Sebab St. Ambrosius tetap menganggap uskup Roma sebagai gembala Gereja universal. Bersama Sabinus, Bassian dan para uskup lainnya menulis kepada Paus Siricius, tahun 389, ia menyatakan demikian:

“Kami mengenali di dalam suratmu kesiagaan sebagai gembala yang baik. Engkau dengan setia menjaga pintu gerbang yang dipasrahkan kepadamu dan dengan perhatian yang saleh engkau menjaga kawanan Kristus (Yoh 10:7-), engkau layak mempunyai domba- domba yang mendengarkan dan mengikuti engkau. Sebab engkau mengenal para domba Kristus, engkau dengan mudahnya menangkap serigala- serigala dan melawan mereka sebagai gembala yang melindungi [dombanya], sebab jika tidak mereka mencerai beraikan kawanan domba Tuhan karena kekurangan iman mereka dan auman mereka yang bengis.” (Synodal Letter of  Ambrose, Sabinus, Bassian, and Others to Pope Siricius, 42, 1, in Jurgen, Faith of the Early Fathers, 2:148)

Kepada Petrus sajalah Ia [Kristus] berkata, “Engkau adalah Petrus, dan di atas batu karang ini aku akan mendirikan Gereja-Ku.” Di mana Petrus berada, Gereja berada. Dan di mana Gereja berada, tidak ada kematian, tetapi kehidupan kekal.” (St. Ambrose, Commentaries on Twelve of David’s Pslams 40, 30)

“… Petrus, setelah dicobai Iblis (Luk 22:31-32), ditempatkan atas Gereja. Karena itu, Tuhan, yang telah melihat hal tersebut sebelum terjadi, setelah itu memilihnya sebagai gembala kawanan domba Tuhan. Sebab kepadanya [Petrus] Ia berkata, tetapi kamu ketika telah insaf, kuatkanlah saudara- saudaramu.” (St. Ambrose, in Ps 43, n.40, in Joseph Berrington and John Kirk, Faith of Catholics, (New York: F. Pustet & Co, 1900), p. 26)

“Kristus adalah Sang Batu Karang, “Sebab mereka minum dari Batu Karang rohani yang mengikuti mereka, dan Batu Karang itu ialah Kristus’, dan Ia tidak menolak untuk mengaruniakan gelar ini bahkan kepada murid-Nya, sehingga ia juga dapat menjadi Petrus [atau Batu Karang]dalam hal, seperti batu karang, ia mempunyai ketetapan yang solid, sebuah iman yang kokoh.” (St. Ambrose, Exposition in Luc, in Colin Lindsay, The Evidence for Papacy (London: Longman’s, 1890), p. 37. Di sini terlihat bahwa Yesus memberi nama Simon dengan sebutan Petrus, untuk membuatnya mengambil bagian secara unik di dalam pondasi Gereja)

4.5 St. Isidore of Seville (560- 636)

“Para Rasul yang lain telah dibuat sederajat dengan Petrus dalam suatu golongan yang dihormati dan berkuasa.” (St. Isidore of Seville, De Ecclesiasticus, II.5, M.P.L., Vol. 83, Col. 781-782)

Kutipan ini memang banyak ditemukan di Internet, namun terus terang, saya tidak berhasil menemukan sumber asli tulisan ini. Sebab menurut informasi yang saya peroleh tentang karya-karya St. Isidore, tidak ada yang berjudul De Ecclesiasticus, tetapi yang ada dan termirip dengan judul itu adalah De Ecclesiasticis officiis, dan di sana saya tidak menemukan kutipan tersebut.

Seandainya sampai ada sekalipun kutipan itu, perlu dilihat konteks pernyataan tersebut, sebab jika maksudnya sederajat dalam artian berada dalam satu golongan yang dihormati dan berkuasa, itu memang benar. Sebab memang semua uskup (penerus Rasul) itu berada dalam suatu golongan yang dihormati dan berkuasa memimpin di daerahnya masing- masing; dalam hal ini mereka ‘setara’. Namun kesetaraan ini tidak serta merta menghapus kepemimpinan di kalangan para uskup itu, dan peran ini dilakukan oleh Paus.

4.6. St. Bede (672-735)

“Engkau adalah Petrus, dan atas Batu Karang ini yang mana engkau telah menerima namamu, yaitu atas DiriKu Sendiri, Aku akan mendirikan GerejaKu.” (St. Bede, Homily I.165. Homilies On The Gospels. 163)

Hal ini tidak bertentangan dengan ajaran Gereja Katolik, sebab Petrus menerima namanya, yaitu Batu Karang, dari/ atas Kristus sendiri; dan atas Batu Karang ini Kristus mendirikan Gereja-Nya.

4.7 St. Gregorius I Agung (540- 604)

Tentang hal ini sudah pernah dibahas di sini, silakan klik.

4.8 St. Jerome (Hieronimus) (374-379)

“Kita masing-masing menyatakan pendapat kita tentang satu hal yang sama yaitu tidak menghakimi seorang pun, atau menghalangi seseorang untuk dalam persekutuan yang benar, jika ia berbeda dari kita. Karena tidak ada seorang pun yang boleh menganggap dirinya sebagai Uskup dari para Uskup dengan teror sebuah tirani yang memaksa saudaranya untuk suatu keharusan menaatinya;. karena setiap Uskup dalam kebebasannya menggunakan wewenang dan kekuasaannya, memiliki hak membentuk penilaian sendiri, dan tidak lagi dapat dinilai oleh orang lain lebih dari wewenangnya untuk memberikan keputusan terhadap orang lain. Tapi hendaknya kita semua harus menunggu penghakiman Tuhan kita Yesus Kristus, Dia sendirilah yang memiliki kekuasaan bukan hanya untuk mengatur kita dalam pemerintahan Gereja-Nya, tetapi juga menjadi hakim atas tindakan-tindakan kita di dalam Gereja-Nya.” (St. Jerome, Epistle to Evangelus)

Terus terang, saya juga tidak menemukan kutipan ini dalam surat St. Jerome (Hieronimus) kepada Evangelus. Silakan Anda membaca keseluruhan surat ini, silakan klik di sini, dan di sana yang dibahas adalah pendapat St. Jerome (Hieronimus) akan kesetaraan imam dengan uskup. Kutipan tentang Uskup adalah, “Neither the command of wealth nor the lowliness of poverty makes him more a bishop or less a bishop. All alike are successors of the apostles…” Dan ini memang benar, sebab semua uskup adalah serupa karena mereka semua adalah para penerus Rasul.

Namun tentang pengakuan St. Jerome (Hieronimus) tentang keutamaan Rasul Petrus nampak jelas dalam suratnya kepada Paus Damasus:

“Sebab Gereja Timur, tercerai berai karena kekacauan yang berkepanjangan, yang ada di antara orang- orangnya, sedikit demi sedikit merobek jubah Tuhan…. Saya pikir adalah tugas saya untuk berkonsultasi dengan tahta Petrus dan beralih kepada Gereja yang imannya dipuji oleh Rasul Paulus. Saya memohon makanan rohani kepada Gereja yang daripadanya saya menerima Kristus. Jarak yang jauh di laut dan daratan yang membentang di antara kita tidak membelokkan saya dari pencarian ‘mutiara yang mahal harganya’…. Meskipun kebesaranmu menakutkan saya, namun kebaikanmu menarik saya. Dari imam saya menuntut perlindungan terhadap korban, dari gembala perlindungan yang layak bagi domba- domba….. Kata- kata saya diucapkan kepada penerus dari sang nelayan, kepada sang murid Salib. Sebab saya tidak mengikuti pemimpin lain selain dari Kristus, sehingga saya tidak berkomunikasi kepada yang lain tetapi kepadamu, yaitu dengan tahta Petrus. Sebab saya tahu, ini adalah batu karang yang atasnya Gereja didirikan! Ini adalah rumah di mana Anak Domba Paska dimakan dengan benar. Ini adalah bahtera Nuh, dan ia yang tidak ditemukan di dalamnya akan binasa ketika air bah datang. Tetapi karena dosa- dosa saya, saya telah membawa diri saya ke gurun ini yang terletak antara Syria dan tempat pembuangan, saya tidak dapat, karena jarak yang jauh di antara kita, selalu meminta dari kekudusanmu, hal hal yang kudus dari Tuhan. (Letter of Jerome to Pope Damasus 15,2 374-379AD, NPNF2, 6:18)

“Gereja di sini terpecah menjadi tiga bagian, masing- masing berusaha menarik saya menjadi bagian dari mereka …. Sementara saya tetap berteriak: ‘Ia yang bergabung dengan tahta Petrus akan saya terima!’… Karena itu saya memohon berkatmu oleh salib Tuhan, oleh kemuliaan iman kita, Kisah Sengsara Kristus, …. beritahukan kepadaku melalui surat, kepada siapa saya harus berkomunikasi di Syria. Jangan membuang satu jiwapun yang untuknya Kristus telah wafat!” (Letter of Jerome to Pope Damasus 16,2 374-379AD, in Jurgens, The Faith of the Church Fathers 2:184)

Di sini, di tengah ajaran sesat dan skisma yang memecah belah Gereja Timur, St. Hieronimus mengacu kepada tahta Rasul Petrus di Gereja Roma, dengan mengatakan bahwa mereka bersama dengan Gereja Roma, adalah mereka yang bersama dengan Kristus. Maka St. Hieronimus tidak melihat pertentangan antara Kristus dengan keuskupan Roma, melainkan menegaskan bahwa mereka yang mengikuti Uskup Roma pastilah mengikuti Kristus. Ia menjanjikan kesetiaan kepada Roma, karena menghormati Petrus yang di atasnya Kristus mendirikan Gereja-Nya.

Demikian pula pengakuan St. Hieronimus akan keutamaan Petrus nampak jelas dalam suratnya menentang Jovianus:

Gereja didirikan di atas Petrus: meskipun dimana- mana hal yang sama ditujukan kepada semua Rasul, dan mereka semua menerima kunci-kunci Kerajaan Surga, dan kuasa Gereja tergantung atas mereka semua, namun satu di antara keduabelas murid dipilih sehingga ketika seorang kepala telah ditunjuk, di sana tidak ada kemungkinan bagi skisma.” (St. Jerome, Against Jovianus 1, 26, NPNF2, 6:366)

Dan kepada Demetrias dan para pendukung Pelagianisme, St. Hieronimus menulis:

“Maka saya pikir, saya perlu memperingatkan kamu, di dalam kebaikan dan kasih, untuk berpegang teguh pada iman Paus Innocent yang kudus, anak rohani dari St. Anastasius, dan penerusnya di tahta apostolik, dan tidak menerima ajaran asing apapun, betapapun kamu menganggap dirimu bijak dan pandai memilah.” (St. Jerome, Letter 130 to Demetrias, NPNF2, 6:269)

“Apa hubungannya Paulus dengan Aristoteles? Atau Petrus dengan Plato? Sebab walaupun Plato adalah pengeran filosofi, Petrus adalah kepala para Rasul: di atasnya Gereja Tuhan didirikan dengan kokoh dan tak ada serangan banjir atau badai yang dapat mengguncangkannya.” (St. Jerome, Against the Pelagians, 1, 14a, 26, NPNF2, 6:455)

4.9 St. Ignatius dari Antiokhia (35-117)

“Tidak ada satu manusia pun yang lebih unggul di hadapan Tuhan, atau bahkan seperti Tuhan, di antara semua makhluk yang ada, juga tidak ada satu pun Gereja yang lebih besar dari pada seorang uskup. Biarkan semua hal terlaksana oleh kamu dengan tatanan yang baik dalam Kristus. Biarkan kaum awam tunduk pada diakon, para diakon kepada presbiter, para presbiter kepada uskup, dan uskup kepada Kristus, sebagaimana Dia kepada Bapa.” (St. Ignatius of Antioch, Letter to the Smyrnaeans)

Surat ini mau mengatakan urutan hirarki dalam Gereja yang dimulai dari diakon, imam (presbiter) dan uskup, namun tulisan ini tidak berbicara tentang penolakan akan keutamaan Rasul Petrus. Nampaknya, terjemahan yang Anda kutip juga tidak sepenuhnya tepat, sebab teks aslinya adalah demikian:

For there is no one superior to God, or even like to Him, among all the beings that exist. Nor is there any one in the Church greater than the bishop….. Let all things therefore be done by you with good order in Christ. Let the laity be subject to the deacons; the deacons to the presbyters; the presbyters to the bishop; the bishop to Christ, even as He is to the Father.” (St. Ignatius of Antioch, Letter to the Smyrnaeans, ch. IX)

Sehingga terjemahannya adalah:

“Sebab tidak ada seorangpun yang melebihi Tuhan, atau bahkan seperti Tuhan, di antara semua mahluk yang ada. Juga tidak ada seorangpun di dalam Gereja yang lebih besar daripada seorang uskup. Karena itu, biarlah semua dilakukan olehmu dengan ketentuan yang baik di dalam Kristus. Biarlah kaum awam tunduk kepada para diakon, para diakon kepada para imam (presbiter) dan para imam (presbiter) kepada uskup, dan uskup kepada Kristus, sebagaimana Ia kepada Bapa.”

Maka tulisan ini tidak bertentangan dengan ajaran Gereja Katolik, sebab Paus sebagai penerus Petrus tidak melebihi Tuhan. Dan memang tidak ada seorangpun di dalam Gereja yang lebih besar daripada seorang uskup. Ketundukan kepada Paus tidak dapat dipisahkan dari ketundukan kepada Kristus, karena Paus -sebagai penerus Rasul Petrus- adalah wakil Kristus.

Pengakuan St. Ignatius akan keutamaan keuskupan Roma, terlihat dari suratnya kepada jemaat di Roma, silakan klik di sini untuk membacanya. St. Ignatius dari Antiokhia adalah murid dari Rasul Yohanes dan Uskup Antiokhia (setelah Rasul Petrus) yang dibunuh sebagai martir di Roma pada sekitar tahun 117. Sebelum wafat sebagai martir ia menuliskan 7 surat (kepada 6 Gereja dan Polycarpus). Walaupun St. Ignatius tidak secara eksplisit menjabarkan tentang keutamaan Rasul Petrus ataupun Gereja Roma, namun dapat dibaca penghargaannya terhadap Gereja Roma dan Rasul Petrus dan Paulus yang mendirikannya. St. Ignatius mengatakan bahwa Gereja Roma, “layak bagi Tuhan, layak dihormati, layak akan kebahagiaan tertinggi, layak dipuji, layak mencapai semua kehendaknya, layak untuk disebut kudus, dan yang memimpin atas kasih (presides over love)….” Selanjutnya di bab 4, St. Ignatius mengatakan, “Saya tidak, seperti Petrus dan Paulus, mengeluarkan perintah-perintah kepada kamu. Mereka adalah para Rasul, sedangkan saya adalah seorang terhukum….” dan dengan demikian mengakui otoritas Rasul Petrus dan Paulus di Gereja Roma. Padahal di surat- suratnya yang lain (entah kepada 5 Gereja yang lain maupun kepada Polycarpus) St. Ignatius dengan tegas menyampaikan pengajaran/ ekshortasinya.

Kesimpulan:

Maka dari semua uraian di atas, mari bersama melihat secara obyektif bahwa baik Kitab Suci maupun Tradisi Suci tidak menolak hal keutamaan Rasul Petrus, malah Kitab Suci dan Tradisi Suci memberikan dasar yang kuat akan keutamaan Rasul Petrus dan para penerusnya sebagai pemimpin Gereja di dunia. Mereka yang menolak keutamaan Petrus ini cenderung untuk mengutip sedikit tulisan para Bapa Gereja yang sepertinya mendukung pemahaman mereka, namun tidak mengindahkan begitu banyaknya tulisan yang lain [dari Bapa Gereja tersebut]yang sangat jelas menunjukkan keutamaan Rasul Petrus. Atau, pandangan yang menolak Keutamaan Petrus mengartikan secara allegoris Mat 16:18, tanpa menerima arti literalnya. Gereja Katolik mengartikan ayat 16:18 secara literal dan allegoris, dan juga menerima keseluruhan tulisan para Bapa Gereja yang dengan jelas menunjukkan keutamaan Rasul Petrus dan para penerusnya sebagai pemimpin Gereja, yang berlaku sejak Gereja di abad- abad awal, dan yang masih berlangsung sampai saat ini. Agaknya perlu juga disadari bahwa kepemimpinan Rasul Petrus dan para penerusnya tidak pernah terlepas dari Kristus, sebab mereka hanyalah menjalankan tugas yang dipercayakan Kristus kepada mereka untuk menggembalakan kawanan-Nya sebagaimana dikatakan Kristus kepada Rasul Petrus (lih Yoh 21:15-19).

Share.

About Author

Stefanus Tay, MTS dan Ingrid Listiati, MTS adalah pasangan suami istri awam dan telah menyelesaikan program studi S2 di bidang teologi di Universitas Ave Maria - Institute for Pastoral Theology, Amerika Serikat.

2 Comments

  1. Benediktus Efrem Andika hananto Gunawan on

    Begitu kaya ulasan yang dituliskan dalam website ini. Saya jadi lebih mengenal tulisan para Bapa Gereja. Terima kasih banyak! Allah kiranya memberkati Anda dan karya Anda, para pengasuh rubrik/website ini! Amin.

  2. m. herman-wib on

    Shalom para pengasuh katolisitas,

    Terima kasih atas pengetahuan yg telah anda sampaikan. Saya membayangkan, jika saja informasi spt ini disampaikan sejak dulu2 pada saat (re)katekisasi umat, maka kehidupan menggereja umat awam Katolik akan lebih bersemangat.

Add Comment Register



Leave A Reply